Saturday, June 20, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 29

 NAMAKU TETAP SENJA  29

(Tien Kumalasari)

 

Mereka puas jalan-jalan dan berteduh di taman, lalu Arka mengajaknya makan. Walau dengan rasa malu dan sungkan, mbok Mangun dan anak-anaknya terpaksa mengikuti kemauan Arka, karena sesungguhnya mereka juga mulai lapar.

Tapi tentang makanan itu, mbok Mangun tidak begitu bisa makan banyak, walaupun heran dengan menu aneh-aneh yang belum pernah dilihatnya, ataupun dimasaknya.

“Mengapa makan hanya sedikit Mbok, apa tidak enak?” tanya Arka

“Saking enaknya sampai mbelenger mas Arka, tapi namanya orang itu semakin tua kan perutnya semakin menyusut. Nggak muat kalau makan banyak-banyak. Nanti perutnya meletus bagaimana?”

Rimba terkekeh mendengar omongan simboknya.

“Memangnya gunung Mbok, bisa meletus?”

“Perut juga kalau kebanyakan ya bisa meletus. Memangnya hanya gunung yang bisa meletus. Sudah, sampaikan makannya, simbok sudah cukup.”

“Nanti dibawa pulang saja ya Mbok?” kata Arka lagi.

“Tidak usah Mas, kebanyakan makanan malah nggak kemakan.”

“Bisa dimakan nanti malam, supaya Simbok tidak repot masak lagi.”

”Mas Arka itu semua-semua dikasih ke keluarga simbok. Simbok ini hanya orang miskin Mas, tidak bisa membalas apa yang Mas Arka berikan.”

“Memangnya saya minta balasan? Kalau orang memberi lalu minta balasan itu namanya dagang. Ya kan?”

“Kalau yang diberikan mas Arka itu susah menggantinya. Berlimpah-limpah pemberiannya.”

“Senja, sekalinya usul kok lucu sih? Pemberian berlimpah limpah itu apa, memangnya air?”

“Seperti air, sampai tempatnya membeludak.”

“Ada-ada saja. Ayo makannya dihabiskan, aku mau pesan yang untuk dibawa pulang nanti.”

“Nggak usah Mas, ini sudah kenyang. Sampai besok juga nggak akan lapar lagi,” kata Simbok.

“Simbok ini ada-ada saja. Kenyang itu kan sekarang. Nanti juga pasti lapar lagi pada saatnya,” kata Arka yang kemudian memanggil pelayan rumah makan untuk menambahkan pesanan yang akan dibawa pulang.

“Rimba mau nambah lagi?”

“Tidak mas, sudah kenyang. Kata Simbok nanti bisa meletus perutnya,” kata Rimba yang disambut tertawa semua orang.

“Kita tunggu pesanannya dulu, lalu kita mau ke mana lagi nih?”

“Simbok pasti capek. Pulang saja ya Mbok?”

“Simbok nggak capek, senang sekali kok. Selama hidup baru sekali ini diajak muter-muter, melihat banyak hal baru yang belum pernah Simbok lihat sebelumnya.”

“Besok, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya. Ketempat yang lebih indah. Keluar kota, misalnya.”

“Kalau luar kota berarti di desa, simbok saja asalnya dari desa, untuk apa melihat desa?”

“Bukan sekedar desa atau luar kota Mbok, ada bangunan-bangunan untuk wisata yang bagus. Nanti deh, Simbok lihat.”

“Gitu ya? Belum terbayang seperti apa indahnya.”

***

Pak Wiguna sedang menerima telpon dari Rosa. Rasa cintanya kepada Arka telah berubah menjadi kebencian. Sekarang ia tak berharap bisa menjadi istri Arka, tapi berharap menghancurkan hati Arka.

“Om tahu, sekarang Arka ada di mana?”

“Kamu ketemu Arka?”

“Tidak Om, teman Rosa yang melihatnya.”

“Di mana dia?”

“Om tidak bertanya, Arka jalan-jalan bersama siapa”

“Temannya kan?”

“Bisa saja kalau penjual beras miskin itu dianggap sebagai temannya.”

“Dia bersama gadis itu?”

“Bukan hanya gadis itu saja, tapi keluarganya. Ada simboknya, ada juga adiknya.”

“Arka melakukannya?”

“Mereka putar-putar kota, lalu jalan-jalan di taman, lalu makan siang disebuah restoran. Bisa nggak Om bayangkan, baju kumuh, tubuh bau, bersendal jepit, masuk ke sebuah restoran. Pasti akan menjadi tontonan menarik. Bukan hanya tontonan, tapi juga pembicaraan. Apa Om tidak malu, putra Om bergaul dengan orang-orang seperti mereka?”

“Keterlaluan Arka, nanti kalau dia pulang pasti Om tegur sekeras-kerasnya.”

“Kalau aku jadi Om, pasti sangat malu sekali. Bagaimana mungkin seorang direktur muda jalan dan makan bareng dengan orang-orang miskin dan kampungan seperti mereka.”

“Tentu saja Om malu. Benar-benar keterlaluan dia.”

“Yang saya tidak mengerti, mengapa Arka tidak jalan atau main bersama teman-teman kuliahnya dulu, atau paling tidak dengan rekan sekantor. Itu kan lebih pantas, ya kan Om?”

Bertubi-tubi Rosa memanas-manasi pak Wiguna. Kecuali ingin menumpahkan kekesalannya, ia juga ingin agar Arka dimarahi orang tuanya.

“Tapi Om jangan bilang kalau saya memberi tahu Om ya, soalnya saya juga hanya mendapat laporan dari teman saya yang kebetulan melihat mereka. Tuh, baru saja teman saya mengabari, kalau Arka membawa orang-orang miskin itu memasuki sebuah toko pakaian.”

“Apa? Jadi Arka juga membelikan mereka pakaian?”

“Pastinya kan Om, masa masuk ke toko pakaian mau beli rujak?” kata Rosa setengah bercanda, tapi tidak membuat pak Wiguna tertawa.

“Apa yang meracuni hati Arka sehingga berbuat yang sangat tidak masuk akal seperti itu?”

“Om tahu tidak, orang-orang seperti mereka itu, banyak yang masih menggunakan guna-guna.”

”Guna-guna apa?”

“Guna-guna itu ya semacam kekuatan mistik begitu Om, orang pintar yang bisa melakukannya. Jadi mereka mencari orang pintar, agar Arka jatuh hati kepada anak mbok Mangun, lalu memanjakan mereka dengan banyak hal yang menyenangkan. Nanti akan lebih banyak Arka keluar uang untuk mereka. Kali ini mengajak jalan-jalan, lalu makan di restoran mahal, lalu membelikan pakaian. Lama-lama perhiasan, rumah, mobil, semua yang mereka mau.”

