DARAH, CINTA DAN AIR MATA 14
(Tien Kumalasari)
Sarah menatap sang nenek, yang tampak bersungguh-sungguh ketika mengatakannya.
“Jadi mas Bimo itu bukan anaknya bu Saptari?”
“Sejak masih bayi merah dia merawat Bimo, jadi sudah seperti anaknya sendiri, apalagi bu Saptari tidak punya seorang anakpun sampai suaminya meninggal.”
“Jadi sebenarnya mas Bimo itu anaknya siapa?”
“Entahlah, Nenek juga tidak tahu. Ketika itu dia baru pulang dari menjenguk orang tuanya di kampung sebelah, pulang-pulang membawa bayi dan kelihatan sangat senang. Kami hanya ikut senang, tapi tidak menanyakannya dengan jelas, Bimo itu sebenarnya anak siapa. Kalau ditanya dia hanya berkata bahwa bayi itu ditemukan saat jatuh dari langit, begitu.”
“Benar-benar jatuh dari langit?”
“Ya tidak, dia hanya bercanda, masa jatuh dari langit beneran.”
“Dan mas Bimo tahu tidak bahwa dia hanya anak angkat?”
”Ya tidak. Bu Saptari tidak mau mengatakannya. Pokoknya Bimo sudah dianggap sebagai anaknya sendiri yang dicintai seperti anak yang dilahirkannya."
“Baik banget hati bu Saptari ya Nek?”
”Iya. Sangat baik. Tapi kenapa kamu menolak diambil menantu oleh dia? Nenek agak sungkan ketika kamu menolak, dia adalah sahabat almarhumah ibu kamu. Dia juga baik, Bimo sendiri juga baik.”
“Sarah belum memikirkan berumah tangga Nek, Sarah tidak suka membicarakan perjodohan.”
“Memang sih, bu Saptari hanya penjual nasi setiap pagi sampai siang, dan Bimo hanya bekerja di kantor, tapi seperti .. apa tadi … bu Saptari mengatakannya.”
“OB, Nek. OB itu pekerjaannya melayani pegawai-pegawai kantor. Ya membuatkan minum, disuruh-suruh, begitu. Tapi bukan itu yang membuat Sarah menolaknya. Sarah benar-benar belum ingin memikirkan berumah tangga, apalagi Sarah kan masih sekolah, belum lulus juga.”
”Tapi seandainya disuruh menunggu, mereka pasti juga tidak keberatan.”
“Jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti Nek, nanti mereka berharap dan Sarah belum benar-benar siap. Sarah memang belum mau memikirkan hal itu. Sarah masih ingin bekerja setelah lulus,” kata Sarah dengan wajah muram.
“Ya sudah, tidak usah marah begitu, Nenek juga tidak memaksa. Nenek percaya, kalau jodoh pasti tidak akan ke mana-mana."
“Sarah tidak marah. Masa Sarah marah sama Nenek?”
“Itu, wajah kamu cemberut.”
“Tapi bukan marah. Hanya belum ingin membicarakannya.”
“Baiklah, Nenek mengerti. Tapi kalau kamu bertemu Bimo, kamu jangan sampai menunjukkan sikap tidak suka. Kasihan dia. Maksudnya kan tulus.”
“Ya tidak Nek, mas Bimo sangat baik, dia tetap sahabat Sarah.
***
Tapi Bimo menjadi sedih ketika sang ibu mengatakan tentang penolakan Sarah untuk dijadikan istrinya.
“Jangan sedih, Bimo. Jodoh itu memang tidak bisa dicari, kalau sudah saatnya, pasti dia akan datang menghampiri.”
“Apa mungkin karena pekerjaan Bimo yang tidak pantas, hanya seorang pesuruh kantor?”
“Jangan berpikir begitu. Tadi Sarah mengatakan kalau dia hanya belum ingin memikirkan soal berumah tangga. Kamu harus mengerti, Sarah memang masih sangat muda. Pastinya masih merasa aneh kalau memikirkan punya suami. Jadi kamu harus mengerti.”
Bimo hanya mengangguk. Ia tak percaya Sarah tidak menyukainya. Sikapnya sangat baik dan selalu menyenangkan. Masa tidak suka? Pikir Bimo berkali-kali.
“Bimo, kamu tahu kan, Sarah itu boleh dikatakan belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga? Kamu harus mengerti, kalau dia belum mau memikirkannya,” sambung bu Saptari ketika melihat Bimo diam saja. Agak sedih juga bu Saptari melihat wajah Bimo yang tampak kecewa.
“Iya Bu.”
"Jangan sampai karena penolakan ini lalu membuat hubungan kalian menjadi jauh. Tetaplah berteman, siapa tahu, pada suatu hari nanti dia mau membuka hatinya untuk kamu.”
“Setelah dia menolak, belum tentu dia mau Bimo dekati.”
