Thursday, March 12, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 31

 BIARKAN AKU MEMILIH  31

(Tien Kumalasari)

 

Adri dan Anton saling pandang. Mereka baru sekali bertemu, ketika Adri menjemput Dwi saat baru mau bekerja, sedangkan kakinya belum bisa untuk berjalan. Sekarang mereka sudah bertemu, saling menatap kesal. Yang satu kesal merasa dikhianati, yang satu marah merasa dituduh.

“Kemana dia?” Anton lebih dulu bicara, entah ditujukan kepada siapa, karena ia menatap ke arah rumah yang tertutup rapat.

“Barangkali dia kabur karena telah menyebarkan fitnah,” itu yang dikatakan Adri.

Anton mencoba menelpon Dwi, tapi ponselnya mati.

Ketika itu tiba-tiba bibik masuk ke halaman, sangat heran melihat tuan-tuan muda yang berdiri di depan rumah.

“Tuan ….”

“Mana majikan kamu?” tanya Anton sambil melotot ke arah bibik.

“Pergi tuan, tadi naik taksi.”

“Naik taksi ke mana?”

“Tidak tahu Tuan, saya bertanya, nyonya tidak menjawab.”

“Dalam kota atau luar kota?”

“Saya sungguh tidak tahu. Semalam dia gelisah sekali. Sepertinya tidak bisa tidur. Pagi-pagi tadi bangun, lalu mandi, kemudian pergi. Saya minta agar sarapan saja tidak mau.”

“Ada apa sebenarnya?” kali ini Adri yang bertanya.

“Semalam kan tuan Anton datang. Maaf Tuan, saya terpaksa bilang.”

“Bilang saja, jangan takut,” kata Anton yang berharap Dwi berterus terang pada bibik bahwa bayi yang dikandung adalah anak Adri.

“Nyonya kelepasan bicara pada Tuan.”

“Kelepasan bagaimana? Ucapan yang bagaimana yang kelepasan?” kata Anton sambil melirik ke arah Adri.

“Nyonya mengatakan bahwa, kandungannya itu, bukan anak Tuan.”

“Ya, dia memang bilang begitu. Benar kan? Anaknya dia?” kata Anton sambil menuding ke arah Adri. Adri menatap marah.

“Tapi … sebenarnya nyonya berbohong.”

“Berbohong bagaimana?”

“Yang dikandung itu memang benih tuan Anton sendiri.”

Anton terperangah, sedangkan Adri menghela napas lega.

“Mau bilang apa sekarang kamu?”

“Mengapa dia mengatakan itu?” Anton masih mencecar bibik.

“Sebenarnya, nyonya hanya ingin dicerai Tuan,” kata bibik hati-hati.

“Apa?”

“Saya berkali-kali bilang kepada nyonya, bahwa dengan kehamilan itu nyonya bisa membuktikan bahwa dia bisa mengandung. Tapi nyonya tetap ingin berpisah.”

“Majikan kamu itu sangat keterlaluan. Dia membawa namaku, dan menghancurkannya,” kesal Adri.

“Nyonya menyesal setelahnya, lalu menelpon tuan Anton berkali-kali, tapi tidak menjawab.”

“Aku sedang sangat marah, bagaimana aku mau menjawab telponnya?”

“Nyonya ingin mengatakan bahwa dia bohong. Karena memikirkan akan terjadi pertengkaran diantara tuan-tuan ini, Nyonya jadi gelisah sepanjang malam, lalu pagi ini pergi entah ke mana.”

“Bukan main nyonya majikan kamu itu. Sekarang pergi ke mana dia?”

“Saya tidak tahu Tuan, sebaiknya Tuan menunggu saja di sini, siapa tahu nyonya cepat pulang.”

“Aku tidak bisa menunggu. Semuanya sudah jelas kan? Jadi aku mau pergi, karena anak dan istriku sedang menunggu," kata Adri

“Tunggu Pak, saya minta maaf,” tiba-tiba Anton mengulurkan tangannya. Adri menyambutnya, dan mereka bersalaman erat.

“Lain kali bicara hati-hati dan jangan terburu nafsu. Saya sudah ketakutan mendengar pak Anton mau menghajar saya,” ledek Adri yang sebenarnya masih kesal.

“Sungguh saya khilaf, dan saya minta maaf.”

“Saya mau pergi.”

“Silakan Pak, saya mau menunggu di sini, siapa tahu Dwi mau diajak bicara baik-baik.”

“Semoga semuanya akan baik-baik saja.”

“Aamiin. Terima kasih Pak.”

Adri meninggalkan tempat itu, menghampiri mobilnya di mana anak dan istrinya sedang menunggu.

***

“Bagaimana tadi? Aku sudah berharap akan melihat tontonan menarik,” canda Nirmala.

“Kamu mengejek aku?”

“Tidak, kan tadinya ada yang mau saling hajar?” kata Nirmala sambil tertawa.

“Harusnya. Hampir saja.”

“Kok nggak jadi? Lalu kamu dibiarkan pergi?”

“Dwi tidak ada. Suasana masih panas ketika itu, lalu untunglah bibik pembantu itu datang, dan mengatakan yang sebenarnya terjadi.”

“Apa yang terjadi?”

Dwi bohong pada suaminya, dan mengatakan bahwa yang dikandung adalah anak aku. Gila kan?”

“O, itu sebabnya yang namanya Anton itu ingin menghajar kamu? Badannya kecil begitu mau menghajar kamu? Malah jadi bulan-bulanan dia.”

Adri tertawa.

“Semuanya sudah jelas, Dwi berkata begitu karena tidak mau kembali pada Anton. Dia tetap ingin bercerai.”

“Dan caranya ialah berbohong.”

“Tidak sekedar bohong, dia memfitnah aku, dan hampir saja aku dihajar olehnya,” kata Adri sampil tertawa ngakak. 

Nirmala ikut tertawa, bahkan Tama yang dipangku mbak Rana juga ikut tertawa-tawa.

“Bapak lucu ya Tam?” kata Nirmala sambil menoleh ke belakang.

“Paa … pp..paaa …”

“Jangan papa dong, ba … pak …” sambung Adri.

“Paaapp ….”

Lalu semuanya tertawa, Tama belum bisa memanggil bapak. Bahkan memanggil ibunyapun …mmm..aaa…”

Mereka sedang berbahagia, dan mempergunakan hari libur untuk bersenang-senang. Entah ke mana mereka akan pergi, yang jelas pasti ke tempat yang nyaman dan menyenangkan, sambil melepas segala beban yang tadinya menghimpit hati dan rasa.

***

Anton mengajak sang ibu turun dari mobil. Sang ibu malah marah-marah walaupun akhirnya mengikuti anaknya menuju rumah tinggal Dwi.

