Wednesday, April 8, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 10

 SAKITKU ADALAH  CINTAKU  10

(Tien Kumalasari)

 

Zein terpaku di samping ranjang sang ibu. Tangan lemah itu masih menggenggam tangannya. Ia tampak sangat tenang dalam tidur nyenyaknya. Perlahan Zein  melepaskan tangan itu, kemudian bangkit. Sejak kemarin dia berada di kamar inap sang ibu. Dokter bilang keadaannya belum membaik. Jantungnya lemah, tensi tidak stabil. Hal itu membuat perasaan Zein menjadi kacau. Rawat inap itu membutuhkan biaya, dan ia juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan tugasnya. Ketika ia menanyakan kepada dokter yang menanganinya, dokter itu tidak memberikan sebuah harapan, sekecil apapun. Dokter itu hanya meminta agar dirinya berdoa. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan ibunya. Ia mengatakan kalau penyakit itu sudah lama dideritanya tanpa mau periksa ke dokter. Tapi ia meminta agar terus berdoa karena pemilik kesembuhan hanyalah Allah Yang Maha Esa.

Zein merasa dokter itu hanya menghiburnya. Sebagai seorang calon dokter yang sudah sering mengikuti seniornya dalam memeriksa dan mengamati kondisi pasien, ia tahu bahwa ia tak bisa banyak berharap.

Rasa sedih menyergapnya, mencengkeram dadanya. Siapa yang salah, ketika seorang ibu bekerja mati-matian demi pendidikan anaknya? Zein merasa sang ibu sesungguhnya kelelahan. Lelah demi menggapai sebuah keinginan. Lelah dalam melangkah, walau langkah itu mulai tertatih. Seharusnya ia berhenti ketika raga tak lagi kuat menyangga. Tapi sang ibu terus berlalu. Ia tak ingin berhenti, bahkan terus berlari.

Air mata Zein jatuh terburai. Seorang laki-laki dituntut agar bisa lebih kuat, tapi ketahanan itu runtuh ketika melihat wajah perempuan tua pucat yang tampak lebih tua dari umur yang sebenarnya sedang terbaring tanpa daya.

“Ibu, aku akan mewujudkan keinginanmu. Ibu tak akan kecewa,” bisiknya sambil mengangkat tangan ibunya, diciumnya bertubi-tubi.

Tiba-tiba mata tua itu terbuka.

“Zein, mengapa kamu masih ada di sini? Bukankah aku suruh kamu kembali kepada tugas-tugas kamu? Kalau kamu nanti tidak lulus, bagaimana?” katanya panjang lebar, dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Ibu sehat dulu, baru Zein kembali.”

“Zein, ibu sudah sehat. Dokter itu tidak mengerti. Yang merasakan sehat itu kan ibu, dokternya tidak tahu. Katakan kalau ibu ingin pulang saja, Zein.”

“Ya, nanti Zein bicara sama dokternya. Sekarang ibu ingin apa? Makan ya?”

“Tidak mau, ibu hanya ingin pulang, agar kamu bisa segera kembali ke tempat tugas kamu.”

Tiba-tiba sang ibu berhenti bicara, napasnya terdengar terengah-engah.

“Bu … ibu …”

Zein menghubungi perawat dengan perasaan panik.

Dokter segera dipanggil. Bu Iman mengalami sesak napas, dokter menyuruhnya memasang ventilator. Zein dipersilakan keluar.

***

Zein duduk melamun di sebuah bangku, ketika dokter dan perawat menangani ibunya. Pikiran melayang ke mana-mana. Kalau sang ibu tidak tertolong, apa yang akan terjadi pada hidupnya? Zein tak takut miskin. Tapi ada keinginan yang membuatnya menjadi kuat. Harapan sang ibu agar dia berhasil menjadi dokter.

Dering telpon membuat lamunannya buyar.

“Zein …”

Suara lembut yang selalu dirindukannya terdengar.

“Ya, Indras.”

“Bagaimana keadaan ibu?”

“Ibu mengalami sesak napas, dokter baru menanganinya.”

“Ya Tuhan. Bisa komunikasi?”

“Bisa, tadi baru ngobrol sama aku. Dokter sedang memasang ventilator .”

“Semoga segera pulih.”

“Aku belum bisa kembali. Bagaimana lagi. Ibu terlalu lelah, melupakan capeknya demi mengumpulkan uang, dan itu demi aku,” Indras terharu. Suara Zein terdengar sangat putus asa.

“Dokter sudah menanganinya, kamu tenang ya Zein. Tidak usah memikirkan yang lain, fokus pada sakitnya ibu. Aku doakan yang terbaik.”

“Terima kasih.”

Zein tak ingin ngobrol. Ia segera mengakhiri pembicaraan. Hatinya sedang kalut. Banyak yang dipikirkannya, sampai hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Zein kembali mengusap air matanya.

***

Hari itu pak Narya menelpon Indras, mengabarkan tentang kiriman uang yang dikirimkannya, dan Indras tidak segera meresponnya.

“Indras, bukankah kamu sudah bapak beri tahu bahwa bapak sudah mentransfer uang untuk keperluan kamu?”

“Oh, iya … maaf Pak, belum sempat berkabar. Iya, Indras sudah tau. Terima kasih ya Pak.”

“Bagaimana keadaan kamu?”

“Baik.”

“Semuanya lancar?”

“Lancar, Pak. Doakan agar segera selesai.”

“Asalkan kamu fokus pada tugas kamu, dan jangan sering-sering ketemu ... siapa itu, laki-laki miskin yang kamu sukai?”

“Tidak Pak, dia juga sedang pulang. Ibunya sakit sampai dirawat.”

“Dulu bapaknya, sekarang ibunya yang sakit?”

“Ibunya terlalu lelah bekerja, demi mencukupi kebutuhan kuliah Zein.”

“Bekerja apa dia?”

“Berjualan makanan. Malam-malam dia bangun, masak, lalu dijual keesokan harinya. Semua itu demi bisa membayar kuliah Zein. Kasihan sebenarnya.”

“Kamu beri dia uang?”

“Dia tak pernah mau dibantu.”

“Sombong amat. Harusnya mau dibantu.”

“Bukan sombong Pak, dia tak mau dibantu, karena tidak mau menjadi beban orang lain. Berkali-kali Indras menawarkan bantuan, dia selalu menolaknya.”

“Ya sudah, terserah dia kalau begitu.”

Indras merasa kesal mendengar jawaban sang ayah. Sedikitpun tidak ada rasa empati dari sang ayah, walau dia sudah menceritakan penderitaan Zein tentang sakit ibunya.

