Thursday, November 5, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 45

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  45

(Tien Kumalasari)

 

Bu Pranoto mendekat dan mencium kening Fajar, sambil tersenyum. Senyum penuh kedamaian yang menyejukkan. Tapi ia menatap wajah Fajar yang masih dipenuhi tanda tanya, dan sebuah pengharapan.

“Fajar, bukankah Ibu sudah bilang bahwa kamu harus mengedepankan keinginanmu untuk sembuh terlebih dulu?”

“Fajar hanya menginginkan kepastian, agar merasa lebih tenang.”

“Kalau kamu hanya memikirkan keinginanmu itu terus, kamu tidak akan merasa tenang, Nak. Sembuhlah dulu, lalu kita bicara.”

“Perkataan Ibu menunjukkan bahwa Ibu masih tetap tidak suka pada pilihan Fajar.”

“Sayang, mengapa kamu berpikiran seperti itu? Permintaan kamu sudah Ibu catat, jangan lagi memikirkan hal itu dulu. Pernikahan bukan hal sepele bukan?”

“Yang Fajar ingin tahu, apakah Ibu akan menepati janji Ibu. Itu saja.”

Bu Pranoto mengangguk, tapi Fajar menangkap nada keraguan di mata sang ibu. Ia memejamkan matanya lalu diam.

“Istirahatlah, agar kamu lekas sembuh,” bisik bu Pranoto sambil kembali mencium kening Fajar. Fajar bergeming.

Bu Pranoto keluar dari ruang rawat Fajar, diluar ia bertemu Mentari yang datang bersama Sarah.

“Ibu, bagaimana keadaan mas Fajar? Sudah bisa bicara banyak kan?”

Bu Pranoto menatap wajah Sarah, yang kemudian menundukkan wajahnya, lalu meraih tangan bu Pranoto dan diciumnya.

“Sudah selesai ujiannya, kalian jalan-jalan terus?” canda bu Pranoto.

“Tidak Bu, kami dari sekolahan, masih ada yang harus diurus, baru kemari. Mas Fajar lebih baik kan? Aku sama Sarah mau ketemu. Ibu sudah mau pulang?”

“Iya, pak Karimun dan istrinya sebentar lagi datang. Mereka baru makan di kantin, barangkali. Atau .. sepertinya tadi kakakmu pengin bubur dengan opor ayam."

"Wah.. enak tuh."

"Masuklah tapi jangan mengganggunya dulu. Biar dia tidur."

“Baiklah, Mentari masuk ya Bu..”

“Jangan ganggu kakakmu, sepertinya tadi dia tidur," kata Bu Pranoto mengulang lagi pesannya.yang kemudian berlalu.

Mentari menarik tangan Sarah, diajaknya memasuki ruang di mana Fajar dirawat.

“Mas Fajaaar …,” panggil Mentari pelan, seakan lupa pada pesan sang ibu agar jangan mengganggunya, Sarah mencubit lengannya, maksudnya untuk mengingatkan, tapi Fajar yang sebenarnya tidak tidur kemudian membuka matanya. Ada binar memancar dari matanya, ketika melihat Sarah ada bersama Mentari.

“Sarah ….”

“Kok Sarah saja yang disapa, sedangkan aku tidak?” cemberut Mentari.

Fajar tertawa.

“Mentari, adikku sayang ….,” katanya kemudian.

“Kalau sama Sarah, sayang tidak?” kata Mentari, seenaknya.

Fajar tersenyum malu. Ingin dia mengatakan sayang, tapi tersekat ditenggorokan. Ia tahu Sarah sangat polos dan dia belum pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

“Dari mana kalian?” pertanyaan itu yang kemudian dilontarkan.

“Dari sekolah, masih banyak yang harus dilakukan.”

“Sarah mau lanjut kuliah?” kata Fajar.

“Ah, tidak. Mentari yang mau kuliah, aku tidak.”

“Nilai Sarah bagus Mas, harusnya kalau dia mau mengurus, bisa tuh dapat bea siswa.”

“Mengapa tidak, Sarah?”

“Aku harus bekerja. Kasihan Nenek, sudah tua, aku tak ingin Nenek masih terus bekerja. Aku kan masih muda.”

Keduanya terdiam. Mereka tahu apa alasan Sarah. Ada nenek yang harus dirawatnya, karena Sarah sangat menyayanginya.

Ketika mereka sedang berbincang, bu Karimun datang sambil membawa bubur yang tadi dipesan Fajar.

“Ada tamu rupanya," kata bu Karimun.

“Bu Karimun bawa apa?”

“Tadi mas Fajar minta dibelikan bubur, dengan kuah opor ayam.”

“Mana buburnya, biar aku yang suapin Bu. Oh ya kenalkan dulu, ini Sarah, teman sekolah aku. Sarah, ini bu Karimun, sebenarnya dia ….”

Mentari hampir kelepasan bicara dengan mengatakan bahwa bu Karimun adalah ibu kandung Fajar, tapi Sarah mencubit lengannya.

“Iya, aku tahu. Dia kan istri pak Karimun yang setiap hari nungguin aku di rumah sakit.”

Bu Karimun  tersenyum. Ia tahu bahwa Fajar belum mengenal dirinya sebagai ibu kandung, tapi bu Karimun membiarkannya. Bagi bu Karimun, apalah arti sebuah pengakuan, kalau yang diinginkan sebenarnya adalah kehidupan yang penuh cinta kasih bagi anak-anaknya.

“Ini buburnya, sudah saya taruh di piring,” kata bu Karimun.

“Mau makan sekarang , Mas. Aku suapin ya?” kata Mentari.

“Nggak, biar aku makan sendiri.”

“Kamu kan belum boleh bangun.”

“Bagaimana kalau aku saja yang menyuapi?” kata Sarah polos.

Fajar mengangguk, tentu saja. Tanpa kata, itulah memang yang diinginkannya.

Mentari mundur, mengulurkan piring berisi bubur ke arah Sarah, yang tanpa sungkan segera menyuapinya.

“Kalau begini terus, mau rasanya aku sakit terus,” celetuk Fajar sambil tersenyum.

“Eh, nak Fajar tidak boleh ngomong begitu,” tegur bu Karimun.

“Tuh, ngomong yang baik-baik, ucapan itu doa lhoh,” sambung Mentari.

“Habis, kesenengan disuapin gadis cantik,” kata Fajar sambil memeletkan lidahnya.

“Hissh, makan jangan sambil ngomong,” kali ini Sarah yang menegur.

Diam-diam bu Karimun terus menatap Sarah. Jadi gadis itu yang disukai anaknya? Memang tidak aneh. Sarah kan cantik. Ia juga tampaknya cekatan karena bisa menyuapi Fajar tanpa canggung. Tapi walau mengatakan ‘iya’, tampaknya bu Pranoto tidak sepenuhnya bisa menerima. Apakah karena Sarah anak dari orang tak punya?

***

“Biar aku pulang sendiri saja Tari, kasihan kamu, bolak balik menjemput dan mengantarkan aku,” kata Sarah ketika mereka beranjak meninggalkan ruang rawat Fajar.

“Tidak apa-apa, aku kan juga tinggal pulang. Muter sedikit tidak apa-apa. Kalau aku nggak nganterin kamu, nanti aku dimarahi mas Fajar dong,” canda Mentari membuat Sarah terkejut.

“Apa maksudmu? Nggak nyambung ah, apa hubungannya dengan mas Fajar?”

Mentari hanya tertawa lucu, ia hanya menggoda Sarah, karena ia tahu kakaknya suka pada Sarah, hanya belum jelas karena belum pernah bicara serius.

Tiba-tiba Sarah melihat seseorang yang dikenalnya. Wanita cantik yang membencinya karena dirinya orang miskin. Bu Lurah. Walau sudah tahu bahwa bu Lurah juga dirawat karena kejadian kecelakaan itu, tapi Sarah tak ingin membezoeknya. Takutnya malah diusir dan masih ditambah kata-kata yang menyakitkan pula. Tapi ketika itu ia melihat bu Lurah berjalan sempoyongan, sendiri. Lalu tiba-tiba jatuh tertelungkup. Sarah memburunya, lalu menuntunnya.

