Friday, February 20, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 14

 BIARKAN AKU MEMILIH  14

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala masih memegangi ponselnya dengan perasaan heran.

“Nirma, kamu mendengar apa yang bapak katakan?”

“Iy … iya .. Pak. Tapi … maksud Bapak apa?”

“Bapak sudah menanyakan ke kantor Adri. Ada hubungan dekat antara Adri dan Dwiyanti, manager pemasaran baru itu.”

“Adri mengatakannya pada Nirma tentang apa yang dilakukannya.”

“Bahwa dia berhubungan dengan Dwi?”

“Dwi itu teman masa kecilnya, yang kebetulan bertemu di tempat kerja.”

“Dan setiap siang makan siang bersama? Ibumu pernah memergokinya, dan ibumu curiga.”

“Namanya teman sekantor, saat makan bisa saja makan bersama.”

“Nirma, kamu terlalu naif. Apa kamu juga tahu, perempuan itu sakit lalu Adri menungguinya siang malam? Bahkan meninggalkan pekerjaannya ketika dia harus operasi?”

“Adri juga mengatakan semua itu Pak.”

“Kamu tidak curiga, melihat perhatian yang begitu besar dari suamimu terhadapnya?”

“Nirma tidak menemukan bukti apapun untuk mencurigai dia, karena dia mengatakan apapun yang dilakukannya untuk wanita itu.”

“Baiklah, bapak hanya mengingatkan kamu. Maksud bapak adalah agar kamu berhati-hati dan terus mengawasi suami kamu.”

“Iya Pak, terima kasih sudah diingatkan. Bapak dan ibu sehat kan?”

“Sangat sehat, ini bapak sedang dalam perjalanan ke kantor. Kamu sudah di kantor?”

“Nirma masih di rumah, ini baru mau berangkat.”

“Hati-hati dijalan.”

“Terima kasih Pak, Bapak juga harus hati-hati.”

Nirma turun dari teras, menuju ke arah mobilnya. Dalam perjalanan ke arah kantor, Nirma merasa prihatin ketika sang ayah ternyata mengawasi kelakuan Adri. Pastilah sang ayah mengerti karena kantor di mana Adri bekerja adalah juga miliknya. Tapi sesungguhnya Nirma tak ingin sang ayah mengetahui bagaimana keadaan keluarganya. Nirma hanya ingin agar orang tuanya mengerti bahwa keluarganya adalah baik-baik saja. Dan semoga memang begitulah adanya, kata batin Nirmala dengan sepenuh harapannya.

***

Adri sedang bekerja di kantornya, ketika Dwi menelponnya.

“Adri .. apa kamu di kantor?”

“Iya lah, ini kan jam kerja.”

“Hari ini aku boleh pulang, apa kamu bisa menjemput aku?”

“Aku sudah beberapa kali bolos kerja demi kamu.”

“Maaf Adri, kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menolongku?”

Dan lagi-lagi Adri luluh. Adri juga tak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa lemah kalau berhadapan dengan Dwi.

“Bagaimana Dri?”

“Iya, nanti jam istirahat ya, pekerjaanku menumpuk. Laporan belum aku periksa semua.”

“Baiklah, aku menunggu. Ini juga aku belum sepenuhnya bisa jalan. Aku sudah beli kruk melalui rumah sakit. Takut merepotkan kamu lagi.”

Beli kruk takut merepotkan, tapi menyuruh-nyuruh agar menunggui dan menjemput, Dwi merasa tidak merepotkan? Entahlah, siapa tahu apa yang dipikirkan Dwi.

Tapi Adri tidak merasakan apapun. Ia merasa hanya melakukan semuanya karena belas kasihan. Ataukah ia senang karena dibutuhkan?

Tiba-tiba sekretarisnya menghadap.

“Maaf Pak, tadi pak Bondan berpesan, siang ini Bapak diminta menghadap pak Bondan di kantor pusat.”

Adri mengerutkan keningnya.

“Mengapa bapak tidak langsung menghubungi saya?”

“Ketika pak Bondan menelpon, Bapak sedang tidak ada di tempat. Kelihatannya Bapak sedang ke belakang.”

“Baiklah.”

Adri mengeluh. Padahal dia sudah berjanji akan menjemput Dwi di rumah sakit. Bagaimana kalau mertuanya bicara panjang dan tidak ada waktu untuk menjemput?

Lalu ia menelpon Dwi.

“Dwi, nanti barangkali aku agak terlambat menjemput, karena pak Bondan memanggil aku agar menghadap ke kantor pusat.”

“Siang ini?”

“Ya, siang ini. Kamu sabar ya, barangkali ada hal penting yang akan disampaikan pak Bondan.”

“Aduh, berapa lama ya?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu pak Bondan akan bicara apa. Tampaknya sangat penting sehingga tidak cukup bicara di telpon.”

“Ya sudah, aku tunggu saja, soalnya nggak ada yang menjemput aku.”

Adri memasukkan ponsel ke dalam sakunya, lalu siap berangkat untuk menemui sang ayah mertua.

***

Dengan langkah tenang Adri memasuki ruang kerja sang ayah mertua. Ia mengetuk pintu dan langsung masuk ketika dipersilakan.

“Selamat siang, Pak.”

“Duduklah.”

Adri duduk dan menunggu apa yang akan dikatakan sang ayah mertua.

“Aku mengirimkan Dwiyanti beberapa bulan yang lalu.”

“Ya, dia sudah dipekerjakan di bagian pemasaran sebagai manager, sesuai arahan Bapak.”

“Bagaimana pekerjaannya?”

“Lumayan.”

“Kamu mengenalnya secara dekat ya sebelum ini?”

“Iya, kebetulan dia teman masa kecil saya, dan agak terkejut juga ketika ternyata yang Bapak kirimkan adalah dia.”

“Saat ini dia sakit?”

“Ada kecelakaan di rumah dia, menyebabkan kakinya, tepatnya pergelangan kaki kirinya, patah dan harus dioperasi kemarin. Tapi hari ini sudah bisa pulang ke rumah.”

“Syukurlah.”

Adri menunggu apa yang sebenarnya akan dikatakan ayah mertuanya. Masalah Dwi sepertinya tidak terlalu penting untuk dibicarakan dengan cara memanggilnya menghadap.

“Aku ingin bicara tentang Dwiyanti.”

"Lhoh, ternyata memang tentang dia?” pikirnya.

“Ada cabang di luar kota yang membutuhkan dia. Jadi nanti mulai bulan depan dia akan dipindahkan ke sana.”

Adri tertegun. Tapi ia tak menjawab apapun.

“Apa kamu keberatan?” lanjut pak Bondan.

“Tidak ada alasan bagi saya untuk keberatan. Kebijakan Bapak adalah kebijakan perusahaan. Saya, adalah bawahan Bapak, walau di kantor sebagai pimpinan.”

“Baiklah. Hanya itu yang akan aku bicarakan.”

Adri merasa heran, hanya akan memindahkan Dwi, mengapa harus memerintahkan agar dirinya menghadap?

“Kamu aku panggil, barangkali akan ada keberatan yang akan kamu ajukan.”

“Tidak ada, saya menyerahkan semuanya kepada kebijakan Bapak.”

“Kapan dia pulang dari rumah sakit?”

“Kabarnya hari ini sudah bisa pulang.”