Karenanya dia segera pamit dengan alasan harus ada yang dikerjakan, kemudian ia menutup ponselnya.

***

“Tadi mbak Indras menelpon, kelihatannya dia sedang sedih.”

 Yang bicara adalah Arun, adik Indras.

Sang ayah dan ibu masih duduk di ruang tengah, baru saja bertelpon dengan Indras.

“Siapa yang sedih?” tanya sang ibu.

“Mbak Indras, tadi menelpon, katanya ibunya Zein sakit.”

“Yang sakit ibunya, mengapa dia harus sedih?” sergah sang ayah.

“Bapak jangan begitu, mereka itu dekat. Sedangkan teman biasa saja kalau sedang sedih kita juga ikutan sedih, apalagi Zein itu dekat dengan mbak Indras. Ya wajar kalau ikut sedih.”

“Kamu itu anak kecil bisa-bisanya ngajarin orang tua.”

“Arun bukan ngajarin, itu kan keadaan yang wajar.”

“Apa sakitnya parah?” kali ini sang ibu ikut bertanya.

“Kelihatannya parah. Ibunya Zein itu kan bekerja keras demi bisa menyekolahkan anaknya, sampai kuliah, dan berharap bisa menjadikan Zein seorang dokter. Nah karena kerasnya bekerja itu, sampai tidak memperhatikan kesehatannya. Itu yang membuat Zein sangat sedih, dan mbak Indraspun kemudian jadi ikutan sedih.”

“Ibunya bekerja apa?”

“Kata mbak Indras, berjualan makanan. Kasihan lhoh Bu, demi menyekolahkan anak, seorang ibu sampai banting tulang seperti itu. Ibu tahu nggak, dia itu bekerja keras sejak suaminya masih ada dan sakit-sakitan. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya beban yang dipikul.”

Bukan hanya bu Narya yang kemudian ikut terhanyut karena cerita Arun, tapi pak Narya juga ikut terdiam, tak mampu berkata-kata. Barangkali membayangkan beratnya beban seorang ibu yang berjuang demi anaknya, demi keluarganya, dan sekarang sampai jatuh sakit.

Pak Narya jadi teringat, dulu dia tidak kaya seperti sekarang ini. Orang tuanya juga hanya orang biasa. Beban yang mereka sandang juga berat, apalagi dia bukan anak tunggal. Sang ayah hanya seorang pensiunan, yang menyekolahkan anak-anaknya sampai menjadi orang. Tiba-tiba dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Kekayaan menjadikannya sombong dan merasa bahwa semua orang tidak berharga. Sekarang ia sangat menyesali apa yang dilakukannya. Penderitaan ibu Zein mengingatkannya pada penderitaan orang tuanya ketika masih hidup. Sangat berat perjuangan seorang tua, demi anaknya, apalagi kalau anaknya lebih dari satu. Adalah sebuah keberuntungan ketika dia berhasil menjadi pengusaha yang ternyata sukses, lalu menjadi seperti sekarang ini.

“Arun, kamu tahu di mana rumahnya?” kata pak Narya pelan.

“Rumah siapa maksud Bapak?”

“Rumah Zein.”

“Tidak tahu. Maksud Bapak apa? Mau ke sana dan memarahi Zein dan keluarganya?”

“Kamu itu jangan asal ngomong. Bisa tidak kamu mencari rumahnya di mana, atau tanyakan kepada kakakmu yang pastinya tahu.”

“Lalu mengapa Arun harus mencarinya?”

“Bawa sejumlah uang, berikan kepada keluarganya, barangkali mereka butuh biaya untuk ibunya yang sedang sakit.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, April 7, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 09

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  09

(Tien Kumalasari)

 

Zein mengamati Indras yang sedang asyik bertelpon. Berdiri tegak tak bersuara. Mendengar celoteh dan canda Indras yang tampak dengan gembira menerima telpon. Sesekali terdengar Indras menyebut namanya, Bagas. Zein mengenalnya. Bukankah Bagas adalah seorang laki-laki tampan yang dilihatnya jalan bersama Indras? Yang kata Indras hanyalah sahabatnya. Dan walau Bagas mencintainya tapi Indras mengaku hanya mencintai dirinya?

Sekarang mereka berbincang dan sesekali Indras terkekeh seperti mendengar sesuatu yang lucu.

Zein terus mengawasinya, tak bersuara sampai Indras menutup ponselnya, lalu Zein berdehem, barulah Indras terkejut.

“Zein, mengapa berdiri di situ? Sini.”

Tapi Zein tak bergerak. Indras yang berjalan mendekatinya.

“Tadi Bagas menelpon.”

“Dan karena itu kamu lupa kalau tadi kamu mengatakan lapar?”

Indras tertawa pelan.

“Iya sih, tapi masa dia menelpon lalu aku mengabaikannya? Dia hanya menanyakan kabar.”

“Begitu asyik sampai melupakan lapar.”

“Tidak melupakan lhoh, aku memang sedang lapar, dan tadi harus menahannya. Habis dia menelpon, masa aku mendiamkannya?”

Zein hanya diam. Zein adalah seorang pencemburu. Ketika ia melihat Indras berjalan bersama Bagas, ia langsung memutuskan hubungan. Untunglah Indras dengan kelembutan hatinya berhasil meluluhkan kemarahannya, sehingga mereka kemudian berbaikan lagi.

Sekarang, mendengar Indras bertelpon dengan Bagas, rasa cemburu itu muncul lagi. Walau keduanya berjalan bersama menuju kantin, tapi wajah Zein sangat cemberut.

“Zein, kamu tahu nggak, kalau kamu cemberut seperti itu, wajahmu jelek banget lhoh.”

“Memang aku jelek. Tidak seperti Bagas yang ganteng, gagah, kaya raya.”

“Bukan begitu. Kamu itu sebenarnya ganteng, gagah, menawan, baik hati dan tidak sombong, itu sebabnya aku mencintai kamu.”

“Masa?”

“Iya, aku abaikan semua rintangan, karena rasa cinta itu.”

“Masa?”

“Bisakah kamu mengatakan selain kata … masa … masa ….”

“Jadi aku harus mengatakan apa”

“Katakan, bahwa aku cantik, menawan, penuh cinta kasih …”

Sekarang Zein tertawa. Indras senang melihat wajah muram sudah kembali ceria.

“Kamu itu pintar, jadi aku yakin kalau kamu sudah tahu bahwa aku selalu mengatakan itu, walau dalam hati, dan tidak sampai terlontar melalui bibirku.”

“Dasar pelit.”

