Saturday, June 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 35

 NAMAKU TETAP SENJA  35

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap kepergian Rosa dengan takjub. Perempuan egois yang tidak disukainya ternyata punya sisi baik yang mengagumkan. Ia membantu orang secara total, dan itu membuatnya kagum.

Ia segera berkemas dan berbalik masuk ke dalam untuk menemui ibunya.

“Ayahmu sudah berangkat?” tanya sang ibu yang tadi masih ada di kamar mandi.

“Sudah, apa bapak tidak pamit pada Ibu?”

“Tadi bilang, tapi ketika berangkat aku tidak tahu. Kata bibik, tadi ada tamu, dia mau buat minuman. Siapa tamunya?”

“O itu tadi Rosa.”

“Rosa? Pagi-pagi datang kemari?”

“Dia dari rumah Senja.”

“Pesan beras lagi?”

“Tidak. Ibu kan sudah tahu kalau Senja diculik?”

“Iya, ayahmu sudah cerita sambil marah-marah. Ternyata yang menolong adalah Rosa. Ternyata dia bisa berbuat baik.”

“Tadi dia dari rumah Senja, maksudnya mau mengantar sekolah. Tapi Senja belum bisa masuk sekolah karena telapak kakinya masih sakit.”

“Kasihan. Kamu juga sudah cerita tentang luka-lukanya Senja. Beruntung dia selamat.”

“Penolong selanjutnya setelah dia bisa kabur setelah disekap kan Rosa, dia melihatnya terluka ditepi jalan sepi, lalu membawanya ke rumah sakit.”

“Syukurlah, ternyata Rosa bisa berbuat baik.”

“Arka berangkat dulu ya Bu.”

“Iya, hati-hati. Agak kesiangan ya?”

“Tidak apa-apa, bapak sudah lebih dulu ke kantor.”

Arka mencium tangan sang ibu lalu berangkat ke kantor.

***

“Tadi Non Rosa datang kemari?”

“Iya, cuma sebentar Mbok.”

“Anak baik, bilang apa dia, mengapa kemari hanya sebentar?”

“Katanya mau mengantarkan Senja ke sekolah karena dia tahu kaki Senja sakit.”

“Non cantik itu ternyata baik hati. Lalu kamu tidak menyuruhnya masuk?”

“Senja sungkan. Kalau masuk mau didudukkan di mana? Dulu dia pernah menolak duduk di bangku depan rumah itu kan?”

“Iya sih, orang kaya jarang yang mau duduk di bangku kotor.”

“Jadi ketika tahu bahwa Senja tidak masuk sekolah, lalu dia langsung pulang. Katanya besok mau kemari lagi, barangkali Senja sudah siap masuk sekolah.”

“Kakimu masih sakit kan?”

“Ya sih, tapi kan sudah dibebat.”

“Jangan buru-buru masuk dulu.  Biarkan dulu, sekalian kamu istirahat beberapa hari.”

“Baiklah.”

“Kamu masih belajar? Simbok belikan jajan pasar, buat kamu ngemil,” katanya samil meletakkan bungkusan daun pisang, kemudian diambilnya piring dan ditaruh isi bungkusan di piring itu.

“Wah, ini utri sama klepon. Enak sekali.”

“Makanlah, Simbok mau masak sambel goreng ikan pindang.”

“Simbok kok masak enak. Ikan bukannya mahal?”

“Ikan pindang sangat murah. Dia kan ikan asin biasa. Sudah, lanjutkan belajarnya sambil ngemil.”

“Senja separuh saja, yang separo untuk Simbok.”

“Tidak usah, Simbok sudah beli sendiri. Ini, makannya sama sendok kecil, supaya tanganmu tidak kotor.”

Senja tersenyum, Ia mengambil sebutir klepon dengan sendok, ketika masuk ke dalam mulutnya, klepon itu pecah, mengeluarkan gula jawa yang manis.

***

“Dari mana kamu sepagi ini?” tanya bu Daryono ketika melihat Rosa memasuki rumah.

“Dari rumah om Wiguna.”

“Mau apa kamu pagi-pagi ke sana? Kan ibu sudah mengingatkan agar kamu tidak terlalu mengejarnya?”

“Rosa bukan mengejar Arka, Rosa kan sudah bilang ingin melupakannya.”

“Lalu untuk apa kamu pagi-pagi ke sana?”

“Ibu kan tahu, kemarin Rosa menolong Senja yang baru kabur dari penculik.”

“Itu benar?”

“Ternyata Ibu tidak percaya? Ini benar Bu, itu sebabnya kemarinnya Rosa pulang larut. Rosa meninggalkan Senja di rumah sakit setelah Arka datang.”

“Kalau benar kamu melakukannya, ibu senang. Terus terag kemarin ketika kamu cerita, ibu tidak percaya.”

“Iih, Mama jahat deh. Masa aku tidak bisa berbuat baik?”

“Iya … iya, lalu apa hubungannya dengan kamu mampir ke rumah keluarga Wiguna?”

“Tadi tuh hanya mampir. Rosa dari rumah Senja, bermaksud mengantarkannya ke sekolah kalau Senja mau sekolah. Tapi kaki Senja masih sakit, jadi belum bisa masuk sekolah. Lalu Rosa pulang. Rosa mampir ke rumah om Wiguna, untuk mengatakan pada Arka bahwa Senja belum bisa masuk sekolah.”

“Harus melapor kepada Arka?”

“Iya Ma, Arka selalu merasa bertanggung jawab atas keselamatan Senja, karena ketika diculik, Senja sedang bersamanya. Jadi Arka berhak tahu keadaan Senja kan Ma?”

Bu Daryono tersenyum. Heran tapi bersyukur Rosa bisa melakukannya.

“Rosa mau tidur lagi ya Ma, ngantuk, tadi bangunnya kepagian.”

Bu Daryono tersenyum.

“Kirain mau bantuin bibik masak.”

Rosa tertawa kecil.

“Lain kali Ma, ini Rosa ngantuk banget,” katanya sambil menjauh.

Bu Daryono geleng-geleng kepala. Mana dia tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati Rosa.

“Semoga dia menjadi baik," gumamnya.

***

Siang itu Rimba pulang dan merasa senang melihat kakaknya sudah tampak sehat, tidak lagi pucat seperti ketika ditinggalkannya saat pagi sebelum dia berangkat sekolah.

Mereka bertiga makan siang dengan gembira.

“Kaki Mbak masih terasa sakit?”

“Sudah banyak berkurang. Bukankah dokter mengatakan bahwa hanya luka luar yang tidak berbahaya?”

