Saturday, July 18, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 52

 NAMAKU TETAP SENJA  52

(Tien Kumalasari)

 

Senja  merasa tidak enak. Di salon itu hanya ada karyawan tukang pijat, dan dirinya yang bantu-bantu bu Mery memotong dan membersihkan muka pelanggan. Kalau tukang pijit tidak masuk, lalu bu Mery mengatakan ada yang akan menggantikannya, apakah yang dimaksud adalah dirinya?

Senja berdebar. Ia ingin pamit sekarang juga, tapi bu Mery sendirian. Masih ada nurani untuk membantu, tapi pekerjaan memijit itu ia tak sudi melakukannya.

Dilihatnya bu Mery mempersilakan pelanggan laki-laki yang dipanggilnya pak Felix, ke kamar pijit. Senja mencari kesempatan untuk pamit, tapi bu Mery mendekatinya.

“Senja, kamu kan mau pamit hari ini,” kata bu Mery lembut.

Senja senang bu Mery memperhatikan permintaannya.

“”Iya Bu, maafkan saya.”

“Tapi kamu kan tahu bahwa aku sedang sendiri. Masa iya kamu tega membiarkannya. Lihat, ada pelanggan lain datang. Biasanya dia potong rambut dan cuci muka.”

Hati Senja terasa miris. Kok ada ‘tapinya’? Lalu masalah tega itu, membuatnya bingung.

“Senja, tolonglah, ini yang terakhir kali kamu membantu aku, layani sebentar pak Felix, dia uangnya banyak. Kalau kamu bisa menyenangkannya, dia pasti akan memberi kamu uang banyak.”

“Saya tidak mau uang Bu, saya keberatan melakukannya.”

“Senja, aku minta tolong. Ini yang terakhir.”

Kali itu suara bu Mery tegas dan tandas. Ia berkata-kata sambil menarik lengannya, dipaksanya masuk ke dalam kamar.

“Bu, saya tidak bisa.”

“Tolong Senja, ini yang terakhir. Setelah itu aku berikan gaji kamu penuh sebulan walau baru beberapa hari bekerja di sini.”

“Saya tidak mau uang, biarlah tidak dibayar,” kata Senja meronta, tapi tangan bu Mery sangat kuat. Ia terus menarik Senja ke dalam, lalu mengunci pintunya dari luar.

Tiba-tiba Senja merasa bahwa dia terpedaya.

***

Bu Mery mendekati pelanggan yang baru datang, yang memang benar ingin memotong rambut.

“Saya ingin model yang lain bu Mery, biar kelihatan awet muda.”

“Tentu Mbak, silakan memilih, model yang mana yang Mbak pilih, ini gambar-gambarnya.”

Bu Mery menjauh dari pelanggannya, karena ponselnya berdering.

“Mery, dia sudah datang?” suara dari seberang.

“Sudah.”

“Dia mau melayaninya?”

“Semula tidak mau. Hari ini sebenarnya dia minta resign. Tapi aku memaksanya untuk melayani pak Felix dulu.”

“Dia mau?”

“Tidak, harus dipaksa.”

“Sekarang di mana mereka?”

“Ya di kamar, aku sudah menguncinya. Segera kamu transfer uangnya. Seperti yang aku minta, jangan kurang.”

“Hari ini?”

“Hari ini, aku masih banyak kebutuhan. Suami Tantrina belum memberikan yang Tantrina minta.”

“Baiklah, dalam seperempat jam aku akan mentransfer uangnya.”

“Kelamaan.”

“Aku harus ke bank, m-bankingku agak rewel, nggak tahu kenapa.”

“Segera, aku tunggu. Kalau tidak aku akan membeberkan semua kelakuan kamu.”

“Ya ampun, pakai ngancam sih Mer?”

“Kamu sudah berjanji, harus kamu tepati.”

“Iya … iya, tenang saja.”

Penelpon itu menutup pembicaraan itu. Bu Mery menghampiri pelanggannya kembali.

“Bagaimana Mbak, sudah menemukan modelnya?”

“Sudah … yang ini ya. Kira-kira bagus nggak untuk aku?”

“O, sangat pas Mbak, sesuai dengan wajah Mbak yang oval. Akan saya mulai sekarang ya.”

Baru beberapa saat bu Mery memotong rambut pelanggannya, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Pintu yang tadi dikunci digedor dari dalam. Keras sekali. Bu Mery menoleh, pintu itu sampai bergoyang-goyang. Si pelanggan terkejut.

“Ada apa itu Bu, gaduh sekali.”

Pintu itu terus digedor. Semakin kuat. Kalau dibiarkan sebentar saja, barangkali pintu itu benar-benar akan jebol.

“Bu, mengapa itu, kenapa tidak dibuka dulu, kelihatannya ada teriakan di dalam," kata pelangggan yang rambutnya baru dipotong separo.

Bu Mery sebenarnya bukan pelaku kajahatan, ia hanya mata duitan. Gedoran di pintu membuatnya takut. Ia terpaksa meninggalkan pelanggan, kemudian membukanya. Di tengah pintu, ia melihat Senja berdiri dengan wajah murka.

“Ternyata Ibu menjerumuskan saya,” katanya sambil mendorong bu Mery ke samping.

Lalu ia berlari keluar, mengambil tas kecilnya di dekat pintu, kemudian menghampiri sepedanya dan kabur.

Bu Mery terpana, tak sempat mencegahnya. Di dalam kamar, seorang laki-laki tersungkur di lantai, kepalanya bersimbah darah. Sebuah kursi alumunium tergeletak di dekatnya.

Pelanggan yang tadi ditinggalkan ingin tahu apa yang terjadi di kamar sana. Bu Mery berdiri mematung, sambil menuding-nuding, mulutnya kelu, tak mampu berkata-kata.

Pelanggan itulah yang kemudian berteriak.

“Ya ampuun, ada pembunuhan. Gadis itu pelakunya, ada apa ya? Harus lapor polisi Bu. Harus.”

“To … tolong … tolong …  tolonglah …”

Pelanggan itu segera mengambil ponselnya, dan melapor ke polisi. Tapi ia juga tak mau terlibat, ia segera pergi dengan sepeda motor, lupa kalau rambutnya baru dipotong separo.

***

Bu Mery terduduk lemas, ia bingung harus melakukan apa. Diberanikannya ia mendekati sosok yang terbaring di lantai, tangan Felix bergerak-gerak. Bu Mery lega, ia masih hidup.

“Tolong … bawa … aku ke rumah sakit. Perempuan  … itu … perempuan itu ….”

Lalu ia kembali pingsan. Bu Mery lari ke depan, ia akan menelpon Tantrina, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Rosa.

“Mery, uangnya sudah aku transfer. Lebih cepat dari yang aku katakan kan?”

“Rosa, kamu gila. Senja hampir membunuh Felix.”

“Apa?”

“Felix pingsan, kepalanya bersimbah darah.”

“Senja mana? Lapor polisi. Awas, jangan melibatkan aku. Aku sudah memberi kamu uang. Dasar bodoh. Bagaimana bisa terjadi?”

Lalu Rosa menutup ponselnya begitu saja.

“Aduuh, mana polisi … mana polisi …. lama sekali, bagaimana kalau keburu mati?”

Diliputi ketakutan, ia lupa pada uang yang sudah diterimanya.

***

Senja terengah-engah. Ia memacu sepedanya sekuat tenaga. Peluh sudah membuat tubuhnya basah kuyup. Ia tak memperhatikannya. Kejadian yang baru saja dialami membuatnya sangat ketakutan. Tadi dia sudah mengatakan bahwa tak mau, tapi bu Mery memaksanya. Paksaan itu membuatnya merasa bahwa bu Mery akan mencelakakannya. Tadi ... di atas ranjang, seorang laki-laki sedang berbaring. Melihatnya masuk, ia menatap dengan tatapan menjijikkan.

