Saturday, February 7, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 03

 BIARKAN AKU MEMILIH  03

(Tien Kumalasari)

 

“Ada tamu, mengapa tidak dipersilakan masuk?” tiba-tiba terdengar suara dari dalam.

Nirmala menatap seorang ibu yang dikenalnya sebagai ibu Adri. Ia segera mendekat dan mencium tangannya, lalu memberikan sebuah bungkusan yang dibawanya.

“Selamat ulang tahun Ibu,” kata Nirmala pelan.

“Lhoh, ini apa lagi?”

“Hadiah untuk Ibu,” jawab Nirmala.

“Hadiah untuk ibu? Bukankah tadi Adri sudah memberikannya, yang katanya hadiah dari Nirmala?”

Nirmala tertegun. Ia heran mengapa Adri melakukannya. Sekarang ia harus secepatnya memberi jawaban agar tak membingungkan bagi yang ulang tahun.

“Iya Bu, tadi Adri telah memberikannya, tapi saya tidak merasa puas sebelum memberikannya langsung kepada Ibu, jadi saya beli lagi,” itulah jawaban yang didapatkannya.

“Ooh, jadi dobel dong hadiah untuk ibu?”

“Tidak apa-apa Ibu, semoga Ibu senang menerimanya.”

“Sebuah hadiah adalah anugrah. Ibu pasti menerimanya dengan senang. Sekarang duduklah, ibu buatkan minum.”

“Maaf Bu, saya harus buru-buru, karena saya sudah pergi sejak pagi untuk sebuah keperluan.”

“Jadi benar nih, tidak mau minum dulu?”

“Lain kali saya akan datang kemari lebih lama. Saya permisi,” katanya sambil kembali mencium tangan ibu Adri, lalu berpamit pada Adri yang masih berdiri kaku dengan wajah muram.

“Adri aku pulang.”

Adri hanya mengangguk, tapi membiarkan Nirmala keluar dari halaman rumahnya.

“Mengapa kamu tidak mengantarkannya?” tegur sang ibu yang melihat ada gelagat kemarahan di wajah Adri.

“Dia kan punya mobil, masa aku harus mengantarnya?” jawabnya sambil ngeloyor masuk ke dalam rumah. 

Sang ibu segera tahu, bahwa anaknya dan Nirmala sedang marahan. Memang Adri belum mengatakan kalau dia pacaran dengan Nirmala, tapi kedekatan mereka mudah diartikan bahwa keduanya memiliki perasaan suka yang sama.

Sang ibu hanya mengangkat bahu, kemudian membawa masuk bingkisan yang tadi diberikan Nirmala padanya.

***

Nirmala sudah mengambil ponselnya dan bersiap memanggil taksi ketika tiba-tiba sebuah mobil mendekatinya. Nirmala terkejut. Bima masih ada di sekitar tempat itu.

Bima turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nirmala.

“Kok … kamu masih ada di sini?”


”Aku tadi hanya muter-muter, lalu ketika melewati tempat ini lagi, kamu ternyata sedang mau memanggil taksi.”

Nirmala tersenyum ketika mobil itu sudah melaju.

“Pasti tidak kebetulan ketika kamu lewat dan aku sedang mau memanggil taksi.”

“Kebetulan kok.”

“Kamu sengaja menunggu aku kan? Bagaimana kalau ternyata aku diantar pulang dengan motor Adri?”

“Ya tidak apa-apa, aku hanya berjaga-jaga,” akhirnya kata Bima.

“Terima kasih Bima, kamu selalu perhatian untuk aku.”

“Apakah tidak terpikir oleh kamu, ketika nanti kamu sampai di rumah, lalu bapak bertanya, mengapa tidak diantar Bima? Aku dong yang kena. Masa aku membawa kamu dari pagi, lalu membiarkan kamu pulang sendiri, atau bahkan pulang diantar orang lain?”

“Iya sih.”

“Sedikit atau banyak, bapak pasti menegur kamu kalau kamu pulang tanpa aku.”

“Kamu benar Bima. Terima kasih ya.”

“Mengapa Adri tidak mau mengantar kamu? Apa dia marah karena kamu mengingkari janji?”

“Dia bukan hanya marah karena gagal pertemuan pagi tadi, tapi juga marah karena melihat ketika kita membeli hadiah untuk ibunya tadi.”

“Oh, dia melihatnya?”

“Iya.”

“Apa jawab kamu?”

“Tidak aku jawab. Setelah ketemu ibunya, lalu aku berikan hadiahnya kemudian aku langsung pamit.”

“Dia tidak menawarkan untuk mengantar kamu?”


”Pastinya dia mengira bahwa aku masih diantar oleh kamu, ditunggui di depan, atau juga mengira aku membawa mobil sendiri. Entahlah, tidak usah dipikirkan.”

“Nirmala, kalau dia marah atau cemburu, itu tandanya dia cinta sama kamu.”

“Cemburunya kebangetan.”

“Tidak, itu wajar aku kira, jadi kamu tak usah risau atau galau.”

Nirmala tersenyum. Alangkah baik hati Bima ini. Ia tahu bahwa Bima menyukai dirinya, ditambah dorongan dari sang ayah yang tampaknya lebih condong kepada Bima daripada kepada Adri. Tapi sedikitpun dia tak tampak sakit hati mengetahui bahwa dirinya sudah memiliki seseorang yang pastinya istimewa, bukan teman biasa tapi saling cinta. Dia bahkan berusaha selalu membantu dan mendukungnya.

Kalau saja dia tidak menyukai Adri, alangkah mudahnya jatuh cinta pada Bima.

“Maafkan aku Bima, aku hanya mencintai Adri, walau terkadang sikapnya menjengkelkan. Adri sangat baik, susah bagi aku untuk meninggalkannya,” kata batin Nirmala.

“Nirma, apa kita mampir makan siang dulu sebelum pulang?” kata Bima menawarkan.

“Tidak usah Bim, kalau kamu mau, nanti makan siang di rumah saja. Kalau hari libur, bapak selalu ingin agar kita bisa makan di rumah.”

“Baiklah, kalau begitu.”

***

Pak Bondan menyambut kepulangan Nirmala yang diantar Bima siang hari itu. Wajahnya berseri. Ia senang Nirmala jalan-jalan sejak pagi bersama Bima, calon menantu pilihannya.

“Kemana saja tadi?” tanyanya ketika menyambutnya sambil berdiri.

“Hanya jalan-jalan saja,” jawab Bima, sementara Nirmala langsung masuk ke dalam.

“Sering-seringlah datang kemari, ajak Nirmala jalan.”

“Baiklah Pak. Sekarang saya permisi dulu.”

“Eh, masuklah dulu Bima, ibu sudah menyiapkan makan siang lhoh,” kata bu Bondan yang baru keluar dari dalam.

“Iya, ayo masuklah, tidak baik menolak rejeki,” kata pak Bondan.

“Nanti saya merepotkan.”

“Tidak, tadi Nirmala bilang pada ibu agar meminta kamu ikut makan siang bersama kami.”

Bima tak bisa lagi menolak. Undangan makan siang itu sudah diutarakan Nirmala sejak masih dalam perjalanan pulang.

***

Sementara itu di rumahnya, sang ibu mengomel tak henti-hentinya karena sikap Adri yang tidak menyenangkan saat Nirmala datang.

