Tuesday, May 26, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 07

 NAMAKU TETAP SENJA  07

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun sudah duduk di kursi makan, menunggu Rimba segera menyusul. Tapi Rimba tak kunjung datang.

“Rimba,” panggilnya.

Rimba mendekat sambil membawa kertas temuannya.

“Mbok ….”

“Mbakyumu mungkin terlambat, akhir-akhir ini katanya ada pelajaran tambahan.”

“Iya, Rimba tahu. Ini lho Mbok, ini apa?” katanya sambil menunjukkan tulisan yang ditemukannya.

“Apa ini? Simbok nggak bisa baca tulis, apa kamu lupa?”

“Ini catatan hutang.”

“Apa?” mbok Mangun terkejut.

“Ini catatan hutang. Di sini tertulis sisa hutang tujuh juta empat ratus rupiah.”

“Apa?”

“Simbok punya hutang?”

“Ada-ada saja, barangkali punya pengirim beras tadi,” kata simbok dengan hati berdebar. 

Ia tak ingin anak-anaknya tahu bahwa dia punya hutang. Tapi dia khawatir, ada tulisan namanya di situ. Memang tadi pak RT memberikan catatan, tapi simbok tak memperhatikannya, kertas diletakkan sembarangan. Toh dia tidak bisa membaca.

“Rimba menemukannya terjatuh di lantai situ, barangkali punya Simbok.”

“Apa ada tulisannya nama simbok?”

“Tidak ada, hanya catatan hutang, Mencicil, membayar bunga, sisa hutang … “

“Buang saja Le, simbok nggak ngerti, ayo makan saja. Apa kamu tidak lapar?”

“Ya lapar Mbok,” kata Rimba yang segera duduk. 

Sementara simbok meremas kertas itu lalu dibuangnya di tempat sampah.

Ada rasa miris ketika teringat hutangnya yang sudah hampir tiga tahun dicicil tiap seminggu sekali, tapi berkurangnya tidak seberapa.

“Kok Simbok tidak makan?”

“Simbok menemani kamu dulu, nanti simbok makan bersama mbakyumu,” kata simbok yang sesungguhnya kehilangan selera makan ketika teringat lagi hutangnya.

“Nanti Rimba bantuin Simbok menakar beras ya?”

“Apa kamu tidak capek, baru pulang sekolah?”

“Setelah makan capeknya hilang,” kata Rimba sambil menyendok makanannya.

Simbok terharu melihat sang anak makan dengan lahap. Hanya sayur dari tuntut pisang dan ikan asin, tapi Rimba makan dengan lahap.

***

Arka bersiap untuk pulang ketika ponselnya berdering, dari Rosa. Enggan Arka mengangkatnya tapi dering itu menyakitkan telinganya.

“Ya….?”

“Arka, kamu masih di kantor? Kata ayahmu sudah saatnya kamu pulang.”

“Ini mau pulang.”

“Ternyata kamu suka sepedaan juga? Tadi ayahmu bilang kalau mau aku dimintanya nyamperin kamu untuk sepedaan bersama.”

“Nggak. Belum tentu suka, hanya coba-coba karena lama tidak melakukannya.”

“Besok kan hari Minggu, aku ke rumah kamu ya, kita sepedaan bersama, pasti seru. Kalau pagi aku suka sepedaan sendiri. Nah ini aku dapat teman.”

“Aku terkadang malas.”

“Besok aku bangunin kamu untuk sepedaan bersama ya.”

Arka belum sempat menjawab ketika ponsel Rosa sudah dimatikan. Ia benar-benar mengeluh. Ayahnya sangat ingin agar dirinya bisa semakin dekat dengan Rosa, apapun caranya. Sedangkan bersepeda saja sang ayah menemukan jalan untuk mempersatukannya.

Arka pulang dengan wajah lesu. Esok hari dia akan pergi pagi-pagi sekali, sebelum si reseh itu datang.

***

Senja mengayuh sepedanya pelan. Ada tambahan pelajaran yang membuatnya harus pulang sore. Ia sudah mengatakannya kepada simbok, jadi simbok sudah tahu kalau anak gadisnya akan pulang terlambat.

Sedang enak-enak mengayuh sepeda, tiba-tiba sebuah mobil berjalan pelan di sampingnya.

“Senjaaaa,” pengendara itu berteriak.

Sekarang Senja sudah hapal suaranya. Tuan ganteng itu ngapain saja, selalu tiba-tiba muncul tanpa diharapkan kehadirannya. Ia menoleh ke samping, pengendara mobil itu membuka jendela mobilnya, melambaikan tangannya sambil tersenyum. Senja merengut, adanya mobil di samping membuatnya risih. Ia menggenjot sepedanya lebih cepat, tapi mobil itu terus saja ada di sampingnya.

“Senja, mau jus buah?” teriaknya lagi sambil memperlihatkan keresek bening yang di dalamnya berisi beberapa gelas minuman.

Senja mendiamkannya, tapi kemudian mobil itu berhenti di depannya, membuat Senja tiba-tiba turun dari sepedanya.

“Tuan kenapa sih, setiap saat mengganggu saja?” sungutnya.

“Jangan marah Senja.”

Ia memang Arka, yang kemudian turun dan mengulurkan keresek kepada Senja.

“Nggak mau!”

“Senja, ini jus buah, segar dan sehat. Dalam udara yang panas begini, minum jus buah sangat menyegarkan,” kata Arka yang langsung menggantungkan keresek itu di stang sepeda Senja.

Sebelum Senja mengomel, Arka sudah masuk ke dalam mobilnya kemudian berlalu setelah melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“Ya ampuun, tuan ganteng itu kenapa nekat sekali? Dan kenapa juga saat dia pulang, padahal sudah sore, masih juga bertemu dia?”

***

Belum masuk ke rumah, sang ayah yang duduk di teras sudah menyambutnya dengan ucapan yang membuatnya kesal.

“Arka, besok Rosa mau kemari pagi-pagi. Kamu tungguin dia untuk bersepeda bersama.”

Arka tak menjawab, terus berlalu masuk ke rumah, membuat sang ayah berteriak.

“Arka! Bapak bicara sama kamu.”

Arka terpaksa berhenti dan kembali mendekati sang ayah.

“Arka sudah mendengarnya. Tapi kelihatannya Arka sedang malas, tidak ingin ke mana-mana."

“Besok kan hari Minggu, saatnya ber rekreasi. Rosa ingin sekali bersepeda. Itu memang kesukaannya."

“Kita lihat saja nanti,” jawabnya sambil berlalu.

“Hm, susah sekali anak itu diatur. Gadis seperti Rosa, tidak bisa menarik hatinya? Itu kebangetan sekali,” gumamnya kesal.

