Sunday, August 2, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 011

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  011

(Tien Kumalasari)

 

Rahman melihat ibunya duduk di lantai, dan seorang nyonya cantik sedang memarahinya, menuding-nuding wajahnya.

Baroto mendekat. Ana tak ada di sana.

“Apa yang kamu lakukan?” tegurnya kepada sang istri.

“Ini, pengemis … eh … pemulung ini, enak-enak makan di sini bersama Ana. Rumi sudah mengingatkannya, tapi Ana nekat. Lihatlah, pakaian kumuhnya, dia duduk di kursi situ dengan nyaman. Lalu_”

“Diam kamu!” sentak Baroto, membuat sang istri mengerutkan keningnya.

“Mengapa kamu membelanya Mas?”

“Ini bukan kemauan dia, ini kemauan Ana. Ana suka kepadanya, apa salahnya? Mengapa juga kalau dia duduk di kursi dan makan bersama Ana?”

Tiba-tiba Ana muncul. Ia tadi pamit ke belakang karena perutnya sakit. Ketika keluar, ia terkejut melihat Menur duduk di lantai.

“Mengapa Bibi duduk di bawah, ayolah naik. Duduk di sini seperti tadi,” kata Ana sambil menarik tangan Menur. Tapi Menur menolaknya.

“Bibi mau pulang saja, ini sudah siang,” kata Menur sambil berdiri.

“Ini karena kamu bertindak semau kamu, merusak tatanan yang ada di rumah ini.”

“Tatanan apa?”

“Pembantu saja tidak boleh duduk di kursi, bagaimana mungkin seorang pengais sampah diijinkan duduk di kursi bersama dengan anak kita?”

“Biarkan pembantu duduk bersama kita, dan biarkan wanita ini duduk sejajar dengan anak kita, memangnya kenapa? Mereka juga manusia seperti kita.”

“Mereka tidak sejajar dengan kita Mas.”

“Kamu yang membuat tidak sejajar.”

“Mama, jangan bertengkar. Bibi Menur akan ada di sini bersama Ana.”

“Kamu masih nekat Ana?”

“Aku ingin dia, aku merasa senang bersama dia.”

“Kamu keterlaluan!”

“Apa tidak boleh? Kalau tidak boleh, Ana akan bilang pada nenek.”

“Apa?” nyonya Baroto melotot marah. Ana punya senjata untuk memaksanya. Kalau sampai ibunya tahu Ana disia-siakan, maka sang ibu akan memarahinya. Itu yang kemurian membuat kemarahan sang nyonya menjadi surut.

“Terserah kamu saja!” kata nyonya Baroto sambil masuk ke dalam. Tak lupa ia menghentakkan kakinya karena kesal.

Ana tersenyum.

“Bukankah Papa mengijinkan bibi Menur tinggal di sini?”

“Tentu saja Ana, asal Ana senang, papa mesti mengijinkan.”

Tapi Menur yang sudah berdiri di luar, menggelengkan kepalanya.

“Non Ana jangan memaksakan kehendak. Kalau mama tidak suka, NOn Ana harus menurut.”

“Mengapa bibi memanggil aku non Ana? Panggil namaku seperti sebelumnya.”

“Kita berbeda derajat non.”

“Aku tidak tahu tentang derajat. Aku mau bibi,” kata Ana sambil memeluk Menur yang sudah berdiri di luar teras.

Sementara itu Rahman yang melihat adegan itu merasa ada sesuatu yang menusuk perasaannya. Gadis kecil yang cantik dan berpakaian bagus itu tidak merasa jijik memeluk ibunya yang pakaiannya kumal dan mungkin juga tidak berbau wangi. Sedangkan dirinya tak sedikitpun pernah melakukannya. Ia selalu merendahkan ibunya. Ibu yang melahirkannya dengan taruhan nyawa, yang meneteskan keringat demi dirinya. Itu kata-kata Baroto yang belum lama didengarnya.

Sekarang, ketika ia mendengar ibunya direndahkan, rasa sakit serasa menusuk dadanya. Tak rela. Ada yang berubah pada dirinya. Baroto menyadarkannya, saat dia berbohong dan ketahuan.

Rahman maju, dan memegangi tangan sang ibu.

“Ibu, ayo pulang,” katanya lembut.

Ana baru sadar kalau ada orang lain di situ. Demikian juga Menur. Ia tak menyangka bahwa Rahman menyusulnya. Ia heran Rahman menyapanya lembut.

“Kamu siapa?” tanya Ana sambil menatap Rahman

“Ini adalah ibuku. Walaupun hina, dia adalah ibuku.”

Ana menatap Menur, meminta jawaban, apakah apa yang dikatakan anak laki-laki itu benar, sementara Baroto menatap Rahman sambil tersenyum. Ia merasa lega, semua perkataanya berhasil masuk ke dalam sanubarinya.

Menur yang terkejut melihat sikap Rahman, kemudian merangkul pundaknya.

“Ayo kita pulang, Nak,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

“Bibi, jangan pergi!’ pekik Ana sambil mengejarnya.

“Ana, jangan begini. Kamu punya keluarga yang sangat perhatian sama kamu.”

“Tapi aku mau Bibi,” rengek Ana, sambil menangis.

“Jangan begini Ana, bibi tidak pantas tinggal di sini.”

“Bibi tidak boleh pergi.”

Baroto mendekat, berusaha menenangkan hati Ana.

“Ana, kali ini biarlah bibi Menur pulang, biar dia pikirkan permintaan kamu, karena bibi juga punya anak sendiri. Besok kita ajak dia bicara lagi.”

“Dia takut pada mama.”

“Nanti papa bicara sama mama, sudah, jangan menangis. Papa yakin mama akan mengijinkan. Kita tinggal membujuk bibi Menur supaya mau. Ya?”

Ana mengangguk sambil mengusap air matanya.

Menur dan Rahman sudah berjalan, menuju keluar halaman. Baroto mengejarnya. Ia berbisik di telinga Menur.

“Apakah dia anakku?”

Menur terus melangkah, tapi Baroto dengan nekat mengikutinya.

“Iya apa bukan? Katakan terus terang.”

“Bukan. Mengapa kamu begitu yakin?”

“Aku merasakan sesuatu ketika bersamanya. Naik kuda berdua, makan berdua.”
”Jangan mengada-ada. Kamu membuatku sakit karena terhina. Memang aku hanya orang rendahan, mana pantas duduk bersama dengan keluarga konglomerat seperti kalian?”

“Mengapa mengalihkan pembicaraan? Pertanyaanku bukan itu.”

