Thursday, June 25, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 33

 NAMAKU TETAP SENJA  33

(Tien Kumalasari)

 

Dokter menganjurkan agar Senja dirawat sehari dua hari, tapi Senja menolak.

“Tidak Dokter, saya mau ujian, saya merasa kuat. Kalau saya bisa pulang, maka saya bisa istirahat sambil belajar."

Arka juga membujuknya, tapi Senja bersikukuh untuk tetap pulang malam ini juga.

“Senja, nanti aku bawakan buku-buku yang akan kamu pelajari kemari.”

“Tidak, Mas. Repot amat. Sekarang aku sudah merasa sehat. Aku siap untuk pulang saja.”

Karena itulah setelah infus habis maka Senja langsung disiapkan untuk pulang.

“Apakah Non Rosa membayar semua biaya?”

“Tidak, aku semua, tidak masalah, mengapa kamu menanyakannya?”

“Aku akan minta Simbok untuk menggantinya, kalau tidak terlalu banyak mungkin Simbok punya uangnya.”

“Tidak banyak. Dan tidak usah diganti. Kamu tenang saja," kata Arka yang kemudian berbicara dengan dokter, kemudian menemui mbok Mangun di luar.

Mbok Mangun tampak gembira, Senja pulang malam itu juga. Kecuali masalah biaya yang walau akan ditanggung Arka, tapi Simbok ingin merawatnya sendiri di rumah.

***

Pak Wiguna dan istrinya sangat gelisah, Arka tidak pulang sampai larut malam. Bu Wiguna tidak pernah segelisah itu, karena tak biasanya Arka pulang sampai larut, dan ponselnya tidak aktif pula.

Tapi tiba-tiba Rosa menelpon. Pak Wiguna bergegas menerimanya.

“Om, apakah Arka sudah pulang?”

“Kami sedang menunggu. Malam sudah larut, menjelang pagi, tapi dia belum juga pulang. Aku menunggunya sejak tadi sore.”

“Arka sedang mengurus anak tukang beras itu.”

“Mengurus untuk apa? Ada apa?”

“Dia tadi diculik orang,”

“Siapa yang diculik?”

“Anak tukang beras itu Om.”

“Mengapa Arka mengurus orang yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya? Apa urusannya?”

“Om kan tahu, Arka sangat memperhatikan keluarga miskin itu. Jadi kalau ada apa-apa, dia yang mengurusnya.”

“Keterlaluan. Jadi dia memilih tidak pulang demi mengurus orang diculik yang bukan apa-apanya?”

“Yang diculik itu sudah ketemu. Saya yang menemukannya.”

“Kamu? Bagaimana bisa?”

“Hanya karena kebetulan saja, saya sedang dalam perjalanan dari rumah teman saya, melihat Senja terjatuh dipinggir jalan. Lalu saya antar dia ke rumah sakit."

“Keterlaluan. Merepotkan banyak orang. Lalu Arka juga menungguinya di rumah sakit?”

“Pastinya Om, saya telpon tidak diangkat. Ponselnya mati. Barangkali baterynya habis.”

“Aku juga menelpon berkali-kali, tapi tidak bisa nyambung.”

“Ya sudah Om, kasihan jam segini Om belum tidur.”

“Aku dan tantemu belum tidur ini, karena khawatir tentang dia.”

“Sekarang Om dan tante tidur dulu, sudah larut, hampir pagi. Ingat kesehatan Om dan tante.”

“Baik, terima kasih Rosa, kalau kamu tidak menelpon, aku tidak akan tahu apa yang terjadi.”

Begitu menutup ponselnya, pak Wiguna masih mengomel karena kesal atas apa yang dilakukan Arka.

“Ada apa sebenarnya Pak? Siapa yang di rumah sakit?” tanya bu Wiguna yang belum tahu kejelasannya.

“Arka mengurus orang diculik.”

“Siapa yang diculik?”

“Gadis penjual beras itu. Bukan sanak saudara, bukan siapa-siapa, tapi sampai sebegitunya dia berkorban.”

“Gadis itu diculik? Lalu bagaimana keadaannya.”

“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Pokoknya yang menemukan gadis itu adalah Rosa, lalu membawanya ke rumah sakit. Tentunya Rosa kemudian mengabari Arka.”

“Mengapa sampai dibawa ke rumah sakit? Apa dia terluka? Diapakan oleh penculik itu?” tanya bu Wiguna khawatir.

“Aku tidak tahu Bu, aku tidak bertanya lebih lanjut. Yang penting keberadaan Arka kita sudah tahu. Sekarang aku mau tidur. Nanti kalau dia pulang pasti akan aku marahi habis-habisan.”

“Bapak bagaimana, anak melakukan hal baik, mengapa dimarahi?”

“Aku curiga ada hubungan apa antara Arka dan gadis itu, sampai dia berkorban mati-matian,” katanya sambil menuju ke kamar, untuk tidur.

Bu Wiguna tidak menanggapi, ia mencoba menelpon Arka untuk mendengar kejelasannya, tapi ponsel Arka memang benar-benar mati. Jadi iapun bersiap untuk beristirahat.

***

“Uang apa, kamu bekerja tidak becus, masih mau minta uang tambahan? Kamu juga sudah menerima uang dari kakek tua mata keranjang itu, dan dia mengancam akan memintanya lagi karena perempuan itu sangat ganas dan bisa terlepas. Sudah, ini sudah malam, aku kesal dan lelah. Lain kali bekerjalah lebih baik… Iya, memang kamu sudah berhasil, tapi nyatanya dia kabur. Si tua itu minta uangnya dikembalikan,.. benar, bukan salah kamu. Ya sudah, besok saja kita bicara lagi. Sudah hampir pagi kamu menelpon. Untung aku belum tidur.”

Suara Rosa yang menelpon ternyata terdengar oleh bu Daryono yang mau ke ruang makan untuk mengambil minum. Ia segera mengetuk pintu Rosa.

“Rosa, kamu belum tidur? Tolong buka pintunya.”

Dengan kesal Rosa membuka pintunya, dan melihat ibunya berdiri di depan pintu sambil membawa segelas air putih.

“Kamu malam-malam begini, bertelpon dengan siapa? Kamu seperti marah-marah.”

“Oh, itu, telpon salah sambung. Itu sebabnya Rosa marah.”

“Telpon salah sambung kok lama banget bicaranya.”

“Saya omeli dia, malam-malam mengganggu orang tidur.”

“Kenapa panjang sekali ngomongnya. Bukannya cukup bilang … maaf salah sam bung, begitu kan?”

“Iya, Rosa penginnya marah-marah. Mengapa Mama belum tidur?”

“Haus, lalu mengambil air, lewat kamar kamu, mendengar kamu bicara.”

“Iya Ma, ya itulah, orang salah sambung. Sekarang Mama kembali tidur sana, sudah malam.”

“Hampir pagi. Mama sudah tidak bisa tidur lagi. Kamu juga, sebaiknya sholat sekalian.”

“Baiklah.”

Rosa menutup pintunya. Shalat? Sudah lama Rosa tidak melakukannya. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan terlelap.

***

Mbok Mangun tidur di samping Senja, masih ada rasa khawatir karena kejadian yang menimpa sang anak. Walau begitu ia bersyukur, Senja selamat dan berhasil lolos dari cengkeraman orang jahat, walau ada luka-luka di telapak kaki dan tangannya.

Arka sudah pulang begitu mereka sampai di rumah. Ia berpesan agar Senja tidak masuk sekolah dulu, sampai kakinya benar-benar sembuh. Ia juga berpesan agar obatnya tidak lupa dimakan sesuai aturan.

Mbok Mangun diam-diam berpikir, mengapa Arka begitu baik kepada keluarganya. Bertubi-tubi pertolongan diberikannya, bahkan hutang yang menghimpitnya juga sudah dibayarnya lunas.

