Monday, June 29, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 36

 NAMAKU TETAP SENJA  36

(Tien Kumalasari)

 

Arka terkejut. Ia berputar mengitari mobil, setengah berlari mendekati Rosa yang terbaring sampil merintih. Pengendara sepeda motor itu kabur, tapi Arka tak memperhatikannya. Ia lebih mempedulikan Rosa yang merintih kesakitan.

“Kamu terluka?”

Hanya siku sebelah kiri karena terbanting, tapi perutku sakit sekali. Aku tak bisa bangun.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” kata Arka yang kemudian menggendong Rosa, dibawanya masuk ke dalam mobil. Rosa bersandar di lengan Arka dengan nyaman. Dalam hati ia berkata, seandainya ia digendong lebih lama.

Arka meletakkannya di samping kemudi, lalu membawanya ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan Rosa merintih-rintih.

“Apanya yang sakit?”

“Perutku, pinggangku, sakit sekali.”

“Tadi terbentur apa?”

“Aku tidak tahu, tertabrak langsung jatuh.”

Tiba-tiba ponsel Rosa berdering, Rosa hanya melihatnya, tapi kemudian ponsel dimatikannya.

"Dari siapa?"

"Teman lama. Mengganggu saja dia tuh. Aku sedang fokus pada sakit perutku ini."

“Ya sudah, nanti dokter yang akan memeriksanya.”

“Sakit sekali Ka, nyeri… sepertinya ada bagian dalam perutku yang terluka,” Rosa merengek manja. Kapan lagi dia bisa bermanja dengan orang yang dicintainya?

Arka tak merasakan itu. Intinya ia hanya harus menolong, apalagi saat itu Rosa sedang bersamanya.

Sesampai di rumah sakit, Rosa segera dibawa ke IGD.

“Ka, tolong kabari  Mama sama Papa ya,” pesan Rosa sebelum Arka keluar dari ruang IGD. 

Arka hanya mengangguk. Ia segera mengambil ponselnya. Tapi sebelum dia menelpon, ponselnya lebih dulu berdering, dari ayahnya.

“Arka, kamu masih di kantor?”

“Tidak. Arka sedang di rumah sakit.”

“Apa? Siapa yang sakit?”

“Saya sedang bepergian bersama Rosa, Rosa terserempet motor, sekarang ada di rumah sakit.”

“Apa? Bagaimana bisa keserempet? Bagaimana lukanya? Kamu harus menelpon pak Daryono .”

“Iya, ini mau menelpon.”

Pak Daryono menerima berita itu dengan kaget dan sedikit heran.

"Rosa sedang bersama kamu, Arka?”

“Iya Om, kami mau menjenguk seseorang yang sedang sakit. Maksudnya yang baru keluar dari sumah sakit, seorang gadis penjual beras. Ketika keluar dari mobil, Rosa terserempet motor yang melaju kencang.”

“Bagaimana lukanya?”

“Luka yang terlihat sepertinya tidak seberapa, tapi dia mengeluh perutnya sakit sekali, mungkin luka di dalam, dokter akan  segera menanganinya.”

“Baiklah, kirimkan alamat rumah sakitnya. Aku dan Mamanya mau ke sana.”

“Baik, Om.”

Arka menutup ponselnya setelah mengirimkan alamat rumah sakit kepada pak Daryono.

***

"Rosa sedang bepergian bersama Arka?” tanya bu Daryono.

“Ya, mereka mau menjenguk orang sakit juga. Gadis penjual beras itu. Tapi Rosa terserempet sepeda motor ketika turun dari mobil.”

“Parahkah lukanya? Tadi dia bercerita tentang bagaimana dia menolong penjual beras itu, yang pingsan di pinggir jalan. Aku kira sekarang mereka kompak akan menengok gadis yang kemarin sempat masuk rumah sakit itu.”

“Semoga tidak apa-apa. Aku mau ke rumah sakit. Mama ikut?”

“Tentu saja Mama ikut. Tunggu sebentar, ganti baju dulu.”

***

Sesampai pak Daryono di rumah sakit, Rosa masih ada di ruang IGD.

Melihat ayahnya datang, Rosa menangis terisak.

“Mengapa menangis? Lukanya parah?”

“Tidak Pa, entahlah, perutku sakit sekali.”

“Sudah diperiksa dokter?”

“Tidak kelihatan lukanya, entah apa kata dokter, tapi rasanya sakit dan nyeri. Kata dokter baru diadakan pemeriksaan lengkap besok pagi.”

“Ya sudah, karena sudah ditangani dokter, maka kamu harus tenang,” kata sang ibu.

“Arka mana, kok tidak ikut masuk?”

“Tadi ketika Papa dan Mama datang, dia pamit  mau keluar sebentar.”

“Ke mana katanya?”

“Pastinya pulang dulu, ngabarin ayah dan ibunya. Kalau dia tidak segera pulang kan mereka bertanya-tanya.”

“O, mungkin pergi ke rumah Senja.”

“Senja itu gadis penjual beras itu?”

“Iya, kemarin Rosa menolongnya. Tadi mau ke sana sama Arka, tapi Rosa terkena halangan seperti ini.”

“Ya sudah, bersabar, jangan banyak mengeluh. Kan dokter sudah menanganinya.”

“Mengapa Arka tidak pamit sama Rosa ya.”

“Kan tidak sembarangan orang bisa masuk kemari. Ini hanya Mama dan Papa yang boleh masuk. Sudah, kamu itu jangan berpikir yang tidak-tidak. Katamu kamu sudah melupakan Arka,” tegur bu Daryono.

“Iya sih, sepertinya dia tidak peduli.”

“Dia membawamu kemari dan mengabari Papa Mama, mengapa kamu mengatakan tidak peduli?”

Perawat mendekat, mengatakan bahwa Rosa akan dipindahkan ke ruang rawat untuk pemeriksaan selanjutnya besok pagi, karena ia masih mengeluh perutnya sakit.

“Baiklah suster, berikan kamar terbaik untuk anak saya,” kata pak Daryono.

***

“Jam berapa ini, mengapa Arka belum pulang juga?” tanya bu Wiguna.

“Biarkan saja, dia bersama Rosa. Rosa sedang sakit, pastinya dia menemaninya,” kata pak Wiguna yang kali ini merasa senang karena Arka bersama Rosa. Ia tak ingin menelpon atau mengganggunya.

“Seberapa parah lukanya sih?”

“Kita tidak tahu, kalau ingin tahu, ayo kita ke rumah sakit.”

“Bapak  mau ke rumah sakit?”

“Iya. Maksudku begitu.”

