BIARKAN AKU MEMILIH 29
(Tien Kumalasari)
Penjaga itu urung membuka pintu. Lagi pula Adri majikannya tidak ada di rumah semua.
“Kalau Anda mau menghajarnya, lebih baik berhadapan dengan saya saja.”
“Kamu kan hanya tukang jaga malam. Tidak usah ikut campur. Yang aku cari Adri, bukan kamu.”
“Tuan Adri dan istrinya tidak ada di rumah. Anda ini siapa?”
“Aku Anton, dia pasti sudah mengenal aku. Ke mana dia?”
“Saya tidak tahu. Nyonya Adri punya banyak perusahaan. Mungkin ada di cabang yang lain, tapi saya tidak tahu.”
“Coba katakan mana saja cabang-cabangnya.”
“Saya tidak berwenang memberitahukan masalah perusahaan ataupun masalah pribadi kepada orang asing seperti Anda.”
“Kamu benar-benar membuat saya marah.”
“Silakan datang ketika tuan sudah ada di rumah. Atau saya akan panggil polisi saat ini juga?”
“Kamu bilang berani menghadapi aku, mengapa mau panggil polisi?”
“Saya tidak ingin menganiaya orang yang belum pernah saya kenal. Nanti saya justru kena pasal,” kata sang penjaga yang sangat yakin bisa menundukkan laki-laki sombong di depannya itu.
“Bilang pada majikan kamu. Dia itu pengecut busuk!” katanya sambil meninggalkan pintu, menuju ke arah mobilnya.
Penjaga malam itu sangat geram. Tapi orang itu sudah pergi. Ia heran ada orang ingin menghajar majikannya. Di saat malam pula.
“Apa aku harus menelpon tuan ya,” gumamnya ragu-ragu.
Ia sudah memencet nomornya, tapi kemudian dibatalkannya, karena hari sudah malam.
“Siapa sebenarnya orang itu. Tiba-tiba mau menghajar tuan? Belum tahu dia kalau tuan malah yang akan menghajarnya. Badannya kecil begitu, sombongnya bukan main."
Lalu penjaga itu kembali duduk di gardu penjagaan, mengutak atik ponselnya. Pastinya hanya main game untuk menghalau kantuk.
***
Sementara itu Nirmala dan Adri sedang saling berbincang mengenai apa yang Adri lakukan terhadap Dwi, dan Nirmala membiarkannya karena Adri selalu beralasan, bahwa Dwi adalah teman mainnya. Semasa kecil. Mereka bicara sambil tiduran, dalam suasana damai yang sangat manis.
“Aku kira kamu benar-benar menghamili perempuan itu.”
“Masa aku seburuk itu? Dia hanya sedang kalut, karena suaminya mau menikah lagi. Lalu saat periksa ke dokter tentang kesehatannya yang sepertinya terganggu, dokter menyatakan bahwa Dwi sedang hamil. Baru beberapa minggu entahlah aku lupa. Dia kalut dan ingin menggugurkannya. Tapi aku melarangnya. Apa aku salah, bayi itu kan tidak berdosa?”
“Tidak, kamu tidak salah.”
“Mengapa tiba-tiba kamu mengira dia hamil karena aku?”
“Aku mencurigai sikapmu yang berlebihan terhadapnya, lalu aku mendengar kamu bertelpon sama dia dan menyebut tentang hamil.”
“Lalu kamu mengira aku yang membuatnya hamil?”
“Kan aku sudah curiga dan merasa bahwa perhatianmu terhadap dia sangatlah besar.”
“Kalau aku berbuat selingkuh, aku tak akan berterus terang kepadamu, aku mau ngapain sama dia, mau mengantar ke dokter, mau menungguinya di rumah sakit. Tidakkah kamu berpikir bahwa aku sangat jujur?”
“Aku juga heran ketika kamu mengatakan semuanya. Aku hanya berpikir kamu tak berperasaan dengan mengatakan itu semua.”
“Maaf Nirma, aku telah menyakiti kamu.”
“Apakah kamu sadar bahwa kamu sangat jarang mengucapkan kata maaf?”
“Benarkah?”
“Kamu terlalu angkuh dan sombong, sehingga sangat mahal dalam mengucapkan maaf. Padahal manusia banyak sekali berbuat salah, dan kata maaf itu terucap kadangkala meluncur begitu saja tanpa kita pikirkan, karena kata maaf adalah upaya untuk menetralisir sebuah kesalahan, walau hanya sedikit, walau tidak berhasil mendapatkan maaf dari orang di mana kita meminta maaf.”
“Rupanya aku harus belajar banyak dari kamu, Nirma.”
“Tidak Adri, kamu adalah suami yang baik, hanya terkadang keras kepala.”
“Kamu tahu mengapa tiba-tiba aku bisa mengucapkan kata maaf ? Aku sangat mencintai kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku merasa kalut ketika tiba-tiba kamu ingin pergi.”
“Terima kasih telah mencintai aku yang sebenar-benarnya Adri.”
“Kenapa aku menyusul kamu ke sini, karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan, sehingga sikapmu sangat dingin terhadapku. Harusnya kamu berterus terang mengatakan apa yang sebenarnya kamu rasakan, sehingga tidak membuat diri kita masing-masing merasa tersiksa.”
“Itu benar.”
“Kamu itu wanita yang pintar, tapi bodoh dalam mengelola perasaan.”
Nirmala tertawa mendengar ungkapan kata suaminya.
