Wednesday, October 28, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 38

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  38

(Tien Kumalasari)

 

Bowo turun dari dalam mobilnya, mobil yang diparkir berhadapan dengannya sudah kosong, berarti pengemudinya tak ada. Ia sudah turun. Dengan perasaan kesal Bowo melangkah ke arah rumah nenek Suli. Bukankah dia berjanji akan mengantarkannya kontrol. Laki-laki kaya itu mendahuluinya.

Bowo berdiri di depan pintu, ia mendengar nenek Suli berbincang dengan laki-laki yang disebutnya Fajar.

“Nak Fajar, maafkan nenek Suli ya. Nenek tahu, maksud nak Fajar baik, ingin menolong nenek Suli, tapi nenek Suli sudah berjanji pada Bowo. Hari ini nenek akan diantar olehnya.”

“Tapi sekarang dia kan belum datang Nek. Lagipula apa Nenek lupa, Bowo pernah menyakiti Sarah?”

“Tidak, eeh tidak lupa, tapi nenek sudah melupakannya, karena dia sudah datang kepada Nenek dan nangis-nangis meminta maaf. Nenek memaafkannya. Mengapa tidak? Kalau Allah saja mau memaafkan umatNya yang bertobat, mengapa seorang nenek tua seperti Nenek ini tidak bisa melakukannya?”

“Iya, syukurlah kalau begitu. Tapi kok dia belum datang ya.”

“Tidak apa-apa seandainya belum datang, Nenek akan menunggu. Tidak enak kan, sudah berjanji berangkat bersama dia, tiba-tiba saya berangkat sama nak Fajar?”

“Bagaimana kalau kesiangan?”

“Tidak Nak, rumah sakit kan buka sampai sore? Terima kasih Nenek ucapkan pada nak Fajar, yang telah bersusah payah datang kemari, sementara harusnya nak Fajar kan bekerja di saat seperti ini? Tapi nenek ini orang miskin, kalau nenek mengingkari janji, pasti orang mengatakan … sudah miskin … ingkar janji … Kan nggak enak. Sebenarnya sih diantar siapapun akan sama, toh maksudnya Nenek harus kontrol kesehatan. Tapi masalah janji itu lho Nak, Nenek tidak bisa.”

“Bagaimana kalau dia tidak datang. Lihat, ini sudah jam sembilan lebih. Nanti antrenya sudah panjang.”

“Tidak apa-apa Nak, nenek tunggu saja sebentar. Nak Fajar boleh pulang dan bekerja. Masa terganggu gara-gara nenek?”

“Saya tunggu sampai dia datang Nek, kalau dia sudah datang, saya akan pulang. Takutnya dia tidak datang.”

“Baiklah, terserah nak Fajar saja.”

Bowo langsung masuk.

“Nenek sudah siap?”

“Nah, itu dia datang.”

“Ada tamu rupanya. Nenek mau berangkat kontrol sama dia?” kata Bowo.

“Tidak, bagaimana kamu ini, kan kamu sudah berjanji dan Nenek sudah menyanggupi, jadi ya Nenek mau berangkat sama kamu. Kecuali kamu membatalkannya.”

“Tidak Nek, seperti janji saya, saya akan mengantarkan Nenek. Nenek sudah bersiap? Tapi kalau Nenek lebih suka diantar mobil yang lebih bagus, ya tidak apa-apa.”

“Kamu itu ngomong apa? Bukan masalah mobil yang seperti apa. Ini janji kamu yang Nenek sudah menyanggupinya.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Nenek sudah menunggu dari tadi. Kamu tidak kenal dia? Dia juga sahabat Sarah dan sangat baik kepada nenek.”

“Oh, sudah kok. Sudah pernah kenal.”

“Kalau begitu ayo saling memberi salam,” perintah nenek Suli seperti kepada kedua anak kecil yang sedang berantem.

Bowo berdiri, dan saling memberi salam. Nenek Suli tersenyum.

“Ayo kita berangkat. Nak Fajar mau ke kantor?”

“Iya Nek.”

Nenek Suli berangkat kontrol ke rumah sakit bersama Bowo. Fajar tak merasa sakit hati. Budi nenek Suli sangat mulia, dan itu berbekas di hatinya. Biarpun dia berbaik hati dan bersusah payah ingin mengantar, tapi nenek Suli tetap tidak mau karena sudah sanggup diantar Bowo. Sebuah sikap yang patut ditiru.

Fajar menuju kantor dengan langkah yang lebih ringan.

***

“Bu Karimun, biar saja nanti Bimo ambil sendiri, bu Karimun selalu memperlakukannya sangat istimewa. Meja makan ditata rapi begitu, seperti menyambut tamu,” kata bu Saptari sambil tersenyum.

“Nak Bimo kan capek bekerja seharian. Biar dia senang kalau kita menyambutnya dengan makanan yang baik, biarpun sederhana. Dengan begitu capeknya  bisa hilang.”

“Benarkah?”

“Tentu saja benar.”

“Selama bu Karimun ada di sini, Bimo benar-benar dimanjakan oleh bu Karimun.”

“Tidak, biasa saja. Apa yang bisa saya lakukan untuk memanjakan dia? Semuanya bu Saptari yang menyiapkannya. Saya hanya tinggal menata.”

“Perhatian bu Karimun sangat besar.”

“Saya hanya teringat pada anak saya.”

“Lhoh, bu Karimun punya anak? Di mana dia?”

Tiba-tiba bu Karimun meneteskan air mata, yang kemudian buru-buru dihapusnya.

“Bu Karimun punya anak?”

Bu Karimun hanya mengangguk pelan, kemudian pergi meninggalkan meja makan yang sudah ditatanya rapi.

“Bu Karimun ini aneh, apa sebenarnya yang terjadi? Barangkali anaknya sudah meninggal, sehingga dia tak mampu mengungkapkannya,” gumam bu Saptari yang tak ingin mendesaknya lebih lanjut.

“Bu, bu Karimun mana?” tiba-tiba Bimo muncul.

“Kaget aku, tidak ada suaranya kok tiba-tiba kamu sudah ada di sini. Itu bu Karimun ada di belakang. Baru saja dia di sini tadi.”

“Oh, Bimo membelikan baju untuk bu Karimun.”

“Wah, pasti dia senang sekali. Kamu habis gajian ya?”

“Iya Bu, dan gaji Bimo sekarang jauh lebih banyak. Bimo juga beli untuk Ibu.”

“Syukurlah. Tapi tunggu dulu, akhir-akhir ini kamu kok selalu pulang langsung, biasanya menemani Sarah jualan koran. Apa dia belum mulai jualan lagi setelah neneknya sakit?”

“Entahlah, Bimo kurang memperhatikan juga sih. Besok Bimo akan melihatnya.”

