Sunday, May 31, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 02

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  002

(Tien Kumalasari)

 

Siang hari saat Ana harus makan, Rumi kembali mengetuk pintu. Tapi Ana kecil rupanya sedang tertidur, bermimpi tentang pengais sampah yang memiliki pelukan hangat dan manis.

“Aku mau dia memeluk lagi, aku mau dia ….” bisiknya mengigau.

“Non, Non … buka pintunya dong Non,” Rumi mulai menggedor pintu.

Mata Ana terbuka. Ucapan yang pertama kali dilontarkannya adalah: “Mana dia?”

“Non, buka pintunya. Baiklah, Rumi tidak akan menyuruh Non mandi. Sekarang buka pintunya ya Non,” kata Rumi, lembut.

Ana meraba perutnya. Ia sebenarnya lapar. Ia enggan keluar, kalau saja tidak mendengar Rumi mengatakan bahwa dia tak akan memaksanya mandi. Ana seakan takut, bekas pelukan bibi Menur akan hilang kalau dia mandi.

“Ayolah Non, cantik, manis, ayu, buka pintunya ya, bibi menggoreng ayam kremes kesukaan Non lhoh.”

“Tapi aku tidak mau mandi,” Ana berteriak.

“Baiklah, terserah Non saja. Tidak mandi juga tidak apa-apa.”

Pintu kamar itu terbuka, tapi wajah Rumi tampak cemberut. Sebenarnya dia kesal, hari itu Ana agak bandel gara-gara pemulung itu.

“Aku tidak mau mandi.”

“Baik, saatnya makan, sudah Rumi siapkan.”

“Besok aku mau Rumi menyiapkan semangkuk makan,” kata Ana sambil duduk, sementara Rumi melayaninya.

“Bukankah setiap hari Rumi sudah selalu menyiapkan makan untuk Non?”

“Bukan aku, untuk bibi Menur.”

“Siapa dia?”

“Yang tadi itu.” Ana berteriak lagi.

“Mengapa Non melakukannya?”

“Pokoknya siapkan saja.”

“Nanti kalau nyonya marah bagaimana?”

“Mama tidak akan marah. Mama tidak peduli apapun.”

“Ya sudah, makanlah dulu sekarang, Rumi menunggu di situ,” katanya sambil menunjuk ke arah kursi, di mana Rumi selalu duduk menunggu Ana untuk dilayani saat makan.

***

Menur mengusap wajahnya dengan selendang yang tadi dibuatnya untuk mengikat karung sebelum diserahkan ke pengepul langganannya.

Ia memasuki rumah, wajahnya kotor berdebu. Ia sudah membeli sekilo beras dan dua butir telur. Ia mencuci kaki tangan dan wajahnya, lalu masuk ke dapur. Sebentar lagi Rahman, sang anak, pulang, dan makan harus sudah disiapkan.

Ia sudah menanak nasi, masih ada sisa sayur kemarin yang sudah dipanaskan, lalu menggoreng telur. Rahman sangat suka telur. Kalau bisa sang ibu selalu menyiapkan lauk telur, entah digoreng atau direbus, atau dimasak apa saja. Yang penting ada telur. Pernah suatu ketika Menur tak mampu membeli telur, sehingga hanya beli dua potong tahu dan tempe, Rahman ngambeg tak mau makan. Apa boleh buat, demi sang anak dia berhutang sebutir telur di warung tetangga. Menur sangat memanjakan sang anak. Ia berharap anaknya selalu senang, tapi harus rajin belajar demi masa depannya. Sepeninggal suaminya yang pengayuh becak, Menur menghidupi dirinya sendiri dan seorang anaknya. Ia mencari uang sekuat tenaga, biar didera hujan dan panas, kakinya tetap melangkah.

Ia selalu bermimpi, agar anaknya bisa sekolah, pintar, dan menjadi orang. Hidup seperti dirinya sangatlah menderita. Janganlah sang anak mengalaminya. Bekalnya hanya satu, Rahman harus menjadi orang. Mampukah ia melakukannya? Entahlah. Doa dan jerit setinggi langit selalu dipanjatkannya. Semoga semesta mengamininya, dan Yang Maha Kuasa mendengarnya.

Menur sedang mengentas nasi ke dalam sebuah mangkuk, diletakkannya didekat sayur dan telur ceplok yang sudah disiapkannya, ketika mendengar langkah kaki anaknya.

“Bu ….”

“Syukurlah kamu sudah pulang. Cepat ganti bajumu, cuci kaki dan tanganmu, lalu makan. Ibu sudah siapkan semuanya.

“Bu, bajuku sobek,” kata Rahman sambil menunjukkan bajunya yang robek.”

“Ya ampuun, ini robek jahitannya, nanti biar ibu jahit sebentar. Cepat ganti bajumu dulu.”

“Aku tidak mau baju ini dijahit.”

“Kan robek? Masa mau pakai baju robek?”

“Aku mau ibu beli yang baru.”

“Apa?”

“Yang baru Bu, aku malu,” rengek Rahman.

Menur mengelus dadanya yang tiba-tiba merasa nyeri.

Ia menatap anaknya yang dengan santai melepas baju dan celananya, kemudian lari ke kamar mandi dan memakai baju rumahan yang sudah disediakan sang ibu.

Menur masih memegangi baju yang robek di bagian lengan, lalu menatapnya sendu. Hanya robek jahitannya, bisa dijahit ulang sehingga tersambung kembali.

“Bu, mengapa baju itu dipegangi terus? Itu sudah tak layak dipakai,” katanya sambil duduk di kursi makan, lalu dengan lahap makan apa yang sudah ada di depannya.

“Nak, baju ini masih bagus. Ini hanya lepas jahitannya. Ibu jahit sebentar juga pasti sudah kembali pantas dipakai.”

“Nggak mau. Malu aku Bu, warnanya sudah memudar. Teman-temanku bajunya bersih semua.”

“Rahman, kalau harus beli kelamaan. Bukankah besok pagi masih akan dipakai lagi? Biar ini ibu jahit dulu, lalu dicuci dan disetrika. Yakinlah, masih bagus kok.”

“Nggak mau.”

Menur menarik napas panjang. Selama ini apa yang diinginkan Rahman harus dipenuhi. Sayangnya Menur yang merasa hanya memiliki Rahman dalam hidup ini, tak tega membuatnya kecewa.

Tapi Rahman yang sudah terbiasa dimanja, terbiasa semua keinginannya terpenuhi, tak pernah mau mengerti bagaimana beratnya sang ibu memikul bebannya. Ia harus makan, harus berpakaian pantas, harus tampil disekolah dengan penampilan yang tidak memalukan.

