NAMAKU TETAP SENJA 02
(Tien Kumalasari)
Wajah Senja pucat pasi melihat beras dalam karung tumpah berceceran.
Untunglah jalanan tidak begitu ramai. Ia segera meminggirkan sepedanya, kemudian kembali ke jalan, memunguti beras segenggam demi segenggam dengan air mata bercucuran.
“Bagaimana ini? Kalau tidak mendapat uang pasti simbok sedih. Salahku, mengapa tidak kokoh mengikatnya tadi, sehingga begitu sepeda ambruk maka karung itu terlepas dari talinya.
“Berasnya jadi kotor begini?”
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Ia akan melintas, tapi terhalang oleh kegiatannya memunguti beras.
Senja tak peduli, biar sebutir ia harus memungutnya. Tiba-tiba seseorang turun dari mobil, seorang laki-laki muda yang berpakaian perlente, berwajah tampan dan gagah.
“Apa yang kamu lakukan? Ini di tengah jalan,” tegurnya.
“Saya tahu ini di tengah jalan, tapi beras saya tumpah, saya harus mengumpulkannya lagi.”
“Kamu habis beli beras?”
“Saya mau mengantar beras ini kepada seorang pelanggan. Kalau saya tak dapat uang, simbok pasti sedih,” katanya tanpa menatap siapa yang menyapanya.
Masih banyak beras yang harus dipungutnya. Biarlah kotor, ia akan membawanya pulang dan membersihkannya.
“Kamu penjual beras?”
“Saya membantu simbok mengantarkan pesanan beras.”
“Simbok itu siapa?”
“Simbok itu ya biyung saya. Orang kaya nggak tahu simbok,” omelnya pelan.
Tangannya tak berhenti memungut, dari segenggam demi segenggam, menjadi sejumput demi sejumput. Tangannya lelah tapi ia tidak merasakannya.
“Berapa harga beras sekarung itu?”
“Ini ada catatannya,” katanya sambil memberikan kertas yang tadinya tertempel di karung itu. Senja tetap tak menatap siapa orangnya.
“Bapak mau pesan beras? Katakan saja alamatnya, nanti saya antar, tapi saya harus membereskan ini dulu.”
“Minggirlah, banyak kendaraan akan lewat.”
Senja mengangkat wajahnya, melihat beberapa kendaraan menyimpang, menghindari menabrak dirinya. Mereka melihat apa yang dia kerjakan, tapi tak seorangpun berhenti membantunya. Bukan itu yang dipikirkan Senja, masih ada beras yang berserak, setengah kilo pasti lebih, ia masih harus memungutnya agar takaran tak berkurang.
“Maaf, saya harus menyelesaikan ini dulu, beras yang berceceran masih ada.”
“Ini, aku bayar beras kamu.”
Senja kembali mengangkat wajahnya, menatap tangan yang mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Barulah ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang berdiri di depannya.
“Apa Tuan? Ini apa?”
“Apa kamu tidak tahu? Ini uang, ambillah.”
“Untuk apa?”
“Agar kamu segera minggir.”
“Maksudnya apa?”
“Biarkan beras yang tumpah, aku membayar berasmu, tinggalkan sisanya yang sudah kotor itu.”
Senja terpana.
“Minggirlah. Terima dulu uang ini.”
Senja menatap beras yang masih terserak, dan karung yang berdiri di antaranya.
Tuan muda ganteng itu mendekati karung, lalu mengangkatnya ke tepi jalan, kemudian mengikat karung itu dengan tali yang sebagian masih tergantung di sana. Mengikatnya erat agar tak kembali tumpah, dan Senja melongo ketika si tuan muda menaikkan karung itu ke atas boncengan sepedanya, dan mengikatnya supaya kokoh dan tidak mudah jatuh.
Mata Senja berkejap-kejap tak percaya.
“Bawa pulang berasmu, berikan uang itu pada simbokmu.”
“Tt..tapi, berarti beras ini milik Tuan. Dan beratnya pasti berkurang, lalu berasnya juga kotor, saya pulang dulu untuk memilah-milahnya. Agar bersih saat Tuan terima. Berikan alamat Tuan. Harganya harus dikurangi karena …. eh, ini kebanyakan, saya tak punya kembaliannya.”
“Ambil saja semuanya, dan bawa pulang berasnya.”
“Tapi ….”
“Bisa dijual lagi kalau sudah bersih kan?”
“Tuan ….”
Tuan muda itu membalikkan tubuhnya menuju kembali ke arah mobilnya, Senja menatapnya sambil melongo, bingung harus bagaimana. Tapi kemudian ia bergegas mengejar.
“Tuan, terima kasih banyak, saya akan mengantarkan beras yang bersih untuk Tuan.”
“Untuk aku? Aku tidak makan beras.”
“Maksud Tuan apa? Berasnya bisa diberikan pembantu, agar di masak, untuk makan istri dan anak-anak Tuan.”
Tuan muda itu tertawa pelan, ia suka cara Senja bicara. Begitu polos, seperti anak kecil tak mengenal dosa. Ia belum tahu siapa dirinya.
“Namamu siapa?”
“Nama saya Senja,” jawabnya lugas.
“Sudah, bawa kembali pulang berasnya, dan berikan uangnya untuk simbok,” katanya sambil membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.
