BIARKAN AKU MEMILIH 14
(Tien Kumalasari)
Nirmala masih memegangi ponselnya dengan perasaan heran.
“Nirma, kamu mendengar apa yang bapak katakan?”
“Iy … iya .. Pak. Tapi … maksud Bapak apa?”
“Bapak sudah menanyakan ke kantor Adri. Ada hubungan dekat antara Adri dan Dwiyanti, manager pemasaran baru itu.”
“Adri mengatakannya pada Nirma tentang apa yang dilakukannya.”
“Bahwa dia berhubungan dengan Dwi?”
“Dwi itu teman masa kecilnya, yang kebetulan bertemu di tempat kerja.”
“Dan setiap siang makan siang bersama? Ibumu pernah memergokinya, dan ibumu curiga.”
“Namanya teman sekantor, saat makan bisa saja makan bersama.”
“Nirma, kamu terlalu naif. Apa kamu juga tahu, perempuan itu sakit lalu Adri menungguinya siang malam? Bahkan meninggalkan pekerjaannya ketika dia harus operasi?”
“Adri juga mengatakan semua itu Pak.”
“Kamu tidak curiga, melihat perhatian yang begitu besar dari suamimu terhadapnya?”
“Nirma tidak menemukan bukti apapun untuk mencurigai dia, karena dia mengatakan apapun yang dilakukannya untuk wanita itu.”
“Baiklah, bapak hanya mengingatkan kamu. Maksud bapak adalah agar kamu berhati-hati dan terus mengawasi suami kamu.”
“Iya Pak, terima kasih sudah diingatkan. Bapak dan ibu sehat kan?”
“Sangat sehat, ini bapak sedang dalam perjalanan ke kantor. Kamu sudah di kantor?”
“Nirma masih di rumah, ini baru mau berangkat.”
“Hati-hati dijalan.”
“Terima kasih Pak, Bapak juga harus hati-hati.”
Nirma turun dari teras, menuju ke arah mobilnya. Dalam perjalanan ke arah kantor, Nirma merasa prihatin ketika sang ayah ternyata mengawasi kelakuan Adri. Pastilah sang ayah mengerti karena kantor di mana Adri bekerja adalah juga miliknya. Tapi sesungguhnya Nirma tak ingin sang ayah mengetahui bagaimana keadaan keluarganya. Nirma hanya ingin agar orang tuanya mengerti bahwa keluarganya adalah baik-baik saja. Dan semoga memang begitulah adanya, kata batin Nirmala dengan sepenuh harapannya.
***
Adri sedang bekerja di kantornya, ketika Dwi menelponnya.
“Adri .. apa kamu di kantor?”
“Iya lah, ini kan jam kerja.”
“Hari ini aku boleh pulang, apa kamu bisa menjemput aku?”
“Aku sudah beberapa kali bolos kerja demi kamu.”
“Maaf Adri, kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menolongku?”
Dan lagi-lagi Adri luluh. Adri juga tak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa lemah kalau berhadapan dengan Dwi.
“Bagaimana Dri?”
“Iya, nanti jam istirahat ya, pekerjaanku menumpuk. Laporan belum aku periksa semua.”
“Baiklah, aku menunggu. Ini juga aku belum sepenuhnya bisa jalan. Aku sudah beli kruk melalui rumah sakit. Takut merepotkan kamu lagi.”
Beli kruk takut merepotkan, tapi menyuruh-nyuruh agar menunggui dan menjemput, Dwi merasa tidak merepotkan? Entahlah, siapa tahu apa yang dipikirkan Dwi.
Tapi Adri tidak merasakan apapun. Ia merasa hanya melakukan semuanya karena belas kasihan. Ataukah ia senang karena dibutuhkan?
Tiba-tiba sekretarisnya menghadap.
“Maaf Pak, tadi pak Bondan berpesan, siang ini Bapak diminta menghadap pak Bondan di kantor pusat.”
Adri mengerutkan keningnya.
“Mengapa bapak tidak langsung menghubungi saya?”
“Ketika pak Bondan menelpon, Bapak sedang tidak ada di tempat. Kelihatannya Bapak sedang ke belakang.”
“Baiklah.”
Adri mengeluh. Padahal dia sudah berjanji akan menjemput Dwi di rumah sakit. Bagaimana kalau mertuanya bicara panjang dan tidak ada waktu untuk menjemput?
Lalu ia menelpon Dwi.
“Dwi, nanti barangkali aku agak terlambat menjemput, karena pak Bondan memanggil aku agar menghadap ke kantor pusat.”
“Siang ini?”
“Ya, siang ini. Kamu sabar ya, barangkali ada hal penting yang akan disampaikan pak Bondan.”
“Aduh, berapa lama ya?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu pak Bondan akan bicara apa. Tampaknya sangat penting sehingga tidak cukup bicara di telpon.”
“Ya sudah, aku tunggu saja, soalnya nggak ada yang menjemput aku.”
Adri memasukkan ponsel ke dalam sakunya, lalu siap berangkat untuk menemui sang ayah mertua.
***
Dengan langkah tenang Adri memasuki ruang kerja sang ayah mertua. Ia mengetuk pintu dan langsung masuk ketika dipersilakan.
“Selamat siang, Pak.”
“Duduklah.”
Adri duduk dan menunggu apa yang akan dikatakan sang ayah mertua.
“Aku mengirimkan Dwiyanti beberapa bulan yang lalu.”
“Ya, dia sudah dipekerjakan di bagian pemasaran sebagai manager, sesuai arahan Bapak.”
“Bagaimana pekerjaannya?”
“Lumayan.”
