Thursday, June 4, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 15

 NAMAKU TETAP SENJA  15

(Tien Kumalasari)

 

Arka mengerutkan keningnya. Kehadiran Rosa membuyarkan kebahagiaannya setelah bertemu Senja.

“Arka, aku mengikuti kamu sejak dari kantor.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin bertemu kamu Arka, aku ingin bicara sama kamu, tapi sangat susah menemui kamu. Hari Minggu ingin bersepeda bersama, kamu selalu berangkat lebih pagi, aku mengontak kantor kamu, kamu bilang nggak mau diganggu saat kerja, menunggui kamu di rumah, kamu tak pernah segera pulang. Aku bingung harus bagaimana supaya bisa ketemu kamu.”

“Sebenarnya untuk apa ketemu aku? Aku selalu sibuk, tak ada waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting.”

“Kita adalah calon jodoh, apa kamu lupa?”

“Itu bukan kemauan aku.”

“Apa kamu berani  melawan kehendak orang tua?”

“Kamu maunya apa sih Ros? Harusnya kamu tahu diri, aku tidak pernah mencintai kamu. Selamanya.”

“Tapi kita dijodohkan!” Rosa berteriak.

Arka mentarter mobilnya.

“Arka, kamu tidak punya waktu untuk aku, tapi kamu menyisihkan waktu untuk berbincang dengan gadis kampung yang masih kanak-kanak. Apa yang kamu lakukan tadi di dalam mobil? Berbuat mesum?”

Arka tertawa.

“Apapun yang aku perbuat, apa urusannya denganmu? Kamu tahu, aku semakin membencimu karena sikapmu semakin menyebalkan.”

“Arka, katakan apa salahku? Mengapa kamu_”

Belum selesai Rosa bicara, Arka sudah menjalankan mobilnya dan memacunya kencang.

Rosa membanting-banting kakinya. Ia berusaha mengikuti, tapi di depannya ada mobil melintas. Hampir saja Rosa menubruknya kalau ia tak segera menginjak remnya.

“Dasar! Keterlaluan! Siapa gadis kecil bersepeda kumuh tadi? Aku tidak segera mendekat, bodoh. Harusnya sejak tadi aku mendekat agar tahu dia itu siapa.”

Rosa mengamati kendaraan di depan, tapi bayangan mobil Arka tak lagi kelihatan.

Sambil mengomel panjang pendek, Rosa memutar mobilnya untuk kembali. Tapi tidak, dia tidak kembali pulang tapi ke rumah keluarga Wiguna. Langsung masuk ke rumah dan menangis terguguk di sana.

***

Bu Wiguna dan pak Wiguna sedang beristirahat di kamar. Memang mereka berniat keluar dari kamar karena hari sudah sore. Mereka terkejut melihat Rosa duduk di sofa sambil menangis.

“Rosa? Ada apa?” tanyanya hampir bersamaan.

Rosa masih saja menangis. Tubuhnya bergoyang-goyang karena isaknya. Bu Wiguna mendekat lalu duduk di sampingnya.

“Rosa, ada apa?”

“Arka … Arka …”

“Arka kenapa?”

“Tidak mau bertemu saya, tidak mau bicara sama saya …” katanya terbata.

“Memangnya di mana dia?”

“Pergi, saya tidak tahu.”

“Katakan dengan jelas, bagaimana kamu ketemu Arka? Di kantornya?”

“Saya menuju kantornya, berusaha menunggu sampai dia pulang. Saya ingin mengajaknya bicara. Tapi dia tidak pulang. Saya mengikutinya terus, dan melihat dia berbincang dengan gadis kampung bersepeda butut.”

“Siapa dia?”

“Entahlah, saya tidak tahu, sepertinya dia anak sekolah melihat seragam yang dipakainya.”

“Lalu apa?”

“Arka mengajaknya masuk ke mobil. Tidak berapa lama lalu gadis itu keluar, kembali mengendarai sepedanya dan pergi.”

“Mengapa kamu tidak mengejar gadis itu agar tahu dia siapa?” kata pak Wiguna kesal. Matanya sudah merah menahan marah.

“Salah saya, saya malah mendekati mobil Arka yang masih berhenti di sana, tapi sikap Arka sangat menyakitkan. Terang-terangan dia mengatakan bahwa tak suka kepada saya,” Rosa menangis lagi.

Bu Wiguna terdiam. Dia sudah pernah mengatakan kalau laki-laki tak suka dikejar. Harusnya Rosa tahu itu. Tapi pak Wiguna marah bukan alang kepalang.

“Anak itu mengapa susah sekali diatur?” geramnya.

Rosa masih terisak-isak. Bu Wiguna hanya menepuk-nepuk tangan Rosa, tapi tak bicara apapun. Ia menyalahkan Rosa yang tampak sangat mengejar-nggejarnya, tapi ia tak ingin mencela di depan suaminya. Ia tak pernah mau menerima usulan apapun. Baginya, keputusannya adalah mutlak, tak boleh ada yang menentangnya, tak boleh ada perdebatan karena yang benar adalah apa yang dikatakannya.

“Kamu tunggu saja di sini, sampai dia pulang.”

Tapi sampai malam Arka tak juga pulang, lalu Rosa berpamit karena lelah menunggu.

“Kamu tenang saja Rosa, dia tak akan pergi jauh dari kamu,” kata pak Wiguna yang mengantarkan Rosa sampai ke mobilnya.

Bu Wiguna tak mengatakan apa-apa sampai mobil Rosa keluar dari halaman.

***

Arka pulang ketika hari sudah malam. Hampir jam sepuluh, dan itu membuat pak Wiguna sangat murka. Belum juga Arka masuk ke kamar, sang ayah sudah menyemprotnya keras.

“Ke mana saja kamu seharian ini?”

“Ke kantor, lalu jalan-jalan.”

“Kamu bertemu Rosa kan?”

“Ya, tapi Arka masih ada perlu.”

“Kamu bilang kalau kamu tidak suka Rosa, apa maksudmu?”

“Tapi cinta itu tidak bisa dipaksa Pak. Sungguh, apa yang saya katakan itu benar. Arka tak bisa mencintai Rosa.”

“Dasar bodoh! Kamu membuat keluarga Daryono kecewa, dan itu buruk bagi kita.”

“Sekarang kita tidak perlu bergantung kepada pak Daryono. Kita bisa berjalan sendiri dengan kokoh.”

“Omong kosong! Kamu tidak bisa lupa kepada semua kebaikan yang pernah diberikannya, Arka!!”

“Arka tidak lupa.”

“Tapi kamu mengabaikan apa yang diinginkannya.”

“Ini masalah hidup Arka. Arka tidak bisa bergantung kepada siapapun.”

“Kamu tidak bisa berbuat semau kamu. Harus nurut dan tidak boleh tidak!”

