Tuesday, August 4, 2026

AKU ANAK SIAPA 03

 AKU ANAK SIAPA  03

(Tien Kumalasari)

 

Rosa berbicara banyak dengan petugas panti itu, tapi sang petugas lebih sering geleng-geleng kepala.

“Di sekitar tahun yang Anda katakan, tidak ada bayi bernama Rosana yang diadopsi oleh seseorang.”

Rosa terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Bulan … Pebruari, Bu. Kira-kira.”

“Sebenarnya saya belum ada di sini ketika tahun-tahun itu. Dan Bu Kartika, kepala yayasan ini sudah meninggal.”

“Bukankah ada data tertulis di sini?”

“Soalnya sudah terlalu lama.”

“Apakah semua arsip lama selalu dibuang?”

“Tidak sih, tapi harus mencari dengan teliti.”

“Bolehkah saya minta tolong Ibu mencarikannya? Saya ingin sekali tahu, siapa orang tua saya,” sekarang suara Rosa terdengar sangat memelas.

Petugas itu menatapnya iba. Rosa sudah mengatakan tahunnya, persis tanggal dan bulan dan tahun di mana disebutkan di akte pengangkatan anak. Pastinya dari situ data tentang dirinya bisa dilacak.

“Baiklah, saya akan mencoba mencarinya di gudang,” kata petugas itu yang kemudian mengajak beberapa petugas lainnya untuk membantu.

Rosa duduk menunggu dengan gelisah. Perut yang melilit karena belum makan apapun sejak pagi tak dirasakannya. Ia hanya punya uang yang  diberikan pak Gatot, yang hanya cukup dipergunakan untuk ongkos ojol pulang pergi.

Tapi ia tak mempedulikannya. Ia harus tahu dari mana asal usulnya. Pasti tidak jatuh dari langit, bukan?

Lama sekali mereka mencari, hampir tiga jam kemudian, ibu petugas itu keluar dengan membawa sebuah map. Rosa memajukan duduknya agar bisa melihat jelas apa yang akan ditunjukkan wanita itu.

“Apakah ketemu?”

“Di hari dan tanggal dan tahun yang Anda sebutkan, ada seorang bapak bernama Daryono.”

“Ya, itu benar. Dia mengadopsi bayi dari sini kan?”

“Bayi itu baru saja lahir, masih sangat kecil, perempuan, tapi tak bernama, atau memang belum sempat diberi nama.”

“Oh, begitu ya?” Rosa berpikir, nama Rosana itu adalah pemberian ayah angkatnya.

“Dia bayi yang ditinggalkan orang tuanya begitu saja di depan panti, saat malam hari.”

“Apa?”

“Sampai kemudian bayi itu diadopsi, tak ada yang tahu bayi itu anak siapa.”

Tubuh Rosa serasa bagai disiram seember air es. Ia nyaris menggigil.

“Aku anak yang tidak dikehendaki lahir ke dunia ini. Orang tuaku membuangku dengan semena-mena," pikirnya.

Air mata Rosa menetes perlahan.

“Apakah bayi itu Anda?”

“Pastinya saya,” bisiknya lirih.

“Maaf saya tidak bisa membantu lagi. Hanya itu data yang kami temukan.”

Rosa mengangguk lemah, kemudian berdiri. Ia mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan dengan lunglai, keluar dari halaman panti. Air mata mengalir deras di sepanjang pipinya, mengiringi langkahnya. Ia tak peduli ketika banyak orang memperhatikannya. Ia terus melangkah dan ia juga terus menangis.

“Harapanku untuk bertemu orang tuaku kandas. Biar dia miskin, biar dia hina, aku seharusnya bisa hidup bersamanya, tidak bersama pak Gatot yang bukan siapa-siapa.”

Di sebuah jalanan sepi, Rosa melihat sebuah pohon besar yang akarnya menonjol. Kemudian ia duduk melepaskan kepenatan yang merayapi kakinya. Ia belum pernah berjalan kaki sejauh ini. Dulu ke mana-mana ia selalu naik mobil, dan baru sekarang ia menjalaninya berjalan kaki. Ia tak berniat memanggil ojol. Ia hanya ingin terus berjalan, dan sekarang rasa penat mengganggu langkahnya yang semakin pelan. Ia menahan keluarnya air matanya, tapi ia tak mampu menahannya. Ia merasa seperti sebuah layang-layang yang putus talinya, entah kemana dia akan jatuh. Mungkin di antara ranting-ranting pohon, mungkin di sebuah lapangan, atau di sebuah perkampungan kemudian diperebutkan oleh anak-anak kecil, lalu layang itu robek, serpihannya berhamburan ke mana-mana.

Seperti hatinya yang berserpih-serpih, melayang tanpa pegangan.

Ia duduk sambil merangkul kedua lututnya, menyembunyikan wajah sembabnya.

***

Hari itu bu Daryono membantu Bibik memasak di dapur. Tadi di pasar, ia ingin melihat perempuan yang disebut Bibik seperti gelandangan, tapi tidak ketemu. Bu Daryono tampak kecewa. Ia diam saja sambil memetik sayuran yang disiapkan Bibik.

“Mungkin saya salah Nyonya, dia itu benar-benar gelandangan.”

“Katamu wajahnya mirip Rosa?”

“Iya, kalau wajah itu kan bisa saja mirip Nyonya. Masa non Rosa jadi gelandangan.”

“Dia keluar dari penjara, apa dia punya uang? Dia makan apa, dari mana dapat makanan kalau tak punya uang,” kata bu Daryono lirih, yang tampaknya masih sangat memikirkan Rosa.

“Non Rosa bukan anak kecil, pasti dia bisa berusaha untuk mempertahankan hidupnya.”

Bu Daryono menghela napas panjang, terdengar berat.

“Semoga.”

Lalu semuanya terasa sunyi. Hanya suara pisau merajang sayur dan memotong daging, lalu gemercik air keran pencuci alat-alat dapur.

Dulu bu Daryono sangat kesal ketika mengetahui bahwa Rosa terkadang melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Mengejar laki-laki dengan tak tahu malu, melakukan kebohongan, dan yang terakhir melakukan kejahatan sampai berurusan dengan polisi, dan berakhir di balik jeruji besi.

Tapi membayangkan kesengsaraannya setelah keluar dari penjara, hati bu Daryono serasa ikut tersakiti. Ternyata sebuah ikatan batin terjalin dengan sendirinya. Ada rasa kehilangan yang tak disadarinya.

“Bik, besok-besok kalau ke pasar lagi aku ikut ya.”

“Baik Nyonya.”

***

Ketika pak Gatot sampai di rumah, ia tak mendapati Rosa. Ia mencari dan memanggil-manggil ke dalam kamarnya, tapi ia tak menemukannya.

“Ke mana dia? Apa beli makanan di depan situ? Kok tadi aku nggak melihatnya?” gumamnya sendirian.

