Saturday, August 29, 2026

AKU ANAK SIAPA 24

 AKU ANAK SIAPA  24

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot masih menatap punggung orang itu sampai hilang di balik pagar makam. Ia meneruskan langkahnya, sambil terus berpikir tentang siapa orang itu sebenarnya. Ia terus mengingat-ingat, apakah ada salah satu kerabat istrinya yang berwajah seperti orang tersebut, tapi ia benar-benar tak bisa mengingatnya. Apakah karena sudah semakin tua maka wajahnya berubah?

Langkahnya sudah sampai di depan makam. Ada taburan bunga yang masih segar di atasnya. Pasti orang tadi yang menaburkannya. Tulisan nama sang istri masih tampak jelas. Sawitri. Makamnya juga tampak bersih terawat.

Pak Gatot berjongkok. Ia tak membawa bunga, tapi ia membawa doa, agar Allah mengampuni dosa-dosa istrinya, dan menempatkannya di tempat yang layak disisiNya.

Ia masih termenung sambil duduk di atas rumput di sebelah makam. Udara siang yang panas, menjadi sejuk ketika ia berada di bawah sebuah pohon besar yang menaunginya. Ada pedih mengiris kembali ketika ia teringat saat-saat bersama dengannya. Ketika itu ia masih bisa dikatakan berkecukupan. Warisan rumah orang tuanya cukup besar dan juga ia masih punya banyak uang dari warisan tersebut. Ia bekerja di sebuah kantor swasta yang memperkerjakannya sebagai pegawai administrasi. Dalam kesibukannya, ia tak tahu bahwa sang istri menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.  Sampai kemudian ia mendengar kalau sang istri suka bergandengan dengan laki-laki muda, berganti-ganti, dan istrinya menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang dengan mereka.

Pertengkaran demi pertengkaran menghiasi kehidupan rumah tangga mereka. Lalu pak Gatot terkejut ketika tiba-tiba sang istri hamil. Hamil yang bukan darah dagingnya karena sudah berbulan-bulan ia tak pernah menyentuh istrinya.

Puncak dari kehancuran rumah tangga itu ialah ketika ia mengetahui bahwa rumah sudah digadaikan istrinya, dan ia tak mampu menebusnya. Saat itu juga sang istri melahirkan, yang mau tak mau pak Gatot menungguinya. Tapi perbuatan buruk sang istri ditebusnya dengan nyawa. Saat melahirkan ia kehabisan darah dan dokter tak berhasil menolongnya ketika ia tak berhasil mendapatkan darah yang cocok.

“Ini pak Gatot ya?”

Suara itu mengejutkannya. Ia menoleh, dan seorang laki-laki tua sudah berjongkok di sampingnya. Laki-laki tua itu penjaga makam yang sudah dikenalnya. Pak Misran.

“Pak Misran?”

“Pak Gatot masih kelihatan gagah. Syukurlah kalau tidak melupakan saya.”

“Tidak. Pak Misran juga masih seperti dulu. Masa saya lupa?”

“Lama sekali tidak menengok bu Gatot.”

“Rumah saya agak jauh, dan makam istri saya tampak terawat sekali.”

“Ini karena setiap Minggu ada yang menjenguknya. Dia meminta saya agar selalu membersihkan makamnya.”

“Siapa dia?”

“Saya tidak tahu namanya. Ia tidak pernah mau mengatakannya. Tapi ia sering memberi saya uang dan minta agar makam bu Sawitri selalu dibersihkan. Barangkali kerabatnya, karena kalau suaminya kan saya tahu, yaitu pak Gatot ini. Masa pak Gatot tidak kenal dia? Baru saja dia keluar dari sini.”

“Saya melihatnya, tapi saya tidak merasa mengenalnya.”

“Orang itu sikapnya aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Kalau datang, ia tidak menampakkan wajah sedih atau apa. Ia selalu memukul-mukul nisannya dengan tangan, seperti orang marah. Lalu menaburkan bunga, dan duduk sebentar, kemudian pergi begitu saja.”

Pak Gatot mengerutkan keningnya. Kalau begitu orang itu sebenarnya marah kepada Sawitri, tapi selalu datang mengirim bunga, dan meminta penjaga makam merawatnya. Siapa sebenarnya dia, dan apa yang terjadi antara dia dan Sawitri? Pertanyaan itu tak terjawab, karena pak Misran juga tak tahu apa jawabnya.

“Ia tak banyak bicara, kecuali menyuruh saya merawat makamnya, lalu pergi begitu saja.”

“Di mana rumahnya?”

“Itu saya juga tidak tahu Pak. Kalau pak Gatot ingin berbincang dengannya, datanglah hari MInggu, dia pasti datang.”

“Pasti?”

“Selalu datang.”

Pak Gatot hanya berdoa sebentar, kemudian pulang dengan seribu satu pertanyaan yang tak terjawab.

***

Pak Gatot sedang bertugas ketika Bibik tiba-tiba datang mendekat sambil membawa kotak makanan. Ada dua kotak, yang satunya lebih kecil.

“Ini untuk pak Gatot.”

“Ini apa?”

“Nyonya ulang tahun kemarin. Sopir di suruh mengirim makanan tapi rumah pak Gatot katanya kosong. Pak Gatot jalan-jalan ya?”

“Tidak Bik, hanya pergi ke makam istri. Agak jauh, diluar kota sana.”

“O, mengunjungi istri?”

“Makamnya Bik.”

“Eh, iya. Pantesan yang disuruh nyonya kembali pulang makanannya. Ini gantinya Pak, silakan dimakan.”

“Banyak banget Bik?”

“Bukan banyak Pak, hanya dua. Yang satu ini nasi sama ayam bakar, lengkap ada sambal dan lalapan. Yang satu ini isinya kue-kue, macam-macam, pokoknya enak.”

“Jadi kemarin di rumah ada pesta?”

“Bukan pesta Pak, nyonya tidak suka pesta-pesta, hanya memesan makanan, lalu dibagi ke seluruh karyawan yang masuk hari Minggu, dan kerabat. Yang tidak ketemu kemarin ya dibagikan hari ini."

“O, begitu. Baiklah, bilang sama nyonya, saya mengucapkan selamat ya.”

“Ucapan selamat nggak boleh nitip Pak, ongkosnya mahal,” canda bibik.

Pak Gatot tertawa.

“Bibik ada-ada saja.”

“Nanti kalau ketemu, pak Gatot mengucapkan saja sendiri, biar Nyonya juga senang.”

