SAKITKU ADALAH CINTAKU 42
(Tien Kumalasari)
Zein heran, ada mobil yang menghadang di depannya, untunglah dia cekatan menginjak rem, kalau tidak, ia masti sudah menubruk mobil itu.
“Siapa sih itu? Apa maksudnya? Jangan-jangan perampok. Masa di siang bolong begini mau merampok?” kata dokter Tyas panik.
Zein turun dari mobil, bermaksud mendekati pengemudi mobil itu, tapi tiga orang turun dari mobil sana. Salah satunya berpakaian rapi, tapi yang dua berwajah garang seperti ingin menelan orang.
Sebelum Zein berkata sesuatu, dokter Tyas turun dari mobil. Lalu berbicara dengan laki-laki berpakaian rapi itu.
“Ada apa Mas? Apa maksudnya ini?”
”Aku yang seharusnya bertanya sama kamu. Apa maksudnya pergi berduaan dengan laki-laki ini. Siapa dia?” kata laki-laki berpakaian bersih yang menunjuk ke arah Zein dengan tatapan marah.
“Dia atasanku, kami mau_."
“Dia ini yang menyebabkan kamu ingin menggugat cerai?”
Zein terkejut. Laki-laki itu bekas suami dokter Tyas, atau masih suaminya? Soalnya dia mendengar bahwa Tyas menggugat cerai. Jadi mereka belum bercerai?
“Aku pergi jauh untuk bertugas, dan kamu bermain gila dengan laki-laki ini?” laki-laki itu menunjuk lagi ke arah Zein, membuat Zein marah sekali.
“Jangan bicara semaunya. Siapa bermain gila dengan istri Anda?”
“O, tidak ya? Berbulan-bulan aku ditugaskan di luar daerah, setiap bulan memberi nafkah dan memberikan apapun yang dia minta, tapi ketika aku kembali, ternyata dia sedang bermain gila dengan laki-laki lain.”
“Mas Rusdi! Jangan main tuduh semaunya. Dia atasanku.”
“Aku tidak bermain gila, kalau Anda tidak mencabut pernyataan Anda_."
“Kenapa kalau tidak? Aku sudah mendengar bahwa istriku berselingkuh dengan atasannya, dan sekarang aku memergokinya sendiri.”
Zein yang sangat marah segera mendekat dan mencengkeram baju laki-laki yang disebut mas Rusdi oleh dokter Tyas.
Tapi Rusdi segera mengibaskannya dan membuat Zein terbanting di jalan beraspal.
Dokter Tyas menjerit, ia berlari mendekati Zein yang kesulitan bangkit, tapi Rusdi menarik tangannya menjauh.
“Lepaskaaan.”
Rusdi memberi isyarat kepada dua orang temannya, lalu menarik dokter Tyas masuk ke dalam mobil. Dokter Tyas menjerit-jerit, tapi tak berdaya. Ia lebih menjerit lagi melihat dokter Zein dipukul oleh kedua laki-laki garang itu.
“Jangan lakukan, dia tak bersalah, tolong suruh mereka berhenti.”
“Diaaam!” hardik suaminya.
“Tolong Mas, bagaimana kalau dia mati?”
“Memangnya kenapa kalau dia mati? Biarlah dia mati karena telah mengganggu istriku, lalu istriku mengatakan bahwa dia akan menggugat cerai. Begitu kan?”
“Tolong Mas, suruh dia melepaskannya,” kata dokter Tyas sambil menangis dan meronta. Tapi dia tak berdaya. Dia tak bisa keluar dari mobil dan hanya bisa melihat dokter Zein akhirnya diam tak bergerak setelah dua laki-laki itu membuatnya babak belur.
“Ya Tuhan, bagaimana kalau dia mati? Aku laporkan kamu ke polisi.”
Rusdi membuka mobil dan membiarkan kedua temannya masuk ke dalam mobil, lalu membawa mobil itu menghilang dari sana, meninggalkan tubuh Zein terkapar di tepi jalan, benar-benar tak bergerak.
***
Indras dan kedua anaknya menunggu di sebuah perkampungan, sudah beberapa saat lamanya, rasa kesal memenuhi hati mereka masing-masing, karena Zein berjanji akan segera menyusul.
“Sudah dua jam lewat, papa sudah aku beri tahu lokasi kita di mana, mengapa belum menyusul juga?” keluh Santi.
“Pesan Mbak dibaca tidak?”
“Dibaca sih, tapi tidak dibalas. Berarti dia sudah mengerti.”
“Ayo kita langsung saja Sin, tidak usah menunggu papa kamu, paling dia tidak jadi ikut.”
“Jangan Ma, tadi sudah bilang mau menyusul. Kita tunggu sebentar lagi.”
Sinta mencoba menelpon sang ayah, tapi tidak diangkat, padahal tersambung.
“Di mana ya papa, mengapa tidak diangkat?”
“Aku sudah bilang, ayo kita tinggalkan saja, menunggu di penginapan lebih nyaman, di sini justru melelahkan,” kata Indras lagi.