“Ibu mau ke mana?”

“Mana ruang dokter Harun, dia adik aku, aku harus bicara sama dia.”

“Bukankah Ibu bisa memesan pada perawat jaga agar memanggilkannya?”

“Sudah, tapi dia belum datang juga.”

“Bu, ruangan dokter masuk ke sana, jauh dari sini, sedangkan Ibu tampaknya belum kuat benar. Saya antar dulu ke ruangan Ibu, nanti saya bilang ke perawatnya agar memanggil dokter Harun untuk Ibu, ya.”

“Aku ini tidak sabaran. Maksudku kalau dipanggil itu ya harus segera datang.”

“Barangkali dokter Harun masih ada pasien, atau bagaimana. Sabar ya Bu, mari saya antar ke ruangan Ibu dulu," kata Sarah..

Bu Lurah menurut.

“Tapi tolong panggil dia agar segera datang, aku tak tahan di sini sendirian. Anakku juga kurang perhatian.”

“Baiklah, akan segera saya panggilkan, pelan-pelan jalannya Bu, ke ruang rawat Ibu dulu ya.”

Sarah dengan sabar menuntunnya. Rupanya bu Lurah tidak memperhatikan siapa yang menolongnya. Padahal Sarah sudah berdebar, kalau sampai dia tahu, pasti bu Lurah akan menyemprotnya habis-habisan. Karena itu ia terus berusaha memalingkan wajahnya agar bu Lurah tak melihat wajahnya.

Sarah juga membantu bu Lurah untuk berbaring.

“Kaki Ibu sakit?”

“Paha, habis dioperasi, tulang retak. Sakit sekali.”

“Mengapa Ibu jalan-jalan?”

“Aku kan sudah mengatakan kalau ingin bertemu dokter Harun. Dia itu adikku,” katanya dengan mengulang keterangan tentang dokter Harun yang adalah adiknya. 

Sarah diam saja. Ia kan sudah tahu kalau ibu galak dan sombong itu kakak dokter Harun.

“Sudah, segera panggil dokter Harun, kakiku sakit sekali.”

Sarah menutupkan selimut ke tubuh bu Lurah, dan saat itulah bu Lurah melihat wajahnya dengan jelas.

“Kamu?”

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, November 4, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 44

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  44

(Tien Kumalasari)

 

Bu Pranoto memegang kening Fajar, lalu mengelus pipinya lembut. Masih ada ventilator di wajahnya, sehingga ucapannya sedikit kurang jelas, tapi bu Pranoto mendengar dengan sejelas-jelasnya.

Sudah beberapa kali ia melihat gadis bernama Sarah, saat datang bersama Mentari untuk membezoek Fajar. Benar, gadis itu cantik dan kelihatan cerdas. Mentari juga mengatakan begitu. Anak gadisnya itu selalu memuji-muji Sarah sebagai bintang kelas karena ia memang sangat pintar. Tapi mendengar perkataan Fajar, ia masih harus menimbang-nimbang. Ia juga mendengar bahwa Sarah seorang penjual koran. Biarpun pintar, tapi penjual koran. Ia bersama neneknya yang seorang buruh cuci di kampungnya. Apakah ia mampu bersanding sebagai besan dengan seorang buruh cuci? Sejak awal bu Pranoto tidak suka Fajar kelihatan tertarik pada gadis itu, dan sekarang ia mendengar lagi, bahkan Fajar ingin menikahinya?

“Ibu … sudah berjanji … kalau aku sembuh …” terdengar lagi suara Fajar.

Bu Karimun yang berdiri di bagian bawah kakinya hanya mendengar saja. Ia tak begitu mengenal siapa Sarah. Ada banyak pengunjung membezoek Fajar, dan tidak harus ia mengenal semuanya. Yang mana Sarah, yang ingin dinikahi Fajar?

“Fajar, tenang dulu, pikirkan bahwa kamu belum sehat benar. Kalau kamu tenang, maka ketenangan itu akan membantu kesembuhan kamu. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya?” kata bu Pranoto yang kemudian mencium kening Fajar.

Bu Karimun terharu. Ia tak perlu merasa sakit hati Fajar menjadi milik keluarga Pranoto. Fajar mendapatkan naungan dan kasih sayang yang luar biasa besarnya, yang pastinya tidak bisa dia dan suaminya berikan. Setitik air matanya menetes, bukan karena sakit, tapi karena rasa syukur dan haru.

“Ibu sudah berjanji … memberikan apa yang aku minta …”

“Baiklah, sekarang tidurlah dulu.”

“Janji … Ibu?”

Bu Pranoto mengangguk.

“Janji …. Istirahatlah sekarang, jangan berpikir yang macam-macam.” katanya sambil menepuk tangannya lembut, kemudian berbalik.

Bu Karimun melangkah mendekat ke arah samping. Isak pelan dari napasnya membuat Fajar membuka matanya lagi.

“Kamu … “

“Saya bu Karimun, pembantu bu Saptari.”

Fajar hanya mengangguk. Ada desir halus merayapi hatinya ketika melihat genangan air mata di pelupuk wanita setengah tua itu.

***

“Bagaimana keadaan nak Fajar? Kamu belum cerita banyak, padahal beberapa hari yang lalu kamu berkata bahwa ada cerita menarik diantara kecelakaan yang menimpa dia, " tanya nenek Sarah.

“Mas Fajar sudah selesai menjalani operasi, tapi ia masih harus dirawat. Jantungnya bermasalah karena benturan, atau entahlah, Sarah tidak tahu masalah penyakit. Hanya keadaannya sepertinya semakin membaik, biarpun belum banyak berkata-kata. Sarah juga hanya bisa melihatnya, tanpa bisa berbincang. Dia masih harus banyak istirahat.”

“Ya, kamu sudah mengatakannya soal itu. Tapi kamu mengatakan katanya ada yang menarik, apa itu?”

Sesungguhnya Sarah kelepasan bicara. Ia tahu bahwa Fajar ternyata anak pak Karimun, tukang kebun baru di keluarga pak Pranoto, ayah Fajar. Tapi ada rasa enggan mengatakannya, jangan-jangan hal itu menjadi rahasia mereka, dan ia tak pantas mengatakannya kepada siapapun.

“Kamu itu ngomong nggak jelas, malah membuat Nenek penasaran.”

“Ya karena penyakit mas Fajar itu, Sarah bingung tidak tahu yang sebenarnya.”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahatlah. Apa tidak lelah, bolak balik ke rumah sakit setelah pulang sekolah?”

“Sarah naik mobilnya Mentari, tidak jalan kaki kok Nek.”

“Ya sudah, istirahatlah. Kamu Minggu depan ujian kan?”

“Iya Nek, doakan Sarah ya?”

“Nenek selalu berdoa untuk kamu. Semoga kamu lulus, lalu Nenek carikan suami,” canda nenek Suli, membuat Sarah kemudian mencubit pelan lengan sang nenek yang sudah keriput.

“Itu saja yang Nenek pikirkan. Ogah ah,” katanya sambil lari ke kamarnya, membuat nenek Suli geleng-geleng kepala.

***

“Pak, Bapak tahu tidak, tadi nak Fajar meminta apa pada ibunya?” kata bu Karimun yang tetap menganggap bahwa bu Pranoto adalah ibu Fajar. 

Ia ikhlas karena  keluarga Pranotolah yang menjadi penopang kehidupan bayi kecil merah yang dulu diserahkannya kepadanya.

“Permintaan apa?”tanya pak Karimun.

“Bu Pranoto mengatakan tadi pada Fajar, besok kalau sembuh minta apapun akan ibu berikan. Kamu pengin apa, katanya.”

“Jawab nak Fajar apa?”

“Ia minta diijinkan menikah dengan gadis bernama Sarah.”

“Minta menikah?”

