Thursday, February 26, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 19

 BIARKAN AKU MEMILIH  19

(Tien KUmalasari)

 

Nirmala masuk ke kamarnya dan tak lagi mendengarkan Adri yang sepertinya masih menelpon. Tapi sepotong kalimat yang didengarnya cukup menggetarkan hatinya. Sejauh apa hubungan suaminya dan Dwi, yang katanya hanya teman masa kecil, tapi ternyata dia hamil? Nirmala luluh dalam keterkejutan dan rasa gundah. Ini namanya perselingkuhan. Ia ingat kata sang ayah ketika dirinya mengutarakan rasa cintanya pada Adri. Sang ayah sangat tidak setuju. Ia melihat sesuatu yang buruk dan akan terjadi pada rumah tangganya. Dan inilah sesuatu itu.

Nirmala masuk ke kamar mandi, tapi tidak segera mandi. Air matanya bercucuran, bersaing dengan kucuran air kran yang dipakainya mengisi bathup yang akan dipakainya. Selama berumah tangga, baru kali ini Nirmala mengucurkan air mata. Baru kali ini NIrmala merasa sedih dan menyesal.

“Keadaan sudah sangat buruk, haruskah aku minta cerai?” gumamnya lirih, dan air mata itu masih tetap saja mengalir.

Tapi kalau sampai dia bercerai, apa yang akan dikatakan oleh orang tuanya?

“Tidak, aku tak ingin menunjukkan pada bapak dan ibu tentang buruknya rumah tanggaku. Aku ingin mereka melihat bahwa hidupku bahagia,” katanya sambil masuk ke dalam bathup dan berendam dalam air hangat, lalu membasuh wajahnya yang basah oleh air mata.

Nirmala menghitung-hitung, jalan mana yang akan ditempuh setelah mendengar sepotong suara suaminya di telpon. Apakah bercerai adalah hal terbaik yang harus dilakukan? Tapi bagaimana dengan orang tuanya. Tapi akan kuatkah dirinya menghadapi hidup berumah tangga dengan segala kepalsuan yang dilakukan suaminya? Sambil berendam itu ia mereka-reka tentang apa yang akan dikatakan suaminya. Selama ini hubungannya dengan Dwi selalu diceritakannya. Lalu setelah Dwi hamil, apakah Adri juga akan berterus terang kepadanya?

Sambil menguatkan hatinya, Nirmala menunggu apa yang nanti akan dikatakan sang suami.

Tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk keras dari luar.

“Nirma, kamu masih mandi?”

Nirmala membasuh wajahnya berkali-kali. Tampaknya suaminya sudah menunggu dirinya dan ingin mengatakan sesuatu.

“Nirma!”

“Ya, aku sudah selesai.”

Nirmala meraih handuk yang tersampir untuk membalut tubuhnya, lalu beranjak keluar. Sang suami masih di luar pintu, menegurnya.

“Lama sekali mandinya.”

“Pengin segar, jadi berlama-lama.”

Nirmala ingin berlalu, tapi Adri menghentikannya. Aroma wangi dari tubuh sang istri yang menguar, dan balutan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya, membuatnya menarik tangan sang istri.

Nirmala tahu apa yang diinginkan Adri, tapi tiba-tiba ia merasa jijik. Ia mendorong tubuh suaminya.

“Jangan dekat, aku sedang menstruasi,” kemudian Adri membiarkannya menjauh, dan masuk ke dalam ruang ganti.

Adri keluar kamar dengan kecewa.

Dan nyatanya sampai malam hari, Nirmala menunggu, Adri tak bercerita apapun kepada dirinya tentang Dwi, seperti yang sering dia lakukan. Oh ya, tentu saja ia malu mengatakannya. Ini kan tentang Dwi yang hamil. Bukan main suaminya ini. Dibalik sikapnya yang manis, tersembunyi perbuatan yang menjijikkan.

Hari itu Nirmala tidak makan malam dengan alasan badannya sedang tidak enak. Ia tak mengatakan apapun pada suaminya. Ia juga tak menunjukkan sikap marah atau kesal. Rupanya Nirmala sedang menunggu tentang apa yang ingin dilakukannya. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkannya. Mana yang lebih berat. Menjaga hatinya sendiri, atau menjaga perasaan orang tuanya? Orang tuanya pasti akan sedih kalau melihat rumah tangganya yang retak. Atau juga dia sambil dimarah-marahi karena dulu tidak menurut pada kata-katanya.

Malam itu Nirmala tidur di kamar lain. Ketika Adri bertanya, ia hanya tak ingin berdekatan dengan sang suami karena sedang ‘berhalangan’.

***

Hari itu Dwi yang sudah masuk kerja mengeluh tentang kehamilannya.

“Kalau kamu hamil, kamu tidak bisa bercerai kan?”

“Kehamilan ini akan aku sembunyikan. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bercerai.”

“Kalau kamu bicara tentang kehamilan ini, bisa jadi suami kamu membatalkan keinginannya menikah lagi.”

“Biarkan saja, aku lebih baik bercerai.”

“Hidup sendirian dalam keadaan hamil tentu tidak enak. Lebih baik ada suami yang akan mendukung dan menjaga kamu.”

“Aku tidak butuh dukungan dia. Ada kamu di dekat aku, itu sudah cukup.”

“Ini sangat berbeda.”

“Pokoknya aku sudah meminta dia mengurus perceraian, dan dia sudah menyanggupinya. Semoga urusannya segera rampung.”

“Bagaimana keadaan kamu sekarang, apa sudah lebih baik?”

“Sangat baik. Kakiku sudah tidak terasa nyeri, setelah sebelumnya tampak agak bengkak. Aku sebenarnya ingin segera pindah ke kantor cabang saja. Kelamaan di sini berarti akan lebih sering bertemu suami aku.”

“Kurang seminggu lagi, bertahanlah.”

“Aku tidak tahan. Tapi sebenarnya yang membuat aku sedih adalah berjauhan dengan kamu.”

“Akan banyak yang akan menjaga kamu di sana. Teman-teman kita baik semua.”

“Entahlah. Apakah nanti kamu akan mengantarkan aku saat aku pindah?”

“Mulai sekarang kamu bisa mulai bebenah. Mana yang akan kamu bawa.”

“Kalau begitu bisakah besok aku melihat rumah yang akan aku pakai di sana?”

“Sekalian bawa barang-barang kamu. Kalau sudah siap boleh ke sana sebelum mulai bekerja, sehingga saat bekerja tidak akan ada yang mengganggu.”

“Baiklah, besok akan aku suruh bibik menata barang-barang yang akan aku bawa. Setelah siap aku akan membawanya ke sana dulu.”

“Itu bagus.”

“Kamu mengantarku kan?”

“Aku harus mengantar kamu?”

“Tolong Adri, kita bisa berangkat sore setelah pulang kerja. Masa aku yang masih belum bisa berjalan cepat ini akan berangkat sendirian?”

“Kamu bilang akan membawa bibik pembantu. Bawa aja bibik, dan suruh dia menunggu di sana sampai kamu benar-benar pindah.”

