Tuesday, April 28, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 27

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  27

(Tien Kumalasari)

 

Zein melangkah cepat keluar rumah. Wajah Indras menjadi pias. Sudah beberapa kali Zein mengancam bunuh diri. Kepalanya berdenyut. Ia segera mengejarnya.

“Apa maksudmu?”

”Biarkan aku mati. Aku tak tahan lagi, biarkan aku mati,” Zein terduduk di tanah dan merasa lemas.

Indras menarik tangannya.

“Bukan kamu pemilik kehidupan ini. Jadi mati atau hidup kamu tidak berhak menentukannya.”

Zein menutup wajahnya. Kemudian berdiri dan kembali ke rumah. Indras mengikutinya.

“Lakukan yang kamu suka, tapi jangan pernah mencari mati.”

Indras merasa lega ketika melihat suaminya duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.

“Ya Allah … Ya Allah …,“ bisik Indras sambil masuk ke dalam mushala.

Sekarang  ia tak berani mengatakan apa-apa lagi. Semuanya serba sulit, sepatah kata yang keluar dari mulutnya bisa jadi petaka kalau dia mengulangi keinginannya untuk mati.

Sekarang, lagi-lagi Indras hanya bisa menangis, sesambat kepada Sang Pencipta, dan mohon petunjuk apa yang seharusnya dia lakukan.

Lama sekali dia bersujud di sana, berulang kali menyebut nama Allah sesembahannya. Air matanya tumpah bak hujan deras yang tercurah dari langit.

Indras keluar dari mushala ketika lewat tengah malam. Langkahnya lunglai seperti tanpa daya.

***

Sampai pagi hari mereka tak bicara, tapi Indras merasa lega karena Zein tampak tenang, dan dengan bersemangat berangkat ke tempat kerja.

Ia teringat apa yang dikatakan Pri, sahabatnya, bahwa Zein memang sakit. Tapi yang membuat Indras heran, ia tak pernah melihat Zein meminum obat, yang pastinya diberikan oleh psikhiater yang menanganinya. Indras tak pernah bertanya, karena Zein menyembunyikan penyakitnya. Tentu ia tak mau berterus terang kepada dirinya, karena sikap tinggi hati yang dimilikinya. Memang sifatnya atau karena penyakitnya? Entahlah. Lama-lama justru Indras yang merasa bahwa dirinyalah yang sakit.

Setiap hari merasa bingung. Seandainya orang berjalan, ia terhuyung-huyung tanpa ada pegangan. Ia sendirian, disebuah dunia yang senyap tanpa suara, kecuali detak derita yang mendera di sepanjang langkahnya.

Hari itu ia pulang lebih awal karena kepalanya terasa berdenyut. Bisa dimengerti. Ia kurang tidur dan terlalu berat apa yang dipikirkannya.

Sinta yang kebetulan ada dirumah mendekati sang ibu yang sudah berbaring di kamarnya sambil memijir-mijit kepalanya.

“Mama sakit?”

Indras menatap putrinya dengan mata berbinar. Ia ada, karena anak-anaknya. Kalau tidak, entah dia akan bagaimana dan akan lari ke mana.

Derita yang disandangnya benar-benar dipikulnya sendiri. Sesambat kepada orang tuanya? Bukankah sejak awal orang tuanya sudah melarang? Bahwa kemudian akhirnya direstui, adalah karena jiwa kemanusiaan orang tuanya tersentuh oleh derita Zein dan pengorbanan ibunya. Sekarang, ketika ia merasa sendirian dan dirundung papa, haruskah mengadu kepada orang tuanya? Jangan. Janganlah ketenangan orang tua terusik oleh pemikiran yang tidak menyenangkan tentang anaknya. Biarlah apapun yang terjadi hanya akan ada dipundaknya saja.

“Ma, Sinta tahu keluarga kita tidak baik-baik saja.”

“Jangan ikut campur. Pikirkan saja kuliah kamu.”

“Bukan ikut campur, hanya ingin mengingatkan Mama. Barangkali papa salah, tapi Mama juga harus menyadari, apakah Mama sudah melakukan hal yang benar?”

Dada Indras seperti dipukul sebuah palu besar. Ia menatap anaknya tak berkedip.

“Maafkan Sinta ya Ma,” hanya itu yang dikatakannya, lalu Sinta melangkah keluar dari kamarnya.

Indras termenung sendirian. Menurut sang anak, dirinya belum melakukan hal yang benar? Memang Sinta hanya bertanya, tapi pertanyaan itu lebih berat ke menuduhnya.

“Jadi aku juga salah? Di mana salahku? Aku hanyalah korban. Pelampiasan rasa tidak suka itu kepada diriku, dan ketika di kantor dia bisa bersinar karena perempuan itu bisa menghiburnya?” gumamnya.

“Yang membuat heran, ketika ia mengatakan ingin pergi, dia selalu mengancam ingin bunuh diri. Apa itu artinya dia tidak ingin berpisah dengan diriku? Karena mencintai aku, atau karena dengan adanya diriku maka ada seseorang yang bisa dijadikan sasaran kekesalannya?” gumamnya lagi

Kepala Indras terasa kembali berdenyut. Bukan obat berbentuk tablet atau kapsul yang bisa menghentikannya, tapi ketenangannya dalam berpikir.

Ia berusaha dan terus berusaha. Hanya dirinya yang bisa menolong dirinya sendiri.

Sore hari itu ia keluar rumah. Ada seorang psikiater yang dikenalnya, tapi bukan yang menangani Zein seperti apa yang dikatakan Pri. Ia sangat dikenalnya, walau jarang untuk berkomunikasi dengannya. Ia dokter Daniel.

Sekarang dia duduk berhadapan, mengatakan beban yang dipanggulnya, sehingga ia merasa sakit.

Tapi dokter itu mengatakan, bahwa dirinya tidak sakit.

“Indras, kamu tidak sakit. Tak perlu obat. Suami kamulah yang sakit. Yang harus kamu lakukan adalah kamu harus bersabar.”

Indras menundukkan kepalanya. Rupanya dokter Daniel sudah tahu tentang suaminya.

Indras pulang dengan perasaan yang tidak puas. Ia tak perlu obat, ia hanya harus bersabar.

“Ya Allah, kuatkanlah hamba.”

***

Di kantor, dokter Tyas selalu mengungkit ketika mengundang Zein untuk datang ke rumah dan Zein menolaknya. Tapi Zein hanya menanggapinya sambil bercanda. Sesungguhnya Zein tidak punya keberanian untuk berbuat gila-gilaan dengan perempuan lain. Ia hanya ingin bersenang hati dengan sanjungan dari dokter cantik yang tampak sekali sangat mengidolakan dirinya. Di kantor, Zein seperti anak kecil mendapat mainan, dan di rumah dia merasa seperti direcokin mainannya.

