Thursday, July 23, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 56

 NAMAKU TETAP SENJA  56

(Tien Kumalasari)

 

“Mengapa Bapak pulang sendiri? Mana Arka? Masih banyak pekerjaan lagI? Kasihan Pak, mengapa tidak  Bapak suruh melanjutkan besok pagi saja? Memangnya harus selesai malam ini juga?” tanya bu Wiguna ketika melihat suaminya pulang sendiri.

“Dia sudah pulang lebih dulu, katanya mau ketemu anak tukang beras itu,” kata pak Wiguna sambil duduk, lalu menyeruput kopi yang sudah disediakan.

“Pesan beras lagi? Untuk kantin lagi?”

“Kelihatannya bukan itu. Kantin sudah pesan sendiri, aku melihatnya beberapa hari yang lalu. Sudah dua kali malah.”

“Lalu mengapa dia sore-sore ke sana?”

“Mau menemui anak tukang beras itu. Katanya besok disuruh bekerja di kantor kita.”

“Oh ya? Memangnya dia sekolah apa?”

“Baru lulus SMA.”

“Tumben bapak tidak menolaknya. Biasanya kan Bapak selalu menerima hanya yang sarjana. Dulu keponakan Ibu, walau keponakan jauh, Bapak tidak mau menerima gara-gara dia lulusan SMA. Kasihan anak itu. Akhirnya jadi tukang parkir.”

“Yah, aku minta maaf. Besok kalau ada lowongan lagi, Ibu minta dia melamar, akan bapak carikan tempat yang cocok untuk dia.”

Bu Wiguna menatap suaminya dengan heran. Ia melihat banyak perubahan di hari-hari terakhir ini. Sikapnya lebih lembut, dan mau menerima kesalahan.

“Aku mandi dulu Bu, biar wangi. Masa Ibu sudah wangi, aku bau asem,” kata pak Wiguna sambil berdiri, lalu menuju kamarnya.

“Kopinya tidak dihabiskan dulu.”

“Nanti aku habiskan setelah mandi,” katanya.

Bu Wiguna membiarkannya. Lalu lagi-lagi ponselnya berdering. Ada panggilan dari seseorang. Sama seperti yang dulu pernah dilihatnya. Penasaran, bu Wiguna kemudian mengangkatnya. Tapi baru saja dibuka, suara dari seberang membuatnya terkejut. Tiba-tiba dia marah.

“Pak Wiguna, saya ibunya Tantrina. Boleh saja Bapak mengingkari bayi yang dikandung Tantrina, tapi jangan buru-buru menyuruh Tantrina pergi. Waktu seminggu itu tidak cukup untuk mengusung barang-barangnya ke rumah. Walau Bapak ceraikan dia, tapi jangan terlalu kejam mengambil lagi barang-barang yang sudah Bapak berikan. Saya minta waktu dua minggu untuk mengosongkan rumah.”

Bu Wiguna menutup ponselnya tanpa menjawab. Ada sesuatu yang dia temukan. Yaitu apa yang disembunyikan suaminya.

“Ada perempuan bernama Tantrina. Yang hamil, tapi suaminya tidak mau mengakui bayi itu anaknya. Perempuan itu diceraikan, lalu harus pergi dari rumah. Rumah siapa ya? Oo, apakah itu rumah di sebuah perumahan mewah yang brosurnya aku temukan? Jadi perempuan itu tadinya dinikahi, entah siri atau bukan,  lalu diceraikan, lalu diusir dari rumah karena perempuan itu hamil dengan laki-laki lain. Hmm, baguslah kalau suamiku sadar. Aku sudah tahu dia membohongi aku selama ini, dan syukurlah Allah menunjukkan jalannya.” gumamnya pelan.

Bu Wiguna meletakkan kembali ponsel suaminya di tempat semula., lalu tersenyum lucu.

“Jadi mulai sekarang suamiku tidak akan sering-sering menunggui sahabat dekatnya yang habis dioperasi, lalu takut sendirian. Suamiku tidak begitu pintar berbohong. Masa laki-laki takut sendirian? Cari alasan yang tepat dong, supaya aku mempercayainya sejak lama.”

“Ibu bicara sama siapa?” bu Wiguna terkejut, tiba-tiba suaminya muncul.

“Bapak sudah mandi? Cepat amat?”

“Aku mencari handuk.”

“Handuk?”

“Biasanya Ibu menyiapkannya di meja dekat kamar mandi. Itu tidak ada handuknya.”

“Masa, barangkali aku lupa. Sebentar, Ibu ambilkan,” bu Wiguna berdiri, lalu mendengar ponsel itu berdering lagi. 

Bu Wiguna tidak takut ketahuan saat menerima telpon dari perempuan yang entah siapa namanya. Sebelum masuk ke kamar dia mendengar suaminya menjawab agak kasar.

“Semuanya sudah aku jelaskan. Jangan menelpon lagi.”

Lalu suaminya mengikutinya masuk ke kamar.

“Bapak marah-marah sama siapa?”

“Orang tidak tahu diri,” jawab pak Wiguna yang kemudian menerima handuk yang diberikan istrinya.

***

Arka sudah sampai di kantor polisi, di mana Senja di tahan. Begitu masuk, ia melihat mbok Mangun dan Rimba duduk bertangisan.

Arka mendekati mereka, lalu Rimba segera menubruk Arka dan menangis di dadanya.

“Mas Arka, jangan biarkan mbak Senja dipenjara. Dia tidak bersalah, dia tidak bersalah.”

“Syukurlah Simbok dan Rimba bisa sampai di sini.”

“Pak RT yang mengantar, tapi dia buru-buru pulang,” jawab Rimba.

“Iya, bagaimana ini mas Arka, dari tadi Simbok belum bisa ketemu Senja. Senja tidak akan sejahat itu. Dia mau diperkosa.”

Arka mengajak Rimba duduk, dan menenangkannya dengan menepuk-nepuk bahu Rimba.

“Tenanglah dulu Mbok, Rimba, aku akan bicara sama petugas di sini.”

“Di salon itu, Senja di suruh melayani pelanggan yang minta dipijit. Senja sudah menolak, tapi pemilik salon itu memaksa. Ia memasukkan Senja dalam kamar bersama pelanggan itu. Lalu entah apa yang dilakukan pelanggan itu, Senja menjadi marah lalu memukul kepalanya dengan kursi. Laki-laki itu pingsan, Senja segera berlari pulang. Tapi tiba-tiba polisi datang ke rumah dan Senja dibawanya,” tangis mbok Mangun.

“Berarti salon itu bukan salon baik-baik. Ada pelayanan yang tersembunyi, selain memotong rambut dan pelayanan kecantikan biasa. Siapa yang membantu Senja sehingga dia bekerja di sana?”

“Senja hanya bilang dibantu temannya yang baik hati.”

“Siapa?”

“Senja tidak mau mengatakannya. Temannya itu minta agar jangan menyebut nama dia, karena dia tidak mau dipuji-puji, atau dianggap orang baik. Begitu alasannya. Jadi sampai sekarang Simbok tidak tahu siapa temannya itu.”

“Kalau benar temannya orang baik, dia tak akan mencarikan Senja pekerjaan di salon kotor seperti itu,” kata Arka geram.

“Mas Arka, tolonglah Senja. Bisakah mas Arka menolongnya?”

“Tentu bisa Mbok, Senja tidak bersalah, dia tidak akan dihukum.”

“Benarkah?”

“Saya akan menelpon pengacara yang akan saya minta membantu Senja.”

“Pengacara itu siapa?”

“Orang yang bisa membantu. Sementara itu saya akan meminta agar diperbolehkan bertemu Senja,” kata Arka yang kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang, entah siapa.

