Saturday, May 23, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 05

 NAMAKU TETAP SENJA  05

(Tien Kumalasari)

 

Pak Daryono menenangkan Arka yang tampak gelisah karena ucapan sang ayah.

“Sudah, tenangkan hati kamu Arka, kami tidak tergesa-gesa. Rosa juga pasti akan sabar menunggu, jadi selesaikan dulu masalah perusahaan, sambil kamu menenangkan diri. Kamu masih muda, barangkali mendengar masalah perjodohan sangat membuat kamu terkejut.”

Walau tampaknya menghibur, tapi nada menyetujui keinginan sang ayah masih tampak nyata. Menunggu, bukan menolak.

Arka tersenyum dan mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

“Lalu kenapa ini kamu juga sudah berdiri di sini, ayo kita lanjutkan bincang-bincang kita,” kata pak Daryono kepada pak Wiguna, ayah Arka.

“Ibunya sudah lelah. Dia itu tensinya selalu tinggi, tidak bisa duduk lama, jadi aku akan pamit dulu.”

“Iya, maaf ya pak,” sambung bu Wiguna yang sudah menyusul keluar.

“Baiklah, kalau ada hubungannya dengan kesehatan, aku tak bisa menghalanginya. Apa Arka mau tinggal dulu di sini?

”Tidak Om, hari sudah malam, lain kali saja main lagi,” kata Arka sambil berdiri.

“Bener ya Ka, kamu sering-sering main kemari?” kata Rosa.

“Tentu Rosa, nanti om yang akan mengingatkan dia,” yang menjawab adalah pak Wiguna.

***

Pulang dari rumah pak Daryono tidak membuat Arka langsung merasa lega. Di perjalanan pulang, sang ayah masih selalu mengomelinya karena sikap Arka yang dingin dan tidak tampak ramah.

“Kamu harus tahu, perjodohan itu hal yang mutlak. Bagaimanapun kamu tidak bisa menolaknya.”

Arka tak menjawab, yang menjawab adalah sang ibu.

“Pak, beri waktu Arka untuk berpikir. Tampaknya dia belum siap, jadi setiap kali Bapak mengingatkan tentang perjodohan itu, perasaan Arka jadi tertekan.”

“Aku hanya mengingatkan dia, bahwa dia punya kewajiban untuk memenuhi permintaan pak Daryono yang ingin bermenantukan Arka.”

“Arka bukan anak kecil, pasti dia tak akan lupa.”

“Ibu selalu begitu. Kalau kita bersikap lunak, Arka akan semaunya. Dia itu banyak yang suka, sejak masih kuliah dulu. Kalau dia tergoda pada salah satunya, rencana perjodohan ini bisa berantakan. Aku yang malu pada pak Daryono dan keluarganya.”

“Tidak usah terlalu begitu. Perjodohan bukan masalah sepele, sudah benar kalau Arka minta waktu.”

“Ya sudah, terserah Ibu ya, nanti kalau sampai terjadi apa-apa, itu tanggung jawab Ibu.”

***

Ketika para tamu sudah pulang, pak Daryono mengingatkan Rosa agar tidak terlalu kelihatan mengejar-ngejar Arka.

“Kamu itu perempuan, malu kalau kelihatan suka banget sama dia.”

“Papa bagaimana sih, kan Papa sendiri yang menjodohkan Rosa sama Arka, jadi wajar kalau Rosa bersikap terbuka pada Arka. Apa salahnya sama calon suami bersikap akrab dan mesra.”

“Tidak usah terlalu diperlihatkan. Seorang gadis harus bisa menjaga kewanitaannya. Lagi pula Arka tampaknya belum siap. Mungkin hal ini terlalu tiba-tiba bagi dia.”

“Bagaimanapun dia harus sadar bahwa dia sudah punya tunangan.”

“Belum tunangan. Dijodohkan bukan berarti sudah resmi menjadi calon. Bersabarlah dan bersikap lebih baik dan santun, agar siapapun calon suami kamu, tak akan kecewa.”

“Rosa akan sering pergi ke sana agar kami bisa semakin dekat.”

“Tapi jaga sikapmu, jangan membuat malu keluarga. Ingat, perjodohan itu hanya antara orang tua, semuanya tergantung yang menjalani.”

Walaupun mendengarkan sambil mengangguk-angguk, tapi Rosa tetap berpendapat bahwa Arka harus selalu didekati, agar perasaan cintanya segera tumbuh. Rupanya Rosa tidak tahu bahwa terkadang seorang laki-laki merasa risih terhadap sikap yang terlalu berlebihan. Jinak-jinak merpati lebih menyenangkan bukan?

***

Pagi hari itu Arka masih tampak muram. Ia bangun pagi-pagi ketika sang ayah belum keluar dari kamarnya. Tapi Arka mendapati ibunya sedang membuat kopi di dapur. Setiap pagi selalu begitu. Menyiapkan minuman hangat untuk keluarga selalu ditanganinya sendiri, bukan oleh pembantu.

“Arka, pagi-pagi kamu sudah rapi? Seperti mau olah raga begitu?”

“Iya, sedang pengin jalan-jalan pagi dengan sepeda."

“Oh, bagus sekali. Minum dulu kopinya, sudah ibu buatkan.”

Arka duduk, di meja makan, di mana sang ibu meletakkan dua gelas kopi, untuk dirinya sendiri dan untuk sang ibu.

“Wajahmu muram sejak kemarin.”

“Bu, Ibu kan tahu, Arka tidak suka gadis itu.”

“Ayahmu sudah bicara dengan pak Daryono. Memangnya kenapa dengan Rosa? Bukankah dia cantik, pintar, menawan.”

“Tapi Arka tidak suka.”

“Kenapa? Apanya yang membuat kamu tidak suka? Kalau ada sikapnya yang membuat kamu tidak suka, mintalah agar dia merubahnya.”

“Mana bisa bu, kalau itu memang sudah pembawaannya, sampai kapanpun akan selalu begitu.”

“Apanya sih, yang kamu tidak suka?”

“Arka tidak bisa mengatakannya.”

Arka menyeruput kopinya.

“Tuan muda, sepeda sudah di siapkan di depan,” kata salah seorang pembantunya.

“Ya. Terima kasih.”

Arka masih menghirup kopinya.

“Kamu kan tahu Ka, orang tua selalu memilihkan yang terbaik bagi anaknya.”

“Terbaik bagi bapak, belum tentu terbaik bagi Arka.”