“Apa?”

“Arka punya segalanya. Uang tak usah ditanya. Apa susahnya menuruti kemauan mereka?”

Dan pak Wiguna benar-benar terbakar oleh sulutan api yang dikobarkan Rosa.

***

“Ada apa, Bapak marah-marah lagi?”

“Kamu tahu nggak Bu, Arka pergi ke mana?”

“Bukankah kencan dengan teman-temannya? Perginya ke mana ya aku tidak tahu.”

“Dia pergi bersama orang-orang miskin itu.”

“Orang-orang miskin siapa? Mbok jangan suka mengatai orang miskin. Miskin harta itu bukan hina. Yang hina kalau miskin hati nuraninya.”

“Ibu berkali-kali ngomong begitu. Itu, penjual beras itu. Apa benar Arka suka sama dia? Bocah ingusan masih sekolah, kumuh dan sama sekali tidak menarik.”

“Apa Arka mengatakan kalau dia suka sama gadis itu?”

“Ya tidak berani dia mengatakan begitu. Tapi Ibu tahu tidak, sejak pagi tadi Arka pergi bersama mereka.”

“Mereka itu siapa? Beberapa orang pastinya?”

“Gadis itu, sama simboknya, sama adiknya.”

“Arka pergi bersama mereka?”

“Iya. Diajak putar-putar kota, jalan-jalan di taman, makan di restoran, dan pada laporan terakhir Arka mengajak mereka belanja pakaian. Apa itu tidak kebangetan?”

“Mungkin Arka kasihan sama mereka, lalu mengajaknya jalan-jalan supaya mereka senang.”

“Pernahkah terpikir oleh Ibu bahwa penjual beras itu menggunakan guna-guna untuk memikat anak kita?”

“Bapak itu ada-ada saja. Jaman modern seperti sekarang masih ada yang menggunakan guna-guna? Fitnah itu.”

“Bu, kelakuan yang tidak wajar bisa jadi karena adanya guna-guna.”

“Masa sih, mengajak jalan-jalan, mentraktir makan, memberi pakaian, itu tidak wajar? Arka berbaik hati, mungkin karena kasihan pada kehidupan mereka.”

“Mengapa juga Arka harus kasihan? Banyak orang miskin di dunia ini, apa Arka akan membantu dan menyenangkan hati mereka semua?”

“Kalau itu mampu dilakukannya, mengapa tidak? Aku heran, Bapak itu terpelajar, pengusaha yang pergaulannya pastilah dengan orang-orang pintar, mengapa bisa mempunyai pikiran sepicik itu? Dari mana Bapak mendapat pemikiran aneh seperti itu? Dari mana Bapak tahu mereka pergi ke mana dan mengapa?”

“Rosa melihatnya. Eh bukan, teman Rosa melihatnya, lalu bercerita pada Rosa.”

“Jadi Rosa mendapat laporan dari teman Rosa? Kelihatan sekali kalau Rosa tidak suka pada gadis penjual beras itu. Tapi aku tidak mau ikutan berpikiran picik seperti itu. Mengada-ada. Kalau anak kita baik kepada orang, harusnya kita bangga.”

Kali ini pak Wiguna yang meninggalkan istrinya, sambil mengomel panjang pendek karena lagi-lagi tidak mendapat dukungan.

***

“Mas Arka, mengapa Mas Arka melakukan semua ini? Sudah mengajak jalan, muter-muter, makan-makan, lalu membelikan kami pakaian. Ada apa ini?” keluh Senja ketika Arka beranjak keluar dari toko sambil membawa bungkusan beberapa potong pakaian untuk mereka bertiga.

“Kamu tidak usah protes. Aku ingin melakukannya, karena aku suka pada simbok, pada perjuangannya, aku juga suka kepada anak-anak simbok yang baik, yang patuh, yang penuh kasih sayang kepada orang tuanya.”

“Tapi ….”

“Tidak usah tapi-tapian, ayo ke mobil, aku antar kalian pulang.”

Senja merengut karena dimarahi, tapi ia segera menggandeng simboknya menuju mobil.

Tapi tiba-tiba ada orang berteriak dari lobi.

“Mbak … Mbak, sini dulu, ada yang ketinggalan.”

Senja heran, tapi setelah membantu simboknya masuk ke mobil, Senja berbalik masuk ke arah toko, sambil berpikir, apa ya yang ketinggalan.

Arka heran ketika simbok dan Rimba sudah masuk ke mobil, tapi Senja tidak ada.

“Mana Senja?”

“Nggak tahu Mas, tadi ada yang berteriak dari sana, katanya ada barang ketinggalan, jadi Senja masuk kembali.”

“Apa yang ketinggalan?”

“Tidak tahu Mas.”

Mereka menunggu, tapi lama sekali Senja tidak keluar dari toko itu.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, June 19, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 28

 NAMAKU TETAP SENJA  28

(Tien Kumalasari)

 

Pak Wiguna menghentikan Arka yang terus melangkah keluar, menghampiri mobilnya.

“Arka, mau kemana? Ada tamu kok ditinggal pergi.”

“Sudah janjian jam delapan Pa. Maaf, Rosa,” katanya kepada Rosa yang terpaku diam, tak tahu harus bicara apa.

“Teman siapa? Temuin dulu Rosa, jauh-jauh datang untuk menemui kamu, kamu malah pergi. Gimana sih?”

“Saya tidak janjian sama Rosa, saya janjian sama teman saya.”

“Apa tidak bisa ditunda?”

”Maaf, tidak bisa. Mereka pasti sudah menunggu.”

“Sebegitu pentingkah teman kamu itu sehingga mengalahkan waktu kamu untuk Rosa?”

“Sudah terlanjur janjian Pa, saya tidak bisa menundanya. Maaf, sekali lagi,” kata Arka yang nekat masuk ke dalam mobilnya, dan keluar dari halaman.

Rosa tampak sudah duduk di teras, asyik mengutak atik ponselnya, seakan tidak mempedulikan Arka yang pergi menjauhinya.

“Dasar anak itu, susah sekali dikasih tahu,” omel pak Wiguna yang kemudian duduk di depan Rosa.

“Maaf Rosa, aku kira Arka tidak akan pergi. Sepagi tadi santai di rumah.”

Rosa menyimpan ponselnya dan tersenyum.

“Tidak apa-apa Om, bukankah saya harus bersabar?”

"Sangat besar keinginanku agar Rosa menjadi menantuku. Kamu pilihan terbaik Rosa. Aku tetap berharap hal itu bisa benar-benar terjadi,” kata pak Wiguna.

