Wednesday, October 21, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  37

(Tien Kumalasari)

 

Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta agar Sarah diijinkan diambilnya sebagai istri.

“Bowo, dengar, jodoh itu Gusti Allah yang menentukan. Jangan memaksakan kehendak. Sarah masih sekolah dan jauh dari pemikiran untuk menjadi istri.”

“Bukan itu Nek, Saya sudah mengatakannya, bukan tentang Sarah.”

“Baiklah, ceritakan. Kamu tampak sangat kusut.”

“Saya menemukan ketenangan ketika bersama Nenek. Sungguh. Saya tidak suka keluarga saya, apalagi ibu saya yang terlalu menekan saya dan memaksakan kehendak. Ijinkan saya berkeluh pada Nenek.”

“Baiklah. Bukankah sejak tadi aku sudah mengatakan bahwa kamu boleh mengatakan apa yang ingin kamu katakan?”

Bowo mengangkat wajahnya, lalu mengusap air matanya. Tapi ia masih ngelesot didepan nenek Suli.

“Bangkitlah, duduk yang baik.”

“Biarlah saya dekat dengan Nenek. Akan saya ceritakan semuanya tentang saya, keburukan-keburukan saya dan nasib sial yang kemudian menimpa saya.”

Tak urung runtuh belas kasihan nenek Suli melihat wajah Bowo yang begitu memelas.

”Ceritakanlah, anak muda," katanya sambil menyentuh bahu Bowo.

Lalu Bowo menceritakan semuanya, tentang sepak terjangnya, karena merasa wajahnya tampan dan uangnya yang banyak, lalu dia mempermainkan banyak wanita. Tapi sesungguhnya dia sudah berhenti, ketika melihat Sarah, ketika melihat kebaikannya dan perjuangannya. Dari yang tadinya ingin memaksa Sarah dengan tindakan yang arogan, kemudian runtuh penyesalah di hatinya, lalu bersikap sangat baik, berharap Sarah mau berpaling pada dirinya.

Ia bahkan menceritakan ketika Nenek jatuh sakit lalu memanggil dokter Harun dan mengantarkannya ke rumah sakit. Dan itu membuat nenek Suli terkejut.

“Jadi itu kamu?”

“Saya masih bersembunyi karena takut Nenek tidak mau ke rumah sakit kalau saya yang mengantar.”

“Apa kamu yang membayar semua biaya ketika saya dirawat?”

“Tidak. Eh, iya … tadinya, tapi Sarah mengembalikan semua uang saya, entah siapa yang kemudian memberinya uang.”

“Sarah tidak mau mengatakannya.”

"Cerita saya masih berlanjut Nek.”

“Baiklah.”

Lalu Bowo mengatakan tentang kedatangan Endang yang tiba-tiba, lalu memaksanya menikahinya. Dan Bowo kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan nenek Suli.

“Jadi itu yang membuat kamu sedih?”

“Nenek, ini adalah hukuman untuk saya. Saya tak berdaya dan harus memenuhi keinginannya.”

“Bukan memenuhi keinginannya Bowo, tapi memenuhi rasa tanggung jawab kamu karena kamu telah melakukan sesuatu yang seharusnya kamu pertanggung jawabkan. Mengapa kamu sedih?”

“Saya tidak mencintai Endang.”

“Kamu ini laki-laki macam apa? Kamu telah menodainya lalu kamu ingkar karena kamu tidak mencintainya? Alangkah buruknya sikapmu ini. Buruk dan tidak menunjukkan bahwa kamu adalah ksatria sejati,” tegur nenek Suli dengan wajah muram.

“Nenek ….”

“Kamu sudah berusaha memperbaiki kelakuan kamu yang tidak terpuji. Itu bagus, tapi ada sebuah tanggung jawab yang menunggu penanganan kamu, yaitu menikahinya. Mengapa kamu sedih? Menangis? Apa tidak kamu bayangkan bagaimana gadis bernama Endang itu membawa perut gendutnya ke mana-mana sedangkan laki-laki yang berbuat tidak mau bertanggung jawab? Alangkah terlukanya setelah kamu renggut kesuciannya kemudian kamu tinggalkan dengan dalih kamu tidak cinta. Kamu ini laki-laki kejam, Bowo.”

“Saya sudah bersedia menyanggupinya Nek.”

“Tapi tidak sepenuh hati kan? Nyatanya kamu nangis-nangis di sini, berkeluh tentang tidak adanya cinta di hati kamu terhadap gadis itu. Kok enak sebagai laki-laki. Kamu nikmati tubuhnya lalu berat bertanggung jawab karena tidak cinta.”

Bowo terdiam, ia mengangkat wajahnya dan mengusap sisa air matanya.

“Nenek jangan memarahi saya. Di rumah saya sudah habis diomelin ibu saya, saya hancur kalau Nenek juga memarahi saya. Hanya kepada Nenek saya berkeluh.”

“Apakah gadis itu dari kalangan orang biasa? Bukan anak orang kaya seperti idam-idaman ibu kamu?”

“Dia hanya pegawai toko.”

“Jadi kemarahan ibumu itu aku yakin pasti berbeda dengan kemarahan Nenek. Ibumu marah karena gadis itu bukan kalangan sederajat dengan keluarga kamu. Ya kan? Tapi Nenek marah karena kamu menyesali kesanggupan kamu untuk menikahi gadis itu. Apa kamu mengerti bedanya? Mana yang benar menurut kamu? Kemarahan ibu kamu atau kemarahan nenek Suli?”

Bowo terdiam.

“Duduklah yang baik, jangan ngelesot begini. Lalu renungkanlah apa yang Nenek katakan. Tapi semua itu terserah kamu. Apa kamu akan hidup dalam penyesalan, atau kamu akan hidup dalam rasa tanggung jawab kamu sebagai laki-laki... Nenek buatkan minum untuk kamu?”

“Tidak Nek, jangan. Tidak usah,” katanya sambil mengangkat tubuhnya dan duduk di kursi di depan nenek Suli.

“Baiklah. Sekarang renungkan dengan hati tenang, jangan menyesal karena sanggup menikahi, tapi menyesallah karena kamu telah melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Dan yang kamu hadapi sekarang ini, adalah penebusan dosa kamu, ingat itu. Ini juga sebuah peringatan agar kamu tidak mengulanginya.”

***

Bowo pulang dari rumah nenek Suli dengan hati yang lebih ringan. Ia menyadari semua kesalahannya. Ia tahu bahwa Endang membutuhkannya, bukan karena Endang sangat mencintainya dan berharap bisa menjadi istrinya, tapi ada segumpal nyawa di dalam rahimnya yang membutuhkan pengakuan seorang ayah.

Ia berjanji bahwa minggu depan ia akan menikahi Endang, yang semula dilakukannya dengan sangat terpaksa, tapi sekarang ia akan melakukannya dengan penuh keikhlasan. Didalam perut Endang ada darah dagingnya, yang tiba-tiba menggelitik hatinya untuk menyayanginya.

Tapi sesampai di rumah, sang ibu sudah menunggu. Bowo menghempaskan napas kesal. Pasti akan terjadi keributan, pasti ada yang tidak benar dengan keputusannya.

Bowo turun dari mobil, belum sampai dia naik ke teras, sang ibu sudah menyemprotnya. 

"Apa yang akan kamu lakukan? Orang tua perempuan itu tadi kemari minta surat-surat yang entah aku tidak mau mendengarnya.”

“Mana dia?”

“Sudah aku usir.”

“Mengapa Ibu mengusirnya? Dia akan mengurus surat-surat untuk pernikahan.”

“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Mengapa kamu jadi menikahinya? Aku melihat ayahnya tadi, badannya bau, bajunya kusut. Hiih, dia akan menjadi besanku?”

