Monday, April 13, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 14

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  14

(Tien Kumalasari)

 

Bu Iman sudah berjalan, hampir menuruni tangga, ketika Zein masih saja menatap ke arah sofa yang ada di lobi.

“Zein,” Bu Iman menyentuh lengan putranya.

Barulah Zein sadar kalau ia sedang mengantarkan sang ibu.

“Kenapa kamu itu? Itu taksinya kan? Kamu tadi bilang begitu.”

“Oh, iya .. “

“Kamu melihat apa sebenarnya?”

“Itu, seperti dokter Ilyas.”

“Tadi sudah ketemu kan, kita juga sudah pamit sama dokter-dokter yang merawat ibu.”

“Iya, benar. Ayo masuk ke taksi, Bu.”

***

Ketika taksi meluncur menuju pulang, Zein masih berpikir tentang perawatan ibunya yang luar biasa, dan biaya gratis yang diberikan rumah sakit. Karena mereka menghargai perjuangan sang ibu untuk keluarga? Sesederhana itu? Apakah setiap pasien yang adalah pejuang keluarga juga mendapatkan perlakuan istimewa seperti yang diberikan kepada ibunya?

“Zein, kamu memikirkan apa? Biaya rumah sakit mahal sekali ya? Agak lama ibu di rumah sakit, dan mendapat perlakuan yang sangat baik. Kamarnyapun dipindahkan ke ruang yang lebih baik. Kamu dapat dari mana uangnya? Pinjam kepada siapa? Ibu tak punya uang banyak, dan itulah sebabnya ibu minta pulang saja sejak kemarin-kemarin.”

“Zein tidak pinjam siapapun.”

“Lalu kamu mendapat uang dari mana? Setiap ibu bertanya, kamu selalu mengatakan bahwa ibu tak usah memikirkannya, bahwa semuanya beres. Sekarang setelah keadaan ibu baik begini, ibu ingin tahu semuanya.”

“Sebenarnya Zein juga sedang bingung Bu, rumah sakit tidak memungut biaya apapun, kecuali Zein harus membeli obat yang di rumah sakit tidak punya, sehingga dibelinya di apotik luar.”

“Apa maksudmu rumah sakit tidak memungut biaya apapun? Jangan bercanda.”

“Itu benar. Zein tidak membayar apapun.”

Bu Iman mengerutkan keningnya.

“Zein juga bingung.”

“Jangan-jangan ada kekeliruan. Sebaiknya kita kembali dan menanyakan lagi semuanya. Kalau sampai ada kekeliruan, lalu tiba-tiba mereka menagih biaya yang sangat mahal, apa yang harus kita lakukan? Kamu belum selesai, ibu mungkin belum kuat untuk berjualan lagi, apa yang harus kita lakukan?”

“Zein sudah berkali-kali bertanya. Tidak hanya kepada perawat, tapi juga kepada dokter dan di bagian administrasi. Mereka bilang kita tidak perlu membayarnya.”

“Pasti ada alasannya. Perlakuan sebaik itu, biayanya pasti mahal.”

"Mereka bilang rumah sakit sangat menghargai perjuangan ibu, yang bekerja keras demi keluarga, demi anaknya, sehingga ibu tidak merasa bahwa ibu sebenarnya sakit dan lelah.”

“Hanya karena itu?”

“Zein sudah memperjelas semuanya. Mereka bilang sebuah perjuangan tidak boleh dikatakan ‘hanya’. Ibu luar biasa.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ya sudah  Bu, Ibu tidak usah memikirkannya. Yang penting Ibu sehat.”

Bu Iman diam, tapi tak bisa berhenti berpikir. Padahal Zein juga merasakan hal yang sama.

***

Bu Iman sudah lebih baik, tapi tidak boleh bekerja terlalu keras. Zein sudah mulai melanjutkan tugasnya untuk menyelesaikan gelar dokternya, dan itu membuat bu Iman merasa lega.

Tadinya ia merasa bahwa hidupnya akan berakhir, dan tak akan pernah melihat sang putra menjadi dokter. Sekarang ia benar-benar menjaga kesehatannya, dan berharap perjuangan Zein akan segera berakhir, dan cita-cita orang tuanya bisa terwujud.

Diam-diam bu Iman teringat kepada almarhum suaminya yang telah lebih dulu pergi. Ia selalu merasa bersalah karena memaksa suaminya untuk pulang karena ketiadaan biaya yang cukup.

“Maafkan aku ya Pak, aku membiarkan kamu meninggal. Seandainya aku punya uang yang cukup, barangkali bapak masih akan ada disisiku ini.”

Bu Iman mengusap air matanya.

“Bu, ikhlaskan saja kepergian suami Ibu. Mati dan hidup itu sudah ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Hanya jalannya yang berbeda.”

Itu yang dikatakan hampir semua tetangga dan kerabatnya ketika ia meratapi dan menyesali kepergian suaminya.

Lalu ia juga mengerti, bahwa dirinya yang merasa sudah pasti akan meninggal karena pernah sangat sulit bernapas ketika dalam perawatan, dan ternyata dia masih diperkenankan untuk hidup lebih lama.

“Ini juga karena Allah. Aku belum ditakdirkan untuk meninggal,” bisiknya kemudian.

***

“Mengapa Bapak melakukannya?” tanya bu Narya pada suatu sore.

“Bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan bahwa manusia bisa berubah?”

“Biaya rumah sakit dengan fasilitas yang Bapak pilih untuk ibunya Zein itu sangat mahal.”

“Apa kamu tidak rela?”

“Bapak kok ngomong begitu. Tentu saja aku rela. Dan aku merasa bahwa berbuat baik itu sangat membuat kita merasa nyaman. Aku senang, apalagi yang namanya bu Iman itu akhirnya dapat tertolong.”

“TIba-tiba aku teringat pada perjuangan orang tuaku waktu itu. Semua orang tua memiliki perjuangan yang sama, walau bobotnya berbeda. Bagi yang keuangannya terbatas, itu berat, tapi bagi yang punya uang, itu tidak akan terasa berat. KIta beruntung karena berkat perjuangan orang tua kita lalu kita menjadi seperti ini. Aku menyesal telah memperlakukan Zein dengan buruk, hanya karena orang tuanya miskin. Mendengar kisah perjuangan ibunya, aku tergugah untuk berbagi.”

“Apakah Bapak juga akan merestui hubungan Indras dan Zein, nantinya?”

Beberapa saat lamanya pak Narya terdiam.

Bayangan Bagas dan Zein berganti-ganti melintas.

Kalau boleh memilih, pak Narya sudah pasti memilih Bagas. Sudah siap, mapan, dan tidak mengecewakan. Tapi Zein, kalau dianggap tanaman dia masih benih, harus ditanam, diberi pupuk, agar bisa tumbuh dan hidup serta menghasilkan buah yang memuaskan.

Tapi ternyata pak Narya tidak bisa memilih karena Indras sudah menjatuhkan pilihan. Apa boleh buat. Ia sudah terlanjur bisa mengerti, walau masih ada keraguan tentang kehidupan putrinya kelak.

“Bapak akan menerimanya?” bu Narya mengulang pertanyaannya karena sang suami belum menjawabnya.

“Entahlah, kita lihat saja nanti. Bagi kita, kebahagiaan Indras adalah segalanya. Kalau dia bisa membahagiakan anakku, barangkali keinginan itu akan menjadi pertimbangan.”

Jawaban yang belum jelas, tapi tidak mengarah ke penolakan. Bu Narya hanya seorang istri. Ia akan mengikuti kemanapun suaminya melangkah.

***

Saat istirahat di kantin, Indras menanyakan keadaan ibunya ketika ditinggalkannya.

“Baik, ibu kelihatan senang sekali melihatku berangkat kemari. Sepertinya ibu sangat khawatir kalau aku tak berhasil memenuhi keinginannya.”

