Monday, September 21, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 11

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  11

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut, Mentari mengatakan seperti apa yang pernah dikatakannya. Bimo dan Fajar sangat mirip, hanya beda penampilan, karena keadaan ekonomi mereka yang berbeda.

“Mentari, pendapat kamu kok sama dengan pendapat aku, mereka mirip seperti kembar, iya kan?”

“Tapi kakakku tidak terlahir kembar.”

“Iya, aku tahu.”

“Kalian ada-ada saja,” kata Fajar yang kemudian juga ikut turun.

“Sarah, kenalkan dong dengan pacar kamu.”

“Mas Bimo, kenalkan, ini temanku, Mentari, adiknya mas Fajar ini. Eh, tapi jangan ngawur Mentari, dia bukan pacar aku, nanti aku dimarahi pacar dia yang benar-benar pacarnya."

Semuanya tertawa, kemudian saling bersalaman. Mentari tak henti-hentinya menatap keduanya sambil merasa heran, mengapa wajah kakaknya bisa persis dengan wajah laki-laki bernama Bimo ini.

“Aku baru tahu kalau kamu jualan koran. Sini, aku juga beli. Eh, masih berapa itu?”

“Masih banyak, ada lima. Nih, kamu juga beli sementara kakak kamu sudah beli?”

“Nggak apa-apa, nanti aku bagi-bagi ke orang lain, aku ambil semuanya.”

“Semua?”

“Iya, supaya kamu tidak lagi berpanas-panas, nanti kulit kamu jadi hitam.”

“Kulit aku memang sudah hitam, tahu.”

“Nggak, kulit kamu bukan hitam, kuning bersih. Mana korannya, ini uangnya.”

“Sebentar, kembaliannya,” kata Sarah sambil merogoh sakunya untuk mengambil kembalian.

“Nggak usah, kembaliannya buat kamu saja.”

“Mentari….”

Mentari meraih sisa koran di tangan Sarah, kemudian menggandeng kakaknya  yang sedari tadi diam sambil tersenyum-senyum.

“Sarah, pergi dulu ya. Bimo ….” Fajar melambaikan tangannya ke arah Bimo, yang membalasnya dengan hangat.

Ketika mereka berlalu Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dia teman kamu?”

“Mentari itu teman sekolah aku, yang ternyata adiknya mas Fajar. Aku baru tahu ketika datang memenuhi undangan temanku yang ulang tahun.”

“Teman kamu orang-orang kaya,” kata Bimo.

“Kebetulan saja aku diterima di sekolah anak orang-orang kaya.”

“Ayo mas, aku traktir minum es kelapa muda di sana itu.”

“Apa? Masa kamu mentraktir aku, bukan kebalik nih, aku yang harus mentraktir.”

“Kata siapa mengharuskan Mas yang harus mentraktir? Aku sedang banyak rejeki nih, ada baiknya kita berbagi. Ayo Mas, udara sangat panas, pasti segar minum es kelapa muda,” kata Sarah yang langsung berjalan ke arah penjual es di depan mereka.

***

“Sebenarnya Mas sudah lama kenal Sarah ya?” tanya Mentari dalam perjalanan pulang.

“Belum lama, baru beberapa minggu ini, setiap pulang kantor, dia selalu menjajakan koran di perempatan sana tadi.”

“Jadi karena itu Mas kemudian kenal?”

“Iya.”

“Ketika di pesta ulang tahun teman aku itu, Mas juga ketemu dia?”

“Aku bahkan mengantarkan dia pulang.”

“Apa? Jadi ketika aku mencari-cari Mas, dan teman-teman juga mencari Sarah itu ….”

“Aku sudah mengantarkannya pulang. Tadinya menolak, aku kasihan dia pulang sendiri, kan sudah mengenal dia siapa.”

“Ya ampuuun, mengapa juga dia pulang lebih dulu?”

“Mungkin merasa tidak sepadan dengan kalian.”

“Itu perasaan dia. Kasihan juga, ada yang menghina dia waktu itu sih, katanya pakaiannya dan sepatu yang dipakainya tidak pantas. Aku kesal sama teman aku itu. Sarah itu pintar dan baik hati, jadi banyak yang suka dia.”

“Mungkin karena itu, mengapa dia pergi.”

“Kalau saja aku tahu waktu itu, aku pasti memaksanya tinggal.”

“Dia keluar ketika kalian masih menyanyi-menyanyi ….”

"Kasihan, aku sih tidak merasa dia itu rendahan. Di sekolah aku, semuanya sama. Memang sih, ada yang nggak suka dia, mungkin karena iri, kalah pintar. Tapi lebih banyak yang suka.”

“Wajar kalau ada orang yang berbeda pandangan. Kamu jangan ikut-ikutan. Kaya atau miskin itu hanya sandangan. Semuanya sama dimata Allah, ya kan?”

“Iya, aku tahu, apalagi dia itu baik dan pintar. Aku sering bertanya tentang pelajaran sama dia.”

***

“Mengapa kalian membeli koran sebanyak ini?” teriak sang ayah ketika Fajar dan Mentari pulang sambil meletakkan tumpukan koran di meja.

Mentari tertawa.

“Sama semua ya?”

“Ini sama, mending kamu beli yang berbeda.”

“Teman Mentari yang jual koran, karena kasihan, Mentari beli koran jualan dia yang tersisa.”

“Teman kamu jualan koran?”

“Iya. Ternyata dia langganan mas Fajar yang setiap pulang kantor beli koran dagangan dia.”

“Tapi kemudian kamu membeli koran sebanyak ini?” sambung sang ibu.

“Kasihan Bu, udara sangat panas, kalau korannya habis dia kan bisa langsung pulang.”

“Anak Ibu memang baik hati. Teruslah begitu ya Nak, penuh kasih sayang kepada sesama,” kata sang ibu sambil mengelus kepala anaknya.

“Rumahnya di mana?”

“Sepertinya tidak jauh dari tempat itu. Kalau sekolah dia juga hanya jalan kaki. Jadi dari situ itu tidak jauh dari rumahnya, dan tidak jauh dari sekolah kami.”

“Teman sekolah kamu?” tanya bapaknya.

“Iya Pak, teman sekolah. Dia dari keluarga sederhana, tapi dia pintar, Mentari sering belajar sama dia dan menanyakan banyak hal.”

“Ternyata rajin dan pintar.”

“Tadi tuh Bu, ketika mas Fajar berhenti di sana untuk membeli koran, ada teman Sarah yang menemani di sana, seorang laki-laki.”

”O, dia sudah punya pacar?”

