NAMAKU TETAP SENJA 27
(Tien Kumalasari)
Arka menatap Senja, memberi isyarat agar segera pulang.
“Tante, kami permisi dulu, Senja pasti ditunggu orang tuanya.”
“Ya sudah, kasihan Senja, kelihatannya capek sekali.”
Arka dan Senja berpamit pada Bu Daryono, tapi tidak kepada Rosa, yang membuat kemudian Rosa jadi uring-uringan.
“Lihat Ma, Arka itu menolak Rosa, tapi dia sangat dekat dengan penjual beras yang bau dan kampungan itu.”
“Rosa, kan ibu bilang kamu jangan bicara kasar. Kalau kamu bicara kasar, malah kamu yang kelihatan kampungan,” tegur bu Daryono.
"Mama tidak membela Rosa yang tersakiti, malah membela mereka, malah menjelekkan anak sendiri,” gerutu Rosa.
“Mama hanya menunjukkan bahwa kamu yang salah menilai orang. Mama tidak pernah mengajarkan itu semua. Merendahkan orang lain itu sama saja dengan merendahkan diri kamu sendiri.”
“Bukankah kenyataannya memang begitu?gadis itu dari kalangan rendahan, apa tidak sakit hati Rosa karena Arka lebih memperhatikan dia? Mama tidak kasihan pada Rosa yang tersakiti ini, Mama malah menambah sakit di hati Rosa.”
“Kamu merasa tersakiti karena salah kamu sendiri.”
“Mengapa salah Rosa? Arka sudah dijodohkan dengan Rosa, tapi bagaimana sikap dia Ma?”
“Papamu tidak menjodohkan lho, itu kata papa kamu.”
“Om Wiguna sudah senang sekali punya menantu Rosa. Dia mengakui bahwa kami sudah dijodohkan.”
“Om Wiguna yang ingin, tapi papamu tidak, selama kalian tidak saling menyukai. Kamu suka, tapi tampaknya Arka tidak. Untuk apa dilanjutkan? Kamu itu cantik dan pintar, tidak susah mendapatkan jodoh. Mengapa mengejar sesuatu yang yakin tidak bisa terkejar? Kamu malah kelihatan bodoh.”
“Mama, apakah Mama membenci Rosa?”
“Sama sekali tidak. Mama hanya tidak suka pada pembawaan kamu yang kelihatan tidak pantas. Kamu sebagai gadis harus bisa membuat bahwa kamu berharga.”
Rosa merasa kesal karena tidak didukung oleh mamanya, dan justru menyalahkannya. Karenanya dia kemudian meninggalkan mamanya tanpa berkata apapun juga.
Bu Daryono menghela napas panjang.
“Mengapa jadi begini? Apa karena kami terlalu memanjakannya? Kami menyayangi dia karena tidak dikaruniai seorang anakpun, tapi kelakuannya sangat mengecewakan. Karena pergaulannya di luar negri? Karena merasa jadi anak orang kaya yang segala keinginannya bisa terpenuhi?"
“Ya Allah, tunjukkan jalan yang benar bagi dia, agar tak sia-sia kami membesarkannya,” keluh bu Daryono dalam hati.
***
"Saya heran. Bagaimana Mas selalu muncul disaat saya sedang mengalami kesulitan?” kata Senja dalam perjalanan pulang.
“Kamu salah, aku muncul ketika kamu duduk manis disamping sopir colt itu, dan hanya ingin tahu sebenarnya kamu kemana. Jadi aku tidak muncul tiba-tiba.”
“Nyatanya Mas muncul saat saya dipaksa masuk untuk menunggu sampai beras aku dibayar. Padahal aku tidak tahu itu rumah siapa.”
“Kata Rosa tadi, itu rumah temannya yang memesan beras.”
“Rumahnya sepi, ada rasa ngeri ketika melihatnya.”
“Ya sudah, lain kali kalau ada yang pesan, seperti kataku tadi, jangan mau uangnya dibayar belakangan.”
“Baiklah. Tapi terkadang sungkan.”
“Kok masih ada tapinya. Baiklah … ya baiklah … dijalani dengan baik, tanpa tapi. Mengerti?”
“Mengerti, Pak Guru.”
“Kamu sudah makan?”
“Sudah, jangan mengajak saya makan lagi, sudah lama saya perginya, nanti simbok khawatir.”
“Sebenarnya tadi aku mau ketemu kamu dan Rimba, dan juga Simbok.”
“Ada apa?”
“Besok kan hari Minggu, akan aku ajak kalian jalan-jalan.”
“Aduh, jalan-jalan ke mana? Saya harus belajar, ujian sudah dekat.”
“Hanya muter-muter, sama Rimba, sama Simbok juga. Biar ganti pandangan, tidak menakar beras saja, tapi juga menakar mata dan hati.”
“Simbok mau tidak ya?”
“Nanti aku yang bilang. Besok aku datang sekitar jam delapan, kalian sudah siap ya?”
“Naik mobil?”
“Ya iya, naik mobil. Apa mau naik pesawat?” goda Arka.
“Tadi Mas bilang jalan-jalan.”