“Baiklah. Terima kasih banyak.”

“Dimakan sekarang pak, nasinya. Kalau kue-kuenya bisa untuk cemilan.”

“Iya Bik, jangan khawatir, pasti segera saya makan, sekali lagi terima kasih.”

Bibik kembali ke rumah, karena meninggalkan Sisi bersama nyonya Surani. Sejauh ini ia belum ingin mengambil pengasuh bayi, masih trauma ketika gelang Sisi hilang. Bibik juga memilih menjaga Sisi sendirian, masalah bersih-bersih dan memasak bisa dilakukan ketika Sisi tidur atau sedang suka bermain-main. Sisi bukan anak yang rewel. Itu sebabnya Bibik tidak keberatan menjaganya sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

“Sudah saya berikan Nyonya.”

“Kemarin dia pergi ke mana? Bibik bilang dia tidak ada ketika kemarin sopir mencarinya ke rumah?”

“Bilang. Katanya kemarin pergi ke makam istrinya. Barangkali kangen, Nyonya.”

Nyonya Surani tersenyum lucu. 

"Bibik ini ada-ada saja. Kalau ke makam itu bukannya kangen, hanya ingin mendoakan dari dekat saja. Oh iya, tadi aku mau bilang kalau ingin membezoek Rosa, bisa besok pagi, nanti biar dia tukar tugas dengan lainnya.”

“Maksudnya besok pak Gatot biar masuk sore, begitukah?”

“Iya Bik.”

“Apa saya harus ke sana lagi?”

“Tidak, nanti sebelum berangkat aku bilang sendiri saja. Kasihan dia, sepertinya pak Gatot benar-benar menyayangi seperti anaknya sendiri.”

“Bodohnya mbak Rosa, dianggap anak oleh orang baik seperti pak Gatot, malah melakukan hal-hal buruk. Akhirnya ya masuk penjara.”

“Itulah yang selalu aku pikir, dan sampai sekarang pak Gatot juga selalu memikirkannya. Ya sudah Bik, ajak Sisi makan dulu, aku mau berangkat, sudah kesiangan ini.”

***

Pak Gatot senang ketika akhirnya dia akan bisa bertemu Rosa.

Bu Surani tidak ingin ikut bertemu Rosa. Jadi hanya menurunkan pak Gatot dan mengantarkan pak Gatot sampai ke dalam, dan meminta ijin kepada petugas karena ada yang ingin bertemu dengan dia.

Pak Gatot menunggu sendirian.

Ia diam ketika seorang wanita berhijab keluar. Tapi ia terkejut ketika yang berhijab itu menyapanya.

“Bapak.”

***

Besok lagi ya.

Friday, August 28, 2026

AKU ANAK SIAPA 23

 AKU ANAK SIAPA  23

(Tien Kumalasari)

 

Rosa menatap pak Daryono, tak yakin akan apa yang didengarnya.

“Pak Gatot?”

“Kamu kenal dia?”

“Dia … “

Tiba-tiba air mata Rosa menetes lagi. Ia ingat semua kebaikan pak Gatot. Ia ingat ketika meninggalkannya dan mengingat wajah pak Gatot tiba-tiba berubah sedih. Dia tahu, pak Gatot menyayanginga dan menganggapnya seperti anak sendiri. Wajah tua dengan mata teduh itu sungguh-sungguh berduka dengan kepergiannya yang tanpa belas.

“Mengapa menangis?” tanya bu Daryono.

“Dia … orang pertama yang menolong saya … ketika saya dipukuli orang banyak,” katanya tersendat.

“Dia mengentaskan saya dari jalanan. Mengangkatnya sebagai anak, tapi … saya meninggalkannya karena menurutkan nafsu dendam saya … sehingga saya kembali terjerumus ke dalam kesesatan ….," lanjutnya, masih dengan tangis.

“Apa kamu menyesal?” tanya bu Daryono lagi.

“Sangat menyesal,” kata Rosa masih dengan tangis.

Bu Daryono mengulurkan tissue, dan Rosa menerimanya untuk mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

“Apa yang akan kamu lakukan seandainya nanti keluar dari hukuman ini?” sekarang pak Daryono yang bertanya.

“Saya akan belajar menjalani hidup dengan tenang. Mungkin mencari pekerjaan yang baik. Jadi pelayan juga mau, asalkan saya bisa melanjutkan hidup saya.”

“Keinginan yang bagus. Lalu apa?”

“Saya ingin tahu, siapa sebenarnya orang tua saya. Tapi sepertinya tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin?”

“Saya pernah pergi ke panti asuhan itu, menanyakan asal usul saya, tapi katanya saya ditinggalkan begitu saja di panti, saat saya masih bayi merah, tak ketahuan siapa yang meninggalkannya. Saya putus asa. Rasanya sudah tak mungkin bisa menemukan orang tua saya.”

“Kamu harus bertobat, memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan mohon jalan hidup kamu lebih bersih dan terang.”

“Siapa menyuruhmu memakai hijab? Apakah kamu juga bershalat?”

“Hari terakhir sebelum saya menyerahkan diri, saya tidur di mushala, saya mendengar adzan, hati saya seperti dirajang-rajang, lalu seorang wanita mengajak saya bershalat subuh. Ketika saya mau pergi ke kantor polisi, dia memberi saya mukena dan beberapa kerudung.”

“Kamu kenakan terus? Dan bershalat juga?”

Rosa mengangguk.

“Baiklah, jalan terbaik adalah bertobat dan memohon ampun, semoga Allah mengampuni kamu.”

“Aamiin,” dan air mata Rosa kembali runtuh.

“Apa Bapak mengenal pak Gatot? Atau Ibu?”

“Tidak, tapi seorang teman saya, bu Surani mengenalnya, pak Gatot satpam di toko yang dia miliki,” jawab bu Daryono.

“Bu Surani?” tanya Rosa tersentak kaget.

“Kamu ingat dia?”

“Saya, pernah mencuri gelang anaknya,” lirih ia berkata. Tampak sekali ia menahan tangis.

“Ya sudah, aku berharap kamu benar-benar menyesali semuanya dan bersedia melakukan hidup yang lebih baik. Tidak ada gunanya kamu dendam kepada Senja, dia wanita yang baik, dan sekarang sudah hidup berbahagia bersama Arka."

“Iya, saya menyesal telah menculik anaknya. Itulah kejahatan terakhir yang saya lakukan,” lirih ia berkata.

