Thursday, June 18, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 27

 NAMAKU TETAP SENJA  27

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap Senja, memberi isyarat agar segera pulang.

“Tante, kami permisi dulu, Senja pasti ditunggu orang tuanya.”

“Ya sudah, kasihan Senja, kelihatannya capek sekali.”

Arka dan Senja berpamit pada Bu Daryono, tapi tidak kepada Rosa, yang membuat kemudian Rosa jadi uring-uringan.

“Lihat Ma, Arka itu menolak Rosa, tapi dia sangat dekat dengan penjual beras yang bau dan kampungan itu.”

“Rosa, kan ibu bilang kamu jangan bicara kasar. Kalau kamu bicara kasar, malah kamu yang kelihatan kampungan,” tegur bu Daryono.

"Mama tidak membela Rosa yang tersakiti, malah membela mereka, malah menjelekkan anak sendiri,” gerutu Rosa.

“Mama hanya menunjukkan bahwa kamu yang salah menilai orang. Mama tidak pernah mengajarkan itu semua. Merendahkan orang lain itu sama saja dengan merendahkan diri kamu sendiri.”

“Bukankah kenyataannya memang begitu?gadis itu dari kalangan rendahan, apa tidak sakit hati Rosa karena Arka lebih memperhatikan dia? Mama tidak kasihan pada Rosa yang tersakiti ini, Mama malah menambah sakit di hati Rosa.”

“Kamu merasa tersakiti karena salah kamu sendiri.”

“Mengapa salah Rosa? Arka sudah dijodohkan dengan Rosa, tapi bagaimana sikap dia Ma?”

“Papamu tidak menjodohkan lho, itu kata papa kamu.”

“Om Wiguna sudah senang sekali punya menantu Rosa. Dia mengakui bahwa kami sudah dijodohkan.”

“Om Wiguna yang ingin, tapi papamu tidak, selama kalian tidak saling menyukai. Kamu suka, tapi tampaknya Arka tidak. Untuk apa dilanjutkan? Kamu itu cantik dan pintar, tidak susah mendapatkan jodoh. Mengapa mengejar sesuatu yang yakin tidak bisa terkejar? Kamu malah kelihatan bodoh.”

“Mama, apakah Mama membenci Rosa?”

“Sama sekali tidak. Mama hanya tidak suka pada pembawaan kamu yang kelihatan tidak pantas. Kamu sebagai gadis harus bisa membuat bahwa kamu berharga.”

Rosa merasa kesal karena tidak didukung oleh mamanya, dan justru menyalahkannya. Karenanya dia kemudian meninggalkan mamanya tanpa berkata apapun juga.

Bu Daryono menghela napas panjang.

“Mengapa jadi begini? Apa karena kami terlalu memanjakannya? Kami menyayangi dia karena tidak dikaruniai seorang anakpun, tapi kelakuannya sangat mengecewakan. Karena pergaulannya di luar negri? Karena merasa jadi anak orang kaya yang segala keinginannya bisa terpenuhi?"

“Ya Allah, tunjukkan jalan yang benar bagi dia, agar tak sia-sia kami membesarkannya,” keluh bu Daryono dalam hati.

***

"Saya heran. Bagaimana Mas selalu muncul disaat saya sedang mengalami kesulitan?” kata Senja dalam perjalanan pulang.

“Kamu salah, aku muncul ketika kamu duduk manis disamping sopir colt itu, dan hanya ingin tahu sebenarnya kamu kemana. Jadi aku tidak muncul tiba-tiba.”

“Nyatanya Mas muncul saat saya dipaksa masuk untuk menunggu sampai beras aku dibayar. Padahal aku tidak tahu itu rumah siapa.”

“Kata Rosa tadi, itu rumah temannya yang memesan beras.”

“Rumahnya sepi, ada rasa ngeri ketika melihatnya.”

“Ya sudah, lain kali kalau ada yang pesan, seperti kataku tadi, jangan mau uangnya dibayar belakangan.”

“Baiklah. Tapi terkadang sungkan.”

“Kok masih ada tapinya. Baiklah … ya baiklah … dijalani dengan baik, tanpa tapi. Mengerti?”

“Mengerti, Pak Guru.”

“Kamu sudah makan?”

“Sudah, jangan mengajak saya makan lagi, sudah lama saya perginya, nanti simbok khawatir.”

“Sebenarnya tadi aku mau ketemu kamu dan Rimba, dan juga Simbok.”

“Ada apa?”

“Besok kan hari Minggu, akan aku ajak kalian jalan-jalan.”

“Aduh, jalan-jalan ke mana? Saya harus belajar, ujian sudah dekat.”

“Hanya muter-muter, sama Rimba, sama Simbok juga. Biar ganti pandangan, tidak menakar beras saja, tapi juga menakar mata dan hati.”

“Simbok mau tidak ya?”

“Nanti aku yang bilang. Besok aku datang sekitar jam delapan, kalian sudah siap ya?”

“Naik mobil?”

“Ya iya, naik mobil. Apa mau naik pesawat?” goda Arka.

“Tadi Mas bilang jalan-jalan.”

“Jalan-jalan bukan berarti jalan dari rumah, nanti lah … kamu pasti senang. Jalan-jalan melihat pemandangan indah, keramaian kota … “

“Kelihatannya menarik.”

Arka senang melihat wajah Senja berseri-seri. Ia yakin Senja belum pernah keluar dari rumah selain sekolah dan mengirim beras. Trenyuh juga hati Arka melihat rona gembira sebelum benar-benar berangkat.

***

Pak Wiguna sedang menerima telpon dari Rosa, wajahnya merah padam menahan amarah. Rosa bercerita tentang Arka yang menjemput dan mengantarkan beras kemana-mana.

“Apa benar Arka melakukannya?”

“Om bagaimana, mereka datang dan menagih uang beras yang saya pesan. Mengapa Arka harus mengantarkannya? Saya hampir tidak percaya kalau Arka tertarik pada gadis itu. Sama sekali tidak sepadan. Tapi Arka memperlakukannya dengan sangat baik. Hati siapa yang tidak panas melihat semua itu Om?” suara itu diselingi isak.

“Kamu jangan cemburu dulu. Tidak mungkin Arka suka pada penjual beras itu. Sejak awal dia mengatakan hanya kasihan dan ingin membantu. Jadi mungkin dia memang hanya membantu. Lagi pula penjual beras itu masih bocah kan?”

“Benar, kelihatannya masih sekolah SMA. Tapi mengapa Arka menyukainya? Om harus menegurnya. Saya tidak bisa apa-apa karena sikap Arka kepada saya selalu dingin, dan cenderung sangat membenci saya.”

“Bocah itu memang keterlaluan. Sudah berkali-kali om memperingatkannya, tapi tidak digubris. Hanya saja masalah dia suka kepada gadis penjual beras itu, masih diragukan. Yang benar pasti hanya ingin menolong. Arka suka melakukan itu, di kantor juga banyak yang memuji dia karena dia murah hati dan suka menolong.”

“Tapi sikapnya kebangetan. Saya sakit Om.”

“Tenanglah Rosa, kamu harus bersabar. Pelan tapi pasti, Arka akan bisa ditundukkan.”

Pak Wiguna mengucapkannya untuk menenangkan hati Rosa, padahal ia tahu bahwa Arka sangat keras hati. Apalagi dia tahu bahwa pak Daryono juga tidak mendukung seandainya Arka memang tidak suka. Hanya saja masalah hubungannya dengan penjual beras itu sangat membuatnya khawatir. Apa benar Arka menyukainya?

“Om, kita harus menyingkirkan penjual beras itu.”

“Apa maksudmu menyingkirkan?”

