Thursday, July 2, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 38

 NAMAKU TETAP SENJA  38

(Tien Kumalasari)

 

Arka meletakkan ponselnya dengan heran. Sudah sejam lebih ayahnya keluar dari rumkah sakit, tapi belum sampai juga.

“Bagaimana, ayahmu masih di rumah sakit?” tanya sang ibu.

“Kata pak Daryono, bapak sudah pulang sejak sejam lebih yang lalu, entah ke mana sampai sekarang belum sampai di rumah.”

“Perasaan Ibu kok tidak enak ya Ka.”

“Ibu jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin bapak mampir ke mana, gitu.”

“Di malam seperti ini mampir ke mana, warung-warung juga pasti sudah tutup. Jangan-jangan mobilnya rewel atau apa.”

“Kalau mobilnya rewel pasti bapak mengabari ke rumah, atau ke Arka.”

“Kalau begitu kenapa? Sungguh perasaan Ibu terasa tidak enak. Entah kenapa ini Ka.”

“Itu karena Ibu memikirkan yang tidak-tidak. Sekarang Ibu tidur saja, Arka akan berusaha mencarinya.”

“Mencari ke mana?”

“Bapak kan pamitnya ke rumah sakit, ya Arka akan menelusuri jalan yang kira-kira dilewati bapak. Barangkali ban kempes atau apa. Pokoknya Ibu tenang saja dan pergi tidur. Nanti tensi Ibu naik lhoh.”

“Iya, baiklah. Ibu mau tidur saja.”

"Arka berangkat ya Bu."

“Baiklah, kabari Ibu kalau ada apa-apa, atau kalau kamu sudah bertemu ayahmu.”

“Iya, baiklah.”

***

Tapi di sepanjang jalan yang kira-kira dilalui sang ayah mulai dari rumah sampai ke rumah sakit, Arka tak menemukan jejak sang ayah. Ia bahkan sudah berputar, barangkali ayahnya melewati jalan yang lain. Tak ada juga.

Arka menelponnya. Tapi seperti tadi ketika menelpon dari rumah, tetap saja ponsel itu mati.

“Ke mana ya bapak?” gumamnya berkali-kali.

Lalu ia memasuki halaman rumah sakit, barangkali pak Daryono mengerti ke mana ayahnya pergi, walau tadi mengatakan kalau sang ayah sudah pulang.

Arka terkejut, ketika memarkir kendaraannya, ia melihat mobil ayahnya masih terparkir di sana.

“Itu kan mobil Bapak?”

Arka turun dan mendekatinya, barangkali ia salah, karena banyak mobil serupa. Tapi ia benar-benar yakin bahwa itu mobil sang ayah.

“Berarti Bapak masih berada di sini. Mengapa pak Daryono mengatakan kalau bapak sudah pulang bahkan sudah berjam-jam yang lalu sejak aku menelponnya?”

Arka masuk ke dalam, tapi di lobi ia melihat pak Daryono dan istrinya sedang menuju keluar.

“Lho, Arka? Kamu kemari lagi? Rosa sudah bisa tidur setelah dokter memberinya obat, karena dia sambat kesakitan terus menerus.”

“Saya mencari bapak.”

“Bapakmu? Bukankah aku sudah mengatakan kalau ayahmu sudah pulang sejak tadi? Masa belum sampai di rumah?”

“Belum Om, saya malah melihat mobil bapak masih terparkir di sana.”

“Kok aneh?” kata pak Daryono yang melihat ke arah jari tangan Arka menunjuk.

“Masa dia lupa membawa mobil lalu pulang naik taksi atau jalan kaki?” sambung bu Daryono.

“Saya juga bingung.”

“Coba kamu lihat, barangkali bannya kempes lalu mobilnya ditinggal, kemudian beliau naik taksi.”

“Kalaupun begitu pasti ya sudah sampai rumah kan Pa,” sambung bu Daryono lagi.

“Iya juga sih.”

Walau begitu Arka tetap mendekati mobil sang ayah, sementara pak Daryono dan istrinya kemudian pamit untuk pulang.

“Om pulang dulu ya Ka, barangkali ayah kamu sudah sampai di rumah.”

Arka bergegas mendekati mobil sang ayah, memeriksa seluruh ban dan bodi mobilnya barangkali karena menabrak sesuatu lalu tak bisa jalan. Tapi tak ada yang mencurigakan. Mobil itu utuh tak kurang suatu apa.

Arka bingung menemukan jawabnya. Ketika bertanya kepada penjaga, mereka juga tidak tahu menahu tentang pemilik mobil itu.

Arka pulang dengan benak penuh tanda tanya.

***

Ketika ia sampai di rumah, ia melihat sang ibu masih duduk di ruang tengah.

“Ibu bagaimana, Arka minta Ibu tidur saja, malah duduk di sini. Ini kan sudah malam, Bu.”

“Mana ayahmu? Pergi ke mana dia?”

“Arka juga heran.”

“Tidak ketemu?”

“Mobilnya masih ada di halaman rumah sakit.”

“Berarti ayahmu masih ada di sana, ngobrol sama pak Daryono. Ayahmu memang suka begitu.”

“Ya tidak Bu, pak Daryono kan sudah bilang kalau bapak sudah pulang.”

“Lalu ke mana ayahmu?”

“Arka juga bingung. Mobilnya ditinggal di rumah sakit, tapi bapak sudah tidak ada di sana.”

“Ya Allah, apa yang terjadi pada suami hamba?” bu Wiguna mulai panik.

“Ibu jangan bingung. Bapak bukan anak kecil. Mungkin dia ketemu temannya dan sedang ngopi dipinggir jalan seperti kesukaannya saat masih muda.”

“Begitu sederhana? Mengapa ponselnya dimatikan?”

“Mungkin tidak dimatikan tapi mati sendiri karena bapak lupa ngecas ponselnya.”

Bu Wiguna diam, tapi ia merasa ragu untuk mempercayai apa yang dikatakan anaknya. Lupa ngecas? Sesore tadi ia melihat ponsel suaminya di cas di meja dekat telpon rumah.

“Ibu tidur saja dulu, saya akan keluar lagi untuk mencari.”

“Biar Ibu tunggu di sini saja.”

“Jangan Bu, tidur di kamar saja. Biar lebih enak.”

