Friday, September 25, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 15

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  15

(Tien Kumalasari)

 

Fajar turun dari mobilnya, lalu menatap Sarah yang wajahnya berseri-seri.

“Korannya masih ada berapa?”

“Memangnya Mas mau beli berapa? Beli koran seperti beli makanan saja,” omel Sarah sambil tersenyum. Tapi ia mengulurkan selembar koran kepada Fajar.

“Aku bilang semua.”

“Semua? Kamu ketularan Mentari ya, borong-borong koran?”

“Ada yang mau, trus nanti aku bagi-bagi.”

“Bener nih?”

“Ya bener, masa aku bohong sih?”

“Tinggal lima … eh, enam lembar.”

“Baik, mana, berikan padaku.”

“Bener nih?”

“Gimana sih kamu ini? Semua ya semua, ini uangnya.”

“Jangan bilang nggak mau menerima kembaliannya ya, tunggu.”

“Tidak usah, ini cukup.”

“Mas, kok gitu sih.”

“Lebih baik gitu, daripada gini,” canda Fajar.

“Kamu kemarin nggak jualan ya?” tambah Fajar.

“Iya, di rumah ada tamu.”

“Oh, tamu penting rupanya. Ngelamar kamu?”

”Iya.”

“Eh, selamat ya. Kapan nikah?”

“Jangan ngaco ah, sudah, sana pergi, aku mau pulang.”

“Pulang?”

“Iya pulang, kan dagangan sudah ada yang borong? Nenek pasti senang aku pulang lebih awal.”

“Sayang aku belum pernah ketemu nenek kamu. Waktu mengantarkan kamu malam-malam itu, aku kan nggak sempat mampir.”

“Memang nggak aku bolehin mampir. Kan sudah malam.”

“Kapan-kapan aku mau ke rumah kamu.”

“Jangaaaan.”

“Kok jangan.”

“Mau apa ke rumah aku? Rumahku jelek. Kamu nggak pantas masuk ke rumah orang miskin.”

“Kata siapa? Aku kan mau ketemu nenek kamu, bukan ketemu rumah kamu.”

“Sudah, pergi sana, aku mau cepat pulang.”

Fajar tersenyum, lalu melambaikan tangannya ke arah Bimo yang berdiri mematung di bawah pohon. Bimo membalasnya, sambil tersenyum juga.

***

Sarah kembali mendekati Bimo, ia ambil sisa air minumnya, lalu sambil ngelesot ia menenggaknya habis. Bimo menatapnya sambil tersenyum. Sarah merogoh sakunya dan menghitung uang pendapatannya.

“Banyak?” tanya Bimo.

“Lumayan. Bisa setoran dan mendapat sisa yang lumayan. Habis, mas Fajar tadi tidak mau menerima kembalian sih. Sebenarnya nggak enak juga, tapi dia memaksa, bagaimana.”

“Tidak apa-apa. Itu kan rejeki buat kamu. Dia baik sekali pada kamu ya.”

“Mas Bimo juga baik sekali padaku.”

“Tapi Aku tidak punya uang lebih untuk memborong koran kamu. Apalagi aku belum lama bekerja dan hanya sebagai pesuruh kantor. Kantor yang baru dibuka juga.”

Sarah terkekeh lucu.

“Mengapa bicara tentang memborong koran? Mas Fajar bilang korannya akan dibagi. Masa beberapa koran akan dibaca sendiri.”

“Dia hanya ingin membantu kamu.”

“Mas Bimo juga banyak membantu aku. Jangan dinilai uangnya. Apa yang mas  Bimo lakukan sangat berarti bagi aku. Mas Bimo salah satu sahabat aku yang terbaik.”

“Tapi aku miskin.”

“Apakah kebaikan dinilai dari kaya dan miskin? Kebaikan bisa berupa apa saja bukan? Mas Bimo terlalu merendah. Jangan berkecil hati ketika nasib membawa kita kepada hidup yang kekurangan atau pas-pasan. Dan jangan berbangga hati kalau memiliki harta yag berlimpah ruah. Manusia itu sama saja di mata Allah.”

“Ya ampun Sarah, kamu masih sangat muda tapi bisa bicara demikian bijak. Aku semakin kagum pada kamu.”

“Ada-ada saja, biasa ya, Aku kira mas Bimo juga punya pemikiran yang sama. Jangan dianggap aku menggurui, karena aku tahu bahwa mas Bimo sudah mengerti. Ayo kita pulang, sudah sore,” kata Sarah sambil bangkit.

Mereka berpisah, meninggalkan rasa tak menentu di hati Bimo. Ia melihat bagaimana Sarah menyambut Fajar. Begitu bersemangat, begitu segar senyumannya. Dan itu membuatnya semakin kecil.

“Apakah Sarah lebih tertarik pada Fajar yang lebih ganteng dan kaya?”

Sambil melangkah pulang, Bimo terus berpikir tentang cara Sarah menyambut kedatangan Fajar. Cemburu? Barangkali iya. Bukankah cemburu itu milik sebuah rasa cinta?

***

"Mas.. kok kamu ikut-ikutan aku memborong koran? Pasti koran dagangan Sarah kan?” kata Mentari ketika melihat sang kakak meletakkan setumpuk koran di atas meja.

“Iya, setiap kali dari kantor Aku kan lewat sana. Kasihan saja, korannya tinggal sedikit, lalu aku ambil semua.”

“Aku juga kasihan sama Sarah, pulang sekolah masih harus jualan koran. Apa nggak capek ya?”

“Ia ingin meringankan beban neneknya yang hanya tukang cuci di rumah tetangga.. Bukan main dia itu, aku kagum pada dia.”

“Jangan-jangan Mas jatuh cinta,” ledek Mentari.

Fajar terkejut mendengar olok-olok sang adik.

“Apa? Jatuh cinta?”

“Selama ini Mas tak pernah perhatian kepada gadis-gadis yang mendekati Mas, tapi mengapa perhatian Mas pada Sarah begitu besar? Pasti ada sesuatu nih.”

“Jangan asal menuduh.”

”Ada apa nih, kakaknya baru pulang kok langsung heboh," kata sang ibu yang tiba-tiba muncul.

“Ini lho Bu, mas Fajar ikut-ikutan memborong koran.”

“Memborong koran? Iya, Kamu juga bawa koran banyak nih.”

“Kasihan sama yang jual. Itu kan teman sekolahnya Mentari. Pulang sekolah langsung jualan koran, jadi karena kasihan, Fajar ikut memborongnya, supaya dia cepat pulang, tidak menunggu sampai korannya habis terjual.”

“Iya Bu, kasihan Sarah. Tapi sepertinya mas Fajar jatuh cinta nih, sama Sarah.”

“Apa? Ngaco kamu,” kata Fajar yang kemudian langsung pergi masuk ke kamarnya.

“Mentari, mengapa kamu mengira kakakmu jatuh cinta sama penjual koran itu?”

Mentari tertawa.

“Sarah itu polos, tapi cantik, dia juga pintar. Kalau mas Fajar suka sama dia ya wajar kan Bu. Buktinya setiap hari lewat di mana Sarah jualan koran. Dari membeli satu-satu, kemudian memborongnya, setelah kemarin lusa melihat Mentari memborongnya karena kasihan.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan Mentari. Masa kamu jodoh-jodohkan kakak kamu sama seorang gadis penjual koran?” kata sang ibu dengan wajah muram.

“Bukan menjodohkan Bu, hanya barangkali saja.”

“Jangan sampai aku punya menantu tukang jualan koran. Kasihan boleh, membantu juga bagus, tapi suka? Jatuh cinta? Amit-amit deh.”

“Ibu tidak suka?”