Arka tak menjawab, ia langsung masuk ke kamarnya dan merenungi hidupnya yang bergantung kepada rasa balas budi. Tidak. Arka tidak akan memaksakan hati untuk menjadi suami seseorang sementara hatinya tidak mau.

***

Mbok Mangun merenung di kamarnya. Ia sudah membayar bunga dan sedikit cicilan kepada pak RT. Hutang itu masih sangat banyak. Ia membanting tulang dan memeras keringat selama bertahun-tahun, dan hutang itu seakan hanya melangkah perlahan untuk mendekati lunas. Ada rasa sesal menghantuinya, mengapa dulu ia harus berhutang kepadanya. Tapi saat itu sangat mendesak. Esok hari uang sekolah harus sudah dibayarkan atau anaknya harus berhenti sekolah. Jangan. Mbok Mangun harus menjadikan anak-anaknya orang. Jangan buta hurup seperti dirinya.

“Baiklah, tidak apa-apa. Besok ada pesenan lagi satu kwintal beras, atas budi baik tuan muda itu. Syukurlah, nanti aku bisa mencicilnya lagi.”

Mbok Mangun menarik selimut yang sudah bertambal di sana sini, untuk menutupi tubuhnya dari dingin yang menggigit. Cuaca sedang tidak bersahabat. Kalau siang panas bukan alang kepalang, giliran malam, dingin serasa membekukan seluruh aliran darah.

“Simbok belum tidur?”

Mbok Mangun terkejut, Senja masih terjaga.

“Kamu juga, mengapa belum tidur?”

“Senja belajar, sekarang sudah mau tidur. Aku menjenguk ke kamar Simbok, ternyata Simbok masih terjaga. Simbok sedang mikir sesuatu?”

“Memikirkan besok harus pergi sebentar saja, karena akan ada kiriman beras lagi. Bukankah mas Arka akan menjemput pesanannya kemari?”

“Bagaimana kalau dikirim sedikit sedikit, lalu biar Senja yang mengirimkannya.”

“Kamu tidak keberatan?”

“Tidak, sebelum sekolah, pagi-pagi sekali, Senja akan mengirimkan sekarung kecil, pulang sekolah, sekarung lagi. Dua hari bisa kelar kan?”

“Tapi itu pesanan kantin kantornya mas Arka. Kalau pagi kan belum buka?”

“Di sana pasti ada penjaga. Nanti biar penjaga yang menerimanya.”

Mbok Mangun menghela napas panjang. Senja anak gadisnya yang baik dan penuh pengertian. Mengirim sekarung beras, itu berat. Bolak balik pula.

“Apa tidak berat sih Nduk?”

“Ya tidak Mbok, kan sekalian pergi ke sekolah.”

“Kita atur saja besok, sekarang tidurlah, malam sudah larut.”

“Simbok juga harus segera tidur,” kata Senja yang kemudian keluar lalu menutupkan pintunya.

Suara derit pintu bambu yang terdengar, seperti sebilah pisau yang menggores batinnya. Senja masih sangat muda, tapi ia selalu bersama simboknya dalam suka dan papa.

“Kasihan kamu Nduk.”

***

Siang harinya ketika berasnya datang, simbok segera menakarnya di dalam karung kecil. Ia setuju pendapat Senja, yang harus mengirimkan pesanan, bukan si pemesan yang mengambilnya.

Hari itu Arka belum datang menjemput pesanannya, atau menyuruh orang untuk mengambilnya seperti pernah dilakukannya pada pesanan pertama.

Senja yang pulang sekolah, segera disuruhnya makan, lalu bersiap mengirimkan berasnya. Mbok Mangun menyuruhnya istirahat dulu, tapi Senja berkeras mengirimkannya di saat itu juga.

”Kamu sudah tahu alamat kantor itu, Nja?”

“Kan ada tulisannya di amplop yang berisi uang kemarin?”

“Ya sudah, hati-hati ya Nduk."

***

Begitu sampai di kantor itu, Senja segera menemui penjaga agar membantu menurunkan berasnya.

“Ini beras siapa?”

“Ini pesanan mas Arka, ada empat karung, tapi saya kirimkan satu persatu,” kata Senja sambil mengelap keringatnya dengan ujung bajunya.

“O, pesanan pak Arka.”

Tiba-tiba seorang laki-laki perlente keluar dari kantor itu, rupanya dia adalah pak Wiguna yang bersiap pulang.

Melihat Senja yang sedang berbincang dengan petugas keamanan, pak Wiguna mendekat.

“Kamu siapa?” ucapnya tanpa menunjukkan keramahan sedikitpun.

“Nama saya Senja.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Wednesday, June 3, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 14

 NAMAKU TETAP SENJA  14

(Tien Kumalasari)

 

Senja tertegun, pak RT kelihatan marah.

“Mbokmu mana?”

“Belum pulang pak RT. Ada apa ya, simbok belum bayar iuran sampah?”

“Iuran sampah apa? Ini masalah utang piutang.”

“Masalah utang piutang?”

“Kamu tidak tahu ya, simbokmu itu punya utang sama aku, sudah bertahun-tahun.”

“Sudah bertahun-tahun?”

”Ya, sudah bertahun-tahun, janjinya mau mencicil setiap seminggu sekali. Tapi kemarin dia tidak datang untuk mencicil.”

Senja merasa seperti diguyur seember air sedingin es. Hampir menggigil. Simboknya bilang tentang cicilan yang katanya cicilan bayar sampah, ternyata punya hutang?

“Jam berapa dia pulang?”

“Tidak pasti Pak, kadang sore, kadang siang sudah pulang, kadang sore hampir maghrib baru sampai di rumah,” katanya hampir gemetar.

“Nanti kalau simbokmu pulang, bilang ditunggu pak RT. Gitu ya.”

“Memangnya hutang simbok berapa?” katanya lirih.

“Masih tujuh juta lebih. Kemarin mencicil agak banyak, tapi ya karena untuk bayar bunganya juga, ya utangnya berkurang sedikit.”

Senja tak bisa berkata-kata. Mendengar uang jutaan saja dia sudah gemetar, dan itu adalah utang simboknya?

“Ya sudah, aku pulang dulu, jangan lupa bilang kalau aku menunggu.”

Senja tak menjawab. Hatinya diliputi kegelisahan yang amat sangat. Tujuh juta bukan uang sedikit bagi Senja, melihatnya saja dia belum pernah. Untuk apa simbok hutang sebanyak itu? Ia tahu pak RT adalah rentenir yang sangat kejam. Ia bukan menjadi pelindung warganya tapi justru menindasnya. Itu sebabnya dia kaya raya. Bagaimana simboknya bisa terjerat hutang sebanyak itu?

