Wednesday, March 25, 2026

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 27

 SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  27

(Tien Kumalasari)

 

Gadis itu memang Istiana, menatap heran pada sikap Lukman yang tampak gugup.

“Kamu Lukman kan?” ia sampai lupa apakah sudah menyebut namanya atau belum, karena dilihatnya Lukman yang seperti orang kebingungan.

Sekarang Lukman menatap Istiana.

“Aku mau bertemu om Pras, tadi sudah janjian.”

“Oh, tentu. Papa sudah mengatakannya tadi. Tapi papa masih ada urusan, silakan menunggu,” sapa Isti ramah.

Lukman duduk berhadapan dengan Isti.

“Apa kamu tahu, bahwa aku sudah dijodohkan denganmu?”

Lukman terhenyak. Tak mengira gadis bermata lembut itu berani mengungkapkan hal yang semestinya membuat seorang gadis sungkan mengatakannya.

Lukman menatapnya tak berkedip, dan Isti membalasnya tanpa dosa.

“Hanya dijodohkan. Tapi tidak mengharuskan kita harus mengikutinya bukan?”

Tiba-tiba Lukman merasa lega. Ia hanya tertarik atas keramahan gadis itu, dan tentu saja kecantikannya juga. Tapi untuk berjodoh, Lukman membutuhkan cinta. Dan cinta itu adalah Ristya, tak ada duanya.

“Ya, tentu saja.”

“Kamu sudah punya pacar?” lagi-lagi Isti mendahului berbincang tentang kelanjutan perjodohan itu.

“Mmm ….”

“Cowok ganteng seperti kamu pasti sudah punya pacar,” kata Isti enteng.

Lukman tersenyum.

“Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan mengakuinya. Aku tidak suka memaksa orang untuk menyukai aku. Bukankah cinta tidak bisa dipaksa?”

Lukman suka ucapan Isti yang seplas-ceplos tanpa sungkan, tapi diucapkan dengan sangat tulus. Paling tidak itulah  yang dipikirkan Lukman.

“Saat ini aku sedang ingin mencari tahu tentang peninggalan orang tuaku yang sudah tiada.”

“Ya, papa sudah mengatakannya. Papa merasa kasihan karena kamu sebagai ahli warisnya sama sekali tidak tahu tentang peninggalan ayah kamu.”

Lukman mengangguk, karena itu memang benar. Ia hanya tahu bahwa dirinya menjadi beban keluarga Pujo Suroyo sejak masih kecil. Tak ada yang diketahuinya kecuali rasa hutang budi yang selalu digembar-gemborkan oleh om Suroyo ditelinganya, dan om Suroyo menuntut agar hutang budi itu dibayarnya dengan sebuah pengorbanan yang menyakitkan, yaitu ia harus meninggalkan kekasihnya untuk menikahi putri ayah angkatnya itu, yang sama sekali tidak dicintainya.

Ponsel Istiana berdering, kemudian diangkatnya. Isti berbicara yang tidak begitu diperhatikan.

“Lukman, urusan papa ternyata belum selesai. Papa minta agar kita menunggunya sambil berjalan-jalan dulu. Eh maaf, sebenarnya aku sudah lama tidak datang ke Indonesia. Dulu, waktu aku masih SMA, pernah sekali. Sekarang aku sudah lama tidak menginjakkan kakiku di tempat ini. Maksudku, kalau kamu mau menemani aku sambil menunggu papa, aku akan sangat berterima kasih.”

Lukman tersenyum. Ia menyukai gadis yang ceplas-ceplos tanpa rasa sungkan ini, dan dia menyanggupinya untuk menemani berjalan-jalan.

***

“Ristya, tolong periksa lagi laporan bulan lalu yang dikirimkan oleh bagian keuangan,” kata Agung sambil menyodorkan sebuah map berisi berkas-berkas.

Ristya terkejut, karena ia sesungguhnya sedang melamun. Entah mengapa wajah Lukman tiba-tiba terbayang.

“Kamu sedang melamun?” tegur Agung.

“Tidak … tidak. Biar saya kerjakan sekarang.”

Agung menatap wajah Ristya tak berkedip. Ia tahu Ristya sedang memikirkan sesuatu. Sejak kepindahannya di kantor baru, Ristya selalu saja tampak melamun. Ia ingin sekali tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan, tapi Ristya tak pernah mengatakan apapun. Ia selalu menyangkal dan tidak pernah mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hari-harinya.

“Apa kamu tidak suka bekerja di sini?”

“Apa? Tidak, tentu saja saya suka. Mengapa Bapak mengira begitu?”

“Kalau kamu sedang memikirkan sesuatu, ayolah berbagi, bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai seorang sahabat.”

Ristya tersenyum. Dan senyuman itulah yang membuat Agung jatuh hati.

“Bapak mengada-ada. Sekarang biarkan saya mengerjakan tugas yang Bapak berikan ini agar bisa segera selesai.”

Agung mengangguk, lalu membiarkan Ristya melanjutkan pekerjaannya. Tapi matanya tak lepas dari wajah sekretarisnya itu.

***

Hari belum terlalu malam, ketika pak Giman dan Ristya menyelesaikan makan malamnya. Tiba-tiba pak Giman meminta agar Ristya duduk dulu sebelum mengemasi sisa makanan dan piring-piring kotor.

“Ada apa Pak.”

“Duduklah dulu.”

Ristya kembali duduk, menunggu apa yang akan dikatakan sang ayah.

“Tadi sore sebelum bapak pulang, pak Burhan mengajak bapak bicara.”

“Bicara tentang apa?”

“Pak Burhan ingin mengambil kamu sebagai menantu.”

“Apa?” Ristya berteriak.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, March 24, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 39

 BIARKAN AKU MEMILIH  39

(Tien Kumalasari)

 

Dwi mendekati suaminya dan tersenyum.

“Aku menelpon bu Nirmala.”

“Kamu ke sana?”

“Tidak, aku hanya menelpon.”

“Bicara tentang apa? Lalu kemana saja kamu sejak pagi pergi sampai siang baru kembali?”

“Banyak yang harus aku lakukan. Diantaranya aku ke kantor dan membuat surat pengunduran diri.”

“Kamu? Mau mengundurkan diri?”

“Bayi yang aku kandung agak rewel. Aku berkali-kali tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai manager pemasaran. Jadi lebih baik aku istirahat saja dulu. Bagaimana menurutmu?”

“Aku sangat setuju. Kasihan melihat kamu sering tersiksa karena kandungan kamu. Tapi aku bahagia, akhirnya kamu akan melahirkan anakku, hal yang sudah lama sekali kita rindukan.”

Dwi tersenyum, sedikit kaku, karena meruntuki dirinya ketika hampir saja ia menggugurkannya kalau saja Adri tidak mengingatkannya.

“Kita akan pulang ke rumah kita bukan?”

“Tadi aku ketemu Wati juga.”

“Kamu? Kamu memarahinya? Wati tidak sepenuhnya bersalah. Ada hal yang membuat dia melakukannya. Aku kesetanan karena obat yang diberikan ibu waktu itu.”

“Aku sudah tahu semuanya. Aku tidak memarahinya. Aku hanya ingin tahu apa yang diinginkannya. Bagaimanapun dia sudah mengandung anak kamu.”

“Dia bilang apa?”

“Dia hanya ingin menikah demi anak yang dikandungnya. Tapi dia tidak ingin menjadi istrimu sepenuhnya. Setelah anak itu lahir, dia minta kamu menceraikannya.”