Senja tampak tertidur pulas, barangkali karena lelah lahir dan batinnya, juga karena pengaruh obat yang diminumnya.

Mbok Mangun mengelus kepala anaknya dengan lembut. Menjadi orang tak punya memang berat, dan rasa berat itu bukan hanya ditanggungnya sendirian, anak-anaknya juga turut menanggungnya. Walau begitu ia bersyukur karena kedua anaknya adalah anak-anak baik yang penuh pengertian. Mereka tidak pernah mengeluh, baik oleh makanan sederhana yang selalu dihidangkan simboknya, maupun pakaian sehari-hari yang lusuh karena bertahun tak pernah berganti baru.

Tiba-tiba mbok Mangun teringat bungkusan-bungkusan yang dibawa Arka. Ia tahu siangnya Arka membeli beberapa baju untuk dirinya dan anak-anaknya. Bukan hanya baju, tapi juga sepatu dan tas sekolah untuk mereka.

Air mata mbok Mangun berlinang. Ia tak mampu membelikannya dan ada orang baik yang membantunya. Mbok Mangun teringat ketika awal bertemu Arka, Senja menyebutnya sebagai malaikat penolong.

“Ya Allah, terima kasih untuk semuanya. Hamba tahu semua karenaMu.”

Lalu mbok Mangun turun dari tempat tidurnya, yang terdengar berderit ketika ia turun. Tak enak, tempat tidur sederhana itu memang terbuat dari bambu. Walau begitu Senja tidak terbangun karenanya. Mbok Mangun tersenyum. Ia menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Tapi tiba-tiba terdengar teriakan.

“Apa maksudmu? Bukan aku. Kamu yang berusaha membunuhnya.”

Mbok Mangun terkejut, bergegas kembali ke kamar Senja.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, June 24, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 32

 NAMAKU TETAP SENJA  32

(Tien Kumalasari)

 

Senja terkulai lemas. Dia tidak pingsan, hanya tidak berdaya. Ia duduk di samping kemudi. Entah siapa yang membawanya. Ia melirik ke samping dan terkejut, karena mengenal siapa yang duduk menyetir mobil.

“Non … Rosa?” katanya lemah.

“Eh, kamu sudah sadar? Apa yang terjadi?”

“Ya ampun, terima … kasih banyak, saya hampir celaka …” katanya terbata.

“Apa sebenarnya yang terjadi, mengapa kamu sampai di tempat sepi seperti tadi?”

“Entahlah … saya … diculik …”

“Diculik? Memangnya kenapa kamu diculik? Kamu membawa harta benda berharga? Tidak kan?”

“Bukan … bukan karena mau … dirampok … saya … mau … diper …kosa, laki- laki … jelek, tinggi … besar.”

“Lalu kamu bisa kabur? Dia berhasil memperkosa kamu?”

“Ti … tidak … saya … kabur.”

“Hebat kamu, laki-laki tinggi besar ingin memperkosa kamu, kamu bisa kabur?”

“Saya semprot matanya dengan cairan sabun … atau entah … di kamar mandi, lalu saya lari.”

“Dia tidak mengejar kamu?”

“Dia … kesakitan … ada … penjaga … di depan rumah … saya pukul … dengan … tongkat, entah bagaimana … saya membawanya keluar … untuk berjaga …jag …ga.”

“Kamu hebat Senja, kamu bisa lolos, selamat. Tapi kamu terluka? Tanganmu berdarah …”

“Saya … takut ketika … ada mobil, lalu melompati parit … bersembunyi di rumpun tanaman … tebu. Entah luka apa… kaki saya juga sakit .. sekali.”

Senja terengah-engah, tak melihat betapa gadis disampingnya tersenyum senang.

“Non, maukah … mengantarkan saya … pulang? Saya juga tidak … tahu … ini di mana, simbok pasti cemas.”

“Tidak Senja, kamu harus aku antarkan ke rumah sakit.”

“Ti … tidak, mana bisa … saya … tidak punya … uang.”

Rosa tertawa …

"Aku sudah menolongmu, jadi aku yang akan membantu kamu … maksudku, membayar biaya perawatannya nanti.”

“Ya ampun … ternyata … non Rosa baik … sekali.”

“Aku ini memang orang baik … penuh kasih sayang. Mana tega aku melihat kamu menderita seperti ini? Tadi juga kebetulan aku lewat dan melihat kamu.”

“Terima … kasih, saya merasa lemas … rumah sakit … di mana ya?”

“Di kota, ini luar kota. Kamu tenang saja. Rumah sakit itu tentunya tak jauh dari tempat tinggalmu.”

“Kalau … Non membayar biayanya, nanti … saya bilang Simbok, biar ditukar uangnya.”

“Gampang. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, kamu akan mendapat perawatan yang baik.”

“Non sangat baik. Banyak orang berbaik hati kepada saya, seperti mas Arka juga. Pasti dia bingung ketika kehilangan saya.”

Wajah Rosa gelap mendengar perkataan Senja. Tentu saja Arka kehilangan. Bukankah tadi bersamanya?

"Tadinya bersama kamu kan?" kata batin Rosa.

“Tadinya … saya dan Simbok … juga Rimba, adik saya, diajak jalan-jalan … sama mas Arka … lal … lalu ….”

“Sudah, ceritanya nanti saja. Kita sudah sampai. Nanti aku kabari Arka.”

“Oh, terima kasih Non, semoga … saya bisa …  langsung pulang nanti, agar Simbok tidak cemas menanti sa …saya …”

Rosa berhenti di sebuah rumah sakit, lalu memapah Senja masuk ke dalam. Sikapnya seperti seorang penolong yang sangat mengkhawatirkan orang yang ditolongnya.

***

Arka belum pulang ke rumah. Ia masih di rumah Simbok, agar Simbok merasa lebih tenang. Ia terus menghubungi polisi dan menanyakan sampai sejauh mana pencarian terhadap Senja.

“Bagaimana kalau Senja sampai disiksa, disakiti … atau … diapakan oleh penculik itu?” kata mbok Mangun yang dari siang tak berhenti menangis.

“Tidak, Simbok tenang saja. Teruslah berdoa agar Senja segera diketemukan. Tampaknya penculik itu sudah terlacak. Semoga menjadikan titik terang atas pencarian itu."

“Apa dia akan mengatakan di mana Senja berada?”

“Ya, tentu saja.”

Tiba-tiba ponsel Arka berdering. Dari Rosa. Arka tak hendak mengangkatnya. Ia justru merasa kesal karena malam-malam Rosa mengganggunya.

“Mas Arka, mengapa didiamkan saja, jangan-jangan polisi memberi tahu tentang Senja,” kata mbok Mangun.

“Bukan Mbok, dari teman saya. Dia hanya akan mengganggu.”

Lalu dering itu terdengar berulang-ulang. Arka ingin mematikan ponselnya, tapi khawatir kalau polisi memberinya kabar lalu dia sampai tidak mendengarnya karena ponselnya mati.

“Mengapa menelpon terus menerus Mas, jangan-jangan ada yang penting,” Simbok mengingatkan lagi.

Akhirnya karena kesal Arka mengangkatnya, tapi begitu dibuka Arka langsung menyemprotnya.

“Ada apa sih kamu? Malam-malam mengganggu orang?” sergahnya.

“Arka, jangan marah marah begitu, aku menelpon karena ada sesuatu yang penting.”

“Yang penting apa?” suara Arka sama sekali tak terdengar ramah.

“Ini tentang Senja.”

Arka terkejut, ia berteriak.

“Tentang Senja? Kamu bertemu Senja?” Simbok dan Rimba menangkat wajahnya dan merasa tegang.

“Dia di rumah sakit.”

“Di rumah sakit mana? Dia kenapa?”

“Tenang saja, dia baik-baik saja. Artinya tidak luka parah, hanya lemas dan luka kecil.”

