Sunday, November 8, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 025

 SORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  025

(Tien Kumalasari)

 

Nyonya Sasa menatap laki-laki tinggi besar itu tak berkedip. Seperti mengenalnya, tapi lupa di mana.

“Tante lupa sama saya?”

“Ini kan … “

“Hayoo, Tante lupa kan? Padahal dulu sering ke rumah. Dulu saya dekat dengan Lili.”

“Oo ….”

Nyonya Sasa baru ingat, semalam Lili baru cerita kalau yang dilihatnya di rumah makan itu adalah Willy. Dan sosok itu dilihat nyonya Sasa hanya dari punggungnya yang tegap.

“Willy ya?”

Laki-laki itu terbahak. Senang sekali orang yang disapanya ternyata mengingatnya. Lalu tanpa dipersilakan ia ikut duduk diantara nyonya Sasa dan Menur. Untunglah Menur sempat membersihkan air mata yang membasahi pipinya. Dan karena sungkan, kemudian ia berpamit, ingin mendekati Ana yang sudah berlarian ke sana kemari.

“Ini siapa?” tanya Willy, sambil melihat ke arah Menur.

“Ini namanya Menur, keponakan tante.”

“Menur, kenalkan, aku Willy.”

Menur merangkapkan kedua tangannya sambil menyebutkan namanya.

“Mau ke mana?”

“Dia mau memanggil Ana.”

“Siapa Ana?”

”Ana itu anak Lili, maksudnya anak angkat.”

“Oh, Lili memang mengatakan kalau belum punya anak.”

“Itu anak kakaknya. Saat melahirkan dia meninggal. Bayinya aku titipkan Lili agar dirawat seperti anaknya sendiri.”

“Sudah lama tidak saling berkabar. Saya pergi setelah mendengar Lili menikah.”

“Namanya jodoh itu tidak bisa diingkari. Kamu sudah menikah?”

“Belum Tante. Saya tidak akan menikah kalau tidak ketemu yang seperti Lili.”

”Mengapa begitu? Kalian sudah menemukan jalan masing-masing. Jangan selalu dibayangi oleh cerita lama. Tidak bagus itu.”

“Ya, benar, saya mengerti.”

Willy menundukkan kepalanya, tampak sedih.

“Tante doakan agar kamu segera menemukan jodoh yang baik, yang bisa mencintai kamu, memberikan anak-anak yang baik untuk kamu, dan membuat hidup kamu bahagia, pastinya.”

“Aamiin.”

“Kata Lili kamu bekerja di Semarang.”

“Saya kontraktor bangunan, kalau proyek ada di Semarang, saya di Semarang. Hari ini saya sedang ada pembicaraan tentang renovasi taman bermain ini. Baru akan ketemu managernya satu jam lagi. Makanya saya jalan-jalan dulu.”

“Syukurlah, semoga sukses.”

“Terima kasih Tante, saya lanjut dulu.”

“Sampai ketemu lagi, Willy.”

“Sampaikan salam saya untuk Lili.”

Nyonya Sasa hanya mengangguk. Sesungguhnya dulu dia suka ketika melihat Lili pacaran sama Willy. Tapi suaminya memaksa menikahkan Lili dengan Baroto, Ada rasa kasihan kepada Willy, ketika melihat bahwa dia tampak masih mencintai Lili. Tapi apa mau dikata, Lili sudah punya suami, walau dilihatnya mereka tidak bahagia.

***

Willy menyusuri arena bermain itu, lalu melihat Menur sedang mengambilkan minum untuk Ana.

“Sudah, berhenti mainnya, nanti kecapekan.”

“Sebentar lagi, ibu,” lalu Ana berlari ke arah mainan lain yang ada prosotannya.

“Itu Ana ya?”

Menur terkejut, Willy sudah ada di belakangnya.

“Mengapa memanggil kamu dengan ‘ibu’?"

“Inginnya begitu. Kepada saya, ibu. Kepada Lili, mama.”

“Lucu, anak-anak kalau punya mau. Aku ingin segera punya anak.”

“Mengapa tidak?”

“Istri saya belum punya.”

“Oh, maaf.”

“Lihat, Ana naik-naik ke sana.”

“Eh, iya … saya suruh berhenti tidak mau. Padahal sudah main-main satu jam lebih.”

“Anak kecil memang begitu, kalau sudah bermain tidak ingat waktu.”

Willy tersenyum. Ia menatap Ana yang lincah, naik tangga perosotan kemudian meluncur turun.

Menur yang merasa khawatir kemudian berlari mendekatinya, meninggalkan Willy yang kemudian melanjutkan langkahnya.

***

Malam hari itu nyonya Sasa menginap di rumah Lili. Ana agak rewel, dan minta dikelonin sang nenek.

Sejak sore badannya hangat. Pasti karena lelah bermain. Menur sudah mengingatkannya, apakah sebaiknya dibawa ke dokter, tapi nyonya Sasa melarangnya.

“Hanya masuk angin, setelah digosok dengan minyak angin pasti sembuh.”

Sebelum pulang Menur berpesan kepada bibinya, agar tidak mengatakan apapun tentang Baroto dan Rahman. Nyonya Sasa menyanggupinya, karena memang sebaiknya Lili tidak usah tahu.

Setelah Ana tidur, nyonya Sasa keluar, menemui Lili.

“Ana rewel?” tanya Lili.

“Tadi badannya agak anget, tapi ini tadi sudah normal. Aku pijit-pijit kakinya, lalu tidur. Capek bermain seharian.”

“Dia kalau sudah bermain lupa berhenti,” gerutu Lili.

“Oh ya, aku tadi ketemu Willy.”

“Di mana? Kemarin katanya kembali ke Semarang.”

“Katanya akan bicara tentang proyek baru di sini."

“Dia bekerja tak kenal lelah.”

“Dia masih mencintai kamu. Tapi kan nggak mungkin kalian bersatu lagi.”

Lili tak menjawab. Tampaknya masih ada cinta yang tersisa.

“Bagaimana kalau kita jodohkan Willy dengan Menur?”

“Apa? Tidaaaak.”

“Mengapa kamu berteriak?”

Nyonya Sasa mengerutkan keningnya melihat sikap Lili yang tiba-tiba berubah garang. Lili sendiri juga tidak sadar, mengapa mendengar Willy mau dijodohkan dengan Menur maka ia merasa tidak rela? Mengapa semua perasaan muncul ketika tanpa sengaja ia merasa bersaing dengan Menur? Mendengar Baroto sering mendekati Menur, tiba-tiba timbul rasa sayang dan merasa bahwa dia tak ingin kehilangan Baroto. Sekarang, mendenar sang ibu akan menjodohkan Willy dengan Menur, ia juga merasa tak ingin kehilangan Willy. Karena sayang juga? Apakah cintanya terbagi-bagi? Apakah cinta memiliki sifat serakah? Atau ia tak mau bersaing dengan Menur?

“Katakan mengapa kamu berteriak.”

“Mengapa ibu ingin menjodohkan Willy dengan Menur?”

“Mengapa kamu seperti tidak suka?” sang ibu balas bertanya, dan Lili tak bisa menjawabnya. Tak ada alasan yang tepat untuk diberikan kepada ibunya, mengapa ia berteriak menolak.

“Kamu masih suka pada Willy?” tanya sang ibu sambil menatap tajam anaknya.

“Entahlah.”

“Jangan pernah kamu mengkhianati pernikahan kamu.”

Lili masih terdiam. Pernikahan itu bukan keinginannya kan? Tapi ia tak berani mengutarakannya pada sang ibu.

“Kamu sudah bersedia menjalani, dan kamu harus mempertahankannya. Tak ada alasan bagi kamu untuk berkhianat pada pernikahan kamu hanya karena kamu masih mencintai laki-laki lain.”

