Thursday, August 27, 2026

AKU ANAK SIAPA 22

 AKU ANAK SIAPA  22

(Tien Kumalasari)

 

Rosa terkejut, ia menundukkan wajahnya, sementara Rochmah menatap ibunya dengan penuh tanda tanya.

“Di mana Ibu menemukan dia? Dia buronan.”

”Rochmah, jangan bicara sembarangan. Dia wanita baik-baik, tadi shalat subuh di mushala.”

“Wajah wanita ini terpampang di mana-mana, dia mengatakan namanya Rosa. Memang buronan itu bernama Rosa.”

”Kamu melukai hati orang yang belum pernah kamu kenal. Kamu mengatakan dia buronan, berarti menuduh orang berbuat jahat. Kamu belum mengerti tentang dia.”

“Bu, percayalah. Lihat, dia menundukkan wajahnya karena takut. Tapi aku tak bisa tinggal diam, aku harus melaporkannya kepada yang berwajib.”

“Rochmah. Jangan sembarangan. Kamu tanya dulu dia sebenarnya siapa, belum-belum mau lapor. Kalau salah bagaimana?”

“Kalau kita melindungi buronan, maka kita juga akan dianggap bersalah. Kita akan ikut masuk penjara.”

“Bu, maaf kalau anak saya lancang.”

“Ibu jangan mempercayainya. Wajah boleh jadi sama, tapi wajah dan nama yang sama, tak bisa lagi dipungkiri."

“Tidak perlu minta maaf Bu, dia benar.”

“Apa? Jadi ibu memang buronan seperti dikatakan anak saya?”

“Saya telah melakukan kejahatan,” kata Rosa lirih.

“Tuh, kan? Kita tidak bisa tinggal diam, aku mau lapor polisi. Awas ya Bu, jangan coba-coba kabur. Karena kemanapun Ibu kabur, polisi pasti akan bisa menangkap Ibu.”

“Rochmah, jangan kasar begitu.”

“Kamu tidak usah melaporkannya, aku mau menyerahkan diri.”

“Apa? Lalu tiba-tiba Ibu akan kabur?”

“Antarkan aku ke kantor polisi terdekat, aku sudah pasrah, tidak akan kabur,” kata Rosa tandas.

Ia sudah lelah, apapun yang akan diterimanya maka ia akan menjalaninya. Ketenangan jiwanya didapat ketika di mushala, ketika mendengar adzan, ketika ia bersujud, ketika ia menangis dalam sujudnya.

“Baiklah, awas jangan lari.”

“Tunggu. Biarlah dia makan dulu.”

“Bu ….”

“Ambilkan nasi yang kamu beli, biar dia makan dulu bareng Ibu, di sini,” kata sang ibu tandas.

Rochmah menuruti apa kata ibunya. Ia terus menatapnya waspada. Dilihatnya Rosa makan dengan lahap. Tampaknya ia lapar sekali. Sebentar saja ia sudah menghabiskan sepiring makanannya.

“Minumlah dulu Bu, jangan terburu-buru.”

“Kantor polisi sangat dekat, saya akan meminta tetangga untuk ikut mengawalnya. Saya hanya sendiri, kalau dia kabur bagaimana,” kata Rochmah sambil beranjak keluar.

Rosa diam saja.

“Bu, maafkan anak saya ya,” kata ibu yang baik hati itu.

“Tidak apa-apa, saya kira ini yang terbaik untuk hidup saya, saya sudah pasrah. Saya siap menebusnya,” kata Rosa.

Ia tak pernah merasa setenang ini.

“Hati-hati ya Bu, semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan memberi jalan terbaik untuk kehidupan Ibu selanjutnya.”

“Aamiin.”

Rosa menatapnya terharu. Ia juga menatap punggung wanita itu ketika tiba-tiba masuk ke kamar, lalu ketika keluar ia membawa sebuah bungkusan.

“Bu, ini mukena, dan beberapa kerudung. Saya  berharap agar ibu mempergunakannya,  agar hidup Ibu tenang.”

Rosa menerimanya sambil berlinang air mata.

“Saya akan menjalaninya. Terima kasih banyak.”

***

Pagi hari itu pak Daryono menerima telpon dari kantor polisi. Ia mengatakan kalau Rosa sudah tertangkap, tapi kemudian diralatnya dengan kata-kata bahwa Rosa sudah menyerahkan diri.

Pak Daryono mencari sang istri, menyampaikan berita itu.

Bu Daryono menghela napas panjang.

“Syukurlah, kalau dia menyerahkan diri, berarti dia sudah sadar, sudah mengakui bahwa dia bersalah.”

“Mudah-mudahan kesadaran yang benar-benar sadar.”

“Papa mau ke kantor polisi?”

“Iya, pastinya kita juga akan dimintai keterangan.”

”Aku mau ikut ya Pa, aku ingin bertemu Rosa. Seperti apa dia.”

“Sudah sangat lama, pasti dia sudah semakin tua. Tigapuluhan tahun lebih, hampir empat puluh tahun. Ketika dia ditahan untuk pertama kalinya juga sudah tigapuluh tahun lebih.”

“Kata Bibik masih kelihatan cantik.”

“Sebenarnya dia memang cantik, sayang sekali tidak bisa berperilaku baik.”

“Jam berapa Papa mau ke sana?”

“Setelah sarapan, kita langsung ke sana.”

“Baiklah, aku akan siap-siap dulu. Aku juga akan mengabari jeng Surani, dia juga pernah kehilangan gelang anaknya.”

“Dia tidak melaporkan apa-apa. Hanya kita.”

“Bagaimanapun dia harus tahu.”

“Baiklah, terserah Mama saja.”

***

Pak Gatot bertugas pagi itu, walau badannya terasa agak kurang enak. Ketika bu Surani datang mendekati, ia sedang bersin-bersin.

“Pak Gatot sakit?”

“Sepertinya mau flu ini Nyonya,  dari tadi bersin-bersin terus.”

“Nanti biar Bibik memberi obat kemari. Saya punya obatnya. Kalau baru awal langsung diobati, biasanya cepat sembuhnya.”

“Terima kasih Nyonya.”

“Pak Gatot sudah sarapan?”

“Sudah tadi, sebelum berangkat.”

“Syukurlah, jadi nanti bisa langsung minum obatnya. Begini pak Gatot, sebenarnya saya mau memberi kabar baik untuk pak Gatot.”

“Kabar baik apa, Nyonya?”

“Rosa sudah ditangkap. Eh , maksudnya menyerahkan diri. Mungkin lelah lari ke sana kemari.”

“Benarkah? Di mana dia menyerahkan diri? Mengapa tiba-tiba mau menyerahkan diri. Tapi mungkin Nyonya benar, dia sudah lelah. Saya kira itu yang terbaik. Dia tak mungkin bisa selalu menjadi buronan terus menerus.”

“Bukankah pak Gatot ingin mengantarkan nanti ke makam ibunya kalau bisa bertemu dia?”

