NAMAKU TETAP SENJA 34
(Tien Kumalasari)
Mbok Mangun bergegas menuju ke kamar Senja, dilihatnya tangan Senja menuding-nuding sambil berteriak.
“Aku tak pernah berusaha membunuhnya. Kamu yang membunuhnya. Perempuan jahat! Kamu jahat dan berpura-pura jadi baik. Munafik! Hatimu kotor!!”
Mbok Mangun meraih tangan anaknya pelan.
“Senja … Senja … bangunlah.”
“Pergi ! Kamu memfitnah aku!!”
“Senja, ini Simbok. Bangunlah, kamu bermimpi apa?”
Simbok menepuk-nepuk pipi Senja, sedikit keras. Rimba yang tertidur nyenyak juga terbangun mendengar teriakan kakaknya. Ia mengucek matanya dan berdiri di tengah pintu, menatap sang kakak dengan heran.
“Ini Simbok, buka matamu. Kamu ada di rumah, bersama Simbok.”
Dan Senja akhirnya membuka matanya, menatap simboknya dengan mata kosong, dan kebingungan.
“Simbok?”
“Ini aku, Simbokmu. Kamu mimpi apa?”
Rimba tampak mendekat dengan membawa segelas air putih. Ia adik yang penuh pengertian. Diulungkannya gelas itu, sementara mbok Mangun mengangkat kepalanya.
“Minumlah dulu, biar tenang.”
“Rimba?”
“Ini aku. Minumlah.”
Senja meneguk minumannya. Kepalanya terasa pening, luka di kakinya berdenyut. Ia melihat ke sekeliling kamar.
“Aku di kamarku ya?”
“Ini kamarmu, ada apa? Tadi simbok tidur di sebelahmu sini. Rimba sendirian. Ada apa? Kamu mimpi buruk.”
Senja mengulurkan gelas kosong itu kepada Rimba.
“Iya Mbok, syukurlah hanya mimpi.”
“Mimpi digigit ular ya Mbak? Kamu akan dapat jodoh,” canda Rimba.
“Hish! Ngawur,” sergah simboknya.
“Non Rosa itu kan wanita baik," gumam Senja.
“Dia sangat baik Nduk. Dia menyelamatkan kamu. Walau kelihatan angkuh, tapi dia baik.”
“Aku bermimpi yang sebaliknya. Dia membunuh seseorang, tapi dia memfitnahku, aku hampir ditangkap polisi.”
“Ya ampun, jangan dipikirkan. Itu kan hanya mimpi. Sekarang Simbok mau wudhu dulu.”
“Rimba, tuntun aku, aku juga mau wudhu,” kata Senja.
“Kakimu kan dibalut. Bagaimana kalau basah? Bukankah semalam Mbak juga shalat sambil tiduran?”
“Ambilkan kursi agar aku bisa duduk. Nanti aku atur sendiri.”
“Baiklah.”
***
Pagi hari itu Senja diam di rumah, hanya Rimba yang masuk sekolah. Mbok Mangun tidak pergi berjualan, karena hatinya belum tenang setelah kejadian menghebohkan keluarganya sejak kemarin siang.
Ia memberikan sarapan untuk Senja, agar ia bisa segera meminum obat, lalu ia pamit untuk pergi ke pasar.
“Kamu mau dimasakin apa Nduk?”
“Simbok aneh-aneh saja. Masaklah apa yang bisa Simbok masak, Senja kan mau semua masakan Simbok. Lagipula Senja tidak apa-apa, bisa bangun dan berjalan pelan,” kata Senja yang duduk di kursi makan, di depannya tampak setumpuk buku pelajaran.
“Mengapa tidak istirahat dulu, belajarnya kalau sudah lukanya sembuh,” kata Simbok.
“Tidak apa-apa Mbok, ini hanya luka ringan.”
“Kemarin kamu mengalami hal yang membuat kamu lelah, sakit, cemas, pasti itu membuat kamu tidak tenang.”
“Sekarang Senja sudah merasa tenang. Kan ada Simbok, ada Rimba.”
“Ya sudah, istirahat kalau merasa capek, Simbok mau ke pasar dulu.”
“Baiklah, hati-hati ya Mbok, jangan lama-lama.”
“Cuma beli sayur, masa lama sih?” kata mbok Mangun sambil beranjak pergi.
Senja mulai membuka buka bukunya. Ujian sudah dekat, ia harus bersiap menghadapinya. Kalau nilainya bagus, ia bisa mencari bea siswa untuk melanjutkan kuliah. Tapi tidak, ia sudah berjanji kepada simboknya bahkan kepada dirinya sendiri, bahwa setelah lulus dia akan bekerja, agar bisa membantu membiayai sekolah Rimba, jadi bisa meringankan beban simboknya. Walau begitu belajar itu kan kewajibannya.
Tapi baru saja ia membuka buku, ia mendengar seseorang mengetuk pintu.
Tertatih Senja berjalan ke arah depan, dan terkejut melihat siapa yang berdiri di tengah pintu.
“Non Rosa?”
“Senja, kamu baik-baik saja?”
“Saya baik, Non. Hanya belum boleh masuk sekolah. Kaki Senja masih sakit. Simbok masih khawatir kalau Senja nekat ke sekolah.”
“Sebenarnya aku datang untuk menjemput kamu.”
“Menjemput ke mana?”
“Mengantar kamu ke sekolah, karena aku tahu kamu belum bisa naik sepeda.”
