Tuesday, June 9, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 19

 NAMAKU TETAP SENJA  19

(Tien Kumalasari)

 

Senja heran, melihat Arka memelototi kartu tersebut.

“Ayo mas, jadi ngantar nggak, kalau jadi aku harus berterima kasih, karena takut kelamaan ngirimnya. Tapi kalau enggak ya mau bagaimana lagi, aku harus menunggu ban sepedaku selesai ditambal."

“Ayo naik,” kata Arka pada akhirnya, sementara Senja berpesan pada tukang tambal ban itu, bahwa sepeda akan diambil setelah ia menyelesaikan tugasnya.

Senja masuk ke mobil, Arka duduk di belakang kemudi, setelah memasukkan karung beras ke dalam bagasi mobil, sambil masih membawa kartu itu. Senja memintanya.

“Mana Mas, biar nanti lain kali kalau harus mengirim ke situ lagi tidak lupa.”

“Dapat dari mana kamu kartu ini?”

“Ya dari orangnya dong Mas, masa aku nemu di jalan?”

“Maksudku kamu mengenalnya di mana?”

“Dia datang ke rumah, pesan beras sepuluh kilo.”

“Sudah dibayar?”

“Belum.”

“Nggak usah dikirim saja.”

“Eh, sembarangan. Nggak bisa begitu, sudah janji harus ditepati. Sudah bagus ada orang mau membeli berasnya simbok, bukankah aku harus berterima kasih? Memangnya kenapa Mas ngomong begitu? Kalau beras simbok laris, dia akan bisa membayar hutangnya pada rentenir itu,” katanya pelan, tapi tentu saja Arka mendengarnya.

“Jadi benar, simbok berhutang pada pak RT?”

Senja sangat terkejut. Ia keceplosan bicara. Padahal simbok saja tidak tahu kalau Senja mengetahui tentang hutang itu.

Arka menatap Senja yang wajahnya pucat, tanpa mau menjawab.

“Maaf Mas,” akhirnya kata Senja lebih pelan dari sebelumnya.

“Katakan saja.”

“Tidak, sudah ayo kita langsung mengirim berasnya itu. Tidak boleh tidak, karena aku sudah janji. Bukankah janji harus ditepati?” kata Senja sambil mengalihkan perhatian Arka pada ucapannya yang kelepasan.

“Kamu sudah mengenal dia sebelumnya?”

“Baru sekali itu melihatnya. Nggak tahu kenapa tiba-tiba dia datang lalu memesan beras. Aku juga lupa nggak nanya. Aku tahu namanya juga setelah dia memberikan kartu nama itu.”

“Rosa memang bilang akan ikut membeli beras, tapi aku tidak pernah mengatakan ke mana dia harus membeli. Bagaimana dia tiba-tiba bisa tahu rumah mbok Mangun?” kata batin Arka.

“Mas tadi kelihatan terkejut. Mengenal nama itu?”

“Aku sudah kenal dia.”

“O, pacar?”

“Tidaaaak. Aku tidak punya pacar. Hanya kenal saja.”

“Ya sudah, kalau begitu mengapa Mas meminta aku membatalkan pesanan ini?”

“Kan belum bayar?”

“Ya nggak bisa begitu, barangnya belum ada, dibayar belakangan juga tidak apa-apa. Nanti simbok batal dapat untung dong.”

Arka tersenyum. Senja ini masih sangat muda, bahkan kalau Arka bilang dia itu masih kanak-kanak. Tapi cara pikirnya sangat luar biasa. Dia juga tidak memikirkan dirinya sendiri, dan sangat peduli kepada orang tua. Ia juga pasti sedih memikirkan simboknya yang punya hutang. Sayang sekali dia tidak mau berterus terang. Mungkin malu, mungkin dianggapnya tidak pantas dan menganggap bahwa itu adalah aib orang tua. Entahlah. Arka menatapnya iba.

“Jadi mas sudah tahu di mana rumah pemesan beras ini?”

“Tenang saja, kamu akan segera sampai di tempat tujuan. Lain kali jangan mau mengirim. Kalau butuh suruh dia ambil. Kalau minta dikirim? Jangan mau. Lumayan jauh, cuma beli sepuluh kilo saja.”

Mobil Arka berhenti di sebuah rumah mewah. Sebenarnya dia enggan masuk, tapi tak sampai hati melihat Senja menggendong karung beras itu, apalagi halaman menuju rumahnya lumayan jauh. Jadi Arka membawa mobilnya masuk.

Di depan, dia melihat bu Daryono berdiri di teras. Jadi Arka terpaksa mendekat dulu ke arah ibunya Rosa.

“Kok ada Arka? Tumbenan datang siang-siang. Tidak ke kantor?”

“Saya mengantarkan teman saya. Rosa membeli beras kepada teman saya itu.”

“Oh ya? Rosa beli beras? Aneh, tidak bilang sama mamanya.”

Arka mengambil beras di bagasi, mengusungnya ke teras, di mana bu Daryono berdiri menunggu, sambil berteriak memanggil Rosa.

“Ini siapa?” tanya bu Daryono sambil menatap Senja.

“Nama saya Senja, Nyonya.”

“Panggil saya bu Daryono, jangan nyonya,” kata bu Daryono ramah.

Rosa muncul, dan terkejut melihat Arka. Dia berjingkrak kegirangan, langsung mengembangkan tangannya siap memeluk Arka. Arka mundur ke belakang, menolak rangkulan itu.

Bu Daryono memelototi Rosa yang dianggapnya keterlaluan. Rosa hanya tersenyum.

“Kok kamu kemari siang-siang?”

“Kamu memesan beras?” Arka balik bertanya.

“Lhoh, kamu yang kirim?”

Arka menunjuk ke arah karung yang diletakkan di lantai. Rosa heran. Ia menatap Senja, dan tiba-tiba ingat tentang gadis itu. Bukankah dia yang pernah masuk ke dalam mobil Arka, lalu tak lama kemudian pergi dengan sepeda?

“Kamu kenal dia?”

“Yang sebenarnya katanya teman kamu yang mana? Kakaknya gadis ini?”

“Rosa, kamu terlalu banyak bertanya, cepat dibayar pesanan kamu ini.”

“Berapa?”

Senja memberikan secarik kertas yang ditulisnya sendiri, atas petunjuk simboknya.

Rosa membacanya, lalu memberikan kertas itu pada mamanya.

“Ini, Mama yang bayar dong.”

“Kamu ini ada-ada saja. Arka dan … siapa tadi… Senja ya? Mau duduk dulu sebentar, biar aku ambilkan uangnya.”

