Sunday, November 25, 2018
Saturday, November 24, 2018
SEPENGGAL KISAH XLI
a Asri mengenalinya. Ada apa ya dia menelpon malam2 begini?
"Iya, b
Asri mengangkat ponselnya, dari siapa? Hanya nomor... ia ingin membiarkannya.. tapi barangkali ada yang penting. Asri mengangkatnya, suara nyaring terdengar dari seberang :"Hallo Asri.."
"Hallo, selamat malam, ma'af ini siapa ya?" Asri belum mengenali suara itu..
"Ya ampun Asri, mas
khirnya Asri mengenalinya. Ada apa ya dia menelpon malam2 begini?
"Iya, betul Asri.. sudah
a kamu tak mengenal suaraku?"
"Mbak Dewi ya?" a tidurkah?"
"Belum mbak, ada apa ya?"
"Cuma ingin cerita2 saja sama kamu. Oh ya, apa mas Bowo sudah memberi tau?"
"So'al apa ya?
"Ya ampun As, tadi sore itu aku hampir tertabrak mobil mas Bowo, tau..?"
Asri terperanjat. "Apa mbak?
"Ceriteranya aku tuh habis dari rumah temenku, trus aku menyeberang jalan menunggu taksi, ee.. nggak sadar ada mobil mau lewat, untung sopirnya nggak ngebut, sehingga aku luput dari kecelakaan itu. Tapi kakiku terkilir, sekarang agak bengkak."
"Itu mobil mas Bowo?"
"Iya.. aku nggak nyangka kalau itu mas Bowo. Dan tau nggak As..aku digendong masuk kemobilnya, dibelikan obat gosok untuk kakiku, dan digosokkannya sekaliyan." Ada nada genit pada suara itu yang Asri sebenarnya kurang suka. Bukan karena cemburu, bukan.. cuma merasa agak aneh saja.
"Mas Bowo mu itu ternyata baik sekali ya As, setelah itu aku diantar sampai kerumah. Kalau tidak mana bisa aku pulang, orang nggak bisa jalan." lanjut Dewi kemayu..
"Sekarang bagaimana kakimu mbak?" Sesungguhnya Asri ingin segera mengakhiri pembicaraan itu setelah tau bahwa Dewi hanya terkilir.
"Sudah lumayan, cuma agak bengkak sedikit, tapi sudah bisa jalan sendiri kok. Tapi kenapa ya mas Bowo nggak cerita sama kamu?"
"Mungkin capek mbak. Tapi syukurlah kalau mbak Dewi tak apa2. Besok kalau ketemu kita cerita lagi ya?" sebenarnya agak kurang sopan menghentikan pembicaraan lebih dulu sementara yang menelpon tadi Dewi. Tapi Asri benar2 ingin beristirahat, setidaknya tak ingin mendengar suara genit yang seperti dibuat buat itu lebih lama lagi."
"Baiklah Asri, kamu pasti sudah ngantuk ya.. sampai ketemu lagi dan selamat tidur ya?"
Telephone sudah ditutup, tapi Asri lupa bertanya, darimana Dewi mendapatkan nomor ponselnya.
"Bagaimana keadaan Dewi jeng?" tanya bu Prasojo begitu sampai dirumah bu Harlan. Dia melirik kedalam tapi tak mendapaatkan yang dicarinya. "Mana Dewi? Tiduran dikamar?"
"Oalah mbakyu, dia masuk kerja.. saya sudah melarangnya tapi dia nekat pergi."
"Lho, katanya kakinya sakit?"
"Ya, masih agak sakit sih, tapi tadi sudah diperban pakai tensokrep.. jadi bisa jalan kok. Dia itu kalau sudah kerja kan rajin mbakyu, jadi karena baru beberapa hari ya dia takut kalau harus bolos."
"Ya bukan bolos namanya kalau memang sakit. Ya sudah.. syukurlah kalau gak apa2. Aku sudah memarahi Bowo tadi.. kenapa bisa hampir menabraknya."
"Dewi yang salah mbakyu, dia menyeberang tiba2."
"Ya sudahlah, ini au bawakan buah2an untuk Dewi. Aku pikir dia masih sakit. Tapi aku pengin kesana kok sekarang."
"Kemana mbakyu?"
"Kerumah makan tempat Dewi bekerja.
"Kalau begitu saya mau ikut mbakyu.."
Siang itu dikantor Bowo selalu mengamati Asri. Gadis itu tampak bekerja seperti biasanya, tak tampak perubahan apapun setelah ia menyatakan cinta sore itu. Bowo bertanya tanya, apa sebenarnya yang ada dibenak gadis itu.
"Asri.."
Asri mengangkat kepalanya.
"Apa kamu marah?"
"Marah? Tidak.." Asri mmenjawab singkat.
Mengapa pembicaraan ini menjadi kaku? Ada sedikit sesal dihati Bowo karena kejadian sore itu. Harusnya aku menahan perasaanku,.. tapi apakah aku terburu buru? Kata2 itu seperti meluncur begitu saja. Mungkin bukan aku yang menggerakkannya, entah apa. Bowo berdebat dengan batinnya sendiri.
"Ma'af ya," akhirnya Bowo mengatakan itu.
"Untuk apa, bapak kan tidak bersalah."
Itu memang benar, salahkah aku kalau aku mencintai seseorang? Tapi Bowo merasa menjadi orang bodoh. Tak mampu mengatakan apa2 lagi sampai waktu istirahat tiba. Bowo mengemasi lembar2 kertas yang terserak dimejanya, sama sekali ia belum menyentuh pekerjaannya.
"Bapak tidak ingin menjenguk mbak Dewi?"
Bowo terkejut, dia lupa belum menceriterakan kejadian sore kemarin.
"Kamu tau dari mana?"
"Mbak Dewi menelpon saya tadi malam."
"Ooh.. jadi dia yang semalam memaksa satpam meminta nomor ponselmu, kalau tidak, darimana dia mendapatkannya."
"Satpam?"
