Tuesday, September 1, 2026

AKU ANAK SIAPA 26

 AKU ANAK SIAPA  26

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot masih berdiri di tempatnya semula, belum mendekat ke arah makam istrinya. Ada rasa kecewa ketika mendengar bahwa laki-laki itu tidak datang karena sakit.

“Memangnya dia sakit apa?” tanya pak Gatot.

“Saya tidak tahu Pak. Orang yang disuruh itu tampaknya sangat tergesa-gesa. Jadi dia datang membawa sekeranjang bunga tabur, menyerahkan kepada saya agar ditaburkan di makam bu Sawitri, lalu dia pergi tergesa-gesa."

“Jadi pak Misran juga tidak tahu di mana rumahnya?”

“Sejak awal saya tidak pernah tahu di mana rumahnya. Tadi saya juga tidak sempat menanyakan apapun.”

“Sayang sekali.”

“Kelakuannya yang aneh itukah yang menarik bagi pak Gatot?”

“Ya, tentu saja.”

“Semoga minggu depan dia datang kembali, dan saya akan berusaha bertanya lebih jelas tentang orang itu. Semoga pak Gatot segera mendapat informasi yang Bapak perlukan"

Itu benar. Kalau saja ia hanyalah seorang yang ingin menabur bunga di makam, dan cukup berdoa lalu pergi, barangkali tak semenarik laki-laki yang entah siapa, diceritakan berperilaku aneh setiap kali menyambangi makam Sawitri. Datang, memukul-mukul nisan seperti orang marah, tapi ia selalu mengirim bunga setiap minggu. Ini benar-benar aneh dan membuat pak Gatot semakin penasaran.

Ia kembali pulang setelah sekedar berdoa untuk istrinya, masih dengan beribu pertanyaan yang tak terjawab. Entah mengapa pak Gatot ingin sekali mengerti, siapa sebenarnya laki-laki itu.

“Semoga aku bisa menguak tabir penuh rahasia ini.”

***

 Hari-hari terus berjalan, berminggu-minggu kemudian pak Gatot belum berhasil bertemu laki-laki aneh itu. Pak Misran bahkan tidak melihat ada yang menengok makamnya selama minggu- minggu terakhir ini.

Pak Gatot tetap datang setiap Minggu. Ia berharap laki-laki itu sudah sembuh dan kembali menengok ke makam seperti biasanya. Tapi sebulan lebih berlalu tak ada berita. Hari Minggu ini pak Gatot harus masuk kerja untuk menggantikan temannya yang tidak bisa masuk, jadi dia tidak datang ke makam. Pak Misran melihat kedatangan laki-laki itu, dan berharap pak Gatot juga datang. Tapi ia tak melihat bayangan pak Gatot. Ia mendekat dan menyapa laki-laki aneh itu.

“Selamat siang, Pak.”

“Siang,” laki-laki itu menjawab singkat. 

Seperti biasa dia baru saja memukul-mukul nisan Sawitri, di mana ketika itu pak Misran tak berani mendekat, takut mengganggu. Baru setelah laki-laki itu diam, keliatan berdoa barulah pak Misran mendekat.

“Saya dengar beberapa waktu yang lalu Bapak sakit?” tanya pak Misran hati-hati.

“Parah.”

“Oh ya, sakit apa Pak? Kalau saya tahu rumah Bapak, pasti saya datang menjenguk.”

“Tidak perlu, orang tua itu sakit sudah biasa.”

“Apa rumah Bapak … jauh dari sini?” tanyanya lagi, lebih pelan dan sangat berhati-hati, karena sejauh ini ia tak pernah mau mengatakannya.

“Jauh, tapi saya harus selalu datang kemari.”

“Ini … maaf … istri Bapak?” pak Misran terkejut dengan keberaniannya bertanya tentang hal ini. Bukankah sebenarnya ia tahu bahwa Sawitri sampai akhir hayatnya adalah istri pak Gatot? Pak Misran khawatir laki-laki itu tersinggung. Tapi laki-laki itu diam, tanpa ekspresi

Kemudian dia berdiri, memberi selembar uang limapuluhan ribu kepada pak Misran sambil berkata seperti biasanya.

“Tolong rawat makamnya.”

Lalu ia pergi begitu saja, bahkan tak mempedulikan ketika pak Misran mengucapkan terima kasih sambil terbungkuk-bungkuk.

Pak Misran mengantarkannya sampai di pintu makam, laki-laki itu mengendarai sepeda motor, sendiri.

Pak Misran ingin mengikutinya, tapi ia hanya punya sepeda, itupun tidak dekat dengan tempatnya berdiri, harus ke pintu yang diujung sana, karena ia meninggalkannya di sana.

“Kalau saja aku bisa mengikutinya dan mengatakannya kepada pak Gatot di mana rumahnya, pasti pak Gatot akan senang,” gumamnya sambil kembali melanjutkan pekerjaannya, bersih-bersih makam.

“Mengapa juga hari ini pak Gatot tidak datang. Seandainya datang mungkin bisa bertemu dan berbincang. Masa orang yang selalu menyambangi makam istrinya tapi dia tidak mengenalnya?” gumamnya berkali-kali.

***

“Pak Gatot, makan siang, dan cemilan,” kata Bibik yang tiba-tiba sudah ada di dekat pak Gatot, meletakkannya di meja, di mana dia bertugas.

“Bibik tuh, kaget aku.”

“Lhoh, kok bisa kaget sih Pak, padahal saya mendekat pelan-pelan. Pasti pak Gatot sedang melamun ya?”

“Bibik ada-ada saja. Saya sedang melihat itu, orang yang parkir di depan. Ada dua orang seperti berebut parkir, yang satu kok ya nggak mau mengalah, padahal datang belakangan.”

“Iya ya Pak, tapi untunglah yang datang duluan itu akhirnya mengalah, mundur lalu parkir di tempat lain.”

“Syukurlah.”

“Ya sudah Pak, itu dimakan, saya masak ayam goreng hari ini, sama sayur asem. Ada sambalnya puedess lho Pak.”

“Wah, saya sudah tidak berani makan pedes Bik. Takut perut sakit.”

“Waduh, tahu begitu saya ambilkan sambal yang nggak begitu pedes tadi. Saya biasa bikin sambal dua macam. Nyonya nggak suka pedas, kalau saya suka sekali. Apa saya ambilkan dulu?”

“Tidak, tidak usah. Tidak pakai sambal tidak apa-apa.”

“Ya sudah, sambalnya saya bawa masuk ya Pak.”

“Ya Bik, bawa aja.”

Seorang anak berjalan masuk dari halaman, digandeng erat oleh ibunya. Pak Gatot ingat, anak kecil itu yang pernah jatuh saat sore hari ketika dia hampir selesai bertugas.

“Nak, kalau digandeng ibunya tidak lari-lari sendiri kan?” sapa pak Gatot ramah.

Anak kecil itu Satria, dan ibunya. Ayahnya, Arka, berjalan di belakangnya.

Senja tersenyum ramah.

“Iya Pak, anak ini sukanya berlarian.”

“Senja, benar kan, ini toko bu Surani?” tanya Arka.

“Iya, dulu kita tidak tahu sih. Ini hari Minggu, pasti bu Surani ada kan Pak?” tanya Senja kepada pak Gatot.

“Ada di kantornya. Ternyata Bapak dan Ibu kenal sama majikan saya.”

“Yang kenal ayah saya, saya hanya kenal sekilas,” jawab Arka.

“Tapi walau sekilas kan kenal. Beliau ada di kantornya. Bapak dan Ibu ini mau belanja atau mau ketemu nyonya Surani?”