“Cantik, ayo segera lakukan, aku lelah  sekali… " katanya sambil tangannya melambai ke arahnya.

Senja terpaku di depan pintu. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Ia yakin laki-laki itu akan melakukan hal yang tak senonoh.

“Saya…  bukan tukang pijit, biarkan saya … pergi.”

Laki-laki itu tertawa. Giginya yang kecoklatan menambah rasa jijik di hati Senja.

“Sayang, aku tidak akan menyakiti kamu, ayo pijat, apakah aku harus melepas dulu pakaian aku agar pijitan kamu terasa nyaman?”

“Tidak, ja … jangan … “

Senja sudah pernah hampir diperkosa, waktu itu di kamar mandi, dan dia selamat setelah berhasil menyemprotkan cairan sabun atau entah apa, ke matanya. Sekarang ia juga merasa bahwa laki-laki itu pastilah laki-laki mesum yang sudah membayar bu Mery. Senja mundur mendekati pintu, mencoba membuka tapi terkunci dari luar. Laki-laki itu terbahak.

“Mana bisa kamu keluar, cantik. Kamu harus melakukan tugas kamu, atau … aku harus memaksa?”

Senja terkejut ketika laki-laki itu bangkit, lalu melangkah mendekatinya. Senja mundur, ada kursi tempat duduk yang barangkali biasanya dipakai duduk oleh tukang pijatnya. Ketika laki-laki itu mendekat, Senja mengayunkan kursi yang tidak begitu berat itu ke arah kepalanya. Laki-laki yang tidak mengira Senja akan melawan, jatuh tersungkur dengan kepala bersimbah darah.

***

Senja terus mengayuh sepedanya. Sangat kencang, menuju pulang.

***

Besok lagi ya.

Friday, July 17, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 51

 NAMAKU TETAP SENJA  51

(Tien Kumalasari)

 

Simbok merasa senang, ketika Senja hanya akan sehari besok saja bekerja di salon. Kecuali tempatnya jauh, terkadang pulangnya tidak tentu. Lagi pula Senja kurang senang karena disuruh belajar memijit, entah itu pria ataukah wanita. Senja bukan anak kecil, dia tahu arti cara memandang beberapa pria pelanggan saat mereka meminta dirawat. Entah rambut dipotong, entah wajah dibersihkan. Mengapa juga mereka memandang dengan cara yang tidak menyenangkan. Jadi ia bersyukur Arka menawarinya pekerjaan. Entah pekerjaan apa. Tukang bersih-bersihpun Senja mau. Yang penting tidak melayani pelanggan seperti pelanggan bu Mery, yang seringkali menatapnya dengan cara yang dianggapnya tidak sopan.

“Jadi besok kamu hanya akan minta ijin ya Nja, tidak sampai sore kan?”

“Iya Mbok, tidak apa-apa seandainya tidak mendapat upah, kan baru bekerja beberapa hari.”

“Tidak apa-apa tidak mendapat upah, yang penting kamu bisa merasa lebih tenang, tidak terlalu capek. Anggap saja kamu membantu orang, tidak usah mengharapkan imbalan.”

“Iya Mbok.”

“Wah, tidak jadi potong rambut gratis dong aku,” celetuk Rimba sambil tertawa lucu.

“Nanti Mbak potong, sedikit banyak Mbak sudah belajar memotong dari melihat cara bu Mery memotong rambut pelanggannya. Aku kira bisa. Besok kalau sudah di rumah aku akan coba memotong rambut kamu.”

“Wah, kalau untuk percobaan nggak mau, bagaimana kalau botak separo,” canda Rimba, membuat semuanya tertawa.

“Ada-ada saja. Masa iya, ada orang memotong botak separo? Pokoknya kamu akan tambah guanteng nanti.”

***

Sudah agak malam ketika Arka sampai di rumah, membuat ayah dan ibunya bertanya-tanya.

“Ke mana saja kamu Ka? Tumben pulang sampai malam.”

“Ada perlu ketemu teman.”

“Kalau begitu mandi dulu sana, biar bibik menyiapkan makan malam untuk kamu,” kata sang ibu.

“Baik, Arka mau mandi dulu.”

“Bapak besok ke kantor kan?” tanya Arka sebelum masuk ke kamarnya.

“Iya, ke kantor dulu, sebentar. Bapak mau ada perlu setelahnya.”

“Jangan buru-buru pergi. Ada yang Arka ingin bicarakan.”

“Bapak masih mau menungguin teman Bapak itu?” tanya bu Wiguna.

“Tidak. Ada perlu yang lain.”

Dan saat itu juga ponsel pak Wiguna kembali berdering.

“Ya, ada apa? Kan aku minta jangan menelpon?”

“Hanya untuk memastikan, Bapak seharian tidak ke rumah. Bagaimana dengan besok?”

“Besok ya besok, aku pasti datang.”

“Dan pikirkan tentang balik nama rumah ya Pak, kalau perlu hari itu juga, surat-surat yang diperlukan jangan lupa Bapak bawa, aku sudah menyiapkan semuanya.”

“Selamat malam,” hanya itu jawaban pak Wiguna, sebelum menutup ponselnya.

“Ada apa? Kelihatannya Bapak kesal.”

“Tidak apa-apa,” katanya sambil melenggang ke arah depan.

Dan seperti biasa bu Wiguna tak pernah mendesak apapun yang ditanyakannya, walau sebenarnya ia ingin tahu.

***

Pagi hari itu Arka sudah berada di ruangan sang ayah. Ia menanyakan tentang rumah yang dibeli oleh ayahnya.

“Rumah itu masih atas namaku, dia memintanya agar dibalik nama menjadi milik dia.”

“Bapak ingin memenuhinya?”

“Sebenarnya bapak sedikit merasa bahwa dia terlalu banyak meminta. Aku sudah memenuhinya, tapi masih ada saja yang dia minta, termasuk rumah itu.”

“Bapak ingin memenuhinya, tentang rumah itu?” ulang Arka.

“Bapak berpikir tentang anak yang dikandungnya. Barangkali Bapak memang akan meninggalkan dia, tapi bayi yang dikandungnya adalah darah daging Bapak. Bapak rasa biarlah rumah itu akan bapak berikan untuk dia, demi anak bapak yang dikandungnya.”

”Bagaimana kalau bayi yang dikandungnya bukan darah daging Bapak?”

“Apa?”

Pak Wiguna tampak terkejut.

“Dia mengandung anakku. Dia hamil setelah adanya bapak yang selalu mengunjungi dia.”

“Bagaimana kalau dia sudah hamil ketika mendekati Bapak?”

“Arka, kamu boleh benci kepada seseorang. Bapak mengerti, keberadaan wanita itu pasti melukai hati ibumu dan kamu pasti tidak rela, tapi jangan kamu kemudian membuat tuduhan yang tidak beralasan.”

“Banyak kejadian, perempuan yang hamil entah oleh siapa, kemudian mendekati seseorang, dan melakukan hal yang bisa membuat orang tersebut mengira bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah dagingnya.”

“Arka, kamu sering melihat sinetron?”

Arka tertawa.

“Mana sempat Arka melihat sinetron. Kalau pulang dari kantor sudah lelah.”

“Tapi kamu mengada-ada.”

“Siapa tahu hal itu benar. Apakah ketika bertemu Bapak dia masih perawan?”

Pak Wiguna terdiam.