“Kata mas Arka, besok harus kontrol bukan?”

“Oh, benarkah? Simbok malah tidak tahu kalau besok harus kontrol.”

“Kamu salah Rimba, setelah seminggu kontrolnya, bukan besok.”

“Kirain besok, kalau besok aku ikut.”

“Kamu tidak sekolah?”

“Besok aku pulang pagi, ada rapat guru-guru di sekolah.”

“O, mungkin karena hampir kenaikan kelas itu.”

“Kalau begitu aku bisa menemani mbak Senja di rumah.”

“Kalau kamu bisa pulang awal, Simbok mau jalan keliiing, tadi sudah libur,” kata mbok Mangun.

“Sebenarnya tidak apa-apa kalau Simbok di rumah saja beberapa hari.”

“Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja besok itu ada yang pesan beras dan minta dikirim. Sebenarnya mundur besoknya juga tidak apa-apa, tapi Simbok sudah janji besok. Sebaiknya besok Simbok kirim. Tidak apa-apa kalau setelah itu di rumah.”

“Jauhkah? Kalau dekat, dan kalau tidak berat, Rimba bisa membantu Simbok.”

“Tidak begitu jauh, hanya lima kilo.”

“Biar Rimba kirim ya Mbok, sepeda mbak Senja ringan, Rimba bisa membawanya. Hanya lima kilo bisa Rimba bawa.”

“Jangan, jalanan ke sana rame. Dekat alun-alun.”

“Iya Rimba, kamu masih kecil. Biarpun bisa naik sepeda, tapi kalau jalanan rame lebih baik tidak usah.”

Rimba merengut. Begitu besar keinginannya membantu simboknya, seperti Senja yang selalu bisa melakukannya.

“Kalau kamu sudah besar, kamu bisa. Lagi pula Simbok mau berangkat pagi-pagi, supaya bisa cepat pulang.”

Mereka berbincang hangat sambil menghabiskan makanan, sampai hari menjelang sore.

***

Arka hampir pulang ketika ponselnya berdering. Dari Rosa. Biasanya dia tak mengacuhkannya, tapi kali itu tidak. Arka segera mengangkatnya.

“Ya, Rosa.”

“Ka, apa kamu ada rencana untuk ke rumah Senja sepulang kantor?”

“Ini aku mau ke sana, ingin melihat keadaannya.”

“Aku ikut boleh?”

“Kamu sudah ke sana pagi tadi kan?”

“Iya, tadi aku melihat banyak buah-buahan di rumah, aku ingin mengirimkannya untuk Senja.”

“Tapi aku mau berangkat sekarang.”

“Aku samperin ke kantor kamu ya. Sekalian ingin melihat keadaannya, soalnya pagi tadi masih kelihatan pucat.”

“Baiklah, buruan ya, aku tunggu, aku mau ke sana sekarang.”

“Aku cari taksi dulu, sebentar.”

Arka membenahi berkas-berkas di meja dan memasukkannya ke dalam laci.

“Telpon dari siapa?” tiba-tiba ayahnya masuk.

“Dari Rosa.”

“Kencan mau ke mana? Tapi baiklah, bapak mau pulang dulu, senang kamu mau bersikap ramah seperti tadi yang bapak dengar,” kata pak Wiguna sambil tersenyum.

Arka tak menjawab, dan pak Wiguna beranjak pergi dengan banyak harapan ketika tadi mendengar Arka bertelpon dengan Rosa dan sikapnya sangat baik.

***

Seperti yang dikatakannya di telpon, Rosa membawa sekeranjang kecil buah-buahan. Ia datang naik taksi, sehingga ia dan Arka bisa semobil dan Rosa tidak usah meninggalkan mobilnya di kantor Arka.

“Kamu membawa buah-buahan dari rumah? Apa tidak ditegur mama kamu mengambil persediaan buah di rumah?”

“Mama belanja banyak, aku hanya mengambil sebagian.”

“Aku mau mampir beli makanan di toko roti.”

“Tidak apa-apa, biar Senja senang banyak makanan untuk dia.”

Arka menghentikan mobilnya di sebuah toko roti.

“Aku ikut ya,” kata Rosa yang duduk di seberang kemudi. Arka hanya mengangguk.

Tapi ketika ia turun, tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas. Rosa terjatuh, dan menjerit keras.

***

Besok lagi ya.

Friday, June 26, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 34

 NAMAKU TETAP SENJA  34

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun bergegas menuju ke kamar Senja, dilihatnya tangan Senja menuding-nuding sambil berteriak.

“Aku tak pernah berusaha membunuhnya. Kamu yang membunuhnya. Perempuan jahat! Kamu jahat dan berpura-pura jadi baik. Munafik! Hatimu kotor!!”

Mbok Mangun meraih tangan anaknya pelan.

“Senja … Senja … bangunlah.”

“Pergi ! Kamu memfitnah aku!!”

“Senja, ini Simbok. Bangunlah, kamu bermimpi apa?”

Simbok menepuk-nepuk pipi Senja, sedikit keras. Rimba yang tertidur nyenyak juga terbangun mendengar teriakan kakaknya. Ia mengucek matanya dan berdiri di tengah pintu, menatap sang kakak dengan heran.

“Ini Simbok, buka matamu. Kamu ada di rumah, bersama Simbok.”

Dan Senja akhirnya membuka matanya, menatap simboknya dengan mata kosong, dan kebingungan.

“Simbok?”

“Ini aku, Simbokmu. Kamu mimpi apa?”

Rimba tampak mendekat dengan membawa segelas air putih. Ia adik yang penuh pengertian. Diulungkannya gelas itu, sementara mbok Mangun mengangkat kepalanya.

“Minumlah dulu, biar tenang.”

“Rimba?”

“Ini aku. Minumlah.”

Senja meneguk minumannya. Kepalanya terasa pening, luka di kakinya berdenyut. Ia melihat ke sekeliling kamar.

“Aku di kamarku ya?”

“Ini kamarmu, ada apa? Tadi simbok tidur di sebelahmu sini. Rimba sendirian. Ada apa? Kamu mimpi buruk.”

Senja mengulurkan gelas kosong itu kepada Rimba.

“Iya Mbok, syukurlah hanya mimpi.”

“Mimpi digigit ular ya Mbak? Kamu akan dapat jodoh,” canda Rimba.

“Hish! Ngawur,” sergah simboknya.

“Non Rosa itu kan wanita baik," gumam Senja.

“Dia sangat baik Nduk. Dia menyelamatkan kamu. Walau kelihatan angkuh, tapi dia baik.”

