SAKITKU ADALAH CINTAKU 39
(Tien Kumalasari)
Indras tersenyum, sementara Zein tampak agak grogi, tapi tak kelihatan dia marah, sementara sebelumnya Indras sudah khawatir.
“Zein, aku kan sudah bilang kalau tak bisa pulang makan, rumah jauh dari tempat aku kerja, jadi lebih baik aku kemari. Suamiku yang baik hati tidak marah kan?”
Zein tersenyum. Setiap pujian selalu membuatnya tersenyum.
“Ini saat istirahat kan? Jadi aku tidak mengganggu kan?”
“Tidak, tidak.”
“Kamu makan dulu saja, minum dawetnya nanti,” kata Indras yang langsung membuka kotak makan yang sudah disiapkannya.
“Ini nasi gudeg dan paha ayam. Aku ingat dulu almarhumah ibu mertuaku suka masak gudeg seperti ini,” Indras terus saja bicara.
Zein mengamatinya dengan takjub. Ini kali pertama ia makan di kantor dengan dilayani istri.
“Hm, baunya sedap kan? Ini untuk kamu, ini untuk aku, wah … nggak enak makan di meja kerja, ayuk di meja tamu itu saja,” kata Ind ras yang tanpa permisi langsung membawa semua makanan yang dibawanya, diletakkan di meja depan sofa.
Zein berdiri lalu mengikutinya.
“Zein, kamu masih ingat sayur gudeg masakan ibu kan?”
Zein duduk. Kotak nasi gudeg sudah diletakkan di depannya. Indras melayani dengan cekatan, sebentar sebentar mengeluarkan ungkapan yang membesarkan hatinya.
“Zein, kamu tahu? Ibu mertuaku adalah seorang jago memasak. Dulu setiap aku datang kesana, beliau ribut membuatkan makanan, memaksa aku makan di sana, dan enaknya tiada duanya.”
Kenangan tentang ibunya selalu membuatnya terharu. Ibu yang bekerja keras untuk dirinya, tapi yang tidak sempat menikmati buah dari pohon yang ditanamnya.
“Ini, terus terang saja masakan yang aku beli di warung langganan, tapi aku janji, besok saat libur aku akan masak untuk kamu. Masakan yang dulu pernah diajarkan ibu mertuaku,” kata Indras sambil makan dengan nikmat, demikian juga Zein.
Kenangan tentang ibunya, membawa serta kehadiran Indras ke rumahnya, yang membuat suasana rumahnya hidup dan penuh suka cita.
“Zein, Indras wanita yang baik. Ibu suka kalau kamu bisa mempersunting dia, tapi kan dia orang kaya. Mana mungkin diijinkan oleh orang tuanya?”
Dan ingatan itu kemudian membuatnya tersenyum. Nyatanya kemudian Indras berhasil menjadi istrinya, tapi lagi-lagi sayang sang ibu tidak bisa menyaksikan pernikahan itu.
“Mengapa semua yang diinginkan almarhumah tidak pernah kesampaian? Maksudku, tidak bisa menyaksikan.”
"Zein, mimpi orang tua sudah bisa kamu wujudkan. Percayalah bahwa dari alam sana almarhumah akan tersenyum melihatmu.”
”Benarkah?”
“Tentu saja benar. Bayangkan ibu sedang melihat keberhasilan kamu, dan tersenyum bangga.”
Zein menghabiskan sekotak nasi gudeg yang dibawa sang istri, kemudian meraih gelas beriisi dawet yang sudah dibuka tutupnya oleh sang istri.
“Oh iya Zein, nanti boleh kan mobil kamu aku bawa?”
“Kamu tidak membawa mobil?”
“Tadi waktu mau berangkat, bannya kempes, jadi aku berangkat naik taksi.”
“Kamu kemari juga naik taksi?”
“Iya, dan karena takut kelamaan kalau harus memanggil taksi lagi, maka aku bawa saja mobil kamu, nanti aku jemput kemari.”
“Baiklah, kuncinya ada di atas meja.”
Mereka melanjutkan makan minum, tapi Indras segera bersiap untuk kembali ke tempat tugas.
“Zein, ada sisa satu kotak nasi lagi, apa ingin kamu berikan kepada seseorang? Terserah kamu saja, mau kamu berikan kepada siapa, daripada terbuang.”
“Biar untuk OB saja, sekalian aku suruh membersihkan sisa makanan ini,” kata Zein yang kemudian memencet bel ke ruang OB.
Tak lama kemudian yang dipanggil sudah datang.
“Tolong buang semua ini sekalian ya, tapi yang satu kotak ini untuk kamu,” kata Zein.
“Terima kasih Dok.”
Sang OB membersihkan semua sisa makanan, sambil membawa kotak yang diberikan dokter Zein.
“Kamu ternyata juga baik hati,” puji Indras sambil berdiri.
Kali ini Zein tidak tersenyum, ia sedang sibuk mencari kunci mobil yang semula ada di atas meja.
“Kamu mencari apa?”