“Aku tidak usah saja Pak, kepala agak pusing. Nanti bau obat-obatan di rumah sakit bisa tambah pusing.”

“Ya sudah, ibu di rumah saja. Nanti kalau ada apa-apa, aku kabari.”

Bu Wiguna hanya diam. Ia tahu suaminya senang karena Arka bersama Rosa. Tapi ia yakin bukan karena Arka sudah jatuh hati pada Rosa. Ia tahu hati Arka sangat keras. Ia tak mudah merubah pendiriannya, apalagi ini masalah cinta. Mereka bersama-sama hanya karena Senja yang diculik dan Rosa menolongnya dalam pelariannya. Sebuah kebetulan karena Rosa yang menemukannya, lalu membawanya ke rumah sakit. Dan itu juga keberuntungan bagi Senja. Entah mengapa, bu Wiguna bersyukur untuk keselamatan Senja.

***

“Rimba, sore-sore begini, kamu dari mana?” tanya Senja ketika melihat Rimba memasuki rumah sambil membawa sesuatu di dalam keresek.

“Ini, aku membawa mangga,” kata Rimba sambil meletakkan beberapa butir mangga di atas meja.

“Dari mana mangga ini?”

“Dari rumah bu Suliyah. Banyak mangganya, sampai jatuh-jatuh di jalan.”

“Kamu mengambil tanpa bilang, namanya mencuri.”

“Ya tidak, aku disuruh ambil oleh bu Suliyah, ini ada beberapa yang masak.”

“Ya sudah kalau sepengetahuan yang punya.”

“Biar aku cuci dulu ya Mbak,,”

“Sambil membawa pisau.”

“Apa itu?” tanya Simbok yang baru keluar dari kamar mandi.

“Mangga Mbok, dikasih bu Suliyah.”

“Wah, ini mangga gadung, enak. Ya sudah sana, dicuci dulu.”

Simbok duduk menemani Senja yang masih saja  menghadapi buku-buku pelajaran sekolahnya.

Tiba-tiba ia mendengar suara langkah dari luar. Mbok Mangun bergegas keluar dan berteriak.

“Yaaah, mas Arka sore-sore datang?”

“Iya Mbok, harusnya sudah dari tadi. Ini oleh-oleh buat Senja.”

“Apa ini?”

“Buah-buahan, dari Rosa, dan ini cemilan dari saya.”

“Waah, banyak sekali.”

“Senja mana? Masih tiduran?”

“Tidak, itu di dalam, belajar seharian.”

“Ya ampuun, Senja,” kata Arka yang menemani Simbok masuk ke dalam.

“Mas Arka? Aduh, ini apa saja?” kata Senja melihat Simbok meletakkan bungkusan di meja.

“Ini buah2an dari Rosa. Ada apel dan lain-lain. Sedianya Rosa mau kemari bersama aku, tapi tadi kecelakaan di jalan.”

“Kecelakaan?” yang berteriak bukan hanya Senja, tapi juga Simbok dan Rimba, yang baru saja meletakkan mangga setelah dicuci.

“Kami berhenti di depan toko roti, ketika turun dari mobil, Rosa terserempet motor. Luka sedikit, tapi sudah aku bawa ke rumah sakit.”

“Keadaannya bagaimana?” tanya Senja khawatir.

“Luka ringan di tangannya, tapi dia mengeluh sakit perut, besok baru akan diadakan pemeriksaan keseluruhan,” kata Arka sambil duduk di salah satu kursi yang ada, dan hanya ada tiga, sehingga Simbok dan Rimba tetap berdiri mendengarkan penjelasannya.

“Ya Allah, kasihan sekali. Ingin sekali aku menjenguknya,” kata Senja.

“Kamu sendiri masih luka. Besok paling Rosa sudah bisa pulang.”

“Kalau aku sudah bisa berjalan,  aku mau ke sana membezoeknya, dia penyelamat aku,” kata Senja prihatin.

“Baiklah, nanti gampang. Ini aku hanya sebentar, karena sudah sore dan aku juga belum pulang ke rumah.”

Arka diantar sampai ke depan rumah, Rimba membawakan dua buah mangga masak yang diberikannya kepada Arka.

“Ini apa?”

“Mangga enak, hanya dua, tadi dapat hanya sedikit.”

Arka menerima mangga itu, menciumnya.

“Harum.”

Kemudian dia berlalu.

***

Suasana di ruang rawat Rosa sangat rame, karena pak Wiguna yang datang sambil banyak bertanya. Tapi ia kecewa tidak melihat Arka ada di sana.

“Arka mana?”

“Sedang pergi, barangkali ke rumah Senja,” kata Rosa. Wajah pak Wiguna muram seketika.

Tiba-tiba perawat datang mendekat, menyalami semua yang ada.

“Ini berita bagus, ternyata nona Rosa hamil.”

“Apa?” semuanya berteriak.

"Tidak mungkiiiinn," Rosa berteriak.

***

Besok lagi ya.

Sunday, June 28, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 0006

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  0006

(Tien Kumalasari)

 

Menur terpana, didepannya, sangat dekat di depannya, laki-laki yang ingin dilupakannya itu berdiri. Menur merasa berdiri didepan gunung yang amat tinggi, mana mungkin ia bisa menjangkaunya. Seperti dulu, ketika saat manis masih menyelimuti hidupnya. Ketika hati dan jiwanya diguyur oleh kasih sayangnya. Tapi tidak, itu hanya semu. Hanya mimpi-mimpinya. Mimpi menggapai bintang, mimpi bermandikan sinar rembulan.

Ia mundur selangkah, tapi Baroto menggapai tangannya.

“Jangan berani-berani menyentuhku, Tuan,” katanya tandas.

Baroto tersenyum. Menur masih seperti dulu, tak mudah disentuh oleh sembarang tangan.

“Mengapa kamu lari? Aku ingin kita bicara.”

“Saya tidak mengenal Tuan,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

Tapi entah dari mana datangnya, Baroto sudah berada di depannya. Apakah dia angin yang bisa melesat dalam waktu tak sampai sedetik?

“Tuan, aku mohon.”

“Jangan panggil aku ‘tuan’. Aku Baroto.”

“Saya tidak mengenal Tuan. Saya hanya seorang pemulung, hina dan kotor. Apa Tuan tidak malu berbincang dengan saya?”

“Tolong mengertilah, aku akan meminta maaf.”

“Apa yang sudah Tuan lakukan? Kita tidak pernah saling mengenal.”

“Aku pernah mencintaimu, dan sekarang aku menemukan cinta itu lagi.”

Menur tersenyum tipis.