Lalu ia harus bilang apa kalau simboknya datang? Ia tahu, simboknya selalu menyembunyikan adanya hutang itu. Barangkali simbok tak ingin anak-anaknya susah dan ikut terbebani. Kalau dia bilang, berarti simbok tahu kalau dirinya sudah mengetahui tentang hutang itu. Pasti simbok akan sedih. Lalu apa yang harus dia katakan? Diam saja? Senja gelisah. Bukan hanya karena hutangnya simbok, tapi juga memikirkan bagaimana caranya membayar hutang itu. Ingin sekali ia membantu simbok, tapi bagaimana caranya?

“Mbak, kok ngelamun? Lapar ya? Kelamaan nungguin aku?” tiba-tiba Rimba datang dan mengolok-oloknya.

“Kamu ngagetin saja.”

Rimba hanya meringis, sambil berlalu. Dari belakang, Senja mendengar Rimba berteriak.

“Mbooook.”

“Hee, jangan berteriak, simbok belum datang,” kata Senja sambil beranjak ke belakang.

“O, belum datang, kalau begitu ayo kita makan. Ada bakwan jagung sama sayur bening Mbak.”

"Ganti bajumu dulu."

Rimba berlari ke kamar mandi lalu cepat-cepat mengganti baju.

"Bakwan jagung kesukaanku," kata Rimba sambil duduk.

“Iya, aku sudah tahu,” kata Senja yang kemudian menemani adiknya makan. Tapi susah sekali menelan makanan yang disuapnya.

"Kok gitu Mbak?  Nggak enak ya?”

“Enak. Ini … mbak lagi sariawan.”

“Wah, sayang sekali kalau sariawan. Sayurnya segar, bakwannya enak, rugi kalau nggak makan.”

“Kamu saja, makanlah yang banyak, mbak pelan-pelan nggak apa-apa.”

Rimba yang tak tahu apa sebenarnya yang membuat kakaknya nggak enak makan, menyuap makanannya dengan nikmat.

Selesai bersih-bersih dapur, Senja duduk di depan, memikirkan apa yang akan dikatakannya nanti pada simboknya. Dan belum juga ia menemukan jawab, dari jauh simboknya sudah berjalan memasuki halaman, sambil seperti biasa menggendong bakul, dan mengenakan caping lebarnya.

Senja berdebar. Kalau dia tak ngomong, salah, kalau ngomong, simboknya pasti bertambah sedih. Sedih karena hutangnya, sedih karena anaknya mengetahui adanya hutang itu.

“Nja, sudah lama pulangnya?”

“Tadi pulang agak siang.”

Simbok meletakkan bakul yang sudah kosong, membuka capingnya, lalu mengelap keringatnya dengan selendang.

“Senja ambilkan minum Mbok,” kata Senja sambil beranjak kebelakang. Tapi simbok malah mengikutinya, lalu duduk di bangku dapur.

Senja meletakkan gelas berisi air putih untuk simboknya.

“Laris Mbok?”

“Habis, hanya membawa limabelas kilo.”

“Syukurlah.”

“Kalian sudah makan?”

“Sudah, sayurnya enak, bakwannya nikmat,” kata Senja untuk menyenangkan simboknya, padahal dia tidak benar-benar menikmati makan siangnya.

“Simbok cuci kaki tangan dulu, masih ada sisa makanan kan?”

“Ya masih, selalu ada bagian simbok yang kami sisihkan.”

Senja membuka tudung saji penutup makanan, menyiapkan piring untuk simboknya.

“Tadi ada yang mencari Simbok,” katanya hati-hati setelah simboknya mulai makan.

“Siapa?”

“Pak RT.”

Mbok Mangun menghentikan suapannya yang hampir masuk ke mulut.

“Bilang apa dia?” tanyanya dengan wajah panik.

“Tidak bilang apa-apa, dia lalu kembali ketika Senja bilang Simbok belum pulang.”

Mbok Mangun tampak menghela napas, pastinya lega, karena katanya pak RT tidak mengatakan apa-apa. Lalu ia melanjutkan menyuapkan makanannya.

“Simbok janji mau membayar sampah hari ini. Nanti saja setelah makan simbok ke sana.”

Senja tak menjawab. Ia meraih sepotong bakwan jagung dan dimakannya, untuk menenangkan hatinya. Ditatapnya simbok dengan pandangan iba. Simbok belum begitu tua, tapi rambutnya sudah mulai memutih. Kulit wajahnya kusam, sedikit berkeriput. Matanya cekung dan tampak lelah. Pasti sangat berat berjuang membanting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya. Simbok hanya perempuan yang kekuatannya pastilah terbatas. Ingin rasanya Senja memintanya beristirahat saja. Ia yang akan menggantikan tugasnya menjual beras berkeliling. Tapi dia masih sekolah,  terkadang ia harus pulang agak sore kalau ada tambahan pelajaran. Dilihatnya simbok mengunyah makanannya pelan. Apakah simbok berpikir tentang hidupnya dan segala pahit getir yang harus dilaluinya?

“Kapan kamu ujian?” tanya Simbok tiba-tiba.

“Bulan depan Mbok. Nanti kalau Senja sudah lulus, biar Senja yang menggantikan Simbok menjajakan beras.”

“Sembarangan kamu bicara. Pekerjaan menggendong beras setiap hari itu berat.”

“Kalau simbok bisa melakukannya, mengapa Senja tidak?”

“Jangan Nduk, kamu itu masih muda. Kalau kebanyakan terbungkuk-bungkuk karena menggendong barang berat, nanti kamu beneran bisa bongkok lhoh.”

Senja tertawa.

“Mengapa Simbok khawatir tentang badan Senja. Senja hanya ingin membantu Simbok.”

“Simbok masih kuat. Kalau kamu mau, lebih baik kamu mencari pekerjaan saja.”

“Lulusan SMA bekerja apa Mbok?”

“Masa tidak boleh?”

“Boleh, tapi barangkali susah. Tapi coba nanti Senja pikirkan lagi. Pokoknya sekolah Rimba nanti Senja yang akan mencarikan biayanya.”

Simbok tersenyum haru. Ia menepuk-nepuk tangan Senja pelan.

Senja membersihkan meja, sementara mbok Mangun pergi keluar. Pasti pergi ke rumah pak RT yang jahat itu. Rasa sedih kembali mengguyur perasaannya.

***

Siang hari itu Senja baru pulang dari sekolah. Cuaca sangat panas, membuatnya gerah. Berkali-kali ia mengusap keringat di dahinya dengan saputangan yang selalu digenggamnya.

Sebuah mobil melintas dan berhenti di depannya.

“Senjaaaa!” kepala seseorang nongol keluar dari jendela mobil, berteriak memanggil Senja.

Senja sudah tahu, itu kebiasaan tuan muda ganteng yang setiap kebetulan melihat kepulangannya dari sekolah selalu mengganggunya dengan canda.

“Udara panas Mas, aku harus segera pulang.”

“Nanti dulu, ayo ikut aku.”

“Ke mana?”

“Ayo, ikut saja,” kata Arka yang kemudian mengambil sepeda Senja, disandarkan di sebuah pohon di tepi jalan.

