Monday, October 5, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 23

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  23

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut. Ia ingin menghindar, tapi bu Lurah yang galak itu sudah sangat dekat dengannya.

Bowo membalikkan tubuhnya, menemui sang ibu.

“Kamu tinggalkan Ibu mengantri lama, kamu biarkan Ibu periksa sendiri, gara-gara kamu menemui perempuan miskin itu?”

“Ibu jangan berteriak, malu. Tuh, pada ngelihat kemari.”

“Biar saja. Biar mereka tahu bahwa dia memang miskin. Apa yang dilakukannya di sana? Dia dirawat? Masa orang miskin dirawat di ruang mahal seperti itu?”

“Sudah Bu, ayo pulang saja. Jangan buat keributan di sini.”

“Ibu hanya ingin tahu, apa yang dilakukannya di situ?”

“Dia sedang membezoek kerabatnya.”

“Masa dia punya kerabat orang kaya?”

”Ibu jangan begitu, masa tidak boleh orang miskin punya kerabat orang kaya? Ibu sudah selesai kan, ayo pulang.”

“Tunggu obatnya dulu.”

“Baiklah, ayo ke depan apoteknya.”

“Tadi aku mencari om kamu. Mana Harun?”

“Mungkin hari ini tidak praktek. Sudah, tidak usah mencari, kita ambil obatnya dulu, siapa tahu ditinggal Ibu padahal nama Ibu sudah dipanggil.”

“Lama sekali. Makanya aku mencari Harun, supaya mereka tahu bahwa ibumu ini saudaranya dokter terkenal di sini.”

“Urusan apotek mana bisa dihubungkan sama dokter.”

“Ya bisa, kalau kita kerabat dokternya pasti bisa dibuat lebih cepat.”

“Jangan tergesa, kalau Ibu tergesa-gesa, nanti obatnya keliru, bagaimana? Atau … Ibu saya antar pulang dulu, nanti Bowo kembali untuk mengambil obatnya.”

“Lalu kamu akan menemui si miskin itu lagi?”

“Ya tidak Bu, apa dia akan tetap di sini, pasti sudah pulang. Ayo Bowo antar pulang dulu.”

“Aku mau bilang kalau dokter Harun itu saudara aku.”

“Tidak usah. Kan saya bilang, kalau tergesa lalu obatnya keliru, bagaimana?”

Akhirnya dengan mengomel panjang pendek, bu Lurah mau diantarkan pulang terlebih dulu, sehingga Bowo merasa lega. Jangan sampai ibunya tahu kalau nenek Suli dirawat di sini, di kamar bagus pula. Pasti ibunya menuduh dirinya yang membiayainya. Padahal setelah dia membayarnya kemarin, tadi uangnya dikembalikan oleh Sarah, dan dia belum menanyakan kejelasannya.

“Kamu itu memegang apa?” rupanya sang ibu melihat bahwa tangannya menggenggam amplop berisi uang yang tadi diberikan Sarah.

“Oh, ini … bukan apa-apa, hanya uang pembayaran dari pelanggan, belum sempat Bowo simpan.”

“O, Ibu tahu, kamu mau memberikan uang itu untuk Sarah kan? Sini coba Ibu lihat.”

“Ya tidak Bu, untuk apa Bowo memberikan uang? Ini uang dagangan,” kata Bowo sambil memasukkan amplop itu ke dalam sakunya. 

Lalu ia bergegas keluar dari area rumah sakit itu sambil menggandeng lengan ibunya.

***

Sarah merasa lega, karena ia sudah mengembalikan uang yang telah dibayarkan Bowo, sehingga ia bisa terlepas dari budi baik Bowo tentang biaya itu. Hanya saja Sarah bukan orang jahat. Ia tetap mengakui bahwa Bowolah yang berperan sehingga neneknya bisa sampai di rumah sakit itu dan mendapat perawatan.

Sarah menghela napas lega ketika mereka sudah pergi. Ia kemudian kembali masuk ke dalam kamar sang nenek.

Begitu melihat Sarah, sang nenek segera menanyakan tentang siapa yang membuatnya keluar dari kamar.

“O, hanya perawat. Sarah ingin menanyakan tentang penyakit Nenek,” kata Sarah yang sama sekali tak ingin mengatakan tentang Bowo.

“Nenek mau pulang saja.”

“Sabar dulu ya Nek, nanti kalau dokter sudah mengatakan bahwa Nenek boleh pulang, maka Nenek bisa pulang. Yang terpenting Nenek harus tenang dan tidak memikirkan apapun, karena ketenangan Nenek sangat membantu untuk kesehatan Nenek.”

“Kamu seperti dokter saja.”

“Memang dokternya berkata begitu kan?”

“Nenek tidak kerasan tidur di tempat ini. Lebih nyaman tidur di rumah sendiri.”

“Ya tidak ada Nek, orang yang kerasan tidur dirumah sakit. Nenek ada-ada saja.”

“Bagaimana uang tabungan Nenek? Ada berapa? Nenek tidak mengerti apa yang kamu lakukan sehingga Nenek bisa dirawat di tempat ini.”

“Kan Nenek tidak boleh memikirkan apa-apa.”

“Mana bisa orang tidak memikirkan apa-apa? “

“Setidaknya tenang, karena Sarah sudah menyelesaikan semuanya. Ini uang tabungan Nenek, Sarah bawa kemari.”

“Kamu hitung belum, ada berapa?”

“Banyak. Nanti kalau ada kurangnya, Sarah akan minta pada Nenek. Kan Sarah juga punya tabungan sendiri.”

“Ya Tuhan. Penyakit Nenek ini menghabiskan biaya yang banyak. Biasanya kalau sakit hanya minta dikerok, lalu sembuh.”

“Setelah sembuh, Nenek jangan sampai kecapekan. Kalau terlalu capek, Nenek bisa sakit lagi.”

“Mengapa kamu tidak sekolah?”

“Sarah harus menunggui Nenek. Sarah sangat khawatir, bagaimana Sarah bisa sekolah”

“Nenek tidak apa-apa. Suster-susternya di sini baik semua. Kamu tidak usah terus menunggui Nenek. Besok masuklah sekolah.”

“Kita lihat saja nanti, kalau Nenek bisa Sarah tinggalkan, Sarah akan sekolah.”

“Masuk sekolah saja. Katanya kamu mau ujian.”

”Baik, Nenek tenang saja, Sarah mengerti apa yang harus Sarah lakukan. Nenek sudah makan?”

“Sudah. Nggak enak makanan di sini.”

“Namanya lagi sakit, semua makanan pasti terasa tidak enak. Tapi kan Nenek tetap harus makan. Turuti semua nasehat dokter. Kalau Nenek menurut, pasti Nenek segera sembuh.”

