Thursday, September 17, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 08

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  08

(Tien Kumalasari)

 

“Sarah? Kamu ada di sini?”

Pertanyaan itu belum dijawab. Sarah lebih mengagumi sosok ganteng yang sekarang berdiri di depannya.

“Kok Mas ada di sini?” malah dia ganti bertanya.

“Aku mengantarkan adikku. Ternyata kamu temannya. Adikku Mentari, kamu kenal pastinya?”

“Oh, saya sudah ketemu tadi.”

“Sekarang kamu mau ke mana?”

“Pulang.”

“Pulang? Pestanya baru mulai, lihat, mereka sedang memotong kue ulang tahun.”

“Nggak apa-apa, takut pulang kemalaman.”

“Rumahmu di mana?"

"Jauh, sudah ya, sampaikan salam saya untuk Mentari."

“Sarah, tunggu.”

Sarah berhenti melangkah. Fajar menatapnya tak berkedip. Pasti karena penampilan Sarah terlihat aneh, pikir Sarah. Baju yang tidak mewah, sepatu yang merk biasa dan hanya pantas untuk pergi ke sekolah, juga wajah yang tidak dipoles dengan riasan mahal kecuali bedak merk murahan, tanpa oles bibir dan alis dan dibiarkan apa adanya. Tapi sebenarnya Fajar mengagumi Sarah atas semua yang ada pada dirinya, berbeda dengan apa yang dipikirkan Sarah.

“Ada apa? Saya kelihatan aneh bukan? Baju usang, sepatu murahan, apa lagi?”

“Mengapa kamu berkata begitu? Kamu kelihatan cantik alami,” kata Fajar.

Sarah tertawa kecil, lalu ingin melanjutkan langkahnya.

“Berhenti dulu Sarah, pulang sebentar lagi, nanti aku antar.”

“Tidak usah. Saya mencari ojol saja. Maksud saya, ojol yang bisa dipesan offline, biasanya ada di dekat-dekat sini.”

“Sarah, ini masih sore.”

“Mengapa Mas menahan saya, sedangkan mereka tidak suka melihat saya dengan penampilan buruk seperti ini? Lihat, saya tidak sepadan dengan mereka bukan?”

“Kamu istimewa. Tidak menyolok seperti gebyarnya dandanan mereka. Kamu tampak natural dan itu sangat indah.”

Sarah kembali tertawa.

“Jangan menyenangkan hati saya dengan ungkapan itu, saya tak ingin ikut pesta,  nanti bisa merusak suasana," kata Sarah

“Mas Fajar? Kamu di mana? Ini, aku kenalkan dengan teman-teman aku,” sebuah teriakan terdengar, diantara hingar bingar tepuk tangan setelah lagu ulang tahun selesai berkumandang.

Sarah mempercepat langkahnya, dan Fajar terus mengikutinya.

Ketika Sarah berdiri di tepi jalan untuk mencari ojol yang barangkali mangkal di sekitar tempat itu, sebuah mobil berhenti di depannya.

“Sarah, ayo aku antar, jangan begitu, tak ada ojek di sekitar tempat ini.”

Sarah termangu, ia juga tidak tahu di mana menemukan pangkalan ojek. Ia harus mencari, dan ketika sedang berpikir, Fajar sudah ada di depannya.

“Naiklah, jangan bandel, nanti kamu diculik orang bagaimana?”

Sarah menurut ketika Fajar membukakan pintu, dan persis ketika ia mau masuk, sebuah teriakan lain terdengar.

“Sarah!”

Sarah menoleh, tapi hanya sekilas. Ia segera masuk dan membiarkan Fajar menutup pintunya, lalu masuk dari samping yang lain, dan mobil itupun melaju.

“Pasti mereka kehilangan kamu. Apa kamu pamit pada teman-temanmu?”

“Tidak, mereka pasti tahu, kalau tidak ada, berarti sudah pergi. Tidak perlu repot kan?”

“Ada yang mengikuti kita. Mobil itu, aku seperti pernah melihatnya.”

“Aku tadi diantar oleh dia.”

“Apa? Bukankah itu laki-laki yang mengganggu kamu dan membuang sisa koran kamu ke tempat sampah?”

“Mas masih ingat ya?”

“Tentu saja aku ingat, aku pernah memelintir tangannya sebelum dia kemudian kabur. Bagaimana bisa kamu tadi diantar oleh dia? Kamu tidak takut diganggu lagi oleh dia? Tampaknya dia laki-laki yang berbahaya, kelihatan dari matanya.”

“Aku sedang mencari ojek tadi, lalu dia menawarkan mau mengantar. Aku terpaksa mau, dengan janji dia tak boleh menutup kaca jendela mobilnya.”

Fajar tertawa.

“Memangnya kenapa?” kata Fajar.

“Aku mau karena terpaksa, tapi aku takut dia berbuat yang tidak baik. Kalau jendela kaca ditutup aku tidak bisa berteriak minta tolong, jadi aku minta jendelanya terus terbuka," lanjut Sarah.

“Memangnya dia tidak bisa menutupnya secara otomatis?”

“Aku taruh tas kecilku ini di sela-sela jendela.”

Fajar terbahak.

“Anak pintar.”

Tapi Sarah tidak bisa tertawa. Barangkali dia kelihatan bodoh, karena kalau dipikir-pikir, bisa saja Bowo melakukan hal buruk. Seberapa sih kekuatan Sarah dengan tas yang dipalangkan pada jendela mobilnya? Tapi nyatanya Bowo menepati janjinya, jadi dia memaafkannya. Tapi ketika kemudian ia melihat Bowo ternyata masih menungguinya dan siap mengantarkannya lagi, Sarah memilih ikut Fajar, yang sudah diketahuinya bahwa dia laki-laki baik yang pernah menolongnya.

“Jadi kamu datang ke pesta ulang tahun teman kamu, hanya untuk mengucapkan selamat, lalu pulang?” kata Fajar lagi.

Sarah diam. Sebenarnya ia masih ingin berbaur dengan mereka, tertawa-tawa bersama, bergurauan seperti ketika berada di sekolah saat istirahat tiba, tapi sebuah suara tadi menyurutkan keinginannya. Ternyata dia memang tidak pantas bersama mereka. Berbeda kalau di sekolah, mereka mengenakan baju dan sepatu seragam yang sama. Tapi di sebuah pesta? Sarah mentertawakan dirinya sendiri, yang seperti tidak tahu diri. Ternyata dia berbeda dengan mereka.

“Sarah, kok diam saja? Kamu tidak takut kan, dan karena itu kamu tidak minta agar jendela mobil itu aku buka saja?” goda Fajar.