“Apa yang kamu pikirkan Tari, Kamu suka punya kakak ipar penjual koran? Tidak malu?"

“Ibu jangan marah dulu, Mentari hanya mengganggu mas Fajar.”

“Hanya mengganggu, kalau keterusan, lalu kakak kamu benar-benar suka, amit-amiiiit.”

“Dia itu cantik, pintar, baik kepada siapa saja lhoh Bu.”

“Tapi dia miskin kan?”

Mentari merengut, dia tak sependapat dengan ibunya, yang kelihatan merendahkan orang miskin. Tapi ia tak menjawab apapun lagi, sampai ibunya kembai ke arah belakang, dan Mentari pergi mandi.

***

Fajar bukan tak mendengar apa yang dikatakan sang ibu. Ada rasa miris yang mengiris. Walau belum mengakui kalau dia jatuh cinta, tapi ia suka pada gadis itu. Ia sangat gesit dan bersemangat. Dia tak malu melakukan hal yang tidak banyak dilakukan oleh gadis-gadis muda. Menembus keramaian jalan demi menjajakan dagangan koran, dan belum tentu ada yang membelinya juga.

Pertama kali melihat Sarah, ia hanya kasihan, lalu membeli selembar koran, tapi beli selembar koran itu kemudian menjadi kebiasaan. Ia bukan hanya berhenti di tengah jalan saat mengemudikan mobilnya sepulang kantor, tapi ia memerlukan minggir, hanya demi bisa melihat senyuman Sarah yang memikat. Mengapa juga hatinya tertarik? Fajar belum menemukan jawabannya. Seandainya kemudian rasa cinta itu perlahan tumbuh, ia tak yakin perjalanan cintanya akan mulus. Belum apa-apa sang ibu sudah menunjukkan rasa tak sukanya, dan itu akan sangat berat baginya untuk melangkah. Tapi benarkah dia jatuh cinta? Sampai malam dan ketiduran, Fajar belum menemukan jawabannya.

***

Hari itu Fajar pergi ke kantor ayahnya, yang agak jauh dari kantornya sendiri, walau setiap hari dilewati. Pak Pranoto yang meminta, karena akan ada tugas penting yang akan diberikannya.

Ketika memasuki halaman, dia menjadi perhatian para karyawan. Fajar belum pernah ke kantor sang ayah sejak sang ayah menduduki pimpinan di sebuah kantor cabang yang didirikannya.

Ketika ia hampir memasuki ruang kantor ayahnya, seorang OB menegurnya.

“Hei, Bimo, ada apa kamu berpakaian rapi seperti itu?”

Fajar berhenti melangkah. Ia tidak salah dengar kan? Tadi OB yang gemuk pendek itu memanggilnya Bimo?

***

Besok lagi ya.

Thursday, September 24, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 14

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  14

(Tien Kumalasari)

 

Sarah menatap sang nenek, yang tampak bersungguh-sungguh ketika mengatakannya.

“Jadi mas Bimo itu bukan anaknya bu Saptari?”

“Sejak masih bayi merah dia merawat Bimo, jadi sudah seperti anaknya sendiri, apalagi bu Saptari tidak punya seorang anakpun sampai suaminya meninggal.”

“Jadi sebenarnya mas Bimo itu anaknya siapa?”

“Entahlah, Nenek juga tidak tahu. Ketika itu dia baru pulang dari menjenguk orang tuanya di kampung sebelah, pulang-pulang membawa bayi dan kelihatan sangat senang. Kami hanya ikut senang, tapi tidak menanyakannya dengan jelas, Bimo itu sebenarnya anak siapa. Kalau ditanya dia hanya berkata bahwa bayi itu ditemukan saat jatuh dari langit, begitu.”

“Benar-benar jatuh dari langit?”

“Ya tidak, dia hanya bercanda, masa jatuh dari langit beneran.”

“Dan mas Bimo tahu tidak bahwa dia hanya anak angkat?”

”Ya tidak. Bu Saptari tidak mau mengatakannya. Pokoknya Bimo sudah dianggap sebagai anaknya sendiri yang dicintai seperti anak yang dilahirkannya."  

“Baik banget hati bu Saptari ya Nek?”

”Iya. Sangat baik. Tapi kenapa kamu menolak diambil menantu oleh dia? Nenek agak sungkan ketika kamu menolak, dia adalah sahabat almarhumah ibu kamu. Dia juga baik, Bimo sendiri juga baik.”

“Sarah belum memikirkan berumah tangga Nek, Sarah tidak suka membicarakan perjodohan.”

“Memang sih, bu Saptari hanya penjual nasi setiap pagi sampai siang, dan Bimo hanya bekerja di kantor, tapi seperti .. apa tadi … bu Saptari mengatakannya.”

“OB, Nek. OB itu pekerjaannya melayani pegawai-pegawai kantor. Ya membuatkan minum, disuruh-suruh, begitu. Tapi bukan itu yang membuat Sarah menolaknya. Sarah benar-benar belum ingin memikirkan berumah tangga, apalagi Sarah kan masih sekolah, belum lulus juga.”

”Tapi seandainya disuruh menunggu, mereka pasti juga tidak keberatan.”

“Jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti Nek, nanti mereka berharap dan Sarah belum benar-benar siap. Sarah memang belum mau memikirkan hal itu. Sarah masih ingin bekerja setelah lulus,” kata Sarah dengan wajah muram.

“Ya sudah, tidak usah marah begitu, Nenek juga tidak memaksa. Nenek percaya, kalau jodoh pasti tidak akan ke mana-mana."

“Sarah tidak marah. Masa Sarah marah sama Nenek?”

“Itu, wajah kamu cemberut.”

“Tapi bukan marah. Hanya belum ingin membicarakannya.”

“Baiklah, Nenek mengerti. Tapi kalau kamu bertemu Bimo, kamu jangan sampai menunjukkan sikap tidak suka. Kasihan dia. Maksudnya kan tulus.”

“Ya tidak Nek, mas Bimo sangat baik, dia tetap sahabat Sarah. 

***

Tapi Bimo menjadi sedih ketika sang ibu mengatakan tentang penolakan Sarah untuk dijadikan istrinya.

“Jangan sedih, Bimo. Jodoh itu memang tidak bisa dicari, kalau sudah saatnya, pasti dia akan datang menghampiri.”

“Apa mungkin karena pekerjaan Bimo yang tidak pantas, hanya seorang pesuruh kantor?”

“Jangan berpikir begitu. Tadi Sarah mengatakan kalau dia hanya belum ingin memikirkan soal berumah tangga. Kamu harus mengerti, Sarah memang masih sangat muda. Pastinya masih merasa aneh kalau memikirkan punya suami. Jadi kamu harus mengerti.”

Bimo hanya mengangguk. Ia tak percaya Sarah tidak menyukainya. Sikapnya sangat baik dan selalu menyenangkan. Masa tidak suka? Pikir Bimo berkali-kali.

“Bimo, kamu tahu kan, Sarah itu boleh dikatakan belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga? Kamu harus mengerti, kalau dia belum mau memikirkannya,” sambung bu Saptari ketika melihat Bimo diam saja. Agak sedih juga bu Saptari melihat wajah Bimo yang tampak kecewa.

“Iya Bu.”

"Jangan sampai karena penolakan ini lalu membuat hubungan kalian menjadi jauh. Tetaplah berteman, siapa tahu, pada suatu hari nanti dia mau membuka hatinya untuk kamu.”

“Setelah dia menolak, belum tentu dia mau Bimo dekati.”

“Belum juga dijalani, kamu sudah merasa gagal. Coba saja, besok pastinya dia juga jualan koran lagi. Tadi karena Ibu ke sana, dia tidak jualan koran. Ia ikut menemani neneknya menemui Ibu.”

