Monday, August 17, 2026

AKU ANAK SIAPA 13

 AKU ANAK SIAPA  13

(Tien Kumalasari)

 

Nyonya Surani urung melangkahkan kaki ke dalam mobil. Ditatapnya Rosa dengan pandangan tak percaya.

“Kamu, mau berhenti bekerja?”

“Saya mohon maaf Nyonya, sepertinya saya tidak cocok dengan pekerjaan ini. Saya takut, apa yang saya lakukan tidak berkenan.”

“Aku tahu kamu belum berpengalaman, tapi kamu kan bisa belajar? Bagiku yang penting kamu jujur  dan mau belajar.”

“Saya benar-benar mohon maaf. Saya sudah mendapatkan pekerjaan lain.”

“Oh, begitu? Apa kamu masih akan kost di dekat situ?”

“Saya juga akan pindah Nyonya, yang dekat dengan pekerjaan saya.”

“Baiklah, kalau itu memang mau kamu. Aku harus segera kekantor. Kalau kamu mau langsung hari ini keluar, bilang pada Bibik, serahkan apa yang tadinya menjadi tanggung jawab kamu.”

“Baik Nyonya, sekali lagi saya minta maaf.”

Nyonya Surani tak menjawab. Ia masuk ke mobilnya dan berlalu, sementara dia langsung masuk ke rumah dan mengatakan kepada Bibik kalau dia mulai hari ini keluar dari pekerjaan.

Bibik tentu saja terkejut.

“Mulai hari ini? Mengapa tiba-tiba Mbak, Nyonya belum mencari gantinya.”

“Saya terpaksa Bik, sudah dapat pekerjaan lain, dan harus mulai sekarang. Saya juga sudah tidak kost di situ lagi. Terima kasih, dan maaf ya Bik.”

Rosa pergi tanpa menunggu komentar Bibik, tidak berpesan apapun, juga tidak menengok ke arah Sisi yang digendong Bibik.

Bibik geleng-geleng kepala. Ia merasa Rosa bukan wanita baik-baik. Dan ada rasa bersyukur karena Rosa akhirnya pergi, walau dia akan bertambah repot karena mengerjakan semuanya sendiri.

“Semoga nyonya bisa mendapatkan ganti yang lebih baik,” gumamnya sambil mencium pipi Sisi, yang hanya diam menatap Rosa yang tanpa menyapanya, langsung pergi begitu saja. 

Barangkali kalau sudah bisa bicara jelas, dia akan mengatakan ‘nggak sopan’.

***

Di rumah keluarga Daryono, si bibik juga sedang menghadapi Rosa yang pagi-pagi pamit keluar yang katanya ada perlu sebentar, tapi ketika kembali kemudian mengatakan tak mau menunggu majikannya pulang.

“Katanya mau ketemu nyonya, Non?”

“Tidak usah Bik, setelah semalam aku pikir-pikir, lebih baik aku pergi saja. Mereka sudah pasti kecewa terhadapku, dan ketika bertemu aku hanya akan merasa sakit hati karena tidak lagi disukai."

“Non jangan punya perasaan begitu, Nyonya adalah orang baik. Terhadap orang lain saja baik, apalagi terhadap Non yang pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Apa Non tahu, ketika kemarin saya memberikan uang yang walau hanya seratus ribu, itu adalah karena perintah nyonya.”

“Perintah nyonya?”

“Iya, nyonya berpesan kalau saya ketemu Non, maka nyonya menyuruh saya memberi uang kepada Non. Kemarin saya tidak membawa uang banyak, jadi saya hanya memberi seratus ribu. Kalau ada pasti saya akan memberi lebih.”

Rosa tersenyum tipis.

“Mengapa nyonya mengira bahwa Bibik akan bertemu denganku?”

“Saya melapor kepada nyonya, bahwa saya pernah melihat Non. Ketika pertama kali Non dipukuli banyak orang, saya melihatnya.”

“Apa?”

“Maaf Non, saya tidak yakin ketika itu karena pakaian Non yang lusuh.”

Rosa menghela napas, sedikit malu karena waktu digebukin banyak orang ia ketahuan sedang mencuri. Ia sangat lapar dan terpaksa melakukannya. Rosa bukan orang yang punya pemikiran bahwa kalau ingin mendapat uang maka ia harus bekerja, sementara untuk mengemis dia malu melakukannya.

“Aku terpaksa melakukannya.”

“Mengapa Non tidak mencari pekerjaan saja? Non kan pernah sekolah?”

“Aku tidak membawa identitas apapun. Tak ada yang percaya kalau aku pernah kuliah, bahkan keluar negri.”

“Kalau begitu Non bertemu Nyonya dulu, Non minta semua surat-surat yang menyatakan bahwa Non pernah sekolah. Bukankah itu bisa untuk mencari pekerjaan?” kata bibik yang walaupun pembantu tapi dia juga pernah sekolah walau hanya lulusan SMP.

Tentu saja Bibik tahu kalau ingin mencari pekerjaan harus punya ijazah atau apapun yang bisa dipergunakan untuk menyatakan bahwa dia punya keahlian. Tapi rupanya Rosa tidak tertarik. Entah apa yang dipikirkannya. Ia tidak menanggapi apa yang dikatakan Bibik. Ia malah bersikeras ingin segera pergi.

“Maaf Bik, aku tidak bisa tinggal di sini terlalu lama, saya pamit dulu.”

“Non, mungkin tak lama lagi Nyonya akan pulang. Soalnya nanti malam kalau tidak salah ada undangan pernikahan dari teman Tuan.”

“Tidak Bik, terima kasih, aku tetap pergi saja. Terimakasih sudah memberi tumpangan tidur semalam,” katanya kemudian berlalu tanpa menunggu bibik mengatakan apapun lagi. Padahal bibik ingin memberinya uang lagi.

“Non, sebentar Non,” teriaknya. 

Tapi Rosa pergi dengan cepat.

Bibik menghela napas. Bagaimanapun bibik tahu kapan Rosa bayi dibawa pulang oleh kedua majikannya ketika itu, dan ikut merawatnya sampai dia dewasa. Sekarang Bibik sudah menua dan Rosa yang mulai berumur tak lagi seperti nona majikannya yang cantik dan menawan. Kerut diwajahnya tak bisa menyembunyikan berapa banyak tahun-tahun sudah dilaluinya.

***

Hari itu sudah siang ketika bu Surani pergi ke toko emas, untuk membelikan ganti gelang Sisi yang hilang. Ia membawa contoh gelang yang satunya lagi, supaya sama bentuknya.

Betapa terkejut bu Surani ketika petugas toko menunjukkan gelang yang sama dari simpanannya.

“Gelang Ibu ini sama persis dengan gelang ini, saya kira. Coba Ibu perhatikan.”

“Lhoh, kok gelang yang sama bisa ada di sini? Ada orang membuatnya persis? Tapi ada tulisan dibalik gelang ini. Ini nama anak saya.”

“Masa Bu?” petugas itu juga lama mengamatinya. Tak ada yang berbeda.

“Dari mana toko ini mendapat gelang ini? Saya ingin pesan lagi karena salah satu dari gelang anak saya hilang.”

“Oh ya Bu? Barangkali penemu gelang itu menemukannya di jalan atau apa, atau ada yang mencurinya?”

“Orang seperti apa yang menjualnya? Saya akan tetap membelinya, dan toko ini tidak akan saya rugikan karena pastinya sudah membelinya dari penjual itu.”

“Yang datang membawa gelang ini seorang wanita, cantik, walau sudah tidak lagi muda.”

“Wanita?”

“Iya Bu.”

Tiba-tiba bu Surani mencurigai seseorang. Ia menyimpan foto Rosa ketika sedang bermain dengan Sisi. Ia membuka ponselnya, lalu menunjukkannya kepada petugas toko.