Senja menatapnya tak berkedip. Mata bundarnya berbinar. Ingin rasanya menanyakan nama si baik hati itu, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Mobil itu bergerak maju, tuan muda membuka jendela mobilnya dan berteriak.
“Hati-hati, Senja.”
Senja hanya menatapnya, semuanya seperti mimpi.
“Apakah dia malaikat yang ingin membantu agar simbok tidak merugi?” gumamnya sambil menatap lembaran-lembaran uang yang diberikan oleh si tuan muda.
“Tapi, malaikat ada yang punya mobil ya? Malaikatnya ganteng sekali."
Senja masih terpaku di pinggir jalan. Beberapa saat lamanya ia tersadar, lalu berjalan ke arah sepedanya, sambil menghitung uang yang diberikan tuan muda itu.
“Sisanya banyak sekali, ada dua lembar ratusan ribu dan beberapa rupiah. Bagaimana ini, tapi dia menyuruh aku mengambilnya saja. Berarti sisanya diberikan padaku?”
Senja mamasukkan uangnya ke dalam saku bajunya, kemudian mengambil sepedanya, mengayuhnya pulang. Pesanan belum terkirim, ia harus membersihkan berasnya dulu dan menimbangnya lagi dan menambah berasnya agar bobotnya tepat.
***
Ketika sampai di rumah, ia melihat rumahnya masih sepi, sang simbok belum pulang. Rimba menyambutnya dan heran melihat karung masih ada di boncengan sepeda kakaknya.
“Kok kembali? Kesasar ya? Tidak tahu alamatnya?”
“Tidak, tolong bantu menurunkannya.”
Rimba melakukan apa yang disuruh kakaknya, mengangkat beras dari boncengan. Rimba laki-laki kuat, tadipun ia mengangkatnya sendiri ketika Senja baru mau berangkat. Hanya saja mengikatnya kurang kuat sehingga karungnya terjatuh dan isinya tumpah.
“Bagaimana ini? Mengapa diturunkan lagi?”
“Tolong ambilkan tampah,” perintah sang kakak.
“Tampah?”
“Nyiru, di dapur, dua ya,” katanya.
Senja harus membersihkan berasnya dulu sebelum nanti mengirimnya lagi.
“Ini tampahnya, untuk apa.?”
“Taruh saja di situ.”
Senja membuka ikatan karung lalu menuang berasnya, hanya dibagian atasnya saja., lalu memilihinya sampai bersih. Lalu menambah lagi berasnya sebagai ganti yang tumpah tadi. Hanya kira-kira, tapi Senja berharap takarannya tidak kurang.
Agak lama, lalu ia meminta tolong kepada adiknya agar membantunya lagi menaikkan ke boncengan.
“Ikatannya yang kenceng, sini aku bantu."
Tapi sebelum berangkat, mbok Mangun sudah datang.
“Kamu belum berangkat mengirimkan berasnya?”
“Tadi sudah Mbok, tapi ada halangan. Ini mau Senja kirim lagi. Oh ya, ini uangnya, Simbok bawa dulu saja,” kata Senja sambil menyerahkan semua uangnya kepada simboknya, kemudian mencium tangannya dan bergegas pergi. Simbok menatapnya dengan linglung.
“Ini uang apa?” tanyanya kepada Rimba.
“Nggak tahu Mbok, mbak Senja belum cerita apa-apa. Tadi pulang, beras di dalam karung agak kotor, dibersihkan dulu, lalu dibawanya berangkat lagi.”
“Bagaimana berasnya bisa kotor?”
“Tadi tuh sudah berangkat, sehabis makan, tapi kembali pulang untuk membersihkan beras.”
“Berarti tadi berasnya tumpah?”
“Nggak tahu Mbok, Rimba juga bingung.”
“Lalu ini uang apa? Banyak sekali.”
Rimba menggeleng-geleng. Ia juga tak mengerti.
“Kita tunggu saja sampai mbak Senja pulang, nanti kan dia cerita.”
Simbok mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, meletakkan bakul yang sudah kosong di dapur, lalu membersihkan diri di kamar mandi.
Rimba menyiapkan minum untuk simboknya. Air putih. Simbok lebih suka minum air putih.
***
Arka memasuki kantornya, duduk di depan meja kerjanya. Setumpuk berkas menunggu diperiksa dan ditanda tanganinya. Arka adalah putera mahkota kerajaan bisnis ayahnya, Prabu Wiguna. Begitu selesai kuliah ia tak diijinkan mengambil S2 nya, diperintahkan untuk langsung memegang perusahaan di bawah kendali sang ayah.
Tapi ia merasa heran, konsentrasinya buyar, ketika terngiang suara lembut gadis hitam manis yang berbicara polos tapi menawan. Hanya gadis sederhana, kalau tak boleh dibilang miskin. ‘Nama saya Senja’. Nama yang unik.
Tiba-tiba pintu diketuk, sekretarisnya masuk setelah dipersilakan.
“Tuan, ada tamu ingin bertemu tuan.”
“Siapa? Kalau masalah perusahaan, suruh Senja menemuinya.”
“Senja siapa, Tuan?” tanya sekretaris itu heran.
“Apa?” Arka kaget sendiri. Kok bisa Senja?
“Maksud saya Sanjaya," katanya meralat sambil memarahi dirinya sendiri dalam hati.
***
Besok pagi ya.