“Sudah tante, kami harus buru-buru. Senja baru pulang sekolah, pasti capek.”

“Ya sudah, sebentar ya,” kata bu Daryono sambil masuk kedalam.

Arka menatap Senja yang dari tadi diam.

“Ka, teman kamu kakaknya Senja ini?” tanya Rosa, karena tak mungkin teman Arka adalah gadis itu, yang dianggapnya masih kecil.

“Ya,” bohong Arka, asal jawab agar jangan banyak bertanya.

“Besok kalau habis aku mau pesan lagi ya? Aku orang yang suka menolong orang miskin,” katanya enteng. Arka membuang muka.

“Kalau pesan itu diambil sendiri, jangan suruh ngirim. Jauh tahu,” tegur Arka.

“Kalau kamu mau mengambilkan aku juga senang.”

“Tidak untuk lain kali,” jawab Arka dingin.

“Ini uangnya, kembaliannya kamu ambil saja,” kata bu Daryono sambil tersenyum.

“Tapi … “

“Tidak apa-apa Nak, ambil saja.”

“Kalau begitu kami permisi dulu Tante,” kata Arka sambil menarik lengan Senja, diajaknya ke mobil.

Senja menoleh sambil mengangguk.

“Terima kasih, Nyonya.”

***

“Mengapa kamu beli beras sama dia? Di mana rumahnya?” tanya bu Daryono setelah mereka pulang.

“Lumayan jauh, agak mendekati pinggir kota. Rosa tuh ikut-ikutan Arka, keluarganya beli berasnya ke situ, karena yang jual temannya. Temannya mungkin yang kakaknya gadis itu, mana mungkin Arka temenan sama gadis kecil. Arka ingin membantu agar berasnya laku, lalu Rosa ikut-ikutan.”

“Kebaikan kok ikut-ikutan. Kalau ingin membantu ya harus total membantu. Beli yang banyak lagi, karena kebutuhan kita banyak. Kita kan keluarga besar, ada orang-orang kantor yang dikirim makan dari sini.”

“Nanti Rosa pesan lagi ya Ma.”

"Tapi Mama mau menegur kamu tadi, tiba-tiba mau memeluk Arka? Nggak pantas, tahu.”

“Ma, Arka itu calon suami Rosa, bukan?”

“Kata papa belum tentu. Baru omong kosong. Kamu harus malu, perempuan kelihatan sekali nyosor.”

“Ih, Mama. Mosok aku nyosor?”

“Sikap kamu seperti tadi itu namanya nyosor. Jangan kamu ulangi lagi. Dia saja tidak menanggapi. Mama ikutan malu.”

“Mama kuno banget. Jaman sekarang hal begitu sudah biasa.”

“Mama nggak mau ikut jaman yang bubrah seperti itu. Jangan suka membantah kalau di kasih tahu. Itu kebiasaan yang tidak pantas untuk orang timur seperti kita.”

Rosa mengerucutkan bibirnya, lalu berteriak memanggil bibik agar mengambil karung berasnya.

***

“Nyonya yang tadi itu baik banget ya Mas, ada kembalian lima puluh ribu lebih, tidak mau menerima, apakah aku ini orang yang pantas dikasihani ya?”

“Bukan begitu, orang baik tidak melihat siapa yang harus diberi. Bukan karena kamu pantas dikasihani, tapi dia memang suka memberi. Terima saja. Itu rejeki untuk kamu.”

“Untuk simbok, supaya .…” Senja tidak melanjutkan perkataannya. Tapi Arka tahu ke mana arah tujuan perkataan Senja. Dia tidak mendesak, karena yakin Senja tak akan mau mengatakannya.

Tiba-tiba Arka menghentikan mobilnya di depan rumah mbok Mangun. Senja kaget.

“Lhoh, Mas, sepedaku kan belum diambil. Gimana sih? Mas lupa ya? Aku juga tidak ingat, tahu-tahu sampai di rumah.”

“Kamu tidak usah khawatir, nanti akan ada yang mengirimkan sepeda kamu ke rumah.”

“Siapa?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

Monday, June 8, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 18

 NAMAKU TETAP SENJA  18

(Tien Kumalasari)

 

Senja sudah sampai di hadapan ‘tamu’ cantik tadi, lalu mengangguk hormat.

“Maaf Nona, Nona mencari siapa?”

“Mbok Mangun ada?”

Senja terkejut. Simboknya dicari perempuan cantik yang tampaknya bukan gadis sembarangan ini? Apa simboknya membuat kesalahan?

“Maaf Nona, simbok belum pulang dari menjajakan beras. Tapi ada keperluan apa ya, Nona mencari simbok? Apa simbok melaukan kesalahan? Atau....”

“Tidak, aku hanya ingin membeli beras.”

Senja menghempaskan napas lega, sangat lega karena ada orang kaya lagi ingin membeli beras.

“Oh, ya ampun, saat ini yang ada hanya beras wulu, cukup enak dan pulen, tapi tidak wangi.”

“Saya pesan yang wangi, pulen, sepuluh kilo saja.”

“Baiklah, nanti saya bilang simbok, biar besok disediakan yang seperti pesanan Nona.”

“Masih besok ya?”

“Besok Nona, karena persediaan seperti yang Nona pesan tidak sedia, baru besok disiapkan. Nanti setelah ada, saya kirimkan ke rumah Nona. Berikan saja alamatnya.”

“Kamu sendiri yang mengirimkan?”

“Tidak apa-apa, saya bisa mengirimkannya. Nona berikan saja alamatnya.”

Tamu itu, yang adalah Rosa, mengangguk.

 "Saya duduk di mana ini, dari tadi di suruh berdiri,” tegurnya tak senang.

“Maaf Nona, kami tidak punya kursi, silakan duduk di bangku itu,” kata Senja yang tanpa rikuh mengatakan apa yang mereka punya.

“Huuh, bersih tidak bangkunya itu?”

“Sangat bersih Nona, kami selalu duduk di situ.”

“Kalian duduk di situ tidak apa-apa, bajuku ini baju mahal, kalau terkena kotoran bagaimana?”

“Mau bagaimana lagi Nona. Adanya cuma itu.”

“Ya sudah, nggak pake duduk. Ini kartu namaku dan alamatnya, bisa baca tidak?”

Walau tak suka, Senja tetap menanggapinya dengan senyum.

“Tentu saja saya bisa, saya juga sekolah,” katanya sambil menyembunyikan kekesalannya dibalik senyuman.

“Ya sudah, pokoknya aku pesan sepuluh kilo, kirimkan ke alamat itu, jangan lupa besok dikirim.”