Sarah tertawa kecil. Cuaca agak gelap, sehingga Fajar tidak melihat lesung pipit di pipi Sarah yang sering dia lihat setiap bertemu dengannya,

“Semoga benar perkiraanku, bahwa Mas bukan orang jahat.”

“Terima kasih Sarah,” kata itu lembut.

"Dan entah mengapa membuat Sarah kemudian menoleh kepadanya, dan di saat itu pula Fajar juga sedang menoleh kepadanya. Wajah yang samar, tapi sebuah kilatan melintas, dari hati masing-masing. Kemudian keduanya menatap kembali ke depan dengan debar yang entah darimana datangnya.

Beberapa saat lamanya mereka terdiam, sampai ketika Fajar melihat ke arah spion, dan masih melihat mobil yang tadi masih mengikutinya.

“Masih mengikuti juga? Jangan-jangan dia marah karena aku mengantarkan kamu," kata Fajar

“Tadi aku sudah bilang tidak, ketika dia menawarkan akan menjemput aku.”

“Sekarang dia masih mengikuti kita.”

“Rumahnya sejalan dengan rumah aku.”

“Owh. Kalau dia marah, bagaimana?”

“Mengapa marah? Aku bukan siapa-siapanya. Dia malah pernah membuat aku ditahan di kantor polisi, hampr semalaman.”

“Kamu? Kenapa?”

Dengan singkat Sarah mengatakan semuanya.

“Dan kamu masih mau diantar olehnya?”

“Tadi terpaksa karena tidak mendapat angkutan umum, dan dia sudah meminta maaf berkali-kali.”

“Kamu terlalu gampang percaya. Lain kali kamu harus berhati-hati.”

Sarah hanya mengangguk.

Ketika mobil Fajar berhenti di sebuah gang di mana Sarah memintanya, mobil Bowo tampak melintas, tapi tidak berhenti.

“Rumahmu di mana?”

“Sudah, di sini saja.”

“Rumahmu di mana, kok di sini saja sih?”

“Masuk gang itu, biar aku jalan saja,” kata Sarah sambil turun.

“Terima kasih banyak ya Mas, sudah susah-susah meninggalkan pesta untuk aku," lanjut Sarah.

“Aku hanya mengantarkan adikku, tidak ikut pesta.”

Sarah berjalan dan Fajar terus mengikutinya, sampai kemudian Sarah memasuki sebuah pekarangan kecil.

“Sudah, pergilah.”

“Ini rumah kamu?”

“Rumah nenekku, aku tinggal bersama Nenek.”

“Tidak mempersilakan aku singgah?”

“Tidak, sudah malam. Pokoknya terima kasih,” katanya sambil terus melangkah mendekati rumah.

Fajar terus menatapnya, sampai ia melihat seorang perempuan setengah tua membukakan pintu untuk Sarah.

***

Fajar kembali ke rumah Silvi di mana masih ramai di sana, oleh tawa dan canda, diantara lagu-lagu yang dikumandangkan oleh seorang penyanyi dengan orgen tunggal.

Fajar kembali duduk di sudut, agak jauh dari keramaian, di sebuah bangku dibawah pohon rindang.

Ia hanya menatap mereka. Mereka anak-anak muda belasan tahun, dan Fajar merasa masa-masa itu sudah lewat. Ia hanya menikmati minum dan makanan yang disediakan.

“Ya ampun Mas, kamu tadi kemana?”

Teriakan kecil Mentari terdengar mendekat, kemudian menarik tangan kakaknya.

“Ayo ke sana Mas, aku kenalkan dengan teman-teman aku. Siapa tahu Mas cocok dengan salah satunya.”

“Nggak usah, aku di sini saja.”

“Mas Fajar kok gitu, sudah tua juga belum punya pacar, ayo lihat mereka.”

“Mereka masih anak-anak.”

“Mereka hampir lulus, seperti aku, hampir jadi mahasiswa, sudah boleh pacaran, kata ibu,” kata Mentari mengutip kata ibunya yang pernah didengar, bahwa kalau sudah kuliah baru boleh pacaran.

“Ayo Mas, Mas boleh pilih salah satunya, mereka semuanya cantik.”

“Aku sudah dapat. Jadi tidak usah memilih lagi.”

“Apa? Sudah dapat di mana?”

“Ya di sini.”

“Siapa? Mana dia?”

Fajar hanya tertawa.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, September 16, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 07

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  07

(Tien Kumalasari)

 

Sore hari itu Mentari menarik-narik sang kakak agar mau mengantarkannya ke pesta ulang tahun temannya, dan akhirnya Fajar memang bersedia. Dia sangat menyayangi adiknya, dan selalu tak tahan mendengarnya merengek-rengek.

Fajar sudah duduk sebagai pimpinan perusahaan milik orang tuanya, sedangkan Mentari masih duduk di bangku SMA.

Keduanya sejak kecil sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, pak Pranoto dan istrinya. Tapi mereka anak-anak pintar dalam pendidikannya. Usia mereka terpaut jauh,  sekitar tujuh tahunan. Fajar sudah agak besar ketika Mentari dilahirkan. Kehadiran Mentari memang seperti Matahari pagi yang menyinari kehidupan keluarga Pranoto, setelah lama tidak mendengar tangisan bayi ketika Fajar semakin besar.

Keduanya tersenyum melihat Mentari terus merengek merayu sang kakak agar mau mengantarkannya datang ke pesta ulang tahun temannya.

Mereka diam dan tidak membantu merayu Fajar, karena mereka sudah tahu bahwa Fajar tak pernah sampai hati membuat adiknya kecewa.

Mereka berangkat setelah berpamitan kepada ayah ibunya.

“Nanti mampir beli kado ya Mas, Mas yang kasih uangnya lhoh,” Mentari masih merengek ketika mereka mau masuk ke dalam mobil.

“Kado buat teman kamu, ya kamu sendiri yang harus membelinya.”

“Aaa, Mas Fajar gitu amat sih, beliin pokoknya.”

“Ya sudah masuk saja ke mobil, nggak usah merengek-rengek begitu.”

Ketika mobil itu berlalu, pak Pranoto dan sang istri geleng-geleng kepala.

Mereka tampak bahagia, dengan memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan.

“Kebahagiaan kita sudah lengkap ya Bu, dengan kehadiran dua orang anak itu.”

“Benar Pak. Mereka anak-anak baik, yang bisa membuat hidup kita penuh warna.”