“Bu, aku tidak bisa ingkar. Bayi yang dikandung Endang adalah darah dagingku.”

“Kamu kan bisa membayarnya?”

“Dia tidak mau. Kalau aku menolak, aku akan dilaporkannya ke polisi. Ibu kan sudah tahu karena aku sudah mengatakannya?”

“Ya sudah, terserah kamu, Ibu nggak ikutan. Dan jangan harap Ibu merestui pernikahan itu,” kata bu Lurah yang langsung berdiri dan pergi.

Bowo menghela napas lega, setidaknya tidak mendengar sang ibu mengomelinya lagi. Ia segera masuk ke dalam rumah, menyiapkan surat-surat yang pastinya dibutuhkan orang tua Endang.

***

Sarah pulang dari sekolah, dan bersyukur nenek Suli kelihatan baik-baik saja. Tapi Sarah heran ketika neneknya bercerita tentang Bowo.

“Jadi Bowo akan menikah?”

“Katanya minggu depan.”

“Aku tahu Endang. Dulu bersekolah di sekolah Sarah, setahun di atas Sarah. Orang tuanya menjadi sopir di sebuah perusahaan, entah perusahaan apa. Apa bu Lurah mau menerimanya?”

“Menurut Bowo, ibunya menentangnya. Tapi Bowo harus tetap menikahinya.”

“Syukurlah, semoga dia menjadi laki-laki baik yang bertanggung jawab.”

”Banyak sekali tadi Nenek bicara sama dia, semoga dia mau mendengarnya, dan kemudian menikahi Endang dengan ikhlas serta penuh rasa tanggung jawab."

“Oh iya, besok Nenek kontrol kan, Sarah akan minta ijin pulang lebih awal agar bisa mengantarkan Nenek.”

“Tidak, tadi Bowo mengatakan akan mengantarkan Nenek, jadi kamu sekolah saja seperti biasa.”

“Benarkah?”

“Tadi sebelum pulang dia mengatakannya.”

“Kok dia tahu kalau Nenek harus kontrol besok?”

“Dokter Harun kan pamannya.”

“Oh, iya, Sarah lupa.”

***

Tapi ketika esok harinya Bowo datang ke rumah nenek Suli, ia melihat ada mobil yang sudah terparkir di jalan depan rumah nenek Suli. Mobil yang dikenalnya. Apakah kali ini ia akan bersaing untuk berebut mengantar nenek Suli? Rasa kesal mulai menyulut hatinya.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, October 20, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 36

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  36

(Tien Kumalasari)

 

Bowo menatap sang ibu tak berkedip. Seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

“Apa kamu? Mengapa menatap ibumu seperti itu? Kamu kira ibumu ini bohong? Ayo pulang ke rumah. Perempuan tak tahu malu itu masih menunggu di sana, aku jijik melihatnya. Tampaknya dia juga orang kebanyakan. Kemana hatimu Bowo? Kemana akal warasmu?”

“Tidak, tidak mungkin ….”

“Apa yang tidak mungkin? Dia hamil dan datang mencari kamu. Dia tak mau pergi sebelum ketemu kamu dan mendengar kesanggupan kamu untuk menikahinya. Aku tidak sudi.”

“Dia masih menunggu?”

“Harus berapa kali Ibu bilang Bowo? Dia masih di sana, di rumah ibumu ini. Bikin malu saja.”

“Tapi ….”

“Tidak ada tapi, ayo pulang dan selesaikan semuanya. Kalau perlu beri dia uang untuk menggugurkan kandungannya.”

“Tapi ….”

“Jangan topa tapi terus, segera pulang dan selesaikan semuanya.”

Bu Lurah berdiri, lalu menarik lengan anaknya.

Mau tak mau Bowo mengikutinya. Ibunya membawa mobil,  ia ingin membawa mobilnya sendiri. Tapi sang ibu menolaknya.

“Masuk ke mobilku, nanti kamu kabur kalau bawa mobil kamu sendiri,” katanya tanpa melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Bowo.

***

Bowo tertunduk lesu. Endang adalah gadis anak seorang pelayan toko yang bekerja di sebelah pabrik berasnya. Gadis itu cantik, dan Bowo pernah menyukainya. Tapi ia hamil? Tidak, Bowo hanya suka saat mereka bersenang-senang, tapi cinta? Tak ada. Ia harus membuat gadis itu enyah dari hadapannya.

Ketika sampai di kediaman bu Lurah, betul saja, Bowo melihat seorang perempuan duduk di kursi teras. Kepalanya menunduk, mengutak atik ponsel, lalu mendongak begitu melihat bu Lurah dan Bowo berjalan mendekat.

“Mas Bowo ….” perempuan itu lebih dulu menyapa, tapi Bowo menyambutnya dengan tanggapan sengit.

“Mau apa kamu datang kemari?”

“Duduklah dulu, biarkan aku bicara.”

“Selesaikan oleh kamu Bowo, aku tidak sudi berurusan dengan perempuan rendahan itu,” katanya sambil berlalu.

“Dari tadi Ibu menghina saya dengan mengatakan saya perempuan rendahan. Tapi anak Ibu itu melakukan hal yang lebih rendah karena pernah memperkosa saya dan sekarang membuat saya hamil,” sentak Endang tanpa takut sedikitpun.

Bu Lurah berhenti melangkah, menoleh ke arah Endang.

“Kamu berani menentang aku?”

“Saya berani karena saya benar. Biarpun saya perempuan rendahan seperti yang Ibu katakan, tapi saya menjadi korban atas perbuatan rendah putra Ibu.”

“Bowo, beri dia uang dan suruh pergi,” kata bu Lurah sambil melanjutkan langkahnya, lalu menutup pintu dengan keras.

“Endang, apa maksudmu?”

“Aku sudah mengatakannya. Dulu kamu memperkosa aku, sekarang saatnya bertanggung jawab.”

“Benar pada awalnya aku memaksa kamu tapi kemudian kamu suka kan?”

“Karena kamu berjanji akan bertanggung jawab. Sekarang mana, aku tagih tanggung jawab itu.”

“Endang, ini bukan masalah yang pantas dibuat ribut. Aku beri kamu uang, gugurkan kandungan itu, selesai.”

“Apa? Enak saja kamu bicara. Bayi ini tak berdosa, mengapa harus dilenyapkan? Apa kamu tidak merasa bahwa kamu membuat dosa yang bertumpuk-tumpuk? Kamu melakukan hal yang tidak benar, lalu kamu ingin melenyapkan nyawa bayi yang tidak berdosa?”

“Aku beri kamu uang. Berapa kamu mau. Hapus semuanya dan tak pernah terjadi apa-apa diantara kita.”

“Tidak, aku tidak mau.”

“Limaratus juta?”

“Tidak dan tidak. Biar aku miskin tapi aku tidak doyan uang suap. Aku hanya minta kamu bertanggung jawab.”

“Mengapa kamu mempersulit keadaan? Bukankah dengan uang itu kamu bisa berbuat apa saja?”

”Aku perempuan rendahan, dan apa yang akan kamu lakukan adalah lebih rendah lagi. Pokoknya aku tidak mau.”

“Bagaimana kalau aku menolak?”

“Menolak apa? Menolak bertanggung jawab? Tidak apa-apa, akan aku laporkan kamu ke polisi.”

Bowo sangat terkejut. Ia tak mengira, Endang yang tadinya tak banyak bicara bisa bersikap setegas itu. Limaratus juta bukan uang yang sedikit. Ia akan menguras sebagian besar hartanya dengan memberikan uang itu, tapi Endang menolaknya?