“Dikirim agak siang  ya Non, sepulang saya dari sekolah.”

Rosa membalikkan tubuh menuju mobilnya sambil berpikir. Di mana dia pernah melihat wajah itu.

“Sepertinya aku pernah melihat dia, di mana ya, kok lupa aku.”

Sampai kemudian dia menjalankan mobilnya, belum juga diingatnya siapa gadis itu dan di mana dia pernah melihatnya.

***

“Jadi wanita kaya itu tadi kemari mau memesan beras pada simbok?” tanya Rimba yang sudah membersihkan piring kotornya.

“Iya, besok disuruh mengirim ke alamatnya.”

“Di mana alamatnya?”

“Ini, mbak dikasih kartu nama. Perumahan orang-orang kaya.”

“Beruntung sekali simbok mendapat langganan orang-orang kaya. Dari mana ya mereka tahu kalau di sini rumahnya simbok?”

“Tadi aku ingin bertanya begitu, tapi nggak jadi. Agak kesal mendengar bicaranya yang penuh kesombongan.”

“Mengatakan bahwa dia kaya?”

“Bukan berkata bahwa dia kaya sih, tapi dia tidak mau duduk di bangku depan rumah itu, takut bajunya kotor.”

“Wah, sombong amat.”

“Ya sudah, biarkan saja. Memang kita tidak punya kursi untuk tempat duduk tamu. Kalau mau duduk ya silakan, kalau tidak mau ya bagaimana lagi.”

“Padahal mas Arka itu kan juga orang kaya kan? Dia tidak keberatan duduk di bangku kayu itu, malah duduk di tikar makan bersama kita juga mau.”

“Manusia itu kan macam-macam Mba, ada yang baik, ada yang tidak. Kalau kita tahu bahwa itu tidak baik, ya jangan ditiru. Siapa tahu besok kamu jadi orang kaya, jangan pernah menyombongkan kekayaan kamu. Kamu harus tetap santun dan menghormati setiap orang.”

“Aamiin, doakan Rimba kelak jadi orang kaya ya Mbak, nanti simbok aku belikan rumah yang bagus, yang ada kursi-kursinya untuk tamu, yang tempat tidurnya berkasur empuk. Pokoknya semua bagus. Nanti kamar Mbak dan kamar simbok juga kamarku juga harus beda, setiap orang satu dan bagus semua,” Rimba berkhayal, membuat Senja terkekeh lucu.

“Semoga Allah mengijabah keinginan kamu ya Mba. Tapi yang penting kamu belajar dulu yang bagus, jadi anak pintar, jangan dulu berkhayal tentang kekayaan, karena kaya dan miskin itu Allah yang memberikannya, dan manusia itu kaya atau miskin sama saja dimata Allah. Yang penting adalah amalannya.”

“Mbak sudah seperti Ustazah saja.”

“Lho, di sekolah kita juga diajarkan tentang semua itu kan?”

”Ada apa ini, ramai benar,” kata Simbok tiba-tiba, sambil meletakkan capingnya di atas bakul yang sudah kosong.

“Sampai tidak tahu kalau Simbok pulang.”

“Kalian sudah makan?”

“Sudah Mbok, mbak Senja yang belum. Tadi baru sedikit, katanya mau menemani Simbok makan.”n

“Oh, ya sudah, simbok bersih-bersih badan dulu, makanannya masih ada kan?”

“Ya masih Mbok, untuk Simbok selalu ada makan.”

***

Simbok heran mendengar ada perempuan kaya memesan beras kepadanya.

“Kok aneh, dari mana dia mengenal simbok?”

“Nggak tahu, Senja nggak banyak nanya, kelihatannya dia tergesa-gesa.”

“Berasnya mau diambil kemari?”

“Di suruh ngirim, besok kalau sepulang sekolah sudah ada berasnya. Senja yang mau ngirim kepada pemesan itu. Eh, ini di kartu ada namanya kok...Rosa Ayudya.”

“Namanya bagus.”

“Tapi kelakuannya nggak bagus Mbok," sela Rimba yang langsung dipelototi kakaknya.

“Nggak bagus bagaimana?”

“Nggak mau duduk di bangku kita itu, katanya nanti bajunya kotor,” sambung Rimba.

“Ya sudah, biarkan saja, memang kita punyanya bangku seperti itu, mau bagaimana lagi. Nggak apa-apa kalau nggak mau duduk. Ya kan? Tadi pesan berapa, di belakang masih ada kan berasnya?”

“Dia minta yang wangi yang pulen. Jadi Simbok besok harus membelikan dulu.”

“O, baiklah, sudah dibayarkah?”

“Belum. Simbok punya uang tidak untuk beli beras pesanan nona kaya itu?”

“Ada, kalau hanya sepuluh kilo. Tak apa-apa, besok simbok belikan dulu. Sedikit atau banyak, namanya rejeki harus disyukuri. Tapi simbok masih heran, bagaimana dia tahu tempat ini?”

“Dia malah tahu siapa nama Simbok lho.”

“Mbok Mangun, begitu?”

“Iya Mbok. Tapi ya mungkin dikasih tahu oleh tetangga-tetangga. Yang membuat Senja heran, dia itu rumahnya jauh, kok susah-susah beli kemari, apa di pasar dekat rumah tidak ada yang jual beras?”

“Iya juga sih, tapi nggak apa-apa Nduk, kita ladenin saja, namanya pelanggan. Semoga dia terus menjadi pelanggan kita. Itu kan rejeki.”

“Benar Mbok.”

***

Siang sepulang sekolah, Senja sudah menanyakan beras pesanan Rosa. Ia senang berasnya sudah ada.

“Tapi kamu harus makan dulu Nja, pulang sekolah pasti capek dan lapar.”

“Nanti dia kelamaan menunggu, bagaimana?”

“Cuma pesan beras saja, kelamaan sedikit tidak apa-apa. Kamu tidak boleh pergi mengirim beras kalau tidak makan dulu.”

“Baiklah Mbok, Senja makan dulu.”

“Makanlah dulu, berasnya akan simbok siapkan di boncengan kamu.”

“Biar nanti aku saja Mbok, nanti berat, bagaimana?”

“Kamu itu kok lupa, setiap hari simbok menggendong beras berkilo-kilo, ini cuma sepuluh kilo,” kata Simbok sambil tersenyum.

“Iya sih, tapi Senja sendiri kan bisa.”

“Kamu ganti baju dulu sana, terus makan, biar simbok yang urus berasnya. Nanti kamu selesai makan, berasnya pasti sudah ada di boncengan sepeda kamu.”

Senja mengangguk, lalu beranjak ke belakang.

