Wednesday, July 15, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 49

 NAMAKU TETAP SENJA  49

(Tien Kumalasari)

 

Bu Mery  berteriak mendengar sesuatu jatuh dari dalam.

Senja melanjutkan pekerjaannya, tapi kupingnya masih dipasang. Tampaknya Tantrina sedang kesal karena pak Wiguna tidak mau menuruti kemauannya.

“Barangkali dia curiga bayi yang kamu kandung bukan anaknya?”

“Sepertinya tidak Bu, dia sering mengelus perutku dengan lembut. Tampaknya dia bahagia sekali.”

“Kalau begitu pergunakan bayi itu untuk terus memeras dia. Dia kan orang kaya, uangnya banyak.”

“Aku mau mengejar masalah rumah itu dulu Bu, aku baru tahu tadi bahwa rumah itu atas nama pak Wiguna. Aku nggak mau dong.”

“Ya, harus atas nama kamu. Makanya pergunakan anak kamu di dalam perut itu untuk senjata agar bisa memaksanya.”

“Nanti kalau dia datang aku akan memintanya lagi. Tadi katanya masih di kantor. Nanti pasti dia datang. Kalau begitu aku pulang dulu ya Bu.”

“Kamu tadi kemari untuk apa, baru datang sudah pamit.”

“Ditunggu taksi tuh Bu. Aku hanya ingin mengeluh sama Ibu tentang pak Wiguna yang hari ini membuat aku kesal.”

“Kamu jangan begitu. Kalau untuk mengambil hati seorang pria itu, harus pintar-pintar melayaninya, membuat dia senang. Jangan sedikit-sedikit kesal.”

“Iya Bu. Sekarang aku pulang dulu. Dirumah sudah ada bibik pembantu, baru kemarin dicarikan pak Wiguna, supaya aku ada temannya.”

“Sebenarnya suami kamu sangat perhatian. Teruslah merayunya, agar dia mau memenuhi semua permintaan kamu.”

“Iya. Akan aku lakukan. Ini aku sedang mengejar dia tentang rumah dulu.”

“Semoga berhasil. Pintar-pintarlah mengambil hati.”

***

Senja sudah selesai mencuci rambut pelanggan, kemudian ia memintanya kembali duduk di tempat semula. Ia siap mengeringkan rambutnya.

Tapi dalam hati terus dipikirkannya ucapan ibu dan anak yang ternyata berencana menguras harta pak Wiguna dengan bersenjatakan bayi yang dikandung Tantrina, padahal yang dikandung bukan benih pak Wiguna.

Senja harus mengatakan semuanya kepada Arka.

“Tapi kapan ya aku ketemu mas Arka? Apa aku minta pada bu Mery agar menghubungi mbak Rosa, dan minta tolong agar mas Arka datang ke rumah? Kira-kira pantas nggak ya aku meminta tolong majikanku.

Tiba-tiba seorang pelanggan lagi datang. Ada karyawan salon yang menyambutnya. Pelanggan itu seorang laki-laki. Senja tak mengacuhkannya karena ia harus membersihkan bekas potongan rambut setelah mengeringkan rambut pelanggan sebelumnya.

Rupanya pelanggan itu sudah biasa datang, dan sudah biasa pula dilayani oleh karyawan yang menyambutnya. Ia minta pijit, jadi karena sudah biasa, maka karyawan itu langsung membawanya ke sebuah kamar atau ruangan untuk memijit.

“Siapa itu tadi?” tanya pelanggan laki-laki itu sebelum masuk ke ruangan yang disediakan.

“”Itu, karyawan baru. Hanya pembantu,” jawab karyawan itu.

“Cantik, dan tampaknya masih polos.”

“Hayoo, Bapak jadi mau dipijit nggak? Dia itu hanya pembantu, orang kampung.”

Senja mendengar semuanya, tapi ia tidak merasa sakit hati. Jadi pembantu juga tidak apa-apa, yang penting dia bekerja dan mendapat uang pada saatnya nanti.

Pelanggan yang tadi di keringkan rambutnya sudah selesai. Bu Mery menyisirnya cantik, kemudian ia berlalu. Senja membersihkan potongan rambut yang berceceran. Itu pekerjaannya, makanya ia disebut pembantu.

Tapi ketika pelanggan laki-laki itu keluar dari kamar pijat, Senja merasa risih dengan tatapannya. Ia menyibukkan pekerjaannya dan pura-pura tak melihatnya. Senja melihat laki-laki itu mendekati bu Mery dan berbisik-bisik, entah apa yang dikatakannya.

Senja urung meminta tolong majikannya untuk menghubungi Rosa, dengan banyak pertimbangan. Nanti Rosa bertanya ada apa, lalu ia harus menceritakan apa yang didengarnya. Tidak. Ia tak mau mengumbar aib orang walau kepada Rosa yang dianggapnya sangat baik kepada dirinya.

Ketika Senja mau pulang sore harinya, Bu Mery mengatakan bahwa besok dia akan diajari memijit pelanggan. Senja terkejut.

“Apakah saya juga harus memijit pelanggan laki-laki?” tanyanya takut-takut.

“Memangnya kenapa? Mereka pelanggan dan membayar. Salon ini mendapat uang dari mereka, diantaranya juga untuk menggaji kamu.”

“Maaf Bu, saya jadi tukang bersih-bersih saja. Saya tidak bisa memijit laki-laki. Kalau perempuan tidak apa-apa.”

“Tapi kamu harus bisa mengerjakan semuanya,” kata bu Mery sambil mengerutkan keningnya.

Saat pulang Senja merasa gelisah. Ia tak mau mengerjakan pekerjaan memijit. Besok dia akan memastikan bahwa dia cukup dijadikan pembantu saja.

***

Sore hari itu orang suruhan Arka datang untuk mengambil beras. Ketika itu Senja sudah sampai di rumah. Ia selalu memikirkan tentang perempuan bernama Tantrina yang bersama ibunya ingin memeras pak Wiguna. Karenanya ia mendekati orang suruhan Arka.

“Mas, boleh minta tolong nggak?”

“Ya, tentu saja boleh. Minta tolong apa?”

“Maukah Mas menelpon mas Arka, nanti aku mau bicara.”

“Mengapa Mbak tidak menelpon sendiri?”

“Aku kan tidak punya ponsel Mas, ini sesuatu yang penting,” kata Senja, tersipu.

“Oh, baiklah. Sebentar, saya sambungkan.”

Ketika tersambung, Arka agak heran.

“Ada apa? Berasnya belum ada?”

“Bukan Pak, berasnya sudah saya naikkan ke mobil. Ini ada yang mau bicara sama Bapak.”

Arka tersenyum, ternyata Senja yang menelpon.

“Mas, ini aku.”

“Senja, maaf beberapa hari ini tidak ke rumah Simbok, pekerjaaan di kantor banyak.”

“Tidak apa-apa kok Mas, saya ingin bicara dengan Mas, tapi Mas harus kemari.”

“Mengapa tidak bicara sekarang saja?”

“Tidak bisa Mas, ini penting. Biar hanya sebentar, Mas harus menemui aku.”

“Aku nanti agak malam.”

“Tidak apa-apa. Aku tungguin, soalnya ini masalah penting yang Mas harus segera tahu.”

“Baiklah. Kamu mau dibawakan apa?”

“Enggak Mas, nggak usah bawa apapun. Aku hanya ingin bicara. Maaf, ini aku pinjam ponselnya mas yang mengambil beras.”

“Tidak apa-apa, besok kalau kamu gajian bisa beli ponsel kan?”

“Ah, belum terpikirkan, uangnya mau aku berikan Simbok semua.”

Arka tertawa. Dan Senja menutup pembicaraan itu, lalu mengembalikan ponselnya.

“Terima kasih ya Mas.”

