Tuesday, March 17, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 35

 BIARKAN AKU MEMILIH  35

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menatap bibik yang tampak gelisah.

“Sekarang opname?”

“Dari semalam belum boleh pulang. Ini saya pulang untuk mengambil baju ganti. Kelelahan nyonya majikan saya itu. Kemarin pergi seharian, malam baru sampai di rumah. Tidak lama kemudian muntah-muntah tanpa henti. Tentu saya takut. Eh, maaf, saya belum tahu siapa Nyonya?”

“Saya Nirmala.”

“Aduh, ya ampun. Apakah Nyonya istri tuan Adri?”

“Benar.”

“Apakah Nyonya mau memarahi majikan saya? Dia khilaf, bingung masalah minta cerai, sehingga bohong semaunya. Tapi nyonya saya sangat menyesal. Sungguh, harap jangan memarahi dia,” kata bibik memelas.

“Kemarin dia di rumah saya seharian.”

“Iya Nyonya, dia ketakutan karena ulahnya yang tanpa pikiran panjang. Dia hanya bermaksud agar suaminya menceraikan. Tapi setelah suaminya kecelakaan, rupanya majikan saya itu juga kebingungan.”

“Suami ibu Dwi kecelakaan?”

“Kemarin menunggu istrinya sampai malam, lalu pulang karena paginya harus bekerja, tapi ketika majikan saya pulang, lalu mendapat telpon bahwa suaminya kecelakaan.”

Lalu bibik menceritakan semuanya tentang keadaan Anton dan sikap Dwi yang kebingungan.

Nirmala mengerti, ternyata Dwi ingin menemui dirinya karena penyesalannya. Baiklah, dia tidak sakit, sakit karena kehamilan itu bukan penyakit. Karena waktu saya tidak banyak, saya juga mau ke kantor. Sampaikan rasa keprihatinan saya untuk bu Dwi dan tentu saja suaminya.”

“Baiklah Nyonya, nanti saya sampaikan. Tapi Nyonya tidak marah pada majikan saya itu kan, kasihan, dia menyesal sampai kebingungan, nggak mau makan, nggak bisa tidur. Malam tadi itu dia kelelahan.”

“Tidak, saya tidak akan marah. Permisi Bik.”

Bibik menatap punggung tamunya dengan rasa kagum. Ia terpaku memandangi mobilnya sampai hilang dari balik gerbang.

“Memang sudah selayaknya kalau tuan Adri tidak mau berpaling darinya. Sudah cantik, baik hati pula. Tak ada kemarahan walau suaminya difitnah,” gumamnya sambil mengunci pintu dan bergegas pergi ke rumah sakit lagi.

“Dan salah sekali kalau nyonya Dwi ingin merebut suaminya. Semoga hatinya sudah luluh. Apalagi aku melihat bahwa perhatiannya pada suaminya sangat besar. Ia juga mengkhawatirkannya. Aku yakin nyonya masih cinta. Semoga bisa berbaikan kembali.”

***

Dwi terbaring lemas. Tapi ia ingin melihat keadaan Anton suaminya. Entah mengapa pikirannya tidak tenang. Ia ingin bangkit, tapi selang infus terhubung di tubuhnya. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya menjadi sangat sakit, bagai diremas-remas. Ia merasa berdosa, atau entah apa, yang jelas ia sangat ingin segera melihat keadaan suaminya. Tidak cinta? Mengapa perasaannya seperti ini?

“Mas Anton, bagaimana keadaan kamu?”

Ketika suster datang untuk memeriksa tekanan darahnya, Dwi minta agar infusnya dilepas. Ia ingin turun untuk melihat suaminya.

“Ibu masih sangat lemas, tekanan rendah. Tidak bisa melepas infusnya. Harus minta ijin dokter.”

“Tapi saya ingin melihat keadaan suami saya.”

“Suami ibu, bapak Anton sedang diperiksa secara menyeluruh. Tapi saya tidak tahu persisnya, nanti saya carikan informasinya. Kalau tidak salah akan dioperasi kalau penyumbatan darah tidak bisa diatasi.”

“Saya bisa melihat keadaannya?”

“Ibu sabar ya, ibu masih lemas.”

Perawat itu keluar setelah memeriksa tensi Dwi yang dikatakannya sangat rendah.

***

Pagi hari itu tanpa sepengetahuan Anton, bu Sarah ibu Anton membawa Wati ke rumahnya, menunjukkan semua isi dan sudut rumah, dan mengatakan bahwa semua itu nanti akan menjadi miliknya.

“Tapi Bu, bukankah mas Anton masih punya istri?”

“Istrinya minta cerai. Anton masih menemuinya, dan semoga segera mengurus perceraiannya itu.”

“Apa benar mas Anton mencintai saya?”

“Kamu itu bagaimana Wati, di dalam perutmu itu ada benih yang diteteskan Anton, bagaimana bisa dia tidak cinta?”

“Mas Anton melakukannya karena dipaksa ibu bukan?”

“Tidak, dia menginginkan anak, dan kamu bisa memberikannya.”

“Kalau Ibu tidak memberikan obat itu, pasti mas Anton tidak melakukannya.”

“Itu satu-satunya cara untuk menjerat dia. Karena kamu hamil, dia mau tidak mau harus menikahi kamu. Percayalah Wati, kamu akan bahagia. Anton anakku itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Bukankah pernikahan kalian sudah dipersiapkan?”

“Tapi saya tidak yakin mas Anton mencintai saya.”

“Wati, kamu masih ragu juga. Bukankah hampir setiap malam Anton datang mengunjungi kamu?”

“Tidak selalu ke tempat saya Bu, sebelah rumah itu teman sekolahnya. Dia sering main ke situ.”

“Katanya ke rumah kamu?”

“Hanya tiga kali, yang terakhir yang Ibu kasih obat dan harus saya campurkan ke minuman dia. Lalu semuanya terjadi. Kelihatannya dia menyesal.”

“Setidaknya kamu hamil, dan dia harus bertanggung jawab.”

Wati tampak diam. Wati adalah gadis sederhana yang cantik. Ayah ibunya sudah tak ada. Ia menjadi pegawai sebuah toko, di mana ibunya Anton sering belanja di situ. Tertarik pada kecantikan Wati, ibu Anton menginginkannya menjadi menantunya, dengan harapan Wati bisa melahirkan cucu-cucunya, bukan seperti Dwiyanti yang bertahun-tahun tidak juga hamil.

Tapi jalan yang ditempuhnya salah, sehingga keadaan menjadi runyam. Apalagi setelah diketahui bahwa Dwi pun sedang hamil.

Dwi yang sakit hati karena setiap malam ditinggal pergi, lalu tiba-tiba mau menikahi perempuan lain, menjadi sakit hati dan merasa kehilangan rasa cintanya. Ia tidak tahu bahwa setiap malam ketika Anton pergi hanyalah memenuhi permintaan sang ibu agar mengunjungi Wati, padahal Anton lebih sering bertandang ke rumah temannya yang adalah tetangga Wati.

