Wednesday, August 12, 2026

AKU ANAK SIAPA 09

 AKU ANAK SIAPA  09

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap ke arah toko emas yang ditunjuk Senja.

“Iya kan, betul kan, dia?”

“Sepertinya iya.”

“Dia mau membeli perhiasan?”

“Atau malah menjual perhiasan. Barangkali dia masih punya cincin atau apa yang akan dipergunakannya untuk makan. Bukankah dia sudah tidak lagi bersama keluarga pak Daryono? Pasti dia butuh makan atau apa.”

“Sepertinya penampilannya sudah berbeda. Tapi apa ya hubungannya dengan satpam toko pakaian yang dulu pernah kita hampir kesana?”

“Istrinya barangkali.”

“Sepertinya bukan. Cara boncengnya tidak seperti membonceng suami. Lagi pula satpamnya itu cukup tua. Masa Rosa mau?”

“Entahlah, mengapa tiba-tiba membahas dia.”

“Ibu, kapan Satria turun?” tiba-tiba Satria berteriak kesal. Keduanya baru sadar kalau sedang berbincang tentang hal yang bukan urusannya.

“Eh, iya. Ayuk kita turun.”

Barulah Arka dan Senja turun, lalu menurunkan Satria juga, yang tangannya dipegang erat oleh ayahnya, takut lari-lari seperti biasanya.

Sampai keduanya masuk ke dalam toko, belum tampak Rosa keluar dari toko emas itu. Dan Arka maupun Senja segera melupakannya karena merasa bukan urusannya.

***

Tapi tak lama setelah itu, Rosa keluar dengan wajah sumringah. Ia berjalan sambil melihat-lihat. Sepertinya ada yang dicarinya. Ia punya uang sekarang, dari penjualan gelang yang berhasil dicurinya.

“Sebaiknya aku membeli ponsel. Aku tak bisa menghubungi siapapun kalau tak punya ponsel. Tapi tidak, nanti ketahuan pak Gatot, apa jawabku, kenapa aku bisa memiliki ponsel?”

Rosa terus berpikir untuk sesuatu yang diinginkannya. Kebenciannya kepada Senja. Ia belum merasa puas kalau Senja masih hidup bahagia.

Sekarang dia butuh berpikir, dan dia butuh teman.

“Bagaimana ya aku menghubungi dia, kalau sore waktunya sempit, nanti pak Gatot bisa curiga. Kalau pagi atau siang aku harus bekerja. Kalau aku ijin, padahal aku kan bekerja belum lama, nanti kesan nyonya Surani pasti buruk. Aku masih membutuhkan uangnya, jadi aku harus berhati-hati."

Rosa melihat seorang penjual makanan, lalu ia membelinya. Hanya gorengan yang sebelum ini ia tak pernah menjamahnya. Bukankah dia orang kaya? Tapi sekarang tidak lagi. Rosa adalah anak angkat seorang satpam. Keluarga sederhana, kalau tak bisa disebut miskin.

Ia membelinya karena ketika pamit tadi dia pengin jalan-jalan untuk membeli camilan.

Setelah itu ia mencari ojol, agar membawanya pulang ke rumah pak Gatot.

***

“Dari mana saja kamu?”

“Kan saya bilang jalan-jalan karena ingin membeli camilan?”

“Di depan banyak orang menjual camilan.”

“Maksudnya sambil jalan-jalan Pak. Sudah lama tidak jalan-jalan dengan perasaan senang.”

“Iya, wajahmu tampak berseri-seri. Rupanya jalan-jalan membuat pikiranmu lebih tenang.”

“Benar Pak, tadi terasa sangat tertekan. Sungguh saya merasa berdosa karena gelang non Sisi hilang saat bersama saya.”

“Ya sudah, tidak usah dipikirkan, nyonya Surani adalah majikan yang baik. Dia sudah bisa menerima kehilangan itu. Kecuali dia kaya, yang pastinya tidak begitu menyusahkan kalau hanya kehilangan sebuah gelang, ia juga wanita yang baik. Ia baik kepada siapa saja, kepada para karyawannya dia juga sangat menghargai. Bersyukurlah kamu bisa diterima bekerja, walau hanya menjadi pengasuh anak-anak.”

“Itu karena Bapak yang sangat baik kepada saya.”

“Jangan lagi berkata begitu, seorang ayah baik kepada anaknya, bukankah itu wajar?”

“Terima kasih telah menganggap saya sebagai anak Bapak.”

“Oh ya, ini apa … kamu membawa bungkusan hanya diletakkan begitu saja. Makanan ya?”

“Iya Pak, sampai lupa, sebentar saya ambilkan piring,” kata Rosa sambil langsung beranjak ke belakang untuk mengambil piring.

Mereka berbincang sambil makan camilan, sampai malam, dan Rosa pamit akan tidur karena lelah.

***

Tapi Rosa tidak segera tidur. Ia sudah punya uang, walau tidak terlalu banyak. Entah mengapa, walau diangkat anak orang kaya, tapi jiwa ketidak jujuran sangat meresap di tubuhnya. Ia suka berbohong, mencuri makanan dan sekarang dengan akal licik ia berhasil mencuri gelang anak yang diasuhnya. Jauh bedanya dengan pak Daryono dan istrinya yang memiliki budi luhur dan mulia. Pastilah mereka tidak mendidiknya menjadi orang jahat, tapi entah mengapa, tetap saja dia melakukannya. Darah siapa yang mengalir di tubuh Rosa? Darah orang jahat, darah orang yang tidak jujur, darah penipu, pencuri dan pembohong?

Entah mengapa, Rosa bisa melakukannya.

“Kalau aku masih ada di sini, sangat sulit aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Bagaimana ya caranya supaya aku bisa pergi dari sini? Minggat? Tak mungkin, karena aku bekerja pada majikan pak Gatot juga.”

Menjelang pagi ia baru bisa tertidur, dan pak Gatot terpaksa membangunkannya karena sudah saatnya mereka berangkat bekerja.

Rosa bergegas mandi dan segera bersiap karena pak Gatot sudah menunggu.

“Mengapa bangun kesiangan? Semalam tidak bisa tidur?”

”Iya Pak, entah mengapa, saya selalu dibayangi rasa bersalah, sampai-sampai ada rasa takut untuk masuk bekerja,” katanya dengan wajah sendu.

“Bukankah sudah aku katakan kalau nyonya Surani itu seorang yang baik? Ayolah, masuk saja dan lihat, apakah dia masih marah atau tidak.”

“Ada rasa menyesal dan takut Pak.”

“Ayolah, kita berangkat saja. Kalau kamu tidak mau masuk kerja, nanti bu Surani malah berpikir buruk tentang kamu.”

Rosa membonceng dengan pura-pura sedih, dan disepanjang jalan pak Gatot terus menghiburnya.

Ia juga terus menampakkan wajah sedih ketika bertemu nyonya Surani.

“Mengapa kamu terus menundukkan wajahmu, Rosa?” tegur sang nyonya majikan.

“Saya selalu merasa berdosa, dan bekerja dengan ceroboh.”

“Ya sudah, lupakan saja. Itu sebagai peringatan untuk kamu, agar untuk selanjutnya kamu bekerja dengan lebih baik.”

“Maafkan saya, Nyonya.”

“Aku sudah memaafkan kamu. Bekerjalah dengan lebih baik,” kata nyonya Surani sambil berangkat pergi.

Wajah Rosa langsung berseri. Ia masuk ke arah belakang, melihat Sisi sedang digendong bibik.

“Lhoh, non Sisi kenapa minta gendong bibik?” kata Rosa sambil mengambil Sisi dari gendongan bibik.

“Ajak dia bermain di taman belakang saja Mbak, kejadian kemarin jangan sampai terulang lagi.”