“Ya, akan saya lakukan, tapi apakah bisa saat ditahan dia diajak pergi-pergi? Pastinya harus menunggu kalau hukumannya selesai.”

“Pastinya begitu," kata bu Surani.

"Tapi kalau ingin ketemu saja, bagaimana ya Nyonya?”

“Pastinya ada jadwal hari membezuk pesakitan, nanti saya tanyakan kepada bu Daryono. Kapan-kapan bisa menemui dia. Nanti saya antar Pak.”

“Nyonya akan memarahi dia?”

”Tidak, dengan adanya dia di dalam tahanan, dia sudah terhukum. Saya hanya ingin mengantarkan pak Gatot, tapi setelah saya menanyakannya nanti kepada bu Daryono.”

“Bu Daryono itu orang tua angkatnya?”

“Benar. Dan mereka juga yang melaporkannya kepada polisi. Semoga kejadian ini bisa membuatnya jera.”

“Tapi tidak enak kalau Nyonya mengantarkan saya, biar saya berangkat sendiri saja, Nyonya katakan saja di hari apa dia bisa dijenguk dan di mana.”

“Tidak apa-apa Pak, sekalian aku ke kantor nanti.”

“Baiklah, saya menunggu berita dari Nyonya saja. Terima kasih telah diberi tahu.”

***

Pak Daryono dan bu Daryono terkejut ketika bertemu Rosa. Dia tampil sederhana, dengan berhijab, dan itu tidak menyembunyikan kecantikannya walau sudah berumur.

Di depan bekas orang tua angkatnya, Rosa hanya menundukkan kepalanya. Ada tetesan air mata membasahi bajunya.

“Rosa, penampilanmu kali ini sangat bagus. Kamu tampak seperti perempuan sholehah. Aku harap urusan kamu dengan yang berwajib ini kali yang terakhir. Kelak kamu bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang.”

“Saya minta maaf, Tuan dan Nyonya.”

“Mengapa kamu memanggil kami begitu?”

“Apa saya masih pantas memanggil Papa dan Mama? Saya kotor dan hina.”

“Kalau kamu merasa berat memanggil Papa dan Mama, panggil saja Pak dan Bu, jangan tuan, jangan nyonya.” lanjut pak Daryono.

“Uang hasil penjualan itu sudah habis. Tinggal beberapa ratus ribu, akan saya kembalikan.”

“Tidak usah Rosa, bawa saja oleh kamu, barangkali kamu membutuhkan sesuatu,” kata bu Daryono.

Rosa tak menjawab, sedikit sungkan. Uang yang puluhan juta hasil penjualan perhiasan itu memang tinggal ratusan ribu. Uang itu dipergunakan untuk membayar kejahatan baru, yang walau ia sudah habis-habisan, penculikan itu tidak berhasil.

“Saya hanya dendam kepada Senja.”

“Apa dosa Senja terhadapmu sehingga kamu melakukan kejahatan demi kejahatan demi membuat dia sengsara? Dan nyatanya tidak berhasil kan? Itu masih masalah Arka?”

Rosa menundukkan kepalanya, tidak sepatahpun mampu menjawab.

“Senja wanita baik, pastinya Allah melindunginya.”

“Saya yang salah.”

“Kalau kamu menyesal, benar-benarlah menyesal, lalu jalanilah hidup yang bersih.”

Rosa lagi-lagi tak menjawab. Tapi kali ini ia mengangguk.

“Apa kamu kenal yang namanya pak Gatot?”

Kali ini Rosa mengangkat wajahnya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, August 26, 2026

AKU ANAK SIAPA 21

 AKU ANAK SIAPA  21

(Tien Kumalasari)

 

Satria bercerita banyak tentang orang yang menjemputnya siang itu, sampai ia kemudian diserahkan kepada seorang wanita yang wajahnya seperti setan. Polisi tentu saja sedang menyelidiki tentang penculikan itu. Siapa pelakunya dan apa motifnya.

“Apa ya sebenarnya maksud orang itu. Dan siapa dia?” kata Senja.

“Aku juga sedang berpikir. Kalau tentang minta tebusan, pasti ada yang menghubungi kita tentang tebusan itu. Nyatanya tidak.”

“Mungkin belum, siapa tahu menunggu sehari dulu. Tapi aku bersyukur, Satria bisa terlepas dari penjahat itu.  Menurut ibu pemilik rumah kost itu, Satria sangat cerdik dengan memukul-mukul pintu ketika wanita penculiknya sedang ke kamar mandi. Kalau tidak, pasti tidak ada yang mengetahuinya.”

“Anak bapak pasti pintar, ya kan?” kata Arka sambil mengelus kepala anaknya.

“Tapi kasihan, tuh, bibirnya terluka, tangan dan kakinya matang biru. Apa sih maunya orang itu?” kata Senja sambil menciumi anak semata wayangnya.

“Sakit ya?”

“Ya sakit Bu.”

“Pasti kamu ketakutan?”

“Iya, untunglah ada ibu gemuk yang membawa aku, setelah mereka melepaskan lakban di mulut dan ikatan kaki tanganku.”

“Ya Allah Nak, lain kali jangan sembarangan ikut orang ya, biarpun dia bilang saudara, om, kakek atau nenek, kalau kamu belum pernah bertemu jangan percaya. Oke?”

“Iya Bu. Ternyata om itu pembohong. Bukankah bohong itu dosa?”

“Tentu saja dosa. Kalau suka bohong, dan jahat sama orang, nanti dimarahi sama Allah.”

“Tidak masuk sorga kan Bu?”

“Ya, tidak masuk sorga, tapi masuk neraka.”

“Temannya setan kan Bu?”

“Ya, temannya setan.”

“Kemarin itu aku disekap sama setan. Wajahnya menakutkan, banyak hitam-hitam, bibirnya merah besar, itu kan setan.”

“Ya sudah, tidak usah diingat-ingat lagi ya? Kamu harus bersyukur pada Allah, karena telah selamat dari cengkeraman setan.”

Satria mengangguk, lalu kembali tenggelam dalam rangkulan sang ibu. Ia merasa sangat tenang setelah kembali pulang.

“Senja, ada baiknya kamu menghubungi sekolah dan mengabari kalau Satria sudah ketemu.”

“Ya, aku juga sudah mau melakukannya. Kemarin mereka juga panik.”

***

Pagi itu Rosa terbangun dari tidurnya di depan sebuah mushala. Ada suara adzan yang sangat keras, menggelitik telinganya. Ia meletakkan bungkusannya, dan melihat banyak orang datang, lalu mendengar gemericik air mengguyur.

Tiba-tiba Rosa sangat merasa gerah, dan membutuhkan air untuk mengguyur wajahnya, tubuhnya dan semuanya.