“Mau ketemu Pak, kantornya di sebelah mana? Mau memesan baju untuk seragam karyawan kantor saya,” kata Arka.

“Agak masuk ke dalam, mari saya antarkan,” kata pak Gatot yang kemudian mendahului masuk.

Pak Gatot kembali keluar setelah mempertemukan tamunya dengan majikannya.

Karena sudah saatnya makan siang, ia menyempatkan makan di dalam ruangan satpam yang ada di belakangnya.

Ia memakannya pelan. Walau enak, tapi mengunyah ayam goreng harus pelan-pelan karena ada sebagian giginya yang sudah goyah.

Sebenarnya ia ingin ke makam istrinya, seperti dilakukannya setiap hari Minggu, tapi sebulan lebih ia belum berhasil bertemu laki-laki aneh yang sejak awal belum sempat bertemu kecuali hanya cerita pak Misran saja.

“Kalau sepulang tugas aku ke sana, ya percuma. Bukankah kata pak Misran dia selalu datang pagi atau agak siang? Ya sudah, sabar, siapa tahu justru besok minggu depan ia bisa ke makam dan bertemu dia serta bisa tahu siapa sebenarnya dia.”

Pak Gatot sudah menyelesaikan makan siangnya. Ia meneguk minumannya dan menghabiskan sebuah pisang ambon yang disiapkan Bibik untuknya.

Tiba-tiba ia melihat bayangan orang di depan pintu. Pak Gatot melongok, dan terkejut melihat siapa yang datang.

“Bapak!””

Pak gatot berdiri dan tersenyum lebar.

“Kamu?”

***

Besok lagi ya.

Monday, August 31, 2026

AKU ANAK SIAPA 25

 AKU ANAK SIAPA  25

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot menatap perempuan yang kemudian duduk di depannya. Ia bingung siapa yang dipanggil bapak.

“Bapak?” suara itu terdengar, jelas-jelas dari perempuan di depannya, yang berkerudung rapi, dan menatapnya lekat-lekat. Jadi jelas yang dipanggil adalah dirinya?

Pak Gatot balas menatapnya, dan perempuan itu tersenyum ke arahnya, lalu tiba-tiba berdiri lalu bersimpuh di depannya, menjatuhkan kepalanya di pangkuannya.

“Lho … lho… ini … ini … “

Pak Gatot kebingungan.

“Saya Rosa Pak, Rosa anak Bapak yang durhaka,” katanya diselingi isak.

“Rosa?”

Pak Gatot mengangkat tubuhnya, menatapnya tak berkedip.

“Kamu Rosa?”

“Iya Pak. Saya Rosa.”

“Ya ampun Rosa, kamu sangat berubah, Bapak sampai tidak mengenali kamu. Duduklah di situ saja, jangan begini.”

Rosa terisak, lalu sibuk mengusap air matanya.

“Saya berdosa sama Bapak. Saya berbohong, saya ini jahat Pak.”

“Baiklah itu sudah berlalu. Bapak berharap unruk selanjutnya kamu bisa menjadikan semua ini untuk pelajaran. Baik buruknya, dan pahit manisnya hidup itu kamu sendiri yang bisa membuatnya.”

“Saya menyesal melakukan semuanya. Saya bertobat, sungguh-sungguh bertobat.”

“Alhamdulillah. Bapak senang mendengarnya. Kamu itu sudah tidak muda lagi, berjalanlah di jalan yang baik dan lurus, agar hidup kamu tenang.”

“Dari mana Bapak tahu kalau saya ada di sini, sebagai tahanan pula?”

“Nyonya Surani yang memberi tahu, bahkan tadi juga mengantarkan bapak kesini.”

“Nyonya Surani? Saya juga merasa berdosa. Gelang itu saya yang mencurinya.”

“Nyonya Surani sudah tahu semuanya. Dia juga tahu kamu mengambil sekotak perhiasan milik orang tua angkatmu.”

“Dia sudah tahu?”

“Allah akan selalu menunjukkan kebenaran. Ia datang ke toko di mana kamu menjual gelang itu, dan pemilik toko mengatakan bahwa kamu yang menjualnya.”

Rosa menundukkan wajahnya.

“Sungguh buruk kelakuan saya. Sudah sepantasnya kalau saya mendapat hukuman. Bahkan bukan hanya sekali ini.”

"Aku sudah mendengar semuanya.  Nyonya Surani itu teman bu Daryono. Dia yang bercerita semuanya tentang kamu. Lalu nyonya Surani menceriterakannya pada Bapak ini. Bapak sedih. Dulu Bapak berharap akan bisa merengkuhmu menjadi keluarga. Ternyata kamu banyak menyimpan rahasia tentang diri kamu.”

“Saya menyesal. Kelak kalau pada suatu hari saya bebas, saya akan meminta maaf kepada semua orang yang pernah saya sakiti.”

“Semoga hukuman kamu diperingan. Bapak mendengar, pak Daryono sudah mencabut laporannya tentang pencurian itu.”

“Apakah saya bisa bebas?”

“Pastinya melalui sebuah proses, entah apa. Beruntung kamu pernah menjadi anak angkat orang baik seperti mereka.”

Rosa kembali mengusap air matanya. Tampaknya alam yang digelar semua menunjukkan betapa nista apa yang dilakukannya. Ia merasa menjadi orang tak berharga, kecil dan hina.

“Saya akan melakukan hal baik sejauh apa yang bisa saya lakukan,” ia berkata seperti kepada dorinya sendiri.

“Kembalilah ke rumahku, hidup sederhana itu menenteramkan. Jangan punya keinginan yang neka-neka."

“Baiklah Pak, sesungguhnya yang terbaik adalah menjadi anak Bapak, karena saya tidak tahu siapa orang tua  saya.”

Pak Gatot ingin mengatakan bahwa ia tahu siapa ibu yang mengandungnya, tapi diurungkannya. Ia akan menjadikannya kejutan ketika Rosa sudah bebas nanti.

***

Hari itu pak Daryono duduk santai di rumah. Ia tidak setiap hari ke kantor, karena ia merasa tua dan ingin beristirahat. Banyak kegiatan usaha yang sudah dilepasnya, karena terlalu membuatnya lelah.

“Papa, bagaimana tentang pencabutan laporan Papa itu? Apakah Rosa akan langsung bisa bebas?”

“Tidak bisa bebas begitu saja Ma. Kasus itu sudah ada di tangan polisi, dan mereka tetap akan mengusutnya. Tapi nanti pengacara yang papa tunjuk akan mengusahakan yang sebaik-baiknya. Semoga berhasil, sehingga tidak terlalu lama Rosa ada di dalam tahanan.”

“Apakah Papa ingin ia kembali seandainya dia bebas, nanti? Atau akan menyuruhnya mengurus sisa usaha kita?”

“Entahlah, aku belum memikirkannya. Aku kira nanti tergantung Rosa juga. Belum tentu ia berhasil memikul tanggung jawab yang kita berikan, mengingat sejak dulu dia memang tidak suka bekerja.”

“Siapa tahu, pengalaman pahit yang dialaminya membuat dia belajar. Dia tidak muda lagi. Tak mungkin dia masih ingin melakukan hal semaunya.”

“Maka dari itu kita lihat saja nanti, apa yang bisa diperbuatnya. Tampaknya dia memang harus bekerja agar bisa mendapat penghasilan. Uang tidak serta merta datang begitu saja tanpa kita berusaha mendapatkannya.”

