Thursday, September 24, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 14

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  14

(Tien Kumalasari)

 

Sarah menatap sang nenek, yang tampak bersungguh-sungguh ketika mengatakannya.

“Jadi mas Bimo itu bukan anaknya bu Saptari?”

“Sejak masih bayi merah dia merawat Bimo, jadi sudah seperti anaknya sendiri, apalagi bu Saptari tidak punya seorang anakpun sampai suaminya meninggal.”

“Jadi sebenarnya mas Bimo itu anaknya siapa?”

“Entahlah, Nenek juga tidak tahu. Ketika itu dia baru pulang dari menjenguk orang tuanya di kampung sebelah, pulang-pulang membawa bayi dan kelihatan sangat senang. Kami hanya ikut senang, tapi tidak menanyakannya dengan jelas, Bimo itu sebenarnya anak siapa. Kalau ditanya dia hanya berkata bahwa bayi itu ditemukan saat jatuh dari langit, begitu.”

“Benar-benar jatuh dari langit?”

“Ya tidak, dia hanya bercanda, masa jatuh dari langit beneran.”

“Dan mas Bimo tahu tidak bahwa dia hanya anak angkat?”

”Ya tidak. Bu Saptari tidak mau mengatakannya. Pokoknya Bimo sudah dianggap sebagai anaknya sendiri yang dicintai seperti anak yang dilahirkannya."  

“Baik banget hati bu Saptari ya Nek?”

”Iya. Sangat baik. Tapi kenapa kamu menolak diambil menantu oleh dia? Nenek agak sungkan ketika kamu menolak, dia adalah sahabat almarhumah ibu kamu. Dia juga baik, Bimo sendiri juga baik.”

“Sarah belum memikirkan berumah tangga Nek, Sarah tidak suka membicarakan perjodohan.”

“Memang sih, bu Saptari hanya penjual nasi setiap pagi sampai siang, dan Bimo hanya bekerja di kantor, tapi seperti .. apa tadi … bu Saptari mengatakannya.”

“OB, Nek. OB itu pekerjaannya melayani pegawai-pegawai kantor. Ya membuatkan minum, disuruh-suruh, begitu. Tapi bukan itu yang membuat Sarah menolaknya. Sarah benar-benar belum ingin memikirkan berumah tangga, apalagi Sarah kan masih sekolah, belum lulus juga.”

”Tapi seandainya disuruh menunggu, mereka pasti juga tidak keberatan.”

“Jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti Nek, nanti mereka berharap dan Sarah belum benar-benar siap. Sarah memang belum mau memikirkan hal itu. Sarah masih ingin bekerja setelah lulus,” kata Sarah dengan wajah muram.

“Ya sudah, tidak usah marah begitu, Nenek juga tidak memaksa. Nenek percaya, kalau jodoh pasti tidak akan ke mana-mana."

“Sarah tidak marah. Masa Sarah marah sama Nenek?”

“Itu, wajah kamu cemberut.”

“Tapi bukan marah. Hanya belum ingin membicarakannya.”

“Baiklah, Nenek mengerti. Tapi kalau kamu bertemu Bimo, kamu jangan sampai menunjukkan sikap tidak suka. Kasihan dia. Maksudnya kan tulus.”

“Ya tidak Nek, mas Bimo sangat baik, dia tetap sahabat Sarah. 

***

Tapi Bimo menjadi sedih ketika sang ibu mengatakan tentang penolakan Sarah untuk dijadikan istrinya.

“Jangan sedih, Bimo. Jodoh itu memang tidak bisa dicari, kalau sudah saatnya, pasti dia akan datang menghampiri.”

“Apa mungkin karena pekerjaan Bimo yang tidak pantas, hanya seorang pesuruh kantor?”

“Jangan berpikir begitu. Tadi Sarah mengatakan kalau dia hanya belum ingin memikirkan soal berumah tangga. Kamu harus mengerti, Sarah memang masih sangat muda. Pastinya masih merasa aneh kalau memikirkan punya suami. Jadi kamu harus mengerti.”

Bimo hanya mengangguk. Ia tak percaya Sarah tidak menyukainya. Sikapnya sangat baik dan selalu menyenangkan. Masa tidak suka? Pikir Bimo berkali-kali.

“Bimo, kamu tahu kan, Sarah itu boleh dikatakan belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga? Kamu harus mengerti, kalau dia belum mau memikirkannya,” sambung bu Saptari ketika melihat Bimo diam saja. Agak sedih juga bu Saptari melihat wajah Bimo yang tampak kecewa.

“Iya Bu.”

"Jangan sampai karena penolakan ini lalu membuat hubungan kalian menjadi jauh. Tetaplah berteman, siapa tahu, pada suatu hari nanti dia mau membuka hatinya untuk kamu.”

“Setelah dia menolak, belum tentu dia mau Bimo dekati.”

“Belum juga dijalani, kamu sudah merasa gagal. Coba saja, besok pastinya dia juga jualan koran lagi. Tadi karena Ibu ke sana, dia tidak jualan koran. Ia ikut menemani neneknya menemui Ibu.”

“Pantesan tadi ketika Bimo pulang kerja tidak melihat dia.”

Bu Saptari tertawa.

“Jadi kamu tadi mencarinya?”

“Iya, tapi karena di rumah Ibu tidak ada, saya juga berpikir karena ada Ibu, maka dia tidak berjualan.”

“Ya sudah, sekarang Ibu mau menyiapkan dagangan untuk besok pagi. Ibu masih harus memasak juga, karena sesiang ini ada di rumah nenek Suli.”

“Mari Bimo bantu Bu, supaya cepat selesai.”

“Tidak usah, kamu kan capek, bekerja seharian. Biar Ibu melakukannya sendiri. Kamu istirahat saja sana.”

“Kalau hanya bantu mencuci alat-alat masak kan boleh Bu.”

“Ya sudah, nanti kalau sudah selesai Ibu panggil kamu. Kalau memasak Ibu sudah biasa masak sendiri, kan bahan-bahannya sudah Ibu siapkan sebelum berangkat ke rumah nenek Suli tadi.”

Bimo mengangguk. Walau kecewa, tapi ketika ibunya mengingatkan tentang Sarah yang belum berumur untuk memikirkan sebuah rumah tangga, ia kemudian bisa mengerti. Barangkali belum sekarang, tapi suatu hari nanti, siapa tahu Sarah akan jatuh hati padanya.

***

Keesokan harinya, sepulang kerja, Bimo tidak langsung berbelok ke gang yang menuju rumahnya. Ia melihat ke arah pohon sebelum perempatan, karena Sarah sering duduk di bawahnya menunggu lampu merah untuk menjajakan korannya.

Ia tak melihat ada Sarah di sana. Ia mendekat dan benar-benar tak melihatnya. Dengan rasa kecewa Bimo duduk di bawah pohon itu, memikirkan mengapa Sarah tidak jualan. Karena lamaran ibunya, lalu dia berjualan di tempat lain? Bimo jadi semakin sedih, lalu menyesal karena belum-belum sudah meminta sang ibu untuk melamar. Pasti Sarah kecewa lalu tak ingin bertemu lagi dengannya.

Bimo berdiri dan bermaksud pulang saja, tapi tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.

“Mas Bimo!”

Senyuman Bimo merekah, melihat Sarah datang sambil membawa setumpuk koran.

“Kamu baru datang?”

“Tidak, sudah dari tadi, aku membeli minum. Nih, mas Bimo mau?” kata Sarah sambil mengulurkan sebotol minuman ke arah Bimo.

“Tidak, untuk kamu saja, aku tidak haus.”

