Monday, November 2, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 42

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  42

(Tien Kumalasari)

 

Pak Pranoto duduk di samping istrinya, sama seperti sang istri, ia duduk dengan linglung. Ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Pak, apa tidak ada cara lain? Kita akan sanggup membayar seandainya ada orang yang memiliki darah yang sama dengan darahnya Fajar.”

“Darah Fajar termasuk langka, tidak mudah mencarinya. Yang paling pas adalah darah orang tuanya, tapi ke mana kita akan mencari mereka?”

Sesungguhnyalah bahwa pak Pranoto berdua bukanlah orang tua kandung Fajar. Beberapa puluh tahun yang lalu seorang perempuan dengan wajah kusut menyerahkan seorang bayi yang masih merah, ketika ia sedang duduk menunggu di dalam mobil, saat suaminya turun entah untuk keperluan apa.

“Mohon titip anak saya.” suaranya lirih dan bergetar, ada tangis terkandung di dalamnya.

 Dalam kebingungan menerima bayi, ia tak sempat berkata-kata, lalu perempuan itu menghilang begitu saja. Ia turun dan mencari keberadaannya, tapi perempuan itu hilang bak ditelan bumi.

Rengek bayi di dalam gendongan menyadarkannya. Tampaknya ia lapar. Bu Pranoto kebingungan. Ia menelpon sang suami yang segera datang, lalu terkejut melihat istrinya menggendong bayi.

“Itu anak siapa?”

“Ada yang memberikannya begitu saja. Tolong belikan susu Mas. Susu terbaik untuk bayi merah ini.”

Lalu keluarga yang belum memiliki keturunan itu disibukkan dengan kehadiran sang bayi mungil nan tampan, lalu diberi mereka nama Fajar Pranoto.

Tak berapa lama kemudian bu Pranoto hamil, lalu lahirlah Mentari yang kemudian menjadi adik Fajar Pranoto.

Air mata bu Pranoto mengalir deras. Apakah ia akan kehilangan Fajar karena tak mendapatkan donor darah untuknya?

Tiba-tiba pak Karimun dan istrinya mendekat. Mereka panik melihat bu Pranoto menangis dan pak Pranoto juga tampak kebingungan.

“Pak, apa yang terjadi?” tanya pak Karimun dan istrinya hampir bersamaan. Lirih dan penuh kekhawatiran.

Bu Pranoto mengusap air matanya. Agak berat mengatakan bahwa Fajar bukan darah dagingnya, sementara selama puluhan tahun sudah menjadi bagian dari keluarganya dan dianggapnya sebagai anak kandung mereka.

Tapi tiba-tiba bu Pranoto menatap bu Karimun yang tampak pucat dan khawatir, lalu sesuatu kenangan melintas. Begitu jelas, seperti kilat yang menyambar dalam benaknya. Perempuan kusut itu, sekusut wajah bu Karimun saat itu. Bukankah itu dia?

“Itu kamu kan?” suaranya terdengar seperti sebuah pekikan, membuat suaminya kemudian menoleh kearahnya.

“Ada apa?”

Bu Karimun terkejut, suara itu agak keras, dan ditujukan kepadanya.

“Kamu kan perempuan itu? Yang menyerahkan bayi itu?”

Lalu dunia seakan berhenti berputar. Kejadian duapuluh lima tahun yang lalu melintas dalam ingatan. Bukan hanya ingatan bu Pranoto, tapi juga ingatan bu Karimun. Lalu tangis itu pecah. Bu Karimun tanpa sadar bersimpuh di depan bu Pranoto, memegangi kedua kakinya, dengan air mata bercucuran.

“Itu saya, ibu yang berdosa dan tak bertanggung jawab,” suaranya bergetar. 

Rahasia yang dipendamnya setelah meyakini bahwa Fajar adalah anak kandungnya, pecah tiba-tiba. Terurai tanpa sengaja. Gara-gara darah itu.

“Jadi … kalian adalah ….” suara pak Pranoto tersekat ditenggorokan. 

Tak ada yang perlu ditutupi, sebuah kenyataan harus mereka hadapi, Gusti Allah yang menuntunnya, karena memang begitulah jalannya.

“Mohon maaf Pak, Bu, kami sudah menduga kalau nak Fajar adalah anak kandung saya. Kami hidup sengsara waktu itu, dan berharap kedua anak saya mendapat naungan yang lebih baik. Jangan sampai mati kelaparan karena sengsara yang merundung kehidupan kami waktu itu,” kata pak Karimun lirih.

“Tunggu, kamu bilang kedua anak kamu?”

“Anak kami kembar Pak.”

“Kembar? Jangan-jangan ….” 

Ingatan pak Pranoto melayang ke arah Bimo.. wajah karyawan barunya itu mirip sekali dengan Fajar.

“Pak, yang lain dipikirkan nanti saja. Sebaiknya urus kebutuhan darah itu segera, dokter menunggu kita,” kata bu Pranoto.

Pak Pranoto mengangguk.

“Pak Karimun, Fajar membutuhkan darah, dan hanya darah orang tua kandungnya yang bisa mendonorkannya.”

Tak perlu dikatakan dua kali, pak Karimun segera mengikuti pak Pranoto menemui petugas yang mengurus kebutuhan darah untuk Fajar.

***

Bimo datang ke rumah sakit siang itu, karena pak Pranoto memang menyuruhnya datang. Ia ingin memastikan, apakah Bimo bukan anak kandung dari orang yang merawatnya sejak bayi, yang berarti adalah saudara kembar Fajar.

“Bagaimana keadaan pak Fajar? Apakah sudah dioperasi?” tanya Bimo begitu datang.

“Duduklah di sini, operasi sedang berlangsung. Kita doakan semoga lancar semuanya,” kata pak Pranoto.

Sedangkan bu Pranoto ikut menunggui di dekat ruang operasi. 

“Mbak Mentari juga ada?” 

Lalu Bimo memarahi dirinya sendiri, mengapa menanyakan Mentari.

“Mm… maksud saya ….” Bimo ingin meralatnya, tapi pak Pranoto segera menjawabbya.

“Mentari akan datang bersama Sarah sepulang sekolah. Mereka tak bisa ijin menjelang saat ujian akhir.”

“Oh, maaf. Tadi saya_”

“Bimo, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada kamu.,” potong pak Pranoto.

“Ya Pak?”

“Maaf sebelumnya, karena ada sesuatu yang membuat saya harus menanyakannya. Aku harap kamu memaafkan aku, apabila hal ini menyinggung perasaan kamu. Ini sangat perlu, dan mendesak.”

Bimo menatap pak Pranoto tak mengerti. Apakah ini masalah pekerjaan, lalu ia melakukan kesalahan? Bimo berdebar menunggu kelanjutannya.

“Bimo, kamu selama ini hidup bersama kedua orang tuamu?”

“Ayah saya sudah meninggal saat saya masih bayi,” jawab Bimo.

“Jadi kamu bersama ibu kamu?”

“Iya Pak, seperti Bapak ketahui, ibu saya berjualan makanan setiap pagi sampai siang.”

“Ya, tapi bukan itu yang aku tanyakan. Mm...apakah … ibu kamu itu … mmm ibu kandung kamu?”

Bimo terkejut. Pertanyaan ini tidak disangkanya. Ia kebingungan. Tentu saja ibu kandungnya, karena sejak kecil ibunya itu yang merawatnya.

“Maaf kalau pertanyaan ini menyinggung perasaan kamu Bimo. Tapi ada sesuatu yang memaksa saya harus bertanya.”

Pak Pranoto diam, sebenarnya tidak enak mengatakannya, dan tampaknya Bimo seperti kebingungan, berarti Bimo tidak tahu apa-apa tentang maksud pertanyaannya, atau apakah ia anak kandung ibunya apa bukan.

“Sekali lagi maaf. Karena begini ceritanya Bimo. Satu adalah tentang kemiripan kamu dengan Fajar, di mana banyak yang mengira kalian adalah kembar. Sedangkan kedua ... sesungguhnya Fajar itu bukan anak kandung keluarga Pranoto.”

