Tuesday, June 16, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 25

 NAMAKU TETAP SENJA  25

(Tien Kumalasari)

 

Senja tersenyum ramah. Tentu terasa sungkan ketika mengirim beras sambil meminta uangnya, dengan kendaraan atau angkutan yang disediakan dari pembeli, lalu pulangnya diantar?

“Mengapa kamu senyum-senyum begitu?”

“Mengapa saya mengantarkan beras, mengambil uangnya lalu Non harus mengantar saya pulang?”

“Tidak, saya akan pulang sendiri," kata Senja lagi

“Rumahku jauh dari sini, Senja.”

“Tidak apa-apa. Simbok saya yang tidak lagi muda sudah biasa berjalan jauh, mengapa saya keberatan? Tidak apa-apa Non, besok saya kesana bersama beras pesanan Non, pulangnya nanti gampang.”

“Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu. Jam berapa berasnya bisa saya ambil?”

“Agak sore ya Non, atau paling cepat ya jam dua atau tiga, biasanya jam segitu kalau simbok memesan dagangannya.”

“Baiklah.”

Rosa membalikkan tubuhnya menuju mobil, tanpa pamitan. Tapi bagi Senja itu bukan masalah. Orang kaya tak perlu menghormati orang miskin bukan?

Senja masuk ke dalam, dilihatnya Rimba sedang menyapu rumah.

“Sudah pulang dia?”

“Sudah. Simbok pasti senang, dia memesan beras lagi. Kali ini banyak, tidak cuma sepuluh kilo, tapi satu kwintal. Alhamdulillah, rejeki buat kita.”

“Aku tidak suka perempuan kaya itu.”

“Hei, kenapa? Kenal juga tidak, mengapa tidak suka?”

“Aku memang nggak ingin kenal. Dia itu sombong, mentang-mentang kaya. Duduk di bangku kita saja tidak mau.”

“Ya tidak apa-apa, Mba. Terserah dia saja. Kita harus mengakui kalau memang tidak punya tempat duduk yang  bagus dan bersih.”

“Mas Arka saja mau duduk di situ. Bahkan duduk di tikar bersama kita waktu kita makan bersama, dia tidak keberatan.”

“Orang itu kan tidak sama Mba, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sama. Sedangkan bunga-bunga saja, sama-sama cantik tapi aromanya berbeda. Ada yang wangi, ada yang tidak berbau, ada juga yang baunya tidak enak. Demikian juga manusia. Kita harus memakluminya. Tidak apa-apa orang merendahkan kemiskinan kita, asalkan jangan menginjak harga diri kita.”

“Hm, mbak Senja kalau sudah bicara begitu selalu mengingatkan aku pada guru agama di sekolahku.”

“Mbak juga belajar dari guru Mba. Tidak tiba-tiba bisa ngomong. Dan itu benar kan?”

“Iya, aku mengerti.”

“Sedang apa kalian?”

“Yaaaa, Simbok datang,” sorak Rimba.

“Sore sekali pulangnya Mbok.”

“Tadi mampir belanja untuk masak besok pagi.”

“Tadi ada yang pesan beras Mbok.”

“Oh ya? Syukurlah. Siapa?”

“Itu, nona cantik kaya yang dulu pesan sepuluh kilo beras. Tadi dia pesan satu kwintal.”

“Wah, alhamdulillah dapat rejeki. Sudah dibayar?”

“Itulah Mbok, belum dibayar, besok aku disuruh mengirim sambil mengambil uangnya.”

“O, begitu?”

“Apa Simbok punya uang cukup untuk membeli sekwintal?”

“Kelihatannya ada, cukup kok. Gampang. Besok simbok pesan, sorenya pasti sudah dikirim. Lalu dengan apa ya kita mengirim sekwintal? Sedikit-sedikit seperti yang pernah kita lakukan?”

“Dia mau menyuruh orang untuk mengambilnya.”

“Oh, syukurlah. Jadi kita tidak repot mengirimkan. Ya sudah, simbok mau mandi dulu, gerah.”

“Senja buatkan kopi Mbok?”

“Tidak usah, air putih hangat saja. Pagi sore kopi, boros.”

“Ya sudah, air putih kan lebih sehat.”

***

Seharian itu pak Wiguna tidak ke kantor. Dia hanya termenung di rumah, seperti ada yang sedang dipikirkannya. Pertemuannya dengan pak Daryono tidak membuatnya puas. Pak Daryono ternyata tidak kecewa seandainya Arka tidak menjadi menantunya, sementara dirinya sangat menggebu-gebu, dan berusaha terus menjalin hubungan yang lebih dari sebuah persahabatan. Tak seorangpyn tahu, sebenarnya pak Wiguna menginginkan yang lain. Tidak hanya berbesan, tapi buntut dari perbesanan itu yang diimpikannya. Pak Daryono memiliki perusahaan yang lebih besar, dan Rosa adalah putri tunggalnya. Bukankah akan ada keuntungan berlipat kalau Rosa menjadi menantunya? Perusahaannya bisa lebih diperbesar, kekayaannya akan lebih berlimpah. Tapi ketika ternyata pak Daryono tidak memaksa atas keinginannya berbesan dengannya, apa yang bisa dia lakukan?

Yang terjadi malah rasa marah dan kecewa kepada Arka.

“Dasar anak bodoh. Tidak tahu diuntung. Tidak mengerti orang tua,” omelnya ketika duduk sendirian.

Tapi ternyata bu Wiguna sedang mendekatinya, kemudian duduk di depannya sambil meletakkan secangkir kopi.

“Ada apa? Seharian uring-uringan terus,” tanya bu Wiguna yang tidak bertanya apapun sejak suaminya pulang dari rumah pak Daryono.

“Kalau keinginan tidak kesampaian, siapa orangnya yang tidak kesal?”

“Keinginan apa sih Pak?”

“Ibu tidak bertanya, apa kata pak Daryono ketika aku datang ke sana semalam.”

“Menurut aku, Bapak hanya mengantarkan Rosa. Apa yang perlu ditanyakan?”

“Mengantarkan apa? Rosa terlanjur marah pada Arka, dia pulang naik taksi.”

”Tapi Bapak tetap menemui pak Daryono kan?”

“Tentu aku harus menemuinya, dan meminta maaf karena kelakuan Arka.”

“Apa pak Daryono marah karena anaknya disakiti hatinya?”

“Aku mengira akan marah, ternyata tidak.”

“Oh, syukurlah kalau begitu. Tidak ada masalah kan, tapi kenapa Bapak malah uring-uringan?”

”Pak Daryono tidak begitu mengharapkan Arka.”

“Maksudnya?”

“Kalau Arka tidak mau, ya sudah. Dia tidak ingin memaksa.”

“Bagus sekali kan, berarti tidak ada masalah, mengapa Bapak tadi masih memarah-marahi Arka? Malah barusan masih mengomeli Arka juga.”

“Aku itu mikirnya jauh ke depan Bu. Pak Daryono itu pengusaha besar, kekayaannya jangan ditanya. Kalau kita bisa berbesan dengan dia, bukankah itu suatu keuntungan bagi kita? Usaha kita bisa diperluas, kita akan lebih banyak mendapat keuntungan. Tapi Arka tidak berpikir sampai ke situ.”

“Jadi Bapak begitu bersemangat menjodohkan mereka, karena Bapak menginginkan hartanya?”

“Kamu jangan berpikir terlalu sederhana bu. Aku ini pengusaha, mengembangkan usaha lebih luas lebih besar itu selalu menjadi keinginan setiap pengusaha.”