“Saya kira penghalang bagi hubungan Rosa dan Arka hanyalah dia. Kalau Arka sudah jauh dari dia, pasti dia akan memperhatikan Rosa.”

“Menyingkirkan itu bagaimana? Menjauhkannya dari Arka?”

“Iya Om, entah bagaimana caranya, saya baru memikirkannya. Om harus mendukung saya.”

Pak Wiguna menutup ponselnya ketika melihat mobil Arka memasuki halaman.

Ketika Arka memberi salam, pak Wiguna menghentikannya.

“Kamu dari mana? Pulang dari kantor sejak tadi kan?”

“Mengantarkan Senja menagih uang beras.”

“Senja itu gadis penjual beras?”

“Iya.”

“Apa urusannya kamu mengantarkan dia? Adik bukan, saudara bukan.”

“Teman, bisa jadi saudara kan Pak?”

“Bapak mau tanya, apa kamu suka kepada gadis itu?”

“Dia gadis lugu dan pantas dibantu karena hidupnya kekurangan.”

“Itu tugas kamu untuk membantu dia?”

“Hanya membantu, siapapun bisa dan boleh, apa saya salah?”

“Kamu membantu orang itu tidak salah. Yang salah adalah karena gadis itu maka kamu mengesampingkan Rosa, yang jelas-jelas anak orang hebat, terhormat, kaya raya. Apa lagi kurangnya? Dia juga cantik dan pintar.”

“Bukan karena Senja maka saya tidak suka Rosa. Tanpa adanya Senja, Arka sudah tidak suka.”

“Mengapa tidak suka?”

“Saya tidak tahu. Suka dan tidak itu adalah rasa. Perasaan saya mengatakan bahwa Rosa bukan istri yang pas untuk Arka.”

“Omong kosong kamu. Semua orang selalu ingin yang baik, yang hebat, yang tidak tercela. Tapi kamu ….”

“Saya mohon maaf. Kalau masalah jodoh, saya tidak sependapat dengan Bapak.”

“Dasar bodoh!”

“Maaf Pak,” kata Arka kemudian berlalu.

***

Pagi harinya, Arka tidak bersepeda pagi seperti minggu-minggu sebelumnya. Ia bahkan ikut sarapan kedua orang tuanya. Hal itu membuat pak Wiguna senang. Ia menelpon Rosa diam-diam agar segera datang karena Arka ada di rumah.

Tak sampai sejam Rosa sudah sampai di rumah keluarga Wiguna. Pak Wiguna menyambutnya dengan riang. Tapi bersamaan dengan itu, Arka keluar dengan pakaian santai, bersiap untuk pergi.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, June 17, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 26

 NAMAKU TETAP SENJA  26

(Tien Kumalasari}

 

Senja tak menanyakan apapun, karena merasa bahwa sopir itu pasti sudah dipesan baik-baik oleh Rosa, untuk mengirimkan beras itu ke alamat yang sudah dipastikan.

Tapi Senja merasa aneh ketika mobil itu melalui jalan yang bukan semestinya.

“Pak, kenapa lewat sini? Harusnya perempatan tadi kita belok kanan, bukan terus. Bapak sudah tahu alamatnya non Rosa bukan?”

“Ya, tentu saya tahu Mbak, tapi non Rosa menyuruh meletakkan beras ini di sebuah alamat yang lain, bukan alamat rumah non Rosa.”

“Lhoh, aku kan harus minta uangnya pada non Rosa? Apa non Rosa menunggu di alamat ini?”

“Pastinya begitu Mbak, saya kan tidak bohong. Ini memang atas perintah non Rosa,” kata sopir itu enteng.

“Saya tidak tahu, soalnya sepengetahuan saya, non Rosa meminta agar beras ini dikirim ke rumah non Rosa. Saya sudah tahu alamatnya, tidak melewati jalan ini.”

“Iya, perintahnya tadi ke alamat yang ini. Mbak diam saja deh, yang penting sampai di tujuan.”

“Maaf Pak, tapi saya memikirkan pembayaran beras yang dikirim ini.”

“Kalau non Rosa sudah memerintahkan begitu, pastinya sudah diperhitungkan tentang pembayarannya.”

“Masih jauhkah? Soalnya kalau jauh saya nanti kejauhan pulangnya. Tahu begini tadi saya tidak usah ikut, besok saja saya menagih uangnya di rumah.”

“Mengapa Mbak meragukan non Rosa? Dia orang kaya, masa mau menipu Mbak.”

“Bukan masalah menipu uang. Saya memikirkan kesulitan saya pulang.”

“Nanti saya antarkan pulang, Mbak jangan khawatir.”

“Saya tidak mau. Kemarin saya sudah bilang kalau setelah menerima uangnya saya akan pulang sendiri.”

“Ya sudah, mbak. Tenang ya, sudah dekat kok. Setelah tikungan itu, belok kiri, lalu sampai.”

“Apa non Rosa ada di sana?”

“Pastinya iya, saya tidak tahu pasti.”

Tiba-tiba Senja merasa gelisah. Daerah ini tidak dilewati angkutan kota. Harus berjalan agak jauh. Ia kesal pada Rosa, susah amat pelayanannya.

“Nah, kita hampir sampai,” kata sopir colt itu sambil tersenyum, dan tiba-tiba juga Senja tidak suka melihat senyum itu.

Sopir itu menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah kecil. Rumah itu pintunya tertutup rapat, tampak sepi.

“Kita sudah sampai.”

“Apa non Rosa ada di dalam?”

“Pastinya iya, saya hanya disuruh mengirim kemari,” kata sopir itu sambil turun dari mobilnya.

Senja ikut turun. Ia melihat rumah sepi itu, dan merasa tidak yakin kalau Rosa ada di rumah itu.

Senja bermaksud pergi saja dari sana dan pulang. Masalah pembayaran bisa ditagih besok. Ia tak mau kelamaan di tempat itu, yang disekelilingnya tampak sepi.

“Eh, Mbak, mau ke mana?”

“Saya pulang saja Pak, masalah uang besok saya tagih ke rumah non Rosa saja.”

“Jangan Mbak, siapa tahu non Rosa ada di situ, ayo masuk dulu, sementara saya mengangkut beras ini ke dalam,” kata sopir itu sambil membuka jok belakang, untuk mengambil berasnya.

“Nggak Pak, saya pulang saja.”

“Nanti saya antar.”

“Tidak usah, biar saya pulang sendiri.”

“Ada apa?” suara itu mengejutkan sopir dan juga Senja sendiri, yang kemudian berteriak senang.

“Mas Arka, saya ikut mobil mas Arka ya, saya mau pulang,” katanya sambil mendekati Arka. Sopir itu tampak kebingungan.

“Ada apa sebenarnya? Kamu mengirim beras kemari? Kamu menyewa mobil terbuka ini untuk mengirim pesanan?”

“Bukan Mas, ini beras pesanan non Rosa. Tadinya saya kira harus saya kirim ke rumah non Rosa. Ternyata kemari.”

“Sudah dibayar?”

“Belum. Itu sebabnya saya ikut mengirim, karena non Rosa bilang berasnya akan dibayar setelah dikirim.”

“Rosa ada di situ?” tanyanya kepada sopir colt yang siap menaruh karung beras dipunggungnya.

“Saya tidak tahu Pak. Saya hanya disuruh mengirim kemari.”

“Ini colt bapak?”

“Saya cuma sopir.”

“Pesanan siapa?”

“Pesanan non Rosa. Tapi saya tidak tahu non Rosa ada di mana. Tugas saya membawa beras dan penjualnya ke alamat ini. Siapa tahu non Rosa ada di dalam.”

