NAMAKU TETAP SENJA 33
(Tien Kumalasari)
Dokter menganjurkan agar Senja dirawat sehari dua hari, tapi Senja menolak.
“Tidak Dokter, saya mau ujian, saya merasa kuat. Kalau saya bisa pulang, maka saya bisa istirahat sambil belajar."
Arka juga membujuknya, tapi Senja bersikukuh untuk tetap pulang malam ini juga.
“Senja, nanti aku bawakan buku-buku yang akan kamu pelajari kemari.”
“Tidak, Mas. Repot amat. Sekarang aku sudah merasa sehat. Aku siap untuk pulang saja.”
Karena itulah setelah infus habis maka Senja langsung disiapkan untuk pulang.
“Apakah Non Rosa membayar semua biaya?”
“Tidak, aku semua, tidak masalah, mengapa kamu menanyakannya?”
“Aku akan minta Simbok untuk menggantinya, kalau tidak terlalu banyak mungkin Simbok punya uangnya.”
“Tidak banyak. Dan tidak usah diganti. Kamu tenang saja," kata Arka yang kemudian berbicara dengan dokter, kemudian menemui mbok Mangun di luar.
Mbok Mangun tampak gembira, Senja pulang malam itu juga. Kecuali masalah biaya yang walau akan ditanggung Arka, tapi Simbok ingin merawatnya sendiri di rumah.
***
Pak Wiguna dan istrinya sangat gelisah, Arka tidak pulang sampai larut malam. Bu Wiguna tidak pernah segelisah itu, karena tak biasanya Arka pulang sampai larut, dan ponselnya tidak aktif pula.
Tapi tiba-tiba Rosa menelpon. Pak Wiguna bergegas menerimanya.
“Om, apakah Arka sudah pulang?”
“Kami sedang menunggu. Malam sudah larut, menjelang pagi, tapi dia belum juga pulang. Aku menunggunya sejak tadi sore.”
“Arka sedang mengurus anak tukang beras itu.”
“Mengurus untuk apa? Ada apa?”
“Dia tadi diculik orang,”
“Siapa yang diculik?”
“Anak tukang beras itu Om.”
“Mengapa Arka mengurus orang yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya? Apa urusannya?”
“Om kan tahu, Arka sangat memperhatikan keluarga miskin itu. Jadi kalau ada apa-apa, dia yang mengurusnya.”
“Keterlaluan. Jadi dia memilih tidak pulang demi mengurus orang diculik yang bukan apa-apanya?”
“Yang diculik itu sudah ketemu. Saya yang menemukannya.”
“Kamu? Bagaimana bisa?”
“Hanya karena kebetulan saja, saya sedang dalam perjalanan dari rumah teman saya, melihat Senja terjatuh dipinggir jalan. Lalu saya antar dia ke rumah sakit."
“Keterlaluan. Merepotkan banyak orang. Lalu Arka juga menungguinya di rumah sakit?”
“Pastinya Om, saya telpon tidak diangkat. Ponselnya mati. Barangkali baterynya habis.”
“Aku juga menelpon berkali-kali, tapi tidak bisa nyambung.”
“Ya sudah Om, kasihan jam segini Om belum tidur.”
“Aku dan tantemu belum tidur ini, karena khawatir tentang dia.”
“Sekarang Om dan tante tidur dulu, sudah larut, hampir pagi. Ingat kesehatan Om dan tante.”
“Baik, terima kasih Rosa, kalau kamu tidak menelpon, aku tidak akan tahu apa yang terjadi.”
Begitu menutup ponselnya, pak Wiguna masih mengomel karena kesal atas apa yang dilakukan Arka.
“Ada apa sebenarnya Pak? Siapa yang di rumah sakit?” tanya bu Wiguna yang belum tahu kejelasannya.
“Arka mengurus orang diculik.”
“Siapa yang diculik?”
“Gadis penjual beras itu. Bukan sanak saudara, bukan siapa-siapa, tapi sampai sebegitunya dia berkorban.”
“Gadis itu diculik? Lalu bagaimana keadaannya.”
“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Pokoknya yang menemukan gadis itu adalah Rosa, lalu membawanya ke rumah sakit. Tentunya Rosa kemudian mengabari Arka.”
“Mengapa sampai dibawa ke rumah sakit? Apa dia terluka? Diapakan oleh penculik itu?” tanya bu Wiguna khawatir.
“Aku tidak tahu Bu, aku tidak bertanya lebih lanjut. Yang penting keberadaan Arka kita sudah tahu. Sekarang aku mau tidur. Nanti kalau dia pulang pasti akan aku marahi habis-habisan.”
“Bapak bagaimana, anak melakukan hal baik, mengapa dimarahi?”
“Aku curiga ada hubungan apa antara Arka dan gadis itu, sampai dia berkorban mati-matian,” katanya sambil menuju ke kamar, untuk tidur.