“Iya Bik, saya salah.”

“Nyonya sangat baik hati. Asalkan Mbak bisa bekerja lebih baik, nyonya pasti suka.”

“Iya, saya tahu. Oh ya Bik, apakah di dekat-dekat sini ada rumah kost-kostan ya?”

“Apa? Mbak Rosa mau nge kost?”

”Maksud saya begitu, supaya tidak merepotkan bapakku.”

“Lha kan lebih enak pulang pergi bareng pak Gatot, mengapa harus kost segala.”

“Terkadang bapak sudah saatnya pulang, tapi pekerjaan saya belum selesai. Bapak kan sudah tua, nanti dia kelelahan.”

“Kalau setahu saya di dekat situ ada rumah untuk kost-kostan. Tapi masuk gang.”

“Jauhkah dari sini?”

“Nggak begitu jauh, coba saja, saya juga tidak begitu paham.”

“Nanti kalau non Sisi tidur, saya titip sebentar ya, mau coba bertanya-tanya.”

“Ya Mbak, terserah Mbak saja, tapi jangan lama-lama. Terkadang nyonya pulang untuk makan siang. Nanti pasti ditegur karena meninggalkan non Sisi.”

“Saat lagi tidur saja, dan tidak lama. Kan tidak jauh?”

***

Pak Gatot terkejut ketika Rosa mengatakan ingin pindah dari rumahnya, saat mereka baru saja memasuki rumah.

“Mengapa Ros, di sini kan tidak apa-apa, kamu tidak kehilangan biaya transport, karena berangkat dan pulang bisa bareng aku.”

“Soalnya ketika Bapak sudah saatnya pulang, terkadang pekerjaan saya belum selesai. Saya kasihan, Bapak harus menunggu.”

“Tidak apa-apa, kan tinggal pulang.”

“Jangan Pak, tadi saya sudah mendapat rumah kost itu, bayarnya murah. Mulai besok saya mau pindah ya Pak.”

Pak Gatot terkejut, sekaligus bersedih. Alasan Rosa masuk akal, tapi ia sudah terlanjur senang bisa memiliki anak.

“Bapak pasti kesepian.”

“Saya akan sering pulang kalau libur, Bapak tak usah khawatir.”

Rosa beranjak langsung ke kamarnya, tapi tiba-tiba sesuatu jatuh dari dalam tasnya. Sebuah dompet. Pak Gatot mengambilnya.

***

Besok lagi ya.

 

 

Tuesday, August 11, 2026

AKU ANAK SIAPA 08

 AKU ANAK SIAPA  08

(Tien Kumalasari)

 

Bu Surani terkejut. Ia hampir berteriak sambil terus mengendarai mobilnya.

“Hilang? Bagaimana bisa hilang? Sudah dicari di sekeliling rumah? Di kamar barangkali?”

“Hilangnya tidak di rumah, Nyonya.”

“Tidak di rumah? Di mana? Memangnya Sisi pergi ke mana?”

“Jalan-jalan sama mbak Rosa ke taman tiba-tiba mereka pulang, mbak Rosa menangis sampai sekarang belum berhenti.”

“Sudah di cari di sepanjang perjalanan dari taman ke rumah?”

“Sudah Nyonya, saya juga membantu mencari, tapi tidak ketemu, barangkali sudah ditemukan orang lalu dibawa pergi."

“Ya sudah, aku mau pulang ini.”

Bibik meletakkan gagang telpon rumah, lalu menghampiri Rosa yang masih saja menangis terisak-isak.

“Sudah Mbak, jangan menangis terus, nanti non Sisi ikutan menangis lagi. Dia sudah tenang sambil minum susu di kamar,” kata bibik.

“Saya takut sekali Bik. Menyesal tadi membawa non Sisi jalan-jalan.”

“Namanya orang lagi apes, ya sudah, berhenti menangis, barang hilang nggak bakalan ketemu walau ditangisi sehari semalam.”

“Saya takut Bik, kalau harus mengganti, dengan apa saya menggantinya? Saya orang miskin,” lalu Rosa menangis lagi.

Tangisnya semakin keras ketika bu Surani sudah tiba di rumah.

"Memangnya kenapa kamu mengajak Sisi keluar?”

“Saya merasa non Sisi sebaiknya diajak jalan agar bisa melihat-lihat. Di taman pemandangannya indah, dia suka melihat bunga-bunga.”

"Ketika dia minta gendong mungkin karena capek, saya melihat gelangnya tidak ada. Saya bingung mencarinya, disekitar taman, di tempat di mana tadi non Sisi bermain, tapi tidak ketemu. Saya pulang juga sudah mencari di sepanjang jalan. Bibik juga membantu, tapi tidak ketemu, Nyonya," lanjutnya.

“Ya sudah tidak usah menangis lagi. Lain kali jangan sampai kamu mengajak Sisi keluar rumah tanpa ijin dari aku.”

“Saya bingung Nyonya, dengan apa saya menggantinya? Saya orang miskin, tidak punya apa-apa.”

“Siapa yang menyuruh kamu mengganti?” kata bu Surani, masih dengan wajah muram.

“Saya minta gaji saya dipotong semuanya, dan saya akan bekerja tanpa digaji, sampai harga gelang itu lunas.”

“Tidak usah. Aku hanya minta kamu berhati-hati dan lebih teliti.”

Rosa mengusap wajahnya yang sembab, kemudian ambruk ke lantai dan merangkul kaki bu Surani sambil meratap pilu.

“Saya menyesal Nyonya, lain kali saya akan berhati-hati, saya memang ceroboh, kalau punya uang, saya pasti akan menggantinya.”

“Sudah, sudah … tidak usah diulang-ulang lagi,” katanya sambil menarik lengan Rosa agar berdiri, kemudian dia masuk ke kamar anaknya. Sekaya apapun, saat kehilangan pasti rasa kecewa itu ada.

Sisi berteriak senang melihat ibunya pulang. Botol susu yang semula dipegangnya kemudian dilempar, lalu lari tertatih menuju ke arah ibunya.

“Mmaaa ….”

“Sisi, gelang kamu hilang satu ya? Dilepas saja sekalian yang satu ya, tidak usah pakai gelang.”

Sisi yang belum mengerti apa-apa  membiarkan sang ibu melepas gelang di tangan kanannya.

Tapi Sisi berteriak ketika bu Surani mau melepas antingnya. Barangkali agak sakit. Lalu bu Surani membiarkannya.

“Sisi jangan main ke mana-mana kalau tidak bersama Mama ya?”

Sisi menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berlari keluar kamar. Rosa sedang duduk di sebelah pintu luar, ngelesot di lantai. Sisi segera menarik tangannya, membuat Rosa harus berdiri, kemudian mengikuti langkahnya ke ruang bermain.

Bu Surani merasa sudah cukup menyesali sebuah gelang yang hilang. Tidak murah, tapi mau bagaimana lagi.

Ia menuju ke dapur dan pamit sama Bibik.

“Bik, aku mau ke kantor ya, awasi Sisi, jangan boleh keluar rumah. Di belakang juga ada taman, mengapa Rosa mengajaknya keluar,” sesalnya.

“Tadi sudah saya peringatkan, tapi mbak Rosa tampaknya yang ingin jalan-jalan.”

“Ya sudah, tidak usah diingat-ingat lagi, semuanya sudah terlanjur, aku sudah ingatkan Rosa agar lain kali tidak membawa Sisi pergi keluar.”

“Ya, Nyonya.”

Bu Surani segera keluar menuju ke arah mobilnya. Rosa menunggui Sisi bermain, dan merasa lega.

“Mbak Rosa, pintu depan dikunci saja.”

