Monday, May 11, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 38

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  38

(Tien Kumalasari)

 

Indras hampir tidak bisa bernapas karena Zein memeluknya erat sekali. Kemana api kemarahan yang membara saat dia menaiki teras? Semuanya hilang? Tapi Indras bukan perempuan bodoh. Ada sesuatu yang membuat kemarahan Zein hilang. Tentang pesanan taart yang dia suruh memberi tulisan seperti permintaannya, pastinya membuat Zein marah, karena bukankah itu taart untuk selingkuhannya? Tapi jawaban yang diberikan, bahwa dirinya mengira bahwa taart itu untuknya, membuat Zein merasa senang. Atau lega? Indras tertawa dalam hati. Tawa yang terasa mengiris jantungnya sendiri. Tapi Indras bersyukur bisa menjawabnya. Jawaban yang membuat Zein urung terbakar amarah gara-gara dia mengira taart itu untuknya,

Indras mendorong tubuh Zein perlahan, agak memaksa karena Zein masih memeluknya erat.

“Semoga sehat, panjang umur, menjadi naungan teduh bagi anak-anak kita,” bisiknya perlahan. Ucapan yang manis, yang diucapkan karena terpaksa, atau terdesak, karena sebelumnya dia kan lupa kapan hari ulang tahunnya?

Walau begitu Indras tetap tersenyum. Senyum yang sejak dulu dikagumi Zein dan membuatnya jatuh cinta.

“Terima kasih, suamiku, bahagia sekali kamu mengingat ulang tahun aku. Suamiku yang baik, sekarang ayo kita lihat taartnya, aku ingin mencicipinya,” kata Indras sambil menarik tangan Zein, seakan-akan ia ingin melihat taart hadiah dari suaminya. Tapi Zein menahannya.

“Tidak jadi aku ambil In.”

“Apa? Tidak jadi diambil? Kenapa?” Indras mengerutkan keningnya, pura-pura kecewa, karena sesungguhnya ia sudah tahu kalau taart itu sudah diberikan kepada selingkuhannya yang cantik dan seronok itu.

“Maaf Indras, aku marah kepada tukang roti itu. Ia lupa pada tulisan yang aku perintahkan, lalu aku tidak jadi mengambilnya,” aduhai sejak kapan Zein pintar berbohong? Kalau dia tidak bisa menjawab sesuatu yang ditanyakan oleh istrinya, biasanya dia hanya diam, pergi atau marah. Sekarang dia menjawabnya dengan manis, dan itu adalah kebohongan. Indras menjadi sedih. Wajahnya benar-benar muram. Bukan karena urung makan taartnya, tapi karena kebohongan suaminya.

“Indras, hanya taart, ayo kita pergi dan makan, kalau perlu aku akan pesan lagi lalu kita habiskan berdua.

Indras menggeleng.

“Tidak usah, aku sudah makan, dan aku sangat lelah.”

“Indras, maaf ya,” Zein masih merayu, mengira Indras kecewa karena ia tak membawa taart itu pulang. Mana Zein tahu bahwa taart itu telah dibuang oleh dokter Tyas ke tempat sampah.

Zein mengikuti langkah istrinya ke arah kamar.

“Ada hadiah yang lebih indah untuk kamu malam ini, jangan marah ya.”

Apakah ucapan suaminya membuat Indras bahagia? Ia tersenyum manis, tapi tak ada bahagia di dalamnya.

Indras sedih, kapan Zein sembuh dari sakitnya? Sakit pada jiwanya, dan sakit karena selalu menyakitinya demi perempuan lain?

***

Pagi itu sikap Zein sangat manis. Ia menemani Indras minum kopi sejak dini hari, sudah rapi wangi jauh sebelum jam untuk masuk bekerja, lalu makan pagi persama sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulut sang istri.

Indras tidak menolak. Ia harus bersyukur ada sikap manis sejak semalam, dan ia berharap seterusnya akan begitu.

Semalam Indras berpikir, bahwa kalau menurutkan rasa sakit hati, ia bisa hancur dengan sendirinya, karena tak tahu kapan itu akan berakhir. Ia berharap dirinya kuat untuk bersabar, sambil menunggu lilin kecil yang dinyalakan akan berhasil menerangi seluruh ruang di hatinya.

“Indras, aku jadi ingin minum dawet seperti yang kamu bawa  waktu itu. Nanti siang aku pulang makan di rumah ya, siapkan dawetnya juga,” kata Zein tiba-tiba.

“Nanti aku bawakan saja dawetnya ke rumah sakit tempat kamu berpraktek, karena aku tidak bisa pulang siang ini.”

Zein hampir tersedak. Lalu cepat-cepat meneguk air putih di dekatnya.

“Pelan-pelan Zein. Sudah, makanlah saja, jangan sambil bicara, nanti tersedak lagi,” kata Indras tanpa memberi ruang untuk menjawab bagi Zein, yang pastinya akan menolak kedatangannya ke rumah sakit. Sampai mereka berangkat bekerja, mereka tak membicarakan masalah dawet segar seperti yang diinginkan Zein, yang bukan dibawa ke rumah sakit, tapi ke rumahnya sendiri. Tapi Indras tak peduli. Ia tiba-tiba punya alasan untuk bisa ketemu perempuan itu. Bukan untuk melabraknya atau mencaci makinya, entah mengapa, ingin melihatnya saja, barangkali bisa menyadarkannya bahwa Zein punya istri yang setia dan tak kalah cantik dengan dirinya.

***

Pagi itu Sinta bertelpon dengan kakaknya, yang menanyakan perihal ulang taun ibunya.

“Apakah Mama senang?”

“Mama itu selalu terlihat senang kalau sama anak-anaknya. Tapi mama bilang tidak mau ulang tahunnya dirayakan, jadi kami hanya makan-makan, lalu memesan es krim kesukaan mama.”

“Apakah kamu jadi mengabari papa?”

“Mbak Santi gimana sih, kan semalam aku sudah bilang kalau pergi tanpa papa, karena mama tidak mau aku menelpon papa.”

“Papa tidak pernah ingat ulang tahun mama.”

“Itu benar. Karena itu mama tidak mau aku mengabari papa seperti yang sudah-sudah. Toh papa tidak pernah suka merayakannya. Tapi entah mengapa, ketika aku dan mama sampai di rumah, papa sudah menunggu di teras. Kelihatannya sih marah, tapi kemudian mereka seperti bercanda-canda, ngobrol, bahkan paginya mereka juga baik-baik saja.”

“Syukurlah, senang mendengarnya. Papa itu barangkali butuh perhatian, sedangkan mereka masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.”

