AKU ANAK SIAPA 12
(Tien Kumalasari )
Rosa terbelalak menatap pak Gatot, yang sama sekali tak ada ramah-ramahnya seperti sebelumnya. Ketika ia baru diajaknya pulang ke rumahnya, ketika ia melihat wajahnya pucat dan dikira lapar, ketika ia tak punya uang lalu diberinya uang untuk makan. Semuanya seperti lenyap diterpa angin kencang. Mata teduh itu menatapnya penuh curiga. Ia tak pernah mau menceritakan siapa dirinya sebenarnya, tapi pak Gatot tak pernah memaksanya. Ia membiarkannya menyembunyikan jati dirinya, dan menerima begitu saja ketika ia mengatakan anak orang miskin yang sudah ditinggal kedua orang tuanya. Lalu apa, pak Gatot malah mengangkatnya sebagai anak, lalu dicarikannya pekerjaan agar ia bisa punya uang sendiri, tidak usah tergantung padanya. Masih ada lagi kebaikannya, yaitu ketika ia pamit mau tinggal di rumah kost, pak Gatot juga memberinya uang, katanya buat keperluannya sebelum ia menerima gaji.
Rosa yang mengabaikan semuanya, sekarang berdiri di depannya dengan wajah ketakutan. Bukan apa-apa, kali ini sangat susah mengucapkan kebohongan yang biasanya dengan lancar diucapkannya. Ada yang menelpon dan menanyakan uang, dan tak ada sedikitpun tersirat jawaban bohong untuk pertanyaan itu. Apa jawab yang harus diutarakannya?
“Banyak yang kamu sembunyikan atas kehidupan kamu, sekarang aku tak peduli. Ungkapan yang pernah aku katakan tentang mengangkat dirimu sebagai anakku, hari ini aku mencabutnya. Kamu bukan apa-apaku. Kamu hanya seorang perempuan yang tampak sengsara dan aku sudah menolong kamu. Aku juga tak ingin kamu menjawab apapun tentang telpon itu dan permasalahannya. Aku tak mau ikut dalam bayang-bayang kehidupanmu, yang mungkin saja gelap, atau entahlah, pokoknya anggap saja kita tak pernah bertemu.”
Pak Gatot mengucapkannya dengan pandangan sendu, tapi tak lagi ia mau menatap Rosa yang masih saja berdiri kaku di depannya.
Rosa tak tahu harus mengatakan apa. Pak Gatot sudah memutuskan, dan ia tak akan membahasnya.
“Pergilah, bawa ponselmu. Dan ingat, anggap saja kita tak pernah bertemu.”
Pak Gatot mengulurkan ponsel lalu mengibaskan tangannya. Rosa tak menjawab apapun, kecuali sebuah kata ‘maaf’, lalu ia membalikkan tubuhnya dan pergi.
Seperti tak terusik pak Gatot lalu meminta tukang parkir agar mengatur parkiran di bagian mobil, karena sudah terlihat berdesakan.
Ketika kembali duduk, bayangan Rosa tak tampak lagi. Pak Gatot menghela napas panjang. Di hatinya tersimpan teka-teki yang tak terjawab, tentang siapa sebenarnya gadis yang ditolongnya dan hidup sebagai anak angkat selama lebih dari sebulan. Tapi ia sudah tak berniat untuk memikirkannya. Pikiran tentang Rosa, yang pada awalnya dianggap malas, tak pernah dipikirkannya, mungkin karena selalu hidup di jalanan sehingga tak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Tapi kebohongan yang didengarnya, telah memberikan nilai buruk atas gadis yang tadinya membuatnya iba.
***
Sebentar saja Rosa sudah melupakan pak Gatot yang semula amat memperhatikannya, benar-benar seperti kepada anak kandungnya sendiri. Ia punya urusan, sebuah keinginan, yang hal itu memerlukan banyak uang.
Hari itu Rosa menerima gaji pertamanya. Agak lega, tapi juga kecewa. Rosa yang biasanya memegang uang banyak, sekarang menerima gaji yang tidak seberapa. Tapi lumayanlah, untuk sementara bisa dipergunakannya. Uang penjualan gelang sudah menipis, karena sebagian besar diberikan orang yang akan membantunya. Mereka mengusulkan agar hal pertama yang dilakukannya adalah menculik Satria.
Hari itu hari Minggu, ia tak harus masuk bekerja seperti biasanya.
Ia keluar dari kamar kostnya, bermaksud beli makanan. Ia berjalan di sekitar pasar, setelah makan pagi di sebuah warung sederhana, dengan lauk sayur lodeh dan tempe goreng. Tapi Rosa tak begitu memikirkan masalah lauk. Kehidupan buruk yang dialaminya, telah melupakan semua kemewahan yang pernah dijalaninya.
“Tak apa. Aku akan menjadi orang baik, setelah bisa membalas sakit hatiku. Senja harus celaka, melebihi beban penderitaanku selama bertahun-tahun.” kata hatinya berkali-kali.
Ia keluar dari warung itu, ketika tiba-tiba hampir jatuh karena menubruk seseorang.
“Eh, berjalan pakai mata dong Bu,” hardiknya kasar.