“Ibu merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya kamu sekarang tidak begitu bersemangat mendekati Sarah?”

“Tidak apa-apa Bu, saya pikir-pikir kok lebih baik Bimo melupakannya.”

“Memangnya kenapa? Kok patah semangat. Ada yang lain, barangkali?” goda sang ibu.

Bimo hanya tersipu. Ada yang lain?

“Bimo ke belakang dulu, menemui bu Karimun,” kata Bimo sambil menjauh. 

Bu Saptari menatapnya heran. Perhatian kepada Sarah sudah hilang entah ke mana? Kalau ada yang lain, siapa dia?

***

Setelah mengantarkan nenek Suli, Bowo belum juga pulang dari rumahnya. Ia membeli makanan yang dimakannya bersama nenek Suli, dan juga Sarah.

“Terima kasih sudah menemani nenek ya. Tapi lain kali kamu tidak usah repot-repot lagi, kan kamu minggu depan sudah menjadi suami orang. Tidak enak kalau masih selalu memperhatikan Nenek,” kata Sarah.

“Tidak apa-apa kalau hanya mengantarkan Nenek. Istriku harus mengerti, bahwa nenek Suli adalah keluarga aku.”

“Biar bagaimanapun, kamu harus bicara dengan dia.”

“Iya, itu masalah gampang.”

“Terima kasih kebaikannya ya.”

“Untuk menebus semua kesalahan aku sama kamu.”

“Lupakan saja, semua orang pasti punya salah.”

“Besok kalau aku nikah, nenek Suli dan kamu harus datang ya.”

“Tidak usah Bowo, nanti ibu kamu marah. Kami ini keluarga yang tidak berkelas, mana mau bu Lurah melihat kami di pesta pernikahan kamu.”

Bowo tertawa getir.

“Pesta? Ibu tidak akan mau datang.”

“Masa, pernikahan putranya kok tidak mau datang.”

“Calon istri aku hanya orang kebanyakan, bukan dari keluarga seperti yang didambakan ibuku. Sudahlah, jangan bicara lagi masalah itu. Yang penting aku sudah bersedia bertanggung jawab, seperti apa yang dianjurkan nenek Suli.”

“Coba kamu bicara  lagi sama ibu kamu. Bicara yang pelan, penuh permintaan maaf dan penyesalan, ibu mana yang tidak luluh hatinya kalau anaknya memohon maaf dan menyesali perbuatannya?”

“Entahlah, aku masih bingung. Pernikahan itu aku sendiri yang mengaturnya. Bukan pesta, hanya pernikahan sederhana di rumah aku saja."

“Baiklah, aku hanya ikut berdoa, semoga kalian bahagia.”

“Tapi bener ya, kamu dan Nenek harus datang?”

Sarah tersenyum.

“Tapi aku nggak janji lhoh.”

“Nanti aku akan bicara lagi sama Nenek. Masa Nenek tega melihatku menikah tanpa ditunggui orang tua?”

***

“Apa maksudmu aku kamu suruh menunggui pernikahan memalukan itu? Lalu yang datang kerabat-kerabat dia yang semuanya miskin dan tidak berkelas? Tidak, aku tidak mau. Aku malah mau pergi jalan-jalan sama teman-teman arisan aku.”

“Bu, tega sekali Ibu ini.”

“Kamu juga tega mempermalukan keluarga ini, mengapa ibu tidak?”

“Bu, tolonglah ikut datang merestui.”

“Tidak ya tidak. Aku mau jalan-jalan!”

***

Besok lagi ya. 

Monday, October 26, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 023

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  023

(Tien Kumalasari)

 

Lili kesal sekali mendengar jawaban Baroto, ya3ng menyetujui keinginan Ana, bahkan seakan tanpa berpikir panjang.

“Gimana sih Mas, kalau Menur jadi ibunya Ana, berarti istri Mas dong.”

Baroto terbahak-bahak. Tapi Lili tak tahu apa arti tawa suaminya tersebut. Sepertinya senang, atau sedang mengejeknya? Hati Lili sedang kusut, gosokan ucapan Rumi yang kelihatannya dia acuhkan nyatanya tetap disimpan di dalam hati dan membakarnya.

“Mengapa kamu risau? Sesungguhnya Ana memang butuh seorang ibu, dan itu tidak didapatkannya dari kamu. Apa salahnya dia menganggap Menur sebagai ibunya?”

“Rasanya aku tidak rela.”

“Mengapa? Bukankah kamu tak pernah peduli tentang rumah tangga kita?”

“Sekarang aku peduli Mas, aku ingin kita mendandani rumah tangga kita, agar benar-benar seperti rumah tangga. Seperti suami istri.”

“Mengapa tiba-tiba kamu mengatakannya sementara aku sudah jenuh dengan hubungan ini?”

“Apa maksud Mas dengan ‘jenuh’? Kita akan tetap menjalani, dan mari membuat hidup kita bahagia.”

“Telat.”

Ucapan suaminya itu seperti sembilu menancap di dadanya. Terasa sakit.

“Mas, apakah ada yang terlambat untuk memperbaiki sesuatu yang tidak benar?”

“Kamu ini ngomong apa, aku sudah sampai tujuan, sudah dulu dan kamu tidurlah,” kata Baroto yang segera menutup pembicaraan itu. Mungkin memang sudah sampai tujuan, tapi mungkin juga sedang enggan bicara tentang rumah tangganya.

Lili menghela napas berat. Rasa sakit dan kecewa membuatnya susah memejamkan mata. Ia memarahi dirinya yang tiba-tiba mencintai suaminya. Karena Rumi memanas-manasinya? Harusnya dia tak peduli, mengapa jadi peduli? Ia merasa kalah sama Menur. Kalah cantik, kalah dalam merengkuh cinta Ana, dan kalah dalam menarik hati suaminya? Yang terakhir ini masih harus dibuktikan. Ini baru gosokan dari Rumi yang belum terbukti kebenarannya.

***

Dan di malam yang sama, saat Rahman terbangun, ia melihat sang ibu masih terjaga, duduk sendirian di ruang makan. Secangkir kopi menemaninya.

“Mengapa Ibu belum tidur?”

“Mengapa kamu bangun?”

“Ibu ditanya malah ganti bertanya. Rahman kebelet pipis, tapi dari kamar mandi melihat ibu masih duduk sendirian di sini.”

“Ibu sudah biasa tidur malam. Tidak apa-apa, kamu tidurlah, besok jangan sampai bangun kesiangan.”

“Ibu juga harus tidur, supaya besok juga tidak bangun kesiangan.”

Menur tersenyum, lalu berdiri, setelah menghabiskan kopinya.”

“Soalya Ibu minum kopi, jadi nggak bisa segera tidur. Kata orang kalau minum kopi susah tidurnya.”

