Friday, July 10, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 45

 NAMAKU TETAP SENJA  45

(Tien Kumalasari)

 

Wajah Senja sumringah, setengah berlari mendekati mobil. Ia merasa berhutang nyawa pada Rosa, jadi ia bersikap sangat baik.

"Non Rosa, saya minta maaf, ketika non Rosa sakit, saya tidak bisa membezoek, karena_”

“Sudah, tidak usah dibahas masalah itu.”

“Saya sangat berterima kasih, non Rosa sangat baik kepada saya.”

“Sudah semestinya berbaik hati kepada sesama kan?”

“Non Rosa sungguh berbudi.”

“Kamu ini sebenarnya mau ke mana?”

“Ini Non, mau mencari pekerjaan.”

“Oh iya, pastinya kamu sudah lulus ya Nja?”

“Iya Non, atas doa non Rosa, sudah lulus. Sekarang sedang berusaha untuk mencari pekerjaan.”

“Oh, kamu mau mencari pekerjaan? Ke mana?”

“Ke toko itu dulu, barangkali membutuhkan pelayan toko. Saya permisi dulu ya Non. Mau ke situ dulu.”

“Eit.. tunggu dulu Senja, kamu itu cantik, mengapa melamar menjadi pelayan toko?”

“Yang penting kan bukan wajahnya Non, saya hanya lulusan SMA. Biar cantik seperti bidadari ya nggak bisa bekerja di kantoran. Nggak apa-apa kok Non, saya tidak malu, yang penting bisa bekerja membantu Simbok.”

“Tunggu, ke sini dulu,” Rosa melambaikan tangannya, masih melongok di jendela mobilnya, tanpa mau turun.

Senja terpaksa mendekat, sebenarnya dia ingin segera pergi ke toko itu, sebentar lagi terik matahari akan lebih menyengat. Kalau tidak diterima bekerja di situ kan ia harus mencari yang lain.

“Aku bisa membantu kamu mendapatkan pekerjaan.”

Mata Senja berkilat. Wajahnya berseri. Non cantik yang baik hati ini akan membantunya mencari pekerjaan? Dalam hati Senja terus memuji-muji kebaikan Rosa. Dulu dikira sombong dan merendahkan  dirinya karena miskin, ternyata berkali-kali dia berbaik hati padanya.

“Itu benarkah Non?”

“Masa aku membohongi kamu? Mana lamaran kamu, biar aku bawa,” kata Rosa sambil mengacungkan sebelah tangannya, dan dengan riang Senja memberikannya.

“Kapan saya mulai bekerja Non?

“Nanti dulu, ini lamarannya aku bawa dulu, kamu tunggu, nanti aku kabari ketika kamu sudah siap diterima bekerja.”

“Oh, baiklah Non, jadi sekarang saya pulang dulu kan?”

“Iya, pulanglah, nanti aku kabari, secepatnya. Aku harus menemui teman aku dulu.”

“Baiklah, terima kasih banyak Non. Tapi saya benar-benar diterima kerja kan? Atau masih belum tentu?”

“Aku usahakan kamu benar-benar diterima. Jangan khawatir.”

“Baik Non, terima kasih banyak,” jawabnya masih dengan seri gembira di wajahnya.

“Tapi tunggu dulu Senja,” tiba-tiba Rosa berteriak.

Senja urung melangkah, kembali mendekati Rosa.

“Dengar Senja, aku membantu kamu mendapat pekerjaan, tapi kamu tidak usah mengatakan siapapun bahwa akulah yang membantu kamu.”

“Memangnya kenapa Non?”

“Aku tidak mau mendapat nama baik. Bahkan untuk simbokmu dan adikmu, jangan sampai diberi tahu. Yang penting kamu mendapat pekerjaan dan aku sudah senang. Jangan kamu kira itu  karena aku, tapi teman aku. Jadi jangan menganggap aku yang menolong kamu. Ingat itu, Senja.”

“Baiklah Non, terima kasih banyak. Saya juga tidak terlalu sangat berharap pekerjaan yang muluk-muluk Non, menjadi pembantu juga saya mau. Yang penting saya punya penghasilan.”

“Iya, tenang saja, nanti aku bilang kepada teman aku, tapi ingat satu pesanku, jangan bilang siapapun bahwa aku yang membantu kamu. Aku tidak mau orang-orang memuji aku. Aku hanya meminta tolong teman aku karena aku kasihan sama kamu. Kamu mengerti kan Nja?”

“Iya, Non, saya mengerti. Non memang orang baik.”

“Jangan begitu, aku hanya suka membantu. Oh ya, begini saja, besok kamu datang ke rumah makan yang di depan itu ya, kita ketemuan di situ, jam sepuluh pagi. Aku nggak mau ke rumah kamu, kan aku sudah bilang bahwa aku tidak mau siapapun tahu bahwa aku yang membantu kamu?"

“Iya Non, siap. Jam sepuluh pagi saya akan sudah di situ.”

“Kalau aku belum datang, kamu tunggu dulu ya.”

“Ya Non. Baiklah.”

Senja pulang dengan riang, tanpa curiga mengapa Rosa meminta bahwa yang membantunya tidak usah dikatakan kepada siapapun juga.

***

“Memangnya Mbak akan bekerja sebagai apa?” tanya Rimba ketika sang kakak pulang dengan wajah berseri dan sambil masuk ke rumah mengatakan bahwa dia sudah mendapat pekerjaan.

“Belum tentu pekerjaannya apa, yang penting ada yang mau menolong aku untuk bisa segera mendapat pekerjaan.”

“Siapa dia? Teman Mbak?”

“Ya, seperti itulah. Teman yang sangat baik.”

“Dia tidak mengatakan pekerjaannya apa?”

“Belum mengatakan apa pekerjaannya.”

“Eh, Mbak harus hati-hati lho, nanti kalau pekerjaan yang nggak bener bagaimana?”

Senja terkekeh.

“Jangan sembarangan menuduh. Dia itu orang baik. Teman yang benar-benar baik. Masa iya akan memberi pekerjaan yang nggak bener.”

Senja meneguk segelas air putih sebelum kemudian mengganti bajunya.

Rimba sangat senang mendengar kakaknya sudah akan mendapat pekerjaan. Mereka adalah keluarga sederhana, mendapat sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa.

***

Pagi hari itu pak Wiguna sudah berdandan rapi. Bu Wiguna mengamatinya. Ada yang berbeda dari suaminya. Berdandan lebih rapi, dan selalu berbau wangi.

“Apakah Bapak masih akan menemani teman Bapak itu?”

“Aku mau ke kantor dulu.”

“Maksudnya setelah ke kantor akan ke mana? Ke rumahnya lagi?”

”Entahlah, aku belum tahu Bu, kalau dia masih mengeluh kesepian dan butuh seorang teman, maka aku akan kesana.”

“Apa dia perempuan?” baru kali itu bu Wiguna bertanya tentang teman akrab suaminya.

“Ya ampun Bu, apakah Ibu mengira temanku itu perempuan? Ya laki-laki lah Bu, masa perempuan harus aku tungguin siang malam, setiap hari pula.”

“Biasanya seorang laki-laki akan sungkan mengeluh sepi dan minta ditemani.”

“Dia itu teman akrabku Bu, sejak masih SMA dulu. Dia merasa sudah renta setelah anak-anaknya menikah, istrinya meninggal, jadi dia kesepian.”

Arka yang ada di ruang sebelah mendengarkan, dengan perasaan kesal kepada sang ayah. Ia tidak menyangka ayahnya sangat pintar berbohong. Ia seperti seorang pemain watak yang ulung. Arka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hanya khawatir sang ibu mengetahui kebohongan itu, lalu berpengaruh pada kesehatannya.