“Kenapa Pak, anak baru datang sudah dimarah-marahi,” kata sang istri yang menyusul duduk di dekatnya.

“Anakmu itu susah diatur. Berjodoh sama Rosa itu sebuah keberuntungan bagi usahanya, tapi tampaknya dia tidak tertarik sama sekali.”

“Kita harus bersabar, cinta tidak bisa datang tiba-tiba. Harus melalui liku-liku yang panjang.”

“Ada orang mengatakan, bisa saja manusia jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Tidak semua bisa begitu. Banyak hal menarik yang membuat orang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Tapi Arka tidak begitu. Padahal apa kurangnya Rosa?”

“Arka orang yang tidak mudah jatuh cinta. Teman-temannya kuliah dulu juga cantik-cantik. Tidak satupun membuatnya tertarik. Aku juga heran.”

“Tapi untuk yang satu ini, bagaimanapun caranya, Rosa harus menjadi menantu kita. Ibu harus mendukung aku. Sering-sering Ibu bilang kepada Arka, bahwa Rosa gadis terbaik yang bisa menjadi istrinya.”

“Nanti ibu bicara sama dia, yang penting harus bersabar. Arka tidak bisa diatur-atur dalam hal cinta.”

“Pokoknya Ibu harus bantu aku. Tidak boleh tidak, Arka harus mau beristrikan Rosa. Jangan sampai kita mengecewakan pak Daryono.”

“Padahal kelihatannya pak Daryono bersikap sangat lunak lhoh.”

“Itu hanya kelihatannya, hanya untuk menenangkan hati Arka. Sudah, Ibu jangan lemah, terus beritahu Arka bahwa jodohnya adalah Rosa.”

Sang istri menghela napas panjang, ia tak pernah bisa membantah apa kata suaminya yang begitu keras dan boleh dikatakan sangat arogan.

***

"Mbak Senja membawa apa?” teriak Rimba dari dalam ketika melihat Senja datang  sambil membawa keresek yang belum juga dibuka isinya.

“Ini, buka sendiri,” kata Senja sambil memberikan keresek itu kepada adiknya.

“Wooouw, ada jus buah. Macam-macam ini, entah bagaimana rasanya.”

“Kamu beli jus buah, Nduk?” tanya simbok.

“Tidak Mbok, dikasih orang itu lagi.”

“Orang itu lagi yang mana?”

“Yang kemarin lusa menolong Senja, lalu memberikan es buah juga.”

“Ketemu lagi?”

“Iya. Tadi pagi malah ketemu ketika Senja mau berangkat sekolah.”

“Dia rumahnya di mana, kok sering ketemu?”

“Nggak tahu MBok.”

“Mbok, ini buat simbok sama mbak Senja, aku yang kuning saja, ini rasanya seperti mangga.”

“Ya ampun, ini enak sekali. Kamu yang mana  Nja? Simbok sisanya saja.”

“Simbok ambil yang mana saja, Senja sisanya. Sekarang mau bersih-bersih dan ganti baju.”

“Simbok tunggu di meja makan ya Nduk, sama jusnya simbok bawa ke sana sekalian,” kata simbok.

Senja berlalu, dan simbok masih berpikir tentang kebaikan orang yang sudah menolong Senja dan berkali-kali memberikan minuman sehat.

***

Arka sudah berganti pakaian rumahan, beranjak ke belakang menemui bibik pembantu.

“Bik, Bibik kalau beli beras di mana?”

“Apa Tuan muda? Tuan bicara tentang beras?” tanya bibik heran.

“Iya, beras yang dimasak jadi nasi itu.”

“Ya di pasar Tuan, sudah langganan.”

“Mulai besok, aku yang akan membeli beras.”

Bibik menatap dengan heran. Tuan mudanya akan membeli beras?

***

Besok lagi ya.

 

Monday, May 25, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 06

 NAMAKU TETAP SENJA  06

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengerem sepedanya dengan mata terbelalak marah.

“Apa-apaan sih mas, berhenti tiba-tiba di depan aku? Kalau aku jatuh bagaimana?”

Arka tertawa pelan.

“Kalau kamu jatuh aku tolongin bangun dong.”

“Apa? Jangan cengengesan.”

“Senja, jangan marah dong.”

Barulah Senja terkejut, lalu mengamati pria di depannya dengan seksama.”

“Tuan? Apa maksud Tuan ini? Jangan mentang-mentang pernah menolong saya dan memberi beberapa bungkus es buah lalu Tuan bisa bersikap seenaknya.”

“Senja, aku sedang sepedaan, lalu melihat kamu. Ya aku samperin, soalnya aku mengenal kamu.”

“Apa maksudnya ini?”

“Tuan, saya harus buru-buru, waktunya sudah mepet.”

“Baiklah, ayo jalan, aku di samping kamu,” kata Arka sambil naik ke atas sepedanya, lalu keduanya naik sepeda beriringan.

Senja merasa heran, bagaimana mungkin si tuan ganteng ini selalu bisa bertemu dengannya?

“Tuan sepedaan sampai jauhkah? Rumah Tuan di mana?”

“Kamu tidak ingin tahu namaku? Tuan … tuan …  nggak enak dengarnya, tahu?”

“Memangnya nama Tuan siapa?”

Nah, gitu dong jadinya kan aku seneng.”

“Seneng kenapa?”

“Ditanya namaku, kan seneng.”

“Cuma gitu aja.”

“Berarti kamu memperhatikan aku, pengin tahu siapa namaku.”

“Kan Tuan yang minta?”

“Ya ampun Senja!”

Arka terkekeh lucu. Senja sangat polos, tapi menggemaskan. Ia gadis sederhana., sangat bersemangat membantu orang tua, masih sekolah pula.

“Kok Tuan nggak jawab.”

“Kamu bertanya tidak sepenuh hati sih.”

“Orang kaya itu aneh, minta ditanya, setelah ditanya malah aku diomelin”

“Baiklah, pengin tahu nggak?”

“Pengin. Kalau aku jawab yang lainnya nanti Tuan marah.”

Arka tertawa lucu.

“Namaku Arka, jadi jangan lagi memanggilku tuan.”

“Kelihatannya nggak sopan, masa aku memanggil hanya nama Tuan saja.”

“Panggil mas Arka. Jangan tuan.”

“Tuan, hanya panggilan saja, repot amat. Ya sudah, aku sudah sampai.”

“Itu sekolah kamu?”

“Iya.”

