SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 09
(Tien Kumalasari)
Rahman gembira bukan alang kepalang. Senang sekali hatinya bisa naik kuda. Tapi ia heran karena si om baik hati yang mengijinkannya ikut naik kuda tidak segera menyuruh kudanya berlari.
“Om, mengapa tidak segera jalan?”
“Om ingin bertanya, siapa wanita yang kamu sebut pembantu itu?”
“Memang dia pembantu di rumah saya. Orang tua saya menyuruh dia membayar uang sekolah saya. Ayo om, cepat jalan.”
“Dia pembantu di rumah orang tuamu?”
“Iya, mengapa om tidak percaya?
“Setiap hari dia membanti di rumah kamu?”
“Dari pagi sampai sore.”
Baroto termenung, bukankah Menur setiap pagi memulung? Tadi juga ia tahu Menur berangkat memulung, lalu melihatnya saat terkilir ketika turun dari kuda, bahkan mengantarkan obat gosok ke rumahnya. Jadi kapan dia menjadi pembantu di rumah anak kecil itu?”
“Siapa namamu?”
“Rahman. Bukankah Om sudah bertanya? Kapan kuda ini akan berjalan atau berlari?”
“Baiklah.”
Baroto memacu kudanya pelan, karena sedang berada di jalan raya. Ia tidak bertanya di mana rumah Rahman, tapi ia berjalan menyusuri jalanan ke rumah Menur.
“Om mau ke mana?”
“Om antarkan kamu sampai di rumah.”
“Memangnya Om tahu di mana rumah saya?”
“Kira-kira saja, apakah jalannya salah?”
“Tidak.”
Tapi Rahman merasa heran. Bagaimana hanya kira-kira saja, om ganteng ini bisa tahu jalan ke arah rumahnya?
Ketika sampai di rumah Menur, Baroto menghentikan kudanya.
“Sudah sampaikah?”
“Rumah saya di belakang sana. Saya heran om bisa tahu ini daerah rumah saya.”
“Hanya kebetulan. Sekarang turunlah.”
Baroto mengangkat tubuh Rahman dan menurunkannya. Rahman menatapnya heran. Baroto juga sedang menatapnya. Di mana dia pernah melihat wajah seperti Rahman? Seperti sangat mengenalnya, seperti bukan wajah yang asing. Ia menurunkan di depan rumah Menur, karena Rahman bilang bahwa Menur pembantunya. Berarti rumah Rahman di sekitar rumah Menur. Siapa Rahman sebenarnya?
Rahman kemudian menghilang di samping rumah Menur, mungkin benar rumahnya di dekat atau di belakang rumah Menur.
Tapi Rahman ingin menunggu kepulangan Menur. Pasti setelah dari sekolahan tadi langsung pulang. Hanya saja karena jalan kaki, jadi agak terlambat.
Baroto membawa kudanya ke arah yang agak jauh, di mana ada sebuah lapangan bola, dan Baroto bisa menambatkan kudanya di sana.
***
Menur yang berjalan ke arah pulang, terus berpikir, bagaimana Baroto bisa ada di sekolah Rahman, dan bisa mengajak Rahman naik kudanya?
Untunglah dia tidak mendengar ketika Rahman mengatakan bahwa dia adalah pembantunya.
Di sebuah pertigaan, sebelum dia belok ke arah rumah, seseorang mengejutkannya. Baroto sambil berjalan kaki mencegat perjalanan Menur. Menghalangi jalannya sambil tersenyum.
“Mengapa kemari?” katanya datar.
“Mau berterima kasih karena kamu menyusulkan obat gosok ke rumah.”
“Tidak usah berterima kasih. Biasa saja. Biarkan saya segera pulang, anak saya belum makan. Oh ya, kakimu sudah sembuh?”
“Karena obat gosokmu, aku bisa berjalan dan berkurang rasa sakitnya. Terima kasih.”
“Syukurlah.”
“Tadi aku melihatmu di sebuah sekolah. Apa anakmu sekolah di situ?”
Menur tak ingin menjawabnya. Ia melihat Baroto menaikkan Rahman ke atas kudanya, mengapa Baroto melakukannya? Apakah ada dorongan yang entah dari mana datangnya, yang membuat Baroto ramah kepada Rahman? Pasti mereka baru sekali itu ketemu.
“Sekolah di situ? Apa dia temannya Rahman?”
Menur terkesiap. Apa Rahman memperkenalkan namanya?
“Ada seorang anak yang tiba-tiba mendekat, lalu mengatakan ingin naik kuda. Aku merasa kasihan, lalu aku naikkan dia ke atas kudaku. Namanya Rahman.”
Menur hanya mengangguk. Tapi ia tak mengatakan apa-apa.
“Biarkan aku pulang.”
Baroto memberinya jalan, membiarkan Menur pulang.
Tapi ketika Baroto akan mengambil kudanya, ia ingat bahwa ada titipan Ana yang masih tergantung di pelananya. Ia menaiki kudanya dan kembali menuju ke rumah Menur.
Ia mengetuk pintu perlahan, dan terkejut ketika yang membuka pintu adalah Rahman.
Baroto terkejut, tapi lebih terkejut lagi Rahman. Ia tak mengira yang mengetuk pintunya adalah Baroto, sang penunggang kuda yang membuatnya senang. Ia bingung harus menjawab apa, kalau Baroto menanyakannya.
Belum sampai mereka bertegur sapa, dari dalam terdengar suara Menur.