Nenek mengangguk. Tapi masalah pembayaran biaya rumah sakit masih menjadi  pemikiran nenek Suli. Apakah Sarah meminjam kepada seseorang? Sarah tak pernah mau mengatakannya.

***

Adalah Bimo, yang bingung karena tidak melihat Sarah berjualan koran. Sudah dua hari ia tak melihatnya. Ia sudah menunggu sejam lebih dan tak melihat bayangan Sarah. Kegelisahan itu dibawanya sampai ke rumah, membuat sang ibu kebingungan.

“Mengapa kamu diam saja dari tadi? Makan juga tak seperti biasanya. Sedang memikirkan sesuatu? Pekerjaan kamu?  Dimarahi pimpinan?” kata Saptari yang sudah tahu kalau anaknya ‘naik pangkat’ di tempat kerjanya, dan khawatir sang anak membuat kesalahan di tempat kerjanya.

“Tidak Bu, Bimo bekerja dengan baik.”

“Syukurlah. Lalu kenapa kamu kelihatan gelisah begitu?”

“Bimo tidak melihat Sarah sudah dua hari ini. Kenapa ya Bu. Beberapa hari yang lalu dia bilang bahwa neneknya kurang sehat.”

“Kalau begitu besok ibu mau ke rumah nenek Suli, barangkali benar bahwa dia sakit.”

“Iya Bu, tak mungkin Sarah tidak berjualan, soalnya Sarah gadis yang rajin.”

“Apa kamu berharap dia akan bisa menerima kamu?”

“Siapa tahu, dengan perlakuan Bimo yang baik, hati Sarah akan tersentuh, lalu ….”

“Bimo, masalah penolakan itu tidak usah kamu pikirkan. Jodoh itu Allah yang mengaturnya. Mohonlah kepada Allah, jodoh yang baik. Jangan mengharapkan sesuatu tanpa berpegang kepadaNya.”

“Iya Bu.”

***

Sore itu Sarah kedatangan tamu. Seperti yang pernah dikatakannya, Fajar datang sepulang dari kantor. Nenek Suli menatapnya heran. Dari mana Sarah kenal dengan anak muda ganteng dengan pakaian perlente ini. Sepertinya nenek Suli pernah melihatnya.

“Sarah, apa ini Bimo? Kok penampilannya beda?” tanya nenek Suli pelan.

Tapi Fajar mendengarnya. Ia tersenyum dan mendekati nenek Suli.

“Nenek, nama saya Fajar. Banyak yang mengira bahwa Bimo saudara kembar saya. Tapi Bimo bukan saya. Bimo bekerja di kantor ayah saya.”

“O, ya ampuun. Ada orang sepersis ini. Dari mana Sarah kenal orang ganteng ini?”

”Nek, dia hanya pelanggan koran Sarah. Tiap hari dia membeli koran Sarah, bahkan terkadang memborongnya sampai habis.”

“Oh, iya? Pasti dia orang kaya, Pakaiannya bagus, baunya wangi,” kata nenek Suli yang disambut senyum lebar oleh Fajar.

“Saya orang biasa saja Nek, saya sahabat Sarah.”

Mereka berbincang akrab, Sarah senang sang nenek tampak gembira dengan candaan Fajar untuk menyenangkan hati neneknya.

***

Pagi hari itu Bowo kembali ke rumah sakit. Ia tidak langsung mencari Sarah, tapi pergi ke bagian administrasi. Ia menanyakan, siapa yang datang dan mengurus pembayaran pasien bernama Suli. Dan kemarahannya memuncak ketika mendengar dari petugas itu tentang siapa yang membayarnya.

“Dia?” geramnya.

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 020

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  020

(Tien Kumalasari)

 

Baroto mengerutkan keningnya. Tak biasanya Lili bersikap seperti ini. Ia sudah merasa aneh sejak beberapa hari terakhir. Sikapnya yang lebih manis, berangkat ke kantor pakai pamit, walaupun tidak mencium tangannya seperti kebanyakan istri melakukannya.

Lili menatap wajah suaminya, lalu diam-diam mengakui, betapa gantengnya suaminya. Salah besar kalau selama ini dia tak peduli.

“Mas, agak ke sana dong, sempit nih, kalau aku jatuh bagaimana?” kata Lili yang langsung berbaring di samping Baroto.

Baroto bergeser agak ke pinggir, sehingga Lili bisa berbaring leluasa. Perasaan aneh dikibaskannya. Ia melanjutkan tidurnya dengan memunggungi sang istri, mencoba kembali tidur dengan memejamkan matanya. Tapi kemudian ada yang menarik lengannya.

“Mas, kok tidurnya menghadap ke sana sih?”

“Aku terbiasa kalau tidur miring ke kanan,” jawab Baroto sekenanya.

“Kalau begitu Mas di sebelah sini, aku sebelah situ.”

“Apa maksudmu Lili?”

“Kalau Mas di sebelah sini, kemudian tidur miring ke kanan, kan tidak membelakangi aku.”

“Kamu ada-ada saja, besok aku harus ke bandara pagi-pagi, tahu,” kata Baroto agak kesal, tapi ia tidak merubah posisi tidurnya.

“Mas gimana sih, aku sebelah situ, Mas  sebelah sini.”

“Ini tempat tidurku, kamu hanya numpang, jadi tidak boleh mengatur.”

Tapi tanpa diduga Lili kemudian melompati tubuhnya dan berbaring di depan Baroto, membuat Baroto kemudian bergeser ke sisi yang lain. Tapi kembali Baroto tidur miring membelakangi Lili, Lili memukul punggungnya keras.

“Katanya terbiasa tidur miring ke kanan, mengapa sekarang miring ke kiri?”

“Lili, aku tidak mau diganggu ya, aku bisa bangun kesiangan.”

“Mas kan besok mau pergi, jadi harus bersikap manis sama aku.”

“Apaan sih?”

“Mas lupa ya, aku ini kan istri kamu? Lima tahun lebih kita menjadi suami istri, tapi tidak sekalipun kita berduaan seperti ini.”

“Ini kan sudah menjadi kesepakatan kita? Kia menikah atas dasar bisnis antara orang tuamu dan orang tuaku. Tapi hubungan kita tidak didasari rasa cinta. Ya kan?”

“Tapi rasanya sekarang aku jatuh cinta,” kata Lili tanpa malu, sambil kembali menarik lengan suaminya.

“Apa?”

“Ini benar. Apa salah kalau seorang istri mencintai suaminya? Mas tidak sedang mencintai perempuan lain bukan? Barangkali di luar negri banyak nona-nona atau nonya-nonya yang dekat dengan Mas, iya kah ada yang menarik hati Mas?"

Baroto terdiam. Iya benar, ia mencintai perempuan lain, tapi bukan nona atau nonya di luar negri. Tapi di sini, di kota ini. Nonya yang tak pernah dilupakannya, bahkan sudah melahirkan buah cinta mereka, seorang anak yang gagah dan tampan seperti dirinya.