"Baiklah, saya tunggu sekarang juga. Benar.. pak Wiguna itu ayah saya ... betul. Sekarang ya Pak."

Agak lama mereka bicara, sementara Arka kemudian menemui polisi yang bertugas untuk berbicara tentang keadaan Senja. Tapi Arka harus menunggu pengacara yang sudah dimintanya datang.

***

Hari sudah malam ketika Mbok Mangun dan anaknya bisa bertemu Senja. Seorang pengacara mendampinginya. Tentu mereka bertangisan, karena merasa bahwa Senja tak bersalah. Kepada pengacara Senja mengatakan apa yang terjadi, sambil menangis. Pilu hati Arka melihat wajah gadis yang dikaguminya tampak pucat tak bersemangat.

“Tenanglah Senja, sudah ada pengacara yang akan membantu kasus kamu.”

Tapi sejauh ini Senja tidak mau mengatakan siapa yang membantunya.

“Senja, kamu harus mengatakannya. Siapa tahu teman kamu itu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa kamu.”

“Tidak mungkin. Dia itu orang baik yang dengan ikhlas membantu. Yang ada hubungannya itu ... ya bu Mery, karena dia yang memaksa aku.”

Senja begitu polos. Ia selalu merasa bahwa Rosa telah banyak membantunya, bahkan menyelamatkan nyawanya. Dia juga rela ingin mengantar dan menjemputnya sekolah waktu kakinya terluka. Orang baik seperti itu mana mungkin berbuat jahat. Begitu terus perasaan Senja.

Pengacara itu mencatat semua keterangan Senja, dengan janji yang akan membuat Senja merasa lebih tenang.

***

Mbok Mangun bersikeras untuk tetap berada di kantor polisi. Tapi Arka membujuknya, bahwa tidak boleh menunggui di kantor polisi.

“Mbok, untuk sementara Simbok menginap di rumah saya saja, agar Simbok merasa lebih tenang. Di sini, kecuali tidak diperbolehkan, juga Simbok tidak bisa istirahat dengan nyaman.”

“Menginap di rumah mas Arka? Mana pantas?”

“Pantas saja. Dan Simbok harus benar-benar tenang. Senja tidak bersalah. Besok, pengacara akan mengajukan permohonan agar bisa ditahan diluar.”

“Ditahan diluar itu bagaimana caranya?”

“Simbok tenang saja. Ayo sekarang pulang ke rumah saya.”

“Simbok sungkan Mas, Simbok orang miskin, masa tidur di rumah orang kaya? Lagipula Senja tidak membawa baju ganti, dari pagi dia hanya memakai baju itu,” kata Simbok yang kembali terisak.

“Nanti kita mampir ke toko, beli baju ganti untuk Senja, juga makanan. Kita antarkan semua itu, tapi hanya bisa dititipkan kepada petugas. Nanti beli baju ganti juga untuk Simbok, dan Rimba.”

“Menyusahkan banyak orang.”

“Tidak, sudah Mbok, jangan dipikirkan.”

***

 Besok lagi ya.

 

Wednesday, July 22, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 55

 NAMAKU TETAP SENJA  55

(Tien Kumalasari)

 

 

Pak Wiguna terkejut. Ia menatap Arka tak percaya. Pasti anaknya bercanda. Seorang tukang jualan beras, bisa mengetahui sebuah rahasia besar? Dari kalangan orang kaya? Memangnya dia detektif?

“Mengapa Bapak menatap saya seperti itu?”

“Kamu bilang apa? Kalau bukan karena dia maka aku akan tertipu selamanya?”

“Ya, itu benar. Senja lah yang mengetahui bahwa simpanan Bapak itu mengandung bayi dari orang lain.”

“Bagaimana dia bisa mendapat berita seperti itu?”

Lalu Arka menceritakan bahwa Senja bekerja di salon milik ibu Tantrina, lalu mendengar mereka bicara tentang bayi yang dikandungnya. 

"Bapak hanya dijadikan kambing hitam.  Bayi itu dipergunakan untuk menguras harta Bapak. Acara balik nama rumah juga direncanakan oleh mereka. Harus buru-buru, agar segera terdaftar menjadi miliknya. Bayi itu juga yang akan dipergunakan sebagai senjatanya."

“Jadi Senja itu bekerja di salon bu Mery?”

“Bu Mery itu mertua Bapak?” seloroh Arka.

“Bukan lagi, dia sudah aku ceraikan," pak Wiguna merengut, Arka hanya tersenyum.

“Syukurlah, dan karena itu jangan meremehkan Senja. Gadis itu pintar. Dia sebenarnya bisa melanjutkan kuliah dengan bea siswa, nilainya sangat bagus, tapi dia bersikeras untuk bekerja saja, agar bisa membantu simboknya, untuk membiayai sekolah adik laki-lakinya.”

Pak Wiguna mengangguk-angguk.

“Arka percaya dia bisa bekerja, karena dia cerdas.”

“Baiklah, terserah kamu saja kalau begitu. Tapi bukankah gadis itu sudah bekerja di salon?”

“Dia kurang suka. Pelanggan salon terkadang bersikap tidak sopan terhadap dirinya, maka saya suruh dia resign, dan besok sudah bisa bekerja di sini. Bapak lihat saja, kalau pekerjaannya mengecewakan, kita suruh dia berhenti. Dijadikan tukang bersih-bersih pasti juga dia mau.”

“Ya sudah, bapak mengerti. Sebentar lagi bapak juga mau pulang.”

***

Arka memacu mobilnya ke rumah mbok Mangun. Ada sinar kegembiraan di mata Arka, membayangkan besok pagi dia akan bisa setiap hari bertemu Senja.

“Entah mengapa aku ini, mengapa terus-terusan terbayang wajahnya. Apa aku jatuh cinta pada gadis kecil itu?” gumamnya sambil tersenyum.

“Dia cantik, tapi bukan kecantikan itu yang menarik. Semangatnya, keteguhannya, kegigihannya dalam mencapai keinginan, benar-benar membuat aku kagum.”

Arka terus-terusan memikirkan Senja, sampai kemudian dia tiba di depan rumah sederhana milik mbok Mangun.

Arka turun dari mobil, dan merasa heran melihat pintu rumah mbok Mangun tertutup rapat.

“Apa Senja belum pulang? Bukankah dia mau keluar dari pekerjaannya? Apa pulangnya harus menunggu sampai jam kerjanya habis? Simboknya mungkin belum pulang, tapi bukankah Rimba libur? Main ke mana anak itu.”

Arka terus melangkah mendekati rumah, lalu duduk di bangku kayu depan rumah mbok Mangun.

“Semoga tidak lama aku menunggu.”

Tapi hampir satu jam, dan suasana remang mulai membayang, belum tampak ada yang pulang.

“Sebentar lagi hari gelap. Masa Senja belum pulang juga? Lalu main ke mana  Rimba?”

Arka berkali-kali melihat ke arloji di tangannya.

Tiba-tiba seseorang lewat, ia sudah dua kali lewat di depan rumah mbok Mangun, dan melihat mobil serta seorang anak muda masih duduk di depan rumah. Maka dia mendekatinya.

“Mas menunggu siapa?”

“Saya menunggu Senja, juga simboknya dan adiknya.”

“Mas tidak tahu ya? Siang tadi Senja ditangkap polisi.”

Arka terkejut. Ia langsung berdiri dan menatap laki-laki tetangga mbok Mangun itu dengan tatapan tak percaya.

“Senja ditangkap polisi? Kenapa?”

“Saya juga tidak tahu persisnya, tapi kata tetangga di samping itu, katanya Senja melakukan percobaan  pembunuhan.”