“Semoga semuanya baik-baik saja. Kapan Mbak pulang?”

“Minggu depan aku usahakan pulang.”

“Aku berencana mengajak jalan-jalan.”

“Siapa saja?”

“Ya papa, mama, aku, mbak Santi … siapa lagi?”

“Ajak bibik dong, dia kan juga butuh rekreasi.”

“Iya, nanti aku ajak bibik.”

“Rencana mau ke mana?”

“Belum tahu, pokoknya ke tempat yang sejuk, tenang, membuat senang, sehingga semua letih-lelah bisa terobati.”

“Terserah kamu saja kalau begitu. Ya sudah, aku sudah mulai sibuk nih, nanti aku telpon lagi.”

“Aku juga mau ke kampus.”

“Segera selesaikan kuliah kamu.”

“Ya, siap laksanakan.”

***

“Dokter kebanggaanku, ini … yang semalam aku beli. Baguskah?” kata dokter Tyas sambil berlenggak lenggok seperti peragawati.

“Bagus. Apapun yang kamu pakai selalu bagus.”

“Terima kasih, dokter kesayangan.”

“Kenapa kamu malam-malam pergi sendiri.”

“Saya suntuk. Dokter merayakan ulang tahunnya setengah-setengah.”

“Setengah-setengah bagaimana?”

“Kita belum ngapa-ngapain, tapi dokter sudah buru-buru pulang.”

“Yang penting sudah mengucapkan selamat ulang tahun, itu kan yang kamu inginkan?”

“Mana taart ultahnya untuk istriku pula, bukan untuk aku," omelnya cemberut.

“Maaf, mereka yang salah. Ayolah, jangan cemberut begitu. Aku khawatir kamu keluar malam sendirian.”

“Saya bingung mau ngapain, lalu keluar, jalan-jalan, sampai di butik langganan Dokter, aku masuk, lalu beli ini. Terima kasih telah membayarnya dengan mentransfer.”

“Lain kali jangan pergi malam-malam sendirian.”

“Dokter mengkhawatirkan saya?”

“Sebaiknya perempuan tidak keluar sendirian diwaktu malam. Bukan hanya kamu, tapi untuk perempuan lainnya.”

“Kirain untuk saya saja.”

“Ya sudah, sana … nanti mau ada tamu, nggak enak kalau kamu ada di sini.”

“Memangnya tamunya siapa?”

“Kecuali itu aku mau pulang sebentar.”

“Selamat siang.”

Zein dan dokter Tyas terkejut. Yang datang adalah Indras, membawa gelas-gelas plastik berisi minuman yang dipesan Zein. Tyas tersenyum genit, lalu melangkah keluar tanpa pamitan pada Zein, tapi mengangguk ramah pada Indras.

“Ini pesanan kamu Zein.”

“Aku pikir aku mau pulang ke rumah.”

Indras tak peduli apapun, ia juga tak menanyakan siapa perempuan genit itu karena dia sudah tahu. Kalau dia membicarakannya, nanti Zein malah marah, padahal Indras sedang ingin berdamai dengan bersikap manis kepada sang suami.

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, May 9, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 37

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  37

(Tien Kumalasari)

 

Zein kesal sekali. Ia berganti pakaian rumah lalu duduk di teras. Ia menolak ketika bibik menawarkan makan malam. Ia lapar, tapi tak berselera makan. Ia menyesali toko roti mengapa menelpon Indras, dan menyesali mengapa Indras menyuruh menuliskan ucapan ulang tahun untuk istrinya. Padahal ia sama sekali tak ingat bahwa hari ini juga ulang tahun sang istri. Tapi suasana itu sungguh tak mengenakkan. Ia ingin memberikan dokter Tyas kesenangan, yang terjadi adalah kekesalan. Walau tak mengatakan apa-apa, tapi ia tahu bahwa pasti hal itu membuatnya kecewa, membuyarkan kesenangan yang akan mereka bangun. Bukan apa-apa. Zein hanya ingin bergembira.

“Tuan, saya buatkan kopi, ditaruh di sini atau di dalam?” kata bibik sambil membawa nampan berisi segelas kopi.

“Taruh saja di situ.”

“Makan malam masih saya siapkan, kalau sewaktu-waktu Tuan ingin makan, tolong beritahu saya, sayurnya akan saya panasi lagi.”

“Ya, gampang, tidak untuk sekarang,” jawab Zein tak acuh, seperti  berharap bibik segera pergi dan tidak banyak bicara.

Bibikpun berlalu. Ia tahu sang tuan sedang kesal. Barangkali kekesalan itu akan ditumpahkannya setelah sang nyonya majikan pulang. Bibik sedih sekali. Dihari-hari terakhir ini rumah tangga sang majikan seperti diterpa hawa panas yang tak henti-hentinya, dan permasalahan apa sebenarnya yang memicu, tentu saja bibik tidak tahu. Ia hanya berharap semoga semuanya segera berakhir.

***

“Ma, kita jarang makan di sini, perasaan masakan di sini selalu enak ya,” kata Sinta saat makan bersama sang mama.

“Kamu benar, terasa sangat enak. Barangkali karena kita sedang lapar.”

“Ah, benar Ma, kita sedang lapar. Sekarang papa sudah pulang belum ya?”

“Mengapa memikirkan papa kamu lagi, nanti selera makan kita hilang.”

“Harusnya papa diberi tahu kalau hari ini ulang tahun Mama.”

“Mama tidak pernah ingin dirayakan. Itu kan akal-akalan kamu sama kakakmu saja.”

“Supaya Mama bahagia.”

“Kebahagiaan itu bukan karena ulang tahunnya dirayakan. Diingat saja sudah cukup.”

“Sinta selalu mengingatnya lhoh Ma. Papa mungkin harus diingatkan karena selalu sibuk, banyak pikiran.”

Indras tersenyum dalam hati. Senyum yang sangat pahit. Sibuk, banyak pikiran sampai tidak ingat ulang tahun istri, tapi ulang tahun perempuan lain sangat diingatnya.

“Mama mau nambah?”

“Tidak Sin, ini sudah lebih dari cukup. Kenyang banget, bisa-bisa pulangnya nanti nggak bisa jalan karena kekenyangan.”

“Padahal Sinta masih pesen es krim. Bukankah Mama suka es krim?”

“Kalau es krim mama mau, kan tidak membuat kenyang?”

“Benar Ma.”

Sinta senang, mamanya tampak bahagia. Walau tidak penting, tapi bukankah diingat ulang tahunnya saja sudah cukup? Dan anak-anaknya tidak pernah melupakannya, sedangkan untuk sang papa bisa dimaklumi, karena sibuk.

