Friday, August 7, 2026

AKU ANAK SIAPA 06

 AKU ANAK SIAPA … 06

(Tien Kumalasari)

 

Satria sudah berhenti menangis. Senja sudah membersihkan lukanya, dan menutupinya dengan plester.

“Lain kali Satria tidak boleh lari-lari ya, apalagi di jalanan,” kata Arka.

“Iya.”

“Masih sakit?”

Satria menggeleng, membuat Arka dan Senja merasa lega.

“Jadi beli baju untuk Bibik?” tanya Arka, yang dijawab Senja dengan menggeleng. 

Setelah anaknya jatuh, dia hanya ingin segera pulang saja. Ia masih berdebar-debar tadi, khawatir anaknya kenapa-kenapa.

“Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Hei, kamu melihat apa?”

“Mana pak satpam yang tadi?”

“Sudah pergi, bukan salah dia, salah Satria yang menabraknya tadi.”

“Bukan untuk menyalahkan. Tadi seperti ada yang membonceng di belakangnya.”

“Memangnya kenapa? Mungkin istrinya. Mengapa kamu memikirkan masalah dia memboncengkan siapa.”

“Sepertinya aku melihat non Rosa.”

“Rosa? Memangnya siapa pak satpam tua itu? Apa dia kerabat Rosa? Aku tidak mengerti. Pasti kamu salah lihat,” kata Arka sambil menjalankan mobilnya.

“Mungkin juga. Tapi mirip sekali non Rosa. Hanya penampilannya agak lain.”

“Apa kamu lupa, Rosa ada di dalam penjara?”

“Sudah bertahun-tahun, mungkin dia sudah pulang. Tapi mengapa pakaiannya seperti itu? Dia tidak pulang ke rumah pak Daryono?"

“Rosa bukan putri pak Daryono.”

“Iya, aku tahu. Lalu … sekarang dia ada di mana? Pasti sudah keluar dari penjara. Atau … kemudian ikut pak satpam tadi? Atau … jangan-jangan pak satpam itu ayahnya.”

“Mungkin, tapi mengapa kamu memikirkannya?”

“Nggak apa-apa, entahlah, tiba-tiba kepikiran saja, gara-gara perempuan yang aku lihat tadi.”

“Kamu masih dihantui kelakuan Rosa kepadamu?”

“Terkadang masih mengingatnya, tapi sudahlah. Allah sudah memberi aku dan orang tuaku kehidupan yang lebih baik, aku harus bersyukur. Semoga akan selamanya begitu.”

“Aku kan sudah berjanji, akan membuat kamu bahagia. Selamanya, dan aku tak akan mengingkarinya.”

“Terima kasih Mas, kamu memang malaikat penolongku, dan pelindungku.”

“Ngomong-ngomong, Satria sudah besar, apa kamu tidak ingin Satria punya adik?”

“Apa? Mengapa pembicaraan beralih ke arah situ?”

“Memangnya tidak boleh?”

“Ini di jalan, lagian ada Satria, nanti Satria mendengarnya.”

“Aku lihat tuh, Satria sudah tidur dari tadi, mana mungkin dia mendegarnya?”

Senja tertawa.

“Sebenarnya anak itu lelah bermain bersama om Rimba tadi. Makanya dia cepat sekali tertidur.”

“Baiklah, kalau tidak boleh membicarakan hal itu di jalan, nanti di rumah ya.”

“Ihh, dasar tak tahu malu.”

Arka terkekeh. Walau sudah menjadi istrinya bertahun-tahun, Senja masih saja bersikap malu-malu, walau akhirnya mau.

Di sepanjang jalan Arka tersenyum-senyum sendiri. Bahagia ini tak akan berlalu, selamanya akan begini.

" Semoga," bisiknya dalam hati.

***

“Tadi kamu dari mana saja?” tanya pak Gatot ketika sedang santai.

“Hanya jalan-jalan, nggak enak di rumah saja, sendirian.”

“Apa kamu tidak punya rencana tentang sesuatu? Mencari pekerjaan, misalnya?”

“Mencari pekerjaan. Iya juga, saya kan tidak selamanya harus merepotkan pak Gatot. Tapi bekerja apa? Aku sudah cukup tua untuk mencari pekerjaan.”

“Kamu dulu sekolah sampai apa? SMA?”

“Tidak. Saya lupa. Mungkin SMA, tapi tidak sampai tamat, orang tua saya miskin,” katanya sekenanya.

“Kamu tidak mau mengatakan kehidupan kamu sebenarnya bagaimana?”

“Apa yang bisa dikatakan tentang orang yang terlahir dari keluarga miskin seperti saya?”

“Apa kedua orang tuamu sudah tidak ada?”

“Tidak ada. Saya hidup terlunta-lunta dijalanan sampai bertemu Bapak.”

Pak Gatot terdiam. Ia juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia menaruh belas kasihan kepada Rosa yang hidup terlunta-lunta. Apa karena ia hidup sendirian selamanya? Apa dia tertarik kepada Rosa? Tidak. Dia merasa sudah terlalu tua untuk punya istri. Dia tak pernah bermaksud punya istri lagi setelah istrinya meninggal saat pernikahan belum berlangsung lama.

Tiba-tiba wajah pak Gatot berubah sendu ketika mengingat hidupnya sendiri. Walaupun dia bisa bekeja, tapi dia juga bisa dikatakan terlunta-lunta, tanpa teman, tanpa kawan. Oh ya, kesendirian dan kesepian itulah yang kemudian membuat pak Gatot merasa iba ketika melihat Rosa dikeroyok banyak orang hanya karena mencuri sepotong roti.

“Rosa, kalau kamu tidak ingin bekerja, juga tidak apa-apa. Gajiku masih cukup untuk menghidupi kita berdua.”

“Saya juga merasa tidak enak selalu merepotkan Bapak. Saya ingin bekerja, tapi bekerja apa?”

“Kamu masih bisa dibilang muda. Umurku sudah duapuluhan tahun di atas kamu, kira-kira, tapi masih bisa bekerja. Mengapa kamu merasa tua? Tapi kalau kamu tidak ingin bekerja, diamlah di rumah, jadilah anakku.”

Rosa menatap wajah pak Gatot yang memang sudah tampak tua. Walau begitu dia masih bekerja.

“Sangat menyenangkan mendengar Bapak mau menjadikan saya anak Bapak.”

“Syukurlah kalau kamu suka.”

Rosa terdiam, ia ingin melakukan banyak hal, tapi dia tak punya apa-apa.  Ketika polisi membawanya pergi, ia memiliki sebentuk cincin, tapi cincin itu sudah dijualnya, untuk beberapa kebutuhan saat di penjara. Itupun tidak seberapa, karena mungkin saja petugas yang menolongnya tidak memberikan semua uang hasil penjualan cincin itu. Saat itu ia hanya pasrah. Tapi masih ada rasa sakit hati yang membuatnya tak bisa melupakannya. Kebenciannya kepada Senja, anak tukang beras yang miskin dan berhasil merebut semua yang menjadi mimpi-mimpinya.

“Apa yang kamu pikirkan? Kalau kamu ingin bekerja, aku akan mencarikannya. Di sekitar aku bekerja banyak toko-toko, mungkin ada yang menerima kamu bekerja di salah satunya. Bersih-bersih misalnya. Atau membantu jadi pelayan ….”

Hati Rosa merasa teriris. Dia yang pernah sekolah di luar negri, ke mana-mana naik mobil, makan enak dan pakaian bagus, lalu menjadi pelayan? Tukang bersih-bersih?