“Pembunuhan? Lalu ke mana mbok Mangun dan Rimba?”

“Tak lama setelah Senja dibawa, mereka pergi sambil menangis. Mungkin mencari anaknya yang dibawa entah ke mana.”

“Ya Tuhan, ada apa ini?” keluh Arka.

“Mas mencari Senja ya?” ada tetangga lain yang kemudian mendekat. Ia juga menceritakan bahwa Senja dituduh melakukan percobaan pembunuhan.

“Lalu mbok Mangun dan Rimba diantarkan pak RT untuk pergi ke kantor polisi,” sambungnya.

“Apa ada yang tahu di mana kantor polisinya?”

“Waa, ya nggak tahu. Tadi yang omong-omong pak RT nya, katanya dia sudah mendapat informasi, lalu mbok Mangun diajaknya supaya lebih tenang.”

Arka meninggalkan rumah mbok Mangun, dan memutar ponselnya untuk mencari informasi di mana Senja ditahan.

***

Ketika Mery pulang dari kantor polisi untuk dimintai keterangan, Tantrina sudah ada di rumah, matanya sembab karena habis menangis.

“Apa yang terjadi? Ibu di kantor polisi kenapa?” Tantrina malah bertanya kepada ibunya.

Lalu Mery mengatakan secara singkat tentang Senja yang dipaksa melayani pijit seorang pelanggan, tapi kemudian Senja memukul pelanggan itu sampai pingsan berdarah-darah. Itu sebabnya kemudian Senja ditangkap polisi.

“Apa sekarang masih ditahan?”

“Ya masih. Masa ikut pulang bersama ibu.”

“Ibu memaksanya melayani pelanggan yang mesum? Seperti dulu Tantrina mengalaminya sampai kemudian hamil, lalu dia tak mau bertanggung jawab?”

“Iya, tapi kamu kan tidak usah menyesali kejadian itu. Kamu sudah mendapat suami kaya yang mau menikahi kamu kan?”

“Ibu tidak tahu ya. Tiba-tiba pak Wiguna tidak percaya bahwa bayi ini anaknya.”

“Tidak percaya? Mengapa?”

“Aku tidak tahu. Ketika aku meminta agar rumah itu diatas namakan namaku, dia bertanya apa bayi yang aku kandung itu benar darah dagingnya.”

“Kamu kan bisa menjawab. Masa kamu diam saja?”

“Sudah aku jawab, dia tidak percaya. Dia mengajak aku untuk tes DNA.”

“Kamu mau?”

“Ya tidak Bu, kalau aku mau, ketahuan kalau ini bukan darah dagingnya.”

“Lalu bagaimana?”

“Dia sudah menarik kesimpulan, karena aku tidak mau. berarti dia yakin ini bukan anaknya. Ya sudah Bu, mau apa lagi? Dia menceraikan aku, dan mengusirku dari rumah.”

“Kamu juga diusir?”

”Iya Bu, aku diberi waktu seminggu untuk mengosongkan rumah.”

“Ya ampuun, bagaimana semuanya ini. Apa kita menjadi sial gara-gara membantu Rosa ya?”

“Rosa siapa? Ibu membantu apa?”

“Rosa itu dulu teman sekolah ibu, tapi karena ibu keburu menikah, jadi kami berpisah. Beberapa waktu yang lalu dia menelpon ibu, agar ibu menerima pekerja seorang gadis cantik bernama Senja. Tapi aku harus membuat agar dia bisa melayani seorang pelanggan. Itulah yang kemudian terjadi. Sial semuanya. Kamu dicerai, aku harus berurusan dengan polisi.”

“Tapi ibu sudah memiliki salon yang lebih bagus. Perabot yang di rumah akan aku bawa saja semuanya.”

“Ya, tentu saja. Bawa saja semuanya. Mulai besok kamu harus membawanya. Sudah jelas dia tak percaya, dan dia tetap akan menceraikan kamu kan?”

“Iya Bu, dia sudah mengatakan itu, karena aku tidak mau tes DNA.”

“Ya sudah, masih untung kita sudah bisa mendapatkan hartanya, walau tidak begitu banyak seperti yang kita harapkan.”

“Tapi Bu, kalau nanti gadis itu mengatakan bahwa ibu yang memaksa dia melayani pelanggan pijit, Ibu tetap kena.”

“Apa maksudmu? Jangan membuat Ibu takut.”

“Ibu harus siap-siap. Bisa saja hal itu terjadi,” kata Tantrina tanpa beban, padahal perkataannya menakuti sang ibu.

“Semua karena Rosa. Dia dendam kepada gadis itu dan membuatnya celaka.”

“Ibu mendapat bayaran?”

“Iya sih.”

“Apalagi itu.”

“Tapi ibu berjanji tidak akan menyebut nama Rosa.”

“Ibu harus menyebutnya. Enak saja, dia yang punya mau, mengapa Ibu sendiri yang harus celaka? Ingat ya Bu, Ibu harus mengatakan yang sebenarnya. Abaikan saja janji ibu kepada Rosa. Kalau tidak, Ibu sendiri akan celaka dan dia duduk manis menikmati hasilnya.”

“Benar. Dia hanya ingin mencelakakan Senja, entah dendam apa, menurutku Senja itu orangnya baik.”

“Ya sudah. Ibu harus mengatakan kalau ini semua kemauan dia.”

***

Besok lagi ya.

 

 

Tuesday, July 21, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 54

 NAMAKU TETAP SENJA  54

(Tien Kumalasari)

 

Tak lama kemudian, terdengar suara tegas dari luar rumah.

“Selamat siang.”

“Ada tamu siapa tuh?”

Rimba turun dari kursinya, bergegas ke depan, tak lama kemudian ia kembali dan berkata dengan gugup.

“Mbok, ada polisi.”

“Polisi? Mengapa polisi kemari?” kata mbok Mangun bingung. Senja berdiri dan bergegas ke depan. Biarpun berdebar-debar, ia harus menghadapi tamunya. Bukan simboknya yang pasti akan panik.

“Selamat siang.”

“Selamat siang,” jawab Senja, pelan.

“Apakah di sini ada yang namanya saudari Senja?”

“Senja? Ss … saya sendiri …,” Senja mulai agak gemetar.

“Ada perintah penangkapan atas saudari Senja, karena diduga melakukan percobaan pembunuhan.”

“Tidak … saya tidak bermaksud … membunuh, say … saya hanya membela .. diri, karena mau diper … perkosa … “

“Nanti Saudari bisa mengatakannya di kantor, sekarang Saudari harus ikut saya.”

“Tidak, jangan bawa anakku … dia tidak bersalah … “

Polisi memaksa membawa Senja, Simbok berteriak-teriak sambil menangis, dan Rimba memburu ke arah polisi yang menggandeng kakaknya.

“Jangan bawa mbak Senja … “

“Simbok, Rimba … tenang saja … Senja tidak bersalah, nanti juga Senja pasti pulang lagi,” kata Senja berusaha tegar, sambil menoleh ke arah Simbok dan adiknya.

Mobil polisi meraung pergi, meninggalkan mbok Mangun yang berteriak-teriak. Dan Rimba yang berusaha menghibur simboknya. Seisi kampung geger, semua orang mengatakan bahwa Senja ditangkap polisi.

***

Siang hari itu pak Wiguna datang ke rumah di mana Tantrina tinggal, karena Tantrina terus menelpon.

“Bagaimana Bapak itu, saya minta datang sejak pagi, tapi Bapak tidak segera datang,” kata Tantrina sambil mengerucutkan bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya pak Wiguna segera mendekati dan merangkulnya, dan mengelus punggungnya untuk membuatnya tersenyum. Tapi kali itu tidak. Pak Wiguna langsung duduk di kursi tamu.