“Mau apa Mas?”

“Ayo ikut, masuklah ke mobil.”

“Nggak mau. Apa-apaan masuk ke mobil segala."

“Senja, aku mau bicara, tentang bisnis.”

“Bisnis itu apa? Aku tidak tahu tentang bisnis.”

“Tentang pesanan beras lagi, jangan di sini, panas. Masuk sebentar supaya bicaranya enak.”

Senja masuk ke dalam mobil, di samping kemudi.  Rasa sejuk dingin segera menyergapnya. Di dalam mobil tak akan ada rasa gerah. Lalu Arka masuk dari arah samping kemudi.

“Mau ngomong apa?” tanya Senja tak sabar.

“Ada berita baik. Kantin di kantorku juga akan mengambil beras pada Simbok.”

“Benarkah?” wajah Senja menjadi cerah.

Pasti senang simboknya mendapat pesanan lagi.

“Sesampai di rumah, kamu bilang pada Simbok ya, pesanannya seperti kemarin. Uangnya aku bayar di muka. Ini,” kata Arka sambil memberikan amplop yang pastinya berisi uang.

“Aku taruh di amplop supaya tidak berceceran. Masukkan ke dalam tasmu, lalu kamu boleh pulang.”

Senja tersenyum senang. Menatap Arka dengan ucapan terima kasih.

Arka senang melihat senyum itu. Ingin rasanya berlama-lama bersama gadis itu.

“Sudah? Bukakan pintunya dong,” kata Senja yang tak bisa membuka pintu mobilnya.

Arka tertawa, tadi tak sengaja mengunci pintunya.

“Maaf.”

Mereka berpisah. Udara hangat kembali menyergapnya. Senja mengayuh sepedanya dengan bersemangat. Simbok pasti senang.

Arka masih menatapnya, sampai Senja berbelok di sebuah tikungan.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. Arka terkejut.

“Mau apa kamu kemari?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 2, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 13

 NAMAKU TETAP SENJA  13

(Tien Kumalasari)

 

Rosa terus mengayuh sepedanya. Santai, karena yang dibuntutinya juga mengayuh santai. Cuaca masih remang, udara dingin memeluk tubuh. Tapi pengayuh sepeda justru merasa gerah. Keringat mulai membasah. Disekitar jalanan, rumah-rumah banyak yang masih tertutup. Lampu teras masih berkelip. Barangkali mereka lebih suka memeluk guling daripada menghirup udara dingin yang membekukan tulang. Mereka terus mengayuh, jauh dari rumah Arka, membuat Rosa bertanya-tanya. Sebenarnya mau kemana, sang tampan pujaan hatinya ini pergi sepagi ini?

“Heran aku, ia bukannya berputar mengitari kota, justru ke arah luar kota. Ada yang dicarinya, atau sekedar bersepeda saja?” gumam Rosa kesal.

Ia mulai lelah, tapi yang di depannya tak mau berhenti. Hal itu membuatnya sangat penasaran. Ketika remang mulai menyibak, semburat merah menghiasi ufuk timur, seakan menghamparkan permadani berwarna cerah untuk menyambut datangnya sang surya.

Berkali-kali Rosa mengelap keringatnya dengan handuk yang tersampir di pundaknya. Beberapa kendaraan lewat, hanya satu dua, tapi suara deru motor atau mesin mobil mulai menguak heningnya pagi.

Lalu sepeda Arka berhenti di ujung jalan. Ada kerumunan orang di sana. Rosa membenamkan topi yang dipakainya agar wajahnya tak kelihatan. Ia ingin tahu itu kerumunan apa. Lalu ia bertanya kepada seseorang yang lewat.

“Dik, itu pada ngapain?”

“Itu penjual nasi liwet. Pagi buta sudah mangkal di situ, pembelinya banyak,” katanya kemudian berlalu. Tampaknya ia juga baru saja membeli nasi liwet di kerumunan itu.

Rosa tersenyum sendiri. Ia berpikir Arka kelaparan kemudian ingin makan di situ.

“Baiklah, aku sabar menunggu,” gumam Rosa yang kemudian duduk di sebuah batu setelah menyandarkan sepedanya di sebuah pohon.

“Lama banget makannya,” keluhnya. Ia juga ingin tapi mana mungkin tiba-tiba nimbrung ke situ? Dia kan ingin tahu ke mana Arka bersepeda sepagi itu. Apakah akan langsung pulang, atau masih akan meneruskan perjalanan entah ke mana?

Karenanya Rosa tetap menunggu. Lalu setelah sekian lama, Arka melintas. Rosa menundukkan wajahnya, pura-pura mencari sesuatu di tanah berumput, Lalu Rosa merasa lega karena Arka tidak menatap ke arahnya.

“Heran, tidak pulang, dan membawa bungkusan begitu banyak? Jadi ia beli nasi liwet untuk siapa? Bukan dibawa pulang? Berarti akan diberikan kepada seseorang. Siapa? Rosa sudah mengayuh kembali sepedanya.  

Kendaraan mulai sedikit ramai. Suara klakson bertalu-talu membuat semarak pagi mulai merekah.

Tiba-tiba Rosa kehilangan buruannya. Ada mobil box melintas, lalu setelah menghilang, bayangan Arka tak lagi terlihat.

“Ke mana dia? Masa menghilang begitu saja?”

Rosa menghentikan sepedanya. Apakah Arka masuk ke sebuah halaman rumah? Rosa melihat ke kiri dan ke kanan, tak ada tanda-tanda masuk diantara rumah-rumah sederhana berhalaman luas.

“Ah ya, ada tikungan di sana.”

Rosa kembali mengayuh sepedanya, memasuki tikungan ke arah kiri.

“Tuh kan, itu dia.”

Arka memasuki halaman kecil dengan rumah kecil yang sederhana. Pintu rumah itu sudah terbuka. Sekilas Rosa melihat seorang wanita yang tidak lagi muda, melintas di pintu. Tapi bayangan Arka tak lagi kelihatan, walau sepedanya berdiri di dekat pintu rumah.

Rosa hanya berhenti sejenak, lalu mengayuh pergi. Ada orang yang akan ditanyainya, seorang laki-laki membawa pikulan.

“Pak … numpang tanya Pak? Rumah itu rumah siapa sih?”

“Yang mana Non?”

“Itu, yang pagarnya bambu.”

“O, itu rumah mbok Mangun.”

“Mbok Mangun?”

“Dia pedagang beras keliling,” orang yang membawa pikulan itu berlalu.

“Arka ke tempat pedagang beras keliling? Namanya mbok Mangun?”

Seribu kali berpikir, seribu kali pula ia tak menemukan jawabannya. Masa Rosa harus menunggu sampai Arka keluar dari rumah itu? Agak lama Rosa berdiri sambil memegangi sepedanya, siapa tahu Arka segera keluar. Tapi tidak. Rosa ingat Arka membeli nasi liwet, bukan dibawa pulang, pasti diberikan kepada mbok Mangun, si penjual beras, lalu makan bersama. Begitukah? Masa Arka mau makan ditempat kumuh seperti itu? Ada hubungan apa Arka sama mbok Mangun sehingga susah-susah bangun pagi lalu mengunjunginya sambil membawa bungkusan nasi?