“Tidak suka?”

Rosa masih diam. Ia sedang menimbang-nimbang. Kalau dia tidak bekerja, ia tak akan pernah memiliki uang, karena pak Gatot pasti hanya memberi uang untuk makan, dan pasti dia sungkan kalau meminta. Alasan meminta untuk apa? Nanti terdengar aneh, dan pak Gatot lama-lama akan mencurigainya kalau dia melakukan sesuatu.

“Kalau tidak suka ya tidak apa-apa, tinggal di rumah saja.”

Walau mengatakan begitu, pak Gatot merasa bahwa Rosa ini agak malas. Katanya tidak bisa memasak tapi tidak berusaha untuk bisa. Bersih-bersih rumah juga ala kadarnya. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan jalan-jalan yang entah apa tujuannya. Ditawarin pekerjaan, tidak merespon.

“Ah ya, pemilik toko di mana bapak bekerja, membutuhkan pengasuh bayi. Kamu bisa? Gajinya lumayan, kata pengasuh yang terdahulu. Dia pamit karena menikah di kampung.”

Pengasuh bayi, ini agak lumayan. Dia bukan pelayan yang harus beropakaian lusuh. Gajinya lumayan. Baiklah, mengapa tidak?

“Baiklah Pak, saya mau.”

“Kalau begitu besok aku bilang kepada majikan, bahwa kamu mau bekerja sebagai pengasuh putranya. Nanti aku katakan bahwa kamu adalah anakku.”

Rosa mengangguk. Semalaman dia berpikir, apa yang dilakukan seorang pengasuh bayi, bukankah dia tak pernah melakukannya? Tak apa, dia bisa belajar dari yang lain. Pastinya di sana ada pembantu yang bisa ditanya-tanya. Rosa nekat, yang penting bukan pelayan dan tukang bersih-bersih. Bukankah ia butuh uang?

***

Besok lagi ya.

Thursday, August 6, 2026

AKU ANAK SIAPA 05

 AKU ANAK SIAPA  05

(Tien Kumalasari)

 

Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang yang dipanggilnya tak terlihat batang hidungnya. Bibik kembali mendekati nyonya majikannya.

“Kok hilang, … Nyonya.”

“Apa sebenarnya yang kamu lihat?”

“Perempuan itu, yang lewat tadi, Nyonya tidak melihatnya?”

“Aku hanya melihat orang melintas, apa maksudmu?”

“Dia, wajah non Rosa itu, Nyonya.”

“Katamu pakaiannya kumuh dan lusuh, tadi pakaiannya biasa saja. Pakaian bersih, biarpun bukan pakaian mahal.”

“Benar, pakaiannya tidak selusuh ketika saya melihatnya, tapi wajahnya sangat jelas. Lebih jelas bahwa dia benar, non Rosa.”

“Mencari siapa  Bu?” tanya pemilik warung yang heran melihat sikap keduanya.

“Ah, tidak … saya hanya merasa melihat orang yang kami kenal.”

“Tidak ketemu?”

“Tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi.”

“Barangkali belok ke tikungan di depan itu.”

“Saya sudah ke sana, tidak lagi melihat bayangannya.”

“Sayang sekali. Apa dia orang yang pernah berbuat jahat pada Ibu?”

“Tidak, bukan begitu. Hanya merasa kenal saja,” kata bu Daryono yang kemudian menggamit lengan Bibik.

“Ayo kita pulang, kamu bawa buah-buah itu ke mobil."

Bibik mengangguk. Bu Daryono membayar semua belanjaan dan jus yang mereka minum, kemudian mengikuti Bibik yang sudah berjalan menuju mobil.

Bibik mengetuk pintu mobil, rupanya pak sopir tertidur. Kemudian ia bergegas membuka pintu dan mempersilakan nyonya majikannya masuk.

“Pak sopir tertidur sih, tidak melihat non Rosa lewat ya?” tanya Bibik ketika mobil sudah berjalan.

“Benarkah? Ya ampun, saya minta maaf. Saya ketiduran, jadi tidak melihat apapun. Mengapa Bibik tidak memanggilnya?”

“Saya sudah mengejarnya, tapi dia sudah pergi entah ke mana, padahal baru saja saya melihatnya, langsung mengejarnya.”

“Didaerah setelah tikungan itu banyak gang masuk yang berkelok-kelok, pasti dia masuk ke sana, lalu berbelok entah ke mana. Pantas Bibik tidak melihatnya.”

“Tapi ya belum tentu non Rosa, mungkin wajahnya mirip, tapi saya ingin melihat dari dekat, apa saya salah telah mengira dia non Rosa.”

“Apa mungkin dia tinggal di sekitar tempat ini ya Bik?”

“Entahlah Nyonya. Mungkin iya.”

“Sayang sekali kita tidak bisa menemuinya.”

“Besok-besok kalau senggang, saya akan berjalan-jalan lagi kemari, dan memasuki tikungan itu, memasuki gang-gang yang mungkin bisa menemukan non Rosa atau orang yang mirip non Rosa itu.”

“Kalau kamu pergi, aku ikut ya Bik.”

“Saya hanya akan berjalan memasuki gang setelah tikungan itu, masa Nyonya mau ikut ?”

“Tidak apa-apa.”

“Nyonya sangat ingin ketemu non Rosa ya?”

“Hanya ingin tahu keadaannya. Kalau dia tak mau pulang, aku ingin tahu dia tinggal di mana.”

***

Tapi ketika hal itu diceritakan kepada suaminya, sang suami justru menegur istrinya.

“Mengapa Mama susah-susah mencarinya? Kalau dia tidak datang kemari, berarti dia tidak ingin kembali.”

“Iya sih, tapi aku ingin tahu keadaannya.”

“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kalau memang dia mau kembali, dia pasti datang.”

“Kasihan, kata Bibik dia seperti gelandangan. Kalau dia tidak mau kembali kemari, setidaknya aku ingin memberinya modal untuk dia berusaha. Mungkin berjualan atau apa, agar hidupnya berlanjut lebih baik.”

“Niat itu sangat baik, tapi Mama tidak usah terbebani dengan keinginan itu. Nanti Mama yang akan menjadi tertekan karena kepikiran terus.”

Bu Daryono mengangguk. Apa yang dikatakan suaminya benar. Kalau Rosa ditakdirkan mendapat kehidupan yang lebih baik, pasti jalan itu ada.

“Mama doakan saja agar Rosa baik-baik saja.”

“Apa Papa keberatan kalau aku membantunya?”

“Ya tidak. Lakukan saja. Kita itu selama ini kan sudah banyak membantu siapapun yang memerlukannya, kalau harus membantu Rosa, mengapa aku keberatan? Tapi yang jelas Mama harus melepaskan beban keinginan itu. Kalau Rosa bernasib baik, pasti dia akan bertemu Mama dan mendapat bantuan.”

“Bagaimana kalau dia kembali menjadi keluarga kita?”

“Kalau itu kita harus memikirkannya dua kali. Kita sudah semakin tua, apakah dia akan menjadi beban, atau malah meringankan beban? Aku kok merasa tidak sepenuhnya yakin kalau dia akan menjadi baik. Dari apa yang pernah dia lakukan, sepertinya ada bibit kurang baik yang dia bawa entah dari mana. Tapi kalau hanya membantu, okelah, tidak apa-apa.”

“Intinya, Papa tidak ingin dia kembali.”

“Begitulah, kira-kira.”