“Kamu kan pintar Zein.”

“Tidak, aku seperti yang lainnya. Membutuhkan ketekunan untuk mencapai sesuatu.”

Tiba-tiba Zein teringat kepada ayahnya, yang tidak tertib dalam menjaga kesehatannya. Sering pergi malam, merokok yang sangat sulit dihentikan. Bahkan saat sakitpun ia berteriak mau rokok. Ia bukan seorang pejuang kesehatan diri. Ia semaunya dan sering bertengkar dengan istrinya, hanya karena larangan istrinya untuk mengurangi pergi malam dan merokok. Padahal dia tidak lagi kuat untuk bekerja. Ia ingin putranya menjadi dokter tapi tak ada perjuangan yang dilakukan.

Walau begitu sang ibu sangat menyayanginya. Bahkan saat meninggalnya sang ayah, sang ibu selalu menyesal dan merasa berdosa. Ia merasa menjadi penyebab meninggalnya suaminya.

“Kamu memikirkan apa?”

“Tiba-tiba teringat bapak.”

“Semoga sudah tenang di sana. Doakan saja dia.”

Zein menghela napas. Kecewa yang seperti apapun, dia tetap ayahnya. Ingin ia mengutarakannya pada Indras tapi diurungkannya.

***

Hari terus berjalan, perjuangan Indras dan Zein sudah sampai diujungnya. Mereka sudah lulus dan sebentar lagi akan diwisuda.

Tentu saja berita gembira ini segera disampaikan Zein kepada sang ibu, yang dengan kegembiraan yang meluap-luap dia lampiaskannya dengan memasak enak dan mengundang beberapa tetangga untuk bergembira bersama.

Zein sudah melarang sang ibu melakukannya, tapi bu Iman tak bisa dicegah. Ia begitu gembira dan bercerita kepada kerabat dan tetangga bahwa perjuangannya membuahkan hasil.

Malam itu bu Iman mengadakan syukuran kecil-kecilan. Ia memasak sendiri untuk hidangan para tamu, menyiapkan semuanya untuk melampiaskan kebahagiaannya.

Tapi pagi hari itu ketika Zein tak melihat sang ibu keluar kamar, ia segera memasuki kamarnya dan bermaksud membangunkannya. Tapi sang ibu diam tak bergerak.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, April 11, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 13

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  13

(Tien Kumalasari)

 

Zein mengucek matanya, barangkali dia salah lihat. Tapi itu benar. Indras datang bersama ayahnya, pak Narya Kusuma. Apa dia salah memberikan uangnya melalui Arun kemarin? Celaka, bukankah uangnya sebagian sudah dibelikan obat untuk ibunya kemarin? Zein mendadak bingung, sampai kemudian Indras tiba di depannya. Tapi pak Narya tak lagi kelihatan? Zein merasa bahwa ia telah salah lihat. Tak ada pak Narya datang, ia pasti berhalusinasi.

“Zein,” sapa Indras lembut, seperti biasanya.

“Kamu? Kenapa kemari?”

“Aku minta libur hari ini. Bagaimana keadaan ibu? Kemarin Arun ketemu ibu tidak?”

“Ibu semakin membaik. Nanti dulu, kamu datang sendiri?”

“Tidak, aku bersama bapak.”

“Ba … pak? Kamu bersama bapak?”

Lalu Zein mencari-cari.

“Oh, bapak sedang menemui temannya.”

“Oh, mencari temannya?”

Zein merasa lega, jadi pak Narya bukan datang untuk menanyakan uang yang kemarin dibawa Arun.

“Indras, kemarin Arun datang. Memaksa aku agar menerima pemberian uang dari ayahmu. Tapi sungguh aku tak percaya. Bukankah itu akal-akalan kamu?”

“Tidak. Kemarin Arun menelpon, menanyakan alamat rumah kamu, karena bapak menyuruh Arun menemui kamu.”

“Mengapa? Bukankah dia benci sama aku?”

Indras tersenyum. Ia bisa mengerti kalau Zein tak percaya tentang pemberian uang itu. Dirinyapun semula tak percaya, tapi Arun meyakinkannya, bahwa memang benar ayahnya ingin menyumbangkan uang  kekeluarga Zein.

“Tadinya aku juga tidak percaya.”

“Apa yang terjadi? Kalau saja tidak memikirkan ibuku, aku tidak akan mau menerimanya. Jadi orang miskin itu susah. Bukan susah karena memikirkan kemiskinannya, tapi susah menghadapi orang-orang kaya yang tiba-tiba berbaik hati sementara tadinya membenci.”

“Manusia bisa berubah.”

“Tapi luka tetaplah luka.”

“Zein, kami ikut prihatin tentang keadaan ibu kamu. Jangan berprasangka buruk atas apa yang dilakukan ayahku. Dia benar-benar ingin membantu.”

“Aku sangat berterima kasih. Ibuku sangat berarti dalam hidupku. Ibuku sakit karena terlalu keras bekerja dalam memperjuangkan keluarga. Apapun akan aku lakukan, bahkan kalau aku harus menanggung malu karena pemberian dari seseorang yang entah dengan maksud apa.”

“Sekali lagi aku bilang, jangan berprasangka buruk, Zein. Bahkan bapak mengajak aku kemari ketika bapak ingin kemari, dan itu menunjukkan bahwa hati bapak telah melunak.”

“Teman ayahmu sakit?”

“Entahlah, bapak hanya mengatakan ingin menemui teman yang kebetulan ibu kamu dirawat disini. Semalam bapak menelpon aku, menanyakan apakah aku bisa libur hari ini.”

Zein tak mengerti, bagaimana seseorang bisa berubah tiba-tiba.

“Zein, kamu belum menjawab pertanyaan aku, bagaimana keadaan ibu.”

“Kelihatannya semakin membaik. Tapi masih berada di ruang khusus.”

“Ruang khusus? Maksudmu ruang isolasi?”

“Semacam itu. Katanya agar bisa mendapat pengawasan khusus. Aku juga bingung. Pasti biayanya mahal. Aku sedang memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu.”

“Barangkali memang harus mendapat pengawasan khusus. Aku ingin menemuinya, kalau boleh.”

“Boleh, bersama aku. Kemarin Arun juga bisa masuk, tapi ibu belum banyak bicara. Masih dipasang ventilator karena sesak napas.”

Zein mengajak Indras memasuki ruang rawat ibunya. Zein agak lega ventilator itu telah dilepas, berarti keadaan ibunya membaik.

Ketika mereka masuk, sang ibu melambaikan tangannya dan meminta agar dia mendekat.

“Bu, ada Indras.”

Indras menyalami tangan bu Iman dan menciumnya. Tapi bu Iman malah memarahi Zein.

“Mengapa kamu masih di sini?” katanya penuh teguran, walau masih dengan suara pelan.

“Tapi ….”

”Kembalilah, nanti kamu terlambat jadi dokter.”

“Tidak ada yang terlambat Bu, Ibu jangan khawatir.”

“Tidak terlambat, tapi kelamaan.”

“Baiklah, kalau keadaan Ibu baik, Zein akan pergi besok pagi.”

“Lama sekali.”

“Sabar ya Bu,” kata Indras.

“Ibu ingin Zein menjadi dokter, sebelum ibu meninggal.”

“Tidak Bu, ibu akan tetap menunggui Zein.”

“Nanti kalau sembuh, Ibu tidak boleh bekerja terlalu keras,” kata Indras.

“Dokter juga berkata begitu.”

“Ya sudah, Ibu istirahat lagi saja, tidak boleh banyak berbicara kan? Kalau kami kelamaan di sini, dokter atau perawat juga akan menegur.”

“Kembalilah, jangan menunggui ibu lagi.”

“Baiklah, besok Zein akan kembali, tapi Ibu cepat sembuh ya.”

"Anakku ….” dengan lembut bu Iman mengusap pipi anaknya.