Anton menarik napas lega. Ada beban yang sedikit terlepas. Dwi tampak tidak terpengaruh dengan hamilnya Wati.

“Kamu mau kan, pulang ke rumah setelah aku sembuh?”

“Aku bahkan mau hidup serumah dengan maduku.”

“Apa? Dia punya rumah sendiri, aku akan mencukupi kebutuhannya.”

“Biarlah aku menikmati hidup yang sangat berbeda dari sesuatu yang pernah aku impikan. Hidup berdua selamanya. Tapi  nanti aku akan hidup bersama maduku. Entah bagaimana rasanya. Tapi aku kira semuanya akan baik-baik saja.”

Anton menatap kesungguhan pada wajah sang istri. Jawaban itu menggambarkan bahwa Dwi tidak bersikeras ingin bercerai, bahkan ingin pulang ke rumah bersama-sama.

“Kamu tidak percaya? Aku sudah memilih, dan pilihanku adalah kembali.”

Anton ingin sekali memeluk sang istri, tapi sebelah tangannya masih tersangkut di selang infus. Rona bahagia itu tergambar pada binar matanya yang digenangi telaga bening. Dwi melihatnya, lalu merengkuh suaminya dalam pelukan yang hangat.

***

Berhari berminggu berbulan sudah berlalu. Pada suatu hari saat pagi, Adri heran melihat sang istri masih meringkuk di ranjang.

“Hei, pemalas. Ini jam berapa? Habis subuh tidur lagi?” ledek Adri.

Nirmala hanya menggeliat, tapi kemudian meringkuk lagi sambil memeluk guling.

“Nirma, ada apa kamu?”

“Mmmmh … males … ,“ lalu Nirmala berguling ke arah samping, membelakangi suaminya, sambil masih tetap memeluk guling, membuat Adri gemas, lalu berbaring disampingnya, memeluknya dari belakang.

“Jangan Dri, perutku mual bau keringat kamu,” keluh Nirmala.

Adri melepaskan pelukannya, mencium ketiaknya.

“Wangi tuh, aku kan sudah mandi.”

“Nggak mau, pokoknya Adri bau.”

Adri mengerutkan keningnya. Kemarin tidak apa-apa, tiba-tiba sekarang mengatakan dirinya bau, dan enggan didekati?

Adri masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dan menggosoknya dengan sabun bertubi-tubi.

Tapi ketika ia keluar, masih mendapati istrinya masih meringkuk, ia mendekat lagi.

“Nirma, aku sudah wangi,” katanya lembut.

“Wangi atau tidak, aku nggak mau dekat sama kamu,” sentaknya, membuat Adri heran.

“Nirma, benar ya, nggak mau dekat sama aku?”

Adri keluar dari kamar dengan hati linglung. Tidak biasanya Nirmala bersikap seperti itu.

Ketika itu tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata dari sang ibu mertua.

“Adri, ini kamu kan?”

“Iya Bu, saya.”

“Aku menelpon istri kamu dari tadi tidak diangkat. Ini libur kan? Masa dia pergi ke kantor?”

“Tidak, dia masih tidur.”

“Tidur? Jam segini masih tidur? Apa dia sakit?”

“Tidak Bu, tiba-tiba dia tidak mau saya dekati, dia bilang saya bau, saya mandi lagi, dan yakin sudah wangi, tapi dia tetap tidak mau dekat sama saya. Sekarang masih meringkuk tidak mau bangun.”

"Tapi tidak sakit?”

“Dia tidak mengatakan apa-apa, atau mengeluh sakit. Dia hanya tidak mau dekat sama saya dan terus-terusan mengatakan bahwa saya bau.”

Adri heran ketika kemudian mendengar sang ibu mertua tertawa.

“Dri, jangan-jangan istri kamu hamil.”

“Apa?” Adri tersentak tiba-tiba. Nirmala hamil? Tapi kemudian wajahnya sumringah.

“Hamil? Benarkah Bu?” katanya setengah berteriak.

“Melihat tanda-tandanya Dri. Orang hamil itu terkadang aneh. Coba kamu bawa dia ke dokter untuk meyakinkannya.”

“Baik, baiklah Bu,” jawab Adri bersemangat.

“Tunggu, sebenarnya tadi aku mau bicara sama Nirma, ayahnya kangen sama cucunya. Sudah lama kalian tidak membawa Tama menemui kakek dan neneknya.”

“Iya Bu, rencananya hari ini sebenarnya, tapi nggak tahu itu, sepertinya nggak mau dekat-dekat saya.”

“Berikan ponselnya pada Nirma, biar ibu yang bicara.”

Adri masuk kembali ke kamar, memberikan ponselnya kepada Nirmala, yang masih meringkuk memeluk guling. Tapi ia menerima ponsel itu dan mendengarkan sang ibu bicara.

Adri berdiri agak jauh, dan mendengar sang istri menjawab.

“Ya Bu..  benar, nggak tahu kenapa ini … apa? Hamil?”

Adri ikut tersentak mendengar Nirmala berteriak. Lalu ia senang mendengar Nirmala mengatakan bersedia periksa ke dokter.

Lalu dilihatnya Nirmala bangkit, lalu menyerahkan ponsel kepadanya.

“Dri, antar aku ke dokter ya, kata ibu kemungkinan aku hamil.”

“Tapi ini hari Minggu Nirma.”

“Oh iya, kalau begitu belikan aku tespack di apotik saja. Terkadang itu juga cocok.”

“Baik, nanti Aku belikan.”

“Sekarang Dri, jangan nanti,” sentaknya.

“Baik, baik,” kata Adri sambil bergegas keluar kamar. Tapi dari luar Adri mendengar Nirmala berteriak.

“Adri, bukankah kamu memang ingin punya anak lagi?”

Adri berhenti, lalu melongok ke dalam kamar. Dilihatnya Nirmala menatapnya sambil tersenyum.

Adri mengacungkan jempolnya. Dua jempolnya. Wajah Nirmala berseri, bagai matahari baru muncul dari ufuk timur.

***

 Pernikahan antara Anton dan Wati sudah berlangsung. Dwi bahkan menunggui saat akad nikah.

Tapi ketika Dwi mengajaknya tinggal bersama di rumah Anton, Wati menolaknya.

“Saya akan tinggal di rumah saya sendiri.”

“Tapi kamu kan terkadang harus periksa ke dokter, terutama tentang kandungan kamu?” kata Dwi.

“Nanti gampang. Saya kan sehat, jadi tidak perlu diantar,” jawab Wati sambil tersenyum.

“Kalau ada apa-apa hubungi aku, kamu kan sudah aku beri nomor kontakku?”

“Iya Mbak, terima kasih. Tapi nanti kalau saya melahirkan, anak saya akan tetap saya serahkan pada keluarga mas Anton.”

“Kamu serius?”

“Saya sangat serius.”

Tak ada yang bisa menolaknya. Sebuah drama kehidupan telah berakhir dengan baik. Setidaknya dalam waktu sekarang ini. Semoga sebuah pelajaran bisa didapatkan, tentang kebohongan, tentang sikap diam dalam menyikapi sebuah masalah. Lalu sebuah komunikasi memang seharusnya dilakukan.

Siapa tahu sebuah perjalanan masih akan berlanjut.

***

T A M A T

 

 

Apa kamu tahu, bahwa hidup memang adalah pilihan? Masih tentang pilihan di kisah ini. Ada cinta yang tersamar, ada ketakutan ditinggalkan, tapi tak bisa menghentikan perilaku yang menyakitkan pasangan.

