Saturday, May 9, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 37

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  37

(Tien Kumalasari)

 

Zein kesal sekali. Ia berganti pakaian rumah lalu duduk di teras. Ia menolak ketika bibik menawarkan makan malam. Ia lapar, tapi tak berselera makan. Ia menyesali toko roti mengapa menelpon Indras, dan menyesali mengapa Indras menyuruh menuliskan ucapan ulang tahun untuk istrinya. Padahal ia sama sekali tak ingat bahwa hari ini juga ulang tahun sang istri. Tapi suasana itu sungguh tak mengenakkan. Ia ingin memberikan dokter Tyas kesenangan, yang terjadi adalah kekesalan. Walau tak mengatakan apa-apa, tapi ia tahu bahwa pasti hal itu membuatnya kecewa, membuyarkan kesenangan yang akan mereka bangun. Bukan apa-apa. Zein hanya ingin bergembira.

“Tuan, saya buatkan kopi, ditaruh di sini atau di dalam?” kata bibik sambil membawa nampan berisi segelas kopi.

“Taruh saja di situ.”

“Makan malam masih saya siapkan, kalau sewaktu-waktu Tuan ingin makan, tolong beritahu saya, sayurnya akan saya panasi lagi.”

“Ya, gampang, tidak untuk sekarang,” jawab Zein tak acuh, seperti  berharap bibik segera pergi dan tidak banyak bicara.

Bibikpun berlalu. Ia tahu sang tuan sedang kesal. Barangkali kekesalan itu akan ditumpahkannya setelah sang nyonya majikan pulang. Bibik sedih sekali. Dihari-hari terakhir ini rumah tangga sang majikan seperti diterpa hawa panas yang tak henti-hentinya, dan permasalahan apa sebenarnya yang memicu, tentu saja bibik tidak tahu. Ia hanya berharap semoga semuanya segera berakhir.

***

“Ma, kita jarang makan di sini, perasaan masakan di sini selalu enak ya,” kata Sinta saat makan bersama sang mama.

“Kamu benar, terasa sangat enak. Barangkali karena kita sedang lapar.”

“Ah, benar Ma, kita sedang lapar. Sekarang papa sudah pulang belum ya?”

“Mengapa memikirkan papa kamu lagi, nanti selera makan kita hilang.”

“Harusnya papa diberi tahu kalau hari ini ulang tahun Mama.”

“Mama tidak pernah ingin dirayakan. Itu kan akal-akalan kamu sama kakakmu saja.”

“Supaya Mama bahagia.”

“Kebahagiaan itu bukan karena ulang tahunnya dirayakan. Diingat saja sudah cukup.”

“Sinta selalu mengingatnya lhoh Ma. Papa mungkin harus diingatkan karena selalu sibuk, banyak pikiran.”

Indras tersenyum dalam hati. Senyum yang sangat pahit. Sibuk, banyak pikiran sampai tidak ingat ulang tahun istri, tapi ulang tahun perempuan lain sangat diingatnya.

“Mama mau nambah?”

“Tidak Sin, ini sudah lebih dari cukup. Kenyang banget, bisa-bisa pulangnya nanti nggak bisa jalan karena kekenyangan.”

“Padahal Sinta masih pesen es krim. Bukankah Mama suka es krim?”

“Kalau es krim mama mau, kan tidak membuat kenyang?”

“Benar Ma.”

Sinta senang, mamanya tampak bahagia. Walau tidak penting, tapi bukankah diingat ulang tahunnya saja sudah cukup? Dan anak-anaknya tidak pernah melupakannya, sedangkan untuk sang papa bisa dimaklumi, karena sibuk.

Ketika es krim dihidangkan, mereka menikmatinya dengan nikmat. Ingin sekali Sinta menelpon sang papa, tapi ia sudah dilarang, jadi tak berani melakukannya. Yang dia heran, mengapa papanya juga tidak menanyakan sedang pergi ke mana mereka, padahal ponsel dalam keadaan on semua.

“Apa papa belum pulang ya?”

“Kamu masih mengingat papa kamu?”

“Sinta heran, papa tidak menelpon kita juga. Apa papa tidak merasa kehilangan ya?” kata Sinta setengah bercanda.

Indras tak menjawab. Masalah taart yang dipesan diam-diam masih membuatnya kesal. Yang Indras heran, mengapa petugas toko menelpon dirinya tentang tulisan yang harus ditulis di toping taart itu. Ya iyalah, petugas itu mana tahu kalau taart dipesan diam-diam, jadi mereka tidak merasa berdosa. Sekarang Indras sedang membayangkan, bagaimana reaksi mereka setelah membaca tulisan itu.

***

Mereka tidak langsung pulang. Sinta mengajak sang ibu mampir di sebuah toko, lalu memberikan sebuah kerudung cantik untuk sang ibu.

“Ini hadiah ulang tahun untuk Mama. Tidak apa-apa kan, tidak usah dibungkus cantik?”

“Tidak apa-apa, yang penting mama suka warnanya. Kamu masih punya uang banyak ya, tadi mentraktir mama makan, sekarang membelikan mama kerudung cantik.”

“Sinta malah masih ingin membeli baju cantik untuk Mama. Yang itu hadiah dari mbak Santi.”

“Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Baju mama masih banyak, bingung mau dipakai kapan, sedangkan kita jarang bepergian.”

“Bagaimana kalau besok liburan mengajak papa jalan-jalan? Mbak Santi pasti bisa pulang kalau liburan.”

“Tidak usah. Istirahat di rumah saja.”

“Ma, rekreasi itu penting lhoh, untuk mengurai ketegangan setelah berhari-hari bekerja dan berpikir.”

“Harusnya kamu juga jadi dokter.”

“Untuk mengetahui tentang hidup sehat kan tidak harus menjadi dokter?”

“Kamu benar. Sekarang lebih baik kita pulang.”

“Kita belum beli baju, mampir ke butik langganan sebentar ya.”

“Nggak usah Sinta.”

“Nanti mbak Santi kecewa, ini kan pesan dari mbak Santi.”

“Kalian itu ada-ada saja.”

“Ini hari spesial, Mama tidak boleh menolak,” kata Sinta yang nekat membawa mamanya ke butik langganan.

“Beli yang biasa saja, tidak usah yang mahal.”

“Kita lihat mana yang Mama suka.”

Mereka sudah memasuki butik langganan dan disambut ramah oleh petugasnya, karena Indras dan Zein adalah pelanggan tetap mereka.

Sinta sibuk memilih-milih, sedangkan Indras hanya melihat-lihat. Ia sedang tak banyak keinginan. Para wanita menyukai baju-baju bagus, tapi tidak bagi Indras, setidaknya untuk saat ini.