“Ka, lebih baik kamu tidak menentang ayahmu. Kamu adalah putra tunggal kami. Pewaris kerajaan bisnis ayahmu, jadi kamu harus mendapat pasangan yang tepat. Bukan untuk kehidupan pribadimu, tapi juga untuk kelangsungan bisnis yang sedang kamu tangani.”

“Jadi Arka dijadikan tumbal agar bisnis kita berjalan pesat?”

“Jangan bicara kasar begitu. Mana ada anak dijadikan tumbal?”

Arka tak menjawab, ia menghabiskan kopinya lalu beranjak ke depan.

“Tidak sarapan roti dulu, tuh baru dipanggang bibik,” cegah sang ibu.

“Nanti saja Bu,” katanya sambil berlalu.

Dan tak lama kemudian dia sudah mengayuh sepedanya, keluar dari halaman.

Hari masih pagi, udara dingin segar menerpa tubuh Arka, ia mengayuh sepedanya, bukan sekedar agar badan menjadi sehat, tapi sesungguhnya ada yang dicarinya.

***

“Mengapa Arka tidak kelihatan sarapan bersama kita?” tanya pak Wiguna kepada istrinya, sambil menghadapi segelas kopi dan beberapa potong roti bakar.

“Dia keluar sejak tadi.”

“Ke mana?”

“Katanya hanya mau jalan-jalan dengan sepedanya.”

“Tumben.”

“Tidak apa-apa, bersepeda di udara pagi itu bagus. Udara masih bersih dan sehat. Kalau aku tidak cepat lelah, mau juga bersepeda setiap pagi.”

“Kamu sedang tidak begitu sehat, jalan kaki saja pelan-pelan, tapi jangan terlalu jauh. Kalau mau akan bapak temani.”

“Besok saja, sekarang sedang ingin istirahat di rumah.”

“Jangan terlalu capek.”

“Iya, aku tahu. Tapi sebenarnya Bapak yang butuh olah raga, agar badannya tidak terlalu gemuk begitu.”

“Ya, kapan-kapan. Aku tuh malas olah raga.”

“Harusnya tidak malas, agar sehat, jangan sampai sakit-sakitan seperti aku.”

“Tidak, kamupun harus sehat, rajin kontrol, makan juga harus hati-hati.”

“Iya, aku tahu.”

“Aku sedang kesal sama Arka.”

“Kenapa? Masalah perjodoan itu? Aku kira Bapak tidak usah terlalu memaksa.”

“Tidak memaksa bagaimana? Aku dan pak Daryono sudah bicara dan itu serius.”

“Kemarin pak Daryono bicara lunak, membiarkan Arka berpikir dan menenangkan diri. Jadi Bapak juga harus bersikap begitu. Bukan seperti memaksa, dan sedikit-sedikit marah. Kasihan Arka.”

“Arka harus mengerti.”

“Kalau Bapak kelihatan memaksa, dia justru kesal. Perjodohan bukan hal sepele. Harus menunggu kalau hati mereka sudah menyatu dan setuju menjalani hidup bersama.”

“Anak sekarang harus dipaksa. Kalau tidak, dia keburu jatuh cinta kepada gadis lain. Aku tidak mau. Rosa sudah sangat pas untuk Arka.”

Sang istri hanya menghela napas menyaksikan kekerasan hati suaminya.

***

Hari memang masih pagi, tapi Arka yang mengayuh sepeda sudah berkeringat. Lama tak mengendarai sepeda, membuatnya agak lelah. Tapi ia terus mengayuhnya pelan, Ia mengangkat tangannya, melihat arloji yang dikenakannya.

“Baru jam setengah tujuh lebih."

Kakinya terus mengayuh. Ia tahu kemana tempat yang harus dituju. Rumah simbok. Eh, bukan, rumah Senja. Arka sudah tahu karena kemarin mengikuti dengan mobilnya.  Ia tahu dari pembicaraan yang hanya sekilas kemarin, bahwa Senja masih bersekolah. Bukankah Senja mengatakan bahwa ibunya menjual beras yang hasilnya untuk biaya sekolah kedua anaknya?

Dan akhirnya ia melihatnya. Gadis berkerudung putih dengan bawahan abu-abu, mengayuh sepedanya perlahan. Senyum Arka merekah. Ia suka melihat Senja marah-marah. Matanya itu yang membuatnya tertarik. Karenanya ia memutar sepedanya tepat di sampingnya, lalu berhenti tepat di depannya.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, May 22, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 04

 NAMAKU TETAP SENJA  04

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengayuh sepedanya sambil tersenyum-senyum. Malaikat penolong yang sangat ganteng itu sangat baik hati. Tahu udara panas, dia membelikan es buah untuk dibawa pulang. Ia bahkan ingat siapa nama dirinya, tapi dirinya lupa menanyakan siapa nama penolong itu.

Begitu memasuki halaman rumah yang tidak seberapa, ia melihat simbok duduk diatas bangku. Tampaknya simbok menunggunya.

“Mbok, kenapa tidak istirahat?”

“Kamu itu dari mana saja?”

“Lho, simbok gimana sih, kan Senja mengantarkan beras pesanan? Simbok juga tahu ketika Senja berangkat?”

“Kok lama sekali?”

“Yang punya rumah sedang pergi, Senja menunggu beberapa saat lamanya. Habis kalau ditinggal, uangnya bagaimana?” kata Senja sambil mengulurkan uang pembayaran beras kepada simboknya.

“Mbak Senja bawa apa?” Rimba yang keluar dari rumah melihat sesuatu tergantung di sepeda kakaknya.

“Baunya harum,” katanya sambil mendekat.

“Ambillah, dan tempatkan di wadah. Itu es buah.”

“Kamu beli es buah segala?”

“Tidak, itu diberi orang.”

“Cuci kaki tangan dulu, ganti bajumu, itu kan berdebu, setelah itu kemari, kamu belum cerita apa-apa. Banyak yang simbok bingung, tidak mengerti."

“Baiklah, Senja membersihkan diri dulu,” kata Senja sambil beranjak ke belakang. 

Di dapur ia melihat Rimba sedang menuang tiga bungkus es buah ke dalam sebuah mangkuk yang agak besar.

“Bawa ke depan, dan juga bawakan simbok gelas dan sendok, biar simbok mencicipinya,” pesannya kepada sang adik.

***

Ketika Senja sudah selesai membersihkan diri dan berganti baju, ia segera menemui simboknya.

“Seger, dan sehat, banyak buah-buahnya,” kata simbok sambil menyendok es buahnya dengan lahap. Demikian juga Rimba.

