Friday, August 21, 2026

AKU ANAK SIAPA 17

 AKU ANAK SIAPA  17

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot tiba-tiba merasa gelisah. Ia teringat ketika puluhan tahun yang lalu melakukannya. Membuang bayi tak berdosa di sebuah panti asuhan, hanya karena bayi itu bukan darah dagingnya, hanya karena merasa dikhianati oleh sang istri.

Ketika itu ia masih punya rumah dan harta warisan dari kedua orang tuanya, tapi sang istri menghabiskannya sedikit demi sedikit hanya untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain. Perhiasan, uang, dan yang terakhir rumah warisan itu digadaikan tanpa sepengetahuannya, sehingga pada suatu ketika karena tak mampu menebusnya maka rumah itu disita oleh si penggadai. Saat itulah sang istri melahirkan disebuah rumah sakit, dan meninggal karena perdarahan. Ia yang sudah habis-habisan harus membayar beaya persalinan, dan kemudian meninggalkan bayi itu disebuah panti asuhan tanpa pesan apapun.

Tiba-tiba ia merasa berdosa kepada bayi itu. Bayi merah yang terlahir bersih tanpa dosa, mengapa harus menanggung dosa orang tuanya? Jangan-jangan bayi itu Rosa, kata batinnya berkali-kali. Ia lupa di panti asuhan mana ia meninggalkan bayi itu, tapi ia ingat satu hal, masih dikota ini, di sebuah kampung.

Malam harinya Gatot tak bisa tidur nyenyak. Begitu bangun, ia menelpon sang nyonya majikan bahwa dia tak bisa masuk karena sakit. Tapi ia mencari panti asuhan itu.

***

 Di sebuah gedung dengan halaman luas, pak Gatot berhenti. Ia membaca nama panti itu. Panti Asuhan Kasih Sayang.

“Sepertinya di sini, aku tak begitu ingat, karena waktu itu malam hari, dan hujan lebat pula." 

Ia membawa bayi yang baru dua hari lahir, dibungkusnya dengan selimut tebal, lalu meninggalkannya di teras panti yang waktu itu sepi tanpa penjaga.

Ia pulang ke rumah yang sudah tidak menjadi miliknya, lalu membawa barang-barang yang bisa di bawa, lalu pergi entah kemana.

Ia memarkir sepeda motornya di halaman, lalu melangkah ke dalam. Seorang wanita menyambutnya.

Wanita itu kesal karena sebelumnya pernah ada orang yang mencari siapa orang tuanya, puluhan tahun yang lalu, kemudian ketika akhirnya data tentang bayi itu ketemu, tak bisa ketahuan siapa orang tuanya, karena bayi itu ditinggalkan begitu saja di teras panti. Sekarang datang lagi seorang laki-laki tua yang menanyakan tentang bayi yang ditinggalkan puluhan tahun yang lalu. Datanya sama persis seperti data yang pernah ditanyakan oleh seorang wanita.

“Saya minta maaf, bayi itu sebenarnya bukan bayi saya, jadi saya tak ingin merawatnya. Saya ingin tahu tentang nasib bayi itu,” kata pak Gatot menghiba. Ia berjanji, kalau bayi itu yang pastinya sudah lebih dari dewasa dan masih ada  ia akan mengakuinya sebagai anaknya.

Petugas panti menatapnya tajam. Laki-laki tua dihadapannya pastilah orang yang meninggalkan bayi itu.

Walau begitu ia mencarikan data tentang bayi itu, dan sesuatu membuat pak Gatot terkejut. Bayi itu diambil oleh seorang pengusaha bernama Daryono, dengan alamat yang lengkap.

“Sebulan atau dua bulan yang lalu ada seorang wanita mencari data ini.”

“Apakah Ibu mencatat nama wanita itu?”

“Saya tulis di sini, lihat, namanya Rosana.”

Pak Gatot pulang dengan langkah lunglai. Ia benar-benar merasa heran, bayi yang tampaknya beruntung karena mendapat orang tua kaya raya dan terhormat, akhirnya menjalani kehidupan sebagai bekas narapidana, dan melakukan kejahatan-kejahatan lagi setelahnya.

***

Tak lama setelah pak Gatot sampai di rumahnya, bu Surani menelpon. Ia prihatin karena pak Gatot ijin karena sakit.

“Saya mohon maaf Bu, sebenarnya saya tidak sakit. Saya tersentuh tentang Rosa yang diambil dari panti asuhan, lalu saya teringat pada kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, ketika saya meninggalkan bayi istri saya di sebuah panti asuhan.”

Lalu pak Gatot bercerita tentang kejadian puluhan tahun yang lalu, tentang dirinya dan istrinya, dan semua urut-urutan sampai kemudian membuang bayinya di panti asuhan.

“Saya merasa berdosa teringat kelakuan saya waktu itu, yang tersulut emosi karena pengkhianatan istri, lalu membuang bayi tak berdosa itu. Dan ternyata Bu, bayi itu adalah Rosa.”

“Rosa?” bu Surani sampai berteriak.

“Iya Bu, ternyata bayi itu adalah Rosa.”

“Catatannya bayi itu diberi nama Rosa?”

“Beberapa waktu yang lalu Rosa kesana, maksudnya ingin tahu siapa orang tuanya. Mereka mencatat namanya, Rosana. Jadi benar, bayi itu adalah Rosa.”

“Ya Allah … jadi Rosa sebenarnya anak pak Gatot?”

“Sebenarnya, kalau menurut catatan di rumah sakit … memang anak saya, tapi saya sendiri ragu, karena kelakuan istri saya seperti itu,” kata pak Gatot sedih.

“Ya sudah, pak Gatot tidak perlu sedih, semua yang terjadi atas manusia itu kan sudah digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Pak Gatot harus bersyukur, bisa menjalani kehidupan ini dengan baik.”

“Ya Bu, saya sangat bersyukur.”

“Apakah pak Gatot ingin mencari Rosa? Kabarnya hari ini pak Daryono melaporkannya kepada polisi atas kehilangan itu.”

“Entahlah Bu, saya sudah pasrah. Setidaknya saya sudah mengerti, bagaimana keadaan bayi yang pernah saya buang itu. Yang saya heran, mengapa dia melakukan hal-hal buruk sehingga masuk penjara, dan setelah itu dia tidak segan-segan untuk mencuri dan mencuri lagi.”

“Saya juga heran. Kalau dia anak pak Gatot, mengapa kelakuannya bisa seperti itu, sementara pak Gatot begitu santun dan sangat baik. Dan itu juga sebabnya pak Gatot bisa puluhan tahun bekerja di toko saya, bahkan sejak kedua orang tua saya masih ada. Jadi apakah darah jahat ibunya mengalir di tubuh Rosa ya.”

Pak Gatot menghela napas panjang. Sesungguhnya ia tak ingin menceritakan aib istrinya, tapi keadaan memaksa untuk dia mengatakannya.

***

Rosa sedang berada di suatu tempat, dan itu adalah bekas salon milik Mery temannya.

“Aku tidak mau kamu berada di sini, aku sudah tidak ingin berurusan dengan polisi.”

“Mery, tolonglah, aku baru dua hari berada di sini dan kamu sudah mengusirku. Apa kamu lupa kita pernah berteman saat sekolah?”

“Itu benar, aku tidak lupa. Tapi gara-gara kamu aku masuk penjara, salonku ditutup, dan aku harus berdagang kecil-kecilan untuk menyambung hidup.”