“Sebenarnya mau apa kamu kemari ini Ton? Pasti nanti akan ada pembicaraan yang tidak menyenangkan, dan yang pasti aku tidak suka. Dan mengapa kamu tidak jadi menghajar laki-laki itu? Bukankah dia yang berbuat tak senonoh dengan Dwi?”

“Duduklah dulu Bu, jangan marah-marah begitu. Kalau tahu begini kan tadi tidak usah ikut saja.”

“Aku kira kamu akan mengatakan pada Dwi bahwa kamu akan menceraikan dia, jadi ibu ingin melihat bagaimana kamu bicara, soalnya ibu curiga, kamu itu sangat cinta pada perempuan itu.”

“Perempuan itu namanya Dwi, menantu ibu.”

“Ibu tidak punya menantu perempuan tukang selingkuh.”

“Dia tidak selingkuh.”

“Apa? Bukankah dia hamil karena laki-laki lain?”

“Silakan diminum, tuan, Nyonya. Coklat susu hangat kesukaan Tuan,” tiba-tiba bibik keluar sambil membawa dua gelas minuman.

“Kamu setia sekali pada perempuan selingkuh itu ya, sehingga tuanmu menyuruh kamu tetap di sana tapi kamu tidak mau,” belum-belum sang nyonya menyemprot bibik.

“Maaf Nyonya,” lalu bibik langsung beranjak ke belakang. Ia sudah tahu tabiat nyonya besar yang sebenarnya tidak suka kepada nyonya majikannya.

“Bu, Dwi tidak selingkuh.”

“Kamu mengatakan itu lagi? Bagaimana tidak selingkuh tapi dia bisa hamil dengan laki-laki lain?”

“Yang dikandung itu anak Anton.”

“Apa? Mengapa kamu tiba-tiba mengakui kalau itu anak kamu? Apa karena kamu ingin sekali mengajak dia tinggal bersamamu?”

“Dwi mengatakan itu karena sebenarnya agar Anton menceraikannya.”

“Apa?”

“Yang dikandung itu anak Anton, bukan anak orang lain. Bibik tadi mengatakan semuanya.”

“Dan kamu percaya begitu saja? Mana sekarang dia?”

“Dia sedang pergi, Anton akan menunggu di sini.”

“Ya ampuun, tahu begini ogah aku ikut ," kata sang ibu yang tak urung meraih gelas minumannya. Haus.

***

Bibik pembantu Nirmala sedang bersih-bersih rumah. Majikannya mengatakan kalau barangkali baru akan pulang esok harinya, jadi dia tidak memasak.

Ketika bersih-bersih di ruangan depan, bibik melihat taksi berhenti di depan rumah. Bibik menatapnya, barangkali ia mengenalnya.

Tapi tidak. Bibik belum pernah melihatnya. Seorang wanita turun dari dalam taksi itu, dan berjalan menuju ke arahnya.

Bibik berdiri di tangga teras, menunggu sambil bertanya-tanya, siapa wanita cantik ini.

“Selamat pagi,” sapa sang tamu.

“Selamat pagi, Nyonya. Nyonya mau bertemu siapa?”

“Apakah ibu Nirmala ada?”

“Oh, Nyonya bertugas di luar kota sejak tiga hari yang lalu.”

“Belum pulang ya?”

“Belum, kemarin tuan malah menyusulnya.”

“Apakah hari ini belum akan kembali?”

“Saya kira belum, barangkali besok. Nyonya ini siapa, supaya nanti saya bisa melaporkan pada nyonya, siapa tamunya.”

“Saya anak buahnya, Dwiyanti.”

“Oh, baiklah. Apakah Nyonya mau duduk sebentar untuk saya buatkan minuman hangat? Nyonya tampak pucat sekali. Apa nyonya sakit?”

“Ti … tidak,” kata Dwi.

Tapi kemudian Dwi tampak sempoyongan, lalu roboh menimpa bibik, sehingga keduanya jatuh bersamaan, karena bibik tidak siap menerima beban tubuh Dwi.

“Toloong, aduuuh, Nyonya menindih saya!” teriak bibik karena dia tertindih tubuh Dwi yang lumayan besar.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, March 11, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 30

 BIARKAN AKU MEMILIH 30

(Tien Kumalasari)

 

“Mengapa Ibu tertawa?” tanya Anton yang sebenarnya hatinya sedang kesal. Ia tak sepenuhnya mencintai Wati, tapi dia merasa dikhianati sang istri.

“Bagaimana ibu tidak tertawa, Anton. Istri yang kamu cintai itu melakukan hal yang memalukan, menjijikkan. Katakan bahwa kamu masih mencintainya. Ayo katakan,” kata sang ibu sambil tertawa-tawa. Pada dasarnya kan dia tidak menyukai Dwi, sehingga berita yang dibawa Anton sangat membuatnya senang.

“Anton sangat marah, tadi ingin mencari direktur perusak rumah tangga orang itu untuk menghajarnya, tapi tidak ketemu.”

“Mengapa kamu susah-susah menghajar dia, biarkan saja dia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kamu malah bersyukur karena perceraian kamu mempunyai alasan yang kuat.”

Anton diam. Ia tidak sependapat dengan ibunya. Ia masih mencintai Dwi. Perceraian dengan Dwi belum dipikirkannya, yang penting kekesalan dan kemarahannya bisa segera dilampiaskan. Ia harus bertemu Adri, laki-laki yang menurutnya sangat licik dan tidak bertanggung jawab.

“Bisa-bisanya sok baik hati pakai menelpon untuk memberitahukan kehamilan Dwi. Ternyata dia yang menghamilinya. Bagaimana mungkin seorang direktur yang seharusnya berperilaku terhormat tapi malah melakukan hal licik seperti itu,” omel Anton sambil masuk ke dalam kamarnya, tak peduli ibunya bicara apa.

“Besok ibu antar kamu ke kantor Pengadilan Agama. Urus segera perceraian kamu,” kata sang ibu yang ternyata mengikutinya.

“Biar aku saja Bu, itu urusan aku,” kata Anton sambil menutup pintu kamarnya.

***

Pagi hari itu hari Minggu. Adri sudah bangun dan bercanda dengan Tama yang tertawa-tawa senang karena ada ayahnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Adri mengerutkan keningnya, ternyata Anton yang menelponnya.

“Hallo, selamat pagi pak Anton,” sapa Adri ramah.

“Anda ada di mana saat ini?” katanya dingin.

“Ada di luar kota, ada apa?”

“Katakan ada di mana, aku ingin bicara.”

Adri sangat heran mendengar suara Anton yang sangat tidak bersahabat. Ia tidak mengerti apa sebabnya.

