Monday, February 23, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 16

 BIARKAN AKU MEMILIH  16

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala tak menjawab, bukankah Dwi adalah teman biasa? Maksudnya biasa yang bagaimana? Biasa mengganggu di saat istirahat? Biasa menelpon saat di rumah?

“Adri … “ dari seberang terdengar teriakan.

“Adri sedang memandikan anaknya,” jawab Nirmala datar.

“Oh, maaf. Apakah ini Ibu Nirmala?”

“Ya. Telpon nanti sebentar lagi. Okey?”

Lalu Nirmala menutup ponselnya, maksudnya ponsel Adri yang sedang dipegangnya. Lalu ia meletakkannya di tempat semula.

Nirmala termangu beberapa saat.

“Sejauh apa hubungan mereka?”

Lalu Nirmala masuk ke dalam kamarnya, dengan beribu pertanyaan memenuhi benaknya. Sang suami yang di rumah selalu menunjukkan cinta dan perhatian, terlebih kepada satu-satunya anaknya, ada hubungan dengan wanita yang katanya teman masa kecilnya? Kalau tidak, mengapa dia berani menelpon saat Adri sedang tidak ada di rumah? Karena sangat penting dan tidak bisa ditunda? Nirmala menyesal, seharusnya tadi dia bertanya, ada keperluan apa perempuan itu menelpon.

“Ah, sudahlah, aku harus segera mandi agar badan serta jiwaku terasa lebih segar. Masalah perempuan itu pasti akan segera terjawab ketika Adri berbicara dengannya nanti. Seandainya mau berbicara sih, seperti biasanya.

***

Begitu selesai berpakaian rumahan dan rapi, Nirmala sudah mendengar celoteh Pratama di ruang tengah. Nirmala keluar dari kamar, dan disambut teriakan nyaring si kecil.

“Mm..maaa ….”

“Sayang, kamu sudah wangi, ganteng, pintar ….” kata Nirmala sambil langsung merengkuh Pratama dalam gendongannya.

“Sama ibu dulu ya, bapak gantian mandi,” kata Adri yang kemudian berdiri, beranjak meninggalkan mereka.

Adri sama sekali tidak menoleh ke arah ponsel yang masih tergeletak di tempat yang sama. Nirmala tidak memperhatikannya ketika ponsel itu bergetar, dan ada tanda notifikasi pesan.

Ia mengajak Tama ke arah depan, lalu bercanda dan keduanya tertawa-tawa karena Tama merasa sangat senang, dan Nirmala terkekeh menyaksikan kelucuan anak semata wayangnya.

Mbak Rana yang ngelesot di dekat mereka ikut senang menyaksikan keakraban mereka. Pratama adalah anak yang berbahagia, karena dicintai sepenuhnya oleh ayah bundanya, walau keduanya sibuk seharian. Waktu luang sepulang kerja adalah waktu untuk Pratama, sehingga si kecil tidak pernah merasa kehilangan kebersamaan dengan kedua orang tuanya.

“Apakah Tama makan dengan baik, Mbak?” tanya Nirmala kepada mbak Rana.

“Makan lahap sekali Nyonya, bahkan setelah makan masih menghabiskan sebotol susu.”

“Jangan lupa selalu diberi buah yang sudah aku sediakan.”

“Tentu Nyonya. Dia juga senang. Tapi yang paling disukainya adalah alpukat.”

“Iya, itu juga buah yang sehat.”

Agak lama mereka bercanda, ketika terdengar Adri yang sepertinya sudah selesai mandi sedang berbicara di ponsel.

“Jangan dipikirkan. Tidak untuk waktu ini … aku sedang bersama istriku dan anakku. Tapi besok kita bisa bicara lagi. Ya, aku sudah melihat-lihat iklan tentang rumah yang akan dikontrakkan, tapi sebaiknya besok saja kita bicara…. tentu, aku akan selalu membantu kamu. Ya, tidak apa-apa, nanti aku bicara. Tidak, dia tidak marah. Ya sudah, tenang saja. Sampai besok.”

Pembicaraan itu berhenti, terdengar kemudian langkah Adri mendekati Nirmala.

“Tadi Dwi menelpon?”

“Ya, aku angkat, takutnya ada yang penting tentang sakitnya. Ternyata dia tidak mengatakan apa-apa. Maaf, aku lupa memberi tahu kamu.”

“Tidak apa-apa, dia sudah kirim pesan, juga sudah menelpon. Dia mengingatkan agar aku mencarikan rumah kontrakan, kalau bisa yang dekat kantor.”

“Dia, mencari kontrakan?”

“Dia akan bercerai dengan suaminya. Dia akan segera pindah rumah, karena mungkin suaminya akan mengajak istri mudanya tinggal di rumah itu.”

“Oh. Kamu yang diminta mencarikan rumah kontrakan?”

“Iya, tidak apa-apa kan?”

“Silakan saja, kalau cuma mencarikan rumah kontrakan.”

“Tapi aku kan belum bisa mencarikannya. Kamu tahu, dia akan dipindahkan ke kantor cabang di luar kota, tapi dia belum tahu, makanya dia ingin mencari kontrakan dekat kantor. Padahal kan dia mau pindah. Itu sebabnya aku akan mengajaknya bicara besok.”

“Jadi dia belum tahu?”

“Kan dia baru mau masuk kantor besok? Nekat saja dia, padahal kakinya masih dibebat dan dia hanya bisa berjalan dengan kruk.”

Nirmala hanya mengangguk.

“Kamu kan tahu, untuk yang ditugaskan di luar kota sudah ada tempat kost yang disiapkan untuk mereka?”

“Ya, aku tahu. Masalahnya kan dia ingin kost di dekat kantor sini.”

“Mm..maaaa,” Tama berteriak karena merasa tidak diperhatikan ketika ayah ibunya sedang bicara.

“Eeeh, maaf sayang … kamu diacuhkan ya? Baiklah, ayuk main lagi. Mana mobil kecil yang tadi Tama pegang?”

Tama menunjukkan sebuah mobil-mobilan yang dipegangnya, lalu meminta agar ibunya membuat mobil kecil itu berlari.

Tama berteriak-teriak senang.

Dering panggilan telpon terdengar lagi. Adri bergegas menghampiri.

“Oh … ya, nggak apa-apa, nanti aku jemput. Agak pagi, karena ada rapat jam delapan … ya, jangan khawatir."

Nirmala mendengarkan.

“ O, minta dijemput. Bukan main ….” kata batinnya.

***

Pagi hari itu Dwi sudah mandi, dibantu bibik pembantu yang setia melayaninya.

“Bik, besok kalau aku pindah rumah, kamu tetap ikut aku ya.”

“Nyonya mau pindah rumah?”

“Tentu saja, mana mungkin aku mau tetap tinggal di sini sementara suami aku akan membawa istri mudanya juga di rumah ini.”

“Nyonya sebagai istri tua, tentu lebih berkuasa, mengapa harus pergi?”

“Berkuasa apa? Tidak ada istri tua, aku tidak sudi dimadu.”

