Thursday, February 12, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 07

 BIARKAN AKU MEMILIH  07

(Tien Kumalasari)

 

Dwi menatap Adri tak percaya, wajahnya mendadak berseri-seri.

“Adri … ini benar kan? Aku tidak mimpi?” pekiknya riang.

“Masa iya kamu mimpi, aku sudah memanggil namamu tadi. Tidak menyangka juga, kamu yang dikirim dari pusat. Namamu Dwiyanti? Aku tahunya hanya Dwi, tidak tahu kepanjangannya, jadi tidak mengira itu kamu,” kata Adri dengan wajah berseri.

“Aku baru setahun bekerja, aku dipromosikan menjadi manager pemasaran di kantor ini. Tak tahunya kamulah pimpinanku. Ini sangat menyenangkan,” katanya sambil meletakkan map yang dibawanya ke meja Adri.

“Agak lama kita tidak bertemu. Saat aku menikah kamu juga tidak datang. Kenapa?”

“Itu aku sedang kebingungan mencari pekerjaan setelah menikah. Lagipula kamu juga tidak datang ketika aku menikah.”

“Kamu tidak mengundangku, mana aku tahu?”

“Masa? Aku titipkan undangan pada ibumu.”

“Oh ya? Mungkin waktu itu aku sedang bebenah dalam kepindahanku ke rumah baru.”

“Enak ya, sudah jadi pejabat, bisa punya rumah sendiri. Tapi kan kabarnya kamu punya mertua yang kaya raya?”

“Bukan karena mertua aku, aku masih ngontrak. Tidak ingin bergantung kepada mertua.”

“Benarkah?”

“Banyak yang tidak percaya, tapi memang itulah kenyataannya.”

“Bagus sekali. Memang enak memiliki sesuatu yang didapatkan dari hasil keringat sendiri.”

“Kita harus ngobrol nih, ayo pindah duduk di sofa saja, ini lepas dari pertemuan antar pekerja, ini antara teman lama,” kata Adri sambil berdiri, dan mendahului duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

Mereka mengobrol ke sana kemari dengan wajah riang. Mereka adalah teman masa kecil, dan rumah mereka tidak berjauhan. Mereka berpisah ketika sama-sama kuliah di tempat yang berbeda.

Mereka masih terus mengobrol, yang terkadang diselingi tawa gembira. Adri merasa menjadi remaja yang membuatnya menemukan seseorang yang dulu begitu dekat dengannya. Dwi pintar bicara, dan itu sangat menghibur. Hal yang jarang ditemui saat di rumah, dimana istri sibuk bekerja, lalu sibuk mengurus anak ketika pulang kerja.

Biasanya di kantor Adri juga hanya mengurus pekerjaan, mengontrol staf yang menjadi bawahannya, dan itu membuatnya selalu bersikap sangat serius dan terkadang keras.

***

Sepulang kerja, rumah sangat terasa sepi. Istri dan anaknya belum pulang. Seorang pembantu menyiapkan minum dan menata makan siang untuknya, sendiri saja.

Nirmala menelponnya pagi tadi, menanyakan keadaannya dan mengucapkan selamat pagi serta selamat bekerja. Kemudian selesai.

Malam itu Adri sangat lelah, ia merasa kamarnya sangat dingin dan senyap. Seandainya ada teman mengobrol ….

Adri meraih ponselnya, lalu memutar nomor kontak Dwi dengan berdebar-debar, takut ada suaminya di samping Dwi. Jadi ia hanya coba-coba saja. Tak disangka dengan cepat Dwi mengangkatnya.

“Adri?” sapanya dari seberang.

“Eh, apa kamu sendirian?”

“Iya, aku sendirian, kebetulan kamu menelpon, jadi ada teman ngobrol.”

“Suami kamu?”

“Biasa, hampir setiap malam dia pergi dengan teman-temannya.”

“Dugem?”

“Entahlah, katanya sih hanya ngontrol di pos penjagaan itu. Kalau malam ramai sekali di sana.”

“Owh, untunglah, tadi aku takut kalau-kalau suami kamu yang menerima telpon aku.”

“Tidak mungkin, dia jarang di rumah.”

“Bagus, kalau begitu aku juga senang bisa punya teman ngobrol.”

“Istrimu belum pulang?”

“Belum, mungkin beberapa hari. Dia kan bos kecil,” katanya sambil tertawa.

“Senengnya, suami istri sama-sama bos.”

“Terkadang kedudukan itu tidak terlalu penting.”

“Bukankah semua orang selalu ingin punya kedudukan?”

“Benar, tapi yang penting adalah kebersamaan setiap saat.”

“Nah, aku juga berpikir begitu.”

“Senang sekali aku bertemu kamu lagi. Kamu sudah punya anak berapa sih, tadi lupa nanya.”

“Aku belum punya anak. Ingin sekali sih, tapi nggak tahu nih, belum juga dapat.”

“Sabar saja. Aku sih, menikah sebulan, istri langsung hamil.”

“Senengnya.”

Mereka ngobrol sampai larut, dan baru berhenti ketika ada ketukan di pintu depan.

“Suamiku sudah pulang. Sudah dulu ya, dilanjut besok, di kantor.”

Adri meletakkan ponselnya dan menguap, ia menahan kantuk karena mengobrol dengan perasaan senang. Ia memeluk guling di sampingnya, lalu terlelap tak lama kemudian.

***

Seperti biasa, pagi sebelum berangkat ke kantor, Nirmala selalu menelpon.

“Adri, sudah sarapan?”

“Sudah mau berangkat nih.”

“Kamu tidak menanyakan keadaan Pratama?”

“Ya, dia baik-baik saja kan?”

“Semalam badannya anget, tapi sudah aku bawa ke dokter.”

“Mengapa semalam tidak menelpon aku?”

“Menelpon, tapi kelihatannya kamu sibuk. Sedang telponan dengan siapa?”

“Oh, hanya rekan kantor,” katanya tanpa merasa berbohong. Bukannya Dwi adalah rekan kantornya?

“Lalu aku tidak menelpon lagi. Pratama sudah tidak apa-apa. Mungkin kangen sama ayahnya.”

“Tentu saja, kapan kamu selesai?”

“Mungkin sehari dua hari ini aku sudah kembali. Sudah dulu ya, aku segera ke kantor, sopir sudah menunggu.”

Adri meletakkan ponselnya. Sedikit menyesal tidak mendengar berita anaknya sakit karena asyik mengobrol. Tapi ia merasa lega karena katanya Pratama sudah baik-baik saja.

Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Dari Dwi? Ada apa pagi-pagi menelpon?

“Ya, Dwi?”

“Aku nanti datang terlambat, sekarang ada di rumah sakit.”

“Kamu sakit?”

“Tidak, suamiku semalam pulang lalu diare sampai pagi. Barusan aku bawa ke rumah sakit.”

“Oh, salah makan, barangkali?”

“Entahlah, dia kalau pergi-pergi begitu suka jajan sembarangan bersama teman-temannya. Ya sudah, kalau sudah beres aku langsung ke kantor.”

“Semoga suami kamu baik-baik saja.”

“Terima kasih Adri.”

Adri berangkat ke kantor. Tidak seperti biasanya selalu kalau datang dia pasti melongok ke ruang kerja Dwi, kali ini ia langsung menuju kantornya karena tahu kalau Dwi belum datang. Diam-diam Adri berharap saat makan siang nanti Dwi sudah datang, sehingga mereka bisa ngobrol sambil makan di kantin, atau makan diluar seperti kemarin.