“Apa?”

“Baru saja ketahuan bahwa Fajar punya orang tua kandung, dan sekarang sedang mendonorkan darahnya untuk Fajar, karena hanya dialah yang bisa mendonorkannya.”

“Jadi ….”

“Akhirnya aku harus berterus terang, bahwa Fajar yang sangat kami sayangi sebenarnya bukan anak kandung kami.”

Bimo terbelalak.

“Orang tuanya sudah ketahuan. Dia sedang mendonorkan darahnya, dan dia mengatakan bahwa anaknya adalah kembar.”

Lalu pak Pranoto menceritakan tentang bagaimana tiba-tiba ada orang yang ternyata adalah orang tua kandung Fajar, ketika kebutuhan darah untuk Fajar  sangat mendesak, sedangkan darah Fajar termasuk golongan darah yang langka, sehingga tidak sembarang orang bisa mendonorkan darahnya.

Pikiran Bimo melayang ke mana-mana, tentang kemiripan wajahnya yang membuat semua orang mengira dia adalah kembar. Benarkah dia kembaran Fajar?

***

Fajar belum sadar setelah dioperasi, ketika Bimo pamit pulang. Ia ingin segera tahu apa benar dia bukan anak kandung bu Saptari. Apa benar Fajar adalah saudara kembarnya.

Tapi sang ibu kelihatan sangat marah begitu dia menanyakannya.

“Apa maksud perkataan kamu itu? Apa kamu tidak mau mengakui bahwa aku adalah ibu kandung kamu? Karena apa? Karena aku miskin dan tidak bisa menyekolahkan kamu ke jenjang yang lebih tinggi sehingga kamu hanya bisa bekerja sebagai OB? Kamu malu punya orang tua seperti aku?”

Bimo terkejut mendengar reaksi sang ibu. Ia segera menubruknya dan menangis tersedu di pangkuannya.

***

Besok lagi ya.

Sunday, November 1, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024

(Tien Kumalasari)

 

Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Menur, seperti yang dijanjikannya. Berkali-kali Menur menolak, tapi sang bibi memaksanya.

Gara-gara ponsel Rahman kebawa, lalu nyonya Sasa memaksa membelikannya.

“Besok, kalau ibu Menur nggak datang-datang, Ana telpon ya?” celoteh Ana.

Menur hanya tersenyum mengangguk.

“Nenek, beli es krim ya.”

“Baiklah, di sebelah sana ada rumah makan yang menjual es krim enak.”

“Nanti ada yang diminum di sana, ada yang dibawa ke rumah ya?”

“Iya … iya.”

Mereka segera ke rumah makan itu, lalu duduk di sudut ruangan.

Ana tampak gembira sekali. Banyak celoteh lucu dilontarkannya, membuat sang nenek dan Menur tertawa-tawa.

Tiba-tiba Ana berteriak.

“Itu kan mama?”

Menur menutup mulutnya, agar Ana tidak meneriakinya lagi.

Nyonya Sasa menatap wanita cantik yang masuk dan duduk agak jauh dari bangku mereka.

“Mama sama siapa?”

“Pelan-pelan, jangan teriak,” kata sang nenek.

Lili sedang bersama seorang laki-laki gagah, tampak sangat akrab. Nyonya Sasa tahu, itu bukan staf kantornya, dan juga bukan rekan bisnisnya, karena nyonya Sasa tahu seluk beluk perusahaan Lili. Ia tak akan melepaskan Lili memimpin perusahaan seorang diri. Ia selalu mengawasi dan menuntunnya kalau ada masalah yang sulit dipecahkan. Nyonya Sasa adalah pengusaha handal yang memimpin perusahaan bersama suaminya. Baru setelah sang suami meninggal, ia mengajak Lili untuk ikut mengelola bisnisnya.

“Mama sama siapa?” Anapun menurut, bertanya lagi sambil berbisik.

“Temannya. Kamu jangan bertanya terus, segera habiskan es krimnya, lalu pulang,” titah sang nenek.

"Aku juga mau yang dibawa pulang."

“Iya, tadi sudah nenek pesankan, nanti kan diantar kemari."

Ana mengangguk senang.

***

Sejak ditegur dengan keras oleh nyonya Sasa, Rumi tak lagi berani mengata-ngatai Menur, atau bersikap kasar. Tapi ia tak bisa menghilangkan rasa bencinya, karena pada dasarnya ia iri dengan apapun tentang Menur. Apalagi setelah Menur diajak belanja oleh sang nyonya besar, dibelikan baju-baju, bahkan ponsel.

Temannya melampiaskan kekesalan hanya nyonya Lili. Tapi dia heran, sang nyonya tidak pernah mengatakan bahwa Menur masih kerabatnya. Jadi Rumi bisa menilai bahwa sebenarnya Menur juga tidak disukai oleh sang nyonya, hanya saja sang nyonya tidak mengutarakannya. Karena itulah dia merasa senang mengadu apapun padanya.

Sore hari itu nenek Sasa belum pulang. Ia menunggu Lili pulang. Tapi ternyata Lili pulang agak malam. Begitu Lili masuk ke kamar, nyonya Sasa mengikutinya.

Setelah menunggu Lili berganti pakaian, sang mama memintanya duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.

“Ada apa? Mama mau tidur di sini?”

“Iya, pengin ngelonin Ana. Tapi mama ingin bertanya sama kamu.”

Lili menatap mamanya heran. Tak biasanya saat di rumah sang mama bicara di dalam kamar.

“Tadi kamu sama siapa?”

“Maksud mama?”

“Mama melihat kamu di rumah makan itu, saat mengantar Ana makan es krim.”

“Oh, tadi Mama melihatnya? Mengapa Mama diam saja? Dia kan Willy, teman kuliah Lili. Mama lupa ya?”

“Oh, Willy? Kok sekarang badannya tinggi besar begitu, dulu kan kurus ceking?”

“Dia sudah jadi pengusaha, kaya raya. Tinggalnya di Semarang.”

“Dekat dong.”

“Dulu di luar Jawa, tapi sekarang sudah pindah. Kebetulan tadi nemuin Lili di kantor, lalu mengajak makan. Tapi dia tidak bisa mampir ke rumah karena keburu kembali ke Semarang.”

“Pasti anaknya sudah banyak.”

“Belum menikah lhoh.”

“Kenapa?”

“Katanya tadinya menunggu Lili. Lucu dia itu. Dia juga agak kecewa mendengar Lili sudah menikah.”

“Namanya bukan jodoh.”

“Dia itu sangat baik. Kalau saja Lili tidak dipaksa papa untuk menikah dengan mas Broto, Lili pasti sudah menikah dengannya.”

“Sudah, jangan membayangkan yang tidak-tidak. Lagian tidak baik kamu bepergian dengan laki-laki sementara suami kamu tidak ada.”

Lili hanya tersenyum. Sang mama tidak tahu bahwa Willy adalah pacarnya sejak masih kuliah. Barangkali masih ada cinta yang tersisa, entahlah. Bukankah Lili sudah mulai mencintai Baroto? Apakah cinta bisa dibagi dua?

***

Pagi hari itu nyonya Sasa pulang setelah sarapan pagi. Tapi dia tidak terus ke rumah. Dia pergi ke sekolah Rahman, karena ingin membantu meringankan beban keponakannya.

Ia langsung menemui kepala sekolah karena banyak yang ingin ditanyakannya. Tapi betapa terkejutnya nyonya yang baik hati itu, ketika mendengar keterangan kepala sekolah bahwa Baroto sudah menyelesaikan semuanya.

“Apa yang terjadi pada Baroto?” gumamnya ketika menuju ke arah mobil.

Nyonya Sasa urung pulang. Ia kembali ke rumah Lili untuk bertemu dengan sang keponakan.