“Tapi kita akan lama tidak bertemu, aku ingin kamu mengantarkan aku melihat rumahnya.”

“Kita atur dulu waktunya.”

“Benar ya Dri, antar aku melihat rumahnya dulu, sambil membawa sebagian barangku. Sambil menunggu aku pindah, biar bibik membersihkan dan mengatur rumahnya. Aku belum bisa membayangkan, rumahnya seperti apa.”

“Nanti aku bilang dulu pada istriku.”

“Yaah, mana mungkin dia mengijinkan.”

“Istriku tidak pernah punya pikiran jelek, pasti dia mengijinkan aku mengantar kamu, hanya saja melihat waktunya.”

“Kalau hari Minggu?”

“Biasanya kalau Minggu aku mengajak Tama jalan-jalan, bersama Nirmala juga. Jadi sebaiknya sepulang kerja. Tapi bagaimanapun aku harus bicara dengan istri juga. Atau begini saja, kamu benahi barang-barang kamu, aku akan minta salah satu karyawan untuk menemani kalian melihat-lihat. Aku akan mengantarkan kamu ketika kepindahan kamu bulan depan nanti.”

“Nggak jadi besok sambil membawa barang-barang?”

"Minggu ini tidak bisa, aku lupa, pak Bondan akan rapat di sini dengan seluruh staf, tapi harinya aku tidak tahu.”

“Makanya sepulang kantor. Aku kan belum bisa menyetir sendiri.”

“Makanya akan ada yang mengantar kamu.”

“Kapan sih rapatnya?”

“Belum tentu. Pak Bondan sering tiba-tiba mengatur jadwalnya. Biasanya mulainya sore, sampai malam, dan aku tidak tahu kapan. Sudahlah, daripada aku pusing memikirkannya, aku suruh orang untuk mengantarkan kamu saja.”

Dwi terpaksa diam dengan perasaan kecewa.

***

Berhari-hari sesudahnya, diantara Adri dan Nirmala tak ada yang bicara tentang Dwi. Mungkin bagi Adri tak ada yang penting dibicarakan dengan istrinya, karena Dwi sudah bersiap untuk pindah ke kota lain, dan ia menganggap sang istri bisa memaklumi kalau dia sering membantu Dwi. Bukankah Nirmala sudah tahu kalau Dwi adalah teman masa kecil, jadi tak ada yang perlu dicurigai. Kalau saja Adri tahu bahwa kehamilan Dwi yang terlontar dari mulutnya beberapa hari yang lalu, telah membuat sang istri mengira bahwa hubungannya dengan Dwi sudah sampai ke titik yang paling tajam. Nirmala salah paham tapi tidak segera membicarakan dengan sang suami.

Nirmala diam, hanya untuk menjaga agar rumah tangganya kelihatannya baik-baik saja. Sekali dia melontarkan kemarahannya karena sang suami menghamili wanita lain, maka rumah tangganya dipastikan akan selesai saat itu juga. Lalu orang tuanya akan sedih, akan kecewa. Kecuali itu ia juga akan disalahkannya.

Perubahan sikap Nirmala membuat Adri bertanya-tanya.

“Nirma, mengapa sikapmu kelihatan aneh?”

“Aneh? Apakah aku bersikap aneh? Perasaan biasa-biasa saja kok. Sejak dulu aku kan memang tidak banyak bicara?”

“Benar, tapi wajah kamu selalu tampak kusut.”

“Aku kelelahan. Di kantor banyak pekerjaan.”

“Kalau lelah, kamu kan bisa pulang lebih awal, dan banyak istirahat.”

“Ya, nanti aku pikirkan.”

“Oh ya, dua hari lagi Dwi sudah akan pindah kantor.”

“Aku sudah tahu,” jawab Nirmala singkat.

“Dia minta agar aku mengantarkan kepindahannya.”

"O, ya … silakan saja. Berbuat baik itu kan pekerjaan mulia.”

Dan bodohnya Adri ia merasa bahwa sang istri menganggap bahwa dirinya laki-laki  yang baik hati.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, February 25, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 18

 BIARKAN AKU MEMILIH  18

(Tien Kumalasari)

 

Adri menatap Dwi yang tampak kebingungan.

“Mengapa kamu kelihatan panik? Bukankah itu anugrah, seandainya perkiraan dokter itu benar?”

“Adri, mengapa kamu mengatakannya sebagai anugrah, aku ingin cerai, kalau kehamilan ini diketahui, akan sulit bagiku menggugat cerai.”

“Kamu lupa ya, suami kamu ingin menikah lagi karena mengira kamu tidak bisa hamil? Nah, sekarang ternyata kamu hamil, berarti kamu bisa menolak keinginan suami kamu untuk menikah lagi.”

“Apa? Tidak. Aku tidak mau.”

“Bagaimana kamu ini. Ternyata kamu bisa hamil, itu keinginan suamimu dan mertua kamu kan?”

“Aku tetap minta cerai.”

“Dwi, sebenarnya akar permasalahan itu kan ada di kamu, tentang kamu yang dianggap tidak bisa hamil. Lhah kalau ternyata kamu bisa hamil, berarti mertua kamu tidak perlu menginginkan adanya menantu baru.”

“Masalahnya aku terlanjur kehilangan rasa cinta aku pada suami. Jadi aku tetap akan minta cerai, atau menggugat cerai. Masalah kehamilan, kalau benar, akan aku rahasiakan.”

“Dwi, sebaiknya_”

“Aku akan ke dokter kandungan dulu.”

“Maaf Dwi, tadi aku ditelpon dari kantor, ada tamu menunggu aku, kalau aku harus menemani kamu ke dokter kandungan, tamuku kelamaan menunggu.”

“Baiklah, aku tidak usah kamu temani. Hasilnya nanti aku kabari.”

“Nggak apa-apa ya, sendirian?”

“Nggak apa-apa. Besok kalau aku sudah jauh dari kamu, apapun juga aku harus menjalaninya sendiri.”

“Ya sudah, kamu hati-hati ya. Atau kamu menelpon pembantu kamu saja, biar dia menyusul kamu kemari.”

“Iya, gampang. Sekarang pergilah. Urusan kantor barangkali lebih penting,” kata Dwi yang langsung duduk lalu mulai menelpon pembantunya, sementara Adri langsung keluar untuk kembali ke kantor.

***

Dwi menunggu di klinik dokter kandungan, dengan perasaan tak menentu. Seperti dikatakannya tadi kepada Adri, bahwa ia tidak lagi mencintai suaminya. Rasa cinta itu hilang perlahan sejak suaminya menelpon dan kemudian mendorongnya terjatuh sehingga kakinya sakit.

“Aku tidak sudi kembali pada dia. Aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Aku harus bercerai darimu,” kata batinnya berkali-kali.