Ketika es krim dihidangkan, mereka menikmatinya dengan nikmat. Ingin sekali Sinta menelpon sang papa, tapi ia sudah dilarang, jadi tak berani melakukannya. Yang dia heran, mengapa papanya juga tidak menanyakan sedang pergi ke mana mereka, padahal ponsel dalam keadaan on semua.

“Apa papa belum pulang ya?”

“Kamu masih mengingat papa kamu?”

“Sinta heran, papa tidak menelpon kita juga. Apa papa tidak merasa kehilangan ya?” kata Sinta setengah bercanda.

Indras tak menjawab. Masalah taart yang dipesan diam-diam masih membuatnya kesal. Yang Indras heran, mengapa petugas toko menelpon dirinya tentang tulisan yang harus ditulis di toping taart itu. Ya iyalah, petugas itu mana tahu kalau taart dipesan diam-diam, jadi mereka tidak merasa berdosa. Sekarang Indras sedang membayangkan, bagaimana reaksi mereka setelah membaca tulisan itu.

***

Mereka tidak langsung pulang. Sinta mengajak sang ibu mampir di sebuah toko, lalu memberikan sebuah kerudung cantik untuk sang ibu.

“Ini hadiah ulang tahun untuk Mama. Tidak apa-apa kan, tidak usah dibungkus cantik?”

“Tidak apa-apa, yang penting mama suka warnanya. Kamu masih punya uang banyak ya, tadi mentraktir mama makan, sekarang membelikan mama kerudung cantik.”

“Sinta malah masih ingin membeli baju cantik untuk Mama. Yang itu hadiah dari mbak Santi.”

“Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Baju mama masih banyak, bingung mau dipakai kapan, sedangkan kita jarang bepergian.”

“Bagaimana kalau besok liburan mengajak papa jalan-jalan? Mbak Santi pasti bisa pulang kalau liburan.”

“Tidak usah. Istirahat di rumah saja.”

“Ma, rekreasi itu penting lhoh, untuk mengurai ketegangan setelah berhari-hari bekerja dan berpikir.”

“Harusnya kamu juga jadi dokter.”

“Untuk mengetahui tentang hidup sehat kan tidak harus menjadi dokter?”

“Kamu benar. Sekarang lebih baik kita pulang.”

“Kita belum beli baju, mampir ke butik langganan sebentar ya.”

“Nggak usah Sinta.”

“Nanti mbak Santi kecewa, ini kan pesan dari mbak Santi.”

“Kalian itu ada-ada saja.”

“Ini hari spesial, Mama tidak boleh menolak,” kata Sinta yang nekat membawa mamanya ke butik langganan.

“Beli yang biasa saja, tidak usah yang mahal.”

“Kita lihat mana yang Mama suka.”

Mereka sudah memasuki butik langganan dan disambut ramah oleh petugasnya, karena Indras dan Zein adalah pelanggan tetap mereka.

Sinta sibuk memilih-milih, sedangkan Indras hanya melihat-lihat. Ia sedang tak banyak keinginan. Para wanita menyukai baju-baju bagus, tapi tidak bagi Indras, setidaknya untuk saat ini.

Tiba-tiba Indras melihat seseorang. Wanita cantik dengan pakaian ketat dan dandanan yang menyolok. Indras mengingat-ingat, dia seperti pernah melihat wanita itu, tapi di mana.

Ia mendekat, wanita itu tidak melihatnya, ia sibuk memilih, lalu tangannya merogoh tas tangannya, untuk mengambil ponsel.

“Dokter kebanggaanku sedang apa? … ya ampuun, kasihan deh, tadi kenapa tidak mau berlama-lama di rumah saya? Saya sedang di butik langganan Dokter, karena suntuk akibat Dokter tinggalkan, saya jalan-jalan sendiri. Saya sedang memilih baju untuk dinas, yang kata Dokter harus sopan tapi menawan … baiklah, ditransfer sekarang? Terima kasih, Dokter kesayanganku.”

Indras berdebar. Ia baru ingat. Itu kan dokter cantik yang pakaiannya seronok walau sedang bertugas waktu itu? Yang masuk ke ruang kerja Zein tanpa mengetuk pintu? Yang membawa makanan untuk Zein juga? Itu dokter cantik selingkuhan Zein bukan? Ia pergi sendirian karena suntuk ditinggalkan, berarti Zein sudah pulang. Tapi perempuan itu memesan sebuah baju dan meminta Zein mentransfer uang untuk membayarnya. Ingin sekali ia mendekati perempuan itu dan mendampratnya, tapi Indras merasa bahwa hal itu hanya akan merendahkannya.

Tiba-tiba Sinta menarik lengannya.

“Ma, yang tadi … Mama suka kan?”

Indras tak perlu melihat baju pilihan Sinta, ia hanya mengangguk sambil mengulaskan senyum, agar Sinta merasa senang, padahal hatinya tidak sedang tersenyum.

“Sudah kan, habis ini kita pulang?”

“Iya Ma, Sinta bayar dulu ya.”

“Mama juga bawa uang.”

“Jangan Ma, ini kan dari mbak Santi. Tadi Sinta sudah VC call mbak Santi untuk memperlihat bajunya, mbak Santi suka.”

Indras hanya tersenyum, kemudian segera mengajaknya pulang dengan alasan sangat lelah.

***

Ketika sampai di rumah, dia melihat sang suami duduk di teras. Ia tak berdiri walau melihat istri dan anaknya pulang dari bepergian.

“Pa, Papa sudah lama pulangnya?” tanya Sinta dengan riang.

“Dari mana kalian?”

“Jalan-jalan sama Mama, apa Papa_”

Sinta menghentikan perkataannya karena sang mama mencubit lengannya. Ia hampir lupa kalau sang mama tak ingin ia mengingatkan masalah ulang tahun itu kepada papanya.

Ia berlalu dan meninggalkan sang mama di belakangnya.

“Kamu mengatakan apa kepada petugas toko roti tadi?” kata Zein sengit.

“Dia bertanya tentang tulisan yang harus ditulis di hiasan taart, apa aku salah?”

“Kamu mengarang tulisan itu, dan ingin membuat aku marah?”

“Mengapa harus membuat kamu marah? Bukankah kamu memesan taart untuk hadiah ulang tahunku? Mereka lupa tulisannya apa, jadi aku tuliskan saja selamat ulang tahun untuk istriku. Salah ya?”

TIba-tiba rona marah di wajah Zein menurun. Jadi Indras mengira dia sedang memesan taart untuk dirinya dan karenanya tulisannya seperti itu?