“Tumben aku agak haus, jadi beli minum ini dulu. Eh tunggu, lampu merah, nanti aku terlambat,” kata Sarah yang meletakkan botol minuman di atas tanah begitu saja, lalu lari ke jalan.

Bimo mengejarnya, mengambil beberapa lembar koran dan ikut menjajakannya.

***

Terengah-engah Sarah ketika kembali ke pinggir, lalu mengambil botol airnya dan ditenggaknya sambil ngelesot di tanah.

Bimo mendekat, memberikan uang untuk dua lembar koran yang laku dijajakannya.

“Wah, terima kasih Mas, untuk selalu membantu aku,” katanya sambil menerima uang dari Bimo.

“Aku tidak pintar menjual seperti kamu. Laku dua sudah alhamdulillah,” kata Bimo sambil ikut duduk di depannya.

“Eh, aku juga hanya laku dua tadi. Bukan karena aku pintar, tapi karena keberuntungan saja. Kalau untung ya banyak yang mau beli, kalau sedang tidak beruntung ya malah satupun tidak bisa laku. Ya ampun Mas, pasti Mas haus ya, aku tadi hanya beli sebotol, bekas aku minum, mana pantas, aku belikan lagi?”

“Tidak, aku tidak haus, habiskan saja. Rumahku kan dekat, jadi aku bisa minum di rumah.”

“Oh iya, jadi teringat kemarin. Aku mau minta maaf ya Mas, soalnya ketika bu Saptari bicara tentang perjodohan antara Mas dan aku, aku belum bisa menerimanya. Aku kan masih kecil Mas, belum mau memikirkan berumah tangga.”

Bimo tersenyum. Ia sudah bersyukur karena ternyata Sarah tetap bersikap biasa setelah lamaran yang diajukan ibunya.

“Tidak apa-apa Sarah, aku mengerti. Mungkin aku yang sangat tergesa-gesa.”

“Tetaplah bersahabat seperti ini Mas, aku masih tidak ingin memikirkan berumah tangga.”

Lampu merah menyala, Sarah bergegas ke jalan, tapi sebuah mobil menghadangnya.

“Sarah.”

Sarah berdebar. Mas ganteng yang kaya itu lagi?

***

Besok lagi ya.

 

 

Wednesday, September 23, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 13

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  13

(Tien Kumalasari)

 

Bu Saptari menatap sang putra tak berkedip.

“Ini beneran? Kamu pengin Sarah menjadi istri kamu?”

“Iya Bu, ini cinta pada pandangan pertama.”

“Ya ampun, jadi penasaran aku, seperti apa wajah Sarah sekarang. Kalau dulu sih bayi, tapi meskipun bayi sudah kelihatan kalau dia cantik. Bibirnya tipis, hidungnya mancung. Eh, apa dia masih lesung pipit ya pipinya? Dulu kalau tertawa kelihatan benar pipinya lesung pipit.”

“Masih Bu. Lebih menarik lagi senyumnya.”

“Kelihatannya kamu benar-benar suka sama dia. Tapi Bimo, biar aku beri tahu, kamu mencari istri itu jangan hanya karena dia cantik. Kalau bisa ya cantik wajahnya, cantik budi pekertinya. Walau wajahnya kurang cantik, kalau pekertinya baik, tidak apa-apa. Yang penting cantik di dalamnya, bukan hanya wajahnya.”

“Bimo tahu, dia gadis yang luar biasa. Dia menjual koran setiap pulang dari sekolah, demi mencari uang untuk membantu neneknya, untuk meringankan bebannya. Bimo tertarik sejak pertama kali melihatnya, lalu jatuh cinta ketika sering bertemu dia.”

Saptari tersenyum.

“Anakku sudah dewasa ….”

“Sudah pantas punya istri kan?”

“Sudah bisa memilih, mana yang terbaik untuk hidupnya. Ibu bangga sama kamu Nak. Ibu percaya, pilihanmu pasti tidak salah.”

“Kalau begitu, penuhilah permintaan Bimo ya Bu.”

“Tentu. Besok ketika warung tutup, ibu akan menemui nenek Suli di rumahnya. Beri tahu ibu di mana alamatnya.”

“Tidak menunggu Bimo pulang kerja?”

“Tidak usah, kelamaan. Siang sebelum kamu pulang Ibu pasti segera berangkat. Kamu cukup memberikan alamatnya.”

“Baiklah. Ibuku memang yang terbaik”

Saptari mengelus kepala sang anak penuh kasih sayang.

“Ini sebuah keajaiban. Barangkali kamu memang berjodoh dengan Sarah. Pertemuan kalian yang tidak terduga mengatakan segalanya.”

Bimo tersenyum. Mimpinya akan menjadi nyata. Bisa berdampingan dengan gadis yang dikaguminya. Tapi apakah ia mau menerimanya? Tadi didepan neneknya dia terang-terangan menolak dijodohkan.

“Tapi neneknya kan hanya setengah bercanda. Kalau bicara serius, mungkin hasilnya akan beda,” kata batin Bimo yang terus ber andai-andai.

***

“Fajar, ternyata kamu di sini? Ibu cari-cari di dalam rumah tidak ketemu,” kata bu Pranoto yang menemui Fajar di kebun, di bawah pohon rindang yang memang dipergunakan untuk bersantai di kala hari terasa panas.

“Cari angin segar Bu. Berada di ruangan ber AC terlalu lama juga kurang baik. Udara di sini lebih segar.”

“Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak, mengapa Ibu berpikir begitu?”

“Tadi kamu sedang melamun bukan?”

“Tidak, hanya sedang menikmati segarnya angin di bawah pohon rindang ini.”

“Iya benar. Memang di sini terasa segar. Sebetulnya Ibu ingin meminta kamu mengantarkan Ibu belanja.”

“Sekarang?”

“Tadinya iya, tapi mengingat udara begini panas, jadi segan.”

“Bukankah di dalam mobil ada AC, di toko juga pasti dipasang AC.”

“Suasananya yang tidak menyenangkan. Nanti malam saja ya.”

“Sebenarnya Fajar kan sedang liburan di hari Sabtu ini.”

“Benar, tapi nanti malam saja. Kamu tidak berencana untuk ke mana-mana kan? Tapi kalau kamu ada rencana mau bepergian ya tidak apa-apa. Besok Ibu pergi sama Mentari saja.”

“Rasanya Fajar tidak ingin pergi ke mana-mana.”

“Baiklah, kalau begitu nanti malam saja. Tapi Fajar, coba katakan pada Ibu, kamu tadi sebenarnya sedang memikirkan apa?”

“Kan Fajar sudah bilang kalau Fajar sedang menikmati segarnya angin?”

“Tidak, seorang ibu akan tahu apa yang terjadi pada anaknya. Kamu sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan pacar? Kamu sudah punya pacar? Pastinya sudah kan? Pilihlah gadis yang baik kalau kamu sudah merasa serius.”

“Ibu ada-ada saja.”

“Katakan pada Ibu, siapa gadis itu.”

Fajar tertawa.

“Tidak ada Bu, Fajar belum laku.”

“Masa? Anak Ibu yang ganteng dan pintar ini belum laku? Katakan gadis mana yang menolak didekati anakku ini.”

Fajar tertawa sambil merangkul ibunya.

“Apa kelihatan kalau Fajar sedang jatuh cinta?”

“Nah, benar kan? Katakan pada Ibu, siapa dia, anak pengusaha mana, nama ayahnya siapa.”

Fajar tersenyum tipis. Mendengar pertanyaan sang ibu tentang ‘pengusaha mana’, sudah bisa dipastikan bahwa orang tua pasti memilih keluarga yang sejajar dengan keluarganya.

“Bagaimana kalau dia bukan pengusaha?”

“Oh ya, apa dia seorang konglomerat yang sudah pensiun?”

