Thursday, March 5, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 25

 BIARKAN AKU MEMILIH  25

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menunggu di tangga teras sambil menggendong Tama. Ketika dekat, Bima langsung mencium pipi Tama. Tapi ketika Bima mengulurkan tangan untuk menggendong, Tama menggelengkan kepala, lalu memeluk leher sang ibu dengan wajah cemberut.

“Hai Tama, ini om Bima, ayuk kenalan.”

Tapi Tama memeluk sang ibu lebih erat.

“Belum kenal soalnya Bim.”

“Sepertinya dia takut. Memangnya wajahku menakutkan ya?”

“Tidak, hanya karena belum kenal saja. Ayo masuk, kebetulan Adri ada di sini.”

Bima agak terkejut. Biarpun dia tidak bermaksud buruk, tapi mengingat bahwa Adri tidak menyukainya, keinginan masuk itu agak menyurutkan langkahnya.

“Ayo masuk,” kata Nirmala.

“Aku di sini saja,” kata Bima yang memilih duduk di teras.

“Di sini saja?”

“Iya, di sini saja.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

“Mana Adri?”

“Baru mandi. Dia juga belum lama datang.”

“Tama, ayo sini,” Bima kembali membujuk Pratama, tapi Pratama tak mau menoleh ke arahnya. Wajahnya muram.

“Kamu tiba-tiba pulang, ada berita apa?”

“Tunangan aku pulang besok, aku sudah harus di rumah, karena aku akan menjemputnya di bandara.”

“Bagus sekali, segera ajak dia menikah.”

Bima terkekeh.

“Semoga tidak ada alasan lagi untuk menolak.”

Sementara itu Adri yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar dan berpapasan dengan mbak Rana yang membawa nampan berisi tiga gelas minuman.

“Itu untuk aku?” tanya Adri.

“Untuk Tuan dan Nyonya, serta untuk tamu.”

“Ada tamu?”

“Iya, tuh di teras.”

Adri meraih salah satu gelas yang dibawa mbak Rana, lalu membawanya duduk dan meneguknya di sana.

Mbak Rana tersenyum, tampaknya sang tuan sangat kehausan sehingga ingin buru-buru minum. Ia melanjutkan langkahnya ke depan sambil membawa nampan. Mbak Rana sudah terbiasa, kalau ada tamu, tanpa disuruh dia pasti langsung membuatkan minum.

“Siapa tamunya?” tanya Adri ketika mbak Rana sudah pergi ke belakang.

“Saya belum pernah tahu, seorang laki-laki,” jawab mbak Rana kemudian berlalu.

“Adri menghabiskan minumannya, kemudian berdiri. Wajahnya langsung muram begitu melihat tamunya. Ia tak sedikitpun mengulaskan senyum meskipun Bima menyapanya ramah.

“Selamat sore Adri.”

“Selamat sore,” jawabnya singkat.

“Duduklah Adri, sudah lama kita tidak bertemu Bima,” kata Nirma.

“Aku sangat lelah, silakan dilanjutkan ngobrolnya,” katanya mempersilakan, walau wajahnya sama sekali tidak ramah. Rasa cemburu yang pernah dipendamnya ternyata belum hilang dari hatinya, biarpun dia sudah menikahi Nirmala.

“Pppaaa … ppaaap…paaa,” tiba-tiba Tama berteriak. Adri segera mengambil Tama dari pangkuan Nirmala, kemudian beranjak ke belakang, mengajak Tama duduk di ruang tamu.

Bima merasa tak enak, ia akan segera pamit, karenanya ia segera meraih gelas minumnya.

“Aku minum ya,” katanya karena Nirma tidak segera mempersilakannya.

Suasana menjadi kaku, karena sikap Adri yang sama sekali tidak bersahabat.

“Tampaknya aku akan segera pamit, aku pulang naik kereta, jam sembilan aku harus sudah di stasiun.”

“Baiklah, maaf tidak disuguhin apapun,”

“Ini sudah, minumannya sangat enak,” kata Bima sambil menghabiskan minumannya.

Tiba-tiba terdengar dering ponsel Adri dari luar. Tak lama kemudian Adri mengangkatnya, dan menyapanya dengan manis.

“Ya, Dwi?”

Nirmala menekan rasa kesalnya. Sungkan ada Bima. Bima sedang berdiri lalu mencari keberadaan Adri.

“Mana Adri?”

“Di dalam, nanti aku pamitin deh,” kata Nirmala.

Bima mengangguk, tapi ketika ia akan turun dari teras, ia melihat Adri sedang bertelpon. Bima merangkapkan tangannya sambil tersenyum, dan Adri membalasnya dengan lambaian dan dengan senyum yang dibuat-buat.

“Ya, biasanya memang begitu kalau wanita hamil.”

Tapi kemudian Adri masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan pelan tapi tandas.

“Jangan sekali-sekali kamu menelpon aku lagi," lalu ia menutup ponselnya.

Rupanya Adri mau mengangkat telpon dari Dwi, hanya karena untuk memanaskan hati Nirmala yang sedang berduaan dengan Bima, yang ia tahu bahwa Bima adalah teman dekat Nirmala sejak lama.

Nirmala masuk ke dalam kamar, wajahnya muram. Di dekatnya, ia masih saja membicarakan kehamilan.

“Apa aku ini patung yang tak punya hati dan rasa?” gumamnya pelan.

Tapi kemudian Adri yang masih menggendong Tama mendekatinya.

“Mau apa dia kemari?” kata Adri datar.

“Memangnya kenapa kalau dia datang kemari?”

“Kamu beritahu dia bahwa kamu ada di sini, supaya dia mendatangi kamu selagi aku tidak ada kan?”

“Apa maksudmu?” kata Nirmala dengan nada tinggi.

“Aku tahu sejak dulu dia menyukai kamu. Ia sedang mencari celah untuk menemui kamu tanpa sepengetahuan aku.”

“Kamu menuduh sembarangan. Bima tidak serendah itu. Dia laki-laki baik dan sangat terhormat.”

TIba-tiba Tama merasa bahwa ayah dan ibunya sedang tidak baik-baik saja. Ia menangis melengking dan meronta-ronta.

Adri memanggil mbak Rana, yang segera datang lalu mengambil Tama dari tangan ayahnya. Ketika pintu kamar ditutup kembali, Adri menatap Nirmala dengan marah.

“Dan kamu sejak dulu selalu memuji-muji dia di hadapanku. Membandingkan dia dengan aku?”

“Aku tidak membandingkan. Aku tidak memuji-muji dia, aku hanya membela dia yang kamu tuduh bermain kotor, padahal dia sebenarnya baik.”

“Ya, dia baik … baik … dan baik. Dan aku buruk, tak berharga di hadapan kamu?”

“Tidakkah?” Nirmala mulai menyerang.

“Apa maksudmu? Kamu mencurigai aku tentang apa? Aku tidak melakukan apa-apa yang menodai pernikahan kita.”

“Semut di seberang lautan tampak oleh kamu, sedangkan gajah dipelupuk mata kau abaikan?”

“Apa maksudmu?” nada suara Adri semakin meninggi.

“Aku tidak perlu menjelaskan. Bertanyalah kepada diri kamu sendiri.”

