Tuesday, October 13, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 30

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  30

(Tien Kumalasari)

 

Fajar dan Bowo berdiri berhadapan, mata mereka saling menatap tajam, bukan tatapan ramah tamah, tapi tatapan saling menantang. Sarah menjadi serba salah, tak tahu harus berbuat apa.

“Saya akan mengantarkan Sarah, kalau kelamaan nanti terlambat,” kata Bowo dingin.

“Saya kemari karena ingin menjemput Sarah, neneknya pasti sudah bisa ditinggal setelah ada di rumah.”

“Saya yang menjemput neneknya pulang.”

“Saya menjemput Sarah untuk mengantarkannya ke sekolah.”

“Eh, tunggu … tunggu … aku mau berangkat dan jalan kaki, tidak perlu dijemput mobil siapapun,” kata Sarah kemudian langsung melangkah menjauhi mereka.

“Sarah, tunggu aku.”

“Sarah akan berangkat bersama aku.”

Wajah keduanya tegang, sementara Sarah sudah menjauh., bergegas, setengah berlari. Bowo yang merasa kesal karena dihalangi kemudian mengayunkan tangannya kearah wajah Fajar. Fajar yang tidak mengira kemudian terhuyung ke belakang. Ia hampir roboh, ketika seorang laki-laki setengah tua menangkap tubuh Fajar yang hampir terjatuh.

“Hei, kalian anak-anak yang sudah dewasa, mengapa berantem pagi-pagi?”

“Biar saya membalasnya,” geram Fajar sambil beranjak maju. 

Tapi Bowo yang sudah bersiap-siap dengan sigap menghindar.

“Hei, tunggu. Berhentii," teriak pak tua itu.

Tapi keduanya tak mau mengalah. Namun tiba-tiba seorang pengendara mobil berhenti, dan seorang wanita turun dari mobil itu.

“Bowo! Apa yang kamu lakukan?” teriaknya.

Bowo terkejut, dan karena lengah, sebuah pukulan menghantam pelipis kirinya, membuatnya terpelanting.

“Eeh, apa-apaan kamu? Main pukul sembarangan!” teriak wanita yang adalah bu Lurah.

“Dia yang mulai.”

Bowo ingin membalas, tapi sang ibu menarik tangannya.

“Berhenti! Ayo pulang!”

Terengah karena marah, Bowo terpaksa mengikuti perintah sang ibu.

Melihat ‘musuhnya’ memasuki mobilnya, Fajar tak melanjutkan keinginannya menghajar kembali. Iapun masuk ke mobilnya, dan memutarnya untuk mengejar ke mana Sarah pergi.

Bowo ingin melakukan hal yang sama, tapi ada sang ibu yang memerintahkannya agar dia kembali pulang.

Sementara itu, pak tua yang tadi menangkap tubuh Fajar melongo. Ia tidak lupa, yang ditolongnya adalah anak muda yang dulu membawanya ke rumah sakit ketika ia kecelakaan.

“Naaaak! Naaaak!”

Tapi Fajar tak mendengarnya, dan juga tak memperhatikan siapa yang membantunya sehingga tadi dia urung terjatuh. Yang dipikirkannya adalah mengejar Sarah yang bergegas meninggalkan ketika ia dan Bowo bertarung.

“Iyaa, benar dia. Aku tidak lupa wajahnya. Ia tampan, mengendarai mobil bagus. Waktu itu bersama sopirnya. Ya ampuun, mengapa tadi dia tidak melihat aku, ada apa mereka bertengkar ya?” gumam pak tua yang ternyata pak Karimun yang sedang mencari kerja.

“Kok tidak melihat ke arahku, padahal aku merangkul tubuhnya ketika mau jatuh. Itu dia, namanya aku lupa. Tapi kok wajahnya sama dengan anak bu Saptari ya?”

Pak Karimun duduk di bawah sebuah pohon. Hari masih pagi. Sejak bangun tadi dia sudah pergi untuk mencari kerja. Entah apa saja. Dulu dia sering disuruh bersih-bersih kebun atau apa saja, ketika ia menawarkan jasa tenaganya. Tapi sepanjang dia keluar dari rumah sewanya yang baru, dan berjalan lumayan jauh, pekerjaan itu belum didapatkannya.

***

Sarah mengusap peluhnya. Ia terus berjalan cepat. Sekolahnya tak jauh lagi. Tapi ketika ia akan menyeberang, sebuah mobil berhenti di dekatnya.

Sarah terkejut.

“Sarah, ayo masuk,” katanya sambil membuka pintu dari dalam.

“Mas Fajar?”

“Ayo masuklah. Nanti kamu terlambat.”

Sarah menoleh ke arah belakang. Apakah mobil Bowo ada di belakang? Tapi ia tak melihat bayangan mobil itu.

“Sarah, ayo. Kamu berharap diantar olehnya? Dia sudah dipaksa pulang oleh ibunya.”

Sarah merasa lega, jadi Bowo sudah tidak ada. Kalau masih ada, dia tetap akan memilih berjalan, tidak mengikuti salah satu diantaranya.

“Cepat masuk.”

Sarah terpaksa masuk. Ia melihat kening Fajar tampak membiru.

“Dia memukul Mas?” tanya Sarah ketika mobil sudah berjalan. Ia melihat kening Fajar.

“Aku juga sudah membalasnya.”

”Ya ampuun, seperti anak kecil saja.”

“Dia yang mulai memukul aku. Aku tidak menduga, hampir terjatuh kalau tubuhku tidak ditangkap seseorang. Ah, ya … mana dia? Aku kok tidak memperhatikannya tadi?”

"Siapa?”

“Seorang laki-laki. Mungkin hanya orang lewat, seperti berusaha melerai tadi. Tapi ya ampun, aku malah lupa mengucapkan terima kasih.”

“Siapa? Mas kenal?”

“Tidak, hanya orang lewat. Semoga aku bertemu lagi pada suatu hari untuk mengucapkan terima kasih. Tapi wajahnya aku juga kurang perhatian.”

“Gara-gara memilih berantem,” gumam Sarah.

“Dia yang mulai. Masa aku harus diam saja?”

Mobil itu sudah berhenti di depan sekolah, dan tiba-tiba dari arah depan Mentari masuk ke halaman dengan sepeda motornya.

“Sarah? Mas Fajar menjemput kamu?”

Mentari menghentikan sepeda motornya di samping Sarah.

“Ayo bonceng sini, daripada jalan.”

Sarah menurut, walau sudah sampai di halaman. Mentari memboncengkannya ke arah parkiran.

“Setia banget mas Fajar ya, dibela-belain berangkat pagi-pagi gara-gara mau menjemput kamu,” kata Mentari yang kemudian berjalan ke arah kelas bersama Sarah.

