Tuesday, September 15, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 06

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  06

(Tien Kumalasari)

 

Sarah menutup mulutnya melihat kedua laki-laki itu menatapnya heran. Kemudian mereka saling tatap. Benarkah wajah mereka mirip?

Tapi kemudian Fajar melangkah menuju mobilnya, lalu pergi begitu saja. Ucapan Sarah dianggapnya hanya sebagai gurauan. Masa dia mirip laki-laki berpakaian sederhana bersepatu lusuh dan berjalan kaki entah dari mana datangnya?

Ketika ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu, Bimo lebih mendekati Sarah, dan menanyakan pendapatnya tentang wajah mereka.

“Kami mirip?”

“Iya Mas, masa aku bohong?”

“Dia orang kaya. Kok bisa mirip orang miskin seperti aku?”

”Aku juga tidak tahu, bagaimana ada orang semirip itu. Padahal kalian bukan anak kembar.”

“Ada-ada saja. Tapi di dunia ini banyak orang mirip. Kamu kelihatan sangat heran.”

“Memang, tapi miripnya kebangetan.”

“Seneng sih dibilang mirip, berarti ada temannya, tapi keberuntungannya kok nggak mirip ya?” canda Bimo.

“Maksudnya ….”

“Keberuntungannya, aku orang biasa, dia orang kaya.”

“Kaya atau miskin itu bukan ukuran. Yang miskin belum tentu jelek, yang kaya belum tentu baik. Seperti kemarin itu, aku dibawa kekantor polisi, tahu nggak sih? Malam-malam pula. Eh, sore. Orang kaya bisa melakukan hal semau dia."

“Kamu? Dibawa ke kantor polisi?”

“Iya. Gara-gara aku mukul orang sampai berdarah-darah.”

“Apa? Kamu memukul orang sampai berdarah-darah?”

“Sebentar, lampu merah, aku harus membawa sisa koran ini, siapa tahu laku,” kata Sarah sambil berlari menyusup diantara motor dan mobil yang berhenti karena lampu merah.

Bimo menatapnya kagum. Sejak awal dia kagum pada polah Sarah yang sangat bersemangat dalam menjajakan korannya, padahal dia juga anak sekolah.

Dari tempat ia berdiri, ia mendengar Sarah berteriak-teriak menjajakan korannya.

“Koran … koran … ada berita hangat, Bapak..... Mas … jangan sampai ketinggalan berita … korannya … korannya ….”

Dan ketika kembali koran itu sudah habis terjual. Sarah melenggang dengan senyum merekah.

“Koranku habis.”

“Alhamdulillah, ikut senang.”

“Mengapa Mas masih di sini? Tidak ingin langsung pulang dan makan? Bekerja seharian saat pulang pasti lapar.”

“Aku sudah makan di kantor.”

“Oh, iya, beda orang kantoran dengan orang biasa,” ejek Sarah yang menjadi semakin akrab.

“Orang kantoran … kedengarannya hebat, padahal aku hanya OB.”

“OB itu juga manusia, apa bedanya dengan orang-orang kantoran yang duduk di kursi sambil menghadap laptop?”

“Kamu bisa saja.”

“Aku juga sudah pernah masuk ke kantor-kantor, hanya beberapa hari, menawarkan koran, memasuki ruangan-ruangan dan melihat orang sibuk. Tapi kemudian aku dilarang berjualan di sana. Jadi aku jualan saja di perempatan sini. Lumayan juga, satu atau dua pasti laku.”

“Kamu gadis yang hebat. Pulang sekolah pasti capek, langsung berjualan di sini?”

“Ya tidak Mas, masa aku jualan dengan seragam sekolah? Aku pulang dulu, makan, ganti pakaian, lalu berangkat kemari.”

“Kamu hanya jualan di sini?”

“Ya, di sini saja, yang tidak begitu jauh dari rumah. Soalnya ke mana-mana aku jalan kaki. Kalau jauh lumayan capeknya, nanti pulang masih harus membantu Nenek bersih-bersih, trus mandi, trus masih harus belajar.”

“Bukan main. Aku kagum sama kamu.”

“Kagum apanya Mas, namanya orang butuh uang ya harus berjuang. Sudah, Mas pulang sana, aku juga mau pulang.”

“Eh, kamu tadi cerita belum selesai.”

“Aku cerita apa ya? Lupa….”

“Kamu mukul orang.”

“Oh, iya, aku mukul orang, sampai kepalanya berdarah, dan pingsan. Aku sampai ketakutan, lalu orang tuanya melaporkan aku ke polisi.”

“Kamu galak juga ya?”

“Aku hanya membela diri. Aku sedang sendirian, dia maksa masuk ke rumah, aku pukul dengan palang pintu.”

“Waddhuhhh.”

“Dia itu orang yang kemarin mengganggu aku, lalu membuang sisa koran dagangan aku ke tempat sampah.”

“O, dia tahu rumah kamu?”

“Dia anak bu Lurah. Suaminya sudah meninggal, dulunya lurah, tapi orang-orang masih menyebutnya bu Lurah.”

“Dia sering mengganggu kamu? Sampai-sampai membuang koran kamu ke tempat sampah?”

“ Tadinya dia mau aku jadi istrinya, maksudnya mau memaksa saya. Aku nggak mau, dia sombong dan mata keranjang. Kemarin awalnya mengganggu aku pas jualan di sini, untunglah masnya yang ganteng tadi menolong aku, sehingga aku bisa setoran.”

“Mas yang ganteng mana?”

“Yang tadi naik mobil.”

“O, yang kata kamu mirip aku?”

“Iya.”

“Berarti aku juga ganteng dong.”

Sarah terkekeh, tapi kemudian dia melambaikan tangannya.

“Ayuk Mas, pulang. Sudah sore,” katanya sambil berlalu.

Bimo menatap punggungnya sambil tersenyum. Ia melangkah pulang dengan masih membayangkan wajah manis Sarah dan lesung pipitnya.

“Ada apa aku ini,” gumamnya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

***

Bowo sedang melamun di teras. Kepalanya masih dibalut perban. Sang ibu yang baru datang mendekatinya, dengan rasa khawatir.

“Masih sakit?”

Bowo menatap sang ibu.

“Tidak sakit, dari kemarin juga tidak sakit.”

 “Kamu kelihatan pucat. Sedang ngapain duduk sendirian di sini, tidur saja sana, tadi aku sudah ke pabrik, semuanya baik-baik saja.”

“Kalau besok rasanya sudah enakan, aku mau ke rumah nenek Suli.”

Bu Lurah yang sudah mau masuk ke rumah berhenti melangkah, ditatapnya Bowo dengan pandangan marah.

