Saturday, September 12, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 04

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  04

(Tien Kumalasari)

 

Laki-laki gagah itu tersenyum lucu.

“Mengapa kamu menatapku seperti itu? Terpesona ya? Karena aku ganteng?” candanya enteng.

Sarah tersipu. Ia mengalihkan pandangannya.

“Anda mirip seseorang. Sangat mirip.”

“Oh ya? Pacar kamu?”

Sarah merengut. Ia belum pernah pacaran. Tidak tahu bagaimana rasanya pacaran. Ia menganggap anak muda itu menuduhnya sembarangan.

“Jangan marah, aku hanya bercanda. Tapi pasti kamu terkenang dia ketika melihat wajahku.”

“Aku tidak punya pacar,” sergahnya, masih dengan wajah cemberut.

Anak muda itu tertawa.

“Namaku Fajar. Siapa nama cowok yang mirip denganku?”

Sarah merasa tidak perlu menjawab. Ia menganggap laki-laki itu hanya ingin mengganggunya. Tapi ketika teringat olehnya koran dagangannya bercampur dengan sampah, ia sedih bukan alang kepalang.

Ia melongok ke arah bak sampah.

“Barangkali ada yang masih bisa terselamatkan,” kata batinnya yang kemudian ia menjulurkan tangannya ke arah tumpukan koran di tempat sampah itu.

“Hei, itu sudah kotor, tak akan ada yang mau membelinya. Ini, aku ganti koran kotor itu dengan uang, sungguh, aku hanya ingin menolong kamu dari laki-laki brengsek itu. Tolong terimalah, aku tak punya maksud apa-apa,” kata Fajar sambil terus mengulurkan uang itu.

“Apa ini kurang?”

Lalu Fajar menambahinya lagi dengan satu lembar ratusan ribu.

Sarah merasa, laki-laki bernama Fajar itu tulus. Ia menatap uangnya, tapi ia hanya mengambilnya satu.

“Di mana aku bisa mengembalikan uangmu?”

“Tidak perlu, aku berikan, bukan aku pinjamkan,” kata Fajar santai.

“Sekarang pulanglah, rumah kamu jauh? Aku antar?" tambah Fajar.

Sarah menatap mobil yang diparkir tak jauh dari sana. Mobil yang sangat bagus, lalu ia melihat ke arah bajunya, lalu ia tersenyum kecut. Mana pantas dirinya duduk di dalam mobil sebagus itu?

“Mau? Aku antar, aku sudah mau pulang. Di mana rumahmu?”

“Di sana. Aku harus menyetor uang koran, baru pulang. Tidak usah diantar, aku biasa jalan kaki. Terima kasih banyak,” kata Sarah yang kali itu memberikan senyuman manis. 

Fajar terpana. Gadis itu kalau tersenyum manis sekali, ada lesung pipit di pipinya. Hanya gadis miskin, penjaja koran, tapi ada rasa yang aneh melingkupi hatinya.

“Bodoh, aku sudah gila,” gumamnya sambil membalikkan tubuh menuju ke arah mobilnya.

Sebelum masuk ke dalam ia menoleh ke arah Sarah pergi, tapi gadis itu tak lagi tampak. Barangkali sudah menghilang di kelokan jalan, atau tertutup oleh lalu-lalang orang yang berjalan di trotoar.

Mobil Fajar bergerak melaju, sambil tersenyum-senyum sendiri memikirkan perasaan anehnya.

***

Sarah sudah hampir sampai di tempat agen koran itu, ketika seseorang memanggilnya.

“Sarah!”

Sarah menoleh, lalu senyumnya melebar. Ia bertemu Bimo, laki-laki baik yang menyelamatkannya ketika ia jatuh di tengah jalan.

“Mas Bimo dari mana?”

“Dari kerja, di sana itu tempat kerjaku.”

“Jalan kaki?”

“Seperti kamu, saya tidak punya kendaraan, jadi jalan saja. Dagangan kamu sudah habis?”

Wajah Senja menjadi muram. Seperti habis tapi sebenarnya dibuang orang.

“Kamu sudah tidak membawa koran lagi, habis kan?”

“Dibuang orang.”

“Apa maksudmu? Dibuang orang?”

“Ada orang jahat mengganggu aku, lalu karena kesal, koran dagangan aku dilempar ke tempat sampah.”

“Ya ampun jahat benar dia.”

Sarah menceritakan apa yang dialaminya dengan bibir merengut.

“Mengapa kamu tidak mau menerima uangnya? Dia bilang mau membayarnya kan?”

“Aku tidak mau, nanti akan banyak kesempatan bagi dia untuk mengganggu aku lagi.”

“Bukankah kamu harus setoran?”

“Ada orang baik lagi yang memberi aku uang. Ini uangnya.”

“Alhamdulillah.”

“Sebenarnya aku tidak suka menerima pemberian orang yang belum pernah aku kenal, tapi bagaimana lagi, kalau aku tidak setoran, besok tidak boleh membawa dagangan lagi. Aku bertanya, ke mana harus mengganti uangnya kalau aku sudah bisa menggantinya, tapi dia menolaknya. Katanya ia tulus ingin menolong.”

“Ya sudah, terima saja. Allah Maha Baik untuk kamu, karena kamu gadis yang baik. Itu sebabnya ada saja orang yang menaruh belas kasihan sama kamu.”

Sarah tersenyum.

“Tahu tidak Mas, orang itu adalah orang yang pernah membeli koran aku dan membayar duapuluh ribu, tapi tidak mau menerima kembaliannya. Yang aku merasa heran, orang itu wajahnya persis sama dengan wajahmu.”

Bimo tertawa.

“Sama? Masa sih?”

“Bener. Persis. Tinggi besarnya juga sama.”

“Gantengnya ….?” canda Bimo.

“Pokoknya semua persis. Kalau saja keadaan kalian tidak berbeda, pasti aku mengira kalian ini saudara kembar."

“Keadaan berbeda bagaimana? Dia orang kaya, aku orang miskin?”

“Dia punya mobil, mas Bimo jalan kaki,” kata Sarah polos, lalu keduanya tertawa. 

Sarah merasa, Bimo orang yang menyenangkan, walau baru kemarin kenal.

“Sudah Mas, aku mau setoran dulu, lalu pulang.”

“Hati-hati di jalan ya,” kata Bimo sambil melambaikan tangannya. 

Sarah membalas lambaian tangan itu, dan masuk ke agen koran dengan masih tersenyum-senyum.

***

Sesampainya di rumah, Sarah belum melihat sang nenek pulang. Barangkali sampai selesai acara baru pulang. Padahal Sarah kepengin segera cerita tentang kelakuan Bowo terhadapnya siang tadi. Sebel dan kesal, juga marah. Kalau tidak ada orang baik yang menolongnya, pasti ia harus menguras uang tabungannya untuk membayar setoran koran.

Setelah mandi dan berganti pakaian, ia menunggu sang nenek sambil membawa buku pelajaran ke depan rumah. Tapi sebelum kearah depan, Sarah melihat di meja makan ada nasi dan lauk pauk yang lumayan. Ada ayam gorengnya pula.

