BIARKAN AKU MEMILIH 25
(Tien Kumalasari)
Nirmala menunggu di tangga teras sambil menggendong Tama. Ketika dekat, Bima langsung mencium pipi Tama. Tapi ketika Bima mengulurkan tangan untuk menggendong, Tama menggelengkan kepala, lalu memeluk leher sang ibu dengan wajah cemberut.
“Hai Tama, ini om Bima, ayuk kenalan.”
Tapi Tama memeluk sang ibu lebih erat.
“Belum kenal soalnya Bim.”
“Sepertinya dia takut. Memangnya wajahku menakutkan ya?”
“Tidak, hanya karena belum kenal saja. Ayo masuk, kebetulan Adri ada di sini.”
Bima agak terkejut. Biarpun dia tidak bermaksud buruk, tapi mengingat bahwa Adri tidak menyukainya, keinginan masuk itu agak menyurutkan langkahnya.
“Ayo masuk,” kata Nirmala.
“Aku di sini saja,” kata Bima yang memilih duduk di teras.
“Di sini saja?”
“Iya, di sini saja.”
“Baiklah, terserah kamu saja.”
“Mana Adri?”
“Baru mandi. Dia juga belum lama datang.”
“Tama, ayo sini,” Bima kembali membujuk Pratama, tapi Pratama tak mau menoleh ke arahnya. Wajahnya muram.
“Kamu tiba-tiba pulang, ada berita apa?”
“Tunangan aku pulang besok, aku sudah harus di rumah, karena aku akan menjemputnya di bandara.”
“Bagus sekali, segera ajak dia menikah.”
Bima terkekeh.
“Semoga tidak ada alasan lagi untuk menolak.”
Sementara itu Adri yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar dan berpapasan dengan mbak Rana yang membawa nampan berisi tiga gelas minuman.
“Itu untuk aku?” tanya Adri.
“Untuk Tuan dan Nyonya, serta untuk tamu.”
“Ada tamu?”
“Iya, tuh di teras.”
Adri meraih salah satu gelas yang dibawa mbak Rana, lalu membawanya duduk dan meneguknya di sana.
Mbak Rana tersenyum, tampaknya sang tuan sangat kehausan sehingga ingin buru-buru minum. Ia melanjutkan langkahnya ke depan sambil membawa nampan. Mbak Rana sudah terbiasa, kalau ada tamu, tanpa disuruh dia pasti langsung membuatkan minum.
“Siapa tamunya?” tanya Adri ketika mbak Rana sudah pergi ke belakang.
“Saya belum pernah tahu, seorang laki-laki,” jawab mbak Rana kemudian berlalu.
“Adri menghabiskan minumannya, kemudian berdiri. Wajahnya langsung muram begitu melihat tamunya. Ia tak sedikitpun mengulaskan senyum meskipun Bima menyapanya ramah.
“Selamat sore Adri.”
“Selamat sore,” jawabnya singkat.
“Duduklah Adri, sudah lama kita tidak bertemu Bima,” kata Nirma.
“Aku sangat lelah, silakan dilanjutkan ngobrolnya,” katanya mempersilakan, walau wajahnya sama sekali tidak ramah. Rasa cemburu yang pernah dipendamnya ternyata belum hilang dari hatinya, biarpun dia sudah menikahi Nirmala.
“Pppaaa … ppaaap…paaa,” tiba-tiba Tama berteriak. Adri segera mengambil Tama dari pangkuan Nirmala, kemudian beranjak ke belakang, mengajak Tama duduk di ruang tamu.
Bima merasa tak enak, ia akan segera pamit, karenanya ia segera meraih gelas minumnya.
“Aku minum ya,” katanya karena Nirma tidak segera mempersilakannya.
Suasana menjadi kaku, karena sikap Adri yang sama sekali tidak bersahabat.
“Tampaknya aku akan segera pamit, aku pulang naik kereta, jam sembilan aku harus sudah di stasiun.”
“Baiklah, maaf tidak disuguhin apapun,”
“Ini sudah, minumannya sangat enak,” kata Bima sambil menghabiskan minumannya.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel Adri dari luar. Tak lama kemudian Adri mengangkatnya, dan menyapanya dengan manis.
“Ya, Dwi?”
Nirmala menekan rasa kesalnya. Sungkan ada Bima. Bima sedang berdiri lalu mencari keberadaan Adri.
“Mana Adri?”
“Di dalam, nanti aku pamitin deh,” kata Nirmala.
Bima mengangguk, tapi ketika ia akan turun dari teras, ia melihat Adri sedang bertelpon. Bima merangkapkan tangannya sambil tersenyum, dan Adri membalasnya dengan lambaian dan dengan senyum yang dibuat-buat.
“Ya, biasanya memang begitu kalau wanita hamil.”
Tapi kemudian Adri masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan pelan tapi tandas.
“Jangan sekali-sekali kamu menelpon aku lagi," lalu ia menutup ponselnya.
Rupanya Adri mau mengangkat telpon dari Dwi, hanya karena untuk memanaskan hati Nirmala yang sedang berduaan dengan Bima, yang ia tahu bahwa Bima adalah teman dekat Nirmala sejak lama.