“Ya, aku juga sudah mendengarnya. Anak itu sangat cerdik, sehingga bisa melepaskan diri dari rencana jahat kamu.”

“Setelah saya bebas nanti, saya akan datang kepada mereka untuk meminta maaf.”

Rosa kembali terisak.

“Itu niat yang sangat baik. Sudah, tenangkan hati kamu. Kami harus pergi,” kata bu Daryono sambil meletakkan bungkusan makanan di meja.

Rosa mengangguk, terharu. Tak tampak kemarahan di mata bekas kedua orang tua angkatnya. Lalu dia merasa, betapa kecilnya dia di mata mereka, yang walau kaya raya tapi tetap memiliki hati yang baik.

***

“Apa yang Mas baca?” tanya Senja disuatu pagi sebelum Arka pergi ke kantor.

“Ini, berita di surat kabar. Buronan bernama Rosa akhirnya menyerahkan diri.”

“Menyerahkan diri?”

“Setelah pelarian itu dia disadarkan oleh suara adzan.”

“Luar biasa Mas, aku senang mendengarnya.”

“Kamu tidak dendam setelah tahu bahwa dialah penculik Satria? Dia bahkan menyakiti Satria, membuatnya ketakutan.”

“Tidak Mas. Seseorang bisa saja melakukan kesalahan, tapi yang penting adalah apabila dia mengakui kesalahan itu, dan berusaha menjalani hidup yang bersih serta lebih baik.”

“Istriku sungguh luar biasa. Aku beruntung mendapatkan kamu sebagai pendamping hidupku,” kata Arka sambil memeluk istrinya.

“Ya sudah, Mas ke kantor sana, aku mau siap-siap menjemput Satria, jangan sampai terlambat sehingga dia mau saja dijemput orang lain.”

Tiba-tiba ponsel Arka berdering, dari ayahnya.

“Arka?” suara sang ayah langsung begitu Arka mengangkatnya.

“Kamu sudah dengar? Rosa sudah ada di tangan polisi, kabarnya dia menyerahkan diri. Mungkin karena terus menerus ketakutan.”

“Iya Pak, sudah membaca beritanya.”

“Bapak ditelpon pak Daryono. Katanya dia sekarang berhijab dan sangat menyesal.”

“Syukurlah.”

“Kamu masih di rumah?”

“Ini mau berangkat ke kantor Pak.”

“Ya sudah, nanti bapak mau ketemu pak Daryono dulu, belum jelas benar ceritanya bagaimana.”

“Arka berangkat ke kantor dulu.”

“Satria sudah sekolah?”

“Sudah, ini ibunya mau menjemputnya.”

“Bagus, jangan sampai terlambat menjemputnya, nanti dia digondol penculik lagi.”

***

“Bapak tadi menelpon siapa?” tanya bu Daryono pagi itu.

“Pak Wiguna, biar dia tahu juga bahwa penculik cucunya sudah menyerahkan diri.”

“Apakah mereka dendam kepada Rosa?”

“Entahlah, aku kira tidak. Mereka orang-orang baik. Apalagi Senja. Sudah pas dan cocok sekali Arka jatuh cinta pada Senja. Rosa bukan apa-apa. Dan kisah cinta itulah yang membuat Rosa terjerumus ke dalam perbuatan jahat berkali-kali.”

“Iya ya Pa, akar permasalahannya ada di kisah antara Arka dan Senja itu. Sampai berlarut-larut begini.”

“Sekarang aku merasa kasihan ketika melihatnya. Melihat dia sudah memakai hijab, menangis menyesali perbuatannya, dan itu kelihatan sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatinya.”

“Benar Pa, aku juga ikut sedih melihatnya menangis. Bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dari keluarga kita.”

“Bagaimana kalau Papa mencabut laporan itu Ma, apa Mama setuju?”

“Papa ingin mencabutnya?”

“Nanti aku akan mencari pengacara dan menanyakan bagaimana prosedurnya, dan tingkat keberhasilannya agar dia bebas.”

"Kelihatannya niat yang bagus Pa, tapi Papa harus benar-benar yakin bahwa dia sungguh ingin bertobat.”

“Menurut Mama bagaimana, sikap yang tadi tampak, bukankah dia sungguh menyesalinya? Ini berbeda ketika kasus yang terdahulu, dia masih mentang-mentang dan sangat sombong. Dia juga masih mengancam-ngancam sambil berteriak-teriak. Tapi ketika kita datang kemarin, dia tampak sangat berbeda. Seperti sangat lemah, dan pasrah, dan kelihatan sekali kalau dia sangat menyesal telah berbuat kejahatan berkali kali. Aku merasa trenyuh melihat wajahnya.”

"Aku juga begitu. Aku setuju kalau Papa mau mencabut laporan. Tapi apakah semudah itu?”

“Tidak juga, harus ada proses yang harus dijalani. Aku tidak tahu namanya, nanti aku serahkan kepada pengacara saja.”

“Semoga niat baik kita juga akan berbuah kebaikan.”

“Aamiin.”

***

Hari itu liburan, pak Gatot tidak masuk kerja. Bu Surani belum memberi kabar tentang kapan bisa membezoek Rosa. Tiba-tiba pak Gatot ingin menengok kuburan istrinya. Sudah bertahun-tahun dia tidak ke sana, entah masih terawat atau tidak.

Ia sudah sampai di depan tanah pemakaman itu. Agak berbeda suasananya, mungkin karena ‘penghuninya’ sudah semakin banyak. Tapi pak Gatot tidak lupa di mana letak makam itu. Dulu, ketika istrinya belum lama meninggal, ia beberapa kali datang, menabur bunga dan mendoakannya.

Ketika ia hampir sampai, ia terkejut ketika melihat seorang laki-laki setengah tua berdiri setelah berjongkok di makam sang istri. Pak Gatot mengingat-ingat, apakah dia kerabat istrinya? Ia hanya mengamatinya, sampai laki-laki itu keluar dari tanah pemakaman.

“Tidak, ia bukan kerabat almarhumah. Aku belum pernah mengenalnya. Siapa dia?”

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, August 27, 2026

AKU ANAK SIAPA 22

 AKU ANAK SIAPA  22

(Tien Kumalasari)

 

Rosa terkejut, ia menundukkan wajahnya, sementara Rochmah menatap ibunya dengan penuh tanda tanya.

“Di mana Ibu menemukan dia? Dia buronan.”

”Rochmah, jangan bicara sembarangan. Dia wanita baik-baik, tadi shalat subuh di mushala.”