“Iya, aku pelit, kan aku bukan orang kaya seperti kamu?”

“Pelitnya bukan masalah kaya atau tidak kaya.”

“Apa maksudmu?”

“Pembicaraan kita bukan tentang kaya atau miskin, tapi tentang puji memuji. Aku memujimu setinggi langit, tapi kamu sedikit saja tidak mengucapkan pujian. Benar-benar pelit dan tidak romantis,” gerutu Indras sambil cemberut.

“Tuh, sekarang kamu cemberut kan, coba kamu tidak cemberut, kamu pasti cantik.”

“Iiih, memujinya seperti nggak iklas begitu. Jadi sebenarnya aku tidak cantik dong.”

“Iklas kok. Harus gimana dong, aku memang tidak romantis. Gimana caranya supaya romantis?”

“Aku nggak tahu, masa romantis diajarin?”

Walau begitu kekesalan di hati Zein sudah mencair. Mereka makan bersama sebelum kembali menjalani tugas mereka.

***

Tapi kenyataannya bu Iman memang sakit beneran. Ia menahannya karena ia tak ingin kelihatan sakit, apalagi kalau Zein sampai mendengarnya. Ia menahannya juga karena ia butuh uang demi Zein yang harus menyelesaikan tugasnya.

Tetangganya yang melihatnya selalu mengingatkannya, bahwa bu Iman harus beristirahat karena wajahnya kelihatan pucat seperti orang yang kelelahan.

“Tidak Bu, saya baik-baik saja. Lelah itu kan biasa, karena namanya orang sudah setengah tua, tapi harus bekerja. Tapi itu lelah biasa, bukan karena saya sakit.”

“Kalau memang lelah kan harusnya Ibu beristirahat. Atau saya kabari saja Zein, agar mengantarkan Ibu ke rumah sakit?”

“Jangan,” dengan cepat bu Iman menyergahnya.

“Ibu kan harus periksa ke dokter juga, walaupun hanya lelah.”

“Tidak usah Bu, saya sudah minum obat, minum jamu. Setelah minum saya sudah merasa segar kok. Kalau ibu mengabari Zein, nanti Zein pasti pulang, dan itu akan membuat tugasnya tersendat. Jadi lama ia menyelesaikannya, tidak segera bisa menjadi dokter.”

“Nanti kalau saya tidak mengabarkan apa-apa, dan Ibu benar-benar sakit, Zein pasti marah pada saya.”

Bu Iman hanya tertawa.

“Tidak Bu, jangan khawatir. Lagian saya kan tidak benar-benar sakit. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Malah jadi merepotkan saya nanti. Tapi terima kasih lho Bu, sudah memperhatikan keadaan saya.”

“Kita kan bertetangga Bu, sudah selayaknya kalau saling membantu, saling mendukung, saling memperhatikan.”

Bu Iman tersenyum senang.

***

Beberapa bulan berlalu, Zein dan Indras bertugas dibagian yang berbeda, sehingga tidak bisa sering bertemu seperti sebelumnya. Walau begitu mereka tetap berhubungan melalui pesan singkat ataupun bertelpon.

Hari itu Bagas mampir ke rumah pak Narya karena kembali bertugas di kota yang sama. Berkali-kali pak Narya bertanya tentang hubungannya dengan Indras, tapi sambil tertawa Bagas selalu menjawab bahwa hubungannya baik-baik saja. Pak Narya sudah kehilangan harapan untuk bisa menjadikan Bagas sebagai menantu.

“Saya senang Bapak dan Ibu selalu baik kepada saya. Saya anggap Bapak dan Ibu sebagai orang tua saja, walau tidak berhasil menjadi menantu.”

“Ya, tentu saja Bagas. Kamu adalah anak kami,” kata pak Narya.

“Tapi sikap Indras bagaimana setiap kali kamu menelponnya?” sambung bu Narya.

“Baik Bu, kami berbincang akrab, bercanda. Tidak ada penolakan dari Indras setiap kali saya menelpon. Dia akan menolak, kalau saya berbicara tentang cinta. Tidak apa-apa, kami tetap bersahabat,” kata Bagas dengan nada ringan tanpa beban. 

Bukankah jodoh tidak perlu dicari dan akan datang sendiri pada suatu hari nanti?

***

Hari itu Indras mencari-cari Zein tidak ketemu. Salah seorang temannya mengatakan bahwa Zein izin tidak masuk karena harus pulang. Kabarnya ibunya sakit. Indras terkejut. Ia langsung menelpon Zein.

“Zein, kamu di mana?”

“Maaf aku tidak sempat mengabari kamu, karena aku buru-buru pulang.”

“Ibu sakit lagi?”

“Kemarin ditemukan pingsan di warungnya, lalu tetangga membawanya ke rumah sakit.”

“Sekarang ibu di rumah sakit?”

“Iya, aku sedang menungguinya, tapi ibu belum sadar sejak kemarin.”

“Ibu sakit apa?”

“Jantungnya bermasalah. Mungkin dia kecapekan karena memaksa bekerja. Itu yang dikatakan para tetangga.”

“Ikut sedih mendengarnya Zein. Semoga ibu baik-baik saja.”

“Terima kasih In.”

“Kamu jangan kecapekan juga. Semoga keadaan ibu semakin baik sehingga kamu bisa segera kembali bertugas.”

“Iya, aku juga berharap begitu.”

***

Sudah tiga hari Zein menunggui di rumah sakit. Bu Iman sudah sadar dan sudah dipindahkan ke kamar inap, tapi masih belum bisa dikatakan membaik.

“Zein, kamu kembalilah sana, ibu sudah tidak apa-apa.”

“Ibu masih lemah dan harus dirawat. Sabar ya Bu.”

“Ibu merasa baik, ibu akan pulang saja.”

“Jangan Bu, sabarlah untuk sehari dua hari.”

“Kamu terlalu lama meninggalkan tugas kamu. Kalau tidak segera lulus bagaimana?”

“Ibu jangan khawatir. Zein akan mewujudkan semua keinginan Ibu. Yang penting Ibu segera sehat dan bisa menemani Zein saat berpraktek menjadi dokter.”

Bibir pucat itu mencoba tersenyum.

“Bagaimana aku bisa menemani kamu berpraktek?”

“Ibu akan Zein jadikan perawat,” canda Zein.

“Mana mungkin, ibu tidak pernah sekolah perawat. Melihat jarum suntik saja ibu sudah pucat, sementara di sini di suntik terus-terusan.”

“Tidak apa-apa Bu, nanti ibu bisa belajar. Mencatat pasien yang datang, namanya siapa, alamatnya mana, keluhan sakitnya apa,” kata Zein sambil menepuk-nepuk tangan sang ibu.