“Sudahlah Wati, kamu tidak usah menyesali semuanya. Kamu harus yakin kalau Anton laki-laki yang baik. Kamu akan berbahagia. Setelah ini kamu tidak usah bekerja di toko lagi. Anton akan memenuhi semua kebutuhan kamu," bu Sarah masih tetap membujuk.

Wati terdiam. Calon mertuanya terlalu nekat, dan sangat memaksa agar dia menjadi menantunya.

Wati melihat ke dinding, tampak foto berbingkai yang besar. Foto Anton dan istrinya. Tampak mesra dan sangat serasi. Wati sangat mengagumi istri Anton yang cantik. Ia heran mengapa ibunya lebih menyukai dirinya. Masa hanya karena tidak bisa hamil?

“Apa kamu ingin agar aku menurunkan foto itu?”

Wati terkejut.

“Jangan, jangan Bu, mengapa harus diturunkan. Pasangan yang sangat serasi, biar saja di situ.”

“Besok akan berganti menjadi foto kamu bersama Anton.”

Wati mengangkat bahu. Tiba-tiba ia sangat menyesalkan apa yang sudah terjadi.

“Biar saja begitu,” kata Wati sambil berjalan ke arah depan, lalu duduk di teras.

“Anton kok ya tidak pulang semalam, apa dia langsung ke kantornya ya.”

“Kan bertemu istrinya Bu. Tidak aneh kalau berlama-lama.”

“Apa? Mereka sedang membicarakan perceraian. Kemarin aku ikut menunggu, tapi lalu aku pulang lebih dulu. Barangkali Dwi pulang malam, dan Anton harus menginap karena terlanjur menunggu. Dan mungkin sekarang sudah langsung pergi ke kantor. Dia karyawan yang rajin.”

Tiba-tiba ponsel bu Sarah berdering.

“Dari siapa nih, nggak ada namanya.”

“Diangkat saja Bu, barangkali penting.”

“Ya, haloo, benar, saya ibunya. Ini siapa? Apa? Rumah sakit? Ada apa? Anton itu anak saya, benar … apa? Semalam kecelakaan? Mengapa baru mengabari sekarang. Atas permintaan pak Anton. Rumah sakit mana? Bagaimana keadaannya?”

Wati melihat tangan calon ibu mertuanya gemetar. Tampaknya ia panik. Begitu ponsel diletakkan, tangan Wati langsung ditariknya.

“Wati, kita harus ke sana. Anton kecelakaan.”

“Tidak Bu, saya tidak mau.”

“Apa maksudmu? Calon suami kamu sedang cedera berat, dan kamu tidak mau melihatnya? Masih dekat dari rumah istrinya, kita harus segera berangkat. Tempatnya jauh.”

“Saya tidak berani Bu.”

“Tidak berani kenapa? Istrinya tidak akan bisa apa-apa. Dia sudah tahu kalau kamu mengandung anak Anton.”

“Saya tidak mau pergi. Ibu saja yang pergi.”

Wati berpikir tentang pertemuannya nanti dengan istri sah Anton, yang pasti menungguinya di sana. Ia merasa bersalah.

“Jadi kamu tidak peduli walau calon suamimu mengalami cedera parah dan akan segera dioperasi?”

“Maaf Bu, saya akan mendoakan saja dari sini. Sekarang saya mau pulang saja.”

Lama-lama Wati membuat kesal. Dan sang calon mertua menatapnya dengan wajah muram.

***

Sudah agak sore ketika bu Sarah sampai di rumah sakit. Ia segera mencari di mana anaknya dirawat. Ternyata Anton masih ada di ruang ICU setelah dioperasi, dan Dwiyanti menungguinya sambil duduk di kursi roda dan selang infus masih terpasang di lengannya.

Ibu Sarah tertegun.

***

Besok lagi ya.

Monday, March 16, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 34

 BIARKAN AKU MEMILIH  34

(Tien Kumalasari)

 

Dwi tiba-tiba merasa badannya gemetar. Katanya tak lagi cinta, tapi berita kecelakaan yang menimpa suaminya membuatnya ketakutan.

“Tabrakan?”

“Tidak. Tampaknya dia mengantuk, atau sedang melamun. Dia menabrak pohon asam besar yang ada di tepi jalan.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Luka di kepalanya, tapi sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit. Saya kirimkan alamatnya,” kata si penelpon yang tampaknya sangat tergesa-gesa.

Dwi merasa lemas.

“Ada apa Nyonya?” tanya bibik.

“Mas Anton kecelakaan.”

“Astaghfirullah. Tabrakan dengan apa Nyonya?”

“Tidak tabrakan, mungkin dia mengantuk, atau mungkin sedang melamun, lalu menabrak pohon asam di pinggir jalan.”

“Hadduh, bagaimana keadaannya?”

“Ayo kita ke sana.”

“Tapi Nyonya kelihatan pucat begitu?”

“Tidak apa-apa Bik, aku ingin melihat keadaannya, mudah-mudahan lukanya tidak parah. Ayo, sama  Bibik ya.”

“Baik, tapi Nyonya kan baru pulang, trus kelihatannya mual-mual. Sepertinya Nyonya juga kelihatan lemas.”

“Tidak apa-apa Bik, aku sudah minum obat dan sudah lebih baik.”

“Nyonya tidak ganti baju dulu? Bukankah itu baju yang tadi pagi Nyonya pakai?”

“Tidak usah, kelamaan. Kamu saja cepat ganti, aku mau memanggil taksi.”

“Baik.”

Bibik bergegas ke belakang, sambil tersenyum dalam hati. Katanya tidak cinta, baru mendengar kecelakaan saja sudah ribut, bahkan melupakan keadaannya sendiri yang sedang tidak sehat. Kata batin bibik.

Dwi tampak gelisah karena taksi yang dipanggil tidak segera datang. Diluar tiba-tiba hujan sangat deras, hawa dingin menggigit tulang.

Bibik yang sudah selesai berganti baju kembali masuk dan mengambilkan baju hangat untuk sang nyonya majikan.

“Nyonya pakai ini, hawanya dingin sekali.”

“Kok ya tiba-tiba hujan. Padahal seharian panas.”

“Hujan tidak menentu Nyonya, kita harus benar-benar menjaga kesehatan.”

“Benar.”

“Nyonya kelihatan sangat khawatir,” bibik nyeletuk perlahan.

“Tentu saja aku khawatir Bik, namanya kecelakaan pasti mengkhawatirkan.”

“Berarti Nyonya masih menyayangi tuan Anton.”

“Apa?” 

Dwi terkejut sendiri atas sikap yang tampak oleh bibik. Memang benar dia sangat khawatir, tapi apakah itu karena dia masih sayang? Dwi membantahnya.