“Karena kamu tergila-gila padaku sehingga kamu memilih menjadi istriku? Mimpilah saja, aku tidak cinta pada kamu.”

“Baiklah, tidak cinta, tapi jangan menuduh aku tergila-gila. Aku benci kamu karena kamu laki-laki bejat yang tidak mau bertanggung jawab.”

“Kalau benci, jauhi aku, aku beri kamu uang.”

“Tidak. Aku tidak mau uang kamu, aku hanya ingin kamu bertanggung jawab, bukan karena aku tergila-gila. Aku ingin anakku punya ayah. Hanya itu.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau? Ada gadis lain yang aku cintai dan akan aku jadikan istri aku.”

“Terserah kamu cinta sama siapa, aku hanya minta kamu menikahi aku.”

Bowo terdiam. Tampaknya tak bisa meluluhkan hati Endang. Ancamannya teramat berat. Lapor polisi, lalu dirinya akan dikenal di mana-mana sebagai laki-laki tak bertanggung jawab. Lalu nenek Suli yang sudah berhasil ditaklukkan hatinya akan mendengar, lalu Sarah yang dirasa akan bersikap lebih baik padanya juga akan mendengar, lalu semua mimpinya akan hancur.

“Cepat katakan, memilih bertanggung jawab atau ditangkap polisi.”

“Tenang dulu Endang, ini bukan masalah sepele, aku harus memikirkannya.”

“Memikirkan apanya? Hanya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil. Aku tunggu sampai kamu menjatuhkan pilihan kamu. Apa boleh buat."

“Baiklah, aku akan menikahi kamu, tapi tidak sekarang.”

“Lalu kapan? Kalau bayi ini sudah lahir?”

“Aku kan harus berpikir.”

“Hanya dua pilihan, begitu beratkah memilih? Ada yang menunggu aku di sana. Begitu aku telpon dia, maka dia akan datang.”

“Siapa?”

“Seseorang. Ia bisa menjadi saksi kesanggupan kamu atau menjadi orang yang akan menyeret kamu ke kantor polisi.”

“Baiklah … baiklah, aku akan menikahi kamu,” jawab Bowo kesal.

“Bukan hanya dengan kata-kata. Buat surat pernyataan bahwa kamu secepatnya menikahi aku. Buat suratnya dan aku akan memanggil saksinya.”

***

Bu Lurah seperti orang kebakaran jenggot. Mau tak mau Bowo harus menikahi Endang seperti janjinya, kalau tidak ingin berurusan dengan yang berwajib.

Pagi hari itu entah mengapa, Bowo pergi ke rumah nenek Suli.

Nenek Suli sedang sendirian, pastinya, karena sang nenek memaksa Sarah pergi ke sekolah, setelah ia merasa baik-baik saja.

“Nenek?” sapa Bowo yang langsung masuk ke dalam rumah.

“Mau apa kamu datang kemari lagi? Kamu sudah aku maafkan, tapi jadilah orang baik.”

Bowo duduk di depan nenek Suli setelah mencium tangannya lama sekali.

“Ada apa kamu ini? Dengar ya, aku tegaskan bahwa aku tidak suka kamu mendekati Sarah, apalagi berharap menjadikannya istri. Aku tidak suka berbesan dengan ibumu, biarpun kamu tidak suka pada sikap ibu kamu.”

Bowo menghela napas panjang. Wajahnya tampak murung. Tentu saja ia tak akan lagi berharap pada Sarah karena Endang sudah memaksanya agar dia segera menikah dengannya.

Nenek Suli melihat wajah penuh duka itu, dan kemudian menepuk tangannya.

“Masih banyak gadis lain yang bisa kamu nikahi, yang sederajat, yang tidak akan mengecewakan ibu kamu,”

Bowo menitikkan air mata.

“Saya mengunduh apa yang pernah saya perbuat Nek. Saya tak mungkin bisa meraih apa yang menjadi keinginan saya. Saya sedih bukan karena Nenek menolak saya. Saya sedih karena saya harus menjalani sesuatu yang sama sekali tidak saya inginkan. Nenek, apakah saya tidak bisa mengecap kebahagiaan lagi setelah ini?”

“Kamu ini bicara apa aku sama sekali tidak mengerti.”

Tiba-tiba Bowo merasa bahwa di depan nenek Suli ia bisa berkeluh. Bukan kepada ibunya yang selalu menyalahkannya.

“Bolehkah saya mengatakan apa yang terjadi pada diri saya, Nek?”

“Kamu tampak dirundung duka. Katakan saja apa yang membebani pikiran kamu. Aku akan mendengarkan.”

Tiba-tiba Bowo merosot dari kursi yang didudukinya, lalu meletakkan kepalanya dipangkuan nenek Suli..

***

Besok lagi ya.

 

Monday, October 19, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 35

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  35

(Tien Kumalasari)  

 

Pria di depannya adalah Bowo. Ia membungkukkan wajahnya, seperti sedang menghormati orang yang berdiri di depannya.

“Nenek, selamat sore.” katanya dengan masih menunduk.

“Mau apa kamu datang kemari? Ini rumah orang miskin. Apa kamu tidak takut ketularan miskin?”

“Nenek, mohon jangan marah. Saya datang dengan maksud baik. Kalau Nenek marah, nanti ….”

“Nanti apa? Aku sakit lagi, lalu mati?”

“Nenek, saya hanya berharap Nenek benar-benar sehat. Saya akan bersimpuh di depan Nenek agar Nenek memaafkan saya,” kata Bowo yang kemudian menjatuhkan tubuhnya dan berlutut didepan nenek Suli, membuat nenek Suli kemudian kebingungan.

“Eeh … eh … apa maksudmu?”

“Ini saya lakukan agar Nenek mamaafkan saya, terimalah permintaan maaf saya, Nenek yang baik.”

Bowo masih tetap berlutut.

“Berdiri kamu. Berdiri. Orang kaya berlutut di depan orang miskin. Kamu ingin membuat aku kualat?”

“Nenek jangan begitu. Saya tidak pernah membedakan antara yang kaya dan yang miskin. Kalau saya peduli pada kaya dan miskin, saya tak mungkin jatuh cinta pada Sarah.”

“Masih berani bilang jatuh cinta pada cucuku?”

“Saya sungguh-sungguh mencintai Sarah. Saya tidak peduli Sarah anak siapa atau cucu siapa. Nenek, maafkan saya, kalau di waktu-waktu yang lalu saya menyakiti hati Sarah.”

“Kamu lupa? Ibu kamu menghina aku?”

“Tapi saya tidak Nek. Maafkan ibu saya. Dia khilaf. Saya tidak menyukai sikap ibu saya juga. Mohon jangan samakan saya dengan ibu saya.”

“Kamu itu anaknya, dan kamu tidak bisa melompati tatanan yang sudah digariskan oleh dia, nyonya kaya yang sombong itu.”

“Nenek, mohon jangan sebut-sebut itu lagi.”

“Berdiri!”

Bowo berdiri, lalu meraih tangan nenek Suli dan diciumnya bertubi-tubi.

“Maafkan saya ya Nek, maaf ya Nek ….”

“Sudah, diam.”

“Nenek mau memaafkan saya bukan?”

Nenek Suli memang berhati keras. Tapi ia bukan keras kepala. Ia memiliki hati yang lembut, dan tak sulit baginya untuk memberi maaf. Ia juga penuh rasa welas asih. Kebencian yang memenuhi hatinya luluh oleh sikap Bowo yang seperti merintih-rintih mohon belas kasihannya agar dia memberinya maaf. Tapi tiba-tiba kepala nenek Suli terasa berat dan pusing. Ia membalikkan tubuhnya dengan terhuyung, bermaksud menuju ke arah kursi kayu di mana ia biasa duduk. Bowo yang mengikuti dibelakangnya tanpa dipersilakan, melihat gelagat itu. Ia segera menangkap tubuh nenek Suli lalu dibantunya duduk di kursi.

