Saturday, March 7, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 27

 BIARKAN AKU MEMILIH   27

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala berhenti, sementara Tama sudah berteriak-teriak minta gendong sang ayah.

Ponsel itu masih berdering, Nirmala sedang berpikir, mengapa Dwi menelponnya.

Nirmala mengangkatnya setelah agak lama mendiamkannya.

“Ya.”

“Ini ibu Nirmala?”

“Ya, tadi kan sudah saya jawab?” jawab Nirmala kaku.

“Maaf Ibu, saya hanya ingin bilang, pak Adri ke mana ya?”

“O, mau bicara dengan pak Adri, mengapa menelpon saya?”

“Saya hanya ingin bilang, saya ini kan sedang hamil, jadi_”

“Oh, dengan pak Adri saja, orangnya ada,” potong Nirmala.

Nirmala langsung memberikan ponselnya kepada Adri.

“Apa ini?”

”Dwi, ingin menghubungi kamu.”

“Tidak usah, matikan saja,” kata Adri dengan wajah gelap. Tapi Nirmala tetap memberikan ponselnya. Ia melihat wajah Adri yang keningnya kebiruan, dan ada bekas darah dibibirnya. Rasa iba menerpanya, tapi mendengar kata hamil dari ponselnya, ia merasa bahwa segala rasa iba itu tak ada gunanya. Tapi Nirmala terkejut mendengar Adri membentaknya.

“Mengapa kamu masih menghubungi aku? Dengar Dwi, aku sedang bersama istriku. Dan aku sudah melarang kamu untuk menghubungi aku, bukan?”

“Adri, mengapa tiba-tiba kamu berubah?”

“Aku hanya ingin membatasi hubungan kita. Memang benar kita berteman sejak kecil, tapi setelah dewasa, kita memiliki kehidupan masing-masing.”

“Aku sedang hamil, Adri, aku butuh perhatian.”

“Tapi bukan dari aku. Mengapa kamu menganggap aku bisa menjadi penghibur kamu saat kamu sedang terkena masalah? Kamu harus bisa membatasi persahabatan kita. Berbeda ketika kita masing-masing sudah punya kehidupan sendiri.”

“Kamu tidak kasihan sama aku, Adri. Aku tahu sesungguhnya kamu tidak tega. Apakah istri kamu marah dan mulai mencurigai hubungan kita?”

“Apa maksudmu ‘hubungan kita?’ Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan kalau kamu ingin mengeluhkan kehamilan kamu, maka seharusnya keluhan itu kamu tujukan kepada suami kamu. Bukan aku.”

Kali ini Nirmala memasang kupingnya. Ia bermaksud menentukan hari ini, jalan mana yang akan dipilihnya, jadi ia sekalian akan mempersilakan Adri agar meninggalkannya, walau masalah menjaga perasaan orang tua masih harus dipikirkannya. Semestinya karena Dwi hamil maka dia harus bertanggung jawab bukan? Tapi Nirmala heran mendengar perkataan Adri ketika bertelpon.
Apa yang salah sehingga Adri justru marah-marah. Adri juga menyebut tentang suami. Ah ya, bukankah Dwi wanita bersuami? Tapi Adri pernah mengatakan bahwa mereka sedang dalam proses cerai.

Adri masih menggendong Tama yang diam seakan mendengarkan perkataan sang ayah di telpon. Ia tidak merengek, tidak pula menangis.

Nirmala duduk di ruang tengah, tangannya memegang remote dan mengotak atiknya untuk menyalakan televisi. Tiba-tiba Adri datang, menyerahkan ponsel Nirmala, sambil duduk di sampingnya.

“Nirmala, jangan pergi,” katanya lirih.

“Maaf kalau aku mengungkapkan rasa kesal atas kedatangan Bima. Aku terlalu cemburu karena kamu selalu memuji-mujinya.”

Nirmala meletakkan remote yang semula dipegangnya.

Kok jadi masalah Bima, bukan masalah perempuan dengan keluhan kehamilan itu tadi? Dan apa arti jawaban ketika Dwi menelponnya? Hanya pura-pura karena ada dirinya? Nirmala tetap masih curiga.

“Aku dan Bima hanya sahabat baik. Berbeda dengan kamu.”

“Aku kenapa?”

“Seorang perempuan hamil dan kamu tidak merasa punya tanggung jawab?”

“Apa maksudmu? Dia hamil karena punya suami, apa itu masalah aku?” kata Adri dengan nada tinggi.

Nirmala terdiam. Pikiran warasnya baru bekerja. Iya juga, Dwi punya suami, dan kehamilan itu, mengapa harus Adri yang bertanggung jawab? Tapi siapa tahu Adri juga pernah ….

“Apa kamu menuduh aku yang menghamili Dwi?”

Nirmala menatap Adri, kebiruan di dahinya ternyata ada lecet yang semula tak tampak. Ingin tangannya mengelusnya.

“Bukan kamu?”

“Nirmala, apakah aku seburuk itu? Aku selalu bilang bahwa aku mencintai kamu, apakah itu tidak cukup untuk membuat kamu mengerti bahwa aku memang mencintai kamu?”

“Tapi … sepertinya Dwi sangat bergantung pada kamu.”

“Tadinya aku kasihan karena suaminya akan menikah lagi dan dia kemudian meminta cerai. Tapi tiba-tiba dokter mengatakan kalau dia sedang hamil. Aku kasihan dan memintanya kembali saja kepada suaminya, karena alasan suaminya menikah lagi adalah karena suaminya menganggap bahwa Dwi tak bisa memberikan anak untuknya. Tapi kenyataannya Dwi hamil. Aku selalu membujuknya untuk kembali.”

“Mengapa juga dia selalu mengeluh kepada kamu?”

“Ketika aku tahu bahwa dia sudah melampaui batas, aku bersikap keras pada dia. Aku ingatkan bahwa bukan kepada aku dia selalu berkeluh.”

“Apa kamu tidak berpura-pura? Kamu bersikap keras karena ada aku kan? Kemarin ketika ada Bima kamu menerima telponnya dengan manis.”

“Astaga, saat itu aku hanya ingin memanas-manasi kamu, karena aku kesal saat kamu menerima kedatangan Bima. Saat ini aku sudah mengabari Anton, suami Dwi, bahwa istrinya ternyata hamil. Aku berharap mereka akan baik-baik saja dan melanjutkan pernikahan yang tiba-tiba terguncang.”

Nirmala terdiam. Kesalah pahaman ini sudah membuatnya melangkah terlalu jauh.

“Mbak Rana, coba ambilkan obat merah dan salep di kotak obat,” Nirmala berteriak.

***

Dwi menangis terisak-isak. Bibik pembantu kewalahan membujuknya. Ia heran pada sang nyonya majikan. Sudah dewasa tapi sikapnya masih seperti anak kecil. Benar benar seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainan.

“Bik, kamu tahu, aku mencintai dia,” katanya pelan.

