Saturday, October 3, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 22

 DARAH,  CINTA DAN AIR MATA  22

(Tien Kumalasari)

 

Langkah Sarah tersendat, dadanya berdebar kencang, apakah bu Lurah akan marah-marah karena Bowo membantunya? Sarah bingung, apa yang akan dijawabnya nanti kalau bu Lurah mencak-mencak seperti biasanya? Lalu bagaimana kalau bu Lurah langsung menuju kamar neneknya lalu mencak-mencak di sana?

Sarah ingin menghindar dengan berbelok ke arah lain, tapi bu Lurah keburu melihatnya.

“Hei, berhenti!”

Sarah berdebar. Sedikit gemetar. Bukan karena takut dirinya kena marah, tapi bagaimana kalau perempuan galak itu juga menghampiri neneknya?

“Berhenti.”

Sarah menghentikan langkahnya. Kalau dugaannya benar, bagaimana dengan sakit neneknya?

“Mau apa kamu ke sini?”

Pertanyaan itu membuatnya lega, karena berarti bu Lurah tidak tahu kalau ia sedang menunggui neneknya.

“Saya ….”

Belum sempat Sarah menjawab, tiba-tiba Bowo muncul dan langsung menarik tangan ibunya.

“Bu, kenapa Ibu ini?”

“Kenapa juga kamu ini? Ibu kan hanya bertanya?”

“Ini kan rumah sakit, mengapa Ibu menanyakannya? Mungkin dia baru sakit, mau periksa atau apa. Sudah, ayo segera daftar, kalau kesiangan antrenya semakin banyak,” kata Bowo sambil menarik tangan ibunya.

Sarah menghela napas lega. Ternyata bu Lurah akan periksa ke dokter, dan tampaknya tidak tahu tentang sakit neneknya.

Ketika mereka menjauh, Sarah segera melanjutkan langkahnya. Hari ini ia tidak masuk sekolah. Tapi masalah jualan koran harus dilakukannya. Itu adalah uang. Uang yang sangat dibutuhkan untuk biaya neneknya. Walau sedikit tak apa, yang penting berusaha mencari, dan kalaupun menjadi beban orang lain, walau sedikit ia punya uang juga.

***

Sarah tidak langsung pulang. Ia pergi ke agen koran dan mengambil dagangan seperti biasanya.

“Tumben pagi-pagi, Sarah? Kamu nggak sekolah?” tanya pemilik agen koran itu.

“Tidak Pak, sedang mencari uang lebih banyak, jadi jualan mulai pagi.”

Pemilik agen koran itu tertawa.

“Wah, sedang butuh uang banyak ya Sar?”

“Nenek saya sakit Pak, jadi saya jualan dari pagi. Beri korannya dua kali lipat ya Pak.”

“Nenek kamu sakit apa?”

“Sakit berat, harus dirawat di rumah sakit.”

“Oh ya? Sejak kapan?”

“Baru kemarin, ini saya tinggal di rumah sakit, karena saya harus mencari uang.”

Sarah berlalu, dan pemilik kios koran itu menatap punggungnya dengan iba.

“Gadis itu sungguh luar biasa. Harus sekolah, harus mencari uang karena neneknya sakit. Kasihan sekali.”

 Lalu ia mencari amplop, diisinya beberapa lembar uang, disiapkannya untuk diberikan sebagai rasa simpati atas musibah yang dideritanya.

***

Hari masih pagi ketika itu, tapi Sarah sudah berteriak-teriak menjajakan korannya ketika lampu menyala merah di perempatan seperti biasanya.

Baru dua kali dia membelah keramaian di pagi itu, kemudian dia berlari lagi ke tepi ketika lampu menyala hijau, lalu tiba-tiba dilihatnya sebuah mobil berhenti. Sarah berdebar, itu kan Fajar? Sarah berlari mendekat.  

"Kok pagi-pagi Mas?”

“Jam segini aku berangkat ke kantor. Kamu nggak sekoah? Kok jualan korannya pagi?”

“Lagi cari uang Mas.”

“Biasanya sepulang sekolah?”

“Saya nggak masuk hari ini.”

“Kenapa?” Fajar menatapnya heran.

Wajah Sarah berubah murung, teringat sakit neneknya.

“Nenek saya sakit.”

Fajar keluar dari dalam mobilnya, menatap Sarah yang tampak pucat, berbeda dari biasanya yang penuh semangat.

“Sakit apa?”

“Berat, kata dokternya jantungnya bengkak, tensinya tinggi, lalu apa lagi, saya nggak ngerti Mas.”

“Sejak kapan?”

“Tadi malam. Eh, masih sore.”

“Di mana?”

“Di rumah sakit dekat rumah sana. Nenek saya tinggal dulu. Sebenarnya saya mau pulang mengambil baju ganti, tapi saya menyempatkan cari uang dulu.”

“Kamu tidak usah jualan, aku antar pulang, lalu aku antar ke rumah sakit lagi. Kasihan nenek kamu sendirian.”

“Tapi, ini … .” Sarah menunjuk ke arah tumpukan koran yang didekapnya. 

Baru berkurang beberapa lembar.

“Tidak apa-apa, kembalikan saja, saya ganti uang yang seharusnya kamu terima.”

“Mas ….”

“Cepat masuk, di mana agen korannya?”

Sarah menurut, masuk ke dalam mobil Fajar. Sudah dua kali Sarah menaiki mobilnya. Adem dan nyaman. Tapi kali itu ia tak merasakan kenyamanan sama sekali. Pikiran tentang neneknya sangat membuatnya sedih.

“Bayar berapa ketika masuk semalam?”

Sarah ragu mengatakannya.

“Katakan saja.”

“Sebenarnya … ada yang membantu, tapi saya sangat keberatan, kalau saja tidak mengingat sakitnya nenek. Saya dan nenek sangat tidak suka dia. Saya terpaksa menerimanya mengingat nenek yang harus segera mendapat pertolongan.”

Air mata Sarah bercucuran.

“Siapa?”

“Yang dulu membuang koran dagangan saya di tempat sampah.”

Lalu Sarah menceritakan asal muasalnya mengapa kemudian dia menerima tawaran Bowo. Ia mengkhawatirkan sakit neneknya.

Fajar mendadak muram. Ia kesal mengingat kelakuan Bowo.

“Nanti aku ganti semua yang sudah dibayarnya.”

“Mas ….”

“Nanti kamu kembalikan saja uangnya.”

“Tapi ….”

“Tidak ada tetapi. Masa kamu harus berhutang budi kepada orang yang pernah menyakiti kamu?”