Zein berdiri, lalu tiba-tiba memeluk istrinya.

“Selamat ulang tahun, istriku,” katanya lembut, membuat Indras terpana.

***

Besok lagi ya.

Friday, May 8, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 36

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  36

(Tien Kumalasari)

 

Indras menenangkan hatinya agak lama, kemarahan telah membakarnya. Kemarahan itu harus ditumpahkannya kepada siapa? Suaminya tak ada didekatnya, yang ada adalah petugas toko roti yang pastinya menunggu apa yang akan dikatakannya, dan kata-kata itu lebih pantas berupa tumpahan kemarahannya.

“Bagaimana, Dokter?”

“Anda itu bagaimana? Sebuah toko roti ternama yang harusnya melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya. Catatan dari pelanggan bisa hilang, lalu setelah hampir selesai Anda kebingungan seperti cacing kepanasan.”

“Maaf Dokter, ini kesalahan kami, tolonglah, sebentar lagi dokter Zein akan mengambilnya.”

“Kalau begitu tulis saja ‘SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK ISTRIKU’.

“Begitu ya Dok?”

“Tidak ada waktu, aku sedang enggan berpikir.”

“Baik Dokter, akan saya tulis begitu. Terima kasih Dokter, sekali lagi saya mohon maaf.”

Indras meletakkan ponselnya masih dengan kemarahan, tapi ia tersenyum. Kalau benar tulisannya begitu, biar saja perempuan itu heboh, Zein juga akan kelimpungan.

“Mama, kita jadi pergi kan?”

Sinta mendekat, sudah wangi. Ia baru saja selesai mandi.

“Ya, ayo kita segera berangkat.”

“Sinta telpon papa dulu ya.”

“Tidak usah. Kita berdua saja.”

“Berdua saja? Nanti papa marah, bagaimana?”

“Papamu tidak akan marah. Mama ganti baju dulu.”

“Benar nih, hanya berdua saja?”

“Mama harus mengulang berapa kali sih Sinta?” kata Indras, sedikit kesal.

“Baiklah, baiklah.”

“Papamu akan pulang malam, kita keburu lapar,” kata Indras kemudian, tak ingin Sinta sedih karena kata-katanya yang agak kasar.

“Baik Mama, jangan marah dong. Sedang ulang tahun nggak boleh marah. Nanti hilang cantiknya, bagaimana?” canda Sinta, yang membuat sang mama tersenyum, sebelum masuk ke dalam kamarnya.

***

Dokter Tyas dandan sangat cantik. Ia memakai baju baru yang kemarin dibelikan oleh dokter kesayangannya, menyemprotkan minyak wangi hampir ke seluruh tubuhnya. Ia berputar di depan cermin, seperti remaja tujuh belasan tahun yang sedang menunggu cinta pertamanya. Kali ini bajunya bukan baju seperti yang dikenakan saat kerja. Yang rapi dan sopan, atas permintaan dokter Zein. Di awal malam ini bajunya agak ketat dan lebih terbuka. Dokter Tyas berputar sekali lagi, tersenyum seperti kekasihnya ada di depannya, kemudian melenggang keluar kamar, karena kebetulan ia mendengar suara mobil masuk ke halaman.

Ia berjalan seperti peragawati melangkah di atas cat walk, berdiri di tangga teras, menunggu kesayangannya datang mendekat.

Zein membawa kotak roti pesanannya, dan tersenyum melihat dokter Tyas sudah menunggu.

“Selamat ulang tahun, cantik,” katanya sambil mengulurkan kotak berisi taart yang dipesannya sejak kemarin.

“Terima kasih, Dokter kebanggaanku. Hanya ini hadiahnya?” katanya sambil menepuk pipinya, tapi dokter Zein hanya tersenyum, kemudian langsung masuk dan duduk di teras.

“Ayo masuk, di sini tidak ada CCTV,” katanya mengingatkan penolakan dokter Zein setiap dia mendekatinya di ruang kerja.

“Pasti ada CCTV lain yang kita tidak melihatnya,” kata dokter Zein sambil tetap tersenyum.

Dokter Tyas meletakkan kotak taart itu di meja.

“Duduk di sini? Tidak masuk ke dalam?”

“Di sini saja, udaranya lebih segar.”

“Saya ambilkan minum dulu.”

Dokter Tyas melenggang masuk ke dalam. Ia heran dokter Zein selalu menolak didekati.

“Kurang cantik apa sih aku? Kurang menarik apa? Masa dia tidak tergoda dengan penampilanku?” gumamnya sambil menuangkan coklat susu ke dalam gelas.

Ia membawanya ke teras dengan berbagai akal yang ingin dilakukannya, agar dokter Zein memenuhi keinginannya.

“Minumlah, dokter.”

“Terima kasih. Aku tidak akan lama.”

“Kenapa? Padahal saya ingin merayakannya sepanjang malam bersama dokter kebanggaan saya ini.”

“Besok kita harus bekerja, tidak baik tidur terlampau malam. Buka saja taartnya, dan nyalakan lilinnya.”

Dokter Tyas ke belakang lagi, sambil berlenggak lenggok, berusaha memikat, tapi Zein tidak melihatnya. Ia bersandar di kursi teras, tampak lelah. Seharian ia bekerja keras, memeriksa alat-alat kedokteran baru yang datang siang tadi. Sore hari baru selesai, lalu cepat-cepat ke toko roti langganan untuk mengambil pesanan.

“Ini koreknya, Dokter.”

Zein menerima korek itu dan dokter Tyas membuka kotak taartnya setelah meletakkan dua piring kecil dan garpu di dekatnya.

“Woouww… coklat kesukaan aku,” pekiknya riang sambil menata lilin yang sudah ada di dalam kotaknya.

Zein menyalakan koreknya, lalu keduanya terbelalak membaca tulisan indah berbunga-bunga, yang menuliskan ucapan ulang tahun.

Zein berhenti sampai nyala dari korek itu padam tertiup angin malam yang tiba-tiba menyambar.

Tulisan itu begitu indah, diantara warna warni bunga. SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK ISTRIKU.

Mereka saling pandang.

“Dokter salah mengambilnya? Apakah istri Dokter juga ulang tahun hari ini?” tanya dokter Tyas, tampak kecewa.

"Istriku ulang tahun? Aku malah tidak mengingatnya. Tapi mengapa tulisannya menjadi begitu? Bukankah aku ingin mereka menuliskan SELAMAT ULANG TAHUN, DOKTER CANTIK’?” pikir Zein.