Ia meninggalkan bungkusan pakaiannya di sebuah sudut, lalu mengikuti orang-orang yang beranjak ke arah samping mushala. Pasti disitulah letak pancuran itu. Ia mengikuti seorang wanita yang berjalan menuju pancuran. Ia ingat ketika orang tua angkatnya menyuruhnya selalu bersujud setiap mendengar suara adzan.

Rosa memutar sebuah kran. Air yang mengguyur membuatnya segar. Ia membasuh wajahnya, menggosoknya sampai bersih. Lalu ia menirukan wanita di sampingnya yang mengambil wudhu. Ia hampir lupa, bagaimana caranya berwudhu.

“Bu, kalau tidak membawa mukena, di dalam ada mukena yang bisa Ibu pakai.”

Entah mengapa, wanita itu tahu kalau dia tidak membawa mukena. Mukena? Rosa lupa bagaimana mengenakan mukena. Tapi ia mengikuti wanita itu. Di sudut sebelum memasuki ruang dalam, ada secuah cermin, dan Rosa heran kepada dirinya sendiri. Itukah wajahnya? Bersih dan cantik. Mana coreng moreng yang tadi menutupinya. Rosa menghela napas. Hatinya bergejolak antara mengikuti anjuran wanita itu atau mengabaikannya. Tapi sebuah suara kembali mengingatkannya.

“Bu, mukenanya di sana, ada banyak kok,” katanya sambil menunjuk ke arah sebuah almari, agak jauh di samping dia bercermin.

Mau tak mau ia mengikutinya. Ia mengambil satu, lalu menirukan orang disampingnya, bagaimana mengenakan mukena.

“Ibu belum pernah kemari ya, saya belum pernah melihat Ibu.”

“Iya, saya akan keluar kota, kemalaman, tidak mendapat kendaraan.”

“Oh, begitu, ayo kita ke sana, sebentar lagi qomat.”

Rosa mengikutinya dengan linglung, tapi ia mengikuti ketika shalat berjamaah itu sudah dilakukan. Sedikit banyak dia pernah melakukannya, jadi tidak begitu kikuk, entah doa apa yang diucapkannya, yang penting dia ikut. Ia juga menyambut ketika orang di samping kiri dan kanannya menyalaminya sambil tersenyum. Iapun tersenyum. Senyum seperti mereka, tulus, lalu tiba-tiba hatinya menjadi teduh.

Mereka masih melanjutkan doa, dan Rosa merasa ada ketenangan merayapi hatinya. Semua yang pernah terjadi memenuhi benaknya, bergantian, seperti menghantam jiwanya bertalu-talu. Dadanya terasa sesak. Mengapa semua yang dilaluinya ada sesuatu yang kotor, hitam, membuatnya gelisah. Lalu air mata tiba-tiba meleleh, membasahi pipinya, dan dia kembali bersujud, menangis terisak, mengingat betapa gelapnya jalan yang dilaluinya. Betapa semuanya itu membuat hidupnya tak merasa tenang. Ia tak tahu harus ke mana, ia kehilangan pegangan, lalu ia ketakutan manakala diingatnya bahwa dia adalah buron. Yang berwajib mencarinya karena pencurian yang dilakukannya. Bekas orang tua angkatnya tidak kejam, itu sewajarnya. Sebuah kejahatan harus mendapatkan ganjarannya. Tapi kemudian ia takut. Takut sekali karena ia pernah mengalami betapa getir dan sengsaranya hidup di dalam penjara. Sekarang ia merasa lelah. Sangat lelah.

Ia masih bersujud, terisak, tanpa sadar wanita yang tadi mengajaknya shalat masih duduk di sebelahnya. Rosa terkejut ketika sebuah tangan menyentuhnya lembut.

Ia mengangkat tubuhnya, lalu mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.

“Apakah Ibu sudah merasa tenang?”

Rosa menatap wanita setengah tua yang masih duduk di sampingnya. Wanita itu tersenyum, teduh. Air mata Rosa kembali meleleh. Wanita itu mengusap air mata Rosa dengan mukena yang dipakainya.

“Di mana rumah Ibu?”

Rosa menggeleng. Ia harus menjawab apa? Ia memang tak punya rumah.

“Jauhkah?” wanita itu melanjutkan pertanyaannya, walau pertanyaan pertama belum terjawab.

“Saya tidak punya.”

“Maksudnya … tidak punya rumah? Di mana selama ini Ibu tinggal.”

“Entahlah, di mana saja.”

“Maukah Ibu menceritakan apa yang terjadi?”

Rosa membisu. Mushala itu sunyi, hanya suara Ibu di sampingnya yang terdengar. Ada juga suara detak jam dinding yang tergantung di samping  dia duduk.

“Baiklah, jangan katakan kalau memang Ibu tidak mau mengatakannya.”

Rosa mencoba tersenyum, tipis, hambar. Wanita di sampingnya bisa membaca duka memenuhi wajahnya. Kuyu dan pucat. Kecantikan yang samar.

“Sekarang Ibu mau ke mana?”

“Entahlah,” jawabnya lemah. Ia memang tidak tahu akan pergi ke mana.

“Rumahku di belakang mushala ini. Maukah singgah barang sebentar sebelum Ibu memutuskan akan pergi ke mana?”

Rosa diam sejenak.

“Tak apa walau hanya sebentar, saya hidup hanya bersama anak saya yang sudah bekerja. Kalau dia berangkat kerja, saya sendirian.”

Rosa mengangguk. Ibu itu menariknya berdiri, dan membantu melepaskan mukena yang dipakainya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

Ia menggandeng tangan Rosa, yang kemudian berhenti sebentar untuk mengambil bungkusan miliknya di sudut ruangan.

***

Rumah itu sederhana. Ketika ia memasuki rumah itu, terdengar alunan suara merdu dari dalam kamar. Bukan alunan suara nyanyian seperti yang sering didengarnya.

Ibu itu mempersilakannya duduk.

“Anak saya, Rochmah, sedang mengaji. Tadi dia pulang duluan dari mushala,” terang Ibu itu tanpa ditanya. Lalu ia pergi ke belakang.

Mengaji, suara itu begitu mendayu, seperti alunan suara kidung dari atas sana. Itu terasa seperti mengelus jiwanya. Begitu menenangkan, lalu air matanya kembali meleleh. Mengapa ia menjalani hidup yang penuh semak terjal dan kegelapan yang membuatnya selalu berpikir dan gelisah. Ini suara sejuk. Seperti gemercik air dari sebuah sumber yang entah dari mana.

Ibu penolong itu keluar sambil membawa dua gelas teh hangat, lalu meletakkannya di meja.

“Ayo kita minum, saya sedang merebus singkong, sebentar lagi matang,” katanya sambil duduk di depan Rosa.

Rosa mengambil gelas itu, meneguknya hampir separuh. Tubuhnya merasa segar.

“Kalau mau mandi, kamar mandinya di belakang.”

Rosa mengangguk. Ia merasa tubuhnya berdebu.

