Thursday, July 30, 2026

AKU ANAK SIAPA

 AKU ANAK SIAPA  

(Tien Kumalasari)


Seorang gadis berjalan tertatih dijalan Raya. Wajah yang aslinya cantik, tampak kumuh berdebu. Bajunya yang usang dan kucel.. menyembunyikan sesuatu yang indah dipandang sebelumnya.

Di depan sebuah warung dia berhenti.

"Bolehkah saya minta makan? Sedikit saja. Saya lapar," katanya memelas.

"Hei, agak jauh sana... tubuhmu bau. Nanti pelangganku kabur semua," hardik ibu-ibu gemuk yang rupanya pemilik warung.

Wanita itu mundur, lalu berjalan menjauh dengan lunglai.


Di sebuah warung yang lain, seseorang berteriak.

"Heiii, pencuriiii!

Orang-orang mengejarnya, membuatnya tersandung batu dan jatuh.

Beberapa orang memukulnya bertubi-tubi.


Cerita apa nih? Mudah2an seru ya. Tungguin...

***

besok-besok ya..


---




Wednesday, July 29, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 61

 NAMAKU TETAP SENJA  61

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengangkat tubuhnya, duduk menghadapi simboknya yang terbaring dengan wajah lesu.

“Jadi Senja harus menolaknya?”

“Nja, apa kamu juga mencintai dia?”

“Entahlah Mbok, Senja bingung.”

“Sepertinya kamu keberatan menuruti permintaan Simbok.”

“Bukan Mbok, Senja tidak keberatan. Senja juga mengerti kalau Senja tak pantas untuk mas Arka.”

“Kalau begitu tidak usah kamu pikirkan. Kamu bilang saja kamu dilarang Simbok.”

“Mas Arka sudah begitu baik sama kita. Dia rela antar jemput Senja setiap hari, saya sudah melarangnya tapi dia nekat.”

“Justru karena itu Nja. Simbok tidak meragukan kebaikannya, tapi Simbok akan merasa kasihan kalau pada suatu hari nanti dia menyesal. Banyak gadis cantik yang pintar, mengapa harus kamu? Pastilah dia akan menyesal. Entah kapan, dan hal itu hanya membuat hati kamu sedih.”

Senja kembali ambruk di samping simboknya, memeluk pinggangnya erat.

“Simbok hanya memikirkan kebahagiaan kamu. Simbok tak ingin kamu menderita.”

“Senja tahu, Simbok sangat menyayangi Senja dan juga Rimba.”

“Apa kamu menyesal terlahir dari rahim seorang miskin?”

“Mengapa Simbok berkata begitu? Senja dan Rimba bahagia menjadi anak Simbok, yang rela bersusah payah demi kami berdua.”

“Simbok hanya ingin, anak-anak Simbok pintar, tidak seperti Simbok yang buta hurup seperti ini. Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan, manusia hidup itu kan hanya sekedar menjalani, dan perjalanan hidup kita bukan kita yang menentukannya, tapi Yang Maha Kuasa.”

“Iya Mbok, Senja mengerti.”

“Bagaimana pekerjaan kamu?”

“Baik Mbok,” jawab Senja yang tak ingin menceritakan bahwa ada yang tidak menyukainya.

“Teman-teman kerjamu baik?”

“Sangat baik Mbok.”

“Kamu suka bekerja di sana?”

“Suka. Semua pekerjaan Senja suka. Walau sedikit, Senja senang bisa membantu Simbok.”

“Besok kalau kamu gajian lagi, jangan semua diberikan Simbok seperti kemarin. Kamu harus menyimpannya sebagian, menabungnya, untuk keperluan kamu sendiri.”

“Nanti kalau Senja butuh sesuatu, tinggal minta sama Simbok.”

“Kamu tidak ingin membelanjakan uang jerih payah kamu sendiri?”

“Apa bedanya Senja minta dari Simbok?”

“Ya sudah, jangan pikirkan masalah itu lagi, tidurlah, sudah malam. Jangan sampai besok pagi kamu bangun kesiangan.”

***

Arka sedang melamun sendirian, duduk di teras, tak peduli udara dingin yang menggigit.

Hampir tengah malam ketika tiba-tiba pak Wiguna keluar.

“Kamu belum tidur?”

“Bapak juga, mengapa belum tidur?”