“Bapak mau minum apa?” katanya kemudian.

“Tidak usah, nanti gampang.”

“Mengapa juga baru sekarang Bapak datang? Bapak sudah tidak sayang ya, pada Tantrina?”

“Pekerjaan di kantor banyak, lama terbengkalai, aku bukan pengangguran kan?”

“Bapak kan seorang pimpinan. Tinggal duduk manis, yang mengerjakan anak buah, ya kan?”

“Tidak bisa begitu. Aku harus menangani dan mengontrol mereka.”

“Ibu menelpon terus, tapi tidak saya jawab. Paling-paling ibu menanyakan tentang almari yang dibutuhkannya.”

“Belum bisa, waktunya tidak ada.”

“Mengapa Bapak tidak mengedepankan permintaan saya dulu? Bukankah pekerjaan bisa nanti?” kali ini Tantrina menggelendot di pundak pak Wiguna. 

Pak Wiguna bergeming. Perkataan Arka bahwa bayi yang dikandung Tantrina bukan darah dagingnya, telah melenyapkan seluruh gairah dan cintanya. Ia justru akan segera mengusir Tantrina dari rumah itu.

“Pak, kalau begitu ayo mengurus surat rumah ini dulu. Aku tidak mau ini atas nama Bapak. Bukankah kelak rumah ini juga untuk anak kita?”

“Anak kita ….” gumam pak Wiguna.

“Ya, anak kita. Kalau Bapak memberikan rumah ini sepenuhnya kepada Tantrina, sama saja nanti pemiliknya adalah anak kita ini,” katanya sambil meraih tangan pak Wiguna, diletakkan di perutnya yang sedikit membuncit. 

Tapi kemudian pak Wiguna menariknya.

“Apa benar bayi itu adalah darah dagingku?”

Tantrina terkejut. Ia menatap pak Wiguna dengan mata kesal. Kemudian ia menjatuhkan lagi kepalanya di pundak pak Wiguna.

“Mengapa Bapak berkata begitu? Masa seorang ayah akan mengingkari darah dagingnya sendiri?”

“Mengapa tiba-tiba aku tidak yakin?” kata pak Wiguna, langsung pada permasalahan.

“Apa? Bapak tidak yakin bahwa ini darah daging Bapak?”

Tiba-tiba Tantrina menangis, dan semakin keras, seperti menggerung-gerung. Tangannya merangkul lengan pak Wiguna tapi pak Wiguna bergeming. Tak ada rangkulan balik, atau kata-kata lembut untuk menenangkannya.

“Dari mana Bapak punya pendapat seperti itu? Dari mana? Saya melayani Bapak sudah lama, lalu saya hamil. Apa selain Bapak saya melayani orang lain? Bapak menuduh saya selingkuh?”

“Kamu bukan perawan ketika bertemu aku kan?”

“Saya tidak ingkar. Kan saya sudah bilang bahwa saya pernah menikah tapi tidak berlangsung lama, kemudian bercerai?”

“Kalau begitu, demi kebaikan kita semua, juga kebaikan anak itu, kita tes DNA.”

“Apa maksud Bapak?”

“Tes DNA akan membuktikan sebuah kebenaran tentang siapa anak siapa.”

“Aku tidak mauuuuu!” Tantrina berteriak.

“Mengapa tidak mau?”

“Bapak ingin mempermalukan saya? Biar kelihatan bahwa saya tidak dipercaya oleh suami?”

“Tes DNA tidak mempermalukan siapapun. Kalau kamu jujur, kamu bisa dengan bangga menunjukkan kebenaran bukan?”

“Tidak mauu, aku tetap tidak mau.”

“Kalau begitu berarti kamu menyembunyikan sesuatu dari aku. Kamu tidak jujur.”

“Bapak tidak percaya?”

“Aku akan percaya kalau tes DNA sudah dilakukan. Kita bisa sekarang? Kalau terbukti itu darah dagingku, langsung rumah ini aku berikan pada kamu dan bayi yang kamu kandung itu. Sekarang juga kita ke rumah sakit?”

“Mengapa Bapak membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak berguna?”

“Apa yang tidak berguna? Membuang uang tidak apa-apa, asalkan kebenaran bisa dibuktikan. Harusnya kamu berani menghadapi kalau memang kamu benar. Kalau kamu takut, aku jadi meragukannya.”

Tantrina menangis semakin keras.

“Biasanya kalau orang itu benar, dia akan dengan gigih membuktikan kebenarannya.”

“Jadi Bapak tidak percaya pada saya?”

“Aku percaya, nanti setelah kita buktikan.”

Tiba-tiba Tantrina lari ke kamar, dan menjatuhkan tubuhnya di pembaringan. Ia berharap dengan merayunya maka keragu-raguan pak Wiguna agak mereda. Tapi ternyata pak Wiguna tidak menyusulnya ke kamar. Ia berdiri di depan pintu kamar, menatap Tantrina yang sudah berbaring dengan sikap menantang.

“Aku pergi dulu. Dengan sikap kamu itu, berarti kamu takut membuktikan, berarti anak yang kamu kandung bukan anakku. Kamu aku ceraikan, dan aku minta kamu pulang ke rumah orang tua kamu. Aku beri kamu waktu seminggu.”

Setelah itu pak Wiguna membalikkan tubuhnya, menghampiri mobilnya dan berlalu.

Tantrina mengusap air matanya. Tak tahu harus berbuat apa. Ia langsung menelpon ibunya, yang ternyata ada di kantor polisi.

Hal itu membuatnya lebih gelisah, karena ia tak tahu apa yang terjadi. Ia memukul-mukul perutnya dan mengomel panjang pendek.

“Bayi tak mau diuntung. Kamu bodoh. Mengapa tidak mau menjadi anak orang kaya? Bodoh. Bodoh. Lalu ada apa lagi ibu di kantor polisi? Ya ampun Bu, Tantrina sudah diceraikan, ada waktu seminggu untuk pulang ke rumah Ibu,” akhirnya dia menangis lagi.

***

Pak Wiguna kembali ke kantor, dan segera menemui Arka di ruangannya.

“Bapak cepat sekali kembali, tidak jadi ke rumah sakit?”

“Untuk apa ke rumah sakit?’

“Bukankah Bapak mau tes DNA?”

“Dia tidak mau. Dia memilih bungkam, jadi aku sudah mengambil kesimpulan kalau dia bohong.”

“Lalu apa yang akan Bapak lakukan?”

“Menceraikan dia, lalu mengusir dia dari rumah itu. Apa Bapak melakukan hal yang benar?”

Arka tersenyum sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.

“Kamu kok sudah bersiap pulang? Ini jam berapa?”

“Saya mau langsung ke rumah Senja terlebih dulu.”

“Senja itu … apa anak penjual beras yang kamu sering belanja beras ke sana?”

“Iya Pak. Saat ini Senja sudah lulus SMA. Maksud saya, dia akan saya suruh bekerja di kantor ini.”

“Apa? Dia lulusan SMA dan kamu akan membawanya bekerja di sini? Karena kamu kenal baik, dan kamu anggap sebagai teman kamu? Pekerjaan apa yang akan kamu berikan kepada dia, Ka? Tukang bersih-bersih? Kan sudah ada?”

“Tidak Pak, akan saya suruh bantu-bantu sekretaris saya.”

“Apa? Tidak Ka, aku tidak setuju. Kalau kamu memaksa juga, biarlah jadi tukang bersih-bersih saja. Bisa apa dia dengan pekerjaan yang akan kamu berikan, Ka?”

