NAMAKU TETAP SENJA 52
(Tien Kumalasari)
Senja merasa tidak enak. Di salon itu hanya ada karyawan tukang pijat, dan dirinya yang bantu-bantu bu Mery memotong dan membersihkan muka pelanggan. Kalau tukang pijit tidak masuk, lalu bu Mery mengatakan ada yang akan menggantikannya, apakah yang dimaksud adalah dirinya?
Senja berdebar. Ia ingin pamit sekarang juga, tapi bu Mery sendirian. Masih ada nurani untuk membantu, tapi pekerjaan memijit itu ia tak sudi melakukannya.
Dilihatnya bu Mery mempersilakan pelanggan laki-laki yang dipanggilnya pak Felix, ke kamar pijit. Senja mencari kesempatan untuk pamit, tapi bu Mery mendekatinya.
“Senja, kamu kan mau pamit hari ini,” kata bu Mery lembut.
Senja senang bu Mery memperhatikan permintaannya.
“”Iya Bu, maafkan saya.”
“Tapi kamu kan tahu bahwa aku sedang sendiri. Masa iya kamu tega membiarkannya. Lihat, ada pelanggan lain datang. Biasanya dia potong rambut dan cuci muka.”
Hati Senja terasa miris. Kok ada ‘tapinya’? Lalu masalah tega itu, membuatnya bingung.
“Senja, tolonglah, ini yang terakhir kali kamu membantu aku, layani sebentar pak Felix, dia uangnya banyak. Kalau kamu bisa menyenangkannya, dia pasti akan memberi kamu uang banyak.”
“Saya tidak mau uang Bu, saya keberatan melakukannya.”
“Senja, aku minta tolong. Ini yang terakhir.”
Kali itu suara bu Mery tegas dan tandas. Ia berkata-kata sambil menarik lengannya, dipaksanya masuk ke dalam kamar.
“Bu, saya tidak bisa.”
“Tolong Senja, ini yang terakhir. Setelah itu aku berikan gaji kamu penuh sebulan walau baru beberapa hari bekerja di sini.”
“Saya tidak mau uang, biarlah tidak dibayar,” kata Senja meronta, tapi tangan bu Mery sangat kuat. Ia terus menarik Senja ke dalam, lalu mengunci pintunya dari luar.
Tiba-tiba Senja merasa bahwa dia terpedaya.
***
Bu Mery mendekati pelanggan yang baru datang, yang memang benar ingin memotong rambut.
“Saya ingin model yang lain bu Mery, biar kelihatan awet muda.”
“Tentu Mbak, silakan memilih, model yang mana yang Mbak pilih, ini gambar-gambarnya.”
Bu Mery menjauh dari pelanggannya, karena ponselnya berdering.
“Mery, dia sudah datang?” suara dari seberang.
“Sudah.”
“Dia mau melayaninya?”
“Semula tidak mau. Hari ini sebenarnya dia minta resign. Tapi aku memaksanya untuk melayani pak Felix dulu.”
“Dia mau?”
“Tidak, harus dipaksa.”
“Sekarang di mana mereka?”
“Ya di kamar, aku sudah menguncinya. Segera kamu transfer uangnya. Seperti yang aku minta, jangan kurang.”
“Hari ini?”
“Hari ini, aku masih banyak kebutuhan. Suami Tantrina belum memberikan yang Tantrina minta.”
“Baiklah, dalam seperempat jam aku akan mentransfer uangnya.”
“Kelamaan.”
“Aku harus ke bank, m-bankingku agak rewel, nggak tahu kenapa.”
“Segera, aku tunggu. Kalau tidak aku akan membeberkan semua kelakuan kamu.”
“Ya ampun, pakai ngancam sih Mer?”
“Kamu sudah berjanji, harus kamu tepati.”
“Iya … iya, tenang saja.”
Penelpon itu menutup pembicaraan itu. Bu Mery menghampiri pelanggannya kembali.
“Bagaimana Mbak, sudah menemukan modelnya?”
“Sudah … yang ini ya. Kira-kira bagus nggak untuk aku?”
“O, sangat pas Mbak, sesuai dengan wajah Mbak yang oval. Akan saya mulai sekarang ya.”
Baru beberapa saat bu Mery memotong rambut pelanggannya, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Pintu yang tadi dikunci digedor dari dalam. Keras sekali. Bu Mery menoleh, pintu itu sampai bergoyang-goyang. Si pelanggan terkejut.
“Ada apa itu Bu, gaduh sekali.”
Pintu itu terus digedor. Semakin kuat. Kalau dibiarkan sebentar saja, barangkali pintu itu benar-benar akan jebol.
“Bu, mengapa itu, kenapa tidak dibuka dulu, kelihatannya ada teriakan di dalam," kata pelangggan yang rambutnya baru dipotong separo.
