SAKITKU ADALAH CINTAKU 22
(Tien Kumalasari)
Pendatang itu dokter Tyas. Ia masuk dengan jas putih seragam dokternya. Lalu menatap Indras dengan tersenyum ramah.
“Maaf, rupanya ada tamu. Biar saya keluar dulu, saya hanya akan mengantarkan makanan untuk dokter Zein,” katanya tanpa rasa bersalah.
“Saya istri dokter Zein, bukan tamu,” kata Indras dingin.
“Oh, maaf … maaf, saya belum pernah bertemu, jadi tidak tahu. Perkenalkan, saya Tyas, bawahan dokter Zein,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
Indras tak menyambut uluran tangan dokter Tyas. Ia menatap dokter cantik itu, yang diyakininya pastilah dia si dokter cantik dengan nama WA ‘BUNDA’. Ia mengenakan jas dokter yang terbuka seluruh kancingnya, sehingga pakaian aslinya kelihatan. Baju ketat dengan kerah terbuka agak kebawah, sehingga menonjolkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan. Ia memang montok, dan tentunya menawan bagi mata laki-laki yang doyan pemandangan seronok. Dia dokter? Kata batin Indras. Bagaimana seorang dokter mampu berpakaian ketat dan menonjolkan lekuk liku tubuh yang begitu menggairahkan?
Dokter Tyas merengut ketika uluran tangannya tak bersambut.
“Saya permisi keluar dulu,” katanya kemudian sambil mengerling ke arah Zein, lalu membalikkan tubuhnya dan melenggang keluar.
Wajah Indras gelap bagai mendung di musim hujan.
“Itukah dokter cantik dengan nama BUNDA?” tanyanya sambil menatap tajam sang suami.
“Jangan membuat keributan di sini. Ini tempat kerja,” tegur Zein dengan wajah tak kalah gelapnya.
“Kalau membuat mata bergairah di tempat kerja? Bolehkah?”
“Indras, jangan membuat aku malu.”
“Tidak, aku mau pergi, tapi aku mau bilang, perempuan itu memalukan,” kata Indras dingin sambil bergegas keluar dari ruangan. Tak lupa ia mengambil minuman yang tadi dibawanya, yang kemudian sesampai di ruang jaga satpam, minuman itu diberikannya.
“Ini untuk saya, Dokter?” tanya satpam yang tentu saja sudah mengenal bahwa Indras adalah seorang dokter, istri kepala dokter di rumah sakit itu.
“Iya, untuk kamu. Udara begini panas, pasti segar minum dawet yang dingin begini.”
“Terima kasih banyak, dokter.”
Indras berlalu ke arah mobilnya, lalu memacunya kembali ke kantor.
Ia lega sudah melihat seperti apa dokter cantik yang dipuja-puja suaminya. O, lalaa.. penampilannya begitu seronok, dan pimpinan dokter yang adalah suaminya itu sama sekali tak menegurnya? Pasti ia lebih suka melihat pemandangan indah yang bagi orang sopan terasa sangat menjijikkan.
“Ya Tuhan, apa yang harus hamba lakukan?”
Ia sadar suaminya sakit, ia bisa sabar menghadapi ketika penyakitnya kumat dan meledak-ledak, tapi ketika dia memperlakukan perempuan lain dengan begitu manis, apakah ia bisa juga bersabar? Itu termasuk penyakitnya juga? Astaga naga. Pasti banyak lelaki suka mengidap penyakit seperti itu. Suka dong, melihat wajah molek tubuh montok dan berpenampilan seronok. Itu sakit? Bukan. Itu adalah moral yang bobrok.
Indras mengusap air matanya lagi. Walau hanya setitik, itu adalah tangisan.
***
Melihat Indras sudah pergi, dokter Tyas kembali memasuki ruangan Zein yang meletakkan kedua tangan di dagunya.
“Dokterku kenapa? Bukannya suka, disamperin istri cantik?”
Zein menurunkan tangannya, tersenyum menatap wajah dokter Tyas yang tiba-tiba saja sudah duduk di hadapannya.
“Kamu bawa apa pula ini?”
“Saya memasak gudeg Jogya, dengan sambal goreng kerecek, ada kerupuk udang pula. Sudah saya siapkan piringnya, mari saya ambilkan nasinya,” kata dokter Tyas yang begitu cekatan melayaninya.
Gudeg sambal goreng kerecek, bukankah itu juga menu makanan yang sering dibuat almarhumah ibundanya?
Rasa rindu mendekap jiwanya. Ibu yang diharapkan bisa menikmati hari-harinya sebagai pimpinan dokter di rumah sakit, sudah tak ada. Bahkan saat wisuda pun ibunya tak sempat melihatnya. Ia kehilangan kebanggaan yang akan dipamerkannya.
“Mengapa Dokter tampak sedih? Apakah istri dokter tadi marah-marah?”
Zein menggelengkan kepalanya.
“Tidak, ini masakan kesukaan almarhumah ibuku, aromanya mengingatkan aku padanya.”
“Oh, ya ampuun. Mengapa Dokter sering menyamakan saya dengan ibu Dokter?”
“Tapi itu benar, entah mengapa.”
