Tuesday, May 19, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 01

 NAMAKU TETAP SENJA  01

(Tien Kumalasari)

 

Rumah itu kecil, sederhana, tapi kelihatan bersih dan rapi. Lantainya dari semen biasa, tapi kelihatan mengkilap karena setiap hari di pel dengan ampas kelapa. Itu kebiasaan mbok Mangun, penjual beras kecil-kecilan yang melayani beberapa pelanggan demi menyekolahkan kedua anaknya. Senja seorang gadis hitam manis yang menginjak dewasa, sudah hampir lulus SMA, sedangkan Rimba, laki-laki kecil masih duduk di SD kelas lima.

Mbok Mangun seorang janda. Suaminya yang kuli bangunan meninggal dalam sebuah musibah ketika bekerja.

Tiga tahun berlalu, dan mbok Mangun memeras keringat demi melanjutkan hidup, seorang diri, karena ia ingin anak-anaknya tak buta hurup seperti dirinya.

Terkadang ia menggendong bakul, untuk mengantarkan pesanan seorang diri, berjalan beberapa kilometer, karena pelanggannya memang terkadang jauh dari rumahnya. Mbok Mangun memilih mengantarnya sambil berjalan, karena agar  keuntungannya utuh tidak terkurangi untuk membayar angkutan.

Terkadang kalau libur sekolah, Senja membantu mengantarkan pesanan dengan naik sepeda, yang biasanya dipergunakan untuk sekolah.

Hari itu Senja pulang sekolah, dan merasa senang karena simbok ada di rumah, sedang menunggunya di meja makan kecil sederhana di ruangan sempit. Rimba sudah duduk sambil mengunyah sepotong tempe goreng. Senja mendekati simboknya dan mencium tangannya. Mbok Mangun biarpun orang kebanyakan, tapi mengajarkan sopan santun yang sangat baik, dan menuntun kedua anaknya untuk tidak melakukan hal yang menyimpang dari kebenaran.

“Baru pulang Nja?”

“Iya Mbok, ada tambahan pelajaran, karena sebentar lagi ujian.”

“Cepat cuci kaki tanganmu dan ganti baju, adikmu sudah kelaparan nih,” kata mbok Mangun sambil tersenyum melihat Rimba menghabiskan sepotong tempe goreng.

Senja bergegas ke kamar mandi dan berganti pakaian rumah, lalu ikut duduk bersama mereka.

“Simbok tidak ke mana-mana hari ini? Kok sempat masak juga?”

“Sudah pagi tadi, mengantar beras pesanan bu Mantri sama bu Citro, pulangnya mampir pasar lalu masak sayur asem dan tempe serta tahu goreng. Ayo makanlah  Nak.”

Senja mengambilkan nasi untuk sang simbok, lalu adiknya, baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.

“Masakan simbok selalu enak,” kata Rimba.

“Tentu saja, simbok memasak dengan bumbu yang lebih,” sahut Senja.

“Bumbu yang lebih itu apa?”

“Kasih sayang,” jawab Senja setelah menelan makanannya.

Simbok tersenyum. Senang sekali melihat kedua anaknya makan dengan lahap, walau hanya dengan lauk sederhana.

“Besok setelah lulus, aku tidak akan melanjutkan kuliah.”

“Tidak ingin? Lihat anaknya pak lurah, dia kuliah dan katanya kalau lulus akan menjadi ingsinyur …”

“Kuliah itu mahal mbok, sedangkan pak lurah kan uangnya banyak. Tidak apa-apa Senja membantu simbok saja. Kalau pelanggannya banyak, simbok bisa menabung untuk biaya sekolah Rimba. Rimba kan laki-laki, sekolah tinggi lebih pantas, tapi ya … kalau biayanya ada. Kuliah itu mahal. Hanya kebanyakan orang-orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya.”

“Ya sudah, jangan dipikirkan sekarang. Makan yang banyak, habiskan nasinya, nanti simbok masak nasi lagi untuk makan malam.”

Rimba mengangguk senang. Sudah biasa kalau anak laki-laki harus punya porsi berlebih. Simbok tidak melarangnya. Anaknya harus sehat dan kuat. Itu sebabnya ia rela berpanas-panas setiap hari dengan menggendong bakul berisi beras.

***

Pagi sebelum berangkat sekolah, Senja membantu membersihkan rumah, dan menyirami tanaman di pot kecil, agar rumah sederhana itu tampak segar dengan warna hijau dari tumbuh-tumbuhan.

“Mbok, sekarung beras ini Simbok siapkan untuk siapa?”

“O, itu untuk pelanggan simbok dekat pasar sana. Itu langganan lama. Bu Said, kamu tahu kan?  Nanti akan simbok antar sebentar lagi. Kalau bisa simbok mau masak dulu. Kemarin sudah sekalian beli sayur untuk hari ini.”

“Apa harus diantar pagi?”

“Tidak juga, kalau siang kan panas, jadi lebih baik diantar pagi, soalnya pesannya sekarung itu.”

“Kalau simbok mau, nanti Senja antarkan sepulang sekolah.”

“Nanti sepulang sekolah? Apa kamu tidak capek?”

“Ya tidak Mbok, cuma begitu saja capek. Boleh ya Mbok?”

“Soalnya sekarung beras, kan berat.”

“Senja kan naik sepeda, nanti diikat di boncengan.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Simbok antarkan yang dekat-dekat sini, belinya kan sedikit-sedikit.”

“Senja mandi dulu ya Mbok, sudah selesai bersih-bersihnya."

“Ya, sana. Kelihatannya Rimba juga sudah selesai mandi. Setelah siap, sarapan dulu, simbok membuat nasi urap dan ikan asin goreng.”

“Wah, enak sekali,” pekik Senja sambil setengah berlari ke belakang, menuju kamar mandi.

Mbok Mangun tersenyum. Bahagia adalah ketika melihat kedua anaknya sehat dan bersemangat.

***

Ketika kedua anak sarapan, mereka mendengar suara agak keras di depan. Tampaknya ada orang berbincang dengan simboknya. Senja meminta adiknya melanjutkan sarapan, dia sendiri bangkit dan berjalan keluar. Tapi simboknya sudah masuk ke dalam kamarnya, dan ‘tamu’ itu sudah tak ada.

