Wednesday, September 30, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 19

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  19

(Tien Kumalasari)

 

Fajar menunggu di mobil sementara pak Manan tampak melongok ke sana kemari.

“Benar-benar tidak ada Pak,” kata pak Manan setelah kembali ke mobil.

“Tidak ada yang bisa ditanya ya.”

“Rumah ini terpencil, agak di sebelah sana perkampungan. Apakah pak Fajar ingin menunggu?”

“Sampai kapan? Kita tidak tahu dia ke mana.”

“Kemarin kan istrinya sakit. Barangkali sedang membawa istrinya berobat.”

“Mungkin juga ya.”

“Lalu kita akan mencarinya?”

“Tidak usah, kita langsung pulang saja, soalnya kalau mencari tidak tahu tempatnya, kalau menunggu tidak tahu akan berapa lama.”

“Baiklah kalau begitu.”

Pak Manan membawa mobilnya keluar dari gang sempit itu, lalu menuju pulang seperti perintah majikan mudanya.

Tapi dalam perjalanan itu, Fajar tampak masih memikirkannya.

“Ke mana ya mereka?”

Pak Manan menoleh ke arah majikannya, yang tampak masih memikirkan pak Karimun dan istrinya. Ia heran sang majikan muda tiba-tiba sangat peduli kepada orang yang baru dikenalnya. Bukankah dia sudah menolongnya, sudah memberinya uang yang lumayan banyak, sudah memberi sembako untuk keperluan hidupnya. Apa itu belum cukup?

“Entah mengapa, saya kok terus memikirkan mereka,” gumam Fajar.

“Saya juga berpikir demikian tentang Bapak. Mengapa pak Fajar begitu peduli, sementara tadi sudah menolongnya, dan memberi uang dan bahan makanan.”

“Heran ya?”

“Sangat heran.”

“Mungkin karena aku sangat kasihan.”

“Banyak orang hidup berkekurangan Pak. Bapak juga sudah sering membantu, tapi perlakuan Bapak terhadap pak Karimun sangat berbeda.”

Fajar menghela napas panjang. Seperti mimpi ketika tiba-tiba berhenti dan membawa seorang korban kecelakaan di tepi jalan ke rumah sakit, dan memberikan banyak hal. Mengapa dia melakukannya?

***

Pagi hari itu Bimo dipanggil ke bagian kepegawaian. Sangat tidak diduga ketika tiba-tiba dia dipindahkan tugasnya, bukan lagi menjadi OB tapi diperbantukan di bagian gudang. Apakah itu ada hubungannya ketika kemarin pak Pranoto memanggilnya dan menanyakan tentang keluarga dan kehidupannya? Mengapa tiba-tiba sang pimpinan mengangkat derajatnya dari seorang OB menjadi pegawai gudang?

Hal itu terjawab ketika tiba-tiba Fajar yang baru datang siang itu mencarinya setelah menghadap ayahnya.

“Bagaimana Bimo, kamu lebih senang di sini?” tanya Fajar.

"Jadi Mas Fajar yang meminta agar saya dipindahkan ke bagian ini?”

Fajar hanya tertawa.

“Aku bukan petinggi di sini. Bukankah pak Pranoto yang punya kuasa?”

Bimo tersenyum.

“Apapun itu, kedudukan saya dipindahkan setelah mas Fajar datang kemari. Terima kasih banyak ya.”

“Kok terima kasih padaku?"

“Pokoknya terima kasih.”

“Ya sudah, lanjutkan tugas kamu.”

”Saya masih harus belajar Mas. Banyak belajar.”

“Belajar itu bagus. Kalau kamu banyak belajar maka kamu akan menjadi pintar. Yuk, aku pergi dulu, kantorku bukan di sini,” kata Fajar sambil menepuk bahu Bimo.

***

Sepeninggal Fajar banyak orang berbincang tentang kemiripan Bimo dan putra mahkota perusahaan pak Pranoto.

“Bukan mirip. Itu persis,” kata salah satu dari mereka.

“Mereka seperti kembar.”

“Yang tidak sama adalah nasibnya.”

“Benar, yang satu direktur muda, satunya pegawai gudang.”

“Itupun baru hari ini, tadinya bimo hanya OB. Mungkin karena wajahnya mirip itu maka dari OB lalu dipindahkan ke gudang.”

“Ya, kamu betul.”

“Ini sebuah keberuntungan bagi Bimo.”

“Tapi Bimo itu baik. Ia tidak bersikap sombong walau kedudukannya berubah.”

“Sejak pertama kali datang dia memang sudah baik.”

“Benar. Ia baik kepada siapa saja.”

Bimo bukan tak tahu ia sering diperbincangkan. Tapi ia tak mempedulikannya. Ia selalu bersikap baik dan teman-menanya menganggap dia teramat santun. Kedudukannya yang berubah sama sekali tidak membuatnya bersikap sombong.

***

Pak Pranoto kembali menegur Fajar atas keterlambatannya datang, dan sekali lagi Fajar mengatakan bahwa ia harus menolong seseorang yang terluka di pinggir jalan.

“Kamu itu terlalu baik, sehingga mengabaikan kepentingan kamu sendiri,” tegur sang ayah.

“Bukankah menolong orang adalah perbuatan mulia?”

“Kamu kan bisa, memanggil ambulans atau polisi, biar mereka yang mengurusnya.”

“Orangnya aneh, tidak mau ada yang lapor polisi. Walau dia korban tabrak lari.”

“Mengapa tidak mau? Jangan-jangan dia penjahat, takut bertemu polisi.”

“Bukan Pak, dia bilang takut bukan karena dia penjahat, tapi karena yang bersalah itu dia, sehingga tertabrak sepeda motor.”

“Itu kan menjadi urusan polisi?”

“Justru itu, dengan lugunya dia bilang, dia tidak mau lapor polisi, takut dipenjara, karena dia yang bersalah, karena menyeberang tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan.”

Pak Pranoto tersenyum.

“Lalu kamu mengurusnya sampai selesai? Pantesan terlambatnya lama.”

Tidak, setelah sampai di rumah sakit, pak Manan Fajar minta mengantarkan saya ke kantor, lalu selanjutnya pak Mananlah yang mengurus si korban.”

“Ya sudah, lain kali kalau melakukan sesuatu harus dengan perhitungan. Bukan apa-apanya, tapi waktunya. Dalam bekerja, waktu itu sangat penting. Sebuah keterlambatan bisa membuat sebuah transaksi bisnis bisa gagal.”

“Iya Pak, maaf. Tapi entah mengapa, Fajar kasihan sekali pada orang itu.”

“Kamu kan sudah menolongnya? Kamu bayar rumah sakitnya?”

“Iya.”

“Kamu beri dia uang?”

“Iya.”

“Ya sudah, mau apa lagi?”

“Entahlah, kasihan saja pada kehidupannya. Rumahnya berdinding bambu, atap rumbai, alasnya dari tanah.”

Pak Pranoto tertawa melihat sang putra.

“Fajar, ada apa kamu ini ? Banyak orang yang tidak punya di dunia ini, dan kita, sudah melakukan banyak hal untuk mereka.. Kamu bawa rasa kasihan kamu sampai ke rumah sementara kamu sudah berusaha membantunya.”

“Fajar juga tidak tahu.”

“Lupakan saja, dan sekarang kembalilah ke kantor, walau hanya sebentar saja. Kalau capek kamu bisa pulang lebih awal kan?”

***

Fajar langsung ke kantornya sendiri dan melakukan tugasnya seperti biasa. Memeriksa laporan, mencermati setiap langkah kemajuan dari perusahaan yang dipimpinnya. Pak Pranoto sangat bangga kepada anak laki-lakinya, dan itu sebabnya ia mempercayakan salah satu usahanya kepada Fajar.

***

Sore hari itu Sarah seperti biasa menjajakan korannya. Tapi matanya terus mencari-cari. Ada mobil yang sangat dikenalnya, dengan pengendara yang gagah dan tampan, yang diharapkan lewat disore itu dan membeli korannya. Bukan uangnya, tapi entah mengapa, senang saja melihatnya datang.

