Sunday, September 27, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 019

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  019

(Tien Kumalasari)

 

Menur masih terpana mendengar perkataan pak kepala sekolah. Seakan tak percaya akan apa yang dikatakannya.

“Bu, memang begitulah adanya. Pak Baroto sudah kenal saya sejak lama. Beliau ikut membantu ketika sekolah ini direnovasi. Dia teman sekolah saya waktu SMA, jadi dia sangat mempercayai saya,” kata kepala sekolah itu panjang lebar. Padahal Menur tidak menanyakan tentang hubungan Baroto dengan kepala sekolah itu. Ia hanya sangat terkejut atas apa yang dilakukan Baroto kepada Rahman.

“Nama saya Irwan.”

Menur juga tak menanyakan namanya.

Untunglah dulu ketika membayarkan uang sekolah Rahman dia tidak memperkenalkan dirinya sebagai pembantu Rahman seperti permintaan Rahman. Hanya membayar begitu saja dan pihak sekolah juga tidak menanyakan siapa dirinya. Karena itu kepala sekolah kelihatan menghormati Menur, yang pastinya dianggap sebagai kerabat Baroto, atau bahkan istrinya. Apalagi waktu itu Menur berpakaian rapi, jauh bedanya ketika masih menjadi pengais sampah. Kepala sekolah hanya berpikir, Baroto melakukannya tanpa sepengetahuan istrinya, sehingga sang istri terkejut.

“Bu, apakah masih ada yang akan Ibu tanyakan?” kata Irwan sang kepala sekolah ketika melihat Menur masih termangu.

“Oh, tidak … tidak lagi. Baiklah kalau begitu, terima kasih. Saya permisi.”

Menur mengangguk kemudian meninggalkan kantor sekolah dengan perasaan tak manentu. Ia sangat kesal kepada Baroto karena melakukan banyak hal untuk Rahman tapi tanpa sepengetahuan dirinya.

“Aku harus menegurnya nanti,” geramnya sambil melangkah ke rumah keluarga Baroto. Tapi apakah akan ada kesempatan untuk bicara? Menur meragukannya sehingga ia merasa gelisah sendiri.

***

Lili masih belum berangkat kerja ketika Menur datang. Menur langsung mendekat dan meminta maaf.

“Maaf, saya datang terlambat karena harus mampir ke sekolah anak saya,” katanya lembut. Selalu begitu kalau dia berkata.

“Tidak apa-apa. Ana sedang menunggumu di kamar. Dia belum mau mandi, walau sudah makan pagi,” kata Lili datar.

Baroto yang ada di dekatnya agak terkejut mendengar kalau Menur terlambat datang karena mampir ke sekolah anaknya. Pasti ia sudah tahu apa yang dilakukannya. Tapi sedikitpun Menur tak menoleh padanya, hanya berbicara pada Lili, lalu menuju ke kamar Ana.

Baru saja ia memegang gerendel pintu kamar Ana, Rumi datang dari belakang dan menghardiknya.

“Mengapa baru datang? Mentang-mentang dekat dengan majikan, bekerja semaunya,” katanya ketus.

“Aku sudah minta ijin sebelumnya. Ada urusan di sekolah anakku,” kata Menur mencoba sabar. Tak ketinggalan sambil mengulaskan senyuman.

“Enak saja, mentang-mentang bisa menyekolahkan anak … lalu ….”

Tapi ucapan Rumi terhenti ketika melihat tuannya lewat dan menatapnya dengan pandangan marah. Tuh kan, tuan Baroto tak akan rela Menur disalah-salakan, kata batin Rumi sambil ngeloyor ke belakang.

Tapi tanpa diduga, Baroto mengikutinya dari belakang sampai ke kamar makan.

“Menur bukan pembantu. Dia masih kerabat keluarga ini. Jaga mulut kamu,” pedas kata Baroto, membuat Menur menoleh ke belakang dan berkali-kali meminta maaf.

“Maaf, Tuan, maaf,” katanya kemudian bergegas pergi.

Ketika melangkah itu terpikir olehnya perkataan tuannya tentang ‘kerabat’. Jadi Menur itu masih kerabat? Mengapa nyonya majikan tak pernah memberi tahu kepadanya?

“Mas, kamu ngapain?” tiba tiba Lili menyusul ke ruang makan.

“Mau mengambil minum,” jawab Baroto, padahal dia tadi melihat Rumi berbicara sengit kepada Menur, yang walaupun pelan tapi wajahnya sangat tidak sedap dipandang. Karenanya dia pura-pura lewat dan sempat menegur Rumi.

“Aku berangkat dulu ke kantor.” tiba-tiba Lili menyusulnya.

Baroto menoleh, lalu mengikuti istrinya yang berjalan ke depan. Tumben pamit, pikir Baroto. Lili juga melambaikan tangannya ketika masuk ke mobilnya dan mulai menjalankannya. Agak mengherankan sikapnya hari ini. Hanya saja  Baroto lupa mengatakan kalau besok pagi dia akan kembali ke luar negri.

***

Di kamar Ana, Lili sedang menegur Ana karena kembali mogok tidak mau mandi hanya karena menunggu dirinya.

“Ana kan sudah berjanji untuk tidak merubah kebiasaan walaupun bibi Menur ada di sini? Biar bibi Menur belum datang, kalau waktunya mandi juga harus mandi kan?”

“Ana takut bibi Menur tidak akan datang,” sungut Ana.

“Bibi hanya bilang terlambat, karena sedang ada keperluan di sekolah Rahman.”

“Tapi terlambatnya lama benar.”

“Karena harus bicara agak lama.”

“Nanti Ana tidak mau sekolah di rumah. Ana mau sekolah di sekolah Rahman.”

Tiba-tiba kamar Ana terbuka, dan Baroto muncul tiba-tiba.

“Papa, nanti Ana boleh sekolah di sekolahnya Rahman ya?”

Baroto tersenyum.

“Nanti kalau ajaran baru kita bicara lagi.”

Lalu Baroto berbisik di telinga Menur.

“Maaf, aku tadi ke sekolah Rahman.”

Menur tak menjawab, karena Ana memperhatikan. Ia melangkah menjauh, membetulkan baju Ana yang belum ditalikan. Tapi dibalik pintu yang sedikit terbuka, Rumi melihat ketika Baroto berbisik ke telinga Menur.

***

Menur sudah selesai mendandani Ana, kemudian mengajak Ana keluar dari kamar. Ketika melewati Baroto ia sempat menegur dengan suara lirih, tapi tandas.

“Aku tidak suka kamu melakukan semua itu.”

Lalu ia bergegas keluar, tapi sebelum sampai di pintu, ia mendengar Baroto berkata lirih juga, tapi cukup mengejutkan Menur.

“Karena dia anakku.”

Tangan Menur gemetar. Ketika sampai di luar, Menur melihat Rumi bergegas pergi.

“Bik Rumi tadi ngapain? Aku lihat berdiri di luar pintu.” kata Ana.

Mendengar itu, Baroto yang masih terpaku di dalam kamar segera keluar.

“Kamu mengintip?" Tegurnya keras.

“Tii … tidak Tuan, saya sebenarnya … mau .. mau mengambil baju kotor non Ana,” kata Rumi memberi alasan.

“Jaga sikap dan bicaramu.” tegurnya tandas.

Rumi hanya mengangguk, lalu bergegas pergi.

Ana duduk di ruang tengah, menarik tangan Menur agar duduk di sampingnya.

“Ana sudah makan?”

“Sudah, tadi bareng sama papa, sama mama. Bibi Menur belum datang-datang sih.”

“Besok bibi akan datang lebih pagi.”

“Nanti Ana sekolah.”

“Iya, bibi juga ingat. Ana duduk di sini dulu, bibi mau bereskan meja belajar dan buku-buku Ana ya.”

