SAKITKU ADALAH CINTAKU 31
(Tien Kumalasari)
Zein memacu mobilnya ke kampung halamannya. Ia tak mengira Indras pergi ke sana, ke makam orang tuanya, dalam hujan deras pula.
“Ya Tuhan, apakah aku sesalah itu sehingga membuatnya marah? Tapi aku tidak merasa bersalah, bukankah dia harus mengerti tentang aku? Aku melakukan apa yang aku suka, tapi Indras selalu menghalangi, mengganggu, merusak semuanya. Salahkah aku? Dia harus bisa menerima semuanya. Sakit? Itulah sakitku ketika orang tuamu merendahkan aku,” Zein bergumam sepanjang perjalanan, tapi tak sepatah katapun menunjukkan penyesalan ataupun rasa bersalah yang pernah di lakukannya. Ia terus memacu mobilnya, yang dia tahu adalah bahwa keselamatan sang istri adalah tanggung jawabnya.
Ingatan tentang rasa sakit ketika merasa direndahkan itu melintas begitu saja, tapi kemudian terus menghantuinya. Kebaikan yang pernah diterimanya untuk orang tuanya, terutama ibunya, tidak membuat sakit hati itu hilang.
Sekarang Zein sudah berada di depan rumah orang tuanya, yang ditungguin oleh salah seorang tetangganya. Dan karena itu halaman kecil dan rumah mungil itu tampak terawat. Tapi ia tak melihat mobil istrinya di sana. Apakah mobil itu ditinggalkan di pemakaman?
Zein turun dari mobilnya. Rumah itu terbuka, dan ada beberapa tetangga kemudian menyambutnya.
“Mana istriku?”
“Zein, istrimu sudah pergi lagi.”
Zein tertegun.
“Sudah pergi lagi?”
“Pagi tadi kami mengangkatnya dari tanah pemakaman. Dia lemah dan kedinginan. Kami ingin membawanya ke rumah sakit, tapi istrimu menolaknya. Kami, para ibu membersihkan tubuhnya dan menggantikannya dengan baju kering milik almarhumah ibumu.”
“Setelah minum minuman hangat dan makan bubur yang kami buat, dia sudah tampak segar,” kata yang lain.
“Tapi kemudian dia memaksa pergi. Ia mengambil mobilnya yang tadinya ada di depan makam, lalu pergi. Tak seorangpun mampu menahannya,” para tetangga dekat bersahutan memberi keterangan, membuat Zein merasa bingung.
“Masuklah dulu dan istirahat Zein.”
“Terima kasih, saya mau langsung kembali saja.”
Zein memberikan sejumlah uang kepada para tetangga. Termasuk yang bertugas menjaga dan membersihkan rumahnya, kemudian berlalu, meninggalkan berbagai pertanyaan yang menjadi perbincangan diantara mereka.
***
Zein merasa lega, ketika sampai di rumahnya, ia melihat mobil istrinya diparkir di halaman. Ia bergegas masuk ke rumah, langsung ke kamar istrinya.
Sang istri baru keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk, wajahnya sedikit pucat. Zein menyambutnya. Ia ingin memeluk sang istri, tapi ditolaknya.
“Mengapa kamu mandi? Kamu merasa tidak sehat bukan?”
“Apa yang terjadi pada diriku, apakah kamu peduli?" tanya Indras, pelan.
Kemudian masuk ke ruang ganti dan mengganti bajunya dengan pakaian kerja. Zein yang masih menungguinya sambil duduk di sofa, terkejut melihatnya, lalu mendekatinya, dan memegang kedua lengannya.
“Kamu panas.”
“Tidak, aku baik-baik saja.”
“Indras, kamu mau bekerja?”
“Tentu saja. Suami tak memberi aku nafkah, kalau aku tidak bekerja, apakah aku bisa menghidupi diriku sendiri?”
“Indras, istirahatlah dulu. Kamu tadi ke makam orang tuaku bukan?”
Indras menatap suaminya lekat-lekat. Ia tak mengira sang suami mengetahuinya. Ketika ia pulang setelah dirawat tetangga kampung disekitar keluarga Iman, pastinya bersimpangan dengan mobil suaminya yang dalam perjalanan menyusulnya. Tapi ia tak melihatnya. Demikian juga Zein. Barangkali karena pikiran yang tidak tenang membuat mereka tidak perhatian dengan keadaan di sekeliling mereka.
Indras tak menjawab. Semalam, hatinya tiba-tiba terasa kusut. Ia tak tahu bagaimana menghadapi suaminya yang sebenarnya sakit, tapi selalu menyakitinya. Ia ingin sesambat, tapi kepada siapa? Ia tak mungkin menceritakan penderitaannya kepada kedua orang tuanya. Ia selalu bersujud, sesambat kepada Allah. Dan itu selalu bisa membuatnya kuat. Tapi malam itu tiba-tiba ia teringat kepada almarhumah ibu mertuanya. Dulu ketika ia main ke rumah Zein, ibunya selalu menyambutnya dengan suka cita. Ia kelihatan senang dirinya dekat dengan Zein, dan berharap bisa menjadi menantunya. Namun semua keinginannya tak ada yang bisa dinikmatinya. Kelulusan Zein, menikahnya Zein.
Dan entah siapa yang menyuruhnya, tiba-tiba dia ingin pergi ke makam ibu mertuanya. Malam itu, saat hujan mengguyur bagai tercurah dari langit. Saat guntur menggelegar menggetarkan malam kelam.
