Thursday, May 28, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 09

 NAMAKU TETAP SENJA  09

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun melongo, ada wong bagus datang pesan beras satu kwintal, apa dia bermimpi? Mbok Mangun hanya pedagang beras kecil-kecilan. Melayani sekilo dua kilo, paling banyak satu karung berisi duapuluh lima kilo, itupun jarang. Sekarang satu kwintal?

Arka tersenyum, menyentuh lengan simbok yang kemudian membuat simbok tersadar.

“Saya benar-benar pesan, kok Simbok bengong?”

“Tu … Tuan, kalau satu kwintal … simbok tidak sedia … harus pesan dulu, paling besok, ta … tapi … simbok tidak punya uang untuk ….”

“Berapa harganya?”

“Kalau yang bagus, wangi pulen itu lebih mahal Tuan … hanya saja … simbok ini kan pedagang kecil-kecilan, dan kemarin baru mengambil satu kwintal, baru akan simbok jajakan … jadi ….”

“Baiklah, saya bayar dulu ini … ,” Arka mengeluarkan uang lembaran seratusan ribu sebanyak dua juta rupiah,  diberikannya kepada mbok Mangun.

“Ini … “

“Kurangkah? Saya  tidak tahu harga beras, saya tambah lagi satu juta ya?”

“Tapi … barangkali kebanyakan … harganya kalau yang bagus itu sekitar ….”

“Bawa saja, daripada kurang.”

“Besok saya kirim ke mana Tuan?”

“Besok saya ambil saja, kasihan kalau Simbok mengirim.”

“Kan bisa naik becak, atau angkutan umum?”

“Jangan, saya ambil saja, lusa, besok kan baru dikirim.”

“Ya besok sore Tuan.”

“Baiklah, tapi jangan panggil saya tuan, nama saya Arka.”

“Masa memanggil namanya begitu saja? Nggak mau, nanti kualat memanggil nama begitu saja.”

Arka tertawa. 

"Kualat itu apa Mbok?”

“Kualat itu seperti jambu mete Tuan, kepalanya dibawah,” canda simbok yang mulai berani berbincang santai.

Arka terkekeh agak lama.

“Tidak ada kualat Mbok, kan saya bukan jambu mete? Panggil saya Arka, atau … mas Arka, kalau tidak mau memanggil nama saja.”

“Mboook, simbok bicara sama … eh … Tuan?” 

Tiba-tiba Senja muncul sambil membawa sapu lidi. Halaman depan belum disapu oleh Rimba.

“Senja, lagi ngapain? Jangan sampai aku dipukul pakai sapu lhoh, aku orang baik-baik,” canda Arka.

“Kamu kenal sama Tuan … eh … mas Arka ini?”

“Kok Simbok tahu namanya?”

“Barusan dikatakan, simbok panggil tuan dia tidak mau. Kamu kenal dia?”

“Ya ini Mbok, yang menolong Senja, yang memberi es buah dan jus buah kemarin itu.”

“O, ini yang dulu kamu sebut malaikat yang baik hati?”

“Senja ada-ada saja,” Arka kembali tertawa.

“Mengapa Tuan datang kemari?”

“Nggak mau! Tuan lagi..” cemberut Arka.

“Mas Arka, mengapa datang kemari?”

“Ini lho nduk, mas Arka ini mau pesan beras, simbok sudah diberi uangnya. Nanti bisa untuk nicil pak RT.”

“Simbok nicil apa?”

Simbok menutup mulutnya, ia kelepasan bicara.

“Maksud simbok, buat bayar sampah kampung.”

“Memangnya banyak? Kok dicicil?”

“Kemarin … simbok belum bayar.”

“Senja khawatir, jangan sampai Simbok ngutang pada pak RT, dia itu rentenir, dan kejam. Tega makan duit orang miskin.”

“Ada-ada saja, ayo … kalau sudah kenal, ajak tuan … eh … mas Arka masuk ke dalam, biar simbok buatkan kopi. Mas Arka suka minum kopi?”

“Suka Mbok, kalau Simbok tidak repot.”

“Ya tidak, tapi simbok tidak punya kursi yang pantas, adanya bangku panjang di depan itu.”

“Tidak apa-apa, udara sejuk kalau duduk di situ,” kata Arka yang segera mengikuti simbok, lalu duduk di bangku panjang.

“Biar Senja saja yang buat minuman Mbok, Simbok menemani mas Arka.”

“Jangan, kamu saja yang menemani, simbok buat minuman,” kata simbok yang langsung beranjak ke belakang.

“Oh iya, aku tadi beli nasi liwet untuk kita makan, ayo kita ambil, itu masih tergantung di sepeda,” kata Arka sambil menarik tangan Senja, tapi kemudian Senja melepaskannya.

“Jangan pegang-pegang, aku bisa jalan sendiri,” sungut Senja.

“Maaf,” kata Arka.

“Kebiasaan ya, suka gandeng-gandeng perempuan?” goda Senja.

“Eh, tidak … tidak kok.”

Senja tertawa. Tapi ia sangat sungkan, Arka mengambil bungkusan besar di stang sepedanya, ia disuruh ikut membawanya.

”Mengapa mas Arka selalu beli macam-macam untuk kami?”

“Tadi kan masih pagi  buta, ada penjual nasi liwet laris sekali, jadi pengin beli, lalu aku beli sekalian untuk kamu.”

“Dari mana mas Arka tahu rumah Senja?”

“Aku ini sakti, apa susahnya menemukan rumah kamu?”

“Hm … bohong.”

Pagi hari itu Arka tenggelam dalam keramahan keluarga mbok Mangun. Mereka makan dan minum di depan rumah sederhana milik mbok Mangun, bicara lepas, tanpa tekanan, dan itu membuat Arka sangat senang.

***

“Sudah pulang? Sepedaan sampai di mana?” tanya pak Daryono ketika melihat Rosa pulang. Ia juga heran wajah Rosa gelap seperti mendung.

“Tidak ke mana-mana. Ke rumah om Wiguna lalu pulang.”

“Nggak jadi sepedaan sama Arka? Arka nggak mau?”

“Rosa sampai di sana, Arka sudah berangkat duluan. Sengaja barangkali, padahal dia tahu kalau Rosa mau ke sana.”

“Barangkali kamu kesiangan. Sepedaan itu lebih bagus pagi-pagi.”

“Rosa sampai di sana baru setengah enam. Masa kesiangan?”

“Mungkin menurut Arka kamu kesiangan.”

“Dasar Arka yang tidak mau jalan sama Rosa.”