"Dewi bilang saudaramu.. dan ada yang kecelakaan.. jadi dia berikan nomor ponselmu."
"Ohh.."
"Tapi dia tidak apa2.. sudahlah.. jangan memikirkan dia lagi."
Tapi pembicaraan itu terhenti dan suasana menjadi kaku kembali. Bowo tak tahan. Dia kemudian mengajak Asri makan siang diluar. Barangkali suasana kaku ini bisa menjadi cair.
Tapi dirumah makan itupun suasana masih terasa kaku. Bowo heran pada dirinya sendiri mengapa ia tampak bodoh kali itu. Dua gelas minuman dingin diteguknya, dan ditatalah hatinya agar dia bisa berkata kata. Setidaknya dia harus tau apa isi hati gadis itu.
"Asri.."
"Ya... Asri mengangkat mukanya. Sesungguhnya ia takut kalau Bowo mengulangi perkataannya seperti yang kemarin sore diucapkannya.
"Berterus teranglah Asri, bagaimana perasaanmu terhadapku." Bowo akhirnya bisa mengucapkannya.
"Perasaan saya? Saya... sangat menghormati bapak.."
"Jangan bapak.. ini kan diluar kantor."
"Baiklah.."
"Baiklah apa?
"Saya sangat menghormati mas Bowo."
"Terus...?
"Ya itu..."
"Yang ada hubungannya dengan pernyataanku sore tadi.." Bowo sangat tak sabar.
Nah, inilah yang ditakutkan Asri. Ia seperti seorang pesakitan yang menunggu keputusan hakim untuk menghukumnya. Aduuh.. mana aku berani? Aku ini apa..siapa.. ini seperti mimpi..
"Asri..."
Asri mengangkat mukanya, memberanikan diri untuk menjawabnya. " Sesungguhnya.. saya sangat takut."
"Takut?"
"Saya ini siapa mas, saya bukan siapa2.. mengapa mas Bowo merasa seperti itu?"
"Rasa itu tidak ada hubungannya dengan siapa2.. aku mencintai kamu sejak kamu masih kanak2." Bowo berterus terang. Ia semakin berani berkata kata.
Asri terkejut, sejak aku masih kanak2?
"Sejak kau baru masuk SMA dan setiap sore menjemput ayahmu."
Ini benar2 gila. Waktu itu dia belum mengenal cinta. Hubungannya dengan Damar juga masih seperti cinta monyat. Bahwa kemudian mereka saling jatuh cinta beneran, itu adalah kekuasaan alam semesta.. yang menyatukan keduanya dalam sebuah hubungan yang ketika itu mereka sebut sangat indah. Meski kemudian berpisah dengan cara yang menyakitkan.
"Apa kau tidak tertarik pada mas Bowo mu ini?"
"Saya.. harus.. menjawab apa? Saya.. tidak berani.." terbata Asri mengucapkannya. Kemudian ia mencuba menelusuri hari demi hari yang dilaluinya bersama Bowo. Bahwa Bowo sangat perhatian, bahwa Bowo sangat baik, dan.. senyum itu.. apakah Asri masih membandingkannya dengan senyuman Damar yang juga menawan? Aduh.. mengapa Damar lagi. Asri memarahi batinnya sendiri. Bukankah ia harus melupakannya setelah tak lagi mendengar kabar beritanya? Mungkin mereka sudah bahagia. Tidak.. perlahan Asri melupakannya. Tapi perasaannya terhadap Bowo? Asri juga tak tau, karena apapun perasaan itu, selalu tertutupi mengingat bahwa Bowo adalah atasannya, yang dia hormati sekaligus dia kagumi.
"Saya.. adalah bumi.. mas Bowo itu langit.."
"Bagaimana kalau aku katakan... INI PERINTAH ?" Bowo mencoba bercanda, dan Asri tersenyum. Dipandanginya wajah Bowo dan senyum menawan itu kembali menghiasi bibirnya. Asri menunduk, jangan sampai ia tergoda oleh senyum itu.
"Baiklah, aku menunggu kau mengatakannya, sekarang habiskan makananmu."
Dijalan besar didepan rumah makan itu, sebuah mobil berhenti. Itu mobil bu Prasojo.
"mBakyu..kok berhenti disini? Bukan ini rumah makannya." Bu Harlan yang duduk disebelah bu Prasojo yang menyetir mobil itu bertanya heran, sebab katanya mau kerumah makan dimana Dewi bekerja.
"Ya jeng, aku tau.. tapi aku mau mampir kesini sebentar saja."
"Mau beli sesuaatu?"
"Tidak jeng, aku melihat mobil Bowo diparkir disitu, nah.. itu mobil Bowo, pasti dia ada disini."
#adalanjutannyaya#
Friday, November 23, 2018
SEPENGGAL KISAH XL
Bowo terkejut. Ia memapah Dewi yang tampak kesakitan.Ia mengangguk kearah orang2 yang berkerumun. "Ini saudara saya, tidak apa2 kok."
Untuk menghindari kerumunan banyak orang tersebut Bowo kemudian menaikkan Dewi keatas mobilnya, dan menjalankannya menjauh dari sana.
"Kok bisa sampai sini?"
"Dari rumah teman, sedang menunggu taksi, diseberang jalan.Ma'af mengganggu."
"Ma'af....Mengapa tidak melihat jalan? Kalau mobilku jalannya kencang pasti kamu luka parah. Sekarang ada yang luka?"
"Tidak, terkilir sedikit. Aduuh...." Dewi merintih ketika memegang kaki kanannya, didekat mata kaki.
"Kita beli obat gosok dulu." Tanpa menunggu jawaban, Bowo menghentikan mobilnya didepan sebuah apotik. Dia turun dan memasuki apotik tersebut.
Dewi tersenyum. Entah apa yang tersembunyi dibalik senyumnya tersebut.
"Ini baru awal.." desis Dewi perlahan.
Ketika Bowo kembali dan mengulurkan obat gosok tersebut, Dewi menerimanya sambil meringis kesakitan. "Terimakasih mas, tapi nanti biar aku gosok dirumah saja."
