AKU ANAK SIAPA … 06
(Tien Kumalasari)
Satria sudah berhenti menangis. Senja sudah membersihkan lukanya, dan menutupinya dengan plester.
“Lain kali Satria tidak boleh lari-lari ya, apalagi di jalanan,” kata Arka.
“Iya.”
“Masih sakit?”
Satria menggeleng, membuat Arka dan Senja merasa lega.
“Jadi beli baju untuk Bibik?” tanya Arka, yang dijawab Senja dengan menggeleng.
Setelah anaknya jatuh, dia hanya ingin segera pulang saja. Ia masih berdebar-debar tadi, khawatir anaknya kenapa-kenapa.
“Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Hei, kamu melihat apa?”
“Mana pak satpam yang tadi?”
“Sudah pergi, bukan salah dia, salah Satria yang menabraknya tadi.”
“Bukan untuk menyalahkan. Tadi seperti ada yang membonceng di belakangnya.”
“Memangnya kenapa? Mungkin istrinya. Mengapa kamu memikirkan masalah dia memboncengkan siapa.”
“Sepertinya aku melihat non Rosa.”
“Rosa? Memangnya siapa pak satpam tua itu? Apa dia kerabat Rosa? Aku tidak mengerti. Pasti kamu salah lihat,” kata Arka sambil menjalankan mobilnya.
“Mungkin juga. Tapi mirip sekali non Rosa. Hanya penampilannya agak lain.”
“Apa kamu lupa, Rosa ada di dalam penjara?”
“Sudah bertahun-tahun, mungkin dia sudah pulang. Tapi mengapa pakaiannya seperti itu? Dia tidak pulang ke rumah pak Daryono?"
“Rosa bukan putri pak Daryono.”
“Iya, aku tahu. Lalu … sekarang dia ada di mana? Pasti sudah keluar dari penjara. Atau … kemudian ikut pak satpam tadi? Atau … jangan-jangan pak satpam itu ayahnya.”
“Mungkin, tapi mengapa kamu memikirkannya?”
“Nggak apa-apa, entahlah, tiba-tiba kepikiran saja, gara-gara perempuan yang aku lihat tadi.”
“Kamu masih dihantui kelakuan Rosa kepadamu?”
“Terkadang masih mengingatnya, tapi sudahlah. Allah sudah memberi aku dan orang tuaku kehidupan yang lebih baik, aku harus bersyukur. Semoga akan selamanya begitu.”
“Aku kan sudah berjanji, akan membuat kamu bahagia. Selamanya, dan aku tak akan mengingkarinya.”
“Terima kasih Mas, kamu memang malaikat penolongku, dan pelindungku.”
“Ngomong-ngomong, Satria sudah besar, apa kamu tidak ingin Satria punya adik?”
“Apa? Mengapa pembicaraan beralih ke arah situ?”
“Memangnya tidak boleh?”
“Ini di jalan, lagian ada Satria, nanti Satria mendengarnya.”
“Aku lihat tuh, Satria sudah tidur dari tadi, mana mungkin dia mendegarnya?”
Senja tertawa.
“Sebenarnya anak itu lelah bermain bersama om Rimba tadi. Makanya dia cepat sekali tertidur.”
“Baiklah, kalau tidak boleh membicarakan hal itu di jalan, nanti di rumah ya.”
“Ihh, dasar tak tahu malu.”
Arka terkekeh. Walau sudah menjadi istrinya bertahun-tahun, Senja masih saja bersikap malu-malu, walau akhirnya mau.
Di sepanjang jalan Arka tersenyum-senyum sendiri. Bahagia ini tak akan berlalu, selamanya akan begini.
" Semoga," bisiknya dalam hati.
***
“Tadi kamu dari mana saja?” tanya pak Gatot ketika sedang santai.
“Hanya jalan-jalan, nggak enak di rumah saja, sendirian.”
“Apa kamu tidak punya rencana tentang sesuatu? Mencari pekerjaan, misalnya?”
“Mencari pekerjaan. Iya juga, saya kan tidak selamanya harus merepotkan pak Gatot. Tapi bekerja apa? Aku sudah cukup tua untuk mencari pekerjaan.”
“Kamu dulu sekolah sampai apa? SMA?”
“Tidak. Saya lupa. Mungkin SMA, tapi tidak sampai tamat, orang tua saya miskin,” katanya sekenanya.
“Kamu tidak mau mengatakan kehidupan kamu sebenarnya bagaimana?”
“Apa yang bisa dikatakan tentang orang yang terlahir dari keluarga miskin seperti saya?”
“Apa kedua orang tuamu sudah tidak ada?”
“Tidak ada. Saya hidup terlunta-lunta dijalanan sampai bertemu Bapak.”