Lili kesal pada sang ibu. Bukankah dulu dia dipaksa? Lalu ditelannya kembali ungkapan kekesalan itu, ketika tiba-tiba ia menyadari bahwa rasa sayang pada Baroto baru saja muncul. Bahkan ia seperti mengemis-ngemis perhatian Baroto ketika merasa bahwa Baroto sedikitpun tak punya perhatian pada dirinya.

Kehadiran Willy membuatnya bimbang. Ia harus memilih salah satu diantaranya. Ia tahu Willy masih mencintainya. Bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai?

“Lili, apa kamu paham apa yang ibu katakan? Apa kamu tahu bagaimana seorang wanita harus mempertahankan kehormatannya?”

“Baroto tidak mencintai Lili,” desisnya sangat pelan.

“Apa katamu?”

“Itu benar. Bertahun-tahun menikah kami tidak pernah saling menyentuh.”

Sikap dingin antara pasangan yang adalah anak dan menantunya itu bukannya tak dirasakan oleh nyonya Sasa. Tapi ia adalah seorang wanita yang sangat memegang tinggi kesetiaan, dan menghormati sebuah pernikahan.

Karena itu ia ingin bicara pada Menur, untuk menjajagi perasaannya, seandainya dia dijodohkan dengan Willy.

***

Menur sangat terkejut ketika bibinya berbicara tentang Willy, memuji-mujinya setinggi langit, seperti sedang mempromosikan sebuah dagangan.

“Dia itu baik, mapan, dan aku percaya kalau dia akan menjadi suami yang baik bagi istrinya kelak,” lanjutnya yang membuat Menur heran, mengapa semua itu dikatakannya pada dirinya.

Karena itu dia hanya diam, tak berreaksi.

“Menur, kamu itu masih muda, cantik, pintar. Apa kamu tak ingin berkeluarga agar Rahman bisa merasakan kasih sayang seorang ayah?”

Menur menatap bibinya, dan mencoba menghubungkan apa yang baru saja bibinya katakan, dan tentang pertanyaan tentang keinginannya berkeluarga itu.

“Maksud Bibi apa?”

“Kalau kamu mau, aku akan membantu kamu mencarikan jodoh yang baik.”
Menur tersenyum. Mulai menduga-duga. Tapi rupanya Menur tidak tertarik.

“Bibi, saya merasa nyaman dengan kehidupan saya yang seperti ini. Biarkan saja saya membesarkan Rahman, karena saya bisa menjadi ibu sekaligus ayah baginya, entah bagaimana ujudnya.”

“Tapi ada baiknya kamu memikirkan, bahwa hidup sendirian tidak senyaman kalau dia punya sebuah keluarga. Ada anak, ada suami yang baik, dan bisa melindungi.”

“Tidak Bibi, biarkan begini saja. Menur tidak ingin memikirkan yang lebih.”

“Kamu sudah mengenal Willy kan? Yang ketemu ketika kita bersama Ana ada di taman bermain? Dia itu ganteng, mapan, dan aku yakin dia bisa menjadi suami yang baik. Kalau kamu mau, aku akan berbicara dengannya.”

Tuh kan, kesitu rupanya arah tujuan sang bibi. Tapi Menur tetap menggelengkan kepalanya, membuat sang bibi putus asa.

***

Berhari-hari berlalu, Menur merasa tenang ketika sang bibi tidak lagi membicarakan masalah keinginannyaa menjodohkan dirinya dengan Willy. Baru sekali ia bertemu, dan itu sama sekali tak membuatnya tertarik.

Tiba-tiba ia mendengar mobil memasuki halaman, lalu melihat Lili bergegas masuk ke rumah sambil bertelpon.

“Berangkat sekarang juga. Suamiku kecelakaan.”

Menur terkesiap, Baroto kecelakaan? Ia ingin bertanya lebih lanjut kepada Lili, tapi diurungkannya. Kalau kelihatan dia sangat perhatian, ia yakin kalau Lili akan curiga. Jadi Menur lebih memendam rasa cemas di dalam hatinya.

Tanpa pamit atau mengatakan apapun, Lili berkemas lalu menelpon sopir agar datang secepatnya.

Tak urung Menur ingin menanyakannya, pura-pura tidak tahu.

“Kamu ke mana Li?”

“Ke bandara, aku harus menyusul mas Baroto, dia kecelakaan,” katanya sambil bergegas ke arah depan.

“Ke .. celakaan?”

“Katanya agak parah, aku harus menemuinya.”

Begitu sopir datang, Lili sudah bergegas naik mobil dan tak lama kemudian mobilnya melaju keluar dari halaman.

Di pejalanan, seorang staf Baroto menelponnya.

“Nyonya, siapa yang bernama Menur? Sejak tadi Tuan Baroto mengigau dan menyebut nama Menur. Sebaiknya Nyonya datang bersama dia.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Saturday, November 7, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 47

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  47

(Tien Kumalasari)

 

Bu Pranoto menoleh ke arah bu Karimun dan pak Karimun, lalu melambaikan tangannya, berharap mendekat ke arahnya, dan ke arah Fajar yang masih terbaring dengan perasaan linglung. Ia merasa sang ibu sedang bercanda.

"Fajar, hari ini, melihat keadaan kamu yang semakin membaik, ibu tidak tahan untuk tetap memendam perasaan ini, dan ingin segera mengatakannya kepada kamu."

Fajar menatap ibunya, dan berdebar.

“Ibu tidak suka atas permintaan Fajar beberapa waktu yang lalu? Tentang Sarah?”

Bimo membuka telinganya lebar-lebar. Mengapa Fajar menyebut nama Sarah?

“Fajar, ini tidak ada hubungannya dengan keinginan kamu yang pernah Ibu tawarkan itu. Ini tentang kamu, tentang Bimo, tentang bapak dan ibumu ini, dan tentang pak Karimun serta istrinya.”

Fajar mengerutkan keningnya. Ada nama-nama diluar keluarga ayah ibunya. Bimo, pak Karimun dan istrinya?

“Seperti tadi Ibu mengatakannya di awal, kamu dan Bimo terlahir kembar. Bukan dari ibumu ini, tapi dari rahim seorang wanita yang selalu menangisi penyesalannya atas apa yang pernah dilakukannya.”

Fajar mendengarkan dengan seksama. Semua masih terasa membingungkan. Kemudian bu Pranoto bercerita tentang kejadian duapuluhan tahun yang lalu, saat seorang wanita papa menyerahkan bayi merah ke pangkuannya.

Fajar terkejut. Ia menatap Bimo yang diam menundukkan kepalanya, berdiri di samping pak Karimun.

Panjang lebar bu Pranoto bercerita, diiringi isak tangis yang terdengar dari ujung tempat tidurnya. Bu Karimun.

“Jadi … jadi ….” suara Fajar tersekat di tenggorokan.

“Jadi sebenarnya kamu bukan anak kandung kami, Fajar, walau kami mengasihimu seperti halnya kami menyayangi dan mengasihi Mentari,” sekarang bu Pranoto ikut menangis. 

Mentari bahkan memeluk kakaknya, dan menangis di dadanya.

“Tapi kamu tetap kakakku, Mas, jangan berubah ya.”

“Benar, kamu masih tetap putra keluarga Pranoto. Jadi kamu punya dua pasang orang tua,” isak bu Pranoto, sambil menarik bu Karimun agar mendekat.

“Bu Karimun, peluklah Fajar erat-erat. Hal yang pasti sudah lama bu Karimun inginkan, bukan?”

Mentari mengangkat wajahnya, mundur, mempersilakan bu Karimun mendekat.

“Jadi, bu Karimun ibuku, dan pak Karimun ayahku?”

Bu Karimun memeluk tubuh Fajar yang sedikit meringis karena dadanya masih terasa agak sesak.

“Maafkan kami, bukan maksud kami membuang anak-anak kami, tapi kami hanya ingin agar anak-anak yang aku lahirkan dalam papa, tidak mengalami nasib yang sama. Maaf ya nak?” kata bu Karimun yang kemudian juga memeluk Bimo yang sibuk mengusap air matanya.

Fajar membalas pelukan itu dengan sebelah tangannya. Tak mampu berkata-kata.

