NAMAKU TETAP SENJA 29
(Tien Kumalasari)
Mereka puas jalan-jalan dan berteduh di taman, lalu Arka mengajaknya makan. Walau dengan rasa malu dan sungkan, mbok Mangun dan anak-anaknya terpaksa mengikuti kemauan Arka, karena sesungguhnya mereka juga mulai lapar.
Tapi tentang makanan itu, mbok Mangun tidak begitu bisa makan banyak, walaupun heran dengan menu aneh-aneh yang belum pernah dilihatnya, ataupun dimasaknya.
“Mengapa makan hanya sedikit Mbok, apa tidak enak?” tanya Arka
“Saking enaknya sampai mbelenger mas Arka, tapi namanya orang itu semakin tua kan perutnya semakin menyusut. Nggak muat kalau makan banyak-banyak. Nanti perutnya meletus bagaimana?”
Rimba terkekeh mendengar omongan simboknya.
“Memangnya gunung Mbok, bisa meletus?”
“Perut juga kalau kebanyakan ya bisa meletus. Memangnya hanya gunung yang bisa meletus. Sudah, sampaikan makannya, simbok sudah cukup.”
“Nanti dibawa pulang saja ya Mbok?” kata Arka lagi.
“Tidak usah Mas, kebanyakan makanan malah nggak kemakan.”
“Bisa dimakan nanti malam, supaya Simbok tidak repot masak lagi.”
”Mas Arka itu semua-semua dikasih ke keluarga simbok. Simbok ini hanya orang miskin Mas, tidak bisa membalas apa yang Mas Arka berikan.”
“Memangnya saya minta balasan? Kalau orang memberi lalu minta balasan itu namanya dagang. Ya kan?”
“Kalau yang diberikan mas Arka itu susah menggantinya. Berlimpah-limpah pemberiannya.”
“Senja, sekalinya usul kok lucu sih? Pemberian berlimpah limpah itu apa, memangnya air?”
“Seperti air, sampai tempatnya membeludak.”
“Ada-ada saja. Ayo makannya dihabiskan, aku mau pesan yang untuk dibawa pulang nanti.”
“Nggak usah Mas, ini sudah kenyang. Sampai besok juga nggak akan lapar lagi,” kata Simbok.
“Simbok ini ada-ada saja. Kenyang itu kan sekarang. Nanti juga pasti lapar lagi pada saatnya,” kata Arka yang kemudian memanggil pelayan rumah makan untuk menambahkan pesanan yang akan dibawa pulang.
“Rimba mau nambah lagi?”
“Tidak mas, sudah kenyang. Kata Simbok nanti bisa meletus perutnya,” kata Rimba yang disambut tertawa semua orang.
“Kita tunggu pesanannya dulu, lalu kita mau ke mana lagi nih?”
“Simbok pasti capek. Pulang saja ya Mbok?”
“Simbok nggak capek, senang sekali kok. Selama hidup baru sekali ini diajak muter-muter, melihat banyak hal baru yang belum pernah Simbok lihat sebelumnya.”
“Besok, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya. Ketempat yang lebih indah. Keluar kota, misalnya.”
“Kalau luar kota berarti di desa, simbok saja asalnya dari desa, untuk apa melihat desa?”
“Bukan sekedar desa atau luar kota Mbok, ada bangunan-bangunan untuk wisata yang bagus. Nanti deh, Simbok lihat.”
“Gitu ya? Belum terbayang seperti apa indahnya.”
***
Pak Wiguna sedang menerima telpon dari Rosa. Rasa cintanya kepada Arka telah berubah menjadi kebencian. Sekarang ia tak berharap bisa menjadi istri Arka, tapi berharap menghancurkan hati Arka.
“Om tahu, sekarang Arka ada di mana?”
“Kamu ketemu Arka?”
“Tidak Om, teman Rosa yang melihatnya.”
“Di mana dia?”