“Apakah wanita itu yang ada di ponsel saya ini?”

“Lhoh, iya Bu, ini orangnya … ya ampuun, ini pembantu Ibu? Harusnya untuk selanjutnya Ibu berhati-hati. Dia bisa melakukan sekali, entah kapan lagi pasti dia melakukannya lagi,” kata petugas toko itu menggebu-gebu.

Bu Surani tersenyum tipis. Ia sungguh tidak mengira.

“Dia sudah pergi.”

“Ibu memecatnya?”

“Tidak, ia pergi dengan keinginannya sendiri, baru kemarin dua atau tiga harian yang lalu.”

”Untunglah sudah pergi. Tapi jangan-jangan sebelum pergi dia mengambil sesuatu yang lain … “

“Entahlah, dia baru sebulan lebih bekerja menjadi pengasuh anak. Ya sudah, tidak apa-apa, berapa harga gelang ini? Saya akan membelinya, daripada pesan lagi.”

***

Sore hari itu pak Gatot termenung sendirian di teras rumahnya yang sederhana. Ada sepi yang terasa merayapi hatinya. Karena kehilangan Rosa?

“Tak ada bagus-bagusnya wanita itu, tapi kenapa aku merasa seperti kehilangan. Padahal belum ada dua bulan dia berada di rumah ini. Apa karena aku sendirian dan senang ada yang menemani, kemudian tiba-tiba dia pergi begitu saja? Siapa sebenarnya dia? Aku tak pernah tahu karena dia tak pernah mau menjawabnya. Aku sedang ingin mengajarinya bagaimana seorang wanita mengatur rumah,  bagaimana membersihkan rumah, bagaimana memasak, dan banyak lagi. Tapi kalau saja ia masih ada di rumah ini. Aku ternyata gagal menjadikannya wanita yang baik, dan dia sudah pergi.”

Gumam itu terhenti ketika bu Surani menelponnya.

“Pak Gatot?”

“Ya Bu, saya baru saja sampai di rumah.”

“Aku baru pulang juga. Aku hanya ingin memberi tahu, ternyata gelang Sisi yang hilang itu, Rosa yang mencurinya.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Sunday, August 16, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 013

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  013

(Tien Kumalasari)

 

Menur tertegun. Tiba-tiba saja gadis kecil itu merangkulnya dengan manja. Mau tak mau Menur menyambut rangkulan itu dan mendekapnya erat.

“Ana, mengapa kamu datang kemari?”

“Aku harus ketemu Bibi. Lihat, nenek mengantarku,” katanya sambil menunjuk ke arah neneknya, yang berdiri tak jauh, dan menatap mereka sambil tersenyum.

Tiba-tiba Menur terkejut, ia seperti mengenali nenek cantik yang berwajah ramah itu. Ia sedang mengingat-ingat, ketika tiba-tiba juga si nenek memanggilnya dengan bibir gemetar.

“Kamu … aku seperti pernah melihat wajah seperti wajahmu. Dia mbak Warti. Kamu mengenal nama itu?”

“Dia ibu saya.”

Menur masih merangkul Ana dengan sebelah tangannya. Nenek itu mengenalnya?

“Nenek kenal sama bibi Menur?”

Kamu anak kakak sepupuku. Kamu Menur?”

Menur kebingungan.

“Menur, kamu lupa sama tante kamu?”

Tante. Menur agak merasa kikuk. Ia tak merasa pernah punya tante. Mendiang neneknya punya seorang adik, di mana putrinya kemudian menikah dengan orang kaya. Karena perbedaan status itu kemudian mereka terpisah dan jarang bertemu lagi. Lalu … si tante ini …

“Ya Allah, ini bulik Sasa?” Menur berteriak setelah ingat.

“Iya, benar. Aku bulikmu,” kata nenek Ana yang bernama Sasa, dan kemudian merangkul Menur dengan erat. Ana menatapnya heran. Tapi kemudian ia mengikuti neneknya masuk ke dalam rumah.

“Ini rumahmu?”

“Ya, bulik. Ini gubug saya. Silakan masuk.”

Nyonya Sasa masuk ke rumah, dan duduk di kursi sederhana yang ada di ruang depan rumah Menur.

Ia mengamati ruangan itu dan kemudian menatap Menur dengan penuh haru.

Beberapa tahun yang lalu aku pulang kampung, bertemu kedua orang tuamu. Waktu itu mereka bilang kamu pergi mencari suami kamu.

Menur hanya menunduk.

“Kamu menemukannya?”

Menur menggeleng pelan.

“Nasibmu sangat buruk. Kalau tahu begini, dulu aku pasti mengajak kamu. Waktu itu kamu masih gadis kecil.”

Menur tersenyum pahit. Bukankah setiap manusia punya garis nasibnya sendiri-sendiri? Kalau sepupu ibunya punya suami kaya, makan, bahagia, itu memang kehidupan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Dan kalau dirinya terlahir miskin, terlunta-lunta, itu juga kehidupan yang diberikan olehNya. Menur tidak pernah menyesalinya.

“Kata ibumu, kamu pergi dalam keadaan mengandung. Di mana anakmu?”

Menur memanggil Rahman yang diam-diam mendengarkan cerita tamu ibunya.

Rahman keluar malu-malu. Ia ingat Ana, gadis cantik yang merangkul ibunya di teras sebuah rumah mewah, rumah om Baroto yang baik hati tapi yang dibenci ibunya, entah mengapa.

“Ini anakmu? Sini … aku ini nenek kamu juga. Siapa namamu?”

“Rahman.”

Kamu ganteng sekali. Pasti ayahmu juga ganteng,” kata nenek Sasa sambil menatap kagum.

“Rahman, cium tangan nenek,” perintah Menur.

Rahman mendekat dan mencium tangan nenek Sasa. Nenek Sasa merangkulnya.

“Akan saya buatkan minum, bulik.”

“Tidak Menur, tidak usah. Di mobil banyak minuman, biar Ana mengambilnya. Ada makanan juga di sana.”

Lalu nenek Sasa menyuruh Rahman membantu Ana untuk mengambil minuman di mobil. Ana mengangguk, dengan tanpa sungkan ia menggandeng tangan Rahman, diajaknya ke mobil.

Setelah kedua anak itu pergi, nenek Sasa bercerita secara singkat.

“Ana itu cucuku, dari anakku yang paling besar. Ibunya meninggal saat dia lahir, lalu aku berikan Ana kepada Baroto dan Lili, istrinya, karena mereka sebenarnya tidak saling menyukai. Suamiku menikahkannya karena hubungan bisnis. Biarlah Ana bersama mereka, dicintai seperti anak kandungnya. Aku tidak begitu menyukai pernikahan yang tanpa ikatan cinta. Tapi bagaimana lagi. Mereka bersedia menjalani. Aku pasrah. Entah bagaimana nanti. Tapi Baroto sering pergi ke luar negri. Dia punya bisnis di sana.

Menur mendengarkan tanpa berkomentar. Tentang hubungan Baroto dan istrinya, ia sudah tahu karena Baroto pernah menceritakannya. Tapi bahwa istri Baroto ternyata adalah saudara misannya, ia sama sekali tidak tahu.

Rahman dan Menur membawa beberapa minuman dalam botol, diletakkan di meja, lalu Ana mengajaknya kembali ke mobil, mengambil makanan yang selalu tersedia di sana.

Nenek Sasa tersenyum melihatnya.

“Mereka adalah saudara. Itu sebabnya Ana begitu menyayangi kamu.”

Menur menghela napas panjang.

“Dia merengek agar aku membujuk kamu supaya menjadi pengasuhnya. Tapi tidak, kamu akan tinggal di sana sebagai sepupu Lili. Kamu bersedia bukan?”