“Tidak apa-apa, bawa saja lagi taart ini pulang, tidak apa-apa kita merayakannya tanpa taart. Ini sebenarnya bukan kebiasaan kita kan?” kata dokter Tyas sambil tersenyum, tak menampakkan rasa marah.

“Tidak, aku hanya memesan satu kotak,” katanya sambil mengambil ponselnya.

“Aku akan menanyakannya kepada petugas toko roti itu,” gumam dokter Zein.

Dokter Tyas hanya menunggu, diam dengan perasaan tak menentu.

“Sebenarnya tidak apa-apa tanpa taart, kita bisa merayakannya dengan lebih meriah, saya akan menunjukkan caranya,” kata dokter Tyas dengan senyuman memikat. Tapi lagi-lagi Zein tidak sedang memandanginya. Ia sedang menunggu panggilannya ke petugas toko roti itu diangkat.

“Hallo, dokter Zein ya?” suara dari seberang sana.

“Mengapa kamu membuat tulisan yang berbeda dengan apa yang pernah aku tuliskan?” sentak Zein.

“Oh, maaf Dokter. Sesungguhnya catatan yang dokter tuliskan itu hilang, entah ke mana, tapi saya sudah menelpon dokter Indras.”

“Maksudmu menelpon dia tuh apa?”

“Saya bilang lupa tulisannya, lalu dokter Indras meminta agar kami menulisnya seperti itu. Apa kurang bagus?”

Zein menutup panggilan itu dengan wajah keruh. Rupanya petugas itu mengira Indras mengetahui tentang pesanan itu, dan Indras sedang mencari gara-gara.

“Dokter, tidak usah marah. Tidak apa-apa tulisannya begini. Bukankah saya harusnya senang karena berarti Dokter menganggap saya istri Dokter?”

“Ya sudah tidak apa-apa. Potong saja kuenya lalu kita makan,” kata Zein, dingin.

"Lilinnya belum dinyalakan, lalu kita menyanyi happy birthday.”

“Tidak usah. Kamu bilang ini bukan kebiasaan kita bukan? Langsung dimakan saja,” kata dokter Zein sambil memberikan pisau rotinya kepada dokter Tyas.

Dokter Tyas tersenyum, lalu menyanyi sendiri sambil mengiris rotinya.

“Happy birthday … to me,” pungkasnya, lalu memotong taartnya seiris, diberikannya kepada Zein.

Zein menerimanya, tanpa mengucapkan apa-apa. Ia makan kuenya sambil menatap dokter Tyas yang sedang menjilati krem coklat yang menjadi toping taart itu.

“Dokter tidak mengucapkan apa-apa untuk saya?”

“Semoga sehat, bahagia, tetap cantik dan bersemangat,” kata Zein sambil melahap taartnya, seperti tidak sambil menikmati enaknya taart yang dipesannya mahal.

“Terima kasih Dokter kebanggaanku. Apapun … saya bahagia mendapat doa dari Dokter yang tiada duanya dalam semua kebaikan dan perhatiannya terhadap saya.”

Zein menghabiskan taartnya, lalu meletakkan piring kecil itu di atas meja.

"Tadi saya memasak enak, kita makan sebentar lagi ya.”

“Tidak usah.”

“Tidak usah? Apa maksud Dokter?”

“Sebenarnya aku sangat lelah, jadi lebih baik aku pulang saja.”

“Serius, Dokter mau pulang?”

Zein meneguk coklat susunya, lalu mengangguk.

Mulut tipis itu mengerucut, seperti ingin menangis, tapi Zein sudah berdiri.

“Maaf ya. Sungguh aku sangat lelah.”

Tiba-tiba dokter Tyas menubruknya dan memeluknya erat. Zein sangat terkejut. Ia mendorong tubuh seksi itu agar menjauh.

“Jangan begini.”

“Di sini tidak ada CCTV,” rengek dokter Tyas.

“Kan aku sudah bilang, ada CCTV yang lain?” kata Zein sambil turun dari teras dan bergegas ke arah mobilnya.

Ketika deru mobil dokter Zein terdengar menjauh, deru kekecewaan dokter Tyas sedang memenuhi dadanya.

Ia menuju meja, mengambil taart yang baru dimakan dua potong, lalu membuangnya di tempat sampah.

***

Zein memasuki halaman rumahnya, memarkir mobilnya, lalu turun. Ia melihat pintu rumah terkunci. Ia ingin membukanya ketika bibik sudah lebih dulu menyambutnya.

“Kok sepi?”

“Nyonya dan non Sinta pergi.”

“Kemana?” sentak Zein.

“Saya tidak tahu, Tuan. Mereka hanya mengatakan akan keluar sebentar, begitu.”

Zein membanting pintu kamarnya ketika ia memasukinya, membuat dada bibik seperti ditempa palu godam.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, May 7, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 35

 SAKITKU ADALAH TANGISKU  35

(Tien Kumalasari)

 

Indras tak menjawab. Ia lebih memilih memegangi dadanya yang terasa sakit. Ada sesuatu yang membuatnya senang, tapi ada sembilu menyayat yang menitikkan darah pada lukanya. Seandainya ia adalah timbangan, mana yang lebih berat, kesenangan diperhatikan suami, atau kesakitan karena penghianatan suami?

“Indras, kamu kan tahu aku tidak suka diatur? Aku akan melakukan mana yang aku suka. Tapi jangan menuduh aku berselingkuh. Itu tidak benar, dan akan membuat aku marah. Sangat marah. Kamu paham?”

Indras tak menjawab. Jawabannya pasti akan membuat nyala api berkobar dikepala Zein. Paham? Tidak. Indras tidak akan paham. Setiap hari kirim-kirim pesan, terkadang menelpon, menyebutnya sayang, tapi tidak berselingkuh?

Zein membalikkan tubuhnya menghadap ke samping. Tepatnya memunggungi Indras yang tidur di sampingnya bersama ketidak tahuannya atas pemikiran sang suami. Kepalanya kembali berdenyut. Terkadang ia merasa seperti orang linglung. Tapi ketika ia ke psikiater, dokter itu bilang dirinya tidak perlu diobati. Suaminyalah yang harus diobati.

“Obat apa?”

“Dia sudah tahu,” kata dokternya waktu itu.

“Kamu hanya harus bersabar.”

Indras menitikkan air mata

“Harus sesabar apa lagi aku ini, Ya Allah?”

“Tidurlah, sudah malam,” kata Zein ketika barangkali tahu bahwa Indras masih membolak balikkan tubuhnya, yang berarti bahwa sang istri belum juga tidur. Walau begitu ia tetap menghadap ke arah yang sama, memunggungi sang istri.

Indras tak menjawab. Ia beristigfar berkali-kali, baru bisa memejamkan matanya.