“Tidur di sofa ini juga enak, pergilah lagi cari ayahmu,” kata bu Wiguna yang belum hilang rasa cemasnya.

Arka tak bisa memaksa. Ia mengambil selimut dan bantal, diberikannya kepada ibunya. Setelah sang ibu berbaring ia menyelimutinya, barulah ia kembali keluar rumah dengan masih diliputi perasaan heran.

***

Arka memarkir mobilnya di sembarang tempat, kemudian dia menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Mungkin juga sang ayah sedang ngopi bersama teman lamanya, siapa tahu, dan tidak sempat mengabari karena ponselnya mati. Lalu ia berhenti di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Ada musik bergaung di perutnya, lalu dia ingat bahwa sejak siang dia belum makan. Ia memesan kopi dan makanan seadanya untuk mengganjal perutnya sambil terus berpikir. Kental dan manis serta harumnya kopi sama sekali tak membuatnya merasa nikmat. Makanan yang disantapnya juga tak membuat perutnya nyaman. Yang penting perut itu diisi, lalu musik yang semula menjerit itupun berhenti.

Arka juga berpikir tentang sang ibu. Ia tahu sang ibu tak bisa menerima kabar yang tak enak. Kecemasan tentang belum pulangnya sang ayah juga pasti membuatnya gelisah, dan itu akan mempengaruhi kesehatannya. Arka ingin pulang saja, tapi tak tahu harus menjawab apa karena sang ibu pasti menunggunya dan bertanya ke mana perginya sang ayah.

Arka perlahan memasuki mobilnya dan membawanya meluncur pulang, karena tak menemukan bayangan sang ayah. Ia terus berpikir tentang jawaban yang akan dikatakannya ketika sang ibu bertanya nanti.

Ketika memasuki halaman rumah, ia terkejut melihat mobil sang ayah sudah terparkir di halaman.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, July 1, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 37

 NAMAKU TETAP SENJA  37

(Tien Kumalasari)

 

Mata Rosa membelalak marah. Semuanya membeku dalam diam, antara kaget dan tak percaya. Perawat itu tampak kebingungan. Sepertinya ia belum pernah masuk ke ruangan rawat Rosa. Tak apa, karena perawat tugas kan berganti-ganti. Ia tampak bingung. Berita yang menurutnya bagus menjadi suasana yang sangat mencekam.

“Apa saya salah?” suara perawat itu lirih, tampak kebingungan.

Tak ada yang menanggapi perkataannya. Lalu perawat itu keluar, dengan membawa alat suntik yang pastinya semula untuk menginjeksi pasien.

Suasana beku itu masih mencekam. Mata pak Daryono menyala, bu Daryono tampak berlinang air mata, sedangkan pak Wiguna juga tampak kebingungan.

“Pembohong! Rumah sakit ini pembohong! Aku tidak hamil! Hamil sama siapa?” Rosa lah yang berteriak.

“Diam! Teriakan kamu tak akan berarti apa-apa. Ini rumah sakit. Segala pernyataan yang dikeluarkan adalah berdasarkan pemeriksaan, dan itu mutlak. Kamu yang pembohong," sentak pak Daryono pada akhirnya.

Sekarang Rosa terisak.

“Tapi Rosa tidak hamil Pa.”

“Bukan kamu yang harus mengatakannya. Buktinya kamu dinyatakan hamil. Mau jawab apapun kamu tidak bisa ingkar.”

“Rosa mau diperiksa sekali lagi, siapa tahu mereka salah.”

“Tidak akan ada pemeriksaan ulang. Ini rumah sakit besar, kecil sekali membuat kesalahan dalam pemeriksaan.”

“Katakan siapa dia,” kata bu Daryono yang semula diam.

“Mama, aku harus menjawab apa?”

“Jawab siapa melakukannya! Kamu tidak mengerti?”

“Tapi aku tak mungkin hamil.”

“Teman-teman kamu di luar negri. Mereka menganut pergaulan bebas. Kamu hanyut dalam pergaulan itu, dan membawa noktah itu kemari, lalu mengejar laki-laki yang sama sekali tidak mencintai kamu untuk menutupi aib kamu.”

“Tidak Pa, tidak begitu.”

“Kalau tidak begitu lalu bagaimana?” suara pak Daryono semakin meninggi.

“Rosa tidak mungkin hamil.”

“Karena kamu merasa sudah meminum pil anti hamil?”

“Papa ….,” Rosa terisak semakin keras. 

Bu Daryono mendekat, dan berkata lebih lembut.

“Katakan saja sejujurnya Rosa.”

“Kalau dia tidak mau mengaku, suruh dia pergi saja dari rumah. Aku tidak mau punya anak pembohong dan melakukan perbuatan memalukan.”

Serentak semuanya kembali diam. Rosa menghentikan tangisnya, tak mengira sang ayah setega itu. Menyuruhnya pergi dari rumah? Mengusirnya? Memintanya minggat?

“Tapi aku tidak_."

“Diaamm...! Kamu memang tidak pantas dikasihani. Menyesal aku mengangkat kamu dari comberan!"

Bu Daryono terkejut. Diam-diam mencubit pinggang suaminya karena dianggapnya telah kelepasan bicara. Tapi Rosa terbelalak menatapnya, dan pak Daryono menggaruk kepalanya, mencari jawab untuk menetralisir suasana aneh yang diciptakannya.

“Papa … mengangkat aku … dari comberan?”

“Rosa, dulu waktu kecil kamu pernah jatuh di tempat kotor, ayahmu menolong kamu dan melarikannya ke rumah sakit karena kamu pingsan,” kata bu Daryono tiba-tiba. Pak Daryono menatap istrinya dengan tatapan terima kasih.

“Aku menyesal telah menolong kamu. Kalau saja aku tahu bahwa kelakuan kamu telah mencoreng nama baik keluarga, aku biarkan saja kamu waktu itu.”

Rosa kembali terisak.

“Tapi aku tidak hamil ….”

“Diam kamu. Katakan siapa pelakunya, biar Papa seret dia kemari, atau kalau kamu tidak mau mengaku, pergi saja dari rumah Papa. Kamu mmem …. kamu bukan lagi aku anggap anak,” kata pak Daryono yang sekali lagi hampir terpeleset mengatakannya.