Senja kembali ke ruang makan, menghabiskan sarapannya. Ketika selesai, Senja mengemasi piring-piring kotor dan membawanya ke tempat cucian piring.

“Tinggalkan saja di situ, biar simbok yang mencuci, nanti kamu terlambat ke sekolah. Lagipula nanti baju seragam kamu basah.”

“Nanti Senja cuci sepulang sekolah ya Mbok.”

“Nanti gampang. Sudah, berangkat sana, Rimba sudah menunggu tuh.”

“Tadi Simbok bicara dengan siapa?”

“O, itu pak Diran,” jawab mbok Mangun singkat.

“Bicaranya keras sekali.”

“Sudah biasa begitu, nggak bisa bicara pelan.”

“Apa dia marah-marah?”

“Tidak, hanya mengatakan bahwa ada iuran sampah yang belum simbok bayar.”

“Sekarang sudah? Banyakkah?”

“Tidak banyak, sudah simbok bayar. Sudah sana, tuh, adikmu sudah nangkring di boncengan."

Senja mencium tangan simboknya, kemudian mengambil sepedanya, dan berangkat sambil memboncengkan adiknya.

Mbok Mangun menatapnya dengan mata penuh haru.

“Mereka masih anak-anak. Tidak harus merasakan susahnya kehidupan ini. Mereka harus selalu ceria dan bersemangat, barulah aku bahagia,” gumamnya pelan, lalu melangkah ke belakang. 

la sudah berjanji akan memasak dulu sebelum menjajakan berasnya.

Sambil memetik sayur, ia memikirkan kedatangan pak Diran. Ia bukan mengingatkan iuran sampah. Ia menagih utang. Ia butuh uang ketika kenaikan kelas anak-anaknya, dan uang yang ada belum cukup. Pak Diran adalah RT di kampungnya, kaya raya, tapi dia seorang rentenir. Mbok Mangun terpaksa, karena tak ingin anak-anaknya berhenti sekolah.

***

Ketika pulang sekolah, Senja melihat Rimba sudah lebih dulu di rumah. Ia sedang menunggunya.

“Simbok belum pulang?”

“Belum, tapi makan siang kita sudah siap, sebelum berangkat tadi simbok berpesan, kalau sepulang sekolah harus langsung makan, semua akan disiapkan.”

“Baiklah, mbak ganti baju dulu, kamu makan dulu sana.”

Rimba mengangguk, dan berlari kecil pergi ke ruang makan.

Ada sup sayur tanpa daging dan tahu bacem, tapi aromanya menggugah selera.

Siang itu mereka makan siang berdua. Sering seperti itu, kalau simboknya belum pulang dari menjajakan beras.

“Nanti setelah makan, aku mau mengantarkan pesanan beras.”

“Iya, apa aku boleh ikut?”

“Mau ikut gimana, boncengannya akan mbak buat naruh berasnya. Nanti kamu bantu mengangkatnya ya, harus di tali supaya kuat.”

“Baiklah, nanti aku bantu.”

“Mbak cuci piring dulu, lalu bersiap mengirim beras.”

“Baiklah.”

Rimba membantu membersihkan meja makan, sementara Senja mencuci piring bekas makan.

***

Panas begitu terik, tapi Senja bersemangat mengayuh sepedanya. Agak berat karena beras sekarung ada di boncengannya.

Tapi Senja tidak mengeluh. Tempatnya agak jauh, tak bisa Senja bayangkan kalau sang simbok menggendong beras sekarung itu dipunggungnya lalu berjalan sejauh itu. Dan itu tidak hanya sekali. Diam-diam air mata Senja menetes.

“Setelah lulus aku akan membantu simbok,” bisiknya sambil sebelah tangannya mengelap peluh di dahinya.

Di sebuah tikungan, sebuah sepeda motor hampir menabraknya. Memang tidak sampai menabrak, tapi keseimbangan Senja terganggu dan sepedanya ambruk.

Karung beras itu terkoyak dan berasnya jatuh terburai.

***

Besok lagi ya.

Monday, May 18, 2026

NAMAKU TETAP SENJA

 NAMAKU TETAP SENJA 

(Tien Kumalasari)

 

Arka termenung dalam kegelisahan yang memuncak. Perintah sang ayah tak bisa ditolak, sementara suara bening itu masih terngiang di telinganya.

“Namaku Senja.”

Gadis sederhana tapi bersih dan cantik itu menatapnya dengan binar yang memukau. Matanya bak sepasang kejora yang menembus ulu hatinya.

***

Laki -laki setengah tua itu memancarkan amarah yang meluap.

“Siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke dalam rumahku.”

“Nama saya Senja, Tuan.” Mata bening itu menatap berani kepada sang tuan yang begitu gagah dan megah seperti Gatutkaca dalam pewayangan.

***

“Ini keterlaluan. Arka, apakah hatimu buta? Bagaimana kamu membandingkan aku dengan gadis bulukan kumuh dan bau itu?”

Perkataan Rosa membuat darahnya mendidih.

“Kamu marah? Biar aku beri tahu kamu, ketika bersalaman, tangannya begitu kasar seperti parutan kelapa.”

***

“Kamu boleh sombong karena kamu kaya raya. Tapi hati kamu busuk dan lebih berbau daripada sampah. Namaku Senja, aku gadis miskin harta, tapi aku punya nurani. Kamu yang berusaha membunuhnya. Bukan aku.”

***

“Apa maksudmu? Ibumu … mbok Mangun itu berhutang padaku, aku minta agar kamu membayarnya.”

***

“Tidaaak, bukan aku pembunuhnya!”

_______________

 

Kemiskinan tidak membuat seseorang rendah diri. Senja yang papa sangat berani menghadapi hidup, dan menentang semua ketidak adilan.

Akankah dia menemukan cintanya?

NAMAKU TETAP SENJA

***

Besok lagi ya.

Sunday, May 17, 2026

NAMAKU TETAP SENJA

 NAMAKU TETAP SENJA 

( Tien Kumalasari)



Satu kesalahan. Satu rahasia.  

