Tuesday, March 10, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 29

 BIARKAN AKU MEMILIH  29

(Tien Kumalasari)

 

Penjaga itu urung membuka pintu. Lagi pula Adri majikannya tidak ada di rumah semua.

“Kalau Anda mau menghajarnya, lebih baik berhadapan dengan saya saja.”

“Kamu kan hanya tukang jaga malam. Tidak usah ikut campur. Yang aku cari Adri, bukan kamu.”

“Tuan Adri dan istrinya tidak ada di rumah. Anda ini siapa?”

“Aku Anton, dia pasti sudah mengenal aku. Ke mana dia?”

“Saya tidak tahu. Nyonya Adri punya banyak perusahaan. Mungkin ada di cabang yang lain, tapi saya tidak tahu.”

“Coba katakan mana saja cabang-cabangnya.”

“Saya tidak berwenang memberitahukan masalah perusahaan ataupun masalah pribadi kepada orang asing seperti Anda.”

“Kamu benar-benar membuat saya marah.”

“Silakan datang ketika tuan sudah ada di rumah. Atau saya akan panggil polisi saat ini juga?”

“Kamu bilang berani menghadapi aku, mengapa mau panggil polisi?”

“Saya tidak ingin menganiaya orang yang belum pernah saya kenal. Nanti saya justru kena pasal,” kata sang penjaga yang sangat yakin bisa menundukkan laki-laki sombong di depannya itu.

“Bilang pada majikan kamu. Dia itu pengecut busuk!” katanya sambil meninggalkan pintu, menuju ke arah mobilnya.

Penjaga malam itu sangat geram. Tapi orang itu sudah pergi. Ia heran ada orang ingin menghajar majikannya. Di saat malam pula.

“Apa aku harus menelpon tuan ya,” gumamnya ragu-ragu.

 Ia sudah memencet nomornya, tapi kemudian dibatalkannya, karena hari sudah malam.

“Siapa sebenarnya orang itu. Tiba-tiba mau menghajar tuan? Belum tahu dia kalau tuan malah yang akan menghajarnya. Badannya kecil begitu, sombongnya bukan main."

Lalu penjaga itu kembali duduk di gardu penjagaan, mengutak atik ponselnya. Pastinya hanya main game untuk menghalau kantuk.

***

Sementara itu Nirmala dan Adri sedang saling berbincang mengenai apa yang Adri lakukan terhadap Dwi, dan Nirmala membiarkannya karena Adri selalu beralasan, bahwa Dwi adalah teman mainnya. Semasa kecil. Mereka bicara sambil tiduran, dalam suasana damai yang sangat manis.

“Aku kira kamu benar-benar menghamili perempuan itu.”

“Masa aku seburuk itu? Dia hanya sedang kalut, karena suaminya mau menikah lagi. Lalu saat periksa ke dokter tentang kesehatannya yang sepertinya terganggu, dokter menyatakan bahwa Dwi sedang hamil. Baru beberapa minggu entahlah aku lupa. Dia kalut dan ingin menggugurkannya. Tapi aku melarangnya. Apa aku salah, bayi itu kan tidak berdosa?”

“Tidak, kamu tidak salah.”

“Mengapa tiba-tiba kamu mengira dia hamil karena aku?”

“Aku mencurigai sikapmu yang berlebihan terhadapnya, lalu aku mendengar kamu bertelpon sama dia dan menyebut tentang hamil.”

“Lalu kamu mengira aku yang membuatnya hamil?”

“Kan aku sudah curiga dan merasa bahwa perhatianmu terhadap dia sangatlah besar.”

“Kalau aku berbuat selingkuh, aku tak akan berterus terang kepadamu, aku mau ngapain sama dia, mau mengantar ke dokter, mau menungguinya di rumah sakit. Tidakkah kamu berpikir bahwa aku sangat jujur?”

“Aku juga heran ketika kamu mengatakan semuanya. Aku hanya berpikir kamu tak berperasaan dengan mengatakan itu semua.”

“Maaf Nirma, aku telah menyakiti kamu.”

“Apakah kamu sadar bahwa kamu sangat jarang mengucapkan kata maaf?”

“Benarkah?”

“Kamu terlalu angkuh dan sombong, sehingga sangat mahal dalam mengucapkan maaf. Padahal manusia banyak sekali berbuat salah, dan kata maaf itu terucap kadangkala meluncur begitu saja tanpa kita pikirkan, karena kata maaf adalah upaya untuk menetralisir sebuah kesalahan, walau hanya sedikit, walau tidak berhasil mendapatkan maaf dari orang di mana kita meminta maaf.”

“Rupanya aku harus belajar banyak dari kamu, Nirma.”

“Tidak Adri, kamu adalah suami yang baik, hanya terkadang keras kepala.”

“Kamu tahu mengapa tiba-tiba aku bisa mengucapkan kata maaf ? Aku sangat mencintai kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku merasa kalut ketika tiba-tiba kamu ingin pergi.”

“Terima kasih telah mencintai aku yang sebenar-benarnya Adri.”

“Kenapa aku menyusul kamu ke sini, karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan, sehingga sikapmu sangat dingin terhadapku. Harusnya kamu berterus terang mengatakan apa yang sebenarnya kamu rasakan, sehingga tidak membuat diri kita masing-masing merasa tersiksa.”

“Itu benar.”

“Kamu itu wanita yang pintar, tapi bodoh dalam mengelola perasaan.”

Nirmala tertawa mendengar ungkapan kata suaminya.

“Dan kamu … berbuat sesuatu tanpa tahu bagaimana perasaan istrimu. Ya kan?”

“Karena aku tidak tahu perasaan kamu, dan karena aku merasa tidak bersalah.”

“Sekarang sudah malam, ayo kita tidur.”

“Sebentar, aku melihat tadi seperti ada panggilan?”

“Siapa Dri?”

“Dari si Pur, penjaga malam. Tapi sepertinya hanya sekilas, barangkali salah pencet.”

“Siapa tahu ada yang penting tapi dia tak jadi mengatakannya. Kita meninggalkan rumah dengan hanya ada bibik di sana.”

“Baiklah, akan aku telpon dia.”

Penjaga malam itu terkejut pastinya, karena sang tuan majikan menelponnya.

“Ya, Tuan.”

“Kamu tadi menelpon ya?”

“Maaf Tuan, tiba-tiba saya sadar, sudah malam, mungkin mengganggu Tuan.”

“Ada apa? Tidak terlalu penting, atau sangat penting?”

“Tuan, tadi ada seorang laki-laki badannya kecil, datang mencari Tuan.”

“Siapa? Malam-malam begini?”

“Dia bilang namanya Anton.”

“Ada keperluan apa? Dia mengatakan atau tidak. Malam-malam datang pasti ada yang penting. Harusnya kamu meneruskan menelpon tadi.”

