Tuesday, February 17, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 11

 BIARKAN AKU MEMILIH  11

(Tien Kumalasari)

 

Adri tertegun. Ini sudah jam 11 malam, tapi Dwi masih menahannya. Ia menatap wajah pucat itu, dan tampak memelas. Ke mana keluarganya, mengapa tak ada yang datang menjenguknya sementara Dwi tampak menderita dalam rumah tangganya.

“Dwi, apa kamu tidak memberitahukan ini semua kepada keluarga kamu? Karena kamu tak mengabari mereka, jadinya kamu sendirian,” Adri menegurnya.

“Adri, ayahku sudah meninggal, dan ibuku sakit-sakitan, aku tak tega mengabari mereka, nanti ibuku jadi sedih. Tidak Adri, aku ingin menanggung ini sendiri, temanilah aku, bukankah kita bersahabat sejak kecil?” suara Dwi memelas, bahkan air mata menggenang di pelupuknya. Adri tak tega meninggalkannya.

“Baiklah, aku temani kamu, segera tidur ya, besok pagi aku akan kembali menemani kamu untuk melihat hasilnya. Semoga kamu tidak perlu dioperasi.”

“Aku didorong suamiku, terjatuh, lalu meja kecil menimpaku. Walau kecil, meja itu sangat berat, diatasnya ada kaca yang kemudian melukai kakiku juga.”

“Iya, iya … tadi kamu sudah mengatakannya. Cepatlah tidur.”

“Apa kamu takut dimarahi istri kamu?”

“Bukan begitu, ini saatnya seorang suami ada di rumah. Walau tidak marah, aku tidak mau dia berpikir buruk tentang aku.”

“Oh, suami yang baik. Pastilah kamu ingin menunjukkan kepada istri kamu bahwa kamu adalah suami yang baik, yang bisa melindungi. Ya kan?”

“Dwi, sudahlah, jangan ngelantur, pejamkan matamu dan tidurlah.”

“Sesungguhnya aku takut sendirian, apalagi kalau ternyata besok aku harus dioperasi.”

“Besok aku akan menemani kamu. Sekarang ini kamu tidak perlu takut, banyak perawat yang akan menjaga kamu, dan dokter juga pasti selalu memantau keadaan pasiennya.”

“Tapi berbeda bukan Dri, dijaga perawat sama dijaga sahabat sebaik kamu?”

“Ah, sudahlah, aku kira tak ada bedanya. Sudahlah, lebih baik pejamkan matamu agar bisa terlelap. Aku duduk di sana.”

“Jangan, kamu duduklah di dekat aku sini, aku sungguh ingin ada yang menemani aku dalam saat seperti sekarang ini.”

Adri menghela napas. Semakin Dwi menginginkannya, semakin dia tak tega. Lalu diambilnya kursi, lalu ia duduk di situ, dan berkali-kali menyuruh Dwi memejamkan matanya.

***

Jam dua pagi Adri memasuki halaman rumahnya. Nirmala mendengarnya, karena dia sedang terjaga dan bersiap untuk shalat malam. Tapi dia membiarkannya, karena mereka masing-masing membawa kunci rumah sendiri.

Ketika Adri memasuki kamarnya, ia melihat sang istri sedang bershalat. Rasa bersalah menghantuinya. Ia ingin segera memeluk istrinya sebagai permintaan maaf.

Adri langsung ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu berganti pakaian rumahan yang wangi.

Ia berbaring di pembaringan, menunggu sang istri selesai bershalat, bukannya mengikutinya. Ia benar-benar merasa capek, seharian tidak istirahat. Ketika sang istri selesai, Adri sudah terlelap.

Nirmala menatapnya penuh tanda tanya, tapi ia tak ingin menanyakannya. Ia keluar dari kamar untuk membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri. Ketika bibik terbangun, Nirmala sudah selesai menyeduh kopi manis dan siap dibawa ke ruang tengah.

“Nyonya, mengapa membuat sendiri dan tidak membangunkan bibik?”

“Tidak apa-apa Bik, hanya membuat kopi, apa susahnya.”

“Saya akan membuatkan untuk tuan, kalau begitu.”

“Nanti saja Bik, tuan masih tidur nyenyak.”

“Baiklah, bibik akan memasak nasi saja untuk sarapan, dan bersih-bersih.”

Nirmala mengangguk, lalu membawa gelas kopinya ke ruang tengah, setelah melongok sebentar ke kamar Pratama, yang juga masih terlelap dikelonin mbak Rana.

Nirmala menghela napas. Ia merasa tiba-tiba rumahnya menjadi sepi. Entah apa yang terjadi, sang suami juga tega pergi malam dan pulang menjelang pagi.

Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya, tapi Nirmala tak ingin menanyakannya. Hatinya masih sakit karena tidak dipercaya oleh suaminya, bahkan sejak awal pernikahan mereka, ketika ia masih hamil muda.

“Nyonya, nanti sarapan ingin dibuatkan apa?”

“Apakah gudeg dan sambel goreng semalam masih ada? Sepertinya aku belum sempat makan karena pergi ke kondangan.”

“Masih ada Nyonya, kalau Nyonya mau akan saya panaskan. Semalam memang belum tersentuh, baik tuan maupun Nyonya tidak makan di rumah.”

“Bagus Bik, siapkan untuk makan pagi saja.”

“Baik, Nyonya.”

Nirmala menyalakan televisi, sebelum ia pergi mandi. Tapi tiba-tiba suaminya memeluk dari samping. Nirmala agak menjauh, sambil tangannya terus mencari chanel yang enak untuk ditonton.

“Kemarin seharian menolong teman, mengantarkan dan menunggui di rumah sakit. Jam dua lebih aku baru bisa pulang.”

Nirmala tidak menjawab, tapi mengulaskan senyuman tipis ke arah suaminya, lalu memperhatikan siaran televisi.

“Kamu jangan marah, aku sudah mengatakan apa yang terjadi.”

“Tidak, aku tidak marah. Terserah saja kalau kamu mau menunggui teman kamu yang sakit. Itu kan sebuah niat baik,” katanya datar.

“Aku menghubungi kamu, tapi ponsel kamu mati.”

“Batery habis, jadinya mati. Aku tinggalkan di rumah.”

“Ya sudah, aku mau mandi dulu, harus berangkat pagi, tapi sebelumnya ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaannya.”

Ketika Adri berdiri, bibik datang menghidangkan kopi manis kesukaannya.

“Kopinya, Tuan.”

“Ya, taruh saja di situ, aku mau mandi dulu,” katanya sambil berlalu.

Nirmala menatap ke arah televisi. Ia mendengarkan keterangan suaminya, tapi ia tak ingin menanyakan siapa yang sakit.

***

Ketika makan pagi, tak banyak yang mereka bicarakan. Sesekali Adri bicara, dan Nirmala biasanya hanya mengangguk mengiyakan.

“Paaa … paaa …,” tiba-tiba Pratama tertatih mendekat ke arah sang ayah, yang kemudian mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuannya.

“Mas Tama, sini dulu, bapak sedang makan tuh.”

Tapi Pratama menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Biarkan saja, mbak Rana. Tungguin disitu, kalau dia bosan pasti turun sendiri.”

Pratama tidak sekedar minta pangku, ia meraih-raih tangan sang ayah setiap kali sang ayah ingin menyuapkan makanan.

