DARAH CINTA DAN AIR MATA 30
(Tien Kumalasari)
Fajar dan Bowo berdiri berhadapan, mata mereka saling menatap tajam, bukan tatapan ramah tamah, tapi tatapan saling menantang. Sarah menjadi serba salah, tak tahu harus berbuat apa.
“Saya akan mengantarkan Sarah, kalau kelamaan nanti terlambat,” kata Bowo dingin.
“Saya kemari karena ingin menjemput Sarah, neneknya pasti sudah bisa ditinggal setelah ada di rumah.”
“Saya yang menjemput neneknya pulang.”
“Saya menjemput Sarah untuk mengantarkannya ke sekolah.”
“Eh, tunggu … tunggu … aku mau berangkat dan jalan kaki, tidak perlu dijemput mobil siapapun,” kata Sarah kemudian langsung melangkah menjauhi mereka.
“Sarah, tunggu aku.”
“Sarah akan berangkat bersama aku.”
Wajah keduanya tegang, sementara Sarah sudah menjauh., bergegas, setengah berlari. Bowo yang merasa kesal karena dihalangi kemudian mengayunkan tangannya kearah wajah Fajar. Fajar yang tidak mengira kemudian terhuyung ke belakang. Ia hampir roboh, ketika seorang laki-laki setengah tua menangkap tubuh Fajar yang hampir terjatuh.
“Hei, kalian anak-anak yang sudah dewasa, mengapa berantem pagi-pagi?”
“Biar saya membalasnya,” geram Fajar sambil beranjak maju.
Tapi Bowo yang sudah bersiap-siap dengan sigap menghindar.
“Hei, tunggu. Berhentii," teriak pak tua itu.
Tapi keduanya tak mau mengalah. Namun tiba-tiba seorang pengendara mobil berhenti, dan seorang wanita turun dari mobil itu.
“Bowo! Apa yang kamu lakukan?” teriaknya.
Bowo terkejut, dan karena lengah, sebuah pukulan menghantam pelipis kirinya, membuatnya terpelanting.
“Eeh, apa-apaan kamu? Main pukul sembarangan!” teriak wanita yang adalah bu Lurah.
“Dia yang mulai.”
Bowo ingin membalas, tapi sang ibu menarik tangannya.
“Berhenti! Ayo pulang!”
Terengah karena marah, Bowo terpaksa mengikuti perintah sang ibu.
Melihat ‘musuhnya’ memasuki mobilnya, Fajar tak melanjutkan keinginannya menghajar kembali. Iapun masuk ke mobilnya, dan memutarnya untuk mengejar ke mana Sarah pergi.
Bowo ingin melakukan hal yang sama, tapi ada sang ibu yang memerintahkannya agar dia kembali pulang.
Sementara itu, pak tua yang tadi menangkap tubuh Fajar melongo. Ia tidak lupa, yang ditolongnya adalah anak muda yang dulu membawanya ke rumah sakit ketika ia kecelakaan.
“Naaaak! Naaaak!”
Tapi Fajar tak mendengarnya, dan juga tak memperhatikan siapa yang membantunya sehingga tadi dia urung terjatuh. Yang dipikirkannya adalah mengejar Sarah yang bergegas meninggalkan ketika ia dan Bowo bertarung.
“Iyaa, benar dia. Aku tidak lupa wajahnya. Ia tampan, mengendarai mobil bagus. Waktu itu bersama sopirnya. Ya ampuun, mengapa tadi dia tidak melihat aku, ada apa mereka bertengkar ya?” gumam pak tua yang ternyata pak Karimun yang sedang mencari kerja.
“Kok tidak melihat ke arahku, padahal aku merangkul tubuhnya ketika mau jatuh. Itu dia, namanya aku lupa. Tapi kok wajahnya sama dengan anak bu Saptari ya?”
Pak Karimun duduk di bawah sebuah pohon. Hari masih pagi. Sejak bangun tadi dia sudah pergi untuk mencari kerja. Entah apa saja. Dulu dia sering disuruh bersih-bersih kebun atau apa saja, ketika ia menawarkan jasa tenaganya. Tapi sepanjang dia keluar dari rumah sewanya yang baru, dan berjalan lumayan jauh, pekerjaan itu belum didapatkannya.
***
Sarah mengusap peluhnya. Ia terus berjalan cepat. Sekolahnya tak jauh lagi. Tapi ketika ia akan menyeberang, sebuah mobil berhenti di dekatnya.
Sarah terkejut.
“Sarah, ayo masuk,” katanya sambil membuka pintu dari dalam.
“Mas Fajar?”
“Ayo masuklah. Nanti kamu terlambat.”
Sarah menoleh ke arah belakang. Apakah mobil Bowo ada di belakang? Tapi ia tak melihat bayangan mobil itu.
“Sarah, ayo. Kamu berharap diantar olehnya? Dia sudah dipaksa pulang oleh ibunya.”