“Tidak, hanya khawatir, siapa bilang sayang? Bukankah dia telah menduakan aku? Tidak, aku tidak sayang.”

Ketika taksi datang, mereka bergegas pergi.

***

Bibik terpontang panting mengejar langkah Dwi yang begitu tergesa-gesa memasuki rumah sakit. Bibik geleng-geleng kepala.

“Bukankah itu kekhawatiran yang tampak dan itu menunjukkan perhatian nyonyaku kepada suaminya? Mengapa membantahnya?” gumamnya sambil terengah-engah. 

Badan bibik yang gemuk tidak begitu kuat untuk berjalan cepat, apalagi berlari. Begitu terkejar dan sang nyonya majikan sedang berbincang dengan petugas, bibik segera duduk di kursi sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan.

Dwi mendekati bibik setelah berbicara dengan petugas. Ia duduk di samping bibik, wajahnya tampak tidak tenang.

“Bagaimana Nyonya? Apa kata petugas tadi?”

“Mas Anton belum sadar. Masih ditangani,” katanya pelan.

“Jadi Nyonya tidak bisa menemui?”

“Belum bisa, harus menunggu.”

Bibik yang kebetulan membawa dua botol minuman segera memberikan yang sebotol untuk nyonya majikannya, yang sebotol diminumnya sendiri. Walau hujan sudah berhenti, dan udara dingin disekitarnya, tapi bibik kehausan karena setengah berlari dari halaman rumah sakit.

“Untunglah masih di kota ini, sehingga aku bisa segera menjenguknya,” gumam Dwi.

“Apa Nyonya tidak mengabari ibunya?”

“Aku tidak punya nomor kontaknya. Tidak pernah mencatatnya,” kata Dwi dengan wajah muram. 

Dwi memang tak pernah menyimpan nomor kontak mertuanya, karena ia tidak ingin berhubungan dengannya, bahkan sejak awal Dwi dan Anton menikah. Sang ibu mertua tidak menyukai dirinya dengan alasan yang dibuat-buat, bahkan yang terakhir menganggap dirinya tidak akan bisa mengandung.

“Nanti kalau disalahkan bagaimana?”

“Siapa yang akan menyalahkan, memang aku tidak punya.”

Bibik terdiam. Wajah Dwi masih tampak pucat, tapi tidak mengeluh mual, dan bibik bersyukur karena itu.

Ketika perawat membuka pintu, ia memberi tahu Dwi bahwa Anton sudah siuman.

Setengah berlari Dwi masuk ke ruang IGD.

“Tapi hanya sebentar ya Bu,” pesan perawat itu. Dwi hanya mengangguk.

Hati Dwi seperti diremas-remas melihat kepala Anton yang terbalut perban, dan bercak merah darah masih tampak.

“Mas,” panggilnya lirih.

Anton membuka matanya. Bibirnya yang terkatup kemudian terbuka dan menyebut nama sang istri setengah berbisik.

“Dwi ….”

“Mengapa menjadi seperti ini?” kata Dwi sambil memegang tangan Anton yang terasa panas.

“Aku lelah. Lahir batin,” bisiknya lagi.

Dwi tidak menjawab. Tak tega melihat keadaan suaminya yang tampak lemah, bahkan berbicarapun sangat pelan, nyaris berbisik.

“Terima kasih telah datang.”

“Polisi menelpon ketika aku baru saja datang.”

“Apa kamu khawatir?”

“Tentu saja aku khawatir. Keadaanmu sangat mengkhawatirkan.”

“Kamu mengabari ibu?”

“Tidak. Aku tidak tahu nomor kontaknya,” kata Dwi datar.

“Ya sudah, tidak usah.”

“Bagaimana rasanya? Sakit semua?”

“Tidak, sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir.”

Perawat jaga mengingatkan kalau sebaiknya Dwi menunggu diluar, karena pasien tidak bisa diganggu terlalu lama.

“Kamu pulang saja.”

“Aku akan menunggu di luar.”

“Pulanglah, nanti kamu kecapekan, kamu kan sedang hamil?”

Dwi menepuk-nepuk tangan Anton, lalu menciumnya sebelum dia kemudian beranjak keluar.

Ternyata bibik menunggunya di depan pintu sambil berdiri saja.

“Bibik tidak duduk saja di sana?”

“Barangkali saya juga diperbolehkan menjenguk tuan.”

“Aku saja hanya bisa bertemu sebentar, lalu diusir,” gerutu Dwi sambil berjalan ke arah bangku tempat dia menunggu sebelumnya.

“Apakah lukanya parah?”

"Kepalanya dibalut perban. Tadi ketika aku baru datang diberi tahu, bahwa ada perdarahan otak."

“Ya ampun Nyonya, apakah itu parah?”

“Kalau bisa diobati ya diobati, kalau parah harus dioperasi juga.”

“Nyonya kelihatan sangat pucat. Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu? Bukankah besok pagi-pagi kita bisa kembali kemari?”

“Rasanya tidak tega meninggalkannya.”

“Tapi kan kita juga tidak diperbolehkan masuk? Daripada kita duduk di sini, lebih baik pulang saja, besok kemari lagi. Ingat keadaan Nyonya sendiri, kalau Nyonya kemudian jatuh sakit, maka nanti malah tidak bisa kembali kemari.”

Dwi berdiri, menghampiri petugas IGD dan minta agar mencatat nomor kontaknya serta mengabari kalau ada yang diperlukan.

Setelah itu dia memesan taksi dan mengajak bibik pulang.

***

Sesampai di rumah, bibik memintanya agar Dwi makan, lalu meminum obat yang lain, karena tadi yang diminum hanya anti mualnya saja.

“Setelah itu Nyonya harus tidur, karena kemarin Nyonya juga hampir tidak tidur semalaman,” kata bibik.

“Baiklah, sedikit saja, tapi aku ganti baju dulu.”

“Nyonya tidak usah mandi walau dengan air hangat. Segera makan dan istirahat, agar besok bisa bangun dengan keadaan lebih segar.”

Dwi menurut. Ia melupakan masalahnya dengan keluarga Adri, karena keadaan Anton ternyata menyita seluruh rasa di dalam hatinya. Tapi Dwi membantah kalau dikatakan masih menyayanginya. Tidak … tidak, kata batinnya menentang rasa yang sebetulnya ada.

***

Pagi hari itu ketika Adri berangkat ke kantor, Nirmala harus kembali ke kantor cabang karena tugasnya belum selesai. Masih ada yang harus diurusnya. Tapi kali itu Adri meminta agar Tama tidak usah diajak. Nirmala meminta sopir kantor agar mengantarkannya atas saran Adri, karena takut sang istri kecapekan.

Di perjalanan, Nirmala menelpon ke kantor di mana Dwi bertugas. Ia menanyakan apakah Dwi sudah ada di kantornya.

“Belum Bu, sepertinya ada masalah.”

“Ada masalah apa?”