“Om tidak bertanya, Arka jalan-jalan bersama siapa”
“Temannya kan?”
“Bisa saja kalau penjual beras miskin itu dianggap sebagai temannya.”
“Dia bersama gadis itu?”
“Bukan hanya gadis itu saja, tapi keluarganya. Ada simboknya, ada juga adiknya.”
“Arka melakukannya?”
“Mereka putar-putar kota, lalu jalan-jalan di taman, lalu makan siang disebuah restoran. Bisa nggak Om bayangkan, baju kumuh, tubuh bau, bersendal jepit, masuk ke sebuah restoran. Pasti akan menjadi tontonan menarik. Bukan hanya tontonan, tapi juga pembicaraan. Apa Om tidak malu, putra Om bergaul dengan orang-orang seperti mereka?”
“Keterlaluan Arka, nanti kalau dia pulang pasti Om tegur sekeras-kerasnya.”
“Kalau aku jadi Om, pasti sangat malu sekali. Bagaimana mungkin seorang direktur muda jalan dan makan bareng dengan orang-orang miskin dan kampungan seperti mereka.”
“Tentu saja Om malu. Benar-benar keterlaluan dia.”
“Yang saya tidak mengerti, mengapa Arka tidak jalan atau main bersama teman-teman kuliahnya dulu, atau paling tidak dengan rekan sekantor. Itu kan lebih pantas, ya kan Om?”
Bertubi-tubi Rosa memanas-manasi pak Wiguna. Kecuali ingin menumpahkan kekesalannya, ia juga ingin agar Arka dimarahi orang tuanya.
“Tapi Om jangan bilang kalau saya memberi tahu Om ya, soalnya saya juga hanya mendapat laporan dari teman saya yang kebetulan melihat mereka. Tuh, baru saja teman saya mengabari, kalau Arka membawa orang-orang miskin itu memasuki sebuah toko pakaian.”
“Apa? Jadi Arka juga membelikan mereka pakaian?”
“Pastinya kan Om, masa masuk ke toko pakaian mau beli rujak?” kata Rosa setengah bercanda, tapi tidak membuat pak Wiguna tertawa.
“Apa yang meracuni hati Arka sehingga berbuat yang sangat tidak masuk akal seperti itu?”
“Om tahu tidak, orang-orang seperti mereka itu, banyak yang masih menggunakan guna-guna.”
”Guna-guna apa?”
“Guna-guna itu ya semacam kekuatan mistik begitu Om, orang pintar yang bisa melakukannya. Jadi mereka mencari orang pintar, agar Arka jatuh hati kepada anak mbok Mangun, lalu memanjakan mereka dengan banyak hal yang menyenangkan. Nanti akan lebih banyak Arka keluar uang untuk mereka. Kali ini mengajak jalan-jalan, lalu makan di restoran mahal, lalu membelikan pakaian. Lama-lama perhiasan, rumah, mobil, semua yang mereka mau.”
“Apa?”
“Arka punya segalanya. Uang tak usah ditanya. Apa susahnya menuruti kemauan mereka?”
Dan pak Wiguna benar-benar terbakar oleh sulutan api yang dikobarkan Rosa.
***
“Ada apa, Bapak marah-marah lagi?”
“Kamu tahu nggak Bu, Arka pergi ke mana?”
“Bukankah kencan dengan teman-temannya? Perginya ke mana ya aku tidak tahu.”
“Dia pergi bersama orang-orang miskin itu.”
“Orang-orang miskin siapa? Mbok jangan suka mengatai orang miskin. Miskin harta itu bukan hina. Yang hina kalau miskin hati nuraninya.”
“Ibu berkali-kali ngomong begitu. Itu, penjual beras itu. Apa benar Arka suka sama dia? Bocah ingusan masih sekolah, kumuh dan sama sekali tidak menarik.”
“Apa Arka mengatakan kalau dia suka sama gadis itu?”