“Nak, ibu tidak punya uang lagi. Ibu punya sedikit tabungan, tapi hanya untuk biaya sekolah kamu, apalagi kamu sebentar lagi lulus dan mau masuk SMP.”

“Pokoknya beli baju. Rahman malu. Tadi sudah ditertawakan teman-teman Rahman gara-gara baju Rahman sobek.”

“Bukankah besok tidak kelihatan sobek lagi?”

“Pokoknya seragam baru!!” pekiknya sambil menghabiskan makanannya, lalu berlari ke kamar.

Menur meletakkan baju itu di sandaran kursi, lalu mengusap air mata yang tak lagi bisa ditahannya.

Setelah membersihkan meja bekas makan anaknya, ia masuk ke kamar lalu membuka kotak simpanannya, yang sebenarnya sudah menjadii janjinya untuk tidak akan mengurangi jumlah uangnya, justru selalu menambahnya sedikit demi sedikit.  Uang itu hanya untuk biaya sekolah Rahman, sesuai keinginan Menur agar menjadikan Rahman anak yang bisa menemukan kehidupan lebih baik.

Gemetar tangannya ketika menarik beberapa lembar uang itu, lalu memasukkannya ke dalam saku.

Ia membersihkan dapur sebentar, kemudian keluar rumah, semi selembar seragam sang anak yang tak mau lagi memakai yang lama. Sambil menutup pintu depan, kembali Menur mengusap pipinya yang basah oleh air mata.

***

Rumi merasa kesal karena Ana berkali-kali mengingatkan dirinya agar menyiapkan semangkuk nasi esok hari, untuk perempuan pemulung yang baru sekali dikenalnya.

“Bibik jangan lupa ya.”

“Memangnya siapa dia itu? Non Ana keterlaluan. Dia itu kotor, Non jangan dekat-dekat. Badan yang kotor banyak penyakit. Tahu nggak sih?” omel Rumi.

“Nggak kotor kok.”

“Bagaimana nggak kotor? Dia mengais botol-botol kosong di tempat sampah. Dia itu bukan hanya kotor, tapi juga bau. Kalau Nyonya tahu, pasti Non akan dimarahinya.”

Tapi sungguh Rumi tidak pernah berani mengadukan kelakuan Ana tersebut, karena kalau sampai dia mengadu, dia juga yang akan disalahkan karena dianggap tak bisa menjaga Ana.

“Non tidak usah menemui dia lagi ya. Oh iya, besok tuan pulang, apa Non lupa?”

“Aku tidak lupa, memangnya kenapa?”

“Non tidak boleh ke mana-mana.”

“Diamlah Rumi, aku sedang belajar,” kata Ana yang memang sedang belajar. Ia punya tugas menggarap tugas yang diberikan gurunya, yang besok siang adalah jadwalnya mengajar.

Rumi tak menjawab, tapi ia merasa kesal kepada pengais sampah itu. Ia berharap akan mengusirnya besok, kalau dia lewat. Semoga ia lebih dulu melihatnya sebelum Ana.

***

Hari itu Menur seperti biasa menyusuri jalan sambil setiap kali mengorek tempat sampah, barangkali menemukan botol kosong yang bisa dijadikannya uang.

Masih terbayang olehnya, ketika beberapa puluh ribu uangnya berkurang gara-gara sang anak merengek harus memakai seragam baru.

“Semoga aku segera bisa enggantikan uang yang berkurang itu.”

Lalu Menur teringat pada gadis kecil bernama Ana yang berpesan padanya agar hari itu lewat di sana lagi.

Lalu teringat apa yang dikatakannya ketika bertemu.

“Bibi, peluk aku lagi.”

Menur tersenyum. Sesungguhnya anak itu sungguh menggemaskan. Sekarang ia sudah memasuki area rumah-rumah elit. Rumah orang tua Ana sudah kelihatan. Ia ingin menyeberang, ketika sebuah mobil melintas.

Tiba-tiba kaca jendela mobil itu terbuka. Seorang laki-laki melongok, menatapnya tak berkedip.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Saturday, May 30, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 11

 NAMAKU TETAP SENJA  11

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun terpaku heran. Bagaimana tuan muda yang baik hati ini tahu tetang cicilan pak RT?

“Ada apa menatap saya seperti itu Mbok?”

“Apa maksud tu … eh … mas Arka berkata begitu? Tuan … eh … mas Arka tahu tentang pak RT?”

“Bukankah simbok sendiri yang bilang kemarin, tentang uang yang bisa untuk mencicil pak RT?”

“Oh, itu ….” mbok Mangun baru sadar kemarin kelepasan bicara. Ia berharap anak-anaknya tak seorangpun tahu tentang hutang itu.

“Iya kan? Simbok sendiri yang mengatakannya?”

“Iyaa, mmas Arka.”

“Tapi menurut saya itu bukan uang sampah yang harus dikumpulkan oleh warga.”

“Itu ….”

“Berapa uang sampah yang harus dikumpulkan warga? Kalau harus dicicil itu pastilah banyak. Benarkah hanya cicilan uang sampah?”

“Iya kok ….”

“Menurut saya, Simbok sedang menyembunyikan sesuatu, terutama dari anak-anak Simbok.”

“Ah, Tuan bisa saja. Sudahlah, ini uang kembalian disimpan saja dulu, nanti kena angin bisa terbang.”

“Kan saya bilang untuk Simbok saja, supaya bisa membayar cicilan uang sampah?”

Mbok Mangun termangu. Ia sadar kalau tuan muda ini tak bisa dibohongi, seperti anak-anaknya. Senja dan Rimba masih bocah, bisa saja menerima alasannya, tapi tuan muda tampan itu sudah lebih dewasa, sudah bisa menangkap sikap seseorang saat bicara bohong.

“Mbok, sungguh saya ikhlas, ini untuk Simbok. Untuk tambahan beli beras lagi kalau berasnya habis. Cicilan uang sampah kan tidak seberapa,” kata Arka sambil memaksa simbok menerima uang yang sudah ditaruh di sampingnya.

“Tuan … “

“Mas Arka,” Arka membetulkan.

“Mas Arka, mengapa tuan … mas Arka begitu baik kepada orang yang baru saja mas Arka kenal? Saya bukan siapa-siapa,” kata simbok bergetar tak kuasa menahan haru.

“Tidak apa-apa, saya tertarik kepada perjuangan simbok yang begitu gigih demi anak-anak Simbok. Allah yang memberi Mbok, saya hanyalah perantara, jadi jangan sungkan menerimanya.”

Simbok mengusap titik air matanya.

Tiba-tiba sebuah colt terbuka berhenti di depan.

