Wednesday, May 6, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 34

SAKITKU ADALAH CINTAKU  34

(Tien Kumalasari)

 

Indras masih memegangi dua kartu ATM dengan dua bank yang berbeda dengan perasaan heran.

“Mengapa kamu pandangi terus kartu itu? Kamu tidak percaya? Atau mengira kartu itu kosong?”

“Tidak. Ini benar?”

“Indras, sejak dulu kamu memang tidak percaya padaku ya?” suara itu agak meninggi, dan Indras khawatir akan menjadi kemarahan yang memuncak. Karenanya dia kemudian mencium kedua kartu itu sambil tersenyum.

“Terima kasih, Zein. Kamu ternyata baik sekali.”

Alangkah senangnya Zein mendapat pujian dari sang istri. Ia segera duduk disampingnya dan menghadiahinya dengan ciuman di kedua pipinya.

Indras meletakkan kartu itu di meja, dan Zein menegurnya.

“Simpan baik-baik, atau kamu akan mengambil uangnya sekarang?”

“Besok saja.”

“Sekalian gaji bibik, aku belum memberinya bulan ini.”

“Baik.”

“Tapi kamu simpan dulu kartunya, nanti kamu kelupaan.”

Indras mengangguk. Lalu mengambil lagi kartu di meja, dibawanya masuk ke kamarnya. Dalam melangkah Indras merasa bersyukur. Bukan karena ciuman itu, tapi ada perubahan signifikan dalam sikapnya selama dua hari ini. Bahkan malam ini lebih manis.

“Terima kasihku ya Allah, semoga menjadi baik dan semakin baik,” bisiknya lirih sambil memasukkan kedua kartu itu ke dompetnya.

Ketika ia keluar, Zein menegurnya.

“Lama sekali, aku kira kamu ketiduran.”

Indras tertawa. Tawa yang sangat lepas. Entah darimana datangnya kesadaran Zein itu sehingga mengerti bahwa dialah yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan rumah tangganya. Ia juga bersikap sangat manis. Ada apa ya.

“Aku harus menyimpannya rapi. Besok akan aku ambil sebagian uangnya. Tapi aku tidak tahu PIN nya lhoh. Baru sekali ini aku pegang ATM kamu.

“Yang satu ulang tahun aku, satunya ulang tahun kamu.”

“Yang mana yang ulang tahun aku, yang mana yang ulang tahun kamu?”

“Kamu coba saja sendiri, terkadang aku juga lupa.”

“Baiklah, terima kasih. Kamu ternyata pengertian dan penuh perhatian.”

Zein kembali mencium istrinya, kali ini di keningnya, sangat lama. Sejenak Indras terhanyut. Sudah lama Zein tidak melakukannya.

Tapi tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel Zein yang ada di kamar. Zein berdiri, dan kebahagian Indras runtuh seketika.

***

“Dokter kebanggaanku sedang apa?” pesan dari seberang.

“Nggak ngapa-ngapain … “

“Ada dokter Indras di samping Dokter?”

“Tidak kesayangan, memangnya ada apa?”

“Pengin ngobrol saja, habis saya kesepian, Dok. Sekali-sekali datanglah ke rumah.”

“Kapan-kapan saja.”

“Aku kesepian sekali Dok, bolehkah kita ngobrol lewat telpon, sayang?”

“Tidak. Jangan. Besok saja kita ngobrol di kantor. Ya.”

“Baiklah, selamat malam, dokter kebanggaanku, selamat tidur, jangan lupa mimpikan aku …”

Lali emotikon jantung berderet-deret, dan Zein mematikan ponselnya. Ketika kembali ke ruang tengah, Indras tak ada lagi di sana. Zein mencarinya, dan ternyata Indras ada di kamar Sinta, entah apa yang mereka bicarakan. Zein langsung memasuki kamarnya.

“Lagi ngapain?”

“Hanya ngobrol.” yang menjawab adalah Sinta.

“Boleh ikutan?”

“Nggak boleh, ini orolan sesama perempuan,” sergah Sinta sambil tersenyum.

“Lagi ngomongin aku kan?”

“Eh, enggak. Lagi ngomongin pacar,” canda Sinta.

“Kamu sudah punya pacar?”

“Boleh kan? Sinta sudah dewasa lhoh.”

“Hati-hati memilih pacar,” kata Zein yang kemudian keluar dari kamar.

“Tuh, dengar kata papa kamu, hati-hati memilih pacar. Jangan seperti mama,” kata Indras, sambil tersenyum, hambar. Baru saja senang atas kemesraan suami, tiba-tiba ada yang mengusiknya. Siapa yang tak sakit?

“Besok Sinta akan minta agar Mama menyeleksi pacar Sinta baik-baik. Yang ganteng tapi jangan yang suka selingkuh,” kata Sinta sambil memeluk mamanya. Ia tahu sang mama sedang suntuk, walau tak mengatakan apapun tentang perasaannya. Sinta berharap pelukan darinya akan mengurangi beban pikiran sang mama. Masih ada cinta di rumah ini bukan?

***

Zein yang beranjak ke teras terkejut, melihat kedatangan kedua mertuanya. Ia segera turun menyambut, dan mencium kedua tangan mereka.

Indras yang mendengar suara mobil bergegas ke depan, dan sangat gembira menerima kedatangan kedua orang tuanya.

Bersama Zein ia mempersilakan bapak dan ibunya masuk ke dalam.

“Bapak sama Ibu dari mana?” tanya Indras.

“Hanya jalan-jalan, dan ingin sekali datang kemari. Santi dan Sinta mana?”

“Santi tidak pulang kalau tidak liburan. Yang ada Sinta.

“Ini aku, Kakek, Nenek,” kata Sinta yang langsung menghambur memeluk kakek dan neneknya.

Mereka ngobrol dengan akrab, Zein duduk menemani dengan sikap sedikit kaku. Entah mengapa, sejak dulu ia tak beritu dekat dengan mertua. Walau begitu terkadang dia juga menimpali, kalau bisa nyambung dengan pembicaraan mereka.

Indras ke belakang, meminta bibik agar menyiapkan makan malam untuk ayah dan ibunya.

“Tidak usah repot-repot. Bapak dan ibumu ini hanya mampir karena kangen.”

“Sekali-sekali makan di sini. Masakan bibik masih seenak dulu lho Pak.”

“Baiklah, tapi nanti setelah makan aku mau bicara.”

Indras berdebar. Rupanya sang ayah benar-benar akan menepati janjinya.

Setelah makan malam, Sinta kembali ke kamarnya, sedangkan pak Narya kemudian duduk di dekat Zein.

“Zein, sebenarnya kedatangan aku dan ibumu kali ini, ada perlu sama kamu.”

Zein menatap istrinya. Rupanya Indras sudah mengatakan kepada ayahnya tentang apa yang diinginkannya. Ia hanya mengangguk.

“Aku tahu, barangkali masih ada luka di hati kamu waktu dulu, puluhan tahun yang lalu, karena ucapanku atau ibumu yang menyakiti dan susah bagi kamu untuk melupakannya. Untuk itu, walau sudah berlalu, aku datang menemui kamu untuk meminta maaf. Sungguh meminta maaf dari hati kami yang paling dalam.”

Zein tak mampu menjawabnya. Ia tak mengira mertuanya mau melakukannya.

“Untuk selanjutnya, aku  titipkan Indras dan anak-anaknya kepadamu. Jagalah mereka, dan buat mereka bahagia.”

“Ya, baiklah, terima kasih Bapak masih mengingatnya.”

Hanya ucapan yang sekilas, dan itu sudah memenuhi apa yang pernah diutarakan Zein waktu itu.

“Bapak berharap kamu segera bisa melupakan masalah itu, dan atas permintaan maaf dari bapak ini, aku harap kamu segera bisa melupakannya.”