“Kalau dia masih perawan, bisa jadi bayi yang dikandungnya adalah darah daging Bapak. Kalau tidak, banyak kemungkinan terjadi. Dia dihamili orang kemudian ditinggalkan, atau sengaja mendekati orang yang punya duit agar mendapatkan kehidupan mewah.”

“Bagaimana aku bisa tahu tentang hal itu?”

“Tes DNA.”

“Apa?”

“Itu satu-satunya jalan, agar Bapak yakin anak itu anak siapa.”

“Mana dia mau?”

“Ajak ke rumah sakit, di sana dia tak akan bisa menolak. Lagipula kalau bayi yang dikandungnya benar-benar darah daging Bapak, dia pasti tak akan keberatan.”

Tiba-tiba pak Wiguna juga merasa ragu. Ia mulai menghitung-hitung,

“Jadi masalah rumah biar saja dulu ya, tidak buru-buru dipindah namakan atas nama dia.”

“Betul Pak, itulah hal terbaik yang harus Bapak lakukan.”

***

Senja sudah sampai di tempat kerjanya. Ia tak mau langsung mengatakan bahwa ia ingin resign. Ia tetap mengerjakan pekerjaannya seperti yang setiap hari dilakukannya. Bersih-bersih, dan menata apa saja agar terlihat rapi saat pelanggan datang. Sebenarnya bu Mery suka pada pekerjaan Senja. Dia rajin dan cekatan, serta mengerti apa yang harus dilakukannya.

Setelah selesai, Senja mendekati bu Mery, ingin mengatakan bahwa ini hari terakhir dia bekerja.

Tapi sebelum dia mengatakannya, bu Mery menariknya ke sebuah ruangan, di mana para pelanggan dilayani bagi yang ingin dipijit.

“Aku beri tahu kamu, bagaimana cara memijit yang benar, agar pelanggan suka dan tidak bosan datang kembali kemari.”

“Tapi Bu … “

“Lihat aku, ini adalah titik-titik yang harus kamu pelajari setiap memijit," bu Mery menunjukkan ke tubuhnya sendiri, di bagian mana yang harus dipijit.

Senja kehabisan waktu untuk berkata-kata, dan akhirnya ia memperhatikan juga apa yang diajarkan bu Mery.

“Kamu paham?”

“Bu, sebenarnya ….”

“Aku tahu kamu tidak suka memijit para pria. Tapi hanya memijit, apa salahnya?”

“Itu tidak boleh Bu, agama saya melarangnya menjamah tubuh orang yang bukan mahram.”

“Kalau kamu keberatan, kamu bisa tanpa menyentuhnya. Dia berpakaian, apa namanya menyentuh?”

“Tapi Bu, sebenarnya hari ini saya mau minta ijin.”

“Senja, jangan minta ijin hari ini. Sita ijin hari ini. Dia yang biasa memijit pelanggan, jadi aku minta tolong hari ini saja kamu menggantikannya, sambil belajar.”

“Bukan minta ijin untuk tidak masuk Bu, saya mau berhenti.”

“Apa? Kamu mau berhenti?”

“Berhenti? Ada apa Senja? Kamu sudah baik bekerja di sini, dan aku suka pekerjaan kamu. Kamu tidak usah keluar, nanti gaji kamu akan saya berikan dua kali lipat.”

“Maaf Bu, saya … bekerja di sini, kejauhan, jadi ….”

“Kalau kejauhan, kamu bisa membawa pulang motorku. Kalau naik motor kan tidak terasa jauh.”

Tawaram bu Mery tampak berlebihan. Seperti memaksa.

“Tapi saya … maaf Bu, ini hari terakhir saya masuk.”

“Kamu baru beberapa hari, kamu tidak akan mendapat gaji,” kata bu Mery sedikit kesal.

“Tidak apa-apa seandainya tidak mendapat gaji. Ini kan kemauan saya sendiri.”

“Selamat pagi …”

Terdengar suara berat laki-laki. Pembicaraan dengan bu Mery terhenti.

“Waduh Alex, tukang pijit kamu hari ini tidak masuk, tapi jangan khawatir, ada yang akan menggantikannya.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, July 16, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 50

 NAMAKU TETAP SENJA  50

(Tien Kumalasari)

 

Simbok keluar dari dalam rumah, heran melihat Senja berbincang dengan pesuruh Arka lalu meminjam ponselnya.

“Ada apa Nja?” tanya Simbok.

Senja tidak langsung menjawab, lalu mengajak simboknya duduk di bangku depan rumah.

“Berasnya sudah beres kan?”

”Iya, sudah, kan sudah dibawa pergi.”

“Kamu tadi ngapain? Telpon-telponan segala. Sama siapa? Mas Arka sudah membayar lunas, dan seperti biasa ada sisanya. Pasti besok juga tidak mau kalau Simbok kembalikan.”

“Sedang ada masalah Mbok.”

“Masalah apa?”

“Di tempat Senja bekerja itu, Senja mendengar sesuatu. Anak pemilik salon itu adalah wanita yang saya lihat sedang berjalan bersama tuan Wiguna.”

“Tuan Wiguna itu kan ….”

“Ayahnya mas Arka Mbok.”

“O, jadi yang bersama tuan Wiguna itu anak pemilik salon? Siapa namanya?”

“Namanya Tantrina. Senja juga baru tahu.”

“Memangnya kenapa Nja, kamu tidak usah ikut campur urusan orang. Sudah biasa kalau orang kaya punya istri lebih dari satu.”

“Bukan begitu Mbok, Tantrina dan ibunya itu punya maksud buruk terhadap tuan Wiguna. Masa aku harus diam saja. Aku harus mengatakannya kepada mas Arka agar tidak menjadi berlarut-larut. Kasihan keluarga Wiguna.”

“Simbok tidak mengerti maksudmu … maksud buruk yang bagaimana?”

“Tantrina mengaku hamil, tapi yang dikandung itu bukan anak tuan Wiguna.”

“Ya ampuuun, mereka bohong terhadap tuan Wiguna?”

“Masalahnya lagi mereka memoroti harta tuan Wiguna. Minta agar rumah yang dibeli harus atas namanya, dengan dalih anak yang dikandungnya adalah darah daging tuan Wiguna. Mereka juga meminta banyak barang. Pak Wiguna kelihatannya juga membesarkan salon itu yang tadinya hanya salon kecil.”

“Waduh, jahat sekali mereka. Lalu kamu mau mengatakan semuanya kepada mas Arka?”

“Iya Mbok, mas Arka sangat baik kepada kita. Kita harus mengatakan semuanya, jangan sampai ayahnya terjerumus lebih jauh dalam kebohongan itu.”

“Kamu benar Nja. Lalu tadi kamu sudah mengatakannya kepada mas Arska?”

“Belum Mbok, kan ada orang lain di situ tadi. Aku minta agar mas Arka datang kemari, jadi aku bisa bercerita lebih jelas.”

“Ya Tuhan, ada orang sejahat itu.”

“Tantrina itu masih muda dan cantik. Pantas saja tuan Wiguna tergila-gila. Semoga setelah semuanya terbuka, tuan Wiguna bisa sadar.”

***

Sore setelah Senja pulang, bu Mery menelpon Rosa. Ia mengatakan tentang kerja samanya yang belum bisa terlaksana.

“Kamu kelamaan Mbak, segera selesaikan, jangan lama-lama. Aku ingin gadis itu hancur. Dia menyakiti aku dengan merebut kekasihku. Dia harus merasakan sakit melebihi sakit yang aku rasakan.”

“Iya, aku tahu. Besok baru akan aku ajari memijit pelanggan, tapi tampaknya dia enggan melayani pelanggan laki-laki.”

“Jangan biarkan dia melawan, kamu harus bisa memaksanya.”