“Dia gadis biasa.”

“Ya, tentu saja gadis biasa. Perempuan, yang pasti cantik. Tak mungkin pilihanmu gadis yang kurang cantik. Pastinya harus sepadan dengan kamu kan? Ganteng dan cantik?”

“Apa Ibu ingin aku memiliki istri seorang gadis kaya? Anak pengusaha? Anak konglomerat yang sudah pensiun?”

“Ibu kan bertanya sama kamu. Barangkali saja salah satu diantaranya.”

“Bagaimana kalau itu gadis biasa? Maksud Fajar anak orang biasa, tidak kaya, bukan pengusaha, bukan orang berada.”

“Apa maksudmu? Kamu menyukai gadis seperti itu?”

“Seandainya iya, apa Ibu akan menentangnya?”

“Fajar, di mana-mana orang pasti mencari pasangan yang sepadan. Apa kamu tidak memikirkannya?”

Fajar menghela napas. Sekilas perkataan sang ibu, ia sudah bisa menilainya. Artinya mencari pasangan harus sepadan. Artinya pula, ia harus sama kayanya dengan keluarga orang tuanya.

“Mengapa diam?”

“Tidak apa-apa. Fajar baru bilang ‘seandainya’."

“Jadi kamu belum menentukan pilihan?”

Fajar terdiam.

“Pesan Ibu, cari gadis yang baik. Bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Dan satu lagi, gadis itu sebaiknya sejajar dengan keluarga kita.”

Fajar tak menjawab. Dan Bu Pranoto kemudian berdiri sambil mengingatkan keinginannya agar Fajar mengantarkan belanja nanti malam.

***

Hari itu Sarah sudah pulang dari sekolah. Ia pulang untuk makan, lalu ia akan mengambil dagangan koran untuk dijualnya seperti biasa.

Ia sudah berganti pakaian dan makan siang dari apa yang sudah disiapkan sang nenek, ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumah.

“Assalamu’alaikum ,,,," suara dari luar.

“Wa’alaikumussalam ,,, “ jawab Sarah sambil menyelesaikan makannya.

“Sebentaar....." teriaknya sambil membawa piring kotornya ke belakang, lalu bergegas untuk keluar.

Seorang wanita separuh baya yang masih segar dan berpakaian sederhana berdiri di depan pintu.

“Selamat siang, Nak.”

“Selamat siang Ibu. Ibu mencari siapa?”

“Apa benar ini rumah nenek Suli?”

“Iya benar Bu, tapi Nenek sedang di tetangga sebelah, akan saya panggilkan. Maaf, Ibu ini siapa?”

“Apa kamu ini …. Sarah?”

”Iya, saya Sarah. Bagaimana Ibu bisa tahu nama saya?”

“Saya bu Saptari, ibunya Bimo.”

“Oh, ya ampuun, kemarin mas Bimo sudah menceritakannya kalau ibunya mau datang kemari. Masuklah Bu, dan duduklah. Tapi ya seperti ini rumah nenek saya.”

“Ini bagus, biar sederhana tapi rapi," kata bu Saptari sambil duduk.

" Ibu tunggu sebentar, saya panggil Nenek saya dulu.”

“Jauhkah?”

“Tidak Bu, hanya di tetangga sebelah,” jawab Sarah sambil beranjak pergi.

Bu Saptari tersenyum.

“Sarah memang cantik. Dia sangat santun dan bersikap sangat baik. Semoga Bimo tidak salah memilih,” gumam bu Saptari sambil tersenyum-senyum sendiri.

Tak lama kemudian nenek Suli datang, dan kemudian mereka berangkulan dan bertangis-tangisan.

Sarah terharu melihatnya. Ia meninggalkan mereka dan ke belakang untuk membuatkan minuman.

Nenek Suli dan bu Saptari asyik bercerita tentang masa lalu mereka, yang akhirnya bu Saptari mengatakan tentang maksudnya untuk mengambil menantu Sarah. Kalau nenek Suli menyambutnya dengan gembira, tidak begitu dengan Sarah. Ia hanya tertunduk lesu, dan mengatakan kalau ia belum memikirkan untuk menjadi seorang istri.

Sampai kemudian bu Saptari pamit pulang, Sarah tetap mengatakan kepada neneknya kalau dia belum memikirkan untuk menjadi istri.

Nenek Suli kecewa, tapi ia tak bisa memaksa Sarah.

“Semuanya tergantung kamu Sarah, karena kamu yang akan menjalani. Tapi aku lihat Bimo itu anak yang baik. Saptari membesarkan dan mendidiknya dengan sangat baik, walaupun Bimo bukan anaknya sendiri.”

Sarah terkejut.

“Bukan anak bu Saptari?”

“Dia hanya anak angkat.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, September 22, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 12

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  12

(Tien Kumalasari)

 

Bimo menatap nenek Suli tak percaya. Jadi neneknya Sarah ini sudah mengenal ibunya?

“Iya kan, benar kamu si kecil Bimo. Waktu kecil kamu gemuk, sekarang badanmu tegap gagah seperti ini.”

Bimo tersipu. Ditatapnya Sarah yang juga menatapnya sambil tersenyum.

“Ternyata dulu Nenek tetanggaan sama ibunya mas  Bimo?”

“Iya, waktu itu kamu masih kecil, bapak ibumu masih ada. Tapi kemudian mereka meninggal ketika kampung kami dilanda banjir,” kata nenek Suli sendu.

"Kamu yang masih kecil Nenek gendong untuk mengungsi, lalu pindah rumah, ya yang kita tempati itu. Sedangkan Bimo kecil dan ibunya waktu itu entah pindah ke mana. Ee, sekarang bertemu lagi di sini dengan tak terduga.”

“Nanti saya bilang sama ibu, biar ibu saya berkunjung kemari.”

“Pasti seru kalau ketemu. Dulu ibunya Bimo ini akrab sekali dengan almarhum ibumu. Kapan ada waktu, suruh dia datang kemari, dia seperti anakku sendiri waktu itu.”

“Nek, jadi mengajak mas Bimo makan nggak?” tegur Sarah yang tidak suka melihat mata sang nenek berkaca-kaca, tampak sedih mengingat anak dan menantunya.

“Eh, iya … habis ketemu orang yang tidak disangka-sangka, ayo Nak, tadi Nenek masak sayur lembayung, ada sambal, ada ikan bakar. Ini kesukaan Sarah, pagi tadi setelah Sarah berangkat, Nenek memerlukan belanja sebentar. Ayo … jangan sungkan, tapi tempatnya sederhana, makanannya juga sederhana, jangan ditertawakan ya,” kata nenek Suli mendahului mereka masuk ke ruang makan mereka yang sederhana dan agak sempit.

“Duduklah Mas, ya seperti ini rumah aku, tadi Mas pengin lihat kan?”

Mereka duduk semeja, dan makan diselingi celoteh nenek Suli tentang masa kecil mereka.

“Coba tadi Mas nggak mau singgah, pasti nggak akan ketemu nenekku yang ternyata mengenal keluarga Mas.”

“Aku juga tidak mengira. Nanti aku pasti cerita sama ibuku.”

“Pokoknya aku tunggu, kapan ibumu bisa datang kemari.”

“Harus janjian Nek, nanti pas ibunya mas Bimo datang, Nenek pergi bekerja.”

“Iya juga. Begini Bimo, Nenek ini setiap hari kerjanya membantu tetangga. Ya nyuci, ya setrika baju, ya bersih-bersih. Yang penting dapat uang dan itu kan halal. Hasilnya ya untuk beaya membesarkan Sarah dan menyekolahkannya.”