Senja membelokkan sepedanya masuk ke halaman sekolah setelah melambaikan tangannya. Arka membalasnya, kemudian mengayuh sepedanya menuju pulang. Bagaimanapun pertemuan dengan Senja membuatnya terhibur. Ini dunia yang lain, yang belum pernah dijamah sebelumnya. Di mana ia tidak disembah-sembah, bahkan diomelin hanya oleh seorang gadis sederhana yang kalau keluarganya bilang tidak punya derajat. Apa Arka marah? Tidak. Ini dunia yang membuatnya terbebas dari ikatan-ikatan yang membelenggunya.

***

“Dari mana kamu?” tanya sang ayah ketika Arka sudah sampai di rumah.

“Sepedaan. Muter-muter saja.”

“Tumben kamu pengin sepedaan. Bertahun-tahun sepedamu nangkring di gudang.”

“Tiba-tiba pengin. Katanya biar sehat, tidak hanya duduk di kursi saja.”

“Aku dengar Rosa juga suka bersepeda, sesekali ajak dia bersepeda berdua.”

Rosa lagi? Arka pura-pura tak mendengar, langsung menuju kamarnya.

“Arka!”

“Mau mandi dulu Pak,” jawabnya dari kejauhan.

“Aku mau ke kantor hari ini. Katanya ada pertemuan dengan langganan yang protes karena harga kemahalan,” katanya kemudian kepada sang istri.”

“Mengapa harus Bapak sendiri yang menangani?”

“Kemarin aku menelpon ke bagian pemasaran. Mereka akan menanganinya, aku hanya ingin berada di sana, melihat hasilnya.”

“Bapak mau bareng Arka? Dia belum sarapan.”

“Aku berangkat sendiri  saja, Arka kalau mandi lama, makan juga lama.”

“Terserah Bapak saja. Tapi nanti pulang makan siang di rumah kan?”

“Iya, aku tidak pernah lama di kantor akhir-akhir ini. Aku bisa memantaunya dari rumah.”

***

Mbok Mangun pulang agak pagi hari itu, karena menunggu pesanan beras yang akan dikirim. Hanya sedikit-sedikit dia membeli beras, karena modalnya sangat terbatas, lagi pula sebagian besar keuntungan dipergunakan untuk beaya sekolah kedua anaknya.

Tiba-tiba seseorang datang, mengejutkan mbok Mangun.

“Syukurlah sampeyan ada di rumah, berkali-kali aku kemari, rumah dalam keadaan kosong.”

“Iya pak RT, kan kedua anak saya sekolah, saya juga harus menjajakan dagangan saya.”

“Bagus, berarti sampeyan sudah punya uang karena dagangan laris.”

“Saya mita maaf, bisanya baru mencicil Pak.”

“Kalau kamu mencicil sedikit-sedikit, masuknya hanya ke bunganya saja, utangnya tidak berkurang.”

“Ya jangan begitu Pak, mohon keringanan. Masa cicilan dimasukkan ke bunga semua, bagaimana kalau separo untuk mencicil, separo buat bayar bunganya.”

“Lha sampeyan nicilnya sedikit, bagaimana bisa mengurangi hutang pokoknya.”

“Maksud saya, karena saya hutangnya sudah lama, dan uang yang saya kembalikan  sudah lebih dari hutang pokoknya, mohon diberi keringanlah Pak, kalau bisa jangan dipotong bunga, ya Pak. Kasihan, saya kan orang miskin.”

“Sampeyan itu bukannya miskin. Dagangan laku, bilang miskin. Mana sekarang, tetep kalau cicilan  hanya sedikit aku masukkan ke bunga."

“Ya ampun Pak, tolong, saya hanya punya ini,  bulan depan lagi ya Pak.”

“Cuma segini, ini hanya bisa mencicil seratus ribu, sisanya adalah bunga.”

“Masa sih Pak, bunga sama cicilannya bisa lebih besar.”

“Mbok Mangun, sampeyan kan tahu, uang aku itu bukan untuk sampeyan saja, banyak yang membutuhkan. Lha kalau modal berhenti di sampeyan, yang lain mau aku kasih apa? Mereka juga butuh uang.”

Mbok Mangun diam. Ia menahan tetesan air mata yang nyaris keluar. Bukan karena takut, tapi merasa sedih. Hutang yang sudah dua tahun lampau sebanyak sepuluh juta, yang ketika itu untuk membayar beaya masuk sekolah Senja dan adiknya, sampai sekarang baru berkurang seperempatnya, karena setiap mencicil diperhitungkan dengan bunganya.

“Ya sudah ini aku terima. Hutang sampeyan masih tujuh juta empatratus rupiah. Ini catatannya,” katanya sambil memberikan sebuat catatan, tapi mbok Mangun mengacuhkannya. Ia kan tak bisa membaca dan menulis?

Karena membantahpun tak akan ada gunanya, mbok Mangun diam. Ia membiarkan pak RT pergi dengan membawa uangnya yang tidak seberapa, memotong dulu bunganya baru sisanya untuk cicilan hutangnya.

Begitu pak RT pergi, pecahlah tangis mbok Mangun.

“Aku hanya ingin anak-anakku jadi orang pintar, tidak seperti aku yang buta hurup ini. Ya Tuhan, tolonglah hamba,” isaknya.

***

Tapi mbok Mangun adalah wanita tegar. Bertahun-tahun ia berjuang sendirian demi anak-anaknya, ia tak pernah mengeluh. Hanya saja sekarang ia menyesal. Dalam keadaan terjepit sementara ia harus memasukkan anaknya ke bangku SMA, dan tunggakan beberapa bulan uang SPP Rimba, ia terpaksa berhutang. Saat itu penghasilannya masih sangat sedikit. Yang bisa dilakukan hanyalah berhutang, dan kebetulan ia tahu pak RT yang kaya raya memang bisa meminjamkan uang. Tak peduli apapun ia lari ke pak RT, dan sepuluh juta berhasil didapatnya, itupun masih dipotong bunga di depan dan biaya administrasi katanya, sehingga uang yang dipinjamnya tidak genap seperti catatannya. Memang tidak seluruhnya uang itu dipergunakan untuk biaya sekolah, tapi ia butuh modal agar bisa membeli beras lebih banyak. Harapannya dengan modal itu ia bisa mencicil hutangnya. Tak tahunya pak RT benar-enar seorang rentenir yang kejam.

Mbok Mangun mengusap air matanya. Ia merasa tak pantas menangisi kehidupannya yang susah. Ia bertekat menjalaninya, dan akan menjalaninya dengan segala ketegaran yang dimilikinya.

Ia kembali mengusap air matanya ketika mendengar suara orang yang pastinya pengirim beras yang dipesannya.

Ia bersyukur masih punya beras untuk modal berdagang. Ia meminta pengirim itu membawanya ke belakang sekalian, agar ia tak keberatan mengangkatnya.

