NAMAKU TETAP SENJA 36
(Tien Kumalasari)
Arka terkejut. Ia berputar mengitari mobil, setengah berlari mendekati Rosa yang terbaring sampil merintih. Pengendara sepeda motor itu kabur, tapi Arka tak memperhatikannya. Ia lebih mempedulikan Rosa yang merintih kesakitan.
“Kamu terluka?”
Hanya siku sebelah kiri karena terbanting, tapi perutku sakit sekali. Aku tak bisa bangun.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” kata Arka yang kemudian menggendong Rosa, dibawanya masuk ke dalam mobil. Rosa bersandar di lengan Arka dengan nyaman. Dalam hati ia berkata, seandainya ia digendong lebih lama.
Arka meletakkannya di samping kemudi, lalu membawanya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Rosa merintih-rintih.
“Apanya yang sakit?”
“Perutku, pinggangku, sakit sekali.”
“Tadi terbentur apa?”
“Aku tidak tahu, tertabrak langsung jatuh.”
Tiba-tiba ponsel Rosa berdering, Rosa hanya melihatnya, tapi kemudian ponsel dimatikannya.
"Dari siapa?"
"Teman lama. Mengganggu saja dia tuh. Aku sedang fokus pada sakit perutku ini."
“Ya sudah, nanti dokter yang akan memeriksanya.”
“Sakit sekali Ka, nyeri… sepertinya ada bagian dalam perutku yang terluka,” Rosa merengek manja. Kapan lagi dia bisa bermanja dengan orang yang dicintainya?
Arka tak merasakan itu. Intinya ia hanya harus menolong, apalagi saat itu Rosa sedang bersamanya.
Sesampai di rumah sakit, Rosa segera dibawa ke IGD.
“Ka, tolong kabari Mama sama Papa ya,” pesan Rosa sebelum Arka keluar dari ruang IGD.
Arka hanya mengangguk. Ia segera mengambil ponselnya. Tapi sebelum dia menelpon, ponselnya lebih dulu berdering, dari ayahnya.
“Arka, kamu masih di kantor?”
“Tidak. Arka sedang di rumah sakit.”
“Apa? Siapa yang sakit?”
“Saya sedang bepergian bersama Rosa, Rosa terserempet motor, sekarang ada di rumah sakit.”
“Apa? Bagaimana bisa keserempet? Bagaimana lukanya? Kamu harus menelpon pak Daryono .”
“Iya, ini mau menelpon.”
Pak Daryono menerima berita itu dengan kaget dan sedikit heran.
"Rosa sedang bersama kamu, Arka?”
“Iya Om, kami mau menjenguk seseorang yang sedang sakit. Maksudnya yang baru keluar dari sumah sakit, seorang gadis penjual beras. Ketika keluar dari mobil, Rosa terserempet motor yang melaju kencang.”
“Bagaimana lukanya?”
“Luka yang terlihat sepertinya tidak seberapa, tapi dia mengeluh perutnya sakit sekali, mungkin luka di dalam, dokter akan segera menanganinya.”
“Baiklah, kirimkan alamat rumah sakitnya. Aku dan Mamanya mau ke sana.”
“Baik, Om.”
Arka menutup ponselnya setelah mengirimkan alamat rumah sakit kepada pak Daryono.
***
"Rosa sedang bepergian bersama Arka?” tanya bu Daryono.
“Ya, mereka mau menjenguk orang sakit juga. Gadis penjual beras itu. Tapi Rosa terserempet sepeda motor ketika turun dari mobil.”
“Parahkah lukanya? Tadi dia bercerita tentang bagaimana dia menolong penjual beras itu, yang pingsan di pinggir jalan. Aku kira sekarang mereka kompak akan menengok gadis yang kemarin sempat masuk rumah sakit itu.”
“Semoga tidak apa-apa. Aku mau ke rumah sakit. Mama ikut?”
“Tentu saja Mama ikut. Tunggu sebentar, ganti baju dulu.”
***
Sesampai pak Daryono di rumah sakit, Rosa masih ada di ruang IGD.
Melihat ayahnya datang, Rosa menangis terisak.
“Mengapa menangis? Lukanya parah?”
“Tidak Pa, entahlah, perutku sakit sekali.”
“Sudah diperiksa dokter?”
“Tidak kelihatan lukanya, entah apa kata dokter, tapi rasanya sakit dan nyeri. Kata dokter baru diadakan pemeriksaan lengkap besok pagi.”
“Ya sudah, karena sudah ditangani dokter, maka kamu harus tenang,” kata sang ibu.
“Arka mana, kok tidak ikut masuk?”
“Tadi ketika Papa dan Mama datang, dia pamit mau keluar sebentar.”
“Ke mana katanya?”
“Pastinya pulang dulu, ngabarin ayah dan ibunya. Kalau dia tidak segera pulang kan mereka bertanya-tanya.”
“O, mungkin pergi ke rumah Senja.”
“Senja itu gadis penjual beras itu?”
“Iya, kemarin Rosa menolongnya. Tadi mau ke sana sama Arka, tapi Rosa terkena halangan seperti ini.”
“Ya sudah, bersabar, jangan banyak mengeluh. Kan dokter sudah menanganinya.”
“Mengapa Arka tidak pamit sama Rosa ya.”
“Kan tidak sembarangan orang bisa masuk kemari. Ini hanya Mama dan Papa yang boleh masuk. Sudah, kamu itu jangan berpikir yang tidak-tidak. Katamu kamu sudah melupakan Arka,” tegur bu Daryono.
“Iya sih, sepertinya dia tidak peduli.”
“Dia membawamu kemari dan mengabari Papa Mama, mengapa kamu mengatakan tidak peduli?”