“Wajah wanita ini terpampang di mana-mana, dia mengatakan namanya Rosa. Memang buronan itu bernama Rosa.”

”Kamu melukai hati orang yang belum pernah kamu kenal. Kamu mengatakan dia buronan, berarti menuduh orang berbuat jahat. Kamu belum mengerti tentang dia.”

“Bu, percayalah. Lihat, dia menundukkan wajahnya karena takut. Tapi aku tak bisa tinggal diam, aku harus melaporkannya kepada yang berwajib.”

“Rochmah. Jangan sembarangan. Kamu tanya dulu dia sebenarnya siapa, belum-belum mau lapor. Kalau salah bagaimana?”

“Kalau kita melindungi buronan, maka kita juga akan dianggap bersalah. Kita akan ikut masuk penjara.”

“Bu, maaf kalau anak saya lancang.”

“Ibu jangan mempercayainya. Wajah boleh jadi sama, tapi wajah dan nama yang sama, tak bisa lagi dipungkiri."

“Tidak perlu minta maaf Bu, dia benar.”

“Apa? Jadi ibu memang buronan seperti dikatakan anak saya?”

“Saya telah melakukan kejahatan,” kata Rosa lirih.

“Tuh, kan? Kita tidak bisa tinggal diam, aku mau lapor polisi. Awas ya Bu, jangan coba-coba kabur. Karena kemanapun Ibu kabur, polisi pasti akan bisa menangkap Ibu.”

“Rochmah, jangan kasar begitu.”

“Kamu tidak usah melaporkannya, aku mau menyerahkan diri.”

“Apa? Lalu tiba-tiba Ibu akan kabur?”

“Antarkan aku ke kantor polisi terdekat, aku sudah pasrah, tidak akan kabur,” kata Rosa tandas.

Ia sudah lelah, apapun yang akan diterimanya maka ia akan menjalaninya. Ketenangan jiwanya didapat ketika di mushala, ketika mendengar adzan, ketika ia bersujud, ketika ia menangis dalam sujudnya.

“Baiklah, awas jangan lari.”

“Tunggu. Biarlah dia makan dulu.”

“Bu ….”

“Ambilkan nasi yang kamu beli, biar dia makan dulu bareng Ibu, di sini,” kata sang ibu tandas.

Rochmah menuruti apa kata ibunya. Ia terus menatapnya waspada. Dilihatnya Rosa makan dengan lahap. Tampaknya ia lapar sekali. Sebentar saja ia sudah menghabiskan sepiring makanannya.

“Minumlah dulu Bu, jangan terburu-buru.”

“Kantor polisi sangat dekat, saya akan meminta tetangga untuk ikut mengawalnya. Saya hanya sendiri, kalau dia kabur bagaimana,” kata Rochmah sambil beranjak keluar.

Rosa diam saja.

“Bu, maafkan anak saya ya,” kata ibu yang baik hati itu.

“Tidak apa-apa, saya kira ini yang terbaik untuk hidup saya, saya sudah pasrah. Saya siap menebusnya,” kata Rosa.

Ia tak pernah merasa setenang ini.

“Hati-hati ya Bu, semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan memberi jalan terbaik untuk kehidupan Ibu selanjutnya.”

“Aamiin.”

Rosa menatapnya terharu. Ia juga menatap punggung wanita itu ketika tiba-tiba masuk ke kamar, lalu ketika keluar ia membawa sebuah bungkusan.

“Bu, ini mukena, dan beberapa kerudung. Saya  berharap agar ibu mempergunakannya,  agar hidup Ibu tenang.”

Rosa menerimanya sambil berlinang air mata.

“Saya akan menjalaninya. Terima kasih banyak.”

***

Pagi hari itu pak Daryono menerima telpon dari kantor polisi. Ia mengatakan kalau Rosa sudah tertangkap, tapi kemudian diralatnya dengan kata-kata bahwa Rosa sudah menyerahkan diri.

Pak Daryono mencari sang istri, menyampaikan berita itu.

Bu Daryono menghela napas panjang.

“Syukurlah, kalau dia menyerahkan diri, berarti dia sudah sadar, sudah mengakui bahwa dia bersalah.”

“Mudah-mudahan kesadaran yang benar-benar sadar.”

“Papa mau ke kantor polisi?”

“Iya, pastinya kita juga akan dimintai keterangan.”

”Aku mau ikut ya Pa, aku ingin bertemu Rosa. Seperti apa dia.”

“Sudah sangat lama, pasti dia sudah semakin tua. Tigapuluhan tahun lebih, hampir empat puluh tahun. Ketika dia ditahan untuk pertama kalinya juga sudah tigapuluh tahun lebih.”

“Kata Bibik masih kelihatan cantik.”

“Sebenarnya dia memang cantik, sayang sekali tidak bisa berperilaku baik.”

“Jam berapa Papa mau ke sana?”

“Setelah sarapan, kita langsung ke sana.”

“Baiklah, aku akan siap-siap dulu. Aku juga akan mengabari jeng Surani, dia juga pernah kehilangan gelang anaknya.”

“Dia tidak melaporkan apa-apa. Hanya kita.”

“Bagaimanapun dia harus tahu.”

“Baiklah, terserah Mama saja.”

***

Pak Gatot bertugas pagi itu, walau badannya terasa agak kurang enak. Ketika bu Surani datang mendekati, ia sedang bersin-bersin.

“Pak Gatot sakit?”

“Sepertinya mau flu ini Nyonya,  dari tadi bersin-bersin terus.”

“Nanti biar Bibik memberi obat kemari. Saya punya obatnya. Kalau baru awal langsung diobati, biasanya cepat sembuhnya.”

“Terima kasih Nyonya.”

“Pak Gatot sudah sarapan?”

“Sudah tadi, sebelum berangkat.”

“Syukurlah, jadi nanti bisa langsung minum obatnya. Begini pak Gatot, sebenarnya saya mau memberi kabar baik untuk pak Gatot.”

“Kabar baik apa, Nyonya?”

“Rosa sudah ditangkap. Eh , maksudnya menyerahkan diri. Mungkin lelah lari ke sana kemari.”

“Benarkah? Di mana dia menyerahkan diri? Mengapa tiba-tiba mau menyerahkan diri. Tapi mungkin Nyonya benar, dia sudah lelah. Saya kira itu yang terbaik. Dia tak mungkin bisa selalu menjadi buronan terus menerus.”

“Bukankah pak Gatot ingin mengantarkan nanti ke makam ibunya kalau bisa bertemu dia?”