***

Hari itu Fajar mengantarkan Sarah pulang, setelah mengembalikan sisa korannya, yang kemudian dia juga diberi amplop oleh pemilik agen koran itu. Ditolakpun ia memaksa, jadi terpaksa diterima dengan berkali-kali ucapan terima kasih.

“Jadi merepotkan banyak orang,” gumam Sarah sambil memasukkan amplop itu ke dalam sakunya.

"Tidak apa-apa, itu tandanya banyak orang bersimpati atas apa yang terjadi pada diri kamu. Karena kamu baik dan rajin, karena kamu ….”

“Aku apa lagi?”

“Kamu cantik ….”

Sarah menatap Fajar sambil tersenyum. Senyum senang pastinya, diantara duka yang masih menghimpitnya.

“Ada-ada saja.”

“Itu benar. Ayo tersenyum lagi, jelek ah kalau cemberut.”

“Aku sedang sedih.”

“Ya, aku tahu. Tapi nenek sudah ada yang menanganinya. Kamu tidak perlu khawatir.”

Sarah merasa lebih tenang, karena ada yang menemaninya, karena dia tidak sendiri.

Ketika pulang Sarah mengambil dompet kain biru milik nenek. Ia akan menghitungnya nanti di rumah sakit, agar nenek juga tahu.

Dan Sarah terkejut ketika setelah sampai di rumah sakit, Fajar mengembalikan sejumlah uang, yang katanya harus dikembalikan kepada Bowo. Bagi Sarah hal itu sama saja. Ia tidak berhutang kepada Bowo, tapi berhutang kepada Fajar. Walau begitu kali ini rasa berhutang itu terasa tidak sangat membebani. Ia juga percaya bahwa nenek tak akan marah lalu menolak semua pengobatan seandainya tahu bahwa Bowo lah yang berperan mengupayakan pengobatan untuk dirinya.

***

Setelah menyelesaikan semuanya, Fajar segera berpamit kepada Sarah karena harus segera kembali ke kantor.

“Jangan jualan dulu, temani Nenek,” kata Fajar sebelum pergi.

“Terima kasih banyak Mas.”

“Karena aku belum sempat ketemu Nenek, nanti sepulang dari kantor aku akan mampir lagi kemari,” kata Fajar lagi karena tadi memang ia hanya mengurus biaya yang harus dibayar Sarah, termasuk yang sudah dibayar Bowo, lalu memberikan semua uang yang sudah dibayarkan Bowo.

Sebenarnya Sarah juga merasa tidak enak dengan mengembalikan uang itu, yang pastinya Bowo akan merasa tersinggung. Dan ia mengakui karena bagaimanapun Bowo berperan banyak dalam berusaha membawa nenek ke rumah sakit.

“Nanti kalau ketemu, aku akan meminta maaf, sekaligus berterima kasih, setidaknya Bowo bermaksud baik.”

Dan tak lama setelah Fajar pergi, Bowo melongok ke kamar nenek, tapi tidak berani masuk. Sarah bergegas keluar, sambil membawa sejumlah uang dari semua yang sudah dibayarkan. Bowo tentu saja terkejut.

“Apa maksudmu Sarah?”

“Bowo, aku sangat berterima kasih, karena sudah berusaha membawa dokter untuk Nenek, lalu mengantarkan ke rumah sakit. Aku khawatir kalau nanti Nenek tahu bahwa kamulah yang melakukan semuanya, lalu Nenek akan marah.”

“Kamu tidak usah bilang atau menyebut namaku.”

“Bagaimanapun kebohongan pasti akan terungkap. Aku sudah mendapatkan uangnya, ini yang sudah kamu bayarkan, mohon maaf aku kembalikan, jangan marah dan jangan tersinggung, bagaimanapun kamu sudah berbaik hati dengan melakukan semuanya, dan untuk itu aku sangat berterima kasih.”

“Dari mana kamu mendapatkan uangnya.”

“Adalah, kamu tidak perlu tahu. Sekali lagi aku_” belum sempat Sarah menyelesaikan ucapannya, bu Lurah berteriak memanggil Bowo, dengan wajah penuh amarah.

***

Besok lagi ya.

Friday, October 2, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 21

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  21

(Tien Kumalasari)

 

Sarah tertegun. Ia menatap Bowo yang masih berdiri di depan pintu. Dan itulah yang membuat neneknya menolak dibawa ke rumah sakit.

“Nenek, sakit Nenek lumayah parah, sebaiknya dirawat di rumah sakit, agar pemeriksaan lebih baik, dan Nenek mendapat penanganan yang lebih baik juga,” kata dokter Harun.

“Aku tidak mau dia ….," katanya sambil menuding lemah dan dengan ucapan yang lemah juga.

Sarah mendekat, lalu berjongkok, menangis di samping tempat tidur neneknya.

“Nenek, tolong menurutlah. Sarah tidak ingin Nenek sakit. Sarah ingin Nenek sehat dan selalu bersama Sarah. Tanpa Nenek, hidup Sarah tak berarti. Apa Nenek ingin Sarah bersedih?”

“Aku tidak mau dia, mengapa dia ada.”

”Nek, yang mengantarkan Nenek adalah pak dokter ini, jangan memikirkan siapa-siapa,” bujuk Sarah. 

Ia terpaksa melakukannya, entah nanti bagaimana, yang penting neneknya mau diajak ke rumah sakit dan segera kembali sehat.

“Kalau dia, biarkan Nenek mati saja.”

“Nek, jangan berkata begitu. Kalau Nenek meninggal, Sarah akan ikut meninggal juga.”

”Sarah ….,” Nenek Suli menatap Sarah yang berlinangan air mata.

“Apakah ke rumah sakit tidak harus bayar? Tolong hitung tabungan Nenek.”

“Nanti Sarah menghitungnya. Yang penting Nenek segera mendapat pengobatan dan segera sembuh.”

Nenek Suli mengangguk. Ia melirik ke arah pintu, tak ada lagi bayangan Bowo. Sarah membantunya bangun, lalu memapahnya keluar. Dokter Harun membantunya naik ke dalam mobil. Di belakang kemudi, ada seseorang memakai topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

“Siapa dia?”

“Itu sopir saya Nek,” kata dokter Harun yang segera menangkap situasi, bahwa nenek Suli tak mau berurusan dengan Bowo. 