Tiba-tiba Indras melihat seseorang. Wanita cantik dengan pakaian ketat dan dandanan yang menyolok. Indras mengingat-ingat, dia seperti pernah melihat wanita itu, tapi di mana.

Ia mendekat, wanita itu tidak melihatnya, ia sibuk memilih, lalu tangannya merogoh tas tangannya, untuk mengambil ponsel.

“Dokter kebanggaanku sedang apa? … ya ampuun, kasihan deh, tadi kenapa tidak mau berlama-lama di rumah saya? Saya sedang di butik langganan Dokter, karena suntuk akibat Dokter tinggalkan, saya jalan-jalan sendiri. Saya sedang memilih baju untuk dinas, yang kata Dokter harus sopan tapi menawan … baiklah, ditransfer sekarang? Terima kasih, Dokter kesayanganku.”

Indras berdebar. Ia baru ingat. Itu kan dokter cantik yang pakaiannya seronok walau sedang bertugas waktu itu? Yang masuk ke ruang kerja Zein tanpa mengetuk pintu? Yang membawa makanan untuk Zein juga? Itu dokter cantik selingkuhan Zein bukan? Ia pergi sendirian karena suntuk ditinggalkan, berarti Zein sudah pulang. Tapi perempuan itu memesan sebuah baju dan meminta Zein mentransfer uang untuk membayarnya. Ingin sekali ia mendekati perempuan itu dan mendampratnya, tapi Indras merasa bahwa hal itu hanya akan merendahkannya.

Tiba-tiba Sinta menarik lengannya.

“Ma, yang tadi … Mama suka kan?”

Indras tak perlu melihat baju pilihan Sinta, ia hanya mengangguk sambil mengulaskan senyum, agar Sinta merasa senang, padahal hatinya tidak sedang tersenyum.

“Sudah kan, habis ini kita pulang?”

“Iya Ma, Sinta bayar dulu ya.”

“Mama juga bawa uang.”

“Jangan Ma, ini kan dari mbak Santi. Tadi Sinta sudah VC call mbak Santi untuk memperlihat bajunya, mbak Santi suka.”

Indras hanya tersenyum, kemudian segera mengajaknya pulang dengan alasan sangat lelah.

***

Ketika sampai di rumah, dia melihat sang suami duduk di teras. Ia tak berdiri walau melihat istri dan anaknya pulang dari bepergian.

“Pa, Papa sudah lama pulangnya?” tanya Sinta dengan riang.

“Dari mana kalian?”

“Jalan-jalan sama Mama, apa Papa_”

Sinta menghentikan perkataannya karena sang mama mencubit lengannya. Ia hampir lupa kalau sang mama tak ingin ia mengingatkan masalah ulang tahun itu kepada papanya.

Ia berlalu dan meninggalkan sang mama di belakangnya.

“Kamu mengatakan apa kepada petugas toko roti tadi?” kata Zein sengit.

“Dia bertanya tentang tulisan yang harus ditulis di hiasan taart, apa aku salah?”

“Kamu mengarang tulisan itu, dan ingin membuat aku marah?”

“Mengapa harus membuat kamu marah? Bukankah kamu memesan taart untuk hadiah ulang tahunku? Mereka lupa tulisannya apa, jadi aku tuliskan saja selamat ulang tahun untuk istriku. Salah ya?”

TIba-tiba rona marah di wajah Zein menurun. Jadi Indras mengira dia sedang memesan taart untuk dirinya dan karenanya tulisannya seperti itu?

Zein berdiri, lalu tiba-tiba memeluk istrinya.

“Selamat ulang tahun, istriku,” katanya lembut, membuat Indras terpana.

***

Besok lagi ya.

Friday, May 8, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 36

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  36

(Tien Kumalasari)

 

Indras menenangkan hatinya agak lama, kemarahan telah membakarnya. Kemarahan itu harus ditumpahkannya kepada siapa? Suaminya tak ada didekatnya, yang ada adalah petugas toko roti yang pastinya menunggu apa yang akan dikatakannya, dan kata-kata itu lebih pantas berupa tumpahan kemarahannya.

“Bagaimana, Dokter?”

“Anda itu bagaimana? Sebuah toko roti ternama yang harusnya melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya. Catatan dari pelanggan bisa hilang, lalu setelah hampir selesai Anda kebingungan seperti cacing kepanasan.”

“Maaf Dokter, ini kesalahan kami, tolonglah, sebentar lagi dokter Zein akan mengambilnya.”

“Kalau begitu tulis saja ‘SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK ISTRIKU’.

“Begitu ya Dok?”

“Tidak ada waktu, aku sedang enggan berpikir.”

“Baik Dokter, akan saya tulis begitu. Terima kasih Dokter, sekali lagi saya mohon maaf.”

Indras meletakkan ponselnya masih dengan kemarahan, tapi ia tersenyum. Kalau benar tulisannya begitu, biar saja perempuan itu heboh, Zein juga akan kelimpungan.

“Mama, kita jadi pergi kan?”

Sinta mendekat, sudah wangi. Ia baru saja selesai mandi.

“Ya, ayo kita segera berangkat.”

“Sinta telpon papa dulu ya.”

“Tidak usah. Kita berdua saja.”

“Berdua saja? Nanti papa marah, bagaimana?”

“Papamu tidak akan marah. Mama ganti baju dulu.”

“Benar nih, hanya berdua saja?”

“Mama harus mengulang berapa kali sih Sinta?” kata Indras, sedikit kesal.

“Baiklah, baiklah.”

“Papamu akan pulang malam, kita keburu lapar,” kata Indras kemudian, tak ingin Sinta sedih karena kata-katanya yang agak kasar.

“Baik Mama, jangan marah dong. Sedang ulang tahun nggak boleh marah. Nanti hilang cantiknya, bagaimana?” canda Sinta, yang membuat sang mama tersenyum, sebelum masuk ke dalam kamarnya.

***

Dokter Tyas dandan sangat cantik. Ia memakai baju baru yang kemarin dibelikan oleh dokter kesayangannya, menyemprotkan minyak wangi hampir ke seluruh tubuhnya. Ia berputar di depan cermin, seperti remaja tujuh belasan tahun yang sedang menunggu cinta pertamanya. Kali ini bajunya bukan baju seperti yang dikenakan saat kerja. Yang rapi dan sopan, atas permintaan dokter Zein. Di awal malam ini bajunya agak ketat dan lebih terbuka. Dokter Tyas berputar sekali lagi, tersenyum seperti kekasihnya ada di depannya, kemudian melenggang keluar kamar, karena kebetulan ia mendengar suara mobil masuk ke halaman.