“Apa maksudmu mau ke rumah nenek Suli?”

“Aku mau meminta maaf.”

“Bowo, apa kamu waras? Dia yang melukai kamu, lalu kamu yang akan meminta maaf?”

“Tapi yang salah aku Bu. Aku memaksa masuk ke rumah.”

“Masuk ke rumah itu apa salah? Kalau kamu mencuri, itu baru salah.”

“Dia tadinya melarang, aku memaksa.”

“Ah, sudah, aku nggak mau mendengar apa-apa tentang mereka. Aku kan sudah bilang, aku bebaskan Sarah semalam, tapi dengan catatan kamu tidak boleh lagi memikirkan dia. Atau biar dia masuk penjara saja sekarang?”

“Mana bisa dia masuk penjara, kan Bowo sudah bilang kalau dia tidak salah.”

“Melukai orang kok tidak salah.”

Bowo kesal berdebat, karenanya dia diam. Bu Lurah masuk ke dalam dengan omelan panjang pendek.

“Pokoknya kamu tidak boleh lagi mendekati Sarah,” kata sang ibu tandas, sambil masuk ke dalam kamar.

“Tapi aku tidak bisa melupakannya,” gumam Bowo lirih.

***

Di sebuah rumah mewah, seorang pemuda sedang berbincang dengan adiknya. Pemuda itu adalah Fajar, adiknya adalah Mentari. Mereka dua saudara yang saling mengasihi, dan dimanja oleh kedua orang tuanya yang kaya raya.

“Mas, besok antar aku ke pesta ulang tahun temanku ya?”

“Teman sekolah kamu?”

“Iya. Mau ya? Nanti aku kenalkan dengan teman-temanku, mereka cantik-cantik lhoh, siapa tahu bisa Mas jadikan pacar.”

“Ogah ah, sudah gede pakai ulang tahunan segala.”

“Yaaaah, memangnyya kalau sudah gede tidak boleh pesta ulang tahun..?”

“Pesta ulang tahun, pantasnya untuk anak kecil.”

“Kata siapa?”

”Kataku.”

“Maaas,” Mentari merengek.

“Nggak usah ke pesta, besok jalan-jalan saja, aku traktir makan.”

“Nggak mau, aku sudah janji sama teman aku kalau aku mau datang sama kakakku kok. Mau ya Mas, aku bilangin sama ibu kalau Mas nggak mau,” Mentari merajuk.

“Kolokan, cuma gitu aja ngadu sama Ibu.”

“Pokoknya harus mau. Harus!” katanya sambil memukul-mukul lengan kakaknya.

***

Nenek Suli sudah mandi dan mencari Sarah untuk diajak duduk di depan rumah. Udara sore sangat cerah, duduk di depan rumah pasti segar rasanya. Nenek Suli mencari Sarah yang belum keluar dari kamarnya.

“Sarah, kamu sudah mandi kan?”

“Sudah Nek.”

“Sedang mencari apa kamu dari tadi buka-buka almari?”

“Mencari baju yang bagus.”

“Tumben mencari baju yang bagus. Mau bepergian?”

“Besok kan Minggu Nek, Sarah  diundang teman sekelas yang ulang tahun.”

“Ulang tahun?”

“Sebenarnya Sarah enggan datang, tapi teman-teman Sarah memaksa, nggak enak kalau tidak datang.”

“Di mana rumahnya? " tanya sang nenek.

"Nggak begitu jauh, nanti Sarah naik ojol saja.”

“Malam?”

“Iya, malam. Tapi Sarah hanya akan datang sebentar saja, sekedar memenuhi undangan.”

“Baiklah, asal pulangnya jangan malam-malam.”

***

Besok lagi ya.

 

Monday, September 14, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 05

 DARAH CINTA DAN AIR MATA 05

(Tien Kumalasari)

 

Sarah bingung, ia juga seperti tidak sadar ketika tiba-tiba sudah berada di kantor polisi. Ia hanya ingat orang-orang mengeroyoknya ketika mereka mengangkat tubuh Bowo yang berdarah-darah, lalu ia melihat neneknya menangis, dan dia digelandang ke kantor polisi.

Sarah bingung. Benar-benar bingung, ketika melihat darah, melihat Bowo tergeletak, dan pikirannya benar-benar buntu.

Ketika ia duduk dalam kebingungan, suara orang memaki-makinya terasa menghantam telinganya.

“Dasar perempuan tak tahu diuntung. Sudah miskin, sombong, ditambah jahat pula,” hardiknya.

Sarah menutupi kupingnya. Pikirannya benar-benar gelap.

“Diberi kebaikan, malah membalasnya dengan keburukan. Apa kamu ditakdirkan jadi pembunuh?” suara itu melengking, membuat telinganya sakit.

“Pak Polisi, saya minta agar dia dihukum seberat-beratnya. Kalau perlu dipenjara seumur hidup.”

Sarah tersentak. Dihukum seumur hidup? Ia menurunkan tangannya dari telinganya. Seorang polisi duduk di depannya. Tadi polisi itu menuliskan entah apa, menurut apa yang dikatakan bu Lurah, pastinya.

Ketika polisi bertanya, ia mengatakan bahwa ia hanya membela diri karena Bowo menyerangnya, dan mencoba memaksanya.

Di sebuah sudut, nenek Suli menangis terisak-isak. Seorang tetangga yang menemaninya, menghibur si nenek, agar dia tak usah begitu khawatir, karena cucunya tidak bersalah.

***

Bowo ada di rumah sakit. Hanya luka ringan. Karena kalau luka di kepala kan pasti perdarahannya kelihatan hebat. Ibunya sudah ngamuk-ngamuk, tidak cukup di rumah, tapi juga di kantor polisi. Padahal Bowo hanya perlu dijahit dan tidak harus opname. Ia sekarang sedang menunggu jemputan, ditemani ibunya setelah rampung marah-marah di kantor polisi.

“Bu, jangan laporkan Sarah ke polisi.”

“Dia melukai kamu sampai parah begitu. Dia harus menebusnya dengan dipenjara.”

“Tidak mudah memenjarakan orang Bu, tadi Bowo yang salah.”

“Apa maksudmu kamu yang salah?”

“Bowo memaksakan kehendak, menerobos masuk ke rumahnya.”

“Kamu itu kebangetan. Sungguh bodoh mengejar-ngejar orang yang sama sekali bukan setingkat kita. Mereka itu miskin. Neneknya hanya buruh cuci di kampungnya, bocah itu hanya penjaja koran. Kamu tega mempermalukan orang tuamu dengan jatuh cinta kepada orang seperti dia? Kalau dia mau menerima, itu adalah anugrah baginya. Tapi dia menolak, ibu merasa terhina. Dia itu siapaaaaa??”