***

Ketika memasuki rumah Baroto, nyonya Sasa segera mencari keberadaan Menur. Ia sedang berada di ruang belajar, mengajari Ana tentang pelajaran yang kemarin diajarkan oleh ibu gurunya.

Nyonya Sasa ragu untuk bicara tentang hal yang ditemuinya di sekolah Rahman. Disitu ada Ana, dan para pembantu yang pasti akan mendengar apa yang mereka bicarakan. Mengunci pintu di kamar Menur, pasti Ana mengikutinya.

Setelah berpikir sejenak, maka nyonya Sasa memilih mengajak Ana dan Menur jalan-jalan, lalu membiarkan Ana bermain di taman bermain, sehingga leluasa baginya untuk bicara. Ada perasaan mengganjal. Ada rasa kecewa terhadap Menur yang dianggapnya berselingkuh dengan Baroto. Kalau tidak, mengapa Baroto bersusah payah membiayai sekolah Rahman, bahkan sudah menitipkan sejumlah uang pada kepala sekolah itu, untuk meminta tolong mencarikan sekolah lanjutan terbaik untuk Rahman.

“Menur,” panggilnya.

Menur agak heran karena bibi Sasa kembali ke rumah. Ia segera bergegas mendekat.

“Bibi, apa ada yang ketinggalan?”

“Tidak. Tiba-tiba ingin mengajak Ana jalan-jalan ke taman.”

“Jalan-jalan ke taman?” Ana yang sedang berjalan mendekati neneknya langsung berteriak.

“Iya, cepatlah, nenek tunggu di mobil,” kata nyonya Sasa sambil berdiri.

Ana berjingkrak-jingkrak kegirangan, sementara Menur merasakan sesuatu yang tak enak. Tiba-tiba sikap bibinya tampak aneh. Kaku dan tidak bersahabat. Apa dirinya melakukan kesalahan? Mengapa tiba-tiba mengajak jalan-jalan ke taman?

Tapi ia tak bisa berpikir lama, segera ia ganti pakaian Ana, lalu bergegas menuju keluar, di mana sang bibi sudah menunggu di mobil.

***

Ana senang sekali. Ia bermain apa saja yang ada, sementara Menur dan sang bibi duduk berhadapan di bawah sebuah tenda sambil memesan minuman.

Menur melihat wajah sang bibi sangat kaku. Ia tak berani bertanya, tapi ia yakin bibinya akan mengatakan sesuatu.

“Minumlah dulu,” kata sang bibi sambil mendahului meminum minuman segar yang dipesannya.

“Menur, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu.”

“Ya, Bi.”

“Apa kamu mempunyai hubungan khusus dengan Baroto?” nyonya Sasa langsung menuju sasaran, tak ingin berbasa basi. Ini membuat Menur sangat terkejut.

“Apa maksud Bibi?”

“Ada tidak?”

Menur menggeleng-gelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar kencang. Apakah Baroto berterus terang kepada mertuanya tentang hubungannya dengan dirinya di waktu lampau?

“Kamu jangan bohong pada bibi. Selama ini bibi mempercayai kamu, dan menganggap kamu seorang wanita yang baik, santun, rajin, penuh kasih sayang. Tapi kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari bibi, dan itu adalah sesuatu yang terlarang, bibi akan kecewa,” kata sang bibi tandas, membuat Menur gemetar ketakutan. Apakah dia harus berterus terang saja? Kalau tidak, entah dari mana datangnya berita itu, tampaknya bibinya mengetahui sesuatu, dan Menur takut sekali kalau dituduh melakukan hal yang terlarang. Bukankah maksud dari terlarang adalah merusak rumah tangga orang? Tidak, Menur harus berterus terang.

Dengan menundukkan kepalanya, Menur mengatakan bahwa ia ingin berterus terang.

“Bagus sekali, memang itu yang aku harapkan, sehingga aku bisa segera menentukan, bagaimana harus mengambil sikap.”

“Bibi, mengapa tiba-tiba Bibi beranggapan kalau saya memiliki hubungan dengan Baroto?”

“Baroto membiayai sekolah Rahman. Baroto juga sudah menyiapkan sekolah lanjutan terbaik untuk Rahman. Dia membelikan ponsel untuk Rahman yang kebetulan terbawa oleh kamu dan mendengar ada panggilan melalui ponsel itu. Kamu bohong mengatakan kalau itu milik teman Rahman. Aku tahu itu ponsel mahal,” kata nyonya Sasa sengit.

“Darimana Bibi_”

“Tidak usah menanyakan dari mana bibi tahu semua itu. Yang ingin bibi dengar adalah apa itu benar, dan kalau benar, ada apa diantara kalian?”

Runtuh air mata Menur, berderai tetes demi tetes membasahi pipinya.

“Saya juga tidak tahu bagaimana bisa seperti inl. Tapi saya mohon Bibi tidak menuduh saya melakukan hal yang terlarang, yang melompati norma susila dan kehormatan seorang wanita. Sesungguhnya Baroto adalah suami saya yang saya cari selama ini," jawabnya terbata.

Nyonya Sasa terkejut. Matanya terbelalak menatap Menur.

“Jadi … Rahman adalah anaknya?”

Menur mengangguk.

“Ini pertemuan yang tidak sengaja. Pertemuan yang terjadi karena Ana tiba-tiba menyukai saya. Tapi Bibi jangan khawatir, sedikitpun saya tidak bermaksud kembali kepada Baroto. Saya sadar Baroto sudah berkeluarga, dan saya tak akan mengusiknya. Kami tidak pernah bertemu diam-diam. Baroto beberapa kali menemui Rahman, tapi tidak dengan saya. Saya selalu berusaha menjauhi dia dan tidak pernah berkomunikasi kalau tidak sangat perlu. Percayalah Bibi, saya bukan wanita serendah itu.”

Sekarang nyonya Sasa menatap iba kepada keponakannya. Ia mengulurkan selembar tissue agar Menur mengusap air matanya.

Memang selama ini ia tak pernah melihat sikap mencurigakan diantara Menur dan menantunya.

“Kalau Bibi tidak mempercayai saya, lebih baik saya pergi saja. Sungguh saya tak ingin merusak rumah tangga Lili. Rahman juga tidak tahu kalau Baroto adalah ayah kandungnya. Saya tak ingin mengatakannya.”

Nyonya Sasa mengangguk mengerti.

"Baroto melakukannya untuk Rahman juga diluar sepengetahuan saya. Dia melakukannya diam-diam. Karena kalau mengatakan sebelumnya, saya pasti akan menolaknya."

“Baiklah, bibi mempercayai kamu. Bibi percaya kamu wanita yang baik.”

Tiba-tiba seseorang mendekat, lalu menyapa nyonya Sasa.

“Bukankah ini tante Sasa?”

***

Besok lagi ya.

Saturday, October 31, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 41

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  41

(Tien Kumalasari)

 

Bu Karimun masuk lebih dulu. Baru sekali ini ia berada sangat dekat dengan darah dagingnya, yang tega ditinggalkannya di pangkuan wanita lain karena keterbatasan hidup yang memprihatinkan. Air matanya mengalir deras. Digenggamnya tangan anak muda yang terbaring lemah dengan banyak peralatan medis yang mengungkung tubuhnya. Diciumnya tangan itu berkali-kali sehingga basah oleh air matanya.

“Anakku … anakku, maafkanlah ibumu yang nista ini … maaf .... “

Mata Fajar terbuka. Banyak yang ingin dikatakannya ketika melihat wanita setengah baya yang menangisinya, tapi ia tak berdaya.

“Apa yang terjadi pada dirimu? Segera sembuh dan peluk ibumu ini sebagai ungkapan rasa maafmu,” lirihnya tanpa bisa menahan air matanya.

Fajar mendengarnya, tapi kebingungan dengan sikapnya. Walau begitu ia membiarkan tangannya basah oleh air mata. Rasa sakit yang terasa menggigit, dan mulut yang tersumbat ventilator, menahan keinginannya untuk bertanya, sampai kemudian seorang perawat memintanya untuk keluar.