“Akan aku coba, tapi duitnya harus kamu tambahin, aku masih butuh banyak barang.”

“Tentu, begitu berhasil kamu akan mendapatkan sebanyak yang kamu minta. Jangan kelamaan. Keburu dia minta resign kalau kamu tidak segera mengikatnya.”

“Resign .. tidak, dia kelihatan suka..”

“Kamu tadi bilang kalau dia tidak suka melayani pelanggan laki-laki, kalau tiba-tiba dia pergi?”

“Iya juga sih. Baiklah, akan segera aku lakukan, kamu tidak usah khawatir. Tapi jangan lupa kekurangannya.”

“Iya … iya, khawatir amat sih.”

Bu Mery tersenyum, ia pasti bisa melakukannya, dan uang akan segera diterimanya.

“Gadis itu amat polos, gampang sekali mengakalinya, aku kira semuanya akan segera bisa dilakukan. Pak Dian akan segera aku kabari. Dia pasti suka,” kata batin bu Mery, sambil menyambut pelanggan yang baru saja datang.

***

“Mengapa Arka belum juga pulang?” tanya bu Wiguna sambil menemani suaminya minum minuman hangat dan makan cemilan buatan bibik.

“Di kantor memang sedang banyak pekerjaan. Ia harus memeriksa semuanya, menjelang akhir tahun.”

“Apa dia akan pulang malam?”

“Tidak, aku kira dia akan segera pulang.”

“Yang tadi telpon siapa?”

Pak Wiguna agak kaget mendengar pertanyaan istrinya. Biasanya dia tak pernah ingin tahu ketika dia sedang bertelpon dengan siapa saja.

“Yang tadi itu?”

“Iya, Bapak keihatan menjawab dengan kesal.”

“O, dia … orang, memang membuat kesal, tidak usah dipikirkan.”

Kalau sudah begitu bu Wiguna tak ingin bertanya lebih lanjut, walau ada pemikiran aneh ketika dia mendengarkan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir bu Wiguna.

“Aku kok sudah lapar, padahal masih agak sore ya Bu.”

“Apa tidak menunggu Arka sekalian?”

“Kok belum pulang, coba aku telpon dulu,” kata pak Wiguna yang segera mengangkat ponselnya. Tapi Arka menjawab bahwa dia sedang ada urusan.

“Jadi kamu masih di kantor?”

“Sudah keluar dari kantor Pak, tapi masih ada urusan.”

“Ibumu menunggu untuk makan malam, bapak juga sudah lapar.”

“Bapak sama Ibu makan saja dulu, nanti Arka makan sendiri tidak apa-apa.”

“Urusan apa sih? Penting? Apa kamu tidak capek, seharian di kantor."

“Agak penting. Bapak sama Ibu makan saja dulu.”

Arka menutup ponselnya.

“Belum bisa pulang?”

“Katanya ada urusan penting, dia minta agar kita makan saja dulu.”

“Baiklah kalau begitu.”

***

Hari memang sudah gelap ketika Arka sampai di rumah mbok Mangun. Ketika dia datang, yang menunggu di bangku depan rumah hanyalah Senja. Tampaknya ia memang sedang menunggu. Lampu di depan rumah tampak berkelap kelip. Walau lampu listrik, tapi nyalanya bukan yang sangat terang. Tapi cukup untuk menerangi halaman rumah mbok Mangun yang sempit.

“Maaf Mas, aku menyusahkan Mas.”

“Tidak apa-apa.”

“Mas baru dari kantor?”

“Iya, agak banyak pekerjaan di hari-hari terakhir ini.”

“Maaf ya Mas, saya terpaksa meminta Mas untuk datang, karena aku ingin mengatakan sesuatu yang amat penting. Barangkali sangat penting untuk keluarga Mas sendiri.”

Arka manatap Senja yang duduk di sampingnya. Ia melihat keseriusan dalam berkata-kata.

“Ada apa?”

“Ini tentang wanita yang saya lihat bersama tuan Wiguna di perumahan baru beberapa waktu yang lalu.”

“Kamu mengenalnya?”

“Tidak, tapi aku sudah tahu, namanya Tantrina. Ternyata dia anak tunggal pemilik salon di mana aku bekerja.”

“Oh ya?”

“Ada sesuatu yang Mas harus tahu.”

Lalu Senja mengatakan semua yang didengarnya. Tenteng keinginan keluarga Tantrina untuk terus memeras tuan Wiguna, dan tentang bayi yang dikandungnya, yang ternyata bukan darah daging tuan Wiguna.

Arka terkejut. Bukan karena wanita itu memoroti harta ayahnya, karena hal itu sudah dalam dugaannya, tapi tentang bayi yang dikandung wanita itu adalah bukan darah daging ayahnya. Dan kehamilan itulah yang dipergunakan untuk memaksa ayahnya agar mau menuruti semua kemauannya.

“Maaf Mas, bukan maksud saya menceritakan sebuah aib, tapi_”

“Tidak Senja, kamu melakukan hal yang benar. Kamu menyelamatkan keluarga ayahku. Aku harus mengucapkan terima kasih atas semuanya..”

“Sama-sama Mas, tidak usah berterima kasih, karena aku melakukan hal yang semestinya."

Tapi Arka tidak segera pulang, ia menanyakan di mana Senja bekerja, dan apakah Senja menyukai pekerjaan itu. Arka agak terkejut mengetahui bahwa tempat Senja bekerja sangat jauh dari rumahnya, dan ia hanya naik sepeda kayuh.

“Senja, sebaiknya kamu resign dari sana, bekerjalah di kantor aku, lebih dekat.”

“Masa aku bekerja di kantoran mas, mas Arka lupa kalau aku hanya lulusan SMA?”

“Nanti bisa diatur. Kamu akan membantu pekerjaan sekretaris aku, kamu bisa belajar sebelumnya. Kasihan kalau kamu bekerja jauh-jauh begitu.”

“Benarkah?”

“Sebenarnya hal ini sudah aku pikirkan sejak lama, sejak kamu mengatakan tidak ingin melanjutkan kuliah. Hanya saja karena kesibukan aku, jadi aku belum sempat mengatakannya pada kamu.”

Senja tampak senang mendengarnya.

“Tapi aku sungkan kalau tiba-tiba keluar.”

“Besok kamu bisa masuk kerja, sekalian ijin untuk berhenti. Hari berikutnya kamu sudah bisa masuk ke kantor aku.”

“Baiklah kalau begitu. Besok aku minta ijin dulu, tidak enak kalau tiba-tiba tidak masuk atau langsung keluar.”

***

Besok lagi ya.

Wednesday, July 15, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 49

 NAMAKU TETAP SENJA  49

(Tien Kumalasari)

 

Bu Mery  berteriak mendengar sesuatu jatuh dari dalam.

Senja melanjutkan pekerjaannya, tapi kupingnya masih dipasang. Tampaknya Tantrina sedang kesal karena pak Wiguna tidak mau menuruti kemauannya.

“Barangkali dia curiga bayi yang kamu kandung bukan anaknya?”

“Sepertinya tidak Bu, dia sering mengelus perutku dengan lembut. Tampaknya dia bahagia sekali.”

“Kalau begitu pergunakan bayi itu untuk terus memeras dia. Dia kan orang kaya, uangnya banyak.”

“Aku mau mengejar masalah rumah itu dulu Bu, aku baru tahu tadi bahwa rumah itu atas nama pak Wiguna. Aku nggak mau dong.”

“Ya, harus atas nama kamu. Makanya pergunakan anak kamu di dalam perut itu untuk senjata agar bisa memaksanya.”