Ia berjalan seperti peragawati melangkah di atas cat walk, berdiri di tangga teras, menunggu kesayangannya datang mendekat.

Zein membawa kotak roti pesanannya, dan tersenyum melihat dokter Tyas sudah menunggu.

“Selamat ulang tahun, cantik,” katanya sambil mengulurkan kotak berisi taart yang dipesannya sejak kemarin.

“Terima kasih, Dokter kebanggaanku. Hanya ini hadiahnya?” katanya sambil menepuk pipinya, tapi dokter Zein hanya tersenyum, kemudian langsung masuk dan duduk di teras.

“Ayo masuk, di sini tidak ada CCTV,” katanya mengingatkan penolakan dokter Zein setiap dia mendekatinya di ruang kerja.

“Pasti ada CCTV lain yang kita tidak melihatnya,” kata dokter Zein sambil tetap tersenyum.

Dokter Tyas meletakkan kotak taart itu di meja.

“Duduk di sini? Tidak masuk ke dalam?”

“Di sini saja, udaranya lebih segar.”

“Saya ambilkan minum dulu.”

Dokter Tyas melenggang masuk ke dalam. Ia heran dokter Zein selalu menolak didekati.

“Kurang cantik apa sih aku? Kurang menarik apa? Masa dia tidak tergoda dengan penampilanku?” gumamnya sambil menuangkan coklat susu ke dalam gelas.

Ia membawanya ke teras dengan berbagai akal yang ingin dilakukannya, agar dokter Zein memenuhi keinginannya.

“Minumlah, dokter.”

“Terima kasih. Aku tidak akan lama.”

“Kenapa? Padahal saya ingin merayakannya sepanjang malam bersama dokter kebanggaan saya ini.”

“Besok kita harus bekerja, tidak baik tidur terlampau malam. Buka saja taartnya, dan nyalakan lilinnya.”

Dokter Tyas ke belakang lagi, sambil berlenggak lenggok, berusaha memikat, tapi Zein tidak melihatnya. Ia bersandar di kursi teras, tampak lelah. Seharian ia bekerja keras, memeriksa alat-alat kedokteran baru yang datang siang tadi. Sore hari baru selesai, lalu cepat-cepat ke toko roti langganan untuk mengambil pesanan.

“Ini koreknya, Dokter.”

Zein menerima korek itu dan dokter Tyas membuka kotak taartnya setelah meletakkan dua piring kecil dan garpu di dekatnya.

“Woouww… coklat kesukaan aku,” pekiknya riang sambil menata lilin yang sudah ada di dalam kotaknya.

Zein menyalakan koreknya, lalu keduanya terbelalak membaca tulisan indah berbunga-bunga, yang menuliskan ucapan ulang tahun.

Zein berhenti sampai nyala dari korek itu padam tertiup angin malam yang tiba-tiba menyambar.

Tulisan itu begitu indah, diantara warna warni bunga. SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK ISTRIKU.

Mereka saling pandang.

“Dokter salah mengambilnya? Apakah istri Dokter juga ulang tahun hari ini?” tanya dokter Tyas, tampak kecewa.

"Istriku ulang tahun? Aku malah tidak mengingatnya. Tapi mengapa tulisannya menjadi begitu? Bukankah aku ingin mereka menuliskan SELAMAT ULANG TAHUN, DOKTER CANTIK’?” pikir Zein.

“Tidak apa-apa, bawa saja lagi taart ini pulang, tidak apa-apa kita merayakannya tanpa taart. Ini sebenarnya bukan kebiasaan kita kan?” kata dokter Tyas sambil tersenyum, tak menampakkan rasa marah.

“Tidak, aku hanya memesan satu kotak,” katanya sambil mengambil ponselnya.

“Aku akan menanyakannya kepada petugas toko roti itu,” gumam dokter Zein.

Dokter Tyas hanya menunggu, diam dengan perasaan tak menentu.

“Sebenarnya tidak apa-apa tanpa taart, kita bisa merayakannya dengan lebih meriah, saya akan menunjukkan caranya,” kata dokter Tyas dengan senyuman memikat. Tapi lagi-lagi Zein tidak sedang memandanginya. Ia sedang menunggu panggilannya ke petugas toko roti itu diangkat.

“Hallo, dokter Zein ya?” suara dari seberang sana.

“Mengapa kamu membuat tulisan yang berbeda dengan apa yang pernah aku tuliskan?” sentak Zein.

“Oh, maaf Dokter. Sesungguhnya catatan yang dokter tuliskan itu hilang, entah ke mana, tapi saya sudah menelpon dokter Indras.”

“Maksudmu menelpon dia tuh apa?”

“Saya bilang lupa tulisannya, lalu dokter Indras meminta agar kami menulisnya seperti itu. Apa kurang bagus?”

Zein menutup panggilan itu dengan wajah keruh. Rupanya petugas itu mengira Indras mengetahui tentang pesanan itu, dan Indras sedang mencari gara-gara.

“Dokter, tidak usah marah. Tidak apa-apa tulisannya begini. Bukankah saya harusnya senang karena berarti Dokter menganggap saya istri Dokter?”

“Ya sudah tidak apa-apa. Potong saja kuenya lalu kita makan,” kata Zein, dingin.

"Lilinnya belum dinyalakan, lalu kita menyanyi happy birthday.”

“Tidak usah. Kamu bilang ini bukan kebiasaan kita bukan? Langsung dimakan saja,” kata dokter Zein sambil memberikan pisau rotinya kepada dokter Tyas.

Dokter Tyas tersenyum, lalu menyanyi sendiri sambil mengiris rotinya.

“Happy birthday … to me,” pungkasnya, lalu memotong taartnya seiris, diberikannya kepada Zein.

Zein menerimanya, tanpa mengucapkan apa-apa. Ia makan kuenya sambil menatap dokter Tyas yang sedang menjilati krem coklat yang menjadi toping taart itu.

“Dokter tidak mengucapkan apa-apa untuk saya?”

“Semoga sehat, bahagia, tetap cantik dan bersemangat,” kata Zein sambil melahap taartnya, seperti tidak sambil menikmati enaknya taart yang dipesannya mahal.

“Terima kasih Dokter kebanggaanku. Apapun … saya bahagia mendapat doa dari Dokter yang tiada duanya dalam semua kebaikan dan perhatiannya terhadap saya.”

Zein menghabiskan taartnya, lalu meletakkan piring kecil itu di atas meja.

"Tadi saya memasak enak, kita makan sebentar lagi ya.”

“Tidak usah.”

“Tidak usah? Apa maksud Dokter?”