Adri heran pada dirinya sendiri, mengapa akhir-akhir ini ia selalu lebih bersemangat berada di kantor. Karena ada Dwi yang ceriwis dan sangat menghibur? Atau karena keceriaan bersama Dwi tidak didapatkan di rumah karena Nirmala selalu sibuk dan sibuk? Padahal Nirmala hanya ingin berbuat baik sebagai ibu rumah tangga. Ia bekerja saat siang, tapi sore dan malam harus selalu ada bersama anak semata wayangnya yang sudah mulai bisa bicara lucu. Hanya saat malam ada waktu buat sang suami, itupun sudah kelihatan sama-sama lelah dan kalaupun berbincang seperti sangat dipaksakan.

***

Dua hari kemudian Nirmala pulang saat pagi benar, dan Adri belum berangkat bekerja. Adri langsung menggendong Pratama dan menciumi pipi gembulnya.

“Kamu habis sakit?”

“Akit,” katanya sambil memegangi kepalanya dengan lucu.

“Lain kali nggak boleh sakit lagi ya.”

“Mmh … “ celoteh lucu yang belum jelas membuat Adri sangat senang. Tapi tidak lama, karena ia harus pergi ke kantor.

“Kamu juga mau ngantor? Tanyanya kepada sang istri.”

“Tidak, aku istirahat dulu hari ini.”

“Ya sudah, aku berangkat dulu,” katanya sambil menyerahkan Pratama kepada sang istri.

Nirmala mencium tangan sang suami sebelum keberangkatannya, lalu ia mencium kening Pratama.

“Bapak pergi dulu ya,” katanya lembut.

“Apaaaaak … “ dan Pratama melambaikan tangan kecilnya dengan lucu.

***

“Nirmala sudah pulang?” tanya Dwi ketika mereka makan siang di kantin.

“Sudah, pagi tadi sebelum aku berangkat kerja.”

“Suamiku juga sudah pulang dari rumah sakit kemarin sore.”

“Syukurlah, aku ikut senang.”

“Semoga kebiasaannya makan sembarangan bisa hilang dengan sakitnya kali itu. Entah apa yang dimakannya, dia keracunan.”

“Kalau mau pergi selalu suruh dia makan, biar kenyang.”

“Suka jajan itu tidak selalu karena lapar Adri, memang pengin jajan, begitu saja. Kan senang kalau banyak temannya lalu ngemil sesuatu yang entah apa. Enak atau tidak bukan masalah, karena tertutup rasa senang itu tadi.”

“Itu sebabnya kamu tidak segera punya anak. Suami sering keluar malam.”

“Begitukah?”

“Mungkin,” kata Adri sembarangan.

“Barangkali memang suami aku terlalu lemah.”

“O … “ Adri tak melanjutkannya. Terasa nggak enak melanjutkan perbincangan ‘terlalu lemah’ itu tadi.

Lalu mereka berbincang tentang hal lain, sampai waktu istirahat usai lalu disibukkan oleh tugas masing-masing.

***

Nirmala tidak berlama-lama tiduran karena lelah. Ia bermaksud membersihkan kamar dan membenahi almari pakaian sang suami yang berantakan. Tampaknya ia sembarangan mengambil baju, tanpa peduli akan kerapiannya. Berbeda kalau Nirmala ada di rumah, setiap hari selalu merapikan kembali almarinya setelah mengambilkan baju sang suami.

Karena berantakan, Nirmala mengeluarkan semua baju untuk ditatanya dari bawah, agar tampak rapi kembali.

Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari bawah alas almari, sebuah amplop. Nirmala memungutnya, dari sebuah rumah sakit. Nirmala membukanya dan matanya terbelalak.

Hasil tes DNA Pratama? Gemetar tangan Nirmala ketika membacanya. Untuk apa tes DNA ini? Pikirnya .

***

Besok lagi ya,

 

 

Wednesday, February 11, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 06

 BIARKAN AKU MEMILIH  06

(Tien Kumalasari)

 

Hari berjalan begitu cepat. Pernikahan itu sudah terjadi. Dan Adri sudah bekerja di sebuah perusahaan besar atas hadiah dari ayah mertuanya. Semarah-marahnya orang tua, ia tak ingin sang putri semata wayang hidup dalam kekurangan. Nirmala juga sudah selesai dan bekerja di perusahaan lain.

Bima tidak hadir, baik dalam acara lamaran maupun di acara pernikahan. Ia hanya memberikan selamat melalui ponselnya.

“Ikut bersyukur atas pernikahan kamu, Nirma, aku berharap hidup kamu bahagia.”

Ungkapan singkat itu seperti berisi sesuatu, itulah yang dirasakan Adri ketika ikut membacanya.

“Pasti dia patah hati,” gumamnya pelan.

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu dia mencintaimu, dan pasti sakit hatinya mengetahui kalau kamu sudah menjadi istriku.”

“Mengapa kamu berpikir begitu? Sejak dulu dia selalu baik, dan selalu mendukung aku dalam hubungan kita. Hatinya begitu bersih, jangan menuduhnya yang bukan-bukan.”

Adri diam, tapi bukan berarti dia percaya. Entah mengapa dia merasa bahwa sebenarnya dia kalah bersaing dalam mendapatkan cinta Nirmala, walau sekarang Nirmala sudah menjadi istrinya. Nirmala selalu memuji-muji Bima. Apakah Nirmala juga memuji-muji dirinya di depan Bima? Begitu rumit hati Adri untuk dimengerti, tapi dengan seluruh kesabarannya Nirmala selalu berusaha mengerti. Dia mencintai Adri dengan setulus jiwa, mencintai dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Mereka sudah memiliki rumah sendiri, dan pak Bondan merasa bahwa anaknya sudah hidup berbahagia. Ia sangat bersyukur.

***

Nirmala senang, Bima sering menelpon. Menanyakan keadaannya, dan Nirmala selalu merasa ada kehangatan ketika mendengar suaranya. Tapi Nirmala sadar, Bima hanya sekedar teman baik. Tak ada cinta, karena cinta sepenuhnya ada pada Adri, sang suami.

Tapi ternyata Adri memantau setiap langkah Nirmala, dan memperhatikan saat mereka sedang bertelpon. Memang Nirmala tidak pernah menutupinya, dan merasa biasa saja ketika bertelpon dengan Bima, tanpa takut dituduh selingkuh karena mereka memang tidak berselingkuh.

Namun Adri menerima semua itu sebagai pengkhianatan.

Ketika anak pertama mereka lahir, bahkan Adri dengan diam-diam melakukan tes DNA, apakah Pratama, anak sulungnya benar-benar darah dagingnya atau bukan.

Ia baru bisa menerima ketika tes DNA itu mengatakan bahwa Pratama benar tetesan darahnya.

Nirmala tidak mengetahui masalah itu. Ia senang Adri begitu menyayangi Pratama, padahal saat lahir dia kelihatan sangat acuh.

“Wajah Pratama ini mirip wajahku bukan?” katanya ketika sedang menimang anak pertamanya di suatu sore.

“Tentu saja, kamu kan ayahnya, masak mirip tetangga?” seloroh Nirmala.

“Siapa tau kecipratan wajah tetangga,” jawab Adri seenaknya.