“Sejak dua hari yang lalu beliau tidak masuk ke kantor. Terakhir datang hanya sebentar lalu minta ijin pulang.”

“Sekarang belum datang?”

“Belum Bu.”

Nirmala meminta sopir agar melewati kantor Nirmala, karena sesungguhnya kelewatan, hanya agak berputar sedikit.

Nirmala langsung menuju ke rumah tinggal Dwi karena setelah menelpon katanya Dwi belum datang ke kantor

Ketika Nirmala berhenti di halaman, dilihatnya bibik pembantu keluar dari rumah dan mengunci pintu.

“Mana ibu Dwiyanti?” tanya Nirmala kepada bibik yang terkejut melihat kedatangan tamu pagi-pagi. Ia juga belum pernah melihat Nirmala.

“Nyonya semalam muntah-muntah, lalu saya membawanya ke rumah sakit.”

***

Besok lagi ya.

 

Sunday, March 15, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 33

 BIARKAN AKU MEMILIH  33

(Tien Kumalasari)

 

Anton terkantuk-kantuk di teras. Ia tetap menunggu walau sang ibu sudah pulang terlebih dulu. Bibik membuatkan lagi minum, karena Anton tidak mau makan, walau bibik sudah menyediakannya.

“Kalau begitu Tuan masuk ke dalam saja. Di sini lama-lama dingin. Memang udaranya begini Tuan.”

“Tidak, biar aku di sini saja.”

“Kalau begitu silakan diminum Tuan, mumpung masih hangat.”

“Iya, nanti aku minum.”

“Nyonya itu sebenarnya ke mana ya, seharian belum pulang juga. Saya khawatir karena nyonya tidak membawa obat-obatnya.”

“Obatnya itu obat apa saja Bik?”

“Saya tidak tahu namanya. Kemarin yang mengantarkan ke dokter saya. Kata dokter obat penguat kandungan dan anti mual.”

“Dia sering mual?”

“Sebelum mendapat obatnya, nyonya muntah-muntah terus. Lalu sekarang tinggal mual-mualnya saja.”

“Aku sangat menyesali keputusannya.”

“Saya juga heran, mengapa nyonya berbohong. Pasti tuan marah sekali pada tuan Adri, padahal dia hanya baik, tidak pernah melakukan hal buruk terhadap nyonya.”

“Iya, kami hampir berantem. Walaupun seandainya benar beradu kekuatan, aku pasti kalah, badanku kecil, sementara Adri tinggi besar.”

Bibik tersenyum. Itu benar, seandainya benar-benar berantem pasti tuan Anton hanya akan jadi bulan-bulanan.

“Untung tidak terjadi.”

“Itu karena ketemu kamu, lalu mengatakan semuanya.”

“Iya, Tuan. Untung saya segera datang. Memang kalau berkeluh, nyonya hanya kepada saya, jadi saya sangat tahu apa yang dirasakan nyonya. Setelah mengatakan hal bohong itu, nyonya kelihatan sangat sedih dan menyesal. Semalam tidak mau makan dan tidak tidur. Ee, pagi-pagi malah pergi sebelum sarapan dulu. Saya malah jadi khawatir kalau terjadi apa-apa pada nyonya.”

“Aku juga ingin tahu keadaannya, tapi telponnya mati.”

“Mungkin semalam tidak dicas, jadi mati sehingga tidak bisa dihubungi.”

“Aku juga bingung memikirkannya. Ke mana, kira-kira dia.”

“Pulang kampung, barangkali.”

“Kedua orang tuanya sudah tidak ada. Mana mungkin dia ke sana.”

“Tapi kan ada kerabatnya juga.”

“Memang sih. Tapi aku tidak punya nomor kontak mereka. Hanya saja menurut aku, tidak mungkin dia pulang ke sana.”

“Bagaimana nyonya ini. Membuat orang khwatir saja,” kata bibik sambil berdiri.

“Tuan, kalau capek tiduran saja di kamar. Nanti kalau nyonya pulang kan ya pasti ketemu tuan,” kata bibik sebelum beranjak ke belakang.

“Iya, nanti gampang. Aku minum saja ini, biar badanku anget.”

***

Tapi di perjalanan, mobil Adri mendadak harus berhenti karena jalan yang akan dilewati keterjang banjir.

“Waduh, bagaimana ini Dri?”

“Terpaksa harus muter. Masa harus menunggu banjir surut.”

“Akan lama. Bisa dua atau tiga jam baru sampai rumah.”

“Bagaimana lagi?”

“Padahal di rumah ada tamu menunggu.”

“Mau apa sebenarnya dia?” kata Adri sambil memutar mobilnya.

“Entahlah, mana aku tahu? Mungkin akan meminta maaf pada Adri, sahabat tercintanya ini,” ledek Nirmala.

Mulut Adri cemberut.

“Mana mungkin, kalau harus maaf itu yang dia butuhkan, harusnya dia mencari aku. Tapi dia mencari kamu kan?”

“O, aku tahu. Mungkin ingin minta ijin agar aku merelakan kamu pada dia.”

Sekarang Adri terkekeh.

“Memangnya aku ini barang? Bisa diserah terimakan kepada orang lain begitu saja.”

“Melihat tanda-tandanya, sepertinya dia memang suka pada sahabat masa kecilnya ini.”

“Nggak usah ngomong yang enggak-enggak.”

“Kemungkinan itu ada kan?”

“Kamu kan tahu bahwa aku mencintai kamu?”

“Biasanya laki-laki memang begitu.”

“Apa maksudnya nih?”

“Didepan salah satu perempuan bilang cinta, lalu di depan perempuan lainnya juga mengobral cinta.”

“Kamu kebanyakan nonton sinetron," kesal Adri.

“Tidak, aku tidak pernah nonton sinetron. Tapi kenyataannya memang begitu kan?”

“Aku bukan begitu, tahu”

“Benarkah?”

“Mau belah dadaku ini?”

Dan mbak Rana yang duduk di belakang menahan tawa sambil menutup mulutnya, sementara Tama tertidur pulas di pangkuannya.

Tapi dari kaca spion, Adri melihatnya.

“Tuh, mbak Rana sampai tertawa.”

“Eh, tidak, Tuan.”

“Tidak apa-apa kalau mbak Rana ingin tertawa. Kami ini memang pasangan lucu kok.”

“Yang lucu itu kamu Dri, masa aku kamu suruh membelah dadamu? Kepercayaan itu bukan di dada, tapi di hati.”

“Itu kan ungkapan yang sudah menyebar ke mana-mana. Kalau tidak percaya, belahlah dadaku.”

Nirmala tersenyum lucu. Tapi ia yakin bahwa Adri memang mencintainya. Hanya saja terkadang ulahnya sering membuatnya kesal.

“Nirma, coba kamu telpon Dwi, yang penting kamu tahu dulu apa maksudnya.”