“Sebenarnya aku sangat lelah, jadi lebih baik aku pulang saja.”

“Serius, Dokter mau pulang?”

Zein meneguk coklat susunya, lalu mengangguk.

Mulut tipis itu mengerucut, seperti ingin menangis, tapi Zein sudah berdiri.

“Maaf ya. Sungguh aku sangat lelah.”

Tiba-tiba dokter Tyas menubruknya dan memeluknya erat. Zein sangat terkejut. Ia mendorong tubuh seksi itu agar menjauh.

“Jangan begini.”

“Di sini tidak ada CCTV,” rengek dokter Tyas.

“Kan aku sudah bilang, ada CCTV yang lain?” kata Zein sambil turun dari teras dan bergegas ke arah mobilnya.

Ketika deru mobil dokter Zein terdengar menjauh, deru kekecewaan dokter Tyas sedang memenuhi dadanya.

Ia menuju meja, mengambil taart yang baru dimakan dua potong, lalu membuangnya di tempat sampah.

***

Zein memasuki halaman rumahnya, memarkir mobilnya, lalu turun. Ia melihat pintu rumah terkunci. Ia ingin membukanya ketika bibik sudah lebih dulu menyambutnya.

“Kok sepi?”

“Nyonya dan non Sinta pergi.”

“Kemana?” sentak Zein.

“Saya tidak tahu, Tuan. Mereka hanya mengatakan akan keluar sebentar, begitu.”

Zein membanting pintu kamarnya ketika ia memasukinya, membuat dada bibik seperti ditempa palu godam.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, May 7, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 35

 SAKITKU ADALAH TANGISKU  35

(Tien Kumalasari)

 

Indras tak menjawab. Ia lebih memilih memegangi dadanya yang terasa sakit. Ada sesuatu yang membuatnya senang, tapi ada sembilu menyayat yang menitikkan darah pada lukanya. Seandainya ia adalah timbangan, mana yang lebih berat, kesenangan diperhatikan suami, atau kesakitan karena penghianatan suami?

“Indras, kamu kan tahu aku tidak suka diatur? Aku akan melakukan mana yang aku suka. Tapi jangan menuduh aku berselingkuh. Itu tidak benar, dan akan membuat aku marah. Sangat marah. Kamu paham?”

Indras tak menjawab. Jawabannya pasti akan membuat nyala api berkobar dikepala Zein. Paham? Tidak. Indras tidak akan paham. Setiap hari kirim-kirim pesan, terkadang menelpon, menyebutnya sayang, tapi tidak berselingkuh?

Zein membalikkan tubuhnya menghadap ke samping. Tepatnya memunggungi Indras yang tidur di sampingnya bersama ketidak tahuannya atas pemikiran sang suami. Kepalanya kembali berdenyut. Terkadang ia merasa seperti orang linglung. Tapi ketika ia ke psikiater, dokter itu bilang dirinya tidak perlu diobati. Suaminyalah yang harus diobati.

“Obat apa?”

“Dia sudah tahu,” kata dokternya waktu itu.

“Kamu hanya harus bersabar.”

Indras menitikkan air mata

“Harus sesabar apa lagi aku ini, Ya Allah?”

“Tidurlah, sudah malam,” kata Zein ketika barangkali tahu bahwa Indras masih membolak balikkan tubuhnya, yang berarti bahwa sang istri belum juga tidur. Walau begitu ia tetap menghadap ke arah yang sama, memunggungi sang istri.

Indras tak menjawab. Ia beristigfar berkali-kali, baru bisa memejamkan matanya.

***

Seperti biasa Indras bangun saat subuh, melakukan ibadah sebagaimana mestinya, lalu mandi dan duduk di ruang tengah, menunggu bibik menyajikan segelas kopi panas seperti biasa.

Ia mengendapkan segala rasa, dan berbisik kepada hatinya, bahwa ia harus bersabar dan bersabar.

“Nyonya sudah tampak baikan, sudah tidak kelihatan pucat,” kata bibik sambil meletakkan segelas kopi panas. 

Baru segelas, karena bibik belum melihat tuan majikan bangun di pagi itu.

“Benarkah?”

“Iya, Nyonya, saya senang Nyonya tidak sakit lagi.”

Indras tersenyum. Ia buat tubuhnya sehat, raganya kuat. Mana bibik tahu apa yang ada di dalam hatinya?

“Doakan saya tidak sakit-sakit ya Bik?”

“Tentu Nyonya, saya sedih kalau Nyonya sakit.”

Ketika bibik mau beranjak ke belakang, Indras menghentikannya.

“Bik, gaji Bibik baru nanti saya ambilkan ya.”

“O, iya Nyonya, saya tidak tergesa-gesa. Paling hanya akan saya kirimkan untuk keluarga di kampung. Lagi pula biasanya tuan yang memberi.”

“Nanti aku yang akan memberi, tuan yang menyuruh.”

“Oh, baiklah Nyonya.”

“Sekalian uang untuk Bibik  belanja, bukankah uang yang Bibik bawa tinggal sedikit?”

“Iya sih Nyonya, tapi besok saja belanjanya. Untuk hari ini semuanya sudah cukup. Nanti hanya akan belanja sayur di pasar dekat rumah.”

“Baiklah, baru nanti aku ambilkan uangnya.”

Bibik beranjak ke dapur lagi sambil membawa nampan yang sudah kosong.

Ada perasaan aneh. Selama berumah tangga baru sekali ini ia membelanjakan uang dari suaminya. Entah apa yang membuat hatinya terbuka, tapi ini dianggapnya sebuah kemajuan yang sedikit menggembirakan. Kesabarannya selama ini dan pintanya kepada Allah yang Maha Pengasih sudah ada yang dikabulkan. Belum semuanya. Bukankah ia masih harus bersabar?

“Nanti kamu mau ke bank?”

Indras terkejut. Zein sudah bangun dan sudah rapi.

“Ya, atau kamu yang akan mengambilkan?”

“Apa maksudmu? Kan ATM nya sudah aku berikan ke kamu?”

Zein duduk, bibik belum membawakan kopinya, tapi barangkali sudah disiapkan, karena bibik sudah mendengar suara sang tuan majikan.

“Barangkali kamu akan mengambilnya sendiri.”

“Tidak. Bawa keduanya dan pergunakan untuk semua keperluan. Gajiku ada di situ semuanya.”

“Aku sudah bilang bibik tentang gajinya.”

“Kopinya Tuan,” alangkah cepat bibik menyajikan minum untuk sang tuan majikan.

“Terima kasih Bik. Gaji kamu mulai bulan ini, Nyonya yang akan memberikan.”

“Baiklah Tuan, tidak apa-apa. Bagi saya sama saja,” jawab bibik sambil berlalu. 