“Nanti kalau dia datang aku akan memintanya lagi. Tadi katanya masih di kantor. Nanti pasti dia datang. Kalau begitu aku pulang dulu ya Bu.”

“Kamu tadi kemari untuk apa, baru datang sudah pamit.”

“Ditunggu taksi tuh Bu. Aku hanya ingin mengeluh sama Ibu tentang pak Wiguna yang hari ini membuat aku kesal.”

“Kamu jangan begitu. Kalau untuk mengambil hati seorang pria itu, harus pintar-pintar melayaninya, membuat dia senang. Jangan sedikit-sedikit kesal.”

“Iya Bu. Sekarang aku pulang dulu. Dirumah sudah ada bibik pembantu, baru kemarin dicarikan pak Wiguna, supaya aku ada temannya.”

“Sebenarnya suami kamu sangat perhatian. Teruslah merayunya, agar dia mau memenuhi semua permintaan kamu.”

“Iya. Akan aku lakukan. Ini aku sedang mengejar dia tentang rumah dulu.”

“Semoga berhasil. Pintar-pintarlah mengambil hati.”

***

Senja sudah selesai mencuci rambut pelanggan, kemudian ia memintanya kembali duduk di tempat semula. Ia siap mengeringkan rambutnya.

Tapi dalam hati terus dipikirkannya ucapan ibu dan anak yang ternyata berencana menguras harta pak Wiguna dengan bersenjatakan bayi yang dikandung Tantrina, padahal yang dikandung bukan benih pak Wiguna.

Senja harus mengatakan semuanya kepada Arka.

“Tapi kapan ya aku ketemu mas Arka? Apa aku minta pada bu Mery agar menghubungi mbak Rosa, dan minta tolong agar mas Arka datang ke rumah? Kira-kira pantas nggak ya aku meminta tolong majikanku.

Tiba-tiba seorang pelanggan lagi datang. Ada karyawan salon yang menyambutnya. Pelanggan itu seorang laki-laki. Senja tak mengacuhkannya karena ia harus membersihkan bekas potongan rambut setelah mengeringkan rambut pelanggan sebelumnya.

Rupanya pelanggan itu sudah biasa datang, dan sudah biasa pula dilayani oleh karyawan yang menyambutnya. Ia minta pijit, jadi karena sudah biasa, maka karyawan itu langsung membawanya ke sebuah kamar atau ruangan untuk memijit.

“Siapa itu tadi?” tanya pelanggan laki-laki itu sebelum masuk ke ruangan yang disediakan.

“”Itu, karyawan baru. Hanya pembantu,” jawab karyawan itu.

“Cantik, dan tampaknya masih polos.”

“Hayoo, Bapak jadi mau dipijit nggak? Dia itu hanya pembantu, orang kampung.”

Senja mendengar semuanya, tapi ia tidak merasa sakit hati. Jadi pembantu juga tidak apa-apa, yang penting dia bekerja dan mendapat uang pada saatnya nanti.

Pelanggan yang tadi di keringkan rambutnya sudah selesai. Bu Mery menyisirnya cantik, kemudian ia berlalu. Senja membersihkan potongan rambut yang berceceran. Itu pekerjaannya, makanya ia disebut pembantu.

Tapi ketika pelanggan laki-laki itu keluar dari kamar pijat, Senja merasa risih dengan tatapannya. Ia menyibukkan pekerjaannya dan pura-pura tak melihatnya. Senja melihat laki-laki itu mendekati bu Mery dan berbisik-bisik, entah apa yang dikatakannya.

Senja urung meminta tolong majikannya untuk menghubungi Rosa, dengan banyak pertimbangan. Nanti Rosa bertanya ada apa, lalu ia harus menceritakan apa yang didengarnya. Tidak. Ia tak mau mengumbar aib orang walau kepada Rosa yang dianggapnya sangat baik kepada dirinya.

Ketika Senja mau pulang sore harinya, Bu Mery mengatakan bahwa besok dia akan diajari memijit pelanggan. Senja terkejut.

“Apakah saya juga harus memijit pelanggan laki-laki?” tanyanya takut-takut.

“Memangnya kenapa? Mereka pelanggan dan membayar. Salon ini mendapat uang dari mereka, diantaranya juga untuk menggaji kamu.”

“Maaf Bu, saya jadi tukang bersih-bersih saja. Saya tidak bisa memijit laki-laki. Kalau perempuan tidak apa-apa.”

“Tapi kamu harus bisa mengerjakan semuanya,” kata bu Mery sambil mengerutkan keningnya.

Saat pulang Senja merasa gelisah. Ia tak mau mengerjakan pekerjaan memijit. Besok dia akan memastikan bahwa dia cukup dijadikan pembantu saja.

***

Sore hari itu orang suruhan Arka datang untuk mengambil beras. Ketika itu Senja sudah sampai di rumah. Ia selalu memikirkan tentang perempuan bernama Tantrina yang bersama ibunya ingin memeras pak Wiguna. Karenanya ia mendekati orang suruhan Arka.

“Mas, boleh minta tolong nggak?”

“Ya, tentu saja boleh. Minta tolong apa?”

“Maukah Mas menelpon mas Arka, nanti aku mau bicara.”

“Mengapa Mbak tidak menelpon sendiri?”

“Aku kan tidak punya ponsel Mas, ini sesuatu yang penting,” kata Senja, tersipu.

“Oh, baiklah. Sebentar, saya sambungkan.”

Ketika tersambung, Arka agak heran.

“Ada apa? Berasnya belum ada?”

“Bukan Pak, berasnya sudah saya naikkan ke mobil. Ini ada yang mau bicara sama Bapak.”

Arka tersenyum, ternyata Senja yang menelpon.

“Mas, ini aku.”

“Senja, maaf beberapa hari ini tidak ke rumah Simbok, pekerjaaan di kantor banyak.”

“Tidak apa-apa kok Mas, saya ingin bicara dengan Mas, tapi Mas harus kemari.”

“Mengapa tidak bicara sekarang saja?”

“Tidak bisa Mas, ini penting. Biar hanya sebentar, Mas harus menemui aku.”

“Aku nanti agak malam.”

“Tidak apa-apa. Aku tungguin, soalnya ini masalah penting yang Mas harus segera tahu.”

“Baiklah. Kamu mau dibawakan apa?”

“Enggak Mas, nggak usah bawa apapun. Aku hanya ingin bicara. Maaf, ini aku pinjam ponselnya mas yang mengambil beras.”

“Tidak apa-apa, besok kalau kamu gajian bisa beli ponsel kan?”

“Ah, belum terpikirkan, uangnya mau aku berikan Simbok semua.”

Arka tertawa. Dan Senja menutup pembicaraan itu, lalu mengembalikan ponselnya.

“Terima kasih ya Mas.”

***

Hari belum terlampau sore ketika pak Wiguna sudah pulang ke rumah. Hal itu membuat bu Wiguna heran. Ia sedang duduk di teras sambil menyulam ketika suaminya naik ke teras. Arka tampak tidak pulang bersama ayahnya.

“Bapak kok sudah pulang? Sahabat Bapak nanti rewel, bagaimana?” kata bu Wiguna, setengah meledek.

Pak Wiguna tersenyum, lalu mencium kening istrinya.

“Ibu sehat? Sedang bikin apa itu?”

“Daripada melamun, ini buat taplak meja.”

“Nanti Ibu buatkan taplak meja untuk meja kantorku ya?”

Bu Wiguna agak heran atas sikap suaminya yang berbeda. Lebih ramah dan ceria. Ia juga perhatian pada apa yang dikerjakan istrinya.

“Meja kantor Bapak ukurannya berapa?”

“Besok aku ukur ya. Buat sulaman yang bagus.”