“Dia bukan pacarnya," celetuk Fajar yang sejak tadi diam.

“Iya, katanya memang bukan, tapi yang membuat Tari heran Bu, wajah teman Sarah itu sama persis dengan wajah mas Fajar.”

“Sama persis bagaimana?”

“Ya sama, seperti kembar.”

“Apa? Kembar?”

“Bukankah mas Fajar tidak dilahirkan kembar?”

Pak Pranoto saling pandang dengan istrinya, lalu keduanya geleng-geleng kepala.

“Jangan bercanda. Ayo kita makan siang, ruang makan sudah ditata, hanya menunggu kalian pulang,” kata sang ibu sambil berdiri.

Mentari menggandeng tangan kakaknya, mengajaknya mengikuti sang ibu.

Sambil berjalan itu, Fajar mengomeli adiknya. 

"Kamu sama saja dengan Sarah, mempermasalahkan wajahku dan wajah Bimo yang menurut kalian adalah mirip,” omel Fajar tak terima.

Mentari hanya ngengir, tak peduli protes sang kakak. Menurutnya, memangnya kenapa kalau mirip?

***

“Syukurlah, kamu menepati janjimu, pulang cepat," kata nenek Suli.

“Iya Nek, karena ada yang memborong koran aku.”

“Memborong koran? Masa koran diborong? Mau dijual lagi, gitu?”

“Tidak, ada teman Sarah, yang membeli sisa dagangan koran Sarah, katanya mau dibagi-bagi, entah dibagi ke mana. Pokoknya koran Sarah laku dan dia juga memberi uang lebih.”

“Dia baik hati benar. Itu teman kamu?”

“Teman sekolah Nek, anak orang kaya.”

“Ya sudah, cuci kaki tanganmu, ayo kita makan.”

“Nek, ada teman Sarah yang datang kemari.”

“Teman kamu?”

“Iya, dia ingin tahu di mana rumah Sarah.”

“Mana dia?”

"Ada di depan Nek, apa boleh mengajak dia makan siang sekalian?”

“Masakan Nenek kan masakan yang sederhana, kalau disuguhkan tamu, apa tidak malu-maluin?”

“Dia baik Nek, pasti mau, Ayo Nenek temui dia dulu, dia benar baik.”

“Kamu suka sama dia?” tanya nenek Suli penuh selidik.

“Tidak Nek, rumahnya dekat dengan tempat Sarah menjajakan koran. Kami hanya berteman, dia baik, suka membantu menjualkan koran Sarah juga. Beneran, dia baik, ayo Nenek temui dia dulu,” kata Sarah sambil menggandeng tangan Nenek diajaknya ke depan.

Bimo duduk di kursi kayu depan rumah, sambil menundukkan wajahnya. Tadinya dia hanya ingin tahu di mana rumah Sarah, tapi Sarah memaksanya singgah.

“Mas Bimo, ini nenek aku.”

Bimo berdiri, menyalami tangan nenek Suli dan menciumnya. Tapi nenek Suli menatapnya tajam.

“Namamu Bimo?”

“Iya, Nek.”

“Kamu anaknya Saptari?”

Bimo menatapnya heran.

“Entah benar atau tidak, aku dulu tetanggaan dengan Saptari, anaknya laki-laki, waktu itu, masih kecil,namanya Bimo. Wajahnya kok mirip kamu. Mungkin mata tuaku salah.”

“Nenek, memang benar, ibu saya bernama Saptari.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 20, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 018

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  018

(Tien Kumalasari)

 

Merasa tak diperhatikan saat mengadu kepada nyonya majikannya, Rumi memanas-manasi pembantu yang lain supaya membenci Menur.

“Coba lihat, dia yang baru datang diperlakukan istimewa. Kemarin itu, ketika tuan dan nyonya makan pagi, masa iya, menawari si pengais sampah itu untuk makan bersama mereka?” kata Rumi kepada temannya dengan mulut monyongnya.

“Masa iya?”

“Aku tidak bohong.”

“Tapi aku tidak melihatnya makan semeja bersama majikan kita tuh?”

“Karena dia menolaknya. Pasti karena takut pada nyonya, yang sedikit banyak sudah tahu kalau dia punya niat buruk.”

“Menurutku dia itu baik lhoh,” kata yang lain.

“Bener, dia itu baik, ramah dan suka membantu kita. Kalau dia sudah tidak bersama non Ana, dia pasti membantu kita melakukan apa saja yang sedang kami lakukan.”

“Alaaaa, kalian itu masa sih begitu bodohnya? Dia itu bersikap baik hanya untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar. Pertama, dia merayu non Ana supaya meminta kepada orang tuanya, agar si pengais sampah itu boleh menjadi pengasuhnya. Lalu dia diperlakukan sangat istimewa. Masa sih, dia memanggil nyonya besar tuh ‘bulik’. Bulik dari mana coba? Masa nyonya besar punya kemenakan seperti itu? Lalu karena bujuk rayunya juga, dia dibelikan baju-baju hampir selemari penuh tuh. Apa kita pernah diperlakukan seperti itu?”

“Mungkin juga biarpun miskin tapi masih terhitung saudara majikan kita.”

“Ya nggak mungkin … nggak mungkin. Lalu yang lebih aku takutkan tuh apa, kalau sampai dia merayu tuan kita.”

“Masa sih?”

“Nggak mungkin lah.”

Mereka bersahutan tidak mempercayai apa yang dikatakan Rumi, membuat Rumi kesal, kemudian meninggalkan mereka yang sedang beristirahat siang itu.

***

Hari-hari berlalu, dan tampaknya kecurigaan Lili tidak beralasan. Menur sangat santun, dan tidak pernah sekalipun kelihatan bicara dengan suaminya. Ia hanya melayani keinginan Ana, mendongeng, membuatnya senang. Bahkan kalau siang Menur juga mengeloninya tidur sambil menepuk-nepuk pantatnya lembut.

***

Hari itu Baroto pergi ke rumah sakit. Hasil tes DNA itu keluar hari itu. Dengan berdebar Baroto membuka amplop hasil tes, dengan perasaan tak sabar. Matanya terbelalak ketika membacanya. Wajahnya berbinar, dan tanpa terasa air mata menggenangi pelupuknya.

“Dia anakku … dia anakku …” gumamnya pelan, tak peduli pada beberapa orang yang bersimpangan dengannya merasa heran karena ada laki-laki ganteng berbicara sendiri.

Ia segera mengambil mobilnya, dipacunya menuju ke rumah Menur. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Ini masih jam pelajaran. Rahman pasti belum pulang. Sebentar, harus ada sesuatu yang diberikannya kepada Rahman. Baroto berpikir, apa ya sesuatu itu. Sambil mengendarai mobil dia melamunkan apa yang dinamakannya ‘sesuatu’ itu.