***

Seperti biasa Indras bangun saat subuh, melakukan ibadah sebagaimana mestinya, lalu mandi dan duduk di ruang tengah, menunggu bibik menyajikan segelas kopi panas seperti biasa.

Ia mengendapkan segala rasa, dan berbisik kepada hatinya, bahwa ia harus bersabar dan bersabar.

“Nyonya sudah tampak baikan, sudah tidak kelihatan pucat,” kata bibik sambil meletakkan segelas kopi panas. 

Baru segelas, karena bibik belum melihat tuan majikan bangun di pagi itu.

“Benarkah?”

“Iya, Nyonya, saya senang Nyonya tidak sakit lagi.”

Indras tersenyum. Ia buat tubuhnya sehat, raganya kuat. Mana bibik tahu apa yang ada di dalam hatinya?

“Doakan saya tidak sakit-sakit ya Bik?”

“Tentu Nyonya, saya sedih kalau Nyonya sakit.”

Ketika bibik mau beranjak ke belakang, Indras menghentikannya.

“Bik, gaji Bibik baru nanti saya ambilkan ya.”

“O, iya Nyonya, saya tidak tergesa-gesa. Paling hanya akan saya kirimkan untuk keluarga di kampung. Lagi pula biasanya tuan yang memberi.”

“Nanti aku yang akan memberi, tuan yang menyuruh.”

“Oh, baiklah Nyonya.”

“Sekalian uang untuk Bibik  belanja, bukankah uang yang Bibik bawa tinggal sedikit?”

“Iya sih Nyonya, tapi besok saja belanjanya. Untuk hari ini semuanya sudah cukup. Nanti hanya akan belanja sayur di pasar dekat rumah.”

“Baiklah, baru nanti aku ambilkan uangnya.”

Bibik beranjak ke dapur lagi sambil membawa nampan yang sudah kosong.

Ada perasaan aneh. Selama berumah tangga baru sekali ini ia membelanjakan uang dari suaminya. Entah apa yang membuat hatinya terbuka, tapi ini dianggapnya sebuah kemajuan yang sedikit menggembirakan. Kesabarannya selama ini dan pintanya kepada Allah yang Maha Pengasih sudah ada yang dikabulkan. Belum semuanya. Bukankah ia masih harus bersabar?

“Nanti kamu mau ke bank?”

Indras terkejut. Zein sudah bangun dan sudah rapi.

“Ya, atau kamu yang akan mengambilkan?”

“Apa maksudmu? Kan ATM nya sudah aku berikan ke kamu?”

Zein duduk, bibik belum membawakan kopinya, tapi barangkali sudah disiapkan, karena bibik sudah mendengar suara sang tuan majikan.

“Barangkali kamu akan mengambilnya sendiri.”

“Tidak. Bawa keduanya dan pergunakan untuk semua keperluan. Gajiku ada di situ semuanya.”

“Aku sudah bilang bibik tentang gajinya.”

“Kopinya Tuan,” alangkah cepat bibik menyajikan minum untuk sang tuan majikan.

“Terima kasih Bik. Gaji kamu mulai bulan ini, Nyonya yang akan memberikan.”

“Baiklah Tuan, tidak apa-apa. Bagi saya sama saja,” jawab bibik sambil berlalu. 

Ia harus segera menyiapkan makan pagi untuk para majikan.

“Kamu sudah rapi sepagi ini?”

“Ya, akan ada operasi pagi-pagi.”

Indras meneguk lagi kopinya yang sudah mulai dingin, sementara Zein masih mencecapnya sedikit demi sedikit karena masih panas.

Indras bangkit, untuk membantu bibik menyiapkan sarapan. Ia sedang belajar bersikap normal dalam melayani suami. Paling tidak sikap sang suami harus terus semakin berubah, walau masalah selingkuhan dia tak ingin ada yang menyinggungnya. 

"Urusan dia bukan? Dan itu bukan selingkuhan, kata dia. Baiklah, apa kata kamu saja Zein," kata batin Indras sambil mendekati bibik.

“Sebentar lagi Nyonya, sayurnya baru saya panasin lagi.”

“Tidak apa-apa Bik, aku bantu menata mejanya.”

“Bibik tersenyum. Ia melihat sang nyonya majikan sudah bersikap biasa. Damai di rumah ini sudah tercipta. Itu kata bibik dalam hatinya.

Ketika Sinta keluar, dia senang sang ibu sedang sibuk menata meja. Ia segera membantunya, menyiapkan gelas-gelas minum yang diisinya dengan air putih.

“Mama sudah sehat?” katanya sambil menuangkan air di gelas-gelas itu.

“Mama tidak sakit.”

“Mama tahu tidak, dua hari lagi Mama ulang tahun.”

“Memangnya kenapa kalau mama ulang tahun?”

“Sinta mau merayakannya bersama papa.”

“Jangan. Kamu tidak usah bilang apa-apa pada papa. Tidak usah mengingatkan juga.”

“Memangnya kenapa Ma? Papa sering lupa.”

“Bukan lupa. Memang tidak ada perayaan ulang tahun untuk mama, dan itu tidak perlu bukan?”

“Padahal Sinta mau mengajak papa kita makan di luar. Hanya bertiga karena mbak Santi tidak bisa pulang hari itu.”

“Tidak dan tidak. Mama bilang tidak usah beritahu atau mengingatkan hal itu pada papa. Apalagi mengusulkan makan di luar segala.”

“Ma.”

“Mama serius. Kalau mama bilang jangan, ya jangan.”

“Memangnya kenapa Ma, Sinta ingin sekali …”

“Mari kita rayakan saja di dalam hati. Doakan mama selalu sehat, lahir batin.”

Sinta menatap mamanya dengan penuh haru. Ia merasa beberapa hari ini sikap papanya sudah berubah. Mereka sudah bertegur sapa dengan manis. Dan hari ulang tahun mamanya yang hampir tidak pernah diingat oleh papanya, untuk kali itu Sinta ingin mengingatkannya. Tapi Indras melarangnya keras.

“Bagus sekali, para perempuan menyiapkan makan pagi. Pasti nanti akan terasa enak,” kata Zein tiba-tiba. 

Untunglah Sinta tak membahas masalah ulang tahun itu lagi.

“Papa ganteng sekali pagi ini.”

Zein senang. Sebuah pujian selalu membuatnya senang.

“Ya kan Ma, papa ganteng sekali?”

“Papa kamu memang ganteng. Kalau tidak, mana mama mau diambil istri oleh dia,” kata Sinta sambil tersenyum.

