NAMAKU TETAP SENJA 56
(Tien Kumalasari)
“Mengapa Bapak pulang sendiri? Mana Arka? Masih banyak pekerjaan lagI? Kasihan Pak, mengapa tidak Bapak suruh melanjutkan besok pagi saja? Memangnya harus selesai malam ini juga?” tanya bu Wiguna ketika melihat suaminya pulang sendiri.
“Dia sudah pulang lebih dulu, katanya mau ketemu anak tukang beras itu,” kata pak Wiguna sambil duduk, lalu menyeruput kopi yang sudah disediakan.
“Pesan beras lagi? Untuk kantin lagi?”
“Kelihatannya bukan itu. Kantin sudah pesan sendiri, aku melihatnya beberapa hari yang lalu. Sudah dua kali malah.”
“Lalu mengapa dia sore-sore ke sana?”
“Mau menemui anak tukang beras itu. Katanya besok disuruh bekerja di kantor kita.”
“Oh ya? Memangnya dia sekolah apa?”
“Baru lulus SMA.”
“Tumben bapak tidak menolaknya. Biasanya kan Bapak selalu menerima hanya yang sarjana. Dulu keponakan Ibu, walau keponakan jauh, Bapak tidak mau menerima gara-gara dia lulusan SMA. Kasihan anak itu. Akhirnya jadi tukang parkir.”
“Yah, aku minta maaf. Besok kalau ada lowongan lagi, Ibu minta dia melamar, akan bapak carikan tempat yang cocok untuk dia.”
Bu Wiguna menatap suaminya dengan heran. Ia melihat banyak perubahan di hari-hari terakhir ini. Sikapnya lebih lembut, dan mau menerima kesalahan.
“Aku mandi dulu Bu, biar wangi. Masa Ibu sudah wangi, aku bau asem,” kata pak Wiguna sambil berdiri, lalu menuju kamarnya.
“Kopinya tidak dihabiskan dulu.”
“Nanti aku habiskan setelah mandi,” katanya.
Bu Wiguna membiarkannya. Lalu lagi-lagi ponselnya berdering. Ada panggilan dari seseorang. Sama seperti yang dulu pernah dilihatnya. Penasaran, bu Wiguna kemudian mengangkatnya. Tapi baru saja dibuka, suara dari seberang membuatnya terkejut. Tiba-tiba dia marah.
“Pak Wiguna, saya ibunya Tantrina. Boleh saja Bapak mengingkari bayi yang dikandung Tantrina, tapi jangan buru-buru menyuruh Tantrina pergi. Waktu seminggu itu tidak cukup untuk mengusung barang-barangnya ke rumah. Walau Bapak ceraikan dia, tapi jangan terlalu kejam mengambil lagi barang-barang yang sudah Bapak berikan. Saya minta waktu dua minggu untuk mengosongkan rumah.”
Bu Wiguna menutup ponselnya tanpa menjawab. Ada sesuatu yang dia temukan. Yaitu apa yang disembunyikan suaminya.
“Ada perempuan bernama Tantrina. Yang hamil, tapi suaminya tidak mau mengakui bayi itu anaknya. Perempuan itu diceraikan, lalu harus pergi dari rumah. Rumah siapa ya? Oo, apakah itu rumah di sebuah perumahan mewah yang brosurnya aku temukan? Jadi perempuan itu tadinya dinikahi, entah siri atau bukan, lalu diceraikan, lalu diusir dari rumah karena perempuan itu hamil dengan laki-laki lain. Hmm, baguslah kalau suamiku sadar. Aku sudah tahu dia membohongi aku selama ini, dan syukurlah Allah menunjukkan jalannya.” gumamnya pelan.
Bu Wiguna meletakkan kembali ponsel suaminya di tempat semula., lalu tersenyum lucu.
“Jadi mulai sekarang suamiku tidak akan sering-sering menunggui sahabat dekatnya yang habis dioperasi, lalu takut sendirian. Suamiku tidak begitu pintar berbohong. Masa laki-laki takut sendirian? Cari alasan yang tepat dong, supaya aku mempercayainya sejak lama.”
“Ibu bicara sama siapa?” bu Wiguna terkejut, tiba-tiba suaminya muncul.
“Bapak sudah mandi? Cepat amat?”
“Aku mencari handuk.”
“Handuk?”
“Biasanya Ibu menyiapkannya di meja dekat kamar mandi. Itu tidak ada handuknya.”
“Masa, barangkali aku lupa. Sebentar, Ibu ambilkan,” bu Wiguna berdiri, lalu mendengar ponsel itu berdering lagi.
Bu Wiguna tidak takut ketahuan saat menerima telpon dari perempuan yang entah siapa namanya. Sebelum masuk ke kamar dia mendengar suaminya menjawab agak kasar.
“Semuanya sudah aku jelaskan. Jangan menelpon lagi.”
Lalu suaminya mengikutinya masuk ke kamar.
“Bapak marah-marah sama siapa?”
“Orang tidak tahu diri,” jawab pak Wiguna yang kemudian menerima handuk yang diberikan istrinya.
***
Arka sudah sampai di kantor polisi, di mana Senja di tahan. Begitu masuk, ia melihat mbok Mangun dan Rimba duduk bertangisan.
Arka mendekati mereka, lalu Rimba segera menubruk Arka dan menangis di dadanya.