“Pantesan tadi ketika Bimo pulang kerja tidak melihat dia.”

Bu Saptari tertawa.

“Jadi kamu tadi mencarinya?”

“Iya, tapi karena di rumah Ibu tidak ada, saya juga berpikir karena ada Ibu, maka dia tidak berjualan.”

“Ya sudah, sekarang Ibu mau menyiapkan dagangan untuk besok pagi. Ibu masih harus memasak juga, karena sesiang ini ada di rumah nenek Suli.”

“Mari Bimo bantu Bu, supaya cepat selesai.”

“Tidak usah, kamu kan capek, bekerja seharian. Biar Ibu melakukannya sendiri. Kamu istirahat saja sana.”

“Kalau hanya bantu mencuci alat-alat masak kan boleh Bu.”

“Ya sudah, nanti kalau sudah selesai Ibu panggil kamu. Kalau memasak Ibu sudah biasa masak sendiri, kan bahan-bahannya sudah Ibu siapkan sebelum berangkat ke rumah nenek Suli tadi.”

Bimo mengangguk. Walau kecewa, tapi ketika ibunya mengingatkan tentang Sarah yang belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga, ia kemudian bisa mengerti. Barangkali belum sekarang, tapi suatu hari nanti, siapa tahu Sarah akan jatuh hati padanya.

***

Keesokan harinya, sepulang kerja, Bimo tidak langsung berbelok ke gang yang menuju rumahnya. Ia melihat ke arah pohon sebelum perempatan, karena Sarah sering duduk di bawahnya menunggu lampu merah untuk menjajakan korannya.

Ia tak melihat ada Sarah di sana. Ia mendekat dan benar-benar tak melihatnya. Dengan rasa kecewa Bimo duduk di bawah pohon itu, memikirkan mengapa Sarah tidak jualan. Karena lamaran ibunya, lalu dia berjualan di tempat lain? Bimo jadi semakin sedih, lalu menyesal karena belum-belum sudah meminta sang ibu untuk melamar. Pasti Sarah kecewa lalu tak ingin bertemu lagi dengannya.

Bimo berdiri dan bermaksud pulang saja, tapi tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.

“Mas Bimo!”

Senyuman Bimo merekah, melihat Sarah datang sambil membawa setumpuk koran.

“Kamu baru datang?”

“Tidak, sudah dari tadi, aku membeli minum. Nih, mas Bimo mau?” kata Sarah sambil mengulurkan sebotol minuman ke arah Bimo.

“Tidak, untuk kamu saja, aku tidak haus.”

“Tumben aku agak haus, jadi beli minum ini dulu. Eh tunggu, lampu merah, nanti aku terlambat,” kata Sarah yang meletakkan botol minuman di atas tanah begitu saja, lalu lari ke jalan.

Bimo mengejarnya, mengambil beberapa lembar koran dan ikut menjajakannya.

***

Terengah-engah Sarah ketika kembali ke pinggir, lalu mengambil botol airnya dan ditenggaknya sambil ngelesot di tanah.

Bimo mendekat, memberikan uang untuk dua lembar koran yang laku dijajakannya.

“Wah, terima kasih Mas, untuk selalu membantu aku,” katanya sambil menerima uang dari Bimo.

“Aku tidak pintar menjual seperti kamu. Laku dua sudah alhamdulillah,” kata Bimo sambil ikut duduk di depannya.

“Eh, aku juga hanya laku dua tadi. Bukan karena aku pintar, tapi karena keberuntungan saja. Kalau untung ya banyak yang mau beli, kalau sedang tidak beruntung ya malah satupun tidak bisa laku. Ya ampun Mas, pasti Mas haus ya, aku tadi hanya beli sebotol, bekas aku minum, mana pantas, aku belikan lagi?”

“Tidak, aku tidak haus, habiskan saja. Rumahku kan dekat, jadi aku bisa minum di rumah.”

“Oh iya, jadi teringat kemarin. Aku mau minta maaf ya Mas, soalnya ketika bu Saptari bicara tentang perjodohan antara Mas dan aku, aku belum bisa menerimanya. Aku kan masih kecil Mas, belum mau memikirkan berumah tangga.”

Bimo tersenyum. Ia sudah bersyukur karena ternyata Sarah tetap bersikap biasa setelah lamaran yang diajukan ibunya.

“Tidak apa-apa Sarah, aku mengerti. Mungkin aku yang sangat tergesa-gesa.”

“Tetaplah bersahabat seperti ini Mas, aku masih tidak ingin memikirkan berumah tangga.”

Lampu merah menyala, Sarah bergegas ke jalan, tapi sebuah mobil menghadangnya.

“Sarah.”

Sarah berdebar. Mas ganteng yang kaya itu lagi?

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, September 23, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 13

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  13

(Tien Kumalasari)

 

Bu Saptari menatap sang putra tak berkedip.

“Ini beneran? Kamu pengin Sarah menjadi istri kamu?”

“Iya Bu, ini cinta pada pandangan pertama.”

“Ya ampun, jadi penasaran aku, seperti apa wajah Sarah sekarang. Kalau dulu sih bayi, tapi meskipun bayi sudah kelihatan kalau dia cantik. Bibirnya tipis, hidungnya mancung. Eh, apa dia masih lesung pipit ya pipinya? Dulu kalau tertawa kelihatan benar pipinya lesung pipit.”

“Masih Bu. Lebih menarik lagi senyumnya.”

“Kelihatannya kamu benar-benar suka sama dia. Tapi Bimo, biar aku beri tahu, kamu mencari istri itu jangan hanya karena dia cantik. Kalau bisa ya cantik wajahnya, cantik budi pekertinya. Walau wajahnya kurang cantik, kalau pekertinya baik, tidak apa-apa. Yang penting cantik di dalamnya, bukan hanya wajahnya.”

“Bimo tahu, dia gadis yang luar biasa. Dia menjual koran setiap pulang dari sekolah, demi mencari uang untuk membantu neneknya, untuk meringankan bebannya. Bimo tertarik sejak pertama kali melihatnya, lalu jatuh cinta ketika sering bertemu dia.”

Saptari tersenyum.

“Anakku sudah dewasa ….”

“Sudah pantas punya istri kan?”

“Sudah bisa memilih, mana yang terbaik untuk hidupnya. Ibu bangga sama kamu Nak. Ibu percaya, pilihanmu pasti tidak salah.”

“Kalau begitu, penuhilah permintaan Bimo ya Bu.”

“Tentu. Besok ketika warung tutup, ibu akan menemui nenek Suli di rumahnya. Beri tahu ibu di mana alamatnya.”

“Tidak menunggu Bimo pulang kerja?”

“Tidak usah, kelamaan. Siang sebelum kamu pulang Ibu pasti segera berangkat. Kamu cukup memberikan alamatnya.”

“Baiklah. Ibuku memang yang terbaik”

Saptari mengelus kepala sang anak penuh kasih sayang.

“Ini sebuah keajaiban. Barangkali kamu memang berjodoh dengan Sarah. Pertemuan kalian yang tidak terduga mengatakan segalanya.”

Bimo tersenyum. Mimpinya akan menjadi nyata. Bisa berdampingan dengan gadis yang dikaguminya. Tapi apakah ia mau menerimanya? Tadi didepan neneknya dia terang-terangan menolak dijodohkan.

“Tapi neneknya kan hanya setengah bercanda. Kalau bicara serius, mungkin hasilnya akan beda,” kata batin Bimo yang terus ber andai-andai.

***

“Fajar, ternyata kamu di sini? Ibu cari-cari di dalam rumah tidak ketemu,” kata bu Pranoto yang menemui Fajar di kebun, di bawah pohon rindang yang memang dipergunakan untuk bersantai di kala hari terasa panas.