“Ya, akan saya lakukan, tapi apakah bisa saat ditahan dia diajak pergi-pergi? Pastinya harus menunggu kalau hukumannya selesai.”

“Pastinya begitu," kata bu Surani.

"Tapi kalau ingin ketemu saja, bagaimana ya Nyonya?”

“Pastinya ada jadwal hari membezuk pesakitan, nanti saya tanyakan kepada bu Daryono. Kapan-kapan bisa menemui dia. Nanti saya antar Pak.”

“Nyonya akan memarahi dia?”

”Tidak, dengan adanya dia di dalam tahanan, dia sudah terhukum. Saya hanya ingin mengantarkan pak Gatot, tapi setelah saya menanyakannya nanti kepada bu Daryono.”

“Bu Daryono itu orang tua angkatnya?”

“Benar. Dan mereka juga yang melaporkannya kepada polisi. Semoga kejadian ini bisa membuatnya jera.”

“Tapi tidak enak kalau Nyonya mengantarkan saya, biar saya berangkat sendiri saja, Nyonya katakan saja di hari apa dia bisa dijenguk dan di mana.”

“Tidak apa-apa Pak, sekalian aku ke kantor nanti.”

“Baiklah, saya menunggu berita dari Nyonya saja. Terima kasih telah diberi tahu.”

***

Pak Daryono dan bu Daryono terkejut ketika bertemu Rosa. Dia tampil sederhana, dengan berhijab, dan itu tidak menyembunyikan kecantikannya walau sudah berumur.

Di depan bekas orang tua angkatnya, Rosa hanya menundukkan kepalanya. Ada tetesan air mata membasahi bajunya.

“Rosa, penampilanmu kali ini sangat bagus. Kamu tampak seperti perempuan sholehah. Aku harap urusan kamu dengan yang berwajib ini kali yang terakhir. Kelak kamu bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang.”

“Saya minta maaf, Tuan dan Nyonya.”

“Mengapa kamu memanggil kami begitu?”

“Apa saya masih pantas memanggil Papa dan Mama? Saya kotor dan hina.”

“Kalau kamu merasa berat memanggil Papa dan Mama, panggil saja Pak dan Bu, jangan tuan, jangan nyonya.” lanjut pak Daryono.

“Uang hasil penjualan itu sudah habis. Tinggal beberapa ratus ribu, akan saya kembalikan.”

“Tidak usah Rosa, bawa saja oleh kamu, barangkali kamu membutuhkan sesuatu,” kata bu Daryono.

Rosa tak menjawab, sedikit sungkan. Uang yang puluhan juta hasil penjualan perhiasan itu memang tinggal ratusan ribu. Uang itu dipergunakan untuk membayar kejahatan baru, yang walau ia sudah habis-habisan, penculikan itu tidak berhasil.

“Saya hanya dendam kepada Senja.”

“Apa dosa Senja terhadapmu sehingga kamu melakukan kejahatan demi kejahatan demi membuat dia sengsara? Dan nyatanya tidak berhasil kan? Itu masih masalah Arka?”

Rosa menundukkan kepalanya, tidak sepatahpun mampu menjawab.

“Senja wanita baik, pastinya Allah melindunginya.”

“Saya yang salah.”

“Kalau kamu menyesal, benar-benarlah menyesal, lalu jalanilah hidup yang bersih.”

Rosa lagi-lagi tak menjawab. Tapi kali ini ia mengangguk.

“Apa kamu kenal yang namanya pak Gatot?”

Kali ini Rosa mengangkat wajahnya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, August 26, 2026

AKU ANAK SIAPA 21

 AKU ANAK SIAPA  21

(Tien Kumalasari)

 

Satria bercerita banyak tentang orang yang menjemputnya siang itu, sampai ia kemudian diserahkan kepada seorang wanita yang wajahnya seperti setan. Polisi tentu saja sedang menyelidiki tentang penculikan itu. Siapa pelakunya dan apa motifnya.

“Apa ya sebenarnya maksud orang itu. Dan siapa dia?” kata Senja.

“Aku juga sedang berpikir. Kalau tentang minta tebusan, pasti ada yang menghubungi kita tentang tebusan itu. Nyatanya tidak.”

“Mungkin belum, siapa tahu menunggu sehari dulu. Tapi aku bersyukur, Satria bisa terlepas dari penjahat itu.  Menurut ibu pemilik rumah kost itu, Satria sangat cerdik dengan memukul-mukul pintu ketika wanita penculiknya sedang ke kamar mandi. Kalau tidak, pasti tidak ada yang mengetahuinya.”

“Anak bapak pasti pintar, ya kan?” kata Arka sambil mengelus kepala anaknya.

“Tapi kasihan, tuh, bibirnya terluka, tangan dan kakinya matang biru. Apa sih maunya orang itu?” kata Senja sambil menciumi anak semata wayangnya.

“Sakit ya?”

“Ya sakit Bu.”

“Pasti kamu ketakutan?”

“Iya, untunglah ada ibu gemuk yang membawa aku, setelah mereka melepaskan lakban di mulut dan ikatan kaki tanganku.”

“Ya Allah Nak, lain kali jangan sembarangan ikut orang ya, biarpun dia bilang saudara, om, kakek atau nenek, kalau kamu belum pernah bertemu jangan percaya. Oke?”

“Iya Bu. Ternyata om itu pembohong. Bukankah bohong itu dosa?”

“Tentu saja dosa. Kalau suka bohong, dan jahat sama orang, nanti dimarahi sama Allah.”

“Tidak masuk sorga kan Bu?”

“Ya, tidak masuk sorga, tapi masuk neraka.”

“Temannya setan kan Bu?”

“Ya, temannya setan.”

“Kemarin itu aku disekap sama setan. Wajahnya menakutkan, banyak hitam-hitam, bibirnya merah besar, itu kan setan.”

“Ya sudah, tidak usah diingat-ingat lagi ya? Kamu harus bersyukur pada Allah, karena telah selamat dari cengkeraman setan.”

Satria mengangguk, lalu kembali tenggelam dalam rangkulan sang ibu. Ia merasa sangat tenang setelah kembali pulang.

“Senja, ada baiknya kamu menghubungi sekolah dan mengabari kalau Satria sudah ketemu.”

“Ya, aku juga sudah mau melakukannya. Kemarin mereka juga panik.”

***

Pagi itu Rosa terbangun dari tidurnya di depan sebuah mushala. Ada suara adzan yang sangat keras, menggelitik telinganya. Ia meletakkan bungkusannya, dan melihat banyak orang datang, lalu mendengar gemericik air mengguyur.

