Wednesday, April 22, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 22

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  22

(Tien Kumalasari)

 

Pendatang itu dokter Tyas. Ia masuk dengan jas putih seragam dokternya. Lalu menatap Indras dengan tersenyum ramah.

“Maaf, rupanya ada tamu. Biar saya keluar dulu, saya hanya akan mengantarkan makanan untuk dokter Zein,” katanya tanpa rasa bersalah.

“Saya istri dokter Zein, bukan tamu,” kata Indras dingin.

“Oh, maaf … maaf, saya belum pernah bertemu, jadi tidak tahu. Perkenalkan, saya Tyas, bawahan dokter Zein,” katanya sambil mengulurkan tangannya. 

Indras tak menyambut uluran tangan dokter Tyas. Ia menatap dokter cantik itu, yang diyakininya pastilah dia si dokter cantik dengan nama WA ‘BUNDA’. Ia mengenakan jas dokter yang terbuka seluruh kancingnya, sehingga pakaian aslinya kelihatan. Baju ketat dengan kerah terbuka agak kebawah, sehingga menonjolkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan. Ia memang montok, dan tentunya menawan bagi mata laki-laki yang doyan pemandangan seronok. Dia dokter? Kata batin Indras. Bagaimana seorang dokter mampu berpakaian ketat dan menonjolkan lekuk liku tubuh yang begitu menggairahkan?

Dokter Tyas merengut ketika uluran tangannya tak bersambut.

“Saya permisi keluar dulu,” katanya kemudian sambil mengerling ke arah Zein, lalu membalikkan tubuhnya dan melenggang keluar.

Wajah Indras gelap bagai mendung di musim hujan.

“Itukah dokter cantik dengan nama BUNDA?” tanyanya sambil menatap tajam sang suami.

“Jangan membuat keributan di sini. Ini tempat kerja,” tegur Zein dengan wajah tak kalah gelapnya.

“Kalau membuat mata bergairah di tempat kerja? Bolehkah?”

“Indras, jangan membuat aku malu.”

“Tidak, aku mau pergi, tapi aku mau bilang, perempuan itu memalukan,” kata Indras dingin sambil bergegas keluar dari ruangan. Tak lupa ia mengambil minuman yang tadi dibawanya, yang kemudian sesampai di ruang jaga satpam, minuman itu diberikannya.

“Ini untuk saya, Dokter?” tanya satpam yang tentu saja sudah mengenal bahwa Indras adalah seorang dokter, istri kepala dokter di rumah sakit itu.

“Iya, untuk kamu. Udara begini panas, pasti segar minum dawet yang dingin begini.”

“Terima kasih banyak, dokter.”

Indras berlalu ke arah mobilnya, lalu memacunya kembali ke kantor.

Ia lega sudah melihat seperti apa dokter cantik yang dipuja-puja suaminya. O, lalaa.. penampilannya begitu seronok, dan pimpinan dokter yang adalah suaminya itu sama sekali tak menegurnya? Pasti ia lebih suka melihat pemandangan indah yang bagi orang sopan terasa sangat menjijikkan.

“Ya Tuhan, apa yang harus hamba lakukan?”

Ia sadar suaminya sakit, ia bisa sabar menghadapi ketika penyakitnya kumat dan meledak-ledak, tapi ketika dia memperlakukan perempuan lain dengan begitu manis, apakah ia bisa juga bersabar? Itu termasuk penyakitnya juga? Astaga naga. Pasti banyak lelaki suka mengidap penyakit seperti itu. Suka dong, melihat wajah molek tubuh montok dan berpenampilan seronok. Itu sakit? Bukan. Itu adalah moral yang bobrok.

Indras mengusap air matanya lagi. Walau hanya setitik, itu adalah tangisan.

***

Melihat Indras sudah pergi, dokter Tyas kembali memasuki ruangan Zein yang meletakkan kedua tangan di dagunya.

“Dokterku kenapa? Bukannya suka, disamperin istri cantik?”

Zein menurunkan tangannya, tersenyum menatap wajah dokter Tyas yang tiba-tiba saja sudah duduk di hadapannya.

“Kamu bawa apa pula ini?”

“Saya memasak gudeg Jogya, dengan sambal goreng kerecek, ada kerupuk udang pula. Sudah saya siapkan piringnya, mari saya ambilkan nasinya,” kata dokter Tyas yang begitu cekatan melayaninya.

Gudeg sambal goreng kerecek, bukankah itu juga menu makanan yang sering dibuat almarhumah ibundanya?

Rasa rindu mendekap jiwanya. Ibu yang diharapkan bisa menikmati hari-harinya sebagai pimpinan dokter di rumah sakit, sudah tak ada. Bahkan saat wisuda pun ibunya  tak sempat melihatnya. Ia kehilangan kebanggaan yang akan dipamerkannya.

“Mengapa Dokter tampak sedih? Apakah istri dokter tadi marah-marah?”

Zein menggelengkan kepalanya.

“Tidak, ini masakan kesukaan almarhumah ibuku, aromanya mengingatkan aku padanya.”

“Oh, ya ampuun. Mengapa Dokter sering menyamakan saya dengan ibu Dokter?”

“Tapi itu benar, entah mengapa.”

“Barangkali memang ditakdirkan agar saya bisa selalu dekat dengan dokter,” katanya sambil tersenyum genit. Tapi Zein justru menatap piring yang sudah berisi nasi dengan lauk yang dibubuhkan oleh dokter Tyas.

“Silakan dimakan, Dok.”

“Kamu?”

“Iya, saya juga akan menemani makan.”

Jadilah ruang kerja sang dokter ganteng menjadi ruang makan yang menggembirakan.

***

Saat berpraktek sudah usai. Ketika Zein hendak beranjak dari mejanya, dokter Tyas masuk dengan tergesa-gesa.

“Dokter, saya lupa memberikan arloji Dokter yang saya simpan kemarin.”

Zein menatap dokter Tyas yang sudah melepas jas prakteknya. Kerah rendah tetap tak terkancing, dan baju dengan atasan serta bawahan ketat tampak begitu menawan.

“Terima kasih.”

Zein menerima arloji tangannya.

“Arlojinya bagus banget.”

“Kamu suka? Tapi ini arloji laki-laki.”

“Iya, saya tahu.”

“Kalau mau akan aku belikan kamu arloji serupa, yang lebih pas untuk perempuan.”

Dokter Tyas melebarkan senyumnya, dan wajahnya tampak berbinar mendengarnya.

“Benarkah?”