***

Sarah berdandan cantik. Hanya dengan pakaian sederhana, yang dibelikan sang nenek ketika dia naik kelas sebagai juara. Ia sangat menyukai baju itu. Baju satin berwarna hijau muda dengan renda-renda di lengan dan lehernya. Baginya baju itu sudah sangat mewah. Nenek membelinya di sebuah pasar loak. Bekas dipakai tapi masih bagus. Harganya tentu saja tidak mahal, tapi Sarah sangat menyukainya. Baju itu baru sekali dipakainya, ketika mengantarkan sang nenek pergi kondangan di kampung sebelah. Sarah tampak sangat cantik dan menarik perhatian banyak orang. Cucu nenek Suli cantik ya? Dan Sarah hanya menanggapinya dengan senyum tersipu. Sejak itulah sebenarnya Bowo tertarik pada Sarah. Hanya saja Sarah tidak pernah mempedulikannya. Ia baru awal kelas tiga SMA dan belum mengenal cinta. Yang ada dipikirannya adalah belajar, agar bisa lulus nanti dengan nilai bagus, lalu dia akan mencari pekerjaan agar sang nenek tidak bekerja terlalu berat.

Sore hari itu ia berputar di cermin retak yang ada dikamarnya. Sang nenek manatapnya sambil tersenyum.

“Kamu cantik sekali, Sarah.”

“Nek, kan aku cucu Nenek. Karena Nenek cantik, cucunya juga cantik dong.”

Sang nenek terkekeh.

“Mana ada nenek-nenek keriput yang cantik.”

“Dulu, Nenek pasti juga cantik. Sisa-sisa kecantikannya masih kelihatan lhoh.”

“Kamu ada-ada saja. Sudah, berangkat sana. Ingat, jangan pulang sampai malam. Kalau pesta belum selesai, kamu pulang lebih dulu saja.”

“Iya Nek, pasti,” katanya sambil memakai sepatu.

Sepatu satu-satunya yang juga dipakainya untuk sekolah. Karena Sarah tidak punya sepatu khusus untuk ke pesta. Baginya itu sudah cukup.

Sang nenek melepas kepergian cucunya dengan terharu. Ia tahu, sebagai anak muda pasti Sarah juga ingin bergaul bersama teman-temannya. Ia juga terharu, ketika tadi melihat Sarah membungkus sesuatu dan dibungkusnya serta diberinya pita. Ketika sang nenek bertanya, kado apa yang akan diberikan untuk temannya, Sarah hanya tersenyum kecil.

“Hanya sebuah diary.”

“Apa itu?”

“Ini buku harian, untuk mencatat kejadian sehari hari.”

“Temanmu suka belanja sendiri ya. Makanya kamu beri buku catatan harian?” tanya sang nenek polos.

“Bukan catatan belanjaan Nek, tapi catatan kejadian sehari-hari, terserah dia mau mencatat apa.”

“Ya sudah ah, Nenek tidak akan mengerti,” gumam Nenek, dan Sarah tersenyum sambil mencium tangan sang nenek.

***

Sarah sedang mencari ojol di tepi jalan. Biasanya banyak ojol mangkal di sana.

“Kok sepi ya, masa aku harus ke sana jalan kaki? Sanggup sih aku, tapi ini kan malam. Lagi pula kalau datang terlambat aku malu dong.”

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti.

Sarah terkejut melihat siapa pengemudinya. Ia melihatnya ketika kaca jendela depan mobil itu terbuka.

“Sarah, mau ke mana?”

Sarah melongok lagi ke arah di mana biasanya para ojol mangkal. Tetap tak ada.

“Sarah, mau ke mana?” pertanyaan itu diulangnya. 

Ia adalah Bowo, laki-laki yang dibencinya. Kepalanya tidak lagi diperban, tapi masih ada plester menempel.

“Ayo aku antar.”

“Tidak, aku sedang menunggu ojol.”

“Tidak ada ojol jam segini, jangan takut, aku tidak akan berbuat macam-macam.”

Bowo turun dari mobilnya. Berjalan mendekati Sarah, Sarah menjauh.

“Sarah, aku benar-benar tidak bermaksd buruk. Dari pada kelamaan menunggu ojol, aku antar. Sumpah, aku hanya ingin menolong."

Sarah bingung. Ojol benar-benar tak ada. Masa ia harus kembali pulang?

“Sarah, ayolah. Aku menyesal selalu mengganggu kamu, aku berjanji tak akan melakukannya lagi. Aku bahkan berniat datang ke rumah kamu untuk meminta maaf, kepada kamu, juga kepada nenek Suli.”

Sarah menghela napas. Ia berusaha percaya.

“Baiklah, aku mau, tapi jendela mobil jangan ditutup.”

Maksud Sarah adalah kalau Bowo bertindak macam-macam maka dia akan berteriak.

“Baiklah, kaca jendela biar saja terbuka,” kata Bowo sambil membuka pintu mobilnya.

Ketika masuk, Bowo juga membuka kaca mobilnya, seperti permintaan Sarah, dan Sarah meletakkan tas tangannya sedemikian rupa sehingga mengganjal kaca mobil seandainya Bowo nekat menutupnya.

Tapi Bowo menepati janjinya. Ia tetap membukanya sampai kemudian Sarah sampai di sebuah rumah yang ramai dengan lampu gemerlap dan banyak anak-anak muda di sana.

“Sudah, aku turun di sini saja. Terima kasih,” katanya sambil beranjak turun.

“Nanti aku jemput?”

“Tidak. Tidak usah.”

Sarah berpikir di lokasi itu pasti lebih gampang mencari ojol, atau dia juga bisa minta tolong temannya untuk memanggil  ojol kalau dia mau pulang.

Sarah berjalan memasuki halaman, lalu menghilang diantara teman-temannya.

Bowo membawa mobilnya pergi, tapi dia bermaksud menjemputnya nanti walau Sarah sudah menolak.

***

Ketika Sarah datang, sudah banyak teman-temannya yang datang. Ia mendekati Silvi, temannya yang ulang tahun. Ia memberikan sebuah kado yang dibungkus cantik.

“Selamat ulang tahun Silvi, sehat bahagia dan panjang umur ya,” kata Sarah sambil mencium pipi harum yang dipoles cantik.

“Terima kasih Sarah, kamu mau datang dan repot untuk aku.”

“Tidak apa-apa, pengin ketemuan di sini saja, pasti seru.”

Sarah anak yang pintar di sekolah dan disukai banyak teman-temannya, termasuk Silvi. Wajar kalau ada satu atau dua yang tidak suka. Mungkin karena kalah pintar, atau merasa bahwa Sarah hanya orang biasa yang tidak pantas berdekatan dengannya.