“Iya Bik,” katanya sambil mengusap sisa air matanya.

***

“Bagaimana sampai gelang itu bisa hilang?” tanya pak Gatot ketika sudah berada di rumah.

“Saya hanya ingin mengajaknya jalan-jalan, saya menyesal sekali ," jawab Rosa pelan.

“Untunglah bu Surani itu orang baik, jadi dia tidak mempermasalahkan atau meminta kamu menukarnya. Harga gelang itu pasti tidak murah. Jutaan rupiah.”

“Iya, itu sebabnya saya sangat menyesalinya. Gelangnya lumayan berat. Kalau ingat hal itu saya sedih sekali.”

“Ya sudah, bu Surani sudah memaafkan. Tadi ketika dia mau keluar, aku juga sudah mendekat dan meminta maaf, soalnya bu Surani tahunya kamu itu anakku.”

“Jadi menyusahkan Bapak juga.”

“Semuanya sudah terlanjur. Semua itu bisa kamu jadikan pelajaran agar selanjutnya kamu lebih berhati-hati.”

Rosa mengangguk, menampakkan wajah yang sangat sedih. Pak Gatot menepuk bahunya untuk menenangkannya.

“Sudah, mandi sana.”

“Pak, saya pengin jalan-jalan sore ini. Nanti setelah mandi.”

“Oh ya? Bapak antar?”

“Tidak usah Pak, cuma pengin jalan-jalan saja kok.”

“Jangan jauh-jauh.”

“Tidak, pengin beli cemilan saja.”

“Kamu masih punya uang?”

“Masih ada. Lagian sebentar lagi saya gajian, ya kan?”

Pak Gatot tersenyum. Ia merasa lega akhirnya Rosa bisa mendapat penghasilan.

“Besok kalau menerima gaji, belilah semua keperluan kamu.”

“Nanti akan Rosa beri separo untuk Bapak.”

“Apa? Mengapa kamu berikan separo untuk bapak?”

“Selama ini Rosa menjadi beban Bapak, sudah sepantasnya saya memberikan gaji saya.”

“Tidak. Bapak masih punya gaji yang cukup, Semuanya untuk kamu sendiri saja. Masalah makan nanti minta sama bapak.”

“Bapak sangat baik pada Rosa.”

“Bukankah Rosa sudah bapak anggap sebagai anak bapak sendiri?”

“Terima kasih banyak, Bapak.”

“Sudah, katanya mau jalan-jalan, mandi sana.”

Rosa tertawa kecil, lalu menuju ke kamarnya, bersiap mandi.

***

Senja menghampiri suaminya yang sedang santai di ruang tengah. Satria duduk di pangkuannya.

“Mas, kemarin itu belum jadi beli baju untuk bibik lhoh. Bagaimana kalau sekarang saja”

“Aku ikuttt,” belum-belum Satria berteriak, membuat ayah dan ibunya terkekeh geli.

“Kalau mau ikut ganti baju sana,” kata sang ayah.

“Kita pergi Mas?”

“Iya, kan Satria sudah aku suruh ganti baju.”

“Baiklah, aku begini saja, tidak usah ganti baju ya?”

“Tidak apa-apa kamu tidak ganti baju, kamu memakai apapun kan sudah cantik.”

“Sore-sore ada rayuan gombal nih.”

“Emang kamu cantik kok. Tapi sebentar, aku yang harus ganti, masa aku memakai sarung begini.”

“Iya, buruan, aku mau melihat Satria dulu, sudah benar tidak pakai bajunya."

“Ibu, aku sudah selesai,” tiba-tiba Satria sudah berteriak sambil keluar dari kamarnya.

“Wah, anak Ibu memang pintar, sini Ibu benahi rambutnya, berantakan begitu, belum disisir ya?”

“Ibu saja yang nyisirin. Pakai jambul ya bu?”

“Iya, beres.”

***

Masih agak sore ketika mereka memilih-milih toko, dan Arka belum menghentikan mobilnya.

“Hanya untuk bibik, atau untuk kamu juga?”

“Untuk Satria dong Pak.” pekik Satria

“Ya, untuk Satria juga, ibu tidak usah, baju Ibu masih cukup,” kata Senja.

“Ok, baiklah. Yang di depan itu kan toko pakaian."

Arka menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian. Satria selalu ingin melompat turun lebih dulu, tapi kali itu Senja melarangnya.

“Satria, ingat ya, kamu buru-buru keluar, lalu kamu jatuh.”

“Satria hanya turun, tidak akan lari.”

“Tunggu ibu dulu, nggak boleh turun.

Tapi sebelum Senja turun, ia melihat seseorang.

“Mas, lihat, itu non Rosa bukan?”

“Mana?”

“Itu, yang ada di toko emas.”

***

Besok lagi ya.

 

Sunday, August 9, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 012

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN PUTRI KECIL  012

(Tien Kumalasari)

 

Rahman menatap ibunya heran. Seakan tak percaya akan apa yang didengarnya. Bukankah om ganteng itu baik, mengapa dirinya tak boleh bertemu dengannya?

“Kamu mendengar apa yang ibu katakan bukan?”

“Tapi Rahman tidak percaya. Bukankah om itu baik?”

“Karena dia sudah mengajakmu makan enak? Jalan-jaan dengan kudanya?”

“Om itu mengajari Rahman, bagaimana Rahman harus menyayangi dan menghormati ibu.”

Menur terdiam. Itu benar, Baroto baik, bukan hanya karena mengajaknya makan dan berjalan-jalan naik kuda, tapi juga memberi petuah yang baik dan yang mampu membuka hati Rahman sehingga mengerti apa arti seorang ibu bagi kehidupannya. Apa yang salah pada diri Baroto?

Yang salah adalah dia hampir yakin bahwa Rahman adalah dagingnya. Menur tidak ingin hal itu terjadi. Kalau Baroto sampai tahu, bukan tak mungkin Rahman akan diambilnya. Tidak, Menur tak mau kehilangan anak semata wayangnya. Biarlah miskin, tapi dia akan berusaha menjadikannya orang yang berguna. Menur tak mau itu. Atau juga, Baroto akan bersikeras mengambilnya menjadi istri sahnya. Tidak, mana mungkin Menur bersedia? Baroto punya istri, punya keluarga. Walau bukan keluarga harmonis karena tidak saling mencintai, tapi nyatanya mereka adalah keluarga. Menur tak mau merusaknya.

“Mengapa Ibu diam? Apa salahnya kalau Rahman bertemu om ganteng itu?”

“Ibu hanya tidak suka,” jawab Menur singkat, lalu ia meninggalkan anaknya yang masih bengong tak mengerti.”

***

Di rumah keluarga Rahman. Nyonya Baroto sedang ditegur ibunya habis-habisan. Nyonya Pramono, sang ibu, memberikan Ana saat masih bayi, dengan pesan agar dididik dengan baik, dan diberikan kasih sayang. Ana menjadi anak baik, bukan karena didikan ibu angkatnya, tapi oleh guru sekolah yang datang hampir setiap hari untuk memberi pelajaran sekolah dan budi pekerti. Tapi Ana tak suka pada ibunya, yang tampak sekali tidak mencintainya. Ana hangat akan pelukan dan kasih sayang, lalu tiba-tiba Ana menemukan pelukan hangat dari seorang pengais sampah. Siapa salah?

“Mama tidak mengerti, yang diinginkan menjadi pengasuk Ana itu seorang pengais sampah. Kotor dan bau.”

“Apapun atau bagaimanapun dia, Ana menyukainya. Entah karena apa, Ana begitu menginginkannya.”

“Jadi Mama bersikeras untuk memenuhi permintaan Ana?”