Ana mengangguk. Baroto mengambil sebuah boneka Ana di kamar, lalu memberikannya kepada Ana.

“Main dulu sendiri. Biar bibi Menur menyelesaikan tugasnya.”

Ana mendekap bonekanya dan mengangguk.

Baroto masuk ke ruang belajar Ana, melihat Menur merapikan meja belajar.

“Besok aku mau kembali ke luar negri.”

Menur mengangkat wajahnya sebentar, lalu kembali menata buku dan alat tulis Ana.

“Dari mana kamu yakin kalau Rahman anakmu? Hanya kira-kira? Aku harap jangan ngawur.”

“Tidak, aku sudah tes DNA, dan benar bahwa Rahman adalah darah dagingku.”

Menur kembali menatap Baroto.

“Tes DNA?"

"Yaa.. maaf aku lakukan diam-diam."

"Lalu apa? Kamu mau mengambilnya dariku? Jangan mimpi.”

“Aku hanya ingin bertanggung jawab pada darah dagingku. Memberikan yang terbaik, dan menjadikannya orang, seperti yang kamu inginkan.”

“Lalu apa?”

“Kalau mungkin aku akan menikahi kamu secara resmi.”

Menur terbelalak.

“Jangan membuat aku menjadi perempuan perusak rumah tangga.”

“Tapi kamu masih cinta kan?”

“Tidak.”

“Suara yang keluar dari bibirmu tidak kompak dengan pandangan matamu.”

Menur sudah selesai membereskan meja belajar Ana, lalu bergegas keluar. Tapi Baroto memegang tangannya.

“Jangan lancang.”

Menur menatap Baroto dengan tatapan marah. Ia mengibaskan tangannya, lalu keluar. Tapi lagi-lagi di luar ia berpapasan dengan Rumi.

“Oh, maaf. Meja belajar sudah disiapkan?” tanyanya. Tentu saja pura-pura. Ia sudah tahu kalau setiap kali Menurlah yang melakukannya.

“Sudah.”

Ketika mau pergi, ia melihat Baroto ada di dalam ruang belajar itu. Banyak hal sudah dicatatnya. Mulut monyongnya siap melaporkannya kepada nyonya majikan.

***

Hari itu Lili pulang dari kantor. Masih agak sore, tidak seperti biasanya. Ia meletakkan bungkusan-bungkusan yang tampaknya berisi makanan di meja, lalu berteriak memanggil pembantu.

“Mboook, bawa makanan ini ke belakang, sekalian tata di meja makan,” titahnya.

Sang pembantu tidak menunggu diperintah dua kali, ia segera melakukannya.

Kemudian Lili menuju ke kamar Baroto. Dilihatnya Baroto sedang berkemas.

“Mas, sedang apa?”

“Besok aku berangkat, sudah pesan tiket pesawat juga.”

“Kok buru-buru?”

“Beberapa hari yang lalu kamu bertanya, kok di sininya lama, sekarang mengatakan kalau aku terburu-buru,” tegur Baroto.

“Tiba-tiba masih ingin Mas ada di sini,” katanya agak pelan, sedikit malu.

“Sudah lama meninggalkan pekerjaan.”

“Kan bisa dipantau dari sini?”

“Ya, tentu itu aku lakukan.”

Baroto menutup kopor yang sudah disiapkan, lalu beranjak keluar.

“Aku beli makanan kesukaan Mas. Sate buntel di rumah makan yang terkenal enaknya. Sebenarnya sekali waktu ingin mengajak Mas makan di sana.”

Baroto merasakan keanehan sikap Lili di beberapa hari terakhir ini. Tapi dia membiarkannya. Ia juga menuruti makan bersama sang istri dengan sate yang dibelikannya.

Ana sudah makan sejak sore sebelum Menur pulang, karena ia tak biasa tidur terlampau malam. Lagipula mamanya selalu pulang malam, di mana Ana pasti sudah mengantuk.

Malam itu Baroto sudah mendahului masuk ke kamar, karena besok harus berangkat pagi-pagi.

Ada yang berat untuk ditinggalkannya, yaitu keberadaan Menur. Mengapa susah sekali merebut kembali hati Menur? Baroto lupa bahwa Menur adalah wanita santun yang tak mau sembarang bertindak.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Lili langsung masuk lalu menutup kembali pintunya.

“Mas, aku boleh tidur di sini ya?”

“App..pa?” Baroto terkejut.

“Aku takut, tiba-tiba mimpi buruk."

***

Besok lagi ya.





Saturday, September 26, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 16

 DARAH CINTA DAN AIRMATA  16

(Tien Kumalasari)

 

Fajar menatap OB gendut itu dengan heran. Dan si OB yang bernama Panut itu cuma cengar cengir seakan mengejeknya.

“O, rupanya kamu belum pernah masuk ke ruang direksi ya, lalu ketika kamu mau masuk lalu berpakaian seperti itu. Bagus sekali, dari mana kamu pinjam baju dan jas itu? Gila, kamu sudah seperti direktur muda. Kamu nyewa ya? Di mana, aku mau ikutan ah, minggu depan kakak sepupuku jadi pengantin,” dan si gendut itu terus mengoceh sambil memandangi Fajar dari depan, samping dan belakang.

Fajar diam beberapa saat dan menatap ulahnya yang aneh.

“Kamu belum pernah melihat putra pak Pranoto ya?”

“Putra pak Pranoto? Ya belum, memangnya kenapa?”

Pada saat itu tiba-tiba Bimo muncul sambil membawa baki kosong. Ia baru membawa minuman untuk para staf. Melayani direktur utama bukan bagiannya.

Ia heran melihat Panut cengar-cengir sambil memandangi seseorang, dan Bimo terkejut ketika melihat siapa orang itu.

“Mas Fajar?”

“Bimo, kamu di sinii?” katanya sama-sama terkejut.

Dan Panut tiba-tiba menjadi surut. Ia terbelalak menatap keduanya, lalu sadar bahwa yang diganggunya bukanlah Bimo.

“Si … siapa ini? Maaf, say … saya kira Bimo. Kok persis banget,” katanya sambil mundur menjauh, takut barangkali laki-laki yang dipanggil Bimo itu akan menghajarnya.

“Kamu bekerja di sini Mas Bimo?”

“Iya, saya OB. Mas Fajar ke sini mau mencari siapa? Ruang direktur di situ,” kata Bimo sambil menunjuk ke arah ruang pak Pranoto.

“Iya, aku masuk dulu. Nanti kita bicara,” kata Fajar sambil tersenyum, kemudian masuk ke ruang sang ayah.

Adalah si gendut Panut yang kelimpungan, ia berdiri mematung dengan mulut melongo.

“Hei, tutup mulut kamu, nanti ada cicak masuk ke dalamnya baru tahu rasa kamu,” ledek Bimo.

Panut sontak menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Ini bagaimana? Aku bingung ,… itu tadi siapa? Aku kira kamu menyewa pakaiaan bagus gara-gara mau ketemu pak Pranoto.”

“Aku juga belum tahu.”

“Tapi sepertinya kalian sudah saling kenal. Itu saudara kembar kamu?”

“Gila apa? Aku ini miskin, masa saudara kembar aku ganteng gagah seperti itu. Itu kan potongan orang kaya. Ke mana-mana dia pakai mobil.”

“Tapi kamu seperti sudah saling kenal? Bagaimana mungkin wajah kalian bisa persis seperti itu?”

“Aku juga tidak tahu. Beberapa orang mengatakan itu. Sudah, aku mau melanjutkan pekerjaan aku.”

“Bukannya kamu disuruh menunggu oleh tamu itu tadi? Katanya dia mau bicara.”

“Tapi aku masih harus mengantarkan minum ke bagian logistik.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Kalau dia butuh, pasti juga akan mencari kamu.”