“Bapak sudah tidur tadi, terbangun karena haus. Melihat kamarmu masih terbuka dan Bapak lihat kamu tidak ada di kamar.”

“Gerah.”

“Udara begini dingin, tapi kamu kegerahan?”

“Sekarang agak dingin.”

“Kamu sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak.”

“Bapak dengar kamu memindahkan Asih ke gudang pemasaran. Karena kamu lebih memilih Senja yang jadi sekretarismu?”

“Bukan karena saya memilih Senja. Sudah sebulan lebih Senja bekerja sama dengan baik, dan Senja sudah banyak mengerti.”

“Iya, aku tahu itu.”

“Tapi rupanya Asih mempunyai rasa tidak suka pada Senja.”

“Bapak kira itu wajar. Asih sudah lebih lama bekerja. Dia takut tersaingi.”

“Tapi saya tidak mengistimewakan Senja, dalam segi apapun. Gaji Asih masih tetap seperti biasa, dan Senja jauh lebih sedikit karena dia baru, dan tingkat pendidikan mereka berbeda.”

“Tapi namanya manusia kan bisa saja ada rasa khawatir.”

“Tadi Asih merubah surat yang dibuat Senja, maksudnya supaya Senja melakukan kesalahan, dan itu fatal. Dia mengganti angka penawaran harga yang jauh lebih mahal. Itu akan merugikan kita. Kejahatan itu yang membuat saya menyingkirkan Asih. Bukan memecatnya, hanya memberinya pelajaran.”

“Apa kamu menyukai Senja?”

“Bukan karena menyukai lalu saya menghukum Asih.”

“Yang Bapak tanyakan, apa kamu menyukai Senja?”

Agak lama Arka menjawabnya.

“Ini ada apa, malam-malam berbincang di sini?” tiba-tiba bu Wiguna keluar.

“Ibu bangun? Di sini dingin.”

“Kalau begitu masuklah, kalau memang ada pembicaraan penting. Nanti ibu buatkan minuman hangat.”

Pak Wiguna mengangguk.

“Aku sedang menunggu jawaban Arka.”

“Jawaban tentang apa?”

“Apa Arka sebenarnya menyukai Senja … itu pertanyaannya.”

“Bagaimana Ka, ibu juga ingin tahu jawabannya.”

“Apakah Bapak atau Ibu keberatan kalau Arka menyukai Senja? Dia hanya gadis anak penjual beras. Pendidikannya hanya sampai SMA. Nanti Bapak bilang kalau dia tidak sepadan dengan keluarga kita.”

“Ibu bagaimana?” tanya pak Wiguna yang urung masuk rumah karena serius membicarakan Senja.

“Terserah Bapak saja. Mana yang sebaiknya Arka lakukan. Kalau Bapak setuju, Ibu juga.”

“Bapak sudah mengerti kalau harta tidak selalu membuat kita bahagia. Perilaku yang baik bisa lebih menenangkan. Ya kan? Aku belajar dari keinginan aku dulu, yang berharap bisa punya menantu anak orang kaya. Tapi apa, ternyata dia gadis yang tidak bener, malah sekarang mendekam di penjara.”

“Senja gadis yang jujur, dan sangat bersemangat. Dia tidak menyukai harta. Dia sangat rendah hati, dan tidak akan memeras kita,” kata Arka bersemangat melihat sikap ayahnya tampak lunak dan tidak berteriak-teriak ketika tidak menyukai sesuatu.

“Janganlah merasa bahwa kebahagiaan terletak kepada harta. Ketika kita berjalan dijalan yang benar, maka itulah bahagia,” kata bu Wiguna sambil melirik ke arah suaminya.

Bukankah bu Wiguna tahu perilaku pak Wiguna yang membawanya kepada kebohongan yang bertubi-tubi? Tapi bu Wiguna sangat bijak, tak ingin mengungkit penyelewengan sang suami. Menurutnya ketika suaminya sudah kembali ke jalan yang benar, itu sudah cukup.

“Kalau begitu terserah Arka. Hidupmu adalah kamu sendiri yang menentukannya. Kapan kamu meminta Bapak dan Ibu melamar? Kalau lamaran itu diterima, keluarga Senja akan aku suruh menempati rumah yang ada di perumahan baru itu, aku sudah membayarnya lunas.” 

Pak Wiguna kelepasan bicara padahal masalah rumah itu istrinya dianggapnya tidak tahu.