Melihat Baroto terdiam, Lili semakin berani. Dan  Baroto adalah seorang laki-laki. Bagaimanapun godaan itu membuatnya sedikit terbakar.

Tapi tiba-tiba ponsel Baroto berdering. Baroto bangkit untuk mengambil ponselnya, tapi Lili menahannya.

"Biarkan saja Mas," Lili merengek.

“Lepaskan aku, barangkali sesuatu yang penting.”

“Malam-malam menelpon, mengganggu saja,” gerutu Lili.

“Di sana ini sudah siang,” kata Baroto sambil turun dari tempat tidur, meraih ponselnya kemudian duduk di sofa untuk menerimanya.

Lili kesal sekali. Ia melihat Baroto berbicara sangat lama, dan tampaknya hal yang sangat penting. Lili menunggu sampai ketiduran.

***

Pagi hari itu Baroto sudah mandi dan rapi, sementara LIli masih tergolek di ranjangnya. Ketika Lili membuka matanya, dan melihat Baroto sudah wangi, ia segera melompat turun.

“Kamu sudah mau pergi?”

“Ini sudah jam delapan pagi, aku berangkat dulu,” kata Baroto sambil menarik kopornya keluar dari kamar. Dari kamar lain, Ana juga keluar, sudah cantik dan juga rapi, sedangkan Menur berjalan di belakangnya.

“Papa sudah mau pergi?”

“Iya Ana, baik-baik di rumah, jangan nakal ya?”

“Ana mau ikut ke bandara ya.”

“Boleh, sama bibi Menur kan?”

“Tentu saja Pa. Ayo Bibi, kita ikut ke bandara." ajaknya sambil berjingkrak, membuat Menur terkejut.

“Tidak usah sama bibi Ana, bibi mau bersih-bersih kamar Ana.”

“Nanti biar bik Rumi yang bersih-bersih. Ayo cepat, mobilnya sudah menunggu,” Ana berlari ke depan sambil menarik tangan Menur.

Ketika  Lili kemudian keluar dari kamar, Baroto sudah ada di dalam mobil, di samping sopir, sedangkan di belakang duduk Menur dan Ana, yang kemudian membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya.”

Biasanya juga begitu, kalau pergi, pamit sambil lalu, dan saling tak peduli, tapi kali ini ada rasa sedih menghimpit. Apalagi semalam dia ketiduran dan gagal meluluhkan hati Baroto.

“Gara-gara telpon itu, aku jadi ketiduran,” sesalnya sambil masuk ke dalam rumah. Di pintu, si Rumi siap mendekat dengan mulut monyongnya.

“Nyonya … nyonya …”

Lili berhenti melangkah siap mendengarkan ocehan si mulut monyong.

“Ada apa lagi Rumi?

“Itu lhoh Nyonya, mengapa tuan mau pergi ke bandara, tapi si … eh … Menur … yang mengantarkan? Bukannya Nyonya?”

“Aku baru bangun, belum mandi.”

“Walau begitu, mengapa dia yang mengantarkan tuan ke bandara?”

“Aku tadi mendengar, Ana yang ingin mengantarkan ayahnya. Dan sudah bisa ditebak, pasti dia mengajak Menur. Apa yang kamu pikirkan?”

“Apa Nyonya tidak merasa khawatir?”

“Mengapa aku harus khawatir?”

“Ya ampun Nyonya, harusnya sebagai seorang istri harusnya bisa menjaga suaminya baik-baik.”

“Lama-lama kamu lancang Rumi.”

“Eh, ya ampun, maaf Nyonya, sungguh saya minta maaf. Saya mengatakan itu karena saya sayang pada Nyonya. Saya tidak ingin Nyonya kehilangan suami hanya karena bekas seorang penarik sampah.”

“Aku tidak melihat tanda-tanda mencurigakan. Menur sangat santun dan tidak akan berbuat macam-macam,” kata Lili sambil melangkah masuk. Ia harus segera mandi karena harus pergi ke kantor juga.

“Nyonya … nyonya … saya belum selesai. Saya melihat dia ... berduaan di kamar non Ana. Eh … sekali di kamar non Ana, tuan seperti membisikkan sesuatu di kuping Menur, yang kedua, juga berduaan lagi, di ruang belajar non Ana.”

Kali ini Lili berhenti. Ucapan berduaan di sebuah ruang, entah kamar tidur atau ruang belajar, membuat perasaannya tidak nyaman. Laki-laki dan perempuan berduaan, apa yang mereka lakukan? Tapi tidak, semalam dia berduaan dengan suaminya, tapi tidak melakukan apa-apa bukan? Wajah Lili menjadi muram. Sekarang ia merasa bahwa mulai mencintai suaminya. Dan mendengar suaminya berduaan dengan wanita lain, ada rasa sakit menusuk dadanya. Tapi ia masih menepiskan anggapan bahwa suaminya dan Menur berbuat sesuatu yang tak pantas. Tidak, masa ia harus percaya pada omongan pembantunya yang mulutnya ember itu?

Lili sudah meraih gagang pintu kamarnya, ketika Rumi mengoceh lagi.

“Nyonya harus percaya pada saya. Itu perbuatan tak wajar.”

“Mungkin sedang ada perlu, bukan karena akan berbuat macam-macam.”

“Tapi berbisik-bisik di telinga, apa itu wajar?”

Lili membuka kamarnya, tapi kemudian menutupnya dengan keras, membuat Rumi terlonjak kaget.

“Dikasih tahu kok malah marah?” gumam Rumi sambil melangkah pergi. Padahal Lili marah karena suaminya berbisik-bisik dengan Menur. Apa yang dibisikkannya?

***

Di sepanjang jalan ke bandara, Ana mengoceh ke sana kemari. Baroto hanya tersenyum. Ia tak pernah begitu dekat dengan Ana sebelum ini. Tapi dengan adanya Menur, ia ‘terpaksa’ harus sering-sering berdekatan dengan Ana.

“Ana sedih tidak, ditinggal papa pergi?”

“Ana tidak sedih,” jawab Ana yang memang sudah terbiasa ditinggal papanya pergi.

“Kalau bibi Menur, sedih tidak ditinggal papa pergi?” Ana justru bertanya pada Menur, yang mendadak terkejut. Mengapa juga Ana bertanya begitu.

Menur tidak menjawab, tapi menggeleng.

Baroto yang duduk di samping sopir melongok ke arah kaca spion yang ada di dalam mobil, untuk melihat sikap Menur. Ia kecewa ketika melihat Menur menggeleng.

“Tuh, bibi Menur juga tidak sedih kan?” kata Ana.