Zein menganggik, dan pak Narya serta istrinya segera berdiri, karena Zein tidak sempat mengucapkan apa-apa, atau juga tidak mampu, karena terkejut. Mereka berlalu setelah Zein dan Indras mencium tangan mereka.

***

“Kamu mengatakannya pada mereka?” tanya Zein ketika malam sebelum tidur.

“Bukankah kamu menginginkannya?”

“Aku memang menginginkannya. Aku tak bisa melupakan sakit hati itu.”

“Aku harap kamu segera bisa melupakannya. Mereka sudah menebusnya, bukan hanya dengan perbuatan, tapi juga dengan perkataan.”

Zein hanya mengangguk.

“Zein, bolehkah aku mengatakan sesuatu? Tepatnya, ingin meminta sesuatu.”

“Baiklah, kamu mau apa?”

“Aku mau kamu tidak lagi berhubungan dengan perempuan itu.”

Senyap seketika. Indras mengucapkannya dengan hati-hati, karena sudah menduga apa reaksi suaminya kalau mendengar perkataannya. Dan Zein diam seribu bahasa. Hanya menatap lagit-langit kamar, entah apa yang dipikirkannya.

“Apakah permintaanku berlebihan?”

“Tidak.”

“Kamu keberatan memenuhinya?”

“Bukan karena tidak mau. Aku tidak suka kamu mengatur hidupku.”

Indras terhenyak. Jadi tak akan ada yang berubah? Bukankah kedatangan ayahnya dengan meminta maaf kepadanya maka ia akan berubah?  Apakah ia tak bisa melupakan dokter cantik itu dan akan tetap berhubungan? Ada darah menetes dari lukanya.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, May 5, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 33

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  33

(Tien Kumalasari)

 

Indras bersimpuh dihadapan sang ayah, yang menatapnya tak berkedip. Ia sudah mendengar cerita panjang lebar yang diutarakan Indras, dan hati kedua orang tua itu benar-benar seperti dipukul dengan ribuan palu.  Derita yang disembunyikan Indras akhirnya harus dibuka di hadapan kedua orang tuanya. Tapi keluarga Narya adalah orang yang kuat dan bijaksana. Ia boleh keras dalam berkeinginan, tapi ia tak malu mengakui kesalahannya. Hal itu pernah dilakukannya. Ketika mereka merendahkan Zein yang anak orang biasa dan tidak sederajat dengan keluarga Narya Kusuma, lalu pada suatu ketika mereka menyadari kesalahannya, dan menebusnya dengan berbuat baik kepada keluarga yang pernah direndahkannya. Sekarang mereka tahu, Zein adalah jiwa yang sakit. Mereka tidak menduga putri mereka dibuatnya menderita.

Indras masih terisak, air matanya mengalir seperti anak sungai di sepanjang pipinya. Bu Narya merengkuh sang putri, memintanya berdiri.

“Kalau apa yang kamu minta itu bisa membuat badai rumah tangga kamu mereda, baiklah. Bapak akan melakukannya.”

Indras menatap sang ayah dengan mata yang masih basah. Seakan tak percaya pada apa yang didengarnya. Datang kepada Zein dan meminta maaf?

“Indras, bapak akan melakukannya. Besok bapak dan ibumu akan datang ke rumah kamu, menemui Zein dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah bapak lakukan.”

Indras kembali merosot turun, bersimpuh di hadapan sang ayah dan menjatuhkan kepalanya di pangkuannya. Pak Narya mengelus kepala putrinya dengan lembut. Mata tuanya yang teduh juga digenangi air mata.

“Dalam hidup ini, keinginan orang-orang tua adalah melihat anak-anaknya berbahagia. Derita yang kamu rasakan juga menyakiti hati bapak, dan pastinya juga ibumu. Karena itulah mana yang akan membuat kehidupan kamu tenang, maka apapun akan bapak lakukan,” kata pak Narya dengan suara bergetar.

Indras tak menjawab apapun. Ia hanya menangis dan menangis terus. Sang ayah yang adalah orang terpandang di kota itu, harus merendahkan dirinya menemui sang menantu hanya karena harus meminta maaf.

“Jangan sedih, bapak akan melakukannya.”

“Sudahlah Indras, bapak sudah berjanji, kamu tenanglah. Kami berharap hidup kamu akan bahagia setelahnya. Karena kebahagiaan kamu adalah impian kamu,” kata sang ibu lembut.

“Berdirilah. Hanya saja aku menyesal, karena kamu tak pernah mengatakan apa yang terjadi pada kehidupan kamu. Kami mengira kalian baik-baik saja.”

“Zein sakit, dan Indras berharap suatu ketika bisa sembuh.”

“Ya, itu penyakit langka. Bukan gila, tapi kalau kumat … bisa melebihi kumatnya orang gila. Kamu harus sabar. Dan jangan lagi menyembunyikan apapun dari bapak dan ibumu.”

Indras berdiri lalu merangkul kedua orang tuanya erat sekali.

“Maafkan Indras, Bapak, Ibu. Maafkan Indras,” bisiknya tanpa bisa menahan lagi air matanya.

***

Kembali memasuki rumahnya, bukannya Indras senang karena sang ayah sudah bersedia memenuhi permintaan Zein. Ia merasa suaminya sangat merendahkan orang tuanya. Sama sekali tidak menghargainya sebagai orang tua, padahal bukankah mertua adalah sama saja dengan orang tua sendiri, yang harus dihargai, dihormati dan bukannya diremehkan dan direndahkan seperti ini. Kalau saja menuruti kata hatinya, Indras enggan melakukannya. Tapi ini demi ketenangan dalam kehidupannya maka ia mau melakukannya, walau dengan segala sesal dan kesedihannya.

“Nyonya dari mana, bukannya Nyonya sedang sakit?” sapa bibik ketika ia memasuki rumah.

“Kangen sama bapak, sama ibu juga,” jawab Indras pelan.

“Apa Nyonya masih mau makan bubur? Tadi tuan berpesan, agar saya membuatkan bubur lagi untuk Nyonya.”

“Bibik sudah membuatnya?”

“Sudah, masih hangat Nyonya. Ada sup ayam atau semur kentang, mana yang Nyonya suka. Sudah saya tata di meja. Atau, Nyonya mau buburnya saya bawa saja ke kamar supaya Nyonya bisa makan di kamar?”

“Tidak Bik, aku makan di ruang makan saja.”

“Ya sudah, saya hangatkan dulu supnya, sudah agak dingin.”

“Baik Bik, terima kasih. Aku ganti baju dulu,” kata Indras sambil langsung masuk ke dalam kamarnya.

Bibik menatap punggungnya dengan rasa iba. Ia tahu sang nyonya majikan tidak sedang baik-baik saja. Ia pulang dengan wajah pucat dan mata sembab. Itu bukan air mata bahagia. Tapi apa yang bisa diperbuatnya? Ia hanya seorang pembantu.

***

“Kalau dipikir-pikir, kelakuan Zein itu bukankah sangat kurangajar ya Pak?” celetuk bu Narya ketika Indras sudah pulang.

“Aku kasihan pada anakmu. Kalau tidak dituruti kemauannya, Indras bisa terus-terusan ditindas.”

“Bagaimana orang bisa berubah seperti itu? Dulu dia bilang sangat mencintai Indras, tapi lama-lama Indras disiksa.”

“Menurut Indras, suaminya sakit.”

“Sakit kalau di rumah. Tapi bukankah diluaran dia punya selingkuhan?”

“Susah mencegahnya, karena bertindak semaunya adalah bagian dari penyakitnya. Kata Indras kalau diingatkan tentang perempuan selingkuhannya itu, maka Zein bisa ngamuk seperti singa lapar.”