“Ibu tahu kamu sedang menghibur ibu.”

“Benar, nanti Ibu akan melakukan itu, tidak berjualan makanan lagi seperti yang sudah.”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Memang menyenangkan, luar biasa, anaknya jadi dokter, ibunya menjadi penerima pasien.”

“Apa iya, hal itu bisa terjadi?”

“Jangan bilang begitu Bu, semuanya pasti akan terjadi. Insyaa Allah.”

“Ibu sepertinya semakin lemah, bagaimana kalau ibu tidak bisa menunggui kamu saat diwisuda menjadi dokter?" kata bu Iman lemah.

“Ibu tidak boleh berkata begitu. Zein tidak bisa hidup tanpa Ibu.”

“Kamu masih muda dan kuat, Zein.”

“Zein akan kuat kalau ada Ibu di samping Zein.”

Bu Iman meremas jemari Zein.

“Ibu ngantuk.”

“Tidurlah Bu, Zein akan menunggui Ibu di sini.”

“Sebaiknya kamu kembali Zein, ingat pendidikan kamu.”

“Kalau Ibu membaik, Zein akan kembali. Sekarang Ibu jangan memikirkan apa-apa lagi.”

Bu Iman menutup matanya perlahan, dengan tangan masih menggenggam jemari sang anak.

***

Besok lagi ya.

Monday, April 6, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 08

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  08

(Tien Kumalasari)

 

Zein tampak sangat khawatir. Seorang tetangga yang memberikan kabar,  tidak menjabarkan bagaimana sakit sang ibu, Ketika Zein menanyakannya, ia hanya mengatakan bahwa sebaiknya dirinya segera pulang.

Karena itu ia harus mencari waktu luang dan segera pulang.

Indras menawarkan mobilnya, kalau saja Zein ingin cepat pulang, tapi Zein  menolaknya. Ia selalu begitu. Tidak mentang-mentang punya kekasih kaya lalu ia kemudian mempergunakan kesempatan untuk ikut menikmati fasilitas mewahnya. Tidak. Indras memakluminya.

“Semoga ibu tidak apa-apa, hanya sakit biasa saja.”

“Aamiin. Terima kasih, Indras.”

***

Ketika  Zein sampai di rumah, ia melihat pintu rumahnya tertutup.  Rasa khawatir menyergapnya.

Ketika ia memasuki pintu rumah melalui pintu belakang, ia tak segera menemukan ibunya. Ternyata sang ibu berbaring di dalam kamar.

“Ibu,” kata Zein sambil mendekati pembaringan.

Bu Iman membuka matanya, tapi kemudian bangkit ketika melihat siapa yang datang.

“Zein, kamu pulang?”

“Ibu tiduran saja, mengapa bangun?”

“Ibu tidak apa-apa, hanya sedikit mengantuk. Biar aku buatkan kamu minum," katanya sambil berusaha berdiri.

“Tidak, biar Zein mengambil sendiri, Ibu tiduran saja.”

“Ibu tidak apa-apa, aku duduk di luar.”

“Jangan memaksa Bu, kalau Ibu sakit, lebih baik Ibu istirahat dulu.  Tiduran saja, Bu.”

“Tidak...ibu bilang bahwa ibu tidak sakit.”

“Bu,” Zein menahan ibunya yang ingin berdiri, tapi sang ibu nekat berdiri, kemudian perlahan berjalan keluar.

Zein mengikuti.

“Duduklah, ibu buatkan minum.”

“Tidak, biar Zein saja. Ibu duduk di sini. Oh ya, Zein membeli pisang tuh Bu,” kata Zein sambil beranjak ke belakang. 

Dibuatnya dua gelas teh hangat sekalian, lalu dibawanya keluar.

“Kamu itu baru datang, malah buat minum untuk ibu.”

“Minumlah, hangat-hangat enak,” kata Zein sambil lebih dulu menyeruput tehnya.

“Dari mana kamu mendapat berita kalau ibu sakit?”

“Dari tetangga sebelah. Zein memang berpesan, kalau ada apa-apa minta tolong ngabarin Zein.”

“Dia itu mengada-ada. Ibu hanya masuk angin, tidak jualan sehari. Tapi besok ibu sudah akan jualan lagi.”

“Bu, kalau sakit jangan dipaksa.”

“Tidak, ibu tidak memaksa. Kamu itu bagaimana, mengapa meninggalkan tugas kamu? Kalau kamu mengabaikan tugas, kamu tidak akan segera jadi dokter. Dulu itu kamu bilang sudah lulus, ibu kira sudah bisa buka praktek di sini, ternyata masih lama.”

“Ibu jangan khawatir. Sekarang ini Zein memang sudah lulus, tapi baru disebut sarjana kedokteran, belum boleh disebut dokter. Kalau mau jadi dokter, ya harus menjalani program-program yang akan menjadikan Zein menjadi dokter beneran, seperti ini, mereka sebut co-ass.”

“Pekerjaannya apa tuh?”

“Semacam belajar menjadi dokter, begitu Bu. Misalnya membantu di bagian bedah, di bagian jantung, di bagian paru-paru. Nanti harus diuji lagi, bener tidak kami melakukan tugasnya, kalau bener ya lulus. Kalau tidak ya harus mengulang.”

“Berapa bulan nantinya?”

“Agak lama Bu, sekitar dua tahunan, bisa kurang bisa lebih.”

“Ternyata masih lama,” kata bu Iman, seperti sebuah keluhan.

“Ibu tidak usah khawatir, Zein akan segera bisa menyelesaikannya.”

Bu Iman menyeruput tehnya.

“Apa kamu akan menginap?”

“Kalau Ibu tidak apa-apa, nanti sore Zein akan kembali. Tapi Zein janji, kalau ada waktu luang, Zein akan menjenguk ibu.”

“Jangan terlalu memikirkan ibu. Yang penting kamu tekun menjalani semua tugas kamu. Oh iya, ambil uang yang ada di dompet ibu, kebetulan kamu datang jadi ibu tidak usah mengirimkannya.”

“Untuk Ibu saja, uang Zein masih cukup.”

“Jangan, kamu selalu begitu. Ambil saja, ibu tidak ingin kamu kekurangan, terlebih untuk biaya kuliah kamu.”

Zein memeluk ibunya terharu.

“Ibu berkeringat,” kata Zein kemudian.

“Udara sangat panas. Ya begini ini. Ibu ganti pakaian dulu, kamu segera ambil uangnya.”