“Memang benar, tapi bisa menjadi besar dengan berusaha seharusnya, bukan dengan menjual anak.”

“Mengapa Ibu berkata begitu?” suara pak Wiguna agak meninggi, dan itu menyurutkan keinginan bu Wiguna untuk terus bicara.

“Aku berbicara sebagai manusia, bukan sebagai pengusaha,” kata bu Wiguna sambil berdiri.

“Minumlah kopinya, keburu dingin,” katanya lagi sambil beranjak ke belakang.

“Bu, mengapa Ibu tidak menemani di sini?”

“Kepalaku agak pusing,” katanya tanpa menghentikan langkahnya.

Pak Wiguna menjadi semakin kesal, karena dia sendirian. Sang istri tidak berpihak padanya, dan jelas-jelas menghindari perbincangan tentang perjodohan itu.

“Keterlaluan.”

Tiba-tiba pak Wiguna teringat perkataan Rosa tentang perhatian Arka yang besar kepada gadis pengirim beras.

“Apakah Arka jatuh cinta kepada gadis kumuh itu? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak sudi punya menantu buluk miskin seperti dia. Memalukan. Aku harus menghalangi keinginan bodoh itu.”

***

Besok adalah hari Minggu. Arka ingin mengajak Rimba, terutama Senja, berjalan-jalan. Arka yakin, keluarga sederhana itu tak pernah memikirkan untuk bersantai, bersenang-senang, melihat hal-hal baru yang belum pernah mereka lihat. Karena itu sepulang kantor dia langsung menuju ke rumah mbok Mangun untuk mengencani anak-anaknya. Kalau perlu mbok Mangun juga akan diajaknya serta. Mengapa tidak? Membuat orang lain senang, bukankah akan membuat hati kita senang juga?

Ketika ia hampir sampai di rumahnya, ia melihat seseorang, duduk di jok depan di samping sopir sebuah colt angkutan barang. Seseorang itu adalah Senja. Arka heran, mau pergi ke mana Senja, dan siapa yang mengajaknya?

Arka memutar mobilnya dan mengikuti colt terbuka itu, lalu melihat sebuah karung yang diyakininya berisi beras.

“Ternyata Senja mau mengirim beras? Mengirim ke mana dia?” gumam Arka yang kemudian mengikutinya.

***

Besok lagi ya.

 

Monday, June 15, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 24

 NAMAKU TETAP SENJA  24

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap mobil sang ayah yang menderu keluar dari halaman, lalu ia menatap ibundanya yang duduk terpekur di ruang tengah. Kelihatan sekali kalau ia gelisah. Perlahan Arka mendekat, dan duduk rapat di sampingnya.

“Ibu, apakah tidak boleh Arka menentukan jalan hidup Arka sendiri?”

Bu Wiguna menatap anaknya lembut. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.

“Bu, bukankah sebuah pernikahan diharapkan bisa berlangsung sepanjang umur kita? Kalau begitu bukankah lebih baik kita memilih sesuatu yang tidak akan mengecewakan di kemudian hari bukan?”

Bu Wiguna meremas tangan Arka yang terletak di pangkuannya. Ia tampak lebih tua dari usianya yang baru menginjak limapuluhan tahun, karena penyakit darah tinggi yang dideritanya.

“Apakah menurut Ibu, Rosa adalah gadis yang baik? Biarpun dia pintar dan cantik, tapi apakah dia akan bisa menjadi istri yang sempurna untuk Arka? Banyak kelakuannya yang tercela, yang tentu saja tidak Arka sukai. Kalau Arka mengatakannya kepada bapak, pasti bapak akan marah sekali, karena menurutnya Rosa adalah pilihan yang tidak bisa diganggu gugat.”

“Kamu wajib memilih apa yang menjadi keinginan kamu dalam hidup ini. Tapi ibu tidak bisa membantumu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana ayahmu, sedangkan kalau ibu mendengar ayahmu berteriak saja seringkali ibu menjadi sesak napas.”

“Ibu tidak usah membela Arka. Ibu cukup merestui Arka agar Arka menemukan kebahagiaan dalam hidup.”

“Itu sudah pasti, Nak. Bahagia seorang anak adalah harapan semua orang tua di dunia ini.”

“Terima kasih, Ibu.”

Arka memeluk sang ibu dengan kasih sayang.

“Ibu harus sehat dan bahagia, karena hal itu juga  kebahagiaan Arka.”

“Menurutmu, apa yang akan dilakukan ayahmu tadi?”

“Menyusul Rosa. Bapak tidak ingin Rosa terluka.”

“Ayahmu akan menemui keluarga pak Daryono dan memohon-mohon maaf karena Rosa telah dibuat menangis oleh kamu.”

"Semoga pak Daryono bisa mengerti," kata Arka.

“Aku kira pak Daryono bisa lebih sabar dari ayahmu. Semoga semuanya baik-baik saja. Ayahmu hanya ingat tentang budi baik pak Daryono semasa perusahaan ayahmu nyaris bangkrut. Lalu ia ingin membuat pak Daryono senang.”

***

Rosa masih berjalan sambil menunggu taksi ketika pak Wiguna bisa mengejarnya. Tapi ia menolak ketika pak Wiguna memintanya masuk ke dalam mobilnya.

“Rosa, jangan begitu. Ayo om antarkan kamu pulang,” kata pak Wiguna setelah turun dari mobil dan mengikuti langkahnya.

“Tidak usah Om, Rosa akan naik taksi saja.”

“Mengapa begitu?”

“Kalau sampai Om mengantarkan saya, papa pasti justru akan memarahi Rosa. Jadi biarkan Rosa pulang sendiri.”

“Mengapa papa kamu justru memarahi kamu? Nanti om yang akan bicara sama papa kamu, percayalah.”

“Jangan Om, biar saya jalan sendiri. Saya juga sudah memanggil taksi,” kata Rosa sambil terus melangkah.

“Om pulang saja, itu taksi saya sudah datang,” katanya sambil melambaikan tangannya ke arah taksi yang memang sudah dipanggilnya.

Pak Wiguna menghela napas panjang. Ia kembali ke mobilnya, tapi tidak kembali pulang. Rasa khawatir kalau pak Daryono kecewa karena Arka membuat Rosa menangis karena terluka hatinya, membuatnya ingin bicara kepada pak Daryono dan memohon maaf. Ia tak tahu bagaimana sebenarnya perasaan pak Daryono tentang hubungan Rosa dan Arka.

***

Dan itu benar. Ketika pak Wiguna dengan panjang lebar meminta maaf, dan menutupi kesalahan Arka dengan mengatakan bahwa bertengkar pada sebuah pasangan itu hal biasa, pak Daryono justru tampak tidak tahu apa-apa, karena Rosa ternyata tidak mengadu.

“Saya harap  pak Daryono memaklumi. Kita pernah muda, kita juga pernah bersitegang dengan pasangan. Itu hal yang lumrah bukan? Tapi saya tetap minta maaf, karena Arka kurang sabar dalam menjaga Rosa.”

Tak disangka pak Daryono justru tertawa mendengar ucapan pak Wiguna.

“Sebenarnya saya tidak mengerti apa yang mas Wiguna katakan. Saya juga tidak tahu bahwa mereka bertengkar, karena begitu datang Rosa sudah masuk ke dalam kamarnya.”

“Rosa tidak mengatakan apa-apa?”

“Tidak, saya heran kenapa mas Wiguna sampai datang dan meminta maaf segala. Saya tidak mengerti apa yang mas Wiguna katakan.”

“Rosa tidak mengatakan apa-apa kepada Bapak?”