“Bu, maaf ya, pasien butuh ketenangan. Saya harap ibu menunggu diluar, karena pasien sedang dalam penanganan.”

Bu Karimun mengangguk. Sekali lagi ia mencium tangan Fajar, agak lama dengan air mata yang tak kunjung reda.

“Cepatlah sembuh, peluk ibumu ya Nak.”

Lalu bu Karimun sibuk mengeringkan air matanya sambil melangkah keluar.

Ia memeluk suaminya erat-erat sambil melanjutkan tangisnya ketika sampai di luar.

“Bagaimana keadaannya?”

“Aku sedih melihatnya Pak, tapi perawat itu menyuruh aku keluar. Pasien tidak boleh diganggu.”

Pak Karimun ingin masuk, tapi kali itu perawat menahannya.

“Pak, pasien tidak bisa diganggu karena masih dalam penanganan.”

“Saya hanya ingin melihat saja, tidak akan bicara, tidak akan melakukan apa-apa,” paksa pak Karimun.

Perawat yang merasa iba segera mengijinkannya.

“Tapi sebentar saja ya Pak, nanti saya bisa dimarahi dokternya juga.”

Pak Karimun mengangguk. Ia hanya mendekat, memegang tangannya, menciumnya seperti yang dilakukan istrinya, tapi tak mengucapkan sepatah katapun. Suaranya tersekat di tenggorokan. Ketika Fajar melihatnya, ia tak begitu heran, karena sudah mengenal pak Karimun sebelumnya.

***

“Pak Karimun sangat perhatian pada Fajar,” kata bu Pranoto kepada suaminya.

“Iya. Sangat perhatian, bahkan mengajak istrinya juga. Bu Karimun sampai menangis-nangis begitu. Lihatlah, dia masih berdiri di depan pintu sambil terus mengusap air matanya.”

“Barangkali dia teringat pada anaknya yang sudah meninggal, atau entah berada di mana.”

“Nanti kalau keadaan sudah tenang aku tanyakan pada dia. Kita harus berterima kasih karena seorang tukang kebun dan istrinya sangat perhatian pada anak kita, yang pastinya juga mendoakannya.”

“Bapak sudah bicara sama dokternya?”

“Sudah, baru saja. Kemungkinan besok harus dioperasi, tapi Fajar kehilangan banyak darah. Membutuhkan pendonor darah. Semoga darahku cocok.”

“Darahku juga bisa kan Pak?”

“Kalau cocok, tentu saja bisa.”

“Semoga semuanya baik-baik dan Fajar segera pulih kembali.”

“Aamiin.”

“Mentari tadi ke mana?”

“Mengantarkan temannya pulang, karena sudah malam. Tadi aku minta Bimo agar menemani Fajar di sini.”

“Bimo itu siapa? Wajahnya sangat mirip dengan Fajar.”

“Iya. Dia pegawai bagian gudang di kantorku. Tapi sekarang dia sedang menemani Mentari mengantarkan temannya. Nanti aku minta dia kembali kemari. Apa Ibu aku antarkan pulang dulu ya, nanti Ibu kecapekan.”

“Nggak mau Pak, aku mau di sini terus sampai Fajar selesai dioperasi.”

“Operasinya masih besok Bu, nanti Ibu kecapekan.”

“Tidak. Ibu justru merasa sedih kalau ada di rumah. Biarlah kita di sini bersama-sama.”

Tiba-tiba pak Karimun mendekat, bersama istrinya yang wajahnya sembab.

“Pak, ijinkan saya di sini, menunggui nak Fajar bersama istri saya.”

“Apa pak Karimun tidak capek?”

“Tidak. Oh iya, saya belum sempat memperkenalkan, ini istri saya.”

Bu Karimun menyalami pak Pranoto dan istrinya dengan sangat santun.

“Ibu mengapa menangis terus? Teringat anak ibu? Anak ibu ada di mana?”

Bu Karimun tak menjawab. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kembali menitikkan air mata.

“Dia teringat anaknya, Pak?" tanya bu Pranoto.

“Anak pak Karimun sekarang di mana?”

Pak Karimun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Meninggal?”

Pak Karimun kembali menggelengkan kepalanya.

Pak Pranoto kehabisan pertanyaan. Tampaknya pak Karimun tak ingin banyak bicara, jadi kemudian ia membiarkannya, sementara bu Pranoto terus menatap bu Karimun. Wajah itu, wajah kuyup penuh derita seperti yang pernah dilihatnya puluhan tahun lalu. Ia mengerutkan keningnya. Kapan melihat wajah itu?

“Duduklah di atas, jangan berjongkok di situ,” kata pak Pranoto.

Pak Karimun menarik istrinya, kemudian mengajaknya duduk agak jauh dari pak Pranoto dan istrinya. Pikirannya menjadi campur aduk. Sikap mereka yang menunjukkan perhatian dan kesedihan pastilah menarik bagi pak Pranoto, untuk memberinya sebuah pertanyaan yang belum ingin dijawabnya.

“Bagaimana kalau mereka bertanya Pak, aku benar-benar tak bisa menahan diri. Aku sedih melihat anak kita tampak sakit dan menderita,” pelan kata bu Karimun.

“Aku juga sedang berpikir. Tadinya aku ingin mencari kesempatan yang baik untuk berterus terang. Sekarangkah saatnya?”

“Bagaimana kalau mereka tidak percaya? Mereka begitu kaya, anak kita gagah dan tampan, masa kedua orang tuanya kuyu dan lusuh begini?”

“Entah bagaimana caranya, semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita.”

“Barangkali karena memang kita orang berdosa yang  seakan membuang anak-anak kita, sehingga susah bagi kita untuk mengakuinya, walau Allah sudah mempertemukan.”

"Kita memang berdosa, karena membuang anak-anak kita, tapi apakah salah kalau kita berharap agar anak kita menemukan kehidupan yang lebih baik? Kalau mereka bersama kita, pasti sekarang mereka juga menjadi gembel, atau bahkan merasakan kelaparan sejak masih bayi. Mungkin juga tidak akan hidup sampai dewasa.”

Bu Karimun mengusap air matanya.

“Sudah Bu, jangan menangis lagi, nanti mereka semakin bertanya-tanya dan menganggap sikap kita aneh. Ayo berdoa saja, agak nak Fajar segera mendapat pertolongan yang baik, dan kembali sehat.”

“Aamiin.”

***

Sarah sudah sampai di rumahnya. Nenek Suli segera bertanya tentang penyebab terjadinya kecelakaan itu, dan bagaimana keadaan Fajar sekarang ini.

“Ada mobil lain yang menabraknya padahal mobil sedang melaju. Nenek tahu mobil siapa yang menabraknya?”

“Pasti anak-anak muda yang menyetir dengan ugal-ugalan.”

“Bukan anak muda Nek. Ibu-ibu setengah tua.”

“Ibu-ibu setengah tua?”

“Bu Lurah.”

“Apa maksudmu Sarah?”

“Bu Lurah mengendarai mobil sambil bercanda dengan teman-temannya di dalam mobil itu. Kalau tidak salah temannya ada tiga. Luka-luka semua dan bu Lurah paling parah.”

“Maksudmu yang menabrak mobil nak Fajar itu bu Lurah?”

“Iya, Nek. Mereka semua ada di rumah sakit itu.”

“Kasihan Bowo, pengantin baru mendapat musibah.”

“Mereka bersenang-senang, tidak menggubris anaknya yang menikah di hari kemarinnya.”

“Allah sedang memberinya peringatan. Sebagai seorang ibu dia harus menjadi tiang yang bisa menopang kehidupan anaknya, bukan meninggalkannya. Tapi ya sudahlah, kita tidak berhak menghakimi seseorang. Keadaan nak Fajar sendiri bagaimana?”

“Parah Nek, besok kakinya dioperasi. Kepalanya cedera dan kehilangan banyak darah.”