“Berarti tadi Nenek sudah pulang, membawa makanan ini, lalu mandi, ganti baju, kemudian kembali ke rumah bu Karno untuk membantu lagi. Kan arisannya nanti sore.”

Tapi Sarah belum ingin makan, ia duduk di depan sambil membaca-baca buku pelajaran. Ingatan tentang Bowo membuat wajah nya kembali muram. Apa nenek Suli hari ini ketemu bu Lurah ya?

“Jangan-jangan Nenek ketemu lalu menjanjikan sesuatu pada bu Lurah, tentang lamaran Bowo itu. Tidak, aku tidak mau. Kecuali aku masih sekolah dan merasa belum ingin berumah tangga, aku tidak suka laki-laki seperti Bowo. Sombong, memaksakan kehendak, mentang-mentang orang kaya.”

Sarah mencoba mengibaskan bayangan Bowo, tapi tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang. Itu Bowo. Mau apa ia datang ke rumah.

Sarah ingin masuk ke rumah dan menutup pintunya, tapi Bowo sudah keburu mendekat sambil memanggil namanya.

“Sarah, aku mau minta maaf.”

Sarah berhenti melangkah. Mau tak mau menunggu Bowo sampai di depan rumah.

“Sarah, aku salah, aku mau minta maaf.”

“Ya sudah, sudah aku maafkan, aku mohon jangan mengganggu aku lagi.”

“Aku akan memberi kamu uang, sebagai ganti koran dagangan kamu yang tadi aku buang.”

“Tidak usah. Bawa kembali uang kamu.”

“Kamu kan harus setoran? Apa kamu punya uang?”

“Bukan urusan kamu. Sekarang pergilah.”

“Sarah, jangan marah begitu, tadi aku hanya emosi. Ini, tolong terimalah, aku bayar tigaratus ribu.”

“Tidak usah, bawa saja uangmu kembali.”

“O, aku tahu, apakah laki-laki bermobil tadi yang sudah memberi kamu uang?”

“Bukan urusan kamu,” sentak Sarah semakin keras.

“Sarah, aku juga punya mobil. Kamu membandingkan aku dengan pemilik mobil tadi? Apa dia sungguh-sungguh suka sama kamu?”

“Kamu ini bicara apa? Dengar ya, manusia dihargai bukan karena harta yang dimilikinya, tapi karena pekertinya.”

“Sarah. Sombong sekali kamu. Sok bicara bijak.”

“Pergilah, dan jangan lagi datang kemari.”

“Kamu pikir aku tidak bisa memaksa kamu?” Bowo melangkah mendekat, dan Sarah ketakutan melihat wajahnya yang beringas. Tampaknya Bowo marah sekali.

Ia masuk ke dalam rumah dan bermaksud segera menutup rumahnya agar Bowo tidak mengganggunya. Tapi tangan kuat Bowo mendorong pintu itu sehingga berhasil masuk.

“Aku bermaksud baik, tapi tanggapanmu sangat buruk.”

Bowo mengejar Sarah, tapi Sarah menemukan palang pintu di sampingnya. Ia meraih palang itu dan memukulkannya ke kepala Bowo. Bowo roboh ke lantai, membuat Sarah ketakutan.

***

Besok lagi ya.

Friday, September 11, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 03

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  03

(Tien Kumalasari)

 

Bu Lurah hanya menatap punggung nenek Suli yang masuk dengan tergopoh-gopoh, kemudian ia melenggang pergi dengan omelan yang lebih menyakitkan.

“Orang miskin saja belagu. Sudah untung ada yang mau mengambil cucunya jadi menantu. Memangnya ada selain aku? Gara-gara Bowo, seperti nggak ada perempuan lain, mengapa maunya sama Sarah sih. Memang cantik, tapi dia miskin, lagi sombong.”

Yang mendengar omelan itu mengerutkan keningnya, dan bergumam bersahutan.

“Mentang-mentang orang kaya, ngomongnya kasar banget.”

“Sejak dulu dia tuh sombong. Sudah benar kalau cucu nenek Suli menolaknya. Memangnya kalau sudah kaya lalu semua kemauannya harus dituruti? Paling-paling hidup bersama orang seperti itu hanya akan tersiksa.”

Nenek Suli mematikan kompor, mengentas paha ayam satu persatu. Ternyata tidak ada satupun yang gosong.

“Ya ampuun, mengapa mengejutkan aku sih, mana yang gosong?”

“Itu tadi hanya membuat gara-gara, supaya bu Lurah segera pergi. Sebel mendengarkan omelannya Nek, sombong dan menyakitkan,” kata bu Karno yang punya gawe.

“Owalah, iya Bu, untunglah ada yang berteriak gosong. Tapi saya sudah ketakutan tadi, kalau benar-benar gosong kan harus beli lagi ke pasar.”

Bu Karno tertawa.

“Memangnya bu Lurah mau mengambil Sarah menjadi menantu ya?”

“Iya Bu, tapi Sarah menolak. Dia kan masih sekolah. Biarpun anak bu Lurah sanggup menunggu, tapi Sarah belum ingin menikah. Tadinya sih maksud saya biar dia tidak setiap hari berpanas-panas menjajakan koran, tapi setelah Sarah menolak, saya tidak bisa memaksa. Lagi pula sudah benar Sarah menolak, setelah mendengar omongannya tadi, ya biarpun saya benar-benar miskin, tapi menyakitkan juga.”

“Mentang-mentang kaya ya Nek,” kata bu Karno lagi.

“Biarlah Bu, beginilah nasib orang yang tidak punya, dihina di mana-mana.”

“Eeh, saya tidak menghina lhoh Nek, saya selalu menghargai Nenek, karena Nenek suka membantu, dan bisa melakukan apa saja, apalagi masakan Nenek enak sekali, sudah terkenal di kampung ini.”

“Aah, sudah … sudah, kebanyakan dipuji nanti baju Nenek jadi nggak muat karena kebesaran kepala."

Nenek Suli melanjutkan pekerjaannya. Ia sudah membumbui ayamnya, ada orang lain yang menggorengnya, lalu Nenek siap-siap memasak sayur.

Hari yang sibuk, dan kelihatannya Nenek baru akan pulang nanti, di sore harinya.

***

Bu Lurah masuk ke rumah dengan uring-uringan. Bowo menunggunya di depan dan langsung bertanya.

“Bagaimana Bu, ketemu nenek Suli?”

”Ketemu, kamu itu bodoh atau apa? Memangnya tidak ada perempuan lain yang bisa kamu nikahi?”

“Ibu bilang ingin buru-buru punya cucu. Bowo baru mau menikah kalau istri Bowo adalah Sarah.”

“Nenek Suli yang sombong itu, tidak pantas menjadi nenek mertua kamu.”

“Ibu ketemu?”

“Ya ketemu, dia sedang masak di rumah bu Karno.”

“Apa jawabnya?”

“Kalau jawabnya menyenangkan, Ibu tidak akan uring-uringan seperti ini.”

“Memangnya nenek Suli menjawab apa?”