"Kok dirumah, sekarang saja, nanti terlanjur bengkak."
"Tapi.. aku tidak bisa menggosoknya, sakit sekali.. punggungku juga terasa sakit" Dewi masih meringis kesakitan.
Bowo terpaksa mengambil kembali obat gosok itu. "Mana yang sakit?"
Dewi mengingkapkan rok nya.. " Ini mas.. diatas mata kaki sebelah kanan..
Bowo merasa Dewi menyingkapkan roknya terlalu tinggi kalau memang yang sakit diatas mata kaki. Ada sebagian betis yang kelihatan, atau memang diperlihatkannya, tapi Bowo tak perduli. Ia menggosok bagian atas mata kaki, dan membiarkan Dewi merintih kesakitan, dan memegangi bahunya keras2.
"Sudah, sekarang aku harus mengantarmu kemana?" Bowo naik keatas mobil dengan wajah kesal. Ia merasa bahwa Dewi sangat keterlaluan.
"Kalau mau kerumah saya, saya sangat berterimakasih, tapi kalau tidak, saya akan mencari taksi saja."
"Baiklah, saya antar kamu sampai kerumah."
Bowo menjalankan mobilnya kearah yang ditunjuk Dewi. Disebuah rumah kecil Dewi minta berhenti. Dewi juga minta dipapah karena tak bisa berjalan. Dirumah mereka disambut bu Harlan yang terkejut melihat anaknya dipapah papah.
"Ada apa Wi? Kenapa ini? Lho.. ini kan...." Bu Harlan menghentikan ucapannya melihat Bowo. Ia mengenali wajah itu karena bu Prasojo pernah memberikan foto Bowo padanya.
"Ini mas Bowo bu.. aduuh.. kakiku terkilir bu.."
Bowo mendudukkan Dewi kesebuah sofa. Ia menyalami bu Harlan.
"Dewi terjatuh, hampir tertabrak mobil saya.. "
"Aku yang salah, menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan. Untung ada mas Bowo yang menolong ."
"Kamu itu memang ceroboh. Ayo nak.. duduklah dulu.. ibu akan membuatkan minuman.." bu Harlan sangat ramah, ia senang melihat anaknya diantar Bowo, dan tentu saja ada harapan2 lebih. "Aku kan sudah bilang.. anakku itu cantik... batin bu Harlan..
"Tidak bu, terimakasih banyak, saya baru pulang dari kantor." Bowo menyalami kembali bu Harlan dan berlalu.
Bu Harlan melihat Dewi tersenyum senyum. Kemudian dengan heran dilihatnya Dewi berjalan kearah kamarnya. Berjalan sendiri tanpa harus dipapah.
"Dewi, bagaimana kau ini?"
Dewi tertawa. "Cuma pengin digendong orang ganteng."
Bu Harlan melongo ..
Begitu memasuki rumah, bu Prasojo menyambut anak lelakinya dengan senyum semringah. Tampaknya dia senang sekali.
"Bowo, kamu tadi bersama Dewi?"
Bowo heran, begitu cepat berita itu tersebar sampai kerumah. Berarti bu Harlan sudah menelpon kerumah sehingga ibunya sudah mengetahui kejadian itu. Tiba2 Bowo teringat bahwa ibunya ingin menjodohkannya dengan Dewi. Kemudian Bowo juga teringat sikap Dewi yang tadi kesakitan dan minta agar dia menggosok kakinya, lalu ia menyingkapkan rok nya terlalu tinggi. Itu sungguh tidak pantas. Tak ada sedikitpun rasa simpatinya pada gadis itu. Dan ibunya begitu gembira mendengar bahwa dia telah mengantar Dewi kerumah.
"Kau hampir menabraknya, apa kau sudah minta ma'af?"
"Sudah..." Bowo berlalu dan terus masuk kedalam rumah, tanpa memperdulikan ibunya yang tampaknya masih ingin bicara. Sesungguhnya Bowo kesal pada ibunya, tapi ditahannya demi janjinya pada Asri. Lagian Bowo tau, kalau dia menegur ibunya pasti kebenciannya pada Asri semakin bertambah. Sambil duduk diatas pembaringan, Bowo mencoba berfikir tentang kebencian ibunya pada Asri. "Ibu juga ingin agar Dewi bekerja dikantorku. Apa karena itu maka Asri yang tidak berdosa harus dibencinya? Dan karena itu pula maka Asri ingin keluar dari pekerjaannya?" bisik Bowo sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur. Bowo sungguh merasa letih, lahir dan batinnya.
Malam itu Asri gelisah dipembaringannya. Ia memikirkan kata2 Bowo yang menyatakan cintanya. Sungguh Asri belum pernah mendengar seorangpun laki2 mengatakan.. Asri, aku mencintaimu. Damarpun tidak. Mereka belajar bersama, main bersama, jalan2 bersama.. tapi tak pernah terucap kata itu. Rasa itu mengalir begitu saja dan mereka sudah memahami perasaan satu dan lainnya. Tiba2 rasa rindu pada Damar menyergapnya. Didekapnya guling erat2.. dan berbisik lirih..:" Damar.. sedang apa kau disana? Apakah kau sudah menikah dengan Mimi? Bahagiakah kau sekarang? Atau kau sudah melupakan aku?" Lalu ucapan Bowo kembali terngiang ditelinganya. Benarkah dia mencintai aku? Seorang pengusaha kaya.. ganteng pula.. mencintai anak seorang sopir.. tak berpendidikan.. dan..
Tiba2 terdengar bunyi telephon dari ponselnya.
#adalanjutannyaya#
SEPENGGAL KISAH XXXIX
Ketika Bowo masih mengamati bungkusan baju itu, tiba2 Asri keluar membawa segelas air. Asri terkejut melihat Bowo memegangi bungkusan itu. Asri bingung harus menjawab apa. Asri juga menyesal karena tak menyimpan bungkusan itu didalam kamar...