“Baiklah, ukur saja dulu, nanti aku buatkan taplaknya seberapa, tinggal di sulam. Bunga-bunga ya, gambarnya.”

“Apapun yang Ibu buat pasti bagus.”

Bu Wiguna tersenyum, walau tetap saja terheran-heran akan perubahan sikap sang suami.

“Aku ganti baju dulu, suruh bibik siapkan minuman di sini saja.”

Pak Wiguna masuk ke dalam, bu Wiguna memanggil bibik agar menyiapkan minum untuk tuan majikan.

Tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering. Rupanya ia meletakkan ponselnya di meja teras, ketika mendekati istrinya.

Bu Wiguna mengangkat ponsel itu, dan melihat siapa yang menelpon. Hanya nomor. Ia membawa ponselnya ke dalam.

“Pak, ada telpon untuk Bapak.”

Bu Wiguna memberikan ponselnya, lalu keluar dari kamar. Ketika menutupkan pintunya, ia masih sempat mendengar perkataan suaminya yang tampaknya agak kesal.

“Aku sudah di rumah. Itu tidak mudah, nanti kita bicara lagi, dan jangan menelpon lagi.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, July 14, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 48

 NAMAKU TETAP SENJA  48

(Tien Kumalasari)

 

Arka membuka halaman demi halaman. Dan semua uang yang keluar, sangat banyak. Semuanya beserta surat tanda terima dari ayahnya.

“Begitu banyak Bapak mengambil uang kantor? Untuk apa?” gumamnya.

Arka geleng-geleng kepala. Tapi kemudian ia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan kepada sang ayah. Ia tahu pak Wiguna belum datang ke kantor, karena dia berangkat pagi-pagi.

“Bapak, kalau ke kantor jangan langsung pergi, saya mau bicara.”

Itulah bunyi pesan yang dikirimkannya.

Arka menunggu. Tak ada balasan. Apakah ayahnya belum berangkat?

Arka menelpon sang ibu, menanyakan apa ayahnya sudah berangkat.  Dan jawaban sang ibu adalah bahwa ayahnya baru saja berangkat.

“Baiklah Bu, saya sedang menunggu untuk membicarakan masalah keuangan,” kata Arka mengakhiri pembicaraan dengan sang ibu.

“Jadi bapak baru saja berangkat. Barangkali masih di jalan, jadi belum membaca pesanku,”  gumam Arka.

Arka menunggu. Ia berpesan kepada sekretarisnya bahwa kalau sang ayah datang ia minta sekretaris memberitahukan kepadanya.

Tapi sebelum sekretaris itu memberitahu, sang ayah sudah masuk ke dalam ruangannya.

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” kata sang ayah yang kemudian duduk di sofa.

Arka berdiri. Mengikutinya ke sofa sambil membawa berkas yang tadi diberikan sekretarisnya.

“Ini laporan dari bagian keuangan,” kata Arka sambil memberikan berkas itu.

Pak Wiguna membukanya sekilas, tapi kemudian menatap tajam sang anak.

“Memangnya ada apa?”

“Bapak mengeluarkan uang begini banyak dalam dua bulan ini.”

“Memangnya kenapa?”

“Pak .. untuk apa semua ini?”

“Aku pemilik perusahaan ini, apa salah aku mengambil uangku sendiri?”

“Tapi Pak, ini perusahaan. Seribu rupiah pengeluaran harus ada pertanggungan jawabnya.”

“Jangan mentang-mentang kamu bapak beri kedudukan sebagai direktur di sini, lalu kamu bisa mengaturku.”

“Apakah Bapak meminta aku duduk di sini hanya sekedar duduk, ataukah harus mengendalikan perusahaan ini agar terus berjalan mulus? Agar bertambah maju, dan lebih banyak menghasilkan?”

“Arka, tapi kamu tidak bisa mengaturku. Aku pemilik perusahaan ini.”

“Kalau Bapak adalah pemilik, lalu apakah Bapak bebas mengatur keluarnya uang tanpa ada pertanggung jawabannya? Terserah saja Bapak mengambil uang, tapi kan harus jelas untuk untuk apa?”

“Bapakmu ini suka menolong orang. Kalau Bapak mengeluarkan uang, pastilah untuk menolong orang. Apa hanya kamu yang boleh berbaik hati dengan membeli beras kepada teman kamu setiap membutuhkan, dengan dalih membantu? Dan bapak tidak boleh?”

“Membantu ala kadarnya, tapi membantu membelikan rumah yang mungkin dengan segala perabotannya?”

“Apa maksudmu?”

“Bapak pergi ke area perumahan baru dengan seorang wanita yang sedang hamil.”

“Bukankah bapak sudah pernah mengatakan bahwa bapak mengantarkan anak teman bapak itu?”

“Dan berjalan sambil berangkulan dengan anak teman Bapak itu?”

“Arka!”

Pak Wiguna marah bukan alang kepalang. Matanya menatap Arka dengan amarah yang meluap.

“Arka, kamu bisa mengatur ayahmu dan mengawasi segala langkah ayahmu, tapi kamu sendiri tidak mau menuruti anjuran ayahmu.”

“Anjuran apa?”

“Menikahi seorang gadis anak konglomerat yang hartanya tak terhitung banyaknya, agar perusahaan kita ikut menjadi besar, dan kamu tidak perlu berteriak karena uang perusahaan bapak ambil hanya beberapa milyard.”

“Jadi maksud Bapak ingin bermenantukan Rosa hanya karena hartanya?”

“Tentu saja, harta itu perlu.”

"Dan Bapak korbankan Arka agar menikahi gadis yang pernah menggugurkan kandungan karena hamil sebelum menikah?”

“Apa?”

“Arka tidak pernah mengatakannya, tapi Arka tahu semuanya tentang Rosa. Dan itu bukan hanya satu alasan, tapi hanya salah satu alasan kenapa Arka menolak. Arka tidak menyukai Rosa sejak awal.”

Pak Wiguna terdiam.  Apa yang didengarnya tentang Rosa tidak pernah dibayangkannya.

“Baiklah, lupakan tentang Rosa, saya ingin tahu mengapa Bapak mengkhianati ibu.”

“Apa?”

“Semua pengeluaran itu untuk wanita itu bukan?”

Pak Wiguna menghela napas, lalu berkata dengan lebih lembut.

“Bapak ini belum terlalu tua. Bapak masih membutuhkan wanita, dan ibumu yang sakit-sakitan itu tidak lagi bisa melayani bapak seperti sebelumnya. Jadi mengertilah, kalau bapak memiliki wanita lain. Ini masalah kebutuhan seorang laki-laki, kamu harus tahu itu.”

“Dengan menghamburkan uang begitu banyak? Arka yakin, wanita seperti itu bukan wanita baik-baik.”

“Omong kosong kamu. Kalau aku menikahi wanita, lalu memberikan rumah dan segala isinya, apakah menurut kamu itu salah?”

“Barangkali Bapak tidak salah. Tapi menghamburkan uang perusahaan itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Perusahaan kita bisa bangkrut.”

“Lalu apa salah kalau aku memberikan tempat tinggal untuk istri aku, walau itu istri siri?”

“Maaf Pak, jalan yang Bapak tempuh itu salah. Mohon maaf, saya hanyalah seorang anak, dengan alasan apapun aku kira Bapak telah melakukan hal yang tidak benar.”

“Aku sudah menikahinya walau nikah siri. Dia juga sudah mengandung anakku.”

“Semuanya sudah terlanjur, saya khawatir akan melukai hati ibu. Dan saya berharap, semoga wanita yang Bapak nikahi itu adalah wanita yang baik.”

“Dia masih muda …. tampaknya bukan perawan, tapi dia membuat bapak senang.”