“Aku mendengar bahwa ada hubungan khusus antara Dwi dan kamu,” kata pak Bondan terus terang. Ternyata pak Bondan masih melanjutkan.

“Bapak mendengar dari siapa?”

“Sebuah kedekatan pasti terlihat dari luar. Hubungan yang tidak wajar juga akan tampak oleh siapapun juga.”

“Kami hanya berteman.”

“Berteman baik?”

“Sangat baik, karena hubungan semasa kecil.”

“Baiklah, aku hanya ingin mengetahui, apakah keluarga kamu baik-baik saja.”

“Kami memang baik-baik saja. Bapak tidak usah mengkhawatirkannya.”

“Syukurlah. Sekarang kamu boleh kembali.”

Adri berdiri, ia mencium tangan sang ayah mertua kemudian mohon diri.

Pak Bondan menatap punggungnya, dan membatin. Tampaknya Adri tak bereaksi mendengar perintah Dwi akan dipindahkan. Tak ada rona terkejut, tak ada sesal. Tampaknya memang tak ada apa-apa diantara mereka. Nirmala benar, rumah tangganya baik-baik saja. Pak Bondan melanjutkan pekerjaannya.

***

 Nirmala sedang siap keluar ruangan untuk makan siang, ketika sang ayah menelponnya.

“Assalamu’alaikum” sambutnya.

“Wa’alaikumussalam,” jawab sang ayah.

“Tumben Bapak menelpon siang-siang.”

“Aku tadi ketemu suami kamu.”

“Bapak ke kantornya?”

“Tidak, bapak panggil dia ke kantor bapak.”

“Oh, ada yang sangat penting?”

“Aku hanya bilang kalau Dwi aku pindahkan ke kantor cabang.”

“Bukankah itu di luar kota?”

“Ya, memang aku pindahkan ke sana.”

“Apa Adri keberatan?”

“Tidak, tampaknya dia tidak berreaksi apa-apa. Bapak mengira tidak ada hubungan apa-apa antara Dwi dan suami kamu.”

“Bapak berpikir terlalu jauh. Rumah tangga Nirmala baik-baik saja.”

“Bapak hanya khawatir, karena mendengar laporan-laporan dari anak buah suami kamu.”

“Mereka hanya melihat luarnya. Adri bilang, dia baik karena Dwi teman masa kecilnya.”

“Ya, dia juga mengatakan itu.”

“Bapak terlalu berlebihan. Adri memang begitu. Tapi dia mengatakan pada Nirma setiap apa yang dilakukannya. Dia memperhatikan Dwi karena kasihan.”

“Tapi kamu harus tetap berhati-hati. Seorang laki-laki yang tampak jinak seperti domba tiba-tiba bisa menjadi seperti serigala.”

Nirmala terkekeh.

“Kamu jangan tertawa.  Pesan bapak hanya itu, kamu harus berhati-hati dan terus mengawasi suami kamu.”

“Baiklah, Bapak tidak usah mengkhawatirkan Nirma, Nirma tahu apa yang harus Nirma lakukan.”

“Baiklah. Lanjutkan pekerjaan kamu.”

“Nirma baru mau makan siang.”

“Oh ya, makanlah, jangan sampai tubuhmu kurus karena kurang makan,” canda sang ayah.

Ketika menutup ponselnya, Nirmala masih memikirkan apa yang dikatakan sang ayah. Seorang laki-laki yang terlihat jinak seperti domba, tiba-tiba bisa menjadi seperti serigala? Apa maksud sang ayah?

Nirmala tidak begitu memperhatikannya lagi, ketika mendengar keruyuk lapar dari perutnya.

***

Adri tidak ke kantor lagi tapi langsung ke rumah sakit, seperti janjinya kepada Dwi. Tapi ia tak melihat Dwi di kamar rawatnya. Menurut perawat yang sedang membersihkan ruangan, Dwi sudah pulang dijemput suaminya.

***

Besok lagi ya.

Thursday, February 19, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 13

 BIARKAN AKU MEMILIH  13

(Tien Kumalasari)

 

Adri turun dari pembaringan, meninggalkan Nirmala yang masih terbaring dengan wajah kesal.

Notifikasi pesan terdengar lagi, Adri kembali membukanya.

“Adri, aku takut sekali. Bekas operasi ini berdenyut-denyut sakit. Kalau ada kamu, barangkali sakit ini akan berkurang."

Adri tidak membalasnya.

“Aku akan segera kembali,” katanya sambil melangkah ke kamar mandi, lalu ke ruang ganti. 

Ketika mendekati Nirmala, Adri sudah berganti pakaian rapi.

Nirmala sudah tahu, pasti dari perempuan itu.

“Dia sangat penakut. Kasihan dia sendirian,” katanya sambil mencium kening Nirmala.

Adri berlalu, Nirmala terpaku. Ia tak punya sanak saudara? Apakah dia jatuh dari langit? Pikir Nirmala sambil memiringkan tubuhnya, memeluk guling dengan pikiran ke mana-mana.

“Apa yang terjadi pada suamiku? Begitu perhatiannya. Benarkah hanya karena teman sejak kecil? Lalu sekarang menjadi anak buahnya? Apakah harus begitu besar perhatiannya? Dan perempuan bernama Dwi itu, enak saja memanggil suami orang, mengatakan bahwa dia takut, di saat malam, saat di mana suami istri biasanya meluangkan waktu untuk sekedar mencurahkan kasih sayangnya?” gumam Nirmala yang tak urung air matanya kemudian berlinang. Sekuat apapun hatinya tapi suaminya ‘dipinjam’ untuk menungguinya di rumah sakit dengan alasan takut. Ada kemarahan menelusuri aliran darahnya, membuatnya kemudian tak bisa tidur.

***

Dwi tersenyum cerah ketika melihat Adri memasuki kamarnya dan langsung mendekatinya.

“Belum tidur?”

“Aku yakin kamu akan datang setelah aku mengirimi kamu pesan. Kamu laki-laki yang baik, Adri,” kata Dwi sambil terus mengulaskan senyum.

“Aku mengkhawatirkan kamu, karena kamu selalu mengatakan takut. Apa yang kamu takutkan? Diluar banyak perawat jaga yang akan datang setiap saat ketika kamu memencet bel panggilan.”

“Itu beda Adri. Kedatangan kamu sangat berarti bagiku. Kamu luar biasa, aku tak akan bisa melupakan kebaikan kamu.”

Adri mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.

“Kamu tadi mengatakan kalau kakimu nyeri, harusnya kamu bilang pada perawat.”

“Aku mau kamu dulu yang datang.”

“Aku tidak bisa apa-apa, aku bukan dokter. Lagipula kalau terasa sedikit nyeri, itu akibat luka operasi itu. Tentu terasa tidak nyaman karena ada luka.”

“Iya, aku tahu. Tapi setelah kamu datang, rasa nyeri itu berkurang.”

“Dwi, kamu meng ada-ada.”

“Itu benar.”

“Tapi aku tidak bisa lama. Istriku akan bertanya-tanya karena aku pergi malam-malam.”

“Adri, apa kamu tidak bisa bilang kalau sahabat kamu sedang sakit?”

“Menungguinya siang malam akan terasa aneh Dwi, aku harap kamu mengerti.”

Tiba-tiba Dwi menangis. Terisak perlahan.