“Bicara dengan jelas, ada apa sebenarnya? Di mana kamu menemukannya? Aku sudah melapor polisi dan penculik sudah terdeteksi, polisi sedang memburunya."

“Arka, aku menemukan Senja hampir pingsan di pinggir jalan, dia sedang melarikan diri dari orang yang akan memperkosanya.”

“Apa? Ceritanya nanti saja, sekarang dia ada di rumah sakit mana?”

Rosa mengatakan nama rumah sakitnya, dan Arka segera berkemas. Simbok dan Rimba kebingungan.

“Mas Arka, Senja kenapa? Luka parah? Disiksa penculik itu? Apa dosa anakku?” mbok Mangun kembali menangis.

“Katanya hanya luka ringan. Saya mau ke rumah sakit untuk melihatnya.”

“Bolehkah Simbok ikut?”

“Aku juga ikut ya Mas.”

“Baiklah, ayo kita ke sana sekarang.”

***

Ketika Arka dan Simbok datang, Rosa sedang menunggu di depan. Arka bergegas mendekat.

“Bagaimana keadaannya?”

“Tidak apa-apa, luka kaki tangannya, sedikit, tapi dia lemas, sedang diinfus.”

“Mana dia Non, mana dia?”

“Masih di ruang IGD Mbok, boleh masuk, satu persatu. Simbok dulu ya,” kata Rosa, yang membuat Simbok segera menghambur ke dalam. Rimba menungguinya di depan pintu, karena petugas melarangnya masuk.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku menemukan dia dalam keadaan lemas, berbaring di tanah.”

“Dia bisa cerita?”

“Ya, cerita walau dengan terbata-bata. Kasihan sekali aku melihatnya. Gadis tak berdosa, nyaris dilalap laki-laki biadab.”

“Bagaimana ceritanya?”

Rosa kan sudah tahu semuanya, karena dia adalah dalangnya. Tapi ia ingin terlihat baik di mata Arka. Ia berharap dengan perbuatannya, Arka akan bersikap lebih manis terhadapnya, sehingga dengan mudah ia bisa menundukkannya.

“Nanti kamu ketemu Senja sendiri, bertanyalah padanya, aku kalau menceritakan jadi pengin nangis, kasihan banget gadis muda teraniaya tanpa dosa,” kata Rosa sambil mengusap air mata buayanya.

“Untunglah aku tadi lewat daerah itu. Temanku yang punya kantin kan rumahnya di sana, ketika aku sedang jalan mau pulang, melihat seseorang terbaring di tepi jalan, dan berusaha bangkit tapi kelihatan susah. Aku berhenti dan terkejut setengah mati ketika tahu bahwa dia Senja. Langsung aku papah dia ke mobil, aku larikan ke rumah sakit. Lalu aku mengabari kamu.”

“Dia diculik setelah belanja bersama aku.”

“Bagaimana kamu tidak tahu ada orang menculik Senja? Kamu sembrono sekali sih Ka.”

“Aku sedang memasukkan belanjaan ke bagasi. Seseorang memanggil Senja, katanya ada barang yang ketinggalan. Senja bergegas kembali masuk, dan tidak kembali lagi ke mobil.”

“Ya ampun, trenyuh aku mendengarnya Ka, katanya dia hampir diperkosa.”

“Hampir?” Arka berteriak.

“Ya, Senja bilang dia bisa meloloskan diri lalu berlari dari sana.”

“Bagaimana dia bisa lari?”.

“Kata Senja dia menyemprotkan cairan sabun ke mata orang yang mau memperkosanya, sehingga dia bisa lari. Nanti kamu tanyakan sendiri cerita lengkapnya.”

Agak lama Simbok ada di dalam, lalu ketika keluar, sambil mengusap air matanya, dia merangkul Rosa erat sekali.

Rosa ingin menghindar. Ia tak suka bau mbok Mangun yang tidak wangi seperti dirinya, tapi Simbok terlanjur erat merangkulnya.

“Non … terima kasih banyak ya Non, kalau tidak ada Non, entah bagaimana nasib anak saya. Terima kasih banyak, semoga Allah membalas semua kebaikan Non ya,” kata  Simbok sambil menangis. Rosa mengernyitkan hidungnya, lalu mendorong mbok Mangun pelan. Tentu ia sungkan menampakkan rasa jijiknya karena dia sedang ingin kelihatan baik di mata Arka.

“Jangan dipikirkan Mbok, menolong seseorang itu sudah menjadi kewajiban saya.”

“Tapi Non sangat berarti .. Saya tak akan bisa melupakannya.”

“Ya sudah, itu hanya hal biasa. Sekarang saya ingin pulang dulu ya Ka, saya pergi sejak sore tadi, nanti dimarahin mama.”

“Baiklah, kamu pulang saja, biar Senja aku yang mengurusnya.”

Rosa melangkah keluar sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Rasanya bau penjual beras itu masih menempel saja. Ia ingin segera pulang dan mandi sebersih-bersihnya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 23, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 31

 NAMAKU TETAP SENJA  31

(Tien Kumalasari)

 

Senja menatapnya marah. Ia tak ingat siapa yang memanggilnya saat dia hampir masuk ke mobil Arka. Apakah dia orang yang berdiri di tengah pintu kamar mandi?

“Kamu menculik aku?”

Laki-laki itu menyeringai.

”Aku ingin berbuat baik untuk kamu.”

“Berbuat baik apa? Kamu membawaku ke tempat asing ini tanpa peduli kepada orang tuaku. Apa sebenarnya maksudmu? Aku bukan orang kaya seandainya kamu ingin mempergunakan aku sebagai senjata untuk memeras orang tuaku. Kalau kami naik mobil, itu karena ada orang baik yang membuat kami senang. Kamu akan mempergunakan aku untuk apa?”

“Namamu siapa, cah ayu.”

“Namaku Senja. Tidak usah berbasa basi, katakan saja apa maksudmu dengan membawaku kemari?”

“Aku akan membuat kamu hidup senang.”

“Apa maksudmu hidup senang? Aku tidak ingin hidup senang dengan cara yang tidak wajar. Biarkan aku pergi.”

“Pergi? Ya tidak mungkin aku biarkan kamu pergi, ada orang yang memberikan kesenangan untuk aku.. dan aku sudah membayarnya.”

“Siapa sebenarnya kamu? Siapa yang memberikan aku sehingga berada di depan kamu? Kita tidak pernah saling kenal, mengapa kamu menyusahkan hidupku?”

“O, tidak cantik, aku tidak akan menyusahkan hidup kamu, justru aku akan membuat kamu senang dan bahagia. Menurutlah.”

Tiba-tiba laki-laki itu mendekat. Senja mundur, dan kali ini hatinya terasa ciut. Laki-laki itu tinggi besar, tak mungkin dia bisa melawannya.

“Dengar Senja, aku sudah membayar mahal untuk mendapatkan kamu.”

Senja mundur, sampai tubuhnya merapat ke tembok. Di depannya ada sebuah bathup, dan peralatan mandi yang lengkap. Ia tak lagi bisa mundur, dan laki-laki itu semakin dekat.

Laki-laki itu menyeringai lagi. Senja yang tadinya bisa bicara lantang, sekarang tak bisa berkutik. Ia harus melawan, tapi dengan apa.

“Sekali ini saja, turutilah kemauanku. Atau, kamu ingin mandi dulu, biar bersih dan wangi. Masuklah ke dalam bathup. Akan aku guyurkan air hangat yang wangi ke tubuhmu. Maukah? Hahaa … kamu tampak seperti kelinci kecil yang ketakutan, apakah kamu ingin yang lain? Santai saja, aku akan mengajari kamu bagaimana bersenang-senang."

Senja merasa ingin muntah manakala menatap laki-laki yang tampaknya seperti serigala kelaparan. Senja hampir putus asa, ia berteriak keras tapi laki-laki itu mentertawakannya.

