Tuesday, July 21, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 54

 NAMAKU TETAP SENJA  54

(Tien Kumalasari)

 

Tak lama kemudian, terdengar suara tegas dari luar rumah.

“Selamat siang.”

“Ada tamu siapa tuh?”

Rimba turun dari kursinya, bergegas ke depan, tak lama kemudian ia kembali dan berkata dengan gugup.

“Mbok, ada polisi.”

“Polisi? Mengapa polisi kemari?” kata mbok Mangun bingung. Senja berdiri dan bergegas ke depan. Biarpun berdebar-debar, ia harus menghadapi tamunya. Bukan simboknya yang pasti akan panik.

“Selamat siang.”

“Selamat siang,” jawab Senja, pelan.

“Apakah di sini ada yang namanya saudari Senja?”

“Senja? Ss … saya sendiri …,” Senja mulai agak gemetar.

“Ada perintah penangkapan atas saudari Senja, karena diduga melakukan percobaan pembunuhan.”

“Tidak … saya tidak bermaksud … membunuh, say … saya hanya membela .. diri, karena mau diper … perkosa … “

“Nanti Saudari bisa mengatakannya di kantor, sekarang Saudari harus ikut saya.”

“Tidak, jangan bawa anakku … dia tidak bersalah … “

Polisi memaksa membawa Senja, Simbok berteriak-teriak sambil menangis, dan Rimba memburu ke arah polisi yang menggandeng kakaknya.

“Jangan bawa mbak Senja … “

“Simbok, Rimba … tenang saja … Senja tidak bersalah, nanti juga Senja pasti pulang lagi,” kata Senja berusaha tegar, sambil menoleh ke arah Simbok dan adiknya.

Mobil polisi meraung pergi, meninggalkan mbok Mangun yang berteriak-teriak. Dan Rimba yang berusaha menghibur simboknya. Seisi kampung geger, semua orang mengatakan bahwa Senja ditangkap polisi.

***

Siang hari itu pak Wiguna datang ke rumah di mana Tantrina tinggal, karena Tantrina terus menelpon.

“Bagaimana Bapak itu, saya minta datang sejak pagi, tapi Bapak tidak segera datang,” kata Tantrina sambil mengerucutkan bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya pak Wiguna segera mendekati dan merangkulnya, dan mengelus punggungnya untuk membuatnya tersenyum. Tapi kali itu tidak. Pak Wiguna langsung duduk di kursi tamu.

“Bapak mau minum apa?” katanya kemudian.

“Tidak usah, nanti gampang.”

“Mengapa juga baru sekarang Bapak datang? Bapak sudah tidak sayang ya, pada Tantrina?”

“Pekerjaan di kantor banyak, lama terbengkalai, aku bukan pengangguran kan?”

“Bapak kan seorang pimpinan. Tinggal duduk manis, yang mengerjakan anak buah, ya kan?”

“Tidak bisa begitu. Aku harus menangani dan mengontrol mereka.”

“Ibu menelpon terus, tapi tidak saya jawab. Paling-paling ibu menanyakan tentang almari yang dibutuhkannya.”

“Belum bisa, waktunya tidak ada.”

“Mengapa Bapak tidak mengedepankan permintaan saya dulu? Bukankah pekerjaan bisa nanti?” kali ini Tantrina menggelendot di pundak pak Wiguna. 

Pak Wiguna bergeming. Perkataan Arka bahwa bayi yang dikandung Tantrina bukan darah dagingnya, telah melenyapkan seluruh gairah dan cintanya. Ia justru akan segera mengusir Tantrina dari rumah itu.

“Pak, kalau begitu ayo mengurus surat rumah ini dulu. Aku tidak mau ini atas nama Bapak. Bukankah kelak rumah ini juga untuk anak kita?”

“Anak kita ….” gumam pak Wiguna.

“Ya, anak kita. Kalau Bapak memberikan rumah ini sepenuhnya kepada Tantrina, sama saja nanti pemiliknya adalah anak kita ini,” katanya sambil meraih tangan pak Wiguna, diletakkan di perutnya yang sedikit membuncit. 

Tapi kemudian pak Wiguna menariknya.

“Apa benar bayi itu adalah darah dagingku?”

Tantrina terkejut. Ia menatap pak Wiguna dengan mata kesal. Kemudian ia menjatuhkan lagi kepalanya di pundak pak Wiguna.

“Mengapa Bapak berkata begitu? Masa seorang ayah akan mengingkari darah dagingnya sendiri?”

“Mengapa tiba-tiba aku tidak yakin?” kata pak Wiguna, langsung pada permasalahan.

“Apa? Bapak tidak yakin bahwa ini darah daging Bapak?”

Tiba-tiba Tantrina menangis, dan semakin keras, seperti menggerung-gerung. Tangannya merangkul lengan pak Wiguna tapi pak Wiguna bergeming. Tak ada rangkulan balik, atau kata-kata lembut untuk menenangkannya.

“Dari mana Bapak punya pendapat seperti itu? Dari mana? Saya melayani Bapak sudah lama, lalu saya hamil. Apa selain Bapak saya melayani orang lain? Bapak menuduh saya selingkuh?”

“Kamu bukan perawan ketika bertemu aku kan?”

“Saya tidak ingkar. Kan saya sudah bilang bahwa saya pernah menikah tapi tidak berlangsung lama, kemudian bercerai?”

“Kalau begitu, demi kebaikan kita semua, juga kebaikan anak itu, kita tes DNA.”

“Apa maksud Bapak?”

“Tes DNA akan membuktikan sebuah kebenaran tentang siapa anak siapa.”

“Aku tidak mauuuuu!” Tantrina berteriak.

“Mengapa tidak mau?”

“Bapak ingin mempermalukan saya? Biar kelihatan bahwa saya tidak dipercaya oleh suami?”

“Tes DNA tidak mempermalukan siapapun. Kalau kamu jujur, kamu bisa dengan bangga menunjukkan kebenaran bukan?”

“Tidak mauu, aku tetap tidak mau.”

“Kalau begitu berarti kamu menyembunyikan sesuatu dari aku. Kamu tidak jujur.”

“Bapak tidak percaya?”

“Aku akan percaya kalau tes DNA sudah dilakukan. Kita bisa sekarang? Kalau terbukti itu darah dagingku, langsung rumah ini aku berikan pada kamu dan bayi yang kamu kandung itu. Sekarang juga kita ke rumah sakit?”

“Mengapa Bapak membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak berguna?”

“Apa yang tidak berguna? Membuang uang tidak apa-apa, asalkan kebenaran bisa dibuktikan. Harusnya kamu berani menghadapi kalau memang kamu benar. Kalau kamu takut, aku jadi meragukannya.”

Tantrina menangis semakin keras.

“Biasanya kalau orang itu benar, dia akan dengan gigih membuktikan kebenarannya.”

“Jadi Bapak tidak percaya pada saya?”

“Aku percaya, nanti setelah kita buktikan.”

Tiba-tiba Tantrina lari ke kamar, dan menjatuhkan tubuhnya di pembaringan. Ia berharap dengan merayunya maka keragu-raguan pak Wiguna agak mereda. Tapi ternyata pak Wiguna tidak menyusulnya ke kamar. Ia berdiri di depan pintu kamar, menatap Tantrina yang sudah berbaring dengan sikap menantang.

“Aku pergi dulu. Dengan sikap kamu itu, berarti kamu takut membuktikan, berarti anak yang kamu kandung bukan anakku. Kamu aku ceraikan, dan aku minta kamu pulang ke rumah orang tua kamu. Aku beri kamu waktu seminggu.”