“Senyummu membuat aku sakit.”

“Tuan, apa tuan sadar siapakah aku? Biarkan aku pergi, ada yang harus aku lakukan di rumah. Ada yang menunggu aku.”

“Suami kamu?”

“Bukan urusan Tuan. Tolong menyingkirlah.”

Tapi Baroto tak mau menyingkir.

“Aku akan terus mengikuti kamu. Sampai kamu mengakui siapa dirimu dan siapa aku.”

“Baiklah. Saya Menur, dan Tuan adalah seorang terhormat yang tidak pantas mendekati Menur, pengais sampah yang kotor.”

“Tapi hatimu tidak kotor. Apa kamu tidak percaya kalau aku mencintai kamu?”

“Apa Tuan bermimpi? Apa Tuan sadar siapa aku?”

“Kamu Menur, anak pak lurah yang pernah menjadi istriku.”

“Istri dalam khayalan.”

“Benar-benar istri.”

“Tolong jangan omong kosong lagi dihadapan saya.”

“Aku sungguh-sungguh mencintai kamu.”

“Mudah saja mengucapkan itu. Dulu ada orang yang mengatakan bahwa dia mencintai saya. Tapi dia pergi begitu saja.”

“Aku terpaksa. Aku dijodohkan oleh orang tuaku, dan terpaksa menjalaninya karena orang tuaku sakit parah.”

“Sekarang saya sudah mendengarnya, sekarang menyingkirlah.”

“Aku mencarimu setelah beberapa bulan menikah. Tapi kamu tak ada lagi di sana. Mengapa kamu bekerja menjadi pengais sampah?”

“Apakah menurut Tuan ini adalah pekerjaan hina?”

“Bukan itu. Kemana suami kamu, dan mengapa membiarkan kamu bekerja seberat ini?”

“Ini tidak berat. Demi anak saya.”

“Kamu punya anak? Apa itu anakku?”

“Tidak, bukan … mengapa Tuan berpikir begitu?”

“Ketika aku mencari kamu, aku mendapat keterangan kalau kamu pergi dalam keadaan hamil.”
”Tapi dia bukan anak Tuan, ayahnya sudah meninggal. Tuan, sungguh saya harus pulang. Tolong jangan mengganggu saya lagi.”

“Aku melakukan ini bukan hanya untukku, tapi untuk Ana. Dia menangis terus dan berharap kamu menjadi pengasuhnya.”

“Itu tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin?”

“Saya tidak ingin bertemu Tuan lagi, apalagi melihat Tuan setiap hari.”

“Aku hanya pulang selama sepekan, lalu aku harus pergi. Pekerjaanku ada di luar negri. Tolong penuhilah permintaan Ana, aku tak tahan melihatnya menangis.”

“Tuan sangat mencintai anak Tuan?”

“Sebenarnya Ana bukan anak kandung kami.”

Menur  terkejut mendengar bahwa Ana bukan putri keluarga Baroto. Ditatapnya Baroto dengan heran.

“Itu benar. Kami menikah tidak didasari cinta, kecuali karena ikatan bisnis. Kami tidak pernah saling menyentuh, karenanya tidak dikaruniai seorang anakpun. Orang tua istriku memberikan seorang bayi, anak kerabat yang tak punya orang tua lagi, agar kami adopsi. Bayi tu adalah Ana.

“Itukah sebabnya mereka tak pernah memeluk Ana? Ia selalu teringat permintaan Ana ketika pertama kali bertemu, ‘bibi, peluk aku.’ Sebuah permintaan yang aneh, hanya karena ketika Ana hampir terjatuh, lalu aku menangkapnya dan memeluknya," kata batin Menur.

 Barangkali baru kali itulah Ana merasakan sebuah pelukan. Tiba-tiba Menur merasa sangat iba. Di dalam sebuah keluarga yang kaya raya, ada seorang anak yang merindukan kasih sayang. Terbayang wajah gadis kecil itu ketika memohon untuk dipeluk. Begitu menghiba, membuatnya trenyuh.

“Pergilah bersamaku, Menur. Ana akan senang,” Baroto mengejutkannya.

Menur mengangkat wajahnya.

“Aku harus mencari makan. Anakku juga butuh sekolah, dan untuk itu aku bekerja.”

“Menur, Ana akan memberikan gaji untuk kamu. Aku percaya, pendapatan kamu akan meningkat, jauh di atas kalau kamu memulung. Maaf, kamu tidak akan dianggap pembantu. Kamu akan jadi bagian dari keluarga Baroto, karena Ana menyayangi kamu.”

“Istriku tidak suka anak kecil," lanjutnya.

“Tuan juga ….” sindir Menur.

Baroto tersipu.

“Aku terlalu sibuk berbisnis. Itu adalah sebuah pelarian, sebenarnya.”

“Pelarian dari apa?”

“Dari gagalnya mendapatkan cinta,” kata Baroto sambil menatap tajam Menur. Tatapan yang memiliki seribu makna. Menur membuang muka ke arah lain. Ia tak ingin terjebak oleh perasaannya yang mulai melemah.

“Tolong ijinkan aku pergi, anakku sudah menunggu,” katanya sambil terus melangkah, dan mau tak mau Baroto menyingkir memberi jalan.

Tapi baru beberapa tindak dia berjalan, Baroto meneriakinya.

“Menur, ada titipan dari Ana.”

Menur terpaksa berhenti melangkah. Baroto mendekatinya, menyerahkan sebuah kotak berisi makanan.

“Ini ….”

“Bawalah, itu dari Ana, kalau dibuang sayang, kalau aku bawa pulang pasti Ana akan marah.”

Menur menerimanya, dan matanya memancar marah ketika Baroto sengaja menyentuh tangannya.

“Maaf, tidak sengaja.”

Menur membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya menuju pulang.

“Pikirkanlah permintaanku, tolong Ana, dia sangat menunggu kamu.”

Menur terus saja melangkah, tapi bayangan gadis kecil nan manja itu terus mengikutinya.

***

Wajah Rahman berseri-seri, ketika melihat makanan yang terhidang di depannya.

“Tidak ada ikan tidak apa-apa. Ini daging rendang, enak sekali. Bagus Bu, setiap hari bawakan lauk yang enak-enak,” katanya enteng sambil mengunyah makanan yang tak pernah disantap sebelumnya.