“Nyonya tidak boleh bersikap seperti itu. Tuan Adri itu punya istri, dan kalau dia menerima telpon Nyonya dengan sikap keras, berarti Nyonya bertepuk sebelah tangan. Menurut saya, hal itu tidak bisa dilanjutkan. Nyonya harus berhenti.”

“Enak saja kamu bicara.”

“Kemarin Nyonya sudah menelpon istrinya, dan belum sempat bicara malah telponnya diberikan kepada suaminya kan? Apa maksud Nyonya dengan menelpon istri tuan Adri?”

“Agar dia tahu bahwa aku ada hubungan dengan suaminya.”

“Nyonya bersikap sangat gegabah. Maaf Nyonya, saya tidak mendukung Nyonya dalam hal ini.”

“Bik, temanku hanya bibik sekarang ini. Harusnya bibik mendukung aku, agar aku tidak sedih.”

“Kesedihan itu Nyonya sendiri yang membuatnya. Kalau Nyonya tidak berpikiran macam-macam, pasti pikiran nyonya akan lebih tenang.”

“Aku sedang hamil Bik, aku butuh seseorang.”

“Kalau Nyonya membutuhkan seseorang, orang itu adalah suami Nyonya.”

“Apa maksudmu? Kamu lupa bahwa dia mau menikah lagi? Barangkali juga dia sudah menikah saat ini, sambil mengurus perceraian denganku.”

“Tapi alasan menikah lagi itu kan jelas, dia menganggap Nyonya tidak bisa hamil. Kenyataannya Nyonya hamil. Hal termudah ialah mendatangi suami Nyonya, melarangnya menikah karena Nyonya ternyata hamil.”

“Mana bisa segampang itu, lagipula aku tidak mencintai suamiku lagi. Terlanjur sakit hati, lalu cinta itu sudah hilang. Ditambah sikap mertua aku yang nyinyir dan selalu meremehkan aku”

“Nyonya, kalau Nyonya bisa berbicara dengan baik, semuanya akan menjadi baik.”

“Sudahlah Bik, aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku tetap akan mengejar cintaku. Aku yakin Adri hanya terpaksa karena sungkan kepada istrinya.”

Bibik pembantu kehilangan kata-kata. Ia bangkit dan berjalan ke belakang, karena dengan cara apapun sang nyonya tidak mau mendengarnya.

***

Pagi hari itu Dwi bangun agak siang. Badannya terasa tidak enak. Ia merasa sangat lelah, dan rasa mual masih sangat mengganggunya.

Ia menelpon ke kantor bahwa tidak bisa masuk hari itu.

Bibik menyiapkan obat yang harus diminum, lalu menyiapkan sarapan untuk sang nyonya.

“Ini apa?”

“Obat yang harus Nyonya minum sebelum makan.”

Dwi meraih obatnya dan menelannya. Sejak semalam ia masih merasa mual, walau muntahnya sudah berkurang.

“Sebentar lagi Nyonya harus makan.”

“Mengapa mas Anton tidak segera mengabari perkembangan permohonan cerainya?”

“Nyonya, saya mau ke pasar dulu. Sarapan untuk nyonya sudah saya siapkan.”

“Ya. Aku mau tiduran di kamar dulu.”

Tapi ketika dia bangkit bermaksud masuk ke kamar, sebuah mobil memasuki halaman. Dwi hampir bersorak karena mengira Adri yang datang. Ia keluar, dan berdiri di teras. Yang datang adalah Anton suaminya.

“Cuma mengabari masalah perceraian saja, mengapa harus datang? Dari mana juga dia tahu bahwa aku ada di sini?” gumam Dwi dengan wajah gelap

***

Besok lagi ya.

Friday, March 6, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 26

 BIARKAN AKU MEMILIH  26

(Tien Kumalasari)

 

Adri tersaruk mengejar Nirmala, yang kemudian sudah memasuki mobil. Teriakan Adri tak digubrisnya.

“Nirma … Nirmala … jangan pergi dulu, kita masih harus bicara. Nirma, aku cinta kamu, hanya cinta kamu.”

Adri hampir meraih bagian belakang mobil, tapi Nirmala sudah menjalankan mobilnya, sehingga Adri jatuh tersungkur mencium tanah.

“Augh … Nirmala …” keluhnya.

Sementara itu Pratama yang berdiri di jok dan sedari tadi mengawasi ayahnya yang lari, tiba- tiba menangis. Pastinya ia melihat sang ayah jatuh, lalu sang ibu terus menjalankan mobilnya.

“Paaaa … pp …paaaa ….”

Dan mobil itu sudah keluar dari halaman dan terus melaju, entah ke mana.

Hari mulai gelap, malam mulai menyentuh bumi.

Adri bangkit, lalu mengusap bibirnya yang berdarah. Bukan bibirnya yang terasa sakit, tapi hatinya. Banyak hal yang tidak dia mengerti, dan membuatnya bingung. Adri sama sekali tidak sadar apa kesalahannya. Sudah punya istri, terlalu memperhatikan wanita lain itu sebaiknya dihindari. Menolong juga ada batasnya, tapi Adri melakukannya tanpa merasa dosa, apalagi karena sang istri diam.

Sekarang semuanya menjadi runyam. Kedatangannya untuk melepas kangen berantakan, yang ada awalnya dipicu kedatangan Bima yang tidak disukainya sejak lama.

Tertatih Adri kembali ke rumah. Rumah mertuanya yang disiapkan untuk Nirmala ketika bertugas di kota itu.

Ia duduk di teras, meraih tissue untuk mengusap darah di bibirnya.

“Kemana kamu Nirma? Mengapa tidak bicara jelas, aku tidak mengerti kenapa kamu meminta aku bertanggung jawab pada Dwi? Dia bukan siapa-siapa aku, kecuali hanya teman. Kami dekat dari kecil, tapi sekarang aku juga tidak suka pada dia. Ada maksud yang aneh, sepertinya dia ingin merayu atau berbuat lebih. Ya ampun Dwi, kamu sedang mengandung dan kamu melakukan hal yang memalukan,” bisiknya.

Tiba-tiba Adri merasa seperti disengat lebah. Mengandung … hamil … apakah Nirmala mencurigai aku? Ia mengira Dwi hamil karena aku? Astaghfirullah, itu sebabnya dia mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab? Celaka. 

“Bagaimana mungkin hal itu dipikirkan Nirma dan aku tidak memiliki bayangan tentang tuduhan itu sebelum terpikir olehku sekarang ini?”

Adri meraih ponselnya lalu menelpon Nirmala, tapi tidak diangkat. Kemudian ia menuliskan pesan, dengan harapan Nirma membukanya.

***

Nirma terus memacu mobilnya, sementara Tama terus menangis, bahkan semakin kencang. Mbak Rana sudah membujuknya, memberinya susu dalam botol, memberinya cemilan kesukaan, tapi Tama tak mau berhenti menangis. Mbak Rana kebingungan.

“Bagaimana ini Nyonya, mas Tama tidak pernah serewel ini.”

“Ada apa mbak, lapar barangkali?”

“Sudah saya beri susu dan cemilan, tapi tidak mau, terus menjerit-jerit.”