“Tama mau mam-mam? Minta sama mbak Rana ya?”

“Paaa … paaa …”

Nirmala melihat kedekatan itu dan merasa terharu, tapi manakala diingatnya bahwa kehadiran Pratama disertai kecurigaan Adri atas dirinya, wajahnya kembali muram.

Mbak Rana memaksa mengajak Pratama pergi, karena si kecil itu selalu mengganggu ayahnya.

Pratama menjerit-jerit, lalu mbak Rana mengajaknya ke depan rumah, melihat burung-burung yang sering hinggap di dahan pohon pada halaman rumah, kemudian tangisnya berhenti.

Nirmala mempercepat makannya, lalu berdiri dan menuju ke arah depan, menemani Pratama bermain dan melihat burung-burung.

“Yuuung … maaa …. Yuuung..”

“Iya sayang burungnya banyak ya. Mbak Rana, ambil makan untuk Tama, biar aku menyuapinya,” titahnya kemudian kepada mbak Rana.

Pratama turun dari gendongan, berlari-lari kecil mendekati burung yang hinggap di rerumputan, tapi begitu Tama mendekat, burung-burung itu berterbangan.

“Yuuung … yuuung … “ pekiknya sambil melonjak-lonjak.

Ketika Adri pamit untuk berangkat, Nirmala sedang menyuapi Pratama. Dengan wajah muram dia mencium tangan suaminya. Adri membalasnya dengan ciuman di kening.

Adri sangat mencintai istrinya, tapi ia merasa bahwa sang istri tidak membutuhkan dirinya. Ketika ia mau memasuki mobilnya, ponselnya berdering.

“Ya, ini aku sedang perjalanan ke sana. Tenang saja, nanti aku mau melihat hasilnya dulu. Kalau harus operasi, aku pasti ada di sana.”

Lalu Adri masuk ke dalam mobil.

Nirmala tak membalasnya ketika Adri melambaikan tangannya. Sebenarnya Nirmala ingin tahu, siapa sebenarnya yang sakit itu. Mengapa suaminya begitu perhatian. Bahkan semalam menungguinya sampai jam dua. Bukan main. Dan sekarang akan menunggui saat dia dioprasi? Teman kantor, atau teman yang lain?

***

"Nanti jadi ya, ibu-ibu mau kumpul-kumpul di sini?” tanya pak Bondan sebelum berangkat ke kantor.

“Ya jadi Pak, kemarin ibu sudah pesan untuk hidangan, cukup nasi kotak dan snack yang juga ibu pesan saja. Males kalau harus masak-masak juga. Nanti bibik biar membantu buat minum saja.”

“Yang menata kursi-kursi siapa? Apa kita punya kursi sebanyak itu?”

“Dari pak RT. Aku sudah minta tolong pak RT agar mencarikan anak-anak muda yang bisa aku suruh menata.”

“Pokoknya semua beres kan?”

“Beres, Bapak tidak usah khawatir.”

“Syukurlah, yang penting Ibu tidak boleh terlalu capek.”

“Ya enggak Pak, ibu kan tidak mengerjakan apa-apa.”

“Ya sudah, ingat tulang tua, jangan terlalu capek.”

“Oh iya Pak, kemarin itu ketika sedang belanja, aku melihat Adri sedang makan dengan seorang wanita cantik.”

“Kapan?”

“Kemarin siang, kira-kira ya waktu makan sianglah.”

“Berarti mereka sedang makan siang di luar, saat jam istirahat.”

“Wanita itu cantik, mereka sangat akrab.”

“Pastinya teman kantornya. Mudah-mudahan Adri tidak berbuat yang macam-macam.”

“Iya Pak, pengin curiga sih, tapi ya mungkin hanya teman kerja.”

“Ibu itu aneh. Pengin kok curiga.”

Bu Bondan tertawa, sambil mengantarkan sang suami ke arah mobil, di mana sopir pribadi sudah membukakan pintunya.

***

Siang hari itu, saat istirahat di kantornya, Nirmala menelpon ke kantor Adri. Nirmala di kenal di semua anak cabang perusahaan milik pak Bondan, karena itu ia bisa meminta informasi tentang apa saja, di kantor mana yang dia inginkan.

Nirmala menanyakan, apakah ada karyawan yang sakit dan opname di rumah sakit.

Costumer Servis mengatakan  bahwa ada yang hari itu tidak masuk, katanya semalam masuk rumah sakit.

“Siapa dia?”

“Bu Dwi, manager pemasaran yang baru.”

“Oh, perempuan?”

“Iya, Bu Dwiyanti, Ibu. Kabarnya siang ini kakinya dioperasi karena jatuh dan pak Adri menungguinya sejak pagi.”

***

Besok lagi ya.

Monday, February 16, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 10

 BIARKAN AKU MEMILIH  10

(Tien Kumalasari)

 

Wanita itu bu Bondan, bersama pembantunya, sedang mau memesan masakan untuk acara ibu-ibu RT pada keesokan harinya.

Si bibik protes, mengapa tidak jadi pesan. Dalam hati agak mengeluh, kalau tidak pesen pasti dia yang harus memasak.. seratus boxs makanan, padahal belum siap?

“Kenapa nyonya tidak jadi pesan?”

“Nanti aku telpon saja. Ini tadi kan sekaliyan belanja, jadi mampir.”

“Apa karena ada tuan Adri di sana tadi?”

“Iya.”

“Siapa ya perempuan cantik di depannya tadi. Kelihatannya akrab banget. Si wanita sebentar-sebentar menowel tangan tuan Adri.”

“Barangkali teman kantornya, kan ini masih jam istirahat kantor.”

“Tapi kok begitu amat. Sepertinya tidak wajar.”

“Bik, kamu itu kenapa pikirannya lari ke mana-mana? Orang berteman itu ya biasa seperti itu,” kata bu Bondan yang sejatinya juga merasa tidak suka melihat keakraban itu.

“Saya kurang suka pada tuan Adri. Kalau datang ke rumah wajahnya tidak pernah senyum. Menurut bibik, dia nggak cocok sama non Nirma.”

“Ssst .”

“Tapi tadi ketika di depan teman wanitanya, kok wajahnya kelihatan berseri-seri ya, Nyonya merasa aneh tidak?”

“Barangkali sedang membicarakan keberhasilan pekerjaan mereka. Ayo kita ke sana, nanti belanjanya tidak selesai-selesai,” kata bu Bondan yang sebenarnya setuju dengan pendapat pembantunya.

Tiba-tiba bu Bondan merasa, bahwa apa yang dikatakan suaminya ketika Nirma mengatakan bersedia menjadi suami Adri, adalah benar. Sepertinya mereka tidak cocok. Apakah Nirmala bisa menerima pernikahan itu ya, apakah dia berbahagia? Pikir bu Bondan.

“Tapi Nirmala tidak pernah mengeluh,” katanya pelan, tapi tak urung bibik mendengarnya.

“Nyonya bilang apa?”

“Tidak ada. Ayo belanja saja, jangan bicara yang tidak-tidak."

Bibik sudah lama mengabdi pada keluarga Bondan, bahkan sudah dianggap keluarga. Karena itulah si bibik tidak segan mengeluarkan pendapatnya.

“Semoga non Nirmala hidup berbahagia,” bibik bergumam lirih.