“Tuan, dia datang marah-marah. Dia bilang mau menghajar Tuan.”

“Kenapa?” tanya Adri yang pastinya terkejut. 

Dia tahu laki-laki yang digambarkan si Pur adalah suami Dwiyanti. Mengapa dia marah-marah sementara dia justru memberi tahu tentang kehamilannya karena berharap mereka bisa baikan?

“Dia tidak mengatakan apa-apa, Tuan. Marah-marah aja. Ketika saya bilang bahwa Tuan dan Nyonya sedang pergi, dia bertanya kemana.”

“Kamu jawab apa?”

“Saya bilang tidak tahu. Karena memang saya tidak tahu.”

“Lalu apa?”

“Saya ancam dia akan saya laporkan ke polisi, lalu dia pergi. Kelihatannya marah sekali pada Tuan. Seandainya benar-benar saya hadapi dia, sayalah yang akan menghajar dia. Badannya kecil, sombong amat.”

“Ya sudah. Lain kali kalau ada apa-apa langsung telpon saya ya.”

“Baik, Tuan.”

Nirmala memperhatikan ucapan-ucapan suaminya di telpon, tapi tidak mengerti sepenuhnya.

“Ada apa?”

“Aku bingung. Si Pur bilang Anton datang mencari saya sambil marah-marah, dan mengatakan kalau akan menghajar saya.”

“Anton itu siapa?”

“Suami Dwi.”

“Kamu bilang memberi tahu dia kalau istrinya hamil agar mereka bisa baikan. Kok dia marah-marah sama kamu?”

“Entahlah, belum jelas. Pasti ada sesuatu yang serius. Apa dia mencari istrinya, lalu istrinya sembunyi, lalu …. entahlah, mengapa dia.”

“Besok akan aku telpon dia dan bicara baik-baik.”

***

Anton sampai di rumah tengah malam, dan ibunya yang membukakan pintu. Semenjak Dwi pergi, sang ibu pindah ke rumah Anton, dan merencanakan tentang pernikahan Anton dengan wanita pilihan ibunya. Menurut sang ibu, harus segera dilakukan karena wanita itu sudah hamil.

Tapi ketika Anton mengatakan bahwa Dwi juga hamil, sang ibu tetap ingin agar Anton menceraikan Dwi. Pada dasarnya sang ibu tidak suka pada Dwi, karena semenjak Anton menikahi Dwi, sang ibu merasa dikesampingkan. Ia merasa Anton terlalu mencintai istrinya dan melupakan ibunya.

“Kamu selesaikan segera perceraian kamu. Wanita itu memang bukan perempuan baik-baik. Berani menentang suami itu bukan perempuan baik.”

Tetapi Anton nekat menemui Dwi. Kehamilan Dwi membuatnya bahagia. Ia bermaksud memboyong Dwi pulang, dengan janji akan menceraikan wanita pilihan ibunya itu setelah melahirkan anaknya. Namun apa dikata, Dwi mengatakan bahwa yang dikandung bukan anaknya.

“Kamu jadi menemui perempuan itu?”

Anton tak menjawab. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Wajahnya tampak lelah.

“Anton, ada apa kamu sebenarnya?”

“Bu, sebenarnya aku sangat mencintai Dwi. Aku ingin mengajaknya pulang karena dia mengandung anakku.”

“Lalu bagaimana dengan Wati calon istri kamu? Keluarga mereka sudah bersiap merayakan pernikahan kalian.”

“Maksud Anton, nanti kalau sudah melahirkan, Wati akan Anton ceraikan.”

“Apa maksudmu? Jangan semena-mena kamu. Kamu membuatnya hamil, lalu akan menceraikannya?”

“Sekarang tidak jadi.”

“Kamu bicara apa sih?”

“Anton akan tetap menikahi Wati.”

“Nah, begitu, anak ibu yang baik. Lalu kenapa tiba-tiba kamu tidak jadi mengajak Dwi pulang? Ibu sih senang, tapi kenapa?”

“Bayi yang dikandung bukan anak Anton.”

Sang ibu tertawa terkekeh-kekeh karena senangnya.

***

Besok lagi ya,

Monday, March 9, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 28

 BIARKAN AKU MEMILIH  28

(Tien Kumalasari)

 

Bibik pembantu justru berteriak lebih dulu.

“Nyonya, itu kan tuan?”

Dwi menatap kedatangan suaminya dengan pandangan datar. Biarpun heran karena mengetahui Anton bisa sampai ke tempat tinggalnya, ia tak segera menanyakannya.

“Ternyata kamu ada di sini?” Anton yang lebih dulu bertanya.

“Aku ditugaskan di kantor cabang. Dari mana kamu tahu?”

“Aku tidak dipersilakan masuk?”

“Masuklah.”

Keduanya masuk ke dalam, Dwi menghadapinya seperti menghadapi seorang tamu.

“Kalau kamu sudah mengurus perceraian, kamu kan bisa mengabari melalui telpon atau pesan singkat?”

“Aku sudah mengurusnya, tapi tidak berhasil.”

“Apa maksudmu tidak berhasil”

“Karena kamu sedang hamil.”

Dwi terkejut setengah mati. Dari mana juga suaminya tahu kalau dirinya sedang hamil?

Bibik pembantu keluar dengan membawa segelas minuman hangat.

“Silakan, Tuan.”

“Terima kasih Bik. Apa kabarmu?”

“Saya baik, Tuan.” jawabnya, lalu beranjak kembali ke belakang.

“Dari mana kamu tahu kalau aku sedang hamil?”

“Dari mana itu tidak perlu kamu tahu, yang jelas aku bahagia sekali karena ternyata kamu sedang mengandung anakku.”

“Ini bukan anakmu," tiba-tiba kata Dwi tanpa menatap suaminya. Ia berbohong dengan suatu alasan yang dia sendiri yang tahu.

“Bukan anakku?”

“Ya, siapa tahu kalau kamu sendiri yang mandul.”

“Tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin? Aku ….”

“Kamu yakin kalau kamu sehat dan bisa membuatku hamil? Jangan mimpi. Lanjutkan saja perceraian, itu lebih baik.”

“Kalau bukan anakku, lalu itu anak siapa?”

“Kamu tidak perlu tahu.”

“Ternyata kamu perempuan murahan. Berhubungan dengan laki-laki lain dan kemudian bersikeras minta cerai.”

“Kalau ya, kenapa? Jadi segera ceraikan aku.”

“Katakan siapa laki-laki itu. Yang sering mengantarkan kamu? Menjemput kamu?”

“Memang,” kata Dwi enteng.

Wajah Anton gelap dan matanya menyala marah. Ingin sekali ia menampar sang istri. Kegembiraan karena istrinya hamil telah sirna karena perkataan sang istri.