“Itu, berasnya sudah datang,” teriak Simbok.

Dua orang mengusung sekwintal beras itu ke arah rumah mbok Mangun.

“Sudah, ditaruh di sini saja,” kata Arka yang menyuruh meletakkan beras di depannya.

 Mereka meletakkan berasnya seperti keinginan Arka, kemudian berlalu.

Arka menelpon orang kantor agar mengambil beras pesanannya. Ia juga memberikan alamat di mana beras harus diambil.

“Setelah itu langsung kamu kirimkan ke rumah, serahkan kepada bibik ya?”

Arka menyimpan kembali ponselnya dan tersenyum kepada simbok.

“Mbok, ini biar di sini saja, orang saya akan mengambilnya dan langsung mengirimnya ke rumah.”

“Oh iya, baik Tu … mas Arka, biar saya tunggu sampai mereka datang.”

“Sekarang saya mohon diri, karena harus kembali ke kantor ya Mbok.”

“Silakan Mas, terima kasih banyak.”

Ketika Arka berlalu, simbok menatapnya dengan perasaan tak menentu.

“Allah menurunkan orang baik yang selalu menolong keluargaku. Jangan-jangan benar kata Senja, bahwa dia benar-benar malaikat,” gumamnya penuh haru. 

Ia sekarang sedang menunggu orang suruhan Arka yang akan mengambil berasnya, sambil pergi ke dapur untuk memasak sayur untuk anak-anaknya yang akan segera pulang.

***

“Bik, ini berasnya,” kata orang kantor yang membawa beras seperti yang dipesan majikan mudanya.

“Lho, kok kamu yang mengirim beras?”

“Pak Arka yang menyuruh. Taruh di mana ini?”

“Taruh di dalam dapur, di pojok sana, nanti aku ganti tempatnya di kotak beras.”

Bibik senang karena berasnya datang sebelum kehabisan.

“Memangnya mengambil berasnya di mana?”

“Agak jauh, di kampung Krajan.”

“Walaah, tuan muda memang baik hati benar, menolong temannya dengan membeli barang jualannya.”

“Ya sudah, aku permisi dulu Bik.”

“Terima kasih ya Mas.”

Simbok menghampiri karung beras. Ia siap memindahkannya di kotak penyimpanan beras.

“Hm, baunya wangi. Pasti enak ini,” gumam bibik.

“Berasnya sudah datang?”

“Sudah Nyonya, baru saja. Ini berasnya, coba Nyonya lihat.”

Bu Wiguna mendekati karung beras yang sudah dibuka oleh bibik. Meraupnya lalu menciumnya.

“Wangi. Arka tahu bagaimana memilih beras.”

“Iya Nyonya, saya sudah memberi tahu, kalau pesan yang bagus, yang wangi, yang pulen.”

“Kalau memang baik, untuk selanjutnya pesan pada temannya Arka saja.”

“Iya Nyonya.”

***

Pak Wiguna sedang ada di kantor, kesal karena mencari Arka tidak ketemu. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Bagian ekspedisi mengatakan bahwa Arka menyuruh anak buahnya mengambil beras untuk dikirim ke rumah. Pak Wiguna sangat marah. Begitu Arka datang, lalu disemprotnya sang anak dengan amarah yang sulit dikendalikan.

“Sebenarnya kamu itu direktur apa tengkulak beras?” katanya dengan nada tinggi.

“Saya kan sudah bilang, ingin membantu teman.”

“Tapi kamu juga mempergunakan karyawan kantor untuk urusan teman kamu itu. Kalau memang dia jual, kamu beli, suruh dia yang mengirim, bukan kamu yang mengirimkannya.”

“Soalnya dia tidak punya alat transportasi yang bisa mengirimkan beras sebanyak pesanan bibik. Dia pedagang kecil, itu sebabnya Arka membantu.”

“Kamu selalu ada saja alasannya. Lain kali kalau masih repot masalah pengiriman, tidak usah beli pada teman kamu.”

“Lain kali biar dia yang mengurus pengirimannya. Ini kan baru pertama kali.”

“Ada-ada saja. Kamu juga meninggalkan kantor lama sekali. Mengapa akhir-akhir ini kamu selalu membuat bapak kesal? Urusan kantor diselesaikan dulu, bukan mengurusi orang lain yang kamu tidak mendapatkan apa-apa.”

Arka tak menjawab. Ia menuju ke meja kerjanya lalu mulai memeriksa berkas yang bertumpuk di meja. Ia tidak setuju pada pendapat ayahnya. Membantu seseorang apakah harus mengharapkan imbalan? Ini seperti kasus pada hubungannya dengan Rosa. Ayahnya selalu mengatakan tentang pertolongan pak Daryono saat perusahaannya nyaris ambruk. Lalu dia harus menambal hutang budi itu dengan hidupnya? Ia bersedia melakukan apa saja, tapi jangan mengorbankan hidupnya. Tapi ia merasa lebih baik tak menjawab. Apapun jawabannya akan salah di mata sang ayah.

Tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering. Dari istrinya, yang mengatakan bahwa Rosa ada di rumah.

“Apa? Rosa ada di rumah? Ajak dia makan siang yang enak, aku akan segera pulang. Dia sendiri atau dengan pak Daryono atau ibunya?”

“Dia sendiri, katanya hanya ingin mampir.”

“Baiklah, siapkan makan siang, aku akan segera pulang.”

Pak Wiguna menyimpan kembali ponselnya, lalu menatap sang anak.

“Arka, ayo pulang bersama bapak, ada Rosa di rumah.”

“Tidak bisa Pak, pekerjaan saya masih banyak. Lagi pula ini jam kerja, masa harus menemui tamu di rumah?”

“Ini bukan sembarang tamu.”

“Bapak saja pulang duluan, saya selesaikan pekerjaan saya dulu,” kata Arka tanpa menatap sang ayah.

Dengan wajah gelap pak Wiguna akhirnya pulang lebih dulu, meninggalkan Arka yang merasa heran atas sikap Rosa yang selalu kelihatan memaksa.

***

Rosa sedang duduk bersama bu Wiguna, sambil menunggu bibik menyiapkan makan siang, dan kepulangan pak Wiguna.

“Apakah Arka juga ibu suruh pulang?”

“Pasti ayahnya sudah menyuruhnya. Tapi entah dia mau atau tidak. Kalau sedang bekerja dia susah diganggu.”

“Arka itu … apakah tidak suka pada Rosa?”

Bu Wiguna mencoba tersenyum.

“Tidak ada alasan untuk tidak suka. Keluarga kita sudah seperti saudara bukan?”