Ia harus segera menyiapkan makan pagi untuk para majikan.

“Kamu sudah rapi sepagi ini?”

“Ya, akan ada operasi pagi-pagi.”

Indras meneguk lagi kopinya yang sudah mulai dingin, sementara Zein masih mencecapnya sedikit demi sedikit karena masih panas.

Indras bangkit, untuk membantu bibik menyiapkan sarapan. Ia sedang belajar bersikap normal dalam melayani suami. Paling tidak sikap sang suami harus terus semakin berubah, walau masalah selingkuhan dia tak ingin ada yang menyinggungnya. 

"Urusan dia bukan? Dan itu bukan selingkuhan, kata dia. Baiklah, apa kata kamu saja Zein," kata batin Indras sambil mendekati bibik.

“Sebentar lagi Nyonya, sayurnya baru saya panasin lagi.”

“Tidak apa-apa Bik, aku bantu menata mejanya.”

“Bibik tersenyum. Ia melihat sang nyonya majikan sudah bersikap biasa. Damai di rumah ini sudah tercipta. Itu kata bibik dalam hatinya.

Ketika Sinta keluar, dia senang sang ibu sedang sibuk menata meja. Ia segera membantunya, menyiapkan gelas-gelas minum yang diisinya dengan air putih.

“Mama sudah sehat?” katanya sambil menuangkan air di gelas-gelas itu.

“Mama tidak sakit.”

“Mama tahu tidak, dua hari lagi Mama ulang tahun.”

“Memangnya kenapa kalau mama ulang tahun?”

“Sinta mau merayakannya bersama papa.”

“Jangan. Kamu tidak usah bilang apa-apa pada papa. Tidak usah mengingatkan juga.”

“Memangnya kenapa Ma? Papa sering lupa.”

“Bukan lupa. Memang tidak ada perayaan ulang tahun untuk mama, dan itu tidak perlu bukan?”

“Padahal Sinta mau mengajak papa kita makan di luar. Hanya bertiga karena mbak Santi tidak bisa pulang hari itu.”

“Tidak dan tidak. Mama bilang tidak usah beritahu atau mengingatkan hal itu pada papa. Apalagi mengusulkan makan di luar segala.”

“Ma.”

“Mama serius. Kalau mama bilang jangan, ya jangan.”

“Memangnya kenapa Ma, Sinta ingin sekali …”

“Mari kita rayakan saja di dalam hati. Doakan mama selalu sehat, lahir batin.”

Sinta menatap mamanya dengan penuh haru. Ia merasa beberapa hari ini sikap papanya sudah berubah. Mereka sudah bertegur sapa dengan manis. Dan hari ulang tahun mamanya yang hampir tidak pernah diingat oleh papanya, untuk kali itu Sinta ingin mengingatkannya. Tapi Indras melarangnya keras.

“Bagus sekali, para perempuan menyiapkan makan pagi. Pasti nanti akan terasa enak,” kata Zein tiba-tiba. 

Untunglah Sinta tak membahas masalah ulang tahun itu lagi.

“Papa ganteng sekali pagi ini.”

Zein senang. Sebuah pujian selalu membuatnya senang.

“Ya kan Ma, papa ganteng sekali?”

“Papa kamu memang ganteng. Kalau tidak, mana mama mau diambil istri oleh dia,” kata Sinta sambil tersenyum.

Tanpa diduga Zein mendekat dan mencium kening Indras

“Bibik, tutup mata Bibik, ada adegan mesra ini,” teriak Sinta gembira.

Indras hanya tersenyum, kemudian duduk dengan santai. Ia heran suaminya suka sekali mencium kening, atau bahkan pipi. Oh ya, Indras ingat, Zein melakukannya ketika mendengarnya dipuji. Bukankah itu benar? Dipuji baik, dipuji penuh pengertian, dipuji ganteng. Dan hadiahnya adalah ciuman? Sekarang Indras mengerti, Zein suka sekali mendapat pujian.

***

Walau begitu pujian anak dan istrinya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan dokter Tyas. Baginya, dia adalah dokter kebanggaan, dokter kesayangan, dokter yang tak ada duanya dalam kebaikan.

Dan itu terjadi begitu ia memasuki ruang kerjanya. Hari masih pagi dan para dokter belum mulai menerima pasien. Diruangannya, dokter Tyas sedang memajang bunga segar di mejanya.

“Selamat pagi, cantik,” sapa Zein dengan manis.

“Hai, dokter kebanggaanku sudah datang. Lihat, apakah Dokter suka? Aku meletakkan mawar-mawar cantik di meja Dokter.”

Zein bukan orang yang sangat romantis. Ia tak pernah menyukai bunga. Walau begitu sambil menata sebuah vas bunga yang dipajang dimejanya, Zein mencoba tersenyum senang. Jangan sampai dokter cantik menjadi kecewa melihat dia tak suka.

“Bagus sekali, dan indah.”

“Bunga cantik kan Dok. Katakan, lebih cantik mana antara saya dan bunga itu?”

“Tentu saja cantik kamu.”

Dokter Tyas terkekeh. Semua orang menyebut dirinya cantik, dan dia sadar akan hal itu. Karena itulah dia merasa yakin bahwa dokter Zein akan tetap menyukainya.

“Terima kasih Dokter. Bolehkah saya memberi hadiah?”

“Hadiah apa?”

Dokter Tyas tidak menjawab, tapi menepuk-nepuk pipinya. Zein adalah seorang laki-laki, dia tidak bodoh dan sangat mengerti apa yang diinginkan dokter Tyas. Ia hanya tersenyum dan menggoyang-goyangkan tangannya tanda menolak.

Walau begitu dokter Tyas tertawa, dia sudah tahu Zein akan menolak. Alasannya jelas, ada CCTV di ruangan itu.

Ketika melenggang keluar dokter Tyas meninggalkan senyuman. Senyum paling manis yang pernah dimilikinya. Zein membalas senyuman itu sambil meraih jas dokternya.

***

Sore hari itu Indras sudah rapi. Sinta memaksa mengajaknya pergi makan diluar, tapi Indras mengatakan agar jangan mempergunakan moment itu sebagai perayaan ulang tahunnya. Pokoknya pengin makan diluar, begitu cukup. Sinta menerimanya. Tapi sang ayah belum tampak pulang.

Sebuah dering telpon terdengar, Indras mengangkatnya. Dari toko roti langganan.

“Hallo, ini dengan dokter Indras?”

“Ya, benar.”