Ah ya, baju, sepatu, tas sekolah yang bagus, lalu apa lagi? Mainan? Mainan apa yang disukai Rahman? Kalau harus ditawarkan, tak mungkin Rahman mau mengatakan apa keinginannya. Tapi kemudian Baroto hanya mampir membeli baju-baju dan celana untuk Rahman. Ada lima atau enam setel, dan sepatu. Apa Rahman suka bermain bola? Anak seusia Rahman pasti suka bermain bola. Apa sebaiknya dibelikan sepatu bola juga, dan bolanya? Bagus sekali, supaya Rahman bisa mengajak teman-temannya bermain bola.

Siang hari itu Baroto sudah sampai di sekolah Rahman, di bagasi penuh dengan barang-barang yang dibelinya untuk Rahman, termasuk sepatu bola dan bolanya sekalian. Belum saatnya bubaran sekolah.  Baroto turun, lalu menuju ke kantor sekolah, berbicara dengan kepala sekolah, entah apa yang dibicarakannya. Baroto segera keluar lagi dan menunggu di mobil, karena sudah terdengar bel usai sekolah.

Baroto mengawasi anak-anak yang keluar dari sekolah itu. Ketika melihat bayangan Rahman, ia segera turun dari mobil.

“Rahman,” panggilnya ketika sudah dekat. Rahman menghampirinya. Ia terpaksa tak bisa menuruti permintaan sang ibu untuk menjauhinya. Om ganteng itu terlalu baik, bagaimana mungkin dia harus menjauhinya?

Rahman terkejut ketika tiba-tiba Baroto memeluknya erat. Erat dan lama sekali, sampai ia menjadi perhatian murid-murid lain yang berhamburan keluar dari halaman.

“Om, ada apa ini? Mengapa om memeluk aku?” tanya Rahman setelah dia meronta sehingga Baroto terpaksa melepaskan pelukannya. Rahman juga melihat ada air mata di pelupuk om yang bak hati itu.

“Ada apa Om?”

Baroto tersenyum, ia tak harus mengatakannya sekarang.

“Karena sebentar lagi om akan kembali ke luar negri, jadi akan lama nggak ketemu Rahman.”

“Oo …” hanya itu jawaban Rahman.

Lalu Baroto mengajaknya masuk ke dalam mobil. Rahman heran banyak barang-barang di dalam mobil.

“Om belanja apa saja? Banyak bener,” celetuk Rahman.

“Itu semua untuk Rahman.”

Rahman tertegun. Ia menatap om gantengnya dengan tatapan tak percaya. Pasti si om ganteng bercanda. Mengapa sih siang ini dia bersikap aneh? Memeluknya erat, lalu mengatakan bahwa barang-barang yang ada di mobilnya adalah untuk dirinya. Masa iya? Rahman melirik bola yang terletak paling atas diantara tumpukan barang-barang. Om ganteng suka main bola juga?

Baroto tersenyum lebar melihat Rahman tampak kebingungan.

“Om bercanda kan?”

“Tidak, ini beneran untuk kamu.”

“Om aneh siang hari ini.”

“Bukankah om sudah mengatakan bahwa sebentar lagi om akan kembali ke luar negri? Itu sebabnya om belikan itu semua untuk kamu, agar kamu tidak melupakan om,” kata Baroto sambil menjalankan mobilnya.

Rahman menatapnya terus, masih tak percaya. Dengan sebelah tangannya Baroto mengelus kepala Rahman, anak kandungnya yang baru saja ditemukannya setelah berhari-hari menjadi pertanyaan yang menumpuk di benaknya.

Rasanya ingin sekali ia memeluknya terus dan tak akan pernah melepaskannya. Anaknya, darah dagingnya, buah cinta yang lama ditinggalkannya.

“Mengapa Om begitu perhatian pada Rahman?”

“Karena kamu anak baik, anak pintar, bukan hanya pintar menangkap semua nasihat baik, tapi juga pintar di sekolah. Kamu anak yang membanggakan.”

“Dari mana Om tahu kalau aku pintar? Om tidak pernah melihat nilai sekolah aku.”

“Aku tadi bertemu guru kamu, kepala sekolah kamu. Semua memuji kamu. Om bangga sekali sama kamu.”

Ya ampuun, Rahman heran sekali. Begitu besar perhatian om ganteng sampai menemui guru dan kepala sekolahnya untuk menanyakan dirinya dan prestasi di sekolahnya? Tapi Rahman tak berkomentar. Ia begitu terkejut atas sikap aneh yang tiba-tiba ini.

“Tadi om sudah beli makanan. Kita makan di rumah kamu saja ya, supaya kamu segera bisa melihat barang-barang yang om belikan untuk kamu.”

Rahman hanya mengangguk. Sebagai anak kecil, tentulah ia ingin tahu segala sesuatu yang dikatakannya sebagai hadiah untuknya.

Begitu turun dari mobil, Baroto meminta agar Rahman membantu menurunkan barang-barang yang dibeli untuknya. Rahman melakukannya dengan keheranan yang tak habis-habisnya.

Mereka meletakkan barang-barang di dalam rumah yang tidak begitu besar itu, dan Rahman memegangi barang-barang itu tetap dengan perasaan heran.

“Ini baju-baju dan celana untuk Rahman, cobalah salah satu, yang lain ukurannya sama kok. Lalu ini sepatu untuk kamu sekolah, ada dua, bisa dipakai bergantian, juga tas untuk kamu sekolah. Lalu yang ini sepatu untuk main bola. Kamu suka main bola? Bolanya juga sudah ada tuh.”

Rahman menatapnya takjub. Tentu saja dia suka main bola. Di sekolah atau di kampung dia suka main bola bersama teman-temannya.

“Suka Om.”

“Bagus, berarti tidak sia-sia om beli semua ini untuk kamu.”

“Mengapa om beli semua ini untuk Rahman?”

“Masih bertanya lagi? Karena om sudah mau kembali ke luar negri. Supaya Rahman tidak melupakan om.”

“Mana mungkin Rahman melupakan Om? Om sangat baik pada Rahman.”

Baroto tersenyum, ia mendekati Rahman dan merangkulnya lalu mencium kepalanya dengan penuh sayang.

***

Barangkali jawaban itu bisa memuaskan Rahman. Supaya dirinya tidak melupakan om ganteng. Tapi bagi Menur, yang pulang pada sore harinya, itu sangat membuatnya kesal. Sikap Baroto, semua pemberian-pemberiannya, adalah sesuatu yang luar biasa. Ia berjanji besok akan menegurnya. Atau … Baroto sudah tahu kalau Rahman adalah darah dagingnya?

