SAKITKU ADALAH CINTAKU 16
(Tien Kumalasari)
Zein berdiri tegak dengan kedua lengan ditopang sapasang tangan kuat dari seseorang. Bukan orang muda, tapi setengah tua yang masih kokoh dengan mata tajam setajam mata elang.
“Bukankah kamu laki-laki? Sekali lagi aku katakan, jangan goyah diterpa angin kehidupan. Bangkit dan berdiri tegak.”
Zein menatap laki-laki setengah tua itu dengan pandangan linglung. Tubuhnya yang lelah menurut saja ketika laki-laki itu menuntunnya menjauh dari gundukan tanah basah bertabur bunga itu. Mereka duduk di sebuah bangku yang ada di pinggiran area pemakaman.
Laki-laki setengah tua itu mengelurkan sebotol air minum, dan menyuruh Zein meneguknya.
Zein meneguknya. Udara sangat panas dan ia menghabiskan hampir sebotol air setengah literan lebih yang masih dipegangnya.
Zein mempergunakan sisa air yang sedikit itu untuk membasuh wajahnya.
Laki-laki tua itu pak Narya, ayah Indras yang sedari tadi memperhatikan ulah Zein yang duduk bersimpuh sendirian ketika para pelayat sudah pergi. Rasa iba menerpa batinnya. Dulu ia juga begitu, ketika kedua orang tuanya meninggalkannya. Dunia serasa runtuh, tapi ia tidak harus jatuh.
“Ia sudah tenang, mengapa kamu mengganggunya dengan tangisan yang menyayat hati? Biarkan dia pergi dengan kedamaian yang abadi.”
Pak Narya mengambil sapu tangan dari saku celananya, diberikannya kepada Zein, yang kemudian mengusap wajahnya sampai kering.
“Ayo pulang. Ikhlaskan kepergiannya. Ia pasti senang melihatmu jadi orang, seperti apa yang dicita-citakannya. Percayalah. Hidup masih panjang, tugas kamu masih banyak.”
Masih seperti orang linglung ketika pak Narya menuntunnya ke arah mobil dan membawanya pulang.
Beberapa saat lamanya mereka duduk berhadapan dengan diam. Zein masih tak percaya pak Narya melakukan semua itu untuk dirinya. Seorang miskin yang kastanya rendah, tak berderajat seperti pernah dikatakannya. Sakit hati ketika itu masih tertanam dalam jiwanya, tak akan pernah hilang. Zein seorang pendendam, walau kebaikan darinya sudah diterimanya.
Namun ia juga berterima kasih karena orang kaya itu telah membawanya bangkit.
Orang tua itu pergi tanpa banyak berkata-kata, karena kata yang diucapkannya pasti sudah diucapkan oleh banyak pelayat yang lain. Yang penting Zein sudah berasa lebih tenang dari sebelum kedatangannya.
***
Ketika Pri datang segala permintaan maaf karena terlambat mengetahui berita duka itu, Zein sudah tampak lebih tegar. Beberapa tetangga membantu membersihkan rumah, dan membereskan semuanya, karena tahu Zein sebelumnya tak mampu melakukan apa-apa karena dukanya.
“Zein, aku ikut berduka cita. Maaf aku terlambat mengetahuinya, gara-gara ponselku rusak.”
“Tidak apa-apa. Terima kasih perhatiannya.”
“Teman-teman kita pada datang kan?”
“Ya, aku hanya melihatnya sekilas, tapi mereka ada. Terima kasih banyak. Aku hampir putus asa. Ibuku adalah segalanya bagiku. Aku tumbuh dan menjadi orang karena tetesan keringatnya yang deras mengalir.”
“Bisa dimaklumi, kehilangan benda yang kita sukai saja kita merasa sedih dan kecewa, apalagi kehilangan orang tua.”
Zein mengangguk.
“Aku senang kamu sudah tampak tenang. Tidak mudah melupakan sebuah duka dan kesedihan, tapi seperti sebuah penyakit, kamu harus bisa menyembuhkannya.”
“Dukungan kalian semua adalah penyemangatku. Sekali lagi terima kasih.”
***
Waktu terus berjalan. Saat wisuda yang mengharukan telah usai. Hubungan Zein dan Indras berjalan dengan lebih baik karena orang tua Indras sudah merestuinya. Atas pertolongan pak Narya yang memiliki banyak kenalan, Zein diterima bekerja di sebuah rumah sakit. Tapi tidak sama dengan rumah sakit di mana Indras juga bekerja.
Hubungan mereka tetap berjalan, bahkan keluarga Narya Kusuma sudah menyiapkan sebuah perhelatan pernikahan yang mewah dan meriah. Maklum, mereka pengusaha sukses yang banyak relasi dan kenalan.
Walau sebenarnya Zein kurang setuju dengan perhelatan yang diadakan mertuanya, tapi semuanya tetap berjalan.