“Tidak semua begitu. Biasanya ibu juga bisa tidur nyenyak,” katanya sambil mengelus kepala anaknya, kemudian masuk ke kamar masing-masing.

Banyak yang dipikirkan Menur.  Tentang hidupnya, tentang anaknya, tentang hubungan Baroto dengan Rahman. Ingin ia lari dari semuanya sehingga hidupnya tidak terbebani. Pertemuan dengan suami yang tadinya pernah diimpikannya, ternyata membuatnya menjadi rumit. Bukan kebahagiaan yang didapatnya, tapi justru penderitaan. Ia ingin menghindar, tapi kasih sayangnya kepada Ana seakan menjeratnya. Ia tak tega meninggalkan Ana. Ia tahu kalau Ana sangat bergantung padanya, bahkan ingin agar dirinya menjadi ibunya.

Entah apa yang dipikirkan Lili ketika mendengar permintaan Ana tadi.

***

Pagi hari itu Ana berjingkrak-jingkrak kegirangan karena mama dan neneknya mengijinkan dirinya memanggil Menur dengan sebutan ‘ibu’. Tak banyak yang dibicarakan Lili ketika bertemu Menur, kecuali hanya menawarkan makan bersama yang sebenarnya hanya basa basi, dan Menur selalu menolaknya.

Rasa kesal kepada Menur yang sebenarnya tak beralasan selalu ditahannya. Ia merasa tak pantas mencemburui Menur yang walau masih kerabat tapi ia merasa lebih tinggi.

Nyonya Sasa pagi hari itu datang ke rumah, karena ingin menemui Menur.  Ana sedang berada di ruang belajar bersama gurunya.

“Menur, duduklah di sini.”

Menur duduk di depan bibinya, yang kemudian memberikan sebuah amplop berisi uang.

“Ini dari Ana, jangan kamu anggap ini gaji, karena sekarang kamu adalah ibunya.”

Kata itu terdengar manis. Senang karena dirinya adalah ibu Ana.

“Kamu jangan menolaknya, karena kamu butuh membiayai sekolah anak kamu bukan? Rahman juga butuh makan, pakaian. Dan kalau tidak salah bulan ini Rahman ujian, lalu masuk SMP. Itu tidak murah. Nanti aku akan membantu kalau biaya untuk sekolah Rahman masih kurang.”

Menur menundukkan kepalanya. Ia memang butuh uang tapi untuk makan dan kebutuhan rumah. Bukankah Baroto sudah membayar semua biaya sekolah Rahman? Bahkan untuk masuk ke SMP sudah ada yang mengurusnya, yaitu kepala sekolah Rahman yang ternyata adalah teman sekolah Baroto.

Tapi ia tak mungkin mengatakan semuanya kepada bibi Sasa.

Ketika sedang berbincang itu, tiba-tiba terdengar ponsel berdering dari saku Menur. Menur sangat terkejut. Ponsel Rahman tadi dititipkan padanya, dan dia lupa menyimpannya di rumah, malah terbawa di saku bajunya. Menur takut sekali.

Menur terkejut. Bingung harus bagaimana. Ponsel itu sudah dipegang, terus berdering. Menur mematikannya. Nyonya Sasa melihatnya heran.

“Mengapa dimatikan? Terima saja, kalau kamu tak ingin aku mendengarnya, aku akan menyingkir sebentar.”

“Tidak, tidak Bibi. Ini … bukan telpon untuk saya.”

“Itu ponsel kamu kan? Bagus, itu ponsel mahal,” kata sang bibi lagi.

“Ini, sebenarnya terbawa oleh saya. Ini ponsel Rahman, eh … maksud saya, ponsel temannya Rahman yang dititipkan, tadi lupa … lupa saya berikan, malah terbawa oleh saya.”

“Oh, begitu. Tapi lain kali kamu juga butuh ponsel. Barangkali aku ingin bicara, kalau kamu punya ponsel, kan lebih enak.”

“Ti … tidak Bibi, tidak usah, saya … saya tidak terbiasa memakai … ponsel.”

“Menur, sekarang jaman sudah berubah. Ponsel bukan sekedar untuk menyombongkan diri atau apa, tapi ia sangat berguna karena memudahkan komunikasi. Nanti aku akan belikan kamu ponsel.”

“Tidak Bibi, tidak usah ….”

“Jangan begitu. Kamu itu terlalu sederhana. Kamu harus ingat pada kemajuan jaman. Ana saja bisa memakai ponsel, masa kamu tidak?”

“Saya kira … tidak perlu untuk se … eh … saat ini.”

“Jangan membantah. Sekarang ini aku harus mengajari kamu untuk menjadi perempuan yang mengikuti jaman. Jangan terlalu terbelakang atau kolot. Kamu itu cantik, kamu itu pintar, walau tidak sempat sekolah tinggi. Tapi kamu harus bisa mengikuti majunya jaman,” kata sang bibi tandas.

Menur menundukkan wajahnya. Rasa keterkejutannya tentang ponsel yang berdering masih membuatnya berdebar-debar.

“Ya sudah, kamu lihat apakah Ana sudah selesai, nanti kalau Ana selesai, aku akan mengajak kamu dan Ana berjalan-jalan.”

“Ke mana, Bibi?”

“Namanya jalan-jalan … ya jalan-jalan, pokoknya kita senang. Ana juga pasti senang. Selama ini, aku yang selalu mengajak Ana keluar. Mamanya tidak pernah. Dia sibuk dengan urusannya sendiri.”

Menur mengangguk.

“Saya lihat Ana dulu.”

Nyonya Sasa menatap punggung Menur sambil tersenyum. Menur adalah keponakannya karena anak dari kakak sepupunya. Ia menyayanginya karena merasa sedarah daging. Sepeninggal Menur kedua orang tuanya sudah tak ada. Ia wajib menyayanginya seperti kepada anak sendiri.

Ketika itu Rumi dengan bibir monyongnya sudah kasak kusuk dengan rekan-rekan pembantu yang sedang bekerja di dapur.

“Dengar, ada berita bagus lagi. Tahu nggak, sebentar lagi nyonya besar akan mengajak Menur jalan-jalan. Apa tidak enak? Baru saja masuk sebulan lebih, sudah mendapatkan macam-macam.”

“Masa?”

“Ya tidak apa-apa. Toh Menur tidak pernah mengganggu kita. Dia justru baik kepada kita.”

“Iya, benar, mulut Rumi tuh yang sukanya ngadu-ngadu.”

“Kalian itu dikasih tahu malah menyalahkan aku. Apa kalian tidak iri hati mendepat perlakuan beda?”

“Siapa yang iri hati?”