“Memangnya air, bisa nyiprat?”

“Jangan marah, aku kan hanya bercanda?”

“Aku tidak marah, aku juga jawabnya bercanda kan?”

Adri hanya tersenyum, kemudian memberikan Pratama kecil ke pangkuan Nirmala, yang kemudian membawanya masuk ke kamar untuk ditidurkan.

“Oh iya, aku lupa bilang, minggu depan aku ditugaskan ke luar kota,” kata Nirmala setelah kembali.

“Minggu depan?”

“Iya, ada cabang baru yang membutuhkan penanganan, aku dipercaya untuk ke sana.”

“Bagaimana dengan Pratama?”

“Pratama aku ajak saja, bersama mbak Rana, jadi dia akan tetap bisa minum ASI.”

“Lama perginya?”

“Semoga tidak, segera setelah selesai aku pasti pulang.”

“Asal jangan lupa sama aku.”

Nirmala terkekeh.

“Bagaimana aku bisa melupakan suami aku yang ganteng dan baik hati ini?” katanya sambil bersandar di dada sang suami.

Adri mengelus kepala Nirmala. Sesungguhnya ia bahagia memiliki Nirmala, gadis yang sudah lama dicintainya. Tapi ia seorang pencemburu berat. Hanya saja dia selalu menyembunyikan kecemburuan itu karena ada rasa tinggi hati, dan karenanya ia malu mengakuinya.

“Aku akan menelpon kamu setiap hari selama di sana nanti.”

“Awas ya, jangan sampai tidak.”

“Aku janji.”

Adri hanya mengangguk sambil mempermainkan anak rambut Nirmala yang tergerai di dahinya.

“Besok ke rumah bapak ya?”

“Mengapa ke sana?”

“Aku harus pamit dong, sama bapak sama ibu. Nanti kalau tidak pamit, mereka mencari Pratama, bagaimana?”

“Ya sudah, pergilah sendiri, aku sedang ada pekerjaan, mungkin harus pulang malam.”

“Ya sudah, aku sendiri saja sama mbak Rana. Paling juga nggak lama, sekedar bapak sama ibu tahu.”

“Baiklah, terserah kamu saja”

***

“Apakah kamu bahagia?” itu adalah kata pertama yang dilontarkan sang ayah ketika Nirmala datang bersama anaknya.

“Seperti janji Nirmala, kami bahagia.”

Pak Bondan tersenyum, sementara bu Bondan menggendong Pratama yang sudah bisa mengoceh lucu.

“Syukurlah. Senang bapak mendengarnya.”

Nirmala menatap sang ayah yang semakin tua, tapi tampak masih sehat dan bersemangat.

“Aku tahu kamu akan bertugas keluar kota minggu depan.”

“Iya, Nirmala yakin Bapak sudah tahu, karena semua perusahaan di mana kami bekerja adalah dibawah kendali Bapak.”

“Kelak kamu yang bisa menggantikannya.”

“Nirmala masih selalu mohon bimbingan Bapak.”

“Kamu sudah pintar, suami kamu juga tidak mengecewakan. Bapak senang kalian bekerja dengan baik.”

“Nirmala tetap masih harus banyak belajar,” kata Nirmala merendah.

“Bapak percaya kamu bisa.”

“Karena ada Bapak kan?”

“Kenapa kamu tidak datang bersama suami kamu?”

“Adri bekerja sampai malam, Nirma tidak mau membawa Pratama bepergian terlalu malam.”

“Nirmala, ayo makan dulu, sudah saatnya bapak makan juga,” kata bu Bondan dari arah belakang.

“Pratama mana?”

“Itu, digendong Rana, kelihatannya mengantuk.”

“Baiklah, ayo kita makan Pak,” kata Nirmala yang langsung menggandeng tangan ayahnya menuju ruang makan.

***

Sore itu sebenarnya Adri sudah ada di rumah. Dia hanya segan sering-sering pergi ke rumah mertuanya, karena selalu merasa rendah di hadapannya. Ia tahu bahwa yang memberi pekerjaan dan kedudukan yang mapan di perusahaan adalah ayah mertuanya, dan karena itu ia merasa sungkan. Ia selalu rendah diri, dan merasa menjadi beban, padahal sang mertua selalu menyambutnya dengan baik di setiap kedatangannya.

Tiba-tiba ia mendengar ponsel berdering. Itu dering ponsel milik Nirmala. Rupanya Nirmala lupa membawa ponselnya.

Adri mendekat, dan melihat siapa yang menelpon. Ada foto Bima terpampang di layar ponsel itu.

Adri mengangkatnya.

“Apa kabar Nirmala,” sapanya dari seberang.

“Nirmala sedang pergi.”

“Oh, Adri ya? Apa kabar Adri?”

“Baik, Nirmala juga baik. Ada perlu apa?” tanyanya dingin, dan Bima merasakannya. Tapi nada suara Bima tidak berubah, tetap ringan dan ramah.

“Aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku akan bertunangan Minggu depan.”

“Oh, baiklah, nanti akan aku sampaikan kalau Nirma sudah pulang.”

“Aku harap kalian datang.”

“Semoga aku bisa, tapi aku tidak janji.”

“Baiklah, aku hanya ingin mengabarkan berita itu, nanti hari dan jamnya serta tempatnya akan aku kirimkan lewat WA.”


”Akan aku sampaikan.”

“Terima kasih Adri, datang ya,” kata Bima sebelum menutup ponselnya, dan Adri tidak menjawabnya.

Ada perasaan tak senang ketika Adri meletakkan ponselnya. Ia selalu merasa kalah dibanding Bima. Entah mengapa, biarpun dia sudah memiliki Nirmala, tapi perasaan tak sukanya pada Bima masih belum terhapus dari hatinya.

Bahkan ketika Bima mengatakan bahwa dia akan bertunangan.

Wajahnya muram ketika tak lama kemudian Nirmala pulang. Ia tak menyapa Pratama yang tertidur dalam gendongan Rana.

“Ternyata kamu sudah pulang?”

“Nggak jadi lembur, aku capek.”

“Adri, ponselku ketinggalan ya?”

“Tuh, di meja.”

“Syukurlah, aku kira jatuh di mana … gitu.”

“Tadi ada yang menelpon.”

“Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan dia.”

“Dia siapa sih?”

“Bima.”

“Kamu mengangkatnya? Dia bilang apa, biasanya hanya menanyakan kabar.”

“Dia mau bertunangan.”

“Oh ya?” wajah Nirmala berseri.

“Tapi belum jelas hari dan jamnya, nanti akan mengabari lagi. Telpon saja kalau kamu mau menelpon.”

“Nggak usah, kalau perlu mengabari pasti dia mengirim chat atau menelpon lagi. Aku capek. Kamu sudah makan?”

“Sudah. Kelamaan menunggu kamu.”

“Maaf ya, tadi ibu juga menyuruh aku makan, tapi akan aku temani kalau kamu belum makan.”

“Aku sudah makan.”

“Ya sudah, aku ganti baju dulu,” kata Nirmala yang sesungguhnya tahu bahwa Adri tak suka pada Bima.

***

Sudah dua hari Nirmala pergi ke kantor cabang ayahnya, dan menepati janjinya untuk menelpon sang suami setiap hari.

Pagi hari itu Adri kedatangan seorang pegawai baru, yang katanya dikirim dari kantor pusat. Ia mengetuk pintu dan masuk ketika dipersilakan, dan Adri terkejut ketika tahu siapa pegawai baru itu.