Sakit hati dan dendam ternyata bisa terbawa dalam hari-hari yang panjang.

Tunggu cerita selanjutnya. SAKITKU ADALAH CINTAKU.

Yuk, tungguin. Sabar ya.

Monday, March 23, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 38

 BIARKAN AKU MEMILIH  38

(Tien Kumalasari)

 

Berhari-hari kemudian keadaan Anton sudah mulai membaik. Biarpun operasi berjalan baik dan hasilnya memuaskan, tapi ia masih harus dirawat. Dwi yang sudah boleh pulang beberapa hari sebelumnya, selalu menungguinya dengan setia, sementara bu Sarah kadang-kadang kembali pulang karena ia masih punya urusan di rumah. Pernikahan dengan Wati juga harus ditunda karena Anton masih dirawat.

Tapi ketika bu Sarah menemui, sama sekali Wati tidak menanyakan keadaan Anton, kecuali bu Sarah menceritakan semuanya.

“Sabar dulu masalah pernikahan ya, Anton masih harus dirawat.”

“Iya, tidak apa-apa Bu.”

“Kamu tidak ingin menjenguk calon suami kamu?”

“Saya kira tidak usah Bu, di sana sudah ada istri sahnya, nanti malah suasananya jadi tidak enak.”

”Dwi wanita yang baik,” kata bu Sarah, yang membuat Wati heran, karena selama ini bu Sarah selalu menjelek-jelekkan nama Dwi, yang dikatakannya wanita tidak setia, semaunya, mentang-mentang punya pekerjaan yang mapan, dan sebagainya. Sekarang ketika ia mendengar sepatah kata pujian untuk Dwi dari bu Sarah, tentu saja ia merasa heran. Tapi dia tidak menanyakannya.

Sikap bu Sarah juga tiba-tiba berubah, sejak dia menolak ikut menjenguk Anton di rumah sakit. Ia tidak begitu manis dalam berkata-kata. Wajahnya juga dingin, tidak menampakkan harapan untuk segera memintanya menjadi menantu yang kemarin-kemarinnya masih menggebu-gebu.

Sampai kemudian bu Sarah pulang, Wati masih merenungi apa yang telah terjadi. Dulu, saat ia bekerja di toko langganan bu Sarah, bu Sarah sangat bersemangat untuk mengambilnya sebagai menantu, dengan alasan istri anaknya mandul. Bu Sarah sering memberinya uang dan barang-barang yang membuat Wati senang, dan menganggap betapa baiknya bu Sarah. Ia juga selalu menerima kedatangan Anton yang oleh bu Sarah dimintanya untuk mendekati Wati. Rupanya Anton begitu menghormati sang ibu dan enggan menolak keinginannya, walau tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukainya. Hingga malam itu, ketika bu Sarah menyarankan Wati agar memberikan minuman yang dikirimkan bu Sarah kepada Anton, lalu terjadilah malam yang dianggapnya sebagai malam jahanam. Anton memaksanya dan tak bisa dikendalikan. Apa boleh buat. Waktu itu bu Sarah sangat gembira ketika menyadari bahwa Wati benar-benar hamil, dan memaksa Anton agar menikahinya.

Berlinang air mata Wati ketika menyadari jalan hidupnya yang tidak sesuai dengan harapan. Hanya karena merasa berhutang budi, ia menuruti kemauan bu Sarah untuk diambil menantu, tapi kemudian dia sadar bahwa Anton sebenarnya tidak mencintainya. Bahkan Anton pernah mengatakan bahwa ia akan menikahi hanya demi bayi yang dikandung.

“Selamat siang,” sebuah suara mengejutkannya.

Wati terbelalak. Ia pernah mengenal wajah itu di rumah Anton. Beberapa hari yang lalu. Dari sebuah foto yang terpajang apik di sana.

“Si … siang,” jawabnya gugup.

“Apa kamu yang bernama Wati?”

“Iya … iy … iya.”

“Bolehkah aku masuk?”

Yang datang adalah Dwi. Ia menyempatkan pergi menemui Wati tanpa sepengetahuan Anton. Ia tahu rumah Wati dari bu Sarah yang bercerita tentang hubungan Anton dan Wati yang adalah sebuah rekayasa yang dibuat olehnya.

“Ssi … silakan, silak ..kan..” 

Wati sangat gugup. Apakah wanita cantik istri Anton ini akan memarahinya? Memaki-makinya dan menuduhnya telah merebut Anton darinya? Wati sedikit takut, tapi dia kemudian menyiapkan jawaban tentang semua yang terjadi.

“Kamu tidak usah gugup atau takut. Aku datang kemari dengan maksud yang baik. Benar-benar baik. Jadi tenang sajalah.”

“Ssaaya .. ambilkan .. minum …”

“Tidak usah, aku hanya sebentar.”

Wati urung berdiri, dan kembali duduk dengan posisi yang dirasanya paling nyaman.

“Aku sudah tahu tentang hubungan kamu dan mas Anton.”

“Itu … saya …”

“Aku sudah tahu semuanya. Yang ingin aku tanyakan sekarang adalah, apakah kamu benar-benar ingin menjadi istri mas Anton?”

Wati menatap wajah Dwi. Tatapannya teduh, tak ada rasa kesal atau marah tergurat di sana.

“Saya melakukannya tidak dengan dasar suka. Bu Sarah yang menginginkannya, dan mas Anton juga tidak menyukai saya. Mas Anton mengatakan kepada saya bahwa dia sangat mencintai istrinya.”

“Lalu bagaimana dengan kandungan kamu?”

“Saya minta maaf. Kalau nanti mas Anton menikahi saya, adalah demi bayi yang tidak berdosa ini. Saya tidak ingin menjadi istri seutuhnya.”

“Maksudnya …”

“Saya akan minta cerai setelah bayi ini lahir. Dan saya akan menyerahkan bayinya kepada keluarga mas Anton.”

“Apa? Kamu tidak ingin merawatnya?”

”Tidak. Dia terlahir bukan karena kehendak saya.”

***

“Bik, mana istriku?” tanya Anton yang sejak pagi tidak melihat istrinya, hanya bibik yang menungguinya.

“Tadi nyonya pamit karena ada keperluan.”

“Bekerja? Ini hari apa?”

“Hari ini nyonya masih libur. Katanya baru hari Senen akan ke kantor lagi.”

”Jadi ke mana dia?”

“Saya tidak tahu, Tuan. Coba tuan menelpon dia.”

“Ponselku dibawa nyonyamu itu.”

“Owh. Kalau begitu Tuan tunggu saja dulu, sebentar lagi pasti nyonya akan datang.”

“Aku sudah bosan dan ingin pulang.”

“Kalau Tuan belum boleh pulang, berarti tuan masih harus mendapat perawatan. Sebaiknya Tuan bersabar dulu.”

“Tidak kerasan berada di sini.”

“Mana ada orang kerasan tinggal di rumah sakit? Tuan ada-ada saja.”

“Bik, apa kamu tau tentang Adri?”

“Tuan Adri itu baik. Selalu menolong ketika nyonya dalam kesulitan. Bahkan mengantarkan ke rumah sakit dan menungguinya. Apakah Tuan mencurigainya? Kata tuan Adri, mereka adalah teman saat masih kecil, jadi wajar kalau sampai kemudian dewasa dan berkeluarga ikatan pertemanan itu masih ada. Apakah Tuan mencurigainya?” bibik mengulang pertanyaannya.