Dokter Harun tahu polah tingkah keponakannya, dan sedikit banyak ia menduga-duga, pasti kelakuan Bowolah yang membuat nenek Suli tidak menyukainya. Karenanya tadi dia mengakui bahwa dialah yang akan mengantarkan nenek Suli ke rumah sakit.

***

Di dalam mobil, nenek Suli bersandar di jok dengan tubuh lemas. Sarah duduk di sampingnya dan menggenggam tangan sang nenek sangat erat. Rasa khawatir menghilangkan rasa bencinya kepada Bowo. Toh kenyataannya Bowolah yang memanggilkan dokter untuk sang nenek, dan sekarang sedang mengantarkannya ke rumah sakit. Apa boleh buat. Kesehatan sang nenek lebih utama dari mengikuti kata hati yang penuh benci. Setidaknya ia melihat sisi baik yang Bowo lakukan.

“Sarah ….,” lirih kata nenek Suli.

“Ya, Nek.”

“Nenek ini kan memang sudah tua. Kalaupun Nenek harus meninggal, bukankah itu sudah pasti akan terjadi?”

“Tidak, Nenek tidak boleh berkata begitu. Sarah tak bisa hidup tanpa Nenek.”

“Sarah.”

“Jangan berkata apa-apa lagi. Pokoknya Nenek harus sembuh,” kata Sarah sambil meremas tangan sang nenek, yang terasa dingin.

“Apa Nenek kedinginan?” tanya dokter Harun.

“Biar saya kecilkan ACnya. Pak sopir, kecilkan ACnya, nenek Suli kedinginan,” kata dokter Harun. 

Bowo mengangguk dan tersenyum. Ia mengecilkan AC mobilnya tanpa berkata apa-apa, takut suaranya terdengar nenek Suli, lalu minta diturunkan di jalan.

***

Begitu sampai di rumah sakit, dokter Harun sudah memesan agar brankar disiapkan untuk pasien yang dibawanya. Jadi begitu mobil berhenti, dua orang perawat sudah menunggu dengan brankar yang segera dipergunakan untuk membawa nenek Suli ke ruang IGD.

Sarah mengikutinya dan terus memegang tangan sang nenek.

“Sarah … bagaimana membayarnya?” bisik sang nenek lemah.

“Nenek tidak usah memikirkannya. Yang penting Nenek segera mendapatkan perawatan, lalu sembuh,” kata Sarah, dengan berbisik pula.

Begitu sang nenek dibawa masuk, Sarah duduk di bangku tunggu. Ia harus menghibur neneknya agar tidak khawatir tentang biaya pengobatan sang nenek, padahal dia sedang berpikir bagaimana mendapatkan biaya itu.

Bowo duduk di sampingnya, dan melihat kegelisahan Sarah.

“Sarah, kamu tidak usah memikirkan tentang biaya perawatan Nenek.”

“Bagaimana aku tidak memikirkan, Bowo? Barangkali Nenek punya tabungan, tapi aku belum tahu seberapa banyak. Biaya di rumah sakit pasti mahal bukan?”

“Biar aku yang menanggungnya, kamu tidak usah khawatir.”

“Apa? Tidak.... jangan begitu. Kamu kan tahu Nenek tidak suka sama kamu? Bahkan ketika melihat kamu saja Nenek hampir tidak mau dibawa ke rumah sakit.”

“Apa kamu harus bilang kepada nenek bahwa aku yang membayarnya? Jangan Sarah, pokoknya jangan sebut namaku dalam masalah sakitnya Nenek. Bahkan kalau Nenek harus dirawat, biarlah aku yang memikirkannya.”

Sarah menghela napas panjang. Ini sangat berat baginya.  Bagaimana mungkin orang yang dibenci neneknya malah menolongnya dan bahkan membayar biaya selama di rumah sakit?”.

“Ini sangat berat bagi aku, Bowo.”

“Kalau begitu, anggap saja ini sebagai hutang. Kelak kalau kamu sudah punya uang yang cukup, kamu boleh mengembalikannya. Bagaimana?”

Sarah kembali terdiam. Barangkali memang harus begitu. Tawaran Bowo sedikit meringankan beban pikirannya. Setidaknya nenek Suli bisa tertolong, dan itu adalah harapan Sarah, karena hanya nenek Sulilah keluarga yang dimilikinya.

“Bagaimana? Setuju?  Nanti kalau Nenek harus dirawat, aku pilihkan ruang yang terbaik.”

“Jangan. Yang biasa saja, asal tidak buruk-buruk amat. Yang penting Nenek segera mendapat pengobatan.”

Ketika dokter Harun keluar dari ruang IGD, Sarah bergegas mendekatinya.

“Bagaimana Nenek saya? Apa boleh dibawa pulang?”

“Belum boleh Sarah, sakit nenekmu agak serius. Tekanan darah tinggi, dan ada pembengkakan jantung.”

“Apakah itu berbahaya?” tanya Sarah, cemas.

“Kalau mendapat penanganan yang baik, Nenek akan sembuh. Kamu harus sabar.”

Sarah merasa sedikit lega.

“Dokter, mm … maaf, berapa harus …. eh … berapa saya harus membayar Dokter?”

Dokter Harun tersenyum. 

"Bowo adalah keponakanku, sedangkan kamu teman Bowo, jadi aku tidak memungut bayaran.”

“Tapi….”

“Tungguin nenek kamu sampai dia dibawa ke ruang rawat. Jangan khawatir, Nenek akan baik-baik saja, asalkan menurut apa kata dokter.”

Sarah mengangguk.

“Terima kasih, dokter,” kata Sarah lirih, karena menahan tangis.

“Sudah, tenang saja. Sekarang aku mau pulang. Biar Bowo mengantar aku dulu, nanti dia akan kembali kemari.”

“Tidak usah kembali kemari Bowo, biar aku sendiri saja.”

“Aku hanya akan mengantarkan om Harun,” kata Bowo yang tidak mau mendengarkan permintaan Sarah.

Sarah terpaku di tempat duduknya. Lagi-lagi karena Bowo. Apakah layak dia harus terus membencinya sementara boleh dikatakan Bowo telah menyelamatkan nyawa neneknya?

***

Malam itu Sarah tidur di rumah sakit. Walau sudah minta agar sang nenek dirawat di ruang biasa saja, tetap saja Bowo memesankan kamar kelas satu untuk sang nenek. Tidak terlalu mahal bagi Bowo, tapi bagi Sarah itu sangat mewah dan luar biasa. Tapi mau bagaimana lagi. Ia harus menerimanya.