“Cari angin segar Bu. Berada di ruangan ber AC terlalu lama juga kurang baik. Udara di sini lebih segar.”

“Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak, mengapa Ibu berpikir begitu?”

“Tadi kamu sedang melamun bukan?”

“Tidak, hanya sedang menikmati segarnya angin di bawah pohon rindang ini.”

“Iya benar. Memang di sini terasa segar. Sebetulnya Ibu ingin meminta kamu mengantarkan Ibu belanja.”

“Sekarang?”

“Tadinya iya, tapi mengingat udara begini panas, jadi segan.”

“Bukankah di dalam mobil ada AC, di toko juga pasti dipasang AC.”

“Suasananya yang tidak menyenangkan. Nanti malam saja ya.”

“Sebenarnya Fajar kan sedang liburan di hari Sabtu ini.”

“Benar, tapi nanti malam saja. Kamu tidak berencana untuk ke mana-mana kan? Tapi kalau kamu ada rencana mau bepergian ya tidak apa-apa. Besok Ibu pergi sama Mentari saja.”

“Rasanya Fajar tidak ingin pergi ke mana-mana.”

“Baiklah, kalau begitu nanti malam saja. Tapi Fajar, coba katakan pada Ibu, kamu tadi sebenarnya sedang memikirkan apa?”

“Kan Fajar sudah bilang kalau Fajar sedang menikmati segarnya angin?”

“Tidak, seorang ibu akan tahu apa yang terjadi pada anaknya. Kamu sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan pacar? Kamu sudah punya pacar? Pastinya sudah kan? Pilihlah gadis yang baik kalau kamu sudah merasa serius.”

“Ibu ada-ada saja.”

“Katakan pada Ibu, siapa gadis itu.”

Fajar tertawa.

“Tidak ada Bu, Fajar belum laku.”

“Masa? Anak Ibu yang ganteng dan pintar ini belum laku? Katakan gadis mana yang menolak didekati anakku ini.”

Fajar tertawa sambil merangkul ibunya.

“Apa kelihatan kalau Fajar sedang jatuh cinta?”

“Nah, benar kan? Katakan pada Ibu, siapa dia, anak pengusaha mana, nama ayahnya siapa.”

Fajar tersenyum tipis. Mendengar pertanyaan sang ibu tentang ‘pengusaha mana’, sudah bisa dipastikan bahwa orang tua pasti memilih keluarga yang sejajar dengan keluarganya.

“Bagaimana kalau dia bukan pengusaha?”

“Oh ya, apa dia seorang konglomerat yang sudah pensiun?”

“Dia gadis biasa.”

“Ya, tentu saja gadis biasa. Perempuan, yang pasti cantik. Tak mungkin pilihanmu gadis yang kurang cantik. Pastinya harus sepadan dengan kamu kan? Ganteng dan cantik?”

“Apa Ibu ingin aku memiliki istri seorang gadis kaya? Anak pengusaha? Anak konglomerat yang sudah pensiun?”

“Ibu kan bertanya sama kamu. Barangkali saja salah satu diantaranya.”

“Bagaimana kalau itu gadis biasa? Maksud Fajar anak orang biasa, tidak kaya, bukan pengusaha, bukan orang berada.”

“Apa maksudmu? Kamu menyukai gadis seperti itu?”

“Seandainya iya, apa Ibu akan menentangnya?”

“Fajar, di mana-mana orang pasti mencari pasangan yang sepadan. Apa kamu tidak memikirkannya?”

Fajar menghela napas. Sekilas perkataan sang ibu, ia sudah bisa menilainya. Artinya mencari pasangan harus sepadan. Artinya pula, ia harus sama kayanya dengan keluarga orang tuanya.

“Mengapa diam?”

“Tidak apa-apa. Fajar baru bilang ‘seandainya’."

“Jadi kamu belum menentukan pilihan?”

Fajar terdiam.

“Pesan Ibu, cari gadis yang baik. Bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Dan satu lagi, gadis itu sebaiknya sejajar dengan keluarga kita.”

Fajar tak menjawab. Dan Bu Pranoto kemudian berdiri sambil mengingatkan keinginannya agar Fajar mengantarkan belanja nanti malam.

***

Hari itu Sarah sudah pulang dari sekolah. Ia pulang untuk makan, lalu ia akan mengambil dagangan koran untuk dijualnya seperti biasa.

Ia sudah berganti pakaian dan makan siang dari apa yang sudah disiapkan sang nenek, ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumah.

“Assalamu’alaikum ,,,," suara dari luar.

“Wa’alaikumussalam ,,, “ jawab Sarah sambil menyelesaikan makannya.

“Sebentaar....." teriaknya sambil membawa piring kotornya ke belakang, lalu bergegas untuk keluar.

Seorang wanita separuh baya yang masih segar dan berpakaian sederhana berdiri di depan pintu.

“Selamat siang, Nak.”

“Selamat siang Ibu. Ibu mencari siapa?”

“Apa benar ini rumah nenek Suli?”

“Iya benar Bu, tapi Nenek sedang di tetangga sebelah, akan saya panggilkan. Maaf, Ibu ini siapa?”

“Apa kamu ini …. Sarah?”

”Iya, saya Sarah. Bagaimana Ibu bisa tahu nama saya?”

“Saya bu Saptari, ibunya Bimo.”

“Oh, ya ampuun, kemarin mas Bimo sudah menceritakannya kalau ibunya mau datang kemari. Masuklah Bu, dan duduklah. Tapi ya seperti ini rumah nenek saya.”

“Ini bagus, biar sederhana tapi rapi," kata bu Saptari sambil duduk.

" Ibu tunggu sebentar, saya panggil Nenek saya dulu.”

“Jauhkah?”

“Tidak Bu, hanya di tetangga sebelah,” jawab Sarah sambil beranjak pergi.

Bu Saptari tersenyum.

“Sarah memang cantik. Dia sangat santun dan bersikap sangat baik. Semoga Bimo tidak salah memilih,” gumam bu Saptari sambil tersenyum-senyum sendiri.

Tak lama kemudian nenek Suli datang, dan kemudian mereka berangkulan dan bertangis-tangisan.

Sarah terharu melihatnya. Ia meninggalkan mereka dan ke belakang untuk membuatkan minuman.

Nenek Suli dan bu Saptari asyik bercerita tentang masa lalu mereka, yang akhirnya bu Saptari mengatakan tentang maksudnya untuk mengambil menantu Sarah. Kalau nenek Suli menyambutnya dengan gembira, tidak begitu dengan Sarah. Ia hanya tertunduk lesu, dan mengatakan kalau ia belum memikirkan untuk menjadi seorang istri.

Sampai kemudian bu Saptari pamit pulang, Sarah tetap mengatakan kepada neneknya kalau dia belum memikirkan untuk menjadi istri.

Nenek Suli kecewa, tapi ia tak bisa memaksa Sarah.

“Semuanya tergantung kamu Sarah, karena kamu yang akan menjalani. Tapi aku lihat Bimo itu anak yang baik. Saptari membesarkan dan mendidiknya dengan sangat baik, walaupun Bimo bukan anaknya sendiri.”

Sarah terkejut.

“Bukan anak bu Saptari?”

“Dia hanya anak angkat.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, September 22, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 12

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  12

(Tien Kumalasari)

 

Bimo menatap nenek Suli tak percaya. Jadi neneknya Sarah ini sudah mengenal ibunya?

“Iya kan, benar kamu si kecil Bimo. Waktu kecil kamu gemuk, sekarang badanmu tegap gagah seperti ini.”

Bimo tersipu. Ditatapnya Sarah yang juga menatapnya sambil tersenyum.