“Tidak. Dia datang langsung masuk ke kamarnya.”

“Rosa gadis yang baik. Itu sebabnya saya ingin sekali menjadikannya menantu. Ia tidak suka mengeluh atau mengadu, walau dia disakiti sampai menangis.”

“Mas... apa Mas yakin mereka akan menjadi pasangan yang berbahagia?”

“Tentu saja. Saat ini mereka sedang dalam taraf penyesuaian, tapi dengan berjalannya waktu, mereka akan bisa saling memahami hati masing-masing, dan itu akan menjadi bekal yang matang dalam kehidupannya berumah tangga kelak.”

“Bukan main, kalau itu akan bisa terjadi. Tapi menurut saya, dugaan mas Wiguna itu salah.”

“Mengapa Bapak berkata begitu?”

“Rasa suka akan tampak dari raut wajahnya, dan saya tidak melihat adanya kecocokan diantara mereka.”

Pak Wiguna terkejut.

“Jadi Bapak tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakan ingin punya menantu seperti Arka?”

Pak Daryono tertawa.

“Keinginan itu kan bisa terjadi pada siapa saja. Tapi kan tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan.”

“Kalau memang pak Daryono bersungguh-sungguh, saya akan membuat keinginan Bapak menjadi terlaksana. Saya yakin Arka akan bisa menjadi pasangan yang serasi untuk Rosa."

“Mas, jaman sudah berubah. Dahulu kala, sebuah pasangan bisa menjadi jodoh karena keinginan orang tua. Seorang anak akan patuh dan tak akan membantah apa yang menjadi pilihan orang tuanya. Tapi sekarang tidak bisa begitu. Anak-anak muda tak mau dikendalikan dalam memilih jodoh, dan orang tua tak akan bisa memaksa. Karena itu biarkan saja Arka memilih gadis yang disukainya, jangan dipaksa menuruti kehendak orang tua, karena nanti rumah tangga mereka tidak akan bisa lestari dan bahagia.”

Pak Wiguna tertegun.

“Apakah pak Daryono marah kepada Arka sehingga mengatakan hal yang seperti itu?”

“Apa? Saya marah?” pak Daryono tertawa keras.

“Saya justru menolak perjodohan yang dipaksakan,” sambungnya, yang kemudian membuat hati pak Wiguna membeku. 

Ada keinginan tersembunyi dari perjodohan itu seandainya terjadi. Bukankah Rosa anak tunggal dari keluarga kaya raya? Dan rasa balas budi itu hanyalah salah satu alasannya.

***

Malam itu Rosa bersikap biasa saja. Dia juga tak mengadukan apapun. Ia sudah tahu bahwa orang tuanya tidak meminta agar dia menjadi istri Arka. Mereka sudah tahu kalau Arka tidak menyukainya, dan mereka tak akan memaksa, jadi mereka justru meminta agar Rosa melupakannya. Kedatangan pak Wiguna malam itu sama sekali tak menjadi pembicaraan ketika Rosa makan bersama kedua orang tuanya. Semua dianggapnya angin lalu, karena tak ada keinginan dari mereka untuk menjadikan Arka sebagai menantu.

Tapi ternyata Rosa tak mau berhenti. Arka harus didapatkannya, atau tak ada gadis lain yang bisa merebutnya. Hatinya sakit ketika menyadari bahwa Arka menyukai gadis kampung miskin yang menurutnya bau dan telapak tangannya kasar seperti parutan kelapa.

Sore hari itu diam-diam Rosa pergi ke rumah mbok Mangun. Ia senang yang menemui adalah Senja, yang meladeninya dengan ramah. Rosa akan memesan beras. Kali itu tidak tanggung-tanggung. Satu kwintal beras kwalitas bagus untuk keluarganya. Tentu saja Senja sangat senang.

“Hari ini Simbok belum pulang. Tapi pesanan non Rosa akan saya sampaikan. Barangkali besok agak sore beras itu sudah siap, Non.”

“Bagus sekali Senja, besok aku akan suruhan orang untuk mengambilnya kemari.”

“Baik Non, terima kasih banyak.”

“Tapi maaf Senja, aku tidak membawa uang tunai, bagaimana kalau bayarnya nanti setelah kamu mengirim berasnya?”

“Jadi saya harus datang ke rumah Non, untuk mengambil uangnya?”

“Nanti kalau berasnya datang, kamu ikut bersama orang suruhan aku itu ke rumah. Aku tidak mau menitipkan pembayarannya melalui orang lain. Harus kamu yang menerimanya. Nanti setelah aku membayarnya, aku antarkan kamu pulang.”

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 004

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  004

(Tien Kumalasari)

 

Menur menatap anaknya tak berkedip. Ada rasa sakit yang lebih dari sakit. Dia adalah ibu kandungnya, harus mengaku menjadi pembantu? Dilihatnya Rahman menyendok makanannya, seakan tak pedulu akan rasa sakit yang disebabkan oleh ucapannya.

“Mengapa Ibu menatapku seperti itu?”

“Ibu tidak percaya kamu bisa mengatakannya, Rahman. Kamu anakku. Aku lahirkan kamu dengan taruhan nyawa, aku rawat, aku cukupi semua kebutuhan kamu, aku sekolahkan kamu agar kamu punya masa depan yang lebih baik. Bahkan biar peluhku berujud darah, aku tak peduli, semua demi kamu, buah hatiku, yang aku cintai dengan sepenuh nyawa, lalu kamu minta agar aku mengatakan bahwa aku adalah pembantu kamu?” bisik Menur yang sayangnya tak mampu diucapkannya melalui mulutnya yang terasa kelu.

“Bu, aku harap Ibu mengerti. Penampilan ibu sama sekali buruk, kotor, bahkan mungkin juga bau. Rahman malu bu. Rahman tak mau teman-teman mengejek dan mentertawakan.”

“Kamu malu punya ibu seperti aku?” tanyanya dengan suara bergetar

“Maaf Bu, sesungguhnya iya.” Tanpa beban ketika Rahman menjawabnya. Ia asyik menikmati telur kesukaannya, dan hampir menghabiskan semua makanan yang disediakan untuknya.

Menur mengangguk lemah, kemudian meninggalkan anaknya yang masih makan dengan lahap.

Menur mengusap air matanya yang tak kuasa ditahannya. Meleleh di sepanjang pipinya. Kemudian dia pergi ke halaman belakang untuk mengangkat cucian baju yang pagi tadi baru dijemurnya. Sesungguhnya ia sedang menyembunyikan tangisnya. Baiklah, besok pagi dia akan ke sekolah Rahman sebagai pembantu. Apa saja dia mampu melakukannya. Mengapa tidak? Lalu sekali lagi air mata diusapnya, kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Rahman tak ada lagi di ruang makan yang sempit itu, barangkali sudah masuk ke kamarnya, tidur.

Menur sedang membersihkan piring kotor bekas makan anaknya, ketika seorang tetangganya melongok ke dapur.

“Bu Menur, bisa minta tolong menyetrika baju-baju di rumah?”

“Oh, bisa Bu, saya ke sana sekarang.”

Menur tersenyum, ini adalah rejeki. Sering kali begini, sepulang memulung mendapat pekerjaan dari tetangga di sekelilingnya.

***

Baroto sedang duduk di ruang tengah, ketika istrinya keluar dengan pakaian yang sudah rapi.

“Mas, aku mau ke rumah Nina, dia ulang tahun hari ini. Apa Mas mau ikut?”

“Tidak, aku di rumah saja. Aku capek.”

