AKU ANAK SIAPA 20
(Tien Kumalasari)
Satria terus memukul-mukulkan tangannya yang terikat, sampai merasa sakit. Bercucuran air matanya tanpa bisa mengeluarkan suara jelas, kecuali mmm … mmmh …
Seorang wanita yang kebetulan melewati kamar itu merasa heran mendengar suara aneh dan pintu dipukul-pukul. Ia segera memanggil teman se kost nya, dan keduanya kemudian mencoba membuka pintunya. Tapi pintu itu terkunci.
“Hei, ada apa? Ada orang di dalam?”
Suara pukulan pelan serta suara aneh itu sangat menarik perhatiannya.
“Ini kan kamar seorang penghuni baru itu?”
“Iya, namanya siapa sih?”
“Nggak tahu aku, begitu masuk nggak pernah keluar-keluar kecuali ke kamar mandi. Wajahnya selalu tertutup, tak ada yang mengenalinya.”
“Siapa di dalam?”
Suara ah uh itu terdengar semakin keras. Barangkali Satria menguras tenaganya agar bisa mengeluarkan suara lebih keras.
“Sepertinya dia butuh pertolongan.”
“Tapi pintunya dikunci, ini mencurigakan.”
“Kamu tungguin di sini, aku mau menghubungi bu Rini pemilik rumah.”
“Seperti orang kesakitan. Suaranya seperti minta pertolongan.”
Wanita satunya sudah selesai menelpon bu Rini, pemilik rumah.
“Kamu butuh pertolongan? Tungguin ya, kami akan menolong kamu.”
Tiba-tiba Rosa yang baru keluar dari kamar mandi mendekati dua orang yang kasak kusuk di depan kamarnya.
“Hei, sedang apa kalian?” sentaknya kesal.
“Di dalam ada siapa? Sepertinya dia butuh pertolongan.”
“Jangan ikut campur. Dia anak nakal, keponakan aku. Minggir sana,” kata Rosa marah sambil berusaha membuka pintu.
Tapi dua orang itu malah curiga. Mereka hanya mundur sedikit, tapi tak beranjak dari dekat pintunya. Suara dag-dug itu semakin pelan, barangkali tangannya semakin kesakitan, atau dia tak lagi punya tenaga.
“Mengapa kalian masih berdiri di situ?”
“Penghuni baru ini galak dan kasar sekali,” bisik wanita satunya.
“Pergilah, ini bukan urusan kamu.”
“Kami ingin tahu itu suara apa? Sepertinya_”
“Bukan urusan kamu!” hardiknya yang membuat keduanya mundur setindak.
Hanya setindak, karena mereka benar-benar curiga.
“Buka saja pintunya, kami kan tidak bermaksud jahat?”
Tiba-tiba dari jauh seorang wanita mendekat. Dia adalah bu Rini, pemilik rumah kost itu.
“Ada apa?”
“Ini Bu, sepertinya di dalam ada yang butuh pertolongan.”
“Ini kan bu … “ pemilik rumah agak lupa nama Rosa. Tentu saja Rosa mengganti namanya, karena nama Rosa sudah terkenal sebagai buron.
“Saya Budi.”
“Bu Budi? Ada siapa di dalam? Bukankah tadinya Ibu ingin menyewa kamarnya sendirian?”
“Ini hanya anak kecil, keponakan saya Bu. Dia agak rewel, karena ibunya belum menjemput.”
“Kasihan, kenapa pintunya tidak segera dibuka?”
“Iya, tapi tidak ada apa-apa, ibu tidak usah khawatir. Maaf mengganggu.”
Rosa membuka pintunya dengan hati-hati, tapi begitu pintu dibuka, Satria menggulingkan tubuhnya keluar pintu. Rosa yang tidak mengira tak berhasil menahannya. Bu Rini dan kedua wanita yang belum pergi itu terkejut. Ada anak kecil diikat kaki tangannya, dan ditutup mulutnya dengan lakban.
Mereka segera mendekat dengan cepat.
“Ya ampuun, mengapa anak ini diperlakukan seperti ini?”
“Kejam sekali.”
Rosa ketakutan.
“Dia nakal, berteriak-teriak, karena takut mengganggu tetangga saya ikat dan saya tutup mulutnya.”
“Ini tidak manusiawi.”
“Cepat dibuka mulutnya bu.”
Ketiga wanita itu membuka tali kaki tangan Satria, dan juga mulutnya, membuat anak itu sekarang berteriak.
“Dia jahat! Dia jahatt!” walau berteriak, tapi suaranya lemah.
“Ini namanya disiksa. Masa keponakan sendiri disiksa?”
“Coba di kasih minum.”
Tanpa diminta Rosa mengambil air dari dalam kamarnya, dan diberikannya kepada Satria. Ia masih berlagak sebagai seorang ibu kepada keponakannya.
“Makanya jangan nakal. Ayo masuk dan tidur.”
“Nggak mau, aku mau pulang. Aku lapar.”
“Tidak dikasih makan?”
"Itu … saya baru mau beli makanan,” jawab Rosa.
“Kalau begitu saya bawa ke rumah saja, biar makan di rumah,” kata bu Rini yang kemudian menggandeng tangan Satria.
“Jangan Bu, biar saya saja.”
“Kasihan anak ini. Nanti setelah makan saya antarkan kemari lagi,” kata bu Rini yang diikuti kedua wanita itu, menuju rumah.
