DARAH CINTA DAN AIR MATA 43
(Tien Kumalasari)
“Ibu jangan salah paham ya, aku menyayangimu Ibu, sangat,” kata Bimo berkali-kali sambil tak melepaskan pelukannya kepada sang ibu.
“Tapi setelah bergaul dengan orang-orang kaya, kemudian kamu merasa malu menjadi anakku, ya kan?”
“Tidak Bu, sama sekali tidak. Bahkan kalau ditukar dengan emas berlianpun aku akan tetap memilih Ibu. Ibu tetaplah ibuku, milikku, tak ada bandingnya sayangku pada Ibu. Jangan marah ya Bu. Selama ini aku tahu Ibu sangat menyayangi aku, mencintai aku, dan membanting tulang semuanya untuk aku. Ibu tak pernah memarahi aku, hanya sayang yang selalu Ibu berikan untuk aku.”
Bu Saptari luluh mendengar ungkapan cinta dari ‘anak semata wayangnya’, yang menangis terguguk di pangkuannya. Dielusnya kepala Bimo lembut, lalu ditariknya wajahnya yang basah.
“Berdirilah, jangan membuat ibumu ini juga manangis.”
Bimo tak mau berdiri. Ia tetap bersimpuh di lantai, menatap ibunya masih dengan mata sedih.
“Mengapa tiba-tiba kamu mengatakan hal yang seperti itu? Ibu sedih mendengarnya, tahu?!”
Bimo menarik napas panjang. Terpikir olehnya ia tak usah menanyakannya kepada sang ibu. Biarlah ia tetap menjadi anaknya, walau ia terlahir dari rahim wanita manapun. Mengapa tidak? Ia tak kekurangan kasih sayang. Walau tidak bergelimang harta, tapi cinta dan kasih sayang ibunya tak ada duanya. Ia ingin tak usah mengatakan apapun, tapi mulutnya sudah terlanjur berucap. Pertanyaan ibunya tentang mengapa ia menanyakannya, tak mampu dihindari untuk tidak dijawabnya. Ibunya pasti sedang menduga-duga.
“Atau mungkin benar aku hanya anak angkat, yang sudah menjadi miliknya sepenuhnya, yang tak ingin direnggut oleh siapapun juga?” kata batin Bimo.
”Bimo, jawab pertanyaan ibu, mengapa kamu menanyakan hal itu.”
Bimo terdiam untuk beberapa saat lamanya. Diusapnya sisa air matanya, yang sebagian sudah diusap oleh sang ibu.
“Mengapa diam, Bimo?”
“Anggap saja Bimo tak pernah mengatakan apa-apa. Aku sayang Ibu,” katanya kemudian, lirih, penuh keyakinan bahwa ia memang sangat menyayangi ibunya.
“Tidak. Ucapan adalah anak panah yang terlepas, dan tak mungkin bisa ditarik kembali. Kamu sudah menanyakannya, dan sekarang aku bertanya, mengapa. Tak mungkin pertanyaan itu muncul tanpa ada alasannya.”
Bimo menatap wajah ibunya, yang tangannya masih mengelus kepalanya.
“Apakah Ibu akan marah kalau Bimo mengatakannya?”
“Tergantung apa yang akan kamu katakan.”
Bimo ketakutan sendiri.
“Katakan saja. Semarah apapun ibu, tak mungkin kamu akan kehilangan kasih sayang ibumu ini. Bukankah marah bukan berarti benci?”
Bimo menata batinnya. Apapun yang terjadi, bu Saptari tetaplah ibunya.
Lalu dengan terbata ia mengatakan perihal Fajar yang kehilangan banyak darah, dan pendonornya harus orang tuanya sendiri karena darahnya termasuk darah langka yang sulit dicari. Karena itulah kemudian ketahuan bahwa pak Pranoto bukan orang tua kandungnya.
“Apa?” bu Saptari memekik keras karena terkejut.
“Mas Fajar adalah putra angkat keluarga itu. Dan pastinya pak Pranoto tidak bisa mendonorkan darahnya, bahkan seluruh keluarganya. ”
“Lalu orang tuanya sudah ketemu?”
Sekarang bu Saptari malah terpaku kepada keselamatan Fajar. Ia juga merasa khawatir, apalagi sudah pernah mengenalnya. Fajar juga yang membuat Bimo diangkat derajatnya dari seorang OB menjadi pegawai gudang.
“Orang tuanya, sudah ketemu. Ternyata dia tidak jauh dari kita.”
“Maksudnya ….?”
“Orang tua mas Fajar adalah pak Karimun dan bu Karimun.”
“Apa?”
Bu Saptari kembali berteriak. Dan tiba-tiba sesuatu melintas. Wanita lusuh dan kusut sedang menggendong bayi, lalu menyerahkan kepadanya dengan satu kalimat pendek.
“Bu, titip anak saya.”
Lalu ketika kagetnya hilang, perempuan lusuh itu juga menghilang.
“Dia … dia …” tiba-tiba bibirnya berbisik lirih.
“Saat mengaku bahwa mas Fajar adalah anaknya, bu Karimun mengatakan bahwa anaknya terlahir kembar.”
Bu Saptari terpaku ditempat duduknya. Lalu ia mengerti, mengapa Bimo mengatakan hal yang semula membuatnya marah.
Tiba-tiba bu Saptari merangkul Bimo, setelah ia ikutan duduk ngelesot di lantai. Bimo sekarang yang kebingungan melihat sikap sang ibu.
“Perempuan itu … perempuan itu adalah dia ….”