Tapi kemudian dia ingat apa yang dikatakan si penelpon yang mengatakan bahwa istrinya sedang hamil, lalu ia mengatakan dimana istrinya berada. Dia Adri pimpinan di kantor Dwi bukan? Kalau dia pelakunya, mengapa dia harus mengabari dirinya? Bukankah dia seharusnya diam saja dan melanjutkan hubungan dengan Dwi?

“Laki-laki yang pimpinan kamu itu?”

“Ya.”

“Asal kamu tahu Dwi, yang memberi tahu aku kalau kamu hamil, dan mengatakan di mana alamat kamu, adalah dia.”

Dwi sangat terkejut. Jadi Adri yang mengatakannya pada suaminya?

“Yang aku heran, kalau dia pelakunya, mengapa dia justru mengabari aku?”

Dwi diam sesaat, berusaha mencari jawaban. Ia kesal sekali pada Adri. Bukankah dia pernah meminta agar Adri merahasiakan kehamilannya agar perceraiannya tak ada kendala?

“Bagaimana menurut kamu?”

”Entahlah, aku tidak mengerti. Pokoknya ceraikan aku.”

“Dwi, aku butuh penjelasan. Kalau memang Adri pelakunya, aku akan menghajarnya.”

“Apa?”

”Dia laki-laki pengecut. Dia menghamili kamu tapi mengatakannya padaku, maksudnya supaya dia bisa lepas tangan dan meminta akulah yang bertanggung jawab? Aku akan mencari dia dan menghajarnya,” kata Anton sambil bangkit, lalu bergegas menghampiri mobilnya. Dwi sangat terkejut.

“Maas. Berhenti dulu, jangan main hajar-hajaran.!” Dwi berteriak, tapi juga diliputi ketakutan.

Tubuhnya terasa lemas ketika melihat mobil Anton keluar dari halaman rumah kecil yang ditinggalinya.

Ia duduk di kursi teras. Kebingungan melandanya.

***

Anton memacu mobilnya dengan perasaan yang tidak karuan. Tadinya ia senang dan bermaksud merayu istrinya agar mengurungkan niatnya bercerai, dan akan tetap menjadikan Dwi sebagai istrinya. Masalah wanita lain akan dipikirkannya nanti. Ia tetap mencintai Dwi dengan sepenuh hati. Hanya karena sang ibu maka ia bersikeras mendekati perempuan lain.

“Memang semua bermula dari kesalahanku. Aku terlalu lemah, aku selalu bingung setiap kali ibu berbicara tentang anak. Lalu mencela Dwi sebagai istri yang tidak sempurna, lalu mendorong aku mendekati perempuan pilihan ibu. Dan aku yang lemah ini menurutinya, mengabaikan Dwi yang kemudian tidak mau lagi hidup bersamaku. Semua ini gara-gara ibu.”

Anton menyalahkan ibunya, juga dirinya sendiri yang terlalu lemah.

“Tapi Dwi juga perempuan nggak benar. Masa dia kemudian menyukai laki-laki lain. Karena dia direktur perusahaan yang lebih kaya dari aku? Dan lebih ganteng dari aku?”

Lalu Anton merasa sangat marah, karena laki-laki yang seorang direktur itu adalah laki-laki pengecut. Buktinya dia melakukan hal terkutuk, dan justru ingin mengabaikan tanggung jawab? Aku harus menghajarnya.

Anton meraih ponselnya. Ia harus memaki-maki laki-laki itu. Tak peduli dia orang terhormat, tapi sama sekali tidak pantas dihormati. Dia sudah memencet nomor telponnya. Tapi kemudian dia mengurungkannya.

“Tidak usah menelpon, lebih baik aku datangi saja di rumahnya lalu aku hajar dia.”

Anton melihat arloji di tangannya.

“Sudah malam, haruskah ditunda besok pagi? Tidak, aku sudah sangat marah. Darahku mendidih, dan aku tidak akan merasa tenang kalau tidak melakukannya sekarang.”

Anton memacu mobilnya lebih cepat.

***

“Nyonya, mengapa tuan pergi, sedangkan minumannya belum disentuh sama sekali?”

Dwi tidak menjawab. Ia memijit-mijit keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.

“Ada apa Nyonya? Mengapa tuan pergi begitu saja, dan Nyonya kenapa?”

“Kacau Bik, ini kacau. Aku sekarang bingung harus berbuat apa?”

“Kacau bagaimana Nyonya, tuan tidak mau menceraikan, atau perceraian sudah diproses?”

“Dia tahu kalau aku hamil, dan tinggal di sini.”

“Lalu tuan tidak mau menceraikan? Nyonya, ini hal terbaik yang harus Nyonya jalani. Nyonya bisa membuktikan kepada tuan dan juga mertua Nyonya bahwa Nyonya bisa mengandung anak keluarga tuan.”

“Kamu tidak bertanya dari mana dia tahu bahwa aku mengandung dan tinggal di rumah ini?”

“Dari mana Nyonya?”

“Dari Adri.”

“Oh, malah tuan Adri sendiri yang memberi tahu? Kalau begitu sudah jelas kalau tuan Adri sama sekali tidak menghendaki Nyonya.”

“Sekarang masalahnya bukan itu. Anton akan mencari Adri dan ingin menghajarnya.”

“Lha kenapa Nyonya?”

“Soalnya … aku mengatakan bahwa bayi yang aku kandung ini anak Adri.”

“Ya ampuun, mengapa Nyonya melakukannya?”

“Aku tidak mau kembali kepada Anton. Aku tidak cinta lagi pada dia.”

“Nyonya sudah bertindak gegabah. Nyonya sudah menghancurkan nama baik tuan Adri. Padahal selama ini tuan Adri selalu membantu Nyonya.”

“Aku harus bagaimana? Aku tidak punya jawaban untuk menghindari Anton.”

“Mengapa Nyonya tidak berpikir panjang sebelum mengatakan itu?”

“Aku hanya ingin Anton meninggalkan aku karena aku mengandung yang bukan anaknya.”

“Saya ikut pusing memikirkan Nyonya,” keluh bibik pembantu.

“Aku juga pusing Bik. Bagaimana ini?”

“Saya juga tidak tahu. Saya pusing Nyonya. Saya nggak ikutan,” kata bibik sambil beranjak pergi. Tapi Dwi berteriak memanggilnya.

“Biik! Mengapa pergi, bantu aku memikirkannya.”

Bibik kembali, ngelesot di lantai bersandar pada dinding.

“Aku bingung Bik.”

“Pemikiran Nyonya aneh-aneh. Menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Lalu bertindak semau Nyonya tanpa memikirkan akibatnya. Nyonya juga berdosa karena menghancurkan nama baik orang lain.”

“Kamu tidak menghiburku, malah menyalah-nyalahkan aku,” kata Dwi yang mulai menangis.