“Aku bermimpi yang sebaliknya. Dia membunuh seseorang, tapi dia memfitnahku, aku hampir ditangkap polisi.”

“Ya ampun, jangan dipikirkan. Itu kan hanya mimpi. Sekarang Simbok mau wudhu dulu.”

“Rimba, tuntun aku, aku juga mau wudhu,” kata Senja.

“Kakimu kan dibalut. Bagaimana kalau basah? Bukankah semalam Mbak juga shalat sambil tiduran?”

“Ambilkan kursi agar aku bisa duduk. Nanti aku atur sendiri.”

“Baiklah.”

***

Pagi hari itu Senja diam di rumah, hanya Rimba yang masuk sekolah. Mbok Mangun tidak pergi berjualan, karena hatinya belum tenang setelah kejadian menghebohkan keluarganya sejak kemarin siang.

Ia memberikan sarapan untuk Senja, agar ia bisa segera meminum obat, lalu ia pamit untuk pergi ke pasar.

“Kamu mau dimasakin apa Nduk?”

“Simbok aneh-aneh saja. Masaklah apa yang bisa Simbok masak, Senja kan mau semua masakan Simbok. Lagipula Senja tidak apa-apa, bisa bangun dan berjalan pelan,” kata Senja yang duduk di kursi makan, di depannya tampak setumpuk buku pelajaran.

“Mengapa tidak istirahat dulu, belajarnya kalau sudah lukanya sembuh,” kata Simbok.

“Tidak apa-apa Mbok, ini hanya luka ringan.”

“Kemarin kamu mengalami hal yang membuat kamu lelah, sakit, cemas, pasti itu membuat kamu tidak tenang.”

“Sekarang Senja sudah merasa tenang. Kan ada Simbok, ada Rimba.”

“Ya sudah, istirahat kalau merasa capek, Simbok mau ke pasar dulu.”

“Baiklah, hati-hati ya Mbok, jangan lama-lama.”

“Cuma beli sayur, masa lama sih?” kata mbok Mangun sambil beranjak pergi.

Senja mulai membuka buka bukunya. Ujian sudah dekat, ia harus bersiap menghadapinya. Kalau nilainya bagus, ia bisa mencari bea siswa untuk melanjutkan kuliah. Tapi tidak, ia sudah berjanji kepada simboknya bahkan kepada dirinya sendiri, bahwa setelah lulus dia akan bekerja, agar bisa membantu membiayai sekolah Rimba, jadi bisa meringankan beban simboknya. Walau begitu belajar itu kan kewajibannya.

Tapi baru saja ia membuka buku, ia mendengar seseorang mengetuk pintu.

Tertatih Senja berjalan ke arah depan, dan terkejut melihat siapa yang berdiri di tengah pintu.

“Non Rosa?”

“Senja, kamu baik-baik saja?”

“Saya baik, Non. Hanya belum boleh masuk sekolah. Kaki Senja masih sakit. Simbok masih khawatir kalau Senja nekat ke sekolah.”

“Sebenarnya aku datang untuk menjemput kamu.”

“Menjemput ke mana?”

“Mengantar kamu ke sekolah, karena aku tahu kamu belum bisa naik sepeda.”

“Ah, Non terlalu baik. Terima kasih banyak Non, tapi Senja belum bisa masuk, mungkin besok, atau lusa. Simbok belum mengijinkan.”

“Kalau besok biar aku jemput saja.”

“Tidak Non, jangan. Saya jadi merepotkan. Sungguh tidak usah. Belum tahu besok sudah bisa masuk atau belum.”

Lalu Senja bingung Rosa mau dipersilakan duduk di mana. Keluarga mbok Mangun tidak punya kursi untuk menerima tamu. Adanya bangku kayu di depan, dan Rosa pernah dipersilakan duduk tapi tidak mau.

“Maaf Non, saya ingin mempersilakan Non duduk, tapi ….”

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengantar kamu ke sekolah sebenarnya. Tapi kalau kamu belum mau pergi ke sekolah, ya sudah, aku pulang saja.”

“Maaf ya Non, kami tidak punya kursi.”

“Tidak apa-apa. Aku pamit ya. Tapi Simbok tidak kelihatan. Jualan?”

“Tidak Non, hari ini tidak jualan. Simbok sedang ke pasar.”

“Oh, ya sudah.”

Rosa membalikkan tubuhnya dan berlalu.

Senja menatapnya heran. Gadis kaya raya yang tampak ketus dan sombong, ternyata hatinya sangat baik. Diam-diam Senja bersyukur, merasa bertemu dengan orang-orang baik.

***

Rosa tidak segera pulang. Ia mampir ke rumah keluarga Wiguna. Ia senang melihat pak Wiguna dan Aska belum berangkat ke kantor.

Pak Wiguna menyambutnya dengan ceria.

“Pagi-pagi sudah sampai di sini, Rosa?”

“Dari jalan-jalan pagi. melihat mobil Om dan Aska masih di halaman, lalu Rosa mampir. Om mau ke kantor? Tumben.”

“Ya, sudah beberapa hari tidak ngantor. Om kan sudah tua, semuanya sudah om serahkan pada Arka, tapi sesekali om juga harus melihat, apakah mereka sudah bekerja dengan baik.”

“Iya Om, itu penting. Papa juga setiap hari masih ke kantor. Saya diserahi bisnis yang ada di luar negri, tapi belum sanggup.”

“Memangnya kenapa?”

“Mungkin sebentar lagi, harus siap-siap dulu.”

“Menikahlah dulu, baru mengerjakan bisnis papa kamu.”

“Yang diajak menikah belum ada Om.”

“Kamu?” tiba-tiba Arka yang mau berangkat kerja keluar, dan berhenti ketika melihat Rosa. Sesungguhnya rasa kurang senangnya pada Rosa sudah banyak berkurang, semenjak Rosa membantu Senja sehingga Senja segera bisa mendapat pertolongan.

“Dari mana, pagi-pagi?”

“Kalian mengobrol saja dulu, aku mau ke kantor duluan. Arka juga tidak perlu buru-buru. Berbincang dulu,” kata pak Wiguna yang langsung berdiri dan berjalan menuju ke mobilnya. 

Arka masih berdiri di depan Rosa.

“Aku dari rumah mbok Mangun.”

“Kamu? Dari sana?”

“Iya, aku pikir hari ini Senja mau masuk sekolah, mengingat dia itu anak rajin. Maksudku akan mengantarkannya ke sekolah. Kan kakinya yang sakit, jadi mungkin belum bisa naik sepeda.”

