SAKITKU ADALAH TANGISKU 35
(Tien Kumalasari)
Indras tak menjawab. Ia lebih memilih memegangi dadanya yang terasa sakit. Ada sesuatu yang membuatnya senang, tapi ada sembilu menyayat yang menitikkan darah pada lukanya. Seandainya ia adalah timbangan, mana yang lebih berat, kesenangan diperhatikan suami, atau kesakitan karena penghianatan suami?
“Indras, kamu kan tahu aku tidak suka diatur? Aku akan melakukan mana yang aku suka. Tapi jangan menuduh aku berselingkuh. Itu tidak benar, dan akan membuat aku marah. Sangat marah. Kamu paham?”
Indras tak menjawab. Jawabannya pasti akan membuat nyala api berkobar dikepala Zein. Paham? Tidak. Indras tidak akan paham. Setiap hari kirim-kirim pesan, terkadang menelpon, menyebutnya sayang, tapi tidak berselingkuh?
Zein membalikkan tubuhnya menghadap ke samping. Tepatnya memunggungi Indras yang tidur di sampingnya bersama ketidak tahuannya atas pemikiran sang suami. Kepalanya kembali berdenyut. Terkadang ia merasa seperti orang linglung. Tapi ketika ia ke psikiater, dokter itu bilang dirinya tidak perlu diobati. Suaminyalah yang harus diobati.
“Obat apa?”
“Dia sudah tahu,” kata dokternya waktu itu.
“Kamu hanya harus bersabar.”
Indras menitikkan air mata
“Harus sesabar apa lagi aku ini, Ya Allah?”
“Tidurlah, sudah malam,” kata Zein ketika barangkali tahu bahwa Indras masih membolak balikkan tubuhnya, yang berarti bahwa sang istri belum juga tidur. Walau begitu ia tetap menghadap ke arah yang sama, memunggungi sang istri.
Indras tak menjawab. Ia beristigfar berkali-kali, baru bisa memejamkan matanya.
***
Seperti biasa Indras bangun saat subuh, melakukan ibadah sebagaimana mestinya, lalu mandi dan duduk di ruang tengah, menunggu bibik menyajikan segelas kopi panas seperti biasa.
Ia mengendapkan segala rasa, dan berbisik kepada hatinya, bahwa ia harus bersabar dan bersabar.
“Nyonya sudah tampak baikan, sudah tidak kelihatan pucat,” kata bibik sambil meletakkan segelas kopi panas.
Baru segelas, karena bibik belum melihat tuan majikan bangun di pagi itu.
“Benarkah?”
“Iya, Nyonya, saya senang Nyonya tidak sakit lagi.”
Indras tersenyum. Ia buat tubuhnya sehat, raganya kuat. Mana bibik tahu apa yang ada di dalam hatinya?
“Doakan saya tidak sakit-sakit ya Bik?”
“Tentu Nyonya, saya sedih kalau Nyonya sakit.”
Ketika bibik mau beranjak ke belakang, Indras menghentikannya.
“Bik, gaji Bibik baru nanti saya ambilkan ya.”
“O, iya Nyonya, saya tidak tergesa-gesa. Paling hanya akan saya kirimkan untuk keluarga di kampung. Lagi pula biasanya tuan yang memberi.”
“Nanti aku yang akan memberi, tuan yang menyuruh.”
“Oh, baiklah Nyonya.”
“Sekalian uang untuk Bibik belanja, bukankah uang yang Bibik bawa tinggal sedikit?”
“Iya sih Nyonya, tapi besok saja belanjanya. Untuk hari ini semuanya sudah cukup. Nanti hanya akan belanja sayur di pasar dekat rumah.”
“Baiklah, baru nanti aku ambilkan uangnya.”
Bibik beranjak ke dapur lagi sambil membawa nampan yang sudah kosong.
Ada perasaan aneh. Selama berumah tangga baru sekali ini ia membelanjakan uang dari suaminya. Entah apa yang membuat hatinya terbuka, tapi ini dianggapnya sebuah kemajuan yang sedikit menggembirakan. Kesabarannya selama ini dan pintanya kepada Allah yang Maha Pengasih sudah ada yang dikabulkan. Belum semuanya. Bukankah ia masih harus bersabar?