***

Hari belum terlampau sore ketika pak Wiguna sudah pulang ke rumah. Hal itu membuat bu Wiguna heran. Ia sedang duduk di teras sambil menyulam ketika suaminya naik ke teras. Arka tampak tidak pulang bersama ayahnya.

“Bapak kok sudah pulang? Sahabat Bapak nanti rewel, bagaimana?” kata bu Wiguna, setengah meledek.

Pak Wiguna tersenyum, lalu mencium kening istrinya.

“Ibu sehat? Sedang bikin apa itu?”

“Daripada melamun, ini buat taplak meja.”

“Nanti Ibu buatkan taplak meja untuk meja kantorku ya?”

Bu Wiguna agak heran atas sikap suaminya yang berbeda. Lebih ramah dan ceria. Ia juga perhatian pada apa yang dikerjakan istrinya.

“Meja kantor Bapak ukurannya berapa?”

“Besok aku ukur ya. Buat sulaman yang bagus.”

“Baiklah, ukur saja dulu, nanti aku buatkan taplaknya seberapa, tinggal di sulam. Bunga-bunga ya, gambarnya.”

“Apapun yang Ibu buat pasti bagus.”

Bu Wiguna tersenyum, walau tetap saja terheran-heran akan perubahan sikap sang suami.

“Aku ganti baju dulu, suruh bibik siapkan minuman di sini saja.”

Pak Wiguna masuk ke dalam, bu Wiguna memanggil bibik agar menyiapkan minum untuk tuan majikan.

Tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering. Rupanya ia meletakkan ponselnya di meja teras, ketika mendekati istrinya.

Bu Wiguna mengangkat ponsel itu, dan melihat siapa yang menelpon. Hanya nomor. Ia membawa ponselnya ke dalam.

“Pak, ada telpon untuk Bapak.”

Bu Wiguna memberikan ponselnya, lalu keluar dari kamar. Ketika menutupkan pintunya, ia masih sempat mendengar perkataan suaminya yang tampaknya agak kesal.

“Aku sudah di rumah. Itu tidak mudah, nanti kita bicara lagi, dan jangan menelpon lagi.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, July 14, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 48

 NAMAKU TETAP SENJA  48

(Tien Kumalasari)

 

Arka membuka halaman demi halaman. Dan semua uang yang keluar, sangat banyak. Semuanya beserta surat tanda terima dari ayahnya.

“Begitu banyak Bapak mengambil uang kantor? Untuk apa?” gumamnya.

Arka geleng-geleng kepala. Tapi kemudian ia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan kepada sang ayah. Ia tahu pak Wiguna belum datang ke kantor, karena dia berangkat pagi-pagi.

“Bapak, kalau ke kantor jangan langsung pergi, saya mau bicara.”

Itulah bunyi pesan yang dikirimkannya.

Arka menunggu. Tak ada balasan. Apakah ayahnya belum berangkat?

Arka menelpon sang ibu, menanyakan apa ayahnya sudah berangkat.  Dan jawaban sang ibu adalah bahwa ayahnya baru saja berangkat.

“Baiklah Bu, saya sedang menunggu untuk membicarakan masalah keuangan,” kata Arka mengakhiri pembicaraan dengan sang ibu.

“Jadi bapak baru saja berangkat. Barangkali masih di jalan, jadi belum membaca pesanku,”  gumam Arka.

Arka menunggu. Ia berpesan kepada sekretarisnya bahwa kalau sang ayah datang ia minta sekretaris memberitahukan kepadanya.

Tapi sebelum sekretaris itu memberitahu, sang ayah sudah masuk ke dalam ruangannya.

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” kata sang ayah yang kemudian duduk di sofa.

Arka berdiri. Mengikutinya ke sofa sambil membawa berkas yang tadi diberikan sekretarisnya.

“Ini laporan dari bagian keuangan,” kata Arka sambil memberikan berkas itu.

Pak Wiguna membukanya sekilas, tapi kemudian menatap tajam sang anak.

“Memangnya ada apa?”

“Bapak mengeluarkan uang begini banyak dalam dua bulan ini.”

“Memangnya kenapa?”

“Pak .. untuk apa semua ini?”

“Aku pemilik perusahaan ini, apa salah aku mengambil uangku sendiri?”

“Tapi Pak, ini perusahaan. Seribu rupiah pengeluaran harus ada pertanggungan jawabnya.”

“Jangan mentang-mentang kamu bapak beri kedudukan sebagai direktur di sini, lalu kamu bisa mengaturku.”

“Apakah Bapak meminta aku duduk di sini hanya sekedar duduk, ataukah harus mengendalikan perusahaan ini agar terus berjalan mulus? Agar bertambah maju, dan lebih banyak menghasilkan?”

“Arka, tapi kamu tidak bisa mengaturku. Aku pemilik perusahaan ini.”

“Kalau Bapak adalah pemilik, lalu apakah Bapak bebas mengatur keluarnya uang tanpa ada pertanggung jawabannya? Terserah saja Bapak mengambil uang, tapi kan harus jelas untuk untuk apa?”

“Bapakmu ini suka menolong orang. Kalau Bapak mengeluarkan uang, pastilah untuk menolong orang. Apa hanya kamu yang boleh berbaik hati dengan membeli beras kepada teman kamu setiap membutuhkan, dengan dalih membantu? Dan bapak tidak boleh?”

“Membantu ala kadarnya, tapi membantu membelikan rumah yang mungkin dengan segala perabotannya?”

“Apa maksudmu?”

“Bapak pergi ke area perumahan baru dengan seorang wanita yang sedang hamil.”

“Bukankah bapak sudah pernah mengatakan bahwa bapak mengantarkan anak teman bapak itu?”

“Dan berjalan sambil berangkulan dengan anak teman Bapak itu?”

“Arka!”

Pak Wiguna marah bukan alang kepalang. Matanya menatap Arka dengan amarah yang meluap.

“Arka, kamu bisa mengatur ayahmu dan mengawasi segala langkah ayahmu, tapi kamu sendiri tidak mau menuruti anjuran ayahmu.”

“Anjuran apa?”

“Menikahi seorang gadis anak konglomerat yang hartanya tak terhitung banyaknya, agar perusahaan kita ikut menjadi besar, dan kamu tidak perlu berteriak karena uang perusahaan bapak ambil hanya beberapa milyard.”

“Jadi maksud Bapak ingin bermenantukan Rosa hanya karena hartanya?”

“Tentu saja, harta itu perlu.”

"Dan Bapak korbankan Arka agar menikahi gadis yang pernah menggugurkan kandungan karena hamil sebelum menikah?”

“Apa?”

“Arka tidak pernah mengatakannya, tapi Arka tahu semuanya tentang Rosa. Dan itu bukan hanya satu alasan, tapi hanya salah satu alasan kenapa Arka menolak. Arka tidak menyukai Rosa sejak awal.”

Pak Wiguna terdiam.  Apa yang didengarnya tentang Rosa tidak pernah dibayangkannya.

“Baiklah, lupakan tentang Rosa, saya ingin tahu mengapa Bapak mengkhianati ibu.”

“Apa?”

“Semua pengeluaran itu untuk wanita itu bukan?”

Pak Wiguna menghela napas, lalu berkata dengan lebih lembut.

“Bapak ini belum terlalu tua. Bapak masih membutuhkan wanita, dan ibumu yang sakit-sakitan itu tidak lagi bisa melayani bapak seperti sebelumnya. Jadi mengertilah, kalau bapak memiliki wanita lain. Ini masalah kebutuhan seorang laki-laki, kamu harus tahu itu.”

“Dengan menghamburkan uang begitu banyak? Arka yakin, wanita seperti itu bukan wanita baik-baik.”

“Omong kosong kamu. Kalau aku menikahi wanita, lalu memberikan rumah dan segala isinya, apakah menurut kamu itu salah?”