"Asri.. ini apa?" Bowo mengangkat bungkusan itu.. dan Asri bingung untuk menjawabnya. Ia meletakkan gelas diatas meja, tapi karena tangannya gemetar maka tergulinglah gelas itu dan airnya tumpah membasahi taplak meja serta sebagian membasahi lantai. Tergopoh Asri mengambil pel kebelakang. Bowo mengikutinya.
"Ma'af mas...," masih gemetar Asri ketika Bowo memegang lengannya.
"Nanti aku bantu mengepel lantaimu, sekarang jawablah dulu pertanyaanku.. ini baju yang kamu memilih ditoko itu bukan? Yang aku berikan pada ibu dihari ulang tahunnya?"
"Mas... itu..." Asri tak menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Jawaban yang membuat semuanya menjadi baik tak ada permusuhan dan kemarahan. Aduhai.. jawaban apa..
"Asri...." Bowo memegangi kedua lengan Asri. Asri masih gemetar. Kedua telapak tangannya dingin berkeringat."Mengapa kau tak mau menjawabnya?
Bowo teringat raut muka ibunya ketika ia mengatakan bahwa Asri yang memilihkan bajunya. Wajah yang tadinya berseri penuh bahagia, mendadak berubah seperti langit tertutup mendung. Bowo kemudian menduga duga.. apa ibunya sangat membenci Asri sehingga tidak sudi memakai baju pilihan Asri? Lalu memberikan baju itu pada Asri? Itu pasti sesungguhnya dugaan yang benar, tapi Bowo ingin Asri sendiri mengucapkannya, mengatakannya terus terang.
"Asri.. kau takut mengatakannya? Baiklah.. ibuku tak suka baju pilihanmu.. lalu memberikannya untukmu. Begitu kah?"
Tapi Asri diam membisu. Air mata mulai mengambang dipelupuk matanya. Bowo merasa kasihan. Pasti Asri takut mengatakannya. Kemudian Bowo menuntunnya agar duduk dikursi. Bowo tidak mengerti, mengapa ibunya membenci Asri. Gadis baik yang pintar dan tak pernah melukai siapapun. Gadis yang bersedia menutupi luka hatinya agar tak membuat ada kemarahan dan sakit hati bagi yang lainnya.
"Apa dugaanku benar?"Bowo meraih tissue yang ada dimeja itu dan memberikannya pada Asri. Asri mengusap setitik air matanya dan menguatkan batinnya.
"Ada satu permintaan saya," kata Asri gemetar. Bowo mengangguk. dan Asri melanjutkan kata2nya sambil kembali mengusap air matanya. "Kalau saya mengatakan hal ini.. jangan sampai mas Bowo marah. Kepada saya.. juga kepada bu Prasojo..
Bowo terdiam. Separuh dugaannya benar. Kekagumannya pada Asri sungguh tak terkira. Ia bisa membayangkan, ibunya yang kesal..marah dan tidak suka.. bisa mengucapkan kata2 apa saja, tidak perduli melukai atau tidak. Tapi Asri bisa menahannya, merhasiakannya.. dan bahkan melarang dirinya agar tak marah pada ibunya. Padahal sesungguhnya dia marah. Namun demi gadis yang dikagumi dan disayanginya, Bowo mengangguk.
"Memang benar, bu Prasojo memberikan baju itu. Tapi tidak mengucapkan sepatah katapun. Beliau datang, memberikan sebuah bungkusan berisi baju ini, lalu pergi, sehingga saya juga tak sempat berkata apapun. Namun saya bisa menangkap semuanya. Bu Prasojo tidak suka baju pilihan saya setelah saya yakin pasti mas Bowo memang mengatakannya pada ibu bukan?"
"Benar, aku mengatakan pada ibu, supaya ibu memujimu,"
"Ternyata tidak bukan? Saya juga tidak mengerti mengapa bu Prasojo membenci saya." Asri menghela nafas. Lega karena telah melepaskan sebagian beban yang bergayut dihatinya.
"Mas Bowo sudah berjanji untuk tidak marah bukan? Pada saya.. juga pada bu Prasojo, saya akan pegang janji itu."
Bowo ingin sekali memeluk Asri dan mendekap kedadanya. Tapi tidak, Bowo sangat menjaga kehormatan wanita yang dicintainya, ia cukup menepuk nepuk pundaknya sambil menahan segala perasaannya.
"Asri, aku mencintai kamu," kata2 itu meluncur begitu saja, seperti arus deras mengalir tak tertahan karena sudah memenuhi isi dadanya.
Asri sangat terkejut. Ia mundur beberapa langkah dan memandang Bowo dengan pandangan tak mengerti. Ia berlari kebelakang mengambil kain pel dan kembali untuk membersihkan air yang membasahi meja dan lantainya. Bowo meemgangi tangan Asri, merebut kain pel itu dan mengelap air yang masih menggenang dimeja itu.
"Ma'af Asri, jangan marah.. tapi kata2 itu keluar dari lubuk hatiku.Kau tak perlu membalasnya sekarang. Tapi aku lega bisa mengatakannya. Perasaan ini yang sudah lama ingin aku katakan padamu."
Bermacam perasaan masih meng aduk2 hati Bowo ketika ia sendirian dalam perjalanan pulang. Tentang ibunya..tentang ungkapan perasaannya.. Sesungguhnya ia marah sekali pada ibunya. Asri kan tidak melakukan kesalahan apapun. Mengapa ibunya menumpahkan kekesalannya pada Asri? Ia memilihkan baju yang sesunggahnya ibunya suka, mengapa setelah tau bahwa Asri yang memilihnya kemudian seperti marah pada Asri?Haa.. apa itu juga yang membuat Asri kemudian menulis surat pengunduran diri? Sesampai dirumah nanti aku harus bertanya pada ibu. Tapi.. Bowo kemudian teringat janjinya pada Asri.. dia tidak akan marah.. tidak akan marah.. baiklah.. tidak akan marah..Tapi ada sedikit rasa lega ketika dia sudah berhasil mengungkapkan perasaannya pada Asri. Coma ia tidak tau apa jawaban Asri nanti. Akankah dia menerima.. atau menolaknya?