“Mengapa Nyonya menangis?”

“Aku bingung harus berbuat apa.”

“Semuanya sudah terlanjur. Nyonya tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Apa aku harus menelpon Anton dan mengatakan hal yang sebenarnya?”

“Itu juga lebih baik.”

“Ambilkan ponselku Bik.”

Bibik memberikan ponsel sang nyonya majikan.

Tapi panggilan itu tidak sekalipun diterima oleh Anton. Ia sedang marah, ia tahu Dwi menelpon, tapi dia tak peduli, dan membiarkannya berdering.

“Tidak diangkat,” katanya lirih, putus asa.

***

Anton sudah tahu di mana rumah direktur perusahaan di mana istrinya bekerja. Tapi belum pernah ke sana.

Ketika berhenti di depan pagar, mobilnya berhenti. Pagar itu tertutup. Ada penjaga yang sedang merokok di gardu sebelah dalam. Penjaga itu bertugas berjaga hanya di saat malam. Ia berdiri ketika melihat mobil berhenti.

“Selamat malam,” sapanya ketika Anton turun.

“Saya mau bertemu dengan Adri,” katanya.

Penjaga itu belum membuka pintu pagar. Ia mengerutkan keningnya mendengar orang menyebut nama majikannya dengan namanya saja.

“Bapak mau apa?”

“Mau menghajarnya,” kata Anton dengan kemarahan meluap.

***

Besok lagi ya.

Saturday, March 7, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 27

 BIARKAN AKU MEMILIH   27

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala berhenti, sementara Tama sudah berteriak-teriak minta gendong sang ayah.

Ponsel itu masih berdering, Nirmala sedang berpikir, mengapa Dwi menelponnya.

Nirmala mengangkatnya setelah agak lama mendiamkannya.

“Ya.”

“Ini ibu Nirmala?”

“Ya, tadi kan sudah saya jawab?” jawab Nirmala kaku.

“Maaf Ibu, saya hanya ingin bilang, pak Adri ke mana ya?”

“O, mau bicara dengan pak Adri, mengapa menelpon saya?”

“Saya hanya ingin bilang, saya ini kan sedang hamil, jadi_”

“Oh, dengan pak Adri saja, orangnya ada,” potong Nirmala.

Nirmala langsung memberikan ponselnya kepada Adri.

“Apa ini?”

”Dwi, ingin menghubungi kamu.”

“Tidak usah, matikan saja,” kata Adri dengan wajah gelap. Tapi Nirmala tetap memberikan ponselnya. Ia melihat wajah Adri yang keningnya kebiruan, dan ada bekas darah dibibirnya. Rasa iba menerpanya, tapi mendengar kata hamil dari ponselnya, ia merasa bahwa segala rasa iba itu tak ada gunanya. Tapi Nirmala terkejut mendengar Adri membentaknya.

“Mengapa kamu masih menghubungi aku? Dengar Dwi, aku sedang bersama istriku. Dan aku sudah melarang kamu untuk menghubungi aku, bukan?”

“Adri, mengapa tiba-tiba kamu berubah?”

“Aku hanya ingin membatasi hubungan kita. Memang benar kita berteman sejak kecil, tapi setelah dewasa, kita memiliki kehidupan masing-masing.”

“Aku sedang hamil, Adri, aku butuh perhatian.”

“Tapi bukan dari aku. Mengapa kamu menganggap aku bisa menjadi penghibur kamu saat kamu sedang terkena masalah? Kamu harus bisa membatasi persahabatan kita. Berbeda ketika kita masing-masing sudah punya kehidupan sendiri.”

“Kamu tidak kasihan sama aku, Adri. Aku tahu sesungguhnya kamu tidak tega. Apakah istri kamu marah dan mulai mencurigai hubungan kita?”

“Apa maksudmu ‘hubungan kita?’ Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan kalau kamu ingin mengeluhkan kehamilan kamu, maka seharusnya keluhan itu kamu tujukan kepada suami kamu. Bukan aku.”

Kali ini Nirmala memasang kupingnya. Ia bermaksud menentukan hari ini, jalan mana yang akan dipilihnya, jadi ia sekalian akan mempersilakan Adri agar meninggalkannya, walau masalah menjaga perasaan orang tua masih harus dipikirkannya. Semestinya karena Dwi hamil maka dia harus bertanggung jawab bukan? Tapi Nirmala heran mendengar perkataan Adri ketika bertelpon.
Apa yang salah sehingga Adri justru marah-marah. Adri juga menyebut tentang suami. Ah ya, bukankah Dwi wanita bersuami? Tapi Adri pernah mengatakan bahwa mereka sedang dalam proses cerai.

Adri masih menggendong Tama yang diam seakan mendengarkan perkataan sang ayah di telpon. Ia tidak merengek, tidak pula menangis.

Nirmala duduk di ruang tengah, tangannya memegang remote dan mengotak atiknya untuk menyalakan televisi. Tiba-tiba Adri datang, menyerahkan ponsel Nirmala, sambil duduk di sampingnya.

“Nirmala, jangan pergi,” katanya lirih.

“Maaf kalau aku mengungkapkan rasa kesal atas kedatangan Bima. Aku terlalu cemburu karena kamu selalu memuji-mujinya.”

Nirmala meletakkan remote yang semula dipegangnya.

Kok jadi masalah Bima, bukan masalah perempuan dengan keluhan kehamilan itu tadi? Dan apa arti jawaban ketika Dwi menelponnya? Hanya pura-pura karena ada dirinya? Nirmala tetap masih curiga.

“Aku dan Bima hanya sahabat baik. Berbeda dengan kamu.”

“Aku kenapa?”

“Seorang perempuan hamil dan kamu tidak merasa punya tanggung jawab?”

“Apa maksudmu? Dia hamil karena punya suami, apa itu masalah aku?” kata Adri dengan nada tinggi.

Nirmala terdiam. Pikiran warasnya baru bekerja. Iya juga, Dwi punya suami, dan kehamilan itu, mengapa harus Adri yang bertanggung jawab? Tapi siapa tahu Adri juga pernah ….

“Apa kamu menuduh aku yang menghamili Dwi?”

Nirmala menatap Adri, kebiruan di dahinya ternyata ada lecet yang semula tak tampak. Ingin tangannya mengelusnya.

“Bukan kamu?”

“Nirmala, apakah aku seburuk itu? Aku selalu bilang bahwa aku mencintai kamu, apakah itu tidak cukup untuk membuat kamu mengerti bahwa aku memang mencintai kamu?”

“Tapi … sepertinya Dwi sangat bergantung pada kamu.”

