AKU ANAK SIAPA 14
(Tien Kumalasari)
Pak Gatot terpana, ia menggenggam ponselnya dengan erat, takut terjatuh karena keterkejutannya.
“Rosa yang melakukannya, Nyonya?” pak Gatot berteriak.
“Iya. Pak Gatot tidak menduganya? Demikian juga aku, aku kira dia gadis baik-baik. Ternyata bisa menipu lalu mencuri. Menipu, karena tadinya bilang barang hilang entah di mana, ternyata dia yang mencurinya. Bukan main.”
“Saya sama sekali tidak mengira, maaf Nyonya, dulu saya yang meminta agar Nyonya menerimanya untuk bekerja pada Nyonya,” sedih sekali hati pak Gatot.
“Anak siapa dia sebenarnya Pak? Masih saudara, atau apa?”
“Bukan Nyonya, saya melihat dia pertama kali ketika dihajar orang-orang di dekat toko milik Nyonya.”
“Dia dihajar? Karena apa?”
“Waktu itu dia memakai baju yang lusuh. Dia bukan pengemis, tapi dia mencuri roti di sebuah warung makan. Karena ketahuan, lalu dia dihajar. Waktu itu saya menghentikan mereka, lalu membayar harga roti yang dia curi, lalu saya ajak dia ke rumah, saya anggap keluarga.”
“O, jadi dia itu memang pak Gatot ambil dari jalanan, saat dihajar orang karena mencuri?”
“Iya Nyonya, saya pikir saya bisa mengangkatnya menjadi keluarga yang normal, tidak keluyuran di jalan begitu, lalu saya anggap dia anak, karena katanya dia tidak punya rumah, tidak punya keluarga, lalu saya carikan pekerjaan agar dia bisa mempunyai uang sendiri.”
“Kalau begitu sebenarnya dari awal dia memang suka mencuri. Bukankah kalau lapar dia bisa mencari kerja? Terburuk adalah menjadi peminta-minta, tapi dia tidak melakukannya, dan memilh menjadi pencuri.”
“Saya menyesal telah menolongnya, dan lebih menyesal lagi karena saya minta agar Nyonya menerima dia bekerja, sehingga dia berkesempatan mencuri barang berharga milik non Sisi.”
“Tidak apa-apa. Pak Gatot kan maksudnya baik. Sekarang dia pergi, barangkali karena sudah punya uang dari penjualan gelang itu.”
“Ketika Bibik menemukan ponsel yang katanya milik Rosa, perasaan saya menjadi tidak nyaman, apalagi ketika ponsel itu ada di tangan saya, ada orang menelpon yang bicara tentang uang.”
“Dia minta uang?”
“Ya, katanya kalau uang tidak segera diserahkan dulu sebagian, dia tak mau melakukannya. Entah urusan apa. Sejak saat itu saya tidak lagi menganggapnya sebagai anak. Saya meraba ada hal-hal kurang baik yang dilakukannya.”
“Ya sudah pak Gatot, tidak usah dipikirkan lagi. Ini sebuah pengalaman baru bagi kita ya. Untuk selanjutnya, pak Gatot harus berpikir dulu kalau harus berbaik hati kepada orang. Ada orang yang pantas dibantu, ada yang setelah dibantu malah bikin susah. Ya kan?”
“Benar Nyonya.”
“Ya sudah, lupakan saja semuanya Pak, dan bersyukur dia sudah pergi, sehingga pak Gatot tidak usah terbawa-bawa kalau dia melakukan hal yang tidak benar.”
Pak Gatot meletakkan ponselnya dengan perasaan heran. Tidak mengira wanita berparas cantik memiliki tabiat buruk.
“Mudah-mudahan aku tak akan pernah bertemu lagi.”
***
Sore hari itu pak Daryono dan istrinya baru pulang dari luar kota. Mereka hanya istirahat sebentar, karena malam harinya harus menghadiri undangan salah seorang rekan bisnis yang mengadakan resepsi syukuran pernikahan anaknya.
Ketika sedang istirahat sejenak itu, dan Bibik menghidangkan teh hangat untuk kedua majikannya, Bibik mengatakan bahwa Rosa menginap di rumah itu semalam, membuat bu Daryono terkejut.
“Rosa datang kemari? Menginap pula?”
“Iya Nyonya, semalam tidur di kamar saya, sedangkan saya tidur di dapur.”
“Tidur di kamar kamu?”
“Dia sendiri yang minta, kalau tidur di kamar tamu, takut Nyonya marah.”
“Tapi dia sudah pergi?”