“Tapi Arka selalu menghindari saya.”

“Kamu harus bersabar Rosa, tidak mudah meluluhkan hati seseorang. Kamu juga harus bisa mengerti, kapan dan bagaimana seseorang bisa jatuh cinta.”

“Tolong katakan, bagaimana saya bisa meluluhkan hati Arka? Mengingat kami sudah dijodohkan, saya berharap Arka bisa bersikap lebih baik pada saya.”

“Apa yang bisa ibu lakukan? Masing-masing orang punya perasaan dan hati yang berbeda. Tapi menghindari yang dia tidak suka, adalah sebuah usaha yang baik.”

“Apa ya, yang dia tidak suka?”

“Laki-laki kebanyakan tidak suka dikejar-kejar. Dia lebih suka mengejar. Kamu harus mengerti itu.”

***

Besok lagi ya.

Friday, May 29, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 10

 NAMAKU TETAP SENJA  10

(Tien Kumalasari)

 

Bu Wiguna diam, kalau dijawab lagi pasti perdebatan akan menjadi lebih panjang, dan tidak cukup hanya berdebat, tapi juga sambil berteriak-teriak yang bisa membuat seisi rumah bergetar.

“Jangan hanya diam. Camkan apa yang sudah aku katakan. Apa kamu pikir keinginan aku ini  salah? Ini demi kebaikan anak kita juga kan?”

“Iya, aku tahu.”

“Jangan hanya tahu. Bantu aku. Arka tidak bisa dibiarkan semaunya. Dia itu susah diatur.”

“Sebenarnya bukannya susah diatur, sejak masih kecil dia itu anak yang penurut. Ia juga pintar.”

“Itu kan waktu dia masih kecil, nyatanya sekarang berani menentang orang tua. Mentang-mentang sudah bisa bekerja sendiri sehingga merasa tidak lagi membutuhkan orang tua.”

Bu Wiguna mengangguk-angguk. Tadi ia sudah ingin pergi, tapi kalau suaminya masih ingin ngomong, lalu dirinya pergi, pasti dia akan marah juga. Jadi ia hanya mendengar saja apa yang dikatakannya, dan sebentar-sebentar mengangguk.

“Sebenarnya kamu mengerti atau tidak apa yang aku katakan sih Bu?”

“Iya, tentu saja mengerti. Aku kan hanya mendengarkan apa yang Bapak katakan.”

“Jadi kamu setuju kan dengan pendapatku mengenai perjodohan itu?”

Bu Wiguna bukannya tidak setuju. Ia hanya merasa bahwa perjodohan juga harus terhubung dengan rasa. Memaksakan kehendak hanya akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari. Bagaimana mengatakannya?

“Setuju atau tidak?”

“Aku kira … bapak harus bersabar.”

“Apa maksudmu?”

Tuh kan, dia sudah mulai berteriak lagi.

“Mendekatkan dua hati itu  memerlukan kesabaran. Baiklah, aku setuju, tapi jangan terlalu terburu-buru. Arka sudah dewasa, ia harus berpikir sebelum melakukan sesuatu, apalagi sebuah perjodohan. Yang namanya berjodoh itu diharapkan bisa tetap berjodoh selamanya kan? Nah, untuk itu membutuhkan waktu untuk berpikir, menimbang … jadi tidak tergesa-gesa. Aku percaya, kalau Bapak bersabar, menunggu sampai Arka bisa menenangkan diri, maka semuanya akan berjalan seperti yang Bapak inginkan,” kata bu Wiguna lembut, pelan.

“Lalu sampai kapan aku harus menunggu?”

“Bersabar dulu, jangan terburu nafsu.”

“Apa ibu yakin, pada suatu ketika nanti Arka mau menerima perjodohan itu?”

“Kita lihat saja nanti. Yang penting  sekarang Arka jangan selalu diomelin, nanti dia merasa sebel, jadi nggak mau mendengarkan apa kata Bapak.”

“Baiklah, aku akan bersabar. Tapi awas saja kalau nantinya dia membuat aku kecewa.”

Sang istri menarik napas panjang. Tak urung tetap saja masih ada kata ancaman.

***

“Rosa sejak kemarin uring-uringan,” keluh bu Daryono ketika sedang berdua dengan suaminya.

“Maunya bersepeda bareng sama Arka, tapi Arka malah berangkat sendiri, tidak menunggunya. Jadinya dia kesal.”

“Aku heran, mengapa Bapak menuruti kemauan Rosa untuk menjodohkannya dengan Arka? Sudah jelas Arka sepertinya tidak suka.”

“Aku hanya bicara sekilas, barangkali bisa kejadian. Aku bicara itu karena tahu bahwa Rosa menyukai Arka. Siapa tahu benar-benar bisa berjodoh.”

“Kalau Bapak bicara sekilas, mengapa mereka menerimanya dengan serius?”

“Aku tuh hanya bilang, Arka anak baik, senang sekali kalau bisa mengambilnya menjadi menantu. Apa itu sebuah perjodohan? Sepertinya hanya mirip sebuah candaan.”

“Tapi mereka menerimanya dengan sangat serius. Dan Rosa sudah sangat senang sekali. Apalagi kemarin malam, dia mengundang keluarga Wiguna untuk makan malam di sini. Bapak yang menyuruhnya?”

“Tidak, Rosa sendiri yang mengundang mereka, dengan nebeng nama bapak. Aku tahunya sudah terlanjur, dan mereka siap datang, masa harus ditolak?”

“Aku tidak suka Rosa bersikap begitu. Dia kan anak perempuan, harus bisa menjaga martabat seorang perempuan dong. Seolah-olah dia yang mengejar, itu memalukan.”

“Aku sudah memberi tahu dia panjang lebar. Semoga dia mengerti.”

“Nyatanya dia masih uring-uringan.”

“Gantian Ibu yang bilang dong. Beri tahu bahwa mengejar seorang laki-laki itu tidak pantas.”

“Nanti aku beritahu dia.”

Nah, nyatanya keluarga Daryono tidak sepenuhnya memaksa berbesan dengan keluarga Wiguna. Hanya pak Wiguna saja yang sangat berharap.

***

Pagi itu bibik mendekati Arka.

“Tuan muda, apakah Tuan sudah memesankan berasnya?”

“Sudah Bik, nanti sore pasti sudah siap.”

“Baiklah Tuan, soalnya berasnya hanya cukup untuk hari ini dan besok paling hanya paginya saja.”

“Bibik jangan khawatir. Nanti sore pasti sudah sampai di sini.”

“Ya sudah Tuan, terima kasih sudah meringankan beban bibik.”