“Iya Mas, Nenek membanting tulang untuk aku. Kelak aku harus bisa membahagiakannya. Dan itu pula sebabnya, setelah lulus lebih baik aku mencari kerja, agar Nenek tidak lagi bekerja terlalu keras.”

“Kamu cucu yang baik. Aku selalu kagum sama kamu,” kata Bimo, tulus.

“Kamu selalu begitu, aku sih biasa saja. Pokoknya kerja sebisa aku, masa nenekku membanting tulang aku enak-enak ongkang-ongkang.”

“Sarah itu orangnya keras kepala. Hari libur disuruh istirahat tidak usah jualan koran, nekat saja, katanya sayang, kalau dapat duit kan bisa ditabung. Tapi ya itu, setelah dia jualan koran itu, jarang sekali minta uang sama Nenek. Buku-buku beli sendiri. Pokoknya beban Nenek jadi lebih enteng.”

“Berbahagialah Nenek punya cucu yang baik. Tapi Nenek ini kan … maaf, sudah bisa dibilang tidak muda lagi … jadi ada baiknya juga mengurangi kegiatan, supaya Nenek tetap sehat.”

“Iya, gampang. Nanti Nenek atur. Yang penting Nenek masih kuat bekerja, dan kalau masih kuat ya tidak bisa berhenti.”

“Nenek itu juga ngeyel. Bisa memarahi aku, disuruh istirahat … tapi Nenek sendiri tetap tidak mau berhenti.”

“Harus ada istirahatnya Nek, sayang kalau sampai Nenek kecapekan, nanti malah tidak bisa bekerja lagi.”

“Iya … iya, kamu ini ternyata juga cerewet seperti Sarah sih?” omel nenek Suli, membuat Sarah dan Bimo tertawa.

“Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya kalian ini berjodoh,” kata nenek Suli meluncur begitu saja, membuat Sarah dan Bimo terkejut.

“Apa maksud Nenek?” sergah Sarah.

Nenek Suli tertawa.

“Jangan dipikirkan, terkadang orang tua mikirnya sangat jauh. Kelak kalau Nenek sudah tidak ada, Sarah harus sudah berada di samping laki-laki baik yang bisa melindunginya. Nenek kok berpikir … bagaimana kalau laki-laki itu Bimo?”

“Nenek jangan berpikir yang tidak-tidak, Sarah belum memikirkan jodoh. Sudah hentikan. Mas Bimo hanya sahabat Sarah yang sangat baik. Ya kan Mas?”

Bimo mengangguk, tapi tak bisa dipungkiri, perkataan nenek Suli membuatnya berdebar, lalu sebuah harapan muncul. Bagaimana kalau iya?

***

Bu Lurah kesal, sudah seminggu Bowo tidak tidur di rumah ibunya, tapi di rumahnya sendiri.

Sore hari itu bu Lurah datang dengan seabreg omelan panjang seperti kereta malam jurusan Jakarta Solo.

Bowo hanya diam. Ia tahu ibunya marah, tapi Bowopun juga sedang marah kepada sang ibu, gara-gara bingkisan untuk Sarah diambil kembali oleh ibunya, sehingga membuatnya malu.

“Kamu dengar tidak apa yang ibumu katakan ini? Dengar tidak?”

“Bu, aku bukan anak kecil yang berkali-kali dimarahi karena permasalahan yang sama. Aku kesal pada Ibu yang membuat aku malu.”

“Memangnya kenapa? Aku membuat malu apa?”

“Ibu mengambil kembali bingkisan yang Bowo berikan pada Sarah. Malu aku.”

“Justru kamu yang harusnya malu, kenapa memberi sesuatu kepada orang yang sudah jelas-jelas menolak kamu. Kamu tidak malu Wo? Mengemis cinta kepada keluarga miskin seperti nenek Suli? Seandainya dia mau menerima, Ibu akan berusaha menerimanya walau agak kecewa. Tapi dia menolak Bowo, tidak malu kamu, anak bu lurah ditolak keluarga tukang cuci?”

“Bowo hanya cinta sama dia, Bu.”

“Jangan bodoh! Apa kurang gadis-gadis cantik di sekitar kamu, di mana kamu bisa memilih salah satu diantaranya? Mengapa malah memilih gadis yang tidak berharga, tidak berkelas, tidak berderajat dan tidak pula berpangkat?”

“Ini masalah rasa Bu.”

“Makan tuh rasa. Hidup tidak cukup dengan rasa. Kedudukan itu penting, dan harus dipertahankan. Jadi orang jangan bodoh-bodoh amat Wo. Dengar, ayo sekarang pulang. Kamu biarkan ibumu di rumah sendirian?”

“Kan ada pembantu?”

“Memangnya ibumu pantasnya berteman dengan pembantu?”

“Kan Ibu butuh teman, agar tidak sendirian.”

“Jadi kamu sudah tidak mau menemani ibumu ini lagi?”

“Maaf Bu, Bowo ingin menenangkan pikiran dulu.”

“Ya ampuuun, gara-gara perempuan murahan itu maka pikiran kamu jadi tidak tenang?”

“Maaf Bu.”

Bu Lurah meninggalkan rumah Bowo dengan mengomel panjang pendek di sepanjang perjalanan pulang. Sangat marah menyadari bahwa putranya tak mau mendengar kata-katanya.

***

Bu Saptari sangat heran mendengar cerita putranya, bahwa tadi bertemu  nenek Suli. Mereka dulu memang bertetangga, sebelum kampung mereka musnah disapu banjir, dan nenek Suli kehilangan anak dan menantunya.

“Bayi itu sudah dewasa ya? Waktu itu kamu masih kecil, dan bayi bernama Sarah itu dibawa neneknya entah ke mana. Syukurlah mereka selamat. Ibu ikut senang.”

“Apa Ibu tidak ingin menemui nenek Suli?”

“Tentu saja Bimo, besok atau kapan ya, ibu ingin sekali bertemu.sebesar apa Sarah sekarang?”

“Dia sudah hampir lulus SMA.”

"Waktu bayi dia sangat menggemaskan, cantik dan lucu.”

“Sekarang juga masih cantik dan lucu Bu.”

Bu Saptari tertawa.

“Kamu mengenal baik gadis itu?”

“Dia kalau siang sampai sore menjual koran di perempatan sana. Bimo kadang-kadang membantunya berjualan.”

“Mengapa tidak kamu minta dia singgah ke rumah? Ibu ingin sekali melihat dia, seperti apa sekarang.”

“Nanti kalau Ibu ke sana pasti bisa melihatnya, lalu Ibu bisa melamarkan dia untuk Bimo.”

“Apa? Kamu ingin Ibu melamar dia?”

Bimo mengangguk mantap.

***

Besok lagi ya,

Monday, September 21, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 11

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  11

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut, Mentari mengatakan seperti apa yang pernah dikatakannya. Bimo dan Fajar sangat mirip, hanya beda penampilan, karena keadaan ekonomi mereka yang berbeda.

“Mentari, pendapat kamu kok sama dengan pendapat aku, mereka mirip seperti kembar, iya kan?”

“Tapi kakakku tidak terlahir kembar.”

“Iya, aku tahu.”

“Kalian ada-ada saja,” kata Fajar yang kemudian juga ikut turun.

“Sarah, kenalkan dong dengan pacar kamu.”

“Mas Bimo, kenalkan, ini temanku, Mentari, adiknya mas Fajar ini. Eh, tapi jangan ngawur Mentari, dia bukan pacar aku, nanti aku dimarahi pacar dia yang benar-benar pacarnya."

Semuanya tertawa, kemudian saling bersalaman. Mentari tak henti-hentinya menatap keduanya sambil merasa heran, mengapa wajah kakaknya bisa persis dengan wajah laki-laki bernama Bimo ini.