“Iya, dan tampaknya bu Pranoto kurang suka pada gadis itu. Yang mana sih Pak, Sarah itu? Dia pernah ke rumah sakit ini?”tanya bu Karimun.

“O, kalau tidak salah itu teman nak Mentari. Gadisnya cantik memang. Apa gadis itu pacar nak Fajar?”

“Aku tidak tahu. Tapi bu Pranoto sudah berjanji mau mengijinkannya.”

“Ya sudah, kita lihat saja nanti. Mereka sangat menyayangi Fajar, pasti mereka juga akan memenuhi permintaannya.”

“Pak, nanti kalau nak Bimo kemari, aku mau ikut pulang dulu ke rumah bu Saptari ya? Aku tiba-tiba pergi tanpa pamit, hanya nak Bimo yang aku minta agar mengatakannya pada bu Saptari.”

“Ya, pergilah, kata nak Bimo dia juga berharap bertemu kita sih, setelah semuanya terbuka. Tapi kita tidak usah menuntut apa-apa ya Bu, biarlah mereka menjadi anak-anak orang yang mengasuhnya. Kita kan tidak mampu melakukannya.”

“Iya Pak, tentu, aku tahu kok.”

***

Pertemuan bu Karimun dengan bu Saptari memang baru kali itu, setelah Bimo mendatanginya dan mengatakan semuanya.

Ada tangis diantara keduanya. Tangis sesal karena merasa mengabaikan anak kandungnya, dan di sisi bu Saptari tangis syukur karena akhirnya bisa bertemu dengan orang tua kandung Bimo.

“Jangan ambil Bimo dariku, ya Bu,” isak bu Saptari.

“Tidak Bu, sungguh saya dan suami saya ikhlas , karena memang kami tidak mampu, dan kami bersyukur anak-anak kami mendapatkan kasih sayang yang jauh melebihi kasih sayang orang tuanya.”

“Terima kasih ya Bu, tetaplah kita sebagai saudara. Sama-sama memiliki Bimo dengan cara yang berbeda, tapi sama-sama mengasihi dan menyayanginya.”

***

Hari terus berjalan, ujian sekolah Sarah dan Mentari sudah usai, mereka lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan.

Mentari segera mengajak Sarah ke rumah sakit. Fajar sudah lebih baik, tanpa ventilator yang menjadi penunjang pernapasannya.

Tampak cahaya bahagia di wajah Fajar ketika melihat Sarah.

“Cepat sembuh ya Mas?”

“Atas doa kamu. Aku dengar kamu dan Mentari sudah lulus?”

“Atas doa kamu juga Mas,” balas Sarah sambil tersenyum. Keduanya tersenyum. 

Ada makna dibalik senyuman itu, yang semula tak dimengerti terutama bagi Sarah sendiri. Ada apa ini? Suka sama dia? Sarah merasa malu mengakui kebodohannya. Dirinya itu siapa, dan Fajar itu siapa? Lalu tiba-tiba sesuatu melintas. 

"Bukankah Fajar anak pak Karimun yang tukang kebun?” pikir Sarah.

Sarah sudah tahu dari Mentari, tapi Fajar sendiri belum mengetahuinya. Pak Pranoto dan istrinya belum membuka rahasia itu. Menunggu kalau Fajar sudah benar-benar sehat.

Tapi ketika sang ibu berada di sampingnya, Fajar memegangi tangannya.

“Bu, aku sudah sembuh.”

“Kamu sudah jauh lebih baik, tapi dokter belum mengatakan bahwa kamu benar-benar sembuh. Kamu masih harus dirawat dan diawasi perkembangan kesehatan kamu," jawab bu Pranoto.

“Tapi aku sudah merasa sembuh.”

“Baiklah, anak ibu yang ganteng, memang kesembuhan itu yang selalu kita harapkan bukan? Tapi kamu harus sabar ya, nanti akan ada saatnya kamu boleh pulang dan bersama-sama seperti hari-hari yang lalu.”

“Bu ….”

“Ya, Nak?”

“Ibu tidak lupa pada janji Ibu kan?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, November 3, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 43

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  43

(Tien Kumalasari)

 

“Ibu jangan salah paham ya, aku menyayangimu Ibu, sangat,” kata Bimo berkali-kali sambil tak melepaskan pelukannya kepada sang ibu.

“Tapi setelah bergaul dengan orang-orang kaya, kemudian kamu merasa malu menjadi anakku, ya kan?”

“Tidak Bu, sama sekali tidak. Bahkan kalau ditukar dengan emas berlianpun aku akan tetap memilih Ibu. Ibu tetaplah ibuku, milikku, tak ada bandingnya sayangku pada Ibu. Jangan marah ya Bu. Selama ini aku tahu Ibu sangat menyayangi aku, mencintai aku, dan membanting tulang semuanya untuk aku. Ibu tak pernah memarahi aku, hanya sayang yang selalu Ibu berikan untuk aku.”

Bu Saptari luluh mendengar ungkapan cinta dari ‘anak semata wayangnya’, yang menangis terguguk di pangkuannya. Dielusnya kepala Bimo lembut, lalu ditariknya wajahnya yang basah.

“Berdirilah, jangan membuat ibumu ini juga manangis.”

Bimo tak mau berdiri. Ia tetap bersimpuh di lantai, menatap ibunya masih dengan mata sedih.

“Mengapa tiba-tiba kamu mengatakan hal yang seperti itu? Ibu sedih mendengarnya, tahu?!”

Bimo menarik napas panjang. Terpikir olehnya ia tak usah menanyakannya kepada sang ibu. Biarlah ia tetap menjadi anaknya, walau ia terlahir dari rahim wanita manapun. Mengapa tidak? Ia tak kekurangan kasih sayang. Walau tidak bergelimang harta, tapi cinta dan kasih sayang ibunya tak ada duanya. Ia ingin tak usah mengatakan apapun, tapi mulutnya sudah terlanjur berucap. Pertanyaan ibunya tentang mengapa ia menanyakannya, tak mampu dihindari untuk tidak dijawabnya. Ibunya pasti sedang menduga-duga.

“Atau mungkin benar aku hanya anak angkat, yang sudah menjadi miliknya sepenuhnya, yang tak ingin direnggut oleh siapapun juga?” kata batin Bimo.

”Bimo, jawab pertanyaan ibu, mengapa kamu menanyakan hal itu.”

Bimo terdiam untuk beberapa saat lamanya. Diusapnya sisa air matanya, yang sebagian sudah diusap oleh sang ibu.

“Mengapa diam, Bimo?”                                              

“Anggap saja Bimo tak pernah mengatakan apa-apa. Aku sayang Ibu,” katanya kemudian, lirih, penuh keyakinan bahwa ia memang sangat menyayangi ibunya.

“Tidak. Ucapan adalah anak panah yang terlepas, dan tak mungkin bisa ditarik kembali. Kamu sudah menanyakannya, dan sekarang aku bertanya, mengapa. Tak mungkin pertanyaan itu muncul tanpa ada alasannya.”

Bimo menatap wajah ibunya, yang tangannya masih mengelus kepalanya.

“Apakah Ibu akan marah kalau Bimo mengatakannya?”

“Tergantung apa yang akan kamu katakan.”

Bimo ketakutan sendiri.

“Katakan saja. Semarah apapun ibu, tak mungkin kamu akan kehilangan kasih sayang ibumu ini. Bukankah marah bukan berarti benci?”

Bimo menata batinnya. Apapun yang terjadi, bu Saptari tetaplah ibunya.

Lalu dengan terbata ia mengatakan perihal Fajar yang kehilangan banyak darah, dan pendonornya harus orang tuanya sendiri karena darahnya termasuk darah langka yang sulit dicari. Karena itulah kemudian ketahuan bahwa pak Pranoto bukan orang tua kandungnya.

“Apa?” bu Saptari memekik keras karena terkejut.

“Mas Fajar adalah putra angkat keluarga itu. Dan pastinya pak Pranoto tidak bisa mendonorkan darahnya, bahkan seluruh keluarganya. ”

“Lalu orang tuanya sudah ketemu?” 

