Sunday, August 23, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 014

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  014

(Tien Kumalasari)

 

Menur menatap anaknya dengan pandangan trenyuh. Rupanya perkataan nyonya Lili masih membekas dihatinya.Menur sedikit senang, gara-gara Baroto banyak mengajarinya tentang perbuatan baik, bahkan hanya sehari dua hari, Rahman langsung berubah. Sebenarnya Menur juga heran. Bagaimana Rahman yang sombong di sekolahnya dan tidak menghargai ibunya sama sekali hanya karena dirinya seorang pengais sampah, tiba-tiba berubah sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Hanya dalam dua hari, hal yang sangat mengherankannya. Apa karena Baroto adalah ayah kandungnya, maka di dalam hatinya langsung bisa memahami apa yang dikatakan Baroto, lalu bisa menjalani perbuatan baik seperti apa yang dikatakan Baroto.

Menur mengheka napas. Sekarang Rahman merasa sakit hati karena ibunya disakiti. Ada haru yang memuncak, tapi ada yang membuatnya bingung. Ia sudah sanggup menuruti permintaan Ana, walau sebenarnya sangat berat baginya untuk mmenjalaninya. Lalu ternyata Rahman tidak menyukainya gara-gara ucapan nyonya Lili yang sangat pedas.

Kecuali itu, sebenarnya dia enggan karena ada Baroto di sana. Ia tak percaya Baroto akan diam saja, sedangkan saat berjauhan saja dia selalu berusaha untuk mengajaknya bicara.

Tapi satu-satunya yang membuatnya mau menjalani adalah Ana yang terus menerus merengek.

“Ibu tetap akan ke sana?” Rahman kembali mengusiknya.

“Ibu bingung, karena kamu enggan. Tapi bagaimana dengan Ana?”

“Aku tidak rela kalau Ibu nanti direndahkan oleh mamanya Ana.”

“Rahman, ibu akan memberi tahu kamu. Sebenarnya Ana itu bukan orang lain. Nyonya LIli itu saudara misan ibumu ini.”

“Saudara misan? Misan itu apa?”

“Neneknya Ana itu adalah sepupu nenek kamu. Jadi nyonya Lili itu saudara misan ibu. Begitu istilahnya.”

“Pokoknya masih saudara, begitu kan Bu?” kata Rahman yang enggan menghitung-hitung tentang hubungan saudara.

“Ya, begitulah. Kelak kalau kamu sudah besar pasti bisa mengerti.”

“Memangnya kenapa kalau saudara? Apa Ibu harus menuruti kemauannya?”

“Bukan begitu, karena masih saudara, kita harus bisa memaafkannya. Sedangkan kesalahan orang lain saja kita harus bisa memaafkan, apalagi kalau saudara.”

Rahman mengangkat pundaknya. Tampaknya ia belum bisa menerima perlakuan itu walau masih saudara ibunya.

“Kalau Ibu mau tinggal di sana, Rahman di sini saja, bagaimana?”

“Mana mungkin begitu Rahman. Kamu tidak bisa sendirian di sini.”

“Pokoknya Rahman tidak mau ke sana, Rahman mau tinggal di sini, biar sendiri juga tidak apa-apa.”

Menur memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.

***

Nyonya Baroto atau Lili sedang duduk bersama suami dan ibunya. Mereka membicarakan tentang keinginan Ana, yang tentu saja membuat wajah Lili muram.

“Aku kan sudah berpesan sama kamu, bahwa kamu tidak boleh membuat Lili sedih. Aku titipkan dia di sini agar dia memiliki keluarga yang utuh. Kasihan dia, sejak lahir sudah ditinggal ibunya. Kamu setuju kan, Baroto?”

“Saya setuju saja, apalagi Mama sudah berjanji untuk memenuhi keinginan Ana.”

“Bagus sekali, sekarang mama mau bercerita tentang Menur.”

“Ada apa dengan Menur? Mama kasihan karena dia hanya seorang pengais sampah kan?” kata Lili masih dengan wajah masam.

“Ibunya Menur ternyata adalah sepupu mama ini.”
Semuanya terkejut. Baroto membelalakkan matanya.

Ibunya Mama itu adik dari ibunya Menur.

“Masa Mama punya saudara yang anaknya jadi pemulung?” pekik Lili.

“Tidak usah berteriak. Yang namanya manusia itu punya garis hidup yang berbeda. Jangan kamu merendahkan orang lain karena kamu bisa hidup sebagai orang berada. Dulu kebetulan mama menikah dengan ayahmu, yang seorang pengusaha kaya, sehingga mama hidup berkecukupan sampai sekarang. Berbeda dengan keluarga Menur yang hidup di kampung. Menur itu hidupnya penuh penderitaan. Ia pernah dinikahi orang kaya, tapi orang itu kemudian pergi tanpa belas kasihan. Keterlaluan sekali ada laki-laki semacam itu. Menur yang sangat mencintai suaminya, terlunta-lunta mencarinya ke kota. Bayangkan, kasihan kan?”

Wajah Baroto pucat seketika. Yang dimaki-maki ibu mertuanya sebenarnya adalah dirinya. Dirinya yang dianggap pergi meninggalkan Menur tanpa belas kasihan. Yak bisa dibayangkan, betapa sakitnya hati Baroto.

***

Hari itu Ana merengek ingin ketemu Menur lagi. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Hari yang dijanjikan Menur adalah keesokan harinya.

Ketika nenek Sasa dan Ana datang, Ana langsung memasuki rumah untuk mencari Menur, yang memang tidak mengais sampah ketika Rahman libur sekolah.

Nenek Sasa melihat Rahman sendirian di depan rumah, wajahnya tampak murung.

“Rahman, apakah kamu sakit?” tanyanya setelah mendekat.

Rahman tersenyum tipis. Ia menatap nenek cantik yang wajahnya ramah itu lekat-lekat. Alangkah bedanya tatapan mata nenek Ana dan mamanya. Mamanya yang biarpun wajahnya cantik, tapi mulutnya tajam bagai pisau. Berbeda sekali dengan nenek Sasa yang walaupun kaya raya tapi sangat baik dan ramah. Matanya yang lembut, menunjukkan bahwa dia adalah seorang nenek yang penuh kasih sayang.

“Rahman, mengapa wajahmu murung? Apa kamu sakit?”

“Tidak Nek, saya baik-baik saja.”

“Mengapa wajahmu murung?”

“Tidak apa-apa.”

“Dengar Rahman, nanti nenek akan mengajak ibumu dan kamu untuk tinggal di rumah nenek. Nanti kamu bisa bermain bersama Ana. Kalau sekolah, kamu bisa diantarkan sopir dengan mobil. Bagaimana? Kamu suka?”

Wajah Rahman tidak berubah riang, walau iming-iming menyenangkan itu didendangkan dengan manis oleh nenek Sasa. Bermain bersama Ana, kalau sekolah diantar sopir dengan mobil. Rahman sudah bisa dibilang anak keluarga kaya. Teman-temannya akan mengagumi dia, menganggapnya seorang yang sangat pantas disanjung-sanjung. Betapa membanggakan. Tapi itu dulu. Ketika om ganteng bernama Baroto itu belum menjejali telinganya dengan ajaran-ajaran yang baik dan terpuji. Sekarang ini bagi Rahman, kekayaan bukan sesuatu yang membanggakan. Tugasnya sebagai seorang pelajar adalah belajar, berprestasi dan tak peduli kalau teman-temannya menyisihkannya karena dirinya dianggap miskin.