Menur tak mampu menjawabnya. Dia pernah dihina dan direndahkan oleh ‘sepupunya’ itu. Bagaimana nanti dia bersikap kalau kemudian dia tinggal di sana?

Berhasilkah nenek Sasa membujuknya?”

Nenek Sasa memegangi tangan Menur, mengelusnya lembut. Kamu adalah kaponakanku, di tubuh kita mengalir darah yang sama. Aku minta kamu bisa mengerti, Ana sangat menyayangi kamu, barangkali karena kamu adalah bibinya, jauh di dasar hatinya ia tahu kalau kamu bukan orang lain. Ikatan itu yang membuat dia bersikeras untuk mengajak kamu ke rumah.”

Menur masih diam, ketika tiba-tiba Ana daang dengan membawa dua bungkus roti semir coklat.

“Bibi, ini untuk Bibi, ayo dimakan, Rahman sudah Ana kasih,” kata Ana yang langsung bisa bergaul akrab dengan Rahman.

Menur tersenyum.

“Minumlah, ini beberapa minuman yang ada di dalam mobil.”

Rahman dan Ana sudah duduk di sebuah bangku yang terpisah dari nenek Sasa dan Menur. Asyik minum susu kotak dan cemilan yang membuat keduanya tampak bergembira.

Menur masih belum memberikan jawaban. Ucapan-ucapan Lili yang menyakitkan masih selalu diingatnya. Bagaimana kalau nanti dia tahu bahwa dirinya masih terhitung saudara sepupu dengannya?

“Nenek, bibi Menur takut pada mama. Tadi mama memarahi bibi Menur,” tiba-tiba Ana berteriak.

“Bibi Menur akan memaafkannya, dia ini orang baik,” kata nenek Sasa sambil masih memegangi tangan Menur.

“Bulik, saya ini orang miskin.”

“Memangnyaa kenapa kalau miskin? Dulu bulikmu ini juga miskin. Hanya karena keberuntungan saja, ketika ada anak orang kaya jatuh cinta pada bulikmu ini.”

Menur tersenyum tipis. Bukankah hal itu juga terjadi pada dirinya? Ada orang kaya berkudaa, jatuh cinta, tapi bagaimana hidupnya setelahnya?

“Ayolah Menur, pikirkanlah. Tadinya aku ikut datang kemari karena tangis Ana, tapi sekarang aku berharap bukan karena tangisan Ana, melainkan karena kamu adalah keponakan aku. Tak sampai hati aku melihatmu menderita.”

“Tapi saya tidak menderita, bulik. Saya menerima kehidupan apapun yang diberikan Allah kepada saya.”

“Itu benar, tapi kalau ada yang ingin mengentaskanmu dari kehidupan yang sekarang, kamu jangan menolaknya. Ya?”

“Bibi Menur harus mau ya, kalau tidak, aku tidak mau pulang,” tiba-tiba Ana berteriak dan berlari mendekati Menur, lalu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Menur.”

Menur mengelusnya perlahan. Sesungguhnya Ana membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu, dan itu tidak didapatkannya di rumah keluarganya.

“Bibi, ikutlah bersama kami, kalau tidak, aku tidak mau pulang.”

“Ana, jangan begitu. Bibi punya banyak pekerjaan. Harus mencari uang untuk sekolah Rahman.”

“Bibi akan Ana beri uang yang banyak.”

“Bukan begitu Ana.”

“Pokoknya aku tidak mau pulang. Aku mau tidur di sini sama Rahman.”

“Menur, pikirkanlah.”

“Begini saja, biarkan bibi memikirkannya, beri bibi waktu beberapa hari.”

“Bibi harus ikut.”

“Menur, dengarlah dia.”

Agak lama Menur terdiam, sambil mengelus kepala Ana. Tampaknya ia masih ragu-ragu. Tapi kelihatannya Ana tak mau dibujuk.

“Bulik, baiklah. Saya akan ke sana, tapi tidak sekarang. Saya akan menata semuanya, beri saya waktu sehari besok.”

“Bibi akan ke rumah kapan?”

“Bagaimana kalau dua hari lagi?”

“Bibi tidak bohong kan? Bukankah bohong itu dosa?”

Bibi tidak akan bohong.”

Ana memeluk erat Menur, lalu tertawa-tawa gembira.

“Nenek, dua hari lagi kita jemput bibi Menur ya?”

“Baiklah. Menur, kami akan menjemputmu.”

***

Sepeninggal Ana dan nenek Sasa, Menur masih termenung di tempat duduknya. Kehidupan yang mewah bukanlah impiannya. Dia hanya ingin hidup tenang. Susahnya mencari uang bukanlah sebuah penderitaan. Dia sudah bertahun-tahun hidup kekurangan, dan hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Keinginannya hanya satu, Rahman harus menjadi orang.

“Mengapa Ibu kelihatan sedih?”

Menur tersenyum menatap anaknya. Ia tahu Rahman mendengarkan semuanya. Bukan tentang apa hubungannya dengan keluarga nenek Sasa, tapi keinginan Ana untuk mengajak ibunya. Rahman kelihatan tidak suka.

“Ibu tidak sedih.”

“Apakah benar, ibu akan menuruti keinginan Ana untuk tinggal di rumahnya?”

“Ibu tidak bisa menolaknya. Ana terus merengek-rengek, bahkan mengancam tidak mau pulang kalau ibu tidak menuruti kemauannya.”

Rahman tampak terdiam. Ia duduk di depan ibunya, menatap ibunya yang kelihatan sekali kalau sedang memikirkan banyak hal.

“Apa kamu suka, seandainya kita tinggal di sana?”

“Rahman tidak suka Bu, mamanya Ana itu sangat jahat pada Ibu.”

Menur terpana.

***

Besok lagi ya.

Saturday, August 15, 2026

AKU ANAK SIAPA 12

 AKU ANAK SIAPA  12

(Tien Kumalasari )

 

Rosa terbelalak menatap pak Gatot, yang sama sekali tak ada ramah-ramahnya seperti sebelumnya. Ketika ia baru diajaknya pulang ke rumahnya, ketika ia melihat wajahnya pucat dan dikira lapar, ketika ia tak punya uang lalu diberinya uang untuk makan. Semuanya seperti lenyap diterpa angin kencang. Mata teduh itu menatapnya penuh curiga. Ia tak pernah mau menceritakan siapa dirinya sebenarnya, tapi pak Gatot tak pernah memaksanya. Ia membiarkannya menyembunyikan jati dirinya, dan menerima begitu saja ketika ia mengatakan anak orang miskin yang sudah ditinggal kedua orang tuanya. Lalu apa, pak Gatot malah mengangkatnya sebagai anak, lalu dicarikannya pekerjaan agar ia bisa punya uang sendiri, tidak usah tergantung padanya. Masih ada lagi kebaikannya, yaitu ketika ia pamit mau tinggal di rumah kost, pak Gatot juga memberinya uang,  katanya buat keperluannya sebelum ia menerima gaji.

Rosa yang mengabaikan semuanya, sekarang berdiri di depannya dengan wajah ketakutan. Bukan apa-apa, kali ini sangat susah mengucapkan kebohongan yang biasanya dengan lancar diucapkannya. Ada yang menelpon dan menanyakan uang, dan tak ada sedikitpun tersirat jawaban bohong untuk pertanyaan itu. Apa jawab yang harus diutarakannya?