Tiba-tiba Rosa sangat merasa gerah, dan membutuhkan air untuk mengguyur wajahnya, tubuhnya dan semuanya.

Ia meninggalkan bungkusan pakaiannya di sebuah sudut, lalu mengikuti orang-orang yang beranjak ke arah samping mushala. Pasti disitulah letak pancuran itu. Ia mengikuti seorang wanita yang berjalan menuju pancuran. Ia ingat ketika orang tua angkatnya menyuruhnya selalu bersujud setiap mendengar suara adzan.

Rosa memutar sebuah kran. Air yang mengguyur membuatnya segar. Ia membasuh wajahnya, menggosoknya sampai bersih. Lalu ia menirukan wanita di sampingnya yang mengambil wudhu. Ia hampir lupa, bagaimana caranya berwudhu.

“Bu, kalau tidak membawa mukena, di dalam ada mukena yang bisa Ibu pakai.”

Entah mengapa, wanita itu tahu kalau dia tidak membawa mukena. Mukena? Rosa lupa bagaimana mengenakan mukena. Tapi ia mengikuti wanita itu. Di sudut sebelum memasuki ruang dalam, ada secuah cermin, dan Rosa heran kepada dirinya sendiri. Itukah wajahnya? Bersih dan cantik. Mana coreng moreng yang tadi menutupinya. Rosa menghela napas. Hatinya bergejolak antara mengikuti anjuran wanita itu atau mengabaikannya. Tapi sebuah suara kembali mengingatkannya.

“Bu, mukenanya di sana, ada banyak kok,” katanya sambil menunjuk ke arah sebuah almari, agak jauh di samping dia bercermin.

Mau tak mau ia mengikutinya. Ia mengambil satu, lalu menirukan orang disampingnya, bagaimana mengenakan mukena.

“Ibu belum pernah kemari ya, saya belum pernah melihat Ibu.”

“Iya, saya akan keluar kota, kemalaman, tidak mendapat kendaraan.”

“Oh, begitu, ayo kita ke sana, sebentar lagi qomat.”

Rosa mengikutinya dengan linglung, tapi ia mengikuti ketika shalat berjamaah itu sudah dilakukan. Sedikit banyak dia pernah melakukannya, jadi tidak begitu kikuk, entah doa apa yang diucapkannya, yang penting dia ikut. Ia juga menyambut ketika orang di samping kiri dan kanannya menyalaminya sambil tersenyum. Iapun tersenyum. Senyum seperti mereka, tulus, lalu tiba-tiba hatinya menjadi teduh.

Mereka masih melanjutkan doa, dan Rosa merasa ada ketenangan merayapi hatinya. Semua yang pernah terjadi memenuhi benaknya, bergantian, seperti menghantam jiwanya bertalu-talu. Dadanya terasa sesak. Mengapa semua yang dilaluinya ada sesuatu yang kotor, hitam, membuatnya gelisah. Lalu air mata tiba-tiba meleleh, membasahi pipinya, dan dia kembali bersujud, menangis terisak, mengingat betapa gelapnya jalan yang dilaluinya. Betapa semuanya itu membuat hidupnya tak merasa tenang. Ia tak tahu harus ke mana, ia kehilangan pegangan, lalu ia ketakutan manakala diingatnya bahwa dia adalah buron. Yang berwajib mencarinya karena pencurian yang dilakukannya. Bekas orang tua angkatnya tidak kejam, itu sewajarnya. Sebuah kejahatan harus mendapatkan ganjarannya. Tapi kemudian ia takut. Takut sekali karena ia pernah mengalami betapa getir dan sengsaranya hidup di dalam penjara. Sekarang ia merasa lelah. Sangat lelah.

Ia masih bersujud, terisak, tanpa sadar wanita yang tadi mengajaknya shalat masih duduk di sebelahnya. Rosa terkejut ketika sebuah tangan menyentuhnya lembut.

Ia mengangkat tubuhnya, lalu mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.

“Apakah Ibu sudah merasa tenang?”

Rosa menatap wanita setengah tua yang masih duduk di sampingnya. Wanita itu tersenyum, teduh. Air mata Rosa kembali meleleh. Wanita itu mengusap air mata Rosa dengan mukena yang dipakainya.

“Di mana rumah Ibu?”

Rosa menggeleng. Ia harus menjawab apa? Ia memang tak punya rumah.

“Jauhkah?” wanita itu melanjutkan pertanyaannya, walau pertanyaan pertama belum terjawab.

“Saya tidak punya.”

“Maksudnya … tidak punya rumah? Di mana selama ini Ibu tinggal.”

“Entahlah, di mana saja.”

“Maukah Ibu menceritakan apa yang terjadi?”

Rosa membisu. Mushala itu sunyi, hanya suara Ibu di sampingnya yang terdengar. Ada juga suara detak jam dinding yang tergantung di samping  dia duduk.

“Baiklah, jangan katakan kalau memang Ibu tidak mau mengatakannya.”

Rosa mencoba tersenyum, tipis, hambar. Wanita di sampingnya bisa membaca duka memenuhi wajahnya. Kuyu dan pucat. Kecantikan yang samar.

“Sekarang Ibu mau ke mana?”

“Entahlah,” jawabnya lemah. Ia memang tidak tahu akan pergi ke mana.

“Rumahku di belakang mushala ini. Maukah singgah barang sebentar sebelum Ibu memutuskan akan pergi ke mana?”

Rosa diam sejenak.

“Tak apa walau hanya sebentar, saya hidup hanya bersama anak saya yang sudah bekerja. Kalau dia berangkat kerja, saya sendirian.”

Rosa mengangguk. Ibu itu menariknya berdiri, dan membantu melepaskan mukena yang dipakainya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

Ia menggandeng tangan Rosa, yang kemudian berhenti sebentar untuk mengambil bungkusan miliknya di sudut ruangan.

***

Rumah itu sederhana. Ketika ia memasuki rumah itu, terdengar alunan suara merdu dari dalam kamar. Bukan alunan suara nyanyian seperti yang sering didengarnya.

Ibu itu mempersilakannya duduk.

“Anak saya, Rochmah, sedang mengaji. Tadi dia pulang duluan dari mushala,” terang Ibu itu tanpa ditanya. Lalu ia pergi ke belakang.