“Ya sudah, mbak penjual beras ini akan meninggalkan berasnya di sini, dan dia akan pulang. Ya kan Nja?” katanya kemudian sambil menatap Senja.

“Ya, akan saya tinggal saja, besok saya tagih ke rumahnya, tidak apa-apa."

“Baiklah, ayo aku antar pulang. Maaf ya Pak, berasnya akan ditinggal saja di sini, besok uangnya tinggal ditagih di rumah,” katanya sambil memberi isyarat kepada Senja agar mengikutinya ke mobil.

Mobil itu berlalu, sopir itu menatapnya dengan bingung.

***

“Lain kali kalau ada yang pesan, uangnya diminta dulu, bukan seperti ini caranya.”

“Soalnya kan aku sudah kenal non Rosa, sudah pernah memesan juga walau baru sedikit waktu itu.”

“Ini tadi pesan berapa?”

“Satu kwintal.”

“Uangnya banyak, sejuta lebih kan?”

“Iya sih.”

“Jangan mau mengirim kalau uangnya belum dibayarkan.”

Senja diam. Menurutnya, sungkan berkata begitu, kepada orang yang sudah dikenalnya. Lagipula dia kan sudah tahu rumahnya, dan jelas dia orang berada. Senja ingat ketika ibu Rosa membayar berasnya lebih dan tak mau menerima kembaliannya. Bukankah mereka orang baik?

“Bagaimanapun cara pengiriman seperti ini membuat kamu susah. Tidak terpikirkan bagaimana kamu pulang, sementara kamu tidak membawa sepeda?”

Senja masih diam, yang terbayang olehnya hanyalah rasa sungkan.

“Kita ke rumah Rosa saja."

“Non Rosa mungkin ada di sana tadi.”

“Kalau begitu mengapa kamu tergesa pulang tidak menunggu ketemu dengan dia?”

“Nggak tahu kenapa, perasaanku tidak enak. Mungkin karena memikirkan pulangnya aku setelahnya.”

“Ya sudah kita ke rumahnya saja, siapa tahu ibunya mau membayar pesanan berasnya,” kata Arka yang kemudian membelokkan mobilnya ke arah rumah Rosa.

***

Bu Daryono heran melihat Rosa menelpon seseorang dan kelihatan kalau dia marah. Ia mendekat dan Rosa segera menutup telponnya setelah mengatakan bahwa besok tidak boleh gagal lagi.

“Ada apa?” tanya bu Daryono tiba-tiba, membuat Rosa agak terkejut.

“Oh, Mama … tidak apa-apa Ma.”

”Kamu kelihatan memarahi seseorang. Ada yang gagal segala. Urusan apa itu?”

“Itu Ma, Rosa menyuruh orang mengambil beras pesanan untuk teman, dia tidak tahu alamatnya, jadi Rosa marahi dia.”

“Kamu pesan beras lagi?”

“Untuk … itu Ma, teman Rosa.”

“Pesan ke gadis itu? Siapa namanya? Ah ya, Senja?”

“Iya. Rosa kasihan, dia itu miskin, dan sedang membuka usaha jualan beras, sudah sepantasnya Rosa membantu kan, jadi teman Rosa yang punya kantin, Rosa suruh pesan berasnya pada dia juga.”

“O, begitu.”

Tiba-tiba bu Daryono melihat sebuah mobil berhenti di halaman.

“Bukankah itu mobil Arka?”

Rosa berdebar. Tadi dia sudah mendapat laporan dari pengemudi colt yang disewanya untuk mengirim beras, katanya ada yang menjemput Senja, laki-laki muda ganteng, membawa mobil. Bayangannya memang Arka. Dan kedatangannya membuat Rosa harus menjawab atau mengemukakan alasan tentang pengiriman beras itu.

“Arka, sudah pulang kantor?” sapa bu Daryono ramah.

“Iya, Tante. Saya sedang mengantarkan Senja untuk_”

“Oh ya, aku sudah tahu, aku akan membayar berasnya sekarang,” kata Rosa sambil membalikkan badannya masuk ke rumah.

“Senja, kemari, jangan berdiri di situ,” sapa bu Daryono ketika melihat Senja hanya berdiri di samping mobil, tampak sungkan.

“Rosa memesan beras lagi?”

“Iya, Nyonya.”

“Kok nyonya lagi, kan aku sudah meminta agar kamu panggil aku bu saja."

”Iya," Senja tersenyum, dan senang atas keramahan ibunya Rosa terhadap dirinya.

“Arka ajak Senja masuk. Atau duduk di teras saja kalau tidak mau masuk.”

“Saya mengantarkan Senja hanya untuk meminta uang beras pesanannya.”

“Iya, katanya itu untuk temannya, tampaknya ia sedang mengambilkan uangnya.”

“Ini, uangnya, Senja. Sebenarnya tadi teman aku yang akan membayarnya, tapi kamu pulang buru-buru, jadi tak apa aku yang membayarnya dulu.”

“Terima kasih, Non.”

“Aku itu kan kasihan kalau melihat orang miskin, jadi aku suruh temanku kalau butuh beras beli ke kamu saja.”

Arka sangat kesal, berkali-kali Rosa menyebutnya miskin.

“Rosa, cara kamu berbicara kasar sekali,” tegur sang ibu.

“Tidak apa-apa Bu, memang kami keluarga miskin,” kata Senja enteng, tak tampak tersinggung.

Tiba-tiba ponsel Rosa berdering, Rosa mengangkatnya dengan wajah muram.

“Telpon nanti saja," lalu Rosa menutup ponselnya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 16, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 25

 NAMAKU TETAP SENJA  25

(Tien Kumalasari)

 

Senja tersenyum ramah. Tentu terasa sungkan ketika mengirim beras sambil meminta uangnya, dengan kendaraan atau angkutan yang disediakan dari pembeli, lalu pulangnya diantar?

“Mengapa kamu senyum-senyum begitu?”

“Mengapa saya mengantarkan beras, mengambil uangnya lalu Non harus mengantar saya pulang?”

“Tidak, saya akan pulang sendiri," kata Senja lagi

“Rumahku jauh dari sini, Senja.”

“Tidak apa-apa. Simbok saya yang tidak lagi muda sudah biasa berjalan jauh, mengapa saya keberatan? Tidak apa-apa Non, besok saya kesana bersama beras pesanan Non, pulangnya nanti gampang.”

“Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu. Jam berapa berasnya bisa saya ambil?”

“Agak sore ya Non, atau paling cepat ya jam dua atau tiga, biasanya jam segitu kalau simbok memesan dagangannya.”

“Baiklah.”

Rosa membalikkan tubuhnya menuju mobil, tanpa pamitan. Tapi bagi Senja itu bukan masalah. Orang kaya tak perlu menghormati orang miskin bukan?

Senja masuk ke dalam, dilihatnya Rimba sedang menyapu rumah.

“Sudah pulang dia?”

“Sudah. Simbok pasti senang, dia memesan beras lagi. Kali ini banyak, tidak cuma sepuluh kilo, tapi satu kwintal. Alhamdulillah, rejeki buat kita.”

“Aku tidak suka perempuan kaya itu.”

“Hei, kenapa? Kenal juga tidak, mengapa tidak suka?”

“Aku memang nggak ingin kenal. Dia itu sombong, mentang-mentang kaya. Duduk di bangku kita saja tidak mau.”

“Ya tidak apa-apa, Mba. Terserah dia saja. Kita harus mengakui kalau memang tidak punya tempat duduk yang  bagus dan bersih.”

“Mas Arka saja mau duduk di situ. Bahkan duduk di tikar bersama kita waktu kita makan bersama, dia tidak keberatan.”