“Baiklah, sekarang kamu pulang saja. Biarkan aku sendiri. Aku bukan istri kamu, aku tak pantas merepotkan kamu, pergilah,” kata Dwi sambil menangis, dan sekarang tidak hanya terisak, tapi benar-benar menangis, membuat Adri kebingungan. Ia tak pernah menghadapi perempuan menangis di hadapannya. Ia bingung harus melakukan apa. Istrinya tak pernah menangiskan sesuatu. Istrinya seorang wanita kuat yang mandiri. Tiba-tiba Adri merasa tak tega. Dipegangnya tangan Dwi untuk menghiburnya.

“Jangan menangis begitu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sudah datang tapi kamu mengusir aku.”

“Habis kamu mengolok-olok aku, seakan aku sangat mengganggu kebersamaan  kamu bersama istri kamu. Aku memang bukan siapa-siapa, yang tak pantas mendapat perhatian dari kamu.”

“Aku mengatakan hal yang sebenarnya Dwi. Kalau aku pamit malam-malam, istriku akan bertanya-tanya.”

“Bukankah kamu bisa menjawabnya?”

“Tapi aku sudah menunggui kamu sejak pertama kamu aku bawa ke rumah sakit, lalu paginya dioperasi. Aku baru pulang sebentar, lalu kamu memintaku datang lagi. Aku bingung, istriku pasti akan bertanya-tanya.”

“Besok kalau aku sudah sembuh, aku akan datang kepada istri kamu, meminta maaf karena telah merepotkan kamu.”

“Tidak usah. Istriku sudah tahu, karena aku tidak pernah membohonginya. Aku mengatakan semuanya, sejak mengantarkan kamu ke rumah sakit, sampai menunggui kamu operasi, bahkan sampai kepergian aku kemari malam ini.”

Dwi sangat takjub. Suami yang tidak bisa bohong? Sementara suaminya yang hampir setiap malam pamit keluar bersama teman-temannya, yang katanya hanya di pos ronda, ternyata sedang bersama perempuan lain. Itu dikatakan mertuanya saat kemarin datang sehingga dia bertengkar dengan suaminya.

Saat itu suaminya baru pulang kerja. Suaminya sama sekali tidak membicarakan masalah dia menelpon dan mengatakan akan menikah lagi, jadi Dwi mendahului bicara.

“Apa yang Mas katakan itu benar? Mas ingin menikah lagi?”

“Maaf Dwi, aku terpaksa melakukannya, karena anjuran dari orang tuaku.”

“Apa kamu anak kecil sehingga apa yang kamu lakukan harus tergantung dari anjuran orang tua kamu?” Dwi mulai kesal.

“Mereka punya alasan, ingin segera punya cucu, sedangkan kamu tidak segera hamil.”

“Itu benar. Kamu tidak bisa hamil,” kata ibu mertuanya yang tiba-tiba datang.

“Mengapa ibu berusaha merusak rumah tangga kami?”

“Aku tidak akan merusaknya, teruslah berumah tangga, teruslah menjadi menantuku, tapi akan ada wanita lain yang menemani kamu, yaitu madumu.”

“Ibu memaksakan kehendak,” suara Dwi meninggi.

“Apa maksudmu? Ini bukan aku yang memaksanya. Suami kamu selalu menemui calon istri barunya setiap malam,” kata sang ibu mertua enteng.

“Apa? Benar Mas? Kamu pamit ke pos ronda hampir setiap malam, ternyata kamu menemui perempuan lain?”

“Itu benar. Jangan memojokkan suami kamu seperti itu. Sadarilah bahwa kamu memang bukan perempuan sempurna.”

Dwi naik pitam, ia menubruk suaminya, ingin menamparnya, memukulnya dengan kemarahan yang membabi buta, tapi kemudian sang mertua menariknya, dan suaminya mendorongnya keras, sehingga dia terjatuh. Sebuah meja kecil dengan kaca diatasnya menimpa kakinya. Pergelangan kaki terluka, dan patah tulangnya. Bukan menolongnya, sang ibu mertua menarik tangan suaminya dan mengajaknya pergi mengendarai mobilnya.

“Dwi, sudahlah, jangan menangis.”

Dwi sadar dari lamunannya. Apa yang dialaminya sudah diceritakan semua kepada Adri. Kebohongan sang suami dan kekejaman ibu mertuanya yang membuatnya sakit, bukan hanya raganya, tapi juga hatinya.

“Aku minta maaf Adri, aku sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya luka ini, tapi juga luka di dalam hatiku. Sekarang aku sadar bahwa harus membawa luka ini seorang diri, dan tidak merepotkan kamu, sekarang pulanglah Adri. Maaf merepotkan kamu,” katanya masih dengan isak kecil.

Apa yang dikatakan Dwi membuat Adri tersentuh. Ia sudah tahu apa yang terjadi, dan itulah kenapa ia merasa iba terhadap nasib Dwi.

Mendengar perkataan Dwi yang terakhir, membuat Adri kemudian ingin selalu menghiburnya. Ia menganggap Dwi seorang wanita malang yang pantas dikasihani. Karenanya kemudian ia menungguinya sampai Dwi benar-benar terlelap.

***

Tengah malam lebih Adri baru memasuki kamarnya, dan melihat Nirmala tidur memunggungi pintu memeluk guling. Rasa bersalah menghantuinya.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia berbaring di samping sang istri, memeluknya dari belakang, tapi Nirma bergeming. Ia seperti tak merasakan apa-apa, dan Adri kemudian membiarkannya dengan penuh perasaan bersalah. Tapi ketika bayangan Dwi melintas, Adri justru membayangkan sebuah drama kekejaman yang digambarkan Dwi melalui ceritanya. Ketika suaminya berbohong, lalu membuatnya terluka, dan meninggalkannya dalam rasa sakit luar dalam.

Adri menghela napas. Keadaan Dwi, membuatnya kasihan dan ingin selalu menghiburnya. Dianggapnya Dwi adalah seorang yang teraniaya, dan membutuhkan dirinya untuk menguatkannya. Nirmala bisa menjaga dirinya dan tidak membutuhkannya.

Adri kemudian terlelap, lalu bermimpi tentang Dwi, yang mengajaknya berjalan-jalan di sebuah taman, lalu ia memetik bunga, disematkan pada telinga Dwi. Mereka berlarian dengan riang gembira, lalu tiba-tiba ia melihat Dwi terperosok ke dalam lubang. Adri ingin menolongnya, tapi kemudian diapun terjatuh. Kepalanya terantuk lantai, menimbulkan suara berdebum yang keras, membuatnya mengaduh, lalu Nirmala terbangun. Nirmala terkejut melihat suaminya berusaha bangun sambil memegangi dahinya.

“Ada apa?” tak urung Nirmala panik melihat sang suami kesakitan.

Ia turun dan membantu sang suami bangun.

“Kamu tidur terlalu minggir,” kata Nirmala yang kemudian mengambilkan segelas air minum yang selalu tersedia di atas nakas.

“Terima kasih, aku … aku mengejutkan kamu.”

“Sakit? Keningmu benjol, aku ambilkan salep, agar berkurang sakitnya dan tidak lagi benjol, ” kata Nirmala yang kemudian bangkit, lalu mengambil sebuah salep dalam tube berwarna pink, lalu dioleskannya salep itu ke dahi suaminya.

“Dingin. Terima kasih,” kata sang suami yang kemudian memeluknya.

