Sunday, August 9, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 012

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN PUTRI KECIL  012

(Tien Kumalasari)

 

Rahman menatap ibunya heran. Seakan tak percaya akan apa yang didengarnya. Bukankah om ganteng itu baik, mengapa dirinya tak boleh bertemu dengannya?

“Kamu mendengar apa yang ibu katakan bukan?”

“Tapi Rahman tidak percaya. Bukankah om itu baik?”

“Karena dia sudah mengajakmu makan enak? Jalan-jaan dengan kudanya?”

“Om itu mengajari Rahman, bagaimana Rahman harus menyayangi dan menghormati ibu.”

Menur terdiam. Itu benar, Baroto baik, bukan hanya karena mengajaknya makan dan berjalan-jalan naik kuda, tapi juga memberi petuah yang baik dan yang mampu membuka hati Rahman sehingga mengerti apa arti seorang ibu bagi kehidupannya. Apa yang salah pada diri Baroto?

Yang salah adalah dia hampir yakin bahwa Rahman adalah dagingnya. Menur tidak ingin hal itu terjadi. Kalau Baroto sampai tahu, bukan tak mungkin Rahman akan diambilnya. Tidak, Menur tak mau kehilangan anak semata wayangnya. Biarlah miskin, tapi dia akan berusaha menjadikannya orang yang berguna. Menur tak mau itu. Atau juga, Baroto akan bersikeras mengambilnya menjadi istri sahnya. Tidak, mana mungkin Menur bersedia? Baroto punya istri, punya keluarga. Walau bukan keluarga harmonis karena tidak saling mencintai, tapi nyatanya mereka adalah keluarga. Menur tak mau merusaknya.

“Mengapa Ibu diam? Apa salahnya kalau Rahman bertemu om ganteng itu?”

“Ibu hanya tidak suka,” jawab Menur singkat, lalu ia meninggalkan anaknya yang masih bengong tak mengerti.”

***

Di rumah keluarga Rahman. Nyonya Baroto sedang ditegur ibunya habis-habisan. Nyonya Pramono, sang ibu, memberikan Ana saat masih bayi, dengan pesan agar dididik dengan baik, dan diberikan kasih sayang. Ana menjadi anak baik, bukan karena didikan ibu angkatnya, tapi oleh guru sekolah yang datang hampir setiap hari untuk memberi pelajaran sekolah dan budi pekerti. Tapi Ana tak suka pada ibunya, yang tampak sekali tidak mencintainya. Ana hangat akan pelukan dan kasih sayang, lalu tiba-tiba Ana menemukan pelukan hangat dari seorang pengais sampah. Siapa salah?

“Mama tidak mengerti, yang diinginkan menjadi pengasuk Ana itu seorang pengais sampah. Kotor dan bau.”

“Apapun atau bagaimanapun dia, Ana menyukainya. Entah karena apa, Ana begitu menginginkannya.”

“Jadi Mama bersikeras untuk memenuhi permintaan Ana?”

“Tentu saja. mama tak ingin Ana bersedih hanya karena keinginannya tidak terlaksana. Ana anak baik, mama sangat menyayanginya. Walau begitu mama akan mengawasi orang itu, kalau dia benar baik, boleh lanjut, kalau tidak, tidak usah dilanjutkan.”

“Baiklah, terserah Mama saja,” kata nyonya Baroto yang tak akan pernah bisa menentang kemauan orang tuanya.

***

“Anak baik, jangan menangis. Nenek ijinkan kamu mengambil pengasuh baru untuk kamu.”

Ana bersorak senang.

“Benar Nek?”

“Tentu saja benar.”

“Tapi sekarang ini bibi Menur tak akan mau menuruti kemauan Ana.”

“Mengapa kamu begitu yakin? Katakan pada dia kalau nenek akan memberi gaji yang besar pada dia. Berapapun dia minta. Tapi nenek juga akan mengawasi, apa dia benar-benar wanita yang baik seperti yang kamu inginkan. Kalau nenek kecewa, nenek akan memecatnya.”

“Nek, dia wanita baik. Tapi sekarang dia pasti nggak mau.”

“Mengapa?”

“Tadi mama memarahi dia, sampai dia hampir menangis.”

“Kalau perempuan itu menolak, nenek yang akan bicara pada dia.”

***

Keesokan harinya, di saat pulang sekolah, Rahman melihat Baroto. Ia tidak naik kuda, tapi sedang bersandar pada mobil mengkilat yang diparkir di sebelah pagar sekolah.

Rahman ingin menghindarinya, bukan karena takut, tapi karena ingat pesan ibunya. Walah Rahman mengerti bahwa Baroto orang yang baik, tapi dia ingin mentaati pesan sang ibu.

Tapi bagaimana cara menghindarinya?

“Rahman.”

Rahman masih berpikir mencari alasan untuk pergi, ketika Baroto memanggil namanya.

“Sini!”

Rahman bingung, tapi ia tak kuasa menolaknya.

“Om, saya harus cepat pulang, karena ingin makan di rumah,” kata Rahman yang mengira Baroto akan mengajaknya makan di sebuah restoran seperti kemarin.

“Bukan makan, aku ingin kamu mengantarkan om.”

“Ke mana?” tanya Rahman yang akhirnya tak kuasa menolaknya.

“Ikut saja.”

Tapi ternyata Baroto mengajaknya ke sebuah rumah sakit besar.

“Om sakit?"

Baroto menatap anak kecil yang digandengnya, sambil terus melangkah memasuki rumah sakit.

“Om sakit?” Rahman bertanya lagi karena tidak mendapat jawaban.

“Tidak, hanya untuk periksa kesehatan saja.”

“Kalau tidak sakit mengapa harus periksa?”

“Orang itu kan setiap saat harus menjaga kesehatan. Tidak menunggu kalau sakit, baru pergi ke dokter. Kalau sehat, syukurlah, kalau kelihatan ada penyakitnya ya langsung diobati.”

Rahman tak menjawab. Ia dan ibunya tak pernah periksa ke dokter. Bersyukur karena sehat, tapi sesekali kontrol kesehatan? Itu kan perlu uang, mana mungkin ibunya punya uang untuk itu.

Kemudian mereka sudah sampai di sebuah loket, entah Baroto bicara apa, lalu keduanya duduk di sebuah ruang tunggu.

“Nanti kamu juga akan diperiksa,” kata Baroto tiba-tiba, membuat Rahman terkejut.

“Saya diperiksa? Kenapa? Tidak … tidak, saya kan tidak apa-apa.”

Kam om sudah bilang, sesekali harus periksa kesehatan, supaya ketahuan kita sehat atau tidak.”

“Saya tidak pernah periksa kesehatan … “

“Nanti kamu harus mencobanya.”

“Ibu saya tidak mungkin bisa periksa kesehatan setiap saat. Kalau sakit hanya beli obat di warung.”

“Sesekali kamu harus mencobanya.”

“Nanti diapain? Saya takut di suntik.”

“Tidak apa-apa, kan ada om?”

Lalu nama Baroto dipanggil, dan Baroto menggandeng Rahman yang sebelumnya membelot tak mau ikut masuk.

“Rahman, kamu harus ikut. Kamu anak pintar, harus banyak pengalaman yang kamu dapatkan, jadi kamu akan tahu banyak tentang semua hal,” katanya sambil merangkul pundak Rahman.

Sesungguhnya Baroto sedang mau tes DNA, karena penasaran padada jawaban Menur. Banyak yang dimiliki Rahman, yang mirip dirinya. Dia baru saja mengambil foto dirinya ketika masih kecil, di album keluarga. Itu adalah wajah Rahman. Mengapa Menur tak mau mengakuinya? Mengapa Menur harus menyembunyikannya? Sebenci itukah Menur kepada dirinya sehingga dia tak ingin dirinya mengetahui tentang anaknya?