Mbok Mangun segera mengangkat berasnya ke boncengan sepeda Senja, lalu mengikatnya kencang.

“Nah, begini kan beres, nanti Senja habis makan tinggal berangkat,” gumam mbok Mangun senang.

***

Senja mengayuh sepedanya sambil membawa berasnya, tapi sungguh sial, ditengah jalan ban sepedanya gembos.

“Waduh, di mana ya tukang tambal ban sepeda?”

Senja menuntun sepedanya yang tentu saja terasa berat, berbeda kalau dia membawa bawaannya dengan sepeda.

Keringat membasahi dahinya dan bahkan seluruh tubuhnya.

Ia bersyukur karena dua puluhan meter di depannya ada tukang tambal ban. Agak cepat dia berjalan sambil menuntun, dan merasa lega ketika akhirnya tiba di tukang tambal ban itu.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti.

“Senja,” teriak pengendara mobil itu sambil melongok dari jendela mobilnya.

Senja menoleh, dan diam-diam membatin, mengapa dia sering sekali bertemu dengan tuan muda ganteng yang baik hati itu.

Senja tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah sepeda yang sudah dipegang oleh tukang tambal itu.

“Bocor ya? Kamu mau mengirim beras? Ke mana?”

“Ada alamatnya nih,” katanya sambil mengulurkan kartu nama pemberian Rosa.

“Biar aku antar saja, sementara sepeda kamu digarap oleh tukangnya,” kata Arka sebelum membaca kartu nama yang diberikan Senja.

“Jauh tuh?” kata Senja.

Arka baru membaca kartu nama itu dan terkejut.

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SEORANG PUTRI KECIL 003

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  003

(Tien Kumalasari)

 

Menur menghentikan langkahnya. Ada desiran aneh yang mengiris dadanya. Tatapan mata itu. Tapi mobil itu tidak berhenti. Ia memasuki rumah besar bertingkat, rumah Ana.

Menur mempercepat langkahnya. Ia melewati rumah itu, tak berhenti.

Ana kecil berdiri di teras, menunggu penumpang mobil mewah itu berhenti, lalu ia berteriak.

“Papa!”

Sang papa tersenyum. Ia memberikan sebuah boneka besar yang semula digendongnya. Boneka beruang yang disukai sang putri.

“Ini untuk Ana,” katanya sambil tersenyum. Tapi ia tak berhenti untuk memeluknya. Barangkali tak punya rindu yang biasanya tertahan ketika lama tak bertemu orang yang dikasihinya. Ana tak merasakan apa-apa. Pertemuan demi pertemuan ketika ayahnya pulang, tak pernah memberikan kesan. Hanya sebuah pemberian, tanpa pelukan. Ana menggendong boneka itu dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelahnya lagi membawa sebuah kotak makanan, yang akan diberikan kepada bibi Menur. Ia meletakkan boneka besar di sebuah kursi yang ada di teras, lalu melangkah turun.

Sang ayah yang hampir memasuki pintu menoleh ke arahnya.

“Ana mau ke mana? Itu membawa apa?”

“Ketemu teman Ana,” katanya sambil terus melangkah keluar.

“Rumi! Awasi dia.” kata sang ayah berteriak kepada Rumi, yang semula membantu mendorong kopor sang tuan masuk ke rumah.

“Baik, Tuan.”

Ana sudah keluar dari gerbang. Berdiri sambil terus menatap ke arah kiri dan kanan. Tapi ia tak melihat bayangan orang yang dicarinya.

“Non, dia tidak harus selalu melewati tempat ini. Namanya juga pengais sampah. Dia bisa saja ke mana-mana. Ayo masuk,” bujuk Rumi.

“Dia sudah berjanji.”

“Buktinya dia tidak datang.”

Ana bergeming. Ia tetap berdiri dan melihat ke kiri dan ke kanan. Tangan yang memegang kotak makanan sudah berkeringat, dahinya juga berkeringat, karena panas matahari mulai menyengat.

“Dia kan sudah berjanji,” keluhnya.

Agak jauh di seberang taman itu, Menur menatap gadis kecil itu dari balik batang sebuah pohon besar, dengan iba. Ia merasa, pasti Ana mengiranya berbohong. Bukan maksud Menur untuk berbohong. Ia sedikit terguncang melihat wajah tampan yang tadi melongok dan menatapnya tajam. Ia tidak bisa melupakannya. Ada sesuatu yang terjadi, teramat manis tapi juga teramat menyakitkan. Lalu ia membencinya, dan berharap tak akan bertemu lagi selamanya. Seorang laki-laki penunggang kuda terjatuh di dekat rumahnya. Ia menolongnya, dan membawanya ke rumah. Berhari-hari dirawat, membuat penunggang kuda itu jatuh hati. Menur bukan perempuan gampangan. Kalau cinta ia minta dinikahi. Kalau tidak, jangan sampai dia berani menyentuhnya. Dan laki-laki itu memenuhi keinginannya.

Ada benih yang diteteskannya dalam sebuah pernikahan siri. Tapi kemudian dia pergi begitu saja. Pertemuan itu seakan tak membuatnya berkesan. Menur hanyalah sebuah pelampiasan. Pernikahan siri tidak di dasari cinta kecuali hanyalah nafsu. Menur anak pak lurah yang cantik, akhirnya pergi  dan terlunta-lunta ketika gagal memburu cinta. Benih itu menjadi segumpal raga kecil yang bersemayam di rahimnya. Lalu ia dinikahi seorang penarik becik yang baik hati. Ia mencoba menjalani hidup dan berbahagia karena ada yang memperhatikan. Tapi semua itu tak lama. Ketika benih itu terlahir, suaminya yang baik hati dipanggil Yang Maha Kuasa dalam sebuah kecelakaan.  

Ia sudah berada jauh dari kota asalnya, mengembara dan menyusuri jalan demi mengais nafkah demi sang anak.

Seorang pengendara sepeda motor melemparkan botol kosong di dekatnya. Menur tersadar dari lamunan, memungut botol itu lalu memasukkannya ke dalam karung di punggungnya. Sekali lagi ia menatap ke arah gadis kecil yang masih berdiri kepanasan di depan gerbang rumahnya.

Rasa haru menyergapnya, membuat air matanya menitik.

“Apakah Ana adalah anak Baroto?

Ana masih berdiri di depan gerbang rumahnya. Peluh mulai menetes dari dahinya, karena panas matahari yang menyengat tak dihiraukannya.

Rumi menatapnya kesal. Dia sendiri merasa kepanasan, tapi majikan kecilnya seakan tak merasakannya.