Nirmala tak bereaksi. Ia mendorong suaminya agar kembali tidur, sedangkan dia kemudian pergi ke kamar mandi. Saatnya shalat malam.

***

Pagi hari itu Adri tampak bersiap-siap pergi ke kantor. Nirmala tidak bertanya apapun tentang kepergiannya semalam.

“Nirma, aku minta maaf.”

Nirmala terkejut. Baru sekali suaminya mengucapkan kata "maaf". Ini luar biasa. Karena itulah ia menatap suaminya tak berkedip. Malaikat mana yang menuntun sang suami mengucapkan kata langka itu dari mulutnya.

“Aku mengasihaninya, hanya kasihan, karena nasibnya yang mengenaskan.”

Nirmala melebarkan matanya.

“Tidak apa-apa, segera pergi ke kantor, ini sudah kesiangan,” jawab Nirmala sambil mendorongnya pelan setelah mencium tangannya. Adri membalikkan tubuhnya, mencium kening istrinya, lalu berjalan menuju mobilnya. Nirmala masuk ke rumah sebelum mobil Adri keluar dari halaman.

Ketika akan mempersiapkan diri untuk pergi ke kantornya, ponselnya berdering. Dari sang ayah.

“Assalamu' alaikum,” sapa Nirmala.

“Wa’alaikumussalam, Nirma. Bapak hanya ingin mengingatkan. Awasi suamimu.”

Nirmala terkejut.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, February 18, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 12

 BIARKAN AKU MEMILIH  12

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala termenung  di kantornya. Ada manager pemasaran yang baru. Memang dia pernah mendengarnya, tapi itu kan kebijakan perusahaan dari pusat, Nirmala tak akan ikut campur. Tapi perhatian suaminya yang besar atas manager baru itu menimbulkan perasaan lain di hatinya. Memang suaminya sudah mengatakan kalau ia mengantarkan orang sakit, menungguinya sampai jam 2 malam, lalu saat bekerja Adri juga menaruh perhatian besar atas manager baru itu. Dan dia juga mengatakannya. Sekedar perhatian kepada bawahan, atau ada yang lebih dari itu?

Ia memang tidak menanyakannya siapa yang ditolong itu, apakah dia laki-laki atau perempuan. Tapi ketika dia tanpa sadar mencari informasi, ternyata dia perempuan, bernama Dwiyanti. Lupa-lupa ingat dia akan nama itu. Jauh sebelum wanita itu menjadi karyawan baru, kapan ya ia pernah mendengar namanya? Di pesta pernikahannya? Sepertinya tidak. Ah, entahlah, Nirmala tak mau ambil pusing tentang wanita itu, tapi perhatian besar dari suaminya, tetap saja mengganggu perasaannya. Cemburu? Iyalah, Adri kan suaminya. Walau dia sedang kesal, mana mungkin dia rela ada wanita lain di hati sang suami?

Nirmala sadar ia sangat mencintai sang suami, dan ia juga tahu suaminya juga sangat mencintai dirinya. Apakah cinta bisa luntur? Apa yang salah dalam keluarganya?

Salahkah kalau dia kesal akibat ketidak percayaan Adri atas dirinya ketika mengandung Pratama? Tentu dia kesal. Siapa yang tidak kesal, merasa benar tapi dianggap salah? Nirmala memijit keningnya. Mau tak mau ia harus bicara pada suaminya tentang perempuan itu. Kalau hanya teman kerja dan rasa simpatinya sebatas teman, okelah. Tapi kalau lebih dari itu, Nirmala harus mengambil sikap.

Rumah tangganya bisa terkoyak. Tapi kan itu belum jelas. Toh sesungguhnya Adri selalu berterus terang sejak kepulangannya semalam, bahkan pagi harinya sudah mengatakan juga kalau dia mau ke rumah sakit, jadi memang Adri tidak bohong. Salahnya adalah dia tidak menanyakan siapa yang sakit, dan kalau itu ditanyakannya pasti Adri tidak akan membohonginya. Nirmala tahu, sekeras apapun hati Adri tapi dia tidak suka berbohong.

Lalu Nirmala merasa lebih tenang dan berharap hal itu tidak akan menggoyahkan rumah tanggaya.

***

Siang harinya Dwi baru mendapat giliran operasi, sementara Adri sudah menungguinya dari pagi.

“Aku senang kamu selalu menemani aku Adri, aku tahu kamu sahabat yang baik. Tanpa kamu, apa jadinya aku ini.”

“Aku tidak berbuat apa-apa kan? Hanya menemani saja.”

“Justru itu yang membuat aku kuat Adri. Dalam badai rumah tanggaku yang menjadikannya porak poranda, aku sangat rapuh dan tak berdaya. Tapi dengan adanya kamu, aku menjadi kuat dan bisa menjalani semuanya dengan baik.”

Adri merasakan rasa yang aneh, yang belum pernah dirasakannya. Seseorang merasa kuat dengan adanya dirinya, itu membuatnya menjadi penuh arti.

“Adri, kamu adalah laki-laki sejati. Alangkah bahagianya istri kamu mendapatkan suami sebaik kamu.”

Adri tersenyum dengan debar dada yang aneh. Benarkah Nirmala senang mendapatkan suami seperti dirinya? Nirmala selalu bisa mandiri. Selalu bisa mengatasi apapun tanpa bantuan darinya. Dia wanita kuat, tidak rapuh dan gampang mengeluh. Seharusnya Adri senang, tapi kemudian dia merasa tak berguna.

“Adri, mengapa kamu diam? Kamu bosan menemani aku?”

“Tidak, mengapa berkata begitu? Aku senang bisa menolong teman.”

“Terima kasih Adri. Sebentar lagi aku dioperasi, apakah kamu masih akan menunggui di sini?”

“Sesuai permintaan kamu, aku akan menemani kamu sampai selesai di operasi.”

Dwi tersenyum manis sekali. Karena senang rasa nyeri di kakinya hampir tidak terasa lagi.

Tak lama kemudian beberapa perawat masuk. Dwi sudah dipersiapkan untuk masuk ke ruang operasi.

“Adri, selalu temani aku ya.”

Adri mengangguk sambil tersenyum. Ia terus menatap brankar yang membawa Dwi ke ruang operasi, sampai bayangan Dwi menghilang di balik pintu.

***

Adri ingin meninggalkan Dwi selama operasi berlangsung, tapi dokter yang menanganinya mengatakan bahwa operasinya tak akan berlangsung lama, karenanya Adri duduk menunggu. Beberapa kali telpon dari kantor, selalu dijawabnya bahwa dia masih menunggu. Ia berjanji akan segera kembali begitu operasi itu selesai. Karyawan kantor ada yang mengacuhkannya, tapi ada yang kemudian menduga-duga. Mengantarkan ke rumah sakit semalam, lalu menunggui saat operasi, pasti itu bukan perilaku seorang teman biasa. Sebagai seorang pimpinan, bisa saja Adri menyuruh orang untuk menungguinya, tapi Adri tidak melakukannya. Ini luar biasa. Mereka juga sering melihat Adri makan berdua saat istirahat.

“Padahal dua-duanya sudah punya keluarga,” celetuk seorang karyawan.

“Jangan berprasangka dulu. Pak Adri orang baik, barangkali hanya ingin menolong.”