“Tadinya aku kasihan karena suaminya akan menikah lagi dan dia kemudian meminta cerai. Tapi tiba-tiba dokter mengatakan kalau dia sedang hamil. Aku kasihan dan memintanya kembali saja kepada suaminya, karena alasan suaminya menikah lagi adalah karena suaminya menganggap bahwa Dwi tak bisa memberikan anak untuknya. Tapi kenyataannya Dwi hamil. Aku selalu membujuknya untuk kembali.”

“Mengapa juga dia selalu mengeluh kepada kamu?”

“Ketika aku tahu bahwa dia sudah melampaui batas, aku bersikap keras pada dia. Aku ingatkan bahwa bukan kepada aku dia selalu berkeluh.”

“Apa kamu tidak berpura-pura? Kamu bersikap keras karena ada aku kan? Kemarin ketika ada Bima kamu menerima telponnya dengan manis.”

“Astaga, saat itu aku hanya ingin memanas-manasi kamu, karena aku kesal saat kamu menerima kedatangan Bima. Saat ini aku sudah mengabari Anton, suami Dwi, bahwa istrinya ternyata hamil. Aku berharap mereka akan baik-baik saja dan melanjutkan pernikahan yang tiba-tiba terguncang.”

Nirmala terdiam. Kesalah pahaman ini sudah membuatnya melangkah terlalu jauh.

“Mbak Rana, coba ambilkan obat merah dan salep di kotak obat,” Nirmala berteriak.

***

Dwi menangis terisak-isak. Bibik pembantu kewalahan membujuknya. Ia heran pada sang nyonya majikan. Sudah dewasa tapi sikapnya masih seperti anak kecil. Benar benar seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainan.

“Bik, kamu tahu, aku mencintai dia,” katanya pelan.

“Nyonya tidak boleh bersikap seperti itu. Tuan Adri itu punya istri, dan kalau dia menerima telpon Nyonya dengan sikap keras, berarti Nyonya bertepuk sebelah tangan. Menurut saya, hal itu tidak bisa dilanjutkan. Nyonya harus berhenti.”

“Enak saja kamu bicara.”

“Kemarin Nyonya sudah menelpon istrinya, dan belum sempat bicara malah telponnya diberikan kepada suaminya kan? Apa maksud Nyonya dengan menelpon istri tuan Adri?”

“Agar dia tahu bahwa aku ada hubungan dengan suaminya.”

“Nyonya bersikap sangat gegabah. Maaf Nyonya, saya tidak mendukung Nyonya dalam hal ini.”

“Bik, temanku hanya bibik sekarang ini. Harusnya bibik mendukung aku, agar aku tidak sedih.”

“Kesedihan itu Nyonya sendiri yang membuatnya. Kalau Nyonya tidak berpikiran macam-macam, pasti pikiran nyonya akan lebih tenang.”

“Aku sedang hamil Bik, aku butuh seseorang.”

“Kalau Nyonya membutuhkan seseorang, orang itu adalah suami Nyonya.”

“Apa maksudmu? Kamu lupa bahwa dia mau menikah lagi? Barangkali juga dia sudah menikah saat ini, sambil mengurus perceraian denganku.”

“Tapi alasan menikah lagi itu kan jelas, dia menganggap Nyonya tidak bisa hamil. Kenyataannya Nyonya hamil. Hal termudah ialah mendatangi suami Nyonya, melarangnya menikah karena Nyonya ternyata hamil.”

“Mana bisa segampang itu, lagipula aku tidak mencintai suamiku lagi. Terlanjur sakit hati, lalu cinta itu sudah hilang. Ditambah sikap mertua aku yang nyinyir dan selalu meremehkan aku”

“Nyonya, kalau Nyonya bisa berbicara dengan baik, semuanya akan menjadi baik.”

“Sudahlah Bik, aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku tetap akan mengejar cintaku. Aku yakin Adri hanya terpaksa karena sungkan kepada istrinya.”

Bibik pembantu kehilangan kata-kata. Ia bangkit dan berjalan ke belakang, karena dengan cara apapun sang nyonya tidak mau mendengarnya.

***

Pagi hari itu Dwi bangun agak siang. Badannya terasa tidak enak. Ia merasa sangat lelah, dan rasa mual masih sangat mengganggunya.

Ia menelpon ke kantor bahwa tidak bisa masuk hari itu.

Bibik menyiapkan obat yang harus diminum, lalu menyiapkan sarapan untuk sang nyonya.

“Ini apa?”

“Obat yang harus Nyonya minum sebelum makan.”

Dwi meraih obatnya dan menelannya. Sejak semalam ia masih merasa mual, walau muntahnya sudah berkurang.

“Sebentar lagi Nyonya harus makan.”

“Mengapa mas Anton tidak segera mengabari perkembangan permohonan cerainya?”

“Nyonya, saya mau ke pasar dulu. Sarapan untuk nyonya sudah saya siapkan.”

“Ya. Aku mau tiduran di kamar dulu.”

Tapi ketika dia bangkit bermaksud masuk ke kamar, sebuah mobil memasuki halaman. Dwi hampir bersorak karena mengira Adri yang datang. Ia keluar, dan berdiri di teras. Yang datang adalah Anton suaminya.

“Cuma mengabari masalah perceraian saja, mengapa harus datang? Dari mana juga dia tahu bahwa aku ada di sini?” gumam Dwi dengan wajah gelap

***

Besok lagi ya.

Friday, March 6, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 26

 BIARKAN AKU MEMILIH  26

(Tien Kumalasari)

 

Adri tersaruk mengejar Nirmala, yang kemudian sudah memasuki mobil. Teriakan Adri tak digubrisnya.

“Nirma … Nirmala … jangan pergi dulu, kita masih harus bicara. Nirma, aku cinta kamu, hanya cinta kamu.”

Adri hampir meraih bagian belakang mobil, tapi Nirmala sudah menjalankan mobilnya, sehingga Adri jatuh tersungkur mencium tanah.

“Augh … Nirmala …” keluhnya.

Sementara itu Pratama yang berdiri di jok dan sedari tadi mengawasi ayahnya yang lari, tiba- tiba menangis. Pastinya ia melihat sang ayah jatuh, lalu sang ibu terus menjalankan mobilnya.

“Paaaa … pp …paaaa ….”

Dan mobil itu sudah keluar dari halaman dan terus melaju, entah ke mana.

Hari mulai gelap, malam mulai menyentuh bumi.

Adri bangkit, lalu mengusap bibirnya yang berdarah. Bukan bibirnya yang terasa sakit, tapi hatinya. Banyak hal yang tidak dia mengerti, dan membuatnya bingung. Adri sama sekali tidak sadar apa kesalahannya. Sudah punya istri, terlalu memperhatikan wanita lain itu sebaiknya dihindari. Menolong juga ada batasnya, tapi Adri melakukannya tanpa merasa dosa, apalagi karena sang istri diam.

Sekarang semuanya menjadi runyam. Kedatangannya untuk melepas kangen berantakan, yang ada awalnya dipicu kedatangan Bima yang tidak disukainya sejak lama.