“Non, sudah Non, ini sudah kelewat siang. Pengais sampah itu tak akan lewat, percayalah.”

“Tapi dia sudah berjanji. Bukankah janji harus ditepati?”

“Seorang rendahan tidak akan peduli pada janji. Non harus percaya itu.”

“Bibi Menur bukan orang rendahan,” sentaknya kesal.

“Nyatanya dia tidak datang, mengapa Non mempedulikannya?”

Ana melongok lagi ke arah yang agak jauh. Ia melihat bayangan di seberang taman, tapi bayangan itu kemudian menghilang dibalik batangnya yang besar.

“Pasti bukan dia,” keluhnya.

“Non, tuan baru saja datang, mengapa Non tidak menemuinya? Pasti banyak oleh-oleh yang dibawanya. Nyonya juga pasti sedang menyambut kedatangannya dengan suka cita.”

Ana masih bergeming.

“Oh ya, hari ini saatnya sekolah bukan? Non belum siap-siap, bagaimana kalau ibu guru datang?”

Ana mengeluh. Keringat sudah meleleh di sepanjang pipinya. Ia kemudian membalikkan badannya, lalu masuk ke rumah dengan wajah muram. Rumi tersenyum senang, mengikutinya dari belakang.

“Rumi, kamu bawa ke mana Non Ana?” tegur nyonya Baroto, sang ibunda Ana yang sedang melayani suaminya di ruang keluarga.

“Bukan saya Nyonya, Non Ana sendiri yang mau keluar.”

“Kamu bawa apa Ana?” tanya Baroto.

“Makanan, untuk temanku,” katanya sambil berlalu.

“Mana boneka beruang yang papa berikan tadi?”

“Oh, ketinggalan di teras,” katanya enteng dan terus masuk ke kamarnya.

Rumi berbalik ke teras dan mengambil boneka itu.

“Siapa teman Ana?”

“Seorang pengais sampah,” jawab Rumi takut-takut.

“Pengais sampah?” nyonya Baroto berteriak.

“Iya, Nyonya. Entah mengapa, sejak kemarin Non Ana selalu menemui dia.”

“Bagaimana cara kamu mengasuh Ana sehingga dia bisa berbuat semaunya?” tegur sang nyonya majikan dengan kening berkerut.

Rumi menundukkan kepala. Ia sudah menduga akan mendapat amarah kalau sang nyonya mendengar kelakuan Ana. Tapi tadi mereka meihatnya sendiri, tak bisa tidak, Rumi harus mengatakannya.

“Saya sudah mengingatkannya. Non Ana tidak mau mendengarnya,” jawabnya pelan.

“Bagaimana caranya, jangan sampai Ana berbuat semaunya. Dia tidak bisa bergaul dengan sembarang orang, apalagi seorang pemungut sampah. Pasti kotor dan bau.”

Rumi mengangguk pelan. Kalau saja sang nyonya tahu bagaimana Ana berpelukan dengan pemulung bau itu, barangkali kemarahan sang nyonya akan lebih dahsyat. Karena itu dia tidak mengatakannya.

***

Ana sudah berada di dalam kamarnya, wajahnya muram. Tak ia tak ingin memarahi bibi Menur, karena ia bisa mengerti, pasti ada sesuatu yang membuatnya tidak datang. Ia lebih kesal melihat sikap kedua orang tuanya, yang sama sekali tak ingin memeluknya. Memanggilnya agar mendekatpun tidak. Ana sangat merindukan pelukan itu. Ana tak ingin banyak mainan dan dimanjakan. Ana hanya ingin dipeluk dan disayang. Diam-diam meneteslah air matanya.

Rumi masuk ke kamar, meletakkan boneka beruang itu di atas tempat tidur Ana.

“Jangan taruh di situ!” teriak Ana. Ia sama sekali tak suka pada pemberian itu.

Rumi mengambilnya, lalu meletakkan di atas almari mainan yang tertutup kaca, di mana berderet berluluh boneka di dalamnya.

“Non, bersiap ya, sebentar lagi ibu guru datang.”

Ana tak menjawab. Ia membiarkan saja Rumi mengelap keringatnya, dan siap mengganti bajunya yang juga basah oleh keringat.

***

Menur melangkah pulang ketika saatnya Rahman pulang dari sekolah. Ia sudah menyiapkan nasi dan lauk yang dibelinya, karena dia pulang agak kesiangan. Ia tak ingin Rahman marah, ketika dia pulang dan makanan belum tersedia. Tentu dengan sebutir telur, lauk kesayangannya.

Ketika Rahman pulang, sang ibu sudah menyambutnya dengan senyuman. Makan siang untuk anak kesayangan sudah siap di meja.

Setelah mengganti pakaiannya, Rahman segera duduk di depan meja makan.

“Bu, besok orang tua harus ke sekolah ke sekolah untuk mengambil rapot.”

“Harus orang tuanya? Biasanya kamu bisa menerimanya sendiri?”

“Mulai sekarang harus orang tua yang datang, tapi bisa diwakilkan. Besok kalau ibu datang, jangan bilang kalau Ibu adalah ibu saya ya?”

“Apa maksudmu? Jadi aku harus bilang apa?”

“Bilang saja ibu adalah pembantuku.”

“Apa?”

“Aku malu Bu.”

***

Besok lagi ya.

Saturday, June 6, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 17

 NAMAKU TETAP SENJA   17

(Tien Kumalasari)

 

Dan hal yang sudah diduga serta membuat hatinya kesal ialah ketika sang ayah menyuruh Arka mengantarkan Rosa pulang.

Tak ada alasan untuk menolak. Hari sudah malam dan Rosa tidak membawa kendaraan. Barangkali memang sengaja, barangkali memang Rosa ingin, agar dengan tidak membawa kendaraan maka pasti Arka akan mengantarkannya pulang.

“Hari sudah malam, jadi kamu harus mengantarkan Rosa pulang.”

“Datang-datang sendiri, pulang minta diantar,” gumam Arka, tapi hanya dalam hati. Apa ingin dirujak ayahnya kalau sampai dia mengeluarkan kata-kata itu.

Rosa dengan riang pamitan kepada kedua ‘calon mertuanya’, kemudian masuk ke dalam mobil, di samping kemudi.

Arka mengemudikan mobilnya seperti dikejar setan, kencang bukan alang kepalang, sampai Rosa berteriak-teriak ketakutan.

“Arka, kamu sudah gila ya? Jalanan sedang ramai.”

“Kamu takut? Jalan kaki saja sana,” ucap Arka enteng.

“Ya ampun, tega amat sama calon istrinya.”

“Siapa calon istriku?”