“Bukan aku yang minta. Nanti aku ceritakan tentang sesuatu,” kata Sarah.

***

Di rumahnya, Bowo dimarahi sang ibu habis-habisan. Pasti bu Lurah tahu penyebabnya karena kejadian pertengkaran itu di dekat rumah Sarah, jadi pasti karena Sarah.

“Lihat wajahmu itu Bowo, sampai matang biru begitu. Itu karena Sarah bukan? Sarah cucu nenek miskin itu kan?”

Bowo menundukkan wajahnya. Kekesalannya kepada Fajar belum juga terobati, ditambah kemarahan ibunya yang meluap-luap. Ia sudah tidak mau datang ke rumah ibunya, malah ibunya mengikuti ke rumahnya, hanya untuk memarahinya.

“Kamu itu ya, sangat tidak tahu malu. Sudah ditolak masih saja mengejar-ngejar dia. Kalau yang menolak itu orang terpandang, lebih kaya dari kamu, masih bisa diterima. Tapi yang terjadi adalah kamu ditolak orang miskin yang sama sekali tidak sederajat dengan kita. Ibu ini sakit hati, tahu. Masa orang seperti nenek Suli menolak lamaran kamu. Pikir, Bowo … pikir.”

“Ibu selalu menghina orang miskin, itu sebabnya nenek Suli juga membenci Bowo. Menurutnya, Ibu itu terlalu sombong.”

“Siapa yang sombong, aku tidak usah menyombongkan diri saja sudah pada tahu kalau aku ini dari keluarga kaya dan terpandang.”

“Tapi Ibu menghina dia terus-terusan.”

“Diam kamu, pokoknya Ibu larang kamu mendekati dia lagi.”

***

Pak Karimun sudah berjalan ke sana kemari untuk mencari kerja, tapi hari itu benar-benar sial. Istrinya sudah mendapat pekerjaan di warung bu Saptari, harusnya dia juga harus mencari pekerjaan. Tapi sejak pagi dia belum mendapatkannya.

Ia masih duduk di bawah pohon dipinggir jalan, memikirkan pekerjaan yang belum didapatnya. Tapi tiba-tiba matanya melihat sesuatu. Sebuah dompet? Pak Karimun bangkit, mendekati benda yang terjatuh itu. Memang benar, sebuah dompet. Pasti milik pengendara mobil tadi.

“Dia, anak muda yang menolongku itu bukan? Apa aku salah lagi? Anak bu Saptari sudah aku kira anak muda yang menolongku itu, dan sekarang ada lagi wajah yang seperti itu, apa aku salah lagi? Mengapa banyak sekali wajah mirip penolongku?”

Pak Karimun membuka dompet itu, hanya berisi kartu-kartu yang entah apa pak Karimun tidak mengerti. Tapi dia tahu tentang sebuah kartu penduduk.

“Ini pasti barang berharga semua, dan kebetulan ada alamatnya. Sebaiknya aku antarkan saja ke alamat yang ada di kartu penduduk ini.

Pak Karimun memasukkan dompet kecil itu ke dalam sakunya, dan mencari alamat yang tertera di situ.

***

Besok lagi ya.

Monday, October 12, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 29

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  29

(Tien Kumalasari)

 

Dokter Harun menyimpulkan senyum yang seperti menyembunyikan sesuatu. Ia mengerdipkan sebelah matanya. Sarah ingin membantah, saat dia tahu bahwa yang dimaksud sopir adalah Bowo. Tapi ia sangat sungkan. Dokter Harun memberi perhatian istimewa kepada neneknya, bahkan mengunjungi ruangannya saat sang nenek sudah siap untuk pulang.

“Silakan, sopir sudah menunggu,” kata dokter Harun lagi.

“Ayo Sarah, menunggu apa lagi? Apa uangnya tidak cukup? Uang Nenek masih belum berkurang, entah apa yang kamu lakukan, ambil saja kalau kurang.”

“Tidak Nek, tidak kurang. Baiklah, ayo.”

Sarah menenteng tas besar berisi perabotan yang dipergunakan selama sang nenek berada di rumah sakit, sebelah tangannya menggandeng lengan nenek. Tapi nenek Suli mengibaskan tangannya pelan.

“Aku jalan sendiri saja, supaya pak dokter tidak mengira kalau aku masih sakit," kata nenek Suli ‘sombong’ membuat dokter Harun tersenyum.

“Tapi ingat ya Nek, Nenek tidak boleh bekerja terlalu keras, dan jangan banyak pikiran, supaya sakitnya tidak kambuh lagi,” kata dokter Harun sambil menatap nenek Suli serius.

“Iya, pak Dokter. Terima kasih banyak sudah merawat Nenek yang miskin ini. Sudah menyuruh sopir mengantarkan Nenek pulang.”

“Silakan Nek, sopir sudah menunggu,” ulangnya.

Sarah menghela napas. Diam-diam dia berdoa agar neneknya tidak mengajak ‘pak sopir’ berbincag, agar tak ketahuan siapa sebenarnya dia.

Mereka melangkah keluar, dan dokter Harun terus mengiringinya, sampai keduanya masuk ke dalam mobil.

***

“Alangkah baiknya pak dokter ya Sar, mau mengantarkan sampai kita masuk ke dalam mobil, masih meminjamkan mobil pula beserta sopirnya," kata nenek Suli ketika dalam perjalanan pulang.

“Iya Nek, memang beliau sangat baik.”

“Nak sopir, sudah lama ikut pak dokter Harun?”

Sarah terkejut. Mengapa neneknya mengajak bicara pak sopir.

Bowo terbatuk-batuk.

“Nek, sopir sedang serius mengendarai mobil, jangan diajak bicara,” tegur Sarah.

“Aku kan hanya bertanya saja, masa tidak boleh?”

“Orang kalau sedang menyetir, tidak boleh diajak bicara. Nanti konsentrasinya terpecah, padahal jalanan sedang ramai.”

“Tidak boleh ya?”

“Tidak boleh Nek.”

“Iya, aku jadi ingat. Waktu Nenek masih muda, lalu bepergian naik bis dengan ibumu, ibu kamu selalu mengingatkan, bahwa dilarang bicara dengan sopir, itu ada tulisannya, gitu kata ibumu.”

Sarah tersenyum, dan Bowo menahan tawa.

“Iya. Itu benar.”

“Apa di mobil ini ada tulisannya begitu?”

“Ya tidak Nek.”

“Kata ibumu, di bis itu selalu ada tulisannya begitu lhoh.”

“Bis itu kan kendaraan umum. Ini kendaraan pribadi, tidak perlu ada tulisannya.”

“Nanti saja, Nenek mau bicara sama sopirnya.”

“Nek, pak dokter tadi bilang bahwa sopirnya harus segera kembali ke rumah sakit. Ada tugas menunggu.”