“Benar, nggak mau ikut?”

“Pergilah, aku di rumah saja.”

Nyonya Baroto melenggang ke arah mobilnya, dan tak lama kemudian mobil itu melaju keluar dari halaman.

Di dapur, Ana sedang meminta makanan yang ditaruhnya di dalam kotak plastik. Ia akan menunggu bibi Menur, yang kemarin tak datang seperti janjinya.

“Untuk apa semua ini Non, dia tidak harus melewati tempat ini kan? Pemulung itu bisa pergi ke mana-mana. Yang penting dia bisa menemukan barang rosokan yang bisa dijualnya,” kata Rumi.

“Dia sudah janjiiii!” Ana berteriak.

Rumi cemberut, walau begitu dia menyiapkan makanan seperti yang diminta Ana.

Lalu Ana membawanya ke depan rumah. Ia tak melihat ayahnya, yang tadi duduk di ruang tengah.

Lalu dia keluar dari gerbang yang terbuka.

“Non, tunggu Non,” Rumi berlari mengejarnya.

Ana terus melangkah. Ia berhenti di depan gerbang, melihat ke sana kemari. Tak tampak bayangan Bibi Menur, tapi ia melihat bayangan ayahnya berjalan ke arah taman.

“Non, pengais sampah itu tidak harus selalu lewat tempat ini,” Rumi mengulang-ulang kata-katanya. Tapi kemudian Ana berpikir untuk mencari ke arah lain. Ia melihat sang ayah, ia akan mengikutinya. Siapa tahu bertemu bibi Menur di tempat lain.

“Non, mau ke mana?” Rumi mengikutinya dengan kesal.

“Pulanglah, aku mau ikut papa,” katanya sambil menunjuk ke arah sang ayah yang berjalan agak jauh.

Rumi tak berani meninggalkan Ana begitu saja, ia tetap mengikutinya, walau dari jarak yang agak jauh.

Langkah Baroto begitu cepat, ia seperti sedang mengejar sesuatu. Ketika berbelok di tikungan, ia melihat seseorang.

“Tunggu!”

Seorang wanita yang sedang menggendong karung plastik meneoleh, tapi kemudian pergi menjauh dengan cepat.

“Tunggu! Kamu Menur kan?

Menur mendengar suara itu, lalu ia mempercepat langkahnya. Ia tahu siapa dia, tapi ia tak ingin bertemu dengannya. Dia dan laki-laki itu adalam bumi dan langit. Ia sangat mengerti bahwa harapan yang pernah ada telah terkubur bersama hari-hari yang menggilasnya. Memporak pandakan segala impian tentang cinta yang ternyata tak pernah berbalas.

Terbayang kembali ketika ia memapah seorang penunggang kuda yang terjatuh di tepi jalan, membawanya pulang, lalu merawat kakinya yang patah dengan segala ramuan yang dibuat oleh orang tuanya. Berhari-hari bersama, laki-laki rupawan itu berhasil membuat hatinya tertawan. Tapi dia selalu bisa menjaga martabatnya sebagai wanita. Laki-laki kesasar itu baru berhasil mendekatinya ketika kemudian atas permintaan Menur dia menikahinya.

Menur sadar, laki-laki bernama Baroto itu pastilah orang kaya. Ia suka menunggang kuda, dan pemilik kuda pastilah bukan orang biasa. Tapi bukan karena kekayaan itu yang membiat Menur terlena. Ia seorang gadis remaja yang baru sekali itu jatuh cinta. Ia hanya tahu bahwa cinta itu indah dan menghanyutkan. Tapi tak sampai sebulan kemudian Baroto meninggalkannya. Lalu membuatnya terpontang panting mencarinya, bahkan sampai meninggalkan kampung halamannya.

“Menur!!” teriakan itu diiringi oleh langkah yang semakin mendekat. Dengan karung di pundaknya, ia tak bisa berlari sangat cepat.

“Berhenti, aku tahu kamu adalah Menur.”

Dan tiba-tiba Baroto sudah ada di depannya, menghalangi jalannya.

“Tuan, tolong jangan menghalangi langkah saya.”

“Menur, bertahun-tahun aku mencarimu.”

“Tuan, saya tidak pernah mengenal Tuan. Tolong menyingkirlah.”

“Papa … “ tiba-tiba Ana sudah menyusulnya, berdiri di dekat Menur, menatap sang ayah dengan marah.

“Papa jangan memarahi bibi Menur. Bukan dia yang salah. Ana yang suka,” kata Ana yang mengira sang ayah sedang memarahi Menur karena dianggap mengganggunya.

“Bibi, apakah papaku memarahi Bibi?”

“Tidak, jangan khawatir.”

“Mengapa kemarin Bibi tidak datang? Hari ini juga Bibi tidak menemui Ana?”

“Maaf, Non, bibi harus ke tempat lain.”

“Tapi Bibi sudah berjanji. Lihat, aku bawakan bibi makan dan minum,” katanya sambil memberikan kotak makanan dan sebotol minuman.

“Jangan begini Non, nanti Non dimarahi orang tua Non.”

“Jangan panggil aku begitu. Namaku Ana, biasanya juga begitu kan?”

“Tapi … nanti papamu marah. Aku hanya tukang sampah.”

“Tidak, papa tidak boleh marah. Panggil aku Ana.”

“Baiklah.”

“Terimalah ini, jangan menolak. Ya.”

Menur menerima pemberian itu dengan tersenyum manis. Baroto menatapnya. Wajah kotor itu tidak menutupi wajah manisnya. Tapi Menur sama sekali tidak memandang ke arahnya.

“Bibi mau melanjutkan perjalanan,” kata Menur kemudian.

“Makan dan minumlah itu.”

“Ya, nanti bibi makan. Terima kasih banyak.”

“Jangan pergi dulu. Peluk aku.”

Menur terkejut. Ia menyadari penampilannya yang dekil dan pasti juga menjijikkan. Gadis kecil itu sudah mendekat ke arahnya.

Menur menatap Baroto yang masih terpaku, tak tahu harus mengatakan apa. Ia belum selesai berbincang dengan Menur, lalu Ana mengganggunya.

“Bibi, peluk aku,” ulangnya.

Menur menoleh ke arah Baroto. Apakah ayah yang tampak gagah dan berwibawa itu rela anak gadisnya memeluk tukang sampah seperti dirinya.

“Bibi, peluk aku,” dan kali ini Ana sudah lebih dulu memeluknya. Gemetar tangan Menur ketika membalas pelukan itu, sambil melirik ke arah Baroto yang hanya menatapnya.

“Sudah ya, bibi mau melanjutkan perjalanan. Bibi harus mencari uang.”

“Papa, apakah papa punya uang?” tanya Ana tiba-tiba kepada ayahnya.

Baroto kebingungan, ia meraba saku celananya.

“Berikan uang untuk bibi Menur ya Pa.”

Menur terkejut, ketika keduanya berbincang ia kemudian melangkah pergi dengan cepat. Mana mungkin dia mau menerima uang pemberian itu.

“Bibii! Jangan pergi.”

Baroto terpana. Ia bingung harus melakukan apa.

“Papa, aku mau bibi Menur menjadi pengasuhku,” katanya merengek.

Baroto menatap kepergian Menur. Permintaan Ana kemudian membuatnya berpikiran lain.

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

Saturday, June 13, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 23

 NAMAKU TETAP SENJA  23

(Tien Kumalasari)

 

Di sepanjang perjalanan, Arka tak banyak bicara. Dia hanya menjawab kalau Rosa bertanya.