“Banyak yang kamu sembunyikan atas kehidupan kamu, sekarang aku tak peduli. Ungkapan yang pernah aku katakan tentang mengangkat dirimu sebagai anakku, hari ini aku mencabutnya. Kamu bukan apa-apaku. Kamu hanya seorang perempuan yang tampak sengsara dan aku sudah menolong kamu. Aku juga tak ingin kamu menjawab apapun tentang telpon itu dan permasalahannya. Aku tak mau ikut dalam bayang-bayang kehidupanmu, yang mungkin saja gelap, atau  entahlah, pokoknya anggap saja kita tak pernah bertemu.”

Pak Gatot mengucapkannya dengan pandangan sendu, tapi tak lagi ia mau menatap Rosa yang masih saja berdiri kaku di depannya.

Rosa tak tahu harus mengatakan apa. Pak Gatot sudah memutuskan, dan ia tak akan membahasnya.

“Pergilah, bawa ponselmu. Dan ingat, anggap saja kita tak pernah bertemu.”

Pak Gatot mengulurkan ponsel lalu mengibaskan tangannya. Rosa tak menjawab apapun, kecuali sebuah kata ‘maaf’, lalu ia membalikkan tubuhnya dan pergi.

Seperti tak terusik pak Gatot lalu meminta tukang parkir agar mengatur parkiran di bagian mobil, karena sudah terlihat berdesakan.

Ketika kembali duduk, bayangan Rosa tak tampak lagi. Pak Gatot menghela napas panjang. Di hatinya tersimpan teka-teki yang tak terjawab, tentang siapa sebenarnya gadis yang ditolongnya dan hidup sebagai anak angkat selama lebih dari sebulan. Tapi ia sudah tak berniat untuk memikirkannya. Pikiran tentang Rosa, yang pada awalnya dianggap malas, tak pernah  dipikirkannya, mungkin karena selalu hidup di jalanan sehingga tak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Tapi kebohongan yang didengarnya, telah memberikan nilai buruk atas gadis yang tadinya membuatnya iba.

***

Sebentar saja Rosa sudah melupakan pak Gatot yang semula amat memperhatikannya, benar-benar seperti kepada anak kandungnya sendiri. Ia punya urusan, sebuah keinginan, yang hal itu memerlukan banyak uang.

 Hari itu Rosa menerima gaji pertamanya. Agak lega, tapi juga kecewa. Rosa yang biasanya memegang uang banyak, sekarang menerima gaji yang tidak seberapa. Tapi lumayanlah, untuk sementara bisa dipergunakannya. Uang penjualan gelang sudah menipis, karena sebagian besar diberikan orang yang akan membantunya. Mereka mengusulkan agar hal pertama yang dilakukannya adalah menculik Satria.

Hari itu hari Minggu, ia tak harus masuk bekerja seperti biasanya.

Ia keluar dari kamar kostnya, bermaksud beli makanan. Ia berjalan di sekitar pasar, setelah makan pagi di sebuah warung sederhana, dengan lauk sayur lodeh dan tempe goreng. Tapi Rosa tak begitu memikirkan masalah lauk. Kehidupan buruk yang dialaminya, telah melupakan semua kemewahan yang pernah dijalaninya.

“Tak apa. Aku akan menjadi orang baik, setelah bisa membalas sakit hatiku. Senja harus celaka, melebihi beban penderitaanku selama bertahun-tahun.” kata hatinya berkali-kali.

Ia keluar dari warung itu, ketika tiba-tiba hampir jatuh karena menubruk seseorang.

“Eh, berjalan pakai mata dong Bu,” hardiknya kasar.

Tapi yang hampir menabraknya adalah seorang wanita, yang kemudian terbelalak menatapnya.

“Non Rosa ya?”

Rosa urung berlalu. Ia mengenal suara itu, kemudian dia juga mengenal wajah itu, walau sudah tampak semakin tua. Ia tak bisa mengelak. Jadi kemudian dia berhenti. Tak apa, mengapa ia harus takut pada bibik pembantu di rumah bekas orang tua angkatnya?

“Bibik ya?”

“Ya ampun Non, sekarang Non tinggal di mana?”

“Bibik lagi ngapain?” 

Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.

“Biasa Non, belanja. Mengapa Non tidak pulang ke rumah?”

“Mengapa bertanya begitu? Bibik kan tahu kalau tuan Daryono dan nyonya tidak lagi mengakui aku sebagai anak?”

“Tapi datanglah ke rumah sesekali. Nyonya ingin mendengar berita tentang Non.”

“Iya Bik, kapan-kapan saja.”

“Eh, Non, sebentar. Jangan buru-buru pergi.”

Rosa urung melangkah pergi.

Bibik mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan padanya uang seratus ribu.

“Ini untuk beli jajanan Non, bibik tidak membawa uang banyak. Datanglah dan bertemu Nyonya, walau hanya sebentar saja. Tapi jangan hari ini.”

“Jangan hari ini? Memangnya hari ini ada apa?”

”Tuan dan Nyonya sedang pergi ke luar kota. Pulangnya masih besok. Jadi kalau Non ingin menemui mereka, datanglah besok.”

“Mereka pasti tidak mau menerima aku.”

"Masalah itu Bibik tidak tahu, tapi bibik tahu, nyonya ingin sekali bertemu.”

Tiba-tiba sesuatu melintas dari benak Rosa.

“Sekarang aku ada waktu, bagaimana kalau kerumah keluarga Daryono sekarang saja?”

“Tapi tuan dan nyonya sedang pergi.”

“Saya tunggu saja pulangnya sampai besok, bisakah? Mumpung ketemu Bibik, jadi aku tidak sungkan nanti kalau ketemu mereka.”

“Tapi ….," Bibik tampak ragu.

“Aku mau kok tidur di kamar Bibik. Aku tahu diri, tidak ingin tidur di kamar aku seperti biasanya.”

“Tidur di kamar Bibik?”

“Iya, bolehkah?”

“Baiklah kalau begitu, tapi Bibik mau beli sayur sebentar.”

***

Pak Gatot sudah mulai bebenah, karena toko mau tutup. Tiba-tiba nyonya Surani menyapa dari dalam.

“Jaga seharian ya Pak Gatot?”

“Iya, Nyonya, terpaksa, karena yang menggantikan tidak masuk.”

“Capek tidak?”

“Namanya bekerja ya capek, Nyonya. Tidak apa-apa.”

“Baiklah, nanti juga ada uang lemburnya, tapi sekarang ini saya beri dulu, ini bukan uang lembur lho pak Gatot, hanya uang beli wedang jahe, biar anget soalnya sudah sepuh, dines malam-malam,” kata nyonya Surani sambil mengulurkan uang, entah berapa, tapi pak Gatot menerimanya agak sungkan.

“Terima saja, hanya sedikit. Wah, sekarang tidak pulang bareng anaknya ya Pak, kan Rosa sudah pindah ke rumah kost?”

“Iya Nyonya, maunya begitu, hanya saja saya mau minta maaf, dulu saya bilang Rosa anak saya, tapi sebenarnya dia itu anak yatim piatu yang saya anggap anak. Jadi bukan anak saya,” kata pak Gatot berterus terang.

“O, begitu ya Pak. Jadi hanya anak angkat.”

“Tapi dia sekarang sudah tidak tinggal di rumah saya, ya sudah, memang sesungguhnya orang lain.”

“Tampaknya dia merasa lebih baik bebas ya Pak, apalagi sudah punya gaji.”

“Iya, sekarang terserah dia saja, maunya apa, dan agar Nyonya tahu, dia bukan siapa-siapa saya.”

“Baik pak Gatot, asalkan dia bekerja dengan baik, saya juga senang. Sudah sekarang pulang, toko sudah tutup masih aku ajak ngobrol.”

“Terima kasih, Nyonya.”

***

Hari itu sudah agak siang, nyonya Surani sudah mau berangkat ke kantornya, tapi Rosa belum tampak datang. Bibik sudah uring-uringan.