“Saya tahu Om, baiklah, saya akan bersabar. Semoga keinginan kita bisa terlaksana.”

“Anak baik. Itu sebabnya aku senang sekali bermenantukan kamu. Sabar dan baik hati, serta ikhlas menerima kekalahan. Tapi percayalah bahwa kamu tidak akan kalah.”

“Kok sepi, tante di mana?”

“Di belakang, biasanya ada di dapur, membantu bibik. Bukan apa-apa, tantemu itu tak mau diam, saat sedang merasa sehat. Apa kamu ingin menemuinya, atau aku panggil saja dia kemari?”

“Tidak usah Om, saya mau langsung pulang saja.”

“Belum disuguhin apa-apa, pulang? Biar bibik membuatkan minum dan _."

“Tidak usah, saya masih punya pekerjaan. Lain kali saja saya main kemari lagi,” katanya sambil berdiri, kemudian turun dari teras untuk menghampiri mobilnya. 

Lalu ia memacunya keluar dari halaman. Pak Wiguna menatapnya dengan perasaan kesal kepada anaknya.

“Pasti Rosa sakit hati lagi. Datang jauh-jauh, Arka malah pergi. Kencan sama siapa sebenarnya dia? Dasar bodoh. Tidak mau memikirkan masa depan yang lebih baik,” omel pak Wiguna.

“Ada apa Pak?” bu Wiguna tiba-tiba muncul membawakan jus jeruk untuk suaminya, lalu meletakkannya di meja.

“Kamu tidak tahu tadi ada tamu?”

“Tamu, siapa ?”

“Rosa datang. Sedianya ingin bertemu Arka, lagi-lagi Arka menghindar.”

“Sudah sejak pagi Arka bilang, bahwa dia akan pergi bersama teman-temannya jam delapan ini. Jadi menurutku ia bukan menghindar.”

“Ibu selalu begitu. Membela anak bandel dan bodoh itu.”

“Bapak jangan selalu mengatai dia bodoh. Arka itu pintar. Dia juga anak baik dan penurut.”

“Penurut apanya, sekarang saja dia berani membantah.”

“Itu karena pilihan papa tidak sesuai dengan keinginan dalam hidupnya. Entah apa yang Bapak pikirkan,” katanya sambil menjauh. 

Bu Wiguna tak mau berdebat. Kalau suasana menjadi panas, lebih baik dia menjauh.

Pak Wiguna mengomel panjang pendek sambil duduk sendirian, tak ada yang mendengarnya. Omelan itu berhenti ketika ia merasa haus dan meneguk jus jeruknya sampai habis.

***

Mbok Mangun senang sekali, pergi naik mobil bersama kedua anaknya. Ia pernah naik mobil, tapi mobil angkot yang membawanya saat ia harus berjalan jauh demi jualannya laku. Sekarang ini mobil yang ditumpanginya adalah mobil bagus, udara dingin membuatnya sejuk dan segar.

Arka membawanya berkeliling kota, melihat keramaian kota dengan gedung-gedungnya yang menjulang, dan lalu lalang padat memenuhi seluruh kota.

“Ya ampun, mas Arka … Simbok belum pernah melihat semua ini. Ternyata dunia sangat luas, ini membuat Simbok sangat takjub. Terima kasih mas Arka, telah ditunjukkan kepada Simbok sebuah dunia yang luas dan berwarna warni.”

Arka hanya tersenyum, tapi kegembiraan yang melonjak-lonjak dari mbok Mangun dan anak-anaknya, sangat membuatnya bahagia.

Hanya Simbok yang berteriak-teriak senang, sementara Senja diam menikmati, dengan binar yang mempesona.

“Simbok jangan berteriak-teriak. Malu,” kata Rimba.

“Mengapa harus malu, Simbok memang sangat senang.”

“Kita semua senang, tapi Simbok jangan berteriak-teriak.”

“Tidak apa-apa Rimba. Biar saja Simbok melampiaskan kegembiraannya. Sebentar lagi kita ke depan situ, ada taman yang indah dan sejuk sekali udaranya.”

Lalu Arka menghentikan mobilnya di sebuah taman, yang dipenuhi tanaman bunga dan pepohonan rindang.

Arka mengajak mereka turun.

“Ya ampun, indah sekali. Bunga-bunga cantik, yang ditempat kita tidak ada kan? Mana bisa bunga-bunga ini ditanam di rumah kita?”

“Ya bisa Mbok, tapi beli bibitnya mahal.”

“Simbok pengin menanam bunga-bunga di rumah?” tanya Arka.

“Yang namanya pengin ya pengin, tapi kan Simbok tidak punya halaman, rumah saja sempit. Tapi melihat ini semua Simbok sangat senang. Terima kasih mas Arka.”

Mereka berputar-putar di sekitar taman, lalu Arka membelikan mereka es krim, yang dinikmati sambil beristirahat di sebuah bangku.

"Senja, bunga-bunga seperti ini bisa ditanam di dalam pot. Kamu bisa menanamnya."

Senja hanya tersenyum. Pot bunga dan bunganya kan tidak bisa didapat dengan cuma-cuma? 

Suasana gembira meliputi hati mereka. Sungguh tak sia-sia Arka melakukan semua itu.

***

Rosa menelpon di sepanjang perjalanan pulang. Entah dengan siapa, tapi ia tampak berbicara dengan serius.

“Aku tidak mau gagal. Hari ini juga kamu  harus  melakukannya. Memang benar, dia cantik, terserah apa yang akan kamu lakukan. Yang penting jangan lolos. Kalaupun dia hidup, buatlah hidup yang ternoda. Yaa … itu bagus, terserah kamu saja, kan aku sudah bilang berkali-kali, terserah kamu. Uangnya akan aku tambah setelah selesai tugas kamu. Sudah, jangan bicara lagi, aku sudah sampai rumah.”

Rosa berhenti menelpon ketika ia sudah sampai di halaman rumahnya.

***

“Kamu dari mana saja?”

“Dari rumah om Wiguna."

"Mengapa ke sana lagi?"

"Tadi om Wiguna menelpon Rosa.”

“Menelpon untuk apa?”

“Hanya mengajaknya berbincang.”

“Ketemu Arka?”

“Tidak, dia waktu itu mau pergi bersama teman-temannya. Entahlah, saya hanya berbincang sebentar, kemudian pamit pulang.”

“Rosa, duduklah sebentar.”

Rosa duduk di depan kedua orang tuanya.

“Tadi Papa sama Mamamu sepakat mengirimkan kamu kembali ke luar negri.”