“Maaf, Dokter. Taart ulang tahun sudah siap. Catatan penulisan di taart itu terselip entah ke mana, saya mohon maaf. Bolehkah saya tahu nama yang berulang tahun? Sepertinya nama putri Dokter ya. Namanya bukan Indras. Tolong Dok, karena taartnya akan segera diambil.”

Indras terpaku, tangannya menggenggam ponsel dengan erat, seakan ingin meremasnya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, May 6, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 34

SAKITKU ADALAH CINTAKU  34

(Tien Kumalasari)

 

Indras masih memegangi dua kartu ATM dengan dua bank yang berbeda dengan perasaan heran.

“Mengapa kamu pandangi terus kartu itu? Kamu tidak percaya? Atau mengira kartu itu kosong?”

“Tidak. Ini benar?”

“Indras, sejak dulu kamu memang tidak percaya padaku ya?” suara itu agak meninggi, dan Indras khawatir akan menjadi kemarahan yang memuncak. Karenanya dia kemudian mencium kedua kartu itu sambil tersenyum.

“Terima kasih, Zein. Kamu ternyata baik sekali.”

Alangkah senangnya Zein mendapat pujian dari sang istri. Ia segera duduk disampingnya dan menghadiahinya dengan ciuman di kedua pipinya.

Indras meletakkan kartu itu di meja, dan Zein menegurnya.

“Simpan baik-baik, atau kamu akan mengambil uangnya sekarang?”

“Besok saja.”

“Sekalian gaji bibik, aku belum memberinya bulan ini.”

“Baik.”

“Tapi kamu simpan dulu kartunya, nanti kamu kelupaan.”

Indras mengangguk. Lalu mengambil lagi kartu di meja, dibawanya masuk ke kamarnya. Dalam melangkah Indras merasa bersyukur. Bukan karena ciuman itu, tapi ada perubahan signifikan dalam sikapnya selama dua hari ini. Bahkan malam ini lebih manis.

“Terima kasihku ya Allah, semoga menjadi baik dan semakin baik,” bisiknya lirih sambil memasukkan kedua kartu itu ke dompetnya.

Ketika ia keluar, Zein menegurnya.

“Lama sekali, aku kira kamu ketiduran.”

Indras tertawa. Tawa yang sangat lepas. Entah darimana datangnya kesadaran Zein itu sehingga mengerti bahwa dialah yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan rumah tangganya. Ia juga bersikap sangat manis. Ada apa ya.

“Aku harus menyimpannya rapi. Besok akan aku ambil sebagian uangnya. Tapi aku tidak tahu PIN nya lhoh. Baru sekali ini aku pegang ATM kamu.

“Yang satu ulang tahun aku, satunya ulang tahun kamu.”

“Yang mana yang ulang tahun aku, yang mana yang ulang tahun kamu?”

“Kamu coba saja sendiri, terkadang aku juga lupa.”

“Baiklah, terima kasih. Kamu ternyata pengertian dan penuh perhatian.”

Zein kembali mencium istrinya, kali ini di keningnya, sangat lama. Sejenak Indras terhanyut. Sudah lama Zein tidak melakukannya.

Tapi tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel Zein yang ada di kamar. Zein berdiri, dan kebahagian Indras runtuh seketika.

***

“Dokter kebanggaanku sedang apa?” pesan dari seberang.

“Nggak ngapa-ngapain … “

“Ada dokter Indras di samping Dokter?”

“Tidak kesayangan, memangnya ada apa?”

“Pengin ngobrol saja, habis saya kesepian, Dok. Sekali-sekali datanglah ke rumah.”

“Kapan-kapan saja.”

“Aku kesepian sekali Dok, bolehkah kita ngobrol lewat telpon, sayang?”

“Tidak. Jangan. Besok saja kita ngobrol di kantor. Ya.”

“Baiklah, selamat malam, dokter kebanggaanku, selamat tidur, jangan lupa mimpikan aku …”

Lali emotikon jantung berderet-deret, dan Zein mematikan ponselnya. Ketika kembali ke ruang tengah, Indras tak ada lagi di sana. Zein mencarinya, dan ternyata Indras ada di kamar Sinta, entah apa yang mereka bicarakan. Zein langsung memasuki kamarnya.

“Lagi ngapain?”

“Hanya ngobrol.” yang menjawab adalah Sinta.

“Boleh ikutan?”

“Nggak boleh, ini orolan sesama perempuan,” sergah Sinta sambil tersenyum.

“Lagi ngomongin aku kan?”

“Eh, enggak. Lagi ngomongin pacar,” canda Sinta.

“Kamu sudah punya pacar?”

“Boleh kan? Sinta sudah dewasa lhoh.”

“Hati-hati memilih pacar,” kata Zein yang kemudian keluar dari kamar.

“Tuh, dengar kata papa kamu, hati-hati memilih pacar. Jangan seperti mama,” kata Indras, sambil tersenyum, hambar. Baru saja senang atas kemesraan suami, tiba-tiba ada yang mengusiknya. Siapa yang tak sakit?

“Besok Sinta akan minta agar Mama menyeleksi pacar Sinta baik-baik. Yang ganteng tapi jangan yang suka selingkuh,” kata Sinta sambil memeluk mamanya. Ia tahu sang mama sedang suntuk, walau tak mengatakan apapun tentang perasaannya. Sinta berharap pelukan darinya akan mengurangi beban pikiran sang mama. Masih ada cinta di rumah ini bukan?

***

Zein yang beranjak ke teras terkejut, melihat kedatangan kedua mertuanya. Ia segera turun menyambut, dan mencium kedua tangan mereka.

Indras yang mendengar suara mobil bergegas ke depan, dan sangat gembira menerima kedatangan kedua orang tuanya.

Bersama Zein ia mempersilakan bapak dan ibunya masuk ke dalam.

“Bapak sama Ibu dari mana?” tanya Indras.

“Hanya jalan-jalan, dan ingin sekali datang kemari. Santi dan Sinta mana?”

“Santi tidak pulang kalau tidak liburan. Yang ada Sinta.

“Ini aku, Kakek, Nenek,” kata Sinta yang langsung menghambur memeluk kakek dan neneknya.

Mereka ngobrol dengan akrab, Zein duduk menemani dengan sikap sedikit kaku. Entah mengapa, sejak dulu ia tak beritu dekat dengan mertua. Walau begitu terkadang dia juga menimpali, kalau bisa nyambung dengan pembicaraan mereka.

Indras ke belakang, meminta bibik agar menyiapkan makan malam untuk ayah dan ibunya.

“Tidak usah repot-repot. Bapak dan ibumu ini hanya mampir karena kangen.”

“Sekali-sekali makan di sini. Masakan bibik masih seenak dulu lho Pak.”