Pagi-pagi sekali Sarah sudah bangun. Ia melihat sang nenek masih tertidur. Setelah berwudhu dan bersujud, Sarah mendekati sang nenek. Perawat sudah menggantikan bajunya dengan baju dari rumah sakit. Sarah ingin pulang untuk mengambil bajunya juga. Ketika ia mendekat, nenek Suli membuka matanya.

“Mengapa Nenek tidur di sini? Mau pulang saja.”

“Jangan Nek, Nenek harus dirawat. Nanti kalau keadaan membaik, Nenek boleh pulang.”

“Ini ruangan apa, sangat bagus, bagaimana Nenek bisa membayarnya?”

“Nenek tenang saja, semua Sarah yang memikirkan. Yang penting Nenek sembuh. Sarah sedih kalau Nenek sakit.”

“Apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkan uang?”

“Sarah bisa, pokoknya Nenek tidak usah memikirkannya. Kata dokter, supaya Nenek cepat sembuh, Nenek tidak boleh banyak pikiran.”

“Nenek menyusahkan kamu.”

“Tidak, ini kewajiban Sarah untuk merawat Nenek. Sekarang Sarah mau pulang sebentar ya, mengambil baju Sarah, dan juga baju Nenek.”

“Tolong hitung uang Nenek, dibawah tumpukan baju, dompet kain biru.”

“Baiklah, Nenek nanti harus nurut sama perawat dan dokter ya.”

Nenek Suli mengangguk, walau banyak pikiran masih membebaninya. Ruangan bersih, kasur empuk, udara dingin dan ada televisi di depannya, tak pernah nenek rasakan, apa lagi memilikinya.

Sarah keluar dari ruang sang nenek, bermaksud pulang. Tapi tiba-tiba tanpa diduga ia bertemu bu Lurah di lobi.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, October 1, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 20

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  20

(Tien Kumalasari)

 

Bimo menatap punggung Sarah yang melenggang pergi setelah bertemu laki-laki ganteng bermobil. Bimo pura-pura tak melihatnya, tapi Fajar justru memanggilnya.

“Bimo! Ternyata ada kamu. Baru pulang kerja ya?” katanya sambil melongok dari jendela mobilnya. 

Bimo yang tahu diri segera datang mendekat dan mengangguk hormat, karena bagaimanapun Fajar adalah putera pimpinan tertinggi di kantor di mana dia bekerja.

“Saya baru pulang, dan menemani Sarah sebentar.”

“Rumah kamu di mana?”

“Itu Mas, gang kecil masuk ke utara.”

“O, ya sudah. Kamu pasti capek setelah bekerja. Aku juga mau pulang dulu ya,” katanya sambil menghidupkan mesin mobilnya. 

Ia melambaikan tangannya kemudian berlalu. Bimo menghela napas panjang. Fajar sangat baik. Kalau Sarah suka, itu sudah sepantasnya.

“Hei, ada apa aku ini? Cemburu? Tapi mungkinkah mereka saling suka? Masa iya mereka saling suka? Dengan perbedaan status yang sangat jauh?” gumam Bimo sambil terus melangkah pulang. 

Tapi ia kesal dengan perasaannya sendiri. Tak mungkin Sarah  suka pada Fajar. Masa iya, Sarah sangat tidak tahu diri? Tapi bukankah rasa cinta itu tak mengenal siapa dan bagaimana orangnya?

“Ya Tuhan, apapun yang terjadi, semua hanyalah kehendakMu.”

Setelah berserah diri, Bimo melanjutkan langkahnya dengan lebih ringan.

***

Di rumah, Saptari sudah menunggu di ruang makan. Ada nasi kuning dan ayam goreng terhidang di atas meja. Ada juga sambal goreng dari labu siam terhidang di sana.

“Ibu masak aneh hari ini,” tanya Bimo heran.

“Masak aneh bagaimana sih? Ini semua bahan makanan dan ibu masak dengan wajar, apanya yang aneh? Ini benar-benar nasi, bukan plastik lhoh,” canda sang ibu.

“Maksud Bimo, mengapa masak nasi kuning, seperti sedang mengadakan syukuran."

Saptari tertawa. Ia mendorong anaknya masuk ke dalam kamar.

“Bersihkan tubuhmu dan ganti baju. Atau kamu mau mandi dulu sebelum makan?”

“Iya Bu, Bimo mau mandi dulu. Bau nih. Keringatan seharian.”

“Ya sudah, mandi dulu, ibu angetin sayurnya.”

Dan ketika keduanya sudah siap di meja makan.

“Bimo, apa kamu lupa, ini hari ulang tahun kamu yang ke duapuluh lima.”

“Oh, iya Bu, Bimo malah lupa pada ulang tahun sendiri. Jadi Bimo lahir di tanggal duapuluh bulan Maret ya? Benar-benar lupa.”

“Karena itulah ibu bersyukur, sudah membesarkan kamu sampai dewasa.”

“Jadi nasi kuning ini adalah nasi syukuran ya?”

“Benar Nak. Selamat ulang tahun ya, dan nikmati hidangan sederhana ini untuk merayakannya. Ayam goreng ini kesukaan kamu. Tapi maaf, sambal gorengnya cuma dari labu siam, bukan sambal goreng ati.”

”Tidak apa-apa Bu, terima kasih banyak sudah membuat masakan istimewa ini untuk Bimo.”

“Semoga kamu selalu sehat, bahagia dan panjang umur, segera dapat istri yang cantik, lalu memberikan ibu cucu-cucu yang lucu.”

“Aamiin. Terima kasih atas semuanya ya Bu. Ibu adalah ibu terbaik di dunia ini.”

Bimo berdiri lalu memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, ayo kita makan,” kata Saptari sambil mengusap air matanya.

***

Ketika sampai di rumah, Sarah terkejut melihat sang nenek berbaring di tempat tidurnya. Tak biasanya nenek Suli tidur sore-sore.

“Nenek,” sapanya sambil mendekat.

Nenek Suli membuka matanya.

“Kamu sudah pulang?” tanyanya dengan suara lemah, membuat Sarah sangat khawatir. Ia juga melihat napas sang nenek agak tersengal.

“Sudah Nek, mengapa Nenek tiduran?” Sarah memegang dahi neneknya. Berkeringat. Tapi wajah nenek sangat pucat.

“Nenek sakit ya? Apa yang Nenek rasakan? Tidak panas sih, tapi Nenek sangat pucat.”

”Tidak apa-apa, Nenek hanya lelah.”