“Pak Anton, mari kita bicara dengan baik. Saya sedang bersama istri dan anak saya, dan sedang merencanakan liburan hari Minggu ini. Katakan apa sebenarnya maksud pak Anton.”

”Enak ya, lari dari masalah, kemudian bersenang-senang dengan anak istri?”

“Lho, ada masalah apa?”

“Jangan berpura-pura. Anda melakukan hal yang sangat menjijikkan, tapi tidak mau bertanggung jawab, malah melemparkan tanggung jawab itu kepada saya kan?”

"Sungguh saya tidak tahu apa maksud pak Anton sebenarnya. Saya bingung. Saya juga bingung ketika penjaga malam melaporkan kepada saya bahwa Bapak marah-marah datang ke rumah.”

“Bagus kalau penjaga malam yang sombong itu sudah melaporkan kepada Anda.”

“Tunggu, tolong bicara yang jelas, dari mana duduk perkaranya. Saya sungguh tidak mengerti mengapa Bapak marah-marah kepada saya.” 

Adri masih berusaha sabar, walau sebetulnya dia kesal dan merasa tidak dihargai si penelpon.

“Bagus sekali kalau Anda tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. Dengar, Anda menelpon saya, mengatakan kalau istri saya hamil. Apa Anda tahu bahwa saya sangat bahagia, karena memang kehamilan itu yang saya tunggu-tunggu.”

“Itulah yang saya maksud juga.”

“Tapi ternyata itu hanyalah akal licik Anda saja.”

“Apa maksud Bapak?”

 Adri mulai bicara dengan nada tinggi, sambil tangannya melambai memanggil mbak Rana, agar mengajak Tama pergi dulu karena dia sedang bicara serius dengan seseorang. Serius marah.

Tama merengek tak mau lepas dari sang ayah, tapi kemudian diam ketika melihat ibunya keluar dari kamar.

“Maksud saya ialah , bahwa saya sudah tahu apa sebenarnya maksud Anda. Anda sangat licik dengan melemparkan tanggung jawab kepada saya, padahal Anda yang berbuat.”

Adri sangat bingung. Seandainya Anton ada didepannya, pastilah dia sudah menghajarnya.

“Aku berbuat, tapi menyuruh Bapak bertanggung jawab? Berbuat apa?”

“Jangan pura-pura bodoh!” dari seberang Anton berteriak.

“Anda bicara tidak jelas! Saya sungguh tidak mengerti!” 

Adri mulai mengimbanginya dengan teriakan tak kalah keras. Nirmala yang melihat sang suami bertelpon di halaman dengan suara marah, lumayan kaget. Ia belum pernah melihat Adri segarang itu.

“Bukankah yang dikandung Dwi itu anak Anda?”

“Apa?”

 Dan teriakan kali ini membuat Nirmala kemudian mengajak Tama ke belakang, karena Tama mulai menangis melihat ayahnya marah-marah.

“Jadilah laki-laki jantan, jangan mengecoh saya dengan permainan kotor Anda.”

“Jangan ngawur. Siapa bilang yang dikandung Dwi anak saya? Anda kira saya sekotor itu? “

Seandainya Anton ada didepannya saat itu pasti Adri benar-benar sudah menghajarnya sampai babak belur.

“Dengar ya, saya tidak pernah menyentuh istri Bapak. Siapa menyebarkan berita bohong itu?”

“Dwi sendiri yang bilang. Anda mau ingkar?”

“Perempuan kurangajar. Ayo kita temui Dwi bersama-sama. Itu tuduhan penuh fitnah! Anda ada di mana sekarang, saya akan berangkat menemui dia, dan Bapak harus ada di sana juga, lalu mendengar siapa yang bohong, jahat, memfitnah saya.”

“Baik, saya berangkat sekarang.”

***

“Adri, ada apa? Kamu marah-marah pada siapa?” tanya Nirmala sambil menepuk-nepuk punggung suaminya untuk lebih bisa menenangkannya.

“Ayo kita pergi.”

“Ke mana?”

“Kita temui Dwi.”

“Tidak, mengapa aku harus ikut menemui Dwi?”

“Dwi memfitnah aku. Mengatakan kepada suaminya bahwa dia hamil karena aku. Padahal itu kan anaknya Anton, suaminya?”

“Astaga. Dwi melakukan itu? Apa maksudnya?”

“Barangkali maksudnya adalah agar suaminya menceraikan dia. Tapi aku tidak terima dia mengatakan bahwa bayi yang dikandung adalah anakku,” kata Adri berapi-api.

“Baiklah, sabar ya Dri, aku akan ikut bersamamu. Kita ajak Tama ya?”

“Terserah kamu, jangan lama-lama, aku harus segera ketemu perempuan tak tahu malu itu.”

“Sabar Adri, jangan pergi membawa emosi.”

“Ini keterlaluan. Perempuan tak tahu malu.”

***

Anton bergegas menuju ke arah mobilnya, sang ibu mengejarnya.

“Anton, kamu mau ke mana?”

“Pergi sebentar Bu.”

“Ke mana, ibu mau ikut.”

“Tidak usah Bu, hanya sebentar.”

“Pokoknya aku mau ikut,” kata sang ibu yang nekat mengikutinya, dan masuk ke dalam mobil, duduk di samping kemudi.

Anton menghela napas panjang. Ibunya suka sekali ikut campur urusan keluarga anaknya, bahkan ingin tahu apa yang sedang dilakukannya.

Anton terpaksa membiarkan sang ibu ikut bersamanya.

“Mengapa wajahmu merah padam begitu. Kamu tadi marah-marah sama siapa?” tanya sang ibu yang ternyata mendengar dia berteriak-teriak di telpon.

“Aku akan menemui Dwi.”

“Ya ampun Anton, apa yang kamu lakukan? Sudah jelas Dwi tidak pantas menjadi istrimu, kelakuannya buruk, memalukan. Mau apa lagi kamu menemuinya?”

“Adri juga sedang menuju ke rumahnya.”

“Siapa Adri?”

“Laki-laki busuk itu.”

“Yang menghamili istri kamu?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kalian mau bertemu Dwi? Semuanya sudah jelas, apa kamu masih tidak terima? Ingat Anton, rasanya alam sedang menunjukkan siapa sebenarnya Dwi, perempuan yang tidak pantas kamu cintai. Mengapa kamu malah membuat perkara semakin lebar seperti ini? Bukankah sangat sederhana sekali, tinggal kamu ceraikan Dwi dengan alasan berselingkuh, selesai kan, untuk apa ketemuan-ketemuan pula?”

“Adri tidak mengakui. Ia menuduh Dwi berbohong, jadi harus dibuktikan siapa benar, siapa salah.”

“Ya ampun, ibu jadi ikutan pusing.”