Setelah itu pak Wiguna membalikkan tubuhnya, menghampiri mobilnya dan berlalu.

Tantrina mengusap air matanya. Tak tahu harus berbuat apa. Ia langsung menelpon ibunya, yang ternyata ada di kantor polisi.

Hal itu membuatnya lebih gelisah, karena ia tak tahu apa yang terjadi. Ia memukul-mukul perutnya dan mengomel panjang pendek.

“Bayi tak mau diuntung. Kamu bodoh. Mengapa tidak mau menjadi anak orang kaya? Bodoh. Bodoh. Lalu ada apa lagi ibu di kantor polisi? Ya ampun Bu, Tantrina sudah diceraikan, ada waktu seminggu untuk pulang ke rumah Ibu,” akhirnya dia menangis lagi.

***

Pak Wiguna kembali ke kantor, dan segera menemui Arka di ruangannya.

“Bapak cepat sekali kembali, tidak jadi ke rumah sakit?”

“Untuk apa ke rumah sakit?’

“Bukankah Bapak mau tes DNA?”

“Dia tidak mau. Dia memilih bungkam, jadi aku sudah mengambil kesimpulan kalau dia bohong.”

“Lalu apa yang akan Bapak lakukan?”

“Menceraikan dia, lalu mengusir dia dari rumah itu. Apa Bapak melakukan hal yang benar?”

Arka tersenyum sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.

“Kamu kok sudah bersiap pulang? Ini jam berapa?”

“Saya mau langsung ke rumah Senja terlebih dulu.”

“Senja itu … apa anak penjual beras yang kamu sering belanja beras ke sana?”

“Iya Pak. Saat ini Senja sudah lulus SMA. Maksud saya, dia akan saya suruh bekerja di kantor ini.”

“Apa? Dia lulusan SMA dan kamu akan membawanya bekerja di sini? Karena kamu kenal baik, dan kamu anggap sebagai teman kamu? Pekerjaan apa yang akan kamu berikan kepada dia, Ka? Tukang bersih-bersih? Kan sudah ada?”

“Tidak Pak, akan saya suruh bantu-bantu sekretaris saya.”

“Apa? Tidak Ka, aku tidak setuju. Kalau kamu memaksa juga, biarlah jadi tukang bersih-bersih saja. Bisa apa dia dengan pekerjaan yang akan kamu berikan, Ka?”

“Dia bisa belajar. Anak itu pintar. Nilainya bagus.”

“Aku tetap tidak setuju.”

“Pak, akan saya beri tahu Bapak. Orang yang membuka rahasia Tantrina, bahwa dia hamil bukan darah daging Bapak, adalah Senja.”

“Apa?”

“Kalau tidak ada Senja, barangkali Bapak akan tertipu selamanya.”

***

Besok lagi ya.

 

 

Monday, July 20, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 53

 NAMAKU TETAP SENJA  53

(Tien Kumalasari)

 

Senja memasuki halaman rumahnya dengan terengah-engah. Ia menyandarkan sepedanya, kemudian masuk ke dalam rumah, ngelesot di lantai tanah bersandar pada tembok tua yang separo di atasnya ditutup dengan anyaman bambu.

Rimba yang ada di belakang, mendekati sang kakak dengan perasaan heran.

“Mbak sudah pulang? Bagus sekali. Mbak jadi keluar dari pekerjaan ya? Kok wajah Mbak pucat begitu, dan baju Mbak sampai basah oleh keringat? Capek ya?”

Rimba tidak menunggu jawaban. Ia mengambil segelas air, yang kemudian diberikannya kepada sang kakak.

“Minum dulu, biar lebih tenang.”

Senja menerima gelas itu, lalu meneguknya habis. Rimba menerima gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di meja, lalu ia duduk di depan sang kakak.

“Ada apa sih? Mbak dikejar setan?”

“Buruk.”

“Apanya yang buruk?”

“Kejadian yang Mbak alami. Terima kasih ya Allah, karena membuat hamba terhindar dari niat buruk orang,” kata Senja pelan, sambil menadahkan tangannya ke atas.

“Sebenarnya ada apa?”

“Ada orang berniat jahat, tapi Mbak bisa menghindar.”

“Mbak mau dirampok?”

“Lebih dari itu. Diamlah dulu, biarkan mbak  bernapas.”

Rimba menatap heran sambil bertanya-tanya.

“Memangnya dari tadi Mbak tidak bernapas?”

“Hampir tidak. Diamlah dulu.”

“Ya sudah, berdirilah, dan ganti baju Mbak yang basah kuyup itu.”

Senja berdiri, menuruti anjuran sang adik, sambil terus memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.

“Sungguh mengerikan. Terima kasih ya Allah … terima kasih ….,” bisiknya berkali-kali sambil berganti pakaian rumahan.

Tak lama kemudian dia keluar, Rimba menyediakan makan siang, lalu mengajak sang kakak makan.

“Ayo Mbak, kita makan. Mbak kelihatan kelaparan,” goda sang adik.

“Simbok pulang jam berapa ya?”

“Ya nggak tahu, Simbok itu pulangnya kan tidak tentu. Kadang siang sudah pulang, kadang sore baru pulang.”

“Iya sih.”

“Ayo makan dulu saja. Sayur bening, teri goreng sama tahu goreng. Ada sambal terasi kesukaan Mbak.”

“Iya, sebentar, nunggu Simbok. Kamu makan saja dulu kalau sudah lapar.”

“Ya nggak enak, kan ada Mbak, masa aku makan sendiri.”

“Nggak apa-apa, Mbak mau menunggu Simbok di depan.”

“Kalau begitu aku juga nggak mau makan.”

Tumben siang ini Senja dan adiknya tidak kompak. Biasanya, walau menunggu simboknya, Senja pasti mau ikut makan walau sedikit, hanya untuk menemani sang adik. Tapi kali ini Senja sedang benar-benar membutuhkan simboknya. Ia tak bisa menceritakan semuanya pada Rimba, harus menunggu simboknya.

Akhirnya Rimba ikut duduk di bangku depan rumah, di samping sang kakak.

“Gimana sih kamu ini? Makan dulu saja sana.”

“Aku juga mau menunggu Simbok.”

Tapi seperti yang diharapkan Senja, mbok Mangun sudah tampak berjalan memasuki halaman kecilnya. Simbok tampak gembira melihat Senja sudah ada di rumah.

“Syukurlah, kamu jadi keluar dari pekerjaan kamu?”

Bukannya menjawab, Senja malah berdiri menyambut sang simbok, lalu merangkulnya sambil menangis. Tentu saja Simbok terkejut. Bahkan Rimba juga heran melihatnya, karena sejak tadi sang kakak tidak banyak bercerita.

“Ini ada apa? Kamu itu kenapa? Jangan membuat Simbok bingung Nja, katakan ada apa. Apa kamu sedih karena tidak diberi upah untuk pekerjaanmu yang baru beberapa hari? Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah keluar dari sana. Kamu bilang kan, tidak diberi upah juga tidak apa-apa? Mengapa sekarang menangis?”

“Bukan karena upah Mbok, Senja mengalami kejadian buruk,” tangisnya.

“Kejadian buruk apa? Sepeda kamu hilang?” kata Simbok sambil melongok ke tempat biasanya Senja meletakkan sepeda, dan Simbok merasa lega karena sepeda itu masih ada.

“Nja, katakan ada apa? Kejadian buruk apa, ayo duduk di situ,” kata Simbok sambil mengajak Senja duduk.