“Masa aku harus berbohong? Kamu mau?”

“Tentu saja saya mau,” kata dokter Tyas sambil mengangguk malu. Siapa sih yang tidak suka diberi barang bagus dan mahal?

“Sekarang saya mau pulang dulu.”

“Selamat pulang Dok, salam untuk istri Dokter Zein yang galak,” kata dokter Tyas pelan, tapi jelas didengar oleh Zein.

“Dia bukan galak,” kata Zein sambil berlalu. Entah apa maksud jawabannya itu. Untuk mengatakan bahwa istrinya tidak galak, atau untuk menutupi keburukan istrinya? Zein memang tak suka bergosip tentang keluarganya, apalagi istrinya.  

Dokter Tyas menatap punggungnya dengan senyum penuh arti. Senyuman itu seperti mengatakan bahwa lambat laun dia akan bisa menguasai hati sang dokter pujaan.

***

Di rumah, Indras tidak mengatakan apa-apa. Zeinlah yang kemudian mendekatinya dan menegurnya.

“Mengapa kamu tadi datang ke tempat kerjaku?”

“Kan aku sudah bilang kalau hanya mampir, dan membelikan dawet kesukaan kamu?”

“Dawet apa? Mana?”

”Aku bawa lagi, sudah aku berikan kepada satpam.”

“Apa? Kamu berikan kepada satpam?”

“Ya, memangnya kenapa? Bukankah dokter cantik itu sudah membawakan kamu makan siang yang aromanya menggugah selera? Dan bukan hanya aroma makanan itu saja, penampilannya juga sangat menggugah selera bukan?”

“Jangan mencari gara-gara.”

“Kamu yang bertanya duluan, aku jelaskan biar kamu mengerti, dan tentu saja merasa.”

“Kamu memang suka mencari gara-gara. Kamu tidak pernah suka membuat ketenangan di rumah ini.”

”Apa maksudmu aku tidak suka ketenangan di rumah ini? Kamu tidak sadar bahwa kamulah yang tidak membuat tenang keluarga ini.”

“Karena kamu suka mengada-ada.”

“Aku suka mengada-ada?”

“Kamu membuka-buka ponselku, kamu mengikuti ke mana aku pergi. Itu namanya membuat masalah dan keributan.”

“Jangan khawatir, aku tak akan membuka-buka lagi ponselmu, tak akan bisa, karena kamu mengganti passwordnya,” kata Indras sambil beranjak meninggalkannya. 

Zein tak pernah mau disalahkan. Zein selalu benar, Zein adalah raja dan pemenang yang tak terkalahkan.

***

Keesokan harinya sepulang dari tempat kerja, Indras mampir ke toko arloji langganannya. Pengait arlojinya patah, dan ia harus menggantinya dengan yang baru. Hari masih siang karena dia memang pulang lebih awal.

Ia heran ketika sebelum sampai di toko langganannya, ia melihat Zein keluar dari sana. Indras mengira Zein pergi dengan perempuan itu, tapi tidak. Zein pergi sendiri. Indras menghentikan mobilnya agak jauh, dan memilih berjalan saja ke arah toko langganan sambil menunggu suaminya pergi dari sana.

Agak lama suaminya masuk ke dalam mobil, sebelum kemudian menjalankannya menjauh.

Indras melanjutkan langkahnya. Tak apa, memang menjadi agak jauh. Ia enggan bertemu sang suami di sana. Ia juga tak mengerti apa yang dikerjakan suaminya di toko arloji itu. Ia jadi ingat, dua hari yang lalu sang suami pulang tanpa mengenakan arloji. Ia tak menanyakannya, hanya menduga, apakah arlojinya hilang, dan karenanya ia akan membeli lagi yang baru?

Indras memasuki toko itu, kemudian mengatakan kepada penjaga toko bahwa ia ingin membetulkan pengait arlojinya yang patah.

Tiba-tiba pemilik toko yang sudah dikenalnya keluar.

“Mengapa dibetulin Dok? Bukankah suami sudah membelikannya yang baru dan lebih bagus pula?”

Indras terkejut.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, April 21, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 21

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  21

(Tien Kumalasari)

 

Indras melongo, ia mengira Pri sedang bercanda. Tapi kenapa candanya keterlaluan begitu?

“Kamu sudah tahu? Dokter Karsono itu seorang psikiater, teman dekat aku. Aku juga tidak mengira apa yang dikatakannya. Tapi aku mengatakan ini karena dokter Karsono tahu bahwa Zein tidak mengatakannya pada kamu. Benarkah? Atau sesungguhnya kamu sudah tahu?”

Indras menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Seberapa berat sakitnya?”

“Kamu tahu bukan tentang Bipolar? Dia juga NPD.”

”What??”

Indras terkejut bukan alang kepalang. Ini penyakit yang bukan main-main. Barangkali susah disembuhkan. Atau bahkan tidak bisa. Pantas sikapnya aneh dan sulit dimengerti. Maunya benar dan tidak mau disalahkan.

“Mengapa tiba-tiba bisa begitu?” kata Indras lirih.

“Barangkali karena ia kehilangan pegangan saat ditinggal orang tuanya. Mereka pergi ketika dia membutuhkan, atau dia ingin menunjukkan sesuatu yang membuatnya bangga. Dia membutuhkan sosok orang tua, utamanya ‘ibu’, atau entahlah. Dokter Karsono hanya mengatakannya sekilas. Aku menggambarkannya sebagai seorang anak yang kehilangan pegangan dalam hidup.”

“Mengapa dia tidak mengatakannya padaku ya Pri?”

“Dia tinggi hati, tak mau kelihatan buruk, tak mau kelihatan rendah. Dia adalah yang terbaik. Mana mungkin mau mengatakannya sama kamu?”

“Tapi aku adalah korbannya Pri, aku menjadi sasaran kemarahannya atau ketidak puasannya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

“Kamu harus sabar.”

“Ya Tuhan, kurang sabar apa aku? Dia mengadakan hubungan dengan seorang dokter perempuan, yang di kontak WA nya dinamakan 'BUNDA’. Ungkapan-ungkapannya sangat manis dan mesra.”

“O, itu benar ya?”

“Apa maksudmu?”

“Aku mendengar ada dokter baru yang dekat sama Zein, tapi aku tidak percaya. Zein kan cinta mati sama kamu?”

“Cinta mati sehingga aku dijadikan sasaran pelampiasan kemarahan dan ketidak senangannya?”

“Satu yang harus kamu tahu, dia sakit.”