Dan mereka berpisah, Panut melanjutkan pekerjaannya sambil terus berpikir tentang tamu yang dikiranya Bimo, dan diledeknya habis-habisan. Ada rasa takut kalau tamu itu marah lalu melaporkannya kepada pak Pranoto.

“Bagaimana kalau aku dipecat?”

***

Di dalam ruangan, pak Pranoto sedang bicara serius dengan Fajar. Ada sebuah kantor cabang yang harus ditangani, dan letaknya ada di kota lain.

"Hari ini kamu harus berangkat ke sana, dengan membawa berkas-berkas yang sudah disiapkan sekretaris. Sudah ada yang aku percaya untuk memegang kendali di sana, tapi kamu harus datang dan memperkenalkan diri, agar dia tahu bahwa ada anakku yang lebih aku percaya."

“Apakah Fajar harus berangkat hari ini juga?”

“Sebaiknya hari ini, supaya semuanya cepat selesai. Kalau oke, kamu bisa langsung pulang, tapi kalau kelihatannya masih ada yang harus kamu selesaikan, selesaikan dulu sampai selesai.”

“Baik. Tapi sebelum itu Fajar ingin bertanya. Bapak mempekerjakan seorang OB bernama Bimo?”

“Aku mendengar itu, tapi penerimaan OB itu bukan bapak yang menangani. Ia juga tidak bertugas di ruangan ini karena masih baru. Memangnya kenapa? Dia berbuat tidak sopan sama kamu?”

“Tidak. Dia baik. Coba Bapak panggil dia untuk masuk ke ruangan ini.”

“Memangnya kenapa?”

“Nanti Bapak akan melihat sebuah keanehan.”

Pak Pranoto memencet interkom ke arah ruangan OB dan memanggil Bimo.

Sambil menunggu itu pak Pranoto bertanya lagi, ada apa dengan Bimo?

“Bapak belum pernah melihatnya?”

“Belum, masalah OB itu sudah ada yang menangani. Memangnya ada apa?”

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, dan masuklah Bimo. Fajar menyambutnya tersenyum, lalu meraih lengannya, memintanya mendekat.

Pak Pranoto menatap keduanya yang berdiri berjajar, dan terkejut.

“Bagaimana wajah kalian bisa sama?”

“Fajar juga heran. Teman Fajar juga mengatakan itu.”

“Bedanya adalah, badan kamu lebih tegap dan Bimo ini … agak kurusan sedikit.”

Bimo menundukkan wajahnya. Ia bingung ketika dipanggil pimpinan tertinggi di perusahaan itu, dan heran karena hanya disuruh berdiri di dekat Fajar.

“Kamu mengenal dia?”

“Kenal, hanya sambil lalu, tapi bukan sekali atau dua kali yang mengatakan bahwa wajah kami mirip seperti kembar. Apakah dulu Fajar dilahirkan kembar?”

“Kamu ada-ada saja. Kalau bapak tahu bahwa bapak punya anak kembar, mana mungkin bapak terkejut ketika melihatnya. Tidak, kalian tidak kembar. Hanya sebuah keajaiban bahwa wajah kalian mirip. Bagus sekali Bimo, apa kamu tahu bahwa Fajar ini adalah anakku?”

Sekarang Bimo terkejut, tentu saja dia tidak tahu bahwa Fajar adalah anak majikannya. Ia langsung menjauhkan diri dari Fajar lalu membungkuk hormat.

“Mohon maaf, saya tidak tahu Pak.”

Fajar justru tertawa.

“Hei, ada apa kamu ini, kita tetap berteman. Tidak usah membungkuk-bungkuk begitu.”

“Tapi.”

“Tidak ada tapi, tetaplah bekerja dan sekarang lanjutkan pekerjaan kamu,” titah Fajar yang ditaati Bimo yang tentu saja susah menghilangkan sikap hormatnya. Fajar kan anak pimpinan tertinggi di perusahaan ini?

“Saya akan segera berangkat, tapi kalau boleh, apakah bisa Bimo ditempatkan di divisi yang lebih pantas”

“Maksudmu bukan OB?”

“Kalau Bapak tidak keberatan.”

“Akan bapak pikirkan, sekarang pergilah dan hati-hati.”

***

Sesampai di rumah sepulang dari bekerja, Bimo dengan sangat heboh menceritakan kepada sang ibu, bahwa anak pimpinan perusahaan di mana dia bekerja, wajahnya persis dengan dirinya.

“Wajahnya mirip kamu?”

“Bukan hanya mirip, persis Bu.”

Lalu Bimo menceritakan sambil tertawa-tawa, tentang rekan kerjanya yang mengira anak direktur utama itu dikira dirinya.

Saptari mengerutkan kening. Ia hanya tersenyum tipis ketika Bimo menceritakan hal yang baginya adalah lucu.

“Apakah Ibu melahirkan aku sebagai anak kembar?”

“Bimo, jangan bermimpi. Anakku ya hanya kamu itu.”

“Kok bisa ya Bu, ada orang wajahnya persis.”

“Allah itu Maha Kuasa, Maha Bisa. Mungkin saja wajah kalian sama, bukan hal aneh bagi Allah karena Dia yang menciptakannya. Sekarang mandi dan makanlah, tumben kamu cepat pulang, tidak bertemu Sarah dulu seperti biasa?”

“Gara-gara mengalami hal yang luar biasa tadi, jadi ingin segera pulang dan bercerita pada Ibu.”

“Ya sudah, tidak usah dipikirkan, mandi dan makanlah, Ibu sudah menyediakan makan kesukaan kamu.”

Bimo mengangguk. Ia berjalan ke arah kamar mandi, membiarkan sang ibu melamun di kursinya. Entah apa yang dipikirkannya.

***

Fajar hanya pulang sebentar, berpamit kepada sang ibu tentang tugas yang diberikan ayahnya, kemudian segera memanggil sopir untuk mengantarkannya bertugas.

Jalanan agak rame ketika ia melintasi sebuah tikungan. Pak Manan, sopir setengah tua itu mengendarai mobilnya pelan.

“Mengapa macet sekali ya Pak?”

“Sepertinya di depan ada kecelakaan.”

Lalu mobil yang dikendarai pak Manan sampai di jalan, di mana seorang laki-laki setengah tua bersandar di trotoar, dirubung orang-orang.

“Pak, sepertinya orang itu butuh bantuan. Bisakah kita membawanya ke rumah sakit?”

“Apa tidak kelamaan Pak, nanti terlambat sampai di kantor cabang.”

“Tidak apa-apa, kasihan sekali bapak itu. Berhentilah dulu.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Friday, September 25, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 15

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  15

(Tien Kumalasari)

 

Fajar turun dari mobilnya, lalu menatap Sarah yang wajahnya berseri-seri.

“Korannya masih ada berapa?”

“Memangnya Mas mau beli berapa? Beli koran seperti beli makanan saja,” omel Sarah sambil tersenyum. Tapi ia mengulurkan selembar koran kepada Fajar.

“Aku bilang semua.”

“Semua? Kamu ketularan Mentari ya, borong-borong koran?”

“Ada yang mau, trus nanti aku bagi-bagi.”

“Bener nih?”

“Ya bener, masa aku bohong sih?”

“Tinggal lima … eh, enam lembar.”

“Baik, mana, berikan padaku.”

“Bener nih?”

“Gimana sih kamu ini? Semua ya semua, ini uangnya.”

“Jangan bilang nggak mau menerima kembaliannya ya, tunggu.”

“Tidak usah, ini cukup.”

“Mas, kok gitu sih.”

“Lebih baik gitu, daripada gini,” canda Fajar.

“Kamu kemarin nggak jualan ya?” tambah Fajar.

“Iya, di rumah ada tamu.”

“Oh, tamu penting rupanya. Ngelamar kamu?”