“Bukannya aku?”

”Mimpi saja, sana.”

“Arka, kamu jangan begitu. Kita harus menuruti kata orang tua, bukan? Dosa lho menentang kehendak orang tua.”

“Tahu apa kamu tentang dosa? Memaksakan kehendak itu juga dosa.”

“Aku sudah banyak mengalah, aku tidak marah walau kamu menyakiti aku.”

“Bukankah lebih baik kamu marah saja sehingga kamu tak usah selalu berusaha mendekati aku?”

“Arka. Kebangetan deh kamu.”

Lalu keduanya diam beberapa saat lamanya, karena Arka tak menanggapi apa yang dikatakan Rosa.

“Ka, teman kamu itu rumahnya di mana?”

“Untuk apa nanya-nanya?”

“Aku ingin membantu. Kata ibu kamu, kamu kasihan pada teman kamu itu.”

“Teman yang mana, sok tahu.”

“Teman kamu yang jualan beras itu. Aku juga merasa kasihan lhoh. Nanti aku mau bilang pada mama kalau beli beras biar sama teman kamu itu.”

“Nggak usah.”

“Kok nggak usah? Aku juga merasa kasihan, dan ingin membantu.”

“Tempatnya jauh, bikin repot.”

“Tidak apa-apa. Jauh bagiku bukan masalah, aku kan hanya ingin membantu. Membantu orang kesusahan itu perbuatan mulia bukan?”

Arka tak menjawab, dan tak pernah menjawab sampai kemudian mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Daryono.

Di teras, pak Daryono sedang duduk di teras. Arka yang semula enggan turun terpaksa turun karena pak Daryono melihatnya.

“Arka? Kamu mengantarkan Rosa?”

“Iya Pa, Arka merasa kasihan pada Rosa yang pergi tidak membawa kendaraan sendiri, jadi dia memaksa mengantarkannya,” kata Rosa enteng, padahal bukan Arka ingin mengantarkan, tapi ayahnya yang memaksa. Tentu Arka sangat kesal, tapi sungkan membantahnya.

“Rosa, kamu sudah menyusahkan orang lain. Kamu sendiri yang main ke sana tanpa mau membawa kendaraan, sekarang Arka harus repot karena kamu,” tegur pak Daryono.

“Rosa juga ingin pulang sendiri sebenarnya.”

“Om, karena sudah malam, Arka permisi pulang,” kata Arka untuk memotong kebohongan Rosa.

“Baiklah, om tidak akan menahan kamu, karena hari memang sudah malam.”

Arka mencium tangan pak Daryono kemudian beranjak menuju ke mobilnya. Pak Daryono bukan anak kecil, ia tahu bahwa Arka mengantarkan Rosa dengan terpaksa. Wajahnya sudah kelihatan. Ia bukannya kasihan melihat Rosa pulang sendiri, tapi kesal karena harus mengantarkannya.

Rosa masuk ke dalam rumah. Sikap Arka yang kaku masih membuatnya sabar. Ia yakin pada suatu ketika ia pasti akan bisa menaklukkan hatinya. Nasihat yang pernah didengarnya, bahwa laki-laki tidak suka dikejar tapi lebih suka mengejar, diabaikannya.

“Kamu tidak tahu kalau Arka sebenarnya kesal karena harus mengantarkan kamu?”

“Tidak kok, masa dia kesal?”

“Perempuan harus memiliki rasa yang lebih peka. Papa saja bisa melihat sikap kakunya, masa kamu tidak?”

Rosa tak menjawab. Ia langsung beranjak ke belakang dan masuk ke dalam kamarnya.

“Kalau aku gigih mengejarnya, masa tidak akan kesampaian?” gumamnya penuh percaya diri.

***

Arka menuju pulang dengan perasaan yang masih saja kesal. Setiap kali rasa kesal itu muncul, maka wajah Senja terbayang di benaknya. Gadis lucu, lugu dan seenaknya, mengapa bisa tiba-tiba mengikat perasaannya? Apa hebatnya Senja? Cantik? Tidak terlalu cantik. Manis? Iya. Senja sangat manis, apalagi kalau tersenyum. Mata polosnya tampak indah, seperti sepasang bintang yang mempesona.

Arka memukul pipinya sendiri. Bodoh aku ini. Senja masih anak kecil, dia mana memperhatikan diriku yang selalu memikirkan dia? Dia selalu bersikap lugas, seenaknya, tidak peduli sedang berhadapan dengan seorang berkedudukan tinggi di sebuah perusahaan. Kalau dia ingin marah, maka marahlah dia. Kalau kesal, maka selalu ditumpahkan kekesalannya. Tapi senyumnya itu …. Arka membatin di sepanjang perjalanannya, dan masuk ke rumah melewati sang ayah yang sedang duduk di teras, sehingga ia harus mendapat teguran.

“Hei, kamu tidak mengucapkan salam saat memasuki rumah, tidak tahu kalau ayahmu ada di sini?”

Arka berhenti melangkah dan berbalik.

”Maaf Pak, buru-buru, pengin ke kamar mandi,” katanya sambil menyalami sang ayah dan mencium tangannya.

“Kamu ketemu pak Daryono?”

”Ketemu.”

“Syukurlah, mengantarkan anak gadis orang harus memasrahkannya kembali kepada orang tuanya.”

"Repot amat," kata batin Arka.

“Pak Daryono menanyakan bapak?”

“Tidak. Arka langsung pulang sehingga tidak sempat berkata-kata.”

“Lain kali kalau mengantarkan Rosa pulang, harus berhenti dulu, berbincang sejenak, barangkali pak Daryono ingin mengatakan sesuatu.”

Arka hanya mengangguk kemudian berlalu, sambil mengatakan lagi kalau dia ingin ke kamar mandi.

Pak Wiguna menghela napas kesal. Arka tak pernah kelihatan suka kalau dirinya membicarakan keluarga Daryono.

***

Hari itu Senja pulang agak siang, dan yang ada di rumah hanyalah Rimba. Ia menunggu sambil membaca buku. Senang sekali ketika melihat kakaknya pulang.

“Simbok belum pulang?” tanya Senja.

 Kedua anak itu setiap pulang dari sekolah selalu menanyakan apakah simboknya sudah pulang, ataukah belum, walau sebenarnya tahu kalau simboknya pergi adalah untuk menjajakan berasnya.

“Belum, paling sebentar lagi. Kita makan sekarang atau menunggu simbok?” tanya Rimba.

“Makan sekarang saja seperti biasanya, kamu sudah lapar kan?”

“Iya, benar.”

