DARAH, CINTA DAN AIR MATA 04
(Tien Kumalasari)
Laki-laki gagah itu tersenyum lucu.
“Mengapa kamu menatapku seperti itu? Terpesona ya? Karena aku ganteng?” candanya enteng.
Sarah tersipu. Ia mengalihkan pandangannya.
“Anda mirip seseorang. Sangat mirip.”
“Oh ya? Pacar kamu?”
Sarah merengut. Ia belum pernah pacaran. Tidak tahu bagaimana rasanya pacaran. Ia menganggap anak muda itu menuduhnya sembarangan.
“Jangan marah, aku hanya bercanda. Tapi pasti kamu terkenang dia ketika melihat wajahku.”
“Aku tidak punya pacar,” sergahnya, masih dengan wajah cemberut.
Anak muda itu tertawa.
“Namaku Fajar. Siapa nama cowok yang mirip denganku?”
Sarah merasa tidak perlu menjawab. Ia menganggap laki-laki itu hanya ingin mengganggunya. Tapi ketika teringat olehnya koran dagangannya bercampur dengan sampah, ia sedih bukan alang kepalang.
Ia melongok ke arah bak sampah.
“Barangkali ada yang masih bisa terselamatkan,” kata batinnya yang kemudian ia menjulurkan tangannya ke arah tumpukan koran di tempat sampah itu.
“Hei, itu sudah kotor, tak akan ada yang mau membelinya. Ini, aku ganti koran kotor itu dengan uang, sungguh, aku hanya ingin menolong kamu dari laki-laki brengsek itu. Tolong terimalah, aku tak punya maksud apa-apa,” kata Fajar sambil terus mengulurkan uang itu.
“Apa ini kurang?”
Lalu Fajar menambahinya lagi dengan satu lembar ratusan ribu.
Sarah merasa, laki-laki bernama Fajar itu tulus. Ia menatap uangnya, tapi ia hanya mengambilnya satu.
“Di mana aku bisa mengembalikan uangmu?”
“Tidak perlu, aku berikan, bukan aku pinjamkan,” kata Fajar santai.
“Sekarang pulanglah, rumah kamu jauh? Aku antar?" tambah Fajar.
Sarah menatap mobil yang diparkir tak jauh dari sana. Mobil yang sangat bagus, lalu ia melihat ke arah bajunya, lalu ia tersenyum kecut. Mana pantas dirinya duduk di dalam mobil sebagus itu?
“Mau? Aku antar, aku sudah mau pulang. Di mana rumahmu?”
“Di sana. Aku harus menyetor uang koran, baru pulang. Tidak usah diantar, aku biasa jalan kaki. Terima kasih banyak,” kata Sarah yang kali itu memberikan senyuman manis.
Fajar terpana. Gadis itu kalau tersenyum manis sekali, ada lesung pipit di pipinya. Hanya gadis miskin, penjaja koran, tapi ada rasa yang aneh melingkupi hatinya.
“Bodoh, aku sudah gila,” gumamnya sambil membalikkan tubuh menuju ke arah mobilnya.
Sebelum masuk ke dalam ia menoleh ke arah Sarah pergi, tapi gadis itu tak lagi tampak. Barangkali sudah menghilang di kelokan jalan, atau tertutup oleh lalu-lalang orang yang berjalan di trotoar.
Mobil Fajar bergerak melaju, sambil tersenyum-senyum sendiri memikirkan perasaan anehnya.
***
Sarah sudah hampir sampai di tempat agen koran itu, ketika seseorang memanggilnya.
“Sarah!”
Sarah menoleh, lalu senyumnya melebar. Ia bertemu Bimo, laki-laki baik yang menyelamatkannya ketika ia jatuh di tengah jalan.
“Mas Bimo dari mana?”
“Dari kerja, di sana itu tempat kerjaku.”
“Jalan kaki?”
“Seperti kamu, saya tidak punya kendaraan, jadi jalan saja. Dagangan kamu sudah habis?”
Wajah Senja menjadi muram. Seperti habis tapi sebenarnya dibuang orang.
“Kamu sudah tidak membawa koran lagi, habis kan?”
“Dibuang orang.”
“Apa maksudmu? Dibuang orang?”
“Ada orang jahat mengganggu aku, lalu karena kesal, koran dagangan aku dilempar ke tempat sampah.”
“Ya ampun jahat benar dia.”
Sarah menceritakan apa yang dialaminya dengan bibir merengut.
“Mengapa kamu tidak mau menerima uangnya? Dia bilang mau membayarnya kan?”
“Aku tidak mau, nanti akan banyak kesempatan bagi dia untuk mengganggu aku lagi.”
“Bukankah kamu harus setoran?”
“Ada orang baik lagi yang memberi aku uang. Ini uangnya.”
“Alhamdulillah.”
“Sebenarnya aku tidak suka menerima pemberian orang yang belum pernah aku kenal, tapi bagaimana lagi, kalau aku tidak setoran, besok tidak boleh membawa dagangan lagi. Aku bertanya, ke mana harus mengganti uangnya kalau aku sudah bisa menggantinya, tapi dia menolaknya. Katanya ia tulus ingin menolong.”