“Dan aku biarkan dia berhubungan dengan perempuan lain?”.

”Mungkin dia mendapatkan sesuatu yang dicarinya dari perempuan itu.”

“Apa yang dicarinya? Dia lebih cantik? Lebih pintar?”

“Kamu sudah tahu siapa dan bagaimana dia? Apa dia tidak punya suami?”

“Besok aku mau ke kantornya untuk melihat perempuan itu seperti apa.”

“Kamu pernah menegurnya?”

“Pernah, dan kamu tahu apa jawabnya? Dia mengatakan bahwa aku menuduh tidak mendasar, padahal aku melihat ungkapan-ungkapan di WA yang tidak wajar, dan melihat dia merayakan ulang tahun perempuan itu sementara aku juga ulang tahun di hari yang sama. Ketika aku mengancam akan pergi dari rumah, dia mengambil pisau dan mengancam akan bunuh diri.”

“Indras ….” lirih suara Pri, penuh rasa iba melihat sahabatnya ternyata semenderita itu.

“Baiklah Pri, sekarang aku sudah tahu. Terima kasih telah mengatakan semuanya padaku. Kamu sahabat terbaikku.”

“Aku ikut prihatin mendengar semuanya In. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Entahlah, aku akan mencoba bertahan, tapi kekuatan itu kan ada batasnya.”

“Yang kamu harus mengerti ialah, bahwa dia sakit. Aku akan selalu berdoa agar kamu bisa mengatasi semuanya. Yakinlah bahwa sesungguhnya dia sangat mencintai kamu,” kata Pri penuh perhatian.

“Aamiin. Sekali lagi terima kasih Pri.”

“Kamu tidak usah mengatakan kalau aku mengatakan semua ini.”

“Tentu saja tidak. Rumahku bisa ambruk dihancurkan oleh dia kalau sampai aku mengatakannya. Lebih baik aku pura-pura tidak mengerti saja.”

***

Indras mengendarai mobilnya pulang, dan air matanya kembali menetes di sepanjang perjalanannya. Bipolar dan NPD bukan sembarang penyakit yang gampang diatasi. Dia pemarah, mau menang sendiri, ingin berkuasa dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Dia ingin disanjung, dihormati, dan merasa paling benar, paling tinggi, paling pintar.

Indras ingat ketika tiba-tiba Zein memegang pisau dan ingin bunuh diri. Betapa ngeri membayangkan kalau hal itu benar-benar dilakukan.

“Ya Allah, tolonglah hamba.” keluhnya sambil mengusap sisa air matanya, karena sebentar lagi akan sampai di rumah.

Begitu mobil memasuki halaman, Zein yang tadinya duduk di teras segera berdiri, menunggunya di tangga dengan tatapan marah yang sangat mengerikan. Indras berusaha tenang. Berkali-kali ditekankan dalam hatinya, bahwa suaminya sedang sakit.

“Baru pulang?”

“Ya,” jawab Indras singkat.

“Ketemuan dengan selingkuhan? Dia datang lagi kemari, dan bertemu sembunyi-sembunyi?”

“Sekarang kamu bicara tidak mendasar.”

“Apa maksudmu tidak mendasar?” Zein berteriak dan marah karena disalahkan.

“Aku tidak selingkuh. Kamu yang selingkuh.”

“Jangan menuduh yang tidak-tidak.”

“Kalau begitu kamu juga jangan menuduh yang tidak-tidak,” kata Indras sambil berlalu masuk ke rumah. Zein mengikutinya.

“Berhenti. Aku belum selesai bicara.”

Indras berdiri, sebentar lagi air matanya tumpah, tapi ia tak sudi menangis dihadapan suaminya.

“Mau bicara apa lagi?”

“Aku tidak bisa tidur gara-gara kamu pulang terlambat.”

“Sekarang aku sudah pulang, kamu tidurlah.”

“Bicara seenaknya.”

“Aku lelah, bolehkah aku juga beristirahat?” kata Indras pelan, menahan kesal, mencoba bersabar. Selalu diingatnya, suaminya sedang sakit, walau terkadang perkataannya juga menyulut kemarahannya.

Indras memasuki kamarnya, tapi Zein berhenti di ruang tamu karena ada notifikasi WA dari ponselnya. Indras melihat Zein mengambil ponsel yang tadinya terletak di meja, dan sudah tahu apa yang akan dilakukan suaminya. 

***

“Dokter, ketika pulang, Dokter melupakan sesuatu,” bunyi pesan WA dari BUNDA.

“Apa yang aku lupakan, Dokter cantik?”

“Arloji Dokter. Itu kan barang mahal, kalau diambil orang bagaimana?”

”Memangnya arloji itu ketinggalan di mana? Aku kok lupa.”

“Di meja kerja Dokter.”

“Oh, syukurlah kamu menemukannya.”

“Saya simpan dulu ya Dok?”

“Simpanlah, cantik. Kita ketemu lagi besok pagi kan?”

“Dokter besok ingin dibawakan makanan apa?”

“Kamu selalu menawarkan makanan untuk aku, apa suami kamu tidak marah?”

“Dia mana tahu kalau saya memasak untuk Dokter.”

“Baiklah, masak apa saja sesuka kamu. Apapun bagi aku enak kok.”

Dokter Tyas mencantumkan emotikon tertawa dan jantung hati berderet-deret sebelum mengakhiri pesannya.

Zein menutup ponselnya. Katika ia memasuki kamar, Indras sudah berganti pakaian. Dengan heran Indras melihat wajah sang suami yang sumringah, seperti anak kecil menemukan mainan. Wajah garang yang tadi diperlihatkan, tiba-tiba berubah manis dan cerah.

Zein tak mengucapkan apa-apa. Ia memasuki kamar mandi.

Indras keluar setelah menyisir rambutnya, dan menemukan ponsel Zein tergeletak di meja.

Indras mendekati ponsel itu, ingin tahu apa saja yang dibicarakan suaminya dengan si pengirim pesan.

Setelah sekali lagi menoleh ke arah pintu dan belum ada tanda-tanda sang suami akan keluar, Indras meraih ponsel itu dan berusaha membukanya. Namun ia tak berhasil. Zein telah mengganti password nya.

Indras pergi ke ruang tengah, meneguk coklat panas yang sudah disediakan pembantunya.

“Rupanya dia sudah lebih pintar. Sekarang tak mungkin aku membuka-buka ponselnya lagi.