“Kasihan Indras.”

“Besok aku akan kesana untuk memenuhi permintaannya.”

“Sesungguhnya ibu sangat tidak rela Bapak melakukannya. Masa orang tua disuruh datang untuk meminta maaf? Barangkali Zein sudah benar-benar gila,” geram bu Narya.

“Yang sakit jiwanya Bu, biarlah kita mengalah, demi ketenangan hidup anak kita.”

“Ya sudah, terserah Bapak saja.”

“Ibu ikut kan?”

“Ibu harus ikut, kalau bisa akan ibu omelin dia.”

“Jangan Bu, biarkan saja. Kita hanya akan datang dan memenuhi permintaannya, lalu pulang. Ibu tidak usah marah apalagi mengomeli dia. Nanti bisa memperburuk keadaan.”

Bu Narya diam, tapi dalam hati ia merasa sangat kesal dan tidak terima.

***

Ketika Zein pulang, dilihatnya Indras sudah rapi cantik wangi, dan duduk di ruang tengah, sendirian. Zein menghampiri lalu mencium keningnya.

Indras mencoba tersenyum, senyum yang tidak ikhlas karena masih kesal pada permintaan suaminya. Entah kapan ayahnya akan datang seperti janji yang dikatakannya tadi.

“Kamu sudah merasa lebih sehat?”

“Ya.”

“Tadi bibik aku suruh membuatkan bubur lagi. Kamu memakannya?”

“Sudah.”

“Makan yang banyak supaya sehat.”

Indras hanya mengangguk, lalu membiarkan Zein masuk ke kamarnya.

Ketika itu bibik datang sambil membawa kopi kesukaan tuan majikan. Tapi setelah meletakkan gelas kopi itu, bibik memberikan beberapa lembar catatan.

“Nyonya, ini catatan pengeluaran.”

Indras mengambilnya, tapi tidak sepenuhnya membaca, karena ia percaya kepada bibik pembantu itu sepenuhnya.

“Sisanya tinggal ini?”

“Iya, Nyonya.”

“Baik, nanti aku bilang pada tuan.”

Bibik beranjak ke belakang sambil membawa nampan. Indras meletakkan catatan bibik begitu saja di atas meja, agar suaminya langsung membaca dan dia tak perlu banyak bicara.

Ketika kemudian selesai mandi dan berganti pakaian rumahan, ia lalu duduk di depan istrinya.

“Ini kopi untuk aku?”

“Ya.”

“Kamu tidak minum kopi?”

“Tidak, untuk hari ini. Sedang pengin minum teh.”

“Baiklah, tidak apa-apa. Lakukan yang terbaik dan yang kamu inginkan.”

“Tentu saja, kamu bisa melakukan sesuka hati kamu, masa hanya masalah makan atau minum saja aku harus bicara sama kamu,” kata Indras, dalam hati. 

Ia hanya menatap suaminya yang meraih gelas kopinya, dan menyeruputnya dengan nikmat.

“Kalau masih belum enakan, besok tidak usah kerja dulu. Istirahat di rumah saja.”

Indras hanya mengangguk, lalu meraih lembaran-lembaran kertas yang diletakkan bibik, diberikannya kepada sang suami.

“Catatan dari bibik. Uangnya sudah menipis.”

“Tulisan apa ini? Aku tidak bisa membacanya.”

“Catatan belanjaan, agar kamu tahu.”

“Tulisannya lebih buruk dari tulisan dokter,” kali ini Zein tersenyum. Tidak mengatakan boros, menghambur-hamburkan uang, dan lain-lain. Indras merasa lega.

Setelah menghabiskan kopinya, Zein masuk ke kamarnya. Ketika keluar ia memberikan sesuatu kepada Indras.

“Apa ini?”

“Masa tidak tahu ini apa? Dua kartu ATM aku ini, peganglah oleh kamu, kelola untuk semua kebutuhan.”

Indras menatap dua kartu itu tak percaya.

***

Besok lagi ya.

Monday, May 4, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 32

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  32

(Tien Kumalasari)

 

Indras masih memejamkan matanya. Zein duduk di tepi pembaringan, dan menatapnya dengan tatapan sendu.

“Selama ini aku tak pernah melihatmu sakit. Apa yang kamu rasakan?” tanyanya lembut.

Indras mendengarnya,  ingin menjawab dengan kesal. Tapi ia hanya membatin.

“Tak pernah melihatku sakit? Apa yang aku rasakan? Ya Tuhan, apakah suamiku tak punya perasaan?” kata batinnya, miris.

“Ini bukan sekedar sakit. Bukan ragaku saja yang sakit, tapi jiwaku juga. Sakit dan lelah. Kalau tidak mengingat kebaikan yang aku harapkan akan datang pada saatnya, aku sudah berhenti melangkah. Tak peduli apapun, aku harus berhenti. Tapi tidak. Aku tak boleh berhenti. Ada sebuah janji menanti di sana, yaitu kesembuhanmu. Bukan hanya sembuh dari sakitmu, tapi juga sembuh dari kegemaran menyakiti aku. Janji itu aku yang membuatnya sendiri.” lanjutnya masih dalam hati.

Zein kembali membungkuk, mencium kening istrinya. Ini seperti sebuah ciuman yang tulus. Entahlah, Indras tak berani membuka matanya.

Sekarang Zein memegangi tangannya, meremasnya lembut. Tak terasa panas, justru berkeringat.

“Kamu sudah minum obat?”

Zein mengelus kepalanya, kemudian berdiri.

“Aku suruh bibik membuatkan bubur, nanti aku bawa kemari ya,” tanpa menunggu jawaban Zein keluar dari kamar. Tapi ditengah pintu, ponselnya berbunyi. Bukan panggilan telpon, tapi notifikasi sebuah pesan.

Indras mendengarnya, tapi perasaannya datar saja. Ia tak peduli apapun. Siapa tahu dengan membiarkannya maka rasa sakitnya akan berkurang.

***

“Dokter, sedang apa?”

Tapi Zein hanya membacanya, lalu langsung beranjak ke belakang, memerintahkan bibik agar membuatkan bubur untuk nyonya majikan.

“Bagaimana keadaan nyonya,” tanya bibik yang merasa khawatir.

“Sedang tidur, sebaiknya kamu siapkan, nanti aku bawa ke kamarnya.”

“Baik, Tuan,” kata bibik yang segera menyiapkan apa yang menjadi perintah tuan majikan.

***

Ketika Zein mau masuk ke kamarnya, notifikasi pesan itu terdengar lagi. Zein menuju ke teras, dan menjawab pesan itu.

“Istriku sakit.”

“Ya ampuun, sakit apa? Kasihan banget. Dokter kebangganku pasti sedih ya?”

“Ya, sedang prihatin. Ada kabar apa?”

“Kabar buruk, Dokter.”

“Kabar buruk apa?”

“Saya sedih, seharian nggak melihat Dokter.”

Zein mengirimkan emotikon tersenyum, kemudian mengakhiri percakapan melalui WA itu.

Ketika ia memasuki kamarnya, Indras masih menutup matanya. Ia tidak tidur, tapi ia memperhatikan polah suaminya.

Zein kembali duduk di tepi pembaringan. Tak urung tersentuh juga hati Indras. Bagaimanapun Indras sangat mencintai suaminya. Kalau tidak, ia tak perlu merasa sakit bukan?

Zein terus memegangi tangan istrinya.

Begitu terus sampai bibik masuk ke dalam sambil membawakan bubur pesanan tuan majikan.

“Itu bubur dengan apa?”

“Saya buatkan sup ayam biar nyonya segera merasa segar.”

“Baik, taruh dulu di meja.”