Dalam guyuran hujan, dengan sebuah lampu senter, Indras melangkah, lalu bersimpuh di makam ibu mertuanya, melantunkan doa sambil bercucuran air mata, yang mengucur deras, berpacu dengan derasnya hujan.
“Semoga ibu tenang di sana,” itu adalah bisik terakhirnya, sebelum ia roboh lemas tak ingat apapun.
Ia sadar ketika sudah berada di rumah keluarga Iman, dirawat oleh ibu-ibu tetangga yang sangat mengkhawatirkannya.
Mereka ingin membawanya ke rumah sakit, tapi Indras menolak. Ia memaksa pulang ketika merasa tubuhnya kuat.
“Indras, mengapa hujan-hujan kamu memaksa pergi?” kata Zein sambil meraih tubuh istrinya. Tapi Indras mengibaskannya.
“Kamu peduli?”
“Tadi ada yang menelpon aku, mengatakan kamu ada di rumah ibu. Aku menyusulmu ke sana, tapi kamu sudah pulang. Sekarang pasti badanmu terasa tidak enak, tidak usah kerja dulu.”
Indras tak menggubris suaminya. Ia keluar, bertemu Sinta yang menatapnya iba.
“Ma, aku dan mbak Santi pernah mengatakan, bahwa Mama harus juga mengerti tentang papa,” katanya pelan.
Mata Indras melebar. Bahkan putrinya tidak berpihak kepadanya? Indras membalikkan tubuhnya, menuju ke arah mobil.
“Ma, istirahat saja dulu. Apa Mama sudah makan?”
Tapi Indras tetap memasuki mobilnya dan menjalankannya menjauh.
Apakah Indras sekuat itu? Tidak. Kepalanya mulai berdenyut dan badannya terasa panas. Tubuhnya bukan terbuat dari baja. Semalaman diguyur hujan, kedinginan dan ketika dia merasa bisa bangkit, sebetulnya raga itu sudah mengeluh sakit.
Sambil menahan tubuhnya yang terasa meriang, Indras terngiang perkataan putrinya. Harus mengerti tentang papanya? Apakah harus begitu, sementara papanya tidak mengerti dirinya? Bahwa dirinya merasa sakit, bahwa dirinya lelah didera rasa sedih dan kecewa.
***
Indras melangkah ke ruangannya, lalu duduk di kursi kerjanya dengan tubuh lemas. Ia meminta paracetamol dan teh hangat, lalu diminumnya. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mencerna apa yang dikatakan Sinta.
“Kurang mengerti apa aku?” bisiknya berkali-kali.
Indras menyandarkan kepalanya. Dalam setengah tidur ia melihat bayangan sang ibu mertua.
“Kamu sabar ya, Allah pasti mendengar jeritmu. Kamu selalu merayu Allah. Dan Allah Maha Pengasih,” suara itu seperti alunan kidung dari atas sana.
“Dokter sakit?”
Indras terperanjat. Rupanya ia tertidur. Ia membuka matanya dan mencoba tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Rupanya dia bermimpi didatangi sang ibu mertua. Suaranya seperti nyata, tapi itu mimpi. Seandainya benar, pasti dia sudah merangkul dan menangis di dadanya.
“Dokter sakit?” pertanyaan yang sama didengarnya lagi. Ia belum benar-benar terjaga.
Yang bertanya adalah dokter muda yang ingin menanyakan sesuatu kepadanya.
“Agak pusing, sudah minum obat tadi.”
“Oh, tapi Dokter pucat sekali ,” kata dokter muda itu.
“Tidak apa-apa, hanya ingin menanyakan sesuatu, tapi besok saja, tidak terlalu tergesa-gesa," kata dokter muda itu lagi.
“Tanyakan saja. Mengapa besok?”
Dokter muda itu tetap mengatakan besok saja. Barangkali karena melihat dokter seniornya benar-benar sakit.
Indras membiarkannya. Tubuhnya berkeringat, dan terasa ringan. Tak urung ia harus menyerah, daripada digotong ke ruang rawat, lebih baik dia pulang.
Ia memesan beberapa obat di ruang instalasi farmasi, lalu beranjak pulang.
***
Zein yang tidak ke rumah sakit menyambutnya dengan senang hati.
“Akhirnya pulang?” katanya sambil meraih kening istrinya. Tapi kemudian Indras menepiskannya.
“Berkeringat. Kamu merasakan apa? Sudah aku bilang bahwa kamu tidak usah bekerja. Kamu itu sakit. Kehujanan semalaman, siapa yang tahan? Jangan menyiksa dirimu sendiri.”
“Lebih baik aku menyiksa diriku sendiri daripada kamu yang menyiksa.”
Indras berganti baju rumahan, kemudian merebahkan tubuhnya di pembaringan. Sesungguhnya ia merasa sakit.
Zein menatapnya dengan linglung. Sang istri tidak mau berdamai dengan dirinya. Zein lupa bahwa dia pernah mendiamkan istrinya, dan sekarang ia merasa bahwa didiamkan itu rasanya sakit.
Ia mendekat ke arah ranjang, berdiri di sampingnya dan menatap sang istri lekat-lekat. Wajah cantik itu sangat pucat.
Indras memejamkan matanya, tak peduli pada suami yang berdiri di dekatnya. Tiba-tiba Zein menundukkan kepalanya, dan mencium keningnya lama sekali. Indras terkejut. Tapi dia tidak menghindar. Barangkali ia tak kuasa menghindar, atau memang sengaja membiarkannya?
***
Besok lagi ya.