“Dia itu gadis yang baik, ibu senang kalian bisa kenal dekat. Kamu sudah hampir selesai kuliah, lalu cari pekerjaan, lalu cari istri. Nirmala akan menjadi pasangan yang baik untuk kamu.”

“Nirmala itu banyak yang suka.”

“Tentu saja, dia cantik, baik dan santun. Karena itulah kamu harus menjaga hubungan kalian, jangan sampai retak.”

Adri hanya diam. Sesungguhnya dia sangat mencintai Nirmala, tapi dia itu pencemburu berat. Tak gampang melupakan kejadian pagi tadi, ketika melihat Nirmala sedang memasuki rumah makan, di mana dia sudah berkencan di sana. Ia sakit dan marah. Ia menganggap Nirmala mengingkari janji karena kencan dengan laki-laki lain. Laki-laki yang lebih ganteng dan lebih kaya darinya. Mana tahan?

Seharusnya, seberapa besarnya rasa cemburu di hati Adri, ia harus bisa memaafkan ketika Nirmala akhirnya datang ke rumah dan memberikan hadiah kepada ibunya. Tapi alangkah susahnya meredam rasa kesal itu.

“Besok kalau ketemu, kamu harus meminta maaf.”

“Mengapa aku harus meminta maaf? Aku salah apa?”

“Sikap kamu yang dingin dan seperti tidak memperhatikan dia itu, pasti juga membuat Nirmala kesal. Yang terbaik untuk hubungan kalian adalah kamu harus meminta maaf. Jangan sampai masalah menjadi berlarut-larut.”
Adri hanya mengangguk pelan, tapi alangkah susahnya meminta maaf.

***

Siang hari itu Adri sedang duduk di teras sambil membaca-baca buku, mencari bahan skripsi yang sudah mulai dikerjakannya. Tapi bayangan Nirmala dan laki-laki tampan itu masih terus terbayang di benaknya. Ada hubungan apakah mereka? Kelihatannya begitu dekat, mereka memilih barang berdua, yang ternyata dipergunakan Nirmala untuk hadiah ulang tahun ibunya. Bagus sih, tapi mengapa harus ada laki-laki lain bersamanya. Lagipula Nirmala mengingkari janji gara-gara bepergian dengan laki-laki itu. Adri memijit pelipis kiri dan kanannya karena merasa pusing.

“Selamat siang,” suara nyaring itu mengejutkannya.

“Siang, eh … kamu Dwi?” Adri menatap gadis berwajah manis itu sambil tersenyum.

“Adri lagi pusing ya?”

“Nggak, lagi mikir ini, buku yang aku baca. Ayo masuklah Dwi.”

“Aku mau ketemu ibu.”

“Ibu ada di dalam, masuklah. Bawa apa itu? Baunya sedap benar.”

“Aku masak mie untuk ibu, bukankah ibu ulang tahun? Tidak bisa memberikan hadiah bagus, hanya masak mie saja untuk ibu.”

“Wah, masakan gadis cantik pasti enak,” puji Adri.

“Nanti boleh dicicipin deh, sekarang aku mau ketemu ibu dulu,” katanya sambil langsung masuk ke dalam. Tampaknya Dwi sudah kenal dekat dengan keluarga Adri.

Adri melanjutkan kesibukannya membaca-baca. Di dalam, suara renyah ibunya dan tawa Dwi yang nyaring sama sekali tidak mengganggunya.

Beberapa saat kemudian Dwi keluar dengan masih tertawa-tawa. Ia melewati teras dan pamit pada Adri sambil mengulaskan senyum manisnya.

“Pulang dulu Adri, nanti boleh icipin mie nya, kalau suka, lain kali aku masak lagi untuk kamu deh.”

“Ya, jangan khawatir, nanti aku habiskan mie nya,” kata Adri sambil tersenyum.

Dwiyanti adalah teman mainnya sejak masih kanak-kanak, jadi tak heran kalau mereka kenal dekat. Dwi juga sudah kuliah tapi beda universitas dengan Adri. Tapi Adri beberapa tingkat di atasnya.

***

Pagi hari itu Adri memasuki halaman rumah pak Bondan. Ia tahu Nirmala akan ke kampus agak siang, dan ia bermaksud mengajak Nirmala makan pagi di sebuah warung yang nanti akan mereka pilih.

Ketika ia menstandartkan sepeda motornya, pak Bondan keluar. Wajahnya langsung muram.

“Pagi-pagi kemari ada apa?” pertanyaan yang sama sekali tidak sopan dikeluarkan oleh seorang tuan rumah kepada tamunya.

“Saya mau ketemu Nirmala.”

“Nirmala sedang sibuk di belakang. Katakan saja perlunya apa, nanti aku sampaikan,” kata pak Bondan, tetap tidak ramah.

“Adri, kamu sudah datang?” tiba-tiba Nirmala keluar dari dalam rumah, bersikap seolah-olah sudah janjian pada Adri, agar sang ayah tidak mengajukan beberapa pertanyaan lagi.

Adri tak menjawab.

“Pak, Nirma mau pergi sebentar, ke kampus.”

“Kamu bilang ke kampusnya agak siang.”

“Nirmala lupa ada beberapa catatan yang tertinggal, jadi Nirma minta Adri nyamperin kemari.”

“Kamu kan bisa naik mobil?”

“Mobil Nirma bocor, nanti baru akan Nirma bawa ke bengkel,” kata Nirmala yang langsung turun ke bawah, dan mengajak Adri pergi.

“Kami pergi dulu Pak.”

“Permisi,” kata Adri, singkat, dengan wajah tak kurang gelap. Ia tahu ayah Nirmala tak suka padanya. Apa yang didengar membuat bukan hanya telinganya yang sakit, tapi juga hatinya.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, February 6, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 02

 BIARKAN AKU MEMILIH  02

(Tien Kumalasari)

 

Bima sudah turun lebih dulu, tapi Nirmala kebingungan. Tiba-tiba Bima sudah membukakan pintu untuknya, dan tak ada alasan bagi Nirmala untuk tetap duduk di dalamnya. Ia turun, matanya mencari-cari.

Bima menariknya masuk karena Nirmala tampak ragu. Ia mencari bangku kosong jauh dari pintu masuk, lalu menarik kursi agar Nirmala duduk.

Nirmala masih mencari-cari, ketika ia melihat bayangan Adri, ia hampir berteriak memanggil, tapi Bima menyodorkan buku menu ke hadapannya.

Nirmala tampak gelisah. Ia melihat Adri keluar dari rumah makan itu. Apakah Adri keluar karena melihatnya, atau karena bosan menunggunya dan sama sekali tidak melihat kedatangannya?

“Ada apa? Ayo, pilih menu dulu, aku belakangan,” kata Bima setengah memaksa.

“Kamu saja, bukankah kamu yang lapar? Aku memilih minum teh hangat saja, dan cemilan. Apa saja aku mau. Tolong kamu yang menulisnya."

“Baiklah. Kamu mau teh panas sama cemilan … mmm … pisang goreng?”

“Ya … apa saja,” jawab Nirmala yang sedang asyik menulis pesan singkat untuk Adri.

Nirmala menanyakan Adri ada di mana, tapi tidak terkirim, tampaknya ponselnya tidak aktif. Apakah Adri marah?

“Nirma, kamu seperti sedang gelisah, ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Keburu beli buku?”

“Tidak, tidak apa-apa kok.”