Lalu mereka terdiam untuk beberapa saat lamanya. Nasi sudah menjadi bubur, jalan keluar yang terbaik baru dipikirkan keduanya. Tapi tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering.

Pak Wiguna segera mengangkatnya.

“Bapak, bagaimana dengan pesanan ibu?”

“Pesanan apa?”

“Bapak pura-pura lupa ya, ibu masih butuh almari untuk wadah peralatan salon.”

“Bukanlah almarinya sudah aku belikan?”

“Ibu butuh lagi yang lebih besar, yang kemarin tidak vukup.”

“Nanti saja, tidak sekarang, aku masih di kantor.”

“Bapak bagaimana, katanya cinta, tapi Bapak tidak mau memberikan apa yang aku minta. Lagi pula, ternyata rumah yang Bapak beli itu masih atas nama Bapak, mengapa tidak atas nama aku kalau memang itu rumah untuk aku?”

“Aku hanya mencari mudahnya saja, kan surat-surat aku lengkap untuk keperluan balik nama.”

“Aku tidak mau, aku minta Bapak harus mengganti dengan namaku.”

“Nanti aku pikirkan lagi.”

“Aku tidak mau lama, harus segera. Juga almari untuk ibu. Hari ini harus Bapak kirimkan. Ibu sudah kewalahan.”

Tiba-tiba pak Wiguna merasa bahwa kesenangan yang dinikmatinya selama beberapa bulan ini tidak bisa menenangkan jiwanya. Ia seorang pimpinan yang segala perintahnya harus ditaati, dan sekarang, wanita yang belum lama dikenalnya ingin mengatur hidupnya. Pak Wiguna meletakkan ponselnya di meja, Wajahnya tampak kesal.

Arka sedikit banyak menangkap pembicaraan itu, yang sudah pasti dari wanita selingkuhan sang ayah. Tentang balik nama rumah yang diminta atas nama dia, permintaan untuk membelikan barang lagi sementara sudah pernah dibelikan. Karena itukah sang ayah tampak agak marah? Atau karena sungkan mengambil uang dari perusahaan lagi?

“Tampaknya aku salah. Aku akan meninggalkan wanita itu,” kata sang bapak pelan.

“Lakukan yang terbaik Pak. Kalau itu baik maka saya akan mendukung bapak.”

“Tolong rahasiakan ini untuk ibumu. Aku bersalah.  Aku menyadarinya. Tak ada wanita sebaik ibumu.”

***

Senja bekerja dengan sangat memuaskan bagi bu Mery. Ia sedang melayani majikannya yang sedang memotong rambut seorang pelanggan. Senja juga memperhatikan bagaimana cara memotong. Senja gadis yang pintar. Ia suka mempelajari sesuatu yang mungkin akan berguna pada suatu hari nanti. Sejauh ini belum tampak adanya sesuatu yang membuat Senja khawatir.

“Senja, sudah selesai, kamu bantu ibu ini keramas ya,” titah sang majikan.

“Baik.”

“Senja mempersilakan pelanggan wanita itu duduk di tempat yang sudah disediakan untuk mencuci rambut. Ia cepat mengerti, dan bisa melakukannya dalam sehari belajar.

Tiba-tiba seseorang masuk, bukan pelanggan, tapi wanita cantik bernama Tantrina, anak bu Mery. Ia datang sambil bersungut-sungut.

“Ada apa?”

“Tampaknya pak Wiguna mulai  memperketat pemberiannya.”

Senja mengangkat wajahnya. Benar namanya Wiguna, itu kan ayah mas Arka, kata batin Senja. Ia mengerjakan tugasnya sambil memasang telinga.

“Jadi almarinya juga belum dibelikan?”

“Belum Bu, aku menanyakan tentang rumah yang belum dibalik nama atas namaku juga, tampaknya dia juga keberatan.”

“Keterlaluan. Apakah dia belum sepenuhnya percaya kepadamu? Kamu tidak mengatakan bahwa bayi yang kamu kandung adalah anaknya? Walau bukan darah dagingnya, tapi si tua itu harus kamu yakinkan bahwa dia benar-benar anaknya.”

“Sudah Bu, saya sudah meyakinkan dia bahwa bayi ini anaknya dan dia percaya.”

“Kalau begitu kamu bisa memaksa dia membalik namakan rumah itu atas namamu, demi bayi yang kamu kandung itu. Dia pasti mau memperhatikan, kalau dia yakin bahwa itu darah dagingnya."

Senja terkejut. Sampo yang dipegangnya untuk mencuci rambut pelanggan jatuh ke lantai.

“Jadi wanita itu mengandung anak orang lain dan membohongi pak Wiguna?”

***

Besok lagi ya.

Monday, July 13, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 47

 NAMAKU TETAP SENJA  47

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun senang melihat anak gadisnya sudah pulang. Ia menyambut di depan pintu rumahnya, menatap sang anak dengan iba, ketika melihat wajahnya yang berkilat karena peluh.

“Syukurlah Nak, kamu sudah pulang. Capek ya?”

“Tidak Mbok, Senja senang sekali mendapat pekerjaan.”

“Minum dulu sana, terus ganti baju .. jangan mandi dulu kalau masih keringatan.”

“Iya Mbok.”

“Jauh ya tempat kerja kamu?”

“Lumayan jauh, tapi tidak apa-apa. Senja senang karena sudah dapat kerja.”

“Ini Mbak, minum dulu,” kata Rimba dari arah dapur sambil membawa segelas air putih. Rimba sangat pengertian. Didikan simbok untuk saling menyayangi selalu tertanam dalam sanubarinya. Itu sebabnya walau hidup dalam keterbatasan tapi mereka tetap tampak bebahagia.

“Terima kasih ya Mba,” kata Senja setelah memasukkan sepedanya kesamping rumah. Ia menerima gelas minum yang diulurkan adiknya lalu duduk di bangku depan rumah. Ia meminumnya sampai habis.

“Haus ya?” tanya Rimba.

“Lumayan, hari sedang panas-panasnya. Aku mau ganti baju dulu, sebentar,” kata Senja sambil mengembalikan gelas kepada sang adik, lalu beranjak ke belakang.

Rimba mengembalikan gelasnya ke dapur, lalu menunggu selesainya Senja berganti pakaian, dengan duduk di bangku di samping simboknya.

“Mbak Senja kelihatan capek. Seperti Simbok kalau pulang dari berdagang,” kata Rimba.

“Sebenarnya kasihan mbakyumu, pasti sebenarnya dia ingin melanjutkan sekolah,” sesal Simbok, sendu.

“Tidak kok Mbok, sejak awal mbak Senja tidak ingin melanjutkan sekolah. Keinginannya hanya bekerja,” kata Rimba yang walau masih bocah tapi ingin menghibur kekecewaan simboknya.

Beberapa saat kemudian Senja sudah keluar dengan wajah lebih segar dan berganti pakaian rumahan.

“Kamu tidak mandi kan? Tidak bagus mandi dalam keadaan keringatan.”

“Iya, mandi nanti kalau keringat sudah kering.”

Lalu Senja menceritakan di mana dia bekerja, dan pekerjaan apa yang harus dilakukannya.

“Kalau mbak Senja bekerja di salon, besok-besok kalau aku potong rambut nggak bayar dong,” celetuk Rimba seenaknya.

Senja dan Simbok tertawa.

“Maunya gratisan. Ya sungkan kalau Mbak mengajak kamu, lalu hanya untuk memotong rambut, gratis pula.”

“Aku kan hanya bercanda, kok dimarahi beneran,” sungut Rimba.

“Iya, Mbak tahu, dan tidak marah kok. Besok-besok kalau Mbak sudah menerima gaji, potong saja di langganan kamu dekat parkiran, murah kan?”