Bukan main, tapi Zein tidak merasa bahwa hal itu salah. Ia adalah benar. Yang salah adalah yang menyalahkannya.

“Dokter, mengapa makanannya tidak dimakan?”

“Sudah tadi kan?”

“Tapi cuma sedikit."

“Tidak begitu lapar.”

“Dokter sakit? Ya ampun Dok, laki-laki segagah Dokter bagaimana bisa sakit? Mau aku pijit sebentar?”

“Jangan, ini di kantor.”

“Dokter tidak mau ke rumah sih, padahal di rumah tidak ada siapa-siapa. Pembantupun tidak ada, saya benar-benar sendirian. Datanglah sepulang kantor, saya bisa memijit enak lhoh Dok. Betul, saya janji Dokter Zein akan keenakan dan bisa tertidur nyenyak,” rayu dokter Tyas, tak tahu malu.

“Dokter Tyas tukang pijit juga?” goda Zein, membuat dokter Tyas merengut.

“Dokter kok gitu. Masa aku tukang pijit? Kalaupun aku suka memijit, itu hanya untuk Dokter saja, bukan untuk sembarang orang.”

“Benarkah?”

“Benar, boleh nanti selepas kerja dicobain. Ya?” dokter cantik masih mencoba merayu.

“Kapan-kapan saja.”

“Istri dokter Zein galak ya?”

Zein menggeleng sambil tersenyum.

“Kalau begitu mengapa Dokter takut seandainya pergi sebentar, atau pulang terlambat beberapa saat?”

“Bukan takut.”

“Lalu apa?”

“Khawatir saja.”

“Khawatir ketahuan istri, lalu diomelin? Lalu sang istri marah-marah?”

“Tidak begitu.”

“Lalu apa?”

“Sulit dijelaskan. Yang penting bisa ketemu di sini, bercanda, memenuhi apa keinginan dokter cantik. Ya kan?”

“Tapi aku menginginkan sesuatu yang lain.”

“Yang lain itu sangat mahal.”

“Tidak. Dokter tidak usah mengeluarkan uang.”

“Justru kalau mengeluarkan uang itu tidak mahal.”

“Saya tidak mengerti maksud Dokter.”

“Tidak usah mengerti. Aku saja yang mengerti," kata dokter Zein dengan senyuman khasnya. 

Dan senyuman itu yang sesungguhnya membuat dokter Tyas mabuk kepayang. Tapi alangkah susah menguasainya. Dokter Tyas begitu royal, begitu penuh kasih sayang, tapi bukan kasih sayang seperti yang selalu diperlihatkan melalui pemberian barang-barang mahal. Dokter Tyas butuh kasih sayang yang lain. Yang akan membuat dirinya dimiliki dan memiliki.

“Ya sudah Dok, kalau makannya sudah kenyang, akan saya beresin mejanya ya, sebelum ketahuan yang lain.”

Zein mengangguk. Dokter Tyas membungkuk memunguti sisa makanan dan itu membuat Zein harus memalingkan muka. Dokter Tyas terlalu berani dalam berpakaian, dan Zein teringat ketika dirinya digunjingkan para perawat, bahwa dokter Tyas berpakaian tidak pantas, lalu dia tidak mengingatkannya.

Dokter Tyas berlama-lama membungkuk, pura-pura sangat sibuk mengumpulkan sisa makanan yang terserak di meja, lalu merasa kesal sendiri karena dokter Zein malah sibuk mengotak atik ponselnya.

“Dokter sedang mengirim pesan kepada istri Dokter?”

“Tidak.”

Zein meletakkan ponselnya, lalu melihat dokter Tyas tak lagi membungkuk.

“Dokter, bolehkah saya mengatakan sesuatu?”

Dokter Tyas yang sudah mengumpulkan sisa makanan di dalam keresek, kembali duduk.

“Bagaimana kalau mulai besok pagi Dokter memakai pakaian yang lebih tertutup?”

Dokter Tyas menatap Zein dengan mata berkedip-kedip.

***

Besok lagi ya.

Monday, April 27, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 26

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  26

(Tien Kumalasari)

 

Beberapa saat lamanya Indras terpaku di depan pintu, sambil memelototi strook belanjaan yang diberikan petugas toko langganan. Ia sampai tidak sadar ketika petugas itu pamit pergi dan ia hanya mengangguk tanpa rasa.

Sebuah kopor, dan jacket seharga ratusan ribu, kopor yang tidak murah, lalu apa lagi yang dibelinya? Sampai tertinggal di toko? Karena saking banyaknya? Lalu barang-barang yang lainnya ada di mana? Hem mahal, baju baju, kaos bermerk, jumlahnya tidak sedikit. Belanja yang bukan main. Apa dia membelikannya kepada dokter cantik selingkuhannya? Gaun mahal, adakah gaun mahal … atau ia hanya membelikannya kaos-kaos ini. Dia kan suka pakai baju-baju yang sporty walau sedang bertugas?

Ada pula celana, dan jacket lagi, kaos lagi … Indras merasa pusing. Ia meletakkan barang tertinggal itu di ruang tamu, kemudian dia ke kamar lalu memijit-mijit kepalanya yang berdenyut.

Ia mengambil air wudhu ketika mendengar adzan, lalu menumpahkan segala keluh di atas sajadah tempatnya bersujud.

“Apa yang harus hamba lakukan, Ya Allah sesembahan hamba? Hamba tak tahan lagi, haruskah hamba pergi?”

Indras mengusap air matanya ketika mendengar suara berisik di luar. Seperti barang-barang diletakkan dengan kasar, lalu langkah sepatu menuju kamar. Indras mendengar pintu kamar terbuka. Indras menoleh lalu terdengar sentakan yang keras.

“Mengapa shalat di sini sementara ada mushola di samping?”

Hanya masalah bertanya mengapa shalat di kamar, tapi suaranya gemuruh seperti guntur diantara hujan.

Indras tak menjawab. Ia melepas mukena dan melipatnya pelan, berikut sajadah yang tadi digelar.

Ia meletakkannya di atas kasur.

“Kamu tidak mendengar aku bicara?”

“Biasanya kamu tak mau bicara,” jawabnya singkat kemudian keluar dari kamar.

Indras melihat barang-barang berserakan di lantai. Belanjaan suaminya? Ternyata bukan untuk perempuan itu? Dan dia belanja gila-gilaan? Indras ingin mendiamkannya, tapi karena ini luar biasa, maka dia menegurnya, ketika ia melihat sang suami mengikutinya.

“Untuk apa belanja barang-barang sebanyak ini?”

“Memangnya kenapa? Nggak suka?”

“Kamu membeli barang-barang yang sembarangan dan tidak diperlukan. Apa akan kamu berikan kepada doktermu yang cantik itu?”

“Apa maksudmu? Kapan kamu tidak berpikiran jelek tentang aku?”

“Aku hanya bertanya. Ini tidak wajar.”