Tapi wajah Nirmala yang tampak gelisah tak bisa membohongi Bima.

“Katakan ada apa, kalau ada sesuatu yang membuatmu gelisah, katakan saja, siapa tahu aku bisa membantu.”

Nirmala menatap Bima. Wajah tampan yang tulus itu membuatnya luluh, jadi tak enak untuk menutupi kegelisahannya.

“Sebenarnya aku sedang kencan.”

“Apa? Mengapa tidak mengatakan sedari tadi? Kencan sama pacar kamu? Kamu punya pacar?”

“Tidak, hanya teman.”

“Teman dekat?”

“Teman kuliah. Kebetulan kencan ketemuan di sini. Jam sembilan tadi.”

“Mengapa tidak bilang dari awal? Kalau kamu bilang dari awal pasti aku tidak akan mengajakmu kemari.”

“Tidak apa-apa. Tuh, pesanan kamu sudah datang. Makanlah, nanti kamu masuk angin,” kata Nirmala mencoba bercanda, untuk mencairkan kegelisahannya.

Bima menarik piring makanan ke hadapannya, dan mempersilakan Nirmala menikmati pisang goreng hangat yang dihidangkan.

“Jadi kamu tidak sedang akan mencari buku? Kamu kelihatan sangat gelisah. Maafkan aku. Aku telah menggagalkan kencan kamu.”

“Bukan kencan seperti orang pacaran. Dia hanya ingin membelikan hadiah untuk ibunya yang ulang tahun, lalu minta tolong aku untuk memilihkan hadiah yang tepat untuk seorang ibu. Dia teman kuliah aku, setahun di atasku.”

“Kalau begitu mengapa tidak datang saja ke rumah, sehingga tidak terjadi kekisruhan seperti ini,” sesal Bima.

“Bapak tidak suka aku berteman dengan dia,” wajah Nirmala menjadi muram.

“O, begitu. Jadi karena bapak tidak suka, lalu kamu memilih bertemu di sini? Dia sudah tak ada di sini ya? Jangan-jangan dia melihat kita, lalu dia marah.”

“Entahlah. Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Ini bukan masalah serius. Makanlah sebelum kamu pingsan,” canda Nirmala walau sebenarnya hatinya tidak tenang.

Bima mulai makan, Nirmala menggigit pisang gorengnya perlahan.

“Kamu mencintai dia?” tiba-tiba tanya Bima.

“Dia sebenarnya baik. Kami kenal dekat.”

"Aku menganggapnya sebagai bukan sekedar teman dekat. Ada sesuatu yang lain. Itu cinta, bukan?”

“Entahlah, apa itu cinta, ataukah bukan.”

“Aku akan mendukungmu, kalau kamu memang mencintai dia.”

“Terima kasih, Bima.”

“Apakah tadi dia benar berada di sini?”

“Ya, ketika kita duduk, dia sudah berjalan sampai di pintu keluar. Aku ingin memanggilnya tapi dia sudah keburu ilang.”

“Kamu sudah menghubunginya?”

“Sudah, tidak dijawab.”

“Barangkali dia melihat kita.”

“Aku maklum kalau dia marah. Aku tidak datang di waktu yang aku janjikan, lalu dalam kedatangan yang sangat terlambat, aku sedang bersama seseorang.”

“Aku sangat menyesal.”

“Bukan salah kamu, Bima.”

“Mengapa bapak tidak suka pada dia?”

“Entahlah. Alasannya tidak masuk akal.”

“Pasti ada alasannya, mengapa bapak melarangnya.”

Nirmala tidak menjawab, kecuali hanya mengangkat bahunya.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Menemuinya, minta maaf. Apa lagi?”

“Boleh aku usul?”

“Hm?”

“Bukankah dia akan mencarikan hadiah untuk ibunya yang ulang tahun?”

“Iya, dia minta tolong aku agar memilihkan hadiah untuk ibunya itu.”

“Kalau begitu bagaimana kalau kamu membelikan hadiah untuk ibunya, lalu kamu berikan sebagai hadiah ulang tahun dari kamu. Masa dia akan marah terus-terusan?”

“Iya juga ya. Bima, kamu luar biasa, aku suka. Setelah makan aku mau belanja untuk hadiah itu.”

“Jangan khawatir, biar aku antar kamu. Masa kamu akan berangkat sendiri dan aku tega membiarkanmu?”

“Baiklah, terima kasih Bima. Kamu baik sekali. Selamanya baik, aku tak akan bisa melupakan kamu.”

“Hm, tersanjung nih aku,” kata Bima sambil mengakhiri makan paginya.

“Kamu memang baik, bukan hanya karena mau mengantarkan aku. Kamu baik segala-galanya.”

“Sudah, berhenti memujinya, nanti aku jadi besar kepala deh.”

“Lucu dong kalau besar kepalanya,” kata Nirmala yang kekesalannya mulai mencair.

***

Dan Bima memang mengantarkan Nirmala belanja. Mereka membeli sebuah alat masak yang sangat bagus, dan diharapkan ibu Adri akan suka. Nirmala menolak ketika Bima akan membayarnya. 

"Jangan Bima, yang memberi hadiah kan aku, kalau kamu yang membayarnya berarti bukan dari aku kan?”

Bima tertawa.

“Baiklah, kamu benar, hadiah dari calon menantu pastinya berbeda,” goda Bima.

Nirmala memelototi Bima, pura-pura marah.

“Belum apa-apa juga, bagaimana bisa disebut calon menantu?”

“Kalau kalian saling mencintai, apakah nanti arahnya bukan ke sana? Aku hanya bisa berdoa agar kamu bahagia.”

“Terima kasih Bima.”

Nirmala tersenyum. Kalau saja hatinya belum menyukai Adri, barangkali dia akan senang menerima tawaran ayahnya agar Bima menjadi jodohnya. Bima sangat baik dan bisa menjadi sahabat yang luar biasa. Sayang Nirmala tidak mencintainya. Lalu Nirmala menjadi sedih. Kisah cintanya akan menjadi sangat rumit ketika sang ayah tidak menyukai orang yang dicintainya.

“Hei, mengapa merengut?”

“Tidak apa-apa. Ayo antar aku pulang, aku akan mengantarkan hadiah ini setelahnya.”

“Mengapa tidak kita antar saja sekalian? Kalau kamu pulang dulu, aku yakin kamu harus berbohong pada bapak ketika mau pergi mengantar hadiah itu.”

“Kamu, mau mengantarkan aku ke rumah Adri juga?”

“Kenapa tidak? Apa kamu takut Adri cemburu? Nanti aku bilang bahwa aku adalah kakak kamu.”

“Baiklah, tidak apa-apa. Dia cemburu kalau belum tahu siapa kamu. Kalau begitu sekarang saja?”

“Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Bulan depan?”

Nirmala terkekeh. Bima bukan hanya baik. Terkadang dia juga kocak, dan itu sangat menghibur bukan?

***

Di rumah, bu Bondan sedang duduk berdua dengan suaminya.

“Nirmala kok lama ya?” katanya.

“Memangnya kenapa kalau lama? Aku senang dia bisa jalan-jalan sama Bima. Dia laki-laki yang pas untuk Nirmala.”

“Apa Bapak yakin kalau Nirmala akan bisa menerimanya?”