“Tapi kami tidak ingin merebut kamu Nak, tetaplah menjadi kesayangan pak Pranoto dan keluarganya. Kami bahagia menemukan anak-anak kami dalam  kehidupan yang layak. Biarlah kami hanya menatap dan merasakan kebahagian kalian, karena kalian sudah benar-benar menjadi ‘orang’. Kalau kamu masih tetap bersama kami, entah bagaimana nasib kalian, bapak dan ibumu ini tak bisa membayangkan.”

Ruangan tiba-tiba dipenuhi oleh isak tangis diantara semua yang ada, tapi isak tangis bahagia. Masing-masing berhak memiliki, tapi kasih sayang tak mungkin saling diperebutkan, karena dengan cinta yang ikhlas, kehidupan akan menjadi nyaman.

***

Beberapa hari kemudian, Fajar sudah boleh pulang. Pak Karimun dan bu Karimun tinggal di pavilyun rumah keluarga Pranoto seperti keinginan keluarga yang baik itu. Sedangkan bu Saptari diberikannya tempat untuk membuka usaha makanan, di kantin kantor pak Pranoto, yang kemudian dikelolanya bersama bu Karimun.

Bimo melanjutkan kuliah seperti keinginan pak Pranoto. Pak Pranotolah yang membiayainya. Tentu Bimo sangat bahagia. Walau entah nanti bagaimana pada akhirnya, tapi selalu bisa bersama Mentari adalah sesuatu yang seperti diinginkannya.

***

Dan pada akhirnya Sarah juga berterus terang kepada neneknya, tentang Fajar dan Bimo yang sebenarnya adalah anak kembar yang terpisah.

“Ya ampuun… Allah Maha Besar. Puluhan tahun kemudian Dia mempertemukan darah daging yang tercerai berai karena keadaannya yang papa. Aku ikut senang mendengarnya,” kata nenek Suli, terharu.

Sarah tetap tak mau melanjutkan kuliah, walau ia bisa mengurus bea siswa untuk kelanjutan studinya. Ia memilih bekerja agar sang nenek beristirahat menikmati hari tuanya.

Hari itu Sarah dipanggil ke kantor pak Pranoto, dengan harus membawa surat lamaran dan berkas-berkas yang diperlukan.

Nenek Suli bersyukur, ada yang akan memberi pekerjaan kepada cucunya.

***

Ia sedang duduk sendirian di rumah ketika tiba-tiba dari arah jalan ia melihat seorang wanita berjalan ke arah rumah, dengan memakai tongkat penyangga. Nenek Suli mengerutkan keningnya. Bukankah itu bu Lurah? Nenek Suli sudah menyiapkan kata-kata untuk membalas apabila bu Lurah masih ingin menghina kemiskinannya. Ia berdiri, dan melangkah ke arah pintu, menunggu. Wajahnya masam, siap menerima serangan.

Tapi nenek Suli heran. Bu lurah tampak mengangguk dengan santun, serta mengulaskan senyuman. Nenek Suli mengernyitkan keningnya. Seorang lawan biasanya berbaik-baik dulu untuk kemudian menyerangnya ketika lawannya lengah. Nenek Suli masih tetap diam. Tak mengubah raut wajah yang sedikit agak tegang. Tapi suara itu  meragukannya.

“Nenek Suli,” itu suara yang lembut. 

Sebuah siasat? Nenek Suli bergeming. Tapi ia tak mengucapkan apapun. Ia masih menunggu.

“Nenek Suli, aku datang untuk meminta maaf.”

Haa, meminta maaf? Tapi nenek Suli melihat wajah itu tak menunjukkan sesuatu tentang kemarahan, atau belum dimuntahkannya, untuk kemudian ….

“Aku merasa bersalah karena sering menyakiti nenek Suli, dan juga Sarah.”

O, itu benar? Sepertinya tulus. Bu Lurah bahkan mengulurkan sebelah tangannya, karena yang sebelah harus memegangi tongkat penyangga tubuhnya.

“Aku sungguh ingin minta maaf.”

Lalu nenek Suli menyambut tangan itu, yang terasa dingin berkeringat.

“Apa aku boleh masuk?”

“Masuk ke rumahku yang jelek dan kumuh ini?”

“Tidak apa-apa. Aku datang karena orangnya, bukan rumahnya.”

Walau heran karena ucapan yang terdengar bijak itu, nenek Suli kemudian mempersilakannya masuk.

“Masuklah, hanya ada kursi kayu tua yang tak terasa empuk kalau diduduki.”

“Aku tidak peduli kursinya seperti apa,” lalu bu Lurah perlahan duduk, dan meletakkan tongkatnya begitu saja.

“Aku menyesal telah melakukan hal-hal buruk. Aku sangat menyesal, sungguh, maafkanlah aku ya Nek.”

Nenek Suli menangkap kesungguhan dalam ucapan itu, apalagi disertai genangan air mata di pelupuknya yang tampak kuyu.

“Aku memaafkannya, dan akan melupakannya.”

“Terima kasih ya Nek. Apa yang aku terima sekarang ini, cacat kaki sehingga tidak bisa berjalan tegak, adalah hukuman atas semua kesalahan dan dosaku.”

“Tidak. Itu bukan hukuman. Itu sebuah peringatan agar kita tak akan mengulangi kesalahan yang sama.”

“Aku menyadari kesalahanku, ketika Sarah menolongku saat aku terjatuh di rumah sakit.”

“Benarkah? Sarah tidak pernah bercerita tentang itu."

“Sarah anak baik. Kebaikan itulah yang membuat aku sadar. Aku membenci dia, tapi dia berbuat baik untuk aku.”

Mereka berbincang lama, dan nenek Suli seperti biasa memberi petuah-petuah berharga sebagai orang tua. Ia bersyukur melihat yang salah menyadari kesalahannya, dan kembali menyusuri kebenaran.

***

Fajar masih belum pergi ke kantor. Pak Pranoto melarangnya, agar dia istirahat untuk sementara waktu, sampai ia benar-benar sehat.

“Sarah sudah aku suruh bekerja di kantorku.”

“Terima kasih Pak, tapi jangan lupa, ia calon sekretaris pribadiku.”

Pak Pranoto tertawa.

“Aku yakin, Ibu tak akan mengingkari janji Ibu kan?” katanya kemudian kepada ibu angkatnya.

“Ibu akan menepati janji.”

“Terima kasih Ibu.”

Dan ternyata bu Pranoto menyadari, bahwa perbedaan status bukan halangan untuk saling jatuh cinta. Apa yang akan dikatakan untuk membantahnya? Bukankah Fajar sebenarnya adalah darah daging pak Karimun yang tadinya hanya tukang kebun di rumahnya? Biarlah anak-anak berbahagia, walau masih harus menunggu waktu.

***

T A M A T.

 

 

 

Friday, November 6, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 46

DARAH, CINTA DAN AIR MATA  46

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut, sampai kemudian bu Lurah mengulangi kata-katanya.

“Kamu?”

“Saya … saya … tidak bermaksud apa-apa, saya hanya menolong. Maaf,” katanya tergesa-gesa, kemudian lari keluar ruangan, yang hanya berisi seorang pasien, yaitu bu Lurah. Tak ada yang menunggui. Agak kasihan sebenarnya, menurut Sarah, tapi ia tak mau tinggal lebih lama, kalau tidak ingin diomelin seperti yang sudah-sudah. Gadis rendahan, bau, miskin… haduuuh, lebih baik tak mendengarnya saja.

Diluar, ia ketemu Mentari yang ternyata masih menunggunya.

“Kamu masih di sini?”

“Lha iyalah, kan tadi aku bilang mau mengantarkan kamu pulang?”

“Oh, aku kira kamu tak perlu menunggu aku sampai selesai. Sebentar, aku sudah janji mau memanggil dokter Harun untuk dia.”

“Pasien memanggil dokter seenaknya? Kan ada jadwalnya.”