Tiba-tiba saja Dwi merasa nyaman berada di dekat Adri. Adri yang selalu melindungi, Adri yang selalu ada setiap kali mendengar keluhannya. Terkadang Dwi berpikir, apakah sebenarnya Adri mencintainya, tapi terhalang oleh pernikahannya? Tapi mengapa Adri sering memuji-muji istrinya? Untuk menutupi rasa hati yang sebenarnya? Bisa jadi begitu. Bukankah aku juga cantik dan menarik? Banyak laki-laki suka padaku, kemungkinan demikian juga Adri. Seandainya itu benar, mengapa tidak boleh? Adri juga sebenarnya suka padanya. Dan menikah lagi kan tidak dilarang? Kalau benar istri Adri baik, pasti ia akan mengijinkan suaminya menikah lagi.

Pikiran Dwi lari ke mana-mana. Setan sedang mengipasi jiwanya dan bercerita tentang nikmatnya dosa. Dan Dwi adalah perempuan rapuh yang mudah tergoda. Kebaikan Adri membuatnya tergila-gila. Bukankah sejak kecil mereka dekat? Bukankah mereka sering main petak umpet, berlarian kesana kemari lalu jatuh berguling-guling bersama-sama? Manisnya masa lalu sangat menggodanya. Ingin sekali ia kembali berguling-guling di pasir pantai, bersama-sama. Apa??? Dwi memukul kepalanya berkali-kali.

“Tidak … tidak … mengapa aku begini?”

Seorang ibu yang duduk tak jauh darinya bertanya, melihat ulahnya yang mengherankan.

“Ada apa Bu?”

“Apa?” Dwi terkejut sendiri, tak mengira ada yang melihat kelakuannya.

“Ibu memukul-mukul kepala Ibu, apakah terasa sakit?” tanya ibu itu lagi.

“Tidak, tidak … ini … kepala saya tiba-tiba terasa sangat sakit.”

“Ibu sedang hamil?”

“Entahlah, baru mau periksa.”

“Bawaan orang hamil memang begitu. Ini kehamilan pertama?”

“Saya belum tahu apakah saya hamil atau tidak. Seandainya benar hamil, ini kehamilan saya yang pertama.”

“O, baru mau periksa ya. Semoga Ibu benar-benar hamil. Rasa pusing itu biasa pada awal kehamilan, Ibu tampak sangat gelisah,” katanya lagi sambil menjauh.

Dwi merasa kesal. Wanita itu malah mendoakan agar aku bear-benar hamil? Huhh, tidak lah. Semoga tidak.

“Nyonya Dwiyanti,” panggilan itu mengejutkannya. Ia segera berdiri dan masuk ke dalam ruangan periksa.

***

Bibik pembantu sudah datang. Tadi nyonya majikan menyuruhnya menemui di klinik kandungan, jadi ia langsung pergi ke sana. Tapi ia tak melihat sang nyonya ada di sana.

“Apakah nyonya sudah pulang ya?”

Bibik melongok ke sana kemari, lalu bertanya pada orang di dekatnya.

“Bu, apakah nyonya saya sudah pulang ya?”

“Nyonya siapa ya?”

“Nyonya Dwi … Dwiyanti … “

“O, sepertinya sedang ada di dalam.”

“O, sedang diperiksa. Ya sudah, terima kasih Bu, saya tunggu  di sini dulu,” kata bibik sambil duduk.

“Mengapa juga, nyonya periksa ke dokter kandungan? Apa nyonya hamil ya? Kalau begitu tuan Anton itu salah. Dikiranya nyonya tidak bisa hamil. Lha tapi hamil sama siapa ya? Jangan-jangan hamilnya sama tuan ganteng yang kemarin menjemput itu? Waduh, seneng dong, pasti segera dinikahi,” kata batin bibik seenaknya.

Dan pemikiran itu langsung saja dilontarkan ketika sang nyonya majikan keluar dari ruang periksa.

“Apa benar Nyonya hamil?”

“Iya Bik, baru dua minggu,” jawab Dwi dengan wajah muram.

“Bagus sekali Nyonya, segeralah nyonya bilang sama tuan ganteng itu, supaya segera menikahi,” kata bibik seenaknya.

“Apa maksudmu?”

“Kalau dia membuat nyonya hamil, harusnya dia segera menikahi kan?”

“Maksudmu apa? Ngomongnya jangan keras-keras, pada ngelihatin kesini tuh,” kata Dwi sambil menarik si bibik pergi.

“Yang nyonya kandung itu, anak tuan ganteng yang menjemput nyonya kemarin kan?” kata bibik lebih pelan, sambil menuntun nyonya majikannya berjalan keluar rumah sakit.

“Ngawur kamu itu. Orang tidak ngapa-ngapain bagaimana bisa menghamili?” jawab Dwi suram.

“Waduh, bukan dia ? Jadi ini benih tuan Anton ?”

“Jangan bilang pada dia kalau aku hamil, nanti susah kalau aku minta cerai.”

“Tapi nyonya harus bersenang hati. Nyonya tidak mandul seperti apa yang dikatakan tuan Anton dan ibunya.”

“Entahlah, aku tidak tahu, haruskah aku senang, atau sedih."

”Lho, Nyonya kok bilang begitu. Harus senang dong.”

“Ya sudah, tolong panggilkan taksi, kamu langsung pulang, mampir ke kantor aku, aku harus kembali ke kantor. Tapi kepalaku pusing sekali nih.”

“Nyonya tidak diberi obat?”

“Diberi resep, beli di luar saja, aku nggak bisa lama-lama di sini.”

“Ya sudah, saya langsung panggil taksi untuk pulang, Nyonya tidak usah kembali ke kantor saja ya.”

“Ya, cepat panggil, aku duduk di situ dulu.”

“Bibik mengantarkan nyonya majikannya duduk di bangku lobi, lalu dia meminta ponsel sang nyonya untuk memanggil taksi.

***

Dwi sedang berbaring di kamarnya, ia menunggu Adri menelpon untuk menanyakannya, tapi ponsel Adri tidak aktif. Ketika ia menelpon sekretarisnya, sang sekretaris mengatakan kalau pak Adri sedang ada tamu penting.

“Siapa tamunya?”

“Tamu bisnis. Ibu masih di rumah sakit?”

“Aku sudah pulang. Nanti kalau sudah selesai menemui tamunya, tolong bilang aku tidak kembali ke kantor, kepalaku pusing sekali,” pesan Dwi kepada sekretaris Adri.

“Baiklah Bu, nanti akan saya sampaikan.”

Dwi kembali berbaring, agak kecewa karena tidak bisa segera mengabarkan kehamilan itu kepada Adri.

Ketika ia hampir tertidur, bibik yang disuruh membeli obatnya di apotik sudah datang.

“Nyonya, ini obatnya.”

“Ambilkan yang obat pusing, biar aku minum dulu.”

“Nyonya tidak makan terlebih dulu?”

“Tadi aku sudah makan di kantor. Ambilkan obatnya, dan siapkan segelas air putih.”

Bibik segera menyiapkan air putih yang diminta, lalu membantu meminumkan obatnya. Ada dua resep yang tadi diambil bibik, yaitu obat dari dokter bedah tulang serta dari dokter kandungan. Tapi Dwi minta yang obat pusing dulu, karena kepalanya terasa semakin berdenyut. Barangkali karena Dwi banyak pikiran, jadi pusingnya bertambah parah.