“Dwi?”

“Ternyata Adri?” pekik Dwiyani, pegawai baru itu.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, February 10, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 05

 BIARKAN AKU MEMILIH  05

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menundukkan wajahnya dengan hati yang menciut. Ia merasa lancang karena berani mengatakannya. Tapi dia memang harus berani. Apapun itu adalah kehidupannya. Baik atau buruk nantinya, Nirmala sudah siap menerimanya.

Bu Bondan menatap suaminya dengan khawatir. Ia tahu sang suami marah sekali, tapi ia tak berani mengatakan apapun.

“Kamu sadar apa yang kamu katakan?” akhirnya kata pak Bondan keras.

Nirmala mengangkat wajahnya. Ada air mata mengambang di pelupuknya.

“Nirma sangat mencintai dia,” katanya dengan suara gemetar. Pak Bondan membelalakkan matanya semakin lebar.

“Kamu tahu kalau aku tidak suka pada pilihanmu itu bukan?”

“Ijinkan Nirma memilih jalan hidup Nirma.”

“Apa kamu tahu bahwa orang tua itu hanya menginginkan kebahagiaan dalam hidup anaknya? Apa kamu yakin bahwa kamu akan bahagia hidup di sampingnya?”

Nirmala menatap sang ayah. Sebutir permata bening jatuh dari mata indahnya.

Apakah dia akan bahagia? Apakah sebuah cinta akan selalu membuahkan kebahagiaan? Nirmala tidak tahu. Tentu saja dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya nanti apabila dia berpegang teguh  pada keinginannya.

“Apa jawabmu?”

Nirmala masih tetap diam, sekarang ia menundukkan wajahnya.

“Nirma, kalau kamu memutuskan sesuatu, bukankah kamu sudah memikirkan baik dan buruknya? Juga akibatnya?” sambung sang ibu.

“Kalau kamu nekat, dan kamu merasa bahwa nanti hidup kamu akan bahagia, lakukanlah,” akhirnya kata sang ayah.

Jawaban itu sesungguhnya tidak membuatnya senang. Ia sedang dinilai oleh ayahnya, apakah dia sanggup menerima apapun yang terjadi kalau ia nekat dalam keinginannya.

Ia mengangkat wajahnya, tapi sang ayah sedang memalingkan muka. Nirmala merasa, sang ayah sedang melepaskan kepalanya tapi memegangi ekornya. Tetap saja dia tak bisa bergerak.

“Apa lagi yang kamu tunggu?” katanya lagi, tanpa menatapnya.

“Ap … pa?” Nirmala menjawab linglung.

“Kelihatannya keinginan kamu tidak bisa dihalangi. Kamu bukan piaraan yang kalau aku tak ingin piaraan itu terlepas, maka aku masukkan saja di dalam kandang agar tidak kabur. Kamu manusia, anakku, yang aku cintai dengan segenap jiwa ragaku. Bagaimana aku bisa menghalangimu?”

Nirmala runtuh ke lantai, mendekati sang ayah lalu merangkul kedua kakinya sambil berurai air mata.

“Apa maksudmu dengan ulah ini? Jangan membuat hatiku luluh karenanya. Hati orang tua sudah luluh tanpa kamu mencium kakinya. Dan satu yang harus kamu ingat, berjanjilah untuk hidup bahagia,” kata sang ayah dengan suara bergetar.

Tangis Nirmala semakin menjadi-jadi. Sang ibu menarik tubuhnya dan merangkulnya.

“Kamu tahu artinya? Ayahmu mengijinkannya," katanya lembut.

Nirmala merangkul ibunya. Tangisnya masih belum reda. Mengijinkannya tapi tak rela, bukankah itu yang terjadi?

Sang ibu mendudukkan Nirmala di sampingnya.

“Kalau Bapak tidak setuju_”

“Tidak, aku setuju. Apapun yang kamu inginkan,” kata sang ayah lebih tenang.

Nirmala tenggelam dalam tangis untuk beberapa saat lamanya.

“Katakan pada dia, kapan saja dia boleh datang menemui aku,” kata sang ayah pada akhirnya.

***

“Bagaimana? Bukankah ayahmu tidak mengijinkan aku melamarmu? Aku tahu aku ini miskin, dan ayahmu memandang rendah diriku,” kata Adri dalam suatu kesempatan bertemu.

“Tidak, bukan itu.”

“Lalu apa?”

“Bapak tidak menolak, datanglah kapan saja untuk melamar.”

“Aku baru magang di sebuah perusahaan, tapi aku ingin segera punya istri, yang mau hidup sederhana bersamaku. Apa kamu mau?”

Nirmala mengangguk.

“Bapak mempersilakan kamu dan keluarga datang kapan saja.”

“Benarkah?”

“Masa aku bohong.”

“Tapi wajahmu tidak tampak bahagia.”

“Bukankah aku selalu senyum sejak berbicara denganmu?”

“Senyum itu bukan selalu berarti bahagia. Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Apa sebenarnya yang dikatakan oleh ayahmu?”

“Bapak bilang, kalau aku yakin bahwa aku akan bahagia, bapak mengijinkan aku menjalaninya.”

“Bapakmu ragu, karena aku miskin?”

“Tidak. Bahagia bukan tentang kaya dan miskin. Berjanjilah untuk menjagaku dan melindungi aku.”

“Bukankah kamu tahu bahwa aku sangat mencintai kamu?”

Nirmala tersenyum. Ia tahu Adri mencintainya, dengan caranya, dan Nirmala senang menerimanya. Bukan karena cinta itu buta, tapi karena suara hati mengatakan bahwa dialah jodohmu, dan Nirmala meyakininya. Barangkali dia salah, tapi tampaknya Nirmala siap menerima apapun yang akan menimpanya. Suka, duka, bahagia, apapun.

***

Malam itu Bima menelponnya dengan suara renyah.

“Nirma, aku bahagia mendengar Adri akhirnya melamar kamu.”

“Dari siapa kamu dengar?”

“Dari pak Bondan, kapan itu?”

“Belum, tunggu saja, nanti aku undang kamu sebagai salah satu keluargaku.”

“Kapankah?”

“Dalam waktu dekat. Pastinya bulan ini, kamu siap ya.”

“Sayangnya minggu depan aku berangkat ke luar negri.”

“Minggu depan?”

“Ya, ada pekerjaan di sana.”

“Yaah, Bima, aku kangen dong.”

Bima tertawa.

“Senang dong dikangenin oleh kamu.”

“Itu benar Bima, kamu sahabat terbaikku. Bahkan melebihi saudara bagiku. Aku akan kehilangan kalau kamu jauh dari aku.”

“Aku berjanji akan sering menelpon kamu. Tapi aku ikut berbahagia atas kebahagiaan kamu.”

“Bima, tahukah kamu bahwa bapak sesungguhnya tidak menyetujuinya?”

“Ya, aku tahu. Tapi akhirnya mengijinkan.”

“Aku tahu tidak sepenuh hati.”

“Berbahagialah, maka orang tua juga akan ikut bahagia.”

“Aku akan bahagia. Adri laki-laki baik yang akan bisa melindungi aku.”

“Syukurlah. Senang mendengarnya. Pokoknya aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu.”

“Terima kasih Bima, besok kalau aku menikah kamu datang ya.”

