AKU ANAK SIAPA 17
(Tien Kumalasari)
Pak Gatot tiba-tiba merasa gelisah. Ia teringat ketika puluhan tahun yang lalu melakukannya. Membuang bayi tak berdosa di sebuah panti asuhan, hanya karena bayi itu bukan darah dagingnya, hanya karena merasa dikhianati oleh sang istri.
Ketika itu ia masih punya rumah dan harta warisan dari kedua orang tuanya, tapi sang istri menghabiskannya sedikit demi sedikit hanya untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain. Perhiasan, uang, dan yang terakhir rumah warisan itu digadaikan tanpa sepengetahuannya, sehingga pada suatu ketika karena tak mampu menebusnya maka rumah itu disita oleh si penggadai. Saat itulah sang istri melahirkan disebuah rumah sakit, dan meninggal karena perdarahan. Ia yang sudah habis-habisan harus membayar beaya persalinan, dan kemudian meninggalkan bayi itu disebuah panti asuhan tanpa pesan apapun.
Tiba-tiba ia merasa berdosa kepada bayi itu. Bayi merah yang terlahir bersih tanpa dosa, mengapa harus menanggung dosa orang tuanya? Jangan-jangan bayi itu Rosa, kata batinnya berkali-kali. Ia lupa di panti asuhan mana ia meninggalkan bayi itu, tapi ia ingat satu hal, masih dikota ini, di sebuah kampung.
Malam harinya Gatot tak bisa tidur nyenyak. Begitu bangun, ia menelpon sang nyonya majikan bahwa dia tak bisa masuk karena sakit. Tapi ia mencari panti asuhan itu.
***
Di sebuah gedung dengan halaman luas, pak Gatot berhenti. Ia membaca nama panti itu. Panti Asuhan Kasih Sayang.
“Sepertinya di sini, aku tak begitu ingat, karena waktu itu malam hari, dan hujan lebat pula."
Ia membawa bayi yang baru dua hari lahir, dibungkusnya dengan selimut tebal, lalu meninggalkannya di teras panti yang waktu itu sepi tanpa penjaga.
Ia pulang ke rumah yang sudah tidak menjadi miliknya, lalu membawa barang-barang yang bisa di bawa, lalu pergi entah kemana.
Ia memarkir sepeda motornya di halaman, lalu melangkah ke dalam. Seorang wanita menyambutnya.
Wanita itu kesal karena sebelumnya pernah ada orang yang mencari siapa orang tuanya, puluhan tahun yang lalu, kemudian ketika akhirnya data tentang bayi itu ketemu, tak bisa ketahuan siapa orang tuanya, karena bayi itu ditinggalkan begitu saja di teras panti. Sekarang datang lagi seorang laki-laki tua yang menanyakan tentang bayi yang ditinggalkan puluhan tahun yang lalu. Datanya sama persis seperti data yang pernah ditanyakan oleh seorang wanita.
“Saya minta maaf, bayi itu sebenarnya bukan bayi saya, jadi saya tak ingin merawatnya. Saya ingin tahu tentang nasib bayi itu,” kata pak Gatot menghiba. Ia berjanji, kalau bayi itu yang pastinya sudah lebih dari dewasa dan masih ada ia akan mengakuinya sebagai anaknya.
Petugas panti menatapnya tajam. Laki-laki tua dihadapannya pastilah orang yang meninggalkan bayi itu.
Walau begitu ia mencarikan data tentang bayi itu, dan sesuatu membuat pak Gatot terkejut. Bayi itu diambil oleh seorang pengusaha bernama Daryono, dengan alamat yang lengkap.
“Sebulan atau dua bulan yang lalu ada seorang wanita mencari data ini.”
“Apakah Ibu mencatat nama wanita itu?”
“Saya tulis di sini, lihat, namanya Rosana.”
Pak Gatot pulang dengan langkah lunglai. Ia benar-benar merasa heran, bayi yang tampaknya beruntung karena mendapat orang tua kaya raya dan terhormat, akhirnya menjalani kehidupan sebagai bekas narapidana, dan melakukan kejahatan-kejahatan lagi setelahnya.
***
Tak lama setelah pak Gatot sampai di rumahnya, bu Surani menelpon. Ia prihatin karena pak Gatot ijin karena sakit.
“Saya mohon maaf Bu, sebenarnya saya tidak sakit. Saya tersentuh tentang Rosa yang diambil dari panti asuhan, lalu saya teringat pada kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, ketika saya meninggalkan bayi istri saya di sebuah panti asuhan.”
Lalu pak Gatot bercerita tentang kejadian puluhan tahun yang lalu, tentang dirinya dan istrinya, dan semua urut-urutan sampai kemudian membuang bayinya di panti asuhan.
“Saya merasa berdosa teringat kelakuan saya waktu itu, yang tersulut emosi karena pengkhianatan istri, lalu membuang bayi tak berdosa itu. Dan ternyata Bu, bayi itu adalah Rosa.”
“Rosa?” bu Surani sampai berteriak.