Pasti Arka sedang menikmati nasi yang dibawanya bersama keluarga mbok Mangun. Rosa merasa cukup. Ia akan menyelidiki siapa mbok Mangun setelahnya. Lalu ia mengayuh sepedanya pulang. Oh tidak, dia akan mampir dulu di rumah keluarga Arka. Barangkali ia akan menemukan jawab di sana. Mungkin saja mbok Mangun adalah bekas pembantu keluarga itu, siapa tahu.

***

Arka yang tidak tahu bahwa ada seseorang yang memata-matainya, duduk santai di atas tikar yang digelar mbok Mangun karena tidak punya kursi untuk tamu, kecuali bangku yang berjajar di depan rumah.

Mereka sedang berbincang akrab, disela-sela keluhan mbok Mangun karena Arka selalu repot untuk keluarganya.

“Jangan sungkan Mbok, anggap saja aku ini keluarga Simbok, mengapa harus sungkan.”

“Setiap Minggu mas Arka membawakan kami makanan, kami jadi sungkan,” sela Senja yang kemudian menyajikan segelas kopi di dekat tempat duduk Arka.

“Kamu tidak mendengar aku berkata? Aku ini keluarga simbok, jadi jangan sungkan kalau aku sering datang kemari hanya untuk makan bersama kalian.”

“Tidak apa-apa Mbak, kan tidak bagus menolak rejeki,” kata Rimba sambil memasukkan sepotong telur terakhir ke mulutnya.

“Huss!” Senja memelototinya.

“Senja, mengapa kamu marahi adik kamu? Apa yang dikatakannya itu benar. Ya kan Rimba?”

Rimba hanya mengangguk, kemudian pergi ke belakang untuk mencuci tangannya yang belepotan kuah. Lagipula Rimba takut dimarahi sang kakak setelah tadi sang kakak memelototinya.

“Bukankah itu benar?” gumamnya sambil mencuci tangannya.

Dasar anak-anak.

***

Rosa sampai di rumah keluarga Wiguna, ketika pak Wiguna dan istri sedang menikmati kopi pagi dan cemilan.

“Hei, itu Rosa?” pak Wiguna lebih dulu berteriak.

“Selamat pagi, Om, Tante,” sapanya sambil mengelap keringat di lehernya.

“Kamu bersama Arka?”

“Tidak, saya sendirian. Tadi lewat trus mampir.”

“Tadi tidak jadi nyamperin Arka?”

“Tidak, Arka sudah berangkat duluan.”

“Dasar anak itu.”

Bu Wiguna ke belakang untuk meminta bibik agar membuatkan minum untuk Rosa.

“Dulu di sini punya pembantu bernama mbok Mangun?” tanya Rosa setelah bu Wiguna kembali duduk.

“Pembantu?”

“Namanya mbok Mangun?”

“Tidak pernah. Pembantu saya sudah puluhan tahun ya bibik itu, sama-teman-temannya. Tapi nggak ada yang namanya mbok Mangun.”

“O, bukan ya?”

“Dari mana kamu mendapatkan nama itu?” tanya pak Wiguna.

“Dari orang. Sekarang menjadi penjual beras. Kok kenal keluarga ini, saya kira bekas pembantu di sini dulunya,” kata Rosa ngawur.

“Nanti dulu, penjual beras? Kalau penjual beras itu teman Arka,” kata bu Wiguna.

“Teman Arka?” Rosa menyahut, agak keras.

“Arka punya teman yang sekarang jualan beras. Karena kasihan, dia minta agar keluarga di sini mau beli beras dari dia.”

“O, mbok Mangun teman Arka?”

“Masa teman Arka simbok-simbok?” sambung pak Wiguna.

“Mungkin ibu dari temannya itu Pak.”

“O, ya sudah, di mana kamu ketemu dia?”

“Mm, di jalan, sedang omong-omong, kok kenal sama keluarga ini.”

“Ya sudah, bukan apa-apa, hanya penjual beras. Ayo itu sudah disiapkan minumnya. Nanti sarapan di sini ya, sambil menunggu Arka barangkali segera pulang.”

Tentu saja Rosa mau.

***

Tapi hari itu Arka tidak segera pulang. Ia berada di rumah mbok Mangun sampai siang, membantu menakar beras ke dalam keresek-keresek, yang besok pagi mau dijajakan oleh mbok Mangun. Dari terheran-heran atas kebaikan dan perhatian Arka, lalu mereka sudah terbiasa. Rimba bahkan sambil bersenda gurau membantu Arka menakar beras.

Arka baru pulang setelah makan siang di rumah mbok Mangun dengan lauk ala kadarnya, tapi dirasanya sangat nikmat olehnya.

“Maas mas Arka, simbok hanya bisa menyuguhkan makanan sederhana seperti ini,” kata simbok.

“Ini sangat enak. Saya belum pernah makan makanan seenak ini.”

“Masa? Pasti hanya untuk menyenangkan simbok kan?”

“Bukan, sungguh saya merasa bahwa makanan simbok sangat enak. Saat makan itu, apapun lauknya, asalkan suasananya menyenangkan, pasti enak.”

***

Beberapa hari kemudian, ketika Senja pulang dari sekolah, ia melihat adiknya belum pulang. Simbok juga belum ada di rumah. Senja memasukkan sepedanya ke belakang rumah,  lalu melongok ke ruang makan. Biasanya kalau simbok mau pulang agak sore, makanan untuk anak-anaknya sudah disiapkan.

Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk yang agak keras, di luar rumah. Itu suara laki-laki. Senja bergegas ke depan, terkejut melihat siapa yang berdiri di teras dengan wajah gelap.

***

Besok lagi ya.

Monday, June 1, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 12

  NAMAKU TETAP SENJA  12

(Tien Kumalasari)

 

Rosa menatap bu Wiguna tak berkedip. Seperti gampang. Laki-laki lebih suka mengejar daripada dikejar? Harus menjadi orang yang dikejar, bukankah harus menarik? Harus cantik? Harus … dan banyak harus yang belum tentu bisa dilakukan.

“Bagaimana supaya laki-laki mengejar perempuan?”

“Dia harus baik, pastinya. Cantik, tapi cantik itu bukan hanya di luarnya saja. Harus luar dalam.”

“Cantik dari luar, itu mudah.”

“Betul, cantik dari dalam, banyak hal yang bisa dilakukan. Perilaku yang baik, yang menawan, budi pekerti yang halus, penuh kasih sayang.”

“Susah amat,” keluh Rosa.