“Orang itu kan tidak sama Mba, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sama. Sedangkan bunga-bunga saja, sama-sama cantik tapi aromanya berbeda. Ada yang wangi, ada yang tidak berbau, ada juga yang baunya tidak enak. Demikian juga manusia. Kita harus memakluminya. Tidak apa-apa orang merendahkan kemiskinan kita, asalkan jangan menginjak harga diri kita.”

“Hm, mbak Senja kalau sudah bicara begitu selalu mengingatkan aku pada guru agama di sekolahku.”

“Mbak juga belajar dari guru Mba. Tidak tiba-tiba bisa ngomong. Dan itu benar kan?”

“Iya, aku mengerti.”

“Sedang apa kalian?”

“Yaaaa, Simbok datang,” sorak Rimba.

“Sore sekali pulangnya Mbok.”

“Tadi mampir belanja untuk masak besok pagi.”

“Tadi ada yang pesan beras Mbok.”

“Oh ya? Syukurlah. Siapa?”

“Itu, nona cantik kaya yang dulu pesan sepuluh kilo beras. Tadi dia pesan satu kwintal.”

“Wah, alhamdulillah dapat rejeki. Sudah dibayar?”

“Itulah Mbok, belum dibayar, besok aku disuruh mengirim sambil mengambil uangnya.”

“O, begitu?”

“Apa Simbok punya uang cukup untuk membeli sekwintal?”

“Kelihatannya ada, cukup kok. Gampang. Besok simbok pesan, sorenya pasti sudah dikirim. Lalu dengan apa ya kita mengirim sekwintal? Sedikit-sedikit seperti yang pernah kita lakukan?”

“Dia mau menyuruh orang untuk mengambilnya.”

“Oh, syukurlah. Jadi kita tidak repot mengirimkan. Ya sudah, simbok mau mandi dulu, gerah.”

“Senja buatkan kopi Mbok?”

“Tidak usah, air putih hangat saja. Pagi sore kopi, boros.”

“Ya sudah, air putih kan lebih sehat.”

***

Seharian itu pak Wiguna tidak ke kantor. Dia hanya termenung di rumah, seperti ada yang sedang dipikirkannya. Pertemuannya dengan pak Daryono tidak membuatnya puas. Pak Daryono ternyata tidak kecewa seandainya Arka tidak menjadi menantunya, sementara dirinya sangat menggebu-gebu, dan berusaha terus menjalin hubungan yang lebih dari sebuah persahabatan. Tak seorangpyn tahu, sebenarnya pak Wiguna menginginkan yang lain. Tidak hanya berbesan, tapi buntut dari perbesanan itu yang diimpikannya. Pak Daryono memiliki perusahaan yang lebih besar, dan Rosa adalah putri tunggalnya. Bukankah akan ada keuntungan berlipat kalau Rosa menjadi menantunya? Perusahaannya bisa lebih diperbesar, kekayaannya akan lebih berlimpah. Tapi ketika ternyata pak Daryono tidak memaksa atas keinginannya berbesan dengannya, apa yang bisa dia lakukan?

Yang terjadi malah rasa marah dan kecewa kepada Arka.

“Dasar anak bodoh. Tidak tahu diuntung. Tidak mengerti orang tua,” omelnya ketika duduk sendirian.

Tapi ternyata bu Wiguna sedang mendekatinya, kemudian duduk di depannya sambil meletakkan secangkir kopi.

“Ada apa? Seharian uring-uringan terus,” tanya bu Wiguna yang tidak bertanya apapun sejak suaminya pulang dari rumah pak Daryono.

“Kalau keinginan tidak kesampaian, siapa orangnya yang tidak kesal?”

“Keinginan apa sih Pak?”

“Ibu tidak bertanya, apa kata pak Daryono ketika aku datang ke sana semalam.”

“Menurut aku, Bapak hanya mengantarkan Rosa. Apa yang perlu ditanyakan?”

“Mengantarkan apa? Rosa terlanjur marah pada Arka, dia pulang naik taksi.”

”Tapi Bapak tetap menemui pak Daryono kan?”

“Tentu aku harus menemuinya, dan meminta maaf karena kelakuan Arka.”

“Apa pak Daryono marah karena anaknya disakiti hatinya?”

“Aku mengira akan marah, ternyata tidak.”

“Oh, syukurlah kalau begitu. Tidak ada masalah kan, tapi kenapa Bapak malah uring-uringan?”

”Pak Daryono tidak begitu mengharapkan Arka.”

“Maksudnya?”

“Kalau Arka tidak mau, ya sudah. Dia tidak ingin memaksa.”

“Bagus sekali kan, berarti tidak ada masalah, mengapa Bapak tadi masih memarah-marahi Arka? Malah barusan masih mengomeli Arka juga.”

“Aku itu mikirnya jauh ke depan Bu. Pak Daryono itu pengusaha besar, kekayaannya jangan ditanya. Kalau kita bisa berbesan dengan dia, bukankah itu suatu keuntungan bagi kita? Usaha kita bisa diperluas, kita akan lebih banyak mendapat keuntungan. Tapi Arka tidak berpikir sampai ke situ.”

“Jadi Bapak begitu bersemangat menjodohkan mereka, karena Bapak menginginkan hartanya?”

“Kamu jangan berpikir terlalu sederhana bu. Aku ini pengusaha, mengembangkan usaha lebih luas lebih besar itu selalu menjadi keinginan setiap pengusaha.”

“Memang benar, tapi bisa menjadi besar dengan berusaha seharusnya, bukan dengan menjual anak.”

“Mengapa Ibu berkata begitu?” suara pak Wiguna agak meninggi, dan itu menyurutkan keinginan bu Wiguna untuk terus bicara.

“Aku berbicara sebagai manusia, bukan sebagai pengusaha,” kata bu Wiguna sambil berdiri.

“Minumlah kopinya, keburu dingin,” katanya lagi sambil beranjak ke belakang.

“Bu, mengapa Ibu tidak menemani di sini?”

“Kepalaku agak pusing,” katanya tanpa menghentikan langkahnya.

Pak Wiguna menjadi semakin kesal, karena dia sendirian. Sang istri tidak berpihak padanya, dan jelas-jelas menghindari perbincangan tentang perjodohan itu.

“Keterlaluan.”

Tiba-tiba pak Wiguna teringat perkataan Rosa tentang perhatian Arka yang besar kepada gadis pengirim beras.

“Apakah Arka jatuh cinta kepada gadis kumuh itu? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak sudi punya menantu buluk miskin seperti dia. Memalukan. Aku harus menghalangi keinginan bodoh itu.”

***

Besok adalah hari Minggu. Arka ingin mengajak Rimba, terutama Senja, berjalan-jalan. Arka yakin, keluarga sederhana itu tak pernah memikirkan untuk bersantai, bersenang-senang, melihat hal-hal baru yang belum pernah mereka lihat. Karena itu sepulang kantor dia langsung menuju ke rumah mbok Mangun untuk mengencani anak-anaknya. Kalau perlu mbok Mangun juga akan diajaknya serta. Mengapa tidak? Membuat orang lain senang, bukankah akan membuat hati kita senang juga?

Ketika ia hampir sampai di rumahnya, ia melihat seseorang, duduk di jok depan di samping sopir sebuah colt angkutan barang. Seseorang itu adalah Senja. Arka heran, mau pergi ke mana Senja, dan siapa yang mengajaknya?

Arka memutar mobilnya dan mengikuti colt terbuka itu, lalu melihat sebuah karung yang diyakininya berisi beras.

“Ternyata Senja mau mengirim beras? Mengirim ke mana dia?” gumam Arka yang kemudian mengikutinya.

***

Besok lagi ya.