Itu saja yang dibutuhkan untuk menghancurkan jembatan antara dia dan dia.


Arka, pewaris yang hidupnya sempurna di luar, hancur di dalam.  

Senja, anak penjual beras yang terlihat tegar, menyimpan luka yang tak pernah ia ceritakan.


Ketika cinta datang di waktu yang salah, pengorbanan jadi satu-satunya pilihan.  

Pertanyaannya: siapa yang akan menyerah duluan?


---


Tungguin ya..


Saturday, May 16, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 43

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  43

(Tien Kumalasari)

 

Indras dan anak-anaknya sudah sampai di rumah sakit di mana Zein dirawat. Ia menyuruh bibik pulang dengan taksi yang mereka pesan. Acara ingin bersenang senang telah gagal, berganti menjadi tangisan dan luka, bukan karena luka yang diderita Zein, tapi luka yang dibuat oleh Zein, setelah tahu di mana Zein ditemukan dalam keadaan pingsan di dekat mobilnya. Bukan karena di rampok. Ponsel, dompet Zein yang berisi uang dan kartu-kartu yang entah apa saja, masih utuh di dalam mobil dan sebagian di saku celananya. Indras meminta polisi menyelidikinya. Tapi pikiran Indras berjalan ke arah bayangan perempuan yang selalu disebutnya cantik oleh suaminya. Apa Zein pergi bersamanya? Lalu di mana perempuan itu karena polisi menemukannya sendirian. Tapi tidak, polisi juga menemukan sebuah ponsel yang lain, dan sebuah scarf leher berwarna merah muda. Jelas itu milik perempuan. Jadi sudah jelas semula Zein pergi bersama seorang perempuan.

Indras mengibaskan semuanya, ia bergegas ke ruang IGD untuk melihat suaminya. Ketika dilarang, Indras mengatakan bahwa dirinya seorang dokter, yang juga istri dari korban.

Indras mendekat, Zein tampak memejamkan mata. Ia belum sadar. Hampir seluruh wajahnya lebam, dan ada jahitan di pipinya. Indras memeriksa seluruh luka lebam di wajahnya. Ada tulang lengan yang patah.

“Zein, apa yang kamu lakukan, dan apa yang terjadi?” 

Air mata Indras berlinang, yang ditahannya agar tak sampai jatuh. Bagaimanapun Indras sangat mencintai Zein. Ia berharap pada suatu hari Zein akan menemukan kedamaian di sisinya, dan bukan dari perempuan lain. Ia sudah belajar, berusaha memahami semuanya, dan tentunya juga bersabar. Ia tahan apa yang ingin ia katakan, seandainya dia tahu hal itu akan membuat suaminya marah. Indras sangat menjaga, biarlah dirinya terluka asal jangan suaminya, sambil menunggu pada suatu waktu akan ada pelita menyala di relung-relung hatinya.

Indras menemui dokter yang merawat dan berbincang tentang tindakan yang harus dilakukan. Pasti harus ada operasi pada tulang lengannya yang patah. Yang lainnya hanyalah luka yang mereka sebut luka luar, walau kenyataannya ada jahitan di pipinya, berarti ada luka yang terlalu dalam.

Lalu Indras meminta ijin agar Zein boleh dibawanya ke rumah sakit di mana dirinya bertugas. Tentu diijinkan, menunggu Zein sadar dan keadaan stabil, karena tensinya tampak masih turun naik.

Sinta dan Santi masih panik sambil menunggu berita tentang keadaan sang papa yang sebenarnya. Tapi Indras menenangkannya, bahwa Zein tidak apa-apa, hanya terluka dan harus dioperasi. Mereka setuju sang papa dibawa ke rumah sakit di mana papanya bertugas.

***

Indras masih berada di sana ketika Zein tersadar. Sekitar mata bengkak kebiruan, membuat wajah tampannya tampak aneh. Ia membuka matanya, tangannya meraih tangan Indras yang duduk di sampingnya. Mulutnya bergerak perlahan, tidak jelas karena terasa sakit ketika membuka mulutnya. Tapi Indras menangkap sebuah kata pelan yang keluar dari bibir yang juga kebiruan itu. Zein meminta maaf. Indras meremas tangannya lembut.

“Kuat dan sembuhlah,” kata Indras pelan.

Lalu seorang perawat datang untuk mengganti infus yang terpasang, dan mengukur tensinya.

Perawat itu mengangguk ketika Indras melihat hasil tensinya.

“Sudah membaik, Dokter.”

“Syukurlah.”

Lalu ada dokter yang kembali memeriksa, lalu berbincang dengan Indras. Dokter itu lebih terbuka dan berbincang lama setelah tahu bahwa pasien dan istrinya adalah dokter semua.

Keesokan harinya Zein dibawa ke rumah sakit di mana dia bertugas, operasi akan dilakukan di sana, dan Indras diijinkan ikut menanganinya.

***

Sehari setelahnya, Indras bermaksud menemui dokter Tyas, yang pastinya dialah yang bersama suaminya saat kejadian.

Tapi dokter Tyas sudah dua hari tidak masuk. Ia menemui direktur utama rumah sakit itu, dan diberi tahu bahwa suami dokter Tyas telah mengirimkan surat pengunduran diri untuk istrinya tersebut.

Indras mulai berpikir, berarti suami dokter Tyas mengetahui tentang adanya kejadian ini. Atau justru suami dokter Tyas yang menghajar Zein sampai babak belur?

Semua pemikiran itu dilaporkannya kepada polisi, dan polisi segera memburu dokter Tyas, yang atas keterangan pembantunya, tuan Rusdi memiliki rumah di luar kota.

Urusan dengan polisi dilepaskan begitu saja oleh Indras, karena merekalah yang berhak menanganinya. Indras lebih fokus pada perawatan suaminya.

Keterlibatan suami dokter Tyas juga diperkuat dengan keterangan Zein yang sudah bisa berkata walau sangat pelan, karena mulutnya belum pulih benar.

Indras tidak marah. Ia tersenyum ketika Zein mengatakannya, lalu diakhirinya dengan pernyataan maaf lagi.