***

“Bagaimana keadaan ibu?” tanya Indras ketika Zein sudah kembali.

“Mungkin ibu kecapekan. Katanya hanya tidak jualan sehari. Besok sudah akan jualan lagi.”

“Syukurlah. Seharusnya ibu tidak terlalu capek.”

“Ibu merasa harus bekerja giat, itu untuk aku. Aku jadi sedih. Aku tidak merasa butuh uang, kemarin diberi lagi.”

“Ibu sangat berharap agar kamu selalu berkecukupan, untuk biaya kuliah, untuk makan. Belum biaya kost.”

“Benar. Besok aku akan mencari tempat kost yang lebih murah, agar bisa lebih menghemat.”

“Zein, kalau kamu memang membutuhkannya, aku pasti akan membantu.”

“Tidak usah, berapa kali aku mengatakan bahwa jangan melakukan itu? Nanti orang tua kamu bilang kalau aku bisa berhasil karena bantuan kamu.”

“Ya ampun, kamu selalu membawa-bawa orang tua aku. Ini kan tidak ada hubungannya sama mereka?”

“Kata siapa? Yang memberi kamu uang itu kan mereka? Pada saat kamu minta, pasti mereka berpikir kamu menghabiskan uangnya karena aku.”

“Jangan begitu Zein, kamu belebihan.”

Zein terdiam. Luka yang ditimbulkan oleh pembicaraan pak Narya waktu itu masih membekas dihatinya, dan mungkin selamanya dia tak akan melupakannya. Bukannya dendam, hanya tak bisa melupakan. Rasanya luka itu masih menganga.

***

Hari-hari berlalu. Tetangga bu Iman yang selalu dihubungi Zein mengatakan bahwa sudah berhari-hari bu Iman berjualan, dan tampak sangat bersemangat.

Sebenarnya Zein sedih. Ia tahu sang ibu bekerja keras untuk dirinya. Karena itulah ia bertekat agar bisa segera menyelesaikan tugasnya, lalu mewujudkan impian sang ibu agar dirinya benar-benar bisa menjadi dokter.

Tetapi hari itu bu Iman berpesan kepada tetangganya yang baik hati itu, agar tidak mengatakan hal-hal buruk kepada anaknya.

”Saya sangat berterima kasih, Ibu memperhatikan keluarga saya, tapi saya khawatir, Zein akan terganggu pelajarannya karena mengkhawatirkan saya.”

“Tapi kalau ibunya sakit, setidaknya Zein harus mengetahuinya kan?”

“Benar, tapi kalau hanya karena kelelahan atau sakit biasa, saya mohon Zein tidak usah diberi tahu. Dia harus fokus kepada kuliahnya. Dia itu mendengar saya sakit sedikit saja sudah pasti panik.”

“Baiklah bu Iman, semoga bu Iman selalu sehat. Tapi saya lihat akhir-akhir ini bu Iman kelihatan selalu kelelahan.”

“Itu sudah lumrah Bu, saya kan semakin tua.”

“Sebaiknya Ibu mengurangi saat Ibu berjualan. Tidak usah terlalu banyak, agar bisa segera beristirahat.”

“Iya Bu, nanti akan saya kurangi. Sekarang ini saya harus giat mencari uang agar Zein selalu tercukupi kebutuhannya.”

“Benar, tapi semua itu harus disesuaikan dengan kekuatan Ibu.”

Bu Iman hanya mengangguk-angguk. Apa yang dikatakan tetangganya memang tidak salah, dia harus mengurangi kegiatannya berjualan, tapi bu Iman selalu berusaha agar bisa mencukupi kebutuhan anaknya.

“Semoga Zein cepat bisa lulus, dan bisa mencari uang sendiri. Dengan begitu seandainya saya harus berhenti bekerja seperti sarannya, dia tidak akan kekurangan,” gumam bu Iman pada akhirnya yang diamini oleh tetangganya.

***

Hari itu Bagas menelpon Indras. Bukan apa-apa, ia belum bisa melupakan rasa cintanya. Hanya saja ia ingin menelpon hanya sekedar menanyakan kabar. Ia sama sekali tak berharap karena tahu bahwa cinta Indras kepada Zein sangatlah besar.

“Apa kamu sedang sibuk?”

“Tidak, ini sedang istirahat. Apa kabar Bagas?”

“Kabar baik, Aku mendapat berita bahwa kamu sudah selesai dan sedang menjalani co-ass.”

“Iya, doakan segera selesai ya.”

“Tentu aku doakan.”

“Kapan-kapan kalau aku sedang ada tugas kemari pasti menemui kamu.”

“Terima kasih. Dari mana kamu tahu tentang aku?”

“Bapak. Aku sering telponan sama bapak. Meskipun urung jadi menantunya, boleh dong aku telponan sama bapak?”

“Tentu saja boleh. Telponan sama aku juga boleh kok.”

“Senang mendengarnya.”

Lalu mereka bertelpon dan ber canda. Saat itu Zein sedang berjalan ke arahnya, dan mendengar candaan akrab diantara mereka.

***

Besok lagi ya.

Saturday, April 4, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 07

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  07

(Tien Kumalasari)

 

Indras keluar dari kantin, setengah berlari untuk mengejar Zein yang urung memasuki kantin.

“Zein! Tunggu Zein!’

Lalu karena Zein tidak berhenti, maka Indraspun berlari, lalu berhenti tepat di hadapannya, menghadang Zein yang akan melanjutkan langkahnya.

“Ada apa ini Zein, aku tidak mengerti semuanya.”

“Apakah aku sendiri yang harus mengerti?”

“Zein, katakan ada apa.”

“Apa yang harus aku katakan?”

“Zein, jangan begitu, ayo kita bicara.”

Tak merasa sungkan, Indras menarik lengan Zein, diajaknya duduk di bawah pohon. Wajah Zein tampak kaku, sedih Indras melihatnya.

“Zein, katakan apa yang terjadi.”

“Tanyakan kepada diri kamu sendiri.”

“Aku kenapa? Aku tidak punya pertanyaan untuk diri aku sendiri. Aku terkejut ketika sikap kamu berubah, lalu tiba-tiba memutuskan hubungan kita.”

“Bukankah aku sudah membuat kamu lega?”

“Apa maksudnya?”

“Kalau kita putus, kamu boleh mengadakan hubungan dengan siapapun juga. Bukan laki-laki miskin seperti aku. Bukankah harusnya kamu berterima kasih padaku?”

“Aku tetap tidak mengerti,” sungut Indras.

“Aku tahu kamu banyak pengagum. Kamu cantik, pintar, kaya.”