“Wajar kalau aku mencurigainya. Dia baik sama istriku.”

“Ya jangan begitu, mereka baik karena berteman. Tuan Adri sangat mencintai istrinya. Dan nyonya juga sangat mencintai Tuan.”

“Benarkah? Kalau begitu mengapa dia bersikeras ingin bercerai?”

“Nyonya sakit hati ketika mendengar Tuan mau menikah lagi, ditambah sikap nyonya Sarah yang semena-mena. Barangkali itu sebabnya Tuan. Tapi saya hanya menangkap keluhan nyonya sepotong-sepotong, lalu saya menyimpulkannya sendiri. Maaf kalau saya salah Tuan, saya hanya berharap Tuan dan nyonya kembali bersama. Saya lihat sikap nyonya Sarah juga sudah berubah. Entah kenapa,” kata bibik panjang lebar. 

Sebenarnya dia juga menangkap sikap Dwi yang tampaknya menyukai Adri, tapi tampaknya sang nyonya sudah berubah, terlebih ketika ia keceplosan tentang kehamilannya yang diakuinya sebagai anak Adri. Lalu sang nyonya ketakutan. Dan kejadian tentang kecelakaan yang menimpa Anton, membuat Dwi menyadari bahwa dia sebenarnya masih mencintai suaminya.

Anton tampak memikirkan apa yang dikatakan bibik, dan itu ada benarnya, lebih-lebih tentang ibunya yang semena-mena terhadap Dwi ketika itu. Tapi sekarang Anton melihat sang ibu dan menantunya kelihatan akrab. Hanya saja ia masih punya sesuatu yang mengganjal. Bukankah ia tetap harus menikahi Wati? Apakah nanti Dwi mau menerimanya? Ia belum membicarakannya.

“Nyonya ke mana ya, mengapa sampai siang belum juga datang?”

“Jangan-jangan dia pulang dan tidur di rumah.”

“Mana mungkin Tuan, nyonya sangat perhatian pada Tuan, kalaupun tidur pasti ia tidur di sini sambil menunggui Tuan, saya malah yang disuruhnya pulang."

***

Hari itu Adri mendapat telpon dari mertuanya.

“Adri, apa kamu sudah tahu kalau Dwiyanti mengundurkan diri?”

“Belum. Bapak tahu dari mana?”

“Ada laporan itu, mengapa kamu belum tahu?”

“Laporan itu belum sampai ke meja saya Pak, mungkin ke pusat terlebih dulu.”

“Apa ia menyebutkan alasannya?”

“Dia sedang mengandung dan tampaknya harus sering meninggalkan pekerjaannya.”

Tiba-tiba Adri melihat laporan yang belum sempat dibacanya. Ia segera membukanya.

“Iya, laporan tentang Dwi sudah sampai ke meja saya Pak. Memang benar, dia mengandung dan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.”

“Segera buka lowongan, atau kamu punya pandangan lain.”

“Nanti saya bicara dengan Nirmala.”

“Baiklah. Aku serahkan urusan itu pada kamu.”

Adri meletakkan ponselnya. Memang Dwi sering tidak bisa melakukan tugasnya, karena kehamilannya sering rewel.

Ponsel Adri kembali berdering. Dari Nirmala.

“Mas sudah tahu, Dwi mengundurkan diri?”

“Ya, bapak juga sudah menelpon.”

“Tampaknya Dwi memilih pulang, untuk kembali kepada suaminya.”

“Benarkah?”

“Baru saja dia menelpon saya, dan bercerita panjang lebar. Ia merelakan suaminya menikahi gadis itu.”

“Syukurlah. Semoga mereka baik-baik saja. Memang seharusnya Anton bertanggung jawab bukan, apapun alasannya? Dan mau tidak mau Dwi harus kembali kepada suaminya, karena diapun sedang mengandung.”

“Anton bakal punya anak dua dong.”

“Jadi pengin,” canda Adri.

“Apa?”

“Mengapa tidak? Tama sudah besar. Dia pasti juga pengin adik.”

“Adri, di kantor ngomongin pengin anak lagi. Sudah, didengar orang, malu.”

Nirmala menutup pembicaraannya, dan Adri meletakkan ponselnya sambil tersenyum-senyum.

“Punya anak lagi, apa salah?” gumamnya sambil terus berharap untuk segera pulang.

***

Dwi sudah berada di kamar Anton kembali. Anton masih mendengar ketika Dwi memasuki ruangan sambil berbicara di telpon.

“Telponan sama siapa?"

***

Besok lagi ya.

Friday, March 20, 2026

WARA-WARA.

 _*WARA-WARA*_


Sehubungan dengan Hari Raya IdulFitri 1 Syawal 1447-H (21 Maret 2026), maka Cerbung Biarkan Aku Memilih dan Cerbung Sepotong Cintaku Tak Bersisa _*LIBUR*_ mulai 20 sd 22 Maret 2026.

InsyaaAllah akan tayang kembali hari Senin, 23 Maret 2026.


Selamat Hari Raya IdulFitri 1 Syawal 1447-H.

Taqobbalallahu minna wa minkum Taqobbal Yaa Kareem.

Mohon maaf lahir batin.


(Tien Kumalasari)

Thursday, March 19, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 37

 BIARKAN AKU MEMILIH  37

(Tien Kumalasari}

 

Bu Sarah menatap menantunya dengan perasaan tak menentu. Sesal yang dirasakannya dan sikap sang menantu yang tidak kelihatan sangat berharap untuk kembali kepada Anton, sangat membuatnya merasa sakit karena dosa-dosanya.

Air matanya kembali berlinang.

“Dwi, aku bersalah padamu, juga kepada Anton. Apakah tidak akan ada maaf untuk aku?” tanyanya memelas.

Dwi menatapnya tak berkedip. Nyonya garang yang kalau bicara sering keras dan menyakiti itu sekarang tak ada lagi. Yang ada hanyalah tatapan mata lelah dan rasa putus asa. Tatapan seorang musuh yang kalah perang. Pasrah akan hukuman apa yang harus diterima. Dwi merasa trenyuh. Lalu ia bertanya kepada dirinya sendiri. Sanggupkah ia hidup bersama madunya? Sanggupkah ia berbagi cinta dengan perempuan lain yang ia sama sekali belum mengenalnya? Meminta agar Anton meninggalkannya? Tak mungkin. Dwi juga perempuan. Tak bisa dia bayangkan bagaimana perasaannya ketika dirinya mengandung lalu tak ada orang yang menikahinya.

“Dwi, sebenarnya semua ini salahku. Wati tidak mencintai Anton, demikian juga Anton, juga tidak mencintai Wati. Aku yang membuat semuanya itu terjadi, Dwi, aku yang salah.”

“Baiklah Bu, semuanya sudah terjadi, lalu apakah mas Anton akan meninggalkan Wati begitu saja sementara Wati sudah mengandung anaknya? Dengan alasan tidak cinta? Bukankah ia harus bertanggung jawab atas semuanya? Tidak mungkin Ibu membiarkan mas Anton lepas dari semua tanggung jawabnya, walaupun itu karena kesalahan Ibu.”

“Iya, Anton sudah mengatakan bahwa dia tetap akan menikahinya. Nanti setelah bayinya lahir, dia akan menceraikannya.”

“Rasanya sangat tidak adil bagi Wati.”

