BIARKAN AKU MEMILIH 15
(Tien Kumalasari)
Adri mengucapkan terima kasih, kemudian keluar dari rumah sakit, dan kembali ke kantor. Kalau sudah dijemput oleh suaminya, lalu apa lagi? Dia hanya ingin menolong, dan sudah ada yang memperhatikan kepulangannya.
Sesampainya di kantor, Adri kemudian menekuni tugasnya. Ia ingin mengatakan tentang perintah pak Bondan bahwa Dwiyanti akan dipindahkan ke kantor cabang di kota lain, tapi bisa lain kali kalau ketemu. Ia segera memerintahkan kepada sekretarisnya agar menghubungi bagian administrasi. Surat kepindahan Dwiyanti harus segera dibuat. Perkara bicara lisan bisa nanti kalau ketemu saja.
Tiba-tiba Adri sadar bahwa dia belum makan. Ia menutup kembali berkas yang sudah dibukanya, kemudian memanggil OB agar membelikan makan siangnya.
Adri menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa lelah. Bayangan Nirmala melintas. Wajahnya yang cantik, kesabarannya, rasa pengertiannya kepada dirinya, membuatnya benar-benar jatuh cinta. Cinta yang membawanya ke pelaminan, dan cinta itu masih tetap ada, sampai detik ketika dia membayangkan wajahnya. Nirmala wanita yang sangat mandiri. Ia tegar dan kuat, serta berani melangkah ketika dia merasa benar. Tapi pada suatu ketika, Adri merasa Nirmala bisa mengatasi semua sendiri, lalu ia merasa bahwa dirinya tak berguna. Barangkali tanpa dirinya, Nirmala sudah bisa melakukan semuanya sendiri.
Ketika OB datang membawakan makanan yang dipesannya, sebuah pesan terdengar di ponselnya. Tangannya urung meraih kotak makanan yang sudah diletakkan di meja.
“Adri, kamu tidak usah menjemputku, karena suamiku sudah datang lebih dulu. Entah dari mana, ia tahu kalau aku sedang ada di rumah sakit.”
“Tidak apa-apa. Aku sudah pulang dari rumah sakit, senang mendengar kamu sudah dijemput suami kamu.”
“Sebenarnya aku lebih suka kalau kamu yang menjemput aku.”
Tapi Adri tidak berkomentar tentang pesan yang terakhir itu.
Adri meletakkan ponselnya sambil bergumam.
“Di rumah kan ada pembantu, tentu saja pembantu itu yang mengatakan semuanya kepada suami Dwi, bagaimana Dwi bisa berkata begitu.”
Lalu Adri membuka kotak makanannya, dan makan dengan lahap.
***
Dwi memamg dijemput Anton, sang suami, yang kemudian berkali-kali meminta maaf karena membuat Dwi terluka.
“Aku tidak tahu kalau kamu terluka, makanya aku meninggalkan kamu,”
“Kamu tahu aku terjatuh, tertimpa meja, walau kecil itu berat, ada alas kacanya, aku mengaduh, dan kamu mengikuti ibu kamu pergi,” sentak Dwi dengan berlinang air mata.
“Ibu sedang emosi, ia ingin sekali punya cucu. Maafkan.”
Dwi terdiam. Diletakkannya kruk yang tadi dipakai untuk menyangga tubuhnya di samping sofa, lalu perlahan dia duduk di sofa. Tertatih karena berat. Bekas operasi masih dibebat belum boleh untuk menapak.
Anton duduk di depannya, menatapnya. Dwi hanya diam. Alasan sang suami untuk meninggalkannya saat dia terluka sangat membuatnya sakit.
“Dwi, aku ingin bicara tentang rumah tangga kita. Memang benar, aku salah, aku ingin menikah lagi, tapi aku tidak ingin berpisah denganmu,” katanya hati-hati.
“Apa maksudmu?” suara Dwi meninggi.
“Dwi, aku tetap masih mencintai kamu. Aku ingin menikah hanya karena menginginkan keturunan, sesuai keinginan ibuku."
“Makan tuh cinta. Aku tidak mau mendengarkan kamu lagi.”
“Dwi, kamu tetap menjadi istriku.”
“Tidak sudi! Ceraikan aku!”
“Jangan begitu, aku masih cinta sama kamu.”
“Makan tuh cinta,” kata Dwi sambil berusaha berdiri, setelah meraih kruknya.
Anton bangkit, berusaha membantu, tapi Dwi menepiskan tangannya.
“Kamu mau kemana, aku belum selesai bicara.”
“Tidak usah bicara lagi. Segera urus perceraian kita.”
“Dwi….”
“Bibiiik, bantu aku berdiri!” teriaknya kepada pembantunya, yang merasa prihatin melihat keadaan majikannya.
“Biar aku bantu,” kata sang suami.
“Bibiiik !!”
Sang pembantu tergopoh datang, lalu memapah majikannya.
“Bawa ke kamar aku, eh .. tidak, kamar tamu saja. Aku tidak mau tidur di kamar itu lagi.”
“Baik Nyonya, tapi kamar belum saya rapikan, nyonya menunggu di sini, atau bagaimana?”
“Aku menunggu di kursi kamar saja.”
“Baik.”
Bibik menuntun nyonya majikan, dan Anton kembali duduk dengan lesu. Usaha membujuk sang istri tak berhasil. Ia tetap meminta cerai. Tiba-tiba ponselnya berdering, dari sang ibu.
“Ya, Bu.”
“Bagaimana, istrimu sudah pulang dari rumah sakit kan?”
“Sudah Bu, aku menjemputnya.”
