BIARKAN AKU MEMILIH 01
(Tien Kumalasari)
Pak Bondan sedang menghirup kopinya, ketika melihat mobil yang dikendarai Nirmala memasuki halaman.
“Dari mana saja dia, sudah sore baru pulang,” gumam pak Bondan, seorang pengusaha kaya yang disegani.
“Kuliah, pastinya,” jawab sang istri.
“Aku kurang suka Nirmala sering-sering jalan bareng anak itu.”
“Anak itu siapa sih Pak?”
“Adrianto … atau siapa itu, anak orang nggak jelas.”
“Eh, Bapak jangan begitu, kok anak orang nggak jelas bagaimana maksudnya?”
”Lha dia itu kan lahir dari keluarga yang berantakan, bagaimana kalau anak kita nanti semakin dekat, lalu saling suka, lalu ingin berjodoh. Aku nggak mau berbesan dengan keluarga berantakan.”
“Ya jangan terus berprasangka buruk, nyatanya Adri itu kan anak kuliahan juga, dan baguslah kalau mereka berteman.”
“Aku tidak suka, ingatkan dia kalau nanti Nirmala sudah istirahat.”
Nirmala sudah masuk ke rumah, lalu mencium tangan bapak dan ibunya.
“Dari mana saja kamu?”
“Dari kuliah kan Pak? Nirmala tidak ke mana-mana.”
“Ya sudah, istirahatlah dulu sana, nanti saja kita bicara,” potong sang ibu yang tidak ingin suaminya menegur saat sang anak baru saja pulang.
“Ada apa sebenarnya Bu?”
“Nanti saja, sudah, mandi dan istirahat dulu sana.”
Nirmala mengangguk, kemudian berlalu.
“Dia baru datang, nanti saja kalau Bapak mau bicara.”
Pak Bondan menghirup lagi minumannya, lalu meraih camilan pisang goreng yang tersedia di meja.
***
Sampai saat makan malam, pak Bondan belum mengatakan apapun tentang perasaan tidak sukanya pada Adri. Tapi begitu selesai makan dan mereka duduk di ruang tengah sambil menikmati acara televisi, justru Nirmala yang menanyakannya kepada sang Ibu.
“Tadi Ibu ingin bicara apa?”
“Bapak itu yang mau bicara,” kata bu Bondan sambil menatap ke arah suaminya.
Nirmala menatap sang ayah yang tampaknya bersiap mengatakan sesuatu.
“Nirmala, bapak tidak suka kamu bergaul dekat dengan Adri.”
“Maksud Bapak apa?” tanya Nirmala heran.
“Bapak tahu kamu sering jalan sama anak itu. Bapak tidak ingin kamu terlalu dekat sama dia.”
“Kami teman kuliah, bagaimana bisa Bapak melarangnya?”
“Kalau keterusan, kedekatan itu bisa menjadi hubungan yang tidak sekedar berteman. Bisa menjadi hubungan serius. Itu yang bapak tidak suka.”
“Adri itu baik dan pintar.”
“Bukan karena dia tidak baik atau bodoh. Dia itu dari keluarga yang berantakan.”
“Mengapa karena keluarganya lalu Bapak juga menilai bahwa Adri tidak pantas dekat dengan Nirmala?”
“Keadaan keluarga itu mempengaruhi seseorang. Bapak ingatkan kamu, sebelum kamu menyesal.”
Nirmala menatap sang ayah dengan perasaan menyesal atas penilaiannya terhadap Adri. Menurutnya Adri adalah laki-laki yang baik.
“Lebih baik kamu berjodoh dengan Bima. Dia itu cakap dan kalian sudah kenal baik bukan?”
“O, iya, Nirmala kenal Bima, tapi bukan berarti Nirmala harus menjauhi Adri kan?”
“Nirmala, kamu itu kalau diberi tahu orang tua jangan selalu membantah begitu.”
“Nirmala, bapakmu lebih suka kamu dekat dengan Bima.”
“Iya Bu, Nirmala juga dekat dengan Bima kok. Dia sering main ke sini kan, dan Nirmala selalu menanggapinya baik?”
“Tapi bapak tidak suka Adri. Dia kelihatan keras kepala. Bapak kan sudah beberapa kali bertemu dia, ketika dia datang kemari dan waktu kamu ulang tahun?”
“Tidak Pak, Adri bukan keras kepala. Dia memang keras dalam menginginkan sesuatu, tapi itu hal positip yang membuatnya pintar.”
“Nirma, berhentilah membantah ayahmu.”
“Baiklah, tapi bukan berarti Nirma tidak boleh berteman sama dia kan?” kata Nirmala yang kemudian berdiri.
“Mohon maaf, Nirmala mau ke kamar dulu.”
Kedua orang tuanya membiarkan Nirmala berlalu.
