Friday, April 24, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 24

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  24

(Tien Kumalasari)

 

Zein menatap tajam istrinya. Kemarahan mulai membakar jiwanya, dan juga darahnya. Apalagi ketika ia melihat wajah sang istri yang bicara seakan tak ada sungkan-sungkannya padahal sedang membicarakan uang belanja. Hal yang selama berpuluh tahun tabu bagi sang istri. Memang benar. Indras tak pernah mengeluh. Ia juga tak pernah meminta jatah uang belanja. Baginya ia mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya, karena kebutuhan anak sekolah dan pembantu sudah dipenuhi suaminya. Indras barangkali tak tahu bahwa seorang istri berhak mendapatkan jatah bulanan dari penghasilan suami. Tapi ketika mengetahui bahwa suaminya menghamburkan uang untuk menyenangkan orang lain apalagi itu adalah seorang perempuan, maka marahlah Indras.

“Apa maksudmu?” Zein berteriak.

“Apakah kamu pernah memberi aku nafkah bulanan seperti para suami pada umumnya?”

”Jadi kamu membandingkan aku dengan suami yang lain? Apa kamu menginginkan suami yang lain pula?”

“Bukan. Aku menginginkan kamu sebagai suami aku, yang melakukan kewajibannya sebagai suami yang benar-benar suami. Apa kamu keberatan memberikan jatah bulanan kamu kepada istri kamu? Apa kamu lebih suka memberikan penghasilan kamu untuk menyenangkan orang lain?”

“Apa?” Zein semakin berteriak.

“Maksudku … kepada perempuan lain?”

“Ternyata kamu benar-benar memata-matai aku."

"Aku bukan memata-matai kamu, tapi Allah membuka mataku tentang sebuah permainan keji yang kamu lakukan diluar keluarga kamu. Entah sudah berapa banyak uang kamu terhambur untuk memanjakan perempuan lain.. Alangkah baik hati kamu.”

Tiba-tiba Zein berdiri dan beranjak keluar dari rumah, sambil membanting pintu sangat keras, membuat Indras lumayan kaget walau sebelumnya sudah menduganya.

Indras menarik napas lega. Ia sudah mengeluarkan semua endapan yang mengaduk-aduk perasaannya. Ada air mata yang kemudian bergulir, tapi cepat segera diusapnya.

***

Sejak saat itu Zein tak pernah berkata-kata. Ia diamkan istrinya, ia diamkan anak-anaknya, bahkan sudah berhari-hari.

Pagi hari itu Zein meletakkan uang dua juta di meja dapur. Ia menoleh kepada bibik dan mengatakan itu uang untuk belanja.

Sebelum bibik menjawabnya, Zein sudah pergi dari hadapannya. Ia menghampiri mobilnya dan memacunya keluar dari halaman.

Bibik meraup uang itu, lalu bergegas mencari nyonya majikan yang kebetulan belum berangkat bekerja.

“Nyonya … Nyonya ,,, “

Indras menoleh ke arah pembantunya yang tergopoh mendekat sambil mengacungkan lembaran uang.

“Ada apa?”

“Nyonya, tadi tuan meletakkan uang ini di meja dapur.”

“Uang?”

“Tuan bilang, ini uang untuk belanja. Ini Nyonya, saya belum memerlukannya. Uang dari nyonya kemarin masih ada.”

“Bawa saja Bik, cukupi semua kebutuhan dapur dan yang lain-lainnya dengan uang itu.”

“Tapi saya membawa uang terlalu banyak, Nyonya.”

“Tidak apa-apa, supaya kamu tidak bolak-balik  minta kalau persediaan barang-barang ada yang habis.”

“Nyonya ….” bibik masih ragu.

“Sudah simpan saja oleh Bibik, aku mau berangkat dulu,” kata Indras sambil terus melangkah menjauh.

Bibik menatap segenggam uang yang ada di tangannya, lalu masuk ke dalam rumah. Ada apa ini, mengapa sekarang sang tuan yang memberi uang belanja, dan sikap kedua tuannya memang agak berbeda. Mereka pasti sedang berantem. Beda ya, berantemnya orang kaya dengan orang miskin? Berantem tapi diam-diam. Pikir bibik. Ia tidak tahu kalau tuan dan nyonya majikannya sudah lama berantemnya.

***

Zein baru menginjak lobi rumah sakit, ketika seseorang dengan tampilan sexy menyambutnya.

“Dokterku yang ganteng baru datang?”

Zein menatap penampilan dokter Tyas yang mengenakan rok pendek dan baju ketat melekat yang mencetak penuh seluruh bentuk tubuhnya.

“Mengapa Dokter menatap saya? Ya ampun, hari ini Dokter kelihatan lesu, apakah Dokter sakit?” kata dokter Tyas yang mengiringi dokter Zein masuk ke dalam.

“Tidak, hanya sangat letih.”

“Memangnya kenapa? Istri Dokter minta ditemani semalam suntuk?” canda dokter Tyas.

“Tidak. Aku tidak bisa tidur akhir-akhir ini.”

“Tidak bisa tidur? Apa Dokter banyak pikiran?”

“Tidak juga.”

“Saya pikir Dokter memikirkan saya, sehingga tidak bisa tidur,” kata dokter Tyas yang sudah masuk ke ruangan dokter Zein.

Zein tersenyum.

“Dokter kalau tersenyum manis sekali lhoh. Sungguh,” katanya sambil duduk di depan meja kerja Zein.

Zein kembali tersenyum, tapi ia menegur dokter Tyas karena tidak segera pergi ke ruang kerjanya.

“Mengapa Dokter cantik duduk di sini? Pasien pasti sudah banyak yang menunggu.”

“Dokter, saya hanya ingin minta ijin.”

“Minta ijin untuk apa?”

“Cuti seminggu. Boleh kan Dok?”

“Memangnya mau ke mana?”

“Ada acara dengan teman-teman sekolah saya. Ke Bali.”

“Ke Bali? Jauh banget. Aku kesepian dong.”

“Dokter jangan khawatir, aku tidak akan melupakan Dokter kok. Setiap hari aku pasti akan menelpon.”

“Mulai kapan?”

“Besok ya Dok? Please,” rayu dokter Tyas dengan suara yang mendayu-dayu.

Dokter Tyas merasa lega ketika akhirnya Zein mengangguk.

“Terima kasih Dokter.”

“Segera ke ruang kerja Dokter, akan saya tanda tangani surat cutinya.”

“Baik, terima kasih banyak Dokter.”

***

Sudah lewat tengah malam ketika Santi merasa haus kemudian terbangun, lalu keluar dari kamar untuk mengambil air minum.