“Lhoh, jadinya Bapak beli rumah? Yang brosurnya aku temukan itu?" kata bu Wiguna pura-pura terkejut.

Pak Wiguna berdiri lalu menggandeng lengan istrinya.

“Bu, aku pernah melakukan kesalahan, nanti aku ceritakan semuanya, termasuk rumah itu. Tapi aku sudah sadar, aku mengerti bahwa di sinilah rumahku,” kata pak Wiguna sambil berjalan masuk.

Arka tersenyum lucu. Ia tahu semuanya, ia juga yakin sang ibu juga tahu. Tapi ia senang ayahnya mengakui kesalahannya.

***

“Ini suratnya pak, maaf agak lama, karena saya harus berpikir sendiri,” kata Senja sambil menyodorkan sebuah arsip ke meja Arka.

“Aku tahu kamu bisa melakukannya. Duduklah dulu, aku mau bicara.”

Senja berdebar. Ia tahu apa yang akan dikatakan Arka. Dan ia juga tahu apa jawab yang akan diutarakannya. Simboknya sudah mewanti-wanti panjang lebar.

“Kamu sudah memikirkannya?”

Senja menundukkan wajahnya. Kedua tangan yang ada dipangkuannya saling meremas, dan berkeringat.

“Jangan takut menjawab tidak.”

“Maaf Pak, tidak,” kata Senja takut-takut.

“Tidak? Kamu menolak lamaran aku?”

“Saya harus tahu diri, saya takut Bapak akan menyesal. Saya bukan siapa-siapa, dan hanya akan membuat malu keluarga Bapak.”

“Aku tulus Senja. Aku mencintai kamu. Aku akan menunggu, kapan kamu siap menerimanya.”

“Maaf Pak,” Senja berdiri, bergegas keluar sambil mengusap air matanya. Tapi Arka tahu, dibalik pandangan mata Senja, ada cinta kepada dirinya. Ia hanya tahu diri karena perbedaan statusnya.

***

Hari itu hari Minggu. Senja dan Rimba ada di rumah. Simbok memilih tidak berdagang beras, karena ingin memasak untuk anak-anaknya.

Senja sedang bercanda dengan adiknya di depan, ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil berhenti di jalan depan rumah mereka.

Senja terkejut, itu mobil Arka. Wajahnya mendadak berubah sedih. Pasti Arka akan menanyakannya lagi, walau dia sudah menjawabnya. Tapi tiba-tiba Rimba berteriak.

“Mas Arka sama siapa itu?”

Senja yang semula menundukkan wajahnya juga terkejut. Arka tidak sendiri. Ada pak Wiguna dan istrinya berjalan di belakangnya.

“Apakah … pak Wiguna akan … memarahi aku karena … anaknya mencintai aku? Lalu .. aku akan dipecat?” kata batinnya, ketakutan.

Rimba berlari ke belakang, memanggil simboknya.

Senja berdiri sambil mencoba tersenyum walau wajahnya pucat.

“Senja, apa kamu tidak mengenalku?” kata pak Wiguna sambil tersenyum. Dan senyuman itu membuat ketakutan Senja berkurang. Ia menyalami tamu-tamunya penuh hormat.

“Tentu saya mengenal Bapak, ta … tapi …,“ Senja menatap Arka yang tersenyum-senyum, membuat Senja kebingungan.

“Bolehkah kami duduk?”

“Ss … saya … kk ..kami tidak punya kursi …lal … lalu.. “

“Itu bangku kan, bisa untuk duduk kan?” kata pak Wiguna yang mengajak istrinya duduk di bangku, membuat Senja ketakutan.

“Tap … ppi.. aduh … sebenarnya … ada apa?”

“Senja, mengapa kamu terlihat bingung begitu? Bapak dan ibuku suka kok duduk di situ.”

“Senja, kami mau ketemu simbokmu.”

“App.. apa, siapa in..ni?” Simbok tiba-tiba sudah muncul, dan bingung melihat orang-orang berpakaian perlente duduk di bangku kayunya yang pastinya berdebu.

“Mbok, jangan bingung, duduklah di sampingku sini,” kata bu Wiguna ramah.

“Ini … bagaimana …”

“Mbok, ini bapak dan ibuku …," kata Arka.

“Apa … kkah … Senja melakukan kesalahan?” ketakutan mbok Mangun.