“Itu karena Ana menjawab tidak sedih. Jadi bibi Menur menirukan ucapan Ana tadi.”

“Benar begitu ya Bi?”

Menur hanya tersenyum.

“Papa ngarang ah.”

Baroto tertawa. Ia baru sadar bahwa Ana ternyata lucu juga. Ia juga baru sadar bahwa anak kecil itu menyenangkan, juga menggemaskan. Apakah karena ia sekarang merasa bahwa dirinya sudah punya anak?

Lalu ia berpesan kepada Menur, agar menjaga Rahman dengan baik. Menur diam saja, sampai-sampai Ana menegurnya.

“Mengapa Bibi diam saja? Kata nenek, kalau diajak bicara harus menjawab.”

“Oh, maaf.”

“Jaga Rahman baik-baik,” Baroto mengulang ucapannya.

“Ya,” jawab Menur ala kadarnya. Dalam hati dia berkata, tanpa dipesanpun pasti dia akan menjaga anaknya dengan baik.

“Mengapa bibi Menur diam saja dari tadi? Bibi tidak suka ikut ke bandara? Ana paling suka melihat pesawat. Lain kali maukah Papa mengajak Ana naik pesawat?”

“Tentu, pada suatu hari nanti papa akan mengajak Ana jalan-jalan naik pesawat.”

“Horeee …. dengan bibi Menur juga kan?”

Menur terkejut.

“Ya, tentu saja dengan bibi Menur.”

Menur menghela napas panjang, entah apa yang dipikirkannya.

***

Ketika mereka pulang dari bandara, Menur melihat Lili belum berangkat ke kantor. Ini agak aneh, karena biasanya dia berangkat pagi-pagi.

“Mama, besok-besok papa akan mengajak Ana dan bibi Menur jalan-jalan naik pesawat," kata Ana begitu melihat mamanya.

“Apa?” Menur terkejut karena Lili menatapnya aneh, seperti ada kemarahan yang ditujukan kepadanya.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, October 3, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 22

 DARAH,  CINTA DAN AIR MATA  22

(Tien Kumalasari)

 

Langkah Sarah tersendat, dadanya berdebar kencang, apakah bu Lurah akan marah-marah karena Bowo membantunya? Sarah bingung, apa yang akan dijawabnya nanti kalau bu Lurah mencak-mencak seperti biasanya? Lalu bagaimana kalau bu Lurah langsung menuju kamar neneknya lalu mencak-mencak di sana?

Sarah ingin menghindar dengan berbelok ke arah lain, tapi bu Lurah keburu melihatnya.

“Hei, berhenti!”

Sarah berdebar. Sedikit gemetar. Bukan karena takut dirinya kena marah, tapi bagaimana kalau perempuan galak itu juga menghampiri neneknya?

“Berhenti.”

Sarah menghentikan langkahnya. Kalau dugaannya benar, bagaimana dengan sakit neneknya?

“Mau apa kamu ke sini?”

Pertanyaan itu membuatnya lega, karena berarti bu Lurah tidak tahu kalau ia sedang menunggui neneknya.

“Saya ….”

Belum sempat Sarah menjawab, tiba-tiba Bowo muncul dan langsung menarik tangan ibunya.

“Bu, kenapa Ibu ini?”

“Kenapa juga kamu ini? Ibu kan hanya bertanya?”

“Ini kan rumah sakit, mengapa Ibu menanyakannya? Mungkin dia baru sakit, mau periksa atau apa. Sudah, ayo segera daftar, kalau kesiangan antrenya semakin banyak,” kata Bowo sambil menarik tangan ibunya.

Sarah menghela napas lega. Ternyata bu Lurah akan periksa ke dokter, dan tampaknya tidak tahu tentang sakit neneknya.

Ketika mereka menjauh, Sarah segera melanjutkan langkahnya. Hari ini ia tidak masuk sekolah. Tapi masalah jualan koran harus dilakukannya. Itu adalah uang. Uang yang sangat dibutuhkan untuk biaya neneknya. Walau sedikit tak apa, yang penting berusaha mencari, dan kalaupun menjadi beban orang lain, walau sedikit ia punya uang juga.

***

Sarah tidak langsung pulang. Ia pergi ke agen koran dan mengambil dagangan seperti biasanya.

“Tumben pagi-pagi, Sarah? Kamu nggak sekolah?” tanya pemilik agen koran itu.

“Tidak Pak, sedang mencari uang lebih banyak, jadi jualan mulai pagi.”

Pemilik agen koran itu tertawa.

“Wah, sedang butuh uang banyak ya Sar?”

“Nenek saya sakit Pak, jadi saya jualan dari pagi. Beri korannya dua kali lipat ya Pak.”

“Nenek kamu sakit apa?”

“Sakit berat, harus dirawat di rumah sakit.”

“Oh ya? Sejak kapan?”

“Baru kemarin, ini saya tinggal di rumah sakit, karena saya harus mencari uang.”

Sarah berlalu, dan pemilik kios koran itu menatap punggungnya dengan iba.

“Gadis itu sungguh luar biasa. Harus sekolah, harus mencari uang karena neneknya sakit. Kasihan sekali.”

 Lalu ia mencari amplop, diisinya beberapa lembar uang, disiapkannya untuk diberikan sebagai rasa simpati atas musibah yang dideritanya.

***

Hari masih pagi ketika itu, tapi Sarah sudah berteriak-teriak menjajakan korannya ketika lampu menyala merah di perempatan seperti biasanya.

Baru dua kali dia membelah keramaian di pagi itu, kemudian dia berlari lagi ke tepi ketika lampu menyala hijau, lalu tiba-tiba dilihatnya sebuah mobil berhenti. Sarah berdebar, itu kan Fajar? Sarah berlari mendekat.  

"Kok pagi-pagi Mas?”

“Jam segini aku berangkat ke kantor. Kamu nggak sekoah? Kok jualan korannya pagi?”

“Lagi cari uang Mas.”

“Biasanya sepulang sekolah?”

“Saya nggak masuk hari ini.”

“Kenapa?” Fajar menatapnya heran.

Wajah Sarah berubah murung, teringat sakit neneknya.

“Nenek saya sakit.”

Fajar keluar dari dalam mobilnya, menatap Sarah yang tampak pucat, berbeda dari biasanya yang penuh semangat.

“Sakit apa?”

“Berat, kata dokternya jantungnya bengkak, tensinya tinggi, lalu apa lagi, saya nggak ngerti Mas.”

“Sejak kapan?”

“Tadi malam. Eh, masih sore.”

“Di mana?”

“Di rumah sakit dekat rumah sana. Nenek saya tinggal dulu. Sebenarnya saya mau pulang mengambil baju ganti, tapi saya menyempatkan cari uang dulu.”