“Perempuan yang mana Bu?”
“Sekarang aku tahu mengapa kamu tadi menanyakannya, sekarang ibu mengerti. Kemiripan kamu dengan nak Fajar, kemiripan yang bagai pinang dibelah dua, bukan hal yang aneh, karena kalian adalah saudara kembar.”
“Jadi ibu melahirkan dua orang anak laki-laki kembar?” Bimo bingung sampai linglung.
“Anakku, berjanjilah kamu tak akan meninggalkan ibu. Berjanjilah kamu akan tetap bersama ibu."
Dan kali ini bu Saptari yang menangis.
“Apa maksud Ibu?”
“Ibumu adalah bu Karimun. Ibu baru ingat wajah itu.”
“Bimo, anak bu Karimun? Seperti juga mas Fajar?”
“Bukankah dia mengatakan bahwa dia punya anak kembar?”
“Jadi ….”
“Waktu melihat bu Karimun untuk pertama kalinya, Ibu merasa seperti pernah melihat wanita itu, tapi Ibu lupa di mana. Tapi mendengar cerita kamu, Ibu jadi ingat. Memang dialah wanita itu, yang menyerahkan bayinya yang masih merah, ke pangkuan Ibu. Dia hanya berkata titip, lalu menghilang begitu saja. Kamulah anak titipan itu,” kata bu Saptari yang kembali memeluk Bimo, kali ini sangat erat, dan tak bisa menghentikan tangisnya.
“Jadi …”
“Rupanya karena himpitan kehidupan yang serba kekurangan, pak Karimun dan istrinya memilih menitipkan kedua bayinya kepada orang lain, dan berharap sang anak mendapat kehidupan yang lebih baik.”
“Apakah kamu akan meninggalkan ibu, Nak?”
Bimo memeluk ibunya erat.
“Ibu adalah ibuku. Dari manapun Bimo terlahir, Ibu tetaplah ibuku.”
Lalu rumah sederhana itu dipenuhi isak tangis yang mengharu biru.
***
Operasi itu sudah berhasil, tapi Fajar belum bisa dikatakan pulih. Ada benturan keras di dadanya yang memerlukan perawatan lebih cermat.
Pak Pranoto dan istri masih sangat prihatin atas keadaan itu. Fajar sudah sadar, tapi ia masih mengeluh sesak napas.
Mereka bersama pak Karimun serta istrinya menunggui di ruang rawat inapnya dengan perasaan yang masih belum tenang.
“Bu Karimun, bolehkah saya meminta sesuatu dari bu Karimun dan tentunya juga pak Karimun?” kata bu Pranoto lirih.
“Apa yang akan Ibu minta? Kami berhutang nyawa pada keluarga Ibu, apapun permintaan Ibu akan kami lakukan.”
“Jangan ambil Fajar dari kehidupan kami,” kata bu Pranoto lirih.
“Mengapa Ibu berkata begitu? Kami sudah sangat berterima kasih atas apa yang sudah Ibu lakukan untuk kami. Tetaplah Fajar menjadi keluarga Ibu dan bapak Pranoto, kalau memang itu yang akan terjadi,” kata pak Karimun.
“Benarkah?”
“Saya puas hanya melihatnya dan melayaninya setiap hari. Tetaplah Fajar menjadi keluarga Pranoto,” sambung bu Karimun.
“Bimo juga akan tetap menjadi putra bu Saptari,” kata pak Karimun lagi, setelah mereka juga sudah bertemu bu Saptari dan membuka semua tabir yang semula mereka tutupi.
“Sejak awal kami mengatakan titip, dan kami sangat bersyukur bahwa anak-anak kami mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari dua keluarga yang merawat mereka.”
“Syukurlah, dan pak Karimun serta bu Karimun juga akan menjadi keluarga kami. Ada pavilyun di samping rumah, di mana kalian bisa tinggal.” kata pak Pranoto.
“Tapi saya juga bekerja di warung bu Saptari, saya akan tetap membantunya.”
“Berangkatlah bekerja dari rumah saya. Ada sopir yang bisa mengantar dan menjemput bu Karimun setiap berangkat bekerja."
“Tidak, jangan Pak, biar setiap hari saya sendiri yang mengantar dan menjemputnya setiap kali dia bekerja.”
“Ya sudah, terserah mana yang terbaik bagi kita. Saya bahagia menemukan keluarga baru."
Tiba-tiba terdengar Fajar terbatuk-batuk.
Bu Pranoto dan bu Karimun menghambur hampir bersamaan mendekat ke arah ranjang, di mana Fajar terbaring lemah.
“Fajar, cepatlah sembuh, semangat ya Nak. Ini pak Karimun dan istrinya juga selalu menunggui kamu,” kata bu Pranoto sambil memegangi tangan Fajar.
Fajar membuka matanya. Ia belum tahu semuanya, karena mereka belum ingin mengatakannya saat Fajar belum sehat benar.
“Fajar, kamu ingin apa? Katakan saja Nak, Ibu akan memenuhi semua permintaan kamu, asalkan kamu sembuh,” lirih bu Pranoto.
“Benarkah?” suara tersendat terdengar dari bibir Fajar.
“Tentu saja Fajar, kamu ingin apa, kamu mau apa, katakan saja,” bu Pranoto meletakkan tangan Fajar di pipinya.
“Bu, aku mau menikahi Sarah.”
Bu Pranoto tertegun. Dalam sakit .. ia memikirkan sebuah pernikahan? Sarah ... bukan gadis pilihan orang tuanya. Terutama bu Pranoto.
***
Besok lagi ya.