“Tidak biasanya terlambat ya Bik?”

“Iya Nyonya, mungkin karena habis gajian, dia mau belanja-belanja, gitu.”

“Ya sudah, Bibik momong Sisi dulu, soalnya saya ada rapat pagi.”

Tapi ketika nyonya Surani sudah hampir masuk ke dalam mobil, Rosa tiba-tiba muncul, langsung mendekati majikannya.

“Kok tumben terlambat? Kamu nggak sakit kan?”

“Tidak Nyonya, sekarang ini saya malah ingin minta ijin.”

“Minta ijin ke mana?”

“Saya ingin berhenti saja.”

Nyonya Surani terkejut.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, August 14, 2026

AKU ANAK SIAPA 11

 AKU ANAK SIAPA  11

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot bingung. Ponsel yang diulurkan Bibik belum diterimanya, membuat Bibik sendiri juga bingung, mengira pak Gatot tidak mengerti maksudnya.

“Ini Pak, ini punya Mbak Rosa, saya berikan ke Bapak, khawatirnya kalau nanti ada yang penting.”

“Masalahnya … saya tidak yakin kalau itu punya Rosa.”

“Bapak gimana sih, beberapa hari ini mbak Rosa membawa ponsel.”

“Setahu saya dia tidak punya ponsel.”

“Pak Gatot ini aneh. Ini benar-benar ponsel mbak Rosa, saya khawatir kalau ada berita penting atau apa, karenanya saya titipkan Bapak. Rumah kostnya di pertigaan itu, masuk gang. Hanya ada satu rumah kost di situ. Bapak belum pernah ke sana? Apa mbak Rosa tidak memberi tahu ayahnya?”

“Tidak. Tapi saya tahu rumah kost itu. Hanya belum pernah ke sana.”

“Ya sudah, ini Pak, tolong Pak Gatot berikan pada mbak Rosa, tadi saya tahunya juga karena mendengar ada dering ponsel, ternyata punya mbak Rosa.”

“Apa nyonya Surani memberi ponsel pada Rosa?”

“Tidak tuh. Setahu saya tidak. Mungkin mbak Rosa membeli, kelihatannya juga bukan ponsel baru.”

Pak Gatot menerima ponsel itu dan mengamatinya. Dari mana Rosa mendapatkan ponsel ini? Beli? Apa dia punya uang?

“Uang yang saya berikan kemarin untuk beli ponsel? Tidak mungkin. Walau bukan ponsel baru, tapi ini ponsel mahal, limaratus ribu nggak akan boleh. Apalagi aku memberi uang pada Rosa hanya duaratus ribu,” gumam pak Gatot setelah bibik kembali ke rumah. 

Lalu dari mana Rosa mendapatkan uang untuk beli ponsel?

Pak Gatot terus bertanya-tanya, tapi dia belum beranjak mencari Rosa di rumah kost. Dia sedang bertugas, mana bisa pergi ke sana? Bisa kena tegur dia.

***

Bibik masuk ke rumah, nyonya Surani ternyata sudah pulang.

“Dari mana Bik? Kamu tinggalkan Sisi sendirian.”

“Non Sisi sedang tidur, saya hanya menemui pak Gatot, menitipkan ponsel mbak Rosa yang ketinggalan.”

“Memangnya pak Gatot belum pulang?”

”Dia lanjut sampai malam, karena yang menggantikan tidak masuk.”

“Oh, iya benar. Pak Gatot lembur hari ini. Nanti kirimin teh panas sama cemilan ya Bik. Pak Gatot itu walau sudah berumur tapi sangat rajin.”

“Baik Nyonya. Memang pak Gatot itu rajin. Berbeda dengan mbak Rosa.”

“Maksudnya berbeda apa ?”

“Mbak Rosa itu tidak begitu rajin. Semua pekerjaan yang ada hubungannya dengan non Sisi, dilakukannya hanya kalau diingatkan. Dulu malah mengira kalau dia tidak perlu mencuci atau menyetrika baju-baju non Sisi. Dia seperti terkejut ketika saya ingatkan bahwa pakaian non Sisi yang di keranjang kotoran itu harus dia yang mencucinya.”

“Masa? Memangnya tugas dia hanya bermain atau jalan-jalan saja sama Sisi?”

“Tapi sekarang sudah agak mapan, walaupun sebentar-sebentar harus diingatkan.”

“Mungkin dia belum pernah bekerja seperti itu.”

“Sepertinya belum pernah bekerja. Nyonya langsung menerima saja sih.”

“Aku kan hanya mengingat pak Gatot. Sudah bertahun-tahun pak Gatot bekerja di sini, sejak aku masih gadis. Dia bilang Rosa anaknya, ya sudah aku terima saja.”

“Sepertinya bukan anak pak Gatot. Kelihatan berbeda sekali sama pak Gatot, terutama cara dia bekerja.”

“Mungkin dia perlu banyak belajar juga, kamu harus telaten mengajarinya.”

“Baik Nyonya.”

“Ya sudah, aku mau mandi dan istirahat. Jangan lupa pak Gatot diberi minum dan cemilan.”

“Iya Nyonya, sampai lupa.”

***

Rosa sudah terbaring di ranjangnya dengan lunglai. Ia merasa lelah. Sangat lelah. Ia harus benar-benar bekerja, dari bersih-bersih kamar anak majikannya, memasak makanan khusus untuknya, mencuci dan menyetrika pakaiannya, menyuapi dan menemaninya bermain yang terkadang juga menguras tenaganya karena anak tersebut sudah bisa berjalan dan berlari-lari kecil. Ia harus menjaga jangan sampai majikan kecilnya terluka ataupun sakit. Pokoknya anak nyonya Surani harus dilayani sangat sempurna, sehingga Rosa yang tidak pernah bekerja merasa sangat capek di kesehariannya.

Tapi ia merasa lega, sudah bisa terlepas dari pak Gatot yang tentu saja akan selalu mengetahui semua gerak geriknya.

Hanya saja ia merasa modal dari penjualan gelang itu belum cukup banyak. Ia harus membayar orang yang membantunya.

Tiba-tiba ia teringat akan ponselnya. Ia terkejut ketika  pulang tidak membawa ponselnya.

“Ya ampun, ketinggalan di kamar Bibik.”

Rosa segera bangkit dan bergegas pergi ke rumah nyonya Surani. Ia lewat pintu samping yang ketika masuk langsung bisa sampai ke kamar Bibik.

"Bik … Bibik.” ia menuju dapur, di mana Bibik sedang bekerja sambil menggendong Sisi.

Bibik terkejut.

“Mbak Rosa ngapain ke sini?”

“Tolong ambilkan ponsel di kamar Bibik,” katanya pelan, takut terdengar nyonya Surani sehingga ia harus menjawab banyak pertanyaan.

“Lho, belum diantar ke tempat kost mbak Rosa?”

“Belum, siapa yang mengantar?”

“Pak Gatot.”

“Mati aku,” pekiknya tiba-tiba.

“Lhoh, kok mati?”

“Bapak tidak suka aku memakai ponsel.”

“Memangnya kenapa? Bibik saja yang hanya pembantu diijinkan punya ponsel. Karena ponsel itu kan penting untuk mengirimkan pesan dan lain-lain.”

“Waduh, kok Bapak tidak ke rumah kost ya?”

“Pak Gatot masih bertugas, apa mbak Rosa tidak melihatnya?”

“Bertugas? Jam segini?”

“Yang menggantikan tidak masuk, jadi pak Gatot bertugas sampai malam. Coba mbak Rosa ke sana.”

Rosa tidak menjawab, ia membalikkan badannya lalu keluar. Dari arah samping ia melihat pak Gatot memang masih berjaga. Ia duduk di samping toko, sambil menyantap cemilan.