“Mungkin jenuh di rumah sendirian, lalu jalan-jalan. Aku bingung menghadapi anak itu. Kelihatannya dia sangat tertutup dan tak mau mengatakan di mana asal-usulnya. Tapi biarlah, aku tak akan memaksa. Aku hanya ingin menolongnya. Entah mengapa, rasanya kasihan sekali melihatnya seperti hidup dalam kesengsaraan.”

Pak Gatot kemudian mandi, lalu menyiapkan minuman hangat. Rosa belum kelihatan batang hidungnya. Pak Gatot mulai gelisah. Hal yang tak seharusnya dilakukan. Bukankah Rosa bukan siapa-siapa baginya? Apa ya pantas kemudian dia merasa kehilangan?

“Hanya kasihan saja, semoga dia tak apa-apa.”

Pak Gatot keluar menuju jalan raya, dan ketika itulah dia melihat bayangan Rosa. Berjalan lunglai, seperti tak bertenaga.

Pak Gatot mendekatinya, lalu membimbingnya ke rumah.

“Kamu kenapa? Kok lemas begini? Kamu belum makan?”

“Belum," katanya lemah.

“Mengapa belum makan? Kamu tak membeli makanan dengan uang tadi?”

“Uangnya hilang,” tentu saja Rosa berbohong.

“Hilang?”

Rosa hanya mengangguk. Sebenarnya uangnya masih sisa, hanya saja dia tak mempergunakannya untuk naik ojol atau angkutan umum. Bukan untuk membeli makanan, tapi entah mengapa Rosa ingin menyimpannya.

“Jadi karena uangnya hilang maka kamu tidak membeli makan? Duduk di sini dulu, biar aku belikan di depan,” tanpa menunggu jawaban, pak Gatot bergegas keluar rumah untuk membeli makan.

Rosa duduk dengan lesu. Bukan karena lapar, tapi karena kehilangan harapan tentang siapa sebenarnya orang tuanya.

Ia melahap makanannya ketika pak Gatot datang dengan membawa beberapa bungkus makanan. Pak Gatot ikut makan, dalam diam, karena Rosa tak bicara apapun.

“Kamu menangis seharian?”

Rosa mengangguk.

“Karena uangnya hilang dan tidak bisa makan?”

Rosa kembali mengangguk.

“Ya ampun, nanti aku beri kamu dompet, biar kalau aku beri kamu uang, maka kamu bisa menyimpannya rapi, sehingga tidak mudah hilang."

Rosa diam. Usianya sudah hampir empatpuluh tahun, tapi pak Gatot memperlakukannya seperti anak kecil.

***

Pagi hari itu ia berjalan-jalan ke pasar. Ia tidak ingin membeli sesuatu. Ia hanya ingin melihat suasana dalam keadaan bukan seperti gembel. Pakaiannya bersih, walau sederhana. Ia hanya ingin berjalan-jalan.

Tiba-tiba ia melihat seseorang. Wanita cantik dengan kerudung merah muda, menggandeng seorang anak laki-laki kecil yang tampan, setelah turun dari dalam sebuah mobil.

“Itu kamu? Bahagia ya hidup kamu. Itu bahagia aku, kamu yang merebutnya,” desisnya geram.

***

Besok lagi ya.

 

Monday, August 3, 2026

AKU ANAK SIAPA 02

 AKU ANAK SIAPA  02

(Tien Kumalasari)

 

Beberapa hari Rosa tinggal di rumah pak Gatot, merasa lebih tenang atas kebaikan pak Gatot, yang entah mengapa tiba-tiba jatuh kasihan ketika melihat dirinya teraniaya.

Rosa tak ingin memikirkan masa lalunya yang gemerlap lalu berubah kelam. Karena salahnya sendiri. Cinta yang tak terjangkau membuat dirinya gelap mata.

“Yah, sudahlah. Aku tak ingin memikirkan apapun lagi. Aku hanya ingin mencari siapa orang tuaku.”

Pagi hari itu pak Gatot siap berangkat ke kantor.

“Rosa, kamu santai saja dulu di sini, kalau pikiran kamu sudah tenang, kamu baru memikirkan apa yang akan kamu lakukan. Pasti sedih kalau berada di rumah terus.”

“Iya, nanti saya pikirkan. Tapi maaf Pak, mestinya saya membantu menyiapkan makan, tapi saya tidak bisa memasak,” kata Rosa tersipu. 

Mana bisa memasak, dia hidup dimanja, dilayani, berjanji mau belajar masak saja masih nanti-nanti.

“Tidak apa-apa. Kamu bawa uang ini untuk membeli makan pagi dan siang nanti,” kata pak Gatot sambil memberikan sejumlah uang. 

Rosa menerimanya ragu, ada rasa sungkan karena merepotkan, tapi sebenarnya dia berharap tentang uang itu.

“Terima saja, di depan ada warung makan.”

“Bapak tidak makan dulu, saya belikan?”

“Tidak usah, saya biasa sarapan di kantor. Itu untuk kamu saja.”

Ketika pak Gatot berangkat, Rosa berpikir tentang keinginannya pergi ke panti asuhan, di mana dulu dia diadopsi oleh pak Daryono. Ia menimang-nimang uang yang baru saja diterimanya. Ia bisa makan belakangan. Uang itu akan dipergunakan untuk naik ojol  ke arah panti asuhan itu.

***

“Mengapa Mama melamun?” tanya pak Daryono pagi itu, sebelum berangkat ke kantor.

“Kalau tidak salah, Rosa bebas beberapa hari yang lalu.”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Mengapa dia tidak ke sini ya Pa?”

“Mama berharap dia kembali kemari?”

“Bagaimanapun dia berada di sini sudah puluhan tahun, dan menjadi anak angkat kita. Ikatan batin itu ada.”

“Apa yang dilakukan membuat malu keluarga kita. Aku sudah mengatakan bahwa dia bukan anak kita lagi.”

“Iya sih. Tapi ke mana ya anak itu sekarang? Ia pasti tak tahu ke mana harus pulang.”

“Biarkan saja ia melakukan apa yang akan dilakukannya. Kalau dia kembali dan masih melakukan hal yang memalukan, kita akan merasa terganggu.”

“Seandainya dia kembali kemari, apakah Papa akan mengusirnya?”

“Entahlah. Mungkin aku tega mengusir, mungkin juga tidak.”

“Ternyata Papa merasakan hal yang sama seperti yang mama rasakan.”

Pak Daryono menghela napas panjang. Betapapun marah dan kecewanya atas kelakuan Rosa, tapi ikatan batin itu sudah terjalin lama. Tak bisa dilupakan begitu saja. Hanya saja pak Daryono lebih tegar menghadapinya.

“Ya sudah Ma, tidak usah dipikirkan lagi. Dia bukan milik kita. Sekarang aku berangkat ke kantor ya.”

“Hati-hati Pa.”

Bu Daryono melepas kepergian suaminya dengan perasaan yang mengharu biru, gara-gara teringat kalau Rosa sudah harus keluar dari penjara. Entah ke mana anak itu sekarang. Tiba-tiba bu Daryono memikirkannya.