Tertatih Adri kembali ke rumah. Rumah mertuanya yang disiapkan untuk Nirmala ketika bertugas di kota itu.

Ia duduk di teras, meraih tissue untuk mengusap darah di bibirnya.

“Kemana kamu Nirma? Mengapa tidak bicara jelas, aku tidak mengerti kenapa kamu meminta aku bertanggung jawab pada Dwi? Dia bukan siapa-siapa aku, kecuali hanya teman. Kami dekat dari kecil, tapi sekarang aku juga tidak suka pada dia. Ada maksud yang aneh, sepertinya dia ingin merayu atau berbuat lebih. Ya ampun Dwi, kamu sedang mengandung dan kamu melakukan hal yang memalukan,” bisiknya.

Tiba-tiba Adri merasa seperti disengat lebah. Mengandung … hamil … apakah Nirmala mencurigai aku? Ia mengira Dwi hamil karena aku? Astaghfirullah, itu sebabnya dia mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab? Celaka. 

“Bagaimana mungkin hal itu dipikirkan Nirma dan aku tidak memiliki bayangan tentang tuduhan itu sebelum terpikir olehku sekarang ini?”

Adri meraih ponselnya lalu menelpon Nirmala, tapi tidak diangkat. Kemudian ia menuliskan pesan, dengan harapan Nirma membukanya.

***

Nirma terus memacu mobilnya, sementara Tama terus menangis, bahkan semakin kencang. Mbak Rana sudah membujuknya, memberinya susu dalam botol, memberinya cemilan kesukaan, tapi Tama tak mau berhenti menangis. Mbak Rana kebingungan.

“Bagaimana ini Nyonya, mas Tama tidak pernah serewel ini.”

“Ada apa mbak, lapar barangkali?”

“Sudah saya beri susu dan cemilan, tapi tidak mau, terus menjerit-jerit.”

“Tama, sayang, ada apa Nak, diamlah dulu.”

“Apa kita mau pulang, nyonya.”

“Tidak, pekerjaanku belum selesai.”

“Ppaaaa … ppaaaa ….” Tama terus berteriak-teriak.

”Kenapa ya, Tama. Masih ingin bersama ayahnya?”

“Mungkin karena tadi melihat tuan terjatuh, Nyonya.”

Nirmala mengerem mobilnya tiba-tiba, membuat mbak Rana kemudian merenggut tubuh Tama di dekapnya erat, agar tidak terantuk jok di depannya.

“Siapa yang terjatuh?”

“Tadi tuan mengejar nyonya, terjatuh di belakang mobil.”

Nirmala memutar mobilnya. Cinta itu masih ada. Semarah apapun ia tak ingin suaminya sakit atau terluka. Ditambah rewelnya Tama, Nirmala bermaksud kembali lagi ke rumah.

“Tama, kita temui bapak ya, jangan nangis. Kita temui bapak,” bujuk Nirmala.

Dan ajaibnya tangis Tama mereda, meskipun masih terisak-isak.

“Diam ya mas Tama, ibu mau mengajak mas Tama ketemu bapak,” mbak Rana ikut membujuk.

“Ppaaa … ppaaaa … “ celotehnya lagi dalam isaknya.

“Mbak Rana, apa ketika kamu masih bersama suami kamu, kamu pernah disakiti?” tanya Nirmala tiba-tiba.

Mbak Rana terdiam beberapa saat.

“Itu sebabnya saya memilih pergi,” jawabnya pelan.

“Kalian bercerai?”

“Iya Nyonya, dan kebetulan kemudian Nyonya membutuhkan saya.”

“Mengapa kamu memilih pergi?”

“Suami saya punya istri muda. Saya tidak mau di madu.”

Nirmala menghela napas panjang. Semua perempuan tak mau dimadu, memilih pergi. Bagaimana dengan dirinya? Ia tidak … atau belum dimadu, jalan mana yang dia pilih? Pergi seperti mbak Rana, atau tetap bersama suami sementara di sana ada perempuan yang sedang mengandung anak suaminya? Kalau demi menjaga perasaan orang tua, Nirmala ingin terus berpura-pura hidup bahagia. Tapi akankah ia tahan menerima semua itu? Membayangkan sang suami mencumbui perempuan lain saja hatinya sudah seperti dicabik-cabik.

Tapi apa yang di dengarnya tadi? Adri mencintainya, dan itu dikatakan berkali-kali sambil lari mengejarnya. Cinta macam apa yang diberikan sang suami sementara ada perempuan lain yang mengandung anaknya?

Nirmala merasa dadanya sesak. Ia kembali karena tangis Tama, ia kembali karena menyadari cintanya masih tersisa sehingga tak ingin kalau suaminya jatuh atau terluka.

Ponselnya berdering lagi. Ia tahu sejak tadi Adri menelponnya, tapi sengaja tidak diangkatnya.

“Ah, nanti kan ketemu, akan aku dengar dia mau ngomong apa,” kata Nirmala sambil mengacuhkan dering ponselnya.

***

Sementara itu bibik pembantu melihat sang nyonya majikan terus menerus uring-uringan. Ditangannya masih memegang ponsel, wajahnya murung, seperti sedang kesal. Tapi ia hanya menatapnya.

“Heran aku, tadinya bicara baik-baik, manis, kok tiba-tiba berubah galak. Lalu melarang aku menghubungi dia. Ada apa nih? Apa tadinya istrinya tidak ada lalu sikapnya sangat manis, lalu tiba-tiba istrinya datang, lalu dia berubah garang?” gumamnya pelan.

“Siapa Nyonya?” tanya bibik pembantu yang sebenarnya juga penasaran.

“Siapa lagi, Adri. Tadi tuh menerima telponku dengan manis, baik, menanyakan kehamilan, prihatin ketika aku bilang mual terus, ee … tiba-tiba saja berubah garang. Malah dia melarang aku menghubungi dia. Gimana sih?"

“Mungkin ada istrinya.”

“Nah, aku juga berpikir begitu. Aku sudah kembali menelponnya beberapa saat kemudian, tapi tidak diangkat.”

“Ya sudah Nyonya, memang tidak mudah berhubungan dengan seseorang yang sudah berkeluarga. Sebaiknya Nyonya memikirkan kebaikan untuk diri sendiri saja.”

“Tapi aku tidak bisa melupakan dia Bik.”

“Nyonya, wanita yang sedang mengandung itu tidak baik kalau pikirannya tidak tenang, sering kesal dan marah-marah. Hal itu nanti akan berpengaruh pada bayi yang Nyonya kandung.”

“Aku memang tidak suka pada bayiku ini. Dia menghambat semuanya. Aku jadi sakit, muntah terus, belum nanti kalau pada proses perceraian ketahuan kalau aku sedang mengandung. Pasti susah.”