“Kamu harus menjelaskan. Kamu marah dan kesal karena aku sering membantu Dwi? Kan aku sudah bilang kalau dia teman main aku sejak kecil, lumrah kalau aku membantunya. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa kami hanya teman. Dan aku juga sudah mengatakan pada kamu, kalau kamu tidak suka maka aku akan menghentikannya, tidak akan lagi membantunya.”

“Bagus. Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya?” untuk mengucapkan itu mata Nirmala menyala seperti percikan api yang menyengat.

“Apa itu urusanku?”

“Baru saja kalian bertelpon dan membicarakan kehamilan dia, kamu katakan bukan urusan kamu?”

“Dia hanya mengeluhkan kandungannya dan dia tak punya siapa-siapa untuk berkeluh.”

“Aduhai … kasihan benar, tak punya siapa-siapa untuk berkeluh, kalau begitu jagalah dia, karena itu kewajiban kamu kan?”

“Nirmala, apa kamu bilang? Mengapa kewajiban aku? Tidak, baiklah, kalau tentang Dwi aku minta maaf, tapi Dwi bukan siapa-siapa aku, aku janji tidak akan membantunya lagi,” kata Adri lebih pelan, bahkan sangat pelan.

“Jadilah pria yang bertanggung jawab.”

“Aku bertanggung jawab pada istriku, dan karena itu pula aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain, apalagi yang sebenarnya menyukai kamu.”

“Kembali pada Bima lagi? Kamu tidak mendengar tadi yang aku katakan?”

“Nirmala!”

”Aku lelah. Sangat lelah,” kata Nirmala lemah, kemudian keluar dari kamar.

Adri terpaku di tempatnya. Ia datang untuk menumpahkan rindu dan kangennya, tapi kejadiannya malah seperti ini. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di kamar itu, dan menghembuskan napas panjang berkali-kali. Tubuh dan jiwanya terasa lemas, ia tidak tahu harus bagaimana. Kalau Nirmala kesal karena kedekatannya dengan Dwi, ia sudah berjanji akan menjauhinya. Tapi Nirmala malah bicara yang tidak-tidak, dan sangat tidak dimengertinya. Apa maksudnya aku harus bertanggung jawab?

Adri memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.

Tiba-tiba ia mendengar celoteh Tama, menuju ke arah depan. Adri bangkit, lalu membuka pintu kamar. Tapi ia terkejut ketika melihat Nirmala bersiap pergi sambil membawa kopor, dan mbak Rana sudah mendahuluinya masuk ke mobil bersama Tama.

“Nirmala, kamu mau ke mana?”

“Biarkan aku pergi bersama Tama,” katanya diselingi isak.

Adri merasa tubuhnya sangat lemas. Tersaruk ia mengejar dan berteriak.

“Nirma, jangan pergi, aku mencintai kamu,” suaranya bergetar.

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, March 4, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 24

 BIARKAN AKU MEMILIH  24

(Tien Kumalasari)

 

Bibik pembantu menatap sang nyonya dengan heran. Nyonya majikannya ini minta cerai karena tidak mau dimadu, tapi ia bersedia menjadi istri ke dua? Bukankah ini aneh? Dan apa yang dirasakannya itu kemudian diutarakannya kepada sang nyonya majikan.

“Bibik, ini masalah perasaan. Aku sudah tidak lagi mencintai mas Anton, sehingga aku ingin bercerai. Jadi alasannya bukan karena dia ingin menikah lagi saja.”

“Berarti alasan Nyonya karena tuan Anton mau menikah lagi itu tidak sepenuhnya benar?”

“Ada alasan itu, tapi sekarang aku jatuh cinta pada teman kecilku, aku mau menjadi istri keduanya.”

“Nyonya telah membuat masalah,” gumam bibik pembantu.

“Kamu diam saja Bik, biar aku berusaha menggapai cintaku sendiri.”

“Saya ikut sedih kalau Nyonya kecewa.”

“Mengapa kamu mengira aku akan kecewa?”

“Nyonya, saya melihat sikap tuan Adri pada malam terakhir ketika mengantarkan Nyonya pindah kemari. Dia kelihatan tidak suka. Kalau memang dia suka, saya pasti mendukung Nyonya. Kalau memang Nyonya dan dia saling suka, ya terserah saja, asal bisa mengatasi masalah. Soalnya tuan Adri punya istri, jadi masalah pasti ada. Tapi kalau sama-sama nekat, mau bagaimana lagi? Hanya saja, saya kira Nyonya akan sia-sia mengejarnya.”

“Aku belum mencobanya. Kita lihat saja nanti.”

Bibik undur ke belakang, setelah gagal membujuk majikannya untuk pergi ke dokter. Sebetulnya suasana ini sangat tidak menyenangkan bagi bibik. Ia hanya pembantu. Biasanya menurut majikan, tidak berhak memberikan saran. Kalau dia nekat, dia bakal dipecat dan itu berarti kehilangan penghasilan. Karenanya dia kemudian diam. Tapi ketika kemudian ia mendengar lagi sang nyonya muntah-muntah, terpaksa dia tergopoh-gopoh mendekatinya.

“Nyonya, kan saya sudah bilang, ke dokter saja, biar diberi anti muntahnya, daripada Nyonya menelpon ke mana-mana,” kata bibik sambil memijit-mijit tengkuk sang nyonya majikan.

 “Tidak keluar apa-apanya, malah perutnya sakit Nyonya. Ke dokter saja, mumpung masih sore.”

Akhirnya Dwi menurut kata bibik, berangkat ke dokter saat itu juga. Urung menelpon Adri, karena perutnya terasa sakit dan tidak nyaman.

***

Malam itu Adri gelisah. Ia menelpon sang istri, tapi lagi-lagi tidak tersambung. Kali ini memang ponselnya mati. Ia belum makan malam, dan memang tak ingin makan. Rasanya hanya ingin ketemu sang istri saja, atau berbicara dengannya. Karena ponselnya mati, harapan berbincang malam itu tak kesampaian.

“Ya ampun, selama berkeluarga aku tak pernah merasa segelisah ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Nirma, katakan ada apa, aku tak mengerti. Jelas kamu marah, tapi aku tidak tahu kenapa. Tak ada yang aku sembunyikan dari kamu.”

Adri hampir tidak tidur semalaman. Ketika bangun wajahnya tampak pucat dan lesu. Bibik menyiapkan minuman hangat dan menawarkan sarapan.

“Tuan, Tuan kelihatan sangat pucat, semalam Tuan langsung tidur, tidak makan juga.”

“Iya Bik, agak malas makan.”

“Nanti Tuan sakit. Kemarin Nyonya berpesan agar melayani Tuan seperti biasanya.”

“Nyonya berpesan begitu?”

“Iya, Tuan. Nyonya selalu berpesan begitu setiap akan pergi sampai menginap.”

“Berarti Nirma masih peduli sama aku,” kata batin Adri. Tapi hatinya tetap saja gelisah.

“Tuan kalau mau sarapan sudah saya siapkan. Kalau tidak, nanti Tuan bisa sakit. Wajah Tuan kelihatan pucat.”

“Iya, aku nanti sarapan Bik,” katanya sambil meneguk coklat susunya yang masih setengah panas.