Nenek Suli menyandarkan kepalanya.

“Nek, Nenek kenapa?”

“Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing.”

Bowo mengambil ponselnya dan menelpon dokter Harun. Ia memintanya datang ke rumah nenek Suli.

Lalu ia kembali mendekati nenek Suli. Duduk di dekatnya.

“Pusing Nek? Boleh saya pijit kepalanya? Saya baru memanggil dokter.”

“Apa maksudmu? Mengapa memanggil dokter?”

“Jangan khawatir Nek, ini dokter Harun, yang menangani Nenek waktu di rumah sakit itu.”

“Apa? Bagaimana kamu tahu?”

Tiba-tiba Sarah muncul.

“Lhoh, Nenek kenapa? Kamu apakan nenekku Bowo?” sontak Sarah menatap Bowo curiga.

“Nenek tiba-tiba pusing.”

“Nek, kenapa Nek? Bowo, ini pasti gara-gara kamu datang. Nenek tidak suka sama kamu, ini membuat nenek sakit,” kata Sarah sedikit marah.

“Tidak, sudah … jangan marah-marah. Dia tidak apa-apa,” kata Nenek menyela.

Sarah heran. Nenek tidak marah pada Bowo? Apa Bowo datang dengan guna-guna?

“Aku sudah meminta om Harun untuk datang kemari.”

Sarah mendekati sang nenek dan memegangi tangannya, dahinya, lalu memijit kepalanya. Ia menatap Bowo yang mondar mandir ke depan.

“Nenek tidak memarahi dia?” bisiknya di telinga sang nenek.

“Sudah marah, tapi marahku sudah habis," kata nenek Suli pelan.

“Sekarang rasanya bagaimana?”

“Tiba-tiba pusing, tapi mengapa dia memanggil dokter segala? Apa kita masih punya uang untuk membayar?”

“Nek, dokter Harun sudah datang.” kata Bowo tiba-tiba.

Sarah berdiri menyambut.

“Dokter. Mohon maaf.”

“Tidak apa-apa, Bowo memintaku datang, katanya nenek Suli tiba-tiba pusing. Jangan-jangan karena kedatangan Bowo, lalu nenek Suli marah,” kata dokter Harun sambil mendekati nenek Suli. 

Lalu Sarah menarik kursi agar dokter Harun bisa duduk di samping neneknya, sehingga memudahkan sang dokter untuk memeriksanya.

“Tadi Nenek marah-marah ya?” kata dokter Harun setelah memeriksa tensi nenek Suli.

Bowo berdiri tak jauh, dan menundukkan kepalanya. Sedikit banyak dia juga merasa, bahwa nenek Suli tiba-tiba pusing karena memarahinya.

“Tuh, tensinya agak tinggi. Tadi sudah minum obat?”

“Yang untuk malam belum dokter, baru mau saya siapkan."

“Tidak apa-apa, diminum saja seperti biasa, lalu Nenek harus segera tidur.”

Dokter Harun mengambil ampul dari dalam tasnya, kemudian menyuntik nenek Suli.

“Jangan khawatir, Nenek baik-baik saja. Segera minum obatnya, dan biarkan Nenek beristirahat."

Sarah mengangguk. Ketika ia beranjak ke belakang, dokter Harun bersiap mau pulang.

“Saya buatkan minum dulu, Dokter.”

“Tidak usah, ada pasien di rumah. Jaga Nenek baik-baik, banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran, apalagi marah-marah.”

Sarah mengantarkan dokter Harun ke depan, nenek Suli beranjak ke kamarnya.

“Tunggu dulu, saya ambil uangnya.”

“Tidak Nek, tidak usah. Ini pelayanan gratis untuk pasien saya yang baru pulang dari rawat inap.”

Nenek Suli tertegun. Kepalanya masih berdenyut.

“Sarah, bantu Nenek ke kamar, biar dia istirahat.”

Sarah menghampiri sang nenek dan menuntunnya ke dalam kamar.

Bowo mengantarkan dokter Harun, dan dokter Harun masih sempat menegurnya.

“Karena kamu kan? Bukankah kamu tahu kalau nenek Suli tidak suka kamu?”

“Saya memang datang untuk meminta maaf. Saya sampai berlutut di depannya, dan nenek Suli kelihatan sudah reda marahnya. Hanya saja dia tiba-tiba merasa pusing, saya ketakutan dan sadar bahwa itu karena saya. Itu sebabnya saya menelpon om Harun."

“Menurut aku, kamu tidak usah melanjutkan kemauan kamu untuk terus berharap mendapatkan Sarah.”

“Bukankah cinta harus diperjuangkan?”

“Omong kosong itu. Hambatannya sangat berat. Ibumu tak akan mau mengalah,” katanya sambil masuk ke dalam mobilnya.

Bowo menghela napas panjang. Ada sedih yang menyayat. Tapi kemudian dia kembali memasuki rumah nenek Suli. Harapan tak boleh putus.

Sarah baru keluar dari kamar Nenek.

“Bagaimana Nenek?”

“Baru saja minum obatnya. Kamu tidak usah menemui lagi, tampaknya Nenek sangat mengantuk.”

“Baiklah, aku mengerti. Aku tadi memang nekat datang untuk menemui nenek Suli, untuk meminta maaf. Dan tampaknya Nenek memaafkan aku,” kata Bowo.

“Syukurlah kalau begitu.”

“Aku minta kamu juga jangan membenci aku. Aku menyadari semua kesalahanku, aku janji tak akan membuat kesalahan lagi.”

Sarah hanya mengangguk.

“Aku pulang dulu, aku janji akan menjaga Nenek untuk sering menjenguknya. Aku yakin nenek tak akan memarahiku lagi.”

“Terima kasih, Bowo.”

Ketika Bowo pergi, Sarah baru menyadari bahwa di pintu ada sebuah bungkusan yang berisi makanan. Ada roti kaleng dan roti basah, ada buah-buah segar.

Sarah mengejar Bowo.

“Ini punya siapa?”

“Oh iya, lupa ngomong. Itu untuk Nenek.”

Sarah menghela napas panjang. Ada sedikit rasa lega karena Nenek tidak lagi tampak marah pada Bowo. Dan itu bagus, karena Nenek kan dilarang marah-marah?

***

Ketika Bowo sampai di rumahnya, ia melihat sang ibu duduk di teras.  Melihat kedatangannya, bu Lurah langsung menyemprotnya.

“Kamu dari mana?”

“Dari rumah nenek Suli," jawabnya berterus terang.

“Apa maksudmu pergi ke sana?”

“Bowo tidak ingin nenek Suli membenci Bowo gara-gara Ibu terus menghinanya, jadi aku datang untuk meminta maaf.”

“Memalukan sekali. Kamu … meminta maaf kepada keluarga miskin itu?”

“Ibu jangan selalu menghinanya. Biar miskin tapi hati mereka baik.”

“Kamu tetap akan berharap bisa diterima dengan permintaan maafmu itu? Jangan mimpi. Kamu tahu mengapa ibumu datang kemari? Di rumah Ibu ada seorang wanita sedang mencari kamu, sebel Ibu melihatnya.”

“Wanita siapa?”

“Namanya Endang. Katanya dia mau minta tanggung jawabmu.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 022

 SEORANG PEGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  022

(Tien Kumalasari)

 

Rahman sangat heran melihat sikap ibunya. Tampak sekali kalau sang ibu sangat membenci om ganteng bernama Baroto yang sangat baik kepada dirinya. Tak tahan hanya bertanya dalam hati, Rahman mengutarakannya kepada saeng ibu.