Bibik meletakkan bubur dan sup, serta segelas minuman hangat. Zein merabanya, masih panas. Dia menatap sang istri lagi.

“Ada bubur dan sup ayam, In. Mau makan? Kamu dari tadi belum makan, aku suapin? Mau ya?”

Zein sudah banyak bicara, akhirnya Indras membuka matanya, tapi kemudian berbalik memunggungi suaminya. Zein menarik lengannya, sehingga Indras kembali tertelentang.

“Makan dulu ya. Aku suapin ya? Mau duduk, bersandar saja, atau tetap tiduran?” suara Zein sangat lembut. Itu jauh bedanya dengan ketika sedang marah yang matanya sampai merah dan wajahnya beringas seperti singa lapar.

Wajah lembut itu sangat ganteng. Pantas saja ada dokter cantik yang tergila-gila. Bukankah baru saja mereka masih berbincang walau hanya dengan pesan di ponselnya? Tapi Indras tak ingin memikirkannya. Dengan melepaskan semua beban pikiran ia merasa lebih ringan. Lagi pula ia tak ingin memancing kemarahan sang suami. Setiap kali dia menyinggung perempuan itu, pasti langsung marah, dan kemarahan itu bukan marah yang biasa, tapi luar biasa. Kalau saja mampu barangkali dia akan ditelannya.

“Makan ya? Kok diam terus. Nanti nggak sembuh-sembuh. Ibu dokter harus tahu dong, bagaimana cara menyembuhkan diri sendiri?”

“Aku makan sendiri saja.”

“Aku ambilkan ya.”

“Ambil sendiri saja.”

“Baiklah aku bantu duduk?”

“Duduk sendiri saja.”

Zein tidak marah. Ia hanya duduk agak menyisih supaya istrinya bisa bangkit lebih mudah.

Zein mengambilkan piringnya. Indras menerimanya, tapi dia menyendok sendiri buburnya. Ketika badannya lebih nyaman, ia memang merasa lapar. Zein senang melihatnya. Tapi ia hanya menatapnya karena Indras tak mau dibantu.

“Mama sakit?” tiba-tiba suara Sinta memasuki ruangan.

“Tidak, mama hanya lelah.”

“Makan yang banyak, biar hilang lelahnya.”

“Kamu baru pulang?”

“Tadi sudah pulang, lalu keluar sebentar.”

“Istirahat sana.”

Sinta keluar, memasuki kamarnya. Zein masih menunggui Indras makan, lalu membawa piring bekas makannya ke belakang. Bibik melihatnya, lalu tergopoh ke kamar untuk mengambil sisa makanannya.

***

Ia membiarkannya sampai sehari penuh, dan Indras belum mau bicara banyak. Tapi malam hari itu Indras ingin mengeluarkan semua yang selama ini dipendamnya. Semua kekesalannya kepada suaminya, sikapnya yang seperti tidak manusiawi karena menyakiti hatinya berkali-kali. Indras ingin mengatakan semuanya, mumpung sikap suaminya sangat manis seharian ini.

“Sudah merasa lebih baik?”

Mereka berbicara sambil duduk di sofa yang ada di kamar mereka.

Indras mengangguk.

“Mengapa semalam tiba-tiba pergi, hujan-hujan pula.”

“Tiba-tiba bingung harus berbuat apa. Aku tidak mengerti apa kesalahan aku, tapi kamu selalu menyakiti aku.”

Zein diam beberapa saat lamanya, mendengar seluruh apa yang dikatakan istrinya.

“Aku masih merasa sakit hati. Aku ingin membalasnya tapi tak mampu melakukannya.”

“Aku tidak tahu maksudmu, Zein. Sakit hati kepada siapa?”

“Aku ini orang miskin, orang tuaku miskin, dan ayahmu meremehkan aku, merendahkan aku dan menganggap aku tidak sepadan denganmu.”

Indras sangat terkejut.

“Zein, kejadian itu sudah puluhan tahun lalu. Papa sudah menebus semua kesalahannya dengan berbuat baik kepada keluarga kamu.”

“Tapi luka itu tidak juga sembuh. Barangkali aku akan terus begini, sampai ayahmu datang kepadaku dan meminta maaf.”

Air mata Indras menitik. Sang ayah harus datang kepadanya dan meminta maaf? Indras merasa sakitnya Zein sangat luar biasa, sampai ingin merendahkan orang tuanya sedemikian rupa. Padahal walau tidak terucap, tapi sikap papanya sudah menunjukkan bahwa dia menyesali sikapnya yang telah lalu. Tapi ternyata Zein merasa bahwa itu tidak cukup.

***

Hari itu Indras sudah merasa sehat, dan Zein sudah kembali bekerja. Begitu dia datang, dokter Tyas menyambutnya dengan suka cita.

“Syukurlah, Dokter kebanggaanku, kesayanganku, sudah datang,” katanya kemayu. Walau pakaian tidak lagi seronok seperti sebelumnya, tapi gaya dia bicara, apalagi kalau berjalan, masih tampak seperti berusaha memikat.

Zein menyadari hal itu, walau tak terlalu hanyut, tapi siapa yang tidak suka pada pemandangan yang mempesona?

“Kangen ya?”

“Kangen dong Dok, tanpa ada Dokter, semuanya terasa hambar.”

“Benarkah?”

“Masa saya berbohong Dok? Oh ya, bagaimana keadaan dokter Indras?”

“Baik.”

“Sakit apa sebenarnya? Semoga tidak sakit hati,” kata dokter Tyas sambil tersenyum manis.

“Hanya lelah.”

“Namanya suami, pasti Dokter kesayangan saya ini sangat khawatir ya?”

Zein hanya mengangguk.

“Saya jadi ngiri, mengapa bukan saya yang menjadi istri Dokter, supaya mendapat perhatian penuh dari Dokter.”

“Apa aku kurang perhatian? Bukankah aku selalu memperhatikan kamu?”

“Iya sih, tapi kan Dokter tidak pernah ada ketika saya kesepian malam-malam. Beda dengan dokter Indras yang selalu Dokter tungguin,” kata dokter Tyas sambil mengerucutkan mulutnya.

Zein tak menjawab. Ia melihat arloji tangannya.

“Saatnya bertugas, pasien Dokter cantik menunggu.”

“Iya, baiklah, nanti ketemu lagi ya,” katanya sambil melenggang pergi.

***

Indras belum masuk kerja. Ia datang ke rumah orang tuanya. Tak urung ia harus mengatakan kepada orang tuanya tentang apa yang sebenarnya dialaminya.

Sambil terisak dia mengatakan keinginan suaminya agar sang papa datang kepadanya dan meminta maaf.

Tentu saja mereka terkejut.

***

Besok lagi ya.

Saturday, May 2, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 31

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  31

(Tien Kumalasari)

 

Zein memacu mobilnya ke kampung halamannya. Ia tak mengira Indras pergi ke sana, ke makam orang tuanya, dalam hujan deras pula.

“Ya Tuhan, apakah aku sesalah itu sehingga membuatnya marah? Tapi aku tidak merasa bersalah, bukankah dia harus mengerti tentang aku? Aku melakukan apa yang aku suka, tapi Indras selalu menghalangi, mengganggu, merusak semuanya. Salahkah aku? Dia harus bisa menerima semuanya. Sakit? Itulah sakitku ketika orang tuamu merendahkan aku,” Zein bergumam sepanjang perjalanan, tapi tak sepatah katapun menunjukkan penyesalan ataupun rasa bersalah yang pernah di lakukannya. Ia terus memacu mobilnya, yang dia tahu adalah bahwa keselamatan sang istri adalah tanggung jawabnya.