“Gimana sih papa, ke mana dia sebenarnya?”
“Aku yakin dia tidak akan menyusul. Lebih baik kita abaikan dia, lalu kita pergi tanpa papa.”
“Yaaaaah, nggak enak dong Ma,” kata Santi.
“Papa aneh, mengapa tidak menepati janji? Katanya mau ikut?”
Mereka mengeluh tak henti-hentinya, sementara Indras sama sekali tak bersuara lagi, setelah mengusulkan agar Zein ditinggal saja. Indras sudah tahu, bahwa ada kepentingan yang ada sangkut pautnya dengan selingkuhan suaminya. Ia sudah merasa sejak Zein mengatakan bahwa akan menyusul istri dan anak-anaknya.
Tapi akhirnya Indras tak tahan lagi. Ia memaksa anak-anaknya agar segera meninggalkan saja papanya.
“Akan sampai kapan kita menunggu? Bukankah lebih baik menunggu di penginapan, kita bisa menunggu sambil beristirahat. Mengapa menunggu di jalanan begini?” kata Indras setengah memaksa.
“Baiklah, kita lanjut ya,” kata Santi yang memegang kemudi.
Ia segera menghidupkan mesin mobil, karena sesungguhnya mereka sudah lelah menunggu.
“Aku telpon sekali lagi ya,” kata Sinta setelah mobil berjalan.
Tapi betapa terkejutnya Sinta ketika ponsel itu diangkat.
“Papa?”
“Hallo, selamat siang. Saya sedang membawa ponsel bapak Zein Abadi.”
“Anda siapa? Mana papa saya?”
“Kami dari kepolisian. Ada yang menemukan bapak Zein sedang pingsan dan terluka di pinggir jalan.”
“Apa?? Papa kecelakaan?” Sinta berteriak dan Santi mengerem mobilnya tiba-tiba sehingga menimbulkan suara berderit.
“Sepertinya bapak Zein dianiaya, kami menemukan juga mobilnya, sekarang beliau sudah ada di rumah sakit. Saya catatkan nama rumah sakitnya.”
Sinta menangis meraung-raung sambil menceritakan apa yang dikatakan polisi itu kepadanya.
Indras merebut ponsel Sinta dengan tangan gemetar, tapi tak tahu harus melakukan apa.
***
Rusdi tidak membawa dokter Tyas pulang kerumah, tapi membawanya ke sebuah rumahnya yang lain di luar kota. Dokter Tyas terus menerus menangis, membayangkan apa yang terjadi pada dokter kesayangannya.
“Mengapa kamu menangis? Aku tidak menyakiti kamu bukan? Kamu yang justru menyakiti aku. Dasar perempuan murahan yang tidak setia,” hardik Rusdi.
“Mengapa kamu menyakiti dia? Dia tidak salah apa-apa.”
“Oh ya? Dia berani membuat kamu tergila-gila dan kamu mengatakan bahwa dia tidak salah apa-apa?”
“Dia punya keluarga, kami hanya berteman.”
“Bagus kalau punya keluarga, nanti aku cari keluarganya dan mengatakan apa yang telah diperbuat oleh dokter itu.”
“Mas, dia tidak melakukan apa-apa, sumpah!”
“Makan sumpahmu itu. Aku tidak akan percaya. Kamu pikir sebelum membuntuti kamu lalu memergoki kamu sedang berduaan, aku tidak mencari informasi terlebih dulu tentang hubungan kamu dengan dia?”
“Tapi kami_."
“Diaaam!”
“Mas, kamu keterlaluan. Aku sudah minta cerai dari kamu, jadi ceraikan saja aku.”
“Karena kamu ingin melanjutkan hubungan kamu dengan dia?”
“Dia punya istri Mas, jangan menuduhnya.”
“Kalau tahu dia punya istri, mengapa kamu selalu berduaan dengan dia? Di kantor, dan bahkan pernah jalan sama dia, dan kamu pernah mengundang dia ke rumah. Aku tahu semuanya.”
“Hanya datang, tidak melakukan apa-apa.”
“Diam dan jangan mengatakan apapun.”
“Ceraikan aku!”
“Tidak akan! Besok aku akan menulis surat pengunduran diri kamu dari rumah sakit di mana kamu bekerja.”
“Maaas, jangan!”
“Kamu tidak bisa menghentikan aku.”
Ternyata dokter Tyas memang berbohong. Dia mengatakan sudah bercerai, ternyata belum. Suaminya bertugas di kota lain, lalu dokter Tyas tergila-gila pada dokter Zein, walau dokter Zein menghadapinya dengan wajar. Tapi setiap permintaan dokter Tyas kepada Zein yang selalu dikabulkan, membuat dokter Tyas selalu berharap suatu ketika ia benar-benar bisa merebut hatinya. Sayang sekali sang suami mengetahui semuanya.
“Kamu akan tetap tinggal di sini, jangan mencoba kabur ketika aku tidak ada, karena akan ada yang terus mengawasi kamu,” ancam sang suami, membuat dokter Tyas merasa putus asa.
***
Besok lagi ya.