Mereka bercerita sampai sore dan tak habis-habisnya celoteh Rimba yang terkadang lucu dan membuat semuanya tertawa. Gambaran yang tampak adalah mereka semua senang Senja sudah mendapat pekerjaan. Namun sejauh itu Senja tak mau menyebutkan nama Rosa karena sudah berjanji. Ia hanya mengatakan bahwa pekerjaan itu atas kebaikan temannya.

***

Pak Wiguna pulang hampir menjelang malam, dengan alasan yang sama, yaitu menemani teman karibnya yang kesepian. Bu Wiguna dan Arka tidak lagi menanyakannya, karena jawabannya akan sama dengan jawaban setiap kali ditanya di beberapa waktu akhir-akhir ini.

“Arka, kamu sudah pesan beras pada teman kamu, bibik tadi menanyakannya,” bu Wiguna justru menanyakan pesanan beras karena beras di dapur hampir habis.

“Oh iya Bu, gampang. Nanti Arka suruhan orang mengambilnya.”

“Kamu sudah pesan?”

“Gampang Bu, paling lambat besok sore pasti sudah sampai berasnya di sini.”

“Mengapa urusan beras harus ke tempat teman Arka? Apa tidak ada penjual yang lain. Kelihatannya repot sekali,” sahut ayahnya yang sejak tadi hanya diam.

“Arka ingin membantu temannya, agar berasnya laku lebih banyak.”

“Susah amat.”

“Membantu itu kan tidak selalu mudah. Seperti Bapak, membantu teman setiap hari. Sampai meninggalkan pekerjaan kantor. Itu hanya membantu membeli berasnya dan tidak ada yang terganggu,” sergah  bu Wiguna yang membuat suaminya diam.

“Besok saya pastikan sudah sampai di rumah Bu, bilang bibik jangan khawatir,” kata Arka.

“Iya Ka, nanti ibu bilang bibik.”

Sore hari itu pak Wiguna tidak lama menemani mereka ngobrol. Setelah makan malam dia pamit untuk istirahat, karena merasa capek.

Bu Wiguna hanya mengangguk. Ia masih duduk dan berbincang dengan Arka.

“Ayahmu kelihatan capek, barangkali teman akrabnya itu juga minta dipijit,” kata bu Wiguna sambil tersenyum lucu.

Arka mengimbanginya dengan tertawa kecil.

“Barangkali benar apa yang dikatakan Ibu,” kata Arka.

Arka sedang mencari waktu yang baik untuk berbincang dengan ayahnya, tentang perempuan yang entah siapa dan sampai dibelikan rumah oleh sang ayah. Tapi waktunya hampir tidak ada. Kalau ke kantor, ayahnya hanya sebentar saja duduk di ruangannya, lalu pergi lagi, sampai sore baru pulang ke rumah.

Kalau di rumah, nanti ketahuan ibunya, dan Arka tidak mau kesehatan sang ibu terganggu gara-gara mengetahui bahwa ayahnya berbuat yang aneh-aneh.

“Bagaimana hubungan kamu dengan Rosa?” tiba-tiba tanya sang ibu.

“Beberapa hari tidak ketemu. Biasa-biasa saja. Arka tidak merasa punya hubungan apa-apa.”

“Biasanya dia menelpon.”

“Sudah beberapa hari tidak menelpon, barangkali dia mengerti bahwa Arka tidak tertarik pada perjodohan itu.”

“Tumben juga ayahmu tidak gencar memaksa kamu untuk tetap menghubunginya.”

“Barangkali bapak sedang sibuk dengan temannya.”

“Oh, iya pastinya. Tapi syukurlah, Ibu tidak perlu menutup kuping karena omelan-omelannya. Biasanya kalau sudah punya kemauan lalu susah diendapkan.”

“Sudah malam, sebaiknya Ibu juga harus beristirahat.”

“Iya Ka, kamu juga.”

***

Pagi hari  itu pak Daryono menanyakan lagi tentang kesanggupan Rosa untuk berangkat ke luar negri.

“Nanti Pa, Rosa masih ada urusan. Biar selesai dulu urusannya, baru Rosa berangkat.”

“Urusan apa ?”

“Ada bisnis sama teman.”

“Rosa, kamu tidak perlu melakukan bisnis apapun. Pekerjaan Papa juga sebuah bisnis yang kamu tinggal melanjutkan.”

“Rosa hanya coba-coba, untuk membantu teman.”

“Membantu apa maksudmu? Modal?”

“Iya Pa, Rosa punya sedikit uang, coba-coba saja Rosa buat untuk kerja sama dengan teman. Syukur-syukur berhasil, kalau tidak ya tidak apa-apa.”

“Ada-ada saja kamu ini. Lalu kapan urusan itu selesai?”

“Tidak lama... paling sebulan lagi.”

“Kalau kamu tidak mau, akan Papa serahkan kepada orang lain.”

“Mau Pa, tunggulah sebentar, Rosa ingin melihat di awal-awal usaha itu, berhasil atau tidak, Rosa baru mau berangkat.”

“Kalau begitu kamu harus mulai mengurus semua perabot untuk keberangkatan kamu.”

“Iya. Papa tidak usah khawatir.”

***

Hari itu Arka berangkat pagi sekali, karena harus mampir ke rumah mbok Mangun. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu Senja, ada kangen yang dipendamnya, entah mengapa. Padahal awalnya hanya merasa kasihan.

“Aku jadi ingat, Senja ingin mencari pekerjaan. Nanti aku akan melihat, barangkali ada lowongan di kantor, tidak apa-apa lulusan SMA, aku melihat Senja itu cerdas. Dia pasti bisa belajar. Apa sebaiknya aku suruh menjadi pembantu sekretarisku saja ya,” gumam Arka sambil membawa mobilnya ke arah rumah mbok Mangun.

Tapi Arka kecewa, karena tidak ketemu Senja.

“Mbak Senja sudah bekerja di salon kecantikan," kata Rimba.

“Di salon?” tanya Arka, agak terkejut, karena Senja begitu cepat mendapat pekerjaan.

“Iya mas Arka, di Salon mana, gitu, jauh katanya. Itu sebabnya dia berangkat pagi-pagi.”

“Sejak kapan dia bekerja?”

“Baru kemarin. Ada temannya yang membantu mencarikan pekerjaan itu. Entah teman siapa, Senja hanya mengatakan bahwa ada temannya yang membantu mencarikan pekerjaan. Dan kelihatannya Senja senang sekali," kata mbok Mangun.

“Nanti kalau ada waktu saya kemari lagi untuk menanyakannya.”

“Tumben mas Arka pagi-pagi sudah datang kemari?”

“Ini Mbok, mau pesan beras lagi, satu kwintal. Seperti yang dulu.”

“Oh, baiklah, pagi ini juga akan saya pesankan.”

“Nanti sore bisa diambil orang saya ya Mbok,” kata Arka sambil memberikan sejumlah uang.

“Baik mas Arka, terima kasih Simbok sudah dijadikan langganan.”

“Tentu Mbok, Ibu saya suka, berasnya enak. Tapi yang penting saya bisa membantu Simbok.”

“Terima kasih banyak ya Mas.”

***

Arka langsung pergi ke kantor. Begitu dia duduk di depan meja kerjanya, sekretarisnya langsung masuk memberikan sejumlah berkas.

“Ini laporan keuangan yang Bapak minta kemarin.”

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 52

  NAMAKU TETAP SENJA  52 (Tien Kumalasari)   Senja  merasa tidak enak. Di salon itu hanya ada karyawan tukang pijat , dan dirinya yang bantu...