“Aku baru tahu kalau kamu jualan koran. Sini, aku juga beli. Eh, masih berapa itu?”

“Masih banyak, ada lima. Nih, kamu juga beli sementara kakak kamu sudah beli?”

“Nggak apa-apa, nanti aku bagi-bagi ke orang lain, aku ambil semuanya.”

“Semua?”

“Iya, supaya kamu tidak lagi berpanas-panas, nanti kulit kamu jadi hitam.”

“Kulit aku memang sudah hitam, tahu.”

“Nggak, kulit kamu bukan hitam, kuning bersih. Mana korannya, ini uangnya.”

“Sebentar, kembaliannya,” kata Sarah sambil merogoh sakunya untuk mengambil kembalian.

“Nggak usah, kembaliannya buat kamu saja.”

“Mentari….”

Mentari meraih sisa koran di tangan Sarah, kemudian menggandeng kakaknya  yang sedari tadi diam sambil tersenyum-senyum.

“Sarah, pergi dulu ya. Bimo ….” Fajar melambaikan tangannya ke arah Bimo, yang membalasnya dengan hangat.

Ketika mereka berlalu Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dia teman kamu?”

“Mentari itu teman sekolah aku, yang ternyata adiknya mas Fajar. Aku baru tahu ketika datang memenuhi undangan temanku yang ulang tahun.”

“Teman kamu orang-orang kaya,” kata Bimo.

“Kebetulan saja aku diterima di sekolah anak orang-orang kaya.”

“Ayo mas, aku traktir minum es kelapa muda di sana itu.”

“Apa? Masa kamu mentraktir aku, bukan kebalik nih, aku yang harus mentraktir.”

“Kata siapa mengharuskan Mas yang harus mentraktir? Aku sedang banyak rejeki nih, ada baiknya kita berbagi. Ayo Mas, udara sangat panas, pasti segar minum es kelapa muda,” kata Sarah yang langsung berjalan ke arah penjual es di depan mereka.

***

“Sebenarnya Mas sudah lama kenal Sarah ya?” tanya Mentari dalam perjalanan pulang.

“Belum lama, baru beberapa minggu ini, setiap pulang kantor, dia selalu menjajakan koran di perempatan sana tadi.”

“Jadi karena itu Mas kemudian kenal?”

“Iya.”

“Ketika di pesta ulang tahun teman aku itu, Mas juga ketemu dia?”

“Aku bahkan mengantarkan dia pulang.”

“Apa? Jadi ketika aku mencari-cari Mas, dan teman-teman juga mencari Sarah itu ….”

“Aku sudah mengantarkannya pulang. Tadinya menolak, aku kasihan dia pulang sendiri, kan sudah mengenal dia siapa.”

“Ya ampuuun, mengapa juga dia pulang lebih dulu?”

“Mungkin merasa tidak sepadan dengan kalian.”

“Itu perasaan dia. Kasihan juga, ada yang menghina dia waktu itu sih, katanya pakaiannya dan sepatu yang dipakainya tidak pantas. Aku kesal sama teman aku itu. Sarah itu pintar dan baik hati, jadi banyak yang suka dia.”

“Mungkin karena itu, mengapa dia pergi.”

“Kalau saja aku tahu waktu itu, aku pasti memaksanya tinggal.”

“Dia keluar ketika kalian masih menyanyi-menyanyi ….”

"Kasihan, aku sih tidak merasa dia itu rendahan. Di sekolah aku, semuanya sama. Memang sih, ada yang nggak suka dia, mungkin karena iri, kalah pintar. Tapi lebih banyak yang suka.”

“Wajar kalau ada orang yang berbeda pandangan. Kamu jangan ikut-ikutan. Kaya atau miskin itu hanya sandangan. Semuanya sama dimata Allah, ya kan?”

“Iya, aku tahu, apalagi dia itu baik dan pintar. Aku sering bertanya tentang pelajaran sama dia.”

***

“Mengapa kalian membeli koran sebanyak ini?” teriak sang ayah ketika Fajar dan Mentari pulang sambil meletakkan tumpukan koran di meja.

Mentari tertawa.

“Sama semua ya?”

“Ini sama, mending kamu beli yang berbeda.”

“Teman Mentari yang jual koran, karena kasihan, Mentari beli koran jualan dia yang tersisa.”

“Teman kamu jualan koran?”

“Iya. Ternyata dia langganan mas Fajar yang setiap pulang kantor beli koran dagangan dia.”

“Tapi kemudian kamu membeli koran sebanyak ini?” sambung sang ibu.

“Kasihan Bu, udara sangat panas, kalau korannya habis dia kan bisa langsung pulang.”

“Anak Ibu memang baik hati. Teruslah begitu ya Nak, penuh kasih sayang kepada sesama,” kata sang ibu sambil mengelus kepala anaknya.

“Rumahnya di mana?”

“Sepertinya tidak jauh dari tempat itu. Kalau sekolah dia juga hanya jalan kaki. Jadi dari situ itu tidak jauh dari rumahnya, dan tidak jauh dari sekolah kami.”

“Teman sekolah kamu?” tanya bapaknya.

“Iya Pak, teman sekolah. Dia dari keluarga sederhana, tapi dia pintar, Mentari sering belajar sama dia dan menanyakan banyak hal.”

“Ternyata rajin dan pintar.”

“Tadi tuh Bu, ketika mas Fajar berhenti di sana untuk membeli koran, ada teman Sarah yang menemani di sana, seorang laki-laki.”

”O, dia sudah punya pacar?”

“Dia bukan pacarnya," celetuk Fajar yang sejak tadi diam.

“Iya, katanya memang bukan, tapi yang membuat Tari heran Bu, wajah teman Sarah itu sama persis dengan wajah mas Fajar.”

“Sama persis bagaimana?”

“Ya sama, seperti kembar.”

“Apa? Kembar?”

“Bukankah mas Fajar tidak dilahirkan kembar?”

Pak Pranoto saling pandang dengan istrinya, lalu keduanya geleng-geleng kepala.

“Jangan bercanda. Ayo kita makan siang, ruang makan sudah ditata, hanya menunggu kalian pulang,” kata sang ibu sambil berdiri.

Mentari menggandeng tangan kakaknya, mengajaknya mengikuti sang ibu.

Sambil berjalan itu, Fajar mengomeli adiknya. 

"Kamu sama saja dengan Sarah, mempermasalahkan wajahku dan wajah Bimo yang menurut kalian adalah mirip,” omel Fajar tak terima.

Mentari hanya ngengir, tak peduli protes sang kakak. Menurutnya, memangnya kenapa kalau mirip?

***

“Syukurlah, kamu menepati janjimu, pulang cepat," kata nenek Suli.

“Iya Nek, karena ada yang memborong koran aku.”

“Memborong koran? Masa koran diborong? Mau dijual lagi, gitu?”

“Tidak, ada teman Sarah, yang membeli sisa dagangan koran Sarah, katanya mau dibagi-bagi, entah dibagi ke mana. Pokoknya koran Sarah laku dan dia juga memberi uang lebih.”

“Dia baik hati benar. Itu teman kamu?”

“Teman sekolah Nek, anak orang kaya.”

“Ya sudah, cuci kaki tanganmu, ayo kita makan.”

“Nek, ada teman Sarah yang datang kemari.”

“Teman kamu?”

“Iya, dia ingin tahu di mana rumah Sarah.”

“Mana dia?”

"Ada di depan Nek, apa boleh mengajak dia makan siang sekalian?”

“Masakan Nenek kan masakan yang sederhana, kalau disuguhkan tamu, apa tidak malu-maluin?”