***

Sore hari itu Adri langsung pulang ke rumah. Karena kesibukannya seharian itu, maka ia lupa menanyakan Dwi tentang hasil pemeriksaan di dokter kandungan itu.

Ia langsung mandi dan bercanda dengan Pratama.

Nirmala heran, dua hari ini Adri pulang lebih cepat dari dirinya. Ia senang melihat Adri bercanda dengan anaknya.

Ketika ia berlalu setelah menyapa Tama ala kadarnya, ponsel Adri berdering. Nirmala hanya melihatnya sekilas, tapi ada ucapan awal suaminya yang didengarnya dan membuatnya gemetar.

“Kamu benar-benar hamil?” itu suara Adri, cukup keras.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, February 24, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 17

 BIARKAN AKU MEMILIH  17

(Tien Kumalasari)

 

Anton menunggu di teras, sementara pendatang itu adalah Adri, yang mendekat tanpa ragu. Ia datang untuk menolong, atas permintaan Dwi.

“Selamat pagi,” sapa Adri.

“Pagi,” jawab Anton dingin.

“Saya …._”

“Anda siapa?” potong Anton sebelum Adri melanjutkan bicara.

“Saya teman Dwi, sekantor.”

“Adri, kamu sudah datang?” tiba-tiba Dwi keluar, berjalan tertatih dengan kruk sebagai penyangga kakinya.

“Jadi kamu pergi dengan laki-laki ini? Kamu bersikeras minta cerai, karena sudah punya seseorang yang lebih kamu sukai?”

“Itu bukan urusan kamu lagi, setelah aku bilang minta cerai,” kata Dwi yang langsung keluar, melewati Anton yang berdiri mematung.

“Adri, bantu aku turun,” katanya sambil berusaha turun dari tangga teras.

Adri segera mendekat, membantu Dwi turun, lalu Dwi melangkah sendiri ke arah mobil.

Anton menatapnya dengan mata berapi-api.

“Kamu masih istri aku, tapi kamu sembarangan berhubungan dengan laki-laki.”

“Dia ini direktur perusahaan yang ingin membantu aku,” teriak Dwi sambil memasuki mobil. 

Adri mengambil kruknya dan meletakkannya di bagian belakang mobil, lalu dia mengangguk ke arah Anton.

“Terima kasih, saya hanya membantu dia karena dia yang meminta.”

Adri menuju ke arah mobil, duduk di belakang kemudi, lalu menjalankan mobilnya keluar dari halaman.

Anton membanting kakinya dengan marah.

“Bik, apakah sudah lama nyonyamu berhubungan dengan laki-laki itu?”

“Saya melihatnya pertama kali ketika dia datang saat nyonya kesakitan, lalu dia membawanya ke rumah sakit. Setelah itu saya tidak pernah melihatnya datang kemari.”

“Ya sudah. Kamu sudah tahu apa yang terjadi kan?”

“Sedikit Tuan, saya hanya mendengar dari jauh dan tidak berani bertanya.”

“Nyonyamu itu tetap akan aku jadikan ratu di rumah ini. Tapi aku harus membawa istri baru yang dipilihkan ibu. Hanya saja dia tidak mau.”

“Maaf Tuan, biasanya perempuan itu tidak ada yang mau dimadu. Kalaupun ada, seribu satu.”

“Baiklah, nanti kalau dia mau pergi dari sini ya terserah saja. Tapi kamu tetap di sini melayani istri baruku. Lakukan seperti kamu melayani nyonyamu sekarang ini.”

“Tuan. Mohon maaf, nyonya sudah meminta saya untuk mengikutinya ke manapun nyonya pergi.”

“Kamu mau?”

“Bagaimana lagi tuan, saya sudah lama melayani nyonya.”

“Bodoh. Nanti aku tambah gaji kamu.”

“Maaf Tuan.”

“Dasar orang kampung. Mosok gaji besar tetap ditolak?”

“Maaf Tuan.”

Akhirnya Anton pergi dengan uring-uringan.

***

Adri mengendarai mobilnya pelan. Ada perasaan tidak enak ketika bertemu laki-laki yang pastinya adalah suami Dwi.

“Itu tadi suami kamu?”

“Calon mantan,” jawab Dwi singkat.

“Pasti dia mengira aku ada hubungan denganmu. Agak tidak enak juga rasanya. Tanggapannya terasa kaku. Pandangannya seperti menuduh,” omel Adri.

“Mengapa? Memangnya kita harus peduli tentang apa yang dia pikirkan?”

“Ya tidak enak, nanti dikira aku menjadi orang ketiga.”

“Bukan kamu, tapi dia yang menghadirkan orang ketiga.”

“Kamu tidak menyesal ingin bercerai darinya?”

“Mengapa harus disesali? Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa pada dia. Aku juga tidak akan peduli apa yang akan dia lakukan. Itu sebabnya aku ingin segera pindah dari rumah itu.”

“Bukankah kamu juga berhak atas rumah itu? Harusnya kamu tidak usah pergi.”

“Aku? Aku tidak peduli dengan harta. Aku tidak sudi hidup bersama dalam suasana yang tidak nyaman. Menurut kamu apakah aku harus menerima perempuan yang....dan memperebutkan cinta Anton? Seperti tidak ada laki-laki lain saja,” kata Dwi sengit.

“Apa benar kamu tidak mencintai suami kamu lagi?”

“Tidak ada cinta lagi. Tidak ada. Dan tolong segera carikan aku kontrakan ya Dri, kalau bisa yang dekat kantor.”

“Ya, nanti kita bicara lagi. Ada hal yang perlu kita bicarakan nanti.”

“Semoga bukan karena istrimu yang marah karena aku menelpon kemarin,” kata Dwi khawatir.

“Bukan, istriku tidak marah. Dia bukan tipe wanita yang suka menuduh sembarangan. Dia tahu suaminya orang baik,” kata Adri sambil tersenyum.

“Istri yang baik,” kata Dwi, agak sedikit sinis. Tiba-tiba ada rasa tidak suka ketika mendengar Adri selalu memuji-muji istrinya.

“Benar. Dia memang baik.”

Dwi ingin mengatakan sesuatu, tapi mobil Adri sudah memasuki halaman kantor.

***

Adri membantu Dwi turun, lalu Dwi berjalan sendiri menuju ruangannya. Tapi kemudian Adri menghentikannya.

“Kita ke ruanganku dulu,” kata Adri ketika melihat Dwi ingin berbelok ke ruangannya sendiri.

“Oh, kita mau bicara sekarang?”

Adri mendahului Dwi menuju ke ruangannya, setelah itu barulah dia duduk, diikuti Dwi setelah dengan susah payah meletakkan kruknya.

“Serius amat?”

“Maaf Dwi, ini harus aku katakan. Tapi lebih dulu bacalah surat ini,” kata Adri sambil mengambil sebuah amplop, diletakkannya di depan Dwi.