“Baiklah, aku tidak akan lama. Aku akan mencari tempat tinggal yang lebih baik, maksudnya tidak usah mengganggu orang lain, tapi berilah aku waktu dua tiga hari lagi.”

“Sehari lagi Rosa, aku tidak mau lebih,” kata Mery, tegas.

“Ya ampun Mery, kejam sekali kamu.”

“Bukan kejam, aku hanya mencari agar aku selamat. Kamu tahu kan, foto kamu sudah terpampang di mana-mana, jadi kamu itu buronan. Kalau aku membiarkan kamu di sini, sama saja aku bunuh diri. Jadi mengertilah Rosa, tolong jangan libatkan aku.”

“Keluarga Daryono benar-benar kejam. Ia tega melaporkan aku ke polisi. Hartanya tak terhitung, hanya kehilangan perhiasan sekotak saja seperti sudah kehilangan seluruh kehidupannya.”

“Namanya kehilangan, sebutir berlian apalagi sekotak perhiasan, pasti harganya tak terhitung. Kamu harus mengerti bahwa kamu harus menebus kesalahanmu dan masuk kembali ke penjara.”

“Mery, kamu kok malah mengutuk aku?”

“Kalau begitu segeralah pergi Ros, maaf. Bukan aku tak peduli pada teman lama, tapi aku sudah pernah merasakan bagaimana terhinanya aku ketika harus mendekam di penjara. Aku tidak mau mengulanginya.”

“Baiklah, baiklah … besok aku akan pergi dari sini. Hari ini aku akan pergi dulu mencari rumah untuk aku bersembunyi.”

“Pergilah, dan ingat, wajah kamu sudah tersebar di seluruh kota. Di tembok-tembok, di batang-batang pohon.. Semua orang akan mengenali kamu.”

“Aku mau pinjam topi kamu itu, dan biarkan aku berdandan yang aneh agar wajahku berubah.”

Mery mengijinkan ketika Rosa meminjam lipstik, maskara dan yang lain-lain, yang akan merubah bentuk wajahnya. Sekarang Rosa sudah berubah wajah, ia keluar dengan pakaian kedodoran, memakai topi dan dandanan yang aneh.

Tapi ketika Rosa pergi, anaknya yang bekas istri siri pak Wiguna mendekati sang ibu.

“Bu, jangan biarkan dia kembali. Agar Ibu tidak terlibat, Ibu laporkan saja keberadaan bu Rosa di sini. Kalau Ibu membiarkannya sehari saja, kita akan celaka.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, August 20, 2026

AKU ANAK SIAPA 16

 AKU ANAK SIAPA  16

(Tien Kumalasari)

 

Bu Daryono menarik tangan bu Surani agak ke pinggir, yang agak jauh dari hiruk pikuk para tamu yang beramah tamah.

“Jeng bilang apa? Pengasuh putri Jeng yang mencuri gelang itu bernama Rosa?”

“Iya, Rosana atau Rosa siapa, saya lupa, tapi kami memanggilnya Rosa. Saya kira dia orang baik. Satpam saya yang mengantarkan ke rumah saya, minta pekerjaan, lalu saya terima. Tadinya satpam itu mengatakan bahwa dia anaknya, tapi belakangan dia mengatakan bahwa sesungguhnya Rosa bukan siapa-siapanya. Dia hanya menolong ketika Rosa dihajar banyak orang karena mencuri sepotong roti. Karena kasihan satpam itu mengajaknya pulang, diberi pakaian, dianggapnya anak, lalu dicarikan pekerjaan di rumah saya. Tak tahunya dia mencuri."

Bu Daryono mengambil ponselnya, membuka-buka dan berhasil menemukan sebuah gambar Rosa, bekas anak angkatnya. Memang bekas karena setelah melakukan kejahatan, bu Daryono dan suaminya tak mau lagi menganggapnya anak angkat.

“Inikah Jeng, pengasuh putri Jeng yang bernama Rosa?”

“Lhoh, bu Daryono kok punya fotonya Rosa. Iya Bu, benar ini orangnya.”

“Ya Allah, dia melakukannya, benar-benar pasti dia.”

“Maksud bu Daryono, yang mencuri kotak perhiasan itu dia? Bagaimana Ibu bisa mengenal dia?”

Lalu bu Daryono menceritakan secara singkat tentang kehadiran Rosa yang sejak bayi diambil dari panti asuhan, lalu diangkatnya anak, dikuliahkan sampai di luar negri. Tapi kemudian dia melakukan kejahatan dan dipenjara beberapa tahun. Sampai ketika Rosa ketemu Bibik pembantunya, menginap di rumah semalam, lalu tiba-tiba pamit pergi lagi, dan bu Daryono kehilangan sekotak perhiasan.

Bu Surani melongo. Jadi Rosa itu pernah menjadi anak angkat keluarga Daryono?

“Berarti dia punya bakat menjadi penjahat. Setelah keluar dari penjara harusnya mencari pekerjaan agar bisa makan, dia malah mencuri. Pasti bukan sekali itu dia melakukannya. Yang terakhir menyebabkan dia dipungut oleh pak Gatot. Tapi dasarnya hatinya kotor.”

“Aku yakin, pasti dia pelakunya. Padahal seandainya dia minta tolong, ingin membuka usaha atau apa, pasti kami akan memberi, walau tak mau lagi menjadikannya anak angkat. Kok malah mencuri. Benar Jeng, dia punya darah penjahat. Entah anak siapa dia sebenarnya.”

“Ibu tidak tahu siapa orang tuanya?”

“Tidak Jeng, kami mengambilnya di panti asuhan, katanya dia ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya, tanpa keterangan apapun. Jadi sampai sekarang kami tidak tahu siapa orang tuanya.

“Luar biasa pengalaman kita tentang kecurian barang. Hanya punya  bu Daryono pasti lebih mahal. Jauh lebih mahal.”

“Lumayan Jeng, agak lengkap barang yang saya simpan di kotak itu. Seandainya sore ini tidak harus memenuhi undangan di sini, entah sampai kapan kami tahu bahwa kotak itu hilang, karena saya tidak pernah memakai perhiasan di keseharian saya.

“Semoga dia tertangkap Bu, pastinya Bibik bertanya di mana dia tinggal kan?”

“Tidak Jeng, dia tidak mau mengatakan di mana dia tinggal.”

“Tadinya dia kost di dekat rumah saya Bu, tapi kemudian dia keluar dan tidak lagi kost di sana.”

“Entah apa nanti yang akan dilakukan suami saya Jeng, tapi besok dia akan lapor polisi. Semoga kalau dia tertangkap, benar-benar bisa membuatnya jera.”

***

Pak Daryono heran mendengar penuturan istrinya tentang Rosa, yang sebelumnya pernah mencuri gelang anak bu Surani ketika menjadi pengasuh.

“Papa tadi aku cari tidak ketemu, sebenarnya kalau ketemu akan aku minta untuk mendengarkan cerita jeng Surani.”

“Aku ketemu pak Wiguna dan juga Arka putranya, mereka bersama istri masing-masing. Banyak cerita, jadi agak jauh dari Mama. Aku mau memanggil Mama, kok sudah tidak ada di tempat semula.”

“Ya itu, aku omong-omong sama jeng Surani, mojok agak ke belakang.”

“Hebat ya Rosa, ternyata dia memang punya darah penjahat, padahal kita mendidiknya dengan baik, dia juga bergaul dengan orang-orang baik.”