Bibik ke belakang, melihat lagi ke meja makan, apakah sajiannya sudah sempurna ataukah belum. Ia khawatir, sang tuan tidak suka makan karena penyajiannya yang kurang bagus, atau menu makanan tidak sesuai yang diinginkan sang tuan. Tapi sebenarnya perasaan bibik ini berlebihan. Ia memasak seperti biasa, menghidangkan seperti biasa, tak ada yang berbeda saat sang nyonya majikan ada di rumah.

Ia senang melihat tuan Adri makan dengan lahap. Tapi wajah sembabnya masih sangat tampak.

“Apakah Tuan sakit?” tanya bibik yang sudah lama mengabdi di keluarga Bondan, sehingga keluarga Nirmala juga sudah seperti keluarganya. Dia tidak merasa sungkan menanyakan banyak hal yang dilihatnya janggal, kecuali hal yang sangat pribadi.

“Agak lelah Bik, tidak apa-apa.”

Sambil makan itu Adri mencoba menelpon sang istri, tapi ponselnya tetap masih mati.

Adri berangkat ke kantor, lalu berusaha mengesampingkan keinginannya untuk berkomunikasi. Ia berjanji bahwa nanti sepulang kantor akan langsung menemui sang istri, bukan hanya menelpon, karena beberapa kali menelpon tidak bisa terhubung.

***

Siang hari itu Adri tidak menelpon lagi istrinya. Entah dengan alasan apa, nyatanya setiap menelpon tidak pernah tersambung. Akhirnya Adri memutuskan untuk datang saja langsung menemuinya, sehabis kantor nanti.

Ia bisa pulang lebih awal karena tidak ada masalah hari itu.

Tapi mendadak ponselnya berdering. Adri merasa kesal, ia sudah tak mau berhubungan lagi dengan Dwi, karena alasan sang istri yang tampaknya tidak suka. Betapapun keras kepalanya Adri, tapi ia tetap mencintai istrinya. Dering ponsel itu memekakkan telinganya. Ia tetap tak mengangkatnya.

Tapi tak lama kemudian ada pesan di ponsel itu yang dikirimkan Dwi. Ia hanya ingin membacanya, tapi tak akan membalasnya. Hanya ingin tahu saja apa yang dikatakannya.

“Adri, berkali-kali menelpon tidak bisa tersambung. Kamu sangat tega ya Adri. Lihatlah aku sekarang terbaring di rumah sakit. Badanku lemah, muntah tak henti-hentinya. Keinginanku hanya satu, kamu bisa datang menemuiku, agar aku mendapat kekuatan baru," itu bunyi pesannya.

Adri agak terganggu dengan kalimat sedang terbaring di rumah sakit. Sepantasnyalah kalau ada bawahan sakit maka pimpinan juga harus memperhatikan. Tapi tidak. Adri sangat kuat dengan pendiriannya. Ia menyuruh staf yang ada di kantor cabang agar memperhatikan keadaan Dwi.

Dan Dwi terkejut ketika beberapa kawan sekantornya menjenguknya di rumah sakit.

“Oh, ini karena hamil toh?” kata seorang teman sekantornya yang sedang membezoek.

Dwi heran karena rekan sekantornya membezoek ganti berganti.

“Pak Adri meminta agar kami menengok ibu di rumah sakit, karena pak Adri akan  mengunjungi istrinya di kantor cabang yang lain. Rupanya pak Adri sangat perhatian pada Ibu,” kata salah seorang rekannya.

“Kami memang dekat,” kata Dwi sedikit membanggakan diri. Tapi ia kesal karena Adri hanya menyuruh orang-orang kantor sedangkan nanti dia akan pergi menemui istrinya. Dwi tahu, kalau Nirmala ditugaskan ke kantor cabang yang lain.

“Ini bukan sakit karena penyakit,” kata salah seorang rekannya yang lain.

“Sakit hamil itu kan sakit yang menyenangkan,” celetuk yang lain.

“Tapi seperti aku dulu, saat hamil terbaring di rumah sakit karena muntah tak henti-hentinya. Lama waktu itu, sampai tiga bulan lebih tak bisa ngapa-ngapain.”

Dwi tak menyahut. Pikirannya hanya satu. Adri sedang bersama istrinya. Ia akan menelponnya. Biar saja istrinya tahu. Kata batinnya. Tapi harus menunggu malam. Adri pasti akan ke sana sore, dan malam hari ketika dia sedang berduaan dengan sang istri, dia akan mengejutkannya.

***

Di tengah bekerja itu, Nirma menerima pesan singkat dari Bima. Bima akan pulang ke Jawa, dan pasti mampir untuk menemuinya. Bima bilang ada yang ingin dikatakannya. Nirma tersenyum. Bagaimanapun dengan adanya Bima ia menjadi sedikit terhibur.

Ketika membaca pesan Bima itu, Nirmala segera tahu bahwa Adri berkali-kali menelponnya. Yang terakhir adalah ketika dia mengecas ponselnya, dan setelah itu ia belum membuka ponselnya lagi.

Ada apa Adri menelponnya? Nirmala hanya sedikit berpikir tentang Adri, kemudian dikibaskannya.

“Rupanya Adri masih berupaya menunjukkan bahwa masih memperhatikan aku. Omong kosong kan? Rindu … kangen … menelpon berkali-kali … apa lagi? Tapi Nirmala bergeming. Bayangan seorang wanita muda yang perutnya buncit, melintas, membuatnya terganggu, membuatnya berpikir bahwa apa yang dikatakan Adri hanyalah palsu.

Kemudian ia membalas pesan singkat itu.

“Aku tunggu, Bima. Jangan siang-siang, aku masih di kantor.”

Lalu Bima menjawabnya.

“Sorean lah, aku langsung ke  situ. Aku juga ingin bertemu anakmu. Apakah dia ganteng seperti ayahnya, atau walau laki-laki tapi mirip ibunya?”

Nirma tersenyum, lalu dibalasnya.

“Mirip ibunya dong.”

Lalu Nirmala tak meneruskan lagi karena tenggelam dalam pekerjaannya.

***

Hari itu Nirmala pulang agak siang, karena Bima akan bertamu. Setelah mandi dan berganti pakaian rumah, ia mengajak Tama bermain di teras.

Tama senang bermain dengan sang ibu, tapi Tama anak yang pintar. Ketika ia mengambil sebuah mobil, ia rupanya ingat bahwa mobil-mobilan itu ayahnyalah yang membelikannya. Sambil mengacungkan mobil-mobilan itu ke depan, ia berceloteh.

“Ppaaa …pp…paa …”

Nirmala mengelus kepala Tama. Anaknya itu memang sangat dekat dengan ayahnya. Tapi tiba-tiba, seperti sebuah keajaiban, ucapan Tama itu benar-benar membuat Nirma terkejut, karena ia melihat mobil sang suami memasuki halaman.

Tama yang lebih dulu melihatnya berjingkrak-jingkrak senang.

Adri bergegas mendekat dan merengkuh anak laki-lakinya, mendekapnya erat di dadanya.

“Tama, bapak kangen banget sama kamu.”

Nirmala menatapnya datar. Tapi ia benar-benar tak mengira sang suami akan datang menemuinya.