Bu Sarah terdiam lagi. Keadaan sudah menjadi rumit. Ia sekarang tidak ingin melepaskan Dwi, sementara Wati harus mendapatkan perlindungan dari kehamilannya. Persiapan pernikahan sudah disiapkan, tapi bu Sarah goyah setelah melihat kecintaan anak dan menantunya.

“Lalu apakah kamu benar-benar akan meninggalkan Anton, Dwi?” pertanyaan itu terlontar dengan bibir gemetar dan penuh keputus asaan, karena melihat bahwa Dwi tidak memberikan setitik harapanpun.

“Bu, berikan waktu saya untuk memilih ya.”

Bu Sarah hanya bisa mengangguk lemah.

“Lagipula kita juga harus bicara dengan mas Anton. Barangkali nanti setelah mas Anton sadar dan sehat, kita bisa bicara lagi.”

Setitik harapan membuat bu Sarah agak merasa lega.

***

Seorang perawat yang kembali memeriksa tensi Dwiyanti, mengabarkan bahwa Anton sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sudah sejak tadi bu Sarah menunggui di ruang ICU tempat Anton diobservasi.

Dwi merasa lega. Anton sudah bersama ibunya.

“Tensi ibu sudah bagus,” kata perawat itu.

“Terima kasih suster.”

“Apakah masih muntah-muntah? Tidak kan?”

“Tidak, kadang-kadang saja merasa mual.”

“Nanti akan saya laporkan pada dokternya.”

“Saya sudah boleh pulang kan?”

“Nanti menunggu dokternya ya Bu,” kata perawat itu yang kemudian berlalu.

Bibik yang sedari tadi menemani, juga mendengar pembicaraan antara bu Sarah dan Dwi. Ia berpihak kepada bu Sarah, yang berharap agar Dwi tidak meminta cerai dari suaminya.

“Saya sudah mengatakan sejak lama. Sebaiknya Nyonya kembali kepada tuan Anton.”

“Sebenarnya aku masih kesal. Tapi semua ini ternyata kesalahan ibunya.”

“Iya Nyonya, saya juga mendengarnya tadi. Sangat keterlaluan nyonya Sarah itu, masa memaksa anaknya menghamili orang. Sekarang dia menyesal ketika melihat bahwa tuan Anton dan Nyonya masih saling mencintai.”

“Dan katanya, ternyata Wati sebenarnya tidak menyukai mas Anton.”

“Lha kalau tidak mencintai lalu bagaimana? Keadaan sudah mengandung begitu?”

“Aku belum bisa membayangkan bagaimana hidupku nanti. Apakah mas Anton akan membawa istrinya ke rumah dan akan hidup bersama? Apa aku bisa?”

“Nyonya kan sedang bertugas di kota ini?”

“Tapi kalau aku kembali menjadi istri mas Anton, belum tentu aku diijinkan tinggal di sini. Mungkin pulang dan pergi dari rumah sana.”

“Jadi bagaimana nantinya, apakah Nyonya sudah memutuskan?”

“Belum, aku masih bingung. Bagaimana nanti setelah mas Anton sudah sembuh. Sekarang ini dia belum bisa diajak bicara.”

“Benar Nyonya, harus berbicara dengan tuan dulu, bagaimana baiknya.”

***

Tapi sore hari itu, Nirmala menepati janjinya. Ketika ia harus kembali ke kantor pusat, ia mampir ke rumah sakit di mana Dwi dirawat.

Dwi sangat terkejut melihat kedatangan Nirmala. Semenjak bekerja, dia belum pernah bertemu Nirmala. Ia tahu bahwa itu Nirmala, karena ia melihat fotonya bersama Adri di kantor Adri. Apakah Nirmala akan memarahinya dan menganggap dia berbuat seenaknya dengan mengatakan bahwa bayi yang dikandung adalah anak Adri?”

“Apa kabar Dwi?” sapa Nirmala.

Dwi berusaha bangkit.

“Tiduran saja.”

“Saya sudah baikan.”

“Tapi kamu kan masih diinfus? Bagaimana keadaan kamu?”

“Saya sudah merasa sehat. Saya siap untuk pulang, menunggu dokternya.”

“Beberapa hari yang lalu kamu ke rumah sampai malam?”

“Iya Bu.”

“Kamu mau mengatakan apa waktu itu sampai menunggu aku hampir seharian?”

“Saya …"

”Katakan saja.”

“Apakah Ibu tidak marah kepada saya?”

“Tidak, katakan saja.”

“Saya hanya akan minta maaf kepada Ibu, dan juga pak Adri.”

“Masalah kamu mengakui tentang kehamilan kamu itu? Yang kamu bilang kepada suami kamu bahwa anak Adrilah yang ada di dalam kandungan kamu?”

“Maafkan saya. Saya … sebenarnya sedang kalut. Saya tidak ingin kembali kepada suami saya. Saya berbohong agar suami saya menceraikan saya.”

“Dan yang terjadi adalah sebaliknya?”

“Saya takut sekali waktu itu, karena suami saya mengancam akan menghajar pak Adri. Saya tidak tidur semalaman, lalu paginya langsung pergi ke rumah ibu.”

“Dan ternyata semuanya baik-baik saja kan?”

Dwi mengangguk.

“Dan ketika dia menunggu kepulangan saya dari rumah ibu itu, barangkali dia lelah, lalu terjadilah kecelakaan.”

“Karena kebohongan kamu, semuanya jadi kacau kan?”

Dwi mengangguk lagi. Dia menatap Nirmala, dan mengakui bahwa Nirmala adalah wanita yang baik. Tidak salah Adri sangat mencintainya.

“Apakah kamu masih bersikeras ingin bercerai?”

“Saya masih bingung. Entah memilih kembali, atau bercerai. Wanita yang akan dinikahi suami saya sudah mengandung.”

“Tapi suami kamu berharap kamu tidak pergi kan?”

“Bahkan mertua saya yang semula membenci saya, berharap saya kembali kerumah, melarang bercerai. Padahal dulu dia sangat membenci saya.”

“Mertua yang membenci, sudah kehilangan rasa bencinya, mungkin dia sadar bahwa kamu adalah istri yang baik.”

“Sebenarnya saya tidak sebaik yang Ibu bayangkan.”

“Apapun itu, perceraian bukanlah jalan terbaik, sementara kalian masih saling mencintai. Adanya wanita lain, tergantung suami kamu, apakah bisa berbuat adil atau tidak.”

“Ibu mertua saya mengatakan bahwa mereka tidak saling mencintai.”

“Jadi suami kamu hanya bermain-main?”

“Dipaksa oleh ibunya yang waktu itu sangat membenci saya. Dan akhirnya sekarang dia menyesal, karena keduanya tidak saling suka.”

“Kalau kamu dilarang menceraikan suami kamu, pasti ada solusi untuk mengatasi wanita yang sudah hamil itu.”

“Mas Anton akan menceraikannya kalau dia sudah melahirkan.”

“Hal terbaik adalah kamu bicara dengan wanita itu. Bicaralah dari hati ke hati, dan tanyakan apa yang sebenarnya dia inginkan. Aku yakin kamu akan bisa memilih setelah berbicara dengannya.”

“Menurut aku, waktu itu kamu sedang kalang kabut karena kemarahan kamu kepada suami karena suami minta ijin untuk menikah lagi. Lalu kamu berpikir yang aneh-aneh, lalu kamu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan nurani kamu, setelah menyadari bahwa kamu ternyata masih mencintai suami kamu.”

Dwi lagi-lagi menatap Nirmala tak berkedip.