Rumi hampir terjengkang karena terkejut. Tiba-tiba sang nyonya besar sudah ada di belakangnya.

“Eh, Nyonya. Kami tidak tahu ada Nyonya ..”

“Kamu ngomong apa sama teman-teman kamu?”

“Eh … ti … tidak Nyonya, hanya ngobrol biasa.”

“Kamu, dan kalian … apa nyonya kamu tidak pernah memberi tahu bahwa Menur itu keponakan aku?”

Semuanya terdiam, karena terkejut.

Sebenarnya Rumi sudah bertanya-tanya, mengapa Menur memanggil bibi kepada sang nyonya besar. Tapi nyatanya nyonya Lili tidak pernah mengatakan apa-apa pada mereka. Dan ternyata Menur adalah keponakan nyonya besar? Berarti masih saudara dekat dengan nyonya majikan mereka kan? Wajah Rumi pucat pasi.

“Nyonya, kami tidak pernah mengatakan hal buruk tentang … Men … eh.. keponakan Nyonya. Rumi itu yang suka bicara tentang .…”

“Panggil dia nyonya Menur,” titah nyonya Sasa.

“Baik Nyonya, jawab ketiga pembantu serentak, tapi Rumi menjawabnya dengan gagap.

“Ba … baik Nyonya.”

“Dan jangan sekali-sekali bicara buruk tentang keponakanku, kalau tidak ingin aku pecat.”

“Baik,” jawab Rumi pelan.

Ketika sang nyonya besar meninggalkannya, semua pembantu menuding hidung Rumi dengan marah.

“Dasar bibir monyong. Rasain. Ternyata dia juga seorang nyonya.”

Menur pergi dengan membawa wajah muramnya.

“Masa aku yang salah? Nyonya majikan tidak pernah mengatakannya kalau masih saudara, padahak sudah sebulan lebih dia di sini. Apes aku hari ini, ketahuan nyonya besar ketika sedang ngomongin dia,” katanya dalam hati.

***

Hari itu Ana senang sekali, melihat-lihat toko besar yang menjual baju-baju bagus. Ana memilih-milih, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk ibu Menur.

Berkali-kali Menur menggoyang-goyangkan tangannya, menolak, tapi Ana dan nyonya Lili memaksanya.

“Kamu adalah keponakanku, sama juga anakku, jadi kamu harus berpakaian pantas.”

“Bukankah Bibi sudah membelikannya yang bagus-bagus?”

“Nggak apa-apa ditambah lagi untuk ibu Menur, ya kan Nek?” celoteh Ana.

“Iya benar.”

“Nanti aku juga akan membelikan ponsel untuk kamu.”

“Bibi, sudahlah.”

“Jangan membantah dan jangan menolak,” kata nyonya Sasa tandas.

Nyonya Sasa juga akan pergi ke sekolah Rahman untuk melunasi semua yang harus dibayar Rahman, tapi dia tidak akan mengatakannya kepada Menur. Nyonya Sasa berpikir, kalau dia mengatakannya, maka Menur pasti menolaknya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, October 21, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  37

(Tien Kumalasari)

 

Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta agar Sarah diijinkan diambilnya sebagai istri.

“Bowo, dengar, jodoh itu Gusti Allah yang menentukan. Jangan memaksakan kehendak. Sarah masih sekolah dan jauh dari pemikiran untuk menjadi istri.”

“Bukan itu Nek, Saya sudah mengatakannya, bukan tentang Sarah.”

“Baiklah, ceritakan. Kamu tampak sangat kusut.”

“Saya menemukan ketenangan ketika bersama Nenek. Sungguh. Saya tidak suka keluarga saya, apalagi ibu saya yang terlalu menekan saya dan memaksakan kehendak. Ijinkan saya berkeluh pada Nenek.”

“Baiklah. Bukankah sejak tadi aku sudah mengatakan bahwa kamu boleh mengatakan apa yang ingin kamu katakan?”

Bowo mengangkat wajahnya, lalu mengusap air matanya. Tapi ia masih ngelesot didepan nenek Suli.

“Bangkitlah, duduk yang baik.”

“Biarlah saya dekat dengan Nenek. Akan saya ceritakan semuanya tentang saya, keburukan-keburukan saya dan nasib sial yang kemudian menimpa saya.”

Tak urung runtuh belas kasihan nenek Suli melihat wajah Bowo yang begitu memelas.

”Ceritakanlah, anak muda," katanya sambil menyentuh bahu Bowo.

Lalu Bowo menceritakan semuanya, tentang sepak terjangnya, karena merasa wajahnya tampan dan uangnya yang banyak, lalu dia mempermainkan banyak wanita. Tapi sesungguhnya dia sudah berhenti, ketika melihat Sarah, ketika melihat kebaikannya dan perjuangannya. Dari yang tadinya ingin memaksa Sarah dengan tindakan yang arogan, kemudian runtuh penyesalah di hatinya, lalu bersikap sangat baik, berharap Sarah mau berpaling pada dirinya.

Ia bahkan menceritakan ketika Nenek jatuh sakit lalu memanggil dokter Harun dan mengantarkannya ke rumah sakit. Dan itu membuat nenek Suli terkejut.

“Jadi itu kamu?”

“Saya masih bersembunyi karena takut Nenek tidak mau ke rumah sakit kalau saya yang mengantar.”

“Apa kamu yang membayar semua biaya ketika saya dirawat?”

“Tidak. Eh, iya … tadinya, tapi Sarah mengembalikan semua uang saya, entah siapa yang kemudian memberinya uang.”

“Sarah tidak mau mengatakannya.”

"Cerita saya masih berlanjut Nek.”

“Baiklah.”

Lalu Bowo mengatakan tentang kedatangan Endang yang tiba-tiba, lalu memaksanya menikahinya. Dan Bowo kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan nenek Suli.

“Jadi itu yang membuat kamu sedih?”

“Nenek, ini adalah hukuman untuk saya. Saya tak berdaya dan harus memenuhi keinginannya.”

“Bukan memenuhi keinginannya Bowo, tapi memenuhi rasa tanggung jawab kamu karena kamu telah melakukan sesuatu yang seharusnya kamu pertanggung jawabkan. Mengapa kamu sedih?”

“Saya tidak mencintai Endang.”

“Kamu ini laki-laki macam apa? Kamu telah menodainya lalu kamu ingkar karena kamu tidak mencintainya? Alangkah buruknya sikapmu ini. Buruk dan tidak menunjukkan bahwa kamu adalah ksatria sejati,” tegur nenek Suli dengan wajah muram.

“Nenek ….”