“Kalau begitu Ibu tidak usah ikut saja, turun disini lalu pulang naik taksi.”

“Enak saja, ini sudah sangat jauh dari rumah.”

“Naik taksi, daripada Ibu marah-marah terus.”

“Nggak apa-apa, ibu akan diam.”

Antonpun diam. Ia berharap semuanya menjadi jelas. Ia belum percaya sepenuhnya apa yang dikatakan Adri, tapi kemudian dia juga meragukan apa yang dilontarkan Dwi ketika dia mengajaknya pulang dan membatalkan keinginannya bercerai.

***

Seperti sudah diatur, Adri dan Anton datang di tempat tinggal Dwi hampir bersamaan. Anton dari arah utara, Adri dari arah selatan. Keduanya turun bersama-sama. Baik ibu Anton maupun Nirmala dan anaknya tidak mau turun.

Tanpa berbicara mereka mendekati rumah yang terlihat tertutup rapat. Bel tamu bertubi-tubi dan ketukan bertalu-talu, tak ada jawaban. Entah Dwi pergi ke mana.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, March 10, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 29

 BIARKAN AKU MEMILIH  29

(Tien Kumalasari)

 

Penjaga itu urung membuka pintu. Lagi pula Adri majikannya tidak ada di rumah semua.

“Kalau Anda mau menghajarnya, lebih baik berhadapan dengan saya saja.”

“Kamu kan hanya tukang jaga malam. Tidak usah ikut campur. Yang aku cari Adri, bukan kamu.”

“Tuan Adri dan istrinya tidak ada di rumah. Anda ini siapa?”

“Aku Anton, dia pasti sudah mengenal aku. Ke mana dia?”

“Saya tidak tahu. Nyonya Adri punya banyak perusahaan. Mungkin ada di cabang yang lain, tapi saya tidak tahu.”

“Coba katakan mana saja cabang-cabangnya.”

“Saya tidak berwenang memberitahukan masalah perusahaan ataupun masalah pribadi kepada orang asing seperti Anda.”

“Kamu benar-benar membuat saya marah.”

“Silakan datang ketika tuan sudah ada di rumah. Atau saya akan panggil polisi saat ini juga?”

“Kamu bilang berani menghadapi aku, mengapa mau panggil polisi?”

“Saya tidak ingin menganiaya orang yang belum pernah saya kenal. Nanti saya justru kena pasal,” kata sang penjaga yang sangat yakin bisa menundukkan laki-laki sombong di depannya itu.

“Bilang pada majikan kamu. Dia itu pengecut busuk!” katanya sambil meninggalkan pintu, menuju ke arah mobilnya.

Penjaga malam itu sangat geram. Tapi orang itu sudah pergi. Ia heran ada orang ingin menghajar majikannya. Di saat malam pula.

“Apa aku harus menelpon tuan ya,” gumamnya ragu-ragu.

 Ia sudah memencet nomornya, tapi kemudian dibatalkannya, karena hari sudah malam.

“Siapa sebenarnya orang itu. Tiba-tiba mau menghajar tuan? Belum tahu dia kalau tuan malah yang akan menghajarnya. Badannya kecil begitu, sombongnya bukan main."

Lalu penjaga itu kembali duduk di gardu penjagaan, mengutak atik ponselnya. Pastinya hanya main game untuk menghalau kantuk.

***

Sementara itu Nirmala dan Adri sedang saling berbincang mengenai apa yang Adri lakukan terhadap Dwi, dan Nirmala membiarkannya karena Adri selalu beralasan, bahwa Dwi adalah teman mainnya. Semasa kecil. Mereka bicara sambil tiduran, dalam suasana damai yang sangat manis.

“Aku kira kamu benar-benar menghamili perempuan itu.”

“Masa aku seburuk itu? Dia hanya sedang kalut, karena suaminya mau menikah lagi. Lalu saat periksa ke dokter tentang kesehatannya yang sepertinya terganggu, dokter menyatakan bahwa Dwi sedang hamil. Baru beberapa minggu entahlah aku lupa. Dia kalut dan ingin menggugurkannya. Tapi aku melarangnya. Apa aku salah, bayi itu kan tidak berdosa?”

“Tidak, kamu tidak salah.”

“Mengapa tiba-tiba kamu mengira dia hamil karena aku?”

“Aku mencurigai sikapmu yang berlebihan terhadapnya, lalu aku mendengar kamu bertelpon sama dia dan menyebut tentang hamil.”

“Lalu kamu mengira aku yang membuatnya hamil?”

“Kan aku sudah curiga dan merasa bahwa perhatianmu terhadap dia sangatlah besar.”

“Kalau aku berbuat selingkuh, aku tak akan berterus terang kepadamu, aku mau ngapain sama dia, mau mengantar ke dokter, mau menungguinya di rumah sakit. Tidakkah kamu berpikir bahwa aku sangat jujur?”

“Aku juga heran ketika kamu mengatakan semuanya. Aku hanya berpikir kamu tak berperasaan dengan mengatakan itu semua.”

“Maaf Nirma, aku telah menyakiti kamu.”

“Apakah kamu sadar bahwa kamu sangat jarang mengucapkan kata maaf?”

“Benarkah?”

“Kamu terlalu angkuh dan sombong, sehingga sangat mahal dalam mengucapkan maaf. Padahal manusia banyak sekali berbuat salah, dan kata maaf itu terucap kadangkala meluncur begitu saja tanpa kita pikirkan, karena kata maaf adalah upaya untuk menetralisir sebuah kesalahan, walau hanya sedikit, walau tidak berhasil mendapatkan maaf dari orang di mana kita meminta maaf.”

“Rupanya aku harus belajar banyak dari kamu, Nirma.”

“Tidak Adri, kamu adalah suami yang baik, hanya terkadang keras kepala.”

“Kamu tahu mengapa tiba-tiba aku bisa mengucapkan kata maaf ? Aku sangat mencintai kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku merasa kalut ketika tiba-tiba kamu ingin pergi.”

“Terima kasih telah mencintai aku yang sebenar-benarnya Adri.”

“Kenapa aku menyusul kamu ke sini, karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan, sehingga sikapmu sangat dingin terhadapku. Harusnya kamu berterus terang mengatakan apa yang sebenarnya kamu rasakan, sehingga tidak membuat diri kita masing-masing merasa tersiksa.”

“Itu benar.”

“Kamu itu wanita yang pintar, tapi bodoh dalam mengelola perasaan.”

Nirmala tertawa mendengar ungkapan kata suaminya.

“Dan kamu … berbuat sesuatu tanpa tahu bagaimana perasaan istrimu. Ya kan?”

“Karena aku tidak tahu perasaan kamu, dan karena aku merasa tidak bersalah.”

“Sekarang sudah malam, ayo kita tidur.”