Bu Bondan tersenyum mendengarnya. Nirmala sejak kecil diasuh oleh bibik, dan karenanya bibik selalu memperhatikan kehidupan Nirmala. Seakan tak rela jika nona majikannya disakiti.

“Mana tadi catatan kamu, jangan sampai terlewat,” nyonya Bondan mengalihkan pembicaraan.

“Nyonya, kalau memang Nyonya tidak mau pesan dan harus memasak sendiri, sebaiknya belanja sekarang saja, nanti bibik mencicil masak, asal lauknya yang gampang-gampang saja. Misalnya ayam goreng, sambal lalapan dan entah sayur apa, gitu.”

“Tidak Bik, kasihan bibik. Nanti aku pesan saja, kan sudah langganan. Atau aku pesan sekarang saja, daripada lupa,” kata bu Bondan sambil mengambil ponselnya.

***

Agak terlambat daripada biasanya, ketika Adri memasuki rumahnya. Baru dia mau masuk kamar, dilihatnya Nirmala keluar dengan dandanan yang rapi, seperti mau bepergian.

“Kamu mau ke mana?”

“Bima mengundang di hari pertunangannya.”

“Hari ini?”

“Ya, kalau kamu mau ikut, ini sudah terlambat," kata Nirmala sambil mengambil tas kecil cantik yang sudah disiapkannya di luar kamar.

Adri menatapnya, tak terdengar perkataan Nirmala mengajaknya. Ia tahu, Nirmala masih marah kepadanya. Sangat marah, bahkan, karena walaupun kesal, Nirmala tak pernah sekeras itu. Ada sesal ketika ia melakukan tes DNA itu, gara-gara cemburu buta. Tapi kan dia sudah mengatakan kalau dia menyesalinya.

Ia menoleh ke halaman ketika melihat mobil Nirmala keluar dari sana.

Adri kesal. Ia selalu cemburu pada Bima, walau Bima sudah bertunangan. Perhatian Nirmala kepada Bima membuatnya kesal.

Ia masuk ke dalam rumah, dan menghentikan langkahnya ketika mendengar celoteh Pratama seperti memanggil-manggil namanya.

“Paaa … ppaaa …”

"Bapak cuci kaki tangan dulu ya,” kata Adri sambil membuka pintu kamar, tapi Pratama berteriak-teriak, dan hampir menangis.

“Mbak Rana, bawa dulu Tama, saya ganti pakaian dulu,” kata Adri, yang langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Pratama yang menangis berguling-guling.

Mbak Rana segera menggendongnya, dan menghiburnya dengan segala macam cara, tapi Pratama tak mau berhenti menangis. Ia baru berhenti ketika Adri sudah keluar kemudian menggendongnya.

“Iya .. iya, kan bapak baru cuci kaki … cuci tangan.. lalu ganti pakaian, malah belum mandi nih, gara-gara Tama menangis.”

“Maaa … maaa … “ katanya kemudian.

“Tadi sudah menangis ketika nyonya mau pergi,” kata mbak Rana.

“O, iya?” kata Adri sambil menatap anaknya.

“Maa … maaa … “ katanya sambil menunjuk ke arah luar. Barangkali maksudnya mengatakan bahwa sang ibu pergi ke sana.

“Ibu sedang ke kondangan, Tama tidak boleh rewel ya.”

Pratama terhibur ketika Adri mengajaknya bermain. Memang sesungguhnya Adri sangat menyayangi Pratama, dan Pratama juga sangat dekat dengan ayahnya.

Tapi ketika asyik bermain, tiba-tiba terdengar notifikasi pesan di ponsel Adri. Adri segera berdiri untuk meraih ponselnya yang kebetulan tak jauh dari mereka yang sedang bermain.

“Paaaa … paaa ….” Pratama berteriak.

“Sebentar ya sayang,” kata Adri yang kemudian membaca pesan singkat yang ternyata dikirim oleh Dwi.

Adri terkejut membacanya.

“Adri, tolong aku, aku dihajar oleh suami aku, aku mau pergi dari rumah. Tolong Adri…” lalu ada emotikon menangis.

“Lalu bagaimana aku harus menolong kamu?”

”Kemarilah, bawa aku pergi ke rumah sakit. Aku tak bisa jalan, kakiku sakit sekali, aku didorong sampai terjatuh.”

“Nanti ketahuan suami kamu bagaimana? Nggak enak kan, nanti dikira aku ikut campur urusan rumah tangga kalian.”

"Tidak, suamiku sudah pergi bersama ibunya. Tolong Adri, aku tak bisa jalan, kelihatannya kakiku terkilir, dan ada luka berdarah terantuk meja.”

“Baiklah, aku ke situ.”

Adri memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Mbak Rana, aku mau pergi dulu, tolong bawa Tama ke belakang, supaya tidak menangis saat melihat aku pergi.”

“Paaa …. Paaa ….” Pratama berteriak-teriak, tapi mbak Rana segera menggendongnya. Pratama meronta.

“Mas Tama, ayo kita ambil sepeda kecil yuk, nanti mbak Rana dorong. Ayuk, main sepedaan ya,” kata mbak Rana sambil memaksa Pratama untuk diajaknya ke belakang.

Adri menghampiri mobilnya lalu membawanya keluar halaman.

***

Adri memarkir mobilnya di luar pagar rumah Dwi. Terlihat sepi, tapi pintu depan terbuka. Adri berjalan memasuki halaman, Pelan, khawatir kalau sampai suami Dwi memergokinya. Bukannya apa-apa, Adri sesungguhnya tidak mau terlibat dalam keributan rumah tangga Dwi. Ingin ia menolak datang, tapi ia kasihan pada Dwi. Sekarang ia sudah sampai di depan tangga teras. Tak ada suara, tapi rupanya Dwi mendengar suara langkah kaki.

“Adri?” Dwi berteriak dari dalam.

“Ya.”

“Masuk saja Adri, tak ada siapapun, aku tak bisa berjalan, kakiku luka dan terkilir. Masuk saja Adri.”

Adri menaiki tangga teras. Ia sudah sampai di pintu, lalu melongok ke dalam. Di depan televisi yang tidak menyala, Dwi duduk bersandar pada sofa, rambutnya awut-awutan. Melihat kedatangan Adri, Dwi langsung menangis.

“Tolong aku Adri, aku dianiaya.”

Adri mendekat, mencoba membantu Dwi untuk berdiri, tapi terasa berat, karena sebelah kakinya tak mampu digerakkan. Ketika Adri menyentuhnya, Dwi menjerit sakit.

“Antarkan aku ke rumah sakit, Adri. Tolonglah.”

“Bagaimana bisa seperti ini?”

“Ceritanya nanti, bawa aku dulu, aku tak tahan lagi.”

Adri memapah Dwi, diajaknya masuk ke dalam mobilnya, lalu dibawanya ke rumah sakit.

***

Di sebuah gedung, acara pertunangan Bima berlangsung. Tamu-tamu undangan bergantian menyalami Bima dan tunangannya.

Ketika tiba giliran Nirmala, wajah Bima tampak semakin berseri.

“Selamat ya, semoga segera mendapat undangan pernikahan. Aku ikut berbahagia,” kata Nirmala.

“Mana Adri?”

“Dia tidak ikut. Tadi pulang agak sorean.”

“Selalu sibuk ya?”