“Baiklah, tapi nanti setelah makan aku mau bicara.”

Indras berdebar. Rupanya sang ayah benar-benar akan menepati janjinya.

Setelah makan malam, Sinta kembali ke kamarnya, sedangkan pak Narya kemudian duduk di dekat Zein.

“Zein, sebenarnya kedatangan aku dan ibumu kali ini, ada perlu sama kamu.”

Zein menatap istrinya. Rupanya Indras sudah mengatakan kepada ayahnya tentang apa yang diinginkannya. Ia hanya mengangguk.

“Aku tahu, barangkali masih ada luka di hati kamu waktu dulu, puluhan tahun yang lalu, karena ucapanku atau ibumu yang menyakiti dan susah bagi kamu untuk melupakannya. Untuk itu, walau sudah berlalu, aku datang menemui kamu untuk meminta maaf. Sungguh meminta maaf dari hati kami yang paling dalam.”

Zein tak mampu menjawabnya. Ia tak mengira mertuanya mau melakukannya.

“Untuk selanjutnya, aku  titipkan Indras dan anak-anaknya kepadamu. Jagalah mereka, dan buat mereka bahagia.”

“Ya, baiklah, terima kasih Bapak masih mengingatnya.”

Hanya ucapan yang sekilas, dan itu sudah memenuhi apa yang pernah diutarakan Zein waktu itu.

“Bapak berharap kamu segera bisa melupakan masalah itu, dan atas permintaan maaf dari bapak ini, aku harap kamu segera bisa melupakannya.”

Zein menganggik, dan pak Narya serta istrinya segera berdiri, karena Zein tidak sempat mengucapkan apa-apa, atau juga tidak mampu, karena terkejut. Mereka berlalu setelah Zein dan Indras mencium tangan mereka.

***

“Kamu mengatakannya pada mereka?” tanya Zein ketika malam sebelum tidur.

“Bukankah kamu menginginkannya?”

“Aku memang menginginkannya. Aku tak bisa melupakan sakit hati itu.”

“Aku harap kamu segera bisa melupakannya. Mereka sudah menebusnya, bukan hanya dengan perbuatan, tapi juga dengan perkataan.”

Zein hanya mengangguk.

“Zein, bolehkah aku mengatakan sesuatu? Tepatnya, ingin meminta sesuatu.”

“Baiklah, kamu mau apa?”

“Aku mau kamu tidak lagi berhubungan dengan perempuan itu.”

Senyap seketika. Indras mengucapkannya dengan hati-hati, karena sudah menduga apa reaksi suaminya kalau mendengar perkataannya. Dan Zein diam seribu bahasa. Hanya menatap lagit-langit kamar, entah apa yang dipikirkannya.

“Apakah permintaanku berlebihan?”

“Tidak.”

“Kamu keberatan memenuhinya?”

“Bukan karena tidak mau. Aku tidak suka kamu mengatur hidupku.”

Indras terhenyak. Jadi tak akan ada yang berubah? Bukankah kedatangan ayahnya dengan meminta maaf kepadanya maka ia akan berubah?  Apakah ia tak bisa melupakan dokter cantik itu dan akan tetap berhubungan? Ada darah menetes dari lukanya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, May 5, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 33

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  33

(Tien Kumalasari)

 

Indras bersimpuh dihadapan sang ayah, yang menatapnya tak berkedip. Ia sudah mendengar cerita panjang lebar yang diutarakan Indras, dan hati kedua orang tua itu benar-benar seperti dipukul dengan ribuan palu.  Derita yang disembunyikan Indras akhirnya harus dibuka di hadapan kedua orang tuanya. Tapi keluarga Narya adalah orang yang kuat dan bijaksana. Ia boleh keras dalam berkeinginan, tapi ia tak malu mengakui kesalahannya. Hal itu pernah dilakukannya. Ketika mereka merendahkan Zein yang anak orang biasa dan tidak sederajat dengan keluarga Narya Kusuma, lalu pada suatu ketika mereka menyadari kesalahannya, dan menebusnya dengan berbuat baik kepada keluarga yang pernah direndahkannya. Sekarang mereka tahu, Zein adalah jiwa yang sakit. Mereka tidak menduga putri mereka dibuatnya menderita.

Indras masih terisak, air matanya mengalir seperti anak sungai di sepanjang pipinya. Bu Narya merengkuh sang putri, memintanya berdiri.

“Kalau apa yang kamu minta itu bisa membuat badai rumah tangga kamu mereda, baiklah. Bapak akan melakukannya.”

Indras menatap sang ayah dengan mata yang masih basah. Seakan tak percaya pada apa yang didengarnya. Datang kepada Zein dan meminta maaf?

“Indras, bapak akan melakukannya. Besok bapak dan ibumu akan datang ke rumah kamu, menemui Zein dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah bapak lakukan.”

Indras kembali merosot turun, bersimpuh di hadapan sang ayah dan menjatuhkan kepalanya di pangkuannya. Pak Narya mengelus kepala putrinya dengan lembut. Mata tuanya yang teduh juga digenangi air mata.

“Dalam hidup ini, keinginan orang-orang tua adalah melihat anak-anaknya berbahagia. Derita yang kamu rasakan juga menyakiti hati bapak, dan pastinya juga ibumu. Karena itulah mana yang akan membuat kehidupan kamu tenang, maka apapun akan bapak lakukan,” kata pak Narya dengan suara bergetar.

Indras tak menjawab apapun. Ia hanya menangis dan menangis terus. Sang ayah yang adalah orang terpandang di kota itu, harus merendahkan dirinya menemui sang menantu hanya karena harus meminta maaf.

“Jangan sedih, bapak akan melakukannya.”

“Sudahlah Indras, bapak sudah berjanji, kamu tenanglah. Kami berharap hidup kamu akan bahagia setelahnya. Karena kebahagiaan kamu adalah impian kamu,” kata sang ibu lembut.

“Berdirilah. Hanya saja aku menyesal, karena kamu tak pernah mengatakan apa yang terjadi pada kehidupan kamu. Kami mengira kalian baik-baik saja.”

“Zein sakit, dan Indras berharap suatu ketika bisa sembuh.”

“Ya, itu penyakit langka. Bukan gila, tapi kalau kumat … bisa melebihi kumatnya orang gila. Kamu harus sabar. Dan jangan lagi menyembunyikan apapun dari bapak dan ibumu.”

Indras berdiri lalu merangkul kedua orang tuanya erat sekali.

“Maafkan Indras, Bapak, Ibu. Maafkan Indras,” bisiknya tanpa bisa menahan lagi air matanya.