Sambil menggendong Tama, Adri mendekati Nirma dan memeluk dengan sebelah tangannya. Nirma ingin mendorongnya, tapi tangan sang suami sangat kuat. Akhirnya dia diam.

“Mandi sana, bau asem,” kata Nirma yang tidak tahu harus berkata apa.

Adri terkekeh. Ia kembali ke mobil untuk mengambil koper kecilnya, karena ia memang berencana untuk menginap.

“Baiklah, aku mau mandi dulu.”

Mbak Rana yang melihat kedatangan Adri segera ke belakang untuk membuatkan minuman. Tama masih bersama ibunya, yang sedikit bingung dengan kedatangan sang suami.

Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan pagar, lalu seseorang keluar, dan bergegas berjalan ke arahnya.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, March 3, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 23

 BIARKAN AKU MEMILIH  23

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala membuka ponselnya dengan wajah berseri. Lama sekali dia tidak mendengar kabar dari Bima. Setahun lebih, hampir dua tahun malahan.

“Assalamu’alaikum,” sapa Nirmala ketika menelponnya.

“Wa’alaikumussalam. Senang akhirnya kamu menghubungi aku.”

“Apa kabarmu, Bima?”

“Sangat baik, aku sedang di luar Jawa. Sudah setahun lebih.”

“Aku kira kamu sudah melupakan aku.”

“Mana mungkin aku melupakan kamu? Bagaimana kabar Adri? Aku tahu kamu tidak di rumah. Makanya aku berani menelpon malam-malam. Kalau di rumah aku takut, nanti suami kamu marah.”

“Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang tidak di rumah?”

“Tadi sore bapak menelpon aku. Tumben saja, kangen katanya. Lalu bapak bilang kalau kamu sedang bertugas diluar kota.”

“Iya, baru tadi pagi aku di sini.”

“Bagaimana dengan anakmu? Kabarnya kamu sudah punya momongan.”

“Ada di sini, bersama aku dan perawat. Soalnya dia masih minum ASI.”

“Oh, berapa umurnya?”

“Baru setahun, sedang lucu-lucunya.”

“Suatu hari aku ingin mengunjungi kamu ke rumah, kira-kira suami kamu marah nggak ya, dia kan nggak suka sama aku.”

“Nggak lah. Datang aja. Kalau kita tidak ada apa-apa kan tidak perlu takut. Oh ya, kamu sudah menikah?”

”Belum.”

“Lho, aku kira sudah …”

“Kalau aku menikah pasti mengabari kamu dong.”

“Mungkin saja, karena kamu jauh. Kenapa sih berlama-lama. Cepat menikah dan punya anak. Punya anak itu senang lho, dia bisa menghibur saat kita sedang suntuk, bisa menyegarkan ketika kita sedang lelah.”

“Maunya sih, tapi dia belum mau, masih harus menyelesaikan studinya di luar negeri.”

“Wah … sampai kapan?”

“Nggak tahu juga aku. Doakan saja semoga lancar semuanya. Padahal orang tuaku sudah nggak sabar menunggu.”

“Menikahlah dulu, masalah studi bisa dilakukan sambil jalan. Keburu jadi bujang lapuk kamu Bim.”

“Entahlah, aku pasrah saja,” kata Bima lemas.

“Kelihatannya kamu sebenarnya juga sudah ingin kan? Ajak dia menikah dulu. Kelamaan juga nggak bagus. Keburu digaet cowok lain, bagaimana?”

Terdengar Bima tertawa kecil.

“Ya sudah, maaf ini … aku mengganggu saat istirahat kamu. Pastinya kamu sangat lelah. Kata bapak urusannya agak berat sehingga kamu dikirim kemari.”

“Ya, kantor cabang ini memang tanggung jawabku, aku yang membuka dan merintisnya hingga menjadi perusahaan yang maju.”

“Kamu benar-benar luar biasa. Tapi jangan terlalu sibuk, beri juga waktu untuk suami, agar dia juga tidak kesepian, lalu timbul pikiran yang macam-macam.”

“Pikiran yang macam-macam itu seperti apa?”

“Misalnya … misalnya lho ini, aku hanya cerita saja, dan tidak semuanya begitu. Misalnya … karena tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan dari istrinya, dengan alasan sang istri lelah, atau terlalu sibuk, bisa saja dia lari ke perempuan lain, yang punya banyak waktu.”

Nirmala terpana.

“Eh, kenapa kamu diam? Jangan takut Nirma, aku yakin suami kamu sangat mencintai kamu. Ahaa … apa aku menakuti kamu? Tidak kan? Kata bapak, hidup kamu sangat bahagia, dan bapak sangat bersyukur.”

“Tidak Bima, aku tidak apa-apa, hanya kamu agak menakuti aku, tapi tidak, hanya agak … tapi tidak benar-benar takut kok, jangan khawatir.”

“Ya sudah, istirahatlah, akan berapa lama kamu di sini?”

“Dua tiga hari, atau mungkin seminggu, tergantung situasi perusahaan. Tadi aku sudah hampir menyelesaikannya. Menunggu beres yang benar-benar beres. Tapi kalau aku masih kerasan di sini ya bisa lebih lama, entahlah.”

“Ya sudah, kalau ada waktu aku akan menelpon lagi.”

Nirmala meletakkan ponselnya dengan kata-kata Bima masih melekat di benaknya.

“Dengan istri terlalu sibuk, lelah, lalu suami memiliki pemikiran yang macam-macam? Bahkan melakukannya? Perempuan lain? Nirmala menjatuhkan tubuhnya di sofa. Apakah karena salahnya maka suaminya menghamili perempuan lain, dan itu dilakukan dengan tanpa merasa dosa? Soalnya dia setiap bicara tentang perempuan itu, kelihatannya wajar-wajar saja.”

Nirmala bangkit ketika dari kamar Pratama ia mendengar rengekannya. Nirmala memasuki kamar itu, dan mendengar Tama mengigau memanggil-manggil papanya.

“Paapp…paaa …”

Mbak Rana bangkit kemudian menepuk nepuk pantatnya pelan, sampai Tama kembali tertidur.

Nirmala menghela napas. Pratama kangen sama ayahnya? Tampaknya dia bermimpi tentang sang ayah.

***

Hari itu Adri bekerja dengan gelisah. Pikirannya hanya tertuju kepada istrinya. Ia merasa tidak melakukan apa-apa, tapi istrinya marah tanpa dia tahu sebenarnya ada apa. Adri yang tidak peka, merasa bahwa istrinya baik-baik saja. Tentang Dwi? Dwi hanya teman masa kecil, di mana dulu dia sering bermain bersama, hujan-hujanan bersama, berkejar-kejaran dan masih banyak lagi. Kalau sekarang bertemu, lalu dia butuh pertolongan, apakah ia harus menolak? Kenangan masa kecil itu masih melekat di hatinya. Tapi itu bukan cinta. Sekarang dia merasa Dwi bersikap agak lain. Bukan seperti teman, tapi lebih dari itu. Sikap-sikapnya semakin menyentuh hal-hal terlarang yang seharusnya tidak bisa dilakukannya. Dan karena itulah dia berjanji sejak malam mengantarkan kepindahannya, dia akan menghentikan semuanya.