Ketika melewati ruang tengah, ia melihat sang papa masih terjaga. Ia duduk melamun sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sudah sering Santi melihat pemandangan seperti itu. Tadinya Santi diam saja, tapi kali itu Santi menegurnya.

“Papa belum tidur?”

“Ya, kamu juga belum tidur?”

“Santi terbangun karena haus, ini mau mengambil air minum.”

“Setelahnya kamu harus segera tidur kembali.”

“Papa kalau tidur malam sekali. Padahal dari pagi sampai sore harus bekerja.”

“Papa sangat sulit bisa tidur sore.”

“Pasti sangat melelahkan. Apa Papa sedang memikirkan sesuatu?”

Zein menatap anak sulungnya. Ada rasa curiga, jangan-jangan istrinya sudah mengatakan sesuatu yang menyudutkannya.

“Apakah Papa berantem dengan mama?”

“Apa kamu sudah ketularan mama kamu?”

“Apa Pa?” Santi terkejut karena sang papa seperti marah.

“Penyakit mama kamu sudah menular kepada kamu.”

“Penyakit apa tuh?”

“Penyakit ingin tahu urusan orang lain, penyakit sok mengerti, sok pintar dan _”

“Pa, mengapa Papa berkata seperti itu? Santi hanya memperhatikan Papa. Barangkali ada sesuatu yang_”

“Tidak ada, segera kembali ke kamar kamu dan tidur,” tandas Zein dengan tatapan dingin.

Santi membalikkan tubuhnya dengan perasaan heran. Barangkali benar apa yang dikatakan sang mama. Sedang terjadi sesuatu pada papanya. Santi ingin bertanya lebih jauh, tapi hardikan sang papa sudah membuatnya surut ketakutan.

***

Zein merasa suntuk. Sekelilingnya terasa sunyi. Celoteh dokter cantik sudah beberapa hari tidak terdengar. Pasti sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.

Tak ada ucapan selamat pagi keluar dari mulut tipis sambil berlenggang memasuki ruang sambil membawa makanan. Dua hari lagi masa cuti dokter cantik baru akan berakhir.

Zein ingin menelponnya tapi diurungkannya. Ia sudah mengirim WA tapi tidak direspon, pasti dia sedang sibuk sehingga tak sempat membalasnya. Tapi ketika ia sedang termenung, tiba-tiba ponselnya berdering.

“Hallo Dokter gantengku,” sapa riang dari seberang.

“Hai, cantik. Sudah lama aku kehilangan senyum kamu. Kapan kamu kembali?”

“Dua hari lagi Dok, tapi sehari sebelumnya saya sudah ada di rumah.”

“Seneng ya, bersama teman-teman kamu?”

“Dok, sebenarnya saya tidak ke Bali.”

“Lhoh, kamu bilang akan ke Bali. Jadi ke mana dong?”

“Saya sedang proses cerai dengan suami. Ini sudah kelar, tinggal menunggu surat resminya.”

Zein heran. Membicarakan masalah cerai, tapi sambil tertawa-tawa riang begitu? Bukannya menangis sedih?

“Kamu cerai?”

“Ya, prosesnya sudah lama, tapi saya kemudian minta dipercepat.”

“Kamu mau cerai, tapi tidak terdengar sedih pada suara kamu?”

“Soalnya saya justru senang.”

“Senang? Cerai tapi kamu malah senang?”

“Suami tidak lagi cinta, apa saya harus menangisinya? Sudah lama dia tidak pulang. Biar saja tidak pulang selamanya.”

“Aku ikut prihatin.”

“Mengapa Dokter ikut prihatin? Saya saja tidak prihatin. Oh ya Dok, sehari lagi saya sudah di rumah, kalau Dokter mau datang ke rumah, saya senang sekali.”

“Besok?”

“Iya. Akan saya buatkan masakan enak untuk Dokter.”

“Nanti gampang. Yang jelas aku senang bisa mendengar suara kamu, biarpun tidak melihat senyum kamu.”

“Besok saya sudah ada di rumah. Datanglah ya Dok? Saya pastikan saya sendirian, seperti saat saya ulang tahun dulu itu.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, April 23, 2026

AKITKU ADALAH CINTAKU 23

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  23

(Tien Kumalasari)

 

Pemilik toko itu terbahak melihat Indras tercengang.

“Pasti suami Dokter ingin memberi kejutan. Ya ampun, saya minta maaf telah mengatakannya. Tolong jangan bilang ke dokter Zein kalau saya membuka rahasianya ya. Aduh, dokter Indras nanti harus pura-pura terkejut ya, untuk menyelamatkan saya dari omelan dokter Zein,” kata pemilik toko itu panjang lebar.

Indras berusaha tenang. Ia sudah tahu apa yang terjadi. Pasti pemilik toko itu tidak tahu kelakuan suaminya.

“Pasti ia mengira Zein memberikan arloji bagus untuk aku, tapi rasanya tak mungkin, Zein tak pernah begitu royal memberikan sesuatu untuk aku, karena merasa bahwa aku mampu membelinya sendiri,” kata Indras dalam hati.

Walau begitu Indras berusaha tersenyum. Ia tetap memberikan arloji tangannya yang patah kaitannya.

“Tidak apa-apa, benerin ini saja. Tidak nyaman menyimpan barang rusak,” kata Indras.

“Baik, baiklah Dokter, akan kami betulkan, tapi bener ya Dok, nanti harus pura-pura terkejut ketika dokter Zein memberikannya. Saya tidak ingin dokter Zein marah pada saya karena telah membuka rahasia sehingga menjadi bukan kejutan lagi nanti.”

Indras hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol tangannya, kemudian berlalu.

Ketika mengendarai mobilnya pulang, pikiran Indras bertambah kacau. Sudah sejauh apa hubungan Zein dengan perempuan itu sehingga ia rela memberikan barang mahal untuk selingkuhannya itu?

Sungguh menyakitkan kalau dipikir, ketika seseorang mengira dirinya mendapat hadiah dari suami, tapi ternyata hadiah itu untuk orang lain.

Tapi kemudian Indras berpikir lain. Jangan-jangan Zein memang beli untuk dirinya karena tahu kalau arloji saya patah kaitannya.

“Akan aku lihat nanti,” katanya sambil memacu mobilnya, dengan perasaan terganggu.

***

Ketika pulang, ia melihat sang suami sudah ada di teras, sedang mengutak atik ponselnya. Wajahnya cerah, tak ada amarah. Wajah cerah itu bukan untuk dirinya, tapi untuk orang lain yang entah bagaimana membuatnya begitu terhibur.