“Mas Arka, jangan biarkan mbak Senja dipenjara. Dia tidak bersalah, dia tidak bersalah.”
“Syukurlah Simbok dan Rimba bisa sampai di sini.”
“Pak RT yang mengantar, tapi dia buru-buru pulang,” jawab Rimba.
“Iya, bagaimana ini mas Arka, dari tadi Simbok belum bisa ketemu Senja. Senja tidak akan sejahat itu. Dia mau diperkosa.”
Arka mengajak Rimba duduk, dan menenangkannya dengan menepuk-nepuk bahu Rimba.
“Tenanglah dulu Mbok, Rimba, aku akan bicara sama petugas di sini.”
“Di salon itu, Senja di suruh melayani pelanggan yang minta dipijit. Senja sudah menolak, tapi pemilik salon itu memaksa. Ia memasukkan Senja dalam kamar bersama pelanggan itu. Lalu entah apa yang dilakukan pelanggan itu, Senja menjadi marah lalu memukul kepalanya dengan kursi. Laki-laki itu pingsan, Senja segera berlari pulang. Tapi tiba-tiba polisi datang ke rumah dan Senja dibawanya,” tangis mbok Mangun.
“Berarti salon itu bukan salon baik-baik. Ada pelayanan yang tersembunyi, selain memotong rambut dan pelayanan kecantikan biasa. Siapa yang membantu Senja sehingga dia bekerja di sana?”
“Senja hanya bilang dibantu temannya yang baik hati.”
“Siapa?”
“Senja tidak mau mengatakannya. Temannya itu minta agar jangan menyebut nama dia, karena dia tidak mau dipuji-puji, atau dianggap orang baik. Begitu alasannya. Jadi sampai sekarang Simbok tidak tahu siapa temannya itu.”
“Kalau benar temannya orang baik, dia tak akan mencarikan Senja pekerjaan di salon kotor seperti itu,” kata Arka geram.
“Mas Arka, tolonglah Senja. Bisakah mas Arka menolongnya?”
“Tentu bisa Mbok, Senja tidak bersalah, dia tidak akan dihukum.”
“Benarkah?”
“Saya akan menelpon pengacara yang akan saya minta membantu Senja.”
“Pengacara itu siapa?”
“Orang yang bisa membantu. Sementara itu saya akan meminta agar diperbolehkan bertemu Senja,” kata Arka yang kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang, entah siapa.
"Baiklah, saya tunggu sekarang juga. Benar.. pak Wiguna itu ayah saya ... betul. Sekarang ya Pak."
Agak lama mereka bicara, sementara Arka kemudian menemui polisi yang bertugas untuk berbicara tentang keadaan Senja. Tapi Arka harus menunggu pengacara yang sudah dimintanya datang.
***
Hari sudah malam ketika Mbok Mangun dan anaknya bisa bertemu Senja. Seorang pengacara mendampinginya. Tentu mereka bertangisan, karena merasa bahwa Senja tak bersalah. Kepada pengacara Senja mengatakan apa yang terjadi, sambil menangis. Pilu hati Arka melihat wajah gadis yang dikaguminya tampak pucat tak bersemangat.
“Tenanglah Senja, sudah ada pengacara yang akan membantu kasus kamu.”
Tapi sejauh ini Senja tidak mau mengatakan siapa yang membantunya.
“Senja, kamu harus mengatakannya. Siapa tahu teman kamu itu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa kamu.”
“Tidak mungkin. Dia itu orang baik yang dengan ikhlas membantu. Yang ada hubungannya itu ... ya bu Mery, karena dia yang memaksa aku.”
Senja begitu polos. Ia selalu merasa bahwa Rosa telah banyak membantunya, bahkan menyelamatkan nyawanya. Dia juga rela ingin mengantar dan menjemputnya sekolah waktu kakinya terluka. Orang baik seperti itu mana mungkin berbuat jahat. Begitu terus perasaan Senja.
Pengacara itu mencatat semua keterangan Senja, dengan janji yang akan membuat Senja merasa lebih tenang.
***
Mbok Mangun bersikeras untuk tetap berada di kantor polisi. Tapi Arka membujuknya, bahwa tidak boleh menunggui di kantor polisi.
“Mbok, untuk sementara Simbok menginap di rumah saya saja, agar Simbok merasa lebih tenang. Di sini, kecuali tidak diperbolehkan, juga Simbok tidak bisa istirahat dengan nyaman.”
“Menginap di rumah mas Arka? Mana pantas?”
“Pantas saja. Dan Simbok harus benar-benar tenang. Senja tidak bersalah. Besok, pengacara akan mengajukan permohonan agar bisa ditahan diluar.”
“Ditahan diluar itu bagaimana caranya?”
“Simbok tenang saja. Ayo sekarang pulang ke rumah saya.”
“Simbok sungkan Mas, Simbok orang miskin, masa tidur di rumah orang kaya? Lagipula Senja tidak membawa baju ganti, dari pagi dia hanya memakai baju itu,” kata Simbok yang kembali terisak.
“Nanti kita mampir ke toko, beli baju ganti untuk Senja, juga makanan. Kita antarkan semua itu, tapi hanya bisa dititipkan kepada petugas. Nanti beli baju ganti juga untuk Simbok, dan Rimba.”
“Menyusahkan banyak orang.”
“Tidak, sudah Mbok, jangan dipikirkan.”
***
Besok lagi ya.