 

Monday, June 15, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 24

 NAMAKU TETAP SENJA  24

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap mobil sang ayah yang menderu keluar dari halaman, lalu ia menatap ibundanya yang duduk terpekur di ruang tengah. Kelihatan sekali kalau ia gelisah. Perlahan Arka mendekat, dan duduk rapat di sampingnya.

“Ibu, apakah tidak boleh Arka menentukan jalan hidup Arka sendiri?”

Bu Wiguna menatap anaknya lembut. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.

“Bu, bukankah sebuah pernikahan diharapkan bisa berlangsung sepanjang umur kita? Kalau begitu bukankah lebih baik kita memilih sesuatu yang tidak akan mengecewakan di kemudian hari bukan?”

Bu Wiguna meremas tangan Arka yang terletak di pangkuannya. Ia tampak lebih tua dari usianya yang baru menginjak limapuluhan tahun, karena penyakit darah tinggi yang dideritanya.

“Apakah menurut Ibu, Rosa adalah gadis yang baik? Biarpun dia pintar dan cantik, tapi apakah dia akan bisa menjadi istri yang sempurna untuk Arka? Banyak kelakuannya yang tercela, yang tentu saja tidak Arka sukai. Kalau Arka mengatakannya kepada bapak, pasti bapak akan marah sekali, karena menurutnya Rosa adalah pilihan yang tidak bisa diganggu gugat.”

“Kamu wajib memilih apa yang menjadi keinginan kamu dalam hidup ini. Tapi ibu tidak bisa membantumu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana ayahmu, sedangkan kalau ibu mendengar ayahmu berteriak saja seringkali ibu menjadi sesak napas.”

“Ibu tidak usah membela Arka. Ibu cukup merestui Arka agar Arka menemukan kebahagiaan dalam hidup.”

“Itu sudah pasti, Nak. Bahagia seorang anak adalah harapan semua orang tua di dunia ini.”

“Terima kasih, Ibu.”

Arka memeluk sang ibu dengan kasih sayang.

“Ibu harus sehat dan bahagia, karena hal itu juga  kebahagiaan Arka.”

“Menurutmu, apa yang akan dilakukan ayahmu tadi?”

“Menyusul Rosa. Bapak tidak ingin Rosa terluka.”

“Ayahmu akan menemui keluarga pak Daryono dan memohon-mohon maaf karena Rosa telah dibuat menangis oleh kamu.”

"Semoga pak Daryono bisa mengerti," kata Arka.

“Aku kira pak Daryono bisa lebih sabar dari ayahmu. Semoga semuanya baik-baik saja. Ayahmu hanya ingat tentang budi baik pak Daryono semasa perusahaan ayahmu nyaris bangkrut. Lalu ia ingin membuat pak Daryono senang.”

***

Rosa masih berjalan sambil menunggu taksi ketika pak Wiguna bisa mengejarnya. Tapi ia menolak ketika pak Wiguna memintanya masuk ke dalam mobilnya.

“Rosa, jangan begitu. Ayo om antarkan kamu pulang,” kata pak Wiguna setelah turun dari mobil dan mengikuti langkahnya.

“Tidak usah Om, Rosa akan naik taksi saja.”

“Mengapa begitu?”

“Kalau sampai Om mengantarkan saya, papa pasti justru akan memarahi Rosa. Jadi biarkan Rosa pulang sendiri.”

“Mengapa papa kamu justru memarahi kamu? Nanti om yang akan bicara sama papa kamu, percayalah.”

“Jangan Om, biar saya jalan sendiri. Saya juga sudah memanggil taksi,” kata Rosa sambil terus melangkah.

“Om pulang saja, itu taksi saya sudah datang,” katanya sambil melambaikan tangannya ke arah taksi yang memang sudah dipanggilnya.

Pak Wiguna menghela napas panjang. Ia kembali ke mobilnya, tapi tidak kembali pulang. Rasa khawatir kalau pak Daryono kecewa karena Arka membuat Rosa menangis karena terluka hatinya, membuatnya ingin bicara kepada pak Daryono dan memohon maaf. Ia tak tahu bagaimana sebenarnya perasaan pak Daryono tentang hubungan Rosa dan Arka.

***

Dan itu benar. Ketika pak Wiguna dengan panjang lebar meminta maaf, dan menutupi kesalahan Arka dengan mengatakan bahwa bertengkar pada sebuah pasangan itu hal biasa, pak Daryono justru tampak tidak tahu apa-apa, karena Rosa ternyata tidak mengadu.

“Saya harap  pak Daryono memaklumi. Kita pernah muda, kita juga pernah bersitegang dengan pasangan. Itu hal yang lumrah bukan? Tapi saya tetap minta maaf, karena Arka kurang sabar dalam menjaga Rosa.”

Tak disangka pak Daryono justru tertawa mendengar ucapan pak Wiguna.

“Sebenarnya saya tidak mengerti apa yang mas Wiguna katakan. Saya juga tidak tahu bahwa mereka bertengkar, karena begitu datang Rosa sudah masuk ke dalam kamarnya.”

“Rosa tidak mengatakan apa-apa?”

“Tidak, saya heran kenapa mas Wiguna sampai datang dan meminta maaf segala. Saya tidak mengerti apa yang mas Wiguna katakan.”

“Rosa tidak mengatakan apa-apa kepada Bapak?”

“Tidak. Dia datang langsung masuk ke kamarnya.”

“Rosa gadis yang baik. Itu sebabnya saya ingin sekali menjadikannya menantu. Ia tidak suka mengeluh atau mengadu, walau dia disakiti sampai menangis.”

“Mas... apa Mas yakin mereka akan menjadi pasangan yang berbahagia?”

“Tentu saja. Saat ini mereka sedang dalam taraf penyesuaian, tapi dengan berjalannya waktu, mereka akan bisa saling memahami hati masing-masing, dan itu akan menjadi bekal yang matang dalam kehidupannya berumah tangga kelak.”

“Bukan main, kalau itu akan bisa terjadi. Tapi menurut saya, dugaan mas Wiguna itu salah.”

“Mengapa Bapak berkata begitu?”

“Rasa suka akan tampak dari raut wajahnya, dan saya tidak melihat adanya kecocokan diantara mereka.”

Pak Wiguna terkejut.

“Jadi Bapak tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakan ingin punya menantu seperti Arka?”

Pak Daryono tertawa.

“Keinginan itu kan bisa terjadi pada siapa saja. Tapi kan tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan.”

“Kalau memang pak Daryono bersungguh-sungguh, saya akan membuat keinginan Bapak menjadi terlaksana. Saya yakin Arka akan bisa menjadi pasangan yang serasi untuk Rosa."

“Mas, jaman sudah berubah. Dahulu kala, sebuah pasangan bisa menjadi jodoh karena keinginan orang tua. Seorang anak akan patuh dan tak akan membantah apa yang menjadi pilihan orang tuanya. Tapi sekarang tidak bisa begitu. Anak-anak muda tak mau dikendalikan dalam memilih jodoh, dan orang tua tak akan bisa memaksa. Karena itu biarkan saja Arka memilih gadis yang disukainya, jangan dipaksa menuruti kehendak orang tua, karena nanti rumah tangga mereka tidak akan bisa lestari dan bahagia.”

Pak Wiguna tertegun.

“Apakah pak Daryono marah kepada Arka sehingga mengatakan hal yang seperti itu?”

“Apa? Saya marah?” pak Daryono tertawa keras.

“Saya justru menolak perjodohan yang dipaksakan,” sambungnya, yang kemudian membuat hati pak Wiguna membeku. 

Ada keinginan tersembunyi dari perjodohan itu seandainya terjadi. Bukankah Rosa anak tunggal dari keluarga kaya raya? Dan rasa balas budi itu hanyalah salah satu alasannya.