Indras masuk ke rumah sambil mengucapkan salam, tapi tidak dibalas sepatah katapun. Jarinya sibuk menutul keyboard di ponselnya sambil tersenyum-senyum.

Indras menekan dadanya yang terasa sakit.

Dari dalam terdengar teriakan Santi.

“Mama kok baru pulang?”

“Kamu juga baru pulang dari kuliah?”

“Iya, lapar sekali. Tadi minta papa agar ikut makan, tapi belum mau. Pasti papa menunggu Mama.”

Indras menutupi rasa perihnya dengan senyuman. Santi tidak tahu, papanya tidak sedang menunggunya, tapi sedang asyik ber ponsel ria dengan seseorang, yang pastinya Santi tidak atau belum tahu.

“Ya, sebentar, mama ganti baju dulu,” kata Indras yang kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.

Di ruang makan setelahnya, Santi harus nyamperin sang ayah dengan mengatakan bahwa ia ditunggu di ruang makan.

“Sebetulnya papa sudah makan,” kata Zein.

“Di kantor?”

“Iya.”

“Kalau begitu temani saja kami makan. Mama juga ingin makan. Bibik masak timlo, dimakan tanpa nasi juga pasti segar.”

Zein menuliskan sesuatu yang singkat, kemudian menutup ponselnya, lalu berjalan mengikuti anaknya.

Di ruang makan Zein dan Indras tak banyak bicara. Sesekali Santi yang berbicara, menceritakan tentang suasana kampus siang ini yang agak ricuh, karena kebijakan rektor yang tidak disetujui para dosen.

Zein hanya mengangguk angguk, dan Indras menikmati jamur kuping yang kenyal di dalam sayur timlonya.

Indras masih menunggu, barangkali sang suami bicara tentang arloji baru, tapi tak ada. Bahkan saat di kamar, ketika mereka tidur berdua tapi saling beradu punggung, dan bahkan sampai keesokan harinya ketika masing-masing berangkat kerja.

Indras tidak begitu berharap. Ia hanya salah dalam sedikit harapan yang pernah melintas. Memang arloji itu bukan untuknya. Seperti kata pemilik toko arloji kemarin, ia memang tidak lagi terkejut. Bukan masalah akan diberikannya hadiah sebuah arloji, tapi justru tidak diberikannya hadiah itu. Bukankah ia sudah menduganya?

***

Begitu sampai di kantornya, Zein memasukkan sebuah bungkusan ke dalam lacinya. Arloji cantik yang mahal dan sudah dijanjikannya kemarin, akan dipenuhinya janji itu di hari berikutnya. Di pagi hari jarang sekali dokter Tyas memasuki ruang kerjanya, jadi ia harus menyimpannya sampai siang harinya.

Hari penuh cerah ceria adalah di tempat kerjanya. Zein sendiri barangkali tidak merasa adanya ketimpangan dalam dirinya bersikap. Ia hanya ingin marah ketika berhadapan dengan istrinya, tapi ia begitu ceria saat berada di tempat kerja.

Barangkali juga ia tidak merasa bahwa telah menyakiti hati istrinya.

Sementara itu Indras berangkat agak siang karena ada sesuatu yang harus dikerjakan. Sebelum ia memasuki mobilnya, bibik berlari-lari mendekatinya.

“Nyonya, saya lupa bilang, ini catatan barang-barang kebutuhan dapur yang sudah habis, dan catatan uang belanja beserta sisanya."

Indras menatap sekilas catatan bibik.

“Mengapa baru bilang sekarang sih Bik?”

“Maaf Nyonya, saya lupa.”

Tanpa harus membaca keseluruhan catatan, Indras sudah tahu bahwa bibik butuh uang lagi untuk belanja. Ia membuka dompet yang ada di dalam tasnya, lalu memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada bibik.

“Ini Bibik bawa dulu. Catatannya nanti saja kalau aku sudah pulang.”

“Baik Nyonya.”

Indras masuk ke dalam mobilnya dan berlalu.

Bibik menutup gerbang kemudian masuk ke dalam rumah. Ia siap untuk belanja pagi hari itu, ketika semua majikan sudah berangkat meninggalkan rumah dengan kesibukan masing-masing.

***

Tapi dalam perjalanan ke kantor itu Indras kemudian berpikir. Selama hidup berumah tangga, dia yang mencukupi semua kebutuhan. Ia tidak menerima nafkah dari sang suami. Sang suami memenuhi semua kebutuhan, anak sekolah, gaji pembantu, tapi tidak memberi nafkah kepada istrinya. Awalnya Indras diam saja, toh ia punya uang dari penghasilannya sendiri. Tapi ketika mengetahui suaminya membelikan arloji mahal, Indras merasa sangat marah.

Ia yakin bukan hanya sekali suaminya royal kepada perempuan itu. Barangkali sudah bermacam-macam yang dia berikan kepadanya.

Rasa panas merayapi jiwanya, batinnya, darahnya. Memenuhi semua kebutuhan adalah kewajiban seorang suami. Memberikan nafkah kepada istri, bukan hanya nafkah batin, juga menjadi kewajibannya.

“Mulai sekarang aku tak mau keluar uang lagi untuk semua kebutuhan rumah tangga. Enak saja dia menghambur-hamburkan uang demi seseorang yang bukan siapa-siapa, tapi nafkah untuk istri dilupakannya.” gumamnya marah.

***

Dokter Tyas melonjak kegirangan ketika ia menerima hadiah arloji cantik dari dokter pujaannya.

“Terima kasih Dokter,” kata dokter Tyas yang siap memeluknya untuk meluapkan kegembiraannya, tapi Zein mendorongnya pelan.

“Jangan. Ini di kantor. Ada CCTV di mana-mana.”

Dokter Tyas terkekeh, kemudian duduk di kursi depan meja kerja Zein. Ia membuka kotak indah kecil yang berisi arloji cantik, lalu mengenakannya di tangannya.

“Bagaimana pendapat Dokter dengan arloji ini? Maksudku dengan lengan yang mengenakan arloji cantik ini?”

“Sangat indah. Pas di tangan kamu. Orangnya cantik, arlojinya cantik.”

“Terima kasih Dokter. Aku tidak salah kan, ketika mengatakan bahwa Dokter adalah orang terbaik di dunia ini. Ganteng, cakap, pintar, pokoknya tak ada duanya.”

Mata Zein berbinar. Ia tak pernah mendengar istrinya memuji setinggi langit. Sang istri cukup mengerti, dan walau mengakuinya, ia tak pernah mengatakan apapun. Ia hanya mengatakan cinta, ia tidak menyanjungnya.