“Apakah Bapak akan bareng saya ke kantor?”

Akhirnya Arka keluar dan memotong tanya jawab yang membuatnya kesal itu.

“Tidak usah, Bapak bawa mobil sendiri saja seperti biasanya.”

“Iya Ka, kalau tidak membawa mobil, bagaimana kalau teman akrab ayahmu nanti menelpon dan membutuhkannya?” kata sang ibu, ringan, seperti tanpa beban.

Seperti sebuah anjuran yang tulus. Seperti sikap seorang istri yang sangat menjaga suaminya. Hati Arka bertambah sakit.

“Kalau begitu Arka berangkat dulu ya Bu,” kata Arka sambil mencium tangan ibunya.

“Hati-hati ya Nak. Omong-omong bibik bilang kalau berasnya sudah menipis, apa kamu bisa pesan lagi kepada temanmu itu?”

“Tentu saja bisa Bu, apakah harus hari ini?”

“Tidak, kata bibik masih cukup sampai minggu depan.”

“Ya sudah, Arka juga belum bisa ke sana dalam satu dua hari ini.”

“Tidak bisa menelpon?”

“Tidak bisa Bu, mereka tidak punya ponsel.”

“Oh, kasihan. Ya sudah, dua tiga hari juga tidak apa-apa. Bibik bilang masih bisa dipakai untuk minggu depan.”

“Kalau terlalu buru-buru ya beli di tempat lain, yang dekat-dekat sini saja,” sambung pak Wiguna sambil mengikuti Arka yang sudah berjalan lebih dulu.

“Nanti dua atau tiga hari lagi Arka pesankan Bu, setelah semua pekerjaan Arka selesai.”

Mereka berangkat ke kantor yang sama, tapi memakai mobil masing-masing. Bu Wiguna menghela napas panjang, lalu masuk ke dalam rumah.

***

Senja dan Rosa bertemu di rumah makan yang kemarin ditunjuk Rosa menjadi tempat pertemuan mereka. Senja sangat senang ketika melihat Rosa.

“Senja, sepeda kamu dititipkan di sini saja dulu, kamu akan aku antarkan ke rumah teman aku.”

“Baiklah, tidak apa-apa.”

Senja menitipkan sepedanya di rumah makan itu, lalu pergi bersama Rosa. Rosa membawanya ke sebuah rumah yang ternyata sebuah salon kecantikan.

Rosa menggandengnya masuk.

“Di sini nantinya saya bekerja?”

“Iya, Senja. Temanku baru saja membuka sebuah salon kecantikan. Dia bersedia menerima kamu sebagai karyawan.”

“Oh, di sini rupanya tempat kerjaku?”

Senja digandeng Rosa masuk ke dalam, tapi tiba-tiba ia melihat seseorang yang pernah dikenalnya. Ia hampir berteriak, tapi kemudian ia menutup mulutnya.

“Bukankah itu perempuan hamil yang dulu aku lihat bersama ayah mas Arka?” kata batinnya.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, July 9, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 44

 NAMAKU TETAP SENJA  44

(Tien Kumalasari)

 

Bu Wiguna menerima ponsel yang diberikan Arka. Ia membaca semua chating dari Arka dan balasan yang diberikan suaminya. Arka menunggunya dengan berdebar. Apakah ada yang membuat ibunya curiga?

Tak lama kemudian ponsel itu dikembalikannya kepada Arka.

“Seperti yang Ibu duga. Ia sangat memperhatikan temannya yang katanya habis operasi, sampai berhari-hari tidak ke kantor.”

“Sebenarnya siapa teman Bapak itu, apa Ibu tahu? Dia laki-laki atau perempuan?”

“Ibu tidak pernah menanyakannya. Tapi yang jelas dia bukan orang yang masih muda. Tadi dia mengatakan bahwa ia mengantarkan anak temannya itu melihat rumah di perumahan baru bukan?”

“Iya.”

Dan Arka juga berpikir bahwa wanita yang tadi dilihat Senja bukan seseorang yang dimaksud oleh ayahnya dan dianggapnya teman. Teman beneran, atau hanya teman akal-akalan ayahnya untuk mengelabui keluarganya?

Arka hampir yakin kalau ayahnya berbohong. Mencari rumah untuk anak temannya? Lalu berjalan sambil merangkul pundaknya? Arka bukan anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja. Kalau sang ibu kelihatan percaya, tapi tidak dengan dirinya. Cerita sang ayah tidak sesuai dengan apa yang dilihat Senja. Yang namanya teman atau anak temannya, pastilah hanya karangan ayahnya.

Ia akan berusaha menyelidikinya, untuk memastikan kebenaran yang sesungguhnya. Biarlah untuk sementara ibunya mempercayai suaminya.

“Akhir-akhir ini ayahmu kelihatan agak aneh.”

Arka menatap ibunya. Apakah sang ibu mulai merasa curiga atas sikap sang ayah yang kelihatan aneh?

“Mengapa Ibu menganggapnya aneh?”

“Ayahmu tidak pernah peduli dengan orang lain. Tapi beberapa hari terakhir ini, tampak sangat perhatian kepada yang disebutnya ‘teman’."

“Apa Ibu tidak kenal pada semua teman-teman Bapak?”

“Tidak semua, hanya beberapa, yang ada hubungannya dengan bisnis ayah kamu.”

“Apa Ibu mencurigai sesuatu?”

“Apa maksudmu? Apa yang harus Ibu curigai?”

“Ya sudah, kalau tidak. Misalnya perubahan dari tidak peduli kepada orang lain, lalu berubah jadi peduli, itu lho Bu.”

“Perubahan yang bagus kan Ka?”

“Semoga akan terus begitu, selalu baik kepada orang lain.”

“Aamiin. Tapi katanya cepat pulang, mengapa lama sekali belum pulang?”

“Rumah temannya jauh, barangkali,” kata Arka seenaknya.

“Tampaknya memang begitu.”

***

Wanita itu cantik, namanya Tantrina, masih muda, sedikit genit. Dulu ia pelayan sebuah rumah makan, di mana pak Wiguna sering makan di rumah makan itu. Karena genit, pak Wiguna suka menggodanya. Bukan karena pak Wiguna ganteng dan muda, kalau Tantrina mau digoda. Pak Wiguna kaya dan sangat royal. Setiap kali membayar makanan, selalu ada uang yang lumayan banyak tersisa dari bil yang disodorkan. Tentu saja Tantrina suka. Lalu pemberian demi pemberian itu berlanjut … bukan hanya melayani makan, tapi juga melayani sesuatu yang lain, yang seharusnya terlarang. Tapi bukankah uang punya kuasa?

Beberapa bulan kemudian Tantrina tak terima hanya dijadikan pelampiasan. Pak Wiguna diminta menikahinya, walau hanya menikah siri. Itu sebabnya ketika di rumah sakit saat membezoek Rosa, ia terkejut mendengar nama Tantrina Wiguna. Ia baru sadar kalau Tantrina ternyata mengandung anaknya.

Waktu itu Tantrina merasa sering mual dan muntah-muntah, lalu pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan suami sirinya. Ia juga baru tahu kalau ternyata dia sedang mengandung. Keadaan itu membuatnya bertambah manja dan banyak permintaan diajukannya kepada suami sirinya. Yang terakhir dia ingin punya rumah sendiri. Itu sebabnya pak Wiguna minta brosur kepada bagian pemasaran di perumahan elite yang baru dibuka, dan sang nyonya yang asli sempat melihatnya. Tidak masalah bukan? Nyonya yang lugu ternyata tak menaruh curiga. Bahkan ketika sang suami meninggalkan rumah dikira ke kantor, padahal tidak.