“Kamu harus sabar, Rosa. Menghadapi laki-laki seperti Arka memang memerlukan ketelatenan yang bukan main. Dia itu dingin, dan tidak mudah jatuh cinta. Ibunya pernah cerita sama ibumu. Dan sebagai perempuan kamu tidak pantas kelihatan terlalu mengejarnya. Hadapi santai saja, seperti orang berteman. Jangan kelihatan kalau kamu sangat suka sama dia. Barangkali dengan demikian dia akan tertarik sama kamu.”

“Orang tuanya dan Papa kan sudah sepakat menjodohkan?”

“Papa setuju karena kamu suka. Papa berharap kamu bisa bahagia, tapi papa juga sadar kalau cinta itu tidak bisa dipaksa.”

“Harusnya Arka sadar kalau perusahaan ayahnya bisa hidup karena kebaikan Papa.”

“Rosa, sebuah kebaikan tidak pernah berharap imbalan, karena sebuah kebaikan bukan dagangan.”

“Tapi namanya orang berhutang budi, harusnya dia sadar dong Pa.”

“Cinta itu masalah rasa, bukan karena hutang budi maka harus jatuh cinta.”

Rosa terdiam, ia langsung pergi ke belakang. Rosa gadis manja, semua keinginannya harus terlaksana. Ia lupa bahwa cinta tidak bisa diperjual belikan walau dengan imbalan budi baik.

***

Hari sudah menjelang sore ketika Arka sampai di rumah. Di ruang tengah sang ayah yang baru saja bangun tidur, duduk ditemani sang ibu. Begitu mendengar suara bibik menyapa Arka, pak Wiguna segera berteriak memanggil.

“Arka! Kamu baru pulang?”

“Ya, Pak.”

“Dari pagi buta, ini sudah sore, kemana saja?”

“Muter-muter saja, main ke rumah teman.”

“Kamu sengaja ya, menghindari Rosa? Pagi tadi Rosa datang. Ia ingin bersepeda bersama kamu. Bapak juga sudah mengingatkan kalau Rosa mau nyamperin kamu kan?”

“Ia datang terlalu siang. Setelah subuh Arka sudah berangkat. Kalau siang udara tidak lagi sejuk, tapi panas.”

“Kamu jangan banyak alasan. Kamu sengaja menghindar bukan?”

Arka diam, kemudian ia beranjak ke kamarnya.

“Mau ke mana kamu?”

“Mandi Pak. Gerah sekali.”

“Arka!”

“Sudah Pak, biar dia istirahat dulu," kata bu Wiguna.

“Ibu ini bagaimana? Apa ibu tidak sadar, kita berhubungan dengan siapa? Pak Daryono itu bukan orang sembarangan. Budi baik dia tidak terbayarkan oleh apapun. Mengapa Arka tidak bisa mengerti?”

“Masalah budi baik jangan dikaitkan dengan perasaan.”

“Mengapa Ibu berkata begitu?” suara pak Wiguna semakin meninggi.

“Apa aku salah?”

“Salah besar! Kalau kita sudah berhutang budi dengan seseorang, maka kita harus bersedia melakukan apa saja. Pak Daryono hanya ingin mengambil Arka sebagai menantu, apa itu berat?”

“Pernikahan itu sesuatu yang harus digenggam keutuhannya, selamanya. Kalau tidak ada cinta diantara keduanya, maka ….”

“Sudah, jangan bicara apapun. Arka harus dipaksa. Mengapa ibu tidak berpihak kepadaku?”

***

Besok lagi ya.

Wednesday, May 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 08

 NAMAKU TETAP SENJA  08

(Tien Kumalasari)

 

Bibik masih menatap Arka dengan bingung. Membuat Arka tertawa.

“Hei, kamu kenapa melotot begitu Bik? Kamu melihat hantu? Ini aku, Arka. Gimana sih?”

“Tuan muda, tapi bibik heran, Tuan bicara tentang beras?”

“Kurang jelas?”

“Bibik bingung … Tuan.”

Arka tertawa. 

 "Begini ceritanya. Temanku jualan beras, aku ingin membantunya, jadi aku minta kalau Bibik butuh beras bilang sama aku saja. Biasanya sekali beli berapa kilo?”

Melihat sang tuan muda bicara serius, bibik baru percaya kalau sang tuan muda memang bicara tentang beras.

“O, jadi Tuan muda ingin membantu teman tuan muda yang jualan beras?”

“Iya. Kapan Bibik berasnya habis? Bilang sama aku saja. Nanti aku yang pesan.”

“Ini juga sebenarnya bibik mau bilang sama Nyonya bahwa berasnya sudah menipis. Tapi Nyonya selalu berpesan, berasnya harus yang enak, yang wangi. Pokoknya yang kwalitasnya bagus.”

“Jangan khawatir, temanku jual bermacam beras, bisa pesan yang seperti apa keinginan kita.”

“Baiklah, besok saja Tuan muda pesan, jadi bibik tidak usah memesan ya.”

“Berapa banyak?”

“Karena di sini pembantunya banyak, biasanya kalau beli satu kwintal sekalian.”

“Satu kwintal? Satu kwintal itu seratus kilo. Habis berapa bulan itu nanti Bik?”

“Di sini pembantunya banyak Tuan, sehari tidak cukup tiga kilo, biasanya sebulan juga sudah habis.”

“Baiklah, aku segera pesan besok ya.”

“Terima kasih, Tuan muda.”

Arka kembali ke kamarnya sambil tersenyum. Ia akan membantu simboknya Senja agar berasnya laku lebih banyak. Pasti ia akan senang.

Bibik pembantu tersenyum-senyum sendiri. Ia heran sang tuan muda yang biasanya tak pernah peduli urusan dapur tiba-tiba bertanya tentang beras dan berjanji mau memesankan kepada temannya.

“Rupanya Tuan muda juga punya sisi baik di hatinya, dengan kepeduliannya kepada teman. Aku kira dia hanya mengurusi pekerjaan dan pekerjaan, tanpa henti seperti ayahnya,” kata batin bibik.

“Ada apa Bik? Kok senyum-senyum sendiri?” tiba-tiba nyonya majikan muncul di dapur.

“Oh, itu Nyonya, tuan muda tumben-tumbenan bertanya tentang beras.”

“Bertanya tentang beras? Maksudnya apa?”

“Tadi bertanya, kalau beli beras di mana, kebutuhan setiap pesan berapa, katanya mulai besok, tuan muda yang akan memesankan beras.”

“Kok bisa? Aneh.”

“Tadinya saya juga merasa aneh Nyonya, tapi ternyata tuan muda hanya ingin membantu temannya.”

“Membantu temannya bagaimana?”

“Temannya itu jualan beras, jadi tuan muda ingin agar kalau kita butuh beras pesan saja sama teman tuan muda itu.”

“O, begitu?”