***

Sore hari itu Arka menjemput anak dan istrinya di rumah mertuanya. Banyak cerita Satria, yang menghabiskan banyak coklat dari dalam toples dagangan neneknya.

“Satria, itu kan dagangan nenek. Kamu harus membayarnya. Lihat, toplesnya kosong tuh,” tegur sang ayah.

“Itu tidak Satria makan semuanya. Kata ibu nanti Satria batuk.”

“Lha itu, habis, toplesnya kosong.”

“Itu dibungkus, dibawa pulang, buat besok-besok,” bantah Satria sambil menunjukkan bungkusan yang dibawakan neneknya, sisa coklat dalam toples.

“Satria harus minta uang pada ibu, dibayarkan ke nenek, karena itu coklat dagangan.”

“Bu, bayar dong coklatnya, nanti dimarahi bapak,” rengek Satria.

Senja tersenyum dan mengangguk.

“Jangan khawatir, nanti Ibu bayar.”

“Tidak usah, biar saja itu untuk cucu nenek,” sergah mbok Mangun.

Walau begitu, Arka menyelipkan uang di kotak uang mertuanya.

“Biarkan Mbok, agar tidak menjadi kebiasaan untuk Satria.”

***

“Mas, nanti pulangnya mampir ke toko pakaian ya,” kata Senja dalam perjalanan pulang.

“Kamu mau beli pakaian ke butik? Apa tidak lebih baik kita pulang saja dulu, lalu nanti kita jalan-jalan.”

“Bukan untuk aku. Untuk bibik. Sudah lama kita tidak beli untuk bibik.”

“Baiklah, ke mana kita belinya?”

“Toko sembarang saja, kan untuk bibik di rumah.”

“Oke bos.”

Senja tertawa, lalu mencubit lengan suaminya.

“Bosnya tuh mas Arka, bukan aku.”

“Ya tidak, di rumah kan semuanya kamu yang atur, jadi kamulah bosnya.”

“Di situ Mas, depan itu ada toko pakaian.”

Arka menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian seperti yang ditunjuk Senja.

Satria melompat turun dan berlari mendahului ke arah toko.

“Satria, hati-hati,” teriak Senja.

Tapi Satria memang kurang hati-hati. Ia menabrak pak satpam yang memegangi motornya ketika bersiap pulang.

Tak bisa tidak, Satria terjatuh.

Pak Satpam menstandartkan motornya, kemudian mengangkat tubuh Satria yang menangis.

“Ya ampun, mengapa lari-lari Nak?”

Arka yang memburu segera mengambil alih Arka dari gendongan pak satpam.

“Maaf Pak, anak Bapak yang menabrak saya.”

“Tidak apa-apa, saya tahu anak saya kurang hati-hati.”

“Kembali ke mobil dulu Mas, lutut Satria berdarah. Ada obat di dalam mobil."

“Baiklah,” kata Arka yang kemudian membawa anaknya kembali ke mobil.

Pak Satpam geleng-geleng kepala, menyesal karena membuat seorang anak terjatuh. Karena orang tuanya sudah menangani, maka ia kemudian mengambil motornya dan bersiap pulang.

“Pak Gatot!”

Pak Gatot menoleh, ia melihat Rosa mendekat.

“Kamu dari mana?”

“Dari jalan-jalan saja. Kebetulan lewat sini, dan melihat pak Gatot mau pulang.”

“Iya, mau pulang. Ayuk kalau begitu, bonceng bapak saja.”

“Mengapa baju Bapak berdarah? Tuh … baju bagian kiri.”

“Oh iya, tadi ada anak kecil lari-lari, mau masuk ke toko tapi menabrak aku. Lututnya luka berdarah, aku menggendongnya. Nggak apa-apa, nanti sampai rumah dicuci."

“Lukanya parah?”

"Tidak, hanya lututnya berdarah, sudah digendong orang tuanya. Tuh, mobilnya masih ada. Rupanya tadi mau belanja ke toko.”

Rosa menatap mobil yang ditunjuk pak Gatot.

“Ya ampun, ketemu mereka lagi?” kata batin Rosa. Ia segera naik ke boncengan pak Gatot, khawatir Arka atau Senja mengenalinya.

"Sial benar aku hari ini. Tadi siang hampir ketahuan bibik, ini malah Arka dan istrinya."

***

Besok lagi ya

 

Wednesday, August 5, 2026

AKU ANAK SIAPA 04

 AKU ANAK SIAPA  04

(Tien Kumalasari)

 

Rosa menatapnya terus, dengan hati penuh dendam dan amarah yang tiba-tiba membakar seluruh aliran darahnya. Nyaris mendidih.

“Gara-gara kamu aku menjadi seperti ini. Kamu merebut bahagiaku, merebut mimpi-mimpiku, dan dengar Senja, perempuan udik yang sok jadi orang kaya, aku tak akan pernah membiarkan kamu hidup dalam ketenteraman, aku akan membalasnya, kamu harus merasakan sakit yang sama seperti yang pernah aku rasakan. Bahkan lebih.”

Wanita itu Senja, sedang mengantarkan anaknya membeli buku pelajaran sekolahnya. Tak lama kemudian seseorang lagi turun dari dalam mobil. Dia adalah Arka. Mata Rosa berkilat.

Ya, tak lama setelah lamaran yang mengejutkannya, Arka langsung minta agar segera dinikahkan. Mana bisa Senja menolak … sementara hatinya juga sudah terpaut pada direktur muda itu.

Percintaan yang kelihatannya sangat singkat untuk kemudian melangkah ke pernikahan, Rosa sudah mengetahui gelagatnya sejak lama. Karena itulah ia berusaha menghancurkan kehidupan Senja. Tapi nasib berkata lain, dialah yang akhirnya mendekam dalam penjara selama bertahun-tahun.

“Jadi akhirnya mereka menikah, dan punya anak?”

"Perempuan laknat itu tidak bisa dibiarkan hidup bahagia, tunggu saja aku akan melampiaskan pembalasanku,” geramnya sambil terus mengawasi mereka sebelum ketiganya masuk ke dalam toko.

Rosa menyeringai, ia harus segera pergi dari sana sebelum mereka mengetahui keberadaannya.

***

“Sudahkah beli bukunya?” tanya Arka kepada Satria, anaknya.

“Sebentar Pak, aku belum menemukan gambar Spiderman yang besar.”

“Kamu sudah beli banyak buku, dan ingat, tetap tidak boleh membaca buku-buku itu sebelum selesai belajar.”

“Iya, Satria janji.”

“Di sana ada, ayo kita beli satu lagi. Bapak harus segera kembali ke kantor," kata Senja.

Mereka sudah selesai memenuhi permintaan Satria, lalu Arka mengajaknya keluar.

“Kamu jadi mau ke rumah Simbok?”

“Iya, sudah lama kita tidak ke sana. Mumpung Satria pulang pagi.”

“Baiklah, aku antar ke sana, nanti sorenya baru aku jemput ya.”

“Horee, ke rumah nenek,” sorak Satria ketika mendengar sang ayah mau mengantar mereka ke rumah mbok Mangun, neneknya.

***

Salah satu dari sederet rumah di perumahan itu, tampak tumpukan beras dan sembako di depan, yang dibangun menyerupai sebuah toko kecil. Setelah Senja menikah, Arka tidak mengijinkan mertuanya menggendong beras dan berjalan mengitari setiap kampung untuk menjajakan berasnya. Arka membuat rumah itu, rumah yang dulu hampir menjadi milik Tantrina, menjadi sebuah bangunan dengan tatanan seperti sebuah toko. Mbok Mangun menjual beras dan sembako yang ditunggui di rumah itu. Ia tak perlu pergi ke mana-mana, karena di perumahan baru itu hanya toko sembako mbok Mangun yang ada.