“Kamu sudah berusaha memperbaiki kelakuan kamu yang tidak terpuji. Itu bagus, tapi ada sebuah tanggung jawab yang menunggu penanganan kamu, yaitu menikahinya. Mengapa kamu sedih? Menangis? Apa tidak kamu bayangkan bagaimana gadis bernama Endang itu membawa perut gendutnya ke mana-mana sedangkan laki-laki yang berbuat tidak mau bertanggung jawab? Alangkah terlukanya setelah kamu renggut kesuciannya kemudian kamu tinggalkan dengan dalih kamu tidak cinta. Kamu ini laki-laki kejam, Bowo.”

“Saya sudah bersedia menyanggupinya Nek.”

“Tapi tidak sepenuh hati kan? Nyatanya kamu nangis-nangis di sini, berkeluh tentang tidak adanya cinta di hati kamu terhadap gadis itu. Kok enak sebagai laki-laki. Kamu nikmati tubuhnya lalu berat bertanggung jawab karena tidak cinta.”

Bowo terdiam, ia mengangkat wajahnya dan mengusap sisa air matanya.

“Nenek jangan memarahi saya. Di rumah saya sudah habis diomelin ibu saya, saya hancur kalau Nenek juga memarahi saya. Hanya kepada Nenek saya berkeluh.”

“Apakah gadis itu dari kalangan orang biasa? Bukan anak orang kaya seperti idam-idaman ibu kamu?”

“Dia hanya pegawai toko.”

“Jadi kemarahan ibumu itu aku yakin pasti berbeda dengan kemarahan Nenek. Ibumu marah karena gadis itu bukan kalangan sederajat dengan keluarga kamu. Ya kan? Tapi Nenek marah karena kamu menyesali kesanggupan kamu untuk menikahi gadis itu. Apa kamu mengerti bedanya? Mana yang benar menurut kamu? Kemarahan ibu kamu atau kemarahan nenek Suli?”

Bowo terdiam.

“Duduklah yang baik, jangan ngelesot begini. Lalu renungkanlah apa yang Nenek katakan. Tapi semua itu terserah kamu. Apa kamu akan hidup dalam penyesalan, atau kamu akan hidup dalam rasa tanggung jawab kamu sebagai laki-laki... Nenek buatkan minum untuk kamu?”

“Tidak Nek, jangan. Tidak usah,” katanya sambil mengangkat tubuhnya dan duduk di kursi di depan nenek Suli.

“Baiklah. Sekarang renungkan dengan hati tenang, jangan menyesal karena sanggup menikahi, tapi menyesallah karena kamu telah melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Dan yang kamu hadapi sekarang ini, adalah penebusan dosa kamu, ingat itu. Ini juga sebuah peringatan agar kamu tidak mengulanginya.”

***

Bowo pulang dari rumah nenek Suli dengan hati yang lebih ringan. Ia menyadari semua kesalahannya. Ia tahu bahwa Endang membutuhkannya, bukan karena Endang sangat mencintainya dan berharap bisa menjadi istrinya, tapi ada segumpal nyawa di dalam rahimnya yang membutuhkan pengakuan seorang ayah.

Ia berjanji bahwa minggu depan ia akan menikahi Endang, yang semula dilakukannya dengan sangat terpaksa, tapi sekarang ia akan melakukannya dengan penuh keikhlasan. Didalam perut Endang ada darah dagingnya, yang tiba-tiba menggelitik hatinya untuk menyayanginya.

Tapi sesampai di rumah, sang ibu sudah menunggu. Bowo menghempaskan napas kesal. Pasti akan terjadi keributan, pasti ada yang tidak benar dengan keputusannya.

Bowo turun dari mobil, belum sampai dia naik ke teras, sang ibu sudah menyemprotnya. 

"Apa yang akan kamu lakukan? Orang tua perempuan itu tadi kemari minta surat-surat yang entah aku tidak mau mendengarnya.”

“Mana dia?”

“Sudah aku usir.”

“Mengapa Ibu mengusirnya? Dia akan mengurus surat-surat untuk pernikahan.”

“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Mengapa kamu jadi menikahinya? Aku melihat ayahnya tadi, badannya bau, bajunya kusut. Hiih, dia akan menjadi besanku?”

“Bu, aku tidak bisa ingkar. Bayi yang dikandung Endang adalah darah dagingku.”

“Kamu kan bisa membayarnya?”

“Dia tidak mau. Kalau aku menolak, aku akan dilaporkannya ke polisi. Ibu kan sudah tahu karena aku sudah mengatakannya?”

“Ya sudah, terserah kamu, Ibu nggak ikutan. Dan jangan harap Ibu merestui pernikahan itu,” kata bu Lurah yang langsung berdiri dan pergi.

Bowo menghela napas lega, setidaknya tidak mendengar sang ibu mengomelinya lagi. Ia segera masuk ke dalam rumah, menyiapkan surat-surat yang pastinya dibutuhkan orang tua Endang.

***

Sarah pulang dari sekolah, dan bersyukur nenek Suli kelihatan baik-baik saja. Tapi Sarah heran ketika neneknya bercerita tentang Bowo.

“Jadi Bowo akan menikah?”

“Katanya minggu depan.”

“Aku tahu Endang. Dulu bersekolah di sekolah Sarah, setahun di atas Sarah. Orang tuanya menjadi sopir di sebuah perusahaan, entah perusahaan apa. Apa bu Lurah mau menerimanya?”

“Menurut Bowo, ibunya menentangnya. Tapi Bowo harus tetap menikahinya.”

“Syukurlah, semoga dia menjadi laki-laki baik yang bertanggung jawab.”

”Banyak sekali tadi Nenek bicara sama dia, semoga dia mau mendengarnya, dan kemudian menikahi Endang dengan ikhlas serta penuh rasa tanggung jawab."

“Oh iya, besok Nenek kontrol kan, Sarah akan minta ijin pulang lebih awal agar bisa mengantarkan Nenek.”

“Tidak, tadi Bowo mengatakan akan mengantarkan Nenek, jadi kamu sekolah saja seperti biasa.”

“Benarkah?”

“Tadi sebelum pulang dia mengatakannya.”

“Kok dia tahu kalau Nenek harus kontrol besok?”

“Dokter Harun kan pamannya.”

“Oh, iya, Sarah lupa.”

***

Tapi ketika esok harinya Bowo datang ke rumah nenek Suli, ia melihat ada mobil yang sudah terparkir di jalan depan rumah nenek Suli. Mobil yang dikenalnya. Apakah kali ini ia akan bersaing untuk berebut mengantar nenek Suli? Rasa kesal mulai menyulut hatinya.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, October 20, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 36

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  36

(Tien Kumalasari)

 

Bowo menatap sang ibu tak berkedip. Seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

“Apa kamu? Mengapa menatap ibumu seperti itu? Kamu kira ibumu ini bohong? Ayo pulang ke rumah. Perempuan tak tahu malu itu masih menunggu di sana, aku jijik melihatnya. Tampaknya dia juga orang kebanyakan. Kemana hatimu Bowo? Kemana akal warasmu?”