“Jadi mulai besok, tuan muda yang akan memesankan beras, kebetulan berasnya sudah menipis, saatnya bibik beli beras.”

“Anak itu terkadang aneh. Ya sudah, biarkan saja. Cuma tentang beli beras saja,” kata sang nyonya sambil berlalu.

***

Hari itu adalah hari Minggu. Arka bangun sebelum subuh, melakukan ibadah di pagi buta, lalu mandi dan bersiap pergi. Ia mengambil sepeda kayuh di gudang. Harus cepat karena Rosa mengatakan akan datang pagi-pagi. Arka tidak suka, karena kalau dia mau maka berarti akan memberi harapan padanya.

“Tuan … Tuan, pagi-pagi mau ke mana?” tiba-tiba bibik berteriak.

Arka menaruh ujung jarinya ke bibir, maksudnya adalah bibik jangan berteriak dan bertanya lagi. Ia lalu menunjuk ke arah sepeda yang akan dibawanya. Dengan demikian bibik akan mengerti. O, tuan muda akan olah raga bersepeda.

“Tidak minum coklat susu dulu?” bibik berteriak lagi, membuat Arka melotot. Ia menggoyang-goyangkan tangannya kemudian berlalu.

“Ya ampun, pagi buta begini sudah berangkat bersepeda. Dari kemarin tuan muda kelihatan aneh,” gumam bibik.

Tapi ternyata nyonya Wiguna mendengar suara berisik teriakan bibik. Ia langsung pergi ke dapur.

“Ada apa Bik?”

“Oh, maaf  Nyonya, saya membangunkan Nyonya.”

“Aku sudah bangun, sedang shalat. Tapi aku mendengar kamu berteriak.”

“Itu Nyonya, saya melihat tuan muda pagi-pagi sudah pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Sepedaan pastinya, tadi mengambil sepeda di gudang, saya tawarkan untuk minum dulu tidak mau.”

“O, Arka olah raga bersepeda?”

“Iya Nyonya.”

Sang nyonya membalikkan tubuh, kembali ke kamar. Sang suami belum bangun, tapi sebelum ia kemudian keluar lagi dari kamar, terdengar suaranya mengingatkan.

“Bu, bilang sama bibik agar menyiapkan juga minum untuk Rosa, dia bilang mau kemari pagi-pagi.”

“Nanti kalau dia datang bibik sudah pasti membuatkannya.”

“Maksudnya sudah disiapkan di meja, agar kalau dia datang bisa langsung meminumnya, soalnya dia mau bersepedaan dengan Arka pagi ini.”

“Arka sudah berangkat bersepeda.”

“Apa?”

Pak Wiguna langsung bangkit, matanya melotot marah.

“Arka sudah berangkat? Bukankah Rosa akan datang pagi ini?”

“Dia kan ingin bersepeda pagi-pagi. Biar saja nanti Rosa menyusul.”

“Ibu bagaimana, mengapa tidak mengingatkan? Harusnya Ibu bilang kalau Rosa akan datang.”

“Ibu tidak tahu berangkatnya dia. Ketika ibu keluar, Arka sudah berangkat.”

“Anak itu benar-benar kurangajar. Dia memang sengaja menghindar. Jadi nggak enak kita nanti kan Bu?”

“Ya sudah, nanti diajak bicara baik-baik, pasti dia mengerti.”

“Ini menjengkelkan.”

Ketika Pak Wiguna masuk ke kamar mandi, sang istri segera keluar, agar tidak mendengar lagi omelan-omelannya. Mau bagaimana lagi, Arka sudah berangkat di pagi buta.

***

“Selamat pagiiiii,” suara nyaring terdengar dari luar rumah. 

Pak Wiguna yang sudah menduga bahwa itu pasti Rosa, segera keluar menyambut. Tampaknya ia khawatir kehilangan Rosa. Sikapnya tampak berlebihan.  Sambil keluar ia berteriak agar bibik segera menyiapkan minuman.

“Selamat pagi, calon menantu yang cantik,” sambutnya sambil senyumnya melebar.

“Arka sudah bangun?” pertanyaan ini agak membuat pak Wiguna sungkan.

“Duduklah dulu, tuh … bibik sudah menyiapkan coklat susu yang hangat.”

Rosa masuk ke dalam setelah menstandartkan sepedanya di bawah pohon mangga.

“Minumlah, sudah disiapkan untuk Rosa.”

Rosa tersenyum senang. Ia menghirup minumannya.

“Arka sudah bangun?” tanyanya lagi sambil meletakkan gelasnya.

“Bapak tuh lupa mengingatkan Arka. Tadi … pagi-pagi sekali dia sudah keluar,” kata pak Wiguna penuh sesal.

“Pagi-pagi sekali? Bukankah ini masih pagi?”

“Kata bibik dia pergi setelah subuh.”

“Ya ampun, mengapa Arka tidak menunggu aku ya,” keluh Rosa kesal.

“Maaf Rosa, bapak sungguh lupa mengingatkan, kalau dia tahu Rosa akan datang pagi, dia pasti menunggu.”

“Arka sudah tahu kalau saya mau datang.”

“Benarkah?”

“Saya sudah menelpon sore hari sebelum dia pulang dari kantor.”

“Waduh, berarti dia juga lupa. Anak itu sering kali lupa sesuatu. Bagaimana kalau bersepeda bersama bapak saja?”

“Apa? Masa saya bersepeda dengan orang setua Bapak? Nanti kalau Bapak kecapekan lalu pingsan di jalan bagaimana?”

Jawaban itu kalau untuk orang yang tahu tata krama, tampak sangat tidak menghormat. Seakan dia segan bersepeda dengan orang yang sudah tua. Tapi pak Wiguna justru tertawa-tawa.

“Iya Rosa, kamu benar. Bisa jadi bapak akan pingsan di jalan karena sudah bertahun-tahun tidak pernah bersepeda.”

“Kalau begitu saya pergi dulu saja,” katanya dingin, sambil berdiri. 

Minuman yang dihidangkan baru diminum seperempatnya.

“Lho, kok pergi, lebih baik ditunggu sebentar, barangkali Arka hanya muter-muter di sekitar tempat ini.”

“Nggak usah. Saya akan bersepeda sendiri saja,” katanya sambil turun dari teras, langsung menghampiri sepedanya dan berlalu.

Pak Wiguna sangat marah. Bukan kepada Rosa yang tiba-tiba pergi, tapi kepada Arka yang terkesan menghindari.

***

Simbok sedang meletakkan bakul berisi bungkusan-bungkusan beras yang sudah ditimbangnya perkilo, di depan rumah, ketika Arka tiba-tiba berdiri di depannya.

“Selamat pagi, Mbok.”