Tiba-tiba ia melihat sebuah botol plastik yang sepertinya sebuah semprotan. Ia tak tahu apa isinya. Tubuhnya bergerak sedikit.

“Senja, kamu tak akan bisa lari dariku, lebih baik kamu menyerah. Kalau kamu bisa menyenangkan aku, akan aku jadikan kamu istriku.”

“Ap…ppa?”

“Istriku, aku orang kaya. Ini rumahku, nanti bisa menjadi milik kamu. Apa kamu tidak suka?”

“Bb … baiklah,” katanya dengan bibir gemetar.

“Benarkah? Kelinci cantik, ayo kemari,  jangan takut, aku ini orang baik.”

Mendengar Senja tampaknya akan menurut, laki-laki itu merasa senang. Senja semakin gemetar, ia hanya pura-pura agar laki-laki itu tidak memaksanya, dan menganggap dia akan menurut.

“Jangan … terburu-buru … itu membuat aku takut….”

Laki-laki itu terbahak-bahak, dan Senja dengan sigap meraih semprotan yang ada di dekatnya, lalu menyemprotkannya ke wajah laki-laki itu. Dia menjerit karena penyemprot itu mengenai matanya. Ia bergulung-gulung di lantai, dan itu membuat Senja kemudian berhasil keluar dari kamar mandi. Ia membuka pintu yang tadinya terkunci dari dalam, tapi kuncinya masih tergantung. Di dalam kamar mandi terdengar teriakan, tapi Senja tak peduli. Ia berlari keluar, lalu terdengar suara berisik keras, rupanya laki-laki itu menabrak pintu. Senja terus keluar. Ia melihat sebuah tongkat penyangga tubuh, yang lalu diambilnya, barangkali akan berguna. Ia berlari keluar, dan merasa terkejut karena hari sudah gelap. Tapi begitu ia keluar dari pintu depan rumah, seseorang menghadangnya.

“Mau lari ke mana kamu?”

Senja terkejut. Ternyata ada penjaga di rumah itu. Ia memegang erat tongkat yang tadi dibawanya.

“Ayo kembali masuk.”

“Majikan kamu hampir mati.”

Laki-laki itu mendekati Senja, bermaksud menangkap tubuhnya, tapi Senja mengayunkan tongkat itu sekerasnya dan orang itu tersungkur.

“Jangan lari,” teriaknya sambil bangkit dan siap mengejar.

"Majikan kamu hampir mati,” teriak Senja sekenanya. 

Penjaga itu tiba-tiba mendengar teriakan dari dalam rumah.

“Tino …. tolong aku!”   

Penjaga berhenti dan bergegas ke dalam.

Senja keluar dari halaman. Cuaca sudah gelap. Senja terengah-engah sambil terus berlari. Ia tak tahu sedang berada di daerah mana. Kiri kanan jalan sepi. Rumah penduduk tak terlihat. Rupanya rumah di mana dia tadi disekap adalah satu-satunya rumah yang pastinya hanya untuk peristirahatan.

Kakinya sakit terkena batu-batu tajam, tapi ia tak peduli. Ia takut  penjaga itu masih mengejarnya. Ia tak peduli sedang berada di mana, yang penting ia harus kabur jangan sampai tertangkap. Di kiri jalan adalah tanah perkebunan dan persawahan.

Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil menuju ke arahnya. Tapi Senja tak berani meminta tolong. Jangan-jangan pembawa mobil itu juga orang jahat yang hanya akan memanfaatkannya.

Senja turun ke dalam parit, lalu bersembunyi diantara tanaman jagung yang rimbun. Ia merasa lega mobil itu sudah melintas, lalu ia melanjutkan perjalanannya.

Kakinya terasa sakit, barangkali berdarah-darah, tapi ia terus melangkah. Tubuhnya sudah lemas, tapi ia tak mau berhenti.

“Kenapa jauh sekali jalan raya, sampai di mana aku ini?” keluhnya pilu.

***

Mobil yang melintas itu adalah mobil Rosa. Seseorang menelponnya sambil marah-marah, karena gagal menundukkan gadis yang dijanjikannya.

Ketika turun dari mobil, penjaga rumah  sedang menemani sang majikan yang air matanya bercucuran terus menerus.

“Apa yang terjadi,?” tanya Rosa.

”Perempuan itu menyemprot mataku dengan air sabun. Aku baru saja bisa membuka mata. Lihat mataku,” kata laki-laki yang ternyata bernama Bowo.

Rosa melihat mata laki-laki itu masih merah dan terus mengucurkan air mata. Tino sang penjaga juga kesakitan karena lehernya disabet dengan tongkat.

“Tunggu apa lagi, antar aku ke rumah sakit dan kembalikan uangku,” teriak Bowo.

“Bukan aku yang menerima uangmu, tapi orang yang berhasil menculik gadis itu.”

“Bagaimanapun ini rekayasamu, aku tak mau rugi.”

“Baik, nanti masalah uang gampang. Tapi kalau terjadi apa-apa, atau sampai menjadi urusan polisi, jangan sampai kamu menyebut namaku.”

“Antarkan aku ke rumah sakit dulu, tak tahan ini, mataku.”

Rosa mengalah, ia mengantarkan Bowo dan Tino ke rumah sakit.

Tapi sebelum sampai ke jalan besar, ia melihat seseorang berjalan tertatih. Rosa yakin itu adalah Senja, tapi dia membiarkannya.

Mobilnya terus melaju menuju ke sebuah rumah sakit terdekat, lalu meninggalkan keduanya di sana, setelah meninggalkan beberapa lembar uang untuk biaya rawat dan mencari taksi kalau sudah selesai. Rosa memiliki rencana lain.

***

Senja tahu ada mobil melintas, tapi tubuhnya yang semakin lemas tak mampu menghindar. Ia terus melangkah tertatih. Jalan besar sudah tampak, ia melangkah lebih bersemangat. Akan banyak orang yang bisa dimintai pertolongan ketika di sana nanti, bukan ditempat sepi yang tidak jelas siapa orangnya. Tapi sebelum sampai di jalan besar, Senja benar-benar ambruk. Ia berusaha bangkit, tapi tubuhnya sangat lemah, ditambah kakinya yang terluka, dan juga tangannya yang tadi terkena duri atau entah apa, ketika dia bersembunyi di rerimbunan.

Senja putus asa. Ia melihat di langit banyak bintang, tapi tak terlihat bulan. Bintang cemerlang tak mampu menerangi bumi yang gulita.

Senja masih berusaha bangkit dengan sekuat tenaga. Tapi kemudian sebuah mobil berhenti di dekatnya.

Senja pasrah akan apapun yang akan terjadi. Ia merasa semuanya gelap. Ia bahkan tak tahu ketika seseorang memapahnya masuk ke dalam mobil.

***

Besok lagi ya.

 

Monday, June 22, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 30

 NAMAKU TETAP SENJA  30

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun, Arka dan Rimba mulai merasa gelisah. Senja masuk ke dalam karena curiga. Terasa lama sekali, kalau hanya mengambil sesuatu yang ketinggalan.

“Memangnya barang mas Arka ada yang ketinggalan?” tanya mbok Mangun.

“Rasanya tidak ada Mbok, semuanya sudah saya bawa. Saya juga heran ada yang mengatakan bahwa ada yang ketinggalan.”

“Tas Mbak Senja, barangkali,” kata Rimba.

“Tidak, ini tas kakakmu diletakkan di dekat Simbok ketika membantu Simbok masuk mobil tadi.”

“Biar saya susul ke dalam,” kata Arka yang kemudian bersiap turun.

Arka meminggirkan mobilnya, kemudian turun dan bergegas masuk ke dalam toko. Ia langsung menuju kasir, pastinya kalau ada yang ketinggalan juga ada di kasir, atau tempat pengambilan barang di dekat kasir. Tapi ia tak melihat Senja di sana.