Pak Gatot terdiam. Ia juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia menaruh belas kasihan kepada Rosa yang hidup terlunta-lunta. Apa karena ia hidup sendirian selamanya? Apa dia tertarik kepada Rosa? Tidak. Dia merasa sudah terlalu tua untuk punya istri. Dia tak pernah bermaksud punya istri lagi setelah istrinya meninggal saat pernikahan belum berlangsung lama.
Tiba-tiba wajah pak Gatot berubah sendu ketika mengingat hidupnya sendiri. Walaupun dia bisa bekeja, tapi dia juga bisa dikatakan terlunta-lunta, tanpa teman, tanpa kawan. Oh ya, kesendirian dan kesepian itulah yang kemudian membuat pak Gatot merasa iba ketika melihat Rosa dikeroyok banyak orang hanya karena mencuri sepotong roti.
“Rosa, kalau kamu tidak ingin bekerja, juga tidak apa-apa. Gajiku masih cukup untuk menghidupi kita berdua.”
“Saya juga merasa tidak enak selalu merepotkan Bapak. Saya ingin bekerja, tapi bekerja apa?”
“Kamu masih bisa dibilang muda. Umurku sudah duapuluhan tahun di atas kamu, kira-kira, tapi masih bisa bekerja. Mengapa kamu merasa tua? Tapi kalau kamu tidak ingin bekerja, diamlah di rumah, jadilah anakku.”
Rosa menatap wajah pak Gatot yang memang sudah tampak tua. Walau begitu dia masih bekerja.
“Sangat menyenangkan mendengar Bapak mau menjadikan saya anak Bapak.”
“Syukurlah kalau kamu suka.”
Rosa terdiam, ia ingin melakukan banyak hal, tapi dia tak punya apa-apa. Ketika polisi membawanya pergi, ia memiliki sebentuk cincin, tapi cincin itu sudah dijualnya, untuk beberapa kebutuhan saat di penjara. Itupun tidak seberapa, karena mungkin saja petugas yang menolongnya tidak memberikan semua uang hasil penjualan cincin itu. Saat itu ia hanya pasrah. Tapi masih ada rasa sakit hati yang membuatnya tak bisa melupakannya. Kebenciannya kepada Senja, anak tukang beras yang miskin dan berhasil merebut semua yang menjadi mimpi-mimpinya.
“Apa yang kamu pikirkan? Kalau kamu ingin bekerja, aku akan mencarikannya. Di sekitar aku bekerja banyak toko-toko, mungkin ada yang menerima kamu bekerja di salah satunya. Bersih-bersih misalnya. Atau membantu jadi pelayan ….”
Hati Rosa merasa teriris. Dia yang pernah sekolah di luar negri, ke mana-mana naik mobil, makan enak dan pakaian bagus, lalu menjadi pelayan? Tukang bersih-bersih?
“Tidak suka?”
Rosa masih diam. Ia sedang menimbang-nimbang. Kalau dia tidak bekerja, ia tak akan pernah memiliki uang, karena pak Gatot pasti hanya memberi uang untuk makan, dan pasti dia sungkan kalau meminta. Alasan meminta untuk apa? Nanti terdengar aneh, dan pak Gatot lama-lama akan mencurigainya kalau dia melakukan sesuatu.
“Kalau tidak suka ya tidak apa-apa, tinggal di rumah saja.”
Walau mengatakan begitu, pak Gatot merasa bahwa Rosa ini agak malas. Katanya tidak bisa memasak tapi tidak berusaha untuk bisa. Bersih-bersih rumah juga ala kadarnya. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan jalan-jalan yang entah apa tujuannya. Ditawarin pekerjaan, tidak merespon.
“Ah ya, pemilik toko di mana bapak bekerja, membutuhkan pengasuh bayi. Kamu bisa? Gajinya lumayan, kata pengasuh yang terdahulu. Dia pamit karena menikah di kampung.”
Pengasuh bayi, ini agak lumayan. Dia bukan pelayan yang harus beropakaian lusuh. Gajinya lumayan. Baiklah, mengapa tidak?
“Baiklah Pak, saya mau.”
“Kalau begitu besok aku bilang kepada majikan, bahwa kamu mau bekerja sebagai pengasuh putranya. Nanti aku katakan bahwa kamu adalah anakku.”
Rosa mengangguk. Semalaman dia berpikir, apa yang dilakukan seorang pengasuh bayi, bukankah dia tak pernah melakukannya? Tak apa, dia bisa belajar dari yang lain. Pastinya di sana ada pembantu yang bisa ditanya-tanya. Rosa nekat, yang penting bukan pelayan dan tukang bersih-bersih. Bukankah ia butuh uang?
***
Besok lagi ya.