“Susah amat. Besok-besok kalau kamu punya suami, jangan mencari suami yang jadi sopir. Nanti kamu takut bicara sama dia," canda sang nenek.

“Nenek ada-ada saja. Tidak boleh bicara itu kalau sedang menyetir.”

Nenek terdiam, lalu dilihatnya Sarah menyandarkan kepalanya di jok, dan memejamkan matanya.

“Kamu ngantuk ya?”

Sarah mengangguk, tapi sebenarnya dia sedang menghindari sang nenek bicara banyak, apalagi tentang ‘sopir pribadi’ dokter Harun.

Bahkan ketika mobil itu sudah sampai, Sarah yang kemudian membantu neneknya turun, segera mengajaknya masuk untuk menghindari sang nenek bicara dengan sopirnya.

***

Sarah bernapas lega ketika Bowo sudah pergi dengan membawa mobilnya.

“Sebenarnya ada baiknya tadi kamu buatkan minum dulu pada sopir pak dokter tadi, kasihan sudah mengantar Nenek sampai ke rumah.”

“Tadi kan Sarah sudah bilang, kalau pak dokter minta agar sopirnya segera kembali ke rumah sakit. Sekarang Nenek istirahat dulu, kamarnya sudah Sarah bersihkan kemarin.”

“Sarah, Nenek ingin bertanya, sesungguhnya siapa yang membayar biaya nenek ketika dirawat. Pasti mahal karena nenek tidur di kamar yang bagus.”

“Semua kamar rawat itu bagus Nek. Beda dengan kamar kita ini.”

“Tapi bayarnya mahal kan? Kamu dapat dari mana duitnya?”

“Banyak yang membantu kita selama Nenek dirawat. Salah satunya adalah mas Fajar yang berkali-kali menengok Nenek.”

“Oh, dia yang wajahnya seperti Bimo itu ya?”

“Iya Nek, banyak yang bilang begitu.”

“Kok dia baik banget, pasti  banyak uang yang dikeluarkannya. Memangnya kita ini siapa?”

“Banyak orang berbuat baik, selama kita juga melakukan hal baik. Sekarang Nenek istirahat, jangan banyak pikiran.”

“Nenek kan hanya bertanya tentang uang.”

“Dan itu akan membebani Nenek kan? Semuanya sudah selesai. Nanti kalau Sarah sudah bekerja, Sarah akan mengganti semua yang sudah mereka lakukan.”

“Sarah, anak baik. Kamu masih bocah, tapi sudah banyak beban.”

“Kata siapa Sarah banyak beban? Sudahlah Nek, Nenek harus istirahat. Kata dokter Nenek kan tidak boleh banyak pikiran?”

“Baiklah, Nenek juga masih merasa mengantuk, tapi Nenek mau ke kamar mandi dulu. Tidak usah diantar, Nenek bisa sendiri. Nenek sudah sembuh,” kata nenek Suli.

Sarah mengangguk. Ia tidak merasa terbebani, karena antara dirinya dan sang nenek hidup bersama dan segala susah senang akan mereka pikul bersama.

***

“Mengapa tiba-tiba kamu mendukung keinginan Bowo yang tidak pantas itu, Harun? Kamu kan tahu pemikiran dia itu sama sekali tidak disertai pemikiran matang?” kata bu Lurah kesal ketika dokter Harun mencoba membicarakan tentang perasaan Bowo kepada Sarah.

“Mbak kan tahu, bagaimana rasanya jatuh cinta?”

“Terus kenapa? Cinta itu boleh saja, tapi ya kira-kira dong, siapa yang kita cintai, pantas tidak, sejajar dengan kita tidak, kan gitu? Tapi Bowo itu masih bocah, hanya memikirkan kesenangan, tidak memikirkan pantas atau tidaknya.”

“Bowo itu sudah dewasa Mbak, bukan anak kecil lagi.”

“Bukan orangnya, tapi cara dia berpikir yang tidak dewasa. Sudah, kamu  jangan ikut-ikutan, biar bagaimanapun aku tidak akan pernah mengijinkan Bowo mendekati keluarga miskin itu.”

“Apakah kaya dan miskin itu perlu dipergunakan untuk pertimbangan?”

“Tentu saja sangat perlu. Mau ditaruh di mana muka kita kalau aku harus berbesan dengan nenek tua itu? Dengar ya, dulu aku tuh pernah mengalah karena Bowo terus merengek-rengek, aku temui nenek Suli, aku bicara baik-baik bahwa Bowo suka sama Sarah. Tapi kamu tahu tidak, dia tidak mau menerimanya. Itu kan namanya menghina aku sebagai orang tua Bowo? Dan karena merasa terhina itu sekarang aku tidak sudi walau Bowo menangis-nangis.”

Dan dokter Harun merasa upayanya menemui jalan buntu.

***

Pagi hari itu Sarah sudah membuatkan bubur dan sayur untuk sang nenek. Ia sudah memakai seragam sekolah dan siap berangkat ke sekolah.

“Nek, makan dulu lalu minum obatnya ya.”

“Kamu itu mau sekolah mengapa memikirkan nenek? Biar Nenek masak sendiri, apa kamu kira nenek tidak bisa?”

"Jangan begitu Nek, selama Nenek masih harus istirahat seperti saran dokter, Sarah akan melayani Nenek. Hanya membuat sayur bening dan membuat bubur, masa Sarah tidak bisa? Dan sekarang Nenek harus makan karena minum obatnya harus setelah makan.”

“Sarah, kamu kan harus sekolah? Siapkan saja semuanya, nanti Nenek makan sendiri dan minum obatnya sendiri.”

“Masih ada waktu sebelum berangkat Nek, ini masih pagi. Sarah bawa makanannya ke kamar?”

“Jangan, biar saja di ruang makan, nanti nenek ambil sendiri.”

“Kali ini Sarah harus menunggui Nenek makan, dan minum obatnya, nanti kalau sudah terbiasa, Nenek bisa makan dan minum obatnya sendiri.”

Nenek Suli menurut, karena berharap Sarah bisa segera berangkat sekolah.

***

Sarah merasa lega setelah ia juga menyiapkan makan siang untuk sang nenek. Ia melangkah keluar rumah dengan seribu satu pesan untuk sang nenek tentang makan dan minum obatnya.

Ia sudah sampai di jalan besar, dan bergegas menuju sekolah. Tapi ia terkejut, tiba-tiba dua mobil dengan arah berlawanan berhenti tepat di sampingnya. Ia tahu, itu mobil Fajar, dan yang satu lagi adalah mobil Bowo.

Sarah bingung ketika keduanya keluar dari mobil mereka.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

Sunday, October 11, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 021

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  021

(Tien Kumalasari)

 

Ketika Menur mau langsung menuju ke arah belakang rumah, Lili menghentikannya.