“Jangan bilang tidak suka pada bayi yang dikandung, Nyonya, percaya atau tidak, bayi itu bisa merasakannya.”

“Masa iya, bayi yang belum berujud sempurna bisa mendengar apa yang aku katakan?”

“Mungkin tidak mendengar, tapi dia merasakannya.”

“Hmh, repot. Kalau begitu aku akan menghubungi bu Nirmala saja. Kata orang, bu Nirmala orangnya baik. Adri juga mengatakan begitu.”

“Nyonya mau bilang apa? Bukannya Nyonya pernah bilang bahwa ibu Nirmala itu  wakil dari pemilik perusahaan?”

“Iya, memang.”

“Sebaiknya jangan mencari gara-gara dengan orang yang punya kedudukan Nyonya, bagaimana kalau berpengaruh pada pekerjaan Nyonya, lalu dia memecat Nyonya?”

“Biarkan saja kalau dia mau melakukannya. Yang jelas aku tahu bahwa sebenarnya Adri menyukai aku. Dia tak akan membiarkan aku kelaparan.”

“Nyonya, sebaiknya Nyonya makan saja dulu obatnya, agar tidak mual lagi, setelah itu makan malam saya siapkan."

***

Adri yang sedang kalut dan sendirian di teras, merasa kesal karena Dwi kembali menelponnya, dan tidak hanya sekali. Ia bingung bagaimana caranya menghentikan Dwi, sementara hatinya sendiri sedang kacau balau.

Lalu Adri meraih ponselnya, dan mencari nomor kontak Anton.

Kalau tidak salah dulu ia pernah meminta nomor kontak itu pada Dwi,saat Dwi mau dioperasi kakinya. Memang dia tak jadi menghubungi, karena Dwi melarangnya, tapi nomor itu sudah dicatatnya.

Adri merasa lega ketika menemukannya. Kemudian ia berbicara kepada Anton, sebagai seorang pimpinan. Ia mengatakan kalau Dwi sedang hamil, dan pekerjaannya sudah dipindahkan ke kota lain.

Adri menuliskan alamat Dwi, ketika Anton menanyakannya., lalu ia merasa sedikit lega. Sekarang ia sedang berpikir, kemana Nirmala pergi. Tak mungkin dia pulang karena pekerjaannya belum selesai. Mertuanya yang mengatakan pada siang harinya.

***

Tangis Tama sudah berhenti, ketika mobil sang ibu sudah memasuki halaman rumah.

“Paaaa…pp..ppaaa …” kembali ia berceloteh.

Nirmala sedang menghentikan mobil dan bersiap turun, ketika ponselnya berdering. Hanya nomor, tanpa ada nama pengontaknya.

Ia turun diikuti mbak Rana yang menggendong Tama. Dilihatnya Adri berdiri di tangga teras, menyambut mereka, rambutnya awut-awutan.

Ponselnya terus menerus berdering. Ketika Nirmala merasa sebal dan mencoba mengangkatnya sambil berjalan mendekati rumah, sebuah suara nyaring terdengar.

“Ini ibu Nirmala?”

“Anda siapa?”

“Saya Dwiyanti, manager pemasaran yang belum lama dipindahkan.”

Mata Nirmala menyala.

***

Besok lagi ya.

Thursday, March 5, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 25

 BIARKAN AKU MEMILIH  25

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menunggu di tangga teras sambil menggendong Tama. Ketika dekat, Bima langsung mencium pipi Tama. Tapi ketika Bima mengulurkan tangan untuk menggendong, Tama menggelengkan kepala, lalu memeluk leher sang ibu dengan wajah cemberut.

“Hai Tama, ini om Bima, ayuk kenalan.”

Tapi Tama memeluk sang ibu lebih erat.

“Belum kenal soalnya Bim.”

“Sepertinya dia takut. Memangnya wajahku menakutkan ya?”

“Tidak, hanya karena belum kenal saja. Ayo masuk, kebetulan Adri ada di sini.”

Bima agak terkejut. Biarpun dia tidak bermaksud buruk, tapi mengingat bahwa Adri tidak menyukainya, keinginan masuk itu agak menyurutkan langkahnya.

“Ayo masuk,” kata Nirmala.

“Aku di sini saja,” kata Bima yang memilih duduk di teras.

“Di sini saja?”

“Iya, di sini saja.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

“Mana Adri?”

“Baru mandi. Dia juga belum lama datang.”

“Tama, ayo sini,” Bima kembali membujuk Pratama, tapi Pratama tak mau menoleh ke arahnya. Wajahnya muram.

“Kamu tiba-tiba pulang, ada berita apa?”

“Tunangan aku pulang besok, aku sudah harus di rumah, karena aku akan menjemputnya di bandara.”

“Bagus sekali, segera ajak dia menikah.”

Bima terkekeh.

“Semoga tidak ada alasan lagi untuk menolak.”

Sementara itu Adri yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar dan berpapasan dengan mbak Rana yang membawa nampan berisi tiga gelas minuman.

“Itu untuk aku?” tanya Adri.

“Untuk Tuan dan Nyonya, serta untuk tamu.”

“Ada tamu?”

“Iya, tuh di teras.”

Adri meraih salah satu gelas yang dibawa mbak Rana, lalu membawanya duduk dan meneguknya di sana.

Mbak Rana tersenyum, tampaknya sang tuan sangat kehausan sehingga ingin buru-buru minum. Ia melanjutkan langkahnya ke depan sambil membawa nampan. Mbak Rana sudah terbiasa, kalau ada tamu, tanpa disuruh dia pasti langsung membuatkan minum.

“Siapa tamunya?” tanya Adri ketika mbak Rana sudah pergi ke belakang.

“Saya belum pernah tahu, seorang laki-laki,” jawab mbak Rana kemudian berlalu.

“Adri menghabiskan minumannya, kemudian berdiri. Wajahnya langsung muram begitu melihat tamunya. Ia tak sedikitpun mengulaskan senyum meskipun Bima menyapanya ramah.

“Selamat sore Adri.”

“Selamat sore,” jawabnya singkat.

“Duduklah Adri, sudah lama kita tidak bertemu Bima,” kata Nirma.

“Aku sangat lelah, silakan dilanjutkan ngobrolnya,” katanya mempersilakan, walau wajahnya sama sekali tidak ramah. Rasa cemburu yang pernah dipendamnya ternyata belum hilang dari hatinya, biarpun dia sudah menikahi Nirmala.

“Pppaaa … ppaaap…paaa,” tiba-tiba Tama berteriak. Adri segera mengambil Tama dari pangkuan Nirmala, kemudian beranjak ke belakang, mengajak Tama duduk di ruang tamu.

Bima merasa tak enak, ia akan segera pamit, karenanya ia segera meraih gelas minumnya.