“Aku usahakan, tapi tidak janji. Apakah kalian akan secepatnya menikah?”

“Maunya Adri begitu, tapi belum jelas juga, dia dan keluarganya baru akan datang, kemungkinannya juga sekalian membicarakan masalah hari pernikahan.”

“Pasti meriah, semoga aku bisa datang.”

“Aku ingin yang sederhana saja. Tidak pernikahan mewah seperti yang kamu bayangkan. Yang penting kan resmi.”

“Bapak tidak akan melakukannya. Kamu satu-satunya putri  bapak, masa menikah sederhana?”

“Entahlah aku diberi ijin saja sudah senang. Aku hanya berharap kehidupanku nanti tidak membuat ayah ibuku kecewa.”

“Aku akan selalu mendoakanmu.”

“Terima kasih Bima.”

Pembicaraan itu ditutup dengan luka mendalam di hati Bima. Nirmala yang dicintainya akan menikah dengan laki-laki pilihannya. Ternyata janji pak Bondan untuk menjadikannya menantu tidak bisa menjadi kenyataan karena sang putri memilih laki-laki lain.

“Semoga kamu bahagia, seperti keinginan orang tua kamu,” bisik Bima lirih ketika meletakkan ponselnya.

Sementara itu Nirmala merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sambil membisikkan sebuah kata maaf untuk Bima.

“Kamu laki-laki yang baik, tapi aku tidak mencintaimu. Maafkan aku, Bima. Semoga kamu menemukan gadis yang lebih baik dari aku.”

***

 Ada kesibukan di rumah Adri. Bagaimanapun sebuah lamaran harus dipersiapkan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan gadis atau keluarga gadis yang dilamar.

Adri tampak biasa-biasa saja walau ibunya sibuk mengatur. Ia sudah bekerja magang di sebuah perusahaan, jadi tidak begitu memperhatikan apa yang dipersiapkan sang ibu. Pastinya menunggu hari libur mereka baru akan ke sana.

“Tidak usah terlalu repot Bu, mereka orang kaya, tidak butuh semua itu,” katanya enteng.

“Ya jangan begitu, biar kita miskin, kita bawakan yang bagus. Hanya  buah-buahan yang ditata seperti parsel, tapi ibu pilihkan yang mahal. Biar pantas.”

“Mereka tidak butuh semua itu, sudah pada sering makan.”

“Adri, diamlah. Kamu selalu usul yang sangat membuat ibu kesal. Kamu diam dan tinggal ngikut ibu dan keluarga yang akan datang ke sana,” kata sang ibu kesal.

***

Dan hari yang sudah ditentukan itu akhirnya datang juga. Acara lamaran yang sukses membuat Adri senang. Tapi hati kecilnya mengatakan bahwa senyum pak Bondan dibuat-buat, terlihat kaku dan hambar. Adri tetap mengira bahwa pak Bondan tidak sepenuhnya menyukai dirinya menjadi menantu.

Rasa kecewa itu terus disimpannya di dalam hati. Bahkan ketika tiba-tiba pak Bondan menyerahkan sesuatu yang berbentuk seperti sebuah kotak.

“Ini untuk kamu,” kata pak Bondan singkat.

Adri heran, mengapa dalam lamaran justru calon mertuanya memberikan hadiah. Walau begitu dia mengucapkan terima kasih.

***

Adri membuka kotak kecil pemberian pak Bondan, sang ibu menungguinya karena dia juga penasaran.

“Apa ya isinya? Mengapa dia justru memberikan hadiah untuk kamu?”

“Paling isinya uang. Dia kan mengira kita miskin, jadi diberinya kita uang biar senang.”

“Adri, kamu jangan sinis seperti itu. Apapun yang diberikan, harus kamu terima dengan senang hati.”

Tapi kemudian Adri heran. Isinya sebuah surat panggilan kerja di sebuah perusahaan besar.

“Apa itu?”

“Surat panggilan kerja dari perusahaan besar. Ini luar biasa,” gumam Adri dengan wajah datar.

***

Besok lagi ya.

Monday, February 9, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 04

 BIARKAN AKU MEMILIH  04

(Tien Kumalasari)

 

Pak Bondan mengomel panjang pendek, sambil masuk ke dalam rumah. Sang istri yang keluar dari belakang heran melihat sang suami seperti orang marah-marah.

“Bapak kenapa?”

“Lihatlah anakmu. Tiba-tiba pergi sama pecundang itu.”

“Pecundang siapa?”

“Pagi-pagi begini Adri datang, kemudian Nirmala pergi bersamanya. Siapa yang tidak marah?”


”Bapak tidak melarangnya, malah memilih marah-marah.”

“Bagaimana aku melarangnya? Nirmala sudah menyambutnya dan mengatakan bahwa ada urusan atau apa itu tadi, jadi mau ke kampus pagi-pagi. Lagi pula mereka bukan teman setingkat kan?”

“Mungkin memang ada urusan.”

“Tapi aku tidak suka Nirmala berangkat bersama Adri. Tadi kan Nirmala bilang bahwa akan ke kampus siang, tapi setelah Adri datang tiba-tiba akan ke kampus pagi. Padahal dia belum sarapan juga kan?”

“Ya sudah, pagi-pagi jangan marah-marah, nanti tensinya naik. Kalau dia butuh sarapan pasti juga akan makan di kantin kampus. Dia sering begitu kalau tergesa pergi.”

“Ibu itu memang selalu membela Nirmala. Sudah tahu jalannya salah, harusnya diberi tahu.”

“Mereka kan hanya berteman, bagaimana melarangnya? Biarkan sajalah Pak, Nirmala bukan anak kecil, dia sudah tahu mana yang dilakukannya itu baik atau buruk. Kalau buruk dia pasti juga berhenti dengan sendirinya.”

“Aku merasa bahwa Adri itu bukan laki-laki yang baik. Aku hanya ingin anak kita bahagia.”

“Kita doakan saja agar anak kita baik-baik saja. Ayo sarapan dulu, sebentar lagi mau ke kantor tapi Bapak belum sarapan.”

“Nafsu makanku hilang tiba-tiba.”

“Jangan begitu Pak, kalau tidak makan pagi Bapak tidak konsentrasi saat bekerja.”

Dan akhirnya pak Bondan mengikuti sang istri ke ruang makan.

***

Ternyata Adri mengajak Nirmala memasuki sebuah warung makan.

“Maukah menemani aku sarapan?”

“Aku sudah mengikuti kamu, pastinya aku maulah.”


”Kamu sudah sarapan?”

Nirmala menggelengkan kepalanya. Ia merasa lega wajah Adri tidak lagi sangar seperti kemarin ketika dia datang ke rumahnya.

“Pesanlah apa yang kamu suka.”

“Aku ngikut kamu saja.”

“Aku cuma mau nasi pecel.”

“Kalau begitu aku juga.”

“Minum tehpanas?”

Nirmala mengangguk.

“Maaf kalau tadi bapak mengatakan hal yang membuat kamu tidak senang,” kata Nirmala sementara Adri memesan makan dan minum.

“Aku sudah tahu kalau orang tua kamu tidak suka padaku.”

“Sebenarnya tidak. Mungkin timingnya yang kurang tepat, hari masih pagi.”

“Bukankah terkadang kamu juga kuliah pagi?”

“Ya, tapi aku terlanjur bilang akan ke kampus agak siang. Ya sudahlah, tidak usah dibahas. Tumben kamu datang pagi-pagi ke rumah?”