“Semoga ia mendapatkan semuanya yang terbaik.”

“Kalau dia benar-benar bertobat, pasti ia bisa mendapatkannya.”

“Besok aku mau membezoeknya lagi ya Pa, sambil membawakan makanan untuk dia. Rasanya kok kasihan melihat dia menjadi pesakitan. Hal itu Mama rasakan ketika dia ditahan yang terakhir ini. Kalau dulu Mama tidak merasakannya, karena waktu itu mulutnya sangat kasar dan tidak menyadari bahwa dia bersalah.”

“Yang terakhir memang seperti berbeda. Semoga bukan hanya penampilannya saja yang menampakkan bahwa dia orang baik.”

“Mama mau ke sana, apa Papa mau ikut?”

“Tidak, biar kamu diantar sopir, besok aku mau ke kantor. Pengacara juga akan menemui aku di kantor, kami sudah janjian.”

“Baiklah.”

***

Rosa terharu ketika melihat bu Daryono kembali menemuinya lagi. Membawa banyak makanan pula.

“Mengapa Ibu kemari lagi? Saya membuat Ibu repot.”

“Tidak, aku senang melihat kamu sudah berubah. Apa rencana kamu kalau kamu bebas nanti?”

“Belum tahu Bu.”

“Apa kamu ingin kembali ke rumah?”

“Ke rumah Ibu?”

“Iya, ke mana lagi?”

“Tidak Bu, saya ingin pulang ke rumah pak Gatot.”

“Pak Gatot? Satpam yang ada di toko bu Surani?”

“Pak Gatot sejak dulu ingin mengangkat saya sebagai anak. Saya durhaka meninggalkannya, melukainya, padahal dia sangat memperhatikan  saya. Dia yang mengentaskan saya dari jalanan, ketika saya melangkah tanpa arah sekeluar saya dari penjara. Tapi hati saya waktu itu masih kotor dipenuhi dendam yang tak pernah padam. Karena masih dibakar dendam itulah saya melakukan hal yang buruk. Saya tinggalkan pak Gatot, saya tinggalkan ketenangan hidup yang seharusnya saya rasakan. Sekarang saya ingin menebusnya, merawat dan menemaninya saat dia menjadi tua.”

“Rosa, bukankah kamu juga pernah menjadi anakku?” kata bu Daryono.

“Maafkan saya Bu. Saya juga tahu bahwa Ibu dan Bapak yang membesarkan saya, menjadikan saya gadis yang berkelas, tidak kekurangan. Tapi saya telah menodai kasih sayang Ibu dan Bapak dengan kelakuan saya. Saya tidak pantas berada di sana lagi.”

“Rosa, rumah kami masih terbuka untuk kamu, ketika kami tahu bahwa kamu menyadari semua kesalahan kamu.”

“Nanti akan saya pikirkan lagi Bu, yang jelas saya masih harus menebus kesalahan saya di tempat ini.”

“Kami sudah mencabut laporan kami, tapi semuanya tergantung bagaimana proses yang harus dijalani. Teruslah berdoa menuju kebebasan kamu, dan untuk jalan hidupmu yang lebih baik.”

“Saya akan melakukannya,” kata Rosa diakhir pertemuan sebelum bu Daryono pergi. 

Rosa juga mencium tangan mantan ibu angkatnya, dan meneteskan air mata mengantar kepergiannya.

***

Hari itu adalah hari Minggu. Pak Gatot tidak lupa pada cerita pak Misran penjaga makam itu, bahwa laki-laki yang tidak dikenalnya itu selalu datang di hari Minggu. Pak Gatot ingin tahu siapa sebenarnya dia dan mengapa dia bersikap aneh setiap kali datang ke sana. Karena itu pagi itu ia sudah berangkat ke sana, dengan harapan agar bisa mengetahui, siapa sebenarnya laki-laki itu.

Pak MIsran sedang menyapu halaman makam ketika dia datang. Ketika melihat pak Gatot, pak Misran segera mendekat.

“Apakah pak Gatot datang hari ini karena ingin melihat laki-laki berperangai aneh itu?”

“Apakah dia belum datang? Aku ingin tahu siapa dia.”

“Tadi yang datang pesuruhnya, hanya membawa bunga dan memberikan kepada saya agar menaburkannya.”

“Dia tidak datang?”

“Katanya dia sakit.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, August 30, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 015

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  015

(Tien Kumalasari)

 

Nyonya Lili hanya mendengarkan apa yang dikatakan Rumi, tapi tidak menjawabnya. Walaupun dirinya juga tak suka pada Menur yang sebenarnya masih saudara, tapi ia tak ingin memperlihatkannya pada Rumi.

“Betul Nyonya, nanti Nyonya lihat saja, bagaimana dia. Pasti dia ingin sekali menguasai non Ana.”

“Kamu iri pada Menur?”

Rumi membelalakkan matanya.

“Bukan Nyonya, saya hanya memperingatkan Nyonya, agar berhati-hati, jangan terlalu percaya padanya nanti. Karena seorang perayu begitu itu, bisa melakukan apa saja. Misalnya berpura-pura baik, berpura-pura rajin, supaya oleh Nyonya nanti dia diperhatikan. Kalau sudah begitu, dia bisa merebut hati Nyonya, lalu Nyonya mempercayainya, lalu dia bisa melakukan apa saja.”

“Ya sudah, baiklah, aku akan berhati-hati.”

“Berhati-hati juga kalau dia juga akan mendekati Tuan,” kata Rumi pelan, yang sebenarnya menyadari kekagumannya kepada tuannya.

Tapi Lili hanya tersenyum tipis. Dia tidak mencintai Baroto, dan mungkin saja dia tak akan peduli seandainya ada wanita lain di hati Baroto. Apalagi Menur, yang pengais sampah itu? Masa Baroto akan suka padanya, yang kata Rumi kotor dan bau? Tidak, Lili tak pernah membayangkan hal itu terjadi. Toh Baroto hanya statusnya saja sebagai suaminya, tapi soal cinta, tidak ada sama sekali. Mungkinkah ada laki-laki lain di hati sang nyonya?

***

Siang hari itu Baroto sedang membaca surat kabar. Ia sudah tahu kalau Ana dan neneknya sedang menjemput Menur. Karenanya dia tidak pergi ke mana-mana. Kehadiran Menur membuat perasaannya lain di hari itu. Ia juga heran pada dirinya sendiri, cinta yang tersisa masih begitu kuat. Rasa ingin memiliki juga tak bisa ditahannya. Hanya saja dia kecewa karena Menur seperti tak lagi punya perhatian kepada dirinya. Apakah cintanya kepada suaminya yang sudah meninggal itu begitu kuatnya sehingga mampu menyingkirkan rasa cinta kepada dirinya?

“Mas kok tumben, kali ini pulangnya lama? Di luar negri tidak ada pekerjaan yang harus mas tungguin?”

Baroto terkejut, ia baru sadar kalau kali ini ia pulang agak lama. Biasanya ia ada di rumah hanya sehari dua hari, tapi sudah seminggu lebih dia belum ingin beranjak dari rumah.

“Aku memang akan berada di sini untuk beberapa hari mendatang. Ada sesuatu yang ingin aku kerjakan,” kata Baroto sekenanya.

“Akan membuka cabang di sini? Apa Mas ingin membantu aku di kantor saja?”

“Tidak … tidak, itu bisnis kamu, aku tidak ingin mengganggunya. Entahlah, baru menjajaki sesuatu, kalau cocok ya lanjut, kalau enggak ya nggak usah.”