Menur takut sekali. Setelah ini, lalu apa? Rahman akan dimintanya? Tidak, Menur tak akan mengijinkannya. Rahman adalah miliknya. Tapi bagaimana kalau Baroto kemudian ingin memperistrikannya lagi? Tidak, hal itu tidak mungkin dilakukan. Walau punya istri dua itu bukan larangan, tapi kehidupan keluarga tidak akan bisa tenang. Ia tak mau merusaknya.

Semalaman Menur tak bisa tidur, karena selalu memikirkannya.

***

Pagi hari itu Menur pergi ke sekolah Rahman. Ketika membayarkan uang sekolah, ia belum bisa membayar uang ujian karena uangnya tidak cukup. Pagi itu dia sudah minta ijin kepada Ana bahwa akan datang agak terlambat karena harus mampir ke sekolah Rahman terlebih dulu.

Ia langsung menemui bendahara sekolah, mengutarakan maksudnya, dan mengeluarkan uang untuk memenuhi pembayarannya. Tiba-tiba kepala sekolah yang melihatnya segera menghampiri.

“Ibu akan membayar apa?”

“Kekurangan uang ujian untuk Rahman Pak, dulu itu belum bisa membayar karena uangnya belum cukup.”

”Tapi semuanya sudah dibayar oleh bapak Baroto. Lunas sampai nanti dia lulus.”

“Apa?” Menur tentu saja sangat terkejut.

“Dia juga sudah berpesan kepada saya agar nanti setelah Rahman lulus, saya mendaftarkannya ke sekolah terbaik di kota ini.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, September 19, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 10

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  10

(Tien Kumalasari)

 

Bowo terus melangkah mendekat, tak surut sedikitpun walau nenek Suli menatapnya sengit. Selalu terbayang ketika cucu kesayangannya digelandang ke kantor polisi gara-gara kelakuan Bowo, sehingga ibunya menyeret Sarah ke kantor polisi.

“Ada apa kamu ini? Dan mau apa lagi? Kalau mau membuat keributan lagi, aku akan berteriak agar tetangga datang dan mengusir kamu.”

“Nenek, saya datang untuk meminta maaf. Maafkan saya telah membuat Sarah dibawa ke kantor polisi, maafkan aku, Sarah. Aku mengaku salah.”

“Ya sudah, aku dan Sarah memaafkan kamu, tapi jangan lagi pernah datang kemari.”

“Kan saya sudah meminta maaf Nek.”

“Kalau sudah meminta maaf, lalu kamu berpikir akan bisa sesuka hati kamu untuk datang kemari demi mendekati Sarah?”

“Nenek ….”

“Tidak. Kamu dan keluarga aku berbeda jauh. Kamu kaya dan juga anak orang kaya, sedangkan Sarah anak orang miskin, cucu orang miskin.”

“Tapi saya tidak membedakan keadaan keluarga kita Nek, saya menyukai Sarah dengan tulus, biarpun Sarah adalah  cucu Nenek, yang bukan orang berada.”

“Apapun yang kamu katakan, aku tidak mau mendengarnya. Ibumu sudah menghina keluargaku.Aku akui aku ini miskin, tapi aku tidak berharap bisa sejajar dengan keluarga kamu yang kaya raya.”

“Nek, mohon Nenek memaafkan ibu saya. Yang menjalani itu saya, bukan ibu saya.”

“Memangnya kamu bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan orang tua?”

“Saya sudah berdiri sendiri, dan bisa melakukan apa yang menjadi keinginan saya tanpa melibatkan orang tua saya.”

“Omong apa kamu itu. Mana ada anak berbuat tanpa melibatkan orang tua? Memangnya kamu itu jatuh dari langit?”

“Sarah, bukankah kamu mau memaafkan aku? Ini, terimalah sebagai permintaan maaf aku,” kata Bowo sambil memberikan sebuah bungkusan. 

Entah isinya apa. Tapi Sarah mengacuhkannya.

“Sudah aku maafkan, tidak usah membawa apa-apa untuk aku.”

Tapi Bowo nekat meletakkan bungkusan itu di sebuah bangku yang ada di depan rumah.

“Bawa kembali ini, jangan taruh di situ,” kata nenek Suli.

“Ini hanya sebagai tanda bahwa ….”

Tiba-tiba seorang wanita datang dengan wajah berapi-api.

“Bowo. Apa yang kamu lakukan?”

Bu Lurah tiba-tiba muncul. Ia melihat nenek Suli menuding bungkusan yang diletakkan Bowo, lalu bu Lurah mengambilnya dengan gerakan kasar.

“Kamu memberi apa pada keluarga ini?” hardiknya.

“Bu, mengapa Ibu datang kemari?”

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh lagi mendekati keluarga ini? Ayo pulang.”

“Bungkusan itu biar di sini.”

“Tidak, jangan sekali-sekali memberikan apapun untuk keluarga ini. Ayo pulang!” bu Lurah membawa bungkusan itu dan menarik anaknya untuk pergi.

"Aku hanya meminta ma'af."

"Mengapa kamu meminta maaf? Dasar bodoh."

Suara itu semakin menjauh tapi masih terdengar omelannya di sepanjang jalan.

Nenek Suli mengajak Sarah masuk ke rumah, kemudian menutup pintunya dengan keras.

“Manusia sombong. Biar aku miskin aku tidak mau menerima barang-barang kamu.”

“Sudah Nek, jangan marah lagi. Mereka sudah pergi,” kata Sarah sambil merangkul neneknya.

“Jangan sekali-sekali kamu mau didekati dia.”

“Iya, jangan khawatir Nek. Sekarang Sarah bekerja dulu ya Nek, sebentar saja.”

“Hati-hati dan cepat pulangnya.”

***

Sarah sudah ada di perempatan jalan sambil membawa setumpuk koran. Seperti biasa dia masuk diantara lalu lintas yang berhenti di perempatan karena lampu merah. Lumayan, satu dua koran terjual.

Ketika ia sedang beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, seseorang mendekatinya.

“Sarah, kamu tidak libur?”

“Mas Bimo, ini hari Minggu kok ada di sini, memang kantornya buka?”

“Kamu itu, ditanya belum jawab malah ganti nanya. Aku kan jelas kelihatan pakai baju rumahan, kaos santai, kalau kerja kan nggak mungkin. Kamu itu lhoh, hari Minggu juga cari uang?”

Sarah tertawa.