Korannya tinggal beberapa lagi. Ia akan segera pulang karena tadi sang nenek mengatakan bahwa kurang enak badan.

“Sarah!”

Sarah tersenyum, ia melihat Bimo melenggang dari kejauhan.

“Belum pulang Sar?”

“Hampir Mas.”

“Iya, ini sudah sore. Korannya masih ada?”

“Tinggal beberapa.”

“Sini aku bantu, nah … itu pas lampu merah.”

Keduanya bergegas ke jalan. Masing-masing laku satu, tapi mereka tampak senang.

“Hanya satu Sar?”

“Tidak apa, rejeki itu ada takarannya. Kalau dikasih satu ya tidak apa-apa, kalau dikasih banyak ya alhamdulilah.”

“Apa kamu mau mengembalikan sisanya ke agen sekarang?”

"Iya sih, sudah sore,” katanya sambil menatap ke arah jalan. Yang ditunggunya belum kelihatan, tapi ia ingin segera pulang.

“Ya sudah, daripada kesorean lebih baik pulang saja Sar. Sebenarnya aku ingin cerita, sejak kemarin belum jadi. Besok saja ceritanya ya.”

Sarah mengangguk, tapi ia menoleh ke arah jalan. Dan yang ditunggunya muncul. Wajah Sarah tampak bersinar. Setengah berlari ia mendekati mobil yang mendekat.

Bimo menangkap wajah berseri itu dan tiba-tiba merasa dadanya sakit. Ternyata yang dtunggu Sarah bukan dirinya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, September 29, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 18

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  18

(Tien Kumalasari)

 

Bu Karimun tersenyum, tapi senyuman itu terasa pahit. Kenangan masa lalu itu terasa menyakitkan, mengiris jantungnya sampai berkeping-keping.

“Ya sudah Bu, jangan kamu pikirkan lagi. Yang harus kita pikirkan adalah kelanjutan hidup kita ini.. Kita harus bersyukur, karena betapapun susahnya, kita masih diberikan hidup dan selalu ada saja jalan untuk hidup.”

“Iya Pak, hidup ini adalah karunia. Dulu aku ingin sekali segera mati sehingga tak lagi merasakan papa dalam kehidupan ini. Tapi kemudian aku menyadari, bahwa kita bukanlah pemilik kehidupan ini. Kita tidak berhak menentukan mati dan hidup kita, dan apapun bentuknya harus kita syukuri. Ya kan Pak, itu juga yang selalu kamu katakan ketika kita sedang suntuk memikirkan kehidupan ini.”

“Ya sudah, tadi aku hanya mengatakan tentang anak muda ganteng itu, seandainya anak kita ada, pasti sudah sebesar dia. Sekarang jangan sampai karena ucapan aku itu lalu kamu menjadi sedih. Ayo kita makan dulu. Tadi pak sopir yang baik hati itu juga membelikan kita nasi dan lauknya di jalan. Ini Bu, ayo makan, sejak kemarin kita belum makan kecuali meneguk segelas air putih.”

Pak Karimun menyiapkan makanan yang berupa nasi bungkus dan lauk pauknya, karena ia tahu istrinya sedang sakit.

“Nanti setelah makan, aku antarkan kamu ke pak Mantri, agar diberikan obat untuk sakitmu itu Bu.”

“Apa Bapak punya uang? Atau kita jual sebagian beras ini agar kita punya uang?”

“Kamu itu bagaimana, apa aku tadi belum bilang kalau aku juga diberi uang oleh orang baik itu? Ini Bu, lumayan banyak.”

“Ya Allah, itu banyak sekali Pak. Bersyukur kita punya uang. Ketika Bapak sakit belum bisa bekerja, kita juga tidak perlu belanja untuk makan. Bahan makanan ini bisa kita makan selama sebulan..”

“Ia juga minta agar aku kontrol ke rumah sakit. Kepalaku ini kan luka dan tadi harus dijahit. Kata dokternya, seminggu lagi setelah obatnya habis harus kontrol.”

“Allah Maha Besar ….,” Bu Karimun mengusap air mata haru.

“Makanlah, nanti aku antarkan kamu ke pak Mantri.”

***

Malam itu Fajar menginap di hotel karena urusannya belum selesai.

“Bagaimana tadi kabarnya pak tua itu, Pak?” tanya Fajar kepada pak Manan ketika mereka sedang duduk di lobi hotel.

“Sudah saya antarkan ke rumahnya, Pak. Ini catatan pengeluaran uangnya, untuk beli beras dan lain-lain, dan sedikit makanan karena katanya sejak kemarin belum makan, lalu sisanya berupa uang saya berikan semua kepada pak Karimun.”

“Ya sudah, tidak apa-apa, syukurlah pak Manan bisa menyesaikan semuanya. Entah mengapa, aku merasa iba melihat pak tua tadi. Eh, siapa namanya?”

“Pak Karimun.”

“Nah, pak Karimun. Pak Manan juga ketemu istrinya?”

“Istrinya kurus dan pucat. Tadinya ia berbaring di bangku panjang, lalu bangun, tapi kami tidak bicara banyak, karena harus segera menjemput Bapak.”

“Dan ternyata urusannya baru diselesaikan besok pagi.”

“Tidak apa-apa, tadi pak Pranoto bilang, kemungkinan harus menginap, jadi saya juga siap-siap membawa ganti baju.”

“Bagaimana keadaan rumah pak Karimun tadi?”

“Buruk. Dindingnya anyaman bambu, atapnya rumbai. Lantainya juga lantai tanah. Benar-benar keadaannya memprihatinkan.”

“Pak Manan bisa bekerja apa?”

“Katanya tadi kan dia bekerja apa saja untuk membantu orang-orang.”

Mereka diam, lalu Fajar meminta pak Manan agar beristirahat, karena besok pagi mereka akan pulang setelah menyelesaikan urusannya di kantor.

Fajar masuk ke dalam kamarnya sambil memikirkan sesuatu. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa iba melihat keadaan pak Karimun dan istrinya.

***

“Mas Fajar tidak pulang, berarti dia menginap ya Pak?” tanya Mentari kepada ayahnya.

“Dia sudah memberi tahu bapak. Dia akan pulang besok pagi setelah urusannya selesai.”

“Sepi nggak ada mas Fajar.”

“Padahal kamu selalu digangguin, ketika dia tak ada kamu merasa kesepian kan?”

“Mas Fajar itu memang agak nakal, sering gangguin Mentari, tapi dia kan baik dan sayang sama Mentari. Mentari minta apa saja pasti diberi.”

“Kamu juga jangan manja, ingat, kamu itu sudah besar, hampir lulus SMA, hampir kuliah, dan kamu juga harus belajar bisnis, karena kamu harus memegang salah satu perusahaan bapak, nantinya.”

“Aduuh, Mentari belum memikirkannya Pak. Bekerja pasti berat. Berangkat pagi, pulang sore, terkadang malam.”

“Mentari, tidak ada orang bekerja yang merasa pekerjaan itu enteng. Semuanya berat. Uang didapat hanya dengan berusaha. Jangan mentang-mentang sekarang hidup kamu berkecukupan lalu malas berusaha.”

“Iya, kan masih lama Pak.”

“Biarpun lama, nanti sambil kuliah kamu harus belajar.”

Mentari merengut, tapi ia mengerti bahwa orang tuanya bermaksud membuat dirinya bisa belajar untuk bekal di kemudian hari kelak.

***

Sore itu koran di tangan Sarah sudah habis, tapi dia masih duduk termangu di bawah pohon, di mana dia selalu beristirahat. Apakah ada yang ditunggunya?