“Apa? Mengapa?”

“Ada perusahaan Papa di sana, kamu bisa mengawasinya, bukan? Seperti waktu kamu kuliah, dan sekarang saatnya kamu bekerja untuk Papa.”

“Tidak mau. Rosa lebih suka tinggal di sini saja, dekat sama Papa dan Mama.”

“Karena itu? Bukan karena kamu masih ingin mengejar Arka?”

“Tidak. Rosa tidak lagi suka dia. Cinta itu sudah hilang dari hati Rosa.”

“Bagus sekali kalau kamu sudah menyadarinya. Memang lebih baik melupakan orang yang kita cintai tapi tidak mencintai kita. Hal itu akan membuat kamu lebih tenang,” sambung sang Mama.

“Tapi jangan minta dulu Rosa kembali ke sana Pa, Rosa masih ingin di sini.”

“Kamu tidak mau membantu Papa?”

“Mau, tapi tidak sekarang. Tunggu beberapa saat lagi, sampai Rosa siap untuk bekerja.”

“Baiklah kalau memang kamu masih harus bersiap-siap, tapi jangan lakukan hal yang memalukan. Apalagi masalah Arka.”

“Tidak Pa, kan Rosa sudah bilang tidak akan memikirkan Arka. Cinta Rosa sudah hilang setelah mengalami sakit berkali-kali. Rosa juga tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Belajar masak sama Mama, biar kelak menjadi istri yang baik.”

“Lebih baik begitu. Ya sudah, istirahatlah.”

Rosa beranjak ke kamarnya. Memang benar, cinta kepada Arka sudah hilang. Yang tertinggal adalah cara ingin membalas sakit hatinya. Kepada Arka, dan kepada gadis yang disukainya, yang saat ini menurut laporan orang suruhannya, mereka sedang bersenang-senang di taman.

“Dasar udik, kampungan. Jangan kira kamu akan bisa melanjutkan kesenangan kamu di dunia ini, karena neraka sedang menunggumu.” gumamnya sambil masuk ke dalam kamar, dan menutupnya keras, sambil membayangkan sedang menghantam kepala orang yang dibencinya.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, June 18, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 27

 NAMAKU TETAP SENJA  27

(Tien Kumalasari)

 

Arka menatap Senja, memberi isyarat agar segera pulang.

“Tante, kami permisi dulu, Senja pasti ditunggu orang tuanya.”

“Ya sudah, kasihan Senja, kelihatannya capek sekali.”

Arka dan Senja berpamit pada Bu Daryono, tapi tidak kepada Rosa, yang membuat kemudian Rosa jadi uring-uringan.

“Lihat Ma, Arka itu menolak Rosa, tapi dia sangat dekat dengan penjual beras yang bau dan kampungan itu.”

“Rosa, kan ibu bilang kamu jangan bicara kasar. Kalau kamu bicara kasar, malah kamu yang kelihatan kampungan,” tegur bu Daryono.

"Mama tidak membela Rosa yang tersakiti, malah membela mereka, malah menjelekkan anak sendiri,” gerutu Rosa.

“Mama hanya menunjukkan bahwa kamu yang salah menilai orang. Mama tidak pernah mengajarkan itu semua. Merendahkan orang lain itu sama saja dengan merendahkan diri kamu sendiri.”

“Bukankah kenyataannya memang begitu?gadis itu dari kalangan rendahan, apa tidak sakit hati Rosa karena Arka lebih memperhatikan dia? Mama tidak kasihan pada Rosa yang tersakiti ini, Mama malah menambah sakit di hati Rosa.”

“Kamu merasa tersakiti karena salah kamu sendiri.”

“Mengapa salah Rosa? Arka sudah dijodohkan dengan Rosa, tapi bagaimana sikap dia Ma?”

“Papamu tidak menjodohkan lho, itu kata papa kamu.”

“Om Wiguna sudah senang sekali punya menantu Rosa. Dia mengakui bahwa kami sudah dijodohkan.”

“Om Wiguna yang ingin, tapi papamu tidak, selama kalian tidak saling menyukai. Kamu suka, tapi tampaknya Arka tidak. Untuk apa dilanjutkan? Kamu itu cantik dan pintar, tidak susah mendapatkan jodoh. Mengapa mengejar sesuatu yang yakin tidak bisa terkejar? Kamu malah kelihatan bodoh.”

“Mama, apakah Mama membenci Rosa?”

“Sama sekali tidak. Mama hanya tidak suka pada pembawaan kamu yang kelihatan tidak pantas. Kamu sebagai gadis harus bisa membuat bahwa kamu berharga.”

Rosa merasa kesal karena tidak didukung oleh mamanya, dan justru menyalahkannya. Karenanya dia kemudian meninggalkan mamanya tanpa berkata apapun juga.

Bu Daryono menghela napas panjang.

“Mengapa jadi begini? Apa karena kami terlalu memanjakannya? Kami menyayangi dia karena tidak dikaruniai seorang anakpun, tapi kelakuannya sangat mengecewakan. Karena pergaulannya di luar negri? Karena merasa jadi anak orang kaya yang segala keinginannya bisa terpenuhi?"

“Ya Allah, tunjukkan jalan yang benar bagi dia, agar tak sia-sia kami membesarkannya,” keluh bu Daryono dalam hati.

***

"Saya heran. Bagaimana Mas selalu muncul disaat saya sedang mengalami kesulitan?” kata Senja dalam perjalanan pulang.

“Kamu salah, aku muncul ketika kamu duduk manis disamping sopir colt itu, dan hanya ingin tahu sebenarnya kamu kemana. Jadi aku tidak muncul tiba-tiba.”

“Nyatanya Mas muncul saat saya dipaksa masuk untuk menunggu sampai beras aku dibayar. Padahal aku tidak tahu itu rumah siapa.”

“Kata Rosa tadi, itu rumah temannya yang memesan beras.”

“Rumahnya sepi, ada rasa ngeri ketika melihatnya.”

“Ya sudah, lain kali kalau ada yang pesan, seperti kataku tadi, jangan mau uangnya dibayar belakangan.”

“Baiklah. Tapi terkadang sungkan.”

“Kok masih ada tapinya. Baiklah … ya baiklah … dijalani dengan baik, tanpa tapi. Mengerti?”

“Mengerti, Pak Guru.”

“Kamu sudah makan?”

“Sudah, jangan mengajak saya makan lagi, sudah lama saya perginya, nanti simbok khawatir.”

“Sebenarnya tadi aku mau ketemu kamu dan Rimba, dan juga Simbok.”

“Ada apa?”

“Besok kan hari Minggu, akan aku ajak kalian jalan-jalan.”