“Kamu senang kan?” nenek Sasa mengulang kata-katanya. Tapi alangkah terkejutnya sang nenek ketika melihat Rahman menggeleng.

“Rahman, kamu tidak suka?”

“Saya akan tetap tinggal di sini, biarpun ibu akan tinggal bersama Ana.”

“Rahman, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kamu tinggal di sini sementara ibumu ada bersama kami?”

“Rahman merasa senang tinggal di rumah ini.”

“Rahman, di rumah Ana akan lebih menyenangkan. Kamu akan mendapat banyak permainan. Bukan mainan boneka seperti punya Ana, nanti nenek akan membelikan kamu mobil-mobilan, atau apa saja yang kamu inginkan.”

Rahman tetap menggeleng.

“Kamu tidak suka?”

“Maaf Nek.”

Nenek Sasa meninggalkan Rahman, masuk ke dalam rumah.

Ana sedang berbincang dan berceloteh manis dengan Menur. Bicara semau-maunya, karena dia sedang bersenang hati atas kesanggupan Menur untuk ikut bersamanya di hari itu.

“Menur, apa kamu sudah siap?”

“Bulik, saya ingin mengatakan sesuatu.”

“Bahwa Rahman tidak mau ikut?”

“Dia sudah terbiasa hidup sederhana, barangkali dia akan merasa kurang nyaman kalau tinggal di tempat lain, apalagi tempat yang berbeda.”

“Jadi akan kamu tinggalkan di di sini sendirian?”

“Begini bulik, saya bersedia ikut, menemani Ana seperti keinginannya, tapi saya tidak bisa menginap di sana. Jadi kalau sore saya minta pulang, pagi-pagi sekali setelah Rahman berangkat sekolah, saya akan kembali bersama Ana.”

“Kalau begitu aku akan ikut bibi Menur pulang kemari setiap sore,” tiba-tiba Ana berteriak.

Menur merangkulnya dan mencium keningnya.

“Ana, tidak bisa begitu. Di rumah ini tidak ada tempat tidur yang pantas.”

“Tidak apa-apa, aku mau.”

“Jangan begitu Ana, bibi hanya pulang sore sampai malam, paginya bibi sudah akan kembali ke sana. Kasihan kalau Rahman sendirian.”

“Mengapa Rahman tidak mau pergi bersama kita?”

“Rahman masih harus sekolah, dan sekolahnya dekat dari sini. Bisrlah untuk sementara dia tinggal di sini, nanti gampang setelah dia lulus. Apalagi dia mau ujian, bibi tidak ingin pelajarannya terganggu. Kamu bisa mengerti?” kata Menur lembut, seperti biasanya.

“Nenek, ini bagaimana?” Ana sepertinya mengerti, tapi ia meminta pertimbangan sang nenek.

“Ana, nenek kira bibimu benar, biarlah untuk sementara dia dalang pagi, sore pulang untuk merawat Rahman, besok pagi baru kembali lagi ke rumah kita. Bagaimana? Kalau tidak begitu, bibimu tidak bisa menjalani, karena bibimu masih punya tanggung jawab terhadap Rahman. Alasannya kamu sudah mendengarnya bukan?”

Akhirnya Ana mengalah. Mau menuruti syarat yang diajukan bibi Menur.

***

Rumi sedang berbisik-bisik dengan nyonya Baroto. Sesungguhnya dia merasa tersingkir karena Ana sangat mengharapkan Menur.

“Nyonya, barangkali pengais sampah itu membujuk non Ana agar diijinkan tinggal di sini.”

“Menurutmu begitukah?”

“Ya tentu saja Nyonya, biasanya dia berada di jalanan, memunguti botol-botol kosong, lalu di rumah ini semuanya serba bagus. Dia mendapat kamar yang bagus, padahal orang baru. Nyonya besar tadi yang menyuruh pembantu membersihkan kamar di sebelah kamar non Ana. Kalau Nyonya biarkan, dia bisa ngelunjak. Bagaimana tidak? Di sini bisa makan enak, tidur nyenyak. Sebenarnya tidak pantas kan nyonya, dia itu kan kotor dan pastu juga bau. Kalau tidak karena dibujuk, mana bisa non Ana punya keinginan yang aneh-aneh.”

Lili sebenarnya sudah tahu kalau Menur adalah masih saudara misannya. Tapi Lili enggan mengakui, karena Menur dianggapnya tidak sepadan dengan keluarganya.

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, August 22, 2026

AKU ANAK SIAPA 18

 AKU ANAK SIAPA  18

(Tien Kumalasari)

 

Bu Mery menatap anaknya, dan itu benar. Hari itu juga mereka melaporkannya kepada polisi tentang keberadaan Rosa di rumah mereka.

Sementara itu Rosa sudah menemukan rumah kost yang jauh dari perkotaan. Setelah itu ia kembali ke rumah Mery karena masih ada barang-barangnya yang tertinggal. Lagipula ia sudah diusir. Saat itu Rosa punya uang yang lumayan banyak. Ia tidak menjualnya di toko perhiasan tapi kepada orang rumahan yang suka mengumpulkan perhiasan-perhiasan bermutu. Rosa tak ingin ketahuan karena toko perhiasan akan mencurigainya ketika ia menawarkan barang bagus yang lumayan banyak.

Ia tahu kalau ia sudah dilaporkan, dan ia sadar kalau ia menjadi buronan. Jadi ia tidak bisa sembarangan keluar, dan tetap berdandan dengan aneh sehingga tidak kelihatan wajah cantiknya. Ia juga memakai topi yang dipinjamnya dari rumah Mery.

Tapi ketika ojol yang ditumpangi sudah hampir sampai di rumah Mery, ia melihat ada mobil polisi terparkir di halaman. Rosa sangat terkejut, sehingga ia segera berteriak kepada pengemudi ojol agar segera berbalik arah. Ia meminta agar ojol itu memacu motornya dengan sekuat-kuatnya.

Ketika sudah sampai di dekat gang di mana dia tinggal, ia minta ojol itu berhenti. Kalau terjadi sesuatu dan tukang ojol itu diinterograsi polisi, maka ia pasti akan tertangkap, jadi ia tak mau ojol itu berhenti di dekat rumah kost itu.

Terengah-engah Rosa ketika masuk ke kamar kostnya. Ia sadar hidupnya tak akan merasa tenang, tapi rasa bencinya kepada Senja tak terbendung. Ia belum merasa lega kalau belum membuat Senja celaka atau sengsara. Ada ketakutan yang menderanya, dan membuatnya gelisah. Tapi ibarat menyeberang sungai, dia sudah sampai di tengah-tengah, mundur basah, majupun basah.

***

Hari itu Senja melihat Bibik berkali-kali melongok ke depan, dan selalu pergi ke gerbang, untuk memeriksa kuncinya, apa sudah benar atau belum.

“Bik, memangnya kenapa, Bibik kelihatan seperti gelisah begitu?”

“Nggak tahu kenapa Nyonya, berkali-kali saya melihat ada seorang laki-laki yang mondar mandir di depan rumah, takut kalau dia itu orang jahat.”

Senja malah tertawa.

“Bibik itu aneh, di depan itu kan jalan besar, jadi tidak aneh kalau ada yang mondar mandir di sana.”

“Tapi orangnya mencurigakan sekali. Kelihatan kalau dia selalu mengawasi rumah ini.”

“Masa sih Bik?”