Senja tak mau kalah. Udara panas yang baru saja diterjangnya membuatnya sangat dahaga. Ia mengambil gelas yang masih kosong dan mengambil es buahnya.

Setelah beberapa sendok dilahapnya, barulah dia bercerita. Tentang hampir diserempet kendaraan, tentang berasnya yang ambyar, tentang malaikat penolong ganteng yang baik hati, yang membayar lebih harga beras yang tumpah. Padahal dia bisa pulang dan membersihkan berasnya dan mengirimnya, dengan menambahinya lagi yang tak seberapa banyak, lalu mengirimkan kepada pemesan, dan tentu saja juga mendapat bayaran.

“Ya ampun Nduk, tadi itu uangnya masih sisa banyak. Kamu harus mengembalikannya kepada tuan ganteng yang memberi uangnya.”

“Tadi saya sudah bilang kelebihan, tapi dia bilang ambil saja sisanya. Habis itu dia langsung naik mobilnya dan pergi.”

“Dia orang kaya.”

“Dan baik hati. Ketika mau pulang setelah mengirimkan beras, Senja ketemu lagi lho Mbok.”

“Waduh, padahal uangnya tidak kamu bawa.”

“Percuma Mbok, dia tidak akan mau. Malah es buah ini tadi juga dia yang memberi.”

“Dia membawa es buah, lalu diberikannya ke kamu?”

“Tidak, dia berhenti untuk beli, lalu mengejar Senja dan memberikannya.”

“Syukurlah, ketemu orang baik. Kamu sudah mengucapkan terima kasih?”

“Ya sudah Mbok, berkali-kali, malah.”

“Ya sudah, sekarang istirahatlah. Sebentar lagi waktunya kalian belajar, simbok mau menghitung-hitung, besok harus pesan beras lagi karena persediaan sudah menipis."

“Kalau simbok pesan, berasnya dikirim kan?”

“Ya dikirim Nduk, masa simbok membawa sekwintal beras.”

***

Arka sampai di rumah sudah sore, dan tanpa diduga sang ayah sudah menunggu. Ia menyambutnya dengan wajah yang sangat masam.

“Kamu ke mana saja? Bapak menelpon kantor, katanya kamu sudah pulang sejak lama, mengapa baru sampai saat sore begini?”

“Hanya beli sesuatu, kebutuhan Arka sendiri,” katanya sambil berlalu, tapi sang ayah menghentikannya.

“Arka, bapak masih mau bicara.”

Arka berhenti melangkah, menatap sang ayah.

“Duduklah, masa bicara sama orang tua sambil berdiri begitu?”

Arkapun duduk, wajahnya muram.

“Kamu sudah membatalkan rapat sore ini kan?”

“Sudah.”

“Bagus. Undangan dari keluarga Daryono tidak bisa disepelekan. Dia itu penopang terbesar bagi perusahaan kita. Kalau tidak ada pak Daryono, kita sudah bangkrut karena ada yang berusaha menghancurkannya.”

“Bukankah Bapak sudah membayar semuanya?”

“Utang bapak sudah bapak kembalikan, tapi itu kan hutang berbentuk uang, sedangkan hutang budi itu tak akan terbayar selamanya.”

Arka terdiam, ia berpikir tentang perjodohan, dan itu karena hutang budi? Wajah Arka bertambah muram.

“Oleh karena itu Ka, jangan sampai kita mengecewakannya. Kamu mengerti?”

“Apakah hutang budi itu harus ditebus dengan kehidupan Arka?”

Sang bapak sangat marah. Ia tahu bahwa jawaban itu adalah ujud dari penolakan Arka atas perjodohan itu.

“Apa maksudmu? Apakah keinginan pak Daryono itu akan membuat hidup kita sengsara? Kamu menjadi menantu keluarga kaya raya dan terpandang. Istrimu cantik dan tidak mengecewakan. Apa lagi yang kamu cari?”

Lagi-lagi Arka tak menjawab. Sepatah kata jawaban akan menjadi lontaran kemarahan yang bertubi-tubi. Ia yakin jawaban apapun tak akan membuat sang ayah puas. Dari semua kalimat yang diutarakannya, adalah sesuatu yang harus dijawab ‘ya’. Tidak boleh tidak.

“Jangan diam saja. Apa kamu bisu?”

“Arka harus menjawab apa?”

"Kamu mengerti apa yang bapak utarakan itu tadi kan?”

“Mengerti.”

“Baiklah, pergilah istirahat. Jam tujuh kita sudah harus berangkat.”

Bulu kuduk Arka meremang. Harus bertemu dengan calon istri dan calon mertua yang tidak dikehendakinya?

Arka bangkit, tak boleh tidak, harus menurutinya, kalau tidak, rumah ini bisa roboh karena teriakan marahnya.

***

“Arkaaaa,” teriakan manja yang keluar dari mulut tipis Rosa. 

Memang Rosa cantik, kulitnya putih bak pualam, bibirnya tipis, matanya jernih bagai sepasang bintang. Tapi tidak, mata itu tampak seperti … apa ya, menurut Arka, ada sedikit liar, atau galak, atau … pokoknya sesuatu yang tidak baik.

“Aku senang akhirnya kamu bisa datang,” kata Rosa sambil menggandeng tangan Arka untuk diajaknya masuk. Ia lupa memberi salam kepada kedua orang tua Arka yang datang bersamanya. Tapi tampaknya mereka tak peduli. Ditengah pintu, setelah Rosa mengajak Arka masuk, pak Daryono berdua sudah menyambut, saling bersalaman dengan hangat.

Arka tak banyak bicara kecuali kalau ditanya. Tapi ia berusaha bersikap baik agar tak membuat ayahnya marah.

Setelah makan, Rosa mengajak Arka duduk di teras. Arka bersyukur karena tak harus berbaur dengan orang-orang tua yang pasti akan menekan dirinya tentang perjodohan itu.

“Arka, kamu kelihatan tak suka sejak tadi. Kenapa sih?”

“Aku harus membatalkan rapat penting dengan klien gara-gara undangan makan malam ini, jadinya aku kepikiran terus."

“Arka, kalau memikirkan pekerjaan terus, tak akan pernah ada habisnya. Ada saatnya kamu harus memikirkan diri kamu sendiri.”

“Aku baru belajar terjun ke bisnis ayahku, banyak yang harus aku pelajari, karena aku diserahi tanggung jawab agar perusahaan terus berjalan dan semakin baik.”