Rimba sudah hampir lulus SMA. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang ganteng dan menawan. Ia membantu melayani pembeli setiap pulang dari sekolah, sehingga meringankan tugas simboknya.

Di depan rumah itu terbentang tulisan besar, ‘WARUNG SEMBAKO MBOK MANGUN’’. Mbok Mangun tidak malu orang-orang menyebutnya simbok, karena dia sejak awal dipanggil simbok. Bahkan anak-anaknya masih tetap memanggil simbok. Tak ada yang berubah, kecuali kehidupannya yang membaik. Mbok Mangun tetap baik kepada sesama, selalu ramah melayani pembeli, dan karenanya ia disukai para tetangganya.

Ketika sebuah mobil berhenti di depan warungnya, mbok Mangun bergegas keluar. Ia sudah hafal mobil menantunya. Sangat gembira ketika Satria turun lebih dulu lalu memeluk neneknya.

“Nenek … “

“Satria, cucu kesayangan nenek. Nenek kangen sekali.”

“Gendong,” rengek Satria.

“Eeit, Satria tidak boleh lagi minta gendong nenek,” teriak sang ayah yang turun setelah Senja.

“Iya, Satria hanya bercanda kok,” kata Satria yang membuat neneknya terkekeh.

“Dulu waktu kamu masih kecil, nenek suka gendong kamu ke mana-mana, tapi sekarang kamu sudah besar, sudah kelas satu, mana kuat nenek gendong kamu.”

“Aku mau coklat Nek,” kata Satria yang langsung berlari ke dalam. Ia tahu di mana ada toples berisi coklat dagangan neneknya.

“Ayo masuklah,” kata mbok Mangun mempersilakan anak dan menantunya.

“Terima kasih Mbok, tapi saya harus kembali ke kantor, nanti sore sepulang kantor baru saya jemput Satria dan ibunya.”

“Oh, begitu. Baiklah. Hati-hati di jalan.”

Arka mencium tangan ibu mertuanya, kemudian berlalu.

Senja masuk ke dalam, dan melihat Satria sudah mengulum coklat yang baru saja diambilnya.

“Satria, mengapa mengambil coklat tidak bilang dulu sama nenek?”

“Iya, Satria lupa. Nenek, Satria minta coklatnya ya,” kata Satria dengan mulut penuh coklat.

“Iya sayang, ambil saja sesuka Satria.”

“Tidak boleh banyak-banyak, nanti habis dagangan nenek,” kata Senja.

“Tidak apa-apa, nanti nenek beli lagi. Ayo masuklah, nanti makan siang di sini kan, Simbok masak sayur lodeh dan bandeng presto goreng.”

“Wah, enak sekali.”

“Pesanan Rimba sebelum berangkat ke sekolah tadi.”

“Satria juga suka bandeng presto,” teriak Satria.

“Bagus sekali Satria, nanti makan bareng-bareng ya.”

“Nanti saja menunggu Rimba pulang Mbok, kami tadi sudah makan bakso sebelum kemari.”

“Ya sudah, ayo duduk saja di depan, takutnya ada pembeli lalu Simbok tidak tahu."

***

Bu Daryono sedang duduk di sebuah warung buah. Bibik memilih buah kesukaan tuan dan nyonya majikannya, sementara bu Daryono menikmati jus alpukat yang dijual di situ. Udara sangat panas, dan bu Daryono agak kecapekan ketika mengikuti Bibik belanja.

“Bik, kalau sudah selesai, duduk dulu di sini. Kamu juga pasti haus.”

“Iya Nyonya, gampang, nanti saya pesan sendiri.”

“Ini sudah aku pesankan. Jus alpukat, kamu suka kan?”

“Oh, baiklah Nyonya, terima kasih.”

Bibik masih terus memilih, lalu penjual segera menimbang dan memasukkannya ke dalam plastik keresek yang sudah disediakan.

“Bibik duduk dulu. Panas sekali, pasti Bibik juga haus.”

“Benar Nyonya. Apakah Nyonya tidak capek? Tadi kan belanja banyak sekali.”

“Tidak, kita kan bawa mobil dan supir, jadi tidak membawa belanjaan yang berat-berat ke mana-mana.”

“Benar Nyonya, untunglah pak sopir membantu memasukkannya ke dalam mobil. Saya khawatir Nyonya capek, karena kita belanja banyak.”

“Belanja bulanan pastinya banyak Bik. Ayo cepat diminum jusnya. Kamu duduk di sini, jangan jauh-jauh dari aku.”

Bibik mendekat, dan terbungkuk-bungkuk ketika harus duduk di depan nyonya majikan.

“Nyonya setiap saya belanja selalu ikut, karena berharap ketemu perempuan yang mirip non Rosa itu kan?”

“Iya Bik, bukankah kamu melihatnya di daerah pasar sini?”

“Iya Nyonya, agak di sebelah sana. Tapi saya kira bukan. Saya hanya berkhayal.”

“Siapa tahu itu benar.”

“Apa yang akan Nyonya lakukan kalau pada suatu waktu ketemu non Rosa? Mengajaknya pulang?”

“Entahlah, aku sebenarnya masih bingung. Kalau benar bertemu dia, aku lihat dulu sikapnya bagaimana, apakah dia berharap kembali, atau pergi. Barangkali juga aku harus bertanya kepada Tuan, apakah dia mau menerima kembali.”

Bibik menyedot lagi jusnya yang tinggal separo, ketika tiba-tiba ia melihat seseorang, lalu ia berlari keluar.

“Kalau itu benar, pakaiannya sudah berubah bersih. Non Rosa!”

Bu Daryono meletakkan gelasnya, ikut memburu keluar.

“Mana Bik?”

“Tadi lewat sini, kok tidak ada?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, August 4, 2026

AKU ANAK SIAPA 03

 AKU ANAK SIAPA  03

(Tien Kumalasari)

 

Rosa berbicara banyak dengan petugas panti itu, tapi sang petugas lebih sering geleng-geleng kepala.

“Di sekitar tahun yang Anda katakan, tidak ada bayi bernama Rosana yang diadopsi oleh seseorang.”

Rosa terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Bulan … Pebruari, Bu. Kira-kira.”

“Sebenarnya saya belum ada di sini ketika tahun-tahun itu. Dan Bu Kartika, kepala yayasan ini sudah meninggal.”

“Bukankah ada data tertulis di sini?”

“Soalnya sudah terlalu lama.”

“Apakah semua arsip lama selalu dibuang?”

“Tidak sih, tapi harus mencari dengan teliti.”

“Bolehkah saya minta tolong Ibu mencarikannya? Saya ingin sekali tahu, siapa orang tua saya,” sekarang suara Rosa terdengar sangat memelas.

Petugas itu menatapnya iba. Rosa sudah mengatakan tahunnya, persis tanggal dan bulan dan tahun di mana disebutkan di akte pengangkatan anak. Pastinya dari situ data tentang dirinya bisa dilacak.

“Baiklah, saya akan mencoba mencarinya di gudang,” kata petugas itu yang kemudian mengajak beberapa petugas lainnya untuk membantu.