“Dasar manja.”
“Kakinya patah, harus dioperasi. Dia tidak bisa jalan sendiri.”
“Kalau sudah ditangani dokter ya sudah, tidak usah dipikirkan. Banyak orang kakinya patah, akhirnya baik-baik saja.”
“Dwi meminta cerai, aku tidak bisa membujuknya.”
“Biarkan saja. Memangnya kamu masih merasa sayang sama dia? Calon istri barumu lebih cantik, badannya seger, dia akan segera hamil setelah kamu menikahinya nanti.”
“Sebenarnya aku masih sayang Bu, inginnya tetap menjadikannya istri.”
“Anton, jangan bodoh. Itu malah kebetulan. Susah merawat dua istri, belum kalau nanti bersaing, lalu bertengkar. Sudah … sudah, kalau minta cerai ya ceraikan saja.”
“Tapi Bu ….”
“Tapi apa lagi, sudah, malah kamu nanti kebanyakan pikiran. Orang sudah tidak mau, bagaimana cara memaksa.”
Ponsel sang ibu sudah ditutup. Anton termenung. Tampaknya ia memang harus menceraikan sang istri. Wanita yang akan dinikahinya sudah mengandung benihnya.
***
Adri baru selesai makan, dan siap melanjutkan pekerjaannya, ketika ponselnya berdering. Dwi menangis dari seberang.
“Ada apa?”
“Aku tetap akan bercerai,” tangisnya.
“Apa semuanya tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik?”
“Tidak ada pembicaraan yang baik ketika seorang perempuan akan dimadu. Bercerai adalah pilihan terbaik.”
“Pikirkan dulu Dwi, kamu memerlukan pendamping.”
“Tidak, aku tidak memerlukan pendamping seorang laki-laki seperti dia. Aku sudah bisa menerima ini. Percayalah aku akan kuat, karena ada kamu.”
“Dwi, jangan mengandalkan aku, aku kan tidak bisa sepenuhnya menjaga kamu.”
Adri ingin mengatakan tentang dipindahkannya Dwi ke kantor cabang, tapi diurungkannya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, jadi ia tak ingin menambah kekesalannya.
“Adri, meskipun memakai kruk, besok aku tetap ingin bekerja.”
“Jangan memaksakan kehendak, kalau memang masih sakit, istirahat dulu di rumah.”
“Aku masih bisa berjalan, dan yang bekerja adalah tanganku. Aku akan terhibur kalau di kantor. Aku juga akan minta agar kamu membantu aku mencarikan kontrakan.”
“Kontrakan? Kamu mau pergi dari rumah?”
“Apa aku harus tetap tinggal di rumah itu setelah bercerai? Tidak Adri, aku akan segera keluar dari rumah. Besok urusan cerai harus sudah dilakukan.”
“Ya sudah, tapi lebih baik kamu tenang dulu. Sekarang aku lanjutkan bekerja ya, kalau besok kamu tetap ingin masuk kerja, kita akan bicara.”
“Baiklah Adri, tolong cari informasi tentang rumah kontrakan ya, kalau bisa yang dekat kantor.”
“Baik, kita akan bicara lagi besok.”
Adri termenung. Dwi minta dicarikan rumah dekat kantor, sementara dia akan pindah ke luar kota. Bagaimana mengatakannya nanti?
Karena memikirkan masalah Dwi, Adri tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Akhirnya dia pulang sebelum jam kerja berakhir.
***
Adri sampai di rumah ketika sang istri belum pulang. Setelah berganti baju, ia habiskan waktunya untuk bermain bersama Pratama di teras, sambil menunggu kepulangan Nirmala.
Pratama sangat senang bisa bermain bersama sang ayah. Karena keasyikan bermain itu maka susah bagi mbak Rana untuk memandikannya.
Pratama berteriak marah ketika mbak Rana mengajaknya mandi.
“Mas Tama mandi dulu, biar wangi, nanti main dengan bapak lagi. Ya...,” bujuk sang ayah. Tapi Tama malah menubruk sang ayah, minta gendong.
“Baiklah, kalau begitu mandi sama bapak ya,” kata Adri sambil menggendong Tama ke belakang, di mana mbak Rana sudah menyiapkan semuanya di kamar mandi.
Karena keasyikan mandi sambil bermain dengan sang ayah, mereka tidak tahu kalau Nirmala sudah pulang dan menyaksikan keduanya yang sedang bercanda ria dengan Tama di dalam bak mandi.
Tiba-tiba Pratama melihat sang ibu dan berteriak.
“Mmaa …. “ entah mengapa, Pratama tidak mau memanggil ibu, atau mungkin lidahnya belum bisa mengucapkannya. Jadi kalau ketemu sang ibu .. yang diucapkan adalah ‘maa’.
Adri menoleh, dan melihat wajah Nirmala yang berseri.
“Tumben mandi sama bapak?”
“Tadi tidak mau saya mandikan, Nyonya, maunya sama tuan.”
“Ya, sudah, biarkan saja, sekali-sekali dimandikan ayahnya,” kata Nirmala sambil menuju ke arah kamarnya. Ia baru saja datang dan melihat teriakan-teriakan Tama di kamar mandi, makanya dia langsung melihatnya.
Tapi sebelum masuk ke kamarnya, ia mendengar ponsel Adri berdering. Nirmala mendekat, karena ponsel itu terletak di meja ruang tengah.
Wajah Nirmala gelap seketika. Ada nama Dwi di panggilan ponsel suaminya, dan ada foto wanita itu yang tengah tertawa.
***
Besok lagi ya.