“Apa yang tidak wajar? Kamu menganggap aku gila?”

Indras ingin menjerit saking jengkelnya. Ia tak tahu harus mengatakan apa, ia heran dengan kelakuan suaminya. Ia hanya bertanya dan karena itu sangat luar biasa, tapi jawabnya sangat menyakitkan dan membuatnya semakin sedih.

Akhirnya Indras diam, dan itu membuatnya semakin berteriak.

“Mengapa kamu diam?” sentakan itu menggetarkan dadanya. 

Jadi daripada dia menjawabnya lalu lebih baik ia kembali masuk ke dalam kamar. Malu juga didengar oleh pembantu di rumah.

Tapi Zein mengikutinya masuk.

“Kamu belum menjawab pertanyaan aku,” masih keras suara itu.

“Pertanyaan yang mana?”

“Kamu anggap aku gila?”

“Aku tidak mengatakan itu. Kamu sendiri yang mengatakannya.”

Ketika Indras ingin duduk di sofa yang ada di kamar itu, Zein mendahuluinya.

Indras tak mengatakan apa-apa, sampai kemudian terdengar dering ponsel suaminya, yang segera diangkatnya sambil berjalan keluar.

Indras merasa sakit mendengar suara tawa suaminya saat menerima telpon. Mengapa dia bisa tertawa kepada orang lain dan selalu amarah yang ditumpahkan untuk dirinya? Begitu manis kata-katanya ketika menjawab. Indras bangkit, dibukanya pintunya sedikit, lalu terdengar Zein berbicara sambil terkekeh.

“Maaf, aku tidak bisa. Bukan, bukannya tidak mau, aku sedang ada keperluan. Tidak masalah, besok bisa kamu bawa ke kantor kan … pasti … aku selalu suka … apa yang rusak? Nanti beli yang baru … ya, jangan marah dong, nanti cantiknya hilang bagaimana... Beneran, besok beli baru, sudah dulu ya....Yaa, ada … tak apa, baiklah, selamat malam cantik…”

Indras melompat ke atas tempat tidur dan menyembunyikan tangisnya di bawah bantal.

***

Lewat tengah malam ketika dia terbangun dan bermaksud mengambil air wudhu, ia tak melihat suaminya di sampingnya, ia melongok keluar dan melihat sang suami masih terjaga. Barang-barang belanjaan yang semula terserak sudah tak ada lagi. Bersih dan rapi disekelilingnya. Entah ditaruh di mana barang-barang belanjaan itu, Indras tak ingin menanyakannya. Ia melihat suaminya diam di depan televisi yang masih menyala. Ada pertunjukan sepak bola yang entah antara siapa dan siapa, tapi ia yakin sang suami tidak melihat pertunjukan itu, karena matanya menerawang ke langit-langit. Ia bahkan tak menoleh ketika mendengar ia membuka pintu dan pergi ke arah mushala. Ia tak akan shalat di kamar seperti tadi, daripada disemprot suaminya tanpa alasan. Padahal bukankah Allah ada di mana-mana?

Indras kembali bersujud, mengadukan duka lara yang menimpanya. Berharap menemukan jalan keluar yang bisa meringankan bebannya.

Ia merasa yakin suaminya berselingkuh, dan suaminya mengumbar hartanya demi menyenangkan perempuan itu. Ia ingin lari dari kehidupan itu, tapi rumah tangganya sudah dijalani puluhan tahun. Anak-anaknya sudah dewasa, bahkan Santi sudah mendapat pekerjaan di luar kota, sehingga anaknya yang ada hanyalah Sinta. Itupun karena dia sibuk menyelesaikan kuliahnya, jadi Indras tak ingin mengganggunya dengan keluhan-keluhan.

Lama sekali Indras bersujud, sampai adzan subuh menggema.

***

Ketika pagi ia merasa malas untuk berangkat kerja, ia melihat Zein sudah rapi dan tampak sangat bersemangat. Padahal entah jam berapa dia tidur, atau bahkan tidak tidur sama sekali.

Tiba-tiba Indras teringat bahwa uang belanja yang diberikan Zein sudah habis. Bibik mengatakannya kemarin pagi.

Karena Indras tak lagi mau mengeluarkan uang sepeserpun, maka ia terpaksa mengatakannya kepada sang suami.

“Zein, uang belanja sudah habis. Bibik sudah melaporkannya kemarin.”

“Apa? Dua juta sudah habis? Apa kamu mengajari pembantu agar berlaku boros untuk menghambur-hamburkan uang?”

Indras mengerutkan keningnya. Dua juta untuk belanja sebulan, dan dia mengatakan boros serta menghamburkan uang? Bagaimana dengan belanjaan yang dia beli bahkan sampai pusing Indras membayangkannya.

“Ada catatan bibik kalau kamu ingin membacanya,” kata Indras dingin.

Wajah Zein gelap bagai mendung. Ia meletakkan uang dua juta di meja dengan kasar.

“Apa kamu tak mau sedikitpun memberikan sebagian uangmu untuk belanja?”

“Tidak,” kata Indras sambil menggelengkan kepalanya dan menyunggingkan senyuman sinis.

“Ya sudah, pakai itu dan jangan pergunakan uang itu untuk hal yang tidak berguna,” katanya sebelum ngeloyor pergi menghampiri mobilnya dan berlalu.

Indras mengerutkan keningnya.

“Siapa mempergunakan uang untuk hal yang tidak berguna? Siapa menghambur-hamburkan uang?” gumamnya dengan wajah datar. Lalu dipanggilnya bibik.

“Bik, itu uang untuk belanja dan semua kebutuhan.”

“Saya bawa semua, Nyonya?”

“Iya, tentu saja. Itu untuk kebutuhan semuanya. Kalau habis atau kurang, kamu tinggal membuat laporan seperti kemarin.”

“Saya mencatat semua pengeluaran setiap hari. Kemarin tuan juga sudah memberikan uang gaji saya.”

“Bagus, memang biasanya tuan yang memberikan.”

“Saya permisi Nyonya, nanti mau belanja lagi. Sabun cuci, sabun mandi, odol sudah habis. Saya juga akan membeli sikat gigi yang baru, kemarin non Sinta berpesan begitu.”

“Lakukan saja apa yang harus kamu lakukan, semua kebutuhan harus tercukupi. Kalau habis cukup bilang sama aku.”

“Baik Nyonya.”

Ketika bibik berlalu, Indras bersiap pergi bertugas. Padahal sebenarnya kepalanya sangat pusing. Ia membayangkan sang suami akan membelikan sesuatu, seperti yang didengarnya ketika mereka bertelpon. Ia tak tahan lagi. Harus ada yang dia putuskan. Jalan terus, atau berhenti. Kalau tidak dirinya akan hancur.

Dalam perjalanan ke tempat kerja, Indras terus menimbang-nimbang. Semuanya harus berhenti. Ia adalah dokter, di mana ketenangan dalam menghadapi pasien sangat diperlukan.