“Ayo kita makan, nanti simbok ... aku yang menemani makan. Tapi aku mau ganti baju dulu ya,” kata Senja sambil tersenyum melihat adiknya segera berlari ke ruang makan.

Keduanya makan dengan nikmat, sambil bercerita tentang teman-temannya di sekolah.

“Besok kalau mbak Senja lulus, mau melanjutkan kuliah?”

“Tidak Rimba, kamu kan tahu, simbok pasti merasa berat membiayai kuliah aku. Jadi, mbak akan bekerja saja agar meringankan beban simbok.  Maksudku, kamu yang harus meneruskan sekolah, sampai ke sekolah yang tinggi.”

“Aku saja? Mbak Tidak?”

“Kamu kan laki-laki Mba, laki-laki harus berpendidikan tinggi agar bisa menjunjung derajat orang tua. Agar simbok bangga, anak laki-lakinya menjadi orang.”

“Bagaimana kalau nanti setelah lulus SMA aku juga bekerja saja?”

“Jangan Mba, kamu harus melanjutkan kuliah kamu, sampai selesai. Mbak akan membantu simbok membiayainya. Karenanya rajin belajar ya cah bagus, supaya simbok senang.”

“Ya, tentu. Aku harus bisa membahagiakan simbok.”

“Bagus, mbak akan mendoakan agar kamu berhasil.”

“Aamiin.”

“Makan yang banyak, biar sehat.”

“Mbak kenapa makan sedikit?”

“Nanti mbak menemani simbok juga, biar simbok senang.”

“Menyenangkan orang tua itu harus kan Mbak.”

“Tentu Rimba, walau hanya soal makan, atau sedikit memuji, itu akan membuat orang tua senang.”

“Permisi,”

“Ada tamu Mbak, biar aku keluar untuk melihatnya.” kata Rimba sambil berlari keluar. Tak lama kemudian Rimba kembali mengatakan bahwa tamunya perempuan.

“Ada perempuan cantik banget mbak.”

“Siapa?”

“Nggak tahu, aku hanya melihatnya terus masuk lagi. Orangnya cantik, baunya wangiiii, masih jauh sudah kecium baunya, kelihatannya orang kaya Mbak.”

“Gimana sih kamu, harusnya ditanya mau mencari siapa, kok malah ditinggal masuk. Paling-paling akan menanyakan alamat seseorang, mana mungkin kita mendapat tamu orang kaya.”

Senja bergegas keluar dan melihat seorang wanita cantik berdiri di depan rumah.

***

Besok lagi ya.

Friday, June 5, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 16

 NAMAKU TETAP SENJA  16

(Tien Kumalasari)

 

“Mau apa kamu kemari? Mau mencari siapa?”

“Saya mengirim beras Tuan,” jawab Senja

“Kamu anak kecil membawa karung beras itu?” kata pak Wiguna sambil menunjuk ke arah karung beras yang masih teronggok di depan satpam penjaga.

“Ya, Tuan. Memangnya saya anak kecil?” kata Senja seenaknya, tanpa sadar bahwa yang bertanya adalah tuan besar pemilik perusahaan yang dihormati oleh semua orang.

“Kamu itu masih kecil. Siapa yang menyuruh kamu?”

“Tidak ada yang menyuruh, saya membantu simbok saya. Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya permisi Tuan,” kata Senja sambil membalikkan tubuhnya. Tapi kemudian satpam itu meneriakinya.

“Hei, beras ini pesanan siapa?”

“Katanya beras untuk kantin. Tanyakan saja pada mas Arka,” lalu Senja melenggang pergi.

Senja sudah memegangi setang sepedanya ketika sebuah teriakan kembali menyebut namanya.

“Senja! Mengapa kamu mengirimnya sendiri?”

Senja menoleh, melihat Arka mendekatinya.

“Mengapa kamu mengirim sendiri?”

“Habis siapa lagi? Saya masih akan mengirim tiga karung berikutnya. Tapi besok ya, saya baru pulang sekolah.”

“Ya ampun Senja, aku kan sudah bilang sama  simbok kalau akan menyuruh orang mengambil beras ke rumahnya. Hanya saja hari ini belum bisa, karena yang aku suruh mengambil sedang mengirim barang.”

“Tidak apa-apa, beras itu kan kewajiban penjual untuk mengirimnya?”

“Kamu ini ngeyel ya? Sudah aku bilang kalau aku yang akan mengambil. Mau dijewer? Kamu pulang sekolah apa tidak capek? Dan kantor ini dari rumah kamu lumayan jauh. Kalau nanti ambyar lagi di jalan bagaimana?”

“Iih, mas Arka ngomongnya panjang banget. Sudah, aku pulang dulu.”

“Sisanya jangan dikirim, besok pagi sudah ada yang akan mengambil.”

Senja menaiki sepedanya keluar dari halaman kantor. Arka menghela napas panjang. Rasa iba merayapi hatinya. Begitu besar perjuangan seorang miskin demi mencukupi kebutuhan.

“Arka, mengapa kamu masih berdiri di situ?” Arka baru sadar kalau ada ayahnya berdiri menatapnya.

“Memberi tahu gadis itu kalau sisa berasnya akan diambil oleh bagian ekspedisi.”

“Itu yang kamu bilang penjual beras teman kamu?”

“Ya.”

“Anak kecil itu?”

“Dia sudah hampir lulus SMA.”

“Demi dia kamu juga merepotkan perusahaan.”

“Hanya menyuruh mengambil beras, tidak jauh dan tidak akan lama.”

“Memikirkan orang lain, dirinya sendiri tidak dipikirkan. Beras untuk rumah, beras untuk kantin, mengapa kamu melakukan semua itu?”

“Tidak apa-apa Pak, menolong itu tidak ada buruknya,” katanya sambil masuk ke dalam.

“Hei, kamu mau pulang jam berapa?” teriak ayahnya lagi.

“Sebentar lagi,” kata Arka yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.

“Jangan pulang terlalu malam.”

Lalu pak Wiguna menyuruh satpam untuk mengambilkan mobilnya.

***

Senja sedang mengelap keringatnya dengan ujung baju, ketika simbok keluar dari dalam rumah.

“Bagaimana Nja, ketemu tempatnya?”

“Ya ketemu dong Mbok, kan ada alamatnya.”

“Kamu pasti lelah. Simbok punya rujak degan. Cuci dulu kaki tanganmu, simbok siapkan rujak degannya di sini.”

“Wah, seger pastinya,” setengah berlari Senja ke belakang, sementara simbok menyiapkan segelas rujak degan, diletakkan di bangku depan rumah.