“Apa ini?” tanya Dwi sambil membuka amplopnya. Wajahnya berubah pias setelah membacanya.

“Aku dipindahkan?”

“Ini ditanda tangani oleh direktur utama, kemarin aku dipanggil untuk ini.”

“Apakah pekerjaanku sangat buruk?”

“Bukan, kantor cabang membutuhkan orang seperti kamu.”

Tiba-tiba air mata Dwi berlinang. Ada sedih membayang pada wajahnya.

“Apakah kamu yang mengusulkan ini semua? Karena kamu keberatan dengan semua permintaan aku?” suaranya bergetar.

“Dwi, jangan salah sangka. Aku tidak tahu semua ini. Kemarin aku dipanggil karena pak Bondan sudah memutuskan. Aku tidak bisa menolaknya karena alasannya adalah di kantor cabang dibutuhkan orang seperti kamu. Tolong jangan salah sangka."

“Dri, apa kamu tahu bahwa aku sangat sedih karena berjauhan dari kamu?” air mata Dwi sudah menetes. Adri mengambilkan tissue, diberikannya kepada Dwi.

“Mengapa kamu menangis? Kamu mendapat kedudukan yang sama. Di sana sudah ada tempat untuk kamu tinggal. Jadi kamu tidak usah mencari rumah atau kontrakan.”

“Itu sebabnya kamu tidak segera mencarikan rumah kontrakan untuk aku di sekitar kantor ini?”

“Sesungguhnya iya.”

“Mengapa kamu tidak mengatakannya sejak awal sehingga aku tidak berharap bisa selalu berdekatan dengan kamu?”

“Ini masalah dinas, aku tidak bisa mengatakannya di luar kantor. Lagipula waktunya tidak mengijinkan. Melalui telpon juga tidak pantas, jadi aku mengatakannya setelah kamu berada di kantor. Maaf Dwi, sekali lagi aku katakan bahwa ini keputusan direktur utama.”

"Bulan depan tinggal dua minggu lagi, sementara kakiku masih seperti ini,” keluh Dwi sambil mengusap air matanya.

“Dengan berjalannya waktu, semoga kakimu sudah lebih membaik.”

“Kamu tega, Dri,” lalu Dwi kembali menangis.

Adri merasa luluh. Ia tak pernah melihat Dwi sesedih itu. Bahkan ketika menceritakan perbuatan suaminya.

“Jangan begitu Dwi, walaupun jauh, kita masih akan bisa sering bertemu.”

“Sering bertemu?”

“Aku akan sering mengunjungi kamu.”

Mata Dwi melebar, menatap Adri tak percaya.

“Benarkah Adri?”

“Itu janjiku, karena kamu adalah sahabat baik aku. Jangan sedih begitu, aku tidak tega melihat perempuan menangis. Istriku tidak pernah menangis sih.”

“Kamu selalu membandingkan aku dengan istri kamu.”

“Tidak membandingkan. Kalian berbeda. Kamu rapuh, membuat aku trenyuh.”

“Apa boleh buat Dri, aku harus menerima keputusan ini, karena aku memang butuh pekerjaan, apalagi setelah cerai dari suami aku. Semoga kakiku segera pulih. Besok maukah mengantarkan aku untuk kontrol?”

“Ya, tentu saja. Nanti dari kantor saja, langsung. Apa ada yang kamu rasakan? Misalnya rasa nyeri atau tidak enak di luka dan bekas operasi itu?”

“Tidak, biasa kalau luka merasa nyeri. Aku hanya merasa sering pusing.”

“Nanti bilang kepada dokter tentang apa yang kamu keluhkan.”

“Aku merasa kuat karena ada kamu. Dan kamu berjanji akan sering mengunjungi aku.”

Adri tersenyum.

“Sekarang kembalilah ke ruangan kamu. Pasti staf kamu sangat prihatin dengan keadaan kamu.”

Dwi berdiri lalu meraih kruknya.

“Hati-hati,” pesan Adri.

***

“Tadi Dwi sudah masuk kantor.”

“Aku tahu, kamu tadi bilang akan menjemputnya kan?”

“Iya. Agak kasihan juga, dia sedih karena segera harus pindah ke kantor cabang.”

“Mengapa sedih? Bukankah dia masih mendapatkan fasilitas yang sama, termasuk rumah di mana dia bisa tinggal?”

“Benar. Tapi dia kan masih belum bisa berjalan normal.”

“Apa kamu membantu dia berjalan juga?” kali ini pertanyaan Nirmala agak bernada menyindir.

“Tidak, dia bisa berjalan sendiri dengan bantuan kruk.”

“Kapan dia mau pindah?”

“Perintahnya bulan depan, dia harus hati-hati tentang kakinya. Semoga saat pindah keadaannya sudah lebih baik.”

Nirmala terdiam. Sesungguhnya dia tak begitu suka Adri membicarakan Dwiyanti. Jadi ia lebih baik diam ketika Adri menceritakan juga perlakuan suami Dwi, yang tentu saja Adri mendengar dari cerita Dwi.

“Besok aku mengantarkannya kontrol.”

Lagi-lagi Nirmala tidak menanggapi.

***

Sesuai janjinya, hari itu Adri mengantarkan Dwi ke rumah sakit. Untunglah tidak banyak pasien sehingga mereka tidak terlalu lama menunggu.

Adri tiba-tiba bangkit dan keluar dari ruang periksa, karena ada telpon dari kantor. Ia berbicara agak lama, sampai kemudian terlihat Dwi keluar dari ruangan dengan wajah panik.

“Ada apa?”

“Dri, ketika aku bilang sering pusing, dokter menyarankan aku ke dokter kandungan. Apa ya maksudnya?”

“Dokter kandungan? Apa kamu mengandung?”

“Entahlah, tadi itu kan dokter bedah, entah mengapa dia berkata begitu. Katanya dia tidak bisa memastikan.”

***

Besok lagi ya.

Monday, February 23, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 16

 BIARKAN AKU MEMILIH  16

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala tak menjawab, bukankah Dwi adalah teman biasa? Maksudnya biasa yang bagaimana? Biasa mengganggu di saat istirahat? Biasa menelpon saat di rumah?

“Adri … “ dari seberang terdengar teriakan.

“Adri sedang memandikan anaknya,” jawab Nirmala datar.

“Oh, maaf. Apakah ini Ibu Nirmala?”

“Ya. Telpon nanti sebentar lagi. Okey?”

Lalu Nirmala menutup ponselnya, maksudnya ponsel Adri yang sedang dipegangnya. Lalu ia meletakkannya di tempat semula.

Nirmala termangu beberapa saat.

“Sejauh apa hubungan mereka?”

Lalu Nirmala masuk ke dalam kamarnya, dengan beribu pertanyaan memenuhi benaknya. Sang suami yang di rumah selalu menunjukkan cinta dan perhatian, terlebih kepada satu-satunya anaknya, ada hubungan dengan wanita yang katanya teman masa kecilnya? Kalau tidak, mengapa dia berani menelpon saat Adri sedang tidak ada di rumah? Karena sangat penting dan tidak bisa ditunda? Nirmala menyesal, seharusnya tadi dia bertanya, ada keperluan apa perempuan itu menelpon.