“Tidak, tidak mungkin ….”

“Apa yang tidak mungkin? Dia hamil dan datang mencari kamu. Dia tak mau pergi sebelum ketemu kamu dan mendengar kesanggupan kamu untuk menikahinya. Aku tidak sudi.”

“Dia masih menunggu?”

“Harus berapa kali Ibu bilang Bowo? Dia masih di sana, di rumah ibumu ini. Bikin malu saja.”

“Tapi ….”

“Tidak ada tapi, ayo pulang dan selesaikan semuanya. Kalau perlu beri dia uang untuk menggugurkan kandungannya.”

“Tapi ….”

“Jangan topa tapi terus, segera pulang dan selesaikan semuanya.”

Bu Lurah berdiri, lalu menarik lengan anaknya.

Mau tak mau Bowo mengikutinya. Ibunya membawa mobil,  ia ingin membawa mobilnya sendiri. Tapi sang ibu menolaknya.

“Masuk ke mobilku, nanti kamu kabur kalau bawa mobil kamu sendiri,” katanya tanpa melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Bowo.

***

Bowo tertunduk lesu. Endang adalah gadis anak seorang pelayan toko yang bekerja di sebelah pabrik berasnya. Gadis itu cantik, dan Bowo pernah menyukainya. Tapi ia hamil? Tidak, Bowo hanya suka saat mereka bersenang-senang, tapi cinta? Tak ada. Ia harus membuat gadis itu enyah dari hadapannya.

Ketika sampai di kediaman bu Lurah, betul saja, Bowo melihat seorang perempuan duduk di kursi teras. Kepalanya menunduk, mengutak atik ponsel, lalu mendongak begitu melihat bu Lurah dan Bowo berjalan mendekat.

“Mas Bowo ….” perempuan itu lebih dulu menyapa, tapi Bowo menyambutnya dengan tanggapan sengit.

“Mau apa kamu datang kemari?”

“Duduklah dulu, biarkan aku bicara.”

“Selesaikan oleh kamu Bowo, aku tidak sudi berurusan dengan perempuan rendahan itu,” katanya sambil berlalu.

“Dari tadi Ibu menghina saya dengan mengatakan saya perempuan rendahan. Tapi anak Ibu itu melakukan hal yang lebih rendah karena pernah memperkosa saya dan sekarang membuat saya hamil,” sentak Endang tanpa takut sedikitpun.

Bu Lurah berhenti melangkah, menoleh ke arah Endang.

“Kamu berani menentang aku?”

“Saya berani karena saya benar. Biarpun saya perempuan rendahan seperti yang Ibu katakan, tapi saya menjadi korban atas perbuatan rendah putra Ibu.”

“Bowo, beri dia uang dan suruh pergi,” kata bu Lurah sambil melanjutkan langkahnya, lalu menutup pintu dengan keras.

“Endang, apa maksudmu?”

“Aku sudah mengatakannya. Dulu kamu memperkosa aku, sekarang saatnya bertanggung jawab.”

“Benar pada awalnya aku memaksa kamu tapi kemudian kamu suka kan?”

“Karena kamu berjanji akan bertanggung jawab. Sekarang mana, aku tagih tanggung jawab itu.”

“Endang, ini bukan masalah yang pantas dibuat ribut. Aku beri kamu uang, gugurkan kandungan itu, selesai.”

“Apa? Enak saja kamu bicara. Bayi ini tak berdosa, mengapa harus dilenyapkan? Apa kamu tidak merasa bahwa kamu membuat dosa yang bertumpuk-tumpuk? Kamu melakukan hal yang tidak benar, lalu kamu ingin melenyapkan nyawa bayi yang tidak berdosa?”

“Aku beri kamu uang. Berapa kamu mau. Hapus semuanya dan tak pernah terjadi apa-apa diantara kita.”

“Tidak, aku tidak mau.”

“Limaratus juta?”

“Tidak dan tidak. Biar aku miskin tapi aku tidak doyan uang suap. Aku hanya minta kamu bertanggung jawab.”

“Mengapa kamu mempersulit keadaan? Bukankah dengan uang itu kamu bisa berbuat apa saja?”

”Aku perempuan rendahan, dan apa yang akan kamu lakukan adalah lebih rendah lagi. Pokoknya aku tidak mau.”

“Bagaimana kalau aku menolak?”

“Menolak apa? Menolak bertanggung jawab? Tidak apa-apa, akan aku laporkan kamu ke polisi.”

Bowo sangat terkejut. Ia tak mengira, Endang yang tadinya tak banyak bicara bisa bersikap setegas itu. Limaratus juta bukan uang yang sedikit. Ia akan menguras sebagian besar hartanya dengan memberikan uang itu, tapi Endang menolaknya?

“Karena kamu tergila-gila padaku sehingga kamu memilih menjadi istriku? Mimpilah saja, aku tidak cinta pada kamu.”

“Baiklah, tidak cinta, tapi jangan menuduh aku tergila-gila. Aku benci kamu karena kamu laki-laki bejat yang tidak mau bertanggung jawab.”

“Kalau benci, jauhi aku, aku beri kamu uang.”

“Tidak. Aku tidak mau uang kamu, aku hanya ingin kamu bertanggung jawab, bukan karena aku tergila-gila. Aku ingin anakku punya ayah. Hanya itu.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau? Ada gadis lain yang aku cintai dan akan aku jadikan istri aku.”

“Terserah kamu cinta sama siapa, aku hanya minta kamu menikahi aku.”

Bowo terdiam. Tampaknya tak bisa meluluhkan hati Endang. Ancamannya teramat berat. Lapor polisi, lalu dirinya akan dikenal di mana-mana sebagai laki-laki tak bertanggung jawab. Lalu nenek Suli yang sudah berhasil ditaklukkan hatinya akan mendengar, lalu Sarah yang dirasa akan bersikap lebih baik padanya juga akan mendengar, lalu semua mimpinya akan hancur.

“Cepat katakan, memilih bertanggung jawab atau ditangkap polisi.”

“Tenang dulu Endang, ini bukan masalah sepele, aku harus memikirkannya.”

“Memikirkan apanya? Hanya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil. Aku tunggu sampai kamu menjatuhkan pilihan kamu. Apa boleh buat."

“Baiklah, aku akan menikahi kamu, tapi tidak sekarang.”

“Lalu kapan? Kalau bayi ini sudah lahir?”

“Aku kan harus berpikir.”

“Hanya dua pilihan, begitu beratkah memilih? Ada yang menunggu aku di sana. Begitu aku telpon dia, maka dia akan datang.”

“Siapa?”