“Benarkah kamu marah karena Dwi? Bukankah semuanya tentang Dwi sudah aku katakan? Bukankah aku berterus terang setiap mengantarkannya, membantunya, bahkan menungguinya saat dia sakit,” gumamnya sendirian.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Memang sudah waktunya istirahat, lalu Adri melihat siapa yang menelponnya. Dwi? Tidak. Adri mengacuhkannya. Ponselnya dibiarkan tergeletak begitu saja, dan bergetar-getar karena panggilan yang tidak dijawab.

Adri tidak mau terlibat lebih jauh, karena ia merasa Dwi punya maksud lain. Apa Dwi lupa bahwa dia punya istri? Lagi pula dia juga sedang hamil.

Seorang sekretarisnya mengetuk pintu dan kemudian masuk.

“Maaf Pak, ada telpon dari bu Dwiyanti, katanya ingin menghubungi Bapak, tapi ponsel Bapak tidak diangkat.”

“Abaikan saja. Bilang aku sedang rapat, atau apa. “

“Katanya sangat penting.”

“Abaikan saja. Kamu tidak mendengar perintahku?” kata Adri dengan nada tinggi sehingga sekretaris itu undur kebelakang setelah mengangguk berkali-kali.

Ia menjawab telpon Dwi seperti diperintahkan atasannya.

Adri sangat kesal. Kemudian dia ingin sekali menelpon sang istri.

Dari seberang, terdengar nada sibuk. Katanya orang yang dia hubungi sedang bicara dengan penelpon lain.

Adri menghela napas, kemudian ia menuliskan pesan  di ponselnya.

“Nirma, apa kabarmu? Semoga kamu dan Tama baik-baik saja. Tadi aku menelpon kamu, tapi kamu sepertinya sedang sibuk. Ini saat istirahat, aku pikir kamu juga sedang istirahat. Kapan tugas kamu selesai? Pastinya langsung pulang bukan? Jangan terlalu lama. Aku kangen sekali.”

Sudah terkirim, masih centang satu. Adri ingin pesan itu segera mendapat jawaban, tapi tidak. Sampai saat pulang kantor pesan itu belum dibacanya.

Adri tidak bernafsu makan. Ia hanya menyuruh OB untuk membelikan gado-gado, yang barangkali membuatnya segar, dan segelas jus alpukat dengan toping coklat.

Lalu terdengar notifikasi pesan. Adri buru-buru meraih ponselnya. Ternyata dari Dwi. Adri urung membacanya. Ia kembali meletakkan ponselnya agak menjauh, lalu terdengar dering telpon berkali-kali. Dari Dwi lagi? Adri mematikan ponselnya, lalu meraih makanan yang dipesannya setelah disajikan dengan manis oleh OB. Ada piring, ada sendok, ada pula serbet makan. Adri memakannya pelan.

***

Dwi pulang dari kantor dengan wajah pucat. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah sampai lemas. Seluruh makanan yang disantapnya tak ada yang tersisa dari mulutnya.

Bibik merasa panik. Ia membantu sang nyonya majikan mengganti pakaiannya, dan menggosok seluruh tubuhnya dengan minyak yang berbau segar dan menghangatkan.

“Buatkan aku minuman panas.”

“Susu ya?”

“Nggak mau, coklat saja.”

“Kalau susu kan bisa membuat Nyonya bertenaga.”

“Buatkan saja apa yang aku inginkan.”

“Baiklah, Nyonya.”

“Belikan aku rujak,” katanya setelah bibik datang dengan segelas coklat panas di tangannya.

“Nyonya, kita orang baru di sini, bagaimana dan ke mana harus membeli rujak? Lagipula ini sudah malam.”

“Kamu kan bisa bertanya-tanya?”

“Apa tidak sebaiknya nyonya makan dulu, lalu minum obatnya?”

“Tidak mau, itu obat pusing, aku tidak pusing, hanya mual.”

“Jadi Nyonya tidak punya obat mual?”

“Aku baru merasa mual sekarang ini. Keterlaluan sekali, aku tidak apa-apa tadi, kenapa tiba-tiba begini?

“Barangkali Nyonya terlalu letih.”

Dwi bangkit dan menghabiskan segelas coklat yang diminumnya.

Tapi tak lama kemudian Dwi lari lagi ke kamar mandi. Bibik mengejarnya, dan membantunya dengan memijat-mijat tengkuknya.

Setelah kembali berbaring, bibik mengajaknya ke dokter saja.

“Tidak, biar begini saja, aku mau rujak.”

“Nanti perut Nyoya bertambah sakit. Lebih baik ke dokter saja.”

“Tolong panggilkan Adri, Bik. Pakai ponselku itu.”

“Tapi Nyonya, bagaimana kalau istrinya tahu. Ini kan saatnya mereka sudah berduaan di rumah.”

“Tidak, istrinya tidak akan marah, mana ponselnya, biar aku saja.”

“ Nyonya, ayo bibik antar ke doker dulu.”

“Aku telpon Adri dulu, kalau tidak diangkat juga, aku mau telpon istrinya.”

***

Besok lagi ya.

Monday, March 2, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 22

 BIARKAN AKU MEMILIH  22

(Tien Kumalasari)

 

Adri mengikuti di belakang Nirmala yang sudah berjalan mendekati mobil.

“Kehamilannya biasa saja. Tadinya dia mau minta cerai dari suaminya. Maksudku, sudah meminta cerai, barangkali sudah diurus oleh suaminya.”

“Syukurlah,” kata Nirmala singkat. Kalau sudah cerai, lalu Adri bisa menikahinya bukan? Ada darah menetes dari hatinya, perih.

“Kehamilan itu akan menghambat perceraiannya, jadi beberapa hari yang lalu dia ingin menggugurkannya.”

“Kamu sudah melarangnya bukan?”

“Tentu saja aku melarangnya, bayi itu tidak berdosa,” kata Adri tanpa merasa bersalah.

“Bagus. Jangan sampai dosa menjadi bertumpuk,” katanya sambil naik ke mobil.

Mbak Rana masih tegak di teras, sambil menggendong Tama. Ia tak segera mengikuti karena kedua majikannya sedang bicara, yang tampaknya sangat serius.

“Mbak Rana, kenapa berdiri saja di situ?” teriak Nirma, sementara Pratama sudah melambai-lambaikan tangannya sambil mengoceh, takut tidak jadi diajak pergi.

Mbak Rana segera turun sambil menggendong Tama yang berjingkrak-jingkrak. Tampaknya ia ingin menyapa sang ayah.

“Paaaa … pp… paaaa.”

“Iya sayang, jaga ibu ya,” kata Adri sambil mencium kedua pipi anaknya berkali-kali.

“Jangan lama-lama, aku akan merindukan kalian. Nanti kita bicara lagi.”

Nirmala tak bereaksi. Ia menstarter mobilnya sambil menikmati ucapan indah itu.

 “Rindu ya, kangen ya, katakan cinta juga, aku tak akan percaya,” kata Nirmala dalam hati.

“Aku pergi dulu,” katanya sambil berlalu.