Zein dan Indras mengontrak sebuah rumah dengan kekuatan mereka sendiri. Zein tak mau lagi dibantu. Ia ingin agar Indras mau menjalani kehidupan bersama, tidak hidup mewah atas bantuan orang tuanya.
Indras yang sangat mencintai suaminya juga tak banyak menuntut. Ia bersedia hidup sederhana bersama suami, dan mereka hidup berbahagia sampai kemudian Indras melahirkan seorang putri.
Kehadiran putri pertama itu tidak hanya membuat hidup Zein dan istrinya bahagia, tapi juga bagi keluarga Narya Kusuma.
***
Tahun demi tahun yang berjalan, keluarga Zein sudah memiliki dua orang anak yang cantik dan pintar.
Apakah bahagia itu akan berjalan sebagaimana yang diimpikan setiap pasangan suami istri? Seperti orang berjalan, sandungan itu ada. Tiba-tiba saja Indras merasakan perubahan sikap sang suami. Zein yang sebelumnya penuh kasih sayang, tiba-tiba berubah dingin. Barangkali karena kesibukan masing-masing yang menguras tenaga dan pikiran, atau ada rasa ketidak puasan entah dari mana datang dan apakah itu, Indras merasakan seperti sebuah bencana sedang mengintipnya. Entah besar atau kecil bencana itu, tapi Indras seorang wanita yang punya perasaan lebih peka memang merasakannya.
Apakah suaminya selingkuh? Dengan siapa? Sebuah perselingkuhan dalam keluarga sering dialami oleh beberapa pasangan, tapi Indras yang merasa bahwa tak ada yang kurang dalam hubungannya dengan sang suami, mulai berpikir tentang apa yang kurang dalam kehidupan ini.
Zein yang pada awalnya sabar dan penuh perhatian, tiba-tiba menjadi pemarah. Ada yang kurang sedikit, marah. Diajak bicara baik-baik, juga marah.
“Zein, sebenarnya ada apa?” tanya Indras dengan suara lembut.
Tapi jawaban Zein sangat membuat Indras terkejut.
“Apanya yang ada apa? Memangnya aku kenapa? Kamu mencurigai aku melakukan sesuatu yang buruk?” katanya, sedikit keras, membuat Indras mundur beberapa langkah kebelakang dari yang semula berusaha mendekat.
“Zein, aku hanya bertanya. Sikapmu akhir-akhir ini aneh.”
“Aneh? Apa aku seperti orang gila?”
“Zein, mengapa jawabanmu seperti itu? Aku kan bertanya baik-baik.”
“Menurutmu aku kasar ya? Aku bukan seperti laki-laki yang kamu impikan? Banyak cela dan cacatnya?”
“Zein, ada apa ini?” Indras sangat terkejut. Ini seperti bukan suaminya.
Akhirnya Indras mendiamkannya dan dengan sabar melayani suaminya seperti biasa. Tapi bukannya Zein berubah, sikapnya semakin tidak mudah dimengerti.
***
“Katakan kalau aku salah Zein, jangan perlakukan aku seperti ini," kata Indras lagi pada sebuah kesempatan yang lain.
“Tidak ada yang salah.”
“Tapi tiba-tiba sikapmu berubah.”
“Apa yang berubah sih? Kamu hanya mengada-ada. Memangnya aku kenapa?”
“Baiklah kalau tidak apa-apa, tapi aku kok merasakan yang berbeda.”
“Itulah yang aku bilang mengada-ada.”
“Baiklah, maaf kalau aku salah.”
Indras menjauh dengan seribu pertanyaan tak terjawab. Zein merasa tidak berubah, sementara Indras merasakan perubahan itu. Masa sih sikap yang berubah bisa tidak kelihatan?
“Mungkin kalian masing-masing sibuk dengan pekerjaan, sehingga suami kamu merasa tidak diperhatikan,” kata seorang teman.
Tapi Indras merasa selalu memperhatikan suaminya. Menyiapkan kebutuhannya setiap hari, bersikap manis setiap saat. Memang sih, setiap pagi berangkat ke masing-masing tempat kerja yang berbeda, tapi ketika pulang mereka bertemu seperti biasa, dan Indras juga selalu melakukan kewajibannya sebagai istri yang baik. Walau begitu, Indras tak pernah mengeluhkan keadaan rumah tangganya kepada orang tuanya. Ia selalu mengatakan bahwa mereka berbahagia. Sikap dingin suaminya itu berlanjut sampai kedua anaknya tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar.
Tapi kesabaran selalu ada batasnya.
Ketika pada suatu hari sang suami sedang mandi, Indras mendengar sebuah dering ponsel. Ada telpon masuk, dan itu suara dering dari ponsel suaminya.
Indras yang waktu itu berada di luar kamar segera masuk ke kamar. Ingin melihat ada telpon dari siapa, tapi dengan heran Indras menyadari bahwa dering itu berasal dari dalam kamar mandi, di mana suaminya sedang ada di dalamnya. Mandi dengan membawa ponsel?
***
Besok lagi ya.