***

Sore hari ketika suaminya pulang, Indras mendekatinya.

“Zein, aku ingin bicara.”

Saat itu Zein sedang duduk di teras. Seperti biasa ia sedang mengutak atik ponselnya. Hanya itu yang membuatnya tenang.

Zein mengangkat wajahnya, yang tiba-tiba menjadi muram.

“Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan. Aku tidak ingin hal buruk ini berlanjut.”

“Apa maksudmu?” Zein mulai mengerutkan kening. Wajahnya sangat tak sedap dipandang.

“Aku ingin mencari ketenangan, jadi biarkan aku pergi.”

”Apa?” seperti biasa Zein berteriak.

“Biarkan aku pergi sehingga kamu tidak perlu melampiaskan kekesalan dan kemarahanmu di rumah ini. Dengan demikian kamupun akan lebih tenang dan nyaman.”

Tiba-tiba Zein berdiri, wajahnya merah padam. Indras siap menerima apapun yang akan dikatakan suaminya, tekatnya sudah bulat.

“Kalau begitu biarkan aku mati saja!”

Itu sebuah teriakan, sangat keras seakan membubung ke atas langit, membuat Indras gemetar.

***

Besok lagi ya.

Saturday, April 25, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 25

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  25

(Tien Kumalasari)

 

Zein terdiam. Mengunjungi seorang janda di rumahnya? Untuk acara apa? Dulu dia datang, untuk merayakan ulang tahunnya, tapi sekarang apa?

“Dokter, mengapa Dokter diam?” suara dari seberang. Merengek seperti kambing.

“O tidak, aku sambil mengerjakan sesuatu.”

“Jadi bagaimana, apa Dokter bersedia? Aku akan masak, seenak masakan almarhumah ibunda. Tak ada siapapun di rumah Dok, kita bisa berbincang sepuas hati kita. Hitung-hitung mengisi kekosongan hati saya setelah suami pergi.”

“Nanti aku pikirkan lagi ya. Jangan merengut, nanti cantiknya hilang.”

“Bener ya, jangan membuat saya kecewa ya Dok.”

“Daag, cantik,” kata Zein memutuskan pembicaraan itu.

“Saya tunggu ya Dokter.”

Ketika meletakkan kembali ponselnya, Zein termangu. Sebuah undangan yang menarik. Hanya berdua bersama janda, sepi tak ada orang lain, dan bisa berbincang dengan nyaman. Hanya berbincang? Bukankah setan suka sekali mengutak atik hati manusia dengan iming-iming yang lezat dan nikmat?

Sesungguhnya Zein bukan laki-laki seperti itu. Ia hanya ingin mencari kesenangan dengan puja puji dari seseorang yang tidak didapatkannya di rumah. Ia hanya suka senyumnya, suka celotehnya yang meluncur dari bibir tipisnya. Suka pakaiannya yang seronok dan menggugah selera aneh? Zein suka membuang muka ketika dokter Tyas sedang berlenggak lenggok memamerkan keseksiannya. Tapi apakah dia akan bisa bertahan ketika godaan demi godaan semakin gencar menghajarnya?

Zein membenahi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.

Ketika ia melewati ruang perawat, telinganya mendengar sebuah gunjingan, dan itu tentang dokter Tyas.

“Lama tidak melihat dokter Tyas ya, biasanya melewati ruangan ini dengan pakaian seksi.”

“Ya ampuun, kamu betul. Tahu nggak, semua dokter selalu melotot melihat penampilannya.”

“Keterlaluan. Aku nggak suka melihatnya. Ia memakai jas dokter tapi tidak dikancingkan seluruh kancing di depannya.”

“Kan hanya ingin memamerkan bahwa dia cantik dan montok?”

“Mengapa ya, dokter Zein tidak menegurnya.”

“Eeeh, kamu tidak tahu ya? Dokter Tyas itu anak emas dokter Zein.”

“Betul … betul … kalau ada di dekat dokter Zein, dia memperlihatkan kemanjaannya. Memuakkan!”

“Tapi kalau keterlaluan seharusnya ditegur.”

“Rasa sayang itu mengalahkan segalanya.”

“Dokter Zein itu istrinya cantik lhoh. Dia juga baik.”

“Ya, aku tahu itu. Cara berpakaiannya juga sopan. Kalau pas ada acara kemari, dia menyapa semua orang dengan sangat santun.”

Zein yang berhenti menguping tak tahan mendengar itu semua. Rupanya kedekatannya dengan dokter Tyas tercium juga oleh perawat-perawat itu. Barangkali juga oleh dokter yang lain, yang tentu saja sungkan menegurnya karena dia adalah pimpinan tertinggi di rumah sakit itu.

Zein berdehem, dan sepi di ruangan itu segera menyengat. Tak ada suara, karena semua menutup mulut.

Tapi Zein tidak mengatakan apa-apa. Ia terus berlalu menuju lobi, meninggalkan rasa ketar ketir yang memenuhi ruang perawat itu.

“Ya ampuun, aku kira dokter Zein masih di ruangannya,” bisik seseorang.

“Tumben-tumbenan pulang cepat.”

“Soalnya dokter genit itu sedang cuti.”

“O iya. Aduuh, tadi dia mendengar tidak ya kita ngomongin dokter Tyas?”

“Dan menyinggung namanya juga lhoh.”

“Ya sudah … bubar … bubar, tugas baru dimulai sudah ngegosip.”

***

Zein mengendarai mobilnya sambil memikirkan gunjingan yang barusan didengarnya. Ternyata kelakuan yang tidak wajar bisa menjadi perhatian. Ia ingin marah, tapi mengapa marah kalau semua itu adalah kenyataan?

Mereka benar. Cara berpakaian dokter Tyas sangat tidak pantas, dan dia selaku pimpinan tidak pernah menegurnya. Lalu kalau nanti dia memenuhi undangan dokter Tyas, apakah gunjingan itu tidak akan menjadi semakin seru?

Zein merasa gelisah. Lalu ia tak ingin pulang. Ia mengendarai mobilnya tanpa arah. Yang penting jalan. Ke rumah dokter Tyas? Tidak. Zein bukan mencari kepuasan yang tidak pantas.

“Kalau dokter Tyas menginginkan lebih, biarkan saja. Kalau dia marah karena aku tidak memenuhi undangannya, biarkan saja juga. Aku pasti bisa membuatnya kembali tersenyum,” gumamnya.

Dan senyuman itu terkadang sering dirindukannya.

Zein terus memacu mobilnya, lalu berhenti di sebuah rumah makan. Ia ingat belum makan sejak di rumah sakit, sekarang ia merasa lapar.

Dalam makan itu dokter Zein merasakan sebuah kegelisahan yang entah dari mana datangnya. Ia ingin marah, ia ingin menangis. Apa? Menangis? Tabu bagi dokter memperlihatkan kelemahannya. Dia adalah laki-laki perkasa yang tak ada duanya. Tapi mengapa hatinya tidak bisa menjadi tenang?