“Ingin makan bareng kamu,” katanya singkat.

Senyum itu sangat menenangkan hati Nirmala. Barangkali itulah cara Adri meminta maaf atas perlakuannya kemarin. Tak ada kata maaf yang terucap, tapi sikapnya sungguh menawan. Ia juga tak tampak sakit hati ketika Nirmala mengingatkan sikap ayahnya yang tidak menyenangkan.

“Kemarin itu_”

“Jangan bicara tentang kemarin,” kata Adri memotong perkataan Nirmala. 

Menurut Adri apapun yang akan dikatakan Nirmala, ia tak akan peduli. Pasti Nirmala sudah menyiapkan jawaban mengapa kemarin tidak datang pada waktu yang dijanjikan, atau mengapa dia tiba-tiba kedapatan pergi dengan seorang laki-laki ganteng. Dan sebuah alasan hanya diungkapkan karena ia ingin dirinya memaafkan dan mengerti. Tidak, Adri tidak ingin mendengarnya. Sekarang ia hanya ingin tahu, siapa laki-laki itu, yang kemudian ditanyakannya sambil menyuap makanan yang sudah terhidang.

“Namanya Bima Adidarma. Dia anak sahabat ayahku.”

“Ada hubungan istimewa antara kamu dan dia?”

“Istimewa sih tidak, dia hanya sahabat baik. Hanya sahabat, tak lebih.”

Adri mengangguk.

“Kamu sampai melupakan janji kamu,” gumamnya seakan tak memerlukan jawaban.

“Aku sudah mau berangkat ketika dia datang. Bagaimana lagi, aku kan harus menemuinya, karena ada ayahku juga yang menyambutnya di teras. Aku juga bingung waktu itu. Aku mengirim pesan untuk kamu, tapi ponsel kamu mati. Dan saat ada di rumah makan itu, kamu keluar tanpa mendengar panggilanku.”

“Kamu memanggilku? Aku rasa tidak.”

“Ya, aku sadar ketika kamu sudah di depan pintu, ketika aku ingin berteriak, kamu sudah menghilang.”

“Hanya ingin, tapi belum memanggilku.”

“Maaf, entah ada apa waktu itu, aku sungguh bingung. Tapi aku mengatakan pada Bima bahwa sebenarnya aku sedang kencan sama kamu. Ketika Bima tahu bahwa kamu memintaku memilih hadiah untuk ibu kamu, Bima mengusulkan agar aku beli saja hadiahnya, yang kemudian aku antarkan ke rumah kamu. Bima yangmengusulkan hal itu.”

Adri tampak mengerti. Pandangan matanya melembut. Nirmala bisa mengerti mengapa Adri kesal dan marah. Nirmala selalu bisa mengerti, bahkan ketika Adri sedang marah-marah entah karena apa.

Cinta adalah memaafkan. Betulkah? Dan akhirnya Nirmala mengakui bahwa sesungguhnya dia memang mencintai Adri.

***

Sore itu ketika sedang ada di kamarnya, Bima menelponnya. Ia menanyakan tentang kemarahan Adri yang tampaknya membuat Nirmala gelisah saat keluar dari rumahnya. Bima begitu perhatian. Ia mencintai Nirmala, tapi bukan ingin memiliki. Ia tahu Nirmala mencintai laki-laki lain, dan dia hanya berharap agar Nirmala bahagia.

“Ya Bim, dia sudah tidak marah. Aku ceritakan bahwa kamu sangat baik. Aku katakan juga bahwa kamu yang mengusulkan beli hadiah untuk ibunya. Aku tidak ingin merahasiakan sesuatu, atau menyimpan sesuatu yang hanya akan membebani pikiran saja.”

“Gadis yang baik. Semoga kelak aku menemukan gadis sepertimu,” jawab Bima ketika Nirmala bercerita panjang lebar.

Nirmala terkekeh. 

"Bima, kamu anak muda yang baik, ganteng, mapan, gadis yang manapun yang kamu inginkan pasti terlaksana.”

“Aamiin,” jawab Bima yang sesungguhnya memang Nirmala yang diinginkannya. Walau begitu dia sangat prihatin tentang hubungan Nirmala dan Adri, karena ia tahu bahwa pak Bondan tidak menyukai Adri. Ia juga tahu bahwa dirinyalah yang diharapkan pak Bondan untuk menjadi suami Nirmala.

Ia bukannya kecewa, kecuali hanya prihatin.

“Bima, kamu masih ada di situ?”

“Ya, aku masih ada di sini.”

“Kok diam agak lama?”

“Kan kamu mendoakan aku, jadi aku juga mengucapkan doa untuk mengaminkan doa kamu.”

“Oh, begitu? Mudah-mudahan kita semua menemukan kebahagiaan dalam kehidupan kita ya Bim, karena sesungguhnya aku masih harus prihatin karena bapak tidak menyukai Adri.”

“Aamiin. Kalian belum siap akan melangkah ke pelaminan bukan? Ada proses yang harus kalian lalui, yaitu rasa prihatin itu. Semoga untuk selanjutnya segalanya akan lancar dan sesuai dengan keinginan kamu.”

“Aamiin.”

Keduanya berbincang lama, karena sesungguhnya mereka adalah pasangan yang cocok, saling mengerti dan saling melindungi. Hanya saja masalah cinta tidak bisa mempersatukan mereka. Hati Nirmala sudah terpaut pada laki-laki lain yang menurutnya baik, tapi tersembunyi oleh sifatnya yang keras.

***

Di kampus, Adri selalu mendekati Nirmala, mengajaknya berbincang dan bercanda, walau hanya sedikit. Karena Adri tidak begitu suka bercanda. Ia sangat serius dan kelihatan bahwa dia sangat keras. Walau begitu Nirmala menyukainya. Tak ada yang buruk pada Adri di mata Nirmala. Di depan sang ayah Nirmala seperti seorang anak yang patuh, yang selalu diam ketika sang ayah mengomelinya, tapi sesungguhnya Nirmala tetap saja masih berhubungan dengan Adri.

“Mengapa kamu masih saja mau berdekatan dengan aku, sementara ayahmu tidak menyukai aku?”

“Harus ada alasan mengapa orang tidak menyukai sesuatu. Aku tidak punya alasan untuk membenci kamu.”

“Kalau begitu ayahmu pasti punya alasan.”

“Sesungguhnya aku dijodohkan dengan Bima”

Adri menatap Nirmala. Cara memandangnya sungguh tenang, tapi rahangnya tampak menegang. Itu cara Adri marah, atau tidak senang,

“Tapi Bima sangat baik. Dia tidak ikut memaksa aku. Dia justru mendukung aku ketika aku mengatakan bahwa aku dekat sama kamu.”

“Benarkah ada laki-laki sebaik itu?”

“Itu benar, Bima sungguh baik. Bukankah ada cara menyukai seseorang? Suka dan harus memilikinya, dan suka untuk membiarkan dia bahagia. Dia adalah Bima. Itu sebabnya kami dekat, dekat dalam arti pemikiran yang bersih. Kamu tahu maksudku? Apakah kamu masih akan cemburu pada dia?”

“Aku justru cemburu.”

“Adri?”

“Karena aku tak bisa melakukannya seperti dia. Terkadang aku bisa kasar ketika marah.”