“Tentu saja. mama tak ingin Ana bersedih hanya karena keinginannya tidak terlaksana. Ana anak baik, mama sangat menyayanginya. Walau begitu mama akan mengawasi orang itu, kalau dia benar baik, boleh lanjut, kalau tidak, tidak usah dilanjutkan.”

“Baiklah, terserah Mama saja,” kata nyonya Baroto yang tak akan pernah bisa menentang kemauan orang tuanya.

***

“Anak baik, jangan menangis. Nenek ijinkan kamu mengambil pengasuh baru untuk kamu.”

Ana bersorak senang.

“Benar Nek?”

“Tentu saja benar.”

“Tapi sekarang ini bibi Menur tak akan mau menuruti kemauan Ana.”

“Mengapa kamu begitu yakin? Katakan pada dia kalau nenek akan memberi gaji yang besar pada dia. Berapapun dia minta. Tapi nenek juga akan mengawasi, apa dia benar-benar wanita yang baik seperti yang kamu inginkan. Kalau nenek kecewa, nenek akan memecatnya.”

“Nek, dia wanita baik. Tapi sekarang dia pasti nggak mau.”

“Mengapa?”

“Tadi mama memarahi dia, sampai dia hampir menangis.”

“Kalau perempuan itu menolak, nenek yang akan bicara pada dia.”

***

Keesokan harinya, di saat pulang sekolah, Rahman melihat Baroto. Ia tidak naik kuda, tapi sedang bersandar pada mobil mengkilat yang diparkir di sebelah pagar sekolah.

Rahman ingin menghindarinya, bukan karena takut, tapi karena ingat pesan ibunya. Walah Rahman mengerti bahwa Baroto orang yang baik, tapi dia ingin mentaati pesan sang ibu.

Tapi bagaimana cara menghindarinya?

“Rahman.”

Rahman masih berpikir mencari alasan untuk pergi, ketika Baroto memanggil namanya.

“Sini!”

Rahman bingung, tapi ia tak kuasa menolaknya.

“Om, saya harus cepat pulang, karena ingin makan di rumah,” kata Rahman yang mengira Baroto akan mengajaknya makan di sebuah restoran seperti kemarin.

“Bukan makan, aku ingin kamu mengantarkan om.”

“Ke mana?” tanya Rahman yang akhirnya tak kuasa menolaknya.

“Ikut saja.”

Tapi ternyata Baroto mengajaknya ke sebuah rumah sakit besar.

“Om sakit?"

Baroto menatap anak kecil yang digandengnya, sambil terus melangkah memasuki rumah sakit.

“Om sakit?” Rahman bertanya lagi karena tidak mendapat jawaban.

“Tidak, hanya untuk periksa kesehatan saja.”

“Kalau tidak sakit mengapa harus periksa?”

“Orang itu kan setiap saat harus menjaga kesehatan. Tidak menunggu kalau sakit, baru pergi ke dokter. Kalau sehat, syukurlah, kalau kelihatan ada penyakitnya ya langsung diobati.”

Rahman tak menjawab. Ia dan ibunya tak pernah periksa ke dokter. Bersyukur karena sehat, tapi sesekali kontrol kesehatan? Itu kan perlu uang, mana mungkin ibunya punya uang untuk itu.

Kemudian mereka sudah sampai di sebuah loket, entah Baroto bicara apa, lalu keduanya duduk di sebuah ruang tunggu.

“Nanti kamu juga akan diperiksa,” kata Baroto tiba-tiba, membuat Rahman terkejut.

“Saya diperiksa? Kenapa? Tidak … tidak, saya kan tidak apa-apa.”

Kam om sudah bilang, sesekali harus periksa kesehatan, supaya ketahuan kita sehat atau tidak.”

“Saya tidak pernah periksa kesehatan … “

“Nanti kamu harus mencobanya.”

“Ibu saya tidak mungkin bisa periksa kesehatan setiap saat. Kalau sakit hanya beli obat di warung.”

“Sesekali kamu harus mencobanya.”

“Nanti diapain? Saya takut di suntik.”

“Tidak apa-apa, kan ada om?”

Lalu nama Baroto dipanggil, dan Baroto menggandeng Rahman yang sebelumnya membelot tak mau ikut masuk.

“Rahman, kamu harus ikut. Kamu anak pintar, harus banyak pengalaman yang kamu dapatkan, jadi kamu akan tahu banyak tentang semua hal,” katanya sambil merangkul pundak Rahman.

Sesungguhnya Baroto sedang mau tes DNA, karena penasaran padada jawaban Menur. Banyak yang dimiliki Rahman, yang mirip dirinya. Dia baru saja mengambil foto dirinya ketika masih kecil, di album keluarga. Itu adalah wajah Rahman. Mengapa Menur tak mau mengakuinya? Mengapa Menur harus menyembunyikannya? Sebenci itukah Menur kepada dirinya sehingga dia tak ingin dirinya mengetahui tentang anaknya?

Di dalam ruangan, seorang perawat mengambil darah Baroto, dan ludahnya. Rahman hampir menangis ketika perawat mengambil darahnya, tapi Baroto memeluknya erat, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Perawat juga mengambil ludah Rahman.

Pemeriksaan itu selesai. Wajah Rahman cemberut karena merasa dipaksa.

Ketika semua urusan selesai, Baroto menggandeng Rahman memasuki mobilnya.

“Apa tadi itu sakit?”

“Sedikit.”

“Nah, hanya sedikit kan? Masa anak laki-laki hanya sakit sedikit saja mau menangis?”

Rahman diam saja. Memang rasa sakitnya sudah tak terasa, tapi ia tak suka.

“Lain kali saya tidak mau lagi periksa kesehatan. Hasilnya saya sehat kan?”

“Tentu saja. Om hanya menjadikan yang tadi itu sebagai pengalaman dalam hidup kamu.”

Rahman diam. Sesungguhnya dia sangat lapar. Biasanya dia sudah makan di rumah, lauk telur buatan sang ibu.

“Baiklah, sebagai hadiahnya, kita makan di restoran, dan beli es krim yang sedap.”

Wajah Rahman berseri. Dia jarang sekali minum es krim. Hampir tidak pernah. Dia pernah minum es krim, ketika salah seorang teman sekelasnya ulang tahun, lalu semuanya diberi es krim.

***

“Mengapa kamu baru pulang?” tegur Menur, tak senang. Ia sudah tahu, Pasti Baroto mengajaknyaa pergi, entah makan, atau putar-putar kota.

“Tadi ….” Rahman ragu menjawabnya. Baru kali ini Rahman takut pada ibunya, karena melanggar larangannya.

“Kamu pergi sama dia bukan?”

“Tadi ….”

“Bukankah ibu sudah bilang kalau kamu tidak boleh lagi dekat-dekat sama dia?”

“Memangnya kenapa Bu? Bukankah dia baik?”

“Pokoknya ibu tidak suka. Sekarang ganti bajumu dan makan.”

“Tadi ….”

“Kamu sudah makan di restoran? Karena itukah maka kamu menganggap dia baik?”

“Bukankah Itu ….”

“Ganti bajumu.”

“Rahman mau makan, pengin telur buatan Ibu.”

“Ganti bajumu dulu baru makan.”

“Sebenarnya Rahman sudah kenyang, ia hanya ingin menyenangkan hati sang ibu. Ia juga urung mengatakan tentang pemeriksaan kesehatan itu, takut sang ibu semakin bertambah marah. Ia mengganti baju setelah cuci kaki tangan, sambil membuang tempelan plester di lengannya, di mana tadi dia diambil darahnya.

Menur menghela napas panjang. Ia tahu pasti sulit bagi Rahman untuk menghindar dari dia. Kalau dia tiba-tiba sudah di depan sekolah, lalu Baroto mengajaknya, pasti susah menolaknya. Tapi Menur benar-benar takut kehilangan.