“Paginya keluar sebentar, katanya ada keperluan, tapi kemudian kembali untuk berpamit. Saya minta menunggu Tuan dan Nyonya pulang, dia tidak mau.”
“Ya sudah, biarkan saja, nyatanya dia tidak mau ketemu kita kan?” sambung pak Daryono yang tidak begitu mempedulikan Rosa lagi.
“Kemarin ketemu lagi di dekat pasar, tapi saya tidak membawa uang banyak. Hanya saya beri seratus ribu.”
“Oh jadi awal mulanya datang kemari karena bertemu denganmu? Dia benar-benar Rosa, perempuan yang kamu lihat di dekat pasar itu?”
“Benar Nyonya, barangkali Tuhan ingin mempertemukan kami, tiba-tiba tanpa sengaja, saat berjalan, kami bertubrukan. Dan dia memaki saya, tapi dia senang ketika mengetahui itu saya.”
“Apakah kelihatannya dia baik-baik saja?”
“Dia tidak berpakaian lusuh seperti ketika pertama kali saya melihatnya. Walau baju yang dipakai itu sederhana, tapi bersih. Tidak kelihatan seperti gelandangan.”
“Ya sudah, semoga dia bisa belajar dari pengalaman buruk yang dia terima.”
“Ma, cepat mandi, kita kan harus siap setelah jam tujuh?”
“Papa dulu saja yang mandi, saya akan menyiapkan baju-baju yang akan kita pakai, jadi setelah mandi kita langsung bisa memakainya, tidak usah memilih-milih lagi.”
“Baiklah, aku mandi saja dulu.”
***
Bibik sedang menyuapi Sisi, tapi kemudian bu Surani memintanya.
“Biar ibu yang menyuapi kamu Sisi, pekerjaan Bibik sudah banyak,” kata bu Surani sambil mendekati putrinya, meraih piring Sisi yang semula dibawa Bibik.
“Aku baru saja menelpon agen pengasuh anak-anak, dua hari lagi dia akan datang Bik. Kasihan Bibik pekerjaannya menjadi lebih banyak.”
“Tidak apa-apa Nyonya, non Sisi tidak terlalu rewel.”
“Benar, dia anak yang manis. Ya kan Sisi?”
Sisi tertawa-tawa lucu. Ia makan dengan lahap, membuat ibunya senang.
“Semoga Nyonya mendapat pengasuh non Sisi yang benar-benar baik. Tidak seperti mbak Rosa. Saya tidak mengira dia sejahat itu.Tega mencuri perhiasan momongannya.”
“Iya Bik, aku juga tidak mengira.”
“Lebih baik non Sisi tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi Nyonya, pengalaman yang lalu membuat saya khawatir kejadiannya terulang.”
“Iya Bik, kita harus hati-hati. Aku juga kasihan pada pak Gatot. Dia sedih dan menyesal telah meminta aku menerima Rosa bekerja.”
“Pak Gatot kan tidak tahu Nyonya. Ketika saya tunjukkan ponsel mbak Rosa, pak Gatot kelihatan heran. Soalnya tadinya non Rosa tidak punya ponsel. Menurut saya dia membeli ponselnya setelah menjual gelang non Sisi.”
“Ya sudah Bik, tidak usah dipikirkan lagi. Semoga kejadian kemarin tidak akan terulang.”
“Aamiin. Saya mau ke belakang dulu Nyonya, saya belum mencuci perabot dapur.”
“Iya Bik, lakukan saja, biar Sisi bersama aku.”
***
Pak Daryono sudah selesai mandi, tapi rupanya bu Daryono belum selesai menyiapkan baju untuk dirinya sendiri. Ia masih membuka-buka almari.
“Mama malah belum siap, cepat mandi, aku sudah selesai.”
“Baju Papa sudah aku siapkan, tuh di sana.”
“Baiklah. Mama sedang mencari apa? Dari tadi tidak selesai-selesai,” tegur pak Daryono.
“Ini lho Pa, kuncinya kok sepertinya rusak begini, buka almarinya susah.”
“Lha itu sudah bisa membukanya.”
“Iya, tapi susah, sejak kapan almari ini susah dibuka? Waktu kita berangkat masih baik-baik saja.”
“Ya sudah, besok cari tukang untuk memperbaiki, sekarang cepat mandi sana.
“Ini, tadi bingung cari bajunya, tapi sudah kok, biar serasi dengan jas yang Papa pakai. Nih, serasi kan?”
“Mama selalu begitu, terlalu memilih-milih. Sudah, sekarang mandi.”
“Sebentar Pa, kok kotak perhiasanku tidak ada ya?”
***
Besok lagi ya.