BIARKAN AKU MEMILIH 03
(Tien Kumalasari)
“Ada tamu, mengapa tidak dipersilakan masuk?” tiba-tiba terdengar suara dari dalam.
Nirmala menatap seorang ibu yang dikenalnya sebagai ibu Adri. Ia segera mendekat dan mencium tangannya, lalu memberikan sebuah bungkusan yang dibawanya.
“Selamat ulang tahun Ibu,” kata Nirmala pelan.
“Lhoh, ini apa lagi?”
“Hadiah untuk Ibu,” jawab Nirmala.
“Hadiah untuk ibu? Bukankah tadi Adri sudah memberikannya, yang katanya hadiah dari Nirmala?”
Nirmala tertegun. Ia heran mengapa Adri melakukannya. Sekarang ia harus secepatnya memberi jawaban agar tak membingungkan bagi yang ulang tahun.
“Iya Bu, tadi Adri telah memberikannya, tapi saya tidak merasa puas sebelum memberikannya langsung kepada Ibu, jadi saya beli lagi,” itulah jawaban yang didapatkannya.
“Ooh, jadi dobel dong hadiah untuk ibu?”
“Tidak apa-apa Ibu, semoga Ibu senang menerimanya.”
“Sebuah hadiah adalah anugrah. Ibu pasti menerimanya dengan senang. Sekarang duduklah, ibu buatkan minum.”
“Maaf Bu, saya harus buru-buru, karena saya sudah pergi sejak pagi untuk sebuah keperluan.”
“Jadi benar nih, tidak mau minum dulu?”
“Lain kali saya akan datang kemari lebih lama. Saya permisi,” katanya sambil kembali mencium tangan ibu Adri, lalu berpamit pada Adri yang masih berdiri kaku dengan wajah muram.
“Adri aku pulang.”
Adri hanya mengangguk, tapi membiarkan Nirmala keluar dari halaman rumahnya.
“Mengapa kamu tidak mengantarkannya?” tegur sang ibu yang melihat ada gelagat kemarahan di wajah Adri.
“Dia kan punya mobil, masa aku harus mengantarnya?” jawabnya sambil ngeloyor masuk ke dalam rumah.
Sang ibu segera tahu, bahwa anaknya dan Nirmala sedang marahan. Memang Adri belum mengatakan kalau dia pacaran dengan Nirmala, tapi kedekatan mereka mudah diartikan bahwa keduanya memiliki perasaan suka yang sama.
Sang ibu hanya mengangkat bahu, kemudian membawa masuk bingkisan yang tadi diberikan Nirmala padanya.
***
Nirmala sudah mengambil ponselnya dan bersiap memanggil taksi ketika tiba-tiba sebuah mobil mendekatinya. Nirmala terkejut. Bima masih ada di sekitar tempat itu.
Bima turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nirmala.
“Kok … kamu masih ada di sini?”
”Aku tadi hanya muter-muter, lalu ketika melewati tempat ini lagi, kamu ternyata sedang mau memanggil taksi.”
Nirmala tersenyum ketika mobil itu sudah melaju.
“Pasti tidak kebetulan ketika kamu lewat dan aku sedang mau memanggil taksi.”
“Kebetulan kok.”
“Kamu sengaja menunggu aku kan? Bagaimana kalau ternyata aku diantar pulang dengan motor Adri?”
“Ya tidak apa-apa, aku hanya berjaga-jaga,” akhirnya kata Bima.
“Terima kasih Bima, kamu selalu perhatian untuk aku.”
“Apakah tidak terpikir oleh kamu, ketika nanti kamu sampai di rumah, lalu bapak bertanya, mengapa tidak diantar Bima? Aku dong yang kena. Masa aku membawa kamu dari pagi, lalu membiarkan kamu pulang sendiri, atau bahkan pulang diantar orang lain?”
“Iya sih.”
“Sedikit atau banyak, bapak pasti menegur kamu kalau kamu pulang tanpa aku.”
“Kamu benar Bima. Terima kasih ya.”
“Mengapa Adri tidak mau mengantar kamu? Apa dia marah karena kamu mengingkari janji?”
“Dia bukan hanya marah karena gagal pertemuan pagi tadi, tapi juga marah karena melihat ketika kita membeli hadiah untuk ibunya tadi.”
“Oh, dia melihatnya?”
“Iya.”
“Apa jawab kamu?”