***

Ketika langkah-langkah kecil terdengar, Mbok Mangun menyunggingkan senyumnya. Ia tak ingin anak-anaknya tahu tentang apa yang dideritanya.

“Simbok ada di rumah, horeee,” sorak Rimba kegirangan. Ia selalu senang setiap kali pulang simboknya ada di rumah. Memang tidak setiap hari begitu, tapi dengan adanya simbok maka makan siang terasa sangat meriah, walau dengan lauk seadanya.

“Mengapa simbok sudah pulang?”

”Menunggu pesanan beras simbok. Kalau dikirim saat rumah kosong kan kasihan. Nanti berasnya dibawa pergi lagi, repot kan?”

“Iya Mbok, simbok benar, tapi aku senang ada simbok saat makan siang.”

“Cuci kaki tangan dulu dan ganti baju, baru makan.”

 “Simbok masak apa?”

“Gudeg tuntut pisang, sama ikan asin.”

“Waah, enak, Rimba suka.”

“Cepat ganti baju, sambil menunggu mbakyumu, simbok siapkan dulu makan siangnya.”

Rimba melangkah ke kamar mandi, dan melihat beras sekarung besar sudah ada di dapur. Tapi Rimba terkejut, ada selembar kertas terjatuh. Rimba memungutnya, barangkali catatan penting simboknya.

Tapi Rimba terkejut melihat tulisan yang tertera. Catatan hutang? Mata Rimba terbelalak.

***

Besok lagi ya.

Sunday, May 24, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 01

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL   01

(Tien Kumalasari)

 

PELUK AKU, BIBI.

Langit mendung, tapi tak sedikitpun menjanjikan hujan akan turun. Angin kencang menghalau awan-awan, yang membawa butiran-butiran penyejuk hawa.

Seorang perempuan muda dengan pakaian lusuh sedang membawa karung besar, berisi botol-botol plastik yang kosong. Ia mengaisnya di tempat sampah, dan dijalan-jalan yang dilaluinya. Karung itu baru berisi separonya, dipikul di punggungnya yang kecil. Ia harus menjalaninya. Setiap hari, yang dipungutnya adalah berarti uang, dan uang. Satu-satunya anak lelaki yang dilahirkannya, membutuhkan dana untuk sekolah dan juga makan. Terkadang ia mengalah, saat pendapatan hari itu tak mendukung, lalu hanya mendapat sekaleng kecil beras yang bisa dibelinya, dan sebutir telur yang akan digorengnya untuk dua kali makan. Itu hanya untuk anaknya. Tak penting walau perut bernyanyi karena cacing-cacing juga kelaparan.

“Mengapa ibu tidak makan?” kata sang anak setiap kali ibunya tidak makan.

“Kata siapa ibu tidak makan? Sebelum kamu datang ibu sudah makan. Jadi sekarang habiskan makanan itu,” katanya lembut, sambil memegangi perutnya yang melilit.

Ketika anaknya selesai makan, perempuan itu pergi ke dapur, mengais-ngais kerak nasi yang masih tersisa, dimasukkannya ke dalam mulutnya. Walau hanya sesendok dua sendok, cukuplah. Ibu muda itu hanya berharap anaknya bisa kenyang dan belajar.

Hari itu ia sedang memungut beberapa botol plastik yang terserak di pinggir sebuah taman. Lumayan bisa menambah banyaknya botol yang terkumpul.

Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikepang dua, berlari-lari mendekatinya. Ditangan kirinya sebuah botol plastik kosong dipegangnya, dan ditangan kanannya dia memagang botol yang masih penuh berisi air.

Karena berlari-lari, gadis kecil itu hampir terjatuh ketika berada di depan perempuan itu. Untunglah ia bisa menangkapnya, dan gadis itu selamat berada dalam pelukannya.

“Hati-hati,” kata perempuan itu lembut. Ia selalu lembut dalam berkata-kata. Kalau saja wajahnya tidak kusut berdebu, ia akan tampak sebagai perempuan muda yang cantik.

Anak kecil itu tersenyum. Ia tampak senang didekap seseorang. Kedua botol masih dipegangnya, lalu diberikannya kepada perempuan penolongnya.

“Ini untukmu, Bibi,” katanya dengan mulut lucu.

“Oh, untuk aku?”

“Bukankah Bibi suka mengambil botol-botol kosong di jalan?”

“Iya, benar. Terima kasih banyak, Nak.”

“Yang satu ini minumlah. Bibi pasti haus.”

“Oh, ya ampun, anak baik. Terima kasih. Bibi memang sangat haus.”

Perempuan itu meletakkan karung yang dipanggulnya, lalu ia duduk begitu saja di atas rerumputan, di bawah sebuah pohon rindang. Ia membuka botol minuman itu, tapi sebelum menenggaknya ia menawarkannya dulu kepada gadis kecil itu.

“Kamu minumlah dulu, Nak.”

Gadis kecil itu menggeleng sambil tersenyum. Lekuk manis di pipinya yang gembul, menampakkan wajah lucu yang sangat manis.

“Untuk bibi saja, aku sudah minum.”

Perempuan itu menenggak air yang kemudian membuatnya merasa segar.

“Terima kasih banyak.”

Air itu masih tersisa, ia memasukkannya kedalam kantung kecil yang dibawanya dan terikat di pinggangnya. Barangkali untuk menyimpan uang kalau botol-botolnya sudah terjual.

Perempuan itu berdiri, meletakkan kembali karung botol itu di punggungnya.

“Kamu mau pergi?”

“Iya Nak, masih harus mencari botol lagi.”

“Besok lewat  di sini lagi ya, aku akan memberikan botol-botol untuk kamu,” katanya nyaring.

“Baik. Terima kasih Nak. Rumahmu di mana? Sekarang pulanglah, bibi mau melanjutkan perjalanan.”

“Itu rumahku.”

Gadis itu menunjuk ke arah gedung bertingkat yang sangat bagus. Sudah jelas itu milik orang kaya.

“Pulanglah, nanti ibumu mencarimu.”

“Ibuku selalu pergi. Jangan lupa besok kesini lagi ya.”

“Baik Nona.”

“Namaku Ana. Bibi punya nama?”

“Panggil aku bibi Menur.”

“Baiklah, sebelum pergi, peluklah aku.”

Perempuan bernama Menur itu terbelalak. Gadis kecil itu bajunya bagus, baunya wangi, wajahnya bersih dan cantik lagi manis. Minta dipeluk olehnya? Apa gadis itu tidak merasa jijik melihat bajunya yang kusut, dekil dan pasti bau.

“Peluk aku, aku ingin dipeluk.”