Apakah Nirmala tahu bahwa dia pernah tergoda pada Adri, yang kemudian diyakininya bahwa dia melakukannya karena rasa kalut atas penyelewengan suaminya. Tapi Nirmala tidak kelihatan marah. Matanya teduh, dibibirnya selalu tersungging senyuman.

Sampai kemudian Nirmala pergi, Dwi masih memikirkan apa yang dikatakan Nirmala.

Hal itu semula tidak dipikirkannya. Bicara dengan Wati, mengapa tidak?

***

Besok lagi ya.

Wednesday, March 18, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 36

 BIARKAN AKU MEMILIH  36

{Tien Kumalasari)

 

Bu Sarah diam terpaku. Dilihatnya Anton terbaring diam dengan kepala diperban. Wajahnya pucat. Pastinya begitu, karena Anton baru keluar dari kamar operasi. Tapi yang menarik dan membuat bu Sarah tertegun, ia melihat Dwi duduk di kursi roda, masih dengan infus terhubung di lengannya, lalu tangannya memegangi erat tangan suaminya.

Ada rasa trenyuh menyentuh.

Kepada perawat yang mengiringinya masuk, bu Sarah bertanya pelan.

“Apakah mereka mengalami kecelakaan berdua?” tanyanya menahan sedih yang mendalam.

“Tidak, pak Anton mengemudi mobilnya sendiri dan mengalami kecelakaan. Sedangkan ibu Dwi sejak awal menungguinya. Tapi semalam ibu Dwi harus dirawat karena muntah-muntah terus dan badannya lemah. Sesungguhnya dia belum boleh bangun, tapi bersikeras ingin melihat suaminya yang habis dioperasi. Sejak tadi dia menangis di situ. Ia khawatir tentang keadaan suaminya. Tapi sekarang sudah lebih tenang setelah diberi penjelasan oleh dokter yang menanganinya,” terang perawat itu panjang lebar.

Bu Sarah belum melangkah mendekat. Ia masih menatap bagaimana Dwi memegangi tangan suaminya dengan mata kuyu dan wajah yang juga masih kelihatan pucat.

“Mereka saling mencintai,” kata batinnya.

Lalu ia teringat bagaimana sikap Wati yang tanpa ekspresi ketika mendengar calon suaminya kecelakaan. Tak ada tatapan terkejut, tak ada khawatir, apalagi sedih. Bahkan ia menolak ketika diajak melihat keadaannya.

“Apakah salah aku memilihnya? Bahkan dengan cara yang tidak semestinya?”

“Silakan Bu, kalau mau melihat dari dekat, tapi jangan lama-lama. Yang diijinkan hanya istrinya. Tapi bu Dwiyanti juga harus segera kembali ke kamar rawat karena tekanan darahnya belum stabil.”

Bu Sarah mengangguk. Ia melangkah mendekat, perlahan, lalu berdiri di dekat kursi roda menantunya, di mana ada penyangga infus di dekat kursi roda itu.

Dwi terkejut, tak menyadari mertuanya mendekat.  Melihatnya datang, Dwi memundurkan kursi rodanya sambil memegangi tiang penyangga infusnya. Ia tahu, mertuanya tidak menyukainya. Tapi tiba-tiba sang mertua menarik kursi roda itu kembali mendekat.

“Di sini saja, nanti Anton mencari kamu,” katanya sambil tersenyum, tapi tampak dia menahan tangis.

Dwi agak heran, tapi ia mengangguk.

“Apakah dia belum sadar sama sekali?”

“Belum, sebenarnya saya tidak boleh menengok ke dalam, sampai dia sadar. Tapi karena saya istrinya, lalu diperbolehkan.”

“Tadi aku juga mengatakan bahwa aku ibunya, diijinkan masuk, hanya sebentar.”

Bu Sarah memegangi tangan anaknya, menepuknya lembut. Matanya tampak berkaca-kaca. Tentu ia sedih karena anak semata wayangnya terbaring tak berdaya.

“Apakah keadaannya parah?”

“Ada perdarahan otak dan harus dioperasi.”

“Ya Tuhan ….”

Tiba-tiba perawat mengingatkan.

“Ibu, silakan menunggu diluar dulu. Kalau pak Anton keadaannya stabil, baru bisa dipindahkan ke ruang rawat. Di sana Ibu bisa menunggui lebih lama.”

Bu Sarah mengangguk. Ia mencium pipi sang anak, kemudian melangkah keluar. Perawat itu kemudian juga mendorong kursi roda Dwi keluar.

“Ibu Dwiyanti akan kami bawa ke ruangannya,” kata perawat sambil menatap bu Sarah. Lalu bu Sarah mengikutinya.

***

“Apakah kamu muntah-muntah terus?” tanya bu Sarah ketika Dwi sudah kembali terbaring di ranjangnya, dan perawat meninggalkannya.

“Tadinya sudah baik, tapi kemarin itu, mungkin karena kelelahan, saya tidak doyan makan, dan apapun yang saya makan langsung kembali keluar. Tadinya ketika saya mendengar mas Anton kecelakaan, saya langsung kemari dan menungguinya. Tapi mas Anton menyuruh saya pulang saja, karena saya juga tidak bisa menunggui di dalam ruang IGD. Setelah di rumah beberapa saat itu saya merasa badan saya lemas dan muntah-muntah. Bibik memanggil ambulans dan saya harus dirawat.”

“Aku prihatin melihat keadaan kamu. Aku trenyuh melihat keadaan kamu yang lemah masih nekat menunggui suami kamu yang belum sadar.”

“Terima kasih, Bu,” kata Dwi yang masih terheran-heran dengan sikap ibu mertuanya yang berbalik seratus delapanpuluh derajat.

“Apakah keadaan Anton parah?”

“Kata dokter operasinya berhasil baik, tadinya saya juga sangat khawatir.”

Lalu keduanya diam. Yang satu heran dengan sikap satunya. Yang satu lagi merasa sungkan dan menyesal atas perlakuan sebelumnya. Entah mengapa, dia baru menyadari betapa baik Dwi sebagai istri. Lalu dibandingkan dengan Wati, penyesalannya menjadi bertumpuk-tumpuk.

Sebenarnya bu Sarah hanya iri karena perhatian dan kecintaan Anton terhadap Dwi sangat besar. Bu Sarah khawatir Anton tidak akan lagi memperhatikan ibunya, atau gampangnya saja bu Sarah merasa cemburu kepada menantunya, dan takut kehilangan cinta sang anak karena begitu besar cintanya kepada sang istri. Tapi melihat kedekatan mereka, hati bu Sarah luluh. Bukankah kalau sang anak bahagia maka orang tua juga akan ikut bahagia?

Tiba-tiba bu Sarah memegang tangan Dwi, dielusnya lembut. Dwi menatapnya, masih dengan perasaan heran.

“Dwi, ibu minta maaf,” katanya lirih.

Dwi menatap mertuanya. Minta maaf? Apa itu benar. Dwi masih tidak percaya.

“Aku telah salah melangkah karena berusaha memisahkan kamu, bahkan mencarikan perempuan lain untuk istri baru Anton,” katanya lirih dan gemetar. Mata yang penuh penyesalan itu sudah penuh dengan telaga bening.

“Tidak apa-apa Bu.” 

Hanya itu yang diucapkan Dwi.

“Apa kamu tahu, sekarang saya berpikir bahwa kamu istri terbaik bagi Anton.”

“Mengapa tiba-tiba ibu mengatakan demikian?”

“Entahlah.”

Lalu mereka kembali diam. Senyap di ruangan itu.