“Ah, sudahlah, aku harus segera mandi agar badan serta jiwaku terasa lebih segar. Masalah perempuan itu pasti akan segera terjawab ketika Adri berbicara dengannya nanti. Seandainya mau berbicara sih, seperti biasanya.

***

Begitu selesai berpakaian rumahan dan rapi, Nirmala sudah mendengar celoteh Pratama di ruang tengah. Nirmala keluar dari kamar, dan disambut teriakan nyaring si kecil.

“Mm..maaa ….”

“Sayang, kamu sudah wangi, ganteng, pintar ….” kata Nirmala sambil langsung merengkuh Pratama dalam gendongannya.

“Sama ibu dulu ya, bapak gantian mandi,” kata Adri yang kemudian berdiri, beranjak meninggalkan mereka.

Adri sama sekali tidak menoleh ke arah ponsel yang masih tergeletak di tempat yang sama. Nirmala tidak memperhatikannya ketika ponsel itu bergetar, dan ada tanda notifikasi pesan.

Ia mengajak Tama ke arah depan, lalu bercanda dan keduanya tertawa-tawa karena Tama merasa sangat senang, dan Nirmala terkekeh menyaksikan kelucuan anak semata wayangnya.

Mbak Rana yang ngelesot di dekat mereka ikut senang menyaksikan keakraban mereka. Pratama adalah anak yang berbahagia, karena dicintai sepenuhnya oleh ayah bundanya, walau keduanya sibuk seharian. Waktu luang sepulang kerja adalah waktu untuk Pratama, sehingga si kecil tidak pernah merasa kehilangan kebersamaan dengan kedua orang tuanya.

“Apakah Tama makan dengan baik, Mbak?” tanya Nirmala kepada mbak Rana.

“Makan lahap sekali Nyonya, bahkan setelah makan masih menghabiskan sebotol susu.”

“Jangan lupa selalu diberi buah yang sudah aku sediakan.”

“Tentu Nyonya. Dia juga senang. Tapi yang paling disukainya adalah alpukat.”

“Iya, itu juga buah yang sehat.”

Agak lama mereka bercanda, ketika terdengar Adri yang sepertinya sudah selesai mandi sedang berbicara di ponsel.

“Jangan dipikirkan. Tidak untuk waktu ini … aku sedang bersama istriku dan anakku. Tapi besok kita bisa bicara lagi. Ya, aku sudah melihat-lihat iklan tentang rumah yang akan dikontrakkan, tapi sebaiknya besok saja kita bicara…. tentu, aku akan selalu membantu kamu. Ya, tidak apa-apa, nanti aku bicara. Tidak, dia tidak marah. Ya sudah, tenang saja. Sampai besok.”

Pembicaraan itu berhenti, terdengar kemudian langkah Adri mendekati Nirmala.

“Tadi Dwi menelpon?”

“Ya, aku angkat, takutnya ada yang penting tentang sakitnya. Ternyata dia tidak mengatakan apa-apa. Maaf, aku lupa memberi tahu kamu.”

“Tidak apa-apa, dia sudah kirim pesan, juga sudah menelpon. Dia mengingatkan agar aku mencarikan rumah kontrakan, kalau bisa yang dekat kantor.”

“Dia, mencari kontrakan?”

“Dia akan bercerai dengan suaminya. Dia akan segera pindah rumah, karena mungkin suaminya akan mengajak istri mudanya tinggal di rumah itu.”

“Oh. Kamu yang diminta mencarikan rumah kontrakan?”

“Iya, tidak apa-apa kan?”

“Silakan saja, kalau cuma mencarikan rumah kontrakan.”

“Tapi aku kan belum bisa mencarikannya. Kamu tahu, dia akan dipindahkan ke kantor cabang di luar kota, tapi dia belum tahu, makanya dia ingin mencari kontrakan dekat kantor. Padahal kan dia mau pindah. Itu sebabnya aku akan mengajaknya bicara besok.”

“Jadi dia belum tahu?”

“Kan dia baru mau masuk kantor besok? Nekat saja dia, padahal kakinya masih dibebat dan dia hanya bisa berjalan dengan kruk.”

Nirmala hanya mengangguk.

“Kamu kan tahu, untuk yang ditugaskan di luar kota sudah ada tempat kost yang disiapkan untuk mereka?”

“Ya, aku tahu. Masalahnya kan dia ingin kost di dekat kantor sini.”

“Mm..maaaa,” Tama berteriak karena merasa tidak diperhatikan ketika ayah ibunya sedang bicara.

“Eeeh, maaf sayang … kamu diacuhkan ya? Baiklah, ayuk main lagi. Mana mobil kecil yang tadi Tama pegang?”

Tama menunjukkan sebuah mobil-mobilan yang dipegangnya, lalu meminta agar ibunya membuat mobil kecil itu berlari.

Tama berteriak-teriak senang.

Dering panggilan telpon terdengar lagi. Adri bergegas menghampiri.

“Oh … ya, nggak apa-apa, nanti aku jemput. Agak pagi, karena ada rapat jam delapan … ya, jangan khawatir."

Nirmala mendengarkan.

“ O, minta dijemput. Bukan main ….” kata batinnya.

***

Pagi hari itu Dwi sudah mandi, dibantu bibik pembantu yang setia melayaninya.

“Bik, besok kalau aku pindah rumah, kamu tetap ikut aku ya.”

“Nyonya mau pindah rumah?”

“Tentu saja, mana mungkin aku mau tetap tinggal di sini sementara suami aku akan membawa istri mudanya juga di rumah ini.”

“Nyonya sebagai istri tua, tentu lebih berkuasa, mengapa harus pergi?”

“Berkuasa apa? Tidak ada istri tua, aku tidak sudi dimadu.”

“Jadi Nyonya akan minta cerai?”

“Iya Bik, tapi bibik tetap ikut aku ya.”

“Iya Nyonya, biarpun saya menyayangkan kalau Nyonya benar-benar bercerai, tapi saya setia pada Nyonya.”

“Terima kasih, Bik.”

“Yang datang kemari dan mengantarkan Nyonya itu ganteng sekali. Lebih ganteng dari pada tuan.”

Dwi tertawa kecil.

“Dia memang ganteng. Bukan hanya ganteng, tapi juga baik hati. Aku akan sangat berbahagia kalau bisa menjadi istrinya.”

“Bibik doakan keinginan Nyonya bisa terlaksana.”

“Sayangnya dia sudah punya istri.”

"Waduh, sayang sekali Nyonya.”

“Dia itu teman masa kecilku. Sudah sejak masih kanak-kanak aku menyukai dia.”

“Mengapa Nyonya tidak menjadi istrinya saja, dan Nyonya malah memilih tuan, yang akhirnya malah harus bercerai?”

“Lama sekali kami terpisah, lalu tiba-tiba dia sudah menikah. Mau bagaimana lagi?”