“Jadi Nyonya akan minta cerai?”

“Iya Bik, tapi bibik tetap ikut aku ya.”

“Iya Nyonya, biarpun saya menyayangkan kalau Nyonya benar-benar bercerai, tapi saya setia pada Nyonya.”

“Terima kasih, Bik.”

“Yang datang kemari dan mengantarkan Nyonya itu ganteng sekali. Lebih ganteng dari pada tuan.”

Dwi tertawa kecil.

“Dia memang ganteng. Bukan hanya ganteng, tapi juga baik hati. Aku akan sangat berbahagia kalau bisa menjadi istrinya.”

“Bibik doakan keinginan Nyonya bisa terlaksana.”

“Sayangnya dia sudah punya istri.”

"Waduh, sayang sekali Nyonya.”

“Dia itu teman masa kecilku. Sudah sejak masih kanak-kanak aku menyukai dia.”

“Mengapa Nyonya tidak menjadi istrinya saja, dan Nyonya malah memilih tuan, yang akhirnya malah harus bercerai?”

“Lama sekali kami terpisah, lalu tiba-tiba dia sudah menikah. Mau bagaimana lagi?”

“Sayang sekali ya Nyonya.”

“Tapi aku senang dia sangat perhatian sama aku. Siapa tahu, di dalam hatinya dia juga suka sama aku.”

“Benarkah? Tapi kan dia sudah punya istri?”

“Iya sih, tapi dia itu benar-benar perhatian sama aku. Ketika di rumah sakit, dia menunggui aku siang malam. Dia belum pulang kalau aku belum tertidur. Aku sangat bahagia kalau berdekatan dengan dia.”

“Tapi nyonya harus berhati-hati, kalau sampai Nyonya juga suka sama dia, namanya kan merusak rumah tangga orang?”

Tapi Dwi tak mengacuhkannya. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.

“Kamu nekat mau berangkat kerja?” tanya sang suami.

“Ya, memangnya kenapa?”

“Harusnya istirahat dulu beberapa hari."

”Terserah aku, mau kerja atau tidak. Mulai sekarang semuanya bukan urusan kamu.”

“Baiklah, kalau begitu ayuk aku antarkan.”

“Tidak usah, jangan repot-repot untuk aku.”

“Kamu kan masih istri aku, tidak ada salahnya aku mengantar kamu.”

“Tidak usah, aku berangkat sendiri saja.”

“Bisa setir mobil? Kakimu kan masih sakit?”

“Bukan urusan kamu.”

“Naik taksi ya, biar aku carikan, mau berangkat sekarang?”

“Tidak usah, aku bilang semua yang aku lakukan adalah bukan urusan kamu, jadi tidak usah sok baik hati, aku tidak terpengaruh.”

Bibik pembantu melangkah pergi, tidak enak menyaksikan suami istri yang sedang bertengkar.

“Dwi, yang kamu harus tahu, aku masih mencintai kamu.”

“Jangan bicara tentang cinta. Itu hanya pepesan kosong. Mana ada cinta tapi menipunya, membohonginya, lalu tahu-tahu minta ijin untuk menikah lagi.”

“Aku terpaksa, itu kemauan orang tuaku, alasannya kan kamu sudah tahu?”

“Diamlah, tinggalkan aku, aku tidak mau mendengar apapun.”

Anton keluar dari kamar dengan putus asa. Sungguh sebenarnya ia sangat mencintai istrinya. Ia terpaksa melakukannya, karena setiap malam sang ibu mempertemukannya dengan wanita lain yang diharapkan bisa memberinya keturunan. Apa boleh buat, alasannya adalah anak.

Anton melangkah keluar, lalu tiba-tiba ia melihat mobil berhenti di halaman. Ia tidak mengenali mobil itu. Ia juga tidak mengenali laki-laki gagah yang turun dari mobil itu, lalu mengangguk ke arahnya.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, February 21, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 15

 BIARKAN AKU MEMILIH  15

(Tien Kumalasari)

 

Adri mengucapkan terima kasih, kemudian keluar dari rumah sakit, dan kembali ke kantor. Kalau sudah dijemput oleh suaminya, lalu apa lagi? Dia hanya ingin menolong, dan sudah ada yang memperhatikan kepulangannya.

Sesampainya di kantor, Adri kemudian menekuni tugasnya. Ia ingin mengatakan tentang perintah pak Bondan bahwa Dwiyanti akan dipindahkan ke kantor cabang di kota lain, tapi bisa lain kali kalau ketemu. Ia segera memerintahkan kepada sekretarisnya agar menghubungi bagian administrasi. Surat kepindahan Dwiyanti harus segera dibuat. Perkara bicara lisan bisa nanti kalau ketemu saja.

Tiba-tiba Adri sadar bahwa dia belum makan. Ia menutup kembali berkas yang sudah dibukanya, kemudian memanggil OB agar membelikan makan siangnya.

Adri menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa lelah. Bayangan Nirmala melintas. Wajahnya yang cantik, kesabarannya, rasa pengertiannya kepada dirinya, membuatnya benar-benar jatuh cinta. Cinta yang membawanya ke pelaminan, dan cinta itu masih tetap ada, sampai detik ketika dia membayangkan wajahnya. Nirmala wanita yang sangat mandiri. Ia tegar dan kuat, serta berani melangkah ketika dia merasa benar. Tapi pada suatu ketika, Adri merasa Nirmala bisa mengatasi semua sendiri, lalu ia merasa bahwa dirinya tak berguna. Barangkali tanpa dirinya, Nirmala sudah bisa melakukan semuanya sendiri.

Ketika OB datang membawakan makanan yang dipesannya, sebuah pesan terdengar di ponselnya. Tangannya urung meraih kotak makanan yang sudah diletakkan di meja.

“Adri, kamu tidak usah menjemputku, karena suamiku sudah datang lebih dulu. Entah dari mana, ia tahu kalau aku sedang ada di rumah sakit.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah pulang dari rumah sakit, senang mendengar kamu sudah dijemput suami kamu.”

“Sebenarnya aku lebih suka kalau kamu yang menjemput aku.”

Tapi Adri tidak berkomentar tentang pesan yang terakhir itu.

Adri meletakkan ponselnya sambil bergumam.

“Di rumah kan ada pembantu, tentu saja pembantu itu yang mengatakan semuanya kepada suami Dwi, bagaimana Dwi bisa berkata begitu.”

Lalu Adri membuka kotak makanannya, dan makan dengan lahap.

***

Dwi memamg dijemput Anton, sang suami, yang kemudian berkali-kali meminta maaf karena membuat Dwi terluka.

“Aku tidak tahu kalau kamu terluka, makanya aku meninggalkan kamu,”

“Kamu tahu aku terjatuh, tertimpa meja, walau kecil itu berat, ada alas kacanya, aku mengaduh, dan kamu mengikuti ibu kamu pergi,” sentak Dwi dengan berlinang air mata.

“Ibu sedang emosi, ia ingin sekali punya cucu. Maafkan.”