“Mbak, barang apa yang tadi ketinggalan?” tanyanya kepada yang bertugas di situ.

Tiga orang yang bertugas saling tatap dan bingung.

“Yang ketinggalan apa ya Mas?”

“Tadi ada yang menyusul ke mobil, katanya ada barang ketinggalan, sehingga adik saya kembali masuk. Tapi kok lama sekali tidak keluar-keluar.”

“Kalau di sini rasanya tidak ada yang ketinggalan Mas.”

Arka mulai merasa tak enak. Ia ke counter penjualan pakaian di mana tadi mereka memilih-milih. Tapi di sana juga tak ditemukan apa-apa. Para petugas malah bingung dibuatnya.

Arka seperti orang linglung, berkeliling hampir semua petugas ditanya, tak seorangpun tahu.

“Barangkali sedang ke toilet Pak,” saran salah satu petugas.

Arka bergegas ke toilet. Tak ada orang di sana.  Arka kebingungan.

“Dia seorang gadis?” tiba-tiba kata seseorang.

“Iya, gadis, hampir setinggi mbaknya itu,” kata Arka sambil menunjuk ke salah seorang petugas.

“Apa gadis yang tadi sakit ya?”

“Sakit?”

“Tadi ada seorang gadis yang dipapah keluar, tampaknya dia sakit.”

“Bajunya biru?”

“Ya, pakai atasan warna biru, tadi kalau tidak salah memilih-milih di counter sebelah sana.”

“Kemana dia?”

“Seorang laki-laki membawa keluar dari pintu samping. Laki-laki itu memakai masker. Ketika ditanya teman saya yang di sana, katanya gadis itu adiknya yang tiba-tiba sakit.”

Arka berlari keluar melalui pintu yang ditunjuk, menoleh ke sana kemari, tapi tak menemukan apa yang dicarinya. Arka heran. Ada yang menculik Senja? Untuk apa? Senja kan tidak punya apa-apa seandainya dia ingin memerasnya?

Dengan hati cemas Arka kembali ke mobilnya. Ia bisa membayangkan, Simbok dan Rimba pasti sangat cemas mendengarnya. Tapi ia harus melaporkan kejadian itu kepada polisi.

Arka berbelok arah pergi ke pos penjaga, melaporkan tentang apa yang terjadi pada Senja. Polisi membuka file CCTV yang dipasang di toko itu. Arka berteriak, ia melihat bahwa itu Senja, terkulai lemas dipundak seorang laki-laki yang wajahnya tertutup masker, tidak jelas itu siapa, tapi dia membawa Senja dengan sebuah mobil.

“Jadi orang yang mengatakan bahwa ada yang ketinggalan itu memang memancing Senja agar kembali masuk, lalu entah dengan apa, ia bisa membuat Senja lemas sehingga bisa dibawanya."

Arka menyerahkannya kepada polisi untuk mengusut Senja yang hilang tiba-tiba. Ia juga harus kembali ke mobil untuk menemui mbok Mangun dan Rimba yang pasti menunggu-nunggunya.

Dan itu benar. Mereka sangat cemas. Simbok menangis meraung-raung. Rimba yang kebingungan tak tahu bagaimana harus menenangkan simboknya.

“Mbok, saya sudah melaporkan masalah Senja yang hilang. Simbok tenang dulu ya, polisi akan mencari Senja.”

“Mengapa anakku diculik? Apa salahnya? Anakku anak yang baik, penurut, dan ia juga baik kepada semua orang. Apa ada yang membencinya? Apa yang diinginkannya? Dia tidak kelihatan seperti orang kaya kalau memang akan dirampok.”

“Baiklah, saya antar pulang dulu ya Mbok, polisi pasti bisa menemukannya.”

***

“Bapak, mengapa mondar mandir dari tadi? Tuh, minumnya keburu dingin,” kata Bu Wiguna.

“Mengapa sampai sore begini Arka belum juga pulang?”

“Namanya jalan-jalan sama temannya, mungkin masih mampir-mampir lagi ke mana … gitu.”

“Ia jalan sama keluarga penjual beras itu. Ibu tadi tidak dengar ya. Aku kan sudah bilang?”

“Sama siapapun memangnya kenapa. Ini hari Minggu, biarlah dia menikmati pemandangan yang lain, bukan hanya melihat ruangan kantor yang penuh berkas-berkas dan laporan dari sana-sini.”

“Ternyata Ibu tetap tidak mengerti.”

“Baiklah, memang banyak yang tidak aku mengerti. Biarkan saja, sekarang minum dulu, duduk santai, jangan memikirkan apapun.”

“Ibu tahu, Rosa sangat kecewa dengan kelakuan Arka.”

“Menurut aku, biarkan saja mereka. Kalau jodoh bisa bersatu, kalau tidak, mengapa harus dipaksakan.”

“Mengapa suami istri bisa tidak sejalan pemikirannya.”

“Suami istri bisa sejalan, kalau berjalan melalui jalan yang lurus.”

“Jadi menurut Ibu aku ini berjalan serong?”

“Menurutkan kehendak, tanpa peduli perasaan orang lain itu namanya tidak lurus. Ibu tidak sependapat dengan Bapak, karena Bapak menurutkan kemauan Bapak sendiri.”

“Ibu tetap tidak mengerti. Ini bukan untuk aku, tapi juga untuk Arka, untuk Ibu, untuk keluarga ini. Kalau kita bisa berbesan dengar pak Daryono, derajat kita akan naik setinggi langit.”

“Bapak harus tahu, naik terlalu tinggi itu, kalau jatuh rasanya lebih sakit.”

“Ada-ada saja. Itu kan kiasan.”

“Tapi itu benar.”

“Hidup itu dibuat sederhana saja, jangan pakai kiasan-kiasan.”

”Saya setuju dengan ungkapan hidup sederhana itu. Tapi Bapak tidak melakukannya. Kalau yang namanya sederhana itu ya sudah, apa adanya, tidak usah punya keinginan yang aneh-aneh.”

“Ibu itu salah, maksudku sederhana itu jangan pakai kiasan-kiasan. Itu menghambat kemajuan seseorang.”

“Bapak itu kok tiba-tiba punya pemikiran aneh dan tidak masuk akal. Apa yang Bapak bicarakan itu aku nggak ngerti sama sekali. Kiasan kok menghambat kemajuan seseorang itu apa.”

“Ya sudah, diam saja kalau tidak mengerti. Mana ada, orang punya cita-cita tinggi kok dikatakan nanti akan sakit kalau jatuh. Kalau mengingat hal itu ya tidak akan ada orang punya cita-cita tinggi.”

“Bukan cita-cita pada umumnya Pak, keinginan Bapak itu lho. Yang tadi Bapak bilang derajat kita akan semakin tinggi. Lha mengapa Bapak menilai derajat tinggi dari harta? Itu cita-cita yang sesat. Ya cita-cita semacam itu yang nanti akan membuat kejatuhan dan sakit.”

Seperti biasa bu Wiguna memilih pergi kalau nada pembicaraan sudah semakin tinggi. Tapi pak Wiguna kembali duduk di teras, menunggu kedatangan Arka yang saat hari hampir gelap tapi belum juga sampai di rumah.

***

Apa yang terjadi pada Senja?

Ketika Senja membuka matanya, ia berada di sebuah ruangan atau kamar yang sama sekali tidak dikenalnya. Kamar tidur yang bagus menurut ukuran Senja, tapi tak ada siapapun di sana.

“Bagaimana aku bisa berada di sini, ini rumah siapa?”