Di dalam ruangan, seorang perawat mengambil darah Baroto, dan ludahnya. Rahman hampir menangis ketika perawat mengambil darahnya, tapi Baroto memeluknya erat, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Perawat juga mengambil ludah Rahman.

Pemeriksaan itu selesai. Wajah Rahman cemberut karena merasa dipaksa.

Ketika semua urusan selesai, Baroto menggandeng Rahman memasuki mobilnya.

“Apa tadi itu sakit?”

“Sedikit.”

“Nah, hanya sedikit kan? Masa anak laki-laki hanya sakit sedikit saja mau menangis?”

Rahman diam saja. Memang rasa sakitnya sudah tak terasa, tapi ia tak suka.

“Lain kali saya tidak mau lagi periksa kesehatan. Hasilnya saya sehat kan?”

“Tentu saja. Om hanya menjadikan yang tadi itu sebagai pengalaman dalam hidup kamu.”

Rahman diam. Sesungguhnya dia sangat lapar. Biasanya dia sudah makan di rumah, lauk telur buatan sang ibu.

“Baiklah, sebagai hadiahnya, kita makan di restoran, dan beli es krim yang sedap.”

Wajah Rahman berseri. Dia jarang sekali minum es krim. Hampir tidak pernah. Dia pernah minum es krim, ketika salah seorang teman sekelasnya ulang tahun, lalu semuanya diberi es krim.

***

“Mengapa kamu baru pulang?” tegur Menur, tak senang. Ia sudah tahu, Pasti Baroto mengajaknyaa pergi, entah makan, atau putar-putar kota.

“Tadi ….” Rahman ragu menjawabnya. Baru kali ini Rahman takut pada ibunya, karena melanggar larangannya.

“Kamu pergi sama dia bukan?”

“Tadi ….”

“Bukankah ibu sudah bilang kalau kamu tidak boleh lagi dekat-dekat sama dia?”

“Memangnya kenapa Bu? Bukankah dia baik?”

“Pokoknya ibu tidak suka. Sekarang ganti bajumu dan makan.”

“Tadi ….”

“Kamu sudah makan di restoran? Karena itukah maka kamu menganggap dia baik?”

“Bukankah Itu ….”

“Ganti bajumu.”

“Rahman mau makan, pengin telur buatan Ibu.”

“Ganti bajumu dulu baru makan.”

“Sebenarnya Rahman sudah kenyang, ia hanya ingin menyenangkan hati sang ibu. Ia juga urung mengatakan tentang pemeriksaan kesehatan itu, takut sang ibu semakin bertambah marah. Ia mengganti baju setelah cuci kaki tangan, sambil membuang tempelan plester di lengannya, di mana tadi dia diambil darahnya.

Menur menghela napas panjang. Ia tahu pasti sulit bagi Rahman untuk menghindar dari dia. Kalau dia tiba-tiba sudah di depan sekolah, lalu Baroto mengajaknya, pasti susah menolaknya. Tapi Menur benar-benar takut kehilangan.

Ketika ia mau memanggil Rahman karena makan sudah disiapkan, tiba-tiba ia melihat mobil berhenti. Menur bergegas ke depan untuk menutup pintunya, karena mengira Baroto datang. Tapi seorang anak perempuan berlari menghampirinya sambil berteriak memanggilnya, dan di belakangnya seorang wanita setengah tua mengikutinya sambil mengembangkan senyuman.

“Bibi Menur … aku datang.”

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, August 8, 2026

AKU ANAK SIAPA 07

 AKU ANAK SIAPA  07

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot sudah mencarikan pekerjaan seperti yang diinginkan Rosa. Seorang pengasuh anak. Dan hari itu Rosa sudah mulai masuk bekerja. Ia merapikan rambut sebahunya, yang digelung rapi. Wajahnya tak terpoles apapun, kecuali bedak untuk menutupi wajahnya yang berminyak. Ia akan mencobanya. Bukankah ia bisa pulang sore harinya setelah sang majikan pulang?

Bu Surani, pemilik toko itu senang melihat penampilan Rosa. Ia seorang pebisnis yang punya usaha di mana-mana, jadi ia sangat memerlukan seseorang yang bisa merawat anaknya selama ditinggalkan. Anak itu berumur sekitar satu setengah tahun, cantik dan gembul. Namanya Sisi. Ia gampang beradaptasi dengan siapapun. Ketika Rosa datang, gadis kecil itu menatapnya sebentar. Rosa tersenyum sambil mengacungkan kedua tangannya, dan gadis kecil itu melangkah mendekat, agak curiga. Dalam hati kecilnya ia barangkali merasa bahwa yang ada dihadapannya agak kurang menyenangkan.

“Sisi, setiap hari kamu harus bermain dengan bibi Rosa, ya.”

“Panggil saya Rosa, Non kecil,” sapa Rosa, berusaha ramah.

Sisi masih menatapnya, tapi dia diam ketika Rosa merengkuhnya.

“Rosa, apa yang biasa dilakukan untuk Sisi, tanyalah kepada Bibik. Aku selalu meninggalkannyaa hampir seharian, jadi aku percayakan semuanya kepada kamu.”

“Baik,” kata Rosa sambil tersenyum.

“Kamu sudah punya anak?”

Rosa menggeleng tersipu.

“Saya belum menikah.”

“Oh ya? Padahal kamu cantik lhoh.”

“Saya sudah tua, tidak ingin menikah.”

“Baiklah, semoga kamu bisa menjadi ‘teman’ untuk Sisi. Anak itu tidak begitu susah, dan jarang rewel.”

Rosa menggendong Sisi dan mengantarkan sang nyonya majikan sampai ke atas mobil. Dari samping rumah, ia melihat pak Gatot sedang berdiri di depan toko. Rumah bu Surani terletak di sebelah toko pakaiannya, sehingga kalau dia berdiri di depan rumah, ia bisa melihat ‘ayah angkatnya’ itu bekerja.

Rosa menggendong Sisi ke dalam, langsung memasuki dapur.

“Mbak Rosa, non Sisi baru minum susu, ia belum makan. Tapi makanannya sudah disiapkan nyonya di meja makan.”

“Saya harus menyuapi?”

“Ya iyalah Mbak, kan Mbak pengasuhnya. Tapi non Sisi tidak begitu susah makan.”

“Baiklah.”

Rosa membawa Sisi ke ruang makan, didudukkannya di atas kursi anak yang sudah tersedia di sana.

“Makan ya?”

Rosa membuka penutup makanan lalu mulai menyuapinya. Agak kaku, dan makanan itu belepotan di baju Sisi.

“Bagaimana kamu itu Sisi, kalau disuapin jangan geleng-geleng begitu, tumpah semua nih, bajunya kotor," gerutunya.

“Mbak, sebelum makan diberi alas makan dulu, ini Mbak kan sudah disiapkan, jadi kalau tumpah tidak mengotori baju,” kata Bibik setelah mendekat dan mendengar Rosa menggerutu.

“Oh, iya … saya lupa.” 

Rosa bukannya lupa, tapi ia memang tidak mengerti. Selamanya dia belum pernah melayani bayi makan, menggendong bayipun dia belum pernah. Ia menatap Bibik yang mengalungkan celemek di dada Sisi.

Lalu Rosa melanjutkan menyuapi.

Ini pengalaman pertama dia momong anak kecil.