Perempuan itu mengembangkan tangannya dengan ragu, tapi Ana menghambur ke dalam pelukannya. Mau tak mau Perempuan itu juga memeluknya erat, sambil berjongkok.

“Mama tidak pernah memelukku, aku senang ketika hampir jatuh tadi, lalu kamu memeluk aku,” bisiknya di telinga Menur.

“Non Anaaaaa!” sebuah teriakan membuat Ana mengendurkan pelukannya. Wajahnya muram seketika.

***

Ana masih memegangi bahu bibi Menur, sementara kepalanya menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

“Non Ana, apa yang kamu lakukan? Sini, nanti nyonya melihatnya, lalu marah-marah,” teriak Rumi, pengasuh Ana.

“Aku ingin main di sini.”

“Aduh, perempuan ini bau, mengapa Non memeluknya?” kata Rumi sambil menarik tangan Ana.

“Pergilah Nak, bibi juga mau melanjutkan perjalanan,” bisik bibi Menur sambil mengelus tangan Ana.

“Berjanjilah besok akan lewat di sini lagi,” katanya dengan mulut tersenyum. Lagi-lagi lesung pipit pada pipi gembul itu terlihat, membuat Menur semakin gemas. Ingin ia menowelnya, tapi pembantu Ana memelototinya.

“Ayo cepat,” Rumi menarik tangan Ana keras, sehingga mau tak mau Ana mengikutinya.

Ia berjalan sambil terus menerus menoleh ke arah Menur.

Menur menatapnya, sampai gadis kecil menggemaskan itu memasuki gerbang setelah melambaikan tangannya.

Menur tersenyum, harum aroma gadis kecil itu masih menempel di bajunya, dan terus menggelitik hidungnya. Seperti mimpi rasanya, ketika seorang gadis kecil wangi, dan tentunya anak orang kaya, suka dipeluknya. Ibunya tak pernah memeluknya? Kasihan sekali, padahal pelukan seorang ibu adalah kehangatan yang tak ada duanya di dunia ini.

Menur melanjutkan langkahnya. Wajah mungil itu terus mengikutinya. Ia tak mengerti, bagaimana tiba-tiba gadis itu melihatnya lalu seperti menyukainya, padahal sekalipun ia belum pernah mengenalnya. Ia juga baru sekali itu lewat daerah yang dihuni orang-orang kaya, menilik rumah-rumah megah yang berjajar indah dengan bangunan yang kokoh kuat.

***

Ana ngambeg. Rumi sang pengasuh sedang memaksanya mandi.

“Aku tidak mau mandi!” Ana berteriak.

“Non harus mandi, bau.”

“Aku kan sudah mandi?”

“Tapi Non dipeluk-peluk oleh perempuan  tukang sampah itu. Dia itu bau!” Rumi tak kalah berteriak.

“Dia tidak bau!”

“Non, awas saja ya, kalau nanti Nyonya tahu bahwa Non keluar rumah sendirian, pasti Non akan dijewer, atau dicubit sampai pahanya merah. Apa lagi Non dipeluk-peluk oleh perempuan bau itu.”

“Dia tidak bau! Aku yang memeluk dia.”

“Non, apa yang Non lakukan? Bagaimana kalau Non diculik lalu dibawa dia, lalu dijual kepada orang jahat, lalu Non dijadikan pengemis, lalu_”

“Tidaaaaak.” Ana berlari masuk ke kamar, lalu mengunci pintunya dari dalam.

“Non Anaaa.” Rumi berteriak-teriak, tapi Ana bergeming di kamarnya.

***

Ana adalah putri tunggal seorang konglomerat. Ayahnya memiliki usaha di luar negri, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang selalu menghamburkan uang pemberian sang suami. Anak semata wayangnya yang baru berumur sekitar tujuh tahun hanya diberikan kesenangan dengan mainan mahal dan pakaian bagus yang harganya tak terjangkau oleh orang biasa.

Hari-harinya dipenuhi dengan bersenang-senang bersama kawan-kawannya sesama orang kaya, dan hampir tak pernah ada kebersamaan di rumahnya sendiri.

Ana seperti boneka mainan yang dimanjakan seperti seorang putri. Makanan enak, mainan yang memenuhi kamar dan pakaian yang indah, tapi semua itu tak membuat Ana berenang dalam kebahagiaan. Sekolahpun gurunya yang datang. Sehingga Ana merasa seperti burung di dalam sebuah sangkar emas.

Hari itu ia bermain di halaman, ketika Rumi pengasuhnya sedang sibuk menata baju-bajunya. Lalu ia melihat pengais botol kosong, seorang perempuan, yang entah mengapa membuatnya tertarik. Ia menerobos keluar dari pintu yang sedikit terbuka, lalu menghampiri perempuan itu, dengan memberikan sebuah botol kosong dan sebuah lagi masih utuh. Pertemuan itu membuatnya terkesan. Pelukan pemungut sampah itu terasa hangat. Ana belum pernah merasakannya. Ia ingat ketika ibunya mau pergi, dia merengek ingin ikut, lalu merangkul kakinya dari belakang, sang ibu malah mendorongnya sampai hampir terjengkang.

“Ana, apa yang kamu lakukan?”

“Mama, aku mau ikut Mama.”

Tapi sang mama terus berlalu, keluar dari rumah, menghampiri mobil yang sudah siap di halaman.

“Mamaaaa,” Ana hanya bisa menangis. Sejak saat itu Ana merasa bahwa ada tembok pemisah yang membuatnya merasa tak punya ibu. 

Sekarang, pelukan pengais sampah itu masih terasa menghangati hatinya. Ia sedang menunggu hari esok, agar bisa bertemu lagi.

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, May 23, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 05

 NAMAKU TETAP SENJA  05

(Tien Kumalasari)

 

Pak Daryono menenangkan Arka yang tampak gelisah karena ucapan sang ayah.

“Sudah, tenangkan hati kamu Arka, kami tidak tergesa-gesa. Rosa juga pasti akan sabar menunggu, jadi selesaikan dulu masalah perusahaan, sambil kamu menenangkan diri. Kamu masih muda, barangkali mendengar masalah perjodohan sangat membuat kamu terkejut.”

Walau tampaknya menghibur, tapi nada menyetujui keinginan sang ayah masih tampak nyata. Menunggu, bukan menolak.

Arka tersenyum dan mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

“Lalu kenapa ini kamu juga sudah berdiri di sini, ayo kita lanjutkan bincang-bincang kita,” kata pak Daryono kepada pak Wiguna, ayah Arka.

“Ibunya sudah lelah. Dia itu tensinya selalu tinggi, tidak bisa duduk lama, jadi aku akan pamit dulu.”

“Iya, maaf ya pak,” sambung bu Wiguna yang sudah menyusul keluar.