“Anton tidak seharusnya menikahi Wati,” ucapan itu membuat Dwi  bertambah heran.

“Bukankah dia sudah hamil?” pertanyaan itu sebenarnya menyayat hatinya sendiri.

“Maafkan ibu, itu sebenarnya kesalahan ibu. Anton tidak menyukai dia. Aku memaksanya, membuat Wati hamil karena rekayasa ibu."

Air mata itu kemudian benar-benar jatuh. Duka yang menghimpit karena anaknya terluka, ditambah penyesalan karena apa yang telah dilakukannya, membuatnya tak bisa lagi menahan tangis.

“Apa maksudnya rekayasa itu?”

“Aku memberi Anton obat ketika aku suruh dia menemui Wati. Aku hanya ingin Anton benar-benar tidak bisa meninggalkan Wati.”

“Ya Tuhan ….” Dwi mengeluh sedih.

“Maafkan aku.”

“Saya akan mengalah, biarkan mas Anton menikahi Wati,” kata Dwi menahan tangis.

 Ia baru menyadari bahwa dia sangat mencintai Anton, tapi ada kenyataan yang harus dihadapi, yaitu bahwa Anton memang harus menikahi wanita lain.

“Tidak. Tetaplah kamu menjadi istrinya. Kamu lebih pantas untuk Anton. Aku menyesal telah melakukan hal buruk terhadap kamu. Semuanya sudah terjadi, tak usah disesali.”

“Dwi, berjanjilah agar kamu tidak bercerai dengan Anton," lanjut bu Sarah.

Dwi menghela napas.

Seorang perawat masuk untuk mengukur tensi Dwiyanti.

“Maaf ya Bu,” kata perawat itu yang kemudian memasang tensimeter di lengan Dwi. 

Bu Sarah mundur, sambil mengusap air matanya.

***

“Apa kamu sudah tahu kalau suami Dwi dirawat karena kecelakaan?” kata Nirmala ketika menelpon suaminya.

“Dari kantor hanya ada berita bahwa Dwi dirawat karena terus-terusan muntah.”

“Dari kemarin dia menunggui suaminya yang akan dioperasi. Mungkin kelelahan, kan dia sedang hamil.”

“Bagaimana keadaan suaminya? Mengapa harus dioperasi?”

“Kabarnya perdarahan otak dan harus dioperasi. Tampaknya Dwi terus menerus menungguinya sehingga kelelahan.”

“Kasihan.”

“Apa kamu tidak ingin menjenguknya?”

“Di kantor sedang banyak pekerjaan.”

“Dia kan anak buah kamu, Dri. Dulu kamu sangat perhatian, mengapa sekarang tidak?”

“Kamu sedang mengejek aku?”

Nirmala tertawa.

“Tidak Adri, aku bersungguh-sungguh.”

“Akan aku suruh saja stafnya mengawasinya, dan melihat keadaannya, nanti pasti dia akan melapor juga. Di kantor sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu kan?”

“Iya, aku tahu. Tugasku hampir selesai, mungkin besok aku bisa pulang. Aku akan lewat sana dan melihat keadaannya.”

“Baiklah, itu lebih bagus.”

“Lama-lama kasihan juga. Kata pembantunya, sebenarnya Dwi sangat mencintai suaminya. Ia hanya tergoda sejenak ketika dekat dengan kamu.”

“Ada-ada saja. Ya sudah, aku lanjutkan pekerjaanku ya, nanti aku menelpon kamu.”

***

Dwi sebenarnya mengantuk, tapi ibu mertuanya terus mengajaknya bicara tentang penyesalannya, tentang sikap Wati yang sebenarnya juga tidak mencintai Anton, dan keinginan bu Sarah untuk mencegah Dwi bercerai dengan suaminya. Dwi belum memberikan jawaban. Ada perempuan lain disamping dirinya bukan?

“Dwi, aku tetap berharap kamu tetap menjadi menantuku. Kamu mau kan?”

Dwi diam sebentar.

“Biarkan saya memikirkannya dan memilih jalan hidup saya ya Bu," kata Dwi.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, March 17, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 35

 BIARKAN AKU MEMILIH  35

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menatap bibik yang tampak gelisah.

“Sekarang opname?”

“Dari semalam belum boleh pulang. Ini saya pulang untuk mengambil baju ganti. Kelelahan nyonya majikan saya itu. Kemarin pergi seharian, malam baru sampai di rumah. Tidak lama kemudian muntah-muntah tanpa henti. Tentu saya takut. Eh, maaf, saya belum tahu siapa Nyonya?”

“Saya Nirmala.”

“Aduh, ya ampun. Apakah Nyonya istri tuan Adri?”

“Benar.”

“Apakah Nyonya mau memarahi majikan saya? Dia khilaf, bingung masalah minta cerai, sehingga bohong semaunya. Tapi nyonya saya sangat menyesal. Sungguh, harap jangan memarahi dia,” kata bibik memelas.

“Kemarin dia di rumah saya seharian.”

“Iya Nyonya, dia ketakutan karena ulahnya yang tanpa pikiran panjang. Dia hanya bermaksud agar suaminya menceraikan. Tapi setelah suaminya kecelakaan, rupanya majikan saya itu juga kebingungan.”

“Suami ibu Dwi kecelakaan?”

“Kemarin menunggu istrinya sampai malam, lalu pulang karena paginya harus bekerja, tapi ketika majikan saya pulang, lalu mendapat telpon bahwa suaminya kecelakaan.”

Lalu bibik menceritakan semuanya tentang keadaan Anton dan sikap Dwi yang kebingungan.

Nirmala mengerti, ternyata Dwi ingin menemui dirinya karena penyesalannya.

 "Baiklah, dia tidak sakit, sakit karena kehamilan itu bukan penyakit. Karena waktu saya tidak banyak, saya juga mau ke kantor. Sampaikan rasa keprihatinan saya untuk bu Dwi dan tentu saja suaminya.”

“Baiklah Nyonya, nanti saya sampaikan. Tapi Nyonya tidak marah pada majikan saya itu kan, kasihan, dia menyesal sampai kebingungan, nggak mau makan, nggak bisa tidur. Malam tadi itu dia kelelahan.”

“Tidak, saya tidak akan marah. Permisi Bik.”

Bibik menatap punggung tamunya dengan rasa kagum. Ia terpaku memandangi mobilnya sampai hilang dari balik gerbang.

“Memang sudah selayaknya kalau tuan Adri tidak mau berpaling darinya. Sudah cantik, baik hati pula. Tak ada kemarahan walau suaminya difitnah,” gumamnya sambil mengunci pintu dan bergegas pergi ke rumah sakit lagi.

“Dan salah sekali kalau nyonya Dwi ingin merebut suaminya. Semoga hatinya sudah luluh. Apalagi aku melihat bahwa perhatiannya pada suaminya sangat besar. Ia juga mengkhawatirkannya. Aku yakin nyonya masih cinta. Semoga bisa berbaikan kembali.”

***

Dwi terbaring lemas. Tapi ia ingin melihat keadaan Anton suaminya. Entah mengapa pikirannya tidak tenang. Ia ingin bangkit, tapi selang infus terhubung di tubuhnya. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya menjadi sangat sakit, bagai diremas-remas. Ia merasa berdosa, atau entah apa, yang jelas ia sangat ingin segera melihat keadaan suaminya. Tidak cinta? Mengapa perasaannya seperti ini?

“Mas Anton, bagaimana keadaan kamu?”