Baroto tadi hanya berbisik, karena tak mau Rahman mendengarnya. tapi kemudian ia berkata dengan nada biasa. Rahman juga tak memperhatikan pembicaraan itu. Ia tahu sang ibu sudah kenal baik dengan om ganteng yang kaya raya itu. Jadi ia membiarkannya. Yang jelas perasaan Rahman kepada ibunya sudah berbuah. Bukan hanya karena perkataan Baroto saat makan, tapi sikap putri kecil ana keluarga kaya itu yang begitu akrab dengan ibunya, merangkulnya tanpa merasa jijik padahal bajunya bagus dan ibunya hanya memakai baju kumuh. Tiba-tiba saja Rahman merasa sakit hati ketika mendengar ibunya direndahkan. Rahman sebenarnya anak baik. Ia hanya terpengaruh teman-teman sekolahnya, yang merendahkan temannya yang bukan anak keluarga kaya. Rahman tak mau dirinya  juga direndahkan, lalu ia menyesal mengapa terlahir dari keluarga miskin. Bahkan ibunya menjadi pemulung. Itu yang membuat sifatnya berubah, dan tak merasa bahwa telah menyakiti hati ibunya. Tapi entah mengapa, ia bertemu seorang Baroto, om ganteng yang baik, lalu bisa membuka hatinya, menyadari kesalahannya. Karenanya ia menggandeng tangan sang ibu erat-erat di sepanjang perjalanannya. Perubahan itu membuat Menur terkejut, tapi dia juga bahagia. Tangan kecil itu menggenggam jemarinya dengan hangat, dan kehangatan itu menyusuri setiap aliran darahnya. Apapun yang terjadi, Rahman ternyata menyayanginya.

***

Baroto kembali ke rumah, ketika mendengar jawaban Menur yang membuatnya kecewa. mendapati Ana sedang menangis meraung-raung. Rumi kewalahan membujuknya.

“Ana, berhentilah menangis.”

“Ana mau bibi Menur. Ana mau bibi Menur.”

“Bibi Menur sedang mengantarkan anaknya pulang. Nanti papa akan bicara lagi sama bibi Menur. Ya?”

“Bibi Menur tidak mau karena mama memarahinya. Mama jahat. Bibi Menur pasti pengin marah tapi tidak berani.”

“Tenanglah, tidak apa-apa., nanti papa bantu membujuknya.”

“Tapi dia pasti tidak mau. Papa tidak akan berhasil.”

“Mengapa kamu berkata begitu?”

“Mama sudah memarahinya.”

Lalu Ana menangis semakin keras. Sedangkan nyonya Baroto tak mau keluar dari kamarnya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Baroto dan Ana bergegas keluar karena itu suara mobil mertuanya.

Sang ibu mertua turun lalu bergegas menghampiri Ana.

“Cucu nenek, mengapa menangis? Siapa berani membuat cucuku menangis?”

“Nenek, mama jahat sekali.”

“Oh ya? Mamamu melakukan apa? Kamu dijewer? Dicubit?”

“Tidak. Mama memarahi bibi Menur.”

“Siapa bibi Menur?”

“Ana mau bibi Menur menjadi pengasuh Ana, tapi mama tidak ijinkan.”

“Kamu kan sudah punya Rumi?”

“Aku juga mau bibi Menur?”

“Siapa dia? Mengapa istrimu tidak mengijinkan?” tanya sang mertua sambil menatap menantunya.

“Dia seorang pengais sampah,” Ana yang menjawab kemudian.

“Apa? Pengais sampah? Mengapa kamu ingin pengasuh seorang pengais sampah? Kamu boleh minta apa saja, tapi jangan yang aneh-aneh,” katanya sambil duduk bersama di ruang tengah.

“Dia baik, dia sangat baik. Lagipula Ana kasihan, dia mencari botol kosong setiap hari, untuk sekolah anaknya.”

“Seperti apa sih dia?”

“Pokoknya dia baik, nenek harus memarahi mama,” kata Ana sambil menggoyang-goyang tangan neneknya.

“Mana mama kamu, panggil kemari.”

Ana segera berlari ke kamarnya. Harapan untuk mendapat ijin dari mamanya akan terwujud, karena ia yakin sang nenek akan membelanya.

***

Sesampai di rumah, Menur melihat bahwa makan siang yang disiapkan sejak sebelum berangkat untuk menemui Ana, masih belum tersentuh.

“Rahman, mengapa kamu tidak makan? Ibu hanya membeli telur, dan_”

“Rahman sudah makan bersama om ganteng.”

Menur membelalakkan matanya.

“Ibu belum bertanya, mengapa tadi kamu bisa bersama dia.”

“Tadi om ganteng datang ke sekolah, lalu mengajak Rahman makan di restoran. Lalu diajaknya ke rumahnya yang bagus itu.”

“Ibu kira kamu sudah pulang makan, lalu pergi bersama dia.”

“Tidak. Karena om ganteng, Rahman menyesal telah menyakiti hati ibu.”

“Karena itulah sikapmu pada ibu berubah?”

“Rahman juga ingin marah melihat nyonya kaya itu memarahi Ibu.”

Menur merangkul anaknya dengan air mata berlinang.

“Tapi mulai besok kamu tidak boleh lagi pergi bersama dia,” kata Menur tandas.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, August 1, 2026

AKU ANAK SIAPA 01

 AKU ANAK SIAPA  01

(Tien Kumalasari)

 

Seorang perempuan berjalan tertatih di jalan raya. Wajah yang aslinya cantik tampak kumuh berdebu. Bajunya yang kucel dan usang menyembunyikan sesuatu yang indah dipandang sebelumnya.

Di depan sebuah warung dia berhenti.

“Bolehkah saya minta makan? Sedikit tidak apa-apa, saya lapar,” katanya memelas.

“Hei, agak jauh sana, tubuhmu bau. Nanti pelangganku kabur semua,” hardik seorang perempuan gemuk dari dalam warung. Tampaknya dia pemilik warung itu.

Perempuan kumuh itu mundur, lalu berjalan menjauh dengan lunglai.

Di sebuah warung yang lain, dia masuk, lalu seseorang berteriak.

“Maliiiing.”

Perempuan itu lari, orang-orang mengejarnya. Ia tersandung batu dan jatuh tertelungkup. Beberapa orang memukulinya. Perempuan itu ambruk tak sadarkan diri. Sepotong roti masih ada di dalam genggamannya.

Lalu ada suara laki-laki berteriak.

“Heii, hentikan!”

Laki-laki itu mendekat, sudah setengah tua. Ia mengenakan seragam satpam. Rupanya ia bertugas di sebuah toko pakaian yang ada di dekat tempat itu. Rasa iba menyeruak. Ia menatap orang-orang yang masih memandangi perempuan itu dengan marah.

“Apa kalian masih manusia? Dia itu pingsan, hampir mati, dan kalian masih memukulinya?”

“Dia mencuri di warung saya Pak. Kalau dibiarkan dia akan terbiasa mencuri,” kata si pemilik warung.

“Berapa harga makanan yang diambilnya?” tanyanya sambil melirik ke arah tangan perempuan yang masih menggenggam sepotong roti. 

Ia bergerak perlahan, berusaha duduk. Wajahnya matang biru.

“Sepuluh ribu rupiah Pak.”

“Ini, aku bayar roti sampeyan, dan bubar semuanya.”

Pemilik warung menerima selembar puluhan ribu kemudian berbalik. Sudah dibayar tapi dia masih mengomel panjang pendek.

Perempuan itu terisak.

“Saya … lapar,” lirihnya.

“Baiklah, makan roti itu dulu, duduklah disana,” kata laki-laki itu sambil menuntunnya ke tempat sepi. 