“Memangnya cari uang harus ingat hari?”

”Umumnya kan kalau Minggu libur?”

“Itu kan anak sekolah, pekerja kantoran, aku kan penjaja koran, nggak ada hari libur dong. Tapi kalau pengin libur ya suka-suka saya, mau Minggu, mau Senen, mau Kamis … ya kan?”

“Iya, anak pintar. Rajin banget kamu.”

”Biasa saja, aku sering jualan walau Minggu, lumayan buat nabung.”

“Apa kamu setelah lulus ingin lanjut kuliah?”

“Ah, ya tidak Mas, mana mampu nenekku membeayai aku kuliah? Ini saja sudah menguras tenaga Nenek, sampai kerja seharian. Makanya aku bantu-bantu jualan begini, supaya mengurangi beban Nenek.”

Bimo mengangguk-angguk. Rasa kagumnya kepada Sarah semakin besar. Ia rajin dan pintar demi meringankan beban neneknya.

“Orang tua kamu di mana?”

“Orang tuaku sudah meninggal dua-duanya, ketika aku masih kecil. Itu sebabnya aku dirawat Nenek.”

“Owh, begitu?”

“Sebentar Mas, sudah lampu merah.”

“Sini aku bantu,” dan tanpa banyak cakap Bimo mengambil beberapa koran Sarah, dibawanya ke tengah jalan dan ikut menawarkannya diantara para pengendara.

Sarah hanya tertawa dan membiarkannya.

Ketika lampu berubah hijau, keduanya berlarian menepi. Bimo mengembalikan sisa koran dan uang koran yang laku.

“Nih, laku hanya satu.”

“Terima kasih ya Mas, ini keuntungannya buat Mas.”

“Nggak mau, ambil saja, aku kan hanya membantu. Lagian cuma bisa laku satu.”

“Aku juga cuma laku dua Mas, nggak apa-apa, terima kasih banyak ya.”

“Ya sudah, ambil saja keuntungannya untuk kamu.’

“Terima kasih ya Mas, mau bersusah payah jual koran untuk aku.”

“Pengin ngerasain … kamu begitu cekatan begitu …”

”Karena sudah biasa …”

“Kamu tidak capek pulang sekolah lalu jualan?”

“Nggak ah, kalau punya keinginan nggak boleh capek. Bukankah uang bisa di dapat karena keringat?”

Bimo, sekali lagi mengangguk kagum. Sarah memang luar biasa.

“Mas kok masih di sini, hari Minggu jalan-jalan, atau pacaran … gitu.”

Bimo tertawa.

“Aku nggak punya pacar. Mana ada gadis yang mau sama laki-laki tidak berduit seperti aku?”

“Eh, nggak boleh bilang begitu. Uang bukan ukuran untuk menyukai seseorang.”

“Haaa, kamu sudah bisa bilang begitu, memangnya kamu pernah menyukai seseorang?”

“Ya tidak Mas, tapi apa yang aku katakan itu benar kan?”

“Sok tahu kamu.”

Mereka menghambur ke jalan lagi ketika lampu merah.

***

Fajar sedang menuju pulang setelah mengantarkan Mentari belanja. Sebenarnya Mentari masih ingin ke tempat lain untuk membeli baju sesuai keinginannya, tapi Fajar mengaku lelah dan minta agar segera pulang.

“Mas Fajar tuh, baru masuk dua toko saja sudah bilang lelah, aku kan belum selesai belanja?”

“Masuk dua toko besar, dan kamu hanya berputar-putar tak segera menemukan yang cocok. Jalan-jalan dan berputar putar di toko besar, kalau dihitung sudah lebih dari sepuluh kilo, bagaimana nggak capek?”

“Ngarang deh, masa sampai puluhan kilo.”

“Kamu tidak segera merasa cocok, dari sini … pindah sana … pindah sini … kembali lagi ke sana … dua toko begitu terus, bayangin, siapa yang nggak capek.”

“Habis belum ada yang cocok.”

“Selera kamu sangat rumit, jadi nggak ada yang cocok.”

“Tapi … eh Mas, kok lewat sini sih.”

"Diam saja, kamu tinggal ngikut, nggak usah protes."

“Mau ke mana sih?”

“Pokoknya diam dulu, nanti juga tahu.”

Mentari heran ketika mobil kakaknya berhenti sebelum perempatan jalan, dan berteriak kepada seseorang.

“Korannya masih ada?”

Sarah terkejut, ia menoleh ke arah mobil. Senyumnya mengembang ketika melihat Fajar melongok dari jendela.

“Koran Pak?”

Fajar tertawa.

 "Koran Minggu ya?”

“Ya Minggu, ini kan hari Minggu?”

Tapi tiba-tiba Mentari berteriak.

“Haa? Kamu Sarah?”

Sarah terkejut, ternyata Fajar tidak sendiri, dan gadis di sampingnya itu sangat dikenalnya.

“Kok kamu? Kamu jualan koran?” tanya Mentari heran. 

“Iya, baru tahu ya?”

Mentari turun, lalu ia melihat ke arah laki-laki yang berdiri tak jauh dari Sarah.

”Itu pacar kamu?”

Sarah terbahak.

“Dia sahabat aku. Kalian dari mana?”

“Tunggu, kenapa wajah pacar kamu itu mirip sekali dengan kakak aku?” pekik Mentari yang didengar juga oleh Bimo.

***

 Besok lagi ya.

Friday, September 18, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 09

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  09

(Tien Kumalasari)

 

Mentari merengek, mengira sang kakak sedang menggodanya.

“Maaaas, jangan bercanda. Dari tadi teman-temanku ada di sana. Mas Fajar yang tiba-tiba menghilang, aku cari tidak ketemu, lalu tiba-tiba duduk di sini, apa maksudnya ini? Ayolah Mas, sekedar berkenalan saja, nanti Mas bisa memilih salah satu diantara mereka. Mereka anak-anak yang baik dari keluarga baik juga.”

Fajar menggeleng.

"Nggak usah, aku di sini saja, lanjutkan pestamu, aku kan hanya tukang mengantar saja?”

“Maksudku adalah, supaya Mas bisa berkenalan dengan mereka, lalu memilih salah satu diantara mereka. Tak mungkin tak ada yang menarik bagi Mas.”

“Kan aku sudah bilang bahwa aku sudah memilih?”

“Mas jangan bercanda, memilih di mana?”

“Di sini.”

“Siapa? Teman-teman aku ada di sana semua, masih lengkap.”

“Masa? Coba lihat saja lagi, apa benar-benar masih lengkap, atau tidak. Coba lihat semua.”