***

Malam itu Rosa bersikap biasa saja. Dia juga tak mengadukan apapun. Ia sudah tahu bahwa orang tuanya tidak meminta agar dia menjadi istri Arka. Mereka sudah tahu kalau Arka tidak menyukainya, dan mereka tak akan memaksa, jadi mereka justru meminta agar Rosa melupakannya. Kedatangan pak Wiguna malam itu sama sekali tak menjadi pembicaraan ketika Rosa makan bersama kedua orang tuanya. Semua dianggapnya angin lalu, karena tak ada keinginan dari mereka untuk menjadikan Arka sebagai menantu.

Tapi ternyata Rosa tak mau berhenti. Arka harus didapatkannya, atau tak ada gadis lain yang bisa merebutnya. Hatinya sakit ketika menyadari bahwa Arka menyukai gadis kampung miskin yang menurutnya bau dan telapak tangannya kasar seperti parutan kelapa.

Sore hari itu diam-diam Rosa pergi ke rumah mbok Mangun. Ia senang yang menemui adalah Senja, yang meladeninya dengan ramah. Rosa akan memesan beras. Kali itu tidak tanggung-tanggung. Satu kwintal beras kwalitas bagus untuk keluarganya. Tentu saja Senja sangat senang.

“Hari ini Simbok belum pulang. Tapi pesanan non Rosa akan saya sampaikan. Barangkali besok agak sore beras itu sudah siap, Non.”

“Bagus sekali Senja, besok aku akan suruhan orang untuk mengambilnya kemari.”

“Baik Non, terima kasih banyak.”

“Tapi maaf Senja, aku tidak membawa uang tunai, bagaimana kalau bayarnya nanti setelah kamu mengirim berasnya?”

“Jadi saya harus datang ke rumah Non, untuk mengambil uangnya?”

“Nanti kalau berasnya datang, kamu ikut bersama orang suruhan aku itu ke rumah. Aku tidak mau menitipkan pembayarannya melalui orang lain. Harus kamu yang menerimanya. Nanti setelah aku membayarnya, aku antarkan kamu pulang.”

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 004

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  004

(Tien Kumalasari)

 

Menur menatap anaknya tak berkedip. Ada rasa sakit yang lebih dari sakit. Dia adalah ibu kandungnya, harus mengaku menjadi pembantu? Dilihatnya Rahman menyendok makanannya, seakan tak pedulu akan rasa sakit yang disebabkan oleh ucapannya.

“Mengapa Ibu menatapku seperti itu?”

“Ibu tidak percaya kamu bisa mengatakannya, Rahman. Kamu anakku. Aku lahirkan kamu dengan taruhan nyawa, aku rawat, aku cukupi semua kebutuhan kamu, aku sekolahkan kamu agar kamu punya masa depan yang lebih baik. Bahkan biar peluhku berujud darah, aku tak peduli, semua demi kamu, buah hatiku, yang aku cintai dengan sepenuh nyawa, lalu kamu minta agar aku mengatakan bahwa aku adalah pembantu kamu?” bisik Menur yang sayangnya tak mampu diucapkannya melalui mulutnya yang terasa kelu.

“Bu, aku harap Ibu mengerti. Penampilan ibu sama sekali buruk, kotor, bahkan mungkin juga bau. Rahman malu bu. Rahman tak mau teman-teman mengejek dan mentertawakan.”

“Kamu malu punya ibu seperti aku?” tanyanya dengan suara bergetar

“Maaf Bu, sesungguhnya iya.” Tanpa beban ketika Rahman menjawabnya. Ia asyik menikmati telur kesukaannya, dan hampir menghabiskan semua makanan yang disediakan untuknya.

Menur mengangguk lemah, kemudian meninggalkan anaknya yang masih makan dengan lahap.

Menur mengusap air matanya yang tak kuasa ditahannya. Meleleh di sepanjang pipinya. Kemudian dia pergi ke halaman belakang untuk mengangkat cucian baju yang pagi tadi baru dijemurnya. Sesungguhnya ia sedang menyembunyikan tangisnya. Baiklah, besok pagi dia akan ke sekolah Rahman sebagai pembantu. Apa saja dia mampu melakukannya. Mengapa tidak? Lalu sekali lagi air mata diusapnya, kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Rahman tak ada lagi di ruang makan yang sempit itu, barangkali sudah masuk ke kamarnya, tidur.

Menur sedang membersihkan piring kotor bekas makan anaknya, ketika seorang tetangganya melongok ke dapur.

“Bu Menur, bisa minta tolong menyetrika baju-baju di rumah?”

“Oh, bisa Bu, saya ke sana sekarang.”

Menur tersenyum, ini adalah rejeki. Sering kali begini, sepulang memulung mendapat pekerjaan dari tetangga di sekelilingnya.

***

Baroto sedang duduk di ruang tengah, ketika istrinya keluar dengan pakaian yang sudah rapi.

“Mas, aku mau ke rumah Nina, dia ulang tahun hari ini. Apa Mas mau ikut?”

“Tidak, aku di rumah saja. Aku capek.”

“Benar, nggak mau ikut?”

“Pergilah, aku di rumah saja.”

Nyonya Baroto melenggang ke arah mobilnya, dan tak lama kemudian mobil itu melaju keluar dari halaman.

Di dapur, Ana sedang meminta makanan yang ditaruhnya di dalam kotak plastik. Ia akan menunggu bibi Menur, yang kemarin tak datang seperti janjinya.

“Untuk apa semua ini Non, dia tidak harus melewati tempat ini kan? Pemulung itu bisa pergi ke mana-mana. Yang penting dia bisa menemukan barang rosokan yang bisa dijualnya,” kata Rumi.

“Dia sudah janjiiii!” Ana berteriak.

Rumi cemberut, walau begitu dia menyiapkan makanan seperti yang diminta Ana.

Lalu Ana membawanya ke depan rumah. Ia tak melihat ayahnya, yang tadi duduk di ruang tengah.

Lalu dia keluar dari gerbang yang terbuka.

“Non, tunggu Non,” Rumi berlari mengejarnya.

Ana terus melangkah. Ia berhenti di depan gerbang, melihat ke sana kemari. Tak tampak bayangan Bibi Menur, tapi ia melihat bayangan ayahnya berjalan ke arah taman.

“Non, pengais sampah itu tidak harus selalu lewat tempat ini,” Rumi mengulang-ulang kata-katanya. Tapi kemudian Ana berpikir untuk mencari ke arah lain. Ia melihat sang ayah, ia akan mengikutinya. Siapa tahu bertemu bibi Menur di tempat lain.

“Non, mau ke mana?” Rumi mengikutinya dengan kesal.

“Pulanglah, aku mau ikut papa,” katanya sambil menunjuk ke arah sang ayah yang berjalan agak jauh.

Rumi tak berani meninggalkan Ana begitu saja, ia tetap mengikutinya, walau dari jarak yang agak jauh.

Langkah Baroto begitu cepat, ia seperti sedang mengejar sesuatu. Ketika berbelok di tikungan, ia melihat seseorang.

“Tunggu!”

Seorang wanita yang sedang menggendong karung plastik meneoleh, tapi kemudian pergi menjauh dengan cepat.

“Tunggu! Kamu Menur kan?

Menur mendengar suara itu, lalu ia mempercepat langkahnya. Ia tahu siapa dia, tapi ia tak ingin bertemu dengannya. Dia dan laki-laki itu adalam bumi dan langit. Ia sangat mengerti bahwa harapan yang pernah ada telah terkubur bersama hari-hari yang menggilasnya. Memporak pandakan segala impian tentang cinta yang ternyata tak pernah berbalas.