“Seseorang. Ia bisa menjadi saksi kesanggupan kamu atau menjadi orang yang akan menyeret kamu ke kantor polisi.”

“Baiklah … baiklah, aku akan menikahi kamu,” jawab Bowo kesal.

“Bukan hanya dengan kata-kata. Buat surat pernyataan bahwa kamu secepatnya menikahi aku. Buat suratnya dan aku akan memanggil saksinya.”

***

Bu Lurah seperti orang kebakaran jenggot. Mau tak mau Bowo harus menikahi Endang seperti janjinya, kalau tidak ingin berurusan dengan yang berwajib.

Pagi hari itu entah mengapa, Bowo pergi ke rumah nenek Suli.

Nenek Suli sedang sendirian, pastinya, karena sang nenek memaksa Sarah pergi ke sekolah, setelah ia merasa baik-baik saja.

“Nenek?” sapa Bowo yang langsung masuk ke dalam rumah.

“Mau apa kamu datang kemari lagi? Kamu sudah aku maafkan, tapi jadilah orang baik.”

Bowo duduk di depan nenek Suli setelah mencium tangannya lama sekali.

“Ada apa kamu ini? Dengar ya, aku tegaskan bahwa aku tidak suka kamu mendekati Sarah, apalagi berharap menjadikannya istri. Aku tidak suka berbesan dengan ibumu, biarpun kamu tidak suka pada sikap ibu kamu.”

Bowo menghela napas panjang. Wajahnya tampak murung. Tentu saja ia tak akan lagi berharap pada Sarah karena Endang sudah memaksanya agar dia segera menikah dengannya.

Nenek Suli melihat wajah penuh duka itu, dan kemudian menepuk tangannya.

“Masih banyak gadis lain yang bisa kamu nikahi, yang sederajat, yang tidak akan mengecewakan ibu kamu,”

Bowo menitikkan air mata.

“Saya mengunduh apa yang pernah saya perbuat Nek. Saya tak mungkin bisa meraih apa yang menjadi keinginan saya. Saya sedih bukan karena Nenek menolak saya. Saya sedih karena saya harus menjalani sesuatu yang sama sekali tidak saya inginkan. Nenek, apakah saya tidak bisa mengecap kebahagiaan lagi setelah ini?”

“Kamu ini bicara apa aku sama sekali tidak mengerti.”

Tiba-tiba Bowo merasa bahwa di depan nenek Suli ia bisa berkeluh. Bukan kepada ibunya yang selalu menyalahkannya.

“Bolehkah saya mengatakan apa yang terjadi pada diri saya, Nek?”

“Kamu tampak dirundung duka. Katakan saja apa yang membebani pikiran kamu. Aku akan mendengarkan.”

Tiba-tiba Bowo merosot dari kursi yang didudukinya, lalu meletakkan kepalanya dipangkuan nenek Suli..

***

Besok lagi ya.

 

Monday, October 19, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 35

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  35

(Tien Kumalasari)  

 

Pria di depannya adalah Bowo. Ia membungkukkan wajahnya, seperti sedang menghormati orang yang berdiri di depannya.

“Nenek, selamat sore.” katanya dengan masih menunduk.

“Mau apa kamu datang kemari? Ini rumah orang miskin. Apa kamu tidak takut ketularan miskin?”

“Nenek, mohon jangan marah. Saya datang dengan maksud baik. Kalau Nenek marah, nanti ….”

“Nanti apa? Aku sakit lagi, lalu mati?”

“Nenek, saya hanya berharap Nenek benar-benar sehat. Saya akan bersimpuh di depan Nenek agar Nenek memaafkan saya,” kata Bowo yang kemudian menjatuhkan tubuhnya dan berlutut didepan nenek Suli, membuat nenek Suli kemudian kebingungan.

“Eeh … eh … apa maksudmu?”

“Ini saya lakukan agar Nenek mamaafkan saya, terimalah permintaan maaf saya, Nenek yang baik.”

Bowo masih tetap berlutut.

“Berdiri kamu. Berdiri. Orang kaya berlutut di depan orang miskin. Kamu ingin membuat aku kualat?”

“Nenek jangan begitu. Saya tidak pernah membedakan antara yang kaya dan yang miskin. Kalau saya peduli pada kaya dan miskin, saya tak mungkin jatuh cinta pada Sarah.”

“Masih berani bilang jatuh cinta pada cucuku?”

“Saya sungguh-sungguh mencintai Sarah. Saya tidak peduli Sarah anak siapa atau cucu siapa. Nenek, maafkan saya, kalau di waktu-waktu yang lalu saya menyakiti hati Sarah.”

“Kamu lupa? Ibu kamu menghina aku?”

“Tapi saya tidak Nek. Maafkan ibu saya. Dia khilaf. Saya tidak menyukai sikap ibu saya juga. Mohon jangan samakan saya dengan ibu saya.”

“Kamu itu anaknya, dan kamu tidak bisa melompati tatanan yang sudah digariskan oleh dia, nyonya kaya yang sombong itu.”

“Nenek, mohon jangan sebut-sebut itu lagi.”

“Berdiri!”

Bowo berdiri, lalu meraih tangan nenek Suli dan diciumnya bertubi-tubi.

“Maafkan saya ya Nek, maaf ya Nek ….”

“Sudah, diam.”

“Nenek mau memaafkan saya bukan?”

Nenek Suli memang berhati keras. Tapi ia bukan keras kepala. Ia memiliki hati yang lembut, dan tak sulit baginya untuk memberi maaf. Ia juga penuh rasa welas asih. Kebencian yang memenuhi hatinya luluh oleh sikap Bowo yang seperti merintih-rintih mohon belas kasihannya agar dia memberinya maaf. Tapi tiba-tiba kepala nenek Suli terasa berat dan pusing. Ia membalikkan tubuhnya dengan terhuyung, bermaksud menuju ke arah kursi kayu di mana ia biasa duduk. Bowo yang mengikuti dibelakangnya tanpa dipersilakan, melihat gelagat itu. Ia segera menangkap tubuh nenek Suli lalu dibantunya duduk di kursi.

Nenek Suli menyandarkan kepalanya.

“Nek, Nenek kenapa?”

“Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing.”

Bowo mengambil ponselnya dan menelpon dokter Harun. Ia memintanya datang ke rumah nenek Suli.

Lalu ia kembali mendekati nenek Suli. Duduk di dekatnya.

“Pusing Nek? Boleh saya pijit kepalanya? Saya baru memanggil dokter.”

“Apa maksudmu? Mengapa memanggil dokter?”

“Jangan khawatir Nek, ini dokter Harun, yang menangani Nenek waktu di rumah sakit itu.”

“Apa? Bagaimana kamu tahu?”

Tiba-tiba Sarah muncul.