“Tama, sayang, ada apa Nak, diamlah dulu.”

“Apa kita mau pulang, nyonya.”

“Tidak, pekerjaanku belum selesai.”

“Ppaaaa … ppaaaa ….” Tama terus berteriak-teriak.

”Kenapa ya, Tama. Masih ingin bersama ayahnya?”

“Mungkin karena tadi melihat tuan terjatuh, Nyonya.”

Nirmala mengerem mobilnya tiba-tiba, membuat mbak Rana kemudian merenggut tubuh Tama di dekapnya erat, agar tidak terantuk jok di depannya.

“Siapa yang terjatuh?”

“Tadi tuan mengejar nyonya, terjatuh di belakang mobil.”

Nirmala memutar mobilnya. Cinta itu masih ada. Semarah apapun ia tak ingin suaminya sakit atau terluka. Ditambah rewelnya Tama, Nirmala bermaksud kembali lagi ke rumah.

“Tama, kita temui bapak ya, jangan nangis. Kita temui bapak,” bujuk Nirmala.

Dan ajaibnya tangis Tama mereda, meskipun masih terisak-isak.

“Diam ya mas Tama, ibu mau mengajak mas Tama ketemu bapak,” mbak Rana ikut membujuk.

“Ppaaa … ppaaaa … “ celotehnya lagi dalam isaknya.

“Mbak Rana, apa ketika kamu masih bersama suami kamu, kamu pernah disakiti?” tanya Nirmala tiba-tiba.

Mbak Rana terdiam beberapa saat.

“Itu sebabnya saya memilih pergi,” jawabnya pelan.

“Kalian bercerai?”

“Iya Nyonya, dan kebetulan kemudian Nyonya membutuhkan saya.”

“Mengapa kamu memilih pergi?”

“Suami saya punya istri muda. Saya tidak mau di madu.”

Nirmala menghela napas panjang. Semua perempuan tak mau dimadu, memilih pergi. Bagaimana dengan dirinya? Ia tidak … atau belum dimadu, jalan mana yang dia pilih? Pergi seperti mbak Rana, atau tetap bersama suami sementara di sana ada perempuan yang sedang mengandung anak suaminya? Kalau demi menjaga perasaan orang tua, Nirmala ingin terus berpura-pura hidup bahagia. Tapi akankah ia tahan menerima semua itu? Membayangkan sang suami mencumbui perempuan lain saja hatinya sudah seperti dicabik-cabik.

Tapi apa yang di dengarnya tadi? Adri mencintainya, dan itu dikatakan berkali-kali sambil lari mengejarnya. Cinta macam apa yang diberikan sang suami sementara ada perempuan lain yang mengandung anaknya?

Nirmala merasa dadanya sesak. Ia kembali karena tangis Tama, ia kembali karena menyadari cintanya masih tersisa sehingga tak ingin kalau suaminya jatuh atau terluka.

Ponselnya berdering lagi. Ia tahu sejak tadi Adri menelponnya, tapi sengaja tidak diangkatnya.

“Ah, nanti kan ketemu, akan aku dengar dia mau ngomong apa,” kata Nirmala sambil mengacuhkan dering ponselnya.

***

Sementara itu bibik pembantu melihat sang nyonya majikan terus menerus uring-uringan. Ditangannya masih memegang ponsel, wajahnya murung, seperti sedang kesal. Tapi ia hanya menatapnya.

“Heran aku, tadinya bicara baik-baik, manis, kok tiba-tiba berubah galak. Lalu melarang aku menghubungi dia. Ada apa nih? Apa tadinya istrinya tidak ada lalu sikapnya sangat manis, lalu tiba-tiba istrinya datang, lalu dia berubah garang?” gumamnya pelan.

“Siapa Nyonya?” tanya bibik pembantu yang sebenarnya juga penasaran.

“Siapa lagi, Adri. Tadi tuh menerima telponku dengan manis, baik, menanyakan kehamilan, prihatin ketika aku bilang mual terus, ee … tiba-tiba saja berubah garang. Malah dia melarang aku menghubungi dia. Gimana sih?"

“Mungkin ada istrinya.”

“Nah, aku juga berpikir begitu. Aku sudah kembali menelponnya beberapa saat kemudian, tapi tidak diangkat.”

“Ya sudah Nyonya, memang tidak mudah berhubungan dengan seseorang yang sudah berkeluarga. Sebaiknya Nyonya memikirkan kebaikan untuk diri sendiri saja.”

“Tapi aku tidak bisa melupakan dia Bik.”

“Nyonya, wanita yang sedang mengandung itu tidak baik kalau pikirannya tidak tenang, sering kesal dan marah-marah. Hal itu nanti akan berpengaruh pada bayi yang Nyonya kandung.”

“Aku memang tidak suka pada bayiku ini. Dia menghambat semuanya. Aku jadi sakit, muntah terus, belum nanti kalau pada proses perceraian ketahuan kalau aku sedang mengandung. Pasti susah.”

“Jangan bilang tidak suka pada bayi yang dikandung, Nyonya, percaya atau tidak, bayi itu bisa merasakannya.”

“Masa iya, bayi yang belum berujud sempurna bisa mendengar apa yang aku katakan?”

“Mungkin tidak mendengar, tapi dia merasakannya.”

“Hmh, repot. Kalau begitu aku akan menghubungi bu Nirmala saja. Kata orang, bu Nirmala orangnya baik. Adri juga mengatakan begitu.”

“Nyonya mau bilang apa? Bukannya Nyonya pernah bilang bahwa ibu Nirmala itu  wakil dari pemilik perusahaan?”

“Iya, memang.”

“Sebaiknya jangan mencari gara-gara dengan orang yang punya kedudukan Nyonya, bagaimana kalau berpengaruh pada pekerjaan Nyonya, lalu dia memecat Nyonya?”

“Biarkan saja kalau dia mau melakukannya. Yang jelas aku tahu bahwa sebenarnya Adri menyukai aku. Dia tak akan membiarkan aku kelaparan.”

“Nyonya, sebaiknya Nyonya makan saja dulu obatnya, agar tidak mual lagi, setelah itu makan malam saya siapkan."

***

Adri yang sedang kalut dan sendirian di teras, merasa kesal karena Dwi kembali menelponnya, dan tidak hanya sekali. Ia bingung bagaimana caranya menghentikan Dwi, sementara hatinya sendiri sedang kacau balau.

Lalu Adri meraih ponselnya, dan mencari nomor kontak Anton.

Kalau tidak salah dulu ia pernah meminta nomor kontak itu pada Dwi,saat Dwi mau dioperasi kakinya. Memang dia tak jadi menghubungi, karena Dwi melarangnya, tapi nomor itu sudah dicatatnya.

Adri merasa lega ketika menemukannya. Kemudian ia berbicara kepada Anton, sebagai seorang pimpinan. Ia mengatakan kalau Dwi sedang hamil, dan pekerjaannya sudah dipindahkan ke kota lain.