“Tapi Papa …”

Pak Wiguna yang semula diam dan merasa tak enak dengan suasana itu, perlahan mundur dan memutuskan untuk pulang saja, karena tak ingin menyaksikan suasana yang sangat tidak mengenakkan itu.

Tapi sebelum sampai di pintu, tiba-tiba seorang perawat masuk, dan tergopoh mendekati Rosa dan kedua orang tuanya.

“Mohon maaf, Bapak, Ibu, yang masuk barusan adalah perawat baru, yang seharusnya tidak bertugas di ruangan ini, tapi di ruangan lain.”

“Ia membawa berita bohong!” teriak Rosa.

“Maaf Ibu, maaf sekali, seharusnya dia bertugas di ruang G tujuh, tapi dia masuk ke ruang B tujuh.. Itu ruang ibu Tantri Wiguna. Jadi yang hamil itu ibu Tantri.”

Ruangan kembali membeku. Rosa menghela napas lega, walau kemarahan masih membayang di matanya.

“Aku hampir diusir orang tuaku,” katanya geram sambil mengusap air matanya.

Sementara pak Daryono dan bu Daryono mendekati putrinya dan menggenggam tangannya lembut.

“Syukurlah ….” kata bu Daryono.

Sementara itu mendengar siapa yang disebut perawat itu, pak Wiguna bergegas keluar dari ruangan Rosa, tanpa pamit kepada keluarga Daryono.

Ia memburu perawat yang keluar.

“Suster … Suster tadi berkata apa?”

“Oh, iya Pak, teman saya salah kamar, maklum dia masih baru dan belum paham ruangan di rumah sakit ini.”

“Harusnya siapa yang hamil?”

“Ini pak, catatannya ,,, ibu Tantrina Wiguna. Dia yang hamil. Baru datang tadi pagi. Bapak kenal? Belum ada keluarga yang menengoknya. Katanya suaminya ada diluar kota.”

Pak Wiguna merasa disiram seember air es. Ia tentu saja mengenal nama itu.

“Tolong tunjukkan di mana kamarnya.”

“Baiklah mari Pak, di sebelah sana. Belok ke kanan.”

***

Arka sampai di rumah, mendapati sang ibu sedang duduk sendirian.

“Apa bapak pergi?”

“Ke rumah sakit. Katanya Rosa dirawat. Ibu kira kamu juga ada di sana.”

“Tadi ada di sana, tapi setelah papa mamanya datang, Arka lalu pulang.”

“Jadi ini kamu dari rumah sakit? Apa tidak bertemu ayahmu? Berangkatnya sudah kira-kira dua jam yang lalu. Lebih malahan."

“Arka tidak langsung pulang, tapi melihat keadaan Senja.”

“Senja sudah pulang ke rumah kan?”

“Iya, dia tidak mau dirawat, jadi sudah ada di rumah.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Sudah baik. Yang agak parah telapak kakinya, nggak tahu menginjak apa, luka agak dalam, jadi susah berjalan. Karena itulah dia belum bisa masuk sekolah.”

“Kasihan. Katanya Rosa yang menolongnya ketika dia dalam pelarian.”

“Iya, kan Arka sudah cerita.”

“Syukurlah, ternyata Rosa punya sisi baik.”

“Hanya saja terkadang risih Bu, tingkahnya suka nyebelin.”

“Ya sudah, tidak suka juga tidak apa-apa, jangan menjelek-jelekkan terus. Namanya orang tidak suka ya begitu, suka sebel. Tapi kamu juga tidak boleh membencinya.”

“Tidak, apalagi setelah dia mau membantu Senja, ketidak senangan Arka sudah banyak berkurang.”

“Apa kamu tidak ke rumah sakit menyusul ayahmu?”

“Tidak Bu, Arka lelah sekali.”

“Ayahmu lumayan lama. Coba kamu telpon.”

“Ibu kangen ya?” goda Arka.

“Kamu itu ada-ada saja. Hanya bertanya, kok lama perginya, entah mengapa perasaan ibu kok tidak enak.”

“Baiklah, Arka telpon dulu ya. Harusnya tadi Ibu ikut.”

“Ibu agak pusing, jadi diajak ayahmu Ibu nggak mau.”

Arka memencet nomor ayahnya, tapi berkali-kali tidak diangkat.

“Kok tidak diangkat ya Bu, sudah berkali-kali.”

“Coba kamu telpon Rosa, bisa tidak ya menerima telpon.”

Arka menelpon pak Daryono, bukan Rosa, takutnya mengganggu yang sakit. Tapi jawaban pak Daryono mengejutkannya.

“Lho, ayahmu sudah pulang sejak sejam  yang lalu. Masa belum sampai ke rumah? Sejam lebih malahan.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 30, 2026

Namaku tetap Senja

 Bismillahirrahmanirrahim 


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 


Selamat sore 

Sahabat²ku, penyemangatku.

Terima kasih atas perhatian dan doa-doa untukku, semoga Allah swt mengijabah langsung tunai, sembuh seperti sebelumnya. AamiinπŸ€²πŸ™


Mohon maaf hari ini Senja & Nadia _*tidak hadir dulu ya,*_ dan akan segera hadir lagi setelah saya merasa bisa menulis lagi untuk para sahabatku,  penyemangatku, cintaku.


Mohon dorongan doanya.


Wassalam.

Tien Kumalasari.

πŸ€πŸ€πŸ™πŸŒΉπŸ’—

Monday, June 29, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 36

 NAMAKU TETAP SENJA  36

(Tien Kumalasari)

 

Arka terkejut. Ia berputar mengitari mobil, setengah berlari mendekati Rosa yang terbaring sampil merintih. Pengendara sepeda motor itu kabur, tapi Arka tak memperhatikannya. Ia lebih mempedulikan Rosa yang merintih kesakitan.

“Kamu terluka?”

Hanya siku sebelah kiri karena terbanting, tapi perutku sakit sekali. Aku tak bisa bangun.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” kata Arka yang kemudian menggendong Rosa, dibawanya masuk ke dalam mobil. Rosa bersandar di lengan Arka dengan nyaman. Dalam hati ia berkata, seandainya ia digendong lebih lama.

Arka meletakkannya di samping kemudi, lalu membawanya ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan Rosa merintih-rintih.