Ingatan tentang rasa sakit ketika merasa direndahkan itu melintas begitu saja, tapi kemudian terus menghantuinya. Kebaikan yang pernah diterimanya untuk orang tuanya, terutama ibunya, tidak membuat sakit hati itu hilang.

Sekarang Zein sudah berada di depan rumah orang tuanya, yang ditungguin oleh salah seorang tetangganya. Dan karena itu halaman kecil dan rumah mungil itu tampak terawat. Tapi ia tak melihat mobil istrinya di sana. Apakah mobil itu ditinggalkan di pemakaman?

Zein turun dari mobilnya. Rumah itu terbuka, dan ada beberapa tetangga kemudian menyambutnya.

“Mana istriku?”

“Zein, istrimu sudah pergi lagi.”

Zein tertegun.

“Sudah pergi lagi?”

“Pagi tadi kami mengangkatnya dari tanah pemakaman. Dia lemah dan kedinginan. Kami ingin membawanya ke rumah sakit, tapi istrimu menolaknya. Kami, para ibu membersihkan tubuhnya dan menggantikannya dengan baju kering milik almarhumah ibumu.”

“Setelah minum minuman hangat dan makan bubur yang kami buat, dia sudah tampak segar,” kata yang lain.

“Tapi kemudian dia memaksa pergi. Ia mengambil mobilnya yang tadinya ada di depan makam, lalu pergi. Tak seorangpun mampu menahannya,” para tetangga dekat bersahutan memberi keterangan, membuat Zein merasa bingung.

“Masuklah dulu dan istirahat Zein.”

“Terima kasih, saya mau langsung kembali saja.”

Zein memberikan sejumlah uang kepada para tetangga. Termasuk yang bertugas menjaga dan membersihkan rumahnya, kemudian berlalu, meninggalkan berbagai pertanyaan yang menjadi perbincangan diantara mereka.

***

Zein merasa lega, ketika sampai di rumahnya, ia melihat mobil istrinya diparkir di halaman. Ia bergegas masuk ke rumah, langsung ke kamar istrinya.

Sang istri baru keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk, wajahnya sedikit pucat. Zein menyambutnya. Ia ingin memeluk sang istri, tapi ditolaknya.

“Mengapa kamu mandi? Kamu merasa tidak sehat bukan?”

“Apa yang terjadi pada diriku, apakah kamu peduli?" tanya Indras, pelan. 

Kemudian masuk ke ruang ganti dan mengganti bajunya dengan pakaian kerja. Zein yang masih menungguinya sambil duduk di sofa, terkejut melihatnya, lalu mendekatinya, dan memegang kedua lengannya.

“Kamu panas.”

“Tidak, aku baik-baik saja.”

“Indras, kamu mau bekerja?”

“Tentu saja. Suami tak memberi aku nafkah, kalau aku tidak bekerja, apakah aku bisa menghidupi diriku sendiri?”

“Indras, istirahatlah dulu. Kamu tadi ke makam orang tuaku bukan?”

Indras menatap suaminya lekat-lekat. Ia tak mengira sang suami mengetahuinya. Ketika ia pulang setelah dirawat tetangga kampung disekitar keluarga Iman, pastinya bersimpangan dengan mobil suaminya yang dalam perjalanan menyusulnya. Tapi ia tak melihatnya. Demikian juga Zein. Barangkali karena pikiran yang tidak tenang membuat mereka tidak perhatian dengan keadaan di sekeliling mereka.

Indras tak menjawab. Semalam, hatinya tiba-tiba terasa kusut. Ia tak tahu bagaimana menghadapi suaminya yang sebenarnya sakit, tapi selalu menyakitinya. Ia ingin sesambat, tapi kepada siapa? Ia tak mungkin menceritakan penderitaannya kepada kedua orang tuanya. Ia selalu bersujud, sesambat kepada Allah. Dan itu selalu bisa membuatnya kuat. Tapi malam itu tiba-tiba ia teringat kepada almarhumah ibu mertuanya. Dulu ketika ia main ke rumah Zein, ibunya selalu menyambutnya dengan suka cita. Ia kelihatan senang dirinya dekat dengan Zein, dan berharap bisa menjadi menantunya. Namun semua keinginannya tak ada yang bisa dinikmatinya. Kelulusan Zein, menikahnya Zein.

Dan entah siapa yang menyuruhnya, tiba-tiba dia ingin pergi ke makam ibu mertuanya. Malam itu, saat hujan mengguyur bagai tercurah dari langit. Saat guntur menggelegar menggetarkan malam kelam.

Dalam guyuran hujan, dengan sebuah lampu senter, Indras melangkah, lalu bersimpuh di makam ibu mertuanya, melantunkan doa sambil bercucuran air mata, yang mengucur deras, berpacu dengan derasnya hujan.

“Semoga ibu tenang di sana,” itu adalah bisik terakhirnya, sebelum ia roboh lemas tak ingat apapun. 

Ia sadar ketika sudah berada di rumah keluarga Iman, dirawat oleh ibu-ibu tetangga yang sangat mengkhawatirkannya.

Mereka ingin membawanya ke rumah sakit, tapi Indras menolak. Ia memaksa pulang ketika merasa tubuhnya kuat.

“Indras, mengapa hujan-hujan kamu memaksa pergi?” kata Zein sambil meraih tubuh istrinya. Tapi Indras mengibaskannya.

“Kamu peduli?”

“Tadi ada yang menelpon aku, mengatakan kamu ada di rumah ibu. Aku menyusulmu ke sana, tapi kamu sudah pulang. Sekarang pasti badanmu terasa tidak enak, tidak usah kerja dulu.”

Indras tak menggubris suaminya. Ia keluar, bertemu Sinta yang menatapnya iba.

“Ma, aku dan mbak Santi pernah mengatakan, bahwa Mama harus juga mengerti tentang papa,” katanya pelan.

Mata Indras melebar. Bahkan putrinya tidak berpihak kepadanya? Indras membalikkan tubuhnya, menuju ke arah mobil.

“Ma, istirahat saja dulu. Apa Mama sudah makan?”

Tapi Indras tetap memasuki mobilnya dan menjalankannya menjauh.

Apakah Indras sekuat itu? Tidak. Kepalanya mulai berdenyut dan badannya terasa panas. Tubuhnya bukan terbuat dari baja. Semalaman diguyur hujan, kedinginan dan ketika dia merasa bisa bangkit, sebetulnya raga itu sudah mengeluh sakit.

Sambil menahan tubuhnya yang terasa meriang, Indras terngiang perkataan putrinya. Harus mengerti tentang papanya? Apakah harus begitu, sementara papanya tidak mengerti dirinya? Bahwa dirinya merasa sakit, bahwa dirinya lelah didera rasa sedih dan kecewa.

***

Indras melangkah ke ruangannya, lalu duduk di kursi kerjanya dengan tubuh lemas. Ia meminta paracetamol dan teh hangat, lalu diminumnya. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mencerna apa yang dikatakan Sinta.

“Kurang mengerti apa aku?” bisiknya berkali-kali.

Indras menyandarkan kepalanya. Dalam setengah tidur ia melihat bayangan sang ibu mertua.

“Kamu sabar ya, Allah pasti mendengar jeritmu. Kamu selalu merayu Allah. Dan Allah Maha Pengasih,” suara itu seperti alunan kidung dari atas sana.

“Dokter sakit?”

Indras terperanjat. Rupanya ia tertidur. Ia membuka matanya dan mencoba tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Rupanya dia bermimpi didatangi sang ibu mertua. Suaranya seperti nyata, tapi itu mimpi. Seandainya benar, pasti dia sudah merangkul dan menangis di dadanya.

“Dokter sakit?” pertanyaan yang sama didengarnya lagi. Ia belum benar-benar terjaga.

 Yang bertanya adalah dokter muda yang ingin menanyakan sesuatu kepadanya.