“Iya, lagian sabar nggak dia kalau menunggunya lebih lama? Kita bisa sampai rumah malam kan?”

“Makanya telpon dia.”

“Hm, perhatian amat sih,” ledek Nirmala.

Adri tidak menjawab, tapi mencubit lengan istrinya karena gemas.

“Auuwww, sakit, tahu. Laki-laki kok mencubit. Genit!!”

“Kamu selalu mengejek aku sih.”

“Ya udah, diam dulu, biar aku telpon dia.”

Nirmala menelpon nomor Dwi, tapi lama dan berkali-kali tidak diangkat.

“Kelihatannya ponselnya mati.”

“Ya sudah, mau bagaimana lagi.”

***

Hari sudah sore ketika Dwi bangkit dari ranjang di kamar rumah Nirmala. Ia melongok keluar, sepi tak ada suara, berarti Nirmala belum pulang. Padahal katanya sedang perjalanan pulang. Memangnya pergi ke mana, lama tidak segera sampai ke rumah?

Dwi melangkah keluar, di ruang tengah ia melihat bibik sedang melihat televisi. Perlahan ia mendekat dan duduk di sana.

“Eh, Nyonya sudah bangun. Sudah saya buatkan minum. Ini Nyonya,” kata bibik sambil menunjuk ke arah gelas yang terletak di meja.

“Belum pada pulang ya?”

“Belum Nyonya, apa terjebak banjir ya? Lihat Nyonya, di mana-mana banjir, padahal hujan baru beberapa hari.”

“Iya, benar. Memangnya mereka pergi ke mana?”

“Saya tidak tahu Nyonya. Silakan diminum dulu susunya.”

“Aku tunggu sebentar lagi, kalau tidak pulang juga, aku mau pulang saja.”

“Lhoh, kan sudah kepalang tanggung. Nyonya sudah menunggu lama, mengapa mau ditinggal pulang?”

“Soalnya besok aku sudah harus bekerja Bik.”

“O, begitu? Nyonya mau naik apa?”

“Aku pesan taksi saja.”

“Minumlah dulu, atau mau makan Nyonya, tadi saya sempat memasak, soalnya tuan dan nyonya saya mau pulang.”

“Tidak usah Bik, saya masih suka mual. Lagian tidak membawa obatnya. Ini juga, bibik kasih susu coklat, mudah-mudahan tidak membuat mual.”

Selesai minum, Dwi mengambil ponselnya, yang dimatikan sejak siang. Ia tak ingin menerima telpon dari siapapun, termasuk suaminya yang pasti masih sangat marah.

Lalu ia menelpon taksi. Sekilas ia melihat beberapa panggilan tak terjawab. Tapi ia mengacuhkannya.

Dwi nekat pulang, walau bibik sudah menyarankan untuk menunggunya. Dwi juga sedang gelisah, jangan-jangan Nirmala memang sengaja tidak segera pulang, atau tidak akan pulang sekalian karena ia pasti tidak suka pada dirinya. Karena itu pergi dari rumah Nirmala adalah lebih baik.

“Besok akan aku cari waktu untuk menemuinya. Aku tetap harus menemui dia karena aku sungguh merasa menyesal dan sangat bersalah,” kata batin Dwi dalam perjalanan pulang.

***

Tapi tak selang berapa lama, ternyata Adri dan Nirmala sudah pulang. Nirmala kecewa karena Dwi nekat pulang. Barangkali karena kelamaan pulangnya gara-gara menghindari banjir.

“Tadi juga tidur di kamar tamu Nyonya, saya siapkan makan, tapi makan hanya sedikit, katanya perutnya mual. Bawaan orang hamil kan sering begitu.”

“Bibik tidak menahannya?”

“Sudah Nyonya, dengan segala cara. Tadi dia bersikukuh pulang. Katanya besok harus bekerja, jadi tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Padahal saya tahu dia tidak begitu sehat.”

“Naik apa dia?”

“Tadi pesan taksi.”

“Gimana sih,” gerutu Nirmala yang pastinya kesal karena tidak segera bisa mengetahui maksud kedatangan Dwi.

“Ya sudah, besok saja kamu hubungi dia, tidak usah terlalu dipikirkan,” kata Adri.

***

Sudah jam sembilan malam ketika Dwi sampai di rumah. Ia segera berteriak kepada bibik untuk meminta obat mual, karena sudah ditahannya sejak tadi, dan perutnya terasa tidak enak, ditambah kepalanya terasa sangat pusing.

Bibik bergegas menyiapkan obatnya dan segelas air putih.

“Nyonya ke mana saja? Membuat saya khawatir.”

“Aku sangat gelisah Bik, aku ke rumah bu Nirmala untuk meminta maaf, tapi tadi tidak ketemu.”

“Tuan belum lama pulang.”

“Tuan? Tuan siapa Bik?”

“Tuan Anton. Tadi pagi agak siang bersama ibunya, nyonya yang galak itu, tapi menjelang sore dia pulang lebih dulu. Tuan Anton menunggu, lama. Saya tawarkan makan tidak mau. Hanya minum. Lalu tiba-tiba ingin pulang. Katanya besok sore mau kemari lagi.”

“Mau apa dia sama ibunya?”

“Paginya ada tuan Adri juga, Nyonya.”

“Adri? Katanya Adri pergi sama anak istrinya.?

“Saya melihat ada yang menunggu di mobil. Mungkin anak dan istri tuan Adri. Entahlah.”

“Bicara apa tuanmu sama Adri?”

“Tadinya ya bicara tidak enak, sedikit keras begitu Nyonya, saya mendengar sedikit ketika saya memasuki halaman  sepulang saya dari warung, lalu saya jelaskan semuanya.”

“Semua yang mana?”

“Ya tentang Nyonya yang berbohong. Habis kalau mereka berantem beneran kan saya jadi takut.”

Tiba-tiba ponsel Dwi berdering. Nomor tak dikenal, tapi Dwi mengangkatnya.

“Hallo, apa saya bicara dengan Ibu Dwiyanti?”

“Benar. Ini dari mana?”

“Dari kantor polisi. Suami Ibu kecelakaan.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Friday, March 13, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 32

 BIARKAN AKU MEMILIH  32

(Tien Kumalasari)

 

Susah payah bibik bangkit sambil mendorong tubuh Dwi yang lemah. Lalu setelah bibik bangkit, Dwi hanya bisa terduduk di tanah. Wajahnya sangat pucat.

“Saya ketakutan …” bibirnya bergetar ketika mengatakannya.

“Nyonya ketakutan karena apa? Ada yang mengejar Nyonya?”

Dwi menggeleng lemah, berusaha bangkit namun tak berhasil. Bibik menariknya, membantunya, lalu dipapahnya menaiki tangga teras, dan dimintanya duduk.

“Nyonya sakit, badan nyonya panas sekali, sebentar, duduk bersandar dulu, saya ambilkan minuman hangat,” kata bibik sambil bergegas ke belakang.