Bowo mengendarai kendaraannya dengan pelan, karena merasa bahwa pikirannya tidak tenang. Namun tiba2 sesorang menyeberang didepannya. Berderit bunyi rem dari mobilnya. Ya ampuun, tidak sampai menabrak, tapi orang itu terjatuh. Bowo turun dari mobilnya dan membantunya berdiri. Ia mengamati apakah ada yang terluka dari orang itu. Tapi Bowo terkejut, yang nyaris ditabraknya adalah Dewi. Bagaimana Dewi bisa sampai kesana sementara rumahnya seharusnya tidak melewati jalan itu?
#adalanjutannyalho#
Thursday, November 22, 2018
SEPENGGAL KISAH XXXVIII
Bowo agak kesal karena keinginan untuk mengutarakan isi hatinya gagal lagi. Dipandanginya perempuan yang agaknya pegawai rumah makan itu. Dan tiba2 Asri juga mengenalnya.
"mBak Dewi?"
Haa.. sekarang Bowo baru ingat. Dewi.. yang pernah bertemu ketika ia membelikan baju hadiah untuk ibunya, dan dia adalah Dewi anaknya bu Harlan.
"Selamat sore mas, mas Bowo lupa ya sama saya?" Dewi begitu ramah..
" Oh.. mm.. ya.. lupa2 ingat.. habisnya baru ketemu sekali. Bekerja disini?"
"mBak Dewi bekerja disini?" Hampir bersamaan Asri juga mengutarakan pertanyaan yang sama.
"Ya, baru dua hari ini.. Baru pulang dari kantor?"
"Benar, pulang kantor.. terus tiba2 haus."
"Mengapa bekerja disini ?" tanya Asri tiba2
"Nggak apa2.. ini rumah makan punya teman, aku hanya membantu.Tuh.. di kasir. Nggak apa2 kok, aku senang."
Asri jadi merasa nggak enak. Dulu ketika datang kekantor, bu Prasojo pernah bilang bahwa Dewi lebih pantas duduk dikursinya. Tapi sekarang Dewi malah jadi pegawai restoran, tampak senang lagi. Tiba2 ia menjadi merasa bersalah.
"Ayolah disampaikan, mau tambah pesen apa lagi?" tanya Dewi ramah.
"Aku kenyang.."jawab Asri lalu memandangi Bowo.
"Ya, kami hanya ingin minum, terimakasih."
"Lain kali datanglah kemari lagi lalu kita bisa ngobrol bersama."
Namun ketika keduanya pergi, entah mengapa, ada sedikit rasa cemburu dihati Dewi. Bowo itu gagah..ngganteng.. kaya.. mengapa harus bersanding dengan Asri? Tadinya Dewi tak lagi memikirkannya, tapi melihatnya kembali berdua sore ini, ada rasa aneh yang menggelitik pikirannya. Dan kemudian Dewi berjanji dalam hati :"Aku akan merebut mas Bowo dengan caraku, jangan dengan campur tangan ibu."
Diperjalanan Asri masih mengingat ingat ketika bu Prasojo ingin Dewi bekerja dikantor Bowo.Seandainya ia keluar sekarang, apakah Dewi bisa bekerja disana.
"Mengapa diam saja? Apa yang kau pikirkan?
"Kasihan mbak Dewi. Sebetulnya ia lebih pantas menjadi sekretaris mas Bowo."
Bowo tertawa. "Mengapa kamu mengatakan itu? Pantas dan tidaknya itu kan aku yang menentukannya."
"Seandainya aku keluar, apakah mas Bowo mau menjadikan mbak Dewi sebagai sekretaris?"
"Ada2 saja. Suatu pekerjaan tidak bisa ditukar begitu saja dari satu orang ke orang yang lain. Lagipula sudahlah.. kenapa kita harus memikirkan itu?"
Asri kemudiana merasa bahwa Dewi tidak senyinyir ibunya ataupun bu Prasojo yang memandangnya dengan sinis. Bertemu dua kali setelah kedatangan mereka Asri merasa bahwa Dewi orangnya baik. Dia ramah dan sedikitpun tidak membencinya walau sebenarnya dulu menginginkan kedudukan seperti dirinya dikantor Bowo.
Sesungguhnya Bowo merasa kesal karena keinginannya sore itu gagal total. Salahkah Dewi, atau memang Tuhan belum mengijinkan dia mengutarakan cintanya pada Asri.
Kemudian keduanya tenggelam dalam lamunannya masing2.
"Sesungguhnya di restoran mana Dewi bekerja jeng?"tanya bu Prasojo ketika ia bertamu kerumah bu Harlan sore itu.
"Ini lho nama restorannya. " Bu Harlan mengangsurkan sebuah kartu yang sejak tadi tergeletak dimeja didepan mereka.
"Saya jadi merasa bersalah jeng, mengapa tidak segera bisa menyingkirkan Asri dari sana lalu Dewi bisa menggantikannya.
"Dulu mbakyu bilang Asri mau keluar."
"Benar, tapi Bowo dan bapaknya melarangnya. Jadi ya tetaplah dia masih bekerja disana. Tapi sesungguhnya ada posisi lain..entah dimana nanti.. aku akan terus membujuk bapaknya Bowo."
"Sudah jeng, Dewi sudah nggak mau. Dia sudah suka bekerja dirumah makan temannya itu. Nanti kalau saya paksa dia .. malah dia marah2 sama saya. "
"Mengapa begitu ya, apa dia tidak suka sama Bowo anak saya?"
"Dewi tetap merasa bahwa Bowo menyukai Asri. Dia bilang tak ingin mengganggunya."
"Itu nggak mungkin jeng, masa aku harus berbesan sama Marsam sopirku sendiri. Waduuh.. mau saya taruh dimana muka ini? Tidak.. tidak.. amit2 ..amit2.. jangan sampai.." jawab bu Prasojo dengan wajah seakan melihat sesuatu yang menjijikkan.