“Dia tidak mau.”

“Yang tidak mau si Nenek itu atau Sarah?”

“Katanya Sarah tidak mau. Dia masih sekolah.”

“Bukankah Bowo siap menunggu?”

“Ada alasan lain, Sarah belum ingin menikah. Menurut Ibu, mereka hanya membuat alasan-alasan untuk menolak.”

“Tidak Ibu katakan bahwa aku sudah punya rumah, punya mobil, punya uang yang banyak?”

“Sudah. Tapi dia tidak peduli. Nenek Suli itu orang miskin yang benar-benar sombong. Sudah miskin, sombong, tidak tahu diri.”

“Ibu ketemu di mana?”

”Dia sedang membantu masak di rumah bu Karno.”

“Barangkali dia hanya pura-pura menolak, karena malu didengar orang lain. Baiknya Ibu menemuinya di rumah.”

“Kamu itu mengapa menyuruh-nyuruh Ibu untuk mendekati Sarah? Kalau kamu mau, dekatilah oleh kamu sendiri. Biasanya kamu tidak pernah meminta bantuan Ibu untuk bicara. Langsung gandeng sana gandeng sini.”

“Sarah itu lain Bu, dia galak kalau didekati, dan gadis seperti itulah yang Bowo suka. Dia tahu kalau Bowo itu kaya, tapi tidak mau didekati. Dia berbeda dengan gadis lain yang sekali digoda langsung nempel.”

“Apapun yang terjadi, cobalah oleh kamu sendiri. Ibu malu ditolak orang miskin.”

Bowo yang kecewa hanya menatap ibunya yang masuk ke rumah dengan uring-uringan. Itu benar, dia pernah mencoba dan Sarah menanggapinya dengan ketus, itu sebabnya Bowo mengatakan bahwa dia galak. Tapi baru sekali, mengapa dia tidak mencobanya lagi?

***

Sarah baru keluar dari sekolah. Ia harus pulang dulu untuk mengganti baju seragam sekolahnya, sekedar makan siang yang sudah disiapkan neneknya, lalu ke agen koran dan siap menjajakannya seperti biasa.

Hari itu langit sedikit mendung. Sarah sudah siap menjajakan korannya, ketika lampu di trafic light itu menyala merah. Mobil-mobil berhenti, dan Sarah melangkah ketengah sambil menjajakan korannya.

“Koraan … koraaan, berita hangat hari ini, seorang kakek tua menikahi gadis berumur limabelas tahun … heboh… koraan … koraan … mari bapak, korannya … korannya.”

Dua buah mobil terbuka kaca jendelanya, dan berteriak.

“koraaannya, satu !”

Sarah berlari ke salah satu mobil, lalu menerima uangnya yang lagi-lagi tak mau ketika Sarah memberikan kembaliannya.

Sarah mengangguk mengucapkan terima kasih, lalu ke pembeli lainnya. Harus cepat sebelum lampu menjadi hijau dan mobil berlarian melaju.

Sarah berlari ketepi. Harus hati-hati supaya tidak terjadi kecelakaan kecil seperti sebelumnya.

Sarah duduk di bawah pohon, menunggu pembeli, dan menunggu lampu perempatan menjadi merah kembali.

Tiba-tiba Sarah terkejut. Seorang laki-laki menghampiri, lalu menarik tangannya.

“Hei, lepaskan. Mau apa kamu?”

“Sarah, jadi orang jangan sombong begini. Kita masih tetanggaan kan? Mengapa tidak menunjukkan keramahan sedikitpun?”

“Bowo, aku tidak suka caramu. Memang benar kita tetanggaan, tapi kamu bertindak lancang.”

“Sarah, mengapa memanggil aku begitu, aku kan lebih tua, mas Bowo, begitu kan lebih manis?”

“Tidak ada, pergilah, aku mau menjajakan koran,” katanya sambil mengibaskan tangan Bowo yang berusaha memegangnya lagi.

“Hei, mengapa kamu lebih suka berpanas-panas begini? Kalau kamu menerima lamaran aku, hidup kamu akan enak, punya rumah bagus, uang datang sendiri, jalan-jalan pakai mobil.”

“Menjauhlah dariku, aku tidak tertarik pada harta kamu.”

“Ya ampun, benar kata ibuku, kamu itu miskin tapi sombong.”

“Untuk laki-laki kurangajar seperti kamu, aku tidak sungkan menjadi sombong. Dengar, aku tidak pernah tertarik pada harta kamu,” katanya sambil menjauh.

Dia melangkah ketepi jalan dan siap berjalan ketengah lalu lintas ramai yang berhenti karena lampu merah.

Tapi Bowo kemudian menarik tangannya kembali ke tepi. Sarah sangat marah. 

“Lepaskan! Apa maksudmu?”

"Ikutlah bersamaku, hidup tidak akan susah.”

“Sudah aku bilang bahwa aku tidak tertarik hartamu. Pergi!”

Karena meronta, koran yang dibawanya tersebar di trotoar. Sarah hampir menangis, ia berjongkok untuk memungut koran yang berserakan. Tapi Bowo tetap menarik tangannya.

“Akan aku bayar berapa harga koran yang kamu bawa, jangan kuatir.”

“Pergiii!”

Bowo membantu mengambil koran yang berserakan, tapi kemudian membuang koran itu ke tempat sampah. Sarah menjerit marah, air matanya bercucuran.

“Jangan menangis, aku bayar. Aku bayar dua kali lipat, kamu akan untung besar.”

Bowo ingin kembali meraih tangan Sarah, tapi sebuah tangan kuat menahannya.

“Lepaskan dan jangan ganggu dia.”

Seorang laki-laki ganteng menatap Bowo dengan marah.

“Hei, siapa kamu, jangan ikut campur, dia tunangan aku,” kata Bowo tak tahu malu.

“Bukaaaan! Aku bukan tunangannya. Dia memaksa aku, dia juga membuang semua koran dagangan aku. Padahal ….” Sarah terisak. 

Bowo ingin mendekatinya sambil lagi-lagi berkata ingin membayar harga koran yang dibuangnya.

“Pergi, dan jangan mengganggunya,” sentak laki-laki itu sambil memelintir tangan Bowo, sehingga Bowo berteriak.

“Aku lepaskan dan pergi sana!” katanya sambil melepaskan pelintirannya tapi sambil mendorongnya sehingga Bowo terhuyung-huyung, lalu kabur menjauh, mendekati mobil yang rupanya diparkir tak jauh dari sana.

Sarah mendekati tempat sampah, menatap korannya yang bercampur dengan kotoran. Air matanya meleleh, korannya baru laku sedikit.

“Aku akan membayar koran kamu itu, tanpa niat apapun kecuali membantu,” kata laki-laki itu sambil mengulurkan uang seratus ribu.

“Apa ini tidak cukup?”

Sarah mengusap air matanya, menatap laki-laki di depannya. Bukankah dia laki-laki bermobil yang kemarin harinya membeli korannya dan tidak mau menerima kembaliannya? Tapi yang membuat heran, laki-laki ini benar-benar persis wajahnya seperti Bimo, teman barunya yang juga sangat baik. Tak mungkin anak kembar, karena satunya OB dan satunya memiliki mobil bagus.