“Barangkali Bapak tidak salah. Tapi menghamburkan uang perusahaan itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Perusahaan kita bisa bangkrut.”

“Lalu apa salah kalau aku memberikan tempat tinggal untuk istri aku, walau itu istri siri?”

“Maaf Pak, jalan yang Bapak tempuh itu salah. Mohon maaf, saya hanyalah seorang anak, dengan alasan apapun aku kira Bapak telah melakukan hal yang tidak benar.”

“Aku sudah menikahinya walau nikah siri. Dia juga sudah mengandung anakku.”

“Semuanya sudah terlanjur, saya khawatir akan melukai hati ibu. Dan saya berharap, semoga wanita yang Bapak nikahi itu adalah wanita yang baik.”

“Dia masih muda …. tampaknya bukan perawan, tapi dia membuat bapak senang.”

Lalu mereka terdiam untuk beberapa saat lamanya. Nasi sudah menjadi bubur, jalan keluar yang terbaik baru dipikirkan keduanya. Tapi tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering.

Pak Wiguna segera mengangkatnya.

“Bapak, bagaimana dengan pesanan ibu?”

“Pesanan apa?”

“Bapak pura-pura lupa ya, ibu masih butuh almari untuk wadah peralatan salon.”

“Bukanlah almarinya sudah aku belikan?”

“Ibu butuh lagi yang lebih besar, yang kemarin tidak vukup.”

“Nanti saja, tidak sekarang, aku masih di kantor.”

“Bapak bagaimana, katanya cinta, tapi Bapak tidak mau memberikan apa yang aku minta. Lagi pula, ternyata rumah yang Bapak beli itu masih atas nama Bapak, mengapa tidak atas nama aku kalau memang itu rumah untuk aku?”

“Aku hanya mencari mudahnya saja, kan surat-surat aku lengkap untuk keperluan balik nama.”

“Aku tidak mau, aku minta Bapak harus mengganti dengan namaku.”

“Nanti aku pikirkan lagi.”

“Aku tidak mau lama, harus segera. Juga almari untuk ibu. Hari ini harus Bapak kirimkan. Ibu sudah kewalahan.”

Tiba-tiba pak Wiguna merasa bahwa kesenangan yang dinikmatinya selama beberapa bulan ini tidak bisa menenangkan jiwanya. Ia seorang pimpinan yang segala perintahnya harus ditaati, dan sekarang, wanita yang belum lama dikenalnya ingin mengatur hidupnya. Pak Wiguna meletakkan ponselnya di meja, Wajahnya tampak kesal.

Arka sedikit banyak menangkap pembicaraan itu, yang sudah pasti dari wanita selingkuhan sang ayah. Tentang balik nama rumah yang diminta atas nama dia, permintaan untuk membelikan barang lagi sementara sudah pernah dibelikan. Karena itukah sang ayah tampak agak marah? Atau karena sungkan mengambil uang dari perusahaan lagi?

“Tampaknya aku salah. Aku akan meninggalkan wanita itu,” kata sang bapak pelan.

“Lakukan yang terbaik Pak. Kalau itu baik maka saya akan mendukung bapak.”

“Tolong rahasiakan ini untuk ibumu. Aku bersalah.  Aku menyadarinya. Tak ada wanita sebaik ibumu.”

***

Senja bekerja dengan sangat memuaskan bagi bu Mery. Ia sedang melayani majikannya yang sedang memotong rambut seorang pelanggan. Senja juga memperhatikan bagaimana cara memotong. Senja gadis yang pintar. Ia suka mempelajari sesuatu yang mungkin akan berguna pada suatu hari nanti. Sejauh ini belum tampak adanya sesuatu yang membuat Senja khawatir.

“Senja, sudah selesai, kamu bantu ibu ini keramas ya,” titah sang majikan.

“Baik.”

“Senja mempersilakan pelanggan wanita itu duduk di tempat yang sudah disediakan untuk mencuci rambut. Ia cepat mengerti, dan bisa melakukannya dalam sehari belajar.

Tiba-tiba seseorang masuk, bukan pelanggan, tapi wanita cantik bernama Tantrina, anak bu Mery. Ia datang sambil bersungut-sungut.

“Ada apa?”

“Tampaknya pak Wiguna mulai  memperketat pemberiannya.”

Senja mengangkat wajahnya. Benar namanya Wiguna, itu kan ayah mas Arka, kata batin Senja. Ia mengerjakan tugasnya sambil memasang telinga.

“Jadi almarinya juga belum dibelikan?”

“Belum Bu, aku menanyakan tentang rumah yang belum dibalik nama atas namaku juga, tampaknya dia juga keberatan.”

“Keterlaluan. Apakah dia belum sepenuhnya percaya kepadamu? Kamu tidak mengatakan bahwa bayi yang kamu kandung adalah anaknya? Walau bukan darah dagingnya, tapi si tua itu harus kamu yakinkan bahwa dia benar-benar anaknya.”

“Sudah Bu, saya sudah meyakinkan dia bahwa bayi ini anaknya dan dia percaya.”

“Kalau begitu kamu bisa memaksa dia membalik namakan rumah itu atas namamu, demi bayi yang kamu kandung itu. Dia pasti mau memperhatikan, kalau dia yakin bahwa itu darah dagingnya."

Senja terkejut. Sampo yang dipegangnya untuk mencuci rambut pelanggan jatuh ke lantai.

“Jadi wanita itu mengandung anak orang lain dan membohongi pak Wiguna?”

***

Besok lagi ya.

Monday, July 13, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 47

 NAMAKU TETAP SENJA  47

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun senang melihat anak gadisnya sudah pulang. Ia menyambut di depan pintu rumahnya, menatap sang anak dengan iba, ketika melihat wajahnya yang berkilat karena peluh.

“Syukurlah Nak, kamu sudah pulang. Capek ya?”

“Tidak Mbok, Senja senang sekali mendapat pekerjaan.”

“Minum dulu sana, terus ganti baju .. jangan mandi dulu kalau masih keringatan.”

“Iya Mbok.”

“Jauh ya tempat kerja kamu?”

“Lumayan jauh, tapi tidak apa-apa. Senja senang karena sudah dapat kerja.”

“Ini Mbak, minum dulu,” kata Rimba dari arah dapur sambil membawa segelas air putih. Rimba sangat pengertian. Didikan simbok untuk saling menyayangi selalu tertanam dalam sanubarinya. Itu sebabnya walau hidup dalam keterbatasan tapi mereka tetap tampak bebahagia.

“Terima kasih ya Mba,” kata Senja setelah memasukkan sepedanya kesamping rumah. Ia menerima gelas minum yang diulurkan adiknya lalu duduk di bangku depan rumah. Ia meminumnya sampai habis.

“Haus ya?” tanya Rimba.

“Lumayan, hari sedang panas-panasnya. Aku mau ganti baju dulu, sebentar,” kata Senja sambil mengembalikan gelas kepada sang adik, lalu beranjak ke belakang.

Rimba mengembalikan gelasnya ke dapur, lalu menunggu selesainya Senja berganti pakaian, dengan duduk di bangku di samping simboknya.

“Mbak Senja kelihatan capek. Seperti Simbok kalau pulang dari berdagang,” kata Rimba.

“Sebenarnya kasihan mbakyumu, pasti sebenarnya dia ingin melanjutkan sekolah,” sesal Simbok, sendu.

“Tidak kok Mbok, sejak awal mbak Senja tidak ingin melanjutkan sekolah. Keinginannya hanya bekerja,” kata Rimba yang walau masih bocah tapi ingin menghibur kekecewaan simboknya.

Beberapa saat kemudian Senja sudah keluar dengan wajah lebih segar dan berganti pakaian rumahan.

“Kamu tidak mandi kan? Tidak bagus mandi dalam keadaan keringatan.”

“Iya, mandi nanti kalau keringat sudah kering.”