“Jadi hari ini dia sudah ke sekolah?”

“Belum...kata Senja, simboknya belum mengijinkan. Biar istirahat dulu, katanya. Jadi aku langsung pulang.”

“Bagus sekali kalau kamu mau memperhatikannya. Aku mengucapkan terima kasih.”

“Kok kamu yang berterima kasih?”

“Apa Senja tidak mengucapkan terima kasih? Mbok Mangun juga? Sudah kan?”

“Sudah.”

“Aku juga mengucapkan terima kasih, karena mereka itu sudah seperti keluargaku. Lagi pula ketika Senja diculik, ia sedang pergi bersamaku. Jadi seharusnya aku yang bertanggung jawab. Jadi aku tetap harus mengucapkan terima kasih kepada kamu.”

“Sama-sama Arka, bagiku menolong orang yang kesusahan itu kan sudah menjadi kewajiban sesama, jadi aku ikhlas saja menerimanya. Tidak perlu berlebihan.”

“Ternyata kamu bisa berbaik hati juga,” kata Arka sambil tersenyum. 

Sungguh kebaikan yang diberikan Rosa sangat menyentuh. Tak pantas kalau Arka masih menanggapinya dingin. Hal itu dirasakan oleh Rosa yang tentu saja sangat gembira menerimanya. Ia harus terus mengambil perhatian Arka dan menarik simpatinya.

“Besok pagi aku juga mau ke rumah Senja pagi-pagi. Tadi aku sudah bilang kalau akan selalu menjemputnya selama kakinya masih sakit.”

“Mungkinkah besok dia siap masuk sekolah?”

“Entahlah, semuanya belum pasti, tapi aku akan tetap ke rumahnya. Pokoknya sebelum dia bisa menggenjot sepedanya dengan baik, dan berjalan tegap, aku akan selalu mengantar dan menjemputnya."

Arka tersenyum. Ia senang, hal yang akan dilakukannya sudah lebih dulu akan Rosa lakukan.

Tiba-tiba ponsel Rosa berdering.

“Apa? Jangan sekarang. Baiklah, usul kamu bagus, nanti kita bicara lagi, aku sedang di jalan.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Thursday, June 25, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 33

 NAMAKU TETAP SENJA  33

(Tien Kumalasari)

 

Dokter menganjurkan agar Senja dirawat sehari dua hari, tapi Senja menolak.

“Tidak Dokter, saya mau ujian, saya merasa kuat. Kalau saya bisa pulang, maka saya bisa istirahat sambil belajar."

Arka juga membujuknya, tapi Senja bersikukuh untuk tetap pulang malam ini juga.

“Senja, nanti aku bawakan buku-buku yang akan kamu pelajari kemari.”

“Tidak, Mas. Repot amat. Sekarang aku sudah merasa sehat. Aku siap untuk pulang saja.”

Karena itulah setelah infus habis maka Senja langsung disiapkan untuk pulang.

“Apakah Non Rosa membayar semua biaya?”

“Tidak, aku semua, tidak masalah, mengapa kamu menanyakannya?”

“Aku akan minta Simbok untuk menggantinya, kalau tidak terlalu banyak mungkin Simbok punya uangnya.”

“Tidak banyak. Dan tidak usah diganti. Kamu tenang saja," kata Arka yang kemudian berbicara dengan dokter, kemudian menemui mbok Mangun di luar.

Mbok Mangun tampak gembira, Senja pulang malam itu juga. Kecuali masalah biaya yang walau akan ditanggung Arka, tapi Simbok ingin merawatnya sendiri di rumah.

***

Pak Wiguna dan istrinya sangat gelisah, Arka tidak pulang sampai larut malam. Bu Wiguna tidak pernah segelisah itu, karena tak biasanya Arka pulang sampai larut, dan ponselnya tidak aktif pula.

Tapi tiba-tiba Rosa menelpon. Pak Wiguna bergegas menerimanya.

“Om, apakah Arka sudah pulang?”

“Kami sedang menunggu. Malam sudah larut, menjelang pagi, tapi dia belum juga pulang. Aku menunggunya sejak tadi sore.”

“Arka sedang mengurus anak tukang beras itu.”

“Mengurus untuk apa? Ada apa?”

“Dia tadi diculik orang,”

“Siapa yang diculik?”

“Anak tukang beras itu Om.”

“Mengapa Arka mengurus orang yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya? Apa urusannya?”

“Om kan tahu, Arka sangat memperhatikan keluarga miskin itu. Jadi kalau ada apa-apa, dia yang mengurusnya.”

“Keterlaluan. Jadi dia memilih tidak pulang demi mengurus orang diculik yang bukan apa-apanya?”

“Yang diculik itu sudah ketemu. Saya yang menemukannya.”

“Kamu? Bagaimana bisa?”

“Hanya karena kebetulan saja, saya sedang dalam perjalanan dari rumah teman saya, melihat Senja terjatuh dipinggir jalan. Lalu saya antar dia ke rumah sakit."

“Keterlaluan. Merepotkan banyak orang. Lalu Arka juga menungguinya di rumah sakit?”

“Pastinya Om, saya telpon tidak diangkat. Ponselnya mati. Barangkali baterynya habis.”

“Aku juga menelpon berkali-kali, tapi tidak bisa nyambung.”

“Ya sudah Om, kasihan jam segini Om belum tidur.”

“Aku dan tantemu belum tidur ini, karena khawatir tentang dia.”

“Sekarang Om dan tante tidur dulu, sudah larut, hampir pagi. Ingat kesehatan Om dan tante.”

“Baik, terima kasih Rosa, kalau kamu tidak menelpon, aku tidak akan tahu apa yang terjadi.”

Begitu menutup ponselnya, pak Wiguna masih mengomel karena kesal atas apa yang dilakukan Arka.

“Ada apa sebenarnya Pak? Siapa yang di rumah sakit?” tanya bu Wiguna yang belum tahu kejelasannya.

“Arka mengurus orang diculik.”

“Siapa yang diculik?”

“Gadis penjual beras itu. Bukan sanak saudara, bukan siapa-siapa, tapi sampai sebegitunya dia berkorban.”

“Gadis itu diculik? Lalu bagaimana keadaannya.”

“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Pokoknya yang menemukan gadis itu adalah Rosa, lalu membawanya ke rumah sakit. Tentunya Rosa kemudian mengabari Arka.”

“Mengapa sampai dibawa ke rumah sakit? Apa dia terluka? Diapakan oleh penculik itu?” tanya bu Wiguna khawatir.