Sekarang bu Saptari malah terpaku kepada keselamatan Fajar. Ia juga merasa khawatir, apalagi sudah pernah mengenalnya. Fajar juga yang membuat Bimo diangkat derajatnya dari seorang OB menjadi pegawai gudang.

“Orang tuanya, sudah ketemu. Ternyata dia tidak jauh dari kita.”

“Maksudnya ….?”

“Orang tua mas Fajar adalah pak Karimun dan bu Karimun.”

“Apa?” 

Bu Saptari kembali berteriak. Dan tiba-tiba sesuatu melintas. Wanita lusuh dan kusut sedang menggendong bayi, lalu menyerahkan kepadanya dengan satu kalimat pendek.

“Bu, titip anak saya.” 

Lalu ketika kagetnya hilang, perempuan lusuh itu juga menghilang.

“Dia … dia …” tiba-tiba bibirnya berbisik lirih.

“Saat mengaku bahwa mas Fajar adalah anaknya, bu Karimun mengatakan bahwa anaknya terlahir kembar.”

Bu Saptari terpaku ditempat duduknya. Lalu ia mengerti, mengapa Bimo mengatakan hal yang semula membuatnya marah.

Tiba-tiba bu Saptari merangkul Bimo, setelah ia ikutan duduk ngelesot di lantai. Bimo sekarang yang kebingungan melihat sikap sang ibu.

“Perempuan itu … perempuan itu adalah dia ….”

“Perempuan  yang mana Bu?”

“Sekarang aku tahu mengapa kamu tadi menanyakannya, sekarang ibu mengerti. Kemiripan kamu dengan nak Fajar, kemiripan yang bagai pinang dibelah dua, bukan hal yang aneh, karena kalian adalah saudara kembar.”

“Jadi ibu melahirkan dua orang anak laki-laki kembar?” Bimo bingung sampai linglung.

“Anakku, berjanjilah kamu tak akan meninggalkan ibu. Berjanjilah kamu akan tetap bersama ibu."

Dan kali ini bu Saptari yang menangis.

“Apa maksud Ibu?”

“Ibumu adalah bu Karimun. Ibu baru ingat wajah itu.”

“Bimo, anak bu Karimun? Seperti juga mas Fajar?”

“Bukankah dia mengatakan bahwa dia punya anak kembar?”

“Jadi ….”

“Waktu melihat bu Karimun untuk pertama kalinya, Ibu merasa seperti pernah melihat wanita itu, tapi Ibu lupa di mana. Tapi mendengar cerita kamu, Ibu jadi ingat. Memang dialah wanita itu, yang menyerahkan bayinya yang masih merah, ke pangkuan Ibu. Dia hanya berkata titip, lalu menghilang begitu saja. Kamulah anak titipan itu,” kata bu Saptari yang kembali memeluk Bimo, kali ini sangat erat, dan tak bisa menghentikan tangisnya.

“Jadi …”

“Rupanya karena himpitan kehidupan yang serba kekurangan, pak Karimun dan istrinya memilih menitipkan kedua bayinya kepada orang lain, dan berharap sang anak mendapat kehidupan yang lebih baik.”

“Apakah kamu akan meninggalkan ibu, Nak?”

 Bimo memeluk ibunya erat.

“Ibu adalah ibuku. Dari manapun Bimo terlahir, Ibu tetaplah ibuku.” 

Lalu rumah sederhana itu dipenuhi isak tangis yang mengharu biru.

***

Operasi itu sudah berhasil, tapi Fajar belum bisa dikatakan pulih. Ada benturan keras di dadanya yang memerlukan perawatan lebih cermat.

Pak Pranoto dan istri masih sangat prihatin atas keadaan itu. Fajar sudah sadar, tapi ia masih mengeluh sesak napas.

Mereka bersama pak Karimun serta istrinya menunggui di ruang rawat inapnya dengan perasaan yang masih belum tenang.

“Bu Karimun, bolehkah saya meminta sesuatu dari bu Karimun dan tentunya juga pak Karimun?” kata bu Pranoto lirih.

“Apa yang akan Ibu minta? Kami berhutang nyawa pada keluarga Ibu, apapun permintaan Ibu akan kami lakukan.”

“Jangan ambil Fajar dari kehidupan kami,” kata bu Pranoto lirih.

“Mengapa Ibu berkata begitu? Kami sudah sangat berterima kasih atas apa yang sudah Ibu lakukan untuk kami. Tetaplah Fajar menjadi keluarga Ibu dan bapak Pranoto, kalau memang itu yang akan terjadi,” kata pak Karimun.

“Benarkah?”

“Saya puas hanya melihatnya dan melayaninya setiap hari. Tetaplah Fajar menjadi keluarga Pranoto,” sambung bu Karimun.

“Bimo juga akan tetap menjadi putra bu Saptari,” kata pak Karimun lagi, setelah mereka juga sudah bertemu bu Saptari dan membuka semua tabir yang semula mereka tutupi.

“Sejak awal kami mengatakan titip, dan kami sangat bersyukur bahwa anak-anak kami mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari dua keluarga yang merawat mereka.”

“Syukurlah, dan pak Karimun serta bu Karimun juga akan menjadi keluarga kami. Ada pavilyun di samping rumah, di mana kalian bisa tinggal.” kata pak Pranoto.

“Tapi saya juga bekerja di warung bu Saptari, saya akan tetap membantunya.”

“Berangkatlah bekerja dari rumah saya. Ada sopir yang bisa mengantar dan menjemput bu Karimun setiap berangkat bekerja."

“Tidak, jangan Pak, biar setiap hari saya sendiri yang mengantar dan menjemputnya setiap kali dia bekerja.”

“Ya sudah, terserah mana yang terbaik bagi kita. Saya bahagia menemukan keluarga baru."

Tiba-tiba terdengar Fajar terbatuk-batuk.

Bu Pranoto dan bu Karimun menghambur hampir bersamaan mendekat ke arah ranjang, di mana Fajar terbaring lemah.

“Fajar, cepatlah sembuh, semangat ya Nak. Ini pak Karimun dan istrinya juga selalu menunggui kamu,” kata bu Pranoto sambil memegangi tangan Fajar.

Fajar membuka matanya. Ia belum tahu semuanya, karena mereka belum ingin mengatakannya saat Fajar belum sehat benar.

“Fajar, kamu ingin apa? Katakan saja Nak,  Ibu akan memenuhi semua permintaan kamu, asalkan kamu sembuh,” lirih bu Pranoto.

“Benarkah?” suara tersendat terdengar dari bibir Fajar.

“Tentu saja Fajar, kamu ingin apa, kamu mau apa, katakan saja,” bu Pranoto meletakkan tangan Fajar di pipinya.

“Bu, aku mau menikahi Sarah.”

Bu Pranoto tertegun. Dalam sakit .. ia memikirkan sebuah pernikahan? Sarah ... bukan gadis pilihan orang tuanya. Terutama bu Pranoto.

***

 Besok lagi ya.

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

Monday, November 2, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 42

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  42

(Tien Kumalasari)

 

Pak Pranoto duduk di samping istrinya, sama seperti sang istri, ia duduk dengan linglung. Ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Pak, apa tidak ada cara lain? Kita akan sanggup membayar seandainya ada orang yang memiliki darah yang sama dengan darahnya Fajar.”

“Darah Fajar termasuk langka, tidak mudah mencarinya. Yang paling pas adalah darah orang tuanya, tapi ke mana kita akan mencari mereka?”

Sesungguhnyalah bahwa pak Pranoto berdua bukanlah orang tua kandung Fajar. Beberapa puluh tahun yang lalu seorang perempuan dengan wajah kusut menyerahkan seorang bayi yang masih merah, ketika ia sedang duduk menunggu di dalam mobil, saat suaminya turun entah untuk keperluan apa.

“Mohon titip anak saya.” suaranya lirih dan bergetar, ada tangis terkandung di dalamnya.

