Friday, May 15, 2026

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 74

 SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  74

(Tien Kumalasari)

 

Agung meletakkan apapun yang tadi dipegangnya. Rapat ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Bagai terbang Ia melaju ke rumah sakit. Dadanya berdetak kencang. Separuh hatinya menyesali kejadian ini, separuhnya lagi menyesali mengapa Ristya tak pernah mau berhenti melakukan sesuatu yang membuatnya kecapekan.

Begitu masuk rumah sakit ia dihadang oleh pak Giman.

“Bagaimana keadaan Ristya?”

“Sedang ditangani, kita tidak boleh masuk,” kata pak Giman.

Agung bertambah panik. Ia ingin segera melihat keadaan istrinya.

“Bagaimana keadaannya? Bagaimana bayinya?” ucapnya gelisah.

“Tenanglah Nak, dokter sedang menanganinya, semoga semuanya baik-baik saja.

“Apa dia pingsan? Di mana dia waktu terjadi perdarahan?”

“Sedang mau masuk ke mal, mau belanja, tiba-tiba ketika turun dari mobil dia melihat darah mengalir di kakinya. Saya juga panik, lalu saya larikan dia ke rumah sakit.”

Agung mondar mandir ke sana kemari. Ia panik, dan tentu saja khawatir.

Ketika pintu ruang IGD terbuka, ia menghambur mendekati perawat yang keluar.

“Bagaimana istri saya? Bagaimana bayinya?”

“Bapak suaminya ibu Ristya?”

“Ya, saya suaminya.”

“Untunglah segera dibawa kemari. Bapak boleh masuk untuk menemuinya.”

Agung bergegas masuk, tapi ketika pak Giman mengikutinya, petugas melarangnya. “Hanya satu orang yang bisa masuk Pak, silakan menunggu diluar dulu.”

Agung menubruk istrinya, yang terbaring pucat.

“Bagaimana keadaan kamu? Bagaimana bayi kita?”

“Kata dokter bayinya bisa diselamatkan, tapi aku harus istirahat total.”

“Alhamdulilah,” Agung mencium kening istrinya.

“Kamu memang harus istirahat total. Di sini lebih baik, nanti aku suruh bibik menemani kamu. Kalau di rumah kamu pasti mengerjakan banyak pekerjaan, jadi lebih baik kamu istirahat total di sini.”

“Aku capek dong Mas kalau harus tiduran terus.”

“Ristya, kamu sayang anak kamu ini apa tidak? Bukankah kamu berjanji akan menjaganya dengan baik?”

“Iya Mas.”

“Kalau begitu menurutlah apa kata dokter. Kapan kamu dipindah ke ruang rawat? Kasihan bapak juga ingin menemui kamu.”

“Kata dokternya menunggu stabil dulu. Kalau keadaan baik-baik saja baru boleh dipindah.”

“Ristya, aku tadi takut sekali.”

“Maaf ya Mas.”

“Lain kali kamu harus menurut apa kataku. Jangan banyak bekerja, atau jangan mengerjakan apapun.”

“Baiklah, aku jangan dimarahi dong Mas.”

“Tentu aku marah kalau kamu tidak menurut.”

Ristya tersenyum. Agung memarahinya seperti sedang memarahi anak kecil.Jari telunjuknya menuding ke arah hidungnya juga, tapi hal itu kemudian membuatnya tertawa.

***

Entah mengapa siang hari itu Lukman teringat pada Ristya. Bukan apa-apa, ingatan itu terbit begitu saja. Ia menatap ke arah pigura di depannya, tapi yang terpampang adalah wajah Istiana. Wajah cantik dan kocak itu sedang tersenyum ke arahnya. Senyuman itu mengingatkannya ketika Istiana memarahinya karena ia selalu mengingat sesuatu yang hilang.

Lukman menghela napas panjang. Yang hilang biarlah hilang, ada yang akan memberinya semangat untuk melanjutkan hidupnya. Lukman membalas senyuman murai cantik yang terpampang di depannya.

“Aku melangkah karena kamu,” bisiknya sambil berusaha mengibaskan bayangan Ristya dari benaknya.

***

Mungkinkah diantara Lukman dan Ristya sebenarnya masih ada ikatan yang entah bagaimana, tersambung seperti seuntai benang yang dipegang masing-masing, yang enggan terputus walau badai menghantamnya?” Mereka tidak menyadarinya, tapi ketika salah satu diantara mereka terkena musibah maka satunya lagi seperti merasakannya. Tidak mudah sepotong cinta tak punya sisa. Cinta, apalagi cinta pertama adalah cinta yang tanpa diminta mengendap di relung sanubari. Katakan seribu kali tentang tak lagi ada cinta, tapi sebenarnya masih ada. Mungkin mereka tak menyadarinya, karena keberadaannya tersembunyi diantara puing-puing luka yang pernah ada.

Ristya terbaring di ruang rumah sakit, sang ayah mertua membezuknya.

“Ristya, kamu harus menjaga baik-baik kandungan kamu. Kalau kamu dan bayimu sudah kuat, besok ikut bapak memenuhi undangan pak Pras yang akan menikahkan anaknya.”

“Pak Pras?”

“Dia datang ketika kamu menikah. Kamu ingat Istiana kan? Anak gadisnya yang cantik? Dia yang akan menikah.”

“Dengan Lukman?” Ristya terkejut karena nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Kamu sudah tahu?”

“Iya Pak, beberapa hari yang lalu kami bertemu, ketika mengunjungi Bapak. Mereka tampak … serasi,” agak ragu ketika Ristya mengatakannya.

“Benar, pasangan yang serasi. Pak Pras itu kan sahabat bapak ini, jadi kita harus datang saat acara pernikahan itu.”

Ristya tersenyum, ia tentu saja bahagia. Sedikit luka yang pernah ada, tak harus selalu menyakiti, karena cinta yang lain sudah membalutnya.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, May 14, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 41

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  41

(Tien Kumalasari)

 

Zein hanya menatapnya, sampai pintu itu hampir tertutup. Tapi sebelum benar-benar tertutup dokter Tyas masih melongok lagi ke dalam.

“Kasihan teman saya kalau saya tidak datang, tapi kalau ke luar kota saya takut nyetir sendirian.”

Sebelum Zein menjawab, pintu itu sudah terutup.

“Bukankah hari itu anak-anak mengajak rekreasi ke luar kota juga? Bagaimana menolak dokter Tyas ya?”

Menghabiskan istirahat makan siangnya, Zein hanya berpikir tentang acara yang dibuat anak-anaknya, dan permintaan dokter Tyas untuk mengantarnya pergi memenuhi undangan ke luar kota.

Memang sih, sesiang itu dokter Tyas tidak mengganggunya dengan datang ke ruangannya, tapi kiriman pesan WA bertubi-tubi masuk. Tapi ia belum membacanya. Hatinya sedang tidak nyaman, dan pesan-pesan WA biasanya hanya berisi sanjungan dan pujian kepada dirinya. Yang baik hatilah, yang pintarlah, yang penuh pengertianlah, dan yang paling sering adalah selalu disebutnya bahwa Zein adalah dokter kesayangan, atau dokter kebanggaan.