“Apanya yang sakit?”

“Perutku, pinggangku, sakit sekali.”

“Tadi terbentur apa?”

“Aku tidak tahu, tertabrak langsung jatuh.”

Tiba-tiba ponsel Rosa berdering, Rosa hanya melihatnya, tapi kemudian ponsel dimatikannya.

"Dari siapa?"

"Teman lama. Mengganggu saja dia tuh. Aku sedang fokus pada sakit perutku ini."

“Ya sudah, nanti dokter yang akan memeriksanya.”

“Sakit sekali Ka, nyeri… sepertinya ada bagian dalam perutku yang terluka,” Rosa merengek manja. Kapan lagi dia bisa bermanja dengan orang yang dicintainya?

Arka tak merasakan itu. Intinya ia hanya harus menolong, apalagi saat itu Rosa sedang bersamanya.

Sesampai di rumah sakit, Rosa segera dibawa ke IGD.

“Ka, tolong kabari  Mama sama Papa ya,” pesan Rosa sebelum Arka keluar dari ruang IGD. 

Arka hanya mengangguk. Ia segera mengambil ponselnya. Tapi sebelum dia menelpon, ponselnya lebih dulu berdering, dari ayahnya.

“Arka, kamu masih di kantor?”

“Tidak. Arka sedang di rumah sakit.”

“Apa? Siapa yang sakit?”

“Saya sedang bepergian bersama Rosa, Rosa terserempet motor, sekarang ada di rumah sakit.”

“Apa? Bagaimana bisa keserempet? Bagaimana lukanya? Kamu harus menelpon pak Daryono .”

“Iya, ini mau menelpon.”

Pak Daryono menerima berita itu dengan kaget dan sedikit heran.

"Rosa sedang bersama kamu, Arka?”

“Iya Om, kami mau menjenguk seseorang yang sedang sakit. Maksudnya yang baru keluar dari sumah sakit, seorang gadis penjual beras. Ketika keluar dari mobil, Rosa terserempet motor yang melaju kencang.”

“Bagaimana lukanya?”

“Luka yang terlihat sepertinya tidak seberapa, tapi dia mengeluh perutnya sakit sekali, mungkin luka di dalam, dokter akan  segera menanganinya.”

“Baiklah, kirimkan alamat rumah sakitnya. Aku dan Mamanya mau ke sana.”

“Baik, Om.”

Arka menutup ponselnya setelah mengirimkan alamat rumah sakit kepada pak Daryono.

***

"Rosa sedang bepergian bersama Arka?” tanya bu Daryono.

“Ya, mereka mau menjenguk orang sakit juga. Gadis penjual beras itu. Tapi Rosa terserempet sepeda motor ketika turun dari mobil.”

“Parahkah lukanya? Tadi dia bercerita tentang bagaimana dia menolong penjual beras itu, yang pingsan di pinggir jalan. Aku kira sekarang mereka kompak akan menengok gadis yang kemarin sempat masuk rumah sakit itu.”

“Semoga tidak apa-apa. Aku mau ke rumah sakit. Mama ikut?”

“Tentu saja Mama ikut. Tunggu sebentar, ganti baju dulu.”

***

Sesampai pak Daryono di rumah sakit, Rosa masih ada di ruang IGD.

Melihat ayahnya datang, Rosa menangis terisak.

“Mengapa menangis? Lukanya parah?”

“Tidak Pa, entahlah, perutku sakit sekali.”

“Sudah diperiksa dokter?”

“Tidak kelihatan lukanya, entah apa kata dokter, tapi rasanya sakit dan nyeri. Kata dokter baru diadakan pemeriksaan lengkap besok pagi.”

“Ya sudah, karena sudah ditangani dokter, maka kamu harus tenang,” kata sang ibu.

“Arka mana, kok tidak ikut masuk?”

“Tadi ketika Papa dan Mama datang, dia pamit  mau keluar sebentar.”

“Ke mana katanya?”

“Pastinya pulang dulu, ngabarin ayah dan ibunya. Kalau dia tidak segera pulang kan mereka bertanya-tanya.”

“O, mungkin pergi ke rumah Senja.”

“Senja itu gadis penjual beras itu?”

“Iya, kemarin Rosa menolongnya. Tadi mau ke sana sama Arka, tapi Rosa terkena halangan seperti ini.”

“Ya sudah, bersabar, jangan banyak mengeluh. Kan dokter sudah menanganinya.”

“Mengapa Arka tidak pamit sama Rosa ya.”

“Kan tidak sembarangan orang bisa masuk kemari. Ini hanya Mama dan Papa yang boleh masuk. Sudah, kamu itu jangan berpikir yang tidak-tidak. Katamu kamu sudah melupakan Arka,” tegur bu Daryono.

“Iya sih, sepertinya dia tidak peduli.”

“Dia membawamu kemari dan mengabari Papa Mama, mengapa kamu mengatakan tidak peduli?”

Perawat mendekat, mengatakan bahwa Rosa akan dipindahkan ke ruang rawat untuk pemeriksaan selanjutnya besok pagi, karena ia masih mengeluh perutnya sakit.

“Baiklah suster, berikan kamar terbaik untuk anak saya,” kata pak Daryono.

***

“Jam berapa ini, mengapa Arka belum pulang juga?” tanya bu Wiguna.

“Biarkan saja, dia bersama Rosa. Rosa sedang sakit, pastinya dia menemaninya,” kata pak Wiguna yang kali ini merasa senang karena Arka bersama Rosa. Ia tak ingin menelpon atau mengganggunya.

“Seberapa parah lukanya sih?”

“Kita tidak tahu, kalau ingin tahu, ayo kita ke rumah sakit.”

“Bapak  mau ke rumah sakit?”

“Iya. Maksudku begitu.”

“Aku tidak usah saja Pak, kepala agak pusing. Nanti bau obat-obatan di rumah sakit bisa tambah pusing.”

“Ya sudah, ibu di rumah saja. Nanti kalau ada apa-apa, aku kabari.”