Arka tersenyum, kemudian bersiap ke ruang makan karena bapak dan ibunya sudah menunggu.

“Ada apa Arka bicara sama bibik?” tanya pak Wiguna.

“Dia memesankan beras untuk bibik," jawab sang istri.

“Apa? Arka pesan beras? Kamu itu kurang kerjaan ya Ka?” katanya kepada Arka yang sudah mulai duduk di samping sang ayah.

“Bukan kurang kerjaan Pak, hanya membantu teman.”

“Membantu teman bagaimana?”

“Teman Arka jualan beras, Arka bantu supaya bisa menambah keuntungan dia.”

“Ya itu yang bapak maksud kurang kerjaan. Urusannya apa maka kamu mencarikan keuntungan untuk orang lain? Pikir diri kamu sendiri. Perjalanan hidup yang mana yang bisa menguntungkan diri kamu.”

“Namanya orang hidup, apa salahnya tolong menolong?”

“Kamu menggurui ayah kamu ini?”

“Bukan Pak, saya hanya ingin membantu, apa itu salah?”

“Salah, dan kurang kerjaan. Apa untungnya bagi kamu kalau kamu menolong dia?”

Arka terdiam. Kalau dia menjawab juga, nanti sang ayah pasti mengatakan lagi  bahwa dia menggurui sang ayah.

“Bapak makan dulu saja, nanti keselek kalau makan sambil bicara,” tegur istrinya.

“Itu lho Bu, anakmu ada-ada saja. Urusannya sendiri nggak beres, malah mikir orang lain.”

“Hanya membantu saja, Arka tidak rugi apa-apa.”

“Kalau orang tua mengingatkan, itu tandanya bahwa orang tua mencintai kamu, menyayangi kamu.”

“Ya sudah, lanjutkan makan Arka, nanti terlambat ke kantor,” kata sang ibu kepada Arka, menengahi.

Arka merasa bahwa rumah yang dihuninya selama berpuluh tahun tiba-tiba terasa tidak nyaman. Kasih sayang sang ayah yang dulu sangat membuatnya bahagia, tiba-tiba hilang entah kemana. Kalau sang ayah bilang cinta, tapi cinta itu dalam bentuk yang berbeda. Arka merasa bahwa sang ayah lebih mencintai dirinya sendiri, bukan kepada dirinya.

Ruangan yang ber AC dan biasanya membuat sejuk, tiba-tiba terasa ada nyala api yang membuatnya gerah. Arka mempercepat sarapannya, lalu berdiri, menghampiri sang ayah dan ibunya, mencium tangan mereka, kemudian berlalu.

“Anak itu sekarang selalu bertindak semaunya. Benar seperti kataku kemarin kan?”

“Arka bukan anak kecil Pak, biarkan saja dia melakukan apa yang diinginkannya.”

“Bagaimana kita harus membiarkan, kalau tindakannya salah?”

“Dia pasti sudah tahu mana yang baik dan yang buruk untuk dirinya. Kan aku sudah bilang, Bapak harus bersabar. Bapak tahu tidak, kalau mendengar Bapak marah-marah, tensiku mendadak tinggi.”

Mendengar sang istri mengeluh, pak Wiguna diam. Ia menatap istrinya dengan khawatir.

“Minum obatmu dan istirahat saja,” katanya pelan. 

Rupanya betapapun marahnya dia, ia masih merasa khawatir tentang kesehatan sang istri.

***

Saat istirahat siang, Arka keluar kantor. Ia harus ke rumah mbok Mangun untuk memastikan pesanan berasnya sudah siap atau belum. Dan karena mbok Mangun memesan lagi sekwintal beras pesanan Arka, maka dia keluar menjajakan berasnya hanya sebentar. Tengah hari dia sudah di rumah, menunggu pesanan berasnya agar jangan dibawa kembali kalau melihat rumahnya kosong.

Ketika mendengar mobil berhenti, mbok Mangun bergegas ke depan, mengira berasnya datang. Tapi ternyata yang datang adalah Arka si pemesan.

Tergopoh mbok Mangun menyambut.

“Aduh Tuan, berasnya belum dikirim, mungkin sebentar lagi.”

“Tidak apa-apa Mbok, saya akan menunggu. Nanti kalau berasnya datang saya akan menyuruh orang kantor untuk mengambilnya.”

“Biasanya jam-jam segini mereka kirim pesanan saya Tuan.”

“Simbok kok lupa lagi, nama saya bukan tuan.”

“Eh, iya mas Arka, duduk dulu, tunggu sebentar,” simbok bergegas masuk ke rumah, kemudian keluar dengan mambawa sejumlah uang.

“Mas Arka, ini uang kembaliannya, masih banyak.”

“Lho, kembalian apa?”

“Uang mas Arka kemarin terlalu banyak, masih ada kembaliannya.”

“Nggak usah dikembalikan Mbok, biar saja.”

“Jangan begitu, simbok nggak mau. Namanya jual beli ya diterima sejumlah uang yang pas untuk membayar belanjaannya. Dulu itu Tuan … eh … mas Arka sudah membayar lebih, ini lebihnya banyak, saya tidak mau,” kata simbok sambil meletakkan uang di bangku, sebelah Arka duduk.

“Mbok, lebih baik uang ini untuk mencicil pak RT saja.”

“Apa?”

Simbok sangat terkejut. Tuan ganteng itu bicara tentang cicilan pak RT?

***

Besok lagi ya.

Thursday, May 28, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 09

 NAMAKU TETAP SENJA  09

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun melongo, ada wong bagus datang pesan beras satu kwintal, apa dia bermimpi? Mbok Mangun hanya pedagang beras kecil-kecilan. Melayani sekilo dua kilo, paling banyak satu karung berisi duapuluh lima kilo, itupun jarang. Sekarang satu kwintal?

Arka tersenyum, menyentuh lengan simbok yang kemudian membuat simbok tersadar.

“Saya benar-benar pesan, kok Simbok bengong?”

“Tu … Tuan, kalau satu kwintal … simbok tidak sedia … harus pesan dulu, paling besok, ta … tapi … simbok tidak punya uang untuk ….”

“Berapa harganya?”

“Kalau yang bagus, wangi pulen itu lebih mahal Tuan … hanya saja … simbok ini kan pedagang kecil-kecilan, dan kemarin baru mengambil satu kwintal, baru akan simbok jajakan … jadi ….”

“Baiklah, saya bayar dulu ini … ,” Arka mengeluarkan uang lembaran seratusan ribu sebanyak dua juta rupiah,  diberikannya kepada mbok Mangun.

“Ini … “

“Kurangkah? Saya  tidak tahu harga beras, saya tambah lagi satu juta ya?”