“Mengapa ibu sangat membenci om Baroto?”

Menur menatap sang anak dengan wajah kusut.

“Apa salah om Baroto?”

Sang ibu tidak menjawabnya.

“Bukankah ibu pernah bilang bahwa tidak baik membenci seseorang? Bahkan kalau ada orang berbuat salah kepada kita, maka kita harus memaafkannya?”

Aduh, ini namanya senjata makan tuan, pikir Menur.

Bagaimana dia mengatakan alasannya kepada sang anak? Lalu berterus terang siapa sebenarnya Baroto? Sikap Baroto bukan sekedar orang yang memperhatikan kebutuhan orang lain. Ia tak mungkin melakukannya kepada setiap orang. Ada sesuatu, dan itu adalah bahwa dia sudah tahu bahwa Baroto adalah anaknya.

Menur tak ingin menyesali jalan yang telah dilaluinya. Barangkalai sudah kehendak Yang Maha Kuasa bahwa ia harus bertemu Baroto, orang yang sebenarnya masih sangat dicintainya. Tapi dalam keadaan yang sangat menyulitkan baginya ini, sama sekali Menur sangat menyesalinya. Di satu pihak dia kasihan pada Ana, dipihak lain dia enggan sering bertemu Baroto. Lagipula kehadirannya membuat orang sakit hati, misalnya Rumi. Kecuali itu sikap Lili, yang walaupun sudah tahu bahwa dia masih termasuk kerabatnya, kelihatan sekali kalau dia tidak menyukainya. Cara dia berbicara, Menur bisa menangkap rasa tidak suka itu. Bagaimana dia bisa lari dari itu semua? Hal-hal yang dialaminya, semua terasa mengikatnya.

“Mengapa ibu diam saja? Apa Ibu marah? Apa saya harus mengembalikan ponsel ini? Bagaimana mengatakannya?”

Berderet pertanyaan Rahman tak satupun dijawabnya.

“Ibu marah?”

“Tidak Rahman.”

“Mengapa ibu diam saja? Wajah Ibu juga muram.”

”Ibu tidak marah. Diberi dan dikasihani orang itu adalah beban. Apa kamu tahu?”

“Maksud Ibu apa? Beban itu apa?”

“Kalau kita diberi seseorang, pasti ada rasa berhutang budi. Nah hutang budi itu adalah beban.”

Rahman diam, sungguh dia tidak mengerti.

Tiba-tiba ponsel itu berdering, membuat Menur dan Rahman terkejut. Rupanya ponsel itu sudah diseting oleh bapak kepala sekolah, bahkan sudah ada nomor yang tercatat di sana.

Tadi kepala sekolah juga sudah mengajarinya, bagaimana cara mengangkat telpon kalau ponselnya berdering. Jadi tadi kepala sekolah sudah mencoba menelpon ke ponsel yang diberikan kepada Rahman.

Lalu Rahman melihat siapa yang menelpon. Gambar seorang laki-laki berkuda tampak di ponsel itu. Rahman segera mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussaalam. Om Baroto ya?”

“Bagus sekali kamu bisa menerima telpon Om. Apa kamu senang?”

“Yah, senang atau tidak, namanya dikasih. Mengapa Om memberi ponsel untuk Rahman?”

“Supaya kalau om kangen bisa langsung menelpon Rahman. Om senang mendengar suara Rahman, dan itu sudah sedikit mengobati rasa kangen Om.”

“Terima kasih.”

“Ibu sudah pulang?”

“Sudah, apa Om mau bicara dengan ibu?”

Tapi mendengar kata-kata Rahman, Menur menggoyang-goyangkan rangannya.

“Ya, berikan ponselnya pada itu.”

Rahman terpaksa memberikannya, yang diterima Menur dengan wajah tetap muram.

“Mengapa kamu melakukannya?”

“Menur, mengapa selalu galak terhadapku? Aku minta maaf kalau dulu kelihatan seakan aku meninggalkan kamu, tapi aku kan sudah mengatakan alasannya?”

“Baiklah, aku mengerti. Tapi ingat kondisi kamu sekarang. Kamu tidak pantas melakukannya,” Menur keluar rumah ketika berbicara, khawatir Rahman mendengarnya, kemudian bertanya-tanya.

“Aku bisa mengaturnya.”

“Apa maksudmu mengaturnya? Menceraikan istri kamu? Aku tidak mau menanggung beban dosa dengan memisahkan sebuah keluarga. Sudahlah, lupakan saja semuanya. Aku bisa menjalaninya, dan kamu juga harus bisa.”

“Aku mau bicara dengan baik-baik dengan Lili, dan mengatakan bahwa Rahman itu anakku.”

“Tidak usah melakukan apa-apa, biar begini saja.”

Menur menghentikan pembicaraan dan mengulurkan ponsel itu kembali kepada Rahman.

***

Malam itu Ana ngambeg, tidak mau makan, dan langsung masuk ke kamarnya. Rumi membujuknya dengan suara lembut, berharap Ana mau mendengarkannya, tapi Ana tetap bergeming.

“Pokoknya aku tidak mau makan.”

“Nanti kalau Non tidak mau makan, bisa sakit.”

“Aku menunggu nenek datang, aku mau bilang kalau aku ingin bibi Menur boleh menjadi ibuku.”

Rumi membelalakkan matanya.

“Ya ampun Non, bukankah Non sudah punya ibu?”

“Aku tidak punya ibu, aku hanya punya mama. Yang sayang sama anaknya itu ibu. Seperti Rahman yang punya ibu, aku tidak punya, aku mau punya ibu.”

Saat itu dipintu berdiri sang nenek, yang kebetulan datang.

Nyonya Sasa masuk ke dalam kamar Ana, yang sedang ngambeg. Rayuan Rumi untuk memintanya agar makan tak mempan. Ana duduk di tepi ranjangnya dengan wajah cemberut.

“Ada apa cucu nenek ngambeg?”

Ana terkejut. Ia mendengar suara sang nenek, nangsung menoleh kemudian turun dan menghambur ke arahnya.

“Nenek ….”

“Ada apa? Kata mama kamu, kamu nggak mau makan?"

“Ana nggak mau makan.”

“Kenapa?

“Mama tidak ngijinin Ana minta ibu.”

“Minta ibu bagaimana maksudnya?” kata nyonya Sasa sambil duduk di ranjang Ana, sambil memangku cucu kesayangannya itu.

“Nenek kan tahu, Rahman punya ibu, jadi Rahman disayang ibunya. Ana juga mau punya ibu. Ana mau, bibi Menur juga menjadi ibuku.”

“Bukankah kamu sudah punya mama?”

“Mama beda dengan ibu. Mama tidak sayang Ana, kalau ibu kan sayang?”

Nyonya Sasa tersenyum. Anak sekecil Ana merasa bahwa ibu dan mama itu beda. Hanya karena sang mama dirasa tidak menyayanginya, jadi menurutnya mama itu tidak sayang, jadi dia butuh ibu. Pemikiran yang sederhana, bukan tak ada sebabnya. Ia tahu, Lili kurang menyayangi ana dalam arti yang sebenarnya. Bukan karena pembelian-pembelian mainan yang diguyurkan setiap saat, tapi pelukan penuh kasih yang tak bisa diberikannya. Ana merasakan itu, dan ia mendapatkan apa yang dicarinya itu dari Menur.

“Ana, sebenarnya mama itu juga ibu.”

“Beda, nenek.” kata Ana keras.

Sang nenek tak bisa menerangkannya secara gamblang, karena kesalahan bukan terletak pada Ana. Keinginan yang sebenarnya adalah di butuh kasih sayang melalui sentuhan.

