DARAH CINTA DAN AIR MATA 42
(Tien Kumalasari)
Pak Pranoto duduk di samping istrinya, sama seperti sang istri, ia duduk dengan linglung. Ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
“Pak, apa tidak ada cara lain? Kita akan sanggup membayar seandainya ada orang yang memiliki darah yang sama dengan darahnya Fajar.”
“Darah Fajar termasuk langka, tidak mudah mencarinya. Yang paling pas adalah darah orang tuanya, tapi ke mana kita akan mencari mereka?”
Sesungguhnyalah bahwa pak Pranoto berdua bukanlah orang tua kandung Fajar. Beberapa puluh tahun yang lalu seorang perempuan dengan wajah kusut menyerahkan seorang bayi yang masih merah, ketika ia sedang duduk menunggu di dalam mobil, saat suaminya turun entah untuk keperluan apa.
“Mohon titip anak saya.” suaranya lirih dan bergetar, ada tangis terkandung di dalamnya.
Dalam kebingungan menerima bayi, ia tak sempat berkata-kata, lalu perempuan itu menghilang begitu saja. Ia turun dan mencari keberadaannya, tapi perempuan itu hilang bak ditelan bumi.
Rengek bayi di dalam gendongan menyadarkannya. Tampaknya ia lapar. Bu Pranoto kebingungan. Ia menelpon sang suami yang segera datang, lalu terkejut melihat istrinya menggendong bayi.
“Itu anak siapa?”
“Ada yang memberikannya begitu saja. Tolong belikan susu Mas. Susu terbaik untuk bayi merah ini.”
Lalu keluarga yang belum memiliki keturunan itu disibukkan dengan kehadiran sang bayi mungil nan tampan, lalu diberi mereka nama Fajar Pranoto.
Tak berapa lama kemudian bu Pranoto hamil, lalu lahirlah Mentari yang kemudian menjadi adik Fajar Pranoto.
Air mata bu Pranoto mengalir deras. Apakah ia akan kehilangan Fajar karena tak mendapatkan donor darah untuknya?
Tiba-tiba pak Karimun dan istrinya mendekat. Mereka panik melihat bu Pranoto menangis dan pak Pranoto juga tampak kebingungan.
“Pak, apa yang terjadi?” tanya pak Karimun dan istrinya hampir bersamaan. Lirih dan penuh kekhawatiran.
Bu Pranoto mengusap air matanya. Agak berat mengatakan bahwa Fajar bukan darah dagingnya, sementara selama puluhan tahun sudah menjadi bagian dari keluarganya dan dianggapnya sebagai anak kandung mereka.
Tapi tiba-tiba bu Pranoto menatap bu Karimun yang tampak pucat dan khawatir, lalu sesuatu kenangan melintas. Begitu jelas, seperti kilat yang menyambar dalam benaknya. Perempuan kusut itu, sekusut wajah bu Karimun saat itu. Bukankah itu dia?
“Itu kamu kan?” suaranya terdengar seperti sebuah pekikan, membuat suaminya kemudian menoleh kearahnya.
“Ada apa?”
Bu Karimun terkejut, suara itu agak keras, dan ditujukan kepadanya.
“Kamu kan perempuan itu? Yang menyerahkan bayi itu?”
Lalu dunia seakan berhenti berputar. Kejadian duapuluh lima tahun yang lalu melintas dalam ingatan. Bukan hanya ingatan bu Pranoto, tapi juga ingatan bu Karimun. Lalu tangis itu pecah. Bu Karimun tanpa sadar bersimpuh di depan bu Pranoto, memegangi kedua kakinya, dengan air mata bercucuran.
“Itu saya, ibu yang berdosa dan tak bertanggung jawab,” suaranya bergetar.
Rahasia yang dipendamnya setelah meyakini bahwa Fajar adalah anak kandungnya, pecah tiba-tiba. Terurai tanpa sengaja. Gara-gara darah itu.
“Jadi … kalian adalah ….” suara pak Pranoto tersekat ditenggorokan.
Tak ada yang perlu ditutupi, sebuah kenyataan harus mereka hadapi, Gusti Allah yang menuntunnya, karena memang begitulah jalannya.
“Mohon maaf Pak, Bu, kami sudah menduga kalau nak Fajar adalah anak kandung saya. Kami hidup sengsara waktu itu, dan berharap kedua anak saya mendapat naungan yang lebih baik. Jangan sampai mati kelaparan karena sengsara yang merundung kehidupan kami waktu itu,” kata pak Karimun lirih.
“Tunggu, kamu bilang kedua anak kamu?”
“Anak kami kembar Pak.”
“Kembar? Jangan-jangan ….”
Ingatan pak Pranoto melayang ke arah Bimo.. wajah karyawan barunya itu mirip sekali dengan Fajar.
“Pak, yang lain dipikirkan nanti saja. Sebaiknya urus kebutuhan darah itu segera, dokter menunggu kita,” kata bu Pranoto.
Pak Pranoto mengangguk.