Mengaji, suara itu begitu mendayu, seperti alunan suara kidung dari atas sana. Itu terasa seperti mengelus jiwanya. Begitu menenangkan, lalu air matanya kembali meleleh. Mengapa ia menjalani hidup yang penuh semak terjal dan kegelapan yang membuatnya selalu berpikir dan gelisah. Ini suara sejuk. Seperti gemercik air dari sebuah sumber yang entah dari mana.

Ibu penolong itu keluar sambil membawa dua gelas teh hangat, lalu meletakkannya di meja.

“Ayo kita minum, saya sedang merebus singkong, sebentar lagi matang,” katanya sambil duduk di depan Rosa.

Rosa mengambil gelas itu, meneguknya hampir separuh. Tubuhnya merasa segar.

“Kalau mau mandi, kamar mandinya di belakang.”

Rosa mengangguk. Ia merasa tubuhnya berdebu.

Lalu ia mandi, mengganti baju lusuhnya dengan yang lebih bersih, menyisir rambutnya rapi. Lalu keluar dan duduk di ruang tamu di mana tadinya dia duduk. Suara mengaji sudah berhenti. Ibu penolong keluar dengan membawa singkong panas yang masih mengepul.

“Ayo di makan, sebentar lagi Rochmah akan datang, saya menyuruhnya membeli nasi untuk sarapan.”

Keduanya asyik memakan singkong. Lalu Rosa merasa, selama bertahun-tahun, baru sekarang dia makan sesuatu dengan rasa yang sangat nikmat.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat.

“Itu, Rochmah sudah datang. Penjual nasi ada di depan sana, pagi-pagi sudah buka.”

“Rohmah, ini Ibu yang aku ceritakan tadi. Nanti nasinya ditaruh piring, lalu dibawa kemari.

Rochmah tersenyum, ia mengulurkan tangannya, Rosa menyambutnya dan memperkenalkan namanya.

“Rosa,” katanya sambil tersenyum.

Tapi tiba-tiba Rochmah menatap wajahnya. Lalu seperti orang kaget dia berteriak.

“Bu, Ibu membawa buronan,” pekiknya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, August 25, 2026

AKU ANAK SIAPA 20

 AKU ANAK SIAPA  20

(Tien Kumalasari)

 

Satria terus memukul-mukulkan tangannya yang terikat, sampai merasa sakit. Bercucuran air matanya tanpa bisa mengeluarkan suara jelas, kecuali mmm … mmmh …

Seorang wanita yang kebetulan melewati kamar itu merasa heran mendengar suara aneh dan pintu dipukul-pukul. Ia segera memanggil teman se kost nya, dan keduanya kemudian mencoba membuka pintunya. Tapi pintu itu terkunci.

“Hei, ada apa? Ada orang di dalam?”

Suara pukulan pelan serta suara aneh itu sangat menarik perhatiannya.

“Ini kan kamar seorang penghuni baru itu?”

“Iya, namanya siapa sih?”

“Nggak tahu aku, begitu masuk nggak pernah keluar-keluar kecuali ke kamar mandi. Wajahnya selalu tertutup, tak ada yang mengenalinya.”

“Siapa di dalam?”

Suara ah uh itu terdengar semakin keras. Barangkali Satria menguras tenaganya agar bisa mengeluarkan suara lebih keras.

“Sepertinya dia butuh pertolongan.”

“Tapi pintunya dikunci, ini mencurigakan.”

“Kamu tungguin di sini, aku mau menghubungi bu Rini pemilik rumah.”

“Seperti orang kesakitan. Suaranya seperti minta pertolongan.”

Wanita satunya sudah selesai menelpon bu Rini, pemilik rumah.

“Kamu butuh pertolongan? Tungguin ya, kami akan menolong kamu.”

Tiba-tiba Rosa yang baru keluar dari kamar mandi mendekati dua orang yang kasak kusuk di depan kamarnya.

“Hei, sedang apa kalian?” sentaknya kesal.

“Di dalam ada siapa? Sepertinya dia butuh pertolongan.”

“Jangan ikut campur. Dia anak nakal, keponakan aku. Minggir sana,” kata Rosa marah sambil berusaha membuka pintu.

Tapi dua orang itu malah curiga. Mereka hanya mundur sedikit, tapi tak beranjak dari dekat pintunya. Suara dag-dug itu semakin pelan, barangkali tangannya semakin kesakitan, atau dia tak lagi punya tenaga.

“Mengapa kalian masih berdiri di situ?”

“Penghuni baru ini galak dan kasar sekali,” bisik wanita satunya.

“Pergilah, ini bukan urusan kamu.”

“Kami ingin tahu itu suara apa? Sepertinya_”

“Bukan urusan kamu!” hardiknya yang membuat keduanya mundur setindak. 

Hanya setindak, karena mereka benar-benar curiga.

“Buka saja pintunya, kami kan tidak bermaksud jahat?”

Tiba-tiba dari jauh seorang wanita mendekat. Dia adalah bu Rini, pemilik rumah kost itu.

“Ada apa?”

“Ini Bu, sepertinya di dalam ada yang butuh pertolongan.”

“Ini kan bu … “ pemilik rumah agak lupa nama Rosa. Tentu saja Rosa mengganti namanya, karena nama Rosa sudah terkenal sebagai buron.

“Saya Budi.”

“Bu Budi? Ada siapa di dalam? Bukankah tadinya Ibu ingin menyewa kamarnya sendirian?”

“Ini hanya anak kecil, keponakan saya Bu. Dia agak rewel, karena ibunya belum menjemput.”

“Kasihan, kenapa pintunya tidak segera dibuka?”

“Iya, tapi tidak ada apa-apa, ibu tidak usah khawatir. Maaf mengganggu.”

Rosa membuka pintunya dengan hati-hati, tapi begitu pintu dibuka, Satria menggulingkan tubuhnya keluar pintu. Rosa yang tidak mengira tak berhasil menahannya. Bu Rini dan kedua wanita yang belum pergi itu terkejut. Ada anak kecil diikat kaki tangannya, dan ditutup mulutnya dengan lakban.

Mereka segera mendekat dengan cepat.

“Ya ampuun, mengapa anak ini diperlakukan seperti ini?”

“Kejam sekali.”

Rosa ketakutan.

“Dia nakal, berteriak-teriak, karena takut mengganggu tetangga saya ikat dan saya tutup mulutnya.”

“Ini tidak manusiawi.”

“Cepat dibuka mulutnya bu.”

Ketiga wanita itu membuka tali kaki tangan Satria, dan juga mulutnya, membuat anak itu sekarang berteriak.