“Sudahlah Bu, cabut laporan Ibu, aku kan tidak apa-apa. Kalau Ibu tidak mau, biar Bowo yang melakukannya.”

“Baiklah, Ibu bebaskan dia, tapi kamu tidak boleh mendekatinya lagi. Awas kamu!”

Bowo terdiam. Kepalanya berdenyut. Walau tidak parah, tapi luka di kepala memang membuatnya pusing. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa kepada ibunya, nanti ibunya semakin marah. Terus terang saja, Bowo memang jatuh cinta kepada Sarah. Bukan cinta berbau nafsu, tapi sungguh-sungguh cinta dan sayang. Itu sebabnya ia tak ingin Sarah dipenjara atau dihukum, seringan apapun.

***

Malam itu memang Sarah sudah ada di rumah. Nenek Suli bersyukur, dan mendekap cucunya terus menerus.

“Tak bisa Nenek bayangkan Sarah, kalau kamu benar-benar dipenjara, hati Nenek pasti akan hancur,” kata nenek Suli sambil mengelus kepalanya.

“Ya tidak Nek, bagaimanapun Sarah tidak bersalah. Sarah hanya membela diri karena Bowo nekat masuk ke rumah, lalu entah apa yang akan dilakukannya seandainya Sarah membiarkannya, sementara di rumah tak ada orang kecuali hanya kami berdua.”

“Kebangetan mereka itu, Nenek kan sudah menolaknya sampai dia marah-marah juga tadi di rumah bu Karno.”

“Bowo merasa bahwa dia tak pernah ditolak oleh perempuan yang dia dekati. Dia pikir Sarah sama dengan mereka, jadi walau Sarah sudah mengatakan tidak, dia tetap ingin memaksa. Dia berharap akhirnya Sarah akan menyerah.”

”Lain kali kamu harus berhati-hati. Kalau kamu di rumah sendirian, lebih baik kamu mengunci pintu dari dalam.”

“Iya Nek. Sarah juga takut kalau dia mengulanginya kembali. Tapi tadi polisi bilang kalau bu Lurah mencabut laporannya atas permintaan Bowo.”

“Syukurlah, barangkali dia merasa bersalah.”

“Ya sudah, sekarang Nenek tidur. Jangan memikirkan Sarah tentang hidupnya yang entah akan seperti apa. Kaya atau miskin itu bukan pilihan, tapi garis kehidupan. Nyatanya dengan hidup bersama Nenek, Sarah sudah merasa sangat bahagia. Sungguh Sarah tak ingin lebih.”

“Anak baik. Walau begitu Nenek akan tetap berdoa agar kamu mendapat kehidupan yang baik nanti, dan bahagia pastinya.”

“Terima kasih Nek, akan seperti apa hidup Sarah nanti, Sarah akan selalu bersama Nenek.”

Nenek Suli merangkul sang cucu dengan penuh kasih sayang. Malam itu Sarah kembali tidur di kamar nenek Suli.

***

“Kamu mau masuk sekolah?”

“Iya dong Nek, masa Sarah harus bolos?”

“Hati-hati, walau di jalan, Bowo masih bisa mengganggu kamu kan, seperti kemarin itu?”

“Iya, dan untunglah ada yang menolong Sarah. Tiba-tiba Sarah punya dua orang sahabat di jalanan, yang Sarah anggap sahabat karena telah menolong Sarah, dengan tulus pula.”

“Syukurlah, anak baik pasti akan selalu mendapat kebaikan. Sekarang kamu mau sarapan apa? Ayam goreng yang kemarin diberi bu Karno masih ada dua potong, apa Nenek harus buatkan sayur bening dulu.”

“Tidak usah Nek, itu sudah lebih dari cukup, kan sudah ada sambalnya juga. Kalau Nenek masih harus masak, nanti Sarah kesiangan. Kan Sarah harus jalan kaki, jadi harus buru-buru berangkat.”

“Baiklah, kalau begitu segera makan. Nanti siang Nenek akan masak untuk kamu.”

“Apa Nenek tidak bekerja hari ini?”

“Hanya bersih-bersih di rumah bu Karno, tidak akan lama. Ayo sekarang makan dulu, Nenek siapkan air untuk bekal kamu.”

“Terima kasih Nek.”

Sarah makan sendirian, dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya, karena sepeninggal orang tuanya saat dia masih kecil, ada Nenek yang sangat menyayanginya, menjaganya, dan membeayai sekolahnya, padahal sang nenek hanya menjadi buruh cuci di kampungnya.

“Ini minum buat bekal, ada sedikit cemilan sisa arisan dari bu Karno yang diberikan. Bisa untuk bekal kamu.”

“Iya Nenek, terima kasih, sebenarnya kan Sarah bisa menuang air sendiri.”

“Nanti kamu kesiangan, nggak apa-apa kalau hanya menuang air saja.”

***

Seperti biasa setelah pulang dari sekolah, Sarah mengambil koran ke agen untuk dijualnya. Sedikit banyak ia bisa menabung dan tak harus meminta uang kepada sang nenek kalau butuh sesuatu.

Hari itu korannya sedikit lebih laku, hanya tinggal tiga lembar saja, tapi dia belum mau berhenti, karena hari belum begitu sore. Saat lampu merah, dia siap untuk menyeberang, tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, membuatnya berhenti melangkah.

“Korannya masih?”

Sarah tersenyum. Rupanya dia adalah laki-laki bernama Fajar yang kemarin memberinya uang sebagai ganti koran yang dibuang Bowo ke tempat sampah.

“Masih ada, ini.”

Ketika Fajar ingin memberikan uang, Sarah menolaknya.

“Tidak usah Mas, untuk Mas, gratis.”

“Tidak bisa begitu, aku mau beli, mengapa bisa gratis?”

“Mas sudah menolong aku, ini sebagai ungkapan terima kasih, kalau butuh koran, untuk Mas gratis.”

“Nggak mau. Pokoknya nggak mau. Mana mungkin setiap hari gratis.”

Sarah membalikkan tubuhnya ketika Fajar mengambil dompetnya.

“Sarah!”

Sarah membalikkan tubuhnya. Ia lupa, apakah dia pernah memperkenalkan namanya ?

“Kok tahu namaku Sarah?”

“Ya tahu, sini … mau lari ke mana kamu? Hati-hati, jangan menolak rejeki. Apa yang aku lakukan kemarin itu berbeda. Kemarin aku memberi, kali ini aku membeli,” kata Fajar sambil memaksa memberikan uangnya.

“Udah begitu uangnya selalu berlebih,” omel Sarah.