“Kejadiannya sudah beberapa hari ini. Ketika Nyonya dan tuan pergi, saya dengan mas Satria berdiri di teras. Tiba-tiba ada pengendara sepeda motor berdiri di depan gerbang. Saya pikir ada tamu atau apa, tapi ia hanya berdiri saja, melihat ke arah rumah ini. Untung gerbangnya saya gembok. Kalau tidak, barangkali dia akan masuk dan melakukan kejahatan. Setelah itu saya sering melihat orang yang sama mondar mandir di depan. Benar Nyonya, sudah beberapa hari ini.”

“Baiklah, memang kita harus hati-hati. Ketika di kondangan beberapa hari yang lalu, kami bertemu dengan pak Daryono yang mengatakan bahwa istrinya baru saja kehilangan satu kotak perhiasan.”

“Tuh, kan? Nyonya harus hati-hati meletakkan perhiasan atau barang-barang berharga. Kecuali itu gerbang harus selalu digembok.”

Baru saja Bibik berhenti bicara, terdengar klakson berbunyi berkali-kali.

“Oh, kalau itu tuan yang datang,” seru Bibik yang kemudian mengambil kunci dan berlari menuju gerbang.

“Bibik selalu menggembok pintu ini ya?”

“Iya Tuan, harus hati-hati, banyak orang jahat sekarang ini,” kata Bibik yang kemudian kembali menggembok gerbang, setelah mobil Arka masuk.

“Baru pulang Mas?”

“Iya. Satria mana?”

“Masih tidur. Nanti aku bangunin. Mas pulang agak siang hari ini?”

“Iya, sedikit merasa lelah, banyak yang harus diurus.”

“Itu benar, kalau merasa lelah Mas harus segera pulang dan istirahat. Pekerjaan tak akan ada habisnya bukan?”

“Tadi di jalan, aku banyak melihat foto Rosa.”

“Foto Rosa? Maksudnya non Rosa?”

“Kamu sudah menjadi nyonya Arka masih juga memanggilnya non Rosa.”

“Iya Mas, kebiasaan. Tunggu, maksudnya apa banyak melihat foto Rosa? Dia sudah menjadi aktris?”

Arka tertawa.

“Aktris buronan polisi.”

“Buronan polisi lagi? Apa yang dilakukannya?”

“Mencuri sekotak perhiasan di rumah pak Daryono.”

“Lhoh, Rosa pulang ke sana?”

“Tidak, setelah aku melihat foto-foto itu, aku menelpon pak Daryono, dia mengatakan bahwa Rosa mencuri kotak perhiasannya.”

“Rosa pulang ke sana?”

“Pulang ketika pak Daryono dan istrinya pergi keluar kota. Menginap semalam di kamar Bibik, tapi menggerayangi almari bekas ibu angkatnya dan mengambil kotak itu.”

“Ya Allah. Mengapa dia melakukannya?”

“Ceritanya panjang soal Rosa. Sebelum itu dia juga mencuri gelang di rumah majikannya. Dia sudah dilaporkan polisi dan sekarang foto Rosa tersebar di mana-mana.”

“Dia bekerja?”

“Ceritanya nanti saja, biar jelas. Aku mau istirahat dulu ya.”

“Eh iya, kasihan deh suami aku, capek-capek disuruh cerita. Baiklah, ayo mandi dulu sana, biar aku siapkan teh hangat kesukaan Mas. Ada kacang rebus gurih juga lho.”

“Wah, itu aku suka banget. Baiklah, aku mandi dulu saja.”

***

Pak Gatot juga melihat foto Rosa dipampang di mana-mana. Ada sedih yang melintas, ketika ia ingat bahwa Rosa adalah bayi yang dibuangnya di panti asuhan.

"Mengapa kehidupannya menjadi gelap seperti itu, padahal ia sudah bisa hidup nyaman menjadi anak angkat pengusaha kaya,” gumamnya berkali-kali.

Ia sedang duduk melamun di bangku depan toko, di mana dia bertugas hari itu.

Sungguh ia merasa sedih. Kalau saja waktu itu dia tidak membuangnya, barangkali hidupnya akan lebih baik. Bukan masalah kaya atau miskin, tapi kesederhanaan hidup terkadang membuat orang tidak punya pikiran yang muluk-muluk.

“Pak Gatot melamun ya?”

Pak Gatot terkejut. Bu Surani tiba-tiba sudah ada didekatnya, memberinya bungkusan berisi makanan.

“Masih siang, Ibu sudah pulang?”

“Iya Pak, sekarang lebih sering pulang lebih awal, karena kasihan Bibik, ia harus mengasuh Sisi juga.”

“Iya, benar. Nyonya belum mendapat pengasuh anak lagi?”

“Belum, dan tidak ingin mencari dulu Pak, pengalaman yang kemarin agak membuat saya kurang nyaman kalau ada orang asing di rumah.”

“Jaman sekarang memang harus lebih berhati-hati terhadap apapun.”

“Benar. Pak Gatot sudah melihat banyak foto Rosa di mana-mana?”

“Sudah Bu, itu sebabnya saya agak sedih.”

“Pak Gatot tidak usah terlalu memikirkannya. Bagaimanapun pak Gatot pernah menolongnya.”

“Yang membuat saya sedih adalah saat bayi, mengapa saya membuangnya. Saya merasa berdosa.”

“Waktu itu pak Gatot kan sedang sedih, bingung, dan hatinya terluka. Tapi sesungguhnya jalan yang dipilih Rosa itu kan memang jalan yang dipilihnya? Hidupnya sudah tenang, berkecukupan, tapi punya keinginan yang aneh-aneh. Ketika kemudian mendapat hukuman, bukannya mencari ketenangan dan bertobat, malah kembali melakukan kesalahan.”

“Iya Bu. Semoga kali ini bisa membuatnya sadar. Kalau Allah mengijinkan saya ketemu dia, akan saya tunjukkan di mana kuburnya, tidak apa-apa kalau saya mengakui sebagai ayah kandungnya.”

“Semoga Allah mengijabah keinginan pak Gatot yang mulia ini.”

“Aamiin.”

***

Pagi hari itu pulang sekolah, Satria menunggu sang ibu menjemputnya. Kebetulan sekolah sedang ada acara dan murid-murid dipulangkan sebelum waktunya. Banyak yang menunggu jemputan, termasuk Satria. Tapi pihak sekolah melarang mereka keluar sebelum dijemput, karena sudah ada pemberitahuan kepada orang tua masing-masing.

Satria sudah mulai gelisah. Ia menunggu di gerbang sekolah yang tertutup. Penjaga melarang anak-anak untuk keluar sebelum jemputannya datang.

Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian rapi mendekat dan memanggil Satria.

“Satria!”

Satria menoleh, ia belum pernah melihat laki-laki itu.

“Kamu tidak pulang?”

“Kamu siapa?” tanya Satria.

“Aku saudara ibumu. Ayo aku antar pulang, ibumu sudah menunggu di rumah.”

“Kok aku belum pernah melihat Om?”

“Om, tinggal jauh di luar Jawa, jadi jarang datang. Kali ini om akan mengantarmu pulang. Ayuk, ibumu sudah menunggu, sedang ada pesta di rumah.

”Pesta apa?”

“Menyambut kedatangan om ini. Cepatlah.”

***

Besok lagi ya.

Friday, August 21, 2026

AKU ANAK SIAPA 17

 AKU ANAK SIAPA  17

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot tiba-tiba merasa gelisah. Ia teringat ketika puluhan tahun yang lalu melakukannya. Membuang bayi tak berdosa di sebuah panti asuhan, hanya karena bayi itu bukan darah dagingnya, hanya karena merasa dikhianati oleh sang istri.