“Tidak mudah mencapai sesuatu agar bisa berhasil. Kamu harus sabar. Dan satu yang kamu harus yakin, bahwa jodoh itu tidak usah dicari. Kalau memang Allah memberikan jodoh untuk kamu, maka dia akan datang sendiri.”

“Hallo, Rosa, sudah lama kamu datang?” sapa pak Wiguna yang tiba-tiba sudah ada di ruangan dimana mereka berbincang.

Wajah pak Wiguna semringah, begitu senang melihat Rosa yang diyakininya bakal menjadi menantunya.

“Mana Arka?” tanya Rosa tanpa basa basi.

“Maaf Rosa, Arka tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, jadi hanya om yang pulang. Apa kamu kecewa?”

“Sedikit. Tapi senang melihat Om datang.”

“Sedang berbincang tentang apa ini sama tantemu?”

“Banyak hal.”

“Bu, sudah disiapkan makan siang untuk kita makan bersama?”

“Bibik sedang menyiapkan. Sebentar lagi kita bisa makan bersama.”

“Sajikan yang enak untuk calon menantu kita. Ini aku bawa ayam goreng untuk pelengkap,” kata pak Wiguna sambil memberikan sekotak ayam goreng kepada istrinya, yang kemudian membawanya ke belakang.

“Kamu ini dari mana?”

“Saya hanya jalan-jalan, terus mampir. Pengin ketemu Arka, tapi kalau di kantor, Arka suka marah. Jam kerja tidak boleh diganggu, katanya."

“Dia memang begitu. Kalau ingin kemari, datanglah sore.”

“Iya, lain kali Om, ini tadi juga karena sedang suntuk di rumah sendirian.”

“Memangnya papa-mama tidak ada?”

“Papa ke kantor, mama sedang arisan.”

“Kalau begitu ketika sedang suntuk, main kemari saja. Tantemu jarang pergi. Dia tidak bisa terlalu lelah karena darah tingginya sering kumat."

“Baiklah, berbincang dengan tante juga bagus."

Padahal Rosa sebenarnya kesal pada bu Wiguna. Dia kelihatan sekali tidak mendukung keinginannya untuk bersanding dengan Arka. Malah memberi petuah-petuah yang sulit dilakukan.

Rosa anak manja yang semua keinginannya harus dituruti. Ia tidak bisa tenggang rasa. Kalau dia mau, dia tak akan peduli apapun. Semua keinginan harus terpenuhi. Dia juga tak bisa sabar. Semuanya harus instan. Karenanya anjuran untuk sabar sangat memberatkannya.

“Ayo makan, semuanya sudah siap,” kata bu Wiguna yang baru keluar dari ruang makan.

“Ayo Rosa. Kita adalah keluarga, jangan sungkan. Ketika kami kesana juga dijamu secara istimewa. Kami juga dimanjakan dengan makanan-makanan yang enak luar biasa. Ayo.”

Rosa tidak sungkan. Ia ingin berlama-lama ada di rumah itu, agar bisa bertemu Arka saat dia pulang kantor nanti.

***

Begitu sampai di rumah, Senja senang melihat simboknya ada di rumah.

“Iya, tadi simbok pergi hanya sebentar, soalnya menunggu pesanan tuan muda itu.”

“Sekarang sudah dikirim berasnya?”

“Sudah. Tadi dia juga kesini, lalu ketika berasnya tiba, dia menelpon anak buahnya yang kemudian mengambil berasnya.”

“Harusnya kita mengirim ke sana ya Mbok, kan dia yang beli.”

“Iya sih, tapi bagaimana mengirim satu kwintal beras? Harus membayar angkutan. Sayang uangnya kan?”

“Bisa dikirim sedikit-sedikit. Kalau karung duapuluh limaan kilo itu kan Senja bisa membawanya.”

“Ya sudah, kali ini biarkan saja. Lain kali kita pikirkan untuk mengirimkannya.”

“Harganya diperhitungkan dengan ongkos kirimnya kan Mbok.”

“Sungkan, nanti kelihatan mahal. Tapi sebenarnya juga nggak apa-apa. Dia membayar lebih banyak untuk beras itu. Tadi simbok ingin mengembalikan uang sisanya, tapi dia tidak mau.”

“Pastilah, dia itu memang begitu.”

“Mengapa dia sangat baik kepada kita ya Nduk.”

“Senja juga berpikir begitu.”

“Ayo kamu ganti pakaian dulu, adikmu sudah menunggu untuk makan. Untunglah kamu cepat pulang.”

“Tidak ada tambahan pelajaran hari ini,” kata Senja yang langsung beranjak ke belakang.

***

Rosa berada di rumah keluarga Wiguna sampai sore. Harapannya bisa ketemu Arka saat Arka pulang kantor, tapi ternyata Arka tidak segera pulang.

“Heran, mengapa anak itu belum juga pulang, sudah lewat jam kantor,” omel pak Wiguna.

“Arka itu doyan bekerja, pasti dia lembur,” sambung bu Wiguna.

“Biar aku telpon dia,” kata pak Wiguna yang segera menelpon Arka. 

Tapi ponselnya mati. Lalu dia menelpon kantor. Ternyata Arka sudah pulang sejak tadi.

“Anak itu sangat keterlaluan. Sudah keluar dari kantor, tapi tidak segera sampai di rumah. Pergi ke mana saja dia?”

“Mungkin mampir beli apa … gitu,” kata sang istri.

“Ya sudah Om, saya pulang saja dulu, lain kali saya akan kemari lagi.”

“Sayang sekali tidak bertemu Arka. Besok Minggu datanglah kemari. Arka sedang senang-senangnya bersepeda.”

“Paling ditinggal lagi.”

“Datanglah lebih pagi. Dia tak mungkin menolak sepedaan bersama.”

“Baiklah, nanti saya atur waktunya.”

***

Arka sudah tahu kalau Rosa pasti akan menunggu, karenanya dia tidak langsung ke rumah. Hanya satu tujuannya, pergi ke rumah Senja. Tumben saat pulang kantor dia tidak ketemu Senja yang pulang sekolah. Ia tidak tahu kalau Senja pulang awal.

Ketika ia hampir sampai di rumah Senja, tiba-tiba ia melihat mbok Mangun berada di depan teras seseorang. Ia menghentikan mobilnya agak ke samping dari pagar rumah itu. Di depan rumah tertulis bahwa itu rumah RT di kampungnya. Mbok Mangun mencicil uang sampah? Seperti dugaannya, dia tidak sedang mencicil uang sampah. Dari jendela kaca mobilnya dia melihat wajah laki-laki setengah tua yang menatap bengis sambil memegang uang yang entah berapa banyaknya. Tak ada pandangan ramah seandainya mbok Mangun dianggap sebagai tamu. Ketika mbok Mangun membalikkan tubuhnya, ia melihat wanita itu sedang berjalan sambil menundukkan wajahnya lalu mengusap matanya.