“Apa suamiku mau mengajak kamu jalan-jalan naik pesawat?” tanyanya dengan nada tinggi, membuat Menur terkejut.

“Tidak, siapalah aku ini, maka suamimu mau mengajak aku jalan-jalan?” jawab Menur tenang, karena merasa tidak bersalah.

“Mama, aku yang minta agar bibi Menur ikut,” kata Ana yang tampaknya tahu bahwa sang mama tidak suka.

“Kamu minta papa agar mengajak kamu jalan-jalan naik pesawat?”

“Papa bilang, apa Ana mau jalan-jalan naik pesawat. Aku mau, Mama, tapi aku harus dengan bibi Menur.”

“Tidak usah dengan bibi Menur, Ana, kamu bisa mengajak mama kamu, atau bik Rumi,” sahut Menur.

“Nggak mau … nggak mau … aku hanya mau pergi kalau bersama bibi Menur,” rengek Ana.

“Dasar anak manja! Kamu kelewatan dimanja, jadi suka melakukan apa saja semau kamu!” sentak Lili.

“Mengapa Mama marah? Bukankah jalan-jalan itu tidak salah?” protes Ana.

“Bukankah kamu harus sekolah?”

“Kalau libur!” Ana hampir menangis.

“Ana, sudahlah. Bukankah tidak harus sekarang? Kapan-kapan saja kalau Ana libur. Sudah, jangan menangis,” kata Menur lembut, sambil menggandeng Ana masuk ke dalam.

Dari belakang Rumi berteriak.

“Non Ana belum makan, mengapa diajak jalan?”

“Bukan aku yang mengajak,” jawab Menur yang lama-lama juga kesal karena sikap Rumi seperti selalu mengajak bermusuhan.

“Aku yang mengajak bibi Menur. Mengapa marah sama bibi Menur?” Ana juga marah karena mamanya juga seperti marah pada bibi kesayangannya.

“Ya sudah, sekarang makanlah, sudah bik Rumi siapkan,” kata Rumi lebih lembut.

Ana tak menjawab.

“Ayo cuci kaki tangan dulu,” ajak Menur, yang kemudian memasuki kamarnya.

“Nanti setelah aku pulang kerja, aku mau bicara,” tiba-tiba suara Lili di depan pintu.

“Kalau pulangnya malam, maaf aku tidak bisa menunggu, aku juga harus merawat anakku,” jawab Menur.

“Akan aku usahakan pulang sore,” katanya sambil membalikkan badannya.

Ketika Menur dan Ana keluar dari kamar dan bersiap makan pagi, terdengar mobil nyonya Baroto keluar dari halaman.

***

“Mengapa piringnya hanya satu?” Ana berteriak ketika sudah duduk di kamar makan.

“Memangnya Non mau memakai piring berapa?” tanya Rumi.

“Aku mau makan sama bibi Menur.”

“Tidak Ana, bibi sudah sarapan di rumah. Kamu saja yang makan, ya, bibi menemani saja di sini,” kata Menur sebelum Rumi menjawabnya.

“Bibi selalu sarapan di rumah ya?”

“Iya, kan Rahman juga harus sarapan sebelum sekolah.”

”Apa Rahman suka sama bibi Menur?”

“Tentu saja suka. Bukankah bibi ini adalah ibunya?”

“Ana juga suka pada bibi Menur. Maukah bibi menjadi ibunya Ana?”

“Apa?”

Dari balik pintu, Rumi berdehem keras, pura-pura batuk. Kelihatan sekali kalau dia hanya pura-pura.

“Maukah bibi menjadi ibu Ana?” Ana mengulang pertanyaannya.

“Boleh saja bibi dianggap ibu Ana, tapi ibu Ana kan ada sendiri, yaitu mama Lili.”

“Mama tidak sayang sama Ana.”

“Tidak Ana, itu tidak benar. Semua orang pasti sayang pada anaknya.”

Ana cemberut. Ia merasakan yang namanya sayang, yang bukan didapat dari mamanya. Ia justru mendapatkannya dari Menur. Perasaan nyaman ketika dipeluk saat pertama kali bertemu, selalu terbawa dalam hari-harinya. Ia ingin sekali Menur menjadi ibunya.

“Bibi Menur sayang sama Ana. Bukankah mama.juga sayang?

”Tidak."

“Tidak benar. Mama tetap sayang sama Ana. Percayalah.”

Ana melanjutkan makan dengan bibir mengerucut. Ia tak percaya sang mama menyayanginya. Ia tak pernah memeluknya. Tak pernah menepuk-nepuk pantatnya saat ingin tidur. Tak pernah mengajaknya pergi kalau mamanya sedang jalan-jalan.

***

Memang benar, Lili pulang sore di hari itu, sebelum Menur beranjak pulang. Menur segera mendekati Lili ketika Lili duduk di ruang tengah.

Tapi Lili tidak mengatakan apa-apa, ia punya harga diri. Tiba-tiba sungkan menanyakan hal seperti yang diadukan Rumi kepadanya. Malu kalau kelihatan cemburu kepada kerabatnya sendiri. Jadi dia hanya bicara tentang hari-hari yang dilalui Menur bersama anak semata wayangnya.

Sikapnya ini membuat Mrnur heran. Hanya untuk berbincang, mengapa harus dibela-belain pulang sore. Menur mengira ada sesuatu yang sangat penting.

Akhirnya dia mengijinkan Menur pulang.

“Ya sudah, ini sudah sore, kamu pulanglah.”

Menur mengangguk. Ketika ia berdiri sambil pamit, tiba-tiba Ana berlari dari belakang.

“Mama, bolehkah bibi Menur menjadi ibuku?”

Menur sangat terkejut.

Lili menatap anak gadisnya dengan pandangan tajam. Semestinya dia sadar bahwa ucapan seorang anak kecil bisa saja ceplas-ceplos semaunya, tapi gosokan demi gosokan yang dihembuskan Rumi sedikit membakar hatinya. Hanya saja tadinya dia berusaha menahannya, karena merasa tak semestinya dia bersaing dengan Menur. Dia cantik, kaya, terpelajar, pengusaha yang sukses walau berjalan sendiri tanpa suami. Sedangkan siapa Menur? Walaupun sedarah, tapi Lili merasa tidak level kalau mencemburui Menur. Hanya saja, ucapan Ana tiba-tiba menyalakan api di seluruh aliran darahnya yang semula sudah mulai mendingin.

“Mama, boleh kan?”

Ana tetap mengucapkannya, tanpa sadar bahwa ucapan itu membuat sang mama marah. Menjadi ibu Ana? Berarti menjadi istri Baskoro? O, tidak. Baskoro adalah suaminya, miliknya walau ia belum berhasil merenggut cintanya. Di hatinya sendiri, yang namanya cinta itu serasa baru saja bersemi. Butuh pupuk dan penyiraman yang membuatnya tumbuh subur.

