SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 014
(Tien Kumalasari)
Menur menatap anaknya dengan pandangan trenyuh. Rupanya perkataan nyonya Lili masih membekas dihatinya.Menur sedikit senang, gara-gara Baroto banyak mengajarinya tentang perbuatan baik, bahkan hanya sehari dua hari, Rahman langsung berubah. Sebenarnya Menur juga heran. Bagaimana Rahman yang sombong di sekolahnya dan tidak menghargai ibunya sama sekali hanya karena dirinya seorang pengais sampah, tiba-tiba berubah sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Hanya dalam dua hari, hal yang sangat mengherankannya. Apa karena Baroto adalah ayah kandungnya, maka di dalam hatinya langsung bisa memahami apa yang dikatakan Baroto, lalu bisa menjalani perbuatan baik seperti apa yang dikatakan Baroto.
Menur mengheka napas. Sekarang Rahman merasa sakit hati karena ibunya disakiti. Ada haru yang memuncak, tapi ada yang membuatnya bingung. Ia sudah sanggup menuruti permintaan Ana, walau sebenarnya sangat berat baginya untuk mmenjalaninya. Lalu ternyata Rahman tidak menyukainya gara-gara ucapan nyonya Lili yang sangat pedas.
Kecuali itu, sebenarnya dia enggan karena ada Baroto di sana. Ia tak percaya Baroto akan diam saja, sedangkan saat berjauhan saja dia selalu berusaha untuk mengajaknya bicara.
Tapi satu-satunya yang membuatnya mau menjalani adalah Ana yang terus menerus merengek.
“Ibu tetap akan ke sana?” Rahman kembali mengusiknya.
“Ibu bingung, karena kamu enggan. Tapi bagaimana dengan Ana?”
“Aku tidak rela kalau Ibu nanti direndahkan oleh mamanya Ana.”
“Rahman, ibu akan memberi tahu kamu. Sebenarnya Ana itu bukan orang lain. Nyonya LIli itu saudara misan ibumu ini.”
“Saudara misan? Misan itu apa?”
“Neneknya Ana itu adalah sepupu nenek kamu. Jadi nyonya Lili itu saudara misan ibu. Begitu istilahnya.”
“Pokoknya masih saudara, begitu kan Bu?” kata Rahman yang enggan menghitung-hitung tentang hubungan saudara.
“Ya, begitulah. Kelak kalau kamu sudah besar pasti bisa mengerti.”
“Memangnya kenapa kalau saudara? Apa Ibu harus menuruti kemauannya?”
“Bukan begitu, karena masih saudara, kita harus bisa memaafkannya. Sedangkan kesalahan orang lain saja kita harus bisa memaafkan, apalagi kalau saudara.”
Rahman mengangkat pundaknya. Tampaknya ia belum bisa menerima perlakuan itu walau masih saudara ibunya.
“Kalau Ibu mau tinggal di sana, Rahman di sini saja, bagaimana?”
“Mana mungkin begitu Rahman. Kamu tidak bisa sendirian di sini.”
“Pokoknya Rahman tidak mau ke sana, Rahman mau tinggal di sini, biar sendiri juga tidak apa-apa.”
Menur memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
***
Nyonya Baroto atau Lili sedang duduk bersama suami dan ibunya. Mereka membicarakan tentang keinginan Ana, yang tentu saja membuat wajah Lili muram.
“Aku kan sudah berpesan sama kamu, bahwa kamu tidak boleh membuat Lili sedih. Aku titipkan dia di sini agar dia memiliki keluarga yang utuh. Kasihan dia, sejak lahir sudah ditinggal ibunya. Kamu setuju kan, Baroto?”
“Saya setuju saja, apalagi Mama sudah berjanji untuk memenuhi keinginan Ana.”
“Bagus sekali, sekarang mama mau bercerita tentang Menur.”
“Ada apa dengan Menur? Mama kasihan karena dia hanya seorang pengais sampah kan?” kata Lili masih dengan wajah masam.