***

Kembali memasuki rumahnya, bukannya Indras senang karena sang ayah sudah bersedia memenuhi permintaan Zein. Ia merasa suaminya sangat merendahkan orang tuanya. Sama sekali tidak menghargainya sebagai orang tua, padahal bukankah mertua adalah sama saja dengan orang tua sendiri, yang harus dihargai, dihormati dan bukannya diremehkan dan direndahkan seperti ini. Kalau saja menuruti kata hatinya, Indras enggan melakukannya. Tapi ini demi ketenangan dalam kehidupannya maka ia mau melakukannya, walau dengan segala sesal dan kesedihannya.

“Nyonya dari mana, bukannya Nyonya sedang sakit?” sapa bibik ketika ia memasuki rumah.

“Kangen sama bapak, sama ibu juga,” jawab Indras pelan.

“Apa Nyonya masih mau makan bubur? Tadi tuan berpesan, agar saya membuatkan bubur lagi untuk Nyonya.”

“Bibik sudah membuatnya?”

“Sudah, masih hangat Nyonya. Ada sup ayam atau semur kentang, mana yang Nyonya suka. Sudah saya tata di meja. Atau, Nyonya mau buburnya saya bawa saja ke kamar supaya Nyonya bisa makan di kamar?”

“Tidak Bik, aku makan di ruang makan saja.”

“Ya sudah, saya hangatkan dulu supnya, sudah agak dingin.”

“Baik Bik, terima kasih. Aku ganti baju dulu,” kata Indras sambil langsung masuk ke dalam kamarnya.

Bibik menatap punggungnya dengan rasa iba. Ia tahu sang nyonya majikan tidak sedang baik-baik saja. Ia pulang dengan wajah pucat dan mata sembab. Itu bukan air mata bahagia. Tapi apa yang bisa diperbuatnya? Ia hanya seorang pembantu.

***

“Kalau dipikir-pikir, kelakuan Zein itu bukankah sangat kurangajar ya Pak?” celetuk bu Narya ketika Indras sudah pulang.

“Aku kasihan pada anakmu. Kalau tidak dituruti kemauannya, Indras bisa terus-terusan ditindas.”

“Bagaimana orang bisa berubah seperti itu? Dulu dia bilang sangat mencintai Indras, tapi lama-lama Indras disiksa.”

“Menurut Indras, suaminya sakit.”

“Sakit kalau di rumah. Tapi bukankah diluaran dia punya selingkuhan?”

“Susah mencegahnya, karena bertindak semaunya adalah bagian dari penyakitnya. Kata Indras kalau diingatkan tentang perempuan selingkuhannya itu, maka Zein bisa ngamuk seperti singa lapar.”

“Kasihan Indras.”

“Besok aku akan kesana untuk memenuhi permintaannya.”

“Sesungguhnya ibu sangat tidak rela Bapak melakukannya. Masa orang tua disuruh datang untuk meminta maaf? Barangkali Zein sudah benar-benar gila,” geram bu Narya.

“Yang sakit jiwanya Bu, biarlah kita mengalah, demi ketenangan hidup anak kita.”

“Ya sudah, terserah Bapak saja.”

“Ibu ikut kan?”

“Ibu harus ikut, kalau bisa akan ibu omelin dia.”

“Jangan Bu, biarkan saja. Kita hanya akan datang dan memenuhi permintaannya, lalu pulang. Ibu tidak usah marah apalagi mengomeli dia. Nanti bisa memperburuk keadaan.”

Bu Narya diam, tapi dalam hati ia merasa sangat kesal dan tidak terima.

***

Ketika Zein pulang, dilihatnya Indras sudah rapi cantik wangi, dan duduk di ruang tengah, sendirian. Zein menghampiri lalu mencium keningnya.

Indras mencoba tersenyum, senyum yang tidak ikhlas karena masih kesal pada permintaan suaminya. Entah kapan ayahnya akan datang seperti janji yang dikatakannya tadi.

“Kamu sudah merasa lebih sehat?”

“Ya.”

“Tadi bibik aku suruh membuatkan bubur lagi. Kamu memakannya?”

“Sudah.”

“Makan yang banyak supaya sehat.”

Indras hanya mengangguk, lalu membiarkan Zein masuk ke kamarnya.

Ketika itu bibik datang sambil membawa kopi kesukaan tuan majikan. Tapi setelah meletakkan gelas kopi itu, bibik memberikan beberapa lembar catatan.

“Nyonya, ini catatan pengeluaran.”

Indras mengambilnya, tapi tidak sepenuhnya membaca, karena ia percaya kepada bibik pembantu itu sepenuhnya.

“Sisanya tinggal ini?”

“Iya, Nyonya.”

“Baik, nanti aku bilang pada tuan.”

Bibik beranjak ke belakang sambil membawa nampan. Indras meletakkan catatan bibik begitu saja di atas meja, agar suaminya langsung membaca dan dia tak perlu banyak bicara.

Ketika kemudian selesai mandi dan berganti pakaian rumahan, ia lalu duduk di depan istrinya.

“Ini kopi untuk aku?”

“Ya.”

“Kamu tidak minum kopi?”

“Tidak, untuk hari ini. Sedang pengin minum teh.”

“Baiklah, tidak apa-apa. Lakukan yang terbaik dan yang kamu inginkan.”

“Tentu saja, kamu bisa melakukan sesuka hati kamu, masa hanya masalah makan atau minum saja aku harus bicara sama kamu,” kata Indras, dalam hati. 

Ia hanya menatap suaminya yang meraih gelas kopinya, dan menyeruputnya dengan nikmat.

“Kalau masih belum enakan, besok tidak usah kerja dulu. Istirahat di rumah saja.”

Indras hanya mengangguk, lalu meraih lembaran-lembaran kertas yang diletakkan bibik, diberikannya kepada sang suami.

“Catatan dari bibik. Uangnya sudah menipis.”

“Tulisan apa ini? Aku tidak bisa membacanya.”

“Catatan belanjaan, agar kamu tahu.”

“Tulisannya lebih buruk dari tulisan dokter,” kali ini Zein tersenyum. Tidak mengatakan boros, menghambur-hamburkan uang, dan lain-lain. Indras merasa lega.

Setelah menghabiskan kopinya, Zein masuk ke kamarnya. Ketika keluar ia memberikan sesuatu kepada Indras.

“Apa ini?”

“Masa tidak tahu ini apa? Dua kartu ATM aku ini, peganglah oleh kamu, kelola untuk semua kebutuhan.”

Indras menatap dua kartu itu tak percaya.

***

Besok lagi ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 37

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  37 (Tien Kumalasari)   Zein kesal sekali. Ia berganti pakaian rumah lalu duduk di teras. Ia menolak ketika bibik m...