“Pak Karimun, Fajar membutuhkan darah, dan hanya darah orang tua kandungnya yang bisa mendonorkannya.”
Tak perlu dikatakan dua kali, pak Karimun segera mengikuti pak Pranoto menemui petugas yang mengurus kebutuhan darah untuk Fajar.
***
Bimo datang ke rumah sakit siang itu, karena pak Pranoto memang menyuruhnya datang. Ia ingin memastikan, apakah Bimo bukan anak kandung dari orang yang merawatnya sejak bayi, yang berarti adalah saudara kembar Fajar.
“Bagaimana keadaan pak Fajar? Apakah sudah dioperasi?” tanya Bimo begitu datang.
“Duduklah di sini, operasi sedang berlangsung. Kita doakan semoga lancar semuanya,” kata pak Pranoto.
Sedangkan bu Pranoto ikut menunggui di dekat ruang operasi.
“Mbak Mentari juga ada?”
Lalu Bimo memarahi dirinya sendiri, mengapa menanyakan Mentari.
“Mm… maksud saya ….” Bimo ingin meralatnya, tapi pak Pranoto segera menjawabbya.
“Mentari akan datang bersama Sarah sepulang sekolah. Mereka tak bisa ijin menjelang saat ujian akhir.”
“Oh, maaf. Tadi saya_”
“Bimo, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada kamu.,” potong pak Pranoto.
“Ya Pak?”
“Maaf sebelumnya, karena ada sesuatu yang membuat saya harus menanyakannya. Aku harap kamu memaafkan aku, apabila hal ini menyinggung perasaan kamu. Ini sangat perlu, dan mendesak.”
Bimo menatap pak Pranoto tak mengerti. Apakah ini masalah pekerjaan, lalu ia melakukan kesalahan? Bimo berdebar menunggu kelanjutannya.
“Bimo, kamu selama ini hidup bersama kedua orang tuamu?”
“Ayah saya sudah meninggal saat saya masih bayi,” jawab Bimo.
“Jadi kamu bersama ibu kamu?”
“Iya Pak, seperti Bapak ketahui, ibu saya berjualan makanan setiap pagi sampai siang.”
“Ya, tapi bukan itu yang aku tanyakan. Mm...apakah … ibu kamu itu … mmm ibu kandung kamu?”
Bimo terkejut. Pertanyaan ini tidak disangkanya. Ia kebingungan. Tentu saja ibu kandungnya, karena sejak kecil ibunya itu yang merawatnya.
“Maaf kalau pertanyaan ini menyinggung perasaan kamu Bimo. Tapi ada sesuatu yang memaksa saya harus bertanya.”
Pak Pranoto diam, sebenarnya tidak enak mengatakannya, dan tampaknya Bimo seperti kebingungan, berarti Bimo tidak tahu apa-apa tentang maksud pertanyaannya, atau apakah ia anak kandung ibunya apa bukan.
“Sekali lagi maaf. Karena begini ceritanya Bimo. Satu adalah tentang kemiripan kamu dengan Fajar, di mana banyak yang mengira kalian adalah kembar. Sedangkan kedua ... sesungguhnya Fajar itu bukan anak kandung keluarga Pranoto.”
“Apa?”
“Baru saja ketahuan bahwa Fajar punya orang tua kandung, dan sekarang sedang mendonorkan darahnya untuk Fajar, karena hanya dialah yang bisa mendonorkannya.”
“Jadi ….”
“Akhirnya aku harus berterus terang, bahwa Fajar yang sangat kami sayangi sebenarnya bukan anak kandung kami.”
Bimo terbelalak.
“Orang tuanya sudah ketahuan. Dia sedang mendonorkan darahnya, dan dia mengatakan bahwa anaknya adalah kembar.”
Lalu pak Pranoto menceritakan tentang bagaimana tiba-tiba ada orang yang ternyata adalah orang tua kandung Fajar, ketika kebutuhan darah untuk Fajar sangat mendesak, sedangkan darah Fajar termasuk golongan darah yang langka, sehingga tidak sembarang orang bisa mendonorkan darahnya.
Pikiran Bimo melayang ke mana-mana, tentang kemiripan wajahnya yang membuat semua orang mengira dia adalah kembar. Benarkah dia kembaran Fajar?
***
Fajar belum sadar setelah dioperasi, ketika Bimo pamit pulang. Ia ingin segera tahu apa benar dia bukan anak kandung bu Saptari. Apa benar Fajar adalah saudara kembarnya.
Tapi sang ibu kelihatan sangat marah begitu dia menanyakannya.
“Apa maksud perkataan kamu itu? Apa kamu tidak mau mengakui bahwa aku adalah ibu kandung kamu? Karena apa? Karena aku miskin dan tidak bisa menyekolahkan kamu ke jenjang yang lebih tinggi sehingga kamu hanya bisa bekerja sebagai OB? Kamu malu punya orang tua seperti aku?”
Bimo terkejut mendengar reaksi sang ibu. Ia segera menubruknya dan menangis tersedu di pangkuannya.
***
Besok lagi ya.