 Dalam kebingungan menerima bayi, ia tak sempat berkata-kata, lalu perempuan itu menghilang begitu saja. Ia turun dan mencari keberadaannya, tapi perempuan itu hilang bak ditelan bumi.

Rengek bayi di dalam gendongan menyadarkannya. Tampaknya ia lapar. Bu Pranoto kebingungan. Ia menelpon sang suami yang segera datang, lalu terkejut melihat istrinya menggendong bayi.

“Itu anak siapa?”

“Ada yang memberikannya begitu saja. Tolong belikan susu Mas. Susu terbaik untuk bayi merah ini.”

Lalu keluarga yang belum memiliki keturunan itu disibukkan dengan kehadiran sang bayi mungil nan tampan, lalu diberi mereka nama Fajar Pranoto.

Tak berapa lama kemudian bu Pranoto hamil, lalu lahirlah Mentari yang kemudian menjadi adik Fajar Pranoto.

Air mata bu Pranoto mengalir deras. Apakah ia akan kehilangan Fajar karena tak mendapatkan donor darah untuknya?

Tiba-tiba pak Karimun dan istrinya mendekat. Mereka panik melihat bu Pranoto menangis dan pak Pranoto juga tampak kebingungan.

“Pak, apa yang terjadi?” tanya pak Karimun dan istrinya hampir bersamaan. Lirih dan penuh kekhawatiran.

Bu Pranoto mengusap air matanya. Agak berat mengatakan bahwa Fajar bukan darah dagingnya, sementara selama puluhan tahun sudah menjadi bagian dari keluarganya dan dianggapnya sebagai anak kandung mereka.

Tapi tiba-tiba bu Pranoto menatap bu Karimun yang tampak pucat dan khawatir, lalu sesuatu kenangan melintas. Begitu jelas, seperti kilat yang menyambar dalam benaknya. Perempuan kusut itu, sekusut wajah bu Karimun saat itu. Bukankah itu dia?

“Itu kamu kan?” suaranya terdengar seperti sebuah pekikan, membuat suaminya kemudian menoleh kearahnya.

“Ada apa?”

Bu Karimun terkejut, suara itu agak keras, dan ditujukan kepadanya.

“Kamu kan perempuan itu? Yang menyerahkan bayi itu?”

Lalu dunia seakan berhenti berputar. Kejadian duapuluh lima tahun yang lalu melintas dalam ingatan. Bukan hanya ingatan bu Pranoto, tapi juga ingatan bu Karimun. Lalu tangis itu pecah. Bu Karimun tanpa sadar bersimpuh di depan bu Pranoto, memegangi kedua kakinya, dengan air mata bercucuran.

“Itu saya, ibu yang berdosa dan tak bertanggung jawab,” suaranya bergetar. 

Rahasia yang dipendamnya setelah meyakini bahwa Fajar adalah anak kandungnya, pecah tiba-tiba. Terurai tanpa sengaja. Gara-gara darah itu.

“Jadi … kalian adalah ….” suara pak Pranoto tersekat ditenggorokan. 

Tak ada yang perlu ditutupi, sebuah kenyataan harus mereka hadapi, Gusti Allah yang menuntunnya, karena memang begitulah jalannya.

“Mohon maaf Pak, Bu, kami sudah menduga kalau nak Fajar adalah anak kandung saya. Kami hidup sengsara waktu itu, dan berharap kedua anak saya mendapat naungan yang lebih baik. Jangan sampai mati kelaparan karena sengsara yang merundung kehidupan kami waktu itu,” kata pak Karimun lirih.

“Tunggu, kamu bilang kedua anak kamu?”

“Anak kami kembar Pak.”

“Kembar? Jangan-jangan ….” 

Ingatan pak Pranoto melayang ke arah Bimo.. wajah karyawan barunya itu mirip sekali dengan Fajar.

“Pak, yang lain dipikirkan nanti saja. Sebaiknya urus kebutuhan darah itu segera, dokter menunggu kita,” kata bu Pranoto.

Pak Pranoto mengangguk.

“Pak Karimun, Fajar membutuhkan darah, dan hanya darah orang tua kandungnya yang bisa mendonorkannya.”

Tak perlu dikatakan dua kali, pak Karimun segera mengikuti pak Pranoto menemui petugas yang mengurus kebutuhan darah untuk Fajar.

***

Bimo datang ke rumah sakit siang itu, karena pak Pranoto memang menyuruhnya datang. Ia ingin memastikan, apakah Bimo bukan anak kandung dari orang yang merawatnya sejak bayi, yang berarti adalah saudara kembar Fajar.

“Bagaimana keadaan pak Fajar? Apakah sudah dioperasi?” tanya Bimo begitu datang.

“Duduklah di sini, operasi sedang berlangsung. Kita doakan semoga lancar semuanya,” kata pak Pranoto.

Sedangkan bu Pranoto ikut menunggui di dekat ruang operasi. 

“Mbak Mentari juga ada?” 

Lalu Bimo memarahi dirinya sendiri, mengapa menanyakan Mentari.

“Mm… maksud saya ….” Bimo ingin meralatnya, tapi pak Pranoto segera menjawabbya.

“Mentari akan datang bersama Sarah sepulang sekolah. Mereka tak bisa ijin menjelang saat ujian akhir.”

“Oh, maaf. Tadi saya_”

“Bimo, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada kamu.,” potong pak Pranoto.

“Ya Pak?”

“Maaf sebelumnya, karena ada sesuatu yang membuat saya harus menanyakannya. Aku harap kamu memaafkan aku, apabila hal ini menyinggung perasaan kamu. Ini sangat perlu, dan mendesak.”

Bimo menatap pak Pranoto tak mengerti. Apakah ini masalah pekerjaan, lalu ia melakukan kesalahan? Bimo berdebar menunggu kelanjutannya.

“Bimo, kamu selama ini hidup bersama kedua orang tuamu?”

“Ayah saya sudah meninggal saat saya masih bayi,” jawab Bimo.

“Jadi kamu bersama ibu kamu?”

“Iya Pak, seperti Bapak ketahui, ibu saya berjualan makanan setiap pagi sampai siang.”

“Ya, tapi bukan itu yang aku tanyakan. Mm...apakah … ibu kamu itu … mmm ibu kandung kamu?”

Bimo terkejut. Pertanyaan ini tidak disangkanya. Ia kebingungan. Tentu saja ibu kandungnya, karena sejak kecil ibunya itu yang merawatnya.

“Maaf kalau pertanyaan ini menyinggung perasaan kamu Bimo. Tapi ada sesuatu yang memaksa saya harus bertanya.”

Pak Pranoto diam, sebenarnya tidak enak mengatakannya, dan tampaknya Bimo seperti kebingungan, berarti Bimo tidak tahu apa-apa tentang maksud pertanyaannya, atau apakah ia anak kandung ibunya apa bukan.

“Sekali lagi maaf. Karena begini ceritanya Bimo. Satu adalah tentang kemiripan kamu dengan Fajar, di mana banyak yang mengira kalian adalah kembar. Sedangkan kedua ... sesungguhnya Fajar itu bukan anak kandung keluarga Pranoto.”

“Apa?”

“Baru saja ketahuan bahwa Fajar punya orang tua kandung, dan sekarang sedang mendonorkan darahnya untuk Fajar, karena hanya dialah yang bisa mendonorkannya.”

“Jadi ….”

“Akhirnya aku harus berterus terang, bahwa Fajar yang sangat kami sayangi sebenarnya bukan anak kandung kami.”

Bimo terbelalak.

“Orang tuanya sudah ketahuan. Dia sedang mendonorkan darahnya, dan dia mengatakan bahwa anaknya adalah kembar.”

Lalu pak Pranoto menceritakan tentang bagaimana tiba-tiba ada orang yang ternyata adalah orang tua kandung Fajar, ketika kebutuhan darah untuk Fajar  sangat mendesak, sedangkan darah Fajar termasuk golongan darah yang langka, sehingga tidak sembarang orang bisa mendonorkan darahnya.