“Sifat itu sudah mendarah daging. Harusnya kalau kita memungut anak, harus jelas siapa orang tuanya, dan bagaimana dia sampai dititipkan di panti asuhan.”

“Kalau sekarang kita tidak usah ingin punya anak angkat lagi kan Ma, kita sudah semakin tua, nanti malah jadi banyak pikiran.”

“Sebenarnya Papa sudah akan mewariskan perusahaan Papa juga kan?”

“Akhirnya kan banyak aset yang sudah aku jual Ma, agar tidak terlalu terbebani oleh pikiran yang macam-macam.”

“Iya, Papa benar. Lebih baik kita hidup tenang dengan menikmati masa tua kita.”

“Benar Ma.”

“Tentang pencurian itu, apakah besok Papa jadi melaporkannya ke polisi?”

“Jadi Ma, agar dia jera. Enak sekali dia melakukan kejahatan lalu kita biarkan dia melenggang.”

“Sebenarnya kasihan ya Pa, mengingat masa kecilnya yang lucu, dan pintar.”

“Iya sih. Tapi kalau dipikir-pikir, mengapa dia memilih mencuri perhiasan, bukan surat-surat dia atau ijazah dia, agar bisa dipergunakan untuk mencari pekerjaan. Barang-barang itu kan semua ada di rumah kita.”

“Memang inginnya mendapat uang secara instan. Bukankah pada dasarnya dia itu pemalas? Sudah selesai pendidikan di luar negri, bukan ingin membantu Papa, malah melakukan hal yang aneh-aneh.”

“Yah, sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi.”

***

Sore hari itu sebelum pulang, pak Gatot dipanggil bu Surani. Ia langsung masuk kembali ke dalam toko, menuju kantor bu Surani, di mana dia sudah menunggu.

“Duduk, pak Gatot.”

Pak Gatot duduk di depan meja kerja bu Surani, agak berdebar, karena tak biasanya bu Surani memanggilnya. Ternyata bu Surani hanya bercerita tentang Rosa yang melakukan pencurian lagi di rumah seorang pengusaha, di mana dulu Rosa dijadikan anak angkatnya.

“Jadi Rosa itu sebenarnya anak angkat seorang pengusaha?”

“Iya Pak. Pengusaha besar dan kaya raya.”

“Aneh. Mengapa dia kemudian keluyuran seperti gelandangan, bahkan mencuri sepotong roti di warung jalanan.”

“Ceritanya panjang Pak. Itu sebabnya pak Gatot saya suruh masuk kemari, karena kalau di luar, nggak enak kita ngobrol, nanti dilihat dan didengar orang-orang.”

“Benar Bu.”

“Dan sekarang jam kerja untuk pak Gatot kan sudah selesai?”

Lalu bu Surani bercerita seperti apa yang dikatakan bu Daryono. Semuanya dikatakan, sampai kemudian Rosa datang ke rumahnya saat bu Daryono pergi, kemudian mencuri sekotak perhiasan.

Pak Gatot geleng-geleng kepala. Tapi dia sangat terkejut ketika bu Surani mengatakan tentang Rosa yang sebenarnya diambil dari panti asuhan.

***

Ketika pulang, pak Gatot melamun di rumahnya. Ia duduk sendirian di depan rumah, teringat akan nasibnya sendiri yang bisa dikatakan sebatang kara. Rosa yang ditemukan dijalanan dan diharapkan bisa menemani kehidupannya sebagai anak angkat, ternyata adalah bekas anak angkat seorang pengusaha, sekaligus bekas narapidana. Pantas dia sangat tertutup dan tidak mau menceritakan perihal kehidupannya.

Pak Gatot sendiri sebenarnya bukanlah perjaka tua. Ia pernah punya istri yang ternyata penipu, menghabiskan harta peninggalan orang tuanya untuk berselingkuh dengan seseorang. Ketika sang istri mengandung, ia mengacuhkannya karena tahu bahwa bayi itu bukan darah dagingnya. Sang istri berhubungan dengan banyak laki-laki yang entah siapa bapak dari bayi itu. Ketika kemudian bayi itu lahir, sang istri meninggal setelah melahirkan. Pak Gatot yang kebingungan karena tak bisa merawat bayi, serta dalam keadaan terluka hatinya karena kebohongan sang istri dan pengkhianatannya, membawa bayi yang baru lahir itu dan meninggalkannya di sebuah panti asuhan.

Tiba-tiba pak Gatot terkejut ketika teringat tentang bayi di panti asuhan itu. Jangan-jangan bayi itu adalah Rosa.

“Ya Tuhan, apakah Rosa adalah anak mendiang istriku?”

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, August 19, 2026

AKU ANAK SIAPA 15

 AKU ANAK SIAPA  15

(Tien Kumalasari)

 

Pak Daryono heran, istrinya bingung mencari kotak perhiasan.

“Mama menaruhnya di mana?”

“Ya di almari Mama ini kan Pa? Masa di tempat lain?” kata bu Daryono sambil membolak balikkan tumpukan pakaian, barangkali terselip di sana. 

Tak  ditemukannya apa yang dicarinya.

Pak Daryono sudah memakai pakaiannya, ia ikut membuka almarinya sendiri, barangkali sang istri lupa menaruhnya di almari suaminya. Tapi itupun tak ada.

Bu Daryono terduduk lemas di kursi, depan cermin tempatnya berdandan.

“Berarti hilang,” kata bu Daryono lemas. 

Ada perhiasan lengkap di kotak itu, beberapa cincin berlian, gelang leontin dan kalung. Semuanya barang mahal, karena keluarga Daryono adalah pengusaha kaya.

“Ya sudah bu, nanti pakai aja yang ada di dalam simpanan, itu tak akan hilang karena hanya kita yang bisa membukanya,” kata pak Daryono sambil menunjuk ke arah brankas yang ada di samping tempat tidurnya.

“Tidak ada gunanya menyesali. Cepat ibu mandi dulu.”

Bu Daryono bangkit dan menuju kamar mandi dengan langkah lemas. Bagaimanapun kayanya, yang namanya kehilangan pasti membuat sedih dan kecewa.

Pak Daryono melanjutkan berpakaian, lalu kembali mengobrak abrik almarinya sendiri, juga almari istrinya. Tetap saja kotak itu tak ditemukannya.

Kesimpulannya sudah jelas, barang-barang itu hilang.

Ketika bu Daryono selesai mandi, dia masih mempersoalkan barangnya yang hilang.

“Sejak kapan ya kotak itu hilang? Seminggu yang lalu ketika syukuran di ulang tahun perusahaan, aku masih memakainya sebagian. Masih utuh barang-barangnya,” katanya sambil berdandan.

Tiba-tiba pak Daryono teringat sesuatu.

“Ma, adakah terpikir oleh kamu tentang Rosa?”

Bu Daryono terkejut. 

"Apa benar dia?”

“Kemarin ada yang membuka almarimu dengan paksa, entah dengan alat apa. Itu sebabnya Mama bilang susah dibuka, walau akhirnya bisa. Dan kamar kita ini tidak pernah Mama kunci kan, kecuali almari-almarinya?”

“Coba Papa panggil Bibik,” kata bu Daryono sambil terus berdandan.

Pak Daryono keluar, dan tak lama kemudian Bibik masuk ke kamar.

“Sepatu tuan dan Nyonya sudah saya bersihkan,” kata Bibik begitu masuk.

“Bik, apa ketika Rosa menginap di sini, dia masuk ke kamarku?”