“Aku juga mengucapkan terima kasih karena pujian-pujian kamu. Tampaknya kamu berlebihan deh.”

“Tidak, itu benar.”

“Bagaimana kalau suami kamu tahu bahwa kamu memakai arloji baru, padahal dia tidak memberikannya?”

“Suami saya tidak akan peduli. Dia jarang pulang karena punya istri muda,” katanya enteng.

“Benarkah? Dan kamu tidak merasa sedih diduakan oleh suami kamu?”

“Saya malah senang. Dia juga mengatakan bahwa akan menceraikan saya.”

“Kamu tidak mencintainya?”

“Dulu kami saling mencintai. Tapi setelah suami beralih ke perempuan lain, cinta itu sudah sirna. Lebih baik hidup sendiri. Toh saya mendapatkan perhatian yang sangat baik dari Dokter.”

“Tapi aku bukan suami kamu.”

“Apa bedanya? Yang penting adalah perhatiannya, bukan statusnya. Ya sudah, Dokter jangan bicara tentang dia, ini lho, sampai lupa kalau saya membawa makanan untuk Dokter.”

Zein tersenyum. Seperti biasanya ruang kerjanya dipergunakan untuk ruang makan, walau hanya sesaat.

***

Sore hari itu Indras mendekati suaminya yang duduk di ruang tengah.

“Zein, aku mau bicara.”

“Bicaralah,” katanya tanpa menatap sang istri.

“Uang belanja untuk bibik sudah habis.”

“Apa maksudmu? Apa kamu tidak bisa memberikannya? Apa uangmu sudah habis untuk kamu hambur-hamburkan?”

“Uangku tidak habis untuk aku hambur-hamburkan. Tapi uangku adalah uangku. Mulai sekarang kamu yang harus memenuhi semua kebutuhan. Aku tidak lagi mau mengeluarkan uang. Sepeserpun,” katanya tandas.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, April 22, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 22

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  22

(Tien Kumalasari)

 

Pendatang itu dokter Tyas. Ia masuk dengan jas putih seragam dokternya. Lalu menatap Indras dengan tersenyum ramah.

“Maaf, rupanya ada tamu. Biar saya keluar dulu, saya hanya akan mengantarkan makanan untuk dokter Zein,” katanya tanpa rasa bersalah.

“Saya istri dokter Zein, bukan tamu,” kata Indras dingin.

“Oh, maaf … maaf, saya belum pernah bertemu, jadi tidak tahu. Perkenalkan, saya Tyas, bawahan dokter Zein,” katanya sambil mengulurkan tangannya. 

Indras tak menyambut uluran tangan dokter Tyas. Ia menatap dokter cantik itu, yang diyakininya pastilah dia si dokter cantik dengan nama WA ‘BUNDA’. Ia mengenakan jas dokter yang terbuka seluruh kancingnya, sehingga pakaian aslinya kelihatan. Baju ketat dengan kerah terbuka agak kebawah, sehingga menonjolkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan. Ia memang montok, dan tentunya menawan bagi mata laki-laki yang doyan pemandangan seronok. Dia dokter? Kata batin Indras. Bagaimana seorang dokter mampu berpakaian ketat dan menonjolkan lekuk liku tubuh yang begitu menggairahkan?

Dokter Tyas merengut ketika uluran tangannya tak bersambut.

“Saya permisi keluar dulu,” katanya kemudian sambil mengerling ke arah Zein, lalu membalikkan tubuhnya dan melenggang keluar.

Wajah Indras gelap bagai mendung di musim hujan.

“Itukah dokter cantik dengan nama BUNDA?” tanyanya sambil menatap tajam sang suami.

“Jangan membuat keributan di sini. Ini tempat kerja,” tegur Zein dengan wajah tak kalah gelapnya.

“Kalau membuat mata bergairah di tempat kerja? Bolehkah?”

“Indras, jangan membuat aku malu.”

“Tidak, aku mau pergi, tapi aku mau bilang, perempuan itu memalukan,” kata Indras dingin sambil bergegas keluar dari ruangan. Tak lupa ia mengambil minuman yang tadi dibawanya, yang kemudian sesampai di ruang jaga satpam, minuman itu diberikannya.

“Ini untuk saya, Dokter?” tanya satpam yang tentu saja sudah mengenal bahwa Indras adalah seorang dokter, istri kepala dokter di rumah sakit itu.

“Iya, untuk kamu. Udara begini panas, pasti segar minum dawet yang dingin begini.”

“Terima kasih banyak, dokter.”

Indras berlalu ke arah mobilnya, lalu memacunya kembali ke kantor.

Ia lega sudah melihat seperti apa dokter cantik yang dipuja-puja suaminya. O, lalaa.. penampilannya begitu seronok, dan pimpinan dokter yang adalah suaminya itu sama sekali tak menegurnya? Pasti ia lebih suka melihat pemandangan indah yang bagi orang sopan terasa sangat menjijikkan.

“Ya Tuhan, apa yang harus hamba lakukan?”

Ia sadar suaminya sakit, ia bisa sabar menghadapi ketika penyakitnya kumat dan meledak-ledak, tapi ketika dia memperlakukan perempuan lain dengan begitu manis, apakah ia bisa juga bersabar? Itu termasuk penyakitnya juga? Astaga naga. Pasti banyak lelaki suka mengidap penyakit seperti itu. Suka dong, melihat wajah molek tubuh montok dan berpenampilan seronok. Itu sakit? Bukan. Itu adalah moral yang bobrok.

Indras mengusap air matanya lagi. Walau hanya setitik, itu adalah tangisan.

***

Melihat Indras sudah pergi, dokter Tyas kembali memasuki ruangan Zein yang meletakkan kedua tangan di dagunya.

“Dokterku kenapa? Bukannya suka, disamperin istri cantik?”

Zein menurunkan tangannya, tersenyum menatap wajah dokter Tyas yang tiba-tiba saja sudah duduk di hadapannya.

“Kamu bawa apa pula ini?”

“Saya memasak gudeg Jogya, dengan sambal goreng kerecek, ada kerupuk udang pula. Sudah saya siapkan piringnya, mari saya ambilkan nasinya,” kata dokter Tyas yang begitu cekatan melayaninya.

Gudeg sambal goreng kerecek, bukankah itu juga menu makanan yang sering dibuat almarhumah ibundanya?

Rasa rindu mendekap jiwanya. Ibu yang diharapkan bisa menikmati hari-harinya sebagai pimpinan dokter di rumah sakit, sudah tak ada. Bahkan saat wisuda pun ibunya  tak sempat melihatnya. Ia kehilangan kebanggaan yang akan dipamerkannya.