Akhirnya dokter Zein tidak menghabiskan makanannya. Ia berdiri dan beranjak keluar, yang untungnya dia tidak lupa membayar makanannya.

Tapi ia tak menuju ke arah mobilnya.

***

Indras heran, hari sudah senja tapi suaminya belum pulang. Mereka tak bertegur sapa sudah berbulan-bulan, tapi Zein tidak pernah pulang terlambat, kecuali ada sesuatu di kantornya.

Tapi kali ini Indras benar-benar gelisah. Ia marah kepada suaminya, ia kesal dan kecewa atas apa yang diperbuatnya, tapi ia tetap memikirkannya dan berharap dia akan baik-baik saja.

Karena tak tahan berpikiran yang sangat mengganggunya, dia menelpon ponselnya. Tidak diangkat. Lalu dia menelpon ke rumah sakit.

“Dokter, dokter Zein sudah pulang dari tadi. Bahkan lebih awal dari biasanya.”

“Oh, baiklah, terima kasih.”

Indras meletakkan ponselnya. Ada perasaan aneh menghantuinya. Ia pulang awal? Apakah bepergian dengan perempuan ganjen itu?

Karena penasaran dia menelpon lagi ke ruang dokter, ia pura-pura ingin bicara dengan dokter Tyas. Tapi jawabannya mengejutkannya.

“Dokter Tyas cuti sudah hampir seminggu.”

Sambil meletakkan kembali ponselnya, ia berpikir tentang kepergian Zein yang pastinya dengan perempuan itu. Rasa panas membakar darahnya.

“Mama, kok papa belum pulang?” yang bertanya adalah Sinta.

“Entahlah, barangkali ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan," jawabnya sekenanya.

“Minuman Mama Sinta bawa ke teras ya, nanti keburu dingin. Tadi Sinta yang membuatkannya.”

“Terserah kamu saja.”

Sinta beranjak ke belakang lalu keluar dengan membawa dua cangkir kopi panas.

Tapi mereka tak banyak bicara. Sinta asyik mengutak atik ponselnya, sedangkan Indras sedang berpikir tentang suaminya. Rupanya Sinta hanya ingin menemani mamanya dalam menunggu kepulangan sang papa.

***

Sudah lewat maghrib dan Zein belum pulang juga. Kopi yang disediakan Sinta sudah dingin, sementara Indras sudah menghabiskannya. Teras sudah kosong tak ada orang karena saatnya melakukan ibadah maghrib.

Indras sempat menangis di atas sajadahnya, sesambat kepada Allah Tuhannya, tentang hidupnya yang di tahun-tahun terakhir ini kurang bahagia.

“Hanya Engkau yang bisa menolong hambaMu ini Ya Allah, tolonglah hamba. Tunjukkan jalan mana yang harus hamba tempuh,” isaknya.

Indras keluar dari kamarnya dengan perasaan lebih ringan. Ia merasa memiliki tempat untuk bersandar dan berserah, ia tahu ia akan melakukan hal yang benar karena bimbinganNya.

Ketika ia keluar dari kamar, bibik menghampirinya.

“Nyonya, uang yang saya bawa sudah tinggal beberapa. Ini catatan yang saya buat hampir selama sebulan. Ini catatan per hari dan apa saja yang saya beli. Beras, sabun, pewangi dan belanja harian. Mohon Nyonya membacanya.”

Indras menerima catatan itu, lalu membacanya sekilas. Kebutuhan sebulan termasuk beras dan lain-lain. Indras tak ingin menghitung-hitung. Ia percaya pada bibik yang sudah ikut bersamanya sejak masih pengantin baru. Ia selalu jujur dan bekerja dengan sangat memuaskan.

“Untuk belanja harian barangkali saya harus minta uang lagi, Nyonya.”

“Ya, baiklah. Nanti saya bicara lagi dengan  tuan.”

Bibik beranjak ke belakang. Ia melihat kegelisahan yang sejak tadi tampak pada wajah nyonya majikannya. Ia juga belum melihat sang tuan pulang sejak pagi.

Indras kembali ke teras. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ini dari butik langganannya. Butik yang lengkap. Bukan hanya baju-baju yang dijualnya. Tas bermerk juga ada.

“Selamat malam, dengan dokter Indras?”

“Ya, saya. Ada apa Mbak?”

“Dokter Zein ada?”

“Tidak ada, ada yang bisa saya bantu?”

“Ini, Dok. Belanjaan dokter Zein ada yang ketinggalan, juga notanya. Saya sedang menyuruh pegawai saya mengantarkannya ke mari.”

Indras terkejut. Belanjaan apa?

“Yang ketinggalan apa ya?” Indras sebenarnya tak tahu menahu tentang belanjaan suaminya, tapi ia pura-pura tahu agar tidak kelihatan aneh.

“Sebuah kopor dan jacket. Maklum tadi dokter Zein membawa barang banyak. Tapi jangan khawatir, kami sudah mengirimkannya ke rumah.”

“Oh, baiklah, terima kasih.”

Indras menutup ponselnya.

“Belanjaan banyak sekali? Kopor dan jacket ketinggalan?”

Tak lama ia berpikir, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Seorang kurir turun, membawa kopor dan bungkusan besar yang pastinya adalah jacket seperti yang dikatakan pemilik toko langganan.

Indras menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Kurir itu juga menyerahkan nota belanjaan yang membuat Indras terbelalak.

“Limaratus juta lebih?”

***

Besok lagi ya.

Friday, April 24, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 24

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  24

(Tien Kumalasari)

 

Zein menatap tajam istrinya. Kemarahan mulai membakar jiwanya, dan juga darahnya. Apalagi ketika ia melihat wajah sang istri yang bicara seakan tak ada sungkan-sungkannya padahal sedang membicarakan uang belanja. Hal yang selama berpuluh tahun tabu bagi sang istri. Memang benar. Indras tak pernah mengeluh. Ia juga tak pernah meminta jatah uang belanja. Baginya ia mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya, karena kebutuhan anak sekolah dan pembantu sudah dipenuhi suaminya. Indras barangkali tak tahu bahwa seorang istri berhak mendapatkan jatah bulanan dari penghasilan suami. Tapi ketika mengetahui bahwa suaminya menghamburkan uang untuk menyenangkan orang lain apalagi itu adalah seorang perempuan, maka marahlah Indras.

“Apa maksudmu?” Zein berteriak.

“Apakah kamu pernah memberi aku nafkah bulanan seperti para suami pada umumnya?”

”Jadi kamu membandingkan aku dengan suami yang lain? Apa kamu menginginkan suami yang lain pula?”