Lalu Senja menceritakan di mana dia bekerja, dan pekerjaan apa yang harus dilakukannya.

“Kalau mbak Senja bekerja di salon, besok-besok kalau aku potong rambut nggak bayar dong,” celetuk Rimba seenaknya.

Senja dan Simbok tertawa.

“Maunya gratisan. Ya sungkan kalau Mbak mengajak kamu, lalu hanya untuk memotong rambut, gratis pula.”

“Aku kan hanya bercanda, kok dimarahi beneran,” sungut Rimba.

“Iya, Mbak tahu, dan tidak marah kok. Besok-besok kalau Mbak sudah menerima gaji, potong saja di langganan kamu dekat parkiran, murah kan?”

Mereka bercerita sampai sore dan tak habis-habisnya celoteh Rimba yang terkadang lucu dan membuat semuanya tertawa. Gambaran yang tampak adalah mereka semua senang Senja sudah mendapat pekerjaan. Namun sejauh itu Senja tak mau menyebutkan nama Rosa karena sudah berjanji. Ia hanya mengatakan bahwa pekerjaan itu atas kebaikan temannya.

***

Pak Wiguna pulang hampir menjelang malam, dengan alasan yang sama, yaitu menemani teman karibnya yang kesepian. Bu Wiguna dan Arka tidak lagi menanyakannya, karena jawabannya akan sama dengan jawaban setiap kali ditanya di beberapa waktu akhir-akhir ini.

“Arka, kamu sudah pesan beras pada teman kamu, bibik tadi menanyakannya,” bu Wiguna justru menanyakan pesanan beras karena beras di dapur hampir habis.

“Oh iya Bu, gampang. Nanti Arka suruhan orang mengambilnya.”

“Kamu sudah pesan?”

“Gampang Bu, paling lambat besok sore pasti sudah sampai berasnya di sini.”

“Mengapa urusan beras harus ke tempat teman Arka? Apa tidak ada penjual yang lain. Kelihatannya repot sekali,” sahut ayahnya yang sejak tadi hanya diam.

“Arka ingin membantu temannya, agar berasnya laku lebih banyak.”

“Susah amat.”

“Membantu itu kan tidak selalu mudah. Seperti Bapak, membantu teman setiap hari. Sampai meninggalkan pekerjaan kantor. Itu hanya membantu membeli berasnya dan tidak ada yang terganggu,” sergah  bu Wiguna yang membuat suaminya diam.

“Besok saya pastikan sudah sampai di rumah Bu, bilang bibik jangan khawatir,” kata Arka.

“Iya Ka, nanti ibu bilang bibik.”

Sore hari itu pak Wiguna tidak lama menemani mereka ngobrol. Setelah makan malam dia pamit untuk istirahat, karena merasa capek.

Bu Wiguna hanya mengangguk. Ia masih duduk dan berbincang dengan Arka.

“Ayahmu kelihatan capek, barangkali teman akrabnya itu juga minta dipijit,” kata bu Wiguna sambil tersenyum lucu.

Arka mengimbanginya dengan tertawa kecil.

“Barangkali benar apa yang dikatakan Ibu,” kata Arka.

Arka sedang mencari waktu yang baik untuk berbincang dengan ayahnya, tentang perempuan yang entah siapa dan sampai dibelikan rumah oleh sang ayah. Tapi waktunya hampir tidak ada. Kalau ke kantor, ayahnya hanya sebentar saja duduk di ruangannya, lalu pergi lagi, sampai sore baru pulang ke rumah.

Kalau di rumah, nanti ketahuan ibunya, dan Arka tidak mau kesehatan sang ibu terganggu gara-gara mengetahui bahwa ayahnya berbuat yang aneh-aneh.

“Bagaimana hubungan kamu dengan Rosa?” tiba-tiba tanya sang ibu.

“Beberapa hari tidak ketemu. Biasa-biasa saja. Arka tidak merasa punya hubungan apa-apa.”

“Biasanya dia menelpon.”

“Sudah beberapa hari tidak menelpon, barangkali dia mengerti bahwa Arka tidak tertarik pada perjodohan itu.”

“Tumben juga ayahmu tidak gencar memaksa kamu untuk tetap menghubunginya.”

“Barangkali bapak sedang sibuk dengan temannya.”

“Oh, iya pastinya. Tapi syukurlah, Ibu tidak perlu menutup kuping karena omelan-omelannya. Biasanya kalau sudah punya kemauan lalu susah diendapkan.”

“Sudah malam, sebaiknya Ibu juga harus beristirahat.”

“Iya Ka, kamu juga.”

***

Pagi hari  itu pak Daryono menanyakan lagi tentang kesanggupan Rosa untuk berangkat ke luar negri.

“Nanti Pa, Rosa masih ada urusan. Biar selesai dulu urusannya, baru Rosa berangkat.”

“Urusan apa ?”

“Ada bisnis sama teman.”

“Rosa, kamu tidak perlu melakukan bisnis apapun. Pekerjaan Papa juga sebuah bisnis yang kamu tinggal melanjutkan.”

“Rosa hanya coba-coba, untuk membantu teman.”

“Membantu apa maksudmu? Modal?”

“Iya Pa, Rosa punya sedikit uang, coba-coba saja Rosa buat untuk kerja sama dengan teman. Syukur-syukur berhasil, kalau tidak ya tidak apa-apa.”

“Ada-ada saja kamu ini. Lalu kapan urusan itu selesai?”

“Tidak lama... paling sebulan lagi.”

“Kalau kamu tidak mau, akan Papa serahkan kepada orang lain.”

“Mau Pa, tunggulah sebentar, Rosa ingin melihat di awal-awal usaha itu, berhasil atau tidak, Rosa baru mau berangkat.”

“Kalau begitu kamu harus mulai mengurus semua perabot untuk keberangkatan kamu.”

“Iya. Papa tidak usah khawatir.”

***

Hari itu Arka berangkat pagi sekali, karena harus mampir ke rumah mbok Mangun. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu Senja, ada kangen yang dipendamnya, entah mengapa. Padahal awalnya hanya merasa kasihan.

“Aku jadi ingat, Senja ingin mencari pekerjaan. Nanti aku akan melihat, barangkali ada lowongan di kantor, tidak apa-apa lulusan SMA, aku melihat Senja itu cerdas. Dia pasti bisa belajar. Apa sebaiknya aku suruh menjadi pembantu sekretarisku saja ya,” gumam Arka sambil membawa mobilnya ke arah rumah mbok Mangun.

Tapi Arka kecewa, karena tidak ketemu Senja.

“Mbak Senja sudah bekerja di salon kecantikan," kata Rimba.

“Di salon?” tanya Arka, agak terkejut, karena Senja begitu cepat mendapat pekerjaan.

“Iya mas Arka, di Salon mana, gitu, jauh katanya. Itu sebabnya dia berangkat pagi-pagi.”

“Sejak kapan dia bekerja?”

“Baru kemarin. Ada temannya yang membantu mencarikan pekerjaan itu. Entah teman siapa, Senja hanya mengatakan bahwa ada temannya yang membantu mencarikan pekerjaan. Dan kelihatannya Senja senang sekali," kata mbok Mangun.

“Nanti kalau ada waktu saya kemari lagi untuk menanyakannya.”

“Tumben mas Arka pagi-pagi sudah datang kemari?”

“Ini Mbok, mau pesan beras lagi, satu kwintal. Seperti yang dulu.”

“Oh, baiklah, pagi ini juga akan saya pesankan.”

“Nanti sore bisa diambil orang saya ya Mbok,” kata Arka sambil memberikan sejumlah uang.

“Baik mas Arka, terima kasih Simbok sudah dijadikan langganan.”

“Tentu Mbok, Ibu saya suka, berasnya enak. Tapi yang penting saya bisa membantu Simbok.”

“Terima kasih banyak ya Mas.”