“Lalu apa?”

“Kamu bebas memilih kan?”

“Zein, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan.”

“Tentu saja aku tahu.”

“Kamu salah menilai aku. Kamu tahu apa yang aku rasakan, bertahun-tahun kita kenal, dekat, kemudian saling suka. Apa yang salah dalam semua ini?”

“Yang salah adalah kamu keliru dalam memilih. Aku hanya orang miskin.”

“Bukankah aku sudah tahu keadaan kamu sejak bertahun lalu?”

“Terkadang orang terlambat menyadarinya. Setelah berjalan, kamu baru tahu kesalahan kamu dalam memilih sesuatu.”

“Itu pernyataan konyol. Kamu tidak sadar apa yang kamu katakan.”

“Sudahlah Is, lupakan aku, daripada aku merasa sakit.”

“Kamu sakit kenapa? Aku menyakiti kamu?”

“Ayahmu tidak menyukai aku, dan kamu sudah punya seseorang yang jauh lebih segalanya daripada aku.”

“Zein, ayolah. Aku masih seperti dulu.”

“Masa?”

“Apa aku harus bersumpah?”

“Jangan. Sumpah itu berat.”

Indras kehabisan kata-kata. Sekarang air matanya merebak, dan mulai menetes membasahi pipinya.

Isak itu membuat Zein kemudian menoleh ke samping, di mana kemudian Indras mengusap pipinya dengan telapak tangan.

“Indras, aku melakukan sesuatu yang benar. Aku sudah tahu ada seseorang yang lebih pantas. Dan itu pasti lebih disukai orang tua kamu.”

“Tidak ada … tidak ada ….”

“Aku melihatnya, dan kalian tampak lebih serasi.”

Indras menatap Zein, mereka berpandangan. Saling memandang dengan tatapan sayu, sedih.

“Kamu melihat apa?”

“Melihat kamu dan dia.”

“Oh, kemarin? Aku dan Bagas?”

“Tanpa aku, kamu bisa memilih mana yang lebih baik.”

“Kamu salah paham Zein. Kemarin aku pergi dengan Bagas, karena aku ingin mengatakan bahwa aku sudah punya kamu.”

Zein melembutkan tatapannya. Perkataan itu sedikit meluluhkan kekakuan hatinya.

“Apa kamu mengira aku sedang bersenang-senang? Tidak Zein, kamu salah sangka. Dia menyatakan cinta, tapi aku mengatakan yang sebaliknya. Itu karena aku memilih kamu.”

“Orang miskin yang tidak sederajat? Bukankah begitu ayahmu mengatakannya?”

“Zein, aku memilih kamu tanpa peduli siapa kamu dan bagaimana keadaan keluarga kamu. Aku mencintai kamu karena kamu baik dan sangat melindungi aku.”

Zein terdiam. Ia bukan tidak mencintai Indras lagi. Ia cemburu dan merasa bahwa dirinya memang tidak pantas berada di samping Indras. Keputusan yang diambilnya dirasa tepat. Ia ingin fokus kepada kuliahnya dan menjadi orang yang berhasil seperti keinginan orang tuanya.

Isak kecil itu masih terdengar. Zein mengulurkan sebuah saputangan. Indras menerimanya. Ia menghapus sisa air matanya.

Tiba-tiba Zein berdiri, lalu menarik lengan Indras.

“Aku lapar.”

Indras tersenyum. Sebuah kedamaian tercipta tanpa kata-kata. Ungkapan yang dikatakan oleh masing-masing adalah sebuah gencatan senjata kalau saja pertentangan itu dianggap sebuah peperangan dengan senjata masing-masing untuk saling menyerang.

***

Ketika memasuki kantin, Pri masih menyendok makanannya. Ia menoleh kearah kedatangan Zein dan Idras lalu mulutnya cemberut.

“Kamu bilang akan mentraktirku, tapi kamu kabur,” omelnya sambil menatap Indras, yang terkekeh senang.

“Bukankah kamu yang memaksa ingin mentraktir karena baru saja mendapat kiriman?”

“Katamu aku harus berhemat.”

Zein tertawa.

“Ayolah, pesan lagi saja. Kali ini aku yang akan mentraktir.”

Lalu mereka duduk bertiga.

“Zein menyakiti kamu?” tanya Pri yang pastinya melihat bekas air mata di wajah Indras.

“Jangan berpacaran dengan laki-laki yang suka menyakiti. Aku laki-laki baik, lembut, penuh kasih sayang. Pilih aku saja,” kata Pri sambil menyuapkan suapan terakhirnya.

Zein dan Indras tertawa.

“Berani? Lompati dulu mayatku,” sergah Zein yang membuat ketiganya tertawa.

“Aku masih lapar, pesankan satu porsi lagi sekalian kamu memesan makanan kamu,” kata Pri sambil menatap Zein, yang dijawab Zein dengan anggukan, dan acungan jempol kanannya.

***

Pak Narya menelpon Bagas setelah beberapa hari Bagas pulang.

“Aku tidak mengira Indras sekeras itu. Apa yang salah padamu, Bagas?”

“Bapak, saya bisa menerimanya dengan ikhlas.”

“Pasti kamu kesal dan marah sekali bukan?”

“Tidak, mengapa saya harus marah? Siapapun berhak memilih, jadi tidak apa-apa bagi saya ketika mengetahui bahwa Indras menolak saya.”

“Aku melihat kalian sangat cocok, dan selalu kompak dalam berbincang, aku pikir kalian lebih pas untuk berjodoh.”

“Kami lebih pas untuk bersahabat. Tidak apa-apa Pak, kami masih bisa saling bertemu walaupun Indras tidak mencintai saya.”

“Aku tidak suka pada laki-laki itu. Indras tidak bisa memilih pasangan yang lebih baik.”

“Yang penting Indras bahagia. Sungguh tidak apa-apa, dan saya berharap Bapak juga bisa menerimanya.”

Pak Narya diam, tapi bukannya dia sependapat dengan apa yang dikatakan Bagas.

“Bahagia tidak cukup hanya cinta. Dalam hidup banyak hal yang dibutuhkan. Kehidupan yang layak, pasangan yang serasi, dan masih banyak lagi. Lalu apa yang dimiliki Zein Abadi yang tidak memiliki apapun kecuali tampang dan penampilannya?"

 Berkali-kali pak Narya menganggap Indras begitu bodoh karena melihat Zein hanya dari sisi penampilannya saja.

***

Hari begitu cepat berlalu. Bagas menepati janjinya untuk sering berkunjung, tapi kali terakhir dia datang, Indras sedang menjalani co-ass di sebuah rumah sakit yang ada di kota lain.

