DARAH CINTA DAN AIR MATA 31
(Tien Kumalasari)
Pak Karimun mengusap peluh yang membasahi wajahnya. Ia berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas. Rumahnya bagus, mewah, kelihatan kalau pemiliknya bukan orang sembarangan. Agak ragu pak Karimun masuk. Tapi tulisan di kartu nama itu jelas mengatakan di situ alamatnya. Ia sangat lelah, dan tentu saja haus. Ia merogoh tas kecil yang dibawanya, dan mengeluarkan botol air minum yang tinggal separo. Sejak lama setiap ia dan istrinya pergi, selalu membawa sebotol air minum. Kalau makanan jarang dibawa, karena memang jarang punya. Tapi pagi tadi istrinya sudah memberinya sarapan yang diberi oleh bu Saptari. Wanita baik yang tak disangka dipertemukan dengan mereka.
Sekarang air minum itu habis ditenggaknya. Pak Karimun berdiri di depan pintu gerbang. Ada seorang penjaga di balik gerbang, yang kemudian mendekatinya, lalu langsung memberinya selembar uang tanpa kata-kata. Pak Karimun menggoyang-goyangkan tangannya. Rupanya penjaga itu mengira dia peminta-minta.
“Saya bukan pengemis.”
“Oh.. maaf. Bapak mau apa?”
“Saya mau mengembalikan dompet ini, yang terjatuh tadi pagi. Bisakah saya bertemu dengan pak Fajar?” kata pak Karimun yang sudah membaca nama di KTP itu.
“Oh, pak Fajar sedang ada di kantor. Mana dompet itu?”
Pak Karimun menunjukkan dompetnya, tapi tidak menyerahkannya.
“Saya ingin bertemu dengan pemiliknya, atau kalau tidak ada, keluarganya.”
Penjaga itu membuka gerbang setelahnya.
“Sebetulnya saya bisa memberikannya nanti kepada pak Fajar, tapi kalau Bapak ingin bertemu dengan keluarganya ya silakan. Barangkali Bapak akan mendapatkan imbalan.”
Pak Karimun mengerutkan keningnya. Perkataan ‘akan mendapatkan imbalan’ membuatnya sedikit tersinggung.
“Saya bukan mengharapkan imbalan. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sesungguhnya pemilik dompet ini pernah menolong saya.”
“Tapi pak Fajar tidak ada di rumah. Yang dirumah hanya nyonya.”
“Kalau begitu pertemukanlah saya dengan nyonya. Ucapan terima kasih akan saya sampaikan kepada nyonya. Nyonya yang Anda maksud adalah ….”
“Ibu pak Fajar.”
“Baiklah, tidak apa-apa dengan ibunya.”
Penjaga itu menutup gerbangnya kemudian mengantarkan pak Karimun ke arah belakang rumah.
Pak Karimun di suruh menunggu di luar pintu, sementara penjaga itu masuk. Tak berapa lama pak Karimun dipersilakan masuk, dan penjaga itu kembali ke depan.
***
Pak karimun dipersilakan duduk di sebuah kursi di pinggir taman, yang tampaknya dipergunakan untuk bersantai dikala senggang.
“Jadi sampeyan itu menemukan dompet anak saya, ini?” kata bu Pranoto ketika pak Karimun menyerahkan dompetnya.
“Saya melihatnya jatuh ketika dia masuk ke dalam mobilnya. Kebetulan ada alamat yang tertulis di KTP nya, jadi saya antarkan dompet itu kemari.”
“Baiklah, terima kasih banyak karena sampeyan sudah bersusah payah mengantarkan dmpet ini. Tunggu sebentar ya,” bu Pranoto tampak mau berdiri, barangkali untuk memberikan sesuatu atau apalah untuk pak Karimun, tapi pak Karimun buru-buru mencegahnya.
“Bu, kedatangan saya untuk mengantarkan dompet ini bukan karena saya minta imbalan. Sungguh, tidak. Saya mengantarkannya kemari karena ingin bertemu dengan pak Fajar.”
“Sampeyan mengenal anak saya?”
“Pak Fajar menolong saya ketika saya mendapat kecelakaan. Mengantarkan saya ke rumah sakit, memberi saya uang dan barang-barang makanan yang diantarkan sopir sampai ke rumah saya. Untuk itu saya ingin bertemu pak Fajar, hanya ingin mengucapkan terima kasih.”
Bu Pranoto menatap laki-laki setengah tua itu lekat-lekat.
“Nanti dulu. Sepertinya Fajar pernah bercerita ketika dia bertugas, lalu menolong orang yang kecelakaan. Namanya … Kar … Karti … eh … lupa saya.”
“Karimun nama saya Bu.”
“Nah, pak Karimun. Iya, Fajar pernah menceritakannya. Malah dia sepulang dari bertugas mampir ke rumah sampeyan tapi rumahnya kosong.”