Menur tak menjawab. Rahman tak pernah peduli dari mana ibunya mendapatkan semua itu. Kalau Ana tidak memberinya makanan, mana mungkin dia bisa membawa pulang ikan, dan daging rendang seperti hari itu? Rahman juga tak pernah memikirkan, bagaimana kalau makanan yang terhidang disantap habis olehnya, sementara sang ibu belum makan sedikitpun. Tapi Menur membiarkannya. Itu hal biasa. Menur biasa makan sisa-sisa makanan walau tak seberapa, setelah sang anak kenyang.

“Besok saatnya membayar uang sekolah, dan uang untuk ujian,” tiba-tiba Menur menghentikan kegiatannya bersih-bersih dapur mendengar perkataan sang anak.

“Besok uang sekolah bisa kamu bayar, tapi uang untuk ujian menyusul ya?”

“Apa maksud ibu? Pokoknya harus besok, malu dong kalau tidak bisa membayar besok.”

“Besok biar ibu yang membayarkannya ke sekolah, jadi kamu tidak perlu malu.”

“Terserah, tapi ingat satu hal, jangan mengaku sebagai ibuku.”

“Baik, aku adalah pembantu kamu,” katanya sambil berjalan ke arah dapur sambil mengusap air matanya.

***

Pagi hari itu setelah Rahman berangkat ke sekolah, Menur bersiap untuk bekerja, dan akan mampir ke sekolah Rahman untuk membayar uang sekolah. Tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda berjalan tak jauh di depannya.

***

Besok lagi ya.

 


 

 

 

 

Saturday, June 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 35

 NAMAKU TETAP SENJA  35

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap kepergian Rosa dengan takjub. Perempuan egois yang tidak disukainya ternyata punya sisi baik yang mengagumkan. Ia membantu orang secara total, dan itu membuatnya kagum.

Ia segera berkemas dan berbalik masuk ke dalam untuk menemui ibunya.

“Ayahmu sudah berangkat?” tanya sang ibu yang tadi masih ada di kamar mandi.

“Sudah, apa bapak tidak pamit pada Ibu?”

“Tadi bilang, tapi ketika berangkat aku tidak tahu. Kata bibik, tadi ada tamu, dia mau buat minuman. Siapa tamunya?”

“O itu tadi Rosa.”

“Rosa? Pagi-pagi datang kemari?”

“Dia dari rumah Senja.”

“Pesan beras lagi?”

“Tidak. Ibu kan sudah tahu kalau Senja diculik?”

“Iya, ayahmu sudah cerita sambil marah-marah. Ternyata yang menolong adalah Rosa. Ternyata dia bisa berbuat baik.”

“Tadi dia dari rumah Senja, maksudnya mau mengantar sekolah. Tapi Senja belum bisa masuk sekolah karena telapak kakinya masih sakit.”

“Kasihan. Kamu juga sudah cerita tentang luka-lukanya Senja. Beruntung dia selamat.”

“Penolong selanjutnya setelah dia bisa kabur setelah disekap kan Rosa, dia melihatnya terluka ditepi jalan sepi, lalu membawanya ke rumah sakit.”

“Syukurlah, ternyata Rosa bisa berbuat baik.”

“Arka berangkat dulu ya Bu.”

“Iya, hati-hati. Agak kesiangan ya?”

“Tidak apa-apa, bapak sudah lebih dulu ke kantor.”

Arka mencium tangan sang ibu lalu berangkat ke kantor.

***

“Tadi Non Rosa datang kemari?”

“Iya, cuma sebentar Mbok.”

“Anak baik, bilang apa dia, mengapa kemari hanya sebentar?”

“Katanya mau mengantarkan Senja ke sekolah karena dia tahu kaki Senja sakit.”

“Non cantik itu ternyata baik hati. Lalu kamu tidak menyuruhnya masuk?”

“Senja sungkan. Kalau masuk mau didudukkan di mana? Dulu dia pernah menolak duduk di bangku depan rumah itu kan?”

“Iya sih, orang kaya jarang yang mau duduk di bangku kotor.”

“Jadi ketika tahu bahwa Senja tidak masuk sekolah, lalu dia langsung pulang. Katanya besok mau kemari lagi, barangkali Senja sudah siap masuk sekolah.”

“Kakimu masih sakit kan?”

“Ya sih, tapi kan sudah dibebat.”

“Jangan buru-buru masuk dulu.  Biarkan dulu, sekalian kamu istirahat beberapa hari.”

“Baiklah.”

“Kamu masih belajar? Simbok belikan jajan pasar, buat kamu ngemil,” katanya samil meletakkan bungkusan daun pisang, kemudian diambilnya piring dan ditaruh isi bungkusan di piring itu.

“Wah, ini utri sama klepon. Enak sekali.”

“Makanlah, Simbok mau masak sambel goreng ikan pindang.”

“Simbok kok masak enak. Ikan bukannya mahal?”

“Ikan pindang sangat murah. Dia kan ikan asin biasa. Sudah, lanjutkan belajarnya sambil ngemil.”

“Senja separuh saja, yang separo untuk Simbok.”

“Tidak usah, Simbok sudah beli sendiri. Ini, makannya sama sendok kecil, supaya tanganmu tidak kotor.”

Senja tersenyum, Ia mengambil sebutir klepon dengan sendok, ketika masuk ke dalam mulutnya, klepon itu pecah, mengeluarkan gula jawa yang manis.

***

“Dari mana kamu sepagi ini?” tanya bu Daryono ketika melihat Rosa memasuki rumah.

“Dari rumah om Wiguna.”

“Mau apa kamu pagi-pagi ke sana? Kan ibu sudah mengingatkan agar kamu tidak terlalu mengejarnya?”

“Rosa bukan mengejar Arka, Rosa kan sudah bilang ingin melupakannya.”

“Lalu untuk apa kamu pagi-pagi ke sana?”

“Ibu kan tahu, kemarin Rosa menolong Senja yang baru kabur dari penculik.”

“Itu benar?”

“Ternyata Ibu tidak percaya? Ini benar Bu, itu sebabnya kemarinnya Rosa pulang larut. Rosa meninggalkan Senja di rumah sakit setelah Arka datang.”

“Kalau benar kamu melakukannya, ibu senang. Terus terag kemarin ketika kamu cerita, ibu tidak percaya.”

“Iih, Mama jahat deh. Masa aku tidak bisa berbuat baik?”

“Iya … iya, lalu apa hubungannya dengan kamu mampir ke rumah keluarga Wiguna?”

“Tadi tuh hanya mampir. Rosa dari rumah Senja, bermaksud mengantarkannya ke sekolah kalau Senja mau sekolah. Tapi kaki Senja masih sakit, jadi belum bisa masuk sekolah. Lalu Rosa pulang. Rosa mampir ke rumah om Wiguna, untuk mengatakan pada Arka bahwa Senja belum bisa masuk sekolah.”