Lalu ia mandi, mengganti baju lusuhnya dengan yang lebih bersih, menyisir rambutnya rapi. Lalu keluar dan duduk di ruang tamu di mana tadinya dia duduk. Suara mengaji sudah berhenti. Ibu penolong keluar dengan membawa singkong panas yang masih mengepul.

“Ayo di makan, sebentar lagi Rochmah akan datang, saya menyuruhnya membeli nasi untuk sarapan.”

Keduanya asyik memakan singkong. Lalu Rosa merasa, selama bertahun-tahun, baru sekarang dia makan sesuatu dengan rasa yang sangat nikmat.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat.

“Itu, Rochmah sudah datang. Penjual nasi ada di depan sana, pagi-pagi sudah buka.”

“Rohmah, ini Ibu yang aku ceritakan tadi. Nanti nasinya ditaruh piring, lalu dibawa kemari.

Rochmah tersenyum, ia mengulurkan tangannya, Rosa menyambutnya dan memperkenalkan namanya.

“Rosa,” katanya sambil tersenyum.

Tapi tiba-tiba Rochmah menatap wajahnya. Lalu seperti orang kaget dia berteriak.

“Bu, Ibu membawa buronan,” pekiknya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, August 25, 2026

AKU ANAK SIAPA 20

 AKU ANAK SIAPA  20

(Tien Kumalasari)

 

Satria terus memukul-mukulkan tangannya yang terikat, sampai merasa sakit. Bercucuran air matanya tanpa bisa mengeluarkan suara jelas, kecuali mmm … mmmh …

Seorang wanita yang kebetulan melewati kamar itu merasa heran mendengar suara aneh dan pintu dipukul-pukul. Ia segera memanggil teman se kost nya, dan keduanya kemudian mencoba membuka pintunya. Tapi pintu itu terkunci.

“Hei, ada apa? Ada orang di dalam?”

Suara pukulan pelan serta suara aneh itu sangat menarik perhatiannya.

“Ini kan kamar seorang penghuni baru itu?”

“Iya, namanya siapa sih?”

“Nggak tahu aku, begitu masuk nggak pernah keluar-keluar kecuali ke kamar mandi. Wajahnya selalu tertutup, tak ada yang mengenalinya.”

“Siapa di dalam?”

Suara ah uh itu terdengar semakin keras. Barangkali Satria menguras tenaganya agar bisa mengeluarkan suara lebih keras.

“Sepertinya dia butuh pertolongan.”

“Tapi pintunya dikunci, ini mencurigakan.”

“Kamu tungguin di sini, aku mau menghubungi bu Rini pemilik rumah.”

“Seperti orang kesakitan. Suaranya seperti minta pertolongan.”

Wanita satunya sudah selesai menelpon bu Rini, pemilik rumah.

“Kamu butuh pertolongan? Tungguin ya, kami akan menolong kamu.”

Tiba-tiba Rosa yang baru keluar dari kamar mandi mendekati dua orang yang kasak kusuk di depan kamarnya.

“Hei, sedang apa kalian?” sentaknya kesal.

“Di dalam ada siapa? Sepertinya dia butuh pertolongan.”

“Jangan ikut campur. Dia anak nakal, keponakan aku. Minggir sana,” kata Rosa marah sambil berusaha membuka pintu.

Tapi dua orang itu malah curiga. Mereka hanya mundur sedikit, tapi tak beranjak dari dekat pintunya. Suara dag-dug itu semakin pelan, barangkali tangannya semakin kesakitan, atau dia tak lagi punya tenaga.

“Mengapa kalian masih berdiri di situ?”

“Penghuni baru ini galak dan kasar sekali,” bisik wanita satunya.

“Pergilah, ini bukan urusan kamu.”

“Kami ingin tahu itu suara apa? Sepertinya_”

“Bukan urusan kamu!” hardiknya yang membuat keduanya mundur setindak. 

Hanya setindak, karena mereka benar-benar curiga.

“Buka saja pintunya, kami kan tidak bermaksud jahat?”

Tiba-tiba dari jauh seorang wanita mendekat. Dia adalah bu Rini, pemilik rumah kost itu.

“Ada apa?”

“Ini Bu, sepertinya di dalam ada yang butuh pertolongan.”

“Ini kan bu … “ pemilik rumah agak lupa nama Rosa. Tentu saja Rosa mengganti namanya, karena nama Rosa sudah terkenal sebagai buron.

“Saya Budi.”

“Bu Budi? Ada siapa di dalam? Bukankah tadinya Ibu ingin menyewa kamarnya sendirian?”

“Ini hanya anak kecil, keponakan saya Bu. Dia agak rewel, karena ibunya belum menjemput.”

“Kasihan, kenapa pintunya tidak segera dibuka?”

“Iya, tapi tidak ada apa-apa, ibu tidak usah khawatir. Maaf mengganggu.”

Rosa membuka pintunya dengan hati-hati, tapi begitu pintu dibuka, Satria menggulingkan tubuhnya keluar pintu. Rosa yang tidak mengira tak berhasil menahannya. Bu Rini dan kedua wanita yang belum pergi itu terkejut. Ada anak kecil diikat kaki tangannya, dan ditutup mulutnya dengan lakban.

Mereka segera mendekat dengan cepat.

“Ya ampuun, mengapa anak ini diperlakukan seperti ini?”

“Kejam sekali.”

Rosa ketakutan.

“Dia nakal, berteriak-teriak, karena takut mengganggu tetangga saya ikat dan saya tutup mulutnya.”

“Ini tidak manusiawi.”

“Cepat dibuka mulutnya bu.”

Ketiga wanita itu membuka tali kaki tangan Satria, dan juga mulutnya, membuat anak itu sekarang berteriak.

“Dia jahat! Dia jahatt!” walau berteriak, tapi suaranya lemah.

“Ini namanya disiksa. Masa keponakan sendiri disiksa?”

“Coba di kasih minum.”

Tanpa diminta Rosa mengambil air dari dalam kamarnya, dan diberikannya kepada Satria. Ia masih berlagak sebagai seorang ibu kepada keponakannya.

“Makanya jangan nakal. Ayo masuk dan tidur.”

“Nggak mau, aku mau pulang. Aku lapar.”

“Tidak dikasih makan?”

"Itu … saya baru mau beli makanan,” jawab Rosa.

“Kalau begitu saya bawa ke rumah saja, biar makan di rumah,” kata bu Rini yang kemudian menggandeng tangan Satria.

“Jangan Bu, biar saya saja.”

“Kasihan anak ini. Nanti setelah makan saya antarkan kemari lagi,” kata bu Rini yang diikuti kedua wanita itu, menuju rumah.

Rosa tak bisa apa-apa, ia bingung harus melakukan apa.

“Dasar bodoh! Mengapa tidak dibunuh saja sekalian anak itu?” teriaknya marah.

***

Bu Rini dan kedua wanita itu menyuapkan makan, memberi minum, dan mengobati bibirnya yang berdarah.