“Non Rosa? Saya tidak tahu Nyonya. Setahu saya setelah berbincang, dia langsung masuk ke kamar saya, dan saya tidur di dapur.”

“Jadi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan?”

“Tidak. Dia bangun pagi-pagi, lalu pamit pergi sebentar. Tak lama kemudian dia kembali, dan mengatakan kalau tak akan menunggu Tuan dan Nyonya pulang. Saya menahannya, tapi dia bersikeras pergi."

“Jadi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan?”

“Saya pikir dia tidak melakukan apa-apa Nyonya, dia langsung masuk ke kamar, lalu ketika bangun itu saya sudah lebih dulu bangun. Dia minum teh buatan saya, karena waktu itu saya sedang menyeduh tehnya. Tapi hanya sebentar, kemudian pergi, entah pergi ke mana. Memangnya ada apa Nyonya? Dia tidur di kamar ini, karena tempat tidur saya kurang nyaman?”

“Nyonyamu kehilangan satu kotak perhiasan.”

“Ya Tuhan,” seru bibik sambul menutup mulutnya.

“Bukan saya Nyonya, sungguh. Puluhan tahun saya mengabdi di sini, tapi saya tidak pernah melakukan hal buruk itu. Saya takut dosa, Nyonya,” kata Bibik ketakutan.

“Satu kotak perhiasan yang sedianya akan aku pakai sebagian malam ini, lenyap tak berbekas.”

“Menurut Nyonya, apakah … apakah non Rosa yang mengambilnya?”

“Aku percaya sama kamu Bik, pasti bukan kamu. Kami sama sekali tidak menuduh kamu,” kata pak Daryono.

“Nyonya, bagaimana dia bisa mengambilnya? Bukankah almari Nyonya selalu terkunci?”

“Almariku entah kenapa memang agak rusak, susah dibukanya. Pastinya dia membuka paksa dengan kunci yang lain, sehingga ketika aku membukanya tadi, agak susah.”

“Ya Tuhan … dia bisa melakukannya?” seru Bibik, sedih. 

Ia merasa bersalah, karena dialah yang mengajaknya ke rumah itu.

“Kamu tidak usah merasa bersalah Bik, ya sudah. Lain kali jangan berbaik hati lagi pada dia. Kami mau bersiap ke kondangan dulu, besok aku lapor polisi,” kata pak Daryono kemudian.

***

“Ibu mau ke mana?” tanya Satria ketika melihat Ibu dan Ayahnya berdandan.

“Mau ke kondangan, sayang. Kamu baik-baik di rumah sama Bibik ya.”

“Aku mau ikut,” rengek Satria.

“Tidak boleh Satria, besok kamu harus masuk sekolah, nanti bangun kesiangan.”

“Memangnya Ibu perginya lama?”

“Pastinya sampai agak malam. Kamu nanti tidur sama Bibik dulu ya.”

“Pulangnya nggak boleh malam-malam ya?”

“Baiklah, kami hanya sebentar.”

Satria masih duduk sambil melihat ibunya berdandan.

“Ngapain Satria di sini?” tanya Arka dari luar kamar.

Dia baru saja menyiapkan mobil di depan. Tidak perlu membawa sopir, karena hanya ke kondangan dan tidak akan lama.

“Mau ikut,” ia merengek lagi.

“Kata ibu, kami hanya sebentar. Lagian besok pagi Satria kan sekolah, jangan sampai bangun kesiangan.”

“Anak baik pasti nurut. Ya kan?” bujuk sang ibu yang sudah selesai berdandan.

“Baiklah, Satria akan nurut.”

“Anak baik,” kata Senja sambil mencium pucuk rambut anaknya.

“Kamu sudah selesai Nja?”

“Sudah Mas, tinggal memakai sepatu saja, lalu kita berangkat.”

“Baiklah, mobil sudah aku siapkan. Buruan keluar, aku tunggu di depan,” kata Arka sambil berlalu.

Senja mengenakan sepatunya, lalu mengambil tas tangan yang sudah disiapkan. Satria bersama Bibik mengantarkannya sampai ke teras.

***

Pesta yang diadakan seorang pengusaha kaya, pastilah pesta yang amat meriah dan mewah. Tamu undangan terdiri dari para pengusaha dan kerabat yang pastinya bukan orang sembarangan.

Pak Daryono dan bu Daryono datang, agak terlambat gara-gara masalah kotak perhiasan yang hilang dicuri orang.

Baru saja selesai menyalami kedua pengantin dan yang punya gawe, bu Daryono merasa ada yang menowel lengannya. Kemudian ia tertawa ketika melihat siapa dia.

“Jeng Surani? Sendirian?”

“Iya, mau sama siapa lagi, sejak suami meninggal, ke mana-mana saya kan selalu sendiri.”

“Ikut prihatin ya jeng, semoga segera dapat gantinya.”

“Ah, tidak Bu, saya lebih senang begini saja. Yang penting bisa membesarkan dan mendidik Sisi anak saya dengan baik.”

“Semoga jeng berhasil.”

“Aamiin. Tapi ngomong-ngomong, pak Daryono berdua kok datang agak terlambat. Banyak yang bertanya-tanya tadi.”

“Iya jeng, bagaimana lagi. Ketika mau berangkat ada halangan.”

“Halangan apa Bu? Kecelakaan?”

“Bukan kecelakaan kendaraan, tapi kecelakaan kehilangan.”

“Kehilangan? Kehilangan apa Bu?”

“Kotak perhiasan saya, hilang lenyap. Padahal ada di dalam almari.”

“Kok aneh Bu, ada pencuri masuk pastinya.”

“Besok suami mau melaporkannya kepada polisi. Baru saja ketahuan, ketika saya mau memakainya.”

“Baru-baru ini saya juga kehilangan Bu, tapi kehilangan kecil-kecilan. Hanya gelang anak saya yang sebelah kiri.”

“Gelang emas itu bukan kecil-kecilan. Ada yang mencuri? Ketahuan?”

“Tadinya dikira jatuh ketika sedang jalan-jalan bersama pengasuhnya. Belakangan diketahui, yang mencuri adalah pengasuhnya sendiri itu.”

“Ya ampun, bagaimana bisa ketahuan?”

“Ketika saya mau membeli lagi gelang itu untuk mengganti yang hilang, pemilik toko ternyata memiliki gelang yang sama. Dia bilang, yang menjual seorang wanita. Ketika saya tunjukkan foto dia di ponsel saya, dia berteriak. Ini Bu, benar ini yang menjual."

“Saya heran, Rosa bisa melakukannya. Wajahnya cantik, hatinya buruk."

“Tunggu Jeng, nama siapa yang Jeng sebut tadi?”

“Pengasuh anak saya, namanya Rosa.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, August 18, 2026

AKU ANAK SIAPA 14

 AKU ANAK SIAPA  14

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot terpana, ia menggenggam ponselnya dengan erat, takut terjatuh karena keterkejutannya.

“Rosa yang melakukannya, Nyonya?” pak Gatot berteriak.

“Iya. Pak Gatot tidak menduganya? Demikian juga aku, aku kira dia gadis baik-baik. Ternyata bisa menipu lalu mencuri. Menipu, karena tadinya bilang  barang hilang entah di mana, ternyata dia yang mencurinya. Bukan main.”

“Saya sama sekali tidak mengira, maaf Nyonya, dulu saya yang meminta agar Nyonya menerimanya untuk bekerja pada Nyonya,” sedih sekali hati pak Gatot.