Rosa duduk menunggu dengan gelisah. Perut yang melilit karena belum makan apapun sejak pagi tak dirasakannya. Ia hanya punya uang yang  diberikan pak Gatot, yang hanya cukup dipergunakan untuk ongkos ojol pulang pergi.

Tapi ia tak mempedulikannya. Ia harus tahu dari mana asal usulnya. Pasti tidak jatuh dari langit, bukan?

Lama sekali mereka mencari, hampir tiga jam kemudian, ibu petugas itu keluar dengan membawa sebuah map. Rosa memajukan duduknya agar bisa melihat jelas apa yang akan ditunjukkan wanita itu.

“Apakah ketemu?”

“Di hari dan tanggal dan tahun yang Anda sebutkan, ada seorang bapak bernama Daryono.”

“Ya, itu benar. Dia mengadopsi bayi dari sini kan?”

“Bayi itu baru saja lahir, masih sangat kecil, perempuan, tapi tak bernama, atau memang belum sempat diberi nama.”

“Oh, begitu ya?” Rosa berpikir, nama Rosana itu adalah pemberian ayah angkatnya.

“Dia bayi yang ditinggalkan orang tuanya begitu saja di depan panti, saat malam hari.”

“Apa?”

“Sampai kemudian bayi itu diadopsi, tak ada yang tahu bayi itu anak siapa.”

Tubuh Rosa serasa bagai disiram seember air es. Ia nyaris menggigil.

“Aku anak yang tidak dikehendaki lahir ke dunia ini. Orang tuaku membuangku dengan semena-mena," pikirnya.

Air mata Rosa menetes perlahan.

“Apakah bayi itu Anda?”

“Pastinya saya,” bisiknya lirih.

“Maaf saya tidak bisa membantu lagi. Hanya itu data yang kami temukan.”

Rosa mengangguk lemah, kemudian berdiri. Ia mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan dengan lunglai, keluar dari halaman panti. Air mata mengalir deras di sepanjang pipinya, mengiringi langkahnya. Ia tak peduli ketika banyak orang memperhatikannya. Ia terus melangkah dan ia juga terus menangis.

“Harapanku untuk bertemu orang tuaku kandas. Biar dia miskin, biar dia hina, aku seharusnya bisa hidup bersamanya, tidak bersama pak Gatot yang bukan siapa-siapa.”

Di sebuah jalanan sepi, Rosa melihat sebuah pohon besar yang akarnya menonjol. Kemudian ia duduk melepaskan kepenatan yang merayapi kakinya. Ia belum pernah berjalan kaki sejauh ini. Dulu ke mana-mana ia selalu naik mobil, dan baru sekarang ia menjalaninya berjalan kaki. Ia tak berniat memanggil ojol. Ia hanya ingin terus berjalan, dan sekarang rasa penat mengganggu langkahnya yang semakin pelan. Ia menahan keluarnya air matanya, tapi ia tak mampu menahannya. Ia merasa seperti sebuah layang-layang yang putus talinya, entah kemana dia akan jatuh. Mungkin di antara ranting-ranting pohon, mungkin di sebuah lapangan, atau di sebuah perkampungan kemudian diperebutkan oleh anak-anak kecil, lalu layang itu robek, serpihannya berhamburan ke mana-mana.

Seperti hatinya yang berserpih-serpih, melayang tanpa pegangan.

Ia duduk sambil merangkul kedua lututnya, menyembunyikan wajah sembabnya.

***

Hari itu bu Daryono membantu Bibik memasak di dapur. Tadi di pasar, ia ingin melihat perempuan yang disebut Bibik seperti gelandangan, tapi tidak ketemu. Bu Daryono tampak kecewa. Ia diam saja sambil memetik sayuran yang disiapkan Bibik.

“Mungkin saya salah Nyonya, dia itu benar-benar gelandangan.”

“Katamu wajahnya mirip Rosa?”

“Iya, kalau wajah itu kan bisa saja mirip Nyonya. Masa non Rosa jadi gelandangan.”

“Dia keluar dari penjara, apa dia punya uang? Dia makan apa, dari mana dapat makanan kalau tak punya uang,” kata bu Daryono lirih, yang tampaknya masih sangat memikirkan Rosa.

“Non Rosa bukan anak kecil, pasti dia bisa berusaha untuk mempertahankan hidupnya.”

Bu Daryono menghela napas panjang, terdengar berat.

“Semoga.”

Lalu semuanya terasa sunyi. Hanya suara pisau merajang sayur dan memotong daging, lalu gemercik air keran pencuci alat-alat dapur.

Dulu bu Daryono sangat kesal ketika mengetahui bahwa Rosa terkadang melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Mengejar laki-laki dengan tak tahu malu, melakukan kebohongan, dan yang terakhir melakukan kejahatan sampai berurusan dengan polisi, dan berakhir di balik jeruji besi.

Tapi membayangkan kesengsaraannya setelah keluar dari penjara, hati bu Daryono serasa ikut tersakiti. Ternyata sebuah ikatan batin terjalin dengan sendirinya. Ada rasa kehilangan yang tak disadarinya.

“Bik, besok-besok kalau ke pasar lagi aku ikut ya.”

“Baik Nyonya.”

***

Ketika pak Gatot sampai di rumah, ia tak mendapati Rosa. Ia mencari dan memanggil-manggil ke dalam kamarnya, tapi ia tak menemukannya.

“Ke mana dia? Apa beli makanan di depan situ? Kok tadi aku nggak melihatnya?” gumamnya sendirian.

“Mungkin jenuh di rumah sendirian, lalu jalan-jalan. Aku bingung menghadapi anak itu. Kelihatannya dia sangat tertutup dan tak mau mengatakan di mana asal-usulnya. Tapi biarlah, aku tak akan memaksa. Aku hanya ingin menolongnya. Entah mengapa, rasanya kasihan sekali melihatnya seperti hidup dalam kesengsaraan.”

Pak Gatot kemudian mandi, lalu menyiapkan minuman hangat. Rosa belum kelihatan batang hidungnya. Pak Gatot mulai gelisah. Hal yang tak seharusnya dilakukan. Bukankah Rosa bukan siapa-siapa baginya? Apa ya pantas kemudian dia merasa kehilangan?

“Hanya kasihan saja, semoga dia tak apa-apa.”

Pak Gatot keluar menuju jalan raya, dan ketika itulah dia melihat bayangan Rosa. Berjalan lunglai, seperti tak bertenaga.

Pak Gatot mendekatinya, lalu membimbingnya ke rumah.

“Kamu kenapa? Kok lemas begini? Kamu belum makan?”

“Belum," katanya lemah.

“Mengapa belum makan? Kamu tak membeli makanan dengan uang tadi?”

“Uangnya hilang,” tentu saja Rosa berbohong.

“Hilang?”

Rosa hanya mengangguk. Sebenarnya uangnya masih sisa, hanya saja dia tak mempergunakannya untuk naik ojol atau angkutan umum. Bukan untuk membeli makanan, tapi entah mengapa Rosa ingin menyimpannya.

“Jadi karena uangnya hilang maka kamu tidak membeli makan? Duduk di sini dulu, biar aku belikan di depan,” tanpa menunggu jawaban, pak Gatot bergegas keluar rumah untuk membeli makan.

Rosa duduk dengan lesu. Bukan karena lapar, tapi karena kehilangan harapan tentang siapa sebenarnya orang tuanya.

Ia melahap makanannya ketika pak Gatot datang dengan membawa beberapa bungkus makanan. Pak Gatot ikut makan, dalam diam, karena Rosa tak bicara apapun.