Adri menuliskan alamat Dwi, ketika Anton menanyakannya., lalu ia merasa sedikit lega. Sekarang ia sedang berpikir, kemana Nirmala pergi. Tak mungkin dia pulang karena pekerjaannya belum selesai. Mertuanya yang mengatakan pada siang harinya.

***

Tangis Tama sudah berhenti, ketika mobil sang ibu sudah memasuki halaman rumah.

“Paaaa…pp..ppaaa …” kembali ia berceloteh.

Nirmala sedang menghentikan mobil dan bersiap turun, ketika ponselnya berdering. Hanya nomor, tanpa ada nama pengontaknya.

Ia turun diikuti mbak Rana yang menggendong Tama. Dilihatnya Adri berdiri di tangga teras, menyambut mereka, rambutnya awut-awutan.

Ponselnya terus menerus berdering. Ketika Nirmala merasa sebal dan mencoba mengangkatnya sambil berjalan mendekati rumah, sebuah suara nyaring terdengar.

“Ini ibu Nirmala?”

“Anda siapa?”

“Saya Dwiyanti, manager pemasaran yang belum lama dipindahkan.”

Mata Nirmala menyala.

***

Besok lagi ya.

Thursday, March 5, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 25

 BIARKAN AKU MEMILIH  25

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menunggu di tangga teras sambil menggendong Tama. Ketika dekat, Bima langsung mencium pipi Tama. Tapi ketika Bima mengulurkan tangan untuk menggendong, Tama menggelengkan kepala, lalu memeluk leher sang ibu dengan wajah cemberut.

“Hai Tama, ini om Bima, ayuk kenalan.”

Tapi Tama memeluk sang ibu lebih erat.

“Belum kenal soalnya Bim.”

“Sepertinya dia takut. Memangnya wajahku menakutkan ya?”

“Tidak, hanya karena belum kenal saja. Ayo masuk, kebetulan Adri ada di sini.”

Bima agak terkejut. Biarpun dia tidak bermaksud buruk, tapi mengingat bahwa Adri tidak menyukainya, keinginan masuk itu agak menyurutkan langkahnya.

“Ayo masuk,” kata Nirmala.

“Aku di sini saja,” kata Bima yang memilih duduk di teras.

“Di sini saja?”

“Iya, di sini saja.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

“Mana Adri?”

“Baru mandi. Dia juga belum lama datang.”

“Tama, ayo sini,” Bima kembali membujuk Pratama, tapi Pratama tak mau menoleh ke arahnya. Wajahnya muram.

“Kamu tiba-tiba pulang, ada berita apa?”

“Tunangan aku pulang besok, aku sudah harus di rumah, karena aku akan menjemputnya di bandara.”

“Bagus sekali, segera ajak dia menikah.”

Bima terkekeh.

“Semoga tidak ada alasan lagi untuk menolak.”

Sementara itu Adri yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar dan berpapasan dengan mbak Rana yang membawa nampan berisi tiga gelas minuman.

“Itu untuk aku?” tanya Adri.

“Untuk Tuan dan Nyonya, serta untuk tamu.”

“Ada tamu?”

“Iya, tuh di teras.”

Adri meraih salah satu gelas yang dibawa mbak Rana, lalu membawanya duduk dan meneguknya di sana.

Mbak Rana tersenyum, tampaknya sang tuan sangat kehausan sehingga ingin buru-buru minum. Ia melanjutkan langkahnya ke depan sambil membawa nampan. Mbak Rana sudah terbiasa, kalau ada tamu, tanpa disuruh dia pasti langsung membuatkan minum.

“Siapa tamunya?” tanya Adri ketika mbak Rana sudah pergi ke belakang.

“Saya belum pernah tahu, seorang laki-laki,” jawab mbak Rana kemudian berlalu.

“Adri menghabiskan minumannya, kemudian berdiri. Wajahnya langsung muram begitu melihat tamunya. Ia tak sedikitpun mengulaskan senyum meskipun Bima menyapanya ramah.

“Selamat sore Adri.”

“Selamat sore,” jawabnya singkat.

“Duduklah Adri, sudah lama kita tidak bertemu Bima,” kata Nirma.

“Aku sangat lelah, silakan dilanjutkan ngobrolnya,” katanya mempersilakan, walau wajahnya sama sekali tidak ramah. Rasa cemburu yang pernah dipendamnya ternyata belum hilang dari hatinya, biarpun dia sudah menikahi Nirmala.

“Pppaaa … ppaaap…paaa,” tiba-tiba Tama berteriak. Adri segera mengambil Tama dari pangkuan Nirmala, kemudian beranjak ke belakang, mengajak Tama duduk di ruang tamu.

Bima merasa tak enak, ia akan segera pamit, karenanya ia segera meraih gelas minumnya.

“Aku minum ya,” katanya karena Nirma tidak segera mempersilakannya.

Suasana menjadi kaku, karena sikap Adri yang sama sekali tidak bersahabat.

“Tampaknya aku akan segera pamit, aku pulang naik kereta, jam sembilan aku harus sudah di stasiun.”

“Baiklah, maaf tidak disuguhin apapun,”

“Ini sudah, minumannya sangat enak,” kata Bima sambil menghabiskan minumannya.

Tiba-tiba terdengar dering ponsel Adri dari luar. Tak lama kemudian Adri mengangkatnya, dan menyapanya dengan manis.

“Ya, Dwi?”

Nirmala menekan rasa kesalnya. Sungkan ada Bima. Bima sedang berdiri lalu mencari keberadaan Adri.

“Mana Adri?”

“Di dalam, nanti aku pamitin deh,” kata Nirmala.

Bima mengangguk, tapi ketika ia akan turun dari teras, ia melihat Adri sedang bertelpon. Bima merangkapkan tangannya sambil tersenyum, dan Adri membalasnya dengan lambaian dan dengan senyum yang dibuat-buat.

“Ya, biasanya memang begitu kalau wanita hamil.”

Tapi kemudian Adri masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan pelan tapi tandas.

“Jangan sekali-sekali kamu menelpon aku lagi," lalu ia menutup ponselnya.

Rupanya Adri mau mengangkat telpon dari Dwi, hanya karena untuk memanaskan hati Nirmala yang sedang berduaan dengan Bima, yang ia tahu bahwa Bima adalah teman dekat Nirmala sejak lama.

Nirmala masuk ke dalam kamar, wajahnya muram. Di dekatnya, ia masih saja membicarakan kehamilan.

“Apa aku ini patung yang tak punya hati dan rasa?” gumamnya pelan.

Tapi kemudian Adri yang masih menggendong Tama mendekatinya.

“Mau apa dia kemari?” kata Adri datar.

“Memangnya kenapa kalau dia datang kemari?”

“Kamu beritahu dia bahwa kamu ada di sini, supaya dia mendatangi kamu selagi aku tidak ada kan?”

“Apa maksudmu?” kata Nirmala dengan nada tinggi.

“Aku tahu sejak dulu dia menyukai kamu. Ia sedang mencari celah untuk menemui kamu tanpa sepengetahuan aku.”

“Kamu menuduh sembarangan. Bima tidak serendah itu. Dia laki-laki baik dan sangat terhormat.”