“Anak siapa dia sebenarnya Pak? Masih saudara, atau apa?”

“Bukan Nyonya, saya melihat dia pertama kali ketika dihajar orang-orang di dekat toko milik Nyonya.”

“Dia dihajar? Karena apa?”

“Waktu itu dia memakai baju yang lusuh. Dia bukan pengemis, tapi dia mencuri roti di sebuah warung makan. Karena ketahuan, lalu dia dihajar. Waktu itu saya menghentikan mereka, lalu membayar harga roti yang dia curi, lalu saya ajak dia ke rumah, saya anggap keluarga.”

“O, jadi dia itu memang pak Gatot ambil dari jalanan, saat dihajar orang karena mencuri?”

“Iya Nyonya, saya pikir saya bisa mengangkatnya menjadi keluarga yang normal, tidak keluyuran di jalan begitu, lalu saya anggap dia anak, karena katanya dia tidak punya rumah, tidak punya keluarga, lalu saya carikan pekerjaan agar dia bisa mempunyai uang sendiri.”

“Kalau begitu sebenarnya dari awal dia memang suka mencuri. Bukankah kalau lapar dia bisa mencari kerja? Terburuk adalah menjadi peminta-minta, tapi dia tidak melakukannya, dan memilh menjadi pencuri.”

“Saya menyesal telah menolongnya, dan lebih menyesal lagi karena saya minta agar Nyonya menerima dia bekerja, sehingga dia berkesempatan mencuri barang berharga milik non Sisi.”

“Tidak apa-apa. Pak Gatot kan maksudnya baik. Sekarang dia pergi, barangkali karena sudah punya uang dari penjualan gelang itu.”

“Ketika Bibik menemukan ponsel yang katanya  milik Rosa, perasaan saya menjadi tidak nyaman, apalagi ketika ponsel itu ada di tangan saya, ada orang menelpon yang bicara tentang uang.”

“Dia minta uang?”

“Ya, katanya kalau uang tidak segera diserahkan dulu sebagian, dia tak mau melakukannya. Entah urusan apa. Sejak saat itu saya tidak lagi menganggapnya sebagai anak. Saya meraba ada hal-hal kurang baik yang dilakukannya.”

“Ya sudah pak Gatot, tidak usah dipikirkan lagi. Ini sebuah pengalaman baru bagi kita ya. Untuk selanjutnya, pak Gatot harus berpikir dulu kalau harus berbaik hati kepada orang. Ada orang yang pantas dibantu, ada yang setelah dibantu malah bikin susah. Ya kan?”

“Benar Nyonya.”

“Ya sudah, lupakan saja semuanya Pak, dan bersyukur dia sudah pergi, sehingga pak Gatot tidak usah terbawa-bawa kalau dia melakukan hal yang tidak benar.”

Pak Gatot meletakkan ponselnya dengan perasaan heran. Tidak mengira wanita berparas cantik memiliki tabiat buruk.

“Mudah-mudahan aku tak akan pernah bertemu lagi.”

***

Sore hari itu pak Daryono dan istrinya baru pulang dari luar kota. Mereka hanya istirahat sebentar, karena malam harinya harus menghadiri undangan salah seorang rekan bisnis yang mengadakan resepsi syukuran pernikahan anaknya.

Ketika sedang istirahat sejenak itu, dan Bibik menghidangkan teh hangat untuk kedua majikannya, Bibik mengatakan bahwa Rosa menginap di rumah itu semalam, membuat bu Daryono terkejut.

“Rosa datang kemari? Menginap pula?”

“Iya Nyonya, semalam tidur di kamar saya, sedangkan saya tidur di dapur.”

“Tidur di kamar kamu?”

“Dia sendiri yang minta, kalau tidur di kamar tamu, takut Nyonya marah.”

“Tapi dia sudah pergi?”

“Paginya keluar sebentar, katanya ada keperluan, tapi kemudian kembali untuk berpamit. Saya minta menunggu Tuan dan Nyonya pulang, dia tidak mau.”

“Ya sudah, biarkan saja, nyatanya dia tidak mau ketemu kita kan?” sambung pak Daryono yang tidak begitu mempedulikan Rosa lagi.

“Kemarin ketemu lagi di dekat pasar, tapi saya tidak membawa uang banyak. Hanya saya beri seratus ribu.”

“Oh jadi awal mulanya datang kemari karena bertemu denganmu? Dia benar-benar Rosa, perempuan yang kamu lihat di dekat pasar itu?”

“Benar Nyonya, barangkali Tuhan ingin mempertemukan kami, tiba-tiba tanpa sengaja, saat berjalan, kami bertubrukan. Dan dia memaki saya, tapi dia senang ketika mengetahui itu saya.”

“Apakah kelihatannya dia baik-baik saja?”

“Dia tidak berpakaian lusuh seperti ketika pertama kali saya melihatnya. Walau baju yang dipakai itu sederhana, tapi bersih. Tidak kelihatan seperti gelandangan.”

“Ya sudah, semoga dia bisa belajar dari pengalaman buruk yang dia terima.”

“Ma, cepat mandi, kita kan harus siap setelah jam tujuh?”

“Papa dulu saja yang mandi, saya akan menyiapkan baju-baju yang akan kita pakai, jadi setelah mandi kita langsung bisa memakainya, tidak usah memilih-milih lagi.”

“Baiklah, aku mandi saja dulu.”

***

Bibik sedang menyuapi Sisi, tapi kemudian bu Surani memintanya.

“Biar ibu yang menyuapi kamu Sisi, pekerjaan Bibik sudah banyak,” kata bu Surani sambil mendekati putrinya, meraih piring Sisi yang semula dibawa Bibik.

“Aku baru saja menelpon agen pengasuh anak-anak, dua hari lagi dia akan datang Bik. Kasihan Bibik pekerjaannya menjadi lebih banyak.”

“Tidak apa-apa Nyonya, non Sisi tidak terlalu rewel.”

“Benar, dia anak yang manis. Ya kan Sisi?”

Sisi tertawa-tawa lucu. Ia makan dengan lahap, membuat ibunya senang.

“Semoga Nyonya mendapat pengasuh non Sisi yang benar-benar baik. Tidak seperti mbak Rosa. Saya tidak mengira dia sejahat itu.Tega mencuri perhiasan momongannya.”

“Iya Bik, aku juga tidak mengira.”

“Lebih baik non Sisi tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi Nyonya, pengalaman yang lalu membuat saya khawatir kejadiannya terulang.”

“Iya Bik, kita harus hati-hati. Aku juga kasihan pada pak Gatot. Dia sedih dan menyesal telah meminta aku menerima Rosa bekerja.”

“Pak Gatot kan tidak tahu Nyonya. Ketika saya tunjukkan ponsel mbak Rosa, pak Gatot kelihatan heran. Soalnya tadinya non Rosa tidak punya ponsel. Menurut saya dia membeli ponselnya setelah menjual gelang non Sisi.”

“Ya sudah Bik, tidak usah dipikirkan lagi. Semoga kejadian kemarin tidak akan terulang.”

“Aamiin. Saya mau ke belakang dulu Nyonya, saya belum mencuci perabot dapur.”

“Iya Bik, lakukan saja, biar Sisi bersama aku.”

***

Pak Daryono sudah selesai mandi, tapi rupanya bu Daryono belum selesai menyiapkan baju untuk dirinya sendiri. Ia masih membuka-buka almari.

“Mama malah belum siap, cepat mandi, aku sudah selesai.”