“Kamu tidak usah jualan, aku antar pulang, lalu aku antar ke rumah sakit lagi. Kasihan nenek kamu sendirian.”

“Tapi, ini … .” Sarah menunjuk ke arah tumpukan koran yang didekapnya. 

Baru berkurang beberapa lembar.

“Tidak apa-apa, kembalikan saja, saya ganti uang yang seharusnya kamu terima.”

“Mas ….”

“Cepat masuk, di mana agen korannya?”

Sarah menurut, masuk ke dalam mobil Fajar. Sudah dua kali Sarah menaiki mobilnya. Adem dan nyaman. Tapi kali itu ia tak merasakan kenyamanan sama sekali. Pikiran tentang neneknya sangat membuatnya sedih.

“Bayar berapa ketika masuk semalam?”

Sarah ragu mengatakannya.

“Katakan saja.”

“Sebenarnya … ada yang membantu, tapi saya sangat keberatan, kalau saja tidak mengingat sakitnya nenek. Saya dan nenek sangat tidak suka dia. Saya terpaksa menerimanya mengingat nenek yang harus segera mendapat pertolongan.”

Air mata Sarah bercucuran.

“Siapa?”

“Yang dulu membuang koran dagangan saya di tempat sampah.”

Lalu Sarah menceritakan asal muasalnya mengapa kemudian dia menerima tawaran Bowo. Ia mengkhawatirkan sakit neneknya.

Fajar mendadak muram. Ia kesal mengingat kelakuan Bowo.

“Nanti aku ganti semua yang sudah dibayarnya.”

“Mas ….”

“Nanti kamu kembalikan saja uangnya.”

“Tapi ….”

“Tidak ada tetapi. Masa kamu harus berhutang budi kepada orang yang pernah menyakiti kamu?”

***

Hari itu Fajar mengantarkan Sarah pulang, setelah mengembalikan sisa korannya, yang kemudian dia juga diberi amplop oleh pemilik agen koran itu. Ditolakpun ia memaksa, jadi terpaksa diterima dengan berkali-kali ucapan terima kasih.

“Jadi merepotkan banyak orang,” gumam Sarah sambil memasukkan amplop itu ke dalam sakunya.

"Tidak apa-apa, itu tandanya banyak orang bersimpati atas apa yang terjadi pada diri kamu. Karena kamu baik dan rajin, karena kamu ….”

“Aku apa lagi?”

“Kamu cantik ….”

Sarah menatap Fajar sambil tersenyum. Senyum senang pastinya, diantara duka yang masih menghimpitnya.

“Ada-ada saja.”

“Itu benar. Ayo tersenyum lagi, jelek ah kalau cemberut.”

“Aku sedang sedih.”

“Ya, aku tahu. Tapi nenek sudah ada yang menanganinya. Kamu tidak perlu khawatir.”

Sarah merasa lebih tenang, karena ada yang menemaninya, karena dia tidak sendiri.

Ketika pulang Sarah mengambil dompet kain biru milik nenek. Ia akan menghitungnya nanti di rumah sakit, agar nenek juga tahu.

Dan Sarah terkejut ketika setelah sampai di rumah sakit, Fajar mengembalikan sejumlah uang, yang katanya harus dikembalikan kepada Bowo. Bagi Sarah hal itu sama saja. Ia tidak berhutang kepada Bowo, tapi berhutang kepada Fajar. Walau begitu kali ini rasa berhutang itu terasa tidak sangat membebani. Ia juga percaya bahwa nenek tak akan marah lalu menolak semua pengobatan seandainya tahu bahwa Bowo lah yang berperan mengupayakan pengobatan untuk dirinya.

***

Setelah menyelesaikan semuanya, Fajar segera berpamit kepada Sarah karena harus segera kembali ke kantor.

“Jangan jualan dulu, temani Nenek,” kata Fajar sebelum pergi.

“Terima kasih banyak Mas.”

“Karena aku belum sempat ketemu Nenek, nanti sepulang dari kantor aku akan mampir lagi kemari,” kata Fajar lagi karena tadi memang ia hanya mengurus biaya yang harus dibayar Sarah, termasuk yang sudah dibayar Bowo, lalu memberikan semua uang yang sudah dibayarkan Bowo.

Sebenarnya Sarah juga merasa tidak enak dengan mengembalikan uang itu, yang pastinya Bowo akan merasa tersinggung. Dan ia mengakui karena bagaimanapun Bowo berperan banyak dalam berusaha membawa nenek ke rumah sakit.

“Nanti kalau ketemu, aku akan meminta maaf, sekaligus berterima kasih, setidaknya Bowo bermaksud baik.”

Dan tak lama setelah Fajar pergi, Bowo melongok ke kamar nenek, tapi tidak berani masuk. Sarah bergegas keluar, sambil membawa sejumlah uang dari semua yang sudah dibayarkan. Bowo tentu saja terkejut.

“Apa maksudmu Sarah?”

“Bowo, aku sangat berterima kasih, karena sudah berusaha membawa dokter untuk Nenek, lalu mengantarkan ke rumah sakit. Aku khawatir kalau nanti Nenek tahu bahwa kamulah yang melakukan semuanya, lalu Nenek akan marah.”

“Kamu tidak usah bilang atau menyebut namaku.”

“Bagaimanapun kebohongan pasti akan terungkap. Aku sudah mendapatkan uangnya, ini yang sudah kamu bayarkan, mohon maaf aku kembalikan, jangan marah dan jangan tersinggung, bagaimanapun kamu sudah berbaik hati dengan melakukan semuanya, dan untuk itu aku sangat berterima kasih.”

“Dari mana kamu mendapatkan uangnya.”

“Adalah, kamu tidak perlu tahu. Sekali lagi aku_” belum sempat Sarah menyelesaikan ucapannya, bu Lurah berteriak memanggil Bowo, dengan wajah penuh amarah.

***

Besok lagi ya.

Friday, October 2, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 21

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  21

(Tien Kumalasari)

 

Sarah tertegun. Ia menatap Bowo yang masih berdiri di depan pintu. Dan itulah yang membuat neneknya menolak dibawa ke rumah sakit.

“Nenek, sakit Nenek lumayah parah, sebaiknya dirawat di rumah sakit, agar pemeriksaan lebih baik, dan Nenek mendapat penanganan yang lebih baik juga,” kata dokter Harun.

“Aku tidak mau dia ….," katanya sambil menuding lemah dan dengan ucapan yang lemah juga.

Sarah mendekat, lalu berjongkok, menangis di samping tempat tidur neneknya.

“Nenek, tolong menurutlah. Sarah tidak ingin Nenek sakit. Sarah ingin Nenek sehat dan selalu bersama Sarah. Tanpa Nenek, hidup Sarah tak berarti. Apa Nenek ingin Sarah bersedih?”

“Aku tidak mau dia, mengapa dia ada.”