“Mengapa Dokter tampak sedih? Apakah istri dokter tadi marah-marah?”

Zein menggelengkan kepalanya.

“Tidak, ini masakan kesukaan almarhumah ibuku, aromanya mengingatkan aku padanya.”

“Oh, ya ampuun. Mengapa Dokter sering menyamakan saya dengan ibu Dokter?”

“Tapi itu benar, entah mengapa.”

“Barangkali memang ditakdirkan agar saya bisa selalu dekat dengan dokter,” katanya sambil tersenyum genit. Tapi Zein justru menatap piring yang sudah berisi nasi dengan lauk yang dibubuhkan oleh dokter Tyas.

“Silakan dimakan, Dok.”

“Kamu?”

“Iya, saya juga akan menemani makan.”

Jadilah ruang kerja sang dokter ganteng menjadi ruang makan yang menggembirakan.

***

Saat berpraktek sudah usai. Ketika Zein hendak beranjak dari mejanya, dokter Tyas masuk dengan tergesa-gesa.

“Dokter, saya lupa memberikan arloji Dokter yang saya simpan kemarin.”

Zein menatap dokter Tyas yang sudah melepas jas prakteknya. Kerah rendah tetap tak terkancing, dan baju dengan atasan serta bawahan ketat tampak begitu menawan.

“Terima kasih.”

Zein menerima arloji tangannya.

“Arlojinya bagus banget.”

“Kamu suka? Tapi ini arloji laki-laki.”

“Iya, saya tahu.”

“Kalau mau akan aku belikan kamu arloji serupa, yang lebih pas untuk perempuan.”

Dokter Tyas melebarkan senyumnya, dan wajahnya tampak berbinar mendengarnya.

“Benarkah?”

“Masa aku harus berbohong? Kamu mau?”

“Tentu saja saya mau,” kata dokter Tyas sambil mengangguk malu. Siapa sih yang tidak suka diberi barang bagus dan mahal?

“Sekarang saya mau pulang dulu.”

“Selamat pulang Dok, salam untuk istri Dokter Zein yang galak,” kata dokter Tyas pelan, tapi jelas didengar oleh Zein.

“Dia bukan galak,” kata Zein sambil berlalu. Entah apa maksud jawabannya itu. Untuk mengatakan bahwa istrinya tidak galak, atau untuk menutupi keburukan istrinya? Zein memang tak suka bergosip tentang keluarganya, apalagi istrinya.  

Dokter Tyas menatap punggungnya dengan senyum penuh arti. Senyuman itu seperti mengatakan bahwa lambat laun dia akan bisa menguasai hati sang dokter pujaan.

***

Di rumah, Indras tidak mengatakan apa-apa. Zeinlah yang kemudian mendekatinya dan menegurnya.

“Mengapa kamu tadi datang ke tempat kerjaku?”

“Kan aku sudah bilang kalau hanya mampir, dan membelikan dawet kesukaan kamu?”

“Dawet apa? Mana?”

”Aku bawa lagi, sudah aku berikan kepada satpam.”

“Apa? Kamu berikan kepada satpam?”

“Ya, memangnya kenapa? Bukankah dokter cantik itu sudah membawakan kamu makan siang yang aromanya menggugah selera? Dan bukan hanya aroma makanan itu saja, penampilannya juga sangat menggugah selera bukan?”

“Jangan mencari gara-gara.”

“Kamu yang bertanya duluan, aku jelaskan biar kamu mengerti, dan tentu saja merasa.”

“Kamu memang suka mencari gara-gara. Kamu tidak pernah suka membuat ketenangan di rumah ini.”

”Apa maksudmu aku tidak suka ketenangan di rumah ini? Kamu tidak sadar bahwa kamulah yang tidak membuat tenang keluarga ini.”

“Karena kamu suka mengada-ada.”

“Aku suka mengada-ada?”

“Kamu membuka-buka ponselku, kamu mengikuti ke mana aku pergi. Itu namanya membuat masalah dan keributan.”

“Jangan khawatir, aku tak akan membuka-buka lagi ponselmu, tak akan bisa, karena kamu mengganti passwordnya,” kata Indras sambil beranjak meninggalkannya. 

Zein tak pernah mau disalahkan. Zein selalu benar, Zein adalah raja dan pemenang yang tak terkalahkan.

***

Keesokan harinya sepulang dari tempat kerja, Indras mampir ke toko arloji langganannya. Pengait arlojinya patah, dan ia harus menggantinya dengan yang baru. Hari masih siang karena dia memang pulang lebih awal.

Ia heran ketika sebelum sampai di toko langganannya, ia melihat Zein keluar dari sana. Indras mengira Zein pergi dengan perempuan itu, tapi tidak. Zein pergi sendiri. Indras menghentikan mobilnya agak jauh, dan memilih berjalan saja ke arah toko langganan sambil menunggu suaminya pergi dari sana.

Agak lama suaminya masuk ke dalam mobil, sebelum kemudian menjalankannya menjauh.

Indras melanjutkan langkahnya. Tak apa, memang menjadi agak jauh. Ia enggan bertemu sang suami di sana. Ia juga tak mengerti apa yang dikerjakan suaminya di toko arloji itu. Ia jadi ingat, dua hari yang lalu sang suami pulang tanpa mengenakan arloji. Ia tak menanyakannya, hanya menduga, apakah arlojinya hilang, dan karenanya ia akan membeli lagi yang baru?

Indras memasuki toko itu, kemudian mengatakan kepada penjaga toko bahwa ia ingin membetulkan pengait arlojinya yang patah.

Tiba-tiba pemilik toko yang sudah dikenalnya keluar.

“Mengapa dibetulin Dok? Bukankah suami sudah membelikannya yang baru dan lebih bagus pula?”

Indras terkejut.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, April 21, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 21

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  21

(Tien Kumalasari)

 

Indras melongo, ia mengira Pri sedang bercanda. Tapi kenapa candanya keterlaluan begitu?

“Kamu sudah tahu? Dokter Karsono itu seorang psikiater, teman dekat aku. Aku juga tidak mengira apa yang dikatakannya. Tapi aku mengatakan ini karena dokter Karsono tahu bahwa Zein tidak mengatakannya pada kamu. Benarkah? Atau sesungguhnya kamu sudah tahu?”

Indras menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Seberapa berat sakitnya?”

“Kamu tahu bukan tentang Bipolar? Dia juga NPD.”

”What??”

Indras terkejut bukan alang kepalang. Ini penyakit yang bukan main-main. Barangkali susah disembuhkan. Atau bahkan tidak bisa. Pantas sikapnya aneh dan sulit dimengerti. Maunya benar dan tidak mau disalahkan.