“Bodoh sekali kalau dia menolak Bima. Bima itu kan ganteng, hatinya baik, hormat pada orang tua. Dan yang paling penting dia sudah mapan, bukan seperti Adri yang masih kuliah dan belum jelas nanti bagaimana. Mencari pekerjaan itu susah. Biar sarjana tetap saja susah.”

“Aku merasa kalau Nirmala menyukai Adri.”

“Dan Ibu mendukungnya?”

“Tidak. Aku sih mana yang baik saja. Sebagai orang tua, pasti senang kalau anaknya bahagia kan?”

“Orang tua itu wajib mengarahkan anaknya ke jalan yang benar. Yang nantinya bisa membuat hidupnya tenang, senang, bahagia. Kalau anak muda, yang dipikir hanya asal dia suka. Pertimbangan untuk berpikir ke arah kehidupan yang lebih jauh, sama sekali tidak ada.”

“Nirmala bukan anak kecil, dia pasti sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk.”

“Belum tentu juga. Baik karena dia suka. Aku kok merasa kalau Adri bukan jodoh yang baik untuk Nirmala.”


”Bapak harus mendoakan agar anak kita bahagia, jangan berkata buruk, ingat, ucapan adalah doa.”

“Kamu harus tahu, kalau aku berharap agar Nirmala hidup bahagia.”

“Kalau begitu kita doakan saja, jangan ngomong yang jelek-jelek.”

Pak Bondan diam, ia hanya tidak suka pada Adri, entah kenapa. Apakah alasan bahwa Adri terlahir pada keluarga yang berantakan adalah sudah pada tempatnya?

***

Bima dan Nirmala sudah sampai di rumah Adri. Rumah kecil sederhana yang ditata rapi pada halamannya. Barangkali ibunya suka menanam bunga, seperti kesukaan wanita pada umumnya.

“Kamu saja yang turun, aku tunggu di mobil, ya.” kata Bima yang menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tidak masuk ke halamannya yang sempit.

“Baiklah, atau sebaiknya kamu tinggalkan aku saja?”

“Nanti pulangnya bagaimana?”

“Ada taksi, ada Adri yang pasti tidak keberatan mengantarkan aku.”

“Baiklah kalau begitu, aku pergi ya.”

“Terima kasih banyak, Bima.”

“Hati-hati membawa bungkusannya, itu berat lhoh.”

“Iya, aku tahu.”

Nirmala melambaikan tangan ketika Bima membawa pergi mobilnya. Ia sengaja menyuruh Bima meninggalkannya, agar Ardi tidak berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

Nirmala melangkah menuju rumah, Adri berdiri di tangga teras, wajahnya gelap.

“Adri, maafkan, tadi urusanku belum selesai, sehingga_”

“Urusan dengan laki-laki bermobil itu?” kata Adri tak senang.

“Adri, kamu jangan salah sangka. Bima adalah sahabat aku.”

“O, namanya Bima? Akan aku ingat itu.”

“Adri, apa maksudmu?”

“Tidak ada. Kamu datang membawa bungkusan, untuk apa?”

“Ini hadiah ulang tahun untuk ibu. Mana ibu?”

“Tidak usah, aku sudah membelikannya. Mengapa kamu membawa hadiah lagi? Ini dari laki-laki bernama Bima itu kan? Aku melihat kalian ketika belanja di toko perabotan itu.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, February 5, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 01

 BIARKAN AKU MEMILIH  01

(Tien Kumalasari)

 

Pak Bondan sedang menghirup kopinya, ketika melihat mobil yang dikendarai Nirmala memasuki halaman.

“Dari mana saja dia, sudah sore baru pulang,” gumam pak Bondan, seorang pengusaha kaya yang disegani.

“Kuliah, pastinya,” jawab sang istri.

“Aku kurang suka Nirmala sering-sering jalan bareng anak itu.”

“Anak itu siapa sih Pak?”

“Adrianto … atau siapa itu, anak orang nggak jelas.”

“Eh, Bapak jangan begitu, kok anak orang nggak jelas bagaimana maksudnya?”

”Lha dia itu kan lahir dari keluarga yang berantakan,  bagaimana kalau anak kita nanti semakin dekat, lalu saling suka, lalu ingin berjodoh. Aku nggak mau berbesan dengan keluarga berantakan.”

“Ya jangan terus berprasangka buruk, nyatanya Adri itu kan anak kuliahan juga, dan baguslah kalau mereka berteman.”

“Aku tidak suka, ingatkan dia kalau nanti Nirmala sudah istirahat.”

Nirmala sudah masuk ke rumah, lalu mencium tangan bapak dan ibunya.

“Dari mana saja kamu?”

“Dari kuliah kan Pak? Nirmala tidak ke mana-mana.”

“Ya sudah, istirahatlah dulu sana, nanti saja kita bicara,” potong sang ibu yang tidak ingin suaminya menegur saat sang anak baru saja pulang.

“Ada apa sebenarnya Bu?”

“Nanti saja, sudah, mandi dan istirahat dulu sana.”

Nirmala mengangguk, kemudian berlalu.

“Dia baru datang, nanti saja kalau Bapak mau bicara.”

Pak Bondan menghirup lagi minumannya, lalu meraih camilan pisang goreng yang tersedia di meja.

***

Sampai saat makan malam, pak Bondan belum mengatakan apapun tentang perasaan tidak sukanya pada Adri. Tapi begitu selesai makan dan mereka duduk di ruang tengah sambil menikmati acara televisi, justru Nirmala yang menanyakannya kepada sang Ibu.

“Tadi Ibu ingin bicara apa?”

“Bapak itu yang mau bicara,” kata bu Bondan sambil menatap ke arah suaminya.

Nirmala menatap sang ayah yang tampaknya bersiap mengatakan sesuatu.

“Nirmala, bapak tidak suka kamu bergaul dekat dengan Adri.”

“Maksud Bapak apa?” tanya Nirmala heran.

“Bapak tahu kamu sering jalan sama anak itu. Bapak tidak ingin kamu terlalu dekat sama dia.”

“Kami teman kuliah, bagaimana bisa Bapak melarangnya?”

“Kalau keterusan, kedekatan itu bisa menjadi hubungan yang tidak sekedar berteman. Bisa menjadi hubungan serius. Itu yang bapak tidak suka.”

“Adri itu baik dan pintar.”

“Bukan karena dia tidak baik atau bodoh. Dia itu dari keluarga yang berantakan.”

“Mengapa karena keluarganya lalu Bapak juga menilai bahwa Adri tidak pantas dekat dengan Nirmala?”

“Keadaan keluarga itu mempengaruhi seseorang. Bapak ingatkan kamu, sebelum kamu menyesal.”

Nirmala menatap sang ayah dengan perasaan menyesal atas penilaiannya terhadap Adri. Menurutnya Adri adalah laki-laki yang baik.

“Lebih baik kamu berjodoh dengan Bima. Dia itu cakap dan kalian sudah kenal baik bukan?”

“O, iya, Nirmala kenal Bima, tapi bukan berarti Nirmala harus menjauhi Adri kan?”

“Nirmala, kamu itu kalau diberi tahu orang tua jangan selalu membantah begitu.”

“Nirmala, bapakmu lebih suka kamu dekat dengan Bima.”

“Iya Bu, Nirmala juga dekat dengan Bima kok. Dia sering main ke sini kan, dan Nirmala selalu menanggapinya baik?”