Bimo yang baru pulang dari bekerja, melihatnya heran. Tadi di kantor dia di panggil pimpinan, dan banyak yang ditanyakannya. Entah mengapa, pak Pranoto sendiri yang bertanya tentang keluarganya. Sudah saatnya pulang ketika itu, jadi sore itu dia pulang terlambat. Ia tak berharap ketemu Sarah, karena dihari sesore itu biasanya Sarah sudah pulang. Tapi ia heran melihat Sarah masih duduk di sana.

“Sarah!”

Ketika ia menyapa, Sarah tampak sudah berdiri, tampaknya baru akan beranjak pulang.

“Kamu belum pulang?”

“Belum, eh … ini mau pulang. Kok mas Bimo baru pulang?”

“Iya, tadi disuruh menghadap pimpinan.”

“Kena marah?”

“Tidak, aku kan tidak melakukan kesalahan. Hanya ditanya-tanya soal keluarga dan kehidupan saya. Nggak tahu kenapa.”

“Mau dikasih gaji lebih banyak,” canda Sarah.

Bimo tersenyum sambil mengaminkan.

“Sebenarnya aku mau cerita, tapi nanti kamu kesorean, besok saja ya.”

“Cerita apa sih?”

“Besok saja, ini sudah sore.”

“Ya sudah, ini juga sudah kesorean. Aku pulang ya Mas,” kata Sarah sambil melambaikan tangannya dan berlalu.

Walau begitu sebentar-sebentar dia menoleh ke jalan. Seperti ada yang dicarinya. Bibirnya perlahan membisikkan sesuatu.

“Mengapa hari ini dia tidak lewat ya?” 

Lalu Sarah mengomeli dirinya sendiri. 

"Ada apa aku ini? Mengapa aku mengharapkan dia lewat? Ini ada apa? Tidak, mengapa aku memikirkannya?" kata batinnya berkali-kali.

Sementara itu Bimo pulang dengan pikiran yang digambarkannya sendiri.

“Sarah tidak pulang karena menunggu aku kan? Biasanya aku pulang agak sore, dan itu terlambat sejam lebih . Pasti Sarah tidak mau pulang sebelum bertemu aku. Kan aku sudah bilang, kalau aku bersikap baik, pasti Sarah juga akan jatuh hati padaku," kata batinnya sambil menuju rumah dan tersenyum-senyum sendiri.

***

“Mengapa pulangnya sudah sore, Sarah?”

“Iya Nek, menunggu koran habis,” kata Sarah sekenanya.

Padahal walau dagangannya belum habis dia pasti sudah pulang kalau hari sudah sore. Menunggu dia lewat? Diam-diam Sarah memukul pipinya sendiri.

“Hei, ada apa kamu ini? Mengapa wajah sendiri dipukul?”

Sarah tersipu.

“Ini Nek, Sarah kira ada nyamuk nempel.”

“Ada-ada saja, jam segini nyamuk-nyamuk masih tidur,” kata nenek Suli sekenanya.

“Sarah mandi dulu ya Nek.”

“Ya sudah mandi dulu sana, Nenek buatkan wedang jahe biar badan kamu segar. Nenek juga merasa tidak enak badan ini.”

“Tuh kan, Nenek jangan kecapekan. Bekerja sekuatnya saja.”

“Iya, Nenek tahu, tapi memang lagi musim orang sakit, bukan karena kecapekan. Sudah, katanya mau mandi.”

***

Belum terlalu siang ketika Fajar mengajak pak Manan pulang. Semuanya sudah selesai, dan ia tinggal melaporkan semuanya nanti kepada sang ayah.

“Tapi kita mampir ke rumah pak Karimun dulu ya.”

“Ke sana lagi Pak?” tanya pak Manan heran.

“Aku kan belum pernah ke sana, pengin lihat keadaannya saja.”

“Baiklah.”

Tapi ketika sampai di rumah pak Karimun, mereka mendapati rumah itu tertutup. Pak Manan berkali-kali mengetuk pintu, tapi tak terdengar suara dari dalam. Bahkan ketika ia mendorong pintunya yang ternyata tidak terkunci, rumah itu kosong.

“Tidak ada orang, Pak.”

“Pergi ke mana?”

“Nggak ada yang bisa ditanya Pak, rumah ini jauh dari tetangga.”

***

Besok lagi ya.

 

 

Monday, September 28, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 17

 DARAH  CINTA DAN AIR MATA  17

(Tien Kumalasari)

 

Sopir meminggirkan mobilnya, lalu turun mendekati laki-laki tua yang bersandar di trotoar. Orang--orang hanya melihat, barangkali karena korbannya hanya seorang tua dengan pakaian lusuh yang dikiranya peminta-minta atau entahlah.

Tiba-tiba runtuh belas kasihan Fajar. Ia ikut turun, dan mengajak pak Manan untuk memapah laki-laki itu.

“Kita bawa dulu ke rumah sakit,” kata Fajar.

Ada orang yang kemudian peduli, lalu membantu  mengangkatnya ke mobil Fajar.

“Kenapa dia?” tanya Fajar kepada orang yang berkerumun di situ.

“Terserempet sepeda motor, lalu pengendaranya kabur.”

“Mengapa tidak segera lapor polisi?”

“Kami semua bingung. Pak tua itu tampaknya bilang jangan lapor … tak usah … tak usah … katanya.”

Pak Tua itu sudah duduk di jok belakang. Ada darah di kepalanya. Ia tampak lemas.

“Cepat ke rumah sakit, pak Manan.”

Pak Manan melarikannya ke rumah sakit terdekat.

Orang tua itu merintih.

“Tidak usah … tidak usah … saya tidak punya uang untuk membayar, berhenti di perempatan itu saja, saya mau pulang.”

“Bapak luka parah. Harus diobati.”

“Saya membayar pakai apa? Saya belum mendapat uang sepeserpun,” katanya sambil merintih.

“Bapak tidak usah memikirkan uangnya. Saya yang akan membayar, jangan khawatir.”

“Tapi … bagaimana nanti … kalau …”

“Bapak jangan memikirkan apapun. Tenang saja. Yang penting Bapak mendapat pengobatan. Kalau sudah selesai dan tidak ada yang parah, Bapak bisa pulang.”

“Mengapa tadi Bapak melarang mereka lapor polisi?” sela pak Manan.

“Nanti saya yang dihukum.”

“Mengapa Bapak harus dihukum?”

“Kan saya yang salah, menyeberang tanpa melihat kiri kanan.”

Fajar tersenyum, pak Manan tertawa pelan.

“Ya tidak, masa Bapak harus dihukum?”

“Bukankah yang salah harus dihukum?”

“Tidak gampang menghukum orang. Mungkin pengendara itu ngebut, atau entah bagaimana seandainya menjadi suatu perkara, tapi tidak serta merta Bapak harus dihukum.”

“Rumah Bapak di mana?”

“Dari tempat saya kecelakaan tadi, menyeberang, masuk kampung. Istri saya pasti menunggu.”

“Sebenarnya Bapak mau ke mana?”

“Mencari pekerjaan.”

“Pekerjaan apa?”

“Apa saja, bersih-bersih kebun, memotong rumput, tapi dari pagi belum ada yang butuh tenaga saya. Istri saya sedang menunggu di rumah, dia juga sedang sakit, dari kemarin belum memasak.”

Jatuh rasa iba di hati Fajar. Dirinya hidup bergelimang harta, sementara ada orang yang tidak bisa makan dari kemarin? Sedang sakit pula?

“Ditambah saya menemui celaka seperti ini, istri saya pasti menunggu dan khawatir.”

“Pak, Bapak jangan khawatir. Nanti setelah berobat, saya kasih uang ke Bapak, agar bisa membeli makanan. Juga obat bagi istri Bapak.”

Pak tua itu meruntuhkan air mata. Tersendat-sendat ketika ia mengucapkan terima kasih.

“Nama Bapak siapa?”

“Saya, Karimun.”

***

Mereka sudah sampai di rumah sakit. Fajar mengantarkannya sampai ke IGD, meninggalkan uang di loket administrasi.