Hari sudah sore ketika tuan Wiguna berdiri dari ranjang mereka. Ia sudah berjanji kepada Arka bahwa dia akan segera pulang.

“Mengapa Bapak akan pergi meninggalkan aku? Aku masih sering mual-mual, siapa yang akan memijit tengkukku kalau aku mual dan muntah?” wanita itu merengek manja.

“Tantrina, aku punya keluarga. Belum waktunya mereka mengetahui hubungan kita. Kamu harus bersabar. Beberapa hari lagi rumah yang kita pesan akan siap. Perabot yang kamu minta sudah aku pesan. Begitu rumahnya siap, mereka akan mengirimkannya ke rumah, lalu aku akan mencarikan kamu perawat yang akan menjagamu siang malam, agar semua keperluan kamu dilayani.”

Wanita itu mengangguk. Ia bergayut di lengan suami sirinya, sampai sang suami siri memasuki mobilnya dan berlalu.

Tantrina tersenyum cerah. Tak apa melayani laki-laki setengah tua. Bukankah hidup berkecukupan sudah diimpikannya sejak lama?

***

Begitu memasuki rumah, pak Wiguna melihat istrinya duduk sendirian di ruang tengah.

“Maaf Bu, aku sangat terlambat. Dia itu sahabat aku sejak aku SMA, aku tidak tega meninggalkannya sebelum anaknya datang.”

“Minumlah dulu kopinya, keburu dingin. Sudah agak lama bibi menyiapkannya,” kata sang istri tanpa memperhatikan perkataan suaminya, karena dia sudah menduga apa yang akan dikatakannya saat datang.

“Ibu tidak marah kan, kalau aku sering memperhatikan dia?”

“Mana mungkin aku marah mendengar suami aku berbuat baik?”

Pak Wiguna tersenyum. Ia meneguk kopinya, kemudian berdiri lalu mencium kening sang istri.

“Ibu sehat kan?”

“Sangat sehat. Tapi agak pusing sekarang, gara-gara mencium bau parfum ini. Sejak kapan Bapak memakai parfum beginian? Bukan parfum seperti yang kita punya bukan?”

“Wah, ini gara-gara ketika aku sedang berjalan memasuki toko, lalu ada penjual parfum menyemprotkannya ke bajuku. Hmm… aku juga pusing. Biar aku suruh bibik mencucinya,” kata pak Wiguna sambil masuk ke kamar.

“Sekalian aku mandi Bu,” katanya sambil menutup pintunya.

Bu Wiguna tidak beranjak. Ia tampak seperti memperhatikan acara di televisi, tapi benarkah bu Wiguna sangat polos dan tidak tahu tentang apapun? Tak seorangpun tahu, karena wanita yang kelihatannya polos terkadang menyimpan sesuatu yang bisa membuat dunia bergetar.

***

“Simbok kalau mau berangkat ya berangkat saja. Biar aku yang memasak untuk makan siang nanti.”

“Katanya kamu mau pergi melamar pekerjaan yang lain lagi?”

“Kan tidak harus terlalu pagi, nanti sehabis masak tidak apa-apa Mbok.”

“Ya sudah, kalau begitu. Kebetulan ada pelanggan yang minta dikirim agak pagi.”

“Apa Simbok mau aku boncengin dulu?”

“Tidak, bonceng gimana. Apa kamu lupa kalau Simbok itu takut bonceng sepeda? Biar saja Simbok berjalan seperti biasa. Tempatnya tidak begitu jauh kok.”

“Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati ya Mbok, nanti setelah masak, Senja mau berangkat mencari pekerjaan. Doakan agar berhasil ya Mbok.”

“Tentu Simbok doakan. Tapi tidak usah tergesa-gesa. Sabar. Kalau sudah saatnya pasti dapat.”

“Aamiin. Ati-ati ya Mbok.”

***

Senja sudah selesai memasak. Ia berganti pakaian yang lebih pantas, kemudian menyiapkan lamaran untuk dibawanya.

Hari sudah agak siang walau matahari belum terik benar. Senja ingin memasuki sebuah toko, barangkali butuh pelayan toko. Kalau ke kantoran, Senja khawatir tidak diterima gara-gara ia hanya lulus SMA.

Ketika ia turun dari sepedanya dan sedang berjalan mendekati toko itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti.

“Senja!” sebuah suara memanggilnya, dari kaca jendela mobil yang terbuka.

Senja terkejut. Ia melihat Rosa melongok dari jendela mobilnya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, July 8, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 43

 NAMAKU TETAP SENJA  43

(Tien Kumalasari)

 

Arka tersenyum melihat Rimba menyambutnya dengan senyuman cerah. Ia menyerahkan sebungkus keresek berisi minuman.

“Ini, buah-buah segar, untuk kalian, dan Simbok ya.”

“Wah, ini jus buah kan?”

“Iya. Tadi sedang ngomongin aku? Tentang apa?”

“MBak Senja ketemu ayah mas Arka, sedang bersama kakak mas Arka,” kata Rimba sambil berjalan masuk, diikuti Arka.

 Mereka menuju ruang makan, di mana mbok Mangun masih duduk di sana, sedangkan Senja sedang membersihkan meja.

“Silakan duduk mas,” kata Rimba sambil meletakkan bungkusan jus, dan mengeluarkan gelasnya satu persatu.

“Wah, mas Arka selalu repot.”

“Tidak Mbok, ini jus buah segar, saya juga mau minum, Simbok pilih yang mana? Ini jambu, mangga, nanas, alpukat.”

“Terserah saja, Simbok apa-apa mau.”

“Ya sudah, Simbok yang alpukat ya, saya mau nanas saja,” kata Arka sambil memberikan segelas jus alpukat ke depan mbok Mangun.

"Ayo, semuanya.”

Mereka mencecap jus segar yang dibawa Arka dengan wajah berseri.

“Nja, tadi Rimba mengatakan kalau kamu tadi bertemu ayahku? Kalian saling bertegur sapa?”

“Tidak Mas, waktu itu saya sedang mau melamar pekerjaan di proyek perumahan yang belum lama dibuka, tiba-tiba saya melihat ayah mas Arka, sepertinya sedang bersama saudara mas Arka. Mungkin ayah mas Arka mau membelikan rumah di perumahan baru itu untuk putrinya.”

“Putri ayahku? Saudara aku?” tanya Arka heran.

“Iya, siapa lagi? Wanita itu cantik, berjalan bersama ayah mas Arka yang merangkul pundaknya sambil menuding-nuding ke arah rumah yang baru di bangun.”

Arka sangat terkejut? Seorang wanita cantik? Bersama ayahnya, dan ayahnya merangkul pundaknya?

“Kok mas Arka kelihatan aneh. Wanita itu sedang mengandung. Adik mas Arka atau kakak mas Arka?”

Arka teringat apa yang pernah dikatakan sang ibu, ketika sang ibu menemukan sebuah brosur rumah elite di tas kerja ayahnya. 

"Untuk kakakku atau adikku? Apa aku punya adik atau kakak? Sedang hamil pula?" pikir Arka.

“Yang sedang hamil, kakak mas Arka ya? Atau adik?” Senja mengulangi pertanyaannya.

“Aku tidak punya saudara, aku anak tunggal,” kata Arka pelan, sambi meneguk jusnya, tapi dengan perasaan yang kacau dan gelisah. Ini berita aneh. Ayahnya sedang bersama siapa? Wanita cantik, sedang hamil?