“Aduh, jalan-jalan ke mana? Saya harus belajar, ujian sudah dekat.”

“Hanya muter-muter, sama Rimba, sama Simbok juga. Biar ganti pandangan, tidak menakar beras saja, tapi juga menakar mata dan hati.”

“Simbok mau tidak ya?”

“Nanti aku yang bilang. Besok aku datang sekitar jam delapan, kalian sudah siap ya?”

“Naik mobil?”

“Ya iya, naik mobil. Apa mau naik pesawat?” goda Arka.

“Tadi Mas bilang jalan-jalan.”

“Jalan-jalan bukan berarti jalan dari rumah, nanti lah … kamu pasti senang. Jalan-jalan melihat pemandangan indah, keramaian kota … “

“Kelihatannya menarik.”

Arka senang melihat wajah Senja berseri-seri. Ia yakin Senja belum pernah keluar dari rumah selain sekolah dan mengirim beras. Trenyuh juga hati Arka melihat rona gembira sebelum benar-benar berangkat.

***

Pak Wiguna sedang menerima telpon dari Rosa, wajahnya merah padam menahan amarah. Rosa bercerita tentang Arka yang menjemput dan mengantarkan beras kemana-mana.

“Apa benar Arka melakukannya?”

“Om bagaimana, mereka datang dan menagih uang beras yang saya pesan. Mengapa Arka harus mengantarkannya? Saya hampir tidak percaya kalau Arka tertarik pada gadis itu. Sama sekali tidak sepadan. Tapi Arka memperlakukannya dengan sangat baik. Hati siapa yang tidak panas melihat semua itu Om?” suara itu diselingi isak.

“Kamu jangan cemburu dulu. Tidak mungkin Arka suka pada penjual beras itu. Sejak awal dia mengatakan hanya kasihan dan ingin membantu. Jadi mungkin dia memang hanya membantu. Lagi pula penjual beras itu masih bocah kan?”

“Benar, kelihatannya masih sekolah SMA. Tapi mengapa Arka menyukainya? Om harus menegurnya. Saya tidak bisa apa-apa karena sikap Arka kepada saya selalu dingin, dan cenderung sangat membenci saya.”

“Bocah itu memang keterlaluan. Sudah berkali-kali om memperingatkannya, tapi tidak digubris. Hanya saja masalah dia suka kepada gadis penjual beras itu, masih diragukan. Yang benar pasti hanya ingin menolong. Arka suka melakukan itu, di kantor juga banyak yang memuji dia karena dia murah hati dan suka menolong.”

“Tapi sikapnya kebangetan. Saya sakit Om.”

“Tenanglah Rosa, kamu harus bersabar. Pelan tapi pasti, Arka akan bisa ditundukkan.”

Pak Wiguna mengucapkannya untuk menenangkan hati Rosa, padahal ia tahu bahwa Arka sangat keras hati. Apalagi dia tahu bahwa pak Daryono juga tidak mendukung seandainya Arka memang tidak suka. Hanya saja masalah hubungannya dengan penjual beras itu sangat membuatnya khawatir. Apa benar Arka menyukainya?

“Om, kita harus menyingkirkan penjual beras itu.”

“Apa maksudmu menyingkirkan?”

“Saya kira penghalang bagi hubungan Rosa dan Arka hanyalah dia. Kalau Arka sudah jauh dari dia, pasti dia akan memperhatikan Rosa.”

“Menyingkirkan itu bagaimana? Menjauhkannya dari Arka?”

“Iya Om, entah bagaimana caranya, saya baru memikirkannya. Om harus mendukung saya.”

Pak Wiguna menutup ponselnya ketika melihat mobil Arka memasuki halaman.

Ketika Arka memberi salam, pak Wiguna menghentikannya.

“Kamu dari mana? Pulang dari kantor sejak tadi kan?”

“Mengantarkan Senja menagih uang beras.”

“Senja itu gadis penjual beras?”

“Iya.”

“Apa urusannya kamu mengantarkan dia? Adik bukan, saudara bukan.”

“Teman, bisa jadi saudara kan Pak?”

“Bapak mau tanya, apa kamu suka kepada gadis itu?”

“Dia gadis lugu dan pantas dibantu karena hidupnya kekurangan.”

“Itu tugas kamu untuk membantu dia?”

“Hanya membantu, siapapun bisa dan boleh, apa saya salah?”

“Kamu membantu orang itu tidak salah. Yang salah adalah karena gadis itu maka kamu mengesampingkan Rosa, yang jelas-jelas anak orang hebat, terhormat, kaya raya. Apa lagi kurangnya? Dia juga cantik dan pintar.”

“Bukan karena Senja maka saya tidak suka Rosa. Tanpa adanya Senja, Arka sudah tidak suka.”

“Mengapa tidak suka?”

“Saya tidak tahu. Suka dan tidak itu adalah rasa. Perasaan saya mengatakan bahwa Rosa bukan istri yang pas untuk Arka.”

“Omong kosong kamu. Semua orang selalu ingin yang baik, yang hebat, yang tidak tercela. Tapi kamu ….”

“Saya mohon maaf. Kalau masalah jodoh, saya tidak sependapat dengan Bapak.”

“Dasar bodoh!”

“Maaf Pak,” kata Arka kemudian berlalu.

***

Pagi harinya, Arka tidak bersepeda pagi seperti minggu-minggu sebelumnya. Ia bahkan ikut sarapan kedua orang tuanya. Hal itu membuat pak Wiguna senang. Ia menelpon Rosa diam-diam agar segera datang karena Arka ada di rumah.

Tak sampai sejam Rosa sudah sampai di rumah keluarga Wiguna. Pak Wiguna menyambutnya dengan riang. Tapi bersamaan dengan itu, Arka keluar dengan pakaian santai, bersiap untuk pergi.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, June 17, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 26

 NAMAKU TETAP SENJA  26

(Tien Kumalasari}

 

Senja tak menanyakan apapun, karena merasa bahwa sopir itu pasti sudah dipesan baik-baik oleh Rosa, untuk mengirimkan beras itu ke alamat yang sudah dipastikan.

Tapi Senja merasa aneh ketika mobil itu melalui jalan yang bukan semestinya.

“Pak, kenapa lewat sini? Harusnya perempatan tadi kita belok kanan, bukan terus. Bapak sudah tahu alamatnya non Rosa bukan?”

“Ya, tentu saya tahu Mbak, tapi non Rosa menyuruh meletakkan beras ini di sebuah alamat yang lain, bukan alamat rumah non Rosa.”

“Lhoh, aku kan harus minta uangnya pada non Rosa? Apa non Rosa menunggu di alamat ini?”