“Walau dia sering melakukan hal yang tidak terpuji, seperti tidak tahu malu ketika mengejar Arka, kemudian menaruh dendam kepada anak penjual beras itu, sehingga membuatnya hampir celaka, tapi dia sudah mendapatkan hukumannya. Semoga untuk hari-hari selanjutnya dia mendapatkan jalan yang baik dan bersih. Tapi ke mana dia berada sekarang?” gumam bu Daryono pelan.

“Nyonya, saya mau ke pasar sekarang,” tiba-tiba bibik membuyarkan lamunan bu Daryono.

“Oh, iya. Pergilah Bik.”

“Apakah Nyonya memikirkan non Rosa?”

“Iya Bik sedikit. Biar bagaimanapun bertahun-tahun dia bersama kita kan?"

"Ketika bibik ke pasar beberapa hari yang lalu, saya melihat perempuan dikeroyok orang banyak, gara-gara mencuri roti.”

“Kasihan, hanya mencuri roti, dikeroyok orang banyak? Perempuan pula. Pasti dia lapar.”

“Bibik kok agak heran, perempuan itu mirip non Rosa.”

“Apa? Mengapa kamu tidak menolongnya?”

“Saya tidak yakin kalau itu non Rosa. Perasaan bibik saja, wajahnya mirip. Tapi pasti bukan. Wajahnya kumuh, kotor, seperti gelandangan.”

“Dikeroyok lalu bagaimana? Dia pingsan?”

“Ada yang menolongnya, pakaian satpam. Dia tampaknya juga merasa kasihan pada perempuan itu. Penjual roti itu sudah dibayar oleh pak Satpam setelah bertanya harga rotinya.”

Bu Daryono diam-diam berpikir.

“Jangan-jangan itu memang Rosa. Tidak aneh kalau dia berwajah kotor kumuh seperti gelandangan. Dia tidak punya tempat tinggal, tidak punya sesuatu untuk dimakan, pasti dia juga lapar, sampai mencuri makanan,” kata batin bu Daryono.

“Tapi bibik kira pasti bukan, Nyonya. Hanya wajahnya yang mirip. Masa non Rosa seperti itu.”

“Di mana kamu melihatnya?”

“Di dekat pasar, saya sudah mau pulang. Saya hanya berhenti sebentar, lalu berjalan ke pinggir jalan, menunggu angkutan.”

“Ya sudah, berangkatlah belanja. Kalau nanti ketemu perempuan itu lagi, beri dia uang.”

“Baik Nyonya.”

Tapi apa yang dikatakan Bibik sangat membekas di hati bu Daryono. Jangan-jangan benar Rosa, pikirnya. Tiba-tiba bu Daryono berteriak.

“Bik, tunggu Bik.”

Bibik membalikkan tubuhnya, mendekati sang nyonya.

“Tunggu sebentar, aku ikut. Aku panggil taksi dulu.”

“Oh, baik Nyonya.”

***

Rosa sudah sampai di panti seperti yang dibaca di surat yang pernah ditunjukkan pak Daryono.

Ia ragu melangkah masuk. Tentu dia tidak datang sebagai anak angkat pak Daryono. Dia sudah diusir sebelum keluar dari penjara. Pakaiannya juga pakaian sederhana seperti dibelikan pak Gatot.

Ada orang yang duduk di depan panti itu, sambil membuka-buka sebuah berkas. Ia mendekat, sedikit ragu. Bukan takut, ada rasa sungkan karena terbawa di masa lalu. Kalau dia datang ke suatu tempat, pastilah dengan penampilan yang luar biasa. Baju bagus, sepatu bagus, rambut tergerai indah dan pastinya wangi. Sekarang, ia hanya memakai sendal murahan yang dibelikan pak Gatot, baju murahan yang jauh lebih murah dari baju hariannya kala itu.

Rosa menghela napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya. Ia harus menguatkan hatinya. Masa kejayaan itu sudah lewat. Yang mewah-mewah sudah berlalu. Ia bahkan datang dengan mengendarai ojol. Barangkali orang akan menganggapnya sebagai pembantu rumah tangga.

“Ah, sudahlah persetan dengan penampilan kumuhku, yang penting aku bisa segera menemukan siapa orang tuaku,” gumamnya pelan, sambil terus melangkah.

Perempuan paruh baya itu seperti tak melihat kedatangannya, sampai Rosa benar-benar berdiri di depan tangga, persis di depan meja kerja perempuan setengah tua itu.

“Sel … selamat pagi.”

Perempuan itu mengangkat wajahnya, menatapnya tajam, membuat Rosa semakin risih dengan penampilannya.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu Nak?.”

“Boleh saya masuk?”

“Oh, maaf, silakan masuk.”

Rosa masuk, lagi-lagi dengan perasaan risih memikirkan penampilannya, padahal orang di depannya sama sekali tidak mempedulikan penampilan tamunya.

“Apa yang bisa saya bantu?” kata perempuan itu lagi.

Rosa yang semula menundukkan wajahnya, kemudian mengangkatnya.

“Saya dulu diambil dari panti asuhan ini.”

Wanita itu membelalakkan matanya.

“Nama saya Rosa. Rosana," lanjutnya.

“Kapan ya?”

"Sudah tigapuluh limaan tahun yang lalu, eh … lebih …”

“Wouw, saya belum bekerja di sini.”

“Saya ingin tahu, siapa orang tua saya sebenarnya.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, August 2, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 011

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  011

(Tien Kumalasari)

 

Rahman melihat ibunya duduk di lantai, dan seorang nyonya cantik sedang memarahinya, menuding-nuding wajahnya.

Baroto mendekat. Ana tak ada di sana.

“Apa yang kamu lakukan?” tegurnya kepada sang istri.

“Ini, pengemis … eh … pemulung ini, enak-enak makan di sini bersama Ana. Rumi sudah mengingatkannya, tapi Ana nekat. Lihatlah, pakaian kumuhnya, dia duduk di kursi situ dengan nyaman. Lalu_”

“Diam kamu!” sentak Baroto, membuat sang istri mengerutkan keningnya.

“Mengapa kamu membelanya Mas?”

“Ini bukan kemauan dia, ini kemauan Ana. Ana suka kepadanya, apa salahnya? Mengapa juga kalau dia duduk di kursi dan makan bersama Ana?”

Tiba-tiba Ana muncul. Ia tadi pamit ke belakang karena perutnya sakit. Ketika keluar, ia terkejut melihat Menur duduk di lantai.

“Mengapa Bibi duduk di bawah, ayolah naik. Duduk di sini seperti tadi,” kata Ana sambil menarik tangan Menur. Tapi Menur menolaknya.

“Bibi mau pulang saja, ini sudah siang,” kata Menur sambil berdiri.

“Ini karena kamu bertindak semau kamu, merusak tatanan yang ada di rumah ini.”

“Tatanan apa?”

“Pembantu saja tidak boleh duduk di kursi, bagaimana mungkin seorang pengais sampah diijinkan duduk di kursi bersama dengan anak kita?”