”Iya.”

“Eh, selamat ya. Kapan nikah?”

“Jangan ngaco ah, sudah, sana pergi, aku mau pulang.”

“Pulang?”

“Iya pulang, kan dagangan sudah ada yang borong? Nenek pasti senang aku pulang lebih awal.”

“Sayang aku belum pernah ketemu nenek kamu. Waktu mengantarkan kamu malam-malam itu, aku kan nggak sempat mampir.”

“Memang nggak aku bolehin mampir. Kan sudah malam.”

“Kapan-kapan aku mau ke rumah kamu.”

“Jangaaaan.”

“Kok jangan.”

“Mau apa ke rumah aku? Rumahku jelek. Kamu nggak pantas masuk ke rumah orang miskin.”

“Kata siapa? Aku kan mau ketemu nenek kamu, bukan ketemu rumah kamu.”

“Sudah, pergi sana, aku mau cepat pulang.”

Fajar tersenyum, lalu melambaikan tangannya ke arah Bimo yang berdiri mematung di bawah pohon. Bimo membalasnya, sambil tersenyum juga.

***

Sarah kembali mendekati Bimo, ia ambil sisa air minumnya, lalu sambil ngelesot ia menenggaknya habis. Bimo menatapnya sambil tersenyum. Sarah merogoh sakunya dan menghitung uang pendapatannya.

“Banyak?” tanya Bimo.

“Lumayan. Bisa setoran dan mendapat sisa yang lumayan. Habis, mas Fajar tadi tidak mau menerima kembalian sih. Sebenarnya nggak enak juga, tapi dia memaksa, bagaimana.”

“Tidak apa-apa. Itu kan rejeki buat kamu. Dia baik sekali pada kamu ya.”

“Mas Bimo juga baik sekali padaku.”

“Tapi Aku tidak punya uang lebih untuk memborong koran kamu. Apalagi aku belum lama bekerja dan hanya sebagai pesuruh kantor. Kantor yang baru dibuka juga.”

Sarah terkekeh lucu.

“Mengapa bicara tentang memborong koran? Mas Fajar bilang korannya akan dibagi. Masa beberapa koran akan dibaca sendiri.”

“Dia hanya ingin membantu kamu.”

“Mas Bimo juga banyak membantu aku. Jangan dinilai uangnya. Apa yang mas  Bimo lakukan sangat berarti bagi aku. Mas Bimo salah satu sahabat aku yang terbaik.”

“Tapi aku miskin.”

“Apakah kebaikan dinilai dari kaya dan miskin? Kebaikan bisa berupa apa saja bukan? Mas Bimo terlalu merendah. Jangan berkecil hati ketika nasib membawa kita kepada hidup yang kekurangan atau pas-pasan. Dan jangan berbangga hati kalau memiliki harta yag berlimpah ruah. Manusia itu sama saja di mata Allah.”

“Ya ampun Sarah, kamu masih sangat muda tapi bisa bicara demikian bijak. Aku semakin kagum pada kamu.”

“Ada-ada saja, biasa ya, Aku kira mas Bimo juga punya pemikiran yang sama. Jangan dianggap aku menggurui, karena aku tahu bahwa mas Bimo sudah mengerti. Ayo kita pulang, sudah sore,” kata Sarah sambil bangkit.

Mereka berpisah, meninggalkan rasa tak menentu di hati Bimo. Ia melihat bagaimana Sarah menyambut Fajar. Begitu bersemangat, begitu segar senyumannya. Dan itu membuatnya semakin kecil.

“Apakah Sarah lebih tertarik pada Fajar yang lebih ganteng dan kaya?”

Sambil melangkah pulang, Bimo terus berpikir tentang cara Sarah menyambut kedatangan Fajar. Cemburu? Barangkali iya. Bukankah cemburu itu milik sebuah rasa cinta?

***

"Mas.. kok kamu ikut-ikutan aku memborong koran? Pasti koran dagangan Sarah kan?” kata Mentari ketika melihat sang kakak meletakkan setumpuk koran di atas meja.

“Iya, setiap kali dari kantor Aku kan lewat sana. Kasihan saja, korannya tinggal sedikit, lalu aku ambil semua.”

“Aku juga kasihan sama Sarah, pulang sekolah masih harus jualan koran. Apa nggak capek ya?”

“Ia ingin meringankan beban neneknya yang hanya tukang cuci di rumah tetangga.. Bukan main dia itu, aku kagum pada dia.”

“Jangan-jangan Mas jatuh cinta,” ledek Mentari.

Fajar terkejut mendengar olok-olok sang adik.

“Apa? Jatuh cinta?”

“Selama ini Mas tak pernah perhatian kepada gadis-gadis yang mendekati Mas, tapi mengapa perhatian Mas pada Sarah begitu besar? Pasti ada sesuatu nih.”

“Jangan asal menuduh.”

”Ada apa nih, kakaknya baru pulang kok langsung heboh," kata sang ibu yang tiba-tiba muncul.

“Ini lho Bu, mas Fajar ikut-ikutan memborong koran.”

“Memborong koran? Iya, Kamu juga bawa koran banyak nih.”

“Kasihan sama yang jual. Itu kan teman sekolahnya Mentari. Pulang sekolah langsung jualan koran, jadi karena kasihan, Fajar ikut memborongnya, supaya dia cepat pulang, tidak menunggu sampai korannya habis terjual.”

“Iya Bu, kasihan Sarah. Tapi sepertinya mas Fajar jatuh cinta nih, sama Sarah.”

“Apa? Ngaco kamu,” kata Fajar yang kemudian langsung pergi masuk ke kamarnya.

“Mentari, mengapa kamu mengira kakakmu jatuh cinta sama penjual koran itu?”

Mentari tertawa.

“Sarah itu polos, tapi cantik, dia juga pintar. Kalau mas Fajar suka sama dia ya wajar kan Bu. Buktinya setiap hari lewat di mana Sarah jualan koran. Dari membeli satu-satu, kemudian memborongnya, setelah kemarin lusa melihat Mentari memborongnya karena kasihan.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan Mentari. Masa kamu jodoh-jodohkan kakak kamu sama seorang gadis penjual koran?” kata sang ibu dengan wajah muram.

“Bukan menjodohkan Bu, hanya barangkali saja.”

“Jangan sampai aku punya menantu tukang jualan koran. Kasihan boleh, membantu juga bagus, tapi suka? Jatuh cinta? Amit-amit deh.”

“Ibu tidak suka?”

“Apa yang kamu pikirkan Tari, Kamu suka punya kakak ipar penjual koran? Tidak malu?"

“Ibu jangan marah dulu, Mentari hanya mengganggu mas Fajar.”

“Hanya mengganggu, kalau keterusan, lalu kakak kamu benar-benar suka, amit-amiiiit.”

“Dia itu cantik, pintar, baik kepada siapa saja lhoh Bu.”

“Tapi dia miskin kan?”

Mentari merengut, dia tak sependapat dengan ibunya, yang kelihatan merendahkan orang miskin. Tapi ia tak menjawab apapun lagi, sampai ibunya kembai ke arah belakang, dan Mentari pergi mandi.

***

Fajar bukan tak mendengar apa yang dikatakan sang ibu. Ada rasa miris yang mengiris. Walau belum mengakui kalau dia jatuh cinta, tapi ia suka pada gadis itu. Ia sangat gesit dan bersemangat. Dia tak malu melakukan hal yang tidak banyak dilakukan oleh gadis-gadis muda. Menembus keramaian jalan demi menjajakan dagangan koran, dan belum tentu ada yang membelinya juga.