Pikiran bibik jadi yang macam-macam. Ada apa sebenarnya wanita cantik yang datang-datang seperti mau pingsan ini. Dan mengapa juga mencari nyonya majikannya, bukannya sang tuan.

Dwi duduk lemas kebingungan. Yang dicari tidak ada. Ia tiba tiba ingin bertemu Nirmala dan meminta maaf. Ini karena dia terlanjur mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak Adri. Kalau terjadi kekacauan, pasti akan berimbas kepada pekerjaannya, karena Adri adalah menantu perusahaan di mana dia bekerja, dan istrinya adalah wakil direktur utama. Sejak kemarin dia tak doyan makan. Ia tak lagi suka muntah-muntah, tapi rasa mual tetap ada.

Karena tidak makan sejak kemarin, maka badannya terasa lemas, dan rasa pusing seperti memukul-mukul kepalanya.

“Nyonya, silakan diminum dulu. Ini coklat susu panas, tapi tidak begitu panas, nyonya minum pakai sendok ya, sudah saya siapkan nih,” kata bibik sambil mengulungkan minumannya yang dilengkapi dengan sendok, agar kalau kepanasan, tamunya bisa meminumnya sesendok demi sesendok.

Dwi menerima gelas itu, tangannya gemetar, membuat bibik jadi khawatir.

“Nyonya, gelasnya saya letakkan dimeja saja, nyonya mau saya suapin minumnya?”

“Tidak, tidak … biar saya meminumnya sendiri," kata Dwi yang merasa sungkan dilayani.

Ija segera menyendoknya sesendok demi sesendok. Rasa hangat mengaliri tenggorokannya, meresap keseluruh tubuhnya. Segelas penuh dihabiskan, lalu ia bersandar di sandaran kursi.

“Saya akan menelpon nyonya majikan saya.”

“Jangan. Aku mau pergi saja.”

“Kenapa tidak boleh? Saya khawatir karena nyonya kelihatan sakit, bagaimana nyonya mau pergi dalam keadaan seperti ini?”

“Bukankah pemilik rumah baru akan pulang besok? Masa saya akan menunggu sampai besok?” kata Dwi yang mulai sedikit bicara lancar, tidak gemetar seperti sebelumnya.

“Kalau Nyonya sehat tidak apa-apa. Badan nyonya agak panas, wajah Nyonya pucat,” kata bibik sambil mengambil gelas kosong dari meja, lalu dibawanya kebelakang.

Sesampai di dapur ia segera menelpon Nirmala.

“Ada apa Bik?”

“Nyonya, ada tamu, hampir pingsan di depan rumah.”

“Apa? Tamu siapa?”

“Tamu, perempuan cantik, katanya anak buah Nyonya.”

“Siapa?”

“Katanya namanya … eh … siapa tadi … Dwi … ya Nyonya, Dwiyanti lengkapnya.”

“Dia ke rumah? Mau apa?”

“Tidak bilang mau apa, hanya ingin ketemu Nyonya, tapi dia sakit. Tadi jatuh menimpa tubuh saya, badannya lemas, sudah saya beri coklat susu, sekarang mau pergi, tapi saya larang, kalau jatuh di jalan bagaimana? Tapi benar kan, dia karyawan di kantor Nyonya?”

“Kalau namanya Dwiyanti, itu benar. Dia sakit?”

“Iya, kasihan sekali. Apakah Nyonya pulang sampai malam?”

“Rencananya besok baru mau pulang. Ini sedang liburan, bersama Adri dan Tama juga mbak Rana.”

“Waduh, lalu harus saya apakan tamunya itu? Kasihan. Badannya panas, tubuhnya lemas. Katanya dia mau pergi saja. Tapi saya kok tidak tega.”

Lalu terdengar Nirmala bicara sama suaminya.

“Dwi ada di rumah, kata bibik dia hampir pingsan.”

“Mau apa dia?”

“Kok yang dicari aku ya Dri, katanya tadi sempat jatuh, menimpa bibik. Sudah dikasih minum, terus mau pulang.”

“Mau apa ya?”

“Kita pulang sekarang saja ya Dri, kita suruh Dwi menunggu.”

“Ya sudah kalau mau kamu begitu.”

“Bik,” Nirmala kembali bicara sama bibik.

“Ya.”

“Suruh dia menunggu. Kalau mau suruh tiduran di kamar tamu. Kalau masih panas coba bibik cari obat panas di almari obat, suruh dia minum. Eh ya, kalau mau suruh dia makan juga.

”Baik Nyonya.”

Bibik bergegas ke arah depan.

“Nyonya jangan pulang dulu, sekarang tuan dan nyonya majikan saya sedang ke arah pulang. Saya akan ambilkan obat untuk Nyonya. Sebentar ya,” kata bibik lalu kembali lagi ke arah belakang.

Dwi merasa tidak enak. Ia kemudian bingung, nanti akan mengucapkan apa.

Bibik kembali dengan membawa obat panas, sebutir obat yang tersedia di almari obat keluarga. Ia juga membawa segelas air putih.

“Nyonya, ini obat panas, silakan diminum dulu. Tadi nyonya berpesan begitu. Suruh minum obat dan diminta untuk makan juga.”

Dwi tiba-tiba merasa dirinya kecil. Ia dengan penuh harapan ingin merebut Adri dari keluarga ini. Dari ibu Nirmala yang ternyata sangat baik dan penuh perhatian. Pasti ia juga sudah mendengar tentang pengakuannya yang ngawur tentang kehamilannya, karena Anton marah-marah dan mengancam akan menghajar Adri.

Tapi sikap Nirmala sangat baik. Jauh dari rasa marah seperti wanita yang sakit hati ketika suaminya menghamili perempuan lain.

“Ya Tuhan.”

Dwi terkejut karena mulutnya menyebutkan nama Tuhan. Nama yang sudah lama dilupakannya.

“Nyonya, minum obatnya dulu, biar lebih merasa segar. Lalu makan ya, saya sediakan sebentar. Tapi ya lauk seadanya, karena bibik tidak memasak hari ini.”

Dwi meraih obat yang diberikan bibik, lalu diminumnya, sementara bibik bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan.

Dwi dipaksa ke ruang makan. Hanya ada lauk semur ayam yang dimasak kemarin, dan kerupuk.

“Seadanya Nyonya, atau mau saya buatkan mie?”

“Tidak usah … biar ini saja.”

Tapi Dwi hanya makan sedikit, setelah beberapa sendok kemudian ia meneguk air putih yang disediakan.

“Kok cuma sedikit, apa tidak enak?”

“Bukan, aku agak mual, daripada muntah. Aku lupa membawa obatnya.”

“Sebenarnya Nyonya sedang sakit?”

“Aku sedang hamil.”

“Ya ampun Nyonya, pasti gara-gara kehamilan itu. Tapi perut Nyonya belum kelihatan besar.”