Ketika itu ia masih punya rumah dan harta warisan dari kedua orang tuanya, tapi sang istri menghabiskannya sedikit demi sedikit hanya untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain. Perhiasan, uang, dan yang terakhir rumah warisan itu digadaikan tanpa sepengetahuannya, sehingga pada suatu ketika karena tak mampu menebusnya maka rumah itu disita oleh si penggadai. Saat itulah sang istri melahirkan disebuah rumah sakit, dan meninggal karena perdarahan. Ia yang sudah habis-habisan harus membayar beaya persalinan, dan kemudian meninggalkan bayi itu disebuah panti asuhan tanpa pesan apapun.

Tiba-tiba ia merasa berdosa kepada bayi itu. Bayi merah yang terlahir bersih tanpa dosa, mengapa harus menanggung dosa orang tuanya? Jangan-jangan bayi itu Rosa, kata batinnya berkali-kali. Ia lupa di panti asuhan mana ia meninggalkan bayi itu, tapi ia ingat satu hal, masih dikota ini, di sebuah kampung.

Malam harinya Gatot tak bisa tidur nyenyak. Begitu bangun, ia menelpon sang nyonya majikan bahwa dia tak bisa masuk karena sakit. Tapi ia mencari panti asuhan itu.

***

 Di sebuah gedung dengan halaman luas, pak Gatot berhenti. Ia membaca nama panti itu. Panti Asuhan Kasih Sayang.

“Sepertinya di sini, aku tak begitu ingat, karena waktu itu malam hari, dan hujan lebat pula." 

Ia membawa bayi yang baru dua hari lahir, dibungkusnya dengan selimut tebal, lalu meninggalkannya di teras panti yang waktu itu sepi tanpa penjaga.

Ia pulang ke rumah yang sudah tidak menjadi miliknya, lalu membawa barang-barang yang bisa di bawa, lalu pergi entah kemana.

Ia memarkir sepeda motornya di halaman, lalu melangkah ke dalam. Seorang wanita menyambutnya.

Wanita itu kesal karena sebelumnya pernah ada orang yang mencari siapa orang tuanya, puluhan tahun yang lalu, kemudian ketika akhirnya data tentang bayi itu ketemu, tak bisa ketahuan siapa orang tuanya, karena bayi itu ditinggalkan begitu saja di teras panti. Sekarang datang lagi seorang laki-laki tua yang menanyakan tentang bayi yang ditinggalkan puluhan tahun yang lalu. Datanya sama persis seperti data yang pernah ditanyakan oleh seorang wanita.

“Saya minta maaf, bayi itu sebenarnya bukan bayi saya, jadi saya tak ingin merawatnya. Saya ingin tahu tentang nasib bayi itu,” kata pak Gatot menghiba. Ia berjanji, kalau bayi itu yang pastinya sudah lebih dari dewasa dan masih ada  ia akan mengakuinya sebagai anaknya.

Petugas panti menatapnya tajam. Laki-laki tua dihadapannya pastilah orang yang meninggalkan bayi itu.

Walau begitu ia mencarikan data tentang bayi itu, dan sesuatu membuat pak Gatot terkejut. Bayi itu diambil oleh seorang pengusaha bernama Daryono, dengan alamat yang lengkap.

“Sebulan atau dua bulan yang lalu ada seorang wanita mencari data ini.”

“Apakah Ibu mencatat nama wanita itu?”

“Saya tulis di sini, lihat, namanya Rosana.”

Pak Gatot pulang dengan langkah lunglai. Ia benar-benar merasa heran, bayi yang tampaknya beruntung karena mendapat orang tua kaya raya dan terhormat, akhirnya menjalani kehidupan sebagai bekas narapidana, dan melakukan kejahatan-kejahatan lagi setelahnya.

***

Tak lama setelah pak Gatot sampai di rumahnya, bu Surani menelpon. Ia prihatin karena pak Gatot ijin karena sakit.

“Saya mohon maaf Bu, sebenarnya saya tidak sakit. Saya tersentuh tentang Rosa yang diambil dari panti asuhan, lalu saya teringat pada kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, ketika saya meninggalkan bayi istri saya di sebuah panti asuhan.”

Lalu pak Gatot bercerita tentang kejadian puluhan tahun yang lalu, tentang dirinya dan istrinya, dan semua urut-urutan sampai kemudian membuang bayinya di panti asuhan.

“Saya merasa berdosa teringat kelakuan saya waktu itu, yang tersulut emosi karena pengkhianatan istri, lalu membuang bayi tak berdosa itu. Dan ternyata Bu, bayi itu adalah Rosa.”

“Rosa?” bu Surani sampai berteriak.

“Iya Bu, ternyata bayi itu adalah Rosa.”

“Catatannya bayi itu diberi nama Rosa?”

“Beberapa waktu yang lalu Rosa kesana, maksudnya ingin tahu siapa orang tuanya. Mereka mencatat namanya, Rosana. Jadi benar, bayi itu adalah Rosa.”

“Ya Allah … jadi Rosa sebenarnya anak pak Gatot?”

“Sebenarnya, kalau menurut catatan di rumah sakit … memang anak saya, tapi saya sendiri ragu, karena kelakuan istri saya seperti itu,” kata pak Gatot sedih.

“Ya sudah, pak Gatot tidak perlu sedih, semua yang terjadi atas manusia itu kan sudah digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Pak Gatot harus bersyukur, bisa menjalani kehidupan ini dengan baik.”

“Ya Bu, saya sangat bersyukur.”

“Apakah pak Gatot ingin mencari Rosa? Kabarnya hari ini pak Daryono melaporkannya kepada polisi atas kehilangan itu.”

“Entahlah Bu, saya sudah pasrah. Setidaknya saya sudah mengerti, bagaimana keadaan bayi yang pernah saya buang itu. Yang saya heran, mengapa dia melakukan hal-hal buruk sehingga masuk penjara, dan setelah itu dia tidak segan-segan untuk mencuri dan mencuri lagi.”

“Saya juga heran. Kalau dia anak pak Gatot, mengapa kelakuannya bisa seperti itu, sementara pak Gatot begitu santun dan sangat baik. Dan itu juga sebabnya pak Gatot bisa puluhan tahun bekerja di toko saya, bahkan sejak kedua orang tua saya masih ada. Jadi apakah darah jahat ibunya mengalir di tubuh Rosa ya.”

Pak Gatot menghela napas panjang. Sesungguhnya ia tak ingin menceritakan aib istrinya, tapi keadaan memaksa untuk dia mengatakannya.

***

Rosa sedang berada di suatu tempat, dan itu adalah bekas salon milik Mery temannya.

“Aku tidak mau kamu berada di sini, aku sudah tidak ingin berurusan dengan polisi.”

“Mery, tolonglah, aku baru dua hari berada di sini dan kamu sudah mengusirku. Apa kamu lupa kita pernah berteman saat sekolah?”

“Itu benar, aku tidak lupa. Tapi gara-gara kamu aku masuk penjara, salonku ditutup, dan aku harus berdagang kecil-kecilan untuk menyambung hidup.”

“Baiklah, aku tidak akan lama. Aku akan mencari tempat tinggal yang lebih baik, maksudnya tidak usah mengganggu orang lain, tapi berilah aku waktu dua tiga hari lagi.”

“Sehari lagi Rosa, aku tidak mau lebih,” kata Mery, tegas.

“Ya ampun Mery, kejam sekali kamu.”

“Bukan kejam, aku hanya mencari agar aku selamat. Kamu tahu kan, foto kamu sudah terpampang di mana-mana, jadi kamu itu buronan. Kalau aku membiarkan kamu di sini, sama saja aku bunuh diri. Jadi mengertilah Rosa, tolong jangan libatkan aku.”