Ketika ia mau memanggil Rahman karena makan sudah disiapkan, tiba-tiba ia melihat mobil berhenti. Menur bergegas ke depan untuk menutup pintunya, karena mengira Baroto datang. Tapi seorang anak perempuan berlari menghampirinya sambil berteriak memanggilnya, dan di belakangnya seorang wanita setengah tua mengikutinya sambil mengembangkan senyuman.

“Bibi Menur … aku datang.”

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, August 8, 2026

AKU ANAK SIAPA 07

 AKU ANAK SIAPA  07

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot sudah mencarikan pekerjaan seperti yang diinginkan Rosa. Seorang pengasuh anak. Dan hari itu Rosa sudah mulai masuk bekerja. Ia merapikan rambut sebahunya, yang digelung rapi. Wajahnya tak terpoles apapun, kecuali bedak untuk menutupi wajahnya yang berminyak. Ia akan mencobanya. Bukankah ia bisa pulang sore harinya setelah sang majikan pulang?

Bu Surani, pemilik toko itu senang melihat penampilan Rosa. Ia seorang pebisnis yang punya usaha di mana-mana, jadi ia sangat memerlukan seseorang yang bisa merawat anaknya selama ditinggalkan. Anak itu berumur sekitar satu setengah tahun, cantik dan gembul. Namanya Sisi. Ia gampang beradaptasi dengan siapapun. Ketika Rosa datang, gadis kecil itu menatapnya sebentar. Rosa tersenyum sambil mengacungkan kedua tangannya, dan gadis kecil itu melangkah mendekat, agak curiga. Dalam hati kecilnya ia barangkali merasa bahwa yang ada dihadapannya agak kurang menyenangkan.

“Sisi, setiap hari kamu harus bermain dengan bibi Rosa, ya.”

“Panggil saya Rosa, Non kecil,” sapa Rosa, berusaha ramah.

Sisi masih menatapnya, tapi dia diam ketika Rosa merengkuhnya.

“Rosa, apa yang biasa dilakukan untuk Sisi, tanyalah kepada Bibik. Aku selalu meninggalkannyaa hampir seharian, jadi aku percayakan semuanya kepada kamu.”

“Baik,” kata Rosa sambil tersenyum.

“Kamu sudah punya anak?”

Rosa menggeleng tersipu.

“Saya belum menikah.”

“Oh ya? Padahal kamu cantik lhoh.”

“Saya sudah tua, tidak ingin menikah.”

“Baiklah, semoga kamu bisa menjadi ‘teman’ untuk Sisi. Anak itu tidak begitu susah, dan jarang rewel.”

Rosa menggendong Sisi dan mengantarkan sang nyonya majikan sampai ke atas mobil. Dari samping rumah, ia melihat pak Gatot sedang berdiri di depan toko. Rumah bu Surani terletak di sebelah toko pakaiannya, sehingga kalau dia berdiri di depan rumah, ia bisa melihat ‘ayah angkatnya’ itu bekerja.

Rosa menggendong Sisi ke dalam, langsung memasuki dapur.

“Mbak Rosa, non Sisi baru minum susu, ia belum makan. Tapi makanannya sudah disiapkan nyonya di meja makan.”

“Saya harus menyuapi?”

“Ya iyalah Mbak, kan Mbak pengasuhnya. Tapi non Sisi tidak begitu susah makan.”

“Baiklah.”

Rosa membawa Sisi ke ruang makan, didudukkannya di atas kursi anak yang sudah tersedia di sana.

“Makan ya?”

Rosa membuka penutup makanan lalu mulai menyuapinya. Agak kaku, dan makanan itu belepotan di baju Sisi.

“Bagaimana kamu itu Sisi, kalau disuapin jangan geleng-geleng begitu, tumpah semua nih, bajunya kotor," gerutunya.

“Mbak, sebelum makan diberi alas makan dulu, ini Mbak kan sudah disiapkan, jadi kalau tumpah tidak mengotori baju,” kata Bibik setelah mendekat dan mendengar Rosa menggerutu.

“Oh, iya … saya lupa.” 

Rosa bukannya lupa, tapi ia memang tidak mengerti. Selamanya dia belum pernah melayani bayi makan, menggendong bayipun dia belum pernah. Ia menatap Bibik yang mengalungkan celemek di dada Sisi.

Lalu Rosa melanjutkan menyuapi.

Ini pengalaman pertama dia momong anak kecil.

“Biarlah agak susah, aku butuh uang, dan ini satu-satunya jalan,” katanya dalam hati.

Rosa membawa Sisi ke kamarnya, melepaskan bajunya yang kotor. Bibik yang masih terus mengawasinya, mengikutinya ke kamar, menunjukkan baju-baju dan semua pakaian Sisi.

“Yang kotor ini dikumpulkan di keranjang dulu Mbak, Mbak bisa mencucinya besok pagi saja, setelah terkumpul baju-baju non Sisi yang lain,” kata bibik.

“Mencuci? Aku yang harus mencuci?” Rosa membelalakkan mata, dan bibik menatapnya heran.

“Tentu saja Mbak, siapa lagi? Baju-baju non Sisi harus dicuci tersendiri, dan disetrika sendiri, tidak boleh bercampur dengan baju lainnya.”

“Menyetrika juga?”

Bibik masih menatapnya heran.

“Tugas Mbak adalah memandikan non Sisi, mengganti bajunya, mencuci, menyeterika dan membersihkan kamarnya juga membuatkan  susu dan menyiapkan makannya, yang harus dimasak tersendiri.”

Rosa diam, tapi ia menggerutu dalam hati. Ia merasa pekerjaannya sangat banyak. Hal yang belum pernah dilakukannya. Dulu di rumah keluarga Daryono ada bibik yang melakukan semuanya. Mencuci dan menyetrika baju? Itu pekerjaan bibik, bukan dirinya. Dan sekarang ia harus melakukan hal yang menurutnya sangat menjijikkan. Mencuci, membuang pampers yang pasti berbau pesing, belum menceboki kalau momongannya BAB. 

"Ya ampuun, gaji besar tapi pekerjaannya serba susah," kata batinnya.

Sedangkan di dapur, Bibik menggerutu dan merasa heran. Bagaimana mungkin, orang tidak mengerti apa-apa yang harus dikerjakan, sementara sudah sanggup menerima pekerjaan itu.

Ketika ia mengeluh kepada sang nyonya majikan, sang nyonya yang penyabar hanya meminta agar Bibik selalu mengajarinya.

***

“Bagaimana pekerjaan kamu, Ros?” tanya pak Gatot saat di rumah.

“Lumayan.”

“Menyenangkan?”

“Lumayan berat.”

“Berat? Hanya mengasuh bayi, beratnya di mana?”

"Saya belum pernah mengasuh anak kecil.”

“Anaknya suka rewel? Karena belum terbiasa kamu layani?”

“Anaknya tidak rewel. Pekerjaan saya yang rumit.”

“Rumit bagaimana?”

“Saya harus memandikan, menyuapi, menceboki, mencuci semua baju kotornya, membersihkan kamarnya. Bukankah saya seperti pembantu?”

“Rosa, pengasuh bayi atau anak kecil itu memang begitu. Itu sebabnya biasanya pengasuh bayi dibayar lebih mahal.”

“Itu menjijikkan,” kata batin Rosa yang tak berani mengungkapkannya di depan pak Gatot.

“Apa kamu merasa berat?”

“Lumayan.”

“Itu karena kamu belum pernah menjalaninya tapi aku yakin lama-lama kamu akan terbiasa. Kalau ada yang kamu belum tahu, kamu bisa bertanya kepada bibik pembantu yang ada di rumah itu.”