“Baru awal kehamilan.”

“Nyonya, kalau begitu Nyonya istirahat dulu, kamar tamu selalu saya rapikan. Nyonya bisa langsung tiduran. Ini juga nyonya majikan saya yang menyuruh.”

Karena badannya terasa tidak enak, maka Dwi menurut saja. Kebaikan yang diterimanya bertubi-tubi membuat Dwi merasa semakin kecil di hadapan Nirmala. Ia merasa begitu jahat.

Bibik mengantarnya ke kamar tamu. Dwi ke kamar mandi sebentar, kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Badannya terasa lebih nyaman.

***

Sementara itu Anton menunggu dengan gelisah. Apalagi ibunya. Beberapa cemilan yang dihidangkan bibik sudah habis disantap, tapi Dwi belum juga kelihatan batang hidungnya. Berkali-kali bibik menawarkan makan, tapi mereka tidak mau.

“Kemana ya Dwi? Sudah sore ini.”

“Sudah sore, dan aku sangat lelah. Ayo kita pulang saja,” gerutu sang ibu.

“Ibu ini bukannya mendukung Anton, malah menggerutu terus.”

“Anton, bagaimana aku tidak menggerutu, kamu tiba-tiba mau ketemu istri kamu yang sudah tidak mau lagi sama kamu, siapa yang tidak kesal?”

“Anton harus ketemu Dwi, agar semuanya menjadi jelas. Kelakuannya dengan memfitnah Adri itu tidak benar. Apa coba maksudnya?”

“Bukankah maksudnya adalah supaya kamu menceraikan dia? Kamu ini tidak punya harga diri ya Ton, istri sudah seperti itu kamu masih berharap atas dia. Bukankah sudah ada Wati? Kurangnya apa dia? Dia cantik, dan sudah mengandung anakmu. Dia juga baik, sayang sama ibu.”

“Ibu tidak sayang pada Dwi, sejak dulu ibu tidak suka. Itu sebabnya ibu ingin agar Anton menceraikannya.”

“Kalau dia sudah tidak mau, apa kamu akan memaksanya?”

“Anton harus bicara dulu sama dia.”

“Tapi dia pulang atau tidak, kamu kan tidak tahu?”

“Anton akan tetap menunggu.”

“Kalau begitu ibu mau pulang saja, carikan taksi untuk ibu.”

“Bagaimana kalau Anton carikan travel saja.”

"Taksi saja, kalau kamu keberatan biar ibu sendiri yang bayar.”

Anton terpaksa menurutinya. Ia akan menunggu, walau harus menginap, asalkan sudah bertemu Dwi. Biarlah dia memilih, cerai atau kembali kepada dirinya.

***

Besok lagi ya.

Thursday, March 12, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 31

 BIARKAN AKU MEMILIH  31

(Tien Kumalasari)

 

Adri dan Anton saling pandang. Mereka baru sekali bertemu, ketika Adri menjemput Dwi saat baru mau bekerja, sedangkan kakinya belum bisa untuk berjalan. Sekarang mereka sudah bertemu, saling menatap kesal. Yang satu kesal merasa dikhianati, yang satu marah merasa dituduh.

“Kemana dia?” Anton lebih dulu bicara, entah ditujukan kepada siapa, karena ia menatap ke arah rumah yang tertutup rapat.

“Barangkali dia kabur karena telah menyebarkan fitnah,” itu yang dikatakan Adri.

Anton mencoba menelpon Dwi, tapi ponselnya mati.

Ketika itu tiba-tiba bibik masuk ke halaman, sangat heran melihat tuan-tuan muda yang berdiri di depan rumah.

“Tuan ….”

“Mana majikan kamu?” tanya Anton sambil melotot ke arah bibik.

“Pergi tuan, tadi naik taksi.”

“Naik taksi ke mana?”

“Tidak tahu Tuan, saya bertanya, nyonya tidak menjawab.”

“Dalam kota atau luar kota?”

“Saya sungguh tidak tahu. Semalam dia gelisah sekali. Sepertinya tidak bisa tidur. Pagi-pagi tadi bangun, lalu mandi, kemudian pergi. Saya minta agar sarapan saja tidak mau.”

“Ada apa sebenarnya?” kali ini Adri yang bertanya.

“Semalam kan tuan Anton datang. Maaf Tuan, saya terpaksa bilang.”

“Bilang saja, jangan takut,” kata Anton yang berharap Dwi berterus terang pada bibik bahwa bayi yang dikandung adalah anak Adri.

“Nyonya kelepasan bicara pada Tuan.”

“Kelepasan bagaimana? Ucapan yang bagaimana yang kelepasan?” kata Anton sambil melirik ke arah Adri.

“Nyonya mengatakan bahwa, kandungannya itu, bukan anak Tuan.”

“Ya, dia memang bilang begitu. Benar kan? Anaknya dia?” kata Anton sambil menuding ke arah Adri. Adri menatap marah.

“Tapi … sebenarnya nyonya berbohong.”

“Berbohong bagaimana?”

“Yang dikandung itu memang benih tuan Anton sendiri.”

Anton terperangah, sedangkan Adri menghela napas lega.

“Mau bilang apa sekarang kamu?”

“Mengapa dia mengatakan itu?” Anton masih mencecar bibik.

“Sebenarnya, nyonya hanya ingin dicerai Tuan,” kata bibik hati-hati.

“Apa?”

“Saya berkali-kali bilang kepada nyonya, bahwa dengan kehamilan itu nyonya bisa membuktikan bahwa dia bisa mengandung. Tapi nyonya tetap ingin berpisah.”

“Majikan kamu itu sangat keterlaluan. Dia membawa namaku, dan menghancurkannya,” kesal Adri.

“Nyonya menyesal setelahnya, lalu menelpon tuan Anton berkali-kali, tapi tidak menjawab.”

“Aku sedang sangat marah, bagaimana aku mau menjawab telponnya?”

“Nyonya ingin mengatakan bahwa dia bohong. Karena memikirkan akan terjadi pertengkaran diantara tuan-tuan ini, Nyonya jadi gelisah sepanjang malam, lalu pagi ini pergi entah ke mana.”

“Bukan main nyonya majikan kamu itu. Sekarang pergi ke mana dia?”

“Saya tidak tahu Tuan, sebaiknya Tuan menunggu saja di sini, siapa tahu nyonya cepat pulang.”

“Aku tidak bisa menunggu. Semuanya sudah jelas kan? Jadi aku mau pergi, karena anak dan istriku sedang menunggu," kata Adri

“Tunggu Pak, saya minta maaf,” tiba-tiba Anton mengulurkan tangannya. Adri menyambutnya, dan mereka bersalaman erat.

“Lain kali bicara hati-hati dan jangan terburu nafsu. Saya sudah ketakutan mendengar pak Anton mau menghajar saya,” ledek Adri yang sebenarnya masih kesal.

“Sungguh saya khilaf, dan saya minta maaf.”