Sarah bergegas ke belakang. Ia membuat minuman untuk neneknya. Minuman kesukaan neneknya, wedang jahe. Ia membawakannya ke kamar sang nenek, sambil membawa cawan untuk sedikit mengurangi panasnya.

Ia menuangkan wedang jahe ke cawan, kemudian meminumkannya kepada sang nenek dengan sendok.

“Nenek tiduran saja, biar Sarah suapkan.”

“Seperti sedang sakit keras saja, biar nenek bangun."   

“Jangan Nek, sudah, tiduran saja, Sarah suapin wedang jahenya.

Nenek Suli menurut, karena tubuhnya memang terasa lemah.

Setengah gelas wedang jahe dihabiskannya, lalu Sarah meletakkan cawan di meja dekat pembaringan sang nenek.

“Badan nenek merasa lebih segar.”

“Ke dokter ya Nek. Dokter Harun tidak jauh dari sini.”

“Nenek tidak apa-apa, biar Nenek istirahat saja, nanti pasti sudah baikan.”

“Nenek sudah makan?”

“Nanti saja, Nenek tidur dulu saja sebentar.”

Sarah mengambil selimut dan menyelimuti neneknya, kemudian ia mandi dan berganti baju. Ia menyiapkan makan yang rupanya nenek Suli juga sempat memasak juga.

Ketika ia memasuki kamar sang nenek lagi, dilihatnya sang nenek masih tidur. Dipegangnya tangan sang nenek, dan ia merasa sangat khawatir.

“Aku harus membawa nenek ke dokter, tapi bagaimana caranya? Nenek sepertinya sangat lemah, apa bisa berjalan?” gumamnya.

Sarah keluar. Ia harus minta tolong orang lain. Di pangkalan ojek dia melihat ada satu yang masih nangkring di situ. Ia menyeberang jalan untuk mendekat. Ia belum tahu apakah sang nenek bisa membonceng sepeda motor seandainya dia meminta tolong ojek itu. Tapi tiba-tiba sebelum dia menghampiri driver ojek itu, sebuah mobil berhenti..

“Sarah, kamu mau pergi?”

Sarah terkejut. Ia tak ingin berurusan dengan Bowo.

“Bukan aku, nenek.”

“Nenek mau ke mana?”

“Ke doter Harun, nenek sakit.”

“Orang sakit bisa membonceng ojek? Biar sama aku saja.”

“Jangan.” 

Sarah yakin sang nenek tak akan mau berurusan dengan Bowo, setelah bu Lurah menghinanya.

“Nenek butuh bantuan. Sakit itu bisa gawat kalau tidak segera mendapat pertolongan. Atau begini saja, biar aku panggil dokter Harun ke rumah kamu.”

“Apa? Memanggil dokter ke rumah?”

“Iya, jadi tidak usah membawa nenek ke sana.”

“Tapi …. “

“Sudah, kamu tenang saja dan tunggu di sini, aku akan membawa dokternya kemari.”

“Apa bisa?”

“Dia saudara aku, sudah tunggu di depan rumah kamu saja.”

Bowo melajukan kendaraannya. Sarah menyeberang dan kembali ke rumah, dengan pikiran bingung. Memanggil dokter? Bukankah beayanya lebih mahal?

 "Tabunganku cukup tidak ya, aduh, bagaimana ini. Mengapa Bowo nekat mau memanggil dokter?”

Sarah benar-benar bingung. Entah bagaimana nanti sikap neneknya kalau tahu bahwa Bowo yang menolongnya. Sungguh Sarah merasa bahwa hal terbaik adalah segera membawa neneknya ke dokter. Ia sangat khawatir, badan sang nenek dingin sekali. Napasnya juga sedikit tersengal.

Dalam bingung itu kemudian ia mendengar sebuah mobil berhenti.

“Ya ampuun, apakah itu dokternya?”

Tak lama kemudian ia melihat Bowo turun dari mobil, lalu diikuti oleh seorang laki-laki setengah tua. Apakah itu dokternya? Sarah hanya mendengar namanya dan melihat papan nama di depan rumah dokter itu, tapi ia belum pernah melihat dokternya.

“Sarah,” Bowo sudah ada di depannya.

“Ini dokter Harun. Di mana nenek?”

“Ada .. di .. di kamarnya. Apa … mau diperiksa sekarang?”

“Tentu, biar om Harun memeriksanya. Antarkan dia ke kamar nenek," kata Bowo.

Sarah masuk ke dalam, dokter itu mengikutinya. Sarah berdebar, banyak yang dipikirkannya. Sakit apa neneknya, dan berapa ongkosnya memanggil dokter.

“Nenek,” Sarah menyapa pelan.

Nenek Suli membuka matanya.

"Itu … siapa?”

“Nenek, ini dokter yang mau memeriksa Nenek.”

Sarah mengambilkan kursi agar dokter bisa duduk di samping tempat tidur neneknya.

“Nenek, saya periksa dulu ya. Apa yang Nenek rasakan?” suara dokter itu sangat lembut. 

Nenek menatapnya tak berkedip. Seperti mimpi ia membayangkan memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa sakitnya. Tapi ia diam, dan menyimpan seribu satu pertanyaan di hatinya. Lagipula ia merasa sangat lemas.

Sarah berdiri di dekatnya, sedangkan ia melarang Bowo untuk masuk.

Beberapa saat lamanya dokter itu memeriksa, lalu menatap Sarah dengan tatapan serius.

“Kamu cucunya?”

Sarah mengangguk.

“Nenek harus dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.”

“Apa?”

Tiba-tiba Bowo masuk.

“Biar dibawa ke rumah sakit saja, penanganannya lebih maksimal. Sekarang saja ya Om, saya antarkan.”

Suara itu dikenal nenek Suli. Ia menatap kearah laki-laki yang berdiri di tengah pintu. Tatapan yang tak enak.

“Aku tidak mau,” katanya lemah.

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, September 30, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 19

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  19

(Tien Kumalasari)

 

Fajar menunggu di mobil sementara pak Manan tampak melongok ke sana kemari.

“Benar-benar tidak ada Pak,” kata pak Manan setelah kembali ke mobil.

“Tidak ada yang bisa ditanya ya.”

“Rumah ini terpencil, agak di sebelah sana perkampungan. Apakah pak Fajar ingin menunggu?”

“Sampai kapan? Kita tidak tahu dia ke mana.”

“Kemarin kan istrinya sakit. Barangkali sedang membawa istrinya berobat.”

“Mungkin juga ya.”

“Lalu kita akan mencarinya?”