“Oh, iyakah? Waktu itu istri saya sakit, barangkali saya sedang mengantarkannya ke klinik.”
“Lalu bagaimana sampeyan bisa sampai di sini? Di sini tinggal di mana?”
Lalu pak Karimun menceritakan semuanya, sampai kemudian istrinya diberi pekerjaan oleh seorang pemilik warung, lalu disewakan sebuah kamar untuk dirinya dan istrinya.
“Jadi sekarang bu Karimun bekerja di tukang warung itu?”
“Iya Bu. Kalau saya ya setiap hari mencari-cari pekerjaan. Apa saja saya jalani. Bersih-bersih, membetulkan barang rusak, apa saja, yang penting mendapat uang untuk makan.”
“Sebentar, saya akan menelpon Fajar. Dia pasti senang dompetnya bisa ditemukan. Atau mungkin dia belum sadar kalau dompetnya hilang."
Lalu bu Pranoto menelpon Fajar dan mengatakan tentang dompetnya yang ditemukan oleh pak Karimun.
“Apa? Pak Karimun? Dia yang menemukan dompet Fajar?”
“Iya, katanya jatuh waktu kamu mau masuk ke dalam mobil, entah di mana, Ibu belum menanyakannya.”
“Saya mau pulang sekarang Bu, saya ingin bertemu pak Karimun.”
“Baiklah.”
“Pak, Fajar mau pulang, sampeyan tunggu sebentar ya, biar bibik membuatkan minum.”
“Tidak usah repot Bu, saya sudah minum air bekal saya tadi.”
“Tidak apa-apa. Bibik akan membuatkan minuman yang lebih segar. Bukankah udara sangat panas?”
“Terima kasih Bu.”
***
Dan pertemuan antara Fajar dan pak Karimun terjadi seperti seorang sahabat yang lama tidak bertemu, padahal baru sekali bertemu ketika mengantarkannya ke rumah sakit waktu itu.
“Jadi yang menahan tubuh saya tadi pagi, sehingga saya tidak terjatuh, adalah Bapak?”
“Saya meneriaki pak Fajar, tapi tidak mendengar. Ketika saya duduk melepaskan lelah di bawah pohon di dekat situ itulah saya melihat dompet terjatuh.”
“Ya Tuhan, banyak cara Allah untuk mempertemukan kita ya Pak. Maaf sekali ya Pak, karena terdesak waktu dan harus buru-buru, saya sampai tidak memperhatikan Bapak.”
“Tidak apa-apa, saya mengerti.”
Fajar heran, ia senang sekali bisa bertemu pak Karimun.
“Sekarang pak Karimun tinggal di mana? Bu Karimun di mana?” tanya Fajar yang belum pernah bertemu bu Karimun.
Lalu pak Karimun kembali bercerita tentang keadaannya sekarang.
“Jadi bu Karimun sudah bekerja di warung, dan pak Karimun belum mendapat pekerjaan?”
“Saya mencari seadanya saja Pak.”
“Saya akan bilang pada ibu, apakah sekiranya mau menerima pak Karimun bekerja di sini, tapi sorenya pulang. Kebun di sini luas dan sangat bagus kalau pak Karimun bisa merawatnya.”
“Benarkah?” wajah pak Karimun berseri.
“Saya bilang pada ibu dulu ya Pak.”
***
Dan kegembiraan pak Karimun ditumpahkan kepada istrinya ketika sore harinya mereka bertemu di kamar sewanya.
“Jadi Bapak benar-benar bisa bertemu anak muda yang baik hati itu?”
“Iya, dan aku diberi pekerjaan di rumahnya sebagai tukang kebun."
“Syukur alhamdulilah ya Pak, kita tidak jadi pulang ke rumah yang di tengah kebun itu. Dan mendapat pekerjaan tetap di sini.”
“Yang aku heran, kok ya bisa-bisanya aku ketemu dia lagi.”
“Bapak tidak keliru kan? Nanti seperti mas Bimo, Bapak kira orang yang pernah menolong Bapak.”
“Tidak Bu, kalau itu jelas benar-benar dia. Gara-gara menemukan dompet itu.”
“Lha itu Bapak membawa bungkusan apa?”
“Ini Bu, diberi sama bu Pranoto, baju-baju bekas untuk Ibu, dan baju-baju bekas pak Fajar untuk aku. Biarpun bekas, masih bagus-bagus dan wangi.”
“Kalau saja kita bisa makan minum dan punya tempat tinggal walau sesederhana ini, pasti kita tidak akan memberikan kedua anak kembar kita kepada orang lain,” keluh bu Karimun, lalu matanya berkaca-kaca.
Pak Karimun terdiam, seperti ada yang dipikirkannya, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Bu, anak kita kembar, Ibu berikan kepada dua orang yang berbeda. Ya kan?”
Bu Karimun terdiam. Barangkali ada sesuatu yang melintas dan membuat matanya terbelalak.
“Apakah dia?”
***
Besok lagi ya.