“Dokter Harun itu adiknya. Sebentar,” kata Sarah sambil lari menjauh. Mentari geleng-geleng kepala.

***

“Siapa dia? Tadi aku mengikuti kamu sampai ke kamar rawat wanita itu, tapi ternyata kamu hanya sebentar. Ya sudah, aku tungguin saja kamu di sini.”

“Dia itu bu Lurah.”

“Bu Lurah? Aku seperti pernah mendengar kamu menyebut nama itu.”

“Iya, aku kan selalu cerita sama kamu setiap ada peristiwa penting yang menimpa aku.”

“Dia itu yang …. yang … anaknya tergila-gila sama kamu, tapi dia membenci kamu. Ya kan?”

“Dia orang kaya, aku ….?”

“Dasar saja dia sombong. Memangnya kenapa kalau kaya, dan kenapa kalau dia miskin? Nasib manusia itu kan berbeda-beda.”

“Itu kan menurut kamu. Menurut dia, derajat dia dan derajat orang kebanyakan itu jelas berbeda.”

“Tapi kamu itu orang baik lhoh, benar-benar baik. Kamu dibenci tapi kamu masih mau menolongnya. Coba orang lain, belum tentu mau melakukannya.”

“Kebencian dan pertolongan itu kan berbeda. Ketika melihat orang celaka, sebenci apapun pasti juga mau menolongnya.”

“Belum tentu juga.”

“Tentu ah.”

“Itu karena kamu baik hati. Tidak salah mas Fajar suka sama kamu,” selalu saja Mentari ngomong sembarangan.

“Apa? Kamu ngomongnya selalu aneh deh.”

Mentari hanya terkekeh.

“Aku berkata benar.”

“Dia ngomong begitu?”

“Tak usah ngomong juga kan kelihatan sikap dia bagaimana.”

“Ngaco!”

Mentari tetap saja tertawa, tak peduli Sarah mencubit lengannya keras-keras. Ia hanya berteriak lalu membuka pintu mobilnya.

“Silakan masuk kakak ipar,” Mentari masih bercanda.

“Dasar!!”

Walau begitu Sarah heran pada dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba dadanya berdebar?

***

Sementara itu bu Lurah terus berpikir tentang gadis yang menolongnya. 

"Dia Sarah, benar kan, Sarah? Kok mau-maunya menolong aku ya, padahal dia kan aku benci setengah mati." Pikir bu Lurah.

Ketika sedang memikirkan Sarah itulah tiba-tiba dokter Harun muncul.

“Ada apa Mbak, aku masih harus visite setelah ini.”

“Kakiku sakit sekali, apalagi tadi aku buat jalan, lalu terjatuh.”

“Siapa suruh Mbak jalan-jalan? Operasinya baru dua hari yang lalu, Mbak belum boleh banyak bergerak.”

“Sakit sekali nih.”

“Ya sakit, namanya luka. Salah siapa setir mobil sambil bercanda. Anaknya menikah tidak ditungguin, malah jalan-jalan.”

“Kamu kan tahu  bahwa aku tidak suka?”

“Ini akibatnya kalau orang tua berbuat semaunya sendiri. Sekarang masih harus diinfus, mengapa Mbak  Menolak? Tadi perawat melapor pada saya bahwa Mbak menolak untuk diinfus.”

“Aku capek.”

“Kalau tidak mau menurut ya sudah, sakit terus saja, dokter manapun ya tidak akan bisa mengobati,” kata dokter Harun sambil memberi isyarat kepada perawat agar memasang kembali infus yang sudah dilepas.

“Mengapa infus terus?”

“Kami memasukkan obat-obat melalui infus ini, Mbak harus menurut, kalau tidak mau ya pulang saja, biar dirawat simbok. Tapi kalau luka bekas operasi itu membusuk jangan salahkan aku kalau nanti kaki Mbak harus dipotong.”

“Apa? Kamu mau mbakyumu ini jalan tanpa kaki?”

“Kalau begitu menurutlah. Mbak masih harus disuntik antibiotik, kalau tidak lukanya akan bertambah parah.”

“Menakut-nakuti saja.”

“Itu benar. Aku tidak bohong. Siapa tadi yang Mbak suruh memanggil aku?”

“Gadis itu, Sarah.”

“Sarah? Gadis yang Mbak benci itu?”

“Ternyata dia baik. Dia mau membantu aku ketika aku jatuh.”

“Memang dia gadis baik, Mbak saja yang menutup mata hanya karena dia cucunya nenek Suli.”

Dokter Harun meninggalkan kakaknya setelah infus kembali di pasang dan diberikan obat seperti mestinya.

“Mbak harus menurut kalau ingin cepat sembuh. Tidak usah mengatakan kepada siapa-siapa kalau aku ini adiknya Mbak. Malu punya kakak bawel,” katanya sambi keluar dari ruangan.

“Eh, aku bawel?” bu Lurah masih sempat berteriak, tapi dokter Harun sudah keluar dari ruangan.

Bu Lurah termenung. Perilaku Sarah yang baik menyadarkannya, bahwa kebencian ternyata hanya menyakiti dirinya sendiri. Ketika dia masih merasa panas dan dipenuhi rasa benci, orang yang dibencinya justru berbuat baik untuk dirinya.

Bu Lurah memejamkan mata karena dokter Harun menyuntikkan obat penenang juga. Tapi dalam  kantuknya, bu Lurah menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman. Rasa benci itu tiba-tiba perlahan sirna.

***

Ketika kembali ke rumah sakit, Mentari tidak sendiri. Ia datang bersama Bimo, yang disambut dengan suka cita oleh pak Karimun dan bu Karimun, yang sedang menunggu di kamar rawat Fajar.

“Pak, Bu …" sapa Bimo yang kemudian mencium tangan pak Karimun dan istrinya.”

“Kok bisa bareng non Mentari?”

“Saya yang nyamperin mas Bimo ke kantor setelah mengantarkan Sarah Pak.”

“Syukurlah, biasanya setelah pulang kantor dia juga datang kemari.”

“Ibumu sudah kamu kabari kalau kamu ke rumah sakit, Nak?” tanya pak Karimun.

“Sudah Pak, kalau tidak pasti ibu kebingungan setiap Bimo pulang terlambat.”

“Bimo, kamu baru pulang?” tanya Fajar.

“Iya Mas, pulang karena terpaksa. Pak Pranoto menyuruh saya bareng Mentari.”

“Syukurlah.”

“Keadaan Mas bagaimana?”

“Aku sudah merasa lebih baik, hanya dada terkadang masih terasa sesak.”

“Sabar ya Mas, semoga Mas segera sembuh.”

“Aamiin.”

“Tadi pak Pranoto bicara tentang sesuatu yang mengejutkan saya.”

“Tentang apa?”

“Pak Pranoto menyuruh saya kuliah lagi.”

“Bagus sekali, aku setuju.”

“Tapi aku kuliah dengan apa? Aku sungkan kalau harus dibiayai pak Pranoto, tadi aku belum memberi jawaban.”

“Aku juga setuju Mas, nanti kuliahnya bisa bareng-bareng aku,” sambung Mentari yang tiba-tiba nyelonong mendekat.

Bimo tersenyum. Yang terakhir ini membuatnya senang. Kuliah bareng-bareng Mentari? Mau dong, tapi uangnya bagaimana?

“Ide yang bagus.”

“Mas Fajar juga setuju kan, memang saudara kembar seharusnya kompak.”

Bimo melotot menatap Mentari. Fajar kan belum tahu tentang siapa dia sebenarmya.

Mentari meleletkan lidahnya. Pak Karimun dan istrinya sudah ketar ketir, karena pak Pranowo belum ingin mengungkapkan kejadian itu  sampai Fajar benar-benar sembuh.

“Saudara kembar, iya … kami selalu dikira saudara kembar, karena wajah kita yang mirip ya Bim?”

“Kalian memang saudara kembar,” tiba-tiba pak Pranoto dan bu Pranoto sudah ada diantara mereka.

Fajar menatap kedua orang tuanya.