Bu Wiguna hanya diam. Ia tahu suaminya senang karena Arka bersama Rosa. Tapi ia yakin bukan karena Arka sudah jatuh hati pada Rosa. Ia tahu hati Arka sangat keras. Ia tak mudah merubah pendiriannya, apalagi ini masalah cinta. Mereka bersama-sama hanya karena Senja yang diculik dan Rosa menolongnya dalam pelariannya. Sebuah kebetulan karena Rosa yang menemukannya, lalu membawanya ke rumah sakit. Dan itu juga keberuntungan bagi Senja. Entah mengapa, bu Wiguna bersyukur untuk keselamatan Senja.

***

“Rimba, sore-sore begini, kamu dari mana?” tanya Senja ketika melihat Rimba memasuki rumah sambil membawa sesuatu di dalam keresek.

“Ini, aku membawa mangga,” kata Rimba sambil meletakkan beberapa butir mangga di atas meja.

“Dari mana mangga ini?”

“Dari rumah bu Suliyah. Banyak mangganya, sampai jatuh-jatuh di jalan.”

“Kamu mengambil tanpa bilang, namanya mencuri.”

“Ya tidak, aku disuruh ambil oleh bu Suliyah, ini ada beberapa yang masak.”

“Ya sudah kalau sepengetahuan yang punya.”

“Biar aku cuci dulu ya Mbak,,”

“Sambil membawa pisau.”

“Apa itu?” tanya Simbok yang baru keluar dari kamar mandi.

“Mangga Mbok, dikasih bu Suliyah.”

“Wah, ini mangga gadung, enak. Ya sudah sana, dicuci dulu.”

Simbok duduk menemani Senja yang masih saja  menghadapi buku-buku pelajaran sekolahnya.

Tiba-tiba ia mendengar suara langkah dari luar. Mbok Mangun bergegas keluar dan berteriak.

“Yaaah, mas Arka sore-sore datang?”

“Iya Mbok, harusnya sudah dari tadi. Ini oleh-oleh buat Senja.”

“Apa ini?”

“Buah-buahan, dari Rosa, dan ini cemilan dari saya.”

“Waah, banyak sekali.”

“Senja mana? Masih tiduran?”

“Tidak, itu di dalam, belajar seharian.”

“Ya ampuun, Senja,” kata Arka yang menemani Simbok masuk ke dalam.

“Mas Arka? Aduh, ini apa saja?” kata Senja melihat Simbok meletakkan bungkusan di meja.

“Ini buah2an dari Rosa. Ada apel dan lain-lain. Sedianya Rosa mau kemari bersama aku, tapi tadi kecelakaan di jalan.”

“Kecelakaan?” yang berteriak bukan hanya Senja, tapi juga Simbok dan Rimba, yang baru saja meletakkan mangga setelah dicuci.

“Kami berhenti di depan toko roti, ketika turun dari mobil, Rosa terserempet motor. Luka sedikit, tapi sudah aku bawa ke rumah sakit.”

“Keadaannya bagaimana?” tanya Senja khawatir.

“Luka ringan di tangannya, tapi dia mengeluh sakit perut, besok baru akan diadakan pemeriksaan keseluruhan,” kata Arka sambil duduk di salah satu kursi yang ada, dan hanya ada tiga, sehingga Simbok dan Rimba tetap berdiri mendengarkan penjelasannya.

“Ya Allah, kasihan sekali. Ingin sekali aku menjenguknya,” kata Senja.

“Kamu sendiri masih luka. Besok paling Rosa sudah bisa pulang.”

“Kalau aku sudah bisa berjalan,  aku mau ke sana membezoeknya, dia penyelamat aku,” kata Senja prihatin.

“Baiklah, nanti gampang. Ini aku hanya sebentar, karena sudah sore dan aku juga belum pulang ke rumah.”

Arka diantar sampai ke depan rumah, Rimba membawakan dua buah mangga masak yang diberikannya kepada Arka.

“Ini apa?”

“Mangga enak, hanya dua, tadi dapat hanya sedikit.”

Arka menerima mangga itu, menciumnya.

“Harum.”

Kemudian dia berlalu.

***

Suasana di ruang rawat Rosa sangat rame, karena pak Wiguna yang datang sambil banyak bertanya. Tapi ia kecewa tidak melihat Arka ada di sana.

“Arka mana?”

“Sedang pergi, barangkali ke rumah Senja,” kata Rosa. Wajah pak Wiguna muram seketika.

Tiba-tiba perawat datang mendekat, menyalami semua yang ada.

“Ini berita bagus, ternyata nona Rosa hamil.”

“Apa?” semuanya berteriak.

"Tidak mungkiiiinn," Rosa berteriak.

***

Besok lagi ya.

Sunday, June 28, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 0006

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  0006

(Tien Kumalasari)

 

Menur terpana, didepannya, sangat dekat di depannya, laki-laki yang ingin dilupakannya itu berdiri. Menur merasa berdiri didepan gunung yang amat tinggi, mana mungkin ia bisa menjangkaunya. Seperti dulu, ketika saat manis masih menyelimuti hidupnya. Ketika hati dan jiwanya diguyur oleh kasih sayangnya. Tapi tidak, itu hanya semu. Hanya mimpi-mimpinya. Mimpi menggapai bintang, mimpi bermandikan sinar rembulan.

Ia mundur selangkah, tapi Baroto menggapai tangannya.

“Jangan berani-berani menyentuhku, Tuan,” katanya tandas.

Baroto tersenyum. Menur masih seperti dulu, tak mudah disentuh oleh sembarang tangan.

“Mengapa kamu lari? Aku ingin kita bicara.”

“Saya tidak mengenal Tuan,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

Tapi entah dari mana datangnya, Baroto sudah berada di depannya. Apakah dia angin yang bisa melesat dalam waktu tak sampai sedetik?

“Tuan, aku mohon.”

“Jangan panggil aku ‘tuan’. Aku Baroto.”

“Saya tidak mengenal Tuan. Saya hanya seorang pemulung, hina dan kotor. Apa Tuan tidak malu berbincang dengan saya?”

“Tolong mengertilah, aku akan meminta maaf.”

“Apa yang sudah Tuan lakukan? Kita tidak pernah saling mengenal.”

“Aku pernah mencintaimu, dan sekarang aku menemukan cinta itu lagi.”

Menur tersenyum tipis.

“Senyummu membuat aku sakit.”

“Tuan, apa tuan sadar siapakah aku? Biarkan aku pergi, ada yang harus aku lakukan di rumah. Ada yang menunggu aku.”