Nirmala mengangguk. Hal itu tak menyurutkan hatinya untuk tidak menyukainya.

Apakah benar cinta itu buta, ataukah ada perjalanan hidup yang mungkin berliku ataukah nyaman untuk dilalui, entahlah.

***

Hari terus berjalan, demikian juga hubungan antara Adri dan Nirmala.

Hari itu Adri sudah lulus dan wisuda, ia harus mencari pekerjaan, kemudian melamar Nirmala. Ia adalah gadis pilihannya, yang bisa mengerti hatinya. Hal itu sudah diutarakan oleh Adri kepada Nirmala.

Sore hari ketika sang ayah sedang duduk bersama ibunya, Nirmala mendekatinya dengan hati berdebar. Ia akan mengutarakan isi hatinya, ia akan menempuh jalan yang pastilah akan dihalangi oleh orang tuanya, terutama sang ayah.

“Pak, Nirma mau bicara,” katanya hati-hati.

Sang ayah tidak menjawab, ia mengangkat wajahnya menatap Nirmala dengan alis berkerut. Tak biasanya Nirmala mengajaknya bicara dengan nada takut-takut seperti itu.

“Ada apa?” tanya sang ayah ketika Nirmala tidak segera mengatakan sesuatu.

“Kalau sudah bekerja, Adri akan melamar Nirmala.”

Mata sang ayah terbelalak dan memerah. Kemarahan sedang menguasai hatinya.

***

Besok lagi ya.


Saturday, February 7, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 03

 BIARKAN AKU MEMILIH  03

(Tien Kumalasari)

 

“Ada tamu, mengapa tidak dipersilakan masuk?” tiba-tiba terdengar suara dari dalam.

Nirmala menatap seorang ibu yang dikenalnya sebagai ibu Adri. Ia segera mendekat dan mencium tangannya, lalu memberikan sebuah bungkusan yang dibawanya.

“Selamat ulang tahun Ibu,” kata Nirmala pelan.

“Lhoh, ini apa lagi?”

“Hadiah untuk Ibu,” jawab Nirmala.

“Hadiah untuk ibu? Bukankah tadi Adri sudah memberikannya, yang katanya hadiah dari Nirmala?”

Nirmala tertegun. Ia heran mengapa Adri melakukannya. Sekarang ia harus secepatnya memberi jawaban agar tak membingungkan bagi yang ulang tahun.

“Iya Bu, tadi Adri telah memberikannya, tapi saya tidak merasa puas sebelum memberikannya langsung kepada Ibu, jadi saya beli lagi,” itulah jawaban yang didapatkannya.

“Ooh, jadi dobel dong hadiah untuk ibu?”

“Tidak apa-apa Ibu, semoga Ibu senang menerimanya.”

“Sebuah hadiah adalah anugrah. Ibu pasti menerimanya dengan senang. Sekarang duduklah, ibu buatkan minum.”

“Maaf Bu, saya harus buru-buru, karena saya sudah pergi sejak pagi untuk sebuah keperluan.”

“Jadi benar nih, tidak mau minum dulu?”

“Lain kali saya akan datang kemari lebih lama. Saya permisi,” katanya sambil kembali mencium tangan ibu Adri, lalu berpamit pada Adri yang masih berdiri kaku dengan wajah muram.

“Adri aku pulang.”

Adri hanya mengangguk, tapi membiarkan Nirmala keluar dari halaman rumahnya.

“Mengapa kamu tidak mengantarkannya?” tegur sang ibu yang melihat ada gelagat kemarahan di wajah Adri.

“Dia kan punya mobil, masa aku harus mengantarnya?” jawabnya sambil ngeloyor masuk ke dalam rumah. 

Sang ibu segera tahu, bahwa anaknya dan Nirmala sedang marahan. Memang Adri belum mengatakan kalau dia pacaran dengan Nirmala, tapi kedekatan mereka mudah diartikan bahwa keduanya memiliki perasaan suka yang sama.

Sang ibu hanya mengangkat bahu, kemudian membawa masuk bingkisan yang tadi diberikan Nirmala padanya.

***

Nirmala sudah mengambil ponselnya dan bersiap memanggil taksi ketika tiba-tiba sebuah mobil mendekatinya. Nirmala terkejut. Bima masih ada di sekitar tempat itu.

Bima turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nirmala.

“Kok … kamu masih ada di sini?”


”Aku tadi hanya muter-muter, lalu ketika melewati tempat ini lagi, kamu ternyata sedang mau memanggil taksi.”

Nirmala tersenyum ketika mobil itu sudah melaju.

“Pasti tidak kebetulan ketika kamu lewat dan aku sedang mau memanggil taksi.”

“Kebetulan kok.”

“Kamu sengaja menunggu aku kan? Bagaimana kalau ternyata aku diantar pulang dengan motor Adri?”

“Ya tidak apa-apa, aku hanya berjaga-jaga,” akhirnya kata Bima.

“Terima kasih Bima, kamu selalu perhatian untuk aku.”

“Apakah tidak terpikir oleh kamu, ketika nanti kamu sampai di rumah, lalu bapak bertanya, mengapa tidak diantar Bima? Aku dong yang kena. Masa aku membawa kamu dari pagi, lalu membiarkan kamu pulang sendiri, atau bahkan pulang diantar orang lain?”

“Iya sih.”

“Sedikit atau banyak, bapak pasti menegur kamu kalau kamu pulang tanpa aku.”

“Kamu benar Bima. Terima kasih ya.”

“Mengapa Adri tidak mau mengantar kamu? Apa dia marah karena kamu mengingkari janji?”

“Dia bukan hanya marah karena gagal pertemuan pagi tadi, tapi juga marah karena melihat ketika kita membeli hadiah untuk ibunya tadi.”

“Oh, dia melihatnya?”

“Iya.”

“Apa jawab kamu?”

“Tidak aku jawab. Setelah ketemu ibunya, lalu aku berikan hadiahnya kemudian aku langsung pamit.”

“Dia tidak menawarkan untuk mengantar kamu?”


”Pastinya dia mengira bahwa aku masih diantar oleh kamu, ditunggui di depan, atau juga mengira aku membawa mobil sendiri. Entahlah, tidak usah dipikirkan.”

“Nirmala, kalau dia marah atau cemburu, itu tandanya dia cinta sama kamu.”

“Cemburunya kebangetan.”

“Tidak, itu wajar aku kira, jadi kamu tak usah risau atau galau.”

Nirmala tersenyum. Alangkah baik hati Bima ini. Ia tahu bahwa Bima menyukai dirinya, ditambah dorongan dari sang ayah yang tampaknya lebih condong kepada Bima daripada kepada Adri. Tapi sedikitpun dia tak tampak sakit hati mengetahui bahwa dirinya sudah memiliki seseorang yang pastinya istimewa, bukan teman biasa tapi saling cinta. Dia bahkan berusaha selalu membantu dan mendukungnya.

Kalau saja dia tidak menyukai Adri, alangkah mudahnya jatuh cinta pada Bima.

“Maafkan aku Bima, aku hanya mencintai Adri, walau terkadang sikapnya menjengkelkan. Adri sangat baik, susah bagi aku untuk meninggalkannya,” kata batin Nirmala.

“Nirma, apa kita mampir makan siang dulu sebelum pulang?” kata Bima menawarkan.

“Tidak usah Bim, kalau kamu mau, nanti makan siang di rumah saja. Kalau hari libur, bapak selalu ingin agar kita bisa makan di rumah.”