“Mengapa Bapak belum-belum sudah menuduh mereka bergaul terlalu dekat? Siapa tahu mereka hanya berteman,” kata bu Bondan.
“Kalau tidak diingatkan dari sekarang, mereka bisa keterusan. Aku melihat sesuatu diantara mereka, dan aku melihat sesuatu itu hal yang tidak baik.”
“Jangan dulu menilai seseorang, Bapak kan baru beberapa kali bertemu dia.”
“Ya sudah, terserah Ibu. Kita lihat saja nanti siapa yang benar.”
***
Hari itu Nirmala kuliah seperti biasa. Ia masih terngiang apa yang dikatakan sang ayah, tentang ketidak sukaannya kepada Adri. Menurut Nirmala, Adri laki-laki yang baik. Memang terkadang dia terlihat agak keras. Tapi bukan keras kepala. Dia mau, semua yang diinginkannya bisa diraihnya. Orang tuanya memang tidak begitu kaya, dan benar, kedua orang tuanya sudah bercerai.
Ketika mau pulang, Adri mendekatinya.
“Nirma, besok kan hari libur, aku main ke rumah ya?”
Nirmala agak kaget. Kalau Adri ke rumah, ayahnya marah tidak ya? Tapi untuk menolak pastilah dia sungkan.
“Kok diam, kamu ada acara untuk bepergian? Aku ingin membeli sesuatu untuk ibuku, aku ingin kamu memilihkannya.”
“Ibu kamu ulang tahun?”
“Iya, sudah beberapa tahun ini aku tidak memberinya hadiah, kali ini aku punya sedikit tabungan.”
“Boleh, aku antar nanti.”
“Aku samperin kamu ke rumah ya?”
“Bagaimana kalau kita ketemu di rumah makan langganan kita?”
“Mengapa? Aku tidak boleh ke rumah?”
“Bukan, aku paginya sudah keluar rumah, ada sedikit urusan, jadi daripada aku pulang, lebih baik sekalian jalan,” kata Nirmala yang kebetulan menemukan alasan yang dirasa tepat.
“Baiklah, jam berapa kira-kira?”
“Jam sembilan … bagaimana?”
“Baiklah, jam sembilan aku sudah ada di sana.”
Nirmala pulang dengan perasaan bersalah. Tapi bagaimana lagi. Besok hari libur, dan sang ayah pasti ada di rumah. Kemarin sudah diutarakan olehnya bahwa dia tidak menyukai Adri dengan alasan yang sebenarnya Nirmala belum bisa menerimanya. Jadi daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang akhirnya akan melukai hati Adri, maka lebih baik ketemuan di luar saja.
***
Tapi pagi hari itu tiba-tiba ia mendengar suara sang ayah sedang tertawa-tawa di teras. Nirmala sudah bersiap untuk keluar untuk memenuhi janjinya pada Adri. Ia melangkah keluar untuk pamitan, tapi ia terkejut, rupanya di teras sang ayah sedang berbincang dengan Bima. Nirmala ingin undur ke belakang, tapi sang ayah mendengar langkahnya.
“Nirma?”
Nirmala berhenti, dan terpaksa melangkah keluar. Wajah Bima berseri ketika melihat Nirmala.
“Oh, ada Bima, aku kira tamu siapa,” sambut Nirmala.
“Kamu mau pergi, Nirma?”
“Hanya akan mencari buku,” jawab Nirmala sekenanya.
“Aku antar?” kata Bima, membuat Nirmala kebingungan, apalagi ketika sang ayah menambahkan komentar.
“Nah, itu, Bima sudah bersedia mengantar, kebetulan kan, kamu tidak perlu membawa mobil sendiri,” kata sang ayah.
“Nirmala mau naik motor saja kok.”
“Aku antar saja, daripada pergi sendirian.”
Nirmala bingung dan tidak menemukan alasan untuk menolak. Ia melihat arloji tangannya. Jam sembilan kurang seperempat, pasti Adri sudah hampir sampai di tempat kencan, atau bahkan malah sudah sampai, karena Adri adalah orang yang selalu tepat waktu.
“Mengapa melihat arloji, apa toko buku itu ada jam kerjanya?” kata sang ayah yang kemudian meninggalkan keduanya, seakan memberi ruang untuk mereka berbincang.
Nirmala hanya tersenyum. Ia benar-benar kehabisan alasan. Ia bahkan tak bisa menolak ketika sang ayah meminta agar Nirmala menemani ngobrol dulu sambil menghabiskan kopi yang dihidangkan.
Nirmala melihat lagi arloji di tangannya, jam sembilan lebih seperempat.
“Bagaimana ini?” kata batinnya yang mulai gelisah. Tapi ia menyembunyikan kegelisahan itu.
“Masih pagi, masa sepagi ini tokonya sudah mau tutup? Buka saja baru beberapa menit, barangkali,” kata Bima.