Dari jauh seseorang melangkah mendekat.

“Sarah, dagangannya habis?”

Sarah menoleh. Bimo mendekat, dan Fajar belum beranjak pergi.

Sarah bergantian menatapnya.

“Ada apa kamu ini?” tanya Bimo sambil tertawa lucu.

“Lihat, bagaimana wajah kalian bisa sama?”

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 13, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 017

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  017

(Tien Kumalasari)

 

Menur menatap anaknya yang matanya berbinar. Tampaknya dia senang mendapat jawaban sang ibu. Menur menyimpan rasa nyeri di dalam hatinya, karena dia tahu keberadaannya di sana tidak disukai, terlebih oleh pengasuh Ana yang bernama Rumi. Tapi ia tak mau sang anak ikut merasa sakit ketika tahu bahwa ibunya disakiti.

Sesungguhnya apa yang dilakukan Menur ini bukan karena uang yang dijanjikan, tapi lebih kepada rasa sayangnya kepada Ana, yang begitu mendambakan sebuah kasih sayang dan perhatian. Ana anak yang baik, ia bukan pembangkang dan bersikap semaunya, biarpun dimanja secara materi. Menur akan mengajarkan hal-hal baik, bukan hanya memberinya kasih sayang.

“Ibu mandilah, lalu makan, ya.”

Menur mengangguk, beranjak menuju ke kamarnya, tapi di ruang makan ia melihat makanan yang banyak, padahal dia mau ke dapur dulu untuk menggoreng telur.

“Rahman, ini apa?”

Rahman agak kaget. Ia ingat sang ibu tidak suka dia dekat-dekat dengan om ganteng yang baik hati itu. Tapi ia tak mungkin berbohong.

“Tadi, om Baroto datang kemari,” katanya lirih.

Menur terkejut. Bukan hanya di sekolah Rahman Baroto ingin menemui anak itu, tapi sekarang berani datang ke rumah, membelikan banyak makanan dan itu bukan makanan murahan. Ada ikan, ada daging, nasinya juga sudah siap.

“Apakah Ibu marah? Kita tak mungkin menolak tamu yang datang berkunjung bukan? Rahman tidak minta, tapi ini rejeki bukan Bu?”

Menur tersenyum tipis lalu mengangguk.

“Sekarang Ibu mandi dulu, lalu makan bersama Rahman.”

Hal baru yang dilakukan Rahman. Dulu ia selalu makan terlebih dulu, bahkan bisa menghabiskan semua makanan, tanpa ingat ibunya sudah makan atau belum. Kali ini ia mengajak makan bersama. Pasti bukan karena banyak makanan, tapi karena Rahman memang sudah berubah. Hal itu melegakan hati Menur, membuat rasa kesalnya sedikit mengendur.

Ia segera mandi, lalu menemani Rahman makan.

“Tadi om Baroto bilang, bahwa tak lama lagi akan kembali ke luar negeri, karena pekerjaannya memang di sana,” kata Rahman disela-sela makan.

Tiba-tiba entah mengapa, ada perasaan tak enak menyergapnya. Sedih karena ditinggalkan? Masa iya? Tapi Menur tak mau mengakuinya. Menur bukannya tinggi hati, tapi dia keras hati. Apa yang membuatnya tak harus melakukannya, ia tak akan melakukannya. Baroto ada di dalam dasar hatinya. Ia adalah telaga bening yang sayang untuk diusiknya. Ia sudah punya dunia yang harus digenggamnya, yaitu keluarga. Bukankah cinta tak harus memiliki?

“Tapi om Baroto bilang, dia akan sering pulang kemari,” lanjut Rahman ketika melihat ibunya tak bereaksi. Rahman tak tahu apa sebabnya sang ibu seperti membenci om ganteng yang sangat baik itu.

***

Lili baru selesai mandi malam itu, ia duduk di ruang tengah sendirian, sambil menikmati segelas coklat susu yang disajikan salah seorang pembantunya. Baroto tak kelihatan, mungkin ada di dalam kamarnya. Sepasang suami istri itu memang jarang bercengkrama berdua.

Tiba-tiba Rumi muncul dan langsung bersimpuh di depannya.

Mulut monyongnya segera terbuka, setelah ia menoleh ke kiri dan ke kanan dan tahu kalau tak ada orang di sekitarnya.

“Nyonya … Nyonya …”

Lili meletakkan gelas coklat susu yang selesai dicecapnya.

“Ada apa lagi?”

”Nyonya tahu tidak, tadi, waktu pengais sampah itu mau pulang, tuan menawarkan diri untuk mengantarnya.”

Lili mengangkat alisnya.

“Nyonya harus berhati-hati. Bagaimanapun, pengais sampah itu cantik, saya tahu bagaimana cara tuan memandangi dia.”

“Rumi, kamu jangan mengada-ada.”

“Itu benar Nyonya. Bukan apa-apa, saya hanya mengingatkan agar Nyonya berhati-hati. Ingat nyonya, dia itu ternyata cantik. Apalagi setelah nyonya besar membelikan dia baju-baju yang bagus, bukan baju kumel seperti yang dia pakai ketika mengais sampah.”

Lili tahu, Menur memang cantik. Apalagi kalau dia memakai baju-baju yang bagus. Tapi tak terpikir olehnya kalau suaminya tertarik padanya. Dan kalaupun iya, apakah dia harus peduli? Bukankah ia tak pernah mencintai suaminya?

“Rumi, bawa gelas kotor ini ke belakang,” kata Lili.

“Nyonya, saya hanya mengingatkan,” kata Rumi.

“Ya sudah, sana, aku capek,” kata LIli yang lama-lama sebel juga mendengar ocehan pembantu yang satu itu.

Tapi ketika Rumi sudah pergi, mendadak terbayang olehnya, Baroto mendekati Menur yang cantik. Ada perasaan tak senang. Apakah LIli mulai mencintai suaminya?

Lili memasuki kamar Baroto, dan melihat sang suami sedang melamun di sofa yang ada di kamar itu. Tiba-tiba ada rasa curiga di hati Lili. Jangan-jangan sang suami memikirkan Menur. Tapi perasaan itu ditepisnya sendiri, mengingat Menur baru sehari di rumah ini. Wanita itu begitu sederhana, mana mungkin suaminya yang terbiasa bergaul dengan perempuan luar negri yang pasti lebih sexy dan menarik lalu tiba-tiba tertarik dengan wanita yang sebenarnya adalah adik misannya itu?

Lili akan menutup pintu kamar, ketika tiba-tiba Baroto menyapanya.

“Ada apa? Kamu mencariku?”

Lili mencoba tersenyum. Ia tak bisa menjawab apa alasannya maka harus menjenguk ke kamar suaminya. Hal yang tak pernah dilakukannya bukan?