“Dia bisa belajar. Anak itu pintar. Nilainya bagus.”

“Aku tetap tidak setuju.”

“Pak, akan saya beri tahu Bapak. Orang yang membuka rahasia Tantrina, bahwa dia hamil bukan darah daging Bapak, adalah Senja.”

“Apa?”

“Kalau tidak ada Senja, barangkali Bapak akan tertipu selamanya.”

***

Besok lagi ya.

 

 

Monday, July 20, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 53

 NAMAKU TETAP SENJA  53

(Tien Kumalasari)

 

Senja memasuki halaman rumahnya dengan terengah-engah. Ia menyandarkan sepedanya, kemudian masuk ke dalam rumah, ngelesot di lantai tanah bersandar pada tembok tua yang separo di atasnya ditutup dengan anyaman bambu.

Rimba yang ada di belakang, mendekati sang kakak dengan perasaan heran.

“Mbak sudah pulang? Bagus sekali. Mbak jadi keluar dari pekerjaan ya? Kok wajah Mbak pucat begitu, dan baju Mbak sampai basah oleh keringat? Capek ya?”

Rimba tidak menunggu jawaban. Ia mengambil segelas air, yang kemudian diberikannya kepada sang kakak.

“Minum dulu, biar lebih tenang.”

Senja menerima gelas itu, lalu meneguknya habis. Rimba menerima gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di meja, lalu ia duduk di depan sang kakak.

“Ada apa sih? Mbak dikejar setan?”

“Buruk.”

“Apanya yang buruk?”

“Kejadian yang Mbak alami. Terima kasih ya Allah, karena membuat hamba terhindar dari niat buruk orang,” kata Senja pelan, sambil menadahkan tangannya ke atas.

“Sebenarnya ada apa?”

“Ada orang berniat jahat, tapi Mbak bisa menghindar.”

“Mbak mau dirampok?”

“Lebih dari itu. Diamlah dulu, biarkan mbak  bernapas.”

Rimba menatap heran sambil bertanya-tanya.

“Memangnya dari tadi Mbak tidak bernapas?”

“Hampir tidak. Diamlah dulu.”

“Ya sudah, berdirilah, dan ganti baju Mbak yang basah kuyup itu.”

Senja berdiri, menuruti anjuran sang adik, sambil terus memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.

“Sungguh mengerikan. Terima kasih ya Allah … terima kasih ….,” bisiknya berkali-kali sambil berganti pakaian rumahan.

Tak lama kemudian dia keluar, Rimba menyediakan makan siang, lalu mengajak sang kakak makan.

“Ayo Mbak, kita makan. Mbak kelihatan kelaparan,” goda sang adik.

“Simbok pulang jam berapa ya?”

“Ya nggak tahu, Simbok itu pulangnya kan tidak tentu. Kadang siang sudah pulang, kadang sore baru pulang.”

“Iya sih.”

“Ayo makan dulu saja. Sayur bening, teri goreng sama tahu goreng. Ada sambal terasi kesukaan Mbak.”

“Iya, sebentar, nunggu Simbok. Kamu makan saja dulu kalau sudah lapar.”

“Ya nggak enak, kan ada Mbak, masa aku makan sendiri.”

“Nggak apa-apa, Mbak mau menunggu Simbok di depan.”

“Kalau begitu aku juga nggak mau makan.”

Tumben siang ini Senja dan adiknya tidak kompak. Biasanya, walau menunggu simboknya, Senja pasti mau ikut makan walau sedikit, hanya untuk menemani sang adik. Tapi kali ini Senja sedang benar-benar membutuhkan simboknya. Ia tak bisa menceritakan semuanya pada Rimba, harus menunggu simboknya.

Akhirnya Rimba ikut duduk di bangku depan rumah, di samping sang kakak.

“Gimana sih kamu ini? Makan dulu saja sana.”

“Aku juga mau menunggu Simbok.”

Tapi seperti yang diharapkan Senja, mbok Mangun sudah tampak berjalan memasuki halaman kecilnya. Simbok tampak gembira melihat Senja sudah ada di rumah.

“Syukurlah, kamu jadi keluar dari pekerjaan kamu?”

Bukannya menjawab, Senja malah berdiri menyambut sang simbok, lalu merangkulnya sambil menangis. Tentu saja Simbok terkejut. Bahkan Rimba juga heran melihatnya, karena sejak tadi sang kakak tidak banyak bercerita.

“Ini ada apa? Kamu itu kenapa? Jangan membuat Simbok bingung Nja, katakan ada apa. Apa kamu sedih karena tidak diberi upah untuk pekerjaanmu yang baru beberapa hari? Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah keluar dari sana. Kamu bilang kan, tidak diberi upah juga tidak apa-apa? Mengapa sekarang menangis?”

“Bukan karena upah Mbok, Senja mengalami kejadian buruk,” tangisnya.

“Kejadian buruk apa? Sepeda kamu hilang?” kata Simbok sambil melongok ke tempat biasanya Senja meletakkan sepeda, dan Simbok merasa lega karena sepeda itu masih ada.

“Nja, katakan ada apa? Kejadian buruk apa, ayo duduk di situ,” kata Simbok sambil mengajak Senja duduk.

“Ada apa sih Mba, kakakmu kenapa?”

“Rimba juga bingung, dari tadi mengatakan mengalami kejadian buruk. Aku tidak mengerti Mbok.”

“Nja, jangan membuat Simbok bingung. Simbok kira Simbok senang melihat kamu sudah pulang berarti kamu jadi keluar dari pekerjaan kamu.”

“Senja memang sudah pamit, tapi … tapi …”

“Tapi apa? Dimarahi?”

Lalu sambil terisak Senja mengatakan apa yang dialaminya, sampai dia kabur dan menggenjot sepedanya pulang dengan sekuat tenaga, takut ada yang mengejar.

“Lha ya sudah Nja, laki-laki kurang ajar itu kan sudah kamu pukul pingsan, sehingga kamu bisa kabur. Simbok bersyukur, kamu terlepas dari nasib buruk itu. Sudah, jangan menangis lagi,” kata Simbok sambil mengelap air mata Senja dengan ujung bajunya.

“Ayo masuk, kalian sudah makan?”

“Dari tadi Rimba ajak makan, tapi Mbak Senja tidak mau, katanya menunggu Simbok.”

“Ya sudah, sekarang Simbok sudah datang. Simbok ganti baju dulu, lalu kita makan bersama-sama. Ayo masuk, di sini panas,” kata Simbok sambil menarik tangan Senja, lalu merangkulnya sambil berjalan masuk ke rumah.

“Kamu harus bersyukur Nja, terlepas dari tangan jahat itu,” kata Simbok sambil masuk ke kamar mandi.

***

“Sekarang bagaimana Mer? Sudah dibawa polisi?” tanya Rosa.ketika menelpon Mery.

“Korban di bawa ke rumah sakit.”

“Kamu harus minta agar Senja diburu, dia harus dihukum karena hampir membunuh orang.”

“Polisi sudah menanyakan alamat rumahnya.”

“Bagus. Perempuan tak tahu diuntung itu harus merasakan penderitaan yang lain. Dia akan mendekam di penjara. Apalagi kalau korbannya sampai mati, Senja benar-benar akan dihukum berat.”

“Aku takut sekali. Tak pernah mengalami hal seperti itu.”

“Tidak usah takut, kamu kan hanya menyuruh karyawan melayani tamu. Kamu tidak akan dianggap bersalah. Tapi ingat, kalau sampai kamu dipanggil menjadi saksi, jangan sampai kamu membawa-bawa aku.”

“Aku akan dipanggil juga?”