“Sakit?”

Satria mengangguk.

“Dia apanya kamu? Tantenya? Budenya?”

Satria menggeleng keras, dan menggoyang-goyangkan tangannya di mana pergelangannya merah karena ikatan rafia yang sangat kencang.

“Mengapa kamu bersamanya?”

“Dia orang jahat.”

“Kamu kenal sebelumnya?”

Satria kembali menggeleng.

“Bagaimana kamu bisa bersamanya lalu disiksa begini?”

“Saya dijemput om.”

"Dijemput di mana?”

“Sekolah.”

“O, kamu tadinya sekolah, lalu dijemput om kamu?”

“Bukan. Om yang lain.”

“Yang lain bagaimana?”

“Nggak kenal.”

“Kenapa kamu mau dijemput?”

“Katanya disuruh ibu. Tapi aku dibawa ke wanita jahat itu, lalu omnya pergi.”

“Ya Tuhan, ini penculikan.”

“Cepat lapor polisi, sebelum perempuan itu kabur.”

Tapi dalam hati wanita pemilik rumah kost itu berpikir, perempuan penyewa itu ketika datang pertama kali memang tidak memakai cadar, tapi menurutnya wajah itu seperti wajah buronan yang terpampang di mana-mana.

“Bedanya ia memiliki tahi lalat cukup banyak di wajahnya. Di ujung hidung, pipi kiri dan dahi, serta dibawah mata kanan. Tapi mirip sih. Masa iya dia buronan itu?” kata batin bu Rini.

***

Tapi memang benar Rosa sudah kabur terlebih dulu. Polisi hanya menemukan tas sekolah Satria yang masih ada di kamar itu. Dengan terlepasnya Satria, pasti ketahuan bahwa dia menculiknya. Sangat bodoh kalau dia masih berada di rumah itu. Ia pergi tanpa tujuan dengan perasaan yang kacau.

“Mengapa aku selalu gagal membuat celaka perempuan itu?” geramnya dalam pelarian.

Hari sudah malam ketika itu, ia tak tahu harus ke mana. Tak ada kendaraan umum yang lewat, jadi ia dengan membawa bungkusan baju dan uang yang tersisa hanya duduk di depan sebuah mushala kecil. Ia duduk sambil merangkul bungkusannya, lalu tertidur karena kelelahan.

***

Polisi sudah bergerak melakukan pencarian, dan Satria masih ada di rumah bu Rini, yang belum tahu harus mengantarkan ke mana. Tapi mereka sudah tahu kalau Satria adalah anak yang dicari orang tuanya.

“Kamu tidur dulu di sini ya, besok aku antarkan kamu pulang.”

Satria menatap wanita itu lekat-lekat.

“Ia pasti berbeda dengan wanita jahat itu. Wajahnya lembut, dan dia telah menolong aku. Masa dia akan tetap menahan aku di sini?” kata batin Satria.

“Mengapa kamu menatap aku seperti itu? Kamu menganggap aku orang jahat seperti bu Budi tadi?”

Satria menggeleng.

“Aku bukan orang jahat, aku benar-benar akan menolong kamu.”

Satria membayangkan wanita jahat itu, yang wajahnya coreng moreng menakutkan, dan ia menganggapnya sebagai perempuan jadi-jadian.

“Apa dia manusia?” celetuknya pelan.

“Siapa? Wanita itu? Ketika datang, dia seperti wanita baik-baik. Entah mengapa sekarang kalau keluar dia memakai cadar yang menutupi hampir seluruh wajahnya."

“Wajahnya coreng moreng. Seperti hantu.”

“Baiklah, kamu sudah aman sekarang. Orang tuamu pasti sudah tahu kalau kamu aman di sini. Kalau kamu tidak dijemput maka aku yang akan mengantarkan kamu pulang. Sekarang kamu tidurlah.”

Satria di suruh tidur di sebuah kamar, dan dia merasa aman serta lega.

Tapi di tengah malam itu, Satria merasa seperti mimpi, ketika ia dibangunkan. Seorang wanita cantik duduk di tepi pembaringan, dan seorang laki-laki gagah berdiri di sampingnya. Ia juga melihat polisi di belakang ayahnya.

“Aku seperti melihat Ibu dan Bapak,” bisik Satria sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Satria, anakku, ini Ibu, dan ini Bapak,” kata Senja yang kemudian merangkul Satria sambil menangis.

“Ini Ibu dan Bapak?” kata Satria kepada dua orang yang merangkulnya.

“Tentu. Seharian kami mencari kamu. Siapa orang yang berbuat jahat kepadamu, Nak? Ya ampun, kamu terluka, tanganmu kebiruan begini, diapakan?” kata Senja yang tak bisa menahan tangis.

“Ada perempuan seperti hantu.”

“Senja, lebih baik kita bawa pulang dulu Satria, dia pasti lelah, biar bisa istirahat di rumah," kata Arka.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada bu Rini si pemilik rumah yang telah menolong anaknya, Satria dibawa pulang.

Tapi di luar sana, dendam yang dibawa Rosa masih menyala.

***

Besok lagi ya.

Monday, August 24, 2026

AKU ANAK SIAPA 19

 AKU ANAK SIAPA  19

(Tien Kumalasari)

 

Entah karena sudah capek, atau karena bujukan laki-laki itu, maka Satria menurut saja pergi bersama si ‘om’ yang belum pernah dikenal sebelumnya. Satpam penjaga mengijinkannya, karena Satria mengatakan kalau sudah dijemput ‘om’nya.

Tapi tak lama kemudian Satpam itu terkejut, karena ibu Satria datang dan menanyakan anaknya.

“Lho, Bu … Satria sudah dijemput omnya.”

Senja terkejut bukan alang kepalang.

“Apa? Om siapa?”

“Ibu tidak kenal? Laki-laki itu berbincang dengan Satria, kemudian tiba-tiba Satria bilang bahwa dia sudah dijemput omnya.”

“Bapak ijinkan dia pergi?”

“Satria mengatakan dia omnya.”

“Om siapa? Ya Tuhan, ini tidak benar. Apa Rimba menjemput? Kok aneh, tak biasanya dia begitu.”

“Satria punya om kan Bu?”

“Punya, tapi dia sekolah, tak mungkin menjemput kemari, belum pernah dia melakukannya. Dan kalau benar, pasti dia mengabari saya.”

“Omnya sekolah? Tapi laki-laki itu bukan tampang anak sekolah, dia tidak lagi muda. Tidak jelas juga sih wajahnya, karena dia memakai helm.”

“Bapak tidak cermat dalam menjaga murid-murid! Anak saya diculik!”

Satpam itu terkejut. Ia bingung ketika Senja marah-marah dan pergi ke kantor. Seisi sekolah gempar, Senja menangis sambil kemudian berlari ke mobilnya.

Ia masuk ke mobil dan menelpon Rimba. Jawaban yang sudah diduganya itu tentu saja membuatnya panik.

