NAMAKU TETAP SENJA 16
(Tien Kumalasari)
“Mau apa kamu kemari? Mau mencari siapa?”
“Saya mengirim beras Tuan,” jawab Senja
“Kamu anak kecil membawa karung beras itu?” kata pak Wiguna sambil menunjuk ke arah karung beras yang masih teronggok di depan satpam penjaga.
“Ya, Tuan. Memangnya saya anak kecil?” kata Senja seenaknya, tanpa sadar bahwa yang bertanya adalah tuan besar pemilik perusahaan yang dihormati oleh semua orang.
“Kamu itu masih kecil. Siapa yang menyuruh kamu?”
“Tidak ada yang menyuruh, saya membantu simbok saya. Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya permisi Tuan,” kata Senja sambil membalikkan tubuhnya. Tapi kemudian satpam itu meneriakinya.
“Hei, beras ini pesanan siapa?”
“Katanya beras untuk kantin. Tanyakan saja pada mas Arka,” lalu Senja melenggang pergi.
Senja sudah memegangi setang sepedanya ketika sebuah teriakan kembali menyebut namanya.
“Senja! Mengapa kamu mengirimnya sendiri?”
Senja menoleh, melihat Arka mendekatinya.
“Mengapa kamu mengirim sendiri?”
“Habis siapa lagi? Saya masih akan mengirim tiga karung berikutnya. Tapi besok ya, saya baru pulang sekolah.”
“Ya ampun Senja, aku kan sudah bilang sama simbok kalau akan menyuruh orang mengambil beras ke rumahnya. Hanya saja hari ini belum bisa, karena yang aku suruh mengambil sedang mengirim barang.”
“Tidak apa-apa, beras itu kan kewajiban penjual untuk mengirimnya?”
“Kamu ini ngeyel ya? Sudah aku bilang kalau aku yang akan mengambil. Mau dijewer? Kamu pulang sekolah apa tidak capek? Dan kantor ini dari rumah kamu lumayan jauh. Kalau nanti ambyar lagi di jalan bagaimana?”
“Iih, mas Arka ngomongnya panjang banget. Sudah, aku pulang dulu.”
“Sisanya jangan dikirim, besok pagi sudah ada yang akan mengambil.”
Senja menaiki sepedanya keluar dari halaman kantor. Arka menghela napas panjang. Rasa iba merayapi hatinya. Begitu besar perjuangan seorang miskin demi mencukupi kebutuhan.
“Arka, mengapa kamu masih berdiri di situ?” Arka baru sadar kalau ada ayahnya berdiri menatapnya.
“Memberi tahu gadis itu kalau sisa berasnya akan diambil oleh bagian ekspedisi.”
“Itu yang kamu bilang penjual beras teman kamu?”
“Ya.”
“Anak kecil itu?”
“Dia sudah hampir lulus SMA.”
“Demi dia kamu juga merepotkan perusahaan.”
“Hanya menyuruh mengambil beras, tidak jauh dan tidak akan lama.”
“Memikirkan orang lain, dirinya sendiri tidak dipikirkan. Beras untuk rumah, beras untuk kantin, mengapa kamu melakukan semua itu?”
“Tidak apa-apa Pak, menolong itu tidak ada buruknya,” katanya sambil masuk ke dalam.
“Hei, kamu mau pulang jam berapa?” teriak ayahnya lagi.
“Sebentar lagi,” kata Arka yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.
“Jangan pulang terlalu malam.”
Lalu pak Wiguna menyuruh satpam untuk mengambilkan mobilnya.
***
Senja sedang mengelap keringatnya dengan ujung baju, ketika simbok keluar dari dalam rumah.
“Bagaimana Nja, ketemu tempatnya?”
“Ya ketemu dong Mbok, kan ada alamatnya.”
“Kamu pasti lelah. Simbok punya rujak degan. Cuci dulu kaki tanganmu, simbok siapkan rujak degannya di sini.”
“Wah, seger pastinya,” setengah berlari Senja ke belakang, sementara simbok menyiapkan segelas rujak degan, diletakkan di bangku depan rumah.
“Simbok dapat degan dari mana?” tanya Senja sambil duduk lalu menghirup minuman berwarna kecoklatan dengan sayatan-sayatan kelapa muda di dalamnya.
“Coba tebak, dari mana?”
“Simbok pakai tebak-tebakan segala. Simbok beli di warung, ya kan? Di dekat situ ada penjual rujak degan gula kelapa. Ya kan?”
“Bukan, kamu di jalan tidak ketemu seseorang?”
“Ya ketemu Mbok, namanya jalan. Banyak orang lewat kan?”
“Maksud simbok tuh yang kamu kenal.”
“Tidak. Ketemu pak Sukir tadi, pas pulang dari sawah.”
“Dia naik mobil.”
“Naik mobil? Mas Arka?”
“Tuh kamu tahu.”
“Siapa lagi yang mengenal keluarga kita dan punya mobil kalau bukan mas Arka?”
“Iya, kamu pintar.”
“Mas Arka dari sini?”
“Baru saja pulang. Dia menegur simbok, mengapa menyuruh kamu mengirim beras.”
“O, iya, tadi ketemu dikantornya, Senja juga diomelin. Katanya mau diambil, mengapa dikirim.”