“Bukan. Aku menginginkan kamu sebagai suami aku, yang melakukan kewajibannya sebagai suami yang benar-benar suami. Apa kamu keberatan memberikan jatah bulanan kamu kepada istri kamu? Apa kamu lebih suka memberikan penghasilan kamu untuk menyenangkan orang lain?”

“Apa?” Zein semakin berteriak.

“Maksudku … kepada perempuan lain?”

“Ternyata kamu benar-benar memata-matai aku."

"Aku bukan memata-matai kamu, tapi Allah membuka mataku tentang sebuah permainan keji yang kamu lakukan diluar keluarga kamu. Entah sudah berapa banyak uang kamu terhambur untuk memanjakan perempuan lain.. Alangkah baik hati kamu.”

Tiba-tiba Zein berdiri dan beranjak keluar dari rumah, sambil membanting pintu sangat keras, membuat Indras lumayan kaget walau sebelumnya sudah menduganya.

Indras menarik napas lega. Ia sudah mengeluarkan semua endapan yang mengaduk-aduk perasaannya. Ada air mata yang kemudian bergulir, tapi cepat segera diusapnya.

***

Sejak saat itu Zein tak pernah berkata-kata. Ia diamkan istrinya, ia diamkan anak-anaknya, bahkan sudah berhari-hari.

Pagi hari itu Zein meletakkan uang dua juta di meja dapur. Ia menoleh kepada bibik dan mengatakan itu uang untuk belanja.

Sebelum bibik menjawabnya, Zein sudah pergi dari hadapannya. Ia menghampiri mobilnya dan memacunya keluar dari halaman.

Bibik meraup uang itu, lalu bergegas mencari nyonya majikan yang kebetulan belum berangkat bekerja.

“Nyonya … Nyonya ,,, “

Indras menoleh ke arah pembantunya yang tergopoh mendekat sambil mengacungkan lembaran uang.

“Ada apa?”

“Nyonya, tadi tuan meletakkan uang ini di meja dapur.”

“Uang?”

“Tuan bilang, ini uang untuk belanja. Ini Nyonya, saya belum memerlukannya. Uang dari nyonya kemarin masih ada.”

“Bawa saja Bik, cukupi semua kebutuhan dapur dan yang lain-lainnya dengan uang itu.”

“Tapi saya membawa uang terlalu banyak, Nyonya.”

“Tidak apa-apa, supaya kamu tidak bolak-balik  minta kalau persediaan barang-barang ada yang habis.”

“Nyonya ….” bibik masih ragu.

“Sudah simpan saja oleh Bibik, aku mau berangkat dulu,” kata Indras sambil terus melangkah menjauh.

Bibik menatap segenggam uang yang ada di tangannya, lalu masuk ke dalam rumah. Ada apa ini, mengapa sekarang sang tuan yang memberi uang belanja, dan sikap kedua tuannya memang agak berbeda. Mereka pasti sedang berantem. Beda ya, berantemnya orang kaya dengan orang miskin? Berantem tapi diam-diam. Pikir bibik. Ia tidak tahu kalau tuan dan nyonya majikannya sudah lama berantemnya.

***

Zein baru menginjak lobi rumah sakit, ketika seseorang dengan tampilan sexy menyambutnya.

“Dokterku yang ganteng baru datang?”

Zein menatap penampilan dokter Tyas yang mengenakan rok pendek dan baju ketat melekat yang mencetak penuh seluruh bentuk tubuhnya.

“Mengapa Dokter menatap saya? Ya ampun, hari ini Dokter kelihatan lesu, apakah Dokter sakit?” kata dokter Tyas yang mengiringi dokter Zein masuk ke dalam.

“Tidak, hanya sangat letih.”

“Memangnya kenapa? Istri Dokter minta ditemani semalam suntuk?” canda dokter Tyas.

“Tidak. Aku tidak bisa tidur akhir-akhir ini.”

“Tidak bisa tidur? Apa Dokter banyak pikiran?”

“Tidak juga.”

“Saya pikir Dokter memikirkan saya, sehingga tidak bisa tidur,” kata dokter Tyas yang sudah masuk ke ruangan dokter Zein.

Zein tersenyum.

“Dokter kalau tersenyum manis sekali lhoh. Sungguh,” katanya sambil duduk di depan meja kerja Zein.

Zein kembali tersenyum, tapi ia menegur dokter Tyas karena tidak segera pergi ke ruang kerjanya.

“Mengapa Dokter cantik duduk di sini? Pasien pasti sudah banyak yang menunggu.”

“Dokter, saya hanya ingin minta ijin.”

“Minta ijin untuk apa?”

“Cuti seminggu. Boleh kan Dok?”

“Memangnya mau ke mana?”

“Ada acara dengan teman-teman sekolah saya. Ke Bali.”

“Ke Bali? Jauh banget. Aku kesepian dong.”

“Dokter jangan khawatir, aku tidak akan melupakan Dokter kok. Setiap hari aku pasti akan menelpon.”

“Mulai kapan?”

“Besok ya Dok? Please,” rayu dokter Tyas dengan suara yang mendayu-dayu.

Dokter Tyas merasa lega ketika akhirnya Zein mengangguk.

“Terima kasih Dokter.”

“Segera ke ruang kerja Dokter, akan saya tanda tangani surat cutinya.”

“Baik, terima kasih banyak Dokter.”

***

Sudah lewat tengah malam ketika Santi merasa haus kemudian terbangun, lalu keluar dari kamar untuk mengambil air minum.

Ketika melewati ruang tengah, ia melihat sang papa masih terjaga. Ia duduk melamun sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sudah sering Santi melihat pemandangan seperti itu. Tadinya Santi diam saja, tapi kali itu Santi menegurnya.

“Papa belum tidur?”

“Ya, kamu juga belum tidur?”

“Santi terbangun karena haus, ini mau mengambil air minum.”

“Setelahnya kamu harus segera tidur kembali.”

“Papa kalau tidur malam sekali. Padahal dari pagi sampai sore harus bekerja.”

“Papa sangat sulit bisa tidur sore.”

“Pasti sangat melelahkan. Apa Papa sedang memikirkan sesuatu?”

Zein menatap anak sulungnya. Ada rasa curiga, jangan-jangan istrinya sudah mengatakan sesuatu yang menyudutkannya.

“Apakah Papa berantem dengan mama?”

“Apa kamu sudah ketularan mama kamu?”

“Apa Pa?” Santi terkejut karena sang papa seperti marah.

“Penyakit mama kamu sudah menular kepada kamu.”

“Penyakit apa tuh?”

“Penyakit ingin tahu urusan orang lain, penyakit sok mengerti, sok pintar dan _”

“Pa, mengapa Papa berkata seperti itu? Santi hanya memperhatikan Papa. Barangkali ada sesuatu yang_”

“Tidak ada, segera kembali ke kamar kamu dan tidur,” tandas Zein dengan tatapan dingin.