Senja mengingat kejadian sebelum itu, ia ingat tadi dipanggil orang, yang mengatakan bahwa ada barang yang ketinggalan, tentu saja dia bergegas kembali, mengira kalau belanjaan Arka yang ketinggalan. Waktu itu Arka sedang memasukkan belanjaan ke dalam bagasi, dan Senja langsung saja mengikuti orang yang dikiranya petugas toko. Tapi ditengah perjalanan ke bagian toko yang lebih dalam, ia seperti mencium sesuatu. Orang itu menempelkan sesuatu dihidungnya. Ia ingin menghindar tapi tak mampu. Tahu-tahu ia berada ditempat asing. Sekarang Senja memikirkan simboknya. Betapa sedih hati simboknya ketika menyadari bahwa dia menghilang tanpa jejak.

“Jadi aku ini diculik orang? Untuk apa aku diculik? Siapa melakukannya, dan apa yang diharapkan dari aku?” gumamnya sambil turun dari tempat tidur, berjalan mengelilingi kamar. 

Ada perabotan lengkap di kamar itu, tempat tidur, almari, bahkan ada cermin untuk berdandan. Jadi ini kamar seorang wanita. Pikir Senja.

Senja adalah seorang yang kuat. Ia tidak gampang menangis. Kehidupannya yang penuh susah payah, membuatnya tidak mudah mengeluh dalam setiap kesulitan. Sudah jelas ia diculik tanpa tahu apa dan mengapa juga siapa yang melakukannya.

Senja melihat ada jendela, ia mendekat, berharap dari jendela itu ia bisa kabur. Tapi ketika ia membukanya ternyata jendela itu berterali besi. Senja melihat ke sekeliling, lalu berjalan ke arah sebuah pintu, yang ketika ia membukanya ternyata pintu kamar mandi. Senja masuk, ia mencari barangkali ada celah untuk melarikan diri. Tapi tiba-tiba pintu kamar mandi itu dibuka dari luar, seorang laki-laki berdiri disana, dengan tatapan menakutkan.

***

Besok lagi ya.

 

Sunday, June 21, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 005

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  005

(Tien Kumalasari)

 

Baroto menatap punggung Menur yang terbebani oleh karung berisi botol-botol kosong, dengan perasaan mengharu biru. Tak bisa disangkal, dulu dia pernah tertarik pada sang pengais sampah itu. Ia tak bisa melupakannya. Tapi ketika itu dia sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Seorang gadis cantik anak seorang pengusaha kaya. Sudah klop, pengusaha muda, berjodoh dengan putri seorang pengusaha. Apalah artinya seorang Menur yang hanya anak seorang lurah kampung. Tapi sesungguhnya ada kesan mendalam atas gadis itu, lalu hatinya trenyuh melihatnya kembali ketika Menur menjadi seorang pengais sampah.

“Papa, panggil dia, aku mau dia jadi pengasuh aku.”

Baroto menatap Ana dan merasa bahwa usulan Ana adalah sesuatu yang terbaik.

“Papa, kejar dia, lihat dia sudah pergi,” pekik Ana.

Menur sudah menghilang entah ke mana. Ana menarik tangan sang ayah, mengajaknya mengejar.

Tapi ketika di tikungan, mereka bingung mau mengejar ke arah mana, yang pada akhirnya mereka tak menemukannya.

Ana merengek, hampir menangis.

“Ini salah Papa, bukankah tadi Papa memarahinya?”

“Tidak … papa tidak memarahinya.”

“Mengapa Papa mengejarnya? Bukankah Papa melarang dia melewati jalan ini supaya Ana tidak melihatnya? Papa jahat! Aku akan mencarinya sendiri,” katanya sambil berlari ke sembarang arah.

“Ana! Kembali!”

Ana tidak mendengarnya. Ia terus berlari, sampai kemudian dia terjatuh karena kakinya tersandung batu.

“Ana!”

Baroto memburunya, lalu membangunkan Ana yang mulai menangis keras.

“Mana dia? Mana bibi Menur?”

“Ana, besok kan dia lewat di sini lagi, nanti kita cari, ya?”

Tak ada yang bisa Ana lakukan, kecuali mengikuti sang ayah, ketika tangannya dipegang keras, dibawa melangkah pulang.

Rumi yang mengikutinya dari tadi tak melakukan apapun. Dia hanya heran gadis kecil yang diasuhnya tiba-tiba tergila-gila menginginkan bertemu pengais sampah bau itu.

Tapi dia tak berkomentar, karena ada tuan besar berjalan di samping putri kecilnya. Ia lebih kesal lagi ketika melihat Ana sampai mengejar si pengais sampah tersebut.

“Memangnya kenapa kamu suka pada tukang sampah itu?”

“Dia baik, dia memeluk Ana, sekarang Ana kasihan, apa mencari botol dapat uangnya banyak?”

“Botol itu dijual kepada pengepul. Ya tidak banyak uangnya.”

“Papa, cari dia, aku mau dia tinggal di rumah kita.”

Baroto tak menjawab, walau dalam hati menyetujuinya. Tapi mudahkah membujuk Menur supaya mau mengikuti kemauan Ana? Baroto tahu, Menur sangat keras hati. Dulu dia menolak mentah-mentah saat dia menyentuhnya. Bujukan yang bagaimanapun, Menur tak mau. Baru setelah dia menikahinya, walau secara siri, Menur mau melakukannya.

Baroto mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba saat melihat kembali Menur yang hampir dilupakannya, hatinya merasa sangat gelisah.

“Ya Pa? Mau kan mencari bibi Menur untuk Ana?”

“Kita pulang dulu. Kalau mama datang nanti mencari kita, bagaimana?”

“Mama tidak pernah mencari Ana. Mama tidak sayang pada Ana.”

“Masa?”

“Papa juga tidak kan?”

“Tidak Ana, papa tentu sayang Ana.”

“Bohong,” itu kata batin Ana. Disayang itu, walau tak tampak, tapi bisa dirasakan. Beda rasanya disayang atau tidak. Tapi Ana tak mengatakannya. Ia harus menunggu hari esok dalam penantiannya bertemu bibi Menur.

***

Menur terengah-engah lari menjauhi Baroto yang mengejarnya. Entah mengapa, dia tak ingin bertemu dia lagi. Apa maksud Baroto mengejarnya? Bukankah semuanya sudah berlalu dan kehidupan yang berbeda telah menjadikannya terpisah dalam arti yang sebenarnya.

Tak ada cinta yang tersisa, kecuali hanya luka.

Tak terasa perjalanan Menur sampai di dekat sekolah Rahman. Saat itu anak-anak sekolah sedang istirahat. Ada yang jajan diluar, ada yang hanya duduk-duduk di halaman.

Menur tersenyum melihat Rahman yang sedang berdiri di dekat tukang bakso. Ia membawa kotak makanan yang tadi diberikan Ana. Ia bermaksud memberikan makanan itu agar Rahman bisa segera memakannya.

“Rahman!”

Rahman menoleh, kelihatan kesal ketika melihat ibunya, apalagi sedang menggendong karung berisi botol-botol kosong. Seorang temannya mengingatkan, kalau ada orang yang memanggilnya, tapi Rahman justru berlari masuk ke halaman sekolah sambil mengucapkan kata-kata yang menyakitkannya.

“Kamu dipanggil tuh.”

“Memalukan, dia itu pengemis yang tinggal di dekat rumah.

Menur melanjutkan langkahnya yang tiba-tiba terasa lemas. Alangkah sakit ketika seorang anak semata wayang yang dikasihinya dengan sepenuh jiwa, berkali-kali menyakitinya. Pertama, ketika mengambil rapor, dia harus mengaku sebagai pembantu, kedua, ketika dia menyapa di depan sekolah, sang anak mengaku kepada temannya bahwa dia adalah pengemis.

Adakah sakit sesakit apa yang dirasakannya?

Menur mengusap air matanya. Sekilas ia teringat putri kecil cantik yang sangat menyukainya. Dia bukan siapa-siapa. Tak ada darah dirinya yang mengaliri raga si kecil itu. Setetespun tidak. Tapi gadis kecil itu sangat menyukainya. Teringat olehnya ketika ia memekik … ‘bibi, peluk aku’.