Ada bangku kosong di bawah sebuah pohon. Bangku milik tukang warung es yang tidak dipakai. Mungkin libur berjualan.

Laki-laki itu meninggalkan perempuan yang kemudian melahap rotinya. Ia tampak sangat lapar.

Tak lama kemudian ia datang, lalu memberikan sebungkus nasi dan sebotol minuman.

“Kamu pasti masih lapar. Ini makanan, dan minuman. Habiskan ya.”

“Terima … kasih.”

“Namamu siapa?”

“Rosa …,” jawabnya lirih.

“Rumahmu di mana?”

Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak punya rumah?”

Rosa kembali menggeleng.

“Nanti kalau jam tugasku selesai, kamu ikut aku ke rumah ya.”

Rosa tak menjawab. Dia sedang membuka botol minuman, lalu meneguknya hampir separo. Ia meletakkan botolnya, kemudian membuka bungkusan nasi.

Terharu pak satpam ketika melihat cara Rosa makan. Kelihatan sekali dia sangat lapar.

“Duduk dulu di sini, tunggu aku selesai bertugas. Di sana ada kamar mandi untuk umum. Cuci mukamu, dan bersihkan badanmu. Setelah itu duduk saja di sini dan tunggu aku."

Rosa lagi-lagi mengangguk, dan pak satpam yang baik hati itu berlalu untuk menghabiskan waktu tugasnya.

***

Rosa ngelesot di tanah. Ia tertidur dengan sebelah tangan ditekuk, dipergunakannya sebagai bantal. Udara panas tak dihiraukannya. Ia sudah kenyang kemudian merasa mengantuk. Semilir angin dari pepohonan membuat ia segera terlelap. Tak seorangpun menoleh ka arahnya. Mereka menganggapnya seorang gelandangan yang tertidur karena kelelahan.

***

Perempuan itu memang Rosa. Rosana, anak angkat pengusaha kaya yang baru saja keluar dari penjara setelah melakukan kejahatan.

Ia tak mau kembali ke rumah orang tua angkatnya, setelah mereka tak mau lagi mengakuinya sebagai anak angkat.

Karena itulah ia tak mau lagi menginjakkan kakinya ke rumah itu. Tapi hal yang sangat ingin diketahuinya adalah, anak siapa sebenarnya dirinya ini.

Di catatan ayah angkatnya ia hanya melihat sekilas, bahwa dia dipungut dari sebuah panti asuhan. Ia tidak lupa nama panti itu. Panti Asuhan Rasa Sayang, alamatnya sudah dia catat dalam hati. Ia mau ke sana, tapi ia tak memiliki sepeserpun uang untuk pergi menemukan tempat itu. Makanpun ia harus menahannya selama entah berapa lama, sampai ada belas kasihan orang untuk memberinya makan. Yang terakhir karena tak ada lagi yang dia makan sementara dia sudah kelaparan, maka ia masuk ke sebuah warung lalu mengambil sepotong roti yang dijual. Itu sebabnya dia diteriaki maling lalu dipukulin orang beramai-ramai.

Beruntung ada bapak satpam yang baik hati, yang membelanya lalu memberi dia makan, bahkan akan mengajaknya pulang. Apa satpam itu tak punya keluarga? Mengapa begitu baik dia kepada dirinya yang belum pernah dikenal sebelum itu?

***

Hari sudah sore ketika pak satpam yang belum diketahui namanya itu membangunkannya dari tidur yang lelap.

“Masih mau tidur,” Rosa menggeliat, lalu duduk tiba-tiba.

“Mau ikut aku pulang?” katanya sambil memberikan sebuah bungkusan.

“Ini … apa?”

“Baju ganti. Bajumu lusuh. Hanya tiga, tapi baju murahan.”

“Ini sangat luar biasa, terima kasih banyak.”

“Mau ikut ke rumah aku?” ulang pak satpam.

“Apa boleh?”

“Aku tinggal sendirian. Tidak punya anak, tidak punya istri. Entah mengapa ketika melihat kamu, aku jadi merasa iba dan ingin menolong. Tapi aku tidak memaksa, aku hanya berniat baik.”

“Saya mau.”

Laki-laki setengah tua itu tersenyum. Ia menghampiri sepeda motornya, lalu meminta Rosa agar duduk di boncengan.

Tak ada pilihan lain bagi Rosa. Kalau benar pak satpam tulus menolong, dia akan tinggal di rumahnya, tidak kehujanan, tidak kepanasan, dan yang penting tidak kelaparan.

***

Rumah itu kecil. Hanya ada dua kamar, ada ruang untuk bersantai, ada televisi kecil, ada dapur dan kamar mandi didekatnya. Hanya rumah sederhana, tapi Rosa merasa nyaman, daripada hidup diluaran yang tak tentu di mana dia bisa tidur, daripada hidup di penjara juga pastinya.

"Ini boleh kamu jadikan kamar kamu, tapi kamu harus membersihkannya terlebih dulu. Ada kasurnya walau tipis. Almari kecil untuk tempat baju atau apa," kata pak satpam.

"Di situ dapur, di sana kamar mandi. Sepertinya kamu harus mandi, ada sikat gigi dan sabun untuk  kamu pakai. Masih baru, dan taruh di tempat lain, tidak jadi satu dengan punyaku," lanjutnya.

"Aku hidup sendirian setelah istriku meninggal karena suatu penyakit. Aku selamanya hidup sederhana. Yang penting bisa makan cukup dan berpakaian pantas. Apa kamu suka?”

“Saya sangat berterima kasih karena Bapak telah menolong saya," kata Rosa.

“Sebenarnya di mana orang tua kamu?”

Rosa tak mau menceritakan yang sebenarnya. Bahwa dia pernah menjadi anak angkat orang kaya, bahwa dia pernah melakukan kejahatan dan dipenjara, tidak. Semuanya hanya akan disimpan untuk dirinya sendiri.

Surat-surat yang diberikan oleh kepala penjara tentang kebebasannya, sudah dibuangnya jauh-jauh setelah dirobek-robeknya menjadi serpihan kecil, seperti hidupnya yang berujud serpihan nyawa yang entah ke mana angin akan membawanya.

“Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?” ulang pak satpam ketika mereka sudah mandi bersih, dan pak satpam menyediakan minuman hangat untuk mereka.

“Maafkan saya Pak.”

“Panggil saya pak Gatot.”

“Oh, iya pak Gatot. Saya tidak ingin mengingat masa lalu saya. Saya diusir oleh orang tua saya. Mereka sangat miskin. Saya harus mencari makan sendiri.”

“Mengapa kamu tidak dinikahkan saja dengan seseorang yang bisa menghidupi kamu?”

“Tidak ada yang mau menikahi anak orang miskin.”

“Benarkah?”

Rosa terdiam, dan pak Gatot merasa bahwa Rosa tidak mau atau belum mau bercerita tentang siapa dirinya.

“Baiklah, aku tidak memaksa. Tapi orang hidup itu kan harus punya tujuan. Apa sebenarnya yang kamu inginkan dalam hidup ini?” kata pak Gatot.