“Biarlah agak susah, aku butuh uang, dan ini satu-satunya jalan,” katanya dalam hati.

Rosa membawa Sisi ke kamarnya, melepaskan bajunya yang kotor. Bibik yang masih terus mengawasinya, mengikutinya ke kamar, menunjukkan baju-baju dan semua pakaian Sisi.

“Yang kotor ini dikumpulkan di keranjang dulu Mbak, Mbak bisa mencucinya besok pagi saja, setelah terkumpul baju-baju non Sisi yang lain,” kata bibik.

“Mencuci? Aku yang harus mencuci?” Rosa membelalakkan mata, dan bibik menatapnya heran.

“Tentu saja Mbak, siapa lagi? Baju-baju non Sisi harus dicuci tersendiri, dan disetrika sendiri, tidak boleh bercampur dengan baju lainnya.”

“Menyetrika juga?”

Bibik masih menatapnya heran.

“Tugas Mbak adalah memandikan non Sisi, mengganti bajunya, mencuci, menyeterika dan membersihkan kamarnya juga membuatkan  susu dan menyiapkan makannya, yang harus dimasak tersendiri.”

Rosa diam, tapi ia menggerutu dalam hati. Ia merasa pekerjaannya sangat banyak. Hal yang belum pernah dilakukannya. Dulu di rumah keluarga Daryono ada bibik yang melakukan semuanya. Mencuci dan menyetrika baju? Itu pekerjaan bibik, bukan dirinya. Dan sekarang ia harus melakukan hal yang menurutnya sangat menjijikkan. Mencuci, membuang pampers yang pasti berbau pesing, belum menceboki kalau momongannya BAB. 

"Ya ampuun, gaji besar tapi pekerjaannya serba susah," kata batinnya.

Sedangkan di dapur, Bibik menggerutu dan merasa heran. Bagaimana mungkin, orang tidak mengerti apa-apa yang harus dikerjakan, sementara sudah sanggup menerima pekerjaan itu.

Ketika ia mengeluh kepada sang nyonya majikan, sang nyonya yang penyabar hanya meminta agar Bibik selalu mengajarinya.

***

“Bagaimana pekerjaan kamu, Ros?” tanya pak Gatot saat di rumah.

“Lumayan.”

“Menyenangkan?”

“Lumayan berat.”

“Berat? Hanya mengasuh bayi, beratnya di mana?”

"Saya belum pernah mengasuh anak kecil.”

“Anaknya suka rewel? Karena belum terbiasa kamu layani?”

“Anaknya tidak rewel. Pekerjaan saya yang rumit.”

“Rumit bagaimana?”

“Saya harus memandikan, menyuapi, menceboki, mencuci semua baju kotornya, membersihkan kamarnya. Bukankah saya seperti pembantu?”

“Rosa, pengasuh bayi atau anak kecil itu memang begitu. Itu sebabnya biasanya pengasuh bayi dibayar lebih mahal.”

“Itu menjijikkan,” kata batin Rosa yang tak berani mengungkapkannya di depan pak Gatot.

“Apa kamu merasa berat?”

“Lumayan.”

“Itu karena kamu belum pernah menjalaninya tapi aku yakin lama-lama kamu akan terbiasa. Kalau ada yang kamu belum tahu, kamu bisa bertanya kepada bibik pembantu yang ada di rumah itu.”

“Iya, sudah saya lakukan. Saya memang harus banyak bertanya.”

“Nanti kalau anak itu sudah bisa berjalan-jalan, kamu akan merasa lebih lelah karena harus mengikuti kemana ia pergi.”

“Duuh ….," Rosa mengeluh.

“Berat?”

“Ia sudah bisa berjalan, sudah membuat saya lelah.”

Pak Gatot tersenyum. Ia sudah menduga, Rosa memang agak malas. Tapi ia membiarkannya. Akan sampai di mana ia betah menjalani pekerjaannya. Kalau membiarkannya hanya duduk atau jalan-jalan, pasti Rosa merasa kurang. Terkadang ia ingin beli ini dan itu, bukan? Karenanya ia meminta agar Rosa bekerja supaya punya uang sendiri, bukan sekedar uang pemberiannya yang pasti tidak seberapa.

***

“Nyonya tidak ingin ke pasar lagi?” tanya Bibik sebelum berangkat ke pasar.

“Tidak Bik, nanti Tuan memarahi aku. Aku tidak berharap ketemu dia lagi.”

“Itu benar Nyonya, beberapa kali kita sudah berusaha, tidak pernah lagi ketemu dia. Lagi pula kalau belum benar-benar berhadapan muka, saya juga belum yakin pada penglihatan saya. Bisa jadi saya salah. Bisa jadi dia orang lain yang mirip non Rosa.”

“Itu benar Bik, semuanya belum pasti. Ya sudah, berangkatlah sana, aku menunggu di rumah saja.”

“Baik, Nyonya.”

Ketika bibik berangkat, bu Daryono duduk sendirian di teras. Pikirannya melayang ke mana-mana.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan gerbang.

“Itu seperti mobil bu Surani,” gumamnya sambil berdiri.

“Angin mana yang membuat jeng Surani datang ke mari.”

“Saya memang akan kemari karena mendapat titipan.”

“Titipan apa? Tapi masuklah dulu jeng.”

“Duduk di teras saja Bu, saya hanya sebentar karena masih banyak urusan."

“Jeng Surani memang selalu sibuk. Kabarnya pengasuh si kecil sudah keluar?”

“Sudah ada penggantinya Bu, makanya saya sudah bisa ke mana-mana.”

“Oh, syukurlah.”

“Ini saya membawakan uang arisan bu Daryono, kan kemarin tidak datang?”

“Iya Jeng, sudah tiga bulan tidak datang, hanya mengirim uangnya saja. Alhamdulillah, saya dapat ya?”

“Soalnya kemarin yang terakhir Bu,” kata bu Surani sambil menyerahkan sebuah amplop.

“Dihitung dulu Bu, jangan-jangan kurang.”

“Tidak usah, masa dibawa jeng Surani bisa kurang. Sebentar, saya buatkan minum, soalnya Bibik lagi ke pasar.”

“Tidak usah Bu, saya mau langsung saja.”

“Sayang sekali tidak sempat ngobrol.”

“Lain kali kalau senggang saya kemari untuk ngobrol Bu.”

***

Bu Surani ternyata teman bu Daryono untuk kumpul-kumpul sesama pengusaha. Tapi hanya bertemu saat ada arisan atau pertemuan lainnya.

“Kasihan bu Daryono, setelah putri angkatnya dipenjara, dia jarang kumpul-kumpul, dan sekarang kelihatan lebih kurus," batin bu Surani.

Ketika sedang menjalankan mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering, dari Bibik di rumah.

“Nyonya … Nyonya ada di mana?”

“Sedang mau ke kantor, ada apa?”

“Gelang non Sisi yang sebelah kiri hilang.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Friday, August 7, 2026

AKU ANAK SIAPA 06

 AKU ANAK SIAPA … 06

(Tien Kumalasari)

 

Satria sudah berhenti menangis. Senja sudah membersihkan lukanya, dan menutupinya dengan plester.

“Lain kali Satria tidak boleh lari-lari ya, apalagi di jalanan,” kata Arka.

“Iya.”

“Masih sakit?”

Satria menggeleng, membuat Arka dan Senja merasa lega.

“Jadi beli baju untuk Bibik?” tanya Arka, yang dijawab Senja dengan menggeleng. 

Setelah anaknya jatuh, dia hanya ingin segera pulang saja. Ia masih berdebar-debar tadi, khawatir anaknya kenapa-kenapa.

“Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Hei, kamu melihat apa?”

“Mana pak satpam yang tadi?”

“Sudah pergi, bukan salah dia, salah Satria yang menabraknya tadi.”

“Bukan untuk menyalahkan. Tadi seperti ada yang membonceng di belakangnya.”

“Memangnya kenapa? Mungkin istrinya. Mengapa kamu memikirkan masalah dia memboncengkan siapa.”

“Sepertinya aku melihat non Rosa.”

“Rosa? Memangnya siapa pak satpam tua itu? Apa dia kerabat Rosa? Aku tidak mengerti. Pasti kamu salah lihat,” kata Arka sambil menjalankan mobilnya.

“Mungkin juga. Tapi mirip sekali non Rosa. Hanya penampilannya agak lain.”

“Apa kamu lupa, Rosa ada di dalam penjara?”

“Sudah bertahun-tahun, mungkin dia sudah pulang. Tapi mengapa pakaiannya seperti itu? Dia tidak pulang ke rumah pak Daryono?"

“Rosa bukan putri pak Daryono.”

“Iya, aku tahu. Lalu … sekarang dia ada di mana? Pasti sudah keluar dari penjara. Atau … kemudian ikut pak satpam tadi? Atau … jangan-jangan pak satpam itu ayahnya.”

“Mungkin, tapi mengapa kamu memikirkannya?”

“Nggak apa-apa, entahlah, tiba-tiba kepikiran saja, gara-gara perempuan yang aku lihat tadi.”

“Kamu masih dihantui kelakuan Rosa kepadamu?”

“Terkadang masih mengingatnya, tapi sudahlah. Allah sudah memberi aku dan orang tuaku kehidupan yang lebih baik, aku harus bersyukur. Semoga akan selamanya begitu.”

“Aku kan sudah berjanji, akan membuat kamu bahagia. Selamanya, dan aku tak akan mengingkarinya.”

“Terima kasih Mas, kamu memang malaikat penolongku, dan pelindungku.”

“Ngomong-ngomong, Satria sudah besar, apa kamu tidak ingin Satria punya adik?”

“Apa? Mengapa pembicaraan beralih ke arah situ?”

“Memangnya tidak boleh?”

“Ini di jalan, lagian ada Satria, nanti Satria mendengarnya.”

“Aku lihat tuh, Satria sudah tidur dari tadi, mana mungkin dia mendegarnya?”

Senja tertawa.

“Sebenarnya anak itu lelah bermain bersama om Rimba tadi. Makanya dia cepat sekali tertidur.”

“Baiklah, kalau tidak boleh membicarakan hal itu di jalan, nanti di rumah ya.”

“Ihh, dasar tak tahu malu.”

Arka terkekeh. Walau sudah menjadi istrinya bertahun-tahun, Senja masih saja bersikap malu-malu, walau akhirnya mau.

Di sepanjang jalan Arka tersenyum-senyum sendiri. Bahagia ini tak akan berlalu, selamanya akan begini.

" Semoga," bisiknya dalam hati.

***

“Tadi kamu dari mana saja?” tanya pak Gatot ketika sedang santai.

“Hanya jalan-jalan, nggak enak di rumah saja, sendirian.”

“Apa kamu tidak punya rencana tentang sesuatu? Mencari pekerjaan, misalnya?”

“Mencari pekerjaan. Iya juga, saya kan tidak selamanya harus merepotkan pak Gatot. Tapi bekerja apa? Aku sudah cukup tua untuk mencari pekerjaan.”

“Kamu dulu sekolah sampai apa? SMA?”

“Tidak. Saya lupa. Mungkin SMA, tapi tidak sampai tamat, orang tua saya miskin,” katanya sekenanya.

“Kamu tidak mau mengatakan kehidupan kamu sebenarnya bagaimana?”

“Apa yang bisa dikatakan tentang orang yang terlahir dari keluarga miskin seperti saya?”

“Apa kedua orang tuamu sudah tidak ada?”

“Tidak ada. Saya hidup terlunta-lunta dijalanan sampai bertemu Bapak.”

Pak Gatot terdiam. Ia juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia menaruh belas kasihan kepada Rosa yang hidup terlunta-lunta. Apa karena ia hidup sendirian selamanya? Apa dia tertarik kepada Rosa? Tidak. Dia merasa sudah terlalu tua untuk punya istri. Dia tak pernah bermaksud punya istri lagi setelah istrinya meninggal saat pernikahan belum berlangsung lama.

Tiba-tiba wajah pak Gatot berubah sendu ketika mengingat hidupnya sendiri. Walaupun dia bisa bekeja, tapi dia juga bisa dikatakan terlunta-lunta, tanpa teman, tanpa kawan. Oh ya, kesendirian dan kesepian itulah yang kemudian membuat pak Gatot merasa iba ketika melihat Rosa dikeroyok banyak orang hanya karena mencuri sepotong roti.

“Rosa, kalau kamu tidak ingin bekerja, juga tidak apa-apa. Gajiku masih cukup untuk menghidupi kita berdua.”

“Saya juga merasa tidak enak selalu merepotkan Bapak. Saya ingin bekerja, tapi bekerja apa?”

“Kamu masih bisa dibilang muda. Umurku sudah duapuluhan tahun di atas kamu, kira-kira, tapi masih bisa bekerja. Mengapa kamu merasa tua? Tapi kalau kamu tidak ingin bekerja, diamlah di rumah, jadilah anakku.”

Rosa menatap wajah pak Gatot yang memang sudah tampak tua. Walau begitu dia masih bekerja.

“Sangat menyenangkan mendengar Bapak mau menjadikan saya anak Bapak.”

“Syukurlah kalau kamu suka.”

Rosa terdiam, ia ingin melakukan banyak hal, tapi dia tak punya apa-apa.  Ketika polisi membawanya pergi, ia memiliki sebentuk cincin, tapi cincin itu sudah dijualnya, untuk beberapa kebutuhan saat di penjara. Itupun tidak seberapa, karena mungkin saja petugas yang menolongnya tidak memberikan semua uang hasil penjualan cincin itu. Saat itu ia hanya pasrah. Tapi masih ada rasa sakit hati yang membuatnya tak bisa melupakannya. Kebenciannya kepada Senja, anak tukang beras yang miskin dan berhasil merebut semua yang menjadi mimpi-mimpinya.

“Apa yang kamu pikirkan? Kalau kamu ingin bekerja, aku akan mencarikannya. Di sekitar aku bekerja banyak toko-toko, mungkin ada yang menerima kamu bekerja di salah satunya. Bersih-bersih misalnya. Atau membantu jadi pelayan ….”

Hati Rosa merasa teriris. Dia yang pernah sekolah di luar negri, ke mana-mana naik mobil, makan enak dan pakaian bagus, lalu menjadi pelayan? Tukang bersih-bersih?

“Tidak suka?”

Rosa masih diam. Ia sedang menimbang-nimbang. Kalau dia tidak bekerja, ia tak akan pernah memiliki uang, karena pak Gatot pasti hanya memberi uang untuk makan, dan pasti dia sungkan kalau meminta. Alasan meminta untuk apa? Nanti terdengar aneh, dan pak Gatot lama-lama akan mencurigainya kalau dia melakukan sesuatu.

“Kalau tidak suka ya tidak apa-apa, tinggal di rumah saja.”

Walau mengatakan begitu, pak Gatot merasa bahwa Rosa ini agak malas. Katanya tidak bisa memasak tapi tidak berusaha untuk bisa. Bersih-bersih rumah juga ala kadarnya. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan jalan-jalan yang entah apa tujuannya. Ditawarin pekerjaan, tidak merespon.