“Tapi … barangkali kebanyakan … harganya kalau yang bagus itu sekitar ….”

“Bawa saja, daripada kurang.”

“Besok saya kirim ke mana Tuan?”

“Besok saya ambil saja, kasihan kalau Simbok mengirim.”

“Kan bisa naik becak, atau angkutan umum?”

“Jangan, saya ambil saja, lusa, besok kan baru dikirim.”

“Ya besok sore Tuan.”

“Baiklah, tapi jangan panggil saya tuan, nama saya Arka.”

“Masa memanggil namanya begitu saja? Nggak mau, nanti kualat memanggil nama begitu saja.”

Arka tertawa. 

"Kualat itu apa Mbok?”

“Kualat itu seperti jambu mete Tuan, kepalanya dibawah,” canda simbok yang mulai berani berbincang santai.

Arka terkekeh agak lama.

“Tidak ada kualat Mbok, kan saya bukan jambu mete? Panggil saya Arka, atau … mas Arka, kalau tidak mau memanggil nama saja.”

“Mboook, simbok bicara sama … eh … Tuan?” 

Tiba-tiba Senja muncul sambil membawa sapu lidi. Halaman depan belum disapu oleh Rimba.

“Senja, lagi ngapain? Jangan sampai aku dipukul pakai sapu lhoh, aku orang baik-baik,” canda Arka.

“Kamu kenal sama Tuan … eh … mas Arka ini?”

“Kok Simbok tahu namanya?”

“Barusan dikatakan, simbok panggil tuan dia tidak mau. Kamu kenal dia?”

“Ya ini Mbok, yang menolong Senja, yang memberi es buah dan jus buah kemarin itu.”

“O, ini yang dulu kamu sebut malaikat yang baik hati?”

“Senja ada-ada saja,” Arka kembali tertawa.

“Mengapa Tuan datang kemari?”

“Nggak mau! Tuan lagi..” cemberut Arka.

“Mas Arka, mengapa datang kemari?”

“Ini lho nduk, mas Arka ini mau pesan beras, simbok sudah diberi uangnya. Nanti bisa untuk nicil pak RT.”

“Simbok nicil apa?”

Simbok menutup mulutnya, ia kelepasan bicara.

“Maksud simbok, buat bayar sampah kampung.”

“Memangnya banyak? Kok dicicil?”

“Kemarin … simbok belum bayar.”

“Senja khawatir, jangan sampai Simbok ngutang pada pak RT, dia itu rentenir, dan kejam. Tega makan duit orang miskin.”

“Ada-ada saja, ayo … kalau sudah kenal, ajak tuan … eh … mas Arka masuk ke dalam, biar simbok buatkan kopi. Mas Arka suka minum kopi?”

“Suka Mbok, kalau Simbok tidak repot.”

“Ya tidak, tapi simbok tidak punya kursi yang pantas, adanya bangku panjang di depan itu.”

“Tidak apa-apa, udara sejuk kalau duduk di situ,” kata Arka yang segera mengikuti simbok, lalu duduk di bangku panjang.

“Biar Senja saja yang buat minuman Mbok, Simbok menemani mas Arka.”

“Jangan, kamu saja yang menemani, simbok buat minuman,” kata simbok yang langsung beranjak ke belakang.

“Oh iya, aku tadi beli nasi liwet untuk kita makan, ayo kita ambil, itu masih tergantung di sepeda,” kata Arka sambil menarik tangan Senja, tapi kemudian Senja melepaskannya.

“Jangan pegang-pegang, aku bisa jalan sendiri,” sungut Senja.

“Maaf,” kata Arka.

“Kebiasaan ya, suka gandeng-gandeng perempuan?” goda Senja.

“Eh, tidak … tidak kok.”

Senja tertawa. Tapi ia sangat sungkan, Arka mengambil bungkusan besar di stang sepedanya, ia disuruh ikut membawanya.

”Mengapa mas Arka selalu beli macam-macam untuk kami?”

“Tadi kan masih pagi  buta, ada penjual nasi liwet laris sekali, jadi pengin beli, lalu aku beli sekalian untuk kamu.”

“Dari mana mas Arka tahu rumah Senja?”

“Aku ini sakti, apa susahnya menemukan rumah kamu?”

“Hm … bohong.”

Pagi hari itu Arka tenggelam dalam keramahan keluarga mbok Mangun. Mereka makan dan minum di depan rumah sederhana milik mbok Mangun, bicara lepas, tanpa tekanan, dan itu membuat Arka sangat senang.

***

“Sudah pulang? Sepedaan sampai di mana?” tanya pak Daryono ketika melihat Rosa pulang. Ia juga heran wajah Rosa gelap seperti mendung.

“Tidak ke mana-mana. Ke rumah om Wiguna lalu pulang.”

“Nggak jadi sepedaan sama Arka? Arka nggak mau?”

“Rosa sampai di sana, Arka sudah berangkat duluan. Sengaja barangkali, padahal dia tahu kalau Rosa mau ke sana.”

“Barangkali kamu kesiangan. Sepedaan itu lebih bagus pagi-pagi.”

“Rosa sampai di sana baru setengah enam. Masa kesiangan?”

“Mungkin menurut Arka kamu kesiangan.”

“Dasar Arka yang tidak mau jalan sama Rosa.”

“Kamu harus sabar, Rosa. Menghadapi laki-laki seperti Arka memang memerlukan ketelatenan yang bukan main. Dia itu dingin, dan tidak mudah jatuh cinta. Ibunya pernah cerita sama ibumu. Dan sebagai perempuan kamu tidak pantas kelihatan terlalu mengejarnya. Hadapi santai saja, seperti orang berteman. Jangan kelihatan kalau kamu sangat suka sama dia. Barangkali dengan demikian dia akan tertarik sama kamu.”

“Orang tuanya dan Papa kan sudah sepakat menjodohkan?”

“Papa setuju karena kamu suka. Papa berharap kamu bisa bahagia, tapi papa juga sadar kalau cinta itu tidak bisa dipaksa.”

“Harusnya Arka sadar kalau perusahaan ayahnya bisa hidup karena kebaikan Papa.”

“Rosa, sebuah kebaikan tidak pernah berharap imbalan, karena sebuah kebaikan bukan dagangan.”

“Tapi namanya orang berhutang budi, harusnya dia sadar dong Pa.”

“Cinta itu masalah rasa, bukan karena hutang budi maka harus jatuh cinta.”

Rosa terdiam, ia langsung pergi ke belakang. Rosa gadis manja, semua keinginannya harus terlaksana. Ia lupa bahwa cinta tidak bisa diperjual belikan walau dengan imbalan budi baik.