“Ti … tidak, hanya … “

“Hanya apa?”

Baroto menegakkan badannya, menatap sang istri yang kelihatan seperti orang linglung. Tapi kemudian Lili menemukan jawabannya.

“Kapan kamu kembali ke luar negri?” tanyanya sambil tetap berdiri di pintu.

“Bosan melihat aku terlalu lama ada di rumah?”

“Tidak. Tinggallah sesuka hati kamu. Ini juga rumahmu kan?”

“Aku masih ada urusan dalam beberapa hari ini, mungkin minggu depan aku baru akan kembali.”

“O, baiklah. Selamat tidur,” kata Lili sambil menutup pintu.

Ketika kembali ke kamarnya, Lili heran terhadap dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba mencurigai suaminya tertarik pada Menur? Pasti gara-gara Rumi yang mengadu dengan mulut monyong itu.

“Bodoh, mengapa aku terpengaruh pada perkataan Rumi yang sepertinya ingin memanas-manasi aku? Pasti karena dia iri hati, atau bahkan sakit hati karena perhatian Ana lebih kepada Menur, sementara sudah lama dia yang mengasuhnya. Aku tidak harus memikirkannya.

Tapi ketika ia membaringkan tubuhnya, ia merasa ranjangnya sangat dingin dan membuatnya hampir menggigil. Sungguh aneh. Sepuluh tahun menikah, tidak sekalipun mereka tinggal atau tidur dalam satu kamar. Apalagi seranjang.

Lili menutup wajahnya dengan bantal, lalu berusaha tidur, dengan menghilangkan bayangan-bayangan yang membuatnya merasa aneh.

***

Pagi sekali ketika Ana bangun, ia sudah melompat dari ranjangnya, dan mencari-cari ke sekeliling ruangan. Rumi yang sudah menyiapkan air untuk mandi menyapanya.

“Non Ana mau mandi sekarang? Bik Rumi sudah menyiapkan semuanya.”

Tapi Ana menggeleng.

“Bibi Menur belum datang?”

Wajah Rumi langsung gelap, segelap mendung dimusim hujan.

“Ini masih pagi. Barangkali juga dia belum bangun,” katanya enteng.

“Aku mandi nanti saja, kalau bibi Menur sudah datang.”

“Ya ampun Non, kalau kesiangan nanti tuan dan nyonya marah karena non Ana tidak makan pagi bersamanya,” omelnya sambil menarik tangan Ana.

“Nggak mau. Pokoknya aku menunggu bibi Menur.”

Baru saja Rumi akan menjawab, Menur sudah muncul dari pintu samping. Rumi langsung bergegas ke belakang, sementara Ana berteriak kegirangan.

“Ini ada bibi Menur, aku mau mandi dengan bibi Menur.”

“Mengapa harus mandi dengan bibi Menur? Tadi bik Rumi sudah menyiapkan air hangat untuk Ana bukan?” kata Menur yang rupanya mendengar perkataan Rumi.

“Tapi aku mau mandinya sama bibi Menur.”

Menur terpaksa mengangguk, lalu melayani apa yang menjadi kemauan Ana.

***

Ketika makan pagi bersama ayah dan ibunya, Ana kelihatan sangat senang.

“Mengapa tidak minta agar Menur makan bersama kita?” tanya Baroto tiba-tiba.

“Apa?” Lili tampak terkejut.

“Bukankah Menur itu saudaramu? Mengapa tidak meminta agar dia makan bersama kita sekalian? Mana mungkin kamu tega membiarkan dia makan bersama pembantu.”

Lili baru sadar. Menur memang saudara misannya. Kalau ibunya tahu bahwa Menur dibiarkan makan bersama pembantu, pasti dia kena marah.

“Menur, mana Menur?”

Menur yang sedang membenahi kamar Ana segera keluar mendengar panggilan Lili.

“Ya, saya sedang membereskan kamar Ana.”

“Itu pekerjaan Rumi, biarkan saja,” kata Baroto.

“Menur, makanlah bersama kami,” kata Lili, berusaha ramah.

“Tidak, aku sudah sarapan di rumah.”

“Bibi harus makan bersama kami. Seperti kemarin.”

Menur tersenyum. Kemarin makan bersama Ana, tapi tidak bersama Lili, apalagi Baroto. Maka dia menolaknya dengan halus.

“Sungguh aku sudah sarapan di rumah. Biar aku selesaikan pekerjaan aku. Nanti Ana jadwal sekolah bukan? Aku juga akan menyiapkan buku-bukunya,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

Diam-diam Lili melirik ke arah suaminya, apa benar, suaminya menatap Menur dengan pandangan yang menurut Rumi kelihatan aneh. Tapi Baroto sudah menundukkan wajahnya sambil menyendok makanannya.

Lili kembali heran memikirkan dirinya sendiri, ada apa dia peduli tentang dengan cara apa suaminya menatap seorang perempuan cantik? Bukankah dia tak mencintainya? Lili tidak sadar bahwa cinta terkadang datang tanpa permisi.

***

Besok lagi ya.

Saturday, September 12, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 04

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  04

(Tien Kumalasari)

 

Laki-laki gagah itu tersenyum lucu.

“Mengapa kamu menatapku seperti itu? Terpesona ya? Karena aku ganteng?” candanya enteng.

Sarah tersipu. Ia mengalihkan pandangannya.

“Anda mirip seseorang. Sangat mirip.”

“Oh ya? Pacar kamu?”

Sarah merengut. Ia belum pernah pacaran. Tidak tahu bagaimana rasanya pacaran. Ia menganggap anak muda itu menuduhnya sembarangan.

“Jangan marah, aku hanya bercanda. Tapi pasti kamu terkenang dia ketika melihat wajahku.”

“Aku tidak punya pacar,” sergahnya, masih dengan wajah cemberut.

Anak muda itu tertawa.

“Namaku Fajar. Siapa nama cowok yang mirip denganku?”

Sarah merasa tidak perlu menjawab. Ia menganggap laki-laki itu hanya ingin mengganggunya. Tapi ketika teringat olehnya koran dagangannya bercampur dengan sampah, ia sedih bukan alang kepalang.

Ia melongok ke arah bak sampah.

“Barangkali ada yang masih bisa terselamatkan,” kata batinnya yang kemudian ia menjulurkan tangannya ke arah tumpukan koran di tempat sampah itu.

“Hei, itu sudah kotor, tak akan ada yang mau membelinya. Ini, aku ganti koran kotor itu dengan uang, sungguh, aku hanya ingin menolong kamu dari laki-laki brengsek itu. Tolong terimalah, aku tak punya maksud apa-apa,” kata Fajar sambil terus mengulurkan uang itu.