“Ya Allah, semoga segera mendapat penanganan yang baik.”

“Aamiin. Kamu tadi pulang bersama siapa?”

“Diantar Mentari, adik mas Fajar, sama mas Bimo.”

“Bimo juga ada?”

“Dia melihat ketika Sarah bersama Mentari, lalu ikut ke rumah sakit.”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu.”

“Iya Nek. Besok sepulang sekolah Sarah mau ke rumah sakit lagi ya.”

“Kalau bisa Nenek juga ingin ikut.”

“Tidak usah Nek, nanti Nenek malah banyak pikiran.”

***

Pagi hari itu Fajar siap di operasi. Dokter minta agar keluarga menyiapkan donor darah untuk transfusi. Tapi darah pak Pranoto dan istrinya bukan donor yang cocok untuk Fajar.

“Hanya darah kedua orang tua kandung yang bisa mendonorkan darahnya.”

Perkataan itu bagai geledeg menyambar di siang yang panas, dan membuat bu Pranoto jatuh terduduk dengan lemas.

***

Besok lagi ya.

Friday, October 30, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 40

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  40

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut. Perlahan didorongnya tubuh Mentari, yang basah oleh air mata.

“Ba … bagaimana keadaannya?”

“Parah, mobil itu menabrak tanpa perhitungan, padahal jalanan di tengah kota. Tampaknya pengendara menyetir sambil bercanda. Entahlah, ayo ke rumah sakit, lihat keadaannya, aku tidak tega Sar.”

“Baiklah, aku ikut kamu, aku kembalikan sisa koran ini dulu ya, tenanglah, tenang. Kamu juga menyetir, jadi harus tenang.”

Sarah menuntun sahabatnya memasuki mobil, lalu dia duduk di sebelahnya, sambil terus menerus mengatakan ‘tenang … tenang..

Tapi sebelum mobil itu berjalan, seseorang berteriak.

“Saraaah!! Mentari !!”

Mentari urung menjalankan mobilnya. Bimo berlari-lari mendekat.

“Mas Bimo?”

“Kalian mau kemana? Mengapa menangis, Mentari?”

“Mas Fajar kecelakaan, kami mau ke rumah sakit.”

“Kecelakaan? Aku ikut kalian ya. Nenek kan nggak punya ponsel, ada sih di tetangga, aduh, aku juga bingung kalau Nenek menunggu dan khawatir,” kata Sarah yang tiba-tiba teringat neneknya.

“Tenang Sarah, aku akan minta tolong ibu agar mengabari Nenek.”

“Tapi kan bu Saptari harus kesana?”

“Iya, nggak apa-apa, tenang saja. Ibu juga sebenarnya ingin menyambangi nenek Suli, hanya belum sempat saja.”

***

Bimo langsung masuk ke dalam mobil, lalu ia mengambil ponselnya. Ia mengabari sang ibu kalau mau ke rumah sakit karena Fajar kecelakaan, dan meminta agar ibunya mengabari nenek Suli karena Sarah ikut pergi ke rumah sakit.

Di rumah sakit .. banyak orang berkerumun, tampaknya ada korban lain dalam kecelakaan itu.

Mentari melihat ayahnya, lalu menubruknya.

“Bagaimana keadaannya?”

“Masih dalam pemeriksaan. Tampaknya butuh darah untuk didonorkan,” kata sang ayah pelan. 

Tampaknya pak Pranoto juga sangat terpukul. Mentari melihat sang ibu duduk di sebuah bangku, dengan wajah basah dan mata yang kosong.

Mentari mendekatinya, lalu merangkulnya, dan mereka bertangisan.

Sarah ikut mendekati, dan mencoba menghiburnya.

“Mas Fajar sudah ditangani, Ibu tidak perlu khawatir.”

“Katanya luka kakakmu sangat parah,” kata bu Pranoto pelan, tampak sangat khawatir.

“Tidak Bu, sekarang bapak sedang bicara sama dokternya. Mas Fajar akan mendapat penanganan terbaik,” kata Mentari, padahal sebenarnya dia juga sedang khawatir.

***

Bu Saptari segera meninggalkan rumah, untuk memenuhi permintaan Bimo agar mengabari nenek Suli tentang Sarah yang pasti akan terlambat pulang.

Nenek Suli tentu saja terkejut. Fajar sangat baik kepada keluarganya, dan kecelakaan itu tentu saja membuatnya prihatin.

“Ya Allah, semoga nak Fajar baik-baik saja. Tadi Bimo cerita apa, bagaimana lukanya? Apa parah?”

“Bimo hanya cerita sekilas. Tadi ketemu Sarah dengan temannya yang adik nak Fajar itu, lalu Bimo ikut mereka ke rumah sakit.”

“Jadi belum jelas sakitnya atau lukanya seperti apa ya?”

“Itulah Bu, saya mau meminta kejelasan juga sungkan, pasti mereka sedang cemas atas kecelakaan itu.”

“Semoga tertangani dengan baik, dan nak Fajar bisa segera sembuh.”

“Aamiin.”

“Bagaimana sakitnya bu Suli? Sepertinya sudah kelihatan segar.”

“Iya, Saptari. Alhamdulillah sudah bisa melakukan banyak hal. Menjerang air, memasak. Hanya Sarah belum mengijinkan aku bekerja kembali. Dokter juga menyarankan begitu.”

“Sebaiknya jangan dulu bu Suli, kalau sudah benar-benar sehat baru boleh, itu juga kalau bekerja harus yang ringan-ringan, bu Suli harus hati-hati.”

“Iya. Sarah juga wanti-wanti begitu. Hanya saja aku tuh kan ingin Sarah segera menikah setelah lulus nanti. Tapi anak sekarang susah diatur kalau masalah menikah. Padahal inginnya berbesan sama kamu,” kata nenek Suli sambil tersenyum.

“Sama juga saya bu Suli, tapi nggak tahu itu, Bimo juga tenang-tenang saja. Tidak menggebu seperti sebelumnya.”

“Itulah, apa aku bilang. Anak sekarang susah diatur, tidak seperti jamanku dulu. Maunya orang tua begini, ya harus begini, maunya begitu ya harus begitu.”

“Jaman sudah berubah.”

“Betul.”

Mereka berbincang agak lama, ketika hari mulai gelap barulah bu Saptari mohon pamit. Tapi nenek Suli tidak perlu khawatir karena sudah tahu keberadaan Sarah. Ia terlambat pulang karena ada halangan.

***

Sementara itu dokter Harun berkali-kali menelpon Bowo, tapi tidak diangkat. Ada berita buruk tentang ibunya.

Ketika menuju pulang, karena mengemudi sambil bercanda bersama tiga orang temannya, mobilnya menabrak mobil lain di jalan raya. Kebetulan yang ditabrak adalah mobil Fajar. Bukan hanya Fajar yang luka parah dan mobilnya ringsek, bu Lurah juga luka parah bersama ketiga orang temannya.

Tapi sejak siang harinya, dokter Harun tidak berhasil menghubungi Bowo yang menikah dua hari yang lalu. Karena itulah dokter Harun terpaksa menanganinya sendiri.  Ia hanya berpesan kepada pembantu di rumah bu Lurah tentang kejadian yang menimpa majikannya, dan memintanya mengabari ke rumah Bowo.

Tentu saja Bowo terkejut mendengar berita itu. Ia segera pergi ke rumah sakit bersama istrinya.

***

Terkejut sekali ketika di rumah sakit Bowo bertemu Sarah juga. Mereka baru tahu bahwa yang menabrak Fajar adalah ibunya Bowo.

“Saya heran, anaknya menikah, ibunya malah jalan-jalan, dan kemudian menemui kecelakaan.”

“Siapa yang menikah?”

“Itu tadi, yang namanya Bowo.”

“Oh, mas Fajar pernah cerita tentang dia. Sekarang sudah menikah?”

“Baru dua hari yang lalu.”