“Tidak, aku masih di sekolah. Masa aku menjemput Satria?”

“Ya Allah Mba, Satria diculik.”

“Apa? Diculik? Bagaimana bisa? Sekolah kan ketat dalam menjaga anak didiknya? Bagaimana bisa ada murid diculik?”

“Kata satpam, dia mengaku omnya. Dan Satria percaya, entah bagaimana Satria bisa mempercayainya. Aku bingung Mba,” katanya sambil menangis.

“Lapor polisi Mbak. Mas Arka sudah diberi tahu?”

”Belum. Karena katanya dijemput omnya, maka aku menelpon kamu. Aku memang tidak yakin kalau kamu yang menjemput. Gimana ini Mba?”

“Mbak tilpon mas Arka, lapor polisi, aku akan minta ijin pulang untuk membantu mencarinya."

Arka tentu saja bingung mendapat laporan bahwa Satria diculik. Setelah menelpon Senja datang ke kantor, dan Arka sudah siap lapor polisi.

***

Satria bingung, karena laki-laki yang disebut om itu tidak membawanya ke rumah, tapi ke sebuah  rumah, dimana ia diajak masuk ke dalam sebuah kamar kecil. Ada Rosa di sana, tapi Satria belum pernah mengenalnya.

“Mengapa kemari? Mana ibuku?” protes Satria.

“Kamu mencari ibumu, sayang?” kata Rosa dengan wajah yang menurut Satria sangat mengerikan. Wajahnya berbedak tebal, ada coreng moreng hitam dan bibirnya dicat tebal.

“Kamu siapa? Aku nggak mau ke sini, aku mau pulang.”

“Mbak Rosa, aku sudah selesai, bayar dulu kekurangannya,” kata laki-laki itu tanpa basa-basi, dan tak peduli pada Satria yang mulai menangis.

“Baiklah, aku tidak akan ingkar,” kata Rosa sambil mengambil uang dari dalam tasnya, lalu diberikannya kepada si om.

Ketika laki-laki itu berbalik, Satria berteriak.

“Om, bawa aku pulang, aku nggak mau di sini!!”

Tapi Rosa memegangi tangannya, dan laki-laki itu pergi begitu saja.

”Pulaaaang, aku mau pulaaaang,” Satria berteriak-teriak sambil menangis dan meronta.

Rosa mengayunkan tangannya dan memukul mulut Satria sampai berdarah. Satria menjerit kesakitan.

“Kalau kamu berteriak lagi, aku akan memukulmu lebih keras. Diaammm! Tahu?”

Satria terdiam, wajahnya ketakutan. Ia merintih pelan, menahan rasa takut dan sakit.

“Biarkan aku pulang. Biarkan aku pulang … aku mau ibu, mau ibuuuu,” rintihnya pelan, khawatir perempuan yang wajahnya mirip setan di gambar-gambar komik itu memukulnya lagi.

“Diam!”

“Mengapa aku dibawa kemari? Ini bukan rumahku, aku pulang …”

“Tentu saja ini bukan rumahmu. Rumahmu indah seperti istana. Ini rumah orang yang menjadi miskin karena ibumu!"

“Ibuku mana, apa salah ibuku!” katanya sambil meronta, ingin lari dari kamar itu.

“Tunggu di sini, sampai ibumu menjemputmu. Diam, jangan membuat repot.”

Rosa mengambil tali rafia, kemudian mengikat kaki dan tangan Satria.

“Lepaskan aku! Jangan … ini sakiiit.”

Rosa kembali menampar wajah Satria, Satria berteriak.

“Kalau kamu berteriak-teriak, aku akan memukul kamu lagi.”

“Lepaskan, ini sakit.”

“Tidak, kamu harus aku ikat, supaya tidak kabur. Dan ingat, jangan berteriak.”

Rosa mengambil lakban dan menutup mulut Satria yang kemudian tak mampu lagi berteriak. Tangisnya tersekat di tenggorokan, matanya terus mengucurkan air mata.

“Nah, begini lebih baik. Aku bawa kamu kemari agar ibumu menderita. Dia telah membuat aku menderita, jadi sekarang dia harus merasakannya.”

“Mmmmmmmh …. mmmhhhh….” 

Satria berguling-guling di lantai.

“Diaaaammmm!” perintah itu pelan, tapi suaranya mirip geraman yang ditahan. Satria tak berani berkutik. Ia hanya bisa menangis, dan tak tahu apa salah dan dosanya sehingga disiksa seperti ini.

Rosa tampak senang sekali. Ia menyeringai, dan Satria yakin bahwa yang ada didepannya pastilah jadi-jadian, bukan manusia.

Satria duduk, bersandar pada dinding, kaki tangannya diikat, yang bagi seorang anak pastilah sangat sulit membuatnya bisa bergerak.

“Nah, begitu lebih baik. Kamu tahu? Ibumu pasti sedang menangis bergulung-gulung … “

Lalu Rosa tertawa terbahak-bahak, membuat Satria bertambah takut.

“Oh iya, aku lapar sekali, biar aku makan dulu ya,”

Dengan tenangnya Rosa mengambil makanan di atas meja. Kamar itu hanya sepetak, ada sebuah tempat tidur, sebuah meja dan kursi satu, serta almari kecil. Makan tidur ya di dalam situ, tapi kamar mandinya ada di luar. Tidak apa-apa bagi Rosa, yang penting dia bisa bersembunyi. Dan bisa menyiksa bukan hanya anak yang diculiknya, tapi yang penting adalah Senja. Alangkah senang hatinya membayangkan Senja kebingungan dan meraung-raung.

Ia duduk di atas kursi, menghadapi sepiring nasi, dan makan dengan lahap. Satria menatapnya pilu. Ia sebenarnya juga lapar, sepulang sekolah pasti makan, tapi rasa lapar itu tak dirasakannya. Ia lebih memikirkan dirinya yang berada di tempat asing, disiksa, diikat seperti binatang, tanpa tahu apa salah dan dosanya.

***

Senja tak berhenti menangis. Arka sudah lapor ke polisi, dan Rimba sudah berputar-putar mencari. Tapi mencari ke mana? Mereka tak tahu siapa yang menculiknya, dan apa maunya.

“Dia minta uang tebusan, barangkali,” kata Rimba.

“Sejauh ini tak ada yang menghubungi dan meminta uang tebusan,” jawab Arka yang terus memeluk istrinya.

“Siapa yang melakukan ini?”

“Satria pasti lapar, sudah saatnya dia makan. Ya Allah, kembalikan anakku, di mana dia? Sudah makan atau belum?”

“Rimba, sebaiknya kamu pulang, Simbok pasti menunggu kamu,” kata Arka lagi.

“Iya Mas, nanti kabari kalau ada berita tentang Satria.”

“Mba, jangan bilang Simbok tentang hilangnya Satria, kasihan Simbok,” kata Senja sambil menangis.