***

Arka langsung pergi ke kantor. Begitu dia duduk di depan meja kerjanya, sekretarisnya langsung masuk memberikan sejumlah berkas.

“Ini laporan keuangan yang Bapak minta kemarin.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, July 12, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 008

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  008

(Tien Kumalasari)

 

Sumi tertunduk takut. Mengapa juga pemulung itu memberi obat gosok untuk tuannya? Bagaimana kalau menjadikan masalah? Sekarang sang nyonya tampak marah. Tapi benar kan, obat gosok itu diberi oleh pemulung? Sumi belum pernah melihat pemulung itu, apalagi yang sampai mengenal tuan Baroto.

“Nyonya, itu pemulung yang disukai non Ana,” tiba-tiba Rumi nimbrung.

“Apa maksudmu disukai non Ana?”

“Setiap hari non Ana ingin menemui dia, membawakan makanan untuk dia.”

“Mengapa kamu diam saja?” sang nyonya berbalik memarahi Rumi. Tuh kan, tadinya takut melapor, kali ini keceplosan, dia kan yang mendapat teguran?

Rumi menundukkan wajahnya.

“Saya sudah mengingatkan, non Ana tidak mau dihentikan. Saya dengar, non Ana minta agar pemulung itu dijadikan pengasuhnya.”

Sudah kepalang tanggung, sekalian Rumi melaporkan tingkah Ana akhir-akhir ini.

“Mana Ana? Bocah itu kelewat manja,” katanya sambil berjalan ke arah kamar Ana.

“Ma! Mana obatku?” teriak Baroto yang masih duduk menunggu.

Sang istri berbalik mendekati suaminya.

“Obat ini? Mas tahu tidak, ini obat murahan. Bagaimana seorang pemulung bisa memberikan obat gosok ini kepada Mas?”

“Sudah, bawa sini. Siapa tahu ini manjur.”

“Manjur dari mana? Botolnya saja buluk seperti ini,” katanya sambil mengulurkan botol obat gosok itu ke arah suaminya.

“Biar saja. Mengapa melihat botolnya? Yang penting kan isinya,” katanya sambil membuka botol kecil itu.

“Ya ampuun, biar Rumi menggosok sambil memijit kaki Mas.”

“Apa? Tidak … tidak, aku bisa sendiri kok.”

“Bagaimana seorang pemulung bisa memberi obat gosok kepada Mas?”

“O, tadi aku terjatuh di dekat dia, rupanya dia mengejarku untuk memberikan obar ini karena tahu kalau kakiku terkilir.”

“Ya ampuuun, obat dari pemulung segala Mas perhatikan. Aku juga sedang kesal pada Rumi. Mengapa membiarkan Ana bergaul dengan pemulung itu, bahkan menginginkan pemulung itu agar menjadi pengasuhnya?”

“Mengapa memarahi Rumi? Ana kalau sudah punya keinginan tidak bisa dihentikan. Dia menangis terus dan meminta agar dia menjadi pengasuhnya.”

“Ada apa dengan pemulung itu?”

“Aku tidak tahu, mungkin dia baik, atau Ana merasa kasihan kepada dia.”

“Aku tidak ijin kan!”

“Ma, mengapa tidak Mama ijinkan? Rumi meminta apapun kamu beri asalkan dia tidak rewel, kan?”

“Minta mainan, minta apapun aku beri, tapi inta agar menjadikan pemulung menjadi pengasuhnya? Mustahil bukan?”

“Mengapa mustahil? Pemulung juga manusia bukan? Pasti Ana meminta bukan tanpa alasan.”

“Jadi Mas mendukungnya?”

“Kamu dan aku tidak pernah ada di rumah, Ana butuh seseorang yang bisa membuatnya senang.”

“Bukankah Rumi selalu melayani dengan baik? Apa kurangnya Rumi? Dia bersih, rajin, bisa momong. Lhah pemulung? Bau, kotor, apa yang menarik? Mana pantas dibiarkan berada di rumah ini?”

“Apa pemulung tidak bisa mandi, berganti pakaian bersih. Dia itu sama Ma.”

“Benar, Mas mendukungnya?”

“Mamaaa … aku mau bibi Menur ada di sini, melayani aku,” tiba-tiba Ana keluar dari kamarnya dan merengek.

“Ini dia, anak manja, yang lama-lama keinginannya keterlaluan. Tadi mama sudah mau masuk ke kamar kamu dan menjewer kupingmu.”

“Aku mau bibi Menur.”

Tiba-tiba ponsel nyonya Baroto berdering. Ia segera meninggalkan Ana untuk menerima panggilan telpon itu.

“Ya .. ya, aku segera ke sana. Siapkan semua laporan,” jawabnya singkat, lalu beranjak mengambil tasnya yang tadi tergeletak sembarangan di meja.

“Aku mau ke kantor dulu, ada masalah yang harus aku selesaikan,” katanya sambil langsung bergegas pergi.

Baroto membiarkannya. Mereka bukan seperti suami istri. Hanya seperti kawan yang hidup serumah dan orang-orang menyebutnya suami istri. Bertahun-tahun mereka hidup hampir tak pernah punya kebersamaan. Biasanya Baroto pulang hanya sebentar, tapi kali ini agak lama. Ada urusan yang sangat penting, tentang Menur, bukan hanya karena Ana menginginkannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya harus bertemu dan berbincang lama. Ada yang ingin ditanyakannya, ada yang ingin diketahuinya tentang perasaan hatinya. Tak peduli Menur seorang pengais sampah yang kotor dan bau.

“Pa, kita cari bibi Menur.”

“Gurumu sudah datang. Kamu sekolah dulu. Nanti papa akan membawanya kemari.”

Benarkah Baroto akan berhasil?

***

Sambil berjingkrak Ana berlari masuk ke kamarnya, sementara Rumi sudah menyiapkan ruang untuk belajar di setiap harinya.

Baroto tersenyum sambil menimang botol obat gosok ini. Ternyata Menur tidak mengabaikannya. Ternyata dia peduli ketika kakinya terkilir. Ketika dia pergi, ternyata mengambil obat gosok itu, dan Baroto yang ‘patah hati’ susah payah kembali menaiki kudanya dan membawanya pergi.

“Ternyata dia mengikuti aku, Masa dia begitu saja bisa melupakan aku?”

Baroto menggosok pergelangan kakinya yang terkilir, terasa hangat. Dan rasa hangat itu bukan hanya terasa di pergelangan kakinya, tapi juga merayapi seluruh aliran darahnya, membuatnya gemetar, seperti orang yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Baroto merasa heran kepada dirinya. Banyak perempuan cantik di sekelilingnya, banyak dengan suka rela menyerahkan dirinya. Tapi dia tak pernah perduli. Lalu seorang Menur, pengais sampah, yang kata semua orang pasti kotor dan bau, mengapa membuatnya kalang kabut tidak karuan? Memang dulu pernah ada cinta diantara mereka. Tapi dengan berjalannya waktu, dengan kehidupan yang sangat jauh berlainan, lalu kegagalannya mencari Menur ke kampungnya tak lema setelah ia menikah, mengapa tiba-tiba cinta itu ternyata masih ada. Dulu Baroto tak perlu mengejarnya, karena Menur juga mencintainya? Tapi sekarang Menur bukan lagi Menur yang dulu. Ia seperti mawar berduri yang tak mudah disentuh.

Lalu kakinya tiba-tiba terasa ringan, kemudian dia memerintahkan tukang kuda untuk menyiapkannya. Bukan mobil mengkilap dan mewah yang akan menjatuhkan hati Menur. Dengan kuda, barangkali ingatan ke masa lalu bisa menggugah hatinya.

“Siapa tahu … gumamnya dalam hati sambil melangkah keluar.