Rosa berdebar, alasan apa yang akan dikatakannya kalau pak Gatot bertanya tentang ponsel itu. Bukankah menurutnya dia tak punya uang? Bagaimana bisa membeli ponsel? Walau begitu Rosa tetap berjalan memasuki area toko. Pak Gatot melihatnya, dan menatapnya dingin.

Rosa mendekat, berusaha bersikap wajar. Ia tidak yakin apa yang akan menjadi jawabannya nanti akan dipercaya oleh pak Gatot. Selama ini dia menyembunyikan diri, dan tak pernah mengaku siapa dirinya sebenarnya. Apakah akhirnya nanti ia harus berterus terang?

Rosa terus melangkah, dan pak Gatot meneruskan mengunyah cemilannya.

“Bapak belum pulang?” itu ucapan pertama yang dilontarkannya.

“Seperti kamu lihat, aku masih di sini.”

“Pasti capek ya Pak?” tanyanya dengan santai. 

Pak Gatot meraih sesuatu dari dalam saku bajunya.

“Kamu mencari ini?” katanya sambil mengacungkan ponsel di tangannya.

“Iya Pak, tadi ketinggalan di kamar Bibik.”

“Kamu beli ponsel?”

“Itu … diberi oleh nyonya Surani.”

“Masa?”

“Iya Pak, masa Rosa bisa beli ponsel, uang dari mana?”

“Itu juga yang ingin aku tanyakan. Uang dari mana.”

“Tapi itu bukan saya yang beli. Hanya ponsel bekas nyonya Surani.”

“Kamu bohong.”

“Bapak kok tidak percaya?”

“Soalnya tadi aku tanya sama Bibik, apakah nyonya Surani yang memberikan ponsel kepada kamu, kata Bibik … tidak. Jadi kamu berbohong.”

"Mana Bibik tahu kalau saya diberi ponsel. Nyonya memberinya diam-diam, jangan sampai Bibik tahu, nanti Bibik iri hati, mengapa saya diberinya ponsel.”

Soal bohong, Rosa adalah juaranya. Pintar sekali ia memberi jawaban. Tidak perlu lama berpikir, jawaban itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Untuk apa kamu punya ponsel? Kamu punya teman yang bisa kamu hubungi dengan ponsel kamu?”

“Hanya untuk main saja Pak.”

“Main? Apa kamu tahu, tadi ada yang menelpon kamu.”

Rosa terkejut. Rasanya seperti disambar geledeg. Tapi ia masih berusaha menangkis pertanyaan tu.

“Paling salah sambung Pak.”

“Salah sambung? Dia menyebut namamu, dan bertanya tentang uang.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, August 13, 2026

AKU ANAK SIAPA 10

 AKU ANAK SIAPA  10

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot berteriak, karena Rosa tidak merasa barangnya jatuh. Tapi Rosa sudah keburu masuk kamar. Pak Gatot agak heran karena dompet Rosa terasa tebal. Ia ingin membukanya, tapi Rosa keburu keluar dari kamar. Ketika masuk ia ingin segera menghitung uangnya lagi, tapi kok dompetnya nggak ada. Itu sebabnya maka dia keluar lagi.

“Rosa?” kata pak Gatot sambil mengacungkan dompet yang ditemukannya.

“Dompet saya?”

“Ini kah? Jatuh ketika kamu beranjak masuk.”

“Oh, terima kasih, Pak.”

“Dompetmu kok tebal banget, apa sudah gajian?”

“Oh, belum Pak, ini isinya kertas-kertas catatan. Nyonya Surani kan sangat teliti, saya diberinya catatan tentang banyak hal mengenai non Sisi. Jadwal tidur, jadwal makan, jadwal minum susu, dan banyak lagi. Saya menyimpannya supaya tidak lupa,” jawab Rosa dengan cerdas. Pintar sekali dia mengarang dan berbohong.

“Oh, begitu ya, kirain kamu sudah banyak uang,” goda pak Gatot yang menerima begitu saja keterangan Rosa.

Rosa tertawa lucu.

“Besok kalau sudah menerima gaji Pak, baru Rosa punya uang," katanya sambil beranjak masuk ke kamar.

“Tunggu Ros. Kamu tadi mengatakan besok sudah mau pindah ke rumah kost, bukankah harus membayar? Berapa sih sewanya?”

“O, bayarnya tidak sekarang Pak, saya sudah bilang, bayarnya nanti kalau saya sudah gajian. Dan pemilik rumah itu mengijinkan kok.”

“Kamu sungguh-sungguh mau meninggalkan bapak?”

Rosa memegang lengan pak Gatot, bermaksud menenangkan.

“Pak, Rosa janji akan datang kemari setiap liburan, jadi Bapak jangan merasa kehilangan Rosa. Lagipula kalau ingin ketemu kan bisa di tempat kerja?"

“Jadi kamu serius?”

“Saya melakukannya karena memikirkan Bapak. Jadi setiap Bapak selesai bertugas bisa langsung pulang, tidak usah menunggu Rosa.”

Pak Gatot hanya bisa mengangguk, tapi tampak sekali wajahnya muram. Walau begitu Rosa tidak mempedulikannya. Dia punya rencana, dan kali ini harus terlaksana.

Begitu Rosa masuk ke kamar, pak Gatot duduk sendirian di terasnya yang sederhana. Hanya sebuah bangku memanjang dan sebuah meja  yang dipajang di teras itu. Pak Gatot termenung, dan tiba-tiba merasa sedih. Hampir sebulan ini ia merasa punya teman, yang dianggapnya sebagai anak sendiri. Karena ingin agar si anak angkat mendapat penghasilan, ia mencarikannya pekerjaan. Anak yang dipungut dari jalanan, diberi pakaian yang pantas, setelah mendapatkan pekerjaan malah akan meninggalkannya. Tapi dia bisa berbuat apa? Sebenarnya Rosa kan memang bukan siapa-siapanya dia, jadi dia tak berhak melarangnya.

Pak Gatot mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari mata tuanya. Ada sebuah ingatan yang membuatnya selalu merasa perih, tentang orang yang pernah dicintainya. Rasa hangat karena mendapat teman, esok hari sudah lenyap tak berbekas, seperti ketika ia kehilangan segala-galanya.

***

Pagi itu, wajah pak Gatot tidak secerah di pagi-pagi sebelumnya. Ketika ia mau berangkat bekerja, Rosa keluar dari kamar sambil membawa keresek besar, yang pastinya berisi pakaian-pakaian. Pak Gatot yang memberikan semua itu, karena saat ditemukan Rosa tak memiliki apa-apa. Berpakaian kumal, digebugi banyak orang karena mencuri sepotong roti. Ingatan itu kembali membuatnya sedih.

“Itu semua pakaian kamu?”

“Iya Pak, tidak apa-apa. Ini semua atas budi baik Bapak. Semoga kelak saya bisa membalasnya."

“Aku tidak mengharapkan balasan apapun. Yang penting kamu senang dan bahagia.”

“Saya janji akan selalu menengok Bapak setiap libur.”

Pak Gatot tidak mengangguk. Ia mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Tidak banyak, tapi pak Gatot berharap Rosa bisa tercukupi semua kebutuhannya sebelum Rosa menerima gaji pertamanya.

“Ini untuk kamu.”

“Ini? Mengapa Bapak memberi saya uang?”

“Barangkali kamu membutuhkan sesuatu, sebelum kamu menerima gaji.”

“Tidak usah Pak, saya kan sudah cukup makan dan minum, karena setiap hari keluarga nyonya Surani pasti memberikannya.”

“Terima saja,” kata pak Gatot sambil meletakkan uang itu dalam genggamannya. 