“Dalam hidup ini, keinginanku hanya satu, menjadikan kamu orang yang benar-benar bisa berguna bagi sesama. Jadi penuhilah keinginan ibumu ini, Zein.”

Bu Iman masih mengusap pipi Zein, sambil berlinang air mata. Walau suaranya lemah, hampir tak terdenar, tapi mampu menggugah semangat Zein untuk terus bangkit.

“Ibu, Zein akan mewujudkan keinginan Ibu.”

“Terima kasih, Nak.”

Dan air mata yang semula hanya merebak di pelupuknya, akhirnya bergulir bagai sungai mengaliri pipinya yang masih tampak pucat.

“Zeinlah yang harus berterima kasih pada Ibu. Perjuangan Ibu yang sangat berat tidak akan sia-sia.”

Indras menatap keduanya dengan haru yang memuncak. Diam-diam air matanya juga menetes, yang kemudian cepat-cepat diusapnya.

“Terima kasih untuk nak Indras yang sudah sudi menjengukku.”

“Sama-sama Ibu, saya dan keluarga saya juga ikut prihatin atas sakitnya Ibu, semoga Ibu segera sembuh dan bisa pulang ke rumah.”

“Aamiin, sekali lagi terima kasih.”

Tiba-tiba ponsel Indras berdering, dari ayahnya.

“Ya Pak. Baiklah, saya segera menyusul Bapak ke mobil.”

Rupanya pak Narya sudah selesai dengan urusannya, lalu mengajak Indras pulang. Tapi sebelum menutup pembicaraan, pak Narya menyampaikan salam untuk Zein dan ibunya.

”Salam dari bapak untuk kamu Zein, dan doa untuk kesembuhan Ibu,” kata Indras sambil tersenyum.

“Sampaikan juga rasa terima kasih saya atas doa yang diberikan,” kata bu Iman.

“Akan saya sampaikan,” jawab Indras sambil menyalami tangan bu Iman, kemudian keluar ruangan, diikuti Zein dengan perasaan aneh.

“Pak Narya yang angkuh dan tinggi hati itu menitipkan salam untukku dan ibuku?” kata batin Zein sambil terus berjalan mengikuti Indras sampai ke lobi.

Ketika di lobi, mobil pak Narya sudah menunggu, dengan pak Narya di dalamnya. Zein menganggukkan kepalanya, dibalas oleh pak Narya dengan senyuman dan anggukan juga. Tak ada rasa merendahkan atau menghina, sampai kemudian mobil itu berlalu sambil membawa Indras yang terus membuka jendela kaca mobilnya sambil melambaikan tangan, sampai menghilang di luar gerbang.

***

Menurut Zein, banyak keanehan atau kalau boleh dikatakan keajaiban terjadi di beberapa hari terakhir ini. Banyak sekali. Tiba-tiba ibunya dipindahkan ke ruang ‘isolasi’ yang bagus, mendapat pengawasan prima, lalu kesehatannya membaik, lalu Arun datang dengan membawa segepok uang, yang katanya dari ayahnya, sehingga ia bisa menebus obat untuk ibunya di mana obat itu tak ada di rumah sakit tempat sang ibu dirawat. Ia bahkan kemudian teringat bahwa ia lupa mengucapkan terima kasih, baik melalui Indras ataupun ketika bertatap muka dengan pak Narya di lobi. Pemberian yang sedianya ingin ditolak karena harga diri yang tinggi, lalu akhirnya diterima karena ia memang membutuhkannya. Zein bingung harus bagaimana.

Zein juga tidak mendapat jawaban dari dokter yang menangani sakit ibunya, tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan karena merasa sang ibu mendapat perlakuan yang istimewa padahal semula sang ibu hanya dirawat di ruang paling murah yang memang disediakan bagi orang-orang yang tak mampu. Dokter hanya mengatakan bahwa dia tak perlu memikirkan apapun.

“Tapi saya yakin biayanya sangat mahal Dok, saya yakin tak akan bisa membayarnya."

“Rumah sakit memberi kemurahan untuk seorang ibu yang jatuh sakit karena berjuang demi keluarganya.”

Jawaban itu tidak memuaskannya, dan tetap dianggap sesuatu yang aneh walau melegakan karena kenyataannya kesehatan ibunya sudah membaik. Adakah sebuah rumah sakit memberi perhatian kepada seorang pasien yang dianggap sebagai seorang yang sakit karena berjuang demi keluarganya?

***

Bahkan ketika kemudian sang ibu dinyatakan sembuh, dan rumah sakit tidak membebaninya dengan sepeser uangpun untuk biayanya, Zein belum juga mendapatkan jawabannya.

Tapi ketika di saat memanggil taksi untuk membawa ibunya pulang lalu ia melihat dua orang sedang bercakap-cakap di lobi rumah sakit, ada sekilas jawaban yang melintas. Mereka itu adalah dokter yang merawat ibunya dan pak Narya, ayah Indras.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Friday, April 10, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 12

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  12

(Tien Kumalasari)

 

Zein menatap Arun tak berkedip, barangkali adik Indras yang jarang bertemu dengannya ini sedang mengajaknya bercanda. Tapi Zein menganggap bahwa itu sama sekali tidak lucu. Bapak siapa yang dia maksud? Bapaknya dia? Ini kan benar-benar candaan yang tidak lucu. Wajah Zein tidak berubah. Tetap kuyu dan tampak lelah.

Ia bahkan tidak sedikitpun berniat menerima amplop tebal yang diulurkan Arun ke hadapannya.

“Zein, terimalah ini. Bukankah kamu membutuhkan uang? Apa kamu ingin menolaknya dan tidak peduli bahwa sakit ibumu membutuhkan banyak biaya?”

“Arun, aku sedang kacau, jangan mengajakku bercanda.”

“Zein, aku tidak bercanda, tolong terimalah ini.”

Kali ini Arun menarik tangan Zein dan menyelipkan amplop yang dibawanya ke tangan Zein, lalu membuat jari-jari tangan Zein menggenggamnya.

“Ini dari Indras?”

“Bukan. Mbak Indras bahkan tidak tahu berapa uang yang aku bawa. Ini dari bapak. Bapakku. Pak Narya Kusuma, untuk kamu, untuk meringankan beban kamu selama ibumu sakit.”

“Narya Kusuma? Ini tidak mungkin. Ini akal-akalan Indras dan kamu, untuk memaksa aku menerimanya.”

“Sudah aku bilang kalau mbak Indras tidak tahu. Bapak menyuruh aku membawa uang ini dan menyerahkannya pada kamu.”

“Yang membuatku merasa tidak mungkin adalah aku yakin bahwa ayahmu, sang pengusaha kaya raya dan memiliki derajat setinggi langit itu sangat membenciku. Benci karena aku bukan orang yang sederajat dengannya. Aku hanya orang hina dan rendahan,”

“Zein, aku minta maaf atas sikap orang tuaku. Tapi kelihatannya bapak sangat menyesal. Menyesal karena pernah melakukan hal buruk dengan merendahkan orang lain.”

“Menyesal?”

“Benar Zein. Tolong abaikan rasa rendah yang kamu rasakan, ibu yang sakit butuh biaya agar mendapat penanganan terbaik. Terimalah Zein.”

Zein masih menggenggam amplop tebal itu. Memang benar ia butuh biaya. Kalau menuruti kata ibunya, sang ibu ingin segera pulang. Yang dipikirkan pastilah masalah biaya. Jadi apakah ia harus mengabaikan rasa direndahkan itu demi ibunya, atau tetap berpegang pada keangkuhan yang dimilikinya.

“Zein, ini masalah nyawa. Pikirkan itu. Atau kalau kamu merasa tidak ingin dibantu, anggaplah ini sebagai hutang. Pada suatu hari nanti kamu akan membayarnya.”