“Kamu menangis seharian?”

Rosa mengangguk.

“Karena uangnya hilang dan tidak bisa makan?”

Rosa kembali mengangguk.

“Ya ampun, nanti aku beri kamu dompet, biar kalau aku beri kamu uang, maka kamu bisa menyimpannya rapi, sehingga tidak mudah hilang."

Rosa diam. Usianya sudah hampir empatpuluh tahun, tapi pak Gatot memperlakukannya seperti anak kecil.

***

Pagi hari itu ia berjalan-jalan ke pasar. Ia tidak ingin membeli sesuatu. Ia hanya ingin melihat suasana dalam keadaan bukan seperti gembel. Pakaiannya bersih, walau sederhana. Ia hanya ingin berjalan-jalan.

Tiba-tiba ia melihat seseorang. Wanita cantik dengan kerudung merah muda, menggandeng seorang anak laki-laki kecil yang tampan, setelah turun dari dalam sebuah mobil.

“Itu kamu? Bahagia ya hidup kamu. Itu bahagia aku, kamu yang merebutnya,” desisnya geram.

***

Besok lagi ya.

 

Monday, August 3, 2026

AKU ANAK SIAPA 02

 AKU ANAK SIAPA  02

(Tien Kumalasari)

 

Beberapa hari Rosa tinggal di rumah pak Gatot, merasa lebih tenang atas kebaikan pak Gatot, yang entah mengapa tiba-tiba jatuh kasihan ketika melihat dirinya teraniaya.

Rosa tak ingin memikirkan masa lalunya yang gemerlap lalu berubah kelam. Karena salahnya sendiri. Cinta yang tak terjangkau membuat dirinya gelap mata.

“Yah, sudahlah. Aku tak ingin memikirkan apapun lagi. Aku hanya ingin mencari siapa orang tuaku.”

Pagi hari itu pak Gatot siap berangkat ke kantor.

“Rosa, kamu santai saja dulu di sini, kalau pikiran kamu sudah tenang, kamu baru memikirkan apa yang akan kamu lakukan. Pasti sedih kalau berada di rumah terus.”

“Iya, nanti saya pikirkan. Tapi maaf Pak, mestinya saya membantu menyiapkan makan, tapi saya tidak bisa memasak,” kata Rosa tersipu. 

Mana bisa memasak, dia hidup dimanja, dilayani, berjanji mau belajar masak saja masih nanti-nanti.

“Tidak apa-apa. Kamu bawa uang ini untuk membeli makan pagi dan siang nanti,” kata pak Gatot sambil memberikan sejumlah uang. 

Rosa menerimanya ragu, ada rasa sungkan karena merepotkan, tapi sebenarnya dia berharap tentang uang itu.

“Terima saja, di depan ada warung makan.”

“Bapak tidak makan dulu, saya belikan?”

“Tidak usah, saya biasa sarapan di kantor. Itu untuk kamu saja.”

Ketika pak Gatot berangkat, Rosa berpikir tentang keinginannya pergi ke panti asuhan, di mana dulu dia diadopsi oleh pak Daryono. Ia menimang-nimang uang yang baru saja diterimanya. Ia bisa makan belakangan. Uang itu akan dipergunakan untuk naik ojol  ke arah panti asuhan itu.

***

“Mengapa Mama melamun?” tanya pak Daryono pagi itu, sebelum berangkat ke kantor.

“Kalau tidak salah, Rosa bebas beberapa hari yang lalu.”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Mengapa dia tidak ke sini ya Pa?”

“Mama berharap dia kembali kemari?”

“Bagaimanapun dia berada di sini sudah puluhan tahun, dan menjadi anak angkat kita. Ikatan batin itu ada.”

“Apa yang dilakukan membuat malu keluarga kita. Aku sudah mengatakan bahwa dia bukan anak kita lagi.”

“Iya sih. Tapi ke mana ya anak itu sekarang? Ia pasti tak tahu ke mana harus pulang.”

“Biarkan saja ia melakukan apa yang akan dilakukannya. Kalau dia kembali dan masih melakukan hal yang memalukan, kita akan merasa terganggu.”

“Seandainya dia kembali kemari, apakah Papa akan mengusirnya?”

“Entahlah. Mungkin aku tega mengusir, mungkin juga tidak.”

“Ternyata Papa merasakan hal yang sama seperti yang mama rasakan.”

Pak Daryono menghela napas panjang. Betapapun marah dan kecewanya atas kelakuan Rosa, tapi ikatan batin itu sudah terjalin lama. Tak bisa dilupakan begitu saja. Hanya saja pak Daryono lebih tegar menghadapinya.

“Ya sudah Ma, tidak usah dipikirkan lagi. Dia bukan milik kita. Sekarang aku berangkat ke kantor ya.”

“Hati-hati Pa.”

Bu Daryono melepas kepergian suaminya dengan perasaan yang mengharu biru, gara-gara teringat kalau Rosa sudah harus keluar dari penjara. Entah ke mana anak itu sekarang. Tiba-tiba bu Daryono memikirkannya.

“Walau dia sering melakukan hal yang tidak terpuji, seperti tidak tahu malu ketika mengejar Arka, kemudian menaruh dendam kepada anak penjual beras itu, sehingga membuatnya hampir celaka, tapi dia sudah mendapatkan hukumannya. Semoga untuk hari-hari selanjutnya dia mendapatkan jalan yang baik dan bersih. Tapi ke mana dia berada sekarang?” gumam bu Daryono pelan.

“Nyonya, saya mau ke pasar sekarang,” tiba-tiba bibik membuyarkan lamunan bu Daryono.

“Oh, iya. Pergilah Bik.”

“Apakah Nyonya memikirkan non Rosa?”

“Iya Bik sedikit. Biar bagaimanapun bertahun-tahun dia bersama kita kan?"

"Ketika bibik ke pasar beberapa hari yang lalu, saya melihat perempuan dikeroyok orang banyak, gara-gara mencuri roti.”

“Kasihan, hanya mencuri roti, dikeroyok orang banyak? Perempuan pula. Pasti dia lapar.”

“Bibik kok agak heran, perempuan itu mirip non Rosa.”

“Apa? Mengapa kamu tidak menolongnya?”

“Saya tidak yakin kalau itu non Rosa. Perasaan bibik saja, wajahnya mirip. Tapi pasti bukan. Wajahnya kumuh, kotor, seperti gelandangan.”

“Dikeroyok lalu bagaimana? Dia pingsan?”

“Ada yang menolongnya, pakaian satpam. Dia tampaknya juga merasa kasihan pada perempuan itu. Penjual roti itu sudah dibayar oleh pak Satpam setelah bertanya harga rotinya.”

Bu Daryono diam-diam berpikir.

“Jangan-jangan itu memang Rosa. Tidak aneh kalau dia berwajah kotor kumuh seperti gelandangan. Dia tidak punya tempat tinggal, tidak punya sesuatu untuk dimakan, pasti dia juga lapar, sampai mencuri makanan,” kata batin bu Daryono.

“Tapi bibik kira pasti bukan, Nyonya. Hanya wajahnya yang mirip. Masa non Rosa seperti itu.”

“Di mana kamu melihatnya?”

“Di dekat pasar, saya sudah mau pulang. Saya hanya berhenti sebentar, lalu berjalan ke pinggir jalan, menunggu angkutan.”

“Ya sudah, berangkatlah belanja. Kalau nanti ketemu perempuan itu lagi, beri dia uang.”

“Baik Nyonya.”