“Iya, tapi apa kamu tahu, tadi bu Nirmala menelpon, menanyakan siapa yang sakit lhoh. Berarti suaminya melakukan itu tanpa sepengetahuan istrinya.”

“Kata siapa bu Nirmala menelpon?”

“Aku dengar dari resepsionis.”

“Ah, ya sudahlah. Tidak usah bergosip tentang hal yang bukan urusan kita. Yang penting kerja … kerja … kerja.”

Demikianlah, hal yang tidak wajar selalu menjadi bahan perbincangan.

***

Dwi tidak dibius total, hanya bagian kaki kanannya saja, karenanya ia tahu ketika keluar dari ruang operasi, ada Adri duduk terkantuk-kantuk di kursi tunggu. Ketika melintasinya, Dwi berteriak.

“Adri!”

Adri terkejut, ia membuka matanya lalu mengikuti brankar yang membawa Dwi, masuk ke ruang inap.

“Terima kasih Adri, kamu benar-benar menepati janji kamu.”

“Syukurlah selesai dengan cepat. Setelah ini aku mau kembali ke kantor. Banyak yang menunggu. Lalu setelah itu aku mau pulang dulu.”

“Yaaah, mengapa pulang Dri. Tidak kembali kemari lagi?”

“Aku punya istri, dia pasti akan bertanya-tanya kalau aku pulang terlambat.”

“Apa dia pemarah?”

Adri diam. Istrinya memang sedang marah, tapi sesungguhnya dia bukan pemarah. Karena itu ia menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Istriku bukan tipe istri yang suka marah. Dia wanita yang kuat dan mandiri,” katanya seperti sedang memamerkan sang istri.

“Bukan main. Tapi dia harus berbahagia memiliki suami yang seperti kamu Dri.”

Adri hanya tersenyum. Ia melihat ke arah arloji tangannya.

“Karena kamu sudah baik-baik saja, aku ke kantor dulu ya.”

“Lalu pulang?”

“Ya, kan aku sudah bilang.”

“Maukah setelahnya kamu kembali kemari?”

“Malam nanti?”

“Aku selalu takut sendirian. Dan besok kan aku boleh pulang dan rawat jalan, kalau sudah pulang kamu tidak usah menemani aku, karena di rumah sudah ada pembantu.”

“Baiklah, tapi aku harus bilang dulu pada istri aku.”

“Pasti dia tidak akan mengijinkan,” cemberut Dwi.

“Dia akan mengijinkan. Istriku seorang wanita yang baik.”

“Hm, baiklah. Aku tunggu ya Dri.”

***

Sore itu Adri pulang tepat waktu, Nirmala sedang duduk sendirian di teras.

Ia sudah menyiapkan kopi panas di meja di depannya, dan mengatakan kepada sang suami bahwa dia akan bicara.

Adri mengangguk, lalu ia langsung masuk ke dalam rumah. Ia keluar setelah berganti pakaian rumah. Tampaknya ia sekalian mandi, tampak dari aroma wangi yang tercium.

“Aku mandi sekalian. Nanti setelah makan aku mau ke rumah sakit lagi,” katanya sambil duduk, lalu meraih gelas kopinya.

Nirmala menatap suaminya tak berkedip. Tampaknya sang suami benar-benar memperhatikan anak buahnya yang sedang sakit.

“Siapa sih yang sakit?”

“Dia manager pemasaran yang baru beberapa minggu masuk. Kiriman dari pusat.”

“Perempuan?”

“Ya, namanya Dwiyanti.”

“Kamu sangat perhatian pada dia.”

“Dia itu teman kecilku. Aku pernah mengatakan bahwa aku punya teman kecil bernama Dwiyanti.”

“O, iya.”

Rupanya Adri sendiri yang menyebut nama Dwiyanti teman masa kecilnya belum lama ketika mereka menikah. Itu sebabnya Nirmala seperti pernah mendengar nama itu, yang hampir lupa dia itu siapa. Lepas dari itu Nirmala sedikit lega. Sudah diduganya, suaminya tak suka bohong. Jadi ia memang mengatakan apa yang benar-benar terjadi.

“Kamu tidak apa-apa kan, kalau aku ke rumah sakit lagi nanti malam?”

“Tidak,” jawabnya singkat, membuat Adri merasa lega. Ia juga lega karena Nirmala sudah mau bicara.

Sebelum makan malam, Adri dan Nirmala ada di dalam kamar. Rasa kesal Nirmala sudah mulai surut. Ia senang Adri tetap bersikap manis, yang membuat dia tidak memikirkan hal buruk yang dilakukan sang suami.

Lama marahan, membuat keduanya merasa kangen satu sama lain. Tapi tiba-tiba ponsel Adri berdering.

Kemesraan yang nyaris terjadi menjadi buyar seketika, saat Adri memerlukan meraih ponsel dan membawa pesan yang tertera di sana.

“Adri, jam berapa kamu akan datang?”

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, February 17, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 11

 BIARKAN AKU MEMILIH  11

(Tien Kumalasari)

 

Adri tertegun. Ini sudah jam 11 malam, tapi Dwi masih menahannya. Ia menatap wajah pucat itu, dan tampak memelas. Ke mana keluarganya, mengapa tak ada yang datang menjenguknya sementara Dwi tampak menderita dalam rumah tangganya.

“Dwi, apa kamu tidak memberitahukan ini semua kepada keluarga kamu? Karena kamu tak mengabari mereka, jadinya kamu sendirian,” Adri menegurnya.

“Adri, ayahku sudah meninggal, dan ibuku sakit-sakitan, aku tak tega mengabari mereka, nanti ibuku jadi sedih. Tidak Adri, aku ingin menanggung ini sendiri, temanilah aku, bukankah kita bersahabat sejak kecil?” suara Dwi memelas, bahkan air mata menggenang di pelupuknya. Adri tak tega meninggalkannya.

“Baiklah, aku temani kamu, segera tidur ya, besok pagi aku akan kembali menemani kamu untuk melihat hasilnya. Semoga kamu tidak perlu dioperasi.”

“Aku didorong suamiku, terjatuh, lalu meja kecil menimpaku. Walau kecil, meja itu sangat berat, diatasnya ada kaca yang kemudian melukai kakiku juga.”

“Iya, iya … tadi kamu sudah mengatakannya. Cepatlah tidur.”

“Apa kamu takut dimarahi istri kamu?”

“Bukan begitu, ini saatnya seorang suami ada di rumah. Walau tidak marah, aku tidak mau dia berpikir buruk tentang aku.”

“Oh, suami yang baik. Pastilah kamu ingin menunjukkan kepada istri kamu bahwa kamu adalah suami yang baik, yang bisa melindungi. Ya kan?”

“Dwi, sudahlah, jangan ngelantur, pejamkan matamu dan tidurlah.”

“Sesungguhnya aku takut sendirian, apalagi kalau ternyata besok aku harus dioperasi.”

“Besok aku akan menemani kamu. Sekarang ini kamu tidak perlu takut, banyak perawat yang akan menjaga kamu, dan dokter juga pasti selalu memantau keadaan pasiennya.”

“Tapi berbeda bukan Dri, dijaga perawat sama dijaga sahabat sebaik kamu?”

“Ah, sudahlah, aku kira tak ada bedanya. Sudahlah, lebih baik pejamkan matamu agar bisa terlelap. Aku duduk di sana.”