Ketika suster datang untuk memeriksa tekanan darahnya, Dwi minta agar infusnya dilepas. Ia ingin turun untuk melihat suaminya.

“Ibu masih sangat lemas, tekanan rendah. Tidak bisa melepas infusnya. Harus minta ijin dokter.”

“Tapi saya ingin melihat keadaan suami saya.”

“Suami ibu, bapak Anton sedang diperiksa secara menyeluruh. Tapi saya tidak tahu persisnya, nanti saya carikan informasinya. Kalau tidak salah akan dioperasi kalau penyumbatan darah tidak bisa diatasi.”

“Saya bisa melihat keadaannya?”

“Ibu sabar ya, ibu masih lemas.”

Perawat itu keluar setelah memeriksa tensi Dwi yang dikatakannya sangat rendah.

***

Pagi hari itu tanpa sepengetahuan Anton, bu Sarah ibu Anton membawa Wati ke rumahnya, menunjukkan semua isi dan sudut rumah, dan mengatakan bahwa semua itu nanti akan menjadi miliknya.

“Tapi Bu, bukankah mas Anton masih punya istri?”

“Istrinya minta cerai. Anton masih menemuinya, dan semoga segera mengurus perceraiannya itu.”

“Apa benar mas Anton mencintai saya?”

“Kamu itu bagaimana Wati, di dalam perutmu itu ada benih yang diteteskan Anton, bagaimana bisa dia tidak cinta?”

“Mas Anton melakukannya karena dipaksa ibu bukan?”

“Tidak, dia menginginkan anak, dan kamu bisa memberikannya.”

“Kalau Ibu tidak memberikan obat itu, pasti mas Anton tidak melakukannya.”

“Itu satu-satunya cara untuk menjerat dia. Karena kamu hamil, dia mau tidak mau harus menikahi kamu. Percayalah Wati, kamu akan bahagia. Anton anakku itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Bukankah pernikahan kalian sudah dipersiapkan?”

“Tapi saya tidak yakin mas Anton mencintai saya.”

“Wati, kamu masih ragu juga. Bukankah hampir setiap malam Anton datang mengunjungi kamu?”

“Tidak selalu ke tempat saya Bu, sebelah rumah itu teman sekolahnya. Dia sering main ke situ.”

“Katanya ke rumah kamu?”

“Hanya tiga kali, yang terakhir yang Ibu kasih obat dan harus saya campurkan ke minuman dia. Lalu semuanya terjadi. Kelihatannya dia menyesal.”

“Setidaknya kamu hamil, dan dia harus bertanggung jawab.”

Wati tampak diam. Wati adalah gadis sederhana yang cantik. Ayah ibunya sudah tak ada. Ia menjadi pegawai sebuah toko, di mana ibunya Anton sering belanja di situ. Tertarik pada kecantikan Wati, ibu Anton menginginkannya menjadi menantunya, dengan harapan Wati bisa melahirkan cucu-cucunya, bukan seperti Dwiyanti yang bertahun-tahun tidak juga hamil.

Tapi jalan yang ditempuhnya salah, sehingga keadaan menjadi runyam. Apalagi setelah diketahui bahwa Dwi pun sedang hamil.

Dwi yang sakit hati karena setiap malam ditinggal pergi, lalu tiba-tiba mau menikahi perempuan lain, menjadi sakit hati dan merasa kehilangan rasa cintanya. Ia tidak tahu bahwa setiap malam ketika Anton pergi hanyalah memenuhi permintaan sang ibu agar mengunjungi Wati, padahal Anton lebih sering bertandang ke rumah temannya yang adalah tetangga Wati.

“Sudahlah Wati, kamu tidak usah menyesali semuanya. Kamu harus yakin kalau Anton laki-laki yang baik. Kamu akan berbahagia. Setelah ini kamu tidak usah bekerja di toko lagi. Anton akan memenuhi semua kebutuhan kamu," bu Sarah masih tetap membujuk.

Wati terdiam. Calon mertuanya terlalu nekat, dan sangat memaksa agar dia menjadi menantunya.

Wati melihat ke dinding, tampak foto berbingkai yang besar. Foto Anton dan istrinya. Tampak mesra dan sangat serasi. Wati sangat mengagumi istri Anton yang cantik. Ia heran mengapa ibunya lebih menyukai dirinya. Masa hanya karena tidak bisa hamil?

“Apa kamu ingin agar aku menurunkan foto itu?”

Wati terkejut.

“Jangan, jangan Bu, mengapa harus diturunkan. Pasangan yang sangat serasi, biar saja di situ.”

“Besok akan berganti menjadi foto kamu bersama Anton.”

Wati mengangkat bahu. Tiba-tiba ia sangat menyesalkan apa yang sudah terjadi.

“Biar saja begitu,” kata Wati sambil berjalan ke arah depan, lalu duduk di teras.

“Anton kok ya tidak pulang semalam, apa dia langsung ke kantornya ya.”

“Kan bertemu istrinya Bu. Tidak aneh kalau berlama-lama.”

“Apa? Mereka sedang membicarakan perceraian. Kemarin aku ikut menunggu, tapi lalu aku pulang lebih dulu. Barangkali Dwi pulang malam, dan Anton harus menginap karena terlanjur menunggu. Dan mungkin sekarang sudah langsung pergi ke kantor. Dia karyawan yang rajin.”

Tiba-tiba ponsel bu Sarah berdering.

“Dari siapa nih, nggak ada namanya.”

“Diangkat saja Bu, barangkali penting.”

“Ya, haloo, benar, saya ibunya. Ini siapa? Apa? Rumah sakit? Ada apa? Anton itu anak saya, benar … apa? Semalam kecelakaan? Mengapa baru mengabari sekarang. Atas permintaan pak Anton. Rumah sakit mana? Bagaimana keadaannya?”

Wati melihat tangan calon ibu mertuanya gemetar. Tampaknya ia panik. Begitu ponsel diletakkan, tangan Wati langsung ditariknya.

“Wati, kita harus ke sana. Anton kecelakaan.”

“Tidak Bu, saya tidak mau.”

“Apa maksudmu? Calon suami kamu sedang cedera berat, dan kamu tidak mau melihatnya? Masih dekat dari rumah istrinya, kita harus segera berangkat. Tempatnya jauh.”

“Saya tidak berani Bu.”

“Tidak berani kenapa? Istrinya tidak akan bisa apa-apa. Dia sudah tahu kalau kamu mengandung anak Anton.”

“Saya tidak mau pergi. Ibu saja yang pergi.”

Wati berpikir tentang pertemuannya nanti dengan istri sah Anton, yang pasti menungguinya di sana. Ia merasa bersalah.

“Jadi kamu tidak peduli walau calon suamimu mengalami cedera parah dan akan segera dioperasi?”

“Maaf Bu, saya akan mendoakan saja dari sini. Sekarang saya mau pulang saja.”

Lama-lama Wati membuat kesal. Dan sang calon mertua menatapnya dengan wajah muram.

***

Sudah agak sore ketika bu Sarah sampai di rumah sakit. Ia segera mencari di mana anaknya dirawat. Ternyata Anton masih ada di ruang ICU setelah dioperasi, dan Dwiyanti menungguinya sambil duduk di kursi roda dan selang infus masih terpasang di lengannya.

Ibu Sarah tertegun.

***

Besok lagi ya.

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 27

  SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  27 (Tien Kumalasari)   Gadis itu memang Istiana, menatap heran pada sikap Lukman yang tampak gugup. “Kamu Lu...