SAKITKU ADALAH CINTAKU 14
(Tien Kumalasari)
Bu Iman sudah berjalan, hampir menuruni tangga, ketika Zein masih saja menatap ke arah sofa yang ada di lobi.
“Zein,” Bu Iman menyentuh lengan putranya.
Barulah Zein sadar kalau ia sedang mengantarkan sang ibu.
“Kenapa kamu itu? Itu taksinya kan? Kamu tadi bilang begitu.”
“Oh, iya .. “
“Kamu melihat apa sebenarnya?”
“Itu, seperti dokter Ilyas.”
“Tadi sudah ketemu kan, kita juga sudah pamit sama dokter-dokter yang merawat ibu.”
“Iya, benar. Ayo masuk ke taksi, Bu.”
***
Ketika taksi meluncur menuju pulang, Zein masih berpikir tentang perawatan ibunya yang luar biasa, dan biaya gratis yang diberikan rumah sakit. Karena mereka menghargai perjuangan sang ibu untuk keluarga? Sesederhana itu? Apakah setiap pasien yang adalah pejuang keluarga juga mendapatkan perlakuan istimewa seperti yang diberikan kepada ibunya?
“Zein, kamu memikirkan apa? Biaya rumah sakit mahal sekali ya? Agak lama ibu di rumah sakit, dan mendapat perlakuan yang sangat baik. Kamarnyapun dipindahkan ke ruang yang lebih baik. Kamu dapat dari mana uangnya? Pinjam kepada siapa? Ibu tak punya uang banyak, dan itulah sebabnya ibu minta pulang saja sejak kemarin-kemarin.”
“Zein tidak pinjam siapapun.”
“Lalu kamu mendapat uang dari mana? Setiap ibu bertanya, kamu selalu mengatakan bahwa ibu tak usah memikirkannya, bahwa semuanya beres. Sekarang setelah keadaan ibu baik begini, ibu ingin tahu semuanya.”
“Sebenarnya Zein juga sedang bingung Bu, rumah sakit tidak memungut biaya apapun, kecuali Zein harus membeli obat yang di rumah sakit tidak punya, sehingga dibelinya di apotik luar.”
“Apa maksudmu rumah sakit tidak memungut biaya apapun? Jangan bercanda.”
“Itu benar. Zein tidak membayar apapun.”
Bu Iman mengerutkan keningnya.
“Zein juga bingung.”
“Jangan-jangan ada kekeliruan. Sebaiknya kita kembali dan menanyakan lagi semuanya. Kalau sampai ada kekeliruan, lalu tiba-tiba mereka menagih biaya yang sangat mahal, apa yang harus kita lakukan? Kamu belum selesai, ibu mungkin belum kuat untuk berjualan lagi, apa yang harus kita lakukan?”
“Zein sudah berkali-kali bertanya. Tidak hanya kepada perawat, tapi juga kepada dokter dan di bagian administrasi. Mereka bilang kita tidak perlu membayarnya.”
“Pasti ada alasannya. Perlakuan sebaik itu, biayanya pasti mahal.”
"Mereka bilang rumah sakit sangat menghargai perjuangan ibu, yang bekerja keras demi keluarga, demi anaknya, sehingga ibu tidak merasa bahwa ibu sebenarnya sakit dan lelah.”
“Hanya karena itu?”
“Zein sudah memperjelas semuanya. Mereka bilang sebuah perjuangan tidak boleh dikatakan ‘hanya’. Ibu luar biasa.”
“Aku tidak mengerti.”
“Ya sudah Bu, Ibu tidak usah memikirkannya. Yang penting Ibu sehat.”
Bu Iman diam, tapi tak bisa berhenti berpikir. Padahal Zein juga merasakan hal yang sama.
***
Bu Iman sudah lebih baik, tapi tidak boleh bekerja terlalu keras. Zein sudah mulai melanjutkan tugasnya untuk menyelesaikan gelar dokternya, dan itu membuat bu Iman merasa lega.
Tadinya ia merasa bahwa hidupnya akan berakhir, dan tak akan pernah melihat sang putra menjadi dokter. Sekarang ia benar-benar menjaga kesehatannya, dan berharap perjuangan Zein akan segera berakhir, dan cita-cita orang tuanya bisa terwujud.
Diam-diam bu Iman teringat kepada almarhum suaminya yang telah lebih dulu pergi. Ia selalu merasa bersalah karena memaksa suaminya untuk pulang karena ketiadaan biaya yang cukup.
“Maafkan aku ya Pak, aku membiarkan kamu meninggal. Seandainya aku punya uang yang cukup, barangkali bapak masih akan ada disisiku ini.”
Bu Iman mengusap air matanya.
“Bu, ikhlaskan saja kepergian suami Ibu. Mati dan hidup itu sudah ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Hanya jalannya yang berbeda.”
Itu yang dikatakan hampir semua tetangga dan kerabatnya ketika ia meratapi dan menyesali kepergian suaminya.
Lalu ia juga mengerti, bahwa dirinya yang merasa sudah pasti akan meninggal karena pernah sangat sulit bernapas ketika dalam perawatan, dan ternyata dia masih diperkenankan untuk hidup lebih lama.