“Jangan, kamu duduklah di dekat aku sini, aku sungguh ingin ada yang menemani aku dalam saat seperti sekarang ini.”

Adri menghela napas. Semakin Dwi menginginkannya, semakin dia tak tega. Lalu diambilnya kursi, lalu ia duduk di situ, dan berkali-kali menyuruh Dwi memejamkan matanya.

***

Jam dua pagi Adri memasuki halaman rumahnya. Nirmala mendengarnya, karena dia sedang terjaga dan bersiap untuk shalat malam. Tapi dia membiarkannya, karena mereka masing-masing membawa kunci rumah sendiri.

Ketika Adri memasuki kamarnya, ia melihat sang istri sedang bershalat. Rasa bersalah menghantuinya. Ia ingin segera memeluk istrinya sebagai permintaan maaf.

Adri langsung ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu berganti pakaian rumahan yang wangi.

Ia berbaring di pembaringan, menunggu sang istri selesai bershalat, bukannya mengikutinya. Ia benar-benar merasa capek, seharian tidak istirahat. Ketika sang istri selesai, Adri sudah terlelap.

Nirmala menatapnya penuh tanda tanya, tapi ia tak ingin menanyakannya. Ia keluar dari kamar untuk membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri. Ketika bibik terbangun, Nirmala sudah selesai menyeduh kopi manis dan siap dibawa ke ruang tengah.

“Nyonya, mengapa membuat sendiri dan tidak membangunkan bibik?”

“Tidak apa-apa Bik, hanya membuat kopi, apa susahnya.”

“Saya akan membuatkan untuk tuan, kalau begitu.”

“Nanti saja Bik, tuan masih tidur nyenyak.”

“Baiklah, bibik akan memasak nasi saja untuk sarapan, dan bersih-bersih.”

Nirmala mengangguk, lalu membawa gelas kopinya ke ruang tengah, setelah melongok sebentar ke kamar Pratama, yang juga masih terlelap dikelonin mbak Rana.

Nirmala menghela napas. Ia merasa tiba-tiba rumahnya menjadi sepi. Entah apa yang terjadi, sang suami juga tega pergi malam dan pulang menjelang pagi.

Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya, tapi Nirmala tak ingin menanyakannya. Hatinya masih sakit karena tidak dipercaya oleh suaminya, bahkan sejak awal pernikahan mereka, ketika ia masih hamil muda.

“Nyonya, nanti sarapan ingin dibuatkan apa?”

“Apakah gudeg dan sambel goreng semalam masih ada? Sepertinya aku belum sempat makan karena pergi ke kondangan.”

“Masih ada Nyonya, kalau Nyonya mau akan saya panaskan. Semalam memang belum tersentuh, baik tuan maupun Nyonya tidak makan di rumah.”

“Bagus Bik, siapkan untuk makan pagi saja.”

“Baik, Nyonya.”

Nirmala menyalakan televisi, sebelum ia pergi mandi. Tapi tiba-tiba suaminya memeluk dari samping. Nirmala agak menjauh, sambil tangannya terus mencari chanel yang enak untuk ditonton.

“Kemarin seharian menolong teman, mengantarkan dan menunggui di rumah sakit. Jam dua lebih aku baru bisa pulang.”

Nirmala tidak menjawab, tapi mengulaskan senyuman tipis ke arah suaminya, lalu memperhatikan siaran televisi.

“Kamu jangan marah, aku sudah mengatakan apa yang terjadi.”

“Tidak, aku tidak marah. Terserah saja kalau kamu mau menunggui teman kamu yang sakit. Itu kan sebuah niat baik,” katanya datar.

“Aku menghubungi kamu, tapi ponsel kamu mati.”

“Batery habis, jadinya mati. Aku tinggalkan di rumah.”

“Ya sudah, aku mau mandi dulu, harus berangkat pagi, tapi sebelumnya ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaannya.”

Ketika Adri berdiri, bibik datang menghidangkan kopi manis kesukaannya.

“Kopinya, Tuan.”

“Ya, taruh saja di situ, aku mau mandi dulu,” katanya sambil berlalu.

Nirmala menatap ke arah televisi. Ia mendengarkan keterangan suaminya, tapi ia tak ingin menanyakan siapa yang sakit.

***

Ketika makan pagi, tak banyak yang mereka bicarakan. Sesekali Adri bicara, dan Nirmala biasanya hanya mengangguk mengiyakan.

“Paaa … paaa …,” tiba-tiba Pratama tertatih mendekat ke arah sang ayah, yang kemudian mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuannya.

“Mas Tama, sini dulu, bapak sedang makan tuh.”

Tapi Pratama menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Biarkan saja, mbak Rana. Tungguin disitu, kalau dia bosan pasti turun sendiri.”

Pratama tidak sekedar minta pangku, ia meraih-raih tangan sang ayah setiap kali sang ayah ingin menyuapkan makanan.

“Tama mau mam-mam? Minta sama mbak Rana ya?”

“Paaa … paaa …”

Nirmala melihat kedekatan itu dan merasa terharu, tapi manakala diingatnya bahwa kehadiran Pratama disertai kecurigaan Adri atas dirinya, wajahnya kembali muram.

Mbak Rana memaksa mengajak Pratama pergi, karena si kecil itu selalu mengganggu ayahnya.

Pratama menjerit-jerit, lalu mbak Rana mengajaknya ke depan rumah, melihat burung-burung yang sering hinggap di dahan pohon pada halaman rumah, kemudian tangisnya berhenti.

Nirmala mempercepat makannya, lalu berdiri dan menuju ke arah depan, menemani Pratama bermain dan melihat burung-burung.

“Yuuung … maaa …. Yuuung..”

“Iya sayang burungnya banyak ya. Mbak Rana, ambil makan untuk Tama, biar aku menyuapinya,” titahnya kemudian kepada mbak Rana.

Pratama turun dari gendongan, berlari-lari kecil mendekati burung yang hinggap di rerumputan, tapi begitu Tama mendekat, burung-burung itu berterbangan.

“Yuuung … yuuung … “ pekiknya sambil melonjak-lonjak.

Ketika Adri pamit untuk berangkat, Nirmala sedang menyuapi Pratama. Dengan wajah muram dia mencium tangan suaminya. Adri membalasnya dengan ciuman di kening.

Adri sangat mencintai istrinya, tapi ia merasa bahwa sang istri tidak membutuhkan dirinya. Ketika ia mau memasuki mobilnya, ponselnya berdering.

“Ya, ini aku sedang perjalanan ke sana. Tenang saja, nanti aku mau melihat hasilnya dulu. Kalau harus operasi, aku pasti ada di sana.”

Lalu Adri masuk ke dalam mobil.

Nirmala tak membalasnya ketika Adri melambaikan tangannya. Sebenarnya Nirmala ingin tahu, siapa sebenarnya yang sakit itu. Mengapa suaminya begitu perhatian. Bahkan semalam menungguinya sampai jam dua. Bukan main. Dan sekarang akan menunggui saat dia dioprasi? Teman kantor, atau teman yang lain?

***

"Nanti jadi ya, ibu-ibu mau kumpul-kumpul di sini?” tanya pak Bondan sebelum berangkat ke kantor.

“Ya jadi Pak, kemarin ibu sudah pesan untuk hidangan, cukup nasi kotak dan snack yang juga ibu pesan saja. Males kalau harus masak-masak juga. Nanti bibik biar membantu buat minum saja.”