Barangkali karena kiriman pesannya tidak dibaca, maka dokter Tyas menelponnya. Pada awalnya Zein memang tidak mengangkatnya, tapi karena deringnya menyakitkan telinganya, maka ia terpaksa menerimanya.

“Dokter kebanggaanku sedang apa, mengapa pesan saya tidak dibuka?” suara kenes kemayu itu menggelitik telinganya.

“Maaf, aku sedang bersiap untuk pulang.”

“Pulang awal? Dijemput istri?”

“Tidak.”

“Rupanya istri Dokter selalu mengawasi Dokter. Akhir-akhir ini Dokter tampak sangat ketakutan.”

Zein tertawa.

“Ada-ada saja, siapa yang ketakutan?”

“Baguslah kalau tidak, memang tidak seharusnya suami takut sama istri.”

“Ya sudah, aku mau pulang dulu ya.”

“Tumben buru-buru.”

Tapi Zein tidak menjawab, langsung meletakkan ponselnya dan benar-benar bersiap untuk pulang. Entah mengapa, dia merasa sangat gelisah. Kepalanya pusing dan itu akan membuatnya susah tidur.

Dia tidak langsung pulang, ada dokter langganan, seorang psikiater yang selalu didatangi tanpa sepengetahuan istrinya.

***

Hari itu sudah sore, Indras masih dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Pri, sahabat sejak masih kuliah dulu.

“Pri, ini kamu?”

“Ya, siapa lagi kalau bukan aku?”

“Lama tidak menghubungi aku.”

“Kamu di rumah?”

“Tidak...sedang mengendarai mobil mau pulang.”

“Sesore ini?”

“Tadi aku mampir-mampir, ada sesuatu yang harus aku beli.”

“Oh, kirain dari rumah sakit sesore ini.”

“Ada berita apa?”

“Omong kosong saja. Bagaimana keadaan suami kamu?”

“Akhir-akhir ini sudah agak berubah. Marah-marah sudah berkurang, atau bahkan tidak pernah marah.”

“Kamu melayaninya dengan sabar, pastinya.”

“Sangat sabar. Aku berusaha tidak melakukan sesuatu yang akan membuatnya marah. Aku lelah, dan semoga kesabaran aku akan membuahkan hasil yang baik.”

“Aamiin. Zein juga cerita bahwa dia mendatangi seorang psikiater?”

“Tidak, dia menyembunyikan semuanya. Dia tidak mau dibilang sakit. Aku juga pura-pura tidak tahu. Senjataku hanya berusaha sabar.”

“Zein sudah tidak lagi diberikan obat oleh dokternya.”

“Benarkah? Artinya dia dianggap sembuh?”

“Tidak juga. Kamu kan tahu bahwa penyakit itu tidak bisa disembuhkan, kecuali dijaga, dan tentunya dengan tekadnya sendiri.”

“Syukurlah. Terima kasih kamu selalu mengabari aku. Kalau bukan kamu yang memberi tahu, aku tidak akan pernah tahu kalau Zein menderita penyakit yang begitu serius.”

“Kamu tetap sabar ya?”

“Tentu. Doakan aku kuat.”

“Kamu wanita yang kuat. Aku sudah tahu sejak dulu.”

“Terima kasih Pri. Ini aku sudah hampir sampai rumah. Dilanjutkan nanti omong-omongnya?”

“Tidak, sedikit sudah cukup, aku hanya mau mengatakan itu. Salam untuk Zein. Tapi kalau kamu sampaikan juga salamku, pasti dia marah. Bukankah dia cemburuan juga?”

Indras tertawa.

“Kalau begitu jangan titip salam. Terima kasih semuanya ya Pri, kalau senggang datanglah ke rumah dengan anak istri kamu.”

***

Indras sampai di rumah, dan agak terkejut melihat sang suami sudah berbaring di tempat tidur. Setengah tidur, karena begitu Indras masuk dia langsung membuka matanya.

“Baru pulang?”

“Mampir belanja. Keperluan aku sendiri sih. Mengapa kamu tiduran?”

“Nggak apa-apa, hanya lelah.”

“Jangan terlalu capek.”

Zein bangun, tapi Indras menegurnya.

“Kalau lelah tiduran saja dulu, aku bawakan minuman hangat ke kamar ya?”

“Aku keluar saja, nanti dikira aku sakit.”

Indras tersenyum. Zein tak pernah mau dianggap sakit.

“Aku ganti baju dulu, nanti aku temani kamu minum,” kata Indras yang langsung masuk ke kamar mandi.

Zein keluar, duduk di ruang tengah sambil menyandarkan kepalanya. Ia tak perlu lagi minum obat, yang selalu diminumnya dengan sembunyi-sembunyi.

Sekarang ini ia hanya sedikit pusing memikirkan acara liburan bersama keluarganya dan permintaan dokter Tyas untuk mengantarnya. Zein heran, mengapa sangat berat menolak dokter Tyas? Hanya diminta menemani, bukankah itu wajar? Zein merasa tak bisa menolaknya. Ada apa dengan Zein? Mengapa tidak menomor satukan keluarga dan memikirkan kebutuhan orang lain? Begitu kuatkah pengaruh dokter Tyas bagi dirinya? Dokter Tyas sangat baik kepadanya, dan sangat mendewa-dewakannya. Pantaskah dikecewakan? Ia bersedia melakukan apa saja, asalkan jangan hal-hal yang menerjang tatanan bertata krama yang biasanya orang menyebutnya selingkuh. Tidak, Zein bukan berselingkuh, setidaknya itulah yang dirasakannya. Ia bahkan sangat marah ketika sang istri menuduhnya berselingkuh. Ia tidak berselingkuh, ia hanya berteman, dan ia tidak merasa bahwa pertemanan yang dilakukannya sudah sangat keterlaluan.

“Ada apa aku ini?” kata batinnya berulang-ulang.

“Zein, ini minuman kita, aku sendiri yang membuatnya,” kata Indras sambil meletakkan kopi panas di atas meja.

Zein menegakkan tubuhnya, menyentuh gelas yang masih panas.

“Masih panas, aku ambilkan cawan untuk mengurangi panasnya?”

“Tidak usah, aku sabar menunggu. Tadi kamu belanja apa saja?”

“Besok kan Santi pulang, besoknya kita jalan-jalan, ya hanya beli untuk bekal. Air mineral dalam botol-botol, apa lagi tadi … banyak kok.”

Diingatkan tentang acara liburan itu Zein jadi memikirkan dokter Tyas lagi.

“Belanja sendiri, tidak mengajak Sinta atau bibik.”

“Tidak apa-apa, penjaga toko membantu memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil, aku tidak mengangkatnya sendiri kok. Sekarang masih ada di sana, biarkan saja, besok sekalian dibawa.”

“Pakai mobil kamu ya?”

“Ya, pakai mobil aku saja, yang agak longgar.”

“Terserah kamu saja,” kata Zein yang kemudian sudah berani meneguk kopinya, karena sudah tidak terlalu panas.

***

Hari itu keluarga dokter Zein sudah bersiap akan berangkat. Zein sedang membalas pesan-pesan di ponselnya.