“Mengapa tiba-tiba bisa begitu?” kata Indras lirih.

“Barangkali karena ia kehilangan pegangan saat ditinggal orang tuanya. Mereka pergi ketika dia membutuhkan, atau dia ingin menunjukkan sesuatu yang membuatnya bangga. Dia membutuhkan sosok orang tua, utamanya ‘ibu’, atau entahlah. Dokter Karsono hanya mengatakannya sekilas. Aku menggambarkannya sebagai seorang anak yang kehilangan pegangan dalam hidup.”

“Mengapa dia tidak mengatakannya padaku ya Pri?”

“Dia tinggi hati, tak mau kelihatan buruk, tak mau kelihatan rendah. Dia adalah yang terbaik. Mana mungkin mau mengatakannya sama kamu?”

“Tapi aku adalah korbannya Pri, aku menjadi sasaran kemarahannya atau ketidak puasannya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

“Kamu harus sabar.”

“Ya Tuhan, kurang sabar apa aku? Dia mengadakan hubungan dengan seorang dokter perempuan, yang di kontak WA nya dinamakan 'BUNDA’. Ungkapan-ungkapannya sangat manis dan mesra.”

“O, itu benar ya?”

“Apa maksudmu?”

“Aku mendengar ada dokter baru yang dekat sama Zein, tapi aku tidak percaya. Zein kan cinta mati sama kamu?”

“Cinta mati sehingga aku dijadikan sasaran pelampiasan kemarahan dan ketidak senangannya?”

“Satu yang harus kamu tahu, dia sakit.”

“Dan aku biarkan dia berhubungan dengan perempuan lain?”.

”Mungkin dia mendapatkan sesuatu yang dicarinya dari perempuan itu.”

“Apa yang dicarinya? Dia lebih cantik? Lebih pintar?”

“Kamu sudah tahu siapa dan bagaimana dia? Apa dia tidak punya suami?”

“Besok aku mau ke kantornya untuk melihat perempuan itu seperti apa.”

“Kamu pernah menegurnya?”

“Pernah, dan kamu tahu apa jawabnya? Dia mengatakan bahwa aku menuduh tidak mendasar, padahal aku melihat ungkapan-ungkapan di WA yang tidak wajar, dan melihat dia merayakan ulang tahun perempuan itu sementara aku juga ulang tahun di hari yang sama. Ketika aku mengancam akan pergi dari rumah, dia mengambil pisau dan mengancam akan bunuh diri.”

“Indras ….” lirih suara Pri, penuh rasa iba melihat sahabatnya ternyata semenderita itu.

“Baiklah Pri, sekarang aku sudah tahu. Terima kasih telah mengatakan semuanya padaku. Kamu sahabat terbaikku.”

“Aku ikut prihatin mendengar semuanya In. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Entahlah, aku akan mencoba bertahan, tapi kekuatan itu kan ada batasnya.”

“Yang kamu harus mengerti ialah, bahwa dia sakit. Aku akan selalu berdoa agar kamu bisa mengatasi semuanya. Yakinlah bahwa sesungguhnya dia sangat mencintai kamu,” kata Pri penuh perhatian.

“Aamiin. Sekali lagi terima kasih Pri.”

“Kamu tidak usah mengatakan kalau aku mengatakan semua ini.”

“Tentu saja tidak. Rumahku bisa ambruk dihancurkan oleh dia kalau sampai aku mengatakannya. Lebih baik aku pura-pura tidak mengerti saja.”

***

Indras mengendarai mobilnya pulang, dan air matanya kembali menetes di sepanjang perjalanannya. Bipolar dan NPD bukan sembarang penyakit yang gampang diatasi. Dia pemarah, mau menang sendiri, ingin berkuasa dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Dia ingin disanjung, dihormati, dan merasa paling benar, paling tinggi, paling pintar.

Indras ingat ketika tiba-tiba Zein memegang pisau dan ingin bunuh diri. Betapa ngeri membayangkan kalau hal itu benar-benar dilakukan.

“Ya Allah, tolonglah hamba.” keluhnya sambil mengusap sisa air matanya, karena sebentar lagi akan sampai di rumah.

Begitu mobil memasuki halaman, Zein yang tadinya duduk di teras segera berdiri, menunggunya di tangga dengan tatapan marah yang sangat mengerikan. Indras berusaha tenang. Berkali-kali ditekankan dalam hatinya, bahwa suaminya sedang sakit.

“Baru pulang?”

“Ya,” jawab Indras singkat.

“Ketemuan dengan selingkuhan? Dia datang lagi kemari, dan bertemu sembunyi-sembunyi?”

“Sekarang kamu bicara tidak mendasar.”

“Apa maksudmu tidak mendasar?” Zein berteriak dan marah karena disalahkan.

“Aku tidak selingkuh. Kamu yang selingkuh.”

“Jangan menuduh yang tidak-tidak.”

“Kalau begitu kamu juga jangan menuduh yang tidak-tidak,” kata Indras sambil berlalu masuk ke rumah. Zein mengikutinya.

“Berhenti. Aku belum selesai bicara.”

Indras berdiri, sebentar lagi air matanya tumpah, tapi ia tak sudi menangis dihadapan suaminya.

“Mau bicara apa lagi?”

“Aku tidak bisa tidur gara-gara kamu pulang terlambat.”

“Sekarang aku sudah pulang, kamu tidurlah.”

“Bicara seenaknya.”

“Aku lelah, bolehkah aku juga beristirahat?” kata Indras pelan, menahan kesal, mencoba bersabar. Selalu diingatnya, suaminya sedang sakit, walau terkadang perkataannya juga menyulut kemarahannya.

Indras memasuki kamarnya, tapi Zein berhenti di ruang tamu karena ada notifikasi WA dari ponselnya. Indras melihat Zein mengambil ponsel yang tadinya terletak di meja, dan sudah tahu apa yang akan dilakukan suaminya. 

***

“Dokter, ketika pulang, Dokter melupakan sesuatu,” bunyi pesan WA dari BUNDA.

“Apa yang aku lupakan, Dokter cantik?”

“Arloji Dokter. Itu kan barang mahal, kalau diambil orang bagaimana?”

”Memangnya arloji itu ketinggalan di mana? Aku kok lupa.”

“Di meja kerja Dokter.”

“Oh, syukurlah kamu menemukannya.”

“Saya simpan dulu ya Dok?”

“Simpanlah, cantik. Kita ketemu lagi besok pagi kan?”

“Dokter besok ingin dibawakan makanan apa?”

“Kamu selalu menawarkan makanan untuk aku, apa suami kamu tidak marah?”