Terbayang kembali ketika ia memapah seorang penunggang kuda yang terjatuh di tepi jalan, membawanya pulang, lalu merawat kakinya yang patah dengan segala ramuan yang dibuat oleh orang tuanya. Berhari-hari bersama, laki-laki rupawan itu berhasil membuat hatinya tertawan. Tapi dia selalu bisa menjaga martabatnya sebagai wanita. Laki-laki kesasar itu baru berhasil mendekatinya ketika kemudian atas permintaan Menur dia menikahinya.

Menur sadar, laki-laki bernama Baroto itu pastilah orang kaya. Ia suka menunggang kuda, dan pemilik kuda pastilah bukan orang biasa. Tapi bukan karena kekayaan itu yang membiat Menur terlena. Ia seorang gadis remaja yang baru sekali itu jatuh cinta. Ia hanya tahu bahwa cinta itu indah dan menghanyutkan. Tapi tak sampai sebulan kemudian Baroto meninggalkannya. Lalu membuatnya terpontang panting mencarinya, bahkan sampai meninggalkan kampung halamannya.

“Menur!!” teriakan itu diiringi oleh langkah yang semakin mendekat. Dengan karung di pundaknya, ia tak bisa berlari sangat cepat.

“Berhenti, aku tahu kamu adalah Menur.”

Dan tiba-tiba Baroto sudah ada di depannya, menghalangi jalannya.

“Tuan, tolong jangan menghalangi langkah saya.”

“Menur, bertahun-tahun aku mencarimu.”

“Tuan, saya tidak pernah mengenal Tuan. Tolong menyingkirlah.”

“Papa … “ tiba-tiba Ana sudah menyusulnya, berdiri di dekat Menur, menatap sang ayah dengan marah.

“Papa jangan memarahi bibi Menur. Bukan dia yang salah. Ana yang suka,” kata Ana yang mengira sang ayah sedang memarahi Menur karena dianggap mengganggunya.

“Bibi, apakah papaku memarahi Bibi?”

“Tidak, jangan khawatir.”

“Mengapa kemarin Bibi tidak datang? Hari ini juga Bibi tidak menemui Ana?”

“Maaf, Non, bibi harus ke tempat lain.”

“Tapi Bibi sudah berjanji. Lihat, aku bawakan bibi makan dan minum,” katanya sambil memberikan kotak makanan dan sebotol minuman.

“Jangan begini Non, nanti Non dimarahi orang tua Non.”

“Jangan panggil aku begitu. Namaku Ana, biasanya juga begitu kan?”

“Tapi … nanti papamu marah. Aku hanya tukang sampah.”

“Tidak, papa tidak boleh marah. Panggil aku Ana.”

“Baiklah.”

“Terimalah ini, jangan menolak. Ya.”

Menur menerima pemberian itu dengan tersenyum manis. Baroto menatapnya. Wajah kotor itu tidak menutupi wajah manisnya. Tapi Menur sama sekali tidak memandang ke arahnya.

“Bibi mau melanjutkan perjalanan,” kata Menur kemudian.

“Makan dan minumlah itu.”

“Ya, nanti bibi makan. Terima kasih banyak.”

“Jangan pergi dulu. Peluk aku.”

Menur terkejut. Ia menyadari penampilannya yang dekil dan pasti juga menjijikkan. Gadis kecil itu sudah mendekat ke arahnya.

Menur menatap Baroto yang masih terpaku, tak tahu harus mengatakan apa. Ia belum selesai berbincang dengan Menur, lalu Ana mengganggunya.

“Bibi, peluk aku,” ulangnya.

Menur menoleh ke arah Baroto. Apakah ayah yang tampak gagah dan berwibawa itu rela anak gadisnya memeluk tukang sampah seperti dirinya.

“Bibi, peluk aku,” dan kali ini Ana sudah lebih dulu memeluknya. Gemetar tangan Menur ketika membalas pelukan itu, sambil melirik ke arah Baroto yang hanya menatapnya.

“Sudah ya, bibi mau melanjutkan perjalanan. Bibi harus mencari uang.”

“Papa, apakah papa punya uang?” tanya Ana tiba-tiba kepada ayahnya.

Baroto kebingungan, ia meraba saku celananya.

“Berikan uang untuk bibi Menur ya Pa.”

Menur terkejut, ketika keduanya berbincang ia kemudian melangkah pergi dengan cepat. Mana mungkin dia mau menerima uang pemberian itu.

“Bibii! Jangan pergi.”

Baroto terpana. Ia bingung harus melakukan apa.

“Papa, aku mau bibi Menur menjadi pengasuhku,” katanya merengek.

Baroto menatap kepergian Menur. Permintaan Ana kemudian membuatnya berpikiran lain.

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

Saturday, June 13, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 23

 NAMAKU TETAP SENJA  23

(Tien Kumalasari)

 

Di sepanjang perjalanan, Arka tak banyak bicara. Dia hanya menjawab kalau Rosa bertanya.

“Ka, sebenarnya teman kamu yang mana yang kamu katakan sebagai pedagang beras?”

“Mengapa kamu tanyakan itu?”

“Ketika aku bertanya kepada gadis itu, dia bilang saudaranya hanya satu, itupun masih kecil. Mana yang sebenarnya teman kamu?”

“Aku tanya kamu sekarang, mengapa kamu ingin tahu tentang hal itu?”

“Apa tidak boleh aku ingin tahu? Ini kan pertanyaan ringan? Yang kamu anggap sebagai teman itu gadis bernama Senja itu?”

“Apakah teman harus seumuran?”

“Memang tidak.”

“Ya sudah.”

“Jadi yang kamu anggap teman itu dia? Gadis itu?”

“Kalau ya, kenapa?”

“Tidak apa-apa, kan hanya bertanya. Kalau dia temanmu, berarti juga temanku kan?”

Arka tak menjawab, ia tak tahu ke mana arah tujuan perkataan Rosa itu. Ia juga tak ingin tahu.

“Ka, apakah Senja itu istimewa buat kamu?”

“Apa?”

“Senja itu kamu anggap istimewa?”

“Pertanyaan apa itu?”

“Agak aneh juga buat aku, dia itu hanya seorang pedagang beras yang miskin, tapi kamu begitu perhatian padanya.”

“Jangan bilang dia miskin. Miskin harta bisa jadi dia mulia. Yang hina adalah kalau miskin nuraninya.”

”Apa maksudmu?” tanya Rosa.

“Masa kamu tidak tahu maksudku? Jangan lagi mengatai dia miskin. Sudah dua kali ini aku mendengarnya. Aku tidak suka. Dia gadis yang baik.”

Lama-lama Rosa kesal dan marah juga pada Arka, yang dianggapnya terlalu membela Senja.

"Sebenarnya apa arti gadis itu bagi kamu Ka? Kamu sama aku keliatan sekali tidak suka, bahkan terkesan menjauhi, sedangkan sama dia kamu begitu dekat?”

Arka menatap Rosa yang wajahnya menjadi gelap.

“Apa hebatnya dia Ka? Gadis itu bau, lugu, dan kamu tahu Ka, ketika bersalaman telapak tangannya kasar seperti parutan kelapa,” tandas Rosa.

Arka naik pitam.

“Diam Rosa. Kalau kamu tidak suka dia, tidak usah kenal dia, dan jangan pernah lagi menyebut namanya apalagi dengan  merendahkan dia. Bagiku dia gadis terbaik yang pernah aku temui.”

“Kamu diguna-guna Ka, itu pasti. Perasaan kamu ini tidak wajar. Tak seorangpun laki-laki suka pada gadis seperti itu, sama sekali tidak menarik. Lihat saja penampilannya yang kampungan … yang...”