“Begitulah, namanya orang bekerja, terkadang juga sibuk, terkadang biasa saja.”

“Selamat ya, Ayu …” kata Nirmala menyalami Ayudya, tunangan Bima.

“Terima kasih Mbak.”

“Aku tidak bisa menunggu sampai selesai, soalnya aku sendirian,” kata Nirmala.

“Terima kasih sudah mau datang,” kata Bima.

“Jangan lupa undangan pernikahan ya.”

Bima mengacungkan jempolnya, kemudian berganti menerima salam tamu yang lain.

***

Nirmala memasuki halaman, tapi tidak melihat mobil Adri di halaman. Ia mengira Adri sudah memasukkannya ke garasi. Tapi ketika ia membuka garasi untuk memasukkan mobilnya sendiri, mobil Adri juga tak terlihat di sana.

Memasuki rumah, Nirmala melihat mbak Rana sedang menggendong Pratama yang sudah pulas tertidur.

“Kok tumben tidurnya digendong?” tanya Nirmala.

“Tadi rewel Nyonya.”

“Lhoh, kenapa rewel?”

“Tadi sedang bermain sama tuan, tiba-tiba tuan mendapat pesan di ponselnya, kemudian segera pergi, jadinya mas Tama rewel. Baru saja dia tertidur.”

“Ayahnya ke mana?”

“Tidak tahu nyonya, tadi setelah membuka ponselnya langsung pergi begitu saja, tidak mengatakan mau pergi ke mana.”

“Ya sudah, tidurkan Pratama di kamarku setelah aku ganti baju, biar tidak rewel lagi.”

“Baik Nyonya.”

***

Adri masih di rumah sakit, celakanya menurut pemeriksaan, kemungkinan kaki Dwi retak atau bahkan patah, menunggu besok apakah harus dioperasi ataukah tidak.

Ketika sudah dipindahkan ke ruang rawat, Adri bermaksud pulang dulu, karena hari sudah malam.

“Aku pulang dulu ya, tadi istriku tidak tahu aku pergi ke mana.”

“Kamu kan bisa menelponnya?”

“Ponselnya tidak aktif.”

“Tapi aku tidak mau kamu tinggalkan sendiri Adri, tolong temani aku dulu.”

“Tapi Dwi.”

“Setidaknya setelah aku tertidur.”

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, February 14, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 09

BIARKAN AKU MEMILIH  09

(Tien Kumalasari)

 

Adri terpaku di tempatnya. Amplop itu masih dipegang di ujung jarinya. Ia belum berpikir bahwa itu adalah hasil lab, dan masih bertanya itu surat apa.

“Ini apa?”

“Bukankah sudah aku katakan bahwa akulah yang seharusnya bertanya? Ini surat apa?”

Adri baru sadar, Nirmala menanyakan sesuatu di dalam amplop itu. Adri menarik tangannya, membaca tulisan di amplop itu. Sebuah kop surat dari sebuah rumah sakit. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Oh … ini … ini sudah lama.”

“Yang aku tanyakan adalah surat apa itu?” suara Nirmala bertambah dingin.

“Ini kan … ooh … ini dulu … ketika … ketika belum lama Pratama lahir.”

Nirmala menunggu. Adri kelihatan gugup.

“Aku … periksa DNA … “

“Untuk apa? Dan sebenarnya kamu tidak mempercayai aku? Kamu menuduh aku selingkuh sehingga meragukan tentang lahirnya Pratama? Kamu mengira Pratama anak orang lain? Kamu ternyata sangat merendahkan aku, meremehkan aku, menganggap aku nista, hina, kotor, buruk.”

“Stop. Nirma!”

“Lalu apa? Kalau tidak maka kamu pasti tidak akan melakukannya. Kelakuan mana yang membuat kamu mencurigai aku? Aku sering keluyuran tanpa sepengetahuan kamu? Sering bepergian yang entah dengan siapa yang kamu tidak tahu?”

Adri diam. Tapi sebagai laki-laki Adri tak mau disalahkan. Adri adalah seseorang yang jarang sekali mengucapkan kata maaf. Adri selalu tinggi hati, dan merasa benar. Apalagi dengan seorang perempuan, mana mau dia mengalah atau merasa salah? Kegugupan itu tak lama, selanjutnya ia mengangkat wajahnya lalu memandang tajam istrinya.

“Baiklah, terus terang aku meragukan kelahiran Pratama. Aku sadar bahwa walau aku adalah suami kamu, tapi kamu punya banyak teman laki-laki, punya banyak pengagum, punya sahabat yang lebih dari teman.”

“Lalu kamu merendahkan aku, dan mengira aku dengan suka cita menyerahkan kehormatan aku dan merusak harga diriku sendiri? Kamu pikir aku serendah itu?”

“Aku merasa tidak sebanding dengan mereka.”

“Ini bukan masalah tinggi rendahnya kamu diantara teman-teman aku, ini masalah lahirnya Pratama yang kamu curigai bahwa dia bukan tetesan darahmu.”

“Aku memang salah. Jangan marah lagi.”

Nirmala berdiri, lalu melangkah ke belakang dengan wajah gelap. Tak ada kata maaf terucap, hanya merasa salah, dan memintanya jangan marah. Barangkali Nirmala bisa mengerti bagaimana watak suaminya, sangat bisa mengerti, dan karena itulah ia bersedia menjadi istrinya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tapi ketika itu menyangkut harga dirinya, Nirmala tak bisa menerimanya, atau mungkin sulit menerimanya. Ini sangat menyakitkan.

“Maaa … mmaaa ….” sebuah teriakan kecil menyurutkan langkah Nirmala. Pratama kecil sedang tertatih berjalan mendekat, sedangkan mbak Rana mengikuti di belakangnya.

Seulas senyum mengembang, lalu digendongnya si kecil dan dipeluknya erat.

“Sayangku, cintaku, buah hatiku, anak manis, anak pintar,” ucapnya sambil terus menerus menciumi pipi gembul yang menggemaskan.

Muram dan wajah kaku itu sudah memudar. Tapi genangan air mata sempat meloncat turun ke pipinya. Nirmala mengusapnya lalu membawa si kecil masuk ke kamar, kemudian menidurkannya di ranjangnya.

“Maaa … mmm … mmaaa …”

“Apa kamu tahu, Tama, kelahiranmu dulu diragukan oleh ayahmu sendiri. Ibu sangat sakit, Tama. Walau kemudian ia kelihatan sekali sangat menyayangi kamu, tapi rasa sayang itu harus disertai sebuah pembuktian. Ibumu ini seperti pesakitan yang harus diselidiki dugaan kejahatannya, dan kemudian divonis bebas setelah bukti kebenaran itu ada. Tapi tuduhan itu sangat menyakitkan.”

“Mmaaa … mmm … “

“Panggil aku ibu. Iiii … bu ….”

Tapi Pratama yang belum mengerti bagaimana cara bicara yang benar, terkekeh lucu. Ia mengira sang ibu sedang bercerita, mata beningnya menatap seakan mengerti apa yang dikatakan sang ibu.

 Nirmala merasa terhibur. Ia bercanda dengan Pratama sampai tak tahu bahwa Adri berdiri di samping tempat tidur. Ia baru tahu ketika Pratama melambai lambaikan tangannya sambil berteriak.

"Aappaakk... pp..paak."