Perawat mendekat, mengatakan bahwa Rosa akan dipindahkan ke ruang rawat untuk pemeriksaan selanjutnya besok pagi, karena ia masih mengeluh perutnya sakit.
“Baiklah suster, berikan kamar terbaik untuk anak saya,” kata pak Daryono.
***
“Jam berapa ini, mengapa Arka belum pulang juga?” tanya bu Wiguna.
“Biarkan saja, dia bersama Rosa. Rosa sedang sakit, pastinya dia menemaninya,” kata pak Wiguna yang kali ini merasa senang karena Arka bersama Rosa. Ia tak ingin menelpon atau mengganggunya.
“Seberapa parah lukanya sih?”
“Kita tidak tahu, kalau ingin tahu, ayo kita ke rumah sakit.”
“Bapak mau ke rumah sakit?”
“Iya. Maksudku begitu.”
“Aku tidak usah saja Pak, kepala agak pusing. Nanti bau obat-obatan di rumah sakit bisa tambah pusing.”
“Ya sudah, ibu di rumah saja. Nanti kalau ada apa-apa, aku kabari.”
Bu Wiguna hanya diam. Ia tahu suaminya senang karena Arka bersama Rosa. Tapi ia yakin bukan karena Arka sudah jatuh hati pada Rosa. Ia tahu hati Arka sangat keras. Ia tak mudah merubah pendiriannya, apalagi ini masalah cinta. Mereka bersama-sama hanya karena Senja yang diculik dan Rosa menolongnya dalam pelariannya. Sebuah kebetulan karena Rosa yang menemukannya, lalu membawanya ke rumah sakit. Dan itu juga keberuntungan bagi Senja. Entah mengapa, bu Wiguna bersyukur untuk keselamatan Senja.
***
“Rimba, sore-sore begini, kamu dari mana?” tanya Senja ketika melihat Rimba memasuki rumah sambil membawa sesuatu di dalam keresek.
“Ini, aku membawa mangga,” kata Rimba sambil meletakkan beberapa butir mangga di atas meja.
“Dari mana mangga ini?”
“Dari rumah bu Suliyah. Banyak mangganya, sampai jatuh-jatuh di jalan.”
“Kamu mengambil tanpa bilang, namanya mencuri.”
“Ya tidak, aku disuruh ambil oleh bu Suliyah, ini ada beberapa yang masak.”
“Ya sudah kalau sepengetahuan yang punya.”
“Biar aku cuci dulu ya Mbak,,”
“Sambil membawa pisau.”
“Apa itu?” tanya Simbok yang baru keluar dari kamar mandi.
“Mangga Mbok, dikasih bu Suliyah.”
“Wah, ini mangga gadung, enak. Ya sudah sana, dicuci dulu.”
Simbok duduk menemani Senja yang masih saja menghadapi buku-buku pelajaran sekolahnya.
Tiba-tiba ia mendengar suara langkah dari luar. Mbok Mangun bergegas keluar dan berteriak.
“Yaaah, mas Arka sore-sore datang?”
“Iya Mbok, harusnya sudah dari tadi. Ini oleh-oleh buat Senja.”
“Apa ini?”
“Buah-buahan, dari Rosa, dan ini cemilan dari saya.”
“Waah, banyak sekali.”
“Senja mana? Masih tiduran?”
“Tidak, itu di dalam, belajar seharian.”
“Ya ampuun, Senja,” kata Arka yang menemani Simbok masuk ke dalam.
“Mas Arka? Aduh, ini apa saja?” kata Senja melihat Simbok meletakkan bungkusan di meja.
“Ini buah2an dari Rosa. Ada apel dan lain-lain. Sedianya Rosa mau kemari bersama aku, tapi tadi kecelakaan di jalan.”
“Kecelakaan?” yang berteriak bukan hanya Senja, tapi juga Simbok dan Rimba, yang baru saja meletakkan mangga setelah dicuci.
“Kami berhenti di depan toko roti, ketika turun dari mobil, Rosa terserempet motor. Luka sedikit, tapi sudah aku bawa ke rumah sakit.”
“Keadaannya bagaimana?” tanya Senja khawatir.
“Luka ringan di tangannya, tapi dia mengeluh sakit perut, besok baru akan diadakan pemeriksaan keseluruhan,” kata Arka sambil duduk di salah satu kursi yang ada, dan hanya ada tiga, sehingga Simbok dan Rimba tetap berdiri mendengarkan penjelasannya.
“Ya Allah, kasihan sekali. Ingin sekali aku menjenguknya,” kata Senja.
“Kamu sendiri masih luka. Besok paling Rosa sudah bisa pulang.”
“Kalau aku sudah bisa berjalan, aku mau ke sana membezoeknya, dia penyelamat aku,” kata Senja prihatin.
“Baiklah, nanti gampang. Ini aku hanya sebentar, karena sudah sore dan aku juga belum pulang ke rumah.”
Arka diantar sampai ke depan rumah, Rimba membawakan dua buah mangga masak yang diberikannya kepada Arka.
“Ini apa?”
“Mangga enak, hanya dua, tadi dapat hanya sedikit.”
Arka menerima mangga itu, menciumnya.
“Harum.”
Kemudian dia berlalu.
***
Suasana di ruang rawat Rosa sangat rame, karena pak Wiguna yang datang sambil banyak bertanya. Tapi ia kecewa tidak melihat Arka ada di sana.
“Arka mana?”
“Sedang pergi, barangkali ke rumah Senja,” kata Rosa. Wajah pak Wiguna muram seketika.
Tiba-tiba perawat datang mendekat, menyalami semua yang ada.
“Ini berita bagus, ternyata nona Rosa hamil.”
“Apa?” semuanya berteriak.
"Tidak mungkiiiinn," Rosa berteriak.
***
Besok lagi ya.