Zein masih ragu, sampai ketika seorang perawat mendekat.

“Mas, obat yang ditulis dokter ini di rumah sakit sedang kosong. Bagaimana kalau Mas mencarinya di apotik di luar sana?”

“Oh, baik. Akan aku carikan.”

“Tapi obat ini lumayan mahal. Saya tidak tahu berapa harganya. Seandainya di rumah sakit ada, ibu Iman pasti bisa dengan mudah mendapatkannya."

“Zein, ayo aku antar mencarikan obatnya,” kata Arun yang tanpa sungkan kemudian menarik tangan Zein, yang masih saja kebingungan. 

Ada yang aneh, tapi Zein tidak sempat memikirkannya. Bahkan ketika Arun membawanya ke mobil lalu memerintahkan sopirnya untuk pergi ke apotik.

“Apotik mana Non?”

“Apotik mana saja, pokoknya yang punya obat ini. Barangkali apotik besar, nanti kita bisa bertanya-tanya dulu.”

Zein diam, masih dengan perasaan linglung ketika ia duduk di jok belakang sambil masih menggenggam amplop yang diberikan Arun.

***

Bahkan ketika mereka kembali ke rumah sakit, dan menyerahkan obat kepada perawat, Zein masih merasa seperti mimpi.

“Bagus sekali Mas, dokter memerlukan obat ini. Untunglah Mas mendapatkannya,” kata perawat itu  dengan wajah cerah, lalu menjauh meninggalkan Zein yang kemudian duduk di sebuah kursi.

“Zein, tadi aku ingin melihat ibu kamu, bolehkah aku menemuinya? Setelah itu aku mau pamit pulang,” kata Arun.

Zein mengangguk, lalu membawa Arun ke sebuah ruangan khusus, yang entah bagaimana caranya, ibunya bisa ditempatkan di ruangan itu, yang kata perawat mendapat perhatian khusus dari dokter yang menanganinya.

Ketika mereka masuk ruangan, di mana yang boleh masuk hanyalah Zein atau keluarga dekat, bu Iman sedang membuka matanya, tapi masih ada ventilator terpasang.

Zein segera mendekat.

“Bagaimana keadaan Ibu?”

”Baik,” katanya lemah.

“Ini Arunika, adiknya Indras,” kata Zein memperkenalkan Arun, yang kemudian menyalami bu Iman.

“Mbak Indras masih bertugas, saya mewakilinya,” kata Arun sekenanya, tapi membuat bu Iman tersenyum tipis. 

Tapi mendengar itu, bu Iman kemudian menatap Zein. Barangkali ingin mengatakan, mengapa Zein tidak segera kembali bertugas. Zein mendekat, membisikkan sesuatu ke telinga ibunya.

“Kalau keadaan Ibu baik, Zein akan segera kembali bertugas.”

Tiba-tiba dokter memasuki ruangan. Zein dan Arun mundur menjauh.

“Ibu Iman keadaannya membaik. Tapi ia akan terus dipantau. Kalau Mas ada tugas yang penting, lakukan saja. Ada perawat khusus yang akan memantau keadaan bu Iman, siang dan malam. Dia akan terus mengabari keadaan bu Iman di setiap perubahan yang ada,” kata dokter itu, yang kemudian mendekati bu Iman.

“Ibu akan sembuh, jangan khawatir.”

Zein merasa sangat lega. Tapi ia belum tega meninggalkan sang ibu.

“Zain akan tetap di sini sampai ibu benar-benar sehat.”

Tapi bu Iman menggoyang-goyangkan tangannya.

“Pergilah … ibu tidak apa-apa.”

Dokter menatap Zein sambil tersenyum.

“Seharian ini Mas akan melihat keadaan ibu. Kalau keadaan stabil, ventilator akan dilepas, dan Mas boleh melanjutkan tugas co-ass yang Mas jalani,” kata dokter yang sudah tahu bahwa Zein adalah calon dokter yang sedang menjalani tugas sebagai co-ass.

Zein mengangguk, dan melihat bibir sang ibu menunggingkan senyum.

***

Zein yang masih bingung oleh banyak kejadian yang tidak disangka, hanya mengantarkan Arun sampai ke lobi.

“Mbak Indras titip salam.”

“Sampaikan salamku juga. Dan tentang uang itu ….”

“Jangan dipikirkan dulu, yang penting semua kebutuhan ibu terpenuhi.”

Arun melambaikan tangannya ketika sopir menjemputnya di depan lobi.

Zein kembali masuk ke dalam, sambil terus berpikir. Banyak kebetulan yang tidak pernah dibayangkannya. Ketika ia menganggap sang ibu sudah dalam keadaan kritis, tiba-tiba ada perlakuan khusus dari dokter yang memantau keadaan ibunya siang malam, ditempat yang lebih baik dan tidak bercampur dengan pasien lain. Baru saja dia menebus obat di apotik luar yang harganya minta ampun, entah obat apa yang seandainya tidak ada uang yang diberikan Arun maka dia tak akan mampu menebusnya. Ada apa ini?

Allah menolong dengan sesuatu yang sangat diluar nalar. Biaya rumah sakit dengan kondisi yang seperti diterima ibunya memerlukan biaya yang sangat mahal, bagaimana dia harus membayarnya?

Zein masuk ke dalam ruang rawat ibunya, dan melihat sang ibu tampak lelap dalam tidurnya.

Zein duduk di sofa, lalu membuka amplop dari Arun yang sejak tadi masih dipegangnya. Uang di dalamnya sudah berkurang beberapa juta untuk menebus obatnya. Ia menghitung sisanya, dan merasa bahwa beberapa juta yang tersisa tetap tak akan cukup untuk membayarnya. Zein merasa pusing sampai kemudian tertidur dalam keadaan duduk bersandar. Masa dia akan menolak semuanya? Nyatanya uang yang katanya diberikan oleh pak Narya ada juga gunanya. Minta agar dikembalikan ke zal yang lama dan diperlakukan sebagai pasien biasa yang tidak ada perlakuan khusus?

Tapi nyatanya sang ibu tertolong. Segala keputus asaan yang semula mencengkeram dadanya, berubah menjadi sebuah harapan yang sedikit membesarka hatinya.

Zein terbangun ketika mendengar suara memanggilnya.

Zein membuka matanya, lalu bergegas mendekati sang ibu.

“Mengapa masih di sini?”

Hanya itu yang dipikirkan sang ibu.

“Iya Bu, nanti kalau dokter mengatakan bahwa Ibu sudah bisa ditinggalkan, Zein akan kembali menjalankan tugas lagi.”

Bu Iman tak menjawab, dan Zein merasa, apakah kalau dia menuruti perintah ibunya maka ibunya akan bisa lebih cepat menjadi baik? Bukankah suasana hati juga bisa membantu kesembuhan seseorang?

***

Pagi harinya bu Iman sudah bangun, Zein duduk menunggu, dan dokter mengadakan pemeriksaan lagi.

Zein menunggu di luar, dan sedang berpikir apakah dia bisa segera meninggalkan ibunya atau masih harus menungguinya, ketika tiba-tiba ia melihat Indras datang, dan dia tidak sendiri.

***

Besok lagi ya

 

 

Thursday, April 9, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 11

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  11

(Tien Kumalasari)

 

Bukan hanya Arun yang heran, demikian juga bu Narya. Mereka tak percaya seorang bernama Narya Kusuma tiba-tiba perhatian kepada keluarga seorang anak muda yang dibencinya.

“Hei, mengapa kalian menatapku seperti itu?” tanya pak Narya kesal.

“Bapak menyuruh Arun ke rumah Zein dan memberikan sejumlah uang?” tanya Arun, sedikit ragu.

“Apa maksudmu bertanya seperti itu? Kamu mengira bapakmu ini mengigau?”

“Bukan begitu, hanya saja … Bapak kan sangat membenci Zein, sedangkan ….”