“Ya sudah, terima saja. Allah Maha Baik untuk kamu, karena kamu gadis yang baik. Itu sebabnya ada saja orang yang menaruh belas kasihan sama kamu.”
Sarah tersenyum.
“Tahu tidak Mas, orang itu adalah orang yang pernah membeli koran aku dan membayar duapuluh ribu, tapi tidak mau menerima kembaliannya. Yang aku merasa heran, orang itu wajahnya persis sama dengan wajahmu.”
Bimo tertawa.
“Sama? Masa sih?”
“Bener. Persis. Tinggi besarnya juga sama.”
“Gantengnya ….?” canda Bimo.
“Pokoknya semua persis. Kalau saja keadaan kalian tidak berbeda, pasti aku mengira kalian ini saudara kembar."
“Keadaan berbeda bagaimana? Dia orang kaya, aku orang miskin?”
“Dia punya mobil, mas Bimo jalan kaki,” kata Sarah polos, lalu keduanya tertawa.
Sarah merasa, Bimo orang yang menyenangkan, walau baru kemarin kenal.
“Sudah Mas, aku mau setoran dulu, lalu pulang.”
“Hati-hati di jalan ya,” kata Bimo sambil melambaikan tangannya.
Sarah membalas lambaian tangan itu, dan masuk ke agen koran dengan masih tersenyum-senyum.
***
Sesampainya di rumah, Sarah belum melihat sang nenek pulang. Barangkali sampai selesai acara baru pulang. Padahal Sarah kepengin segera cerita tentang kelakuan Bowo terhadapnya siang tadi. Sebel dan kesal, juga marah. Kalau tidak ada orang baik yang menolongnya, pasti ia harus menguras uang tabungannya untuk membayar setoran koran.
Setelah mandi dan berganti pakaian, ia menunggu sang nenek sambil membawa buku pelajaran ke depan rumah. Tapi sebelum kearah depan, Sarah melihat di meja makan ada nasi dan lauk pauk yang lumayan. Ada ayam gorengnya pula.
“Berarti tadi Nenek sudah pulang, membawa makanan ini, lalu mandi, ganti baju, kemudian kembali ke rumah bu Karno untuk membantu lagi. Kan arisannya nanti sore.”
Tapi Sarah belum ingin makan, ia duduk di depan sambil membaca-baca buku pelajaran. Ingatan tentang Bowo membuat wajah nya kembali muram. Apa nenek Suli hari ini ketemu bu Lurah ya?
“Jangan-jangan Nenek ketemu lalu menjanjikan sesuatu pada bu Lurah, tentang lamaran Bowo itu. Tidak, aku tidak mau. Kecuali aku masih sekolah dan merasa belum ingin berumah tangga, aku tidak suka laki-laki seperti Bowo. Sombong, memaksakan kehendak, mentang-mentang orang kaya.”
Sarah mencoba mengibaskan bayangan Bowo, tapi tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang. Itu Bowo. Mau apa ia datang ke rumah.
Sarah ingin masuk ke rumah dan menutup pintunya, tapi Bowo sudah keburu mendekat sambil memanggil namanya.
“Sarah, aku mau minta maaf.”
Sarah berhenti melangkah. Mau tak mau menunggu Bowo sampai di depan rumah.
“Sarah, aku salah, aku mau minta maaf.”
“Ya sudah, sudah aku maafkan, aku mohon jangan mengganggu aku lagi.”
“Aku akan memberi kamu uang, sebagai ganti koran dagangan kamu yang tadi aku buang.”
“Tidak usah. Bawa kembali uang kamu.”
“Kamu kan harus setoran? Apa kamu punya uang?”
“Bukan urusan kamu. Sekarang pergilah.”
“Sarah, jangan marah begitu, tadi aku hanya emosi. Ini, tolong terimalah, aku bayar tigaratus ribu.”
“Tidak usah, bawa saja uangmu kembali.”
“O, aku tahu, apakah laki-laki bermobil tadi yang sudah memberi kamu uang?”
“Bukan urusan kamu,” sentak Sarah semakin keras.
“Sarah, aku juga punya mobil. Kamu membandingkan aku dengan pemilik mobil tadi? Apa dia sungguh-sungguh suka sama kamu?”
“Kamu ini bicara apa? Dengar ya, manusia dihargai bukan karena harta yang dimilikinya, tapi karena pekertinya.”
“Sarah. Sombong sekali kamu. Sok bicara bijak.”
“Pergilah, dan jangan lagi datang kemari.”
“Kamu pikir aku tidak bisa memaksa kamu?” Bowo melangkah mendekat, dan Sarah ketakutan melihat wajahnya yang beringas. Tampaknya Bowo marah sekali.
Ia masuk ke dalam rumah dan bermaksud segera menutup rumahnya agar Bowo tidak mengganggunya. Tapi tangan kuat Bowo mendorong pintu itu sehingga berhasil masuk.
“Aku bermaksud baik, tapi tanggapanmu sangat buruk.”
Bowo mengejar Sarah, tapi Sarah menemukan palang pintu di sampingnya. Ia meraih palang itu dan memukulkannya ke kepala Bowo. Bowo roboh ke lantai, membuat Sarah ketakutan.
***
Besok lagi ya.