“Sebentar, aku melihat tadi seperti ada panggilan?”

“Siapa Dri?”

“Dari si Pur, penjaga malam. Tapi sepertinya hanya sekilas, barangkali salah pencet.”

“Siapa tahu ada yang penting tapi dia tak jadi mengatakannya. Kita meninggalkan rumah dengan hanya ada bibik di sana.”

“Baiklah, akan aku telpon dia.”

Penjaga malam itu terkejut pastinya, karena sang tuan majikan menelponnya.

“Ya, Tuan.”

“Kamu tadi menelpon ya?”

“Maaf Tuan, tiba-tiba saya sadar, sudah malam, mungkin mengganggu Tuan.”

“Ada apa? Tidak terlalu penting, atau sangat penting?”

“Tuan, tadi ada seorang laki-laki badannya kecil, datang mencari Tuan.”

“Siapa? Malam-malam begini?”

“Dia bilang namanya Anton.”

“Ada keperluan apa? Dia mengatakan atau tidak. Malam-malam datang pasti ada yang penting. Harusnya kamu meneruskan menelpon tadi.”

“Tuan, dia datang marah-marah. Dia bilang mau menghajar Tuan.”

“Kenapa?” tanya Adri yang pastinya terkejut. 

Dia tahu laki-laki yang digambarkan si Pur adalah suami Dwiyanti. Mengapa dia marah-marah sementara dia justru memberi tahu tentang kehamilannya karena berharap mereka bisa baikan?

“Dia tidak mengatakan apa-apa, Tuan. Marah-marah aja. Ketika saya bilang bahwa Tuan dan Nyonya sedang pergi, dia bertanya kemana.”

“Kamu jawab apa?”

“Saya bilang tidak tahu. Karena memang saya tidak tahu.”

“Lalu apa?”

“Saya ancam dia akan saya laporkan ke polisi, lalu dia pergi. Kelihatannya marah sekali pada Tuan. Seandainya benar-benar saya hadapi dia, sayalah yang akan menghajar dia. Badannya kecil, sombong amat.”

“Ya sudah. Lain kali kalau ada apa-apa langsung telpon saya ya.”

“Baik, Tuan.”

Nirmala memperhatikan ucapan-ucapan suaminya di telpon, tapi tidak mengerti sepenuhnya.

“Ada apa?”

“Aku bingung. Si Pur bilang Anton datang mencari saya sambil marah-marah, dan mengatakan kalau akan menghajar saya.”

“Anton itu siapa?”

“Suami Dwi.”

“Kamu bilang memberi tahu dia kalau istrinya hamil agar mereka bisa baikan. Kok dia marah-marah sama kamu?”

“Entahlah, belum jelas. Pasti ada sesuatu yang serius. Apa dia mencari istrinya, lalu istrinya sembunyi, lalu …. entahlah, mengapa dia.”

“Besok akan aku telpon dia dan bicara baik-baik.”

***

Anton sampai di rumah tengah malam, dan ibunya yang membukakan pintu. Semenjak Dwi pergi, sang ibu pindah ke rumah Anton, dan merencanakan tentang pernikahan Anton dengan wanita pilihan ibunya. Menurut sang ibu, harus segera dilakukan karena wanita itu sudah hamil.

Tapi ketika Anton mengatakan bahwa Dwi juga hamil, sang ibu tetap ingin agar Anton menceraikan Dwi. Pada dasarnya sang ibu tidak suka pada Dwi, karena semenjak Anton menikahi Dwi, sang ibu merasa dikesampingkan. Ia merasa Anton terlalu mencintai istrinya dan melupakan ibunya.

“Kamu selesaikan segera perceraian kamu. Wanita itu memang bukan perempuan baik-baik. Berani menentang suami itu bukan perempuan baik.”

Tetapi Anton nekat menemui Dwi. Kehamilan Dwi membuatnya bahagia. Ia bermaksud memboyong Dwi pulang, dengan janji akan menceraikan wanita pilihan ibunya itu setelah melahirkan anaknya. Namun apa dikata, Dwi mengatakan bahwa yang dikandung bukan anaknya.

“Kamu jadi menemui perempuan itu?”

Anton tak menjawab. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Wajahnya tampak lelah.

“Anton, ada apa kamu sebenarnya?”

“Bu, sebenarnya aku sangat mencintai Dwi. Aku ingin mengajaknya pulang karena dia mengandung anakku.”

“Lalu bagaimana dengan Wati calon istri kamu? Keluarga mereka sudah bersiap merayakan pernikahan kalian.”

“Maksud Anton, nanti kalau sudah melahirkan, Wati akan Anton ceraikan.”

“Apa maksudmu? Jangan semena-mena kamu. Kamu membuatnya hamil, lalu akan menceraikannya?”

“Sekarang tidak jadi.”

“Kamu bicara apa sih?”

“Anton akan tetap menikahi Wati.”

“Nah, begitu, anak ibu yang baik. Lalu kenapa tiba-tiba kamu tidak jadi mengajak Dwi pulang? Ibu sih senang, tapi kenapa?”

“Bayi yang dikandung bukan anak Anton.”

Sang ibu tertawa terkekeh-kekeh karena senangnya.

***

Besok lagi ya,

Monday, March 9, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 28

 BIARKAN AKU MEMILIH  28

(Tien Kumalasari)

 

Bibik pembantu justru berteriak lebih dulu.

“Nyonya, itu kan tuan?”

Dwi menatap kedatangan suaminya dengan pandangan datar. Biarpun heran karena mengetahui Anton bisa sampai ke tempat tinggalnya, ia tak segera menanyakannya.

“Ternyata kamu ada di sini?” Anton yang lebih dulu bertanya.

“Aku ditugaskan di kantor cabang. Dari mana kamu tahu?”

“Aku tidak dipersilakan masuk?”

“Masuklah.”

Keduanya masuk ke dalam, Dwi menghadapinya seperti menghadapi seorang tamu.

“Kalau kamu sudah mengurus perceraian, kamu kan bisa mengabari melalui telpon atau pesan singkat?”

“Aku sudah mengurusnya, tapi tidak berhasil.”

“Apa maksudmu tidak berhasil”

“Karena kamu sedang hamil.”

Dwi terkejut setengah mati. Dari mana juga suaminya tahu kalau dirinya sedang hamil?

Bibik pembantu keluar dengan membawa segelas minuman hangat.

“Silakan, Tuan.”

“Terima kasih Bik. Apa kabarmu?”

“Saya baik, Tuan.” jawabnya, lalu beranjak kembali ke belakang.

“Dari mana kamu tahu kalau aku sedang hamil?”

“Dari mana itu tidak perlu kamu tahu, yang jelas aku bahagia sekali karena ternyata kamu sedang mengandung anakku.”