“Harus melapor kepada Arka?”

“Iya Ma, Arka selalu merasa bertanggung jawab atas keselamatan Senja, karena ketika diculik, Senja sedang bersamanya. Jadi Arka berhak tahu keadaan Senja kan Ma?”

Bu Daryono tersenyum. Heran tapi bersyukur Rosa bisa melakukannya.

“Rosa mau tidur lagi ya Ma, ngantuk, tadi bangunnya kepagian.”

Bu Daryono tersenyum.

“Kirain mau bantuin bibik masak.”

Rosa tertawa kecil.

“Lain kali Ma, ini Rosa ngantuk banget,” katanya sambil menjauh.

Bu Daryono geleng-geleng kepala. Mana dia tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati Rosa.

“Semoga dia menjadi baik," gumamnya.

***

Siang itu Rimba pulang dan merasa senang melihat kakaknya sudah tampak sehat, tidak lagi pucat seperti ketika ditinggalkannya saat pagi sebelum dia berangkat sekolah.

Mereka bertiga makan siang dengan gembira.

“Kaki Mbak masih terasa sakit?”

“Sudah banyak berkurang. Bukankah dokter mengatakan bahwa hanya luka luar yang tidak berbahaya?”

“Kata mas Arka, besok harus kontrol bukan?”

“Oh, benarkah? Simbok malah tidak tahu kalau besok harus kontrol.”

“Kamu salah Rimba, setelah seminggu kontrolnya, bukan besok.”

“Kirain besok, kalau besok aku ikut.”

“Kamu tidak sekolah?”

“Besok aku pulang pagi, ada rapat guru-guru di sekolah.”

“O, mungkin karena hampir kenaikan kelas itu.”

“Kalau begitu aku bisa menemani mbak Senja di rumah.”

“Kalau kamu bisa pulang awal, Simbok mau jalan keliiing, tadi sudah libur,” kata mbok Mangun.

“Sebenarnya tidak apa-apa kalau Simbok di rumah saja beberapa hari.”

“Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja besok itu ada yang pesan beras dan minta dikirim. Sebenarnya mundur besoknya juga tidak apa-apa, tapi Simbok sudah janji besok. Sebaiknya besok Simbok kirim. Tidak apa-apa kalau setelah itu di rumah.”

“Jauhkah? Kalau dekat, dan kalau tidak berat, Rimba bisa membantu Simbok.”

“Tidak begitu jauh, hanya lima kilo.”

“Biar Rimba kirim ya Mbok, sepeda mbak Senja ringan, Rimba bisa membawanya. Hanya lima kilo bisa Rimba bawa.”

“Jangan, jalanan ke sana rame. Dekat alun-alun.”

“Iya Rimba, kamu masih kecil. Biarpun bisa naik sepeda, tapi kalau jalanan rame lebih baik tidak usah.”

Rimba merengut. Begitu besar keinginannya membantu simboknya, seperti Senja yang selalu bisa melakukannya.

“Kalau kamu sudah besar, kamu bisa. Lagi pula Simbok mau berangkat pagi-pagi, supaya bisa cepat pulang.”

Mereka berbincang hangat sambil menghabiskan makanan, sampai hari menjelang sore.

***

Arka hampir pulang ketika ponselnya berdering. Dari Rosa. Biasanya dia tak mengacuhkannya, tapi kali itu tidak. Arka segera mengangkatnya.

“Ya, Rosa.”

“Ka, apa kamu ada rencana untuk ke rumah Senja sepulang kantor?”

“Ini aku mau ke sana, ingin melihat keadaannya.”

“Aku ikut boleh?”

“Kamu sudah ke sana pagi tadi kan?”

“Iya, tadi aku melihat banyak buah-buahan di rumah, aku ingin mengirimkannya untuk Senja.”

“Tapi aku mau berangkat sekarang.”

“Aku samperin ke kantor kamu ya. Sekalian ingin melihat keadaannya, soalnya pagi tadi masih kelihatan pucat.”

“Baiklah, buruan ya, aku tunggu, aku mau ke sana sekarang.”

“Aku cari taksi dulu, sebentar.”

Arka membenahi berkas-berkas di meja dan memasukkannya ke dalam laci.

“Telpon dari siapa?” tiba-tiba ayahnya masuk.

“Dari Rosa.”

“Kencan mau ke mana? Tapi baiklah, bapak mau pulang dulu, senang kamu mau bersikap ramah seperti tadi yang bapak dengar,” kata pak Wiguna sambil tersenyum.

Arka tak menjawab, dan pak Wiguna beranjak pergi dengan banyak harapan ketika tadi mendengar Arka bertelpon dengan Rosa dan sikapnya sangat baik.

***

Seperti yang dikatakannya di telpon, Rosa membawa sekeranjang kecil buah-buahan. Ia datang naik taksi, sehingga ia dan Arka bisa semobil dan Rosa tidak usah meninggalkan mobilnya di kantor Arka.

“Kamu membawa buah-buahan dari rumah? Apa tidak ditegur mama kamu mengambil persediaan buah di rumah?”

“Mama belanja banyak, aku hanya mengambil sebagian.”

“Aku mau mampir beli makanan di toko roti.”

“Tidak apa-apa, biar Senja senang banyak makanan untuk dia.”

Arka menghentikan mobilnya di sebuah toko roti.

“Aku ikut ya,” kata Rosa yang duduk di seberang kemudi. Arka hanya mengangguk.

Tapi ketika ia turun, tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas. Rosa terjatuh, dan menjerit keras.

***

Besok lagi ya.

Friday, June 26, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 34

 NAMAKU TETAP SENJA  34

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun bergegas menuju ke kamar Senja, dilihatnya tangan Senja menuding-nuding sambil berteriak.

“Aku tak pernah berusaha membunuhnya. Kamu yang membunuhnya. Perempuan jahat! Kamu jahat dan berpura-pura jadi baik. Munafik! Hatimu kotor!!”

Mbok Mangun meraih tangan anaknya pelan.

“Senja … Senja … bangunlah.”

“Pergi ! Kamu memfitnah aku!!”

“Senja, ini Simbok. Bangunlah, kamu bermimpi apa?”

Simbok menepuk-nepuk pipi Senja, sedikit keras. Rimba yang tertidur nyenyak juga terbangun mendengar teriakan kakaknya. Ia mengucek matanya dan berdiri di tengah pintu, menatap sang kakak dengan heran.

“Ini Simbok, buka matamu. Kamu ada di rumah, bersama Simbok.”