Adri mengulurkan tangannya lalu Pratama bangkit.. dan tak lama kemudian sudah berada di gendongan sang ayah.

Nirmala membiarkannya. Ia tetap berbaring dan memejamkan matanya. Terdengar celoteh Pratama menjauh, keluar dari dalam kamar.

***

Malam itu Adri makan malam sendiri, karena ketika Adri mengajaknya makan, Nirmala menjawab kalau sudah makan lebih dulu.

“Bukankah kamu yang menyuruh aku makan lebih dulu, sedangkan kamu sedang ada perlu dengan entah siapa diluar kantor?” jawab Nirmala, dingin. Bukan karena kesal ketika Adri pulang terlambat karena ada keperluan di luar entah apa, tapi karena ia masih kesal masalah DNA yang ditemukannya pagi tadi.

Dan malam ketika Nirmala hampir terlelap, Adri menyusulnya tidur di sampingnya. Adri tahu Nirmala belum benar-benar tidur.

“Tadi ada seorang teman yang meminta pertolongan, jadi aku harus menolongnya dan mengantarkannya pulang. Ia sedang kacau karena masalah dengan suaminya. Tadi dia mendapat telpon dari suaminya, bahwa sang suami itu akan menikah lagi dengan pilihan mertuanya. Tentulah dia sedih, lalu ….”

Adri menghentikan ucapannya, karena mendengar dengkur halur di sampingnya. Rupanya Nirmala benar-benar tidur dan tak mendengar apa yang dikatakannya.

Adri merasa kesal. Ia memejamkan matanya lalu membalikkan tubuhnya memunggungi sang istri, dan tak lama kemudian diapun terlelap.

***

Saat sarapan pagi, sikap Adri dan Nirmala masih tampak kaku. Ada pekik dan tawa gembira, hanya ketika Pratama mengajak mereka bercanda. Mereka berangkat kerja juga tanpa banyak basa basi dan bicara. Tapi Nirmala memerlukan mencium tangan suaminya ketika mendahului berangkat, tanpa suara.

Adri menekan kekesalannya dan menganggap sang istri keras kepala karena tetap tak mau mengerti walau dirinya sudah mengakui kalau bersalah.

Tepat ketika ia mendekati mobilnya sebelum berangkat, ponselnya berdering.

“Ya, Dwi.”

“Kamu sudah berangkat?”

“Ini mau berangkat.”

“Tolong samperin aku ya, kendaraanku kan masih di kantor?”

“Bagaimana nanti dengan suami kamu? Nggak enak kalau aku nyamperin kamu. Nanti dikira ada apa-apa diantara kita.”

“Memangnya kalau ada apa-apa suamiku harus marah? Dia mau punya istri lagi saja tak peduli sama aku, mengapa aku berangkat kerja disamperin kamu aku harus takut?”

“Tapi suamimu ada di rumah tidak?”

“Sudah pergi. Kami belum bicara semalam, dia juga tidak berusaha mengajak aku bicara tentang telpon dia kemarin siang.”

“Sebelum kerja juga tidak mengatakan apa-apa?”

“Tidak. Orang aneh. Dia takut pada bayangannya sendiri. Punya keinginan, tapi takut mengatakannya.”

“Jadi sebaiknya kamu yang lebih dulu mengajaknya bicara.”

“Nanti saja, sekarang samperin aku ya. Nanti kita bicara lagi.”

“Baiklah, kalau begitu.”

Adri masuk ke dalam mobilnya, lalu memacunya ke rumah Dwi. Memang benar mobil Dwi masih ada di kantor, jadi tidak aneh kalau dia minta disamperin.

***

Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Dwi masih saja nyerocos bercerita tentang suaminya, yang tampaknya masih takut mengatakan masalah menikah lagi saat berhadapan dengan dirinya.

“Aneh sekali suami kamu itu. Jadi benar seperti apa yang aku katakan tadi, bahwa kamu memang harus mendahuluinya bicara. Kalau tidak, masalah kamu tak akan selesai.”

“Nanti sore sepulang kantor aku akan bicara sama dia.”

Tiba-tiba ponsel Dwi berdering.

Dwi mengambil ponselnya lalu berbisik.

“Dari mertuaku,” lalu dia mengangkatnya.

“Dwi, apa kamu masih di rumah?”

“Tidak Bu, sudah dalam perjalanan ke kantor.”

“Oh, baiklah, aku hanya ingin bicara sebentar saja, atau tepatnya hanya ingin bertanya, apakah suami kamu sudah mengatakan tentang_”

“Sudah Bu,” Dwi memotongnya.

“Baiklah, jangan kamu merasa sakit hati, kamu tetap akan menjadi istrinya, suami kamu hanya ingin memiliki anak. Aku harap kamu mengerti.”

“Saya mengerti Bu, maaf, saya sudah sampai di kantor,” kata Dwi sambil menutup  ponselnya. Lalu ia menghela napas panjang. Sesungguhnya kantor masih kira-kira sekilo meter lagi, tapi Dwi enggan bicara lebih lama, karena intinya Dwi sudah tahu.

“Beres?” tanya Adri.

“Beres apanya? Mertua aku hanya ingin meyakinkan bahwa anaknya sudah membicarakannya tentang pernikahan itu.”

“Lalu?”

“Aku bilang sudah bicara, dan dia mengatakan agar aku jangan sakit hati. Apa dikiranya hatiku terbuat dari batu?” kata Dwi sambil terisak.

“Ya sudah, jangan menangis lagi.”

“Aku tetap mau bercerai.”

“Pikirkan dulu baik-baik. Kamu kan belum bicara sama suami kamu?”

“Tak akan ada hasilnya. Orang tuanya berperan di situ, jadi sudah jelas dia tak akan membatalkan keinginannya. Ya sudah, mau apa lagi,” kata Dwi masih dengan terisak.

Adri menepuk punggungnya untuk menenangkannya, tapi Dwi malah ambruk di pundaknya, menangis di sana.

***

Siang harinya, Dwi dan Adri makan di luar lagi. Banyak yang Adri ungkapkan untuk menenangkan hati Dwi, tapi tampaknya niat Dwi sudah bulat, ia harus bercerai kalau suaminya nekat mau menikah lagi.

“Sayang sekali aku terlambat mendekati kamu Adri, aku akan senang memiliki suami seperti kamu. Bisa menenangkan, bisa menghibur, bisa melindungi juga.”

Adri tersenyum. Ia belum pernah merasa dibutuhkan istrinya yang selalu bisa mandiri, dan berdekatan dengan Dwi yang seakan merasa bahwa dia adalah pelindung yang baik, sangat membuatnya berbesar hati. Ia merasa bahwa dirinya punya arti.

Mereka asyik berbincang, tanpa menyadari bahwa seorang wanita setengah tua sedang masuk ke dalam rumah makan itu bersama pembantunya, Wanita itu menatap mereka, dan sang pembantu hampir saja berteriak memanggil kalau sang nyonya tidak menutupkan jari telunjuk ke mulutnya.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, February 13, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 08

 BIARKAN AKU MEMILIH  08

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menatap lembaran kertas hasil tes DNA itu dengan tatapan tak percaya. Adri … suaminya … melakukan tes DNA untuk Pratama? Apakah artinya bahwa Adri tidak mempercayai kesetiaannya? Nirmala tak habis pikir, apa yang sudah dilakukannya, bahkan terang-terangan menentang kehendak sang ayah, tidakkah cukup menunjukkan bahwa dirinya hanya mencintai Adri?