Alhasil dia hanya ditemui oleh pak Narya dan istrinya.

“Telpon saja dia Bagas, barangkali untuk tiga bulan mendatang dia tidak pulang.”

“Tidak mudah kalau ingin menjadi dokter ya Pak.”

“Ya, begitulah. Memang itu yang menjadi pilihannya.”

“Semoga berhasil.”

“Aamiin.”

“Segera mencari gadis yang cocog Gas, walaupun urung menjadi menantuku, kami adalah tetap keluarga kamu, karena ayahmu itu sahabat aku.”

“Iya, doakan saja ya Pak. Sampai saat ini belum laku nih.”

“Kamu gagah tampan, mapan. Sangat gampang menemukan gadis yang cocok. Bodoh sekali kalau ada yang menolaknya,” kata pak Narya sambil mengingat kembali penolakan Indras atas lamaran Bagas.

“Barangkali memang belum ketemu jodoh.”

***

Bu Iman lebih sibuk berdagang makanan. Sedikit banyak hasil berdagang itu hanya untuk anak semata wayangnya. Terkadang jam dua malam dia sudah bangun untuk mempersiapkan dagangannya. Kebutuhan untuk kuliah Zein lebih banyak dari biasanya, karena sekarang Zein harus kost di kota lain yang dekat dengan rumah sakit tempat dia menjalani program co-ass demi tercapainya cita-cita untuk menjadi dokter.

Kebetulan Indras dan Zein mendapat tugas di rumah sakit yang sama, walau berbeda bagian. Jadi saat senggang mereka masih bisa bertemu.

Tapi Zein selalu mencukupi semua kebutuhannya sendiri, dan menolak bantuan yang ditawarkan Indras.

“Ibu mencukupi semua kebutuhan aku, jadi jangan kamu merepotkan diri untuk membantu aku. Itu juga agar orang tua kamu tidak semakin merendahkan aku.”

“Zein, lupakanlah mereka dan sikap mereka. Orang tua terkadang begitu. Tapi nanti ketika melihat ketulusan kamu, aku percaya mereka akan luluh kok,” kata Indras yang selalu menghibur kekasihnya.

Tapi hari itu Zein gelisah. Sebuah kabar membuatnya dia harus pulang. Ibunya sakit.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, April 3, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 06

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  06

(Tien Kumalasari)

 

Gemetar tangan Indras dengan masih memegang ponsel, dan menyadari bahwa Zein telah menutup pembicaraan.

“Zein?” bisiknya lirih, sedangkan air matanya bercucuran.

“Apa salahku Zein? Dosa apa yang telah aku perbuat sehingga tiba-tiba kamu memutuskan hubungan kita? Zein, aku sangat mencintai kamu. Bukankah baru beberapa hari yang lalu kamu juga mengatakan itu?”

Indras meletakkan ponselnya, dan membiarkan air matanya membanjir membasahi pipinya. Lirih tangisnya, tapi terdengar begitu memilukan. Ketika ia datang ke pemakaman ayahnya, Zein masih bersikap begitu manis. Mengapa tiba-tiba memutuskan cinta?

Indras meraih kembali ponselnya, lalu menekan nomor kontak Zein. Diangkat, tapi yang terdengar adalah suara orang mengaji bertalu-talu.

Indras berbisik.

“Zein …” lalu ponsel dimatikan.

Zein hanya ingin mengatakan bahwa dia dan tamu-tamunya sedang mengaji.

Indras kembali meletakkan ponselnya. Ingin rasanya dia lari ke rumah Zein untuk menjelaskan semuanya. Mengapa tiba-tiba Zein memutuskan hubungan, mengapa Zein bersikap sangat dingin ketika menjawab telponnya. Mengapa, dan beribu pertanyaan memenuhi benaknya, tak terjawabkan.

“Ada apa Mbak?”

Indras buru-buru mengusap wajahnya dengan tangan, tapi tangis itu tak bisa disembunyikan. Wajahnya basah, matanya sembab. Itu yang dilihat sang adik ketika memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.

“Mengapa tiba-tiba masuk?” tegurnya.

“Aku mendengar suara tangisan. Pintu kamar itu tidak benar-benar tertutup.”

“Apakah bapak atau ibu mendengarnya?”

“Mereka duduk di teras. Aku kebetulan lewat kamar ini dan mendengar Mbak menangis,” kata sang adik sambil duduk di sebelahnya.

“Zein memutuskan hubungan.”

“Putus?”

Indras hanya mengangguk dan kembali mengusap wajahnya, kali ini dengan tissue yang ada di atas nakas.

“Kalian bertengkar?”

“Aku bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mengatakan putus.”

“Tanpa bertengkar?”

“Tanpa berbicara apapun. Aku sedang menelpon dan menanyakan tentang peringatan tujuh hari meninggalnya ayahnya. Ternyata malam ini. Aku mendengar suara orang-orang mengaji. Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia mengatakan putus.”

“Pasti ada sesuatu. Tapi tak mungkin hanya karena Mbak tidak datang di acara peringatan itu.”

“Aku bahkan tidak tahu dan sedang menanyakannya.”

“Untuk menemukan jawabnya, Mbak harus bertemu besok. Tak cukup dengan Mbak menangis sepanjang malam.”

Indras mengangguk.

“Lebih baik mbak tidur dan melepaskan semua beban,” kata sang adik sambil berdiri, dan beranjak keluar dari kamar, kemudian menutup pintunya rapat-rapat.

Indras merasa kamar menjadi senyap. Ia beranjak ke pintu lalu menguncinya. Ia tak ingin ibunya juga akan memasuki kamarnya lalu melihat ia menangis.

Indras berbaring, dan mencoba memejamkan matanya.

***

Tamu-tamu bu Iman sudah pada pulang. Zein, dibantu salah seorang tetangganya mengumpulkan gelas kosong dan dibawanya ke belakang.

Setelah itu Zein mendekkati ibunya yang termenung di atas tikar bekas tempat duduk para tamu.

“Zein, besok kita ke makam ya?”

“Iya. Ibu Zein boncengin saja. Kan tidak jauh.”

“Kamu sudah lama tidak kuliah, Zein.”

“Besok setelah dari makam, Zein akan ke kampus.”

“Ya, kamu harus mengedepankan kuliah kamu, agar bisa mewujudkan cita-cita bapak dan ibumu.”

Zein mengangguk.

“Nanti kalau Zein sudah lulus dan menjadi dokter, Ibu jangan berjualan lagi. Zein yang akan mencukupi semua kebutuhan  Ibu.”