Sekolah Sarah adalah sekolah favorit. Murid-muridnya kebanyakan anak orang kaya, dan pintar-pintar. Sarah bisa diterima karena nilai kelulusan SMP nya sangat bagus. Dia juga mendapat bea siswa karena mendaftar sebagai anak orang yang kurang mampu, tapi sangat pintar.

Ketika Silvi berdiri di depan sebuah meja dengan taart besar terhias indah, semuanya diminta berdiri mengelilinginya.

Suara lagu ulang tahun menggema dengan riang. Tapi tiba-tiba Sarah mendengar sesuatu yang membuatnya surut, lalu beberapa  langkah dia mundur ke belakang, dan berdiri  tidak sejajar dengan teman lainnya.

“Kamu lihat Sarah? Ya ampun, kampungan banget, lihat, pakai baju usang dan sepatunya tuh, bukankah itu sepatu yang dipakainya sekolah?”

Lalu terdengar tawa kecil yang nadanya mengejek.

Sarah menghela napas. Ia tak perlu membela diri, atau menjawab walau hatinya sakit. Ia hanya mundur, dan berusaha kabur.

Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.

“Sarah?”

Sarah menoleh ke arah datangnya suara. 

"Eh, ada mas ganteng di sini?" kata batinnya.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, September 15, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 06

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  06

(Tien Kumalasari)

 

Sarah menutup mulutnya melihat kedua laki-laki itu menatapnya heran. Kemudian mereka saling tatap. Benarkah wajah mereka mirip?

Tapi kemudian Fajar melangkah menuju mobilnya, lalu pergi begitu saja. Ucapan Sarah dianggapnya hanya sebagai gurauan. Masa dia mirip laki-laki berpakaian sederhana bersepatu lusuh dan berjalan kaki entah dari mana datangnya?

Ketika ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu, Bimo lebih mendekati Sarah, dan menanyakan pendapatnya tentang wajah mereka.

“Kami mirip?”

“Iya Mas, masa aku bohong?”

“Dia orang kaya. Kok bisa mirip orang miskin seperti aku?”

”Aku juga tidak tahu, bagaimana ada orang semirip itu. Padahal kalian bukan anak kembar.”

“Ada-ada saja. Tapi di dunia ini banyak orang mirip. Kamu kelihatan sangat heran.”

“Memang, tapi miripnya kebangetan.”

“Seneng sih dibilang mirip, berarti ada temannya, tapi keberuntungannya kok nggak mirip ya?” canda Bimo.

“Maksudnya ….”

“Keberuntungannya, aku orang biasa, dia orang kaya.”

“Kaya atau miskin itu bukan ukuran. Yang miskin belum tentu jelek, yang kaya belum tentu baik. Seperti kemarin itu, aku dibawa kekantor polisi, tahu nggak sih? Malam-malam pula. Eh, sore. Orang kaya bisa melakukan hal semau dia."

“Kamu? Dibawa ke kantor polisi?”

“Iya. Gara-gara aku mukul orang sampai berdarah-darah.”

“Apa? Kamu memukul orang sampai berdarah-darah?”

“Sebentar, lampu merah, aku harus membawa sisa koran ini, siapa tahu laku,” kata Sarah sambil berlari menyusup diantara motor dan mobil yang berhenti karena lampu merah.

Bimo menatapnya kagum. Sejak awal dia kagum pada polah Sarah yang sangat bersemangat dalam menjajakan korannya, padahal dia juga anak sekolah.

Dari tempat ia berdiri, ia mendengar Sarah berteriak-teriak menjajakan korannya.

“Koran … koran … ada berita hangat, Bapak..... Mas … jangan sampai ketinggalan berita … korannya … korannya ….”

Dan ketika kembali koran itu sudah habis terjual. Sarah melenggang dengan senyum merekah.

“Koranku habis.”

“Alhamdulillah, ikut senang.”

“Mengapa Mas masih di sini? Tidak ingin langsung pulang dan makan? Bekerja seharian saat pulang pasti lapar.”

“Aku sudah makan di kantor.”

“Oh, iya, beda orang kantoran dengan orang biasa,” ejek Sarah yang menjadi semakin akrab.

“Orang kantoran … kedengarannya hebat, padahal aku hanya OB.”

“OB itu juga manusia, apa bedanya dengan orang-orang kantoran yang duduk di kursi sambil menghadap laptop?”

“Kamu bisa saja.”

“Aku juga sudah pernah masuk ke kantor-kantor, hanya beberapa hari, menawarkan koran, memasuki ruangan-ruangan dan melihat orang sibuk. Tapi kemudian aku dilarang berjualan di sana. Jadi aku jualan saja di perempatan sini. Lumayan juga, satu atau dua pasti laku.”

“Kamu gadis yang hebat. Pulang sekolah pasti capek, langsung berjualan di sini?”

“Ya tidak Mas, masa aku jualan dengan seragam sekolah? Aku pulang dulu, makan, ganti pakaian, lalu berangkat kemari.”

“Kamu hanya jualan di sini?”

“Ya, di sini saja, yang tidak begitu jauh dari rumah. Soalnya ke mana-mana aku jalan kaki. Kalau jauh lumayan capeknya, nanti pulang masih harus membantu Nenek bersih-bersih, trus mandi, trus masih harus belajar.”

“Bukan main. Aku kagum sama kamu.”

“Kagum apanya Mas, namanya orang butuh uang ya harus berjuang. Sudah, Mas pulang sana, aku juga mau pulang.”

“Eh, kamu tadi cerita belum selesai.”

“Aku cerita apa ya? Lupa….”

“Kamu mukul orang.”

“Oh, iya, aku mukul orang, sampai kepalanya berdarah, dan pingsan. Aku sampai ketakutan, lalu orang tuanya melaporkan aku ke polisi.”

“Kamu galak juga ya?”

“Aku hanya membela diri. Aku sedang sendirian, dia maksa masuk ke rumah, aku pukul dengan palang pintu.”

“Waddhuhhh.”

“Dia itu orang yang kemarin mengganggu aku, lalu membuang sisa koran dagangan aku ke tempat sampah.”

“O, dia tahu rumah kamu?”

“Dia anak bu Lurah. Suaminya sudah meninggal, dulunya lurah, tapi orang-orang masih menyebutnya bu Lurah.”

“Dia sering mengganggu kamu? Sampai-sampai membuang koran kamu ke tempat sampah?”

“ Tadinya dia mau aku jadi istrinya, maksudnya mau memaksa saya. Aku nggak mau, dia sombong dan mata keranjang. Kemarin awalnya mengganggu aku pas jualan di sini, untunglah masnya yang ganteng tadi menolong aku, sehingga aku bisa setoran.”