“Ya Tuhan, sepertinya ini berita buruk,” kata batinnya sambil menghabiskan satu gelas jusnya, kemudian ia berdiri.

“Sepertinya aku mau pamit dulu.”

“Kok buru-buru?”

“Lupa aku, ada yang harus aku kerjakan. Pamit dulu ya Mbok, Senja, Rimba,” kata Arka sambil bergegas pulang ke rumah.

***

Mbok Mangun dan anak-anaknya saling pandang dengan bingung. Sikap Arka tampak aneh. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Mereka juga merasa aneh ketika mendengar perkataan Arka bahwa dia tidak punya saudara.

“Ini aneh. Mas Arka itu anak tunggal. Lalu siapa yang tadi kamu lihat Nja?”

“Ya itu, seperti yang aku katakan. Ayah mas Arka, dengan seorang wanita hamil. Ayah mas Arka merangkul pundaknya erat, seperti seorang ayah merangkul anaknya."

“Atau seorang suami merangkul istrinya?” celetuk mbok Mangun yang mengejutkan Senja.

“Apa? Simbok mengira, itu istri pak Wiguna? Aku pernah melihatnya ketika mengirim beras, ibunya cantik, tapi sudah setengah tua. Bukan yang tadi.”

“Maksud Simbok, istri yang lain.”

“Istri muda?”

"Mungkin, tapi jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Itu hanya perkiraan Simbok. Orang kaya punya istri lebih dari satu kan boleh-boleh saja.”

“Ya Tuhan, apakah mas Arka tahu kalau ayahnya punya istri muda? Aku jadi menyesal mengatakannya. Bagaimana ini, sudah terlanjur,” kata Senja.

“Mau bagaimana lagi, kamu kan juga tidak tahu kalau mas Arka itu anak tunggal.”

“Iya Mbok, Senja pikir karena wanita itu masih muda, pastinya anak perempuan tuan Wiguna. Siapa tahu ternyata mas Arka anak tunggal. Bagaimana kalau keluarga mas Arka jadi kacau karena aku ngomong begitu tadi?”

“Semoga semuanya baik-baik saja. Simbok kira mas Arka akan bisa mengatasi semuanya tanpa harus menimbulkan keributan di keluarganya."

***

Arka sampai di rumahnya , tapi tidak mendapati sang ayah seperti biasanya kalau sang ayah tidak pergi ke kantor. Duduk berdua di teras bersama ibunya, atau duduk di ruang tengah sambil menikmati acara televisi.

“Bapak belum pulang Bu?”

“Lhoh, apa kamu tidak ketemu ayahmu di kantor? Bukankah tadi dia pergi ke kantor?

”Tidak. Sudah beberapa hari Bapak tidak pergi ke kantor.”

“Padahal tak lama setelah kamu berangkat, bapakmu juga berangkat.”

“Ke mana ya Bapak?”

“Apa masih mengurusi temannya yang habis operasi itu? Begitu perhatian sekali ayahmu kepada temannya itu.”

“Mungkin Bu, ya sudah, Arka ganti baju dulu.”

“Baiklah, biar bibik menyiapkan kopi seperti biasanya.”

Arka masuk ke dalam kamarnya dengan sejuta pikiran yang sangat mengganggu. Ayahnya membantu teman yang habis operasi? Sejak kapan ayahnya perhatian kepada orang lain? Apa ini ada hubungannya dengan apa yang dilihat Senja tadi? Wanita cantik, hamil, dan Senja mengira wanita itu kakak atau adiknya. Senja punya pikiran begitu karena wanita itu terlihat masih muda.

“Mau beli rumah di perumahan baru itu? Dan brosur yang ditemukan ibu itu pasti  bukan sekedar penawaran dari seorang marketing yang ingin agar laku dagangannya. Bapak melihat perumahan itu, yang pastinya akan dibelinya untuk wanita yang menurut Senja dirangkul pundaknya.”

“Kalau aku menanyakannya kepada Bapak nanti, dan ada Ibu di dekat kami, pasti Ibu akan sangat terpukul. Aku khawatir hal itu akan mengganggu kesehatan Ibu.”

Arka bingung akan bersikap bagaimana. Karena itu ia menelpon sang ayah. Tapi walau ponselnya aktif, pak Wiguna tidak mengangkatnya.

Lalu Arka menuliskan pesan singkat.

“Bapak ada di mana? Bapak tidak ke kantor ber hari-hari. Ibu mengira Bapak masih ada di kantor sore ini.”

Lalu Arka pergi mandi.

Ketika ia selesai mandi dan berganti baju rumahan, di ponselnya sudah ada jawaban sang ayah.

“Sedang menemani sahabat bapak yang habis dioperasi. Dia sendirian dan bapak merasa kasihan padanya”

Lalu dibawahnya ada lagi.

“Tapi bapak akan segera pulang.”

“Tadi Arka melihat Bapak di perumahan yang baru dibuka. Bapak mau beli rumah?”

Pertanyaan itu tidak dijawab, sampai Arka kemudian keluar untuk menemui ibunya. Ponsel dibawanya.

“Minumlah. Kopimu hampir dingin,” kata sang ibu.

Arka tersenyum, lalu duduk di dekat sang ibu, kemudian mencecap kopi itu, pelan. Ada rasa kasihan ketika melihat wajah ibunya yang polos, tanpa dosa, tapi tampaknya dikhianati.

Ketika notifikasi terdengar di ponselnya, sang ayah sudah menjawab pesannya.

“O, iya … tadi mengantar anak teman bapak, yang katanya mau beli rumah di sini. Dia lama tidak tinggal di sini, jadi tadi datang minta diantar melihat-lihat rumah.”

Arka mencibir dalam hati. Sang ayah selalu punya alasan. Tapi alasan terakhir membuat Arka hampir murka. 

"Menemani anak temannya, wanita muda, dan dia merangkul pundaknya saat berjalan?” kata batinnya.

Ia semakin yakin kalau sang ayah sedang menyembunyikan sesuatu, yang sebagian besar dari yang tersembunyi itu hampir diketahuinya. Arka sedih ketika mengingat ibunya.

“Ada apa? Tiba-tiba wajahmu muram setelah membaca pesan di ponsel kamu.

Arka memberikan ponselnya, agar sang ibu membaca seluruh pesan dan jawabannya.

***

Besok lagi ya.

 

 

Tuesday, July 7, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 42

 NAMAKU TETAP SENJA  42

(Tien Kumalasari)

 

Senja berhenti melangkah, dan terus mengawasi keduanya tak berkedip.

“Aku tidak lupa, dia ayah mas Arka, pengusaha kaya yang ketika bertemu aku sikapnya sungguh tidak ramah, mentang-mentang dia kaya dan aku hanya anak seorang penjual beras," gumam Senja.

Senja ingin menyapanya, tapi diurungkannya.

“Buang-buang waktu saja, paling sikapnya masih seperti dulu, meremehkan aku. Tapi siapa perempuan hamil itu? Jadi mas Arka punya kakak perempuan yang sedang hamil? Aku tidak pernah menanyakan keluarganya. Barangkali ayahnya mau membelikan rumah untuk calon cucunya. Namanya orang kaya, bayi belum lahir sudah akan dibelikan rumah. Ya sudahlah, aku teruskan saja langkahku. Aku kan sedang mencari pekerjaan, malah memikirkan sesuatu yang bukan urusan aku,” kata batin Senja.