Ada sedikit haru dirasakan Rosa, ketika merasakan tangan pak Gatot bergetar. Ia menatap wajah laki-laki setengah tua yang tampak suram.

“Bapak jangan sedih ya?”

“Tidak, sebelumnya aku juga sendirian. Ayo berangkat, nanti keburu telat. Jangan sampai datang setelah nyonya Surani berangkat kerja.”

Rosa mengangguk. Ia meletakkan uang ke dalam keresek, yang kemudian ditegur oleh pak Gatot.

“Mengapa tidak dimasukkan ke dalam dompet? Keluarkan saja kertas-kertas catatan kamu, simpan di tempat lain, sedangkan uang itu sebaiknya kamu simpan ke dalam dompet.”

“Nanti saja sesampai di sana saya mengaturnya Pak, tidak apa.apa. Diletakkan di sini juga aman. Saya kan mendekapnya erat-erat?”

Pak Gatot hanya bisa mengangguk, lalu ia mulai menstarter sepeda motor bututnya.

***

Bibik heran ketika Rosa datang dengan membawa buntalan, lalu diletakkannya di dapur.

“Ini bungkusan apa Mbak?”

“Baju-baju saya Bik, nanti saya pulangnya langsung ke tempat kost.”

“Jadi ?”

“Iya, jadi. Kemarin sudah bicara banyak.”

“Kasihan pak Gatot, jadi pulang sendiri.”

“Justru saya kasihan sama Bapak, kalau setiap hari harus menunggu saya menyelesaikan tugas saya. Mulai nanti Bapak bisa langsung pulang, tidak usah menunggu saya.”

“Ada apa?” tiba-tiba nyonya Surani mendekati mereka.

“Ini Nyonya, mbak Rosa mulai nanti tinggal di tempat kost.”

“Tempat kost di mana?”

“Dekat situ. Katanya kasihan sama pak Gatot kalau setiap pulang harus menunggu mbak Rosa menyelesaikan tugasnya.”

“Mengapa tidak tidur di sini saja? Kamar bibik kan besar, bisa untuk berdua. Kalau malam Sisi kan tidurnya sama saya.”

Tawaran yang bagus, Rosa tidak usah mengeluarkan uang sewa kost, tapi kalau sekamar dengan Bibik, dia tak bisa leluasa melakukan apa saja yang diinginkannya.

Karena itu dia menolaknya.

“Terima kasih Nyonya, tidak apa-apa, saya sudah terlanjur memesan kamar kost untuk saya.”

“Ya sudah, terserah kamu saja, tapi kalau kamu tidak kerasan di tempat kost, kamu boleh kok tinggal disini. Malah gampang, setiap saat bisa mengawasi Sisi.”

“Nanti gampang Nyonya, biar saya menjalaninya dulu sebulan ini.”

Nyonya Surani hanya mengangguk. Dia bersiap pergi setelah menyerahkan Sisi ke tangan Rosa.

***

Rosa menyelesaikan tugasnya ketika sudah sore. Dia membawa keresek berisi barang-barangnya ke tempat kost, dan merasa terlepas dari belenggu. Ia kan bisa melakukan apapun tanpa takut dicurigai. Ia juga bisa menyimpan uangnya dimanapun, tanpa harus sembunyi-sembunyi.

Di hari yang lain ia langsung menghubungi seseorang yang dianggapnya bisa membantunya. Ia meletakkan barang-barangnya di kamar kost yang sempit, kemudian pergi keluar. Lalu ia mampir ke sebuah toko ponsel bekas. Itu penting, agar dia tidak harus bolak balik pergi kalau bisa berhubungan melalui ponselnya.

Rosa merasa hidupnya sengsara, dan sangat geram kepada Senja yang hidup bak putri raja. Pakaian bagus, keluar masuk toko, kemana-mana naik mobil.

“Orang kampung jelek, merasa bisa menginjak-injak aku dengan memasukkanku ke dalam penjara? Awas saja, kamu akan merasakan kesengsaraan melebihi apa yang aku rasakan.” geramnya tanpa sadar, bahwa kesengsaraan yang dirasakan adalah karena ulahnya sendiri. Dan tanpa sadar pula bahwa ia akan mendapatkan akibat yang sama kalau dia masih tetap mengabdi kepada dendam yang menguasainya.

***

Sore hari itu, pak Gatot belum pulang, karena satpam yang bertugas sore sampai malam tidak masuk bekerja.

Ia melihat Rosa keluar dari rumah majikannya, tanpa menoleh ke arahnya. Barangkali ia merasa bahwa dirinya sudah pulang. Pak Gatot tak berusaha untuk menyapanya. Ia sedang melayani pembeli yang menanyakan sesuatu.

Beberapa saat berlalu, ketika tiba-tiba Bibik keluar dan mendekati pak Gatot.

“Pak Gatot, ini ada barang mbak Rosa yang ketinggalan. Mungkin karena dia terburu-buru.,” kata Bibik.

“Barang apa?”

“Ponsel mbak Rosa. Ini lho Pak. Bapak bawa saja, atau Bapak antarkan ke tempat kostnya.”

Pak Gatot melongo. Kapan Rosa punya ponsel?

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, August 12, 2026

AKU ANAK SIAPA 09

 AKU ANAK SIAPA  09

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap ke arah toko emas yang ditunjuk Senja.

“Iya kan, betul kan, dia?”

“Sepertinya iya.”

“Dia mau membeli perhiasan?”

“Atau malah menjual perhiasan. Barangkali dia masih punya cincin atau apa yang akan dipergunakannya untuk makan. Bukankah dia sudah tidak lagi bersama keluarga pak Daryono? Pasti dia butuh makan atau apa.”

“Sepertinya penampilannya sudah berbeda. Tapi apa ya hubungannya dengan satpam toko pakaian yang dulu pernah kita hampir kesana?”

“Istrinya barangkali.”

“Sepertinya bukan. Cara boncengnya tidak seperti membonceng suami. Lagi pula satpamnya itu cukup tua. Masa Rosa mau?”

“Entahlah, mengapa tiba-tiba membahas dia.”

“Ibu, kapan Satria turun?” tiba-tiba Satria berteriak kesal. Keduanya baru sadar kalau sedang berbincang tentang hal yang bukan urusannya.

“Eh, iya. Ayuk kita turun.”

Barulah Arka dan Senja turun, lalu menurunkan Satria juga, yang tangannya dipegang erat oleh ayahnya, takut lari-lari seperti biasanya.

Sampai keduanya masuk ke dalam toko, belum tampak Rosa keluar dari toko emas itu. Dan Arka maupun Senja segera melupakannya karena merasa bukan urusannya.

***

Tapi tak lama setelah itu, Rosa keluar dengan wajah sumringah. Ia berjalan sambil melihat-lihat. Sepertinya ada yang dicarinya. Ia punya uang sekarang, dari penjualan gelang yang berhasil dicurinya.

“Sebaiknya aku membeli ponsel. Aku tak bisa menghubungi siapapun kalau tak punya ponsel. Tapi tidak, nanti ketahuan pak Gatot, apa jawabku, kenapa aku bisa memiliki ponsel?”

Rosa terus berpikir untuk sesuatu yang diinginkannya. Kebenciannya kepada Senja. Ia belum merasa puas kalau Senja masih hidup bahagia.

Sekarang dia butuh berpikir, dan dia butuh teman.

“Bagaimana ya aku menghubungi dia, kalau sore waktunya sempit, nanti pak Gatot bisa curiga. Kalau pagi atau siang aku harus bekerja. Kalau aku ijin, padahal aku kan bekerja belum lama, nanti kesan nyonya Surani pasti buruk. Aku masih membutuhkan uangnya, jadi aku harus berhati-hati."