“Ah ya, pemilik toko di mana bapak bekerja, membutuhkan pengasuh bayi. Kamu bisa? Gajinya lumayan, kata pengasuh yang terdahulu. Dia pamit karena menikah di kampung.”

Pengasuh bayi, ini agak lumayan. Dia bukan pelayan yang harus beropakaian lusuh. Gajinya lumayan. Baiklah, mengapa tidak?

“Baiklah Pak, saya mau.”

“Kalau begitu besok aku bilang kepada majikan, bahwa kamu mau bekerja sebagai pengasuh putranya. Nanti aku katakan bahwa kamu adalah anakku.”

Rosa mengangguk. Semalaman dia berpikir, apa yang dilakukan seorang pengasuh bayi, bukankah dia tak pernah melakukannya? Tak apa, dia bisa belajar dari yang lain. Pastinya di sana ada pembantu yang bisa ditanya-tanya. Rosa nekat, yang penting bukan pelayan dan tukang bersih-bersih. Bukankah ia butuh uang?

***

Besok lagi ya.

Thursday, August 6, 2026

AKU ANAK SIAPA 05

 AKU ANAK SIAPA  05

(Tien Kumalasari)

 

Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang yang dipanggilnya tak terlihat batang hidungnya. Bibik kembali mendekati nyonya majikannya.

“Kok hilang, … Nyonya.”

“Apa sebenarnya yang kamu lihat?”

“Perempuan itu, yang lewat tadi, Nyonya tidak melihatnya?”

“Aku hanya melihat orang melintas, apa maksudmu?”

“Dia, wajah non Rosa itu, Nyonya.”

“Katamu pakaiannya kumuh dan lusuh, tadi pakaiannya biasa saja. Pakaian bersih, biarpun bukan pakaian mahal.”

“Benar, pakaiannya tidak selusuh ketika saya melihatnya, tapi wajahnya sangat jelas. Lebih jelas bahwa dia benar, non Rosa.”

“Mencari siapa  Bu?” tanya pemilik warung yang heran melihat sikap keduanya.

“Ah, tidak … saya hanya merasa melihat orang yang kami kenal.”

“Tidak ketemu?”

“Tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi.”

“Barangkali belok ke tikungan di depan itu.”

“Saya sudah ke sana, tidak lagi melihat bayangannya.”

“Sayang sekali. Apa dia orang yang pernah berbuat jahat pada Ibu?”

“Tidak, bukan begitu. Hanya merasa kenal saja,” kata bu Daryono yang kemudian menggamit lengan Bibik.

“Ayo kita pulang, kamu bawa buah-buah itu ke mobil."

Bibik mengangguk. Bu Daryono membayar semua belanjaan dan jus yang mereka minum, kemudian mengikuti Bibik yang sudah berjalan menuju mobil.

Bibik mengetuk pintu mobil, rupanya pak sopir tertidur. Kemudian ia bergegas membuka pintu dan mempersilakan nyonya majikannya masuk.

“Pak sopir tertidur sih, tidak melihat non Rosa lewat ya?” tanya Bibik ketika mobil sudah berjalan.

“Benarkah? Ya ampun, saya minta maaf. Saya ketiduran, jadi tidak melihat apapun. Mengapa Bibik tidak memanggilnya?”

“Saya sudah mengejarnya, tapi dia sudah pergi entah ke mana, padahal baru saja saya melihatnya, langsung mengejarnya.”

“Didaerah setelah tikungan itu banyak gang masuk yang berkelok-kelok, pasti dia masuk ke sana, lalu berbelok entah ke mana. Pantas Bibik tidak melihatnya.”

“Tapi ya belum tentu non Rosa, mungkin wajahnya mirip, tapi saya ingin melihat dari dekat, apa saya salah telah mengira dia non Rosa.”

“Apa mungkin dia tinggal di sekitar tempat ini ya Bik?”

“Entahlah Nyonya. Mungkin iya.”

“Sayang sekali kita tidak bisa menemuinya.”

“Besok-besok kalau senggang, saya akan berjalan-jalan lagi kemari, dan memasuki tikungan itu, memasuki gang-gang yang mungkin bisa menemukan non Rosa atau orang yang mirip non Rosa itu.”

“Kalau kamu pergi, aku ikut ya Bik.”

“Saya hanya akan berjalan memasuki gang setelah tikungan itu, masa Nyonya mau ikut ?”

“Tidak apa-apa.”

“Nyonya sangat ingin ketemu non Rosa ya?”

“Hanya ingin tahu keadaannya. Kalau dia tak mau pulang, aku ingin tahu dia tinggal di mana.”

***

Tapi ketika hal itu diceritakan kepada suaminya, sang suami justru menegur istrinya.

“Mengapa Mama susah-susah mencarinya? Kalau dia tidak datang kemari, berarti dia tidak ingin kembali.”

“Iya sih, tapi aku ingin tahu keadaannya.”

“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kalau memang dia mau kembali, dia pasti datang.”

“Kasihan, kata Bibik dia seperti gelandangan. Kalau dia tidak mau kembali kemari, setidaknya aku ingin memberinya modal untuk dia berusaha. Mungkin berjualan atau apa, agar hidupnya berlanjut lebih baik.”

“Niat itu sangat baik, tapi Mama tidak usah terbebani dengan keinginan itu. Nanti Mama yang akan menjadi tertekan karena kepikiran terus.”

Bu Daryono mengangguk. Apa yang dikatakan suaminya benar. Kalau Rosa ditakdirkan mendapat kehidupan yang lebih baik, pasti jalan itu ada.

“Mama doakan saja agar Rosa baik-baik saja.”

“Apa Papa keberatan kalau aku membantunya?”

“Ya tidak. Lakukan saja. Kita itu selama ini kan sudah banyak membantu siapapun yang memerlukannya, kalau harus membantu Rosa, mengapa aku keberatan? Tapi yang jelas Mama harus melepaskan beban keinginan itu. Kalau Rosa bernasib baik, pasti dia akan bertemu Mama dan mendapat bantuan.”

“Bagaimana kalau dia kembali menjadi keluarga kita?”

“Kalau itu kita harus memikirkannya dua kali. Kita sudah semakin tua, apakah dia akan menjadi beban, atau malah meringankan beban? Aku kok merasa tidak sepenuhnya yakin kalau dia akan menjadi baik. Dari apa yang pernah dia lakukan, sepertinya ada bibit kurang baik yang dia bawa entah dari mana. Tapi kalau hanya membantu, okelah, tidak apa-apa.”

“Intinya, Papa tidak ingin dia kembali.”

“Begitulah, kira-kira.”

***

Sore hari itu Arka menjemput anak dan istrinya di rumah mertuanya. Banyak cerita Satria, yang menghabiskan banyak coklat dari dalam toples dagangan neneknya.

“Satria, itu kan dagangan nenek. Kamu harus membayarnya. Lihat, toplesnya kosong tuh,” tegur sang ayah.

“Itu tidak Satria makan semuanya. Kata ibu nanti Satria batuk.”

“Lha itu, habis, toplesnya kosong.”

“Itu dibungkus, dibawa pulang, buat besok-besok,” bantah Satria sambil menunjukkan bungkusan yang dibawakan neneknya, sisa coklat dalam toples.

“Satria harus minta uang pada ibu, dibayarkan ke nenek, karena itu coklat dagangan.”

“Bu, bayar dong coklatnya, nanti dimarahi bapak,” rengek Satria.

Senja tersenyum dan mengangguk.

“Jangan khawatir, nanti Ibu bayar.”