“Tidak Mbok, kami datang untuk melamar Senja.” langsung pak Wiguna mengatakannya.

Mbok Mangun hampir terjatuh kalau saja tidak berpegang pada pintu rumahnya.

“Saya sudah tahu keadaan Senja dan keluarganya bagaimana, tapi itu bukan masalah bagi kami. Yang penting Arka jatuh cinta pada Senja.”

Rimba heran, ternyata lamaran untuk kakaknya? Lamaran yang aneh, orang kaya duduk di bangku butut depan rumah?

“Tuan … Nyonya … bagaimana ini, kami orang miskin, kami takut nanti Tuan dan Nyonya, juga mas Arka akan menyesal. Rumah saya seperti ini, bagaimana nanti .. saya takut … sungguh. Mohon dipikirkan lagi," kata mbok Mangun yang mulai bisa bicara lancar.

Senja tidak terlihat, dari tadi dia masuk ke rumah, menangis dibalik pintu.

“Mas Arka bagaimana, tiba-tiba mengajak orang tuanya,” kata batinnya.

“Kami  sudah memikirkannya. Arka sudah memilih, kami merestuinya,” kata pak Wiguna kemudian.

“Arka, besok jemput mbok Mangun, ajak ke rumah yang tadi saya tunjukkan, biar dia melihat dulu rumah yang akan ditempatinya nanti,” kata pak Wiguna, membuat keluarga mbok Mangun semakin bingung. Ia belum menjawab apapun, tapi pak Wiguna seperti sudah yakin kalau lamarannya tak akan ditolak. Bagaimana menolaknya? Rasa sungkan dan bahagia berbaur menjadi satu.

***

Derita itu adalah ujian, dan bahagia adalah kelulusannya. Tampaknya penderitaan mbok Mangun akan segera berakhir. Malaikat ganteng itu akan benar-benar menjadi menantunya. Mimpi? Bukan, itu adalah kenyataan.

***

T A M A T.

 

 

Tuesday, July 28, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 60

 NAMAKU TETAP SENJA  60

(Tien Kumalasari)

 

Ketika saat istirahat, Senja menolak diajak makan siang bersama Arka. Arka duduk di depan meja kerjanya, menatap wajah Senja yang tampak gelap.

“Ada apa?”

“Mengapa seorang sarjana Bapak tempatkan di gudang, sedangkan lulusan SMA dijadikan sekretaris?”

Arka tersenyum. Senja bukan seperti gadis biasa, ketika yang memusuhi mendapat hukuman, lalu merasa senang, tapi tidak dengan Senja. Ia tetap menyayangkan kepindahan Asih, karena nyatanya Asih sudah membantu Arka selama bertahun-tahun.

“Aku tidak menilai dari pendidikannya. Orang berpendidikan tinggi juga harua memiliki perilaku yang bagus, terhormat dan tidak tercela. Dengan pendidikannya yang tinggi dia harus bisa menjadi pegawai teladan yang dikagumi. Bukan melakukan hal tercela demi ingin mencelakakan orang lain.”

Senja terdiam.

“Sudah, jangan cemberut begitu. Apa kamu tidak lapar?”

“Saya hanya memikirkan itu. Ia juga pernah mengatai saya yang hanya berpendidikan rendah makanya saya bodoh. Dan itu benar kan?”

“Senja, aku tahu sejak lama bahwa dia tidak menyukai kamu, karena itulah apa yang dilakukannya tadi merupakan hukuman atas hatinya yang tidak tulus. Kamu tidak usah memikirkannya. Aku akan menilai bagaimana kelakuan dia. Kalau dia bisa memperbaikinya, aku akan mengembalikan ke statusnya semula.”

Senja hanya terdiam.

“Ayo temani aku makan, jangan merengut begitu, nanti cantiknya hilang lho.”

Senja terkejut. Baru kali ini Arka menyebutnya cantik. Dan itu membuatnya berdebar. Ia menundukkan wajahnya, barangkali malu.

”Ayo temani makan, aku juga mau bicara tentang hal lain.”

“Hal apa?”

“Bicaranya nanti, sambil makan,” kata Arka sambil berdiri, dan mau tak mau ia mengikutinya.

Dari jauh, Asih yang juga ingin makan ke kantin, melihatnya. Ia mencibir sambil setengah berteriak.

