SAKITKU ADALAH CINTAKU 34
(Tien Kumalasari)
Indras masih memegangi dua kartu ATM dengan dua bank yang berbeda dengan perasaan heran.
“Mengapa kamu pandangi terus kartu itu? Kamu tidak percaya? Atau mengira kartu itu kosong?”
“Tidak. Ini benar?”
“Indras, sejak dulu kamu memang tidak percaya padaku ya?” suara itu agak meninggi, dan Indras khawatir akan menjadi kemarahan yang memuncak. Karenanya dia kemudian mencium kedua kartu itu sambil tersenyum.
“Terima kasih, Zein. Kamu ternyata baik sekali.”
Alangkah senangnya Zein mendapat pujian dari sang istri. Ia segera duduk disampingnya dan menghadiahinya dengan ciuman di kedua pipinya.
Indras meletakkan kartu itu di meja, dan Zein menegurnya.
“Simpan baik-baik, atau kamu akan mengambil uangnya sekarang?”
“Besok saja.”
“Sekalian gaji bibik, aku belum memberinya bulan ini.”
“Baik.”
“Tapi kamu simpan dulu kartunya, nanti kamu kelupaan.”
Indras mengangguk. Lalu mengambil lagi kartu di meja, dibawanya masuk ke kamarnya. Dalam melangkah Indras merasa bersyukur. Bukan karena ciuman itu, tapi ada perubahan signifikan dalam sikapnya selama dua hari ini. Bahkan malam ini lebih manis.
“Terima kasihku ya Allah, semoga menjadi baik dan semakin baik,” bisiknya lirih sambil memasukkan kedua kartu itu ke dompetnya.
Ketika ia keluar, Zein menegurnya.
“Lama sekali, aku kira kamu ketiduran.”
Indras tertawa. Tawa yang sangat lepas. Entah darimana datangnya kesadaran Zein itu sehingga mengerti bahwa dialah yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan rumah tangganya. Ia juga bersikap sangat manis. Ada apa ya.
“Aku harus menyimpannya rapi. Besok akan aku ambil sebagian uangnya. Tapi aku tidak tahu PIN nya lhoh. Baru sekali ini aku pegang ATM kamu.
“Yang satu ulang tahun aku, satunya ulang tahun kamu.”
“Yang mana yang ulang tahun aku, yang mana yang ulang tahun kamu?”
“Kamu coba saja sendiri, terkadang aku juga lupa.”
“Baiklah, terima kasih. Kamu ternyata pengertian dan penuh perhatian.”
Zein kembali mencium istrinya, kali ini di keningnya, sangat lama. Sejenak Indras terhanyut. Sudah lama Zein tidak melakukannya.
Tapi tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel Zein yang ada di kamar. Zein berdiri, dan kebahagian Indras runtuh seketika.
***
“Dokter kebanggaanku sedang apa?” pesan dari seberang.
“Nggak ngapa-ngapain … “
“Ada dokter Indras di samping Dokter?”
“Tidak kesayangan, memangnya ada apa?”
“Pengin ngobrol saja, habis saya kesepian, Dok. Sekali-sekali datanglah ke rumah.”
“Kapan-kapan saja.”
“Aku kesepian sekali Dok, bolehkah kita ngobrol lewat telpon, sayang?”
“Tidak. Jangan. Besok saja kita ngobrol di kantor. Ya.”
“Baiklah, selamat malam, dokter kebanggaanku, selamat tidur, jangan lupa mimpikan aku …”
Lali emotikon jantung berderet-deret, dan Zein mematikan ponselnya. Ketika kembali ke ruang tengah, Indras tak ada lagi di sana. Zein mencarinya, dan ternyata Indras ada di kamar Sinta, entah apa yang mereka bicarakan. Zein langsung memasuki kamarnya.
“Lagi ngapain?”
“Hanya ngobrol.” yang menjawab adalah Sinta.
“Boleh ikutan?”
“Nggak boleh, ini orolan sesama perempuan,” sergah Sinta sambil tersenyum.
“Lagi ngomongin aku kan?”
“Eh, enggak. Lagi ngomongin pacar,” canda Sinta.
“Kamu sudah punya pacar?”
“Boleh kan? Sinta sudah dewasa lhoh.”
“Hati-hati memilih pacar,” kata Zein yang kemudian keluar dari kamar.
“Tuh, dengar kata papa kamu, hati-hati memilih pacar. Jangan seperti mama,” kata Indras, sambil tersenyum, hambar. Baru saja senang atas kemesraan suami, tiba-tiba ada yang mengusiknya. Siapa yang tak sakit?