“Masalah pekerjaan itu di kantor. Saat di rumah, semuanya harus kamu lepaskan. Apalagi saat ini, orang tua kita sedang membicarakan tentang perjodohan kita."

“Rosa, aku kira saat ini aku belum bisa memikirkan masalah perjodohan. Aku belum ingin menikah.”

“Apa kamu lupa bahwa kita sudah dijodohkan?”

“Aku tahu, tapi aku belum bisa menjalani.”

“Sampai kapan?”

“Kamu harus bersabar.”

“Apakah itu artinya kamu menolak?”

“Tidak sepenuhnya begitu. Aku hanya ingin ada ruang waktu untuk berpikir, karena aku sedang fokus pada perusahaan.”

“Apa maksudmu berkata begitu Arka? Kamu tidak bisa menolak," tiba-tiba sang ayah muncul didekatnya.

“Bukankah Arka juga sudah pernah bilang bahwa Arka minta waktu untuk berpikir?”

“Ya sudah, tidak usah ribut masalah ini dulu. Arka benar, biarkan dia berpikir, apalagi dia sedang belajar mengendalikan usaha orang tua, ya kan mas?” kata pak Daryono nimbrung. Rupanya orang tua Rosa bisa berpikir lebih jernih.

“Tidak bisa begitu, ini sudah diputuskan, mau tidak mau Arka harus menjalaninya.”

Dan Rosa tampak tersenyum senang.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Thursday, May 21, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 03

 NAMAKU TETAP SENJA  03

(Tien Kumalasari)

 

Arka heran ketika mulutnya bisa berbelok mengucapkan nama gadis lugu itu. Belum selesai dia berpikir, pintu ruangannya terbuka.

“Arka, lama sekali sekretarismu melapor.”

Suara nyaring itu terdengar seperti sebuah lagu, tapi lagu yang sumbang, karena diucapkan secara arogan dan tanpa tata krama. Ia langsung masuk tanpa dipersilakan, membuat wajah Arka menjadi gelap.

Sekretaris yang semula terpaku kemudian mohon diri.

“Arka, tadi aku menelpon kamu, tapi kamu tidak merespon,” gadis itu merengek.

“Kamu kan tahu kalau ini jam kerja.”

“Kamu kerja di perusahaan ayahmu sendiri, serius amat?”

“Apa maksudmu? Di perusahaan siapapun yang namanya bekerja juga harus serius. Kamu bercanda?”

“Ya ampun Arka, hanya begitu saja marah.”

“Rosa, aku peringatkan kamu, jangan sekali-sekali menghubungi aku disaat jam kerja, apalagi sampai datang ke kantor seperti ini.”

“Arka, aku tadi hanya lewat, lalu mampir. Karena aku tadi menelpon dan kamu tidak mengangkat.”

“Begitu penting menemui aku gara-gara telpon tidak aku respon?”

“Sangat penting. Papaku hari ini pulang dari Jakarta. Beliau mengundang kamu nanti untuk makan malam bersama di rumah.”

“Maaf, aku belum tentu bisa.”

“Arka, tapi papa yang mengundang, kamu harus mengesampingkan yang lain dong Ka.”

“Nanti ada rapat setelah jam kantor, yang pastinya sampai malam. Mana bisa aku meninggalkannya.”

“Pasti papa akan kecewa.”

"Sampaikan maafku pada om Daryono,” kata Arka singkat, kemudian mengambil sebuah berkas dan membacanya dengan serius.

“Arka, jadi aku jawab apa pada papa?”

“Kamu bisa menirukan jawabku, bahwa aku tidak bisa karena masih ada kesibukan kantor yang tidak bisa aku tinggalkan,” kata Arka tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas di depannya.

Wajah Rosa cemberut, gelap seperti mendung.

“Maaf Rosa, sungguh aku sedang sibuk,” katanya, lagi-lagi tetap terpaku pada berkas di depannya. 

Ucapan itu terdengar seperti mengusir secara halus.

“Jadi ….”

“Jadi tolong tinggalkan aku.”

Rosa berdiri, sangat kesal melihat Arka sama sekali tak memperhatikannya. Ia segera melangkah pergi, tanpa mengucapkan apapun. Arka membiarkannya.

Rosa juga anak pengusaha, sahabat ayahnya. Ia mendengar dari sang ayah, bahwa pak Daryono berharap mengambilnya sebagai menantu, dan tampaknya sang ayah menyetujuinya.

“Itu ide yang bagus. Rosa sangat cantik dan terpelajar. Ayahnya adalah sahabat bapak ini. Kami bersahabat sejak masih SMA. Tidak salah kalau sekarang  kami berbesan.”

“Arka belum ingin punya istri.”

“Tidak sekarang, kamu bisa memilih kapan waktu yang baik untuk menikah.”

“Arka tidak suka dia.”

Dan jawaban itu membuat sang ayah murka.

“Apa maksudmu? Gadis seperti apa yang kamu sukai?” keras suara sang ayah.

Arka tak menjawab. Rosa memang cantik, tapi Arka sama sekali tidak tertarik. Dia sombong, mentang-mentang anak orang kaya. Dia juga manja. Kata ayahnya, semua keinginannya harus dipenuhi. Itu sejak Rosa masih kecil, bahkan sampai sekarang. Arka semakin tidak suka.

Ia kembali menekuni lembar demi lembar laporan yang sudah dibuka di depannya.

Tapi kemudian ponselnya berdering, dari ayahnya.

“Arka, kamu sedang sibuk?”

“Memangnya ada apa Pak?”

“Nanti malam pak Daryono mengundang kita untuk makan malam di rumahnya.”

"Tapi Arka tidak bisa Pak, nanti ada rapat setelah jam kantor, pastinya sampai malam.”

“Batalkan rapat itu, diundur sampai besok.”

“Tidak bisa Pak, ada sesuatu yang tidak bisa ditunda, pesanan dari PT. Waras, yang memprotes masalah harga. Semuanya naik dan dia tampaknya ingin datang dan berbicara langsung.”

“Katakan ditunda besok.”

“Jangan begitu Pak, kami sudah janji akan_”

“Tunda besok!” sentak sang ayah, membuat Arka berhenti bicara. 

Sang ayah juga langsung menutup ponselnya, meninggalkan suara berdenging di telinganya.