“Yang menata kursi-kursi siapa? Apa kita punya kursi sebanyak itu?”

“Dari pak RT. Aku sudah minta tolong pak RT agar mencarikan anak-anak muda yang bisa aku suruh menata.”

“Pokoknya semua beres kan?”

“Beres, Bapak tidak usah khawatir.”

“Syukurlah, yang penting Ibu tidak boleh terlalu capek.”

“Ya enggak Pak, ibu kan tidak mengerjakan apa-apa.”

“Ya sudah, ingat tulang tua, jangan terlalu capek.”

“Oh iya Pak, kemarin itu ketika sedang belanja, aku melihat Adri sedang makan dengan seorang wanita cantik.”

“Kapan?”

“Kemarin siang, kira-kira ya waktu makan sianglah.”

“Berarti mereka sedang makan siang di luar, saat jam istirahat.”

“Wanita itu cantik, mereka sangat akrab.”

“Pastinya teman kantornya. Mudah-mudahan Adri tidak berbuat yang macam-macam.”

“Iya Pak, pengin curiga sih, tapi ya mungkin hanya teman kerja.”

“Ibu itu aneh. Pengin kok curiga.”

Bu Bondan tertawa, sambil mengantarkan sang suami ke arah mobil, di mana sopir pribadi sudah membukakan pintunya.

***

Siang hari itu, saat istirahat di kantornya, Nirmala menelpon ke kantor Adri. Nirmala di kenal di semua anak cabang perusahaan milik pak Bondan, karena itu ia bisa meminta informasi tentang apa saja, di kantor mana yang dia inginkan.

Nirmala menanyakan, apakah ada karyawan yang sakit dan opname di rumah sakit.

Costumer Servis mengatakan  bahwa ada yang hari itu tidak masuk, katanya semalam masuk rumah sakit.

“Siapa dia?”

“Bu Dwi, manager pemasaran yang baru.”

“Oh, perempuan?”

“Iya, Bu Dwiyanti, Ibu. Kabarnya siang ini kakinya dioperasi karena jatuh dan pak Adri menungguinya sejak pagi.”

***

Besok lagi ya.

Monday, February 16, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 10

 BIARKAN AKU MEMILIH  10

(Tien Kumalasari)

 

Wanita itu bu Bondan, bersama pembantunya, sedang mau memesan masakan untuk acara ibu-ibu RT pada keesokan harinya.

Si bibik protes, mengapa tidak jadi pesan. Dalam hati agak mengeluh, kalau tidak pesen pasti dia yang harus memasak.. seratus boxs makanan, padahal belum siap?

“Kenapa nyonya tidak jadi pesan?”

“Nanti aku telpon saja. Ini tadi kan sekaliyan belanja, jadi mampir.”

“Apa karena ada tuan Adri di sana tadi?”

“Iya.”

“Siapa ya perempuan cantik di depannya tadi. Kelihatannya akrab banget. Si wanita sebentar-sebentar menowel tangan tuan Adri.”

“Barangkali teman kantornya, kan ini masih jam istirahat kantor.”

“Tapi kok begitu amat. Sepertinya tidak wajar.”

“Bik, kamu itu kenapa pikirannya lari ke mana-mana? Orang berteman itu ya biasa seperti itu,” kata bu Bondan yang sejatinya juga merasa tidak suka melihat keakraban itu.

“Saya kurang suka pada tuan Adri. Kalau datang ke rumah wajahnya tidak pernah senyum. Menurut bibik, dia nggak cocok sama non Nirma.”

“Ssst .”

“Tapi tadi ketika di depan teman wanitanya, kok wajahnya kelihatan berseri-seri ya, Nyonya merasa aneh tidak?”

“Barangkali sedang membicarakan keberhasilan pekerjaan mereka. Ayo kita ke sana, nanti belanjanya tidak selesai-selesai,” kata bu Bondan yang sebenarnya setuju dengan pendapat pembantunya.

Tiba-tiba bu Bondan merasa, bahwa apa yang dikatakan suaminya ketika Nirma mengatakan bersedia menjadi suami Adri, adalah benar. Sepertinya mereka tidak cocok. Apakah Nirmala bisa menerima pernikahan itu ya, apakah dia berbahagia? Pikir bu Bondan.

“Tapi Nirmala tidak pernah mengeluh,” katanya pelan, tapi tak urung bibik mendengarnya.

“Nyonya bilang apa?”

“Tidak ada. Ayo belanja saja, jangan bicara yang tidak-tidak."

Bibik sudah lama mengabdi pada keluarga Bondan, bahkan sudah dianggap keluarga. Karena itulah si bibik tidak segan mengeluarkan pendapatnya.

“Semoga non Nirmala hidup berbahagia,” bibik bergumam lirih.

Bu Bondan tersenyum mendengarnya. Nirmala sejak kecil diasuh oleh bibik, dan karenanya bibik selalu memperhatikan kehidupan Nirmala. Seakan tak rela jika nona majikannya disakiti.

“Mana tadi catatan kamu, jangan sampai terlewat,” nyonya Bondan mengalihkan pembicaraan.

“Nyonya, kalau memang Nyonya tidak mau pesan dan harus memasak sendiri, sebaiknya belanja sekarang saja, nanti bibik mencicil masak, asal lauknya yang gampang-gampang saja. Misalnya ayam goreng, sambal lalapan dan entah sayur apa, gitu.”

“Tidak Bik, kasihan bibik. Nanti aku pesan saja, kan sudah langganan. Atau aku pesan sekarang saja, daripada lupa,” kata bu Bondan sambil mengambil ponselnya.

***

Agak terlambat daripada biasanya, ketika Adri memasuki rumahnya. Baru dia mau masuk kamar, dilihatnya Nirmala keluar dengan dandanan yang rapi, seperti mau bepergian.

“Kamu mau ke mana?”

“Bima mengundang di hari pertunangannya.”

“Hari ini?”

“Ya, kalau kamu mau ikut, ini sudah terlambat," kata Nirmala sambil mengambil tas kecil cantik yang sudah disiapkannya di luar kamar.

Adri menatapnya, tak terdengar perkataan Nirmala mengajaknya. Ia tahu, Nirmala masih marah kepadanya. Sangat marah, bahkan, karena walaupun kesal, Nirmala tak pernah sekeras itu. Ada sesal ketika ia melakukan tes DNA itu, gara-gara cemburu buta. Tapi kan dia sudah mengatakan kalau dia menyesalinya.

Ia menoleh ke halaman ketika melihat mobil Nirmala keluar dari sana.

Adri kesal. Ia selalu cemburu pada Bima, walau Bima sudah bertunangan. Perhatian Nirmala kepada Bima membuatnya kesal.

Ia masuk ke dalam rumah, dan menghentikan langkahnya ketika mendengar celoteh Pratama seperti memanggil-manggil namanya.

“Paaa … ppaaa …”

"Bapak cuci kaki tangan dulu ya,” kata Adri sambil membuka pintu kamar, tapi Pratama berteriak-teriak, dan hampir menangis.

“Mbak Rana, bawa dulu Tama, saya ganti pakaian dulu,” kata Adri, yang langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Pratama yang menangis berguling-guling.