Apa yang dia inginkan? Tadinya dia sudah akan mendapat tugas mengurus usaha orang tua angkatnya di luar negri, tapi gagal karena kelakuan busuknya. Ia selalu bergelimang harta, kemana-mana naik mobil, makan enak, tidur nyenyak di kamar indah dan tempat tidur yang nyaman. Sekarang ini ia hanya ingin mencari, siapa orang tuanya, dan di mana mereka berada.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, July 30, 2026

AKU ANAK SIAPA

 AKU ANAK SIAPA  

(Tien Kumalasari)


Seorang gadis berjalan tertatih dijalan Raya. Wajah yang aslinya cantik, tampak kumuh berdebu. Bajunya yang usang dan kucel.. menyembunyikan sesuatu yang indah dipandang sebelumnya.

Di depan sebuah warung dia berhenti.

"Bolehkah saya minta makan? Sedikit saja. Saya lapar," katanya memelas.

"Hei, agak jauh sana... tubuhmu bau. Nanti pelangganku kabur semua," hardik ibu-ibu gemuk yang rupanya pemilik warung.

Wanita itu mundur, lalu berjalan menjauh dengan lunglai.


Di sebuah warung yang lain, seseorang berteriak.

"Heiii, pencuriiii!"

Orang-orang mengejarnya, membuatnya tersandung batu dan jatuh.

Beberapa orang memukulnya bertubi-tubi.


Cerita apa nih? Mudah2an seru ya. Tungguin...

***

besok-besok ya..


---




Wednesday, July 29, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 61

 NAMAKU TETAP SENJA  61

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengangkat tubuhnya, duduk menghadapi simboknya yang terbaring dengan wajah lesu.

“Jadi Senja harus menolaknya?”

“Nja, apa kamu juga mencintai dia?”

“Entahlah Mbok, Senja bingung.”

“Sepertinya kamu keberatan menuruti permintaan Simbok.”

“Bukan Mbok, Senja tidak keberatan. Senja juga mengerti kalau Senja tak pantas untuk mas Arka.”

“Kalau begitu tidak usah kamu pikirkan. Kamu bilang saja kamu dilarang Simbok.”

“Mas Arka sudah begitu baik sama kita. Dia rela antar jemput Senja setiap hari, saya sudah melarangnya tapi dia nekat.”

“Justru karena itu Nja. Simbok tidak meragukan kebaikannya, tapi Simbok akan merasa kasihan kalau pada suatu hari nanti dia menyesal. Banyak gadis cantik yang pintar, mengapa harus kamu? Pastilah dia akan menyesal. Entah kapan, dan hal itu hanya membuat hati kamu sedih.”

Senja kembali ambruk di samping simboknya, memeluk pinggangnya erat.

“Simbok hanya memikirkan kebahagiaan kamu. Simbok tak ingin kamu menderita.”

“Senja tahu, Simbok sangat menyayangi Senja dan juga Rimba.”

“Apa kamu menyesal terlahir dari rahim seorang miskin?”

“Mengapa Simbok berkata begitu? Senja dan Rimba bahagia menjadi anak Simbok, yang rela bersusah payah demi kami berdua.”

“Simbok hanya ingin, anak-anak Simbok pintar, tidak seperti Simbok yang buta hurup seperti ini. Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan, manusia hidup itu kan hanya sekedar menjalani, dan perjalanan hidup kita bukan kita yang menentukannya, tapi Yang Maha Kuasa.”

“Iya Mbok, Senja mengerti.”

“Bagaimana pekerjaan kamu?”

“Baik Mbok,” jawab Senja yang tak ingin menceritakan bahwa ada yang tidak menyukainya.

“Teman-teman kerjamu baik?”

“Sangat baik Mbok.”

“Kamu suka bekerja di sana?”

“Suka. Semua pekerjaan Senja suka. Walau sedikit, Senja senang bisa membantu Simbok.”

“Besok kalau kamu gajian lagi, jangan semua diberikan Simbok seperti kemarin. Kamu harus menyimpannya sebagian, menabungnya, untuk keperluan kamu sendiri.”

“Nanti kalau Senja butuh sesuatu, tinggal minta sama Simbok.”

“Kamu tidak ingin membelanjakan uang jerih payah kamu sendiri?”

“Apa bedanya Senja minta dari Simbok?”

“Ya sudah, jangan pikirkan masalah itu lagi, tidurlah, sudah malam. Jangan sampai besok pagi kamu bangun kesiangan.”

***

Arka sedang melamun sendirian, duduk di teras, tak peduli udara dingin yang menggigit.

Hampir tengah malam ketika tiba-tiba pak Wiguna keluar.

“Kamu belum tidur?”

“Bapak juga, mengapa belum tidur?”

“Bapak sudah tidur tadi, terbangun karena haus. Melihat kamarmu masih terbuka dan Bapak lihat kamu tidak ada di kamar.”

“Gerah.”

“Udara begini dingin, tapi kamu kegerahan?”

“Sekarang agak dingin.”

“Kamu sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak.”

“Bapak dengar kamu memindahkan Asih ke gudang pemasaran. Karena kamu lebih memilih Senja yang jadi sekretarismu?”

“Bukan karena saya memilih Senja. Sudah sebulan lebih Senja bekerja sama dengan baik, dan Senja sudah banyak mengerti.”

“Iya, aku tahu itu.”

“Tapi rupanya Asih mempunyai rasa tidak suka pada Senja.”

“Bapak kira itu wajar. Asih sudah lebih lama bekerja. Dia takut tersaingi.”

“Tapi saya tidak mengistimewakan Senja, dalam segi apapun. Gaji Asih masih tetap seperti biasa, dan Senja jauh lebih sedikit karena dia baru, dan tingkat pendidikan mereka berbeda.”

“Tapi namanya manusia kan bisa saja ada rasa khawatir.”

“Tadi Asih merubah surat yang dibuat Senja, maksudnya supaya Senja melakukan kesalahan, dan itu fatal. Dia mengganti angka penawaran harga yang jauh lebih mahal. Itu akan merugikan kita. Kejahatan itu yang membuat saya menyingkirkan Asih. Bukan memecatnya, hanya memberinya pelajaran.”

“Apa kamu menyukai Senja?”

“Bukan karena menyukai lalu saya menghukum Asih.”

“Yang Bapak tanyakan, apa kamu menyukai Senja?”

Agak lama Arka menjawabnya.

“Ini ada apa, malam-malam berbincang di sini?” tiba-tiba bu Wiguna keluar.

“Ibu bangun? Di sini dingin.”

“Kalau begitu masuklah, kalau memang ada pembicaraan penting. Nanti ibu buatkan minuman hangat.”

Pak Wiguna mengangguk.

“Aku sedang menunggu jawaban Arka.”

“Jawaban tentang apa?”

“Apa Arka sebenarnya menyukai Senja … itu pertanyaannya.”

“Bagaimana Ka, ibu juga ingin tahu jawabannya.”

“Apakah Bapak atau Ibu keberatan kalau Arka menyukai Senja? Dia hanya gadis anak penjual beras. Pendidikannya hanya sampai SMA. Nanti Bapak bilang kalau dia tidak sepadan dengan keluarga kita.”