Dwi terdiam. Diletakkannya kruk yang tadi dipakai untuk menyangga tubuhnya di samping sofa, lalu perlahan dia duduk di sofa. Tertatih karena berat. Bekas operasi masih dibebat belum boleh untuk menapak.

Anton duduk di depannya, menatapnya. Dwi hanya diam. Alasan sang suami untuk meninggalkannya saat dia terluka sangat membuatnya sakit.

“Dwi, aku ingin bicara tentang rumah tangga kita. Memang benar, aku salah, aku ingin menikah lagi, tapi aku tidak ingin berpisah denganmu,” katanya hati-hati.

“Apa maksudmu?” suara Dwi meninggi.

“Dwi, aku tetap masih mencintai kamu. Aku ingin menikah hanya karena menginginkan keturunan, sesuai keinginan ibuku."

“Makan tuh cinta. Aku tidak mau mendengarkan kamu lagi.”

“Dwi, kamu tetap menjadi istriku.”

“Tidak sudi! Ceraikan aku!”

“Jangan begitu, aku masih cinta sama kamu.”

“Makan tuh cinta,” kata Dwi sambil berusaha berdiri, setelah meraih kruknya.

Anton bangkit, berusaha membantu, tapi Dwi menepiskan tangannya.

“Kamu mau kemana, aku belum selesai bicara.”

“Tidak usah bicara lagi. Segera urus perceraian kita.”

“Dwi….”

“Bibiiik, bantu aku berdiri!” teriaknya kepada pembantunya, yang merasa prihatin melihat keadaan majikannya.

“Biar aku bantu,” kata sang suami.

“Bibiiik !!”

Sang pembantu tergopoh datang, lalu memapah majikannya.

“Bawa ke kamar aku, eh .. tidak, kamar tamu saja. Aku tidak mau tidur di kamar itu lagi.”

“Baik Nyonya, tapi kamar belum saya rapikan, nyonya menunggu di sini, atau bagaimana?”

“Aku menunggu di kursi kamar saja.”

“Baik.”

Bibik menuntun nyonya majikan, dan Anton kembali duduk dengan lesu. Usaha membujuk sang istri tak berhasil. Ia tetap meminta cerai. Tiba-tiba ponselnya berdering, dari sang ibu.

“Ya, Bu.”

“Bagaimana, istrimu sudah pulang dari rumah sakit kan?”

“Sudah Bu, aku menjemputnya.”

“Dasar manja.”

“Kakinya patah, harus dioperasi. Dia tidak bisa jalan sendiri.”

“Kalau sudah ditangani dokter ya sudah, tidak usah dipikirkan. Banyak orang kakinya patah, akhirnya baik-baik saja.”

“Dwi meminta cerai, aku tidak bisa membujuknya.”

“Biarkan saja. Memangnya kamu masih merasa sayang sama dia? Calon istri barumu lebih cantik, badannya seger, dia akan segera hamil setelah kamu menikahinya nanti.”

“Sebenarnya aku masih sayang Bu, inginnya tetap menjadikannya istri.”

“Anton, jangan bodoh. Itu malah kebetulan. Susah merawat dua istri, belum kalau nanti bersaing, lalu bertengkar. Sudah … sudah, kalau minta cerai ya ceraikan saja.”

“Tapi Bu ….”

“Tapi apa lagi, sudah, malah kamu nanti kebanyakan pikiran. Orang sudah tidak mau, bagaimana cara memaksa.”

Ponsel sang ibu sudah ditutup. Anton termenung. Tampaknya ia memang harus menceraikan sang istri. Wanita yang akan dinikahinya sudah mengandung benihnya.

***

Adri baru selesai makan, dan siap melanjutkan pekerjaannya, ketika ponselnya berdering. Dwi menangis dari seberang.

“Ada apa?”

“Aku tetap akan bercerai,” tangisnya.

“Apa semuanya tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik?”

“Tidak ada pembicaraan yang baik ketika seorang perempuan akan dimadu. Bercerai adalah pilihan terbaik.”

“Pikirkan dulu Dwi, kamu memerlukan pendamping.”

“Tidak, aku tidak memerlukan pendamping seorang laki-laki seperti dia. Aku sudah bisa menerima ini. Percayalah aku akan kuat, karena ada kamu.”

“Dwi, jangan mengandalkan aku, aku kan tidak bisa sepenuhnya menjaga kamu.”

Adri ingin mengatakan tentang dipindahkannya Dwi ke kantor cabang, tapi diurungkannya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, jadi ia tak ingin menambah kekesalannya.

“Adri, meskipun memakai kruk, besok aku tetap ingin bekerja.”

“Jangan memaksakan kehendak, kalau memang masih sakit, istirahat dulu di rumah.”

“Aku masih bisa berjalan, dan yang bekerja adalah tanganku. Aku akan terhibur kalau di kantor. Aku juga akan minta agar kamu membantu aku mencarikan kontrakan.”

“Kontrakan? Kamu mau pergi dari rumah?”

“Apa aku harus tetap tinggal di rumah itu setelah bercerai? Tidak Adri, aku akan segera keluar dari rumah. Besok urusan cerai harus sudah dilakukan.”

“Ya sudah, tapi lebih baik kamu tenang dulu. Sekarang aku lanjutkan bekerja ya, kalau besok kamu tetap ingin masuk kerja, kita akan bicara.”

“Baiklah Adri, tolong cari informasi tentang rumah kontrakan ya, kalau bisa yang dekat kantor.”

“Baik, kita akan bicara lagi besok.”

Adri termenung. Dwi minta dicarikan rumah dekat kantor, sementara dia akan pindah ke luar kota. Bagaimana mengatakannya nanti?

Karena memikirkan masalah Dwi, Adri tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Akhirnya dia pulang sebelum jam kerja berakhir.

***

Adri sampai di rumah ketika sang istri belum pulang. Setelah berganti baju, ia habiskan waktunya untuk bermain bersama Pratama di teras, sambil menunggu kepulangan Nirmala.

Pratama sangat senang bisa bermain bersama sang ayah. Karena keasyikan bermain itu maka susah bagi mbak Rana untuk memandikannya.

Pratama berteriak marah ketika mbak Rana mengajaknya mandi.

“Mas Tama mandi dulu, biar wangi, nanti main dengan bapak lagi. Ya...,” bujuk sang ayah. Tapi Tama malah menubruk sang ayah, minta gendong.

“Baiklah, kalau begitu mandi sama bapak ya,” kata Adri sambil menggendong Tama ke belakang, di mana mbak Rana sudah menyiapkan semuanya di kamar mandi.

Karena keasyikan mandi sambil bermain dengan sang ayah, mereka tidak tahu kalau Nirmala sudah pulang dan menyaksikan keduanya yang sedang bercanda ria dengan Tama di dalam bak mandi.

Tiba-tiba Pratama melihat sang ibu dan berteriak.

“Mmaa …. “ entah mengapa, Pratama tidak mau memanggil ibu, atau mungkin lidahnya belum bisa mengucapkannya. Jadi kalau ketemu sang ibu .. yang diucapkan adalah ‘maa’.

Adri menoleh, dan melihat wajah Nirmala yang berseri.