“Mas yang ganteng mana?”

“Yang tadi naik mobil.”

“O, yang kata kamu mirip aku?”

“Iya.”

“Berarti aku juga ganteng dong.”

Sarah terkekeh, tapi kemudian dia melambaikan tangannya.

“Ayuk Mas, pulang. Sudah sore,” katanya sambil berlalu.

Bimo menatap punggungnya sambil tersenyum. Ia melangkah pulang dengan masih membayangkan wajah manis Sarah dan lesung pipitnya.

“Ada apa aku ini,” gumamnya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

***

Bowo sedang melamun di teras. Kepalanya masih dibalut perban. Sang ibu yang baru datang mendekatinya, dengan rasa khawatir.

“Masih sakit?”

Bowo menatap sang ibu.

“Tidak sakit, dari kemarin juga tidak sakit.”

 “Kamu kelihatan pucat. Sedang ngapain duduk sendirian di sini, tidur saja sana, tadi aku sudah ke pabrik, semuanya baik-baik saja.”

“Kalau besok rasanya sudah enakan, aku mau ke rumah nenek Suli.”

Bu Lurah yang sudah mau masuk ke rumah berhenti melangkah, ditatapnya Bowo dengan pandangan marah.

“Apa maksudmu mau ke rumah nenek Suli?”

“Aku mau meminta maaf.”

“Bowo, apa kamu waras? Dia yang melukai kamu, lalu kamu yang akan meminta maaf?”

“Tapi yang salah aku Bu. Aku memaksa masuk ke rumah.”

“Masuk ke rumah itu apa salah? Kalau kamu mencuri, itu baru salah.”

“Dia tadinya melarang, aku memaksa.”

“Ah, sudah, aku nggak mau mendengar apa-apa tentang mereka. Aku kan sudah bilang, aku bebaskan Sarah semalam, tapi dengan catatan kamu tidak boleh lagi memikirkan dia. Atau biar dia masuk penjara saja sekarang?”

“Mana bisa dia masuk penjara, kan Bowo sudah bilang kalau dia tidak salah.”

“Melukai orang kok tidak salah.”

Bowo kesal berdebat, karenanya dia diam. Bu Lurah masuk ke dalam dengan omelan panjang pendek.

“Pokoknya kamu tidak boleh lagi mendekati Sarah,” kata sang ibu tandas, sambil masuk ke dalam kamar.

“Tapi aku tidak bisa melupakannya,” gumam Bowo lirih.

***

Di sebuah rumah mewah, seorang pemuda sedang berbincang dengan adiknya. Pemuda itu adalah Fajar, adiknya adalah Mentari. Mereka dua saudara yang saling mengasihi, dan dimanja oleh kedua orang tuanya yang kaya raya.

“Mas, besok antar aku ke pesta ulang tahun temanku ya?”

“Teman sekolah kamu?”

“Iya. Mau ya? Nanti aku kenalkan dengan teman-temanku, mereka cantik-cantik lhoh, siapa tahu bisa Mas jadikan pacar.”

“Ogah ah, sudah gede pakai ulang tahunan segala.”

“Yaaaah, memangnyya kalau sudah gede tidak boleh pesta ulang tahun..?”

“Pesta ulang tahun, pantasnya untuk anak kecil.”

“Kata siapa?”

”Kataku.”

“Maaas,” Mentari merengek.

“Nggak usah ke pesta, besok jalan-jalan saja, aku traktir makan.”

“Nggak mau, aku sudah janji sama teman aku kalau aku mau datang sama kakakku kok. Mau ya Mas, aku bilangin sama ibu kalau Mas nggak mau,” Mentari merajuk.

“Kolokan, cuma gitu aja ngadu sama Ibu.”

“Pokoknya harus mau. Harus!” katanya sambil memukul-mukul lengan kakaknya.

***

Nenek Suli sudah mandi dan mencari Sarah untuk diajak duduk di depan rumah. Udara sore sangat cerah, duduk di depan rumah pasti segar rasanya. Nenek Suli mencari Sarah yang belum keluar dari kamarnya.

“Sarah, kamu sudah mandi kan?”

“Sudah Nek.”

“Sedang mencari apa kamu dari tadi buka-buka almari?”

“Mencari baju yang bagus.”

“Tumben mencari baju yang bagus. Mau bepergian?”

“Besok kan Minggu Nek, Sarah  diundang teman sekelas yang ulang tahun.”

“Ulang tahun?”

“Sebenarnya Sarah enggan datang, tapi teman-teman Sarah memaksa, nggak enak kalau tidak datang.”

“Di mana rumahnya? " tanya sang nenek.

"Nggak begitu jauh, nanti Sarah naik ojol saja.”

“Malam?”

“Iya, malam. Tapi Sarah hanya akan datang sebentar saja, sekedar memenuhi undangan.”

“Baiklah, asal pulangnya jangan malam-malam.”

***

Besok lagi ya.

 

Monday, September 14, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 05

 DARAH CINTA DAN AIR MATA 05

(Tien Kumalasari)

 

Sarah bingung, ia juga seperti tidak sadar ketika tiba-tiba sudah berada di kantor polisi. Ia hanya ingat orang-orang mengeroyoknya ketika mereka mengangkat tubuh Bowo yang berdarah-darah, lalu ia melihat neneknya menangis, dan dia digelandang ke kantor polisi.

Sarah bingung. Benar-benar bingung, ketika melihat darah, melihat Bowo tergeletak, dan pikirannya benar-benar buntu.

Ketika ia duduk dalam kebingungan, suara orang memaki-makinya terasa menghantam telinganya.

“Dasar perempuan tak tahu diuntung. Sudah miskin, sombong, ditambah jahat pula,” hardiknya.

Sarah menutupi kupingnya. Pikirannya benar-benar gelap.

“Diberi kebaikan, malah membalasnya dengan keburukan. Apa kamu ditakdirkan jadi pembunuh?” suara itu melengking, membuat telinganya sakit.

“Pak Polisi, saya minta agar dia dihukum seberat-beratnya. Kalau perlu dipenjara seumur hidup.”

Sarah tersentak. Dihukum seumur hidup? Ia menurunkan tangannya dari telinganya. Seorang polisi duduk di depannya. Tadi polisi itu menuliskan entah apa, menurut apa yang dikatakan bu Lurah, pastinya.

Ketika polisi bertanya, ia mengatakan bahwa ia hanya membela diri karena Bowo menyerangnya, dan mencoba memaksanya.

Di sebuah sudut, nenek Suli menangis terisak-isak. Seorang tetangga yang menemaninya, menghibur si nenek, agar dia tak usah begitu khawatir, karena cucunya tidak bersalah.