“Papa sudah siap?”

“Kalian berangkat duluan saja, nanti aku menyusul.”

“Memangnya ada apa?” tanya Indras yang mulai curiga.

“Ada sedikit urusan, bukan apa-apa. Kalian berangkat saja dulu, aku menyusul segera, nanti bisa kabar-kabaran kalau aku selesai urusan dan mau berangkat menyusul.”

“Kita memakai mobil mama?”

“Ya, kan mamamu sudah menyiapkan semuanya di mobil. Lagian ada bibik, mobilnya jadi sempit, bibik badannya segede itu,” kata Zein setengah bercanda.

“Nanti menyusul beneran kan Pa?” tanya Sinta.

“Ya beneran dong, papa juga ingin santai bersama kalian.”

Ketika anak istri dan pembantunya berangkat, Zein mengambil baju batik dari kamarnya dan dikenakannya sambil berjalan menuju mobilnya. Ia merasa tidak pantas memakai kaos santai saat datang ke undangan.

Dokter Tyas sudah berkali-kali mengabari bahwa ia sudah menunggu. Tak bisa tidak, Zein memenuhi permintaan dokter Tyas dulu, kemudian akan menyusul anak istrinya.

***

“Syukurlah Dokter segera datang, saya hampir menangis tadi.”

Zein tersenyum.

“Seperti anak kecil saja.”

“Ayo kita berangkat.”

”Tapi nanti kita tidak usah sampai selesai, hanya memberikan ucapan selamat pada teman kamu, lalu pulang.”

“Mengapa buru-buru? Saya pengin kita jalan-jalan dulu. Kita belum pernah jalan-jalan berduaan.”

“Maaf aku tidak bisa, anakku pulang, kasihan kalau aku tinggal pergi lama.”

“Oh, begitu?”

Mereka pergi dengan mengendarai mobil Zein. Dokter Tyas sangat gembira bisa berduaan pergi ke luar kota.

“Pestanya di rumah?”

“Ya, di rumah, agak di kampung sih, tapi rumahnya besar. Dulu waktu sekolah saya sering main ke sana.”

“Masih jauhkah?”

“Tidak, paling dua kilometer lagi kita sampai.”

Tapi keduanya tidak menyadari, sebuah mobil mengikutinya, dan ketika jalanan sepi, mobil itu menyalipnya dan berhenti tepat di depan mobil Zein, sehingga Zein terpaksa mengerem mendadak.

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, May 13, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 40

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  40

(Tien Kumalasari)

 

Dokter Tyas kelimpungan. Sama sekali dia tak menyangka kalau yang membawa mobil adalah dokter Indras, istri sang dokter pujaan. Sekarang dokter Indras sedang berdiri sambil membukakan pintu belakang mobil, mempersilakannya masuk.

“Silakan, Dokter,” katanya ramah.

Zein yang ikut kelimpungan justru kesal kepada dokter Tyas yang sembarangan bersikap.

“Tidak, maaf dokter Tyas, kami akan mampir-mampir, nanti Dokter terlambat sampai di rumah,” katanya sambil menutupkan pintunya, lalu membuka pintu depan agar Indras masuk dan duduk di sebelah kemudi.

“Tapi kasihan kan dia.”

“Tidak apa-apa, baiklah, saya naik taksi saja,” kata dokter Tyas yang kemudian menjauh, lalu mengambil ponselnya untuk memanggil taksi.

“Masuklah,” perintah Zein kepada istrinya, yang kemudian masuk ke dalam mobil, lalu Zein berputar memasuki pintu di samping kemudi.

Dokter Tyas memandangi mobil itu sampai menghilang dibalik gerbang, dengan hati seperti terbakar api.

“Hiih, bodoh … bodoh … bodoh …,” omelnya sambil membanting-banting kakinya.

“Lhoh, dokter Tyas nggak jadi pulang bareng dokter Zein?” yang bicara adalah rekan dokter yang melihat adegan itu sambil tersenyum.

“Nggak … nggak … mereka mau mampir-mampir, nanti aku yang repot.”

“Mau bareng saya Dok?”

“Tidak, saya sudah memanggil taksi,” katanya sambil menjauh dengan kesal, ia tahu dokter itu hanya ingin mentertawakannya.

***

 Di perjalanan, mereka tak banyak bicara. Sedikit banyak, nimbrungnya dokter Tyas agak  mengganggu perasaan Zein. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa sangat kesal pada dokter Tyas. Sebagai laki-laki normal, penampilannya sangat mengganggu, tapi sebagai seorang suami yang baik, ia merasa dokter Tyas berbuat sangat berlebihan. Tiba-tiba juga Zein merasa bahwa Indras jauh lebih baik dari dokter Tyas. Istrinya begitu santun dan tidak menampakkan kebencian ketika melihat dokter Tyas, yang sikapnya sangat manja kepada dirinya. Zein yakin Indras melihat ketika dokter Tyas mendekat, dan berkata ingin menumpang sambil mendekat ke arah tubuhnya, sangat dekat. Ia yakin Indras melihatnya, tapi tak tampak kemarahan pada dirinya. Ia bahkan mempersilakan dokter Tyas masuk ke dalam mobil. Untunglah Zein cepat-cepat mencegahnya, dengan alasan akan mampir-mampir.

“Zein, sebenarnya kamu akan mampir ke mana?”

“Apa?”

“Tadi kamu bilang akan mampir-mampir kan?”

“Ough, tidak, hanya alasan aku saja.”

“Sebenarnya tidak apa-apa kalau dia mau menumpang. Hari masih siang, kita tidak akan kemalaman di jalan.”

“Kamu tidak marah?”

Indras tertawa, atau tepatnya mencoba tertawa.

“Mengapa aku harus marah? Dia hanya ingin menumpang.”

“Tapi ….”

“Zein, aku selalu bersikap baik kepada teman-teman kamu, rekan-rekan kerja kamu yang sebagian besar aku sudah mengenalnya. Memang dokter Tyas termasuk baru dan aku kurang mengenalnya karena jarang bertemu. Tapi aku akan memperlakukannya sama seperti rekan-rekan kamu yang lain.”

Indras sadar, ketika mengatakannya dia sedang menekan seluruh kekesalan yang menumpuk dalam hatinya. Tapi Indras akan mencoba, apakah dengan sikapnya ini Zein masih akan tetap bersikap kasar kepadanya, atau tidak. Biasanya dia marah-marah kalau Indras menyinggung perempuan itu, karenanya ia bersikap sangat bersahabat. Bagaimana ya sikap sang suami kemudian?

“Terima kasih.”

“Kita langsung pulang? Benar, tidak jadi mampir-mampir?”

“Ya, sebaiknya begitu. Kamu tampak sangat lelah, jadi harus segera beristirahat.”

Indras benar-benar senang, sebuah perhatian kecil, apakah Zein akan benar-benar berubah?

“Nanti aku akan mencari tukang pijit. Di salon langganan ada, pelayanan masage yang bisa diundang ke rumah.”

“Jangan.”

“Jangan? Kenapa? Kamu sendiri bilang bahwa aku kelihatan lelah. Barangkali dengan relaksasi otot, rasa lelah bisa berkurang.”