“Tumben mandi sama bapak?”

“Tadi tidak mau saya mandikan, Nyonya, maunya sama tuan.”

“Ya, sudah, biarkan saja, sekali-sekali dimandikan ayahnya,” kata Nirmala sambil menuju ke arah kamarnya. Ia baru saja datang dan melihat teriakan-teriakan Tama di kamar mandi, makanya dia langsung melihatnya.

Tapi sebelum masuk ke kamarnya, ia mendengar ponsel Adri berdering. Nirmala mendekat, karena ponsel itu terletak di meja ruang tengah.

Wajah Nirmala gelap seketika. Ada nama Dwi di panggilan ponsel suaminya, dan ada foto wanita itu yang tengah tertawa.

***

Besok lagi ya.

Friday, February 20, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 14

 BIARKAN AKU MEMILIH  14

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala masih memegangi ponselnya dengan perasaan heran.

“Nirma, kamu mendengar apa yang bapak katakan?”

“Iy … iya .. Pak. Tapi … maksud Bapak apa?”

“Bapak sudah menanyakan ke kantor Adri. Ada hubungan dekat antara Adri dan Dwiyanti, manager pemasaran baru itu.”

“Adri mengatakannya pada Nirma tentang apa yang dilakukannya.”

“Bahwa dia berhubungan dengan Dwi?”

“Dwi itu teman masa kecilnya, yang kebetulan bertemu di tempat kerja.”

“Dan setiap siang makan siang bersama? Ibumu pernah memergokinya, dan ibumu curiga.”

“Namanya teman sekantor, saat makan bisa saja makan bersama.”

“Nirma, kamu terlalu naif. Apa kamu juga tahu, perempuan itu sakit lalu Adri menungguinya siang malam? Bahkan meninggalkan pekerjaannya ketika dia harus operasi?”

“Adri juga mengatakan semua itu Pak.”

“Kamu tidak curiga, melihat perhatian yang begitu besar dari suamimu terhadapnya?”

“Nirma tidak menemukan bukti apapun untuk mencurigai dia, karena dia mengatakan apapun yang dilakukannya untuk wanita itu.”

“Baiklah, bapak hanya mengingatkan kamu. Maksud bapak adalah agar kamu berhati-hati dan terus mengawasi suami kamu.”

“Iya Pak, terima kasih sudah diingatkan. Bapak dan ibu sehat kan?”

“Sangat sehat, ini bapak sedang dalam perjalanan ke kantor. Kamu sudah di kantor?”

“Nirma masih di rumah, ini baru mau berangkat.”

“Hati-hati dijalan.”

“Terima kasih Pak, Bapak juga harus hati-hati.”

Nirma turun dari teras, menuju ke arah mobilnya. Dalam perjalanan ke arah kantor, Nirma merasa prihatin ketika sang ayah ternyata mengawasi kelakuan Adri. Pastilah sang ayah mengerti karena kantor di mana Adri bekerja adalah juga miliknya. Tapi sesungguhnya Nirma tak ingin sang ayah mengetahui bagaimana keadaan keluarganya. Nirma hanya ingin agar orang tuanya mengerti bahwa keluarganya adalah baik-baik saja. Dan semoga memang begitulah adanya, kata batin Nirmala dengan sepenuh harapannya.

***

Adri sedang bekerja di kantornya, ketika Dwi menelponnya.

“Adri .. apa kamu di kantor?”

“Iya lah, ini kan jam kerja.”

“Hari ini aku boleh pulang, apa kamu bisa menjemput aku?”

“Aku sudah beberapa kali bolos kerja demi kamu.”

“Maaf Adri, kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menolongku?”

Dan lagi-lagi Adri luluh. Adri juga tak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa lemah kalau berhadapan dengan Dwi.

“Bagaimana Dri?”

“Iya, nanti jam istirahat ya, pekerjaanku menumpuk. Laporan belum aku periksa semua.”

“Baiklah, aku menunggu. Ini juga aku belum sepenuhnya bisa jalan. Aku sudah beli kruk melalui rumah sakit. Takut merepotkan kamu lagi.”

Beli kruk takut merepotkan, tapi menyuruh-nyuruh agar menunggui dan menjemput, Dwi merasa tidak merepotkan? Entahlah, siapa tahu apa yang dipikirkan Dwi.

Tapi Adri tidak merasakan apapun. Ia merasa hanya melakukan semuanya karena belas kasihan. Ataukah ia senang karena dibutuhkan?

Tiba-tiba sekretarisnya menghadap.

“Maaf Pak, tadi pak Bondan berpesan, siang ini Bapak diminta menghadap pak Bondan di kantor pusat.”

Adri mengerutkan keningnya.

“Mengapa bapak tidak langsung menghubungi saya?”

“Ketika pak Bondan menelpon, Bapak sedang tidak ada di tempat. Kelihatannya Bapak sedang ke belakang.”

“Baiklah.”

Adri mengeluh. Padahal dia sudah berjanji akan menjemput Dwi di rumah sakit. Bagaimana kalau mertuanya bicara panjang dan tidak ada waktu untuk menjemput?

Lalu ia menelpon Dwi.

“Dwi, nanti barangkali aku agak terlambat menjemput, karena pak Bondan memanggil aku agar menghadap ke kantor pusat.”

“Siang ini?”

“Ya, siang ini. Kamu sabar ya, barangkali ada hal penting yang akan disampaikan pak Bondan.”

“Aduh, berapa lama ya?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu pak Bondan akan bicara apa. Tampaknya sangat penting sehingga tidak cukup bicara di telpon.”

“Ya sudah, aku tunggu saja, soalnya nggak ada yang menjemput aku.”

Adri memasukkan ponsel ke dalam sakunya, lalu siap berangkat untuk menemui sang ayah mertua.

***

Dengan langkah tenang Adri memasuki ruang kerja sang ayah mertua. Ia mengetuk pintu dan langsung masuk ketika dipersilakan.

“Selamat siang, Pak.”

“Duduklah.”

Adri duduk dan menunggu apa yang akan dikatakan sang ayah mertua.

“Aku mengirimkan Dwiyanti beberapa bulan yang lalu.”

“Ya, dia sudah dipekerjakan di bagian pemasaran sebagai manager, sesuai arahan Bapak.”

“Bagaimana pekerjaannya?”

“Lumayan.”

“Kamu mengenalnya secara dekat ya sebelum ini?”

“Iya, kebetulan dia teman masa kecil saya, dan agak terkejut juga ketika ternyata yang Bapak kirimkan adalah dia.”

“Saat ini dia sakit?”

“Ada kecelakaan di rumah dia, menyebabkan kakinya, tepatnya pergelangan kaki kirinya, patah dan harus dioperasi kemarin. Tapi hari ini sudah bisa pulang ke rumah.”

“Syukurlah.”

Adri menunggu apa yang sebenarnya akan dikatakan ayah mertuanya. Masalah Dwi sepertinya tidak terlalu penting untuk dibicarakan dengan cara memanggilnya menghadap.

“Aku ingin bicara tentang Dwiyanti.”