“Pastinya begitu Mbak, saya kan tidak bohong. Ini memang atas perintah non Rosa,” kata sopir itu enteng.

“Saya tidak tahu, soalnya sepengetahuan saya, non Rosa meminta agar beras ini dikirim ke rumah non Rosa. Saya sudah tahu alamatnya, tidak melewati jalan ini.”

“Iya, perintahnya tadi ke alamat yang ini. Mbak diam saja deh, yang penting sampai di tujuan.”

“Maaf Pak, tapi saya memikirkan pembayaran beras yang dikirim ini.”

“Kalau non Rosa sudah memerintahkan begitu, pastinya sudah diperhitungkan tentang pembayarannya.”

“Masih jauhkah? Soalnya kalau jauh saya nanti kejauhan pulangnya. Tahu begini tadi saya tidak usah ikut, besok saja saya menagih uangnya di rumah.”

“Mengapa Mbak meragukan non Rosa? Dia orang kaya, masa mau menipu Mbak.”

“Bukan masalah menipu uang. Saya memikirkan kesulitan saya pulang.”

“Nanti saya antarkan pulang, Mbak jangan khawatir.”

“Saya tidak mau. Kemarin saya sudah bilang kalau setelah menerima uangnya saya akan pulang sendiri.”

“Ya sudah, mbak. Tenang ya, sudah dekat kok. Setelah tikungan itu, belok kiri, lalu sampai.”

“Apa non Rosa ada di sana?”

“Pastinya iya, saya tidak tahu pasti.”

Tiba-tiba Senja merasa gelisah. Daerah ini tidak dilewati angkutan kota. Harus berjalan agak jauh. Ia kesal pada Rosa, susah amat pelayanannya.

“Nah, kita hampir sampai,” kata sopir colt itu sambil tersenyum, dan tiba-tiba juga Senja tidak suka melihat senyum itu.

Sopir itu menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah kecil. Rumah itu pintunya tertutup rapat, tampak sepi.

“Kita sudah sampai.”

“Apa non Rosa ada di dalam?”

“Pastinya iya, saya hanya disuruh mengirim kemari,” kata sopir itu sambil turun dari mobilnya.

Senja ikut turun. Ia melihat rumah sepi itu, dan merasa tidak yakin kalau Rosa ada di rumah itu.

Senja bermaksud pergi saja dari sana dan pulang. Masalah pembayaran bisa ditagih besok. Ia tak mau kelamaan di tempat itu, yang disekelilingnya tampak sepi.

“Eh, Mbak, mau ke mana?”

“Saya pulang saja Pak, masalah uang besok saya tagih ke rumah non Rosa saja.”

“Jangan Mbak, siapa tahu non Rosa ada di situ, ayo masuk dulu, sementara saya mengangkut beras ini ke dalam,” kata sopir itu sambil membuka jok belakang, untuk mengambil berasnya.

“Nggak Pak, saya pulang saja.”

“Nanti saya antar.”

“Tidak usah, biar saya pulang sendiri.”

“Ada apa?” suara itu mengejutkan sopir dan juga Senja sendiri, yang kemudian berteriak senang.

“Mas Arka, saya ikut mobil mas Arka ya, saya mau pulang,” katanya sambil mendekati Arka. Sopir itu tampak kebingungan.

“Ada apa sebenarnya? Kamu mengirim beras kemari? Kamu menyewa mobil terbuka ini untuk mengirim pesanan?”

“Bukan Mas, ini beras pesanan non Rosa. Tadinya saya kira harus saya kirim ke rumah non Rosa. Ternyata kemari.”

“Sudah dibayar?”

“Belum. Itu sebabnya saya ikut mengirim, karena non Rosa bilang berasnya akan dibayar setelah dikirim.”

“Rosa ada di situ?” tanyanya kepada sopir colt yang siap menaruh karung beras dipunggungnya.

“Saya tidak tahu Pak. Saya hanya disuruh mengirim kemari.”

“Ini colt bapak?”

“Saya cuma sopir.”

“Pesanan siapa?”

“Pesanan non Rosa. Tapi saya tidak tahu non Rosa ada di mana. Tugas saya membawa beras dan penjualnya ke alamat ini. Siapa tahu non Rosa ada di dalam.”

“Ya sudah, mbak penjual beras ini akan meninggalkan berasnya di sini, dan dia akan pulang. Ya kan Nja?” katanya kemudian sambil menatap Senja.

“Ya, akan saya tinggal saja, besok saya tagih ke rumahnya, tidak apa-apa."

“Baiklah, ayo aku antar pulang. Maaf ya Pak, berasnya akan ditinggal saja di sini, besok uangnya tinggal ditagih di rumah,” katanya sambil memberi isyarat kepada Senja agar mengikutinya ke mobil.

Mobil itu berlalu, sopir itu menatapnya dengan bingung.

***

“Lain kali kalau ada yang pesan, uangnya diminta dulu, bukan seperti ini caranya.”

“Soalnya kan aku sudah kenal non Rosa, sudah pernah memesan juga walau baru sedikit waktu itu.”

“Ini tadi pesan berapa?”

“Satu kwintal.”

“Uangnya banyak, sejuta lebih kan?”

“Iya sih.”

“Jangan mau mengirim kalau uangnya belum dibayarkan.”

Senja diam. Menurutnya, sungkan berkata begitu, kepada orang yang sudah dikenalnya. Lagipula dia kan sudah tahu rumahnya, dan jelas dia orang berada. Senja ingat ketika ibu Rosa membayar berasnya lebih dan tak mau menerima kembaliannya. Bukankah mereka orang baik?

“Bagaimanapun cara pengiriman seperti ini membuat kamu susah. Tidak terpikirkan bagaimana kamu pulang, sementara kamu tidak membawa sepeda?”

Senja masih diam, yang terbayang olehnya hanyalah rasa sungkan.

“Kita ke rumah Rosa saja."

“Non Rosa mungkin ada di sana tadi.”

“Kalau begitu mengapa kamu tergesa pulang tidak menunggu ketemu dengan dia?”

“Nggak tahu kenapa, perasaanku tidak enak. Mungkin karena memikirkan pulangnya aku setelahnya.”

“Ya sudah kita ke rumahnya saja, siapa tahu ibunya mau membayar pesanan berasnya,” kata Arka yang kemudian membelokkan mobilnya ke arah rumah Rosa.

***

Bu Daryono heran melihat Rosa menelpon seseorang dan kelihatan kalau dia marah. Ia mendekat dan Rosa segera menutup telponnya setelah mengatakan bahwa besok tidak boleh gagal lagi.