Pernahkan Rahman meminta dipeluk olehnya? Bahkan ia selalu menolak ketika sang ibu ingin melakukannya.

“Menjauhlah Bu, Ibu sangat bau.”

Menur ingin menjerit mengingat semua perlakuannya. Tapi ia tak bisa melepaskan Rahman. Apakah salah kalau dia selalu memanjakannya dalam keterbatasan yang dimilikinya? Peluh yang menetes, tubuh berbau barang-barang rongsok, penampilan yang jauh dari cantik, bukan masalah baginya. Demi kecintaannya, dia rela melakukan semuanya. Mengapa Rahman tak sedikitpun menghargainya?

***

Menur sedang menyiapkan makan untuk anaknya, karena sudah saatnya sang anak pulang dari sekolah. Minuman harus ada, makanan dengan lauk yang ada telurnya, sudah siap. Bahkan ia belum makan sedikitpun, menunggu makanan tersisa setelah sang anak selesai makan.

Tiba-tiba Menur teringat kotak makan pemberian Ana yang belum dibukanya. Ia mengambilnya, lalu membukanya. Ada nasi dan ikan di dalamnya, baunya sangat menusuk selera. Tapi Menur tak mau mengambilnya. Ia justru menata makanan itu di meja, agar Rahman senang dengan lauk yang kebetulan begitu lengkap.

Ketika ia meletakkan kotak kotor itu di dapur, terdengar langkah sang anak memasuki rumah.

“Sudah pulang Nak?” sapanya lembut.

Rahman langsung memasuki ruang makan, setelah melemparkan tas sekolahnya ke kursi panjang depan kamarnya.

“Bau apa ini?”

Matanya bersinar melihat ikan kakap goreng siap di meja makan. Tapi kemudian ia menatap ibunya dengan marah.

“Ibu, jangan sekali-sekali melewati sekolah Rahman.”

“Ibu hanya lewat, untuk mencari jalan terdekat dengan rumah.”

“Tapi ibu memanggil namaku. Rahman malu dong bu,” katanya sambil duduk di depan meja, sebelah tangannya meraih ikan yang sejak tadi membuat ingin segera menyantapnya.

“Nak, sudah benar kamu menjawab kepada temanmu. Tidak apa-apa kamu anggap ibumu ini pengemis,” katanya sambil menahan hati seperih luka karena teriris sembilu.

Rahman asyik menikmati makan siangnya.

“Mengapa tidak ganti pakaian dulu dan cuci kaki tangan serta ganti pakaianmu?”

“Kelamaan Bu, aku sudah lapar.”

Menur beranjak ke belakang, dan mendengar ‘perintah’ dari sang anak.

“Besok bawain ikan lagi ya Bu.”

Menur berhenti melangkah.

“Itu tadi karena diberi orang, Nak. Besok ibu tidak bisa lagi membeli ikan seperti itu. Bukankah kamu suka telur? Itu sudah cukup bukan?”

“Aku mau ikan seperti ini!” sentaknya.

Menur menghela napas panjang, menahan sesak yang memenuhi dadanya, tapi tak sepatah katapun ia menjawabnya. Bayangan harga ikan yang pastinya lebih mahal membuatnya semakin sesak.

***

Siang hari itu Menur tak lagi melewati daerah elit di mana dia bertemu Ana. Apalagi ada Baroto yang sepertinya ingin berbincang atau entah apa, dengannya.

Sudah saatnya dia menyetorkan botol-botol kosong itu ke pengepul, lalu ia harus segera pulang. Bayangan ikan goreng yang diminta anaknya sangat mengganggunya.

Ia merasa lega hari itu ia mendapat lebih banyak uang, karena bisa menyetor botol kosong sepenuh karung.

Ketika ia sedang memasukkan uang ke dalam saku bajunya, matanya terbelalak melihat seseorang mencegatnya.

Wajah Menur pucat pasi.

***

Besok lagi ya.

Saturday, June 20, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 29

 NAMAKU TETAP SENJA  29

(Tien Kumalasari)

 

Mereka puas jalan-jalan dan berteduh di taman, lalu Arka mengajaknya makan. Walau dengan rasa malu dan sungkan, mbok Mangun dan anak-anaknya terpaksa mengikuti kemauan Arka, karena sesungguhnya mereka juga mulai lapar.

Tapi tentang makanan itu, mbok Mangun tidak begitu bisa makan banyak, walaupun heran dengan menu aneh-aneh yang belum pernah dilihatnya, ataupun dimasaknya.

“Mengapa makan hanya sedikit Mbok, apa tidak enak?” tanya Arka

“Saking enaknya sampai mbelenger mas Arka, tapi namanya orang itu semakin tua kan perutnya semakin menyusut. Nggak muat kalau makan banyak-banyak. Nanti perutnya meletus bagaimana?”

Rimba terkekeh mendengar omongan simboknya.

“Memangnya gunung Mbok, bisa meletus?”

“Perut juga kalau kebanyakan ya bisa meletus. Memangnya hanya gunung yang bisa meletus. Sudah, sampaikan makannya, simbok sudah cukup.”

“Nanti dibawa pulang saja ya Mbok?” kata Arka lagi.

“Tidak usah Mas, kebanyakan makanan malah nggak kemakan.”

“Bisa dimakan nanti malam, supaya Simbok tidak repot masak lagi.”

”Mas Arka itu semua-semua dikasih ke keluarga simbok. Simbok ini hanya orang miskin Mas, tidak bisa membalas apa yang Mas Arka berikan.”

“Memangnya saya minta balasan? Kalau orang memberi lalu minta balasan itu namanya dagang. Ya kan?”

“Kalau yang diberikan mas Arka itu susah menggantinya. Berlimpah-limpah pemberiannya.”

“Senja, sekalinya usul kok lucu sih? Pemberian berlimpah limpah itu apa, memangnya air?”

“Seperti air, sampai tempatnya membeludak.”

“Ada-ada saja. Ayo makannya dihabiskan, aku mau pesan yang untuk dibawa pulang nanti.”

“Nggak usah Mas, ini sudah kenyang. Sampai besok juga nggak akan lapar lagi,” kata Simbok.

“Simbok ini ada-ada saja. Kenyang itu kan sekarang. Nanti juga pasti lapar lagi pada saatnya,” kata Arka yang kemudian memanggil pelayan rumah makan untuk menambahkan pesanan yang akan dibawa pulang.

“Rimba mau nambah lagi?”

“Tidak mas, sudah kenyang. Kata Simbok nanti bisa meletus perutnya,” kata Rimba yang disambut tertawa semua orang.

“Kita tunggu pesanannya dulu, lalu kita mau ke mana lagi nih?”

“Simbok pasti capek. Pulang saja ya Mbok?”

“Simbok nggak capek, senang sekali kok. Selama hidup baru sekali ini diajak muter-muter, melihat banyak hal baru yang belum pernah Simbok lihat sebelumnya.”

“Besok, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya. Ketempat yang lebih indah. Keluar kota, misalnya.”

“Kalau luar kota berarti di desa, simbok saja asalnya dari desa, untuk apa melihat desa?”

“Bukan sekedar desa atau luar kota Mbok, ada bangunan-bangunan untuk wisata yang bagus. Nanti deh, Simbok lihat.”

“Gitu ya? Belum terbayang seperti apa indahnya.”

***

Pak Wiguna sedang menerima telpon dari Rosa. Rasa cintanya kepada Arka telah berubah menjadi kebencian. Sekarang ia tak berharap bisa menjadi istri Arka, tapi berharap menghancurkan hati Arka.

“Om tahu, sekarang Arka ada di mana?”

“Kamu ketemu Arka?”

“Tidak Om, teman Rosa yang melihatnya.”

“Di mana dia?”

“Om tidak bertanya, Arka jalan-jalan bersama siapa”

“Temannya kan?”

