DARAH, CINTA DAN AIR MATA 11
(Tien Kumalasari)
Sarah terkejut, Mentari mengatakan seperti apa yang pernah dikatakannya. Bimo dan Fajar sangat mirip, hanya beda penampilan, karena keadaan ekonomi mereka yang berbeda.
“Mentari, pendapat kamu kok sama dengan pendapat aku, mereka mirip seperti kembar, iya kan?”
“Tapi kakakku tidak terlahir kembar.”
“Iya, aku tahu.”
“Kalian ada-ada saja,” kata Fajar yang kemudian juga ikut turun.
“Sarah, kenalkan dong dengan pacar kamu.”
“Mas Bimo, kenalkan, ini temanku, Mentari, adiknya mas Fajar ini. Eh, tapi jangan ngawur Mentari, dia bukan pacar aku, nanti aku dimarahi pacar dia yang benar-benar pacarnya."
Semuanya tertawa, kemudian saling bersalaman. Mentari tak henti-hentinya menatap keduanya sambil merasa heran, mengapa wajah kakaknya bisa persis dengan wajah laki-laki bernama Bimo ini.
“Aku baru tahu kalau kamu jualan koran. Sini, aku juga beli. Eh, masih berapa itu?”
“Masih banyak, ada lima. Nih, kamu juga beli sementara kakak kamu sudah beli?”
“Nggak apa-apa, nanti aku bagi-bagi ke orang lain, aku ambil semuanya.”
“Semua?”
“Iya, supaya kamu tidak lagi berpanas-panas, nanti kulit kamu jadi hitam.”
“Kulit aku memang sudah hitam, tahu.”
“Nggak, kulit kamu bukan hitam, kuning bersih. Mana korannya, ini uangnya.”
“Sebentar, kembaliannya,” kata Sarah sambil merogoh sakunya untuk mengambil kembalian.
“Nggak usah, kembaliannya buat kamu saja.”
“Mentari….”
Mentari meraih sisa koran di tangan Sarah, kemudian menggandeng kakaknya yang sedari tadi diam sambil tersenyum-senyum.
“Sarah, pergi dulu ya. Bimo ….” Fajar melambaikan tangannya ke arah Bimo, yang membalasnya dengan hangat.
Ketika mereka berlalu Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dia teman kamu?”
“Mentari itu teman sekolah aku, yang ternyata adiknya mas Fajar. Aku baru tahu ketika datang memenuhi undangan temanku yang ulang tahun.”
“Teman kamu orang-orang kaya,” kata Bimo.
“Kebetulan saja aku diterima di sekolah anak orang-orang kaya.”
“Ayo mas, aku traktir minum es kelapa muda di sana itu.”
“Apa? Masa kamu mentraktir aku, bukan kebalik nih, aku yang harus mentraktir.”
“Kata siapa mengharuskan Mas yang harus mentraktir? Aku sedang banyak rejeki nih, ada baiknya kita berbagi. Ayo Mas, udara sangat panas, pasti segar minum es kelapa muda,” kata Sarah yang langsung berjalan ke arah penjual es di depan mereka.
***
“Sebenarnya Mas sudah lama kenal Sarah ya?” tanya Mentari dalam perjalanan pulang.
“Belum lama, baru beberapa minggu ini, setiap pulang kantor, dia selalu menjajakan koran di perempatan sana tadi.”
“Jadi karena itu Mas kemudian kenal?”
“Iya.”
“Ketika di pesta ulang tahun teman aku itu, Mas juga ketemu dia?”
“Aku bahkan mengantarkan dia pulang.”
“Apa? Jadi ketika aku mencari-cari Mas, dan teman-teman juga mencari Sarah itu ….”
“Aku sudah mengantarkannya pulang. Tadinya menolak, aku kasihan dia pulang sendiri, kan sudah mengenal dia siapa.”
“Ya ampuuun, mengapa juga dia pulang lebih dulu?”
“Mungkin merasa tidak sepadan dengan kalian.”
“Itu perasaan dia. Kasihan juga, ada yang menghina dia waktu itu sih, katanya pakaiannya dan sepatu yang dipakainya tidak pantas. Aku kesal sama teman aku itu. Sarah itu pintar dan baik hati, jadi banyak yang suka dia.”
“Mungkin karena itu, mengapa dia pergi.”
“Kalau saja aku tahu waktu itu, aku pasti memaksanya tinggal.”
“Dia keluar ketika kalian masih menyanyi-menyanyi ….”
"Kasihan, aku sih tidak merasa dia itu rendahan. Di sekolah aku, semuanya sama. Memang sih, ada yang nggak suka dia, mungkin karena iri, kalah pintar. Tapi lebih banyak yang suka.”
“Wajar kalau ada orang yang berbeda pandangan. Kamu jangan ikut-ikutan. Kaya atau miskin itu hanya sandangan. Semuanya sama dimata Allah, ya kan?”
“Iya, aku tahu, apalagi dia itu baik dan pintar. Aku sering bertanya tentang pelajaran sama dia.”