“Lihat, dia pintar merayu atasan. Adakah diantara kaliyan yang pernah diajak makan bapak pimpinan?” katanya sinis.

“Senja itu kan memang kerabatnya pak Arka, setiap berangkat dan pulang dia juga selalu bersama, mengapa kamu ribut? Cemburu?”

“Iiih… malu dong, masa cemburu sama orang udik,” katanya tetap nyinyir. 

Tapi teman-temannya tetap mentertawakannya, karena Senja baik kepada semua orang bahkan menghormati kepada yang lebih tua.

Karena itu omelan Asih tak ada yang menghiraukannya.

***

Senja sudah duduk di depan Arka, dan menghadapi makanan dan minuman yang mereka pesan.

“Tadi mau omong apa?”

“Tentang kamu. Apakah kamu ingin melanjutkan kuliah?”

“Aku kan pernah bilang, tidak ingin melanjutkan lagi, aku hanya ingin bekerja, untuk meringankan beban Simbok. Biar sedikit, tapi kan beban Simbok lebih ringan. Simbok masih harus menyekolahkan Rimba. Itu yang lebih utama. Mohon jangan mentertawakan aku."

“Tidak. Aku bisa mengerti.”

“Mengapa mas ingin aku kuliah lagi? Mas malu karena aku diejek hanya lulusan SMA tapi dijadikan sekretaris direktur?”

“Senja … mengapa kamu berkata begitu?”

“Mungkin, kan aku tidak pantas menjadi pekerja kantoran? Sampai-sampai aku dihina oleh orang.”

“Kamu merasa terhina? Padahal menurut aku, kamu itu gadis yang sangat mulia.”

“Ada-ada saja..”

“Aku bicara sepenuh hatiku, jujur, tidak bohong.”

“Lalu mengapa Mas ingin agar aku kuliah?”

“Kalau kamu suka, aku akan membantumu, bukan karena aku ingin kamu bekerja dengan status sarjana, tidak. Apapun kamu, kamu akan tetap ada di dekat aku. Selalu, karena ….”

“Apa?”

Arka tiba-tiba terkejut dan merasa kelepasan bicara. Ia sadar apa artinya, sesuatu yang tersimpan jauh di dasar hatinya melesat keluar tiba-tiba, dalam bentuk yang mendekati sebuah pernyataan cinta. Apakah Senja sudah bisa menerima isyarat itu? Jangan-jangan dia ketakutan kalau mendengar bahwa Arka mencintainya.

“Senja, maafkan aku.”

“Mengapa minta maaf?”

“Barangkali ucapan aku tidak mudah kamu mengerti, atau membuat kamu bingung.”

Senja bukan anak kecil. Bahwa rasa suka itu pasti ada di setiap jiwa manusia. Tapi terhadap Arka, beranikah dia mengaku suka? Mimpi ‘kali. Siapa dia dan siapa Arka. Itulah yang dipikirkan Senja.

“Ayo, lanjutkan makanmu.”

Senja dan Arka melanjutkan acara makan yang terhenti karena pembicaraan yang belum terjawab.

“Apa maksud mas Arka bahwa apapun aku maka aku tetap ada di dekatnya? Karena apa? Mengapa mas Arka tidak melanjutkannya?” kata batin Senja yang kemudian membuat hatinya berdebar.

“Senja, apakah kamu marah?”

“Mengapa aku harus marah?”

“Kamu sudah dewasa. Kamu pasti sedikit banyak bisa menangkap ucapan aku.”

“Tidak begitu mengerti.”

“Mungkin sedikit.”

Senja menggelengkan kepalanya. Ia sudah menutup acara makannya dengan meletakkan sendoknya.

“Senja, apa kamu tahu tentang cinta?”

Senja mengangkat wajahnya. Debar jantungnya semakin kencang.

“Entahlah.”

“Kamu tahu bahwa ada yang jatuh cinta sama kamu?” Arka semakin berani. 

Wajah Senja pucat.

“Si … siapa?”

“Aku,” kepalang tanggung, Arka kemudian berterus terang.

“Apa?”

“Kalau aku mengecewakan buat kamu, kamu boleh manolaknya,” kata Arka pelan.

Ia ragu, juga khawatir kalau Senja benar-benar marah. Tapi ia melihat telaga bening menetes dari pelupuk matanya.

“Apa Mas sadar apa yang Mas ucapkan?"