***

 Menur melangkah cepat, ia harus segera menjauh sebelum Baroto menemukannya. Ia hanya ingin mengatakan bahwa ia bukan tak peduli, karenanya diberikannya obat gosok yang tadi diambilnya, tapi dia tak ingin menemuinya lagi. Ia tahu hal buruk akan menantinya kalau ia menurutkan kata hatinya. Baroto punya istri, punya keluarga. Walau mengatakan tak pernah saling mencintai, tapi mereka adalah suami istri. Menur tidak begitu gila kalau bermaksud merusak sebuah rumah tangga. Biarlah cinta mengendap dalam hati, tapi janganlah cinta membakar akal sehatnya.

Ia memasuki gang-gang kecil, yang kira-kira tidak terkejar seandainya Baroto begitu nekat ingin menemuinya. Ia punya tugas ke sekolah anaknya untuk membayarkan uang sekolah. Ia harus selesai menjual botol-botolnya yang hari itu kebetulan tidak seberapa banyak didapatkannya. Tapi ia harus mengumpulkannya untuk membayar uang ujian bagi Rahman. Kalau cukup ia akan membayarnya sekalian.

***

Baroto kesal, ia tak menemukan Menur. Apakah ia bisa menghilang? Ia terus saja membawa kudanya untuk menuju ke arah lain. Hari sudah siang ketika itu. Di depan sebuah sekolahan, ia menjadi perhatian banyak anak-anak sekolah yang sedang bubaran.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari mendekat. Kuda bagus … kuda bagus.

Baroto berhenti. Ia tak pernah merasa menyukai seorang anak, tapi entah mengapa ia kemudian membawa kudanya untuk berhenti., dan membiarkan anak kecil itu mengelus kudanya.

“Kamu suka?”

“Suka Om. Bagaimana rasanya naik kuda?”

“Kamu mau mencoba naik kuda?”

“Mau … mau … “

“Ikuuut,” teriak beberapa temannya yang lain.

Baroto membelalakkan matanya. Ada tiga … empat … ahaa … lima anak yang ingin  naik kuda?”

“Aku duluan,” teriak Rahman.

“Baiklah, satu persatu ya, tapi hanya muter ke situ saja,” kata Baroto sambil membantu anak kecil itu naik ke atas kudanya. Anak kecil itu bersorak.

Tiba-tiba ia melihat ibunya datang, hampir memasuki halaman sekolah.

Anak kecil yang adalah Rahman itu berteriak.

“Hei, mengapa baru datang? Kantor sekolah hampir tutup.”

Baroto tertegun. Dia kan Menur? Anak kecil itu mengenalnya?”

“Namamu siapa?”

“Saya Rahman Om.”

“Siapa wanita itu?”

“Oh, dia pembantu saya, hanya akan membayarkan uang sekolah saya.”

“Pembantu?”

***

Besok lagi ya. 


Saturday, July 11, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 46

 NAMAKU TETAP SENJA   46

(Tien Kumalasari)

 

Senja hampir berteriak, lalu dia sadar. Kan dia belum mengenalnya, jadi lebih baik dia pura-pura tidak pernah melihatnya saja. Dia diam ketika Rosa menemui seorang wanita cantik, lalu berbicara pelan, entah apa yang dibicarakan, Senja tidak mendengarnya. Ia hanya diam berdiri di dekat pintu sambil mengawasi wanita cantik yang duduk di depan kaca, seperti sudah terbiasa berada di tempat itu.

“Baiklah, aku mengerti. Tinggalkan saja dia di sini.”

“Senja, kemari, ini Bu Mira, pemilik salon ini. Kamu bisa membantu apa saja di sini.”

Senja tersenyum, lalu maju dan menyalami bu Mira dengan penuh hormat.

“Oh ya Rosa, itu anakku, Tantrina.”

“O, yang katamu sudah mengandung itu?”

“Iya, kebetulan menjadi istri orang kaya, sehingga bisa membangun salon aku yang tadinya hanya salon sederhana, menjadi salon yang lebih mewah seperti ini.”

“Syukurlah, aku ikut senang. Aku pergi dulu Senja. Kalau saatnya pulang aku akan menjemput kamu ke tempat di mana kamu menitipkan sepeda kamu.”

“Non, tidak usah, nanti saya mencari angkutan umum saja, dan setiap hari saya akan masuk bekerja dengan sepeda.”

“Baiklah, lain kali bisa begitu, tapi kali ini aku antar kamu pulang sampai ke rumah makan di mana kamu menitipkan sepeda kamu.”

“Tapi Non ….”

“Sudah, tidak usah protes. Nanti kalau tugasmu selesai, bu Mira akan mengabari aku, jadi kamu jangan pulang dulu sebelum aku sampai.”

“Non Rosa baik sekali, mau repot-repot untuk saya.”

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Di hari pertama kamu kerja, biarlah aku antar jemput kamu dulu. Selanjutnya kamu berangkat dan pulang sendiri juga tidak apa-apa.”

“Terima kasih banyak Non.”

Senja tersenyum. Gembira sekali bisa mendapat pekerjaan walau agak jauh dari rumah. Simboknya pasti senang ia bisa membantu meringankan bebannya. Yang terpenting, Rimba bisa melanjutkan sekolah setinggi mungkin, seperti cita-cita simboknya.

“Senja, kalau kamu haus bisa ambil sendiri minuman, letaknya di situ,” kata bu Mira sambil menunjuk ke dalam ruangan lain, di mana ada kulkas berada di ruangan itu.

“Baik Bu, sekarang saya harus mengerjakan apa?”

“Bantu bersih-bersih alat salon ini dulu. Belum ada pelanggan datang di jam segini, biasanya sebentar lagi akan agak ramai.”

“Baiklah.”

“Tantrina, kamu sudah selesai? Katanya hari ini rumah kamu sudah siap?”

“Iya Bu, aku menunggu dijemput suamiku. Aku telpon dia sebentar."

“Baiklah.”

Senja mulai mengerjakan apa yang disuruh majikannya. Membersihkan dan menata alat-alat salon. Tapi dalam hati dia berpikir, siapa suami perempuan bernama Tantrina yang ternyata anak pemilik salon ini? Benarkah dia istri muda pak Wiguna? Kalau tadinya ia mengira wanita itu adik Arka atau kakaknya, sekarang perkiraan itu dipatahkan oleh keterangan Arka yang katanya dia anak tunggal. Lalu siapa Tantrina yang begitu akrab dengan pak Wiguna? Benarkah seperti perkiraan simboknya bahwa Tantrina adalah istri muda pak Wiguna?

“Tantrina, sepertinya suami kamu sudah menjemput,” kata bu Mira.

Tak sengaja Senja menoleh ke arah jalan, tapi ternyata suami Tantrina tidak turun dari mobil. Ia membunyikan klakson berkali-kali, lalu Tantrina bergegas keluar setelah mencium tangan ibunya. Ia sama sekali tak menoleh kepada Senja, dan itu bukan masalah bagi Senja. Dia kan hanya pegawai, atau boleh dikatakan pembantu, mana mungkin disapa anak majikan?

“Hati-hati jalannya pelan saja, kamu itu sedang hamil, dan jangan lupa ibu butuh satu lagi almari,” teriak bu Mira.

Tantrina menoleh sejenak, sambil tersenyum dan mengangguk.

Senja pura-pura tak memperhatikan. Sedikit kecewa karena tak bisa melihat siapa suami Tantrina. Benarkah pak Wiguna?

“Senja, setelah selesai kursi-kursi ini letakkan masing-masing di depan cermin ya.”

“Baik, Bu.”

“Itu tadi satu-satunya anak aku. Sungguh beruntung diperistri orang kaya, sehingga salon ini yang tadinya kecil, kemudian diperbesar, dan ditambah peralatan yang lebih lengkap.”

“Bagus sekali, Bu.”