“Aku tidak tahu Bu, aku tidak bertanya lebih lanjut. Yang penting keberadaan Arka kita sudah tahu. Sekarang aku mau tidur. Nanti kalau dia pulang pasti akan aku marahi habis-habisan.”

“Bapak bagaimana, anak melakukan hal baik, mengapa dimarahi?”

“Aku curiga ada hubungan apa antara Arka dan gadis itu, sampai dia berkorban mati-matian,” katanya sambil menuju ke kamar, untuk tidur.

Bu Wiguna tidak menanggapi, ia mencoba menelpon Arka untuk mendengar kejelasannya, tapi ponsel Arka memang benar-benar mati. Jadi iapun bersiap untuk beristirahat.

***

“Uang apa, kamu bekerja tidak becus, masih mau minta uang tambahan? Kamu juga sudah menerima uang dari kakek tua mata keranjang itu, dan dia mengancam akan memintanya lagi karena perempuan itu sangat ganas dan bisa terlepas. Sudah, ini sudah malam, aku kesal dan lelah. Lain kali bekerjalah lebih baik… Iya, memang kamu sudah berhasil, tapi nyatanya dia kabur. Si tua itu minta uangnya dikembalikan,.. benar, bukan salah kamu. Ya sudah, besok saja kita bicara lagi. Sudah hampir pagi kamu menelpon. Untung aku belum tidur.”

Suara Rosa yang menelpon ternyata terdengar oleh bu Daryono yang mau ke ruang makan untuk mengambil minum. Ia segera mengetuk pintu Rosa.

“Rosa, kamu belum tidur? Tolong buka pintunya.”

Dengan kesal Rosa membuka pintunya, dan melihat ibunya berdiri di depan pintu sambil membawa segelas air putih.

“Kamu malam-malam begini, bertelpon dengan siapa? Kamu seperti marah-marah.”

“Oh, itu, telpon salah sambung. Itu sebabnya Rosa marah.”

“Telpon salah sambung kok lama banget bicaranya.”

“Saya omeli dia, malam-malam mengganggu orang tidur.”

“Kenapa panjang sekali ngomongnya. Bukannya cukup bilang … maaf salah sam bung, begitu kan?”

“Iya, Rosa penginnya marah-marah. Mengapa Mama belum tidur?”

“Haus, lalu mengambil air, lewat kamar kamu, mendengar kamu bicara.”

“Iya Ma, ya itulah, orang salah sambung. Sekarang Mama kembali tidur sana, sudah malam.”

“Hampir pagi. Mama sudah tidak bisa tidur lagi. Kamu juga, sebaiknya sholat sekalian.”

“Baiklah.”

Rosa menutup pintunya. Shalat? Sudah lama Rosa tidak melakukannya. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan terlelap.

***

Mbok Mangun tidur di samping Senja, masih ada rasa khawatir karena kejadian yang menimpa sang anak. Walau begitu ia bersyukur, Senja selamat dan berhasil lolos dari cengkeraman orang jahat, walau ada luka-luka di telapak kaki dan tangannya.

Arka sudah pulang begitu mereka sampai di rumah. Ia berpesan agar Senja tidak masuk sekolah dulu, sampai kakinya benar-benar sembuh. Ia juga berpesan agar obatnya tidak lupa dimakan sesuai aturan.

Mbok Mangun diam-diam berpikir, mengapa Arka begitu baik kepada keluarganya. Bertubi-tubi pertolongan diberikannya, bahkan hutang yang menghimpitnya juga sudah dibayarnya lunas.

Senja tampak tertidur pulas, barangkali karena lelah lahir dan batinnya, juga karena pengaruh obat yang diminumnya.

Mbok Mangun mengelus kepala anaknya dengan lembut. Menjadi orang tak punya memang berat, dan rasa berat itu bukan hanya ditanggungnya sendirian, anak-anaknya juga turut menanggungnya. Walau begitu ia bersyukur karena kedua anaknya adalah anak-anak baik yang penuh pengertian. Mereka tidak pernah mengeluh, baik oleh makanan sederhana yang selalu dihidangkan simboknya, maupun pakaian sehari-hari yang lusuh karena bertahun tak pernah berganti baru.

Tiba-tiba mbok Mangun teringat bungkusan-bungkusan yang dibawa Arka. Ia tahu siangnya Arka membeli beberapa baju untuk dirinya dan anak-anaknya. Bukan hanya baju, tapi juga sepatu dan tas sekolah untuk mereka.

Air mata mbok Mangun berlinang. Ia tak mampu membelikannya dan ada orang baik yang membantunya. Mbok Mangun teringat ketika awal bertemu Arka, Senja menyebutnya sebagai malaikat penolong.

“Ya Allah, terima kasih untuk semuanya. Hamba tahu semua karenaMu.”

Lalu mbok Mangun turun dari tempat tidurnya, yang terdengar berderit ketika ia turun. Tak enak, tempat tidur sederhana itu memang terbuat dari bambu. Walau begitu Senja tidak terbangun karenanya. Mbok Mangun tersenyum. Ia menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Tapi tiba-tiba terdengar teriakan.

“Apa maksudmu? Bukan aku. Kamu yang berusaha membunuhnya.”

Mbok Mangun terkejut, bergegas kembali ke kamar Senja.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, June 24, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 32

 NAMAKU TETAP SENJA  32

(Tien Kumalasari)

 

Senja terkulai lemas. Dia tidak pingsan, hanya tidak berdaya. Ia duduk di samping kemudi. Entah siapa yang membawanya. Ia melirik ke samping dan terkejut, karena mengenal siapa yang duduk menyetir mobil.

“Non … Rosa?” katanya lemah.

“Eh, kamu sudah sadar? Apa yang terjadi?”

“Ya ampun, terima … kasih banyak, saya hampir celaka …” katanya terbata.

“Apa sebenarnya yang terjadi, mengapa kamu sampai di tempat sepi seperti tadi?”

“Entahlah … saya … diculik …”

“Diculik? Memangnya kenapa kamu diculik? Kamu membawa harta benda berharga? Tidak kan?”

“Bukan … bukan karena mau … dirampok … saya … mau … diper …kosa, laki- laki … jelek, tinggi … besar.”

“Lalu kamu bisa kabur? Dia berhasil memperkosa kamu?”

“Ti … tidak … saya … kabur.”

“Hebat kamu, laki-laki tinggi besar ingin memperkosa kamu, kamu bisa kabur?”

“Saya semprot matanya dengan cairan sabun … atau entah … di kamar mandi, lalu saya lari.”

“Dia tidak mengejar kamu?”