“Dia baik Nek, pasti mau, Ayo Nenek temui dia dulu, dia benar baik.”

“Kamu suka sama dia?” tanya nenek Suli penuh selidik.

“Tidak Nek, rumahnya dekat dengan tempat Sarah menjajakan koran. Kami hanya berteman, dia baik, suka membantu menjualkan koran Sarah juga. Beneran, dia baik, ayo Nenek temui dia dulu,” kata Sarah sambil menggandeng tangan Nenek diajaknya ke depan.

Bimo duduk di kursi kayu depan rumah, sambil menundukkan wajahnya. Tadinya dia hanya ingin tahu di mana rumah Sarah, tapi Sarah memaksanya singgah.

“Mas Bimo, ini nenek aku.”

Bimo berdiri, menyalami tangan nenek Suli dan menciumnya. Tapi nenek Suli menatapnya tajam.

“Namamu Bimo?”

“Iya, Nek.”

“Kamu anaknya Saptari?”

Bimo menatapnya heran.

“Entah benar atau tidak, aku dulu tetanggaan dengan Saptari, anaknya laki-laki, waktu itu, masih kecil,namanya Bimo. Wajahnya kok mirip kamu. Mungkin mata tuaku salah.”

“Nenek, memang benar, ibu saya bernama Saptari.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 20, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 018

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  018

(Tien Kumalasari)

 

Merasa tak diperhatikan saat mengadu kepada nyonya majikannya, Rumi memanas-manasi pembantu yang lain supaya membenci Menur.

“Coba lihat, dia yang baru datang diperlakukan istimewa. Kemarin itu, ketika tuan dan nyonya makan pagi, masa iya, menawari si pengais sampah itu untuk makan bersama mereka?” kata Rumi kepada temannya dengan mulut monyongnya.

“Masa iya?”

“Aku tidak bohong.”

“Tapi aku tidak melihatnya makan semeja bersama majikan kita tuh?”

“Karena dia menolaknya. Pasti karena takut pada nyonya, yang sedikit banyak sudah tahu kalau dia punya niat buruk.”

“Menurutku dia itu baik lhoh,” kata yang lain.

“Bener, dia itu baik, ramah dan suka membantu kita. Kalau dia sudah tidak bersama non Ana, dia pasti membantu kita melakukan apa saja yang sedang kami lakukan.”

“Alaaaa, kalian itu masa sih begitu bodohnya? Dia itu bersikap baik hanya untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar. Pertama, dia merayu non Ana supaya meminta kepada orang tuanya, agar si pengais sampah itu boleh menjadi pengasuhnya. Lalu dia diperlakukan sangat istimewa. Masa sih, dia memanggil nyonya besar tuh ‘bulik’. Bulik dari mana coba? Masa nyonya besar punya kemenakan seperti itu? Lalu karena bujuk rayunya juga, dia dibelikan baju-baju hampir selemari penuh tuh. Apa kita pernah diperlakukan seperti itu?”

“Mungkin juga biarpun miskin tapi masih terhitung saudara majikan kita.”

“Ya nggak mungkin … nggak mungkin. Lalu yang lebih aku takutkan tuh apa, kalau sampai dia merayu tuan kita.”

“Masa sih?”

“Nggak mungkin lah.”

Mereka bersahutan tidak mempercayai apa yang dikatakan Rumi, membuat Rumi kesal, kemudian meninggalkan mereka yang sedang beristirahat siang itu.

***

Hari-hari berlalu, dan tampaknya kecurigaan Lili tidak beralasan. Menur sangat santun, dan tidak pernah sekalipun kelihatan bicara dengan suaminya. Ia hanya melayani keinginan Ana, mendongeng, membuatnya senang. Bahkan kalau siang Menur juga mengeloninya tidur sambil menepuk-nepuk pantatnya lembut.

***

Hari itu Baroto pergi ke rumah sakit. Hasil tes DNA itu keluar hari itu. Dengan berdebar Baroto membuka amplop hasil tes, dengan perasaan tak sabar. Matanya terbelalak ketika membacanya. Wajahnya berbinar, dan tanpa terasa air mata menggenangi pelupuknya.

“Dia anakku … dia anakku …” gumamnya pelan, tak peduli pada beberapa orang yang bersimpangan dengannya merasa heran karena ada laki-laki ganteng berbicara sendiri.

Ia segera mengambil mobilnya, dipacunya menuju ke rumah Menur. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Ini masih jam pelajaran. Rahman pasti belum pulang. Sebentar, harus ada sesuatu yang diberikannya kepada Rahman. Baroto berpikir, apa ya sesuatu itu. Sambil mengendarai mobil dia melamunkan apa yang dinamakannya ‘sesuatu’ itu.

Ah ya, baju, sepatu, tas sekolah yang bagus, lalu apa lagi? Mainan? Mainan apa yang disukai Rahman? Kalau harus ditawarkan, tak mungkin Rahman mau mengatakan apa keinginannya. Tapi kemudian Baroto hanya mampir membeli baju-baju dan celana untuk Rahman. Ada lima atau enam setel, dan sepatu. Apa Rahman suka bermain bola? Anak seusia Rahman pasti suka bermain bola. Apa sebaiknya dibelikan sepatu bola juga, dan bolanya? Bagus sekali, supaya Rahman bisa mengajak teman-temannya bermain bola.

Siang hari itu Baroto sudah sampai di sekolah Rahman, di bagasi penuh dengan barang-barang yang dibelinya untuk Rahman, termasuk sepatu bola dan bolanya sekalian. Belum saatnya bubaran sekolah.  Baroto turun, lalu menuju ke kantor sekolah, berbicara dengan kepala sekolah, entah apa yang dibicarakannya. Baroto segera keluar lagi dan menunggu di mobil, karena sudah terdengar bel usai sekolah.

Baroto mengawasi anak-anak yang keluar dari sekolah itu. Ketika melihat bayangan Rahman, ia segera turun dari mobil.

“Rahman,” panggilnya ketika sudah dekat. Rahman menghampirinya. Ia terpaksa tak bisa menuruti permintaan sang ibu untuk menjauhinya. Om ganteng itu terlalu baik, bagaimana mungkin dia harus menjauhinya?

Rahman terkejut ketika tiba-tiba Baroto memeluknya erat. Erat dan lama sekali, sampai ia menjadi perhatian murid-murid lain yang berhamburan keluar dari halaman.

“Om, ada apa ini? Mengapa om memeluk aku?” tanya Rahman setelah dia meronta sehingga Baroto terpaksa melepaskan pelukannya. Rahman juga melihat ada air mata di pelupuk om yang bak hati itu.

“Ada apa Om?”

Baroto tersenyum, ia tak harus mengatakannya sekarang.

“Karena sebentar lagi om akan kembali ke luar negri, jadi akan lama nggak ketemu Rahman.”

“Oo …” hanya itu jawaban Rahman.

Lalu Baroto mengajaknya masuk ke dalam mobil. Rahman heran banyak barang-barang di dalam mobil.

“Om belanja apa saja? Banyak bener,” celetuk Rahman.

“Itu semua untuk Rahman.”

Rahman tertegun. Ia menatap om gantengnya dengan tatapan tak percaya. Pasti si om ganteng bercanda. Mengapa sih siang ini dia bersikap aneh? Memeluknya erat, lalu mengatakan bahwa barang-barang yang ada di mobilnya adalah untuk dirinya. Masa iya? Rahman melirik bola yang terletak paling atas diantara tumpukan barang-barang. Om ganteng suka main bola juga?

Baroto tersenyum lebar melihat Rahman tampak kebingungan.

“Om bercanda kan?”

“Tidak, ini beneran untuk kamu.”

“Om aneh siang hari ini.”