“Biarkan pembantu duduk bersama kita, dan biarkan wanita ini duduk sejajar dengan anak kita, memangnya kenapa? Mereka juga manusia seperti kita.”

“Mereka tidak sejajar dengan kita Mas.”

“Kamu yang membuat tidak sejajar.”

“Mama, jangan bertengkar. Bibi Menur akan ada di sini bersama Ana.”

“Kamu masih nekat Ana?”

“Aku ingin dia, aku merasa senang bersama dia.”

“Kamu keterlaluan!”

“Apa tidak boleh? Kalau tidak boleh, Ana akan bilang pada nenek.”

“Apa?” nyonya Baroto melotot marah. Ana punya senjata untuk memaksanya. Kalau sampai ibunya tahu Ana disia-siakan, maka sang ibu akan memarahinya. Itu yang kemurian membuat kemarahan sang nyonya menjadi surut.

“Terserah kamu saja!” kata nyonya Baroto sambil masuk ke dalam. Tak lupa ia menghentakkan kakinya karena kesal.

Ana tersenyum.

“Bukankah Papa mengijinkan bibi Menur tinggal di sini?”

“Tentu saja Ana, asal Ana senang, papa mesti mengijinkan.”

Tapi Menur yang sudah berdiri di luar, menggelengkan kepalanya.

“Non Ana jangan memaksakan kehendak. Kalau mama tidak suka, NOn Ana harus menurut.”

“Mengapa bibi memanggil aku non Ana? Panggil namaku seperti sebelumnya.”

“Kita berbeda derajat non.”

“Aku tidak tahu tentang derajat. Aku mau bibi,” kata Ana sambil memeluk Menur yang sudah berdiri di luar teras.

Sementara itu Rahman yang melihat adegan itu merasa ada sesuatu yang menusuk perasaannya. Gadis kecil yang cantik dan berpakaian bagus itu tidak merasa jijik memeluk ibunya yang pakaiannya kumal dan mungkin juga tidak berbau wangi. Sedangkan dirinya tak sedikitpun pernah melakukannya. Ia selalu merendahkan ibunya. Ibu yang melahirkannya dengan taruhan nyawa, yang meneteskan keringat demi dirinya. Itu kata-kata Baroto yang belum lama didengarnya.

Sekarang, ketika ia mendengar ibunya direndahkan, rasa sakit serasa menusuk dadanya. Tak rela. Ada yang berubah pada dirinya. Baroto menyadarkannya, saat dia berbohong dan ketahuan.

Rahman maju, dan memegangi tangan sang ibu.

“Ibu, ayo pulang,” katanya lembut.

Ana baru sadar kalau ada orang lain di situ. Demikian juga Menur. Ia tak menyangka bahwa Rahman menyusulnya. Ia heran Rahman menyapanya lembut.

“Kamu siapa?” tanya Ana sambil menatap Rahman

“Ini adalah ibuku. Walaupun hina, dia adalah ibuku.”

Ana menatap Menur, meminta jawaban, apakah apa yang dikatakan anak laki-laki itu benar, sementara Baroto menatap Rahman sambil tersenyum. Ia merasa lega, semua perkataanya berhasil masuk ke dalam sanubarinya.

Menur yang terkejut melihat sikap Rahman, kemudian merangkul pundaknya.

“Ayo kita pulang, Nak,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

“Bibi, jangan pergi!’ pekik Ana sambil mengejarnya.

“Ana, jangan begini. Kamu punya keluarga yang sangat perhatian sama kamu.”

“Tapi aku mau Bibi,” rengek Ana, sambil menangis.

“Jangan begini Ana, bibi tidak pantas tinggal di sini.”

“Bibi tidak boleh pergi.”

Baroto mendekat, berusaha menenangkan hati Ana.

“Ana, kali ini biarlah bibi Menur pulang, biar dia pikirkan permintaan kamu, karena bibi juga punya anak sendiri. Besok kita ajak dia bicara lagi.”

“Dia takut pada mama.”

“Nanti papa bicara sama mama, sudah, jangan menangis. Papa yakin mama akan mengijinkan. Kita tinggal membujuk bibi Menur supaya mau. Ya?”

Ana mengangguk sambil mengusap air matanya.

Menur dan Rahman sudah berjalan, menuju keluar halaman. Baroto mengejarnya. Ia berbisik di telinga Menur.

“Apakah dia anakku?”

Menur terus melangkah, tapi Baroto dengan nekat mengikutinya.

“Iya apa bukan? Katakan terus terang.”

“Bukan. Mengapa kamu begitu yakin?”

“Aku merasakan sesuatu ketika bersamanya. Naik kuda berdua, makan berdua.”
”Jangan mengada-ada. Kamu membuatku sakit karena terhina. Memang aku hanya orang rendahan, mana pantas duduk bersama dengan keluarga konglomerat seperti kalian?”

“Mengapa mengalihkan pembicaraan? Pertanyaanku bukan itu.”

Baroto tadi hanya berbisik, karena tak mau Rahman mendengarnya. tapi kemudian ia berkata dengan nada biasa. Rahman juga tak memperhatikan pembicaraan itu. Ia tahu sang ibu sudah kenal baik dengan om ganteng yang kaya raya itu. Jadi ia membiarkannya. Yang jelas perasaan Rahman kepada ibunya sudah berbuah. Bukan hanya karena perkataan Baroto saat makan, tapi sikap putri kecil ana keluarga kaya itu yang begitu akrab dengan ibunya, merangkulnya tanpa merasa jijik padahal bajunya bagus dan ibunya hanya memakai baju kumuh. Tiba-tiba saja Rahman merasa sakit hati ketika mendengar ibunya direndahkan. Rahman sebenarnya anak baik. Ia hanya terpengaruh teman-teman sekolahnya, yang merendahkan temannya yang bukan anak keluarga kaya. Rahman tak mau dirinya  juga direndahkan, lalu ia menyesal mengapa terlahir dari keluarga miskin. Bahkan ibunya menjadi pemulung. Itu yang membuat sifatnya berubah, dan tak merasa bahwa telah menyakiti hati ibunya. Tapi entah mengapa, ia bertemu seorang Baroto, om ganteng yang baik, lalu bisa membuka hatinya, menyadari kesalahannya. Karenanya ia menggandeng tangan sang ibu erat-erat di sepanjang perjalanannya. Perubahan itu membuat Menur terkejut, tapi dia juga bahagia. Tangan kecil itu menggenggam jemarinya dengan hangat, dan kehangatan itu menyusuri setiap aliran darahnya. Apapun yang terjadi, Rahman ternyata menyayanginya.

***

Baroto kembali ke rumah, ketika mendengar jawaban Menur yang membuatnya kecewa. mendapati Ana sedang menangis meraung-raung. Rumi kewalahan membujuknya.

“Ana, berhentilah menangis.”

“Ana mau bibi Menur. Ana mau bibi Menur.”

“Bibi Menur sedang mengantarkan anaknya pulang. Nanti papa akan bicara lagi sama bibi Menur. Ya?”