“Aku bisa memijit.”

“Apa?” kali ini Indras terkejut.

“Kamu tidak percaya? Dulu, setiap kali libur kuliah, aku pasti memijit kaki ibuku, sampai ketiduran.”

“Benar?”

“Nanti kamu bisa mencobanya.”

Indras tertawa, kali ini tawa yang benar-benar tawa yang tidak dibuat-buat.

“Kamu mentertawakan aku?”

“Tidak, aku senang, nanti aku akan mencobanya. Lumayan, tukang pijit di salon bayarnya mahal.”

“Jangan salah, aku lebih mahal lagi,” kata Zein sambil tertawa, dan Indras mencubit lengannya keras sekali.

Suasana riang itu terbawa sampai mereka memasuki rumah dan bersantai bersama-sama dengan kopi panas buatan bibik serta sepiring pisang goreng yang masih hangat.

***

Tapi suasana hangat itu tiba-tiba pecah ketika sebuah panggilan pesan terdengar di ponsel Zein.

Zein menatap istrinya sebelum kemudian membuka ponselnya. Indras tak bereaksi. Pisang goreng hangat lebih bisa menghangatkan jiwanya.

Ia menatap suaminya, tidak berdiri menjauh seperti kalau biasanya ponselnya berdenting. Wajahnya juga datar ketika jarinya mengutak atik ponselnya.

“Dokter kesayanganku tadi ke mana saja?”

“Mengantar istri.”

“Ke mana Dok?”

“Beli sesuatu,” kata Zein dalam balasan berikutnya, berbohong.

“Senengnya, pulang kerja berdua-duaan.”

“Ya, lumayan.”

“Dokter, saya lagi pengin masak-masak. Besok dokter pengin dibuatkan apa?”

“Tidak usah, jangan repot-repot.”

“Tak biasanya Dokter menolak masakan saya, ada apa nih?”

“Tidak apa-apa, hanya tak ingin kamu selalu repot-repot untuk aku.”

“Tidak, tidak repot kok. Saat ini Dokter sedang apa?”

Kali ini Zein tidak membalasnya, langsung menutup ponselnya.

Zein menutup ponselnya lalu meletakkannya di meja. Ia mengambil pisang goreng dan menggigitnya perlahan.

“Enak, ini pisang apa?”

“Ini pisang raja.”

“Biasanya yang enak digoreng itu pisang kepok. Itu kata almarhumah ibuku.”

“Pisang raja digoreng juga enak, asalkan yang benar-benar tua. Kalau pisangnya belum tua dan matangnya dipaksa, rasanya akan sepat.”

“Berarti ini pisang tua, manis legit.”

“Bibik pintar memilih apa yang baik untuk dimasak.”

“Kamu jangan lupa ya, kemarin janji … eh, tadi … kamu janji akan masak gudeg seperti masakan almarhumah ibuku.”

“Iya, aku ingat. Dua hari lagi libur, aku pasti akan memasaknya untukmu.”

“Dua hari lagi mbak Santi akan pulang. Mama tidak usah masak-masak,” tiba-tiba Sinta nimbrung dan duduk di dekat sang mama.

“Justru karena kakakmu pulang, mama mau masak yang enak buat kalian, dengan tangan mama sendiri,” kata Indras.

“Tapi mbak Santi ingin mengajak kita rekreasi ke luar kota.”

“Benarkah?”

“Iya benar. Papa mau kan?”

“Tanya mama kamu, papa ngikut.”

“Asyiiik, Mama mau kan? Aku sudah tahu kalau Mama mau.”

“Berarti kalian sudah merencanakannya?” tanya Zein.

“Rekreasi itu kan penting, untuk berganti suasana.”

“Berarti mama gagal masak gudeg buat papamu,” kata Indras.

“Tidak usah buru-buru masaknya. Anak-anak ingin bersantai, masaknya tidak harus besok minggu.”

“Baiklah, terserah kalian saja. Kemana kalian akan mengajak mama dan papamu?”

“Nanti kita bicarakan bersama mbak Santi. Kemanapun asalkan bersama-sama, suka kan?”

“Ajak juga bibik, biar dia juga senang.”

“Sinta sudah bilang sama bibik.”

“Syukurlah.”

***

Di kantor, seperti biasa dokter Tyas selalu mengganggu Zein. Pagi itu ia membawa banyak makanan yang diletakkan di meja kerja dokter Zein saat istirahat.

“Ini banyak makanannya, beli ya, bukan masak?”

“Tidak jadi masak, saya beli di jalan," kata Dokter saya tidak boleh repot.”

“Beli di jalan ini juga namanya repot. “

“Dokter tidak suka? Atau … dokter Indras akan datang kemari lagi membawa makanan?”

“Entahlah, aku tidak tahu.”

“Kalau begitu saya taruh di sini saja makanannya, terserah Dokter suka yang mana, saya mau keluar saja, takutnya mengganggu Dokter.”

“Bawa saja makanannya, taruh di pos satpam, pasti mereka suka.”

“Apa? Saya bawakan untuk Dokter, dan Dokter menyuruh saya menaruhnya di pos satpam?”

"Makanan ini sangat banyak, tak akan habis dimakan sendirian. Biar nanti saya panggil saja kemari satpamnya, aku hanya menyisakan dua saja, yang ini, sama yang ini,” kata Zein sambil menyisihkan sebungkus nagasari dan kue lumpur.

“Baiklah, terserah dokter saja, saya keluar dulu. Oh ya, lupa bilang, besok minggu maukah dokter menemani saya ke undangan teman SMA saya? Dia menikah di luar kota.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, May 12, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 39

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  39

(Tien Kumalasari)

 

Indras tersenyum, sementara Zein tampak agak grogi, tapi tak kelihatan dia marah, sementara sebelumnya Indras sudah khawatir.

“Zein, aku kan sudah bilang kalau tak bisa pulang makan, rumah jauh dari tempat aku kerja, jadi lebih baik aku kemari. Suamiku yang baik hati tidak marah kan?”

Zein tersenyum. Setiap pujian selalu membuatnya tersenyum.

“Ini saat istirahat kan? Jadi aku tidak mengganggu kan?”

“Tidak, tidak.”

“Kamu makan dulu saja, minum dawetnya nanti,” kata Indras yang langsung membuka kotak makan yang sudah disiapkannya.

“Ini nasi gudeg dan paha ayam. Aku ingat dulu almarhumah ibu mertuaku suka masak gudeg seperti ini,” Indras terus saja bicara.

 Zein mengamatinya dengan takjub. Ini kali pertama ia makan di kantor dengan dilayani istri.

“Hm, baunya sedap kan? Ini untuk kamu, ini untuk aku, wah … nggak enak makan di meja kerja, ayuk di meja tamu itu saja,” kata Ind ras yang tanpa permisi langsung membawa semua makanan yang dibawanya, diletakkan di meja depan sofa.

Zein berdiri lalu mengikutinya.

“Zein, kamu masih ingat sayur gudeg masakan ibu kan?”