“Iya, soalnya buru-buru ingin mendapatkan buku itu,” kata Nirmala sekenanya.
“Ini hari Minggu, lebih baik santai dulu. Atau menemani aku makan pagi, setuju?”
“Apa? Tap … pi aku sudah makan.”
“Tidak apa-apa, namanya menemani, kamu tidak makan tidak apa-apa. Sudah lama kita tidak bertemu, berbincang sambil makan cemilan juga boleh kan?”
“Mm … “
“Ayolah, aku mau pamit sama bapak dan ibu kamu dulu,” kata Bima yang kemudian berdiri lalu melongok ke dalam.
Rupanya pak Bondan sedang duduk di ruang tamu bersama istrinya.
“Pak, kami mau pergi dulu,” kata Bima sambil melangkah masuk, kemudian mencium tangan pak Bondan dan istrinya.
Keduanya keluar dan perasaan Nirmala semakin kacau, ketika ada nada pesan dari ponselnya.
“Ini jam berapa?”
Pesan itu amat singkat.
“Maaf, urusanku belum selesai,” hanya itu jawab Nirmala. Ia tak ingin berlama-lama menjawab pesan itu, dan segera masuk ke mobil Bima setelah Bima membukakan pintunya.
Bima membawanya ke sebuah rumah makan, yang celakanya adalah rumah makan di mana tadi dia berkencan dengan Adri.
***
Besok lagi ya.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKejora Pagi.
ReplyDeleteKamis ; 5 PEB 2026
Pukul : 19:00:01 WIB.
πππππππππππππππππ
☘️💐☘️🩷☘️💐☘️
*BIARKAN AKU*
*MEMILIH*
_#Episode : 01_
by : Tien
Kumalasari
Editor: Kakek Habi
☘️💐☘️🩷☘️💐☘️
πππππππππππππππππ
Sudah tayang Matur nuwun.
Sami2 mas Kakek
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteBIARKAN AKU MEMILIH Edisi perdana SUDAH TAYANG.
Matur nuwun Mbak Tien. Salam SEROJA.
Salam seroja mas Kakek
Delete🍓🫐🍓🫐🍓🫐🍓🫐
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung Baru
"Biarkan Aku Memilih"
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🍓🫐🍓🫐🍓🫐🍓🫐
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 01" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu🙏
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSugeng dalun
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Sami2 jeng Susi
DeleteMatur suwun Cerbung baru Biarkan Aku Memilih - eps 01 tayang ..Salam sehat selalu Bu Tien🙏🙏🙏
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteSalam sehat juga
Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih cerbung baru telah tayang.
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah, mtr nwn bu tien 🙏
ReplyDeleteSami2 pak Bam's
DeleteSueun mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteSami2 ibu
DeleteAlhamdulillah cerbung baru dah tayang, awal2 ceritanya menarik untuk lanjutannya lebih seru.... Maturnuwun Bu Tien cerbung barunya,tetap sehat semngat dan bahagia bersama Kel tercinta...🙏
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah cerbung 1 sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulilah cerbung baru sudah tayang, maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga berdama amancu sll sehat dan dalam lindungan Allah SWT aamiin yra 🤲🤲 ... salam hangat dan aduhai hai hai bun 🧡🧡👍👍🙋♂️🙋♂️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sru
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah cerbung 1 sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih mbakyu Tienkumalasari sayang,
Semoga sehat sll dan tetap semangat inggih, wassalam dari Cibubur, JakTim
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sis
DeleteAlhamdulillah Cerbung baru BIARKAN AKU MEMILIH~01 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 1* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteMks bun cerbung baru BAM 01, sdh tayang, selamat malam smg bunda beserta kelrg sll sehat🙏🤲
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Supriyati
DeleteHamdallah...cerbung serial baru sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung perdana ~BIARKAN AKU MEMILIH 01 ~ sudah tayang ,Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah... Cerbung baru Biarkan Aku Memilih ~01 sdh tayang, terimakasih bunda Tien, salam sehat dan bahagia selalu bunda Tien beserta keluarga tercinta.... Aamiin YRA 🤲🤲🤲
ReplyDeleteSami2 ibu Komariyah
DeleteSalam sehat juga
Matur nuwun Bu Tien atas cerita barunya. Semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteCerbung baru udah mulai tayang
Terimakasih bunda
Udah mulai ada konplik nih..
Sami2 bapak Endang
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung perdana : Biarkan Aku Memilih 01... sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin.
Waduh....Nirma..Adri..Bima...Cinta Segitiga kah ini.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteSelamat malam bunda..terima ksih cerbung perdananya 🙏salam sht sll y unk bunda dan bpk..🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida. Salamsehat juga
DeleteSeri pertama sudah tegang...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
Sami2 prof
DeleteMatur nuwun
ReplyDelete