“Tidak usah, biar saja itu untuk cucu nenek,” sergah mbok Mangun.

Walau begitu, Arka menyelipkan uang di kotak uang mertuanya.

“Biarkan Mbok, agar tidak menjadi kebiasaan untuk Satria.”

***

“Mas, nanti pulangnya mampir ke toko pakaian ya,” kata Senja dalam perjalanan pulang.

“Kamu mau beli pakaian ke butik? Apa tidak lebih baik kita pulang saja dulu, lalu nanti kita jalan-jalan.”

“Bukan untuk aku. Untuk bibik. Sudah lama kita tidak beli untuk bibik.”

“Baiklah, ke mana kita belinya?”

“Toko sembarang saja, kan untuk bibik di rumah.”

“Oke bos.”

Senja tertawa, lalu mencubit lengan suaminya.

“Bosnya tuh mas Arka, bukan aku.”

“Ya tidak, di rumah kan semuanya kamu yang atur, jadi kamulah bosnya.”

“Di situ Mas, depan itu ada toko pakaian.”

Arka menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian seperti yang ditunjuk Senja.

Satria melompat turun dan berlari mendahului ke arah toko.

“Satria, hati-hati,” teriak Senja.

Tapi Satria memang kurang hati-hati. Ia menabrak pak satpam yang memegangi motornya ketika bersiap pulang.

Tak bisa tidak, Satria terjatuh.

Pak Satpam menstandartkan motornya, kemudian mengangkat tubuh Satria yang menangis.

“Ya ampun, mengapa lari-lari Nak?”

Arka yang memburu segera mengambil alih Arka dari gendongan pak satpam.

“Maaf Pak, anak Bapak yang menabrak saya.”

“Tidak apa-apa, saya tahu anak saya kurang hati-hati.”

“Kembali ke mobil dulu Mas, lutut Satria berdarah. Ada obat di dalam mobil."

“Baiklah,” kata Arka yang kemudian membawa anaknya kembali ke mobil.

Pak Satpam geleng-geleng kepala, menyesal karena membuat seorang anak terjatuh. Karena orang tuanya sudah menangani, maka ia kemudian mengambil motornya dan bersiap pulang.

“Pak Gatot!”

Pak Gatot menoleh, ia melihat Rosa mendekat.

“Kamu dari mana?”

“Dari jalan-jalan saja. Kebetulan lewat sini, dan melihat pak Gatot mau pulang.”

“Iya, mau pulang. Ayuk kalau begitu, bonceng bapak saja.”

“Mengapa baju Bapak berdarah? Tuh … baju bagian kiri.”

“Oh iya, tadi ada anak kecil lari-lari, mau masuk ke toko tapi menabrak aku. Lututnya luka berdarah, aku menggendongnya. Nggak apa-apa, nanti sampai rumah dicuci."

“Lukanya parah?”

"Tidak, hanya lututnya berdarah, sudah digendong orang tuanya. Tuh, mobilnya masih ada. Rupanya tadi mau belanja ke toko.”

Rosa menatap mobil yang ditunjuk pak Gatot.

“Ya ampun, ketemu mereka lagi?” kata batin Rosa. Ia segera naik ke boncengan pak Gatot, khawatir Arka atau Senja mengenalinya.

"Sial benar aku hari ini. Tadi siang hampir ketahuan bibik, ini malah Arka dan istrinya."

***

Besok lagi ya

 

Wednesday, August 5, 2026

AKU ANAK SIAPA 04

 AKU ANAK SIAPA  04

(Tien Kumalasari)

 

Rosa menatapnya terus, dengan hati penuh dendam dan amarah yang tiba-tiba membakar seluruh aliran darahnya. Nyaris mendidih.

“Gara-gara kamu aku menjadi seperti ini. Kamu merebut bahagiaku, merebut mimpi-mimpiku, dan dengar Senja, perempuan udik yang sok jadi orang kaya, aku tak akan pernah membiarkan kamu hidup dalam ketenteraman, aku akan membalasnya, kamu harus merasakan sakit yang sama seperti yang pernah aku rasakan. Bahkan lebih.”

Wanita itu Senja, sedang mengantarkan anaknya membeli buku pelajaran sekolahnya. Tak lama kemudian seseorang lagi turun dari dalam mobil. Dia adalah Arka. Mata Rosa berkilat.

Ya, tak lama setelah lamaran yang mengejutkannya, Arka langsung minta agar segera dinikahkan. Mana bisa Senja menolak … sementara hatinya juga sudah terpaut pada direktur muda itu.

Percintaan yang kelihatannya sangat singkat untuk kemudian melangkah ke pernikahan, Rosa sudah mengetahui gelagatnya sejak lama. Karena itulah ia berusaha menghancurkan kehidupan Senja. Tapi nasib berkata lain, dialah yang akhirnya mendekam dalam penjara selama bertahun-tahun.

“Jadi akhirnya mereka menikah, dan punya anak?”

"Perempuan laknat itu tidak bisa dibiarkan hidup bahagia, tunggu saja aku akan melampiaskan pembalasanku,” geramnya sambil terus mengawasi mereka sebelum ketiganya masuk ke dalam toko.

Rosa menyeringai, ia harus segera pergi dari sana sebelum mereka mengetahui keberadaannya.

***

“Sudahkah beli bukunya?” tanya Arka kepada Satria, anaknya.

“Sebentar Pak, aku belum menemukan gambar Spiderman yang besar.”

“Kamu sudah beli banyak buku, dan ingat, tetap tidak boleh membaca buku-buku itu sebelum selesai belajar.”

“Iya, Satria janji.”

“Di sana ada, ayo kita beli satu lagi. Bapak harus segera kembali ke kantor," kata Senja.

Mereka sudah selesai memenuhi permintaan Satria, lalu Arka mengajaknya keluar.

“Kamu jadi mau ke rumah Simbok?”

“Iya, sudah lama kita tidak ke sana. Mumpung Satria pulang pagi.”

“Baiklah, aku antar ke sana, nanti sorenya baru aku jemput ya.”

“Horee, ke rumah nenek,” sorak Satria ketika mendengar sang ayah mau mengantar mereka ke rumah mbok Mangun, neneknya.

***

Salah satu dari sederet rumah di perumahan itu, tampak tumpukan beras dan sembako di depan, yang dibangun menyerupai sebuah toko kecil. Setelah Senja menikah, Arka tidak mengijinkan mertuanya menggendong beras dan berjalan mengitari setiap kampung untuk menjajakan berasnya. Arka membuat rumah itu, rumah yang dulu hampir menjadi milik Tantrina, menjadi sebuah bangunan dengan tatanan seperti sebuah toko. Mbok Mangun menjual beras dan sembako yang ditunggui di rumah itu. Ia tak perlu pergi ke mana-mana, karena di perumahan baru itu hanya toko sembako mbok Mangun yang ada.

Rimba sudah hampir lulus SMA. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang ganteng dan menawan. Ia membantu melayani pembeli setiap pulang dari sekolah, sehingga meringankan tugas simboknya.

Di depan rumah itu terbentang tulisan besar, ‘WARUNG SEMBAKO MBOK MANGUN’’. Mbok Mangun tidak malu orang-orang menyebutnya simbok, karena dia sejak awal dipanggil simbok. Bahkan anak-anaknya masih tetap memanggil simbok. Tak ada yang berubah, kecuali kehidupannya yang membaik. Mbok Mangun tetap baik kepada sesama, selalu ramah melayani pembeli, dan karenanya ia disukai para tetangganya.