“Terserah Mas saja, aku mau ke kantor dulu,” katanya sambil berlalu, seperti biasanya, tak ada salam, tak ada ciuman tangan sebagai penghormatan kepada suami.

Baroto menatap kepergian istrinya dengan tatapan tak peduli. Tentu saja ia masih akan tinggal. Ia sedang menunggu hasil tes DNA, lalu ada yang akan dikerjakannya kalau memang Rahman adalah darah dagingnya. Untuk sementara, mendekati Menur akan ditahannya dulu. Kalau Menur sudah ada di rumah ini, Baroto berharap hal itu akan lebih mudah dilakukan.

***

Ketika Baroto meletakkan surat kabar yang dibacanya, suara mobil yang masuk membuatnya berdebar. Ia tahu itu mobil mertuanya. Seperti janjinya, Menur pasti akan datang hari ini. Sebelum berangkat, mertuanya sudah memerintahkan kepada pembantu agar membersihkan kamar di sebelah kamar Ana. Menur bukan hanya menjadi pengasuh Ana. Ia adalah keluarga, yang pantas diperlakukan lebih dari yang lainnya.

“Papa, lihat aku datang bersama siapa,” teriak Ana sambil menggandeng Menur masuk ke rumah.”

Baroto menatap Menur, yang ketika ditatapnya kemudian membuang muka. Tak apa, memang tak mudah mendapatkan perhatian Menur, seperti dulu dia juga merasa susah menaklukkan hati Menur sebelum dia menikahinya.

“Selamat datang di rumah ini, Menur,” sapa Baroto ramah. Tapi dia kemudian seperti mencari-cari.

“Mana Rahman?”

“Dia tidak mau ikut,” yang menjawab adalah nyonya Sasa.

“Tidak mau ikut?”

“Menur hari ini baru akan melihat keadaan keluarga kita. Dia hanya ada di sini saat pagi sampai sore, lalu pulang.”

“Mengapa begitu?”

“Rahman tidak mau tinggal di sini, paling tidak sampai lulus sekolah nanti.”

“Bibi, ayo aku tunjukkan kamar Bibi,” kata Ana yang begitu gembira. Ia menarik lengan Menur, diajaknya ke kamar yang disediakan untuknya.

Baroto berdiri, lalu keluar dan langsung ke garasi. Tak lama kemudian terdengar suara mobil keluar dari halaman.

***

Ana dengan celotehnya menunjukkan kepada Menur tentang kamar yang diperuntukkan untuknya.

“Apakah bibi suka? Ini kamar untuk Bibi.”

Menur tersenyum. Sedangkan tidur di lantai kamar itupun masih jauh lebih baik dari tempat tidurnya sendiri, tentu aneh kalau dia bilang tidak suka. Walau begitu sesungguhnya dia lebih suka mengeloni Rahman di kamar sempit dan berbau apak.

“Kalau Bibi tidak suka, Ana bilang nenek untuk mengganti yang lebih baik.”

“Tidak … tidak, jangan bilang apa-apa pada nenek. Tapi kan kamu tahu kalau bibi tidak akan tidur di sini? Kan bibi harus pulang setiap sore.”

“Biarpun kalau sore pulang, kalau siang Bibi boleh kok tiduran di sini. Masa tidak akan tidur siang. Kata nenek, Ana harus tidur siang supaya sehat.”

“Iya, benar, tapi bibi tidak pernah tidur siang.”

“Kalau Bibi ada di sini, setiap siang Ana akan tidur di sini bersama bibi.”

“Jangan, nanti nenek marah. Kamu kan punya kamar sendiri?”

“Tidak mungkin nenek marah. Nenek juga sayang sama Bibi.”

“Ya sudah, sekarang apa yang harus bibi lakukan?”

“Ana akan menunjukkan kamar Ana lebih dulu. Eh, tidak, ini belum Ana tunjukkan pada Bibi. Lihat, almari ini sudah berisi pakaian untuk Bibi,” kata Ana sambil membuka almari yang ada di kamar itu.

“Tidak, bibi sudah punya baju sendiri.”

“Tapi nenek sudah beli ini semua untuk Bibi.”

“Apa Ana tidak suka pada pakaian bibi ini? Kotor dan bau?”

“Tidak, bukan begitu. Kalau nenek sudah beli untuk Bibi, Bibi tidak boleh menolaknya. Kata nenek, menolak pemberian itu tidak baik.”

Menur tersenyum. Ana kecil ini pintar sekali bicara. Ia benar-benar cerdas dan tahu apa yang harus dikatakannya.

“Jadi, ayo sekarang Bibi pakai baju ini, pilih salah satu, lalu setelah itu akan Ana tunjukkan kamar Ana.”

“Tidak usah Ana, bibi kan mau pulang.”

“Kan ini belum sore? Ayo, bibi ganti dulu pakaiannya, cepat, itu ada kamar ganti, atau ke kamar mandi juga boleh.”

“Tapi Ana …”

“Benar apa yang dikatakan Ana, Menur. Ganti pakaian kamu, bukan kami tidak suka, tapi aku dan Ana sudah membelikan semua ini kemarin. Jangan mengecewakan kami, apalagi Ana.”

Ana membantu Menur memilih pakaian, dan memaksa segera memakainya.

***

Rahman sedang duduk di depan meja belajarnya. Sesungguhnya dia anak yang pintar. Ia punya sifat tak mau kalah dengan teman-temannya, bukan dalam hal kedudukan saja, tapi dalam pelajaran ia harus bisa lebih baik dari teman-temannya. Sekarang Rahman tidak lagi menjadi anak yang sombong dan berlagak sok kaya. Ia tahu dirinya salah, ketika mendapat malu saat membohongi om ganteng yang bernama Baroto.

Menur tahu anaknya pintar, dan karena itu ia selalu mencukupi semua kebutuhannya, apalagi untuk kebutuhan sekolahnya. Ada cita-cita setinggi langit untuk anaknya, agar hidupnya tidak menderita seperti dirinya, dan karena itulah Menur membekalinya dengan pengetahuan.

Biarpun ini hari Minggu, Rahman tidak meninggalkan kewajibannya untuk belajar.

Rahman sedang membuka-buka buku ketika tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu.

“Om?”

“Kamu sedang belajar?” tanya Baroto yang memang datang untuk menemui Rahman.

Rahman menatapnya heran, dan Baroto menatapnya takjub. Bukankah itu adalah wajahnya? Mengapa Menur membohonginya?

“Iya Om. Mengapa Om datang kemari?”

“Mengapa kamu tidak mau ikut bersama ibumu?”

“Tidak. Rahman lebih suka rumah ini.”

“Kamu sudah tahu, kalau nenek Sasa bukan orang lain dan masih keluarga kamu juga pastinya?”

“Ya, ibu sudah memberi tahu.”

“Ikutlah bersama ibumu, ya?”

“Tidak. Rahman di sini saja. Lebih dekat ke sekolah, bisa dengan jalan kaki.”

“Kalau di sana kan bisa diantar mobil?”

“Nggak suka.”

“Kalau naik kuda?” Baroto menggodanya, tapi Rahman hanya tersenyum.

“Rahman lebih suka di rumah ini. Rumah orang gedongan tidak cocok. Kalau tidak dipaksa Ana, ibu bilang kalau dia juga lebih suka di rumah ini.”

Baroto mengangguk. Ia kagum pada Rahman yang masih kanak-kanak tapi punya prinsip hidup yang dipegangnya erat.

“Ayuk jalan-jalan,” ajak Baroto.

“Rahman sedang belajar.”