”Nek, yang mengantarkan Nenek adalah pak dokter ini, jangan memikirkan siapa-siapa,” bujuk Sarah. 

Ia terpaksa melakukannya, entah nanti bagaimana, yang penting neneknya mau diajak ke rumah sakit dan segera kembali sehat.

“Kalau dia, biarkan Nenek mati saja.”

“Nek, jangan berkata begitu. Kalau Nenek meninggal, Sarah akan ikut meninggal juga.”

”Sarah ….,” Nenek Suli menatap Sarah yang berlinangan air mata.

“Apakah ke rumah sakit tidak harus bayar? Tolong hitung tabungan Nenek.”

“Nanti Sarah menghitungnya. Yang penting Nenek segera mendapat pengobatan dan segera sembuh.”

Nenek Suli mengangguk. Ia melirik ke arah pintu, tak ada lagi bayangan Bowo. Sarah membantunya bangun, lalu memapahnya keluar. Dokter Harun membantunya naik ke dalam mobil. Di belakang kemudi, ada seseorang memakai topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

“Siapa dia?”

“Itu sopir saya Nek,” kata dokter Harun yang segera menangkap situasi, bahwa nenek Suli tak mau berurusan dengan Bowo. 

Dokter Harun tahu polah tingkah keponakannya, dan sedikit banyak ia menduga-duga, pasti kelakuan Bowolah yang membuat nenek Suli tidak menyukainya. Karenanya tadi dia mengakui bahwa dialah yang akan mengantarkan nenek Suli ke rumah sakit.

***

Di dalam mobil, nenek Suli bersandar di jok dengan tubuh lemas. Sarah duduk di sampingnya dan menggenggam tangan sang nenek sangat erat. Rasa khawatir menghilangkan rasa bencinya kepada Bowo. Toh kenyataannya Bowolah yang memanggilkan dokter untuk sang nenek, dan sekarang sedang mengantarkannya ke rumah sakit. Apa boleh buat. Kesehatan sang nenek lebih utama dari mengikuti kata hati yang penuh benci. Setidaknya ia melihat sisi baik yang Bowo lakukan.

“Sarah ….,” lirih kata nenek Suli.

“Ya, Nek.”

“Nenek ini kan memang sudah tua. Kalaupun Nenek harus meninggal, bukankah itu sudah pasti akan terjadi?”

“Tidak, Nenek tidak boleh berkata begitu. Sarah tak bisa hidup tanpa Nenek.”

“Sarah.”

“Jangan berkata apa-apa lagi. Pokoknya Nenek harus sembuh,” kata Sarah sambil meremas tangan sang nenek, yang terasa dingin.

“Apa Nenek kedinginan?” tanya dokter Harun.

“Biar saya kecilkan ACnya. Pak sopir, kecilkan ACnya, nenek Suli kedinginan,” kata dokter Harun. 

Bowo mengangguk dan tersenyum. Ia mengecilkan AC mobilnya tanpa berkata apa-apa, takut suaranya terdengar nenek Suli, lalu minta diturunkan di jalan.

***

Begitu sampai di rumah sakit, dokter Harun sudah memesan agar brankar disiapkan untuk pasien yang dibawanya. Jadi begitu mobil berhenti, dua orang perawat sudah menunggu dengan brankar yang segera dipergunakan untuk membawa nenek Suli ke ruang IGD.

Sarah mengikutinya dan terus memegang tangan sang nenek.

“Sarah … bagaimana membayarnya?” bisik sang nenek lemah.

“Nenek tidak usah memikirkannya. Yang penting Nenek segera mendapatkan perawatan, lalu sembuh,” kata Sarah, dengan berbisik pula.

Begitu sang nenek dibawa masuk, Sarah duduk di bangku tunggu. Ia harus menghibur neneknya agar tidak khawatir tentang biaya pengobatan sang nenek, padahal dia sedang berpikir bagaimana mendapatkan biaya itu.

Bowo duduk di sampingnya, dan melihat kegelisahan Sarah.

“Sarah, kamu tidak usah memikirkan tentang biaya perawatan Nenek.”

“Bagaimana aku tidak memikirkan, Bowo? Barangkali Nenek punya tabungan, tapi aku belum tahu seberapa banyak. Biaya di rumah sakit pasti mahal bukan?”

“Biar aku yang menanggungnya, kamu tidak usah khawatir.”

“Apa? Tidak.... jangan begitu. Kamu kan tahu Nenek tidak suka sama kamu? Bahkan ketika melihat kamu saja Nenek hampir tidak mau dibawa ke rumah sakit.”

“Apa kamu harus bilang kepada nenek bahwa aku yang membayarnya? Jangan Sarah, pokoknya jangan sebut namaku dalam masalah sakitnya Nenek. Bahkan kalau Nenek harus dirawat, biarlah aku yang memikirkannya.”

Sarah menghela napas panjang. Ini sangat berat baginya.  Bagaimana mungkin orang yang dibenci neneknya malah menolongnya dan bahkan membayar biaya selama di rumah sakit?”.

“Ini sangat berat bagi aku, Bowo.”

“Kalau begitu, anggap saja ini sebagai hutang. Kelak kalau kamu sudah punya uang yang cukup, kamu boleh mengembalikannya. Bagaimana?”

Sarah kembali terdiam. Barangkali memang harus begitu. Tawaran Bowo sedikit meringankan beban pikirannya. Setidaknya nenek Suli bisa tertolong, dan itu adalah harapan Sarah, karena hanya nenek Sulilah keluarga yang dimilikinya.

“Bagaimana? Setuju?  Nanti kalau Nenek harus dirawat, aku pilihkan ruang yang terbaik.”

“Jangan. Yang biasa saja, asal tidak buruk-buruk amat. Yang penting Nenek segera mendapat pengobatan.”

Ketika dokter Harun keluar dari ruang IGD, Sarah bergegas mendekatinya.

“Bagaimana Nenek saya? Apa boleh dibawa pulang?”

“Belum boleh Sarah, sakit nenekmu agak serius. Tekanan darah tinggi, dan ada pembengkakan jantung.”

“Apakah itu berbahaya?” tanya Sarah, cemas.

“Kalau mendapat penanganan yang baik, Nenek akan sembuh. Kamu harus sabar.”

Sarah merasa sedikit lega.

“Dokter, mm … maaf, berapa harus …. eh … berapa saya harus membayar Dokter?”

Dokter Harun tersenyum. 

"Bowo adalah keponakanku, sedangkan kamu teman Bowo, jadi aku tidak memungut bayaran.”

“Tapi….”

“Tungguin nenek kamu sampai dia dibawa ke ruang rawat. Jangan khawatir, Nenek akan baik-baik saja, asalkan menurut apa kata dokter.”

Sarah mengangguk.