Tapi yang hampir menabraknya adalah seorang wanita, yang kemudian terbelalak menatapnya.
“Non Rosa ya?”
Rosa urung berlalu. Ia mengenal suara itu, kemudian dia juga mengenal wajah itu, walau sudah tampak semakin tua. Ia tak bisa mengelak. Jadi kemudian dia berhenti. Tak apa, mengapa ia harus takut pada bibik pembantu di rumah bekas orang tua angkatnya?
“Bibik ya?”
“Ya ampun Non, sekarang Non tinggal di mana?”
“Bibik lagi ngapain?”
Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.
“Biasa Non, belanja. Mengapa Non tidak pulang ke rumah?”
“Mengapa bertanya begitu? Bibik kan tahu kalau tuan Daryono dan nyonya tidak lagi mengakui aku sebagai anak?”
“Tapi datanglah ke rumah sesekali. Nyonya ingin mendengar berita tentang Non.”
“Iya Bik, kapan-kapan saja.”
“Eh, Non, sebentar. Jangan buru-buru pergi.”
Rosa urung melangkah pergi.
Bibik mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan padanya uang seratus ribu.
“Ini untuk beli jajanan Non, bibik tidak membawa uang banyak. Datanglah dan bertemu Nyonya, walau hanya sebentar saja. Tapi jangan hari ini.”
“Jangan hari ini? Memangnya hari ini ada apa?”
”Tuan dan Nyonya sedang pergi ke luar kota. Pulangnya masih besok. Jadi kalau Non ingin menemui mereka, datanglah besok.”
“Mereka pasti tidak mau menerima aku.”
"Masalah itu Bibik tidak tahu, tapi bibik tahu, nyonya ingin sekali bertemu.”
Tiba-tiba sesuatu melintas dari benak Rosa.
“Sekarang aku ada waktu, bagaimana kalau kerumah keluarga Daryono sekarang saja?”
“Tapi tuan dan nyonya sedang pergi.”
“Saya tunggu saja pulangnya sampai besok, bisakah? Mumpung ketemu Bibik, jadi aku tidak sungkan nanti kalau ketemu mereka.”
“Tapi ….," Bibik tampak ragu.
“Aku mau kok tidur di kamar Bibik. Aku tahu diri, tidak ingin tidur di kamar aku seperti biasanya.”
“Tidur di kamar Bibik?”
“Iya, bolehkah?”
“Baiklah kalau begitu, tapi Bibik mau beli sayur sebentar.”
***
Pak Gatot sudah mulai bebenah, karena toko mau tutup. Tiba-tiba nyonya Surani menyapa dari dalam.
“Jaga seharian ya Pak Gatot?”
“Iya, Nyonya, terpaksa, karena yang menggantikan tidak masuk.”
“Capek tidak?”
“Namanya bekerja ya capek, Nyonya. Tidak apa-apa.”
“Baiklah, nanti juga ada uang lemburnya, tapi sekarang ini saya beri dulu, ini bukan uang lembur lho pak Gatot, hanya uang beli wedang jahe, biar anget soalnya sudah sepuh, dines malam-malam,” kata nyonya Surani sambil mengulurkan uang, entah berapa, tapi pak Gatot menerimanya agak sungkan.
“Terima saja, hanya sedikit. Wah, sekarang tidak pulang bareng anaknya ya Pak, kan Rosa sudah pindah ke rumah kost?”
“Iya Nyonya, maunya begitu, hanya saja saya mau minta maaf, dulu saya bilang Rosa anak saya, tapi sebenarnya dia itu anak yatim piatu yang saya anggap anak. Jadi bukan anak saya,” kata pak Gatot berterus terang.
“O, begitu ya Pak. Jadi hanya anak angkat.”
“Tapi dia sekarang sudah tidak tinggal di rumah saya, ya sudah, memang sesungguhnya orang lain.”
“Tampaknya dia merasa lebih baik bebas ya Pak, apalagi sudah punya gaji.”
“Iya, sekarang terserah dia saja, maunya apa, dan agar Nyonya tahu, dia bukan siapa-siapa saya.”
“Baik pak Gatot, asalkan dia bekerja dengan baik, saya juga senang. Sudah sekarang pulang, toko sudah tutup masih aku ajak ngobrol.”
“Terima kasih, Nyonya.”
***
Hari itu sudah agak siang, nyonya Surani sudah mau berangkat ke kantornya, tapi Rosa belum tampak datang. Bibik sudah uring-uringan.
“Tidak biasanya terlambat ya Bik?”
“Iya Nyonya, mungkin karena habis gajian, dia mau belanja-belanja, gitu.”
“Ya sudah, Bibik momong Sisi dulu, soalnya saya ada rapat pagi.”
Tapi ketika nyonya Surani sudah hampir masuk ke dalam mobil, Rosa tiba-tiba muncul, langsung mendekati majikannya.
“Kok tumben terlambat? Kamu nggak sakit kan?”
“Tidak Nyonya, sekarang ini saya malah ingin minta ijin.”
“Minta ijin ke mana?”
“Saya ingin berhenti saja.”
Nyonya Surani terkejut.
***
Besok lagi ya.