Rosa melihat seorang penjual makanan, lalu ia membelinya. Hanya gorengan yang sebelum ini ia tak pernah menjamahnya. Bukankah dia orang kaya? Tapi sekarang tidak lagi. Rosa adalah anak angkat seorang satpam. Keluarga sederhana, kalau tak bisa disebut miskin.

Ia membelinya karena ketika pamit tadi dia pengin jalan-jalan untuk membeli camilan.

Setelah itu ia mencari ojol, agar membawanya pulang ke rumah pak Gatot.

***

“Dari mana saja kamu?”

“Kan saya bilang jalan-jalan karena ingin membeli camilan?”

“Di depan banyak orang menjual camilan.”

“Maksudnya sambil jalan-jalan Pak. Sudah lama tidak jalan-jalan dengan perasaan senang.”

“Iya, wajahmu tampak berseri-seri. Rupanya jalan-jalan membuat pikiranmu lebih tenang.”

“Benar Pak, tadi terasa sangat tertekan. Sungguh saya merasa berdosa karena gelang non Sisi hilang saat bersama saya.”

“Ya sudah, tidak usah dipikirkan, nyonya Surani adalah majikan yang baik. Dia sudah bisa menerima kehilangan itu. Kecuali dia kaya, yang pastinya tidak begitu menyusahkan kalau hanya kehilangan sebuah gelang, ia juga wanita yang baik. Ia baik kepada siapa saja, kepada para karyawannya dia juga sangat menghargai. Bersyukurlah kamu bisa diterima bekerja, walau hanya menjadi pengasuh anak-anak.”

“Itu karena Bapak yang sangat baik kepada saya.”

“Jangan lagi berkata begitu, seorang ayah baik kepada anaknya, bukankah itu wajar?”

“Terima kasih telah menganggap saya sebagai anak Bapak.”

“Oh ya, ini apa … kamu membawa bungkusan hanya diletakkan begitu saja. Makanan ya?”

“Iya Pak, sampai lupa, sebentar saya ambilkan piring,” kata Rosa sambil langsung beranjak ke belakang untuk mengambil piring.

Mereka berbincang sambil makan camilan, sampai malam, dan Rosa pamit akan tidur karena lelah.

***

Tapi Rosa tidak segera tidur. Ia sudah punya uang, walau tidak terlalu banyak. Entah mengapa, walau diangkat anak orang kaya, tapi jiwa ketidak jujuran sangat meresap di tubuhnya. Ia suka berbohong, mencuri makanan dan sekarang dengan akal licik ia berhasil mencuri gelang anak yang diasuhnya. Jauh bedanya dengan pak Daryono dan istrinya yang memiliki budi luhur dan mulia. Pastilah mereka tidak mendidiknya menjadi orang jahat, tapi entah mengapa, tetap saja dia melakukannya. Darah siapa yang mengalir di tubuh Rosa? Darah orang jahat, darah orang yang tidak jujur, darah penipu, pencuri dan pembohong?

Entah mengapa, Rosa bisa melakukannya.

“Kalau aku masih ada di sini, sangat sulit aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Bagaimana ya caranya supaya aku bisa pergi dari sini? Minggat? Tak mungkin, karena aku bekerja pada majikan pak Gatot juga.”

Menjelang pagi ia baru bisa tertidur, dan pak Gatot terpaksa membangunkannya karena sudah saatnya mereka berangkat bekerja.

Rosa bergegas mandi dan segera bersiap karena pak Gatot sudah menunggu.

“Mengapa bangun kesiangan? Semalam tidak bisa tidur?”

”Iya Pak, entah mengapa, saya selalu dibayangi rasa bersalah, sampai-sampai ada rasa takut untuk masuk bekerja,” katanya dengan wajah sendu.

“Bukankah sudah aku katakan kalau nyonya Surani itu seorang yang baik? Ayolah, masuk saja dan lihat, apakah dia masih marah atau tidak.”

“Ada rasa menyesal dan takut Pak.”

“Ayolah, kita berangkat saja. Kalau kamu tidak mau masuk kerja, nanti bu Surani malah berpikir buruk tentang kamu.”

Rosa membonceng dengan pura-pura sedih, dan disepanjang jalan pak Gatot terus menghiburnya.

Ia juga terus menampakkan wajah sedih ketika bertemu nyonya Surani.

“Mengapa kamu terus menundukkan wajahmu, Rosa?” tegur sang nyonya majikan.

“Saya selalu merasa berdosa, dan bekerja dengan ceroboh.”

“Ya sudah, lupakan saja. Itu sebagai peringatan untuk kamu, agar untuk selanjutnya kamu bekerja dengan lebih baik.”

“Maafkan saya, Nyonya.”

“Aku sudah memaafkan kamu. Bekerjalah dengan lebih baik,” kata nyonya Surani sambil berangkat pergi.

Wajah Rosa langsung berseri. Ia masuk ke arah belakang, melihat Sisi sedang digendong bibik.

“Lhoh, non Sisi kenapa minta gendong bibik?” kata Rosa sambil mengambil Sisi dari gendongan bibik.

“Ajak dia bermain di taman belakang saja Mbak, kejadian kemarin jangan sampai terulang lagi.”

“Iya Bik, saya salah.”

“Nyonya sangat baik hati. Asalkan Mbak bisa bekerja lebih baik, nyonya pasti suka.”

“Iya, saya tahu. Oh ya Bik, apakah di dekat-dekat sini ada rumah kost-kostan ya?”

“Apa? Mbak Rosa mau nge kost?”

”Maksud saya begitu, supaya tidak merepotkan bapakku.”

“Lha kan lebih enak pulang pergi bareng pak Gatot, mengapa harus kost segala.”

“Terkadang bapak sudah saatnya pulang, tapi pekerjaan saya belum selesai. Bapak kan sudah tua, nanti dia kelelahan.”

“Kalau setahu saya di dekat situ ada rumah untuk kost-kostan. Tapi masuk gang.”

“Jauhkah dari sini?”

“Nggak begitu jauh, coba saja, saya juga tidak begitu paham.”

“Nanti kalau non Sisi tidur, saya titip sebentar ya, mau coba bertanya-tanya.”

“Ya Mbak, terserah Mbak saja, tapi jangan lama-lama. Terkadang nyonya pulang untuk makan siang. Nanti pasti ditegur karena meninggalkan non Sisi.”

“Saat lagi tidur saja, dan tidak lama. Kan tidak jauh?”

***

Pak Gatot terkejut ketika Rosa mengatakan ingin pindah dari rumahnya, saat mereka baru saja memasuki rumah.

“Mengapa Ros, di sini kan tidak apa-apa, kamu tidak kehilangan biaya transport, karena berangkat dan pulang bisa bareng aku.”

“Soalnya ketika Bapak sudah saatnya pulang, terkadang pekerjaan saya belum selesai. Saya kasihan, Bapak harus menunggu.”

“Tidak apa-apa, kan tinggal pulang.”

“Jangan Pak, tadi saya sudah mendapat rumah kost itu, bayarnya murah. Mulai besok saya mau pindah ya Pak.”

Pak Gatot terkejut, sekaligus bersedih. Alasan Rosa masuk akal, tapi ia sudah terlanjur senang bisa memiliki anak.

“Bapak pasti kesepian.”

“Saya akan sering pulang kalau libur, Bapak tak usah khawatir.”

Rosa beranjak langsung ke kamarnya, tapi tiba-tiba sesuatu jatuh dari dalam tasnya. Sebuah dompet. Pak Gatot mengambilnya.

***

Besok lagi ya.

 

 

AKU ANAK SIAPA 13

  AKU ANAK SIAPA  13 (Tien Kumalasari)   Nyonya Surani urung melangkahkan kaki ke dalam mobil. Ditatapnya Rosa dengan pandangan tak percaya....