“Bagaimana kalau kalian memang saudara kembar?”

“Memangnya dulu ibu melahirkan anak kembar?” tanya Fajar yang mengira kedua orang tuanya sedang bercanda.

“Bukan ibu yang melahirkan anak kembar, tapi bu Karimun itu,” kata bu Pranoto sambil menunjuk ke arah bu Karimun, yang menundukkan wajahnya, dan air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Tak mengira sore hari itu pak Pranoto berdua sudah ingin membongkar rahasia itu.

“Maksud Ibu?” kata Fajar yang kemudian menatap bu  Karimun yang duduk di atas karpet yang digelar, sambil menitikkan air mata. Fajar juga melihat air mata itu, dan getar yang aneh kembali merayapi hatinya.

***

Besok lagi ua.

Thursday, November 5, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 45

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  45

(Tien Kumalasari)

 

Bu Pranoto mendekat dan mencium kening Fajar, sambil tersenyum. Senyum penuh kedamaian yang menyejukkan. Tapi ia menatap wajah Fajar yang masih dipenuhi tanda tanya, dan sebuah pengharapan.

“Fajar, bukankah Ibu sudah bilang bahwa kamu harus mengedepankan keinginanmu untuk sembuh terlebih dulu?”

“Fajar hanya menginginkan kepastian, agar merasa lebih tenang.”

“Kalau kamu hanya memikirkan keinginanmu itu terus, kamu tidak akan merasa tenang, Nak. Sembuhlah dulu, lalu kita bicara.”

“Perkataan Ibu menunjukkan bahwa Ibu masih tetap tidak suka pada pilihan Fajar.”

“Sayang, mengapa kamu berpikiran seperti itu? Permintaan kamu sudah Ibu catat, jangan lagi memikirkan hal itu dulu. Pernikahan bukan hal sepele bukan?”

“Yang Fajar ingin tahu, apakah Ibu akan menepati janji Ibu. Itu saja.”

Bu Pranoto mengangguk, tapi Fajar menangkap nada keraguan di mata sang ibu. Ia memejamkan matanya lalu diam.

“Istirahatlah, agar kamu lekas sembuh,” bisik bu Pranoto sambil kembali mencium kening Fajar. Fajar bergeming.

Bu Pranoto keluar dari ruang rawat Fajar, diluar ia bertemu Mentari yang datang bersama Sarah.

“Ibu, bagaimana keadaan mas Fajar? Sudah bisa bicara banyak kan?”

Bu Pranoto menatap wajah Sarah, yang kemudian menundukkan wajahnya, lalu meraih tangan bu Pranoto dan diciumnya.

“Sudah selesai ujiannya, kalian jalan-jalan terus?” canda bu Pranoto.

“Tidak Bu, kami dari sekolahan, masih ada yang harus diurus, baru kemari. Mas Fajar lebih baik kan? Aku sama Sarah mau ketemu. Ibu sudah mau pulang?”

“Iya, pak Karimun dan istrinya sebentar lagi datang. Mereka baru makan di kantin, barangkali. Atau .. sepertinya tadi kakakmu pengin bubur dengan opor ayam."

"Wah.. enak tuh."

"Masuklah tapi jangan mengganggunya dulu. Biar dia tidur."

“Baiklah, Mentari masuk ya Bu..”

“Jangan ganggu kakakmu, sepertinya tadi dia tidur," kata Bu Pranoto mengulang lagi pesannya.yang kemudian berlalu.

Mentari menarik tangan Sarah, diajaknya memasuki ruang di mana Fajar dirawat.

“Mas Fajaaar …,” panggil Mentari pelan, seakan lupa pada pesan sang ibu agar jangan mengganggunya, Sarah mencubit lengannya, maksudnya untuk mengingatkan, tapi Fajar yang sebenarnya tidak tidur kemudian membuka matanya. Ada binar memancar dari matanya, ketika melihat Sarah ada bersama Mentari.

“Sarah ….”

“Kok Sarah saja yang disapa, sedangkan aku tidak?” cemberut Mentari.

Fajar tertawa.

“Mentari, adikku sayang ….,” katanya kemudian.

“Kalau sama Sarah, sayang tidak?” kata Mentari, seenaknya.

Fajar tersenyum malu. Ingin dia mengatakan sayang, tapi tersekat ditenggorokan. Ia tahu Sarah sangat polos dan dia belum pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

“Dari mana kalian?” pertanyaan itu yang kemudian dilontarkan.

“Dari sekolah, masih banyak yang harus dilakukan.”

“Sarah mau lanjut kuliah?” kata Fajar.

“Ah, tidak. Mentari yang mau kuliah, aku tidak.”

“Nilai Sarah bagus Mas, harusnya kalau dia mau mengurus, bisa tuh dapat bea siswa.”

“Mengapa tidak, Sarah?”

“Aku harus bekerja. Kasihan Nenek, sudah tua, aku tak ingin Nenek masih terus bekerja. Aku kan masih muda.”

Keduanya terdiam. Mereka tahu apa alasan Sarah. Ada nenek yang harus dirawatnya, karena Sarah sangat menyayanginya.

Ketika mereka sedang berbincang, bu Karimun datang sambil membawa bubur yang tadi dipesan Fajar.

“Ada tamu rupanya," kata bu Karimun.

“Bu Karimun bawa apa?”

“Tadi mas Fajar minta dibelikan bubur, dengan kuah opor ayam.”

“Mana buburnya, biar aku yang suapin Bu. Oh ya kenalkan dulu, ini Sarah, teman sekolah aku. Sarah, ini bu Karimun, sebenarnya dia ….”

Mentari hampir kelepasan bicara dengan mengatakan bahwa bu Karimun adalah ibu kandung Fajar, tapi Sarah mencubit lengannya.

“Iya, aku tahu. Dia kan istri pak Karimun yang setiap hari nungguin aku di rumah sakit.”

Bu Karimun  tersenyum. Ia tahu bahwa Fajar belum mengenal dirinya sebagai ibu kandung, tapi bu Karimun membiarkannya. Bagi bu Karimun, apalah arti sebuah pengakuan, kalau yang diinginkan sebenarnya adalah kehidupan yang penuh cinta kasih bagi anak-anaknya.

“Ini buburnya, sudah saya taruh di piring,” kata bu Karimun.

“Mau makan sekarang , Mas. Aku suapin ya?” kata Mentari.

“Nggak, biar aku makan sendiri.”

“Kamu kan belum boleh bangun.”

“Bagaimana kalau aku saja yang menyuapi?” kata Sarah polos.

Fajar mengangguk, tentu saja. Tanpa kata, itulah memang yang diinginkannya.

Mentari mundur, mengulurkan piring berisi bubur ke arah Sarah, yang tanpa sungkan segera menyuapinya.

“Kalau begini terus, mau rasanya aku sakit terus,” celetuk Fajar sambil tersenyum.

“Eh, nak Fajar tidak boleh ngomong begitu,” tegur bu Karimun.

“Tuh, ngomong yang baik-baik, ucapan itu doa lhoh,” sambung Mentari.

“Habis, kesenengan disuapin gadis cantik,” kata Fajar sambil memeletkan lidahnya.

“Hissh, makan jangan sambil ngomong,” kali ini Sarah yang menegur.

Diam-diam bu Karimun terus menatap Sarah. Jadi gadis itu yang disukai anaknya? Memang tidak aneh. Sarah kan cantik. Ia juga tampaknya cekatan karena bisa menyuapi Fajar tanpa canggung. Tapi walau mengatakan ‘iya’, tampaknya bu Pranoto tidak sepenuhnya bisa menerima. Apakah karena Sarah anak dari orang tak punya?

***

“Biar aku pulang sendiri saja Tari, kasihan kamu, bolak balik menjemput dan mengantarkan aku,” kata Sarah ketika mereka beranjak meninggalkan ruang rawat Fajar.