“Apa maksudmu? Bukankah aku ini ibumu?” sentaknya, yang membuat Ana mundur setapak.

“Mama adalah Mama, tapi bibi Menur adalah ibu. Itu beda kan?”

Menur yang memang sudah waktunya pulang segera pamit.

“Lili, aku pamit dulu, anakku sudah menunggu.”

Lili hanya mengangguk, lalu dilihatnya Ana merangkul erat ketika Menur berpamit padanya.

“Sampai ketemu besok Bibi, jangan terlambat ya,” pesan Ana sambil berteriak, ketika Menur sudah berada di halaman. Menur hanya melambaikan tangannya.

Ada perasaan kesal di hati Lili, karena dia dan Ana tidak se akrab itu. Tapi yang membuat Lili kesal adalah keinginan Ana agar Menur menjadi ibunya.

“Mama, boleh kan Mama?” tanpa diduga Ana mengulangi pertanyaannya.

“Tidak boleh.” sentak Lili.

Ana mengerucutkan bibirnya, lalu pergi menjauhi mamanya, tapi sambil menjauh itu Ana berkata:

“Aku mau bilang pada nenek saja,” walau setengah bergumam, tapi Lili mendengarnya. Itu kan senjata Lili, kalau menginginkan sesuatu dan tidak kesampaian, maka neneknya yang menjadi sandaran.

Lili mendiamkannya. Bayangan Baroto melintas. Laki-laki gagah yang menawan itu, mengapa baru sekarang dia menyadarinya?  Lalu perlahan perasaan suka merayapi hatinya.

Ketika Lili membayangkan sang suami berbisik-bisik di telinga Menur, apa itu benar? Jangan-jangan hanya kicauan Rumi saja karena dia iri pada Menur yang lebih disukai Ana daripada dirinya.

Lalu perlahan tangannya meraih ponsel yang ada di depannya. Ia ingin menelpon Baroto, hal yang belum pernah dilakukannya setelah bertahun-tahun menjadi suami istri.

Lili tersenyum ketika Baroto mengangkatnya.

“Ya, Lili?”

“Mas, kamu kapan pulang?”

“Memangnya kenapa? Baru kemarin aku pergi, dan tumben kamu menanyakannya. Ada hal penting?”

“Ada lah, pastinya ada,” kata Lili sambil sebelah tangannya memainkan ujung bajunya.

“Apa tuh?”

“Aku kangen kamu,” katanya enteng.

“Apa? Kamu mimpi ya?”

“Beneran.”

“Kamu sadar apa yang kamu katakan?”

“Tentu saja aku sadar. Apa tidak boleh seorang istri merasa kangen pada suaminya yang pergi jauh?”

“Lili, aku sedang ada di kantor, dan berbincang hal penting dengan teman bisnis. Sudah dulu ya.”

“Ponsel on terus ya, nanti aku menelpon lagi.”

Ponsel diletakkan dan Lili merasa kecewa karena tanggapan Baroto tidak seperti yang diharapkan.

“Apakah aku kurang cantik?”

Lili berdiri, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia berdiri di depan cermin, mengamati wajahnya yang cantik dan tak ada cacat celanya.

“Apa yang kurang pada diriku?”

***

Menur sudah sampai di rumah, dan melayani makan malam untuk anaknya. Ia membeli lauk di jalan, dan tak lupa ia membeli telur. Ia tak sempat masak karena seharian ada bersama Ana, jadi ia sering membeli nasi dan lauk matang. Hanya kalau pagi dia sempat memasak untuk sarapan anaknya.

Sore itu, begitu dia datang dan mengganti bajunya, Rahman sudah menunggu ibunya di ruang tengah.

“Bu, ada sesuatu yang diberikan pak kepala sekolah kepada Rahman.”

“Apa itu?”

Rahman menunjuk ke arah sebuah bungkusan di atas meja. Masih ada di dalam plastik sehingga Menur harus membuka ketika ingin melihat isinya.

Menur terkejut.

“Ini apa?”

“Sebuah ponsel.”

Menur membukanya semakin lebar. Memang sebuah ponsel.

“Mengapa bapak kepala sekolah memberi kamu ponsel?”

“Yang memberi bukan bapak kepala sekolah, tapi om Baroto.”

“Apa?”

“Aku tidak butuh ponsel,” kata Menur sambil menjauhkan kotak ponsel itu dari hadapannya.

“Itu bukan untuk Ibu. Kata bapak kepala sekolah, untuk Rahman, karena kadang-kadang om Baroto ingin ngobrol sama Rahman.”

Menur menghela napas panjang. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi Menur merasa bahwa Baroto telah mempersulit hidupnya.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, October 10, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 28

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  28

(Tien Kumalasari)

 

Saptari heran. Kapankah Bimo pernah menolong pak Karimun?

“Masih buka Bu?”

“Iya, ini sudah siap-siap mau tutup. Kamu pernah menolong pak Karimun ini waktu dia kecelakaan?”

“Pak Karimun siapa Bu?”

“Ini, yang sedang makan ini, namanya pak Karimun, ini istrinya, bu Karimun, tadi membantu ibu bersih-bersih dan mencuci piring-piring kotor. Kamu pernah bertemu?”

“Lupa sama orang yang pernah sampeyan tolong, Nak?” sambung pak Karimun.

Bimo tampak kebingungan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maaf Pak, saya belum pernah ketemu Bapak.”

“Bapak itu jangan ngawur. Dia itu putranya ibu pemilik warung ini. Kok tiba-tiba Bapak merasa pernah ditolong?” tegur sang istri.

“Iya, maaf ya Nak. Perasaan kok pernah ditolong, malah mengantar saya ke rumah sakit, trus sopirnya beli barang-barang yang diantar ke rumah itu lho Bu.”

“Waktu itu Bapak terluka, pasti kepalanya nggak beres. Maafkan ya Nak, orang tua terkadang suka bingung.”

Pak Karimun terdiam. Mungkin dia bingung, karena waktu itu dia memang sedang terluka kepalanya.

“Ya sudah, habisin dulu makanannya ya Pak, Bu,” kata bu Saptari ramah, sambil masih terus mengingat-ingat, kapan pernah bertemu bu Karimun.

“Silakan dilanjut makannya Pak, Bu, saya akan membantu ibu saya membereskan barang-barangnya.”

“Bim, bu Karimun ini bekerjanya bagus, kalau mau, akan ibu suruh membantu setiap hari di sini.”

“Bagus Bu, jadi Ibu tidak terlalu repot karena ada yang membantu.”

“Tapi bu Karimun mau tidak? Tadi katanya mau menunggu suaminya dulu.”