“Ternyata dulu Nenek tetanggaan sama ibunya mas  Bimo?”

“Iya, waktu itu kamu masih kecil, bapak ibumu masih ada. Tapi kemudian mereka meninggal ketika kampung kami dilanda banjir,” kata nenek Suli sendu.

"Kamu yang masih kecil Nenek gendong untuk mengungsi, lalu pindah rumah, ya yang kita tempati itu. Sedangkan Bimo kecil dan ibunya waktu itu entah pindah ke mana. Ee, sekarang bertemu lagi di sini dengan tak terduga.”

“Nanti saya bilang sama ibu, biar ibu saya berkunjung kemari.”

“Pasti seru kalau ketemu. Dulu ibunya Bimo ini akrab sekali dengan almarhum ibumu. Kapan ada waktu, suruh dia datang kemari, dia seperti anakku sendiri waktu itu.”

“Nek, jadi mengajak mas Bimo makan nggak?” tegur Sarah yang tidak suka melihat mata sang nenek berkaca-kaca, tampak sedih mengingat anak dan menantunya.

“Eh, iya … habis ketemu orang yang tidak disangka-sangka, ayo Nak, tadi Nenek masak sayur lembayung, ada sambal, ada ikan bakar. Ini kesukaan Sarah, pagi tadi setelah Sarah berangkat, Nenek memerlukan belanja sebentar. Ayo … jangan sungkan, tapi tempatnya sederhana, makanannya juga sederhana, jangan ditertawakan ya,” kata nenek Suli mendahului mereka masuk ke ruang makan mereka yang sederhana dan agak sempit.

“Duduklah Mas, ya seperti ini rumah aku, tadi Mas pengin lihat kan?”

Mereka duduk semeja, dan makan diselingi celoteh nenek Suli tentang masa kecil mereka.

“Coba tadi Mas nggak mau singgah, pasti nggak akan ketemu nenekku yang ternyata mengenal keluarga Mas.”

“Aku juga tidak mengira. Nanti aku pasti cerita sama ibuku.”

“Pokoknya aku tunggu, kapan ibumu bisa datang kemari.”

“Harus janjian Nek, nanti pas ibunya mas Bimo datang, Nenek pergi bekerja.”

“Iya juga. Begini Bimo, Nenek ini setiap hari kerjanya membantu tetangga. Ya nyuci, ya setrika baju, ya bersih-bersih. Yang penting dapat uang dan itu kan halal. Hasilnya ya untuk beaya membesarkan Sarah dan menyekolahkannya.”

“Iya Mas, Nenek membanting tulang untuk aku. Kelak aku harus bisa membahagiakannya. Dan itu pula sebabnya, setelah lulus lebih baik aku mencari kerja, agar Nenek tidak lagi bekerja terlalu keras.”

“Kamu cucu yang baik. Aku selalu kagum sama kamu,” kata Bimo, tulus.

“Kamu selalu begitu, aku sih biasa saja. Pokoknya kerja sebisa aku, masa nenekku membanting tulang aku enak-enak ongkang-ongkang.”

“Sarah itu orangnya keras kepala. Hari libur disuruh istirahat tidak usah jualan koran, nekat saja, katanya sayang, kalau dapat duit kan bisa ditabung. Tapi ya itu, setelah dia jualan koran itu, jarang sekali minta uang sama Nenek. Buku-buku beli sendiri. Pokoknya beban Nenek jadi lebih enteng.”

“Berbahagialah Nenek punya cucu yang baik. Tapi Nenek ini kan … maaf, sudah bisa dibilang tidak muda lagi … jadi ada baiknya juga mengurangi kegiatan, supaya Nenek tetap sehat.”

“Iya, gampang. Nanti Nenek atur. Yang penting Nenek masih kuat bekerja, dan kalau masih kuat ya tidak bisa berhenti.”

“Nenek itu juga ngeyel. Bisa memarahi aku, disuruh istirahat … tapi Nenek sendiri tetap tidak mau berhenti.”

“Harus ada istirahatnya Nek, sayang kalau sampai Nenek kecapekan, nanti malah tidak bisa bekerja lagi.”

“Iya … iya, kamu ini ternyata juga cerewet seperti Sarah sih?” omel nenek Suli, membuat Sarah dan Bimo tertawa.

“Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya kalian ini berjodoh,” kata nenek Suli meluncur begitu saja, membuat Sarah dan Bimo terkejut.

“Apa maksud Nenek?” sergah Sarah.

Nenek Suli tertawa.

“Jangan dipikirkan, terkadang orang tua mikirnya sangat jauh. Kelak kalau Nenek sudah tidak ada, Sarah harus sudah berada di samping laki-laki baik yang bisa melindunginya. Nenek kok berpikir … bagaimana kalau laki-laki itu Bimo?”

“Nenek jangan berpikir yang tidak-tidak, Sarah belum memikirkan jodoh. Sudah hentikan. Mas Bimo hanya sahabat Sarah yang sangat baik. Ya kan Mas?”

Bimo mengangguk, tapi tak bisa dipungkiri, perkataan nenek Suli membuatnya berdebar, lalu sebuah harapan muncul. Bagaimana kalau iya?

***

Bu Lurah kesal, sudah seminggu Bowo tidak tidur di rumah ibunya, tapi di rumahnya sendiri.

Sore hari itu bu Lurah datang dengan seabreg omelan panjang seperti kereta malam jurusan Jakarta Solo.

Bowo hanya diam. Ia tahu ibunya marah, tapi Bowopun juga sedang marah kepada sang ibu, gara-gara bingkisan untuk Sarah diambil kembali oleh ibunya, sehingga membuatnya malu.

“Kamu dengar tidak apa yang ibumu katakan ini? Dengar tidak?”

“Bu, aku bukan anak kecil yang berkali-kali dimarahi karena permasalahan yang sama. Aku kesal pada Ibu yang membuat aku malu.”

“Memangnya kenapa? Aku membuat malu apa?”

“Ibu mengambil kembali bingkisan yang Bowo berikan pada Sarah. Malu aku.”

“Justru kamu yang harusnya malu, kenapa memberi sesuatu kepada orang yang sudah jelas-jelas menolak kamu. Kamu tidak malu Wo? Mengemis cinta kepada keluarga miskin seperti nenek Suli? Seandainya dia mau menerima, Ibu akan berusaha menerimanya walau agak kecewa. Tapi dia menolak Bowo, tidak malu kamu, anak bu lurah ditolak keluarga tukang cuci?”

“Bowo hanya cinta sama dia, Bu.”

“Jangan bodoh! Apa kurang gadis-gadis cantik di sekitar kamu, di mana kamu bisa memilih salah satu diantaranya? Mengapa malah memilih gadis yang tidak berharga, tidak berkelas, tidak berderajat dan tidak pula berpangkat?”

“Ini masalah rasa Bu.”

“Makan tuh rasa. Hidup tidak cukup dengan rasa. Kedudukan itu penting, dan harus dipertahankan. Jadi orang jangan bodoh-bodoh amat Wo. Dengar, ayo sekarang pulang. Kamu biarkan ibumu di rumah sendirian?”

“Kan ada pembantu?”

“Memangnya ibumu pantasnya berteman dengan pembantu?”

“Kan Ibu butuh teman, agar tidak sendirian.”

“Jadi kamu sudah tidak mau menemani ibumu ini lagi?”

“Maaf Bu, Bowo ingin menenangkan pikiran dulu.”

“Ya ampuuun, gara-gara perempuan murahan itu maka pikiran kamu jadi tidak tenang?”

“Maaf Bu.”

Bu Lurah meninggalkan rumah Bowo dengan mengomel panjang pendek di sepanjang perjalanan pulang. Sangat marah menyadari bahwa putranya tak mau mendengar kata-katanya.