“Iya Mbak, aku juga berpikir begitu. Sebaiknya aku pulang dulu, supaya simbok tidak bertanya-tanya."

Rimba pulang, dan Senja masih terisak dalam pelukan Arka. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu. Tadi seharian mereka berputar-putar, tentu saja tanpa hasll.

***

Satria mungkin sudah lelah. Badannya lemas, ia sudah menanggung ketakutan dan rasa sakit. Sekarang dia diam, tangisnya tak lagi mengeluarkan suara. Ia hanya bisa membisikkan nama ibu dan ayahnya, dalam hati, karena mulutnya tersumbat lakban. Kaki tangannya juga sakit karena terikat erat oleh tali yang membuatnya tak bisa bergerak. Kalaupun bergerak, ia hanya bisa berguling-guling.

Hari itu entah siang atau sudah malam, Satria tak mengerti. Tapi ia melihat perempuan bengis itu menekan tombol dan lampupun menyala. Tak begitu terang. Tak ada suara, senyap dan mencekam.

TIba-tiba ia melihat perempuan yang menyekapnya itu mengambil cadar, lalu menutupi wajahnya. Kemudian keluar dari kamar. Barangkali akan ke kamar mandi atau entahlah, sepertinya karena kekenyangan maka perutnya melilit. Ia melihat perempuan itu memegangi perutnya sebelum keluar, kemudian mengunci pintunya.

Sepi mencekam, Satria tak tahu harus berbuat apa, tapi terbersit keinginannya untuk melarikan diri. Ia berguling ke arah pintu, dan memukul-mukulkan tangannya yang terikat ke arah pintu.

***

 Besok lagi ya.

Sunday, August 23, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 014

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  014

(Tien Kumalasari)

 

Menur menatap anaknya dengan pandangan trenyuh. Rupanya perkataan nyonya Lili masih membekas dihatinya.Menur sedikit senang, gara-gara Baroto banyak mengajarinya tentang perbuatan baik, bahkan hanya sehari dua hari, Rahman langsung berubah. Sebenarnya Menur juga heran. Bagaimana Rahman yang sombong di sekolahnya dan tidak menghargai ibunya sama sekali hanya karena dirinya seorang pengais sampah, tiba-tiba berubah sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Hanya dalam dua hari, hal yang sangat mengherankannya. Apa karena Baroto adalah ayah kandungnya, maka di dalam hatinya langsung bisa memahami apa yang dikatakan Baroto, lalu bisa menjalani perbuatan baik seperti apa yang dikatakan Baroto.

Menur mengheka napas. Sekarang Rahman merasa sakit hati karena ibunya disakiti. Ada haru yang memuncak, tapi ada yang membuatnya bingung. Ia sudah sanggup menuruti permintaan Ana, walau sebenarnya sangat berat baginya untuk mmenjalaninya. Lalu ternyata Rahman tidak menyukainya gara-gara ucapan nyonya Lili yang sangat pedas.

Kecuali itu, sebenarnya dia enggan karena ada Baroto di sana. Ia tak percaya Baroto akan diam saja, sedangkan saat berjauhan saja dia selalu berusaha untuk mengajaknya bicara.

Tapi satu-satunya yang membuatnya mau menjalani adalah Ana yang terus menerus merengek.

“Ibu tetap akan ke sana?” Rahman kembali mengusiknya.

“Ibu bingung, karena kamu enggan. Tapi bagaimana dengan Ana?”

“Aku tidak rela kalau Ibu nanti direndahkan oleh mamanya Ana.”

“Rahman, ibu akan memberi tahu kamu. Sebenarnya Ana itu bukan orang lain. Nyonya LIli itu saudara misan ibumu ini.”

“Saudara misan? Misan itu apa?”

“Neneknya Ana itu adalah sepupu nenek kamu. Jadi nyonya Lili itu saudara misan ibu. Begitu istilahnya.”

“Pokoknya masih saudara, begitu kan Bu?” kata Rahman yang enggan menghitung-hitung tentang hubungan saudara.

“Ya, begitulah. Kelak kalau kamu sudah besar pasti bisa mengerti.”

“Memangnya kenapa kalau saudara? Apa Ibu harus menuruti kemauannya?”

“Bukan begitu, karena masih saudara, kita harus bisa memaafkannya. Sedangkan kesalahan orang lain saja kita harus bisa memaafkan, apalagi kalau saudara.”

Rahman mengangkat pundaknya. Tampaknya ia belum bisa menerima perlakuan itu walau masih saudara ibunya.

“Kalau Ibu mau tinggal di sana, Rahman di sini saja, bagaimana?”

“Mana mungkin begitu Rahman. Kamu tidak bisa sendirian di sini.”

“Pokoknya Rahman tidak mau ke sana, Rahman mau tinggal di sini, biar sendiri juga tidak apa-apa.”

Menur memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.

***

Nyonya Baroto atau Lili sedang duduk bersama suami dan ibunya. Mereka membicarakan tentang keinginan Ana, yang tentu saja membuat wajah Lili muram.

“Aku kan sudah berpesan sama kamu, bahwa kamu tidak boleh membuat Lili sedih. Aku titipkan dia di sini agar dia memiliki keluarga yang utuh. Kasihan dia, sejak lahir sudah ditinggal ibunya. Kamu setuju kan, Baroto?”

“Saya setuju saja, apalagi Mama sudah berjanji untuk memenuhi keinginan Ana.”

“Bagus sekali, sekarang mama mau bercerita tentang Menur.”

“Ada apa dengan Menur? Mama kasihan karena dia hanya seorang pengais sampah kan?” kata Lili masih dengan wajah masam.

“Ibunya Menur ternyata adalah sepupu mama ini.”
Semuanya terkejut. Baroto membelalakkan matanya.

Ibunya Mama itu adik dari ibunya Menur.

“Masa Mama punya saudara yang anaknya jadi pemulung?” pekik Lili.

“Tidak usah berteriak. Yang namanya manusia itu punya garis hidup yang berbeda. Jangan kamu merendahkan orang lain karena kamu bisa hidup sebagai orang berada. Dulu kebetulan mama menikah dengan ayahmu, yang seorang pengusaha kaya, sehingga mama hidup berkecukupan sampai sekarang. Berbeda dengan keluarga Menur yang hidup di kampung. Menur itu hidupnya penuh penderitaan. Ia pernah dinikahi orang kaya, tapi orang itu kemudian pergi tanpa belas kasihan. Keterlaluan sekali ada laki-laki semacam itu. Menur yang sangat mencintai suaminya, terlunta-lunta mencarinya ke kota. Bayangkan, kasihan kan?”

Wajah Baroto pucat seketika. Yang dimaki-maki ibu mertuanya sebenarnya adalah dirinya. Dirinya yang dianggap pergi meninggalkan Menur tanpa belas kasihan. Yak bisa dibayangkan, betapa sakitnya hati Baroto.