“Dan kamu … berbuat sesuatu tanpa tahu bagaimana perasaan istrimu. Ya kan?”
“Karena aku tidak tahu perasaan kamu, dan karena aku merasa tidak bersalah.”
“Sekarang sudah malam, ayo kita tidur.”
“Sebentar, aku melihat tadi seperti ada panggilan?”
“Siapa Dri?”
“Dari si Pur, penjaga malam. Tapi sepertinya hanya sekilas, barangkali salah pencet.”
“Siapa tahu ada yang penting tapi dia tak jadi mengatakannya. Kita meninggalkan rumah dengan hanya ada bibik di sana.”
“Baiklah, akan aku telpon dia.”
Penjaga malam itu terkejut pastinya, karena sang tuan majikan menelponnya.
“Ya, Tuan.”
“Kamu tadi menelpon ya?”
“Maaf Tuan, tiba-tiba saya sadar, sudah malam, mungkin mengganggu Tuan.”
“Ada apa? Tidak terlalu penting, atau sangat penting?”
“Tuan, tadi ada seorang laki-laki badannya kecil, datang mencari Tuan.”
“Siapa? Malam-malam begini?”
“Dia bilang namanya Anton.”
“Ada keperluan apa? Dia mengatakan atau tidak. Malam-malam datang pasti ada yang penting. Harusnya kamu meneruskan menelpon tadi.”
“Tuan, dia datang marah-marah. Dia bilang mau menghajar Tuan.”
“Kenapa?” tanya Adri yang pastinya terkejut.
Dia tahu laki-laki yang digambarkan si Pur adalah suami Dwiyanti. Mengapa dia marah-marah sementara dia justru memberi tahu tentang kehamilannya karena berharap mereka bisa baikan?
“Dia tidak mengatakan apa-apa, Tuan. Marah-marah aja. Ketika saya bilang bahwa Tuan dan Nyonya sedang pergi, dia bertanya kemana.”
“Kamu jawab apa?”
“Saya bilang tidak tahu. Karena memang saya tidak tahu.”
“Lalu apa?”
“Saya ancam dia akan saya laporkan ke polisi, lalu dia pergi. Kelihatannya marah sekali pada Tuan. Seandainya benar-benar saya hadapi dia, sayalah yang akan menghajar dia. Badannya kecil, sombong amat.”
“Ya sudah. Lain kali kalau ada apa-apa langsung telpon saya ya.”
“Baik, Tuan.”
Nirmala memperhatikan ucapan-ucapan suaminya di telpon, tapi tidak mengerti sepenuhnya.
“Ada apa?”
“Aku bingung. Si Pur bilang Anton datang mencari saya sambil marah-marah, dan mengatakan kalau akan menghajar saya.”
“Anton itu siapa?”
“Suami Dwi.”
“Kamu bilang memberi tahu dia kalau istrinya hamil agar mereka bisa baikan. Kok dia marah-marah sama kamu?”
“Entahlah, belum jelas. Pasti ada sesuatu yang serius. Apa dia mencari istrinya, lalu istrinya sembunyi, lalu …. entahlah, mengapa dia.”
“Besok akan aku telpon dia dan bicara baik-baik.”
***
Anton sampai di rumah tengah malam, dan ibunya yang membukakan pintu. Semenjak Dwi pergi, sang ibu pindah ke rumah Anton, dan merencanakan tentang pernikahan Anton dengan wanita pilihan ibunya. Menurut sang ibu, harus segera dilakukan karena wanita itu sudah hamil.
Tapi ketika Anton mengatakan bahwa Dwi juga hamil, sang ibu tetap ingin agar Anton menceraikan Dwi. Pada dasarnya sang ibu tidak suka pada Dwi, karena semenjak Anton menikahi Dwi, sang ibu merasa dikesampingkan. Ia merasa Anton terlalu mencintai istrinya dan melupakan ibunya.
“Kamu selesaikan segera perceraian kamu. Wanita itu memang bukan perempuan baik-baik. Berani menentang suami itu bukan perempuan baik.”
Tetapi Anton nekat menemui Dwi. Kehamilan Dwi membuatnya bahagia. Ia bermaksud memboyong Dwi pulang, dengan janji akan menceraikan wanita pilihan ibunya itu setelah melahirkan anaknya. Namun apa dikata, Dwi mengatakan bahwa yang dikandung bukan anaknya.
“Kamu jadi menemui perempuan itu?”
Anton tak menjawab. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Wajahnya tampak lelah.
“Anton, ada apa kamu sebenarnya?”
“Bu, sebenarnya aku sangat mencintai Dwi. Aku ingin mengajaknya pulang karena dia mengandung anakku.”
“Lalu bagaimana dengan Wati calon istri kamu? Keluarga mereka sudah bersiap merayakan pernikahan kalian.”
“Maksud Anton, nanti kalau sudah melahirkan, Wati akan Anton ceraikan.”
“Apa maksudmu? Jangan semena-mena kamu. Kamu membuatnya hamil, lalu akan menceraikannya?”
“Sekarang tidak jadi.”
“Kamu bicara apa sih?”
“Anton akan tetap menikahi Wati.”
“Nah, begitu, anak ibu yang baik. Lalu kenapa tiba-tiba kamu tidak jadi mengajak Dwi pulang? Ibu sih senang, tapi kenapa?”
“Bayi yang dikandung bukan anak Anton.”
Sang ibu tertawa terkekeh-kekeh karena senangnya.
***
Besok lagi ya,