“Mengapa mama tidak mengijinkan? Bibi Ana bisa menjadi ibuku, aku mau.”

“Baiklah sekarang Ana makan saja dulu, nanti nenek akan bicara pada mama kamu.”

“Benarkah?”

“Iya, tentu saja. Rumi, bawa Ana ke kamar makan, dia mau makan,” perintahnya kemudian kepada Rumi.

***

“Apa maksud mama? Ana meminta Menur menjadi ibunya, apakah itu berarti Menur juga istri mas Baroto?” kata Lili ketika sang ibu menegurnya.

"Itu kan anggapan kamu. Ana hanya ingin ibu. Biarlah Menur dia sebut ibu, memangnya kenapa? Tak ada yang berubah kecuali sebutan itu. Sederhana sekali permintaan Ana itu, mengapa kamu menerimanya secara berlebihan?”

Lili terdiam. Hanya sebutan, tapi gosokan Rumi kembali menggelitik telinganya. Entah benar atau salah, nyatanya hal itu membuat hatinya terbakar.

“Bagaimana kalau mas Baroto suka?”

“Apa hubungannya dengan Baroto?”

“Sejak adanya Menur, permintaan Ana yang aneh-aneh saja.”

“Mengapa kamu tidak berkaca kepada diri kamu sendiri? Ini semua kesalahan kamu. Ana itu anak kecil, dia tidak butuh mainan bagus, baju-baju bagus. Ia butuh sentuhan dan kasih sayang. Apakah kamu melakukannya?”

“Mama kan tahu, aku selalu sibuk. Pagi sudah ke kantor, sore atau malam baru pulang. Sesungguhnya kan aku tidak punya banyak waktu untuk Ana.”

“Apapun alasan kamu, Ana butuh sentuhan dan kamu tidak memberikannya. Banyak ibu-ibu sibuk berbisnis, tapi dia tetap punya waktu untuk anaknya.”

“Sesungguhnya Lili tidak suka anak kecil.”

“Itu sebabnya kenapa kamu tidak segera punya anak.”

“Mas Baroto tidak mencintai Lili,” gumam Lili.

Sang ibu menatap tajam anaknya. Ia tak percaya apa yang dikatakan Lili. Berumah tangga bertahun-tahun tapi tidak cinta? Memang benar, dulu ayah-ayah mereka menjodohkannya karena ikatan bisnis. Tapi mengapa bisa tidak tumbuh cinta diantara mereka? Bukankah Lili cantik, Baroto ganteng, apa yang kurang dari keduanya?

***

Malam hari itu walaupun mata sudah ngantuk, tapi Lili menelpon Baroto. Ia ingin agar hubungan mereka menjadi semakin dekat dengan seringnya berinteraksi. Lili mengakui kesalahannya yang mengabaikan pernikahan yang sebelumnya tidak dikehendakinya. Sekarang saatnya ia meronce bunga-bunga cinta yang sedikit demi sedikit mulai merayapi hatinya. Barangkali Baroto belum bisa ditaklukkan, tapi masih banyak waktu untuk saling mengisi setiap Baroto pulang. Lili juga akan sering menelponnya, dan mengutarakan rasa kangennya.

“Ada apa Lili? Aku sedang dalam perjalanan menemui rekan bisnis,” kata Baroto ketika Lili menelponnya.

“Mas, tolong beri waktu untuk aku walau sedikit saja.”

“Apa sebenarnya maksudmu?

“Aku sedang kesal. Mungkin aku kurang bisa mendekati Ana, tapi aku nanti akan berusaha menjadi seorang ibu yang baik bagi Ana.”

“Mengapa tiba-tiba kamu berkata begitu?”

”Ana mengatakan kalau ingin menjadikan Menur sebagai ibunya.”

“Apa?”

“Dia terus merengek agar Menur boleh dijadikan ibunya. Siapa yang tidak kesal, coba?”

“Mengapa kamu kesal? Biarkan saja, berikan apa yang dia inginkan.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.l




Saturday, October 17, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 34

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  34

(Tien Kumalasari)

 

Apa yang terjadi pada anak-anak muda itu? Status, derajat, pangkat bukan penghalang?

“Lho, Bimo makan sama apa itu? Tadi bu Karimun masak sup ayam untuk kamu lho. Itu apa?”

“Katanya diberi temannya Bu, nasi rendang,” jawab bu Karimun.

“Diberi teman? Kok tidak seperti biasanya. Ada teman yang memberi ayam rendang,”

“Ibu mau? Ini banyak lho Bu.”

“Nggak, Ibu sudah makan sama bu Karimun tadi. Habiskan saja, supaya temanmu tidak kecewa. Tapi siapa temanmu itu, tumben kamu dibawain nasi rendang.”

“Ini bukan sembarang teman Bu. Katanya dia tidak makan nasi bekalnya, lalu diberikan pada Bimo.”

“Bu, kata nak Bimo, nasi itu pemberian putrinya pimpinan di kantornya. Dia gadis, pastinya cantik.”

“Bu Karimun bisa saja.”

“Menurut saya, dugaan tentang hal itu tidak keliru, karena ketika saya bilang dia gadis dan cantik, nak Bimo hanya senyum-senyum.”

“Kami tidak ada hubungan apa-apa Bu, mimpi saja kalau bisa. Saya siapa, dia juga siapa.”

“Iya Nak, jadi orang jangan menjangkau terlalu tinggi. Bagi Ibu, kamu lebih cocok sama Sarah.”

“Siapa Sarah Bu?” bu Karimun ingin tahu.

“Dia anak tetangga saya, dulu sebelum saya pindah kemari. Tapi kemudian Allah mempertemukan dia tanpa sengaja, dan ternyata dia hidup bersama neneknya, sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal.”

“Sarah belum tentu suka sama Bimo.”

"Mungkin dia belum berpikir tentang jatuh cinta, kan dia masih kecil.”

“Masih kecil?”

“Masih sekolah Bu.”

“Nah, yang memberi nasi rendang ini temannya Sarah.”

“Oh, begitu? Jadi kamu kenal karena Sarah?”

“Dia pernah membeli koran yang dijual Sarah. Anak orang kaya, tapi baik.”

“Ibu senang kamu berteman dengan orang-orang baik.”

Bimo hanya tersenyum. Ia tahu Sarah tidak menyukainya, entah kapan Sarah membuka hati untuk dirinya.

“Seperti Ibu pernah berkata, jodoh tidak akan ke mana, bukan?” kata Bimo.

“Ya sudah, selesaikan makanmu. Sudah saatnya bu Karimun pulang. Ini sudah sore.”

“Tidak apa-apa Bu, saya tunggu nak Bimo makan dan membersihkan piring kotor, baru saya pulang.”

Bu Saptari tersenyum, dan tiba-tiba ia ingat lagi, seperti pernah bertemu bu Karimun sebelum ini. Ia menatapnya lekat-lekat, membuat bu Karimun heran.

“Bu Saptari, mengapa menatap saya seperti itu? Ada yang salah kalau saya melayani nak Bimo makan sampai selesai?”

“Eh, bukan itu Bu, maaf, jangan salah sangka. Sebenarnya saya sudah lama ingin bertanya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya ya Bu?”

Bu Karimun tertegun. Ia juga pernah memikirkan hal itu, tapi tak berani mengatakannya. Ia menatap bu Saptari dan tersenyum.

“Benarkah Bu?”

“Iya, lupa-lupa ingat.”

“Saya juga ingin mengatakan hal yang sama. Saya pernah bertanya-tanya, seperti pernah melihat bu Saptari. Bahkan sejak bu Saptari memberi saya sekeranjang makanan dan buah-buahan saat saya lemas di pinggir jalan.”

