DARAH CINTA DAN AIR MATA 45
(Tien Kumalasari)
Bu Pranoto mendekat dan mencium kening Fajar, sambil tersenyum. Senyum penuh kedamaian yang menyejukkan. Tapi ia menatap wajah Fajar yang masih dipenuhi tanda tanya, dan sebuah pengharapan.
“Fajar, bukankah Ibu sudah bilang bahwa kamu harus mengedepankan keinginanmu untuk sembuh terlebih dulu?”
“Fajar hanya menginginkan kepastian, agar merasa lebih tenang.”
“Kalau kamu hanya memikirkan keinginanmu itu terus, kamu tidak akan merasa tenang, Nak. Sembuhlah dulu, lalu kita bicara.”
“Perkataan Ibu menunjukkan bahwa Ibu masih tetap tidak suka pada pilihan Fajar.”
“Sayang, mengapa kamu berpikiran seperti itu? Permintaan kamu sudah Ibu catat, jangan lagi memikirkan hal itu dulu. Pernikahan bukan hal sepele bukan?”
“Yang Fajar ingin tahu, apakah Ibu akan menepati janji Ibu. Itu saja.”
Bu Pranoto mengangguk, tapi Fajar menangkap nada keraguan di mata sang ibu. Ia memejamkan matanya lalu diam.
“Istirahatlah, agar kamu lekas sembuh,” bisik bu Pranoto sambil kembali mencium kening Fajar. Fajar bergeming.
Bu Pranoto keluar dari ruang rawat Fajar, diluar ia bertemu Mentari yang datang bersama Sarah.
“Ibu, bagaimana keadaan mas Fajar? Sudah bisa bicara banyak kan?”
Bu Pranoto menatap wajah Sarah, yang kemudian menundukkan wajahnya, lalu meraih tangan bu Pranoto dan diciumnya.
“Sudah selesai ujiannya, kalian jalan-jalan terus?” canda bu Pranoto.
“Tidak Bu, kami dari sekolahan, masih ada yang harus diurus, baru kemari. Mas Fajar lebih baik kan? Aku sama Sarah mau ketemu. Ibu sudah mau pulang?”
“Iya, pak Karimun dan istrinya sebentar lagi datang. Mereka baru makan di kantin, barangkali. Atau .. sepertinya tadi kakakmu pengin bubur dengan opor ayam."
"Wah.. enak tuh."
"Masuklah tapi jangan mengganggunya dulu. Biar dia tidur."
“Baiklah, Mentari masuk ya Bu..”
“Jangan ganggu kakakmu, sepertinya tadi dia tidur," kata Bu Pranoto mengulang lagi pesannya.yang kemudian berlalu.
Mentari menarik tangan Sarah, diajaknya memasuki ruang di mana Fajar dirawat.
“Mas Fajaaar …,” panggil Mentari pelan, seakan lupa pada pesan sang ibu agar jangan mengganggunya, Sarah mencubit lengannya, maksudnya untuk mengingatkan, tapi Fajar yang sebenarnya tidak tidur kemudian membuka matanya. Ada binar memancar dari matanya, ketika melihat Sarah ada bersama Mentari.
“Sarah ….”
“Kok Sarah saja yang disapa, sedangkan aku tidak?” cemberut Mentari.
Fajar tertawa.
“Mentari, adikku sayang ….,” katanya kemudian.
“Kalau sama Sarah, sayang tidak?” kata Mentari, seenaknya.
Fajar tersenyum malu. Ingin dia mengatakan sayang, tapi tersekat ditenggorokan. Ia tahu Sarah sangat polos dan dia belum pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.
“Dari mana kalian?” pertanyaan itu yang kemudian dilontarkan.
“Dari sekolah, masih banyak yang harus dilakukan.”
“Sarah mau lanjut kuliah?” kata Fajar.
“Ah, tidak. Mentari yang mau kuliah, aku tidak.”
“Nilai Sarah bagus Mas, harusnya kalau dia mau mengurus, bisa tuh dapat bea siswa.”
“Mengapa tidak, Sarah?”
“Aku harus bekerja. Kasihan Nenek, sudah tua, aku tak ingin Nenek masih terus bekerja. Aku kan masih muda.”
Keduanya terdiam. Mereka tahu apa alasan Sarah. Ada nenek yang harus dirawatnya, karena Sarah sangat menyayanginya.
Ketika mereka sedang berbincang, bu Karimun datang sambil membawa bubur yang tadi dipesan Fajar.
“Ada tamu rupanya," kata bu Karimun.
“Bu Karimun bawa apa?”
“Tadi mas Fajar minta dibelikan bubur, dengan kuah opor ayam.”
“Mana buburnya, biar aku yang suapin Bu. Oh ya kenalkan dulu, ini Sarah, teman sekolah aku. Sarah, ini bu Karimun, sebenarnya dia ….”
Mentari hampir kelepasan bicara dengan mengatakan bahwa bu Karimun adalah ibu kandung Fajar, tapi Sarah mencubit lengannya.
“Iya, aku tahu. Dia kan istri pak Karimun yang setiap hari nungguin aku di rumah sakit.”