***

Besok lagi ya.

Thursday, September 10, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 02

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  02.

(Tien Kumalasari)

 

Sarah melongo. Diambil menantu? Maksudnya ia akan memiliki suami? Jadi istri orang? O, tidak. Sarah mengerutkan keningnya.

“Apa maksud Nenek?”

"Bu Lurah kan punya anak laki-laki. Dia pemilik penggilingan beras terbesar di kampung ini. Punya mobil, punya rumah sendiri dan_”

“Nenek setuju aku dijadikan istri orang kaya itu?”

“Sarah, hidup kita ini serba kekurangan. Kamu juga harus bersusah payah mencari uang demi beaya sekolah kamu, apa salah kalau Nenek setuju kamu dijadikan istri si Bowo?”

Wajah Sarah muram seketika.

“Sarah belum ingin punya suami,” katanya sambil membuka-buka buku pelajarannya.

“Sarah, Nenek tidak ingin memaksa, hanya menyarankan saja. Kalau kamu suka, Nenek senang. Bukan karena Nenek suka hartanya. Nenek hanya ingin kamu hidup berkecukupan.”

“Bukankah kebahagiaan itu bukan dari banyaknya harta yang kita miliki? Buktinya saya bahagia bersama Nenek dengan apa yang kita miliki. Sungguh Nek.”

“Baiklah, baiklah. Nenek mengerti,” kata nenek Suli, sang nenek yang kemudian pergi ke belakang, meninggalkan Sarah yang kemudian menekuni buku-bukunya.

Namun perkataan sang nenek sangat mengganggunya. Ia tahu neneknya menginginkan dirinya menerima lamaran bu Lurah, karena mereka orang kaya, yang diharapkan bisa memenuhi kehidupannya dengan harta yang berlimpah, tapi Sarah belum ingin menjadi istri. Lagipula ia tahu Bowo laki-laki seperti apa. Ia sudah sering berganti-ganti pacar, yang bukan hanya di dapat dari gadis-gadis di kampungnya, tapi juga dari kampung sebelah.

Laki-laki seperti itu, sangat diragukan kesetiaannya. Dia terlalu sombong karena memiliki harta berlimpah. Kebanyakan dari mereka yang mau didekati, karena Bowo terlalu royal dalam memberi. Tapi Sarah bukan gadis semacam itu.

“Aduh, mengapa Nenek kelihatan sangat kecewa begitu. Jadi aku harus bagaimana? Aku belum mau menikah, apalagi dengan Bowo yang sombong itu.”

Sarah membuka-buka bukunya, tapi tak sedikitpun ada yang memasuki pikirannya. Bayangan sang nenek yang pergi dengan wajah muram sangat mengganggunya.

Kemudian ia menutup semua buku-bukunya, dan hanya menyiapkan buku-buku pelajaran besok pagi.

***

Nenek Suli sudah berada di kamarnya. Ia juga merasa kecewa atas penolakan sang cucu, karenanya ia tidak bisa segera memejamkan matanya.

“Ini bukan untuk aku, tapi untuk cucuku. Kenapa dia menolak? Kalau masalah sekolah bu Lurah sudah bilang kalau Bowo akan sanggup menunggu,” kata batinnya berkali-kali.

Tiba-tiba nenek Suli terkejut. Seseorang memeluknya dari belakang.

“Ini Sarah kan? Katanya belajar?”

“Nenek kok belum tidur?”

“Belum begitu mengantuk. Tadi siang tidak banyak pekerjaan, jadi nenek bisa tidur siang. Kamu sudah belajar?”

“Sudah.”

“Sebentar sekali, biasanya nenek sudah pulas kamu baru selesai."

“Ini lain dari biasanya Nek, Sarah ingin tidur di sini, bersama Nenek.”

“Gerah, biasanya kamu tidak suka tidur berdesakan.”

“Ini juga lain dari biasanya Nek,” kata Sarah setengah bercanda.

Nenek Suli membalikkan tubuhnya, mengelus kepala sang cucu lembut.

“Kalau begitu segeralah tidur.”

“Nenek marah ya, karena Sarah menolak lamaran bu Lurah?”

“Tidak marah.”

“Tapi kecewa?”

“Sarah, kamu harus tahu bahwa apa yang Nenek inginkan dalam hidup ini adalah kebahagiaan kamu. Memang benar, kebahagiaan seseorang bukan terletak pada harta yang dimilikinya, tapi kalau kamu bisa hidup lebih nyaman, tidak berpanas-panasan setiap hari di jalanan, itu kan lebih baik?”

“Nek, bukankah Sarah masih sekolah?”

“Jadi kamu mau, nanti kalau sudah lulus sekolah?”

“Mau apa?”

“Mau diperistri anak bu Lurah itu.”

Sarah memeluk neneknya erat.

“Nek, Sarah masih sangat muda. Walau sudah lulus, tetap saja Sarah masih muda.”

“Di kampung gadis belum tujuhbelas tahun sudah dinikahkan.”

Sarah tertawa.

“Ini bukan di kampung Nenek. Sarah mengerti, bahwa Nenek ingin Sarah hidup enak. Tinggal duduk, ongkang-ongkang, uang datang sendiri, makanan selalu enak, bisa jalan-jalan naik mobil.”

“Nah, itu kamu tahu.”

“Itu bukan kehidupan enak. Kehidupan manusia malas.”

“Sarah. Kamu tidak boleh berkata begitu.”

“Nek, hidup yang nyaman itu adalah, sesuatu yang didapat dari tetes keringat sendiri. Bukan karena punya suami kaya, atau bukan karena anak orang kaya.”

Sang nenek terdiam. Sarahpun diam. Ia juga tidak yakin pada apa yang dikatakannya. Ia hanya sedang mencari alasan agar sang nenek bisa mengerti mengapa dia menolaknya. Tapi ia tahu, bahwa banyak orang menginginkan hidup seperti itu. Banyak orang, tapi bukan dirinya.

“Jadi bagaimana besok kalau bu Lurah datang lagi? Nenek harus jawab apa?”

“Jawab saja bahwa Sarah belum ingin menikah.”

“Kalau dia bilang bahwa Bowo sanggup menunggu?”

“Masih lama. Pokoknya tidak untuk saat ini, sampai batas yang belum bisa Sarah tentukan. Apa Nenek marah? Atau kecewa?”

“Tidak, baiklah, Nenek mengerti. Sekarang kamu tidurlah, supaya besok tidak kesiangan saat sekolah,” kata sang nenek sambil terus mengelus rambut cucunya.

***

Ketika Sarah bangun, sang nenek sudah menyiapkan teh panas dan sepiring nasi goreng dengan irisan dadar telur yang diiris tipis memanjang. Makanan kesukaan Sarah, dan sudah agak lama Nenek tidak membuatkannya.

“Nenek, ini enak sekali. Sudah lama Nenek tidak membuat nasi goreng begini untuk Sarah.”