Zein duduk. Kotak nasi gudeg sudah diletakkan di depannya. Indras melayani dengan cekatan, sebentar sebentar mengeluarkan ungkapan yang membesarkan hatinya.

“Zein, kamu tahu? Ibu mertuaku adalah seorang jago memasak. Dulu setiap aku datang kesana, beliau ribut membuatkan makanan, memaksa aku makan di sana, dan enaknya tiada duanya.”

Kenangan tentang ibunya selalu membuatnya terharu. Ibu yang bekerja keras untuk dirinya, tapi yang tidak sempat menikmati buah dari pohon yang ditanamnya.

“Ini, terus terang saja masakan yang aku beli di warung langganan, tapi aku janji, besok saat libur aku akan masak untuk kamu. Masakan yang dulu pernah diajarkan ibu mertuaku,” kata Indras sambil makan dengan nikmat, demikian juga Zein.

Kenangan tentang ibunya, membawa serta kehadiran Indras ke rumahnya, yang membuat suasana rumahnya hidup dan penuh suka cita.

“Zein, Indras wanita yang baik. Ibu suka kalau kamu bisa mempersunting dia, tapi kan dia orang kaya. Mana mungkin diijinkan oleh orang tuanya?”

Dan ingatan itu kemudian membuatnya tersenyum. Nyatanya kemudian Indras berhasil menjadi istrinya, tapi lagi-lagi sayang sang ibu tidak bisa menyaksikan pernikahan itu.

“Mengapa semua yang diinginkan almarhumah tidak pernah kesampaian? Maksudku, tidak bisa menyaksikan.”

"Zein, mimpi orang tua sudah bisa kamu wujudkan. Percayalah bahwa dari alam sana almarhumah akan tersenyum melihatmu.”

”Benarkah?”

“Tentu saja benar. Bayangkan ibu sedang melihat keberhasilan kamu, dan tersenyum bangga.”

Zein menghabiskan sekotak nasi gudeg yang dibawa sang istri, kemudian meraih gelas beriisi dawet yang sudah dibuka tutupnya oleh sang istri.

“Oh iya Zein, nanti boleh kan mobil kamu aku bawa?”

“Kamu tidak membawa mobil?”

“Tadi waktu mau berangkat, bannya kempes, jadi aku berangkat naik taksi.”

“Kamu kemari juga naik taksi?”

“Iya, dan karena takut kelamaan kalau harus memanggil taksi lagi, maka aku bawa saja mobil kamu, nanti aku jemput kemari.”

“Baiklah, kuncinya ada di atas meja.”

Mereka melanjutkan makan minum, tapi Indras segera bersiap untuk kembali ke tempat tugas.

“Zein, ada sisa satu kotak nasi lagi, apa ingin kamu berikan kepada seseorang? Terserah kamu saja, mau kamu berikan kepada siapa, daripada terbuang.”

“Biar untuk OB saja, sekalian aku suruh membersihkan sisa makanan ini,” kata Zein yang kemudian memencet bel ke ruang OB.

Tak lama kemudian yang dipanggil sudah datang.

“Tolong buang semua ini sekalian ya, tapi yang satu kotak ini untuk kamu,” kata Zein.

“Terima kasih Dok.”

Sang OB membersihkan semua sisa makanan, sambil membawa kotak yang diberikan dokter Zein.

“Kamu ternyata juga baik hati,” puji Indras sambil berdiri.

Kali ini Zein tidak tersenyum, ia sedang sibuk mencari kunci mobil yang semula ada di atas meja.

“Kamu mencari apa?”

“Kunci mobil, tadi di sini.”

Tiba-tiba seseorang nyelonong masuk.

“Eh, masih ada tamu,” kata seseorang itu sambil tersipu. 

Rupanya dokter Tyas tidak mengira kalau istri dokter pujaannya masih ada di situ.

“Saya bukan tamu lhoh,” Indras berusaha ramah.

“Iya, maaf.”

Tiba-tiba dokter Tyas meletakkan kunci mobil ke atas meja.

“Maaf Dok, kunci mobil kebawa oleh saya.”

Lalu sekali lagi ia berkata ‘maaf’ dan melenggang keluar.

Indras mencoba menenangkan hatinya. Ia tak boleh marah. Ia sudah berjanji kepada dirinya akan selalu menjaga sikap dan apapun yang terucap agar tak membuat sang suami marah.

“Ini kunci mobilnya, aku antar kamu keluar,” kata Zein sambil berdiri, lalu mereka berjalan berdampingan menuju ke arah luar.

“Sebenarnya tidak usah diantar, kan aku sudah biasa datang kemari?”

“Tidak apa-apa, sekalian ke masjid. Kan letaknya di depan rumah sakit.”

“Oh, alhamdulillah. Jangan lupa doakan aku ya, agar aku sehat, agar aku kuat, agar aku tetap cantik agar serasi berdampingan dengan dokterku yang ganteng ini,” kata Indras setengah bercanda.

Zein merangkul pundaknya.

“Kamu tidak ke masjid sekalian?”

“Aku nanti di sana saja.”

***

Dokter Tyas mondar mandir di sekitar ruangan dokter Zein. Ia sudah melongok ke dalam dan kosong. Kemana sang dokter pujaan?

“Kok mondar mandir di sini sih Dok?” seorang perawat menegurnya karena dari tadi ia melihatnya dan merasa aneh.

“Menunggu dokter Zein, tadi kunci mobilnya terbawa oleh saya,” jawab dokter Tyas sekenanya, padahal kunci mobil sudah dikembalikan sejak tadi.

“Oh, dokter Zein sedang mengantarkan istrinya keluar.”

Dokter Tyas memburu keluar, pastinya ke parkiran mobil-mobil dokter, tapi bayangan dokter Zein tidak ada. Seorang satpam bertanya.

“Dokter Tyas mencari siapa?”

“Apa dokter Zein sudah pulang?”

“Oh, dokter Zein tadi mengantarkan dokter Indras mengambil mobil, lalu langsung ke masjid.”

“Oh,” jawabnya sambil membalikkan tubuhnya kembali masuk ke dalam. 

Satpam itu mengangkat pundaknya. Bukan rahasia lagi kalau dokter Tyas selalu mengejar-ngejar dokter Zein.

***

Ketika ia melewati ruangan dokter Zein, seorang petugas membawa setumpuk amplop akan memasuki ruangan.

“Eh, apa itu?”

“Undangan unduk dokter Zein.”

“Undangan apa?”

“Sepertinya dari sebuah pabrik Farmasi, pengenalan suatu produk.”

“Aku dapat tidak?”

“Barangkali sudah ada di meja Dokter.”

“Oh, baiklah." Oz

Dokter Tyas memasuki ruangannya sendiri, dan mendapat laporan kalau pasien sudah menunggu.

***

Zein sudah kembali memasuki ruangan, dan membaca undangan yang diletakkan di mejanya. Ia meletakkannya kembali setelah membacanya, tapi kemudian dokter Tyas menelponnya.

“Dokter kesayanganku, apakah istri Dokter sudah pulang?”

“Sudah dari tadi, ada apa?”

“Saya mendapat undangan dari sebuah pabrik Farmasi.”