“Ini bukan anakmu," tiba-tiba kata Dwi tanpa menatap suaminya. Ia berbohong dengan suatu alasan yang dia sendiri yang tahu.

“Bukan anakku?”

“Ya, siapa tahu kalau kamu sendiri yang mandul.”

“Tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin? Aku ….”

“Kamu yakin kalau kamu sehat dan bisa membuatku hamil? Jangan mimpi. Lanjutkan saja perceraian, itu lebih baik.”

“Kalau bukan anakku, lalu itu anak siapa?”

“Kamu tidak perlu tahu.”

“Ternyata kamu perempuan murahan. Berhubungan dengan laki-laki lain dan kemudian bersikeras minta cerai.”

“Kalau ya, kenapa? Jadi segera ceraikan aku.”

“Katakan siapa laki-laki itu. Yang sering mengantarkan kamu? Menjemput kamu?”

“Memang,” kata Dwi enteng.

Wajah Anton gelap dan matanya menyala marah. Ingin sekali ia menampar sang istri. Kegembiraan karena istrinya hamil telah sirna karena perkataan sang istri.

Tapi kemudian dia ingat apa yang dikatakan si penelpon yang mengatakan bahwa istrinya sedang hamil, lalu ia mengatakan dimana istrinya berada. Dia Adri pimpinan di kantor Dwi bukan? Kalau dia pelakunya, mengapa dia harus mengabari dirinya? Bukankah dia seharusnya diam saja dan melanjutkan hubungan dengan Dwi?

“Laki-laki yang pimpinan kamu itu?”

“Ya.”

“Asal kamu tahu Dwi, yang memberi tahu aku kalau kamu hamil, dan mengatakan di mana alamat kamu, adalah dia.”

Dwi sangat terkejut. Jadi Adri yang mengatakannya pada suaminya?

“Yang aku heran, kalau dia pelakunya, mengapa dia justru mengabari aku?”

Dwi diam sesaat, berusaha mencari jawaban. Ia kesal sekali pada Adri. Bukankah dia pernah meminta agar Adri merahasiakan kehamilannya agar perceraiannya tak ada kendala?

“Bagaimana menurut kamu?”

”Entahlah, aku tidak mengerti. Pokoknya ceraikan aku.”

“Dwi, aku butuh penjelasan. Kalau memang Adri pelakunya, aku akan menghajarnya.”

“Apa?”

”Dia laki-laki pengecut. Dia menghamili kamu tapi mengatakannya padaku, maksudnya supaya dia bisa lepas tangan dan meminta akulah yang bertanggung jawab? Aku akan mencari dia dan menghajarnya,” kata Anton sambil bangkit, lalu bergegas menghampiri mobilnya. Dwi sangat terkejut.

“Maas. Berhenti dulu, jangan main hajar-hajaran.!” Dwi berteriak, tapi juga diliputi ketakutan.

Tubuhnya terasa lemas ketika melihat mobil Anton keluar dari halaman rumah kecil yang ditinggalinya.

Ia duduk di kursi teras. Kebingungan melandanya.

***

Anton memacu mobilnya dengan perasaan yang tidak karuan. Tadinya ia senang dan bermaksud merayu istrinya agar mengurungkan niatnya bercerai, dan akan tetap menjadikan Dwi sebagai istrinya. Masalah wanita lain akan dipikirkannya nanti. Ia tetap mencintai Dwi dengan sepenuh hati. Hanya karena sang ibu maka ia bersikeras mendekati perempuan lain.

“Memang semua bermula dari kesalahanku. Aku terlalu lemah, aku selalu bingung setiap kali ibu berbicara tentang anak. Lalu mencela Dwi sebagai istri yang tidak sempurna, lalu mendorong aku mendekati perempuan pilihan ibu. Dan aku yang lemah ini menurutinya, mengabaikan Dwi yang kemudian tidak mau lagi hidup bersamaku. Semua ini gara-gara ibu.”

Anton menyalahkan ibunya, juga dirinya sendiri yang terlalu lemah.

“Tapi Dwi juga perempuan nggak benar. Masa dia kemudian menyukai laki-laki lain. Karena dia direktur perusahaan yang lebih kaya dari aku? Dan lebih ganteng dari aku?”

Lalu Anton merasa sangat marah, karena laki-laki yang seorang direktur itu adalah laki-laki pengecut. Buktinya dia melakukan hal terkutuk, dan justru ingin mengabaikan tanggung jawab? Aku harus menghajarnya.

Anton meraih ponselnya. Ia harus memaki-maki laki-laki itu. Tak peduli dia orang terhormat, tapi sama sekali tidak pantas dihormati. Dia sudah memencet nomor telponnya. Tapi kemudian dia mengurungkannya.

“Tidak usah menelpon, lebih baik aku datangi saja di rumahnya lalu aku hajar dia.”

Anton melihat arloji di tangannya.

“Sudah malam, haruskah ditunda besok pagi? Tidak, aku sudah sangat marah. Darahku mendidih, dan aku tidak akan merasa tenang kalau tidak melakukannya sekarang.”

Anton memacu mobilnya lebih cepat.

***

“Nyonya, mengapa tuan pergi, sedangkan minumannya belum disentuh sama sekali?”

Dwi tidak menjawab. Ia memijit-mijit keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.

“Ada apa Nyonya? Mengapa tuan pergi begitu saja, dan Nyonya kenapa?”

“Kacau Bik, ini kacau. Aku sekarang bingung harus berbuat apa?”

“Kacau bagaimana Nyonya, tuan tidak mau menceraikan, atau perceraian sudah diproses?”

“Dia tahu kalau aku hamil, dan tinggal di sini.”

“Lalu tuan tidak mau menceraikan? Nyonya, ini hal terbaik yang harus Nyonya jalani. Nyonya bisa membuktikan kepada tuan dan juga mertua Nyonya bahwa Nyonya bisa mengandung anak keluarga tuan.”

“Kamu tidak bertanya dari mana dia tahu bahwa aku mengandung dan tinggal di rumah ini?”

“Dari mana Nyonya?”

“Dari Adri.”

“Oh, malah tuan Adri sendiri yang memberi tahu? Kalau begitu sudah jelas kalau tuan Adri sama sekali tidak menghendaki Nyonya.”

“Sekarang masalahnya bukan itu. Anton akan mencari Adri dan ingin menghajarnya.”

“Lha kenapa Nyonya?”

“Soalnya … aku mengatakan bahwa bayi yang aku kandung ini anak Adri.”

“Ya ampuun, mengapa Nyonya melakukannya?”

“Aku tidak mau kembali kepada Anton. Aku tidak cinta lagi pada dia.”