***

Arka sudah memerintahkan kepada sekretarisnya agar menunda pertemuan penting itu untuk besok pagi. Ia pulang ke rumah dengan wajah suram. Ia tahu sang ayah begitu getol menjodohkan dirinya dengan Rosa. Tapi ia sungguh tak pernah mencintai Rosa. Mereka kenal sejak lama, tapi tak pernah ada ikatan apa-apa. Kedua orang tuanyalah yang begitu ingin berbesan, didukung Rosa sendiri yang tampaknya sangat mencintai Arka.

Arka sedih karena perintah sang ayah tak akan pernah bisa dibantah. Hal itu membuat konsentrasi bekerjanya menjadi kacau. Ia beranjak pulang ketika sudah memeriksa semua berkas. Hari masih siang, tapi ia tak bermaksud segera pulang ke rumah. Ketika ponselnya berdering berkali-kali, ia tak pernah mengangkatnya. Ia tahu sang ayah mengingatkannya tentang undangan makan malam itu.

Tanpa dia sadari, ia melewati lagi jalan di mana dia bertemu Senja, dan seperti sebuah keajaiban ketika ia benar-benar melihat sepeda butut yang dikayuh seorang gadis. Arka berdebar. Itu kan gadis yang tadi? Walau dari belakang, ia yakin pengendara sepeda itu adalah Senja. Ia menyalipnya, lalu berhenti tepat di depannya. Bukannya menjerit ketakutan, Senja yang turun tiba-tiba dari sepedanya kemudian menatap Arka yang juga turun dari mobil, dengan marah.

“Tuan keterlaluan. Kalau tiba-tiba saya menubruk mobil tuan, bukankah saya akan celaka dua kali?”

Arka tersenyum melihat keberanian gadis itu. Di kantornya semua orang terbungkuk-bungkuk di hadapannya, tapi gadis ini dengan lantang dan berani memarahinya.

“Mengapa dua kali?”

“Pertama, sepeda saya pasti rusak, kedua, Tuan pasti meminta ganti rugi karena pasti mobil Tuan ada yang lecet atau apa.”

“Maaf, Senja.”

Senja terkejut. Bagaimana tuan muda pengendara mobil itu bisa tahu namanya? Tiba-tiba Senja memukul dahinya. Ia baru ingat, bukankah tuan muda itu malaikat penolongnya?

“Mengapa kamu pukul kepalamu?”

“Tuan, maaf ya Tuan, saya lupa, Tuan adalah malaikat itu.”

“Hei, malaikat apa?”

Arka mendadak kehilangan rasa suntuknya akibat memikirkan orang tuanya. Berbicara dengan gadis yang ceplas-ceplos ini membuat rasa kesalnya hilang tiba-tiba.

“Bukankah Tuan yang memberi saya uang dan menolong mengangkat karung beras saya? Itu sebabnya saya menganggap Tuan adalah malaikat penolong saya.”

“Cuma begitu saja. Kamu dari mana? Panas-panas begini masih bersepeda?”

“Bukankah beras pesanan tadi harus saya bawa pulang, saya bersihkan lalu saya kirim kembali?”

“O, mengirim beras.”

“Ya sudah, mengapa Tuan mengajak saya mengobrol? Simbok pasti menunggu saya.”

“Tunggu dulu, hari sangat panas, kamu mau es buah?”

“Wah, tidak Tuan, saya tidak berani menghambur-hamburkan uang. Uangnya simbok untuk membayar sekolah saya dan adik saya,” kata Senja sambil kembali menaiki sepedanya, melewati tuan muda ganteng yang menatapnya sambil tersenyum.

“Dasar bodoh! Siapa suruh kamu membeli sendiri es buah itu?”

Arka menaiki mobilnya lagi, menuju ke sebuah warung es buah, memesan beberapa bungkus, lalu mengikuti sepeda kayuh yang berjalan begitu cepat.

“Gadis itu sangat bersemangat. Aku harus mengejarnya.”

Dan Senja kembali terkejut ketika mobil sang malaikat penolong kembali berhenti menghadangnya.

“Tuan itu kebangetan ya. Mentang-mentang punya mobil, membuat aku berkali-kali terkejut,” katanya yang terpaksa melompat turun dari sepedanya karena mobil Arka berhenti tiba-tiba di depannya.

Senja tak peduli, ia kembali menaiki sepedanya, tapi kemudian tuan ganteng itu berdiri di depannya sambil membawa bungkusan.

“Tuan kenapa sih, nggak kasihan sama saya, panas-panas begini tidak bisa segera sampai rumah,” sungutnya.

“Jangan takut, aku belikan es buah untuk kamu dan simbok. Nih.”

“Tuan?”

Si tuan muda langsung menggantungkan bungkusan es buah yang dibelinya di stang sepeda Senja.”

“Ini, untuk saya?”

“Ya, bawa pulang. Udara sangat panas,” kali ini Arka mendahului masuk ke mobilnya.

Senja menaiki sepedanya, lalu menoleh ke arah kemudi dan berteriak.

“Terima kasih, Tuan,” lalu ia mempercepat laju sepedanya.

Bukan Arka kalau membiarkannya. Ia mengikuti dibelakangnya, perlahan.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, May 20, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 02

 NAMAKU TETAP SENJA  02

(Tien Kumalasari)

 

Wajah Senja pucat pasi melihat beras dalam karung tumpah berceceran.

Untunglah jalanan tidak begitu ramai. Ia segera meminggirkan sepedanya, kemudian kembali ke jalan, memunguti beras segenggam demi segenggam dengan air mata bercucuran.

“Bagaimana ini? Kalau tidak mendapat uang pasti simbok sedih. Salahku, mengapa tidak kokoh mengikatnya tadi, sehingga begitu sepeda ambruk maka karung itu terlepas dari talinya.

“Berasnya jadi kotor begini?”

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Ia akan melintas, tapi terhalang oleh kegiatannya memunguti beras.

Senja tak peduli, biar sebutir ia harus memungutnya. Tiba-tiba seseorang turun dari mobil, seorang laki-laki muda yang berpakaian perlente, berwajah tampan dan gagah.

“Apa yang kamu lakukan? Ini di tengah jalan,” tegurnya.

“Saya tahu ini di tengah jalan, tapi beras saya tumpah, saya harus mengumpulkannya lagi.”

“Kamu habis beli beras?”

“Saya mau mengantar beras ini kepada seorang pelanggan. Kalau saya tak dapat uang, simbok pasti sedih,” katanya tanpa menatap siapa yang menyapanya.

Masih banyak beras yang harus dipungutnya. Biarlah kotor, ia akan membawanya pulang dan membersihkannya.

“Kamu penjual beras?”

“Saya membantu simbok mengantarkan pesanan beras.”