***

Bu Saptari sangat heran mendengar cerita putranya, bahwa tadi bertemu  nenek Suli. Mereka dulu memang bertetangga, sebelum kampung mereka musnah disapu banjir, dan nenek Suli kehilangan anak dan menantunya.

“Bayi itu sudah dewasa ya? Waktu itu kamu masih kecil, dan bayi bernama Sarah itu dibawa neneknya entah ke mana. Syukurlah mereka selamat. Ibu ikut senang.”

“Apa Ibu tidak ingin menemui nenek Suli?”

“Tentu saja Bimo, besok atau kapan ya, ibu ingin sekali bertemu.sebesar apa Sarah sekarang?”

“Dia sudah hampir lulus SMA.”

"Waktu bayi dia sangat menggemaskan, cantik dan lucu.”

“Sekarang juga masih cantik dan lucu Bu.”

Bu Saptari tertawa.

“Kamu mengenal baik gadis itu?”

“Dia kalau siang sampai sore menjual koran di perempatan sana. Bimo kadang-kadang membantunya berjualan.”

“Mengapa tidak kamu minta dia singgah ke rumah? Ibu ingin sekali melihat dia, seperti apa sekarang.”

“Nanti kalau Ibu ke sana pasti bisa melihatnya, lalu Ibu bisa melamarkan dia untuk Bimo.”

“Apa? Kamu ingin Ibu melamar dia?”

Bimo mengangguk mantap.

***

Besok lagi ya,

Monday, September 21, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 11

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  11

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut, Mentari mengatakan seperti apa yang pernah dikatakannya. Bimo dan Fajar sangat mirip, hanya beda penampilan, karena keadaan ekonomi mereka yang berbeda.

“Mentari, pendapat kamu kok sama dengan pendapat aku, mereka mirip seperti kembar, iya kan?”

“Tapi kakakku tidak terlahir kembar.”

“Iya, aku tahu.”

“Kalian ada-ada saja,” kata Fajar yang kemudian juga ikut turun.

“Sarah, kenalkan dong dengan pacar kamu.”

“Mas Bimo, kenalkan, ini temanku, Mentari, adiknya mas Fajar ini. Eh, tapi jangan ngawur Mentari, dia bukan pacar aku, nanti aku dimarahi pacar dia yang benar-benar pacarnya."

Semuanya tertawa, kemudian saling bersalaman. Mentari tak henti-hentinya menatap keduanya sambil merasa heran, mengapa wajah kakaknya bisa persis dengan wajah laki-laki bernama Bimo ini.

“Aku baru tahu kalau kamu jualan koran. Sini, aku juga beli. Eh, masih berapa itu?”

“Masih banyak, ada lima. Nih, kamu juga beli sementara kakak kamu sudah beli?”

“Nggak apa-apa, nanti aku bagi-bagi ke orang lain, aku ambil semuanya.”

“Semua?”

“Iya, supaya kamu tidak lagi berpanas-panas, nanti kulit kamu jadi hitam.”

“Kulit aku memang sudah hitam, tahu.”

“Nggak, kulit kamu bukan hitam, kuning bersih. Mana korannya, ini uangnya.”

“Sebentar, kembaliannya,” kata Sarah sambil merogoh sakunya untuk mengambil kembalian.

“Nggak usah, kembaliannya buat kamu saja.”

“Mentari….”

Mentari meraih sisa koran di tangan Sarah, kemudian menggandeng kakaknya  yang sedari tadi diam sambil tersenyum-senyum.

“Sarah, pergi dulu ya. Bimo ….” Fajar melambaikan tangannya ke arah Bimo, yang membalasnya dengan hangat.

Ketika mereka berlalu Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dia teman kamu?”

“Mentari itu teman sekolah aku, yang ternyata adiknya mas Fajar. Aku baru tahu ketika datang memenuhi undangan temanku yang ulang tahun.”

“Teman kamu orang-orang kaya,” kata Bimo.

“Kebetulan saja aku diterima di sekolah anak orang-orang kaya.”

“Ayo mas, aku traktir minum es kelapa muda di sana itu.”

“Apa? Masa kamu mentraktir aku, bukan kebalik nih, aku yang harus mentraktir.”

“Kata siapa mengharuskan Mas yang harus mentraktir? Aku sedang banyak rejeki nih, ada baiknya kita berbagi. Ayo Mas, udara sangat panas, pasti segar minum es kelapa muda,” kata Sarah yang langsung berjalan ke arah penjual es di depan mereka.

***

“Sebenarnya Mas sudah lama kenal Sarah ya?” tanya Mentari dalam perjalanan pulang.

“Belum lama, baru beberapa minggu ini, setiap pulang kantor, dia selalu menjajakan koran di perempatan sana tadi.”

“Jadi karena itu Mas kemudian kenal?”

“Iya.”

“Ketika di pesta ulang tahun teman aku itu, Mas juga ketemu dia?”

“Aku bahkan mengantarkan dia pulang.”

“Apa? Jadi ketika aku mencari-cari Mas, dan teman-teman juga mencari Sarah itu ….”

“Aku sudah mengantarkannya pulang. Tadinya menolak, aku kasihan dia pulang sendiri, kan sudah mengenal dia siapa.”

“Ya ampuuun, mengapa juga dia pulang lebih dulu?”

“Mungkin merasa tidak sepadan dengan kalian.”

“Itu perasaan dia. Kasihan juga, ada yang menghina dia waktu itu sih, katanya pakaiannya dan sepatu yang dipakainya tidak pantas. Aku kesal sama teman aku itu. Sarah itu pintar dan baik hati, jadi banyak yang suka dia.”

“Mungkin karena itu, mengapa dia pergi.”

“Kalau saja aku tahu waktu itu, aku pasti memaksanya tinggal.”

“Dia keluar ketika kalian masih menyanyi-menyanyi ….”

"Kasihan, aku sih tidak merasa dia itu rendahan. Di sekolah aku, semuanya sama. Memang sih, ada yang nggak suka dia, mungkin karena iri, kalah pintar. Tapi lebih banyak yang suka.”

“Wajar kalau ada orang yang berbeda pandangan. Kamu jangan ikut-ikutan. Kaya atau miskin itu hanya sandangan. Semuanya sama dimata Allah, ya kan?”

“Iya, aku tahu, apalagi dia itu baik dan pintar. Aku sering bertanya tentang pelajaran sama dia.”

***

“Mengapa kalian membeli koran sebanyak ini?” teriak sang ayah ketika Fajar dan Mentari pulang sambil meletakkan tumpukan koran di meja.

Mentari tertawa.

“Sama semua ya?”

“Ini sama, mending kamu beli yang berbeda.”

“Teman Mentari yang jual koran, karena kasihan, Mentari beli koran jualan dia yang tersisa.”

“Teman kamu jualan koran?”

“Iya. Ternyata dia langganan mas Fajar yang setiap pulang kantor beli koran dagangan dia.”

“Tapi kemudian kamu membeli koran sebanyak ini?” sambung sang ibu.

“Kasihan Bu, udara sangat panas, kalau korannya habis dia kan bisa langsung pulang.”

“Anak Ibu memang baik hati. Teruslah begitu ya Nak, penuh kasih sayang kepada sesama,” kata sang ibu sambil mengelus kepala anaknya.

“Rumahnya di mana?”

“Sepertinya tidak jauh dari tempat itu. Kalau sekolah dia juga hanya jalan kaki. Jadi dari situ itu tidak jauh dari rumahnya, dan tidak jauh dari sekolah kami.”

“Teman sekolah kamu?” tanya bapaknya.

“Iya Pak, teman sekolah. Dia dari keluarga sederhana, tapi dia pintar, Mentari sering belajar sama dia dan menanyakan banyak hal.”