Bu Mery sebenarnya bukan pelaku kajahatan, ia hanya mata duitan. Gedoran di pintu membuatnya takut. Ia terpaksa meninggalkan pelanggan, kemudian membukanya. Di tengah pintu, ia melihat Senja berdiri dengan wajah murka.
“Ternyata Ibu menjerumuskan saya,” katanya sambil mendorong bu Mery ke samping.
Lalu ia berlari keluar, mengambil tas kecilnya di dekat pintu, kemudian menghampiri sepedanya dan kabur.
Bu Mery terpana, tak sempat mencegahnya. Di dalam kamar, seorang laki-laki tersungkur di lantai, kepalanya bersimbah darah. Sebuah kursi alumunium tergeletak di dekatnya.
Pelanggan yang tadi ditinggalkan ingin tahu apa yang terjadi di kamar sana. Bu Mery berdiri mematung, sambil menuding-nuding, mulutnya kelu, tak mampu berkata-kata.
Pelanggan itulah yang kemudian berteriak.
“Ya ampuun, ada pembunuhan. Gadis itu pelakunya, ada apa ya? Harus lapor polisi Bu. Harus.”
“To … tolong … tolong … tolonglah …”
Pelanggan itu segera mengambil ponselnya, dan melapor ke polisi. Tapi ia juga tak mau terlibat, ia segera pergi dengan sepeda motor, lupa kalau rambutnya baru dipotong separo.
***
Bu Mery terduduk lemas, ia bingung harus melakukan apa. Diberanikannya ia mendekati sosok yang terbaring di lantai, tangan Felix bergerak-gerak. Bu Mery lega, ia masih hidup.
“Tolong … bawa … aku ke rumah sakit. Perempuan … itu … perempuan itu ….”
Lalu ia kembali pingsan. Bu Mery lari ke depan, ia akan menelpon Tantrina, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Rosa.
“Mery, uangnya sudah aku transfer. Lebih cepat dari yang aku katakan kan?”
“Rosa, kamu gila. Senja hampir membunuh Felix.”
“Apa?”
“Felix pingsan, kepalanya bersimbah darah.”
“Senja mana? Lapor polisi. Awas, jangan melibatkan aku. Aku sudah memberi kamu uang. Dasar bodoh. Bagaimana bisa terjadi?”
Lalu Rosa menutup ponselnya begitu saja.
“Aduuh, mana polisi … mana polisi …. lama sekali, bagaimana kalau keburu mati?”
Diliputi ketakutan, ia lupa pada uang yang sudah diterimanya.
***
Senja terengah-engah. Ia memacu sepedanya sekuat tenaga. Peluh sudah membuat tubuhnya basah kuyup. Ia tak memperhatikannya. Kejadian yang baru saja dialami membuatnya sangat ketakutan. Tadi dia sudah mengatakan bahwa tak mau, tapi bu Mery memaksanya. Paksaan itu membuatnya merasa bahwa bu Mery akan mencelakakannya. Tadi ... di atas ranjang, seorang laki-laki sedang berbaring. Melihatnya masuk, ia menatap dengan tatapan menjijikkan.
“Cantik, ayo segera lakukan, aku lelah sekali… " katanya sambil tangannya melambai ke arahnya.
Senja terpaku di depan pintu. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Ia yakin laki-laki itu akan melakukan hal yang tak senonoh.
“Saya… bukan tukang pijit, biarkan saya … pergi.”
Laki-laki itu tertawa. Giginya yang kecoklatan menambah rasa jijik di hati Senja.
“Sayang, aku tidak akan menyakiti kamu, ayo pijat, apakah aku harus melepas dulu pakaian aku agar pijitan kamu terasa nyaman?”
“Tidak, ja … jangan … “
Senja sudah pernah hampir diperkosa, waktu itu di kamar mandi, dan dia selamat setelah berhasil menyemprotkan cairan sabun atau entah apa, ke matanya. Sekarang ia juga merasa bahwa laki-laki itu pastilah laki-laki mesum yang sudah membayar bu Mery. Senja mundur mendekati pintu, mencoba membuka tapi terkunci dari luar. Laki-laki itu terbahak.
“Mana bisa kamu keluar, cantik. Kamu harus melakukan tugas kamu, atau … aku harus memaksa?”
Senja terkejut ketika laki-laki itu bangkit, lalu melangkah mendekatinya. Senja mundur, ada kursi tempat duduk yang barangkali biasanya dipakai duduk oleh tukang pijatnya. Ketika laki-laki itu mendekat, Senja mengayunkan kursi yang tidak begitu berat itu ke arah kepalanya. Laki-laki yang tidak mengira Senja akan melawan, jatuh tersungkur dengan kepala bersimbah darah.
***
Senja terus mengayuh sepedanya. Sangat kencang, menuju pulang.
***
Besok lagi ya.