“Pak Manan, nanti pak Manan mengantarkan saya ke kantor, pak Manan kembali lagi kemari untuk mengurus pak Karimun. Kalau harus opname ya biarlah opname, nanti pak Manan bawa uang yang cukup, berikan kepada pak tua itu, kalau bisa sekalian beli makanan agar dia bisa segera makan. Kasihan dari kemarin tidak makan. Kalau bisa langsung pulang, pak Manan antarkan dia ke rumahnya. Belikan apa yang mereka butuhkan untuk makan, terserah pak Manan, asal mereka tidak kelaparan lagi.”

Panjang lebar Fajar memberi pengarahan kepada pak Manan, agar pak tua bernama Karimun itu mendapat pertolongan dan bisa makan.

“Baik, Pak. Apa Bapak mau berangkat sekarang?”

“Tunggu hasil pemeriksaan dulu, apakah lukanya parah, atau bisa langsung pulang nanti. Setelah jelas keadaannya, pak Manan antarkan saya dulu ke kantor, lalu kembali kemari.”

“Baik.”

Fajar menemui dokter yang menangani, dan mengatakan bahwa lukanya hanya luka luar, tapi perlu dijahit. Tapi nanti setelah perawatan, dia bisa pulang.

Setelah mendapat keterangan, Fajar segera minta agar pak Manan segera mengantarkannya ke kantor terlebih dulu.

***

Di tengah perjalanan, ponsel Fajar berdering, rupanya dari sang ayah.

“Mengapa kamu belum sampai juga di kantor?”

“Maaf Pak, saya tadi berhenti karena menolong orang kecelakaan.”

“Siapa kecelakaan?”

“Seorang tua tak ada yang menolong, saya membawanya ke rumah sakit agar dia mendapat pengobatan yang baik.”

“Kamu sudah ditunggu, mereka sedang rapat.”

”Ini saya sedang dalam perjalanan ke kantor Pak, sebentar lagi sampai.”

“Jangan sampai kamu mengabaikan tugas dengan alasan yang macam-macam, ini tugas penting. Kamu adalah wakil bapak.”

“Iya, kami hampir sampai.”

Pak Pranoto menutup ponselnya begitu saja, tampaknya dia agak kesal karena dari kantor cabang menelponnya bertubi-tubi.

Begitu sudah menurunkan Fajar, pak Manan segera mendapat perintah untuk mengurusi pak Karimun, dan harus berbelanja semua keperluannya, serta memberikan uang yang cukup untuk pak Karimun.

***

Sesampai di sana, pak Karimun sudah hampir selesai ditangani. Pak Manan mengambil obatnya dan menyelesaikan beaya administrasi, lalu mengajak pak Karimun pulang.

“Saya jalan kaki saja,” kata pak Karimun yang kepalanya dibalut perban.

“Jangan, pak Fajar menyuruh saya mengantarkan Bapak sampai di rumah. Ini uang yang pak Fajar berikan untuk Bapak,” kata pak Manan sambil menyerahkan sejumlah uang untuk pak Karimun, dan diterima dengan mata berlinang.

“Ini sangat banyak. Anak muda itu sangat baik hati,” katanya bergetar.

“Uang ini bisa dipakai untuk Bapak kembali kemari untuk kontrol, sampai luka Bapak sembuh.”

Pak Karimun mengangguk-angguk, dan air matanya menetes keluar, membasahi pipinya yang mulai keriput.

Tidak cukup dengan memberi uang, pak Manan berhenti di sebuah toko kelontong. Ia membeli sekarung beras, telur, kecap, sabun, mie, dan apa saja yang bisa dipergunakan untuk dimakan.

“Ini belanja untuk siapa?”

“Ini semua nanti untuk Bapak. Bapak tinggal di rumah sama siapa?”

“Hanya dengan istri saya, sedang sakit pula.”

“Istri Bapak sakit apa?”

“Dari kemarin badannya panas. Mau periksa ke pak Mantri, belum punya uang.”

“Nanti sesampai di rumah Bapak bawa dia ke poliklinik, atau ke pak Mantri, supaya mendapat pengobatan.”

“Terima kasih banyak. Hari ini saya celaka, tapi mendapat berkah yang berlimpah ruah. Istri saya pasti senang.”

“Semoga Bapak juga segera sehat dan mendapat pekerjaan lagi.”

“Iya, kalau sudah sehat saya pasti harus bekerja. Tapi sekarang saya bersyukur, ada orang baik yang membantu meringankan beban saya. Siapa sebenarnya anak muda yang baik hati itu?”

“Dia namanya Fajar. Pak Fajar Pranoto, putra seorang pengusaha besar.’

“Pantas dia begitu royal. Ternyata orang kaya. Muda, tampan, kaya, baik hati. Bukan main dia itu.”

“Bapak tidak punya anak?”

“Jangan tanyakan itu. Saya memang tidak punya anak. Karena itulah walau sudah tua saya tetap harus bekerja sendiri.”

“Semoga rejeki Bapak lancar.”

“Aamiin. Saya turun di depan situ saja.”

“Rumah Bapak di mana?”

“Masih masuk ke kiri, biar saya jalan kaki saja. Jalannya berbatu, sayang mobilnya nanti kotor.”

“Tidak apa-apa, mana mungkin Bapak jalan sendiri dengan membawa barang sebanyak itu?”

“Ah, iya juga.”

“Jadi saya akan mengantarkan Bapak sampai ke rumah, dan membawakan barang-barang itu sampai masuk ke dalam rumah Bapak.”

“Sungguh merepotkan.”

“Ini perintah majikan saya.”

***

Rumah yang reyot, dinding bambu dan atap rumbai, lantainya juga dari tanah. Sambil mengusung beras dan semua belanjaan, pak Manan merasakan bahwa kehidupan pak Karimun dan istrinya sepertinya sangat berat.

“Ini apa saja Pak, dan kamu kenapa? Kepala kamu diperban begitu?” tanya bu Karimun cemas. 

Ia berdiri pelan dari yang tadinya berbaring di balai-balai kayu di dalam rumah.

“Tidak apa-apa, hanya jatuh, dan diberi obat.”

Pak Manan segera pamit, karena dia harus kembali untuk menjemput majikan muda.

“Siapa dia? Mengapa Bapak membawa barang-barang ini?”

“Ada anak muda baik hati yang menolong aku, membawa aku ke rumah sakit, lalu memberi uang, yang nanti bisa kita pakai untuk berobat kamu ke rumah pak Mantri. Ia juga memberi barang-barang ini.”

“Ya Tuhan, ini banyak sekali, ada beras, telur minyak dan macam-macam. Kita bisa tidak beli beras selama sebulan,” kata bu Karimun sambil menangis.

“Ini karunia bagi kita Bu.”

“Siapa orang yang baik hati itu? Yang tadi mengusung barang-barang itu?”

“Itu tadi sopirnya. Majikannya masih muda, gagah dan tampan. Orang kaya yang sangat baik hatinya.”

“Alhamdulillah.”

“Jadi teringat anak kita Bu, seandainya kita sempat merawatnya, dia pasti sudah sebesar dia.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 27, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 019

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  019

(Tien Kumalasari)

 

Menur masih terpana mendengar perkataan pak kepala sekolah. Seakan tak percaya akan apa yang dikatakannya.

“Bu, memang begitulah adanya. Pak Baroto sudah kenal saya sejak lama. Beliau ikut membantu ketika sekolah ini direnovasi. Dia teman sekolah saya waktu SMA, jadi dia sangat mempercayai saya,” kata kepala sekolah itu panjang lebar. Padahal Menur tidak menanyakan tentang hubungan Baroto dengan kepala sekolah itu. Ia hanya sangat terkejut atas apa yang dilakukan Baroto kepada Rahman.

“Nama saya Irwan.”

Menur juga tak menanyakan namanya.