“Tidak usah, kita langsung pulang saja, soalnya kalau mencari tidak tahu tempatnya, kalau menunggu tidak tahu akan berapa lama.”

“Baiklah kalau begitu.”

Pak Manan membawa mobilnya keluar dari gang sempit itu, lalu menuju pulang seperti perintah majikan mudanya.

Tapi dalam perjalanan itu, Fajar tampak masih memikirkannya.

“Ke mana ya mereka?”

Pak Manan menoleh ke arah majikannya, yang tampak masih memikirkan pak Karimun dan istrinya. Ia heran sang majikan muda tiba-tiba sangat peduli kepada orang yang baru dikenalnya. Bukankah dia sudah menolongnya, sudah memberinya uang yang lumayan banyak, sudah memberi sembako untuk keperluan hidupnya. Apa itu belum cukup?

“Entah mengapa, saya kok terus memikirkan mereka,” gumam Fajar.

“Saya juga berpikir demikian tentang Bapak. Mengapa pak Fajar begitu peduli, sementara tadi sudah menolongnya, dan memberi uang dan bahan makanan.”

“Heran ya?”

“Sangat heran.”

“Mungkin karena aku sangat kasihan.”

“Banyak orang hidup berkekurangan Pak. Bapak juga sudah sering membantu, tapi perlakuan Bapak terhadap pak Karimun sangat berbeda.”

Fajar menghela napas panjang. Seperti mimpi ketika tiba-tiba berhenti dan membawa seorang korban kecelakaan di tepi jalan ke rumah sakit, dan memberikan banyak hal. Mengapa dia melakukannya?

***

Pagi hari itu Bimo dipanggil ke bagian kepegawaian. Sangat tidak diduga ketika tiba-tiba dia dipindahkan tugasnya, bukan lagi menjadi OB tapi diperbantukan di bagian gudang. Apakah itu ada hubungannya ketika kemarin pak Pranoto memanggilnya dan menanyakan tentang keluarga dan kehidupannya? Mengapa tiba-tiba sang pimpinan mengangkat derajatnya dari seorang OB menjadi pegawai gudang?

Hal itu terjawab ketika tiba-tiba Fajar yang baru datang siang itu mencarinya setelah menghadap ayahnya.

“Bagaimana Bimo, kamu lebih senang di sini?” tanya Fajar.

"Jadi Mas Fajar yang meminta agar saya dipindahkan ke bagian ini?”

Fajar hanya tertawa.

“Aku bukan petinggi di sini. Bukankah pak Pranoto yang punya kuasa?”

Bimo tersenyum.

“Apapun itu, kedudukan saya dipindahkan setelah mas Fajar datang kemari. Terima kasih banyak ya.”

“Kok terima kasih padaku?"

“Pokoknya terima kasih.”

“Ya sudah, lanjutkan tugas kamu.”

”Saya masih harus belajar Mas. Banyak belajar.”

“Belajar itu bagus. Kalau kamu banyak belajar maka kamu akan menjadi pintar. Yuk, aku pergi dulu, kantorku bukan di sini,” kata Fajar sambil menepuk bahu Bimo.

***

Sepeninggal Fajar banyak orang berbincang tentang kemiripan Bimo dan putra mahkota perusahaan pak Pranoto.

“Bukan mirip. Itu persis,” kata salah satu dari mereka.

“Mereka seperti kembar.”

“Yang tidak sama adalah nasibnya.”

“Benar, yang satu direktur muda, satunya pegawai gudang.”

“Itupun baru hari ini, tadinya bimo hanya OB. Mungkin karena wajahnya mirip itu maka dari OB lalu dipindahkan ke gudang.”

“Ya, kamu betul.”

“Ini sebuah keberuntungan bagi Bimo.”

“Tapi Bimo itu baik. Ia tidak bersikap sombong walau kedudukannya berubah.”

“Sejak pertama kali datang dia memang sudah baik.”

“Benar. Ia baik kepada siapa saja.”

Bimo bukan tak tahu ia sering diperbincangkan. Tapi ia tak mempedulikannya. Ia selalu bersikap baik dan teman-menanya menganggap dia teramat santun. Kedudukannya yang berubah sama sekali tidak membuatnya bersikap sombong.

***

Pak Pranoto kembali menegur Fajar atas keterlambatannya datang, dan sekali lagi Fajar mengatakan bahwa ia harus menolong seseorang yang terluka di pinggir jalan.

“Kamu itu terlalu baik, sehingga mengabaikan kepentingan kamu sendiri,” tegur sang ayah.

“Bukankah menolong orang adalah perbuatan mulia?”

“Kamu kan bisa, memanggil ambulans atau polisi, biar mereka yang mengurusnya.”

“Orangnya aneh, tidak mau ada yang lapor polisi. Walau dia korban tabrak lari.”

“Mengapa tidak mau? Jangan-jangan dia penjahat, takut bertemu polisi.”

“Bukan Pak, dia bilang takut bukan karena dia penjahat, tapi karena yang bersalah itu dia, sehingga tertabrak sepeda motor.”

“Itu kan menjadi urusan polisi?”

“Justru itu, dengan lugunya dia bilang, dia tidak mau lapor polisi, takut dipenjara, karena dia yang bersalah, karena menyeberang tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan.”

Pak Pranoto tersenyum.

“Lalu kamu mengurusnya sampai selesai? Pantesan terlambatnya lama.”

Tidak, setelah sampai di rumah sakit, pak Manan Fajar minta mengantarkan saya ke kantor, lalu selanjutnya pak Mananlah yang mengurus si korban.”

“Ya sudah, lain kali kalau melakukan sesuatu harus dengan perhitungan. Bukan apa-apanya, tapi waktunya. Dalam bekerja, waktu itu sangat penting. Sebuah keterlambatan bisa membuat sebuah transaksi bisnis bisa gagal.”

“Iya Pak, maaf. Tapi entah mengapa, Fajar kasihan sekali pada orang itu.”

“Kamu kan sudah menolongnya? Kamu bayar rumah sakitnya?”

“Iya.”

“Kamu beri dia uang?”

“Iya.”

“Ya sudah, mau apa lagi?”

“Entahlah, kasihan saja pada kehidupannya. Rumahnya berdinding bambu, atap rumbai, alasnya dari tanah.”

Pak Pranoto tertawa melihat sang putra.

“Fajar, ada apa kamu ini ? Banyak orang yang tidak punya di dunia ini, dan kita, sudah melakukan banyak hal untuk mereka.. Kamu bawa rasa kasihan kamu sampai ke rumah sementara kamu sudah berusaha membantunya.”