“Bagaimana Pak?” tanya bu Karimun kepada suaminya.

“Tapi kalau di rumah saya, tidak ada kamar lho Bu, adanya di dapur.”

“Masalahnya adalah tempat, soalnya bu Karimun tidak sendiri," lanjut bu Karimun.

“Begini saja, nanti akan saya carikan rumah sewa, maksud saya kamar sewa yang murah, kalau memang mau,” sambung Bimo.

Pak Karimun saling pandang dengan istrinya. Mencari uang tidak mudah. Pekerjaan juga sulit di mana-mana. Tawaran bu Saptari sedang mereka pikirkan sambil makan.

“Kalau Ibu dan pak Karimun mau, nanti saya tanyakan ke teman saya. Dia menyewakan kamar-kamar untuk pedagang, tapi ya kamar sederhana.”

“Lha nanti bayarnya bagaimana Nak? Saat ini uang kami hanya sedikit.”

“Nanti saya bantu. Yang penting Bapak sama Ibu bersedia. Setelah membantu ibu beres-beres dagangan, saya akan menghubungi teman saya itu.”

Sekali lagi pak Karimun saling pandang dengan istrinya, yang kemudian mereka menyanggupinya.

“Baiklah Nak, kami mau. Nanti saya juga akan bekerja apa saja, seperti tadi, membantu bersih-bersih kebun orang, lalu dapat uang.”

***

Malam itu Saptari merasa lega karena akhirnya pak Karimun mendapatkan sewa kamar atas bantuan Bimo. Walau sederhana, tapi itu jauh lebih baik daripada gubug yang mereka tinggali selama ini.

“Kamar ini walau sempit tapi jauh lebih baik dari gubug tempat tinggal kita.”

“Iya Pak, berkali-kali kita mendapat pertolongan dari Yang Maha Kuasa, saat kesulitan selalu saja ada yang membantu.”

“Sekarang kita tidak akan kelaparan lagi, karena aku bekerja di warung bu Saptari, yang pastinya juga mendapat jatah makan, nanti bisa berbagi sama Bapak," kata bu Karimun lagi.

“Yang penting bisa makan Bu. Aku juga akan bekerja. Semoga Allah selalu membantu kita.”

“Aamiin.”

“Tapi yang aku heran, putra bu Saptari itu kok seperti yang pernah membantu waktu aku kecelakaan ya Bu?”

“Bapak ada-ada saja. Yang menolong Bapak dan membantu memberikan sembako itu kan kaya raya, punya mobil, sedangkan nak Bimo dan ibunya itu kan keluarga sederhana. Mobil juga tidak punya.”

“Iya juga sih. Dulu aku pernah tahu namanya, siapa ya, kok lupa.”

“Bukan Bimo kan?”

“Sepertinya bukan? Lupa aku ..”

“Ya sudah, sekarang istirahat saja, besok pagi-pagi aku harus ke rumah bu Saptari untuk membantu.”

“Iya, biarpun beralaskan tikar, kita harus bersyukur.”

“Sangat bersyukur Pak, sebelumnya kita juga tidur di atas tikar, malah lantainya tanah. Ini lantainya licin begini.”

“Namanya keramik Bu. Lebih bagus, tidak berdebu kalau disapu.”

***

“Ini sudah malam, mengapa kamu datang kemari?” tanya dokter Harun setelah selesai praktek, dan melihat Bowo datang ke rumahnya.

“Saya mau minta tolong Om Harun.”

“Minta tolong tentang apa?”

“Beri tahu ibu Om, saya benar-benar mencintai Sarah.”

“Oh, ya ampuun. Masih tentang gadis itu?”

“Dia gadis yang baik, saya benar-benar mencintai dia.”

“Memiliki istri dan berkeluarga itu kan harus punya bekal yang banyak.”

“Bekal apa? Bukankah saya sudah punya rumah, punya mobil, dan punya penghasilan yang sangat bagus?”

“Bukan hanya itu.”

“Apa lagi?”

“Cinta, dan kebersamaan.”

“Saya sudah bilang, bahwa saya mencintai Sarah.”

“Bagaimana dengan Sarah?”

“Masalahnya ada pada ibu. Sarah, apalagi neneknya, sangat tidak suka karena ibu selalu menghina dan merendahkannya.”

“Lalu apa yang bisa Om bantu?”

“Tolong beri tahu ibu, jangan menghina nenek Suli. Ia orang baik, walau miskin. Dan saya menginginkan Sarah.”

“Kamu seperti tidak tahu ibumu saja. Mana bisa aku memberitahu ibumu? Setiap masalah dia tidak pernah mau mengalah. Apalagi masalah nenek Suli yang sudah dianggap orang rendah dan tidak sederajat dengan keluarga kamu.”

“Makanya Om bilang pada ibu. Tolong Om, saya bisa mati kalau tidak bisa memiliki Sarah.”

Dokter Harun tertawa keras.

“Ini seperti di cerita sinetron saja.”

“Saya serius Om, bantulah saya.”

“Baiklah, tapi aku tidak janji ya. Belum tentu aku bisa meluluhkan hati ibumu. Aku kan adiknya dan sudah tahu seperti apa dia.”

“Terima kasih Om. Omong-omong kapan nenek Suli boleh pulang?”

“Besok sepertinya sudah bisa pulang. Agak siang, setelah aku memeriksa kondisi kesehatannya.”

“Om kabari saya, agar saya siap menjemput dan mengantarkannya pulang.”

“Mana mungkin? Nanti nenek Suli pasti nggak mau diantar kamu.”

“Om bilang saja kalau saya sopir, seperti ketika dulu mengantarkannya ke rumah sakit. Saya harus secepatnya bisa merebut hati Sarah, karena tampaknya ada yang berusaha mendekatinya juga.”

“Baiklah, semoga kamu berhasil.”

***

“Syukurlah kamu bisa membantu bu Karimun dan suaminya sehingga mendapat sewa kamar untuk mereka.”

“Kamarnya sangat sederhana, hanya kamar kosong tanpa tempat tidur dan tanpa perabot lainnya. Kasihan sebenarnya.”

“Besok kamu kirimi bantal dan selimut. Masa mereka hanya tidur beralaskan tikar.”

“Ibu jangan khawatir, Bimo sudah memikirkannya. Ini tadi kan dadakan, jadi tidak siap apapun. Entah mengapa, Bimo merasa kasihan pada mereka.”

“Iya Nak, mereka memang pantas dikasihani. Terlunta-lunta mencari kerabatnya hanya karena agar bisa bernaung di rumahnya, ternyata kerabatnya sudah meninggal. Sekarang kamu bisa membantunya, itu sangat baik. Ibu juga kasihan melihat mereka.”