Rosa tak bisa apa-apa, ia bingung harus melakukan apa.
“Dasar bodoh! Mengapa tidak dibunuh saja sekalian anak itu?” teriaknya marah.
***
Bu Rini dan kedua wanita itu menyuapkan makan, memberi minum, dan mengobati bibirnya yang berdarah.
“Sakit?”
Satria mengangguk.
“Dia apanya kamu? Tantenya? Budenya?”
Satria menggeleng keras, dan menggoyang-goyangkan tangannya di mana pergelangannya merah karena ikatan rafia yang sangat kencang.
“Mengapa kamu bersamanya?”
“Dia orang jahat.”
“Kamu kenal sebelumnya?”
Satria kembali menggeleng.
“Bagaimana kamu bisa bersamanya lalu disiksa begini?”
“Saya dijemput om.”
"Dijemput di mana?”
“Sekolah.”
“O, kamu tadinya sekolah, lalu dijemput om kamu?”
“Bukan. Om yang lain.”
“Yang lain bagaimana?”
“Nggak kenal.”
“Kenapa kamu mau dijemput?”
“Katanya disuruh ibu. Tapi aku dibawa ke wanita jahat itu, lalu omnya pergi.”
“Ya Tuhan, ini penculikan.”
“Cepat lapor polisi, sebelum perempuan itu kabur.”
Tapi dalam hati wanita pemilik rumah kost itu berpikir, perempuan penyewa itu ketika datang pertama kali memang tidak memakai cadar, tapi menurutnya wajah itu seperti wajah buronan yang terpampang di mana-mana.
“Bedanya ia memiliki tahi lalat cukup banyak di wajahnya. Di ujung hidung, pipi kiri dan dahi, serta dibawah mata kanan. Tapi mirip sih. Masa iya dia buronan itu?” kata batin bu Rini.
***
Tapi memang benar Rosa sudah kabur terlebih dulu. Polisi hanya menemukan tas sekolah Satria yang masih ada di kamar itu. Dengan terlepasnya Satria, pasti ketahuan bahwa dia menculiknya. Sangat bodoh kalau dia masih berada di rumah itu. Ia pergi tanpa tujuan dengan perasaan yang kacau.
“Mengapa aku selalu gagal membuat celaka perempuan itu?” geramnya dalam pelarian.
Hari sudah malam ketika itu, ia tak tahu harus ke mana. Tak ada kendaraan umum yang lewat, jadi ia dengan membawa bungkusan baju dan uang yang tersisa hanya duduk di depan sebuah mushala kecil. Ia duduk sambil merangkul bungkusannya, lalu tertidur karena kelelahan.
***
Polisi sudah bergerak melakukan pencarian, dan Satria masih ada di rumah bu Rini, yang belum tahu harus mengantarkan ke mana. Tapi mereka sudah tahu kalau Satria adalah anak yang dicari orang tuanya.
“Kamu tidur dulu di sini ya, besok aku antarkan kamu pulang.”
Satria menatap wanita itu lekat-lekat.
“Ia pasti berbeda dengan wanita jahat itu. Wajahnya lembut, dan dia telah menolong aku. Masa dia akan tetap menahan aku di sini?” kata batin Satria.
“Mengapa kamu menatap aku seperti itu? Kamu menganggap aku orang jahat seperti bu Budi tadi?”
Satria menggeleng.
“Aku bukan orang jahat, aku benar-benar akan menolong kamu.”
Satria membayangkan wanita jahat itu, yang wajahnya coreng moreng menakutkan, dan ia menganggapnya sebagai perempuan jadi-jadian.
“Apa dia manusia?” celetuknya pelan.
“Siapa? Wanita itu? Ketika datang, dia seperti wanita baik-baik. Entah mengapa sekarang kalau keluar dia memakai cadar yang menutupi hampir seluruh wajahnya."
“Wajahnya coreng moreng. Seperti hantu.”
“Baiklah, kamu sudah aman sekarang. Orang tuamu pasti sudah tahu kalau kamu aman di sini. Kalau kamu tidak dijemput maka aku yang akan mengantarkan kamu pulang. Sekarang kamu tidurlah.”
Satria di suruh tidur di sebuah kamar, dan dia merasa aman serta lega.
Tapi di tengah malam itu, Satria merasa seperti mimpi, ketika ia dibangunkan. Seorang wanita cantik duduk di tepi pembaringan, dan seorang laki-laki gagah berdiri di sampingnya. Ia juga melihat polisi di belakang ayahnya.
“Aku seperti melihat Ibu dan Bapak,” bisik Satria sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Satria, anakku, ini Ibu, dan ini Bapak,” kata Senja yang kemudian merangkul Satria sambil menangis.
“Ini Ibu dan Bapak?” kata Satria kepada dua orang yang merangkulnya.
“Tentu. Seharian kami mencari kamu. Siapa orang yang berbuat jahat kepadamu, Nak? Ya ampun, kamu terluka, tanganmu kebiruan begini, diapakan?” kata Senja yang tak bisa menahan tangis.
“Ada perempuan seperti hantu.”
“Senja, lebih baik kita bawa pulang dulu Satria, dia pasti lelah, biar bisa istirahat di rumah," kata Arka.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada bu Rini si pemilik rumah yang telah menolong anaknya, Satria dibawa pulang.
Tapi di luar sana, dendam yang dibawa Rosa masih menyala.
***
Besok lagi ya.