“Bibi Menur tidak mau karena mama memarahinya. Mama jahat. Bibi Menur pasti pengin marah tapi tidak berani.”

“Tenanglah, tidak apa-apa., nanti papa bantu membujuknya.”

“Tapi dia pasti tidak mau. Papa tidak akan berhasil.”

“Mengapa kamu berkata begitu?”

“Mama sudah memarahinya.”

Lalu Ana menangis semakin keras. Sedangkan nyonya Baroto tak mau keluar dari kamarnya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Baroto dan Ana bergegas keluar karena itu suara mobil mertuanya.

Sang ibu mertua turun lalu bergegas menghampiri Ana.

“Cucu nenek, mengapa menangis? Siapa berani membuat cucuku menangis?”

“Nenek, mama jahat sekali.”

“Oh ya? Mamamu melakukan apa? Kamu dijewer? Dicubit?”

“Tidak. Mama memarahi bibi Menur.”

“Siapa bibi Menur?”

“Ana mau bibi Menur menjadi pengasuh Ana, tapi mama tidak ijinkan.”

“Kamu kan sudah punya Rumi?”

“Aku juga mau bibi Menur?”

“Siapa dia? Mengapa istrimu tidak mengijinkan?” tanya sang mertua sambil menatap menantunya.

“Dia seorang pengais sampah,” Ana yang menjawab kemudian.

“Apa? Pengais sampah? Mengapa kamu ingin pengasuh seorang pengais sampah? Kamu boleh minta apa saja, tapi jangan yang aneh-aneh,” katanya sambil duduk bersama di ruang tengah.

“Dia baik, dia sangat baik. Lagipula Ana kasihan, dia mencari botol kosong setiap hari, untuk sekolah anaknya.”

“Seperti apa sih dia?”

“Pokoknya dia baik, nenek harus memarahi mama,” kata Ana sambil menggoyang-goyang tangan neneknya.

“Mana mama kamu, panggil kemari.”

Ana segera berlari ke kamarnya. Harapan untuk mendapat ijin dari mamanya akan terwujud, karena ia yakin sang nenek akan membelanya.

***

Sesampai di rumah, Menur melihat bahwa makan siang yang disiapkan sejak sebelum berangkat untuk menemui Ana, masih belum tersentuh.

“Rahman, mengapa kamu tidak makan? Ibu hanya membeli telur, dan_”

“Rahman sudah makan bersama om ganteng.”

Menur membelalakkan matanya.

“Ibu belum bertanya, mengapa tadi kamu bisa bersama dia.”

“Tadi om ganteng datang ke sekolah, lalu mengajak Rahman makan di restoran. Lalu diajaknya ke rumahnya yang bagus itu.”

“Ibu kira kamu sudah pulang makan, lalu pergi bersama dia.”

“Tidak. Karena om ganteng, Rahman menyesal telah menyakiti hati ibu.”

“Karena itulah sikapmu pada ibu berubah?”

“Rahman juga ingin marah melihat nyonya kaya itu memarahi Ibu.”

Menur merangkul anaknya dengan air mata berlinang.

“Tapi mulai besok kamu tidak boleh lagi pergi bersama dia,” kata Menur tandas.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, August 1, 2026

AKU ANAK SIAPA 01

 AKU ANAK SIAPA  01

(Tien Kumalasari)

 

Seorang perempuan berjalan tertatih di jalan raya. Wajah yang aslinya cantik tampak kumuh berdebu. Bajunya yang kucel dan usang menyembunyikan sesuatu yang indah dipandang sebelumnya.

Di depan sebuah warung dia berhenti.

“Bolehkah saya minta makan? Sedikit tidak apa-apa, saya lapar,” katanya memelas.

“Hei, agak jauh sana, tubuhmu bau. Nanti pelangganku kabur semua,” hardik seorang perempuan gemuk dari dalam warung. Tampaknya dia pemilik warung itu.

Perempuan kumuh itu mundur, lalu berjalan menjauh dengan lunglai.

Di sebuah warung yang lain, dia masuk, lalu seseorang berteriak.

“Maliiiing.”

Perempuan itu lari, orang-orang mengejarnya. Ia tersandung batu dan jatuh tertelungkup. Beberapa orang memukulinya. Perempuan itu ambruk tak sadarkan diri. Sepotong roti masih ada di dalam genggamannya.

Lalu ada suara laki-laki berteriak.

“Heii, hentikan!”

Laki-laki itu mendekat, sudah setengah tua. Ia mengenakan seragam satpam. Rupanya ia bertugas di sebuah toko pakaian yang ada di dekat tempat itu. Rasa iba menyeruak. Ia menatap orang-orang yang masih memandangi perempuan itu dengan marah.

“Apa kalian masih manusia? Dia itu pingsan, hampir mati, dan kalian masih memukulinya?”

“Dia mencuri di warung saya Pak. Kalau dibiarkan dia akan terbiasa mencuri,” kata si pemilik warung.

“Berapa harga makanan yang diambilnya?” tanyanya sambil melirik ke arah tangan perempuan yang masih menggenggam sepotong roti. 

Ia bergerak perlahan, berusaha duduk. Wajahnya matang biru.

“Sepuluh ribu rupiah Pak.”

“Ini, aku bayar roti sampeyan, dan bubar semuanya.”

Pemilik warung menerima selembar puluhan ribu kemudian berbalik. Sudah dibayar tapi dia masih mengomel panjang pendek.

Perempuan itu terisak.

“Saya … lapar,” lirihnya.

“Baiklah, makan roti itu dulu, duduklah disana,” kata laki-laki itu sambil menuntunnya ke tempat sepi. 

Ada bangku kosong di bawah sebuah pohon. Bangku milik tukang warung es yang tidak dipakai. Mungkin libur berjualan.

Laki-laki itu meninggalkan perempuan yang kemudian melahap rotinya. Ia tampak sangat lapar.

Tak lama kemudian ia datang, lalu memberikan sebungkus nasi dan sebotol minuman.

“Kamu pasti masih lapar. Ini makanan, dan minuman. Habiskan ya.”

“Terima … kasih.”

“Namamu siapa?”

“Rosa …,” jawabnya lirih.

“Rumahmu di mana?”

Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak punya rumah?”

Rosa kembali menggeleng.

“Nanti kalau jam tugasku selesai, kamu ikut aku ke rumah ya.”

Rosa tak menjawab. Dia sedang membuka botol minuman, lalu meneguknya hampir separo. Ia meletakkan botolnya, kemudian membuka bungkusan nasi.

Terharu pak satpam ketika melihat cara Rosa makan. Kelihatan sekali dia sangat lapar.

“Duduk dulu di sini, tunggu aku selesai bertugas. Di sana ada kamar mandi untuk umum. Cuci mukamu, dan bersihkan badanmu. Setelah itu duduk saja di sini dan tunggu aku."

Rosa lagi-lagi mengangguk, dan pak satpam yang baik hati itu berlalu untuk menghabiskan waktu tugasnya.