***

Hari itu Indras pergi keluar setelah menyelesaikan tugasnya. Ia ingin pergi ke rumah sakit di mana sang suami bertugas. Rasa penasaran tentang dokter cantik yang dipuja-puja suaminya selalu mengganggunya.

Indras langsung menuju ke ruang dokter di mana Zein bertugas. Ia mengetuk pintu sekilas tanpa menunggu dipersilakan masuk.

Zein sedang sendiri, menatap aneh ketika melihat istrinya datang.

“Kamu, mengapa kemari?” tanyanya dingin.

“Aku tadi lewat, setelah ke bank mengambil uang. Aku bawakan es dawet kesukaan kamu,” kata Indras dengan sikap manis. Tapi apa jawab Zein?

“Kamu tidak usah repot-repot membawakan sesuatu untuk aku, di sini semuanya tersedia.”

“Ini kan beda Zein, oleh-oleh dari istri,” kata Indras dengan senyuman manisnya.

Zein belum sempat menjawabnya, ketika tiba-tiba pintu terbuka tanpa terdengar ketukan, dan seseorang muncul dengan sikap genit.

“Dokter, saya bawakan makanan yang kemarin saya janjikan.”

Indras mengangkat wajahnya, dan si pendatang baru sadar kalau ada orang lain diruangan dokter pujaannya.

***

Besok lagi ya.

 

Monday, April 20, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 20

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  20

(Tien Kumalasari)

 

Indras bangkit, ada rasa marah yang ditahannya.

“Apa kamu memiliki sebuah rahasia?”

“Aku tidak suka kamu memata-matai aku.”

“Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya kamu lakukan. Kamu ingat pada ulang tahun orang lain, tapi abai pada ulang tahun istri kamu sendiri.”

“Hanya masalah ulang tahun. Apa itu penting?”

“Bukan masalah ulang tahunnya. Sikapmu yang berubah akhir-akhir ini. Siapa dokter cantik yang kamu sembunyikan dariku?”

Zein menatap marah kepada istrinya.

“Pokoknya aku tidak suka kamu memata-matai aku.”

“Siapa dokter cantik itu?”

“Kamu tidak perlu tahu,” katanya lalu meninggalkan kamar kemudian membantingnya keras.

Indras bangkit dari pembaringan. Memburunya keluar. Zein menuju ke ruang makan, lalu mengambil segelas air minum yang tersedia di sana.

“Jawab pertanyaanku, siapa dia? Kalau memang kamu suka dia, biarkan aku pergi bersama anak-anak dari rumah ini.”

Zein berhenti menghabiskan minumannya, meletakkan gelasnya sehingga menimbulkan bunyi keras, dan sebagian airnya muncrat membasahi meja.

“Apa kamu bilang?”

“Kalau kamu pilih dia, biarkan aku pergi bersama anak-anakku.”

Tiba-tiba Zein mengambil sebuah pisau yang kebetulan terletak di meja, siap menggoreskan pisau itu pada pergelangan tangannya.

“Kalau begitu biarlah aku mati saja.”

Indras terkejut bukan alang kepalang. Ada apa sebenarnya sang suami ini, dan sejak kapan dia suka mengancam akan bunuh  diri.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kamu menuduh tak mendasar. Aku benci itu. Kamu memata-matai aku, kamu berani membuka-buka ponselku,” Zein hampir berteriak.

Hari sudah malam. Indras membalikkan tubuhnya menjauh dari sana, khawatir kalau keterusan akan membangunkan anak-anak dan juga pembantunya. Tapi sebelum keluar dari ruang makan, ia menoleh kembali kepada suaminya, dan merasa lega sang suami telah meletakkan pisaunya.

***

Lalu tak terjadi apapun. Indras membaringkan dirinya di tempat tidur, mencoba tidur sesulit apapun. Ia tak melihat sang suami masuk ke kamar.

Sampai pagi Indras memikirkan perilaku suaminya yang aneh. Ia melihat kirim-kiriman WA di ponsel yang begitu mesra. Ia melihat sang suami mengirim bunga di ulang tahun perempuan lain, setelah sebelumnya mengirimkan taart ulang tahun kepadanya. Lalu ia berteriak bahwa tuduhannya tidak mendasar? Mengapa tiba-tiba dia mengancam bunuh diri? Indras seperti sedang menghadapi orang asing di rumahnya. Itu bukan Zein yang dikenalnya. Itu orang sakit jiwa.

Indras menitikkan air mata dan tersedu sambil menutupkan bantal di wajahnya.

Ia terisak sampai terdengar adzan subuh, lalu ia bangkit dan melangkah lunglai ke kamar mandi.

Diambilnya wudhu sambil sesekali masih meneteskan air mata.

Di atas sajadah, ia sesambat kepada Tuhannya.

“Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga hamba ini?”

***

Indras keluar kamar setelah mandi dan berganti pakaian dinas. Ia sudah memoles wajahnya dengan bedak yang tebal, tapi mata sembab itu tak berhasil ditutupinya.

Ketika ia keluar itu, dilihatnya sang suami sudah mengenakan pakaian dinasnya juga, siap untuk berangkat. Ia menatap istrinya sekilas, lalu berkata singkat.

“Aku berangkat,” kemudian berlalu begitu saja.

Di ruang makan, ada Santi yang menunggunya. Ia mendengar sebuah keributan, walau hanya sebentar. Lalu di pagi harinya menatap wajah mamanya yang pucat dan sembab.

“Apa yang terjadi Ma?”

Santi sudah dewasa, ia harus mengerti apa yang terjadi. Keretakan sebuah rumah tangga harus ada jalan keluarnya agar supaya bisa didandani agar menjadi apik kembali.

“Tidak apa-apa.”

“Mama jangan menutupi apapun, Kami sudah tahu ada sesuatu yang terjadi.”

“Harusnya kamu bukan tanya kepada mama, tapi kepada papamu.”

“Apa bedanya bertanya kepada Mama atau papa? Santi lebih nyaman berbicara dengan Mama, sebagai sesama perempuan,” kata Santi.

“Tapi mama sudah harus berangkat ke rumah sakit.”

“Sedikit saja. Sekilas saja Mama katakan.”

“Papa kamu selingkuh.”

“Selingkuh? Mama tahu dari mana?”

“Mama beberapa kali membuka ponsel papamu, mama juga memergoki papamu merayakan ulang tahun selingkuhannya, semalam, dan itu sebabnya dia tidak ada ketika kita rame-rame merayakannya."

“Mama sudah bicara sama papa?”

“Susah diajak bicara. Dia marah tanpa menjelaskan apapun.”