“Baiklah, kalau begitu om temani kamu di sini, sampai kamu selesai.”

***

Sudah agak sore ketika Lili memasuki rumah. Ia tidak melihat Ana, tapi Rumi dari arah dapur setengah berlari mendekatinya.

“Nyonya … Nyonya, dia sudah ada di sini.”

“Dia siapa?”

“Si pengais sampah itu. Sekarang sedang tidur di kamar yang disiapkan untuknya, dan non Ana disuruhnya tidur di situ juga,” kata Rumi dengan bibir setajam sembilu.

“Dia menyuruh Ana tidur di kamarnya?”

Rumi mengangguk dengan bibir dimonyongkan.

***

 

Saturday, August 29, 2026

AKU ANAK SIAPA 24

 AKU ANAK SIAPA  24

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot masih menatap punggung orang itu sampai hilang di balik pagar makam. Ia meneruskan langkahnya, sambil terus berpikir tentang siapa orang itu sebenarnya. Ia terus mengingat-ingat, apakah ada salah satu kerabat istrinya yang berwajah seperti orang tersebut, tapi ia benar-benar tak bisa mengingatnya. Apakah karena sudah semakin tua maka wajahnya berubah?

Langkahnya sudah sampai di depan makam. Ada taburan bunga yang masih segar di atasnya. Pasti orang tadi yang menaburkannya. Tulisan nama sang istri masih tampak jelas. Sawitri. Makamnya juga tampak bersih terawat.

Pak Gatot berjongkok. Ia tak membawa bunga, tapi ia membawa doa, agar Allah mengampuni dosa-dosa istrinya, dan menempatkannya di tempat yang layak disisiNya.

Ia masih termenung sambil duduk di atas rumput di sebelah makam. Udara siang yang panas, menjadi sejuk ketika ia berada di bawah sebuah pohon besar yang menaunginya. Ada pedih mengiris kembali ketika ia teringat saat-saat bersama dengannya. Ketika itu ia masih bisa dikatakan berkecukupan. Warisan rumah orang tuanya cukup besar dan juga ia masih punya banyak uang dari warisan tersebut. Ia bekerja di sebuah kantor swasta yang memperkerjakannya sebagai pegawai administrasi. Dalam kesibukannya, ia tak tahu bahwa sang istri menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.  Sampai kemudian ia mendengar kalau sang istri suka bergandengan dengan laki-laki muda, berganti-ganti, dan istrinya menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang dengan mereka.

Pertengkaran demi pertengkaran menghiasi kehidupan rumah tangga mereka. Lalu pak Gatot terkejut ketika tiba-tiba sang istri hamil. Hamil yang bukan darah dagingnya karena sudah berbulan-bulan ia tak pernah menyentuh istrinya.

Puncak dari kehancuran rumah tangga itu ialah ketika ia mengetahui bahwa rumah sudah digadaikan istrinya, dan ia tak mampu menebusnya. Saat itu juga sang istri melahirkan, yang mau tak mau pak Gatot menungguinya. Tapi perbuatan buruk sang istri ditebusnya dengan nyawa. Saat melahirkan ia kehabisan darah dan dokter tak berhasil menolongnya ketika ia tak berhasil mendapatkan darah yang cocok.

“Ini pak Gatot ya?”

Suara itu mengejutkannya. Ia menoleh, dan seorang laki-laki tua sudah berjongkok di sampingnya. Laki-laki tua itu penjaga makam yang sudah dikenalnya. Pak Misran.

“Pak Misran?”

“Pak Gatot masih kelihatan gagah. Syukurlah kalau tidak melupakan saya.”

“Tidak. Pak Misran juga masih seperti dulu. Masa saya lupa?”

“Lama sekali tidak menengok bu Gatot.”

“Rumah saya agak jauh, dan makam istri saya tampak terawat sekali.”

“Ini karena setiap Minggu ada yang menjenguknya. Dia meminta saya agar selalu membersihkan makamnya.”

“Siapa dia?”

“Saya tidak tahu namanya. Ia tidak pernah mau mengatakannya. Tapi ia sering memberi saya uang dan minta agar makam bu Sawitri selalu dibersihkan. Barangkali kerabatnya, karena kalau suaminya kan saya tahu, yaitu pak Gatot ini. Masa pak Gatot tidak kenal dia? Baru saja dia keluar dari sini.”

“Saya melihatnya, tapi saya tidak merasa mengenalnya.”

“Orang itu sikapnya aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Kalau datang, ia tidak menampakkan wajah sedih atau apa. Ia selalu memukul-mukul nisannya dengan tangan, seperti orang marah. Lalu menaburkan bunga, dan duduk sebentar, kemudian pergi begitu saja.”

Pak Gatot mengerutkan keningnya. Kalau begitu orang itu sebenarnya marah kepada Sawitri, tapi selalu datang mengirim bunga, dan meminta penjaga makam merawatnya. Siapa sebenarnya dia, dan apa yang terjadi antara dia dan Sawitri? Pertanyaan itu tak terjawab, karena pak Misran juga tak tahu apa jawabnya.

“Ia tak banyak bicara, kecuali menyuruh saya merawat makamnya, lalu pergi begitu saja.”

“Di mana rumahnya?”

“Itu saya juga tidak tahu Pak. Kalau pak Gatot ingin berbincang dengannya, datanglah hari MInggu, dia pasti datang.”

“Pasti?”

“Selalu datang.”

Pak Gatot hanya berdoa sebentar, kemudian pulang dengan seribu satu pertanyaan yang tak terjawab.

***

Pak Gatot sedang bertugas ketika Bibik tiba-tiba datang mendekat sambil membawa kotak makanan. Ada dua kotak, yang satunya lebih kecil.

“Ini untuk pak Gatot.”

“Ini apa?”

“Nyonya ulang tahun kemarin. Sopir di suruh mengirim makanan tapi rumah pak Gatot katanya kosong. Pak Gatot jalan-jalan ya?”

“Tidak Bik, hanya pergi ke makam istri. Agak jauh, diluar kota sana.”

“O, mengunjungi istri?”

“Makamnya Bik.”

“Eh, iya. Pantesan yang disuruh nyonya kembali pulang makanannya. Ini gantinya Pak, silakan dimakan.”

“Banyak banget Bik?”

“Bukan banyak Pak, hanya dua. Yang satu ini nasi sama ayam bakar, lengkap ada sambal dan lalapan. Yang satu ini isinya kue-kue, macam-macam, pokoknya enak.”

“Jadi kemarin di rumah ada pesta?”

“Bukan pesta Pak, nyonya tidak suka pesta-pesta, hanya memesan makanan, lalu dibagi ke seluruh karyawan yang masuk hari Minggu, dan kerabat. Yang tidak ketemu kemarin ya dibagikan hari ini."

“O, begitu. Baiklah, bilang sama nyonya, saya mengucapkan selamat ya.”

“Ucapan selamat nggak boleh nitip Pak, ongkosnya mahal,” canda bibik.

Pak Gatot tertawa.

“Bibik ada-ada saja.”

“Nanti kalau ketemu, pak Gatot mengucapkan saja sendiri, biar Nyonya juga senang.”

“Baiklah. Terima kasih banyak.”

“Dimakan sekarang pak, nasinya. Kalau kue-kuenya bisa untuk cemilan.”

“Iya Bik, jangan khawatir, pasti segera saya makan, sekali lagi terima kasih.”