“Pasti kamu akan dipanggil, kan kejadiannya di rumah kamu?”

“Ya ampuun, aku takut sekali.”

“Mengapa takut? Kamu hanya memberi tugas kepada karyawan kamu, kamu tidak akan dianggap bersalah. Dan lagi Mer, kamu memang harus menghadapi semuanya. Ingat, aku sudah membayar sebanyak yang kamu minta. Aku tidak akan meminta kembali uangnya kok, walau Felix tidak jadi memperkosa dia. Ada hukuman yang lebih menyakitkan kalau dia dipenjara, aku senang sekali,” kata Rosa dengan gembira.

“Ya sudah, aku mau menelpon anakku dulu, dari tadi menelpon tidak bisa tersambung. Dia sedang bicara entah dengan siapa, paling dengan suaminya.”

“Tunggu dulu, jangan panik. Percayalah kamu tidak akan diapa-apa kan oleh polisi.  Aku justru harus mengucapkan terima kasih. Terima kasih Mery,” kata Rosa enteng, sambil menutup ponselnya.

Tampaknya dia merasa puas atas apa yang  terjadi pada Senja.

***

Mbok Mangun makan bersama kedua anaknya. Berkali-kali dia mengatakan bahwa Senja harus bersyukur karena terlepas dari maksud jahat orang.

“Makan yang banyak, jangan memikirkan apa-apa. Semuanya sudah lewat. Ingat janji mas Arka, dia akan memberi pekerjaan untuk kamu. Pasti pekerjaan yang lebih baik, dalam artian baik untuk keamanan kamu. Tidak perlu berhadapan dengan orang-orang jahat yang punya niat kotor.”

“Wah, jadi orang kantoran dong Mbak. Nanti pakaian Mbak harus ganti yang bagus. Apa Simbok punya uang?” kata Rimba.

“Ya punya, kalau hanya untuk beli pakaian kerja. Ya kan Nja?”

”Paling-paling Senja akan jadi tukang bersih-bersih, tapi Senja akan lebih senang melakukannya.”

"Semua pekerjaan itu bagus, asalkan baik dan halal," lanjut Simbok.

Tiba-tiba terdengar sirene mobil polisi.

“Sepertinya berhenti di depan rumah?” kata Senja yang tiba-tiba wajahnya menjadi pucat.

***

Besok lagi ya..

Sunday, July 19, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 009

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  09

(Tien Kumalasari)

 

Rahman gembira bukan alang kepalang. Senang sekali hatinya bisa naik kuda. Tapi ia heran karena si om baik hati yang mengijinkannya ikut naik kuda tidak segera menyuruh kudanya berlari.

“Om, mengapa tidak segera jalan?”

“Om ingin bertanya, siapa wanita yang kamu sebut pembantu itu?”

“Memang dia pembantu di rumah saya. Orang tua saya menyuruh dia membayar uang sekolah saya. Ayo om, cepat jalan.”

“Dia pembantu di rumah orang tuamu?”

“Iya, mengapa om tidak percaya?

“Setiap hari dia membanti di rumah kamu?”

“Dari pagi sampai sore.”

Baroto termenung, bukankah Menur setiap pagi memulung? Tadi juga ia tahu Menur berangkat memulung, lalu melihatnya saat terkilir ketika turun dari kuda, bahkan mengantarkan obat gosok ke rumahnya. Jadi kapan dia menjadi pembantu di rumah anak kecil itu?”

“Siapa namamu?”

“Rahman. Bukankah Om sudah bertanya? Kapan kuda ini akan berjalan atau berlari?”

“Baiklah.”

Baroto memacu kudanya pelan, karena sedang berada di jalan raya. Ia tidak bertanya di mana rumah Rahman, tapi ia berjalan menyusuri jalanan ke rumah Menur.

“Om mau ke mana?”

“Om antarkan kamu sampai di rumah.”

“Memangnya Om tahu di mana rumah saya?”

“Kira-kira saja, apakah jalannya salah?”

“Tidak.”

Tapi Rahman merasa heran. Bagaimana hanya kira-kira saja, om ganteng ini bisa tahu jalan ke arah rumahnya?

Ketika sampai di rumah Menur, Baroto menghentikan kudanya.

“Sudah sampaikah?”

“Rumah saya di belakang sana. Saya heran om bisa tahu ini daerah rumah saya.”

“Hanya kebetulan. Sekarang turunlah.”

Baroto mengangkat tubuh Rahman dan menurunkannya. Rahman menatapnya heran. Baroto juga sedang menatapnya. Di mana dia pernah melihat wajah seperti Rahman? Seperti sangat mengenalnya, seperti bukan wajah yang asing. Ia menurunkan di depan rumah Menur, karena Rahman bilang bahwa Menur pembantunya. Berarti rumah Rahman di sekitar rumah Menur. Siapa Rahman sebenarnya?

Rahman kemudian menghilang di samping rumah Menur, mungkin benar rumahnya di dekat atau di belakang rumah Menur.

Tapi Rahman ingin menunggu kepulangan Menur. Pasti setelah dari sekolahan tadi langsung pulang. Hanya saja karena jalan kaki, jadi agak terlambat.

Baroto membawa kudanya ke arah yang agak jauh, di mana ada sebuah lapangan bola, dan Baroto bisa menambatkan kudanya di sana.

***

Menur yang berjalan ke arah pulang, terus berpikir, bagaimana Baroto bisa ada di sekolah Rahman, dan bisa mengajak Rahman naik kudanya?

Untunglah dia tidak mendengar ketika Rahman mengatakan bahwa dia adalah pembantunya.

Di sebuah pertigaan, sebelum dia belok ke arah rumah, seseorang mengejutkannya. Baroto sambil berjalan kaki mencegat perjalanan Menur. Menghalangi jalannya sambil tersenyum.

“Mengapa kemari?” katanya datar.

“Mau berterima kasih karena kamu menyusulkan obat gosok ke rumah.”

“Tidak usah berterima kasih. Biasa saja. Biarkan saya segera pulang, anak saya belum makan. Oh ya, kakimu sudah sembuh?”

“Karena obat gosokmu, aku bisa berjalan dan berkurang rasa sakitnya. Terima kasih.”

“Syukurlah.”

“Tadi aku melihatmu di sebuah sekolah. Apa anakmu sekolah di situ?”

Menur tak ingin menjawabnya. Ia melihat Baroto menaikkan Rahman ke atas kudanya, mengapa Baroto melakukannya? Apakah ada dorongan yang entah dari mana datangnya, yang membuat Baroto ramah kepada Rahman? Pasti mereka baru sekali itu ketemu.

“Sekolah di situ? Apa dia temannya Rahman?”

Menur terkesiap. Apa Rahman memperkenalkan namanya?

“Ada seorang anak yang tiba-tiba mendekat, lalu mengatakan ingin naik kuda. Aku merasa kasihan, lalu aku naikkan dia ke atas kudaku. Namanya Rahman.”

Menur hanya mengangguk. Tapi ia tak mengatakan apa-apa.

“Biarkan aku pulang.”

Baroto memberinya jalan, membiarkan Menur pulang.

Tapi ketika Baroto akan mengambil kudanya, ia ingat bahwa ada titipan Ana yang masih tergantung di pelananya. Ia menaiki kudanya dan kembali menuju ke rumah Menur.

Ia mengetuk pintu perlahan, dan terkejut ketika yang membuka pintu adalah Rahman.

Baroto terkejut, tapi lebih terkejut lagi Rahman. Ia tak mengira yang mengetuk pintunya adalah Baroto, sang penunggang kuda yang membuatnya senang. Ia bingung harus menjawab apa, kalau Baroto menanyakannya.