“Ka, sebenarnya teman kamu yang mana yang kamu katakan sebagai pedagang beras?”

“Mengapa kamu tanyakan itu?”

“Ketika aku bertanya kepada gadis itu, dia bilang saudaranya hanya satu, itupun masih kecil. Mana yang sebenarnya teman kamu?”

“Aku tanya kamu sekarang, mengapa kamu ingin tahu tentang hal itu?”

“Apa tidak boleh aku ingin tahu? Ini kan pertanyaan ringan? Yang kamu anggap sebagai teman itu gadis bernama Senja itu?”

“Apakah teman harus seumuran?”

“Memang tidak.”

“Ya sudah.”

“Jadi yang kamu anggap teman itu dia? Gadis itu?”

“Kalau ya, kenapa?”

“Tidak apa-apa, kan hanya bertanya. Kalau dia temanmu, berarti juga temanku kan?”

Arka tak menjawab, ia tak tahu ke mana arah tujuan perkataan Rosa itu. Ia juga tak ingin tahu.

“Ka, apakah Senja itu istimewa buat kamu?”

“Apa?”

“Senja itu kamu anggap istimewa?”

“Pertanyaan apa itu?”

“Agak aneh juga buat aku, dia itu hanya seorang pedagang beras yang miskin, tapi kamu begitu perhatian padanya.”

“Jangan bilang dia miskin. Miskin harta bisa jadi dia mulia. Yang hina adalah kalau miskin nuraninya.”

”Apa maksudmu?” tanya Rosa.

“Masa kamu tidak tahu maksudku? Jangan lagi mengatai dia miskin. Sudah dua kali ini aku mendengarnya. Aku tidak suka. Dia gadis yang baik.”

Lama-lama Rosa kesal dan marah juga pada Arka, yang dianggapnya terlalu membela Senja.

"Sebenarnya apa arti gadis itu bagi kamu Ka? Kamu sama aku keliatan sekali tidak suka, bahkan terkesan menjauhi, sedangkan sama dia kamu begitu dekat?”

Arka menatap Rosa yang wajahnya menjadi gelap.

“Apa hebatnya dia Ka? Gadis itu bau, lugu, dan kamu tahu Ka, ketika bersalaman telapak tangannya kasar seperti parutan kelapa,” tandas Rosa.

Arka naik pitam.

“Diam Rosa. Kalau kamu tidak suka dia, tidak usah kenal dia, dan jangan pernah lagi menyebut namanya apalagi dengan  merendahkan dia. Bagiku dia gadis terbaik yang pernah aku temui.”

“Kamu diguna-guna Ka, itu pasti. Perasaan kamu ini tidak wajar. Tak seorangpun laki-laki suka pada gadis seperti itu, sama sekali tidak menarik. Lihat saja penampilannya yang kampungan … yang...”

“Diam!!”

Tiba-tiba Arka menghentikan mobilnya dengan mengerem tiba-tiba, sehingga Rosa hampir menubruk dashboard mobil.

“Arka!” Rosa memekik keras. Napasnya terengah-engah.

“Turun kamu!”

“Apa?”

“Turun..!”

“Kamu menyuruh aku turun di sini? Kamu tidak mau mengantar aku pulang?”

“Kurang jelas? Aku menyuruh kamu turun, jadi turunlah.”

“Arka, kamu tega?”

“Seperti rasa tega kamu dengan merendahkan sesama mahluk yang tidak punya dosa apa-apa terhadap kamu.”

Rosa mulai menangis.

“Kamu benar-benar tega Ka?”

“Apa aku harus berteriak supaya kamu mendengarnya? Aku bilang sekali lagi, turun kamu..!”

Rosa menangis semakin keras, tapi kemudian dia turun dari mobil.

Arka menjalankan mobilnya kembali, memacunya dengan cepat, meninggalkan Rosa yang menangis dengan dipenuhi kemarahan yang memuncak di kepalanya.

Lalu ia memanggil taksi.

***

Rosa turun dari taksi, bukan di rumahnya sendiri tapi di rumah keluarga Wiguna. Pak Wiguna yang semula begitu gembira melihat Rosa, tiba-tiba terkejut melihat Rosa berurai air mata, lalu begitu datang segera ambruk dipangkuannya.

“Hei, ada apa ini? Rosa? Apa yang terjadi? Arka belum lama masuk ke rumah, tapi sudah langsung pergi ke kamarnya. Apa aku panggil dulu dia?”

Rosa masih tetap menangis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pak Wiguna akan memanggil Arka.

“Kamu ada apa Rosa? Tadi juga kamu naik taksi, mobilmu ke mana? Lalu apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis sampai seperti ini?”

“Arka Om, Rosa diturunkannya dijalan,” katanya sambil menangis.

“Apa? Kamu tadinya bersama Arka? Lalu kamu diturunkan di jalan? Ada apa? Kalian bertengkar?”

Lalu dengan terisak-isak Rosa menceritakan ketika ban mobilnya bocor, lalu menumpang mobil Arka yang kebetulan lewat. Ia bercerita dengan bersimpuh di lantai, cerita itu membuat pak Wiguna marah. Ia berteriak memanggil Arka, tapi yang muncul adalah bu Wiguna. Ia terkejut melihat Rosa bersimpuh di lantai sambil menangis.

“Ada apa ini?” tanya bu Wiguna sambil menarik tangan Rosa, dimintanya agar berdiri, lalu mendudukkannya di kursi.

“Aku memanggil Arka, mana dia?” sentak pak Wiguna.

“Dia tidur, tadi mengatakan kalau lelah sekali dan tak ingin diganggu.”

“Tadi Rosa menumpang di mobilnya, tapi tiba-tiba diturunkannya di jalan, apa itu pantas? Apa itu perbuatan seorang laki-laki sejati?” kata pak Wiguna hampir berteriak.

“Nanti dulu, kalaupun Arka melakukannya, pasti ada sebabnya bukan? Tak mungkin kalau tidak ada apa-apa lalu dia menurunkan orang yang menumpang di mobilnya.”

“Arka membela seorang penjual beras. Hanya gadis miskin penjual beras, dibelanya, sampai Rosa diturunkannya di jalan.”

“Mengapa ada bela membela? Apa yang terjadi sebenarnya? Rosa pasti mengatakan sesuatu yang membuat Arka marah.”

“Ibu itu bagaimana, bukannya membela Rosa malah membela penjual beras itu. Aku sudah pernah melihat anak itu. Begitu lancang memang. Bertemu aku juga tidak menaruh hormat.”

“Bertemu Bapak di mana?”

“Dia mengirim beras ke kantor. Arka juga yang menyuruh.”

“Nanti dulu, masalah Rosa ini jangan ditelan begitu saja. Arka tidak mungkin melakukannya tanpa alasan.”

“Mengapa kamu membela Arka Bu, jelas dia itu selalu bersikap menjengkelkan.”

“Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya bilang, Arka melakukannya pasti dengan sebuah alasan. Tidak mungkin dia melakukannya begitu saja.”

“Sebenarnya saya hanya menegur dia, mengapa begitu dekat dengan gadis penjual beras itu. Mengantar pesanan beras ke rumah saya, dan itu karena saya ikut kasihan pada keluarga miskin itu, juga diantar Arka. Saya hanya bertanya seberapa kedekatan dia dengan keluarga miskin itu, tapi dia marah, saya disuruh turun di jalan.” 

Lalu Rosa menangis lagi, membuat pak Wiguna bertambah marah.

“Dengar itu Bu, apa kurang jelas apa yang dikatakan Rosa?”

“Masa hanya karena itu?” bu Wiguna tetap ragu-ragu.