“Nyonya sudah bertindak gegabah. Nyonya sudah menghancurkan nama baik tuan Adri. Padahal selama ini tuan Adri selalu membantu Nyonya.”

“Aku harus bagaimana? Aku tidak punya jawaban untuk menghindari Anton.”

“Mengapa Nyonya tidak berpikir panjang sebelum mengatakan itu?”

“Aku hanya ingin Anton meninggalkan aku karena aku mengandung yang bukan anaknya.”

“Saya ikut pusing memikirkan Nyonya,” keluh bibik pembantu.

“Aku juga pusing Bik. Bagaimana ini?”

“Saya juga tidak tahu. Saya pusing Nyonya. Saya nggak ikutan,” kata bibik sambil beranjak pergi. Tapi Dwi berteriak memanggilnya.

“Biik! Mengapa pergi, bantu aku memikirkannya.”

Bibik kembali, ngelesot di lantai bersandar pada dinding.

“Aku bingung Bik.”

“Pemikiran Nyonya aneh-aneh. Menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Lalu bertindak semau Nyonya tanpa memikirkan akibatnya. Nyonya juga berdosa karena menghancurkan nama baik orang lain.”

“Kamu tidak menghiburku, malah menyalah-nyalahkan aku,” kata Dwi yang mulai menangis.

“Mengapa Nyonya menangis?”

“Aku bingung harus berbuat apa.”

“Semuanya sudah terlanjur. Nyonya tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Apa aku harus menelpon Anton dan mengatakan hal yang sebenarnya?”

“Itu juga lebih baik.”

“Ambilkan ponselku Bik.”

Bibik memberikan ponsel sang nyonya majikan.

Tapi panggilan itu tidak sekalipun diterima oleh Anton. Ia sedang marah, ia tahu Dwi menelpon, tapi dia tak peduli, dan membiarkannya berdering.

“Tidak diangkat,” katanya lirih, putus asa.

***

Anton sudah tahu di mana rumah direktur perusahaan di mana istrinya bekerja. Tapi belum pernah ke sana.

Ketika berhenti di depan pagar, mobilnya berhenti. Pagar itu tertutup. Ada penjaga yang sedang merokok di gardu sebelah dalam. Penjaga itu bertugas berjaga hanya di saat malam. Ia berdiri ketika melihat mobil berhenti.

“Selamat malam,” sapanya ketika Anton turun.

“Saya mau bertemu dengan Adri,” katanya.

Penjaga itu belum membuka pintu pagar. Ia mengerutkan keningnya mendengar orang menyebut nama majikannya dengan namanya saja.

“Bapak mau apa?”

“Mau menghajarnya,” kata Anton dengan kemarahan meluap.

***

Besok lagi ya.

Saturday, March 7, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 27

 BIARKAN AKU MEMILIH   27

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala berhenti, sementara Tama sudah berteriak-teriak minta gendong sang ayah.

Ponsel itu masih berdering, Nirmala sedang berpikir, mengapa Dwi menelponnya.

Nirmala mengangkatnya setelah agak lama mendiamkannya.

“Ya.”

“Ini ibu Nirmala?”

“Ya, tadi kan sudah saya jawab?” jawab Nirmala kaku.

“Maaf Ibu, saya hanya ingin bilang, pak Adri ke mana ya?”

“O, mau bicara dengan pak Adri, mengapa menelpon saya?”

“Saya hanya ingin bilang, saya ini kan sedang hamil, jadi_”

“Oh, dengan pak Adri saja, orangnya ada,” potong Nirmala.

Nirmala langsung memberikan ponselnya kepada Adri.

“Apa ini?”

”Dwi, ingin menghubungi kamu.”

“Tidak usah, matikan saja,” kata Adri dengan wajah gelap. Tapi Nirmala tetap memberikan ponselnya. Ia melihat wajah Adri yang keningnya kebiruan, dan ada bekas darah dibibirnya. Rasa iba menerpanya, tapi mendengar kata hamil dari ponselnya, ia merasa bahwa segala rasa iba itu tak ada gunanya. Tapi Nirmala terkejut mendengar Adri membentaknya.

“Mengapa kamu masih menghubungi aku? Dengar Dwi, aku sedang bersama istriku. Dan aku sudah melarang kamu untuk menghubungi aku, bukan?”

“Adri, mengapa tiba-tiba kamu berubah?”

“Aku hanya ingin membatasi hubungan kita. Memang benar kita berteman sejak kecil, tapi setelah dewasa, kita memiliki kehidupan masing-masing.”

“Aku sedang hamil, Adri, aku butuh perhatian.”

“Tapi bukan dari aku. Mengapa kamu menganggap aku bisa menjadi penghibur kamu saat kamu sedang terkena masalah? Kamu harus bisa membatasi persahabatan kita. Berbeda ketika kita masing-masing sudah punya kehidupan sendiri.”

“Kamu tidak kasihan sama aku, Adri. Aku tahu sesungguhnya kamu tidak tega. Apakah istri kamu marah dan mulai mencurigai hubungan kita?”

“Apa maksudmu ‘hubungan kita?’ Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan kalau kamu ingin mengeluhkan kehamilan kamu, maka seharusnya keluhan itu kamu tujukan kepada suami kamu. Bukan aku.”

Kali ini Nirmala memasang kupingnya. Ia bermaksud menentukan hari ini, jalan mana yang akan dipilihnya, jadi ia sekalian akan mempersilakan Adri agar meninggalkannya, walau masalah menjaga perasaan orang tua masih harus dipikirkannya. Semestinya karena Dwi hamil maka dia harus bertanggung jawab bukan? Tapi Nirmala heran mendengar perkataan Adri ketika bertelpon.
Apa yang salah sehingga Adri justru marah-marah. Adri juga menyebut tentang suami. Ah ya, bukankah Dwi wanita bersuami? Tapi Adri pernah mengatakan bahwa mereka sedang dalam proses cerai.

Adri masih menggendong Tama yang diam seakan mendengarkan perkataan sang ayah di telpon. Ia tidak merengek, tidak pula menangis.

Nirmala duduk di ruang tengah, tangannya memegang remote dan mengotak atiknya untuk menyalakan televisi. Tiba-tiba Adri datang, menyerahkan ponsel Nirmala, sambil duduk di sampingnya.

“Nirmala, jangan pergi,” katanya lirih.

“Maaf kalau aku mengungkapkan rasa kesal atas kedatangan Bima. Aku terlalu cemburu karena kamu selalu memuji-mujinya.”

Nirmala meletakkan remote yang semula dipegangnya.

Kok jadi masalah Bima, bukan masalah perempuan dengan keluhan kehamilan itu tadi? Dan apa arti jawaban ketika Dwi menelponnya? Hanya pura-pura karena ada dirinya? Nirmala tetap masih curiga.