“Apakah manusia tidak boleh memiliki rasa kasih sayang kepada sesama? Kalau kamu tidak sanggup melakukannya, tanyakan saja di mana alamat lengkapnya, biar aku datang sendiri ke sana.”

“Bapak serius?” kali ini yang nimbrung adalah bu Narya. Ia benar-benar tak yakin.

“Apa Ibu tidak ikhlas kalau bapak memberi sumbangan kepada orang yang sedang kesusahan?” kata pak Narya sambil memandang tajam istrinya.

“Bukan tak ikhlas.. Ikhlas kok. Biar Arun melakukannya.”

“Kamu mau berangkat sekarang?” tanya pak Narya kepada Arun.

“Ya, tentu saja, setelah Arun menanyakan di mana alamat lengkapnya sehingga Arun tidak kesulitan menemukannya.”

“Aku menuliskan cek dulu sebentar.”

“Mengapa tidak memberi uang cash saja? Kalau cek kan mereka akan susah menguangkannya,” sambung bu Narya.

Pak Narya tampak berpikir. Iya juga. Kalau bentuknya cek, akan susah menguangkannya, apalagi kalau mereka sangat membutuhkannya.

“Baiklah, ibu benar. Ibu punya uang berapa? Ayo kita ke kamar dulu, dan Arun, siapkan amplop saja, aku dan ibumu akan menghitung uang yang kira-kira pantas untuk diberikan.”

Arun mengangguk. Ia masuk ke dalam kamar lalu buru-buru menelpon kakaknya. Ia menceritakan tentang keinginan ayah mereka untuk memberikan sejumlah uang kepada keluarga Zein. Tentu saja seperti juga Arun, Indras sangat terkejut dan heran.

“Apa kamu yakin bapak melakukannya? Jangan-jangan untuk orang lain dan kamu mengira itu untuk keluarga Zein.”

“Ya ampun Mbak, aku tuh sudah bertanya berkali-kali, dan memang bapak ingin memberikan sejumlah uang kepada mereka.”

“Bukan main, kalau itu benar.”

“Mana alamatnya, atau tuliskan saja, biar aku bisa mengerti lebih jelas.”

“Kalau saja aku bisa keluar barang sehari, aku pasti akan ikut bersama kamu.”

“Tidak usah, nanti bapak malah mengurungkan niatnya.”

“Ya, aku tahu, baiklah akan aku tuliskan. Dan jangan lupa katakan pada Zein bahwa sebenarnya aku ingin ikut.”

“Iya, pasti Zein juga tahu kalau Mbak tidak bisa ikut bersamaku. Cepat tuliskan alamatnya, bapak dan ibu sedang menghitung uangnya.”

“Baik, akan aku tuliskan, jangan lupa nanti sampaikan salamku ya.”

“Iya … iya. Sudah ngebet banget ya … kangen sama dia?”

Indras ingin memukul adiknya tapi keburu terdengar suara sang ayah memanggilnya.

“Arun, ini … cepat bawa sekarang, Bapak juga sudah menyuruh sopir mengantarkan kamu.”

“Baik.” 

Arun menutup pembicaraan itu dan membaca alamat Zein yang sudah dituliskan Indras, masih dengan perasaan terheran-heran ketika menyaksikan betapa tiba-tiba sang ayah bisa berubah dalam sekejap mata. Apakah perasaan benci itu benar-benar hilang dalam sekejap mata?

***

Ketika Arun sudah berangkat, pak Narya masih duduk berdua dengan istrinya, dan berbincang lama. Intinya adalah bu Narya masih heran dengan perubahan sikap suaminya.

“Mengapa Ibu terus-terusan mengatakan heran? Apakah manusia tidak bisa berubah?”

“Mengapa dan apa yang membuat Bapak bisa berubah?”

“Mengapa Ibu menanyakannya? Apa Ibu tidak mendengar ketika Arun bercerita tentang ibu Zein yang sedang sakit keras? Apa Ibu tidak tersentuh, mendengar kisah seorang ibu yang rela membanting tulang demi pendidikan anaknya, demi mencukupi kebutuhan keluarganya?”

“Jadi karena itu?”

“Tiba-tiba bapak merasa, betapa sombongnya bapak ketika merendahkan kasta seseorang yang berada jauh di bawah kita. Bapak lupa ketika masih muda, orang tua bapak juga bekerja keras demi kehidupan anak-istrinya, demi sekolah anak-anak mereka, termasuk bapak ini? Dan bapak menyadari bahwa sebuah perjuangan demi keluarga itu adalah sesuatu yang sangat mulia. Trenyuh rasanya mendengar seorang ibu yang tanpa mengingat kesehatannya terus saja melakukan perjuangan mulia itu.”

Bu Narya mengangguk. Ia yang semula mendukung suaminya tentang sikap suaminya yang menentang hubungan Indras dan Zein, tiba-tiba sekarang bersikeras ingin membantunya, membuatnya tersentuh juga.

“Bapak benar. Kita telah melakukan suatu kesalahan dengan melupakan penderitaan kita sebelum Bapak berhasil mengangkat derajat kita menjadi orang yang punya nama dan disegani. Kita tidak tiba-tiba menjadi kaya raya. Ada masa-masa sulit yang kita lewati selama puluhan tahun.”

“Ya sudah, kita harus bersyukur karena entah bagaimana caranya maka kita diingatkan untuk menjalani perbuatan yang lebih baik.”

Tak cukup hanya itu, pak Narya segera memerintahkan anak buahnya agar menghubungi rumah sakit di mana ibu Zein dirawat. Ia minta agar rumah sakit memberikan perhatian kepada sakitnya, dan semaksimal mungkin berupaya menyembuhkannya. Untuk itu pak Narya juga mengirimkan sejumlah uang untuk biaya perawatan yang lebih maksimal.

***

Indras termenung di saat istirahat dan duduk sendirian. Tak percaya ketika tiba-tiba orang tuanya ingin membantu Zein yang ibunya sedang sakit keras.

Ada rasa lega yang kemudian menutupi rasa prihatinnya atas kesedihan kekasihnya, karena orang tuanya ikut memperhatikan sakit ibu Iman yang tergolong serius.

“Hei, mengapa sendirian? Mana Zein? Beberapa hari ini aku tak melihat kalian berduaan. Sedang bertengkar?” tiba-tiba Pri mengejutkannya.

“Tidak apa-apa. Zein sedang izin menunggui ibunya yang sedang sakit."

“Oh, ibunya sakit? Kirain kalian sedang marahan. Ikut prihatin ya, sakit apa?”

“Katanya jantung, sekarang keadaannya kurang baik.”

“Semoga membaik, aku ikut mendoakan.”

“Terima kasih Pri.”

“Kamu jangan ikutan sedih, lebih baik mendoakan saja.”

“Iya, aku tahu.”

Ponsel Indras berdering, rupanya Arun yang menelponnya, dan mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan ke rumah Zein.

“Jadi beneran nih, bapak ingin membantu Zein?”

“Ya beneran Mbak, masa bohong. Tapi ketika aku kelihatan heran saja, bapak langsung marah, merasa tidak dipercaya.”

“Apa ya, yang menyebabkan tiba-tiba bapak berubah?”

“Nggak tahu aku Mbak, tadinya aku hanya mengatakan kalau ibu Zein sakit, terus bapak bertanya pekerjaannya apa, terus bapak mungkin merasa bahwa perjuangan berat itu yang menyebabkan sakit, lalu runtuh deh belas kasihannya.”

“Semoga bapak tulus melakukannya.”

“Ya tulus Mbak, saya malah menduga, pada suatu hari nanti, bapak pasti merestui hubungan Mbak dengan Zein.”

“Aamiin.”

“Ya sudah Mbak, sudah hampir sampai nih. Nanti aku kabari lagi, termasuk keadaan ibu Zein juga.”

“Jangan lupa salamku ya.”