“Simbok dapat degan dari mana?” tanya Senja sambil duduk lalu menghirup minuman berwarna kecoklatan dengan sayatan-sayatan kelapa muda di dalamnya.

“Coba tebak, dari mana?”

“Simbok pakai tebak-tebakan segala. Simbok beli di warung, ya kan? Di dekat situ ada penjual rujak degan gula kelapa. Ya kan?”

“Bukan, kamu di jalan tidak ketemu seseorang?”

“Ya ketemu Mbok, namanya jalan. Banyak orang lewat kan?”

“Maksud simbok tuh yang kamu kenal.”

“Tidak. Ketemu pak Sukir tadi, pas pulang dari sawah.”

“Dia naik mobil.”

“Naik mobil? Mas Arka?”

“Tuh kamu tahu.”

“Siapa lagi yang mengenal keluarga kita dan punya mobil kalau bukan mas Arka?”

“Iya, kamu pintar.”

“Mas Arka dari sini?”

“Baru saja pulang. Dia menegur simbok, mengapa menyuruh kamu mengirim beras.”

“O, iya, tadi ketemu dikantornya, Senja juga diomelin. Katanya mau diambil, mengapa dikirim.”

“Tadi berpesan wanti-wanti, besok berasnya akan diambil orang kantor, tidak boleh dikirim.”

“Ya sudah, alhamdulillah. Lumayan jauh sih.”

“Tuh kan, kamu nekat mengirim.”

“Tidak apa-apa Mbok, melayani pelanggan terkadang juga berat,” kata Senja yang kemudian sibuk menyendok kelapa mudanya yang tersisa.

“Mas Arka sangat baik,” gumamnya pelan.

 Ada sesuatu yang aneh dirasakannya. Senja sudah besar, perasaan cinta bisa saja muncul setiap saat. Cinta? Apakah Senja sadar bahwa dia jatuh cinta kepada laki-laki yang baik hati dan tampan itu? Kalaupun Senja sadar, maka dia pasti hanya berpikir bahwa dirinya telah bermimpi. Mimpi meraih bintang, mana mungkin tangannya sampai?

Bukankah menikmati segarnya es kelapa muda gula jawa lebih nikmat dan itu bukanlah mimpi?

***

Karena sepulang kantor harus berpesan kepada mbok Mangun, maka Arka sampai di rumah lebih sore. Lagi-lagi sang ayah menyemprotnya dengan kasar.

“Tadi bilang mau segera pulang, jam segini baru sampai rumah.”

“Mampir-mampir Pak,” hanya itu jawabnya.

Dan Arka terkejut ketika ia melihat Rosa di ruang tengah. Padahal ia tak melihat ada mobil Rosa di sana.

“Arka, kamu baru pulang?”

“Ya,” katanya tak acuh, lalu langsung masuk ke kamarnya.

“Lihat Om, Arka begitu dingin terhadap saya,” katanya sambil melihat ke arah pak Wiguna yang baru masuk dari arah depan.

“Dia baru pulang, pasti lelah,” jawab bu Wiguna.

“Arka, setelah ganti baju segera keluar. Sudah lama Rosa menunggu,” kata pak Wiguna dari luar pintu kamarnya.

“Arka mau mandi dulu,” teriaknya dari dalam kamar.

Pak Wiguna mendekati Rosa sambil tersenyum.

“Biar dia mandi dulu. Mungkin dia merasa, mau ketemu gadis cantik harus wangi, ya kan?”

Bu Wiguna agak kesal kepada suaminya karena terus-terusan memberi harapan bagi Rosa, padahal jelas-jelas harapan palsu. Mungkinkah suatu saat Arka akan jatuh hati kepada gadis yang dijodohkan ayahnya itu?

Rosa tidak segera pulang, bahkan sampai keluarga Wiguna mengajaknya makan malam. Arka ikut berbaur dalam menjamu tamu yang dibencinya, tapi dia tak banyak berkata-kata. Berkali-kali sang ayah memancing candaan tentang hubungan dirinya dengan Rosa, tapi Arka tak menanggapinya.

Saat makan malam, Rosa memuji-muji masakan bu Wiguna.

“Masakan tante selalu enak, nasinya wangi, sayurnya sedap.”

“Itu bukan tante yang masak, tapi bibik,” jawab bu Wiguna.

“Rosa ingin belajar masak sama bibik ah, agar kelak disayang suami.”

“Ya, Rosa, itu benar. Arka gemar makanan enak. Kamu harus pintar memasak.”

Lagi-lagi Arka diam.

“Bagaimana membuat nasi menjadi wangi? Dikasih daun pandan ya tante?”

“Bisa saja, dikasih daun pandan, tapi nasi ini memang sudah wangi dari sananya.”

“Oh ya?”

“Namanya beras menthik.”

“Di mana belinya tante?” kata Rosa asal-asalan, pokoknya bicara tentang nasi dan masakan. Biasa, biar kelihatan perhatian pada masakan, biar Arka tahu kalau Rosa akan menjadi istri yang pintar masak.

“Biasanya bibik yang beli, tapi akhir-akhir ini Arka yang beli.”

“Apa? Arka beli beras? Masa laki-laki belanja beras?”

“Dia itu kan kurang kerjaan,” celetuk pak Wiguna.

“Arka merasa kasihan kepada temannya yang penjual beras, jadi untuk rumah, dia pesan sama temannya itu.”

“Untuk kantin juga. Baru tadi dikirim. Padahal banyak itu yang untuk kantin,” sambung pak Wiguna dengan wajah gelap.

“Tidak apa-apa kan Pak, membantu orang susah itu baik sekali.”

“Kalau begitu nanti Rosa juga mau bilang sama mama, agar beli di temannya Arka. Nanti kamu pesankan setelah mamaku setuju ya Ka?” kata Rosa sambil menatap Arka. Lagi-lagi hanya untuk mencari perhatian.

“Ya Ka?” ulangnya setelah Arka tak segera menjawab.

“Gampang,” jawabnya singkat.

Tapi Rosa sebenarnya ingat pada seseorang bernama mbok Mangun yang katanya penjual beras. Dan tiba-tiba Rosa ingin tahu, siapa sebenarnya mbok Mangun, dan apa yang menarik hati Arka tentang penjual beras itu. Siapa tahu dia bisa membantu Arka saat memesan beras, atau entahlah. Pokoknya yang bisa membuat Arka senang karena dia membantunya.

***

Besok lagi ya.

 

NAMAKU TETAP SENJA 19

  NAMAKU TETAP SENJA  19 (Tien Kumalasari)   Senja heran, melihat Arka memelototi kartu tersebut. “Ayo mas, jadi ngantar nggak, kalau jadi a...