“Ibu bagaimana?” tanya pak Wiguna yang urung masuk rumah karena serius membicarakan Senja.

“Terserah Bapak saja. Mana yang sebaiknya Arka lakukan. Kalau Bapak setuju, Ibu juga.”

“Bapak sudah mengerti kalau harta tidak selalu membuat kita bahagia. Perilaku yang baik bisa lebih menenangkan. Ya kan? Aku belajar dari keinginan aku dulu, yang berharap bisa punya menantu anak orang kaya. Tapi apa, ternyata dia gadis yang tidak bener, malah sekarang mendekam di penjara.”

“Senja gadis yang jujur, dan sangat bersemangat. Dia tidak menyukai harta. Dia sangat rendah hati, dan tidak akan memeras kita,” kata Arka bersemangat melihat sikap ayahnya tampak lunak dan tidak berteriak-teriak ketika tidak menyukai sesuatu.

“Janganlah merasa bahwa kebahagiaan terletak kepada harta. Ketika kita berjalan dijalan yang benar, maka itulah bahagia,” kata bu Wiguna sambil melirik ke arah suaminya.

Bukankah bu Wiguna tahu perilaku pak Wiguna yang membawanya kepada kebohongan yang bertubi-tubi? Tapi bu Wiguna sangat bijak, tak ingin mengungkit penyelewengan sang suami. Menurutnya ketika suaminya sudah kembali ke jalan yang benar, itu sudah cukup.

“Kalau begitu terserah Arka. Hidupmu adalah kamu sendiri yang menentukannya. Kapan kamu meminta Bapak dan Ibu melamar? Kalau lamaran itu diterima, keluarga Senja akan aku suruh menempati rumah yang ada di perumahan baru itu, aku sudah membayarnya lunas.” 

Pak Wiguna kelepasan bicara padahal masalah rumah itu istrinya dianggapnya tidak tahu.

“Lhoh, jadinya Bapak beli rumah? Yang brosurnya aku temukan itu?" kata bu Wiguna pura-pura terkejut.

Pak Wiguna berdiri lalu menggandeng lengan istrinya.

“Bu, aku pernah melakukan kesalahan, nanti aku ceritakan semuanya, termasuk rumah itu. Tapi aku sudah sadar, aku mengerti bahwa di sinilah rumahku,” kata pak Wiguna sambil berjalan masuk.

Arka tersenyum lucu. Ia tahu semuanya, ia juga yakin sang ibu juga tahu. Tapi ia senang ayahnya mengakui kesalahannya.

***

“Ini suratnya pak, maaf agak lama, karena saya harus berpikir sendiri,” kata Senja sambil menyodorkan sebuah arsip ke meja Arka.

“Aku tahu kamu bisa melakukannya. Duduklah dulu, aku mau bicara.”

Senja berdebar. Ia tahu apa yang akan dikatakan Arka. Dan ia juga tahu apa jawab yang akan diutarakannya. Simboknya sudah mewanti-wanti panjang lebar.

“Kamu sudah memikirkannya?”

Senja menundukkan wajahnya. Kedua tangan yang ada dipangkuannya saling meremas, dan berkeringat.

“Jangan takut menjawab tidak.”

“Maaf Pak, tidak,” kata Senja takut-takut.

“Tidak? Kamu menolak lamaran aku?”

“Saya harus tahu diri, saya takut Bapak akan menyesal. Saya bukan siapa-siapa, dan hanya akan membuat malu keluarga Bapak.”

“Aku tulus Senja. Aku mencintai kamu. Aku akan menunggu, kapan kamu siap menerimanya.”

“Maaf Pak,” Senja berdiri, bergegas keluar sambil mengusap air matanya. Tapi Arka tahu, dibalik pandangan mata Senja, ada cinta kepada dirinya. Ia hanya tahu diri karena perbedaan statusnya.

***

Hari itu hari Minggu. Senja dan Rimba ada di rumah. Simbok memilih tidak berdagang beras, karena ingin memasak untuk anak-anaknya.

Senja sedang bercanda dengan adiknya di depan, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil berhenti di jalan depan rumah mereka.

Senja terkejut, itu mobil Arka. Wajahnya mendadak berubah sedih. Pasti Arka akan menanyakannya lagi, walau dia sudah menjawabnya. Tapi tiba-tiba Rimba berteriak.

“Mas Arka sama siapa itu?”

Senja yang semula menundukkan wajahnya juga terkejut. Arka tidak sendiri. Ada pak Wiguna dan istrinya berjalan di belakangnya.

“Apakah … pak Wiguna akan … memarahi aku karena … anaknya mencintai aku? Lalu .. aku akan dipecat?” kata batinnya, ketakutan.

Rimba berlari ke belakang, memanggil simboknya.

Senja berdiri sambil mencoba tersenyum walau wajahnya pucat.

“Senja, apa kamu tidak mengenalku?” kata pak Wiguna sambil tersenyum. Dan senyuman itu membuat ketakutan Senja berkurang. Ia menyalami tamu-tamunya penuh hormat.

“Tentu saya mengenal Bapak, ta … tapi …,“ Senja menatap Arka yang tersenyum-senyum, membuat Senja kebingungan.

“Bolehkah kami duduk?”

“Ss … saya … kk ..kami tidak punya kursi …lal … lalu.. “

“Itu bangku kan, bisa untuk duduk kan?” kata pak Wiguna yang mengajak istrinya duduk di bangku, membuat Senja ketakutan.

“Tap … ppi.. aduh … sebenarnya … ada apa?”

“Senja, mengapa kamu terlihat bingung begitu? Bapak dan ibuku suka kok duduk di situ.”

“Senja, kami mau ketemu simbokmu.”

“App.. apa, siapa in..ni?” Simbok tiba-tiba sudah muncul, dan bingung melihat orang-orang berpakaian perlente duduk di bangku kayunya yang pastinya berdebu.

“Mbok, jangan bingung, duduklah di sampingku sini,” kata bu Wiguna ramah.

“Ini … bagaimana …”

“Mbok, ini bapak dan ibuku …," kata Arka.

“Apa … kkah … Senja melakukan kesalahan?” ketakutan mbok Mangun.

“Tidak Mbok, kami datang untuk melamar Senja.” langsung pak Wiguna mengatakannya.

Mbok Mangun hampir terjatuh kalau saja tidak berpegang pada pintu rumahnya.

“Saya sudah tahu keadaan Senja dan keluarganya bagaimana, tapi itu bukan masalah bagi kami. Yang penting Arka jatuh cinta pada Senja.”

Rimba heran, ternyata lamaran untuk kakaknya? Lamaran yang aneh, orang kaya duduk di bangku butut depan rumah?

“Tuan … Nyonya … bagaimana ini, kami orang miskin, kami takut nanti Tuan dan Nyonya, juga mas Arka akan menyesal. Rumah saya seperti ini, bagaimana nanti .. saya takut … sungguh. Mohon dipikirkan lagi," kata mbok Mangun yang mulai bisa bicara lancar.