“Keluarga Daryono benar-benar kejam. Ia tega melaporkan aku ke polisi. Hartanya tak terhitung, hanya kehilangan perhiasan sekotak saja seperti sudah kehilangan seluruh kehidupannya.”

“Namanya kehilangan, sebutir berlian apalagi sekotak perhiasan, pasti harganya tak terhitung. Kamu harus mengerti bahwa kamu harus menebus kesalahanmu dan masuk kembali ke penjara.”

“Mery, kamu kok malah mengutuk aku?”

“Kalau begitu segeralah pergi Ros, maaf. Bukan aku tak peduli pada teman lama, tapi aku sudah pernah merasakan bagaimana terhinanya aku ketika harus mendekam di penjara. Aku tidak mau mengulanginya.”

“Baiklah, baiklah … besok aku akan pergi dari sini. Hari ini aku akan pergi dulu mencari rumah untuk aku bersembunyi.”

“Pergilah, dan ingat, wajah kamu sudah tersebar di seluruh kota. Di tembok-tembok, di batang-batang pohon.. Semua orang akan mengenali kamu.”

“Aku mau pinjam topi kamu itu, dan biarkan aku berdandan yang aneh agar wajahku berubah.”

Mery mengijinkan ketika Rosa meminjam lipstik, maskara dan yang lain-lain, yang akan merubah bentuk wajahnya. Sekarang Rosa sudah berubah wajah, ia keluar dengan pakaian kedodoran, memakai topi dan dandanan yang aneh.

Tapi ketika Rosa pergi, anaknya yang bekas istri siri pak Wiguna mendekati sang ibu.

“Bu, jangan biarkan dia kembali. Agar Ibu tidak terlibat, Ibu laporkan saja keberadaan bu Rosa di sini. Kalau Ibu membiarkannya sehari saja, kita akan celaka.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, August 20, 2026

AKU ANAK SIAPA 16

 AKU ANAK SIAPA  16

(Tien Kumalasari)

 

Bu Daryono menarik tangan bu Surani agak ke pinggir, yang agak jauh dari hiruk pikuk para tamu yang beramah tamah.

“Jeng bilang apa? Pengasuh putri Jeng yang mencuri gelang itu bernama Rosa?”

“Iya, Rosana atau Rosa siapa, saya lupa, tapi kami memanggilnya Rosa. Saya kira dia orang baik. Satpam saya yang mengantarkan ke rumah saya, minta pekerjaan, lalu saya terima. Tadinya satpam itu mengatakan bahwa dia anaknya, tapi belakangan dia mengatakan bahwa sesungguhnya Rosa bukan siapa-siapanya. Dia hanya menolong ketika Rosa dihajar banyak orang karena mencuri sepotong roti. Karena kasihan satpam itu mengajaknya pulang, diberi pakaian, dianggapnya anak, lalu dicarikan pekerjaan di rumah saya. Tak tahunya dia mencuri."

Bu Daryono mengambil ponselnya, membuka-buka dan berhasil menemukan sebuah gambar Rosa, bekas anak angkatnya. Memang bekas karena setelah melakukan kejahatan, bu Daryono dan suaminya tak mau lagi menganggapnya anak angkat.

“Inikah Jeng, pengasuh putri Jeng yang bernama Rosa?”

“Lhoh, bu Daryono kok punya fotonya Rosa. Iya Bu, benar ini orangnya.”

“Ya Allah, dia melakukannya, benar-benar pasti dia.”

“Maksud bu Daryono, yang mencuri kotak perhiasan itu dia? Bagaimana Ibu bisa mengenal dia?”

Lalu bu Daryono menceritakan secara singkat tentang kehadiran Rosa yang sejak bayi diambil dari panti asuhan, lalu diangkatnya anak, dikuliahkan sampai di luar negri. Tapi kemudian dia melakukan kejahatan dan dipenjara beberapa tahun. Sampai ketika Rosa ketemu Bibik pembantunya, menginap di rumah semalam, lalu tiba-tiba pamit pergi lagi, dan bu Daryono kehilangan sekotak perhiasan.

Bu Surani melongo. Jadi Rosa itu pernah menjadi anak angkat keluarga Daryono?

“Berarti dia punya bakat menjadi penjahat. Setelah keluar dari penjara harusnya mencari pekerjaan agar bisa makan, dia malah mencuri. Pasti bukan sekali itu dia melakukannya. Yang terakhir menyebabkan dia dipungut oleh pak Gatot. Tapi dasarnya hatinya kotor.”

“Aku yakin, pasti dia pelakunya. Padahal seandainya dia minta tolong, ingin membuka usaha atau apa, pasti kami akan memberi, walau tak mau lagi menjadikannya anak angkat. Kok malah mencuri. Benar Jeng, dia punya darah penjahat. Entah anak siapa dia sebenarnya.”

“Ibu tidak tahu siapa orang tuanya?”

“Tidak Jeng, kami mengambilnya di panti asuhan, katanya dia ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya, tanpa keterangan apapun. Jadi sampai sekarang kami tidak tahu siapa orang tuanya.

“Luar biasa pengalaman kita tentang kecurian barang. Hanya punya  bu Daryono pasti lebih mahal. Jauh lebih mahal.”

“Lumayan Jeng, agak lengkap barang yang saya simpan di kotak itu. Seandainya sore ini tidak harus memenuhi undangan di sini, entah sampai kapan kami tahu bahwa kotak itu hilang, karena saya tidak pernah memakai perhiasan di keseharian saya.

“Semoga dia tertangkap Bu, pastinya Bibik bertanya di mana dia tinggal kan?”

“Tidak Jeng, dia tidak mau mengatakan di mana dia tinggal.”

“Tadinya dia kost di dekat rumah saya Bu, tapi kemudian dia keluar dan tidak lagi kost di sana.”

“Entah apa nanti yang akan dilakukan suami saya Jeng, tapi besok dia akan lapor polisi. Semoga kalau dia tertangkap, benar-benar bisa membuatnya jera.”

***

Pak Daryono heran mendengar penuturan istrinya tentang Rosa, yang sebelumnya pernah mencuri gelang anak bu Surani ketika menjadi pengasuh.

“Papa tadi aku cari tidak ketemu, sebenarnya kalau ketemu akan aku minta untuk mendengarkan cerita jeng Surani.”

“Aku ketemu pak Wiguna dan juga Arka putranya, mereka bersama istri masing-masing. Banyak cerita, jadi agak jauh dari Mama. Aku mau memanggil Mama, kok sudah tidak ada di tempat semula.”

“Ya itu, aku omong-omong sama jeng Surani, mojok agak ke belakang.”

“Hebat ya Rosa, ternyata dia memang punya darah penjahat, padahal kita mendidiknya dengan baik, dia juga bergaul dengan orang-orang baik.”

“Sifat itu sudah mendarah daging. Harusnya kalau kita memungut anak, harus jelas siapa orang tuanya, dan bagaimana dia sampai dititipkan di panti asuhan.”

“Kalau sekarang kita tidak usah ingin punya anak angkat lagi kan Ma, kita sudah semakin tua, nanti malah jadi banyak pikiran.”

“Sebenarnya Papa sudah akan mewariskan perusahaan Papa juga kan?”

“Akhirnya kan banyak aset yang sudah aku jual Ma, agar tidak terlalu terbebani oleh pikiran yang macam-macam.”

“Iya, Papa benar. Lebih baik kita hidup tenang dengan menikmati masa tua kita.”

“Benar Ma.”