“Ada apa?” tanya bu Daryono tiba-tiba, membuat Rosa agak terkejut.

“Oh, Mama … tidak apa-apa Ma.”

”Kamu kelihatan memarahi seseorang. Ada yang gagal segala. Urusan apa itu?”

“Itu Ma, Rosa menyuruh orang mengambil beras pesanan untuk teman, dia tidak tahu alamatnya, jadi Rosa marahi dia.”

“Kamu pesan beras lagi?”

“Untuk … itu Ma, teman Rosa.”

“Pesan ke gadis itu? Siapa namanya? Ah ya, Senja?”

“Iya. Rosa kasihan, dia itu miskin, dan sedang membuka usaha jualan beras, sudah sepantasnya Rosa membantu kan, jadi teman Rosa yang punya kantin, Rosa suruh pesan berasnya pada dia juga.”

“O, begitu.”

Tiba-tiba bu Daryono melihat sebuah mobil berhenti di halaman.

“Bukankah itu mobil Arka?”

Rosa berdebar. Tadi dia sudah mendapat laporan dari pengemudi colt yang disewanya untuk mengirim beras, katanya ada yang menjemput Senja, laki-laki muda ganteng, membawa mobil. Bayangannya memang Arka. Dan kedatangannya membuat Rosa harus menjawab atau mengemukakan alasan tentang pengiriman beras itu.

“Arka, sudah pulang kantor?” sapa bu Daryono ramah.

“Iya, Tante. Saya sedang mengantarkan Senja untuk_”

“Oh ya, aku sudah tahu, aku akan membayar berasnya sekarang,” kata Rosa sambil membalikkan badannya masuk ke rumah.

“Senja, kemari, jangan berdiri di situ,” sapa bu Daryono ketika melihat Senja hanya berdiri di samping mobil, tampak sungkan.

“Rosa memesan beras lagi?”

“Iya, Nyonya.”

“Kok nyonya lagi, kan aku sudah meminta agar kamu panggil aku bu saja."

”Iya," Senja tersenyum, dan senang atas keramahan ibunya Rosa terhadap dirinya.

“Arka ajak Senja masuk. Atau duduk di teras saja kalau tidak mau masuk.”

“Saya mengantarkan Senja hanya untuk meminta uang beras pesanannya.”

“Iya, katanya itu untuk temannya, tampaknya ia sedang mengambilkan uangnya.”

“Ini, uangnya, Senja. Sebenarnya tadi teman aku yang akan membayarnya, tapi kamu pulang buru-buru, jadi tak apa aku yang membayarnya dulu.”

“Terima kasih, Non.”

“Aku itu kan kasihan kalau melihat orang miskin, jadi aku suruh temanku kalau butuh beras beli ke kamu saja.”

Arka sangat kesal, berkali-kali Rosa menyebutnya miskin.

“Rosa, cara kamu berbicara kasar sekali,” tegur sang ibu.

“Tidak apa-apa Bu, memang kami keluarga miskin,” kata Senja enteng, tak tampak tersinggung.

Tiba-tiba ponsel Rosa berdering, Rosa mengangkatnya dengan wajah muram.

“Telpon nanti saja," lalu Rosa menutup ponselnya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 16, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 25

 NAMAKU TETAP SENJA  25

(Tien Kumalasari)

 

Senja tersenyum ramah. Tentu terasa sungkan ketika mengirim beras sambil meminta uangnya, dengan kendaraan atau angkutan yang disediakan dari pembeli, lalu pulangnya diantar?

“Mengapa kamu senyum-senyum begitu?”

“Mengapa saya mengantarkan beras, mengambil uangnya lalu Non harus mengantar saya pulang?”

“Tidak, saya akan pulang sendiri," kata Senja lagi

“Rumahku jauh dari sini, Senja.”

“Tidak apa-apa. Simbok saya yang tidak lagi muda sudah biasa berjalan jauh, mengapa saya keberatan? Tidak apa-apa Non, besok saya kesana bersama beras pesanan Non, pulangnya nanti gampang.”

“Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu. Jam berapa berasnya bisa saya ambil?”

“Agak sore ya Non, atau paling cepat ya jam dua atau tiga, biasanya jam segitu kalau simbok memesan dagangannya.”

“Baiklah.”

Rosa membalikkan tubuhnya menuju mobil, tanpa pamitan. Tapi bagi Senja itu bukan masalah. Orang kaya tak perlu menghormati orang miskin bukan?

Senja masuk ke dalam, dilihatnya Rimba sedang menyapu rumah.

“Sudah pulang dia?”

“Sudah. Simbok pasti senang, dia memesan beras lagi. Kali ini banyak, tidak cuma sepuluh kilo, tapi satu kwintal. Alhamdulillah, rejeki buat kita.”

“Aku tidak suka perempuan kaya itu.”

“Hei, kenapa? Kenal juga tidak, mengapa tidak suka?”

“Aku memang nggak ingin kenal. Dia itu sombong, mentang-mentang kaya. Duduk di bangku kita saja tidak mau.”

“Ya tidak apa-apa, Mba. Terserah dia saja. Kita harus mengakui kalau memang tidak punya tempat duduk yang  bagus dan bersih.”

“Mas Arka saja mau duduk di situ. Bahkan duduk di tikar bersama kita waktu kita makan bersama, dia tidak keberatan.”

“Orang itu kan tidak sama Mba, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sama. Sedangkan bunga-bunga saja, sama-sama cantik tapi aromanya berbeda. Ada yang wangi, ada yang tidak berbau, ada juga yang baunya tidak enak. Demikian juga manusia. Kita harus memakluminya. Tidak apa-apa orang merendahkan kemiskinan kita, asalkan jangan menginjak harga diri kita.”

“Hm, mbak Senja kalau sudah bicara begitu selalu mengingatkan aku pada guru agama di sekolahku.”

“Mbak juga belajar dari guru Mba. Tidak tiba-tiba bisa ngomong. Dan itu benar kan?”

“Iya, aku mengerti.”

“Sedang apa kalian?”

“Yaaaa, Simbok datang,” sorak Rimba.

“Sore sekali pulangnya Mbok.”

“Tadi mampir belanja untuk masak besok pagi.”

“Tadi ada yang pesan beras Mbok.”

“Oh ya? Syukurlah. Siapa?”

“Itu, nona cantik kaya yang dulu pesan sepuluh kilo beras. Tadi dia pesan satu kwintal.”

“Wah, alhamdulillah dapat rejeki. Sudah dibayar?”

“Itulah Mbok, belum dibayar, besok aku disuruh mengirim sambil mengambil uangnya.”

“O, begitu?”