Simbok mengangkat wajahnya. Melihat laki-laki muda tampan berdiri di depannya sambil tersenyum. Hari masih sangat pagi. Senja masih berkutat di dapur, menyiapkan minuman untuk simboknya, sedangkan Rimba menyapu dan membersihkan rumah.

“Si … siapa ya?”

“Nama saya Arka.”

“Apa … sampeyan pernah mengenal saya?”

“Mengenal nama Simbok … sudah … bukankah Simbok ini mbok Mangun?”

“Lhoh, kok sampeyan tahu?”

“Lha Simbok ini kan sudah terkenal di mana-mana. Tukang menjajakan beras ke kampung-kampung. Ya terkenal dong.”

“Nanti dulu, lha sampeyan itu datang kemari hanya mau menyapa saya, atau apa?”

“Saya mau memesan beras Mbok. Satu kwintal, yang bangus, yang wangi, yang pulen.”

Simbok melongo.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, May 26, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 07

 NAMAKU TETAP SENJA  07

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun sudah duduk di kursi makan, menunggu Rimba segera menyusul. Tapi Rimba tak kunjung datang.

“Rimba,” panggilnya.

Rimba mendekat sambil membawa kertas temuannya.

“Mbok ….”

“Mbakyumu mungkin terlambat, akhir-akhir ini katanya ada pelajaran tambahan.”

“Iya, Rimba tahu. Ini lho Mbok, ini apa?” katanya sambil menunjukkan tulisan yang ditemukannya.

“Apa ini? Simbok nggak bisa baca tulis, apa kamu lupa?”

“Ini catatan hutang.”

“Apa?” mbok Mangun terkejut.

“Ini catatan hutang. Di sini tertulis sisa hutang tujuh juta empat ratus rupiah.”

“Apa?”

“Simbok punya hutang?”

“Ada-ada saja, barangkali punya pengirim beras tadi,” kata simbok dengan hati berdebar. 

Ia tak ingin anak-anaknya tahu bahwa dia punya hutang. Tapi dia khawatir, ada tulisan namanya di situ. Memang tadi pak RT memberikan catatan, tapi simbok tak memperhatikannya, kertas diletakkan sembarangan. Toh dia tidak bisa membaca.

“Rimba menemukannya terjatuh di lantai situ, barangkali punya Simbok.”

“Apa ada tulisannya nama simbok?”

“Tidak ada, hanya catatan hutang, Mencicil, membayar bunga, sisa hutang … “

“Buang saja Le, simbok nggak ngerti, ayo makan saja. Apa kamu tidak lapar?”

“Ya lapar Mbok,” kata Rimba yang segera duduk. 

Sementara simbok meremas kertas itu lalu dibuangnya di tempat sampah.

Ada rasa miris ketika teringat hutangnya yang sudah hampir tiga tahun dicicil tiap seminggu sekali, tapi berkurangnya tidak seberapa.

“Kok Simbok tidak makan?”

“Simbok menemani kamu dulu, nanti simbok makan bersama mbakyumu,” kata simbok yang sesungguhnya kehilangan selera makan ketika teringat lagi hutangnya.

“Nanti Rimba bantuin Simbok menakar beras ya?”

“Apa kamu tidak capek, baru pulang sekolah?”

“Setelah makan capeknya hilang,” kata Rimba sambil menyendok makanannya.

Simbok terharu melihat sang anak makan dengan lahap. Hanya sayur dari tuntut pisang dan ikan asin, tapi Rimba makan dengan lahap.

***

Arka bersiap untuk pulang ketika ponselnya berdering, dari Rosa. Enggan Arka mengangkatnya tapi dering itu menyakitkan telinganya.

“Ya….?”

“Arka, kamu masih di kantor? Kata ayahmu sudah saatnya kamu pulang.”

“Ini mau pulang.”

“Ternyata kamu suka sepedaan juga? Tadi ayahmu bilang kalau mau aku dimintanya nyamperin kamu untuk sepedaan bersama.”

“Nggak. Belum tentu suka, hanya coba-coba karena lama tidak melakukannya.”

“Besok kan hari Minggu, aku ke rumah kamu ya, kita sepedaan bersama, pasti seru. Kalau pagi aku suka sepedaan sendiri. Nah ini aku dapat teman.”

“Aku terkadang malas.”

“Besok aku bangunin kamu untuk sepedaan bersama ya.”

Arka belum sempat menjawab ketika ponsel Rosa sudah dimatikan. Ia benar-benar mengeluh. Ayahnya sangat ingin agar dirinya bisa semakin dekat dengan Rosa, apapun caranya. Sedangkan bersepeda saja sang ayah menemukan jalan untuk mempersatukannya.

Arka pulang dengan wajah lesu. Esok hari dia akan pergi pagi-pagi sekali, sebelum si reseh itu datang.

***

Senja mengayuh sepedanya pelan. Ada tambahan pelajaran yang membuatnya harus pulang sore. Ia sudah mengatakannya kepada simbok, jadi simbok sudah tahu kalau anak gadisnya akan pulang terlambat.

Sedang enak-enak mengayuh sepeda, tiba-tiba sebuah mobil berjalan pelan di sampingnya.

“Senjaaaa,” pengendara itu berteriak.

Sekarang Senja sudah hapal suaranya. Tuan ganteng itu ngapain saja, selalu tiba-tiba muncul tanpa diharapkan kehadirannya. Ia menoleh ke samping, pengendara mobil itu membuka jendela mobilnya, melambaikan tangannya sambil tersenyum. Senja merengut, adanya mobil di samping membuatnya risih. Ia menggenjot sepedanya lebih cepat, tapi mobil itu terus saja ada di sampingnya.

“Senja, mau jus buah?” teriaknya lagi sambil memperlihatkan keresek bening yang di dalamnya berisi beberapa gelas minuman.

Senja mendiamkannya, tapi kemudian mobil itu berhenti di depannya, membuat Senja tiba-tiba turun dari sepedanya.

“Tuan kenapa sih, setiap saat mengganggu saja?” sungutnya.

“Jangan marah Senja.”

Ia memang Arka, yang kemudian turun dan mengulurkan keresek kepada Senja.

“Nggak mau!”

“Senja, ini jus buah, segar dan sehat. Dalam udara yang panas begini, minum jus buah sangat menyegarkan,” kata Arka yang langsung menggantungkan keresek itu di stang sepeda Senja.

Sebelum Senja mengomel, Arka sudah masuk ke dalam mobilnya kemudian berlalu setelah melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“Ya ampuun, tuan ganteng itu kenapa nekat sekali? Dan kenapa juga saat dia pulang, padahal sudah sore, masih juga bertemu dia?”