Senja tidak terlihat, dari tadi dia masuk ke rumah, menangis dibalik pintu.

“Mas Arka bagaimana, tiba-tiba mengajak orang tuanya,” kata batinnya.

“Kami  sudah memikirkannya. Arka sudah memilih, kami merestuinya,” kata pak Wiguna kemudian.

“Arka, besok jemput mbok Mangun, ajak ke rumah yang tadi saya tunjukkan, biar dia melihat dulu rumah yang akan ditempatinya nanti,” kata pak Wiguna, membuat keluarga mbok Mangun semakin bingung. Ia belum menjawab apapun, tapi pak Wiguna seperti sudah yakin kalau lamarannya tak akan ditolak. Bagaimana menolaknya? Rasa sungkan dan bahagia berbaur menjadi satu.

***

Derita itu adalah ujian, dan bahagia adalah kelulusannya. Tampaknya penderitaan mbok Mangun akan segera berakhir. Malaikat ganteng itu akan benar-benar menjadi menantunya. Mimpi? Bukan, itu adalah kenyataan.

***

T A M A T.

 

 

Tuesday, July 28, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 60

 NAMAKU TETAP SENJA  60

(Tien Kumalasari)

 

Ketika saat istirahat, Senja menolak diajak makan siang bersama Arka. Arka duduk di depan meja kerjanya, menatap wajah Senja yang tampak gelap.

“Ada apa?”

“Mengapa seorang sarjana Bapak tempatkan di gudang, sedangkan lulusan SMA dijadikan sekretaris?”

Arka tersenyum. Senja bukan seperti gadis biasa, ketika yang memusuhi mendapat hukuman, lalu merasa senang, tapi tidak dengan Senja. Ia tetap menyayangkan kepindahan Asih, karena nyatanya Asih sudah membantu Arka selama bertahun-tahun.

“Aku tidak menilai dari pendidikannya. Orang berpendidikan tinggi juga harua memiliki perilaku yang bagus, terhormat dan tidak tercela. Dengan pendidikannya yang tinggi dia harus bisa menjadi pegawai teladan yang dikagumi. Bukan melakukan hal tercela demi ingin mencelakakan orang lain.”

Senja terdiam.

“Sudah, jangan cemberut begitu. Apa kamu tidak lapar?”

“Saya hanya memikirkan itu. Ia juga pernah mengatai saya yang hanya berpendidikan rendah makanya saya bodoh. Dan itu benar kan?”

“Senja, aku tahu sejak lama bahwa dia tidak menyukai kamu, karena itulah apa yang dilakukannya tadi merupakan hukuman atas hatinya yang tidak tulus. Kamu tidak usah memikirkannya. Aku akan menilai bagaimana kelakuan dia. Kalau dia bisa memperbaikinya, aku akan mengembalikan ke statusnya semula.”

Senja hanya terdiam.

“Ayo temani aku makan, jangan merengut begitu, nanti cantiknya hilang lho.”

Senja terkejut. Baru kali ini Arka menyebutnya cantik. Dan itu membuatnya berdebar. Ia menundukkan wajahnya, barangkali malu.

”Ayo temani makan, aku juga mau bicara tentang hal lain.”

“Hal apa?”

“Bicaranya nanti, sambil makan,” kata Arka sambil berdiri, dan mau tak mau ia mengikutinya.

Dari jauh, Asih yang juga ingin makan ke kantin, melihatnya. Ia mencibir sambil setengah berteriak.

“Lihat, dia pintar merayu atasan. Adakah diantara kaliyan yang pernah diajak makan bapak pimpinan?” katanya sinis.

“Senja itu kan memang kerabatnya pak Arka, setiap berangkat dan pulang dia juga selalu bersama, mengapa kamu ribut? Cemburu?”

“Iiih… malu dong, masa cemburu sama orang udik,” katanya tetap nyinyir. 

Tapi teman-temannya tetap mentertawakannya, karena Senja baik kepada semua orang bahkan menghormati kepada yang lebih tua.

Karena itu omelan Asih tak ada yang menghiraukannya.

***

Senja sudah duduk di depan Arka, dan menghadapi makanan dan minuman yang mereka pesan.

“Tadi mau omong apa?”

“Tentang kamu. Apakah kamu ingin melanjutkan kuliah?”

“Aku kan pernah bilang, tidak ingin melanjutkan lagi, aku hanya ingin bekerja, untuk meringankan beban Simbok. Biar sedikit, tapi kan beban Simbok lebih ringan. Simbok masih harus menyekolahkan Rimba. Itu yang lebih utama. Mohon jangan mentertawakan aku."

“Tidak. Aku bisa mengerti.”

“Mengapa mas ingin aku kuliah lagi? Mas malu karena aku diejek hanya lulusan SMA tapi dijadikan sekretaris direktur?”

“Senja … mengapa kamu berkata begitu?”

“Mungkin, kan aku tidak pantas menjadi pekerja kantoran? Sampai-sampai aku dihina oleh orang.”

“Kamu merasa terhina? Padahal menurut aku, kamu itu gadis yang sangat mulia.”

“Ada-ada saja..”

“Aku bicara sepenuh hatiku, jujur, tidak bohong.”

“Lalu mengapa Mas ingin agar aku kuliah?”

“Kalau kamu suka, aku akan membantumu, bukan karena aku ingin kamu bekerja dengan status sarjana, tidak. Apapun kamu, kamu akan tetap ada di dekat aku. Selalu, karena ….”

“Apa?”

Arka tiba-tiba terkejut dan merasa kelepasan bicara. Ia sadar apa artinya, sesuatu yang tersimpan jauh di dasar hatinya melesat keluar tiba-tiba, dalam bentuk yang mendekati sebuah pernyataan cinta. Apakah Senja sudah bisa menerima isyarat itu? Jangan-jangan dia ketakutan kalau mendengar bahwa Arka mencintainya.

“Senja, maafkan aku.”

“Mengapa minta maaf?”

“Barangkali ucapan aku tidak mudah kamu mengerti, atau membuat kamu bingung.”

Senja bukan anak kecil. Bahwa rasa suka itu pasti ada di setiap jiwa manusia. Tapi terhadap Arka, beranikah dia mengaku suka? Mimpi ‘kali. Siapa dia dan siapa Arka. Itulah yang dipikirkan Senja.

“Ayo, lanjutkan makanmu.”

Senja dan Arka melanjutkan acara makan yang terhenti karena pembicaraan yang belum terjawab.

“Apa maksud mas Arka bahwa apapun aku maka aku tetap ada di dekatnya? Karena apa? Mengapa mas Arka tidak melanjutkannya?” kata batin Senja yang kemudian membuat hatinya berdebar.

“Senja, apakah kamu marah?”

“Mengapa aku harus marah?”

“Kamu sudah dewasa. Kamu pasti sedikit banyak bisa menangkap ucapan aku.”

“Tidak begitu mengerti.”

“Mungkin sedikit.”

Senja menggelengkan kepalanya. Ia sudah menutup acara makannya dengan meletakkan sendoknya.

“Senja, apa kamu tahu tentang cinta?”