"Lhoh, ternyata memang tentang dia?” pikirnya.

“Ada cabang di luar kota yang membutuhkan dia. Jadi nanti mulai bulan depan dia akan dipindahkan ke sana.”

Adri tertegun. Tapi ia tak menjawab apapun.

“Apa kamu keberatan?” lanjut pak Bondan.

“Tidak ada alasan bagi saya untuk keberatan. Kebijakan Bapak adalah kebijakan perusahaan. Saya, adalah bawahan Bapak, walau di kantor sebagai pimpinan.”

“Baiklah. Hanya itu yang akan aku bicarakan.”

Adri merasa heran, hanya akan memindahkan Dwi, mengapa harus memerintahkan agar dirinya menghadap?

“Kamu aku panggil, barangkali akan ada keberatan yang akan kamu ajukan.”

“Tidak ada, saya menyerahkan semuanya kepada kebijakan Bapak.”

“Kapan dia pulang dari rumah sakit?”

“Kabarnya hari ini sudah bisa pulang.”

“Aku mendengar bahwa ada hubungan khusus antara Dwi dan kamu,” kata pak Bondan terus terang. Ternyata pak Bondan masih melanjutkan.

“Bapak mendengar dari siapa?”

“Sebuah kedekatan pasti terlihat dari luar. Hubungan yang tidak wajar juga akan tampak oleh siapapun juga.”

“Kami hanya berteman.”

“Berteman baik?”

“Sangat baik, karena hubungan semasa kecil.”

“Baiklah, aku hanya ingin mengetahui, apakah keluarga kamu baik-baik saja.”

“Kami memang baik-baik saja. Bapak tidak usah mengkhawatirkannya.”

“Syukurlah. Sekarang kamu boleh kembali.”

Adri berdiri, ia mencium tangan sang ayah mertua kemudian mohon diri.

Pak Bondan menatap punggungnya, dan membatin. Tampaknya Adri tak bereaksi mendengar perintah Dwi akan dipindahkan. Tak ada rona terkejut, tak ada sesal. Tampaknya memang tak ada apa-apa diantara mereka. Nirmala benar, rumah tangganya baik-baik saja. Pak Bondan melanjutkan pekerjaannya.

***

 Nirmala sedang siap keluar ruangan untuk makan siang, ketika sang ayah menelponnya.

“Assalamu’alaikum” sambutnya.

“Wa’alaikumussalam,” jawab sang ayah.

“Tumben Bapak menelpon siang-siang.”

“Aku tadi ketemu suami kamu.”

“Bapak ke kantornya?”

“Tidak, bapak panggil dia ke kantor bapak.”

“Oh, ada yang sangat penting?”

“Aku hanya bilang kalau Dwi aku pindahkan ke kantor cabang.”

“Bukankah itu di luar kota?”

“Ya, memang aku pindahkan ke sana.”

“Apa Adri keberatan?”

“Tidak, tampaknya dia tidak berreaksi apa-apa. Bapak mengira tidak ada hubungan apa-apa antara Dwi dan suami kamu.”

“Bapak berpikir terlalu jauh. Rumah tangga Nirmala baik-baik saja.”

“Bapak hanya khawatir, karena mendengar laporan-laporan dari anak buah suami kamu.”

“Mereka hanya melihat luarnya. Adri bilang, dia baik karena Dwi teman masa kecilnya.”

“Ya, dia juga mengatakan itu.”

“Bapak terlalu berlebihan. Adri memang begitu. Tapi dia mengatakan pada Nirma setiap apa yang dilakukannya. Dia memperhatikan Dwi karena kasihan.”

“Tapi kamu harus tetap berhati-hati. Seorang laki-laki yang tampak jinak seperti domba tiba-tiba bisa menjadi seperti serigala.”

Nirmala terkekeh.

“Kamu jangan tertawa.  Pesan bapak hanya itu, kamu harus berhati-hati dan terus mengawasi suami kamu.”

“Baiklah, Bapak tidak usah mengkhawatirkan Nirma, Nirma tahu apa yang harus Nirma lakukan.”

“Baiklah. Lanjutkan pekerjaan kamu.”

“Nirma baru mau makan siang.”

“Oh ya, makanlah, jangan sampai tubuhmu kurus karena kurang makan,” canda sang ayah.

Ketika menutup ponselnya, Nirmala masih memikirkan apa yang dikatakan sang ayah. Seorang laki-laki yang terlihat jinak seperti domba, tiba-tiba bisa menjadi seperti serigala? Apa maksud sang ayah?

Nirmala tidak begitu memperhatikannya lagi, ketika mendengar keruyuk lapar dari perutnya.

***

Adri tidak ke kantor lagi tapi langsung ke rumah sakit, seperti janjinya kepada Dwi. Tapi ia tak melihat Dwi di kamar rawatnya. Menurut perawat yang sedang membersihkan ruangan, Dwi sudah pulang dijemput suaminya.

***

Besok lagi ya.

Thursday, February 19, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 13

 BIARKAN AKU MEMILIH  13

(Tien Kumalasari)

 

Adri turun dari pembaringan, meninggalkan Nirmala yang masih terbaring dengan wajah kesal.

Notifikasi pesan terdengar lagi, Adri kembali membukanya.

“Adri, aku takut sekali. Bekas operasi ini berdenyut-denyut sakit. Kalau ada kamu, barangkali sakit ini akan berkurang."

Adri tidak membalasnya.

“Aku akan segera kembali,” katanya sambil melangkah ke kamar mandi, lalu ke ruang ganti. 

Ketika mendekati Nirmala, Adri sudah berganti pakaian rapi.

Nirmala sudah tahu, pasti dari perempuan itu.

“Dia sangat penakut. Kasihan dia sendirian,” katanya sambil mencium kening Nirmala.

Adri berlalu, Nirmala terpaku. Ia tak punya sanak saudara? Apakah dia jatuh dari langit? Pikir Nirmala sambil memiringkan tubuhnya, memeluk guling dengan pikiran ke mana-mana.

“Apa yang terjadi pada suamiku? Begitu perhatiannya. Benarkah hanya karena teman sejak kecil? Lalu sekarang menjadi anak buahnya? Apakah harus begitu besar perhatiannya? Dan perempuan bernama Dwi itu, enak saja memanggil suami orang, mengatakan bahwa dia takut, di saat malam, saat di mana suami istri biasanya meluangkan waktu untuk sekedar mencurahkan kasih sayangnya?” gumam Nirmala yang tak urung air matanya kemudian berlinang. Sekuat apapun hatinya tapi suaminya ‘dipinjam’ untuk menungguinya di rumah sakit dengan alasan takut. Ada kemarahan menelusuri aliran darahnya, membuatnya kemudian tak bisa tidur.

***

Dwi tersenyum cerah ketika melihat Adri memasuki kamarnya dan langsung mendekatinya.

“Belum tidur?”

“Aku yakin kamu akan datang setelah aku mengirimi kamu pesan. Kamu laki-laki yang baik, Adri,” kata Dwi sambil terus mengulaskan senyum.