“Tadi berpesan wanti-wanti, besok berasnya akan diambil orang kantor, tidak boleh dikirim.”
“Ya sudah, alhamdulillah. Lumayan jauh sih.”
“Tuh kan, kamu nekat mengirim.”
“Tidak apa-apa Mbok, melayani pelanggan terkadang juga berat,” kata Senja yang kemudian sibuk menyendok kelapa mudanya yang tersisa.
“Mas Arka sangat baik,” gumamnya pelan.
Ada sesuatu yang aneh dirasakannya. Senja sudah besar, perasaan cinta bisa saja muncul setiap saat. Cinta? Apakah Senja sadar bahwa dia jatuh cinta kepada laki-laki yang baik hati dan tampan itu? Kalaupun Senja sadar, maka dia pasti hanya berpikir bahwa dirinya telah bermimpi. Mimpi meraih bintang, mana mungkin tangannya sampai?
Bukankah menikmati segarnya es kelapa muda gula jawa lebih nikmat dan itu bukanlah mimpi?
***
Karena sepulang kantor harus berpesan kepada mbok Mangun, maka Arka sampai di rumah lebih sore. Lagi-lagi sang ayah menyemprotnya dengan kasar.
“Tadi bilang mau segera pulang, jam segini baru sampai rumah.”
“Mampir-mampir Pak,” hanya itu jawabnya.
Dan Arka terkejut ketika ia melihat Rosa di ruang tengah. Padahal ia tak melihat ada mobil Rosa di sana.
“Arka, kamu baru pulang?”
“Ya,” katanya tak acuh, lalu langsung masuk ke kamarnya.
“Lihat Om, Arka begitu dingin terhadap saya,” katanya sambil melihat ke arah pak Wiguna yang baru masuk dari arah depan.
“Dia baru pulang, pasti lelah,” jawab bu Wiguna.
“Arka, setelah ganti baju segera keluar. Sudah lama Rosa menunggu,” kata pak Wiguna dari luar pintu kamarnya.
“Arka mau mandi dulu,” teriaknya dari dalam kamar.
Pak Wiguna mendekati Rosa sambil tersenyum.
“Biar dia mandi dulu. Mungkin dia merasa, mau ketemu gadis cantik harus wangi, ya kan?”
Bu Wiguna agak kesal kepada suaminya karena terus-terusan memberi harapan bagi Rosa, padahal jelas-jelas harapan palsu. Mungkinkah suatu saat Arka akan jatuh hati kepada gadis yang dijodohkan ayahnya itu?
Rosa tidak segera pulang, bahkan sampai keluarga Wiguna mengajaknya makan malam. Arka ikut berbaur dalam menjamu tamu yang dibencinya, tapi dia tak banyak berkata-kata. Berkali-kali sang ayah memancing candaan tentang hubungan dirinya dengan Rosa, tapi Arka tak menanggapinya.
Saat makan malam, Rosa memuji-muji masakan bu Wiguna.
“Masakan tante selalu enak, nasinya wangi, sayurnya sedap.”
“Itu bukan tante yang masak, tapi bibik,” jawab bu Wiguna.
“Rosa ingin belajar masak sama bibik ah, agar kelak disayang suami.”
“Ya, Rosa, itu benar. Arka gemar makanan enak. Kamu harus pintar memasak.”
Lagi-lagi Arka diam.
“Bagaimana membuat nasi menjadi wangi? Dikasih daun pandan ya tante?”
“Bisa saja, dikasih daun pandan, tapi nasi ini memang sudah wangi dari sananya.”
“Oh ya?”
“Namanya beras menthik.”
“Di mana belinya tante?” kata Rosa asal-asalan, pokoknya bicara tentang nasi dan masakan. Biasa, biar kelihatan perhatian pada masakan, biar Arka tahu kalau Rosa akan menjadi istri yang pintar masak.
“Biasanya bibik yang beli, tapi akhir-akhir ini Arka yang beli.”
“Apa? Arka beli beras? Masa laki-laki belanja beras?”
“Dia itu kan kurang kerjaan,” celetuk pak Wiguna.
“Arka merasa kasihan kepada temannya yang penjual beras, jadi untuk rumah, dia pesan sama temannya itu.”
“Untuk kantin juga. Baru tadi dikirim. Padahal banyak itu yang untuk kantin,” sambung pak Wiguna dengan wajah gelap.
“Tidak apa-apa kan Pak, membantu orang susah itu baik sekali.”
“Kalau begitu nanti Rosa juga mau bilang sama mama, agar beli di temannya Arka. Nanti kamu pesankan setelah mamaku setuju ya Ka?” kata Rosa sambil menatap Arka. Lagi-lagi hanya untuk mencari perhatian.
“Ya Ka?” ulangnya setelah Arka tak segera menjawab.
“Gampang,” jawabnya singkat.
Tapi Rosa sebenarnya ingat pada seseorang bernama mbok Mangun yang katanya penjual beras. Dan tiba-tiba Rosa ingin tahu, siapa sebenarnya mbok Mangun, dan apa yang menarik hati Arka tentang penjual beras itu. Siapa tahu dia bisa membantu Arka saat memesan beras, atau entahlah. Pokoknya yang bisa membuat Arka senang karena dia membantunya.
***
Besok lagi ya.