“Terima kasih, dokter,” kata Sarah lirih, karena menahan tangis.

“Sudah, tenang saja. Sekarang aku mau pulang. Biar Bowo mengantar aku dulu, nanti dia akan kembali kemari.”

“Tidak usah kembali kemari Bowo, biar aku sendiri saja.”

“Aku hanya akan mengantarkan om Harun,” kata Bowo yang tidak mau mendengarkan permintaan Sarah.

Sarah terpaku di tempat duduknya. Lagi-lagi karena Bowo. Apakah layak dia harus terus membencinya sementara boleh dikatakan Bowo telah menyelamatkan nyawa neneknya?

***

Malam itu Sarah tidur di rumah sakit. Walau sudah minta agar sang nenek dirawat di ruang biasa saja, tetap saja Bowo memesankan kamar kelas satu untuk sang nenek. Tidak terlalu mahal bagi Bowo, tapi bagi Sarah itu sangat mewah dan luar biasa. Tapi mau bagaimana lagi. Ia harus menerimanya.

Pagi-pagi sekali Sarah sudah bangun. Ia melihat sang nenek masih tertidur. Setelah berwudhu dan bersujud, Sarah mendekati sang nenek. Perawat sudah menggantikan bajunya dengan baju dari rumah sakit. Sarah ingin pulang untuk mengambil bajunya juga. Ketika ia mendekat, nenek Suli membuka matanya.

“Mengapa Nenek tidur di sini? Mau pulang saja.”

“Jangan Nek, Nenek harus dirawat. Nanti kalau keadaan membaik, Nenek boleh pulang.”

“Ini ruangan apa, sangat bagus, bagaimana Nenek bisa membayarnya?”

“Nenek tenang saja, semua Sarah yang memikirkan. Yang penting Nenek sembuh. Sarah sedih kalau Nenek sakit.”

“Apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkan uang?”

“Sarah bisa, pokoknya Nenek tidak usah memikirkannya. Kata dokter, supaya Nenek cepat sembuh, Nenek tidak boleh banyak pikiran.”

“Nenek menyusahkan kamu.”

“Tidak, ini kewajiban Sarah untuk merawat Nenek. Sekarang Sarah mau pulang sebentar ya, mengambil baju Sarah, dan juga baju Nenek.”

“Tolong hitung uang Nenek, dibawah tumpukan baju, dompet kain biru.”

“Baiklah, Nenek nanti harus nurut sama perawat dan dokter ya.”

Nenek Suli mengangguk, walau banyak pikiran masih membebaninya. Ruangan bersih, kasur empuk, udara dingin dan ada televisi di depannya, tak pernah nenek rasakan, apa lagi memilikinya.

Sarah keluar dari ruang sang nenek, bermaksud pulang. Tapi tiba-tiba tanpa diduga ia bertemu bu Lurah di lobi.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, October 1, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 20

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  20

(Tien Kumalasari)

 

Bimo menatap punggung Sarah yang melenggang pergi setelah bertemu laki-laki ganteng bermobil. Bimo pura-pura tak melihatnya, tapi Fajar justru memanggilnya.

“Bimo! Ternyata ada kamu. Baru pulang kerja ya?” katanya sambil melongok dari jendela mobilnya. 

Bimo yang tahu diri segera datang mendekat dan mengangguk hormat, karena bagaimanapun Fajar adalah putera pimpinan tertinggi di kantor di mana dia bekerja.

“Saya baru pulang, dan menemani Sarah sebentar.”

“Rumah kamu di mana?”

“Itu Mas, gang kecil masuk ke utara.”

“O, ya sudah. Kamu pasti capek setelah bekerja. Aku juga mau pulang dulu ya,” katanya sambil menghidupkan mesin mobilnya. 

Ia melambaikan tangannya kemudian berlalu. Bimo menghela napas panjang. Fajar sangat baik. Kalau Sarah suka, itu sudah sepantasnya.

“Hei, ada apa aku ini? Cemburu? Tapi mungkinkah mereka saling suka? Masa iya mereka saling suka? Dengan perbedaan status yang sangat jauh?” gumam Bimo sambil terus melangkah pulang. 

Tapi ia kesal dengan perasaannya sendiri. Tak mungkin Sarah  suka pada Fajar. Masa iya, Sarah sangat tidak tahu diri? Tapi bukankah rasa cinta itu tak mengenal siapa dan bagaimana orangnya?

“Ya Tuhan, apapun yang terjadi, semua hanyalah kehendakMu.”

Setelah berserah diri, Bimo melanjutkan langkahnya dengan lebih ringan.

***

Di rumah, Saptari sudah menunggu di ruang makan. Ada nasi kuning dan ayam goreng terhidang di atas meja. Ada juga sambal goreng dari labu siam terhidang di sana.

“Ibu masak aneh hari ini,” tanya Bimo heran.

“Masak aneh bagaimana sih? Ini semua bahan makanan dan ibu masak dengan wajar, apanya yang aneh? Ini benar-benar nasi, bukan plastik lhoh,” canda sang ibu.

“Maksud Bimo, mengapa masak nasi kuning, seperti sedang mengadakan syukuran."

Saptari tertawa. Ia mendorong anaknya masuk ke dalam kamar.

“Bersihkan tubuhmu dan ganti baju. Atau kamu mau mandi dulu sebelum makan?”

“Iya Bu, Bimo mau mandi dulu. Bau nih. Keringatan seharian.”

“Ya sudah, mandi dulu, ibu angetin sayurnya.”

Dan ketika keduanya sudah siap di meja makan.

“Bimo, apa kamu lupa, ini hari ulang tahun kamu yang ke duapuluh lima.”

“Oh, iya Bu, Bimo malah lupa pada ulang tahun sendiri. Jadi Bimo lahir di tanggal duapuluh bulan Maret ya? Benar-benar lupa.”

“Karena itulah ibu bersyukur, sudah membesarkan kamu sampai dewasa.”

“Jadi nasi kuning ini adalah nasi syukuran ya?”

“Benar Nak. Selamat ulang tahun ya, dan nikmati hidangan sederhana ini untuk merayakannya. Ayam goreng ini kesukaan kamu. Tapi maaf, sambal gorengnya cuma dari labu siam, bukan sambal goreng ati.”

”Tidak apa-apa Bu, terima kasih banyak sudah membuat masakan istimewa ini untuk Bimo.”

“Semoga kamu selalu sehat, bahagia dan panjang umur, segera dapat istri yang cantik, lalu memberikan ibu cucu-cucu yang lucu.”

“Aamiin. Terima kasih atas semuanya ya Bu. Ibu adalah ibu terbaik di dunia ini.”

Bimo berdiri lalu memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, ayo kita makan,” kata Saptari sambil mengusap air matanya.