Dan Senja akhirnya membuka matanya, menatap simboknya dengan mata kosong, dan kebingungan.

“Simbok?”

“Ini aku, Simbokmu. Kamu mimpi apa?”

Rimba tampak mendekat dengan membawa segelas air putih. Ia adik yang penuh pengertian. Diulungkannya gelas itu, sementara mbok Mangun mengangkat kepalanya.

“Minumlah dulu, biar tenang.”

“Rimba?”

“Ini aku. Minumlah.”

Senja meneguk minumannya. Kepalanya terasa pening, luka di kakinya berdenyut. Ia melihat ke sekeliling kamar.

“Aku di kamarku ya?”

“Ini kamarmu, ada apa? Tadi simbok tidur di sebelahmu sini. Rimba sendirian. Ada apa? Kamu mimpi buruk.”

Senja mengulurkan gelas kosong itu kepada Rimba.

“Iya Mbok, syukurlah hanya mimpi.”

“Mimpi digigit ular ya Mbak? Kamu akan dapat jodoh,” canda Rimba.

“Hish! Ngawur,” sergah simboknya.

“Non Rosa itu kan wanita baik," gumam Senja.

“Dia sangat baik Nduk. Dia menyelamatkan kamu. Walau kelihatan angkuh, tapi dia baik.”

“Aku bermimpi yang sebaliknya. Dia membunuh seseorang, tapi dia memfitnahku, aku hampir ditangkap polisi.”

“Ya ampun, jangan dipikirkan. Itu kan hanya mimpi. Sekarang Simbok mau wudhu dulu.”

“Rimba, tuntun aku, aku juga mau wudhu,” kata Senja.

“Kakimu kan dibalut. Bagaimana kalau basah? Bukankah semalam Mbak juga shalat sambil tiduran?”

“Ambilkan kursi agar aku bisa duduk. Nanti aku atur sendiri.”

“Baiklah.”

***

Pagi hari itu Senja diam di rumah, hanya Rimba yang masuk sekolah. Mbok Mangun tidak pergi berjualan, karena hatinya belum tenang setelah kejadian menghebohkan keluarganya sejak kemarin siang.

Ia memberikan sarapan untuk Senja, agar ia bisa segera meminum obat, lalu ia pamit untuk pergi ke pasar.

“Kamu mau dimasakin apa Nduk?”

“Simbok aneh-aneh saja. Masaklah apa yang bisa Simbok masak, Senja kan mau semua masakan Simbok. Lagipula Senja tidak apa-apa, bisa bangun dan berjalan pelan,” kata Senja yang duduk di kursi makan, di depannya tampak setumpuk buku pelajaran.

“Mengapa tidak istirahat dulu, belajarnya kalau sudah lukanya sembuh,” kata Simbok.

“Tidak apa-apa Mbok, ini hanya luka ringan.”

“Kemarin kamu mengalami hal yang membuat kamu lelah, sakit, cemas, pasti itu membuat kamu tidak tenang.”

“Sekarang Senja sudah merasa tenang. Kan ada Simbok, ada Rimba.”

“Ya sudah, istirahat kalau merasa capek, Simbok mau ke pasar dulu.”

“Baiklah, hati-hati ya Mbok, jangan lama-lama.”

“Cuma beli sayur, masa lama sih?” kata mbok Mangun sambil beranjak pergi.

Senja mulai membuka buka bukunya. Ujian sudah dekat, ia harus bersiap menghadapinya. Kalau nilainya bagus, ia bisa mencari bea siswa untuk melanjutkan kuliah. Tapi tidak, ia sudah berjanji kepada simboknya bahkan kepada dirinya sendiri, bahwa setelah lulus dia akan bekerja, agar bisa membantu membiayai sekolah Rimba, jadi bisa meringankan beban simboknya. Walau begitu belajar itu kan kewajibannya.

Tapi baru saja ia membuka buku, ia mendengar seseorang mengetuk pintu.

Tertatih Senja berjalan ke arah depan, dan terkejut melihat siapa yang berdiri di tengah pintu.

“Non Rosa?”

“Senja, kamu baik-baik saja?”

“Saya baik, Non. Hanya belum boleh masuk sekolah. Kaki Senja masih sakit. Simbok masih khawatir kalau Senja nekat ke sekolah.”

“Sebenarnya aku datang untuk menjemput kamu.”

“Menjemput ke mana?”

“Mengantar kamu ke sekolah, karena aku tahu kamu belum bisa naik sepeda.”

“Ah, Non terlalu baik. Terima kasih banyak Non, tapi Senja belum bisa masuk, mungkin besok, atau lusa. Simbok belum mengijinkan.”

“Kalau besok biar aku jemput saja.”

“Tidak Non, jangan. Saya jadi merepotkan. Sungguh tidak usah. Belum tahu besok sudah bisa masuk atau belum.”

Lalu Senja bingung Rosa mau dipersilakan duduk di mana. Keluarga mbok Mangun tidak punya kursi untuk menerima tamu. Adanya bangku kayu di depan, dan Rosa pernah dipersilakan duduk tapi tidak mau.

“Maaf Non, saya ingin mempersilakan Non duduk, tapi ….”

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengantar kamu ke sekolah sebenarnya. Tapi kalau kamu belum mau pergi ke sekolah, ya sudah, aku pulang saja.”

“Maaf ya Non, kami tidak punya kursi.”

“Tidak apa-apa. Aku pamit ya. Tapi Simbok tidak kelihatan. Jualan?”

“Tidak Non, hari ini tidak jualan. Simbok sedang ke pasar.”

“Oh, ya sudah.”

Rosa membalikkan tubuhnya dan berlalu.

Senja menatapnya heran. Gadis kaya raya yang tampak ketus dan sombong, ternyata hatinya sangat baik. Diam-diam Senja bersyukur, merasa bertemu dengan orang-orang baik.

***

Rosa tidak segera pulang. Ia mampir ke rumah keluarga Wiguna. Ia senang melihat pak Wiguna dan Aska belum berangkat ke kantor.

Pak Wiguna menyambutnya dengan ceria.

“Pagi-pagi sudah sampai di sini, Rosa?”

“Dari jalan-jalan pagi. melihat mobil Om dan Aska masih di halaman, lalu Rosa mampir. Om mau ke kantor? Tumben.”

“Ya, sudah beberapa hari tidak ngantor. Om kan sudah tua, semuanya sudah om serahkan pada Arka, tapi sesekali om juga harus melihat, apakah mereka sudah bekerja dengan baik.”

“Iya Om, itu penting. Papa juga setiap hari masih ke kantor. Saya diserahi bisnis yang ada di luar negri, tapi belum sanggup.”