Sang nenek tersenyum. Ia senang melihat cucunya seperti bersorak kegirangan.

“Kalau begitu makan dan habiskan.”

“Untuk Nenek?”

"Di wajan masih ada, nanti Nenek makan setelah kamu berangkat. Ini tadi buru-buru, karena kamu bangun lebih siang dari biasanya kan?”

“Iya, semalam ngobrol sama Nenek sampai malam.”

“Ini sebotol air untuk bekal kamu.”

“Terima kasih Nenek.”

“Nanti kalau pulang, kalau kamu mau menjajakan koran lagi, makan dulu, Nenek akan siapkan seperti biasanya. Tidak usah menunggu Nenek, karena Nenek mungkin akan pulang agak sore.”

“Laris ya Nek”

“Lumayan. Tetangga sebelah mau arisan, Nenek mendapat tugas memasak banyak.”

“Tapi Nenek tidak boleh kecapekan ya.”

“Iya, Nenek sudah biasa. Nenek bisa menjaga kesehatan sendiri kok.”

“Kalau capek ada baiknya menolak tawaran kerja yang mereka berikan. Nenek kan tidak muda lagi.”

“Iya … iya, Nenek tahu. Habiskan sarapannya dan segera berangkat.”

***

Siang hari itu nenek Suli memasak di rumah tetangga, yang rumahnya agak dekat. Nenek Suli memang pintar memasak, sehingga kalau ada acara masak-masak di kampung, pasti nenek Suli selalu diminta membantu.

Hari masih siang, ketika Nenek baru istirahat dan makan, sambil menunggu daging ayam yang direbusnya sudah empuk. Tiba-tiba bu Lurah mendekat.

“Nenek Suli, baru makan ya?”

“Bu Lurah, eh .. iya, tapi sudah selesai. Mau ketemu bu Karno? Ada di dalam, saya panggilkan.”

“Tidak, saya mau ketemu nenek Suli.”

“Oh, iya,” kata nenek Suli berdebar. Ia sudah tahu bu Lurah mau bicara apa.

“Tadi Bowo bertanya kepada saya, tentang Sarah. Apa nenek Suli sudah bicara sama Sarah?”

“Sudah Bu, tapi kan Sarah masih sekolah.”

“Bowo tidak terburu-buru. Biar dia lulus dulu, tidak apa-apa.”

Nenek Suli menundukkan wajahnya, banyak yang dipikirkannya. Bagaimana menolak, bagaimana mengatakan tidak ….

“Bagaimana Nek?”

“Bu Lurah, mohon dimaafkan cucu saya. Dia itu kan masih muda. Sangat muda. Sepertinya dia belum siap untuk menjadi istri. Mohon Ibu mengerti.”

“Kan saya bilang kalau Bowo sanggup menunggu?”

“Tapi ….”

“Saya beri tahu ya Nek, Bowo sudah menyiapkan rumah bagus, mobil baru, dan semua perabot rumah tangga modern. Itu untuk Sarah. Kalau ada yang lain, atau masih kurang, bilang saja, nanti Bowo pasti menyiapkan.”

Nenek Suli menghela napas panjang.

“Itu sepertinya sangat menarik. Tapi Sarah benar-benar belum ingin menikah Bu.”

Tiba-tiba wajah bu Lurah menjadi merah padam. Sepertinya dia marah, atau tersinggung.

“Nek, sebenarnya saya juga tidak suka punya besan miskin seperti Nenek. Tapi Bowo terus menerus bilang bahwa kalau punya istri dia maunya sama Sarah. Jadi saya mendesak nenek Suli agar mempertimbangkannya.”

Nenek Suli merasa sakit. Kemudian ia mengerti mengapa Sarah menolaknya. Bu Lurah dan anaknya adalah orang kaya yang sangat sombong dan suka menghina orang.

“Nenek Suliiii,” tiba-tiba terdengar teriakan.

“Ayamnya gosong tuh!!”

Nenek Suli terkejut, setengah berlari dia kembali masuk ke dapur.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, September 9, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01.

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  01

(Tien Kumalasari)

 

Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalang baik mobil maupun sepeda motor sangat membuat bising. Tapi seorang gadis dengan rambut tertutup hijab, membelah keramaian itu di sebuah traviclight, sambil menggendong tumpukan koran. Ia mengacungkan selembar koran sambil menawarkannya ke setiap pengendara.

“Koran Mas … korannya Bapak, berita hangat hari ini … ada demo besar-besaran di depan balai kota, korannya … Bapak … koran baru … koran baru …”

Sebuah kaca jendela mobil terbuka, mengulurkan selembar uang duapuluhan ribu. Gadis itu menyerahkan korannya, lalu merogoh saku bajunya untuk mengambil uang kembalian. Tapi mobil itu bergerak maju.

“Sebentar Mas, sebentar … kembaliannya,” teriaknya sambil berlari mengejar.

“Ambil saja, nggak usah kembalikan,” pengemudi muda itu juga berteriak.

Sarah, gadis itu berhenti, menoleh kekiri dan ke kanan, menunggu sela karena kendaraan sudah bergerak setelah lampu hijau menyala.

Ia melambaikan tangan, meminta jalan, tapi seorang pengendara motor menyerempetnya.

Sarah terpelanting. Sebuah mobil hampir melindasnya, tapi seorang laki-laki muda membantunya berdiri, sambil menyetop kendaraan yang masih padat setelah berhenti di persimpangan.

Laki-laki itu memungut koran yang berserakan, memeluknya, lalu menarik tangan Sarah sambil meminta agar kendaraan yang lewat memberi mereka jalan.

Mereka sudah sampai di tepi. Laki-laki itu mengajak Sarah duduk di bawah  pohon, untuk menanyakan apakah ada yang luka. Tapi sambil tersenyum manis, Sarah menggeleng.

“Benar, tidak ada yang luka. Di situ ada apotik, aku akan membelikan kamu obat.”

“Tidak. Aku benar-benar tidak apa-apa. Terima kasih sudah menyelamatkan aku.”

“Jangan pikirkan. Aku terkejut ketika melihat kamu terjatuh dan hampir terlindas mobil.”

“Aku berhutang nyawa pada Mas.”

Laki-laki itu tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya meninggalkan Sarah yang duduk sambil mengelus lututnya. Siapa bilang tidak sakit, lututnya mencium aspal yang keras, tapi ia tak ingin mengeluh dihadapan orang yang baru dikenalnya. Tapi diam-diam Sarah heran, laki-laki yang baru saja menolongnya ini, mengapa wajahnya mirip sekali dengan laki-laki yang membeli korannya dan memberikan uang duapuluh ribu tanpa meminta kembalian?

“Masa iya sih mirip, tapi mirip kok, sungguh mirip,” gumamnya pelan.

“Siapa yang mirip?” tiba-tiba laki-laki tadi datang sambil membawa dua botol minuman dingin. Lalu yang satu diulurkannya kepada Sarah.

“Minumlah, hari ini panas sekali,” katanya lembut.