“Baju Papa sudah aku siapkan, tuh di sana.”

“Baiklah. Mama sedang mencari apa? Dari tadi tidak selesai-selesai,” tegur pak Daryono.

“Ini lho Pa, kuncinya kok sepertinya rusak begini, buka almarinya susah.”

“Lha itu sudah bisa membukanya.”

“Iya, tapi susah, sejak kapan almari ini susah dibuka? Waktu kita berangkat masih baik-baik saja.”

“Ya sudah, besok cari tukang untuk memperbaiki, sekarang cepat mandi sana.

“Ini, tadi bingung cari bajunya, tapi sudah kok, biar serasi dengan jas yang Papa pakai. Nih, serasi kan?”

“Mama selalu begitu, terlalu memilih-milih. Sudah, sekarang mandi.”

“Sebentar Pa, kok kotak perhiasanku tidak ada ya?”

***

Besok lagi ya.

 

Monday, August 17, 2026

AKU ANAK SIAPA 13

 AKU ANAK SIAPA  13

(Tien Kumalasari)

 

Nyonya Surani urung melangkahkan kaki ke dalam mobil. Ditatapnya Rosa dengan pandangan tak percaya.

“Kamu, mau berhenti bekerja?”

“Saya mohon maaf Nyonya, sepertinya saya tidak cocok dengan pekerjaan ini. Saya takut, apa yang saya lakukan tidak berkenan.”

“Aku tahu kamu belum berpengalaman, tapi kamu kan bisa belajar? Bagiku yang penting kamu jujur  dan mau belajar.”

“Saya benar-benar mohon maaf. Saya sudah mendapatkan pekerjaan lain.”

“Oh, begitu? Apa kamu masih akan kost di dekat situ?”

“Saya juga akan pindah Nyonya, yang dekat dengan pekerjaan saya.”

“Baiklah, kalau itu memang mau kamu. Aku harus segera kekantor. Kalau kamu mau langsung hari ini keluar, bilang pada Bibik, serahkan apa yang tadinya menjadi tanggung jawab kamu.”

“Baik Nyonya, sekali lagi saya minta maaf.”

Nyonya Surani tak menjawab. Ia masuk ke mobilnya dan berlalu, sementara dia langsung masuk ke rumah dan mengatakan kepada Bibik kalau dia mulai hari ini keluar dari pekerjaan.

Bibik tentu saja terkejut.

“Mulai hari ini? Mengapa tiba-tiba Mbak, Nyonya belum mencari gantinya.”

“Saya terpaksa Bik, sudah dapat pekerjaan lain, dan harus mulai sekarang. Saya juga sudah tidak kost di situ lagi. Terima kasih, dan maaf ya Bik.”

Rosa pergi tanpa menunggu komentar Bibik, tidak berpesan apapun, juga tidak menengok ke arah Sisi yang digendong Bibik.

Bibik geleng-geleng kepala. Ia merasa Rosa bukan wanita baik-baik. Dan ada rasa bersyukur karena Rosa akhirnya pergi, walau dia akan bertambah repot karena mengerjakan semuanya sendiri.

“Semoga nyonya bisa mendapatkan ganti yang lebih baik,” gumamnya sambil mencium pipi Sisi, yang hanya diam menatap Rosa yang tanpa menyapanya, langsung pergi begitu saja. 

Barangkali kalau sudah bisa bicara jelas, dia akan mengatakan ‘nggak sopan’.

***

Di rumah keluarga Daryono, si bibik juga sedang menghadapi Rosa yang pagi-pagi pamit keluar yang katanya ada perlu sebentar, tapi ketika kembali kemudian mengatakan tak mau menunggu majikannya pulang.

“Katanya mau ketemu nyonya, Non?”

“Tidak usah Bik, setelah semalam aku pikir-pikir, lebih baik aku pergi saja. Mereka sudah pasti kecewa terhadapku, dan ketika bertemu aku hanya akan merasa sakit hati karena tidak lagi disukai."

“Non jangan punya perasaan begitu, Nyonya adalah orang baik. Terhadap orang lain saja baik, apalagi terhadap Non yang pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Apa Non tahu, ketika kemarin saya memberikan uang yang walau hanya seratus ribu, itu adalah karena perintah nyonya.”

“Perintah nyonya?”

“Iya, nyonya berpesan kalau saya ketemu Non, maka nyonya menyuruh saya memberi uang kepada Non. Kemarin saya tidak membawa uang banyak, jadi saya hanya memberi seratus ribu. Kalau ada pasti saya akan memberi lebih.”

Rosa tersenyum tipis.

“Mengapa nyonya mengira bahwa Bibik akan bertemu denganku?”

“Saya melapor kepada nyonya, bahwa saya pernah melihat Non. Ketika pertama kali Non dipukuli banyak orang, saya melihatnya.”

“Apa?”

“Maaf Non, saya tidak yakin ketika itu karena pakaian Non yang lusuh.”

Rosa menghela napas, sedikit malu karena waktu digebukin banyak orang ia ketahuan sedang mencuri. Ia sangat lapar dan terpaksa melakukannya. Rosa bukan orang yang punya pemikiran bahwa kalau ingin mendapat uang maka ia harus bekerja, sementara untuk mengemis dia malu melakukannya.

“Aku terpaksa melakukannya.”

“Mengapa Non tidak mencari pekerjaan saja? Non kan pernah sekolah?”

“Aku tidak membawa identitas apapun. Tak ada yang percaya kalau aku pernah kuliah, bahkan keluar negri.”

“Kalau begitu Non bertemu Nyonya dulu, Non minta semua surat-surat yang menyatakan bahwa Non pernah sekolah. Bukankah itu bisa untuk mencari pekerjaan?” kata bibik yang walaupun pembantu tapi dia juga pernah sekolah walau hanya lulusan SMP.

Tentu saja Bibik tahu kalau ingin mencari pekerjaan harus punya ijazah atau apapun yang bisa dipergunakan untuk menyatakan bahwa dia punya keahlian. Tapi rupanya Rosa tidak tertarik. Entah apa yang dipikirkannya. Ia tidak menanggapi apa yang dikatakan Bibik. Ia malah bersikeras ingin segera pergi.

“Maaf Bik, aku tidak bisa tinggal di sini terlalu lama, saya pamit dulu.”

“Non, mungkin tak lama lagi Nyonya akan pulang. Soalnya nanti malam kalau tidak salah ada undangan pernikahan dari teman Tuan.”

“Tidak Bik, terima kasih, aku tetap pergi saja. Terimakasih sudah memberi tumpangan tidur semalam,” katanya kemudian berlalu tanpa menunggu bibik mengatakan apapun lagi. Padahal bibik ingin memberinya uang lagi.

“Non, sebentar Non,” teriaknya. 

Tapi Rosa pergi dengan cepat.

Bibik menghela napas. Bagaimanapun bibik tahu kapan Rosa bayi dibawa pulang oleh kedua majikannya ketika itu, dan ikut merawatnya sampai dia dewasa. Sekarang Bibik sudah menua dan Rosa yang mulai berumur tak lagi seperti nona majikannya yang cantik dan menawan. Kerut diwajahnya tak bisa menyembunyikan berapa banyak tahun-tahun sudah dilaluinya.

***

Hari itu sudah siang ketika bu Surani pergi ke toko emas, untuk membelikan ganti gelang Sisi yang hilang. Ia membawa contoh gelang yang satunya lagi, supaya sama bentuknya.