***

Belum masuk ke rumah, sang ayah yang duduk di teras sudah menyambutnya dengan ucapan yang membuatnya kesal.

“Arka, besok Rosa mau kemari pagi-pagi. Kamu tungguin dia untuk bersepeda bersama.”

Arka tak menjawab, terus berlalu masuk ke rumah, membuat sang ayah berteriak.

“Arka! Bapak bicara sama kamu.”

Arka terpaksa berhenti dan kembali mendekati sang ayah.

“Arka sudah mendengarnya. Tapi kelihatannya Arka sedang malas, tidak ingin ke mana-mana."

“Besok kan hari Minggu, saatnya ber rekreasi. Rosa ingin sekali bersepeda. Itu memang kesukaannya."

“Kita lihat saja nanti,” jawabnya sambil berlalu.

“Hm, susah sekali anak itu diatur. Gadis seperti Rosa, tidak bisa menarik hatinya? Itu kebangetan sekali,” gumamnya kesal.

“Kenapa Pak, anak baru datang sudah dimarah-marahi,” kata sang istri yang menyusul duduk di dekatnya.

“Anakmu itu susah diatur. Berjodoh sama Rosa itu sebuah keberuntungan bagi usahanya, tapi tampaknya dia tidak tertarik sama sekali.”

“Kita harus bersabar, cinta tidak bisa datang tiba-tiba. Harus melalui liku-liku yang panjang.”

“Ada orang mengatakan, bisa saja manusia jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Tidak semua bisa begitu. Banyak hal menarik yang membuat orang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Tapi Arka tidak begitu. Padahal apa kurangnya Rosa?”

“Arka orang yang tidak mudah jatuh cinta. Teman-temannya kuliah dulu juga cantik-cantik. Tidak satupun membuatnya tertarik. Aku juga heran.”

“Tapi untuk yang satu ini, bagaimanapun caranya, Rosa harus menjadi menantu kita. Ibu harus mendukung aku. Sering-sering Ibu bilang kepada Arka, bahwa Rosa gadis terbaik yang bisa menjadi istrinya.”

“Nanti ibu bicara sama dia, yang penting harus bersabar. Arka tidak bisa diatur-atur dalam hal cinta.”

“Pokoknya Ibu harus bantu aku. Tidak boleh tidak, Arka harus mau beristrikan Rosa. Jangan sampai kita mengecewakan pak Daryono.”

“Padahal kelihatannya pak Daryono bersikap sangat lunak lhoh.”

“Itu hanya kelihatannya, hanya untuk menenangkan hati Arka. Sudah, Ibu jangan lemah, terus beritahu Arka bahwa jodohnya adalah Rosa.”

Sang istri menghela napas panjang, ia tak pernah bisa membantah apa kata suaminya yang begitu keras dan boleh dikatakan sangat arogan.

***

"Mbak Senja membawa apa?” teriak Rimba dari dalam ketika melihat Senja datang  sambil membawa keresek yang belum juga dibuka isinya.

“Ini, buka sendiri,” kata Senja sambil memberikan keresek itu kepada adiknya.

“Wooouw, ada jus buah. Macam-macam ini, entah bagaimana rasanya.”

“Kamu beli jus buah, Nduk?” tanya simbok.

“Tidak Mbok, dikasih orang itu lagi.”

“Orang itu lagi yang mana?”

“Yang kemarin lusa menolong Senja, lalu memberikan es buah juga.”

“Ketemu lagi?”

“Iya. Tadi pagi malah ketemu ketika Senja mau berangkat sekolah.”

“Dia rumahnya di mana, kok sering ketemu?”

“Nggak tahu MBok.”

“Mbok, ini buat simbok sama mbak Senja, aku yang kuning saja, ini rasanya seperti mangga.”

“Ya ampun, ini enak sekali. Kamu yang mana  Nja? Simbok sisanya saja.”

“Simbok ambil yang mana saja, Senja sisanya. Sekarang mau bersih-bersih dan ganti baju.”

“Simbok tunggu di meja makan ya Nduk, sama jusnya simbok bawa ke sana sekalian,” kata simbok.

Senja berlalu, dan simbok masih berpikir tentang kebaikan orang yang sudah menolong Senja dan berkali-kali memberikan minuman sehat.

***

Arka sudah berganti pakaian rumahan, beranjak ke belakang menemui bibik pembantu.

“Bik, Bibik kalau beli beras di mana?”

“Apa Tuan muda? Tuan bicara tentang beras?” tanya bibik heran.

“Iya, beras yang dimasak jadi nasi itu.”

“Ya di pasar Tuan, sudah langganan.”

“Mulai besok, aku yang akan membeli beras.”

Bibik menatap dengan heran. Tuan mudanya akan membeli beras?

***

Besok lagi ya.

 

Monday, May 25, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 06

 NAMAKU TETAP SENJA  06

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengerem sepedanya dengan mata terbelalak marah.

“Apa-apaan sih mas, berhenti tiba-tiba di depan aku? Kalau aku jatuh bagaimana?”

Arka tertawa pelan.

“Kalau kamu jatuh aku tolongin bangun dong.”

“Apa? Jangan cengengesan.”

“Senja, jangan marah dong.”

Barulah Senja terkejut, lalu mengamati pria di depannya dengan seksama.”

“Tuan? Apa maksud Tuan ini? Jangan mentang-mentang pernah menolong saya dan memberi beberapa bungkus es buah lalu Tuan bisa bersikap seenaknya.”

“Senja, aku sedang sepedaan, lalu melihat kamu. Ya aku samperin, soalnya aku mengenal kamu.”

“Apa maksudnya ini?”

“Tuan, saya harus buru-buru, waktunya sudah mepet.”

“Baiklah, ayo jalan, aku di samping kamu,” kata Arka sambil naik ke atas sepedanya, lalu keduanya naik sepeda beriringan.

Senja merasa heran, bagaimana mungkin si tuan ganteng ini selalu bisa bertemu dengannya?

“Tuan sepedaan sampai jauhkah? Rumah Tuan di mana?”

“Kamu tidak ingin tahu namaku? Tuan … tuan …  nggak enak dengarnya, tahu?”

“Memangnya nama Tuan siapa?”

Nah, gitu dong jadinya kan aku seneng.”

“Seneng kenapa?”

“Ditanya namaku, kan seneng.”

“Cuma gitu aja.”

“Berarti kamu memperhatikan aku, pengin tahu siapa namaku.”

“Kan Tuan yang minta?”

“Ya ampun Senja!”

Arka terkekeh lucu. Senja sangat polos, tapi menggemaskan. Ia gadis sederhana., sangat bersemangat membantu orang tua, masih sekolah pula.

“Kok Tuan nggak jawab.”

“Kamu bertanya tidak sepenuh hati sih.”