Untunglah dulu ketika membayarkan uang sekolah Rahman dia tidak memperkenalkan dirinya sebagai pembantu Rahman seperti permintaan Rahman. Hanya membayar begitu saja dan pihak sekolah juga tidak menanyakan siapa dirinya. Karena itu kepala sekolah kelihatan menghormati Menur, yang pastinya dianggap sebagai kerabat Baroto, atau bahkan istrinya. Apalagi waktu itu Menur berpakaian rapi, jauh bedanya ketika masih menjadi pengais sampah. Kepala sekolah hanya berpikir, Baroto melakukannya tanpa sepengetahuan istrinya, sehingga sang istri terkejut.

“Bu, apakah masih ada yang akan Ibu tanyakan?” kata Irwan sang kepala sekolah ketika melihat Menur masih termangu.

“Oh, tidak … tidak lagi. Baiklah kalau begitu, terima kasih. Saya permisi.”

Menur mengangguk kemudian meninggalkan kantor sekolah dengan perasaan tak manentu. Ia sangat kesal kepada Baroto karena melakukan banyak hal untuk Rahman tapi tanpa sepengetahuan dirinya.

“Aku harus menegurnya nanti,” geramnya sambil melangkah ke rumah keluarga Baroto. Tapi apakah akan ada kesempatan untuk bicara? Menur meragukannya sehingga ia merasa gelisah sendiri.

***

Lili masih belum berangkat kerja ketika Menur datang. Menur langsung mendekat dan meminta maaf.

“Maaf, saya datang terlambat karena harus mampir ke sekolah anak saya,” katanya lembut. Selalu begitu kalau dia berkata.

“Tidak apa-apa. Ana sedang menunggumu di kamar. Dia belum mau mandi, walau sudah makan pagi,” kata Lili datar.

Baroto yang ada di dekatnya agak terkejut mendengar kalau Menur terlambat datang karena mampir ke sekolah anaknya. Pasti ia sudah tahu apa yang dilakukannya. Tapi sedikitpun Menur tak menoleh padanya, hanya berbicara pada Lili, lalu menuju ke kamar Ana.

Baru saja ia memegang gerendel pintu kamar Ana, Rumi datang dari belakang dan menghardiknya.

“Mengapa baru datang? Mentang-mentang dekat dengan majikan, bekerja semaunya,” katanya ketus.

“Aku sudah minta ijin sebelumnya. Ada urusan di sekolah anakku,” kata Menur mencoba sabar. Tak ketinggalan sambil mengulaskan senyuman.

“Enak saja, mentang-mentang bisa menyekolahkan anak … lalu ….”

Tapi ucapan Rumi terhenti ketika melihat tuannya lewat dan menatapnya dengan pandangan marah. Tuh kan, tuan Baroto tak akan rela Menur disalah-salakan, kata batin Rumi sambil ngeloyor ke belakang.

Tapi tanpa diduga, Baroto mengikutinya dari belakang sampai ke kamar makan.

“Menur bukan pembantu. Dia masih kerabat keluarga ini. Jaga mulut kamu,” pedas kata Baroto, membuat Menur menoleh ke belakang dan berkali-kali meminta maaf.

“Maaf, Tuan, maaf,” katanya kemudian bergegas pergi.

Ketika melangkah itu terpikir olehnya perkataan tuannya tentang ‘kerabat’. Jadi Menur itu masih kerabat? Mengapa nyonya majikan tak pernah memberi tahu kepadanya?

“Mas, kamu ngapain?” tiba tiba Lili menyusul ke ruang makan.

“Mau mengambil minum,” jawab Baroto, padahal dia tadi melihat Rumi berbicara sengit kepada Menur, yang walaupun pelan tapi wajahnya sangat tidak sedap dipandang. Karenanya dia pura-pura lewat dan sempat menegur Rumi.

“Aku berangkat dulu ke kantor.” tiba-tiba Lili menyusulnya.

Baroto menoleh, lalu mengikuti istrinya yang berjalan ke depan. Tumben pamit, pikir Baroto. Lili juga melambaikan tangannya ketika masuk ke mobilnya dan mulai menjalankannya. Agak mengherankan sikapnya hari ini. Hanya saja  Baroto lupa mengatakan kalau besok pagi dia akan kembali ke luar negri.

***

Di kamar Ana, Lili sedang menegur Ana karena kembali mogok tidak mau mandi hanya karena menunggu dirinya.

“Ana kan sudah berjanji untuk tidak merubah kebiasaan walaupun bibi Menur ada di sini? Biar bibi Menur belum datang, kalau waktunya mandi juga harus mandi kan?”

“Ana takut bibi Menur tidak akan datang,” sungut Ana.

“Bibi hanya bilang terlambat, karena sedang ada keperluan di sekolah Rahman.”

“Tapi terlambatnya lama benar.”

“Karena harus bicara agak lama.”

“Nanti Ana tidak mau sekolah di rumah. Ana mau sekolah di sekolah Rahman.”

Tiba-tiba kamar Ana terbuka, dan Baroto muncul tiba-tiba.

“Papa, nanti Ana boleh sekolah di sekolahnya Rahman ya?”

Baroto tersenyum.

“Nanti kalau ajaran baru kita bicara lagi.”

Lalu Baroto berbisik di telinga Menur.

“Maaf, aku tadi ke sekolah Rahman.”

Menur tak menjawab, karena Ana memperhatikan. Ia melangkah menjauh, membetulkan baju Ana yang belum ditalikan. Tapi dibalik pintu yang sedikit terbuka, Rumi melihat ketika Baroto berbisik ke telinga Menur.

***

Menur sudah selesai mendandani Ana, kemudian mengajak Ana keluar dari kamar. Ketika melewati Baroto ia sempat menegur dengan suara lirih, tapi tandas.

“Aku tidak suka kamu melakukan semua itu.”

Lalu ia bergegas keluar, tapi sebelum sampai di pintu, ia mendengar Baroto berkata lirih juga, tapi cukup mengejutkan Menur.

“Karena dia anakku.”

Tangan Menur gemetar. Ketika sampai di luar, Menur melihat Rumi bergegas pergi.

“Bik Rumi tadi ngapain? Aku lihat berdiri di luar pintu.” kata Ana.

Mendengar itu, Baroto yang masih terpaku di dalam kamar segera keluar.

“Kamu mengintip?" Tegurnya keras.

“Tii … tidak Tuan, saya sebenarnya … mau .. mau mengambil baju kotor non Ana,” kata Rumi memberi alasan.

“Jaga sikap dan bicaramu.” tegurnya tandas.

Rumi hanya mengangguk, lalu bergegas pergi.

Ana duduk di ruang tengah, menarik tangan Menur agar duduk di sampingnya.

“Ana sudah makan?”

“Sudah, tadi bareng sama papa, sama mama. Bibi Menur belum datang-datang sih.”

“Besok bibi akan datang lebih pagi.”

“Nanti Ana sekolah.”

“Iya, bibi juga ingat. Ana duduk di sini dulu, bibi mau bereskan meja belajar dan buku-buku Ana ya.”

Ana mengangguk. Baroto mengambil sebuah boneka Ana di kamar, lalu memberikannya kepada Ana.

“Main dulu sendiri. Biar bibi Menur menyelesaikan tugasnya.”

Ana mendekap bonekanya dan mengangguk.

Baroto masuk ke ruang belajar Ana, melihat Menur merapikan meja belajar.

“Besok aku mau kembali ke luar negri.”

Menur mengangkat wajahnya sebentar, lalu kembali menata buku dan alat tulis Ana.

“Dari mana kamu yakin kalau Rahman anakmu? Hanya kira-kira? Aku harap jangan ngawur.”

“Tidak, aku sudah tes DNA, dan benar bahwa Rahman adalah darah dagingku.”

Menur kembali menatap Baroto.

“Tes DNA?"

"Yaa.. maaf aku lakukan diam-diam."

"Lalu apa? Kamu mau mengambilnya dariku? Jangan mimpi.”

“Aku hanya ingin bertanggung jawab pada darah dagingku. Memberikan yang terbaik, dan menjadikannya orang, seperti yang kamu inginkan.”