“Tantrina juga dibelikan rumah baru. Tadi dia mengabari rumah yang dipesannya sudah jadi, lalu Tantrina dijemput suaminya, karena perabot rumah tangga akan dikirim hari ini juga.”

“Saya ikut senang Bu.”

***

Simbok pulang saat hari masih siang. Rimba menyambutnya, dan belum sampai masuk ke rumah Rimba sudah mengabari kalau kakaknya benar-benar sudah mulai bekerja hari ini.

“Tadi dia sudah bilang mau ketemu temannya yang membantunya itu, tapi belum bilang bahwa pekerjaan itu sudah ada.”

“Tadi mbak Senja bilang, kalau dia sampai siang belum pulang, berarti dia langsung bekerja. Lha ini sudah siang, pastinya dia sudah bekerja.”

“Tapi belum tahu pekerjaannya apa dan di mana?”

“Belum tahu Mbok, nanti kalau dia pulang baru bilang.”

“Syukurlah kalau sudah mendapat pekerjaan. Mbakyumu itu susah dikasih tahu. Maksud Simbok biar dia melanjutkan kuliah dulu, tapi tidak mau.”

“Kata mbak Senja, kuliah bayarnya mahal.”

“Iya juga sih. Dia ingin, kamu nanti yang bisa sekolah sampai tinggi, biar tidak buta hurup seperti Simbok.”

“Nanti Simbok Rimba ajarin membaca ya. Simbok sih, tidak pernah mau kalau diajarin.”

“Nggak usah. Simbok malah bingung. Otaknya nggak nyampe. Biar begini saja, asal anak-anak Simbok bisa sekolah, Simbok sudah senang.”

Rimba tersenyum. Biar masih kecil tapi kehidupan yang sederhana dan terkadang kelihatan sengsara, membuat dirinya bisa berpikir lebih dewasa. Ia paham apa yang dipikirkan simboknya, dan paham pula mengapa sang kakak bersikeras ingin bekerja. Rimba pun ingin melakukan sesuatu, tapi tangan kecilnya belum mampu berbuat banyak.

“Besok kalau Rimba sudah besar, Rimba juga ingin bekerja. Apa saja asal bisa menghasilkan uang, agar bisa membantu Simbok.”

“Apa maksudmu? Simbok suruh kamu belajar, bukan bekerja.”

“Maksud Rimba, sekolah sambil bekerja.”

“Tidak usah. Nanti malah mengganggu sekolah kamu, dan menghambat semuanya. Yang harus kamu lakukan adalah sekolah dan menjadi pintar.”

Rimba tersenyum, kemudian merangkul simboknya sambil berlinang air mata.

“Iya Mbok, siap laksanakan ….”

Sang simbok mengelus kepala anak laki-lakinya dan tak urung air matanyapun berlinang.

“Hidup ini susah le, kata orang … biarlah sekarang kita sengsara, kelak kita akan mengunduh buah yang kita tanam. Semoga Allah mengijabah semua doa Simbok.”

“Aamiin.”

***

Senja bekerja dengan sangat rajin. Bu Mira menatap Senja dengan tatapan kasihan. Gadis itu cantik, rajin dan sikapnya sangat baik. Ada rasa kasihan mengapa Rosa ingin memperlakukannya dengan perbuatan yang sangat kejam. Tapi bu Mira juga perempuan yang sangat doyan duit, dan ia sudah menerima bayarannya. Untuk itu ia harus membantu apa yang menjadi keinginan Rosa.

“Sebentar lagi Rosa akan menjemput kamu Senja, segera rapikan semuanya sebelum kamu pulang.”

“Baik, Bu.”

Senja tak pernah mengeluh. Ia hanya kurang suka kepada tamu laki-laki yang datang minta potong rambut, lalu menatapnya dengan tatapan yang menurut Senja sangat aneh dan membuatnya tak suka. Tapi Senja harus bersabar. Niatnya adalah bekerja dan mendapat uang. Ia harus menahan apapun walau dia sangat tidak suka. Ia juga baru tahu kalau salon bu Mira juga menerima pelayanan pijit. Untunglah itu bukan tugas Senja. Ada orang lain yang melakukannya. Senja hanya menyiapkan keperluan bu Mira tentang merapikan alat salon dan melayani ketika bu Mira sedang memotong rambut atau membersihkan wajah.

Senja sudah menyelesaikan tugasnya, dan bersamaan dengan itu Rosa benar-benar menjemputnya.

Senja sangat berterima kasih, dan semakin dalam rasa hormat dan terima kasihnya atas kebaikan si Non cantik yang dianggapnya banyak membantunya.

“Senja, setelah ini kamu akan berangkat bekerja dan pulang sendiri. Kamu tidak keberatan bukan?”

“Tentu saja tidak Non, saya sudah sangat berterima kasih Non membantu saya mendapatkan pekerjaan ini.”

***

Besok  lagi ya.

Friday, July 10, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 45

 NAMAKU TETAP SENJA  45

(Tien Kumalasari)

 

Wajah Senja sumringah, setengah berlari mendekati mobil. Ia merasa berhutang nyawa pada Rosa, jadi ia bersikap sangat baik.

"Non Rosa, saya minta maaf, ketika non Rosa sakit, saya tidak bisa membezoek, karena_”

“Sudah, tidak usah dibahas masalah itu.”

“Saya sangat berterima kasih, non Rosa sangat baik kepada saya.”

“Sudah semestinya berbaik hati kepada sesama kan?”

“Non Rosa sungguh berbudi.”

“Kamu ini sebenarnya mau ke mana?”

“Ini Non, mau mencari pekerjaan.”

“Oh iya, pastinya kamu sudah lulus ya Nja?”

“Iya Non, atas doa non Rosa, sudah lulus. Sekarang sedang berusaha untuk mencari pekerjaan.”

“Oh, kamu mau mencari pekerjaan? Ke mana?”

“Ke toko itu dulu, barangkali membutuhkan pelayan toko. Saya permisi dulu ya Non. Mau ke situ dulu.”

“Eit.. tunggu dulu Senja, kamu itu cantik, mengapa melamar menjadi pelayan toko?”

“Yang penting kan bukan wajahnya Non, saya hanya lulusan SMA. Biar cantik seperti bidadari ya nggak bisa bekerja di kantoran. Nggak apa-apa kok Non, saya tidak malu, yang penting bisa bekerja membantu Simbok.”

“Tunggu, ke sini dulu,” Rosa melambaikan tangannya, masih melongok di jendela mobilnya, tanpa mau turun.

Senja terpaksa mendekat, sebenarnya dia ingin segera pergi ke toko itu, sebentar lagi terik matahari akan lebih menyengat. Kalau tidak diterima bekerja di situ kan ia harus mencari yang lain.

“Aku bisa membantu kamu mendapatkan pekerjaan.”

Mata Senja berkilat. Wajahnya berseri. Non cantik yang baik hati ini akan membantunya mencari pekerjaan? Dalam hati Senja terus memuji-muji kebaikan Rosa. Dulu dikira sombong dan merendahkan  dirinya karena miskin, ternyata berkali-kali dia berbaik hati padanya.

“Itu benarkah Non?”

“Masa aku membohongi kamu? Mana lamaran kamu, biar aku bawa,” kata Rosa sambil mengacungkan sebelah tangannya, dan dengan riang Senja memberikannya.

“Kapan saya mulai bekerja Non?

“Nanti dulu, ini lamarannya aku bawa dulu, kamu tunggu, nanti aku kabari ketika kamu sudah siap diterima bekerja.”

“Oh, baiklah Non, jadi sekarang saya pulang dulu kan?”

“Iya, pulanglah, nanti aku kabari, secepatnya. Aku harus menemui teman aku dulu.”

“Baiklah, terima kasih banyak Non. Tapi saya benar-benar diterima kerja kan? Atau masih belum tentu?”

“Aku usahakan kamu benar-benar diterima. Jangan khawatir.”