“Aku dan Bima hanya sahabat baik. Berbeda dengan kamu.”

“Aku kenapa?”

“Seorang perempuan hamil dan kamu tidak merasa punya tanggung jawab?”

“Apa maksudmu? Dia hamil karena punya suami, apa itu masalah aku?” kata Adri dengan nada tinggi.

Nirmala terdiam. Pikiran warasnya baru bekerja. Iya juga, Dwi punya suami, dan kehamilan itu, mengapa harus Adri yang bertanggung jawab? Tapi siapa tahu Adri juga pernah ….

“Apa kamu menuduh aku yang menghamili Dwi?”

Nirmala menatap Adri, kebiruan di dahinya ternyata ada lecet yang semula tak tampak. Ingin tangannya mengelusnya.

“Bukan kamu?”

“Nirmala, apakah aku seburuk itu? Aku selalu bilang bahwa aku mencintai kamu, apakah itu tidak cukup untuk membuat kamu mengerti bahwa aku memang mencintai kamu?”

“Tapi … sepertinya Dwi sangat bergantung pada kamu.”

“Tadinya aku kasihan karena suaminya akan menikah lagi dan dia kemudian meminta cerai. Tapi tiba-tiba dokter mengatakan kalau dia sedang hamil. Aku kasihan dan memintanya kembali saja kepada suaminya, karena alasan suaminya menikah lagi adalah karena suaminya menganggap bahwa Dwi tak bisa memberikan anak untuknya. Tapi kenyataannya Dwi hamil. Aku selalu membujuknya untuk kembali.”

“Mengapa juga dia selalu mengeluh kepada kamu?”

“Ketika aku tahu bahwa dia sudah melampaui batas, aku bersikap keras pada dia. Aku ingatkan bahwa bukan kepada aku dia selalu berkeluh.”

“Apa kamu tidak berpura-pura? Kamu bersikap keras karena ada aku kan? Kemarin ketika ada Bima kamu menerima telponnya dengan manis.”

“Astaga, saat itu aku hanya ingin memanas-manasi kamu, karena aku kesal saat kamu menerima kedatangan Bima. Saat ini aku sudah mengabari Anton, suami Dwi, bahwa istrinya ternyata hamil. Aku berharap mereka akan baik-baik saja dan melanjutkan pernikahan yang tiba-tiba terguncang.”

Nirmala terdiam. Kesalah pahaman ini sudah membuatnya melangkah terlalu jauh.

“Mbak Rana, coba ambilkan obat merah dan salep di kotak obat,” Nirmala berteriak.

***

Dwi menangis terisak-isak. Bibik pembantu kewalahan membujuknya. Ia heran pada sang nyonya majikan. Sudah dewasa tapi sikapnya masih seperti anak kecil. Benar benar seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainan.

“Bik, kamu tahu, aku mencintai dia,” katanya pelan.

“Nyonya tidak boleh bersikap seperti itu. Tuan Adri itu punya istri, dan kalau dia menerima telpon Nyonya dengan sikap keras, berarti Nyonya bertepuk sebelah tangan. Menurut saya, hal itu tidak bisa dilanjutkan. Nyonya harus berhenti.”

“Enak saja kamu bicara.”

“Kemarin Nyonya sudah menelpon istrinya, dan belum sempat bicara malah telponnya diberikan kepada suaminya kan? Apa maksud Nyonya dengan menelpon istri tuan Adri?”

“Agar dia tahu bahwa aku ada hubungan dengan suaminya.”

“Nyonya bersikap sangat gegabah. Maaf Nyonya, saya tidak mendukung Nyonya dalam hal ini.”

“Bik, temanku hanya bibik sekarang ini. Harusnya bibik mendukung aku, agar aku tidak sedih.”

“Kesedihan itu Nyonya sendiri yang membuatnya. Kalau Nyonya tidak berpikiran macam-macam, pasti pikiran nyonya akan lebih tenang.”

“Aku sedang hamil Bik, aku butuh seseorang.”

“Kalau Nyonya membutuhkan seseorang, orang itu adalah suami Nyonya.”

“Apa maksudmu? Kamu lupa bahwa dia mau menikah lagi? Barangkali juga dia sudah menikah saat ini, sambil mengurus perceraian denganku.”

“Tapi alasan menikah lagi itu kan jelas, dia menganggap Nyonya tidak bisa hamil. Kenyataannya Nyonya hamil. Hal termudah ialah mendatangi suami Nyonya, melarangnya menikah karena Nyonya ternyata hamil.”

“Mana bisa segampang itu, lagipula aku tidak mencintai suamiku lagi. Terlanjur sakit hati, lalu cinta itu sudah hilang. Ditambah sikap mertua aku yang nyinyir dan selalu meremehkan aku”

“Nyonya, kalau Nyonya bisa berbicara dengan baik, semuanya akan menjadi baik.”

“Sudahlah Bik, aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku tetap akan mengejar cintaku. Aku yakin Adri hanya terpaksa karena sungkan kepada istrinya.”

Bibik pembantu kehilangan kata-kata. Ia bangkit dan berjalan ke belakang, karena dengan cara apapun sang nyonya tidak mau mendengarnya.

***

Pagi hari itu Dwi bangun agak siang. Badannya terasa tidak enak. Ia merasa sangat lelah, dan rasa mual masih sangat mengganggunya.

Ia menelpon ke kantor bahwa tidak bisa masuk hari itu.

Bibik menyiapkan obat yang harus diminum, lalu menyiapkan sarapan untuk sang nyonya.

“Ini apa?”

“Obat yang harus Nyonya minum sebelum makan.”

Dwi meraih obatnya dan menelannya. Sejak semalam ia masih merasa mual, walau muntahnya sudah berkurang.

“Sebentar lagi Nyonya harus makan.”

“Mengapa mas Anton tidak segera mengabari perkembangan permohonan cerainya?”

“Nyonya, saya mau ke pasar dulu. Sarapan untuk nyonya sudah saya siapkan.”

“Ya. Aku mau tiduran di kamar dulu.”

Tapi ketika dia bangkit bermaksud masuk ke kamar, sebuah mobil memasuki halaman. Dwi hampir bersorak karena mengira Adri yang datang. Ia keluar, dan berdiri di teras. Yang datang adalah Anton suaminya.

“Cuma mengabari masalah perceraian saja, mengapa harus datang? Dari mana juga dia tahu bahwa aku ada di sini?” gumam Dwi dengan wajah gelap

***

Besok lagi ya.

BIARKAN AKU MEMILIH 31

  BIARKAN AKU MEMILIH  31 (Tien Kumalasari)   Adri dan Anton saling pandang. Mereka baru sekali bertemu, ketika Adri menjemput Dwi saat baru...