“Nanti kamu mau ke bank?”
Indras terkejut. Zein sudah bangun dan sudah rapi.
“Ya, atau kamu yang akan mengambilkan?”
“Apa maksudmu? Kan ATM nya sudah aku berikan ke kamu?”
Zein duduk, bibik belum membawakan kopinya, tapi barangkali sudah disiapkan, karena bibik sudah mendengar suara sang tuan majikan.
“Barangkali kamu akan mengambilnya sendiri.”
“Tidak. Bawa keduanya dan pergunakan untuk semua keperluan. Gajiku ada di situ semuanya.”
“Aku sudah bilang bibik tentang gajinya.”
“Kopinya Tuan,” alangkah cepat bibik menyajikan minum untuk sang tuan majikan.
“Terima kasih Bik. Gaji kamu mulai bulan ini, Nyonya yang akan memberikan.”
“Baiklah Tuan, tidak apa-apa. Bagi saya sama saja,” jawab bibik sambil berlalu.
Ia harus segera menyiapkan makan pagi untuk para majikan.
“Kamu sudah rapi sepagi ini?”
“Ya, akan ada operasi pagi-pagi.”
Indras meneguk lagi kopinya yang sudah mulai dingin, sementara Zein masih mencecapnya sedikit demi sedikit karena masih panas.
Indras bangkit, untuk membantu bibik menyiapkan sarapan. Ia sedang belajar bersikap normal dalam melayani suami. Paling tidak sikap sang suami harus terus semakin berubah, walau masalah selingkuhan dia tak ingin ada yang menyinggungnya.
"Urusan dia bukan? Dan itu bukan selingkuhan, kata dia. Baiklah, apa kata kamu saja Zein," kata batin Indras sambil mendekati bibik.
“Sebentar lagi Nyonya, sayurnya baru saya panasin lagi.”
“Tidak apa-apa Bik, aku bantu menata mejanya.”
“Bibik tersenyum. Ia melihat sang nyonya majikan sudah bersikap biasa. Damai di rumah ini sudah tercipta. Itu kata bibik dalam hatinya.
Ketika Sinta keluar, dia senang sang ibu sedang sibuk menata meja. Ia segera membantunya, menyiapkan gelas-gelas minum yang diisinya dengan air putih.
“Mama sudah sehat?” katanya sambil menuangkan air di gelas-gelas itu.
“Mama tidak sakit.”
“Mama tahu tidak, dua hari lagi Mama ulang tahun.”
“Memangnya kenapa kalau mama ulang tahun?”
“Sinta mau merayakannya bersama papa.”
“Jangan. Kamu tidak usah bilang apa-apa pada papa. Tidak usah mengingatkan juga.”
“Memangnya kenapa Ma? Papa sering lupa.”
“Bukan lupa. Memang tidak ada perayaan ulang tahun untuk mama, dan itu tidak perlu bukan?”
“Padahal Sinta mau mengajak papa kita makan di luar. Hanya bertiga karena mbak Santi tidak bisa pulang hari itu.”
“Tidak dan tidak. Mama bilang tidak usah beritahu atau mengingatkan hal itu pada papa. Apalagi mengusulkan makan di luar segala.”
“Ma.”
“Mama serius. Kalau mama bilang jangan, ya jangan.”
“Memangnya kenapa Ma, Sinta ingin sekali …”
“Mari kita rayakan saja di dalam hati. Doakan mama selalu sehat, lahir batin.”
Sinta menatap mamanya dengan penuh haru. Ia merasa beberapa hari ini sikap papanya sudah berubah. Mereka sudah bertegur sapa dengan manis. Dan hari ulang tahun mamanya yang hampir tidak pernah diingat oleh papanya, untuk kali itu Sinta ingin mengingatkannya. Tapi Indras melarangnya keras.
“Bagus sekali, para perempuan menyiapkan makan pagi. Pasti nanti akan terasa enak,” kata Zein tiba-tiba.