“Bisa saja kalau penjual beras miskin itu dianggap sebagai temannya.”

“Dia bersama gadis itu?”

“Bukan hanya gadis itu saja, tapi keluarganya. Ada simboknya, ada juga adiknya.”

“Arka melakukannya?”

“Mereka putar-putar kota, lalu jalan-jalan di taman, lalu makan siang disebuah restoran. Bisa nggak Om bayangkan, baju kumuh, tubuh bau, bersendal jepit, masuk ke sebuah restoran. Pasti akan menjadi tontonan menarik. Bukan hanya tontonan, tapi juga pembicaraan. Apa Om tidak malu, putra Om bergaul dengan orang-orang seperti mereka?”

“Keterlaluan Arka, nanti kalau dia pulang pasti Om tegur sekeras-kerasnya.”

“Kalau aku jadi Om, pasti sangat malu sekali. Bagaimana mungkin seorang direktur muda jalan dan makan bareng dengan orang-orang miskin dan kampungan seperti mereka.”

“Tentu saja Om malu. Benar-benar keterlaluan dia.”

“Yang saya tidak mengerti, mengapa Arka tidak jalan atau main bersama teman-teman kuliahnya dulu, atau paling tidak dengan rekan sekantor. Itu kan lebih pantas, ya kan Om?”

Bertubi-tubi Rosa memanas-manasi pak Wiguna. Kecuali ingin menumpahkan kekesalannya, ia juga ingin agar Arka dimarahi orang tuanya.

“Tapi Om jangan bilang kalau saya memberi tahu Om ya, soalnya saya juga hanya mendapat laporan dari teman saya yang kebetulan melihat mereka. Tuh, baru saja teman saya mengabari, kalau Arka membawa orang-orang miskin itu memasuki sebuah toko pakaian.”

“Apa? Jadi Arka juga membelikan mereka pakaian?”

“Pastinya kan Om, masa masuk ke toko pakaian mau beli rujak?” kata Rosa setengah bercanda, tapi tidak membuat pak Wiguna tertawa.

“Apa yang meracuni hati Arka sehingga berbuat yang sangat tidak masuk akal seperti itu?”

“Om tahu tidak, orang-orang seperti mereka itu, banyak yang masih menggunakan guna-guna.”

”Guna-guna apa?”

“Guna-guna itu ya semacam kekuatan mistik begitu Om, orang pintar yang bisa melakukannya. Jadi mereka mencari orang pintar, agar Arka jatuh hati kepada anak mbok Mangun, lalu memanjakan mereka dengan banyak hal yang menyenangkan. Nanti akan lebih banyak Arka keluar uang untuk mereka. Kali ini mengajak jalan-jalan, lalu makan di restoran mahal, lalu membelikan pakaian. Lama-lama perhiasan, rumah, mobil, semua yang mereka mau.”

“Apa?”

“Arka punya segalanya. Uang tak usah ditanya. Apa susahnya menuruti kemauan mereka?”

Dan pak Wiguna benar-benar terbakar oleh sulutan api yang dikobarkan Rosa.

***

“Ada apa, Bapak marah-marah lagi?”

“Kamu tahu nggak Bu, Arka pergi ke mana?”

“Bukankah kencan dengan teman-temannya? Perginya ke mana ya aku tidak tahu.”

“Dia pergi bersama orang-orang miskin itu.”

“Orang-orang miskin siapa? Mbok jangan suka mengatai orang miskin. Miskin harta itu bukan hina. Yang hina kalau miskin hati nuraninya.”

“Ibu berkali-kali ngomong begitu. Itu, penjual beras itu. Apa benar Arka suka sama dia? Bocah ingusan masih sekolah, kumuh dan sama sekali tidak menarik.”

“Apa Arka mengatakan kalau dia suka sama gadis itu?”

“Ya tidak berani dia mengatakan begitu. Tapi Ibu tahu tidak, sejak pagi tadi Arka pergi bersama mereka.”

“Mereka itu siapa? Beberapa orang pastinya?”

“Gadis itu, sama simboknya, sama adiknya.”

“Arka pergi bersama mereka?”

“Iya. Diajak putar-putar kota, jalan-jalan di taman, makan di restoran, dan pada laporan terakhir Arka mengajak mereka belanja pakaian. Apa itu tidak kebangetan?”

“Mungkin Arka kasihan sama mereka, lalu mengajaknya jalan-jalan supaya mereka senang.”

“Pernahkah terpikir oleh Ibu bahwa penjual beras itu menggunakan guna-guna untuk memikat anak kita?”

“Bapak itu ada-ada saja. Jaman modern seperti sekarang masih ada yang menggunakan guna-guna? Fitnah itu.”

“Bu, kelakuan yang tidak wajar bisa jadi karena adanya guna-guna.”

“Masa sih, mengajak jalan-jalan, mentraktir makan, memberi pakaian, itu tidak wajar? Arka berbaik hati, mungkin karena kasihan pada kehidupan mereka.”

“Mengapa juga Arka harus kasihan? Banyak orang miskin di dunia ini, apa Arka akan membantu dan menyenangkan hati mereka semua?”

“Kalau itu mampu dilakukannya, mengapa tidak? Aku heran, Bapak itu terpelajar, pengusaha yang pergaulannya pastilah dengan orang-orang pintar, mengapa bisa mempunyai pikiran sepicik itu? Dari mana Bapak mendapat pemikiran aneh seperti itu? Dari mana Bapak tahu mereka pergi ke mana dan mengapa?”

“Rosa melihatnya. Eh bukan, teman Rosa melihatnya, lalu bercerita pada Rosa.”

“Jadi Rosa mendapat laporan dari teman Rosa? Kelihatan sekali kalau Rosa tidak suka pada gadis penjual beras itu. Tapi aku tidak mau ikutan berpikiran picik seperti itu. Mengada-ada. Kalau anak kita baik kepada orang, harusnya kita bangga.”

Kali ini pak Wiguna yang meninggalkan istrinya, sambil mengomel panjang pendek karena lagi-lagi tidak mendapat dukungan.

***

“Mas Arka, mengapa Mas Arka melakukan semua ini? Sudah mengajak jalan, muter-muter, makan-makan, lalu membelikan kami pakaian. Ada apa ini?” keluh Senja ketika Arka beranjak keluar dari toko sambil membawa bungkusan beberapa potong pakaian untuk mereka bertiga.

“Kamu tidak usah protes. Aku ingin melakukannya, karena aku suka pada simbok, pada perjuangannya, aku juga suka kepada anak-anak simbok yang baik, yang patuh, yang penuh kasih sayang kepada orang tuanya.”

“Tapi ….”

“Tidak usah tapi-tapian, ayo ke mobil, aku antar kalian pulang.”

Senja merengut karena dimarahi, tapi ia segera menggandeng simboknya menuju mobil.

Tapi tiba-tiba ada orang berteriak dari lobi.

“Mbak … Mbak, sini dulu, ada yang ketinggalan.”

Senja heran, tapi setelah membantu simboknya masuk ke mobil, Senja berbalik masuk ke arah toko, sambil berpikir, apa ya yang ketinggalan.

Arka heran ketika simbok dan Rimba sudah masuk ke mobil, tapi Senja tidak ada.

“Mana Senja?”

“Nggak tahu Mas, tadi ada yang berteriak dari sana, katanya ada barang ketinggalan, jadi Senja masuk kembali.”

“Apa yang ketinggalan?”

“Tidak tahu Mas.”

Mereka menunggu, tapi lama sekali Senja tidak keluar dari toko itu.

***

Besok lagi ya.

 

NAMAKU TETAP SENJA 33

  NAMAKU TETAP SENJA  33 (Tien Kumalasari)   Dokter menganjurkan agar Senja dirawat sehari dua hari, tapi Senja menolak. “Tidak Dokter, saya...