“Dia … kesakitan … ada … penjaga … di depan rumah … saya pukul … dengan … tongkat, entah bagaimana … saya membawanya keluar … untuk berjaga …jag …ga.”

“Kamu hebat Senja, kamu bisa lolos, selamat. Tapi kamu terluka? Tanganmu berdarah …”

“Saya … takut ketika … ada mobil, lalu melompati parit … bersembunyi di rumpun tanaman … tebu. Entah luka apa… kaki saya juga sakit .. sekali.”

Senja terengah-engah, tak melihat betapa gadis disampingnya tersenyum senang.

“Non, maukah … mengantarkan saya … pulang? Saya juga tidak … tahu … ini di mana, simbok pasti cemas.”

“Tidak Senja, kamu harus aku antarkan ke rumah sakit.”

“Ti … tidak, mana bisa … saya … tidak punya … uang.”

Rosa tertawa …

"Aku sudah menolongmu, jadi aku yang akan membantu kamu … maksudku, membayar biaya perawatannya nanti.”

“Ya ampun … ternyata … non Rosa baik … sekali.”

“Aku ini memang orang baik … penuh kasih sayang. Mana tega aku melihat kamu menderita seperti ini? Tadi juga kebetulan aku lewat dan melihat kamu.”

“Terima … kasih, saya merasa lemas … rumah sakit … di mana ya?”

“Di kota, ini luar kota. Kamu tenang saja. Rumah sakit itu tentunya tak jauh dari tempat tinggalmu.”

“Kalau … Non membayar biayanya, nanti … saya bilang Simbok, biar ditukar uangnya.”

“Gampang. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, kamu akan mendapat perawatan yang baik.”

“Non sangat baik. Banyak orang berbaik hati kepada saya, seperti mas Arka juga. Pasti dia bingung ketika kehilangan saya.”

Wajah Rosa gelap mendengar perkataan Senja. Tentu saja Arka kehilangan. Bukankah tadi bersamanya?

"Tadinya bersama kamu kan?" kata batin Rosa.

“Tadinya … saya dan Simbok … juga Rimba, adik saya, diajak jalan-jalan … sama mas Arka … lal … lalu ….”

“Sudah, ceritanya nanti saja. Kita sudah sampai. Nanti aku kabari Arka.”

“Oh, terima kasih Non, semoga … saya bisa …  langsung pulang nanti, agar Simbok tidak cemas menanti sa …saya …”

Rosa berhenti di sebuah rumah sakit, lalu memapah Senja masuk ke dalam. Sikapnya seperti seorang penolong yang sangat mengkhawatirkan orang yang ditolongnya.

***

Arka belum pulang ke rumah. Ia masih di rumah Simbok, agar Simbok merasa lebih tenang. Ia terus menghubungi polisi dan menanyakan sampai sejauh mana pencarian terhadap Senja.

“Bagaimana kalau Senja sampai disiksa, disakiti … atau … diapakan oleh penculik itu?” kata mbok Mangun yang dari siang tak berhenti menangis.

“Tidak, Simbok tenang saja. Teruslah berdoa agar Senja segera diketemukan. Tampaknya penculik itu sudah terlacak. Semoga menjadikan titik terang atas pencarian itu."

“Apa dia akan mengatakan di mana Senja berada?”

“Ya, tentu saja.”

Tiba-tiba ponsel Arka berdering. Dari Rosa. Arka tak hendak mengangkatnya. Ia justru merasa kesal karena malam-malam Rosa mengganggunya.

“Mas Arka, mengapa didiamkan saja, jangan-jangan polisi memberi tahu tentang Senja,” kata mbok Mangun.

“Bukan Mbok, dari teman saya. Dia hanya akan mengganggu.”

Lalu dering itu terdengar berulang-ulang. Arka ingin mematikan ponselnya, tapi khawatir kalau polisi memberinya kabar lalu dia sampai tidak mendengarnya karena ponselnya mati.

“Mengapa menelpon terus menerus Mas, jangan-jangan ada yang penting,” Simbok mengingatkan lagi.

Akhirnya karena kesal Arka mengangkatnya, tapi begitu dibuka Arka langsung menyemprotnya.

“Ada apa sih kamu? Malam-malam mengganggu orang?” sergahnya.

“Arka, jangan marah marah begitu, aku menelpon karena ada sesuatu yang penting.”

“Yang penting apa?” suara Arka sama sekali tak terdengar ramah.

“Ini tentang Senja.”

Arka terkejut, ia berteriak.

“Tentang Senja? Kamu bertemu Senja?” Simbok dan Rimba menangkat wajahnya dan merasa tegang.

“Dia di rumah sakit.”

“Di rumah sakit mana? Dia kenapa?”

“Tenang saja, dia baik-baik saja. Artinya tidak luka parah, hanya lemas dan luka kecil.”

“Bicara dengan jelas, ada apa sebenarnya? Di mana kamu menemukannya? Aku sudah melapor polisi dan penculik sudah terdeteksi, polisi sedang memburunya."

“Arka, aku menemukan Senja hampir pingsan di pinggir jalan, dia sedang melarikan diri dari orang yang akan memperkosanya.”

“Apa? Ceritanya nanti saja, sekarang dia ada di rumah sakit mana?”

Rosa mengatakan nama rumah sakitnya, dan Arka segera berkemas. Simbok dan Rimba kebingungan.

“Mas Arka, Senja kenapa? Luka parah? Disiksa penculik itu? Apa dosa anakku?” mbok Mangun kembali menangis.

“Katanya hanya luka ringan. Saya mau ke rumah sakit untuk melihatnya.”

“Bolehkah Simbok ikut?”

“Aku juga ikut ya Mas.”

“Baiklah, ayo kita ke sana sekarang.”

***

Ketika Arka dan Simbok datang, Rosa sedang menunggu di depan. Arka bergegas mendekat.

“Bagaimana keadaannya?”

“Tidak apa-apa, luka kaki tangannya, sedikit, tapi dia lemas, sedang diinfus.”

“Mana dia Non, mana dia?”

“Masih di ruang IGD Mbok, boleh masuk, satu persatu. Simbok dulu ya,” kata Rosa, yang membuat Simbok segera menghambur ke dalam. Rimba menungguinya di depan pintu, karena petugas melarangnya masuk.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku menemukan dia dalam keadaan lemas, berbaring di tanah.”

“Dia bisa cerita?”

“Ya, cerita walau dengan terbata-bata. Kasihan sekali aku melihatnya. Gadis tak berdosa, nyaris dilalap laki-laki biadab.”

“Bagaimana ceritanya?”