“Iya, sudah saya lakukan. Saya memang harus banyak bertanya.”

“Nanti kalau anak itu sudah bisa berjalan-jalan, kamu akan merasa lebih lelah karena harus mengikuti kemana ia pergi.”

“Duuh ….," Rosa mengeluh.

“Berat?”

“Ia sudah bisa berjalan, sudah membuat saya lelah.”

Pak Gatot tersenyum. Ia sudah menduga, Rosa memang agak malas. Tapi ia membiarkannya. Akan sampai di mana ia betah menjalani pekerjaannya. Kalau membiarkannya hanya duduk atau jalan-jalan, pasti Rosa merasa kurang. Terkadang ia ingin beli ini dan itu, bukan? Karenanya ia meminta agar Rosa bekerja supaya punya uang sendiri, bukan sekedar uang pemberiannya yang pasti tidak seberapa.

***

“Nyonya tidak ingin ke pasar lagi?” tanya Bibik sebelum berangkat ke pasar.

“Tidak Bik, nanti Tuan memarahi aku. Aku tidak berharap ketemu dia lagi.”

“Itu benar Nyonya, beberapa kali kita sudah berusaha, tidak pernah lagi ketemu dia. Lagi pula kalau belum benar-benar berhadapan muka, saya juga belum yakin pada penglihatan saya. Bisa jadi saya salah. Bisa jadi dia orang lain yang mirip non Rosa.”

“Itu benar Bik, semuanya belum pasti. Ya sudah, berangkatlah sana, aku menunggu di rumah saja.”

“Baik, Nyonya.”

Ketika bibik berangkat, bu Daryono duduk sendirian di teras. Pikirannya melayang ke mana-mana.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan gerbang.

“Itu seperti mobil bu Surani,” gumamnya sambil berdiri.

“Angin mana yang membuat jeng Surani datang ke mari.”

“Saya memang akan kemari karena mendapat titipan.”

“Titipan apa? Tapi masuklah dulu jeng.”

“Duduk di teras saja Bu, saya hanya sebentar karena masih banyak urusan."

“Jeng Surani memang selalu sibuk. Kabarnya pengasuh si kecil sudah keluar?”

“Sudah ada penggantinya Bu, makanya saya sudah bisa ke mana-mana.”

“Oh, syukurlah.”

“Ini saya membawakan uang arisan bu Daryono, kan kemarin tidak datang?”

“Iya Jeng, sudah tiga bulan tidak datang, hanya mengirim uangnya saja. Alhamdulillah, saya dapat ya?”

“Soalnya kemarin yang terakhir Bu,” kata bu Surani sambil menyerahkan sebuah amplop.

“Dihitung dulu Bu, jangan-jangan kurang.”

“Tidak usah, masa dibawa jeng Surani bisa kurang. Sebentar, saya buatkan minum, soalnya Bibik lagi ke pasar.”

“Tidak usah Bu, saya mau langsung saja.”

“Sayang sekali tidak sempat ngobrol.”

“Lain kali kalau senggang saya kemari untuk ngobrol Bu.”

***

Bu Surani ternyata teman bu Daryono untuk kumpul-kumpul sesama pengusaha. Tapi hanya bertemu saat ada arisan atau pertemuan lainnya.

“Kasihan bu Daryono, setelah putri angkatnya dipenjara, dia jarang kumpul-kumpul, dan sekarang kelihatan lebih kurus," batin bu Surani.

Ketika sedang menjalankan mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering, dari Bibik di rumah.

“Nyonya … Nyonya ada di mana?”

“Sedang mau ke kantor, ada apa?”

“Gelang non Sisi yang sebelah kiri hilang.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Friday, August 7, 2026

AKU ANAK SIAPA 06

 AKU ANAK SIAPA … 06

(Tien Kumalasari)

 

Satria sudah berhenti menangis. Senja sudah membersihkan lukanya, dan menutupinya dengan plester.

“Lain kali Satria tidak boleh lari-lari ya, apalagi di jalanan,” kata Arka.

“Iya.”

“Masih sakit?”

Satria menggeleng, membuat Arka dan Senja merasa lega.

“Jadi beli baju untuk Bibik?” tanya Arka, yang dijawab Senja dengan menggeleng. 

Setelah anaknya jatuh, dia hanya ingin segera pulang saja. Ia masih berdebar-debar tadi, khawatir anaknya kenapa-kenapa.

“Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. Hei, kamu melihat apa?”

“Mana pak satpam yang tadi?”

“Sudah pergi, bukan salah dia, salah Satria yang menabraknya tadi.”

“Bukan untuk menyalahkan. Tadi seperti ada yang membonceng di belakangnya.”

“Memangnya kenapa? Mungkin istrinya. Mengapa kamu memikirkan masalah dia memboncengkan siapa.”

“Sepertinya aku melihat non Rosa.”

“Rosa? Memangnya siapa pak satpam tua itu? Apa dia kerabat Rosa? Aku tidak mengerti. Pasti kamu salah lihat,” kata Arka sambil menjalankan mobilnya.

“Mungkin juga. Tapi mirip sekali non Rosa. Hanya penampilannya agak lain.”

“Apa kamu lupa, Rosa ada di dalam penjara?”

“Sudah bertahun-tahun, mungkin dia sudah pulang. Tapi mengapa pakaiannya seperti itu? Dia tidak pulang ke rumah pak Daryono?"

“Rosa bukan putri pak Daryono.”

“Iya, aku tahu. Lalu … sekarang dia ada di mana? Pasti sudah keluar dari penjara. Atau … kemudian ikut pak satpam tadi? Atau … jangan-jangan pak satpam itu ayahnya.”

“Mungkin, tapi mengapa kamu memikirkannya?”

“Nggak apa-apa, entahlah, tiba-tiba kepikiran saja, gara-gara perempuan yang aku lihat tadi.”

“Kamu masih dihantui kelakuan Rosa kepadamu?”

“Terkadang masih mengingatnya, tapi sudahlah. Allah sudah memberi aku dan orang tuaku kehidupan yang lebih baik, aku harus bersyukur. Semoga akan selamanya begitu.”

“Aku kan sudah berjanji, akan membuat kamu bahagia. Selamanya, dan aku tak akan mengingkarinya.”

“Terima kasih Mas, kamu memang malaikat penolongku, dan pelindungku.”

“Ngomong-ngomong, Satria sudah besar, apa kamu tidak ingin Satria punya adik?”

“Apa? Mengapa pembicaraan beralih ke arah situ?”

“Memangnya tidak boleh?”

“Ini di jalan, lagian ada Satria, nanti Satria mendengarnya.”

“Aku lihat tuh, Satria sudah tidur dari tadi, mana mungkin dia mendegarnya?”

Senja tertawa.

“Sebenarnya anak itu lelah bermain bersama om Rimba tadi. Makanya dia cepat sekali tertidur.”

“Baiklah, kalau tidak boleh membicarakan hal itu di jalan, nanti di rumah ya.”

“Ihh, dasar tak tahu malu.”

Arka terkekeh. Walau sudah menjadi istrinya bertahun-tahun, Senja masih saja bersikap malu-malu, walau akhirnya mau.

Di sepanjang jalan Arka tersenyum-senyum sendiri. Bahagia ini tak akan berlalu, selamanya akan begini.

" Semoga," bisiknya dalam hati.

***

“Tadi kamu dari mana saja?” tanya pak Gatot ketika sedang santai.

“Hanya jalan-jalan, nggak enak di rumah saja, sendirian.”

“Apa kamu tidak punya rencana tentang sesuatu? Mencari pekerjaan, misalnya?”