“Dia mana tahu kalau saya memasak untuk Dokter.”

“Baiklah, masak apa saja sesuka kamu. Apapun bagi aku enak kok.”

Dokter Tyas mencantumkan emotikon tertawa dan jantung hati berderet-deret sebelum mengakhiri pesannya.

Zein menutup ponselnya. Katika ia memasuki kamar, Indras sudah berganti pakaian. Dengan heran Indras melihat wajah sang suami yang sumringah, seperti anak kecil menemukan mainan. Wajah garang yang tadi diperlihatkan, tiba-tiba berubah manis dan cerah.

Zein tak mengucapkan apa-apa. Ia memasuki kamar mandi.

Indras keluar setelah menyisir rambutnya, dan menemukan ponsel Zein tergeletak di meja.

Indras mendekati ponsel itu, ingin tahu apa saja yang dibicarakan suaminya dengan si pengirim pesan.

Setelah sekali lagi menoleh ke arah pintu dan belum ada tanda-tanda sang suami akan keluar, Indras meraih ponsel itu dan berusaha membukanya. Namun ia tak berhasil. Zein telah mengganti password nya.

Indras pergi ke ruang tengah, meneguk coklat panas yang sudah disediakan pembantunya.

“Rupanya dia sudah lebih pintar. Sekarang tak mungkin aku membuka-buka ponselnya lagi.

***

Hari itu Indras pergi keluar setelah menyelesaikan tugasnya. Ia ingin pergi ke rumah sakit di mana sang suami bertugas. Rasa penasaran tentang dokter cantik yang dipuja-puja suaminya selalu mengganggunya.

Indras langsung menuju ke ruang dokter di mana Zein bertugas. Ia mengetuk pintu sekilas tanpa menunggu dipersilakan masuk.

Zein sedang sendiri, menatap aneh ketika melihat istrinya datang.

“Kamu, mengapa kemari?” tanyanya dingin.

“Aku tadi lewat, setelah ke bank mengambil uang. Aku bawakan es dawet kesukaan kamu,” kata Indras dengan sikap manis. Tapi apa jawab Zein?

“Kamu tidak usah repot-repot membawakan sesuatu untuk aku, di sini semuanya tersedia.”

“Ini kan beda Zein, oleh-oleh dari istri,” kata Indras dengan senyuman manisnya.

Zein belum sempat menjawabnya, ketika tiba-tiba pintu terbuka tanpa terdengar ketukan, dan seseorang muncul dengan sikap genit.

“Dokter, saya bawakan makanan yang kemarin saya janjikan.”

Indras mengangkat wajahnya, dan si pendatang baru sadar kalau ada orang lain diruangan dokter pujaannya.

***

Besok lagi ya.

 

Monday, April 20, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 20

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  20

(Tien Kumalasari)

 

Indras bangkit, ada rasa marah yang ditahannya.

“Apa kamu memiliki sebuah rahasia?”

“Aku tidak suka kamu memata-matai aku.”

“Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya kamu lakukan. Kamu ingat pada ulang tahun orang lain, tapi abai pada ulang tahun istri kamu sendiri.”

“Hanya masalah ulang tahun. Apa itu penting?”

“Bukan masalah ulang tahunnya. Sikapmu yang berubah akhir-akhir ini. Siapa dokter cantik yang kamu sembunyikan dariku?”

Zein menatap marah kepada istrinya.

“Pokoknya aku tidak suka kamu memata-matai aku.”

“Siapa dokter cantik itu?”

“Kamu tidak perlu tahu,” katanya lalu meninggalkan kamar kemudian membantingnya keras.

Indras bangkit dari pembaringan. Memburunya keluar. Zein menuju ke ruang makan, lalu mengambil segelas air minum yang tersedia di sana.

“Jawab pertanyaanku, siapa dia? Kalau memang kamu suka dia, biarkan aku pergi bersama anak-anak dari rumah ini.”

Zein berhenti menghabiskan minumannya, meletakkan gelasnya sehingga menimbulkan bunyi keras, dan sebagian airnya muncrat membasahi meja.

“Apa kamu bilang?”

“Kalau kamu pilih dia, biarkan aku pergi bersama anak-anakku.”

Tiba-tiba Zein mengambil sebuah pisau yang kebetulan terletak di meja, siap menggoreskan pisau itu pada pergelangan tangannya.

“Kalau begitu biarlah aku mati saja.”

Indras terkejut bukan alang kepalang. Ada apa sebenarnya sang suami ini, dan sejak kapan dia suka mengancam akan bunuh  diri.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kamu menuduh tak mendasar. Aku benci itu. Kamu memata-matai aku, kamu berani membuka-buka ponselku,” Zein hampir berteriak.

Hari sudah malam. Indras membalikkan tubuhnya menjauh dari sana, khawatir kalau keterusan akan membangunkan anak-anak dan juga pembantunya. Tapi sebelum keluar dari ruang makan, ia menoleh kembali kepada suaminya, dan merasa lega sang suami telah meletakkan pisaunya.

***

Lalu tak terjadi apapun. Indras membaringkan dirinya di tempat tidur, mencoba tidur sesulit apapun. Ia tak melihat sang suami masuk ke kamar.

Sampai pagi Indras memikirkan perilaku suaminya yang aneh. Ia melihat kirim-kiriman WA di ponsel yang begitu mesra. Ia melihat sang suami mengirim bunga di ulang tahun perempuan lain, setelah sebelumnya mengirimkan taart ulang tahun kepadanya. Lalu ia berteriak bahwa tuduhannya tidak mendasar? Mengapa tiba-tiba dia mengancam bunuh diri? Indras seperti sedang menghadapi orang asing di rumahnya. Itu bukan Zein yang dikenalnya. Itu orang sakit jiwa.

Indras menitikkan air mata dan tersedu sambil menutupkan bantal di wajahnya.

Ia terisak sampai terdengar adzan subuh, lalu ia bangkit dan melangkah lunglai ke kamar mandi.

Diambilnya wudhu sambil sesekali masih meneteskan air mata.

Di atas sajadah, ia sesambat kepada Tuhannya.

“Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga hamba ini?”

***

Indras keluar kamar setelah mandi dan berganti pakaian dinas. Ia sudah memoles wajahnya dengan bedak yang tebal, tapi mata sembab itu tak berhasil ditutupinya.

Ketika ia keluar itu, dilihatnya sang suami sudah mengenakan pakaian dinasnya juga, siap untuk berangkat. Ia menatap istrinya sekilas, lalu berkata singkat.

“Aku berangkat,” kemudian berlalu begitu saja.