“Ibunya Menur ternyata adalah sepupu mama ini.”
Semuanya terkejut. Baroto membelalakkan matanya.
Ibunya Mama itu adik dari ibunya Menur.
“Masa Mama punya saudara yang anaknya jadi pemulung?” pekik Lili.
“Tidak usah berteriak. Yang namanya manusia itu punya garis hidup yang berbeda. Jangan kamu merendahkan orang lain karena kamu bisa hidup sebagai orang berada. Dulu kebetulan mama menikah dengan ayahmu, yang seorang pengusaha kaya, sehingga mama hidup berkecukupan sampai sekarang. Berbeda dengan keluarga Menur yang hidup di kampung. Menur itu hidupnya penuh penderitaan. Ia pernah dinikahi orang kaya, tapi orang itu kemudian pergi tanpa belas kasihan. Keterlaluan sekali ada laki-laki semacam itu. Menur yang sangat mencintai suaminya, terlunta-lunta mencarinya ke kota. Bayangkan, kasihan kan?”
Wajah Baroto pucat seketika. Yang dimaki-maki ibu mertuanya sebenarnya adalah dirinya. Dirinya yang dianggap pergi meninggalkan Menur tanpa belas kasihan. Yak bisa dibayangkan, betapa sakitnya hati Baroto.
***
Hari itu Ana merengek ingin ketemu Menur lagi. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Hari yang dijanjikan Menur adalah keesokan harinya.
Ketika nenek Sasa dan Ana datang, Ana langsung memasuki rumah untuk mencari Menur, yang memang tidak mengais sampah ketika Rahman libur sekolah.
Nenek Sasa melihat Rahman sendirian di depan rumah, wajahnya tampak murung.
“Rahman, apakah kamu sakit?” tanyanya setelah mendekat.
Rahman tersenyum tipis. Ia menatap nenek cantik yang wajahnya ramah itu lekat-lekat. Alangkah bedanya tatapan mata nenek Ana dan mamanya. Mamanya yang biarpun wajahnya cantik, tapi mulutnya tajam bagai pisau. Berbeda sekali dengan nenek Sasa yang walaupun kaya raya tapi sangat baik dan ramah. Matanya yang lembut, menunjukkan bahwa dia adalah seorang nenek yang penuh kasih sayang.
“Rahman, mengapa wajahmu murung? Apa kamu sakit?”
“Tidak Nek, saya baik-baik saja.”
“Mengapa wajahmu murung?”
“Tidak apa-apa.”
“Dengar Rahman, nanti nenek akan mengajak ibumu dan kamu untuk tinggal di rumah nenek. Nanti kamu bisa bermain bersama Ana. Kalau sekolah, kamu bisa diantarkan sopir dengan mobil. Bagaimana? Kamu suka?”
Wajah Rahman tidak berubah riang, walau iming-iming menyenangkan itu didendangkan dengan manis oleh nenek Sasa. Bermain bersama Ana, kalau sekolah diantar sopir dengan mobil. Rahman sudah bisa dibilang anak keluarga kaya. Teman-temannya akan mengagumi dia, menganggapnya seorang yang sangat pantas disanjung-sanjung. Betapa membanggakan. Tapi itu dulu. Ketika om ganteng bernama Baroto itu belum menjejali telinganya dengan ajaran-ajaran yang baik dan terpuji. Sekarang ini bagi Rahman, kekayaan bukan sesuatu yang membanggakan. Tugasnya sebagai seorang pelajar adalah belajar, berprestasi dan tak peduli kalau teman-temannya menyisihkannya karena dirinya dianggap miskin.
“Kamu senang kan?” nenek Sasa mengulang kata-katanya. Tapi alangkah terkejutnya sang nenek ketika melihat Rahman menggeleng.
“Rahman, kamu tidak suka?”
“Saya akan tetap tinggal di sini, biarpun ibu akan tinggal bersama Ana.”
“Rahman, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kamu tinggal di sini sementara ibumu ada bersama kami?”
“Rahman merasa senang tinggal di rumah ini.”