“Tentang pencurian itu, apakah besok Papa jadi melaporkannya ke polisi?”

“Jadi Ma, agar dia jera. Enak sekali dia melakukan kejahatan lalu kita biarkan dia melenggang.”

“Sebenarnya kasihan ya Pa, mengingat masa kecilnya yang lucu, dan pintar.”

“Iya sih. Tapi kalau dipikir-pikir, mengapa dia memilih mencuri perhiasan, bukan surat-surat dia atau ijazah dia, agar bisa dipergunakan untuk mencari pekerjaan. Barang-barang itu kan semua ada di rumah kita.”

“Memang inginnya mendapat uang secara instan. Bukankah pada dasarnya dia itu pemalas? Sudah selesai pendidikan di luar negri, bukan ingin membantu Papa, malah melakukan hal yang aneh-aneh.”

“Yah, sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi.”

***

Sore hari itu sebelum pulang, pak Gatot dipanggil bu Surani. Ia langsung masuk kembali ke dalam toko, menuju kantor bu Surani, di mana dia sudah menunggu.

“Duduk, pak Gatot.”

Pak Gatot duduk di depan meja kerja bu Surani, agak berdebar, karena tak biasanya bu Surani memanggilnya. Ternyata bu Surani hanya bercerita tentang Rosa yang melakukan pencurian lagi di rumah seorang pengusaha, di mana dulu Rosa dijadikan anak angkatnya.

“Jadi Rosa itu sebenarnya anak angkat seorang pengusaha?”

“Iya Pak. Pengusaha besar dan kaya raya.”

“Aneh. Mengapa dia kemudian keluyuran seperti gelandangan, bahkan mencuri sepotong roti di warung jalanan.”

“Ceritanya panjang Pak. Itu sebabnya pak Gatot saya suruh masuk kemari, karena kalau di luar, nggak enak kita ngobrol, nanti dilihat dan didengar orang-orang.”

“Benar Bu.”

“Dan sekarang jam kerja untuk pak Gatot kan sudah selesai?”

Lalu bu Surani bercerita seperti apa yang dikatakan bu Daryono. Semuanya dikatakan, sampai kemudian Rosa datang ke rumahnya saat bu Daryono pergi, kemudian mencuri sekotak perhiasan.

Pak Gatot geleng-geleng kepala. Tapi dia sangat terkejut ketika bu Surani mengatakan tentang Rosa yang sebenarnya diambil dari panti asuhan.

***

Ketika pulang, pak Gatot melamun di rumahnya. Ia duduk sendirian di depan rumah, teringat akan nasibnya sendiri yang bisa dikatakan sebatang kara. Rosa yang ditemukan dijalanan dan diharapkan bisa menemani kehidupannya sebagai anak angkat, ternyata adalah bekas anak angkat seorang pengusaha, sekaligus bekas narapidana. Pantas dia sangat tertutup dan tidak mau menceritakan perihal kehidupannya.

Pak Gatot sendiri sebenarnya bukanlah perjaka tua. Ia pernah punya istri yang ternyata penipu, menghabiskan harta peninggalan orang tuanya untuk berselingkuh dengan seseorang. Ketika sang istri mengandung, ia mengacuhkannya karena tahu bahwa bayi itu bukan darah dagingnya. Sang istri berhubungan dengan banyak laki-laki yang entah siapa bapak dari bayi itu. Ketika kemudian bayi itu lahir, sang istri meninggal setelah melahirkan. Pak Gatot yang kebingungan karena tak bisa merawat bayi, serta dalam keadaan terluka hatinya karena kebohongan sang istri dan pengkhianatannya, membawa bayi yang baru lahir itu dan meninggalkannya di sebuah panti asuhan.

Tiba-tiba pak Gatot terkejut ketika teringat tentang bayi di panti asuhan itu. Jangan-jangan bayi itu adalah Rosa.

“Ya Tuhan, apakah Rosa adalah anak mendiang istriku?”

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, August 19, 2026

AKU ANAK SIAPA 15

 AKU ANAK SIAPA  15

(Tien Kumalasari)

 

Pak Daryono heran, istrinya bingung mencari kotak perhiasan.

“Mama menaruhnya di mana?”

“Ya di almari Mama ini kan Pa? Masa di tempat lain?” kata bu Daryono sambil membolak balikkan tumpukan pakaian, barangkali terselip di sana. 

Tak  ditemukannya apa yang dicarinya.

Pak Daryono sudah memakai pakaiannya, ia ikut membuka almarinya sendiri, barangkali sang istri lupa menaruhnya di almari suaminya. Tapi itupun tak ada.

Bu Daryono terduduk lemas di kursi, depan cermin tempatnya berdandan.

“Berarti hilang,” kata bu Daryono lemas. 

Ada perhiasan lengkap di kotak itu, beberapa cincin berlian, gelang leontin dan kalung. Semuanya barang mahal, karena keluarga Daryono adalah pengusaha kaya.

“Ya sudah bu, nanti pakai aja yang ada di dalam simpanan, itu tak akan hilang karena hanya kita yang bisa membukanya,” kata pak Daryono sambil menunjuk ke arah brankas yang ada di samping tempat tidurnya.

“Tidak ada gunanya menyesali. Cepat ibu mandi dulu.”

Bu Daryono bangkit dan menuju kamar mandi dengan langkah lemas. Bagaimanapun kayanya, yang namanya kehilangan pasti membuat sedih dan kecewa.

Pak Daryono melanjutkan berpakaian, lalu kembali mengobrak abrik almarinya sendiri, juga almari istrinya. Tetap saja kotak itu tak ditemukannya.

Kesimpulannya sudah jelas, barang-barang itu hilang.

Ketika bu Daryono selesai mandi, dia masih mempersoalkan barangnya yang hilang.

“Sejak kapan ya kotak itu hilang? Seminggu yang lalu ketika syukuran di ulang tahun perusahaan, aku masih memakainya sebagian. Masih utuh barang-barangnya,” katanya sambil berdandan.

Tiba-tiba pak Daryono teringat sesuatu.

“Ma, adakah terpikir oleh kamu tentang Rosa?”

Bu Daryono terkejut. 

"Apa benar dia?”

“Kemarin ada yang membuka almarimu dengan paksa, entah dengan alat apa. Itu sebabnya Mama bilang susah dibuka, walau akhirnya bisa. Dan kamar kita ini tidak pernah Mama kunci kan, kecuali almari-almarinya?”

“Coba Papa panggil Bibik,” kata bu Daryono sambil terus berdandan.

Pak Daryono keluar, dan tak lama kemudian Bibik masuk ke kamar.

“Sepatu tuan dan Nyonya sudah saya bersihkan,” kata Bibik begitu masuk.

“Bik, apa ketika Rosa menginap di sini, dia masuk ke kamarku?”

“Non Rosa? Saya tidak tahu Nyonya. Setahu saya setelah berbincang, dia langsung masuk ke kamar saya, dan saya tidur di dapur.”

“Jadi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan?”

“Tidak. Dia bangun pagi-pagi, lalu pamit pergi sebentar. Tak lama kemudian dia kembali, dan mengatakan kalau tak akan menunggu Tuan dan Nyonya pulang. Saya menahannya, tapi dia bersikeras pergi."

“Jadi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan?”

“Saya pikir dia tidak melakukan apa-apa Nyonya, dia langsung masuk ke kamar, lalu ketika bangun itu saya sudah lebih dulu bangun. Dia minum teh buatan saya, karena waktu itu saya sedang menyeduh tehnya. Tapi hanya sebentar, kemudian pergi, entah pergi ke mana. Memangnya ada apa Nyonya? Dia tidur di kamar ini, karena tempat tidur saya kurang nyaman?”