“Besok almari plastik di kamar Bimo akan Bimo berikan, biar ada tempat untuk menyimpan baju. Memang sewa kamarnya sangat murah, tapi ya hanya kamar dan selembar tikar, tidak ada perabot lainnya.”

“Iya Nak, ibu senang kamu suka membantu orang yang kesusahan. Hanya saja sampai sekarang aku masih berpikir, sepertimya aku pernah melihat bu Karimun itu sebelumnya. Lupa-lupa ingat, di mana ya ibu pernah bertemu dia?”

“Ibu masih memikirkannya? Bukankah kita banyak bergaul dengan orang-orang? Mungkin bu Karimun salah satunya.”

“Iya juga sih. Mungkin juga tetangga kampung dulu, sebelum kampung ibu disapu banjir.”

“Sekarang tidurlah, sudah malam Bu.”

***

“Dokter Harun bilang, besok Nenek sudah boleh pulang, tapi menunggu hasil pemeriksaan terakhir besok. Semoga benar.”

“Nenek kok belum tidur?” kata Sarah yang menunggu di dekatnya dan mengira neneknya sudah tidur.

Ternyata sang nenek masih memikirkan keinginannya untuk segera bisa pulang.

“Nenek itu sudah nggak betah tidur di sini.”

“Kalau Nenek sudah benar-benar sehat, pasti bisa pulang.”

“Nenek sudah merasa sehat, sungguh.”

“Kalau begitu Nenek tidur saja dulu, semoga hasil pemeriksaan besok baik, dan Nenek bisa benar-benar pulang.”

“Besok Nenek pulang sendiri saja tidak apa-apa, kamu sekolah seperti biasa.”

“Ya tidak, kalau kemungkinannya Nenek bisa pulang besok, Sarah tidak akan masuk sekolah dulu. Nenek tidak usah memikirkan Sarah.”

***

Pagi hari itu dokter Harun sudah menemui nenek Suli, dan menyatakan bahwa nenek Suli sudah boleh pulang.

Sarah sudah selesai membenahi barang-barang, ketika dokter Harun kembali masuk ke kamarnya.

“Nanti mbak Sarah dan Nenek naik apa?”

“Nanti Sarah pesan taksi saja, minta tolong pak Satpam agar memesankan. Saya pernah kok dibantu pesan ojol waktu mau berangkat ke sekolah.”

“Iya dokter, gampang masalah kepulangan saya. Sarah sudah tahu apa yang harus dilakukannya.”

“Begini, nanti naik mobil saya saja, biar sopir saya mengantarkan Nenek pulang.”

“Sopir dokter?”

Sarah menatap dokter Harun, dan ingat ketika berangkat ke rumah sakit, dokter Harun mengatakan kalau yang membawa mobilnya adalah sopirnya. Apakah kejadian itu akan terulang? Sopir itu adalah Bowo?

***

Besok lagi ya.

 

Friday, October 9, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 27

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  27

(Tien Kumalasari)

 

Sejenak saling pandang antara satu dan lainnya, kemudian terdengar Sarah menyambut dengan riang.

“Kok bisa kencan sih? Ayo masuklah, mas Fajar, Mentari.”

Keramaian yang tiba-tiba pecah itu membuat nenek Suli bertanya-tanya. Ia menatap tamu-tamu yang baru datang. Aroma wangi memenuhi ruang rawat inap itu. Nenek Suli berkata dalam hati, orang kaya selalu berbau wangi.

Fajar dan Mentari segera mendekati nenek Suli yang masih berbaring, tapi tampak sekali wajahnya sudah lebih segar.

“Apa kabar Nenek hari ini?”

“Kabar baik. Ini siapa, cantik sekali?”

“Saya Mentari, teman sekolahnya Sarah. Saya juga adiknya mas Fajar ini,” kata Mentari sambil memegangi tangan nenek Suli.

“Ya ampuun, terima kasih banyak. Dari mana Sarah bisa punya teman orang-orang kaya ini?”

“Mengapa Nenek berkata begitu? Kita sama-sama orang biasa, mahluk Allah yang tidak ada bedanya,” kata Fajar.

“Kata siapa tidak ada bedanya? Kalian banyak uang, sedangkan orang-orang miskin harus membanting tulang dan memeras keringat demi mendapatkan selembar uang rupiah.”

“Tidak Nek, yang tampak itu hanya sandangan. Manusia itu adalah sama di mata Allah. Kalau Allah membedakannya, bukan karena harta kekayaannya, tapi karena pekerti dan tingkah lakunya di dunia ini. Benar begitu kan?”

Nenek Suli tersenyum.

“Baru kali ini ada anak kecil mengajari nenek tua seperti aku,” katanya pelan, mirip sebuah gumam.

“Apakah Nenek marah karena saya berbicara begitu?” tanya Fajar sambil menepuk-nepuk tangan nenek Suli.

“Tidak. Sesungguhnya itu memang benar. Hanya saja tidak banyak orang yang berpendapat demikian. Ada orang yang menganggap bahwa  kemiskinan adalah sesuatu yang hina, tidak ada harganya. Itu benar kan?”

"Benar Nek. Tapi hal itu tidak harus nembuat Nenek merasa rendah, Nenek adalah wanita terbaik, yang membanting tulang dan memeras keringat demi cucu Nenek tercinta. Dan itu adalah sesuatu yang mulia.”

Nenek Suli tersenyun.

“Ya sudah, anak-anak muda berbincang saja di sana, Nenek mengantuk. Entah mengapa ini, bawaannya mengantuk saja. Nanti Nenek akan bilang dokternya agar Nenek bisa segera pulang.”

“Ya sudah, Nenek tidurlah, tapi jangan dulu tergesa pulang, kalau dokter belum mengijinkan.”

Nenek menghela napas panjang. Ia benar-benar sudah merasa baik, dan bosan tidur di tempat yang tidak membuatnya nyaman.

***

Sementara itu ketika Fajar membalikkan tubuh, ia melihat Bimo berbincang akrab dengan Mentari.

“Kalian sudah kenal?”

“Mas Fajar gimana, kan Mentari pernah bertemu Bimo ketika dia menemani aku jualan koran. Malah Mentari mengatakan bahwa mas Fajar dan Bimo seperti kembar. Lupa ya?” kata Sarah.

“Lagi pula aku sudah pernah bertemu mas Bimo di kantor bapak kok. Sungguh aku tidak tahu bahwa mas Bimo bekerja di sana.”

“Aku juga kaget, ternyata mbak Mentari putri pak Pranoto," kata Bimo.

Bimo tampak berbahagia, karena Mentari walaupun anak orang kaya tapi tidak sombong. Ia baik seperti Fajar, kakaknya. Mereka berbincang akrab, dan nenek Suli merasa terhibur karenanya.

***

Pak Karimun meminta istrinya menunggu, sementara ia akan mencari pekerjaan, untuk menambah bekal agar bisa pulang kembali ke kampungnya.