***

Hari itu Ana merengek ingin ketemu Menur lagi. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Hari yang dijanjikan Menur adalah keesokan harinya.

Ketika nenek Sasa dan Ana datang, Ana langsung memasuki rumah untuk mencari Menur, yang memang tidak mengais sampah ketika Rahman libur sekolah.

Nenek Sasa melihat Rahman sendirian di depan rumah, wajahnya tampak murung.

“Rahman, apakah kamu sakit?” tanyanya setelah mendekat.

Rahman tersenyum tipis. Ia menatap nenek cantik yang wajahnya ramah itu lekat-lekat. Alangkah bedanya tatapan mata nenek Ana dan mamanya. Mamanya yang biarpun wajahnya cantik, tapi mulutnya tajam bagai pisau. Berbeda sekali dengan nenek Sasa yang walaupun kaya raya tapi sangat baik dan ramah. Matanya yang lembut, menunjukkan bahwa dia adalah seorang nenek yang penuh kasih sayang.

“Rahman, mengapa wajahmu murung? Apa kamu sakit?”

“Tidak Nek, saya baik-baik saja.”

“Mengapa wajahmu murung?”

“Tidak apa-apa.”

“Dengar Rahman, nanti nenek akan mengajak ibumu dan kamu untuk tinggal di rumah nenek. Nanti kamu bisa bermain bersama Ana. Kalau sekolah, kamu bisa diantarkan sopir dengan mobil. Bagaimana? Kamu suka?”

Wajah Rahman tidak berubah riang, walau iming-iming menyenangkan itu didendangkan dengan manis oleh nenek Sasa. Bermain bersama Ana, kalau sekolah diantar sopir dengan mobil. Rahman sudah bisa dibilang anak keluarga kaya. Teman-temannya akan mengagumi dia, menganggapnya seorang yang sangat pantas disanjung-sanjung. Betapa membanggakan. Tapi itu dulu. Ketika om ganteng bernama Baroto itu belum menjejali telinganya dengan ajaran-ajaran yang baik dan terpuji. Sekarang ini bagi Rahman, kekayaan bukan sesuatu yang membanggakan. Tugasnya sebagai seorang pelajar adalah belajar, berprestasi dan tak peduli kalau teman-temannya menyisihkannya karena dirinya dianggap miskin.

“Kamu senang kan?” nenek Sasa mengulang kata-katanya. Tapi alangkah terkejutnya sang nenek ketika melihat Rahman menggeleng.

“Rahman, kamu tidak suka?”

“Saya akan tetap tinggal di sini, biarpun ibu akan tinggal bersama Ana.”

“Rahman, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kamu tinggal di sini sementara ibumu ada bersama kami?”

“Rahman merasa senang tinggal di rumah ini.”

“Rahman, di rumah Ana akan lebih menyenangkan. Kamu akan mendapat banyak permainan. Bukan mainan boneka seperti punya Ana, nanti nenek akan membelikan kamu mobil-mobilan, atau apa saja yang kamu inginkan.”

Rahman tetap menggeleng.

“Kamu tidak suka?”

“Maaf Nek.”

Nenek Sasa meninggalkan Rahman, masuk ke dalam rumah.

Ana sedang berbincang dan berceloteh manis dengan Menur. Bicara semau-maunya, karena dia sedang bersenang hati atas kesanggupan Menur untuk ikut bersamanya di hari itu.

“Menur, apa kamu sudah siap?”

“Bulik, saya ingin mengatakan sesuatu.”

“Bahwa Rahman tidak mau ikut?”

“Dia sudah terbiasa hidup sederhana, barangkali dia akan merasa kurang nyaman kalau tinggal di tempat lain, apalagi tempat yang berbeda.”

“Jadi akan kamu tinggalkan di di sini sendirian?”

“Begini bulik, saya bersedia ikut, menemani Ana seperti keinginannya, tapi saya tidak bisa menginap di sana. Jadi kalau sore saya minta pulang, pagi-pagi sekali setelah Rahman berangkat sekolah, saya akan kembali bersama Ana.”

“Kalau begitu aku akan ikut bibi Menur pulang kemari setiap sore,” tiba-tiba Ana berteriak.

Menur merangkulnya dan mencium keningnya.

“Ana, tidak bisa begitu. Di rumah ini tidak ada tempat tidur yang pantas.”

“Tidak apa-apa, aku mau.”

“Jangan begitu Ana, bibi hanya pulang sore sampai malam, paginya bibi sudah akan kembali ke sana. Kasihan kalau Rahman sendirian.”

“Mengapa Rahman tidak mau pergi bersama kita?”

“Rahman masih harus sekolah, dan sekolahnya dekat dari sini. Bisrlah untuk sementara dia tinggal di sini, nanti gampang setelah dia lulus. Apalagi dia mau ujian, bibi tidak ingin pelajarannya terganggu. Kamu bisa mengerti?” kata Menur lembut, seperti biasanya.

“Nenek, ini bagaimana?” Ana sepertinya mengerti, tapi ia meminta pertimbangan sang nenek.

“Ana, nenek kira bibimu benar, biarlah untuk sementara dia dalang pagi, sore pulang untuk merawat Rahman, besok pagi baru kembali lagi ke rumah kita. Bagaimana? Kalau tidak begitu, bibimu tidak bisa menjalani, karena bibimu masih punya tanggung jawab terhadap Rahman. Alasannya kamu sudah mendengarnya bukan?”

Akhirnya Ana mengalah. Mau menuruti syarat yang diajukan bibi Menur.

***

Rumi sedang berbisik-bisik dengan nyonya Baroto. Sesungguhnya dia merasa tersingkir karena Ana sangat mengharapkan Menur.

“Nyonya, barangkali pengais sampah itu membujuk non Ana agar diijinkan tinggal di sini.”

“Menurutmu begitukah?”

“Ya tentu saja Nyonya, biasanya dia berada di jalanan, memunguti botol-botol kosong, lalu di rumah ini semuanya serba bagus. Dia mendapat kamar yang bagus, padahal orang baru. Nyonya besar tadi yang menyuruh pembantu membersihkan kamar di sebelah kamar non Ana. Kalau Nyonya biarkan, dia bisa ngelunjak. Bagaimana tidak? Di sini bisa makan enak, tidur nyenyak. Sebenarnya tidak pantas kan nyonya, dia itu kan kotor dan pastu juga bau. Kalau tidak karena dibujuk, mana bisa non Ana punya keinginan yang aneh-aneh.”

Lili sebenarnya sudah tahu kalau Menur adalah masih saudara misannya. Tapi Lili enggan mengakui, karena Menur dianggapnya tidak sepadan dengan keluarganya.

***

Besok lagi ya.

 

 

AKU ANAK SIAPA 22

  AKU ANAK SIAPA  22 (Tien Kumalasari)   Rosa terkejut, ia menundukkan wajahnya, sementara Rochmah menatap ibunya dengan penuh tanda tanya. ...