“Mas Fajar apa sih maksudnya. Tentu saja teman-teman aku masih lengkap di sana semua.”

“Nggak ah, coba cari lagi, benarkah masih lengkap?”

Tiba-tiba terdengar teriakan Silvi, teman Mentari yang berulang tahun.

“Sarah di mana ya? Aku tak melihatnya sejak tadi.”

“Apa? Sarah tidak ada?” tanya Mentari yang kemudian berlari ke arah Silvi.

“Kamu mencari Sarah?”

“Iya, dia anak terbaik di kelas kita. Kita harus mengajaknya menari bersama di sana.”

“Aku tak melihat dia.”

“Entah di mana dia?”

“Mungkin malu karena memakai baju kumal dan sepatu lusuh,” teriak seseorang yang sejak tadi tidak suka melihat penampilan Sarah.

"Kamu nggak boleh menghina begitu," tegur teman-temannya bersahutan.

Semua bertanya-tanya, tak satupun yang tahu, ke mana perginya Sarah, kecuali satu, yaitu Fajar. Tapi ia tak mengatakan apa-apa. Ia tetap duduk sambil menghabiskan minumannya, dan mengupas kacang yang tersedia di mejanya.

Sarah bukan tak disukai teman-temannya. Sebaliknya malah, karena Sarah sering membantu teman temannya dalam mengerjakan soal apapun di kelas. Metematika, Kimia .. terutama, karena Sarah adalah jagonya, kelas mereka adalah kelas IPA, di mana Sarah selalu menjadi yang nomor satu dalam nilai-nilainya. Tapi Sarah bukan anak yang sombong. Ia selalu merendahkan diri, dan kalau ada yang bertanya, maka jawabnya adalah mari kita pecahkan bersama, atau mari kita belajar bersama. Tapi namanya orang, ada saja rasa dengki dan iri. Jadi ketika banyak yang mencari keberadaan Sarah, ada yang menganggapnya sebagai malu karena penampilannya, lalu dia pulang. Anak itu adalah Devi.

“Mengapa ribut mencari dia sih, sudah pasti dia malu karena penampilannya yang tidak sepadan dengan kita. Ayo kita lanjutkan kegembiraan kita.”

“Devi jangan begitu dong!”

“Sirik dia!”

“Bukan, dia iri.”

“Kalah cantik kalah pintar.”

“Hahh? Kalah cantik? Masa aku kalah cantik sama Sarah? Yang bener saja kalian!” teriak Devi marah-marah, tapi kemudian disoraki teman-temannya.

Lalu musik yang bertalu menjadi riuh karena anak-anak menari mengikuti irama lagu. Riuh rendah, dan lama kelamaan ketidak hadiran Sarah tak lagi diributkan.

Fajar sudah capek, ia tetap tak mau berbaur dengan teman-teman Mentari. Ia bahkan mencari Mentari kemudian diajaknya pulang.

“Kok pulang sih Mas, masih ramai tuh.”

“Sudah malam, kalau nggak mau pulang, aku pulang duluan.”

Karena ancaman sang kakak, akhirnya Mentari segera pamit dan pulang, meninggalkan teman-temannya yang masih ramai berpesta.

***

“Mas sih, nggak mau  berbaur sama teman-teman aku, pasti bosen kan duduk menyendiri?”

“Bukan, ini memang sudah malam, kamu harus pulang dan tidur. Kalau tidak pasti diomelin bapak sama ibu.”

“Kalau perginya sama Mas pasti tidak ada yang ngomelin.”

“Kalau bukan bapak atau ibu, aku yang mengomelin kamu.”

“Huuh, mas Fajar nih. Tapi pertanyaan tadi belum terjawab lhoh, siapa yang kata Mas sudah Mas pilih, sama sekali Mas tidak mengenal mereka.”

Fajar tertawa, membuat sang adik penasaran.

“Pasti ngarang.”

“Benar, aku hanya ngarang,” jawabnya enteng, sambil membayangkan wajah Sarah. 

Kok Sarah sih, kata batinnya sendiri. Tapi ini aneh, dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Terus terang kepada Mentari?  Enggak lah, pasti dia ngomel-ngomel karena nggak setuju. Apalagi Mentari pasti tahu Sarah anak dari keluarga tak mampu. Memangnya kenapa kalau tak mampu? Bukannya cinta datang semau dia? Bisa dihati orang kaya, bisa juga di hati orang miskin. Bisa kepada orang kaya, bisa kepada orang miskin.

Fajar merasa aneh, karenanya dia diam di sepanjang perjalanan pulang, sehingga membuat penasaran sang adik.

“Kok diam sih? Mas ngantuk ya?”

“Agak ngantuk, makanya aku minta kamu segera pulang.”

“Salah sendiri nggak mau gabung sama teman-teman aku.”

“Nggak suka aku, pesta anak-anak kecil.”

“Iih, masa sebesar aku masih dibilang anak kecil?”

“Bagi aku … iya.”

Karena kesal, Mentari mencubit lengan sang kakak sehingga sang kakak berteriak kesakitan.

***

“Mengapa tadi pulang cepat, Sar?” tanya sang nenek ketika melihat Sarah sudah berganti baju rumahan, setelah menggantung baju kesayangannya dengan rapi.

“Kan Sarah sudah bilang kalau mau pulang lebih cepat. Kalau kemalaman pasti Nenek khawatir deh.”

“Iya, benar. Tak biasanya kamu pergi malam-malam kalau tidak bersama Nenek.”

“Nah, itu dia, kenapa Sarah pulang mendahului mereka.”

“Pestanya rame?”

“Lumayan?”

“Di pesta orang kaya pasti makanannya enak.”

"Sarah pulang sebelum hidangan dikeluarkan.”

“Lhoh, sayang dong.”

“Ya enggak Nek, hanya makanan saja. Bukankah makanan masakan Nenek lebih enak?”

Nenek Suli tertawa senang.

“Tadi kamu naik apa?”

“Naik … ojol … eh, bukan,” Sarah tak mau mengatakan kalau dia diantar Bowo, dan pulangnya juga diantar pakai mobil oleh orang baik. Takut sang nenek khawatir.

“Gimana sih? Yang bener naik apa?”

“Kalau Sarah bilang ojol, nanti dimarahin orang, karena salah nyebut. Ojol itu ojek yang dipanggil online. Sedangkan Sarah mencari yang suka mangkal di jalan besar itu, biasanya ada.”

“Onlain itu apa?”

“Online itu, manggilnya pakai ponsel. Kan Sarah tidak punya ponsel. Tapi mereka nyebutnya ojol, jadi ikutan saja. Sebenarnya ojek yang mangkal di dekat jalan besar itu lho Nek, di sana juga ada ojol yang mau dipanggil offline.”