“Jalan-jalan bukan berarti jalan dari rumah, nanti lah … kamu pasti senang. Jalan-jalan melihat pemandangan indah, keramaian kota … “
“Kelihatannya menarik.”
Arka senang melihat wajah Senja berseri-seri. Ia yakin Senja belum pernah keluar dari rumah selain sekolah dan mengirim beras. Trenyuh juga hati Arka melihat rona gembira sebelum benar-benar berangkat.
***
Pak Wiguna sedang menerima telpon dari Rosa, wajahnya merah padam menahan amarah. Rosa bercerita tentang Arka yang menjemput dan mengantarkan beras kemana-mana.
“Apa benar Arka melakukannya?”
“Om bagaimana, mereka datang dan menagih uang beras yang saya pesan. Mengapa Arka harus mengantarkannya? Saya hampir tidak percaya kalau Arka tertarik pada gadis itu. Sama sekali tidak sepadan. Tapi Arka memperlakukannya dengan sangat baik. Hati siapa yang tidak panas melihat semua itu Om?” suara itu diselingi isak.
“Kamu jangan cemburu dulu. Tidak mungkin Arka suka pada penjual beras itu. Sejak awal dia mengatakan hanya kasihan dan ingin membantu. Jadi mungkin dia memang hanya membantu. Lagi pula penjual beras itu masih bocah kan?”
“Benar, kelihatannya masih sekolah SMA. Tapi mengapa Arka menyukainya? Om harus menegurnya. Saya tidak bisa apa-apa karena sikap Arka kepada saya selalu dingin, dan cenderung sangat membenci saya.”
“Bocah itu memang keterlaluan. Sudah berkali-kali om memperingatkannya, tapi tidak digubris. Hanya saja masalah dia suka kepada gadis penjual beras itu, masih diragukan. Yang benar pasti hanya ingin menolong. Arka suka melakukan itu, di kantor juga banyak yang memuji dia karena dia murah hati dan suka menolong.”
“Tapi sikapnya kebangetan. Saya sakit Om.”
“Tenanglah Rosa, kamu harus bersabar. Pelan tapi pasti, Arka akan bisa ditundukkan.”
Pak Wiguna mengucapkannya untuk menenangkan hati Rosa, padahal ia tahu bahwa Arka sangat keras hati. Apalagi dia tahu bahwa pak Daryono juga tidak mendukung seandainya Arka memang tidak suka. Hanya saja masalah hubungannya dengan penjual beras itu sangat membuatnya khawatir. Apa benar Arka menyukainya?
“Om, kita harus menyingkirkan penjual beras itu.”
“Apa maksudmu menyingkirkan?”
“Saya kira penghalang bagi hubungan Rosa dan Arka hanyalah dia. Kalau Arka sudah jauh dari dia, pasti dia akan memperhatikan Rosa.”
“Menyingkirkan itu bagaimana? Menjauhkannya dari Arka?”
“Iya Om, entah bagaimana caranya, saya baru memikirkannya. Om harus mendukung saya.”
Pak Wiguna menutup ponselnya ketika melihat mobil Arka memasuki halaman.
Ketika Arka memberi salam, pak Wiguna menghentikannya.
“Kamu dari mana? Pulang dari kantor sejak tadi kan?”
“Mengantarkan Senja menagih uang beras.”
“Senja itu gadis penjual beras?”
“Iya.”
“Apa urusannya kamu mengantarkan dia? Adik bukan, saudara bukan.”
“Teman, bisa jadi saudara kan Pak?”
“Bapak mau tanya, apa kamu suka kepada gadis itu?”
“Dia gadis lugu dan pantas dibantu karena hidupnya kekurangan.”
“Itu tugas kamu untuk membantu dia?”
“Hanya membantu, siapapun bisa dan boleh, apa saya salah?”
“Kamu membantu orang itu tidak salah. Yang salah adalah karena gadis itu maka kamu mengesampingkan Rosa, yang jelas-jelas anak orang hebat, terhormat, kaya raya. Apa lagi kurangnya? Dia juga cantik dan pintar.”
“Bukan karena Senja maka saya tidak suka Rosa. Tanpa adanya Senja, Arka sudah tidak suka.”
“Mengapa tidak suka?”
“Saya tidak tahu. Suka dan tidak itu adalah rasa. Perasaan saya mengatakan bahwa Rosa bukan istri yang pas untuk Arka.”
“Omong kosong kamu. Semua orang selalu ingin yang baik, yang hebat, yang tidak tercela. Tapi kamu ….”
“Saya mohon maaf. Kalau masalah jodoh, saya tidak sependapat dengan Bapak.”
“Dasar bodoh!”
“Maaf Pak,” kata Arka kemudian berlalu.
***
Pagi harinya, Arka tidak bersepeda pagi seperti minggu-minggu sebelumnya. Ia bahkan ikut sarapan kedua orang tuanya. Hal itu membuat pak Wiguna senang. Ia menelpon Rosa diam-diam agar segera datang karena Arka ada di rumah.
Tak sampai sejam Rosa sudah sampai di rumah keluarga Wiguna. Pak Wiguna menyambutnya dengan riang. Tapi bersamaan dengan itu, Arka keluar dengan pakaian santai, bersiap untuk pergi.
***
Besok lagi ya.