Adri masih menatapnya, tangannya melambai ke arah mereka dengan lambaian lemah. Ada yang terasa berbeda. Mengapa Nirma tidak mencium tangannya? Oh ya, sudah berhari-hari hal itu tidak dilakukannya.

“Ada apa sebenarnya istriku? Harusnya tadi bisa bicara banyak, tampaknya ada yang membuat kesal, kedekatanku dengan Dwi? Aku kan hanya  mengingat persahabatan masa kecil, dan aku sudah mengatakan semuanya pada Nirmala. Sepertinya dia tak apa-apa. Tidak melarang, tidak marah. Aku jadi bingung,” gumamnya sambil masuk ke rumah. Tapi bukannya masuk ke dalam, dia malah duduk di teras.

Adri terlalu bodoh, atau dalam hal bergaul, berpikirnya sangat sederhana. Bias jadi dia pintar dalam menjalani kuliah. Lulus dengan nilai memuaskan, bisa bekerja dengan nilai yang sangat jempolan seperti yang pernah dikatakan mertuanya. Tapi dalam hal memahami hati wanita, Adri benar-benar bodoh.

Ada wanita yang bisa menutupi kekesalannya dan memilih diam sementara hatinya luka di dalam. Tapi ada wanita yang meledak-ledak. Begitu kesal langsung dilampiaskan, dengan amarah pula.

Adri hanya mengira kalau istrinya marah karena ia pulang terlampau malam.

Kemarin setelah sesambat pusing dan minta dipijit, Dwi tak juga mengatakan kalau pusingnya sudah sembuh, atau paling tidak berkurang. Tapi Dwi masih saja mengeluh, sehingga Adri yang sebenarnya lelah memaksanya membawa ke dokter. Lalu membelikan obatnya, lalu mengantarnya pulang, dan memaksanya minum obat yang diberikan sang dokter. Setelah itu Adri memaksa pulang. Dwi merengek-rengek agar jangan ditinggal, tapi Adri tak bisa lebih lama.

“Dwi, ini sudah malam, istriku bisa marah kalau aku pulang terlalu malam.”

“Adri, kamu mengatakan kalau istrimu sabar, tidak pernah marah,” Dwi masih merengek.

“Tapi ini sudah malam, tidak baik aku kelamaan berada di sini.”

“Adri ….”

“Aku pulang dulu,” katanya sambil menjauh. Ia merasa Dwi sudah keterlaluan, dan ada tanda-tanda ingin menggodanya. Adri baru merasakannya? Semoga tidak terlambat.

Sebelum menutup pintu kamar, ia masih mendengar rengek Dwi yang kemudian turun dari pembaringan.

“Kamu berjanji akan sering menjengukku bukan?”

“Kalau senggang, semoga bisa,” katanya sambil menjauh. Ia merasa ada ular yang melilitnya, yang seperti menghambat langkahnya. Tapi Adri tetap melangkah, keluar dari rumah.

“Adri, aku akan merindukanmu,” teriak Dwi ketika mobil Adri sudah berjalan.

Adri menghela napas panjang. Sekarang ia sendirian, sang istri pergi karena tugas bisnisnya. Anak semata wayang dibawanya serta. Tiba-tiba, walau sudah sering mereka berpisah demi pekerjaan, tapi kali itu rumahnya terasa sangat lengang. Tak ada napas kasih sayang. Tak ada teriakan si kecil ketika minta dia menggendongnya.

“Maafkan aku, Nirma, aku janji akan menjauhi Dwi, dan sebenarnya aku tidak mengabaikanmu,” bisiknya pelan.

Adri tersadar ketika ponselnya berdering. Dari sekretarisnya.

“Selamat pagi Pak, apakah Bapak tidak ke kantor hari ini?”

“Apa?”

Adri menutup ponselnya tiba-tiba. Sudah jam sembilan pagi, hampir setengah sepuluh, ia masih melamun di rumah. Ia bergegas ke dalam. Ketika melewati ruang makan, sarapan yang disediakan masih utuh. Nirmala juga tak memakannya. Ia ingin sarapan dulu, tapi keburu siang, ia bersiap-siap lalu mengambil tas kerjanya. Ketika ia beranjak ke depan, bibik pembantu berlari-lari mengejarnya.

“Tuan, Tuan tidak sarapan dulu?”

”Tidak, aku sudah terlambat,” katanya sambil menghampiri mobil.

Bibik berdiri di teras. Rumah akan kosong kecuali dirinya. Ia bersiap mengunci semua pintu sebelum merampungkan tugasnya, bersih-bersih rumah.

***

Walaupun baru pindah, Dwi tetap masuk ke kantor pagi itu, walau agak siang.

Bibik menyiapkan makan dan obatnya, sambil menungguinya bersiap.

“Aku tidak usah minum obat,” katanya setelah makan.

“Kenapa Nyonya, sudah susah-susah dibelikan obatnya, nanti Nyonya pusing lagi bagaimana?”

“Sudah sembuh Bik, jangan khawatir.”

“Wajah Nyonya juga masih pucat begitu, dan sembab.”

“Aku sedih Bik.”

“Memangnya kenapa?”

“Adri tergesa pulang, padahal aku sudah mengeluh sakit kepala. Tega sekali dia.”

“Nyonya ya jangan begitu. Ini sudah malam, pastinya dia ditunggu istrinya, nanti dikira kenapa-kenapa?”

“Istrinya itu tidak perhatian sama suaminya. Kemana-manapun tidak pernah marah, suaminya dibiarkan saja semaunya.”

“Kalau suaminya bisa dipercaya, memang harus begitu, Nyonya.”

“Kamu itu tidak mengerti. Sekarang ini aku sangat bergantung pada Adri. Tanpa dia, aku tidak kuat menjalani hidup ini. Bercerai dengan suami, hamil pula.”

“Sebenarnya kan lebih baik Nyonya kembali pada tuan, mengatakan kalau Nyonya hamil, jadi tuan mengurungkan niatnya menikah lagi.”

“Aku sudah bosan sama suami aku, Bik.”

“Lhoh, Nyonya bagaimana?”

“Kamu itu katanya mendukung kalau aku jadian sama Adri, sekarang malah menyuruh aku kembali pada mas Anton.”

“Saya kira tuan Adri juga suka pada Nyonya. Tapi setelah saya pikir-pikir ….”

“Tidak usah dipikir-pikir. Kamu tidak tahu perasaanku. Sebenarnya aku mencintai Adri. Dia teman mainku sejak masih kecil. Aku suka dia sejak masih kanak-kanak.”

“Kalau begitu mengapa Nyonya dulu tidak menikah dengan tuan Adri?”

“Aku tidak tahu. Dia memilih menjadi menantu orang kaya. Bos besar yang bernama pak Bondan itu kan mertuanya. Dia juga yang memiliki pekerjaan di mana aku bekerja.”

“O, berarti Nyonya kalah sama istrinya yang sekarang.”

“Aku tahu sesungguhnya Adri juga suka sama aku. Istrinya memang cantik, tapi aku ini kurang cantik apa, coba?”

“Lha kalau sudah terlanjur menikah sama dia, dan nyatanya tuan Adri juga tidak bisa meninggalkan istrinya, lebih baik Nyonya tidak usah memikirkannya.”