“Ternyata rajin dan pintar.”

“Tadi tuh Bu, ketika mas Fajar berhenti di sana untuk membeli koran, ada teman Sarah yang menemani di sana, seorang laki-laki.”

”O, dia sudah punya pacar?”

“Dia bukan pacarnya," celetuk Fajar yang sejak tadi diam.

“Iya, katanya memang bukan, tapi yang membuat Tari heran Bu, wajah teman Sarah itu sama persis dengan wajah mas Fajar.”

“Sama persis bagaimana?”

“Ya sama, seperti kembar.”

“Apa? Kembar?”

“Bukankah mas Fajar tidak dilahirkan kembar?”

Pak Pranoto saling pandang dengan istrinya, lalu keduanya geleng-geleng kepala.

“Jangan bercanda. Ayo kita makan siang, ruang makan sudah ditata, hanya menunggu kalian pulang,” kata sang ibu sambil berdiri.

Mentari menggandeng tangan kakaknya, mengajaknya mengikuti sang ibu.

Sambil berjalan itu, Fajar mengomeli adiknya. 

"Kamu sama saja dengan Sarah, mempermasalahkan wajahku dan wajah Bimo yang menurut kalian adalah mirip,” omel Fajar tak terima.

Mentari hanya ngengir, tak peduli protes sang kakak. Menurutnya, memangnya kenapa kalau mirip?

***

“Syukurlah, kamu menepati janjimu, pulang cepat," kata nenek Suli.

“Iya Nek, karena ada yang memborong koran aku.”

“Memborong koran? Masa koran diborong? Mau dijual lagi, gitu?”

“Tidak, ada teman Sarah, yang membeli sisa dagangan koran Sarah, katanya mau dibagi-bagi, entah dibagi ke mana. Pokoknya koran Sarah laku dan dia juga memberi uang lebih.”

“Dia baik hati benar. Itu teman kamu?”

“Teman sekolah Nek, anak orang kaya.”

“Ya sudah, cuci kaki tanganmu, ayo kita makan.”

“Nek, ada teman Sarah yang datang kemari.”

“Teman kamu?”

“Iya, dia ingin tahu di mana rumah Sarah.”

“Mana dia?”

"Ada di depan Nek, apa boleh mengajak dia makan siang sekalian?”

“Masakan Nenek kan masakan yang sederhana, kalau disuguhkan tamu, apa tidak malu-maluin?”

“Dia baik Nek, pasti mau, Ayo Nenek temui dia dulu, dia benar baik.”

“Kamu suka sama dia?” tanya nenek Suli penuh selidik.

“Tidak Nek, rumahnya dekat dengan tempat Sarah menjajakan koran. Kami hanya berteman, dia baik, suka membantu menjualkan koran Sarah juga. Beneran, dia baik, ayo Nenek temui dia dulu,” kata Sarah sambil menggandeng tangan Nenek diajaknya ke depan.

Bimo duduk di kursi kayu depan rumah, sambil menundukkan wajahnya. Tadinya dia hanya ingin tahu di mana rumah Sarah, tapi Sarah memaksanya singgah.

“Mas Bimo, ini nenek aku.”

Bimo berdiri, menyalami tangan nenek Suli dan menciumnya. Tapi nenek Suli menatapnya tajam.

“Namamu Bimo?”

“Iya, Nek.”

“Kamu anaknya Saptari?”

Bimo menatapnya heran.

“Entah benar atau tidak, aku dulu tetanggaan dengan Saptari, anaknya laki-laki, waktu itu, masih kecil,namanya Bimo. Wajahnya kok mirip kamu. Mungkin mata tuaku salah.”

“Nenek, memang benar, ibu saya bernama Saptari.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 20, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 018

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  018

(Tien Kumalasari)

 

Merasa tak diperhatikan saat mengadu kepada nyonya majikannya, Rumi memanas-manasi pembantu yang lain supaya membenci Menur.

“Coba lihat, dia yang baru datang diperlakukan istimewa. Kemarin itu, ketika tuan dan nyonya makan pagi, masa iya, menawari si pengais sampah itu untuk makan bersama mereka?” kata Rumi kepada temannya dengan mulut monyongnya.

“Masa iya?”

“Aku tidak bohong.”

“Tapi aku tidak melihatnya makan semeja bersama majikan kita tuh?”

“Karena dia menolaknya. Pasti karena takut pada nyonya, yang sedikit banyak sudah tahu kalau dia punya niat buruk.”

“Menurutku dia itu baik lhoh,” kata yang lain.

“Bener, dia itu baik, ramah dan suka membantu kita. Kalau dia sudah tidak bersama non Ana, dia pasti membantu kita melakukan apa saja yang sedang kami lakukan.”

“Alaaaa, kalian itu masa sih begitu bodohnya? Dia itu bersikap baik hanya untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar. Pertama, dia merayu non Ana supaya meminta kepada orang tuanya, agar si pengais sampah itu boleh menjadi pengasuhnya. Lalu dia diperlakukan sangat istimewa. Masa sih, dia memanggil nyonya besar tuh ‘bulik’. Bulik dari mana coba? Masa nyonya besar punya kemenakan seperti itu? Lalu karena bujuk rayunya juga, dia dibelikan baju-baju hampir selemari penuh tuh. Apa kita pernah diperlakukan seperti itu?”

“Mungkin juga biarpun miskin tapi masih terhitung saudara majikan kita.”

“Ya nggak mungkin … nggak mungkin. Lalu yang lebih aku takutkan tuh apa, kalau sampai dia merayu tuan kita.”

“Masa sih?”

“Nggak mungkin lah.”

Mereka bersahutan tidak mempercayai apa yang dikatakan Rumi, membuat Rumi kesal, kemudian meninggalkan mereka yang sedang beristirahat siang itu.

***

Hari-hari berlalu, dan tampaknya kecurigaan Lili tidak beralasan. Menur sangat santun, dan tidak pernah sekalipun kelihatan bicara dengan suaminya. Ia hanya melayani keinginan Ana, mendongeng, membuatnya senang. Bahkan kalau siang Menur juga mengeloninya tidur sambil menepuk-nepuk pantatnya lembut.

***

Hari itu Baroto pergi ke rumah sakit. Hasil tes DNA itu keluar hari itu. Dengan berdebar Baroto membuka amplop hasil tes, dengan perasaan tak sabar. Matanya terbelalak ketika membacanya. Wajahnya berbinar, dan tanpa terasa air mata menggenangi pelupuknya.

“Dia anakku … dia anakku …” gumamnya pelan, tak peduli pada beberapa orang yang bersimpangan dengannya merasa heran karena ada laki-laki ganteng berbicara sendiri.

Ia segera mengambil mobilnya, dipacunya menuju ke rumah Menur. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Ini masih jam pelajaran. Rahman pasti belum pulang. Sebentar, harus ada sesuatu yang diberikannya kepada Rahman. Baroto berpikir, apa ya sesuatu itu. Sambil mengendarai mobil dia melamunkan apa yang dinamakannya ‘sesuatu’ itu.

Ah ya, baju, sepatu, tas sekolah yang bagus, lalu apa lagi? Mainan? Mainan apa yang disukai Rahman? Kalau harus ditawarkan, tak mungkin Rahman mau mengatakan apa keinginannya. Tapi kemudian Baroto hanya mampir membeli baju-baju dan celana untuk Rahman. Ada lima atau enam setel, dan sepatu. Apa Rahman suka bermain bola? Anak seusia Rahman pasti suka bermain bola. Apa sebaiknya dibelikan sepatu bola juga, dan bolanya? Bagus sekali, supaya Rahman bisa mengajak teman-temannya bermain bola.