“Aku maafkan kamu sebelum kamu memintanya,” kata Indras lirih sambil mencium tangan suaminya.

***

Seminggu setelahnya, Zein masih belum banyak berkata-kata. Banyak yang ingin dikatakannya, tapi tampaknya dia memerlukan waktu untuk bisa menata ucapannya. Indras tak pernah mendesaknya. Ia sudah tahu jalannya cerita, walau belum sepenuhnya. Tampaknya suami dokter Tyas mengetahui kalau istrinya pergi bersama Zein, lalu dihentikannya di tengah jalan, lalu dihajarnya. Begitulah kira-kira, kata batin Indras. Miris merasakannya, tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Apakah ini sebuah jalan agar Zein menjadi sadar akan kesalahannya? Ada harapan yang selalu dimohonkan Indras kepada Allah Sang Pemilik Semesta ini, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, agar hidupnya segera menjadi baik-baik saja. Agar semua jalan diluruskan, agar semua kegelapan dihadirkannya lentera penerang.

***

Santi dan Sinta segera tahu dengan sejelas-jelasnya apa yang terjadi selama ini, dengan adanya peristiwa mengerikan yang menimpa sang papa.

Indras tidak pernah mau membicarakan semuanya dengan anak-anaknya. Indras memendam semua penderitaannya sendiri. Memikulnya di kedua pundaknya dan membawanya berjalan dan terus berjalan walau langkahnya terhuyung-huyung.

“Mengapa Mama memikulnya sendiri?” tanya Sinta sambil merangkul sang mama.

“Bukankah kamu selalu mengatakan bahwa mamalah yang salah? Bukankah semua kejadian adalah kesalahan mama?”

”Mama tidak pernah menceritakan sejelas-jelasnya apa yang dilakukan papa. Papa selalu menyakiti Mama, bukan sekedar menyakiti secara fisik, tapi juga dalam batin. Ada pemicu yang membuatnya, perempuan jahat itu.”

“Jangan salahkan papa kamu.”

“Mama masih bisa berkata begitu?”

“Papa itu sakit.”

“Itu tidak adil, kalau harus melampiaskan rasa sakitnya, mengapa harus menyakiti Mama?”

“Santi, semuanya sudah berlalu. Allah memberikan sebuah cobaan, dan itu adalah jalan, dan itu adalah jalan yang diharapkan mama agar papamu kembali menjadi penopang yang teguh bagi mama dan bagi kalian.”

“Mama membiarkan rasa sakit itu sendiri.”

“Sakitnya mama adalah rasa cinta mama. Kalau mama tidak merasakan sakit berarti mama tidak cinta,” kata Indras sambil mengelus kepala Santi yang memeluknya erat.

***

Zein tak mau berlama-lama di rumah sakit. Ia sudah mampu bangkit dan berjalan, bukan hanya raganya tapi juga jiwanya. Berkali-kali permintaan maaf adalah kembalinya cinta yang lama hilang.

“Apakah kamu tahu Zein, dokter Tyas sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit.”

“Aku sudah tahu. Tapi yang harus kamu tahu bahwa aku tidak selingkuh. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya salah jalan.”

“Lupakan semuanya, kamu harus sehat Zein, sehat luar dalam, karena kamu seharusnya menjadi penerang saat rumah ini ada dalam kegelapan, bukan mematikan semua yang benderang yang kami harapkan.”

“Maafkan aku selalu menyakiti kamu, Indras.”

“Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa maaf itu sudah aku berikan sebelum kamu memintanya? Sakitku ini adalah rasa cintaku.”

Zein memeluk dan mencium pipinya bertubi-tubi.

***

T A M A T

 

 

Friday, May 15, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 42

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  42

(Tien Kumalasari)

 

Zein heran, ada mobil yang menghadang di depannya, untunglah dia cekatan menginjak rem, kalau tidak, ia masti sudah menubruk mobil itu.

“Siapa sih itu? Apa maksudnya? Jangan-jangan perampok. Masa di siang bolong begini mau merampok?” kata dokter Tyas panik.

Zein turun dari mobil,  bermaksud mendekati pengemudi mobil itu, tapi tiga orang turun dari mobil sana. Salah satunya berpakaian rapi, tapi yang dua berwajah garang seperti ingin menelan orang.

Sebelum Zein berkata sesuatu, dokter Tyas turun dari mobil. Lalu berbicara dengan laki-laki berpakaian rapi itu.

“Ada apa Mas? Apa maksudnya ini?”

”Aku yang seharusnya bertanya sama kamu. Apa maksudnya pergi berduaan dengan laki-laki ini. Siapa dia?” kata laki-laki berpakaian bersih yang menunjuk ke arah Zein dengan tatapan marah.

“Dia atasanku, kami mau_."

“Dia ini yang menyebabkan kamu ingin menggugat cerai?”

Zein terkejut. Laki-laki itu bekas suami dokter Tyas, atau masih suaminya? Soalnya dia mendengar bahwa Tyas menggugat cerai. Jadi mereka belum bercerai?

“Aku pergi jauh untuk bertugas, dan kamu bermain gila dengan laki-laki ini?” laki-laki itu menunjuk lagi ke arah Zein, membuat Zein marah sekali.

“Jangan bicara semaunya. Siapa bermain gila dengan istri Anda?”

“O, tidak ya? Berbulan-bulan aku ditugaskan di luar daerah, setiap bulan memberi nafkah dan memberikan apapun yang dia minta, tapi ketika aku kembali, ternyata dia sedang bermain gila dengan laki-laki lain.”

“Mas Rusdi! Jangan main tuduh semaunya. Dia atasanku.”

“Aku tidak bermain gila, kalau Anda tidak mencabut pernyataan Anda_."

“Kenapa kalau tidak? Aku sudah mendengar bahwa istriku berselingkuh dengan atasannya, dan sekarang aku memergokinya sendiri.”

Zein yang sangat marah segera mendekat dan mencengkeram baju laki-laki yang disebut mas Rusdi oleh dokter Tyas.

Tapi Rusdi segera mengibaskannya dan membuat Zein terbanting di jalan beraspal.