Tapi apa yang dikatakan Bibik sangat membekas di hati bu Daryono. Jangan-jangan benar Rosa, pikirnya. Tiba-tiba bu Daryono berteriak.

“Bik, tunggu Bik.”

Bibik membalikkan tubuhnya, mendekati sang nyonya.

“Tunggu sebentar, aku ikut. Aku panggil taksi dulu.”

“Oh, baik Nyonya.”

***

Rosa sudah sampai di panti seperti yang dibaca di surat yang pernah ditunjukkan pak Daryono.

Ia ragu melangkah masuk. Tentu dia tidak datang sebagai anak angkat pak Daryono. Dia sudah diusir sebelum keluar dari penjara. Pakaiannya juga pakaian sederhana seperti dibelikan pak Gatot.

Ada orang yang duduk di depan panti itu, sambil membuka-buka sebuah berkas. Ia mendekat, sedikit ragu. Bukan takut, ada rasa sungkan karena terbawa di masa lalu. Kalau dia datang ke suatu tempat, pastilah dengan penampilan yang luar biasa. Baju bagus, sepatu bagus, rambut tergerai indah dan pastinya wangi. Sekarang, ia hanya memakai sendal murahan yang dibelikan pak Gatot, baju murahan yang jauh lebih murah dari baju hariannya kala itu.

Rosa menghela napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya. Ia harus menguatkan hatinya. Masa kejayaan itu sudah lewat. Yang mewah-mewah sudah berlalu. Ia bahkan datang dengan mengendarai ojol. Barangkali orang akan menganggapnya sebagai pembantu rumah tangga.

“Ah, sudahlah persetan dengan penampilan kumuhku, yang penting aku bisa segera menemukan siapa orang tuaku,” gumamnya pelan, sambil terus melangkah.

Perempuan paruh baya itu seperti tak melihat kedatangannya, sampai Rosa benar-benar berdiri di depan tangga, persis di depan meja kerja perempuan setengah tua itu.

“Sel … selamat pagi.”

Perempuan itu mengangkat wajahnya, menatapnya tajam, membuat Rosa semakin risih dengan penampilannya.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu Nak?.”

“Boleh saya masuk?”

“Oh, maaf, silakan masuk.”

Rosa masuk, lagi-lagi dengan perasaan risih memikirkan penampilannya, padahal orang di depannya sama sekali tidak mempedulikan penampilan tamunya.

“Apa yang bisa saya bantu?” kata perempuan itu lagi.

Rosa yang semula menundukkan wajahnya, kemudian mengangkatnya.

“Saya dulu diambil dari panti asuhan ini.”

Wanita itu membelalakkan matanya.

“Nama saya Rosa. Rosana," lanjutnya.

“Kapan ya?”

"Sudah tigapuluh limaan tahun yang lalu, eh … lebih …”

“Wouw, saya belum bekerja di sini.”

“Saya ingin tahu, siapa orang tua saya sebenarnya.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, August 2, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 011

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  011

(Tien Kumalasari)

 

Rahman melihat ibunya duduk di lantai, dan seorang nyonya cantik sedang memarahinya, menuding-nuding wajahnya.

Baroto mendekat. Ana tak ada di sana.

“Apa yang kamu lakukan?” tegurnya kepada sang istri.

“Ini, pengemis … eh … pemulung ini, enak-enak makan di sini bersama Ana. Rumi sudah mengingatkannya, tapi Ana nekat. Lihatlah, pakaian kumuhnya, dia duduk di kursi situ dengan nyaman. Lalu_”

“Diam kamu!” sentak Baroto, membuat sang istri mengerutkan keningnya.

“Mengapa kamu membelanya Mas?”

“Ini bukan kemauan dia, ini kemauan Ana. Ana suka kepadanya, apa salahnya? Mengapa juga kalau dia duduk di kursi dan makan bersama Ana?”

Tiba-tiba Ana muncul. Ia tadi pamit ke belakang karena perutnya sakit. Ketika keluar, ia terkejut melihat Menur duduk di lantai.

“Mengapa Bibi duduk di bawah, ayolah naik. Duduk di sini seperti tadi,” kata Ana sambil menarik tangan Menur. Tapi Menur menolaknya.

“Bibi mau pulang saja, ini sudah siang,” kata Menur sambil berdiri.

“Ini karena kamu bertindak semau kamu, merusak tatanan yang ada di rumah ini.”

“Tatanan apa?”

“Pembantu saja tidak boleh duduk di kursi, bagaimana mungkin seorang pengais sampah diijinkan duduk di kursi bersama dengan anak kita?”

“Biarkan pembantu duduk bersama kita, dan biarkan wanita ini duduk sejajar dengan anak kita, memangnya kenapa? Mereka juga manusia seperti kita.”

“Mereka tidak sejajar dengan kita Mas.”

“Kamu yang membuat tidak sejajar.”

“Mama, jangan bertengkar. Bibi Menur akan ada di sini bersama Ana.”

“Kamu masih nekat Ana?”

“Aku ingin dia, aku merasa senang bersama dia.”

“Kamu keterlaluan!”

“Apa tidak boleh? Kalau tidak boleh, Ana akan bilang pada nenek.”

“Apa?” nyonya Baroto melotot marah. Ana punya senjata untuk memaksanya. Kalau sampai ibunya tahu Ana disia-siakan, maka sang ibu akan memarahinya. Itu yang kemurian membuat kemarahan sang nyonya menjadi surut.

“Terserah kamu saja!” kata nyonya Baroto sambil masuk ke dalam. Tak lupa ia menghentakkan kakinya karena kesal.

Ana tersenyum.

“Bukankah Papa mengijinkan bibi Menur tinggal di sini?”

“Tentu saja Ana, asal Ana senang, papa mesti mengijinkan.”

Tapi Menur yang sudah berdiri di luar, menggelengkan kepalanya.

“Non Ana jangan memaksakan kehendak. Kalau mama tidak suka, NOn Ana harus menurut.”

“Mengapa bibi memanggil aku non Ana? Panggil namaku seperti sebelumnya.”

“Kita berbeda derajat non.”

“Aku tidak tahu tentang derajat. Aku mau bibi,” kata Ana sambil memeluk Menur yang sudah berdiri di luar teras.

Sementara itu Rahman yang melihat adegan itu merasa ada sesuatu yang menusuk perasaannya. Gadis kecil yang cantik dan berpakaian bagus itu tidak merasa jijik memeluk ibunya yang pakaiannya kumal dan mungkin juga tidak berbau wangi. Sedangkan dirinya tak sedikitpun pernah melakukannya. Ia selalu merendahkan ibunya. Ibu yang melahirkannya dengan taruhan nyawa, yang meneteskan keringat demi dirinya. Itu kata-kata Baroto yang belum lama didengarnya.

Sekarang, ketika ia mendengar ibunya direndahkan, rasa sakit serasa menusuk dadanya. Tak rela. Ada yang berubah pada dirinya. Baroto menyadarkannya, saat dia berbohong dan ketahuan.

Rahman maju, dan memegangi tangan sang ibu.

“Ibu, ayo pulang,” katanya lembut.

Ana baru sadar kalau ada orang lain di situ. Demikian juga Menur. Ia tak menyangka bahwa Rahman menyusulnya. Ia heran Rahman menyapanya lembut.

“Kamu siapa?” tanya Ana sambil menatap Rahman

“Ini adalah ibuku. Walaupun hina, dia adalah ibuku.”