“Apa ini kurang?”

Lalu Fajar menambahinya lagi dengan satu lembar ratusan ribu.

Sarah merasa, laki-laki bernama Fajar itu tulus. Ia menatap uangnya, tapi ia hanya mengambilnya satu.

“Di mana aku bisa mengembalikan uangmu?”

“Tidak perlu, aku berikan, bukan aku pinjamkan,” kata Fajar santai.

“Sekarang pulanglah, rumah kamu jauh? Aku antar?" tambah Fajar.

Sarah menatap mobil yang diparkir tak jauh dari sana. Mobil yang sangat bagus, lalu ia melihat ke arah bajunya, lalu ia tersenyum kecut. Mana pantas dirinya duduk di dalam mobil sebagus itu?

“Mau? Aku antar, aku sudah mau pulang. Di mana rumahmu?”

“Di sana. Aku harus menyetor uang koran, baru pulang. Tidak usah diantar, aku biasa jalan kaki. Terima kasih banyak,” kata Sarah yang kali itu memberikan senyuman manis. 

Fajar terpana. Gadis itu kalau tersenyum manis sekali, ada lesung pipit di pipinya. Hanya gadis miskin, penjaja koran, tapi ada rasa yang aneh melingkupi hatinya.

“Bodoh, aku sudah gila,” gumamnya sambil membalikkan tubuh menuju ke arah mobilnya.

Sebelum masuk ke dalam ia menoleh ke arah Sarah pergi, tapi gadis itu tak lagi tampak. Barangkali sudah menghilang di kelokan jalan, atau tertutup oleh lalu-lalang orang yang berjalan di trotoar.

Mobil Fajar bergerak melaju, sambil tersenyum-senyum sendiri memikirkan perasaan anehnya.

***

Sarah sudah hampir sampai di tempat agen koran itu, ketika seseorang memanggilnya.

“Sarah!”

Sarah menoleh, lalu senyumnya melebar. Ia bertemu Bimo, laki-laki baik yang menyelamatkannya ketika ia jatuh di tengah jalan.

“Mas Bimo dari mana?”

“Dari kerja, di sana itu tempat kerjaku.”

“Jalan kaki?”

“Seperti kamu, saya tidak punya kendaraan, jadi jalan saja. Dagangan kamu sudah habis?”

Wajah Senja menjadi muram. Seperti habis tapi sebenarnya dibuang orang.

“Kamu sudah tidak membawa koran lagi, habis kan?”

“Dibuang orang.”

“Apa maksudmu? Dibuang orang?”

“Ada orang jahat mengganggu aku, lalu karena kesal, koran dagangan aku dilempar ke tempat sampah.”

“Ya ampun jahat benar dia.”

Sarah menceritakan apa yang dialaminya dengan bibir merengut.

“Mengapa kamu tidak mau menerima uangnya? Dia bilang mau membayarnya kan?”

“Aku tidak mau, nanti akan banyak kesempatan bagi dia untuk mengganggu aku lagi.”

“Bukankah kamu harus setoran?”

“Ada orang baik lagi yang memberi aku uang. Ini uangnya.”

“Alhamdulillah.”

“Sebenarnya aku tidak suka menerima pemberian orang yang belum pernah aku kenal, tapi bagaimana lagi, kalau aku tidak setoran, besok tidak boleh membawa dagangan lagi. Aku bertanya, ke mana harus mengganti uangnya kalau aku sudah bisa menggantinya, tapi dia menolaknya. Katanya ia tulus ingin menolong.”

“Ya sudah, terima saja. Allah Maha Baik untuk kamu, karena kamu gadis yang baik. Itu sebabnya ada saja orang yang menaruh belas kasihan sama kamu.”

Sarah tersenyum.

“Tahu tidak Mas, orang itu adalah orang yang pernah membeli koran aku dan membayar duapuluh ribu, tapi tidak mau menerima kembaliannya. Yang aku merasa heran, orang itu wajahnya persis sama dengan wajahmu.”

Bimo tertawa.

“Sama? Masa sih?”

“Bener. Persis. Tinggi besarnya juga sama.”

“Gantengnya ….?” canda Bimo.

“Pokoknya semua persis. Kalau saja keadaan kalian tidak berbeda, pasti aku mengira kalian ini saudara kembar."

“Keadaan berbeda bagaimana? Dia orang kaya, aku orang miskin?”

“Dia punya mobil, mas Bimo jalan kaki,” kata Sarah polos, lalu keduanya tertawa. 

Sarah merasa, Bimo orang yang menyenangkan, walau baru kemarin kenal.

“Sudah Mas, aku mau setoran dulu, lalu pulang.”

“Hati-hati di jalan ya,” kata Bimo sambil melambaikan tangannya. 

Sarah membalas lambaian tangan itu, dan masuk ke agen koran dengan masih tersenyum-senyum.

***

Sesampainya di rumah, Sarah belum melihat sang nenek pulang. Barangkali sampai selesai acara baru pulang. Padahal Sarah kepengin segera cerita tentang kelakuan Bowo terhadapnya siang tadi. Sebel dan kesal, juga marah. Kalau tidak ada orang baik yang menolongnya, pasti ia harus menguras uang tabungannya untuk membayar setoran koran.

Setelah mandi dan berganti pakaian, ia menunggu sang nenek sambil membawa buku pelajaran ke depan rumah. Tapi sebelum kearah depan, Sarah melihat di meja makan ada nasi dan lauk pauk yang lumayan. Ada ayam gorengnya pula.

“Berarti tadi Nenek sudah pulang, membawa makanan ini, lalu mandi, ganti baju, kemudian kembali ke rumah bu Karno untuk membantu lagi. Kan arisannya nanti sore.”

Tapi Sarah belum ingin makan, ia duduk di depan sambil membaca-baca buku pelajaran. Ingatan tentang Bowo membuat wajah nya kembali muram. Apa nenek Suli hari ini ketemu bu Lurah ya?

“Jangan-jangan Nenek ketemu lalu menjanjikan sesuatu pada bu Lurah, tentang lamaran Bowo itu. Tidak, aku tidak mau. Kecuali aku masih sekolah dan merasa belum ingin berumah tangga, aku tidak suka laki-laki seperti Bowo. Sombong, memaksakan kehendak, mentang-mentang orang kaya.”

Sarah mencoba mengibaskan bayangan Bowo, tapi tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang. Itu Bowo. Mau apa ia datang ke rumah.

Sarah ingin masuk ke rumah dan menutup pintunya, tapi Bowo sudah keburu mendekat sambil memanggil namanya.