“Aku mengkhawatirkan kamu, karena kamu selalu mengatakan takut. Apa yang kamu takutkan? Diluar banyak perawat jaga yang akan datang setiap saat ketika kamu memencet bel panggilan.”

“Itu beda Adri. Kedatangan kamu sangat berarti bagiku. Kamu luar biasa, aku tak akan bisa melupakan kebaikan kamu.”

Adri mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.

“Kamu tadi mengatakan kalau kakimu nyeri, harusnya kamu bilang pada perawat.”

“Aku mau kamu dulu yang datang.”

“Aku tidak bisa apa-apa, aku bukan dokter. Lagipula kalau terasa sedikit nyeri, itu akibat luka operasi itu. Tentu terasa tidak nyaman karena ada luka.”

“Iya, aku tahu. Tapi setelah kamu datang, rasa nyeri itu berkurang.”

“Dwi, kamu meng ada-ada.”

“Itu benar.”

“Tapi aku tidak bisa lama. Istriku akan bertanya-tanya karena aku pergi malam-malam.”

“Adri, apa kamu tidak bisa bilang kalau sahabat kamu sedang sakit?”

“Menungguinya siang malam akan terasa aneh Dwi, aku harap kamu mengerti.”

Tiba-tiba Dwi menangis. Terisak perlahan.

“Baiklah, sekarang kamu pulang saja. Biarkan aku sendiri. Aku bukan istri kamu, aku tak pantas merepotkan kamu, pergilah,” kata Dwi sambil menangis, dan sekarang tidak hanya terisak, tapi benar-benar menangis, membuat Adri kebingungan. Ia tak pernah menghadapi perempuan menangis di hadapannya. Ia bingung harus melakukan apa. Istrinya tak pernah menangiskan sesuatu. Istrinya seorang wanita kuat yang mandiri. Tiba-tiba Adri merasa tak tega. Dipegangnya tangan Dwi untuk menghiburnya.

“Jangan menangis begitu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sudah datang tapi kamu mengusir aku.”

“Habis kamu mengolok-olok aku, seakan aku sangat mengganggu kebersamaan  kamu bersama istri kamu. Aku memang bukan siapa-siapa, yang tak pantas mendapat perhatian dari kamu.”

“Aku mengatakan hal yang sebenarnya Dwi. Kalau aku pamit malam-malam, istriku akan bertanya-tanya.”

“Bukankah kamu bisa menjawabnya?”

“Tapi aku sudah menunggui kamu sejak pertama kamu aku bawa ke rumah sakit, lalu paginya dioperasi. Aku baru pulang sebentar, lalu kamu memintaku datang lagi. Aku bingung, istriku pasti akan bertanya-tanya.”

“Besok kalau aku sudah sembuh, aku akan datang kepada istri kamu, meminta maaf karena telah merepotkan kamu.”

“Tidak usah. Istriku sudah tahu, karena aku tidak pernah membohonginya. Aku mengatakan semuanya, sejak mengantarkan kamu ke rumah sakit, sampai menunggui kamu operasi, bahkan sampai kepergian aku kemari malam ini.”

Dwi sangat takjub. Suami yang tidak bisa bohong? Sementara suaminya yang hampir setiap malam pamit keluar bersama teman-temannya, yang katanya hanya di pos ronda, ternyata sedang bersama perempuan lain. Itu dikatakan mertuanya saat kemarin datang sehingga dia bertengkar dengan suaminya.

Saat itu suaminya baru pulang kerja. Suaminya sama sekali tidak membicarakan masalah dia menelpon dan mengatakan akan menikah lagi, jadi Dwi mendahului bicara.

“Apa yang Mas katakan itu benar? Mas ingin menikah lagi?”

“Maaf Dwi, aku terpaksa melakukannya, karena anjuran dari orang tuaku.”

“Apa kamu anak kecil sehingga apa yang kamu lakukan harus tergantung dari anjuran orang tua kamu?” Dwi mulai kesal.

“Mereka punya alasan, ingin segera punya cucu, sedangkan kamu tidak segera hamil.”

“Itu benar. Kamu tidak bisa hamil,” kata ibu mertuanya yang tiba-tiba datang.

“Mengapa ibu berusaha merusak rumah tangga kami?”

“Aku tidak akan merusaknya, teruslah berumah tangga, teruslah menjadi menantuku, tapi akan ada wanita lain yang menemani kamu, yaitu madumu.”

“Ibu memaksakan kehendak,” suara Dwi meninggi.

“Apa maksudmu? Ini bukan aku yang memaksanya. Suami kamu selalu menemui calon istri barunya setiap malam,” kata sang ibu mertua enteng.

“Apa? Benar Mas? Kamu pamit ke pos ronda hampir setiap malam, ternyata kamu menemui perempuan lain?”

“Itu benar. Jangan memojokkan suami kamu seperti itu. Sadarilah bahwa kamu memang bukan perempuan sempurna.”

Dwi naik pitam, ia menubruk suaminya, ingin menamparnya, memukulnya dengan kemarahan yang membabi buta, tapi kemudian sang mertua menariknya, dan suaminya mendorongnya keras, sehingga dia terjatuh. Sebuah meja kecil dengan kaca diatasnya menimpa kakinya. Pergelangan kaki terluka, dan patah tulangnya. Bukan menolongnya, sang ibu mertua menarik tangan suaminya dan mengajaknya pergi mengendarai mobilnya.

“Dwi, sudahlah, jangan menangis.”

Dwi sadar dari lamunannya. Apa yang dialaminya sudah diceritakan semua kepada Adri. Kebohongan sang suami dan kekejaman ibu mertuanya yang membuatnya sakit, bukan hanya raganya, tapi juga hatinya.

“Aku minta maaf Adri, aku sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya luka ini, tapi juga luka di dalam hatiku. Sekarang aku sadar bahwa harus membawa luka ini seorang diri, dan tidak merepotkan kamu, sekarang pulanglah Adri. Maaf merepotkan kamu,” katanya masih dengan isak kecil.

Apa yang dikatakan Dwi membuat Adri tersentuh. Ia sudah tahu apa yang terjadi, dan itulah kenapa ia merasa iba terhadap nasib Dwi.

Mendengar perkataan Dwi yang terakhir, membuat Adri kemudian ingin selalu menghiburnya. Ia menganggap Dwi seorang wanita malang yang pantas dikasihani. Karenanya kemudian ia menungguinya sampai Dwi benar-benar terlelap.

***

Tengah malam lebih Adri baru memasuki kamarnya, dan melihat Nirmala tidur memunggungi pintu memeluk guling. Rasa bersalah menghantuinya.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia berbaring di samping sang istri, memeluknya dari belakang, tapi Nirma bergeming. Ia seperti tak merasakan apa-apa, dan Adri kemudian membiarkannya dengan penuh perasaan bersalah. Tapi ketika bayangan Dwi melintas, Adri justru membayangkan sebuah drama kekejaman yang digambarkan Dwi melalui ceritanya. Ketika suaminya berbohong, lalu membuatnya terluka, dan meninggalkannya dalam rasa sakit luar dalam.