“Fajar juga tidak tahu.”

“Lupakan saja, dan sekarang kembalilah ke kantor, walau hanya sebentar saja. Kalau capek kamu bisa pulang lebih awal kan?”

***

Fajar langsung ke kantornya sendiri dan melakukan tugasnya seperti biasa. Memeriksa laporan, mencermati setiap langkah kemajuan dari perusahaan yang dipimpinnya. Pak Pranoto sangat bangga kepada anak laki-lakinya, dan itu sebabnya ia mempercayakan salah satu usahanya kepada Fajar.

***

Sore hari itu Sarah seperti biasa menjajakan korannya. Tapi matanya terus mencari-cari. Ada mobil yang sangat dikenalnya, dengan pengendara yang gagah dan tampan, yang diharapkan lewat disore itu dan membeli korannya. Bukan uangnya, tapi entah mengapa, senang saja melihatnya datang.

Korannya tinggal beberapa lagi. Ia akan segera pulang karena tadi sang nenek mengatakan bahwa kurang enak badan.

“Sarah!”

Sarah tersenyum, ia melihat Bimo melenggang dari kejauhan.

“Belum pulang Sar?”

“Hampir Mas.”

“Iya, ini sudah sore. Korannya masih ada?”

“Tinggal beberapa.”

“Sini aku bantu, nah … itu pas lampu merah.”

Keduanya bergegas ke jalan. Masing-masing laku satu, tapi mereka tampak senang.

“Hanya satu Sar?”

“Tidak apa, rejeki itu ada takarannya. Kalau dikasih satu ya tidak apa-apa, kalau dikasih banyak ya alhamdulilah.”

“Apa kamu mau mengembalikan sisanya ke agen sekarang?”

"Iya sih, sudah sore,” katanya sambil menatap ke arah jalan. Yang ditunggunya belum kelihatan, tapi ia ingin segera pulang.

“Ya sudah, daripada kesorean lebih baik pulang saja Sar. Sebenarnya aku ingin cerita, sejak kemarin belum jadi. Besok saja ceritanya ya.”

Sarah mengangguk, tapi ia menoleh ke arah jalan. Dan yang ditunggunya muncul. Wajah Sarah tampak bersinar. Setengah berlari ia mendekati mobil yang mendekat.

Bimo menangkap wajah berseri itu dan tiba-tiba merasa dadanya sakit. Ternyata yang dtunggu Sarah bukan dirinya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, September 29, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 18

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  18

(Tien Kumalasari)

 

Bu Karimun tersenyum, tapi senyuman itu terasa pahit. Kenangan masa lalu itu terasa menyakitkan, mengiris jantungnya sampai berkeping-keping.

“Ya sudah Bu, jangan kamu pikirkan lagi. Yang harus kita pikirkan adalah kelanjutan hidup kita ini.. Kita harus bersyukur, karena betapapun susahnya, kita masih diberikan hidup dan selalu ada saja jalan untuk hidup.”

“Iya Pak, hidup ini adalah karunia. Dulu aku ingin sekali segera mati sehingga tak lagi merasakan papa dalam kehidupan ini. Tapi kemudian aku menyadari, bahwa kita bukanlah pemilik kehidupan ini. Kita tidak berhak menentukan mati dan hidup kita, dan apapun bentuknya harus kita syukuri. Ya kan Pak, itu juga yang selalu kamu katakan ketika kita sedang suntuk memikirkan kehidupan ini.”

“Ya sudah, tadi aku hanya mengatakan tentang anak muda ganteng itu, seandainya anak kita ada, pasti sudah sebesar dia. Sekarang jangan sampai karena ucapan aku itu lalu kamu menjadi sedih. Ayo kita makan dulu. Tadi pak sopir yang baik hati itu juga membelikan kita nasi dan lauknya di jalan. Ini Bu, ayo makan, sejak kemarin kita belum makan kecuali meneguk segelas air putih.”

Pak Karimun menyiapkan makanan yang berupa nasi bungkus dan lauk pauknya, karena ia tahu istrinya sedang sakit.

“Nanti setelah makan, aku antarkan kamu ke pak Mantri, agar diberikan obat untuk sakitmu itu Bu.”

“Apa Bapak punya uang? Atau kita jual sebagian beras ini agar kita punya uang?”

“Kamu itu bagaimana, apa aku tadi belum bilang kalau aku juga diberi uang oleh orang baik itu? Ini Bu, lumayan banyak.”

“Ya Allah, itu banyak sekali Pak. Bersyukur kita punya uang. Ketika Bapak sakit belum bisa bekerja, kita juga tidak perlu belanja untuk makan. Bahan makanan ini bisa kita makan selama sebulan..”

“Ia juga minta agar aku kontrol ke rumah sakit. Kepalaku ini kan luka dan tadi harus dijahit. Kata dokternya, seminggu lagi setelah obatnya habis harus kontrol.”

“Allah Maha Besar ….,” Bu Karimun mengusap air mata haru.

“Makanlah, nanti aku antarkan kamu ke pak Mantri.”

***

Malam itu Fajar menginap di hotel karena urusannya belum selesai.

“Bagaimana tadi kabarnya pak tua itu, Pak?” tanya Fajar kepada pak Manan ketika mereka sedang duduk di lobi hotel.

“Sudah saya antarkan ke rumahnya, Pak. Ini catatan pengeluaran uangnya, untuk beli beras dan lain-lain, dan sedikit makanan karena katanya sejak kemarin belum makan, lalu sisanya berupa uang saya berikan semua kepada pak Karimun.”

“Ya sudah, tidak apa-apa, syukurlah pak Manan bisa menyesaikan semuanya. Entah mengapa, aku merasa iba melihat pak tua tadi. Eh, siapa namanya?”

“Pak Karimun.”

“Nah, pak Karimun. Pak Manan juga ketemu istrinya?”

“Istrinya kurus dan pucat. Tadinya ia berbaring di bangku panjang, lalu bangun, tapi kami tidak bicara banyak, karena harus segera menjemput Bapak.”

“Dan ternyata urusannya baru diselesaikan besok pagi.”

“Tidak apa-apa, tadi pak Pranoto bilang, kemungkinan harus menginap, jadi saya juga siap-siap membawa ganti baju.”

“Bagaimana keadaan rumah pak Karimun tadi?”

“Buruk. Dindingnya anyaman bambu, atapnya rumbai. Lantainya juga lantai tanah. Benar-benar keadaannya memprihatinkan.”

“Pak Manan bisa bekerja apa?”