“Iya … iya, sudah aku ingat-ingat kok.”

“Dari adik kamu?” tanya Pri.

“Iya.”

“Apa adik kamu secantik kamu?”

Indras tertawa. Pri terkadang suka ngomong seenaknya, tapi memang begitulah dia.

“Memangnya kenapa?”

“Kalau secantik kamu, aku mau dong pacaran sama dia.”

Indras terkekeh geli.

“Besok kalau ketemu, bilang sendiri saja. Tapi sepertinya dia sudah punya pacar tuh.”

“Waduh, mengapa ya, gadis cantik selalu cepat punya pacar? Patah hati dong aku.”

Indras hanya tertawa. Kedekatannya dengan Pri bisa sangat menghibur.

***

Sementara itu Zein heran karena setelah lepas dari ruang ICU, ibunya dipindahkan ke ruang yang lebih baik.

“Mengapa ibu saya dipindahkan keruang ini?”

“Dokter yang meminta, agar bisa memantau lebih cermat. Ini kemauan dokter Ilham, yang menangani sakitnya bu Iman.”

“Tapi bukankah dengan begitu biayanya akan lebih mahal?”

“Ya, tentu saja.”

“Suster, kami orang tidak punya, kami tidak bisa membayar mahal,” kata Zein.

“Saya tidak tahu mas, mas tanya saja kepada dokter Ilham, kami hanya menjalankan perintahnya.”

“Zein.”

Zein terkejut. Ia tentu saja mengenal adiknya Indras. Tapi ia terkejut melihatnya datang. Zein melongok ke arah belakang gadis itu, mengira Indras datang bersamanya, tapi Arun hanya sendiri.

“Aku datang sendiri, Zein. Bagaimana keadaan ibu?”

“Kemarin sempat dibawa ke ruang ICU karena keadaannya memburuk, tapi sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat, yang tampaknya itu ruang khusus, entahlah, aku bingung kan di ruang itu biayanya lebih mahal?”

“Bukankah yang penting ibu bisa segera sembuh ?”

“Itu benar. Tapi ….”

“Zein, aku mendapat perintah dari bapak, untuk memberikan ini untuk kamu.”

“Apa? Bapak siapa?”

“Bapakku. Pak Narya.”

“Apa?” mata Zein terbelalak. Bukannya gembira, wajahnya malah tampak muram.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, April 8, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 10

 SAKITKU ADALAH  CINTAKU  10

(Tien Kumalasari)

 

Zein terpaku di samping ranjang sang ibu. Tangan lemah itu masih menggenggam tangannya. Ia tampak sangat tenang dalam tidur nyenyaknya. Perlahan Zein  melepaskan tangan itu, kemudian bangkit. Sejak kemarin dia berada di kamar inap sang ibu. Dokter bilang keadaannya belum membaik. Jantungnya lemah, tensi tidak stabil. Hal itu membuat perasaan Zein menjadi kacau. Rawat inap itu membutuhkan biaya, dan ia juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan tugasnya. Ketika ia menanyakan kepada dokter yang menanganinya, dokter itu tidak memberikan sebuah harapan, sekecil apapun. Dokter itu hanya meminta agar dirinya berdoa. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan ibunya. Ia mengatakan kalau penyakit itu sudah lama dideritanya tanpa mau periksa ke dokter. Tapi ia meminta agar terus berdoa karena pemilik kesembuhan hanyalah Allah Yang Maha Esa.

Zein merasa dokter itu hanya menghiburnya. Sebagai seorang calon dokter yang sudah sering mengikuti seniornya dalam memeriksa dan mengamati kondisi pasien, ia tahu bahwa ia tak bisa banyak berharap.

Rasa sedih menyergapnya, mencengkeram dadanya. Siapa yang salah, ketika seorang ibu bekerja mati-matian demi pendidikan anaknya? Zein merasa sang ibu sesungguhnya kelelahan. Lelah demi menggapai sebuah keinginan. Lelah dalam melangkah, walau langkah itu mulai tertatih. Seharusnya ia berhenti ketika raga tak lagi kuat menyangga. Tapi sang ibu terus berlalu. Ia tak ingin berhenti, bahkan terus berlari.

Air mata Zein jatuh terburai. Seorang laki-laki dituntut agar bisa lebih kuat, tapi ketahanan itu runtuh ketika melihat wajah perempuan tua pucat yang tampak lebih tua dari umur yang sebenarnya sedang terbaring tanpa daya.

“Ibu, aku akan mewujudkan keinginanmu. Ibu tak akan kecewa,” bisiknya sambil mengangkat tangan ibunya, diciumnya bertubi-tubi.

Tiba-tiba mata tua itu terbuka.

“Zein, mengapa kamu masih ada di sini? Bukankah aku suruh kamu kembali kepada tugas-tugas kamu? Kalau kamu nanti tidak lulus, bagaimana?” katanya panjang lebar, dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Ibu sehat dulu, baru Zein kembali.”

“Zein, ibu sudah sehat. Dokter itu tidak mengerti. Yang merasakan sehat itu kan ibu, dokternya tidak tahu. Katakan kalau ibu ingin pulang saja, Zein.”

“Ya, nanti Zein bicara sama dokternya. Sekarang ibu ingin apa? Makan ya?”

“Tidak mau, ibu hanya ingin pulang, agar kamu bisa segera kembali ke tempat tugas kamu.”

Tiba-tiba sang ibu berhenti bicara, napasnya terdengar terengah-engah.

“Bu … ibu …”

Zein menghubungi perawat dengan perasaan panik.

Dokter segera dipanggil. Bu Iman mengalami sesak napas, dokter menyuruhnya memasang ventilator. Zein dipersilakan keluar.

***

Zein duduk melamun di sebuah bangku, ketika dokter dan perawat menangani ibunya. Pikiran melayang ke mana-mana. Kalau sang ibu tidak tertolong, apa yang akan terjadi pada hidupnya? Zein tak takut miskin. Tapi ada keinginan yang membuatnya menjadi kuat. Harapan sang ibu agar dia berhasil menjadi dokter.

Dering telpon membuat lamunannya buyar.

“Zein …”

Suara lembut yang selalu dirindukannya terdengar.

“Ya, Indras.”

“Bagaimana keadaan ibu?”

“Ibu mengalami sesak napas, dokter baru menanganinya.”

“Ya Tuhan. Bisa komunikasi?”

“Bisa, tadi baru ngobrol sama aku. Dokter sedang memasang ventilator .”

“Semoga segera pulih.”

“Aku belum bisa kembali. Bagaimana lagi. Ibu terlalu lelah, melupakan capeknya demi mengumpulkan uang, dan itu demi aku,” Indras terharu. Suara Zein terdengar sangat putus asa.

“Dokter sudah menanganinya, kamu tenang ya Zein. Tidak usah memikirkan yang lain, fokus pada sakitnya ibu. Aku doakan yang terbaik.”

“Terima kasih.”

Zein tak ingin ngobrol. Ia segera mengakhiri pembicaraan. Hatinya sedang kalut. Banyak yang dipikirkannya, sampai hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Zein kembali mengusap air matanya.

***

Hari itu pak Narya menelpon Indras, mengabarkan tentang kiriman uang yang dikirimkannya, dan Indras tidak segera meresponnya.

“Indras, bukankah kamu sudah bapak beri tahu bahwa bapak sudah mentransfer uang untuk keperluan kamu?”

“Oh, iya … maaf Pak, belum sempat berkabar. Iya, Indras sudah tau. Terima kasih ya Pak.”

“Bagaimana keadaan kamu?”

“Baik.”

“Semuanya lancar?”

“Lancar, Pak. Doakan agar segera selesai.”

“Asalkan kamu fokus pada tugas kamu, dan jangan sering-sering ketemu ... siapa itu, laki-laki miskin yang kamu sukai?”