“Sadar sesadar-sadarnya. Mengapa kamu menangis?"

“Mas sadar aku ini siapa? Aku anak mbok Mangun, penjual beras yang miskin, yang dianggap hina di mana-mana. Sedangkan Mas Arka, anak tuan besar yang dihormati dan disegani di mana-mana. Jangan membuatku sedih Mas.”

“Mengapa kamu sedih? Apa kamu tahu bahwa cinta ada di setiap hati manusia? Dan cinta akan datang kepada siapa tanpa harus ada petunjuknya?”

“Aku … tidak berani Mas.”

“Kamu tidak suka padaku?”

Kata siapa tidak suka? Arka adalah malaikat ganteng yang menjadi dekat dengannya karena kebaikannya. Berkali-kali kebaikan, berkali-kali pembelaan dan perlindungan. Tapi cinta?

“Mana aku berani.”

“Senja, jangan membenci aku karena ucapan aku. Kamu boleh menolak, tapi jangan takut mengakui kalau kamu memang menerimanya.”

Senja terdiam. Ia mengusap air matanya dengan tissue yang diulurkan Arka.

Ini pertama kalinya ia mendengar sebuah ungkapan cinta. Tangannya gemetar, kakinya bergetar

Arka kemudian juga lupa bahwa awalnya ia ingin meminta agar Senja melanjutkan sekolah, tapi mengapa kemudian berbelok pada ungkapan cinta?

***

Malam hari itu Senja meringkuk di pembaringan ibunya, menyembunyikan wajahnya di ketiak simboknya. Hal itu membuat mbok Mangun heran.

“Ada apa ini?”

“Mbok, aku bingung.”

“Mengapa?”

“Apakah yang harus aku lakukan ketika seseorang menyatakan cinta?”

Mbok Mangun mengangkat wajah anaknya, dan melihat air mata tergenang di pelupuknya.

“Kamu jatuh cinta? Itu wajar. Dulu, ketika Simbok seumur kamu, Simbok sudah menikah selama tiga tahun.”

“Bukan aku Mbok, ada yang mengatakan cinta pada Senja ini.”

“Oh ya? Tapi Simbok belum siap menikahkan kamu, harus ada uang yang cukup, dan_”

“Bukan begitu Mbok, mengapa Simbok memikirkan pernikahan?”

“Lalu apa? Siapa yang mengatakan cinta itu? Jangan main-main Senja, sebagai perempuan kamu harus hati-hati. Jangan mudah terbujuk oleh rayuan.”

“Mas Arka yang mengatakan itu.”

“Apa? Mas Arka suka sama kamu?”

“Aku bingung Mbok. Aku sadar aku ini anaknya Simbok, mana pantas Simbok menjadi besan seorang tuan yang terhormat dan kaya raya?”

“Tidak Nja, seperti aku bilang tadi, hati-hati. Kita orang miskin. Simbok tidak ingin kamu sengsara karena direndahkan oleh keluarganya. Bisa jadi mas Arka baik, tapi keluarganya? Mana mungkin mereka mau berbesan dengan mbok Mangun si tukang penjual beras. Miskin dan sama sekali tidak punya derajat.”

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Lebih baik kamu menolaknya.”

***

Besok lagi ya.

Monday, July 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 59

 NAMAKU TETAP SENJA  59

(Tien Kumalasari)

 

Pemeriksaan terus berjalan, hari demi hari. Bu Mery dan Rosa tetap ditahan. Betapa marah Rosa ketika dalam suatu pemeriksaan dipertemukan dengan bu Mery. Ia mengumpat dengan kasar sehingga harus dipisahkan oleh petugas.

“Dasar tak tahu diri. Kamu sudah menerima uang aku, tapi kamu membawaku dalam kasus yang menyebalkan ini.”

“Kamu, perempuan kejam yang tak berperikemanusiaan. Biar kamu menutupinya, Tuhan telah menunjukkan kebenarannya.”

“Manusia munafik. Kamu masih menyebut nama Tuhan sementara hidup kamu bergelimang dosa.”

“Kamu juga manusia berdosa. Gara-gara cemburu kamu tega mencelakainya.”

“Sudah, cepat keduanya bawa masuk.”

Pertikaian itu berhenti, dan polisi sudah mencatat semuanya.

Di dalam tahanan, Rosa pernah minta agar bisa menelpon ayahnya, tapi sang ayah tak peduli pada permintaannya.

