SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 018
(Tien Kumalasari)
Merasa tak diperhatikan saat mengadu kepada nyonya majikannya, Rumi memanas-manasi pembantu yang lain supaya membenci Menur.
“Coba lihat, dia yang baru datang diperlakukan istimewa. Kemarin itu, ketika tuan dan nyonya makan pagi, masa iya, menawari si pengais sampah itu untuk makan bersama mereka?” kata Rumi kepada temannya dengan mulut monyongnya.
“Masa iya?”
“Aku tidak bohong.”
“Tapi aku tidak melihatnya makan semeja bersama majikan kita tuh?”
“Karena dia menolaknya. Pasti karena takut pada nyonya, yang sedikit banyak sudah tahu kalau dia punya niat buruk.”
“Menurutku dia itu baik lhoh,” kata yang lain.
“Bener, dia itu baik, ramah dan suka membantu kita. Kalau dia sudah tidak bersama non Ana, dia pasti membantu kita melakukan apa saja yang sedang kami lakukan.”
“Alaaaa, kalian itu masa sih begitu bodohnya? Dia itu bersikap baik hanya untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar. Pertama, dia merayu non Ana supaya meminta kepada orang tuanya, agar si pengais sampah itu boleh menjadi pengasuhnya. Lalu dia diperlakukan sangat istimewa. Masa sih, dia memanggil nyonya besar tuh ‘bulik’. Bulik dari mana coba? Masa nyonya besar punya kemenakan seperti itu? Lalu karena bujuk rayunya juga, dia dibelikan baju-baju hampir selemari penuh tuh. Apa kita pernah diperlakukan seperti itu?”
“Mungkin juga biarpun miskin tapi masih terhitung saudara majikan kita.”
“Ya nggak mungkin … nggak mungkin. Lalu yang lebih aku takutkan tuh apa, kalau sampai dia merayu tuan kita.”
“Masa sih?”
“Nggak mungkin lah.”
Mereka bersahutan tidak mempercayai apa yang dikatakan Rumi, membuat Rumi kesal, kemudian meninggalkan mereka yang sedang beristirahat siang itu.
***
Hari-hari berlalu, dan tampaknya kecurigaan Lili tidak beralasan. Menur sangat santun, dan tidak pernah sekalipun kelihatan bicara dengan suaminya. Ia hanya melayani keinginan Ana, mendongeng, membuatnya senang. Bahkan kalau siang Menur juga mengeloninya tidur sambil menepuk-nepuk pantatnya lembut.
***
Hari itu Baroto pergi ke rumah sakit. Hasil tes DNA itu keluar hari itu. Dengan berdebar Baroto membuka amplop hasil tes, dengan perasaan tak sabar. Matanya terbelalak ketika membacanya. Wajahnya berbinar, dan tanpa terasa air mata menggenangi pelupuknya.
“Dia anakku … dia anakku …” gumamnya pelan, tak peduli pada beberapa orang yang bersimpangan dengannya merasa heran karena ada laki-laki ganteng berbicara sendiri.
Ia segera mengambil mobilnya, dipacunya menuju ke rumah Menur. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Ini masih jam pelajaran. Rahman pasti belum pulang. Sebentar, harus ada sesuatu yang diberikannya kepada Rahman. Baroto berpikir, apa ya sesuatu itu. Sambil mengendarai mobil dia melamunkan apa yang dinamakannya ‘sesuatu’ itu.
Ah ya, baju, sepatu, tas sekolah yang bagus, lalu apa lagi? Mainan? Mainan apa yang disukai Rahman? Kalau harus ditawarkan, tak mungkin Rahman mau mengatakan apa keinginannya. Tapi kemudian Baroto hanya mampir membeli baju-baju dan celana untuk Rahman. Ada lima atau enam setel, dan sepatu. Apa Rahman suka bermain bola? Anak seusia Rahman pasti suka bermain bola. Apa sebaiknya dibelikan sepatu bola juga, dan bolanya? Bagus sekali, supaya Rahman bisa mengajak teman-temannya bermain bola.