“Oh ya? Berarti memang kita pernah bertemu. Tapi menurut bu Karimun kampung asalnya tidak sama dengan kampung di mana saya berasal. Berarti bukan tetangga.”

“Mungkin hanya bertemu sekilas.”

“Iya juga sih.”

“Eh, nak Bimo, biar saja piringnya saya yang nyuci,” teriak bu Karimun ketika Bimo membawa piring bekas makannya ke balakang.

“Biar saya sendiri Bu. Selama bu Karimun ada di sini kok saya merasa dimanja.”

“Biarkan Bu, biasanya dia juga mencuci piring bekas makannya sendiri. Sekarang bu Karimun siap-siap pulang. Nasi untuk makan pak Karimun sudah saya siapkan.”

“Terima kasih banyak Bu,” kata bu Karimun terharu.

Dia juga merasa selalu bertemu dengan orang-orang baik.

***

“Lhoh, Bapak kok naik sepeda? Dapat uang berapa sampai bisa beli sepeda?” teriak bu Karimun ketika melihat suaminya datang dengan menaiki sepeda.

Pak Karimun tertawa.

“Bukan beli Bu, gajian juga belum, darimana bisa beli sepeda. Gajinya berapa aku juga belum tahu. Mendapat pekerjaan saja aku sudah sangat bersyukur”

“Kalau begitu itu sepeda siapa? Bukan nemu kan?”

“Ini diberi nak Fajar.”

“Diberi?”

“Iya Bu. Mungkin dia melihat aku datang dengan berjalan kaki, lalu dia menawarkan sepedanya yang sudah lama tidak dipakai. Tadinya ini kusam, berdebu karena tidak pernah dipakai, tapi tadi aku disuruh membersihkan dan mencoba, ternyata masih bagus. Hanya bannya gembos, Sudah aku pompa, bukannya bocor, hanya gembos.”

“Kelihatannya sepeda bagus, masih mengkilap ya Pak.”

“Iya, kelihatannya sepeda mahal. Bersyukur lagi lah kita. Entah ini diberikan atau dipinjamkan, yang jelas aku berangkat bekerja lebih enteng, tidak berjalan kaki lagi.”

“Ya sudah, Bapak mandi dulu, terus makan.”

“Dibawain makan lagi sama bu Saptari?”

“Iya, bagaimana menolaknya, sebelum aku pulang sudah disiapkan.”

“Alhamdulilah untuk semua keberuntungan kita ya Bu. Seandainya dulu kita bisa makan cukup, mana mungkin kita akan berpisah dengan anak-anak kita.”

“Ya sudah, Bapak mandi sana dulu, nanti kita bicara lagi. Bapak jangan lagi memancing rasa sedih kita. Oh ya,  ada yang ingin aku ceritakan pada Bapak.”

“Apa itu?”

“Mandi saja dulu, nanti kebanyakan omong terus lupa mandi. Mumpung kamar mandinya kosong tuh, jadi tidak usah menunggu penyewa yang lain yang juga ingin mandi.”

***

Sejak kepulangan nenek Suli dari rumah sakit, Sarah belum mulai berjualan koran lagi. Ia ingin menunggu sang nenek dan melihat sampai neneknya benar-benar sehat kembali.

“Sarah, kamu belanja pakai uang apa? Tabungan Nenek masih utuh, ambil saja.”

“Nanti saja kalau kurang Nek, Sarah masih punya. Bukankah Sarah juga menabung? Lagipula tetangga kiri kanan selalu memberi kita makanan, sehingga kita tidak kekurangan.”

“Sebenarnya Nenek sungkan, mereka semua baik-baik pada Nenek.”

“Itu karena Nenek juga baik pada mereka, sering membantu mereka. Ya kan?”

“Nenek ingin segera bisa bekerja kembali seperti dulu.”

“Jangan dulu Nek, bukankah dokter menyuruh Nenek agar benar-benar istirahat sampai pulih? Dua hari lagi Nenek juga harus kontrol ke rumah sakit kan?”

“Nanti Nenek berangkat sendiri saja,  kamu tidak perlu bolos sekolah lagi.”

“Nanti gampang, Sarah akan pikirkan sebaik-baiknya. Nenek tidak usah memikirkannya.”

“Nenek ini selalu menjadi beban buat kamu.”

“Nenek kok ngomong begitu lagi? Aku inilah yang selalu menjadi beban bagi Nenek.”

“Tapi Sarah, kamu masih sangat muda.”

“Sudah, Nenek tidak usah bicara lagi. Sekarang Sarah mau beli gula di warung sebentar, persediaan gula sudah habis.”

“Pakai uang Nenek.”

“Ini masih ada, nanti kalau habis Sarah minta pada Nenek," kata Sarah sambil berlalu.

Nenek Suli duduk termenung, sambil menatap punggung Sarah yang berjalan menjauh.

“Sarah masih sangat muda. Boleh dikatakan masih bocah, seharusnya dia belum bisa memikirkan hal-hal berat seperti sekarang ini. Dia masih sekolah, masih mencari uang dengan berjualan koran, lalu sekarang dia terbebani dengan kebaikan orang yang telah membiayai ketika akub sakit.”

Nenek Suli mengusap air matanya.

“Assalamu alaikum …”

Tiba-tiba terdengar orang mengucapkan salam di luar sana.

“Wa’alaikumussalam,” jawab nenek Suli.

Ia bangkit perlahan, dan tertatih berjalan ke arah depan.

“Selamat sore Nek.”

Nenek Suli terbelalak, wajahnya muram seketika.

“Kamu?”

***

Besok lagi ya.

Friday, October 16, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 33

 DARAH CINTA  DAN AIR MATA  33

(Tien Kumalasari)

 

Fajar tersenyum melihat ulah pak Karimun yang menatapnya tajam.

“Mengapa Bapak menatap saya seperti itu?”

“Pak Fajar ….”

“Tunggu. Jangan memanggil saya dengan pak dong, Fajar, begitu saja.”

“Ya nggak bisa … sungkan aku sama pak Pranoto dan bu Pranoto, dikira tidak menghargai putranya.”

“Kalau Nak, bagaimana? Nanti saya dikira sudah bapak-bapak lho,” canda Fajar, membuat pak Karimun tersenyum.

“Baiklah, Nak.”

“Bapak belum menjawab pertanyaan saya. Mengapa Bapak menatap saya seperti itu?”

“Nak, saya tak habis pikir, mengapa nak Fajar begitu baik kepada saya? Nak Fajar tahu saya butuh pekerjaan, lalu saya dikasih pekerjaan. Nak Fajar tahu saya datang dengan berjalan kaki, saya ditawarin sepeda. Bahkan sebelumnya sepeda motor yang tentu saja saya tidak bisa mengendarainya. Mengapa saya selalu mendapat perlakuan yang sangat baik?” tanya pak Karimun dengan mata berkaca-kaca.

Fajar tersenyum, lalu menepuk pundak pak Karimun.

 "Saya juga heran, mengapa hati saya selalu luluh setiap mengingat pak Karimun.”

“Padahal kita baru sekali bertemu sebelum saya datang kemari mengantarkan dompet.”

“Entahlah, jangan ditanya, karena saya juga tidak bisa menjawabnya. Mungkin hati kecil saya mengatakan bahwa pak Karimun orang baik.”

“Terima kasih Nak, sungguh saya harus berterima kasih karena nak Fajar selalu mengentaskan saya dalam kesulitan.”

“Sudah, jangan dipikirkan. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama kalau melihat pak Karimun dengan keadaan seperti dulu itu.”

Pak Karimun mengangguk, dan kembali menatap wajah ganteng yang baik hati itu.