“Tapi berdiam diri di rumah kan tidak enak Zein, ibu biasa bekerja, memasak dan menjadikannya dagangan yang menghasilkan.”

“Ibu pasti lelah. Saatnya Ibu berdiam di rumah. Kalau ingin kesibukan, Ibu belanja saja dan memasak untuk kita berdua.”

“Ibu sebenarnya tidak lelah.”

“Bu, saatnya orang tua beristirahat, dan anak yang menafkahi orang tuanya.”

Sang ibu memeluk Zein dengan linangan air mata.

“Kalau ayahmu masih ada, dia pasti bangga mendengar kata-kata kamu ini.”

“Bapak sudah tenteram di sana. Kita doakan saja agar mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.”

Sang ibu melepaskan pelukannya, lalu mengusap air matanya.

“Ibu istirahatlah, biar Zein membereskan tikar-tikar ini dan membersihkan semuanya.”

“Baiklah, kamu juga harus segera beristirahat, besok kita ke makam pagi. Bukankah setelahnya kamu akan pergi ke kampus?”

***

Pak Narya sedang berbincang dengan istrinya, tentang penolakan Indras ketika Bagas menyatakan cintanya.

“Bagaimana Indras bisa berpikir sebodoh itu? Harusnya dia berpikir tentang masa depan, bukan masa sekarang yang hatinya sedang diselimuti oleh rasa cinta yang akan membuatnya tersesat,” omel pak Narya.

“Aku juga heran, bagaimana jalan pikiran Indras itu. Jaman dulu orang-orang menikah tidak harus jatuh cinta lebih dulu. Bahkan ketika akad nikah ada yang belum pernah melihat seperti apa calon pasangannya. Dan seperti ibu ini ya Pak, tadinya ibu tidak punya perasaan apa-apa kepada Bapak.”

"Orang tua pasti memilihkan jodoh terbaik untuk anaknya, ya kan? Kamu sudah merasakannya, harusnya kamu memberi contoh itu kepada Indras.”

“Tidak berhenti ibu mengomelinya, memberinya contoh, memberinya gambaran bahwa hidup itu adalah pilihan. Kalau salah memilih, pasti akan tersesat.”

“Anak itu memang keras kepala. Susah sekali bisa menerima perkataan orang tua.”

“Dulu dia tidak begitu. Indras anak penurut. Entah mengapa, giliran bicara tentang pasangan dia bisa semaunya sendiri begitu.”

“Pasti laki-laki itu yang mempengaruhinya, Siapa orangnya yang tak ingin menemukan keluarga kaya. Siapa yang tak ingin mendapatkan hidup enak, berkecukupan? Hanya Indras yang tidak bisa memilih. Kalah pintar dengan anak muda yang digandrunginya itu.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Apa? Aku juga bingung. Adiknya bisa menemukan pasangan yang baik, mengapa dia tidak?”

Bu Narya menghela napas panjang, sedih. Tapi tak mampu berbuat apa-apa.

“Semoga Indras segera menyadari kesalahannya."

***

Pagi hari itu Indras bersiap ke kampus. Tapi ia tidak bertemu Zein. Rupanya Zein belum juga masuk kuliah. Padahal bulan depan sudah memasuki masa co-ass, atau program profesi sebelum mendapatkan gelar dokter.

Indras ingin menelponnya, tapi ragu. Kalau tidak diangkat lagi, hatinya pasti sakit. Tapi dia butuh kejelasan, sehingga dalam menjalani masa-masa tugas dia bisa melakukannya dengan lebih tenang.

“Hei, mengapa melamun?”

Indras terkejut, Kris, teman kuliahnya menepuk bahunya keras.

“Hiih, sakit, tahu?”

Tapi Kris justru tertawa.

“Ngelamunin apa? Zein ya? Dia tadi bersama ibunya ziarah ke makam ayahnya. Apa dia tidak bilang sama kamu?”

Indras menggeleng. Iya juga, biasanya setelah tujuh hari keluarganya pasti mengunjungi makam, untuk sekedar menaburkan bunga, atau kembali mengirimkan doa. Hal itu akan berlanjut, saat seratus hari, sampai nanti seribu hari dan mereka tidak lagi harus mengadakan peringatan lagi. Pastinya mengirimkan doa bisa dilakukan setiap saat.

“Kamu tidak diajak? Jadi kamu tidak ingin mengunjungi makam calon mertua kamu?”

“Aku malah tidak tahu.”

“Gimana sih Zein, lihat, ia membuat kekasihnya sedih seperti ini.”

“Kris! Pergi sana, mengganggu orang saja.”

“Dengar In, orang melamun itu gampang didekati setan,” Kris masih saja menggodanya.

Indras cantik, tak heran ia memiliki banyak pengagum. Tapi tampaknya semua pengagum sudah mundur teratur sejak Indras dekat dengan Zein. Akan sia-sia mencintai orang yang sudah punya kekasih. Ya kan?

“Aku doakan agar saat co-ass nanti kamu tidak bisa satu tim dengan Zein.”

“Apa?”

“Semoga nanti aku yang bisa selalu berdekatan sama kamu.”

Indras tersenyum. Kris amat kocak, dan suka bicara semaunya. Ia merasa sedikit terhibur dengan adanya Kris didekatnya.

“Ayuk kita ke kantin,” tiba-tiba Indras berdiri.

“Bener nih?”

“Ayuk,” kata Indras yang lebih dulu berjalan ke arah kantin.

Kris mengejarnya.

“Kamu traktir aku?”

“Iya, kan aku yang mengajak?”

“Nggak enak ah, cowok ditraktir cewek? Biar aku yang traktir kamu. Aku barusan mendapat kiriman nih.”

“Jangan, anak kost harus hemat. Supaya jangan kehabisan uang sebelum mendapat kiriman berikutnya.”

“Betul juga ya. Tapi aku pengin sekali traktir kamu.”

“Aku saja,” Indras tak mau kalah.

Mereka sudah memasuki kantin dan duduk berhadapan sambil saling bercerita dan bercanda.

Saat itu tiba-tiba seseoramg muncul, berdiri di pintu kantin, menatap keduanya, lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Tapi Indras melihatnya.

Ia berdiri meninggalkan Kris yang sedang menyeruput es dawetnya.

“Zein, tunggu!”

***

Besok lagi ya.

 

SAKITKU ADALAH CINTAKU 10

  SAKITKU ADALAH  CINTAKU  10 (Tien Kumalasari)   Zein terpaku di samping ranjang sang ibu. Tangan lemah itu masih menggenggam tangannya. Ia...