Indras berdiri dari tempat duduknya, karena ia harus segera bertugas.

“Jangan dulu Mama mempercayai yang hanya Mama lihat sekilas. Sebaiknya bicara baik-baik sama papa,” seperti orang tua Santi berpesan sebelum mamanya berangkat.

Indras mengangguk dan tersenyum. Tanpa sadar anak sulungnya sudah sedewasa ini. Tanpa sadar tahun demi tahun yang dilaluinya. Justru menemui cobaan ketika usia pernikahan sudah puluhan tahun.

“Apa salahku?” gumamnya sambil mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit tempat dia bekerja.

***

Indras bekerja seperti biasa. Ia menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata. Kalau anaknya saja tahu bahwa dia sedang menyembunyikan wajah sembabnya, pasti orang lain juga akan tahu. Ia tak ingin banyak pertanyaan.

Tapi siang hari itu setelah visite ke ruang-ruang pasien, ponselnya berdering. Dari seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Bukan Bagas yang selalu membuat kejutan setiap kali menemuinya, tapi dari Pri, dokter seangkatannya yang tugasnya di luar kota.

“Assalamu’alaikum Pri.”

“Wa’alaikumussalam Indras. Apa kabar?”

“Baik. Kemana saja kamu? Lama sekali nggak terdengar kabarmu?”

“Kamu kan tahu tugasku jauh dari sini. Tapi saat ini aku ada di sini, dan pengin ketemu kamu.”

“Datanglah ke rumah.”

“Jangan, aku ingin ketemu kamu, sendirian.”

“Ya ampun, nanti dikira kamu selingkuhan aku, bagaimana?”

“Tidak apa-apa, sudah sejak kamu pacaran, aku ingin sekali diselingkuhi sama kamu.”

Indras terkekeh. Pri selalu membuatnya tertawa.

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Harus bertemu? Tidak bisa ngomong sekarang? Aku jadi penasaran, mau ngomong apa sih?”

“Nanti kalau aku ketemu, baru ngomong.”

“Anakmu sudah berapa Pri?”

“Satu. Mau besanan? Dia ganteng dan hampir lulus. Tapi dia tidak mau menjadi dokter seperti bapaknya.”

“Oh ya? Anakmu laki-laki?”

“Ya laki-laki, mana ada perempuan ganteng?”

“Iya, benar. Tapi aku kangen sama kamu nih. Mau ketemu di mana? Di kantorku saja?”

“Jangan, nggak enak, di sini banyak yang aku kenal. Nanti saja kalau kamu pulang. Kamu pulang jam berapa?”

“Jam tiga paling.”

“Baik, aku samperin kamu, nanti kita ngopi ya.”

“Di mana?”

“Kamu yang tinggal di kota ini, tunjukkan saja di mana, aku tungguin kamu di sana.”

“Bener-bener seperti ketemu selingkuhan nih.”

“Biarin. Selingkuh sama dokter ganteng kan biasa.”

“Masih merasa ganteng ya kamu?”

“Sejak dulu aku ganteng, kamu saja yang menutup mata gara-gara aku kalah ganteng daripada Zein.”

“Ini masalah jodoh, Pri. Sudah, masa lalu jangan diungkit. Terkadang masa lalu itu menyakitkan, tapi juga menyenangkan. Tapi sakit menyakitkan dan menyenangkan itu kan masa lalu, yang penting adalah masa sekarang.”

“Kamu ngomongnya  suka berbelit. Ya sudah, sampai ketemu nanti. Kabari tempatnya ya.”

Indras tersenyum. Bertemu Pri selalu heboh, ada saja candaannya. Dan ternyata dia belum berubah.

***

Hari itu Indras ketemu Pri setelah selesai bertugas. Pri masih seperti dulu, suka bercanda dan mengganggunya. Tapi hari itu Pri kelihatan sangat serius. Indras berdebar menunggu apa yang akan dikatakannya.

"Kamu itu lama tidak ketemu, baru mau ketemu sudah membuat aku berdebar-debar tak karuan."

“Harus berdebar dong kalau ketemu orang ganteng.”

“Pri, aku serius, bukan karena bertemu denganmu tapi karena kamu akan mengatakan sesuatu yang kelihatannya akan sangat membuat aku terkejut.”

“Minum dulu kopinya. Baru aku cerita.”

Indras semakin penasaran. Tapi akhirnya Pri mengatakannya juga.

“Apa kabar Zein?”

“Dari tadi nggak nanyain Zein. Dia baik.”

“Baik? Tapi aku ingin mengatakan sesuatu tentang Zein.”

Indras semakin berdebar. Apa Pri tahu bahwa Zein selingkuh? Padahal dia kan bertugas dikota lain dan tidak pernah bertemu? Indras meneguk kopinya lagi.

“Apa kamu sudah tahu kalau suami kamu sakit?”

“Sakit? Tapi dia baik-baik saja, setiap hari bekerja, dan_”

“Yang sakit jiwanya.”

“Apa?”

“Aku punya teman seorang dokter. Psikiater. Zein adalah pasiennya.”

***

Besok lagi ya.

Saturday, April 18, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 19

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  19

(Tien Kumalasari)

 

Hari itu adalah ulang tahun Indras, dan perempuan yang disebut dokter cantik, dan diberi nama BUNDA itu juga ulang tahun?

Indras menghela napas panjang. Meletakkan ponsel dan menata batinnya. Apakah Zein juga teringat pada hari ulang tahunnya? Beberapa tahun yang lalu adalah anak-anak yang mengingatkannya, tapi tak ada ucapan yang berkesan. Ia cukup mengatakan selamat ulang tahun, lalu mencium keningnya sekilas, kemudian pergi begitu saja.

Tapi hari itu, ketika Zein pergi, Indras tergerak hatinya ingin mengikuti ke mana sang suami pergi.

Tanpa sepengetahuan Indras, kedua anaknya sedang menyiapkan sebuah pesta kecil di hari ulang tahunnya.

Indras terus mengikutinya dari jauh, melewati rumah sakit di mana suaminya bekerja. Beruntung dia tidak kehilangan jejak walau mengamatinya dari jauh. Lalu Indras melihat mobil suaminya berhenti di sebuah rumah kecil yang asri. Perlahan Indras mengemudikan mobilnya, lalu melihat seorang perempuan cantik berdiri di teras. Ketika ia akan menjalankan mobilnya, sebuah motor berhenti. Seorang laki-laki membawa bunga, dibawanya masuk ke halaman. Sekilas Indras melihat ada ucapan selamat ulang tahun tertulis melingkar di buket bunga itu, dan nama suaminya dibawah tulisan itu.