Sampai mobil itu didepan rumah Asri mereka masih terdiam. Tapi kali itu Bowo ingin mengatakan cintanya dirumah Asri saja. Itulah sebabnya dia ikut turun dan mengikuti Asri dari belakang. Asri heran dan menatap Bowo penuh tanda tanya.
"Sampai disini saja mas, terimakasih banyak."
"Aku haus lagi, bolehkah minta segelas air putih? Tanya Bowo. Ia sungguh ingin sekali mengatakan perasaannya sore itu, supaya ia segera tau apa jawab Asri setelah mendengar isi hatinya.
Oh, baiklah.. silahkan masuk,, "Asri membukakan pintu dan mempersilahkannya duduk. Pak Marsam belum pulang sehingga rumah itu sepi sekali. Hati Bowo berdebar debar , ia sedang mereka reka kata2 yang pantas dia ucapkan nanti. Tapi alangkah gelisah ia memikirkannya. Sambil menunggu Asri mengambilkan air putih yang dimintanya, ia memandangi ruangan yang walau sederhana tapi tampak bersih dan rapi. Dipojok sana dilihatnya foto perempuan berkebaya sedang memangku seorang gadis kecil. Bowo berdiri mendekat..dan menduga duga, Ini pasti ibunya Asri dan Asri yang masih kecil, pantas Asri cantik, ibunya juga cantik.
Tiba2 Bowo melihat sesuatu, sebuah bungkusan tergeletak diatas almari kecil didekat foto itu. Ia mengenali bungkusan itu, yang dengan berdebar kemudian dibukanya. Gaun ibunya, yang diberikannya ketika ibunya berulang tahun. Mengapa ada disitu?
#adalanjutannyalho#
SEPENGGAL KISAH XXXVII
Bowo terkejut dengan apa yang baru saja diucapkannya. Demikian juga Asri. Mereka berpandangan sejenak. Bowo tersenyum lalu mobil itu menepi.
"Ma'af ya.. aku melamunkan yang tidak2. Itu tentang cinta. Cinta seorang laki2 yang tak terbalas. Sungguh kasihan... " Bowo seperti bicara pada dirinya sendiri. Asri memandanginya tak mengerti.
"Maukah mau mendengarkan ceriteraku? " Bowo sendiri bingung akan mengatakan apa. Daripada bingung lebih baik ia berterus terang.
"Asri..apakah kau tega meninggalkan aku?"
"Maksud bapak?" Asri pun juga bingung..
"Kalau kau resign.. berarti kau meninggalkan aku."
"Tapi..."
"Tidak bukan?Kau tidak akan pergi?"
"Saya bingung..."
"Aku sungguh tidak mengerti..aku juga bingung. Aku yakin ada yang membuatmu membuat keputusan itu. Aku yakin kau akan tetap meninggalkan pekerjaanmu."
Kemudian Bowo sadar bahwa sesungguhnya bukan itu yang ingin dibicarakannya. Bukankah ia ingin menyatakan cinta? Aduuh... Bowo menepuk jidatnya.
"Kenapa pak?" Dan Bowo terkejut dengan kelakuannya sendiri, ia merasa seperti linglung, tapi kemudian ia membelokkan perhatian Asri.
"Asri.. ini bukan dikantor. Kau lupa pada permintaanku.. kalau diluar kantor aku bukan pak Bowo tapi mas Bowo."
"Ya, ma'af.." Asri menjawab singkat. Sesungguhnya Asri juga bingung melihat sikap Bowo kali itu.
"Aku haus, kita mampir minum sebentar ya?" Tanpa menunggu jawaban Asri Bowo sudah keluar dari mobil. Bowo bertekat akan mengutarakan cintanya nanti, setelah batinnya tenang, barangkali setelah meneguk minuman dingin diwarung itu. Ia membukakan pintu samping dan menarik Asri keluar karena melihat gadis itu masih terdiam seperti patung.
"Temani aku ya?"
"Jadinya bagaimana pak?" bu Prasojo buru2 menanyakan pada suaminya begitu mereka duduk menghadapi secangkir kopi sepulang pak Prasojo dari kantor.
"Apanya yang bagaimana?"
"Asri jadi keluar ?" Bu Prasojo harap2 cemas menunggu jawaban suaminya.
Pak Prasojo kesal pada isterinya. Gara2 ingin mencarikan pekerjaan untuk Dewi dia sungguh berharap Asri akan keluar dari pekerjaannya.
"Pak..." ulang bu Prasojo ketika melihat suaminya tak bereaksi. . malah memperhatikan acara televisi yang biasanya tak membuat suaminya tertarik.
"Jadi tidak pak?"
"Mengapa kau berharap Asri akan keluar? Tidak, Asri akan tetap bekerja untuk perusahaan kita."
"Mengapa tidak jadi?" itu pertanyaan konyol bukan? Harusnya bu Prasojo tau bahwa suami dan anaknya akan menahan Asri supaya tidak keluar.Tapi bu Prasojo sudah terlanjur berjanji pada sahabat arisannya bahwa sebentar lagi Dewi akan mendapat pekerjaan.dan itu yang membuat dia menegaskan tentang jadi tidaknya Asri resign dari perusahaan
Dering telephone membuat bu Prasojo langsung berdiri. Pasti dari bu Harlan. Gimana menjawabnya nanti.. pikirnya ..
"Hallo... oh iya jeng.. ini saya lagi bicara sama bapaknya Bowo.. haa.. Dewi tidak mau? Lho.. bekerja dimana? Waduuh.. dirumah makan temannya? ... kenapa diijinkan jeng... yaaah.. susah2 saya merayu suami ... ya.. gimana.. sudah sejak kemarin ? Baiklah .. baik jeng.. besok kan ketemu.. kita bisa bicara lagi.. selamat sore...
Bu Prasojo meletakkan gagang telephone dan bergegas mendekati suaminya.