“Simbok itu siapa?”

“Simbok itu ya biyung saya. Orang kaya nggak tahu simbok,” omelnya pelan.

Tangannya tak berhenti memungut, dari segenggam demi segenggam, menjadi sejumput demi sejumput. Tangannya lelah tapi ia tidak merasakannya.

“Berapa harga beras sekarung itu?”

“Ini ada catatannya,” katanya sambil memberikan kertas yang tadinya tertempel di karung itu. Senja tetap tak menatap siapa orangnya.

“Bapak mau pesan beras? Katakan saja alamatnya, nanti saya antar, tapi saya harus membereskan ini dulu.”

“Minggirlah, banyak kendaraan akan lewat.”

Senja  mengangkat wajahnya, melihat beberapa kendaraan menyimpang, menghindari menabrak dirinya. Mereka melihat apa yang dia kerjakan, tapi tak seorangpun berhenti membantunya. Bukan itu yang dipikirkan Senja, masih ada beras yang berserak, setengah kilo pasti lebih, ia masih harus memungutnya agar takaran tak berkurang.

“Maaf, saya harus menyelesaikan ini dulu, beras yang berceceran masih ada.”

“Ini, aku bayar beras kamu.”

Senja kembali mengangkat wajahnya, menatap tangan yang mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Barulah ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang berdiri di depannya.

“Apa Tuan? Ini apa?”

“Apa kamu tidak tahu? Ini uang, ambillah.”

“Untuk apa?”

“Agar kamu segera minggir.”

“Maksudnya apa?”

“Biarkan beras yang tumpah, aku membayar berasmu, tinggalkan sisanya yang sudah kotor itu.”

Senja terpana.

“Minggirlah. Terima dulu uang ini.”

Senja menatap beras yang masih terserak, dan karung yang berdiri di antaranya.

Tuan muda ganteng itu mendekati karung, lalu mengangkatnya ke tepi jalan, kemudian mengikat karung itu dengan tali yang sebagian masih tergantung di sana. Mengikatnya erat agar tak kembali tumpah, dan Senja melongo ketika si tuan muda menaikkan karung itu ke atas boncengan sepedanya, dan mengikatnya supaya kokoh dan tidak mudah jatuh.

Mata Senja berkejap-kejap tak percaya.

“Bawa pulang berasmu, berikan uang itu pada simbokmu.”

“Tt..tapi, berarti beras ini milik Tuan. Dan beratnya pasti berkurang, lalu berasnya juga kotor, saya pulang dulu untuk memilah-milahnya. Agar bersih saat Tuan terima. Berikan alamat Tuan. Harganya harus dikurangi karena …. eh, ini kebanyakan, saya tak punya kembaliannya.”

“Ambil saja semuanya, dan bawa pulang berasnya.”

“Tapi ….”

“Bisa dijual lagi kalau sudah bersih kan?”

“Tuan ….”

Tuan muda itu membalikkan tubuhnya menuju kembali ke arah mobilnya, Senja menatapnya sambil melongo, bingung harus bagaimana. Tapi kemudian ia bergegas mengejar.

“Tuan, terima kasih banyak, saya akan mengantarkan beras yang bersih untuk Tuan.”

“Untuk aku? Aku tidak makan beras.”

“Maksud Tuan apa? Berasnya bisa diberikan pembantu, agar di masak, untuk makan istri dan anak-anak Tuan.”

Tuan muda itu tertawa pelan, ia suka cara Senja bicara. Begitu polos, seperti anak kecil tak mengenal dosa. Ia belum tahu siapa dirinya.

“Namamu siapa?”

“Nama saya Senja,” jawabnya lugas.

“Sudah, bawa kembali pulang berasnya, dan berikan uangnya untuk simbok,” katanya sambil membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.

Senja menatapnya tak berkedip. Mata bundarnya berbinar. Ingin rasanya menanyakan nama si baik hati itu, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Mobil itu bergerak maju, tuan muda membuka jendela mobilnya dan berteriak.

“Hati-hati, Senja.”

Senja hanya menatapnya, semuanya seperti mimpi.

“Apakah dia malaikat yang ingin membantu agar simbok tidak merugi?” gumamnya sambil menatap lembaran-lembaran uang yang diberikan oleh si tuan muda.

“Tapi, malaikat ada yang punya mobil ya? Malaikatnya ganteng sekali."

Senja masih terpaku di pinggir jalan. Beberapa saat lamanya ia tersadar, lalu berjalan ke arah sepedanya, sambil menghitung uang yang diberikan tuan muda itu.

“Sisanya banyak sekali, ada dua lembar ratusan ribu dan beberapa rupiah. Bagaimana ini, tapi dia menyuruh aku mengambilnya saja. Berarti sisanya diberikan padaku?”

Senja mamasukkan uangnya ke dalam saku bajunya, kemudian mengambil sepedanya, mengayuhnya pulang. Pesanan belum terkirim, ia harus membersihkan berasnya dulu dan menimbangnya lagi dan menambah berasnya agar bobotnya tepat.

***

Ketika sampai di rumah, ia melihat rumahnya masih sepi, sang simbok belum pulang. Rimba menyambutnya dan heran melihat karung masih ada di boncengan sepeda kakaknya.

“Kok kembali? Kesasar ya? Tidak tahu alamatnya?”

“Tidak, tolong bantu menurunkannya.”

Rimba melakukan apa yang disuruh kakaknya, mengangkat beras dari boncengan. Rimba laki-laki kuat, tadipun ia mengangkatnya sendiri ketika Senja baru mau berangkat. Hanya saja mengikatnya kurang kuat sehingga karungnya terjatuh dan isinya tumpah.

“Bagaimana ini? Mengapa diturunkan lagi?”

“Tolong ambilkan tampah,” perintah sang kakak.

“Tampah?”

“Nyiru, di dapur, dua ya,” katanya.

Senja harus membersihkan berasnya dulu sebelum nanti mengirimnya lagi.

“Ini tampahnya, untuk apa.?”

“Taruh saja di situ.”

Senja membuka ikatan karung lalu menuang berasnya, hanya dibagian atasnya saja., lalu memilihinya sampai bersih. Lalu menambah lagi berasnya sebagai ganti yang tumpah tadi. Hanya kira-kira, tapi Senja berharap takarannya tidak kurang.

Agak lama, lalu ia meminta tolong kepada adiknya agar membantunya lagi menaikkan ke boncengan.

“Ikatannya yang kenceng, sini aku bantu."