Semuanya sudah cukup. Indras menjalankan mobilnya perlahan, pulang.

***

Ketika ia memasuki rumah, ia mencium wangi bunga sedap malam kesukaannya. Ia mendengar ada celoteh kedua anaknya dari dalam kamar Santi. Indras ingin memasuki kamar itu, tapi terkunci dari dalam.

“Santi, Sinta … sedang apa kalian?”

“Mama dari mana?”

“Keluar sebentar. Mengapa dikunci?”

“Nggak apa-apa Ma, lagi bercanda sama mbak Santi.”

Indras memasuki kamarnya dengan lunglai. Ia merasa dunianya tiba-tiba menjadi suram. Inikah kebahagiaan yang dulu selalu didambakan? Apa yang salah dalam hidup ini? Tiba-tiba semuanya berubah. Seperti bola yang bergulir, dan yang semula diatas kemudian menjadi dibawah.

“Aku harus menanyakannya nanti. Apa sebenarnya yang dilakukannya, dan apakah maunya.”

***

Santi dan Sinta sedang menata sebuah kue ulang tahun di meja. Sebuah buket cantik berisi bunga sedap malam membuat wangi semerbak yang menyegarkan. Itu bunga kesukaan sang ibu.

Santi dan Sinta sudah berdandan cantik.

“Mana papa? Mengapa malah pergi?”

“Barangkali membeli sesuatu untuk mama.”

Santi mengambil ponselnya, lalu menelpon sang papa. Tapi ponselnya mati. Berulang dicobanya, tak ada jawaban, apa lagi respon. Zein mematikan ponselnya.

“Ponsel papa mati. Apa papa lupa ngecas ponselnya ya?”

“Tadi aku melihat papa mengambil ponselnya setelah di cas, tak mungkin batery mati.”

“Berarti dimatikan?”

“Entahlah, padahal papa tahu kalau kita sedang ingin merayakan ulang tahun mama bersama papa.”

“Apa harus kita tunggu?”

“Kita panggil saja Mama, kalau harus menunggu Papa, biar kita menunggu bertiga.”

Maka Sinta bergegas ke kamar sang ibu.

Pintu tidak terkunci. Indras sudah selesai mandi dan sedang menyisir rambut ikalnya.

“Mama sudah cantik, ayo … ditungguin mbak Santi tuh.”

Indras sudah tahu. Selalu begitu setiap hari ulang tahunnya. Kedua anaknya ribut merayakannya. Dengan kue ulang tahun, dengan bunga sedap malam, dan lilin-lilin kecil yang dinyalakan di atas taartnya.

Indras tak ingin mengecewakan sang anak. Ia mengikuti langkah Sinta menuju ruang makan.

Santi menghambur memeluk sang ibu, dimintanya duduk.

Indras selalu terharu atas tingkah kedua putrinya. Matanya berkaca-kaca karena bahagia. Sejenak lukanya terbasuh oleh wajah-wajah ceria dari kedua putri cantiknya.

“Kita tunggu papa sebentar ya, baru kita nyalakan lilinnya.”

“Tidak usah menunggu papa.”

“Tapi kan papa sudah tahu kalau kami akan merayakan bersama papa.”

“Bertiga saja. Mana koreknya, biar mama nyalakan lilinnya.”

Santi dan Sinta saling pandang, tapi kemudian Santi yang menyalakan lilin-lilinnya.

“Telpon papa lagi, Sinta.”

“Tidak usah. Papa tidak akan pulang cepat.”

“Ke rumah sakit? Ada pasien gawat?”

“Ya,” jawab Indras sekenanya.

“Dan satu lagi, jangan mengatakan pada papa kamu tentang acara ini, apalagi menanyakannya mengapa tidak datang.”

Keduanya saling pandang, tapi tidak mengatakan apapun juga, karena tampaknya sang mama sedang tidak berkenan.

Lalu sebuah lagu dinyanyikan, ucapan-ucapan dilantunkan, berisi doa dan rasa syukur, berisi rasa terima kasih atas kebaikan dan kasih sayang sang mama, berisi pelukan cinta yang tak berbatas.

Namun tanpa disadari oleh Indras, kedua anaknya mulai merasa bahwa hubungan  sang mama dan sang papa sedang tidak baik-baik saja.

***

“Dokter, saya tidak mengira Dokter akan merayakan ulang tahun saya dengan begitu indah. Ada kue ulang tahun, ada seikat bunga indah, ada ucapan yang manis dan menawan,” kata dokter Tyas ketika mereka sedang berduaan, merayakan ulang tahun dokter Tyas, walau tampak sederhana tapi meriah dihati mereka.

“Kan aku sudah bilang, untuk seorang dokter cantik, apapun akan aku lakukan.”

“Dokter bisa saja. Tapi aku merasa tersanjung.”

“Benar?”

“Dan karena itulah maka kemudian saya memasak khusus untuk Dokter yang  tadi mengatakan akan datang malam ini.”

“Yang aku heran, masakan kamu sama enaknya dengan masakan almarhumah ibuku. Aku merasa sedang bersama ibuku, yang sudah meninggalkan aku bertahun-tahun lalu.”

“Benarkah?”

“Aku kehilangan kasih sayang sejak lama. Aku menemukan ibuku di sini.”

Dokter Tyas tersenyum senang.

“Apakah istri Dokter tidak memberikan kasih sayang seperti yang Dokter inginkan?”

“Dia sangat sibuk.”

Dan itu benar. Zein merasa, seandainya tanaman maka ia hampir mati kekeringan, karena tak ada siraman hujan atau tetesan embun yang membasahinya. Entah mengapa, semua terjadi tanpa disadarinya. Entah mengapa, dokter Tyas yang semula hanya dokter baru di rumah sakit itu, bisa menarik hatinya. Dokter Tyas yang suka menyanjungnya, memuji-mujinya setinggi langit, seperti sosok ibunya yang sudah lama meninggalkannya.

“Sesibuk apapun, perhatian untuk suami bukankah perlu?”

“Entahlah. Dia itu pintar, hebat dan bisa mandiri. Karenanya dia tidak memerlukan aku.”

“Kasihan, dokterku ini. Padahal dalam melakukan tugas, saya selalu membutuhkan Dokter.”

“Terima kasih telah membuat aku punya arti, dan bisa membuat aku tersenyum.”

“Bukankah Dokter sangat mencintai istri dokter?”