Bibik kembali ke rumah, karena meninggalkan Sisi bersama nyonya Surani. Sejauh ini ia belum ingin mengambil pengasuh bayi, masih trauma ketika gelang Sisi hilang. Bibik juga memilih menjaga Sisi sendirian, masalah bersih-bersih dan memasak bisa dilakukan ketika Sisi tidur atau sedang suka bermain-main. Sisi bukan anak yang rewel. Itu sebabnya Bibik tidak keberatan menjaganya sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

“Sudah saya berikan Nyonya.”

“Kemarin dia pergi ke mana? Bibik bilang dia tidak ada ketika kemarin sopir mencarinya ke rumah?”

“Bilang. Katanya kemarin pergi ke makam istrinya. Barangkali kangen, Nyonya.”

Nyonya Surani tersenyum lucu. 

"Bibik ini ada-ada saja. Kalau ke makam itu bukannya kangen, hanya ingin mendoakan dari dekat saja. Oh iya, tadi aku mau bilang kalau ingin membezoek Rosa, bisa besok pagi, nanti biar dia tukar tugas dengan lainnya.”

“Maksudnya besok pak Gatot biar masuk sore, begitukah?”

“Iya Bik.”

“Apa saya harus ke sana lagi?”

“Tidak, nanti sebelum berangkat aku bilang sendiri saja. Kasihan dia, sepertinya pak Gatot benar-benar menyayangi seperti anaknya sendiri.”

“Bodohnya mbak Rosa, dianggap anak oleh orang baik seperti pak Gatot, malah melakukan hal-hal buruk. Akhirnya ya masuk penjara.”

“Itulah yang selalu aku pikir, dan sampai sekarang pak Gatot juga selalu memikirkannya. Ya sudah Bik, ajak Sisi makan dulu, aku mau berangkat, sudah kesiangan ini.”

***

Pak Gatot senang ketika akhirnya dia akan bisa bertemu Rosa.

Bu Surani tidak ingin ikut bertemu Rosa. Jadi hanya menurunkan pak Gatot dan mengantarkan pak Gatot sampai ke dalam, dan meminta ijin kepada petugas karena ada yang ingin bertemu dengan dia.

Pak Gatot menunggu sendirian.

Ia diam ketika seorang wanita berhijab keluar. Tapi ia terkejut ketika yang berhijab itu menyapanya.

“Bapak.”

***

Besok lagi ya.

Friday, August 28, 2026

AKU ANAK SIAPA 23

 AKU ANAK SIAPA  23

(Tien Kumalasari)

 

Rosa menatap pak Daryono, tak yakin akan apa yang didengarnya.

“Pak Gatot?”

“Kamu kenal dia?”

“Dia … “

Tiba-tiba air mata Rosa menetes lagi. Ia ingat semua kebaikan pak Gatot. Ia ingat ketika meninggalkannya dan mengingat wajah pak Gatot tiba-tiba berubah sedih. Dia tahu, pak Gatot menyayanginga dan menganggapnya seperti anak sendiri. Wajah tua dengan mata teduh itu sungguh-sungguh berduka dengan kepergiannya yang tanpa belas.

“Mengapa menangis?” tanya bu Daryono.

“Dia … orang pertama yang menolong saya … ketika saya dipukuli orang banyak,” katanya tersendat.

“Dia mengentaskan saya dari jalanan. Mengangkatnya sebagai anak, tapi … saya meninggalkannya karena menurutkan nafsu dendam saya … sehingga saya kembali terjerumus ke dalam kesesatan ….," lanjutnya, masih dengan tangis.

“Apa kamu menyesal?” tanya bu Daryono lagi.

“Sangat menyesal,” kata Rosa masih dengan tangis.

Bu Daryono mengulurkan tissue, dan Rosa menerimanya untuk mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

“Apa yang akan kamu lakukan seandainya nanti keluar dari hukuman ini?” sekarang pak Daryono yang bertanya.

“Saya akan belajar menjalani hidup dengan tenang. Mungkin mencari pekerjaan yang baik. Jadi pelayan juga mau, asalkan saya bisa melanjutkan hidup saya.”

“Keinginan yang bagus. Lalu apa?”

“Saya ingin tahu, siapa sebenarnya orang tua saya. Tapi sepertinya tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin?”

“Saya pernah pergi ke panti asuhan itu, menanyakan asal usul saya, tapi katanya saya ditinggalkan begitu saja di panti, saat saya masih bayi merah, tak ketahuan siapa yang meninggalkannya. Saya putus asa. Rasanya sudah tak mungkin bisa menemukan orang tua saya.”

“Kamu harus bertobat, memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan mohon jalan hidup kamu lebih bersih dan terang.”

“Siapa menyuruhmu memakai hijab? Apakah kamu juga bershalat?”

“Hari terakhir sebelum saya menyerahkan diri, saya tidur di mushala, saya mendengar adzan, hati saya seperti dirajang-rajang, lalu seorang wanita mengajak saya bershalat subuh. Ketika saya mau pergi ke kantor polisi, dia memberi saya mukena dan beberapa kerudung.”

“Kamu kenakan terus? Dan bershalat juga?”

Rosa mengangguk.

“Baiklah, jalan terbaik adalah bertobat dan memohon ampun, semoga Allah mengampuni kamu.”

“Aamiin,” dan air mata Rosa kembali runtuh.

“Apa Bapak mengenal pak Gatot? Atau Ibu?”

“Tidak, tapi seorang teman saya, bu Surani mengenalnya, pak Gatot satpam di toko yang dia miliki,” jawab bu Daryono.

“Bu Surani?” tanya Rosa tersentak kaget.

“Kamu ingat dia?”

“Saya, pernah mencuri gelang anaknya,” lirih ia berkata. Tampak sekali ia menahan tangis.

“Ya sudah, aku berharap kamu benar-benar menyesali semuanya dan bersedia melakukan hidup yang lebih baik. Tidak ada gunanya kamu dendam kepada Senja, dia wanita yang baik, dan sekarang sudah hidup berbahagia bersama Arka."

“Iya, saya menyesal telah menculik anaknya. Itulah kejahatan terakhir yang saya lakukan,” lirih ia berkata.

“Ya, aku juga sudah mendengarnya. Anak itu sangat cerdik, sehingga bisa melepaskan diri dari rencana jahat kamu.”

“Setelah saya bebas nanti, saya akan datang kepada mereka untuk meminta maaf.”

Rosa kembali terisak.

“Itu niat yang sangat baik. Sudah, tenangkan hati kamu. Kami harus pergi,” kata bu Daryono sambil meletakkan bungkusan makanan di meja.

Rosa mengangguk, terharu. Tak tampak kemarahan di mata bekas kedua orang tua angkatnya. Lalu dia merasa, betapa kecilnya dia di mata mereka, yang walau kaya raya tapi tetap memiliki hati yang baik.

***

“Apa yang Mas baca?” tanya Senja disuatu pagi sebelum Arka pergi ke kantor.

“Ini, berita di surat kabar. Buronan bernama Rosa akhirnya menyerahkan diri.”

“Menyerahkan diri?”

“Setelah pelarian itu dia disadarkan oleh suara adzan.”

“Luar biasa Mas, aku senang mendengarnya.”

“Kamu tidak dendam setelah tahu bahwa dialah penculik Satria? Dia bahkan menyakiti Satria, membuatnya ketakutan.”

“Tidak Mas. Seseorang bisa saja melakukan kesalahan, tapi yang penting adalah apabila dia mengakui kesalahan itu, dan berusaha menjalani hidup yang bersih serta lebih baik.”

“Istriku sungguh luar biasa. Aku beruntung mendapatkan kamu sebagai pendamping hidupku,” kata Arka sambil memeluk istrinya.