Ketika sebuah mobil berhenti di depan warungnya, mbok Mangun bergegas keluar. Ia sudah hafal mobil menantunya. Sangat gembira ketika Satria turun lebih dulu lalu memeluk neneknya.

“Nenek … “

“Satria, cucu kesayangan nenek. Nenek kangen sekali.”

“Gendong,” rengek Satria.

“Eeit, Satria tidak boleh lagi minta gendong nenek,” teriak sang ayah yang turun setelah Senja.

“Iya, Satria hanya bercanda kok,” kata Satria yang membuat neneknya terkekeh.

“Dulu waktu kamu masih kecil, nenek suka gendong kamu ke mana-mana, tapi sekarang kamu sudah besar, sudah kelas satu, mana kuat nenek gendong kamu.”

“Aku mau coklat Nek,” kata Satria yang langsung berlari ke dalam. Ia tahu di mana ada toples berisi coklat dagangan neneknya.

“Ayo masuklah,” kata mbok Mangun mempersilakan anak dan menantunya.

“Terima kasih Mbok, tapi saya harus kembali ke kantor, nanti sore sepulang kantor baru saya jemput Satria dan ibunya.”

“Oh, begitu. Baiklah. Hati-hati di jalan.”

Arka mencium tangan ibu mertuanya, kemudian berlalu.

Senja masuk ke dalam, dan melihat Satria sudah mengulum coklat yang baru saja diambilnya.

“Satria, mengapa mengambil coklat tidak bilang dulu sama nenek?”

“Iya, Satria lupa. Nenek, Satria minta coklatnya ya,” kata Satria dengan mulut penuh coklat.

“Iya sayang, ambil saja sesuka Satria.”

“Tidak boleh banyak-banyak, nanti habis dagangan nenek,” kata Senja.

“Tidak apa-apa, nanti nenek beli lagi. Ayo masuklah, nanti makan siang di sini kan, Simbok masak sayur lodeh dan bandeng presto goreng.”

“Wah, enak sekali.”

“Pesanan Rimba sebelum berangkat ke sekolah tadi.”

“Satria juga suka bandeng presto,” teriak Satria.

“Bagus sekali Satria, nanti makan bareng-bareng ya.”

“Nanti saja menunggu Rimba pulang Mbok, kami tadi sudah makan bakso sebelum kemari.”

“Ya sudah, ayo duduk saja di depan, takutnya ada pembeli lalu Simbok tidak tahu."

***

Bu Daryono sedang duduk di sebuah warung buah. Bibik memilih buah kesukaan tuan dan nyonya majikannya, sementara bu Daryono menikmati jus alpukat yang dijual di situ. Udara sangat panas, dan bu Daryono agak kecapekan ketika mengikuti Bibik belanja.

“Bik, kalau sudah selesai, duduk dulu di sini. Kamu juga pasti haus.”

“Iya Nyonya, gampang, nanti saya pesan sendiri.”

“Ini sudah aku pesankan. Jus alpukat, kamu suka kan?”

“Oh, baiklah Nyonya, terima kasih.”

Bibik masih terus memilih, lalu penjual segera menimbang dan memasukkannya ke dalam plastik keresek yang sudah disediakan.

“Bibik duduk dulu. Panas sekali, pasti Bibik juga haus.”

“Benar Nyonya. Apakah Nyonya tidak capek? Tadi kan belanja banyak sekali.”

“Tidak, kita kan bawa mobil dan supir, jadi tidak membawa belanjaan yang berat-berat ke mana-mana.”

“Benar Nyonya, untunglah pak sopir membantu memasukkannya ke dalam mobil. Saya khawatir Nyonya capek, karena kita belanja banyak.”

“Belanja bulanan pastinya banyak Bik. Ayo cepat diminum jusnya. Kamu duduk di sini, jangan jauh-jauh dari aku.”

Bibik mendekat, dan terbungkuk-bungkuk ketika harus duduk di depan nyonya majikan.

“Nyonya setiap saya belanja selalu ikut, karena berharap ketemu perempuan yang mirip non Rosa itu kan?”

“Iya Bik, bukankah kamu melihatnya di daerah pasar sini?”

“Iya Nyonya, agak di sebelah sana. Tapi saya kira bukan. Saya hanya berkhayal.”

“Siapa tahu itu benar.”

“Apa yang akan Nyonya lakukan kalau pada suatu waktu ketemu non Rosa? Mengajaknya pulang?”

“Entahlah, aku sebenarnya masih bingung. Kalau benar bertemu dia, aku lihat dulu sikapnya bagaimana, apakah dia berharap kembali, atau pergi. Barangkali juga aku harus bertanya kepada Tuan, apakah dia mau menerima kembali.”

Bibik menyedot lagi jusnya yang tinggal separo, ketika tiba-tiba ia melihat seseorang, lalu ia berlari keluar.

“Kalau itu benar, pakaiannya sudah berubah bersih. Non Rosa!”

Bu Daryono meletakkan gelasnya, ikut memburu keluar.

“Mana Bik?”

“Tadi lewat sini, kok tidak ada?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, August 4, 2026

AKU ANAK SIAPA 03

 AKU ANAK SIAPA  03

(Tien Kumalasari)

 

Rosa berbicara banyak dengan petugas panti itu, tapi sang petugas lebih sering geleng-geleng kepala.

“Di sekitar tahun yang Anda katakan, tidak ada bayi bernama Rosana yang diadopsi oleh seseorang.”

Rosa terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Bulan … Pebruari, Bu. Kira-kira.”

“Sebenarnya saya belum ada di sini ketika tahun-tahun itu. Dan Bu Kartika, kepala yayasan ini sudah meninggal.”

“Bukankah ada data tertulis di sini?”

“Soalnya sudah terlalu lama.”

“Apakah semua arsip lama selalu dibuang?”

“Tidak sih, tapi harus mencari dengan teliti.”

“Bolehkah saya minta tolong Ibu mencarikannya? Saya ingin sekali tahu, siapa orang tua saya,” sekarang suara Rosa terdengar sangat memelas.

Petugas itu menatapnya iba. Rosa sudah mengatakan tahunnya, persis tanggal dan bulan dan tahun di mana disebutkan di akte pengangkatan anak. Pastinya dari situ data tentang dirinya bisa dilacak.

“Baiklah, saya akan mencoba mencarinya di gudang,” kata petugas itu yang kemudian mengajak beberapa petugas lainnya untuk membantu.

Rosa duduk menunggu dengan gelisah. Perut yang melilit karena belum makan apapun sejak pagi tak dirasakannya. Ia hanya punya uang yang  diberikan pak Gatot, yang hanya cukup dipergunakan untuk ongkos ojol pulang pergi.

Tapi ia tak mempedulikannya. Ia harus tahu dari mana asal usulnya. Pasti tidak jatuh dari langit, bukan?

Lama sekali mereka mencari, hampir tiga jam kemudian, ibu petugas itu keluar dengan membawa sebuah map. Rosa memajukan duduknya agar bisa melihat jelas apa yang akan ditunjukkan wanita itu.

“Apakah ketemu?”

“Di hari dan tanggal dan tahun yang Anda sebutkan, ada seorang bapak bernama Daryono.”

“Ya, itu benar. Dia mengadopsi bayi dari sini kan?”

“Bayi itu baru saja lahir, masih sangat kecil, perempuan, tapi tak bernama, atau memang belum sempat diberi nama.”

“Oh, begitu ya?” Rosa berpikir, nama Rosana itu adalah pemberian ayah angkatnya.

“Dia bayi yang ditinggalkan orang tuanya begitu saja di depan panti, saat malam hari.”

“Apa?”