“Tidak apa-apa, aku kan juga tinggal pulang. Muter sedikit tidak apa-apa. Kalau aku nggak nganterin kamu, nanti aku dimarahi mas Fajar dong,” canda Mentari membuat Sarah terkejut.

“Apa maksudmu? Nggak nyambung ah, apa hubungannya dengan mas Fajar?”

Mentari hanya tertawa lucu, ia hanya menggoda Sarah, karena ia tahu kakaknya suka pada Sarah, hanya belum jelas karena belum pernah bicara serius.

Tiba-tiba Sarah melihat seseorang yang dikenalnya. Wanita cantik yang membencinya karena dirinya orang miskin. Bu Lurah. Walau sudah tahu bahwa bu Lurah juga dirawat karena kejadian kecelakaan itu, tapi Sarah tak ingin membezoeknya. Takutnya malah diusir dan masih ditambah kata-kata yang menyakitkan pula. Tapi ketika itu ia melihat bu Lurah berjalan sempoyongan, sendiri. Lalu tiba-tiba jatuh tertelungkup. Sarah memburunya, lalu menuntunnya.

“Ibu mau ke mana?”

“Mana ruang dokter Harun, dia adik aku, aku harus bicara sama dia.”

“Bukankah Ibu bisa memesan pada perawat jaga agar memanggilkannya?”

“Sudah, tapi dia belum datang juga.”

“Bu, ruangan dokter masuk ke sana, jauh dari sini, sedangkan Ibu tampaknya belum kuat benar. Saya antar dulu ke ruangan Ibu, nanti saya bilang ke perawatnya agar memanggil dokter Harun untuk Ibu, ya.”

“Aku ini tidak sabaran. Maksudku kalau dipanggil itu ya harus segera datang.”

“Barangkali dokter Harun masih ada pasien, atau bagaimana. Sabar ya Bu, mari saya antar ke ruangan Ibu dulu," kata Sarah..

Bu Lurah menurut.

“Tapi tolong panggil dia agar segera datang, aku tak tahan di sini sendirian. Anakku juga kurang perhatian.”

“Baiklah, akan segera saya panggilkan, pelan-pelan jalannya Bu, ke ruang rawat Ibu dulu ya.”

Sarah dengan sabar menuntunnya. Rupanya bu Lurah tidak memperhatikan siapa yang menolongnya. Padahal Sarah sudah berdebar, kalau sampai dia tahu, pasti bu Lurah akan menyemprotnya habis-habisan. Karena itu ia terus berusaha memalingkan wajahnya agar bu Lurah tak melihat wajahnya.

Sarah juga membantu bu Lurah untuk berbaring.

“Kaki Ibu sakit?”

“Paha, habis dioperasi, tulang retak. Sakit sekali.”

“Mengapa Ibu jalan-jalan?”

“Aku kan sudah mengatakan kalau ingin bertemu dokter Harun. Dia itu adikku,” katanya dengan mengulang keterangan tentang dokter Harun yang adalah adiknya. 

Sarah diam saja. Ia kan sudah tahu kalau ibu galak dan sombong itu kakak dokter Harun.

“Sudah, segera panggil dokter Harun, kakiku sakit sekali.”

Sarah menutupkan selimut ke tubuh bu Lurah, dan saat itulah bu Lurah melihat wajahnya dengan jelas.

“Kamu?”

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, November 4, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 44

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  44

(Tien Kumalasari)

 

Bu Pranoto memegang kening Fajar, lalu mengelus pipinya lembut. Masih ada ventilator di wajahnya, sehingga ucapannya sedikit kurang jelas, tapi bu Pranoto mendengar dengan sejelas-jelasnya.

Sudah beberapa kali ia melihat gadis bernama Sarah, saat datang bersama Mentari untuk membezoek Fajar. Benar, gadis itu cantik dan kelihatan cerdas. Mentari juga mengatakan begitu. Anak gadisnya itu selalu memuji-muji Sarah sebagai bintang kelas karena ia memang sangat pintar. Tapi mendengar perkataan Fajar, ia masih harus menimbang-nimbang. Ia juga mendengar bahwa Sarah seorang penjual koran. Biarpun pintar, tapi penjual koran. Ia bersama neneknya yang seorang buruh cuci di kampungnya. Apakah ia mampu bersanding sebagai besan dengan seorang buruh cuci? Sejak awal bu Pranoto tidak suka Fajar kelihatan tertarik pada gadis itu, dan sekarang ia mendengar lagi, bahkan Fajar ingin menikahinya?

“Ibu … sudah berjanji … kalau aku sembuh …” terdengar lagi suara Fajar.

Bu Karimun yang berdiri di bagian bawah kakinya hanya mendengar saja. Ia tak begitu mengenal siapa Sarah. Ada banyak pengunjung membezoek Fajar, dan tidak harus ia mengenal semuanya. Yang mana Sarah, yang ingin dinikahi Fajar?

“Fajar, tenang dulu, pikirkan bahwa kamu belum sehat benar. Kalau kamu tenang, maka ketenangan itu akan membantu kesembuhan kamu. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya?” kata bu Pranoto yang kemudian mencium kening Fajar.

Bu Karimun terharu. Ia tak perlu merasa sakit hati Fajar menjadi milik keluarga Pranoto. Fajar mendapatkan naungan dan kasih sayang yang luar biasa besarnya, yang pastinya tidak bisa dia dan suaminya berikan. Setitik air matanya menetes, bukan karena sakit, tapi karena rasa syukur dan haru.

“Ibu sudah berjanji … memberikan apa yang aku minta …”

“Baiklah, sekarang tidurlah dulu.”

“Janji … Ibu?”

Bu Pranoto mengangguk.

“Janji …. Istirahatlah sekarang, jangan berpikir yang macam-macam.” katanya sambil menepuk tangannya lembut, kemudian berbalik.

Bu Karimun melangkah mendekat ke arah samping. Isak pelan dari napasnya membuat Fajar membuka matanya lagi.

“Kamu … “

“Saya bu Karimun, pembantu bu Saptari.”

Fajar hanya mengangguk. Ada desir halus merayapi hatinya ketika melihat genangan air mata di pelupuk wanita setengah tua itu.

***

“Bagaimana keadaan nak Fajar? Kamu belum cerita banyak, padahal beberapa hari yang lalu kamu berkata bahwa ada cerita menarik diantara kecelakaan yang menimpa dia, " tanya nenek Sarah.

“Mas Fajar sudah selesai menjalani operasi, tapi ia masih harus dirawat. Jantungnya bermasalah karena benturan, atau entahlah, Sarah tidak tahu masalah penyakit. Hanya keadaannya sepertinya semakin membaik, biarpun belum banyak berkata-kata. Sarah juga hanya bisa melihatnya, tanpa bisa berbincang. Dia masih harus banyak istirahat.”

“Ya, kamu sudah mengatakannya soal itu. Tapi kamu mengatakan katanya ada yang menarik, apa itu?”

Sesungguhnya Sarah kelepasan bicara. Ia tahu bahwa Fajar ternyata anak pak Karimun, tukang kebun baru di keluarga pak Pranoto, ayah Fajar. Tapi ada rasa enggan mengatakannya, jangan-jangan hal itu menjadi rahasia mereka, dan ia tak pantas mengatakannya kepada siapapun.

“Kamu itu ngomong nggak jelas, malah membuat Nenek penasaran.”

“Ya karena penyakit mas Fajar itu, Sarah bingung tidak tahu yang sebenarnya.”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahatlah. Apa tidak lelah, bolak balik ke rumah sakit setelah pulang sekolah?”

“Sarah naik mobilnya Mentari, tidak jalan kaki kok Nek.”

“Ya sudah, istirahatlah. Kamu Minggu depan ujian kan?”

“Iya Nek, doakan Sarah ya?”

“Nenek selalu berdoa untuk kamu. Semoga kamu lulus, lalu Nenek carikan suami,” canda nenek Suli, membuat Sarah kemudian mencubit pelan lengan sang nenek yang sudah keriput.