“Iya Bu, ternyata bayi itu adalah Rosa.”
“Catatannya bayi itu diberi nama Rosa?”
“Beberapa waktu yang lalu Rosa kesana, maksudnya ingin tahu siapa orang tuanya. Mereka mencatat namanya, Rosana. Jadi benar, bayi itu adalah Rosa.”
“Ya Allah … jadi Rosa sebenarnya anak pak Gatot?”
“Sebenarnya, kalau menurut catatan di rumah sakit … memang anak saya, tapi saya sendiri ragu, karena kelakuan istri saya seperti itu,” kata pak Gatot sedih.
“Ya sudah, pak Gatot tidak perlu sedih, semua yang terjadi atas manusia itu kan sudah digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Pak Gatot harus bersyukur, bisa menjalani kehidupan ini dengan baik.”
“Ya Bu, saya sangat bersyukur.”
“Apakah pak Gatot ingin mencari Rosa? Kabarnya hari ini pak Daryono melaporkannya kepada polisi atas kehilangan itu.”
“Entahlah Bu, saya sudah pasrah. Setidaknya saya sudah mengerti, bagaimana keadaan bayi yang pernah saya buang itu. Yang saya heran, mengapa dia melakukan hal-hal buruk sehingga masuk penjara, dan setelah itu dia tidak segan-segan untuk mencuri dan mencuri lagi.”
“Saya juga heran. Kalau dia anak pak Gatot, mengapa kelakuannya bisa seperti itu, sementara pak Gatot begitu santun dan sangat baik. Dan itu juga sebabnya pak Gatot bisa puluhan tahun bekerja di toko saya, bahkan sejak kedua orang tua saya masih ada. Jadi apakah darah jahat ibunya mengalir di tubuh Rosa ya.”
Pak Gatot menghela napas panjang. Sesungguhnya ia tak ingin menceritakan aib istrinya, tapi keadaan memaksa untuk dia mengatakannya.
***
Rosa sedang berada di suatu tempat, dan itu adalah bekas salon milik Mery temannya.
“Aku tidak mau kamu berada di sini, aku sudah tidak ingin berurusan dengan polisi.”
“Mery, tolonglah, aku baru dua hari berada di sini dan kamu sudah mengusirku. Apa kamu lupa kita pernah berteman saat sekolah?”
“Itu benar, aku tidak lupa. Tapi gara-gara kamu aku masuk penjara, salonku ditutup, dan aku harus berdagang kecil-kecilan untuk menyambung hidup.”
“Baiklah, aku tidak akan lama. Aku akan mencari tempat tinggal yang lebih baik, maksudnya tidak usah mengganggu orang lain, tapi berilah aku waktu dua tiga hari lagi.”
“Sehari lagi Rosa, aku tidak mau lebih,” kata Mery, tegas.
“Ya ampun Mery, kejam sekali kamu.”
“Bukan kejam, aku hanya mencari agar aku selamat. Kamu tahu kan, foto kamu sudah terpampang di mana-mana, jadi kamu itu buronan. Kalau aku membiarkan kamu di sini, sama saja aku bunuh diri. Jadi mengertilah Rosa, tolong jangan libatkan aku.”
“Keluarga Daryono benar-benar kejam. Ia tega melaporkan aku ke polisi. Hartanya tak terhitung, hanya kehilangan perhiasan sekotak saja seperti sudah kehilangan seluruh kehidupannya.”
“Namanya kehilangan, sebutir berlian apalagi sekotak perhiasan, pasti harganya tak terhitung. Kamu harus mengerti bahwa kamu harus menebus kesalahanmu dan masuk kembali ke penjara.”
“Mery, kamu kok malah mengutuk aku?”
“Kalau begitu segeralah pergi Ros, maaf. Bukan aku tak peduli pada teman lama, tapi aku sudah pernah merasakan bagaimana terhinanya aku ketika harus mendekam di penjara. Aku tidak mau mengulanginya.”
“Baiklah, baiklah … besok aku akan pergi dari sini. Hari ini aku akan pergi dulu mencari rumah untuk aku bersembunyi.”
“Pergilah, dan ingat, wajah kamu sudah tersebar di seluruh kota. Di tembok-tembok, di batang-batang pohon.. Semua orang akan mengenali kamu.”
“Aku mau pinjam topi kamu itu, dan biarkan aku berdandan yang aneh agar wajahku berubah.”
Mery mengijinkan ketika Rosa meminjam lipstik, maskara dan yang lain-lain, yang akan merubah bentuk wajahnya. Sekarang Rosa sudah berubah wajah, ia keluar dengan pakaian kedodoran, memakai topi dan dandanan yang aneh.
Tapi ketika Rosa pergi, anaknya yang bekas istri siri pak Wiguna mendekati sang ibu.
“Bu, jangan biarkan dia kembali. Agar Ibu tidak terlibat, Ibu laporkan saja keberadaan bu Rosa di sini. Kalau Ibu membiarkannya sehari saja, kita akan celaka.”
***
Besok lagi ya.