Belum sampai mereka bertegur sapa, dari dalam terdengar suara Menur.

“Rahman, makanan kamu sudah siap.”

Baroto terpana. Kalau Menur pembantu Rahman, mengapa dia menyiapkan makan untuk Rahman?

Karena tak tahu harus bagaimana, Rahman berlari masuk.

“Diluar ada siapa?”

“Ada … orang,” jawab Rahman, yang tak jadi protes karena sang ibu hanya menyiapkan telur untuk makan siangnya.

Menur bergegas ke depan, dan melihat Baroto masih berdiri di depan pintu.

“Aku, Menur, kamu tidak mempersilakan aku masuk?” jawab Baroto.

“Rumahku jelek, kotor. Tidak pantas untuk tamu terhormat seperti Tuan.”

“Jangan begitu.”

“Mengapa masih datang kemari lagi?”

“Aku lupa, Ana nitip ini untuk kamu.”

“Ana,” gumam Menur lirih. Anak itu sangat perhatian pada dirinya. Hanya karena sebuah pelukan saat pertama kali bertemu, membuatnya terharu.

“Ini, terimalah.”

“Sampaikan kepada Ana, terima kasih.”

“Ana minta kamu menemuinya. Aku berjanji membawa kamu pulang.”

“Itu tidak mungkin. Katakan pada Ana, bahwa aku tak pantas berada di rumah keluarga terhormat seperti keluarga Ana.”

“Itu hanya perasaan kamu saja. Tolong penuhilah permintaanku. Eh, bukan, permintaan Ana.”

“Tidak bisa begitu, aku punya anak.”

“Rahman itu anakmu kan?”

Mau tak mau Menur mengangguk.

“Anak itu harus dididik dengan benar.”

“Apa maksudmu, Tuan?”

“Ada sisi buruk yang dia miliki. Baiklah, lain kali kita akan bicara lagi, sekarang bagaimana, maukah kamu menemui Ana?”

“Tidak sekarang.”

“Besok?”

“Akan aku usahakan besok.”

“Aku berharap kamu menepati janji kamu.”

Menur hanya mengangguk ragu. Permintaan Ana sangat berat dijalani,walau dengan iming-iming penghasilan yang sangat bagus. Kalau Baroto tak bisamenjaga sikap, lalu istrinya tahu, dia bisa celaka.

“Baiklah, sekarang aku permisi.”

Menur mengangguk, berdiri di depan pintu menatap Baroto yang masih agak terpincang saat berjalan. Ia menutup pintunya ketika kuda tunggangan Baroto membawanya pergi.

Menur memegang kotak makanan itu, lalu bergegas mendekati Rahman yang entah mengapa, belum mulai makan juga. Rupanya Rahman sedang menyesali sikapnya ketika bertemu penunggang kuda itu, yang mengatakan bahwa ibunya pembantu, padahal akhirnya pasti orang kaya itu tahu bahwa dirinya berbohong.

“Mengapa belum makan Nak? Maaf tadi ibu hanya sempat membeli telur. Tapi ini, ada orang baik memberi makanan,” kata Menur sambil membuka kotak. Ada lele goreng dan lalapan yang menguarkan aroma gurih.

“Anehnya Rahman tidak tertarik. Ia malah mengambil nasi lauk telur yang disiapkan ibunya.”

“Kamu tidak mau?”

“Sedang tidak selera makan,” jawab Rahman sekenanya.

Jawaban itu sontak membuat Menur khawatir. Ia mendekat, dipegangnya dahi sang anak.

“Tidak panas.”

“Hanya tidak selera makan.”

“Ibu minta maaf tidak bisa membelikan pesanan kamu, tapi ini ada orang baik memberi ikan. Makanlah. Apa kamu tahu, yang sering memberi makanan enak yang kamu makan itu dia.”

Rahman menatap ibunya.

“Ibu kenal baik dengan dia? Mengapa dia sering memberi makanan?”

“Bukan dia, tapi anaknya yang suka sama ibu. Setiap kali ibu lewat sana, dia senang sekali. Dan selalu memberi makanan enak.”

“Dia tahu kalau ibu seorang pemulung?”

“Ya, tentu saja tahu, karena setiap kali lewat, ibu selalu membawa karung berisi botol-botol kosong. Memangnya kenapa?”

“Mereka orang kaya bukan?”

“Sangat kaya. Orang biasa mana bisa membeli kuda. Mobilnya juga banyak. Kelihatan dari luar setiap kali ibu lewat sana. Kalau kamu ingin kaya, kamu harus mendapat pekerjaan yang baik kelak. Karena itu kamu harus rajin belajar.”

Rahman sudah selesai, ibu makan sendiri saja makanan itu,” katanya sambil berdiri.

“Bagaimana kalau untuk lauk kamu nanti malam?”

Rahman tak menjawab. Sang ibu heran melihat sikap Rahman hari itu.

***

Hari itu ketika Rahman keluar dari halaman sekolah, om kaya yang punya kuda sedang mengendarai kudanya menuju ke arah sekolahnya. Rahman terkejut, ia ingin lari masuk kembali ke halaman, tapi penunggang kuda itu berteriak memanggilnya.

“Rahman! Ayo jalan-jalan.”

Rahman mendekat dengan enggan, bukan bersemangat seperti ketika pertama kali melihatnya.

“Ayolah, kita jalan-jalan, lalu makan siang bersama di suatu tempat.”

Rahman tak bisa menolak, sungguh ini adalah pertama kalinya dia kehilangan kesombongannya. 

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, July 18, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 52

 NAMAKU TETAP SENJA  52

(Tien Kumalasari)

 

Senja  merasa tidak enak. Di salon itu hanya ada karyawan tukang pijat, dan dirinya yang bantu-bantu bu Mery memotong dan membersihkan muka pelanggan. Kalau tukang pijit tidak masuk, lalu bu Mery mengatakan ada yang akan menggantikannya, apakah yang dimaksud adalah dirinya?

Senja berdebar. Ia ingin pamit sekarang juga, tapi bu Mery sendirian. Masih ada nurani untuk membantu, tapi pekerjaan memijit itu ia tak sudi melakukannya.

Dilihatnya bu Mery mempersilakan pelanggan laki-laki yang dipanggilnya pak Felix, ke kamar pijit. Senja mencari kesempatan untuk pamit, tapi bu Mery mendekatinya.

“Senja, kamu kan mau pamit hari ini,” kata bu Mery lembut.

Senja senang bu Mery memperhatikan permintaannya.

“”Iya Bu, maafkan saya.”

“Tapi kamu kan tahu bahwa aku sedang sendiri. Masa iya kamu tega membiarkannya. Lihat, ada pelanggan lain datang. Biasanya dia potong rambut dan cuci muka.”

Hati Senja terasa miris. Kok ada ‘tapinya’? Lalu masalah tega itu, membuatnya bingung.

“Senja, tolonglah, ini yang terakhir kali kamu membantu aku, layani sebentar pak Felix, dia uangnya banyak. Kalau kamu bisa menyenangkannya, dia pasti akan memberi kamu uang banyak.”

“Saya tidak mau uang Bu, saya keberatan melakukannya.”

“Senja, aku minta tolong. Ini yang terakhir.”

Kali itu suara bu Mery tegas dan tandas. Ia berkata-kata sambil menarik lengannya, dipaksanya masuk ke dalam kamar.

“Bu, saya tidak bisa.”

“Tolong Senja, ini yang terakhir. Setelah itu aku berikan gaji kamu penuh sebulan walau baru beberapa hari bekerja di sini.”