“Ada apa sih Mba, kakakmu kenapa?”

“Rimba juga bingung, dari tadi mengatakan mengalami kejadian buruk. Aku tidak mengerti Mbok.”

“Nja, jangan membuat Simbok bingung. Simbok kira Simbok senang melihat kamu sudah pulang berarti kamu jadi keluar dari pekerjaan kamu.”

“Senja memang sudah pamit, tapi … tapi …”

“Tapi apa? Dimarahi?”

Lalu sambil terisak Senja mengatakan apa yang dialaminya, sampai dia kabur dan menggenjot sepedanya pulang dengan sekuat tenaga, takut ada yang mengejar.

“Lha ya sudah Nja, laki-laki kurang ajar itu kan sudah kamu pukul pingsan, sehingga kamu bisa kabur. Simbok bersyukur, kamu terlepas dari nasib buruk itu. Sudah, jangan menangis lagi,” kata Simbok sambil mengelap air mata Senja dengan ujung bajunya.

“Ayo masuk, kalian sudah makan?”

“Dari tadi Rimba ajak makan, tapi Mbak Senja tidak mau, katanya menunggu Simbok.”

“Ya sudah, sekarang Simbok sudah datang. Simbok ganti baju dulu, lalu kita makan bersama-sama. Ayo masuk, di sini panas,” kata Simbok sambil menarik tangan Senja, lalu merangkulnya sambil berjalan masuk ke rumah.

“Kamu harus bersyukur Nja, terlepas dari tangan jahat itu,” kata Simbok sambil masuk ke kamar mandi.

***

“Sekarang bagaimana Mer? Sudah dibawa polisi?” tanya Rosa.ketika menelpon Mery.

“Korban di bawa ke rumah sakit.”

“Kamu harus minta agar Senja diburu, dia harus dihukum karena hampir membunuh orang.”

“Polisi sudah menanyakan alamat rumahnya.”

“Bagus. Perempuan tak tahu diuntung itu harus merasakan penderitaan yang lain. Dia akan mendekam di penjara. Apalagi kalau korbannya sampai mati, Senja benar-benar akan dihukum berat.”

“Aku takut sekali. Tak pernah mengalami hal seperti itu.”

“Tidak usah takut, kamu kan hanya menyuruh karyawan melayani tamu. Kamu tidak akan dianggap bersalah. Tapi ingat, kalau sampai kamu dipanggil menjadi saksi, jangan sampai kamu membawa-bawa aku.”

“Aku akan dipanggil juga?”

“Pasti kamu akan dipanggil, kan kejadiannya di rumah kamu?”

“Ya ampuun, aku takut sekali.”

“Mengapa takut? Kamu hanya memberi tugas kepada karyawan kamu, kamu tidak akan dianggap bersalah. Dan lagi Mer, kamu memang harus menghadapi semuanya. Ingat, aku sudah membayar sebanyak yang kamu minta. Aku tidak akan meminta kembali uangnya kok, walau Felix tidak jadi memperkosa dia. Ada hukuman yang lebih menyakitkan kalau dia dipenjara, aku senang sekali,” kata Rosa dengan gembira.

“Ya sudah, aku mau menelpon anakku dulu, dari tadi menelpon tidak bisa tersambung. Dia sedang bicara entah dengan siapa, paling dengan suaminya.”

“Tunggu dulu, jangan panik. Percayalah kamu tidak akan diapa-apa kan oleh polisi.  Aku justru harus mengucapkan terima kasih. Terima kasih Mery,” kata Rosa enteng, sambil menutup ponselnya.

Tampaknya dia merasa puas atas apa yang  terjadi pada Senja.

***

Mbok Mangun makan bersama kedua anaknya. Berkali-kali dia mengatakan bahwa Senja harus bersyukur karena terlepas dari maksud jahat orang.

“Makan yang banyak, jangan memikirkan apa-apa. Semuanya sudah lewat. Ingat janji mas Arka, dia akan memberi pekerjaan untuk kamu. Pasti pekerjaan yang lebih baik, dalam artian baik untuk keamanan kamu. Tidak perlu berhadapan dengan orang-orang jahat yang punya niat kotor.”

“Wah, jadi orang kantoran dong Mbak. Nanti pakaian Mbak harus ganti yang bagus. Apa Simbok punya uang?” kata Rimba.

“Ya punya, kalau hanya untuk beli pakaian kerja. Ya kan Nja?”

”Paling-paling Senja akan jadi tukang bersih-bersih, tapi Senja akan lebih senang melakukannya.”

"Semua pekerjaan itu bagus, asalkan baik dan halal," lanjut Simbok.

Tiba-tiba terdengar sirene mobil polisi.

“Sepertinya berhenti di depan rumah?” kata Senja yang tiba-tiba wajahnya menjadi pucat.

***

Besok lagi ya..

Sunday, July 19, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 009

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  09

(Tien Kumalasari)

 

Rahman gembira bukan alang kepalang. Senang sekali hatinya bisa naik kuda. Tapi ia heran karena si om baik hati yang mengijinkannya ikut naik kuda tidak segera menyuruh kudanya berlari.

“Om, mengapa tidak segera jalan?”

“Om ingin bertanya, siapa wanita yang kamu sebut pembantu itu?”

“Memang dia pembantu di rumah saya. Orang tua saya menyuruh dia membayar uang sekolah saya. Ayo om, cepat jalan.”

“Dia pembantu di rumah orang tuamu?”

“Iya, mengapa om tidak percaya?

“Setiap hari dia membanti di rumah kamu?”

“Dari pagi sampai sore.”

Baroto termenung, bukankah Menur setiap pagi memulung? Tadi juga ia tahu Menur berangkat memulung, lalu melihatnya saat terkilir ketika turun dari kuda, bahkan mengantarkan obat gosok ke rumahnya. Jadi kapan dia menjadi pembantu di rumah anak kecil itu?”

“Siapa namamu?”

“Rahman. Bukankah Om sudah bertanya? Kapan kuda ini akan berjalan atau berlari?”

“Baiklah.”

Baroto memacu kudanya pelan, karena sedang berada di jalan raya. Ia tidak bertanya di mana rumah Rahman, tapi ia berjalan menyusuri jalanan ke rumah Menur.

“Om mau ke mana?”

“Om antarkan kamu sampai di rumah.”

“Memangnya Om tahu di mana rumah saya?”

“Kira-kira saja, apakah jalannya salah?”

“Tidak.”

Tapi Rahman merasa heran. Bagaimana hanya kira-kira saja, om ganteng ini bisa tahu jalan ke arah rumahnya?

Ketika sampai di rumah Menur, Baroto menghentikan kudanya.

“Sudah sampaikah?”

“Rumah saya di belakang sana. Saya heran om bisa tahu ini daerah rumah saya.”

“Hanya kebetulan. Sekarang turunlah.”

Baroto mengangkat tubuh Rahman dan menurunkannya. Rahman menatapnya heran. Baroto juga sedang menatapnya. Di mana dia pernah melihat wajah seperti Rahman? Seperti sangat mengenalnya, seperti bukan wajah yang asing. Ia menurunkan di depan rumah Menur, karena Rahman bilang bahwa Menur pembantunya. Berarti rumah Rahman di sekitar rumah Menur. Siapa Rahman sebenarnya?

Rahman kemudian menghilang di samping rumah Menur, mungkin benar rumahnya di dekat atau di belakang rumah Menur.

Tapi Rahman ingin menunggu kepulangan Menur. Pasti setelah dari sekolahan tadi langsung pulang. Hanya saja karena jalan kaki, jadi agak terlambat.