“Orang kaya itu aneh, minta ditanya, setelah ditanya malah aku diomelin”

“Baiklah, pengin tahu nggak?”

“Pengin. Kalau aku jawab yang lainnya nanti Tuan marah.”

Arka tertawa lucu.

“Namaku Arka, jadi jangan lagi memanggilku tuan.”

“Kelihatannya nggak sopan, masa aku memanggil hanya nama Tuan saja.”

“Panggil mas Arka. Jangan tuan.”

“Tuan, hanya panggilan saja, repot amat. Ya sudah, aku sudah sampai.”

“Itu sekolah kamu?”

“Iya.”

Senja membelokkan sepedanya masuk ke halaman sekolah setelah melambaikan tangannya. Arka membalasnya, kemudian mengayuh sepedanya menuju pulang. Bagaimanapun pertemuan dengan Senja membuatnya terhibur. Ini dunia yang lain, yang belum pernah dijamah sebelumnya. Di mana ia tidak disembah-sembah, bahkan diomelin hanya oleh seorang gadis sederhana yang kalau keluarganya bilang tidak punya derajat. Apa Arka marah? Tidak. Ini dunia yang membuatnya terbebas dari ikatan-ikatan yang membelenggunya.

***

“Dari mana kamu?” tanya sang ayah ketika Arka sudah sampai di rumah.

“Sepedaan. Muter-muter saja.”

“Tumben kamu pengin sepedaan. Bertahun-tahun sepedamu nangkring di gudang.”

“Tiba-tiba pengin. Katanya biar sehat, tidak hanya duduk di kursi saja.”

“Aku dengar Rosa juga suka bersepeda, sesekali ajak dia bersepeda berdua.”

Rosa lagi? Arka pura-pura tak mendengar, langsung menuju kamarnya.

“Arka!”

“Mau mandi dulu Pak,” jawabnya dari kejauhan.

“Aku mau ke kantor hari ini. Katanya ada pertemuan dengan langganan yang protes karena harga kemahalan,” katanya kemudian kepada sang istri.”

“Mengapa harus Bapak sendiri yang menangani?”

“Kemarin aku menelpon ke bagian pemasaran. Mereka akan menanganinya, aku hanya ingin berada di sana, melihat hasilnya.”

“Bapak mau bareng Arka? Dia belum sarapan.”

“Aku berangkat sendiri  saja, Arka kalau mandi lama, makan juga lama.”

“Terserah Bapak saja. Tapi nanti pulang makan siang di rumah kan?”

“Iya, aku tidak pernah lama di kantor akhir-akhir ini. Aku bisa memantaunya dari rumah.”

***

Mbok Mangun pulang agak pagi hari itu, karena menunggu pesanan beras yang akan dikirim. Hanya sedikit-sedikit dia membeli beras, karena modalnya sangat terbatas, lagi pula sebagian besar keuntungan dipergunakan untuk beaya sekolah kedua anaknya.

Tiba-tiba seseorang datang, mengejutkan mbok Mangun.

“Syukurlah sampeyan ada di rumah, berkali-kali aku kemari, rumah dalam keadaan kosong.”

“Iya pak RT, kan kedua anak saya sekolah, saya juga harus menjajakan dagangan saya.”

“Bagus, berarti sampeyan sudah punya uang karena dagangan laris.”

“Saya mita maaf, bisanya baru mencicil Pak.”

“Kalau kamu mencicil sedikit-sedikit, masuknya hanya ke bunganya saja, utangnya tidak berkurang.”

“Ya jangan begitu Pak, mohon keringanan. Masa cicilan dimasukkan ke bunga semua, bagaimana kalau separo untuk mencicil, separo buat bayar bunganya.”

“Lha sampeyan nicilnya sedikit, bagaimana bisa mengurangi hutang pokoknya.”

“Maksud saya, karena saya hutangnya sudah lama, dan uang yang saya kembalikan  sudah lebih dari hutang pokoknya, mohon diberi keringanlah Pak, kalau bisa jangan dipotong bunga, ya Pak. Kasihan, saya kan orang miskin.”

“Sampeyan itu bukannya miskin. Dagangan laku, bilang miskin. Mana sekarang, tetep kalau cicilan  hanya sedikit aku masukkan ke bunga."

“Ya ampun Pak, tolong, saya hanya punya ini,  bulan depan lagi ya Pak.”

“Cuma segini, ini hanya bisa mencicil seratus ribu, sisanya adalah bunga.”

“Masa sih Pak, bunga sama cicilannya bisa lebih besar.”

“Mbok Mangun, sampeyan kan tahu, uang aku itu bukan untuk sampeyan saja, banyak yang membutuhkan. Lha kalau modal berhenti di sampeyan, yang lain mau aku kasih apa? Mereka juga butuh uang.”

Mbok Mangun diam. Ia menahan tetesan air mata yang nyaris keluar. Bukan karena takut, tapi merasa sedih. Hutang yang sudah dua tahun lampau sebanyak sepuluh juta, yang ketika itu untuk membayar beaya masuk sekolah Senja dan adiknya, sampai sekarang baru berkurang seperempatnya, karena setiap mencicil diperhitungkan dengan bunganya.

“Ya sudah ini aku terima. Hutang sampeyan masih tujuh juta empatratus rupiah. Ini catatannya,” katanya sambil memberikan sebuat catatan, tapi mbok Mangun mengacuhkannya. Ia kan tak bisa membaca dan menulis?

Karena membantahpun tak akan ada gunanya, mbok Mangun diam. Ia membiarkan pak RT pergi dengan membawa uangnya yang tidak seberapa, memotong dulu bunganya baru sisanya untuk cicilan hutangnya.

Begitu pak RT pergi, pecahlah tangis mbok Mangun.

“Aku hanya ingin anak-anakku jadi orang pintar, tidak seperti aku yang buta hurup ini. Ya Tuhan, tolonglah hamba,” isaknya.

***

Tapi mbok Mangun adalah wanita tegar. Bertahun-tahun ia berjuang sendirian demi anak-anaknya, ia tak pernah mengeluh. Hanya saja sekarang ia menyesal. Dalam keadaan terjepit sementara ia harus memasukkan anaknya ke bangku SMA, dan tunggakan beberapa bulan uang SPP Rimba, ia terpaksa berhutang. Saat itu penghasilannya masih sangat sedikit. Yang bisa dilakukan hanyalah berhutang, dan kebetulan ia tahu pak RT yang kaya raya memang bisa meminjamkan uang. Tak peduli apapun ia lari ke pak RT, dan sepuluh juta berhasil didapatnya, itupun masih dipotong bunga di depan dan biaya administrasi katanya, sehingga uang yang dipinjamnya tidak genap seperti catatannya. Memang tidak seluruhnya uang itu dipergunakan untuk biaya sekolah, tapi ia butuh modal agar bisa membeli beras lebih banyak. Harapannya dengan modal itu ia bisa mencicil hutangnya. Tak tahunya pak RT benar-enar seorang rentenir yang kejam.