Pertama kali melihat Sarah, ia hanya kasihan, lalu membeli selembar koran, tapi beli selembar koran itu kemudian menjadi kebiasaan. Ia bukan hanya berhenti di tengah jalan saat mengemudikan mobilnya sepulang kantor, tapi ia memerlukan minggir, hanya demi bisa melihat senyuman Sarah yang memikat. Mengapa juga hatinya tertarik? Fajar belum menemukan jawabannya. Seandainya kemudian rasa cinta itu perlahan tumbuh, ia tak yakin perjalanan cintanya akan mulus. Belum apa-apa sang ibu sudah menunjukkan rasa tak sukanya, dan itu akan sangat berat baginya untuk melangkah. Tapi benarkah dia jatuh cinta? Sampai malam dan ketiduran, Fajar belum menemukan jawabannya.

***

Hari itu Fajar pergi ke kantor ayahnya, yang agak jauh dari kantornya sendiri, walau setiap hari dilewati. Pak Pranoto yang meminta, karena akan ada tugas penting yang akan diberikannya.

Ketika memasuki halaman, dia menjadi perhatian para karyawan. Fajar belum pernah ke kantor sang ayah sejak sang ayah menduduki pimpinan di sebuah kantor cabang yang didirikannya.

Ketika ia hampir memasuki ruang kantor ayahnya, seorang OB menegurnya.

“Hei, Bimo, ada apa kamu berpakaian rapi seperti itu?”

Fajar berhenti melangkah. Ia tidak salah dengar kan? Tadi OB yang gemuk pendek itu memanggilnya Bimo?

***

Besok lagi ya.

Thursday, September 24, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 14

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  14

(Tien Kumalasari)

 

Sarah menatap sang nenek, yang tampak bersungguh-sungguh ketika mengatakannya.

“Jadi mas Bimo itu bukan anaknya bu Saptari?”

“Sejak masih bayi merah dia merawat Bimo, jadi sudah seperti anaknya sendiri, apalagi bu Saptari tidak punya seorang anakpun sampai suaminya meninggal.”

“Jadi sebenarnya mas Bimo itu anaknya siapa?”

“Entahlah, Nenek juga tidak tahu. Ketika itu dia baru pulang dari menjenguk orang tuanya di kampung sebelah, pulang-pulang membawa bayi dan kelihatan sangat senang. Kami hanya ikut senang, tapi tidak menanyakannya dengan jelas, Bimo itu sebenarnya anak siapa. Kalau ditanya dia hanya berkata bahwa bayi itu ditemukan saat jatuh dari langit, begitu.”

“Benar-benar jatuh dari langit?”

“Ya tidak, dia hanya bercanda, masa jatuh dari langit beneran.”

“Dan mas Bimo tahu tidak bahwa dia hanya anak angkat?”

”Ya tidak. Bu Saptari tidak mau mengatakannya. Pokoknya Bimo sudah dianggap sebagai anaknya sendiri yang dicintai seperti anak yang dilahirkannya."  

“Baik banget hati bu Saptari ya Nek?”

”Iya. Sangat baik. Tapi kenapa kamu menolak diambil menantu oleh dia? Nenek agak sungkan ketika kamu menolak, dia adalah sahabat almarhumah ibu kamu. Dia juga baik, Bimo sendiri juga baik.”

“Sarah belum memikirkan berumah tangga Nek, Sarah tidak suka membicarakan perjodohan.”

“Memang sih, bu Saptari hanya penjual nasi setiap pagi sampai siang, dan Bimo hanya bekerja di kantor, tapi seperti .. apa tadi … bu Saptari mengatakannya.”

“OB, Nek. OB itu pekerjaannya melayani pegawai-pegawai kantor. Ya membuatkan minum, disuruh-suruh, begitu. Tapi bukan itu yang membuat Sarah menolaknya. Sarah benar-benar belum ingin memikirkan berumah tangga, apalagi Sarah kan masih sekolah, belum lulus juga.”

”Tapi seandainya disuruh menunggu, mereka pasti juga tidak keberatan.”

“Jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti Nek, nanti mereka berharap dan Sarah belum benar-benar siap. Sarah memang belum mau memikirkan hal itu. Sarah masih ingin bekerja setelah lulus,” kata Sarah dengan wajah muram.

“Ya sudah, tidak usah marah begitu, Nenek juga tidak memaksa. Nenek percaya, kalau jodoh pasti tidak akan ke mana-mana."

“Sarah tidak marah. Masa Sarah marah sama Nenek?”

“Itu, wajah kamu cemberut.”

“Tapi bukan marah. Hanya belum ingin membicarakannya.”

“Baiklah, Nenek mengerti. Tapi kalau kamu bertemu Bimo, kamu jangan sampai menunjukkan sikap tidak suka. Kasihan dia. Maksudnya kan tulus.”

“Ya tidak Nek, mas Bimo sangat baik, dia tetap sahabat Sarah. 

***

Tapi Bimo menjadi sedih ketika sang ibu mengatakan tentang penolakan Sarah untuk dijadikan istrinya.

“Jangan sedih, Bimo. Jodoh itu memang tidak bisa dicari, kalau sudah saatnya, pasti dia akan datang menghampiri.”

“Apa mungkin karena pekerjaan Bimo yang tidak pantas, hanya seorang pesuruh kantor?”

“Jangan berpikir begitu. Tadi Sarah mengatakan kalau dia hanya belum ingin memikirkan soal berumah tangga. Kamu harus mengerti, Sarah memang masih sangat muda. Pastinya masih merasa aneh kalau memikirkan punya suami. Jadi kamu harus mengerti.”

Bimo hanya mengangguk. Ia tak percaya Sarah tidak menyukainya. Sikapnya sangat baik dan selalu menyenangkan. Masa tidak suka? Pikir Bimo berkali-kali.

“Bimo, kamu tahu kan, Sarah itu boleh dikatakan belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga? Kamu harus mengerti, kalau dia belum mau memikirkannya,” sambung bu Saptari ketika melihat Bimo diam saja. Agak sedih juga bu Saptari melihat wajah Bimo yang tampak kecewa.

“Iya Bu.”

"Jangan sampai karena penolakan ini lalu membuat hubungan kalian menjadi jauh. Tetaplah berteman, siapa tahu, pada suatu hari nanti dia mau membuka hatinya untuk kamu.”

“Setelah dia menolak, belum tentu dia mau Bimo dekati.”

“Belum juga dijalani, kamu sudah merasa gagal. Coba saja, besok pastinya dia juga jualan koran lagi. Tadi karena Ibu ke sana, dia tidak jualan koran. Ia ikut menemani neneknya menemui Ibu.”

“Pantesan tadi ketika Bimo pulang kerja tidak melihat dia.”

Bu Saptari tertawa.

“Jadi kamu tadi mencarinya?”

“Iya, tapi karena di rumah Ibu tidak ada, saya juga berpikir karena ada Ibu, maka dia tidak berjualan.”

“Ya sudah, sekarang Ibu mau menyiapkan dagangan untuk besok pagi. Ibu masih harus memasak juga, karena sesiang ini ada di rumah nenek Suli.”

“Mari Bimo bantu Bu, supaya cepat selesai.”

“Tidak usah, kamu kan capek, bekerja seharian. Biar Ibu melakukannya sendiri. Kamu istirahat saja sana.”

“Kalau hanya bantu mencuci alat-alat masak kan boleh Bu.”

“Ya sudah, nanti kalau sudah selesai Ibu panggil kamu. Kalau memasak Ibu sudah biasa masak sendiri, kan bahan-bahannya sudah Ibu siapkan sebelum berangkat ke rumah nenek Suli tadi.”

Bimo mengangguk. Walau kecewa, tapi ketika ibunya mengingatkan tentang Sarah yang belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga, ia kemudian bisa mengerti. Barangkali belum sekarang, tapi suatu hari nanti, siapa tahu Sarah akan jatuh hati padanya.