Baroto membawa kudanya ke arah yang agak jauh, di mana ada sebuah lapangan bola, dan Baroto bisa menambatkan kudanya di sana.

***

Menur yang berjalan ke arah pulang, terus berpikir, bagaimana Baroto bisa ada di sekolah Rahman, dan bisa mengajak Rahman naik kudanya?

Untunglah dia tidak mendengar ketika Rahman mengatakan bahwa dia adalah pembantunya.

Di sebuah pertigaan, sebelum dia belok ke arah rumah, seseorang mengejutkannya. Baroto sambil berjalan kaki mencegat perjalanan Menur. Menghalangi jalannya sambil tersenyum.

“Mengapa kemari?” katanya datar.

“Mau berterima kasih karena kamu menyusulkan obat gosok ke rumah.”

“Tidak usah berterima kasih. Biasa saja. Biarkan saya segera pulang, anak saya belum makan. Oh ya, kakimu sudah sembuh?”

“Karena obat gosokmu, aku bisa berjalan dan berkurang rasa sakitnya. Terima kasih.”

“Syukurlah.”

“Tadi aku melihatmu di sebuah sekolah. Apa anakmu sekolah di situ?”

Menur tak ingin menjawabnya. Ia melihat Baroto menaikkan Rahman ke atas kudanya, mengapa Baroto melakukannya? Apakah ada dorongan yang entah dari mana datangnya, yang membuat Baroto ramah kepada Rahman? Pasti mereka baru sekali itu ketemu.

“Sekolah di situ? Apa dia temannya Rahman?”

Menur terkesiap. Apa Rahman memperkenalkan namanya?

“Ada seorang anak yang tiba-tiba mendekat, lalu mengatakan ingin naik kuda. Aku merasa kasihan, lalu aku naikkan dia ke atas kudaku. Namanya Rahman.”

Menur hanya mengangguk. Tapi ia tak mengatakan apa-apa.

“Biarkan aku pulang.”

Baroto memberinya jalan, membiarkan Menur pulang.

Tapi ketika Baroto akan mengambil kudanya, ia ingat bahwa ada titipan Ana yang masih tergantung di pelananya. Ia menaiki kudanya dan kembali menuju ke rumah Menur.

Ia mengetuk pintu perlahan, dan terkejut ketika yang membuka pintu adalah Rahman.

Baroto terkejut, tapi lebih terkejut lagi Rahman. Ia tak mengira yang mengetuk pintunya adalah Baroto, sang penunggang kuda yang membuatnya senang. Ia bingung harus menjawab apa, kalau Baroto menanyakannya.

Belum sampai mereka bertegur sapa, dari dalam terdengar suara Menur.

“Rahman, makanan kamu sudah siap.”

Baroto terpana. Kalau Menur pembantu Rahman, mengapa dia menyiapkan makan untuk Rahman?

Karena tak tahu harus bagaimana, Rahman berlari masuk.

“Diluar ada siapa?”

“Ada … orang,” jawab Rahman, yang tak jadi protes karena sang ibu hanya menyiapkan telur untuk makan siangnya.

Menur bergegas ke depan, dan melihat Baroto masih berdiri di depan pintu.

“Aku, Menur, kamu tidak mempersilakan aku masuk?” jawab Baroto.

“Rumahku jelek, kotor. Tidak pantas untuk tamu terhormat seperti Tuan.”

“Jangan begitu.”

“Mengapa masih datang kemari lagi?”

“Aku lupa, Ana nitip ini untuk kamu.”

“Ana,” gumam Menur lirih. Anak itu sangat perhatian pada dirinya. Hanya karena sebuah pelukan saat pertama kali bertemu, membuatnya terharu.

“Ini, terimalah.”

“Sampaikan kepada Ana, terima kasih.”

“Ana minta kamu menemuinya. Aku berjanji membawa kamu pulang.”

“Itu tidak mungkin. Katakan pada Ana, bahwa aku tak pantas berada di rumah keluarga terhormat seperti keluarga Ana.”

“Itu hanya perasaan kamu saja. Tolong penuhilah permintaanku. Eh, bukan, permintaan Ana.”

“Tidak bisa begitu, aku punya anak.”

“Rahman itu anakmu kan?”

Mau tak mau Menur mengangguk.

“Anak itu harus dididik dengan benar.”

“Apa maksudmu, Tuan?”

“Ada sisi buruk yang dia miliki. Baiklah, lain kali kita akan bicara lagi, sekarang bagaimana, maukah kamu menemui Ana?”

“Tidak sekarang.”

“Besok?”

“Akan aku usahakan besok.”

“Aku berharap kamu menepati janji kamu.”

Menur hanya mengangguk ragu. Permintaan Ana sangat berat dijalani,walau dengan iming-iming penghasilan yang sangat bagus. Kalau Baroto tak bisamenjaga sikap, lalu istrinya tahu, dia bisa celaka.

“Baiklah, sekarang aku permisi.”

Menur mengangguk, berdiri di depan pintu menatap Baroto yang masih agak terpincang saat berjalan. Ia menutup pintunya ketika kuda tunggangan Baroto membawanya pergi.

Menur memegang kotak makanan itu, lalu bergegas mendekati Rahman yang entah mengapa, belum mulai makan juga. Rupanya Rahman sedang menyesali sikapnya ketika bertemu penunggang kuda itu, yang mengatakan bahwa ibunya pembantu, padahal akhirnya pasti orang kaya itu tahu bahwa dirinya berbohong.

“Mengapa belum makan Nak? Maaf tadi ibu hanya sempat membeli telur. Tapi ini, ada orang baik memberi makanan,” kata Menur sambil membuka kotak. Ada lele goreng dan lalapan yang menguarkan aroma gurih.

“Anehnya Rahman tidak tertarik. Ia malah mengambil nasi lauk telur yang disiapkan ibunya.”

“Kamu tidak mau?”

“Sedang tidak selera makan,” jawab Rahman sekenanya.

Jawaban itu sontak membuat Menur khawatir. Ia mendekat, dipegangnya dahi sang anak.

“Tidak panas.”

“Hanya tidak selera makan.”

“Ibu minta maaf tidak bisa membelikan pesanan kamu, tapi ini ada orang baik memberi ikan. Makanlah. Apa kamu tahu, yang sering memberi makanan enak yang kamu makan itu dia.”

Rahman menatap ibunya.

“Ibu kenal baik dengan dia? Mengapa dia sering memberi makanan?”

“Bukan dia, tapi anaknya yang suka sama ibu. Setiap kali ibu lewat sana, dia senang sekali. Dan selalu memberi makanan enak.”

“Dia tahu kalau ibu seorang pemulung?”

“Ya, tentu saja tahu, karena setiap kali lewat, ibu selalu membawa karung berisi botol-botol kosong. Memangnya kenapa?”

“Mereka orang kaya bukan?”

“Sangat kaya. Orang biasa mana bisa membeli kuda. Mobilnya juga banyak. Kelihatan dari luar setiap kali ibu lewat sana. Kalau kamu ingin kaya, kamu harus mendapat pekerjaan yang baik kelak. Karena itu kamu harus rajin belajar.”

Rahman sudah selesai, ibu makan sendiri saja makanan itu,” katanya sambil berdiri.

“Bagaimana kalau untuk lauk kamu nanti malam?”

Rahman tak menjawab. Sang ibu heran melihat sikap Rahman hari itu.

***

Hari itu ketika Rahman keluar dari halaman sekolah, om kaya yang punya kuda sedang mengendarai kudanya menuju ke arah sekolahnya. Rahman terkejut, ia ingin lari masuk kembali ke halaman, tapi penunggang kuda itu berteriak memanggilnya.