“Tapi bapak tidak suka Adri. Dia kelihatan keras kepala. Bapak kan sudah beberapa kali bertemu dia, ketika dia datang kemari dan waktu kamu ulang tahun?”

“Tidak Pak, Adri bukan keras kepala. Dia memang keras dalam menginginkan sesuatu, tapi itu hal positip yang membuatnya pintar.”

“Nirma, berhentilah membantah ayahmu.”

“Baiklah, tapi bukan berarti Nirma tidak boleh berteman sama dia kan?” kata Nirmala yang kemudian berdiri.

“Mohon maaf, Nirmala mau ke kamar dulu.”

Kedua orang tuanya membiarkan Nirmala berlalu.

“Mengapa Bapak belum-belum sudah menuduh mereka bergaul terlalu dekat? Siapa tahu mereka hanya berteman,” kata bu Bondan.

“Kalau tidak diingatkan dari sekarang, mereka bisa keterusan. Aku melihat sesuatu diantara mereka, dan aku melihat sesuatu itu hal yang tidak baik.”

“Jangan dulu menilai seseorang, Bapak kan baru beberapa kali bertemu dia.”

“Ya sudah, terserah Ibu. Kita lihat saja nanti siapa yang benar.”

***

Hari itu Nirmala kuliah seperti biasa. Ia masih terngiang apa yang dikatakan sang ayah, tentang ketidak sukaannya kepada Adri. Menurut Nirmala, Adri laki-laki yang baik. Memang terkadang dia terlihat agak keras. Tapi bukan keras kepala. Dia mau, semua yang diinginkannya bisa diraihnya. Orang tuanya memang tidak begitu kaya, dan benar, kedua orang tuanya sudah bercerai.

Ketika mau pulang, Adri mendekatinya.

“Nirma, besok kan hari libur, aku main ke rumah ya?”

Nirmala agak kaget. Kalau Adri ke rumah, ayahnya marah tidak ya? Tapi untuk menolak pastilah dia sungkan.

“Kok diam, kamu ada acara untuk bepergian? Aku ingin membeli sesuatu untuk ibuku, aku ingin kamu memilihkannya.”

“Ibu kamu ulang tahun?”

“Iya, sudah beberapa tahun ini aku tidak memberinya hadiah, kali ini aku punya sedikit tabungan.”

“Boleh, aku antar nanti.”

“Aku samperin kamu ke rumah ya?”

“Bagaimana kalau kita ketemu di rumah makan langganan kita?”

“Mengapa? Aku tidak boleh ke rumah?”

“Bukan, aku paginya sudah keluar rumah, ada sedikit urusan, jadi daripada aku pulang, lebih baik sekalian jalan,” kata Nirmala yang kebetulan menemukan alasan yang dirasa tepat.

“Baiklah, jam berapa kira-kira?”

“Jam sembilan … bagaimana?”

“Baiklah, jam sembilan aku sudah ada di sana.”

Nirmala pulang dengan perasaan bersalah. Tapi bagaimana lagi. Besok hari libur, dan sang ayah pasti ada di rumah. Kemarin sudah diutarakan olehnya bahwa dia tidak menyukai Adri dengan alasan yang sebenarnya Nirmala belum bisa menerimanya. Jadi daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang akhirnya akan melukai hati Adri, maka lebih baik ketemuan di luar saja.

***

Tapi pagi hari itu tiba-tiba ia mendengar suara sang ayah sedang tertawa-tawa di teras. Nirmala sudah bersiap untuk keluar untuk memenuhi janjinya pada Adri. Ia melangkah keluar untuk pamitan, tapi ia terkejut, rupanya di teras sang ayah sedang berbincang dengan Bima. Nirmala ingin undur ke belakang, tapi sang ayah mendengar langkahnya.

“Nirma?”

Nirmala berhenti, dan terpaksa melangkah keluar. Wajah Bima berseri ketika melihat Nirmala.

“Oh, ada Bima, aku kira tamu siapa,” sambut Nirmala.

“Kamu mau pergi, Nirma?”

“Hanya akan mencari buku,” jawab Nirmala sekenanya.

“Aku antar?” kata Bima, membuat Nirmala kebingungan, apalagi ketika sang ayah menambahkan komentar.

“Nah, itu, Bima sudah bersedia mengantar, kebetulan kan, kamu tidak perlu membawa mobil sendiri,” kata sang ayah.

“Nirmala mau naik motor saja kok.”

“Aku antar saja, daripada pergi sendirian.”

Nirmala bingung dan tidak menemukan alasan untuk menolak. Ia melihat arloji tangannya. Jam sembilan kurang seperempat, pasti Adri sudah hampir sampai di tempat kencan, atau bahkan malah sudah sampai, karena Adri adalah orang yang selalu tepat waktu.

“Mengapa melihat arloji, apa toko buku itu ada jam kerjanya?” kata sang ayah yang kemudian meninggalkan keduanya, seakan memberi ruang untuk mereka berbincang.

Nirmala hanya tersenyum. Ia benar-benar kehabisan alasan. Ia bahkan tak bisa menolak ketika sang ayah meminta agar Nirmala menemani ngobrol dulu sambil menghabiskan kopi yang dihidangkan.

Nirmala melihat lagi arloji di tangannya, jam sembilan lebih seperempat.

“Bagaimana ini?” kata batinnya yang mulai gelisah. Tapi ia menyembunyikan kegelisahan itu.

“Masih pagi, masa sepagi ini tokonya sudah mau tutup? Buka saja baru beberapa menit, barangkali,” kata Bima.

“Iya, soalnya buru-buru ingin mendapatkan buku itu,” kata Nirmala sekenanya.

“Ini hari Minggu, lebih baik santai dulu. Atau menemani aku makan pagi, setuju?”

“Apa? Tap … pi aku sudah makan.”

“Tidak apa-apa, namanya menemani, kamu tidak makan tidak apa-apa. Sudah lama kita tidak bertemu, berbincang sambil makan cemilan juga boleh kan?”

“Mm … “

“Ayolah, aku mau pamit sama bapak dan ibu kamu dulu,” kata Bima yang kemudian berdiri lalu melongok ke dalam. 

Rupanya pak Bondan sedang duduk di ruang tamu bersama istrinya.

“Pak, kami mau pergi dulu,” kata Bima sambil melangkah masuk, kemudian mencium tangan pak Bondan dan istrinya.

Keduanya keluar dan perasaan Nirmala semakin kacau, ketika ada nada pesan dari ponselnya.

“Ini jam berapa?”

Pesan itu amat singkat.

“Maaf, urusanku belum selesai,” hanya itu jawab Nirmala. Ia tak ingin berlama-lama menjawab pesan itu, dan segera masuk ke mobil Bima setelah Bima membukakan pintunya.

Bima membawanya ke sebuah rumah makan, yang celakanya adalah rumah makan di mana tadi dia berkencan dengan Adri.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, February 3, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 52

 HANYA BAYANG BAYANG  52

(Tien Kumalasari)

 

Puspa masih terbaring di ranjang rumah sakit ketika sang ibu dimakamkan. Wajahnya pucat, matanya sembab. Nugi dan tuan Sanjoyo duduk di sampingnya, menatap iba.

“Aku tahu bagaimana perasaan kamu Puspa. Walau kelihatannya kamu seperti tak peduli, tapi dia adalah ibumu. Ada sesal ketika dia meninggalkan kamu. Jangan sedih lagi, memohonkan ampun atas segala dosanya adalah hal terbaik yang harus kamu lakukan.”