“Suami kamu?”

“Bukan urusan Tuan. Tolong menyingkirlah.”

Tapi Baroto tak mau menyingkir.

“Aku akan terus mengikuti kamu. Sampai kamu mengakui siapa dirimu dan siapa aku.”

“Baiklah. Saya Menur, dan Tuan adalah seorang terhormat yang tidak pantas mendekati Menur, pengais sampah yang kotor.”

“Tapi hatimu tidak kotor. Apa kamu tidak percaya kalau aku mencintai kamu?”

“Apa Tuan bermimpi? Apa Tuan sadar siapa aku?”

“Kamu Menur, anak pak lurah yang pernah menjadi istriku.”

“Istri dalam khayalan.”

“Benar-benar istri.”

“Tolong jangan omong kosong lagi dihadapan saya.”

“Aku sungguh-sungguh mencintai kamu.”

“Mudah saja mengucapkan itu. Dulu ada orang yang mengatakan bahwa dia mencintai saya. Tapi dia pergi begitu saja.”

“Aku terpaksa. Aku dijodohkan oleh orang tuaku, dan terpaksa menjalaninya karena orang tuaku sakit parah.”

“Sekarang saya sudah mendengarnya, sekarang menyingkirlah.”

“Aku mencarimu setelah beberapa bulan menikah. Tapi kamu tak ada lagi di sana. Mengapa kamu bekerja menjadi pengais sampah?”

“Apakah menurut Tuan ini adalah pekerjaan hina?”

“Bukan itu. Kemana suami kamu, dan mengapa membiarkan kamu bekerja seberat ini?”

“Ini tidak berat. Demi anak saya.”

“Kamu punya anak? Apa itu anakku?”

“Tidak, bukan … mengapa Tuan berpikir begitu?”

“Ketika aku mencari kamu, aku mendapat keterangan kalau kamu pergi dalam keadaan hamil.”
”Tapi dia bukan anak Tuan, ayahnya sudah meninggal. Tuan, sungguh saya harus pulang. Tolong jangan mengganggu saya lagi.”

“Aku melakukan ini bukan hanya untukku, tapi untuk Ana. Dia menangis terus dan berharap kamu menjadi pengasuhnya.”

“Itu tidak mungkin.”

“Mengapa tidak mungkin?”

“Saya tidak ingin bertemu Tuan lagi, apalagi melihat Tuan setiap hari.”

“Aku hanya pulang selama sepekan, lalu aku harus pergi. Pekerjaanku ada di luar negri. Tolong penuhilah permintaan Ana, aku tak tahan melihatnya menangis.”

“Tuan sangat mencintai anak Tuan?”

“Sebenarnya Ana bukan anak kandung kami.”

Menur  terkejut mendengar bahwa Ana bukan putri keluarga Baroto. Ditatapnya Baroto dengan heran.

“Itu benar. Kami menikah tidak didasari cinta, kecuali karena ikatan bisnis. Kami tidak pernah saling menyentuh, karenanya tidak dikaruniai seorang anakpun. Orang tua istriku memberikan seorang bayi, anak kerabat yang tak punya orang tua lagi, agar kami adopsi. Bayi tu adalah Ana.

“Itukah sebabnya mereka tak pernah memeluk Ana? Ia selalu teringat permintaan Ana ketika pertama kali bertemu, ‘bibi, peluk aku.’ Sebuah permintaan yang aneh, hanya karena ketika Ana hampir terjatuh, lalu aku menangkapnya dan memeluknya," kata batin Menur.

 Barangkali baru kali itulah Ana merasakan sebuah pelukan. Tiba-tiba Menur merasa sangat iba. Di dalam sebuah keluarga yang kaya raya, ada seorang anak yang merindukan kasih sayang. Terbayang wajah gadis kecil itu ketika memohon untuk dipeluk. Begitu menghiba, membuatnya trenyuh.

“Pergilah bersamaku, Menur. Ana akan senang,” Baroto mengejutkannya.

Menur mengangkat wajahnya.

“Aku harus mencari makan. Anakku juga butuh sekolah, dan untuk itu aku bekerja.”

“Menur, Ana akan memberikan gaji untuk kamu. Aku percaya, pendapatan kamu akan meningkat, jauh di atas kalau kamu memulung. Maaf, kamu tidak akan dianggap pembantu. Kamu akan jadi bagian dari keluarga Baroto, karena Ana menyayangi kamu.”

“Istriku tidak suka anak kecil," lanjutnya.

“Tuan juga ….” sindir Menur.

Baroto tersipu.

“Aku terlalu sibuk berbisnis. Itu adalah sebuah pelarian, sebenarnya.”

“Pelarian dari apa?”

“Dari gagalnya mendapatkan cinta,” kata Baroto sambil menatap tajam Menur. Tatapan yang memiliki seribu makna. Menur membuang muka ke arah lain. Ia tak ingin terjebak oleh perasaannya yang mulai melemah.

“Tolong ijinkan aku pergi, anakku sudah menunggu,” katanya sambil terus melangkah, dan mau tak mau Baroto menyingkir memberi jalan.

Tapi baru beberapa tindak dia berjalan, Baroto meneriakinya.

“Menur, ada titipan dari Ana.”

Menur terpaksa berhenti melangkah. Baroto mendekatinya, menyerahkan sebuah kotak berisi makanan.

“Ini ….”

“Bawalah, itu dari Ana, kalau dibuang sayang, kalau aku bawa pulang pasti Ana akan marah.”

Menur menerimanya, dan matanya memancar marah ketika Baroto sengaja menyentuh tangannya.

“Maaf, tidak sengaja.”

Menur membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya menuju pulang.

“Pikirkanlah permintaanku, tolong Ana, dia sangat menunggu kamu.”

Menur terus saja melangkah, tapi bayangan gadis kecil nan manja itu terus mengikutinya.

***

Wajah Rahman berseri-seri, ketika melihat makanan yang terhidang di depannya.

“Tidak ada ikan tidak apa-apa. Ini daging rendang, enak sekali. Bagus Bu, setiap hari bawakan lauk yang enak-enak,” katanya enteng sambil mengunyah makanan yang tak pernah disantap sebelumnya.