“Rahman! Ayo jalan-jalan.”

Rahman mendekat dengan enggan, bukan bersemangat seperti ketika pertama kali melihatnya.

“Ayolah, kita jalan-jalan, lalu makan siang bersama di suatu tempat.”

Rahman tak bisa menolak, sungguh ini adalah pertama kalinya dia kehilangan kesombongannya. 

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, July 18, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 52

 NAMAKU TETAP SENJA  52

(Tien Kumalasari)

 

Senja  merasa tidak enak. Di salon itu hanya ada karyawan tukang pijat, dan dirinya yang bantu-bantu bu Mery memotong dan membersihkan muka pelanggan. Kalau tukang pijit tidak masuk, lalu bu Mery mengatakan ada yang akan menggantikannya, apakah yang dimaksud adalah dirinya?

Senja berdebar. Ia ingin pamit sekarang juga, tapi bu Mery sendirian. Masih ada nurani untuk membantu, tapi pekerjaan memijit itu ia tak sudi melakukannya.

Dilihatnya bu Mery mempersilakan pelanggan laki-laki yang dipanggilnya pak Felix, ke kamar pijit. Senja mencari kesempatan untuk pamit, tapi bu Mery mendekatinya.

“Senja, kamu kan mau pamit hari ini,” kata bu Mery lembut.

Senja senang bu Mery memperhatikan permintaannya.

“”Iya Bu, maafkan saya.”

“Tapi kamu kan tahu bahwa aku sedang sendiri. Masa iya kamu tega membiarkannya. Lihat, ada pelanggan lain datang. Biasanya dia potong rambut dan cuci muka.”

Hati Senja terasa miris. Kok ada ‘tapinya’? Lalu masalah tega itu, membuatnya bingung.

“Senja, tolonglah, ini yang terakhir kali kamu membantu aku, layani sebentar pak Felix, dia uangnya banyak. Kalau kamu bisa menyenangkannya, dia pasti akan memberi kamu uang banyak.”

“Saya tidak mau uang Bu, saya keberatan melakukannya.”

“Senja, aku minta tolong. Ini yang terakhir.”

Kali itu suara bu Mery tegas dan tandas. Ia berkata-kata sambil menarik lengannya, dipaksanya masuk ke dalam kamar.

“Bu, saya tidak bisa.”

“Tolong Senja, ini yang terakhir. Setelah itu aku berikan gaji kamu penuh sebulan walau baru beberapa hari bekerja di sini.”

“Saya tidak mau uang, biarlah tidak dibayar,” kata Senja meronta, tapi tangan bu Mery sangat kuat. Ia terus menarik Senja ke dalam, lalu mengunci pintunya dari luar.

Tiba-tiba Senja merasa bahwa dia terpedaya.

***

Bu Mery mendekati pelanggan yang baru datang, yang memang benar ingin memotong rambut.

“Saya ingin model yang lain bu Mery, biar kelihatan awet muda.”

“Tentu Mbak, silakan memilih, model yang mana yang Mbak pilih, ini gambar-gambarnya.”

Bu Mery menjauh dari pelanggannya, karena ponselnya berdering.

“Mery, dia sudah datang?” suara dari seberang.

“Sudah.”

“Dia mau melayaninya?”

“Semula tidak mau. Hari ini sebenarnya dia minta resign. Tapi aku memaksanya untuk melayani pak Felix dulu.”

“Dia mau?”

“Tidak, harus dipaksa.”

“Sekarang di mana mereka?”

“Ya di kamar, aku sudah menguncinya. Segera kamu transfer uangnya. Seperti yang aku minta, jangan kurang.”

“Hari ini?”

“Hari ini, aku masih banyak kebutuhan. Suami Tantrina belum memberikan yang Tantrina minta.”

“Baiklah, dalam seperempat jam aku akan mentransfer uangnya.”

“Kelamaan.”

“Aku harus ke bank, m-bankingku agak rewel, nggak tahu kenapa.”

“Segera, aku tunggu. Kalau tidak aku akan membeberkan semua kelakuan kamu.”

“Ya ampun, pakai ngancam sih Mer?”

“Kamu sudah berjanji, harus kamu tepati.”

“Iya … iya, tenang saja.”

Penelpon itu menutup pembicaraan itu. Bu Mery menghampiri pelanggannya kembali.

“Bagaimana Mbak, sudah menemukan modelnya?”

“Sudah … yang ini ya. Kira-kira bagus nggak untuk aku?”

“O, sangat pas Mbak, sesuai dengan wajah Mbak yang oval. Akan saya mulai sekarang ya.”

Baru beberapa saat bu Mery memotong rambut pelanggannya, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Pintu yang tadi dikunci digedor dari dalam. Keras sekali. Bu Mery menoleh, pintu itu sampai bergoyang-goyang. Si pelanggan terkejut.

“Ada apa itu Bu, gaduh sekali.”

Pintu itu terus digedor. Semakin kuat. Kalau dibiarkan sebentar saja, barangkali pintu itu benar-benar akan jebol.

“Bu, mengapa itu, kenapa tidak dibuka dulu, kelihatannya ada teriakan di dalam," kata pelangggan yang rambutnya baru dipotong separo.

Bu Mery sebenarnya bukan pelaku kajahatan, ia hanya mata duitan. Gedoran di pintu membuatnya takut. Ia terpaksa meninggalkan pelanggan, kemudian membukanya. Di tengah pintu, ia melihat Senja berdiri dengan wajah murka.

“Ternyata Ibu menjerumuskan saya,” katanya sambil mendorong bu Mery ke samping.

Lalu ia berlari keluar, mengambil tas kecilnya di dekat pintu, kemudian menghampiri sepedanya dan kabur.

Bu Mery terpana, tak sempat mencegahnya. Di dalam kamar, seorang laki-laki tersungkur di lantai, kepalanya bersimbah darah. Sebuah kursi alumunium tergeletak di dekatnya.

Pelanggan yang tadi ditinggalkan ingin tahu apa yang terjadi di kamar sana. Bu Mery berdiri mematung, sambil menuding-nuding, mulutnya kelu, tak mampu berkata-kata.

Pelanggan itulah yang kemudian berteriak.

“Ya ampuun, ada pembunuhan. Gadis itu pelakunya, ada apa ya? Harus lapor polisi Bu. Harus.”

“To … tolong … tolong …  tolonglah …”

Pelanggan itu segera mengambil ponselnya, dan melapor ke polisi. Tapi ia juga tak mau terlibat, ia segera pergi dengan sepeda motor, lupa kalau rambutnya baru dipotong separo.

***

Bu Mery terduduk lemas, ia bingung harus melakukan apa. Diberanikannya ia mendekati sosok yang terbaring di lantai, tangan Felix bergerak-gerak. Bu Mery lega, ia masih hidup.

“Tolong … bawa … aku ke rumah sakit. Perempuan  … itu … perempuan itu ….”

Lalu ia kembali pingsan. Bu Mery lari ke depan, ia akan menelpon Tantrina, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Rosa.

“Mery, uangnya sudah aku transfer. Lebih cepat dari yang aku katakan kan?”

“Rosa, kamu gila. Senja hampir membunuh Felix.”

“Apa?”

“Felix pingsan, kepalanya bersimbah darah.”

“Senja mana? Lapor polisi. Awas, jangan melibatkan aku. Aku sudah memberi kamu uang. Dasar bodoh. Bagaimana bisa terjadi?”