***
“Mengapa kalian membeli koran sebanyak ini?” teriak sang ayah ketika Fajar dan Mentari pulang sambil meletakkan tumpukan koran di meja.
Mentari tertawa.
“Sama semua ya?”
“Ini sama, mending kamu beli yang berbeda.”
“Teman Mentari yang jual koran, karena kasihan, Mentari beli koran jualan dia yang tersisa.”
“Teman kamu jualan koran?”
“Iya. Ternyata dia langganan mas Fajar yang setiap pulang kantor beli koran dagangan dia.”
“Tapi kemudian kamu membeli koran sebanyak ini?” sambung sang ibu.
“Kasihan Bu, udara sangat panas, kalau korannya habis dia kan bisa langsung pulang.”
“Anak Ibu memang baik hati. Teruslah begitu ya Nak, penuh kasih sayang kepada sesama,” kata sang ibu sambil mengelus kepala anaknya.
“Rumahnya di mana?”
“Sepertinya tidak jauh dari tempat itu. Kalau sekolah dia juga hanya jalan kaki. Jadi dari situ itu tidak jauh dari rumahnya, dan tidak jauh dari sekolah kami.”
“Teman sekolah kamu?” tanya bapaknya.
“Iya Pak, teman sekolah. Dia dari keluarga sederhana, tapi dia pintar, Mentari sering belajar sama dia dan menanyakan banyak hal.”
“Ternyata rajin dan pintar.”
“Tadi tuh Bu, ketika mas Fajar berhenti di sana untuk membeli koran, ada teman Sarah yang menemani di sana, seorang laki-laki.”
”O, dia sudah punya pacar?”
“Dia bukan pacarnya," celetuk Fajar yang sejak tadi diam.
“Iya, katanya memang bukan, tapi yang membuat Tari heran Bu, wajah teman Sarah itu sama persis dengan wajah mas Fajar.”
“Sama persis bagaimana?”
“Ya sama, seperti kembar.”
“Apa? Kembar?”
“Bukankah mas Fajar tidak dilahirkan kembar?”
Pak Pranoto saling pandang dengan istrinya, lalu keduanya geleng-geleng kepala.
“Jangan bercanda. Ayo kita makan siang, ruang makan sudah ditata, hanya menunggu kalian pulang,” kata sang ibu sambil berdiri.
Mentari menggandeng tangan kakaknya, mengajaknya mengikuti sang ibu.
Sambil berjalan itu, Fajar mengomeli adiknya.
"Kamu sama saja dengan Sarah, mempermasalahkan wajahku dan wajah Bimo yang menurut kalian adalah mirip,” omel Fajar tak terima.
Mentari hanya ngengir, tak peduli protes sang kakak. Menurutnya, memangnya kenapa kalau mirip?
***
“Syukurlah, kamu menepati janjimu, pulang cepat," kata nenek Suli.
“Iya Nek, karena ada yang memborong koran aku.”
“Memborong koran? Masa koran diborong? Mau dijual lagi, gitu?”
“Tidak, ada teman Sarah, yang membeli sisa dagangan koran Sarah, katanya mau dibagi-bagi, entah dibagi ke mana. Pokoknya koran Sarah laku dan dia juga memberi uang lebih.”
“Dia baik hati benar. Itu teman kamu?”
“Teman sekolah Nek, anak orang kaya.”
“Ya sudah, cuci kaki tanganmu, ayo kita makan.”
“Nek, ada teman Sarah yang datang kemari.”
“Teman kamu?”
“Iya, dia ingin tahu di mana rumah Sarah.”
“Mana dia?”
"Ada di depan Nek, apa boleh mengajak dia makan siang sekalian?”
“Masakan Nenek kan masakan yang sederhana, kalau disuguhkan tamu, apa tidak malu-maluin?”
“Dia baik Nek, pasti mau, Ayo Nenek temui dia dulu, dia benar baik.”
“Kamu suka sama dia?” tanya nenek Suli penuh selidik.
“Tidak Nek, rumahnya dekat dengan tempat Sarah menjajakan koran. Kami hanya berteman, dia baik, suka membantu menjualkan koran Sarah juga. Beneran, dia baik, ayo Nenek temui dia dulu,” kata Sarah sambil menggandeng tangan Nenek diajaknya ke depan.
Bimo duduk di kursi kayu depan rumah, sambil menundukkan wajahnya. Tadinya dia hanya ingin tahu di mana rumah Sarah, tapi Sarah memaksanya singgah.
“Mas Bimo, ini nenek aku.”
Bimo berdiri, menyalami tangan nenek Suli dan menciumnya. Tapi nenek Suli menatapnya tajam.
“Namamu Bimo?”
“Iya, Nek.”
“Kamu anaknya Saptari?”
Bimo menatapnya heran.
“Entah benar atau tidak, aku dulu tetanggaan dengan Saptari, anaknya laki-laki, waktu itu, masih kecil,namanya Bimo. Wajahnya kok mirip kamu. Mungkin mata tuaku salah.”
“Nenek, memang benar, ibu saya bernama Saptari.”
***
Besok lagi ya.