“Besok Sinta akan minta agar Mama menyeleksi pacar Sinta baik-baik. Yang ganteng tapi jangan yang suka selingkuh,” kata Sinta sambil memeluk mamanya. Ia tahu sang mama sedang suntuk, walau tak mengatakan apapun tentang perasaannya. Sinta berharap pelukan darinya akan mengurangi beban pikiran sang mama. Masih ada cinta di rumah ini bukan?
***
Zein yang beranjak ke teras terkejut, melihat kedatangan kedua mertuanya. Ia segera turun menyambut, dan mencium kedua tangan mereka.
Indras yang mendengar suara mobil bergegas ke depan, dan sangat gembira menerima kedatangan kedua orang tuanya.
Bersama Zein ia mempersilakan bapak dan ibunya masuk ke dalam.
“Bapak sama Ibu dari mana?” tanya Indras.
“Hanya jalan-jalan, dan ingin sekali datang kemari. Santi dan Sinta mana?”
“Santi tidak pulang kalau tidak liburan. Yang ada Sinta.
“Ini aku, Kakek, Nenek,” kata Sinta yang langsung menghambur memeluk kakek dan neneknya.
Mereka ngobrol dengan akrab, Zein duduk menemani dengan sikap sedikit kaku. Entah mengapa, sejak dulu ia tak beritu dekat dengan mertua. Walau begitu terkadang dia juga menimpali, kalau bisa nyambung dengan pembicaraan mereka.
Indras ke belakang, meminta bibik agar menyiapkan makan malam untuk ayah dan ibunya.
“Tidak usah repot-repot. Bapak dan ibumu ini hanya mampir karena kangen.”
“Sekali-sekali makan di sini. Masakan bibik masih seenak dulu lho Pak.”
“Baiklah, tapi nanti setelah makan aku mau bicara.”
Indras berdebar. Rupanya sang ayah benar-benar akan menepati janjinya.
Setelah makan malam, Sinta kembali ke kamarnya, sedangkan pak Narya kemudian duduk di dekat Zein.
“Zein, sebenarnya kedatangan aku dan ibumu kali ini, ada perlu sama kamu.”
Zein menatap istrinya. Rupanya Indras sudah mengatakan kepada ayahnya tentang apa yang diinginkannya. Ia hanya mengangguk.
“Aku tahu, barangkali masih ada luka di hati kamu waktu dulu, puluhan tahun yang lalu, karena ucapanku atau ibumu yang menyakiti dan susah bagi kamu untuk melupakannya. Untuk itu, walau sudah berlalu, aku datang menemui kamu untuk meminta maaf. Sungguh meminta maaf dari hati kami yang paling dalam.”
Zein tak mampu menjawabnya. Ia tak mengira mertuanya mau melakukannya.
“Untuk selanjutnya, aku titipkan Indras dan anak-anaknya kepadamu. Jagalah mereka, dan buat mereka bahagia.”
“Ya, baiklah, terima kasih Bapak masih mengingatnya.”
Hanya ucapan yang sekilas, dan itu sudah memenuhi apa yang pernah diutarakan Zein waktu itu.
“Bapak berharap kamu segera bisa melupakan masalah itu, dan atas permintaan maaf dari bapak ini, aku harap kamu segera bisa melupakannya.”
Zein menganggik, dan pak Narya serta istrinya segera berdiri, karena Zein tidak sempat mengucapkan apa-apa, atau juga tidak mampu, karena terkejut. Mereka berlalu setelah Zein dan Indras mencium tangan mereka.
***
“Kamu mengatakannya pada mereka?” tanya Zein ketika malam sebelum tidur.
“Bukankah kamu menginginkannya?”
“Aku memang menginginkannya. Aku tak bisa melupakan sakit hati itu.”
“Aku harap kamu segera bisa melupakannya. Mereka sudah menebusnya, bukan hanya dengan perbuatan, tapi juga dengan perkataan.”
Zein hanya mengangguk.
“Zein, bolehkah aku mengatakan sesuatu? Tepatnya, ingin meminta sesuatu.”
“Baiklah, kamu mau apa?”
“Aku mau kamu tidak lagi berhubungan dengan perempuan itu.”
Senyap seketika. Indras mengucapkannya dengan hati-hati, karena sudah menduga apa reaksi suaminya kalau mendengar perkataannya. Dan Zein diam seribu bahasa. Hanya menatap lagit-langit kamar, entah apa yang dipikirkannya.
“Apakah permintaanku berlebihan?”
“Tidak.”
“Kamu keberatan memenuhinya?”
“Bukan karena tidak mau. Aku tidak suka kamu mengatur hidupku.”
Indras terhenyak. Jadi tak akan ada yang berubah? Bukankah kedatangan ayahnya dengan meminta maaf kepadanya maka ia akan berubah? Apakah ia tak bisa melupakan dokter cantik itu dan akan tetap berhubungan? Ada darah menetes dari lukanya.
***
Besok lagi ya.