***

Hari sudah menjelang sore ketika Arka sampai di rumah. Di ruang tengah sang ayah yang baru saja bangun tidur, duduk ditemani sang ibu. Begitu mendengar suara bibik menyapa Arka, pak Wiguna segera berteriak memanggil.

“Arka! Kamu baru pulang?”

“Ya, Pak.”

“Dari pagi buta, ini sudah sore, kemana saja?”

“Muter-muter saja, main ke rumah teman.”

“Kamu sengaja ya, menghindari Rosa? Pagi tadi Rosa datang. Ia ingin bersepeda bersama kamu. Bapak juga sudah mengingatkan kalau Rosa mau nyamperin kamu kan?”

“Ia datang terlalu siang. Setelah subuh Arka sudah berangkat. Kalau siang udara tidak lagi sejuk, tapi panas.”

“Kamu jangan banyak alasan. Kamu sengaja menghindar bukan?”

Arka diam, kemudian ia beranjak ke kamarnya.

“Mau ke mana kamu?”

“Mandi Pak. Gerah sekali.”

“Arka!”

“Sudah Pak, biar dia istirahat dulu," kata bu Wiguna.

“Ibu ini bagaimana? Apa ibu tidak sadar, kita berhubungan dengan siapa? Pak Daryono itu bukan orang sembarangan. Budi baik dia tidak terbayarkan oleh apapun. Mengapa Arka tidak bisa mengerti?”

“Masalah budi baik jangan dikaitkan dengan perasaan.”

“Mengapa Ibu berkata begitu?” suara pak Wiguna semakin meninggi.

“Apa aku salah?”

“Salah besar! Kalau kita sudah berhutang budi dengan seseorang, maka kita harus bersedia melakukan apa saja. Pak Daryono hanya ingin mengambil Arka sebagai menantu, apa itu berat?”

“Pernikahan itu sesuatu yang harus digenggam keutuhannya, selamanya. Kalau tidak ada cinta diantara keduanya, maka ….”

“Sudah, jangan bicara apapun. Arka harus dipaksa. Mengapa ibu tidak berpihak kepadaku?”

***

Besok lagi ya.

Wednesday, May 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 08

 NAMAKU TETAP SENJA  08

(Tien Kumalasari)

 

Bibik masih menatap Arka dengan bingung. Membuat Arka tertawa.

“Hei, kamu kenapa melotot begitu Bik? Kamu melihat hantu? Ini aku, Arka. Gimana sih?”

“Tuan muda, tapi bibik heran, Tuan bicara tentang beras?”

“Kurang jelas?”

“Bibik bingung … Tuan.”

Arka tertawa. 

 "Begini ceritanya. Temanku jualan beras, aku ingin membantunya, jadi aku minta kalau Bibik butuh beras bilang sama aku saja. Biasanya sekali beli berapa kilo?”

Melihat sang tuan muda bicara serius, bibik baru percaya kalau sang tuan muda memang bicara tentang beras.

“O, jadi Tuan muda ingin membantu teman tuan muda yang jualan beras?”

“Iya. Kapan Bibik berasnya habis? Bilang sama aku saja. Nanti aku yang pesan.”

“Ini juga sebenarnya bibik mau bilang sama Nyonya bahwa berasnya sudah menipis. Tapi Nyonya selalu berpesan, berasnya harus yang enak, yang wangi. Pokoknya yang kwalitasnya bagus.”

“Jangan khawatir, temanku jual bermacam beras, bisa pesan yang seperti apa keinginan kita.”

“Baiklah, besok saja Tuan muda pesan, jadi bibik tidak usah memesan ya.”

“Berapa banyak?”

“Karena di sini pembantunya banyak, biasanya kalau beli satu kwintal sekalian.”

“Satu kwintal? Satu kwintal itu seratus kilo. Habis berapa bulan itu nanti Bik?”

“Di sini pembantunya banyak Tuan, sehari tidak cukup tiga kilo, biasanya sebulan juga sudah habis.”

“Baiklah, aku segera pesan besok ya.”

“Terima kasih, Tuan muda.”

Arka kembali ke kamarnya sambil tersenyum. Ia akan membantu simboknya Senja agar berasnya laku lebih banyak. Pasti ia akan senang.

Bibik pembantu tersenyum-senyum sendiri. Ia heran sang tuan muda yang biasanya tak pernah peduli urusan dapur tiba-tiba bertanya tentang beras dan berjanji mau memesankan kepada temannya.

“Rupanya Tuan muda juga punya sisi baik di hatinya, dengan kepeduliannya kepada teman. Aku kira dia hanya mengurusi pekerjaan dan pekerjaan, tanpa henti seperti ayahnya,” kata batin bibik.

“Ada apa Bik? Kok senyum-senyum sendiri?” tiba-tiba nyonya majikan muncul di dapur.

“Oh, itu Nyonya, tuan muda tumben-tumbenan bertanya tentang beras.”

“Bertanya tentang beras? Maksudnya apa?”

“Tadi bertanya, kalau beli beras di mana, kebutuhan setiap pesan berapa, katanya mulai besok, tuan muda yang akan memesankan beras.”

“Kok bisa? Aneh.”

“Tadinya saya juga merasa aneh Nyonya, tapi ternyata tuan muda hanya ingin membantu temannya.”

“Membantu temannya bagaimana?”

“Temannya itu jualan beras, jadi tuan muda ingin agar kalau kita butuh beras pesan saja sama teman tuan muda itu.”

“O, begitu?”

“Jadi mulai besok, tuan muda yang akan memesankan beras, kebetulan berasnya sudah menipis, saatnya bibik beli beras.”

“Anak itu terkadang aneh. Ya sudah, biarkan saja. Cuma tentang beli beras saja,” kata sang nyonya sambil berlalu.

***

Hari itu adalah hari Minggu. Arka bangun sebelum subuh, melakukan ibadah di pagi buta, lalu mandi dan bersiap pergi. Ia mengambil sepeda kayuh di gudang. Harus cepat karena Rosa mengatakan akan datang pagi-pagi. Arka tidak suka, karena kalau dia mau maka berarti akan memberi harapan padanya.

“Tuan … Tuan, pagi-pagi mau ke mana?” tiba-tiba bibik berteriak.

Arka menaruh ujung jarinya ke bibir, maksudnya adalah bibik jangan berteriak dan bertanya lagi. Ia lalu menunjuk ke arah sepeda yang akan dibawanya. Dengan demikian bibik akan mengerti. O, tuan muda akan olah raga bersepeda.

“Tidak minum coklat susu dulu?” bibik berteriak lagi, membuat Arka melotot. Ia menggoyang-goyangkan tangannya kemudian berlalu.