Sarah merasa lega, jadi Bowo sudah tidak ada. Kalau masih ada, dia tetap akan memilih berjalan, tidak mengikuti salah satu diantaranya.
“Cepat masuk.”
Sarah terpaksa masuk. Ia melihat kening Fajar tampak membiru.
“Dia memukul Mas?” tanya Sarah ketika mobil sudah berjalan. Ia melihat kening Fajar.
“Aku juga sudah membalasnya.”
”Ya ampuun, seperti anak kecil saja.”
“Dia yang mulai memukul aku. Aku tidak menduga, hampir terjatuh kalau tubuhku tidak ditangkap seseorang. Ah, ya … mana dia? Aku kok tidak memperhatikannya tadi?”
"Siapa?”
“Seorang laki-laki. Mungkin hanya orang lewat, seperti berusaha melerai tadi. Tapi ya ampun, aku malah lupa mengucapkan terima kasih.”
“Siapa? Mas kenal?”
“Tidak, hanya orang lewat. Semoga aku bertemu lagi pada suatu hari untuk mengucapkan terima kasih. Tapi wajahnya aku juga kurang perhatian.”
“Gara-gara memilih berantem,” gumam Sarah.
“Dia yang mulai. Masa aku harus diam saja?”
Mobil itu sudah berhenti di depan sekolah, dan tiba-tiba dari arah depan Mentari masuk ke halaman dengan sepeda motornya.
“Sarah? Mas Fajar menjemput kamu?”
Mentari menghentikan sepeda motornya di samping Sarah.
“Ayo bonceng sini, daripada jalan.”
Sarah menurut, walau sudah sampai di halaman. Mentari memboncengkannya ke arah parkiran.
“Setia banget mas Fajar ya, dibela-belain berangkat pagi-pagi gara-gara mau menjemput kamu,” kata Mentari yang kemudian berjalan ke arah kelas bersama Sarah.
“Bukan aku yang minta. Nanti aku ceritakan tentang sesuatu,” kata Sarah.
***
Di rumahnya, Bowo dimarahi sang ibu habis-habisan. Pasti bu Lurah tahu penyebabnya karena kejadian pertengkaran itu di dekat rumah Sarah, jadi pasti karena Sarah.
“Lihat wajahmu itu Bowo, sampai matang biru begitu. Itu karena Sarah bukan? Sarah cucu nenek miskin itu kan?”
Bowo menundukkan wajahnya. Kekesalannya kepada Fajar belum juga terobati, ditambah kemarahan ibunya yang meluap-luap. Ia sudah tidak mau datang ke rumah ibunya, malah ibunya mengikuti ke rumahnya, hanya untuk memarahinya.
“Kamu itu ya, sangat tidak tahu malu. Sudah ditolak masih saja mengejar-ngejar dia. Kalau yang menolak itu orang terpandang, lebih kaya dari kamu, masih bisa diterima. Tapi yang terjadi adalah kamu ditolak orang miskin yang sama sekali tidak sederajat dengan kita. Ibu ini sakit hati, tahu. Masa orang seperti nenek Suli menolak lamaran kamu. Pikir, Bowo … pikir.”
“Ibu selalu menghina orang miskin, itu sebabnya nenek Suli juga membenci Bowo. Menurutnya, Ibu itu terlalu sombong.”
“Siapa yang sombong, aku tidak usah menyombongkan diri saja sudah pada tahu kalau aku ini dari keluarga kaya dan terpandang.”
“Tapi Ibu menghina dia terus-terusan.”
“Diam kamu, pokoknya Ibu larang kamu mendekati dia lagi.”
***
Pak Karimun sudah berjalan ke sana kemari untuk mencari kerja, tapi hari itu benar-benar sial. Istrinya sudah mendapat pekerjaan di warung bu Saptari, harusnya dia juga harus mencari pekerjaan. Tapi sejak pagi dia belum mendapatkannya.
Ia masih duduk di bawah pohon dipinggir jalan, memikirkan pekerjaan yang belum didapatnya. Tapi tiba-tiba matanya melihat sesuatu. Sebuah dompet? Pak Karimun bangkit, mendekati benda yang terjatuh itu. Memang benar, sebuah dompet. Pasti milik pengendara mobil tadi.
“Dia, anak muda yang menolongku itu bukan? Apa aku salah lagi? Anak bu Saptari sudah aku kira anak muda yang menolongku itu, dan sekarang ada lagi wajah yang seperti itu, apa aku salah lagi? Mengapa banyak sekali wajah mirip penolongku?”
Pak Karimun membuka dompet itu, hanya berisi kartu-kartu yang entah apa pak Karimun tidak mengerti. Tapi dia tahu tentang sebuah kartu penduduk.
“Ini pasti barang berharga semua, dan kebetulan ada alamatnya. Sebaiknya aku antarkan saja ke alamat yang ada di kartu penduduk ini.
Pak Karimun memasukkan dompet kecil itu ke dalam sakunya, dan mencari alamat yang tertera di situ.
***
Besok lagi ya.