***

Keesokan harinya, sepulang kerja, Bimo tidak langsung berbelok ke gang yang menuju rumahnya. Ia melihat ke arah pohon sebelum perempatan, karena Sarah sering duduk di bawahnya menunggu lampu merah untuk menjajakan korannya.

Ia tak melihat ada Sarah di sana. Ia mendekat dan benar-benar tak melihatnya. Dengan rasa kecewa Bimo duduk di bawah pohon itu, memikirkan mengapa Sarah tidak jualan. Karena lamaran ibunya, lalu dia berjualan di tempat lain? Bimo jadi semakin sedih, lalu menyesal karena belum-belum sudah meminta sang ibu untuk melamar. Pasti Sarah kecewa lalu tak ingin bertemu lagi dengannya.

Bimo berdiri dan bermaksud pulang saja, tapi tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.

“Mas Bimo!”

Senyuman Bimo merekah, melihat Sarah datang sambil membawa setumpuk koran.

“Kamu baru datang?”

“Tidak, sudah dari tadi, aku membeli minum. Nih, mas Bimo mau?” kata Sarah sambil mengulurkan sebotol minuman ke arah Bimo.

“Tidak, untuk kamu saja, aku tidak haus.”

“Tumben aku agak haus, jadi beli minum ini dulu. Eh tunggu, lampu merah, nanti aku terlambat,” kata Sarah yang meletakkan botol minuman di atas tanah begitu saja, lalu lari ke jalan.

Bimo mengejarnya, mengambil beberapa lembar koran dan ikut menjajakannya.

***

Terengah-engah Sarah ketika kembali ke pinggir, lalu mengambil botol airnya dan ditenggaknya sambil ngelesot di tanah.

Bimo mendekat, memberikan uang untuk dua lembar koran yang laku dijajakannya.

“Wah, terima kasih Mas, untuk selalu membantu aku,” katanya sambil menerima uang dari Bimo.

“Aku tidak pintar menjual seperti kamu. Laku dua sudah alhamdulillah,” kata Bimo sambil ikut duduk di depannya.

“Eh, aku juga hanya laku dua tadi. Bukan karena aku pintar, tapi karena keberuntungan saja. Kalau untung ya banyak yang mau beli, kalau sedang tidak beruntung ya malah satupun tidak bisa laku. Ya ampun Mas, pasti Mas haus ya, aku tadi hanya beli sebotol, bekas aku minum, mana pantas, aku belikan lagi?”

“Tidak, aku tidak haus, habiskan saja. Rumahku kan dekat, jadi aku bisa minum di rumah.”

“Oh iya, jadi teringat kemarin. Aku mau minta maaf ya Mas, soalnya ketika bu Saptari bicara tentang perjodohan antara Mas dan aku, aku belum bisa menerimanya. Aku kan masih kecil Mas, belum mau memikirkan berumah tangga.”

Bimo tersenyum. Ia sudah bersyukur karena ternyata Sarah tetap bersikap biasa setelah lamaran yang diajukan ibunya.

“Tidak apa-apa Sarah, aku mengerti. Mungkin aku yang sangat tergesa-gesa.”

“Tetaplah bersahabat seperti ini Mas, aku masih tidak ingin memikirkan berumah tangga.”

Lampu merah menyala, Sarah bergegas ke jalan, tapi sebuah mobil menghadangnya.

“Sarah.”

Sarah berdebar. Mas ganteng yang kaya itu lagi?

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, September 23, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 13

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  13

(Tien Kumalasari)

 

Bu Saptari menatap sang putra tak berkedip.

“Ini beneran? Kamu pengin Sarah menjadi istri kamu?”

“Iya Bu, ini cinta pada pandangan pertama.”

“Ya ampun, jadi penasaran aku, seperti apa wajah Sarah sekarang. Kalau dulu sih bayi, tapi meskipun bayi sudah kelihatan kalau dia cantik. Bibirnya tipis, hidungnya mancung. Eh, apa dia masih lesung pipit ya pipinya? Dulu kalau tertawa kelihatan benar pipinya lesung pipit.”

“Masih Bu. Lebih menarik lagi senyumnya.”

“Kelihatannya kamu benar-benar suka sama dia. Tapi Bimo, biar aku beri tahu, kamu mencari istri itu jangan hanya karena dia cantik. Kalau bisa ya cantik wajahnya, cantik budi pekertinya. Walau wajahnya kurang cantik, kalau pekertinya baik, tidak apa-apa. Yang penting cantik di dalamnya, bukan hanya wajahnya.”

“Bimo tahu, dia gadis yang luar biasa. Dia menjual koran setiap pulang dari sekolah, demi mencari uang untuk membantu neneknya, untuk meringankan bebannya. Bimo tertarik sejak pertama kali melihatnya, lalu jatuh cinta ketika sering bertemu dia.”

Saptari tersenyum.

“Anakku sudah dewasa ….”

“Sudah pantas punya istri kan?”

“Sudah bisa memilih, mana yang terbaik untuk hidupnya. Ibu bangga sama kamu Nak. Ibu percaya, pilihanmu pasti tidak salah.”

“Kalau begitu, penuhilah permintaan Bimo ya Bu.”

“Tentu. Besok ketika warung tutup, ibu akan menemui nenek Suli di rumahnya. Beri tahu ibu di mana alamatnya.”

“Tidak menunggu Bimo pulang kerja?”

“Tidak usah, kelamaan. Siang sebelum kamu pulang Ibu pasti segera berangkat. Kamu cukup memberikan alamatnya.”

“Baiklah. Ibuku memang yang terbaik”

Saptari mengelus kepala sang anak penuh kasih sayang.

“Ini sebuah keajaiban. Barangkali kamu memang berjodoh dengan Sarah. Pertemuan kalian yang tidak terduga mengatakan segalanya.”

Bimo tersenyum. Mimpinya akan menjadi nyata. Bisa berdampingan dengan gadis yang dikaguminya. Tapi apakah ia mau menerimanya? Tadi didepan neneknya dia terang-terangan menolak dijodohkan.

“Tapi neneknya kan hanya setengah bercanda. Kalau bicara serius, mungkin hasilnya akan beda,” kata batin Bimo yang terus ber andai-andai.

***

“Fajar, ternyata kamu di sini? Ibu cari-cari di dalam rumah tidak ketemu,” kata bu Pranoto yang menemui Fajar di kebun, di bawah pohon rindang yang memang dipergunakan untuk bersantai di kala hari terasa panas.

“Cari angin segar Bu. Berada di ruangan ber AC terlalu lama juga kurang baik. Udara di sini lebih segar.”

“Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak, mengapa Ibu berpikir begitu?”

“Tadi kamu sedang melamun bukan?”

“Tidak, hanya sedang menikmati segarnya angin di bawah pohon rindang ini.”

“Iya benar. Memang di sini terasa segar. Sebetulnya Ibu ingin meminta kamu mengantarkan Ibu belanja.”

“Sekarang?”

“Tadinya iya, tapi mengingat udara begini panas, jadi segan.”

“Bukankah di dalam mobil ada AC, di toko juga pasti dipasang AC.”

“Suasananya yang tidak menyenangkan. Nanti malam saja ya.”

“Sebenarnya Fajar kan sedang liburan di hari Sabtu ini.”

“Benar, tapi nanti malam saja. Kamu tidak berencana untuk ke mana-mana kan? Tapi kalau kamu ada rencana mau bepergian ya tidak apa-apa. Besok Ibu pergi sama Mentari saja.”

“Rasanya Fajar tidak ingin pergi ke mana-mana.”

“Baiklah, kalau begitu nanti malam saja. Tapi Fajar, coba katakan pada Ibu, kamu tadi sebenarnya sedang memikirkan apa?”

“Kan Fajar sudah bilang kalau Fajar sedang menikmati segarnya angin?”