Dokter Tyas menjerit, ia berlari mendekati Zein yang kesulitan bangkit, tapi Rusdi menarik tangannya menjauh.

“Lepaskaaan.”

Rusdi memberi isyarat kepada dua orang temannya, lalu menarik dokter Tyas masuk ke dalam mobil. Dokter Tyas menjerit-jerit, tapi tak berdaya. Ia lebih menjerit lagi melihat dokter Zein dipukul oleh kedua laki-laki garang itu.

“Jangan lakukan, dia tak bersalah, tolong suruh mereka berhenti.”

“Diaaam!” hardik suaminya.

“Tolong Mas, bagaimana kalau dia mati?”

“Memangnya kenapa kalau dia mati? Biarlah dia mati karena telah mengganggu istriku, lalu istriku mengatakan bahwa dia akan menggugat cerai. Begitu kan?”

“Tolong Mas, suruh dia melepaskannya,” kata dokter Tyas sambil menangis dan meronta. Tapi dia tak berdaya. Dia tak bisa keluar dari mobil dan hanya bisa melihat dokter Zein akhirnya diam tak bergerak setelah dua laki-laki itu membuatnya babak belur.

“Ya Tuhan, bagaimana kalau dia mati? Aku laporkan kamu ke polisi.”

Rusdi membuka mobil dan membiarkan kedua temannya masuk ke dalam mobil, lalu membawa mobil itu menghilang dari sana, meninggalkan tubuh Zein terkapar di tepi jalan, benar-benar tak bergerak.

***

Indras dan kedua anaknya menunggu di sebuah perkampungan, sudah beberapa saat lamanya, rasa kesal memenuhi hati mereka masing-masing, karena Zein berjanji akan segera menyusul.

“Sudah dua jam lewat, papa sudah aku beri tahu lokasi kita di mana, mengapa belum menyusul juga?” keluh Santi.

“Pesan Mbak dibaca tidak?”

“Dibaca sih, tapi tidak dibalas. Berarti dia sudah mengerti.”

“Ayo kita langsung saja Sin, tidak usah menunggu papa kamu, paling dia tidak jadi ikut.”

“Jangan Ma, tadi sudah bilang mau menyusul. Kita tunggu sebentar lagi.”

Sinta mencoba menelpon sang ayah, tapi tidak diangkat, padahal tersambung.

“Di mana ya papa, mengapa tidak diangkat?”

“Aku sudah bilang, ayo kita tinggalkan saja, menunggu di penginapan lebih nyaman, di sini justru melelahkan,” kata Indras lagi.

“Gimana sih papa, ke mana dia sebenarnya?”

“Aku yakin dia tidak akan menyusul. Lebih baik kita abaikan dia, lalu kita pergi tanpa papa.”

“Yaaaaah, nggak enak dong Ma,” kata Santi.

“Papa aneh, mengapa tidak menepati janji? Katanya mau ikut?”

Mereka mengeluh tak henti-hentinya, sementara Indras sama sekali tak bersuara lagi, setelah mengusulkan agar Zein ditinggal saja. Indras sudah tahu, bahwa ada kepentingan yang ada sangkut pautnya dengan selingkuhan suaminya. Ia sudah merasa sejak Zein mengatakan bahwa akan menyusul istri dan anak-anaknya.

Tapi akhirnya Indras tak tahan lagi. Ia memaksa anak-anaknya agar segera meninggalkan saja papanya.

“Akan sampai kapan kita menunggu? Bukankah lebih baik menunggu di penginapan, kita bisa menunggu sambil beristirahat. Mengapa menunggu di jalanan begini?” kata Indras setengah memaksa.

“Baiklah, kita lanjut ya,” kata Santi yang memegang kemudi.

Ia segera menghidupkan mesin mobil, karena sesungguhnya mereka sudah lelah menunggu.

“Aku telpon sekali lagi ya,” kata Sinta setelah mobil berjalan.

Tapi betapa terkejutnya Sinta ketika ponsel itu diangkat.

“Papa?”

“Hallo, selamat siang. Saya sedang membawa ponsel bapak Zein Abadi.”

“Anda siapa? Mana papa saya?”

“Kami dari kepolisian. Ada yang menemukan bapak Zein sedang pingsan dan terluka di pinggir jalan.”

“Apa?? Papa kecelakaan?” Sinta berteriak dan Santi mengerem mobilnya tiba-tiba sehingga menimbulkan suara berderit.

“Sepertinya bapak Zein dianiaya, kami menemukan juga mobilnya, sekarang beliau sudah ada di rumah sakit. Saya catatkan nama rumah sakitnya.”

Sinta menangis meraung-raung sambil menceritakan apa yang dikatakan polisi itu kepadanya.
Indras merebut ponsel Sinta dengan tangan gemetar, tapi tak tahu harus melakukan apa.

***

Rusdi tidak membawa dokter Tyas pulang kerumah, tapi membawanya ke sebuah rumahnya yang lain di luar kota. Dokter Tyas terus menerus menangis, membayangkan apa yang terjadi pada dokter kesayangannya.

“Mengapa kamu menangis? Aku tidak menyakiti kamu bukan? Kamu yang justru menyakiti aku. Dasar perempuan murahan yang tidak setia,” hardik Rusdi.

“Mengapa kamu menyakiti dia? Dia tidak salah apa-apa.”

“Oh ya? Dia berani membuat kamu tergila-gila dan kamu mengatakan bahwa dia tidak salah apa-apa?”

“Dia punya keluarga, kami hanya berteman.”

“Bagus kalau punya keluarga, nanti aku cari keluarganya dan mengatakan apa yang telah diperbuat oleh dokter itu.”

“Mas, dia tidak melakukan apa-apa, sumpah!”

“Makan sumpahmu itu. Aku tidak akan percaya. Kamu pikir sebelum membuntuti kamu lalu memergoki kamu sedang berduaan, aku tidak mencari informasi terlebih dulu tentang hubungan kamu dengan dia?”

“Tapi kami_."

“Diaaam!”

“Mas, kamu keterlaluan. Aku sudah minta cerai dari kamu, jadi ceraikan saja aku.”

“Karena kamu ingin melanjutkan hubungan kamu dengan dia?”