Tapi Zein tidak menjawab. Ia teringat beberapa hari yang lalu, ketika Indras menunjukkan kebersamaannya saat makan siang bersama Bagas, lalu ia marah bukan alang kepalang. Apakah sebenarnya Zein memang mencintai istrinya? Bagaimana dengan dokter Tyas? Sepertinya itu bukan hubungan cinta, tapi hubungan karena Zein menemukan sesuatu pada dokter Tyas. Seperti ia menemukan ibunya, yang penuh kasih sayang dan perhatian berlebih. Itukah  sebabnya maka di kontak WA dia menamakannya dengan BUNDA? Indras tentu saja tak memahami hal itu. Memang benar, dia sangat sibuk. Apakah perhatian terhadap suaminya menjadi berkurang?

***

Sudah malam ketika Zein memasuki rumahnya, kemudian mencium aroma sedap malam kesukaan sang istri. Zein baru ingat bahwa hari ini juga ulang tahunnya.

Ia melewati ruang makan, ada seikat sedap malam tertata di meja, dan sisa kue ulang tahun yang baru dipotong beberapa iris.

Zein membuka kamarnya, melihat sang istri sudah tertidur pulas.

Zein membungkuk dan membisikkan sebuah ucapan di telinganya.

“Selamat Ulang Tahun.”

Indras belum benar-benar tertidur. Rasa kesal tak pernah berhenti mencengkeram batinnya, karenanya sebenarnya ia memang belum benar-benar pulas.

Ia membuka matanya. Bukan tatapan bahagia  yang diterima Zein, tapi tatapan kurang senang.

“Sudah terlambat. Ini sudah lewat tengah malam, aku tidak ulang tahun hari ini.”

Zein mengerutkan keningnya.

“Cukup ucapan ulang tahun untuk dokter cantik itu saja, untuk aku tidak usah, sudah lewat,” katanya dingin.

Mendengar ucapan istrinya, bukannya minta maaf, Zein justru menatapnya marah.

“Jadi kamu memata-matai aku? Atau kamu membuntuti kemanapun aku pergi?”

***

Besok lagi ya.

Friday, April 17, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 18

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  18

(Tien Kumalasari)

 

Zein tiba-tiba merasa sangat marah. Wajahnya yang merah padam tampak sangat menakutkan. Dokter Tyas memegang tangannya, berusaha menenangkan. Dan Zein tiba-tiba menutup ponselnya, lalu tersenyum ketika melihat dokter Tyas menatapnya heran.

“Ada apa Dok?”

Zein menghela napas panjang.

“Tidak apa-apa, biar aku habiskan saja lempernya ini,” kata Zein sambil meraih lagi sebungkus lemper, lalu memakannya dengan rakus, seolah-olah dia sedang mengunyah istrinya dengan kemarahan yang meluap.

Dokter Tyas tersenyum.

“Dokter Zein marah? Tadi telpon dari siapa?”

“Bukan dari siapa-siapa.”

Dan tiga bungkus lemper sudah dihabiskannya. Ketika ia mau mengambilnya lagi sebuah, dokter Tyas menahan tangannya.

“Sudah, cukup tiga saja. Nanti perutnya terasa nggak enak lhoh. Buat nanti lagi saja.”

Zein mengangguk.

Mereka diam beberapa saat, dan dokter Tyas terus menatap dokter seniornya dengan tanpa berkedip.

“Mengapa kamu baik kepada aku, Dok?”

“Karena Dokter adalah senior aku, dan Dokter menjadi pembimbing aku yang luar biasa, yang … pokoknya dokter Zein tak ada duanya bagi saya.”

Senyuman Zein mengembang. Pujian itu selalu keluar dari mulut tipis dokter Tyas, dan itu membuatnya sangat senang. Zein lupa bahwa ketika di rumah ia tak pernah mengembangkan senyuman itu akhir-akhir ini, entah mengapa. Ia tidak sadar bahwa senyum yang dimilikinya adalah senyuman yang menawan bagi perempuan dimanapun, dan istrinya tentu saja sangat suka melihatnya. Tiba-tiba ingatan tentang istrinya membuatnya muram. Tadi menelpon, dengan video call, untuk memamerkan kebersamaannya dengan Bagas? Laki-laki saingannya yang sangat dibencinya.

“Dokter Zein sedang kurang enak badan ya?”

“Apa?”

“Wajah Dokter tampak berubah-ubah, sebentar senyum, sebentar muram.”

“Sedikit pusing, nanti pengin pulang cepat.”

“Memang sebaiknya pulang cepat, lalu beristirahat. Itu lebih baik karena ada istri yang merawat,” kata dokter Tyas tanpa bermaksud mengejek.

Tapi ucapan itu membuat dokter Zein semakin muram.

***

Rupanya Indras hanya ingin memanas-manasi suaminya saja. Dia menunjukkan video call bahwa sedang bersama Bagas, dan bilang akan pulang terlambat karena harus menemani Bagas. Ternyata tidak. Ketika sang suami pulang, Indras sudah ada di rumah, menyibukkan diri dengan membereskan almari atau apapun yang dirasanya berantakan.

Ia mendengar suaminya pulang, tapi mendiamkannya. Dia heran kepada dirinya sendiri, mengapa memilih Zein yang perangainya ternyata aneh, dan bukan Bagas yang lembut dan baik hati. Sebenarnya Indras bukannya menolak Bagas. Dulu sebelum menikah dia pernah bepergian bersama adiknya selama sebulan. Ia ingin menghibur diri dan berpikir antara memilih pilihan orang tuanya atau melanjutkan hubungannya dengan Zein. Ternyata di sepanjang kepergiannya itu yang terpikir olehnya hanyalah Zein, lalu dia meyakini hatinya bahwa memang Zein yang menjadi pilihannya. Itulah sebabnya ketika terakhir kalinya sang ayah bertanya, apakah dia akan tetap memilih Zein, maka dia menganggukkan kepala. Untunglah waktu itu sudah tidak ada kendala karena sang ayah sudah tidak lagi membenci Zein, setelah ibu Zein sakit sampai meninggal.

Terdengar pintu terbuka, Zein masuk dan menatapnya tajam.

“Bukannya sedang berduaan dengan kekasih kamu?” tanyanya dingin.

“Hanya menemani makan, lama tidak ketemu,” jawabnya tanpa menghentikan kegiatannya.

“Kangen ya?”

“Ada,” jawab Indras enteng.

“Ada apanya?”

“Rasa kangen itu.”