“Baiklah, kalau ada hubungannya dengan kesehatan, aku tak bisa menghalanginya. Apa Arka mau tinggal dulu di sini?

”Tidak Om, hari sudah malam, lain kali saja main lagi,” kata Arka sambil berdiri.

“Bener ya Ka, kamu sering-sering main kemari?” kata Rosa.

“Tentu Rosa, nanti om yang akan mengingatkan dia,” yang menjawab adalah pak Wiguna.

***

Pulang dari rumah pak Daryono tidak membuat Arka langsung merasa lega. Di perjalanan pulang, sang ayah masih selalu mengomelinya karena sikap Arka yang dingin dan tidak tampak ramah.

“Kamu harus tahu, perjodohan itu hal yang mutlak. Bagaimanapun kamu tidak bisa menolaknya.”

Arka tak menjawab, yang menjawab adalah sang ibu.

“Pak, beri waktu Arka untuk berpikir. Tampaknya dia belum siap, jadi setiap kali Bapak mengingatkan tentang perjodohan itu, perasaan Arka jadi tertekan.”

“Aku hanya mengingatkan dia, bahwa dia punya kewajiban untuk memenuhi permintaan pak Daryono yang ingin bermenantukan Arka.”

“Arka bukan anak kecil, pasti dia tak akan lupa.”

“Ibu selalu begitu. Kalau kita bersikap lunak, Arka akan semaunya. Dia itu banyak yang suka, sejak masih kuliah dulu. Kalau dia tergoda pada salah satunya, rencana perjodohan ini bisa berantakan. Aku yang malu pada pak Daryono dan keluarganya.”

“Tidak usah terlalu begitu. Perjodohan bukan masalah sepele, sudah benar kalau Arka minta waktu.”

“Ya sudah, terserah Ibu ya, nanti kalau sampai terjadi apa-apa, itu tanggung jawab Ibu.”

***

Ketika para tamu sudah pulang, pak Daryono mengingatkan Rosa agar tidak terlalu kelihatan mengejar-ngejar Arka.

“Kamu itu perempuan, malu kalau kelihatan suka banget sama dia.”

“Papa bagaimana sih, kan Papa sendiri yang menjodohkan Rosa sama Arka, jadi wajar kalau Rosa bersikap terbuka pada Arka. Apa salahnya sama calon suami bersikap akrab dan mesra.”

“Tidak usah terlalu diperlihatkan. Seorang gadis harus bisa menjaga kewanitaannya. Lagi pula Arka tampaknya belum siap. Mungkin hal ini terlalu tiba-tiba bagi dia.”

“Bagaimanapun dia harus sadar bahwa dia sudah punya tunangan.”

“Belum tunangan. Dijodohkan bukan berarti sudah resmi menjadi calon. Bersabarlah dan bersikap lebih baik dan santun, agar siapapun calon suami kamu, tak akan kecewa.”

“Rosa akan sering pergi ke sana agar kami bisa semakin dekat.”

“Tapi jaga sikapmu, jangan membuat malu keluarga. Ingat, perjodohan itu hanya antara orang tua, semuanya tergantung yang menjalani.”

Walaupun mendengarkan sambil mengangguk-angguk, tapi Rosa tetap berpendapat bahwa Arka harus selalu didekati, agar perasaan cintanya segera tumbuh. Rupanya Rosa tidak tahu bahwa terkadang seorang laki-laki merasa risih terhadap sikap yang terlalu berlebihan. Jinak-jinak merpati lebih menyenangkan bukan?

***

Pagi hari itu Arka masih tampak muram. Ia bangun pagi-pagi ketika sang ayah belum keluar dari kamarnya. Tapi Arka mendapati ibunya sedang membuat kopi di dapur. Setiap pagi selalu begitu. Menyiapkan minuman hangat untuk keluarga selalu ditanganinya sendiri, bukan oleh pembantu.

“Arka, pagi-pagi kamu sudah rapi? Seperti mau olah raga begitu?”

“Iya, sedang pengin jalan-jalan pagi dengan sepeda."

“Oh, bagus sekali. Minum dulu kopinya, sudah ibu buatkan.”

Arka duduk, di meja makan, di mana sang ibu meletakkan dua gelas kopi, untuk dirinya sendiri dan untuk sang ibu.

“Wajahmu muram sejak kemarin.”

“Bu, Ibu kan tahu, Arka tidak suka gadis itu.”

“Ayahmu sudah bicara dengan pak Daryono. Memangnya kenapa dengan Rosa? Bukankah dia cantik, pintar, menawan.”

“Tapi Arka tidak suka.”

“Kenapa? Apanya yang membuat kamu tidak suka? Kalau ada sikapnya yang membuat kamu tidak suka, mintalah agar dia merubahnya.”

“Mana bisa bu, kalau itu memang sudah pembawaannya, sampai kapanpun akan selalu begitu.”

“Apanya sih, yang kamu tidak suka?”

“Arka tidak bisa mengatakannya.”

Arka menyeruput kopinya.

“Tuan muda, sepeda sudah di siapkan di depan,” kata salah seorang pembantunya.

“Ya. Terima kasih.”

Arka masih menghirup kopinya.

“Kamu kan tahu Ka, orang tua selalu memilihkan yang terbaik bagi anaknya.”

“Terbaik bagi bapak, belum tentu terbaik bagi Arka.”

“Ka, lebih baik kamu tidak menentang ayahmu. Kamu adalah putra tunggal kami. Pewaris kerajaan bisnis ayahmu, jadi kamu harus mendapat pasangan yang tepat. Bukan untuk kehidupan pribadimu, tapi juga untuk kelangsungan bisnis yang sedang kamu tangani.”

“Jadi Arka dijadikan tumbal agar bisnis kita berjalan pesat?”

“Jangan bicara kasar begitu. Mana ada anak dijadikan tumbal?”

Arka tak menjawab, ia menghabiskan kopinya lalu beranjak ke depan.

“Tidak sarapan roti dulu, tuh baru dipanggang bibik,” cegah sang ibu.

“Nanti saja Bu,” katanya sambil berlalu.

Dan tak lama kemudian dia sudah mengayuh sepedanya, keluar dari halaman.

Hari masih pagi, udara dingin segar menerpa tubuh Arka, ia mengayuh sepedanya, bukan sekedar agar badan menjadi sehat, tapi sesungguhnya ada yang dicarinya.

***

“Mengapa Arka tidak kelihatan sarapan bersama kita?” tanya pak Wiguna kepada istrinya, sambil menghadapi segelas kopi dan beberapa potong roti bakar.

“Dia keluar sejak tadi.”

“Ke mana?”

