DARAH CINTA DAN AIR MATA 17
(Tien Kumalasari)
Sopir meminggirkan mobilnya, lalu turun mendekati laki-laki tua yang bersandar di trotoar. Orang--orang hanya melihat, barangkali karena korbannya hanya seorang tua dengan pakaian lusuh yang dikiranya peminta-minta atau entahlah.
Tiba-tiba runtuh belas kasihan Fajar. Ia ikut turun, dan mengajak pak Manan untuk memapah laki-laki itu.
“Kita bawa dulu ke rumah sakit,” kata Fajar.
Ada orang yang kemudian peduli, lalu membantu mengangkatnya ke mobil Fajar.
“Kenapa dia?” tanya Fajar kepada orang yang berkerumun di situ.
“Terserempet sepeda motor, lalu pengendaranya kabur.”
“Mengapa tidak segera lapor polisi?”
“Kami semua bingung. Pak tua itu tampaknya bilang jangan lapor … tak usah … tak usah … katanya.”
Pak Tua itu sudah duduk di jok belakang. Ada darah di kepalanya. Ia tampak lemas.
“Cepat ke rumah sakit, pak Manan.”
Pak Manan melarikannya ke rumah sakit terdekat.
Orang tua itu merintih.
“Tidak usah … tidak usah … saya tidak punya uang untuk membayar, berhenti di perempatan itu saja, saya mau pulang.”
“Bapak luka parah. Harus diobati.”
“Saya membayar pakai apa? Saya belum mendapat uang sepeserpun,” katanya sambil merintih.
“Bapak tidak usah memikirkan uangnya. Saya yang akan membayar, jangan khawatir.”
“Tapi … bagaimana nanti … kalau …”
“Bapak jangan memikirkan apapun. Tenang saja. Yang penting Bapak mendapat pengobatan. Kalau sudah selesai dan tidak ada yang parah, Bapak bisa pulang.”
“Mengapa tadi Bapak melarang mereka lapor polisi?” sela pak Manan.
“Nanti saya yang dihukum.”
“Mengapa Bapak harus dihukum?”
“Kan saya yang salah, menyeberang tanpa melihat kiri kanan.”
Fajar tersenyum, pak Manan tertawa pelan.
“Ya tidak, masa Bapak harus dihukum?”
“Bukankah yang salah harus dihukum?”
“Tidak gampang menghukum orang. Mungkin pengendara itu ngebut, atau entah bagaimana seandainya menjadi suatu perkara, tapi tidak serta merta Bapak harus dihukum.”
“Rumah Bapak di mana?”
“Dari tempat saya kecelakaan tadi, menyeberang, masuk kampung. Istri saya pasti menunggu.”
“Sebenarnya Bapak mau ke mana?”
“Mencari pekerjaan.”
“Pekerjaan apa?”
“Apa saja, bersih-bersih kebun, memotong rumput, tapi dari pagi belum ada yang butuh tenaga saya. Istri saya sedang menunggu di rumah, dia juga sedang sakit, dari kemarin belum memasak.”
Jatuh rasa iba di hati Fajar. Dirinya hidup bergelimang harta, sementara ada orang yang tidak bisa makan dari kemarin? Sedang sakit pula?
“Ditambah saya menemui celaka seperti ini, istri saya pasti menunggu dan khawatir.”
“Pak, Bapak jangan khawatir. Nanti setelah berobat, saya kasih uang ke Bapak, agar bisa membeli makanan. Juga obat bagi istri Bapak.”
Pak tua itu meruntuhkan air mata. Tersendat-sendat ketika ia mengucapkan terima kasih.
“Nama Bapak siapa?”
“Saya, Karimun.”
***
Mereka sudah sampai di rumah sakit. Fajar mengantarkannya sampai ke IGD, meninggalkan uang di loket administrasi.
“Pak Manan, nanti pak Manan mengantarkan saya ke kantor, pak Manan kembali lagi kemari untuk mengurus pak Karimun. Kalau harus opname ya biarlah opname, nanti pak Manan bawa uang yang cukup, berikan kepada pak tua itu, kalau bisa sekalian beli makanan agar dia bisa segera makan. Kasihan dari kemarin tidak makan. Kalau bisa langsung pulang, pak Manan antarkan dia ke rumahnya. Belikan apa yang mereka butuhkan untuk makan, terserah pak Manan, asal mereka tidak kelaparan lagi.”
Panjang lebar Fajar memberi pengarahan kepada pak Manan, agar pak tua bernama Karimun itu mendapat pertolongan dan bisa makan.
“Baik, Pak. Apa Bapak mau berangkat sekarang?”
“Tunggu hasil pemeriksaan dulu, apakah lukanya parah, atau bisa langsung pulang nanti. Setelah jelas keadaannya, pak Manan antarkan saya dulu ke kantor, lalu kembali kemari.”
“Baik.”
Fajar menemui dokter yang menangani, dan mengatakan bahwa lukanya hanya luka luar, tapi perlu dijahit. Tapi nanti setelah perawatan, dia bisa pulang.
Setelah mendapat keterangan, Fajar segera minta agar pak Manan segera mengantarkannya ke kantor terlebih dulu.
***
Di tengah perjalanan, ponsel Fajar berdering, rupanya dari sang ayah.
“Mengapa kamu belum sampai juga di kantor?”
“Maaf Pak, saya tadi berhenti karena menolong orang kecelakaan.”
“Siapa kecelakaan?”