“Tidak Pak, dia juga sedang pulang. Ibunya sakit sampai dirawat.”

“Dulu bapaknya, sekarang ibunya yang sakit?”

“Ibunya terlalu lelah bekerja, demi mencukupi kebutuhan kuliah Zein.”

“Bekerja apa dia?”

“Berjualan makanan. Malam-malam dia bangun, masak, lalu dijual keesokan harinya. Semua itu demi bisa membayar kuliah Zein. Kasihan sebenarnya.”

“Kamu beri dia uang?”

“Dia tak pernah mau dibantu.”

“Sombong amat. Harusnya mau dibantu.”

“Bukan sombong Pak, dia tak mau dibantu, karena tidak mau menjadi beban orang lain. Berkali-kali Indras menawarkan bantuan, dia selalu menolaknya.”

“Ya sudah, terserah dia kalau begitu.”

Indras merasa kesal mendengar jawaban sang ayah. Sedikitpun tidak ada rasa empati dari sang ayah, walau dia sudah menceritakan penderitaan Zein tentang sakit ibunya.

Karenanya dia segera pamit dengan alasan harus ada yang dikerjakan, kemudian ia menutup ponselnya.

***

“Tadi mbak Indras menelpon, kelihatannya dia sedang sedih.”

 Yang bicara adalah Arun, adik Indras.

Sang ayah dan ibu masih duduk di ruang tengah, baru saja bertelpon dengan Indras.

“Siapa yang sedih?” tanya sang ibu.

“Mbak Indras, tadi menelpon, katanya ibunya Zein sakit.”

“Yang sakit ibunya, mengapa dia harus sedih?” sergah sang ayah.

“Bapak jangan begitu, mereka itu dekat. Sedangkan teman biasa saja kalau sedang sedih kita juga ikutan sedih, apalagi Zein itu dekat dengan mbak Indras. Ya wajar kalau ikut sedih.”

“Kamu itu anak kecil bisa-bisanya ngajarin orang tua.”

“Arun bukan ngajarin, itu kan keadaan yang wajar.”

“Apa sakitnya parah?” kali ini sang ibu ikut bertanya.

“Kelihatannya parah. Ibunya Zein itu kan bekerja keras demi bisa menyekolahkan anaknya, sampai kuliah, dan berharap bisa menjadikan Zein seorang dokter. Nah karena kerasnya bekerja itu, sampai tidak memperhatikan kesehatannya. Itu yang membuat Zein sangat sedih, dan mbak Indraspun kemudian jadi ikutan sedih.”

“Ibunya bekerja apa?”

“Kata mbak Indras, berjualan makanan. Kasihan lhoh Bu, demi menyekolahkan anak, seorang ibu sampai banting tulang seperti itu. Ibu tahu nggak, dia itu bekerja keras sejak suaminya masih ada dan sakit-sakitan. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya beban yang dipikul.”

Bukan hanya bu Narya yang kemudian ikut terhanyut karena cerita Arun, tapi pak Narya juga ikut terdiam, tak mampu berkata-kata. Barangkali membayangkan beratnya beban seorang ibu yang berjuang demi anaknya, demi keluarganya, dan sekarang sampai jatuh sakit.

Pak Narya jadi teringat, dulu dia tidak kaya seperti sekarang ini. Orang tuanya juga hanya orang biasa. Beban yang mereka sandang juga berat, apalagi dia bukan anak tunggal. Sang ayah hanya seorang pensiunan, yang menyekolahkan anak-anaknya sampai menjadi orang. Tiba-tiba dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Kekayaan menjadikannya sombong dan merasa bahwa semua orang tidak berharga. Sekarang ia sangat menyesali apa yang dilakukannya. Penderitaan ibu Zein mengingatkannya pada penderitaan orang tuanya ketika masih hidup. Sangat berat perjuangan seorang tua, demi anaknya, apalagi kalau anaknya lebih dari satu. Adalah sebuah keberuntungan ketika dia berhasil menjadi pengusaha yang ternyata sukses, lalu menjadi seperti sekarang ini.

“Arun, kamu tahu di mana rumahnya?” kata pak Narya pelan.

“Rumah siapa maksud Bapak?”

“Rumah Zein.”

“Tidak tahu. Maksud Bapak apa? Mau ke sana dan memarahi Zein dan keluarganya?”

“Kamu itu jangan asal ngomong. Bisa tidak kamu mencari rumahnya di mana, atau tanyakan kepada kakakmu yang pastinya tahu.”

“Lalu mengapa Arun harus mencarinya?”

“Bawa sejumlah uang, berikan kepada keluarganya, barangkali mereka butuh biaya untuk ibunya yang sedang sakit.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, April 7, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 09

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  09

(Tien Kumalasari)

 

Zein mengamati Indras yang sedang asyik bertelpon. Berdiri tegak tak bersuara. Mendengar celoteh dan canda Indras yang tampak dengan gembira menerima telpon. Sesekali terdengar Indras menyebut namanya, Bagas. Zein mengenalnya. Bukankah Bagas adalah seorang laki-laki tampan yang dilihatnya jalan bersama Indras? Yang kata Indras hanyalah sahabatnya. Dan walau Bagas mencintainya tapi Indras mengaku hanya mencintai dirinya?

Sekarang mereka berbincang dan sesekali Indras terkekeh seperti mendengar sesuatu yang lucu.

Zein terus mengawasinya, tak bersuara sampai Indras menutup ponselnya, lalu Zein berdehem, barulah Indras terkejut.

“Zein, mengapa berdiri di situ? Sini.”

Tapi Zein tak bergerak. Indras yang berjalan mendekatinya.

“Tadi Bagas menelpon.”

“Dan karena itu kamu lupa kalau tadi kamu mengatakan lapar?”

Indras tertawa pelan.

“Iya sih, tapi masa dia menelpon lalu aku mengabaikannya? Dia hanya menanyakan kabar.”

“Begitu asyik sampai melupakan lapar.”

“Tidak melupakan lhoh, aku memang sedang lapar, dan tadi harus menahannya. Habis dia menelpon, masa aku mendiamkannya?”

Zein hanya diam. Zein adalah seorang pencemburu. Ketika ia melihat Indras berjalan bersama Bagas, ia langsung memutuskan hubungan. Untunglah Indras dengan kelembutan hatinya berhasil meluluhkan kemarahannya, sehingga mereka kemudian berbaikan lagi.

Sekarang, mendengar Indras bertelpon dengan Bagas, rasa cemburu itu muncul lagi. Walau keduanya berjalan bersama menuju kantin, tapi wajah Zein sangat cemberut.

“Zein, kamu tahu nggak, kalau kamu cemberut seperti itu, wajahmu jelek banget lhoh.”

“Memang aku jelek. Tidak seperti Bagas yang ganteng, gagah, kaya raya.”

“Bukan begitu. Kamu itu sebenarnya ganteng, gagah, menawan, baik hati dan tidak sombong, itu sebabnya aku mencintai kamu.”

“Masa?”

“Iya, aku abaikan semua rintangan, karena rasa cinta itu.”

“Masa?”

“Bisakah kamu mengatakan selain kata … masa … masa ….”

“Jadi aku harus mengatakan apa”

“Katakan, bahwa aku cantik, menawan, penuh cinta kasih …”

Sekarang Zein tertawa. Indras senang melihat wajah muram sudah kembali ceria.

“Kamu itu pintar, jadi aku yakin kalau kamu sudah tahu bahwa aku selalu mengatakan itu, walau dalam hati, dan tidak sampai terlontar melalui bibirku.”

“Dasar pelit.”

“Iya, aku pelit, kan aku bukan orang kaya seperti kamu?”

“Pelitnya bukan masalah kaya atau tidak kaya.”

“Apa maksudmu?”