***

Bowo ada di rumah sakit. Hanya luka ringan. Karena kalau luka di kepala kan pasti perdarahannya kelihatan hebat. Ibunya sudah ngamuk-ngamuk, tidak cukup di rumah, tapi juga di kantor polisi. Padahal Bowo hanya perlu dijahit dan tidak harus opname. Ia sekarang sedang menunggu jemputan, ditemani ibunya setelah rampung marah-marah di kantor polisi.

“Bu, jangan laporkan Sarah ke polisi.”

“Dia melukai kamu sampai parah begitu. Dia harus menebusnya dengan dipenjara.”

“Tidak mudah memenjarakan orang Bu, tadi Bowo yang salah.”

“Apa maksudmu kamu yang salah?”

“Bowo memaksakan kehendak, menerobos masuk ke rumahnya.”

“Kamu itu kebangetan. Sungguh bodoh mengejar-ngejar orang yang sama sekali bukan setingkat kita. Mereka itu miskin. Neneknya hanya buruh cuci di kampungnya, bocah itu hanya penjaja koran. Kamu tega mempermalukan orang tuamu dengan jatuh cinta kepada orang seperti dia? Kalau dia mau menerima, itu adalah anugrah baginya. Tapi dia menolak, ibu merasa terhina. Dia itu siapaaaaa??”

“Sudahlah Bu, cabut laporan Ibu, aku kan tidak apa-apa. Kalau Ibu tidak mau, biar Bowo yang melakukannya.”

“Baiklah, Ibu bebaskan dia, tapi kamu tidak boleh mendekatinya lagi. Awas kamu!”

Bowo terdiam. Kepalanya berdenyut. Walau tidak parah, tapi luka di kepala memang membuatnya pusing. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa kepada ibunya, nanti ibunya semakin marah. Terus terang saja, Bowo memang jatuh cinta kepada Sarah. Bukan cinta berbau nafsu, tapi sungguh-sungguh cinta dan sayang. Itu sebabnya ia tak ingin Sarah dipenjara atau dihukum, seringan apapun.

***

Malam itu memang Sarah sudah ada di rumah. Nenek Suli bersyukur, dan mendekap cucunya terus menerus.

“Tak bisa Nenek bayangkan Sarah, kalau kamu benar-benar dipenjara, hati Nenek pasti akan hancur,” kata nenek Suli sambil mengelus kepalanya.

“Ya tidak Nek, bagaimanapun Sarah tidak bersalah. Sarah hanya membela diri karena Bowo nekat masuk ke rumah, lalu entah apa yang akan dilakukannya seandainya Sarah membiarkannya, sementara di rumah tak ada orang kecuali hanya kami berdua.”

“Kebangetan mereka itu, Nenek kan sudah menolaknya sampai dia marah-marah juga tadi di rumah bu Karno.”

“Bowo merasa bahwa dia tak pernah ditolak oleh perempuan yang dia dekati. Dia pikir Sarah sama dengan mereka, jadi walau Sarah sudah mengatakan tidak, dia tetap ingin memaksa. Dia berharap akhirnya Sarah akan menyerah.”

”Lain kali kamu harus berhati-hati. Kalau kamu di rumah sendirian, lebih baik kamu mengunci pintu dari dalam.”

“Iya Nek. Sarah juga takut kalau dia mengulanginya kembali. Tapi tadi polisi bilang kalau bu Lurah mencabut laporannya atas permintaan Bowo.”

“Syukurlah, barangkali dia merasa bersalah.”

“Ya sudah, sekarang Nenek tidur. Jangan memikirkan Sarah tentang hidupnya yang entah akan seperti apa. Kaya atau miskin itu bukan pilihan, tapi garis kehidupan. Nyatanya dengan hidup bersama Nenek, Sarah sudah merasa sangat bahagia. Sungguh Sarah tak ingin lebih.”

“Anak baik. Walau begitu Nenek akan tetap berdoa agar kamu mendapat kehidupan yang baik nanti, dan bahagia pastinya.”

“Terima kasih Nek, akan seperti apa hidup Sarah nanti, Sarah akan selalu bersama Nenek.”

Nenek Suli merangkul sang cucu dengan penuh kasih sayang. Malam itu Sarah kembali tidur di kamar nenek Suli.

***

“Kamu mau masuk sekolah?”

“Iya dong Nek, masa Sarah harus bolos?”

“Hati-hati, walau di jalan, Bowo masih bisa mengganggu kamu kan, seperti kemarin itu?”

“Iya, dan untunglah ada yang menolong Sarah. Tiba-tiba Sarah punya dua orang sahabat di jalanan, yang Sarah anggap sahabat karena telah menolong Sarah, dengan tulus pula.”

“Syukurlah, anak baik pasti akan selalu mendapat kebaikan. Sekarang kamu mau sarapan apa? Ayam goreng yang kemarin diberi bu Karno masih ada dua potong, apa Nenek harus buatkan sayur bening dulu.”

“Tidak usah Nek, itu sudah lebih dari cukup, kan sudah ada sambalnya juga. Kalau Nenek masih harus masak, nanti Sarah kesiangan. Kan Sarah harus jalan kaki, jadi harus buru-buru berangkat.”

“Baiklah, kalau begitu segera makan. Nanti siang Nenek akan masak untuk kamu.”

“Apa Nenek tidak bekerja hari ini?”

“Hanya bersih-bersih di rumah bu Karno, tidak akan lama. Ayo sekarang makan dulu, Nenek siapkan air untuk bekal kamu.”

“Terima kasih Nek.”

Sarah makan sendirian, dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya, karena sepeninggal orang tuanya saat dia masih kecil, ada Nenek yang sangat menyayanginya, menjaganya, dan membeayai sekolahnya, padahal sang nenek hanya menjadi buruh cuci di kampungnya.

“Ini minum buat bekal, ada sedikit cemilan sisa arisan dari bu Karno yang diberikan. Bisa untuk bekal kamu.”

“Iya Nenek, terima kasih, sebenarnya kan Sarah bisa menuang air sendiri.”

“Nanti kamu kesiangan, nggak apa-apa kalau hanya menuang air saja.”

***

Seperti biasa setelah pulang dari sekolah, Sarah mengambil koran ke agen untuk dijualnya. Sedikit banyak ia bisa menabung dan tak harus meminta uang kepada sang nenek kalau butuh sesuatu.

Hari itu korannya sedikit lebih laku, hanya tinggal tiga lembar saja, tapi dia belum mau berhenti, karena hari belum begitu sore. Saat lampu merah, dia siap untuk menyeberang, tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, membuatnya berhenti melangkah.