TIba-tiba Tama merasa bahwa ayah dan ibunya sedang tidak baik-baik saja. Ia menangis melengking dan meronta-ronta.

Adri memanggil mbak Rana, yang segera datang lalu mengambil Tama dari tangan ayahnya. Ketika pintu kamar ditutup kembali, Adri menatap Nirmala dengan marah.

“Dan kamu sejak dulu selalu memuji-muji dia di hadapanku. Membandingkan dia dengan aku?”

“Aku tidak membandingkan. Aku tidak memuji-muji dia, aku hanya membela dia yang kamu tuduh bermain kotor, padahal dia sebenarnya baik.”

“Ya, dia baik … baik … dan baik. Dan aku buruk, tak berharga di hadapan kamu?”

“Tidakkah?” Nirmala mulai menyerang.

“Apa maksudmu? Kamu mencurigai aku tentang apa? Aku tidak melakukan apa-apa yang menodai pernikahan kita.”

“Semut di seberang lautan tampak oleh kamu, sedangkan gajah dipelupuk mata kau abaikan?”

“Apa maksudmu?” nada suara Adri semakin meninggi.

“Aku tidak perlu menjelaskan. Bertanyalah kepada diri kamu sendiri.”

“Kamu harus menjelaskan. Kamu marah dan kesal karena aku sering membantu Dwi? Kan aku sudah bilang kalau dia teman main aku sejak kecil, lumrah kalau aku membantunya. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa kami hanya teman. Dan aku juga sudah mengatakan pada kamu, kalau kamu tidak suka maka aku akan menghentikannya, tidak akan lagi membantunya.”

“Bagus. Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya?” untuk mengucapkan itu mata Nirmala menyala seperti percikan api yang menyengat.

“Apa itu urusanku?”

“Baru saja kalian bertelpon dan membicarakan kehamilan dia, kamu katakan bukan urusan kamu?”

“Dia hanya mengeluhkan kandungannya dan dia tak punya siapa-siapa untuk berkeluh.”

“Aduhai … kasihan benar, tak punya siapa-siapa untuk berkeluh, kalau begitu jagalah dia, karena itu kewajiban kamu kan?”

“Nirmala, apa kamu bilang? Mengapa kewajiban aku? Tidak, baiklah, kalau tentang Dwi aku minta maaf, tapi Dwi bukan siapa-siapa aku, aku janji tidak akan membantunya lagi,” kata Adri lebih pelan, bahkan sangat pelan.

“Jadilah pria yang bertanggung jawab.”

“Aku bertanggung jawab pada istriku, dan karena itu pula aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain, apalagi yang sebenarnya menyukai kamu.”

“Kembali pada Bima lagi? Kamu tidak mendengar tadi yang aku katakan?”

“Nirmala!”

”Aku lelah. Sangat lelah,” kata Nirmala lemah, kemudian keluar dari kamar.

Adri terpaku di tempatnya. Ia datang untuk menumpahkan rindu dan kangennya, tapi kejadiannya malah seperti ini. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di kamar itu, dan menghembuskan napas panjang berkali-kali. Tubuh dan jiwanya terasa lemas, ia tidak tahu harus bagaimana. Kalau Nirmala kesal karena kedekatannya dengan Dwi, ia sudah berjanji akan menjauhinya. Tapi Nirmala malah bicara yang tidak-tidak, dan sangat tidak dimengertinya. Apa maksudnya aku harus bertanggung jawab?

Adri memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.

Tiba-tiba ia mendengar celoteh Tama, menuju ke arah depan. Adri bangkit, lalu membuka pintu kamar. Tapi ia terkejut ketika melihat Nirmala bersiap pergi sambil membawa kopor, dan mbak Rana sudah mendahuluinya masuk ke mobil bersama Tama.

“Nirmala, kamu mau ke mana?”

“Biarkan aku pergi bersama Tama,” katanya diselingi isak.

Adri merasa tubuhnya sangat lemas. Tersaruk ia mengejar dan berteriak.

“Nirma, jangan pergi, aku mencintai kamu,” suaranya bergetar.

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, March 4, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 24

 BIARKAN AKU MEMILIH  24

(Tien Kumalasari)

 

Bibik pembantu menatap sang nyonya dengan heran. Nyonya majikannya ini minta cerai karena tidak mau dimadu, tapi ia bersedia menjadi istri ke dua? Bukankah ini aneh? Dan apa yang dirasakannya itu kemudian diutarakannya kepada sang nyonya majikan.

“Bibik, ini masalah perasaan. Aku sudah tidak lagi mencintai mas Anton, sehingga aku ingin bercerai. Jadi alasannya bukan karena dia ingin menikah lagi saja.”

“Berarti alasan Nyonya karena tuan Anton mau menikah lagi itu tidak sepenuhnya benar?”

“Ada alasan itu, tapi sekarang aku jatuh cinta pada teman kecilku, aku mau menjadi istri keduanya.”

“Nyonya telah membuat masalah,” gumam bibik pembantu.

“Kamu diam saja Bik, biar aku berusaha menggapai cintaku sendiri.”

“Saya ikut sedih kalau Nyonya kecewa.”

“Mengapa kamu mengira aku akan kecewa?”

“Nyonya, saya melihat sikap tuan Adri pada malam terakhir ketika mengantarkan Nyonya pindah kemari. Dia kelihatan tidak suka. Kalau memang dia suka, saya pasti mendukung Nyonya. Kalau memang Nyonya dan dia saling suka, ya terserah saja, asal bisa mengatasi masalah. Soalnya tuan Adri punya istri, jadi masalah pasti ada. Tapi kalau sama-sama nekat, mau bagaimana lagi? Hanya saja, saya kira Nyonya akan sia-sia mengejarnya.”

“Aku belum mencobanya. Kita lihat saja nanti.”

Bibik undur ke belakang, setelah gagal membujuk majikannya untuk pergi ke dokter. Sebetulnya suasana ini sangat tidak menyenangkan bagi bibik. Ia hanya pembantu. Biasanya menurut majikan, tidak berhak memberikan saran. Kalau dia nekat, dia bakal dipecat dan itu berarti kehilangan penghasilan. Karenanya dia kemudian diam. Tapi ketika kemudian ia mendengar lagi sang nyonya muntah-muntah, terpaksa dia tergopoh-gopoh mendekatinya.

“Nyonya, kan saya sudah bilang, ke dokter saja, biar diberi anti muntahnya, daripada Nyonya menelpon ke mana-mana,” kata bibik sambil memijit-mijit tengkuk sang nyonya majikan.

 “Tidak keluar apa-apanya, malah perutnya sakit Nyonya. Ke dokter saja, mumpung masih sore.”

Akhirnya Dwi menurut kata bibik, berangkat ke dokter saat itu juga. Urung menelpon Adri, karena perutnya terasa sakit dan tidak nyaman.

***

Malam itu Adri gelisah. Ia menelpon sang istri, tapi lagi-lagi tidak tersambung. Kali ini memang ponselnya mati. Ia belum makan malam, dan memang tak ingin makan. Rasanya hanya ingin ketemu sang istri saja, atau berbicara dengannya. Karena ponselnya mati, harapan berbincang malam itu tak kesampaian.