Rosa kan sudah tahu semuanya, karena dia adalah dalangnya. Tapi ia ingin terlihat baik di mata Arka. Ia berharap dengan perbuatannya, Arka akan bersikap lebih manis terhadapnya, sehingga dengan mudah ia bisa menundukkannya.

“Nanti kamu ketemu Senja sendiri, bertanyalah padanya, aku kalau menceritakan jadi pengin nangis, kasihan banget gadis muda teraniaya tanpa dosa,” kata Rosa sambil mengusap air mata buayanya.

“Untunglah aku tadi lewat daerah itu. Temanku yang punya kantin kan rumahnya di sana, ketika aku sedang jalan mau pulang, melihat seseorang terbaring di tepi jalan, dan berusaha bangkit tapi kelihatan susah. Aku berhenti dan terkejut setengah mati ketika tahu bahwa dia Senja. Langsung aku papah dia ke mobil, aku larikan ke rumah sakit. Lalu aku mengabari kamu.”

“Dia diculik setelah belanja bersama aku.”

“Bagaimana kamu tidak tahu ada orang menculik Senja? Kamu sembrono sekali sih Ka.”

“Aku sedang memasukkan belanjaan ke bagasi. Seseorang memanggil Senja, katanya ada barang yang ketinggalan. Senja bergegas kembali masuk, dan tidak kembali lagi ke mobil.”

“Ya ampun, trenyuh aku mendengarnya Ka, katanya dia hampir diperkosa.”

“Hampir?” Arka berteriak.

“Ya, Senja bilang dia bisa meloloskan diri lalu berlari dari sana.”

“Bagaimana dia bisa lari?”.

“Kata Senja dia menyemprotkan cairan sabun ke mata orang yang mau memperkosanya, sehingga dia bisa lari. Nanti kamu tanyakan sendiri cerita lengkapnya.”

Agak lama Simbok ada di dalam, lalu ketika keluar, sambil mengusap air matanya, dia merangkul Rosa erat sekali.

Rosa ingin menghindar. Ia tak suka bau mbok Mangun yang tidak wangi seperti dirinya, tapi Simbok terlanjur erat merangkulnya.

“Non … terima kasih banyak ya Non, kalau tidak ada Non, entah bagaimana nasib anak saya. Terima kasih banyak, semoga Allah membalas semua kebaikan Non ya,” kata  Simbok sambil menangis. Rosa mengernyitkan hidungnya, lalu mendorong mbok Mangun pelan. Tentu ia sungkan menampakkan rasa jijiknya karena dia sedang ingin kelihatan baik di mata Arka.

“Jangan dipikirkan Mbok, menolong seseorang itu sudah menjadi kewajiban saya.”

“Tapi Non sangat berarti .. Saya tak akan bisa melupakannya.”

“Ya sudah, itu hanya hal biasa. Sekarang saya ingin pulang dulu ya Ka, saya pergi sejak sore tadi, nanti dimarahin mama.”

“Baiklah, kamu pulang saja, biar Senja aku yang mengurusnya.”

Rosa melangkah keluar sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Rasanya bau penjual beras itu masih menempel saja. Ia ingin segera pulang dan mandi sebersih-bersihnya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 23, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 31

 NAMAKU TETAP SENJA  31

(Tien Kumalasari)

 

Senja menatapnya marah. Ia tak ingat siapa yang memanggilnya saat dia hampir masuk ke mobil Arka. Apakah dia orang yang berdiri di tengah pintu kamar mandi?

“Kamu menculik aku?”

Laki-laki itu menyeringai.

”Aku ingin berbuat baik untuk kamu.”

“Berbuat baik apa? Kamu membawaku ke tempat asing ini tanpa peduli kepada orang tuaku. Apa sebenarnya maksudmu? Aku bukan orang kaya seandainya kamu ingin mempergunakan aku sebagai senjata untuk memeras orang tuaku. Kalau kami naik mobil, itu karena ada orang baik yang membuat kami senang. Kamu akan mempergunakan aku untuk apa?”

“Namamu siapa, cah ayu.”

“Namaku Senja. Tidak usah berbasa basi, katakan saja apa maksudmu dengan membawaku kemari?”

“Aku akan membuat kamu hidup senang.”

“Apa maksudmu hidup senang? Aku tidak ingin hidup senang dengan cara yang tidak wajar. Biarkan aku pergi.”

“Pergi? Ya tidak mungkin aku biarkan kamu pergi, ada orang yang memberikan kesenangan untuk aku.. dan aku sudah membayarnya.”

“Siapa sebenarnya kamu? Siapa yang memberikan aku sehingga berada di depan kamu? Kita tidak pernah saling kenal, mengapa kamu menyusahkan hidupku?”

“O, tidak cantik, aku tidak akan menyusahkan hidup kamu, justru aku akan membuat kamu senang dan bahagia. Menurutlah.”

Tiba-tiba laki-laki itu mendekat. Senja mundur, dan kali ini hatinya terasa ciut. Laki-laki itu tinggi besar, tak mungkin dia bisa melawannya.

“Dengar Senja, aku sudah membayar mahal untuk mendapatkan kamu.”

Senja mundur, sampai tubuhnya merapat ke tembok. Di depannya ada sebuah bathup, dan peralatan mandi yang lengkap. Ia tak lagi bisa mundur, dan laki-laki itu semakin dekat.

Laki-laki itu menyeringai lagi. Senja yang tadinya bisa bicara lantang, sekarang tak bisa berkutik. Ia harus melawan, tapi dengan apa.

“Sekali ini saja, turutilah kemauanku. Atau, kamu ingin mandi dulu, biar bersih dan wangi. Masuklah ke dalam bathup. Akan aku guyurkan air hangat yang wangi ke tubuhmu. Maukah? Hahaa … kamu tampak seperti kelinci kecil yang ketakutan, apakah kamu ingin yang lain? Santai saja, aku akan mengajari kamu bagaimana bersenang-senang."

Senja merasa ingin muntah manakala menatap laki-laki yang tampaknya seperti serigala kelaparan. Senja hampir putus asa, ia berteriak keras tapi laki-laki itu mentertawakannya.

Tiba-tiba ia melihat sebuah botol plastik yang sepertinya sebuah semprotan. Ia tak tahu apa isinya. Tubuhnya bergerak sedikit.

“Senja, kamu tak akan bisa lari dariku, lebih baik kamu menyerah. Kalau kamu bisa menyenangkan aku, akan aku jadikan kamu istriku.”

“Ap…ppa?”

“Istriku, aku orang kaya. Ini rumahku, nanti bisa menjadi milik kamu. Apa kamu tidak suka?”

