NAMAKU TETAP SENJA 49
(Tien Kumalasari)
Bu Mery berteriak mendengar sesuatu jatuh dari dalam.
Senja melanjutkan pekerjaannya, tapi kupingnya masih dipasang. Tampaknya Tantrina sedang kesal karena pak Wiguna tidak mau menuruti kemauannya.
“Barangkali dia curiga bayi yang kamu kandung bukan anaknya?”
“Sepertinya tidak Bu, dia sering mengelus perutku dengan lembut. Tampaknya dia bahagia sekali.”
“Kalau begitu pergunakan bayi itu untuk terus memeras dia. Dia kan orang kaya, uangnya banyak.”
“Aku mau mengejar masalah rumah itu dulu Bu, aku baru tahu tadi bahwa rumah itu atas nama pak Wiguna. Aku nggak mau dong.”
“Ya, harus atas nama kamu. Makanya pergunakan anak kamu di dalam perut itu untuk senjata agar bisa memaksanya.”
“Nanti kalau dia datang aku akan memintanya lagi. Tadi katanya masih di kantor. Nanti pasti dia datang. Kalau begitu aku pulang dulu ya Bu.”
“Kamu tadi kemari untuk apa, baru datang sudah pamit.”
“Ditunggu taksi tuh Bu. Aku hanya ingin mengeluh sama Ibu tentang pak Wiguna yang hari ini membuat aku kesal.”
“Kamu jangan begitu. Kalau untuk mengambil hati seorang pria itu, harus pintar-pintar melayaninya, membuat dia senang. Jangan sedikit-sedikit kesal.”
“Iya Bu. Sekarang aku pulang dulu. Dirumah sudah ada bibik pembantu, baru kemarin dicarikan pak Wiguna, supaya aku ada temannya.”
“Sebenarnya suami kamu sangat perhatian. Teruslah merayunya, agar dia mau memenuhi semua permintaan kamu.”
“Iya. Akan aku lakukan. Ini aku sedang mengejar dia tentang rumah dulu.”
“Semoga berhasil. Pintar-pintarlah mengambil hati.”
***
Senja sudah selesai mencuci rambut pelanggan, kemudian ia memintanya kembali duduk di tempat semula. Ia siap mengeringkan rambutnya.
Tapi dalam hati terus dipikirkannya ucapan ibu dan anak yang ternyata berencana menguras harta pak Wiguna dengan bersenjatakan bayi yang dikandung Tantrina, padahal yang dikandung bukan benih pak Wiguna.
Senja harus mengatakan semuanya kepada Arka.
“Tapi kapan ya aku ketemu mas Arka? Apa aku minta pada bu Mery agar menghubungi mbak Rosa, dan minta tolong agar mas Arka datang ke rumah? Kira-kira pantas nggak ya aku meminta tolong majikanku.
Tiba-tiba seorang pelanggan lagi datang. Ada karyawan salon yang menyambutnya. Pelanggan itu seorang laki-laki. Senja tak mengacuhkannya karena ia harus membersihkan bekas potongan rambut setelah mengeringkan rambut pelanggan sebelumnya.
Rupanya pelanggan itu sudah biasa datang, dan sudah biasa pula dilayani oleh karyawan yang menyambutnya. Ia minta pijit, jadi karena sudah biasa, maka karyawan itu langsung membawanya ke sebuah kamar atau ruangan untuk memijit.
“Siapa itu tadi?” tanya pelanggan laki-laki itu sebelum masuk ke ruangan yang disediakan.
“”Itu, karyawan baru. Hanya pembantu,” jawab karyawan itu.
“Cantik, dan tampaknya masih polos.”
“Hayoo, Bapak jadi mau dipijit nggak? Dia itu hanya pembantu, orang kampung.”
Senja mendengar semuanya, tapi ia tidak merasa sakit hati. Jadi pembantu juga tidak apa-apa, yang penting dia bekerja dan mendapat uang pada saatnya nanti.
Pelanggan yang tadi di keringkan rambutnya sudah selesai. Bu Mery menyisirnya cantik, kemudian ia berlalu. Senja membersihkan potongan rambut yang berceceran. Itu pekerjaannya, makanya ia disebut pembantu.
Tapi ketika pelanggan laki-laki itu keluar dari kamar pijat, Senja merasa risih dengan tatapannya. Ia menyibukkan pekerjaannya dan pura-pura tak melihatnya. Senja melihat laki-laki itu mendekati bu Mery dan berbisik-bisik, entah apa yang dikatakannya.
Senja urung meminta tolong majikannya untuk menghubungi Rosa, dengan banyak pertimbangan. Nanti Rosa bertanya ada apa, lalu ia harus menceritakan apa yang didengarnya. Tidak. Ia tak mau mengumbar aib orang walau kepada Rosa yang dianggapnya sangat baik kepada dirinya.
Ketika Senja mau pulang sore harinya, Bu Mery mengatakan bahwa besok dia akan diajari memijit pelanggan. Senja terkejut.