“Mbak mau membeli rumah?” tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua menyapanya. Tampaknya ia seorang mandor bangunan. Dari tadi ia hanya mondar mandir ke sana kemari sambil mengawasi tukang bangunan yang sedang bekerja.

“Eh, tidak Pak. Mau tanya, kantor pemasaran di mana ya?”

“Di sana, ujung paling depan. Kalau tidak mau membeli rumah mengapa menanyakan kantor pemasaran.”

Senja tersenyum.

“Masa sih, penampilan seperti aku dikira mau beli rumah? Memangnya kelihatannya aku orang yang punya uang apa?” kata batin Senja.

“Saya mau mencari pekerjaan Pak. Tunjukkan saja di mana kantornya.”

“O, mau mencari pekerjaan? Masa gadis cantik mau menjadi tukang batu?”

Senja agak kesal, mandor itu sangat cerewet dan pertanyaannya yang aneh-aneh saja.

“Baiklah Pak, saya ke sana saja dulu. Yang diujung itu ya?” katanya sambil terus melangkah, tanpa menunggu jawaban pak mandor yang  ceriwis itu.

Pak mandor mengawasinya terus.

“Tukang batu, cantik, malah pada nggak mau bekerja, karena saling mencari perhatian. Tapi nggak tahu juga, barangkali melamar menjadi pekerja kantoran,” gumam pak mandor sambil terus mengawasi Senja yang sekarang sudah memasuki kantor pemasaran.

***

“Selamat siang,” sapa Senja, sopan.

“Selamat siang,” jawab seorang laki-laki muda yang sedang duduk di kursi kerja, sambil menghadapi laptop yang sejak tadi diotak-atiknya.

“Mau ketemu siapa ya?”

“Mau ketemu …. mm saya mau mencari pekerjaan.”

“Oh, silakan duduk.”

Senja duduk, kemudian menyodorkan map berisi berkas lamaran pekerjaan. Laki-laki itu kemudian membuka map nya.

“Kamu baru lulus SMA?”

“Benar Pak.”

“Nilai kamu bagus.”

Orang itu meletakkan lagi lembar-lembar lamaran yang tadi dibacanya. Tampaknya tidak sepenuhnya dia membaca. Kertas-kertas itu diletakkan lagi di dalam map, kemudian map itu ditutupnya.

“Perusahaan kami sedang membuka beberapa cabang dan butuh karyawan.”

Wajah Senja berbinar, ada secercah harapan ketika orang didepannya mengatakan kalau sedang butuh karyawan.

“Tapi yang kami butuhkan adalah seorang sarjana tehnik dan sarjana ekonomi, bukan lulusan SMA seperti Anda.”

Senyuman yang semula tersungging, surut seketika.

Mereka butuh sarjana. Bukan lulusan SMA.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi,” kata Senja sambil meraih map lamarannya, kemudian membalikkan tubuhnya, dan keluar dari ruangan kecil itu.

Senja hanya berjalan kaki ketika itu, karena rumah simboknya tidak jauh dari lahan perumahan baru itu.

Dalam perjalanan keluar dari area perumahan itu, Senja agak risih karena beberapa tukang bangunan menggodanya. Tadinya terbersit juga keinginan bekerja walau menjadi tukang batu sekalipun. Tapi melihat lingkungan yang dianggapnya tidak ‘sehat’, Senja membatalkannya.

Ia berjalan ke rumah dengan lesu. Ada sesal, karena lulusan SMA ternyata tidak dibutuhkan. Tapi Senja bersikap wajar dan berusaha menekan kekecewaan hatinya. Barangkali bukan di sana tempat yang pantas untuk dirinya, besok atau lusa ia harus berusaha lagi.

***

Sesampai di rumah ternyata Rimba sudah pulang dari sekolah.

“Kok sudah pulang?”

“Pulang pagi, besok kan libur panjang.”

“O iya, kamu sudah naik kelas enam kok ya. Ati-ati, belajar harus lebih rajin, sebentar lagi ujian lho.”

“Iya Mbak. Siap.”

Senja menuju ke dapur, mengambil segelas air minum, dihabiskannya. Udara sangat panas. Senja tiba-tiba merasa sedih mengingat simboknya. Udara panas seperti ini, simboknya masih berjalan menjajakan dagangan berasnya. Terkadang cepat habis, tapi terkadang juga pulang masih membawa beberapa kilo beras yang belum laku. Senja semakin bertekat untuk bekerja agar simboknya tidak bekerja terlalu keras.

“Mbak dari mana?”

“Dari mencari pekerjaan .”

“Mencari ke mana? Kok jalan kaki?”

“Di sebelah utara pasar itu kan ada perumahan yang baru di bangun. Mbak tadi mencoba melamar ke sana, karena kabarnya mereka membutuhkan karyawan.”

“Kalau di tempat bangunan ya karyawan bangunan. Mbak perempuan, mengapa melamar ke sana?”

“Maksud Mbak itu bukan menjadi tukang bangunan, tapi di kantornya.”

“Diterima?”

Senja menggoyangkan tangannya.

“Tidak Mba. Yang dibutuhkan sarjana-sarjana.”

“Lulusan SMA tidak mau?”

“Tidak. Tapi besok Mbak mau berusaha lagi mencari di tempat lain.”

“Semoga Mbak segera bisa bekerja.”

“Iya Mba ... Mbak ingin sekali meringankan beban Simbok,” kata Senja sambil duduk di kursi makan.

“Ayo kita makan Mbak.”

Mereka makan dalam diam. Senja masih terbawa rasa kecewa karena tidak diterima bekerja gara-gara dia bukan sarjana.

“Kalau memang tidak bisa mendapat pekerjaan, Mbak mau jualan beras saja seperti Simbok.”

“Dengan begitu berasnya bisa laku lebih banyak ya Mbak.”

“Betul. Sama saja, berjualan juga bekerja. Aku kasihan sama Simbok.”

“Rimba juga kasihan sama Simbok. Nanti kalau lulus ini, Rimba juga mau bekerja saja.”

“Apa? Kamu jangan main-main Mba, simbok bekerja keras untuk menjadikan kamu supaya menjadi orang berpendidikan. Kalau lulus SD mau berhenti, lalu kamu mau jadi apa?”

”Kasihan sama Simbok.”

“Biar aku saja yang bekerja membantu Simbok, apapun pekerjaan itu, pokoknya beban Simbok bisa lebih ringan. Itu semua agar kamu bisa sekolah terus dan terus, sampai kamu menjadi orang. Kalau kamu berhasil, Simbok pasti senang. Jadi jangan pernah kamu ingin berhenti sekolah. Kamu anak laki-laki. Jangan mengecewakan Simbok.”

"Sedang cerita apa nih?” tiba-tiba mbok Mangun sudah sampai di depan mereka yang sedang makan.

“Horeee, Simbok sudah pulang. Ayo Mbok, makan sekalian.”

“Iya, makan dulu, Simbok bersih-bersih badan dulu, berdebu nih, terus ganti pakaian juga.”

“Kami tungguin Mbok,” kata Senja yang kemudian menyiapkan segelas air di meja, untuk simboknya.

***

“Kamu tadi jadi melamar kerja?” tanya mbok Mangun setelah siap makan bersama anak-anaknya.

“Jadi Mbok, tapi belum rejekinya, besok Senja mau cari lagi.”

“Harus sabar Nduk, cari pekerjaan memang tidak gampang. Tadi kamu jadi  ke perumahan yang baru dibangun itu?”

“Jadi. Baru ke situ Mbok. Tapi tidak diterima. Besok berusaha lagi. Oh ya, tadi aku melihat ayahnya mas Arka.”