Tapi sebelum berangkat, mbok Mangun sudah datang.

“Kamu belum berangkat mengirimkan berasnya?”

“Tadi sudah Mbok, tapi ada halangan. Ini mau Senja kirim lagi. Oh ya, ini uangnya, Simbok bawa dulu saja,” kata Senja sambil menyerahkan semua uangnya kepada simboknya, kemudian mencium tangannya dan bergegas pergi. Simbok menatapnya dengan linglung.

“Ini uang apa?” tanyanya kepada Rimba.

“Nggak tahu Mbok, mbak Senja belum cerita apa-apa. Tadi pulang, beras di dalam karung agak kotor, dibersihkan dulu, lalu dibawanya berangkat lagi.”

“Bagaimana berasnya bisa kotor?”

“Tadi tuh sudah berangkat, sehabis makan, tapi kembali pulang untuk membersihkan beras.”

“Berarti tadi berasnya tumpah?”

“Nggak tahu Mbok, Rimba juga bingung.”

“Lalu ini uang apa? Banyak sekali.”

Rimba menggeleng-geleng. Ia juga tak mengerti.

“Kita tunggu saja sampai mbak Senja pulang, nanti kan dia cerita.”

Simbok mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, meletakkan bakul yang sudah kosong di dapur, lalu membersihkan diri di kamar mandi.

Rimba menyiapkan minum untuk simboknya. Air putih. Simbok lebih suka minum air putih.

***

Arka memasuki kantornya, duduk di depan meja kerjanya. Setumpuk berkas menunggu diperiksa dan ditanda tanganinya. Arka adalah putera mahkota kerajaan bisnis ayahnya, Prabu Wiguna. Begitu selesai kuliah ia tak diijinkan mengambil S2 nya, diperintahkan untuk langsung memegang perusahaan di bawah kendali sang ayah.

Tapi ia merasa heran, konsentrasinya buyar, ketika terngiang suara lembut gadis hitam manis yang berbicara polos tapi menawan. Hanya gadis sederhana, kalau tak boleh dibilang miskin. ‘Nama saya Senja’. Nama yang unik.

Tiba-tiba pintu diketuk, sekretarisnya masuk setelah dipersilakan.

“Tuan, ada tamu ingin bertemu tuan.”

“Siapa? Kalau masalah perusahaan, suruh Senja menemuinya.”

“Senja siapa, Tuan?” tanya sekretaris itu heran.

“Apa?” Arka kaget sendiri. Kok bisa Senja?

“Maksud saya Sanjaya," katanya meralat sambil memarahi dirinya sendiri dalam hati.

***

Besok pagi ya.

Tuesday, May 19, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 01

 NAMAKU TETAP SENJA  01

(Tien Kumalasari)

 

Rumah itu kecil, sederhana, tapi kelihatan bersih dan rapi. Lantainya dari semen biasa, tapi kelihatan mengkilap karena setiap hari di pel dengan ampas kelapa. Itu kebiasaan mbok Mangun, penjual beras kecil-kecilan yang melayani beberapa pelanggan demi menyekolahkan kedua anaknya. Senja seorang gadis hitam manis yang menginjak dewasa, sudah hampir lulus SMA, sedangkan Rimba, laki-laki kecil masih duduk di SD kelas lima.

Mbok Mangun seorang janda. Suaminya yang kuli bangunan meninggal dalam sebuah musibah ketika bekerja.

Tiga tahun berlalu, dan mbok Mangun memeras keringat demi melanjutkan hidup, seorang diri, karena ia ingin anak-anaknya tak buta hurup seperti dirinya.

Terkadang ia menggendong bakul, untuk mengantarkan pesanan seorang diri, berjalan beberapa kilometer, karena pelanggannya memang terkadang jauh dari rumahnya. Mbok Mangun memilih mengantarnya sambil berjalan, karena agar  keuntungannya utuh tidak terkurangi untuk membayar angkutan.

Terkadang kalau libur sekolah, Senja membantu mengantarkan pesanan dengan naik sepeda, yang biasanya dipergunakan untuk sekolah.

Hari itu Senja pulang sekolah, dan merasa senang karena simbok ada di rumah, sedang menunggunya di meja makan kecil sederhana di ruangan sempit. Rimba sudah duduk sambil mengunyah sepotong tempe goreng. Senja mendekati simboknya dan mencium tangannya. Mbok Mangun biarpun orang kebanyakan, tapi mengajarkan sopan santun yang sangat baik, dan menuntun kedua anaknya untuk tidak melakukan hal yang menyimpang dari kebenaran.

“Baru pulang Nja?”

“Iya Mbok, ada tambahan pelajaran, karena sebentar lagi ujian.”

“Cepat cuci kaki tanganmu dan ganti baju, adikmu sudah kelaparan nih,” kata mbok Mangun sambil tersenyum melihat Rimba menghabiskan sepotong tempe goreng.

Senja bergegas ke kamar mandi dan berganti pakaian rumah, lalu ikut duduk bersama mereka.

“Simbok tidak ke mana-mana hari ini? Kok sempat masak juga?”

“Sudah pagi tadi, mengantar beras pesanan bu Mantri sama bu Citro, pulangnya mampir pasar lalu masak sayur asem dan tempe serta tahu goreng. Ayo makanlah  Nak.”

Senja mengambilkan nasi untuk sang simbok, lalu adiknya, baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.

“Masakan simbok selalu enak,” kata Rimba.

“Tentu saja, simbok memasak dengan bumbu yang lebih,” sahut Senja.

“Bumbu yang lebih itu apa?”

“Kasih sayang,” jawab Senja setelah menelan makanannya.

Simbok tersenyum. Senang sekali melihat kedua anaknya makan dengan lahap, walau hanya dengan lauk sederhana.

“Besok setelah lulus, aku tidak akan melanjutkan kuliah.”

“Tidak ingin? Lihat anaknya pak lurah, dia kuliah dan katanya kalau lulus akan menjadi ingsinyur …”

“Kuliah itu mahal mbok, sedangkan pak lurah kan uangnya banyak. Tidak apa-apa Senja membantu simbok saja. Kalau pelanggannya banyak, simbok bisa menabung untuk biaya sekolah Rimba. Rimba kan laki-laki, sekolah tinggi lebih pantas, tapi ya … kalau biayanya ada. Kuliah itu mahal. Hanya kebanyakan orang-orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya.”

“Ya sudah, jangan dipikirkan sekarang. Makan yang banyak, habiskan nasinya, nanti simbok masak nasi lagi untuk makan malam.”