Itu benar, ada sesal yang beragam. Sesal atas kelakuan buruk ibunya, sesal karena harus terlahir dari rahimnya, juga sesal mengapa dia meninggal dalam keadaan papa. Meninggal sebagai seorang pesakitan. Dan itu adalah ibu kandungnya. Apakah dia harus membencinya?

“Puspa, perjalanan hidup manusia tak seorang pun mengetahuinya. Kita seperti orang berjalan, pasti ada sandungan, pasti ada onak dan duri menghalang, dan ada lobang yang terkadang bisa menjerumuskan kita. Tak ada yang mulus dalam kehidupan seseorang. Dan kita harus menerimanya dalam syukur dan ikhlas yang sebenar-benarnya,” lanjut tuan Sanjoyo lembut.

Nugi membenarkan dengan mengangguk-angguk.

Agak terhibur hati Puspa karena mendapat dukungan dari orang-orang yang dikasihinya. Tak lama setelah itu Sekar dan suaminya, dan Suroto juga datang memberinya semangat.

***

Hari yang berjalan terasa begitu cepat. Puspa sudah mulai bekerja kembali, dan mulai bisa menguasai semua yang ditugaskan pada dirinya.

Hubungannya dengan Nugi juga semakin baik, dan keluarga bik Supi mulai mempersiapkan lamaran seperti hal nya kalau anak laki-laki ingin memperistri seorang gadis.

Tuan Sanjoyo begitu bahagia. Ia tidak merasa kecewa walau berbesan dengan pembantunya. Baginya, manusia dinilai bukan dari kekayaannya, tapi dari pekerti dan perilakunya, dan itulah yang membuat manusia memiliki derajat.

***

Hari itu, simbahnya Nugi sedang menghitung-hitung tabungannya dari uang bulanan yang diberikan cucunya. Walau sederhana ia ingin memberikan hadiah untuk calon cucu menantunya. Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu rumah. Simbah bergegas keluar, dan melihat seorang gadis berdiri di depan pintu.

“Mau mencari siapa Nak?” tanya simbah yang belum pernah melihat gadis itu.

“Apakah mas Nugi ada?”

“Lhoh, Nugi masih bekerja, pulangnya agak sore. Ini jam berapa toh? O, iya mungkin sebentar lagi dia pulang.”

“Kalau begitu biar saja menunggu ya Bu.”

“Saya simbahnya Nugi. Panggil saya simbah juga.”

“Oh, baiklah, Mbah.”

“Duduklah, saya buatkan minum.”

“Tidak usah Mbah, saya duduk saja di sini, tidak usah repot-repot.”

"Sampeyan itu temannya Nugi?”

“Iya Mbah.”

“Ya sudah, tunggu sebentar, saya buatkan minum,” kata simbah yang langsung berlalu ke belakang.

Gadis itu Wuri. Ia ingin mengembalikan buku Nugi yang masih dipinjam, dan yang katanya mau diambil oleh Nugi, tapi berbulan-bulan kemudian tidak juga diambil.

Tak lama kemudian simbah keluar sambil membawa segelas teh panas.

“Minumlah dulu. Rumah sampeyan jauh ya?”

“Tidak, saya tadi naik ojol.”

“Maaf, ada keperluan apa sampeyan mencari Nugi?” tanya simbah terus terang, tanpa basa basi.

“Ini Mbah, mau mengembalikan buku mas Nugi yang dulu saya pinjam.”

“O, begitu. Tapi diminum dulu itu, mumpung masih anget. Keburu dingin jadi nggak enak.”

“Terima kasih Mbah.”

Wuri meneguk minumannya.

Tiba-tiba terdengar sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah.

“Itu pasti Nugi.”

“Syukurlah," kata Wuri senang.

 Lama sekali tak ketemu Nugi, ia merasa kangen. Sesungguhnya sejak masih kuliah dan sering bertemu Nugi, Wuri sudah tertarik pada Nugi. Dengan alasan bertanya-tanya tentang mata kuliah, ia bisa mendekati Nugi. Tapi bertahun kemudian ia tak lagi pernah bertemu, sampai kemudian bertemu lagi ketika dia sedang mencari rumah dosennya untuk berkonsultasi, lalu Nugi mengantarkannya. Waktu itu Nugi tampak gembira, dan Wuri merasa bahwa Nugi sangat perhatian padanya. Tapi kemudian entah mengapa, Nugi tidak menepati janjinya untuk datang ke rumahnya, untuk mengambil buku yang dia pinjam. Karena itulah kemudian Wuri datang kerumahnya.

“Assalamu’alaikum,” sebuah sapa dengan suara merdu terdengar. Wuri terkejut. Itu bukan suara Nugi.

“Wa’alaikumussalam, bersama non Puspa?” kata simbah dengan wajah berseri.

Wuri berdebar. Tentu saja ia mengenal nama itu. Puspa, gadis kaya yang sangat cantik, dan dekat dengan Nugi. Dulu ia menganggap tak ada apa-apa diantara mereka, karena ketika pada suatu hari Wuri menggodanya tentang hubungan Nugi dan Puspa, Nugi menjawab bahwa mereka bukan apa-apa karena Nugi anak orang kebanyakan, sedangkan Puspa anak pengusaha kaya. Itulah yang membuat Wuri masih terus berharap.

Ketika Puspa muncul bersama Nugi, hati Wuri menjadi sangat kecil. Mereka datang bersama dengan wajah berseri, dan wajah itu seperti wajah-wajah yang saling mencintai. Sesuatu terasa terbang dari hati Wuri. Harapannya pastilah pupus.

“Ada Wuri?” teriak Nugi dan Puspa hampir bersamaan.

Wuri segera berdiri dan menyalami keduanya.

“Aku hanya akan mengembalikan buku itu Mas, katamu mau mengambilnya, ternyata sampai berbulan-bulan belum kamu ambil juga,” tegur Wuri kepada Nugi.

“Iya, maaf. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi lupa tentang buku-buku itu. Sebenarnya kan tidak apa-apa, aku juga sudah tidak memakainya.”

“Namanya juga dulu aku pinjam, jadi harus aku kembalikan.”

“Baiklah, terima kasih Wuri.”

“Aku akan langsung pulang,” lalu Wuri menyalami simbah, kemudian juga menyalami Puspa.

“Kamu naik apa?” tanya Puspa ramah.

“Naik ojol. Permisi,” katanya sambil pergi dengan cepat.

“Biar diantar Nugi, Wuri,” teriak Puspa.

“Tidak, terima kasih,” teriaknya dari jauh sambil bergegas pergi.

“Nugi, mengapa tidak kamu antar dia? Antarkan saja, kasihan.”

“Dia tidak mau, nanti di jalan malah seperti orang kejar-kejaran. Lagipula dijalan situ ada pangkalan ojol.”

“Kalian dari mana?” tanya simbah sambil menyajikan dua gelas minuman hangat.

“Belanja untuk simbah, besok ketika acara lamaran,” jawab Nugi.

“Apa saja ini?”

“Ada kain dan baju, Puspa tadi yang memilih, semoga simbah suka,” kata Puspa sambil membuka bungkusan.

“Waduuh, ini bagus sekali. Kalau memakai kain ini simbah bisa kelihatan muda,” kata simbah sambil tertawa.

“Itu kembaran sama ibu,” sambung Nugi.