Bu Karimun yang menunggu di sebuah pojokan toko, tiba-tiba melihat sebuah warung makan. Ia datang mendekat, bukan untuk meminta makanan.

“Bu, bolehkah saya membantu di sini? Cuci piring atau apa saja saya bisa,”

“O, benarkah? Baiklah, karena hari ini warung agak ramai. Banyak piring kotor yang belum sempat aku cuci. Ituu, di situ.”

“Terima kasih Bu.”

“Yang bersih ya, jangan sampai ada bau amis tersisa.”

“Baik Bu.”

Tiba-tiba Bu Karimun ingat, pemilik warung itu, bukankah wanita baik hati yang meninggalkan keranjang berisi makanan untuknya?

Pemilik warung itu memang Saptari.  Ia sedang sibuk melayani pembeli sehingga tidak memperhatikan siapa yang meminta pekerjaan cuci-cuci piring.

Bu Karimun yang terus menatap Saptari, membuat kemudian Saptari heran. Ia menghentikan pekerjaannya melayani pembeli, mengira wanita yang dianggapnya wanita asing itu tidak mengerti tempat piring-piring kotor yang menumpuk.

“Bu, di situ, wadah sabunnya ada di dekatnya, kok Ibu bengong? Mau makan dulu?”

“Eh, tidak … tidak, bukan begitu, saya melihat Ibu, sepertinya … yang memberikan kepada saya keranjang berisi makanan itu kan?”

Sekarang Saptari menatap bu Karimun. Tentu saja ia ingat. Hanya saja waktu kemarin itu bu Karimun tampak lusuh karena letih dan lapar, sedangkan sekarang pakaiannya walau butut tapi tampak bersih dan rapi. Mereka menumpang mandi si sebuah kamar mandi umum dan mengganti pakaian mereka dengan bekal pakaian yang dibawanya.

“Eh, ya ampuuun. Sampeyan ya Bu, maaf saya tidak memperhatikan. Benar, yang kemarin ketemu. Jadi Ibu masih di sini?”

“Mau pulang, tapi kehabisan bekal uang, karenanya saya mencari pekerjaan.”

“Ya, baiklah, tolong bantu saya, nanti saya beri uang, lagi pula saya senang ada teman berbincang. Dibantu tiap hari saya juga suka.”

“Benarkah?”

“Sekarang tolong bantu cuci-cuci piring dan yang lainnya itu Bu, belum sempat karena hari ini agak rame. Mungkin karena hari libur. Nanti setelah selesai, makan dulu ya Bu.”

“Saya selesaikan dulu pekerjaan saya.”

Dan Saptari senang karena bu Karimun ternyata bisa bekerja sangat baik. Ia cekatan mengerjakan semuanya, sehingga Saptari bisa fokus melayani pembeli.

***

Ketika Saptari menawarinya makan, bu Karimun menolaknya.

“Saya tidak usah saja, nanti buat suami saya.”

“Lhoh, iya. Saya baru mau bertanya. Katanya kemarin sedang menunggu suami, sekarang di mana? Masih belum ketemu mencari kerabatnya?”

“Tidak ketemu Bu, dia sudah meninggal lama. Sedianya kami mau numpang di rumahnya, karena dulu kerabat saya itu tinggal sendirian. Tapi ternyata dia sudah meninggal, dan rumahnya sudah menjadi milik orang.”

“O, kasihan benar. Lalu mau kembali pulang?”

“Nanti dulu, saya itu kok ketemu orang sampai belum tahu namanya," lanjutnya.

“Saya bu Karimun.”

“Bu Karimun ya. Sekarang Ibu makan dulu saja, mumpung warungnya sepi. Nanti kalau suami Ibu kembali, saya kasih makan juga, tidak apa-apa. Ayo dimakan dulu Bu. Sebentar lagi warung saya juga sudah tutup.”

“Sudah mau tutup Bu?”

“Saya jualan hanya sebentar, melayani makan siang para pelanggan. Saya sudah semakin tua, sendirian pula, soalnya anak saya sudah bekerja.”

Bu Karimun akhirnya menerima tawaran makan itu, karena sesungguhnya dia juga lapar.

“Kalau saja Ibu tinggal di dekat sini, saya senang dibantu lhoh.”

“Benarkah? Saya mau.”

“Tapi saya tidak punya rumah yang bisa menerima Ibu. Rumah saya kecil, kamar saya hanya dua, untuk saya dan anak saya. Masa iya Ibu mau tidur di lantai dapur?”

Bu Karimun diam. Kalau memang iya, mengapa tidak? Tidur di lantai bukan masalah, tapi dia kan bersama suaminya?

“Sebenarnya tidur di lantai juga tidak apa-apa, tapi takut merepotkan, karena saya kan bersama suami. Tapi nanti saya akan bicara dulu pada suami, kalau di sini ada pekerjaan, mengapa harus pulang di mana pekerjaannya sama saja tidak menentu."

“Sekarang pak Karimun ke mana?”

“Dia juga mencari pekerjaan Bu. Sebenarnya tadi saya hanya disuruh menunggu, tapi melihat warung ini, saya coba-coba menawarkan bantuan.”

“O, baiklah. Ibu makan dulu saja. Ini nanti untuk suami Ibu. Saya akan beres-beres."

Tiba-tiba pak Karimun muncul lalu bergegas mendekat.

“Bu, kamu di sini ? Aku mencari-cari, ternyata makan di warung. Memangnya kamu punya uang Bu?”

“Kemarilah dulu Pak, duduk dan makanlah.”

“Tidak usah Bu, kamu saja. Kita kan harus menghemat. Tadi dapat uang, hanya sedikit, tapi cukup untuk pulang.”

“Pak, duduklah, makan di sini gratis, tidak usah bayar,” kata Saptari ramah.

“Gratis?” pak Karimun heran.

“Gratis, karena bu Karimun ini sudah membantu saya bersih-bersih piring kotor. Makanlah dulu, sambil bicara, saya beres-beres sebentar."

Pak Karimun terpaksa menerima tawaran makan karena sudah disiapkan di dekat istrinya.

“Terima kasih banyak ya Bu.”

“Ibu ini ternyata yang kemarin memberi kita sekeranjang makanan, dan masih ada sisanya tuh, di situ,”

“Oh ya?”

Tapi tiba-tiba seseorang datang, dan pak Karimun terkejut.

“Lhoh, ini kan mas yang menolong saya waktu kecelakaan itu dulu?”

Yang datang adalah Bimo. Ia baru pulang setelah membezoek nenek Suli, dan pak Karimun salah sangka

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 30

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  30 (Tien Kumalasari)   Fajar dan Bowo berdiri berhadapan, mata mereka saling menatap tajam, bukan tatapan ramah ...