“Memangnya kenapa?”

“Mungkin sebentar lagi, harus siap-siap dulu.”

“Menikahlah dulu, baru mengerjakan bisnis papa kamu.”

“Yang diajak menikah belum ada Om.”

“Kamu?” tiba-tiba Arka yang mau berangkat kerja keluar, dan berhenti ketika melihat Rosa. Sesungguhnya rasa kurang senangnya pada Rosa sudah banyak berkurang, semenjak Rosa membantu Senja sehingga Senja segera bisa mendapat pertolongan.

“Dari mana, pagi-pagi?”

“Kalian mengobrol saja dulu, aku mau ke kantor duluan. Arka juga tidak perlu buru-buru. Berbincang dulu,” kata pak Wiguna yang langsung berdiri dan berjalan menuju ke mobilnya. 

Arka masih berdiri di depan Rosa.

“Aku dari rumah mbok Mangun.”

“Kamu? Dari sana?”

“Iya, aku pikir hari ini Senja mau masuk sekolah, mengingat dia itu anak rajin. Maksudku akan mengantarkannya ke sekolah. Kan kakinya yang sakit, jadi mungkin belum bisa naik sepeda.”

“Jadi hari ini dia sudah ke sekolah?”

“Belum...kata Senja, simboknya belum mengijinkan. Biar istirahat dulu, katanya. Jadi aku langsung pulang.”

“Bagus sekali kalau kamu mau memperhatikannya. Aku mengucapkan terima kasih.”

“Kok kamu yang berterima kasih?”

“Apa Senja tidak mengucapkan terima kasih? Mbok Mangun juga? Sudah kan?”

“Sudah.”

“Aku juga mengucapkan terima kasih, karena mereka itu sudah seperti keluargaku. Lagi pula ketika Senja diculik, ia sedang pergi bersamaku. Jadi seharusnya aku yang bertanggung jawab. Jadi aku tetap harus mengucapkan terima kasih kepada kamu.”

“Sama-sama Arka, bagiku menolong orang yang kesusahan itu kan sudah menjadi kewajiban sesama, jadi aku ikhlas saja menerimanya. Tidak perlu berlebihan.”

“Ternyata kamu bisa berbaik hati juga,” kata Arka sambil tersenyum. 

Sungguh kebaikan yang diberikan Rosa sangat menyentuh. Tak pantas kalau Arka masih menanggapinya dingin. Hal itu dirasakan oleh Rosa yang tentu saja sangat gembira menerimanya. Ia harus terus mengambil perhatian Arka dan menarik simpatinya.

“Besok pagi aku juga mau ke rumah Senja pagi-pagi. Tadi aku sudah bilang kalau akan selalu menjemputnya selama kakinya masih sakit.”

“Mungkinkah besok dia siap masuk sekolah?”

“Entahlah, semuanya belum pasti, tapi aku akan tetap ke rumahnya. Pokoknya sebelum dia bisa menggenjot sepedanya dengan baik, dan berjalan tegap, aku akan selalu mengantar dan menjemputnya."

Arka tersenyum. Ia senang, hal yang akan dilakukannya sudah lebih dulu akan Rosa lakukan.

Tiba-tiba ponsel Rosa berdering.

“Apa? Jangan sekarang. Baiklah, usul kamu bagus, nanti kita bicara lagi, aku sedang di jalan.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Thursday, June 25, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 33

 NAMAKU TETAP SENJA  33

(Tien Kumalasari)

 

Dokter menganjurkan agar Senja dirawat sehari dua hari, tapi Senja menolak.

“Tidak Dokter, saya mau ujian, saya merasa kuat. Kalau saya bisa pulang, maka saya bisa istirahat sambil belajar."

Arka juga membujuknya, tapi Senja bersikukuh untuk tetap pulang malam ini juga.

“Senja, nanti aku bawakan buku-buku yang akan kamu pelajari kemari.”

“Tidak, Mas. Repot amat. Sekarang aku sudah merasa sehat. Aku siap untuk pulang saja.”

Karena itulah setelah infus habis maka Senja langsung disiapkan untuk pulang.

“Apakah Non Rosa membayar semua biaya?”

“Tidak, aku semua, tidak masalah, mengapa kamu menanyakannya?”

“Aku akan minta Simbok untuk menggantinya, kalau tidak terlalu banyak mungkin Simbok punya uangnya.”

“Tidak banyak. Dan tidak usah diganti. Kamu tenang saja," kata Arka yang kemudian berbicara dengan dokter, kemudian menemui mbok Mangun di luar.

Mbok Mangun tampak gembira, Senja pulang malam itu juga. Kecuali masalah biaya yang walau akan ditanggung Arka, tapi Simbok ingin merawatnya sendiri di rumah.

***

Pak Wiguna dan istrinya sangat gelisah, Arka tidak pulang sampai larut malam. Bu Wiguna tidak pernah segelisah itu, karena tak biasanya Arka pulang sampai larut, dan ponselnya tidak aktif pula.

Tapi tiba-tiba Rosa menelpon. Pak Wiguna bergegas menerimanya.

“Om, apakah Arka sudah pulang?”

“Kami sedang menunggu. Malam sudah larut, menjelang pagi, tapi dia belum juga pulang. Aku menunggunya sejak tadi sore.”

“Arka sedang mengurus anak tukang beras itu.”

“Mengurus untuk apa? Ada apa?”

“Dia tadi diculik orang,”

“Siapa yang diculik?”

“Anak tukang beras itu Om.”

“Mengapa Arka mengurus orang yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya? Apa urusannya?”

“Om kan tahu, Arka sangat memperhatikan keluarga miskin itu. Jadi kalau ada apa-apa, dia yang mengurusnya.”

“Keterlaluan. Jadi dia memilih tidak pulang demi mengurus orang diculik yang bukan apa-apanya?”

“Yang diculik itu sudah ketemu. Saya yang menemukannya.”

“Kamu? Bagaimana bisa?”

“Hanya karena kebetulan saja, saya sedang dalam perjalanan dari rumah teman saya, melihat Senja terjatuh dipinggir jalan. Lalu saya antar dia ke rumah sakit."

“Keterlaluan. Merepotkan banyak orang. Lalu Arka juga menungguinya di rumah sakit?”

“Pastinya Om, saya telpon tidak diangkat. Ponselnya mati. Barangkali baterynya habis.”

“Aku juga menelpon berkali-kali, tapi tidak bisa nyambung.”

“Ya sudah Om, kasihan jam segini Om belum tidur.”

“Aku dan tantemu belum tidur ini, karena khawatir tentang dia.”