"Dengar pak.. Dewi sudah dapat pekerjaan."
"Ya baguslah.. bukankah itu yang diharapkan?"
"Tapi pak.. dia bekerja direstoran temannya. Sudah sejak kemarin.."
"Syukurlah.."
" Tapi dia menjadi pelayan restauran.."
"Memangnya kenapa kalau pelayan restoran? Apakah itu hina?"
"Tapi dia itu sarjana lho pak.. sarjanaaa!" Bu Prasojo menekankan kata "sarjana" pada kalimatnya.
"Ya tidak apa2 to bu..sarjana atau bukan.. dia boleh melakukan pekerjaan apa yang dipilihnya.. ada anak teman sekolah bapak yang cuma jadi tukang parkir. Dia juga sarjana kok."
"Ah.. kasihan bener.. yang bukan sarjana bisa duduk dikantoran,, yang sarjana cuma jadi pelayan. Kalau ibu ketemu akan ibu tegur dia .."
"Ya.. tegur saja.." jawab pak Prasojo sekenanya.. dan itu membuat bu Prasojo sangat berang. Keinginannyaa tidak sejalan dengan keinginan suaminya.. sungguh menjengkelkan.
Rumah makan itu belum begitu ramai. Mungkin karena hari masih sore dan belum sa'atnya orang2 kelaparan. Bowo memilih tempat duduk agak kedalam agar jauh dari orang2 lain yang sedang makan atau minum.
Mereka duduk berhadapan.. lalu Bowo memesan minuman.
"Kamu lapar?" Asri menggeleng. Baiklah, Bowo juga tidak lapar.. ia hanya ingin menenangkan pikirannya. Sepuluh tahun silam perasaan ini pernah dirasakannya. Perasaan cinta pada Dewi, bukan Dewi anaknya bu Harlan. Ini Dewi yang sesungguhnya akan menjadi isterinya. Sayang takdir menuliskan lain. Dewi meninggal akibat penyakit kanker darah yang disandangnya. Kala itu hati Bowo sempat hancur.. dan bertahun tahun lamanya ia baru bisa melupakannya. Banyak gadis berlomba mendekatinya, tapi Bowo tak pernah memperdulikannya. Laki2 ganteng yang punya senyum menawan ini baru merasakan kembali cinta.. setelah bertemu Asri. Gadis muda yang umurnya jauh dibawahnya., gadis belia inilah yang membuat pintu cintanya kembali terbuka.Gadis manis yang pintar, ..yang seakan tak pernah memperdulikan perasaan hati Bowo. Benarkah Asri tak pernah tertarik pada senyumannya, pada perhatiannya.. dan semua yang dia lakukan untuknya? Berdebar hati Bowo, tapi dia harus melakukannya.
Segelas minuman dingin itu telah dihabiskannya. Hati Bowo sedikit tenang. Dipandanginya gadis manis yang membuatnya jatuh bangun ini..Ia harus mengatakannya sekarang.. diterima atau tidak.. sekarang sa'atnya.
"Asri..." Asri mengangkat mukanya. Dari tadi ia hanya minum sedikit, dan lebih banyak waktunya dihabiskan dengan mempermainkan sendok pada minuman itu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Ya...."
"Sesungguhnya... aku.....
Tiba2 sebuah teriakan nyaring terdengar.. " Asri...!"
Bowo menghentikan kata2nya. Dilihatnya wanita cantik yang mendekati mejanya .. lalu ia mengingat ingat... karena merasa pernah bertemu dengannya.
#adalanjutannyalho#
Wednesday, November 21, 2018
SEPENGGAL KISAH XXXVI
SEPENGGAL KISAH 36
"Kita nggak jadi ke kantor dulu, pak Marsam. Kekantornya Bowo saja." perintah pak Prasojo kepada pak Marsam.
Pak Marsam bertanya dalam hati. Kemarin pak Prasojo bilang akan ada meeting pagi, kenapa sekarang harus kekantor puteranya dulu. Tiba2 pak Marsam berdebar debar. Jangan2 karena kemarin Asri mengajukan surat pengunduran diri.
"Pak Marsam tahu nggak .. bahwa kemarin Asri mengajukan surat pengunduraan diri?" Pak Prasojo bertanya tiba2.
" Oh.. iya.. tampaknya begitu.. tapi..."
"Apa pak Marsam tau mengapa tiba2 Asri ingin berhenti bekerja?"
Bingung pak Marsam menjawabnya. Apa ia harus mengatakan tentang baju itu? Tidak.. bukan hanya itu penyebabnya, dan pak Marsam yakin bahwa tak mungkin Asri mengatakan tentang baju itu kepada atasannya.
"Pasti bapaknya tau..."
"Tidak pak..mm.. maksud saya.. Asri hanya ingin bekerja dirumah saja. "
"Masa itu alasannya?"
"Ma'af pak.. kadang2 orang tua tidak harus mengetahui terlalu banyak tentang anaknya yang sudah dewasa." Jawab pak Marsam sekenanya.
"Apa itu tentang pacar? Asri dilarang oleh pacarnya?"
"Oh.. tidak mungkin pak.. Asri belum punya pacar.. kalau ada pasti saya mengetahuinya. "
Pak Prasojo tau pasti bahwa pak Marsam tak akan bisa memberikan jawaban yang pasti. Tapi ada sesuatu. Dan itulah yang pasti. Tapi apa..
Diruangan pak Prasojo Asri kemudian dipanggil. Pak Prasojo menanyakan perihal keinginannya untuk keluar dengan pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada pak Marsam. Jawabannya juga tak memuaskan.
"Saya hanya merasa tidak pantas pak.. saya kan hanya lulusan SLTA,, dan tidak pantas duduk dikursi sekretaris. "
"Kau sudah menjalaninya lama. Baru merasa begitu sekarang?"
"Saya sudah lama memikirkannya. Baru sekarang bisa melakukannya."