Pikiran Bimo melayang ke mana-mana, tentang kemiripan wajahnya yang membuat semua orang mengira dia adalah kembar. Benarkah dia kembaran Fajar?

***

Fajar belum sadar setelah dioperasi, ketika Bimo pamit pulang. Ia ingin segera tahu apa benar dia bukan anak kandung bu Saptari. Apa benar Fajar adalah saudara kembarnya.

Tapi sang ibu kelihatan sangat marah begitu dia menanyakannya.

“Apa maksud perkataan kamu itu? Apa kamu tidak mau mengakui bahwa aku adalah ibu kandung kamu? Karena apa? Karena aku miskin dan tidak bisa menyekolahkan kamu ke jenjang yang lebih tinggi sehingga kamu hanya bisa bekerja sebagai OB? Kamu malu punya orang tua seperti aku?”

Bimo terkejut mendengar reaksi sang ibu. Ia segera menubruknya dan menangis tersedu di pangkuannya.

***

Besok lagi ya.

Sunday, November 1, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024

(Tien Kumalasari)

 

Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Menur, seperti yang dijanjikannya. Berkali-kali Menur menolak, tapi sang bibi memaksanya.

Gara-gara ponsel Rahman kebawa, lalu nyonya Sasa memaksa membelikannya.

“Besok, kalau ibu Menur nggak datang-datang, Ana telpon ya?” celoteh Ana.

Menur hanya tersenyum mengangguk.

“Nenek, beli es krim ya.”

“Baiklah, di sebelah sana ada rumah makan yang menjual es krim enak.”

“Nanti ada yang diminum di sana, ada yang dibawa ke rumah ya?”

“Iya … iya.”

Mereka segera ke rumah makan itu, lalu duduk di sudut ruangan.

Ana tampak gembira sekali. Banyak celoteh lucu dilontarkannya, membuat sang nenek dan Menur tertawa-tawa.

Tiba-tiba Ana berteriak.

“Itu kan mama?”

Menur menutup mulutnya, agar Ana tidak meneriakinya lagi.

Nyonya Sasa menatap wanita cantik yang masuk dan duduk agak jauh dari bangku mereka.

“Mama sama siapa?”

“Pelan-pelan, jangan teriak,” kata sang nenek.

Lili sedang bersama seorang laki-laki gagah, tampak sangat akrab. Nyonya Sasa tahu, itu bukan staf kantornya, dan juga bukan rekan bisnisnya, karena nyonya Sasa tahu seluk beluk perusahaan Lili. Ia tak akan melepaskan Lili memimpin perusahaan seorang diri. Ia selalu mengawasi dan menuntunnya kalau ada masalah yang sulit dipecahkan. Nyonya Sasa adalah pengusaha handal yang memimpin perusahaan bersama suaminya. Baru setelah sang suami meninggal, ia mengajak Lili untuk ikut mengelola bisnisnya.

“Mama sama siapa?” Anapun menurut, bertanya lagi sambil berbisik.

“Temannya. Kamu jangan bertanya terus, segera habiskan es krimnya, lalu pulang,” titah sang nenek.

"Aku juga mau yang dibawa pulang."

“Iya, tadi sudah nenek pesankan, nanti kan diantar kemari."

Ana mengangguk senang.

***

Sejak ditegur dengan keras oleh nyonya Sasa, Rumi tak lagi berani mengata-ngatai Menur, atau bersikap kasar. Tapi ia tak bisa menghilangkan rasa bencinya, karena pada dasarnya ia iri dengan apapun tentang Menur. Apalagi setelah Menur diajak belanja oleh sang nyonya besar, dibelikan baju-baju, bahkan ponsel.

Temannya melampiaskan kekesalan hanya nyonya Lili. Tapi dia heran, sang nyonya tidak pernah mengatakan bahwa Menur masih kerabatnya. Jadi Rumi bisa menilai bahwa sebenarnya Menur juga tidak disukai oleh sang nyonya, hanya saja sang nyonya tidak mengutarakannya. Karena itulah dia merasa senang mengadu apapun padanya.

Sore hari itu nenek Sasa belum pulang. Ia menunggu Lili pulang. Tapi ternyata Lili pulang agak malam. Begitu Lili masuk ke kamar, nyonya Sasa mengikutinya.

Setelah menunggu Lili berganti pakaian, sang mama memintanya duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.

“Ada apa? Mama mau tidur di sini?”

“Iya, pengin ngelonin Ana. Tapi mama ingin bertanya sama kamu.”

Lili menatap mamanya heran. Tak biasanya saat di rumah sang mama bicara di dalam kamar.

“Tadi kamu sama siapa?”

“Maksud mama?”

“Mama melihat kamu di rumah makan itu, saat mengantar Ana makan es krim.”

“Oh, tadi Mama melihatnya? Mengapa Mama diam saja? Dia kan Willy, teman kuliah Lili. Mama lupa ya?”

“Oh, Willy? Kok sekarang badannya tinggi besar begitu, dulu kan kurus ceking?”

“Dia sudah jadi pengusaha, kaya raya. Tinggalnya di Semarang.”

“Dekat dong.”

“Dulu di luar Jawa, tapi sekarang sudah pindah. Kebetulan tadi nemuin Lili di kantor, lalu mengajak makan. Tapi dia tidak bisa mampir ke rumah karena keburu kembali ke Semarang.”

“Pasti anaknya sudah banyak.”

“Belum menikah lhoh.”

“Kenapa?”

“Katanya tadinya menunggu Lili. Lucu dia itu. Dia juga agak kecewa mendengar Lili sudah menikah.”

“Namanya bukan jodoh.”

“Dia itu sangat baik. Kalau saja Lili tidak dipaksa papa untuk menikah dengan mas Broto, Lili pasti sudah menikah dengannya.”

“Sudah, jangan membayangkan yang tidak-tidak. Lagian tidak baik kamu bepergian dengan laki-laki sementara suami kamu tidak ada.”

Lili hanya tersenyum. Sang mama tidak tahu bahwa Willy adalah pacarnya sejak masih kuliah. Barangkali masih ada cinta yang tersisa, entahlah. Bukankah Lili sudah mulai mencintai Baroto? Apakah cinta bisa dibagi dua?

***

Pagi hari itu nyonya Sasa pulang setelah sarapan pagi. Tapi dia tidak terus ke rumah. Dia pergi ke sekolah Rahman, karena ingin membantu meringankan beban keponakannya.

Ia langsung menemui kepala sekolah karena banyak yang ingin ditanyakannya. Tapi betapa terkejutnya nyonya yang baik hati itu, ketika mendengar keterangan kepala sekolah bahwa Baroto sudah menyelesaikan semuanya.

“Apa yang terjadi pada Baroto?” gumamnya ketika menuju ke arah mobil.

Nyonya Sasa urung pulang. Ia kembali ke rumah Lili untuk bertemu dengan sang keponakan.

***

Ketika memasuki rumah Baroto, nyonya Sasa segera mencari keberadaan Menur. Ia sedang berada di ruang belajar, mengajari Ana tentang pelajaran yang kemarin diajarkan oleh ibu gurunya.

Nyonya Sasa ragu untuk bicara tentang hal yang ditemuinya di sekolah Rahman. Disitu ada Ana, dan para pembantu yang pasti akan mendengar apa yang mereka bicarakan. Mengunci pintu di kamar Menur, pasti Ana mengikutinya.

Setelah berpikir sejenak, maka nyonya Sasa memilih mengajak Ana dan Menur jalan-jalan, lalu membiarkan Ana bermain di taman bermain, sehingga leluasa baginya untuk bicara. Ada perasaan mengganjal. Ada rasa kecewa terhadap Menur yang dianggapnya berselingkuh dengan Baroto. Kalau tidak, mengapa Baroto bersusah payah membiayai sekolah Rahman, bahkan sudah menitipkan sejumlah uang pada kepala sekolah itu, untuk meminta tolong mencarikan sekolah lanjutan terbaik untuk Rahman.

“Menur,” panggilnya.