Mbak Rana segera menggendongnya, dan menghiburnya dengan segala macam cara, tapi Pratama tak mau berhenti menangis. Ia baru berhenti ketika Adri sudah keluar kemudian menggendongnya.

“Iya .. iya, kan bapak baru cuci kaki … cuci tangan.. lalu ganti pakaian, malah belum mandi nih, gara-gara Tama menangis.”

“Maaa … maaa … “ katanya kemudian.

“Tadi sudah menangis ketika nyonya mau pergi,” kata mbak Rana.

“O, iya?” kata Adri sambil menatap anaknya.

“Maa … maaa … “ katanya sambil menunjuk ke arah luar. Barangkali maksudnya mengatakan bahwa sang ibu pergi ke sana.

“Ibu sedang ke kondangan, Tama tidak boleh rewel ya.”

Pratama terhibur ketika Adri mengajaknya bermain. Memang sesungguhnya Adri sangat menyayangi Pratama, dan Pratama juga sangat dekat dengan ayahnya.

Tapi ketika asyik bermain, tiba-tiba terdengar notifikasi pesan di ponsel Adri. Adri segera berdiri untuk meraih ponselnya yang kebetulan tak jauh dari mereka yang sedang bermain.

“Paaaa … paaa ….” Pratama berteriak.

“Sebentar ya sayang,” kata Adri yang kemudian membaca pesan singkat yang ternyata dikirim oleh Dwi.

Adri terkejut membacanya.

“Adri, tolong aku, aku dihajar oleh suami aku, aku mau pergi dari rumah. Tolong Adri…” lalu ada emotikon menangis.

“Lalu bagaimana aku harus menolong kamu?”

”Kemarilah, bawa aku pergi ke rumah sakit. Aku tak bisa jalan, kakiku sakit sekali, aku didorong sampai terjatuh.”

“Nanti ketahuan suami kamu bagaimana? Nggak enak kan, nanti dikira aku ikut campur urusan rumah tangga kalian.”

"Tidak, suamiku sudah pergi bersama ibunya. Tolong Adri, aku tak bisa jalan, kelihatannya kakiku terkilir, dan ada luka berdarah terantuk meja.”

“Baiklah, aku ke situ.”

Adri memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Mbak Rana, aku mau pergi dulu, tolong bawa Tama ke belakang, supaya tidak menangis saat melihat aku pergi.”

“Paaa …. Paaa ….” Pratama berteriak-teriak, tapi mbak Rana segera menggendongnya. Pratama meronta.

“Mas Tama, ayo kita ambil sepeda kecil yuk, nanti mbak Rana dorong. Ayuk, main sepedaan ya,” kata mbak Rana sambil memaksa Pratama untuk diajaknya ke belakang.

Adri menghampiri mobilnya lalu membawanya keluar halaman.

***

Adri memarkir mobilnya di luar pagar rumah Dwi. Terlihat sepi, tapi pintu depan terbuka. Adri berjalan memasuki halaman, Pelan, khawatir kalau sampai suami Dwi memergokinya. Bukannya apa-apa, Adri sesungguhnya tidak mau terlibat dalam keributan rumah tangga Dwi. Ingin ia menolak datang, tapi ia kasihan pada Dwi. Sekarang ia sudah sampai di depan tangga teras. Tak ada suara, tapi rupanya Dwi mendengar suara langkah kaki.

“Adri?” Dwi berteriak dari dalam.

“Ya.”

“Masuk saja Adri, tak ada siapapun, aku tak bisa berjalan, kakiku luka dan terkilir. Masuk saja Adri.”

Adri menaiki tangga teras. Ia sudah sampai di pintu, lalu melongok ke dalam. Di depan televisi yang tidak menyala, Dwi duduk bersandar pada sofa, rambutnya awut-awutan. Melihat kedatangan Adri, Dwi langsung menangis.

“Tolong aku Adri, aku dianiaya.”

Adri mendekat, mencoba membantu Dwi untuk berdiri, tapi terasa berat, karena sebelah kakinya tak mampu digerakkan. Ketika Adri menyentuhnya, Dwi menjerit sakit.

“Antarkan aku ke rumah sakit, Adri. Tolonglah.”

“Bagaimana bisa seperti ini?”

“Ceritanya nanti, bawa aku dulu, aku tak tahan lagi.”

Adri memapah Dwi, diajaknya masuk ke dalam mobilnya, lalu dibawanya ke rumah sakit.

***

Di sebuah gedung, acara pertunangan Bima berlangsung. Tamu-tamu undangan bergantian menyalami Bima dan tunangannya.

Ketika tiba giliran Nirmala, wajah Bima tampak semakin berseri.

“Selamat ya, semoga segera mendapat undangan pernikahan. Aku ikut berbahagia,” kata Nirmala.

“Mana Adri?”

“Dia tidak ikut. Tadi pulang agak sorean.”

“Selalu sibuk ya?”

“Begitulah, namanya orang bekerja, terkadang juga sibuk, terkadang biasa saja.”

“Selamat ya, Ayu …” kata Nirmala menyalami Ayudya, tunangan Bima.

“Terima kasih Mbak.”

“Aku tidak bisa menunggu sampai selesai, soalnya aku sendirian,” kata Nirmala.

“Terima kasih sudah mau datang,” kata Bima.

“Jangan lupa undangan pernikahan ya.”

Bima mengacungkan jempolnya, kemudian berganti menerima salam tamu yang lain.

***

Nirmala memasuki halaman, tapi tidak melihat mobil Adri di halaman. Ia mengira Adri sudah memasukkannya ke garasi. Tapi ketika ia membuka garasi untuk memasukkan mobilnya sendiri, mobil Adri juga tak terlihat di sana.

Memasuki rumah, Nirmala melihat mbak Rana sedang menggendong Pratama yang sudah pulas tertidur.

“Kok tumben tidurnya digendong?” tanya Nirmala.

“Tadi rewel Nyonya.”

“Lhoh, kenapa rewel?”

“Tadi sedang bermain sama tuan, tiba-tiba tuan mendapat pesan di ponselnya, kemudian segera pergi, jadinya mas Tama rewel. Baru saja dia tertidur.”

“Ayahnya ke mana?”

“Tidak tahu nyonya, tadi setelah membuka ponselnya langsung pergi begitu saja, tidak mengatakan mau pergi ke mana.”

“Ya sudah, tidurkan Pratama di kamarku setelah aku ganti baju, biar tidak rewel lagi.”

“Baik Nyonya.”

***

Adri masih di rumah sakit, celakanya menurut pemeriksaan, kemungkinan kaki Dwi retak atau bahkan patah, menunggu besok apakah harus dioperasi ataukah tidak.

Ketika sudah dipindahkan ke ruang rawat, Adri bermaksud pulang dulu, karena hari sudah malam.

“Aku pulang dulu ya, tadi istriku tidak tahu aku pergi ke mana.”

“Kamu kan bisa menelponnya?”

“Ponselnya tidak aktif.”

“Tapi aku tidak mau kamu tinggalkan sendiri Adri, tolong temani aku dulu.”

“Tapi Dwi.”

“Setidaknya setelah aku tertidur.”

***

Besok lagi ya.

 

BIARKAN AKU MEMILIH 14

  BIARKAN AKU MEMILIH  14 (Tien Kumalasari)   Nirmala masih memegangi ponselnya dengan perasaan heran. “Nirma, kamu mendengar apa yang bapak...