“Barangkali memang ditakdirkan agar saya bisa selalu dekat dengan dokter,” katanya sambil tersenyum genit. Tapi Zein justru menatap piring yang sudah berisi nasi dengan lauk yang dibubuhkan oleh dokter Tyas.
“Silakan dimakan, Dok.”
“Kamu?”
“Iya, saya juga akan menemani makan.”
Jadilah ruang kerja sang dokter ganteng menjadi ruang makan yang menggembirakan.
***
Saat berpraktek sudah usai. Ketika Zein hendak beranjak dari mejanya, dokter Tyas masuk dengan tergesa-gesa.
“Dokter, saya lupa memberikan arloji Dokter yang saya simpan kemarin.”
Zein menatap dokter Tyas yang sudah melepas jas prakteknya. Kerah rendah tetap tak terkancing, dan baju dengan atasan serta bawahan ketat tampak begitu menawan.
“Terima kasih.”
Zein menerima arloji tangannya.
“Arlojinya bagus banget.”
“Kamu suka? Tapi ini arloji laki-laki.”
“Iya, saya tahu.”
“Kalau mau akan aku belikan kamu arloji serupa, yang lebih pas untuk perempuan.”
Dokter Tyas melebarkan senyumnya, dan wajahnya tampak berbinar mendengarnya.
“Benarkah?”
“Masa aku harus berbohong? Kamu mau?”
“Tentu saja saya mau,” kata dokter Tyas sambil mengangguk malu. Siapa sih yang tidak suka diberi barang bagus dan mahal?
“Sekarang saya mau pulang dulu.”
“Selamat pulang Dok, salam untuk istri Dokter Zein yang galak,” kata dokter Tyas pelan, tapi jelas didengar oleh Zein.
“Dia bukan galak,” kata Zein sambil berlalu. Entah apa maksud jawabannya itu. Untuk mengatakan bahwa istrinya tidak galak, atau untuk menutupi keburukan istrinya? Zein memang tak suka bergosip tentang keluarganya, apalagi istrinya.
Dokter Tyas menatap punggungnya dengan senyum penuh arti. Senyuman itu seperti mengatakan bahwa lambat laun dia akan bisa menguasai hati sang dokter pujaan.
***
Di rumah, Indras tidak mengatakan apa-apa. Zeinlah yang kemudian mendekatinya dan menegurnya.
“Mengapa kamu tadi datang ke tempat kerjaku?”
“Kan aku sudah bilang kalau hanya mampir, dan membelikan dawet kesukaan kamu?”
“Dawet apa? Mana?”
”Aku bawa lagi, sudah aku berikan kepada satpam.”
“Apa? Kamu berikan kepada satpam?”
“Ya, memangnya kenapa? Bukankah dokter cantik itu sudah membawakan kamu makan siang yang aromanya menggugah selera? Dan bukan hanya aroma makanan itu saja, penampilannya juga sangat menggugah selera bukan?”
“Jangan mencari gara-gara.”
“Kamu yang bertanya duluan, aku jelaskan biar kamu mengerti, dan tentu saja merasa.”
“Kamu memang suka mencari gara-gara. Kamu tidak pernah suka membuat ketenangan di rumah ini.”
”Apa maksudmu aku tidak suka ketenangan di rumah ini? Kamu tidak sadar bahwa kamulah yang tidak membuat tenang keluarga ini.”
“Karena kamu suka mengada-ada.”
“Aku suka mengada-ada?”
“Kamu membuka-buka ponselku, kamu mengikuti ke mana aku pergi. Itu namanya membuat masalah dan keributan.”
“Jangan khawatir, aku tak akan membuka-buka lagi ponselmu, tak akan bisa, karena kamu mengganti passwordnya,” kata Indras sambil beranjak meninggalkannya.
Zein tak pernah mau disalahkan. Zein selalu benar, Zein adalah raja dan pemenang yang tak terkalahkan.
***
Keesokan harinya sepulang dari tempat kerja, Indras mampir ke toko arloji langganannya. Pengait arlojinya patah, dan ia harus menggantinya dengan yang baru. Hari masih siang karena dia memang pulang lebih awal.
Ia heran ketika sebelum sampai di toko langganannya, ia melihat Zein keluar dari sana. Indras mengira Zein pergi dengan perempuan itu, tapi tidak. Zein pergi sendiri. Indras menghentikan mobilnya agak jauh, dan memilih berjalan saja ke arah toko langganan sambil menunggu suaminya pergi dari sana.
Agak lama suaminya masuk ke dalam mobil, sebelum kemudian menjalankannya menjauh.
Indras melanjutkan langkahnya. Tak apa, memang menjadi agak jauh. Ia enggan bertemu sang suami di sana. Ia juga tak mengerti apa yang dikerjakan suaminya di toko arloji itu. Ia jadi ingat, dua hari yang lalu sang suami pulang tanpa mengenakan arloji. Ia tak menanyakannya, hanya menduga, apakah arlojinya hilang, dan karenanya ia akan membeli lagi yang baru?
Indras memasuki toko itu, kemudian mengatakan kepada penjaga toko bahwa ia ingin membetulkan pengait arlojinya yang patah.
Tiba-tiba pemilik toko yang sudah dikenalnya keluar.
“Mengapa dibetulin Dok? Bukankah suami sudah membelikannya yang baru dan lebih bagus pula?”
Indras terkejut.
***
Besok lagi ya.