“Ya sudah, Mas ke kantor sana, aku mau siap-siap menjemput Satria, jangan sampai terlambat sehingga dia mau saja dijemput orang lain.”

Tiba-tiba ponsel Arka berdering, dari ayahnya.

“Arka?” suara sang ayah langsung begitu Arka mengangkatnya.

“Kamu sudah dengar? Rosa sudah ada di tangan polisi, kabarnya dia menyerahkan diri. Mungkin karena terus menerus ketakutan.”

“Iya Pak, sudah membaca beritanya.”

“Bapak ditelpon pak Daryono. Katanya dia sekarang berhijab dan sangat menyesal.”

“Syukurlah.”

“Kamu masih di rumah?”

“Ini mau berangkat ke kantor Pak.”

“Ya sudah, nanti bapak mau ketemu pak Daryono dulu, belum jelas benar ceritanya bagaimana.”

“Arka berangkat ke kantor dulu.”

“Satria sudah sekolah?”

“Sudah, ini ibunya mau menjemputnya.”

“Bagus, jangan sampai terlambat menjemputnya, nanti dia digondol penculik lagi.”

***

“Bapak tadi menelpon siapa?” tanya bu Daryono pagi itu.

“Pak Wiguna, biar dia tahu juga bahwa penculik cucunya sudah menyerahkan diri.”

“Apakah mereka dendam kepada Rosa?”

“Entahlah, aku kira tidak. Mereka orang-orang baik. Apalagi Senja. Sudah pas dan cocok sekali Arka jatuh cinta pada Senja. Rosa bukan apa-apa. Dan kisah cinta itulah yang membuat Rosa terjerumus ke dalam perbuatan jahat berkali-kali.”

“Iya ya Pa, akar permasalahannya ada di kisah antara Arka dan Senja itu. Sampai berlarut-larut begini.”

“Sekarang aku merasa kasihan ketika melihatnya. Melihat dia sudah memakai hijab, menangis menyesali perbuatannya, dan itu kelihatan sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatinya.”

“Benar Pa, aku juga ikut sedih melihatnya menangis. Bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dari keluarga kita.”

“Bagaimana kalau Papa mencabut laporan itu Ma, apa Mama setuju?”

“Papa ingin mencabutnya?”

“Nanti aku akan mencari pengacara dan menanyakan bagaimana prosedurnya, dan tingkat keberhasilannya agar dia bebas.”

"Kelihatannya niat yang bagus Pa, tapi Papa harus benar-benar yakin bahwa dia sungguh ingin bertobat.”

“Menurut Mama bagaimana, sikap yang tadi tampak, bukankah dia sungguh menyesalinya? Ini berbeda ketika kasus yang terdahulu, dia masih mentang-mentang dan sangat sombong. Dia juga masih mengancam-ngancam sambil berteriak-teriak. Tapi ketika kita datang kemarin, dia tampak sangat berbeda. Seperti sangat lemah, dan pasrah, dan kelihatan sekali kalau dia sangat menyesal telah berbuat kejahatan berkali kali. Aku merasa trenyuh melihat wajahnya.”

"Aku juga begitu. Aku setuju kalau Papa mau mencabut laporan. Tapi apakah semudah itu?”

“Tidak juga, harus ada proses yang harus dijalani. Aku tidak tahu namanya, nanti aku serahkan kepada pengacara saja.”

“Semoga niat baik kita juga akan berbuah kebaikan.”

“Aamiin.”

***

Hari itu liburan, pak Gatot tidak masuk kerja. Bu Surani belum memberi kabar tentang kapan bisa membezoek Rosa. Tiba-tiba pak Gatot ingin menengok kuburan istrinya. Sudah bertahun-tahun dia tidak ke sana, entah masih terawat atau tidak.

Ia sudah sampai di depan tanah pemakaman itu. Agak berbeda suasananya, mungkin karena ‘penghuninya’ sudah semakin banyak. Tapi pak Gatot tidak lupa di mana letak makam itu. Dulu, ketika istrinya belum lama meninggal, ia beberapa kali datang, menabur bunga dan mendoakannya.

Ketika ia hampir sampai, ia terkejut ketika melihat seorang laki-laki setengah tua berdiri setelah berjongkok di makam sang istri. Pak Gatot mengingat-ingat, apakah dia kerabat istrinya? Ia hanya mengamatinya, sampai laki-laki itu keluar dari tanah pemakaman.

“Tidak, ia bukan kerabat almarhumah. Aku belum pernah mengenalnya. Siapa dia?”

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, August 27, 2026

AKU ANAK SIAPA 22

 AKU ANAK SIAPA  22

(Tien Kumalasari)

 

Rosa terkejut, ia menundukkan wajahnya, sementara Rochmah menatap ibunya dengan penuh tanda tanya.

“Di mana Ibu menemukan dia? Dia buronan.”

”Rochmah, jangan bicara sembarangan. Dia wanita baik-baik, tadi shalat subuh di mushala.”

“Wajah wanita ini terpampang di mana-mana, dia mengatakan namanya Rosa. Memang buronan itu bernama Rosa.”

”Kamu melukai hati orang yang belum pernah kamu kenal. Kamu mengatakan dia buronan, berarti menuduh orang berbuat jahat. Kamu belum mengerti tentang dia.”

“Bu, percayalah. Lihat, dia menundukkan wajahnya karena takut. Tapi aku tak bisa tinggal diam, aku harus melaporkannya kepada yang berwajib.”

“Rochmah. Jangan sembarangan. Kamu tanya dulu dia sebenarnya siapa, belum-belum mau lapor. Kalau salah bagaimana?”

“Kalau kita melindungi buronan, maka kita juga akan dianggap bersalah. Kita akan ikut masuk penjara.”

“Bu, maaf kalau anak saya lancang.”

“Ibu jangan mempercayainya. Wajah boleh jadi sama, tapi wajah dan nama yang sama, tak bisa lagi dipungkiri."

“Tidak perlu minta maaf Bu, dia benar.”

“Apa? Jadi ibu memang buronan seperti dikatakan anak saya?”

“Saya telah melakukan kejahatan,” kata Rosa lirih.

“Tuh, kan? Kita tidak bisa tinggal diam, aku mau lapor polisi. Awas ya Bu, jangan coba-coba kabur. Karena kemanapun Ibu kabur, polisi pasti akan bisa menangkap Ibu.”

“Rochmah, jangan kasar begitu.”

“Kamu tidak usah melaporkannya, aku mau menyerahkan diri.”

“Apa? Lalu tiba-tiba Ibu akan kabur?”

“Antarkan aku ke kantor polisi terdekat, aku sudah pasrah, tidak akan kabur,” kata Rosa tandas.

Ia sudah lelah, apapun yang akan diterimanya maka ia akan menjalaninya. Ketenangan jiwanya didapat ketika di mushala, ketika mendengar adzan, ketika ia bersujud, ketika ia menangis dalam sujudnya.

“Baiklah, awas jangan lari.”

“Tunggu. Biarlah dia makan dulu.”

“Bu ….”

“Ambilkan nasi yang kamu beli, biar dia makan dulu bareng Ibu, di sini,” kata sang ibu tandas.

Rochmah menuruti apa kata ibunya. Ia terus menatapnya waspada. Dilihatnya Rosa makan dengan lahap. Tampaknya ia lapar sekali. Sebentar saja ia sudah menghabiskan sepiring makanannya.

“Minumlah dulu Bu, jangan terburu-buru.”

“Kantor polisi sangat dekat, saya akan meminta tetangga untuk ikut mengawalnya. Saya hanya sendiri, kalau dia kabur bagaimana,” kata Rochmah sambil beranjak keluar.