“Ah, syukurlah, berarti tidak akan mengejar kamu lagi dong Sar.”

“Kasihan dia. Menikah ibunya nggak mau nungguin, malah jalan-jalan.”

“Nggak setuju pernikahan itu?”

“Ibunya Bowo itu kan bekas istri lurah, kaya raya, mana mau punya menantu orang biasa.”

“Kasihan, sekarang luka parah.”

Tapi kemudian mereka terdiam. Belum ada kejelasan tentang luka Fajar. Ada tulang kaki retak yang harus dioperasi, dan perdarahan, tapi entah apa lagi, semuanya menunggu hasil pemeriksaan besok pagi.

Fajar sudah sadar, setengah sadar ketika ia melihat Sarah, tapi ada senyum kelegaan yang tak bisa diungkapkannya. Dadanya terasa sesak, mulutnya memakai ventilator.

Berlinang air mata Sarah, apalagi ketika melihat bu Pranoto dan Mentari menangisinya.

***

Sementara itu pak Karimun mengayuh sepedanya dengan tergesa-gesa. Berita kecelakaan itu membuatnya panik dan ketakutan. Ia hampir yakin bahwa Fajar adalah anaknya, hanya belum berani mengungkapkannya. Sekarang ketika mendengar Fajar mengalami kecelakaan, ia segera bergegas pulang untuk mengabarkannya kepada sang istri.

Tentu saja bu Karimun juga ketakutan.

“Pak, hampir dipastikan bahwa nak Fajar itu anak kita, seperti juga nak Bimo. Sekarang dia kecelakaan, apa yang harus kita lakukan? Aku ingin sekali melihat keadaannya Pak, tolong bawa aku ke rumah sakit di mana dia dirawat,” tangis bu Karimun.

“Iya Bu, tenang saja. Aku sudah tahu rumah sakitnya, ayo bersiap, kita ke sana sekarang.”

“Tadi itu bu Saptari juga mengatakan bahwa nak Bimo sedang pergi ke rumah sakit karena temannya atau apanya gitu kecelakaan. Dia akan mengabari seseorang. Tapi aku tidak mengira kalau yang kecelakaan itu nak Fajar,” kata bu Karimun sambil berganti pakaian.

“Kita naik apa?” tanyanya setelah siap.

“Ya aku boncengkan sepeda saja Bu, mau naik apa lagi, nanti malah kelamaan.”

“Baiklah kalau begitu. Semoga ia baik-baik saja ya Pak.”

“Aamiin.”

***

Mereka tiba di rumah sakit ketika semuanya masih di sana. Pak Pranoto heran melihat pak Karimun datang bersama istrinya. Tentu saja dia tak mengira, mengapa pak Karimun dan istrinya sangat perhatian pada kejadian yang menimpa Fajar.

“Kok pak Karimun  bersama istri ada di sini?”

“Saya ingin tahu bagaimana keadaan nak Fajar, saya sangat khawatir, Pak. Maaf kami lancang datang kemari,” kata pak Karimun dengan wajah sedih, sementara bu Karimun tampak berkaca-kaca.

“Lukanya parah Pak, sepertinya besok akan dioperasi. Tapi sedang diperiksa keseluruhan keadaannya dulu.”

“Apa saya boleh melihatnya Pak?”

“Boleh masuk, satu persatu Pak, di ruangan itu. Jangan berisik dan jangan mengajaknya bicara dulu,” pesan pak Pranoto.

Pak Karmun menarik tangan istrinya, lalu berunding siapa dulu yang akan masuk. Sikap keduanya membuat pak Pranoto dan keluarganya heran.

***

Besok lagi ya.

Thursday, October 29, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 39

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  39

(Tien Kumalasari)

 

Bowo mengusap wajahnya dengan kedua belah tangan, kemudian berdiri dan meninggalkan rumah sang ibu dengan kesal.

Pernikahan hanya tinggal sehari lagi, dan sang ibu tetap tak mau datang menghadirinya, apalagi memberikan restu. Endang yang hanya gadis kebanyakan, tak masuk hitungan bagi bu Lurah untuk menjadikannya keluarga.

Bowo pasrah. Ia hanya akan menepati rasa tanggung jawabnya sebagai laki-laki dengan penuh keikhlasan, dan itu adalah karena saran serta petuah seorang nenek yang oleh ibunya selalu disebutnya miskin.

Tapi sekarang Bowo tahu, bahwa miskin harta tidak berarti miskin adab dan tata krama. Nenek tua itu mengajarinya hidup untuk bertanggung jawab. Dan Bowo akan menjalaninya,

Memang tak ada pesta seperti kebanyakan acara pernikahan, tapi rumah Bowo ditata rapi dengan kursi-kursi yang berjajar serta hiasan bunga ala kadarnya, agar tampak bukan seperti acara biasa. Bowo tampak mengatur sendiri semuanya, dibantu para warga di kiri kanannya.

Ada sedih menyengat ketika menyadari bahwa dia akan berdiri sendiri dalam mengawali hidup berumah tangga walau awalnya dilakukan dengan terpaksa. Dan untunglah ada om Harun yang mendukungnya, setelah memberikan petuah-petuah penting yang harus dilakukannya setelah berumah tangga.

“Jalani saja, karena sesungguhnya inilah hidup yang digariskan untuk kamu, dan untuk mengakhiri semua sepak terjang kamu di masa lalu.”

Bowo hanya bisa bersyukur karena akhirnya bisa menjalaninya setelah sebelumnya merasa bingung dan tentu saja bimbang.

***

Acara akad nikah itu berjalan hikmad. Ada rasa syukur di hati Bowo, ketika melihat nenek Suli dan Sarah hadir di antara para tamu. Setelah akad selesai, Bowo mengajak istrinya mendekati nenek Suli dan bersimpuh dihadapannya.

“Eh, berdirilah, jangan begini,” kata nenek Suli sambil menarik Bowo agar berdiri.

“Kami mohon doa restu, Nenek.”

“Aku doakan kalian hidup bahagia, menjadi pasangan yang samawa, dan menjalani hidup dalam tentram dan damai,” kata nenek Suli dengan suara bergetar.

Bagaimanapun dia merasa terharu, si anak nakal yang semula dibencinya sekarang menjadi laki-laki dengan segala kedewasaannya, berani mengarungi hidup berumah tangga dan menebus tanggung jawabnya.

***

“Harun, apa kamu datang di pernikahan memalukan itu?” 

Sempat-sempatnya bu Lurah menelpon di antara acara yang sangat bersejarah bagi kehidupan anak laki-lakinya, tanpa kehadirannya.

“Bowo adalah kemenakan aku, kalau Mbak tidak mau merestuinya, maka aku yang akan melakukannya,” jawab Harun sambil  berdiri lalu keluar dari ruangan, agar tidak mengganggu para tamu undangan.

“Kamu jangan menyalahkan aku. Aku hanya menjaga marwah keluarga.”

“Marwah yang bagaimana? Meminta agar anak Mbak menghindari rasa tanggung jawab?”

“Banyak cara bisa dilakukan, tapi dia tidak mau melakukannya, dan memilih menjadikan gembel itu menjadi istrinya.”

“Hal paling buruk yang aku tidak suka pada Mbak adalah karena Mbak suka merendahkan orang lain. Mbak begitu angkuh dan sombong dengan kekayaan yang Mbak miliki.”

“Kamu tidak usah menggurui aku. Aku hanya ingin mendengar apakah pernikahan sudah berjalan?”

“Untuk apa Mbak menanyakannya? Yang terbaik adalah Mbak datang menunggui dan memberinya restu.”

“Maaf ya, aku sudah punya acara dengan teman-teman aku untuk jalan jalan ke luar kota hari ini, dan ini aku sudah di jalan. Kamu mendengar suara tawa-tawa mereka bukan?”

Dokter Harun menutup ponselnya dengan kesal, lalu melanjutkan berbincang dengan para tamu undangan.