Lalu Rosa menutup ponselnya begitu saja.

“Aduuh, mana polisi … mana polisi …. lama sekali, bagaimana kalau keburu mati?”

Diliputi ketakutan, ia lupa pada uang yang sudah diterimanya.

***

Senja terengah-engah. Ia memacu sepedanya sekuat tenaga. Peluh sudah membuat tubuhnya basah kuyup. Ia tak memperhatikannya. Kejadian yang baru saja dialami membuatnya sangat ketakutan. Tadi dia sudah mengatakan bahwa tak mau, tapi bu Mery memaksanya. Paksaan itu membuatnya merasa bahwa bu Mery akan mencelakakannya. Tadi ... di atas ranjang, seorang laki-laki sedang berbaring. Melihatnya masuk, ia menatap dengan tatapan menjijikkan.

“Cantik, ayo segera lakukan, aku lelah  sekali… " katanya sambil tangannya melambai ke arahnya.

Senja terpaku di depan pintu. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Ia yakin laki-laki itu akan melakukan hal yang tak senonoh.

“Saya…  bukan tukang pijit, biarkan saya … pergi.”

Laki-laki itu tertawa. Giginya yang kecoklatan menambah rasa jijik di hati Senja.

“Sayang, aku tidak akan menyakiti kamu, ayo pijat, apakah aku harus melepas dulu pakaian aku agar pijitan kamu terasa nyaman?”

“Tidak, ja … jangan … “

Senja sudah pernah hampir diperkosa, waktu itu di kamar mandi, dan dia selamat setelah berhasil menyemprotkan cairan sabun atau entah apa, ke matanya. Sekarang ia juga merasa bahwa laki-laki itu pastilah laki-laki mesum yang sudah membayar bu Mery. Senja mundur mendekati pintu, mencoba membuka tapi terkunci dari luar. Laki-laki itu terbahak.

“Mana bisa kamu keluar, cantik. Kamu harus melakukan tugas kamu, atau … aku harus memaksa?”

Senja terkejut ketika laki-laki itu bangkit, lalu melangkah mendekatinya. Senja mundur, ada kursi tempat duduk yang barangkali biasanya dipakai duduk oleh tukang pijatnya. Ketika laki-laki itu mendekat, Senja mengayunkan kursi yang tidak begitu berat itu ke arah kepalanya. Laki-laki yang tidak mengira Senja akan melawan, jatuh tersungkur dengan kepala bersimbah darah.

***

Senja terus mengayuh sepedanya. Sangat kencang, menuju pulang.

***

Besok lagi ya.

Friday, July 17, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 51

 NAMAKU TETAP SENJA  51

(Tien Kumalasari)

 

Simbok merasa senang, ketika Senja hanya akan sehari besok saja bekerja di salon. Kecuali tempatnya jauh, terkadang pulangnya tidak tentu. Lagi pula Senja kurang senang karena disuruh belajar memijit, entah itu pria ataukah wanita. Senja bukan anak kecil, dia tahu arti cara memandang beberapa pria pelanggan saat mereka meminta dirawat. Entah rambut dipotong, entah wajah dibersihkan. Mengapa juga mereka memandang dengan cara yang tidak menyenangkan. Jadi ia bersyukur Arka menawarinya pekerjaan. Entah pekerjaan apa. Tukang bersih-bersihpun Senja mau. Yang penting tidak melayani pelanggan seperti pelanggan bu Mery, yang seringkali menatapnya dengan cara yang dianggapnya tidak sopan.

“Jadi besok kamu hanya akan minta ijin ya Nja, tidak sampai sore kan?”

“Iya Mbok, tidak apa-apa seandainya tidak mendapat upah, kan baru bekerja beberapa hari.”

“Tidak apa-apa tidak mendapat upah, yang penting kamu bisa merasa lebih tenang, tidak terlalu capek. Anggap saja kamu membantu orang, tidak usah mengharapkan imbalan.”

“Iya Mbok.”

“Wah, tidak jadi potong rambut gratis dong aku,” celetuk Rimba sambil tertawa lucu.

“Nanti Mbak potong, sedikit banyak Mbak sudah belajar memotong dari melihat cara bu Mery memotong rambut pelanggannya. Aku kira bisa. Besok kalau sudah di rumah aku akan coba memotong rambut kamu.”

“Wah, kalau untuk percobaan nggak mau, bagaimana kalau botak separo,” canda Rimba, membuat semuanya tertawa.

“Ada-ada saja. Masa iya, ada orang memotong botak separo? Pokoknya kamu akan tambah guanteng nanti.”

***

Sudah agak malam ketika Arka sampai di rumah, membuat ayah dan ibunya bertanya-tanya.

“Ke mana saja kamu Ka? Tumben pulang sampai malam.”

“Ada perlu ketemu teman.”

“Kalau begitu mandi dulu sana, biar bibik menyiapkan makan malam untuk kamu,” kata sang ibu.

“Baik, Arka mau mandi dulu.”

“Bapak besok ke kantor kan?” tanya Arka sebelum masuk ke kamarnya.

“Iya, ke kantor dulu, sebentar. Bapak mau ada perlu setelahnya.”

“Jangan buru-buru pergi. Ada yang Arka ingin bicarakan.”

“Bapak masih mau menungguin teman Bapak itu?” tanya bu Wiguna.

“Tidak. Ada perlu yang lain.”

Dan saat itu juga ponsel pak Wiguna kembali berdering.

“Ya, ada apa? Kan aku minta jangan menelpon?”

“Hanya untuk memastikan, Bapak seharian tidak ke rumah. Bagaimana dengan besok?”

“Besok ya besok, aku pasti datang.”

“Dan pikirkan tentang balik nama rumah ya Pak, kalau perlu hari itu juga, surat-surat yang diperlukan jangan lupa Bapak bawa, aku sudah menyiapkan semuanya.”

“Selamat malam,” hanya itu jawaban pak Wiguna, sebelum menutup ponselnya.

“Ada apa? Kelihatannya Bapak kesal.”

“Tidak apa-apa,” katanya sambil melenggang ke arah depan.

Dan seperti biasa bu Wiguna tak pernah mendesak apapun yang ditanyakannya, walau sebenarnya ia ingin tahu.

***

Pagi hari itu Arka sudah berada di ruangan sang ayah. Ia menanyakan tentang rumah yang dibeli oleh ayahnya.

“Rumah itu masih atas namaku, dia memintanya agar dibalik nama menjadi milik dia.”

“Bapak ingin memenuhinya?”

“Sebenarnya bapak sedikit merasa bahwa dia terlalu banyak meminta. Aku sudah memenuhinya, tapi masih ada saja yang dia minta, termasuk rumah itu.”

“Bapak ingin memenuhinya, tentang rumah itu?” ulang Arka.

“Bapak berpikir tentang anak yang dikandungnya. Barangkali Bapak memang akan meninggalkan dia, tapi bayi yang dikandungnya adalah darah daging Bapak. Bapak rasa biarlah rumah itu akan bapak berikan untuk dia, demi anak bapak yang dikandungnya.”

”Bagaimana kalau bayi yang dikandungnya bukan darah daging Bapak?”

“Apa?”

Pak Wiguna tampak terkejut.

“Dia mengandung anakku. Dia hamil setelah adanya bapak yang selalu mengunjungi dia.”

“Bagaimana kalau dia sudah hamil ketika mendekati Bapak?”

“Arka, kamu boleh benci kepada seseorang. Bapak mengerti, keberadaan wanita itu pasti melukai hati ibumu dan kamu pasti tidak rela, tapi jangan kamu kemudian membuat tuduhan yang tidak beralasan.”