“Korannya masih?”

Sarah tersenyum. Rupanya dia adalah laki-laki bernama Fajar yang kemarin memberinya uang sebagai ganti koran yang dibuang Bowo ke tempat sampah.

“Masih ada, ini.”

Ketika Fajar ingin memberikan uang, Sarah menolaknya.

“Tidak usah Mas, untuk Mas, gratis.”

“Tidak bisa begitu, aku mau beli, mengapa bisa gratis?”

“Mas sudah menolong aku, ini sebagai ungkapan terima kasih, kalau butuh koran, untuk Mas gratis.”

“Nggak mau. Pokoknya nggak mau. Mana mungkin setiap hari gratis.”

Sarah membalikkan tubuhnya ketika Fajar mengambil dompetnya.

“Sarah!”

Sarah membalikkan tubuhnya. Ia lupa, apakah dia pernah memperkenalkan namanya ?

“Kok tahu namaku Sarah?”

“Ya tahu, sini … mau lari ke mana kamu? Hati-hati, jangan menolak rejeki. Apa yang aku lakukan kemarin itu berbeda. Kemarin aku memberi, kali ini aku membeli,” kata Fajar sambil memaksa memberikan uangnya.

“Udah begitu uangnya selalu berlebih,” omel Sarah.

Dari jauh seseorang melangkah mendekat.

“Sarah, dagangannya habis?”

Sarah menoleh. Bimo mendekat, dan Fajar belum beranjak pergi.

Sarah bergantian menatapnya.

“Ada apa kamu ini?” tanya Bimo sambil tertawa lucu.

“Lihat, bagaimana wajah kalian bisa sama?”

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 13, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 017

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  017

(Tien Kumalasari)

 

Menur menatap anaknya yang matanya berbinar. Tampaknya dia senang mendapat jawaban sang ibu. Menur menyimpan rasa nyeri di dalam hatinya, karena dia tahu keberadaannya di sana tidak disukai, terlebih oleh pengasuh Ana yang bernama Rumi. Tapi ia tak mau sang anak ikut merasa sakit ketika tahu bahwa ibunya disakiti.

Sesungguhnya apa yang dilakukan Menur ini bukan karena uang yang dijanjikan, tapi lebih kepada rasa sayangnya kepada Ana, yang begitu mendambakan sebuah kasih sayang dan perhatian. Ana anak yang baik, ia bukan pembangkang dan bersikap semaunya, biarpun dimanja secara materi. Menur akan mengajarkan hal-hal baik, bukan hanya memberinya kasih sayang.

“Ibu mandilah, lalu makan, ya.”

Menur mengangguk, beranjak menuju ke kamarnya, tapi di ruang makan ia melihat makanan yang banyak, padahal dia mau ke dapur dulu untuk menggoreng telur.

“Rahman, ini apa?”

Rahman agak kaget. Ia ingat sang ibu tidak suka dia dekat-dekat dengan om ganteng yang baik hati itu. Tapi ia tak mungkin berbohong.

“Tadi, om Baroto datang kemari,” katanya lirih.

Menur terkejut. Bukan hanya di sekolah Rahman Baroto ingin menemui anak itu, tapi sekarang berani datang ke rumah, membelikan banyak makanan dan itu bukan makanan murahan. Ada ikan, ada daging, nasinya juga sudah siap.

“Apakah Ibu marah? Kita tak mungkin menolak tamu yang datang berkunjung bukan? Rahman tidak minta, tapi ini rejeki bukan Bu?”

Menur tersenyum tipis lalu mengangguk.

“Sekarang Ibu mandi dulu, lalu makan bersama Rahman.”

Hal baru yang dilakukan Rahman. Dulu ia selalu makan terlebih dulu, bahkan bisa menghabiskan semua makanan, tanpa ingat ibunya sudah makan atau belum. Kali ini ia mengajak makan bersama. Pasti bukan karena banyak makanan, tapi karena Rahman memang sudah berubah. Hal itu melegakan hati Menur, membuat rasa kesalnya sedikit mengendur.

Ia segera mandi, lalu menemani Rahman makan.

“Tadi om Baroto bilang, bahwa tak lama lagi akan kembali ke luar negeri, karena pekerjaannya memang di sana,” kata Rahman disela-sela makan.

Tiba-tiba entah mengapa, ada perasaan tak enak menyergapnya. Sedih karena ditinggalkan? Masa iya? Tapi Menur tak mau mengakuinya. Menur bukannya tinggi hati, tapi dia keras hati. Apa yang membuatnya tak harus melakukannya, ia tak akan melakukannya. Baroto ada di dalam dasar hatinya. Ia adalah telaga bening yang sayang untuk diusiknya. Ia sudah punya dunia yang harus digenggamnya, yaitu keluarga. Bukankah cinta tak harus memiliki?

“Tapi om Baroto bilang, dia akan sering pulang kemari,” lanjut Rahman ketika melihat ibunya tak bereaksi. Rahman tak tahu apa sebabnya sang ibu seperti membenci om ganteng yang sangat baik itu.

***

Lili baru selesai mandi malam itu, ia duduk di ruang tengah sendirian, sambil menikmati segelas coklat susu yang disajikan salah seorang pembantunya. Baroto tak kelihatan, mungkin ada di dalam kamarnya. Sepasang suami istri itu memang jarang bercengkrama berdua.

Tiba-tiba Rumi muncul dan langsung bersimpuh di depannya.

Mulut monyongnya segera terbuka, setelah ia menoleh ke kiri dan ke kanan dan tahu kalau tak ada orang di sekitarnya.

“Nyonya … Nyonya …”

Lili meletakkan gelas coklat susu yang selesai dicecapnya.

“Ada apa lagi?”

”Nyonya tahu tidak, tadi, waktu pengais sampah itu mau pulang, tuan menawarkan diri untuk mengantarnya.”

Lili mengangkat alisnya.

“Nyonya harus berhati-hati. Bagaimanapun, pengais sampah itu cantik, saya tahu bagaimana cara tuan memandangi dia.”

“Rumi, kamu jangan mengada-ada.”

“Itu benar Nyonya. Bukan apa-apa, saya hanya mengingatkan agar Nyonya berhati-hati. Ingat nyonya, dia itu ternyata cantik. Apalagi setelah nyonya besar membelikan dia baju-baju yang bagus, bukan baju kumel seperti yang dia pakai ketika mengais sampah.”

Lili tahu, Menur memang cantik. Apalagi kalau dia memakai baju-baju yang bagus. Tapi tak terpikir olehnya kalau suaminya tertarik padanya. Dan kalaupun iya, apakah dia harus peduli? Bukankah ia tak pernah mencintai suaminya?