Tanpa diduga Zein mendekat dan mencium kening Indras

“Bibik, tutup mata Bibik, ada adegan mesra ini,” teriak Sinta gembira.

Indras hanya tersenyum, kemudian duduk dengan santai. Ia heran suaminya suka sekali mencium kening, atau bahkan pipi. Oh ya, Indras ingat, Zein melakukannya ketika mendengarnya dipuji. Bukankah itu benar? Dipuji baik, dipuji penuh pengertian, dipuji ganteng. Dan hadiahnya adalah ciuman? Sekarang Indras mengerti, Zein suka sekali mendapat pujian.

***

Walau begitu pujian anak dan istrinya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan dokter Tyas. Baginya, dia adalah dokter kebanggaan, dokter kesayangan, dokter yang tak ada duanya dalam kebaikan.

Dan itu terjadi begitu ia memasuki ruang kerjanya. Hari masih pagi dan para dokter belum mulai menerima pasien. Diruangannya, dokter Tyas sedang memajang bunga segar di mejanya.

“Selamat pagi, cantik,” sapa Zein dengan manis.

“Hai, dokter kebanggaanku sudah datang. Lihat, apakah Dokter suka? Aku meletakkan mawar-mawar cantik di meja Dokter.”

Zein bukan orang yang sangat romantis. Ia tak pernah menyukai bunga. Walau begitu sambil menata sebuah vas bunga yang dipajang dimejanya, Zein mencoba tersenyum senang. Jangan sampai dokter cantik menjadi kecewa melihat dia tak suka.

“Bagus sekali, dan indah.”

“Bunga cantik kan Dok. Katakan, lebih cantik mana antara saya dan bunga itu?”

“Tentu saja cantik kamu.”

Dokter Tyas terkekeh. Semua orang menyebut dirinya cantik, dan dia sadar akan hal itu. Karena itulah dia merasa yakin bahwa dokter Zein akan tetap menyukainya.

“Terima kasih Dokter. Bolehkah saya memberi hadiah?”

“Hadiah apa?”

Dokter Tyas tidak menjawab, tapi menepuk-nepuk pipinya. Zein adalah seorang laki-laki, dia tidak bodoh dan sangat mengerti apa yang diinginkan dokter Tyas. Ia hanya tersenyum dan menggoyang-goyangkan tangannya tanda menolak.

Walau begitu dokter Tyas tertawa, dia sudah tahu Zein akan menolak. Alasannya jelas, ada CCTV di ruangan itu.

Ketika melenggang keluar dokter Tyas meninggalkan senyuman. Senyum paling manis yang pernah dimilikinya. Zein membalas senyuman itu sambil meraih jas dokternya.

***

Sore hari itu Indras sudah rapi. Sinta memaksa mengajaknya pergi makan diluar, tapi Indras mengatakan agar jangan mempergunakan moment itu sebagai perayaan ulang tahunnya. Pokoknya pengin makan diluar, begitu cukup. Sinta menerimanya. Tapi sang ayah belum tampak pulang.

Sebuah dering telpon terdengar, Indras mengangkatnya. Dari toko roti langganan.

“Hallo, ini dengan dokter Indras?”

“Ya, benar.”

“Maaf, Dokter. Taart ulang tahun sudah siap. Catatan penulisan di taart itu terselip entah ke mana, saya mohon maaf. Bolehkah saya tahu nama yang berulang tahun? Sepertinya nama putri Dokter ya. Namanya bukan Indras. Tolong Dok, karena taartnya akan segera diambil.”

Indras terpaku, tangannya menggenggam ponsel dengan erat, seakan ingin meremasnya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, May 6, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 34

SAKITKU ADALAH CINTAKU  34

(Tien Kumalasari)

 

Indras masih memegangi dua kartu ATM dengan dua bank yang berbeda dengan perasaan heran.

“Mengapa kamu pandangi terus kartu itu? Kamu tidak percaya? Atau mengira kartu itu kosong?”

“Tidak. Ini benar?”

“Indras, sejak dulu kamu memang tidak percaya padaku ya?” suara itu agak meninggi, dan Indras khawatir akan menjadi kemarahan yang memuncak. Karenanya dia kemudian mencium kedua kartu itu sambil tersenyum.

“Terima kasih, Zein. Kamu ternyata baik sekali.”

Alangkah senangnya Zein mendapat pujian dari sang istri. Ia segera duduk disampingnya dan menghadiahinya dengan ciuman di kedua pipinya.

Indras meletakkan kartu itu di meja, dan Zein menegurnya.

“Simpan baik-baik, atau kamu akan mengambil uangnya sekarang?”

“Besok saja.”

“Sekalian gaji bibik, aku belum memberinya bulan ini.”

“Baik.”

“Tapi kamu simpan dulu kartunya, nanti kamu kelupaan.”

Indras mengangguk. Lalu mengambil lagi kartu di meja, dibawanya masuk ke kamarnya. Dalam melangkah Indras merasa bersyukur. Bukan karena ciuman itu, tapi ada perubahan signifikan dalam sikapnya selama dua hari ini. Bahkan malam ini lebih manis.

“Terima kasihku ya Allah, semoga menjadi baik dan semakin baik,” bisiknya lirih sambil memasukkan kedua kartu itu ke dompetnya.

Ketika ia keluar, Zein menegurnya.

“Lama sekali, aku kira kamu ketiduran.”

Indras tertawa. Tawa yang sangat lepas. Entah darimana datangnya kesadaran Zein itu sehingga mengerti bahwa dialah yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan rumah tangganya. Ia juga bersikap sangat manis. Ada apa ya.

“Aku harus menyimpannya rapi. Besok akan aku ambil sebagian uangnya. Tapi aku tidak tahu PIN nya lhoh. Baru sekali ini aku pegang ATM kamu.

“Yang satu ulang tahun aku, satunya ulang tahun kamu.”

“Yang mana yang ulang tahun aku, yang mana yang ulang tahun kamu?”

“Kamu coba saja sendiri, terkadang aku juga lupa.”

“Baiklah, terima kasih. Kamu ternyata pengertian dan penuh perhatian.”

Zein kembali mencium istrinya, kali ini di keningnya, sangat lama. Sejenak Indras terhanyut. Sudah lama Zein tidak melakukannya.

Tapi tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel Zein yang ada di kamar. Zein berdiri, dan kebahagian Indras runtuh seketika.

***

“Dokter kebanggaanku sedang apa?” pesan dari seberang.

“Nggak ngapa-ngapain … “

“Ada dokter Indras di samping Dokter?”

“Tidak kesayangan, memangnya ada apa?”