“Agak pusing, sudah minum obat tadi.”

“Oh, tapi Dokter pucat sekali ,” kata dokter muda itu.

“Tidak apa-apa, hanya ingin menanyakan sesuatu, tapi besok saja, tidak terlalu tergesa-gesa," kata dokter muda itu lagi.

“Tanyakan saja. Mengapa besok?”

Dokter muda itu tetap mengatakan besok saja. Barangkali karena melihat dokter seniornya benar-benar sakit.

Indras membiarkannya. Tubuhnya berkeringat, dan terasa ringan. Tak urung ia harus menyerah, daripada digotong ke ruang rawat, lebih baik dia pulang.

Ia memesan beberapa obat di ruang instalasi farmasi, lalu beranjak pulang.

***

Zein yang tidak ke rumah sakit menyambutnya dengan senang hati.

“Akhirnya pulang?” katanya sambil meraih kening istrinya. Tapi kemudian Indras menepiskannya.

“Berkeringat. Kamu merasakan apa? Sudah aku bilang bahwa kamu tidak usah bekerja. Kamu itu sakit. Kehujanan semalaman, siapa yang tahan? Jangan menyiksa dirimu sendiri.”

“Lebih baik aku menyiksa diriku sendiri daripada kamu yang menyiksa.”

Indras berganti baju rumahan, kemudian merebahkan tubuhnya di pembaringan. Sesungguhnya ia merasa sakit.

Zein menatapnya dengan linglung. Sang istri tidak mau berdamai dengan dirinya. Zein lupa bahwa dia pernah mendiamkan istrinya, dan sekarang ia merasa bahwa didiamkan itu rasanya sakit.

Ia mendekat ke arah ranjang, berdiri di sampingnya dan menatap sang istri lekat-lekat. Wajah cantik itu sangat pucat.  

Indras memejamkan matanya, tak peduli pada suami yang berdiri di dekatnya. Tiba-tiba Zein menundukkan kepalanya, dan mencium keningnya lama sekali. Indras terkejut. Tapi dia tidak menghindar. Barangkali ia tak kuasa menghindar, atau memang sengaja membiarkannya?

***

Besok lagi ya.

Friday, May 1, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 30

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  30

(Tien Kumalasari)

 

Baru sekali ini Zein kelihatan bingung. Sejak kapan Indras pergi? Semalam hujan sangat deras. Zein juga hampir semalaman tak tidur. Sudah biasa begitu, tidur saat menjelang pagi. Tapi ia sama sekali tak tahu, kapan istrinya keluar dari kamar, bahkan pergi, dengan mobil pula.

Zein masuk ke kamar, mengambil ponselnya. Ia menelpon sang istri, tapi suara panggilan itu muncul dari atas meja di dekat pembaringan..

“Dia tidak membawa ponselnya,” keluh Zein.

Ia mondar mandir di dalam rumah, dari belakang ke arah depan, lalu dari depan ke belakang. Begitu terus sampai kemudian badannya terhuyung-huyung, lalu duduk di kursi teras. Kepalanya berdenyut. Ternyata Zein benar-benar peduli pada istrinya. Tumpahan kemarahannya yang setiap saat, bukan berarti tak takut kehilangan. Apakah ancaman akan bunuh diri berkali-kali itu juga adalah sebuah ungkapan terselubung bahwa dia tak mau kehilangan sang istri? Hanya saja Zein malu mengakui?

Dari timur sana cahaya kemerahan tampak memancar, menyambut datangnya sang surya yang akan tampil menerangi bumi.

Bibik keluar membawa nampan berisi dua gelas kopi panas.

“Bik, kamu tahu, nyonya pergi ke mana?”

Bibik tampak bingung.

“Nyonya pergi? Saya bahkan tidak tahu kalau nyonya pergi. Mungkin jalan-jalan, Tuan. Udara pagi sangat segar.”

“Kamu tahu, sejak kapan dia pergi?”

“Tidak Tuan, saya bangun langsung membuat kopi untuk Tuan dan nyonya.”

“Ya sudah, taruh saja kopinya di situ.”

Bibik meletakkan dua gelas kopi panas di meja. Pikirnya dia membuatkan kopi itu untuk tuan dan nyonya majikannya. Tapi dia heran dan merasa aneh atas pertanyaan sang tuan. Dia bertanya kemana istrinya? Dan tidak tahu kapan istrinya pergi? Walau begitu bibik merasa bahwa tugasnya adalah membuat sarapan dan membereskan rumah. Jadi lebih baik dia tidak mengatakan apapun.

Matahari sudah menampakkan wajahnya, seakan mengobati dinginnya udara semalam. Kehangatan terasa meraba, dan Zein masih terpaku di tempat duduknya. Kopi yang disajikan bibik baru dicecapnya beberapa teguk, seperti hanya sekedar membasahi kerongkongan. Sebentar-sebentar ia melongok ke pintu gerbang, berharap  mobil istrinya muncul.

Sinta pergi ke dapur, melongok apa yang dilakukan bibik. Ia tak melihat mamanya, tapi tak mengira mamanya pergi. Bibik yang mengatakannya.

“Non, apa Non tahu, nyonya pergi ke mana?”

“Maksud Bibik … mama?”

“Iya. Sejak tadi tuan menunggui di depan. Tuan bertanya kepada bibik, tapi bibik tidak tahu. Tampaknya nyonya pergi tanpa sepengetahuan tuan.”

Sinta bergegas ke arah depan. Dilihatnya sang ayah duduk sendirian, masih mengenakan pakaian tidur.

“Papa belum mandi?”

Zein menoleh ke arah Sinta.

“Kamu tahu mamamu pergi ke mana?”

“Mama pergi? Tidak bilang pada Papa mau pergi ke mana?”

“Begitu papa bangun, ibumu sudah tak ada, mobilnya juga tak ada. Entah kapan ibumu pergi.”

"Ditelpon dong Pa.”

“Ponselnya ada di kamar.”

“Yaaaah ….”

“Papa mandi dulu saja, nanti juga mama pasti juga pulang," lanjutnya.

“Jangan-jangan ke rumah kakekmu.”

“Kalau Sinta menelpon, pasti kakek akan kaget. Pagi-pagi menanyakan mama, pasti sudah dapat diduga terjadi sesuatu di sini. Mama tidak pernah suka mengabarkan hal buruk kepada kakek.”

“Jangan langsung menanyakan mamamu. Bicara apa saja, kalau memang mama ada di sana pasti kakek mengatakannya tanpa ditanya.”

“Ngomong apa ya?”

Sinta mengambil ponselnya, ditelponnya sang kakek.

“Ini Sinta?”

“Iya Kek, kakek sedang apa?”

“Sedang ngopi bersama nenek kamu. Lama sekali kamu tidak kemari, sibuk kuliah ya?”

“Iya Kek, maaf ya. Sinta, papa juga mama sudah kangen sebenarnya.”

“Kalau senggang datanglah kemari. Kakek dan nenek repot kalau datang ke rumahmu. Kalian orang-orang sibuk.”

“Sinta menelpon karena kangen sama Kakek dan nenek.”

“Kakek dan nenek juga kangen pada kalian. Cari waktu yang baik agar kita bisa ketemuan. Memikirkan pekerjaan tak akan ada habisnya.”

Sinta tertawa, tapi kemudian pamit untuk mengakhiri pembicaraan.

“Mama tidak ke sana.”

Zein menghela napas panjang.

“Sudah lama terjadi sesuatu antara Papa dan mama. Mengapa tidak ada jalan keluar? Maaf, Sinta hanya sekedar bicara, Papa jangan marah,” kata Sinta hati-hati, karena ia pernah menanyakan hal sama kepada sang papa, tapi dia malah kena marah.