“Ini juga karena Allah. Aku belum ditakdirkan untuk meninggal,” bisiknya kemudian.
***
“Mengapa Bapak melakukannya?” tanya bu Narya pada suatu sore.
“Bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan bahwa manusia bisa berubah?”
“Biaya rumah sakit dengan fasilitas yang Bapak pilih untuk ibunya Zein itu sangat mahal.”
“Apa kamu tidak rela?”
“Bapak kok ngomong begitu. Tentu saja aku rela. Dan aku merasa bahwa berbuat baik itu sangat membuat kita merasa nyaman. Aku senang, apalagi yang namanya bu Iman itu akhirnya dapat tertolong.”
“TIba-tiba aku teringat pada perjuangan orang tuaku waktu itu. Semua orang tua memiliki perjuangan yang sama, walau bobotnya berbeda. Bagi yang keuangannya terbatas, itu berat, tapi bagi yang punya uang, itu tidak akan terasa berat. KIta beruntung karena berkat perjuangan orang tua kita lalu kita menjadi seperti ini. Aku menyesal telah memperlakukan Zein dengan buruk, hanya karena orang tuanya miskin. Mendengar kisah perjuangan ibunya, aku tergugah untuk berbagi.”
“Apakah Bapak juga akan merestui hubungan Indras dan Zein, nantinya?”
Beberapa saat lamanya pak Narya terdiam.
Bayangan Bagas dan Zein berganti-ganti melintas.
Kalau boleh memilih, pak Narya sudah pasti memilih Bagas. Sudah siap, mapan, dan tidak mengecewakan. Tapi Zein, kalau dianggap tanaman dia masih benih, harus ditanam, diberi pupuk, agar bisa tumbuh dan hidup serta menghasilkan buah yang memuaskan.
Tapi ternyata pak Narya tidak bisa memilih karena Indras sudah menjatuhkan pilihan. Apa boleh buat. Ia sudah terlanjur bisa mengerti, walau masih ada keraguan tentang kehidupan putrinya kelak.
“Bapak akan menerimanya?” bu Narya mengulang pertanyaannya karena sang suami belum menjawabnya.
“Entahlah, kita lihat saja nanti. Bagi kita, kebahagiaan Indras adalah segalanya. Kalau dia bisa membahagiakan anakku, barangkali keinginan itu akan menjadi pertimbangan.”
Jawaban yang belum jelas, tapi tidak mengarah ke penolakan. Bu Narya hanya seorang istri. Ia akan mengikuti kemanapun suaminya melangkah.
***
Saat istirahat di kantin, Indras menanyakan keadaan ibunya ketika ditinggalkannya.
“Baik, ibu kelihatan senang sekali melihatku berangkat kemari. Sepertinya ibu sangat khawatir kalau aku tak berhasil memenuhi keinginannya.”
“Kamu kan pintar Zein.”
“Tidak, aku seperti yang lainnya. Membutuhkan ketekunan untuk mencapai sesuatu.”
Tiba-tiba Zein teringat kepada ayahnya, yang tidak tertib dalam menjaga kesehatannya. Sering pergi malam, merokok yang sangat sulit dihentikan. Bahkan saat sakitpun ia berteriak mau rokok. Ia bukan seorang pejuang kesehatan diri. Ia semaunya dan sering bertengkar dengan istrinya, hanya karena larangan istrinya untuk mengurangi pergi malam dan merokok. Padahal dia tidak lagi kuat untuk bekerja. Ia ingin putranya menjadi dokter tapi tak ada perjuangan yang dilakukan.
Walau begitu sang ibu sangat menyayanginya. Bahkan saat meninggalnya sang ayah, sang ibu selalu menyesal dan merasa berdosa. Ia merasa menjadi penyebab meninggalnya suaminya.
“Kamu memikirkan apa?”
“Tiba-tiba teringat bapak.”
“Semoga sudah tenang di sana. Doakan saja dia.”
Zein menghela napas. Kecewa yang seperti apapun, dia tetap ayahnya. Ingin ia mengutarakannya pada Indras tapi diurungkannya.
***
Hari terus berjalan, perjuangan Indras dan Zein sudah sampai diujungnya. Mereka sudah lulus dan sebentar lagi akan diwisuda.
Tentu saja berita gembira ini segera disampaikan Zein kepada sang ibu, yang dengan kegembiraan yang meluap-luap dia lampiaskannya dengan memasak enak dan mengundang beberapa tetangga untuk bergembira bersama.
Zein sudah melarang sang ibu melakukannya, tapi bu Iman tak bisa dicegah. Ia begitu gembira dan bercerita kepada kerabat dan tetangga bahwa perjuangannya membuahkan hasil.
Malam itu bu Iman mengadakan syukuran kecil-kecilan. Ia memasak sendiri untuk hidangan para tamu, menyiapkan semuanya untuk melampiaskan kebahagiaannya.
Tapi pagi hari itu ketika Zein tak melihat sang ibu keluar kamar, ia segera memasuki kamarnya dan bermaksud membangunkannya. Tapi sang ibu diam tak bergerak.
***
Besok lagi ya.