Ana menatap Menur, meminta jawaban, apakah apa yang dikatakan anak laki-laki itu benar, sementara Baroto menatap Rahman sambil tersenyum. Ia merasa lega, semua perkataanya berhasil masuk ke dalam sanubarinya.

Menur yang terkejut melihat sikap Rahman, kemudian merangkul pundaknya.

“Ayo kita pulang, Nak,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

“Bibi, jangan pergi!’ pekik Ana sambil mengejarnya.

“Ana, jangan begini. Kamu punya keluarga yang sangat perhatian sama kamu.”

“Tapi aku mau Bibi,” rengek Ana, sambil menangis.

“Jangan begini Ana, bibi tidak pantas tinggal di sini.”

“Bibi tidak boleh pergi.”

Baroto mendekat, berusaha menenangkan hati Ana.

“Ana, kali ini biarlah bibi Menur pulang, biar dia pikirkan permintaan kamu, karena bibi juga punya anak sendiri. Besok kita ajak dia bicara lagi.”

“Dia takut pada mama.”

“Nanti papa bicara sama mama, sudah, jangan menangis. Papa yakin mama akan mengijinkan. Kita tinggal membujuk bibi Menur supaya mau. Ya?”

Ana mengangguk sambil mengusap air matanya.

Menur dan Rahman sudah berjalan, menuju keluar halaman. Baroto mengejarnya. Ia berbisik di telinga Menur.

“Apakah dia anakku?”

Menur terus melangkah, tapi Baroto dengan nekat mengikutinya.

“Iya apa bukan? Katakan terus terang.”

“Bukan. Mengapa kamu begitu yakin?”

“Aku merasakan sesuatu ketika bersamanya. Naik kuda berdua, makan berdua.”
”Jangan mengada-ada. Kamu membuatku sakit karena terhina. Memang aku hanya orang rendahan, mana pantas duduk bersama dengan keluarga konglomerat seperti kalian?”

“Mengapa mengalihkan pembicaraan? Pertanyaanku bukan itu.”

Baroto tadi hanya berbisik, karena tak mau Rahman mendengarnya. tapi kemudian ia berkata dengan nada biasa. Rahman juga tak memperhatikan pembicaraan itu. Ia tahu sang ibu sudah kenal baik dengan om ganteng yang kaya raya itu. Jadi ia membiarkannya. Yang jelas perasaan Rahman kepada ibunya sudah berbuah. Bukan hanya karena perkataan Baroto saat makan, tapi sikap putri kecil ana keluarga kaya itu yang begitu akrab dengan ibunya, merangkulnya tanpa merasa jijik padahal bajunya bagus dan ibunya hanya memakai baju kumuh. Tiba-tiba saja Rahman merasa sakit hati ketika mendengar ibunya direndahkan. Rahman sebenarnya anak baik. Ia hanya terpengaruh teman-teman sekolahnya, yang merendahkan temannya yang bukan anak keluarga kaya. Rahman tak mau dirinya  juga direndahkan, lalu ia menyesal mengapa terlahir dari keluarga miskin. Bahkan ibunya menjadi pemulung. Itu yang membuat sifatnya berubah, dan tak merasa bahwa telah menyakiti hati ibunya. Tapi entah mengapa, ia bertemu seorang Baroto, om ganteng yang baik, lalu bisa membuka hatinya, menyadari kesalahannya. Karenanya ia menggandeng tangan sang ibu erat-erat di sepanjang perjalanannya. Perubahan itu membuat Menur terkejut, tapi dia juga bahagia. Tangan kecil itu menggenggam jemarinya dengan hangat, dan kehangatan itu menyusuri setiap aliran darahnya. Apapun yang terjadi, Rahman ternyata menyayanginya.

***

Baroto kembali ke rumah, ketika mendengar jawaban Menur yang membuatnya kecewa. mendapati Ana sedang menangis meraung-raung. Rumi kewalahan membujuknya.

“Ana, berhentilah menangis.”

“Ana mau bibi Menur. Ana mau bibi Menur.”

“Bibi Menur sedang mengantarkan anaknya pulang. Nanti papa akan bicara lagi sama bibi Menur. Ya?”

“Bibi Menur tidak mau karena mama memarahinya. Mama jahat. Bibi Menur pasti pengin marah tapi tidak berani.”

“Tenanglah, tidak apa-apa., nanti papa bantu membujuknya.”

“Tapi dia pasti tidak mau. Papa tidak akan berhasil.”

“Mengapa kamu berkata begitu?”

“Mama sudah memarahinya.”

Lalu Ana menangis semakin keras. Sedangkan nyonya Baroto tak mau keluar dari kamarnya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Baroto dan Ana bergegas keluar karena itu suara mobil mertuanya.

Sang ibu mertua turun lalu bergegas menghampiri Ana.

“Cucu nenek, mengapa menangis? Siapa berani membuat cucuku menangis?”

“Nenek, mama jahat sekali.”

“Oh ya? Mamamu melakukan apa? Kamu dijewer? Dicubit?”

“Tidak. Mama memarahi bibi Menur.”

“Siapa bibi Menur?”

“Ana mau bibi Menur menjadi pengasuh Ana, tapi mama tidak ijinkan.”

“Kamu kan sudah punya Rumi?”

“Aku juga mau bibi Menur?”

“Siapa dia? Mengapa istrimu tidak mengijinkan?” tanya sang mertua sambil menatap menantunya.

“Dia seorang pengais sampah,” Ana yang menjawab kemudian.

“Apa? Pengais sampah? Mengapa kamu ingin pengasuh seorang pengais sampah? Kamu boleh minta apa saja, tapi jangan yang aneh-aneh,” katanya sambil duduk bersama di ruang tengah.

“Dia baik, dia sangat baik. Lagipula Ana kasihan, dia mencari botol kosong setiap hari, untuk sekolah anaknya.”

“Seperti apa sih dia?”

“Pokoknya dia baik, nenek harus memarahi mama,” kata Ana sambil menggoyang-goyang tangan neneknya.

“Mana mama kamu, panggil kemari.”

Ana segera berlari ke kamarnya. Harapan untuk mendapat ijin dari mamanya akan terwujud, karena ia yakin sang nenek akan membelanya.

***

Sesampai di rumah, Menur melihat bahwa makan siang yang disiapkan sejak sebelum berangkat untuk menemui Ana, masih belum tersentuh.

“Rahman, mengapa kamu tidak makan? Ibu hanya membeli telur, dan_”

“Rahman sudah makan bersama om ganteng.”

Menur membelalakkan matanya.

“Ibu belum bertanya, mengapa tadi kamu bisa bersama dia.”

“Tadi om ganteng datang ke sekolah, lalu mengajak Rahman makan di restoran. Lalu diajaknya ke rumahnya yang bagus itu.”

“Ibu kira kamu sudah pulang makan, lalu pergi bersama dia.”

“Tidak. Karena om ganteng, Rahman menyesal telah menyakiti hati ibu.”

“Karena itulah sikapmu pada ibu berubah?”

“Rahman juga ingin marah melihat nyonya kaya itu memarahi Ibu.”

Menur merangkul anaknya dengan air mata berlinang.

“Tapi mulai besok kamu tidak boleh lagi pergi bersama dia,” kata Menur tandas.

***

Besok lagi ya.

 

AKU ANAK SIAPA 06

  AKU ANAK SIAPA … 06 (Tien Kumalasari)   Satria sudah berhenti menangis. Senja sudah membersihkan lukanya, dan menutupinya dengan plester. ...