“Bukankah om sudah mengatakan bahwa sebentar lagi om akan kembali ke luar negri? Itu sebabnya om belikan itu semua untuk kamu, agar kamu tidak melupakan om,” kata Baroto sambil menjalankan mobilnya.

Rahman menatapnya terus, masih tak percaya. Dengan sebelah tangannya Baroto mengelus kepala Rahman, anak kandungnya yang baru saja ditemukannya setelah berhari-hari menjadi pertanyaan yang menumpuk di benaknya.

Rasanya ingin sekali ia memeluknya terus dan tak akan pernah melepaskannya. Anaknya, darah dagingnya, buah cinta yang lama ditinggalkannya.

“Mengapa Om begitu perhatian pada Rahman?”

“Karena kamu anak baik, anak pintar, bukan hanya pintar menangkap semua nasihat baik, tapi juga pintar di sekolah. Kamu anak yang membanggakan.”

“Dari mana Om tahu kalau aku pintar? Om tidak pernah melihat nilai sekolah aku.”

“Aku tadi bertemu guru kamu, kepala sekolah kamu. Semua memuji kamu. Om bangga sekali sama kamu.”

Ya ampuun, Rahman heran sekali. Begitu besar perhatian om ganteng sampai menemui guru dan kepala sekolahnya untuk menanyakan dirinya dan prestasi di sekolahnya? Tapi Rahman tak berkomentar. Ia begitu terkejut atas sikap aneh yang tiba-tiba ini.

“Tadi om sudah beli makanan. Kita makan di rumah kamu saja ya, supaya kamu segera bisa melihat barang-barang yang om belikan untuk kamu.”

Rahman hanya mengangguk. Sebagai anak kecil, tentulah ia ingin tahu segala sesuatu yang dikatakannya sebagai hadiah untuknya.

Begitu turun dari mobil, Baroto meminta agar Rahman membantu menurunkan barang-barang yang dibeli untuknya. Rahman melakukannya dengan keheranan yang tak habis-habisnya.

Mereka meletakkan barang-barang di dalam rumah yang tidak begitu besar itu, dan Rahman memegangi barang-barang itu tetap dengan perasaan heran.

“Ini baju-baju dan celana untuk Rahman, cobalah salah satu, yang lain ukurannya sama kok. Lalu ini sepatu untuk kamu sekolah, ada dua, bisa dipakai bergantian, juga tas untuk kamu sekolah. Lalu yang ini sepatu untuk main bola. Kamu suka main bola? Bolanya juga sudah ada tuh.”

Rahman menatapnya takjub. Tentu saja dia suka main bola. Di sekolah atau di kampung dia suka main bola bersama teman-temannya.

“Suka Om.”

“Bagus, berarti tidak sia-sia om beli semua ini untuk kamu.”

“Mengapa om beli semua ini untuk Rahman?”

“Masih bertanya lagi? Karena om sudah mau kembali ke luar negri. Supaya Rahman tidak melupakan om.”

“Mana mungkin Rahman melupakan Om? Om sangat baik pada Rahman.”

Baroto tersenyum, ia mendekati Rahman dan merangkulnya lalu mencium kepalanya dengan penuh sayang.

***

Barangkali jawaban itu bisa memuaskan Rahman. Supaya dirinya tidak melupakan om ganteng. Tapi bagi Menur, yang pulang pada sore harinya, itu sangat membuatnya kesal. Sikap Baroto, semua pemberian-pemberiannya, adalah sesuatu yang luar biasa. Ia berjanji besok akan menegurnya. Atau … Baroto sudah tahu kalau Rahman adalah darah dagingnya?

Menur takut sekali. Setelah ini, lalu apa? Rahman akan dimintanya? Tidak, Menur tak akan mengijinkannya. Rahman adalah miliknya. Tapi bagaimana kalau Baroto kemudian ingin memperistrikannya lagi? Tidak, hal itu tidak mungkin dilakukan. Walau punya istri dua itu bukan larangan, tapi kehidupan keluarga tidak akan bisa tenang. Ia tak mau merusaknya.

Semalaman Menur tak bisa tidur, karena selalu memikirkannya.

***

Pagi hari itu Menur pergi ke sekolah Rahman. Ketika membayarkan uang sekolah, ia belum bisa membayar uang ujian karena uangnya tidak cukup. Pagi itu dia sudah minta ijin kepada Ana bahwa akan datang agak terlambat karena harus mampir ke sekolah Rahman terlebih dulu.

Ia langsung menemui bendahara sekolah, mengutarakan maksudnya, dan mengeluarkan uang untuk memenuhi pembayarannya. Tiba-tiba kepala sekolah yang melihatnya segera menghampiri.

“Ibu akan membayar apa?”

“Kekurangan uang ujian untuk Rahman Pak, dulu itu belum bisa membayar karena uangnya belum cukup.”

”Tapi semuanya sudah dibayar oleh bapak Baroto. Lunas sampai nanti dia lulus.”

“Apa?” Menur tentu saja sangat terkejut.

“Dia juga sudah berpesan kepada saya agar nanti setelah Rahman lulus, saya mendaftarkannya ke sekolah terbaik di kota ini.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, September 19, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 10

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  10

(Tien Kumalasari)

 

Bowo terus melangkah mendekat, tak surut sedikitpun walau nenek Suli menatapnya sengit. Selalu terbayang ketika cucu kesayangannya digelandang ke kantor polisi gara-gara kelakuan Bowo, sehingga ibunya menyeret Sarah ke kantor polisi.

“Ada apa kamu ini? Dan mau apa lagi? Kalau mau membuat keributan lagi, aku akan berteriak agar tetangga datang dan mengusir kamu.”

“Nenek, saya datang untuk meminta maaf. Maafkan saya telah membuat Sarah dibawa ke kantor polisi, maafkan aku, Sarah. Aku mengaku salah.”

“Ya sudah, aku dan Sarah memaafkan kamu, tapi jangan lagi pernah datang kemari.”

“Kan saya sudah meminta maaf Nek.”

“Kalau sudah meminta maaf, lalu kamu berpikir akan bisa sesuka hati kamu untuk datang kemari demi mendekati Sarah?”

“Nenek ….”

“Tidak. Kamu dan keluarga aku berbeda jauh. Kamu kaya dan juga anak orang kaya, sedangkan Sarah anak orang miskin, cucu orang miskin.”

“Tapi saya tidak membedakan keadaan keluarga kita Nek, saya menyukai Sarah dengan tulus, biarpun Sarah adalah  cucu Nenek, yang bukan orang berada.”

“Apapun yang kamu katakan, aku tidak mau mendengarnya. Ibumu sudah menghina keluargaku.Aku akui aku ini miskin, tapi aku tidak berharap bisa sejajar dengan keluarga kamu yang kaya raya.”

“Nek, mohon Nenek memaafkan ibu saya. Yang menjalani itu saya, bukan ibu saya.”

“Memangnya kamu bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan orang tua?”

“Saya sudah berdiri sendiri, dan bisa melakukan apa yang menjadi keinginan saya tanpa melibatkan orang tua saya.”

“Omong apa kamu itu. Mana ada anak berbuat tanpa melibatkan orang tua? Memangnya kamu itu jatuh dari langit?”

“Sarah, bukankah kamu mau memaafkan aku? Ini, terimalah sebagai permintaan maaf aku,” kata Bowo sambil memberikan sebuah bungkusan. 

Entah isinya apa. Tapi Sarah mengacuhkannya.

“Sudah aku maafkan, tidak usah membawa apa-apa untuk aku.”

Tapi Bowo nekat meletakkan bungkusan itu di sebuah bangku yang ada di depan rumah.

“Bawa kembali ini, jangan taruh di situ,” kata nenek Suli.