“Dia yang punya perumahan baru itu?”

“Bukan. Sepertinya dia beli rumah di situ.”

“Apa ayah mas Arka belum punya rumah?”

“Orang kaya boleh kan Mbok, beli rumah sebanyak-banyaknya,” sambung Rimba.

“Sepertinya dia beli rumah untuk anaknya perempuan. Aku baru tahu, ternyata mas Arka punya saudara perempuan, sedang hamil. Pastinya ayahnya akan membelikan rumah untuk cucunya itu.”

“O, mas Arka punya saudara perempuan?”

“Sepertinya iya Mbok, tadi aku melihatnya, pak … siapa ya namanya … lupa … eh, tuan Wiguna melihat-lihat sambil merangkul wanita cantik itu, yang perutnya agak gendut, sedang melihat-lihat rumah, atau entahlah, barangkali sudah beli atau apa.”

“Kamu bertemu dia? Atau dia menyapa kamu?”

“Tidak Mbok, Senja hanya melihat dari kejauhan, tapi Senja yakin itu ayahnya mas Arka.”

“Kalau kenal, mengapa kamu tidak menyapa?”

“Sungkan Mbok, belum tentu dia suka.”

“Selamat siang,”

Mereka terkejut, itu suara Arka. Rimba segera berlari ke depan.

“Mas Arka, siang-siang sudah sampai di sini? Kami sedang membicarakan kakak mas Arka tadi,” celoteh Rimba.

***

Besok lagi ya.

Monday, July 6, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 41

 NAMAKU TETAP SENJA  41

(Tien Kumalasari)

 

Arka tak bereaksi. Ia menerima apapun yang dikatakan dokter yang berdiri menatap dirinya dan Rosa dengan serius.

Rosa tampak berkaca-kaca, entah apa yang dipikirkannya. Barangkali dia kesal, malu, atau entahlah, tiba-tiba dia berdiri dan menggamit lengan Arka.

“Saya minta maaf, ibu Rosa, saya harus mengatakannya, agar Ibu tidak terkejut di kemudian hari.”

“Baiklah,” Rosa melangkah pergi.

Tapi Arka mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan ruangan dokter yang merawat Rosa.

Dokter itu membalas anggukan Arka sambil berpikir, bahwa istri laki-laki ganteng yang santun ini sangat tidak menghargai dokter yang menanganinya.

***

Rosa langsung masuk ke ruang rawatnya, kemudian berkemas.

“Mengapa kamu harus kesal kepada dokter itu? Dia hanya mengatakan apa yang menjadi hasil dari keseluruhan pemeriksaan.”

“Semua itu terjadi karena aku diperkosa, bukan salahku, itu sebuah kecelakaan.”

“Semuanya sudah terjadi, ya sudahlah, untuk apa disesali?”

“Kamu sekarang bisa mengejek aku, menganggap aku sebagai perempuan rendah, tak berharga, karena pernah hamil dan menggugurkan kandungan aku.”

“Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak mengejek kamu, tidak merendahkan kamu, juga tidak menganggap kamu tak berharga atau lebih dari itu. Itu adalah hidupmu, mengapa aku harus berpikir tentang sesuatu yang bukan urusan aku?”

Perkataan Arka itu halus, dan diucapkan sangat pelan, tapi Rosa menerimanya seperti irisan sembilu yang merajang-rajang hatinya.

“Kamu mau pulang sekarang? Bukankah dokter belum memberikan ijin untuk kamu pulang?”

“Persetan dengan dokter itu.”

“Rosa, seharusnya kamu berbicara dulu dengan dokter, misalnya mengucapkan terima kasih atau apa yang sebaiknya kamu lakukan. Bukankah dia juga yang telah merawat kamu?”

“Yang penting aku membayar semua biaya rumah sakit. Bukan ucapan terima kasih. Kalau kamu mau pulang, pulanglah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Baiklah, aku tunggu kamu, dan aku antar pulang, setelahnya aku harus kembali ke kantor. Pekerjaan belum selesai.”

“Kamu pergi saja. Baiklah, kembali ke kantor dan jangan pedulikan aku,” Rosa berteriak sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“Baiklah, aku pergi,” kata Arka sambil meninggalkan ruangan itu.  Tapi di luar ruangan, Arka menelpon pak Daryono.

“Ada apa Arka?”

Arka mengatakan bahwa Rosa memaksa pulang, dan menyuruhnya pergi meninggalkannya.

“Memangnya dokter sudah mengijinkannya pulang?”

“Sebetulnya belum, tapi Rosa memaksa. Dia juga tidak mau saya mengantarkannya pulang.”

“Kamu sekarang ada di mana?

”Saya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor. Saya mohon Om segera ke rumah sakit.”

“Sebenarnya ada apa?”

“Kalau Om sudah ketemu Rosa, dia pasti mengatakannya. Saya sedang terburu-buru."

“Baiklah, baiklah … terima kasih sudah mengabari.”

***

Pak Daryono tidak mengabari ke rumah setelah Arka menelponnya. Ia langsung ke rumah sakit. Tapi ketika ia sampai di sana, di lobi rumah sakit ia melihat Rosa berdiri, sepertinya sedang menunggu taksi.

“Rosa.”

Rosa terkejut. Ia tak ingin mengatakan apapun kepada sang ayah.

“Mengapa kamu pulang?”

“Rosa tidak kerasan, mau pulang saja.”

“Tapi kamu sepertinya sedang tidak senang. Ada apa?”

“Tidak apa-apa.” Tapi Rosa berdebar, apakah Arka mengatakan semuanya kepada sang ayah?

“Arka bilang kamu tak mau diantar olehnya. Kamu sedang marah pada Arka?”

Rosa merasa lega. Dari perkataan sang ayah, tak ada tanda-tanda bahwa Arka mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Tentang dokter itu, tentang rahimnya, tentang ….

“Ayo pulang bersama papa. Kamu sudah menyelesaikan administrasinya?”

“Sudah, Rosa juga sudah memanggil taksi.”

“Batalkan saja, ayo pulang,” kata pak Daryono sambil menarik lengan Rosa.

***

“Apakah Rosa sudah benar-benar sehat?” tanya bu Daryono kepada suaminya.

“Mungkin dia merasa sehat, sepertinya pulang paksa.”

Lalu pak Daryono mengatakan bahwa dia ke rumah sakit karena Arka menelponnya. Rosa memaksa pulang, tapi menolak diantar Arka.

“Ketika aku datang, dia sedang menunggu taksi di lobi. Mana anak itu?”

“Langsung masuk ke kamar. Dan langsung menguncinya.”

“Aku juga tidak tahu ada apa, mungkin bertengkar dengan Arka. Coba nanti ibu tanya lagi, aku harus kembali ke kantor."

“Kan dia harusnya sudah tahu kalau Arka tidak suka sama dia? Dasar tidak tahu malu. Untuk apa mengejarnya? Dunia begitu luas,” omel bu Daryono sambil mengantarkan suaminya yang akan kembali ke kantor

Ketika pak Daryono pergi, bu Daryono mengetuk pintu kamar Rosa.

“Rosa, buka pintunya. Mengapa dikunci?”

Berkali-kali mengetuk, tapi Rosa tak segera membukanya.

Bu Daryono berteriak, tampaknya kesal.

“Rosa! Buka pintunya tidak? Atau Mama suruhan orang untuk menjebolnya?”

Mendengar perkataan sang mama, Rosa segera membuka pintunya. Matanya sembab, sepertinya habis menangis.

“Ada apa kamu ini?”