“Ya ampun, selama berkeluarga aku tak pernah merasa segelisah ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Nirma, katakan ada apa, aku tak mengerti. Jelas kamu marah, tapi aku tidak tahu kenapa. Tak ada yang aku sembunyikan dari kamu.”

Adri hampir tidak tidur semalaman. Ketika bangun wajahnya tampak pucat dan lesu. Bibik menyiapkan minuman hangat dan menawarkan sarapan.

“Tuan, Tuan kelihatan sangat pucat, semalam Tuan langsung tidur, tidak makan juga.”

“Iya Bik, agak malas makan.”

“Nanti Tuan sakit. Kemarin Nyonya berpesan agar melayani Tuan seperti biasanya.”

“Nyonya berpesan begitu?”

“Iya, Tuan. Nyonya selalu berpesan begitu setiap akan pergi sampai menginap.”

“Berarti Nirma masih peduli sama aku,” kata batin Adri. Tapi hatinya tetap saja gelisah.

“Tuan kalau mau sarapan sudah saya siapkan. Kalau tidak, nanti Tuan bisa sakit. Wajah Tuan kelihatan pucat.”

“Iya, aku nanti sarapan Bik,” katanya sambil meneguk coklat susunya yang masih setengah panas.

Bibik ke belakang, melihat lagi ke meja makan, apakah sajiannya sudah sempurna ataukah belum. Ia khawatir, sang tuan tidak suka makan karena penyajiannya yang kurang bagus, atau menu makanan tidak sesuai yang diinginkan sang tuan. Tapi sebenarnya perasaan bibik ini berlebihan. Ia memasak seperti biasa, menghidangkan seperti biasa, tak ada yang berbeda saat sang nyonya majikan ada di rumah.

Ia senang melihat tuan Adri makan dengan lahap. Tapi wajah sembabnya masih sangat tampak.

“Apakah Tuan sakit?” tanya bibik yang sudah lama mengabdi di keluarga Bondan, sehingga keluarga Nirmala juga sudah seperti keluarganya. Dia tidak merasa sungkan menanyakan banyak hal yang dilihatnya janggal, kecuali hal yang sangat pribadi.

“Agak lelah Bik, tidak apa-apa.”

Sambil makan itu Adri mencoba menelpon sang istri, tapi ponselnya tetap masih mati.

Adri berangkat ke kantor, lalu berusaha mengesampingkan keinginannya untuk berkomunikasi. Ia berjanji bahwa nanti sepulang kantor akan langsung menemui sang istri, bukan hanya menelpon, karena beberapa kali menelpon tidak bisa terhubung.

***

Siang hari itu Adri tidak menelpon lagi istrinya. Entah dengan alasan apa, nyatanya setiap menelpon tidak pernah tersambung. Akhirnya Adri memutuskan untuk datang saja langsung menemuinya, sehabis kantor nanti.

Ia bisa pulang lebih awal karena tidak ada masalah hari itu.

Tapi mendadak ponselnya berdering. Adri merasa kesal, ia sudah tak mau berhubungan lagi dengan Dwi, karena alasan sang istri yang tampaknya tidak suka. Betapapun keras kepalanya Adri, tapi ia tetap mencintai istrinya. Dering ponsel itu memekakkan telinganya. Ia tetap tak mengangkatnya.

Tapi tak lama kemudian ada pesan di ponsel itu yang dikirimkan Dwi. Ia hanya ingin membacanya, tapi tak akan membalasnya. Hanya ingin tahu saja apa yang dikatakannya.

“Adri, berkali-kali menelpon tidak bisa tersambung. Kamu sangat tega ya Adri. Lihatlah aku sekarang terbaring di rumah sakit. Badanku lemah, muntah tak henti-hentinya. Keinginanku hanya satu, kamu bisa datang menemuiku, agar aku mendapat kekuatan baru," itu bunyi pesannya.

Adri agak terganggu dengan kalimat sedang terbaring di rumah sakit. Sepantasnyalah kalau ada bawahan sakit maka pimpinan juga harus memperhatikan. Tapi tidak. Adri sangat kuat dengan pendiriannya. Ia menyuruh staf yang ada di kantor cabang agar memperhatikan keadaan Dwi.

Dan Dwi terkejut ketika beberapa kawan sekantornya menjenguknya di rumah sakit.

“Oh, ini karena hamil toh?” kata seorang teman sekantornya yang sedang membezoek.

Dwi heran karena rekan sekantornya membezoek ganti berganti.

“Pak Adri meminta agar kami menengok ibu di rumah sakit, karena pak Adri akan  mengunjungi istrinya di kantor cabang yang lain. Rupanya pak Adri sangat perhatian pada Ibu,” kata salah seorang rekannya.

“Kami memang dekat,” kata Dwi sedikit membanggakan diri. Tapi ia kesal karena Adri hanya menyuruh orang-orang kantor sedangkan nanti dia akan pergi menemui istrinya. Dwi tahu, kalau Nirmala ditugaskan ke kantor cabang yang lain.

“Ini bukan sakit karena penyakit,” kata salah seorang rekannya yang lain.

“Sakit hamil itu kan sakit yang menyenangkan,” celetuk yang lain.

“Tapi seperti aku dulu, saat hamil terbaring di rumah sakit karena muntah tak henti-hentinya. Lama waktu itu, sampai tiga bulan lebih tak bisa ngapa-ngapain.”

Dwi tak menyahut. Pikirannya hanya satu. Adri sedang bersama istrinya. Ia akan menelponnya. Biar saja istrinya tahu. Kata batinnya. Tapi harus menunggu malam. Adri pasti akan ke sana sore, dan malam hari ketika dia sedang berduaan dengan sang istri, dia akan mengejutkannya.

***

Di tengah bekerja itu, Nirma menerima pesan singkat dari Bima. Bima akan pulang ke Jawa, dan pasti mampir untuk menemuinya. Bima bilang ada yang ingin dikatakannya. Nirma tersenyum. Bagaimanapun dengan adanya Bima ia menjadi sedikit terhibur.

Ketika membaca pesan Bima itu, Nirmala segera tahu bahwa Adri berkali-kali menelponnya. Yang terakhir adalah ketika dia mengecas ponselnya, dan setelah itu ia belum membuka ponselnya lagi.

Ada apa Adri menelponnya? Nirmala hanya sedikit berpikir tentang Adri, kemudian dikibaskannya.

“Rupanya Adri masih berupaya menunjukkan bahwa masih memperhatikan aku. Omong kosong kan? Rindu … kangen … menelpon berkali-kali … apa lagi? Tapi Nirmala bergeming. Bayangan seorang wanita muda yang perutnya buncit, melintas, membuatnya terganggu, membuatnya berpikir bahwa apa yang dikatakan Adri hanyalah palsu.

Kemudian ia membalas pesan singkat itu.

“Aku tunggu, Bima. Jangan siang-siang, aku masih di kantor.”