“Arka!!” pak Wiguna berteriak semakin keras.

Bu Wiguna mengalah, ia masuk dan menuju ke kamar Arka. Ia mengetuknya perlahan. Sekarang ia tahu, mengapa begitu datang Arka berpesan agar jangan diganggu. Pasti ia tahu kalau Rosa bakal mengadu kepada orang tuanya, dan Arka tak ingin mendengarnya. Tapi sekarang sang ayah sedang berteriak. Bu Wiguna memaksanya keluar.

“Arka, ibu tahu kamu tidak tidur. Keluar sebentar Nak, agar permasalahan segera selesai. Ibu pusing mendengarnya.”

Mendengar perkataan sang ibu, Arka keluar.

“Ka, katakan yang sebenarnya apa yang ada di dalam hatimu agar semuanya selesai. Kasihanilah ibumu ini. Rasanya tak tahan mendengar ayahmu berteriak.”

Arka mengangguk. Ia keluar setelah menutup pintu kamarnya.

“Ini dia anaknya. Kamu tahu apa yang membuat Rosa menangis?” hardik pak Wiguna.

Arka menatap Rosa yang menundukkan wajahnya sambil mengusap air matanya. Rasa kesal memuncak.

“Katakan mengapa kamu menurunkan Rosa di tengah jalan. Bukannya mengantarkannya sampai ke rumah. Itu bukan perbuatan seorang laki-laki. Kamu tahu tidak?”

“Arka tidak suka dia menghina orang dengan sebutan miskin dan buruk di segala hal yang sebenarnya tidak pantas.”

"Dan yang kamu bela itu adalah gadis miskin penjual beras itu?” sentak sang ayah.

“Arka tidak suka dia dikatai miskin karena keluarga mereka itu kaya raya. Kaya dalam budi pekerti dan tata krama.”

“O, begitu? Menurut bapak, perkataan kamu membuat Rosa dikalahkan, dan kamu tahu bahwa Rosa adalah calon istri kamu?”

“Arka tidak akan menjadikannya istri.”

“Apa maksudmu? Kamu berani menentang orang tuamu?” teriak pak Wiguna.

Sementara Rosa tiba-tiba berlari keluar sambil menangis lagi.

“Lihat itu, dia pasti mengadu kepada orang tuanya,” teriak pak Wiguna sambil mengambil mobilnya dan berusaha mengejar.

Arka terpaku di tempatnya. Barangkali menurutnya adalah sekalian masalahnya diselesaikan.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, June 12, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 22

 NAMAKU TETAP SENJA  22

(Tien Kumalasari)

 

Rosa masih menunggu di dalam mobilnya. Biasanya Arka sudah pulang, tapi ini belum keluar juga. Barangkali karena ada gembel bau itu tadi. Sebel banget, katanya sebentar, mengapa lama?

Berkali-kali Rosa melihat ke arah jam tangannya, sudah satu jam, apa yang mereka bicarakan? Tentang pembelian beras, apa Arka belum membayar sehingga harus menunggu selama itu? Karena kesal, Rosa ingin menyusulnya, entah nanti dengan alasan apa. Tapi kemudian dilihatnya Arka keluar bersama gadis itu, lalu menyeberang jalan, memasuki sebuah rumah makan. Rosa terbelalak.

“Mengapa Mas Arka mengajak aku ke rumah makan? Nanti simbok menunggu aku,” keluh Senja yang dipaksa Arka mengikutinya.

“Bukankah kamu pulang sekolah langsung kemari? Berarti kamu belum makan, jadi ayo makan dulu di sini, daripada nanti pingsan di jalan,” kata Arka sambil mencarikan tempat duduk bagi Senja. Mau tak mau Senja menurut.

“Mau makan apa?”

“Terserah mas Arka saja,” kata Senja.

“Minum es jeruk ya? Makan apa?”

“Oseng kates sama ikan asin goreng, ada nggak?”

Arka tertawa.

“Senja, di rumah makan tidak ada oseng kates. Tuh, baca saja daftar menunya.”

“Makanya terserah mas Arka saja. Aku bingung.”

“Nasi gudeg ampela ati ya?”

“Terserah.”

Arka memesan makanan, Senja masih melanjutkan perbincangan tentang sepeda baru itu, dan orang yang membayar hutang simbok ke pak RT.

“Pemberian Mas itu sudah kelewatan. Kita belum lama kenal, saudara juga tidak, mengapa Mas memberi saya sepeda? Dan simbok ... ?”

“Lhah, kok masih diulang lagi sih? Kan di kantor tadi kita sudah membicarakannya? Karena kamu baik, karena simbok pejuang yang tangguh, maka aku membantunya. Barangkali kalau aku jadi simbok, tidak akan kuat menanggung biaya hidup dan sekolah dua orang anak.”

“Sepeda itu mahal,  hutang simbok juga lumayan banyak.”

“Tidak apa-apa. Kalau kamu keberatan, kelak kalau kamu sudah kaya raya, jadi orang, kamu bisa mengembalikannya. Tanpa bunga,” canda Arka yang mengaku bahwa yang membayar hutang simbok memang dirinya, dengan menyuruh salah seorang anak buahnya.

Senja tersenyum. Ketika pesanan sudah datang, mereka makan dan minum dengan lahap, terutama Senja, karena memang dia benar-benar lapar.

“Tadi di luar itu ada yang menunggu mas Arka lho.”

“Siapa?”

“Aduh, tadi mobilnya ada di sana. Kok sekarang sudah tidak ada,” kata Senja sambil melongok ke arah luar.

“Siapa? Dari mana kamu tahu kalau dia menunggu aku?”

“Itu lho Mas, yang pesan beras sama aku sepuluh kilo, lalu Mas ikut mengantarkan ke rumahnya.”

“Rosa?”

“Naah, nona Rosa. Kok sekarang sudah pergi.”

“Biarkan saja.”

“Dia pacar mas Arka ya?”

“Kamu bernah bertanya bukan? Dan jawabku ... bukan. Lupa ya?”

“Kok sampai menunggu mas keluar dari kantor. Jangan-jangan mau diajak jalan-jalan.”

Arka tertawa.

“Tidak. Sekarang lanjutkan makanmu. Aku mau pesan yang akan dibawa pulang untuk Simbok dan Rimba.”

“Nggak usah Mas.”

“Sudah, diam. Jangan protes,” kata Arka sambil melambai ke arah pelayan rumah makan dan memesan beberapa makanan.

“Banyak banget,” gumam Senja sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

“Dibilang jangan protes. Bawel!”

“Aku mau ambil sepedaku dulu.”

“Jangan, kamu bareng aku saja.”

“Tidak, lha sepedaku bagaimana?”

“Nanti biar diantar orang ke rumah kamu.”

“Nggak mau. Nanti seperti kemarin, sepedanya ganti yang lebih baru lagi.”

Arka terbahak. Senja terkadang lucu. Tapi dia senang.

Tak urung Arka membiarkan Senja pulang mengendarai sepeda barunya, dan dia mengikutinya dari belakang.

“Orang itu nekat banget, bagaimana mungkin mengikuti sepeda berjalan padahal itu mobil?” gumam Senja ketika dia menoleh ke belakang dan mobil Arka ada di belakangnya.

***

“Kakakmu belum pulang?” tanya mbok Mangun ketika sore itu sampai di rumah.

“Belum, aku juga menunggu. Tapi karena lapar aku sudah makan sedikit.”

Simbok tertawa.

“Mengapa sedikit? Makan saja sampai kenyang.”