***

“Saya tidak mengira, Bowo bisa menjalaninya dengan baik. Dia juga tampak bahagia, biarpun bu Lurah tidak hadir, " kata Sarah kepada neneknya ketika sudah ada di rumah.

“Sejak awal dia sudah tahu kalau ibunya tidak akan hadir. Itu sebabnya aku mau datang. Kasihan dia. Tampaknya harus ada tetua yang menunggui saat dia menikah," kata nenek Suli.

“Dan syukurlah ada dokter Harun juga ya Nek.”

“Dokter Harun itu adiknya bu Lurah, tapi perangainya sangat jauh berbeda.”

“Karena bu Lurah merasa bahwa dirinya sangat kaya dan harus menjadi wanita yang dihormati.”

“Susah kalau manusia mengabdi kepada harta. Tapi ya sudahlah, tidak baik ngomongin orang.”

“Nenek tadi kelihatan terharu ketika kedua pengantin meminta doa restu.”

“Iya, dan kamu tahu apa yang Njenek pikirkan? Nenek ingin sekali kamu juga segera menyusul dia.”

“Yaaah, Nenek. Sarah kan belum lulus? Bulan ini baru ujian.”

“Jadi setelah lulus kamu mau menikah?”

“Lhoh, Nenek ini bagaimana? Menikah dengan siapa?”

“Bukankah Saptari sudah pernah melamar kamu?”

“Bu Saptari?”

“Bukankah Bimo laki-laki yang baik?”

“Tapi kami hanya bersahabat Nek.”

“Dia pantas menjadi suami kamu. Dia ganteng, baik, sabar, sudah punya penghasilan. Apa kurangnya dia Sar?”

“Nek, Sarah belum ingin menikah. Setelah lulus nanti Sarah mau mencari pekerjaan, agar Nenek tidak usah lagi bekerja keras setiap hari.”

“Jangan memikirkan Nenek, pikirkan masa depan kamu. Nenek ini sudah tua, kalau sewaktu-waktu Allah memanggil, Nenek ingin agar kamu sudah ada yang mendampingi, melindungi, mencintai. Begitu lho Nduk.”

“Nenek jangan mengatakan itu, nanti Sarah menangis lhoh. Nenek masih sehat, dan masih akan lama dalam mendampingi Sarah.”

“Siapa yang bisa menolak kalau Allah menghendaki?”

“Neneeeek, jangan begitu, " rengek Sarah sambil memeluk sang nenek dan berurai air mata.

”Sarah belum siap hidup tanpa Nenek, jangan mengatakan itu lagi ya Nek,” rintihnya. 

Dan sang nenek mengelus kepala cucunya lembut.

***

Hari itu Sarah sudah kembali berjualan koran sepulang sekolah, seperti biasanya. Tapi ia melarang sang nenek bekerja berat seperti sebelumnya. Ia harus istirahat, dan tidak boleh banyak pikiran. Begitu pesan dokter yang ditaati oleh nenek Suli. Tapi nenek Suli selalu berpikir tentang Bimo yang ditolak oleh Sarah. Sebenarnya alasannya bisa dimengerti. Sarah masih sangat muda. Bagi penduduk kota dan di dunia modern, seumur Sarah belum pantas untuk berumah tangga.

Tapi sang nenek yang menganut kebiasaan di jamannya, sudah menganggap bahwa sudah sepantasnya Sarah mendapatkan jodoh.

“Apa sih kurangnya Bimo? Ia akan bisa menjadi pendamping Sarah yang baik.” 

Begitu selalu yang dikatakan nenek Suli.

Sementara itu Bimo sudah tidak lagi menggebu dalam mengejar cinta Sarah. Ia tahu Sarah menolaknya. Ia bahkan merasa bahwa Sarah lebih memilih Fajar yang jauh lebih mapan dan banyak harta. Apakah Sarah mengejar harta Fajar? Tidak. Bimo juga menampik anggapan itu. Dulu ketika Bowo memberinya iming-iming rumah bagus dan mobil berkilat, Sarah tidak tergiur. Tapi entahlah apa maunya cinta. Seperti dirinya sendiri yang memimpikan Mentari. Bukankah ini bagaikan pungguk merindukan bulan? Tapi mengapa rasa cinta mengusiknya? Ia tak tahu mengapa, tapi ia sadar akan dirinya. Barangkali cinta kepada Mentari hanyalah mimpi-mimpi indah yang mengganggunya setiap malam.

“Tak apa, tak ada yang bisa disalahkan ketika cinta menggoda. Tapi aku tahu diri. Semuanya serba tak mungkin.” 

Begitu selalu digumamkannya setiap wajah Mentari mengganggunya.

***

Sudah dua hari sejak pernikahan Bowo, Sarah kembali berjualan koran di perempatan seperti semula. Sarah  heran karena Bimo tak lagi pernah menemaninya. Ada rasa sepi ketika ia berlarian sendiri menyibak keramaian kendaraan yang berlalu lalang, demi rupiah yang diharapkannya. Biasanya ada Bimo yang membantunya.

Tiba-tiba ia melihat mobil berhenti menepi. Sarah berdebar. Itu kan bukan mobil Fajar. Walau begitu ia menunggu, dan seorang gadis berlari ke arahnya.

“Mentari?”

Mentari menubruk Sarah dan menangis tersedu.

“Ada apa Tari? Kamu membuatku takut,” kata Sarah sambil menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya.

“Sarah, mas Fajar kecelakaan.”

“Apa?”

“Lukanya parah. Mobil seorang perempuan menabraknya tanpa ampun.”

“Astaghfirullah.”

***

Besok lagi ya.

Wednesday, October 28, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 38

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  38

(Tien Kumalasari)

 

Bowo turun dari dalam mobilnya, mobil yang diparkir berhadapan dengannya sudah kosong, berarti pengemudinya tak ada. Ia sudah turun. Dengan perasaan kesal Bowo melangkah ke arah rumah nenek Suli. Bukankah dia berjanji akan mengantarkannya kontrol. Laki-laki kaya itu mendahuluinya.

Bowo berdiri di depan pintu, ia mendengar nenek Suli berbincang dengan laki-laki yang disebutnya Fajar.

“Nak Fajar, maafkan nenek Suli ya. Nenek tahu, maksud nak Fajar baik, ingin menolong nenek Suli, tapi nenek Suli sudah berjanji pada Bowo. Hari ini nenek akan diantar olehnya.”

“Tapi sekarang dia kan belum datang Nek. Lagipula apa Nenek lupa, Bowo pernah menyakiti Sarah?”

“Tidak, eeh tidak lupa, tapi nenek sudah melupakannya, karena dia sudah datang kepada Nenek dan nangis-nangis meminta maaf. Nenek memaafkannya. Mengapa tidak? Kalau Allah saja mau memaafkan umatNya yang bertobat, mengapa seorang nenek tua seperti Nenek ini tidak bisa melakukannya?”

“Iya, syukurlah kalau begitu. Tapi kok dia belum datang ya.”

“Tidak apa-apa seandainya belum datang, Nenek akan menunggu. Tidak enak kan, sudah berjanji berangkat bersama dia, tiba-tiba saya berangkat sama nak Fajar?”

“Bagaimana kalau kesiangan?”

“Tidak Nak, rumah sakit kan buka sampai sore? Terima kasih Nenek ucapkan pada nak Fajar, yang telah bersusah payah datang kemari, sementara harusnya nak Fajar kan bekerja di saat seperti ini? Tapi nenek ini orang miskin, kalau nenek mengingkari janji, pasti orang mengatakan … sudah miskin … ingkar janji … Kan nggak enak. Sebenarnya sih diantar siapapun akan sama, toh maksudnya Nenek harus kontrol kesehatan. Tapi masalah janji itu lho Nak, Nenek tidak bisa.”

“Bagaimana kalau dia tidak datang. Lihat, ini sudah jam sembilan lebih. Nanti antrenya sudah panjang.”

“Tidak apa-apa Nak, nenek tunggu saja sebentar. Nak Fajar boleh pulang dan bekerja. Masa terganggu gara-gara nenek?”