“Coba simbah periksa, apa ada yang kurang, atau ada yang simbah tidak suka.”

“Baiklah, nanti simbah lihat. Sekarang minum dulu tuh, kalian pasti haus," kata simbah.

“Sebentar lagi Nugi harus mengantarkan Puspa pulang, soalnya tadi Nugi yang mengajak Puspa belanja. Selera perempuan tentu berbeda. Nugi tidak bisa memilih.”

“Iya, jadi merepotkan non Puspa,” kata simbah.

“Tidak Mbah, Puspa senang. Nanti kalau ada yang simbah tidak suka, bilang saja, biar Nugi menukarnya.”

***

Hari berjalan dengan sangat cepatnya, setelah lamaran, dua bulan berikutnya tuan Sanjoyo mengadakan pesta yang sangat meriah. Rekan-rekan bisnis, kerabat dan teman dari tuan Sanjoyo serta teman-teman kuliah Puspa dan Nugi juga diundang.

Sepasang pengantin dengan adat Jawa itu tampak bersinar seperti raden Arjuna dan Dewi Lara Ireng. Tampan dan cantik, membuat semua yang hadir terpesona.

Diantara yang hadir, tampak seorang gadis dengan dandanan sederhana menyalami pengantin dengan ucapan selamat. Ada kecewa, tapi bukankah cinta yang tulus akan merelakan orang yang dicintainya untuk hidup bahagia?

“Ada sebuah kenangan manis, ketika kita berdiskusi tentang kuliah aku. Ada harapan saat itu, tapi kita tidak berjodoh. Semoga bahagia,” bisik batin Wuri saat turun dari panggung pelaminan.

Gemuruh tawa dan rona-rona bahagia memenuhi arena perhelatan itu. Ada luka, tapi ada syukur atas kebahagiaan mereka.

***

T A M A T

 

 

Seorang wanita cantik menuding suaminya ketika ketahuan selingkuh.

“Kalau kamu memilih dia, biarlah kita berpisah saja,” katanya kemudian sambil melangkah pergi.

“Aku mencintai kamu, tapi aku juga membencimu!” teriak laki-laki gagah yang kemudian melangkah sempoyongan mengejarnya.

Apa lagi tuh, tungguin ceritanya di “BIARKAN AKU MEMILIH”.

Sampai jumpa.

 

 ***

Monday, February 2, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 51

 HANYA BAYANG BAYANG  51

(Tien Kumalasari)

 

Bik Supi menatap anaknya sampai selesai bertelpon, ada wajah tak senang ketika melihat wajah sang anak tampak berseri.

“Kamu kencan dengan siapa?” tanyanya.

“Bukan kencan, dia yang tadi Nugi antarkan, ada barang Nugi yang ketinggalan.”

“Dia perempuan.”

“Iya. Memangnya kenapa Bu?”

“Kamu seperti tidak biasa ketika menanggapinya,” curiga sang ibu.

“Ibu bagaimana sih, tidak biasa apa maksud Ibu?”

“Ibu curiga, kamu dan dia ada hubungan yang bukan sebagai teman biasa.”

Nugi tertawa sambil merangkul pundak sang ibu yang duduk di sebelahnya.

“Mengapa Ibu curiga?”

“Pokoknya ibu curiga saja. Dengar Nugi. Ketika kamu mengatakan cinta kepada seseorang, kamu tidak boleh begitu gampang melepaskannya.”

”Apa maksud Ibu? Bukankah Ibu sendiri yang mengatakan bahwa Nugi harus menghilangkan perasaan itu karena kami tidak sederajat?”

“Tapi sebuah keinginan itu tidak boleh kendur, jangan terpengaruh omongan orang lain,” kata bik Supi yang sudah punya senjata, yaitu perkenan dari tuan majikannya.

“Lhah Ibu itu bukan orang lain kan?”

“Maksudnya bukan  diri kamu sendiri. Orang lain kan namanya?”

“Aku tidak mengerti apa maksud Ibu.”

“Ibumu itu, ingin agar kamu tetap menyukai non Puspa. Gitu saja kok repot,” sela sang simbah yang kesal mendengar anaknya berbelit-belit.

“Aku? Nugi .. harus tetap mencintai non Puspa? Ini candaan bukan?”

“Ini benar! Jadi jangan mencoba mendekati gadis lain,” tandas bik Supi.

“Bu, apa itu mungkin? Ibu membuat hati Nugi jadi tidak karu-karuan.”

“Turutilah apa yang ibu katakan. Ibu hanya ingin kamu menemukan cinta sejati kamu.”

“Bagaimana mungkin Bu? Itu hanya mimpi bukan?”

“Mimpi juga bisa menjadi kenyataan.”

“Nugi takut Bu. Puspa bukan hanya nona majikan Ibu, tapi juga atasan Nugi di tempat kerja.”

“Bagaimana kamu bisa merasa takut kalau tuan majikan sudah memberi lampu hijau?” kata bik Supi bersemangat.

Nugi menatap ibunya tak percaya. Lampu hijau? Boleh jalan kan? Itu tata lalu lintas yang sering digunakan dalam pengertian yang berbeda. Yang jelas boleh jalan, alias diijinkan, alias diperbolehkan. Apa sang ibu bisa menyalakan lampu merah menjadi lampu hijau?

“Jangan menatap ibu seperti itu. Ibu tidak bercanda. Tuan Sanjoyo mengatakan bahwa beliau tidak keberatan berbesan dengan pembantunya.”

“Itu benar?” mata Nugi berbinar.

“Masa hal demikian ibu berani berbohong atau bercanda?”

Nugi meraih ponselnya dan menelpon Wuri.

“Ya, ini aku. Maaf Wuri, aku tidak bisa ke rumah kamu sekarang ini. Biarkan saja buku itu di tempat kamu, kalau senggang baru aku mengambilnya. Ya, nggak kenapa-kenapa, tiba-tiba ada urusan. Maaf ya.”

***

Siang hari itu Nugi menunggu di luar ruang kerja Puspa. Lama tak keluar, lalu Nugi nekat mengetuk pintu kemudian masuk ke dalamnya.

“Selamat siang,” ucapnya ketika dipersilakan masuk.

“Siang.”

Nugi melihat Puspa sedang berpangku tangan, didepannya sebuah berkas yang hanya ditatapnya.

“Boleh saya masuk, Ibu,” sapanya setengah bercanda.

Puspa masih kesal. Kemarin ia melihat Nugi berduaan dengan Wuri, membuatnya gelisah semalaman. Lalu siang ini memasuki ruangannya, ada urusan apa, batin Puspa.

“Ada apa?” tanya Puspa sekilas, sambil meletakkan tangannya di atas meja.

“Ayuk kita makan, biasanya kamu lapar duluan.”

“Tumben mengajak aku makan, biasanya aku ajak saja menolak.”

“Kali ini aku pengin sekali makan siang bersama kamu. Aku boncengkan, kemana kamu ingin makan siang, aku yang traktir," kata Nugi sambil menatap Puspa, dan tatapan itu mengapa sangat berbeda? Tatapan itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Sejak kapan Nugi berani menatapnya seperti itu? Puspa menundukkan wajahnya, takut terhanyut oleh tatapan yang seperti mengandung magnet itu.