“Kamu mengenalnya secara dekat ya sebelum ini?”
“Iya, kebetulan dia teman masa kecil saya, dan agak terkejut juga ketika ternyata yang Bapak kirimkan adalah dia.”
“Saat ini dia sakit?”
“Ada kecelakaan di rumah dia, menyebabkan kakinya, tepatnya pergelangan kaki kirinya, patah dan harus dioperasi kemarin. Tapi hari ini sudah bisa pulang ke rumah.”
“Syukurlah.”
Adri menunggu apa yang sebenarnya akan dikatakan ayah mertuanya. Masalah Dwi sepertinya tidak terlalu penting untuk dibicarakan dengan cara memanggilnya menghadap.
“Aku ingin bicara tentang Dwiyanti.”
"Lhoh, ternyata memang tentang dia?” pikirnya.
“Ada cabang di luar kota yang membutuhkan dia. Jadi nanti mulai bulan depan dia akan dipindahkan ke sana.”
Adri tertegun. Tapi ia tak menjawab apapun.
“Apa kamu keberatan?” lanjut pak Bondan.
“Tidak ada alasan bagi saya untuk keberatan. Kebijakan Bapak adalah kebijakan perusahaan. Saya, adalah bawahan Bapak, walau di kantor sebagai pimpinan.”
“Baiklah. Hanya itu yang akan aku bicarakan.”
Adri merasa heran, hanya akan memindahkan Dwi, mengapa harus memerintahkan agar dirinya menghadap?
“Kamu aku panggil, barangkali akan ada keberatan yang akan kamu ajukan.”
“Tidak ada, saya menyerahkan semuanya kepada kebijakan Bapak.”
“Kapan dia pulang dari rumah sakit?”
“Kabarnya hari ini sudah bisa pulang.”
“Aku mendengar bahwa ada hubungan khusus antara Dwi dan kamu,” kata pak Bondan terus terang. Ternyata pak Bondan masih melanjutkan.
“Bapak mendengar dari siapa?”
“Sebuah kedekatan pasti terlihat dari luar. Hubungan yang tidak wajar juga akan tampak oleh siapapun juga.”
“Kami hanya berteman.”
“Berteman baik?”
“Sangat baik, karena hubungan semasa kecil.”
“Baiklah, aku hanya ingin mengetahui, apakah keluarga kamu baik-baik saja.”
“Kami memang baik-baik saja. Bapak tidak usah mengkhawatirkannya.”
“Syukurlah. Sekarang kamu boleh kembali.”
Adri berdiri, ia mencium tangan sang ayah mertua kemudian mohon diri.
Pak Bondan menatap punggungnya, dan membatin. Tampaknya Adri tak bereaksi mendengar perintah Dwi akan dipindahkan. Tak ada rona terkejut, tak ada sesal. Tampaknya memang tak ada apa-apa diantara mereka. Nirmala benar, rumah tangganya baik-baik saja. Pak Bondan melanjutkan pekerjaannya.
***
Nirmala sedang siap keluar ruangan untuk makan siang, ketika sang ayah menelponnya.
“Assalamu’alaikum” sambutnya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab sang ayah.
“Tumben Bapak menelpon siang-siang.”
“Aku tadi ketemu suami kamu.”
“Bapak ke kantornya?”
“Tidak, bapak panggil dia ke kantor bapak.”
“Oh, ada yang sangat penting?”
“Aku hanya bilang kalau Dwi aku pindahkan ke kantor cabang.”
“Bukankah itu di luar kota?”
“Ya, memang aku pindahkan ke sana.”
“Apa Adri keberatan?”
“Tidak, tampaknya dia tidak berreaksi apa-apa. Bapak mengira tidak ada hubungan apa-apa antara Dwi dan suami kamu.”
“Bapak berpikir terlalu jauh. Rumah tangga Nirmala baik-baik saja.”
“Bapak hanya khawatir, karena mendengar laporan-laporan dari anak buah suami kamu.”
“Mereka hanya melihat luarnya. Adri bilang, dia baik karena Dwi teman masa kecilnya.”
“Ya, dia juga mengatakan itu.”
“Bapak terlalu berlebihan. Adri memang begitu. Tapi dia mengatakan pada Nirma setiap apa yang dilakukannya. Dia memperhatikan Dwi karena kasihan.”
“Tapi kamu harus tetap berhati-hati. Seorang laki-laki yang tampak jinak seperti domba tiba-tiba bisa menjadi seperti serigala.”
Nirmala terkekeh.
“Kamu jangan tertawa. Pesan bapak hanya itu, kamu harus berhati-hati dan terus mengawasi suami kamu.”
“Baiklah, Bapak tidak usah mengkhawatirkan Nirma, Nirma tahu apa yang harus Nirma lakukan.”
“Baiklah. Lanjutkan pekerjaan kamu.”
“Nirma baru mau makan siang.”
“Oh ya, makanlah, jangan sampai tubuhmu kurus karena kurang makan,” canda sang ayah.
Ketika menutup ponselnya, Nirmala masih memikirkan apa yang dikatakan sang ayah. Seorang laki-laki yang terlihat jinak seperti domba, tiba-tiba bisa menjadi seperti serigala? Apa maksud sang ayah?
Nirmala tidak begitu memperhatikannya lagi, ketika mendengar keruyuk lapar dari perutnya.
***
Adri tidak ke kantor lagi tapi langsung ke rumah sakit, seperti janjinya kepada Dwi. Tapi ia tak melihat Dwi di kamar rawatnya. Menurut perawat yang sedang membersihkan ruangan, Dwi sudah pulang dijemput suaminya.
***
Besok lagi ya.