Menur agak heran karena bibi Sasa kembali ke rumah. Ia segera bergegas mendekat.

“Bibi, apa ada yang ketinggalan?”

“Tidak. Tiba-tiba ingin mengajak Ana jalan-jalan ke taman.”

“Jalan-jalan ke taman?” Ana yang sedang berjalan mendekati neneknya langsung berteriak.

“Iya, cepatlah, nenek tunggu di mobil,” kata nyonya Sasa sambil berdiri.

Ana berjingkrak-jingkrak kegirangan, sementara Menur merasakan sesuatu yang tak enak. Tiba-tiba sikap bibinya tampak aneh. Kaku dan tidak bersahabat. Apa dirinya melakukan kesalahan? Mengapa tiba-tiba mengajak jalan-jalan ke taman?

Tapi ia tak bisa berpikir lama, segera ia ganti pakaian Ana, lalu bergegas menuju keluar, di mana sang bibi sudah menunggu di mobil.

***

Ana senang sekali. Ia bermain apa saja yang ada, sementara Menur dan sang bibi duduk berhadapan di bawah sebuah tenda sambil memesan minuman.

Menur melihat wajah sang bibi sangat kaku. Ia tak berani bertanya, tapi ia yakin bibinya akan mengatakan sesuatu.

“Minumlah dulu,” kata sang bibi sambil mendahului meminum minuman segar yang dipesannya.

“Menur, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu.”

“Ya, Bi.”

“Apa kamu mempunyai hubungan khusus dengan Baroto?” nyonya Sasa langsung menuju sasaran, tak ingin berbasa basi. Ini membuat Menur sangat terkejut.

“Apa maksud Bibi?”

“Ada tidak?”

Menur menggeleng-gelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar kencang. Apakah Baroto berterus terang kepada mertuanya tentang hubungannya dengan dirinya di waktu lampau?

“Kamu jangan bohong pada bibi. Selama ini bibi mempercayai kamu, dan menganggap kamu seorang wanita yang baik, santun, rajin, penuh kasih sayang. Tapi kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari bibi, dan itu adalah sesuatu yang terlarang, bibi akan kecewa,” kata sang bibi tandas, membuat Menur gemetar ketakutan. Apakah dia harus berterus terang saja? Kalau tidak, entah dari mana datangnya berita itu, tampaknya bibinya mengetahui sesuatu, dan Menur takut sekali kalau dituduh melakukan hal yang terlarang. Bukankah maksud dari terlarang adalah merusak rumah tangga orang? Tidak, Menur harus berterus terang.

Dengan menundukkan kepalanya, Menur mengatakan bahwa ia ingin berterus terang.

“Bagus sekali, memang itu yang aku harapkan, sehingga aku bisa segera menentukan, bagaimana harus mengambil sikap.”

“Bibi, mengapa tiba-tiba Bibi beranggapan kalau saya memiliki hubungan dengan Baroto?”

“Baroto membiayai sekolah Rahman. Baroto juga sudah menyiapkan sekolah lanjutan terbaik untuk Rahman. Dia membelikan ponsel untuk Rahman yang kebetulan terbawa oleh kamu dan mendengar ada panggilan melalui ponsel itu. Kamu bohong mengatakan kalau itu milik teman Rahman. Aku tahu itu ponsel mahal,” kata nyonya Sasa sengit.

“Darimana Bibi_”

“Tidak usah menanyakan dari mana bibi tahu semua itu. Yang ingin bibi dengar adalah apa itu benar, dan kalau benar, ada apa diantara kalian?”

Runtuh air mata Menur, berderai tetes demi tetes membasahi pipinya.

“Saya juga tidak tahu bagaimana bisa seperti inl. Tapi saya mohon Bibi tidak menuduh saya melakukan hal yang terlarang, yang melompati norma susila dan kehormatan seorang wanita. Sesungguhnya Baroto adalah suami saya yang saya cari selama ini," jawabnya terbata.

Nyonya Sasa terkejut. Matanya terbelalak menatap Menur.

“Jadi … Rahman adalah anaknya?”

Menur mengangguk.

“Ini pertemuan yang tidak sengaja. Pertemuan yang terjadi karena Ana tiba-tiba menyukai saya. Tapi Bibi jangan khawatir, sedikitpun saya tidak bermaksud kembali kepada Baroto. Saya sadar Baroto sudah berkeluarga, dan saya tak akan mengusiknya. Kami tidak pernah bertemu diam-diam. Baroto beberapa kali menemui Rahman, tapi tidak dengan saya. Saya selalu berusaha menjauhi dia dan tidak pernah berkomunikasi kalau tidak sangat perlu. Percayalah Bibi, saya bukan wanita serendah itu.”

Sekarang nyonya Sasa menatap iba kepada keponakannya. Ia mengulurkan selembar tissue agar Menur mengusap air matanya.

Memang selama ini ia tak pernah melihat sikap mencurigakan diantara Menur dan menantunya.

“Kalau Bibi tidak mempercayai saya, lebih baik saya pergi saja. Sungguh saya tak ingin merusak rumah tangga Lili. Rahman juga tidak tahu kalau Baroto adalah ayah kandungnya. Saya tak ingin mengatakannya.”

Nyonya Sasa mengangguk mengerti.

"Baroto melakukannya untuk Rahman juga diluar sepengetahuan saya. Dia melakukannya diam-diam. Karena kalau mengatakan sebelumnya, saya pasti akan menolaknya."

“Baiklah, bibi mempercayai kamu. Bibi percaya kamu wanita yang baik.”

Tiba-tiba seseorang mendekat, lalu menyapa nyonya Sasa.

“Bukankah ini tante Sasa?”

***

Besok lagi ya.

Saturday, October 31, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 41

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  41

(Tien Kumalasari)

 

Bu Karimun masuk lebih dulu. Baru sekali ini ia berada sangat dekat dengan darah dagingnya, yang tega ditinggalkannya di pangkuan wanita lain karena keterbatasan hidup yang memprihatinkan. Air matanya mengalir deras. Digenggamnya tangan anak muda yang terbaring lemah dengan banyak peralatan medis yang mengungkung tubuhnya. Diciumnya tangan itu berkali-kali sehingga basah oleh air matanya.

“Anakku … anakku, maafkanlah ibumu yang nista ini … maaf .... “

Mata Fajar terbuka. Banyak yang ingin dikatakannya ketika melihat wanita setengah baya yang menangisinya, tapi ia tak berdaya.

“Apa yang terjadi pada dirimu? Segera sembuh dan peluk ibumu ini sebagai ungkapan rasa maafmu,” lirihnya tanpa bisa menahan air matanya.

Fajar mendengarnya, tapi kebingungan dengan sikapnya. Walau begitu ia membiarkan tangannya basah oleh air mata. Rasa sakit yang terasa menggigit, dan mulut yang tersumbat ventilator, menahan keinginannya untuk bertanya, sampai kemudian seorang perawat memintanya untuk keluar.

“Bu, maaf ya, pasien butuh ketenangan. Saya harap ibu menunggu diluar, karena pasien sedang dalam penanganan.”

Bu Karimun mengangguk. Sekali lagi ia mencium tangan Fajar, agak lama dengan air mata yang tak kunjung reda.

“Cepatlah sembuh, peluk ibumu ya Nak.”

Lalu bu Karimun sibuk mengeringkan air matanya sambil melangkah keluar.

Ia memeluk suaminya erat-erat sambil melanjutkan tangisnya ketika sampai di luar.

“Bagaimana keadaannya?”

“Aku sedih melihatnya Pak, tapi perawat itu menyuruh aku keluar. Pasien tidak boleh diganggu.”

Pak Karimun ingin masuk, tapi kali itu perawat menahannya.

“Pak, pasien tidak bisa diganggu karena masih dalam penanganan.”

“Saya hanya ingin melihat saja, tidak akan bicara, tidak akan melakukan apa-apa,” paksa pak Karimun.

Perawat yang merasa iba segera mengijinkannya.