Nirmala masuk ke dalam kamar, wajahnya muram. Di dekatnya, ia masih saja membicarakan kehamilan.
“Apa aku ini patung yang tak punya hati dan rasa?” gumamnya pelan.
Tapi kemudian Adri yang masih menggendong Tama mendekatinya.
“Mau apa dia kemari?” kata Adri datar.
“Memangnya kenapa kalau dia datang kemari?”
“Kamu beritahu dia bahwa kamu ada di sini, supaya dia mendatangi kamu selagi aku tidak ada kan?”
“Apa maksudmu?” kata Nirmala dengan nada tinggi.
“Aku tahu sejak dulu dia menyukai kamu. Ia sedang mencari celah untuk menemui kamu tanpa sepengetahuan aku.”
“Kamu menuduh sembarangan. Bima tidak serendah itu. Dia laki-laki baik dan sangat terhormat.”
TIba-tiba Tama merasa bahwa ayah dan ibunya sedang tidak baik-baik saja. Ia menangis melengking dan meronta-ronta.
Adri memanggil mbak Rana, yang segera datang lalu mengambil Tama dari tangan ayahnya. Ketika pintu kamar ditutup kembali, Adri menatap Nirmala dengan marah.
“Dan kamu sejak dulu selalu memuji-muji dia di hadapanku. Membandingkan dia dengan aku?”
“Aku tidak membandingkan. Aku tidak memuji-muji dia, aku hanya membela dia yang kamu tuduh bermain kotor, padahal dia sebenarnya baik.”
“Ya, dia baik … baik … dan baik. Dan aku buruk, tak berharga di hadapan kamu?”
“Tidakkah?” Nirmala mulai menyerang.
“Apa maksudmu? Kamu mencurigai aku tentang apa? Aku tidak melakukan apa-apa yang menodai pernikahan kita.”
“Semut di seberang lautan tampak oleh kamu, sedangkan gajah dipelupuk mata kau abaikan?”
“Apa maksudmu?” nada suara Adri semakin meninggi.
“Aku tidak perlu menjelaskan. Bertanyalah kepada diri kamu sendiri.”
“Kamu harus menjelaskan. Kamu marah dan kesal karena aku sering membantu Dwi? Kan aku sudah bilang kalau dia teman main aku sejak kecil, lumrah kalau aku membantunya. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa kami hanya teman. Dan aku juga sudah mengatakan pada kamu, kalau kamu tidak suka maka aku akan menghentikannya, tidak akan lagi membantunya.”
“Bagus. Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya?” untuk mengucapkan itu mata Nirmala menyala seperti percikan api yang menyengat.
“Apa itu urusanku?”
“Baru saja kalian bertelpon dan membicarakan kehamilan dia, kamu katakan bukan urusan kamu?”
“Dia hanya mengeluhkan kandungannya dan dia tak punya siapa-siapa untuk berkeluh.”
“Aduhai … kasihan benar, tak punya siapa-siapa untuk berkeluh, kalau begitu jagalah dia, karena itu kewajiban kamu kan?”
“Nirmala, apa kamu bilang? Mengapa kewajiban aku? Tidak, baiklah, kalau tentang Dwi aku minta maaf, tapi Dwi bukan siapa-siapa aku, aku janji tidak akan membantunya lagi,” kata Adri lebih pelan, bahkan sangat pelan.
“Jadilah pria yang bertanggung jawab.”
“Aku bertanggung jawab pada istriku, dan karena itu pula aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain, apalagi yang sebenarnya menyukai kamu.”
“Kembali pada Bima lagi? Kamu tidak mendengar tadi yang aku katakan?”
“Nirmala!”
”Aku lelah. Sangat lelah,” kata Nirmala lemah, kemudian keluar dari kamar.
Adri terpaku di tempatnya. Ia datang untuk menumpahkan rindu dan kangennya, tapi kejadiannya malah seperti ini. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di kamar itu, dan menghembuskan napas panjang berkali-kali. Tubuh dan jiwanya terasa lemas, ia tidak tahu harus bagaimana. Kalau Nirmala kesal karena kedekatannya dengan Dwi, ia sudah berjanji akan menjauhinya. Tapi Nirmala malah bicara yang tidak-tidak, dan sangat tidak dimengertinya. Apa maksudnya aku harus bertanggung jawab?
Adri memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.
Tiba-tiba ia mendengar celoteh Tama, menuju ke arah depan. Adri bangkit, lalu membuka pintu kamar. Tapi ia terkejut ketika melihat Nirmala bersiap pergi sambil membawa kopor, dan mbak Rana sudah mendahuluinya masuk ke mobil bersama Tama.
“Nirmala, kamu mau ke mana?”
“Biarkan aku pergi bersama Tama,” katanya diselingi isak.
Adri merasa tubuhnya sangat lemas. Tersaruk ia mengejar dan berteriak.
“Nirma, jangan pergi, aku mencintai kamu,” suaranya bergetar.
***
Besok lagi ya.