“Katanya hanya mau jalan-jalan dengan sepedanya.”

“Tumben.”

“Tidak apa-apa, bersepeda di udara pagi itu bagus. Udara masih bersih dan sehat. Kalau aku tidak cepat lelah, mau juga bersepeda setiap pagi.”

“Kamu sedang tidak begitu sehat, jalan kaki saja pelan-pelan, tapi jangan terlalu jauh. Kalau mau akan bapak temani.”

“Besok saja, sekarang sedang ingin istirahat di rumah.”

“Jangan terlalu capek.”

“Iya, aku tahu. Tapi sebenarnya Bapak yang butuh olah raga, agar badannya tidak terlalu gemuk begitu.”

“Ya, kapan-kapan. Aku tuh malas olah raga.”

“Harusnya tidak malas, agar sehat, jangan sampai sakit-sakitan seperti aku.”

“Tidak, kamupun harus sehat, rajin kontrol, makan juga harus hati-hati.”

“Iya, aku tahu.”

“Aku sedang kesal sama Arka.”

“Kenapa? Masalah perjodoan itu? Aku kira Bapak tidak usah terlalu memaksa.”

“Tidak memaksa bagaimana? Aku dan pak Daryono sudah bicara dan itu serius.”

“Kemarin pak Daryono bicara lunak, membiarkan Arka berpikir dan menenangkan diri. Jadi Bapak juga harus bersikap begitu. Bukan seperti memaksa, dan sedikit-sedikit marah. Kasihan Arka.”

“Arka harus mengerti.”

“Kalau Bapak kelihatan memaksa, dia justru kesal. Perjodohan bukan hal sepele. Harus menunggu kalau hati mereka sudah menyatu dan setuju menjalani hidup bersama.”

“Anak sekarang harus dipaksa. Kalau tidak, dia keburu jatuh cinta kepada gadis lain. Aku tidak mau. Rosa sudah sangat pas untuk Arka.”

Sang istri hanya menghela napas menyaksikan kekerasan hati suaminya.

***

Hari memang masih pagi, tapi Arka yang mengayuh sepeda sudah berkeringat. Lama tak mengendarai sepeda, membuatnya agak lelah. Tapi ia terus mengayuhnya pelan, Ia mengangkat tangannya, melihat arloji yang dikenakannya.

“Baru jam setengah tujuh lebih."

Kakinya terus mengayuh. Ia tahu kemana tempat yang harus dituju. Rumah simbok. Eh, bukan, rumah Senja. Arka sudah tahu karena kemarin mengikuti dengan mobilnya.  Ia tahu dari pembicaraan yang hanya sekilas kemarin, bahwa Senja masih bersekolah. Bukankah Senja mengatakan bahwa ibunya menjual beras yang hasilnya untuk biaya sekolah kedua anaknya?

Dan akhirnya ia melihatnya. Gadis berkerudung putih dengan bawahan abu-abu, mengayuh sepedanya perlahan. Senyum Arka merekah. Ia suka melihat Senja marah-marah. Matanya itu yang membuatnya tertarik. Karenanya ia memutar sepedanya tepat di sampingnya, lalu berhenti tepat di depannya.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, May 22, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 04

 NAMAKU TETAP SENJA  04

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengayuh sepedanya sambil tersenyum-senyum. Malaikat penolong yang sangat ganteng itu sangat baik hati. Tahu udara panas, dia membelikan es buah untuk dibawa pulang. Ia bahkan ingat siapa nama dirinya, tapi dirinya lupa menanyakan siapa nama penolong itu.

Begitu memasuki halaman rumah yang tidak seberapa, ia melihat simbok duduk diatas bangku. Tampaknya simbok menunggunya.

“Mbok, kenapa tidak istirahat?”

“Kamu itu dari mana saja?”

“Lho, simbok gimana sih, kan Senja mengantarkan beras pesanan? Simbok juga tahu ketika Senja berangkat?”

“Kok lama sekali?”

“Yang punya rumah sedang pergi, Senja menunggu beberapa saat lamanya. Habis kalau ditinggal, uangnya bagaimana?” kata Senja sambil mengulurkan uang pembayaran beras kepada simboknya.

“Mbak Senja bawa apa?” Rimba yang keluar dari rumah melihat sesuatu tergantung di sepeda kakaknya.

“Baunya harum,” katanya sambil mendekat.

“Ambillah, dan tempatkan di wadah. Itu es buah.”

“Kamu beli es buah segala?”

“Tidak, itu diberi orang.”

“Cuci kaki tangan dulu, ganti bajumu, itu kan berdebu, setelah itu kemari, kamu belum cerita apa-apa. Banyak yang simbok bingung, tidak mengerti."

“Baiklah, Senja membersihkan diri dulu,” kata Senja sambil beranjak ke belakang. 

Di dapur ia melihat Rimba sedang menuang tiga bungkus es buah ke dalam sebuah mangkuk yang agak besar.

“Bawa ke depan, dan juga bawakan simbok gelas dan sendok, biar simbok mencicipinya,” pesannya kepada sang adik.

***

Ketika Senja sudah selesai membersihkan diri dan berganti baju, ia segera menemui simboknya.

“Seger, dan sehat, banyak buah-buahnya,” kata simbok sambil menyendok es buahnya dengan lahap. Demikian juga Rimba.

Senja tak mau kalah. Udara panas yang baru saja diterjangnya membuatnya sangat dahaga. Ia mengambil gelas yang masih kosong dan mengambil es buahnya.

Setelah beberapa sendok dilahapnya, barulah dia bercerita. Tentang hampir diserempet kendaraan, tentang berasnya yang ambyar, tentang malaikat penolong ganteng yang baik hati, yang membayar lebih harga beras yang tumpah. Padahal dia bisa pulang dan membersihkan berasnya dan mengirimnya, dengan menambahinya lagi yang tak seberapa banyak, lalu mengirimkan kepada pemesan, dan tentu saja juga mendapat bayaran.

“Ya ampun Nduk, tadi itu uangnya masih sisa banyak. Kamu harus mengembalikannya kepada tuan ganteng yang memberi uangnya.”

“Tadi saya sudah bilang kelebihan, tapi dia bilang ambil saja sisanya. Habis itu dia langsung naik mobilnya dan pergi.”

“Dia orang kaya.”

“Dan baik hati. Ketika mau pulang setelah mengirimkan beras, Senja ketemu lagi lho Mbok.”

“Waduh, padahal uangnya tidak kamu bawa.”

“Percuma Mbok, dia tidak akan mau. Malah es buah ini tadi juga dia yang memberi.”

“Dia membawa es buah, lalu diberikannya ke kamu?”

“Tidak, dia berhenti untuk beli, lalu mengejar Senja dan memberikannya.”