“Dia punya istri Mas, jangan menuduhnya.”

“Kalau tahu dia punya istri, mengapa kamu selalu berduaan dengan dia? Di kantor, dan bahkan pernah jalan sama dia, dan kamu pernah mengundang dia ke rumah. Aku tahu semuanya.”

“Hanya datang, tidak melakukan apa-apa.”

“Diam dan jangan mengatakan apapun.”

“Ceraikan aku!”

“Tidak akan! Besok aku akan menulis surat pengunduran diri kamu dari rumah sakit di mana kamu bekerja.”

“Maaas, jangan!”

“Kamu tidak bisa menghentikan aku.”

Ternyata dokter Tyas memang berbohong. Dia mengatakan sudah bercerai, ternyata belum. Suaminya bertugas di kota lain, lalu dokter Tyas tergila-gila pada dokter Zein, walau dokter Zein menghadapinya dengan wajar. Tapi setiap permintaan dokter Tyas kepada Zein yang selalu dikabulkan, membuat dokter Tyas selalu berharap suatu ketika ia benar-benar bisa merebut hatinya. Sayang sekali sang suami mengetahui semuanya.

“Kamu akan tetap tinggal di sini, jangan mencoba kabur ketika aku tidak ada, karena akan ada yang terus mengawasi kamu,” ancam sang suami, membuat dokter Tyas merasa putus asa.

***

Besok lagi ya.

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 74

 SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  74

(Tien Kumalasari)

 

Agung meletakkan apapun yang tadi dipegangnya. Rapat ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Bagai terbang Ia melaju ke rumah sakit. Dadanya berdetak kencang. Separuh hatinya menyesali kejadian ini, separuhnya lagi menyesali mengapa Ristya tak pernah mau berhenti melakukan sesuatu yang membuatnya kecapekan.

Begitu masuk rumah sakit ia dihadang oleh pak Giman.

“Bagaimana keadaan Ristya?”

“Sedang ditangani, kita tidak boleh masuk,” kata pak Giman.

Agung bertambah panik. Ia ingin segera melihat keadaan istrinya.

“Bagaimana keadaannya? Bagaimana bayinya?” ucapnya gelisah.

“Tenanglah Nak, dokter sedang menanganinya, semoga semuanya baik-baik saja.

“Apa dia pingsan? Di mana dia waktu terjadi perdarahan?”

“Sedang mau masuk ke mal, mau belanja, tiba-tiba ketika turun dari mobil dia melihat darah mengalir di kakinya. Saya juga panik, lalu saya larikan dia ke rumah sakit.”

Agung mondar mandir ke sana kemari. Ia panik, dan tentu saja khawatir.

Ketika pintu ruang IGD terbuka, ia menghambur mendekati perawat yang keluar.

“Bagaimana istri saya? Bagaimana bayinya?”

“Bapak suaminya ibu Ristya?”

“Ya, saya suaminya.”

“Untunglah segera dibawa kemari. Bapak boleh masuk untuk menemuinya.”

Agung bergegas masuk, tapi ketika pak Giman mengikutinya, petugas melarangnya. “Hanya satu orang yang bisa masuk Pak, silakan menunggu diluar dulu.”

Agung menubruk istrinya, yang terbaring pucat.

“Bagaimana keadaan kamu? Bagaimana bayi kita?”

“Kata dokter bayinya bisa diselamatkan, tapi aku harus istirahat total.”

“Alhamdulilah,” Agung mencium kening istrinya.

“Kamu memang harus istirahat total. Di sini lebih baik, nanti aku suruh bibik menemani kamu. Kalau di rumah kamu pasti mengerjakan banyak pekerjaan, jadi lebih baik kamu istirahat total di sini.”

“Aku capek dong Mas kalau harus tiduran terus.”

“Ristya, kamu sayang anak kamu ini apa tidak? Bukankah kamu berjanji akan menjaganya dengan baik?”

“Iya Mas.”

“Kalau begitu menurutlah apa kata dokter. Kapan kamu dipindah ke ruang rawat? Kasihan bapak juga ingin menemui kamu.”

“Kata dokternya menunggu stabil dulu. Kalau keadaan baik-baik saja baru boleh dipindah.”

“Ristya, aku tadi takut sekali.”

“Maaf ya Mas.”

“Lain kali kamu harus menurut apa kataku. Jangan banyak bekerja, atau jangan mengerjakan apapun.”

“Baiklah, aku jangan dimarahi dong Mas.”

“Tentu aku marah kalau kamu tidak menurut.”

Ristya tersenyum. Agung memarahinya seperti sedang memarahi anak kecil.Jari telunjuknya menuding ke arah hidungnya juga, tapi hal itu kemudian membuatnya tertawa.

***

Entah mengapa siang hari itu Lukman teringat pada Ristya. Bukan apa-apa, ingatan itu terbit begitu saja. Ia menatap ke arah pigura di depannya, tapi yang terpampang adalah wajah Istiana. Wajah cantik dan kocak itu sedang tersenyum ke arahnya. Senyuman itu mengingatkannya ketika Istiana memarahinya karena ia selalu mengingat sesuatu yang hilang.

Lukman menghela napas panjang. Yang hilang biarlah hilang, ada yang akan memberinya semangat untuk melanjutkan hidupnya. Lukman membalas senyuman murai cantik yang terpampang di depannya.

“Aku melangkah karena kamu,” bisiknya sambil berusaha mengibaskan bayangan Ristya dari benaknya.

***

Mungkinkah diantara Lukman dan Ristya sebenarnya masih ada ikatan yang entah bagaimana, tersambung seperti seuntai benang yang dipegang masing-masing, yang enggan terputus walau badai menghantamnya?” Mereka tidak menyadarinya, tapi ketika salah satu diantara mereka terkena musibah maka satunya lagi seperti merasakannya. Tidak mudah sepotong cinta tak punya sisa. Cinta, apalagi cinta pertama adalah cinta yang tanpa diminta mengendap di relung sanubari. Katakan seribu kali tentang tak lagi ada cinta, tapi sebenarnya masih ada. Mungkin mereka tak menyadarinya, karena keberadaannya tersembunyi diantara puing-puing luka yang pernah ada.