“Tidak mau ya? Atau karena aku naik sepeda motor? Kalau begitu pesan taksi saja? Atau jalan kaki? Di dekat sini ada warung makan enak lhoh,” Puspa menatapnya heran. Tidak mau membonceng sepeda motor? Tidak, dia pernah berboncengan dengan Nugi. Dan karena alasan tidak mau dianggap tidak suka karena sepeda motor itu, Puspa menjawab pelan.

“Baiklah, aku bonceng kamu saja,”  katanya sambil berdiri. Nugi mengikuti berdiri, lalu memasang lengannya, dengan maksud agar Puspa menggandengnya, tapi sambil tersenyum Puspa menggoyangkan tangannya pertanda menolak. Masalah bergandengan di kantor bisa menjadi pergunjingan seru. Lagipula kenapa sikap Nugi menjadi seaneh ini?

Puspa menelpon sang ayah dan mengatakan kalau dia keluar makan bersama Nugi.

“Panggil sopir untuk mengantar kalian,” kata sang ayah.

“Tidak Pak, kami mau naik motornya Nugi saja.”

“Owh,” jawab sang ayah yang kemudian meletakkan gagang telpon sambil tersenyum.

***

Mereka duduk di bangku yang jauh dari kerumunan, lalu memesan makanan. Puspa masih bingung dengan sikap Nugi siang hari itu. Rasa kesal kalau mengingat ketika melihat Nugi berboncengan dengan Wuri masih membayang, tapi sikap Nugi benar-benar membuatnya heran. Dilihatnya Nugi tersenyum-senyum sambil menatapnya aneh, tapi mendebarkan.

Tiba-tiba Nugi meraih beberapa lembar tissue, lalu dipilin-pilin dan entah dari mana dia belajar, tiba-tiba tissue itu berubah menjadi setangkai mawar kecil yang lucu. Puspa tersenyum melihatnya. Ia tidak tahu kalau Nugi pintar membuat bunga dari selembar tissue. Tiba-tiba bunga kecil berwarna putih bersih itu diulurkannya ke depan Puspa.

“Puspa, terimalah bunga ini, sebagai tanda cinta dariku,” kata Nugi lembut.

“Apa?” Puspa justru berteriak.

“Kok teriak sih?” bisik Nugi ketika melihat beberapa orang menatap ke arah mereka karena teriakan Puspa.

“Kamu bercanda tentang cinta. Cinta bukan bahan candaan." bisik Puspa, merengut.

“Aku serius, terimalah bunganya kalau kamu menerima cintaku, buang saja kalau kamu menolaknya. Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya,” bisik Nugi juga.

Gemetar tangan Puspa. Matanya menatap bunga kecil itu, yang diberikan Nugi, seperti dalam mimpi. Nugi menyatakan cinta? Nugi hampir menarik tangannya yang memegang bunga, dan bermaksud membuangnya, tapi Puspa menahannya, lalu diambilnya bunga kecil itu dan diciumnya lembut.

Rona bahagia tampak pada wajah Nugi.

***

Mereka makan siang dengan rona-rona bahagia, tapi ada yang mengganjal di hati Puspa, tentang Nugi yang berboncengan kemarin siang.  Dengan sikap Nugi, rasa cemburu itu sudah menipis, tapi Puspa harus tahu kejelasan hubungan mereka. Nugi tertawa mendengar pertanyaannya. Ia senang Puspa curiga, bukankah cemburu itu pertanda cinta?

“Beberapa hari yang lalu kami ketemu di jalan, karena sudah saling kenal, aku berhenti. Dia menanyakan rumah dosen pembimbing skripsinya, karena belum tahu. Lalu aku janji mengantarkannya di hari Minggu. Hanya itu. Jadi yang kemarin kamu melihat aku berboncengan itu, saat aku mengantarkannya ke rumah pak Abadi, kalau tidak salah dia dulu juga dosen pembimbing kamu kan?”

“Dulu dia hanya setingkat di bawah kita. Lama sekali dia baru skripsi?”

“Karena keadaan orang tuanya, dia pernah berhenti selama dua tahunan, baru kemudian ia bisa kembali melanjutkan kuliahnya ketika biaya sudah ada.”

Puspa mengangguk-angguk, sebenarnya ia merasa iba.

"Syukurlah," katanya pelan.

“Puspa, karena kita sudah sama-sama dewasa bolehkah aku menemui tuan Sanjoyo untuk membicarakan hubungan ini? Aku ingin mengambilmu sebagai istri, dengan melupakan siapa diri aku ini. Aku punya sedikit tabungan, tapi barangkali untuk sementara kita harus mengontrak rumah, seandainya kita benar-benar berjodoh. Aku tidak mau bergantung kepada kekayaan keluarga kamu. Apakah kamu bersedia hidup sederhana bersama laki-laki anak bik Supi ini?”

“Nugi, karena aku sudah bersedia menerima kamu, maka aku akan selalu berada di samping kamu, dalam susah atau suka. Aku belajar banyak hal dari kamu, dan aku siap menjalani hidup sederhana bersama kamu.”

“Terima kasih Puspa. Walau begitu masih ada ganjalan di hatiku, karena ibu kamu tidak menyukai aku,” kata Nugi yang wajahnya berubah muram tiba-tiba.

“Kita akan menghadapi kendala itu bersama-sama. Besok kita temui ibu lagi ya.”

***

Puspa sudah beberapa kali menjenguk ibunya, sendirian. Tidak terlalu sering karena sang ibu selalu mengatakan kalau tak suka pada Nugi. Kali itu Puspa akan mengatakan bahwa ia sudah mantap menjalin hubungan dengan anak bik Supi itu.

Tapi ketika Puspa dan Nugi menjenguk sang ibu di penjara, mereka mendapat kabar bahwa Srikanti dirawat di rumah sakit karena menderita kanker rahim sudah stadium empat.

Puspa segera mengajak Nugi ke rumah sakit untuk menemui sang ibu.

Puspa terkejut. Ia hampir tidak mengenali sang ibu. Srikanti yang dulu badannya segar, sehat, sekarang tinggal tulang dan kulit. Matanya cekung, tak ada sinar kehidupan. Ketika Puspa mendekat dengan mata berkaca-kaca, air mata meleleh membasahi pipi cekung Srikanti.

“Puspa … “ bisik Srikanti lirih.

“Maafkan … ibumu … dan sampaikan maafku pada ayahmu … “ lirih sekali suara itu, hampir menyerupai bisik yang nyaris tak terdengar.

“Mohon ampun kepada Allah, Bu,” bergetar suara Puspa. Betapapun bencinya Puspa, tapi melihat keadaan ibunya yang seperti itu, tak urung hatinya terasa bagai diiris-iris.

“Mana … anak bik Supi … “

Puspa melambaikan tangan pada Nugi yang berdiri agak jauh, walau rasanya tak mungkin Srikanti menyemprotnya lagi sekeras dulu.

Nugi mendekat, lalu meraih tangan Srikanti.

“Maafkan aku … titip Puspa ….”

Hanya itu, lalu mata kuyu itu terpejam, dan  patient monitor berdenging menjeritkan tanda kematian.

Puspa terkulai dalam pelukan Nugi, sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

***

Besok lagi ya.

BIARKAN AKU MEMILIH 03

  BIARKAN AKU MEMILIH  03 (Tien Kumalasari)   “Ada tamu, mengapa tidak dipersilakan masuk?” tiba-tiba terdengar suara dari dalam. Nirmala me...