“Mencari pekerjaan. Iya juga, saya kan tidak selamanya harus merepotkan pak Gatot. Tapi bekerja apa? Aku sudah cukup tua untuk mencari pekerjaan.”

“Kamu dulu sekolah sampai apa? SMA?”

“Tidak. Saya lupa. Mungkin SMA, tapi tidak sampai tamat, orang tua saya miskin,” katanya sekenanya.

“Kamu tidak mau mengatakan kehidupan kamu sebenarnya bagaimana?”

“Apa yang bisa dikatakan tentang orang yang terlahir dari keluarga miskin seperti saya?”

“Apa kedua orang tuamu sudah tidak ada?”

“Tidak ada. Saya hidup terlunta-lunta dijalanan sampai bertemu Bapak.”

Pak Gatot terdiam. Ia juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia menaruh belas kasihan kepada Rosa yang hidup terlunta-lunta. Apa karena ia hidup sendirian selamanya? Apa dia tertarik kepada Rosa? Tidak. Dia merasa sudah terlalu tua untuk punya istri. Dia tak pernah bermaksud punya istri lagi setelah istrinya meninggal saat pernikahan belum berlangsung lama.

Tiba-tiba wajah pak Gatot berubah sendu ketika mengingat hidupnya sendiri. Walaupun dia bisa bekeja, tapi dia juga bisa dikatakan terlunta-lunta, tanpa teman, tanpa kawan. Oh ya, kesendirian dan kesepian itulah yang kemudian membuat pak Gatot merasa iba ketika melihat Rosa dikeroyok banyak orang hanya karena mencuri sepotong roti.

“Rosa, kalau kamu tidak ingin bekerja, juga tidak apa-apa. Gajiku masih cukup untuk menghidupi kita berdua.”

“Saya juga merasa tidak enak selalu merepotkan Bapak. Saya ingin bekerja, tapi bekerja apa?”

“Kamu masih bisa dibilang muda. Umurku sudah duapuluhan tahun di atas kamu, kira-kira, tapi masih bisa bekerja. Mengapa kamu merasa tua? Tapi kalau kamu tidak ingin bekerja, diamlah di rumah, jadilah anakku.”

Rosa menatap wajah pak Gatot yang memang sudah tampak tua. Walau begitu dia masih bekerja.

“Sangat menyenangkan mendengar Bapak mau menjadikan saya anak Bapak.”

“Syukurlah kalau kamu suka.”

Rosa terdiam, ia ingin melakukan banyak hal, tapi dia tak punya apa-apa.  Ketika polisi membawanya pergi, ia memiliki sebentuk cincin, tapi cincin itu sudah dijualnya, untuk beberapa kebutuhan saat di penjara. Itupun tidak seberapa, karena mungkin saja petugas yang menolongnya tidak memberikan semua uang hasil penjualan cincin itu. Saat itu ia hanya pasrah. Tapi masih ada rasa sakit hati yang membuatnya tak bisa melupakannya. Kebenciannya kepada Senja, anak tukang beras yang miskin dan berhasil merebut semua yang menjadi mimpi-mimpinya.

“Apa yang kamu pikirkan? Kalau kamu ingin bekerja, aku akan mencarikannya. Di sekitar aku bekerja banyak toko-toko, mungkin ada yang menerima kamu bekerja di salah satunya. Bersih-bersih misalnya. Atau membantu jadi pelayan ….”

Hati Rosa merasa teriris. Dia yang pernah sekolah di luar negri, ke mana-mana naik mobil, makan enak dan pakaian bagus, lalu menjadi pelayan? Tukang bersih-bersih?

“Tidak suka?”

Rosa masih diam. Ia sedang menimbang-nimbang. Kalau dia tidak bekerja, ia tak akan pernah memiliki uang, karena pak Gatot pasti hanya memberi uang untuk makan, dan pasti dia sungkan kalau meminta. Alasan meminta untuk apa? Nanti terdengar aneh, dan pak Gatot lama-lama akan mencurigainya kalau dia melakukan sesuatu.

“Kalau tidak suka ya tidak apa-apa, tinggal di rumah saja.”

Walau mengatakan begitu, pak Gatot merasa bahwa Rosa ini agak malas. Katanya tidak bisa memasak tapi tidak berusaha untuk bisa. Bersih-bersih rumah juga ala kadarnya. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan jalan-jalan yang entah apa tujuannya. Ditawarin pekerjaan, tidak merespon.

“Ah ya, pemilik toko di mana bapak bekerja, membutuhkan pengasuh bayi. Kamu bisa? Gajinya lumayan, kata pengasuh yang terdahulu. Dia pamit karena menikah di kampung.”

Pengasuh bayi, ini agak lumayan. Dia bukan pelayan yang harus beropakaian lusuh. Gajinya lumayan. Baiklah, mengapa tidak?

“Baiklah Pak, saya mau.”

“Kalau begitu besok aku bilang kepada majikan, bahwa kamu mau bekerja sebagai pengasuh putranya. Nanti aku katakan bahwa kamu adalah anakku.”

Rosa mengangguk. Semalaman dia berpikir, apa yang dilakukan seorang pengasuh bayi, bukankah dia tak pernah melakukannya? Tak apa, dia bisa belajar dari yang lain. Pastinya di sana ada pembantu yang bisa ditanya-tanya. Rosa nekat, yang penting bukan pelayan dan tukang bersih-bersih. Bukankah ia butuh uang?

***

Besok lagi ya.

Thursday, August 6, 2026

AKU ANAK SIAPA 05

 AKU ANAK SIAPA  05

(Tien Kumalasari)

 

Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang yang dipanggilnya tak terlihat batang hidungnya. Bibik kembali mendekati nyonya majikannya.

“Kok hilang, … Nyonya.”

“Apa sebenarnya yang kamu lihat?”

“Perempuan itu, yang lewat tadi, Nyonya tidak melihatnya?”

“Aku hanya melihat orang melintas, apa maksudmu?”

“Dia, wajah non Rosa itu, Nyonya.”

“Katamu pakaiannya kumuh dan lusuh, tadi pakaiannya biasa saja. Pakaian bersih, biarpun bukan pakaian mahal.”

“Benar, pakaiannya tidak selusuh ketika saya melihatnya, tapi wajahnya sangat jelas. Lebih jelas bahwa dia benar, non Rosa.”

“Mencari siapa  Bu?” tanya pemilik warung yang heran melihat sikap keduanya.

“Ah, tidak … saya hanya merasa melihat orang yang kami kenal.”

“Tidak ketemu?”

“Tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi.”

“Barangkali belok ke tikungan di depan itu.”

“Saya sudah ke sana, tidak lagi melihat bayangannya.”

“Sayang sekali. Apa dia orang yang pernah berbuat jahat pada Ibu?”

“Tidak, bukan begitu. Hanya merasa kenal saja,” kata bu Daryono yang kemudian menggamit lengan Bibik.

“Ayo kita pulang, kamu bawa buah-buah itu ke mobil."

Bibik mengangguk. Bu Daryono membayar semua belanjaan dan jus yang mereka minum, kemudian mengikuti Bibik yang sudah berjalan menuju mobil.

Bibik mengetuk pintu mobil, rupanya pak sopir tertidur. Kemudian ia bergegas membuka pintu dan mempersilakan nyonya majikannya masuk.

“Pak sopir tertidur sih, tidak melihat non Rosa lewat ya?” tanya Bibik ketika mobil sudah berjalan.

“Benarkah? Ya ampun, saya minta maaf. Saya ketiduran, jadi tidak melihat apapun. Mengapa Bibik tidak memanggilnya?”

“Saya sudah mengejarnya, tapi dia sudah pergi entah ke mana, padahal baru saja saya melihatnya, langsung mengejarnya.”