“Tidak aku jawab. Setelah ketemu ibunya, lalu aku berikan hadiahnya kemudian aku langsung pamit.”
“Dia tidak menawarkan untuk mengantar kamu?”
”Pastinya dia mengira bahwa aku masih diantar oleh kamu, ditunggui di depan, atau juga mengira aku membawa mobil sendiri. Entahlah, tidak usah dipikirkan.”
“Nirmala, kalau dia marah atau cemburu, itu tandanya dia cinta sama kamu.”
“Cemburunya kebangetan.”
“Tidak, itu wajar aku kira, jadi kamu tak usah risau atau galau.”
Nirmala tersenyum. Alangkah baik hati Bima ini. Ia tahu bahwa Bima menyukai dirinya, ditambah dorongan dari sang ayah yang tampaknya lebih condong kepada Bima daripada kepada Adri. Tapi sedikitpun dia tak tampak sakit hati mengetahui bahwa dirinya sudah memiliki seseorang yang pastinya istimewa, bukan teman biasa tapi saling cinta. Dia bahkan berusaha selalu membantu dan mendukungnya.
Kalau saja dia tidak menyukai Adri, alangkah mudahnya jatuh cinta pada Bima.
“Maafkan aku Bima, aku hanya mencintai Adri, walau terkadang sikapnya menjengkelkan. Adri sangat baik, susah bagi aku untuk meninggalkannya,” kata batin Nirmala.
“Nirma, apa kita mampir makan siang dulu sebelum pulang?” kata Bima menawarkan.
“Tidak usah Bim, kalau kamu mau, nanti makan siang di rumah saja. Kalau hari libur, bapak selalu ingin agar kita bisa makan di rumah.”
“Baiklah, kalau begitu.”
***
Pak Bondan menyambut kepulangan Nirmala yang diantar Bima siang hari itu. Wajahnya berseri. Ia senang Nirmala jalan-jalan sejak pagi bersama Bima, calon menantu pilihannya.
“Kemana saja tadi?” tanyanya ketika menyambutnya sambil berdiri.
“Hanya jalan-jalan saja,” jawab Bima, sementara Nirmala langsung masuk ke dalam.
“Sering-seringlah datang kemari, ajak Nirmala jalan.”
“Baiklah Pak. Sekarang saya permisi dulu.”
“Eh, masuklah dulu Bima, ibu sudah menyiapkan makan siang lhoh,” kata bu Bondan yang baru keluar dari dalam.
“Iya, ayo masuklah, tidak baik menolak rejeki,” kata pak Bondan.
“Nanti saya merepotkan.”
“Tidak, tadi Nirmala bilang pada ibu agar meminta kamu ikut makan siang bersama kami.”
Bima tak bisa lagi menolak. Undangan makan siang itu sudah diutarakan Nirmala sejak masih dalam perjalanan pulang.
***
Sementara itu di rumahnya, sang ibu mengomel tak henti-hentinya karena sikap Adri yang tidak menyenangkan saat Nirmala datang.
“Dia itu gadis yang baik, ibu senang kalian bisa kenal dekat. Kamu sudah hampir selesai kuliah, lalu cari pekerjaan, lalu cari istri. Nirmala akan menjadi pasangan yang baik untuk kamu.”
“Nirmala itu banyak yang suka.”
“Tentu saja, dia cantik, baik dan santun. Karena itulah kamu harus menjaga hubungan kalian, jangan sampai retak.”
Adri hanya diam. Sesungguhnya dia sangat mencintai Nirmala, tapi dia itu pencemburu berat. Tak gampang melupakan kejadian pagi tadi, ketika melihat Nirmala sedang memasuki rumah makan, di mana dia sudah berkencan di sana. Ia sakit dan marah. Ia menganggap Nirmala mengingkari janji karena kencan dengan laki-laki lain. Laki-laki yang lebih ganteng dan lebih kaya darinya. Mana tahan?
Seharusnya, seberapa besarnya rasa cemburu di hati Adri, ia harus bisa memaafkan ketika Nirmala akhirnya datang ke rumah dan memberikan hadiah kepada ibunya. Tapi alangkah susahnya meredam rasa kesal itu.
“Besok kalau ketemu, kamu harus meminta maaf.”
“Mengapa aku harus meminta maaf? Aku salah apa?”