“Lalu apa?”

“Kalau mungkin aku akan menikahi kamu secara resmi.”

Menur terbelalak.

“Jangan membuat aku menjadi perempuan perusak rumah tangga.”

“Tapi kamu masih cinta kan?”

“Tidak.”

“Suara yang keluar dari bibirmu tidak kompak dengan pandangan matamu.”

Menur sudah selesai membereskan meja belajar Ana, lalu bergegas keluar. Tapi Baroto memegang tangannya.

“Jangan lancang.”

Menur menatap Baroto dengan tatapan marah. Ia mengibaskan tangannya, lalu keluar. Tapi lagi-lagi di luar ia berpapasan dengan Rumi.

“Oh, maaf. Meja belajar sudah disiapkan?” tanyanya. Tentu saja pura-pura. Ia sudah tahu kalau setiap kali Menurlah yang melakukannya.

“Sudah.”

Ketika mau pergi, ia melihat Baroto ada di dalam ruang belajar itu. Banyak hal sudah dicatatnya. Mulut monyongnya siap melaporkannya kepada nyonya majikan.

***

Hari itu Lili pulang dari kantor. Masih agak sore, tidak seperti biasanya. Ia meletakkan bungkusan-bungkusan yang tampaknya berisi makanan di meja, lalu berteriak memanggil pembantu.

“Mboook, bawa makanan ini ke belakang, sekalian tata di meja makan,” titahnya.

Sang pembantu tidak menunggu diperintah dua kali, ia segera melakukannya.

Kemudian Lili menuju ke kamar Baroto. Dilihatnya Baroto sedang berkemas.

“Mas, sedang apa?”

“Besok aku berangkat, sudah pesan tiket pesawat juga.”

“Kok buru-buru?”

“Beberapa hari yang lalu kamu bertanya, kok di sininya lama, sekarang mengatakan kalau aku terburu-buru,” tegur Baroto.

“Tiba-tiba masih ingin Mas ada di sini,” katanya agak pelan, sedikit malu.

“Sudah lama meninggalkan pekerjaan.”

“Kan bisa dipantau dari sini?”

“Ya, tentu itu aku lakukan.”

Baroto menutup kopor yang sudah disiapkan, lalu beranjak keluar.

“Aku beli makanan kesukaan Mas. Sate buntel di rumah makan yang terkenal enaknya. Sebenarnya sekali waktu ingin mengajak Mas makan di sana.”

Baroto merasakan keanehan sikap Lili di beberapa hari terakhir ini. Tapi dia membiarkannya. Ia juga menuruti makan bersama sang istri dengan sate yang dibelikannya.

Ana sudah makan sejak sore sebelum Menur pulang, karena ia tak biasa tidur terlampau malam. Lagipula mamanya selalu pulang malam, di mana Ana pasti sudah mengantuk.

Malam itu Baroto sudah mendahului masuk ke kamar, karena besok harus berangkat pagi-pagi.

Ada yang berat untuk ditinggalkannya, yaitu keberadaan Menur. Mengapa susah sekali merebut kembali hati Menur? Baroto lupa bahwa Menur adalah wanita santun yang tak mau sembarang bertindak.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Lili langsung masuk lalu menutup kembali pintunya.

“Mas, aku boleh tidur di sini ya?”

“App..pa?” Baroto terkejut.

“Aku takut, tiba-tiba mimpi buruk."

***

Besok lagi ya.





Saturday, September 26, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 16

 DARAH CINTA DAN AIRMATA  16

(Tien Kumalasari)

 

Fajar menatap OB gendut itu dengan heran. Dan si OB yang bernama Panut itu cuma cengar cengir seakan mengejeknya.

“O, rupanya kamu belum pernah masuk ke ruang direksi ya, lalu ketika kamu mau masuk lalu berpakaian seperti itu. Bagus sekali, dari mana kamu pinjam baju dan jas itu? Gila, kamu sudah seperti direktur muda. Kamu nyewa ya? Di mana, aku mau ikutan ah, minggu depan kakak sepupuku jadi pengantin,” dan si gendut itu terus mengoceh sambil memandangi Fajar dari depan, samping dan belakang.

Fajar diam beberapa saat dan menatap ulahnya yang aneh.

“Kamu belum pernah melihat putra pak Pranoto ya?”

“Putra pak Pranoto? Ya belum, memangnya kenapa?”

Pada saat itu tiba-tiba Bimo muncul sambil membawa baki kosong. Ia baru membawa minuman untuk para staf. Melayani direktur utama bukan bagiannya.

Ia heran melihat Panut cengar-cengir sambil memandangi seseorang, dan Bimo terkejut ketika melihat siapa orang itu.

“Mas Fajar?”

“Bimo, kamu di sinii?” katanya sama-sama terkejut.

Dan Panut tiba-tiba menjadi surut. Ia terbelalak menatap keduanya, lalu sadar bahwa yang diganggunya bukanlah Bimo.

“Si … siapa ini? Maaf, say … saya kira Bimo. Kok persis banget,” katanya sambil mundur menjauh, takut barangkali laki-laki yang dipanggil Bimo itu akan menghajarnya.

“Kamu bekerja di sini Mas Bimo?”

“Iya, saya OB. Mas Fajar ke sini mau mencari siapa? Ruang direktur di situ,” kata Bimo sambil menunjuk ke arah ruang pak Pranoto.

“Iya, aku masuk dulu. Nanti kita bicara,” kata Fajar sambil tersenyum, kemudian masuk ke ruang sang ayah.

Adalah si gendut Panut yang kelimpungan, ia berdiri mematung dengan mulut melongo.

“Hei, tutup mulut kamu, nanti ada cicak masuk ke dalamnya baru tahu rasa kamu,” ledek Bimo.

Panut sontak menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Ini bagaimana? Aku bingung ,… itu tadi siapa? Aku kira kamu menyewa pakaiaan bagus gara-gara mau ketemu pak Pranoto.”

“Aku juga belum tahu.”

“Tapi sepertinya kalian sudah saling kenal. Itu saudara kembar kamu?”

“Gila apa? Aku ini miskin, masa saudara kembar aku ganteng gagah seperti itu. Itu kan potongan orang kaya. Ke mana-mana dia pakai mobil.”

“Tapi kamu seperti sudah saling kenal? Bagaimana mungkin wajah kalian bisa persis seperti itu?”

“Aku juga tidak tahu. Beberapa orang mengatakan itu. Sudah, aku mau melanjutkan pekerjaan aku.”

“Bukannya kamu disuruh menunggu oleh tamu itu tadi? Katanya dia mau bicara.”

“Tapi aku masih harus mengantarkan minum ke bagian logistik.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Kalau dia butuh, pasti juga akan mencari kamu.”

Dan mereka berpisah, Panut melanjutkan pekerjaannya sambil terus berpikir tentang tamu yang dikiranya Bimo, dan diledeknya habis-habisan. Ada rasa takut kalau tamu itu marah lalu melaporkannya kepada pak Pranoto.

“Bagaimana kalau aku dipecat?”

***

Di dalam ruangan, pak Pranoto sedang bicara serius dengan Fajar. Ada sebuah kantor cabang yang harus ditangani, dan letaknya ada di kota lain.

"Hari ini kamu harus berangkat ke sana, dengan membawa berkas-berkas yang sudah disiapkan sekretaris. Sudah ada yang aku percaya untuk memegang kendali di sana, tapi kamu harus datang dan memperkenalkan diri, agar dia tahu bahwa ada anakku yang lebih aku percaya."

“Apakah Fajar harus berangkat hari ini juga?”

“Sebaiknya hari ini, supaya semuanya cepat selesai. Kalau oke, kamu bisa langsung pulang, tapi kalau kelihatannya masih ada yang harus kamu selesaikan, selesaikan dulu sampai selesai.”

“Baik. Tapi sebelum itu Fajar ingin bertanya. Bapak mempekerjakan seorang OB bernama Bimo?”