“Syukurlah, ketemu orang baik. Kamu sudah mengucapkan terima kasih?”

“Ya sudah Mbok, berkali-kali, malah.”

“Ya sudah, sekarang istirahatlah. Sebentar lagi waktunya kalian belajar, simbok mau menghitung-hitung, besok harus pesan beras lagi karena persediaan sudah menipis."

“Kalau simbok pesan, berasnya dikirim kan?”

“Ya dikirim Nduk, masa simbok membawa sekwintal beras.”

***

Arka sampai di rumah sudah sore, dan tanpa diduga sang ayah sudah menunggu. Ia menyambutnya dengan wajah yang sangat masam.

“Kamu ke mana saja? Bapak menelpon kantor, katanya kamu sudah pulang sejak lama, mengapa baru sampai saat sore begini?”

“Hanya beli sesuatu, kebutuhan Arka sendiri,” katanya sambil berlalu, tapi sang ayah menghentikannya.

“Arka, bapak masih mau bicara.”

Arka berhenti melangkah, menatap sang ayah.

“Duduklah, masa bicara sama orang tua sambil berdiri begitu?”

Arkapun duduk, wajahnya muram.

“Kamu sudah membatalkan rapat sore ini kan?”

“Sudah.”

“Bagus. Undangan dari keluarga Daryono tidak bisa disepelekan. Dia itu penopang terbesar bagi perusahaan kita. Kalau tidak ada pak Daryono, kita sudah bangkrut karena ada yang berusaha menghancurkannya.”

“Bukankah Bapak sudah membayar semuanya?”

“Utang bapak sudah bapak kembalikan, tapi itu kan hutang berbentuk uang, sedangkan hutang budi itu tak akan terbayar selamanya.”

Arka terdiam, ia berpikir tentang perjodohan, dan itu karena hutang budi? Wajah Arka bertambah muram.

“Oleh karena itu Ka, jangan sampai kita mengecewakannya. Kamu mengerti?”

“Apakah hutang budi itu harus ditebus dengan kehidupan Arka?”

Sang bapak sangat marah. Ia tahu bahwa jawaban itu adalah ujud dari penolakan Arka atas perjodohan itu.

“Apa maksudmu? Apakah keinginan pak Daryono itu akan membuat hidup kita sengsara? Kamu menjadi menantu keluarga kaya raya dan terpandang. Istrimu cantik dan tidak mengecewakan. Apa lagi yang kamu cari?”

Lagi-lagi Arka tak menjawab. Sepatah kata jawaban akan menjadi lontaran kemarahan yang bertubi-tubi. Ia yakin jawaban apapun tak akan membuat sang ayah puas. Dari semua kalimat yang diutarakannya, adalah sesuatu yang harus dijawab ‘ya’. Tidak boleh tidak.

“Jangan diam saja. Apa kamu bisu?”

“Arka harus menjawab apa?”

"Kamu mengerti apa yang bapak utarakan itu tadi kan?”

“Mengerti.”

“Baiklah, pergilah istirahat. Jam tujuh kita sudah harus berangkat.”

Bulu kuduk Arka meremang. Harus bertemu dengan calon istri dan calon mertua yang tidak dikehendakinya?

Arka bangkit, tak boleh tidak, harus menurutinya, kalau tidak, rumah ini bisa roboh karena teriakan marahnya.

***

“Arkaaaa,” teriakan manja yang keluar dari mulut tipis Rosa. 

Memang Rosa cantik, kulitnya putih bak pualam, bibirnya tipis, matanya jernih bagai sepasang bintang. Tapi tidak, mata itu tampak seperti … apa ya, menurut Arka, ada sedikit liar, atau galak, atau … pokoknya sesuatu yang tidak baik.

“Aku senang akhirnya kamu bisa datang,” kata Rosa sambil menggandeng tangan Arka untuk diajaknya masuk. Ia lupa memberi salam kepada kedua orang tua Arka yang datang bersamanya. Tapi tampaknya mereka tak peduli. Ditengah pintu, setelah Rosa mengajak Arka masuk, pak Daryono berdua sudah menyambut, saling bersalaman dengan hangat.

Arka tak banyak bicara kecuali kalau ditanya. Tapi ia berusaha bersikap baik agar tak membuat ayahnya marah.

Setelah makan, Rosa mengajak Arka duduk di teras. Arka bersyukur karena tak harus berbaur dengan orang-orang tua yang pasti akan menekan dirinya tentang perjodohan itu.

“Arka, kamu kelihatan tak suka sejak tadi. Kenapa sih?”

“Aku harus membatalkan rapat penting dengan klien gara-gara undangan makan malam ini, jadinya aku kepikiran terus."

“Arka, kalau memikirkan pekerjaan terus, tak akan pernah ada habisnya. Ada saatnya kamu harus memikirkan diri kamu sendiri.”

“Aku baru belajar terjun ke bisnis ayahku, banyak yang harus aku pelajari, karena aku diserahi tanggung jawab agar perusahaan terus berjalan dan semakin baik.”

“Masalah pekerjaan itu di kantor. Saat di rumah, semuanya harus kamu lepaskan. Apalagi saat ini, orang tua kita sedang membicarakan tentang perjodohan kita."

“Rosa, aku kira saat ini aku belum bisa memikirkan masalah perjodohan. Aku belum ingin menikah.”

“Apa kamu lupa bahwa kita sudah dijodohkan?”

“Aku tahu, tapi aku belum bisa menjalani.”

“Sampai kapan?”

“Kamu harus bersabar.”

“Apakah itu artinya kamu menolak?”

“Tidak sepenuhnya begitu. Aku hanya ingin ada ruang waktu untuk berpikir, karena aku sedang fokus pada perusahaan.”

“Apa maksudmu berkata begitu Arka? Kamu tidak bisa menolak," tiba-tiba sang ayah muncul didekatnya.

“Bukankah Arka juga sudah pernah bilang bahwa Arka minta waktu untuk berpikir?”

“Ya sudah, tidak usah ribut masalah ini dulu. Arka benar, biarkan dia berpikir, apalagi dia sedang belajar mengendalikan usaha orang tua, ya kan mas?” kata pak Daryono nimbrung. Rupanya orang tua Rosa bisa berpikir lebih jernih.

“Tidak bisa begitu, ini sudah diputuskan, mau tidak mau Arka harus menjalaninya.”

Dan Rosa tampak tersenyum senang.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

NAMAKU TETAP SENJA 07

  NAMAKU TETAP SENJA  07 (Tien Kumalasari)   Mbok Mangun sudah duduk di kursi makan, menunggu Rimba segera menyusul. Tapi Rimba tak kunjung ...