Betapa terkejut bu Surani ketika petugas toko menunjukkan gelang yang sama dari simpanannya.

“Gelang Ibu ini sama persis dengan gelang ini, saya kira. Coba Ibu perhatikan.”

“Lhoh, kok gelang yang sama bisa ada di sini? Ada orang membuatnya persis? Tapi ada tulisan dibalik gelang ini. Ini nama anak saya.”

“Masa Bu?” petugas itu juga lama mengamatinya. Tak ada yang berbeda.

“Dari mana toko ini mendapat gelang ini? Saya ingin pesan lagi karena salah satu dari gelang anak saya hilang.”

“Oh ya Bu? Barangkali penemu gelang itu menemukannya di jalan atau apa, atau ada yang mencurinya?”

“Orang seperti apa yang menjualnya? Saya akan tetap membelinya, dan toko ini tidak akan saya rugikan karena pastinya sudah membelinya dari penjual itu.”

“Yang datang membawa gelang ini seorang wanita, cantik, walau sudah tidak lagi muda.”

“Wanita?”

“Iya Bu.”

Tiba-tiba bu Surani mencurigai seseorang. Ia menyimpan foto Rosa ketika sedang bermain dengan Sisi. Ia membuka ponselnya, lalu menunjukkannya kepada petugas toko.

“Apakah wanita itu yang ada di ponsel saya ini?”

“Lhoh, iya Bu, ini orangnya … ya ampuun, ini pembantu Ibu? Harusnya untuk selanjutnya Ibu berhati-hati. Dia bisa melakukan sekali, entah kapan lagi pasti dia melakukannya lagi,” kata petugas toko itu menggebu-gebu.

Bu Surani tersenyum tipis. Ia sungguh tidak mengira.

“Dia sudah pergi.”

“Ibu memecatnya?”

“Tidak, ia pergi dengan keinginannya sendiri, baru kemarin dua atau tiga harian yang lalu.”

”Untunglah sudah pergi. Tapi jangan-jangan sebelum pergi dia mengambil sesuatu yang lain … “

“Entahlah, dia baru sebulan lebih bekerja menjadi pengasuh anak. Ya sudah, tidak apa-apa, berapa harga gelang ini? Saya akan membelinya, daripada pesan lagi.”

***

Sore hari itu pak Gatot termenung sendirian di teras rumahnya yang sederhana. Ada sepi yang terasa merayapi hatinya. Karena kehilangan Rosa?

“Tak ada bagus-bagusnya wanita itu, tapi kenapa aku merasa seperti kehilangan. Padahal belum ada dua bulan dia berada di rumah ini. Apa karena aku sendirian dan senang ada yang menemani, kemudian tiba-tiba dia pergi begitu saja? Siapa sebenarnya dia? Aku tak pernah tahu karena dia tak pernah mau menjawabnya. Aku sedang ingin mengajarinya bagaimana seorang wanita mengatur rumah,  bagaimana membersihkan rumah, bagaimana memasak, dan banyak lagi. Tapi kalau saja ia masih ada di rumah ini. Aku ternyata gagal menjadikannya wanita yang baik, dan dia sudah pergi.”

Gumam itu terhenti ketika bu Surani menelponnya.

“Pak Gatot?”

“Ya Bu, saya baru saja sampai di rumah.”

“Aku baru pulang juga. Aku hanya ingin memberi tahu, ternyata gelang Sisi yang hilang itu, Rosa yang mencurinya.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Sunday, August 16, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 013

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  013

(Tien Kumalasari)

 

Menur tertegun. Tiba-tiba saja gadis kecil itu merangkulnya dengan manja. Mau tak mau Menur menyambut rangkulan itu dan mendekapnya erat.

“Ana, mengapa kamu datang kemari?”

“Aku harus ketemu Bibi. Lihat, nenek mengantarku,” katanya sambil menunjuk ke arah neneknya, yang berdiri tak jauh, dan menatap mereka sambil tersenyum.

Tiba-tiba Menur terkejut, ia seperti mengenali nenek cantik yang berwajah ramah itu. Ia sedang mengingat-ingat, ketika tiba-tiba juga si nenek memanggilnya dengan bibir gemetar.

“Kamu … aku seperti pernah melihat wajah seperti wajahmu. Dia mbak Warti. Kamu mengenal nama itu?”

“Dia ibu saya.”

Menur masih merangkul Ana dengan sebelah tangannya. Nenek itu mengenalnya?

“Nenek kenal sama bibi Menur?”

Kamu anak kakak sepupuku. Kamu Menur?”

Menur kebingungan.

“Menur, kamu lupa sama tante kamu?”

Tante. Menur agak merasa kikuk. Ia tak merasa pernah punya tante. Mendiang neneknya punya seorang adik, di mana putrinya kemudian menikah dengan orang kaya. Karena perbedaan status itu kemudian mereka terpisah dan jarang bertemu lagi. Lalu … si tante ini …

“Ya Allah, ini bulik Sasa?” Menur berteriak setelah ingat.

“Iya, benar. Aku bulikmu,” kata nenek Ana yang bernama Sasa, dan kemudian merangkul Menur dengan erat. Ana menatapnya heran. Tapi kemudian ia mengikuti neneknya masuk ke dalam rumah.

“Ini rumahmu?”

“Ya, bulik. Ini gubug saya. Silakan masuk.”

Nyonya Sasa masuk ke rumah, dan duduk di kursi sederhana yang ada di ruang depan rumah Menur.

Ia mengamati ruangan itu dan kemudian menatap Menur dengan penuh haru.

Beberapa tahun yang lalu aku pulang kampung, bertemu kedua orang tuamu. Waktu itu mereka bilang kamu pergi mencari suami kamu.

Menur hanya menunduk.

“Kamu menemukannya?”

Menur menggeleng pelan.

“Nasibmu sangat buruk. Kalau tahu begini, dulu aku pasti mengajak kamu. Waktu itu kamu masih gadis kecil.”

Menur tersenyum pahit. Bukankah setiap manusia punya garis nasibnya sendiri-sendiri? Kalau sepupu ibunya punya suami kaya, makan, bahagia, itu memang kehidupan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Dan kalau dirinya terlahir miskin, terlunta-lunta, itu juga kehidupan yang diberikan olehNya. Menur tidak pernah menyesalinya.

“Kata ibumu, kamu pergi dalam keadaan mengandung. Di mana anakmu?”

Menur memanggil Rahman yang diam-diam mendengarkan cerita tamu ibunya.

Rahman keluar malu-malu. Ia ingat Ana, gadis cantik yang merangkul ibunya di teras sebuah rumah mewah, rumah om Baroto yang baik hati tapi yang dibenci ibunya, entah mengapa.

“Ini anakmu? Sini … aku ini nenek kamu juga. Siapa namamu?”

“Rahman.”

Kamu ganteng sekali. Pasti ayahmu juga ganteng,” kata nenek Sasa sambil menatap kagum.

“Rahman, cium tangan nenek,” perintah Menur.

Rahman mendekat dan mencium tangan nenek Sasa. Nenek Sasa merangkulnya.

“Akan saya buatkan minum, bulik.”

“Tidak Menur, tidak usah. Di mobil banyak minuman, biar Ana mengambilnya. Ada makanan juga di sana.”

Lalu nenek Sasa menyuruh Rahman membantu Ana untuk mengambil minuman di mobil. Ana mengangguk, dengan tanpa sungkan ia menggandeng tangan Rahman, diajaknya ke mobil.