Arka menjalankan mobilnya lebih maju, menunggu mbok Mangun lewat. Ketika sampai di samping mobil, ia menyapanya.

“Mbok, dari mana?”

Mbok Mangun tentu saja terkejut.

“Mas .. Tuan?”

“Sudah bener mas, di tambah tuan.”

“Mas Arka kok di sini?”

“Saya mau ke rumah, melihat Simbok, lalu saya tunggu di sini. Naiklah,” kata Arka sambil membukakan pintu.

“Nggak usah Mas, saya jalan saja. Rumah saya kan dekat.”

“Tidak apa-apa, sekalian saya juga mau ke sana.”

Mbok Mangun terpaksa masuk ke dalam.

“Simbok dari mana?” tanya Arka ketika mobil sudah dijalankan.

“Dari … warung … ini, beli bumbu,” kata simbok yang sebelum ke rumah pak RT memang sudah beli sesuatu di warung dekat situ.

“Senja sudah pulang?”

“Tadi pulang siang. Bagaimana berasnya? Sudah diterima?”

“Sudah. Kata ibuku, nasinya enak.”

“Syukurlah.”

“Mas Arka dari mana?”

“Pulang kantor. Cuma mau mengirimkan ini, nasi gudeg untuk di makan malam nanti.”

“Lhoh, mas Arka itu kok selalu begitu. Mengapa selalu repot-repot untuk keluarga saya?”

“Tidak repot kok, kebetulan melihat tukang jualan di pinggir jalan. Ini, nanti Simbok bawa, saya langsung pulang ya.”

“Waduh, banyak banget. Baunya gurih.”

“Kalau suka, kapan-kapan saya belikan lagi.”

“Jangan begitu Mas, kami sungkan lho.”

“Jangan sungkan, anggap saja saya adalah keluarga.”

“Ya ampun, mana mungkin simbok punya keluarga kaya raya seperti mas Arka?”

“Memangnya tidak boleh?”

Mobil Arka sudah sampai di depan rumah simbok. Arka membukakan pintu, mempersilakan simbok turun.

“Saya langsung ya Mbok, sudah sore. Lain kali saja saya main lagi kemari. Oh ya, besok Minggu lagi saya mau sepedaan kemari.”

“Terima kasih banyak ya Mas.”

***

Hari Minggu itu Rosa hampir tidak tidur semalaman. Sebelum terdengar adzan Subuh, ia sudah keluar dari rumah dengan membawa sepedanya. Ia berharap masih bisa bertemu Arka lalu bersepeda bersama. Ia harus memaksa Arka agar menerima kebersamaan itu.

Tapi agak jauh dari rumah Arka, Rosa melihat Arka sudah keluar dari halaman rumah. Ada keinginan untuk mengejarnya, tapi diurungkannya.

“Lebih baik aku ikuti saja dari jauh, ke mana dia akan pergi sepagi ini,” gumam Rosa yang kemudian mengikuti Arka dari belakang.

***

Besok lagi ya.

Sunday, May 31, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 02

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  002

(Tien Kumalasari)

 

Siang hari saat Ana harus makan, Rumi kembali mengetuk pintu. Tapi Ana kecil rupanya sedang tertidur, bermimpi tentang pengais sampah yang memiliki pelukan hangat dan manis.

“Aku mau dia memeluk lagi, aku mau dia ….” bisiknya mengigau.

“Non, Non … buka pintunya dong Non,” Rumi mulai menggedor pintu.

Mata Ana terbuka. Ucapan yang pertama kali dilontarkannya adalah: “Mana dia?”

“Non, buka pintunya. Baiklah, Rumi tidak akan menyuruh Non mandi. Sekarang buka pintunya ya Non,” kata Rumi, lembut.

Ana meraba perutnya. Ia sebenarnya lapar. Ia enggan keluar, kalau saja tidak mendengar Rumi mengatakan bahwa dia tak akan memaksanya mandi. Ana seakan takut, bekas pelukan bibi Menur akan hilang kalau dia mandi.

“Ayolah Non, cantik, manis, ayu, buka pintunya ya, bibi menggoreng ayam kremes kesukaan Non lhoh.”

“Tapi aku tidak mau mandi,” Ana berteriak.

“Baiklah, terserah Non saja. Tidak mandi juga tidak apa-apa.”

Pintu kamar itu terbuka, tapi wajah Rumi tampak cemberut. Sebenarnya dia kesal, hari itu Ana agak bandel gara-gara pemulung itu.

“Aku tidak mau mandi.”

“Baik, saatnya makan, sudah Rumi siapkan.”

“Besok aku mau Rumi menyiapkan semangkuk makan,” kata Ana sambil duduk, sementara Rumi melayaninya.

“Bukankah setiap hari Rumi sudah selalu menyiapkan makan untuk Non?”

“Bukan aku, untuk bibi Menur.”

“Siapa dia?”

“Yang tadi itu.” Ana berteriak lagi.

“Mengapa Non melakukannya?”

“Pokoknya siapkan saja.”

“Nanti kalau nyonya marah bagaimana?”

“Mama tidak akan marah. Mama tidak peduli apapun.”

“Ya sudah, makanlah dulu sekarang, Rumi menunggu di situ,” katanya sambil menunjuk ke arah kursi, di mana Rumi selalu duduk menunggu Ana untuk dilayani saat makan.

***

Menur mengusap wajahnya dengan selendang yang tadi dibuatnya untuk mengikat karung sebelum diserahkan ke pengepul langganannya.

Ia memasuki rumah, wajahnya kotor berdebu. Ia sudah membeli sekilo beras dan dua butir telur. Ia mencuci kaki tangan dan wajahnya, lalu masuk ke dapur. Sebentar lagi Rahman, sang anak, pulang, dan makan harus sudah disiapkan.

Ia sudah menanak nasi, masih ada sisa sayur kemarin yang sudah dipanaskan, lalu menggoreng telur. Rahman sangat suka telur. Kalau bisa sang ibu selalu menyiapkan lauk telur, entah digoreng atau direbus, atau dimasak apa saja. Yang penting ada telur. Pernah suatu ketika Menur tak mampu membeli telur, sehingga hanya beli dua potong tahu dan tempe, Rahman ngambeg tak mau makan. Apa boleh buat, demi sang anak dia berhutang sebutir telur di warung tetangga. Menur sangat memanjakan sang anak. Ia berharap anaknya selalu senang, tapi harus rajin belajar demi masa depannya. Sepeninggal suaminya yang pengayuh becak, Menur menghidupi dirinya sendiri dan seorang anaknya. Ia mencari uang sekuat tenaga, biar didera hujan dan panas, kakinya tetap melangkah.

Ia selalu bermimpi, agar anaknya bisa sekolah, pintar, dan menjadi orang. Hidup seperti dirinya sangatlah menderita. Janganlah sang anak mengalaminya. Bekalnya hanya satu, Rahman harus menjadi orang. Mampukah ia melakukannya? Entahlah. Doa dan jerit setinggi langit selalu dipanjatkannya. Semoga semesta mengamininya, dan Yang Maha Kuasa mendengarnya.