“Terkadang orang tua juga butuh ketenangan.”

“Apa selama ini Papa merasa tidak bisa tenang?”

Zein menggeleng pelan.

“Bicara pada mama, apa yang Papa inginkan.”

“Mamamu selalu memata-matai papa. Papa sangat buruk di mata mama kamu. Tapi sudahlah, jangan bicara lagi, papa sedang tak ingin bicara apapun.”

“Bibik sudah menyiapkan sarapan. Papa belum mandi, nanti terlambat ke kantor.”

Zein bangkit dari duduknya, melangkah ke kamar. Tiba-tiba ia merasa bahwa kamar itu begitu lengang. Seperti sesuatu tanpa nyawa. Zein bukannya mandi, malah duduk di tepi pembaringan.

“Pa, sarapan dulu,” itu teriak Sinta dari luar kamar.

“Kamu sarapan dulu saja,” kata Zein yang merasa sangat lemas.

“Papa tidak ke kantor?”

“Nanti gampang. Kamu mau belanja sama bibik?” Zein ingat pembicaraan saat makan malam.

“Saya pikir ini hari Minggu. Papa dan mama juga tidak mengingatkan kalau Sinta salah menghitung hari.”

Sinta melangkah ke ruang makan, sarapan sendirian. Kepergian sang mama menjadikannya pikiran, tapi ia harus ke kampus pagi.

“Nanti aku akan mencari mama. Tapi ke mana?”

***

Zein masih duduk termangu di tepi pembaringan. Ia mendengar Sinta pamit, tapi hanya dijawabnya dengan ‘ya’ yang sangat pelan.

Ia tetap belum mandi, dan dia tak berniat untuk datang ke kantor. Ia hanya mengirimkan pesan ke stafnya bahwa dia tidak ke kantor hari ini.

Yang ribut malah dokter Tyas. Ia segera menelpon dokter pujaannya.

“Dokter, sayang, ada apa hari ini tidak datang?”

“Aku sedang ada urusan.”

“Padahal saya sudah memakai baju yang semalam dikirim Dokter ke rumah, Dokter mau melihatnya?” tampaknya dokter Tyas bersiap akan mengubah telponnya menjadi video call. Tapi Zein menolaknya.

“Tidak … tidak, lain hari aku pasti bisa melihatnya. Sekarang aku sedang ada urusan.”

“Apakah dokter Indras marah?” dokter Tyas masih mengira begitu.

“Tidak. Ya sudah, selamat bertugas ya, cantik.”

“Tunggu Dokter, apakah besok Dokter akan masuk? Kalau tak ada Dokter saya tidak bersemangat.”

“Saya usahakan semuanya selesai.”

“Baiklah, daaaag, Dokter kebanggaanku.”

Zein tak menjawab, hanya tersenyum senang lalu menutup ponselnya. Entah mengapa, dokter Tyas selalu bisa membuatnya senang. Senang menjadi  dokter kebanggaan dokter cantik itu, dan ketika mengingatnya, Zein kembali tersenyum.

Tapi kemudian ditatapnya sekeliling kamar. Kembali senyap menyergapnya. Mengapa sudah siang Indras belum juga pulang?

“Jangan-jangan dia langsung ke rumah sakit.”

Zein meraih ponselnya, pura-pura menjadi pasien dan menanyakan apakah bisa bertemu dokter Indras. Aneh kalau mengaku suami, masa tidak tahu istrinya masuk atau tidak.

“Maaf Bapak, hari ini rupanya dokter Indras tidak datang, apakah bisa dilayani dokter Arum?”

“Saya hanya mau dengan dokter Indras. Terima kasih.”

Zein putus asa. Indras juga tidak ke rumah sakit.

Ia memijit-mijit kepalanya yang terasa berdenyut. Baru kali ini Zein merasa sangat membutuhkan istrinya. Ia bingung harus menelpon siapa. Adik iparnya? Tidak, ia tak ingin keretakan dalam rumah tangganya tercium oleh orang lain, walau orang itu keluarganya sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ini nomor telpon tetangganya.

“Zein, apa kamu tahu, istrimu sedang tidak baik-baik saja.”

“Apa? Istri saya ada di situ Bu?”

“Tidak. Dia di rumah kamu sendiri. Tadi pagi tetangga belakang rumah menemukannya di pemakaman.”

“Apa?”

“Istrimu ditemukan pingsan di dekat makam ibumu, padahal semalam hujan sangat deras.”

Zein tidak bertanya lebih lanjut. Ia keluar dari kamar langsung mengeluarkan mobilnya.

***

Besok lagi ya.

Thursday, April 30, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 29

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  29

(Tien Kumalasari)

 

Dengan geram Indras menelpon ke butik langganan.

“Ya, Dokter Indras?”

“Mbak, siapa yang membeli barang-barang ini?”

“Dia sudah beberapa kali kemari, sepertinya dia juga dokter. Dokter Zein memanggilnya dokter, begitu. Sebentar, ada catatan namanya. Ini dia, dokter Tyas. Apa dokter Indras tidak mengenalnya? Tapi tadi sepertinya dia sudah konfirmasi dengan dokter Zein melalui telpon.”

“Apa dia masih di sini?”

“Sudah pulang, barang-barang yang dibelinya disuruhnya mengirim ke rumahnya. Dia sudah meninggalkan alamatnya.”

“O, begitu ya. Kalau begitu kirim saja ke rumah dokter Zein. Masalah pembayaran nanti biar dokter Zein menyelesaikannya.”

“Jadi ini dikirim ke rumah sini, ya Dok?”

“Ya, kirim saja kemari.”

Indras menutup ponselnya dengan perasaan yang seperti diaduk-aduk.

“Dia selalu menyakiti aku, tapi dia tidak mau aku tinggalkan. Apa sebenarnya maksudnya? Lalu dia begitu royal kepada perempuan itu? Beratus ribu diumbar hanya untuk beli pakaian, sedangkan untuk kebutuhan rumah dia begitu pelit. Setiap kali bibik membutuhkan uang dia selalu mengatai aku boros.”

Indras tidak masuk ke rumah. Ia menunggu kiriman dari butik yang diperuntukkan bagi dokter kesayangan Zein.

Ia akan meletakkannya begitu saja nanti di teras, tak peduli pada kemarahan Zein, sudah terlalu sering melihatnya marah, sehingga apapun yang terjadi, ia akan dengan tegar menerimanya. Sabar? Indras akan terus belajar sabar, sambil mencari apa sebenarnya letak kesalahannya sehingga ia selalu menjadi bulan-bulanan kemarahan suaminya.

Dan belanjaan itu benar dikirim ke rumah, beberapa potong baju dan sepatu.

“Taruh di situ saja Mas,” titahnya kepada sang pengirim.

Kemudian kurir itu meletakkannya begitu saja di lantai teras. Ia pergi setelah Indras mengucapkan terima kasih.

Indras sama sekali tak membuka bungkusan-bungkusan itu. Ia meninggalkannya di teras, kemudian masuk ke dalam rumah.

***

Zein sudah selesai, ia sedang bersiap pulang ketika ponselnya berdering. Dari dokter Tyas lagi. Sudah sejak tadi dokter Tyas menelpon berkali-kali, gara-gara melaporkan apa yang dibelinya. Padahal Zein sudah mengatakan agar dia membeli apa yang dia suka. Lalu ia mematikan ponselnya. Sekarang, begitu ia membuka ponselnya, dokter cantik itu menelponnya lagi.

“Dokter Tyas, ambil saja yang Dokter suka, kan aku sudah bilang berkali-kali.”

“Bukan itu, Dok. Saya sudah selesai belanja, dan sudah berada di rumah.”

“Syukurlah, aku sedang bersiap mau pulang. Pertemuan sudah selesai.”