“Rahman, makanan kamu sudah siap.”
Baroto terpana. Kalau Menur pembantu Rahman, mengapa dia menyiapkan makan untuk Rahman?
Karena tak tahu harus bagaimana, Rahman berlari masuk.
“Diluar ada siapa?”
“Ada … orang,” jawab Rahman, yang tak jadi protes karena sang ibu hanya menyiapkan telur untuk makan siangnya.
Menur bergegas ke depan, dan melihat Baroto masih berdiri di depan pintu.
“Aku, Menur, kamu tidak mempersilakan aku masuk?” jawab Baroto.
“Rumahku jelek, kotor. Tidak pantas untuk tamu terhormat seperti Tuan.”
“Jangan begitu.”
“Mengapa masih datang kemari lagi?”
“Aku lupa, Ana nitip ini untuk kamu.”
“Ana,” gumam Menur lirih. Anak itu sangat perhatian pada dirinya. Hanya karena sebuah pelukan saat pertama kali bertemu, membuatnya terharu.
“Ini, terimalah.”
“Sampaikan kepada Ana, terima kasih.”
“Ana minta kamu menemuinya. Aku berjanji membawa kamu pulang.”
“Itu tidak mungkin. Katakan pada Ana, bahwa aku tak pantas berada di rumah keluarga terhormat seperti keluarga Ana.”
“Itu hanya perasaan kamu saja. Tolong penuhilah permintaanku. Eh, bukan, permintaan Ana.”
“Tidak bisa begitu, aku punya anak.”
“Rahman itu anakmu kan?”
Mau tak mau Menur mengangguk.
“Anak itu harus dididik dengan benar.”
“Apa maksudmu, Tuan?”
“Ada sisi buruk yang dia miliki. Baiklah, lain kali kita akan bicara lagi, sekarang bagaimana, maukah kamu menemui Ana?”
“Tidak sekarang.”
“Besok?”
“Akan aku usahakan besok.”
“Aku berharap kamu menepati janji kamu.”
Menur hanya mengangguk ragu. Permintaan Ana sangat berat dijalani,walau dengan iming-iming penghasilan yang sangat bagus. Kalau Baroto tak bisamenjaga sikap, lalu istrinya tahu, dia bisa celaka.
“Baiklah, sekarang aku permisi.”
Menur mengangguk, berdiri di depan pintu menatap Baroto yang masih agak terpincang saat berjalan. Ia menutup pintunya ketika kuda tunggangan Baroto membawanya pergi.
Menur memegang kotak makanan itu, lalu bergegas mendekati Rahman yang entah mengapa, belum mulai makan juga. Rupanya Rahman sedang menyesali sikapnya ketika bertemu penunggang kuda itu, yang mengatakan bahwa ibunya pembantu, padahal akhirnya pasti orang kaya itu tahu bahwa dirinya berbohong.
“Mengapa belum makan Nak? Maaf tadi ibu hanya sempat membeli telur. Tapi ini, ada orang baik memberi makanan,” kata Menur sambil membuka kotak. Ada lele goreng dan lalapan yang menguarkan aroma gurih.
“Anehnya Rahman tidak tertarik. Ia malah mengambil nasi lauk telur yang disiapkan ibunya.”
“Kamu tidak mau?”
“Sedang tidak selera makan,” jawab Rahman sekenanya.
Jawaban itu sontak membuat Menur khawatir. Ia mendekat, dipegangnya dahi sang anak.
“Tidak panas.”
“Hanya tidak selera makan.”
“Ibu minta maaf tidak bisa membelikan pesanan kamu, tapi ini ada orang baik memberi ikan. Makanlah. Apa kamu tahu, yang sering memberi makanan enak yang kamu makan itu dia.”
Rahman menatap ibunya.
“Ibu kenal baik dengan dia? Mengapa dia sering memberi makanan?”
“Bukan dia, tapi anaknya yang suka sama ibu. Setiap kali ibu lewat sana, dia senang sekali. Dan selalu memberi makanan enak.”
“Dia tahu kalau ibu seorang pemulung?”
“Ya, tentu saja tahu, karena setiap kali lewat, ibu selalu membawa karung berisi botol-botol kosong. Memangnya kenapa?”
“Mereka orang kaya bukan?”
“Sangat kaya. Orang biasa mana bisa membeli kuda. Mobilnya juga banyak. Kelihatan dari luar setiap kali ibu lewat sana. Kalau kamu ingin kaya, kamu harus mendapat pekerjaan yang baik kelak. Karena itu kamu harus rajin belajar.”
Rahman sudah selesai, ibu makan sendiri saja makanan itu,” katanya sambil berdiri.
“Bagaimana kalau untuk lauk kamu nanti malam?”
Rahman tak menjawab. Sang ibu heran melihat sikap Rahman hari itu.
***
Hari itu ketika Rahman keluar dari halaman sekolah, om kaya yang punya kuda sedang mengendarai kudanya menuju ke arah sekolahnya. Rahman terkejut, ia ingin lari masuk kembali ke halaman, tapi penunggang kuda itu berteriak memanggilnya.
“Rahman! Ayo jalan-jalan.”
Rahman mendekat dengan enggan, bukan bersemangat seperti ketika pertama kali melihatnya.
“Ayolah, kita jalan-jalan, lalu makan siang bersama di suatu tempat.”
Rahman tak bisa menolak, sungguh ini adalah pertama kalinya dia kehilangan kesombongannya.
***
Besok lagi ya.