***

Rosa ngelesot di tanah. Ia tertidur dengan sebelah tangan ditekuk, dipergunakannya sebagai bantal. Udara panas tak dihiraukannya. Ia sudah kenyang kemudian merasa mengantuk. Semilir angin dari pepohonan membuat ia segera terlelap. Tak seorangpun menoleh ka arahnya. Mereka menganggapnya seorang gelandangan yang tertidur karena kelelahan.

***

Perempuan itu memang Rosa. Rosana, anak angkat pengusaha kaya yang baru saja keluar dari penjara setelah melakukan kejahatan.

Ia tak mau kembali ke rumah orang tua angkatnya, setelah mereka tak mau lagi mengakuinya sebagai anak angkat.

Karena itulah ia tak mau lagi menginjakkan kakinya ke rumah itu. Tapi hal yang sangat ingin diketahuinya adalah, anak siapa sebenarnya dirinya ini.

Di catatan ayah angkatnya ia hanya melihat sekilas, bahwa dia dipungut dari sebuah panti asuhan. Ia tidak lupa nama panti itu. Panti Asuhan Rasa Sayang, alamatnya sudah dia catat dalam hati. Ia mau ke sana, tapi ia tak memiliki sepeserpun uang untuk pergi menemukan tempat itu. Makanpun ia harus menahannya selama entah berapa lama, sampai ada belas kasihan orang untuk memberinya makan. Yang terakhir karena tak ada lagi yang dia makan sementara dia sudah kelaparan, maka ia masuk ke sebuah warung lalu mengambil sepotong roti yang dijual. Itu sebabnya dia diteriaki maling lalu dipukulin orang beramai-ramai.

Beruntung ada bapak satpam yang baik hati, yang membelanya lalu memberi dia makan, bahkan akan mengajaknya pulang. Apa satpam itu tak punya keluarga? Mengapa begitu baik dia kepada dirinya yang belum pernah dikenal sebelum itu?

***

Hari sudah sore ketika pak satpam yang belum diketahui namanya itu membangunkannya dari tidur yang lelap.

“Masih mau tidur,” Rosa menggeliat, lalu duduk tiba-tiba.

“Mau ikut aku pulang?” katanya sambil memberikan sebuah bungkusan.

“Ini … apa?”

“Baju ganti. Bajumu lusuh. Hanya tiga, tapi baju murahan.”

“Ini sangat luar biasa, terima kasih banyak.”

“Mau ikut ke rumah aku?” ulang pak satpam.

“Apa boleh?”

“Aku tinggal sendirian. Tidak punya anak, tidak punya istri. Entah mengapa ketika melihat kamu, aku jadi merasa iba dan ingin menolong. Tapi aku tidak memaksa, aku hanya berniat baik.”

“Saya mau.”

Laki-laki setengah tua itu tersenyum. Ia menghampiri sepeda motornya, lalu meminta Rosa agar duduk di boncengan.

Tak ada pilihan lain bagi Rosa. Kalau benar pak satpam tulus menolong, dia akan tinggal di rumahnya, tidak kehujanan, tidak kepanasan, dan yang penting tidak kelaparan.

***

Rumah itu kecil. Hanya ada dua kamar, ada ruang untuk bersantai, ada televisi kecil, ada dapur dan kamar mandi didekatnya. Hanya rumah sederhana, tapi Rosa merasa nyaman, daripada hidup diluaran yang tak tentu di mana dia bisa tidur, daripada hidup di penjara juga pastinya.

"Ini boleh kamu jadikan kamar kamu, tapi kamu harus membersihkannya terlebih dulu. Ada kasurnya walau tipis. Almari kecil untuk tempat baju atau apa," kata pak satpam.

"Di situ dapur, di sana kamar mandi. Sepertinya kamu harus mandi, ada sikat gigi dan sabun untuk  kamu pakai. Masih baru, dan taruh di tempat lain, tidak jadi satu dengan punyaku," lanjutnya.

"Aku hidup sendirian setelah istriku meninggal karena suatu penyakit. Aku selamanya hidup sederhana. Yang penting bisa makan cukup dan berpakaian pantas. Apa kamu suka?”

“Saya sangat berterima kasih karena Bapak telah menolong saya," kata Rosa.

“Sebenarnya di mana orang tua kamu?”

Rosa tak mau menceritakan yang sebenarnya. Bahwa dia pernah menjadi anak angkat orang kaya, bahwa dia pernah melakukan kejahatan dan dipenjara, tidak. Semuanya hanya akan disimpan untuk dirinya sendiri.

Surat-surat yang diberikan oleh kepala penjara tentang kebebasannya, sudah dibuangnya jauh-jauh setelah dirobek-robeknya menjadi serpihan kecil, seperti hidupnya yang berujud serpihan nyawa yang entah ke mana angin akan membawanya.

“Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?” ulang pak satpam ketika mereka sudah mandi bersih, dan pak satpam menyediakan minuman hangat untuk mereka.

“Maafkan saya Pak.”

“Panggil saya pak Gatot.”

“Oh, iya pak Gatot. Saya tidak ingin mengingat masa lalu saya. Saya diusir oleh orang tua saya. Mereka sangat miskin. Saya harus mencari makan sendiri.”

“Mengapa kamu tidak dinikahkan saja dengan seseorang yang bisa menghidupi kamu?”

“Tidak ada yang mau menikahi anak orang miskin.”

“Benarkah?”

Rosa terdiam, dan pak Gatot merasa bahwa Rosa tidak mau atau belum mau bercerita tentang siapa dirinya.

“Baiklah, aku tidak memaksa. Tapi orang hidup itu kan harus punya tujuan. Apa sebenarnya yang kamu inginkan dalam hidup ini?” kata pak Gatot.

Apa yang dia inginkan? Tadinya dia sudah akan mendapat tugas mengurus usaha orang tua angkatnya di luar negri, tapi gagal karena kelakuan busuknya. Ia selalu bergelimang harta, kemana-mana naik mobil, makan enak, tidur nyenyak di kamar indah dan tempat tidur yang nyaman. Sekarang ini ia hanya ingin mencari, siapa orang tuanya, dan di mana mereka berada.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, July 30, 2026

AKU ANAK SIAPA

 AKU ANAK SIAPA  

(Tien Kumalasari)


Seorang gadis berjalan tertatih dijalan Raya. Wajah yang aslinya cantik, tampak kumuh berdebu. Bajunya yang usang dan kucel.. menyembunyikan sesuatu yang indah dipandang sebelumnya.

Di depan sebuah warung dia berhenti.

"Bolehkah saya minta makan? Sedikit saja. Saya lapar," katanya memelas.

"Hei, agak jauh sana... tubuhmu bau. Nanti pelangganku kabur semua," hardik ibu-ibu gemuk yang rupanya pemilik warung.

Wanita itu mundur, lalu berjalan menjauh dengan lunglai.


Di sebuah warung yang lain, seseorang berteriak.

"Heiii, pencuriiii!"

Orang-orang mengejarnya, membuatnya tersandung batu dan jatuh.

Beberapa orang memukulnya bertubi-tubi.


Cerita apa nih? Mudah2an seru ya. Tungguin...