"Kamu bohong bukan? Kamu menyembunyikan sesuatu?Ada yang mendorongmu untuk melakukan itu"
Pertanyaan pak Prasojo itu dirasakan seperti sebuah tembakan beruntun yang sulit dihindarinya. Hampir saja Asri mengangguk dan mengatakan yang sebenarnya. Ia tak tahan melihat tatapan mata pak Prasojo dan ia harus menghindarinya. Asri menundukkan kepalanya, dan menahan agar air matanya tak jatuh.
"Benar? Tatap mataku Asri dan katakan yang sebenarnya."
Asri menggelengkan kepalanya. "Tidak ada pak.. sungguh.."
"Kalau begitu aku sependapat dengan Bowo. Aku menahanmu untuk tetap bekerja disini."
"Mengapa pak?" Lirih Asri mengatakannya. Hampir berbisik.
"Kalau kau bekerja dengan buruk maka aku tidak akan menahannya. Aku memandang bapakmu yang semakin tua. Kau harus menjadi anak kebanggaannya."
"Mengapa pak?" Kali ini Asri terisak. Tak tahan ia menyembunyikan keharuannya atas perhatian majikan ayahnya ini kepada keluarganya.
"Bapakmu sudah bekerja selama berpuluh tahun bersamaku. Sejak ibumu masih ada, sejak kau masih berumur belum lima tahun. Dan dia sudah seperti keluarga bagi kami. Kalau bapakmu tidak bisa menjadikanmu orang.. maka akulah yang akan melakukannya."
Asri terisak. Ia tak menyangka begitu besarnya karunia ini. Karunia yang berupa kasih sayang dari seseorang yang dalam derajat dan kedudukan bagaikan bumi dan langit dengan keluarganya. Sungguh Asri tak mengira. Jadi ketika bapaknya bilang bahwa pak Prasojo ingin menyekolahkannya, itu adalah benar adanya. Sekarang baru Asri merasakannya.
"Jadi.... sekarang hapus air matamu." Pak Prasojo mengangsurkan tisue yang kemudian dipakai Asri untuk mengusap air matanya. "Lalu kembalilah bekerja. Anak baik.. kau pasti menurut apa kataku bukan? Buat ayahmu bangga bahwa kau bisa melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh orang berpendidikan tinggi. Bukan alasan yang tepat kalau kau ingin berhenti karena merasa pendidikanmu hanya SLTA. Kau bisa belajar banyak hal, dan kau menangkap semuanya dengan kecerdasanmu,"
Pak Prasojo menepuk nepuk bahu Asri dan meninggalkannya.
Asri masih termangu. Kata2 pak Prasojo itu memang bisa menghentikan langkahnya untuk pergi, tapi kalau diingat sikap bu Prasojo .. Asri kembali bingung.
"Tidak bu.. aku nggak mau meminta minta seperti pengemis." kata Dewi kepada ibunya.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah melihat sikap mas Bowo, dan aku tidak lagi tertarik untuk bekerja disana. Biar aku mencari pekerjaan lain saja."
"Jangan bandel, susah2 ibumu ini minta agar bu Prasojo membantumu, tapi kau malah bilang nggak mau kerja disana. Apa sih maksudmu?" Bu Harlan tampak marah.
"Ya sikap meminta tolong itu yang tampak seperti pengemis bu, dulu juga kita sudah tau bahwa mas Bowo sudah punya sekretaris.. dan dia itu baik lho.. mengapa ibu masih memaksakan kehendak untuk tetap berharap."
"Bukan ibu yang memaksa, bu Prasojo sendiri yang meminta agar kau bisa bekerja disana. Dia itu ingin mengambilmu sebagai menantu. Tau?"
"Dulu aku mau .. karena belum tau .. sekarang tampaknya mereka itu saling suka.. masa aku harus merusaknya?"
"Sok tau kamu.. bu Prasojo sendiri bilang bahwa mereka tidak pacaran, dan bu Prasojo juga bilang bahwa Asri mau resign dari pekerjaannya."
"Masa ?" Dewi tak percaya.
"Bu Prasojo sendiri yang bilang"
"Tapi aku sudah janji sama temanku.. untuk ikut bekerja dirumah makan.. milik dia.."
"Apa? Bekerja dirmah makan? Kamu itu sarjana Dewi.. masa jadi pelayan rumah makan?" Bu Harlan sampai berdiri dan menuding anaknya dengan sengit.
"Tidak apa2 kalau jadi pelayan juga. Yang penting halal."
Pembicaraan yang semakin memanas itu berhenti karena Dewi segera pergi meninggalkan ibunya yang semakin marah melihat sikapnya dan juga marah mendengar keinginannya.
Sore itu sepulang kantor Asri menurut saja ketika Bowo nekat mengantarnya pulang. Tak banyak yang mereka bicarakan, karena keduanya sedang tenggelam dalam pikirannya masing2. Asri bingung atas apa yang harus dilakukannya,sedangkan Bowo khawatir Asri akan meninggalkannya karena dilihatnya Asri masih ragu untuk melanjutkan pekerjaannya atau tidak.Tiba2 Bowo merasa batinnya seperti diiris. Tiba2 ada rasa takut yang membelit perasaannya. Takut kehilangan benda berharga yang disayanginya. Ya Tuhan.. aku mencintainya.. desis batin Bowo dengan sedih. Jangan biarkan dia pergi.. aku mencintainya.. dan desis yang terakhir itu sampai keluar dari mulutnya. Asri mendengarnya..
#adalanjutannyalho#
Subscribe to:
Posts (Atom)
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024 (Tien Kumalasari) Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...
-
DARAH CINTA DAN AIR MATA 37 (Tien Kumalasari) Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...
-
HANYA BAYANG BAYANG 52 (Tien Kumalasari) Puspa masih terbaring di ranjang rumah sakit ketika sang ibu dimakamkan. Wajahnya pucat, matan...
-
BIARKAN AKU MEMILIH 01 (Tien Kumalasari) Pak Bondan sedang menghirup kopinya, ketika melihat mobil yang dikendarai Nirmala memasuki hal...