“Bb … baiklah,” katanya dengan bibir gemetar.

“Benarkah? Kelinci cantik, ayo kemari,  jangan takut, aku ini orang baik.”

Mendengar Senja tampaknya akan menurut, laki-laki itu merasa senang. Senja semakin gemetar, ia hanya pura-pura agar laki-laki itu tidak memaksanya, dan menganggap dia akan menurut.

“Jangan … terburu-buru … itu membuat aku takut….”

Laki-laki itu terbahak-bahak, dan Senja dengan sigap meraih semprotan yang ada di dekatnya, lalu menyemprotkannya ke wajah laki-laki itu. Dia menjerit karena penyemprot itu mengenai matanya. Ia bergulung-gulung di lantai, dan itu membuat Senja kemudian berhasil keluar dari kamar mandi. Ia membuka pintu yang tadinya terkunci dari dalam, tapi kuncinya masih tergantung. Di dalam kamar mandi terdengar teriakan, tapi Senja tak peduli. Ia berlari keluar, lalu terdengar suara berisik keras, rupanya laki-laki itu menabrak pintu. Senja terus keluar. Ia melihat sebuah tongkat penyangga tubuh, yang lalu diambilnya, barangkali akan berguna. Ia berlari keluar, dan merasa terkejut karena hari sudah gelap. Tapi begitu ia keluar dari pintu depan rumah, seseorang menghadangnya.

“Mau lari ke mana kamu?”

Senja terkejut. Ternyata ada penjaga di rumah itu. Ia memegang erat tongkat yang tadi dibawanya.

“Ayo kembali masuk.”

“Majikan kamu hampir mati.”

Laki-laki itu mendekati Senja, bermaksud menangkap tubuhnya, tapi Senja mengayunkan tongkat itu sekerasnya dan orang itu tersungkur.

“Jangan lari,” teriaknya sambil bangkit dan siap mengejar.

"Majikan kamu hampir mati,” teriak Senja sekenanya. 

Penjaga itu tiba-tiba mendengar teriakan dari dalam rumah.

“Tino …. tolong aku!”   

Penjaga berhenti dan bergegas ke dalam.

Senja keluar dari halaman. Cuaca sudah gelap. Senja terengah-engah sambil terus berlari. Ia tak tahu sedang berada di daerah mana. Kiri kanan jalan sepi. Rumah penduduk tak terlihat. Rupanya rumah di mana dia tadi disekap adalah satu-satunya rumah yang pastinya hanya untuk peristirahatan.

Kakinya sakit terkena batu-batu tajam, tapi ia tak peduli. Ia takut  penjaga itu masih mengejarnya. Ia tak peduli sedang berada di mana, yang penting ia harus kabur jangan sampai tertangkap. Di kiri jalan adalah tanah perkebunan dan persawahan.

Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil menuju ke arahnya. Tapi Senja tak berani meminta tolong. Jangan-jangan pembawa mobil itu juga orang jahat yang hanya akan memanfaatkannya.

Senja turun ke dalam parit, lalu bersembunyi diantara tanaman jagung yang rimbun. Ia merasa lega mobil itu sudah melintas, lalu ia melanjutkan perjalanannya.

Kakinya terasa sakit, barangkali berdarah-darah, tapi ia terus melangkah. Tubuhnya sudah lemas, tapi ia tak mau berhenti.

“Kenapa jauh sekali jalan raya, sampai di mana aku ini?” keluhnya pilu.

***

Mobil yang melintas itu adalah mobil Rosa. Seseorang menelponnya sambil marah-marah, karena gagal menundukkan gadis yang dijanjikannya.

Ketika turun dari mobil, penjaga rumah  sedang menemani sang majikan yang air matanya bercucuran terus menerus.

“Apa yang terjadi,?” tanya Rosa.

”Perempuan itu menyemprot mataku dengan air sabun. Aku baru saja bisa membuka mata. Lihat mataku,” kata laki-laki yang ternyata bernama Bowo.

Rosa melihat mata laki-laki itu masih merah dan terus mengucurkan air mata. Tino sang penjaga juga kesakitan karena lehernya disabet dengan tongkat.

“Tunggu apa lagi, antar aku ke rumah sakit dan kembalikan uangku,” teriak Bowo.

“Bukan aku yang menerima uangmu, tapi orang yang berhasil menculik gadis itu.”

“Bagaimanapun ini rekayasamu, aku tak mau rugi.”

“Baik, nanti masalah uang gampang. Tapi kalau terjadi apa-apa, atau sampai menjadi urusan polisi, jangan sampai kamu menyebut namaku.”

“Antarkan aku ke rumah sakit dulu, tak tahan ini, mataku.”

Rosa mengalah, ia mengantarkan Bowo dan Tino ke rumah sakit.

Tapi sebelum sampai ke jalan besar, ia melihat seseorang berjalan tertatih. Rosa yakin itu adalah Senja, tapi dia membiarkannya.

Mobilnya terus melaju menuju ke sebuah rumah sakit terdekat, lalu meninggalkan keduanya di sana, setelah meninggalkan beberapa lembar uang untuk biaya rawat dan mencari taksi kalau sudah selesai. Rosa memiliki rencana lain.

***

Senja tahu ada mobil melintas, tapi tubuhnya yang semakin lemas tak mampu menghindar. Ia terus melangkah tertatih. Jalan besar sudah tampak, ia melangkah lebih bersemangat. Akan banyak orang yang bisa dimintai pertolongan ketika di sana nanti, bukan ditempat sepi yang tidak jelas siapa orangnya. Tapi sebelum sampai di jalan besar, Senja benar-benar ambruk. Ia berusaha bangkit, tapi tubuhnya sangat lemah, ditambah kakinya yang terluka, dan juga tangannya yang tadi terkena duri atau entah apa, ketika dia bersembunyi di rerimbunan.

Senja putus asa. Ia melihat di langit banyak bintang, tapi tak terlihat bulan. Bintang cemerlang tak mampu menerangi bumi yang gulita.

Senja masih berusaha bangkit dengan sekuat tenaga. Tapi kemudian sebuah mobil berhenti di dekatnya.

Senja pasrah akan apapun yang akan terjadi. Ia merasa semuanya gelap. Ia bahkan tak tahu ketika seseorang memapahnya masuk ke dalam mobil.

***

Besok lagi ya.

 

NAMAKU TETAP SENJA 35

  NAMAKU TETAP SENJA  35 (Tien Kumalasari)   Arka menatap kepergian Rosa dengan takjub. Perempuan egois yang tidak disukainya ternyata punya...