“Apa?” Zein berteriak.

“Kan hanya bersahabat, apa tidak boleh?”

Zein keluar dari kamar sambil membanting pintu. Indras hanya mengangkat bahu. Indras berpikir, kalau dia boleh selingkuh, mengapa dirinya tidak? Indras tersenyum, bukan senyum untuk mengejeknya, tapi senyuman paling pahit yang dia miliki, karena merasa bahwa hidupnya ternyata sangatlah rumit. Ia tidak selingkuh, ia hanya ingin memanas-manasi, tapi suaminya sangat marah. Memang dia pencemburu, tapi harusnya dia bisa menjaga perilaku. Ia harusnya tahu kalau cemburu itu menyakitkan, lalu tidak melakukan hal yang bisa membuat cemburu. Tapi dia melakukannya.

Indras mengusap air matanya.

***

Saat suaminya masuk ke kamar mandi di suatu sore, Indras melihat ponsel Zein tergeletak begitu saja. Rupanya Zein lupa membawanya ke kamar mandi seperti biasanya. Indras mendekati ponsel itu. Rasa keingin tahuan membuatnya meraih ponsel itu dan membukanya. Ada nama BUNDA yang ditulis dengan hurup kapital. Indras tidak mengenal nama itu, lalu ia membuka pesan WA yang tertera. Iseng sih, tapi ia benar-benar ingin tahu. Siapa yang dimaksud dengan ‘bunda’, dan Indras sempat terkesiap.

“Dok, katanya kemarin mau mengajak makan di luar, ternyata kemarin nggak jadi, hari ini juga nggak jadi.”

“Maaf, aku lupa. Habis kamu nggak mengingatkan.”

Itu ditulis seminggu yang lalu. Lalu dibawahnya.

“Dok, aku suka warna baju yang Dokter pakai tadi. Pasti istri yang memilih warnanya bukan?”

Jawabnya hanya emotikon tertawa.

Indras ingat, ia membelikan baju itu saat suaminya ulang tahun bulan lalu. Baru dipakai semingguan yang lalu, itupun karena dia yang menyiapkannya.

Untunglah semua pesan WA sudah pernah dibuka, jadi tidak ketahuan kalau ia membukanya lagi. Masih ada beberapa di bawah, ia masih ingin membacanya.

Tiba-tiba ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia segera meletakkan ponsel itu lalu bergegas menjauh. Ia pura-pura ke ruang makan, mengambil sebotol  air dingin lalu dituangnya ke dalam gelas yang memang tersedia di atas meja makan itu.

Indras mendengar langkah kaki menjauh, lalu seperti biasanya sehabis mandi ia duduk di teras sendirian, lalu mengutak-atik ponselnya.

Indras duduk di kursi sambil menikmati air dingin yang baru dituangnya. Ia berharap darah yang semula hampir mendidih bisa menjadi reda. Tapi yang ada malah dadanya terasa sesak. Tak tahan menyembunyikannya, maka iapun menangis. Tapi Santi, anak sulungnya keluar dari kamar, dan melihatnya duduk sendirian. Indras segera mengusap wajahnya dengan tissue, lalu memencet hidungnya karena air mata itu pastinya juga nyelonong melalui hidungnya, menjadikannya seperti sedang pilek.

“Mama kenapa?”

Barangkali karena ia melihat mata mamanya merah.

“Apa? Mama tidak apa-apa.”

“Mama habis menangis?”

“Tidak. Ya ampun, mama tuh pilek, tahu nggak sih, kelihatan mata merah ya?”

“Mata merah, hidung merah.”

“Ya itulah, mama lagi pilek.”

“Mama itu gimana, sudah tahu pilek, mengapa minum air dingin?”

Indras mencoba tersenyum.

“Haus.”

“Dokter kok nggak tertib. Kalau pasien pilek pasti dilarang minum dingin kan, tapi Mama mengapa melakukannya?”

“Cuma sedikit, haus sekali.”

“Harusnya minum air hangat. Bibik kan sudah menyiapkan minuman hangat di depan. Tuh papa duduk sendirian di depan.”

“Ya, biarin saja. Mama sedang malas, mau tiduran saja.”

Lalu Indras berdiri dan beranjak ke kamar, sang anak menatapnya heran. Santi dan Sinta bukan anak kecil lagi. Suasana keluarga yang tidak seperti biasanya akhir-akhir ini juga dirasakan oleh mereka.

“Mama sama papa kenapa ya?” gumam Sinta ketika Santi memasuki kamarnya.

“Nggak tahu tuh, seringnya mereka diem-dieman saja.”

“Mengapa Mbak nggak bertanya?”

“Mama mengatakan tidak ada apa-apa. Padahal tadi aku melihat wajahnya sembab, seperti habis menangis. Aku bertanya, katanya tidak apa-apa.”

“Papa juga suka menyendiri. Lagi makanpun juga tak pernah bicara.”

“Orang tua susah dimengerti. Semoga mereka baik-baik saja.”

***

Hari-hari yang berlalu selalu begitu. Tanggal duapuluh dua Mei, Indras ulang tahun. Hal itu diingat betul oleh Santi dan Sinta. Mereka sudah bersiap merayakan ulang tahun sang mama, dengan memesan sebuah taart yang bertuliskan ucapan selamat. Tapi mereka merahasiakan rencana itu. Barangkali papanya lupa, apalagi mamanya yang setiap ulang tahun mereka seperti tak pernah peduli kecuali anak-anak yang mengingatkannya.

Ketika sang papa mau berangkat kerja, Santi berbisik di telinganya.

“Pa, besok mama ulang tahun. Kita rayakan ya?”

“Oh, besok ya? Atur aja,” kata sang papa sambil berlalu kemudian langsung masuk ke mobilnya.

***

Sore harinya, Indras kembali melihat ponsel Zein tergeletak di ruang tengah. Ia melihat suaminya tak ada, rupanya sang suami ada di garasi, mengutak atik mobilnya. Indras kembali membuka WA dengan nama ‘bunda’. Ternyata yang kemarin sudah terhapus, ada pesan baru, yang untungnya juga sudah dibuka.

“Dokter Zein memang baik sekali, terima kasih taart ulang tahunnya ya.”

“Untuk dokter cantik, aku selalu baik.”

Indras terpana. Jadi yang disebut BUNDA itu juga dokter?

***

Besok lagi ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 22

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  22 (Tien Kumalasari)   Pendatang itu dokter Tyas. Ia masuk dengan jas putih seragam dokternya. Lalu menatap Indras...