***

besok-besok ya..


---




Wednesday, July 29, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 61

 NAMAKU TETAP SENJA  61

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengangkat tubuhnya, duduk menghadapi simboknya yang terbaring dengan wajah lesu.

“Jadi Senja harus menolaknya?”

“Nja, apa kamu juga mencintai dia?”

“Entahlah Mbok, Senja bingung.”

“Sepertinya kamu keberatan menuruti permintaan Simbok.”

“Bukan Mbok, Senja tidak keberatan. Senja juga mengerti kalau Senja tak pantas untuk mas Arka.”

“Kalau begitu tidak usah kamu pikirkan. Kamu bilang saja kamu dilarang Simbok.”

“Mas Arka sudah begitu baik sama kita. Dia rela antar jemput Senja setiap hari, saya sudah melarangnya tapi dia nekat.”

“Justru karena itu Nja. Simbok tidak meragukan kebaikannya, tapi Simbok akan merasa kasihan kalau pada suatu hari nanti dia menyesal. Banyak gadis cantik yang pintar, mengapa harus kamu? Pastilah dia akan menyesal. Entah kapan, dan hal itu hanya membuat hati kamu sedih.”

Senja kembali ambruk di samping simboknya, memeluk pinggangnya erat.

“Simbok hanya memikirkan kebahagiaan kamu. Simbok tak ingin kamu menderita.”

“Senja tahu, Simbok sangat menyayangi Senja dan juga Rimba.”

“Apa kamu menyesal terlahir dari rahim seorang miskin?”

“Mengapa Simbok berkata begitu? Senja dan Rimba bahagia menjadi anak Simbok, yang rela bersusah payah demi kami berdua.”

“Simbok hanya ingin, anak-anak Simbok pintar, tidak seperti Simbok yang buta hurup seperti ini. Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan, manusia hidup itu kan hanya sekedar menjalani, dan perjalanan hidup kita bukan kita yang menentukannya, tapi Yang Maha Kuasa.”

“Iya Mbok, Senja mengerti.”

“Bagaimana pekerjaan kamu?”

“Baik Mbok,” jawab Senja yang tak ingin menceritakan bahwa ada yang tidak menyukainya.

“Teman-teman kerjamu baik?”

“Sangat baik Mbok.”

“Kamu suka bekerja di sana?”

“Suka. Semua pekerjaan Senja suka. Walau sedikit, Senja senang bisa membantu Simbok.”

“Besok kalau kamu gajian lagi, jangan semua diberikan Simbok seperti kemarin. Kamu harus menyimpannya sebagian, menabungnya, untuk keperluan kamu sendiri.”

“Nanti kalau Senja butuh sesuatu, tinggal minta sama Simbok.”

“Kamu tidak ingin membelanjakan uang jerih payah kamu sendiri?”

“Apa bedanya Senja minta dari Simbok?”

“Ya sudah, jangan pikirkan masalah itu lagi, tidurlah, sudah malam. Jangan sampai besok pagi kamu bangun kesiangan.”

***

Arka sedang melamun sendirian, duduk di teras, tak peduli udara dingin yang menggigit.

Hampir tengah malam ketika tiba-tiba pak Wiguna keluar.

“Kamu belum tidur?”

“Bapak juga, mengapa belum tidur?”

“Bapak sudah tidur tadi, terbangun karena haus. Melihat kamarmu masih terbuka dan Bapak lihat kamu tidak ada di kamar.”

“Gerah.”

“Udara begini dingin, tapi kamu kegerahan?”

“Sekarang agak dingin.”

“Kamu sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak.”

“Bapak dengar kamu memindahkan Asih ke gudang pemasaran. Karena kamu lebih memilih Senja yang jadi sekretarismu?”

“Bukan karena saya memilih Senja. Sudah sebulan lebih Senja bekerja sama dengan baik, dan Senja sudah banyak mengerti.”

“Iya, aku tahu itu.”

“Tapi rupanya Asih mempunyai rasa tidak suka pada Senja.”

“Bapak kira itu wajar. Asih sudah lebih lama bekerja. Dia takut tersaingi.”

“Tapi saya tidak mengistimewakan Senja, dalam segi apapun. Gaji Asih masih tetap seperti biasa, dan Senja jauh lebih sedikit karena dia baru, dan tingkat pendidikan mereka berbeda.”

“Tapi namanya manusia kan bisa saja ada rasa khawatir.”

“Tadi Asih merubah surat yang dibuat Senja, maksudnya supaya Senja melakukan kesalahan, dan itu fatal. Dia mengganti angka penawaran harga yang jauh lebih mahal. Itu akan merugikan kita. Kejahatan itu yang membuat saya menyingkirkan Asih. Bukan memecatnya, hanya memberinya pelajaran.”

“Apa kamu menyukai Senja?”

“Bukan karena menyukai lalu saya menghukum Asih.”

“Yang Bapak tanyakan, apa kamu menyukai Senja?”

Agak lama Arka menjawabnya.

“Ini ada apa, malam-malam berbincang di sini?” tiba-tiba bu Wiguna keluar.

“Ibu bangun? Di sini dingin.”

“Kalau begitu masuklah, kalau memang ada pembicaraan penting. Nanti ibu buatkan minuman hangat.”

Pak Wiguna mengangguk.

“Aku sedang menunggu jawaban Arka.”

“Jawaban tentang apa?”

“Apa Arka sebenarnya menyukai Senja … itu pertanyaannya.”

“Bagaimana Ka, ibu juga ingin tahu jawabannya.”

“Apakah Bapak atau Ibu keberatan kalau Arka menyukai Senja? Dia hanya gadis anak penjual beras. Pendidikannya hanya sampai SMA. Nanti Bapak bilang kalau dia tidak sepadan dengan keluarga kita.”

“Ibu bagaimana?” tanya pak Wiguna yang urung masuk rumah karena serius membicarakan Senja.

“Terserah Bapak saja. Mana yang sebaiknya Arka lakukan. Kalau Bapak setuju, Ibu juga.”

“Bapak sudah mengerti kalau harta tidak selalu membuat kita bahagia. Perilaku yang baik bisa lebih menenangkan. Ya kan? Aku belajar dari keinginan aku dulu, yang berharap bisa punya menantu anak orang kaya. Tapi apa, ternyata dia gadis yang tidak bener, malah sekarang mendekam di penjara.”

“Senja gadis yang jujur, dan sangat bersemangat. Dia tidak menyukai harta. Dia sangat rendah hati, dan tidak akan memeras kita,” kata Arka bersemangat melihat sikap ayahnya tampak lunak dan tidak berteriak-teriak ketika tidak menyukai sesuatu.

“Janganlah merasa bahwa kebahagiaan terletak kepada harta. Ketika kita berjalan dijalan yang benar, maka itulah bahagia,” kata bu Wiguna sambil melirik ke arah suaminya.

Bukankah bu Wiguna tahu perilaku pak Wiguna yang membawanya kepada kebohongan yang bertubi-tubi? Tapi bu Wiguna sangat bijak, tak ingin mengungkit penyelewengan sang suami. Menurutnya ketika suaminya sudah kembali ke jalan yang benar, itu sudah cukup.