“Ah, Non terlalu baik. Terima kasih banyak Non, tapi Senja belum bisa masuk, mungkin besok, atau lusa. Simbok belum mengijinkan.”
“Kalau besok biar aku jemput saja.”
“Tidak Non, jangan. Saya jadi merepotkan. Sungguh tidak usah. Belum tahu besok sudah bisa masuk atau belum.”
Lalu Senja bingung Rosa mau dipersilakan duduk di mana. Keluarga mbok Mangun tidak punya kursi untuk menerima tamu. Adanya bangku kayu di depan, dan Rosa pernah dipersilakan duduk tapi tidak mau.
“Maaf Non, saya ingin mempersilakan Non duduk, tapi ….”
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengantar kamu ke sekolah sebenarnya. Tapi kalau kamu belum mau pergi ke sekolah, ya sudah, aku pulang saja.”
“Maaf ya Non, kami tidak punya kursi.”
“Tidak apa-apa. Aku pamit ya. Tapi Simbok tidak kelihatan. Jualan?”
“Tidak Non, hari ini tidak jualan. Simbok sedang ke pasar.”
“Oh, ya sudah.”
Rosa membalikkan tubuhnya dan berlalu.
Senja menatapnya heran. Gadis kaya raya yang tampak ketus dan sombong, ternyata hatinya sangat baik. Diam-diam Senja bersyukur, merasa bertemu dengan orang-orang baik.
***
Rosa tidak segera pulang. Ia mampir ke rumah keluarga Wiguna. Ia senang melihat pak Wiguna dan Aska belum berangkat ke kantor.
Pak Wiguna menyambutnya dengan ceria.
“Pagi-pagi sudah sampai di sini, Rosa?”
“Dari jalan-jalan pagi. melihat mobil Om dan Aska masih di halaman, lalu Rosa mampir. Om mau ke kantor? Tumben.”
“Ya, sudah beberapa hari tidak ngantor. Om kan sudah tua, semuanya sudah om serahkan pada Arka, tapi sesekali om juga harus melihat, apakah mereka sudah bekerja dengan baik.”
“Iya Om, itu penting. Papa juga setiap hari masih ke kantor. Saya diserahi bisnis yang ada di luar negri, tapi belum sanggup.”
“Memangnya kenapa?”
“Mungkin sebentar lagi, harus siap-siap dulu.”
“Menikahlah dulu, baru mengerjakan bisnis papa kamu.”
“Yang diajak menikah belum ada Om.”
“Kamu?” tiba-tiba Arka yang mau berangkat kerja keluar, dan berhenti ketika melihat Rosa. Sesungguhnya rasa kurang senangnya pada Rosa sudah banyak berkurang, semenjak Rosa membantu Senja sehingga Senja segera bisa mendapat pertolongan.
“Dari mana, pagi-pagi?”
“Kalian mengobrol saja dulu, aku mau ke kantor duluan. Arka juga tidak perlu buru-buru. Berbincang dulu,” kata pak Wiguna yang langsung berdiri dan berjalan menuju ke mobilnya.
Arka masih berdiri di depan Rosa.
“Aku dari rumah mbok Mangun.”
“Kamu? Dari sana?”
“Iya, aku pikir hari ini Senja mau masuk sekolah, mengingat dia itu anak rajin. Maksudku akan mengantarkannya ke sekolah. Kan kakinya yang sakit, jadi mungkin belum bisa naik sepeda.”
“Jadi hari ini dia sudah ke sekolah?”
“Belum...kata Senja, simboknya belum mengijinkan. Biar istirahat dulu, katanya. Jadi aku langsung pulang.”
“Bagus sekali kalau kamu mau memperhatikannya. Aku mengucapkan terima kasih.”
“Kok kamu yang berterima kasih?”
“Apa Senja tidak mengucapkan terima kasih? Mbok Mangun juga? Sudah kan?”
“Sudah.”
“Aku juga mengucapkan terima kasih, karena mereka itu sudah seperti keluargaku. Lagi pula ketika Senja diculik, ia sedang pergi bersamaku. Jadi seharusnya aku yang bertanggung jawab. Jadi aku tetap harus mengucapkan terima kasih kepada kamu.”
“Sama-sama Arka, bagiku menolong orang yang kesusahan itu kan sudah menjadi kewajiban sesama, jadi aku ikhlas saja menerimanya. Tidak perlu berlebihan.”
“Ternyata kamu bisa berbaik hati juga,” kata Arka sambil tersenyum.
Sungguh kebaikan yang diberikan Rosa sangat menyentuh. Tak pantas kalau Arka masih menanggapinya dingin. Hal itu dirasakan oleh Rosa yang tentu saja sangat gembira menerimanya. Ia harus terus mengambil perhatian Arka dan menarik simpatinya.
“Besok pagi aku juga mau ke rumah Senja pagi-pagi. Tadi aku sudah bilang kalau akan selalu menjemputnya selama kakinya masih sakit.”
“Mungkinkah besok dia siap masuk sekolah?”
“Entahlah, semuanya belum pasti, tapi aku akan tetap ke rumahnya. Pokoknya sebelum dia bisa menggenjot sepedanya dengan baik, dan berjalan tegap, aku akan selalu mengantar dan menjemputnya."
Arka tersenyum. Ia senang, hal yang akan dilakukannya sudah lebih dulu akan Rosa lakukan.
Tiba-tiba ponsel Rosa berdering.
“Apa? Jangan sekarang. Baiklah, usul kamu bagus, nanti kita bicara lagi, aku sedang di jalan.”
***
Besok lagi ya.