“Aku mau menggugurkan kandungan ini, dia melarang. Aku pikir karena dia juga menginginkan bayi ini. Ternyata semalam kelihatan sekali kalau dia tidak benar-benar suka sama aku.”

“Jangan menggugurkan kandungan Nyonya, kasihan. Bayi itu tidak berdosa.”

“Kalau Adri mau menikahi aku, tidak masalah. Ada teman mengurusnya. Tapi aku kehilangan harapan Bik. Dia sepertinya lebih mencintai istrinya. Padahal aku jadi istri kedua juga mau.”

“Nyonya, daripada dipikir terus, lebih baik lupakan saja dia.”

“Entahlah Bik, sekarang aku mau ke kantor dulu,” kata Dwi sambil beranjak ke depan, di mana ia sudah memanggil taksi.

Bibik menatapnya dengan heran. Ia mengira Nyonya majikan dan tuan Adri memang saling suka, sehingga kalaupun menikah, ya mau bagaimana lagi, namanya saling suka. Tapi kalau si tuan ganteng itu tidak  suka, lebih baik dilupakan saja, namanya suami orang. Bibik heran, Dwi minta cerai dari suaminya karena tidak mau dimadu, lha sekarang ingin jadi istri muda? Jadi dia meminta cerai itu bukan karena dimadu, tapi karena memiliki pria yain yang disukainya. Pikir bibik yang kemudian melanjutkan menata barang-barang Dwi yang baru semalam dibawanya.

***

Karena seharian sibuk mengurusi keadaan perusahaan, Nirmala bisa melupakan masalah yang sedang menimpa dirinya. Masalah yang seharusnya bisa dibicarakan, tapi kemudian dipendam oleh dirinya sendiri. Kekesalan yang dilampiaskan sepotong demi sepotong, tidak membuat suaminya mengerti sehingga terjadi salah paham yang bisa jadi akan berkepanjangan.

Sudah malam ketika Nirmala pulang ke rumah. Lelah dan letih membuatnya sejak pulang dan mandi, ia hanya terbaring di sofa sambil memejamkan mata. Mbak Rana yang pengertian, mengajak Tama bermain asyik, sehingga tidak mengganggu sang ibu yang tampak letih.

Saat istirahat itu, ia kembali teringat sang suami. Ia merasa, suaminya sama sekali tidak merasa berdosa. Bicara tentang kehamilan Dwi, dijawab dengan ringan. Dwi mau menggugurkan kandungan, dijawab dengan ringan pula. Sehabis bertelpon dengan Dwi, Adri mendekati dirinya dan merayunya, tanpa sadar bahwa telpon itu membuatnya sakit.

“Apakah Adri laki-laki yang tidak punya perasaan?”

Tiba-tiba ponselnya berdering, Nirmala tak ingin mengangkatnya, ia yakin suaminya yang menelpon. Paling-paling hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Beberapa saat lamanya tak diangkat, terdengar notifikasi pesan. Nirmala hanya melirik ponselnya. Mendengar suaranya dan membaca tulisannya, barangkali rasanya berbeda. Nirmala mengangkat ponselnya, ternyata bukan dari Adri. Nirmala berdebar, ternyata telpon dan pesan itu dari Bima.

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, February 28, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 21

 BIARKAN AKU MEMILIH  21

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menunggu reaksi sang ayah ketika mendengar kesanggupannya yang seperti tanpa berpikir panjang.

“Kamu tidak bicara dulu dengan suami kamu? Maafkan bapak, soalnya ini masalah mendesak, yang tidak bisa aku bicarakan sekarang, karena akan panjang. Yang penting kamu berangkat ke sana dulu. Hanya saja kamu harusnya bicara dengan suami kamu kan?”

“Iya Pak, tentu Nirma akan bicara. Adri itu orangnya tidak terlalu susah. Dia seorang pimpinan perusahaan yang pastinya bisa memaklumi ketika di salah satu cabang ada masalah. Bapak tidak usah khawatir, Adri akan mengerti.”

“Apa dia sudah tidur? Kalau belum biar bapak bicara sama dia.”

“Tidak usah Pak, benar, dia sudah tidur. Nanti Nirma yang akan bicara, tidak usah Bapak.”

“Baiklah, kamu bicara baik-baik pada suami kamu. Kalau kamu tidak bisa, bapak yang akan berangkat.”

“Jangan Pak, biar Nirma tangani. Bapak tenang saja.”

“Kamu belum tahu permasalahannya, makanya bisa tenang.”

“Nirma itu bukan hanya putri pak Bondan, tapi juga muridnya dalam segala hal, jadi kalau Bapak mempercayai Nirma, berarti Nirma bisa menangani.”

“Baiklah, anak bapak memang pintar. Sekarang tidurlah, sekali lagi maaf, bapak mengganggu malam-malam.”

“Tidak apa-apa Pak. Nirma juga belum tidur.”

Begitu menutup ponselnya, Nirmala lalu berkemas. Ia bukan hanya membawa peralatan kerja tapi juga baju-baju dan semua perlengkapannya. Ia akan mengajak Pratama dan mbak Rana, dan bermaksud tinggal lebih lama. Siapa tahu kepergiannya dari rumah dan menjauh dari suaminya akan bisa menenangkan jiwanya.

Setelah itu ia keluar, melongok ke kamar Pratama, dan melihat mbak Rana sudah tertidur. Nirmala urung mengatakan kepergiannya besok pagi.

“Biarlah mbak Rana bersiap mendadak besok, aku akan membantunya kalau dia repot.”

Baru saja ia merebahkan tubuhnya, didengarnya mobil memasuki halaman, dan sepertinya masuk ke garasi. Jam sepuluh lebih sedikit. Alasan apa yang akan dikatakannya dengan kepulangannya yang lumayan kelewat malam?

Nirmala meringkuk sambil memeluk guling pura-pura tertidur pulas.

Agak lama ketika kemudian terdengar pintu terbuka, lalu suara orang mandi. Nirmala kesal, mengapa tidak segera benar-benar tertidur, sehingga ia masih bisa mendengar semuanya?

Lalu suara kamar mandi terbuka dan tertutup, lalu entah apa yang dilakukan suaminya, ketika kemudian hidungnya mencium wangi sabun mandi, lalu terdengar dan terasa ada gerakan di belakang punggungnya. Nirmala ingin kabur, tapi mana mungkin, dia kan sedang pura-pura tidur?

Lalu sebuah tangan kokoh memegang bahunya, lalu terdengar bisikan halus.

“Nirma, maafkan aku ya.”

Nirmala bergeming. Maaf.....? Maaf karena telah menghamili orang lalu lebih memperhatikan perempuan yang sedang hamil oleh benih yang diteteskannya? Alangkah mudahnya. Tapi kemudian Nirmala heran. Suaminya mengucapkan maaf. Ia sedang menghitung-hitung, berapa kali Adri meminta maaf. Mungkin baru sekali ini. Atau dua kali, entah kapan dan atas kesalahan apa maka dia meminta maaf. Adri adalah laki-laki yang sangat mahal mengucapkan kata maaf. Ia terlalu angkuh. Kali ini kata maaf itu diucapkannya, apakah karena merasa dosanya sudah terlalu besar? Coba katakan apa yang tadi dia lakukan ketika bersama perempuan bernama Dwi itu. Membujuknya karena ia menangis dan enggan ditinggal pergi? Lalu apa … dan apa … dan apa … Tapi kemudian tiba-tiba Nirmala tak tahan mengekang gejolak yang sudah sampai di ubun-ubun. Tiba-tiba ia berteriak.