Santi membalikkan tubuhnya dengan perasaan heran. Barangkali benar apa yang dikatakan sang mama. Sedang terjadi sesuatu pada papanya. Santi ingin bertanya lebih jauh, tapi hardikan sang papa sudah membuatnya surut ketakutan.

***

Zein merasa suntuk. Sekelilingnya terasa sunyi. Celoteh dokter cantik sudah beberapa hari tidak terdengar. Pasti sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.

Tak ada ucapan selamat pagi keluar dari mulut tipis sambil berlenggang memasuki ruang sambil membawa makanan. Dua hari lagi masa cuti dokter cantik baru akan berakhir.

Zein ingin menelponnya tapi diurungkannya. Ia sudah mengirim WA tapi tidak direspon, pasti dia sedang sibuk sehingga tak sempat membalasnya. Tapi ketika ia sedang termenung, tiba-tiba ponselnya berdering.

“Hallo Dokter gantengku,” sapa riang dari seberang.

“Hai, cantik. Sudah lama aku kehilangan senyum kamu. Kapan kamu kembali?”

“Dua hari lagi Dok, tapi sehari sebelumnya saya sudah ada di rumah.”

“Seneng ya, bersama teman-teman kamu?”

“Dok, sebenarnya saya tidak ke Bali.”

“Lhoh, kamu bilang akan ke Bali. Jadi ke mana dong?”

“Saya sedang proses cerai dengan suami. Ini sudah kelar, tinggal menunggu surat resminya.”

Zein heran. Membicarakan masalah cerai, tapi sambil tertawa-tawa riang begitu? Bukannya menangis sedih?

“Kamu cerai?”

“Ya, prosesnya sudah lama, tapi saya kemudian minta dipercepat.”

“Kamu mau cerai, tapi tidak terdengar sedih pada suara kamu?”

“Soalnya saya justru senang.”

“Senang? Cerai tapi kamu malah senang?”

“Suami tidak lagi cinta, apa saya harus menangisinya? Sudah lama dia tidak pulang. Biar saja tidak pulang selamanya.”

“Aku ikut prihatin.”

“Mengapa Dokter ikut prihatin? Saya saja tidak prihatin. Oh ya Dok, sehari lagi saya sudah di rumah, kalau Dokter mau datang ke rumah, saya senang sekali.”

“Besok?”

“Iya. Akan saya buatkan masakan enak untuk Dokter.”

“Nanti gampang. Yang jelas aku senang bisa mendengar suara kamu, biarpun tidak melihat senyum kamu.”

“Besok saya sudah ada di rumah. Datanglah ya Dok? Saya pastikan saya sendirian, seperti saat saya ulang tahun dulu itu.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, April 23, 2026

AKITKU ADALAH CINTAKU 23

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  23

(Tien Kumalasari)

 

Pemilik toko itu terbahak melihat Indras tercengang.

“Pasti suami Dokter ingin memberi kejutan. Ya ampun, saya minta maaf telah mengatakannya. Tolong jangan bilang ke dokter Zein kalau saya membuka rahasianya ya. Aduh, dokter Indras nanti harus pura-pura terkejut ya, untuk menyelamatkan saya dari omelan dokter Zein,” kata pemilik toko itu panjang lebar.

Indras berusaha tenang. Ia sudah tahu apa yang terjadi. Pasti pemilik toko itu tidak tahu kelakuan suaminya.

“Pasti ia mengira Zein memberikan arloji bagus untuk aku, tapi rasanya tak mungkin, Zein tak pernah begitu royal memberikan sesuatu untuk aku, karena merasa bahwa aku mampu membelinya sendiri,” kata Indras dalam hati.

Walau begitu Indras berusaha tersenyum. Ia tetap memberikan arloji tangannya yang patah kaitannya.

“Tidak apa-apa, benerin ini saja. Tidak nyaman menyimpan barang rusak,” kata Indras.

“Baik, baiklah Dokter, akan kami betulkan, tapi bener ya Dok, nanti harus pura-pura terkejut ketika dokter Zein memberikannya. Saya tidak ingin dokter Zein marah pada saya karena telah membuka rahasia sehingga menjadi bukan kejutan lagi nanti.”

Indras hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol tangannya, kemudian berlalu.

Ketika mengendarai mobilnya pulang, pikiran Indras bertambah kacau. Sudah sejauh apa hubungan Zein dengan perempuan itu sehingga ia rela memberikan barang mahal untuk selingkuhannya itu?

Sungguh menyakitkan kalau dipikir, ketika seseorang mengira dirinya mendapat hadiah dari suami, tapi ternyata hadiah itu untuk orang lain.

Tapi kemudian Indras berpikir lain. Jangan-jangan Zein memang beli untuk dirinya karena tahu kalau arloji saya patah kaitannya.

“Akan aku lihat nanti,” katanya sambil memacu mobilnya, dengan perasaan terganggu.

***

Ketika pulang, ia melihat sang suami sudah ada di teras, sedang mengutak atik ponselnya. Wajahnya cerah, tak ada amarah. Wajah cerah itu bukan untuk dirinya, tapi untuk orang lain yang entah bagaimana membuatnya begitu terhibur.

Indras masuk ke rumah sambil mengucapkan salam, tapi tidak dibalas sepatah katapun. Jarinya sibuk menutul keyboard di ponselnya sambil tersenyum-senyum.

Indras menekan dadanya yang terasa sakit.

Dari dalam terdengar teriakan Santi.

“Mama kok baru pulang?”

“Kamu juga baru pulang dari kuliah?”

“Iya, lapar sekali. Tadi minta papa agar ikut makan, tapi belum mau. Pasti papa menunggu Mama.”

Indras menutupi rasa perihnya dengan senyuman. Santi tidak tahu, papanya tidak sedang menunggunya, tapi sedang asyik ber ponsel ria dengan seseorang, yang pastinya Santi tidak atau belum tahu.

“Ya, sebentar, mama ganti baju dulu,” kata Indras yang kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.

Di ruang makan setelahnya, Santi harus nyamperin sang ayah dengan mengatakan bahwa ia ditunggu di ruang makan.

“Sebetulnya papa sudah makan,” kata Zein.

“Di kantor?”

“Iya.”

“Kalau begitu temani saja kami makan. Mama juga ingin makan. Bibik masak timlo, dimakan tanpa nasi juga pasti segar.”

Zein menuliskan sesuatu yang singkat, kemudian menutup ponselnya, lalu berjalan mengikuti anaknya.

Di ruang makan Zein dan Indras tak banyak bicara. Sesekali Santi yang berbicara, menceritakan tentang suasana kampus siang ini yang agak ricuh, karena kebijakan rektor yang tidak disetujui para dosen.

Zein hanya mengangguk angguk, dan Indras menikmati jamur kuping yang kenyal di dalam sayur timlonya.