“Tapi sebentar saja ya Pak, nanti saya bisa dimarahi dokternya juga.”

Pak Karimun mengangguk. Ia hanya mendekat, memegang tangannya, menciumnya seperti yang dilakukan istrinya, tapi tak mengucapkan sepatah katapun. Suaranya tersekat di tenggorokan. Ketika Fajar melihatnya, ia tak begitu heran, karena sudah mengenal pak Karimun sebelumnya.

***

“Pak Karimun sangat perhatian pada Fajar,” kata bu Pranoto kepada suaminya.

“Iya. Sangat perhatian, bahkan mengajak istrinya juga. Bu Karimun sampai menangis-nangis begitu. Lihatlah, dia masih berdiri di depan pintu sambil terus mengusap air matanya.”

“Barangkali dia teringat pada anaknya yang sudah meninggal, atau entah berada di mana.”

“Nanti kalau keadaan sudah tenang aku tanyakan pada dia. Kita harus berterima kasih karena seorang tukang kebun dan istrinya sangat perhatian pada anak kita, yang pastinya juga mendoakannya.”

“Bapak sudah bicara sama dokternya?”

“Sudah, baru saja. Kemungkinan besok harus dioperasi, tapi Fajar kehilangan banyak darah. Membutuhkan pendonor darah. Semoga darahku cocok.”

“Darahku juga bisa kan Pak?”

“Kalau cocok, tentu saja bisa.”

“Semoga semuanya baik-baik dan Fajar segera pulih kembali.”

“Aamiin.”

“Mentari tadi ke mana?”

“Mengantarkan temannya pulang, karena sudah malam. Tadi aku minta Bimo agar menemani Fajar di sini.”

“Bimo itu siapa? Wajahnya sangat mirip dengan Fajar.”

“Iya. Dia pegawai bagian gudang di kantorku. Tapi sekarang dia sedang menemani Mentari mengantarkan temannya. Nanti aku minta dia kembali kemari. Apa Ibu aku antarkan pulang dulu ya, nanti Ibu kecapekan.”

“Nggak mau Pak, aku mau di sini terus sampai Fajar selesai dioperasi.”

“Operasinya masih besok Bu, nanti Ibu kecapekan.”

“Tidak. Ibu justru merasa sedih kalau ada di rumah. Biarlah kita di sini bersama-sama.”

Tiba-tiba pak Karimun mendekat, bersama istrinya yang wajahnya sembab.

“Pak, ijinkan saya di sini, menunggui nak Fajar bersama istri saya.”

“Apa pak Karimun tidak capek?”

“Tidak. Oh iya, saya belum sempat memperkenalkan, ini istri saya.”

Bu Karimun menyalami pak Pranoto dan istrinya dengan sangat santun.

“Ibu mengapa menangis terus? Teringat anak ibu? Anak ibu ada di mana?”

Bu Karimun tak menjawab. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kembali menitikkan air mata.

“Dia teringat anaknya, Pak?" tanya bu Pranoto.

“Anak pak Karimun sekarang di mana?”

Pak Karimun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Meninggal?”

Pak Karimun kembali menggelengkan kepalanya.

Pak Pranoto kehabisan pertanyaan. Tampaknya pak Karimun tak ingin banyak bicara, jadi kemudian ia membiarkannya, sementara bu Pranoto terus menatap bu Karimun. Wajah itu, wajah kuyup penuh derita seperti yang pernah dilihatnya puluhan tahun lalu. Ia mengerutkan keningnya. Kapan melihat wajah itu?

“Duduklah di atas, jangan berjongkok di situ,” kata pak Pranoto.

Pak Karimun menarik istrinya, kemudian mengajaknya duduk agak jauh dari pak Pranoto dan istrinya. Pikirannya menjadi campur aduk. Sikap mereka yang menunjukkan perhatian dan kesedihan pastilah menarik bagi pak Pranoto, untuk memberinya sebuah pertanyaan yang belum ingin dijawabnya.

“Bagaimana kalau mereka bertanya Pak, aku benar-benar tak bisa menahan diri. Aku sedih melihat anak kita tampak sakit dan menderita,” pelan kata bu Karimun.

“Aku juga sedang berpikir. Tadinya aku ingin mencari kesempatan yang baik untuk berterus terang. Sekarangkah saatnya?”

“Bagaimana kalau mereka tidak percaya? Mereka begitu kaya, anak kita gagah dan tampan, masa kedua orang tuanya kuyu dan lusuh begini?”

“Entah bagaimana caranya, semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita.”

“Barangkali karena memang kita orang berdosa yang  seakan membuang anak-anak kita, sehingga susah bagi kita untuk mengakuinya, walau Allah sudah mempertemukan.”

"Kita memang berdosa, karena membuang anak-anak kita, tapi apakah salah kalau kita berharap agar anak kita menemukan kehidupan yang lebih baik? Kalau mereka bersama kita, pasti sekarang mereka juga menjadi gembel, atau bahkan merasakan kelaparan sejak masih bayi. Mungkin juga tidak akan hidup sampai dewasa.”

Bu Karimun mengusap air matanya.

“Sudah Bu, jangan menangis lagi, nanti mereka semakin bertanya-tanya dan menganggap sikap kita aneh. Ayo berdoa saja, agak nak Fajar segera mendapat pertolongan yang baik, dan kembali sehat.”

“Aamiin.”

***

Sarah sudah sampai di rumahnya. Nenek Suli segera bertanya tentang penyebab terjadinya kecelakaan itu, dan bagaimana keadaan Fajar sekarang ini.

“Ada mobil lain yang menabraknya padahal mobil sedang melaju. Nenek tahu mobil siapa yang menabraknya?”

“Pasti anak-anak muda yang menyetir dengan ugal-ugalan.”

“Bukan anak muda Nek. Ibu-ibu setengah tua.”

“Ibu-ibu setengah tua?”

“Bu Lurah.”

“Apa maksudmu Sarah?”

“Bu Lurah mengendarai mobil sambil bercanda dengan teman-temannya di dalam mobil itu. Kalau tidak salah temannya ada tiga. Luka-luka semua dan bu Lurah paling parah.”

“Maksudmu yang menabrak mobil nak Fajar itu bu Lurah?”

“Iya, Nek. Mereka semua ada di rumah sakit itu.”

“Kasihan Bowo, pengantin baru mendapat musibah.”

“Mereka bersenang-senang, tidak menggubris anaknya yang menikah di hari kemarinnya.”

“Allah sedang memberinya peringatan. Sebagai seorang ibu dia harus menjadi tiang yang bisa menopang kehidupan anaknya, bukan meninggalkannya. Tapi ya sudahlah, kita tidak berhak menghakimi seseorang. Keadaan nak Fajar sendiri bagaimana?”

“Parah Nek, besok kakinya dioperasi. Kepalanya cedera dan kehilangan banyak darah.”

“Ya Allah, semoga segera mendapat penanganan yang baik.”

“Aamiin. Kamu tadi pulang bersama siapa?”

“Diantar Mentari, adik mas Fajar, sama mas Bimo.”

“Bimo juga ada?”

“Dia melihat ketika Sarah bersama Mentari, lalu ikut ke rumah sakit.”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu.”

“Iya Nek. Besok sepulang sekolah Sarah mau ke rumah sakit lagi ya.”

“Kalau bisa Nenek juga ingin ikut.”

“Tidak usah Nek, nanti Nenek malah banyak pikiran.”

***

Pagi hari itu Fajar siap di operasi. Dokter minta agar keluarga menyiapkan donor darah untuk transfusi. Tapi darah pak Pranoto dan istrinya bukan donor yang cocok untuk Fajar.

“Hanya darah kedua orang tua kandung yang bisa mendonorkan darahnya.”

Perkataan itu bagai geledeg menyambar di siang yang panas, dan membuat bu Pranoto jatuh terduduk dengan lemas.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 45

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  45 (Tien Kumalasari)   Bu Pranoto mendekat dan mencium kening Fajar, sambil tersenyum. Senyum penuh kedamaian ya...