“Ya ampun, pagi buta begini sudah berangkat bersepeda. Dari kemarin tuan muda kelihatan aneh,” gumam bibik.

Tapi ternyata nyonya Wiguna mendengar suara berisik teriakan bibik. Ia langsung pergi ke dapur.

“Ada apa Bik?”

“Oh, maaf  Nyonya, saya membangunkan Nyonya.”

“Aku sudah bangun, sedang shalat. Tapi aku mendengar kamu berteriak.”

“Itu Nyonya, saya melihat tuan muda pagi-pagi sudah pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Sepedaan pastinya, tadi mengambil sepeda di gudang, saya tawarkan untuk minum dulu tidak mau.”

“O, Arka olah raga bersepeda?”

“Iya Nyonya.”

Sang nyonya membalikkan tubuh, kembali ke kamar. Sang suami belum bangun, tapi sebelum ia kemudian keluar lagi dari kamar, terdengar suaranya mengingatkan.

“Bu, bilang sama bibik agar menyiapkan juga minum untuk Rosa, dia bilang mau kemari pagi-pagi.”

“Nanti kalau dia datang bibik sudah pasti membuatkannya.”

“Maksudnya sudah disiapkan di meja, agar kalau dia datang bisa langsung meminumnya, soalnya dia mau bersepedaan dengan Arka pagi ini.”

“Arka sudah berangkat bersepeda.”

“Apa?”

Pak Wiguna langsung bangkit, matanya melotot marah.

“Arka sudah berangkat? Bukankah Rosa akan datang pagi ini?”

“Dia kan ingin bersepeda pagi-pagi. Biar saja nanti Rosa menyusul.”

“Ibu bagaimana, mengapa tidak mengingatkan? Harusnya Ibu bilang kalau Rosa akan datang.”

“Ibu tidak tahu berangkatnya dia. Ketika ibu keluar, Arka sudah berangkat.”

“Anak itu benar-benar kurangajar. Dia memang sengaja menghindar. Jadi nggak enak kita nanti kan Bu?”

“Ya sudah, nanti diajak bicara baik-baik, pasti dia mengerti.”

“Ini menjengkelkan.”

Ketika Pak Wiguna masuk ke kamar mandi, sang istri segera keluar, agar tidak mendengar lagi omelan-omelannya. Mau bagaimana lagi, Arka sudah berangkat di pagi buta.

***

“Selamat pagiiiii,” suara nyaring terdengar dari luar rumah. 

Pak Wiguna yang sudah menduga bahwa itu pasti Rosa, segera keluar menyambut. Tampaknya ia khawatir kehilangan Rosa. Sikapnya tampak berlebihan.  Sambil keluar ia berteriak agar bibik segera menyiapkan minuman.

“Selamat pagi, calon menantu yang cantik,” sambutnya sambil senyumnya melebar.

“Arka sudah bangun?” pertanyaan ini agak membuat pak Wiguna sungkan.

“Duduklah dulu, tuh … bibik sudah menyiapkan coklat susu yang hangat.”

Rosa masuk ke dalam setelah menstandartkan sepedanya di bawah pohon mangga.

“Minumlah, sudah disiapkan untuk Rosa.”

Rosa tersenyum senang. Ia menghirup minumannya.

“Arka sudah bangun?” tanyanya lagi sambil meletakkan gelasnya.

“Bapak tuh lupa mengingatkan Arka. Tadi … pagi-pagi sekali dia sudah keluar,” kata pak Wiguna penuh sesal.

“Pagi-pagi sekali? Bukankah ini masih pagi?”

“Kata bibik dia pergi setelah subuh.”

“Ya ampun, mengapa Arka tidak menunggu aku ya,” keluh Rosa kesal.

“Maaf Rosa, bapak sungguh lupa mengingatkan, kalau dia tahu Rosa akan datang pagi, dia pasti menunggu.”

“Arka sudah tahu kalau saya mau datang.”

“Benarkah?”

“Saya sudah menelpon sore hari sebelum dia pulang dari kantor.”

“Waduh, berarti dia juga lupa. Anak itu sering kali lupa sesuatu. Bagaimana kalau bersepeda bersama bapak saja?”

“Apa? Masa saya bersepeda dengan orang setua Bapak? Nanti kalau Bapak kecapekan lalu pingsan di jalan bagaimana?”

Jawaban itu kalau untuk orang yang tahu tata krama, tampak sangat tidak menghormat. Seakan dia segan bersepeda dengan orang yang sudah tua. Tapi pak Wiguna justru tertawa-tawa.

“Iya Rosa, kamu benar. Bisa jadi bapak akan pingsan di jalan karena sudah bertahun-tahun tidak pernah bersepeda.”

“Kalau begitu saya pergi dulu saja,” katanya dingin, sambil berdiri. 

Minuman yang dihidangkan baru diminum seperempatnya.

“Lho, kok pergi, lebih baik ditunggu sebentar, barangkali Arka hanya muter-muter di sekitar tempat ini.”

“Nggak usah. Saya akan bersepeda sendiri saja,” katanya sambil turun dari teras, langsung menghampiri sepedanya dan berlalu.

Pak Wiguna sangat marah. Bukan kepada Rosa yang tiba-tiba pergi, tapi kepada Arka yang terkesan menghindari.

***

Simbok sedang meletakkan bakul berisi bungkusan-bungkusan beras yang sudah ditimbangnya perkilo, di depan rumah, ketika Arka tiba-tiba berdiri di depannya.

“Selamat pagi, Mbok.”

Simbok mengangkat wajahnya. Melihat laki-laki muda tampan berdiri di depannya sambil tersenyum. Hari masih sangat pagi. Senja masih berkutat di dapur, menyiapkan minuman untuk simboknya, sedangkan Rimba menyapu dan membersihkan rumah.

“Si … siapa ya?”

“Nama saya Arka.”

“Apa … sampeyan pernah mengenal saya?”

“Mengenal nama Simbok … sudah … bukankah Simbok ini mbok Mangun?”

“Lhoh, kok sampeyan tahu?”

“Lha Simbok ini kan sudah terkenal di mana-mana. Tukang menjajakan beras ke kampung-kampung. Ya terkenal dong.”

“Nanti dulu, lha sampeyan itu datang kemari hanya mau menyapa saya, atau apa?”

“Saya mau memesan beras Mbok. Satu kwintal, yang bangus, yang wangi, yang pulen.”

Simbok melongo.

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 02

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  002 (Tien Kumalasari)   Siang hari saat Ana harus makan, Rumi kembali mengetuk pintu. Tapi An...