Menur sedang mengentas nasi ke dalam sebuah mangkuk, diletakkannya didekat sayur dan telur ceplok yang sudah disiapkannya, ketika mendengar langkah kaki anaknya.

“Bu ….”

“Syukurlah kamu sudah pulang. Cepat ganti bajumu, cuci kaki dan tanganmu, lalu makan. Ibu sudah siapkan semuanya.

“Bu, bajuku sobek,” kata Rahman sambil menunjukkan bajunya yang robek.”

“Ya ampuun, ini robek jahitannya, nanti biar ibu jahit sebentar. Cepat ganti bajumu dulu.”

“Aku tidak mau baju ini dijahit.”

“Kan robek? Masa mau pakai baju robek?”

“Aku mau ibu beli yang baru.”

“Apa?”

“Yang baru Bu, aku malu,” rengek Rahman.

Menur mengelus dadanya yang tiba-tiba merasa nyeri.

Ia menatap anaknya yang dengan santai melepas baju dan celananya, kemudian lari ke kamar mandi dan memakai baju rumahan yang sudah disediakan sang ibu.

Menur masih memegangi baju yang robek di bagian lengan, lalu menatapnya sendu. Hanya robek jahitannya, bisa dijahit ulang sehingga tersambung kembali.

“Bu, mengapa baju itu dipegangi terus? Itu sudah tak layak dipakai,” katanya sambil duduk di kursi makan, lalu dengan lahap makan apa yang sudah ada di depannya.

“Nak, baju ini masih bagus. Ini hanya lepas jahitannya. Ibu jahit sebentar juga pasti sudah kembali pantas dipakai.”

“Nggak mau. Malu aku Bu, warnanya sudah memudar. Teman-temanku bajunya bersih semua.”

“Rahman, kalau harus beli kelamaan. Bukankah besok pagi masih akan dipakai lagi? Biar ini ibu jahit dulu, lalu dicuci dan disetrika. Yakinlah, masih bagus kok.”

“Nggak mau.”

Menur menarik napas panjang. Selama ini apa yang diinginkan Rahman harus dipenuhi. Sayangnya Menur yang merasa hanya memiliki Rahman dalam hidup ini, tak tega membuatnya kecewa.

Tapi Rahman yang sudah terbiasa dimanja, terbiasa semua keinginannya terpenuhi, tak pernah mau mengerti bagaimana beratnya sang ibu memikul bebannya. Ia harus makan, harus berpakaian pantas, harus tampil disekolah dengan penampilan yang tidak memalukan.

“Nak, ibu tidak punya uang lagi. Ibu punya sedikit tabungan, tapi hanya untuk biaya sekolah kamu, apalagi kamu sebentar lagi lulus dan mau masuk SMP.”

“Pokoknya beli baju. Rahman malu. Tadi sudah ditertawakan teman-teman Rahman gara-gara baju Rahman sobek.”

“Bukankah besok tidak kelihatan sobek lagi?”

“Pokoknya seragam baru!!” pekiknya sambil menghabiskan makanannya, lalu berlari ke kamar.

Menur meletakkan baju itu di sandaran kursi, lalu mengusap air mata yang tak lagi bisa ditahannya.

Setelah membersihkan meja bekas makan anaknya, ia masuk ke kamar lalu membuka kotak simpanannya, yang sebenarnya sudah menjadii janjinya untuk tidak akan mengurangi jumlah uangnya, justru selalu menambahnya sedikit demi sedikit.  Uang itu hanya untuk biaya sekolah Rahman, sesuai keinginan Menur agar menjadikan Rahman anak yang bisa menemukan kehidupan lebih baik.

Gemetar tangannya ketika menarik beberapa lembar uang itu, lalu memasukkannya ke dalam saku.

Ia membersihkan dapur sebentar, kemudian keluar rumah, semi selembar seragam sang anak yang tak mau lagi memakai yang lama. Sambil menutup pintu depan, kembali Menur mengusap pipinya yang basah oleh air mata.

***

Rumi merasa kesal karena Ana berkali-kali mengingatkan dirinya agar menyiapkan semangkuk nasi esok hari, untuk perempuan pemulung yang baru sekali dikenalnya.

“Bibik jangan lupa ya.”

“Memangnya siapa dia itu? Non Ana keterlaluan. Dia itu kotor, Non jangan dekat-dekat. Badan yang kotor banyak penyakit. Tahu nggak sih?” omel Rumi.

“Nggak kotor kok.”

“Bagaimana nggak kotor? Dia mengais botol-botol kosong di tempat sampah. Dia itu bukan hanya kotor, tapi juga bau. Kalau Nyonya tahu, pasti Non akan dimarahinya.”

Tapi sungguh Rumi tidak pernah berani mengadukan kelakuan Ana tersebut, karena kalau sampai dia mengadu, dia juga yang akan disalahkan karena dianggap tak bisa menjaga Ana.

“Non tidak usah menemui dia lagi ya. Oh iya, besok tuan pulang, apa Non lupa?”

“Aku tidak lupa, memangnya kenapa?”

“Non tidak boleh ke mana-mana.”

“Diamlah Rumi, aku sedang belajar,” kata Ana yang memang sedang belajar. Ia punya tugas menggarap tugas yang diberikan gurunya, yang besok siang adalah jadwalnya mengajar.

Rumi tak menjawab, tapi ia merasa kesal kepada pengais sampah itu. Ia berharap akan mengusirnya besok, kalau dia lewat. Semoga ia lebih dulu melihatnya sebelum Ana.

***

Hari itu Menur seperti biasa menyusuri jalan sambil setiap kali mengorek tempat sampah, barangkali menemukan botol kosong yang bisa dijadikannya uang.

Masih terbayang olehnya, ketika beberapa puluh ribu uangnya berkurang gara-gara sang anak merengek harus memakai seragam baru.

“Semoga aku segera bisa enggantikan uang yang berkurang itu.”

Lalu Menur teringat pada gadis kecil bernama Ana yang berpesan padanya agar hari itu lewat di sana lagi.

Lalu teringat apa yang dikatakannya ketika bertemu.

“Bibi, peluk aku lagi.”

Menur tersenyum. Sesungguhnya anak itu sungguh menggemaskan. Sekarang ia sudah memasuki area rumah-rumah elit. Rumah orang tua Ana sudah kelihatan. Ia ingin menyeberang, ketika sebuah mobil melintas.

Tiba-tiba kaca jendela mobil itu terbuka. Seorang laki-laki melongok, menatapnya tak berkedip.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

NAMAKU TETAP SENJA 15

  NAMAKU TETAP SENJA  15 (Tien Kumalasari)   Arka mengerutkan keningnya. Kehadiran Rosa membuyarkan kebahagiaannya setelah bertemu Senja. “A...