Sarah tersenyum, dan laki-laki itu terpana melihat lesung pipit di pipinya. Sumpah gadis ini sesungguhnya sangat cantik. Wajahnya putih walau dia berpanas-panas, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan manis sekali kalau tersenyum, apalagi ditambah lesung pipit di kiri kanannya.

“Terima kasih Mas, mengapa Mas menatap aku seperti itu?” tanya Sarah sambil berusaha membuka tutup botol minuman.

Agak susah sih, tapi laki-laki itu meminta botolnya dan dengan sekali putar, botol itu terbuka, lalu mengulurkannya kembali kepada gadis di sampingnya.

“Terima kasih,” jawabnya, lalu menenggak minumannya sampai setengah botol.

“Haus ya?”

“Lumayan.”

“Kita belum berkenalan, namaku Bima.”

“Aku Sarah.”

“Rumahmu di mana?”

“Agak jauh, di dekat pasar.”

Tiba-tiba seorang pejalan kaki berhenti di dekat mereka. Ia melihat koran bertumpuk di samping Sarah.

“Jual koran ya?”

“Iya, Pak.”

“Minta satu.”

Sarah memberikan selembar koran, dan menerima sepuluh ribu yang diulurkannya.

“Kembaliannya Pak,” kata Sarah ketika orang itu berlalu.

“Nggak usah, ambil saja.”

“Terima kasih Pak,” katanya riang.

“Hari ini banyak orang-orang baik. Banyak rejeki untuk Sarah,”  gumamnya senang.

“Alhamdulillah, aku juga ikut senang,” sahut Bima.

“Ya sudah Mas, aku mau menjajakan koran lagi, masih sisa ini, barangkali masih ada yang mau,” kata Sarah sambil berdiri.

“Ini sudah sore, nanti kamu kemalaman.”

“Tidak apa-apa Mas, sudah biasa. Saya menjual koran sepulang sekolah, sampai sore.”

“Oh kamu masih sekolah?”

“Saya sekolah SMA Mas, sebisa mungkin saya cari uang sendiri, supaya tidak memberatkan nenek saya,” katanya sambil menjauh, menuju ke arah perempatan yang ketika itu kendaraan berhenti karena lampu merah.

Bima menatapnya kagum, tapi juga iba. Seorang gadis, mencari uang sendiri untuk beaya sekolah? Bukan main. Dan Bima tak beranjak dari tempatnya duduk, hanya saja dia berdiri terpaku, menatap Saras yang mengacung-acungkan korannya, dan ikut senang karena ada tiga orang yang membelinya, sebelum kemudian Sarah berlari ke tepi dengan hati-hati.

“Lhoh, kok Mas masih di sini?” tanyanya heran ketika melihat Bima masih berdiri di tempatnya semula.

“Rumahku di dekat situ, masuk gang. Aku sudah pulang kerja.”

“Mas kerja kantoran?”

“Ya, di kantor, tapi aku hanya OB.”

“Oh ya sudah … Mas pasti capek. Aku juga mau pulang. Korannya tinggal dua lembar, harus aku kembalikan ke agen, sekalian setoran. Ayuk Mas,” kata Sarah sambil melenggang pergi.

“Agennya di mana?”

“Itu setelah perempatan, ayuk Mas.”

Bima menatap punggung Sarah yang pergi menjauh. Rasa kagum itu masih ada, rasa iba juga ada.

Sambil melangkah pulang, Bima masih terbayang bagaimana ia tadi mengenal gadis yang sangat menarik baginya.

***

“Sarah, kamu sudah pulang?” suara seorang perempuan tua dari dalam, ketika mendengar Sarah membuka pintu rumah.

“Iya, Nek,” katanya sambil terus masuk ke dalam.

Ia langsung ke kamar mandi, setelah meletakkan dompet kecilnya di meja makan.

Nenek membuatkan minum untuk cucunya, segelas teh manis hangat, lalu meletakkannya di meja. Ia juga menyediakan makan untuk cucunya. Sepiring nasi dengan lauk tahu bacem dan pecel, dengan sayuran bayam, kacang panjang dan kecambah.

Ketika selesai mandi dan berganti pakaian rumah, Sarah mendekati neneknya yang duduk menunggu di meja makan.

“Kamu pasti capek. Maksud Nenek, kamu tidak perlu setiap hari jualan koran. Dua hari sekali, atau tiga hari sekali, gitu. Nanti kalau kamu kecapekan, kamu tidak bisa belajar. Kamu kan mau ujian?”

“Nggak apa-apa kok Nek, Nenek tenang saja, kalau capek, pasti Sarah akan beristirahat.”

“Bagaimana hari ini?”

“Lumayan, koran hampir habis, dan ada orang yang tidak mau diberi kembalian.”

“Kamu tidak memberikannya?”

“Sarah beri Nek, mereka yang tidak mau. Barangkali kasihan melihat perempuan kecil jualan koran di hari panas pula,” kata Sarah sambil mencecap teh buatan sang nenek.

“Nenek sudah punya penghasilan, dari mencuci dan menyeterika di tetangga-tetangga, itu cukup untuk makan kita berdua, dan bayar sekolah kamu.”

“Tidak apa-apa Nek, uang Nenek yang tersisa, ditabung saja, siapa tahu pada suatu hari Nenek butuh sesuatu.”

“Kamu memang bandel.”

Sarah tertawa.

“Nenek yang sudah tua saja bekerja, masa Sarah yang masih muda tidak boleh bekerja.”

“Kamu kan harus sekolah juga.”

“Iya sih, tapi tidak apa-apa kok. Nenek tidak usah memikirkan Sarah. Pokoknya Sarah bisa mengatur waktu. Untuk sekolah, untuk jualan koran, juga untuk belajar.”

“Ya sudah sekarang makanlah, ayo Nenek temani.”

Sarah mengambilkan nasi ke piring sang nenek dulu, baru untuk dirinya sendiri.

“Nenek tahu tidak, tadi tuh Sarah kan jatuh di perempatan.”

“Haah? Kamu ini gimana, sampai jatuh segala. Mana yang sakit? Luka tidak?”

“Tidak Nek, hanya biru sedikit, memar. Tidak apa-apa, sudah dioles minyak punya Nenek di kamar.”

“Lain kali hati-hati, bagaimana bisa jatuh?”

“Ada pengendara sepeda motor nyerempet pundak Sarah, lalu Sarah jatuh. Untunglah ada orang baik menolong Sarah. Namanya Bima.”

“Sarah, lain kali kamu harus hati-hati. Jualan di jalanan yang rame itu berbahaya,” kata Nenek yang tentu saja sangat khawatir.

“Iya, Sarah akan hati-hati.”

Setelah makan dan mencuci piring kotor, Sarah ke kamar untuk mengambil buku-buku pelajarannya, dan menggelarnya di meja makan itu juga. Di situlah dia belajar, karena ia tidak punya meja belajar yang khusus.

“Sarah, tadi bu Lurah datang kemari.”

“Bu Lurah? Mau minta tolong Nenek? Bersih-bersih rumah? Tumben. Dia kan sudah punya pembantu.”