“Baik Non, terima kasih banyak,” jawabnya masih dengan seri gembira di wajahnya.

“Tapi tunggu dulu Senja,” tiba-tiba Rosa berteriak.

Senja urung melangkah, kembali mendekati Rosa.

“Dengar Senja, aku membantu kamu mendapat pekerjaan, tapi kamu tidak usah mengatakan siapapun bahwa akulah yang membantu kamu.”

“Memangnya kenapa Non?”

“Aku tidak mau mendapat nama baik. Bahkan untuk simbokmu dan adikmu, jangan sampai diberi tahu. Yang penting kamu mendapat pekerjaan dan aku sudah senang. Jangan kamu kira itu  karena aku, tapi teman aku. Jadi jangan menganggap aku yang menolong kamu. Ingat itu, Senja.”

“Baiklah Non, terima kasih banyak. Saya juga tidak terlalu sangat berharap pekerjaan yang muluk-muluk Non, menjadi pembantu juga saya mau. Yang penting saya punya penghasilan.”

“Iya, tenang saja, nanti aku bilang kepada teman aku, tapi ingat satu pesanku, jangan bilang siapapun bahwa aku yang membantu kamu. Aku tidak mau orang-orang memuji aku. Aku hanya meminta tolong teman aku karena aku kasihan sama kamu. Kamu mengerti kan Nja?”

“Iya, Non, saya mengerti. Non memang orang baik.”

“Jangan begitu, aku hanya suka membantu. Oh ya, begini saja, besok kamu datang ke rumah makan yang di depan itu ya, kita ketemuan di situ, jam sepuluh pagi. Aku nggak mau ke rumah kamu, kan aku sudah bilang bahwa aku tidak mau siapapun tahu bahwa aku yang membantu kamu?"

“Iya Non, siap. Jam sepuluh pagi saya akan sudah di situ.”

“Kalau aku belum datang, kamu tunggu dulu ya.”

“Ya Non. Baiklah.”

Senja pulang dengan riang, tanpa curiga mengapa Rosa meminta bahwa yang membantunya tidak usah dikatakan kepada siapapun juga.

***

“Memangnya Mbak akan bekerja sebagai apa?” tanya Rimba ketika sang kakak pulang dengan wajah berseri dan sambil masuk ke rumah mengatakan bahwa dia sudah mendapat pekerjaan.

“Belum tentu pekerjaannya apa, yang penting ada yang mau menolong aku untuk bisa segera mendapat pekerjaan.”

“Siapa dia? Teman Mbak?”

“Ya, seperti itulah. Teman yang sangat baik.”

“Dia tidak mengatakan pekerjaannya apa?”

“Belum mengatakan apa pekerjaannya.”

“Eh, Mbak harus hati-hati lho, nanti kalau pekerjaan yang nggak bener bagaimana?”

Senja terkekeh.

“Jangan sembarangan menuduh. Dia itu orang baik. Teman yang benar-benar baik. Masa iya akan memberi pekerjaan yang nggak bener.”

Senja meneguk segelas air putih sebelum kemudian mengganti bajunya.

Rimba sangat senang mendengar kakaknya sudah akan mendapat pekerjaan. Mereka adalah keluarga sederhana, mendapat sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa.

***

Pagi hari itu pak Wiguna sudah berdandan rapi. Bu Wiguna mengamatinya. Ada yang berbeda dari suaminya. Berdandan lebih rapi, dan selalu berbau wangi.

“Apakah Bapak masih akan menemani teman Bapak itu?”

“Aku mau ke kantor dulu.”

“Maksudnya setelah ke kantor akan ke mana? Ke rumahnya lagi?”

”Entahlah, aku belum tahu Bu, kalau dia masih mengeluh kesepian dan butuh seorang teman, maka aku akan kesana.”

“Apa dia perempuan?” baru kali itu bu Wiguna bertanya tentang teman akrab suaminya.

“Ya ampun Bu, apakah Ibu mengira temanku itu perempuan? Ya laki-laki lah Bu, masa perempuan harus aku tungguin siang malam, setiap hari pula.”

“Biasanya seorang laki-laki akan sungkan mengeluh sepi dan minta ditemani.”

“Dia itu teman akrabku Bu, sejak masih SMA dulu. Dia merasa sudah renta setelah anak-anaknya menikah, istrinya meninggal, jadi dia kesepian.”

Arka yang ada di ruang sebelah mendengarkan, dengan perasaan kesal kepada sang ayah. Ia tidak menyangka ayahnya sangat pintar berbohong. Ia seperti seorang pemain watak yang ulung. Arka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hanya khawatir sang ibu mengetahui kebohongan itu, lalu berpengaruh pada kesehatannya.

“Apakah Bapak akan bareng saya ke kantor?”

Akhirnya Arka keluar dan memotong tanya jawab yang membuatnya kesal itu.

“Tidak usah, Bapak bawa mobil sendiri saja seperti biasanya.”

“Iya Ka, kalau tidak membawa mobil, bagaimana kalau teman akrab ayahmu nanti menelpon dan membutuhkannya?” kata sang ibu, ringan, seperti tanpa beban.

Seperti sebuah anjuran yang tulus. Seperti sikap seorang istri yang sangat menjaga suaminya. Hati Arka bertambah sakit.

“Kalau begitu Arka berangkat dulu ya Bu,” kata Arka sambil mencium tangan ibunya.

“Hati-hati ya Nak. Omong-omong bibik bilang kalau berasnya sudah menipis, apa kamu bisa pesan lagi kepada temanmu itu?”

“Tentu saja bisa Bu, apakah harus hari ini?”

“Tidak, kata bibik masih cukup sampai minggu depan.”

“Ya sudah, Arka juga belum bisa ke sana dalam satu dua hari ini.”

“Tidak bisa menelpon?”

“Tidak bisa Bu, mereka tidak punya ponsel.”

“Oh, kasihan. Ya sudah, dua tiga hari juga tidak apa-apa. Bibik bilang masih bisa dipakai untuk minggu depan.”

“Kalau terlalu buru-buru ya beli di tempat lain, yang dekat-dekat sini saja,” sambung pak Wiguna sambil mengikuti Arka yang sudah berjalan lebih dulu.

“Nanti dua atau tiga hari lagi Arka pesankan Bu, setelah semua pekerjaan Arka selesai.”

Mereka berangkat ke kantor yang sama, tapi memakai mobil masing-masing. Bu Wiguna menghela napas panjang, lalu masuk ke dalam rumah.

***

Senja dan Rosa bertemu di rumah makan yang kemarin ditunjuk Rosa menjadi tempat pertemuan mereka. Senja sangat senang ketika melihat Rosa.

“Senja, sepeda kamu dititipkan di sini saja dulu, kamu akan aku antarkan ke rumah teman aku.”

“Baiklah, tidak apa-apa.”

Senja menitipkan sepedanya di rumah makan itu, lalu pergi bersama Rosa. Rosa membawanya ke sebuah rumah yang ternyata sebuah salon kecantikan.

Rosa menggandengnya masuk.

“Di sini nantinya saya bekerja?”

“Iya, Senja. Temanku baru saja membuka sebuah salon kecantikan. Dia bersedia menerima kamu sebagai karyawan.”

“Oh, di sini rupanya tempat kerjaku?”

Senja digandeng Rosa masuk ke dalam, tapi tiba-tiba ia melihat seseorang yang pernah dikenalnya. Ia hampir berteriak, tapi kemudian ia menutup mulutnya.

“Bukankah itu perempuan hamil yang dulu aku lihat bersama ayah mas Arka?” kata batinnya.

***

Besok lagi ya.

 

NAMAKU TETAP SENJA 49

  NAMAKU TETAP SENJA  49 (Tien Kumalasari)   Bu Mery  berteriak mendengar sesuatu jatuh dari dalam. Senja melanjutkan pekerjaannya, tapi kup...