Lalu Bima menjawabnya.

“Sorean lah, aku langsung ke  situ. Aku juga ingin bertemu anakmu. Apakah dia ganteng seperti ayahnya, atau walau laki-laki tapi mirip ibunya?”

Nirma tersenyum, lalu dibalasnya.

“Mirip ibunya dong.”

Lalu Nirmala tak meneruskan lagi karena tenggelam dalam pekerjaannya.

***

Hari itu Nirmala pulang agak siang, karena Bima akan bertamu. Setelah mandi dan berganti pakaian rumah, ia mengajak Tama bermain di teras.

Tama senang bermain dengan sang ibu, tapi Tama anak yang pintar. Ketika ia mengambil sebuah mobil, ia rupanya ingat bahwa mobil-mobilan itu ayahnyalah yang membelikannya. Sambil mengacungkan mobil-mobilan itu ke depan, ia berceloteh.

“Ppaaa …pp…paa …”

Nirmala mengelus kepala Tama. Anaknya itu memang sangat dekat dengan ayahnya. Tapi tiba-tiba, seperti sebuah keajaiban, ucapan Tama itu benar-benar membuat Nirma terkejut, karena ia melihat mobil sang suami memasuki halaman.

Tama yang lebih dulu melihatnya berjingkrak-jingkrak senang.

Adri bergegas mendekat dan merengkuh anak laki-lakinya, mendekapnya erat di dadanya.

“Tama, bapak kangen banget sama kamu.”

Nirmala menatapnya datar. Tapi ia benar-benar tak mengira sang suami akan datang menemuinya.

Sambil menggendong Tama, Adri mendekati Nirma dan memeluk dengan sebelah tangannya. Nirma ingin mendorongnya, tapi tangan sang suami sangat kuat. Akhirnya dia diam.

“Mandi sana, bau asem,” kata Nirma yang tidak tahu harus berkata apa.

Adri terkekeh. Ia kembali ke mobil untuk mengambil koper kecilnya, karena ia memang berencana untuk menginap.

“Baiklah, aku mau mandi dulu.”

Mbak Rana yang melihat kedatangan Adri segera ke belakang untuk membuatkan minuman. Tama masih bersama ibunya, yang sedikit bingung dengan kedatangan sang suami.

Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan pagar, lalu seseorang keluar, dan bergegas berjalan ke arahnya.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, March 3, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 23

 BIARKAN AKU MEMILIH  23

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala membuka ponselnya dengan wajah berseri. Lama sekali dia tidak mendengar kabar dari Bima. Setahun lebih, hampir dua tahun malahan.

“Assalamu’alaikum,” sapa Nirmala ketika menelponnya.

“Wa’alaikumussalam. Senang akhirnya kamu menghubungi aku.”

“Apa kabarmu, Bima?”

“Sangat baik, aku sedang di luar Jawa. Sudah setahun lebih.”

“Aku kira kamu sudah melupakan aku.”

“Mana mungkin aku melupakan kamu? Bagaimana kabar Adri? Aku tahu kamu tidak di rumah. Makanya aku berani menelpon malam-malam. Kalau di rumah aku takut, nanti suami kamu marah.”

“Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang tidak di rumah?”

“Tadi sore bapak menelpon aku. Tumben saja, kangen katanya. Lalu bapak bilang kalau kamu sedang bertugas diluar kota.”

“Iya, baru tadi pagi aku di sini.”

“Bagaimana dengan anakmu? Kabarnya kamu sudah punya momongan.”

“Ada di sini, bersama aku dan perawat. Soalnya dia masih minum ASI.”

“Oh, berapa umurnya?”

“Baru setahun, sedang lucu-lucunya.”

“Suatu hari aku ingin mengunjungi kamu ke rumah, kira-kira suami kamu marah nggak ya, dia kan nggak suka sama aku.”

“Nggak lah. Datang aja. Kalau kita tidak ada apa-apa kan tidak perlu takut. Oh ya, kamu sudah menikah?”

”Belum.”

“Lho, aku kira sudah …”

“Kalau aku menikah pasti mengabari kamu dong.”

“Mungkin saja, karena kamu jauh. Kenapa sih berlama-lama. Cepat menikah dan punya anak. Punya anak itu senang lho, dia bisa menghibur saat kita sedang suntuk, bisa menyegarkan ketika kita sedang lelah.”

“Maunya sih, tapi dia belum mau, masih harus menyelesaikan studinya di luar negeri.”

“Wah … sampai kapan?”

“Nggak tahu juga aku. Doakan saja semoga lancar semuanya. Padahal orang tuaku sudah nggak sabar menunggu.”

“Menikahlah dulu, masalah studi bisa dilakukan sambil jalan. Keburu jadi bujang lapuk kamu Bim.”

“Entahlah, aku pasrah saja,” kata Bima lemas.

“Kelihatannya kamu sebenarnya juga sudah ingin kan? Ajak dia menikah dulu. Kelamaan juga nggak bagus. Keburu digaet cowok lain, bagaimana?”

Terdengar Bima tertawa kecil.

“Ya sudah, maaf ini … aku mengganggu saat istirahat kamu. Pastinya kamu sangat lelah. Kata bapak urusannya agak berat sehingga kamu dikirim kemari.”

“Ya, kantor cabang ini memang tanggung jawabku, aku yang membuka dan merintisnya hingga menjadi perusahaan yang maju.”

“Kamu benar-benar luar biasa. Tapi jangan terlalu sibuk, beri juga waktu untuk suami, agar dia juga tidak kesepian, lalu timbul pikiran yang macam-macam.”

“Pikiran yang macam-macam itu seperti apa?”

“Misalnya … misalnya lho ini, aku hanya cerita saja, dan tidak semuanya begitu. Misalnya … karena tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan dari istrinya, dengan alasan sang istri lelah, atau terlalu sibuk, bisa saja dia lari ke perempuan lain, yang punya banyak waktu.”

Nirmala terpana.

“Eh, kenapa kamu diam? Jangan takut Nirma, aku yakin suami kamu sangat mencintai kamu. Ahaa … apa aku menakuti kamu? Tidak kan? Kata bapak, hidup kamu sangat bahagia, dan bapak sangat bersyukur.”

“Tidak Bima, aku tidak apa-apa, hanya kamu agak menakuti aku, tapi tidak, hanya agak … tapi tidak benar-benar takut kok, jangan khawatir.”

“Ya sudah, istirahatlah, akan berapa lama kamu di sini?”

“Dua tiga hari, atau mungkin seminggu, tergantung situasi perusahaan. Tadi aku sudah hampir menyelesaikannya. Menunggu beres yang benar-benar beres. Tapi kalau aku masih kerasan di sini ya bisa lebih lama, entahlah.”

“Ya sudah, kalau ada waktu aku akan menelpon lagi.”

Nirmala meletakkan ponselnya dengan kata-kata Bima masih melekat di benaknya.