“Iya, sama. Masih besok Minggu.”

“Nanti kita berangkat sama-sama ya Dok?”

“Entahlah, aku belum bisa mengatakannya. Siapa tahu istriku akan ikut juga.”

“Oh, ya ampuun. Ya sudah. Aku berangkat sendiri saja.”

Hanya itu yang dikatakan dokter Tyas dengan kecewa.

Selesai jam tugas, Indras menelpon, bahwa ia akan siap di depan lobi dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Zein bersiap pulang. Ia melepaskan jas kerjanya, lalu membenahi barang-barangnya, kemudian keluar dari ruangan.

Di lobi, ia melihat mobilnya sudah diparkir. Sang istri pastinya ada di dalamnya.

Ketika ia turun, tiba-tiba dokter Tyas mengejarnya.

“Dokter kesayanganku, bolehkan saya numpang pulang?”

“Kamu tidak membawa mobil?”

“Tidak, tadi masuk bengkel, jadi daripada naik taksi, nebeng Dokter saja, boleh kan?”

“Boleh kok, silakan.”

Seseorang turun dari mobil Zein, mempersilakan dokter Tyas masuk. Dokter Tyas terkejut setengah mati. Ia tak mengira ada dokter Indras yang membawa mobil itu.

***

Besok lagi ya.

Monday, May 11, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 38

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  38

(Tien Kumalasari)

 

Indras hampir tidak bisa bernapas karena Zein memeluknya erat sekali. Kemana api kemarahan yang membara saat dia menaiki teras? Semuanya hilang? Tapi Indras bukan perempuan bodoh. Ada sesuatu yang membuat kemarahan Zein hilang. Tentang pesanan taart yang dia suruh memberi tulisan seperti permintaannya, pastinya membuat Zein marah, karena bukankah itu taart untuk selingkuhannya? Tapi jawaban yang diberikan, bahwa dirinya mengira bahwa taart itu untuknya, membuat Zein merasa senang. Atau lega? Indras tertawa dalam hati. Tawa yang terasa mengiris jantungnya sendiri. Tapi Indras bersyukur bisa menjawabnya. Jawaban yang membuat Zein urung terbakar amarah gara-gara dia mengira taart itu untuknya,

Indras mendorong tubuh Zein perlahan, agak memaksa karena Zein masih memeluknya erat.

“Semoga sehat, panjang umur, menjadi naungan teduh bagi anak-anak kita,” bisiknya perlahan. Ucapan yang manis, yang diucapkan karena terpaksa, atau terdesak, karena sebelumnya dia kan lupa kapan hari ulang tahunnya?

Walau begitu Indras tetap tersenyum. Senyum yang sejak dulu dikagumi Zein dan membuatnya jatuh cinta.

“Terima kasih, suamiku, bahagia sekali kamu mengingat ulang tahun aku. Suamiku yang baik, sekarang ayo kita lihat taartnya, aku ingin mencicipinya,” kata Indras sambil menarik tangan Zein, seakan-akan ia ingin melihat taart hadiah dari suaminya. Tapi Zein menahannya.

“Tidak jadi aku ambil In.”

“Apa? Tidak jadi diambil? Kenapa?” Indras mengerutkan keningnya, pura-pura kecewa, karena sesungguhnya ia sudah tahu kalau taart itu sudah diberikan kepada selingkuhannya yang cantik dan seronok itu.

“Maaf Indras, aku marah kepada tukang roti itu. Ia lupa pada tulisan yang aku perintahkan, lalu aku tidak jadi mengambilnya,” aduhai sejak kapan Zein pintar berbohong? Kalau dia tidak bisa menjawab sesuatu yang ditanyakan oleh istrinya, biasanya dia hanya diam, pergi atau marah. Sekarang dia menjawabnya dengan manis, dan itu adalah kebohongan. Indras menjadi sedih. Wajahnya benar-benar muram. Bukan karena urung makan taartnya, tapi karena kebohongan suaminya.

“Indras, hanya taart, ayo kita pergi dan makan, kalau perlu aku akan pesan lagi lalu kita habiskan berdua.

Indras menggeleng.

“Tidak usah, aku sudah makan, dan aku sangat lelah.”

“Indras, maaf ya,” Zein masih merayu, mengira Indras kecewa karena ia tak membawa taart itu pulang. Mana Zein tahu bahwa taart itu telah dibuang oleh dokter Tyas ke tempat sampah.

Zein mengikuti langkah istrinya ke arah kamar.

“Ada hadiah yang lebih indah untuk kamu malam ini, jangan marah ya.”

Apakah ucapan suaminya membuat Indras bahagia? Ia tersenyum manis, tapi tak ada bahagia di dalamnya.

Indras sedih, kapan Zein sembuh dari sakitnya? Sakit pada jiwanya, dan sakit karena selalu menyakitinya demi perempuan lain?

***

Pagi itu sikap Zein sangat manis. Ia menemani Indras minum kopi sejak dini hari, sudah rapi wangi jauh sebelum jam untuk masuk bekerja, lalu makan pagi persama sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulut sang istri.

Indras tidak menolak. Ia harus bersyukur ada sikap manis sejak semalam, dan ia berharap seterusnya akan begitu.

Semalam Indras berpikir, bahwa kalau menurutkan rasa sakit hati, ia bisa hancur dengan sendirinya, karena tak tahu kapan itu akan berakhir. Ia berharap dirinya kuat untuk bersabar, sambil menunggu lilin kecil yang dinyalakan akan berhasil menerangi seluruh ruang di hatinya.

“Indras, aku jadi ingin minum dawet seperti yang kamu bawa  waktu itu. Nanti siang aku pulang makan di rumah ya, siapkan dawetnya juga,” kata Zein tiba-tiba.

“Nanti aku bawakan saja dawetnya ke rumah sakit tempat kamu berpraktek, karena aku tidak bisa pulang siang ini.”

Zein hampir tersedak. Lalu cepat-cepat meneguk air putih di dekatnya.

“Pelan-pelan Zein. Sudah, makanlah saja, jangan sambil bicara, nanti tersedak lagi,” kata Indras tanpa memberi ruang untuk menjawab bagi Zein, yang pastinya akan menolak kedatangannya ke rumah sakit. Sampai mereka berangkat bekerja, mereka tak membicarakan masalah dawet segar seperti yang diinginkan Zein, yang bukan dibawa ke rumah sakit, tapi ke rumahnya sendiri. Tapi Indras tak peduli. Ia tiba-tiba punya alasan untuk bisa ketemu perempuan itu. Bukan untuk melabraknya atau mencaci makinya, entah mengapa, ingin melihatnya saja, barangkali bisa menyadarkannya bahwa Zein punya istri yang setia dan tak kalah cantik dengan dirinya.

***

Pagi itu Sinta bertelpon dengan kakaknya, yang menanyakan perihal ulang taun ibunya.

“Apakah Mama senang?”

“Mama itu selalu terlihat senang kalau sama anak-anaknya. Tapi mama bilang tidak mau ulang tahunnya dirayakan, jadi kami hanya makan-makan, lalu memesan es krim kesukaan mama.”

“Apakah kamu jadi mengabari papa?”