“Baiklah, kalau begitu.”

***

Pak Bondan menyambut kepulangan Nirmala yang diantar Bima siang hari itu. Wajahnya berseri. Ia senang Nirmala jalan-jalan sejak pagi bersama Bima, calon menantu pilihannya.

“Kemana saja tadi?” tanyanya ketika menyambutnya sambil berdiri.

“Hanya jalan-jalan saja,” jawab Bima, sementara Nirmala langsung masuk ke dalam.

“Sering-seringlah datang kemari, ajak Nirmala jalan.”

“Baiklah Pak. Sekarang saya permisi dulu.”

“Eh, masuklah dulu Bima, ibu sudah menyiapkan makan siang lhoh,” kata bu Bondan yang baru keluar dari dalam.

“Iya, ayo masuklah, tidak baik menolak rejeki,” kata pak Bondan.

“Nanti saya merepotkan.”

“Tidak, tadi Nirmala bilang pada ibu agar meminta kamu ikut makan siang bersama kami.”

Bima tak bisa lagi menolak. Undangan makan siang itu sudah diutarakan Nirmala sejak masih dalam perjalanan pulang.

***

Sementara itu di rumahnya, sang ibu mengomel tak henti-hentinya karena sikap Adri yang tidak menyenangkan saat Nirmala datang.

“Dia itu gadis yang baik, ibu senang kalian bisa kenal dekat. Kamu sudah hampir selesai kuliah, lalu cari pekerjaan, lalu cari istri. Nirmala akan menjadi pasangan yang baik untuk kamu.”

“Nirmala itu banyak yang suka.”

“Tentu saja, dia cantik, baik dan santun. Karena itulah kamu harus menjaga hubungan kalian, jangan sampai retak.”

Adri hanya diam. Sesungguhnya dia sangat mencintai Nirmala, tapi dia itu pencemburu berat. Tak gampang melupakan kejadian pagi tadi, ketika melihat Nirmala sedang memasuki rumah makan, di mana dia sudah berkencan di sana. Ia sakit dan marah. Ia menganggap Nirmala mengingkari janji karena kencan dengan laki-laki lain. Laki-laki yang lebih ganteng dan lebih kaya darinya. Mana tahan?

Seharusnya, seberapa besarnya rasa cemburu di hati Adri, ia harus bisa memaafkan ketika Nirmala akhirnya datang ke rumah dan memberikan hadiah kepada ibunya. Tapi alangkah susahnya meredam rasa kesal itu.

“Besok kalau ketemu, kamu harus meminta maaf.”

“Mengapa aku harus meminta maaf? Aku salah apa?”

“Sikap kamu yang dingin dan seperti tidak memperhatikan dia itu, pasti juga membuat Nirmala kesal. Yang terbaik untuk hubungan kalian adalah kamu harus meminta maaf. Jangan sampai masalah menjadi berlarut-larut.”
Adri hanya mengangguk pelan, tapi alangkah susahnya meminta maaf.

***

Siang hari itu Adri sedang duduk di teras sambil membaca-baca buku, mencari bahan skripsi yang sudah mulai dikerjakannya. Tapi bayangan Nirmala dan laki-laki tampan itu masih terus terbayang di benaknya. Ada hubungan apakah mereka? Kelihatannya begitu dekat, mereka memilih barang berdua, yang ternyata dipergunakan Nirmala untuk hadiah ulang tahun ibunya. Bagus sih, tapi mengapa harus ada laki-laki lain bersamanya. Lagipula Nirmala mengingkari janji gara-gara bepergian dengan laki-laki itu. Adri memijit pelipis kiri dan kanannya karena merasa pusing.

“Selamat siang,” suara nyaring itu mengejutkannya.

“Siang, eh … kamu Dwi?” Adri menatap gadis berwajah manis itu sambil tersenyum.

“Adri lagi pusing ya?”

“Nggak, lagi mikir ini, buku yang aku baca. Ayo masuklah Dwi.”

“Aku mau ketemu ibu.”

“Ibu ada di dalam, masuklah. Bawa apa itu? Baunya sedap benar.”

“Aku masak mie untuk ibu, bukankah ibu ulang tahun? Tidak bisa memberikan hadiah bagus, hanya masak mie saja untuk ibu.”

“Wah, masakan gadis cantik pasti enak,” puji Adri.

“Nanti boleh dicicipin deh, sekarang aku mau ketemu ibu dulu,” katanya sambil langsung masuk ke dalam. Tampaknya Dwi sudah kenal dekat dengan keluarga Adri.

Adri melanjutkan kesibukannya membaca-baca. Di dalam, suara renyah ibunya dan tawa Dwi yang nyaring sama sekali tidak mengganggunya.

Beberapa saat kemudian Dwi keluar dengan masih tertawa-tawa. Ia melewati teras dan pamit pada Adri sambil mengulaskan senyum manisnya.

“Pulang dulu Adri, nanti boleh icipin mie nya, kalau suka, lain kali aku masak lagi untuk kamu deh.”

“Ya, jangan khawatir, nanti aku habiskan mie nya,” kata Adri sambil tersenyum.

Dwiyanti adalah teman mainnya sejak masih kanak-kanak, jadi tak heran kalau mereka kenal dekat. Dwi juga sudah kuliah tapi beda universitas dengan Adri. Tapi Adri beberapa tingkat di atasnya.

***

Pagi hari itu Adri memasuki halaman rumah pak Bondan. Ia tahu Nirmala akan ke kampus agak siang, dan ia bermaksud mengajak Nirmala makan pagi di sebuah warung yang nanti akan mereka pilih.

Ketika ia menstandartkan sepeda motornya, pak Bondan keluar. Wajahnya langsung muram.

“Pagi-pagi kemari ada apa?” pertanyaan yang sama sekali tidak sopan dikeluarkan oleh seorang tuan rumah kepada tamunya.

“Saya mau ketemu Nirmala.”

“Nirmala sedang sibuk di belakang. Katakan saja perlunya apa, nanti aku sampaikan,” kata pak Bondan, tetap tidak ramah.

“Adri, kamu sudah datang?” tiba-tiba Nirmala keluar dari dalam rumah, bersikap seolah-olah sudah janjian pada Adri, agar sang ayah tidak mengajukan beberapa pertanyaan lagi.

Adri tak menjawab.

“Pak, Nirma mau pergi sebentar, ke kampus.”

“Kamu bilang ke kampusnya agak siang.”

“Nirmala lupa ada beberapa catatan yang tertinggal, jadi Nirma minta Adri nyamperin kemari.”

“Kamu kan bisa naik mobil?”

“Mobil Nirma bocor, nanti baru akan Nirma bawa ke bengkel,” kata Nirmala yang langsung turun ke bawah, dan mengajak Adri pergi.

“Kami pergi dulu Pak.”

“Permisi,” kata Adri, singkat, dengan wajah tak kurang gelap. Ia tahu ayah Nirmala tak suka padanya. Apa yang didengar membuat bukan hanya telinganya yang sakit, tapi juga hatinya.

***

Besok lagi ya.

 

BIARKAN AKU MEMILIH 07

  BIARKAN AKU MEMILIH  07 (Tien Kumalasari)   Dwi menatap Adri tak percaya, wajahnya mendadak berseri-seri. “Adri … ini benar kan? Aku tidak...