“Aku mendengar itu, tapi penerimaan OB itu bukan bapak yang menangani. Ia juga tidak bertugas di ruangan ini karena masih baru. Memangnya kenapa? Dia berbuat tidak sopan sama kamu?”

“Tidak. Dia baik. Coba Bapak panggil dia untuk masuk ke ruangan ini.”

“Memangnya kenapa?”

“Nanti Bapak akan melihat sebuah keanehan.”

Pak Pranoto memencet interkom ke arah ruangan OB dan memanggil Bimo.

Sambil menunggu itu pak Pranoto bertanya lagi, ada apa dengan Bimo?

“Bapak belum pernah melihatnya?”

“Belum, masalah OB itu sudah ada yang menangani. Memangnya ada apa?”

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, dan masuklah Bimo. Fajar menyambutnya tersenyum, lalu meraih lengannya, memintanya mendekat.

Pak Pranoto menatap keduanya yang berdiri berjajar, dan terkejut.

“Bagaimana wajah kalian bisa sama?”

“Fajar juga heran. Teman Fajar juga mengatakan itu.”

“Bedanya adalah, badan kamu lebih tegap dan Bimo ini … agak kurusan sedikit.”

Bimo menundukkan wajahnya. Ia bingung ketika dipanggil pimpinan tertinggi di perusahaan itu, dan heran karena hanya disuruh berdiri di dekat Fajar.

“Kamu mengenal dia?”

“Kenal, hanya sambil lalu, tapi bukan sekali atau dua kali yang mengatakan bahwa wajah kami mirip seperti kembar. Apakah dulu Fajar dilahirkan kembar?”

“Kamu ada-ada saja. Kalau bapak tahu bahwa bapak punya anak kembar, mana mungkin bapak terkejut ketika melihatnya. Tidak, kalian tidak kembar. Hanya sebuah keajaiban bahwa wajah kalian mirip. Bagus sekali Bimo, apa kamu tahu bahwa Fajar ini adalah anakku?”

Sekarang Bimo terkejut, tentu saja dia tidak tahu bahwa Fajar adalah anak majikannya. Ia langsung menjauhkan diri dari Fajar lalu membungkuk hormat.

“Mohon maaf, saya tidak tahu Pak.”

Fajar justru tertawa.

“Hei, ada apa kamu ini, kita tetap berteman. Tidak usah membungkuk-bungkuk begitu.”

“Tapi.”

“Tidak ada tapi, tetaplah bekerja dan sekarang lanjutkan pekerjaan kamu,” titah Fajar yang ditaati Bimo yang tentu saja susah menghilangkan sikap hormatnya. Fajar kan anak pimpinan tertinggi di perusahaan ini?

“Saya akan segera berangkat, tapi kalau boleh, apakah bisa Bimo ditempatkan di divisi yang lebih pantas”

“Maksudmu bukan OB?”

“Kalau Bapak tidak keberatan.”

“Akan bapak pikirkan, sekarang pergilah dan hati-hati.”

***

Sesampai di rumah sepulang dari bekerja, Bimo dengan sangat heboh menceritakan kepada sang ibu, bahwa anak pimpinan perusahaan di mana dia bekerja, wajahnya persis dengan dirinya.

“Wajahnya mirip kamu?”

“Bukan hanya mirip, persis Bu.”

Lalu Bimo menceritakan sambil tertawa-tawa, tentang rekan kerjanya yang mengira anak direktur utama itu dikira dirinya.

Saptari mengerutkan kening. Ia hanya tersenyum tipis ketika Bimo menceritakan hal yang baginya adalah lucu.

“Apakah Ibu melahirkan aku sebagai anak kembar?”

“Bimo, jangan bermimpi. Anakku ya hanya kamu itu.”

“Kok bisa ya Bu, ada orang wajahnya persis.”

“Allah itu Maha Kuasa, Maha Bisa. Mungkin saja wajah kalian sama, bukan hal aneh bagi Allah karena Dia yang menciptakannya. Sekarang mandi dan makanlah, tumben kamu cepat pulang, tidak bertemu Sarah dulu seperti biasa?”

“Gara-gara mengalami hal yang luar biasa tadi, jadi ingin segera pulang dan bercerita pada Ibu.”

“Ya sudah, tidak usah dipikirkan, mandi dan makanlah, Ibu sudah menyediakan makan kesukaan kamu.”

Bimo mengangguk. Ia berjalan ke arah kamar mandi, membiarkan sang ibu melamun di kursinya. Entah apa yang dipikirkannya.

***

Fajar hanya pulang sebentar, berpamit kepada sang ibu tentang tugas yang diberikan ayahnya, kemudian segera memanggil sopir untuk mengantarkannya bertugas.

Jalanan agak rame ketika ia melintasi sebuah tikungan. Pak Manan, sopir setengah tua itu mengendarai mobilnya pelan.

“Mengapa macet sekali ya Pak?”

“Sepertinya di depan ada kecelakaan.”

Lalu mobil yang dikendarai pak Manan sampai di jalan, di mana seorang laki-laki setengah tua bersandar di trotoar, dirubung orang-orang.

“Pak, sepertinya orang itu butuh bantuan. Bisakah kita membawanya ke rumah sakit?”

“Apa tidak kelamaan Pak, nanti terlambat sampai di kantor cabang.”

“Tidak apa-apa, kasihan sekali bapak itu. Berhentilah dulu.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Friday, September 25, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 15

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  15

(Tien Kumalasari)

 

Fajar turun dari mobilnya, lalu menatap Sarah yang wajahnya berseri-seri.

“Korannya masih ada berapa?”

“Memangnya Mas mau beli berapa? Beli koran seperti beli makanan saja,” omel Sarah sambil tersenyum. Tapi ia mengulurkan selembar koran kepada Fajar.

“Aku bilang semua.”

“Semua? Kamu ketularan Mentari ya, borong-borong koran?”

“Ada yang mau, trus nanti aku bagi-bagi.”

“Bener nih?”

“Ya bener, masa aku bohong sih?”

“Tinggal lima … eh, enam lembar.”

“Baik, mana, berikan padaku.”

“Bener nih?”

“Gimana sih kamu ini? Semua ya semua, ini uangnya.”

“Jangan bilang nggak mau menerima kembaliannya ya, tunggu.”

“Tidak usah, ini cukup.”

“Mas, kok gitu sih.”

“Lebih baik gitu, daripada gini,” canda Fajar.

“Kamu kemarin nggak jualan ya?” tambah Fajar.

“Iya, di rumah ada tamu.”

“Oh, tamu penting rupanya. Ngelamar kamu?”

”Iya.”

“Eh, selamat ya. Kapan nikah?”

“Jangan ngaco ah, sudah, sana pergi, aku mau pulang.”

“Pulang?”

“Iya pulang, kan dagangan sudah ada yang borong? Nenek pasti senang aku pulang lebih awal.”

“Sayang aku belum pernah ketemu nenek kamu. Waktu mengantarkan kamu malam-malam itu, aku kan nggak sempat mampir.”

“Memang nggak aku bolehin mampir. Kan sudah malam.”

“Kapan-kapan aku mau ke rumah kamu.”

“Jangaaaan.”

“Kok jangan.”

“Mau apa ke rumah aku? Rumahku jelek. Kamu nggak pantas masuk ke rumah orang miskin.”

“Kata siapa? Aku kan mau ketemu nenek kamu, bukan ketemu rumah kamu.”

“Sudah, pergi sana, aku mau cepat pulang.”

Fajar tersenyum, lalu melambaikan tangannya ke arah Bimo yang berdiri mematung di bawah pohon. Bimo membalasnya, sambil tersenyum juga.

***

Sarah kembali mendekati Bimo, ia ambil sisa air minumnya, lalu sambil ngelesot ia menenggaknya habis. Bimo menatapnya sambil tersenyum. Sarah merogoh sakunya dan menghitung uang pendapatannya.