“Saya mau bilang bahwa barang yang saya beli dikirim ke rumah Dokter.”

“Apa?” Zein berteriak karena dia sangat terkejut.

“Apa petugas toko itu mengira bahwa yang belanja adalah istriku?” lanjutnya.

“Tidak, dia kenal dokter Indras, tentu mereka tahu bahwa saya bukan istri Dokter.”

“Mengapa dikirim ke rumah?”

“Kata petugas toko, dokter Indras yang menyuruhnya.”

“Apa?” Zein kembali berteriak.

“Sekarang pastinya sudah sampai di rumah Dokter. Bagaimana dong? Masa saya harus mengambil ke sana?”

“Bagaimana istriku bisa tahu tentang belanjaan Dokter?”

“Saya juga tidak tahu. Apakah dokter Indras kebetulan ada di butik itu ya? Saya sangat menyesal, pasti dokter Indras akan sangat marah.”

“Ya sudah, jangan dipikirkan, akan saya urus.”

Zein menutup pembicaraan itu dan menelpon butik langganannya.

“Ya Dok, sudah saya kirim semua, sesuai permintaan dokter Indras,” kata petugas toko yang mengira dokter Zein menegurnya tentang pengiriman itu.

“Dari siapa dokter Indras tahu tentang barang-barang yang dibeli dokter Tyas?”

“Nota pembelian saya kirim ke dokter Indras, karena ponsel dokter Zein tidak aktif.”

Zein ingin mendampratnya, tapi kemudian dia sadar bahwa kemarahannya akan memicu perkiraan orang-orang butik bahwa ada hubungan tersembunyi antara dirinya dan dokter Tyas. Karena itu ia menekan kemarahan itu lalu menutup pembicaraannya setelah mengucapkan terima kasih.

***

Indras duduk santai di ruang tengah, menikmati kacang rebus yang disajikan bibik sebagai cemilan. Sinta ada di dalam kamarnya.

Tak lama setelah ia duduk sendirian, ia mendengar mobil suaminya memasuki halaman. Indras meraih lagi segenggam kacang, dan menikmatinya dengan nyaman. Tiba-tiba ia harus mengangkat wajahnya karena sang suami masuk dengan membanting pintu.

Indras hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatahpun kata.

“Apa maksudmu dengan semua itu? Kamu selalu mengawasi semua yang aku lakukan. Kamu tak bosan-bosannya memata-matai aku,” teriaknya.

“Mengapa kamu marah? Sudah aku kirimkan nota pembeliannya ke kamu. Jadi tak perlu marah. Kamu bisa melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan.”

“Tentu saja aku marah. Kamu lancang dengan main perintah agar petugas butik mengirimkan belanjaan dokter Tyas ke rumah.”

“Belanjaan dokter Tyas ya? Mengapa kamu yang membayarnya? Apa kamu  manager dia, atau sekretaris dia, atau anak buah dia yang bertugas membayar semua kebutuhannya?” lantang kata Indras tanpa takut. Kemarahannya sudah sampai di puncaknya.

“Kamu selalu mau menang sendiri! Kamu selalu membuat aku marah.”

“Apa tidak kebalik Zein? Aku yang seharusnya marah, bukan kamu. Camkan itu.”

Zein mengepalkan tangannya, membalikkan tubuhnya dan mengangkut belanjaan yang terserak ke dalam mobilnya.

Indras hanya sekilas meliriknya, tapi ia mengamati apa yang dilakukan sang suami. Tak lama kemudian mobil itu terdengar menderu dan keluar dari halaman.

Indras menghela napas. Dibela-belain mengantarkan barang-barang itu, padahal pastinya dia sangat lelah. Tak urung titik juga air matanya, walau ditutupinya dengan meraih kacang rebus di depannya.

***

Dokter Tyas kegirangan, karena Zein sendiri yang mengantarkan barang belanjaannya.

“Dokter, mengapa tidak dikirimkan saja lewat ojol? Bukankah Dokter capek sekali?”

“Iya, aku baru saja pulang.”

“Betul kan, barang-barang ini dikirim ke rumah Dokter?”

“Iya.”

“Apa dokter Indras marah? Pasti dia sangat marah, karena Dokter membelikan barang-barang ini.”

“Tidak. Biasa saja.”

“Benar-benar istri yang sabar dan sangat baik. Pantas Dokter sangat mencintainya.”

Zein hanya tersenyum, tapi kemudian dia berdiri, bersiap pulang.

“Dokter kebanggaanku mau ke mana?”

“Aku baru saja pulang, jadi aku sangat lelah.”

“Kalau begitu seperti janji saya beberapa hari yang lalu, mari saya pijit sebentar,” kata dokter Tyas sambil mendekat.

Tapi dokter Zein menggoyang-goyangkan tangannya.

“Tidak, terima kasih banyak. Lebih baik saya pulang saja.”

“Dokter takut ya sama istri?”

Zein tidak menjawab, kecuali hanya tersenyum. Ia terus melangkah keluar dari rumah dan dokter Tyas menatapnya tak berdaya. Tapi rasa kecewanya kemudian terobati dengan barang-barang belanjaan yang belum sempat dibukanya. Pastilah dia senang sekali.

“Sayang, sangat susah meminta dokter Zein tinggal di sini walau sebentar saja. Mungkin takut sama istrinya,” gumamnya sambil membuka paper bag belanjaannya satu persatu.

***

Sesampai di rumah ia tak mengatakan apapun. Demikian juga Indras. Mereka makan bersama hanya untuk menutupi keretakan yang ada  diantara mereka, tapi tak sepatah katapun terucap dari mulut mereka, kecuali menjawab celoteh Sinta yang menganggap tak terjadi apa-apa diantara mereka, walau sebenarnya dia mengerti.

“Bukankah besok libur?” tanya Sinta yang dijawab hampir bersamaan oleh ayah dan ibunya.

“Ma, besok kita masak bareng ya. Sinta ingin belajar masak dari Mama.”

“Ya, tidak apa-apa.”

“Papa tahu nggak, masakan mama enak sekali bukan?”

“Hm,” Zein menyuap makanannya lalu mengangguk.

“Besok Papa ingin dimasakin apa, biar Sinta yang masak. Tentu  bersama Mama, Sinta belum bisa masak sendiri. Pengin apa Pa? Sup ayam, soto, rawon … eh … lama sekali bibik tidak masak rawon. Besok kita masak rawon ya Ma?”

“Hm-emh.”

“Besok Sinta mau ikut bibik ke pasar. Mama catat apa saja yang harus dibeli ya?”

“Bibik sudah tahu.”

“O, jadi besok terserah bibik saja kan?”

Sampai acara makan malam selesai, suasana rame hanya karena celoteh Sinta. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing. Zein, walaupun tidur sekamar dengan istrinya, tapi tak saling bicara. Sudah lama begitu. Tapi Zein seperti biasa tak pernah bisa tidur awal. Sebelum pagi merekah dia sudah bangun, tapi tak menemui sang istri di sampingnya.

Bagaimanapun Zein harus tahu, istrinya ada di mana. Di kamar mandi, di dapur, di mushala, tak ada. Tidur di kamar tamu? Tak ada. Bibik belum bangun. Hari belum pagi, udara sangat dingin karena kebetulan semalam hujan turun dengan sangat derasnya.

Zein duduk di ruang tengah. Tak ada bayangan sang istri. Zein keluar dan melihat garasi terbuka.

“Indras pergi?”

***

Besok lagi ya.

SAKITKU ADALAH CINTAKU 34

SAKITKU ADALAH CINTAKU  34 (Tien Kumalasari)   Indras masih memegangi dua kartu ATM dengan dua bank yang berbeda dengan perasaan heran. “Men...