“Sampai kemudian bayi itu diadopsi, tak ada yang tahu bayi itu anak siapa.”

Tubuh Rosa serasa bagai disiram seember air es. Ia nyaris menggigil.

“Aku anak yang tidak dikehendaki lahir ke dunia ini. Orang tuaku membuangku dengan semena-mena," pikirnya.

Air mata Rosa menetes perlahan.

“Apakah bayi itu Anda?”

“Pastinya saya,” bisiknya lirih.

“Maaf saya tidak bisa membantu lagi. Hanya itu data yang kami temukan.”

Rosa mengangguk lemah, kemudian berdiri. Ia mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan dengan lunglai, keluar dari halaman panti. Air mata mengalir deras di sepanjang pipinya, mengiringi langkahnya. Ia tak peduli ketika banyak orang memperhatikannya. Ia terus melangkah dan ia juga terus menangis.

“Harapanku untuk bertemu orang tuaku kandas. Biar dia miskin, biar dia hina, aku seharusnya bisa hidup bersamanya, tidak bersama pak Gatot yang bukan siapa-siapa.”

Di sebuah jalanan sepi, Rosa melihat sebuah pohon besar yang akarnya menonjol. Kemudian ia duduk melepaskan kepenatan yang merayapi kakinya. Ia belum pernah berjalan kaki sejauh ini. Dulu ke mana-mana ia selalu naik mobil, dan baru sekarang ia menjalaninya berjalan kaki. Ia tak berniat memanggil ojol. Ia hanya ingin terus berjalan, dan sekarang rasa penat mengganggu langkahnya yang semakin pelan. Ia menahan keluarnya air matanya, tapi ia tak mampu menahannya. Ia merasa seperti sebuah layang-layang yang putus talinya, entah kemana dia akan jatuh. Mungkin di antara ranting-ranting pohon, mungkin di sebuah lapangan, atau di sebuah perkampungan kemudian diperebutkan oleh anak-anak kecil, lalu layang itu robek, serpihannya berhamburan ke mana-mana.

Seperti hatinya yang berserpih-serpih, melayang tanpa pegangan.

Ia duduk sambil merangkul kedua lututnya, menyembunyikan wajah sembabnya.

***

Hari itu bu Daryono membantu Bibik memasak di dapur. Tadi di pasar, ia ingin melihat perempuan yang disebut Bibik seperti gelandangan, tapi tidak ketemu. Bu Daryono tampak kecewa. Ia diam saja sambil memetik sayuran yang disiapkan Bibik.

“Mungkin saya salah Nyonya, dia itu benar-benar gelandangan.”

“Katamu wajahnya mirip Rosa?”

“Iya, kalau wajah itu kan bisa saja mirip Nyonya. Masa non Rosa jadi gelandangan.”

“Dia keluar dari penjara, apa dia punya uang? Dia makan apa, dari mana dapat makanan kalau tak punya uang,” kata bu Daryono lirih, yang tampaknya masih sangat memikirkan Rosa.

“Non Rosa bukan anak kecil, pasti dia bisa berusaha untuk mempertahankan hidupnya.”

Bu Daryono menghela napas panjang, terdengar berat.

“Semoga.”

Lalu semuanya terasa sunyi. Hanya suara pisau merajang sayur dan memotong daging, lalu gemercik air keran pencuci alat-alat dapur.

Dulu bu Daryono sangat kesal ketika mengetahui bahwa Rosa terkadang melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Mengejar laki-laki dengan tak tahu malu, melakukan kebohongan, dan yang terakhir melakukan kejahatan sampai berurusan dengan polisi, dan berakhir di balik jeruji besi.

Tapi membayangkan kesengsaraannya setelah keluar dari penjara, hati bu Daryono serasa ikut tersakiti. Ternyata sebuah ikatan batin terjalin dengan sendirinya. Ada rasa kehilangan yang tak disadarinya.

“Bik, besok-besok kalau ke pasar lagi aku ikut ya.”

“Baik Nyonya.”

***

Ketika pak Gatot sampai di rumah, ia tak mendapati Rosa. Ia mencari dan memanggil-manggil ke dalam kamarnya, tapi ia tak menemukannya.

“Ke mana dia? Apa beli makanan di depan situ? Kok tadi aku nggak melihatnya?” gumamnya sendirian.

“Mungkin jenuh di rumah sendirian, lalu jalan-jalan. Aku bingung menghadapi anak itu. Kelihatannya dia sangat tertutup dan tak mau mengatakan di mana asal-usulnya. Tapi biarlah, aku tak akan memaksa. Aku hanya ingin menolongnya. Entah mengapa, rasanya kasihan sekali melihatnya seperti hidup dalam kesengsaraan.”

Pak Gatot kemudian mandi, lalu menyiapkan minuman hangat. Rosa belum kelihatan batang hidungnya. Pak Gatot mulai gelisah. Hal yang tak seharusnya dilakukan. Bukankah Rosa bukan siapa-siapa baginya? Apa ya pantas kemudian dia merasa kehilangan?

“Hanya kasihan saja, semoga dia tak apa-apa.”

Pak Gatot keluar menuju jalan raya, dan ketika itulah dia melihat bayangan Rosa. Berjalan lunglai, seperti tak bertenaga.

Pak Gatot mendekatinya, lalu membimbingnya ke rumah.

“Kamu kenapa? Kok lemas begini? Kamu belum makan?”

“Belum," katanya lemah.

“Mengapa belum makan? Kamu tak membeli makanan dengan uang tadi?”

“Uangnya hilang,” tentu saja Rosa berbohong.

“Hilang?”

Rosa hanya mengangguk. Sebenarnya uangnya masih sisa, hanya saja dia tak mempergunakannya untuk naik ojol atau angkutan umum. Bukan untuk membeli makanan, tapi entah mengapa Rosa ingin menyimpannya.

“Jadi karena uangnya hilang maka kamu tidak membeli makan? Duduk di sini dulu, biar aku belikan di depan,” tanpa menunggu jawaban, pak Gatot bergegas keluar rumah untuk membeli makan.

Rosa duduk dengan lesu. Bukan karena lapar, tapi karena kehilangan harapan tentang siapa sebenarnya orang tuanya.

Ia melahap makanannya ketika pak Gatot datang dengan membawa beberapa bungkus makanan. Pak Gatot ikut makan, dalam diam, karena Rosa tak bicara apapun.

“Kamu menangis seharian?”

Rosa mengangguk.

“Karena uangnya hilang dan tidak bisa makan?”

Rosa kembali mengangguk.

“Ya ampun, nanti aku beri kamu dompet, biar kalau aku beri kamu uang, maka kamu bisa menyimpannya rapi, sehingga tidak mudah hilang."

Rosa diam. Usianya sudah hampir empatpuluh tahun, tapi pak Gatot memperlakukannya seperti anak kecil.

***

Pagi hari itu ia berjalan-jalan ke pasar. Ia tidak ingin membeli sesuatu. Ia hanya ingin melihat suasana dalam keadaan bukan seperti gembel. Pakaiannya bersih, walau sederhana. Ia hanya ingin berjalan-jalan.

Tiba-tiba ia melihat seseorang. Wanita cantik dengan kerudung merah muda, menggandeng seorang anak laki-laki kecil yang tampan, setelah turun dari dalam sebuah mobil.

“Itu kamu? Bahagia ya hidup kamu. Itu bahagia aku, kamu yang merebutnya,” desisnya geram.

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 012

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN PUTRI KECIL  012 (Tien Kumalasari)   Rahman menatap ibunya heran. Seakan tak percaya akan apa yang didengarnya....