“Pengin ngobrol saja, habis saya kesepian, Dok. Sekali-sekali datanglah ke rumah.”

“Kapan-kapan saja.”

“Aku kesepian sekali Dok, bolehkah kita ngobrol lewat telpon, sayang?”

“Tidak. Jangan. Besok saja kita ngobrol di kantor. Ya.”

“Baiklah, selamat malam, dokter kebanggaanku, selamat tidur, jangan lupa mimpikan aku …”

Lali emotikon jantung berderet-deret, dan Zein mematikan ponselnya. Ketika kembali ke ruang tengah, Indras tak ada lagi di sana. Zein mencarinya, dan ternyata Indras ada di kamar Sinta, entah apa yang mereka bicarakan. Zein langsung memasuki kamarnya.

“Lagi ngapain?”

“Hanya ngobrol.” yang menjawab adalah Sinta.

“Boleh ikutan?”

“Nggak boleh, ini orolan sesama perempuan,” sergah Sinta sambil tersenyum.

“Lagi ngomongin aku kan?”

“Eh, enggak. Lagi ngomongin pacar,” canda Sinta.

“Kamu sudah punya pacar?”

“Boleh kan? Sinta sudah dewasa lhoh.”

“Hati-hati memilih pacar,” kata Zein yang kemudian keluar dari kamar.

“Tuh, dengar kata papa kamu, hati-hati memilih pacar. Jangan seperti mama,” kata Indras, sambil tersenyum, hambar. Baru saja senang atas kemesraan suami, tiba-tiba ada yang mengusiknya. Siapa yang tak sakit?

“Besok Sinta akan minta agar Mama menyeleksi pacar Sinta baik-baik. Yang ganteng tapi jangan yang suka selingkuh,” kata Sinta sambil memeluk mamanya. Ia tahu sang mama sedang suntuk, walau tak mengatakan apapun tentang perasaannya. Sinta berharap pelukan darinya akan mengurangi beban pikiran sang mama. Masih ada cinta di rumah ini bukan?

***

Zein yang beranjak ke teras terkejut, melihat kedatangan kedua mertuanya. Ia segera turun menyambut, dan mencium kedua tangan mereka.

Indras yang mendengar suara mobil bergegas ke depan, dan sangat gembira menerima kedatangan kedua orang tuanya.

Bersama Zein ia mempersilakan bapak dan ibunya masuk ke dalam.

“Bapak sama Ibu dari mana?” tanya Indras.

“Hanya jalan-jalan, dan ingin sekali datang kemari. Santi dan Sinta mana?”

“Santi tidak pulang kalau tidak liburan. Yang ada Sinta.

“Ini aku, Kakek, Nenek,” kata Sinta yang langsung menghambur memeluk kakek dan neneknya.

Mereka ngobrol dengan akrab, Zein duduk menemani dengan sikap sedikit kaku. Entah mengapa, sejak dulu ia tak beritu dekat dengan mertua. Walau begitu terkadang dia juga menimpali, kalau bisa nyambung dengan pembicaraan mereka.

Indras ke belakang, meminta bibik agar menyiapkan makan malam untuk ayah dan ibunya.

“Tidak usah repot-repot. Bapak dan ibumu ini hanya mampir karena kangen.”

“Sekali-sekali makan di sini. Masakan bibik masih seenak dulu lho Pak.”

“Baiklah, tapi nanti setelah makan aku mau bicara.”

Indras berdebar. Rupanya sang ayah benar-benar akan menepati janjinya.

Setelah makan malam, Sinta kembali ke kamarnya, sedangkan pak Narya kemudian duduk di dekat Zein.

“Zein, sebenarnya kedatangan aku dan ibumu kali ini, ada perlu sama kamu.”

Zein menatap istrinya. Rupanya Indras sudah mengatakan kepada ayahnya tentang apa yang diinginkannya. Ia hanya mengangguk.

“Aku tahu, barangkali masih ada luka di hati kamu waktu dulu, puluhan tahun yang lalu, karena ucapanku atau ibumu yang menyakiti dan susah bagi kamu untuk melupakannya. Untuk itu, walau sudah berlalu, aku datang menemui kamu untuk meminta maaf. Sungguh meminta maaf dari hati kami yang paling dalam.”

Zein tak mampu menjawabnya. Ia tak mengira mertuanya mau melakukannya.

“Untuk selanjutnya, aku  titipkan Indras dan anak-anaknya kepadamu. Jagalah mereka, dan buat mereka bahagia.”

“Ya, baiklah, terima kasih Bapak masih mengingatnya.”

Hanya ucapan yang sekilas, dan itu sudah memenuhi apa yang pernah diutarakan Zein waktu itu.

“Bapak berharap kamu segera bisa melupakan masalah itu, dan atas permintaan maaf dari bapak ini, aku harap kamu segera bisa melupakannya.”

Zein menganggik, dan pak Narya serta istrinya segera berdiri, karena Zein tidak sempat mengucapkan apa-apa, atau juga tidak mampu, karena terkejut. Mereka berlalu setelah Zein dan Indras mencium tangan mereka.

***

“Kamu mengatakannya pada mereka?” tanya Zein ketika malam sebelum tidur.

“Bukankah kamu menginginkannya?”

“Aku memang menginginkannya. Aku tak bisa melupakan sakit hati itu.”

“Aku harap kamu segera bisa melupakannya. Mereka sudah menebusnya, bukan hanya dengan perbuatan, tapi juga dengan perkataan.”

Zein hanya mengangguk.

“Zein, bolehkah aku mengatakan sesuatu? Tepatnya, ingin meminta sesuatu.”

“Baiklah, kamu mau apa?”

“Aku mau kamu tidak lagi berhubungan dengan perempuan itu.”

Senyap seketika. Indras mengucapkannya dengan hati-hati, karena sudah menduga apa reaksi suaminya kalau mendengar perkataannya. Dan Zein diam seribu bahasa. Hanya menatap lagit-langit kamar, entah apa yang dipikirkannya.

“Apakah permintaanku berlebihan?”

“Tidak.”

“Kamu keberatan memenuhinya?”

“Bukan karena tidak mau. Aku tidak suka kamu mengatur hidupku.”

Indras terhenyak. Jadi tak akan ada yang berubah? Bukankah kedatangan ayahnya dengan meminta maaf kepadanya maka ia akan berubah?  Apakah ia tak bisa melupakan dokter cantik itu dan akan tetap berhubungan? Ada darah menetes dari lukanya.

***

Besok lagi ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 38

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  38 (Tien Kumalasari)   Indras hampir tidak bisa bernapas karena Zein memeluknya erat sekali. Kemana api kemarahan ...