Ristya terbaring di ruang rumah sakit, sang ayah mertua membezuknya.

“Ristya, kamu harus menjaga baik-baik kandungan kamu. Kalau kamu dan bayimu sudah kuat, besok ikut bapak memenuhi undangan pak Pras yang akan menikahkan anaknya.”

“Pak Pras?”

“Dia datang ketika kamu menikah. Kamu ingat Istiana kan? Anak gadisnya yang cantik? Dia yang akan menikah.”

“Dengan Lukman?” Ristya terkejut karena nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Kamu sudah tahu?”

“Iya Pak, beberapa hari yang lalu kami bertemu, ketika mengunjungi Bapak. Mereka tampak … serasi,” agak ragu ketika Ristya mengatakannya.

“Benar, pasangan yang serasi. Pak Pras itu kan sahabat bapak ini, jadi kita harus datang saat acara pernikahan itu.”

Ristya tersenyum, ia tentu saja bahagia. Sedikit luka yang pernah ada, tak harus selalu menyakiti, karena cinta yang lain sudah membalutnya.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, May 14, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 41

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  41

(Tien Kumalasari)

 

Zein hanya menatapnya, sampai pintu itu hampir tertutup. Tapi sebelum benar-benar tertutup dokter Tyas masih melongok lagi ke dalam.

“Kasihan teman saya kalau saya tidak datang, tapi kalau ke luar kota saya takut nyetir sendirian.”

Sebelum Zein menjawab, pintu itu sudah terutup.

“Bukankah hari itu anak-anak mengajak rekreasi ke luar kota juga? Bagaimana menolak dokter Tyas ya?”

Menghabiskan istirahat makan siangnya, Zein hanya berpikir tentang acara yang dibuat anak-anaknya, dan permintaan dokter Tyas untuk mengantarnya pergi memenuhi undangan ke luar kota.

Memang sih, sesiang itu dokter Tyas tidak mengganggunya dengan datang ke ruangannya, tapi kiriman pesan WA bertubi-tubi masuk. Tapi ia belum membacanya. Hatinya sedang tidak nyaman, dan pesan-pesan WA biasanya hanya berisi sanjungan dan pujian kepada dirinya. Yang baik hatilah, yang pintarlah, yang penuh pengertianlah, dan yang paling sering adalah selalu disebutnya bahwa Zein adalah dokter kesayangan, atau dokter kebanggaan.

Barangkali karena kiriman pesannya tidak dibaca, maka dokter Tyas menelponnya. Pada awalnya Zein memang tidak mengangkatnya, tapi karena deringnya menyakitkan telinganya, maka ia terpaksa menerimanya.

“Dokter kebanggaanku sedang apa, mengapa pesan saya tidak dibuka?” suara kenes kemayu itu menggelitik telinganya.

“Maaf, aku sedang bersiap untuk pulang.”

“Pulang awal? Dijemput istri?”

“Tidak.”

“Rupanya istri Dokter selalu mengawasi Dokter. Akhir-akhir ini Dokter tampak sangat ketakutan.”

Zein tertawa.

“Ada-ada saja, siapa yang ketakutan?”

“Baguslah kalau tidak, memang tidak seharusnya suami takut sama istri.”

“Ya sudah, aku mau pulang dulu ya.”

“Tumben buru-buru.”

Tapi Zein tidak menjawab, langsung meletakkan ponselnya dan benar-benar bersiap untuk pulang. Entah mengapa, dia merasa sangat gelisah. Kepalanya pusing dan itu akan membuatnya susah tidur.

Dia tidak langsung pulang, ada dokter langganan, seorang psikiater yang selalu didatangi tanpa sepengetahuan istrinya.

***

Hari itu sudah sore, Indras masih dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Pri, sahabat sejak masih kuliah dulu.

“Pri, ini kamu?”

“Ya, siapa lagi kalau bukan aku?”

“Lama tidak menghubungi aku.”

“Kamu di rumah?”

“Tidak...sedang mengendarai mobil mau pulang.”

“Sesore ini?”

“Tadi aku mampir-mampir, ada sesuatu yang harus aku beli.”

“Oh, kirain dari rumah sakit sesore ini.”

“Ada berita apa?”

“Omong kosong saja. Bagaimana keadaan suami kamu?”

“Akhir-akhir ini sudah agak berubah. Marah-marah sudah berkurang, atau bahkan tidak pernah marah.”

“Kamu melayaninya dengan sabar, pastinya.”

“Sangat sabar. Aku berusaha tidak melakukan sesuatu yang akan membuatnya marah. Aku lelah, dan semoga kesabaran aku akan membuahkan hasil yang baik.”

“Aamiin. Zein juga cerita bahwa dia mendatangi seorang psikiater?”

“Tidak, dia menyembunyikan semuanya. Dia tidak mau dibilang sakit. Aku juga pura-pura tidak tahu. Senjataku hanya berusaha sabar.”

“Zein sudah tidak lagi diberikan obat oleh dokternya.”

“Benarkah? Artinya dia dianggap sembuh?”

“Tidak juga. Kamu kan tahu bahwa penyakit itu tidak bisa disembuhkan, kecuali dijaga, dan tentunya dengan tekadnya sendiri.”

“Syukurlah. Terima kasih kamu selalu mengabari aku. Kalau bukan kamu yang memberi tahu, aku tidak akan pernah tahu kalau Zein menderita penyakit yang begitu serius.”

“Kamu tetap sabar ya?”

“Tentu. Doakan aku kuat.”

“Kamu wanita yang kuat. Aku sudah tahu sejak dulu.”

“Terima kasih Pri. Ini aku sudah hampir sampai rumah. Dilanjutkan nanti omong-omongnya?”

“Tidak, sedikit sudah cukup, aku hanya mau mengatakan itu. Salam untuk Zein. Tapi kalau kamu sampaikan juga salamku, pasti dia marah. Bukankah dia cemburuan juga?”

Indras tertawa.

“Kalau begitu jangan titip salam. Terima kasih semuanya ya Pri, kalau senggang datanglah ke rumah dengan anak istri kamu.”