“Sayang sekali ya Nyonya.”

“Tapi aku senang dia sangat perhatian sama aku. Siapa tahu, di dalam hatinya dia juga suka sama aku.”

“Benarkah? Tapi kan dia sudah punya istri?”

“Iya sih, tapi dia itu benar-benar perhatian sama aku. Ketika di rumah sakit, dia menunggui aku siang malam. Dia belum pulang kalau aku belum tertidur. Aku sangat bahagia kalau berdekatan dengan dia.”

“Tapi nyonya harus berhati-hati, kalau sampai Nyonya juga suka sama dia, namanya kan merusak rumah tangga orang?”

Tapi Dwi tak mengacuhkannya. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.

“Kamu nekat mau berangkat kerja?” tanya sang suami.

“Ya, memangnya kenapa?”

“Harusnya istirahat dulu beberapa hari."

”Terserah aku, mau kerja atau tidak. Mulai sekarang semuanya bukan urusan kamu.”

“Baiklah, kalau begitu ayuk aku antarkan.”

“Tidak usah, jangan repot-repot untuk aku.”

“Kamu kan masih istri aku, tidak ada salahnya aku mengantar kamu.”

“Tidak usah, aku berangkat sendiri saja.”

“Bisa setir mobil? Kakimu kan masih sakit?”

“Bukan urusan kamu.”

“Naik taksi ya, biar aku carikan, mau berangkat sekarang?”

“Tidak usah, aku bilang semua yang aku lakukan adalah bukan urusan kamu, jadi tidak usah sok baik hati, aku tidak terpengaruh.”

Bibik pembantu melangkah pergi, tidak enak menyaksikan suami istri yang sedang bertengkar.

“Dwi, yang kamu harus tahu, aku masih mencintai kamu.”

“Jangan bicara tentang cinta. Itu hanya pepesan kosong. Mana ada cinta tapi menipunya, membohonginya, lalu tahu-tahu minta ijin untuk menikah lagi.”

“Aku terpaksa, itu kemauan orang tuaku, alasannya kan kamu sudah tahu?”

“Diamlah, tinggalkan aku, aku tidak mau mendengar apapun.”

Anton keluar dari kamar dengan putus asa. Sungguh sebenarnya ia sangat mencintai istrinya. Ia terpaksa melakukannya, karena setiap malam sang ibu mempertemukannya dengan wanita lain yang diharapkan bisa memberinya keturunan. Apa boleh buat, alasannya adalah anak.

Anton melangkah keluar, lalu tiba-tiba ia melihat mobil berhenti di halaman. Ia tidak mengenali mobil itu. Ia juga tidak mengenali laki-laki gagah yang turun dari mobil itu, lalu mengangguk ke arahnya.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, February 21, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 15

 BIARKAN AKU MEMILIH  15

(Tien Kumalasari)

 

Adri mengucapkan terima kasih, kemudian keluar dari rumah sakit, dan kembali ke kantor. Kalau sudah dijemput oleh suaminya, lalu apa lagi? Dia hanya ingin menolong, dan sudah ada yang memperhatikan kepulangannya.

Sesampainya di kantor, Adri kemudian menekuni tugasnya. Ia ingin mengatakan tentang perintah pak Bondan bahwa Dwiyanti akan dipindahkan ke kantor cabang di kota lain, tapi bisa lain kali kalau ketemu. Ia segera memerintahkan kepada sekretarisnya agar menghubungi bagian administrasi. Surat kepindahan Dwiyanti harus segera dibuat. Perkara bicara lisan bisa nanti kalau ketemu saja.

Tiba-tiba Adri sadar bahwa dia belum makan. Ia menutup kembali berkas yang sudah dibukanya, kemudian memanggil OB agar membelikan makan siangnya.

Adri menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa lelah. Bayangan Nirmala melintas. Wajahnya yang cantik, kesabarannya, rasa pengertiannya kepada dirinya, membuatnya benar-benar jatuh cinta. Cinta yang membawanya ke pelaminan, dan cinta itu masih tetap ada, sampai detik ketika dia membayangkan wajahnya. Nirmala wanita yang sangat mandiri. Ia tegar dan kuat, serta berani melangkah ketika dia merasa benar. Tapi pada suatu ketika, Adri merasa Nirmala bisa mengatasi semua sendiri, lalu ia merasa bahwa dirinya tak berguna. Barangkali tanpa dirinya, Nirmala sudah bisa melakukan semuanya sendiri.

Ketika OB datang membawakan makanan yang dipesannya, sebuah pesan terdengar di ponselnya. Tangannya urung meraih kotak makanan yang sudah diletakkan di meja.

“Adri, kamu tidak usah menjemputku, karena suamiku sudah datang lebih dulu. Entah dari mana, ia tahu kalau aku sedang ada di rumah sakit.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah pulang dari rumah sakit, senang mendengar kamu sudah dijemput suami kamu.”

“Sebenarnya aku lebih suka kalau kamu yang menjemput aku.”

Tapi Adri tidak berkomentar tentang pesan yang terakhir itu.

Adri meletakkan ponselnya sambil bergumam.

“Di rumah kan ada pembantu, tentu saja pembantu itu yang mengatakan semuanya kepada suami Dwi, bagaimana Dwi bisa berkata begitu.”

Lalu Adri membuka kotak makanannya, dan makan dengan lahap.

***

Dwi memamg dijemput Anton, sang suami, yang kemudian berkali-kali meminta maaf karena membuat Dwi terluka.

“Aku tidak tahu kalau kamu terluka, makanya aku meninggalkan kamu,”

“Kamu tahu aku terjatuh, tertimpa meja, walau kecil itu berat, ada alas kacanya, aku mengaduh, dan kamu mengikuti ibu kamu pergi,” sentak Dwi dengan berlinang air mata.

“Ibu sedang emosi, ia ingin sekali punya cucu. Maafkan.”

Dwi terdiam. Diletakkannya kruk yang tadi dipakai untuk menyangga tubuhnya di samping sofa, lalu perlahan dia duduk di sofa. Tertatih karena berat. Bekas operasi masih dibebat belum boleh untuk menapak.

Anton duduk di depannya, menatapnya. Dwi hanya diam. Alasan sang suami untuk meninggalkannya saat dia terluka sangat membuatnya sakit.

“Dwi, aku ingin bicara tentang rumah tangga kita. Memang benar, aku salah, aku ingin menikah lagi, tapi aku tidak ingin berpisah denganmu,” katanya hati-hati.

“Apa maksudmu?” suara Dwi meninggi.

“Dwi, aku tetap masih mencintai kamu. Aku ingin menikah hanya karena menginginkan keturunan, sesuai keinginan ibuku."

“Makan tuh cinta. Aku tidak mau mendengarkan kamu lagi.”

“Dwi, kamu tetap menjadi istriku.”

“Tidak sudi! Ceraikan aku!”

“Jangan begitu, aku masih cinta sama kamu.”

“Makan tuh cinta,” kata Dwi sambil berusaha berdiri, setelah meraih kruknya.