“Dia jahat! Dia jahatt!” walau berteriak, tapi suaranya lemah.

“Ini namanya disiksa. Masa keponakan sendiri disiksa?”

“Coba di kasih minum.”

Tanpa diminta Rosa mengambil air dari dalam kamarnya, dan diberikannya kepada Satria. Ia masih berlagak sebagai seorang ibu kepada keponakannya.

“Makanya jangan nakal. Ayo masuk dan tidur.”

“Nggak mau, aku mau pulang. Aku lapar.”

“Tidak dikasih makan?”

"Itu … saya baru mau beli makanan,” jawab Rosa.

“Kalau begitu saya bawa ke rumah saja, biar makan di rumah,” kata bu Rini yang kemudian menggandeng tangan Satria.

“Jangan Bu, biar saya saja.”

“Kasihan anak ini. Nanti setelah makan saya antarkan kemari lagi,” kata bu Rini yang diikuti kedua wanita itu, menuju rumah.

Rosa tak bisa apa-apa, ia bingung harus melakukan apa.

“Dasar bodoh! Mengapa tidak dibunuh saja sekalian anak itu?” teriaknya marah.

***

Bu Rini dan kedua wanita itu menyuapkan makan, memberi minum, dan mengobati bibirnya yang berdarah.

“Sakit?”

Satria mengangguk.

“Dia apanya kamu? Tantenya? Budenya?”

Satria menggeleng keras, dan menggoyang-goyangkan tangannya di mana pergelangannya merah karena ikatan rafia yang sangat kencang.

“Mengapa kamu bersamanya?”

“Dia orang jahat.”

“Kamu kenal sebelumnya?”

Satria kembali menggeleng.

“Bagaimana kamu bisa bersamanya lalu disiksa begini?”

“Saya dijemput om.”

"Dijemput di mana?”

“Sekolah.”

“O, kamu tadinya sekolah, lalu dijemput om kamu?”

“Bukan. Om yang lain.”

“Yang lain bagaimana?”

“Nggak kenal.”

“Kenapa kamu mau dijemput?”

“Katanya disuruh ibu. Tapi aku dibawa ke wanita jahat itu, lalu omnya pergi.”

“Ya Tuhan, ini penculikan.”

“Cepat lapor polisi, sebelum perempuan itu kabur.”

Tapi dalam hati wanita pemilik rumah kost itu berpikir, perempuan penyewa itu ketika datang pertama kali memang tidak memakai cadar, tapi menurutnya wajah itu seperti wajah buronan yang terpampang di mana-mana.

“Bedanya ia memiliki tahi lalat cukup banyak di wajahnya. Di ujung hidung, pipi kiri dan dahi, serta dibawah mata kanan. Tapi mirip sih. Masa iya dia buronan itu?” kata batin bu Rini.

***

Tapi memang benar Rosa sudah kabur terlebih dulu. Polisi hanya menemukan tas sekolah Satria yang masih ada di kamar itu. Dengan terlepasnya Satria, pasti ketahuan bahwa dia menculiknya. Sangat bodoh kalau dia masih berada di rumah itu. Ia pergi tanpa tujuan dengan perasaan yang kacau.

“Mengapa aku selalu gagal membuat celaka perempuan itu?” geramnya dalam pelarian.

Hari sudah malam ketika itu, ia tak tahu harus ke mana. Tak ada kendaraan umum yang lewat, jadi ia dengan membawa bungkusan baju dan uang yang tersisa hanya duduk di depan sebuah mushala kecil. Ia duduk sambil merangkul bungkusannya, lalu tertidur karena kelelahan.

***

Polisi sudah bergerak melakukan pencarian, dan Satria masih ada di rumah bu Rini, yang belum tahu harus mengantarkan ke mana. Tapi mereka sudah tahu kalau Satria adalah anak yang dicari orang tuanya.

“Kamu tidur dulu di sini ya, besok aku antarkan kamu pulang.”

Satria menatap wanita itu lekat-lekat.

“Ia pasti berbeda dengan wanita jahat itu. Wajahnya lembut, dan dia telah menolong aku. Masa dia akan tetap menahan aku di sini?” kata batin Satria.

“Mengapa kamu menatap aku seperti itu? Kamu menganggap aku orang jahat seperti bu Budi tadi?”

Satria menggeleng.

“Aku bukan orang jahat, aku benar-benar akan menolong kamu.”

Satria membayangkan wanita jahat itu, yang wajahnya coreng moreng menakutkan, dan ia menganggapnya sebagai perempuan jadi-jadian.

“Apa dia manusia?” celetuknya pelan.

“Siapa? Wanita itu? Ketika datang, dia seperti wanita baik-baik. Entah mengapa sekarang kalau keluar dia memakai cadar yang menutupi hampir seluruh wajahnya."

“Wajahnya coreng moreng. Seperti hantu.”

“Baiklah, kamu sudah aman sekarang. Orang tuamu pasti sudah tahu kalau kamu aman di sini. Kalau kamu tidak dijemput maka aku yang akan mengantarkan kamu pulang. Sekarang kamu tidurlah.”

Satria di suruh tidur di sebuah kamar, dan dia merasa aman serta lega.

Tapi di tengah malam itu, Satria merasa seperti mimpi, ketika ia dibangunkan. Seorang wanita cantik duduk di tepi pembaringan, dan seorang laki-laki gagah berdiri di sampingnya. Ia juga melihat polisi di belakang ayahnya.

“Aku seperti melihat Ibu dan Bapak,” bisik Satria sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Satria, anakku, ini Ibu, dan ini Bapak,” kata Senja yang kemudian merangkul Satria sambil menangis.

“Ini Ibu dan Bapak?” kata Satria kepada dua orang yang merangkulnya.

“Tentu. Seharian kami mencari kamu. Siapa orang yang berbuat jahat kepadamu, Nak? Ya ampun, kamu terluka, tanganmu kebiruan begini, diapakan?” kata Senja yang tak bisa menahan tangis.

“Ada perempuan seperti hantu.”

“Senja, lebih baik kita bawa pulang dulu Satria, dia pasti lelah, biar bisa istirahat di rumah," kata Arka.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada bu Rini si pemilik rumah yang telah menolong anaknya, Satria dibawa pulang.

Tapi di luar sana, dendam yang dibawa Rosa masih menyala.

***

Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA 24

  AKU ANAK SIAPA  24 (Tien Kumalasari)   Pak Gatot masih menatap punggung orang itu sampai hilang di balik pagar makam. Ia meneruskan langka...