SEPOTONG CINTAKU TALK BERSISA 28
(Tien Kumalasari)
Ristya masih melongo ketika sang ayah melanjutkan berkata-kata.
“Tadinya aku juga tidak yakin pak Burhan punya keinginan seperti itu, tapi dia dua atau tiga kali mengulanginya. Ia tetap ingin mengambilmu sebagai menantu. Kata pak Burhan, nak Agung sangat mencintai kamu.”
Ristya menghela napas panjang. Ia tahu kalau Agung menyukai dirinya, tapi ia tak menyangka kalau kemudian mengatakannya kepada pak Burhan lalu pak Burhan ‘melamar’ langsung kepada ayahnya.
“Apa jawabmu?”
“Entahlah, Ristya belum bisa menjawabnya.
Bahwa Agung cakap, ganteng, baik hati, santun walau kepada orang tak punya seperti ayahnya, tapi tidak mudah Ristya menjatuhkan cintanya. Ada seseorang yang masih ada di dalam hatinya. Dan seseorang itu adalah Lukman. Ia heran kepada dirinya, walau sudah tahu bahwa Lukman sudah menikah, tapi ia masih memikirkannya? Hal yang sia-sia bukan?
“Apa kamu masih memikirkan nak Lukman?”
Kata-kata ayahnya itu seperti sebuah tembakan yang langsung menembus hatinya. Ia tak pernah mengatakan bahwa antara dirinya dan Lukman ada hubungan cinta, tapi rupanya sang ayah sudah menangkap gelagat yang diperlihatkan keduanya saat datang ke rumah. Ristya tak menjawab.
“Bapak tahu kamu masih memikirkannya. Tapi apa itu ada gunanya? Sejak dia masih bertunangan saja, gadis bernama Sari sudah memperingati bapak ini bahwa Lukman adalah calon suaminya. Apalagi sekarang mereka sudah menikah. Apa yang kamu tunggu?”
Air mata Ristya merebak. Memang benar, apa yang dia tunggu?
“Kamu berhak menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Kamu berhak dicintai dan dilindungi oleh siapapun yang mencintai kamu dengan tulus. Yang sudah berlalu biarlah lewat. Itu adalah sebuah pengalaman hidup yang barangkali berharga untuk diri kamu. Tapi selalu memikirkannya adalah perbuatan yang sia-sia. Kamu hanya akan menyiksa diri kamu.”
Dan itu benar bukan? Tapi bukan berarti ia bisa langsung bisa menerima cinta Agung, atasan yang selalu memperhatikannya.
“Nak Agung itu kurang baik apa, Ris? Dia akan menjadi suami yang sempurna untuk hidup kamu. Kalau sewaktu-waktu bapak meninggal, bapak akan merasa tenang karena kamu berada di samping laki-laki yang bisa melindungi kamu.”
“Bapak jangan bicara tentang ‘meninggal’,” kata Ristya tersendat.
”Semua orang hidup akan meninggal, entah kapan waktunya, tapi itu pasti. Sebelum bapak meninggal, bapak harus yakin kalau kamu hidup dengan nyaman dan tenang, disamping suami yang bisa melindungi kamu.”
“Apakah Bapak yakin pak Agung akan bisa membuat Ristya bahagia?”
“Ketulusan seseorang selalu tampak pada wajahnya, kesehariannya yang selalu bapak perhatikan.”
“Apakah Bapak ingin agar Ristya menjadi istrinya?”
“Bapak kira dia seorang laki-laki yang baik. Bapak yakin kamu akan bahagia bersamanya.”
Ristya diam beberapa saat lamanya. Mencintai bukan perkara mudah. Tapi bahwa Agung baik sudah lama dia mengetahuinya. Lalu ditatapnya wajah tua sang ayah. Begitu trenyuh hati Ristya ketika menyadari bahwa sang ayah berharap agar dirinya bisa menerima Agung. Ia mendekati sang ayah, lalu menyandarkan kepalanya dibahunya. Pak Giman mengelus kepalanya lembut.
“Apakah Bapak yakin bahwa Ristya akan bahagia disamping pak Agung?”
“Bapak yakin. Tapi bapak kan tidak bisa memaksamu. Bapak hanya tak ingin kamu terus-terusan berharap sesuatu yang tak mungkin.”
“Ristya tidak berharap pada sesuatu yang tak mungkin. Tapi ijinkan Ristya memikirkannya untuk beberapa waktu.”
“Pikirkanlah dengan baik, bapak akan minta waktu pada pak Burhan untuk memberi jawaban.”
Pada saat itu ponsel pak Giman berdering.
“Dari pak Min, penunggu rumah kita,” kata pak Giman sambil mengangkat ponselnya, lalu berbicara beberapa saat lamanya.
“Ada apa Pak?” tanya Ristya setelah pak Giman meletakkan ponselnya.
“Pak MIn bilang, ada yang ingin membeli rumah kita. Besok bapak akan minta ijin untuk pulang sebentar, besok kan hari libur?”
“Kalau begitu Ristya ikut. Sudah lama tidak bersih-bersih rumah.”
“Kebetulan kalau ada yang mau membeli, jadi kita tidak usah bolak balik pulang. Di sini sudah nyaman.”
***
Hari itu pembicaraan tentang transaksi pembelian rumah bisa selesai. Pembayaran dan segala sesuatu tentang penyelesaian jual beli itu akan dirampungkan secepatnya.
Ketika pak Giman berbicara dengan calon pembeli itu, Ristya pamit untuk belanja. Lagipula ia kangen berjalan-jalan di kota asalnya, walau hanya sendirian.
Ristya mau memasuki sebuah toko makanan khas asal kotanya, ketika tiba-tiba dilihatnya seseorang, dan orang itu adalah Lukman. Tapi siapa gadis cantik yang berjalan sambil bicara dengan wajah cerah itu?
“Bukan Hapsari,” desis Ristya yang kemudian bersembunyi dibalik rak makanan yang ada di depan toko.
***
Besok lagi ya.