Menur tak menjawab. Rahman tak pernah peduli dari mana ibunya mendapatkan semua itu. Kalau Ana tidak memberinya makanan, mana mungkin dia bisa membawa pulang ikan, dan daging rendang seperti hari itu? Rahman juga tak pernah memikirkan, bagaimana kalau makanan yang terhidang disantap habis olehnya, sementara sang ibu belum makan sedikitpun. Tapi Menur membiarkannya. Itu hal biasa. Menur biasa makan sisa-sisa makanan walau tak seberapa, setelah sang anak kenyang.

“Besok saatnya membayar uang sekolah, dan uang untuk ujian,” tiba-tiba Menur menghentikan kegiatannya bersih-bersih dapur mendengar perkataan sang anak.

“Besok uang sekolah bisa kamu bayar, tapi uang untuk ujian menyusul ya?”

“Apa maksud ibu? Pokoknya harus besok, malu dong kalau tidak bisa membayar besok.”

“Besok biar ibu yang membayarkannya ke sekolah, jadi kamu tidak perlu malu.”

“Terserah, tapi ingat satu hal, jangan mengaku sebagai ibuku.”

“Baik, aku adalah pembantu kamu,” katanya sambil berjalan ke arah dapur sambil mengusap air matanya.

***

Pagi hari itu setelah Rahman berangkat ke sekolah, Menur bersiap untuk bekerja, dan akan mampir ke sekolah Rahman untuk membayar uang sekolah. Tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda berjalan tak jauh di depannya.

***

Besok lagi ya.

 


 

 

 

 

Saturday, June 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 35

 NAMAKU TETAP SENJA  35

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap kepergian Rosa dengan takjub. Perempuan egois yang tidak disukainya ternyata punya sisi baik yang mengagumkan. Ia membantu orang secara total, dan itu membuatnya kagum.

Ia segera berkemas dan berbalik masuk ke dalam untuk menemui ibunya.

“Ayahmu sudah berangkat?” tanya sang ibu yang tadi masih ada di kamar mandi.

“Sudah, apa bapak tidak pamit pada Ibu?”

“Tadi bilang, tapi ketika berangkat aku tidak tahu. Kata bibik, tadi ada tamu, dia mau buat minuman. Siapa tamunya?”

“O itu tadi Rosa.”

“Rosa? Pagi-pagi datang kemari?”

“Dia dari rumah Senja.”

“Pesan beras lagi?”

“Tidak. Ibu kan sudah tahu kalau Senja diculik?”

“Iya, ayahmu sudah cerita sambil marah-marah. Ternyata yang menolong adalah Rosa. Ternyata dia bisa berbuat baik.”

“Tadi dia dari rumah Senja, maksudnya mau mengantar sekolah. Tapi Senja belum bisa masuk sekolah karena telapak kakinya masih sakit.”

“Kasihan. Kamu juga sudah cerita tentang luka-lukanya Senja. Beruntung dia selamat.”

“Penolong selanjutnya setelah dia bisa kabur setelah disekap kan Rosa, dia melihatnya terluka ditepi jalan sepi, lalu membawanya ke rumah sakit.”

“Syukurlah, ternyata Rosa bisa berbuat baik.”

“Arka berangkat dulu ya Bu.”

“Iya, hati-hati. Agak kesiangan ya?”

“Tidak apa-apa, bapak sudah lebih dulu ke kantor.”

Arka mencium tangan sang ibu lalu berangkat ke kantor.

***

“Tadi Non Rosa datang kemari?”

“Iya, cuma sebentar Mbok.”

“Anak baik, bilang apa dia, mengapa kemari hanya sebentar?”

“Katanya mau mengantarkan Senja ke sekolah karena dia tahu kaki Senja sakit.”

“Non cantik itu ternyata baik hati. Lalu kamu tidak menyuruhnya masuk?”

“Senja sungkan. Kalau masuk mau didudukkan di mana? Dulu dia pernah menolak duduk di bangku depan rumah itu kan?”

“Iya sih, orang kaya jarang yang mau duduk di bangku kotor.”

“Jadi ketika tahu bahwa Senja tidak masuk sekolah, lalu dia langsung pulang. Katanya besok mau kemari lagi, barangkali Senja sudah siap masuk sekolah.”

“Kakimu masih sakit kan?”

“Ya sih, tapi kan sudah dibebat.”

“Jangan buru-buru masuk dulu.  Biarkan dulu, sekalian kamu istirahat beberapa hari.”

“Baiklah.”

“Kamu masih belajar? Simbok belikan jajan pasar, buat kamu ngemil,” katanya samil meletakkan bungkusan daun pisang, kemudian diambilnya piring dan ditaruh isi bungkusan di piring itu.

“Wah, ini utri sama klepon. Enak sekali.”

“Makanlah, Simbok mau masak sambel goreng ikan pindang.”

“Simbok kok masak enak. Ikan bukannya mahal?”

“Ikan pindang sangat murah. Dia kan ikan asin biasa. Sudah, lanjutkan belajarnya sambil ngemil.”

“Senja separuh saja, yang separo untuk Simbok.”

“Tidak usah, Simbok sudah beli sendiri. Ini, makannya sama sendok kecil, supaya tanganmu tidak kotor.”

Senja tersenyum, Ia mengambil sebutir klepon dengan sendok, ketika masuk ke dalam mulutnya, klepon itu pecah, mengeluarkan gula jawa yang manis.

***

“Dari mana kamu sepagi ini?” tanya bu Daryono ketika melihat Rosa memasuki rumah.

“Dari rumah om Wiguna.”

“Mau apa kamu pagi-pagi ke sana? Kan ibu sudah mengingatkan agar kamu tidak terlalu mengejarnya?”

“Rosa bukan mengejar Arka, Rosa kan sudah bilang ingin melupakannya.”

“Lalu untuk apa kamu pagi-pagi ke sana?”

“Ibu kan tahu, kemarin Rosa menolong Senja yang baru kabur dari penculik.”

“Itu benar?”

“Ternyata Ibu tidak percaya? Ini benar Bu, itu sebabnya kemarinnya Rosa pulang larut. Rosa meninggalkan Senja di rumah sakit setelah Arka datang.”

“Kalau benar kamu melakukannya, ibu senang. Terus terag kemarin ketika kamu cerita, ibu tidak percaya.”