Dengan kesal Nirmala duduk, lalu meraih ponselnya. Ia sangat marah, tapi nomor yang sudah ditemukannya urung di tekannya. Ini jam sibuk, pasti tidak enak rasanya mendapat telpon dari seorang istri yang marah-marah. Nirmala kembali meletakkan ponselnya. Dalam kekesalannya dia masih bisa menjaga suaminya, agar jangan terganggu pekerjaannya. Baiklah, Nirmala akan menunggu sampai dia pulang saja. Kemudian ia melanjutkan kegiatannya bersih-bersih, mumpung ada waktu luang sebelum ia kembali disibukkan oleh tugas di kantornya.

Dari belakang bibik menawarkan apa sang nyonya majikan menginginkan sesuatu masakan untuk makan siang nanti, tapi Nirmala menggelengkan kepalanya.

“Terserah Bibik saja, apapun aku suka kok,” katanya berusaha ramah.

“Baiklah Nyonya.”

“Mbak Rana saja suruh menyiapkan makanan untuk Pratama seperti biasanya.”

“Sepertinya sudah Nyonya, mbak Rana sudah tahu apa yang harus dilakukannya.”

“Iya Bik, aku mengerti. Seharusnya aku tak perlu mengingatkannya,” katanya kemudian menyibukkan diri dengan menata kamarnya.

Bibik kembali ke dapur sambil berpikir, sikap sang nyonya majikan yang agak lain pagi ini. Wajahnya muram seperti sedang memikirkan sesuatu, padahal biasanya selalu tampak berseri-seri, bahkan pagi tadi masih tampak cerah ceria.

Nirmala kembali merapikan almari sang suami, tapi ia menyisihkan surat hasil lab itu dan meletakkannya di meja.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Bima, tak biasanya Bima menelpon pagi-pagi.

“Ya, Bima?”

“Kamu sedang di kantor? Aku hanya akan bilang sebentar sebelum sangat sibuk, maaf kalau mengganggu pekerjaan kamu.”

“Tidak, aku sedang di rumah.”

“Tidak kerja?”

“Baru pulang dari dinas luar pagi tadi, ingin istirahat sehari ini. Ada apa? Tumben menelpon pagi-pagi.”

“Iya, maaf, aku hanya ingin mengingatkan bahwa aku mengundang kamu di acara pertunangan aku besok sore. Tempat dan jamnya aku kirimkan lewat WA ya.”

“Oh, baiklah. Mendadak sekali, besok sore?”

“Iya, maaf, baru ingat kalau belum mengirimkan waktu dan jamnya pada kamu.”

“Baiklah, terima kasih Bima, aku usahakan datang.”

“Datanglah bersama suami kamu.”

“Iya, gampang.”

Walau begitu Nirmala tak ingin berjanji untuk datang bersama Adri. Ia masih kesal dan kalaupun datang ia ingin sendiri saja. Lagipula ia tak yakin Adri mau datang karena ia sangat tidak menyukai Bima yang dianggapnya sebagai saingan.

***

Sementara itu saat makan siang di kantor, Dwi memasuki ruang Adri dengan wajah muram. Matanya sembab, seperti habis menangis. Adri menatapnya dan mengerutkan keningnya.

“Apa yang terjadi?”

Dwi duduk di depan meja kerja Adri.

“Masalah pekerjaan?”

“Bukan. Bisakah kita bicara di luar? Aku harus mengatakannya sama kamu untuk mengurangi beban yang berat ini dalam hidupku.”

“Masalah apa?”

“Bisakah kita keluar makan?”

“Baiklah.”

Adri berdiri setelah merapikan berkas di mejanya, lalu mengikuti Dwi keluar ruangan.

***

Mereka mencari rumah makan yang sepi, agar bisa berbicara dengan nyaman.

“Katakan ada apa?” tanya Adri setelah memesan makan dan minum.

“Suamiku.”

“Kenapa? Sakit lagi? Masuk rumah sakit lagi?”

“Aku mau cerai.”

“Cerai? Baru berapa tahun kalian menikah, sudah mau cerai?”

“Adri, kamu tidak tahu, rumah tanggaku ini sebenarnya sudah lama tidak baik-baik saja.”

Adri mengerutkan keningnya.

“Tidak baik-baik saja?”

“Aku tidak segera hamil, dan mertuaku selalu mengomel dan mengatakan bahwa aku bukan wanita yang sempurna. Ia ingin memiliki cucu secepatnya.”

“Bagaimana dengan suamimu?”

“Suamiku hanya diam. Barangkali dalam hati dia juga mengatakan hal yang sama. Tapi tidak dikatakannya padaku. Lalu siang tadi dia menelpon, bahwa dia akan menikah lagi dengan gadis pilihan orang tuanya.”

“Haa? Bicara masalah sebesar itu, hanya menelpon?”

“Sejak pagi dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi diurungkannya. Tadi ketika menelpon, dia bilang tak sampai hati bicara berhadapan muka, karenanya dia menelpon.”

“Ya Tuhan.”

“Adri, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus diam saja dengan menerima kenyataan itu, apakah aku harus menentangnya, atau bagaimana? Tolong katakan Adri, hanya kamu yang bisa menolong aku,” kata Dwi, lalu air matanya sudah tergenang di pelupuknya.

Tiba-tiba Adri merasakan sesuatu yang aneh. Ia seperti menjadi laki-laki yang dibutuhkan dan punya arti. Dwi mencurahkan penderitaannya dan mengatakan bahwa dirinyalah yang bisa menolongnya, sementara dalam rumah tangganya, Nirmala seperti tak pernah membutuhkannya. Nirmala bisa melakukan apapun sendiri, memutuskan apapun sendiri tak pernah membutuhkan dirinya. Dan merasa dibutuhkan itu ternyata memiliki arti sendiri bagi Adri. Ia laki-laki yang bukan sekedar laki-laki kuat dan bisa melindungi, tapi juga laki-laki yang benar-benar dibutuhkan oleh seorang perempuan.

Ia menatap Dwi dengan iba. Tangannya meraih tangan Dwi yang terletak di atas meja, menepuknya perlahan.

“Aku mengerti apa yang kamu rasakan.”

“Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin minta cerai saja.”

“Jangan.”

“Dia akan punya istri lain, Adri, aku tak mau dimadu.”

“Kalian belum bicara dari hati ke hati. Dibutuhkan komunikasi untuk memutuskan suatu masalah. Bukan sekedar tak suka lalu pergi seperti orang sedang bermain-main. Diantara kalian selalu baik-baik saja. Permasalahannya ada pada mertua kamu yang ingin segera menimang cucu.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Bicaralah dengan suami kamu, apakah menikah lagi itu perlu, sementara kalian masih saling mencintai.”

”TIba-tiba rasa cinta itu sudah hilang.”

“Dwi, semudah itu?”

“Entahlah, aku bingung.”

Sampai acara makan siang itu usai, Dwi belum mengatakan apa yang akan dilakukannya. Ia justru tak ingin bertemu suaminya hari itu.

Karenanya saat usai jam kantor, Dwi mendekati Adri.

“Adri, aku tak mau pulang.”

“Apa maksudmu?”

“Bawalah aku pergi.”