“Lha offlain itu apa pula?”

Sarah terkekeh. Tapi kemudian ia menerangkannya dengan jelas, sampai sang nenek manggut-manggut. Bisa mengerti atau tidak, yang penting kalau mengangguk berarti sudah mengerti.

***

Hari itu adalah Minggu, jadi Sarah libur. Tapi dia sudah bersiap untuk mengambil dagangan koran seperti biasa.

“Sarah, kalau libur, kenapa jualannya tidak libur juga? Istirahat di rumah kenapa, nanti Nenek masakin kesukaan Sarah.”

“Sayang Nek, kalau libur, hari Minggu juga ada koran yang terbit. Sarah mau ambil sedikit saja kok, supaya nanti bisa cepat pulangnya.”

“Kamu itu lho, disuruh istirahat kok ya tidak mau.”

“Nenek tidak bekerja hari ini?”

“Nanti sore, hanya menyetrika di rumah sebelah.”

“Tuh, Nenek juga tidak libur kan?”

“Nenek hanya menyetrika, sebentar juga selesai.”

“Sarah juga mau jualan sedikit, supaya bisa cepat pulang. Sayang Nek, sedikit-sedikit juga uang.”

“Ya sudah, terserah kamu saja, hati-hati ya, dan jangan lupa cepat pulang. Nanti ketika pulang masakan Nenek pasti sudah matang.”

Sarah baru keluar dari pintu, ketika tiba-tiba Bowo datang sambil membawa bungkusan, entah apa.

Wajah Sarah muram seketika. Nenek Suli yang melihat dari dalam juga terkejut. Ia ikut keluar dan siap membela sang cucu kalau sampai Bowo berbuat yang tidak pantas.

“Selamat pagi Sarah, selamat pagi Nenek,” sapanya sopan sambil membungkukkan badannya.

“Ada apa kamu datang kemari?” sentak nenek Suli yang tidak suka melihat kedatangannya.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, September 17, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 08

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  08

(Tien Kumalasari)

 

“Sarah? Kamu ada di sini?”

Pertanyaan itu belum dijawab. Sarah lebih mengagumi sosok ganteng yang sekarang berdiri di depannya.

“Kok Mas ada di sini?” malah dia ganti bertanya.

“Aku mengantarkan adikku. Ternyata kamu temannya. Adikku Mentari, kamu kenal pastinya?”

“Oh, saya sudah ketemu tadi.”

“Sekarang kamu mau ke mana?”

“Pulang.”

“Pulang? Pestanya baru mulai, lihat, mereka sedang memotong kue ulang tahun.”

“Nggak apa-apa, takut pulang kemalaman.”

“Rumahmu di mana?"

"Jauh, sudah ya, sampaikan salam saya untuk Mentari."

“Sarah, tunggu.”

Sarah berhenti melangkah. Fajar menatapnya tak berkedip. Pasti karena penampilan Sarah terlihat aneh, pikir Sarah. Baju yang tidak mewah, sepatu yang merk biasa dan hanya pantas untuk pergi ke sekolah, juga wajah yang tidak dipoles dengan riasan mahal kecuali bedak merk murahan, tanpa oles bibir dan alis dan dibiarkan apa adanya. Tapi sebenarnya Fajar mengagumi Sarah atas semua yang ada pada dirinya, berbeda dengan apa yang dipikirkan Sarah.

“Ada apa? Saya kelihatan aneh bukan? Baju usang, sepatu murahan, apa lagi?”

“Mengapa kamu berkata begitu? Kamu kelihatan cantik alami,” kata Fajar.

Sarah tertawa kecil, lalu ingin melanjutkan langkahnya.

“Berhenti dulu Sarah, pulang sebentar lagi, nanti aku antar.”

“Tidak usah. Saya mencari ojol saja. Maksud saya, ojol yang bisa dipesan offline, biasanya ada di dekat-dekat sini.”

“Sarah, ini masih sore.”

“Mengapa Mas menahan saya, sedangkan mereka tidak suka melihat saya dengan penampilan buruk seperti ini? Lihat, saya tidak sepadan dengan mereka bukan?”

“Kamu istimewa. Tidak menyolok seperti gebyarnya dandanan mereka. Kamu tampak natural dan itu sangat indah.”

Sarah kembali tertawa.

“Jangan menyenangkan hati saya dengan ungkapan itu, saya tak ingin ikut pesta,  nanti bisa merusak suasana," kata Sarah

“Mas Fajar? Kamu di mana? Ini, aku kenalkan dengan teman-teman aku,” sebuah teriakan terdengar, diantara hingar bingar tepuk tangan setelah lagu ulang tahun selesai berkumandang.

Sarah mempercepat langkahnya, dan Fajar terus mengikutinya.

Ketika Sarah berdiri di tepi jalan untuk mencari ojol yang barangkali mangkal di sekitar tempat itu, sebuah mobil berhenti di depannya.

“Sarah, ayo aku antar, jangan begitu, tak ada ojek di sekitar tempat ini.”

Sarah termangu, ia juga tidak tahu di mana menemukan pangkalan ojek. Ia harus mencari, dan ketika sedang berpikir, Fajar sudah ada di depannya.

“Naiklah, jangan bandel, nanti kamu diculik orang bagaimana?”

Sarah menurut ketika Fajar membukakan pintu, dan persis ketika ia mau masuk, sebuah teriakan lain terdengar.

“Sarah!”

Sarah menoleh, tapi hanya sekilas. Ia segera masuk dan membiarkan Fajar menutup pintunya, lalu masuk dari samping yang lain, dan mobil itupun melaju.

“Pasti mereka kehilangan kamu. Apa kamu pamit pada teman-temanmu?”

“Tidak, mereka pasti tahu, kalau tidak ada, berarti sudah pergi. Tidak perlu repot kan?”

“Ada yang mengikuti kita. Mobil itu, aku seperti pernah melihatnya.”

“Aku tadi diantar oleh dia.”

“Apa? Bukankah itu laki-laki yang mengganggu kamu dan membuang sisa koran kamu ke tempat sampah?”

“Mas masih ingat ya?”

“Tentu saja aku ingat, aku pernah memelintir tangannya sebelum dia kemudian kabur. Bagaimana bisa kamu tadi diantar oleh dia? Kamu tidak takut diganggu lagi oleh dia? Tampaknya dia laki-laki yang berbahaya, kelihatan dari matanya.”