Siang hari itu Baroto sudah sampai di sekolah Rahman, di bagasi penuh dengan barang-barang yang dibelinya untuk Rahman, termasuk sepatu bola dan bolanya sekalian. Belum saatnya bubaran sekolah. Baroto turun, lalu menuju ke kantor sekolah, berbicara dengan kepala sekolah, entah apa yang dibicarakannya. Baroto segera keluar lagi dan menunggu di mobil, karena sudah terdengar bel usai sekolah.
Baroto mengawasi anak-anak yang keluar dari sekolah itu. Ketika melihat bayangan Rahman, ia segera turun dari mobil.
“Rahman,” panggilnya ketika sudah dekat. Rahman menghampirinya. Ia terpaksa tak bisa menuruti permintaan sang ibu untuk menjauhinya. Om ganteng itu terlalu baik, bagaimana mungkin dia harus menjauhinya?
Rahman terkejut ketika tiba-tiba Baroto memeluknya erat. Erat dan lama sekali, sampai ia menjadi perhatian murid-murid lain yang berhamburan keluar dari halaman.
“Om, ada apa ini? Mengapa om memeluk aku?” tanya Rahman setelah dia meronta sehingga Baroto terpaksa melepaskan pelukannya. Rahman juga melihat ada air mata di pelupuk om yang bak hati itu.
“Ada apa Om?”
Baroto tersenyum, ia tak harus mengatakannya sekarang.
“Karena sebentar lagi om akan kembali ke luar negri, jadi akan lama nggak ketemu Rahman.”
“Oo …” hanya itu jawaban Rahman.
Lalu Baroto mengajaknya masuk ke dalam mobil. Rahman heran banyak barang-barang di dalam mobil.
“Om belanja apa saja? Banyak bener,” celetuk Rahman.
“Itu semua untuk Rahman.”
Rahman tertegun. Ia menatap om gantengnya dengan tatapan tak percaya. Pasti si om ganteng bercanda. Mengapa sih siang ini dia bersikap aneh? Memeluknya erat, lalu mengatakan bahwa barang-barang yang ada di mobilnya adalah untuk dirinya. Masa iya? Rahman melirik bola yang terletak paling atas diantara tumpukan barang-barang. Om ganteng suka main bola juga?
Baroto tersenyum lebar melihat Rahman tampak kebingungan.
“Om bercanda kan?”
“Tidak, ini beneran untuk kamu.”
“Om aneh siang hari ini.”
“Bukankah om sudah mengatakan bahwa sebentar lagi om akan kembali ke luar negri? Itu sebabnya om belikan itu semua untuk kamu, agar kamu tidak melupakan om,” kata Baroto sambil menjalankan mobilnya.
Rahman menatapnya terus, masih tak percaya. Dengan sebelah tangannya Baroto mengelus kepala Rahman, anak kandungnya yang baru saja ditemukannya setelah berhari-hari menjadi pertanyaan yang menumpuk di benaknya.
Rasanya ingin sekali ia memeluknya terus dan tak akan pernah melepaskannya. Anaknya, darah dagingnya, buah cinta yang lama ditinggalkannya.
“Mengapa Om begitu perhatian pada Rahman?”
“Karena kamu anak baik, anak pintar, bukan hanya pintar menangkap semua nasihat baik, tapi juga pintar di sekolah. Kamu anak yang membanggakan.”
“Dari mana Om tahu kalau aku pintar? Om tidak pernah melihat nilai sekolah aku.”
“Aku tadi bertemu guru kamu, kepala sekolah kamu. Semua memuji kamu. Om bangga sekali sama kamu.”
Ya ampuun, Rahman heran sekali. Begitu besar perhatian om ganteng sampai menemui guru dan kepala sekolahnya untuk menanyakan dirinya dan prestasi di sekolahnya? Tapi Rahman tak berkomentar. Ia begitu terkejut atas sikap aneh yang tiba-tiba ini.