“Apa?”

“Aku tak mau pulang Adri, aku akan ikut bersamamu.”

“Dwi, kamu tahu bahwa aku harus pulang. Apa kata istriku kalau kamu ikut pulang bersamaku?”

“Kalau begitu bawa aku ke mana saja. Kalau tidak, aku akan pergi entah ke mana.”

***

Sudah saatnya Adri pulang. Nirmala duduk di teras, menunggu dengan hati yang masih terasa kesal. Ia harus bicara dengan suaminya tentang ditemukannya hasil lab DNA itu. Ia tak terima dengan perlakuan sang suami.

Tapi hari mulai gelap ketika Adri belum tampak batang hidungnya. Nirmala mulai gelisah. Tak biasanya Adri pulang terlambat tanpa memberi tahu terlebih dulu. Karena itu kemudian dia menelponnya.

“Aku pulang terlambat. Kalau mau makan, makanlah dulu,” kata Adri dari seberang sana.

“Kamu masih di kantor?”

“Sedang ada urusan di luar.”

Lalu ponsel Adri dimatikan. Nirmala heran, ia merasa Adri tidak sedang berada di kantor. Kekesalan Nirmala bertambah. Minuman yang terhidang sudah menjadi dingin, tapi darah di kepalanya semakin panas.

***

Adri terpaksa membawa Dwi berputar-putar kota, sambil terus menghibur dan meredakan kemarahan Dwi atas keputusan yang dikatakan suaminya.

“Dwi, ini bukan jalan yang baik. Mau tidak mau kamu harus menghadapinya, baik suami kamu tetap akan menikah lagi, atau membatalkannya. Kalian belum bicara. Kalau suami kamu segan atau berat mengatakan itu di hadapan kamu, kamulah yang harus memulainya. Bicaralah dari hati ke hati, apa benar suami kamu menikah hanya atas kemauan orang tuanya, atau memang ada niat di hatinya untuk menikah lagi.”

Hari sudah malam ketika akhirnya Dwi mau diantarkan pulang, apalagi ketika tahu bahwa istri Adri sampai menelpon.

“Bicaralah dari hati ke hati,” pesan Adri yang diulangnya beberapa kali sebelum ia benar-benar meninggalkannya.

***

Ketika mobil Adri memasuki halaman, dilihatnya Nirmala masih duduk di teras. Wajahnya muram, tak sedikitpun ada senyum seperti biasa, saat ia menyambut kepulangan sang suami.

“Aku ada urusan. Maaf.”

“Minuman yang aku sediakan sudah dingin, aku buatkan lagi,” kata Nirmala sambil berdiri.

“Tak usah, biar dingin nggak apa-apa,” kata Adri sambil duduk, lalu meneguk kopi manis yang terhidang dan benar-benar sudah dingin.

“Nanti aku ceritakan tentang keterlambatan aku pulang hari ini.”

Nirmala mengulurkan amplop yang dari tadi terletak di meja.

“Apa ini?”

“Aku yang seharusnya bertanya. Ini apa artinya,” kata Nirmala dingin.

***

Besok lagi ya.

 

 

Thursday, February 12, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 07

 BIARKAN AKU MEMILIH  07

(Tien Kumalasari)

 

Dwi menatap Adri tak percaya, wajahnya mendadak berseri-seri.

“Adri … ini benar kan? Aku tidak mimpi?” pekiknya riang.

“Masa iya kamu mimpi, aku sudah memanggil namamu tadi. Tidak menyangka juga, kamu yang dikirim dari pusat. Namamu Dwiyanti? Aku tahunya hanya Dwi, tidak tahu kepanjangannya, jadi tidak mengira itu kamu,” kata Adri dengan wajah berseri.

“Aku baru setahun bekerja, aku dipromosikan menjadi manager pemasaran di kantor ini. Tak tahunya kamulah pimpinanku. Ini sangat menyenangkan,” katanya sambil meletakkan map yang dibawanya ke meja Adri.

“Agak lama kita tidak bertemu. Saat aku menikah kamu juga tidak datang. Kenapa?”

“Itu aku sedang kebingungan mencari pekerjaan setelah menikah. Lagipula kamu juga tidak datang ketika aku menikah.”

“Kamu tidak mengundangku, mana aku tahu?”

“Masa? Aku titipkan undangan pada ibumu.”

“Oh ya? Mungkin waktu itu aku sedang bebenah dalam kepindahanku ke rumah baru.”

“Enak ya, sudah jadi pejabat, bisa punya rumah sendiri. Tapi kan kabarnya kamu punya mertua yang kaya raya?”

“Bukan karena mertua aku, aku masih ngontrak. Tidak ingin bergantung kepada mertua.”

“Benarkah?”

“Banyak yang tidak percaya, tapi memang itulah kenyataannya.”

“Bagus sekali. Memang enak memiliki sesuatu yang didapatkan dari hasil keringat sendiri.”

“Kita harus ngobrol nih, ayo pindah duduk di sofa saja, ini lepas dari pertemuan antar pekerja, ini antara teman lama,” kata Adri sambil berdiri, dan mendahului duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

Mereka mengobrol ke sana kemari dengan wajah riang. Mereka adalah teman masa kecil, dan rumah mereka tidak berjauhan. Mereka berpisah ketika sama-sama kuliah di tempat yang berbeda.

Mereka masih terus mengobrol, yang terkadang diselingi tawa gembira. Adri merasa menjadi remaja yang membuatnya menemukan seseorang yang dulu begitu dekat dengannya. Dwi pintar bicara, dan itu sangat menghibur. Hal yang jarang ditemui saat di rumah, dimana istri sibuk bekerja, lalu sibuk mengurus anak ketika pulang kerja.

Biasanya di kantor Adri juga hanya mengurus pekerjaan, mengontrol staf yang menjadi bawahannya, dan itu membuatnya selalu bersikap sangat serius dan terkadang keras.

***

Sepulang kerja, rumah sangat terasa sepi. Istri dan anaknya belum pulang. Seorang pembantu menyiapkan minum dan menata makan siang untuknya, sendiri saja.

Nirmala menelponnya pagi tadi, menanyakan keadaannya dan mengucapkan selamat pagi serta selamat bekerja. Kemudian selesai.

Malam itu Adri sangat lelah, ia merasa kamarnya sangat dingin dan senyap. Seandainya ada teman mengobrol ….

Adri meraih ponselnya, lalu memutar nomor kontak Dwi dengan berdebar-debar, takut ada suaminya di samping Dwi. Jadi ia hanya coba-coba saja. Tak disangka dengan cepat Dwi mengangkatnya.

“Adri?” sapanya dari seberang.

“Eh, apa kamu sendirian?”

“Iya, aku sendirian, kebetulan kamu menelpon, jadi ada teman ngobrol.”

“Suami kamu?”

“Biasa, hampir setiap malam dia pergi dengan teman-temannya.”

“Dugem?”

“Entahlah, katanya sih hanya ngontrol di pos penjagaan itu. Kalau malam ramai sekali di sana.”

“Owh, untunglah, tadi aku takut kalau-kalau suami kamu yang menerima telpon aku.”

“Tidak mungkin, dia jarang di rumah.”

“Bagus, kalau begitu aku juga senang bisa punya teman ngobrol.”

“Istrimu belum pulang?”