“Ini hanya sebagai tanda bahwa ….”

Tiba-tiba seorang wanita datang dengan wajah berapi-api.

“Bowo. Apa yang kamu lakukan?”

Bu Lurah tiba-tiba muncul. Ia melihat nenek Suli menuding bungkusan yang diletakkan Bowo, lalu bu Lurah mengambilnya dengan gerakan kasar.

“Kamu memberi apa pada keluarga ini?” hardiknya.

“Bu, mengapa Ibu datang kemari?”

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh lagi mendekati keluarga ini? Ayo pulang.”

“Bungkusan itu biar di sini.”

“Tidak, jangan sekali-sekali memberikan apapun untuk keluarga ini. Ayo pulang!” bu Lurah membawa bungkusan itu dan menarik anaknya untuk pergi.

"Aku hanya meminta ma'af."

"Mengapa kamu meminta maaf? Dasar bodoh."

Suara itu semakin menjauh tapi masih terdengar omelannya di sepanjang jalan.

Nenek Suli mengajak Sarah masuk ke rumah, kemudian menutup pintunya dengan keras.

“Manusia sombong. Biar aku miskin aku tidak mau menerima barang-barang kamu.”

“Sudah Nek, jangan marah lagi. Mereka sudah pergi,” kata Sarah sambil merangkul neneknya.

“Jangan sekali-sekali kamu mau didekati dia.”

“Iya, jangan khawatir Nek. Sekarang Sarah bekerja dulu ya Nek, sebentar saja.”

“Hati-hati dan cepat pulangnya.”

***

Sarah sudah ada di perempatan jalan sambil membawa setumpuk koran. Seperti biasa dia masuk diantara lalu lintas yang berhenti di perempatan karena lampu merah. Lumayan, satu dua koran terjual.

Ketika ia sedang beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, seseorang mendekatinya.

“Sarah, kamu tidak libur?”

“Mas Bimo, ini hari Minggu kok ada di sini, memang kantornya buka?”

“Kamu itu, ditanya belum jawab malah ganti nanya. Aku kan jelas kelihatan pakai baju rumahan, kaos santai, kalau kerja kan nggak mungkin. Kamu itu lhoh, hari Minggu juga cari uang?”

Sarah tertawa.

“Memangnya cari uang harus ingat hari?”

”Umumnya kan kalau Minggu libur?”

“Itu kan anak sekolah, pekerja kantoran, aku kan penjaja koran, nggak ada hari libur dong. Tapi kalau pengin libur ya suka-suka saya, mau Minggu, mau Senen, mau Kamis … ya kan?”

“Iya, anak pintar. Rajin banget kamu.”

”Biasa saja, aku sering jualan walau Minggu, lumayan buat nabung.”

“Apa kamu setelah lulus ingin lanjut kuliah?”

“Ah, ya tidak Mas, mana mampu nenekku membeayai aku kuliah? Ini saja sudah menguras tenaga Nenek, sampai kerja seharian. Makanya aku bantu-bantu jualan begini, supaya mengurangi beban Nenek.”

Bimo mengangguk-angguk. Rasa kagumnya kepada Sarah semakin besar. Ia rajin dan pintar demi meringankan beban neneknya.

“Orang tua kamu di mana?”

“Orang tuaku sudah meninggal dua-duanya, ketika aku masih kecil. Itu sebabnya aku dirawat Nenek.”

“Owh, begitu?”

“Sebentar Mas, sudah lampu merah.”

“Sini aku bantu,” dan tanpa banyak cakap Bimo mengambil beberapa koran Sarah, dibawanya ke tengah jalan dan ikut menawarkannya diantara para pengendara.

Sarah hanya tertawa dan membiarkannya.

Ketika lampu berubah hijau, keduanya berlarian menepi. Bimo mengembalikan sisa koran dan uang koran yang laku.

“Nih, laku hanya satu.”

“Terima kasih ya Mas, ini keuntungannya buat Mas.”

“Nggak mau, ambil saja, aku kan hanya membantu. Lagian cuma bisa laku satu.”

“Aku juga cuma laku dua Mas, nggak apa-apa, terima kasih banyak ya.”

“Ya sudah, ambil saja keuntungannya untuk kamu.’

“Terima kasih ya Mas, mau bersusah payah jual koran untuk aku.”

“Pengin ngerasain … kamu begitu cekatan begitu …”

”Karena sudah biasa …”

“Kamu tidak capek pulang sekolah lalu jualan?”

“Nggak ah, kalau punya keinginan nggak boleh capek. Bukankah uang bisa di dapat karena keringat?”

Bimo, sekali lagi mengangguk kagum. Sarah memang luar biasa.

“Mas kok masih di sini, hari Minggu jalan-jalan, atau pacaran … gitu.”

Bimo tertawa.

“Aku nggak punya pacar. Mana ada gadis yang mau sama laki-laki tidak berduit seperti aku?”

“Eh, nggak boleh bilang begitu. Uang bukan ukuran untuk menyukai seseorang.”

“Haaa, kamu sudah bisa bilang begitu, memangnya kamu pernah menyukai seseorang?”

“Ya tidak Mas, tapi apa yang aku katakan itu benar kan?”

“Sok tahu kamu.”

Mereka menghambur ke jalan lagi ketika lampu merah.

***

Fajar sedang menuju pulang setelah mengantarkan Mentari belanja. Sebenarnya Mentari masih ingin ke tempat lain untuk membeli baju sesuai keinginannya, tapi Fajar mengaku lelah dan minta agar segera pulang.

“Mas Fajar tuh, baru masuk dua toko saja sudah bilang lelah, aku kan belum selesai belanja?”

“Masuk dua toko besar, dan kamu hanya berputar-putar tak segera menemukan yang cocok. Jalan-jalan dan berputar putar di toko besar, kalau dihitung sudah lebih dari sepuluh kilo, bagaimana nggak capek?”

“Ngarang deh, masa sampai puluhan kilo.”

“Kamu tidak segera merasa cocok, dari sini … pindah sana … pindah sini … kembali lagi ke sana … dua toko begitu terus, bayangin, siapa yang nggak capek.”

“Habis belum ada yang cocok.”

“Selera kamu sangat rumit, jadi nggak ada yang cocok.”

“Tapi … eh Mas, kok lewat sini sih.”

"Diam saja, kamu tinggal ngikut, nggak usah protes."

“Mau ke mana sih?”

“Pokoknya diam dulu, nanti juga tahu.”

Mentari heran ketika mobil kakaknya berhenti sebelum perempatan jalan, dan berteriak kepada seseorang.

“Korannya masih ada?”

Sarah terkejut, ia menoleh ke arah mobil. Senyumnya mengembang ketika melihat Fajar melongok dari jendela.

“Koran Pak?”

Fajar tertawa.

 "Koran Minggu ya?”

“Ya Minggu, ini kan hari Minggu?”

Tapi tiba-tiba Mentari berteriak.

“Haa? Kamu Sarah?”

Sarah terkejut, ternyata Fajar tidak sendiri, dan gadis di sampingnya itu sangat dikenalnya.

“Kok kamu? Kamu jualan koran?” tanya Mentari heran. 

“Iya, baru tahu ya?”

Mentari turun, lalu ia melihat ke arah laki-laki yang berdiri tak jauh dari Sarah.

”Itu pacar kamu?”

Sarah terbahak.

“Dia sahabat aku. Kalian dari mana?”

“Tunggu, kenapa wajah pacar kamu itu mirip sekali dengan kakak aku?” pekik Mentari yang didengar juga oleh Bimo.

***

 Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 14

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  14 (Tien Kumalasari)   Sarah menatap sang nenek, yang tampak bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. “Jadi mas...