“Saya tunggu sampai dia datang Nek, kalau dia sudah datang, saya akan pulang. Takutnya dia tidak datang.”

“Baiklah, terserah nak Fajar saja.”

Bowo langsung masuk.

“Nenek sudah siap?”

“Nah, itu dia datang.”

“Ada tamu rupanya. Nenek mau berangkat kontrol sama dia?” kata Bowo.

“Tidak, bagaimana kamu ini, kan kamu sudah berjanji dan Nenek sudah menyanggupi, jadi ya Nenek mau berangkat sama kamu. Kecuali kamu membatalkannya.”

“Tidak Nek, seperti janji saya, saya akan mengantarkan Nenek. Nenek sudah bersiap? Tapi kalau Nenek lebih suka diantar mobil yang lebih bagus, ya tidak apa-apa.”

“Kamu itu ngomong apa? Bukan masalah mobil yang seperti apa. Ini janji kamu yang Nenek sudah menyanggupinya.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Nenek sudah menunggu dari tadi. Kamu tidak kenal dia? Dia juga sahabat Sarah dan sangat baik kepada nenek.”

“Oh, sudah kok. Sudah pernah kenal.”

“Kalau begitu ayo saling memberi salam,” perintah nenek Suli seperti kepada kedua anak kecil yang sedang berantem.

Bowo berdiri, dan saling memberi salam. Nenek Suli tersenyum.

“Ayo kita berangkat. Nak Fajar mau ke kantor?”

“Iya Nek.”

Nenek Suli berangkat kontrol ke rumah sakit bersama Bowo. Fajar tak merasa sakit hati. Budi nenek Suli sangat mulia, dan itu berbekas di hatinya. Biarpun dia berbaik hati dan bersusah payah ingin mengantar, tapi nenek Suli tetap tidak mau karena sudah sanggup diantar Bowo. Sebuah sikap yang patut ditiru.

Fajar menuju kantor dengan langkah yang lebih ringan.

***

“Bu Karimun, biar saja nanti Bimo ambil sendiri, bu Karimun selalu memperlakukannya sangat istimewa. Meja makan ditata rapi begitu, seperti menyambut tamu,” kata bu Saptari sambil tersenyum.

“Nak Bimo kan capek bekerja seharian. Biar dia senang kalau kita menyambutnya dengan makanan yang baik, biarpun sederhana. Dengan begitu capeknya  bisa hilang.”

“Benarkah?”

“Tentu saja benar.”

“Selama bu Karimun ada di sini, Bimo benar-benar dimanjakan oleh bu Karimun.”

“Tidak, biasa saja. Apa yang bisa saya lakukan untuk memanjakan dia? Semuanya bu Saptari yang menyiapkannya. Saya hanya tinggal menata.”

“Perhatian bu Karimun sangat besar.”

“Saya hanya teringat pada anak saya.”

“Lhoh, bu Karimun punya anak? Di mana dia?”

Tiba-tiba bu Karimun meneteskan air mata, yang kemudian buru-buru dihapusnya.

“Bu Karimun punya anak?”

Bu Karimun hanya mengangguk pelan, kemudian pergi meninggalkan meja makan yang sudah ditatanya rapi.

“Bu Karimun ini aneh, apa sebenarnya yang terjadi? Barangkali anaknya sudah meninggal, sehingga dia tak mampu mengungkapkannya,” gumam bu Saptari yang tak ingin mendesaknya lebih lanjut.

“Bu, bu Karimun mana?” tiba-tiba Bimo muncul.

“Kaget aku, tidak ada suaranya kok tiba-tiba kamu sudah ada di sini. Itu bu Karimun ada di belakang. Baru saja dia di sini tadi.”

“Oh, Bimo membelikan baju untuk bu Karimun.”

“Wah, pasti dia senang sekali. Kamu habis gajian ya?”

“Iya Bu, dan gaji Bimo sekarang jauh lebih banyak. Bimo juga beli untuk Ibu.”

“Syukurlah. Tapi tunggu dulu, akhir-akhir ini kamu kok selalu pulang langsung, biasanya menemani Sarah jualan koran. Apa dia belum mulai jualan lagi setelah neneknya sakit?”

“Entahlah, Bimo kurang memperhatikan juga sih. Besok Bimo akan melihatnya.”

“Ibu merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya kamu sekarang tidak begitu bersemangat mendekati Sarah?”

“Tidak apa-apa Bu, saya pikir-pikir kok lebih baik Bimo melupakannya.”

“Memangnya kenapa? Kok patah semangat. Ada yang lain, barangkali?” goda sang ibu.

Bimo hanya tersipu. Ada yang lain?

“Bimo ke belakang dulu, menemui bu Karimun,” kata Bimo sambil menjauh. 

Bu Saptari menatapnya heran. Perhatian kepada Sarah sudah hilang entah ke mana? Kalau ada yang lain, siapa dia?

***

Setelah mengantarkan nenek Suli, Bowo belum juga pulang dari rumahnya. Ia membeli makanan yang dimakannya bersama nenek Suli, dan juga Sarah.

“Terima kasih sudah menemani nenek ya. Tapi lain kali kamu tidak usah repot-repot lagi, kan kamu minggu depan sudah menjadi suami orang. Tidak enak kalau masih selalu memperhatikan Nenek,” kata Sarah.

“Tidak apa-apa kalau hanya mengantarkan Nenek. Istriku harus mengerti, bahwa nenek Suli adalah keluarga aku.”

“Biar bagaimanapun, kamu harus bicara dengan dia.”

“Iya, itu masalah gampang.”

“Terima kasih kebaikannya ya.”

“Untuk menebus semua kesalahan aku sama kamu.”

“Lupakan saja, semua orang pasti punya salah.”

“Besok kalau aku nikah, nenek Suli dan kamu harus datang ya.”

“Tidak usah Bowo, nanti ibu kamu marah. Kami ini keluarga yang tidak berkelas, mana mau bu Lurah melihat kami di pesta pernikahan kamu.”

Bowo tertawa getir.

“Pesta? Ibu tidak akan mau datang.”

“Masa, pernikahan putranya kok tidak mau datang.”

“Calon istri aku hanya orang kebanyakan, bukan dari keluarga seperti yang didambakan ibuku. Sudahlah, jangan bicara lagi masalah itu. Yang penting aku sudah bersedia bertanggung jawab, seperti apa yang dianjurkan nenek Suli.”

“Coba kamu bicara  lagi sama ibu kamu. Bicara yang pelan, penuh permintaan maaf dan penyesalan, ibu mana yang tidak luluh hatinya kalau anaknya memohon maaf dan menyesali perbuatannya?”

“Entahlah, aku masih bingung. Pernikahan itu aku sendiri yang mengaturnya. Bukan pesta, hanya pernikahan sederhana di rumah aku saja."

“Baiklah, aku hanya ikut berdoa, semoga kalian bahagia.”

“Tapi bener ya, kamu dan Nenek harus datang?”

Sarah tersenyum.

“Tapi aku nggak janji lhoh.”

“Nanti aku akan bicara lagi sama Nenek. Masa Nenek tega melihatku menikah tanpa ditunggui orang tua?”

***

“Apa maksudmu aku kamu suruh menunggui pernikahan memalukan itu? Lalu yang datang kerabat-kerabat dia yang semuanya miskin dan tidak berkelas? Tidak, aku tidak mau. Aku malah mau pergi jalan-jalan sama teman-teman arisan aku.”

“Bu, tega sekali Ibu ini.”

“Kamu juga tega mempermalukan keluarga ini, mengapa ibu tidak?”

“Bu, tolonglah ikut datang merestui.”

“Tidak ya tidak. Aku mau jalan-jalan!”

***

Besok lagi ya. 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 42

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  42 (Tien Kumalasari)   Pak Pranoto duduk di samping istrinya, sama seperti sang istri, ia duduk dengan linglung....