“Nyonyamu kehilangan satu kotak perhiasan.”

“Ya Tuhan,” seru bibik sambul menutup mulutnya.

“Bukan saya Nyonya, sungguh. Puluhan tahun saya mengabdi di sini, tapi saya tidak pernah melakukan hal buruk itu. Saya takut dosa, Nyonya,” kata Bibik ketakutan.

“Satu kotak perhiasan yang sedianya akan aku pakai sebagian malam ini, lenyap tak berbekas.”

“Menurut Nyonya, apakah … apakah non Rosa yang mengambilnya?”

“Aku percaya sama kamu Bik, pasti bukan kamu. Kami sama sekali tidak menuduh kamu,” kata pak Daryono.

“Nyonya, bagaimana dia bisa mengambilnya? Bukankah almari Nyonya selalu terkunci?”

“Almariku entah kenapa memang agak rusak, susah dibukanya. Pastinya dia membuka paksa dengan kunci yang lain, sehingga ketika aku membukanya tadi, agak susah.”

“Ya Tuhan … dia bisa melakukannya?” seru Bibik, sedih. 

Ia merasa bersalah, karena dialah yang mengajaknya ke rumah itu.

“Kamu tidak usah merasa bersalah Bik, ya sudah. Lain kali jangan berbaik hati lagi pada dia. Kami mau bersiap ke kondangan dulu, besok aku lapor polisi,” kata pak Daryono kemudian.

***

“Ibu mau ke mana?” tanya Satria ketika melihat Ibu dan Ayahnya berdandan.

“Mau ke kondangan, sayang. Kamu baik-baik di rumah sama Bibik ya.”

“Aku mau ikut,” rengek Satria.

“Tidak boleh Satria, besok kamu harus masuk sekolah, nanti bangun kesiangan.”

“Memangnya Ibu perginya lama?”

“Pastinya sampai agak malam. Kamu nanti tidur sama Bibik dulu ya.”

“Pulangnya nggak boleh malam-malam ya?”

“Baiklah, kami hanya sebentar.”

Satria masih duduk sambil melihat ibunya berdandan.

“Ngapain Satria di sini?” tanya Arka dari luar kamar.

Dia baru saja menyiapkan mobil di depan. Tidak perlu membawa sopir, karena hanya ke kondangan dan tidak akan lama.

“Mau ikut,” ia merengek lagi.

“Kata ibu, kami hanya sebentar. Lagian besok pagi Satria kan sekolah, jangan sampai bangun kesiangan.”

“Anak baik pasti nurut. Ya kan?” bujuk sang ibu yang sudah selesai berdandan.

“Baiklah, Satria akan nurut.”

“Anak baik,” kata Senja sambil mencium pucuk rambut anaknya.

“Kamu sudah selesai Nja?”

“Sudah Mas, tinggal memakai sepatu saja, lalu kita berangkat.”

“Baiklah, mobil sudah aku siapkan. Buruan keluar, aku tunggu di depan,” kata Arka sambil berlalu.

Senja mengenakan sepatunya, lalu mengambil tas tangan yang sudah disiapkan. Satria bersama Bibik mengantarkannya sampai ke teras.

***

Pesta yang diadakan seorang pengusaha kaya, pastilah pesta yang amat meriah dan mewah. Tamu undangan terdiri dari para pengusaha dan kerabat yang pastinya bukan orang sembarangan.

Pak Daryono dan bu Daryono datang, agak terlambat gara-gara masalah kotak perhiasan yang hilang dicuri orang.

Baru saja selesai menyalami kedua pengantin dan yang punya gawe, bu Daryono merasa ada yang menowel lengannya. Kemudian ia tertawa ketika melihat siapa dia.

“Jeng Surani? Sendirian?”

“Iya, mau sama siapa lagi, sejak suami meninggal, ke mana-mana saya kan selalu sendiri.”

“Ikut prihatin ya jeng, semoga segera dapat gantinya.”

“Ah, tidak Bu, saya lebih senang begini saja. Yang penting bisa membesarkan dan mendidik Sisi anak saya dengan baik.”

“Semoga jeng berhasil.”

“Aamiin. Tapi ngomong-ngomong, pak Daryono berdua kok datang agak terlambat. Banyak yang bertanya-tanya tadi.”

“Iya jeng, bagaimana lagi. Ketika mau berangkat ada halangan.”

“Halangan apa Bu? Kecelakaan?”

“Bukan kecelakaan kendaraan, tapi kecelakaan kehilangan.”

“Kehilangan? Kehilangan apa Bu?”

“Kotak perhiasan saya, hilang lenyap. Padahal ada di dalam almari.”

“Kok aneh Bu, ada pencuri masuk pastinya.”

“Besok suami mau melaporkannya kepada polisi. Baru saja ketahuan, ketika saya mau memakainya.”

“Baru-baru ini saya juga kehilangan Bu, tapi kehilangan kecil-kecilan. Hanya gelang anak saya yang sebelah kiri.”

“Gelang emas itu bukan kecil-kecilan. Ada yang mencuri? Ketahuan?”

“Tadinya dikira jatuh ketika sedang jalan-jalan bersama pengasuhnya. Belakangan diketahui, yang mencuri adalah pengasuhnya sendiri itu.”

“Ya ampun, bagaimana bisa ketahuan?”

“Ketika saya mau membeli lagi gelang itu untuk mengganti yang hilang, pemilik toko ternyata memiliki gelang yang sama. Dia bilang, yang menjual seorang wanita. Ketika saya tunjukkan foto dia di ponsel saya, dia berteriak. Ini Bu, benar ini yang menjual."

“Saya heran, Rosa bisa melakukannya. Wajahnya cantik, hatinya buruk."

“Tunggu Jeng, nama siapa yang Jeng sebut tadi?”

“Pengasuh anak saya, namanya Rosa.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, August 18, 2026

AKU ANAK SIAPA 14

 AKU ANAK SIAPA  14

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot terpana, ia menggenggam ponselnya dengan erat, takut terjatuh karena keterkejutannya.

“Rosa yang melakukannya, Nyonya?” pak Gatot berteriak.

“Iya. Pak Gatot tidak menduganya? Demikian juga aku, aku kira dia gadis baik-baik. Ternyata bisa menipu lalu mencuri. Menipu, karena tadinya bilang  barang hilang entah di mana, ternyata dia yang mencurinya. Bukan main.”

“Saya sama sekali tidak mengira, maaf Nyonya, dulu saya yang meminta agar Nyonya menerimanya untuk bekerja pada Nyonya,” sedih sekali hati pak Gatot.

“Anak siapa dia sebenarnya Pak? Masih saudara, atau apa?”

“Bukan Nyonya, saya melihat dia pertama kali ketika dihajar orang-orang di dekat toko milik Nyonya.”

“Dia dihajar? Karena apa?”

“Waktu itu dia memakai baju yang lusuh. Dia bukan pengemis, tapi dia mencuri roti di sebuah warung makan. Karena ketahuan, lalu dia dihajar. Waktu itu saya menghentikan mereka, lalu membayar harga roti yang dia curi, lalu saya ajak dia ke rumah, saya anggap keluarga.”

“O, jadi dia itu memang pak Gatot ambil dari jalanan, saat dihajar orang karena mencuri?”

“Iya Nyonya, saya pikir saya bisa mengangkatnya menjadi keluarga yang normal, tidak keluyuran di jalan begitu, lalu saya anggap dia anak, karena katanya dia tidak punya rumah, tidak punya keluarga, lalu saya carikan pekerjaan agar dia bisa mempunyai uang sendiri.”