“Kunci mobil, tadi di sini.”
Tiba-tiba seseorang nyelonong masuk.
“Eh, masih ada tamu,” kata seseorang itu sambil tersipu.
Rupanya dokter Tyas tidak mengira kalau istri dokter pujaannya masih ada di situ.
“Saya bukan tamu lhoh,” Indras berusaha ramah.
“Iya, maaf.”
Tiba-tiba dokter Tyas meletakkan kunci mobil ke atas meja.
“Maaf Dok, kunci mobil kebawa oleh saya.”
Lalu sekali lagi ia berkata ‘maaf’ dan melenggang keluar.
Indras mencoba menenangkan hatinya. Ia tak boleh marah. Ia sudah berjanji kepada dirinya akan selalu menjaga sikap dan apapun yang terucap agar tak membuat sang suami marah.
“Ini kunci mobilnya, aku antar kamu keluar,” kata Zein sambil berdiri, lalu mereka berjalan berdampingan menuju ke arah luar.
“Sebenarnya tidak usah diantar, kan aku sudah biasa datang kemari?”
“Tidak apa-apa, sekalian ke masjid. Kan letaknya di depan rumah sakit.”
“Oh, alhamdulillah. Jangan lupa doakan aku ya, agar aku sehat, agar aku kuat, agar aku tetap cantik agar serasi berdampingan dengan dokterku yang ganteng ini,” kata Indras setengah bercanda.
Zein merangkul pundaknya.
“Kamu tidak ke masjid sekalian?”
“Aku nanti di sana saja.”
***
Dokter Tyas mondar mandir di sekitar ruangan dokter Zein. Ia sudah melongok ke dalam dan kosong. Kemana sang dokter pujaan?
“Kok mondar mandir di sini sih Dok?” seorang perawat menegurnya karena dari tadi ia melihatnya dan merasa aneh.
“Menunggu dokter Zein, tadi kunci mobilnya terbawa oleh saya,” jawab dokter Tyas sekenanya, padahal kunci mobil sudah dikembalikan sejak tadi.
“Oh, dokter Zein sedang mengantarkan istrinya keluar.”
Dokter Tyas memburu keluar, pastinya ke parkiran mobil-mobil dokter, tapi bayangan dokter Zein tidak ada. Seorang satpam bertanya.
“Dokter Tyas mencari siapa?”
“Apa dokter Zein sudah pulang?”
“Oh, dokter Zein tadi mengantarkan dokter Indras mengambil mobil, lalu langsung ke masjid.”
“Oh,” jawabnya sambil membalikkan tubuhnya kembali masuk ke dalam.
Satpam itu mengangkat pundaknya. Bukan rahasia lagi kalau dokter Tyas selalu mengejar-ngejar dokter Zein.
***
Ketika ia melewati ruangan dokter Zein, seorang petugas membawa setumpuk amplop akan memasuki ruangan.
“Eh, apa itu?”
“Undangan unduk dokter Zein.”
“Undangan apa?”
“Sepertinya dari sebuah pabrik Farmasi, pengenalan suatu produk.”
“Aku dapat tidak?”
“Barangkali sudah ada di meja Dokter.”
“Oh, baiklah." Oz
Dokter Tyas memasuki ruangannya sendiri, dan mendapat laporan kalau pasien sudah menunggu.
***
Zein sudah kembali memasuki ruangan, dan membaca undangan yang diletakkan di mejanya. Ia meletakkannya kembali setelah membacanya, tapi kemudian dokter Tyas menelponnya.
“Dokter kesayanganku, apakah istri Dokter sudah pulang?”
“Sudah dari tadi, ada apa?”
“Saya mendapat undangan dari sebuah pabrik Farmasi.”
“Iya, sama. Masih besok Minggu.”
“Nanti kita berangkat sama-sama ya Dok?”
“Entahlah, aku belum bisa mengatakannya. Siapa tahu istriku akan ikut juga.”
“Oh, ya ampuun. Ya sudah. Aku berangkat sendiri saja.”
Hanya itu yang dikatakan dokter Tyas dengan kecewa.
Selesai jam tugas, Indras menelpon, bahwa ia akan siap di depan lobi dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Zein bersiap pulang. Ia melepaskan jas kerjanya, lalu membenahi barang-barangnya, kemudian keluar dari ruangan.
Di lobi, ia melihat mobilnya sudah diparkir. Sang istri pastinya ada di dalamnya.
Ketika ia turun, tiba-tiba dokter Tyas mengejarnya.
“Dokter kesayanganku, bolehkan saya numpang pulang?”
“Kamu tidak membawa mobil?”
“Tidak, tadi masuk bengkel, jadi daripada naik taksi, nebeng Dokter saja, boleh kan?”
“Boleh kok, silakan.”
Seseorang turun dari mobil Zein, mempersilakan dokter Tyas masuk. Dokter Tyas terkejut setengah mati. Ia tak mengira ada dokter Indras yang membawa mobil itu.
***
Besok lagi ya.