“Didaerah setelah tikungan itu banyak gang masuk yang berkelok-kelok, pasti dia masuk ke sana, lalu berbelok entah ke mana. Pantas Bibik tidak melihatnya.”

“Tapi ya belum tentu non Rosa, mungkin wajahnya mirip, tapi saya ingin melihat dari dekat, apa saya salah telah mengira dia non Rosa.”

“Apa mungkin dia tinggal di sekitar tempat ini ya Bik?”

“Entahlah Nyonya. Mungkin iya.”

“Sayang sekali kita tidak bisa menemuinya.”

“Besok-besok kalau senggang, saya akan berjalan-jalan lagi kemari, dan memasuki tikungan itu, memasuki gang-gang yang mungkin bisa menemukan non Rosa atau orang yang mirip non Rosa itu.”

“Kalau kamu pergi, aku ikut ya Bik.”

“Saya hanya akan berjalan memasuki gang setelah tikungan itu, masa Nyonya mau ikut ?”

“Tidak apa-apa.”

“Nyonya sangat ingin ketemu non Rosa ya?”

“Hanya ingin tahu keadaannya. Kalau dia tak mau pulang, aku ingin tahu dia tinggal di mana.”

***

Tapi ketika hal itu diceritakan kepada suaminya, sang suami justru menegur istrinya.

“Mengapa Mama susah-susah mencarinya? Kalau dia tidak datang kemari, berarti dia tidak ingin kembali.”

“Iya sih, tapi aku ingin tahu keadaannya.”

“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kalau memang dia mau kembali, dia pasti datang.”

“Kasihan, kata Bibik dia seperti gelandangan. Kalau dia tidak mau kembali kemari, setidaknya aku ingin memberinya modal untuk dia berusaha. Mungkin berjualan atau apa, agar hidupnya berlanjut lebih baik.”

“Niat itu sangat baik, tapi Mama tidak usah terbebani dengan keinginan itu. Nanti Mama yang akan menjadi tertekan karena kepikiran terus.”

Bu Daryono mengangguk. Apa yang dikatakan suaminya benar. Kalau Rosa ditakdirkan mendapat kehidupan yang lebih baik, pasti jalan itu ada.

“Mama doakan saja agar Rosa baik-baik saja.”

“Apa Papa keberatan kalau aku membantunya?”

“Ya tidak. Lakukan saja. Kita itu selama ini kan sudah banyak membantu siapapun yang memerlukannya, kalau harus membantu Rosa, mengapa aku keberatan? Tapi yang jelas Mama harus melepaskan beban keinginan itu. Kalau Rosa bernasib baik, pasti dia akan bertemu Mama dan mendapat bantuan.”

“Bagaimana kalau dia kembali menjadi keluarga kita?”

“Kalau itu kita harus memikirkannya dua kali. Kita sudah semakin tua, apakah dia akan menjadi beban, atau malah meringankan beban? Aku kok merasa tidak sepenuhnya yakin kalau dia akan menjadi baik. Dari apa yang pernah dia lakukan, sepertinya ada bibit kurang baik yang dia bawa entah dari mana. Tapi kalau hanya membantu, okelah, tidak apa-apa.”

“Intinya, Papa tidak ingin dia kembali.”

“Begitulah, kira-kira.”

***

Sore hari itu Arka menjemput anak dan istrinya di rumah mertuanya. Banyak cerita Satria, yang menghabiskan banyak coklat dari dalam toples dagangan neneknya.

“Satria, itu kan dagangan nenek. Kamu harus membayarnya. Lihat, toplesnya kosong tuh,” tegur sang ayah.

“Itu tidak Satria makan semuanya. Kata ibu nanti Satria batuk.”

“Lha itu, habis, toplesnya kosong.”

“Itu dibungkus, dibawa pulang, buat besok-besok,” bantah Satria sambil menunjukkan bungkusan yang dibawakan neneknya, sisa coklat dalam toples.

“Satria harus minta uang pada ibu, dibayarkan ke nenek, karena itu coklat dagangan.”

“Bu, bayar dong coklatnya, nanti dimarahi bapak,” rengek Satria.

Senja tersenyum dan mengangguk.

“Jangan khawatir, nanti Ibu bayar.”

“Tidak usah, biar saja itu untuk cucu nenek,” sergah mbok Mangun.

Walau begitu, Arka menyelipkan uang di kotak uang mertuanya.

“Biarkan Mbok, agar tidak menjadi kebiasaan untuk Satria.”

***

“Mas, nanti pulangnya mampir ke toko pakaian ya,” kata Senja dalam perjalanan pulang.

“Kamu mau beli pakaian ke butik? Apa tidak lebih baik kita pulang saja dulu, lalu nanti kita jalan-jalan.”

“Bukan untuk aku. Untuk bibik. Sudah lama kita tidak beli untuk bibik.”

“Baiklah, ke mana kita belinya?”

“Toko sembarang saja, kan untuk bibik di rumah.”

“Oke bos.”

Senja tertawa, lalu mencubit lengan suaminya.

“Bosnya tuh mas Arka, bukan aku.”

“Ya tidak, di rumah kan semuanya kamu yang atur, jadi kamulah bosnya.”

“Di situ Mas, depan itu ada toko pakaian.”

Arka menghentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian seperti yang ditunjuk Senja.

Satria melompat turun dan berlari mendahului ke arah toko.

“Satria, hati-hati,” teriak Senja.

Tapi Satria memang kurang hati-hati. Ia menabrak pak satpam yang memegangi motornya ketika bersiap pulang.

Tak bisa tidak, Satria terjatuh.

Pak Satpam menstandartkan motornya, kemudian mengangkat tubuh Satria yang menangis.

“Ya ampun, mengapa lari-lari Nak?”

Arka yang memburu segera mengambil alih Arka dari gendongan pak satpam.

“Maaf Pak, anak Bapak yang menabrak saya.”

“Tidak apa-apa, saya tahu anak saya kurang hati-hati.”

“Kembali ke mobil dulu Mas, lutut Satria berdarah. Ada obat di dalam mobil."

“Baiklah,” kata Arka yang kemudian membawa anaknya kembali ke mobil.

Pak Satpam geleng-geleng kepala, menyesal karena membuat seorang anak terjatuh. Karena orang tuanya sudah menangani, maka ia kemudian mengambil motornya dan bersiap pulang.

“Pak Gatot!”

Pak Gatot menoleh, ia melihat Rosa mendekat.

“Kamu dari mana?”

“Dari jalan-jalan saja. Kebetulan lewat sini, dan melihat pak Gatot mau pulang.”

“Iya, mau pulang. Ayuk kalau begitu, bonceng bapak saja.”

“Mengapa baju Bapak berdarah? Tuh … baju bagian kiri.”

“Oh iya, tadi ada anak kecil lari-lari, mau masuk ke toko tapi menabrak aku. Lututnya luka berdarah, aku menggendongnya. Nggak apa-apa, nanti sampai rumah dicuci."

“Lukanya parah?”

"Tidak, hanya lututnya berdarah, sudah digendong orang tuanya. Tuh, mobilnya masih ada. Rupanya tadi mau belanja ke toko.”

Rosa menatap mobil yang ditunjuk pak Gatot.

“Ya ampun, ketemu mereka lagi?” kata batin Rosa. Ia segera naik ke boncengan pak Gatot, khawatir Arka atau Senja mengenalinya.

"Sial benar aku hari ini. Tadi siang hampir ketahuan bibik, ini malah Arka dan istrinya."

***

Besok lagi ya

 

AKU ANAK SIAPA 09

  AKU ANAK SIAPA  09 (Tien Kumalasari)   Arka menatap ke arah toko emas yang ditunjuk Senja. “Iya kan, betul kan, dia?” “Sepertinya iya.” “D...