“Kasihan mbak Senja. Nanti biar Rimba makan lagi saja.”

“Dasar kamu itu. Tapi sebenarnya tadi kakakmu tidak bilang kalau ada tambahan.”

“Kan mbak Senja bilang mau langsung ke kantor mas Arka?”

“O iya, tapi kok sampai sore begini belum pulang ya.”

“Ngobrol dulu, lama pastinya.”

“Ya sudah, simbok ganti baju dulu, sambil menunggu kakakmu, nanti kamu makan lagi.”

Rimba mengangguk, dan baru saja dia sampai di depan, sepeda Senja sudah memasuki halaman.

“Simbok sudah pulang?” itu yang ditanyakan Senja dan Rimba begitu pulang sekolah.

“Sudah, belum lama. Kok sampai sore?”

“Iya, omong-omong sama mas Arka. Kamu sudah makan?”

“Sudah, sedikit? Nanti aku makan lagi setelah mbak Senja datang. Simbok sedang ganti baju.”

“Kok  seperti ada mobil mas Arka melintas di depan situ?” lanjut Rimba heran.

Senja tertawa.

“Orang aneh, dia mengikuti aku dengan mobil, mulai dari kantornya?”

“Haa? Mobil mengikuti sepeda?”

“Nekat sekali dia. Tadinya aku mau diantar mobilnya, sepeda akan diantarkan ke rumah.”

“Nanti sepedanya ganti baru lagi?” canda Rimba.

“Aku juga berpikir begitu tadi.”

Senja tersenyum. Ia memberikan bungkusan makanan yang diberi Arka. Rimba mengendus-endus dengan hidungnya.

“Apa ini? Baunya sedap sekali.”

“Bawa ke belakang, buat makan kamu dan Simbok.”

“Mbak Senja nggak makan?”

“Aku sudah kenyang. Nanti aku temani saja makannya.”

***

Mbok Mangun kembali menangis ketika Senja mengatakan bahwa memang benar yang membayar hutang Simbok adalah Arka.

“Ya ampun, banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk kita,” kata Simbok sambil menghapus air matanya.

“Tadinya mas Arka tidak mengaku, tapi aku mendesaknya terus. Rupanya mas Arka juga menangkap kata-kata simbok ketika keceplosan bilang ‘cicilan’ ke pak RT.”

“Allah Maha Pengasih. Akhirnya bebanku berkurang, semoga bisa menabung untuk kelanjutan sekolah kalian nanti.”

“Mbok, aku nanti setelah lulus mau mencari pekerjaan saja, biar bisa membantu membiayai sekolah Rimba,” kata Senja.

“Apa kuliah biayanya mahal?”

“Sangat mahal. Aku perempuan, tidak usah terlalu berpikir tentang kuliah. Biar Rimba saja yang kuliah.”

“Ya sudah, masih bisa kita pikirkan sambil jalan.”

“Besok kalau uangku banyak, aku juga ingin mengembalikan apa yang sudah mas Arka berikan. Ketika aku teriak-teriak tadi, mas Arka bilang, kalau aku keberatan, kelak aku bisa menggantinya kalau sudah banyak uang. Tanpa bunga, kata mas Arka.”

Simbok tersenyum.

“Semoga bisa ya Nduk, berhutang itu kan tidak enak.”

“Aamiin.”

"Sekarang simbok mau mandi dulu. Tadi buru-buru, cuci kaki dan tangan, soalnya adikmu juga sudah keburu lapar."

“Udara dingin Mbok. Pakai air hangat?”

“Tidak ah, udara panas begini, pakai air panas segala.”

***

Arka senang sekali melihat Senja menaiki sepedanya dengan kencang. Tentu saja, sepeda baru itu sangat ringan. Senja tidak akan capek bersepeda dari kantor sampai ke rumahnya. Apalagi kalau hanya ke sekolah.

Tapi ketika ia menuju pulang, agak jauh dari rumah mbok Mangun, ia melihat sebuah mobil berhenti. Arka mengenalinya sebagai mobil Rosa.

Arka ingin melewatinya, tapi Rosa turun dari mobil dan menghadang laju mobilnya. Jadi terpaksa ia berhenti.

“Apa-apaan kamu Ros?”

“Tolong Ka, ban mobilku bocor, aku tidak bisa jalan dong.”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Cuma jalan-jalan. Untunglah ketemu kamu.”

“Bilang saja kamu mengikuti aku,” sungut Arka.

“Tidak, aku hanya mau ketemu teman, masa aku mengikuti kamu?”

“Tadi kamu di depan kantor aku kan? Ngapain?”

“Tadinya mau mengajak kamu, tapi nggak jadi. Kamu akrab sekali dengan tukang beras itu?”

“Memangnya kenapa?”

“Ka, sudahlah, antar aku pulang.”

“Mobilmu?”

“Aku sudah memanggil bengkel langganan, dia akan mengurusnya,” kata Rosa yang sudah siap membuka pintu mobil Arka di samping kemudi.

Arka membukanya dengan wajah masam.

***

Besok lagi ya.

Thursday, June 11, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 21

 NAMAKU TETAP SENJA  21

(Tien Kumalasari)

 

Senja kebingungan. Ia menuntun simboknya ke arah rumah, mendudukkannya di bangku. Senja mengelus punggungnya lembut, sementara Rimba duduk di sampingnya sambil memegangi lengannya. Keduanya menatap simbok dengan rasa khawatir.

“Ada apa Mbok? Apa yang dilakukan pak RT pada simbok?”

Air mata mbok Mangun semakin mengalir deras. Ia merangkul kedua anaknya dan membiarkan air matanya meleleh membasahi pipi, lalu menetes ke pangkuannya.

“Mbok, katakan. Kalau pak RT melakukan hal yang tidak pantas, Senja akan melaporkannya kepada polisi."

“Apa kamu tahu, sebenarnya simbok punya hutang pada pak RT?” Rimba menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia memang tidak tahu. Tapi Senja mengangguk.

“Maaf Mbok, sesungguhnya Senja sudah tahu.”

“Kamu sudah tahu?”

“Beberapa kali Simbok keceplosan bicara tentang akan mencicil ke rumah pak RT, Senja jadi curiga. Lalu ada lagi, ketika pak RT mencari Simbok ke rumah, pak RT mengatakan berapa banyak hutangnya Simbok.”

“Mengapa kamu tidak mengatakannya pada simbok?”

“Senja takut Simbok jadi sedih karena hal yang dirahasiakan Simbok Senja ketahui. Karena itu Senja pura-pura tidak tahu.”

"Benar  Nduk, simbok punya hutang pada pak RT, beberapa tahun yang lalu.”

“Untuk bayar sekolah Senja dan Rimba?”

“Benar, kecuali itu simbok butuh modal untuk berjualan. Maksud simbok, kalau dagangan laku, simbok bisa mencicil hutang simbok. Tapi bertahun-tahun berjalan, hutang simbok berjalan lambat, karena pak RT mengadakan bunga yang sangat tinggi.” 

Simbok mengusap air matanya.

“Dia memang rentenir kejam Mbok, sudah terkenal di kampung ini. Lalu mengapa Simbok menangis setelah pulang dari rumah rentenir itu?”

“Simbok diancam? Rumah kita diminta untuk bayar hutang?” sela Rimba.

“Ketika simbok ke sana mau mencicil …. “ simbok menelan ludah, menahan tangis yang semula sudah mereda.

“Dia melakukan apa? Benar, minta rumah kita?”

“Tidak Nduk, hutang simbok sudah lunas.”

Senja dan Rimba terkejut.