“Apakah saya juga harus memijit pelanggan laki-laki?” tanyanya takut-takut.
“Memangnya kenapa? Mereka pelanggan dan membayar. Salon ini mendapat uang dari mereka, diantaranya juga untuk menggaji kamu.”
“Maaf Bu, saya jadi tukang bersih-bersih saja. Saya tidak bisa memijit laki-laki. Kalau perempuan tidak apa-apa.”
“Tapi kamu harus bisa mengerjakan semuanya,” kata bu Mery sambil mengerutkan keningnya.
Saat pulang Senja merasa gelisah. Ia tak mau mengerjakan pekerjaan memijit. Besok dia akan memastikan bahwa dia cukup dijadikan pembantu saja.
***
Sore hari itu orang suruhan Arka datang untuk mengambil beras. Ketika itu Senja sudah sampai di rumah. Ia selalu memikirkan tentang perempuan bernama Tantrina yang bersama ibunya ingin memeras pak Wiguna. Karenanya ia mendekati orang suruhan Arka.
“Mas, boleh minta tolong nggak?”
“Ya, tentu saja boleh. Minta tolong apa?”
“Maukah Mas menelpon mas Arka, nanti aku mau bicara.”
“Mengapa Mbak tidak menelpon sendiri?”
“Aku kan tidak punya ponsel Mas, ini sesuatu yang penting,” kata Senja, tersipu.
“Oh, baiklah. Sebentar, saya sambungkan.”
Ketika tersambung, Arka agak heran.
“Ada apa? Berasnya belum ada?”
“Bukan Pak, berasnya sudah saya naikkan ke mobil. Ini ada yang mau bicara sama Bapak.”
Arka tersenyum, ternyata Senja yang menelpon.
“Mas, ini aku.”
“Senja, maaf beberapa hari ini tidak ke rumah Simbok, pekerjaaan di kantor banyak.”
“Tidak apa-apa kok Mas, saya ingin bicara dengan Mas, tapi Mas harus kemari.”
“Mengapa tidak bicara sekarang saja?”
“Tidak bisa Mas, ini penting. Biar hanya sebentar, Mas harus menemui aku.”
“Aku nanti agak malam.”
“Tidak apa-apa. Aku tungguin, soalnya ini masalah penting yang Mas harus segera tahu.”
“Baiklah. Kamu mau dibawakan apa?”
“Enggak Mas, nggak usah bawa apapun. Aku hanya ingin bicara. Maaf, ini aku pinjam ponselnya mas yang mengambil beras.”
“Tidak apa-apa, besok kalau kamu gajian bisa beli ponsel kan?”
“Ah, belum terpikirkan, uangnya mau aku berikan Simbok semua.”
Arka tertawa. Dan Senja menutup pembicaraan itu, lalu mengembalikan ponselnya.
“Terima kasih ya Mas.”
***
Hari belum terlampau sore ketika pak Wiguna sudah pulang ke rumah. Hal itu membuat bu Wiguna heran. Ia sedang duduk di teras sambil menyulam ketika suaminya naik ke teras. Arka tampak tidak pulang bersama ayahnya.
“Bapak kok sudah pulang? Sahabat Bapak nanti rewel, bagaimana?” kata bu Wiguna, setengah meledek.
Pak Wiguna tersenyum, lalu mencium kening istrinya.
“Ibu sehat? Sedang bikin apa itu?”
“Daripada melamun, ini buat taplak meja.”
“Nanti Ibu buatkan taplak meja untuk meja kantorku ya?”
Bu Wiguna agak heran atas sikap suaminya yang berbeda. Lebih ramah dan ceria. Ia juga perhatian pada apa yang dikerjakan istrinya.
“Meja kantor Bapak ukurannya berapa?”
“Besok aku ukur ya. Buat sulaman yang bagus.”
“Baiklah, ukur saja dulu, nanti aku buatkan taplaknya seberapa, tinggal di sulam. Bunga-bunga ya, gambarnya.”
“Apapun yang Ibu buat pasti bagus.”
Bu Wiguna tersenyum, walau tetap saja terheran-heran akan perubahan sikap sang suami.
“Aku ganti baju dulu, suruh bibik siapkan minuman di sini saja.”
Pak Wiguna masuk ke dalam, bu Wiguna memanggil bibik agar menyiapkan minum untuk tuan majikan.
Tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering. Rupanya ia meletakkan ponselnya di meja teras, ketika mendekati istrinya.
Bu Wiguna mengangkat ponsel itu, dan melihat siapa yang menelpon. Hanya nomor. Ia membawa ponselnya ke dalam.
“Pak, ada telpon untuk Bapak.”
Bu Wiguna memberikan ponselnya, lalu keluar dari kamar. Ketika menutupkan pintunya, ia masih sempat mendengar perkataan suaminya yang tampaknya agak kesal.
“Aku sudah di rumah. Itu tidak mudah, nanti kita bicara lagi, dan jangan menelpon lagi.”
***
Besok lagi ya.