“Banyak?” tanya Bimo.

“Lumayan. Bisa setoran dan mendapat sisa yang lumayan. Habis, mas Fajar tadi tidak mau menerima kembalian sih. Sebenarnya nggak enak juga, tapi dia memaksa, bagaimana.”

“Tidak apa-apa. Itu kan rejeki buat kamu. Dia baik sekali pada kamu ya.”

“Mas Bimo juga baik sekali padaku.”

“Tapi Aku tidak punya uang lebih untuk memborong koran kamu. Apalagi aku belum lama bekerja dan hanya sebagai pesuruh kantor. Kantor yang baru dibuka juga.”

Sarah terkekeh lucu.

“Mengapa bicara tentang memborong koran? Mas Fajar bilang korannya akan dibagi. Masa beberapa koran akan dibaca sendiri.”

“Dia hanya ingin membantu kamu.”

“Mas Bimo juga banyak membantu aku. Jangan dinilai uangnya. Apa yang mas  Bimo lakukan sangat berarti bagi aku. Mas Bimo salah satu sahabat aku yang terbaik.”

“Tapi aku miskin.”

“Apakah kebaikan dinilai dari kaya dan miskin? Kebaikan bisa berupa apa saja bukan? Mas Bimo terlalu merendah. Jangan berkecil hati ketika nasib membawa kita kepada hidup yang kekurangan atau pas-pasan. Dan jangan berbangga hati kalau memiliki harta yag berlimpah ruah. Manusia itu sama saja di mata Allah.”

“Ya ampun Sarah, kamu masih sangat muda tapi bisa bicara demikian bijak. Aku semakin kagum pada kamu.”

“Ada-ada saja, biasa ya, Aku kira mas Bimo juga punya pemikiran yang sama. Jangan dianggap aku menggurui, karena aku tahu bahwa mas Bimo sudah mengerti. Ayo kita pulang, sudah sore,” kata Sarah sambil bangkit.

Mereka berpisah, meninggalkan rasa tak menentu di hati Bimo. Ia melihat bagaimana Sarah menyambut Fajar. Begitu bersemangat, begitu segar senyumannya. Dan itu membuatnya semakin kecil.

“Apakah Sarah lebih tertarik pada Fajar yang lebih ganteng dan kaya?”

Sambil melangkah pulang, Bimo terus berpikir tentang cara Sarah menyambut kedatangan Fajar. Cemburu? Barangkali iya. Bukankah cemburu itu milik sebuah rasa cinta?

***

"Mas.. kok kamu ikut-ikutan aku memborong koran? Pasti koran dagangan Sarah kan?” kata Mentari ketika melihat sang kakak meletakkan setumpuk koran di atas meja.

“Iya, setiap kali dari kantor Aku kan lewat sana. Kasihan saja, korannya tinggal sedikit, lalu aku ambil semua.”

“Aku juga kasihan sama Sarah, pulang sekolah masih harus jualan koran. Apa nggak capek ya?”

“Ia ingin meringankan beban neneknya yang hanya tukang cuci di rumah tetangga.. Bukan main dia itu, aku kagum pada dia.”

“Jangan-jangan Mas jatuh cinta,” ledek Mentari.

Fajar terkejut mendengar olok-olok sang adik.

“Apa? Jatuh cinta?”

“Selama ini Mas tak pernah perhatian kepada gadis-gadis yang mendekati Mas, tapi mengapa perhatian Mas pada Sarah begitu besar? Pasti ada sesuatu nih.”

“Jangan asal menuduh.”

”Ada apa nih, kakaknya baru pulang kok langsung heboh," kata sang ibu yang tiba-tiba muncul.

“Ini lho Bu, mas Fajar ikut-ikutan memborong koran.”

“Memborong koran? Iya, Kamu juga bawa koran banyak nih.”

“Kasihan sama yang jual. Itu kan teman sekolahnya Mentari. Pulang sekolah langsung jualan koran, jadi karena kasihan, Fajar ikut memborongnya, supaya dia cepat pulang, tidak menunggu sampai korannya habis terjual.”

“Iya Bu, kasihan Sarah. Tapi sepertinya mas Fajar jatuh cinta nih, sama Sarah.”

“Apa? Ngaco kamu,” kata Fajar yang kemudian langsung pergi masuk ke kamarnya.

“Mentari, mengapa kamu mengira kakakmu jatuh cinta sama penjual koran itu?”

Mentari tertawa.

“Sarah itu polos, tapi cantik, dia juga pintar. Kalau mas Fajar suka sama dia ya wajar kan Bu. Buktinya setiap hari lewat di mana Sarah jualan koran. Dari membeli satu-satu, kemudian memborongnya, setelah kemarin lusa melihat Mentari memborongnya karena kasihan.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan Mentari. Masa kamu jodoh-jodohkan kakak kamu sama seorang gadis penjual koran?” kata sang ibu dengan wajah muram.

“Bukan menjodohkan Bu, hanya barangkali saja.”

“Jangan sampai aku punya menantu tukang jualan koran. Kasihan boleh, membantu juga bagus, tapi suka? Jatuh cinta? Amit-amit deh.”

“Ibu tidak suka?”

“Apa yang kamu pikirkan Tari, Kamu suka punya kakak ipar penjual koran? Tidak malu?"

“Ibu jangan marah dulu, Mentari hanya mengganggu mas Fajar.”

“Hanya mengganggu, kalau keterusan, lalu kakak kamu benar-benar suka, amit-amiiiit.”

“Dia itu cantik, pintar, baik kepada siapa saja lhoh Bu.”

“Tapi dia miskin kan?”

Mentari merengut, dia tak sependapat dengan ibunya, yang kelihatan merendahkan orang miskin. Tapi ia tak menjawab apapun lagi, sampai ibunya kembai ke arah belakang, dan Mentari pergi mandi.

***

Fajar bukan tak mendengar apa yang dikatakan sang ibu. Ada rasa miris yang mengiris. Walau belum mengakui kalau dia jatuh cinta, tapi ia suka pada gadis itu. Ia sangat gesit dan bersemangat. Dia tak malu melakukan hal yang tidak banyak dilakukan oleh gadis-gadis muda. Menembus keramaian jalan demi menjajakan dagangan koran, dan belum tentu ada yang membelinya juga.

Pertama kali melihat Sarah, ia hanya kasihan, lalu membeli selembar koran, tapi beli selembar koran itu kemudian menjadi kebiasaan. Ia bukan hanya berhenti di tengah jalan saat mengemudikan mobilnya sepulang kantor, tapi ia memerlukan minggir, hanya demi bisa melihat senyuman Sarah yang memikat. Mengapa juga hatinya tertarik? Fajar belum menemukan jawabannya. Seandainya kemudian rasa cinta itu perlahan tumbuh, ia tak yakin perjalanan cintanya akan mulus. Belum apa-apa sang ibu sudah menunjukkan rasa tak sukanya, dan itu akan sangat berat baginya untuk melangkah. Tapi benarkah dia jatuh cinta? Sampai malam dan ketiduran, Fajar belum menemukan jawabannya.

***

Hari itu Fajar pergi ke kantor ayahnya, yang agak jauh dari kantornya sendiri, walau setiap hari dilewati. Pak Pranoto yang meminta, karena akan ada tugas penting yang akan diberikannya.

Ketika memasuki halaman, dia menjadi perhatian para karyawan. Fajar belum pernah ke kantor sang ayah sejak sang ayah menduduki pimpinan di sebuah kantor cabang yang didirikannya.

Ketika ia hampir memasuki ruang kantor ayahnya, seorang OB menegurnya.

“Hei, Bimo, ada apa kamu berpakaian rapi seperti itu?”

Fajar berhenti melangkah. Ia tidak salah dengar kan? Tadi OB yang gemuk pendek itu memanggilnya Bimo?

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 19

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  19 (Tien Kumalasari)   Fajar menunggu di mobil sementara pak Manan tampak mel ongok ke sana kemari. “Benar-benar...