“Bukan, dia bilang, ingin mengambil kamu sebagai menantu.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, September 8, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA

 DARAH, AIR MATA DAN CINTA  

(Tien Kumalasari)

 

Ada takdir berkata lain

Ada darah di setiap raga

Ada air mata sesal yang menyusuri jiwa

 

Aku tak punya apa-apa kecuali cinta

Kupinta kepada Sang Penguasa Langit

Agar hujan mengguyur di alam kerak kering yang  menggigit

 

Air mata ini adalah derita

Bukan, bukan derita tapi sebuah pinta

Pada suatu hari nanti, akan kalian temukan cinta

 

Cinta yang sama, seputih kapas seputih mega

Tapi ketika dia datang menyapa

Ada cinta yang lain mengikis jiwa

Bukankah kita sama?

 

Hanya saja ada yang berbeda

Sang cinta memilih satu diantara dua

Yang sama adalah darah yang mengaliri jiwa raga

 **************

 

 

Ikuti kisahnya setelah ini, semoga seru tapi jangan penasaran.

Salam cinta seluas mega.

 

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 6, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  016

(Tien Kumalasari)

 

Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mulutnya, tapi nyonya Lili tampak tak bereaksi. Ia hanya diam, senyumnya yang tipis tak menunjukkan apa yang dirasakannya. Sesungguhnya dia tak peduli tentang Ana. Perintah ibunya hanyalah merawat Ana, mencukupi semua kebutuhannya dan memberinya kasih sayang. Tapi masalah kasih sayang itu Lili tak memilikinya. Ia adalah anak tunggal setelah kakaknya meninggal. Dimanjakan dan diberi kehidupan dengan harta yang berlimpah ruah. Ia menikah tanpa rasa cinta, ia juga tak memiliki cinta kepada Ana yang keponakannya sendiri. Kasih sayang yang diberikan adalah dengan memberi kesenangan yang tampak, bukan rasa cinta yang tulus dari dalam lubuk hati.

Tapi Rumi terus memanasinya, terus melontarkan ungkapan-ungkapan yang semakin lama semakin membakar hatinya.

“Ya sudah, biarkan saja. Itu kemauan nyonya besar, kita tidak bisa membantahnya.”

“Nyonya bagaimana sih, saya itu hanya mengingatkan Nyonya agar terus mengawasi dia dan berhati-hati. Coba Nyonya lihat, belum lama dia tiba, dia sudah menguasai non Ana, sehingga makan siang harus bersama dia, bahkan tidur siang juga harus bersama dia.”

“Iya, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu terlalu banyak bicara,” kata sang nyonya majikan sambil pergi meninggalkannya. Rumi beranjak ke belakang masih dengan mulut monyong.

Lili ingin masuk ke kamarnya, tapi ia menjenguk dulu ke kamar Menur. Ia melihat Ana tidur sambil merangkul Menur, sedangkan Menur menepuk-nepuk pantatnya dengan lembut. Ada yang salah dan membuat Lili tidak begitu suka. Ana tiba-tiba dekat dengan orang asing yang belum lama dikenalnya, walau menurut ibunya, Menur masih terhitung saudaranya juga.

Lili membuka pintu kamar lebar-lebar, suara pintu terbuka, walau pelan, membuat Menur kemudian menoleh ke arah pintu. Ia buru-buru bangkit sambil melepaskan pelukan Ana.

“Nyonya …..” sapanya lembut sambil merapikan kerudungnya.

“Kamu tidak usah berpura-pura baik. Kamu sangat sadar bahwa kita masih saudara bukan? Jangan memanggilku nyonya. Kalau mama mendengarnya akulah yang akan kena marah.”

“Maaf, aku harus memanggil apa?”

“Kamu kan tahu namaku, panggil aku Lili.”

Ucapan itu walau tak mengandung kebencian, tapi nadanya sungguh kurang menyenangkan. Begitu ketus, angkuh dan seakan tak rela ‘berkawan’ dengan dirinya.

“Maaf, dan baiklah,” jawab Menur pelan, sambil turun dari tempat tidur.

“Lain kali jangan ijinkan Ana tidur di kamar ini. Ana punya kamar sendiri.”

“Aku sudah mengingatkannya, dia bersikeras ingin tidur di sini. Tapi aku bisa menggendongnya dan memindahkannya ke kamarnya sendiri,” kata Menur sambil bersiap mengangkat tubuh Ana. Tapi kemudian Ana menggeliat.

“Bibi jangan pergi, di sini saja.”

“Ana, ayo pindah ke kamar kamu sendiri, bibi akan menggendong kamu.”

“Nggak mau, aku mau di sini,” rengeknya sambil merangkul pinggang Menur.

Menur menoleh ke arah Lili, ingin mengatakan bahwa Ana menginginkannya.

Tapi sebelum Menur mengucapkan sesuatu, Lili sudah keluar dengan tergesa-gesa.

Menur menghela napas, menahan perasaan yang entah bagaimana tak bisa diungkapkan. Lili memang tidak mengatakan bahwa dia tak suka, tapi nada bicara lebih mengungkapkan isi hati daripada perkataan yang terucap.

Menur kembali menepuk-nepuk pantat Ana dengan lembut, lalu meninggalkannya ketika Ana sudah tampak pulas.

Ia keluar dari kamar, ingin menanyakan kepada Lili apa yang harus dikerjakannya. Biarpun masih keluarga, tapi Menur bukan orang yang suka diam berpangku tangan. Tentu ada yang ingin dilakukannya. Ketika keluar, ia berpapasan dengan Rumi yang langsung menyerangnya.

“Jangan kamu kira kamu bisa tidur keenakan sementara yang lain banyak pekerjaan.”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Tuh, bekas makan non Ana, kamu harus mencuci dan membersihkannya, bukan dibiarkan berserakan di meja makan.”

“Eeh, apa maksudmu dengan perkataan itu?” tiba-tiba nenek Sasa datang dan menatap Rumi dengan pandangan marah.

Rumi langsung menundukkan wajahnya.

“Maaf Nyonya Besar, hanya menunjukkan dia agar mengerti apa yang harus dilakukannya,” katanya tanpa berani mengangkat wajahnya.

“Kalau mencuci piring bekas makan Ana, itu bukan pekerjaan Menur. Itu pekerjaan pembantu, atau malah pekerjaan kamu,” katanya tandas.

“Biar saya mencucinya bulik, tidak apa-apa,” kata Menur.

“Tidak boleh. Itu bukan pekerjaan kamu. Biar Rumi melakukannya. Ayo ikutlah aku, kita omong-omong di depan,” kata nyonya Sasa sambil menggandeng tangan Menur. Rumi yang menatapnya heran. Tadi dia memanggil apa? Bulik? Siapa sebenarnya pengais sampah itu? Rumi beranjak ke belakang dengan wajah muram.

***

Baroto sedang makan di sebuah restoran bersama Rahman. Sikap Rahman tak seperti ketika baru bertemu dengannya. Begitu bersemangat dan riang. Ia tampak sungkan ketika Baroto memintanya memilih makanan. Ia juga tak banyak bicara kalau Baroto tidak mengajaknya bicara.