“Sarah, aku mau minta maaf.”

Sarah berhenti melangkah. Mau tak mau menunggu Bowo sampai di depan rumah.

“Sarah, aku salah, aku mau minta maaf.”

“Ya sudah, sudah aku maafkan, aku mohon jangan mengganggu aku lagi.”

“Aku akan memberi kamu uang, sebagai ganti koran dagangan kamu yang tadi aku buang.”

“Tidak usah. Bawa kembali uang kamu.”

“Kamu kan harus setoran? Apa kamu punya uang?”

“Bukan urusan kamu. Sekarang pergilah.”

“Sarah, jangan marah begitu, tadi aku hanya emosi. Ini, tolong terimalah, aku bayar tigaratus ribu.”

“Tidak usah, bawa saja uangmu kembali.”

“O, aku tahu, apakah laki-laki bermobil tadi yang sudah memberi kamu uang?”

“Bukan urusan kamu,” sentak Sarah semakin keras.

“Sarah, aku juga punya mobil. Kamu membandingkan aku dengan pemilik mobil tadi? Apa dia sungguh-sungguh suka sama kamu?”

“Kamu ini bicara apa? Dengar ya, manusia dihargai bukan karena harta yang dimilikinya, tapi karena pekertinya.”

“Sarah. Sombong sekali kamu. Sok bicara bijak.”

“Pergilah, dan jangan lagi datang kemari.”

“Kamu pikir aku tidak bisa memaksa kamu?” Bowo melangkah mendekat, dan Sarah ketakutan melihat wajahnya yang beringas. Tampaknya Bowo marah sekali.

Ia masuk ke dalam rumah dan bermaksud segera menutup rumahnya agar Bowo tidak mengganggunya. Tapi tangan kuat Bowo mendorong pintu itu sehingga berhasil masuk.

“Aku bermaksud baik, tapi tanggapanmu sangat buruk.”

Bowo mengejar Sarah, tapi Sarah menemukan palang pintu di sampingnya. Ia meraih palang itu dan memukulkannya ke kepala Bowo. Bowo roboh ke lantai, membuat Sarah ketakutan.

***

Besok lagi ya.

Friday, September 11, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 03

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  03

(Tien Kumalasari)

 

Bu Lurah hanya menatap punggung nenek Suli yang masuk dengan tergopoh-gopoh, kemudian ia melenggang pergi dengan omelan yang lebih menyakitkan.

“Orang miskin saja belagu. Sudah untung ada yang mau mengambil cucunya jadi menantu. Memangnya ada selain aku? Gara-gara Bowo, seperti nggak ada perempuan lain, mengapa maunya sama Sarah sih. Memang cantik, tapi dia miskin, lagi sombong.”

Yang mendengar omelan itu mengerutkan keningnya, dan bergumam bersahutan.

“Mentang-mentang orang kaya, ngomongnya kasar banget.”

“Sejak dulu dia tuh sombong. Sudah benar kalau cucu nenek Suli menolaknya. Memangnya kalau sudah kaya lalu semua kemauannya harus dituruti? Paling-paling hidup bersama orang seperti itu hanya akan tersiksa.”

Nenek Suli mematikan kompor, mengentas paha ayam satu persatu. Ternyata tidak ada satupun yang gosong.

“Ya ampuun, mengapa mengejutkan aku sih, mana yang gosong?”

“Itu tadi hanya membuat gara-gara, supaya bu Lurah segera pergi. Sebel mendengarkan omelannya Nek, sombong dan menyakitkan,” kata bu Karno yang punya gawe.

“Owalah, iya Bu, untunglah ada yang berteriak gosong. Tapi saya sudah ketakutan tadi, kalau benar-benar gosong kan harus beli lagi ke pasar.”

Bu Karno tertawa.

“Memangnya bu Lurah mau mengambil Sarah menjadi menantu ya?”

“Iya Bu, tapi Sarah menolak. Dia kan masih sekolah. Biarpun anak bu Lurah sanggup menunggu, tapi Sarah belum ingin menikah. Tadinya sih maksud saya biar dia tidak setiap hari berpanas-panas menjajakan koran, tapi setelah Sarah menolak, saya tidak bisa memaksa. Lagi pula sudah benar Sarah menolak, setelah mendengar omongannya tadi, ya biarpun saya benar-benar miskin, tapi menyakitkan juga.”

“Mentang-mentang kaya ya Nek,” kata bu Karno lagi.

“Biarlah Bu, beginilah nasib orang yang tidak punya, dihina di mana-mana.”

“Eeh, saya tidak menghina lhoh Nek, saya selalu menghargai Nenek, karena Nenek suka membantu, dan bisa melakukan apa saja, apalagi masakan Nenek enak sekali, sudah terkenal di kampung ini.”

“Aah, sudah … sudah, kebanyakan dipuji nanti baju Nenek jadi nggak muat karena kebesaran kepala."

Nenek Suli melanjutkan pekerjaannya. Ia sudah membumbui ayamnya, ada orang lain yang menggorengnya, lalu Nenek siap-siap memasak sayur.

Hari yang sibuk, dan kelihatannya Nenek baru akan pulang nanti, di sore harinya.

***

Bu Lurah masuk ke rumah dengan uring-uringan. Bowo menunggunya di depan dan langsung bertanya.

“Bagaimana Bu, ketemu nenek Suli?”

”Ketemu, kamu itu bodoh atau apa? Memangnya tidak ada perempuan lain yang bisa kamu nikahi?”

“Ibu bilang ingin buru-buru punya cucu. Bowo baru mau menikah kalau istri Bowo adalah Sarah.”

“Nenek Suli yang sombong itu, tidak pantas menjadi nenek mertua kamu.”

“Ibu ketemu?”

“Ya ketemu, dia sedang masak di rumah bu Karno.”

“Apa jawabnya?”

“Kalau jawabnya menyenangkan, Ibu tidak akan uring-uringan seperti ini.”

“Memangnya nenek Suli menjawab apa?”

“Dia tidak mau.”

“Yang tidak mau si Nenek itu atau Sarah?”

“Katanya Sarah tidak mau. Dia masih sekolah.”

“Bukankah Bowo siap menunggu?”

“Ada alasan lain, Sarah belum ingin menikah. Menurut Ibu, mereka hanya membuat alasan-alasan untuk menolak.”

“Tidak Ibu katakan bahwa aku sudah punya rumah, punya mobil, punya uang yang banyak?”

“Sudah. Tapi dia tidak peduli. Nenek Suli itu orang miskin yang benar-benar sombong. Sudah miskin, sombong, tidak tahu diri.”

“Ibu ketemu di mana?”

”Dia sedang membantu masak di rumah bu Karno.”