“Tidak, seorang ibu akan tahu apa yang terjadi pada anaknya. Kamu sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan pacar? Kamu sudah punya pacar? Pastinya sudah kan? Pilihlah gadis yang baik kalau kamu sudah merasa serius.”

“Ibu ada-ada saja.”

“Katakan pada Ibu, siapa gadis itu.”

Fajar tertawa.

“Tidak ada Bu, Fajar belum laku.”

“Masa? Anak Ibu yang ganteng dan pintar ini belum laku? Katakan gadis mana yang menolak didekati anakku ini.”

Fajar tertawa sambil merangkul ibunya.

“Apa kelihatan kalau Fajar sedang jatuh cinta?”

“Nah, benar kan? Katakan pada Ibu, siapa dia, anak pengusaha mana, nama ayahnya siapa.”

Fajar tersenyum tipis. Mendengar pertanyaan sang ibu tentang ‘pengusaha mana’, sudah bisa dipastikan bahwa orang tua pasti memilih keluarga yang sejajar dengan keluarganya.

“Bagaimana kalau dia bukan pengusaha?”

“Oh ya, apa dia seorang konglomerat yang sudah pensiun?”

“Dia gadis biasa.”

“Ya, tentu saja gadis biasa. Perempuan, yang pasti cantik. Tak mungkin pilihanmu gadis yang kurang cantik. Pastinya harus sepadan dengan kamu kan? Ganteng dan cantik?”

“Apa Ibu ingin aku memiliki istri seorang gadis kaya? Anak pengusaha? Anak konglomerat yang sudah pensiun?”

“Ibu kan bertanya sama kamu. Barangkali saja salah satu diantaranya.”

“Bagaimana kalau itu gadis biasa? Maksud Fajar anak orang biasa, tidak kaya, bukan pengusaha, bukan orang berada.”

“Apa maksudmu? Kamu menyukai gadis seperti itu?”

“Seandainya iya, apa Ibu akan menentangnya?”

“Fajar, di mana-mana orang pasti mencari pasangan yang sepadan. Apa kamu tidak memikirkannya?”

Fajar menghela napas. Sekilas perkataan sang ibu, ia sudah bisa menilainya. Artinya mencari pasangan harus sepadan. Artinya pula, ia harus sama kayanya dengan keluarga orang tuanya.

“Mengapa diam?”

“Tidak apa-apa. Fajar baru bilang ‘seandainya’."

“Jadi kamu belum menentukan pilihan?”

Fajar terdiam.

“Pesan Ibu, cari gadis yang baik. Bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Dan satu lagi, gadis itu sebaiknya sejajar dengan keluarga kita.”

Fajar tak menjawab. Dan Bu Pranoto kemudian berdiri sambil mengingatkan keinginannya agar Fajar mengantarkan belanja nanti malam.

***

Hari itu Sarah sudah pulang dari sekolah. Ia pulang untuk makan, lalu ia akan mengambil dagangan koran untuk dijualnya seperti biasa.

Ia sudah berganti pakaian dan makan siang dari apa yang sudah disiapkan sang nenek, ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumah.

“Assalamu’alaikum ,,,," suara dari luar.

“Wa’alaikumussalam ,,, “ jawab Sarah sambil menyelesaikan makannya.

“Sebentaar....." teriaknya sambil membawa piring kotornya ke belakang, lalu bergegas untuk keluar.

Seorang wanita separuh baya yang masih segar dan berpakaian sederhana berdiri di depan pintu.

“Selamat siang, Nak.”

“Selamat siang Ibu. Ibu mencari siapa?”

“Apa benar ini rumah nenek Suli?”

“Iya benar Bu, tapi Nenek sedang di tetangga sebelah, akan saya panggilkan. Maaf, Ibu ini siapa?”

“Apa kamu ini …. Sarah?”

”Iya, saya Sarah. Bagaimana Ibu bisa tahu nama saya?”

“Saya bu Saptari, ibunya Bimo.”

“Oh, ya ampuun, kemarin mas Bimo sudah menceritakannya kalau ibunya mau datang kemari. Masuklah Bu, dan duduklah. Tapi ya seperti ini rumah nenek saya.”

“Ini bagus, biar sederhana tapi rapi," kata bu Saptari sambil duduk.

" Ibu tunggu sebentar, saya panggil Nenek saya dulu.”

“Jauhkah?”

“Tidak Bu, hanya di tetangga sebelah,” jawab Sarah sambil beranjak pergi.

Bu Saptari tersenyum.

“Sarah memang cantik. Dia sangat santun dan bersikap sangat baik. Semoga Bimo tidak salah memilih,” gumam bu Saptari sambil tersenyum-senyum sendiri.

Tak lama kemudian nenek Suli datang, dan kemudian mereka berangkulan dan bertangis-tangisan.

Sarah terharu melihatnya. Ia meninggalkan mereka dan ke belakang untuk membuatkan minuman.

Nenek Suli dan bu Saptari asyik bercerita tentang masa lalu mereka, yang akhirnya bu Saptari mengatakan tentang maksudnya untuk mengambil menantu Sarah. Kalau nenek Suli menyambutnya dengan gembira, tidak begitu dengan Sarah. Ia hanya tertunduk lesu, dan mengatakan kalau ia belum memikirkan untuk menjadi seorang istri.

Sampai kemudian bu Saptari pamit pulang, Sarah tetap mengatakan kepada neneknya kalau dia belum memikirkan untuk menjadi istri.

Nenek Suli kecewa, tapi ia tak bisa memaksa Sarah.

“Semuanya tergantung kamu Sarah, karena kamu yang akan menjalani. Tapi aku lihat Bimo itu anak yang baik. Saptari membesarkan dan mendidiknya dengan sangat baik, walaupun Bimo bukan anaknya sendiri.”

Sarah terkejut.

“Bukan anak bu Saptari?”

“Dia hanya anak angkat.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, September 22, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 12

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  12

(Tien Kumalasari)

 

Bimo menatap nenek Suli tak percaya. Jadi neneknya Sarah ini sudah mengenal ibunya?

“Iya kan, benar kamu si kecil Bimo. Waktu kecil kamu gemuk, sekarang badanmu tegap gagah seperti ini.”

Bimo tersipu. Ditatapnya Sarah yang juga menatapnya sambil tersenyum.

“Ternyata dulu Nenek tetanggaan sama ibunya mas  Bimo?”

“Iya, waktu itu kamu masih kecil, bapak ibumu masih ada. Tapi kemudian mereka meninggal ketika kampung kami dilanda banjir,” kata nenek Suli sendu.

"Kamu yang masih kecil Nenek gendong untuk mengungsi, lalu pindah rumah, ya yang kita tempati itu. Sedangkan Bimo kecil dan ibunya waktu itu entah pindah ke mana. Ee, sekarang bertemu lagi di sini dengan tak terduga.”

“Nanti saya bilang sama ibu, biar ibu saya berkunjung kemari.”

“Pasti seru kalau ketemu. Dulu ibunya Bimo ini akrab sekali dengan almarhum ibumu. Kapan ada waktu, suruh dia datang kemari, dia seperti anakku sendiri waktu itu.”

“Nek, jadi mengajak mas Bimo makan nggak?” tegur Sarah yang tidak suka melihat mata sang nenek berkaca-kaca, tampak sedih mengingat anak dan menantunya.

“Eh, iya … habis ketemu orang yang tidak disangka-sangka, ayo Nak, tadi Nenek masak sayur lembayung, ada sambal, ada ikan bakar. Ini kesukaan Sarah, pagi tadi setelah Sarah berangkat, Nenek memerlukan belanja sebentar. Ayo … jangan sungkan, tapi tempatnya sederhana, makanannya juga sederhana, jangan ditertawakan ya,” kata nenek Suli mendahului mereka masuk ke ruang makan mereka yang sederhana dan agak sempit.