Di ruang makan, ada Santi yang menunggunya. Ia mendengar sebuah keributan, walau hanya sebentar. Lalu di pagi harinya menatap wajah mamanya yang pucat dan sembab.

“Apa yang terjadi Ma?”

Santi sudah dewasa, ia harus mengerti apa yang terjadi. Keretakan sebuah rumah tangga harus ada jalan keluarnya agar supaya bisa didandani agar menjadi apik kembali.

“Tidak apa-apa.”

“Mama jangan menutupi apapun, Kami sudah tahu ada sesuatu yang terjadi.”

“Harusnya kamu bukan tanya kepada mama, tapi kepada papamu.”

“Apa bedanya bertanya kepada Mama atau papa? Santi lebih nyaman berbicara dengan Mama, sebagai sesama perempuan,” kata Santi.

“Tapi mama sudah harus berangkat ke rumah sakit.”

“Sedikit saja. Sekilas saja Mama katakan.”

“Papa kamu selingkuh.”

“Selingkuh? Mama tahu dari mana?”

“Mama beberapa kali membuka ponsel papamu, mama juga memergoki papamu merayakan ulang tahun selingkuhannya, semalam, dan itu sebabnya dia tidak ada ketika kita rame-rame merayakannya."

“Mama sudah bicara sama papa?”

“Susah diajak bicara. Dia marah tanpa menjelaskan apapun.”

Indras berdiri dari tempat duduknya, karena ia harus segera bertugas.

“Jangan dulu Mama mempercayai yang hanya Mama lihat sekilas. Sebaiknya bicara baik-baik sama papa,” seperti orang tua Santi berpesan sebelum mamanya berangkat.

Indras mengangguk dan tersenyum. Tanpa sadar anak sulungnya sudah sedewasa ini. Tanpa sadar tahun demi tahun yang dilaluinya. Justru menemui cobaan ketika usia pernikahan sudah puluhan tahun.

“Apa salahku?” gumamnya sambil mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit tempat dia bekerja.

***

Indras bekerja seperti biasa. Ia menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata. Kalau anaknya saja tahu bahwa dia sedang menyembunyikan wajah sembabnya, pasti orang lain juga akan tahu. Ia tak ingin banyak pertanyaan.

Tapi siang hari itu setelah visite ke ruang-ruang pasien, ponselnya berdering. Dari seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Bukan Bagas yang selalu membuat kejutan setiap kali menemuinya, tapi dari Pri, dokter seangkatannya yang tugasnya di luar kota.

“Assalamu’alaikum Pri.”

“Wa’alaikumussalam Indras. Apa kabar?”

“Baik. Kemana saja kamu? Lama sekali nggak terdengar kabarmu?”

“Kamu kan tahu tugasku jauh dari sini. Tapi saat ini aku ada di sini, dan pengin ketemu kamu.”

“Datanglah ke rumah.”

“Jangan, aku ingin ketemu kamu, sendirian.”

“Ya ampun, nanti dikira kamu selingkuhan aku, bagaimana?”

“Tidak apa-apa, sudah sejak kamu pacaran, aku ingin sekali diselingkuhi sama kamu.”

Indras terkekeh. Pri selalu membuatnya tertawa.

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Harus bertemu? Tidak bisa ngomong sekarang? Aku jadi penasaran, mau ngomong apa sih?”

“Nanti kalau aku ketemu, baru ngomong.”

“Anakmu sudah berapa Pri?”

“Satu. Mau besanan? Dia ganteng dan hampir lulus. Tapi dia tidak mau menjadi dokter seperti bapaknya.”

“Oh ya? Anakmu laki-laki?”

“Ya laki-laki, mana ada perempuan ganteng?”

“Iya, benar. Tapi aku kangen sama kamu nih. Mau ketemu di mana? Di kantorku saja?”

“Jangan, nggak enak, di sini banyak yang aku kenal. Nanti saja kalau kamu pulang. Kamu pulang jam berapa?”

“Jam tiga paling.”

“Baik, aku samperin kamu, nanti kita ngopi ya.”

“Di mana?”

“Kamu yang tinggal di kota ini, tunjukkan saja di mana, aku tungguin kamu di sana.”

“Bener-bener seperti ketemu selingkuhan nih.”

“Biarin. Selingkuh sama dokter ganteng kan biasa.”

“Masih merasa ganteng ya kamu?”

“Sejak dulu aku ganteng, kamu saja yang menutup mata gara-gara aku kalah ganteng daripada Zein.”

“Ini masalah jodoh, Pri. Sudah, masa lalu jangan diungkit. Terkadang masa lalu itu menyakitkan, tapi juga menyenangkan. Tapi sakit menyakitkan dan menyenangkan itu kan masa lalu, yang penting adalah masa sekarang.”

“Kamu ngomongnya  suka berbelit. Ya sudah, sampai ketemu nanti. Kabari tempatnya ya.”

Indras tersenyum. Bertemu Pri selalu heboh, ada saja candaannya. Dan ternyata dia belum berubah.

***

Hari itu Indras ketemu Pri setelah selesai bertugas. Pri masih seperti dulu, suka bercanda dan mengganggunya. Tapi hari itu Pri kelihatan sangat serius. Indras berdebar menunggu apa yang akan dikatakannya.

"Kamu itu lama tidak ketemu, baru mau ketemu sudah membuat aku berdebar-debar tak karuan."

“Harus berdebar dong kalau ketemu orang ganteng.”

“Pri, aku serius, bukan karena bertemu denganmu tapi karena kamu akan mengatakan sesuatu yang kelihatannya akan sangat membuat aku terkejut.”

“Minum dulu kopinya. Baru aku cerita.”

Indras semakin penasaran. Tapi akhirnya Pri mengatakannya juga.

“Apa kabar Zein?”

“Dari tadi nggak nanyain Zein. Dia baik.”

“Baik? Tapi aku ingin mengatakan sesuatu tentang Zein.”

Indras semakin berdebar. Apa Pri tahu bahwa Zein selingkuh? Padahal dia kan bertugas dikota lain dan tidak pernah bertemu? Indras meneguk kopinya lagi.

“Apa kamu sudah tahu kalau suami kamu sakit?”

“Sakit? Tapi dia baik-baik saja, setiap hari bekerja, dan_”

“Yang sakit jiwanya.”

“Apa?”

“Aku punya teman seorang dokter. Psikiater. Zein adalah pasiennya.”

***

Besok lagi ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 24

 SAKIT KU ADALAH CINTAKU  24 (Tien Kumalasari)   Zein menatap tajam istrinya. Kemarahan mulai membakar jiwanya, dan juga darahnya. Apalagi k...