“Saya mau pergi.”

“Silakan Pak, saya mau menunggu di sini, siapa tahu Dwi mau diajak bicara baik-baik.”

“Semoga semuanya akan baik-baik saja.”

“Aamiin. Terima kasih Pak.”

Adri meninggalkan tempat itu, menghampiri mobilnya di mana anak dan istrinya sedang menunggu.

***

“Bagaimana tadi? Aku sudah berharap akan melihat tontonan menarik,” canda Nirmala.

“Kamu mengejek aku?”

“Tidak, kan tadinya ada yang mau saling hajar?” kata Nirmala sambil tertawa.

“Harusnya. Hampir saja.”

“Kok nggak jadi? Lalu kamu dibiarkan pergi?”

“Dwi tidak ada. Suasana masih panas ketika itu, lalu untunglah bibik pembantu itu datang, dan mengatakan yang sebenarnya terjadi.”

“Apa yang terjadi?”

Dwi bohong pada suaminya, dan mengatakan bahwa yang dikandung adalah anak aku. Gila kan?”

“O, itu sebabnya yang namanya Anton itu ingin menghajar kamu? Badannya kecil begitu mau menghajar kamu? Malah jadi bulan-bulanan dia.”

Adri tertawa.

“Semuanya sudah jelas, Dwi berkata begitu karena tidak mau kembali pada Anton. Dia tetap ingin bercerai.”

“Dan caranya ialah berbohong.”

“Tidak sekedar bohong, dia memfitnah aku, dan hampir saja aku dihajar olehnya,” kata Adri sampil tertawa ngakak. 

Nirmala ikut tertawa, bahkan Tama yang dipangku mbak Rana juga ikut tertawa-tawa.

“Bapak lucu ya Tam?” kata Nirmala sambil menoleh ke belakang.

“Paa … pp..paaa …”

“Jangan papa dong, ba … pak …” sambung Adri.

“Paaapp ….”

Lalu semuanya tertawa, Tama belum bisa memanggil bapak. Bahkan memanggil ibunyapun …mmm..aaa…”

Mereka sedang berbahagia, dan mempergunakan hari libur untuk bersenang-senang. Entah ke mana mereka akan pergi, yang jelas pasti ke tempat yang nyaman dan menyenangkan, sambil melepas segala beban yang tadinya menghimpit hati dan rasa.

***

Anton mengajak sang ibu turun dari mobil. Sang ibu malah marah-marah walaupun akhirnya mengikuti anaknya menuju rumah tinggal Dwi.

“Sebenarnya mau apa kamu kemari ini Ton? Pasti nanti akan ada pembicaraan yang tidak menyenangkan, dan yang pasti aku tidak suka. Dan mengapa kamu tidak jadi menghajar laki-laki itu? Bukankah dia yang berbuat tak senonoh dengan Dwi?”

“Duduklah dulu Bu, jangan marah-marah begitu. Kalau tahu begini kan tadi tidak usah ikut saja.”

“Aku kira kamu akan mengatakan pada Dwi bahwa kamu akan menceraikan dia, jadi ibu ingin melihat bagaimana kamu bicara, soalnya ibu curiga, kamu itu sangat cinta pada perempuan itu.”

“Perempuan itu namanya Dwi, menantu ibu.”

“Ibu tidak punya menantu perempuan tukang selingkuh.”

“Dia tidak selingkuh.”

“Apa? Bukankah dia hamil karena laki-laki lain?”

“Silakan diminum, tuan, Nyonya. Coklat susu hangat kesukaan Tuan,” tiba-tiba bibik keluar sambil membawa dua gelas minuman.

“Kamu setia sekali pada perempuan selingkuh itu ya, sehingga tuanmu menyuruh kamu tetap di sana tapi kamu tidak mau,” belum-belum sang nyonya menyemprot bibik.

“Maaf Nyonya,” lalu bibik langsung beranjak ke belakang. Ia sudah tahu tabiat nyonya besar yang sebenarnya tidak suka kepada nyonya majikannya.

“Bu, Dwi tidak selingkuh.”

“Kamu mengatakan itu lagi? Bagaimana tidak selingkuh tapi dia bisa hamil dengan laki-laki lain?”

“Yang dikandung itu anak Anton.”

“Apa? Mengapa kamu tiba-tiba mengakui kalau itu anak kamu? Apa karena kamu ingin sekali mengajak dia tinggal bersamamu?”

“Dwi mengatakan itu karena sebenarnya agar Anton menceraikannya.”

“Apa?”

“Yang dikandung itu anak Anton, bukan anak orang lain. Bibik tadi mengatakan semuanya.”

“Dan kamu percaya begitu saja? Mana sekarang dia?”

“Dia sedang pergi, Anton akan menunggu di sini.”

“Ya ampuun, tahu begini ogah aku ikut ," kata sang ibu yang tak urung meraih gelas minumannya. Haus.

***

Bibik pembantu Nirmala sedang bersih-bersih rumah. Majikannya mengatakan kalau barangkali baru akan pulang esok harinya, jadi dia tidak memasak.

Ketika bersih-bersih di ruangan depan, bibik melihat taksi berhenti di depan rumah. Bibik menatapnya, barangkali ia mengenalnya.

Tapi tidak. Bibik belum pernah melihatnya. Seorang wanita turun dari dalam taksi itu, dan berjalan menuju ke arahnya.

Bibik berdiri di tangga teras, menunggu sambil bertanya-tanya, siapa wanita cantik ini.

“Selamat pagi,” sapa sang tamu.

“Selamat pagi, Nyonya. Nyonya mau bertemu siapa?”

“Apakah ibu Nirmala ada?”

“Oh, Nyonya bertugas di luar kota sejak tiga hari yang lalu.”

“Belum pulang ya?”

“Belum, kemarin tuan malah menyusulnya.”

“Apakah hari ini belum akan kembali?”

“Saya kira belum, barangkali besok. Nyonya ini siapa, supaya nanti saya bisa melaporkan pada nyonya, siapa tamunya.”

“Saya anak buahnya, Dwiyanti.”

“Oh, baiklah. Apakah Nyonya mau duduk sebentar untuk saya buatkan minuman hangat? Nyonya tampak pucat sekali. Apa nyonya sakit?”

“Ti … tidak,” kata Dwi.

Tapi kemudian Dwi tampak sempoyongan, lalu roboh menimpa bibik, sehingga keduanya jatuh bersamaan, karena bibik tidak siap menerima beban tubuh Dwi.

“Toloong, aduuuh, Nyonya menindih saya!” teriak bibik karena dia tertindih tubuh Dwi yang lumayan besar.

***

Besok lagi ya.

BIARKAN AKU MEMILIH 35

  BIARKAN AKU MEMILIH  35 (Tien Kumalasari)   Nirmala menatap bibik yang tampak gelisah. “Sekarang opname?” “Dari semalam belum boleh pulang...