Rosa diam. Sesungguhnya dia memang pernah menggugurkan kandungannya saat masih di luar negeri. Tapi dia sama sekali tak mengira, dokter itu mengatakannya, tepat saat Arka sedang ada di dekatnya. Rosa sama sekali tidak tahu bahwa dokter itu tanpa sengaja telah membuka aibnya. Kalau tahu begitu pasti ia tak akan mengajak Arka bersamanya. Ia mengajaknya karena dokter itu mengatakan bahwa dia sebaiknya datang bersama suaminya. Apa boleh buat, dia harus meminta tolong Arka agar mau mengakuinya sebagai istrinya. Siapa mengira semuanya menjadi runyam.

“Rosa, Mama sedang bertanya sama kamu,” kata bu Daryono sambil menarik lengan Rosa, diajaknya duduk di sofa.

“Tidak apa-apa Ma.”

“Kamu bertengkar sama Arka? Dia itu bukan siapa-siapa kamu, apa yang kamu inginkan dari dia?”

Rosa diam, rupanya orang tuanya mengira dia sedang bertengkar dengan Arka. Syukurlah, kata batinnya. Tapi bagaimana nanti kalau mereka bertanya pada Arka?

“Mengapa kamu pulang paksa?”

“Rosa sudah merasa sehat. Nggak mau lagi dirawat.”

“Kemarin kamu masih mengeluh sakit perut.”

“Sudah tidak. Capek berbaring terus menerus.”

“Mama sungguh tidak bisa mengerti kamu. Banyak hal yang Mama tidak mengerti.”

“Rosa baik-baik saja.”

“Baiklah, sekarang istirahatlah. Dan satu pesan Mama, jangan berharap akan Arka. Kamu harusnya punya rasa malu.”

Dan Rosa memang sedang merasa malu. Gadis cantik, pernah menggugurkan kandungan, dan tidak akan bisa punya anak selamanya. Lalu ada yang mengetahuinya, orang yang selalu didambakan agar bisa menjadi pendampingnya. Sekarang apa?

“Istirahat sana, jangan banyak pikiran.”

Rosa memasuki kamarnya dengan pikiran yang sangat memberati hatinya. Kegagalannya mendapatkan Arka, sudah jelas. Upaya apapun tak akan bisa mempersatukannya dengan Arka. Tak mungkin Arka mau memperistrinya setelah tahu apa yang terjadi. Tapi ada satu keinginan Rosa. Kalau dirinya tak bisa memiliki Arka, maka orang lainpun tidak. Jangan sampai. Geram Rosa.

***

Hari terus berjalan. Rosa tak pernah menghubungi Arka. Arka juga tak pernah mengingat ataupun mempedulikan apa yang terjadi pada Rosa. Ia bukan orang yang suka menebarkan aib siapapun, jadi kejadian yang diketahui tanpa sengaja itu tetap terpendam hanya di dalam hatinya.

***

Senja sudah baik-baik saja. Arka hanya menjemput pergi dan pulang sekolah selama dua hari, selebihnya Senja sudah bisa menggenjot sepeda sendiri.

***

Sekarang Senja sudah lulus dengan nilai cemerlang. Para guru memberi saran agar dia mendaftar ke universitas dengan bea siswa. Tapi Senja menolaknya. Ia lebih mementingkan membantu simboknya mencari uang agar beban sang simbok lebih ringan. Bahkan saran Arka agar dia melanjutkan kuliah diabaikannya. Simbok semakin tua, dan keinginan untuk menjadikan Rimba orang yang berhasil harus didukungnya.

Karenanya ia mulai mencari pekerjaan.

Tak jauh dari rumahnya ada sebuah lahan luas yang kabarnya akan dijadikan sebuah perumahan elite.

Senja membawa berkas lamaran, dan mencari di mana dia bisa memberikan lamarannya. Sudah ada beberapa rumah yang sudah jadi, tapi masih banyak yang berupa lahan kosong. Senja nekat memasuki lahan itu, lalu mendekati seseorang yang sedang bekerja, menanyakan di mana kantornya. Tiba-tiba mata Senja terbelalak. Ia melihat seseorang. Laki-laki setengah tua yang masih gagah itu pernah dikenalnya. Ia sedang berjalan sambil merangkul seorang perempuan muda yang sedang hamil. Kelihatan perutnya membuncit walau belum begitu besar.

Senja mengucek matanya. Takut penglihatannya salah.

“Bukankah itu ayah mas Arka?”

***

Besok lagi ya.

Sunday, July 5, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 007

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  007

(Tien Kumalasari)

 

Laki-laki itu Baroto, yang kemudian membawa kudanya mendekati Menur.

Menur terpana. Peristiwa belasan tahun yang lalu melintas kembali, ketika seorang penunggang kuda terjatuh di depannya, lalu dia menolongnya dan memapahnya ke rumah yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya. Sekarang penunggang kuda itu ada di depannya, hanya saja dia tidak terjatuh. Ia sedang menatapnya tajam, membuat hati Menur bergetar. Ia memarahi dirinya sendiri yang begitu lemah. Ia merasa tidak harus begitu. Ia sedang berhadapan dengan bintang di langit tinggi, sedangkan dirinya adalah kerikil kecil tak berharga. Menur menatap ke arah lain, tapi ia terkejut ketika tiba-tiba penunggang kuda itu melompat ke arahnya, lalu terjatuh. Ah, kuda itu sedang berhenti dan sia sepertinya sudah begitu mahir menunggang kuda. Lalu bisa terjatuh? Menur bukan orang bodoh. Kejatuhan itu jelas dibuat-buat. Menur tak peduli. Dengan menguatkan hatinya dia melangkah pergi. Tapi Baroto berteriak memanggil, begitu memelas.

“Menur, tolong … kakiku terkilir …”

“Ah … modus …” Menur masih berpikir begitu ketika kemudian tak terdengar apa-apa, lalu ketika ia menoleh, melihat Baroto sedang berusaha duduk dengan susah payah, lalu memijit-mijit kakinya.

Menur membalikkan badan, mendekat ke arah Baroto.

“Kamu pura-pura kan?”

“Ya aku pura-pura, pergilah dan jangan pedulikan aku,” kata Baroto dengan wajah muram.

Tapi Menur melihat memar biru di pergelangan kaki Baroto.

“Kamu terkilir?”

“Tidak apa-apa, pergilah.”

Menur bergegas pergi ke rumahnya, yang tidak jauh dari tempat itu. Ia mengambil minyak gosok yang selalu disimpannya, karena saat malam ia sering merasa pegal-pegal di kaki.

Ia segera kembali untuk memberikannya kepada Baroto, tapi ia tertegun, melihat Baroto sudah berada di atas kudanya lalu memacunya menjauh.

Menur menyesal sudah mengacuhkannya, dan menuduhnya berpura-pura. Ada rasa tak enak dirasakannya.

***

 Baroto memasuki rumahnya dengan kaki terpincang-pincang. Seperti biasa, istrinya tak ada di rumah. Mungkin pergi ke kantornya, atau pergi bersama teman-temannya, Baroto tak peduli. Tapi Ana yang menyambutnya berteriak dari luar.

“Papaaaa, mengapa makanan masih tergantung di pelana kuda? Papa tidak ketemu bibi Menur?”

Baroto baru ingat, Ana menitipkan makanan untuk Menur. Ana ingin ikut, tapi hari ini jadwal sekolah. Tapi suasana ketika bertemu Menur sungguh tak mendukung. Ia sangat kecewa karena Menur kelihatan tak peduli. Apakah tak ada lagi cinta tersisa di hatinya?