Adri menghela napas. Keadaan Dwi, membuatnya kasihan dan ingin selalu menghiburnya. Dianggapnya Dwi adalah seorang yang teraniaya, dan membutuhkan dirinya untuk menguatkannya. Nirmala bisa menjaga dirinya dan tidak membutuhkannya.

Adri kemudian terlelap, lalu bermimpi tentang Dwi, yang mengajaknya berjalan-jalan di sebuah taman, lalu ia memetik bunga, disematkan pada telinga Dwi. Mereka berlarian dengan riang gembira, lalu tiba-tiba ia melihat Dwi terperosok ke dalam lubang. Adri ingin menolongnya, tapi kemudian diapun terjatuh. Kepalanya terantuk lantai, menimbulkan suara berdebum yang keras, membuatnya mengaduh, lalu Nirmala terbangun. Nirmala terkejut melihat suaminya berusaha bangun sambil memegangi dahinya.

“Ada apa?” tak urung Nirmala panik melihat sang suami kesakitan.

Ia turun dan membantu sang suami bangun.

“Kamu tidur terlalu minggir,” kata Nirmala yang kemudian mengambilkan segelas air minum yang selalu tersedia di atas nakas.

“Terima kasih, aku … aku mengejutkan kamu.”

“Sakit? Keningmu benjol, aku ambilkan salep, agar berkurang sakitnya dan tidak lagi benjol, ” kata Nirmala yang kemudian bangkit, lalu mengambil sebuah salep dalam tube berwarna pink, lalu dioleskannya salep itu ke dahi suaminya.

“Dingin. Terima kasih,” kata sang suami yang kemudian memeluknya.

Nirmala tak bereaksi. Ia mendorong suaminya agar kembali tidur, sedangkan dia kemudian pergi ke kamar mandi. Saatnya shalat malam.

***

Pagi hari itu Adri tampak bersiap-siap pergi ke kantor. Nirmala tidak bertanya apapun tentang kepergiannya semalam.

“Nirma, aku minta maaf.”

Nirmala terkejut. Baru sekali suaminya mengucapkan kata "maaf". Ini luar biasa. Karena itulah ia menatap suaminya tak berkedip. Malaikat mana yang menuntun sang suami mengucapkan kata langka itu dari mulutnya.

“Aku mengasihaninya, hanya kasihan, karena nasibnya yang mengenaskan.”

Nirmala melebarkan matanya.

“Tidak apa-apa, segera pergi ke kantor, ini sudah kesiangan,” jawab Nirmala sambil mendorongnya pelan setelah mencium tangannya. Adri membalikkan tubuhnya, mencium kening istrinya, lalu berjalan menuju mobilnya. Nirmala masuk ke rumah sebelum mobil Adri keluar dari halaman.

Ketika akan mempersiapkan diri untuk pergi ke kantornya, ponselnya berdering. Dari sang ayah.

“Assalamu' alaikum,” sapa Nirmala.

“Wa’alaikumussalam, Nirma. Bapak hanya ingin mengingatkan. Awasi suamimu.”

Nirmala terkejut.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, February 18, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 12

 BIARKAN AKU MEMILIH  12

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala termenung  di kantornya. Ada manager pemasaran yang baru. Memang dia pernah mendengarnya, tapi itu kan kebijakan perusahaan dari pusat, Nirmala tak akan ikut campur. Tapi perhatian suaminya yang besar atas manager baru itu menimbulkan perasaan lain di hatinya. Memang suaminya sudah mengatakan kalau ia mengantarkan orang sakit, menungguinya sampai jam 2 malam, lalu saat bekerja Adri juga menaruh perhatian besar atas manager baru itu. Dan dia juga mengatakannya. Sekedar perhatian kepada bawahan, atau ada yang lebih dari itu?

Ia memang tidak menanyakannya siapa yang ditolong itu, apakah dia laki-laki atau perempuan. Tapi ketika dia tanpa sadar mencari informasi, ternyata dia perempuan, bernama Dwiyanti. Lupa-lupa ingat dia akan nama itu. Jauh sebelum wanita itu menjadi karyawan baru, kapan ya ia pernah mendengar namanya? Di pesta pernikahannya? Sepertinya tidak. Ah, entahlah, Nirmala tak mau ambil pusing tentang wanita itu, tapi perhatian besar dari suaminya, tetap saja mengganggu perasaannya. Cemburu? Iyalah, Adri kan suaminya. Walau dia sedang kesal, mana mungkin dia rela ada wanita lain di hati sang suami?

Nirmala sadar ia sangat mencintai sang suami, dan ia juga tahu suaminya juga sangat mencintai dirinya. Apakah cinta bisa luntur? Apa yang salah dalam keluarganya?

Salahkah kalau dia kesal akibat ketidak percayaan Adri atas dirinya ketika mengandung Pratama? Tentu dia kesal. Siapa yang tidak kesal, merasa benar tapi dianggap salah? Nirmala memijit keningnya. Mau tak mau ia harus bicara pada suaminya tentang perempuan itu. Kalau hanya teman kerja dan rasa simpatinya sebatas teman, okelah. Tapi kalau lebih dari itu, Nirmala harus mengambil sikap.

Rumah tangganya bisa terkoyak. Tapi kan itu belum jelas. Toh sesungguhnya Adri selalu berterus terang sejak kepulangannya semalam, bahkan pagi harinya sudah mengatakan juga kalau dia mau ke rumah sakit, jadi memang Adri tidak bohong. Salahnya adalah dia tidak menanyakan siapa yang sakit, dan kalau itu ditanyakannya pasti Adri tidak akan membohonginya. Nirmala tahu, sekeras apapun hati Adri tapi dia tidak suka berbohong.

Lalu Nirmala merasa lebih tenang dan berharap hal itu tidak akan menggoyahkan rumah tanggaya.

***

Siang harinya Dwi baru mendapat giliran operasi, sementara Adri sudah menungguinya dari pagi.

“Aku senang kamu selalu menemani aku Adri, aku tahu kamu sahabat yang baik. Tanpa kamu, apa jadinya aku ini.”

“Aku tidak berbuat apa-apa kan? Hanya menemani saja.”

“Justru itu yang membuat aku kuat Adri. Dalam badai rumah tanggaku yang menjadikannya porak poranda, aku sangat rapuh dan tak berdaya. Tapi dengan adanya kamu, aku menjadi kuat dan bisa menjalani semuanya dengan baik.”

Adri merasakan rasa yang aneh, yang belum pernah dirasakannya. Seseorang merasa kuat dengan adanya dirinya, itu membuatnya menjadi penuh arti.

“Adri, kamu adalah laki-laki sejati. Alangkah bahagianya istri kamu mendapatkan suami sebaik kamu.”

Adri tersenyum dengan debar dada yang aneh. Benarkah Nirmala senang mendapatkan suami seperti dirinya? Nirmala selalu bisa mandiri. Selalu bisa mengatasi apapun tanpa bantuan darinya. Dia wanita kuat, tidak rapuh dan gampang mengeluh. Seharusnya Adri senang, tapi kemudian dia merasa tak berguna.