“Tadi om sudah beli makanan. Kita makan di rumah kamu saja ya, supaya kamu segera bisa melihat barang-barang yang om belikan untuk kamu.”
Rahman hanya mengangguk. Sebagai anak kecil, tentulah ia ingin tahu segala sesuatu yang dikatakannya sebagai hadiah untuknya.
Begitu turun dari mobil, Baroto meminta agar Rahman membantu menurunkan barang-barang yang dibeli untuknya. Rahman melakukannya dengan keheranan yang tak habis-habisnya.
Mereka meletakkan barang-barang di dalam rumah yang tidak begitu besar itu, dan Rahman memegangi barang-barang itu tetap dengan perasaan heran.
“Ini baju-baju dan celana untuk Rahman, cobalah salah satu, yang lain ukurannya sama kok. Lalu ini sepatu untuk kamu sekolah, ada dua, bisa dipakai bergantian, juga tas untuk kamu sekolah. Lalu yang ini sepatu untuk main bola. Kamu suka main bola? Bolanya juga sudah ada tuh.”
Rahman menatapnya takjub. Tentu saja dia suka main bola. Di sekolah atau di kampung dia suka main bola bersama teman-temannya.
“Suka Om.”
“Bagus, berarti tidak sia-sia om beli semua ini untuk kamu.”
“Mengapa om beli semua ini untuk Rahman?”
“Masih bertanya lagi? Karena om sudah mau kembali ke luar negri. Supaya Rahman tidak melupakan om.”
“Mana mungkin Rahman melupakan Om? Om sangat baik pada Rahman.”
Baroto tersenyum, ia mendekati Rahman dan merangkulnya lalu mencium kepalanya dengan penuh sayang.
***
Barangkali jawaban itu bisa memuaskan Rahman. Supaya dirinya tidak melupakan om ganteng. Tapi bagi Menur, yang pulang pada sore harinya, itu sangat membuatnya kesal. Sikap Baroto, semua pemberian-pemberiannya, adalah sesuatu yang luar biasa. Ia berjanji besok akan menegurnya. Atau … Baroto sudah tahu kalau Rahman adalah darah dagingnya?
Menur takut sekali. Setelah ini, lalu apa? Rahman akan dimintanya? Tidak, Menur tak akan mengijinkannya. Rahman adalah miliknya. Tapi bagaimana kalau Baroto kemudian ingin memperistrikannya lagi? Tidak, hal itu tidak mungkin dilakukan. Walau punya istri dua itu bukan larangan, tapi kehidupan keluarga tidak akan bisa tenang. Ia tak mau merusaknya.
Semalaman Menur tak bisa tidur, karena selalu memikirkannya.
***
Pagi hari itu Menur pergi ke sekolah Rahman. Ketika membayarkan uang sekolah, ia belum bisa membayar uang ujian karena uangnya tidak cukup. Pagi itu dia sudah minta ijin kepada Ana bahwa akan datang agak terlambat karena harus mampir ke sekolah Rahman terlebih dulu.
Ia langsung menemui bendahara sekolah, mengutarakan maksudnya, dan mengeluarkan uang untuk memenuhi pembayarannya. Tiba-tiba kepala sekolah yang melihatnya segera menghampiri.
“Ibu akan membayar apa?”
“Kekurangan uang ujian untuk Rahman Pak, dulu itu belum bisa membayar karena uangnya belum cukup.”
”Tapi semuanya sudah dibayar oleh bapak Baroto. Lunas sampai nanti dia lulus.”
“Apa?” Menur tentu saja sangat terkejut.
“Dia juga sudah berpesan kepada saya agar nanti setelah Rahman lulus, saya mendaftarkannya ke sekolah terbaik di kota ini.”
“Apa?”
***
Besok lagi ya.