“Itu saja yang Nenek pikirkan. Ogah ah,” katanya sambil lari ke kamarnya, membuat nenek Suli geleng-geleng kepala.

***

“Pak, Bapak tahu tidak, tadi nak Fajar meminta apa pada ibunya?” kata bu Karimun yang tetap menganggap bahwa bu Pranoto adalah ibu Fajar. 

Ia ikhlas karena  keluarga Pranotolah yang menjadi penopang kehidupan bayi kecil merah yang dulu diserahkannya kepadanya.

“Permintaan apa?”tanya pak Karimun.

“Bu Pranoto mengatakan tadi pada Fajar, besok kalau sembuh minta apapun akan ibu berikan. Kamu pengin apa, katanya.”

“Jawab nak Fajar apa?”

“Ia minta diijinkan menikah dengan gadis bernama Sarah.”

“Minta menikah?”

“Iya, dan tampaknya bu Pranoto kurang suka pada gadis itu. Yang mana sih Pak, Sarah itu? Dia pernah ke rumah sakit ini?”tanya bu Karimun.

“O, kalau tidak salah itu teman nak Mentari. Gadisnya cantik memang. Apa gadis itu pacar nak Fajar?”

“Aku tidak tahu. Tapi bu Pranoto sudah berjanji mau mengijinkannya.”

“Ya sudah, kita lihat saja nanti. Mereka sangat menyayangi Fajar, pasti mereka juga akan memenuhi permintaannya.”

“Pak, nanti kalau nak Bimo kemari, aku mau ikut pulang dulu ke rumah bu Saptari ya? Aku tiba-tiba pergi tanpa pamit, hanya nak Bimo yang aku minta agar mengatakannya pada bu Saptari.”

“Ya, pergilah, kata nak Bimo dia juga berharap bertemu kita sih, setelah semuanya terbuka. Tapi kita tidak usah menuntut apa-apa ya Bu, biarlah mereka menjadi anak-anak orang yang mengasuhnya. Kita kan tidak mampu melakukannya.”

“Iya Pak, tentu, aku tahu kok.”

***

Pertemuan bu Karimun dengan bu Saptari memang baru kali itu, setelah Bimo mendatanginya dan mengatakan semuanya.

Ada tangis diantara keduanya. Tangis sesal karena merasa mengabaikan anak kandungnya, dan di sisi bu Saptari tangis syukur karena akhirnya bisa bertemu dengan orang tua kandung Bimo.

“Jangan ambil Bimo dariku, ya Bu,” isak bu Saptari.

“Tidak Bu, sungguh saya dan suami saya ikhlas , karena memang kami tidak mampu, dan kami bersyukur anak-anak kami mendapatkan kasih sayang yang jauh melebihi kasih sayang orang tuanya.”

“Terima kasih ya Bu, tetaplah kita sebagai saudara. Sama-sama memiliki Bimo dengan cara yang berbeda, tapi sama-sama mengasihi dan menyayanginya.”

***

Hari terus berjalan, ujian sekolah Sarah dan Mentari sudah usai, mereka lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan.

Mentari segera mengajak Sarah ke rumah sakit. Fajar sudah lebih baik, tanpa ventilator yang menjadi penunjang pernapasannya.

Tampak cahaya bahagia di wajah Fajar ketika melihat Sarah.

“Cepat sembuh ya Mas?”

“Atas doa kamu. Aku dengar kamu dan Mentari sudah lulus?”

“Atas doa kamu juga Mas,” balas Sarah sambil tersenyum. Keduanya tersenyum. 

Ada makna dibalik senyuman itu, yang semula tak dimengerti terutama bagi Sarah sendiri. Ada apa ini? Suka sama dia? Sarah merasa malu mengakui kebodohannya. Dirinya itu siapa, dan Fajar itu siapa? Lalu tiba-tiba sesuatu melintas. 

"Bukankah Fajar anak pak Karimun yang tukang kebun?” pikir Sarah.

Sarah sudah tahu dari Mentari, tapi Fajar sendiri belum mengetahuinya. Pak Pranoto dan istrinya belum membuka rahasia itu. Menunggu kalau Fajar sudah benar-benar sehat.

Tapi ketika sang ibu berada di sampingnya, Fajar memegangi tangannya.

“Bu, aku sudah sembuh.”

“Kamu sudah jauh lebih baik, tapi dokter belum mengatakan bahwa kamu benar-benar sembuh. Kamu masih harus dirawat dan diawasi perkembangan kesehatan kamu," jawab bu Pranoto.

“Tapi aku sudah merasa sembuh.”

“Baiklah, anak ibu yang ganteng, memang kesembuhan itu yang selalu kita harapkan bukan? Tapi kamu harus sabar ya, nanti akan ada saatnya kamu boleh pulang dan bersama-sama seperti hari-hari yang lalu.”

“Bu ….”

“Ya, Nak?”

“Ibu tidak lupa pada janji Ibu kan?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, November 3, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 43

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  43

(Tien Kumalasari)

 

“Ibu jangan salah paham ya, aku menyayangimu Ibu, sangat,” kata Bimo berkali-kali sambil tak melepaskan pelukannya kepada sang ibu.

“Tapi setelah bergaul dengan orang-orang kaya, kemudian kamu merasa malu menjadi anakku, ya kan?”

“Tidak Bu, sama sekali tidak. Bahkan kalau ditukar dengan emas berlianpun aku akan tetap memilih Ibu. Ibu tetaplah ibuku, milikku, tak ada bandingnya sayangku pada Ibu. Jangan marah ya Bu. Selama ini aku tahu Ibu sangat menyayangi aku, mencintai aku, dan membanting tulang semuanya untuk aku. Ibu tak pernah memarahi aku, hanya sayang yang selalu Ibu berikan untuk aku.”

Bu Saptari luluh mendengar ungkapan cinta dari ‘anak semata wayangnya’, yang menangis terguguk di pangkuannya. Dielusnya kepala Bimo lembut, lalu ditariknya wajahnya yang basah.

“Berdirilah, jangan membuat ibumu ini juga manangis.”

Bimo tak mau berdiri. Ia tetap bersimpuh di lantai, menatap ibunya masih dengan mata sedih.

“Mengapa tiba-tiba kamu mengatakan hal yang seperti itu? Ibu sedih mendengarnya, tahu?!”

Bimo menarik napas panjang. Terpikir olehnya ia tak usah menanyakannya kepada sang ibu. Biarlah ia tetap menjadi anaknya, walau ia terlahir dari rahim wanita manapun. Mengapa tidak? Ia tak kekurangan kasih sayang. Walau tidak bergelimang harta, tapi cinta dan kasih sayang ibunya tak ada duanya. Ia ingin tak usah mengatakan apapun, tapi mulutnya sudah terlanjur berucap. Pertanyaan ibunya tentang mengapa ia menanyakannya, tak mampu dihindari untuk tidak dijawabnya. Ibunya pasti sedang menduga-duga.

“Atau mungkin benar aku hanya anak angkat, yang sudah menjadi miliknya sepenuhnya, yang tak ingin direnggut oleh siapapun juga?” kata batin Bimo.

”Bimo, jawab pertanyaan ibu, mengapa kamu menanyakan hal itu.”

Bimo terdiam untuk beberapa saat lamanya. Diusapnya sisa air matanya, yang sebagian sudah diusap oleh sang ibu.

“Mengapa diam, Bimo?”                                              

“Anggap saja Bimo tak pernah mengatakan apa-apa. Aku sayang Ibu,” katanya kemudian, lirih, penuh keyakinan bahwa ia memang sangat menyayangi ibunya.

“Tidak. Ucapan adalah anak panah yang terlepas, dan tak mungkin bisa ditarik kembali. Kamu sudah menanyakannya, dan sekarang aku bertanya, mengapa. Tak mungkin pertanyaan itu muncul tanpa ada alasannya.”

Bimo menatap wajah ibunya, yang tangannya masih mengelus kepalanya.

“Apakah Ibu akan marah kalau Bimo mengatakannya?”

“Tergantung apa yang akan kamu katakan.”