“Kalau begitu sebenarnya dari awal dia memang suka mencuri. Bukankah kalau lapar dia bisa mencari kerja? Terburuk adalah menjadi peminta-minta, tapi dia tidak melakukannya, dan memilh menjadi pencuri.”

“Saya menyesal telah menolongnya, dan lebih menyesal lagi karena saya minta agar Nyonya menerima dia bekerja, sehingga dia berkesempatan mencuri barang berharga milik non Sisi.”

“Tidak apa-apa. Pak Gatot kan maksudnya baik. Sekarang dia pergi, barangkali karena sudah punya uang dari penjualan gelang itu.”

“Ketika Bibik menemukan ponsel yang katanya  milik Rosa, perasaan saya menjadi tidak nyaman, apalagi ketika ponsel itu ada di tangan saya, ada orang menelpon yang bicara tentang uang.”

“Dia minta uang?”

“Ya, katanya kalau uang tidak segera diserahkan dulu sebagian, dia tak mau melakukannya. Entah urusan apa. Sejak saat itu saya tidak lagi menganggapnya sebagai anak. Saya meraba ada hal-hal kurang baik yang dilakukannya.”

“Ya sudah pak Gatot, tidak usah dipikirkan lagi. Ini sebuah pengalaman baru bagi kita ya. Untuk selanjutnya, pak Gatot harus berpikir dulu kalau harus berbaik hati kepada orang. Ada orang yang pantas dibantu, ada yang setelah dibantu malah bikin susah. Ya kan?”

“Benar Nyonya.”

“Ya sudah, lupakan saja semuanya Pak, dan bersyukur dia sudah pergi, sehingga pak Gatot tidak usah terbawa-bawa kalau dia melakukan hal yang tidak benar.”

Pak Gatot meletakkan ponselnya dengan perasaan heran. Tidak mengira wanita berparas cantik memiliki tabiat buruk.

“Mudah-mudahan aku tak akan pernah bertemu lagi.”

***

Sore hari itu pak Daryono dan istrinya baru pulang dari luar kota. Mereka hanya istirahat sebentar, karena malam harinya harus menghadiri undangan salah seorang rekan bisnis yang mengadakan resepsi syukuran pernikahan anaknya.

Ketika sedang istirahat sejenak itu, dan Bibik menghidangkan teh hangat untuk kedua majikannya, Bibik mengatakan bahwa Rosa menginap di rumah itu semalam, membuat bu Daryono terkejut.

“Rosa datang kemari? Menginap pula?”

“Iya Nyonya, semalam tidur di kamar saya, sedangkan saya tidur di dapur.”

“Tidur di kamar kamu?”

“Dia sendiri yang minta, kalau tidur di kamar tamu, takut Nyonya marah.”

“Tapi dia sudah pergi?”

“Paginya keluar sebentar, katanya ada keperluan, tapi kemudian kembali untuk berpamit. Saya minta menunggu Tuan dan Nyonya pulang, dia tidak mau.”

“Ya sudah, biarkan saja, nyatanya dia tidak mau ketemu kita kan?” sambung pak Daryono yang tidak begitu mempedulikan Rosa lagi.

“Kemarin ketemu lagi di dekat pasar, tapi saya tidak membawa uang banyak. Hanya saya beri seratus ribu.”

“Oh jadi awal mulanya datang kemari karena bertemu denganmu? Dia benar-benar Rosa, perempuan yang kamu lihat di dekat pasar itu?”

“Benar Nyonya, barangkali Tuhan ingin mempertemukan kami, tiba-tiba tanpa sengaja, saat berjalan, kami bertubrukan. Dan dia memaki saya, tapi dia senang ketika mengetahui itu saya.”

“Apakah kelihatannya dia baik-baik saja?”

“Dia tidak berpakaian lusuh seperti ketika pertama kali saya melihatnya. Walau baju yang dipakai itu sederhana, tapi bersih. Tidak kelihatan seperti gelandangan.”

“Ya sudah, semoga dia bisa belajar dari pengalaman buruk yang dia terima.”

“Ma, cepat mandi, kita kan harus siap setelah jam tujuh?”

“Papa dulu saja yang mandi, saya akan menyiapkan baju-baju yang akan kita pakai, jadi setelah mandi kita langsung bisa memakainya, tidak usah memilih-milih lagi.”

“Baiklah, aku mandi saja dulu.”

***

Bibik sedang menyuapi Sisi, tapi kemudian bu Surani memintanya.

“Biar ibu yang menyuapi kamu Sisi, pekerjaan Bibik sudah banyak,” kata bu Surani sambil mendekati putrinya, meraih piring Sisi yang semula dibawa Bibik.

“Aku baru saja menelpon agen pengasuh anak-anak, dua hari lagi dia akan datang Bik. Kasihan Bibik pekerjaannya menjadi lebih banyak.”

“Tidak apa-apa Nyonya, non Sisi tidak terlalu rewel.”

“Benar, dia anak yang manis. Ya kan Sisi?”

Sisi tertawa-tawa lucu. Ia makan dengan lahap, membuat ibunya senang.

“Semoga Nyonya mendapat pengasuh non Sisi yang benar-benar baik. Tidak seperti mbak Rosa. Saya tidak mengira dia sejahat itu.Tega mencuri perhiasan momongannya.”

“Iya Bik, aku juga tidak mengira.”

“Lebih baik non Sisi tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi Nyonya, pengalaman yang lalu membuat saya khawatir kejadiannya terulang.”

“Iya Bik, kita harus hati-hati. Aku juga kasihan pada pak Gatot. Dia sedih dan menyesal telah meminta aku menerima Rosa bekerja.”

“Pak Gatot kan tidak tahu Nyonya. Ketika saya tunjukkan ponsel mbak Rosa, pak Gatot kelihatan heran. Soalnya tadinya non Rosa tidak punya ponsel. Menurut saya dia membeli ponselnya setelah menjual gelang non Sisi.”

“Ya sudah Bik, tidak usah dipikirkan lagi. Semoga kejadian kemarin tidak akan terulang.”

“Aamiin. Saya mau ke belakang dulu Nyonya, saya belum mencuci perabot dapur.”

“Iya Bik, lakukan saja, biar Sisi bersama aku.”

***

Pak Daryono sudah selesai mandi, tapi rupanya bu Daryono belum selesai menyiapkan baju untuk dirinya sendiri. Ia masih membuka-buka almari.

“Mama malah belum siap, cepat mandi, aku sudah selesai.”

“Baju Papa sudah aku siapkan, tuh di sana.”

“Baiklah. Mama sedang mencari apa? Dari tadi tidak selesai-selesai,” tegur pak Daryono.

“Ini lho Pa, kuncinya kok sepertinya rusak begini, buka almarinya susah.”

“Lha itu sudah bisa membukanya.”

“Iya, tapi susah, sejak kapan almari ini susah dibuka? Waktu kita berangkat masih baik-baik saja.”

“Ya sudah, besok cari tukang untuk memperbaiki, sekarang cepat mandi sana.

“Ini, tadi bingung cari bajunya, tapi sudah kok, biar serasi dengan jas yang Papa pakai. Nih, serasi kan?”

“Mama selalu begitu, terlalu memilih-milih. Sudah, sekarang mandi.”

“Sebentar Pa, kok kotak perhiasanku tidak ada ya?”

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 014

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  014 (Tien Kumalasari)   Menur menatap anaknya dengan pandangan trenyuh. Rupanya perkataan nyo...