“Sekarang Om dan tante tidur dulu, sudah larut, hampir pagi. Ingat kesehatan Om dan tante.”

“Baik, terima kasih Rosa, kalau kamu tidak menelpon, aku tidak akan tahu apa yang terjadi.”

Begitu menutup ponselnya, pak Wiguna masih mengomel karena kesal atas apa yang dilakukan Arka.

“Ada apa sebenarnya Pak? Siapa yang di rumah sakit?” tanya bu Wiguna yang belum tahu kejelasannya.

“Arka mengurus orang diculik.”

“Siapa yang diculik?”

“Gadis penjual beras itu. Bukan sanak saudara, bukan siapa-siapa, tapi sampai sebegitunya dia berkorban.”

“Gadis itu diculik? Lalu bagaimana keadaannya.”

“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Pokoknya yang menemukan gadis itu adalah Rosa, lalu membawanya ke rumah sakit. Tentunya Rosa kemudian mengabari Arka.”

“Mengapa sampai dibawa ke rumah sakit? Apa dia terluka? Diapakan oleh penculik itu?” tanya bu Wiguna khawatir.

“Aku tidak tahu Bu, aku tidak bertanya lebih lanjut. Yang penting keberadaan Arka kita sudah tahu. Sekarang aku mau tidur. Nanti kalau dia pulang pasti akan aku marahi habis-habisan.”

“Bapak bagaimana, anak melakukan hal baik, mengapa dimarahi?”

“Aku curiga ada hubungan apa antara Arka dan gadis itu, sampai dia berkorban mati-matian,” katanya sambil menuju ke kamar, untuk tidur.

Bu Wiguna tidak menanggapi, ia mencoba menelpon Arka untuk mendengar kejelasannya, tapi ponsel Arka memang benar-benar mati. Jadi iapun bersiap untuk beristirahat.

***

“Uang apa, kamu bekerja tidak becus, masih mau minta uang tambahan? Kamu juga sudah menerima uang dari kakek tua mata keranjang itu, dan dia mengancam akan memintanya lagi karena perempuan itu sangat ganas dan bisa terlepas. Sudah, ini sudah malam, aku kesal dan lelah. Lain kali bekerjalah lebih baik… Iya, memang kamu sudah berhasil, tapi nyatanya dia kabur. Si tua itu minta uangnya dikembalikan,.. benar, bukan salah kamu. Ya sudah, besok saja kita bicara lagi. Sudah hampir pagi kamu menelpon. Untung aku belum tidur.”

Suara Rosa yang menelpon ternyata terdengar oleh bu Daryono yang mau ke ruang makan untuk mengambil minum. Ia segera mengetuk pintu Rosa.

“Rosa, kamu belum tidur? Tolong buka pintunya.”

Dengan kesal Rosa membuka pintunya, dan melihat ibunya berdiri di depan pintu sambil membawa segelas air putih.

“Kamu malam-malam begini, bertelpon dengan siapa? Kamu seperti marah-marah.”

“Oh, itu, telpon salah sambung. Itu sebabnya Rosa marah.”

“Telpon salah sambung kok lama banget bicaranya.”

“Saya omeli dia, malam-malam mengganggu orang tidur.”

“Kenapa panjang sekali ngomongnya. Bukannya cukup bilang … maaf salah sam bung, begitu kan?”

“Iya, Rosa penginnya marah-marah. Mengapa Mama belum tidur?”

“Haus, lalu mengambil air, lewat kamar kamu, mendengar kamu bicara.”

“Iya Ma, ya itulah, orang salah sambung. Sekarang Mama kembali tidur sana, sudah malam.”

“Hampir pagi. Mama sudah tidak bisa tidur lagi. Kamu juga, sebaiknya sholat sekalian.”

“Baiklah.”

Rosa menutup pintunya. Shalat? Sudah lama Rosa tidak melakukannya. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan terlelap.

***

Mbok Mangun tidur di samping Senja, masih ada rasa khawatir karena kejadian yang menimpa sang anak. Walau begitu ia bersyukur, Senja selamat dan berhasil lolos dari cengkeraman orang jahat, walau ada luka-luka di telapak kaki dan tangannya.

Arka sudah pulang begitu mereka sampai di rumah. Ia berpesan agar Senja tidak masuk sekolah dulu, sampai kakinya benar-benar sembuh. Ia juga berpesan agar obatnya tidak lupa dimakan sesuai aturan.

Mbok Mangun diam-diam berpikir, mengapa Arka begitu baik kepada keluarganya. Bertubi-tubi pertolongan diberikannya, bahkan hutang yang menghimpitnya juga sudah dibayarnya lunas.

Senja tampak tertidur pulas, barangkali karena lelah lahir dan batinnya, juga karena pengaruh obat yang diminumnya.

Mbok Mangun mengelus kepala anaknya dengan lembut. Menjadi orang tak punya memang berat, dan rasa berat itu bukan hanya ditanggungnya sendirian, anak-anaknya juga turut menanggungnya. Walau begitu ia bersyukur karena kedua anaknya adalah anak-anak baik yang penuh pengertian. Mereka tidak pernah mengeluh, baik oleh makanan sederhana yang selalu dihidangkan simboknya, maupun pakaian sehari-hari yang lusuh karena bertahun tak pernah berganti baru.

Tiba-tiba mbok Mangun teringat bungkusan-bungkusan yang dibawa Arka. Ia tahu siangnya Arka membeli beberapa baju untuk dirinya dan anak-anaknya. Bukan hanya baju, tapi juga sepatu dan tas sekolah untuk mereka.

Air mata mbok Mangun berlinang. Ia tak mampu membelikannya dan ada orang baik yang membantunya. Mbok Mangun teringat ketika awal bertemu Arka, Senja menyebutnya sebagai malaikat penolong.

“Ya Allah, terima kasih untuk semuanya. Hamba tahu semua karenaMu.”

Lalu mbok Mangun turun dari tempat tidurnya, yang terdengar berderit ketika ia turun. Tak enak, tempat tidur sederhana itu memang terbuat dari bambu. Walau begitu Senja tidak terbangun karenanya. Mbok Mangun tersenyum. Ia menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Tapi tiba-tiba terdengar teriakan.

“Apa maksudmu? Bukan aku. Kamu yang berusaha membunuhnya.”

Mbok Mangun terkejut, bergegas kembali ke kamar Senja.

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 36

  NAMAKU TETAP SENJA  36 (Tien Kumalasari)   Arka terkejut. Ia berputar mengitari mobil, setengah berlari mendekati Rosa yang terbaring samp...