Bimo ketakutan sendiri.

“Katakan saja. Semarah apapun ibu, tak mungkin kamu akan kehilangan kasih sayang ibumu ini. Bukankah marah bukan berarti benci?”

Bimo menata batinnya. Apapun yang terjadi, bu Saptari tetaplah ibunya.

Lalu dengan terbata ia mengatakan perihal Fajar yang kehilangan banyak darah, dan pendonornya harus orang tuanya sendiri karena darahnya termasuk darah langka yang sulit dicari. Karena itulah kemudian ketahuan bahwa pak Pranoto bukan orang tua kandungnya.

“Apa?” bu Saptari memekik keras karena terkejut.

“Mas Fajar adalah putra angkat keluarga itu. Dan pastinya pak Pranoto tidak bisa mendonorkan darahnya, bahkan seluruh keluarganya. ”

“Lalu orang tuanya sudah ketemu?” 

Sekarang bu Saptari malah terpaku kepada keselamatan Fajar. Ia juga merasa khawatir, apalagi sudah pernah mengenalnya. Fajar juga yang membuat Bimo diangkat derajatnya dari seorang OB menjadi pegawai gudang.

“Orang tuanya, sudah ketemu. Ternyata dia tidak jauh dari kita.”

“Maksudnya ….?”

“Orang tua mas Fajar adalah pak Karimun dan bu Karimun.”

“Apa?” 

Bu Saptari kembali berteriak. Dan tiba-tiba sesuatu melintas. Wanita lusuh dan kusut sedang menggendong bayi, lalu menyerahkan kepadanya dengan satu kalimat pendek.

“Bu, titip anak saya.” 

Lalu ketika kagetnya hilang, perempuan lusuh itu juga menghilang.

“Dia … dia …” tiba-tiba bibirnya berbisik lirih.

“Saat mengaku bahwa mas Fajar adalah anaknya, bu Karimun mengatakan bahwa anaknya terlahir kembar.”

Bu Saptari terpaku ditempat duduknya. Lalu ia mengerti, mengapa Bimo mengatakan hal yang semula membuatnya marah.

Tiba-tiba bu Saptari merangkul Bimo, setelah ia ikutan duduk ngelesot di lantai. Bimo sekarang yang kebingungan melihat sikap sang ibu.

“Perempuan itu … perempuan itu adalah dia ….”

“Perempuan  yang mana Bu?”

“Sekarang aku tahu mengapa kamu tadi menanyakannya, sekarang ibu mengerti. Kemiripan kamu dengan nak Fajar, kemiripan yang bagai pinang dibelah dua, bukan hal yang aneh, karena kalian adalah saudara kembar.”

“Jadi ibu melahirkan dua orang anak laki-laki kembar?” Bimo bingung sampai linglung.

“Anakku, berjanjilah kamu tak akan meninggalkan ibu. Berjanjilah kamu akan tetap bersama ibu."

Dan kali ini bu Saptari yang menangis.

“Apa maksud Ibu?”

“Ibumu adalah bu Karimun. Ibu baru ingat wajah itu.”

“Bimo, anak bu Karimun? Seperti juga mas Fajar?”

“Bukankah dia mengatakan bahwa dia punya anak kembar?”

“Jadi ….”

“Waktu melihat bu Karimun untuk pertama kalinya, Ibu merasa seperti pernah melihat wanita itu, tapi Ibu lupa di mana. Tapi mendengar cerita kamu, Ibu jadi ingat. Memang dialah wanita itu, yang menyerahkan bayinya yang masih merah, ke pangkuan Ibu. Dia hanya berkata titip, lalu menghilang begitu saja. Kamulah anak titipan itu,” kata bu Saptari yang kembali memeluk Bimo, kali ini sangat erat, dan tak bisa menghentikan tangisnya.

“Jadi …”

“Rupanya karena himpitan kehidupan yang serba kekurangan, pak Karimun dan istrinya memilih menitipkan kedua bayinya kepada orang lain, dan berharap sang anak mendapat kehidupan yang lebih baik.”

“Apakah kamu akan meninggalkan ibu, Nak?”

 Bimo memeluk ibunya erat.

“Ibu adalah ibuku. Dari manapun Bimo terlahir, Ibu tetaplah ibuku.” 

Lalu rumah sederhana itu dipenuhi isak tangis yang mengharu biru.

***

Operasi itu sudah berhasil, tapi Fajar belum bisa dikatakan pulih. Ada benturan keras di dadanya yang memerlukan perawatan lebih cermat.

Pak Pranoto dan istri masih sangat prihatin atas keadaan itu. Fajar sudah sadar, tapi ia masih mengeluh sesak napas.

Mereka bersama pak Karimun serta istrinya menunggui di ruang rawat inapnya dengan perasaan yang masih belum tenang.

“Bu Karimun, bolehkah saya meminta sesuatu dari bu Karimun dan tentunya juga pak Karimun?” kata bu Pranoto lirih.

“Apa yang akan Ibu minta? Kami berhutang nyawa pada keluarga Ibu, apapun permintaan Ibu akan kami lakukan.”

“Jangan ambil Fajar dari kehidupan kami,” kata bu Pranoto lirih.

“Mengapa Ibu berkata begitu? Kami sudah sangat berterima kasih atas apa yang sudah Ibu lakukan untuk kami. Tetaplah Fajar menjadi keluarga Ibu dan bapak Pranoto, kalau memang itu yang akan terjadi,” kata pak Karimun.

“Benarkah?”

“Saya puas hanya melihatnya dan melayaninya setiap hari. Tetaplah Fajar menjadi keluarga Pranoto,” sambung bu Karimun.

“Bimo juga akan tetap menjadi putra bu Saptari,” kata pak Karimun lagi, setelah mereka juga sudah bertemu bu Saptari dan membuka semua tabir yang semula mereka tutupi.

“Sejak awal kami mengatakan titip, dan kami sangat bersyukur bahwa anak-anak kami mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari dua keluarga yang merawat mereka.”

“Syukurlah, dan pak Karimun serta bu Karimun juga akan menjadi keluarga kami. Ada pavilyun di samping rumah, di mana kalian bisa tinggal.” kata pak Pranoto.

“Tapi saya juga bekerja di warung bu Saptari, saya akan tetap membantunya.”

“Berangkatlah bekerja dari rumah saya. Ada sopir yang bisa mengantar dan menjemput bu Karimun setiap berangkat bekerja."

“Tidak, jangan Pak, biar setiap hari saya sendiri yang mengantar dan menjemputnya setiap kali dia bekerja.”

“Ya sudah, terserah mana yang terbaik bagi kita. Saya bahagia menemukan keluarga baru."

Tiba-tiba terdengar Fajar terbatuk-batuk.

Bu Pranoto dan bu Karimun menghambur hampir bersamaan mendekat ke arah ranjang, di mana Fajar terbaring lemah.

“Fajar, cepatlah sembuh, semangat ya Nak. Ini pak Karimun dan istrinya juga selalu menunggui kamu,” kata bu Pranoto sambil memegangi tangan Fajar.

Fajar membuka matanya. Ia belum tahu semuanya, karena mereka belum ingin mengatakannya saat Fajar belum sehat benar.

“Fajar, kamu ingin apa? Katakan saja Nak,  Ibu akan memenuhi semua permintaan kamu, asalkan kamu sembuh,” lirih bu Pranoto.

“Benarkah?” suara tersendat terdengar dari bibir Fajar.

“Tentu saja Fajar, kamu ingin apa, kamu mau apa, katakan saja,” bu Pranoto meletakkan tangan Fajar di pipinya.

“Bu, aku mau menikahi Sarah.”

Bu Pranoto tertegun. Dalam sakit .. ia memikirkan sebuah pernikahan? Sarah ... bukan gadis pilihan orang tuanya. Terutama bu Pranoto.

***

 Besok lagi ya.

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 025

  SORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  025 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa menatap laki-laki tinggi besar itu tak berkedip. Seperti m...