Setelah kedua anak itu pergi, nenek Sasa bercerita secara singkat.

“Ana itu cucuku, dari anakku yang paling besar. Ibunya meninggal saat dia lahir, lalu aku berikan Ana kepada Baroto dan Lili, istrinya, karena mereka sebenarnya tidak saling menyukai. Suamiku menikahkannya karena hubungan bisnis. Biarlah Ana bersama mereka, dicintai seperti anak kandungnya. Aku tidak begitu menyukai pernikahan yang tanpa ikatan cinta. Tapi bagaimana lagi. Mereka bersedia menjalani. Aku pasrah. Entah bagaimana nanti. Tapi Baroto sering pergi ke luar negri. Dia punya bisnis di sana.

Menur mendengarkan tanpa berkomentar. Tentang hubungan Baroto dan istrinya, ia sudah tahu karena Baroto pernah menceritakannya. Tapi bahwa istri Baroto ternyata adalah saudara misannya, ia sama sekali tidak tahu.

Rahman dan Menur membawa beberapa minuman dalam botol, diletakkan di meja, lalu Ana mengajaknya kembali ke mobil, mengambil makanan yang selalu tersedia di sana.

Nenek Sasa tersenyum melihatnya.

“Mereka adalah saudara. Itu sebabnya Ana begitu menyayangi kamu.”

Menur menghela napas panjang.

“Dia merengek agar aku membujuk kamu supaya menjadi pengasuhnya. Tapi tidak, kamu akan tinggal di sana sebagai sepupu Lili. Kamu bersedia bukan?”

Menur tak mampu menjawabnya. Dia pernah dihina dan direndahkan oleh ‘sepupunya’ itu. Bagaimana nanti dia bersikap kalau kemudian dia tinggal di sana?

Berhasilkah nenek Sasa membujuknya?”

Nenek Sasa memegangi tangan Menur, mengelusnya lembut. Kamu adalah kaponakanku, di tubuh kita mengalir darah yang sama. Aku minta kamu bisa mengerti, Ana sangat menyayangi kamu, barangkali karena kamu adalah bibinya, jauh di dasar hatinya ia tahu kalau kamu bukan orang lain. Ikatan itu yang membuat dia bersikeras untuk mengajak kamu ke rumah.”

Menur masih diam, ketika tiba-tiba Ana daang dengan membawa dua bungkus roti semir coklat.

“Bibi, ini untuk Bibi, ayo dimakan, Rahman sudah Ana kasih,” kata Ana yang langsung bisa bergaul akrab dengan Rahman.

Menur tersenyum.

“Minumlah, ini beberapa minuman yang ada di dalam mobil.”

Rahman dan Ana sudah duduk di sebuah bangku yang terpisah dari nenek Sasa dan Menur. Asyik minum susu kotak dan cemilan yang membuat keduanya tampak bergembira.

Menur masih belum memberikan jawaban. Ucapan-ucapan Lili yang menyakitkan masih selalu diingatnya. Bagaimana kalau nanti dia tahu bahwa dirinya masih terhitung saudara sepupu dengannya?

“Nenek, bibi Menur takut pada mama. Tadi mama memarahi bibi Menur,” tiba-tiba Ana berteriak.

“Bibi Menur akan memaafkannya, dia ini orang baik,” kata nenek Sasa sambil masih memegangi tangan Menur.

“Bulik, saya ini orang miskin.”

“Memangnyaa kenapa kalau miskin? Dulu bulikmu ini juga miskin. Hanya karena keberuntungan saja, ketika ada anak orang kaya jatuh cinta pada bulikmu ini.”

Menur tersenyum tipis. Bukankah hal itu juga terjadi pada dirinya? Ada orang kaya berkudaa, jatuh cinta, tapi bagaimana hidupnya setelahnya?

“Ayolah Menur, pikirkanlah. Tadinya aku ikut datang kemari karena tangis Ana, tapi sekarang aku berharap bukan karena tangisan Ana, melainkan karena kamu adalah keponakan aku. Tak sampai hati aku melihatmu menderita.”

“Tapi saya tidak menderita, bulik. Saya menerima kehidupan apapun yang diberikan Allah kepada saya.”

“Itu benar, tapi kalau ada yang ingin mengentaskanmu dari kehidupan yang sekarang, kamu jangan menolaknya. Ya?”

“Bibi Menur harus mau ya, kalau tidak, aku tidak mau pulang,” tiba-tiba Ana berteriak dan berlari mendekati Menur, lalu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Menur.”

Menur mengelusnya perlahan. Sesungguhnya Ana membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu, dan itu tidak didapatkannya di rumah keluarganya.

“Bibi, ikutlah bersama kami, kalau tidak, aku tidak mau pulang.”

“Ana, jangan begitu. Bibi punya banyak pekerjaan. Harus mencari uang untuk sekolah Rahman.”

“Bibi akan Ana beri uang yang banyak.”

“Bukan begitu Ana.”

“Pokoknya aku tidak mau pulang. Aku mau tidur di sini sama Rahman.”

“Menur, pikirkanlah.”

“Begini saja, biarkan bibi memikirkannya, beri bibi waktu beberapa hari.”

“Bibi harus ikut.”

“Menur, dengarlah dia.”

Agak lama Menur terdiam, sambil mengelus kepala Ana. Tampaknya ia masih ragu-ragu. Tapi kelihatannya Ana tak mau dibujuk.

“Bulik, baiklah. Saya akan ke sana, tapi tidak sekarang. Saya akan menata semuanya, beri saya waktu sehari besok.”

“Bibi akan ke rumah kapan?”

“Bagaimana kalau dua hari lagi?”

“Bibi tidak bohong kan? Bukankah bohong itu dosa?”

Bibi tidak akan bohong.”

Ana memeluk erat Menur, lalu tertawa-tawa gembira.

“Nenek, dua hari lagi kita jemput bibi Menur ya?”

“Baiklah. Menur, kami akan menjemputmu.”

***

Sepeninggal Ana dan nenek Sasa, Menur masih termenung di tempat duduknya. Kehidupan yang mewah bukanlah impiannya. Dia hanya ingin hidup tenang. Susahnya mencari uang bukanlah sebuah penderitaan. Dia sudah bertahun-tahun hidup kekurangan, dan hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Keinginannya hanya satu, Rahman harus menjadi orang.

“Mengapa Ibu kelihatan sedih?”

Menur tersenyum menatap anaknya. Ia tahu Rahman mendengarkan semuanya. Bukan tentang apa hubungannya dengan keluarga nenek Sasa, tapi keinginan Ana untuk mengajak ibunya. Rahman kelihatan tidak suka.

“Ibu tidak sedih.”

“Apakah benar, ibu akan menuruti keinginan Ana untuk tinggal di rumahnya?”

“Ibu tidak bisa menolaknya. Ana terus merengek-rengek, bahkan mengancam tidak mau pulang kalau ibu tidak menuruti kemauannya.”

Rahman tampak terdiam. Ia duduk di depan ibunya, menatap ibunya yang kelihatan sekali kalau sedang memikirkan banyak hal.

“Apa kamu suka, seandainya kita tinggal di sana?”

“Rahman tidak suka Bu, mamanya Ana itu sangat jahat pada Ibu.”

Menur terpana.

***

Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA 17

  AKU ANAK SIAPA  17 (Tien Kumalasari)   Pak Gatot tiba-tiba merasa gelisah. Ia teringat ketika puluhan tahun yang lalu melakukannya. Membua...