Untunglah Sinta tak membahas masalah ulang tahun itu lagi.
“Papa ganteng sekali pagi ini.”
Zein senang. Sebuah pujian selalu membuatnya senang.
“Ya kan Ma, papa ganteng sekali?”
“Papa kamu memang ganteng. Kalau tidak, mana mama mau diambil istri oleh dia,” kata Sinta sambil tersenyum.
Tanpa diduga Zein mendekat dan mencium kening Indras
“Bibik, tutup mata Bibik, ada adegan mesra ini,” teriak Sinta gembira.
Indras hanya tersenyum, kemudian duduk dengan santai. Ia heran suaminya suka sekali mencium kening, atau bahkan pipi. Oh ya, Indras ingat, Zein melakukannya ketika mendengarnya dipuji. Bukankah itu benar? Dipuji baik, dipuji penuh pengertian, dipuji ganteng. Dan hadiahnya adalah ciuman? Sekarang Indras mengerti, Zein suka sekali mendapat pujian.
***
Walau begitu pujian anak dan istrinya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan dokter Tyas. Baginya, dia adalah dokter kebanggaan, dokter kesayangan, dokter yang tak ada duanya dalam kebaikan.
Dan itu terjadi begitu ia memasuki ruang kerjanya. Hari masih pagi dan para dokter belum mulai menerima pasien. Diruangannya, dokter Tyas sedang memajang bunga segar di mejanya.
“Selamat pagi, cantik,” sapa Zein dengan manis.
“Hai, dokter kebanggaanku sudah datang. Lihat, apakah Dokter suka? Aku meletakkan mawar-mawar cantik di meja Dokter.”
Zein bukan orang yang sangat romantis. Ia tak pernah menyukai bunga. Walau begitu sambil menata sebuah vas bunga yang dipajang dimejanya, Zein mencoba tersenyum senang. Jangan sampai dokter cantik menjadi kecewa melihat dia tak suka.
“Bagus sekali, dan indah.”
“Bunga cantik kan Dok. Katakan, lebih cantik mana antara saya dan bunga itu?”
“Tentu saja cantik kamu.”
Dokter Tyas terkekeh. Semua orang menyebut dirinya cantik, dan dia sadar akan hal itu. Karena itulah dia merasa yakin bahwa dokter Zein akan tetap menyukainya.
“Terima kasih Dokter. Bolehkah saya memberi hadiah?”
“Hadiah apa?”
Dokter Tyas tidak menjawab, tapi menepuk-nepuk pipinya. Zein adalah seorang laki-laki, dia tidak bodoh dan sangat mengerti apa yang diinginkan dokter Tyas. Ia hanya tersenyum dan menggoyang-goyangkan tangannya tanda menolak.
Walau begitu dokter Tyas tertawa, dia sudah tahu Zein akan menolak. Alasannya jelas, ada CCTV di ruangan itu.
Ketika melenggang keluar dokter Tyas meninggalkan senyuman. Senyum paling manis yang pernah dimilikinya. Zein membalas senyuman itu sambil meraih jas dokternya.
***
Sore hari itu Indras sudah rapi. Sinta memaksa mengajaknya pergi makan diluar, tapi Indras mengatakan agar jangan mempergunakan moment itu sebagai perayaan ulang tahunnya. Pokoknya pengin makan diluar, begitu cukup. Sinta menerimanya. Tapi sang ayah belum tampak pulang.
Sebuah dering telpon terdengar, Indras mengangkatnya. Dari toko roti langganan.
“Hallo, ini dengan dokter Indras?”
“Ya, benar.”
“Maaf, Dokter. Taart ulang tahun sudah siap. Catatan penulisan di taart itu terselip entah ke mana, saya mohon maaf. Bolehkah saya tahu nama yang berulang tahun? Sepertinya nama putri Dokter ya. Namanya bukan Indras. Tolong Dok, karena taartnya akan segera diambil.”
Indras terpaku, tangannya menggenggam ponsel dengan erat, seakan ingin meremasnya.
***
Besok lagi ya.