“Seorang tua tak ada yang menolong, saya membawanya ke rumah sakit agar dia mendapat pengobatan yang baik.”
“Kamu sudah ditunggu, mereka sedang rapat.”
”Ini saya sedang dalam perjalanan ke kantor Pak, sebentar lagi sampai.”
“Jangan sampai kamu mengabaikan tugas dengan alasan yang macam-macam, ini tugas penting. Kamu adalah wakil bapak.”
“Iya, kami hampir sampai.”
Pak Pranoto menutup ponselnya begitu saja, tampaknya dia agak kesal karena dari kantor cabang menelponnya bertubi-tubi.
Begitu sudah menurunkan Fajar, pak Manan segera mendapat perintah untuk mengurusi pak Karimun, dan harus berbelanja semua keperluannya, serta memberikan uang yang cukup untuk pak Karimun.
***
Sesampai di sana, pak Karimun sudah hampir selesai ditangani. Pak Manan mengambil obatnya dan menyelesaikan beaya administrasi, lalu mengajak pak Karimun pulang.
“Saya jalan kaki saja,” kata pak Karimun yang kepalanya dibalut perban.
“Jangan, pak Fajar menyuruh saya mengantarkan Bapak sampai di rumah. Ini uang yang pak Fajar berikan untuk Bapak,” kata pak Manan sambil menyerahkan sejumlah uang untuk pak Karimun, dan diterima dengan mata berlinang.
“Ini sangat banyak. Anak muda itu sangat baik hati,” katanya bergetar.
“Uang ini bisa dipakai untuk Bapak kembali kemari untuk kontrol, sampai luka Bapak sembuh.”
Pak Karimun mengangguk-angguk, dan air matanya menetes keluar, membasahi pipinya yang mulai keriput.
Tidak cukup dengan memberi uang, pak Manan berhenti di sebuah toko kelontong. Ia membeli sekarung beras, telur, kecap, sabun, mie, dan apa saja yang bisa dipergunakan untuk dimakan.
“Ini belanja untuk siapa?”
“Ini semua nanti untuk Bapak. Bapak tinggal di rumah sama siapa?”
“Hanya dengan istri saya, sedang sakit pula.”
“Istri Bapak sakit apa?”
“Dari kemarin badannya panas. Mau periksa ke pak Mantri, belum punya uang.”
“Nanti sesampai di rumah Bapak bawa dia ke poliklinik, atau ke pak Mantri, supaya mendapat pengobatan.”
“Terima kasih banyak. Hari ini saya celaka, tapi mendapat berkah yang berlimpah ruah. Istri saya pasti senang.”
“Semoga Bapak juga segera sehat dan mendapat pekerjaan lagi.”
“Iya, kalau sudah sehat saya pasti harus bekerja. Tapi sekarang saya bersyukur, ada orang baik yang membantu meringankan beban saya. Siapa sebenarnya anak muda yang baik hati itu?”
“Dia namanya Fajar. Pak Fajar Pranoto, putra seorang pengusaha besar.’
“Pantas dia begitu royal. Ternyata orang kaya. Muda, tampan, kaya, baik hati. Bukan main dia itu.”
“Bapak tidak punya anak?”
“Jangan tanyakan itu. Saya memang tidak punya anak. Karena itulah walau sudah tua saya tetap harus bekerja sendiri.”
“Semoga rejeki Bapak lancar.”
“Aamiin. Saya turun di depan situ saja.”
“Rumah Bapak di mana?”
“Masih masuk ke kiri, biar saya jalan kaki saja. Jalannya berbatu, sayang mobilnya nanti kotor.”
“Tidak apa-apa, mana mungkin Bapak jalan sendiri dengan membawa barang sebanyak itu?”
“Ah, iya juga.”
“Jadi saya akan mengantarkan Bapak sampai ke rumah, dan membawakan barang-barang itu sampai masuk ke dalam rumah Bapak.”
“Sungguh merepotkan.”
“Ini perintah majikan saya.”
***
Rumah yang reyot, dinding bambu dan atap rumbai, lantainya juga dari tanah. Sambil mengusung beras dan semua belanjaan, pak Manan merasakan bahwa kehidupan pak Karimun dan istrinya sepertinya sangat berat.
“Ini apa saja Pak, dan kamu kenapa? Kepala kamu diperban begitu?” tanya bu Karimun cemas.
Ia berdiri pelan dari yang tadinya berbaring di balai-balai kayu di dalam rumah.
“Tidak apa-apa, hanya jatuh, dan diberi obat.”
Pak Manan segera pamit, karena dia harus kembali untuk menjemput majikan muda.
“Siapa dia? Mengapa Bapak membawa barang-barang ini?”
“Ada anak muda baik hati yang menolong aku, membawa aku ke rumah sakit, lalu memberi uang, yang nanti bisa kita pakai untuk berobat kamu ke rumah pak Mantri. Ia juga memberi barang-barang ini.”
“Ya Tuhan, ini banyak sekali, ada beras, telur minyak dan macam-macam. Kita bisa tidak beli beras selama sebulan,” kata bu Karimun sambil menangis.
“Ini karunia bagi kita Bu.”
“Siapa orang yang baik hati itu? Yang tadi mengusung barang-barang itu?”
“Itu tadi sopirnya. Majikannya masih muda, gagah dan tampan. Orang kaya yang sangat baik hatinya.”
“Alhamdulillah.”
“Jadi teringat anak kita Bu, seandainya kita sempat merawatnya, dia pasti sudah sebesar dia.”
***
Besok lagi ya.