Senja mengangkat wajahnya. Debar jantungnya semakin kencang.

“Entahlah.”

“Kamu tahu bahwa ada yang jatuh cinta sama kamu?” Arka semakin berani. 

Wajah Senja pucat.

“Si … siapa?”

“Aku,” kepalang tanggung, Arka kemudian berterus terang.

“Apa?”

“Kalau aku mengecewakan buat kamu, kamu boleh manolaknya,” kata Arka pelan.

Ia ragu, juga khawatir kalau Senja benar-benar marah. Tapi ia melihat telaga bening menetes dari pelupuk matanya.

“Apa Mas sadar apa yang Mas ucapkan?"

“Sadar sesadar-sadarnya. Mengapa kamu menangis?"

“Mas sadar aku ini siapa? Aku anak mbok Mangun, penjual beras yang miskin, yang dianggap hina di mana-mana. Sedangkan Mas Arka, anak tuan besar yang dihormati dan disegani di mana-mana. Jangan membuatku sedih Mas.”

“Mengapa kamu sedih? Apa kamu tahu bahwa cinta ada di setiap hati manusia? Dan cinta akan datang kepada siapa tanpa harus ada petunjuknya?”

“Aku … tidak berani Mas.”

“Kamu tidak suka padaku?”

Kata siapa tidak suka? Arka adalah malaikat ganteng yang menjadi dekat dengannya karena kebaikannya. Berkali-kali kebaikan, berkali-kali pembelaan dan perlindungan. Tapi cinta?

“Mana aku berani.”

“Senja, jangan membenci aku karena ucapan aku. Kamu boleh menolak, tapi jangan takut mengakui kalau kamu memang menerimanya.”

Senja terdiam. Ia mengusap air matanya dengan tissue yang diulurkan Arka.

Ini pertama kalinya ia mendengar sebuah ungkapan cinta. Tangannya gemetar, kakinya bergetar

Arka kemudian juga lupa bahwa awalnya ia ingin meminta agar Senja melanjutkan sekolah, tapi mengapa kemudian berbelok pada ungkapan cinta?

***

Malam hari itu Senja meringkuk di pembaringan ibunya, menyembunyikan wajahnya di ketiak simboknya. Hal itu membuat mbok Mangun heran.

“Ada apa ini?”

“Mbok, aku bingung.”

“Mengapa?”

“Apakah yang harus aku lakukan ketika seseorang menyatakan cinta?”

Mbok Mangun mengangkat wajah anaknya, dan melihat air mata tergenang di pelupuknya.

“Kamu jatuh cinta? Itu wajar. Dulu, ketika Simbok seumur kamu, Simbok sudah menikah selama tiga tahun.”

“Bukan aku Mbok, ada yang mengatakan cinta pada Senja ini.”

“Oh ya? Tapi Simbok belum siap menikahkan kamu, harus ada uang yang cukup, dan_”

“Bukan begitu Mbok, mengapa Simbok memikirkan pernikahan?”

“Lalu apa? Siapa yang mengatakan cinta itu? Jangan main-main Senja, sebagai perempuan kamu harus hati-hati. Jangan mudah terbujuk oleh rayuan.”

“Mas Arka yang mengatakan itu.”

“Apa? Mas Arka suka sama kamu?”

“Aku bingung Mbok. Aku sadar aku ini anaknya Simbok, mana pantas Simbok menjadi besan seorang tuan yang terhormat dan kaya raya?”

“Tidak Nja, seperti aku bilang tadi, hati-hati. Kita orang miskin. Simbok tidak ingin kamu sengsara karena direndahkan oleh keluarganya. Bisa jadi mas Arka baik, tapi keluarganya? Mana mungkin mereka mau berbesan dengan mbok Mangun si tukang penjual beras. Miskin dan sama sekali tidak punya derajat.”

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Lebih baik kamu menolaknya.”

***

Besok lagi ya.

Monday, July 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 59

 NAMAKU TETAP SENJA  59

(Tien Kumalasari)

 

Pemeriksaan terus berjalan, hari demi hari. Bu Mery dan Rosa tetap ditahan. Betapa marah Rosa ketika dalam suatu pemeriksaan dipertemukan dengan bu Mery. Ia mengumpat dengan kasar sehingga harus dipisahkan oleh petugas.

“Dasar tak tahu diri. Kamu sudah menerima uang aku, tapi kamu membawaku dalam kasus yang menyebalkan ini.”

“Kamu, perempuan kejam yang tak berperikemanusiaan. Biar kamu menutupinya, Tuhan telah menunjukkan kebenarannya.”

“Manusia munafik. Kamu masih menyebut nama Tuhan sementara hidup kamu bergelimang dosa.”

“Kamu juga manusia berdosa. Gara-gara cemburu kamu tega mencelakainya.”

“Sudah, cepat keduanya bawa masuk.”

Pertikaian itu berhenti, dan polisi sudah mencatat semuanya.

Di dalam tahanan, Rosa pernah minta agar bisa menelpon ayahnya, tapi sang ayah tak peduli pada permintaannya.

“Papa, mengapa Papa tidak menolong aku? Keluarkan aku dari sini, Papa.”

“Tidak. Kamu yang melakukan kesalahan, kamu harus bertanggung jawab.”

“Papa, bukankah aku anak Papa? Papa tega?”

“Sebenarnya kamu bukan anakku.”

“Papa!”

Sambungan telpon diputuskan, Rosa menangis berguling-guling di ruang tahanan.

“Aku sudah membayarnya. Perempuan bodoh! Mata duitan!”

Tak ada yang mendengarnya, tak ada yang mempedulikannya. Suatu hari kemudian dia akan menebus semua kesalahannya. Lalu Rosa berpikir, sebenarnya aku bukan anak Papa? Pikirnya terus menerus. Karena aku ditahan maka Papa tidak mengakui aku sebagai anaknya?”

Rahasia itu terbuka, ketika di dalam sidang, pak Daryono menunjukkan surat keterangan dari sebuah panti asuhan, di mana Rosana yang masih bayi, diangkat anak oleh keluarga Daryono.

“Aku anak siapaaaa?”

Ketika palu sudah diketuk, Mery dan Rosana dijatuhi hukuman, Rosa masih berteriak histeris.

“Aku anak siapaaaa?”

Apapun yang terjadi, siapa yang menanam maka ia akan mengunduh buahnya.

***

Hari itu Senja sudah mulai bekerja di kantor Arka. Ia tentu harus banyak belajar, karena ia belum pernah bekerja, apalagi menjadi pembantu sekretaris. Tapi dengan penuh kesabaran, Arka selalu membantunya.

Pak Wiguna sendiri kagum, benar apa yang dikatakan Arka, Senja sangat cerdas dan mudah mengerti. Dalam sebulan ia sudah bisa menguasai semua tugasnya.

Hal itu tentu membuat beberapa karyawan merasa iri. Apalagi melihat Senja sangat dekat dengan sang direktur muda. Tapi dengan santun Senja menghadapi mereka. Ia rendah hati dan tidak pernah menyombongkan dirinya walau Arka memperhatikannya dan berbuat lebih dibanding terhadap karyawan lainnya.