Siang hari itu Baroto sudah sampai di sekolah Rahman, di bagasi penuh dengan barang-barang yang dibelinya untuk Rahman, termasuk sepatu bola dan bolanya sekalian. Belum saatnya bubaran sekolah.  Baroto turun, lalu menuju ke kantor sekolah, berbicara dengan kepala sekolah, entah apa yang dibicarakannya. Baroto segera keluar lagi dan menunggu di mobil, karena sudah terdengar bel usai sekolah.

Baroto mengawasi anak-anak yang keluar dari sekolah itu. Ketika melihat bayangan Rahman, ia segera turun dari mobil.

“Rahman,” panggilnya ketika sudah dekat. Rahman menghampirinya. Ia terpaksa tak bisa menuruti permintaan sang ibu untuk menjauhinya. Om ganteng itu terlalu baik, bagaimana mungkin dia harus menjauhinya?

Rahman terkejut ketika tiba-tiba Baroto memeluknya erat. Erat dan lama sekali, sampai ia menjadi perhatian murid-murid lain yang berhamburan keluar dari halaman.

“Om, ada apa ini? Mengapa om memeluk aku?” tanya Rahman setelah dia meronta sehingga Baroto terpaksa melepaskan pelukannya. Rahman juga melihat ada air mata di pelupuk om yang bak hati itu.

“Ada apa Om?”

Baroto tersenyum, ia tak harus mengatakannya sekarang.

“Karena sebentar lagi om akan kembali ke luar negri, jadi akan lama nggak ketemu Rahman.”

“Oo …” hanya itu jawaban Rahman.

Lalu Baroto mengajaknya masuk ke dalam mobil. Rahman heran banyak barang-barang di dalam mobil.

“Om belanja apa saja? Banyak bener,” celetuk Rahman.

“Itu semua untuk Rahman.”

Rahman tertegun. Ia menatap om gantengnya dengan tatapan tak percaya. Pasti si om ganteng bercanda. Mengapa sih siang ini dia bersikap aneh? Memeluknya erat, lalu mengatakan bahwa barang-barang yang ada di mobilnya adalah untuk dirinya. Masa iya? Rahman melirik bola yang terletak paling atas diantara tumpukan barang-barang. Om ganteng suka main bola juga?

Baroto tersenyum lebar melihat Rahman tampak kebingungan.

“Om bercanda kan?”

“Tidak, ini beneran untuk kamu.”

“Om aneh siang hari ini.”

“Bukankah om sudah mengatakan bahwa sebentar lagi om akan kembali ke luar negri? Itu sebabnya om belikan itu semua untuk kamu, agar kamu tidak melupakan om,” kata Baroto sambil menjalankan mobilnya.

Rahman menatapnya terus, masih tak percaya. Dengan sebelah tangannya Baroto mengelus kepala Rahman, anak kandungnya yang baru saja ditemukannya setelah berhari-hari menjadi pertanyaan yang menumpuk di benaknya.

Rasanya ingin sekali ia memeluknya terus dan tak akan pernah melepaskannya. Anaknya, darah dagingnya, buah cinta yang lama ditinggalkannya.

“Mengapa Om begitu perhatian pada Rahman?”

“Karena kamu anak baik, anak pintar, bukan hanya pintar menangkap semua nasihat baik, tapi juga pintar di sekolah. Kamu anak yang membanggakan.”

“Dari mana Om tahu kalau aku pintar? Om tidak pernah melihat nilai sekolah aku.”

“Aku tadi bertemu guru kamu, kepala sekolah kamu. Semua memuji kamu. Om bangga sekali sama kamu.”

Ya ampuun, Rahman heran sekali. Begitu besar perhatian om ganteng sampai menemui guru dan kepala sekolahnya untuk menanyakan dirinya dan prestasi di sekolahnya? Tapi Rahman tak berkomentar. Ia begitu terkejut atas sikap aneh yang tiba-tiba ini.

“Tadi om sudah beli makanan. Kita makan di rumah kamu saja ya, supaya kamu segera bisa melihat barang-barang yang om belikan untuk kamu.”

Rahman hanya mengangguk. Sebagai anak kecil, tentulah ia ingin tahu segala sesuatu yang dikatakannya sebagai hadiah untuknya.

Begitu turun dari mobil, Baroto meminta agar Rahman membantu menurunkan barang-barang yang dibeli untuknya. Rahman melakukannya dengan keheranan yang tak habis-habisnya.

Mereka meletakkan barang-barang di dalam rumah yang tidak begitu besar itu, dan Rahman memegangi barang-barang itu tetap dengan perasaan heran.

“Ini baju-baju dan celana untuk Rahman, cobalah salah satu, yang lain ukurannya sama kok. Lalu ini sepatu untuk kamu sekolah, ada dua, bisa dipakai bergantian, juga tas untuk kamu sekolah. Lalu yang ini sepatu untuk main bola. Kamu suka main bola? Bolanya juga sudah ada tuh.”

Rahman menatapnya takjub. Tentu saja dia suka main bola. Di sekolah atau di kampung dia suka main bola bersama teman-temannya.

“Suka Om.”

“Bagus, berarti tidak sia-sia om beli semua ini untuk kamu.”

“Mengapa om beli semua ini untuk Rahman?”

“Masih bertanya lagi? Karena om sudah mau kembali ke luar negri. Supaya Rahman tidak melupakan om.”

“Mana mungkin Rahman melupakan Om? Om sangat baik pada Rahman.”

Baroto tersenyum, ia mendekati Rahman dan merangkulnya lalu mencium kepalanya dengan penuh sayang.

***

Barangkali jawaban itu bisa memuaskan Rahman. Supaya dirinya tidak melupakan om ganteng. Tapi bagi Menur, yang pulang pada sore harinya, itu sangat membuatnya kesal. Sikap Baroto, semua pemberian-pemberiannya, adalah sesuatu yang luar biasa. Ia berjanji besok akan menegurnya. Atau … Baroto sudah tahu kalau Rahman adalah darah dagingnya?

Menur takut sekali. Setelah ini, lalu apa? Rahman akan dimintanya? Tidak, Menur tak akan mengijinkannya. Rahman adalah miliknya. Tapi bagaimana kalau Baroto kemudian ingin memperistrikannya lagi? Tidak, hal itu tidak mungkin dilakukan. Walau punya istri dua itu bukan larangan, tapi kehidupan keluarga tidak akan bisa tenang. Ia tak mau merusaknya.

Semalaman Menur tak bisa tidur, karena selalu memikirkannya.

***

Pagi hari itu Menur pergi ke sekolah Rahman. Ketika membayarkan uang sekolah, ia belum bisa membayar uang ujian karena uangnya tidak cukup. Pagi itu dia sudah minta ijin kepada Ana bahwa akan datang agak terlambat karena harus mampir ke sekolah Rahman terlebih dulu.

Ia langsung menemui bendahara sekolah, mengutarakan maksudnya, dan mengeluarkan uang untuk memenuhi pembayarannya. Tiba-tiba kepala sekolah yang melihatnya segera menghampiri.

“Ibu akan membayar apa?”

“Kekurangan uang ujian untuk Rahman Pak, dulu itu belum bisa membayar karena uangnya belum cukup.”

”Tapi semuanya sudah dibayar oleh bapak Baroto. Lunas sampai nanti dia lulus.”

“Apa?” Menur tentu saja sangat terkejut.

“Dia juga sudah berpesan kepada saya agar nanti setelah Rahman lulus, saya mendaftarkannya ke sekolah terbaik di kota ini.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 15

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  15 (Tien Kumalasari)   Fajar turun dari mobilnya, lalu menatap Sarah yang wajahnya berseri-seri. “Korannya masi...