“Ya tidak berani dia mengatakan begitu. Tapi Ibu tahu tidak, sejak pagi tadi Arka pergi bersama mereka.”
“Mereka itu siapa? Beberapa orang pastinya?”
“Gadis itu, sama simboknya, sama adiknya.”
“Arka pergi bersama mereka?”
“Iya. Diajak putar-putar kota, jalan-jalan di taman, makan di restoran, dan pada laporan terakhir Arka mengajak mereka belanja pakaian. Apa itu tidak kebangetan?”
“Mungkin Arka kasihan sama mereka, lalu mengajaknya jalan-jalan supaya mereka senang.”
“Pernahkah terpikir oleh Ibu bahwa penjual beras itu menggunakan guna-guna untuk memikat anak kita?”
“Bapak itu ada-ada saja. Jaman modern seperti sekarang masih ada yang menggunakan guna-guna? Fitnah itu.”
“Bu, kelakuan yang tidak wajar bisa jadi karena adanya guna-guna.”
“Masa sih, mengajak jalan-jalan, mentraktir makan, memberi pakaian, itu tidak wajar? Arka berbaik hati, mungkin karena kasihan pada kehidupan mereka.”
“Mengapa juga Arka harus kasihan? Banyak orang miskin di dunia ini, apa Arka akan membantu dan menyenangkan hati mereka semua?”
“Kalau itu mampu dilakukannya, mengapa tidak? Aku heran, Bapak itu terpelajar, pengusaha yang pergaulannya pastilah dengan orang-orang pintar, mengapa bisa mempunyai pikiran sepicik itu? Dari mana Bapak mendapat pemikiran aneh seperti itu? Dari mana Bapak tahu mereka pergi ke mana dan mengapa?”
“Rosa melihatnya. Eh bukan, teman Rosa melihatnya, lalu bercerita pada Rosa.”
“Jadi Rosa mendapat laporan dari teman Rosa? Kelihatan sekali kalau Rosa tidak suka pada gadis penjual beras itu. Tapi aku tidak mau ikutan berpikiran picik seperti itu. Mengada-ada. Kalau anak kita baik kepada orang, harusnya kita bangga.”
Kali ini pak Wiguna yang meninggalkan istrinya, sambil mengomel panjang pendek karena lagi-lagi tidak mendapat dukungan.
***
“Mas Arka, mengapa Mas Arka melakukan semua ini? Sudah mengajak jalan, muter-muter, makan-makan, lalu membelikan kami pakaian. Ada apa ini?” keluh Senja ketika Arka beranjak keluar dari toko sambil membawa bungkusan beberapa potong pakaian untuk mereka bertiga.
“Kamu tidak usah protes. Aku ingin melakukannya, karena aku suka pada simbok, pada perjuangannya, aku juga suka kepada anak-anak simbok yang baik, yang patuh, yang penuh kasih sayang kepada orang tuanya.”
“Tapi ….”
“Tidak usah tapi-tapian, ayo ke mobil, aku antar kalian pulang.”
Senja merengut karena dimarahi, tapi ia segera menggandeng simboknya menuju mobil.
Tapi tiba-tiba ada orang berteriak dari lobi.
“Mbak … Mbak, sini dulu, ada yang ketinggalan.”
Senja heran, tapi setelah membantu simboknya masuk ke mobil, Senja berbalik masuk ke arah toko, sambil berpikir, apa ya yang ketinggalan.
Arka heran ketika simbok dan Rimba sudah masuk ke mobil, tapi Senja tidak ada.
“Mana Senja?”
“Nggak tahu Mas, tadi ada yang berteriak dari sana, katanya ada barang ketinggalan, jadi Senja masuk kembali.”
“Apa yang ketinggalan?”
“Tidak tahu Mas.”
Mereka menunggu, tapi lama sekali Senja tidak keluar dari toko itu.
***
Besok lagi ya.