“Pembicaraan kita bukan tentang kaya atau miskin, tapi tentang puji memuji. Aku memujimu setinggi langit, tapi kamu sedikit saja tidak mengucapkan pujian. Benar-benar pelit dan tidak romantis,” gerutu Indras sambil cemberut.

“Tuh, sekarang kamu cemberut kan, coba kamu tidak cemberut, kamu pasti cantik.”

“Iiih, memujinya seperti nggak iklas begitu. Jadi sebenarnya aku tidak cantik dong.”

“Iklas kok. Harus gimana dong, aku memang tidak romantis. Gimana caranya supaya romantis?”

“Aku nggak tahu, masa romantis diajarin?”

Walau begitu kekesalan di hati Zein sudah mencair. Mereka makan bersama sebelum kembali menjalani tugas mereka.

***

Tapi kenyataannya bu Iman memang sakit beneran. Ia menahannya karena ia tak ingin kelihatan sakit, apalagi kalau Zein sampai mendengarnya. Ia menahannya juga karena ia butuh uang demi Zein yang harus menyelesaikan tugasnya.

Tetangganya yang melihatnya selalu mengingatkannya, bahwa bu Iman harus beristirahat karena wajahnya kelihatan pucat seperti orang yang kelelahan.

“Tidak Bu, saya baik-baik saja. Lelah itu kan biasa, karena namanya orang sudah setengah tua, tapi harus bekerja. Tapi itu lelah biasa, bukan karena saya sakit.”

“Kalau memang lelah kan harusnya Ibu beristirahat. Atau saya kabari saja Zein, agar mengantarkan Ibu ke rumah sakit?”

“Jangan,” dengan cepat bu Iman menyergahnya.

“Ibu kan harus periksa ke dokter juga, walaupun hanya lelah.”

“Tidak usah Bu, saya sudah minum obat, minum jamu. Setelah minum saya sudah merasa segar kok. Kalau ibu mengabari Zein, nanti Zein pasti pulang, dan itu akan membuat tugasnya tersendat. Jadi lama ia menyelesaikannya, tidak segera bisa menjadi dokter.”

“Nanti kalau saya tidak mengabarkan apa-apa, dan Ibu benar-benar sakit, Zein pasti marah pada saya.”

Bu Iman hanya tertawa.

“Tidak Bu, jangan khawatir. Lagian saya kan tidak benar-benar sakit. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Malah jadi merepotkan saya nanti. Tapi terima kasih lho Bu, sudah memperhatikan keadaan saya.”

“Kita kan bertetangga Bu, sudah selayaknya kalau saling membantu, saling mendukung, saling memperhatikan.”

Bu Iman tersenyum senang.

***

Beberapa bulan berlalu, Zein dan Indras bertugas dibagian yang berbeda, sehingga tidak bisa sering bertemu seperti sebelumnya. Walau begitu mereka tetap berhubungan melalui pesan singkat ataupun bertelpon.

Hari itu Bagas mampir ke rumah pak Narya karena kembali bertugas di kota yang sama. Berkali-kali pak Narya bertanya tentang hubungannya dengan Indras, tapi sambil tertawa Bagas selalu menjawab bahwa hubungannya baik-baik saja. Pak Narya sudah kehilangan harapan untuk bisa menjadikan Bagas sebagai menantu.

“Saya senang Bapak dan Ibu selalu baik kepada saya. Saya anggap Bapak dan Ibu sebagai orang tua saja, walau tidak berhasil menjadi menantu.”

“Ya, tentu saja Bagas. Kamu adalah anak kami,” kata pak Narya.

“Tapi sikap Indras bagaimana setiap kali kamu menelponnya?” sambung bu Narya.

“Baik Bu, kami berbincang akrab, bercanda. Tidak ada penolakan dari Indras setiap kali saya menelpon. Dia akan menolak, kalau saya berbicara tentang cinta. Tidak apa-apa, kami tetap bersahabat,” kata Bagas dengan nada ringan tanpa beban. 

Bukankah jodoh tidak perlu dicari dan akan datang sendiri pada suatu hari nanti?

***

Hari itu Indras mencari-cari Zein tidak ketemu. Salah seorang temannya mengatakan bahwa Zein izin tidak masuk karena harus pulang. Kabarnya ibunya sakit. Indras terkejut. Ia langsung menelpon Zein.

“Zein, kamu di mana?”

“Maaf aku tidak sempat mengabari kamu, karena aku buru-buru pulang.”

“Ibu sakit lagi?”

“Kemarin ditemukan pingsan di warungnya, lalu tetangga membawanya ke rumah sakit.”

“Sekarang ibu di rumah sakit?”

“Iya, aku sedang menungguinya, tapi ibu belum sadar sejak kemarin.”

“Ibu sakit apa?”

“Jantungnya bermasalah. Mungkin dia kecapekan karena memaksa bekerja. Itu yang dikatakan para tetangga.”

“Ikut sedih mendengarnya Zein. Semoga ibu baik-baik saja.”

“Terima kasih In.”

“Kamu jangan kecapekan juga. Semoga keadaan ibu semakin baik sehingga kamu bisa segera kembali bertugas.”

“Iya, aku juga berharap begitu.”

***

Sudah tiga hari Zein menunggui di rumah sakit. Bu Iman sudah sadar dan sudah dipindahkan ke kamar inap, tapi masih belum bisa dikatakan membaik.

“Zein, kamu kembalilah sana, ibu sudah tidak apa-apa.”

“Ibu masih lemah dan harus dirawat. Sabar ya Bu.”

“Ibu merasa baik, ibu akan pulang saja.”

“Jangan Bu, sabarlah untuk sehari dua hari.”

“Kamu terlalu lama meninggalkan tugas kamu. Kalau tidak segera lulus bagaimana?”

“Ibu jangan khawatir. Zein akan mewujudkan semua keinginan Ibu. Yang penting Ibu segera sehat dan bisa menemani Zein saat berpraktek menjadi dokter.”

Bibir pucat itu mencoba tersenyum.

“Bagaimana aku bisa menemani kamu berpraktek?”

“Ibu akan Zein jadikan perawat,” canda Zein.

“Mana mungkin, ibu tidak pernah sekolah perawat. Melihat jarum suntik saja ibu sudah pucat, sementara di sini di suntik terus-terusan.”

“Tidak apa-apa Bu, nanti ibu bisa belajar. Mencatat pasien yang datang, namanya siapa, alamatnya mana, keluhan sakitnya apa,” kata Zein sambil menepuk-nepuk tangan sang ibu.

“Ibu tahu kamu sedang menghibur ibu.”

“Benar, nanti Ibu akan melakukan itu, tidak berjualan makanan lagi seperti yang sudah.”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Memang menyenangkan, luar biasa, anaknya jadi dokter, ibunya menjadi penerima pasien.”

“Apa iya, hal itu bisa terjadi?”

“Jangan bilang begitu Bu, semuanya pasti akan terjadi. Insyaa Allah.”

“Ibu sepertinya semakin lemah, bagaimana kalau ibu tidak bisa menunggui kamu saat diwisuda menjadi dokter?" kata bu Iman lemah.

“Ibu tidak boleh berkata begitu. Zein tidak bisa hidup tanpa Ibu.”

“Kamu masih muda dan kuat, Zein.”

“Zein akan kuat kalau ada Ibu di samping Zein.”

Bu Iman meremas jemari Zein.

“Ibu ngantuk.”

“Tidurlah Bu, Zein akan menunggui Ibu di sini.”

“Sebaiknya kamu kembali Zein, ingat pendidikan kamu.”

“Kalau Ibu membaik, Zein akan kembali. Sekarang Ibu jangan memikirkan apa-apa lagi.”

Bu Iman menutup matanya perlahan, dengan tangan masih menggenggam jemari sang anak.

***

Besok lagi ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 14

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  14 (Tien Kumalasari)   Bu Iman sudah berjalan, hampir menuruni tangga, ketika Zein masih saja menatap ke arah sofa...