Indras masih menunggu, barangkali sang suami bicara tentang arloji baru, tapi tak ada. Bahkan saat di kamar, ketika mereka tidur berdua tapi saling beradu punggung, dan bahkan sampai keesokan harinya ketika masing-masing berangkat kerja.

Indras tidak begitu berharap. Ia hanya salah dalam sedikit harapan yang pernah melintas. Memang arloji itu bukan untuknya. Seperti kata pemilik toko arloji kemarin, ia memang tidak lagi terkejut. Bukan masalah akan diberikannya hadiah sebuah arloji, tapi justru tidak diberikannya hadiah itu. Bukankah ia sudah menduganya?

***

Begitu sampai di kantornya, Zein memasukkan sebuah bungkusan ke dalam lacinya. Arloji cantik yang mahal dan sudah dijanjikannya kemarin, akan dipenuhinya janji itu di hari berikutnya. Di pagi hari jarang sekali dokter Tyas memasuki ruang kerjanya, jadi ia harus menyimpannya sampai siang harinya.

Hari penuh cerah ceria adalah di tempat kerjanya. Zein sendiri barangkali tidak merasa adanya ketimpangan dalam dirinya bersikap. Ia hanya ingin marah ketika berhadapan dengan istrinya, tapi ia begitu ceria saat berada di tempat kerja.

Barangkali juga ia tidak merasa bahwa telah menyakiti hati istrinya.

Sementara itu Indras berangkat agak siang karena ada sesuatu yang harus dikerjakan. Sebelum ia memasuki mobilnya, bibik berlari-lari mendekatinya.

“Nyonya, saya lupa bilang, ini catatan barang-barang kebutuhan dapur yang sudah habis, dan catatan uang belanja beserta sisanya."

Indras menatap sekilas catatan bibik.

“Mengapa baru bilang sekarang sih Bik?”

“Maaf Nyonya, saya lupa.”

Tanpa harus membaca keseluruhan catatan, Indras sudah tahu bahwa bibik butuh uang lagi untuk belanja. Ia membuka dompet yang ada di dalam tasnya, lalu memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada bibik.

“Ini Bibik bawa dulu. Catatannya nanti saja kalau aku sudah pulang.”

“Baik Nyonya.”

Indras masuk ke dalam mobilnya dan berlalu.

Bibik menutup gerbang kemudian masuk ke dalam rumah. Ia siap untuk belanja pagi hari itu, ketika semua majikan sudah berangkat meninggalkan rumah dengan kesibukan masing-masing.

***

Tapi dalam perjalanan ke kantor itu Indras kemudian berpikir. Selama hidup berumah tangga, dia yang mencukupi semua kebutuhan. Ia tidak menerima nafkah dari sang suami. Sang suami memenuhi semua kebutuhan, anak sekolah, gaji pembantu, tapi tidak memberi nafkah kepada istrinya. Awalnya Indras diam saja, toh ia punya uang dari penghasilannya sendiri. Tapi ketika mengetahui suaminya membelikan arloji mahal, Indras merasa sangat marah.

Ia yakin bukan hanya sekali suaminya royal kepada perempuan itu. Barangkali sudah bermacam-macam yang dia berikan kepadanya.

Rasa panas merayapi jiwanya, batinnya, darahnya. Memenuhi semua kebutuhan adalah kewajiban seorang suami. Memberikan nafkah kepada istri, bukan hanya nafkah batin, juga menjadi kewajibannya.

“Mulai sekarang aku tak mau keluar uang lagi untuk semua kebutuhan rumah tangga. Enak saja dia menghambur-hamburkan uang demi seseorang yang bukan siapa-siapa, tapi nafkah untuk istri dilupakannya.” gumamnya marah.

***

Dokter Tyas melonjak kegirangan ketika ia menerima hadiah arloji cantik dari dokter pujaannya.

“Terima kasih Dokter,” kata dokter Tyas yang siap memeluknya untuk meluapkan kegembiraannya, tapi Zein mendorongnya pelan.

“Jangan. Ini di kantor. Ada CCTV di mana-mana.”

Dokter Tyas terkekeh, kemudian duduk di kursi depan meja kerja Zein. Ia membuka kotak indah kecil yang berisi arloji cantik, lalu mengenakannya di tangannya.

“Bagaimana pendapat Dokter dengan arloji ini? Maksudku dengan lengan yang mengenakan arloji cantik ini?”

“Sangat indah. Pas di tangan kamu. Orangnya cantik, arlojinya cantik.”

“Terima kasih Dokter. Aku tidak salah kan, ketika mengatakan bahwa Dokter adalah orang terbaik di dunia ini. Ganteng, cakap, pintar, pokoknya tak ada duanya.”

Mata Zein berbinar. Ia tak pernah mendengar istrinya memuji setinggi langit. Sang istri cukup mengerti, dan walau mengakuinya, ia tak pernah mengatakan apapun. Ia hanya mengatakan cinta, ia tidak menyanjungnya.

“Aku juga mengucapkan terima kasih karena pujian-pujian kamu. Tampaknya kamu berlebihan deh.”

“Tidak, itu benar.”

“Bagaimana kalau suami kamu tahu bahwa kamu memakai arloji baru, padahal dia tidak memberikannya?”

“Suami saya tidak akan peduli. Dia jarang pulang karena punya istri muda,” katanya enteng.

“Benarkah? Dan kamu tidak merasa sedih diduakan oleh suami kamu?”

“Saya malah senang. Dia juga mengatakan bahwa akan menceraikan saya.”

“Kamu tidak mencintainya?”

“Dulu kami saling mencintai. Tapi setelah suami beralih ke perempuan lain, cinta itu sudah sirna. Lebih baik hidup sendiri. Toh saya mendapatkan perhatian yang sangat baik dari Dokter.”

“Tapi aku bukan suami kamu.”

“Apa bedanya? Yang penting adalah perhatiannya, bukan statusnya. Ya sudah, Dokter jangan bicara tentang dia, ini lho, sampai lupa kalau saya membawa makanan untuk Dokter.”

Zein tersenyum. Seperti biasanya ruang kerjanya dipergunakan untuk ruang makan, walau hanya sesaat.

***

Sore hari itu Indras mendekati suaminya yang duduk di ruang tengah.

“Zein, aku mau bicara.”

“Bicaralah,” katanya tanpa menatap sang istri.

“Uang belanja untuk bibik sudah habis.”

“Apa maksudmu? Apa kamu tidak bisa memberikannya? Apa uangmu sudah habis untuk kamu hambur-hamburkan?”

“Uangku tidak habis untuk aku hambur-hamburkan. Tapi uangku adalah uangku. Mulai sekarang kamu yang harus memenuhi semua kebutuhan. Aku tidak lagi mau mengeluarkan uang. Sepeserpun,” katanya tandas.

***

Besok lagi ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 27

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  27 (Tien Kumalasari)   Zein melangkah cepat keluar rumah. Wajah Indras menjadi pias. Sudah beberapa kali Zein meng...