“Mbak Santi gimana sih, kan semalam aku sudah bilang kalau pergi tanpa papa, karena mama tidak mau aku menelpon papa.”

“Papa tidak pernah ingat ulang tahun mama.”

“Itu benar. Karena itu mama tidak mau aku mengabari papa seperti yang sudah-sudah. Toh papa tidak pernah suka merayakannya. Tapi entah mengapa, ketika aku dan mama sampai di rumah, papa sudah menunggu di teras. Kelihatannya sih marah, tapi kemudian mereka seperti bercanda-canda, ngobrol, bahkan paginya mereka juga baik-baik saja.”

“Syukurlah, senang mendengarnya. Papa itu barangkali butuh perhatian, sedangkan mereka masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.”

“Semoga semuanya baik-baik saja. Kapan Mbak pulang?”

“Minggu depan aku usahakan pulang.”

“Aku berencana mengajak jalan-jalan.”

“Siapa saja?”

“Ya papa, mama, aku, mbak Santi … siapa lagi?”

“Ajak bibik dong, dia kan juga butuh rekreasi.”

“Iya, nanti aku ajak bibik.”

“Rencana mau ke mana?”

“Belum tahu, pokoknya ke tempat yang sejuk, tenang, membuat senang, sehingga semua letih-lelah bisa terobati.”

“Terserah kamu saja kalau begitu. Ya sudah, aku sudah mulai sibuk nih, nanti aku telpon lagi.”

“Aku juga mau ke kampus.”

“Segera selesaikan kuliah kamu.”

“Ya, siap laksanakan.”

***

“Dokter kebanggaanku, ini … yang semalam aku beli. Baguskah?” kata dokter Tyas sambil berlenggak lenggok seperti peragawati.

“Bagus. Apapun yang kamu pakai selalu bagus.”

“Terima kasih, dokter kesayangan.”

“Kenapa kamu malam-malam pergi sendiri.”

“Saya suntuk. Dokter merayakan ulang tahunnya setengah-setengah.”

“Setengah-setengah bagaimana?”

“Kita belum ngapa-ngapain, tapi dokter sudah buru-buru pulang.”

“Yang penting sudah mengucapkan selamat ulang tahun, itu kan yang kamu inginkan?”

“Mana taart ultahnya untuk istriku pula, bukan untuk aku," omelnya cemberut.

“Maaf, mereka yang salah. Ayolah, jangan cemberut begitu. Aku khawatir kamu keluar malam sendirian.”

“Saya bingung mau ngapain, lalu keluar, jalan-jalan, sampai di butik langganan Dokter, aku masuk, lalu beli ini. Terima kasih telah membayarnya dengan mentransfer.”

“Lain kali jangan pergi malam-malam sendirian.”

“Dokter mengkhawatirkan saya?”

“Sebaiknya perempuan tidak keluar sendirian diwaktu malam. Bukan hanya kamu, tapi untuk perempuan lainnya.”

“Kirain untuk saya saja.”

“Ya sudah, sana … nanti mau ada tamu, nggak enak kalau kamu ada di sini.”

“Memangnya tamunya siapa?”

“Kecuali itu aku mau pulang sebentar.”

“Selamat siang.”

Zein dan dokter Tyas terkejut. Yang datang adalah Indras, membawa gelas-gelas plastik berisi minuman yang dipesan Zein. Tyas tersenyum genit, lalu melangkah keluar tanpa pamitan pada Zein, tapi mengangguk ramah pada Indras.

“Ini pesanan kamu Zein.”

“Aku pikir aku mau pulang ke rumah.”

Indras tak peduli apapun, ia juga tak menanyakan siapa perempuan genit itu karena dia sudah tahu. Kalau dia membicarakannya, nanti Zein malah marah, padahal Indras sedang ingin berdamai dengan bersikap manis kepada sang suami.

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, May 9, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 37

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  37

(Tien Kumalasari)

 

Zein kesal sekali. Ia berganti pakaian rumah lalu duduk di teras. Ia menolak ketika bibik menawarkan makan malam. Ia lapar, tapi tak berselera makan. Ia menyesali toko roti mengapa menelpon Indras, dan menyesali mengapa Indras menyuruh menuliskan ucapan ulang tahun untuk istrinya. Padahal ia sama sekali tak ingat bahwa hari ini juga ulang tahun sang istri. Tapi suasana itu sungguh tak mengenakkan. Ia ingin memberikan dokter Tyas kesenangan, yang terjadi adalah kekesalan. Walau tak mengatakan apa-apa, tapi ia tahu bahwa pasti hal itu membuatnya kecewa, membuyarkan kesenangan yang akan mereka bangun. Bukan apa-apa. Zein hanya ingin bergembira.

“Tuan, saya buatkan kopi, ditaruh di sini atau di dalam?” kata bibik sambil membawa nampan berisi segelas kopi.

“Taruh saja di situ.”

“Makan malam masih saya siapkan, kalau sewaktu-waktu Tuan ingin makan, tolong beritahu saya, sayurnya akan saya panasi lagi.”

“Ya, gampang, tidak untuk sekarang,” jawab Zein tak acuh, seperti  berharap bibik segera pergi dan tidak banyak bicara.

Bibikpun berlalu. Ia tahu sang tuan sedang kesal. Barangkali kekesalan itu akan ditumpahkannya setelah sang nyonya majikan pulang. Bibik sedih sekali. Dihari-hari terakhir ini rumah tangga sang majikan seperti diterpa hawa panas yang tak henti-hentinya, dan permasalahan apa sebenarnya yang memicu, tentu saja bibik tidak tahu. Ia hanya berharap semoga semuanya segera berakhir.

***

“Ma, kita jarang makan di sini, perasaan masakan di sini selalu enak ya,” kata Sinta saat makan bersama sang mama.

“Kamu benar, terasa sangat enak. Barangkali karena kita sedang lapar.”

“Ah, benar Ma, kita sedang lapar. Sekarang papa sudah pulang belum ya?”

“Mengapa memikirkan papa kamu lagi, nanti selera makan kita hilang.”

“Harusnya papa diberi tahu kalau hari ini ulang tahun Mama.”

“Mama tidak pernah ingin dirayakan. Itu kan akal-akalan kamu sama kakakmu saja.”

“Supaya Mama bahagia.”

“Kebahagiaan itu bukan karena ulang tahunnya dirayakan. Diingat saja sudah cukup.”

“Sinta selalu mengingatnya lhoh Ma. Papa mungkin harus diingatkan karena selalu sibuk, banyak pikiran.”

Indras tersenyum dalam hati. Senyum yang sangat pahit. Sibuk, banyak pikiran sampai tidak ingat ulang tahun istri, tapi ulang tahun perempuan lain sangat diingatnya.

“Mama mau nambah?”

“Tidak Sin, ini sudah lebih dari cukup. Kenyang banget, bisa-bisa pulangnya nanti nggak bisa jalan karena kekenyangan.”

“Padahal Sinta masih pesen es krim. Bukankah Mama suka es krim?”

“Kalau es krim mama mau, kan tidak membuat kenyang?”

“Benar Ma.”