“Belum, mungkin beberapa hari. Dia kan bos kecil,” katanya sambil tertawa.

“Senengnya, suami istri sama-sama bos.”

“Terkadang kedudukan itu tidak terlalu penting.”

“Bukankah semua orang selalu ingin punya kedudukan?”

“Benar, tapi yang penting adalah kebersamaan setiap saat.”

“Nah, aku juga berpikir begitu.”

“Senang sekali aku bertemu kamu lagi. Kamu sudah punya anak berapa sih, tadi lupa nanya.”

“Aku belum punya anak. Ingin sekali sih, tapi nggak tahu nih, belum juga dapat.”

“Sabar saja. Aku sih, menikah sebulan, istri langsung hamil.”

“Senengnya.”

Mereka ngobrol sampai larut, dan baru berhenti ketika ada ketukan di pintu depan.

“Suamiku sudah pulang. Sudah dulu ya, dilanjut besok, di kantor.”

Adri meletakkan ponselnya dan menguap, ia menahan kantuk karena mengobrol dengan perasaan senang. Ia memeluk guling di sampingnya, lalu terlelap tak lama kemudian.

***

Seperti biasa, pagi sebelum berangkat ke kantor, Nirmala selalu menelpon.

“Adri, sudah sarapan?”

“Sudah mau berangkat nih.”

“Kamu tidak menanyakan keadaan Pratama?”

“Ya, dia baik-baik saja kan?”

“Semalam badannya anget, tapi sudah aku bawa ke dokter.”

“Mengapa semalam tidak menelpon aku?”

“Menelpon, tapi kelihatannya kamu sibuk. Sedang telponan dengan siapa?”

“Oh, hanya rekan kantor,” katanya tanpa merasa berbohong. Bukannya Dwi adalah rekan kantornya?

“Lalu aku tidak menelpon lagi. Pratama sudah tidak apa-apa. Mungkin kangen sama ayahnya.”

“Tentu saja, kapan kamu selesai?”

“Mungkin sehari dua hari ini aku sudah kembali. Sudah dulu ya, aku segera ke kantor, sopir sudah menunggu.”

Adri meletakkan ponselnya. Sedikit menyesal tidak mendengar berita anaknya sakit karena asyik mengobrol. Tapi ia merasa lega karena katanya Pratama sudah baik-baik saja.

Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Dari Dwi? Ada apa pagi-pagi menelpon?

“Ya, Dwi?”

“Aku nanti datang terlambat, sekarang ada di rumah sakit.”

“Kamu sakit?”

“Tidak, suamiku semalam pulang lalu diare sampai pagi. Barusan aku bawa ke rumah sakit.”

“Oh, salah makan, barangkali?”

“Entahlah, dia kalau pergi-pergi begitu suka jajan sembarangan bersama teman-temannya. Ya sudah, kalau sudah beres aku langsung ke kantor.”

“Semoga suami kamu baik-baik saja.”

“Terima kasih Adri.”

Adri berangkat ke kantor. Tidak seperti biasanya selalu kalau datang dia pasti melongok ke ruang kerja Dwi, kali ini ia langsung menuju kantornya karena tahu kalau Dwi belum datang. Diam-diam Adri berharap saat makan siang nanti Dwi sudah datang, sehingga mereka bisa ngobrol sambil makan di kantin, atau makan diluar seperti kemarin.

Adri heran pada dirinya sendiri, mengapa akhir-akhir ini ia selalu lebih bersemangat berada di kantor. Karena ada Dwi yang ceriwis dan sangat menghibur? Atau karena keceriaan bersama Dwi tidak didapatkan di rumah karena Nirmala selalu sibuk dan sibuk? Padahal Nirmala hanya ingin berbuat baik sebagai ibu rumah tangga. Ia bekerja saat siang, tapi sore dan malam harus selalu ada bersama anak semata wayangnya yang sudah mulai bisa bicara lucu. Hanya saat malam ada waktu buat sang suami, itupun sudah kelihatan sama-sama lelah dan kalaupun berbincang seperti sangat dipaksakan.

***

Dua hari kemudian Nirmala pulang saat pagi benar, dan Adri belum berangkat bekerja. Adri langsung menggendong Pratama dan menciumi pipi gembulnya.

“Kamu habis sakit?”

“Akit,” katanya sambil memegangi kepalanya dengan lucu.

“Lain kali nggak boleh sakit lagi ya.”

“Mmh … “ celoteh lucu yang belum jelas membuat Adri sangat senang. Tapi tidak lama, karena ia harus pergi ke kantor.

“Kamu juga mau ngantor? Tanyanya kepada sang istri.”

“Tidak, aku istirahat dulu hari ini.”

“Ya sudah, aku berangkat dulu,” katanya sambil menyerahkan Pratama kepada sang istri.

Nirmala mencium tangan sang suami sebelum keberangkatannya, lalu ia mencium kening Pratama.

“Bapak pergi dulu ya,” katanya lembut.

“Apaaaaak … “ dan Pratama melambaikan tangan kecilnya dengan lucu.

***

“Nirmala sudah pulang?” tanya Dwi ketika mereka makan siang di kantin.

“Sudah, pagi tadi sebelum aku berangkat kerja.”

“Suamiku juga sudah pulang dari rumah sakit kemarin sore.”

“Syukurlah, aku ikut senang.”

“Semoga kebiasaannya makan sembarangan bisa hilang dengan sakitnya kali itu. Entah apa yang dimakannya, dia keracunan.”

“Kalau mau pergi selalu suruh dia makan, biar kenyang.”

“Suka jajan itu tidak selalu karena lapar Adri, memang pengin jajan, begitu saja. Kan senang kalau banyak temannya lalu ngemil sesuatu yang entah apa. Enak atau tidak bukan masalah, karena tertutup rasa senang itu tadi.”

“Itu sebabnya kamu tidak segera punya anak. Suami sering keluar malam.”

“Begitukah?”

“Mungkin,” kata Adri sembarangan.

“Barangkali memang suami aku terlalu lemah.”

“O … “ Adri tak melanjutkannya. Terasa nggak enak melanjutkan perbincangan ‘terlalu lemah’ itu tadi.

Lalu mereka berbincang tentang hal lain, sampai waktu istirahat usai lalu disibukkan oleh tugas masing-masing.

***

Nirmala tidak berlama-lama tiduran karena lelah. Ia bermaksud membersihkan kamar dan membenahi almari pakaian sang suami yang berantakan. Tampaknya ia sembarangan mengambil baju, tanpa peduli akan kerapiannya. Berbeda kalau Nirmala ada di rumah, setiap hari selalu merapikan kembali almarinya setelah mengambilkan baju sang suami.

Karena berantakan, Nirmala mengeluarkan semua baju untuk ditatanya dari bawah, agar tampak rapi kembali.

Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari bawah alas almari, sebuah amplop. Nirmala memungutnya, dari sebuah rumah sakit. Nirmala membukanya dan matanya terbelalak.

Hasil tes DNA Pratama? Gemetar tangan Nirmala ketika membacanya. Untuk apa tes DNA ini? Pikirnya .

***

Besok lagi ya,

 

 

BIARKAN AKU MEMILIH 11

  BIARKAN AKU MEMILIH  11 (Tien Kumalasari)   Adri tertegun. Ini sudah jam 11 malam, tapi Dwi masih menahannya. Ia menatap wajah pucat itu, ...