“Apa Simbok punya uang cukup untuk membeli sekwintal?”

“Kelihatannya ada, cukup kok. Gampang. Besok simbok pesan, sorenya pasti sudah dikirim. Lalu dengan apa ya kita mengirim sekwintal? Sedikit-sedikit seperti yang pernah kita lakukan?”

“Dia mau menyuruh orang untuk mengambilnya.”

“Oh, syukurlah. Jadi kita tidak repot mengirimkan. Ya sudah, simbok mau mandi dulu, gerah.”

“Senja buatkan kopi Mbok?”

“Tidak usah, air putih hangat saja. Pagi sore kopi, boros.”

“Ya sudah, air putih kan lebih sehat.”

***

Seharian itu pak Wiguna tidak ke kantor. Dia hanya termenung di rumah, seperti ada yang sedang dipikirkannya. Pertemuannya dengan pak Daryono tidak membuatnya puas. Pak Daryono ternyata tidak kecewa seandainya Arka tidak menjadi menantunya, sementara dirinya sangat menggebu-gebu, dan berusaha terus menjalin hubungan yang lebih dari sebuah persahabatan. Tak seorangpyn tahu, sebenarnya pak Wiguna menginginkan yang lain. Tidak hanya berbesan, tapi buntut dari perbesanan itu yang diimpikannya. Pak Daryono memiliki perusahaan yang lebih besar, dan Rosa adalah putri tunggalnya. Bukankah akan ada keuntungan berlipat kalau Rosa menjadi menantunya? Perusahaannya bisa lebih diperbesar, kekayaannya akan lebih berlimpah. Tapi ketika ternyata pak Daryono tidak memaksa atas keinginannya berbesan dengannya, apa yang bisa dia lakukan?

Yang terjadi malah rasa marah dan kecewa kepada Arka.

“Dasar anak bodoh. Tidak tahu diuntung. Tidak mengerti orang tua,” omelnya ketika duduk sendirian.

Tapi ternyata bu Wiguna sedang mendekatinya, kemudian duduk di depannya sambil meletakkan secangkir kopi.

“Ada apa? Seharian uring-uringan terus,” tanya bu Wiguna yang tidak bertanya apapun sejak suaminya pulang dari rumah pak Daryono.

“Kalau keinginan tidak kesampaian, siapa orangnya yang tidak kesal?”

“Keinginan apa sih Pak?”

“Ibu tidak bertanya, apa kata pak Daryono ketika aku datang ke sana semalam.”

“Menurut aku, Bapak hanya mengantarkan Rosa. Apa yang perlu ditanyakan?”

“Mengantarkan apa? Rosa terlanjur marah pada Arka, dia pulang naik taksi.”

”Tapi Bapak tetap menemui pak Daryono kan?”

“Tentu aku harus menemuinya, dan meminta maaf karena kelakuan Arka.”

“Apa pak Daryono marah karena anaknya disakiti hatinya?”

“Aku mengira akan marah, ternyata tidak.”

“Oh, syukurlah kalau begitu. Tidak ada masalah kan, tapi kenapa Bapak malah uring-uringan?”

”Pak Daryono tidak begitu mengharapkan Arka.”

“Maksudnya?”

“Kalau Arka tidak mau, ya sudah. Dia tidak ingin memaksa.”

“Bagus sekali kan, berarti tidak ada masalah, mengapa Bapak tadi masih memarah-marahi Arka? Malah barusan masih mengomeli Arka juga.”

“Aku itu mikirnya jauh ke depan Bu. Pak Daryono itu pengusaha besar, kekayaannya jangan ditanya. Kalau kita bisa berbesan dengan dia, bukankah itu suatu keuntungan bagi kita? Usaha kita bisa diperluas, kita akan lebih banyak mendapat keuntungan. Tapi Arka tidak berpikir sampai ke situ.”

“Jadi Bapak begitu bersemangat menjodohkan mereka, karena Bapak menginginkan hartanya?”

“Kamu jangan berpikir terlalu sederhana bu. Aku ini pengusaha, mengembangkan usaha lebih luas lebih besar itu selalu menjadi keinginan setiap pengusaha.”

“Memang benar, tapi bisa menjadi besar dengan berusaha seharusnya, bukan dengan menjual anak.”

“Mengapa Ibu berkata begitu?” suara pak Wiguna agak meninggi, dan itu menyurutkan keinginan bu Wiguna untuk terus bicara.

“Aku berbicara sebagai manusia, bukan sebagai pengusaha,” kata bu Wiguna sambil berdiri.

“Minumlah kopinya, keburu dingin,” katanya lagi sambil beranjak ke belakang.

“Bu, mengapa Ibu tidak menemani di sini?”

“Kepalaku agak pusing,” katanya tanpa menghentikan langkahnya.

Pak Wiguna menjadi semakin kesal, karena dia sendirian. Sang istri tidak berpihak padanya, dan jelas-jelas menghindari perbincangan tentang perjodohan itu.

“Keterlaluan.”

Tiba-tiba pak Wiguna teringat perkataan Rosa tentang perhatian Arka yang besar kepada gadis pengirim beras.

“Apakah Arka jatuh cinta kepada gadis kumuh itu? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak sudi punya menantu buluk miskin seperti dia. Memalukan. Aku harus menghalangi keinginan bodoh itu.”

***

Besok adalah hari Minggu. Arka ingin mengajak Rimba, terutama Senja, berjalan-jalan. Arka yakin, keluarga sederhana itu tak pernah memikirkan untuk bersantai, bersenang-senang, melihat hal-hal baru yang belum pernah mereka lihat. Karena itu sepulang kantor dia langsung menuju ke rumah mbok Mangun untuk mengencani anak-anaknya. Kalau perlu mbok Mangun juga akan diajaknya serta. Mengapa tidak? Membuat orang lain senang, bukankah akan membuat hati kita senang juga?

Ketika ia hampir sampai di rumahnya, ia melihat seseorang, duduk di jok depan di samping sopir sebuah colt angkutan barang. Seseorang itu adalah Senja. Arka heran, mau pergi ke mana Senja, dan siapa yang mengajaknya?

Arka memutar mobilnya dan mengikuti colt terbuka itu, lalu melihat sebuah karung yang diyakininya berisi beras.

“Ternyata Senja mau mengirim beras? Mengirim ke mana dia?” gumam Arka yang kemudian mengikutinya.

***

Besok lagi ya.

 

NAMAKU TETAP SENJA 29

  NAMAKU TETAP SENJA  29 (Tien Kumalasari)   Mereka puas jalan-jalan dan berteduh di taman, lalu Arka mengajaknya makan. Walau dengan rasa m...