Menjerit sangat keras, membuat Adri terhenyak.

“Nirma … Nirma, ada apa?”

“Lepaskan aku,” pekik Nirmala sambil mengibaskan tangannya. Adri turun dari pembaringan. Adri heran melihat Nirmala kemudian menangis tersedu-sedu.

Ia belum pernah melihat Nirmala menangis.

“Kamu mimpi apa?” Adri malah menganggap Nirmala bermimpi buruk.

Adri merengkuh tubuh istrinya, mendekapnya erat.

“Nirma, kamu mimpi apa?”

“Lepaskan aku,” kata Nirmala sambil mendorong tubuh suaminya.

Adri meraih gelas berisi air putih yang selalu tersedia di dekat tempat tidur, lalu diberikannya kepada sang istri.

“Minumlah, biar hati kamu tenang.”

Tapi Nirmala mendorong tangan suaminya sehingga air minum itu tumpah, membasahi baju Adri sehingga basah kuyup.

“Uups!’ Kok begini Nirma? Dengar, aku baru saja pulang. Tak tega membangunkan kamu, walau tiba-tiba aku merasa kangen sekali,” katanya lembut.

Kalau saja dalam keadaan normal, pasti Nirmala sudah terhanyut oleh ucapan suaminya yang seperti itu. Tapi sekarang ini Nirmala sedang marah, dan mencoba mengendapkan amarah yang menyesak di dadanya, namun sedikit gagal. Karenanya ia keluarkan semuanya dengan menjerit sekuat-kuatnya. Tapi rupanya Adri mengira ia baru saja bermimpi buruk.

“Nirma, sungguh aku sangat kangen,” katanya sambil mendekat, dengan mengabaikan bajunya yang basah kuyup.

“Baru menemui selingkuhan, lalu tiba-tiba bilang kangen? Apa semua laki-laki bisa berbuat busuk seperti itu?” kata batin Nirmala, yang kemudian kembali menjatuhkan dirinya di tempat tidur, membelakangi sang suami dan tidak mengacuhkannya sampai kemudian terbangun pada pagi harinya.

***

Pagi harinya Nirmala terbangun dengan mata sembab. Bagaimanapun ia seorang istri, yang merasa kehilangan suami di pelukan perempuan lain. Sebisa mungkin menahannya, tapi malam itu adalah batas kesabarannya. Hanya saja Nirmala tak mau berbicara tentang apa yang dirasakannya, sehingga Adri juga tidak mengerti apa yang dirasakan istrinya.

Nirmala sudah mandi ketika Adri baru saja terbangun. Nirmala mengacuhkannya, dan langsung menemui mbak Rana yang sedang membuatkan susu untuk Pratama.

“Mbak Rana, pagi ini kita mau ke luar kota lagi, Pratama dan tentunya mbak Rana harus ikut. Siapkan semua kebutuhan Tama. Kita berangkat setelah Tama mandi dan makan pagi.”

“Baik, Nyonya. Tapi apakah Nyonya sakit?”

“Kenapa memangnya?”

“Wajah Nyonya sangat pucat. Kalau sakit apa harus dipaksa pergi?”

“Ini masalah pekerjaan. Kantor cabang yang aku tangani ada masalah, aku harus ke sana pagi ini.”

”Oh, baiklah.”

“Aku tunggu, lakukan secepatnya.”

“Baik Nyonya, mau saya mandikan dulu mas Tama, tapi dia harus minum susu dulu.”

“Baiklah.”

“Nirma,” sebuah panggilan dari suaminya terdengar dari ruang tengah. Ia belum mandi.

Nirma mendekat.

“Duduklah, coba katakan, semalam kenapa? Kamu membuatku takut.”

“Tidak apa-apa, entahlah. Aku sendiri tidak tahu.”

“Nirma, sesungguhnya aku akan bercerita banyak.”

“Tidak usah, aku akan berangkat ke kantor cabang yang aku tangani pagi ini,” kata Nirmala yang tidak ingin mendengar apapun. Pasti Adri ingin berterus terang tentang kehamilan Dwi, karenanya dia tidak ingin mendengarnya.

“Pagi ini?”

“Ya, kata bapak ini mendesak. Aku bawa Tama dan mbak Rana. Dia masih butuh ibunya.”

“Aku sedang bingung saat ini.”

“Apa yang membuat kamu bingung? Bukankah semua permasalahan harus kamu hadapi dan kamu selesaikan? Selesaikan saja.”

“Bukan sebuah permasalahan, sikapmu ini yang membuat aku bingung.”

“Adri, aku baik-baik saja. Pikiranku sedang banyak beban. Jadi jangan memaksaku untuk berbincang apa saja.”

“Kamu terlalu sibuk, kamu harus bisa mengatur waktu.”

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

“Aku kira kamu marah karena aku pulang malam. Aku ingin mengatakan, ketika aku mau pulang, Dwi merasa sangat pusing, lalu aku memaksanya membawanya ke dokter. Tak tahunya dokternya antri lama. Jam delapan baru selesai, lalu aku langsung pulang setelah membelikan obatnya.”

“Aku hanya ingin mengatakan, kasihan sekali kamu ini. Seorang direktur harus mengantarkan bawahannya pindahan ke tempat baru, mengantar ke dokter dan membelikan obatnya. Apakah tidak ada karyawan yang bisa disuruh-suruh?” katanya sambil meninggalkan suaminya, melihat kesiapan mbak Rana yang akan diajaknya pergi bersama Tama.

“Sudah selesai Mbak?”

“Semuanya sudah, tapi mas Tama belum makan.”

“Makan di mobil saja, supaya aku tidak kesiangan.”

“Kamu mau pergi sekarang?”

“Ya, menunggu Pratama.”

Adri baru merasa, sang istri sedang marah padanya. Ucapannya yang terakhir, yang mengatakan bahwa direktur harus mengantarkan anak buah menunjukkan bahwa sesungguhnya sang istri tidak suka.

“Nirma, biarkan aku bicara dulu,” katanya sambil menarik tangan Nirmala menjauh dari kamar Tama, dimana ada mbak Rana sedang mendandani Tama.

Nirma terpaksa menurut karena Adri menariknya kuat.

“Apa kamu marah? Kamu marah sama aku? Karena aku pulang sampai malam? Aku mohon mengertilah Nirma, Dwi itu teman masa kecilku. Aku melakukannya hanya karena ada ikatan teman masa kecil, tidak lebih. Tapi kalau kamu tidak suka aku melakukannya, aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Adri.

Nirmala hanya mengangguk, tapi kemudian dia bertanya.

“Bagaimana dengan kehamilannya?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

BIARKAN AKU MEMILIH 25

  BIARKAN AKU MEMILIH  25 (Tien Kumalasari)   Nirmala menunggu di tangga teras sambil menggendong Tama. Ketika dekat, Bima langsung mencium ...