“Benarkah kamu anakku?” bisik hatinya sambil mengusap setitik air matanya.

“Ya sudah, pak Karimun sudah tahu apa yang harus dilakukan kan? Simbok akan menyiapkan kamar untuk istirahat pak Karimun dibelakang, jadi saatnya istirahat ya istirahat, lalu makan dan minum juga pasti disediakan, jangan sungkan ya Pak.”

“Baiklah, Nak.”

“Saya mau berangkat dulu, lalu akan cepat pulang. Nanti kita lihat sepeda yang digudang, masih layak dipakai atau tidak ya Pak.”

“Terima kasih, Nak.” 

Kali ini suara pak Karimun terdengar sangat lirih, karena menahan gejolak batin yang susah ditahannya.

***

“Mbok, suruh pak Karimun istirahat, dari tadi tidak berhenti membersihkan kebun.”

“Iya Nyonya, rajin sekali pak Karimun, dari tadi saya suruh berhenti karena saya menyiapkan minum di ruang belakang, belum juga mau berhenti.”

“Sekarang suruh istirahat, saatnya makan juga kan? Kasihan dia.”

“Iya Nyonya, sudah saya siapkan. Akan saya panggil lagi dia.”

Simbok bergegas ke kebun, di mana pak Karimun masih sibuk menyiangi rumput diantara pohon-pohon bunga.

“Pak Karimun, istirahat dulu.”

“Iya Mbok, sebentar lagi, ini kurang sedikit.”

“Dilanjutkan nanti saja, setelah makan. Ini nyonya yang nyuruh lho, di kamar belakang dekat gudang, sudah saya siapkan makan dan minum. Bapak istirahat dulu, makan dulu, minum dulu. Udara sangat panas, harus banyak minum.”

“Iya, baiklah.”

Pak Karimun menyingkirkan alat-alat berkebun yang tadi dipergunakan dan masih berserak, dikumpulkannya di bawah pohon mangga yang rindang daunnya.

“Pak Karimun, istirahat dulu,” kali ini bu Pranoto yang berteriak dari teras rumah.

Pak Karimun berdiri dan mengangguk hormat.

“Baik, Nyonya.”

Pak Karimun berjalan ke belakang, mengikuti simbok yang sudah mendahuluinya.

“Ini Pak, saya taruh di meja, makanan dan minumnya. Nanti Bapak bisa berbaring di sini sebentar, jangan kerja terus, nanti kecapekan.”

Pak Karimun mengangguk, lalu berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dekat kamar itu, membasuh kaki tangan dan wajahnya, sekaligus berwudhu di pancuran. Bibik menatapnya kagum. Biar orang tak punya, tapi selalu ingat beribadah juga.

Simbok meninggalkannya setelah menambahkan seteko air putih dingin di samping makanannya.

Ketika masuk ke rumah, bu Pranoto yang rupanya juga memperhatikan, kembali bertanya pada simbok.

“Sudah dimakan dan sudah minum?”

“Baru mau shalat Nyonya, saya lihat dia mengambil wudhu di pancuran.”

“Ah, benar-benar orang baik."

***

Bimo terkejut, ketika ia sedang mengusung barang, seseorang memanggilnya.

“Mas Bimo!”

Bimo menoleh, dan melihat Mentari melangkah kearahnya. Bimo meletakkan bawaannya, dengan hati berdebar.

“Ada apa Non?”

“Panggil saya Mentari.”

“Nggak mau, nanti saya ditegur pak Pranoto, atau bahkan dipecat, bagaimana? Masa memanggil anak juragan hanya dengan namanya begitu saja.”

Mentari tertawa, memperlihatkan deretan gigi putih yang menambah manis wajahnya.

“Kan aku yang menyuruh.”

“Nggak mau. Sekarang katakan ada apa, saya harus segera membawa barang ini ke mobil.”

“Ini, aku bawakan makan siang.”

“Waduh, saya sudah makan Non, waktu istirahat sudah lewat.”

“Ini tadi bekal aku ke sekolah, tidak aku makan, karena diajak makan bakso sama teman-teman aku.”

“Tapi ….”

“Tidak ada tetapi, pokoknya harus diterima. Nih,” kata Mentari sambil memaksa Bimo untuk menerima bungkusan yang dibawanya.

“Tapi saya harus membawa ini dulu.”

“Taruh di meja kerja kamu dulu, barangnya ini biar aku tungguin di sini.”

Bimo terpaksa menuruti kemauan Mentari. Ia membawa bungkusan yang diberikan, kemudian meletakkannya di meja kerjanya.

Ketika Bimo keluar, Mentari masih berdiri di tempat semula.

“Sudah?”

“Sudah, sekarang saya mau membawa ini dulu ya Non.”

“Baiklah, aku mau ke kantor bapak dulu,” kata Mentari sambil membalikkan tubuhnya, dan bergegas menuju ruang kantor sang ayah.

Ia langsung nyelonong masuk begitu selesai mengetuk pintu.

“Kamu? Ada apa kamu kemari? Jangan bilang sepeda motor kamu gembos, lalu kamu tinggal di bengkel lagi.”

“Tidak Pak, tadi Mentari naik taksi.”

“Mengapa naik taksi?”

“Udara sangat panas Pak.”

“Mengapa tidak bareng kakak kamu saja?”

“Mas Fajar berangkatnya agak siang, kelamaan menunggu dia, bisa-bisa Mentari terlambat.”

“Lalu kamu kemari mau pulang bareng bapak? Masih lama bapak pulangnya.”

“Diantar sopir dong. Tapi nanti-nanti saja.”

“Ngapain kamu di sini?”

“Istirahat sebentar di sini Pak, masa nggak boleh?”

Pak Pranoto melanjutkan pekerjaannya, membiarkan Mentari duduk di sofa sambil mengutak atik ponselnya.

“Tumben-tumbenan kamu suka sekali mampir ke kantor bapak.”

Mentari tak menjawab. Ia juga tak tahu, mengapa ia suka mampir ke kantor ayahnya. Pasti tidak sekedar minta diantar dengan mobil sang ayah. Ada sesuatukah?

***

Bu Karimun sedang menyiapkan makan untuk Bimo, dan siap mempersilakan segera menyantap makanannya, ketika Bimo mengeluarkan sebuah kotak makanan.

“Saya membawa makanan juga Bu, ini.”

“Lho, ini makanan dari mana? Tadi bekalnya hanya dibungkus kan? Bukan dengan wadah kotak?”

“Ini dari seseorang Bu, coba lihat isinya apa.”

Bu Karimun membantu membuka kotaknya.

“Wah, enak sekali Nak, rendang daging lauknya. Dari mana ini?”

“Dikasih seseorang.”

“Tidak biasanya ada yang ngasih makanan.”

“Nggak tahu kenapa tuh, tiba-tiba saya diberi ini.”

“Teman kerja?”

“Bukan.”

“Pacar?”

Bimo tertawa. Seandainya si pemberi itu adalah pacarnya, pasti dia senang sekali. Mimpi saja Bimo, siapa kamu dan siapa dia?

“Kalau sudah punya pacar, bu Karimun dikasih tahu ya Nak. Pasti dia cantik. Kapan diajak ke rumah?”

Bimo tertawa. Bu Karimun seperti ibunya saja.

“Bukan pacar Bu, dia anak direktur perusahaan.”

“Wah, anak direktur? Dia cantik? Baik banget dia sama nak Bimo. Jangan-jangan dia suka sama nak Bimo.”

Bimo kembali tertawa. Ia duduk dan menatap nasi rendang yang sudah dipindahkan bu Karimun ke dalam piring. Dan dalam rendang itu bayangan Mentari melintas.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...