Adalah Asih, sekretaris Arka yang lebih dulu menjabat, merasa kepanasan karena kepintarannya tersaingi oleh gadis muda yang belum lama masuk.

Ia selalu mencari celah agar Senja membuat kesalahan. Tapi sungguh sulit menemukan kesalahan itu.

Saat di depan Arka dia bersikap manis pada Senja, tapi tidak ketika Senja sedang berdua saja dengannya.

“Mbak Asih, surat ini artinya apa, ini kan  yang harus aku kerjakan?”

“Kamu kan sudah sebulan lebih bekerja, masa begitu saja tidak mengerti.”

“Maaf Mbak, daripada saya salah melakukannya, lebih baik saya bertanya kepada mbak Asih yang sudah lebih berpengalaman.”

“Kamu kan tahu bahwa pekerjaanku juga banyak? Kamu diperbantukan, karena pekerjaanku banyak. Kalau sedikit-sedikit bertanya, sama saja aku bekerja dua kali. Itu surat penawaran dari suplier, surat yang harus kamu buat adalah jawabannya.”

”Saya tahu, tapi saya masih bingung.”

“Bukankah pak Arka sudah memberi catatan di situ? Sudah, jangan tanya terus, nanti pekerjaanku tidak selesai-selesai. Lagi pula surat itu sudah harus dikirimkan hari ini. Kalau tidak selesai, tanggung sendiri akibatnya”

Senja diam, ia membaca kembali catatan dari Arka, tapi ia belum begitu paham.

“Salah pak Arka sendiri, karyawan lulusan SMA dijadikan pembantu sekretaris. Bukannya membantu malah membuat repot,” gumam Asih pelan.

Tapi Senja tentu saja mendengarnya. Ia bukan bodoh, ia mengerti kalau sebenarnya Asih tidak menyukainya, dan ingin membuatnya melakukan kesalahan, agar dirinya mendapat teguran. Ia menerimanya dengan sabar.

Ia terus membaca, lalu membandingkannya dengan surat-surat balasan penawaran yang terdahulu. Ia terus mengutak atik, dan akhirnya menemukan jawabannya.

Asih melirik ke arahnya, dan heran melihatnya sudah mulai mengetik.

Ketika pada suatu saat Senja sedang berdiri dan meninggalkan pekerjaannya untuk ke kamar mandi, Asih mendekati laptopnya yang masih menyala, lalu ia mengetik sesuatu. Ia melihat surat itu sudah selesai, dan tinggal mengeprint saja. Ia merubah angka penawaran, lalu ia duduk kembali, pura-pura melanjutkan pekerjaannya.

Senja merasa sudah meneliti surat yang dibuatnya, jadi dia siap mencetaknya.

Surat itu sudah selesai, lalu ia membawanya ke ruang Arka.

“Sudah selesai, Senja?”

“Saya mencoba membuatnya karena mbak Asih sedang sibuk. Mohon Bapak mengoreksinya lagi, karena katanya hari ini sudah harus dikirim.”

“Tidak hari ini, besok juga tidak apa-apa. Asih mengatakan begitu?”

Senja mengangguk, tapi ia masih berusaha menutupi keterangan Asih yang salah.

“Barangkali mbak Asih bermaksud agar saya melakukannya dengan cekatan.”

Arka tersenyum. Ia tahu, bagaimana Senja. Tapi kemudian dia mengerutkan keningnya.

“Senja, mengapa penawaran dari kita bisa lebih tinggi dari harga yang mereka tawarkan?”

Senja terkejut. Arka menyodorkan surat itu, dan ia membacanya.

“Kok bisa ya, saya tadi menulisnya bukan ini, angkanya terbalik. Bagaimana bisa terjadi?”

“Apa kamu sudah membaca kembali tulisan kamu? Biasakan untuk mengulang yang sudah kamu tulis, agar tidak melakukan kesalahan. Ini menjadi fatal. Kalau penawaran disetujui maka kita akan rugi besar.”

Senja mengerutkan keningnya. 

"Saya sudah mengulangnya berkali-kali. Bukan itu angkanya.”

“Aneh. Ada yang meminjam laptop kamu?”

“Tidak, saya sendiri yang memakainya. Sebelum saya mencetaknya, saya tinggal sebentar ke kamar mandi. Saya kembali langsung mencetaknya.”

Arka membuka CCTV yang ada di ruang sekretaris. Ia tersenyum melihat apa yang dilakukan Asih.

“Bagaimana Pak, saya ganti dulu saja.”

“Sebentar.”

Arka memencet interkom di ruangan Asih, dan tak lama kemudian Asih memasuki ruangannya.

“Bapak memanggil saya?”

“Kamu tahu, surat balasan yang dibuat Senja ini keliru?”

”Keliru Pak? Bagaimana Nja, kan sudah ada catatan dari pak Arka. Kok bisa keliru?”

“Kamu mengapa tidak membantunya?”

“Saya sedang sibuk Pak, saya minta Senja menunggu dulu, tapi langsung dibuatnya.”

“Senja sudah melakukannya, tapi ada yang merubah angka di surat yang dibuatnya.”

“Merubahnya? Senja kurang cerdas, biasanya selalu bertanya, kali ini dikerjakan sendiri, merasa sudah pintar.”

“Lihat ini.”

Arka menunjukkan rekaman CCTV di ponselnya, dan Asih pucat pasi tanpa bisa menjawabnya.

“Mulai besok kamu aku pindahkan di bagian pemasaran, pekerjaan kamu membantu mengemas barang,”

“Apa? Jangan Pak, saya salah, saya minta ampun Pak, saya salah.”

Arka mengibaskan tangannya, menyuruh Asih keluar dari ruangannya. Asih keluar sambil menangis.

“Kasihan Pak,” kata Senja.

“Dia tidak menyukai kamu, aku sudah tahu sejak awal. Sudah, jangan pikirkan. Kamu akan tetap menjadi sekretaris aku.”

“Tapi saya akan banyak bertanya.”

“Bertanya pada aku, seperti di awal-awal kamu bekerja. Sekarang kembali keruangan kamu, buat suratnya kembali. Betulkan yang tadi salah.”

***

Senja kembali mengetik suratnya, mengganti angkanya yang salah. Ketika ia mencetak ulang, Asih berdiri di pintu dengan wajah marah.

“Hei, kamu puas, orang kampung?”

“Namaku Senja.”

“Bukankah kamu orang kampung?”

“Namaku tetap Senja.”

Lalu Asih terkejut ketika Arka tiba-tiba ada di belakangnya.

“Dia orang kampung, tapi hatinya bersih. Perusahaan ini tidak menerima karyawan berhati jahat. Kamu masih aku pekerjakan, karena mengingat kamu sudah tiga tahun bekerja di sini. Kalau sekali lagi kamu membuat kesalahan, kamu aku pecat.”

Asih menundukkan wajahnya.

“Selesaikan tugas kamu hari ini, sebelum besok pagi kamu bekerja di divisi lain.”

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 011

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  011 (Tien Kumalasari)   Rahman melihat ibunya duduk di lantai, dan seorang nyonya cantik seda...