“Rumi, bawa gelas kotor ini ke belakang,” kata Lili.

“Nyonya, saya hanya mengingatkan,” kata Rumi.

“Ya sudah, sana, aku capek,” kata LIli yang lama-lama sebel juga mendengar ocehan pembantu yang satu itu.

Tapi ketika Rumi sudah pergi, mendadak terbayang olehnya, Baroto mendekati Menur yang cantik. Ada perasaan tak senang. Apakah LIli mulai mencintai suaminya?

Lili memasuki kamar Baroto, dan melihat sang suami sedang melamun di sofa yang ada di kamar itu. Tiba-tiba ada rasa curiga di hati Lili. Jangan-jangan sang suami memikirkan Menur. Tapi perasaan itu ditepisnya sendiri, mengingat Menur baru sehari di rumah ini. Wanita itu begitu sederhana, mana mungkin suaminya yang terbiasa bergaul dengan perempuan luar negri yang pasti lebih sexy dan menarik lalu tiba-tiba tertarik dengan wanita yang sebenarnya adalah adik misannya itu?

Lili akan menutup pintu kamar, ketika tiba-tiba Baroto menyapanya.

“Ada apa? Kamu mencariku?”

Lili mencoba tersenyum. Ia tak bisa menjawab apa alasannya maka harus menjenguk ke kamar suaminya. Hal yang tak pernah dilakukannya bukan?

“Ti … tidak, hanya … “

“Hanya apa?”

Baroto menegakkan badannya, menatap sang istri yang kelihatan seperti orang linglung. Tapi kemudian Lili menemukan jawabannya.

“Kapan kamu kembali ke luar negri?” tanyanya sambil tetap berdiri di pintu.

“Bosan melihat aku terlalu lama ada di rumah?”

“Tidak. Tinggallah sesuka hati kamu. Ini juga rumahmu kan?”

“Aku masih ada urusan dalam beberapa hari ini, mungkin minggu depan aku baru akan kembali.”

“O, baiklah. Selamat tidur,” kata Lili sambil menutup pintu.

Ketika kembali ke kamarnya, Lili heran terhadap dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba mencurigai suaminya tertarik pada Menur? Pasti gara-gara Rumi yang mengadu dengan mulut monyong itu.

“Bodoh, mengapa aku terpengaruh pada perkataan Rumi yang sepertinya ingin memanas-manasi aku? Pasti karena dia iri hati, atau bahkan sakit hati karena perhatian Ana lebih kepada Menur, sementara sudah lama dia yang mengasuhnya. Aku tidak harus memikirkannya.

Tapi ketika ia membaringkan tubuhnya, ia merasa ranjangnya sangat dingin dan membuatnya hampir menggigil. Sungguh aneh. Sepuluh tahun menikah, tidak sekalipun mereka tinggal atau tidur dalam satu kamar. Apalagi seranjang.

Lili menutup wajahnya dengan bantal, lalu berusaha tidur, dengan menghilangkan bayangan-bayangan yang membuatnya merasa aneh.

***

Pagi sekali ketika Ana bangun, ia sudah melompat dari ranjangnya, dan mencari-cari ke sekeliling ruangan. Rumi yang sudah menyiapkan air untuk mandi menyapanya.

“Non Ana mau mandi sekarang? Bik Rumi sudah menyiapkan semuanya.”

Tapi Ana menggeleng.

“Bibi Menur belum datang?”

Wajah Rumi langsung gelap, segelap mendung dimusim hujan.

“Ini masih pagi. Barangkali juga dia belum bangun,” katanya enteng.

“Aku mandi nanti saja, kalau bibi Menur sudah datang.”

“Ya ampun Non, kalau kesiangan nanti tuan dan nyonya marah karena non Ana tidak makan pagi bersamanya,” omelnya sambil menarik tangan Ana.

“Nggak mau. Pokoknya aku menunggu bibi Menur.”

Baru saja Rumi akan menjawab, Menur sudah muncul dari pintu samping. Rumi langsung bergegas ke belakang, sementara Ana berteriak kegirangan.

“Ini ada bibi Menur, aku mau mandi dengan bibi Menur.”

“Mengapa harus mandi dengan bibi Menur? Tadi bik Rumi sudah menyiapkan air hangat untuk Ana bukan?” kata Menur yang rupanya mendengar perkataan Rumi.

“Tapi aku mau mandinya sama bibi Menur.”

Menur terpaksa mengangguk, lalu melayani apa yang menjadi kemauan Ana.

***

Ketika makan pagi bersama ayah dan ibunya, Ana kelihatan sangat senang.

“Mengapa tidak minta agar Menur makan bersama kita?” tanya Baroto tiba-tiba.

“Apa?” Lili tampak terkejut.

“Bukankah Menur itu saudaramu? Mengapa tidak meminta agar dia makan bersama kita sekalian? Mana mungkin kamu tega membiarkan dia makan bersama pembantu.”

Lili baru sadar. Menur memang saudara misannya. Kalau ibunya tahu bahwa Menur dibiarkan makan bersama pembantu, pasti dia kena marah.

“Menur, mana Menur?”

Menur yang sedang membenahi kamar Ana segera keluar mendengar panggilan Lili.

“Ya, saya sedang membereskan kamar Ana.”

“Itu pekerjaan Rumi, biarkan saja,” kata Baroto.

“Menur, makanlah bersama kami,” kata Lili, berusaha ramah.

“Tidak, aku sudah sarapan di rumah.”

“Bibi harus makan bersama kami. Seperti kemarin.”

Menur tersenyum. Kemarin makan bersama Ana, tapi tidak bersama Lili, apalagi Baroto. Maka dia menolaknya dengan halus.

“Sungguh aku sudah sarapan di rumah. Biar aku selesaikan pekerjaan aku. Nanti Ana jadwal sekolah bukan? Aku juga akan menyiapkan buku-bukunya,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

Diam-diam Lili melirik ke arah suaminya, apa benar, suaminya menatap Menur dengan pandangan yang menurut Rumi kelihatan aneh. Tapi Baroto sudah menundukkan wajahnya sambil menyendok makanannya.

Lili kembali heran memikirkan dirinya sendiri, ada apa dia peduli tentang dengan cara apa suaminya menatap seorang perempuan cantik? Bukankah dia tak mencintainya? Lili tidak sadar bahwa cinta terkadang datang tanpa permisi.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 08

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  08 (Tien Kumalasari)   “Sarah? Kamu ada di sini?” Pertanyaan itu belum dijawab. Sarah lebih mengagumi sosok gant...