Sinta senang, mamanya tampak bahagia. Walau tidak penting, tapi bukankah diingat ulang tahunnya saja sudah cukup? Dan anak-anaknya tidak pernah melupakannya, sedangkan untuk sang papa bisa dimaklumi, karena sibuk.

Ketika es krim dihidangkan, mereka menikmatinya dengan nikmat. Ingin sekali Sinta menelpon sang papa, tapi ia sudah dilarang, jadi tak berani melakukannya. Yang dia heran, mengapa papanya juga tidak menanyakan sedang pergi ke mana mereka, padahal ponsel dalam keadaan on semua.

“Apa papa belum pulang ya?”

“Kamu masih mengingat papa kamu?”

“Sinta heran, papa tidak menelpon kita juga. Apa papa tidak merasa kehilangan ya?” kata Sinta setengah bercanda.

Indras tak menjawab. Masalah taart yang dipesan diam-diam masih membuatnya kesal. Yang Indras heran, mengapa petugas toko menelpon dirinya tentang tulisan yang harus ditulis di toping taart itu. Ya iyalah, petugas itu mana tahu kalau taart dipesan diam-diam, jadi mereka tidak merasa berdosa. Sekarang Indras sedang membayangkan, bagaimana reaksi mereka setelah membaca tulisan itu.

***

Mereka tidak langsung pulang. Sinta mengajak sang ibu mampir di sebuah toko, lalu memberikan sebuah kerudung cantik untuk sang ibu.

“Ini hadiah ulang tahun untuk Mama. Tidak apa-apa kan, tidak usah dibungkus cantik?”

“Tidak apa-apa, yang penting mama suka warnanya. Kamu masih punya uang banyak ya, tadi mentraktir mama makan, sekarang membelikan mama kerudung cantik.”

“Sinta malah masih ingin membeli baju cantik untuk Mama. Yang itu hadiah dari mbak Santi.”

“Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Baju mama masih banyak, bingung mau dipakai kapan, sedangkan kita jarang bepergian.”

“Bagaimana kalau besok liburan mengajak papa jalan-jalan? Mbak Santi pasti bisa pulang kalau liburan.”

“Tidak usah. Istirahat di rumah saja.”

“Ma, rekreasi itu penting lhoh, untuk mengurai ketegangan setelah berhari-hari bekerja dan berpikir.”

“Harusnya kamu juga jadi dokter.”

“Untuk mengetahui tentang hidup sehat kan tidak harus menjadi dokter?”

“Kamu benar. Sekarang lebih baik kita pulang.”

“Kita belum beli baju, mampir ke butik langganan sebentar ya.”

“Nggak usah Sinta.”

“Nanti mbak Santi kecewa, ini kan pesan dari mbak Santi.”

“Kalian itu ada-ada saja.”

“Ini hari spesial, Mama tidak boleh menolak,” kata Sinta yang nekat membawa mamanya ke butik langganan.

“Beli yang biasa saja, tidak usah yang mahal.”

“Kita lihat mana yang Mama suka.”

Mereka sudah memasuki butik langganan dan disambut ramah oleh petugasnya, karena Indras dan Zein adalah pelanggan tetap mereka.

Sinta sibuk memilih-milih, sedangkan Indras hanya melihat-lihat. Ia sedang tak banyak keinginan. Para wanita menyukai baju-baju bagus, tapi tidak bagi Indras, setidaknya untuk saat ini.

Tiba-tiba Indras melihat seseorang. Wanita cantik dengan pakaian ketat dan dandanan yang menyolok. Indras mengingat-ingat, dia seperti pernah melihat wanita itu, tapi di mana.

Ia mendekat, wanita itu tidak melihatnya, ia sibuk memilih, lalu tangannya merogoh tas tangannya, untuk mengambil ponsel.

“Dokter kebanggaanku sedang apa? … ya ampuun, kasihan deh, tadi kenapa tidak mau berlama-lama di rumah saya? Saya sedang di butik langganan Dokter, karena suntuk akibat Dokter tinggalkan, saya jalan-jalan sendiri. Saya sedang memilih baju untuk dinas, yang kata Dokter harus sopan tapi menawan … baiklah, ditransfer sekarang? Terima kasih, Dokter kesayanganku.”

Indras berdebar. Ia baru ingat. Itu kan dokter cantik yang pakaiannya seronok walau sedang bertugas waktu itu? Yang masuk ke ruang kerja Zein tanpa mengetuk pintu? Yang membawa makanan untuk Zein juga? Itu dokter cantik selingkuhan Zein bukan? Ia pergi sendirian karena suntuk ditinggalkan, berarti Zein sudah pulang. Tapi perempuan itu memesan sebuah baju dan meminta Zein mentransfer uang untuk membayarnya. Ingin sekali ia mendekati perempuan itu dan mendampratnya, tapi Indras merasa bahwa hal itu hanya akan merendahkannya.

Tiba-tiba Sinta menarik lengannya.

“Ma, yang tadi … Mama suka kan?”

Indras tak perlu melihat baju pilihan Sinta, ia hanya mengangguk sambil mengulaskan senyum, agar Sinta merasa senang, padahal hatinya tidak sedang tersenyum.

“Sudah kan, habis ini kita pulang?”

“Iya Ma, Sinta bayar dulu ya.”

“Mama juga bawa uang.”

“Jangan Ma, ini kan dari mbak Santi. Tadi Sinta sudah VC call mbak Santi untuk memperlihat bajunya, mbak Santi suka.”

Indras hanya tersenyum, kemudian segera mengajaknya pulang dengan alasan sangat lelah.

***

Ketika sampai di rumah, dia melihat sang suami duduk di teras. Ia tak berdiri walau melihat istri dan anaknya pulang dari bepergian.

“Pa, Papa sudah lama pulangnya?” tanya Sinta dengan riang.

“Dari mana kalian?”

“Jalan-jalan sama Mama, apa Papa_”

Sinta menghentikan perkataannya karena sang mama mencubit lengannya. Ia hampir lupa kalau sang mama tak ingin ia mengingatkan masalah ulang tahun itu kepada papanya.

Ia berlalu dan meninggalkan sang mama di belakangnya.

“Kamu mengatakan apa kepada petugas toko roti tadi?” kata Zein sengit.

“Dia bertanya tentang tulisan yang harus ditulis di hiasan taart, apa aku salah?”

“Kamu mengarang tulisan itu, dan ingin membuat aku marah?”

“Mengapa harus membuat kamu marah? Bukankah kamu memesan taart untuk hadiah ulang tahunku? Mereka lupa tulisannya apa, jadi aku tuliskan saja selamat ulang tahun untuk istriku. Salah ya?”

TIba-tiba rona marah di wajah Zein menurun. Jadi Indras mengira dia sedang memesan taart untuk dirinya dan karenanya tulisannya seperti itu?

Zein berdiri, lalu tiba-tiba memeluk istrinya.

“Selamat ulang tahun, istriku,” katanya lembut, membuat Indras terpana.

***

Besok lagi ya.

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 74

  SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  74 (Tien Kumalasari)   Agung meletakkan apapun yang tadi dipegangnya. Rapat ditunda sampai waktu yang belum ...