“Apa kamu tidak suka ibumu tinggal bersama Ana?”

Rahman diam. Sesungguhnya iya. Bukan Ana yang membuatnya kesal, tapi mamanya. Ia tak bisa melupakan ketika mama Ana mengucapkan kata-kata menghina terhadap sang ibu.

“Apa kamu tahu bahwa ibumu masih keponakan nenek Ana?”

Rahman mengangguk. Tapi memiliki saudara yang kaya raya tak membuatnya bangga. Rahman berubah seperti itu juga karena Baroto. Barotolah yang mengubahnya menjadi rendah hati dan penuh kasih sayang kepada orang tua.

“Kamu harus bisa berbaur dengan keluarga Ana. Dia sangat menyayangi ibu kamu, seperti kamu juga menyayanginya.”

“Kami miskin, sangat berbeda, saya tidak ingin berbaur dengan orang kaya” katanya lirih, tapi bagi Baroto terasa sangat menyayat.

Baroto menatap wajah Rahman yang tampak sendu. Kelihatan sekali dia tak suka ibunya tinggal bersama Ana. Tampaknya ada yang membuat dia merasa bahwa dirinya dan keluarga Baroto sangat berbeda. Ketika kesombongannya hilang, maka rasa rendah diri yang datang. Menurut Baroto, hal itu tidak baik. Tapi pasti ada sebabnya. Ia teringat ketika datang bersama Rahman, lalu istrinya sendang memarahi Menur. Itukah yang membuatnya terluka dan sakit?

“Rahman, kamu tidak boleh merasa begitu. Bahwa manusia itu ditakdirkan kaya atau miskin, dimata Allah semuanya adalah sama. Yang membedakan derajat manusia adalah apa yang dilakukannya. Kamu mengerti?”

Tentu saja Rahman mengerti, tapi belum begitu bisa menerima perlakuan manusia yang membedakan derajat dari harta yang dimilikinya.

“Bagaimana dengan orang yang suka menghina? Saya tahu, teman-teman saya suka menghina orang yang lebih miskin darinya. Lalu mengucilkannya di sekolah. Tadinya saya terbawa kelakuan mereka, dan malu kalau dibilang miskin, lalu takut dikucilkan. Sekarang tidak lagi. Saya tahu, dihina dan direndahkan itu sakit,” kata Rahman panjang lebar, membuat Baroto kagum bahwa anak sekecil Rahman bisa menguraikan sebuah perilaku yang baik dan yang tidak. Apakah itu setelah bertemu dengannya?

“Kalau kamu terhina dan sakit, maka kamu akan menyimpan rasa sakit itu di dalam hati kamu?”

“Apa saya harus melupakannya?”

“Melupakannya mungkin susah, tapi memaafkannya, harus bisa.”

Rahman menyendok makanannya dengan suapan terakhir.

“Apa kamu tahu, bahwa memaafkan itu adalah perbuatan yang mulia?”

Rahman mengusap mulutnya dengan tissue, lalu meneguk minumannya sampai habis. Tapi kemudian dia mengangguk.

Baroto tersenyum. Ada yang membuatnya berdebar. Dua hari lagi hasil tes DNA itu akan keluar, lalu ia akan kembali ke luar negri. Tapi sebelum itu ia harus memastikan bahwa Menur dan Rahman baik-baik saja.

***

Sore hari itu Menur sudah mengajak Ana agar segera mandi, karena dia akan pulang. Tapi begitu selesai berdandan, Ana masih ingin ditemani makan. Mau tak mau Menur menurutinya.

Rumi yang menyiapkan makan untuk Ana merasa kesal, karena hari masih sore dan Ana sudah ingin makan gara-gara Menur akan pamit pulang.

“Mengapa sih Non, biasanya juga makan bareng nyonya dan tuan, tapi Non ingin makan sekarang?”

“Aku mau makan ditemani bibi Menur.”

Rumi menyiapkan makan untuk Ana ketika hari masih sore dengan wajah muram. Menur yang sebenarnya sudah siap pulang, menasehati Ana agar jangan merubah kebiasaan gara-gara ada dirinya.

“Aku sedang senang, aku ingin apapun harus bersama bibi Menur.”

“Jangan begitu. Bibi Menur ada di sini hanya menemani dan melayani Ana, tapi Ana tidak boleh merubah kebiasaan. Kalau biasanya makan bersama papa dan mama, setiap hari harus begitu.”

“Tapi apakah bibi Menur mau pulang setelah makan malam bersama papa dan mama juga? Atau nenek, kalau kebetulan nenek ada di sini?”

“Jangan begitu. Kasihan Rahman kalau bibi pulang terlalu malam.”

“Ya sudah, kali ini saja.”

“Baiklah, kali ini saja ya, besok-besok semuanya harus sama seperti hari biasa. Bibi tidak ingin karena ada bibi lalu kamu merubah kebiasaan.”

Ana mengangguk walau sebenarnya kecewa.

Begitu selesai makan, Menur bersiap pulang, tiba-tiba Baroto mendekati.

“Kamu mau pulang, Menur?”

“Ya,” jawabnya singkat, tanpa berani lama-lama menatap wajah Baroto yang menatapnya aneh.

Tapi cara menatap Baroto terhadap Menur itu tertangkap oleh mata Rumi yang memang selalu mengawasinya.

“Aku antar, sekalian aku mau ada keperluan untuk keluar.”

“Tidak. Biar aku pulang sendiri saja, nanti menjadi kebiasaan.”

“Bukan apa-apa, kebetulan aku juga mau keluar kok.”

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”

“Kalau begitu biar diantar sopir.”

“Tidak usah,” katanya sambil berlalu. Ia tak harus berpamit pada Lili, karena ia tahu Lili belum pulang dari kantor, yang kata Ana terkadang sampai malam.

Baroto menghela napas kesal. Tidak mudah mendekati Menur kembali. Akhirnya dia mengalah, dan membiarkannya pergi sendiri.

***

Rahman sedang bersih-bersih rumah ketika Menur memasuki rumahnya. Agak terkejut ketika melihat Rahman melakukannya.

“Anak ibu, mengapa kamu menyapu sendiri, tidak menunggu ibu?”

“Ibu kan sudah capek, tidak apa-apa biar Rahman melakukannya.”

“Anak baik,” kata Menur sambil merangkul anaknya.

“Ibu, apakah mereka memperlakukan ibu dengan baik?” tanya Rahman sambil memegangi tangan ibunya.

“Tentu saja mereka semua baik pada ibu.”

“Nyonya yang galak itu juga?”

Menur tertawa, ia tak mau membuat anaknya sedih.

“Dia sangat baik.”

“Benarkah? Bukankah dulu dia galak pada ibu?”

“Itu kan dulu, sekarang dia baik, bukankah kami masih saudara?”

Rahman merasa lega mendengar jawaban sang ibu.

***

Besok lagi ya.

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 04

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  04 (Tien Kumalasari)   Laki-laki gagah itu tersenyum lucu. “Mengapa kamu menatapku seperti itu? Terpesona ya? K...