“Lhoh, Nenek kenapa? Kamu apakan nenekku Bowo?” sontak Sarah menatap Bowo curiga.

“Nenek tiba-tiba pusing.”

“Nek, kenapa Nek? Bowo, ini pasti gara-gara kamu datang. Nenek tidak suka sama kamu, ini membuat nenek sakit,” kata Sarah sedikit marah.

“Tidak, sudah … jangan marah-marah. Dia tidak apa-apa,” kata Nenek menyela.

Sarah heran. Nenek tidak marah pada Bowo? Apa Bowo datang dengan guna-guna?

“Aku sudah meminta om Harun untuk datang kemari.”

Sarah mendekati sang nenek dan memegangi tangannya, dahinya, lalu memijit kepalanya. Ia menatap Bowo yang mondar mandir ke depan.

“Nenek tidak memarahi dia?” bisiknya di telinga sang nenek.

“Sudah marah, tapi marahku sudah habis," kata nenek Suli pelan.

“Sekarang rasanya bagaimana?”

“Tiba-tiba pusing, tapi mengapa dia memanggil dokter segala? Apa kita masih punya uang untuk membayar?”

“Nek, dokter Harun sudah datang.” kata Bowo tiba-tiba.

Sarah berdiri menyambut.

“Dokter. Mohon maaf.”

“Tidak apa-apa, Bowo memintaku datang, katanya nenek Suli tiba-tiba pusing. Jangan-jangan karena kedatangan Bowo, lalu nenek Suli marah,” kata dokter Harun sambil mendekati nenek Suli. 

Lalu Sarah menarik kursi agar dokter Harun bisa duduk di samping neneknya, sehingga memudahkan sang dokter untuk memeriksanya.

“Tadi Nenek marah-marah ya?” kata dokter Harun setelah memeriksa tensi nenek Suli.

Bowo berdiri tak jauh, dan menundukkan kepalanya. Sedikit banyak dia juga merasa, bahwa nenek Suli tiba-tiba pusing karena memarahinya.

“Tuh, tensinya agak tinggi. Tadi sudah minum obat?”

“Yang untuk malam belum dokter, baru mau saya siapkan."

“Tidak apa-apa, diminum saja seperti biasa, lalu Nenek harus segera tidur.”

Dokter Harun mengambil ampul dari dalam tasnya, kemudian menyuntik nenek Suli.

“Jangan khawatir, Nenek baik-baik saja. Segera minum obatnya, dan biarkan Nenek beristirahat."

Sarah mengangguk. Ketika ia beranjak ke belakang, dokter Harun bersiap mau pulang.

“Saya buatkan minum dulu, Dokter.”

“Tidak usah, ada pasien di rumah. Jaga Nenek baik-baik, banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran, apalagi marah-marah.”

Sarah mengantarkan dokter Harun ke depan, nenek Suli beranjak ke kamarnya.

“Tunggu dulu, saya ambil uangnya.”

“Tidak Nek, tidak usah. Ini pelayanan gratis untuk pasien saya yang baru pulang dari rawat inap.”

Nenek Suli tertegun. Kepalanya masih berdenyut.

“Sarah, bantu Nenek ke kamar, biar dia istirahat.”

Sarah menghampiri sang nenek dan menuntunnya ke dalam kamar.

Bowo mengantarkan dokter Harun, dan dokter Harun masih sempat menegurnya.

“Karena kamu kan? Bukankah kamu tahu kalau nenek Suli tidak suka kamu?”

“Saya memang datang untuk meminta maaf. Saya sampai berlutut di depannya, dan nenek Suli kelihatan sudah reda marahnya. Hanya saja dia tiba-tiba merasa pusing, saya ketakutan dan sadar bahwa itu karena saya. Itu sebabnya saya menelpon om Harun."

“Menurut aku, kamu tidak usah melanjutkan kemauan kamu untuk terus berharap mendapatkan Sarah.”

“Bukankah cinta harus diperjuangkan?”

“Omong kosong itu. Hambatannya sangat berat. Ibumu tak akan mau mengalah,” katanya sambil masuk ke dalam mobilnya.

Bowo menghela napas panjang. Ada sedih yang menyayat. Tapi kemudian dia kembali memasuki rumah nenek Suli. Harapan tak boleh putus.

Sarah baru keluar dari kamar Nenek.

“Bagaimana Nenek?”

“Baru saja minum obatnya. Kamu tidak usah menemui lagi, tampaknya Nenek sangat mengantuk.”

“Baiklah, aku mengerti. Aku tadi memang nekat datang untuk menemui nenek Suli, untuk meminta maaf. Dan tampaknya Nenek memaafkan aku,” kata Bowo.

“Syukurlah kalau begitu.”

“Aku minta kamu juga jangan membenci aku. Aku menyadari semua kesalahanku, aku janji tak akan membuat kesalahan lagi.”

Sarah hanya mengangguk.

“Aku pulang dulu, aku janji akan menjaga Nenek untuk sering menjenguknya. Aku yakin nenek tak akan memarahiku lagi.”

“Terima kasih, Bowo.”

Ketika Bowo pergi, Sarah baru menyadari bahwa di pintu ada sebuah bungkusan yang berisi makanan. Ada roti kaleng dan roti basah, ada buah-buah segar.

Sarah mengejar Bowo.

“Ini punya siapa?”

“Oh iya, lupa ngomong. Itu untuk Nenek.”

Sarah menghela napas panjang. Ada sedikit rasa lega karena Nenek tidak lagi tampak marah pada Bowo. Dan itu bagus, karena Nenek kan dilarang marah-marah?

***

Ketika Bowo sampai di rumahnya, ia melihat sang ibu duduk di teras.  Melihat kedatangannya, bu Lurah langsung menyemprotnya.

“Kamu dari mana?”

“Dari rumah nenek Suli," jawabnya berterus terang.

“Apa maksudmu pergi ke sana?”

“Bowo tidak ingin nenek Suli membenci Bowo gara-gara Ibu terus menghinanya, jadi aku datang untuk meminta maaf.”

“Memalukan sekali. Kamu … meminta maaf kepada keluarga miskin itu?”

“Ibu jangan selalu menghinanya. Biar miskin tapi hati mereka baik.”

“Kamu tetap akan berharap bisa diterima dengan permintaan maafmu itu? Jangan mimpi. Kamu tahu mengapa ibumu datang kemari? Di rumah Ibu ada seorang wanita sedang mencari kamu, sebel Ibu melihatnya.”

“Wanita siapa?”

“Namanya Endang. Katanya dia mau minta tanggung jawabmu.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 38

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  38 (Tien Kumalasari)   Bowo turun dari dalam mobilnya, mobil yang diparkir berhadapan dengannya sudah kosong, b...