Anton bangkit, berusaha membantu, tapi Dwi menepiskan tangannya.

“Kamu mau kemana, aku belum selesai bicara.”

“Tidak usah bicara lagi. Segera urus perceraian kita.”

“Dwi….”

“Bibiiik, bantu aku berdiri!” teriaknya kepada pembantunya, yang merasa prihatin melihat keadaan majikannya.

“Biar aku bantu,” kata sang suami.

“Bibiiik !!”

Sang pembantu tergopoh datang, lalu memapah majikannya.

“Bawa ke kamar aku, eh .. tidak, kamar tamu saja. Aku tidak mau tidur di kamar itu lagi.”

“Baik Nyonya, tapi kamar belum saya rapikan, nyonya menunggu di sini, atau bagaimana?”

“Aku menunggu di kursi kamar saja.”

“Baik.”

Bibik menuntun nyonya majikan, dan Anton kembali duduk dengan lesu. Usaha membujuk sang istri tak berhasil. Ia tetap meminta cerai. Tiba-tiba ponselnya berdering, dari sang ibu.

“Ya, Bu.”

“Bagaimana, istrimu sudah pulang dari rumah sakit kan?”

“Sudah Bu, aku menjemputnya.”

“Dasar manja.”

“Kakinya patah, harus dioperasi. Dia tidak bisa jalan sendiri.”

“Kalau sudah ditangani dokter ya sudah, tidak usah dipikirkan. Banyak orang kakinya patah, akhirnya baik-baik saja.”

“Dwi meminta cerai, aku tidak bisa membujuknya.”

“Biarkan saja. Memangnya kamu masih merasa sayang sama dia? Calon istri barumu lebih cantik, badannya seger, dia akan segera hamil setelah kamu menikahinya nanti.”

“Sebenarnya aku masih sayang Bu, inginnya tetap menjadikannya istri.”

“Anton, jangan bodoh. Itu malah kebetulan. Susah merawat dua istri, belum kalau nanti bersaing, lalu bertengkar. Sudah … sudah, kalau minta cerai ya ceraikan saja.”

“Tapi Bu ….”

“Tapi apa lagi, sudah, malah kamu nanti kebanyakan pikiran. Orang sudah tidak mau, bagaimana cara memaksa.”

Ponsel sang ibu sudah ditutup. Anton termenung. Tampaknya ia memang harus menceraikan sang istri. Wanita yang akan dinikahinya sudah mengandung benihnya.

***

Adri baru selesai makan, dan siap melanjutkan pekerjaannya, ketika ponselnya berdering. Dwi menangis dari seberang.

“Ada apa?”

“Aku tetap akan bercerai,” tangisnya.

“Apa semuanya tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik?”

“Tidak ada pembicaraan yang baik ketika seorang perempuan akan dimadu. Bercerai adalah pilihan terbaik.”

“Pikirkan dulu Dwi, kamu memerlukan pendamping.”

“Tidak, aku tidak memerlukan pendamping seorang laki-laki seperti dia. Aku sudah bisa menerima ini. Percayalah aku akan kuat, karena ada kamu.”

“Dwi, jangan mengandalkan aku, aku kan tidak bisa sepenuhnya menjaga kamu.”

Adri ingin mengatakan tentang dipindahkannya Dwi ke kantor cabang, tapi diurungkannya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, jadi ia tak ingin menambah kekesalannya.

“Adri, meskipun memakai kruk, besok aku tetap ingin bekerja.”

“Jangan memaksakan kehendak, kalau memang masih sakit, istirahat dulu di rumah.”

“Aku masih bisa berjalan, dan yang bekerja adalah tanganku. Aku akan terhibur kalau di kantor. Aku juga akan minta agar kamu membantu aku mencarikan kontrakan.”

“Kontrakan? Kamu mau pergi dari rumah?”

“Apa aku harus tetap tinggal di rumah itu setelah bercerai? Tidak Adri, aku akan segera keluar dari rumah. Besok urusan cerai harus sudah dilakukan.”

“Ya sudah, tapi lebih baik kamu tenang dulu. Sekarang aku lanjutkan bekerja ya, kalau besok kamu tetap ingin masuk kerja, kita akan bicara.”

“Baiklah Adri, tolong cari informasi tentang rumah kontrakan ya, kalau bisa yang dekat kantor.”

“Baik, kita akan bicara lagi besok.”

Adri termenung. Dwi minta dicarikan rumah dekat kantor, sementara dia akan pindah ke luar kota. Bagaimana mengatakannya nanti?

Karena memikirkan masalah Dwi, Adri tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Akhirnya dia pulang sebelum jam kerja berakhir.

***

Adri sampai di rumah ketika sang istri belum pulang. Setelah berganti baju, ia habiskan waktunya untuk bermain bersama Pratama di teras, sambil menunggu kepulangan Nirmala.

Pratama sangat senang bisa bermain bersama sang ayah. Karena keasyikan bermain itu maka susah bagi mbak Rana untuk memandikannya.

Pratama berteriak marah ketika mbak Rana mengajaknya mandi.

“Mas Tama mandi dulu, biar wangi, nanti main dengan bapak lagi. Ya...,” bujuk sang ayah. Tapi Tama malah menubruk sang ayah, minta gendong.

“Baiklah, kalau begitu mandi sama bapak ya,” kata Adri sambil menggendong Tama ke belakang, di mana mbak Rana sudah menyiapkan semuanya di kamar mandi.

Karena keasyikan mandi sambil bermain dengan sang ayah, mereka tidak tahu kalau Nirmala sudah pulang dan menyaksikan keduanya yang sedang bercanda ria dengan Tama di dalam bak mandi.

Tiba-tiba Pratama melihat sang ibu dan berteriak.

“Mmaa …. “ entah mengapa, Pratama tidak mau memanggil ibu, atau mungkin lidahnya belum bisa mengucapkannya. Jadi kalau ketemu sang ibu .. yang diucapkan adalah ‘maa’.

Adri menoleh, dan melihat wajah Nirmala yang berseri.

“Tumben mandi sama bapak?”

“Tadi tidak mau saya mandikan, Nyonya, maunya sama tuan.”

“Ya, sudah, biarkan saja, sekali-sekali dimandikan ayahnya,” kata Nirmala sambil menuju ke arah kamarnya. Ia baru saja datang dan melihat teriakan-teriakan Tama di kamar mandi, makanya dia langsung melihatnya.

Tapi sebelum masuk ke kamarnya, ia mendengar ponsel Adri berdering. Nirmala mendekat, karena ponsel itu terletak di meja ruang tengah.

Wajah Nirmala gelap seketika. Ada nama Dwi di panggilan ponsel suaminya, dan ada foto wanita itu yang tengah tertawa.

***

Besok lagi ya.

BIARKAN AKU MEMILIH 19

  BIARKAN AKU MEMILIH  19 (Tien KUmalasari)   Nirmala masuk ke kamarnya dan tak lagi mendengarkan Adri yang sepertinya masih menelpon. Tapi ...