Rimba mengangguk senang. Sudah biasa kalau anak laki-laki harus punya porsi berlebih. Simbok tidak melarangnya. Anaknya harus sehat dan kuat. Itu sebabnya ia rela berpanas-panas setiap hari dengan menggendong bakul berisi beras.

***

Pagi sebelum berangkat sekolah, Senja membantu membersihkan rumah, dan menyirami tanaman di pot kecil, agar rumah sederhana itu tampak segar dengan warna hijau dari tumbuh-tumbuhan.

“Mbok, sekarung beras ini Simbok siapkan untuk siapa?”

“O, itu untuk pelanggan simbok dekat pasar sana. Itu langganan lama. Bu Said, kamu tahu kan?  Nanti akan simbok antar sebentar lagi. Kalau bisa simbok mau masak dulu. Kemarin sudah sekalian beli sayur untuk hari ini.”

“Apa harus diantar pagi?”

“Tidak juga, kalau siang kan panas, jadi lebih baik diantar pagi, soalnya pesannya sekarung itu.”

“Kalau simbok mau, nanti Senja antarkan sepulang sekolah.”

“Nanti sepulang sekolah? Apa kamu tidak capek?”

“Ya tidak Mbok, cuma begitu saja capek. Boleh ya Mbok?”

“Soalnya sekarung beras, kan berat.”

“Senja kan naik sepeda, nanti diikat di boncengan.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Simbok antarkan yang dekat-dekat sini, belinya kan sedikit-sedikit.”

“Senja mandi dulu ya Mbok, sudah selesai bersih-bersihnya."

“Ya, sana. Kelihatannya Rimba juga sudah selesai mandi. Setelah siap, sarapan dulu, simbok membuat nasi urap dan ikan asin goreng.”

“Wah, enak sekali,” pekik Senja sambil setengah berlari ke belakang, menuju kamar mandi.

Mbok Mangun tersenyum. Bahagia adalah ketika melihat kedua anaknya sehat dan bersemangat.

***

Ketika kedua anak sarapan, mereka mendengar suara agak keras di depan. Tampaknya ada orang berbincang dengan simboknya. Senja meminta adiknya melanjutkan sarapan, dia sendiri bangkit dan berjalan keluar. Tapi simboknya sudah masuk ke dalam kamarnya, dan ‘tamu’ itu sudah tak ada.

Senja kembali ke ruang makan, menghabiskan sarapannya. Ketika selesai, Senja mengemasi piring-piring kotor dan membawanya ke tempat cucian piring.

“Tinggalkan saja di situ, biar simbok yang mencuci, nanti kamu terlambat ke sekolah. Lagipula nanti baju seragam kamu basah.”

“Nanti Senja cuci sepulang sekolah ya Mbok.”

“Nanti gampang. Sudah, berangkat sana, Rimba sudah menunggu tuh.”

“Tadi Simbok bicara dengan siapa?”

“O, itu pak Diran,” jawab mbok Mangun singkat.

“Bicaranya keras sekali.”

“Sudah biasa begitu, nggak bisa bicara pelan.”

“Apa dia marah-marah?”

“Tidak, hanya mengatakan bahwa ada iuran sampah yang belum simbok bayar.”

“Sekarang sudah? Banyakkah?”

“Tidak banyak, sudah simbok bayar. Sudah sana, tuh, adikmu sudah nangkring di boncengan."

Senja mencium tangan simboknya, kemudian mengambil sepedanya, dan berangkat sambil memboncengkan adiknya.

Mbok Mangun menatapnya dengan mata penuh haru.

“Mereka masih anak-anak. Tidak harus merasakan susahnya kehidupan ini. Mereka harus selalu ceria dan bersemangat, barulah aku bahagia,” gumamnya pelan, lalu melangkah ke belakang. 

la sudah berjanji akan memasak dulu sebelum menjajakan berasnya.

Sambil memetik sayur, ia memikirkan kedatangan pak Diran. Ia bukan mengingatkan iuran sampah. Ia menagih utang. Ia butuh uang ketika kenaikan kelas anak-anaknya, dan uang yang ada belum cukup. Pak Diran adalah RT di kampungnya, kaya raya, tapi dia seorang rentenir. Mbok Mangun terpaksa, karena tak ingin anak-anaknya berhenti sekolah.

***

Ketika pulang sekolah, Senja melihat Rimba sudah lebih dulu di rumah. Ia sedang menunggunya.

“Simbok belum pulang?”

“Belum, tapi makan siang kita sudah siap, sebelum berangkat tadi simbok berpesan, kalau sepulang sekolah harus langsung makan, semua akan disiapkan.”

“Baiklah, mbak ganti baju dulu, kamu makan dulu sana.”

Rimba mengangguk, dan berlari kecil pergi ke ruang makan.

Ada sup sayur tanpa daging dan tahu bacem, tapi aromanya menggugah selera.

Siang itu mereka makan siang berdua. Sering seperti itu, kalau simboknya belum pulang dari menjajakan beras.

“Nanti setelah makan, aku mau mengantarkan pesanan beras.”

“Iya, apa aku boleh ikut?”

“Mau ikut gimana, boncengannya akan mbak buat naruh berasnya. Nanti kamu bantu mengangkatnya ya, harus di tali supaya kuat.”

“Baiklah, nanti aku bantu.”

“Mbak cuci piring dulu, lalu bersiap mengirim beras.”

“Baiklah.”

Rimba membantu membersihkan meja makan, sementara Senja mencuci piring bekas makan.

***

Panas begitu terik, tapi Senja bersemangat mengayuh sepedanya. Agak berat karena beras sekarung ada di boncengannya.

Tapi Senja tidak mengeluh. Tempatnya agak jauh, tak bisa Senja bayangkan kalau sang simbok menggendong beras sekarung itu dipunggungnya lalu berjalan sejauh itu. Dan itu tidak hanya sekali. Diam-diam air mata Senja menetes.

“Setelah lulus aku akan membantu simbok,” bisiknya sambil sebelah tangannya mengelap peluh di dahinya.

Di sebuah tikungan, sebuah sepeda motor hampir menabraknya. Memang tidak sampai menabrak, tapi keseimbangan Senja terganggu dan sepedanya ambruk.

Karung beras itu terkoyak dan berasnya jatuh terburai.

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 05

  NAMAKU TETAP SENJA  05 (Tien Kumalasari)   Pak Daryono menenangkan Arka yang tampak gelisah karena ucapan sang ayah. “Sudah, tenangkan hat...