Mbok Mangun mengusap air matanya. Ia merasa tak pantas menangisi kehidupannya yang susah. Ia bertekat menjalaninya, dan akan menjalaninya dengan segala ketegaran yang dimilikinya.

Ia kembali mengusap air matanya ketika mendengar suara orang yang pastinya pengirim beras yang dipesannya.

Ia bersyukur masih punya beras untuk modal berdagang. Ia meminta pengirim itu membawanya ke belakang sekalian, agar ia tak keberatan mengangkatnya.

***

Ketika langkah-langkah kecil terdengar, Mbok Mangun menyunggingkan senyumnya. Ia tak ingin anak-anaknya tahu tentang apa yang dideritanya.

“Simbok ada di rumah, horeee,” sorak Rimba kegirangan. Ia selalu senang setiap kali pulang simboknya ada di rumah. Memang tidak setiap hari begitu, tapi dengan adanya simbok maka makan siang terasa sangat meriah, walau dengan lauk seadanya.

“Mengapa simbok sudah pulang?”

”Menunggu pesanan beras simbok. Kalau dikirim saat rumah kosong kan kasihan. Nanti berasnya dibawa pergi lagi, repot kan?”

“Iya Mbok, simbok benar, tapi aku senang ada simbok saat makan siang.”

“Cuci kaki tangan dulu dan ganti baju, baru makan.”

 “Simbok masak apa?”

“Gudeg tuntut pisang, sama ikan asin.”

“Waah, enak, Rimba suka.”

“Cepat ganti baju, sambil menunggu mbakyumu, simbok siapkan dulu makan siangnya.”

Rimba melangkah ke kamar mandi, dan melihat beras sekarung besar sudah ada di dapur. Tapi Rimba terkejut, ada selembar kertas terjatuh. Rimba memungutnya, barangkali catatan penting simboknya.

Tapi Rimba terkejut melihat tulisan yang tertera. Catatan hutang? Mata Rimba terbelalak.

***

Besok lagi ya.

Sunday, May 24, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 01

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL   01

(Tien Kumalasari)

 

PELUK AKU, BIBI.

Langit mendung, tapi tak sedikitpun menjanjikan hujan akan turun. Angin kencang menghalau awan-awan, yang membawa butiran-butiran penyejuk hawa.

Seorang perempuan muda dengan pakaian lusuh sedang membawa karung besar, berisi botol-botol plastik yang kosong. Ia mengaisnya di tempat sampah, dan dijalan-jalan yang dilaluinya. Karung itu baru berisi separonya, dipikul di punggungnya yang kecil. Ia harus menjalaninya. Setiap hari, yang dipungutnya adalah berarti uang, dan uang. Satu-satunya anak lelaki yang dilahirkannya, membutuhkan dana untuk sekolah dan juga makan. Terkadang ia mengalah, saat pendapatan hari itu tak mendukung, lalu hanya mendapat sekaleng kecil beras yang bisa dibelinya, dan sebutir telur yang akan digorengnya untuk dua kali makan. Itu hanya untuk anaknya. Tak penting walau perut bernyanyi karena cacing-cacing juga kelaparan.

“Mengapa ibu tidak makan?” kata sang anak setiap kali ibunya tidak makan.

“Kata siapa ibu tidak makan? Sebelum kamu datang ibu sudah makan. Jadi sekarang habiskan makanan itu,” katanya lembut, sambil memegangi perutnya yang melilit.

Ketika anaknya selesai makan, perempuan itu pergi ke dapur, mengais-ngais kerak nasi yang masih tersisa, dimasukkannya ke dalam mulutnya. Walau hanya sesendok dua sendok, cukuplah. Ibu muda itu hanya berharap anaknya bisa kenyang dan belajar.

Hari itu ia sedang memungut beberapa botol plastik yang terserak di pinggir sebuah taman. Lumayan bisa menambah banyaknya botol yang terkumpul.

Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikepang dua, berlari-lari mendekatinya. Ditangan kirinya sebuah botol plastik kosong dipegangnya, dan ditangan kanannya dia memagang botol yang masih penuh berisi air.

Karena berlari-lari, gadis kecil itu hampir terjatuh ketika berada di depan perempuan itu. Untunglah ia bisa menangkapnya, dan gadis itu selamat berada dalam pelukannya.

“Hati-hati,” kata perempuan itu lembut. Ia selalu lembut dalam berkata-kata. Kalau saja wajahnya tidak kusut berdebu, ia akan tampak sebagai perempuan muda yang cantik.

Anak kecil itu tersenyum. Ia tampak senang didekap seseorang. Kedua botol masih dipegangnya, lalu diberikannya kepada perempuan penolongnya.

“Ini untukmu, Bibi,” katanya dengan mulut lucu.

“Oh, untuk aku?”

“Bukankah Bibi suka mengambil botol-botol kosong di jalan?”

“Iya, benar. Terima kasih banyak, Nak.”

“Yang satu ini minumlah. Bibi pasti haus.”

“Oh, ya ampun, anak baik. Terima kasih. Bibi memang sangat haus.”

Perempuan itu meletakkan karung yang dipanggulnya, lalu ia duduk begitu saja di atas rerumputan, di bawah sebuah pohon rindang. Ia membuka botol minuman itu, tapi sebelum menenggaknya ia menawarkannya dulu kepada gadis kecil itu.

“Kamu minumlah dulu, Nak.”

Gadis kecil itu menggeleng sambil tersenyum. Lekuk manis di pipinya yang gembul, menampakkan wajah lucu yang sangat manis.

“Untuk bibi saja, aku sudah minum.”

Perempuan itu menenggak air yang kemudian membuatnya merasa segar.

“Terima kasih banyak.”

Air itu masih tersisa, ia memasukkannya kedalam kantung kecil yang dibawanya dan terikat di pinggangnya. Barangkali untuk menyimpan uang kalau botol-botolnya sudah terjual.

Perempuan itu berdiri, meletakkan kembali karung botol itu di punggungnya.

“Kamu mau pergi?”

“Iya Nak, masih harus mencari botol lagi.”

“Besok lewat  di sini lagi ya, aku akan memberikan botol-botol untuk kamu,” katanya nyaring.

“Baik. Terima kasih Nak. Rumahmu di mana? Sekarang pulanglah, bibi mau melanjutkan perjalanan.”

“Itu rumahku.”