“Belum juga dijalani, kamu sudah merasa gagal. Coba saja, besok pastinya dia juga jualan koran lagi. Tadi karena Ibu ke sana, dia tidak jualan koran. Ia ikut menemani neneknya menemui Ibu.”
“Pantesan tadi ketika Bimo pulang kerja tidak melihat dia.”
Bu Saptari tertawa.
“Jadi kamu tadi mencarinya?”
“Iya, tapi karena di rumah Ibu tidak ada, saya juga berpikir karena ada Ibu, maka dia tidak berjualan.”
“Ya sudah, sekarang Ibu mau menyiapkan dagangan untuk besok pagi. Ibu masih harus memasak juga, karena sesiang ini ada di rumah nenek Suli.”
“Mari Bimo bantu Bu, supaya cepat selesai.”
“Tidak usah, kamu kan capek, bekerja seharian. Biar Ibu melakukannya sendiri. Kamu istirahat saja sana.”
“Kalau hanya bantu mencuci alat-alat masak kan boleh Bu.”
“Ya sudah, nanti kalau sudah selesai Ibu panggil kamu. Kalau memasak Ibu sudah biasa masak sendiri, kan bahan-bahannya sudah Ibu siapkan sebelum berangkat ke rumah nenek Suli tadi.”
Bimo mengangguk. Walau kecewa, tapi ketika ibunya mengingatkan tentang Sarah yang belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga, ia kemudian bisa mengerti. Barangkali belum sekarang, tapi suatu hari nanti, siapa tahu Sarah akan jatuh hati padanya.
***
Keesokan harinya, sepulang kerja, Bimo tidak langsung berbelok ke gang yang menuju rumahnya. Ia melihat ke arah pohon sebelum perempatan, karena Sarah sering duduk di bawahnya menunggu lampu merah untuk menjajakan korannya.
Ia tak melihat ada Sarah di sana. Ia mendekat dan benar-benar tak melihatnya. Dengan rasa kecewa Bimo duduk di bawah pohon itu, memikirkan mengapa Sarah tidak jualan. Karena lamaran ibunya, lalu dia berjualan di tempat lain? Bimo jadi semakin sedih, lalu menyesal karena belum-belum sudah meminta sang ibu untuk melamar. Pasti Sarah kecewa lalu tak ingin bertemu lagi dengannya.
Bimo berdiri dan bermaksud pulang saja, tapi tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
“Mas Bimo!”
Senyuman Bimo merekah, melihat Sarah datang sambil membawa setumpuk koran.
“Kamu baru datang?”
“Tidak, sudah dari tadi, aku membeli minum. Nih, mas Bimo mau?” kata Sarah sambil mengulurkan sebotol minuman ke arah Bimo.
“Tidak, untuk kamu saja, aku tidak haus.”
“Tumben aku agak haus, jadi beli minum ini dulu. Eh tunggu, lampu merah, nanti aku terlambat,” kata Sarah yang meletakkan botol minuman di atas tanah begitu saja, lalu lari ke jalan.
Bimo mengejarnya, mengambil beberapa lembar koran dan ikut menjajakannya.
***
Terengah-engah Sarah ketika kembali ke pinggir, lalu mengambil botol airnya dan ditenggaknya sambil ngelesot di tanah.
Bimo mendekat, memberikan uang untuk dua lembar koran yang laku dijajakannya.
“Wah, terima kasih Mas, untuk selalu membantu aku,” katanya sambil menerima uang dari Bimo.
“Aku tidak pintar menjual seperti kamu. Laku dua sudah alhamdulillah,” kata Bimo sambil ikut duduk di depannya.
“Eh, aku juga hanya laku dua tadi. Bukan karena aku pintar, tapi karena keberuntungan saja. Kalau untung ya banyak yang mau beli, kalau sedang tidak beruntung ya malah satupun tidak bisa laku. Ya ampun Mas, pasti Mas haus ya, aku tadi hanya beli sebotol, bekas aku minum, mana pantas, aku belikan lagi?”
“Tidak, aku tidak haus, habiskan saja. Rumahku kan dekat, jadi aku bisa minum di rumah.”
“Oh iya, jadi teringat kemarin. Aku mau minta maaf ya Mas, soalnya ketika bu Saptari bicara tentang perjodohan antara Mas dan aku, aku belum bisa menerimanya. Aku kan masih kecil Mas, belum mau memikirkan berumah tangga.”
Bimo tersenyum. Ia sudah bersyukur karena ternyata Sarah tetap bersikap biasa setelah lamaran yang diajukan ibunya.
“Tidak apa-apa Sarah, aku mengerti. Mungkin aku yang sangat tergesa-gesa.”
“Tetaplah bersahabat seperti ini Mas, aku masih tidak ingin memikirkan berumah tangga.”
Lampu merah menyala, Sarah bergegas ke jalan, tapi sebuah mobil menghadangnya.
“Sarah.”
Sarah berdebar. Mas ganteng yang kaya itu lagi?
***
Besok lagi ya.