“Sudah lunas?” katanya hampir bersamaan.

“Bagaimana bisa begitu? Benar, Simbok menukarnya dengan rumah ini?” Senja masih merasa khawatir.

“Tidak. Seseorang telah melunasi hutang simbok,” katanya bergetar.

“Apa?” Senja dan Rimba berteriak bersama-sama.

“Aku tidak mengerti, apa maksud Simbok?”

“Ketika aku ke rumah pak RT untuk mencicil, pak RT mengatakan bahwa tadi pagi ada yang telah melunasi semua hutang simbok.”

“Siapa?”

“Katanya orangnya setengah tua. Tiba-tiba menanyakan hutang mbok Mangun berapa, lalu dia membayar semuanya. Simbok gembira, bersyukur sekaligus terharu atas kebaikan orang itu,” Simbok kembali menangis.

“Aneh. Laki-laki setengah tua … kita tidak boleh merasa senang dulu. Siapa tahu dia itu rentenir lain yang lebih kejam yang akan memeras uang Simbok sampai Simbok habis-habisan.”

Mbok Mangun mendadak berhenti menangis. Ia mengusap air matanya dengan ujung bajunya.

“Benarkah begitu?”

“Simbok tidak menanyakan, dia itu siapa, rumahnya mana?”

“Kata pak RT, dia mengaku kerabatnya simbok yang rumahnya jauh.”

“Simbok punya kerabat jauh?”

“Kalau benar dia kerabat simbok, mengapa tidak singgah dulu kemari, dan dari mana dia tahu kalau simbok punya hutang pada rentenir itu?”

Semuanya serba membingungkan.

“Ya sudah, Simbok istirahat saja dulu, masalah itu jangan dipikirkan lagi. Nanti kalau ada orang lain menagih hutang ke Simbok, baru kita menemukan jawabannya, bahwa dia itu rentenir yang lain.”

“Iya Mbok, Simbok harus senang hutangnya lunas,” kata Rimba enteng.

“Senang sementara waktu Le, entah nanti apa yang terjadi. Mudah-mudahan tidak ada lagi orang yang mau mencelakakan simbok.”

“Aamiin.”

“Simbok dapat kejutan hutangnya lunas. Mbak Senja dapat kejutan sepeda baru lho Mbok,” tiba-tiba celetuk Rimba sambil mendekatkan sepeda baru itu ke hadapan Simbok.

“Apa? Sepeda dari mana ini?” pekik simbok.

“Kalau ini jelas Mbok, mas Arka yang memberi,” kata Rimba dengan wajah berseri.

“Mas Arka? Bukankah kamu menunggu sepeda yang bannya bocor yang katanya mau dintar kemari?”

“Iya, ternyata mas Arka membeli sepeda baru dan dikirimkannya kemari.”

“Ya ampun, tuan muda itu mengapa selalu baik kepada kita ya?” gumam Simbok sambil mengamati sepeda baru Senja.

“Allah yang baik kepada kita. Ada yang mengganti sepeda Senja yang bocor dengan sepeda baru, ada yang membayar lunas hutang-hutang simbok.”

“Jangan-jangan ….”

“Jangan-jangan apa?”

“Jangan-jangan yang membayar hutang Simbok juga dia.”

“Mas Arka? Pak RT bilang yang datang laki-laki setengah tua, bukan anak muda ganteng seperti mas Arka.”

“Mas Arka punya banyak anak buah yang bisa disuruh-suruh.”

“Iya juga ya.”

“Besok kalau dia kemari akan Senja tanyakan.”

“Iya Nduk, diberi seseorang itu berat. Ada beban terkandung di dalamnya. Paling tidak kita punya hutang kebaikan.”

“Besok saja sepulang sekolah saya akan ke kantor mas Arka. Penasaran aku. Aku kan sudah tahu tempatnya.”

“Hati-hati ngomongnya, dia itu orang yang punya kuasa di sana, kamu kalau ngomong sama dia suka seenaknya.”

“Iya Mbok, Senja pasti akan berhati-hati.

***

Walaupun pak Daryono dan istrinya memberi petuah bermacam-macam kepada Rosa, tapi petuah itu seperti masuk ke telinga kiri, keluar dari telinga kanan.

Ia masih saja ingin mengejar Arka, dengan segala upaya yang diharapkan akan berhasil.

Sore hari itu mobil Rosa sudah berhenti di dekat kantor Arka. Ia bermaksud menunggu kepulangan Arka, dan akan mengikuti kemanapun Arka pergi. Bisa pulang, atau entah akan mampir ke mana. Ia berharap Arka tak akan bisa menghindar.

Tapi saat dia menunggu itu, ia melihat seorang gadis bersepeda, masih memakai seragam sekolah. Ia berhenti  di depan gerbang, tampak ragu akan memasukinya.

Dari kaca mobil yang terbuka, Rosa berteriak.

“Senja!!”

Senja terkejut. Ia menoleh ke arah mobil, lalu ingat bahwa dia adalah orang kaya bernama Rosa yang pernah membeli sepuluh kilo beras.

“Sini sebentar.”

Senja menuntun sepedanya mendekat.

“Wah, sepeda baru ya?”

“Iya, ada apa Non? Mengapa Non berhenti di sini?”

“Aku menunggu Arka pulang. Kamu mau menemuinya? Dia pesan beras lagi?”

Supaya tidak kepanjangan perbincangan itu, Senja hanya mengangguk.

“Saya akan masuk dulu sebentar,”

“Tunggu dulu, ada yang ingin aku tanyakan. Kamu punya saudara?”

“Punya Non, hanya satu.”

“Laki-laki?”

“Ya, namanya Rimba.”

“O, jadi teman sekolah Arka itu Rimba?”

“Apa?”

Senja menutup mulutnya karena geli.

“Rimba itu masih kelas lima SD, masa teman mas Arka.”

“Oh, masih kelas lima? Arka bilang yang jual beras itu temannya.”

“Yang jual beras itu simbok saya, sedangkan saya hanya membantu simbok.”

“Kalau begitu yang dianggap teman oleh Arka itu kamu?”

“Saya juga bukan temannya Non, hanya kebetulan kenal, lalu dia bersikap sangat baik kepada keluarga saya,” kata Senja terus terang.

Rosa menatap Senja tak berkedip.

“Gadis ini cantik manis, tapi masih polos. Dia lugu, tapi wajahnya kampungan. Arka menganggapnya teman, apakah dia suka kepada gadis ini? Tak mungkin. Kalau iya, alangkah rendah selera Arka. Tapi Arka sangat perhatian pada dia. Bahkan mengirim beras ke rumahku saja Arka mengantarnya. Gila benar Arka, menolak aku dan memilih gadis bodoh dan kampungan ini?” kata batin Rosa.

“Ya sudah Non, saya masuk dulu, saya hanya sebentar,” kata Senja yang nekat memutar sepedanya, lalu memasuki halaman kantor.

Rosa menatapnya tak berkedip. Rasa cemburu membakarnya.

“Awas saja kamu Senja, kamu telah merebut orang yang aku cintai. Gadis bau, bodoh, udik, masih kecil pula, bisa merebut hati Arka? Apa hati Arka sudah buta? Secantik-cantiknya Senja, dia hanya gadis miskin, yang tak pantas dibawa ke mana-mana.”

***

Besok lagi ya.

 

 

NAMAKU TETAP SENJA 25

  NAMAKU TETAP SENJA  25 (Tien Kumalasari)   Senja tersenyum ramah. Tentu terasa sungkan ketika mengirim beras sambil meminta uangnya, denga...