“Aku minum ya,” katanya karena Nirma tidak segera mempersilakannya.

Suasana menjadi kaku, karena sikap Adri yang sama sekali tidak bersahabat.

“Tampaknya aku akan segera pamit, aku pulang naik kereta, jam sembilan aku harus sudah di stasiun.”

“Baiklah, maaf tidak disuguhin apapun,”

“Ini sudah, minumannya sangat enak,” kata Bima sambil menghabiskan minumannya.

Tiba-tiba terdengar dering ponsel Adri dari luar. Tak lama kemudian Adri mengangkatnya, dan menyapanya dengan manis.

“Ya, Dwi?”

Nirmala menekan rasa kesalnya. Sungkan ada Bima. Bima sedang berdiri lalu mencari keberadaan Adri.

“Mana Adri?”

“Di dalam, nanti aku pamitin deh,” kata Nirmala.

Bima mengangguk, tapi ketika ia akan turun dari teras, ia melihat Adri sedang bertelpon. Bima merangkapkan tangannya sambil tersenyum, dan Adri membalasnya dengan lambaian dan dengan senyum yang dibuat-buat.

“Ya, biasanya memang begitu kalau wanita hamil.”

Tapi kemudian Adri masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan pelan tapi tandas.

“Jangan sekali-sekali kamu menelpon aku lagi," lalu ia menutup ponselnya.

Rupanya Adri mau mengangkat telpon dari Dwi, hanya karena untuk memanaskan hati Nirmala yang sedang berduaan dengan Bima, yang ia tahu bahwa Bima adalah teman dekat Nirmala sejak lama.

Nirmala masuk ke dalam kamar, wajahnya muram. Di dekatnya, ia masih saja membicarakan kehamilan.

“Apa aku ini patung yang tak punya hati dan rasa?” gumamnya pelan.

Tapi kemudian Adri yang masih menggendong Tama mendekatinya.

“Mau apa dia kemari?” kata Adri datar.

“Memangnya kenapa kalau dia datang kemari?”

“Kamu beritahu dia bahwa kamu ada di sini, supaya dia mendatangi kamu selagi aku tidak ada kan?”

“Apa maksudmu?” kata Nirmala dengan nada tinggi.

“Aku tahu sejak dulu dia menyukai kamu. Ia sedang mencari celah untuk menemui kamu tanpa sepengetahuan aku.”

“Kamu menuduh sembarangan. Bima tidak serendah itu. Dia laki-laki baik dan sangat terhormat.”

TIba-tiba Tama merasa bahwa ayah dan ibunya sedang tidak baik-baik saja. Ia menangis melengking dan meronta-ronta.

Adri memanggil mbak Rana, yang segera datang lalu mengambil Tama dari tangan ayahnya. Ketika pintu kamar ditutup kembali, Adri menatap Nirmala dengan marah.

“Dan kamu sejak dulu selalu memuji-muji dia di hadapanku. Membandingkan dia dengan aku?”

“Aku tidak membandingkan. Aku tidak memuji-muji dia, aku hanya membela dia yang kamu tuduh bermain kotor, padahal dia sebenarnya baik.”

“Ya, dia baik … baik … dan baik. Dan aku buruk, tak berharga di hadapan kamu?”

“Tidakkah?” Nirmala mulai menyerang.

“Apa maksudmu? Kamu mencurigai aku tentang apa? Aku tidak melakukan apa-apa yang menodai pernikahan kita.”

“Semut di seberang lautan tampak oleh kamu, sedangkan gajah dipelupuk mata kau abaikan?”

“Apa maksudmu?” nada suara Adri semakin meninggi.

“Aku tidak perlu menjelaskan. Bertanyalah kepada diri kamu sendiri.”

“Kamu harus menjelaskan. Kamu marah dan kesal karena aku sering membantu Dwi? Kan aku sudah bilang kalau dia teman main aku sejak kecil, lumrah kalau aku membantunya. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa kami hanya teman. Dan aku juga sudah mengatakan pada kamu, kalau kamu tidak suka maka aku akan menghentikannya, tidak akan lagi membantunya.”

“Bagus. Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya?” untuk mengucapkan itu mata Nirmala menyala seperti percikan api yang menyengat.

“Apa itu urusanku?”

“Baru saja kalian bertelpon dan membicarakan kehamilan dia, kamu katakan bukan urusan kamu?”

“Dia hanya mengeluhkan kandungannya dan dia tak punya siapa-siapa untuk berkeluh.”

“Aduhai … kasihan benar, tak punya siapa-siapa untuk berkeluh, kalau begitu jagalah dia, karena itu kewajiban kamu kan?”

“Nirmala, apa kamu bilang? Mengapa kewajiban aku? Tidak, baiklah, kalau tentang Dwi aku minta maaf, tapi Dwi bukan siapa-siapa aku, aku janji tidak akan membantunya lagi,” kata Adri lebih pelan, bahkan sangat pelan.

“Jadilah pria yang bertanggung jawab.”

“Aku bertanggung jawab pada istriku, dan karena itu pula aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain, apalagi yang sebenarnya menyukai kamu.”

“Kembali pada Bima lagi? Kamu tidak mendengar tadi yang aku katakan?”

“Nirmala!”

”Aku lelah. Sangat lelah,” kata Nirmala lemah, kemudian keluar dari kamar.

Adri terpaku di tempatnya. Ia datang untuk menumpahkan rindu dan kangennya, tapi kejadiannya malah seperti ini. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di kamar itu, dan menghembuskan napas panjang berkali-kali. Tubuh dan jiwanya terasa lemas, ia tidak tahu harus bagaimana. Kalau Nirmala kesal karena kedekatannya dengan Dwi, ia sudah berjanji akan menjauhinya. Tapi Nirmala malah bicara yang tidak-tidak, dan sangat tidak dimengertinya. Apa maksudnya aku harus bertanggung jawab?

Adri memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.

Tiba-tiba ia mendengar celoteh Tama, menuju ke arah depan. Adri bangkit, lalu membuka pintu kamar. Tapi ia terkejut ketika melihat Nirmala bersiap pergi sambil membawa kopor, dan mbak Rana sudah mendahuluinya masuk ke mobil bersama Tama.

“Nirmala, kamu mau ke mana?”

“Biarkan aku pergi bersama Tama,” katanya diselingi isak.

Adri merasa tubuhnya sangat lemas. Tersaruk ia mengejar dan berteriak.

“Nirma, jangan pergi, aku mencintai kamu,” suaranya bergetar.

***

Besok lagi ya.

 

BIARKAN AKU MEMILIH 29

  BIARKAN AKU MEMILIH  29 (Tien Kumalasari)   Penjaga itu urung membuka pintu. Lagi pula Adri majikannya tidak ada di rumah semua. “Kalau An...