Bu Wiguna tidak menanggapi, ia mencoba menelpon Arka untuk mendengar kejelasannya, tapi ponsel Arka memang benar-benar mati. Jadi iapun bersiap untuk beristirahat.
***
“Uang apa, kamu bekerja tidak becus, masih mau minta uang tambahan? Kamu juga sudah menerima uang dari kakek tua mata keranjang itu, dan dia mengancam akan memintanya lagi karena perempuan itu sangat ganas dan bisa terlepas. Sudah, ini sudah malam, aku kesal dan lelah. Lain kali bekerjalah lebih baik… Iya, memang kamu sudah berhasil, tapi nyatanya dia kabur. Si tua itu minta uangnya dikembalikan,.. benar, bukan salah kamu. Ya sudah, besok saja kita bicara lagi. Sudah hampir pagi kamu menelpon. Untung aku belum tidur.”
Suara Rosa yang menelpon ternyata terdengar oleh bu Daryono yang mau ke ruang makan untuk mengambil minum. Ia segera mengetuk pintu Rosa.
“Rosa, kamu belum tidur? Tolong buka pintunya.”
Dengan kesal Rosa membuka pintunya, dan melihat ibunya berdiri di depan pintu sambil membawa segelas air putih.
“Kamu malam-malam begini, bertelpon dengan siapa? Kamu seperti marah-marah.”
“Oh, itu, telpon salah sambung. Itu sebabnya Rosa marah.”
“Telpon salah sambung kok lama banget bicaranya.”
“Saya omeli dia, malam-malam mengganggu orang tidur.”
“Kenapa panjang sekali ngomongnya. Bukannya cukup bilang … maaf salah sam bung, begitu kan?”
“Iya, Rosa penginnya marah-marah. Mengapa Mama belum tidur?”
“Haus, lalu mengambil air, lewat kamar kamu, mendengar kamu bicara.”
“Iya Ma, ya itulah, orang salah sambung. Sekarang Mama kembali tidur sana, sudah malam.”
“Hampir pagi. Mama sudah tidak bisa tidur lagi. Kamu juga, sebaiknya sholat sekalian.”
“Baiklah.”
Rosa menutup pintunya. Shalat? Sudah lama Rosa tidak melakukannya. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan terlelap.
***
Mbok Mangun tidur di samping Senja, masih ada rasa khawatir karena kejadian yang menimpa sang anak. Walau begitu ia bersyukur, Senja selamat dan berhasil lolos dari cengkeraman orang jahat, walau ada luka-luka di telapak kaki dan tangannya.
Arka sudah pulang begitu mereka sampai di rumah. Ia berpesan agar Senja tidak masuk sekolah dulu, sampai kakinya benar-benar sembuh. Ia juga berpesan agar obatnya tidak lupa dimakan sesuai aturan.
Mbok Mangun diam-diam berpikir, mengapa Arka begitu baik kepada keluarganya. Bertubi-tubi pertolongan diberikannya, bahkan hutang yang menghimpitnya juga sudah dibayarnya lunas.
Senja tampak tertidur pulas, barangkali karena lelah lahir dan batinnya, juga karena pengaruh obat yang diminumnya.
Mbok Mangun mengelus kepala anaknya dengan lembut. Menjadi orang tak punya memang berat, dan rasa berat itu bukan hanya ditanggungnya sendirian, anak-anaknya juga turut menanggungnya. Walau begitu ia bersyukur karena kedua anaknya adalah anak-anak baik yang penuh pengertian. Mereka tidak pernah mengeluh, baik oleh makanan sederhana yang selalu dihidangkan simboknya, maupun pakaian sehari-hari yang lusuh karena bertahun tak pernah berganti baru.
Tiba-tiba mbok Mangun teringat bungkusan-bungkusan yang dibawa Arka. Ia tahu siangnya Arka membeli beberapa baju untuk dirinya dan anak-anaknya. Bukan hanya baju, tapi juga sepatu dan tas sekolah untuk mereka.
Air mata mbok Mangun berlinang. Ia tak mampu membelikannya dan ada orang baik yang membantunya. Mbok Mangun teringat ketika awal bertemu Arka, Senja menyebutnya sebagai malaikat penolong.
“Ya Allah, terima kasih untuk semuanya. Hamba tahu semua karenaMu.”
Lalu mbok Mangun turun dari tempat tidurnya, yang terdengar berderit ketika ia turun. Tak enak, tempat tidur sederhana itu memang terbuat dari bambu. Walau begitu Senja tidak terbangun karenanya. Mbok Mangun tersenyum. Ia menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Tapi tiba-tiba terdengar teriakan.
“Apa maksudmu? Bukan aku. Kamu yang berusaha membunuhnya.”
Mbok Mangun terkejut, bergegas kembali ke kamar Senja.
***
Besok lagi ya.