***

Ketika sampai di rumah, Sarah terkejut melihat sang nenek berbaring di tempat tidurnya. Tak biasanya nenek Suli tidur sore-sore.

“Nenek,” sapanya sambil mendekat.

Nenek Suli membuka matanya.

“Kamu sudah pulang?” tanyanya dengan suara lemah, membuat Sarah sangat khawatir. Ia juga melihat napas sang nenek agak tersengal.

“Sudah Nek, mengapa Nenek tiduran?” Sarah memegang dahi neneknya. Berkeringat. Tapi wajah nenek sangat pucat.

“Nenek sakit ya? Apa yang Nenek rasakan? Tidak panas sih, tapi Nenek sangat pucat.”

”Tidak apa-apa, Nenek hanya lelah.”

Sarah bergegas ke belakang. Ia membuat minuman untuk neneknya. Minuman kesukaan neneknya, wedang jahe. Ia membawakannya ke kamar sang nenek, sambil membawa cawan untuk sedikit mengurangi panasnya.

Ia menuangkan wedang jahe ke cawan, kemudian meminumkannya kepada sang nenek dengan sendok.

“Nenek tiduran saja, biar Sarah suapkan.”

“Seperti sedang sakit keras saja, biar nenek bangun."   

“Jangan Nek, sudah, tiduran saja, Sarah suapin wedang jahenya.

Nenek Suli menurut, karena tubuhnya memang terasa lemah.

Setengah gelas wedang jahe dihabiskannya, lalu Sarah meletakkan cawan di meja dekat pembaringan sang nenek.

“Badan nenek merasa lebih segar.”

“Ke dokter ya Nek. Dokter Harun tidak jauh dari sini.”

“Nenek tidak apa-apa, biar Nenek istirahat saja, nanti pasti sudah baikan.”

“Nenek sudah makan?”

“Nanti saja, Nenek tidur dulu saja sebentar.”

Sarah mengambil selimut dan menyelimuti neneknya, kemudian ia mandi dan berganti baju. Ia menyiapkan makan yang rupanya nenek Suli juga sempat memasak juga.

Ketika ia memasuki kamar sang nenek lagi, dilihatnya sang nenek masih tidur. Dipegangnya tangan sang nenek, dan ia merasa sangat khawatir.

“Aku harus membawa nenek ke dokter, tapi bagaimana caranya? Nenek sepertinya sangat lemah, apa bisa berjalan?” gumamnya.

Sarah keluar. Ia harus minta tolong orang lain. Di pangkalan ojek dia melihat ada satu yang masih nangkring di situ. Ia menyeberang jalan untuk mendekat. Ia belum tahu apakah sang nenek bisa membonceng sepeda motor seandainya dia meminta tolong ojek itu. Tapi tiba-tiba sebelum dia menghampiri driver ojek itu, sebuah mobil berhenti..

“Sarah, kamu mau pergi?”

Sarah terkejut. Ia tak ingin berurusan dengan Bowo.

“Bukan aku, nenek.”

“Nenek mau ke mana?”

“Ke doter Harun, nenek sakit.”

“Orang sakit bisa membonceng ojek? Biar sama aku saja.”

“Jangan.” 

Sarah yakin sang nenek tak akan mau berurusan dengan Bowo, setelah bu Lurah menghinanya.

“Nenek butuh bantuan. Sakit itu bisa gawat kalau tidak segera mendapat pertolongan. Atau begini saja, biar aku panggil dokter Harun ke rumah kamu.”

“Apa? Memanggil dokter ke rumah?”

“Iya, jadi tidak usah membawa nenek ke sana.”

“Tapi …. “

“Sudah, kamu tenang saja dan tunggu di sini, aku akan membawa dokternya kemari.”

“Apa bisa?”

“Dia saudara aku, sudah tunggu di depan rumah kamu saja.”

Bowo melajukan kendaraannya. Sarah menyeberang dan kembali ke rumah, dengan pikiran bingung. Memanggil dokter? Bukankah beayanya lebih mahal?

 "Tabunganku cukup tidak ya, aduh, bagaimana ini. Mengapa Bowo nekat mau memanggil dokter?”

Sarah benar-benar bingung. Entah bagaimana nanti sikap neneknya kalau tahu bahwa Bowo yang menolongnya. Sungguh Sarah merasa bahwa hal terbaik adalah segera membawa neneknya ke dokter. Ia sangat khawatir, badan sang nenek dingin sekali. Napasnya juga sedikit tersengal.

Dalam bingung itu kemudian ia mendengar sebuah mobil berhenti.

“Ya ampuun, apakah itu dokternya?”

Tak lama kemudian ia melihat Bowo turun dari mobil, lalu diikuti oleh seorang laki-laki setengah tua. Apakah itu dokternya? Sarah hanya mendengar namanya dan melihat papan nama di depan rumah dokter itu, tapi ia belum pernah melihat dokternya.

“Sarah,” Bowo sudah ada di depannya.

“Ini dokter Harun. Di mana nenek?”

“Ada .. di .. di kamarnya. Apa … mau diperiksa sekarang?”

“Tentu, biar om Harun memeriksanya. Antarkan dia ke kamar nenek," kata Bowo.

Sarah masuk ke dalam, dokter itu mengikutinya. Sarah berdebar, banyak yang dipikirkannya. Sakit apa neneknya, dan berapa ongkosnya memanggil dokter.

“Nenek,” Sarah menyapa pelan.

Nenek Suli membuka matanya.

"Itu … siapa?”

“Nenek, ini dokter yang mau memeriksa Nenek.”

Sarah mengambilkan kursi agar dokter bisa duduk di samping tempat tidur neneknya.

“Nenek, saya periksa dulu ya. Apa yang Nenek rasakan?” suara dokter itu sangat lembut. 

Nenek menatapnya tak berkedip. Seperti mimpi ia membayangkan memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa sakitnya. Tapi ia diam, dan menyimpan seribu satu pertanyaan di hatinya. Lagipula ia merasa sangat lemas.

Sarah berdiri di dekatnya, sedangkan ia melarang Bowo untuk masuk.

Beberapa saat lamanya dokter itu memeriksa, lalu menatap Sarah dengan tatapan serius.

“Kamu cucunya?”

Sarah mengangguk.

“Nenek harus dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.”

“Apa?”

Tiba-tiba Bowo masuk.

“Biar dibawa ke rumah sakit saja, penanganannya lebih maksimal. Sekarang saja ya Om, saya antarkan.”

Suara itu dikenal nenek Suli. Ia menatap kearah laki-laki yang berdiri di tengah pintu. Tatapan yang tak enak.

“Aku tidak mau,” katanya lemah.

***

Besok lagi ya.

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 23

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  23 (Tien Kumalasari)   Sarah terkejut. Ia ingin menghindar, tapi bu Lu rah yang galak itu sudah sangat dekat den...