“Banyak kejadian, perempuan yang hamil entah oleh siapa, kemudian mendekati seseorang, dan melakukan hal yang bisa membuat orang tersebut mengira bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah dagingnya.”

“Arka, kamu sering melihat sinetron?”

Arka tertawa.

“Mana sempat Arka melihat sinetron. Kalau pulang dari kantor sudah lelah.”

“Tapi kamu mengada-ada.”

“Siapa tahu hal itu benar. Apakah ketika bertemu Bapak dia masih perawan?”

Pak Wiguna terdiam.

“Kalau dia masih perawan, bisa jadi bayi yang dikandungnya adalah darah daging Bapak. Kalau tidak, banyak kemungkinan terjadi. Dia dihamili orang kemudian ditinggalkan, atau sengaja mendekati orang yang punya duit agar mendapatkan kehidupan mewah.”

“Bagaimana aku bisa tahu tentang hal itu?”

“Tes DNA.”

“Apa?”

“Itu satu-satunya jalan, agar Bapak yakin anak itu anak siapa.”

“Mana dia mau?”

“Ajak ke rumah sakit, di sana dia tak akan bisa menolak. Lagipula kalau bayi yang dikandungnya benar-benar darah daging Bapak, dia pasti tak akan keberatan.”

Tiba-tiba pak Wiguna juga merasa ragu. Ia mulai menghitung-hitung,

“Jadi masalah rumah biar saja dulu ya, tidak buru-buru dipindah namakan atas nama dia.”

“Betul Pak, itulah hal terbaik yang harus Bapak lakukan.”

***

Senja sudah sampai di tempat kerjanya. Ia tak mau langsung mengatakan bahwa ia ingin resign. Ia tetap mengerjakan pekerjaannya seperti yang setiap hari dilakukannya. Bersih-bersih, dan menata apa saja agar terlihat rapi saat pelanggan datang. Sebenarnya bu Mery suka pada pekerjaan Senja. Dia rajin dan cekatan, serta mengerti apa yang harus dilakukannya.

Setelah selesai, Senja mendekati bu Mery, ingin mengatakan bahwa ini hari terakhir dia bekerja.

Tapi sebelum dia mengatakannya, bu Mery menariknya ke sebuah ruangan, di mana para pelanggan dilayani bagi yang ingin dipijit.

“Aku beri tahu kamu, bagaimana cara memijit yang benar, agar pelanggan suka dan tidak bosan datang kembali kemari.”

“Tapi Bu … “

“Lihat aku, ini adalah titik-titik yang harus kamu pelajari setiap memijit," bu Mery menunjukkan ke tubuhnya sendiri, di bagian mana yang harus dipijit.

Senja kehabisan waktu untuk berkata-kata, dan akhirnya ia memperhatikan juga apa yang diajarkan bu Mery.

“Kamu paham?”

“Bu, sebenarnya ….”

“Aku tahu kamu tidak suka memijit para pria. Tapi hanya memijit, apa salahnya?”

“Itu tidak boleh Bu, agama saya melarangnya menjamah tubuh orang yang bukan mahram.”

“Kalau kamu keberatan, kamu bisa tanpa menyentuhnya. Dia berpakaian, apa namanya menyentuh?”

“Tapi Bu, sebenarnya hari ini saya mau minta ijin.”

“Senja, jangan minta ijin hari ini. Sita ijin hari ini. Dia yang biasa memijit pelanggan, jadi aku minta tolong hari ini saja kamu menggantikannya, sambil belajar.”

“Bukan minta ijin untuk tidak masuk Bu, saya mau berhenti.”

“Apa? Kamu mau berhenti?”

“Berhenti? Ada apa Senja? Kamu sudah baik bekerja di sini, dan aku suka pekerjaan kamu. Kamu tidak usah keluar, nanti gaji kamu akan saya berikan dua kali lipat.”

“Maaf Bu, saya … bekerja di sini, kejauhan, jadi ….”

“Kalau kejauhan, kamu bisa membawa pulang motorku. Kalau naik motor kan tidak terasa jauh.”

Tawaram bu Mery tampak berlebihan. Seperti memaksa.

“Tapi saya … maaf Bu, ini hari terakhir saya masuk.”

“Kamu baru beberapa hari, kamu tidak akan mendapat gaji,” kata bu Mery sedikit kesal.

“Tidak apa-apa seandainya tidak mendapat gaji. Ini kan kemauan saya sendiri.”

“Selamat pagi …”

Terdengar suara berat laki-laki. Pembicaraan dengan bu Mery terhenti.

“Waduh Alex, tukang pijit kamu hari ini tidak masuk, tapi jangan khawatir, ada yang akan menggantikannya.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, July 16, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 50

 NAMAKU TETAP SENJA  50

(Tien Kumalasari)

 

Simbok keluar dari dalam rumah, heran melihat Senja berbincang dengan pesuruh Arka lalu meminjam ponselnya.

“Ada apa Nja?” tanya Simbok.

Senja tidak langsung menjawab, lalu mengajak simboknya duduk di bangku depan rumah.

“Berasnya sudah beres kan?”

”Iya, sudah, kan sudah dibawa pergi.”

“Kamu tadi ngapain? Telpon-telponan segala. Sama siapa? Mas Arka sudah membayar lunas, dan seperti biasa ada sisanya. Pasti besok juga tidak mau kalau Simbok kembalikan.”

“Sedang ada masalah Mbok.”

“Masalah apa?”

“Di tempat Senja bekerja itu, Senja mendengar sesuatu. Anak pemilik salon itu adalah wanita yang saya lihat sedang berjalan bersama tuan Wiguna.”

“Tuan Wiguna itu kan ….”

“Ayahnya mas Arka Mbok.”

“O, jadi yang bersama tuan Wiguna itu anak pemilik salon? Siapa namanya?”

“Namanya Tantrina. Senja juga baru tahu.”

“Memangnya kenapa Nja, kamu tidak usah ikut campur urusan orang. Sudah biasa kalau orang kaya punya istri lebih dari satu.”

“Bukan begitu Mbok, Tantrina dan ibunya itu punya maksud buruk terhadap tuan Wiguna. Masa aku harus diam saja. Aku harus mengatakannya kepada mas Arka agar tidak menjadi berlarut-larut. Kasihan keluarga Wiguna.”

“Simbok tidak mengerti maksudmu … maksud buruk yang bagaimana?”

“Tantrina mengaku hamil, tapi yang dikandung itu bukan anak tuan Wiguna.”

“Ya ampuuun, mereka bohong terhadap tuan Wiguna?”

“Masalahnya lagi mereka memoroti harta tuan Wiguna. Minta agar rumah yang dibeli harus atas namanya, dengan dalih anak yang dikandungnya adalah darah daging tuan Wiguna. Mereka juga meminta banyak barang. Pak Wiguna kelihatannya juga membesarkan salon itu yang tadinya hanya salon kecil.”

“Waduh, jahat sekali mereka. Lalu kamu mau mengatakan semuanya kepada mas Arka?”

“Iya Mbok, mas Arka sangat baik kepada kita. Kita harus mengatakan semuanya, jangan sampai ayahnya terjerumus lebih jauh dalam kebohongan itu.”

“Kamu benar Nja. Lalu tadi kamu sudah mengatakannya kepada mas Arska?”

“Belum Mbok, kan ada orang lain di situ tadi. Aku minta agar mas Arka datang kemari, jadi aku bisa bercerita lebih jelas.”

“Ya Tuhan, ada orang sejahat itu.”