Bu Karimun tersenyum. Ia tahu bahwa Fajar belum mengenal dirinya sebagai ibu kandung, tapi bu Karimun membiarkannya. Bagi bu Karimun, apalah arti sebuah pengakuan, kalau yang diinginkan sebenarnya adalah kehidupan yang penuh cinta kasih bagi anak-anaknya.
“Ini buburnya, sudah saya taruh di piring,” kata bu Karimun.
“Mau makan sekarang , Mas. Aku suapin ya?” kata Mentari.
“Nggak, biar aku makan sendiri.”
“Kamu kan belum boleh bangun.”
“Bagaimana kalau aku saja yang menyuapi?” kata Sarah polos.
Fajar mengangguk, tentu saja. Tanpa kata, itulah memang yang diinginkannya.
Mentari mundur, mengulurkan piring berisi bubur ke arah Sarah, yang tanpa sungkan segera menyuapinya.
“Kalau begini terus, mau rasanya aku sakit terus,” celetuk Fajar sambil tersenyum.
“Eh, nak Fajar tidak boleh ngomong begitu,” tegur bu Karimun.
“Tuh, ngomong yang baik-baik, ucapan itu doa lhoh,” sambung Mentari.
“Habis, kesenengan disuapin gadis cantik,” kata Fajar sambil memeletkan lidahnya.
“Hissh, makan jangan sambil ngomong,” kali ini Sarah yang menegur.
Diam-diam bu Karimun terus menatap Sarah. Jadi gadis itu yang disukai anaknya? Memang tidak aneh. Sarah kan cantik. Ia juga tampaknya cekatan karena bisa menyuapi Fajar tanpa canggung. Tapi walau mengatakan ‘iya’, tampaknya bu Pranoto tidak sepenuhnya bisa menerima. Apakah karena Sarah anak dari orang tak punya?
***
“Biar aku pulang sendiri saja Tari, kasihan kamu, bolak balik menjemput dan mengantarkan aku,” kata Sarah ketika mereka beranjak meninggalkan ruang rawat Fajar.
“Tidak apa-apa, aku kan juga tinggal pulang. Muter sedikit tidak apa-apa. Kalau aku nggak nganterin kamu, nanti aku dimarahi mas Fajar dong,” canda Mentari membuat Sarah terkejut.
“Apa maksudmu? Nggak nyambung ah, apa hubungannya dengan mas Fajar?”
Mentari hanya tertawa lucu, ia hanya menggoda Sarah, karena ia tahu kakaknya suka pada Sarah, hanya belum jelas karena belum pernah bicara serius.
Tiba-tiba Sarah melihat seseorang yang dikenalnya. Wanita cantik yang membencinya karena dirinya orang miskin. Bu Lurah. Walau sudah tahu bahwa bu Lurah juga dirawat karena kejadian kecelakaan itu, tapi Sarah tak ingin membezoeknya. Takutnya malah diusir dan masih ditambah kata-kata yang menyakitkan pula. Tapi ketika itu ia melihat bu Lurah berjalan sempoyongan, sendiri. Lalu tiba-tiba jatuh tertelungkup. Sarah memburunya, lalu menuntunnya.
“Ibu mau ke mana?”
“Mana ruang dokter Harun, dia adik aku, aku harus bicara sama dia.”
“Bukankah Ibu bisa memesan pada perawat jaga agar memanggilkannya?”
“Sudah, tapi dia belum datang juga.”
“Bu, ruangan dokter masuk ke sana, jauh dari sini, sedangkan Ibu tampaknya belum kuat benar. Saya antar dulu ke ruangan Ibu, nanti saya bilang ke perawatnya agar memanggil dokter Harun untuk Ibu, ya.”
“Aku ini tidak sabaran. Maksudku kalau dipanggil itu ya harus segera datang.”
“Barangkali dokter Harun masih ada pasien, atau bagaimana. Sabar ya Bu, mari saya antar ke ruangan Ibu dulu," kata Sarah..
Bu Lurah menurut.
“Tapi tolong panggil dia agar segera datang, aku tak tahan di sini sendirian. Anakku juga kurang perhatian.”
“Baiklah, akan segera saya panggilkan, pelan-pelan jalannya Bu, ke ruang rawat Ibu dulu ya.”
Sarah dengan sabar menuntunnya. Rupanya bu Lurah tidak memperhatikan siapa yang menolongnya. Padahal Sarah sudah berdebar, kalau sampai dia tahu, pasti bu Lurah akan menyemprotnya habis-habisan. Karena itu ia terus berusaha memalingkan wajahnya agar bu Lurah tak melihat wajahnya.
Sarah juga membantu bu Lurah untuk berbaring.
“Kaki Ibu sakit?”
“Paha, habis dioperasi, tulang retak. Sakit sekali.”
“Mengapa Ibu jalan-jalan?”
“Aku kan sudah mengatakan kalau ingin bertemu dokter Harun. Dia itu adikku,” katanya dengan mengulang keterangan tentang dokter Harun yang adalah adiknya.
Sarah diam saja. Ia kan sudah tahu kalau ibu galak dan sombong itu kakak dokter Harun.
“Sudah, segera panggil dokter Harun, kakiku sakit sekali.”
Sarah menutupkan selimut ke tubuh bu Lurah, dan saat itulah bu Lurah melihat wajahnya dengan jelas.
“Kamu?”
***
Besok lagi ya.