“Dengan istri terlalu sibuk, lelah, lalu suami memiliki pemikiran yang macam-macam? Bahkan melakukannya? Perempuan lain? Nirmala menjatuhkan tubuhnya di sofa. Apakah karena salahnya maka suaminya menghamili perempuan lain, dan itu dilakukan dengan tanpa merasa dosa? Soalnya dia setiap bicara tentang perempuan itu, kelihatannya wajar-wajar saja.”

Nirmala bangkit ketika dari kamar Pratama ia mendengar rengekannya. Nirmala memasuki kamar itu, dan mendengar Tama mengigau memanggil-manggil papanya.

“Paapp…paaa …”

Mbak Rana bangkit kemudian menepuk nepuk pantatnya pelan, sampai Tama kembali tertidur.

Nirmala menghela napas. Pratama kangen sama ayahnya? Tampaknya dia bermimpi tentang sang ayah.

***

Hari itu Adri bekerja dengan gelisah. Pikirannya hanya tertuju kepada istrinya. Ia merasa tidak melakukan apa-apa, tapi istrinya marah tanpa dia tahu sebenarnya ada apa. Adri yang tidak peka, merasa bahwa istrinya baik-baik saja. Tentang Dwi? Dwi hanya teman masa kecil, di mana dulu dia sering bermain bersama, hujan-hujanan bersama, berkejar-kejaran dan masih banyak lagi. Kalau sekarang bertemu, lalu dia butuh pertolongan, apakah ia harus menolak? Kenangan masa kecil itu masih melekat di hatinya. Tapi itu bukan cinta. Sekarang dia merasa Dwi bersikap agak lain. Bukan seperti teman, tapi lebih dari itu. Sikap-sikapnya semakin menyentuh hal-hal terlarang yang seharusnya tidak bisa dilakukannya. Dan karena itulah dia berjanji sejak malam mengantarkan kepindahannya, dia akan menghentikan semuanya.

“Benarkah kamu marah karena Dwi? Bukankah semuanya tentang Dwi sudah aku katakan? Bukankah aku berterus terang setiap mengantarkannya, membantunya, bahkan menungguinya saat dia sakit,” gumamnya sendirian.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Memang sudah waktunya istirahat, lalu Adri melihat siapa yang menelponnya. Dwi? Tidak. Adri mengacuhkannya. Ponselnya dibiarkan tergeletak begitu saja, dan bergetar-getar karena panggilan yang tidak dijawab.

Adri tidak mau terlibat lebih jauh, karena ia merasa Dwi punya maksud lain. Apa Dwi lupa bahwa dia punya istri? Lagi pula dia juga sedang hamil.

Seorang sekretarisnya mengetuk pintu dan kemudian masuk.

“Maaf Pak, ada telpon dari bu Dwiyanti, katanya ingin menghubungi Bapak, tapi ponsel Bapak tidak diangkat.”

“Abaikan saja. Bilang aku sedang rapat, atau apa. “

“Katanya sangat penting.”

“Abaikan saja. Kamu tidak mendengar perintahku?” kata Adri dengan nada tinggi sehingga sekretaris itu undur kebelakang setelah mengangguk berkali-kali.

Ia menjawab telpon Dwi seperti diperintahkan atasannya.

Adri sangat kesal. Kemudian dia ingin sekali menelpon sang istri.

Dari seberang, terdengar nada sibuk. Katanya orang yang dia hubungi sedang bicara dengan penelpon lain.

Adri menghela napas, kemudian ia menuliskan pesan  di ponselnya.

“Nirma, apa kabarmu? Semoga kamu dan Tama baik-baik saja. Tadi aku menelpon kamu, tapi kamu sepertinya sedang sibuk. Ini saat istirahat, aku pikir kamu juga sedang istirahat. Kapan tugas kamu selesai? Pastinya langsung pulang bukan? Jangan terlalu lama. Aku kangen sekali.”

Sudah terkirim, masih centang satu. Adri ingin pesan itu segera mendapat jawaban, tapi tidak. Sampai saat pulang kantor pesan itu belum dibacanya.

Adri tidak bernafsu makan. Ia hanya menyuruh OB untuk membelikan gado-gado, yang barangkali membuatnya segar, dan segelas jus alpukat dengan toping coklat.

Lalu terdengar notifikasi pesan. Adri buru-buru meraih ponselnya. Ternyata dari Dwi. Adri urung membacanya. Ia kembali meletakkan ponselnya agak menjauh, lalu terdengar dering telpon berkali-kali. Dari Dwi lagi? Adri mematikan ponselnya, lalu meraih makanan yang dipesannya setelah disajikan dengan manis oleh OB. Ada piring, ada sendok, ada pula serbet makan. Adri memakannya pelan.

***

Dwi pulang dari kantor dengan wajah pucat. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah sampai lemas. Seluruh makanan yang disantapnya tak ada yang tersisa dari mulutnya.

Bibik merasa panik. Ia membantu sang nyonya majikan mengganti pakaiannya, dan menggosok seluruh tubuhnya dengan minyak yang berbau segar dan menghangatkan.

“Buatkan aku minuman panas.”

“Susu ya?”

“Nggak mau, coklat saja.”

“Kalau susu kan bisa membuat Nyonya bertenaga.”

“Buatkan saja apa yang aku inginkan.”

“Baiklah, Nyonya.”

“Belikan aku rujak,” katanya setelah bibik datang dengan segelas coklat panas di tangannya.

“Nyonya, kita orang baru di sini, bagaimana dan ke mana harus membeli rujak? Lagipula ini sudah malam.”

“Kamu kan bisa bertanya-tanya?”

“Apa tidak sebaiknya nyonya makan dulu, lalu minum obatnya?”

“Tidak mau, itu obat pusing, aku tidak pusing, hanya mual.”

“Jadi Nyonya tidak punya obat mual?”

“Aku baru merasa mual sekarang ini. Keterlaluan sekali, aku tidak apa-apa tadi, kenapa tiba-tiba begini?

“Barangkali Nyonya terlalu letih.”

Dwi bangkit dan menghabiskan segelas coklat yang diminumnya.

Tapi tak lama kemudian Dwi lari lagi ke kamar mandi. Bibik mengejarnya, dan membantunya dengan memijat-mijat tengkuknya.

Setelah kembali berbaring, bibik mengajaknya ke dokter saja.

“Tidak, biar begini saja, aku mau rujak.”

“Nanti perut Nyoya bertambah sakit. Lebih baik ke dokter saja.”

“Tolong panggilkan Adri, Bik. Pakai ponselku itu.”

“Tapi Nyonya, bagaimana kalau istrinya tahu. Ini kan saatnya mereka sudah berduaan di rumah.”

“Tidak, istrinya tidak akan marah, mana ponselnya, biar aku saja.”

“ Nyonya, ayo bibik antar ke doker dulu.”

“Aku telpon Adri dulu, kalau tidak diangkat juga, aku mau telpon istrinya.”

***

Besok lagi ya.

BIARKAN AKU MEMILIH 27

  BIARKAN AKU MEMILIH   27 (Tien Kumalasari)   Nirmala berhenti, sementara Tama sudah berteriak-teriak minta gendong sang ayah. Ponsel itu m...