“Sikap kamu yang dingin dan seperti tidak memperhatikan dia itu, pasti juga membuat Nirmala kesal. Yang terbaik untuk hubungan kalian adalah kamu harus meminta maaf. Jangan sampai masalah menjadi berlarut-larut.”
Adri hanya mengangguk pelan, tapi alangkah susahnya meminta maaf.
***
Siang hari itu Adri sedang duduk di teras sambil membaca-baca buku, mencari bahan skripsi yang sudah mulai dikerjakannya. Tapi bayangan Nirmala dan laki-laki tampan itu masih terus terbayang di benaknya. Ada hubungan apakah mereka? Kelihatannya begitu dekat, mereka memilih barang berdua, yang ternyata dipergunakan Nirmala untuk hadiah ulang tahun ibunya. Bagus sih, tapi mengapa harus ada laki-laki lain bersamanya. Lagipula Nirmala mengingkari janji gara-gara bepergian dengan laki-laki itu. Adri memijit pelipis kiri dan kanannya karena merasa pusing.
“Selamat siang,” suara nyaring itu mengejutkannya.
“Siang, eh … kamu Dwi?” Adri menatap gadis berwajah manis itu sambil tersenyum.
“Adri lagi pusing ya?”
“Nggak, lagi mikir ini, buku yang aku baca. Ayo masuklah Dwi.”
“Aku mau ketemu ibu.”
“Ibu ada di dalam, masuklah. Bawa apa itu? Baunya sedap benar.”
“Aku masak mie untuk ibu, bukankah ibu ulang tahun? Tidak bisa memberikan hadiah bagus, hanya masak mie saja untuk ibu.”
“Wah, masakan gadis cantik pasti enak,” puji Adri.
“Nanti boleh dicicipin deh, sekarang aku mau ketemu ibu dulu,” katanya sambil langsung masuk ke dalam. Tampaknya Dwi sudah kenal dekat dengan keluarga Adri.
Adri melanjutkan kesibukannya membaca-baca. Di dalam, suara renyah ibunya dan tawa Dwi yang nyaring sama sekali tidak mengganggunya.
Beberapa saat kemudian Dwi keluar dengan masih tertawa-tawa. Ia melewati teras dan pamit pada Adri sambil mengulaskan senyum manisnya.
“Pulang dulu Adri, nanti boleh icipin mie nya, kalau suka, lain kali aku masak lagi untuk kamu deh.”
“Ya, jangan khawatir, nanti aku habiskan mie nya,” kata Adri sambil tersenyum.
Dwiyanti adalah teman mainnya sejak masih kanak-kanak, jadi tak heran kalau mereka kenal dekat. Dwi juga sudah kuliah tapi beda universitas dengan Adri. Tapi Adri beberapa tingkat di atasnya.
***
Pagi hari itu Adri memasuki halaman rumah pak Bondan. Ia tahu Nirmala akan ke kampus agak siang, dan ia bermaksud mengajak Nirmala makan pagi di sebuah warung yang nanti akan mereka pilih.
Ketika ia menstandartkan sepeda motornya, pak Bondan keluar. Wajahnya langsung muram.
“Pagi-pagi kemari ada apa?” pertanyaan yang sama sekali tidak sopan dikeluarkan oleh seorang tuan rumah kepada tamunya.
“Saya mau ketemu Nirmala.”
“Nirmala sedang sibuk di belakang. Katakan saja perlunya apa, nanti aku sampaikan,” kata pak Bondan, tetap tidak ramah.
“Adri, kamu sudah datang?” tiba-tiba Nirmala keluar dari dalam rumah, bersikap seolah-olah sudah janjian pada Adri, agar sang ayah tidak mengajukan beberapa pertanyaan lagi.
Adri tak menjawab.
“Pak, Nirma mau pergi sebentar, ke kampus.”
“Kamu bilang ke kampusnya agak siang.”
“Nirmala lupa ada beberapa catatan yang tertinggal, jadi Nirma minta Adri nyamperin kemari.”
“Kamu kan bisa naik mobil?”
“Mobil Nirma bocor, nanti baru akan Nirma bawa ke bengkel,” kata Nirmala yang langsung turun ke bawah, dan mengajak Adri pergi.
“Kami pergi dulu Pak.”
“Permisi,” kata Adri, singkat, dengan wajah tak kurang gelap. Ia tahu ayah Nirmala tak suka padanya. Apa yang didengar membuat bukan hanya telinganya yang sakit, tapi juga hatinya.
***
Besok lagi ya.