“Duduklah Mas, ya seperti ini rumah aku, tadi Mas pengin lihat kan?”

Mereka duduk semeja, dan makan diselingi celoteh nenek Suli tentang masa kecil mereka.

“Coba tadi Mas nggak mau singgah, pasti nggak akan ketemu nenekku yang ternyata mengenal keluarga Mas.”

“Aku juga tidak mengira. Nanti aku pasti cerita sama ibuku.”

“Pokoknya aku tunggu, kapan ibumu bisa datang kemari.”

“Harus janjian Nek, nanti pas ibunya mas Bimo datang, Nenek pergi bekerja.”

“Iya juga. Begini Bimo, Nenek ini setiap hari kerjanya membantu tetangga. Ya nyuci, ya setrika baju, ya bersih-bersih. Yang penting dapat uang dan itu kan halal. Hasilnya ya untuk beaya membesarkan Sarah dan menyekolahkannya.”

“Iya Mas, Nenek membanting tulang untuk aku. Kelak aku harus bisa membahagiakannya. Dan itu pula sebabnya, setelah lulus lebih baik aku mencari kerja, agar Nenek tidak lagi bekerja terlalu keras.”

“Kamu cucu yang baik. Aku selalu kagum sama kamu,” kata Bimo, tulus.

“Kamu selalu begitu, aku sih biasa saja. Pokoknya kerja sebisa aku, masa nenekku membanting tulang aku enak-enak ongkang-ongkang.”

“Sarah itu orangnya keras kepala. Hari libur disuruh istirahat tidak usah jualan koran, nekat saja, katanya sayang, kalau dapat duit kan bisa ditabung. Tapi ya itu, setelah dia jualan koran itu, jarang sekali minta uang sama Nenek. Buku-buku beli sendiri. Pokoknya beban Nenek jadi lebih enteng.”

“Berbahagialah Nenek punya cucu yang baik. Tapi Nenek ini kan … maaf, sudah bisa dibilang tidak muda lagi … jadi ada baiknya juga mengurangi kegiatan, supaya Nenek tetap sehat.”

“Iya, gampang. Nanti Nenek atur. Yang penting Nenek masih kuat bekerja, dan kalau masih kuat ya tidak bisa berhenti.”

“Nenek itu juga ngeyel. Bisa memarahi aku, disuruh istirahat … tapi Nenek sendiri tetap tidak mau berhenti.”

“Harus ada istirahatnya Nek, sayang kalau sampai Nenek kecapekan, nanti malah tidak bisa bekerja lagi.”

“Iya … iya, kamu ini ternyata juga cerewet seperti Sarah sih?” omel nenek Suli, membuat Sarah dan Bimo tertawa.

“Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya kalian ini berjodoh,” kata nenek Suli meluncur begitu saja, membuat Sarah dan Bimo terkejut.

“Apa maksud Nenek?” sergah Sarah.

Nenek Suli tertawa.

“Jangan dipikirkan, terkadang orang tua mikirnya sangat jauh. Kelak kalau Nenek sudah tidak ada, Sarah harus sudah berada di samping laki-laki baik yang bisa melindunginya. Nenek kok berpikir … bagaimana kalau laki-laki itu Bimo?”

“Nenek jangan berpikir yang tidak-tidak, Sarah belum memikirkan jodoh. Sudah hentikan. Mas Bimo hanya sahabat Sarah yang sangat baik. Ya kan Mas?”

Bimo mengangguk, tapi tak bisa dipungkiri, perkataan nenek Suli membuatnya berdebar, lalu sebuah harapan muncul. Bagaimana kalau iya?

***

Bu Lurah kesal, sudah seminggu Bowo tidak tidur di rumah ibunya, tapi di rumahnya sendiri.

Sore hari itu bu Lurah datang dengan seabreg omelan panjang seperti kereta malam jurusan Jakarta Solo.

Bowo hanya diam. Ia tahu ibunya marah, tapi Bowopun juga sedang marah kepada sang ibu, gara-gara bingkisan untuk Sarah diambil kembali oleh ibunya, sehingga membuatnya malu.

“Kamu dengar tidak apa yang ibumu katakan ini? Dengar tidak?”

“Bu, aku bukan anak kecil yang berkali-kali dimarahi karena permasalahan yang sama. Aku kesal pada Ibu yang membuat aku malu.”

“Memangnya kenapa? Aku membuat malu apa?”

“Ibu mengambil kembali bingkisan yang Bowo berikan pada Sarah. Malu aku.”

“Justru kamu yang harusnya malu, kenapa memberi sesuatu kepada orang yang sudah jelas-jelas menolak kamu. Kamu tidak malu Wo? Mengemis cinta kepada keluarga miskin seperti nenek Suli? Seandainya dia mau menerima, Ibu akan berusaha menerimanya walau agak kecewa. Tapi dia menolak Bowo, tidak malu kamu, anak bu lurah ditolak keluarga tukang cuci?”

“Bowo hanya cinta sama dia, Bu.”

“Jangan bodoh! Apa kurang gadis-gadis cantik di sekitar kamu, di mana kamu bisa memilih salah satu diantaranya? Mengapa malah memilih gadis yang tidak berharga, tidak berkelas, tidak berderajat dan tidak pula berpangkat?”

“Ini masalah rasa Bu.”

“Makan tuh rasa. Hidup tidak cukup dengan rasa. Kedudukan itu penting, dan harus dipertahankan. Jadi orang jangan bodoh-bodoh amat Wo. Dengar, ayo sekarang pulang. Kamu biarkan ibumu di rumah sendirian?”

“Kan ada pembantu?”

“Memangnya ibumu pantasnya berteman dengan pembantu?”

“Kan Ibu butuh teman, agar tidak sendirian.”

“Jadi kamu sudah tidak mau menemani ibumu ini lagi?”

“Maaf Bu, Bowo ingin menenangkan pikiran dulu.”

“Ya ampuuun, gara-gara perempuan murahan itu maka pikiran kamu jadi tidak tenang?”

“Maaf Bu.”

Bu Lurah meninggalkan rumah Bowo dengan mengomel panjang pendek di sepanjang perjalanan pulang. Sangat marah menyadari bahwa putranya tak mau mendengar kata-katanya.

***

Bu Saptari sangat heran mendengar cerita putranya, bahwa tadi bertemu  nenek Suli. Mereka dulu memang bertetangga, sebelum kampung mereka musnah disapu banjir, dan nenek Suli kehilangan anak dan menantunya.

“Bayi itu sudah dewasa ya? Waktu itu kamu masih kecil, dan bayi bernama Sarah itu dibawa neneknya entah ke mana. Syukurlah mereka selamat. Ibu ikut senang.”

“Apa Ibu tidak ingin menemui nenek Suli?”

“Tentu saja Bimo, besok atau kapan ya, ibu ingin sekali bertemu.sebesar apa Sarah sekarang?”

“Dia sudah hampir lulus SMA.”

"Waktu bayi dia sangat menggemaskan, cantik dan lucu.”

“Sekarang juga masih cantik dan lucu Bu.”

Bu Saptari tertawa.

“Kamu mengenal baik gadis itu?”

“Dia kalau siang sampai sore menjual koran di perempatan sana. Bimo kadang-kadang membantunya berjualan.”

“Mengapa tidak kamu minta dia singgah ke rumah? Ibu ingin sekali melihat dia, seperti apa sekarang.”

“Nanti kalau Ibu ke sana pasti bisa melihatnya, lalu Ibu bisa melamarkan dia untuk Bimo.”

“Apa? Kamu ingin Ibu melamar dia?”

Bimo mengangguk mantap.

***

Besok lagi ya,

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 019

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  019 (Tien Kumalasari)   Menur masih terpana mendengar perkataan pak kepala sekolah. Seakan ta...