“Rahman, di rumah Ana akan lebih menyenangkan. Kamu akan mendapat banyak permainan. Bukan mainan boneka seperti punya Ana, nanti nenek akan membelikan kamu mobil-mobilan, atau apa saja yang kamu inginkan.”
Rahman tetap menggeleng.
“Kamu tidak suka?”
“Maaf Nek.”
Nenek Sasa meninggalkan Rahman, masuk ke dalam rumah.
Ana sedang berbincang dan berceloteh manis dengan Menur. Bicara semau-maunya, karena dia sedang bersenang hati atas kesanggupan Menur untuk ikut bersamanya di hari itu.
“Menur, apa kamu sudah siap?”
“Bulik, saya ingin mengatakan sesuatu.”
“Bahwa Rahman tidak mau ikut?”
“Dia sudah terbiasa hidup sederhana, barangkali dia akan merasa kurang nyaman kalau tinggal di tempat lain, apalagi tempat yang berbeda.”
“Jadi akan kamu tinggalkan di di sini sendirian?”
“Begini bulik, saya bersedia ikut, menemani Ana seperti keinginannya, tapi saya tidak bisa menginap di sana. Jadi kalau sore saya minta pulang, pagi-pagi sekali setelah Rahman berangkat sekolah, saya akan kembali bersama Ana.”
“Kalau begitu aku akan ikut bibi Menur pulang kemari setiap sore,” tiba-tiba Ana berteriak.
Menur merangkulnya dan mencium keningnya.
“Ana, tidak bisa begitu. Di rumah ini tidak ada tempat tidur yang pantas.”
“Tidak apa-apa, aku mau.”
“Jangan begitu Ana, bibi hanya pulang sore sampai malam, paginya bibi sudah akan kembali ke sana. Kasihan kalau Rahman sendirian.”
“Mengapa Rahman tidak mau pergi bersama kita?”
“Rahman masih harus sekolah, dan sekolahnya dekat dari sini. Bisrlah untuk sementara dia tinggal di sini, nanti gampang setelah dia lulus. Apalagi dia mau ujian, bibi tidak ingin pelajarannya terganggu. Kamu bisa mengerti?” kata Menur lembut, seperti biasanya.
“Nenek, ini bagaimana?” Ana sepertinya mengerti, tapi ia meminta pertimbangan sang nenek.
“Ana, nenek kira bibimu benar, biarlah untuk sementara dia dalang pagi, sore pulang untuk merawat Rahman, besok pagi baru kembali lagi ke rumah kita. Bagaimana? Kalau tidak begitu, bibimu tidak bisa menjalani, karena bibimu masih punya tanggung jawab terhadap Rahman. Alasannya kamu sudah mendengarnya bukan?”
Akhirnya Ana mengalah. Mau menuruti syarat yang diajukan bibi Menur.
***
Rumi sedang berbisik-bisik dengan nyonya Baroto. Sesungguhnya dia merasa tersingkir karena Ana sangat mengharapkan Menur.
“Nyonya, barangkali pengais sampah itu membujuk non Ana agar diijinkan tinggal di sini.”
“Menurutmu begitukah?”
“Ya tentu saja Nyonya, biasanya dia berada di jalanan, memunguti botol-botol kosong, lalu di rumah ini semuanya serba bagus. Dia mendapat kamar yang bagus, padahal orang baru. Nyonya besar tadi yang menyuruh pembantu membersihkan kamar di sebelah kamar non Ana. Kalau Nyonya biarkan, dia bisa ngelunjak. Bagaimana tidak? Di sini bisa makan enak, tidur nyenyak. Sebenarnya tidak pantas kan nyonya, dia itu kan kotor dan pastu juga bau. Kalau tidak karena dibujuk, mana bisa non Ana punya keinginan yang aneh-aneh.”
Lili sebenarnya sudah tahu kalau Menur adalah masih saudara misannya. Tapi Lili enggan mengakui, karena Menur dianggapnya tidak sepadan dengan keluarganya.
***
Besok lagi ya.