Gadis itu menunjuk ke arah gedung bertingkat yang sangat bagus. Sudah jelas itu milik orang kaya.

“Pulanglah, nanti ibumu mencarimu.”

“Ibuku selalu pergi. Jangan lupa besok kesini lagi ya.”

“Baik Nona.”

“Namaku Ana. Bibi punya nama?”

“Panggil aku bibi Menur.”

“Baiklah, sebelum pergi, peluklah aku.”

Perempuan bernama Menur itu terbelalak. Gadis kecil itu bajunya bagus, baunya wangi, wajahnya bersih dan cantik lagi manis. Minta dipeluk olehnya? Apa gadis itu tidak merasa jijik melihat bajunya yang kusut, dekil dan pasti bau.

“Peluk aku, aku ingin dipeluk.”

Perempuan itu mengembangkan tangannya dengan ragu, tapi Ana menghambur ke dalam pelukannya. Mau tak mau Perempuan itu juga memeluknya erat, sambil berjongkok.

“Mama tidak pernah memelukku, aku senang ketika hampir jatuh tadi, lalu kamu memeluk aku,” bisiknya di telinga Menur.

“Non Anaaaaa!” sebuah teriakan membuat Ana mengendurkan pelukannya. Wajahnya muram seketika.

***

Ana masih memegangi bahu bibi Menur, sementara kepalanya menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

“Non Ana, apa yang kamu lakukan? Sini, nanti nyonya melihatnya, lalu marah-marah,” teriak Rumi, pengasuh Ana.

“Aku ingin main di sini.”

“Aduh, perempuan ini bau, mengapa Non memeluknya?” kata Rumi sambil menarik tangan Ana.

“Pergilah Nak, bibi juga mau melanjutkan perjalanan,” bisik bibi Menur sambil mengelus tangan Ana.

“Berjanjilah besok akan lewat di sini lagi,” katanya dengan mulut tersenyum. Lagi-lagi lesung pipit pada pipi gembul itu terlihat, membuat Menur semakin gemas. Ingin ia menowelnya, tapi pembantu Ana memelototinya.

“Ayo cepat,” Rumi menarik tangan Ana keras, sehingga mau tak mau Ana mengikutinya.

Ia berjalan sambil terus menerus menoleh ke arah Menur.

Menur menatapnya, sampai gadis kecil menggemaskan itu memasuki gerbang setelah melambaikan tangannya.

Menur tersenyum, harum aroma gadis kecil itu masih menempel di bajunya, dan terus menggelitik hidungnya. Seperti mimpi rasanya, ketika seorang gadis kecil wangi, dan tentunya anak orang kaya, suka dipeluknya. Ibunya tak pernah memeluknya? Kasihan sekali, padahal pelukan seorang ibu adalah kehangatan yang tak ada duanya di dunia ini.

Menur melanjutkan langkahnya. Wajah mungil itu terus mengikutinya. Ia tak mengerti, bagaimana tiba-tiba gadis itu melihatnya lalu seperti menyukainya, padahal sekalipun ia belum pernah mengenalnya. Ia juga baru sekali itu lewat daerah yang dihuni orang-orang kaya, menilik rumah-rumah megah yang berjajar indah dengan bangunan yang kokoh kuat.

***

Ana ngambeg. Rumi sang pengasuh sedang memaksanya mandi.

“Aku tidak mau mandi!” Ana berteriak.

“Non harus mandi, bau.”

“Aku kan sudah mandi?”

“Tapi Non dipeluk-peluk oleh perempuan  tukang sampah itu. Dia itu bau!” Rumi tak kalah berteriak.

“Dia tidak bau!”

“Non, awas saja ya, kalau nanti Nyonya tahu bahwa Non keluar rumah sendirian, pasti Non akan dijewer, atau dicubit sampai pahanya merah. Apa lagi Non dipeluk-peluk oleh perempuan bau itu.”

“Dia tidak bau! Aku yang memeluk dia.”

“Non, apa yang Non lakukan? Bagaimana kalau Non diculik lalu dibawa dia, lalu dijual kepada orang jahat, lalu Non dijadikan pengemis, lalu_”

“Tidaaaaak.” Ana berlari masuk ke kamar, lalu mengunci pintunya dari dalam.

“Non Anaaa.” Rumi berteriak-teriak, tapi Ana bergeming di kamarnya.

***

Ana adalah putri tunggal seorang konglomerat. Ayahnya memiliki usaha di luar negri, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang selalu menghamburkan uang pemberian sang suami. Anak semata wayangnya yang baru berumur sekitar tujuh tahun hanya diberikan kesenangan dengan mainan mahal dan pakaian bagus yang harganya tak terjangkau oleh orang biasa.

Hari-harinya dipenuhi dengan bersenang-senang bersama kawan-kawannya sesama orang kaya, dan hampir tak pernah ada kebersamaan di rumahnya sendiri.

Ana seperti boneka mainan yang dimanjakan seperti seorang putri. Makanan enak, mainan yang memenuhi kamar dan pakaian yang indah, tapi semua itu tak membuat Ana berenang dalam kebahagiaan. Sekolahpun gurunya yang datang. Sehingga Ana merasa seperti burung di dalam sebuah sangkar emas.

Hari itu ia bermain di halaman, ketika Rumi pengasuhnya sedang sibuk menata baju-bajunya. Lalu ia melihat pengais botol kosong, seorang perempuan, yang entah mengapa membuatnya tertarik. Ia menerobos keluar dari pintu yang sedikit terbuka, lalu menghampiri perempuan itu, dengan memberikan sebuah botol kosong dan sebuah lagi masih utuh. Pertemuan itu membuatnya terkesan. Pelukan pemungut sampah itu terasa hangat. Ana belum pernah merasakannya. Ia ingat ketika ibunya mau pergi, dia merengek ingin ikut, lalu merangkul kakinya dari belakang, sang ibu malah mendorongnya sampai hampir terjengkang.

“Ana, apa yang kamu lakukan?”

“Mama, aku mau ikut Mama.”

Tapi sang mama terus berlalu, keluar dari rumah, menghampiri mobil yang sudah siap di halaman.

“Mamaaaa,” Ana hanya bisa menangis. Sejak saat itu Ana merasa bahwa ada tembok pemisah yang membuatnya merasa tak punya ibu. 

Sekarang, pelukan pengais sampah itu masih terasa menghangati hatinya. Ia sedang menunggu hari esok, agar bisa bertemu lagi.

***

Besok lagi ya.

 

 

NAMAKU TETAP SENJA 09

  NAMAKU TETAP SENJA  09 (Tien Kumalasari)   Mbok Mangun melongo, ada wong bagus datang pesan beras satu kwintal, apa dia bermimpi? Mbok Man...