Rosa diam saja.

“Bu, maafkan anak saya ya,” kata ibu yang baik hati itu.

“Tidak apa-apa, saya kira ini yang terbaik untuk hidup saya, saya sudah pasrah. Saya siap menebusnya,” kata Rosa.

Ia tak pernah merasa setenang ini.

“Hati-hati ya Bu, semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan memberi jalan terbaik untuk kehidupan Ibu selanjutnya.”

“Aamiin.”

Rosa menatapnya terharu. Ia juga menatap punggung wanita itu ketika tiba-tiba masuk ke kamar, lalu ketika keluar ia membawa sebuah bungkusan.

“Bu, ini mukena, dan beberapa kerudung. Saya  berharap agar ibu mempergunakannya,  agar hidup Ibu tenang.”

Rosa menerimanya sambil berlinang air mata.

“Saya akan menjalaninya. Terima kasih banyak.”

***

Pagi hari itu pak Daryono menerima telpon dari kantor polisi. Ia mengatakan kalau Rosa sudah tertangkap, tapi kemudian diralatnya dengan kata-kata bahwa Rosa sudah menyerahkan diri.

Pak Daryono mencari sang istri, menyampaikan berita itu.

Bu Daryono menghela napas panjang.

“Syukurlah, kalau dia menyerahkan diri, berarti dia sudah sadar, sudah mengakui bahwa dia bersalah.”

“Mudah-mudahan kesadaran yang benar-benar sadar.”

“Papa mau ke kantor polisi?”

“Iya, pastinya kita juga akan dimintai keterangan.”

”Aku mau ikut ya Pa, aku ingin bertemu Rosa. Seperti apa dia.”

“Sudah sangat lama, pasti dia sudah semakin tua. Tigapuluhan tahun lebih, hampir empat puluh tahun. Ketika dia ditahan untuk pertama kalinya juga sudah tigapuluh tahun lebih.”

“Kata Bibik masih kelihatan cantik.”

“Sebenarnya dia memang cantik, sayang sekali tidak bisa berperilaku baik.”

“Jam berapa Papa mau ke sana?”

“Setelah sarapan, kita langsung ke sana.”

“Baiklah, aku akan siap-siap dulu. Aku juga akan mengabari jeng Surani, dia juga pernah kehilangan gelang anaknya.”

“Dia tidak melaporkan apa-apa. Hanya kita.”

“Bagaimanapun dia harus tahu.”

“Baiklah, terserah Mama saja.”

***

Pak Gatot bertugas pagi itu, walau badannya terasa agak kurang enak. Ketika bu Surani datang mendekati, ia sedang bersin-bersin.

“Pak Gatot sakit?”

“Sepertinya mau flu ini Nyonya,  dari tadi bersin-bersin terus.”

“Nanti biar Bibik memberi obat kemari. Saya punya obatnya. Kalau baru awal langsung diobati, biasanya cepat sembuhnya.”

“Terima kasih Nyonya.”

“Pak Gatot sudah sarapan?”

“Sudah tadi, sebelum berangkat.”

“Syukurlah, jadi nanti bisa langsung minum obatnya. Begini pak Gatot, sebenarnya saya mau memberi kabar baik untuk pak Gatot.”

“Kabar baik apa, Nyonya?”

“Rosa sudah ditangkap. Eh , maksudnya menyerahkan diri. Mungkin lelah lari ke sana kemari.”

“Benarkah? Di mana dia menyerahkan diri? Mengapa tiba-tiba mau menyerahkan diri. Tapi mungkin Nyonya benar, dia sudah lelah. Saya kira itu yang terbaik. Dia tak mungkin bisa selalu menjadi buronan terus menerus.”

“Bukankah pak Gatot ingin mengantarkan nanti ke makam ibunya kalau bisa bertemu dia?”

“Ya, akan saya lakukan, tapi apakah bisa saat ditahan dia diajak pergi-pergi? Pastinya harus menunggu kalau hukumannya selesai.”

“Pastinya begitu," kata bu Surani.

"Tapi kalau ingin ketemu saja, bagaimana ya Nyonya?”

“Pastinya ada jadwal hari membezuk pesakitan, nanti saya tanyakan kepada bu Daryono. Kapan-kapan bisa menemui dia. Nanti saya antar Pak.”

“Nyonya akan memarahi dia?”

”Tidak, dengan adanya dia di dalam tahanan, dia sudah terhukum. Saya hanya ingin mengantarkan pak Gatot, tapi setelah saya menanyakannya nanti kepada bu Daryono.”

“Bu Daryono itu orang tua angkatnya?”

“Benar. Dan mereka juga yang melaporkannya kepada polisi. Semoga kejadian ini bisa membuatnya jera.”

“Tapi tidak enak kalau Nyonya mengantarkan saya, biar saya berangkat sendiri saja, Nyonya katakan saja di hari apa dia bisa dijenguk dan di mana.”

“Tidak apa-apa Pak, sekalian aku ke kantor nanti.”

“Baiklah, saya menunggu berita dari Nyonya saja. Terima kasih telah diberi tahu.”

***

Pak Daryono dan bu Daryono terkejut ketika bertemu Rosa. Dia tampil sederhana, dengan berhijab, dan itu tidak menyembunyikan kecantikannya walau sudah berumur.

Di depan bekas orang tua angkatnya, Rosa hanya menundukkan kepalanya. Ada tetesan air mata membasahi bajunya.

“Rosa, penampilanmu kali ini sangat bagus. Kamu tampak seperti perempuan sholehah. Aku harap urusan kamu dengan yang berwajib ini kali yang terakhir. Kelak kamu bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang.”

“Saya minta maaf, Tuan dan Nyonya.”

“Mengapa kamu memanggil kami begitu?”

“Apa saya masih pantas memanggil Papa dan Mama? Saya kotor dan hina.”

“Kalau kamu merasa berat memanggil Papa dan Mama, panggil saja Pak dan Bu, jangan tuan, jangan nyonya.” lanjut pak Daryono.

“Uang hasil penjualan itu sudah habis. Tinggal beberapa ratus ribu, akan saya kembalikan.”

“Tidak usah Rosa, bawa saja oleh kamu, barangkali kamu membutuhkan sesuatu,” kata bu Daryono.

Rosa tak menjawab, sedikit sungkan. Uang yang puluhan juta hasil penjualan perhiasan itu memang tinggal ratusan ribu. Uang itu dipergunakan untuk membayar kejahatan baru, yang walau ia sudah habis-habisan, penculikan itu tidak berhasil.

“Saya hanya dendam kepada Senja.”

“Apa dosa Senja terhadapmu sehingga kamu melakukan kejahatan demi kejahatan demi membuat dia sengsara? Dan nyatanya tidak berhasil kan? Itu masih masalah Arka?”

Rosa menundukkan kepalanya, tidak sepatahpun mampu menjawab.

“Senja wanita baik, pastinya Allah melindunginya.”

“Saya yang salah.”

“Kalau kamu menyesal, benar-benarlah menyesal, lalu jalanilah hidup yang bersih.”

Rosa lagi-lagi tak menjawab. Tapi kali ini ia mengangguk.

“Apa kamu kenal yang namanya pak Gatot?”

Kali ini Rosa mengangkat wajahnya.

***

Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA 26

  AKU ANAK SIAPA  26 (Tien Kumalasari)   Pak Gatot masih berdiri di tempatnya semula, belum mendekat ke arah makam istrinya. Ada rasa kecewa...