“Katanya tadi kan dia bekerja apa saja untuk membantu orang-orang.”

Mereka diam, lalu Fajar meminta pak Manan agar beristirahat, karena besok pagi mereka akan pulang setelah menyelesaikan urusannya di kantor.

Fajar masuk ke dalam kamarnya sambil memikirkan sesuatu. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa iba melihat keadaan pak Karimun dan istrinya.

***

“Mas Fajar tidak pulang, berarti dia menginap ya Pak?” tanya Mentari kepada ayahnya.

“Dia sudah memberi tahu bapak. Dia akan pulang besok pagi setelah urusannya selesai.”

“Sepi nggak ada mas Fajar.”

“Padahal kamu selalu digangguin, ketika dia tak ada kamu merasa kesepian kan?”

“Mas Fajar itu memang agak nakal, sering gangguin Mentari, tapi dia kan baik dan sayang sama Mentari. Mentari minta apa saja pasti diberi.”

“Kamu juga jangan manja, ingat, kamu itu sudah besar, hampir lulus SMA, hampir kuliah, dan kamu juga harus belajar bisnis, karena kamu harus memegang salah satu perusahaan bapak, nantinya.”

“Aduuh, Mentari belum memikirkannya Pak. Bekerja pasti berat. Berangkat pagi, pulang sore, terkadang malam.”

“Mentari, tidak ada orang bekerja yang merasa pekerjaan itu enteng. Semuanya berat. Uang didapat hanya dengan berusaha. Jangan mentang-mentang sekarang hidup kamu berkecukupan lalu malas berusaha.”

“Iya, kan masih lama Pak.”

“Biarpun lama, nanti sambil kuliah kamu harus belajar.”

Mentari merengut, tapi ia mengerti bahwa orang tuanya bermaksud membuat dirinya bisa belajar untuk bekal di kemudian hari kelak.

***

Sore itu koran di tangan Sarah sudah habis, tapi dia masih duduk termangu di bawah pohon, di mana dia selalu beristirahat. Apakah ada yang ditunggunya?

Bimo yang baru pulang dari bekerja, melihatnya heran. Tadi di kantor dia di panggil pimpinan, dan banyak yang ditanyakannya. Entah mengapa, pak Pranoto sendiri yang bertanya tentang keluarganya. Sudah saatnya pulang ketika itu, jadi sore itu dia pulang terlambat. Ia tak berharap ketemu Sarah, karena dihari sesore itu biasanya Sarah sudah pulang. Tapi ia heran melihat Sarah masih duduk di sana.

“Sarah!”

Ketika ia menyapa, Sarah tampak sudah berdiri, tampaknya baru akan beranjak pulang.

“Kamu belum pulang?”

“Belum, eh … ini mau pulang. Kok mas Bimo baru pulang?”

“Iya, tadi disuruh menghadap pimpinan.”

“Kena marah?”

“Tidak, aku kan tidak melakukan kesalahan. Hanya ditanya-tanya soal keluarga dan kehidupan saya. Nggak tahu kenapa.”

“Mau dikasih gaji lebih banyak,” canda Sarah.

Bimo tersenyum sambil mengaminkan.

“Sebenarnya aku mau cerita, tapi nanti kamu kesorean, besok saja ya.”

“Cerita apa sih?”

“Besok saja, ini sudah sore.”

“Ya sudah, ini juga sudah kesorean. Aku pulang ya Mas,” kata Sarah sambil melambaikan tangannya dan berlalu.

Walau begitu sebentar-sebentar dia menoleh ke jalan. Seperti ada yang dicarinya. Bibirnya perlahan membisikkan sesuatu.

“Mengapa hari ini dia tidak lewat ya?” 

Lalu Sarah mengomeli dirinya sendiri. 

"Ada apa aku ini? Mengapa aku mengharapkan dia lewat? Ini ada apa? Tidak, mengapa aku memikirkannya?" kata batinnya berkali-kali.

Sementara itu Bimo pulang dengan pikiran yang digambarkannya sendiri.

“Sarah tidak pulang karena menunggu aku kan? Biasanya aku pulang agak sore, dan itu terlambat sejam lebih . Pasti Sarah tidak mau pulang sebelum bertemu aku. Kan aku sudah bilang, kalau aku bersikap baik, pasti Sarah juga akan jatuh hati padaku," kata batinnya sambil menuju rumah dan tersenyum-senyum sendiri.

***

“Mengapa pulangnya sudah sore, Sarah?”

“Iya Nek, menunggu koran habis,” kata Sarah sekenanya.

Padahal walau dagangannya belum habis dia pasti sudah pulang kalau hari sudah sore. Menunggu dia lewat? Diam-diam Sarah memukul pipinya sendiri.

“Hei, ada apa kamu ini? Mengapa wajah sendiri dipukul?”

Sarah tersipu.

“Ini Nek, Sarah kira ada nyamuk nempel.”

“Ada-ada saja, jam segini nyamuk-nyamuk masih tidur,” kata nenek Suli sekenanya.

“Sarah mandi dulu ya Nek.”

“Ya sudah mandi dulu sana, Nenek buatkan wedang jahe biar badan kamu segar. Nenek juga merasa tidak enak badan ini.”

“Tuh kan, Nenek jangan kecapekan. Bekerja sekuatnya saja.”

“Iya, Nenek tahu, tapi memang lagi musim orang sakit, bukan karena kecapekan. Sudah, katanya mau mandi.”

***

Belum terlalu siang ketika Fajar mengajak pak Manan pulang. Semuanya sudah selesai, dan ia tinggal melaporkan semuanya nanti kepada sang ayah.

“Tapi kita mampir ke rumah pak Karimun dulu ya.”

“Ke sana lagi Pak?” tanya pak Manan heran.

“Aku kan belum pernah ke sana, pengin lihat keadaannya saja.”

“Baiklah.”

Tapi ketika sampai di rumah pak Karimun, mereka mendapati rumah itu tertutup. Pak Manan berkali-kali mengetuk pintu, tapi tak terdengar suara dari dalam. Bahkan ketika ia mendorong pintunya yang ternyata tidak terkunci, rumah itu kosong.

“Tidak ada orang, Pak.”

“Pergi ke mana?”

“Nggak ada yang bisa ditanya Pak, rumah ini jauh dari tetangga.”

***

Besok lagi ya.

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 22

  DARAH,  CINTA DAN AIR MATA  22 (Tien Kumalasari)   Langkah Sarah tersendat, dadanya berdebar kencang, apakah bu Lurah akan marah-marah kar...