“Aku sedang mencari ojek tadi, lalu dia menawarkan mau mengantar. Aku terpaksa mau, dengan janji dia tak boleh menutup kaca jendela mobilnya.”

Fajar tertawa.

“Memangnya kenapa?” kata Fajar.

“Aku mau karena terpaksa, tapi aku takut dia berbuat yang tidak baik. Kalau jendela kaca ditutup aku tidak bisa berteriak minta tolong, jadi aku minta jendelanya terus terbuka," lanjut Sarah.

“Memangnya dia tidak bisa menutupnya secara otomatis?”

“Aku taruh tas kecilku ini di sela-sela jendela.”

Fajar terbahak.

“Anak pintar.”

Tapi Sarah tidak bisa tertawa. Barangkali dia kelihatan bodoh, karena kalau dipikir-pikir, bisa saja Bowo melakukan hal buruk. Seberapa sih kekuatan Sarah dengan tas yang dipalangkan pada jendela mobilnya? Tapi nyatanya Bowo menepati janjinya, jadi dia memaafkannya. Tapi ketika kemudian ia melihat Bowo ternyata masih menungguinya dan siap mengantarkannya lagi, Sarah memilih ikut Fajar, yang sudah diketahuinya bahwa dia laki-laki baik yang pernah menolongnya.

“Jadi kamu datang ke pesta ulang tahun teman kamu, hanya untuk mengucapkan selamat, lalu pulang?” kata Fajar lagi.

Sarah diam. Sebenarnya ia masih ingin berbaur dengan mereka, tertawa-tawa bersama, bergurauan seperti ketika berada di sekolah saat istirahat tiba, tapi sebuah suara tadi menyurutkan keinginannya. Ternyata dia memang tidak pantas bersama mereka. Berbeda kalau di sekolah, mereka mengenakan baju dan sepatu seragam yang sama. Tapi di sebuah pesta? Sarah mentertawakan dirinya sendiri, yang seperti tidak tahu diri. Ternyata dia berbeda dengan mereka.

“Sarah, kok diam saja? Kamu tidak takut kan, dan karena itu kamu tidak minta agar jendela mobil itu aku buka saja?” goda Fajar.

Sarah tertawa kecil. Cuaca agak gelap, sehingga Fajar tidak melihat lesung pipit di pipi Sarah yang sering dia lihat setiap bertemu dengannya,

“Semoga benar perkiraanku, bahwa Mas bukan orang jahat.”

“Terima kasih Sarah,” kata itu lembut.

"Dan entah mengapa membuat Sarah kemudian menoleh kepadanya, dan di saat itu pula Fajar juga sedang menoleh kepadanya. Wajah yang samar, tapi sebuah kilatan melintas, dari hati masing-masing. Kemudian keduanya menatap kembali ke depan dengan debar yang entah darimana datangnya.

Beberapa saat lamanya mereka terdiam, sampai ketika Fajar melihat ke arah spion, dan masih melihat mobil yang tadi masih mengikutinya.

“Masih mengikuti juga? Jangan-jangan dia marah karena aku mengantarkan kamu," kata Fajar

“Tadi aku sudah bilang tidak, ketika dia menawarkan akan menjemput aku.”

“Sekarang dia masih mengikuti kita.”

“Rumahnya sejalan dengan rumah aku.”

“Owh. Kalau dia marah, bagaimana?”

“Mengapa marah? Aku bukan siapa-siapanya. Dia malah pernah membuat aku ditahan di kantor polisi, hampr semalaman.”

“Kamu? Kenapa?”

Dengan singkat Sarah mengatakan semuanya.

“Dan kamu masih mau diantar olehnya?”

“Tadi terpaksa karena tidak mendapat angkutan umum, dan dia sudah meminta maaf berkali-kali.”

“Kamu terlalu gampang percaya. Lain kali kamu harus berhati-hati.”

Sarah hanya mengangguk.

Ketika mobil Fajar berhenti di sebuah gang di mana Sarah memintanya, mobil Bowo tampak melintas, tapi tidak berhenti.

“Rumahmu di mana?”

“Sudah, di sini saja.”

“Rumahmu di mana, kok di sini saja sih?”

“Masuk gang itu, biar aku jalan saja,” kata Sarah sambil turun.

“Terima kasih banyak ya Mas, sudah susah-susah meninggalkan pesta untuk aku," lanjut Sarah.

“Aku hanya mengantarkan adikku, tidak ikut pesta.”

Sarah berjalan dan Fajar terus mengikutinya, sampai kemudian Sarah memasuki sebuah pekarangan kecil.

“Sudah, pergilah.”

“Ini rumah kamu?”

“Rumah nenekku, aku tinggal bersama Nenek.”

“Tidak mempersilakan aku singgah?”

“Tidak, sudah malam. Pokoknya terima kasih,” katanya sambil terus melangkah mendekati rumah.

Fajar terus menatapnya, sampai ia melihat seorang perempuan setengah tua membukakan pintu untuk Sarah.

***

Fajar kembali ke rumah Silvi di mana masih ramai di sana, oleh tawa dan canda, diantara lagu-lagu yang dikumandangkan oleh seorang penyanyi dengan orgen tunggal.

Fajar kembali duduk di sudut, agak jauh dari keramaian, di sebuah bangku dibawah pohon rindang.

Ia hanya menatap mereka. Mereka anak-anak muda belasan tahun, dan Fajar merasa masa-masa itu sudah lewat. Ia hanya menikmati minum dan makanan yang disediakan.

“Ya ampun Mas, kamu tadi kemana?”

Teriakan kecil Mentari terdengar mendekat, kemudian menarik tangan kakaknya.

“Ayo ke sana Mas, aku kenalkan dengan teman-teman aku. Siapa tahu Mas cocok dengan salah satunya.”

“Nggak usah, aku di sini saja.”

“Mas Fajar kok gitu, sudah tua juga belum punya pacar, ayo lihat mereka.”

“Mereka masih anak-anak.”

“Mereka hampir lulus, seperti aku, hampir jadi mahasiswa, sudah boleh pacaran, kata ibu,” kata Mentari mengutip kata ibunya yang pernah didengar, bahwa kalau sudah kuliah baru boleh pacaran.

“Ayo Mas, Mas boleh pilih salah satunya, mereka semuanya cantik.”

“Aku sudah dapat. Jadi tidak usah memilih lagi.”

“Apa? Sudah dapat di mana?”

“Ya di sini.”

“Siapa? Mana dia?”

Fajar hanya tertawa.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 11

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  11 (Tien Kumalasari)   Sarah terkejut, Mentari mengatakan seperti apa yang pernah dikatakannya. Bimo dan Fajar ...