“Saya tidak mau uang, biarlah tidak dibayar,” kata Senja meronta, tapi tangan bu Mery sangat kuat. Ia terus menarik Senja ke dalam, lalu mengunci pintunya dari luar.

Tiba-tiba Senja merasa bahwa dia terpedaya.

***

Bu Mery mendekati pelanggan yang baru datang, yang memang benar ingin memotong rambut.

“Saya ingin model yang lain bu Mery, biar kelihatan awet muda.”

“Tentu Mbak, silakan memilih, model yang mana yang Mbak pilih, ini gambar-gambarnya.”

Bu Mery menjauh dari pelanggannya, karena ponselnya berdering.

“Mery, dia sudah datang?” suara dari seberang.

“Sudah.”

“Dia mau melayaninya?”

“Semula tidak mau. Hari ini sebenarnya dia minta resign. Tapi aku memaksanya untuk melayani pak Felix dulu.”

“Dia mau?”

“Tidak, harus dipaksa.”

“Sekarang di mana mereka?”

“Ya di kamar, aku sudah menguncinya. Segera kamu transfer uangnya. Seperti yang aku minta, jangan kurang.”

“Hari ini?”

“Hari ini, aku masih banyak kebutuhan. Suami Tantrina belum memberikan yang Tantrina minta.”

“Baiklah, dalam seperempat jam aku akan mentransfer uangnya.”

“Kelamaan.”

“Aku harus ke bank, m-bankingku agak rewel, nggak tahu kenapa.”

“Segera, aku tunggu. Kalau tidak aku akan membeberkan semua kelakuan kamu.”

“Ya ampun, pakai ngancam sih Mer?”

“Kamu sudah berjanji, harus kamu tepati.”

“Iya … iya, tenang saja.”

Penelpon itu menutup pembicaraan itu. Bu Mery menghampiri pelanggannya kembali.

“Bagaimana Mbak, sudah menemukan modelnya?”

“Sudah … yang ini ya. Kira-kira bagus nggak untuk aku?”

“O, sangat pas Mbak, sesuai dengan wajah Mbak yang oval. Akan saya mulai sekarang ya.”

Baru beberapa saat bu Mery memotong rambut pelanggannya, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Pintu yang tadi dikunci digedor dari dalam. Keras sekali. Bu Mery menoleh, pintu itu sampai bergoyang-goyang. Si pelanggan terkejut.

“Ada apa itu Bu, gaduh sekali.”

Pintu itu terus digedor. Semakin kuat. Kalau dibiarkan sebentar saja, barangkali pintu itu benar-benar akan jebol.

“Bu, mengapa itu, kenapa tidak dibuka dulu, kelihatannya ada teriakan di dalam," kata pelangggan yang rambutnya baru dipotong separo.

Bu Mery sebenarnya bukan pelaku kajahatan, ia hanya mata duitan. Gedoran di pintu membuatnya takut. Ia terpaksa meninggalkan pelanggan, kemudian membukanya. Di tengah pintu, ia melihat Senja berdiri dengan wajah murka.

“Ternyata Ibu menjerumuskan saya,” katanya sambil mendorong bu Mery ke samping.

Lalu ia berlari keluar, mengambil tas kecilnya di dekat pintu, kemudian menghampiri sepedanya dan kabur.

Bu Mery terpana, tak sempat mencegahnya. Di dalam kamar, seorang laki-laki tersungkur di lantai, kepalanya bersimbah darah. Sebuah kursi alumunium tergeletak di dekatnya.

Pelanggan yang tadi ditinggalkan ingin tahu apa yang terjadi di kamar sana. Bu Mery berdiri mematung, sambil menuding-nuding, mulutnya kelu, tak mampu berkata-kata.

Pelanggan itulah yang kemudian berteriak.

“Ya ampuun, ada pembunuhan. Gadis itu pelakunya, ada apa ya? Harus lapor polisi Bu. Harus.”

“To … tolong … tolong …  tolonglah …”

Pelanggan itu segera mengambil ponselnya, dan melapor ke polisi. Tapi ia juga tak mau terlibat, ia segera pergi dengan sepeda motor, lupa kalau rambutnya baru dipotong separo.

***

Bu Mery terduduk lemas, ia bingung harus melakukan apa. Diberanikannya ia mendekati sosok yang terbaring di lantai, tangan Felix bergerak-gerak. Bu Mery lega, ia masih hidup.

“Tolong … bawa … aku ke rumah sakit. Perempuan  … itu … perempuan itu ….”

Lalu ia kembali pingsan. Bu Mery lari ke depan, ia akan menelpon Tantrina, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Rosa.

“Mery, uangnya sudah aku transfer. Lebih cepat dari yang aku katakan kan?”

“Rosa, kamu gila. Senja hampir membunuh Felix.”

“Apa?”

“Felix pingsan, kepalanya bersimbah darah.”

“Senja mana? Lapor polisi. Awas, jangan melibatkan aku. Aku sudah memberi kamu uang. Dasar bodoh. Bagaimana bisa terjadi?”

Lalu Rosa menutup ponselnya begitu saja.

“Aduuh, mana polisi … mana polisi …. lama sekali, bagaimana kalau keburu mati?”

Diliputi ketakutan, ia lupa pada uang yang sudah diterimanya.

***

Senja terengah-engah. Ia memacu sepedanya sekuat tenaga. Peluh sudah membuat tubuhnya basah kuyup. Ia tak memperhatikannya. Kejadian yang baru saja dialami membuatnya sangat ketakutan. Tadi dia sudah mengatakan bahwa tak mau, tapi bu Mery memaksanya. Paksaan itu membuatnya merasa bahwa bu Mery akan mencelakakannya. Tadi ... di atas ranjang, seorang laki-laki sedang berbaring. Melihatnya masuk, ia menatap dengan tatapan menjijikkan.

“Cantik, ayo segera lakukan, aku lelah  sekali… " katanya sambil tangannya melambai ke arahnya.

Senja terpaku di depan pintu. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Ia yakin laki-laki itu akan melakukan hal yang tak senonoh.

“Saya…  bukan tukang pijit, biarkan saya … pergi.”

Laki-laki itu tertawa. Giginya yang kecoklatan menambah rasa jijik di hati Senja.

“Sayang, aku tidak akan menyakiti kamu, ayo pijat, apakah aku harus melepas dulu pakaian aku agar pijitan kamu terasa nyaman?”

“Tidak, ja … jangan … “

Senja sudah pernah hampir diperkosa, waktu itu di kamar mandi, dan dia selamat setelah berhasil menyemprotkan cairan sabun atau entah apa, ke matanya. Sekarang ia juga merasa bahwa laki-laki itu pastilah laki-laki mesum yang sudah membayar bu Mery. Senja mundur mendekati pintu, mencoba membuka tapi terkunci dari luar. Laki-laki itu terbahak.

“Mana bisa kamu keluar, cantik. Kamu harus melakukan tugas kamu, atau … aku harus memaksa?”

Senja terkejut ketika laki-laki itu bangkit, lalu melangkah mendekatinya. Senja mundur, ada kursi tempat duduk yang barangkali biasanya dipakai duduk oleh tukang pijatnya. Ketika laki-laki itu mendekat, Senja mengayunkan kursi yang tidak begitu berat itu ke arah kepalanya. Laki-laki yang tidak mengira Senja akan melawan, jatuh tersungkur dengan kepala bersimbah darah.

***

Senja terus mengayuh sepedanya. Sangat kencang, menuju pulang.

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 56

  NAMAKU TETAP SENJA  56 (Tien Kumalasari)   “Mengapa Bapak pulang sendiri? Mana Arka? Masih banyak pekerjaan lagI? Kasihan Pak, mengapa tid...