“Kalau begitu terserah Arka. Hidupmu adalah kamu sendiri yang menentukannya. Kapan kamu meminta Bapak dan Ibu melamar? Kalau lamaran itu diterima, keluarga Senja akan aku suruh menempati rumah yang ada di perumahan baru itu, aku sudah membayarnya lunas.” 

Pak Wiguna kelepasan bicara padahal masalah rumah itu istrinya dianggapnya tidak tahu.

“Lhoh, jadinya Bapak beli rumah? Yang brosurnya aku temukan itu?" kata bu Wiguna pura-pura terkejut.

Pak Wiguna berdiri lalu menggandeng lengan istrinya.

“Bu, aku pernah melakukan kesalahan, nanti aku ceritakan semuanya, termasuk rumah itu. Tapi aku sudah sadar, aku mengerti bahwa di sinilah rumahku,” kata pak Wiguna sambil berjalan masuk.

Arka tersenyum lucu. Ia tahu semuanya, ia juga yakin sang ibu juga tahu. Tapi ia senang ayahnya mengakui kesalahannya.

***

“Ini suratnya pak, maaf agak lama, karena saya harus berpikir sendiri,” kata Senja sambil menyodorkan sebuah arsip ke meja Arka.

“Aku tahu kamu bisa melakukannya. Duduklah dulu, aku mau bicara.”

Senja berdebar. Ia tahu apa yang akan dikatakan Arka. Dan ia juga tahu apa jawab yang akan diutarakannya. Simboknya sudah mewanti-wanti panjang lebar.

“Kamu sudah memikirkannya?”

Senja menundukkan wajahnya. Kedua tangan yang ada dipangkuannya saling meremas, dan berkeringat.

“Jangan takut menjawab tidak.”

“Maaf Pak, tidak,” kata Senja takut-takut.

“Tidak? Kamu menolak lamaran aku?”

“Saya harus tahu diri, saya takut Bapak akan menyesal. Saya bukan siapa-siapa, dan hanya akan membuat malu keluarga Bapak.”

“Aku tulus Senja. Aku mencintai kamu. Aku akan menunggu, kapan kamu siap menerimanya.”

“Maaf Pak,” Senja berdiri, bergegas keluar sambil mengusap air matanya. Tapi Arka tahu, dibalik pandangan mata Senja, ada cinta kepada dirinya. Ia hanya tahu diri karena perbedaan statusnya.

***

Hari itu hari Minggu. Senja dan Rimba ada di rumah. Simbok memilih tidak berdagang beras, karena ingin memasak untuk anak-anaknya.

Senja sedang bercanda dengan adiknya di depan, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil berhenti di jalan depan rumah mereka.

Senja terkejut, itu mobil Arka. Wajahnya mendadak berubah sedih. Pasti Arka akan menanyakannya lagi, walau dia sudah menjawabnya. Tapi tiba-tiba Rimba berteriak.

“Mas Arka sama siapa itu?”

Senja yang semula menundukkan wajahnya juga terkejut. Arka tidak sendiri. Ada pak Wiguna dan istrinya berjalan di belakangnya.

“Apakah … pak Wiguna akan … memarahi aku karena … anaknya mencintai aku? Lalu .. aku akan dipecat?” kata batinnya, ketakutan.

Rimba berlari ke belakang, memanggil simboknya.

Senja berdiri sambil mencoba tersenyum walau wajahnya pucat.

“Senja, apa kamu tidak mengenalku?” kata pak Wiguna sambil tersenyum. Dan senyuman itu membuat ketakutan Senja berkurang. Ia menyalami tamu-tamunya penuh hormat.

“Tentu saya mengenal Bapak, ta … tapi …,“ Senja menatap Arka yang tersenyum-senyum, membuat Senja kebingungan.

“Bolehkah kami duduk?”

“Ss … saya … kk ..kami tidak punya kursi …lal … lalu.. “

“Itu bangku kan, bisa untuk duduk kan?” kata pak Wiguna yang mengajak istrinya duduk di bangku, membuat Senja ketakutan.

“Tap … ppi.. aduh … sebenarnya … ada apa?”

“Senja, mengapa kamu terlihat bingung begitu? Bapak dan ibuku suka kok duduk di situ.”

“Senja, kami mau ketemu simbokmu.”

“App.. apa, siapa in..ni?” Simbok tiba-tiba sudah muncul, dan bingung melihat orang-orang berpakaian perlente duduk di bangku kayunya yang pastinya berdebu.

“Mbok, jangan bingung, duduklah di sampingku sini,” kata bu Wiguna ramah.

“Ini … bagaimana …”

“Mbok, ini bapak dan ibuku …," kata Arka.

“Apa … kkah … Senja melakukan kesalahan?” ketakutan mbok Mangun.

“Tidak Mbok, kami datang untuk melamar Senja.” langsung pak Wiguna mengatakannya.

Mbok Mangun hampir terjatuh kalau saja tidak berpegang pada pintu rumahnya.

“Saya sudah tahu keadaan Senja dan keluarganya bagaimana, tapi itu bukan masalah bagi kami. Yang penting Arka jatuh cinta pada Senja.”

Rimba heran, ternyata lamaran untuk kakaknya? Lamaran yang aneh, orang kaya duduk di bangku butut depan rumah?

“Tuan … Nyonya … bagaimana ini, kami orang miskin, kami takut nanti Tuan dan Nyonya, juga mas Arka akan menyesal. Rumah saya seperti ini, bagaimana nanti .. saya takut … sungguh. Mohon dipikirkan lagi," kata mbok Mangun yang mulai bisa bicara lancar.

Senja tidak terlihat, dari tadi dia masuk ke rumah, menangis dibalik pintu.

“Mas Arka bagaimana, tiba-tiba mengajak orang tuanya,” kata batinnya.

“Kami  sudah memikirkannya. Arka sudah memilih, kami merestuinya,” kata pak Wiguna kemudian.

“Arka, besok jemput mbok Mangun, ajak ke rumah yang tadi saya tunjukkan, biar dia melihat dulu rumah yang akan ditempatinya nanti,” kata pak Wiguna, membuat keluarga mbok Mangun semakin bingung. Ia belum menjawab apapun, tapi pak Wiguna seperti sudah yakin kalau lamarannya tak akan ditolak. Bagaimana menolaknya? Rasa sungkan dan bahagia berbaur menjadi satu.

***

Derita itu adalah ujian, dan bahagia adalah kelulusannya. Tampaknya penderitaan mbok Mangun akan segera berakhir. Malaikat ganteng itu akan benar-benar menjadi menantunya. Mimpi? Bukan, itu adalah kenyataan.

***

T A M A T.

 

 

AKU ANAK SIAPA 03

  AKU ANAK SIAPA  03 (Tien Kumalasari)   Rosa berbicara banyak dengan petugas panti itu, tapi sang petugas lebih sering geleng-geleng kepala...