“Diam!!”

Tiba-tiba Arka menghentikan mobilnya dengan mengerem tiba-tiba, sehingga Rosa hampir menubruk dashboard mobil.

“Arka!” Rosa memekik keras. Napasnya terengah-engah.

“Turun kamu!”

“Apa?”

“Turun..!”

“Kamu menyuruh aku turun di sini? Kamu tidak mau mengantar aku pulang?”

“Kurang jelas? Aku menyuruh kamu turun, jadi turunlah.”

“Arka, kamu tega?”

“Seperti rasa tega kamu dengan merendahkan sesama mahluk yang tidak punya dosa apa-apa terhadap kamu.”

Rosa mulai menangis.

“Kamu benar-benar tega Ka?”

“Apa aku harus berteriak supaya kamu mendengarnya? Aku bilang sekali lagi, turun kamu..!”

Rosa menangis semakin keras, tapi kemudian dia turun dari mobil.

Arka menjalankan mobilnya kembali, memacunya dengan cepat, meninggalkan Rosa yang menangis dengan dipenuhi kemarahan yang memuncak di kepalanya.

Lalu ia memanggil taksi.

***

Rosa turun dari taksi, bukan di rumahnya sendiri tapi di rumah keluarga Wiguna. Pak Wiguna yang semula begitu gembira melihat Rosa, tiba-tiba terkejut melihat Rosa berurai air mata, lalu begitu datang segera ambruk dipangkuannya.

“Hei, ada apa ini? Rosa? Apa yang terjadi? Arka belum lama masuk ke rumah, tapi sudah langsung pergi ke kamarnya. Apa aku panggil dulu dia?”

Rosa masih tetap menangis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pak Wiguna akan memanggil Arka.

“Kamu ada apa Rosa? Tadi juga kamu naik taksi, mobilmu ke mana? Lalu apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis sampai seperti ini?”

“Arka Om, Rosa diturunkannya dijalan,” katanya sambil menangis.

“Apa? Kamu tadinya bersama Arka? Lalu kamu diturunkan di jalan? Ada apa? Kalian bertengkar?”

Lalu dengan terisak-isak Rosa menceritakan ketika ban mobilnya bocor, lalu menumpang mobil Arka yang kebetulan lewat. Ia bercerita dengan bersimpuh di lantai, cerita itu membuat pak Wiguna marah. Ia berteriak memanggil Arka, tapi yang muncul adalah bu Wiguna. Ia terkejut melihat Rosa bersimpuh di lantai sambil menangis.

“Ada apa ini?” tanya bu Wiguna sambil menarik tangan Rosa, dimintanya agar berdiri, lalu mendudukkannya di kursi.

“Aku memanggil Arka, mana dia?” sentak pak Wiguna.

“Dia tidur, tadi mengatakan kalau lelah sekali dan tak ingin diganggu.”

“Tadi Rosa menumpang di mobilnya, tapi tiba-tiba diturunkannya di jalan, apa itu pantas? Apa itu perbuatan seorang laki-laki sejati?” kata pak Wiguna hampir berteriak.

“Nanti dulu, kalaupun Arka melakukannya, pasti ada sebabnya bukan? Tak mungkin kalau tidak ada apa-apa lalu dia menurunkan orang yang menumpang di mobilnya.”

“Arka membela seorang penjual beras. Hanya gadis miskin penjual beras, dibelanya, sampai Rosa diturunkannya di jalan.”

“Mengapa ada bela membela? Apa yang terjadi sebenarnya? Rosa pasti mengatakan sesuatu yang membuat Arka marah.”

“Ibu itu bagaimana, bukannya membela Rosa malah membela penjual beras itu. Aku sudah pernah melihat anak itu. Begitu lancang memang. Bertemu aku juga tidak menaruh hormat.”

“Bertemu Bapak di mana?”

“Dia mengirim beras ke kantor. Arka juga yang menyuruh.”

“Nanti dulu, masalah Rosa ini jangan ditelan begitu saja. Arka tidak mungkin melakukannya tanpa alasan.”

“Mengapa kamu membela Arka Bu, jelas dia itu selalu bersikap menjengkelkan.”

“Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya bilang, Arka melakukannya pasti dengan sebuah alasan. Tidak mungkin dia melakukannya begitu saja.”

“Sebenarnya saya hanya menegur dia, mengapa begitu dekat dengan gadis penjual beras itu. Mengantar pesanan beras ke rumah saya, dan itu karena saya ikut kasihan pada keluarga miskin itu, juga diantar Arka. Saya hanya bertanya seberapa kedekatan dia dengan keluarga miskin itu, tapi dia marah, saya disuruh turun di jalan.” 

Lalu Rosa menangis lagi, membuat pak Wiguna bertambah marah.

“Dengar itu Bu, apa kurang jelas apa yang dikatakan Rosa?”

“Masa hanya karena itu?” bu Wiguna tetap ragu-ragu.

“Arka!!” pak Wiguna berteriak semakin keras.

Bu Wiguna mengalah, ia masuk dan menuju ke kamar Arka. Ia mengetuknya perlahan. Sekarang ia tahu, mengapa begitu datang Arka berpesan agar jangan diganggu. Pasti ia tahu kalau Rosa bakal mengadu kepada orang tuanya, dan Arka tak ingin mendengarnya. Tapi sekarang sang ayah sedang berteriak. Bu Wiguna memaksanya keluar.

“Arka, ibu tahu kamu tidak tidur. Keluar sebentar Nak, agar permasalahan segera selesai. Ibu pusing mendengarnya.”

Mendengar perkataan sang ibu, Arka keluar.

“Ka, katakan yang sebenarnya apa yang ada di dalam hatimu agar semuanya selesai. Kasihanilah ibumu ini. Rasanya tak tahan mendengar ayahmu berteriak.”

Arka mengangguk. Ia keluar setelah menutup pintu kamarnya.

“Ini dia anaknya. Kamu tahu apa yang membuat Rosa menangis?” hardik pak Wiguna.

Arka menatap Rosa yang menundukkan wajahnya sambil mengusap air matanya. Rasa kesal memuncak.

“Katakan mengapa kamu menurunkan Rosa di tengah jalan. Bukannya mengantarkannya sampai ke rumah. Itu bukan perbuatan seorang laki-laki. Kamu tahu tidak?”

“Arka tidak suka dia menghina orang dengan sebutan miskin dan buruk di segala hal yang sebenarnya tidak pantas.”

"Dan yang kamu bela itu adalah gadis miskin penjual beras itu?” sentak sang ayah.

“Arka tidak suka dia dikatai miskin karena keluarga mereka itu kaya raya. Kaya dalam budi pekerti dan tata krama.”

“O, begitu? Menurut bapak, perkataan kamu membuat Rosa dikalahkan, dan kamu tahu bahwa Rosa adalah calon istri kamu?”

“Arka tidak akan menjadikannya istri.”

“Apa maksudmu? Kamu berani menentang orang tuamu?” teriak pak Wiguna.

Sementara Rosa tiba-tiba berlari keluar sambil menangis lagi.

“Lihat itu, dia pasti mengadu kepada orang tuanya,” teriak pak Wiguna sambil mengambil mobilnya dan berusaha mengejar.

Arka terpaku di tempatnya. Barangkali menurutnya adalah sekalian masalahnya diselesaikan.

***

Besok lagi ya.

 

NAMAKU TETAP SENJA 27

  NAMAKU TETAP SENJA  27 (Tien Kumalasari)   Arka menatap Senja, memberi isyarat agar segera pulang. “Tante, kami permisi dulu, Senja pasti ...