“Barangkali dia hanya pura-pura menolak, karena malu didengar orang lain. Baiknya Ibu menemuinya di rumah.”

“Kamu itu mengapa menyuruh-nyuruh Ibu untuk mendekati Sarah? Kalau kamu mau, dekatilah oleh kamu sendiri. Biasanya kamu tidak pernah meminta bantuan Ibu untuk bicara. Langsung gandeng sana gandeng sini.”

“Sarah itu lain Bu, dia galak kalau didekati, dan gadis seperti itulah yang Bowo suka. Dia tahu kalau Bowo itu kaya, tapi tidak mau didekati. Dia berbeda dengan gadis lain yang sekali digoda langsung nempel.”

“Apapun yang terjadi, cobalah oleh kamu sendiri. Ibu malu ditolak orang miskin.”

Bowo yang kecewa hanya menatap ibunya yang masuk ke rumah dengan uring-uringan. Itu benar, dia pernah mencoba dan Sarah menanggapinya dengan ketus, itu sebabnya Bowo mengatakan bahwa dia galak. Tapi baru sekali, mengapa dia tidak mencobanya lagi?

***

Sarah baru keluar dari sekolah. Ia harus pulang dulu untuk mengganti baju seragam sekolahnya, sekedar makan siang yang sudah disiapkan neneknya, lalu ke agen koran dan siap menjajakannya seperti biasa.

Hari itu langit sedikit mendung. Sarah sudah siap menjajakan korannya, ketika lampu di trafic light itu menyala merah. Mobil-mobil berhenti, dan Sarah melangkah ketengah sambil menjajakan korannya.

“Koraan … koraaan, berita hangat hari ini, seorang kakek tua menikahi gadis berumur limabelas tahun … heboh… koraan … koraan … mari bapak, korannya … korannya.”

Dua buah mobil terbuka kaca jendelanya, dan berteriak.

“koraaannya, satu !”

Sarah berlari ke salah satu mobil, lalu menerima uangnya yang lagi-lagi tak mau ketika Sarah memberikan kembaliannya.

Sarah mengangguk mengucapkan terima kasih, lalu ke pembeli lainnya. Harus cepat sebelum lampu menjadi hijau dan mobil berlarian melaju.

Sarah berlari ketepi. Harus hati-hati supaya tidak terjadi kecelakaan kecil seperti sebelumnya.

Sarah duduk di bawah pohon, menunggu pembeli, dan menunggu lampu perempatan menjadi merah kembali.

Tiba-tiba Sarah terkejut. Seorang laki-laki menghampiri, lalu menarik tangannya.

“Hei, lepaskan. Mau apa kamu?”

“Sarah, jadi orang jangan sombong begini. Kita masih tetanggaan kan? Mengapa tidak menunjukkan keramahan sedikitpun?”

“Bowo, aku tidak suka caramu. Memang benar kita tetanggaan, tapi kamu bertindak lancang.”

“Sarah, mengapa memanggil aku begitu, aku kan lebih tua, mas Bowo, begitu kan lebih manis?”

“Tidak ada, pergilah, aku mau menjajakan koran,” katanya sambil mengibaskan tangan Bowo yang berusaha memegangnya lagi.

“Hei, mengapa kamu lebih suka berpanas-panas begini? Kalau kamu menerima lamaran aku, hidup kamu akan enak, punya rumah bagus, uang datang sendiri, jalan-jalan pakai mobil.”

“Menjauhlah dariku, aku tidak tertarik pada harta kamu.”

“Ya ampun, benar kata ibuku, kamu itu miskin tapi sombong.”

“Untuk laki-laki kurangajar seperti kamu, aku tidak sungkan menjadi sombong. Dengar, aku tidak pernah tertarik pada harta kamu,” katanya sambil menjauh.

Dia melangkah ketepi jalan dan siap berjalan ketengah lalu lintas ramai yang berhenti karena lampu merah.

Tapi Bowo kemudian menarik tangannya kembali ke tepi. Sarah sangat marah. 

“Lepaskan! Apa maksudmu?”

"Ikutlah bersamaku, hidup tidak akan susah.”

“Sudah aku bilang bahwa aku tidak tertarik hartamu. Pergi!”

Karena meronta, koran yang dibawanya tersebar di trotoar. Sarah hampir menangis, ia berjongkok untuk memungut koran yang berserakan. Tapi Bowo tetap menarik tangannya.

“Akan aku bayar berapa harga koran yang kamu bawa, jangan kuatir.”

“Pergiii!”

Bowo membantu mengambil koran yang berserakan, tapi kemudian membuang koran itu ke tempat sampah. Sarah menjerit marah, air matanya bercucuran.

“Jangan menangis, aku bayar. Aku bayar dua kali lipat, kamu akan untung besar.”

Bowo ingin kembali meraih tangan Sarah, tapi sebuah tangan kuat menahannya.

“Lepaskan dan jangan ganggu dia.”

Seorang laki-laki ganteng menatap Bowo dengan marah.

“Hei, siapa kamu, jangan ikut campur, dia tunangan aku,” kata Bowo tak tahu malu.

“Bukaaaan! Aku bukan tunangannya. Dia memaksa aku, dia juga membuang semua koran dagangan aku. Padahal ….” Sarah terisak. 

Bowo ingin mendekatinya sambil lagi-lagi berkata ingin membayar harga koran yang dibuangnya.

“Pergi, dan jangan mengganggunya,” sentak laki-laki itu sambil memelintir tangan Bowo, sehingga Bowo berteriak.

“Aku lepaskan dan pergi sana!” katanya sambil melepaskan pelintirannya tapi sambil mendorongnya sehingga Bowo terhuyung-huyung, lalu kabur menjauh, mendekati mobil yang rupanya diparkir tak jauh dari sana.

Sarah mendekati tempat sampah, menatap korannya yang bercampur dengan kotoran. Air matanya meleleh, korannya baru laku sedikit.

“Aku akan membayar koran kamu itu, tanpa niat apapun kecuali membantu,” kata laki-laki itu sambil mengulurkan uang seratus ribu.

“Apa ini tidak cukup?”

Sarah mengusap air matanya, menatap laki-laki di depannya. Bukankah dia laki-laki bermobil yang kemarin harinya membeli korannya dan tidak mau menerima kembaliannya? Tapi yang membuat heran, laki-laki ini benar-benar persis wajahnya seperti Bimo, teman barunya yang juga sangat baik. Tak mungkin anak kembar, karena satunya OB dan satunya memiliki mobil bagus.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 06

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  06 (Tien Kumalasari)   Sarah menutup mulutnya melihat kedua laki-laki itu menatapnya heran. Kemudian mereka sali...