***

Indras sampai di rumah, dan agak terkejut melihat sang suami sudah berbaring di tempat tidur. Setengah tidur, karena begitu Indras masuk dia langsung membuka matanya.

“Baru pulang?”

“Mampir belanja. Keperluan aku sendiri sih. Mengapa kamu tiduran?”

“Nggak apa-apa, hanya lelah.”

“Jangan terlalu capek.”

Zein bangun, tapi Indras menegurnya.

“Kalau lelah tiduran saja dulu, aku bawakan minuman hangat ke kamar ya?”

“Aku keluar saja, nanti dikira aku sakit.”

Indras tersenyum. Zein tak pernah mau dianggap sakit.

“Aku ganti baju dulu, nanti aku temani kamu minum,” kata Indras yang langsung masuk ke kamar mandi.

Zein keluar, duduk di ruang tengah sambil menyandarkan kepalanya. Ia tak perlu lagi minum obat, yang selalu diminumnya dengan sembunyi-sembunyi.

Sekarang ini ia hanya sedikit pusing memikirkan acara liburan bersama keluarganya dan permintaan dokter Tyas untuk mengantarnya. Zein heran, mengapa sangat berat menolak dokter Tyas? Hanya diminta menemani, bukankah itu wajar? Zein merasa tak bisa menolaknya. Ada apa dengan Zein? Mengapa tidak menomor satukan keluarga dan memikirkan kebutuhan orang lain? Begitu kuatkah pengaruh dokter Tyas bagi dirinya? Dokter Tyas sangat baik kepadanya, dan sangat mendewa-dewakannya. Pantaskah dikecewakan? Ia bersedia melakukan apa saja, asalkan jangan hal-hal yang menerjang tatanan bertata krama yang biasanya orang menyebutnya selingkuh. Tidak, Zein bukan berselingkuh, setidaknya itulah yang dirasakannya. Ia bahkan sangat marah ketika sang istri menuduhnya berselingkuh. Ia tidak berselingkuh, ia hanya berteman, dan ia tidak merasa bahwa pertemanan yang dilakukannya sudah sangat keterlaluan.

“Ada apa aku ini?” kata batinnya berulang-ulang.

“Zein, ini minuman kita, aku sendiri yang membuatnya,” kata Indras sambil meletakkan kopi panas di atas meja.

Zein menegakkan tubuhnya, menyentuh gelas yang masih panas.

“Masih panas, aku ambilkan cawan untuk mengurangi panasnya?”

“Tidak usah, aku sabar menunggu. Tadi kamu belanja apa saja?”

“Besok kan Santi pulang, besoknya kita jalan-jalan, ya hanya beli untuk bekal. Air mineral dalam botol-botol, apa lagi tadi … banyak kok.”

Diingatkan tentang acara liburan itu Zein jadi memikirkan dokter Tyas lagi.

“Belanja sendiri, tidak mengajak Sinta atau bibik.”

“Tidak apa-apa, penjaga toko membantu memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil, aku tidak mengangkatnya sendiri kok. Sekarang masih ada di sana, biarkan saja, besok sekalian dibawa.”

“Pakai mobil kamu ya?”

“Ya, pakai mobil aku saja, yang agak longgar.”

“Terserah kamu saja,” kata Zein yang kemudian sudah berani meneguk kopinya, karena sudah tidak terlalu panas.

***

Hari itu keluarga dokter Zein sudah bersiap akan berangkat. Zein sedang membalas pesan-pesan di ponselnya.

“Papa sudah siap?”

“Kalian berangkat duluan saja, nanti aku menyusul.”

“Memangnya ada apa?” tanya Indras yang mulai curiga.

“Ada sedikit urusan, bukan apa-apa. Kalian berangkat saja dulu, aku menyusul segera, nanti bisa kabar-kabaran kalau aku selesai urusan dan mau berangkat menyusul.”

“Kita memakai mobil mama?”

“Ya, kan mamamu sudah menyiapkan semuanya di mobil. Lagian ada bibik, mobilnya jadi sempit, bibik badannya segede itu,” kata Zein setengah bercanda.

“Nanti menyusul beneran kan Pa?” tanya Sinta.

“Ya beneran dong, papa juga ingin santai bersama kalian.”

Ketika anak istri dan pembantunya berangkat, Zein mengambil baju batik dari kamarnya dan dikenakannya sambil berjalan menuju mobilnya. Ia merasa tidak pantas memakai kaos santai saat datang ke undangan.

Dokter Tyas sudah berkali-kali mengabari bahwa ia sudah menunggu. Tak bisa tidak, Zein memenuhi permintaan dokter Tyas dulu, kemudian akan menyusul anak istrinya.

***

“Syukurlah Dokter segera datang, saya hampir menangis tadi.”

Zein tersenyum.

“Seperti anak kecil saja.”

“Ayo kita berangkat.”

”Tapi nanti kita tidak usah sampai selesai, hanya memberikan ucapan selamat pada teman kamu, lalu pulang.”

“Mengapa buru-buru? Saya pengin kita jalan-jalan dulu. Kita belum pernah jalan-jalan berduaan.”

“Maaf aku tidak bisa, anakku pulang, kasihan kalau aku tinggal pergi lama.”

“Oh, begitu?”

Mereka pergi dengan mengendarai mobil Zein. Dokter Tyas sangat gembira bisa berduaan pergi ke luar kota.

“Pestanya di rumah?”

“Ya, di rumah, agak di kampung sih, tapi rumahnya besar. Dulu waktu sekolah saya sering main ke sana.”

“Masih jauhkah?”

“Tidak, paling dua kilometer lagi kita sampai.”

Tapi keduanya tidak menyadari, sebuah mobil mengikutinya, dan ketika jalanan sepi, mobil itu menyalipnya dan berhenti tepat di depan mobil Zein, sehingga Zein terpaksa mengerem mendadak.

***

Besok lagi ya.

 

 

NAMAKU TETAP SENJA 01

  NAMAKU TETAP SENJA  01 (Tien Kumalasari)   Rumah itu kecil, sederhana, tapi kelihatan bersih dan rapi. Lantainya dari semen biasa, tapi ke...