“Iih, Mama jahat deh. Masa aku tidak bisa berbuat baik?”

“Iya … iya, lalu apa hubungannya dengan kamu mampir ke rumah keluarga Wiguna?”

“Tadi tuh hanya mampir. Rosa dari rumah Senja, bermaksud mengantarkannya ke sekolah kalau Senja mau sekolah. Tapi kaki Senja masih sakit, jadi belum bisa masuk sekolah. Lalu Rosa pulang. Rosa mampir ke rumah om Wiguna, untuk mengatakan pada Arka bahwa Senja belum bisa masuk sekolah.”

“Harus melapor kepada Arka?”

“Iya Ma, Arka selalu merasa bertanggung jawab atas keselamatan Senja, karena ketika diculik, Senja sedang bersamanya. Jadi Arka berhak tahu keadaan Senja kan Ma?”

Bu Daryono tersenyum. Heran tapi bersyukur Rosa bisa melakukannya.

“Rosa mau tidur lagi ya Ma, ngantuk, tadi bangunnya kepagian.”

Bu Daryono tersenyum.

“Kirain mau bantuin bibik masak.”

Rosa tertawa kecil.

“Lain kali Ma, ini Rosa ngantuk banget,” katanya sambil menjauh.

Bu Daryono geleng-geleng kepala. Mana dia tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati Rosa.

“Semoga dia menjadi baik," gumamnya.

***

Siang itu Rimba pulang dan merasa senang melihat kakaknya sudah tampak sehat, tidak lagi pucat seperti ketika ditinggalkannya saat pagi sebelum dia berangkat sekolah.

Mereka bertiga makan siang dengan gembira.

“Kaki Mbak masih terasa sakit?”

“Sudah banyak berkurang. Bukankah dokter mengatakan bahwa hanya luka luar yang tidak berbahaya?”

“Kata mas Arka, besok harus kontrol bukan?”

“Oh, benarkah? Simbok malah tidak tahu kalau besok harus kontrol.”

“Kamu salah Rimba, setelah seminggu kontrolnya, bukan besok.”

“Kirain besok, kalau besok aku ikut.”

“Kamu tidak sekolah?”

“Besok aku pulang pagi, ada rapat guru-guru di sekolah.”

“O, mungkin karena hampir kenaikan kelas itu.”

“Kalau begitu aku bisa menemani mbak Senja di rumah.”

“Kalau kamu bisa pulang awal, Simbok mau jalan keliiing, tadi sudah libur,” kata mbok Mangun.

“Sebenarnya tidak apa-apa kalau Simbok di rumah saja beberapa hari.”

“Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja besok itu ada yang pesan beras dan minta dikirim. Sebenarnya mundur besoknya juga tidak apa-apa, tapi Simbok sudah janji besok. Sebaiknya besok Simbok kirim. Tidak apa-apa kalau setelah itu di rumah.”

“Jauhkah? Kalau dekat, dan kalau tidak berat, Rimba bisa membantu Simbok.”

“Tidak begitu jauh, hanya lima kilo.”

“Biar Rimba kirim ya Mbok, sepeda mbak Senja ringan, Rimba bisa membawanya. Hanya lima kilo bisa Rimba bawa.”

“Jangan, jalanan ke sana rame. Dekat alun-alun.”

“Iya Rimba, kamu masih kecil. Biarpun bisa naik sepeda, tapi kalau jalanan rame lebih baik tidak usah.”

Rimba merengut. Begitu besar keinginannya membantu simboknya, seperti Senja yang selalu bisa melakukannya.

“Kalau kamu sudah besar, kamu bisa. Lagi pula Simbok mau berangkat pagi-pagi, supaya bisa cepat pulang.”

Mereka berbincang hangat sambil menghabiskan makanan, sampai hari menjelang sore.

***

Arka hampir pulang ketika ponselnya berdering. Dari Rosa. Biasanya dia tak mengacuhkannya, tapi kali itu tidak. Arka segera mengangkatnya.

“Ya, Rosa.”

“Ka, apa kamu ada rencana untuk ke rumah Senja sepulang kantor?”

“Ini aku mau ke sana, ingin melihat keadaannya.”

“Aku ikut boleh?”

“Kamu sudah ke sana pagi tadi kan?”

“Iya, tadi aku melihat banyak buah-buahan di rumah, aku ingin mengirimkannya untuk Senja.”

“Tapi aku mau berangkat sekarang.”

“Aku samperin ke kantor kamu ya. Sekalian ingin melihat keadaannya, soalnya pagi tadi masih kelihatan pucat.”

“Baiklah, buruan ya, aku tunggu, aku mau ke sana sekarang.”

“Aku cari taksi dulu, sebentar.”

Arka membenahi berkas-berkas di meja dan memasukkannya ke dalam laci.

“Telpon dari siapa?” tiba-tiba ayahnya masuk.

“Dari Rosa.”

“Kencan mau ke mana? Tapi baiklah, bapak mau pulang dulu, senang kamu mau bersikap ramah seperti tadi yang bapak dengar,” kata pak Wiguna sambil tersenyum.

Arka tak menjawab, dan pak Wiguna beranjak pergi dengan banyak harapan ketika tadi mendengar Arka bertelpon dengan Rosa dan sikapnya sangat baik.

***

Seperti yang dikatakannya di telpon, Rosa membawa sekeranjang kecil buah-buahan. Ia datang naik taksi, sehingga ia dan Arka bisa semobil dan Rosa tidak usah meninggalkan mobilnya di kantor Arka.

“Kamu membawa buah-buahan dari rumah? Apa tidak ditegur mama kamu mengambil persediaan buah di rumah?”

“Mama belanja banyak, aku hanya mengambil sebagian.”

“Aku mau mampir beli makanan di toko roti.”

“Tidak apa-apa, biar Senja senang banyak makanan untuk dia.”

Arka menghentikan mobilnya di sebuah toko roti.

“Aku ikut ya,” kata Rosa yang duduk di seberang kemudi. Arka hanya mengangguk.

Tapi ketika ia turun, tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas. Rosa terjatuh, dan menjerit keras.

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 38

  NAMAKU TETAP SENJA  38 (Tien Kumalasari)   Arka meletakkan ponselnya dengan heran. Sudah sejam lebih ayahnya keluar dari rumkah sakit, tap...