“Adri, mengapa kamu diam? Kamu bosan menemani aku?”

“Tidak, mengapa berkata begitu? Aku senang bisa menolong teman.”

“Terima kasih Adri. Sebentar lagi aku dioperasi, apakah kamu masih akan menunggui di sini?”

“Sesuai permintaan kamu, aku akan menemani kamu sampai selesai di operasi.”

Dwi tersenyum manis sekali. Karena senang rasa nyeri di kakinya hampir tidak terasa lagi.

Tak lama kemudian beberapa perawat masuk. Dwi sudah dipersiapkan untuk masuk ke ruang operasi.

“Adri, selalu temani aku ya.”

Adri mengangguk sambil tersenyum. Ia terus menatap brankar yang membawa Dwi ke ruang operasi, sampai bayangan Dwi menghilang di balik pintu.

***

Adri ingin meninggalkan Dwi selama operasi berlangsung, tapi dokter yang menanganinya mengatakan bahwa operasinya tak akan berlangsung lama, karenanya Adri duduk menunggu. Beberapa kali telpon dari kantor, selalu dijawabnya bahwa dia masih menunggu. Ia berjanji akan segera kembali begitu operasi itu selesai. Karyawan kantor ada yang mengacuhkannya, tapi ada yang kemudian menduga-duga. Mengantarkan ke rumah sakit semalam, lalu menunggui saat operasi, pasti itu bukan perilaku seorang teman biasa. Sebagai seorang pimpinan, bisa saja Adri menyuruh orang untuk menungguinya, tapi Adri tidak melakukannya. Ini luar biasa. Mereka juga sering melihat Adri makan berdua saat istirahat.

“Padahal dua-duanya sudah punya keluarga,” celetuk seorang karyawan.

“Jangan berprasangka dulu. Pak Adri orang baik, barangkali hanya ingin menolong.”

“Iya, tapi apa kamu tahu, tadi bu Nirmala menelpon, menanyakan siapa yang sakit lhoh. Berarti suaminya melakukan itu tanpa sepengetahuan istrinya.”

“Kata siapa bu Nirmala menelpon?”

“Aku dengar dari resepsionis.”

“Ah, ya sudahlah. Tidak usah bergosip tentang hal yang bukan urusan kita. Yang penting kerja … kerja … kerja.”

Demikianlah, hal yang tidak wajar selalu menjadi bahan perbincangan.

***

Dwi tidak dibius total, hanya bagian kaki kanannya saja, karenanya ia tahu ketika keluar dari ruang operasi, ada Adri duduk terkantuk-kantuk di kursi tunggu. Ketika melintasinya, Dwi berteriak.

“Adri!”

Adri terkejut, ia membuka matanya lalu mengikuti brankar yang membawa Dwi, masuk ke ruang inap.

“Terima kasih Adri, kamu benar-benar menepati janji kamu.”

“Syukurlah selesai dengan cepat. Setelah ini aku mau kembali ke kantor. Banyak yang menunggu. Lalu setelah itu aku mau pulang dulu.”

“Yaaah, mengapa pulang Dri. Tidak kembali kemari lagi?”

“Aku punya istri, dia pasti akan bertanya-tanya kalau aku pulang terlambat.”

“Apa dia pemarah?”

Adri diam. Istrinya memang sedang marah, tapi sesungguhnya dia bukan pemarah. Karena itu ia menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Istriku bukan tipe istri yang suka marah. Dia wanita yang kuat dan mandiri,” katanya seperti sedang memamerkan sang istri.

“Bukan main. Tapi dia harus berbahagia memiliki suami yang seperti kamu Dri.”

Adri hanya tersenyum. Ia melihat ke arah arloji tangannya.

“Karena kamu sudah baik-baik saja, aku ke kantor dulu ya.”

“Lalu pulang?”

“Ya, kan aku sudah bilang.”

“Maukah setelahnya kamu kembali kemari?”

“Malam nanti?”

“Aku selalu takut sendirian. Dan besok kan aku boleh pulang dan rawat jalan, kalau sudah pulang kamu tidak usah menemani aku, karena di rumah sudah ada pembantu.”

“Baiklah, tapi aku harus bilang dulu pada istri aku.”

“Pasti dia tidak akan mengijinkan,” cemberut Dwi.

“Dia akan mengijinkan. Istriku seorang wanita yang baik.”

“Hm, baiklah. Aku tunggu ya Dri.”

***

Sore itu Adri pulang tepat waktu, Nirmala sedang duduk sendirian di teras.

Ia sudah menyiapkan kopi panas di meja di depannya, dan mengatakan kepada sang suami bahwa dia akan bicara.

Adri mengangguk, lalu ia langsung masuk ke dalam rumah. Ia keluar setelah berganti pakaian rumah. Tampaknya ia sekalian mandi, tampak dari aroma wangi yang tercium.

“Aku mandi sekalian. Nanti setelah makan aku mau ke rumah sakit lagi,” katanya sambil duduk, lalu meraih gelas kopinya.

Nirmala menatap suaminya tak berkedip. Tampaknya sang suami benar-benar memperhatikan anak buahnya yang sedang sakit.

“Siapa sih yang sakit?”

“Dia manager pemasaran yang baru beberapa minggu masuk. Kiriman dari pusat.”

“Perempuan?”

“Ya, namanya Dwiyanti.”

“Kamu sangat perhatian pada dia.”

“Dia itu teman kecilku. Aku pernah mengatakan bahwa aku punya teman kecil bernama Dwiyanti.”

“O, iya.”

Rupanya Adri sendiri yang menyebut nama Dwiyanti teman masa kecilnya belum lama ketika mereka menikah. Itu sebabnya Nirmala seperti pernah mendengar nama itu, yang hampir lupa dia itu siapa. Lepas dari itu Nirmala sedikit lega. Sudah diduganya, suaminya tak suka bohong. Jadi ia memang mengatakan apa yang benar-benar terjadi.

“Kamu tidak apa-apa kan, kalau aku ke rumah sakit lagi nanti malam?”

“Tidak,” jawabnya singkat, membuat Adri merasa lega. Ia juga lega karena Nirmala sudah mau bicara.

Sebelum makan malam, Adri dan Nirmala ada di dalam kamar. Rasa kesal Nirmala sudah mulai surut. Ia senang Adri tetap bersikap manis, yang membuat dia tidak memikirkan hal buruk yang dilakukan sang suami.

Lama marahan, membuat keduanya merasa kangen satu sama lain. Tapi tiba-tiba ponsel Adri berdering.

Kemesraan yang nyaris terjadi menjadi buyar seketika, saat Adri memerlukan meraih ponsel dan membawa pesan yang tertera di sana.

“Adri, jam berapa kamu akan datang?”

***

Besok lagi ya.

 

BIARKAN AKU MEMILIH 16

  BIARKAN AKU MEMILIH  16 (Tien Kumalasari)   Nirmala tak menjawab, bukankah Dwi adalah teman biasa? Maksudnya biasa yang bagaimana? Biasa m...