“Papaaa,” Ana menggoyang-goyang lengan ayahnya.

“Maaf Ana, papa tidak bertemu.”

Satu-satunya jalan yang pas adalah berbohong. Hal yang sebenarnya tidak disukai Baroto.

“Papa bilang sudah pernah mengikuti bibi Menur dan sudah tahu rumahnya?”

“Iya, mungki sudah berangkat bekerja.”

“Papa juga tidak mengajaknya menemui Ana?”

“Kan tidak ketemu, bagaimana bisa mengajak.”

“Kalau begitu cari lagi.”

Kalau tak ada hubungannya dengan Menur, mana mungkin Baroto menuruti kemauan Ana untuk menemui Menur. Ia selalu menghentikan rengekan Ana dengan pemberian-pemberian, seperti juga istrinya. Terkadang mengajaknya belanja barang-barang yang disukai Ana, atau makan es krim kesukaan Ana. Tapi saat ini yang diinginkan Ana adalah Menur, dan Baroto juga menginginkannya.

“Baiklah, tapi papa mau mengobati kaki papa dulu. Suruh Rumi mengambil obat gosok di almari obat.”

“Papa terluka?”

“Hanya terkilir, sakit sedikit.”

“Bik Rumiiiii, ambilkan minyak gosok di almari obat,” Ana berteriak.

Baroto menyandarkan tubuhnya di sofa. Bayangan Menur yang mengacuhkannya sangat menyakitinya. Setega itukah Menur terhadapnya?

Baroto sama sekali tak tahu, bahwa Menur sedang berjalan ke arah perumahan di mana Baroto tinggal, sambil membawa obat gosok yang tadi diambilnya

Baroto masih bersandar di kursi malas, kerika Rumi memberikan obat gosok yang diminta. Ia berjongkok di hadapan tuannya, sambil membuka tube obat itu. Baroto langsung mengalihkan kakinya ke samping.

“Mau apa kamu?”

“Mau menggosok kaki Tuan, yang sakit sebelah mana Tuan.”

“Nggak … nggak ada, sudah tinggalkan obat itu di meja,” kata Baroto yang agak risih. Akhir-akhir ini Rumi melayaninya agak berlebihan. Baroto merasa ada yang aneh. Dan kalau Rumi suka? Siapa yang salah? Jatuh cinta itu kan tidak memandang derajat dan kedudukan. Haa, jatuh cinta? Apa Rumi sudah kerasukan setan cinta dan lupa pada siapa dirinya? Tapi walau tak mengakui, Baroto tahu apa yang dipikirkan Rumi. Dia sadar, wajahnya ganteng, berewok tipis yang menghiasi wajahnya menunjukkan bahwa dia laki-laki yang matang. Banyak perempuan suka, tapi kemudian wajah Baroto menjadi muram. Mengapa Menur tak peduli padanya? Bukankah dia cinta pertamanya, dan bagi Baroto sendiri, Menur juga cinta pertamanya.

Baroto masih belum meraih obat gosok itu, ketika Rumi kembali datang dengan membawakan segelas jus buah yang dia buat.

“Siapa yang menyuruh kamu membawakan jus ini? Ini bukan pekerjaanmu kan? Pekerjaan kamu itu melayani Ana.”

“Maaf Tuan, hanya kasihan melihat Tuan kepanasan.”

Baroto tak menjawab, dia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar Rumi pergi.

Rumi mengundurkan diri dengan wajah muram.

“Siapa suruh juragan begitu ganteng. Sudah begitu, istrinya nggak perhatian. Ada suami jarang pulang, ketika pulang bukannya ditemani malah pergi bersenang-senang. Kasihan kan tuan? Siapa tahu, kalau aku melayaninya dengan baik, maka dia juga perhatian sama aku,” pikir Rumi yang kemudian memukul pipinya sendiri ketika sadar akan perasaannya.

“Kenapa pipimu?” tiba-tiba pelayan lain menegurnya, membuatnya terkejut.

“Eh … ini … seperti ada nyamuk …” jawabnya sekenanya.

“Nyamuk … nyamuk, mana ada rumah sebersih ini ada nyamuk,” omelnya.

Rumi tak menggubris. Ia masih asyik melamunkan majikannya yang bersikap tak acuh kepadanya.

“Mengapa tiba-tiba aku begini? Apakah karena kali ini tuan pulang agak lama, sehingga aku sering menatap wajahnya? Sungguh, biasanya tidak begini.”

Tiba-tiba Rumi melihat Ana keluar dari kamar, mendekati sang ayah. Wajahnya masih tampak marah.

“Papa, bagaimana kalau kita pergi mencari bibi Menur?”

“Bukankah kamu harus sekolah hari ini?”

“Bu guru bilang datang terlambat.”

“Tapi tidak baik kalau kamu pergi.”

“Papa tidak menepati janji. Itu makanan buat bibi Menur, mengapa dibawa pulang?”

Baroto terdiam, rupanya Ana masih memikirkan makanan yang sedianya akan diberikan Menur. Baroto lupa, lalu mengatakan kalau tidak ketemu. Lalu nyeri di pergelangan kaki itu terasa lagi. Baru saja dia meraih tube obat gosok itu, seorang pembantu masuk dari arah depan.

“Tuan, ada yang memberikan ini,” kata pembantu itu.

Baroto mengawasi benda yang dipegang pembantunya, dan diberikannya kepadanya. Sebuah obat gosok? Tapi wadahnya botol kecil.

“Ini apa? Siapa yang memberikannya?”

“Seorang perempuan, kelihatannya pemulung.”

Baroto terkejut. Apa itu Menur?

“Apa katanya?”

“Dia hanya bilang, obat untuk tuan Baroto, lalu pergi.”

Baroto menggenggam botol pinyak gosok itu, kemudian berjalan keluar dengan terpincang-pincang. Ia langsung pergi keluar, dan berdiri di pinggir jalan sambil mengawasi ke mana arah perginya Menur.

Tapi ia tak melihat siapapun. Ia berniat mengambil mobil untuk mencarinya, tapi tiba-tiba mobil sang istri memasuki halaman.

Baroto kembali memasuki rumah, botol itu masih digenggamnya. Ia kembali duduk, dan berpikir mencari alasan untuk pergi, ketika sang istri mendekatinya.

“Itu apa Mas?” sang istri menanyakan tentang botol yang dibawa suaminya.

“Ini, obat gosok, kakiku terkilir.”

“Kok bisa?”

“Ketika aku jalan-jalan naik kuda, lalu turun, jadi terkilir deh.”

“Seperti lagi belajar saja,” katanya sambil mengambil botol kecil yang dibawa suaminya.

“Obat apa ini? Ini kan obat murahan? Mas beli?”

“Tidak, dikasih orang,” nah Baroto keceplosan.

“Siapa yang memberi.”

“Itu. Pembantu yang tukang bersih-bersih.”

“Sumi?”

“Iya.”

Nyonya Baroto segera berjalan sambil membawa botol kecil itu, untuk mencari Sumi. Baroto menyesali jawaban yang tadi diberikan.

“Kamu yang memberikan obat gosok untuk tuan? Kenapa obat murahan kamu berikan untuk tuan?”

“Buk .. bukan saya, itu .. diberikan seorang pemulung.”

Sang nyonya majikan tertegun.

***

Besok lagi ya.

 

NAMAKU TETAP SENJA 45

  NAMAKU TETAP SENJA  45 (Tien Kumalasari)   Wajah Senja sumringah, setengah berlari mendekati mobil. Ia merasa berhutang nyawa pada Rosa, j...