“Tantrina itu masih muda dan cantik. Pantas saja tuan Wiguna tergila-gila. Semoga setelah semuanya terbuka, tuan Wiguna bisa sadar.”

***

Sore setelah Senja pulang, bu Mery menelpon Rosa. Ia mengatakan tentang kerja samanya yang belum bisa terlaksana.

“Kamu kelamaan Mbak, segera selesaikan, jangan lama-lama. Aku ingin gadis itu hancur. Dia menyakiti aku dengan merebut kekasihku. Dia harus merasakan sakit melebihi sakit yang aku rasakan.”

“Iya, aku tahu. Besok baru akan aku ajari memijit pelanggan, tapi tampaknya dia enggan melayani pelanggan laki-laki.”

“Jangan biarkan dia melawan, kamu harus bisa memaksanya.”

“Akan aku coba, tapi duitnya harus kamu tambahin, aku masih butuh banyak barang.”

“Tentu, begitu berhasil kamu akan mendapatkan sebanyak yang kamu minta. Jangan kelamaan. Keburu dia minta resign kalau kamu tidak segera mengikatnya.”

“Resign .. tidak, dia kelihatan suka..”

“Kamu tadi bilang kalau dia tidak suka melayani pelanggan laki-laki, kalau tiba-tiba dia pergi?”

“Iya juga sih. Baiklah, akan segera aku lakukan, kamu tidak usah khawatir. Tapi jangan lupa kekurangannya.”

“Iya … iya, khawatir amat sih.”

Bu Mery tersenyum, ia pasti bisa melakukannya, dan uang akan segera diterimanya.

“Gadis itu amat polos, gampang sekali mengakalinya, aku kira semuanya akan segera bisa dilakukan. Pak Dian akan segera aku kabari. Dia pasti suka,” kata batin bu Mery, sambil menyambut pelanggan yang baru saja datang.

***

“Mengapa Arka belum juga pulang?” tanya bu Wiguna sambil menemani suaminya minum minuman hangat dan makan cemilan buatan bibik.

“Di kantor memang sedang banyak pekerjaan. Ia harus memeriksa semuanya, menjelang akhir tahun.”

“Apa dia akan pulang malam?”

“Tidak, aku kira dia akan segera pulang.”

“Yang tadi telpon siapa?”

Pak Wiguna agak kaget mendengar pertanyaan istrinya. Biasanya dia tak pernah ingin tahu ketika dia sedang bertelpon dengan siapa saja.

“Yang tadi itu?”

“Iya, Bapak keihatan menjawab dengan kesal.”

“O, dia … orang, memang membuat kesal, tidak usah dipikirkan.”

Kalau sudah begitu bu Wiguna tak ingin bertanya lebih lanjut, walau ada pemikiran aneh ketika dia mendengarkan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir bu Wiguna.

“Aku kok sudah lapar, padahal masih agak sore ya Bu.”

“Apa tidak menunggu Arka sekalian?”

“Kok belum pulang, coba aku telpon dulu,” kata pak Wiguna yang segera mengangkat ponselnya. Tapi Arka menjawab bahwa dia sedang ada urusan.

“Jadi kamu masih di kantor?”

“Sudah keluar dari kantor Pak, tapi masih ada urusan.”

“Ibumu menunggu untuk makan malam, bapak juga sudah lapar.”

“Bapak sama Ibu makan saja dulu, nanti Arka makan sendiri tidak apa-apa.”

“Urusan apa sih? Penting? Apa kamu tidak capek, seharian di kantor."

“Agak penting. Bapak sama Ibu makan saja dulu.”

Arka menutup ponselnya.

“Belum bisa pulang?”

“Katanya ada urusan penting, dia minta agar kita makan saja dulu.”

“Baiklah kalau begitu.”

***

Hari memang sudah gelap ketika Arka sampai di rumah mbok Mangun. Ketika dia datang, yang menunggu di bangku depan rumah hanyalah Senja. Tampaknya ia memang sedang menunggu. Lampu di depan rumah tampak berkelap kelip. Walau lampu listrik, tapi nyalanya bukan yang sangat terang. Tapi cukup untuk menerangi halaman rumah mbok Mangun yang sempit.

“Maaf Mas, aku menyusahkan Mas.”

“Tidak apa-apa.”

“Mas baru dari kantor?”

“Iya, agak banyak pekerjaan di hari-hari terakhir ini.”

“Maaf ya Mas, saya terpaksa meminta Mas untuk datang, karena aku ingin mengatakan sesuatu yang amat penting. Barangkali sangat penting untuk keluarga Mas sendiri.”

Arka manatap Senja yang duduk di sampingnya. Ia melihat keseriusan dalam berkata-kata.

“Ada apa?”

“Ini tentang wanita yang saya lihat bersama tuan Wiguna di perumahan baru beberapa waktu yang lalu.”

“Kamu mengenalnya?”

“Tidak, tapi aku sudah tahu, namanya Tantrina. Ternyata dia anak tunggal pemilik salon di mana aku bekerja.”

“Oh ya?”

“Ada sesuatu yang Mas harus tahu.”

Lalu Senja mengatakan semua yang didengarnya. Tenteng keinginan keluarga Tantrina untuk terus memeras tuan Wiguna, dan tentang bayi yang dikandungnya, yang ternyata bukan darah daging tuan Wiguna.

Arka terkejut. Bukan karena wanita itu memoroti harta ayahnya, karena hal itu sudah dalam dugaannya, tapi tentang bayi yang dikandung wanita itu adalah bukan darah daging ayahnya. Dan kehamilan itulah yang dipergunakan untuk memaksa ayahnya agar mau menuruti semua kemauannya.

“Maaf Mas, bukan maksud saya menceritakan sebuah aib, tapi_”

“Tidak Senja, kamu melakukan hal yang benar. Kamu menyelamatkan keluarga ayahku. Aku harus mengucapkan terima kasih atas semuanya..”

“Sama-sama Mas, tidak usah berterima kasih, karena aku melakukan hal yang semestinya."

Tapi Arka tidak segera pulang, ia menanyakan di mana Senja bekerja, dan apakah Senja menyukai pekerjaan itu. Arka agak terkejut mengetahui bahwa tempat Senja bekerja sangat jauh dari rumahnya, dan ia hanya naik sepeda kayuh.

“Senja, sebaiknya kamu resign dari sana, bekerjalah di kantor aku, lebih dekat.”

“Masa aku bekerja di kantoran mas, mas Arka lupa kalau aku hanya lulusan SMA?”

“Nanti bisa diatur. Kamu akan membantu pekerjaan sekretaris aku, kamu bisa belajar sebelumnya. Kasihan kalau kamu bekerja jauh-jauh begitu.”

“Benarkah?”

“Sebenarnya hal ini sudah aku pikirkan sejak lama, sejak kamu mengatakan tidak ingin melanjutkan kuliah. Hanya saja karena kesibukan aku, jadi aku belum sempat mengatakannya pada kamu.”

Senja tampak senang mendengarnya.

“Tapi aku sungkan kalau tiba-tiba keluar.”

“Besok kamu bisa masuk kerja, sekalian ijin untuk berhenti. Hari berikutnya kamu sudah bisa masuk ke kantor aku.”

“Baiklah kalau begitu. Besok aku minta ijin dulu, tidak enak kalau tiba-tiba tidak masuk atau langsung keluar.”

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 54

  NAMAKU TETAP SENJA  54 (Tien Kumalasari)   Tak lama kemudian, terdengar suara tegas dari luar rumah. “Selamat siang.” “Ada tamu siapa tuh?...