“Papa, mengapa Papa tidak menolong aku? Keluarkan aku dari sini, Papa.”

“Tidak. Kamu yang melakukan kesalahan, kamu harus bertanggung jawab.”

“Papa, bukankah aku anak Papa? Papa tega?”

“Sebenarnya kamu bukan anakku.”

“Papa!”

Sambungan telpon diputuskan, Rosa menangis berguling-guling di ruang tahanan.

“Aku sudah membayarnya. Perempuan bodoh! Mata duitan!”

Tak ada yang mendengarnya, tak ada yang mempedulikannya. Suatu hari kemudian dia akan menebus semua kesalahannya. Lalu Rosa berpikir, sebenarnya aku bukan anak Papa? Pikirnya terus menerus. Karena aku ditahan maka Papa tidak mengakui aku sebagai anaknya?”

Rahasia itu terbuka, ketika di dalam sidang, pak Daryono menunjukkan surat keterangan dari sebuah panti asuhan, di mana Rosana yang masih bayi, diangkat anak oleh keluarga Daryono.

“Aku anak siapaaaa?”

Ketika palu sudah diketuk, Mery dan Rosana dijatuhi hukuman, Rosa masih berteriak histeris.

“Aku anak siapaaaa?”

Apapun yang terjadi, siapa yang menanam maka ia akan mengunduh buahnya.

***

Hari itu Senja sudah mulai bekerja di kantor Arka. Ia tentu harus banyak belajar, karena ia belum pernah bekerja, apalagi menjadi pembantu sekretaris. Tapi dengan penuh kesabaran, Arka selalu membantunya.

Pak Wiguna sendiri kagum, benar apa yang dikatakan Arka, Senja sangat cerdas dan mudah mengerti. Dalam sebulan ia sudah bisa menguasai semua tugasnya.

Hal itu tentu membuat beberapa karyawan merasa iri. Apalagi melihat Senja sangat dekat dengan sang direktur muda. Tapi dengan santun Senja menghadapi mereka. Ia rendah hati dan tidak pernah menyombongkan dirinya walau Arka memperhatikannya dan berbuat lebih dibanding terhadap karyawan lainnya.

Adalah Asih, sekretaris Arka yang lebih dulu menjabat, merasa kepanasan karena kepintarannya tersaingi oleh gadis muda yang belum lama masuk.

Ia selalu mencari celah agar Senja membuat kesalahan. Tapi sungguh sulit menemukan kesalahan itu.

Saat di depan Arka dia bersikap manis pada Senja, tapi tidak ketika Senja sedang berdua saja dengannya.

“Mbak Asih, surat ini artinya apa, ini kan  yang harus aku kerjakan?”

“Kamu kan sudah sebulan lebih bekerja, masa begitu saja tidak mengerti.”

“Maaf Mbak, daripada saya salah melakukannya, lebih baik saya bertanya kepada mbak Asih yang sudah lebih berpengalaman.”

“Kamu kan tahu bahwa pekerjaanku juga banyak? Kamu diperbantukan, karena pekerjaanku banyak. Kalau sedikit-sedikit bertanya, sama saja aku bekerja dua kali. Itu surat penawaran dari suplier, surat yang harus kamu buat adalah jawabannya.”

”Saya tahu, tapi saya masih bingung.”

“Bukankah pak Arka sudah memberi catatan di situ? Sudah, jangan tanya terus, nanti pekerjaanku tidak selesai-selesai. Lagi pula surat itu sudah harus dikirimkan hari ini. Kalau tidak selesai, tanggung sendiri akibatnya”

Senja diam, ia membaca kembali catatan dari Arka, tapi ia belum begitu paham.

“Salah pak Arka sendiri, karyawan lulusan SMA dijadikan pembantu sekretaris. Bukannya membantu malah membuat repot,” gumam Asih pelan.

Tapi Senja tentu saja mendengarnya. Ia bukan bodoh, ia mengerti kalau sebenarnya Asih tidak menyukainya, dan ingin membuatnya melakukan kesalahan, agar dirinya mendapat teguran. Ia menerimanya dengan sabar.

Ia terus membaca, lalu membandingkannya dengan surat-surat balasan penawaran yang terdahulu. Ia terus mengutak atik, dan akhirnya menemukan jawabannya.

Asih melirik ke arahnya, dan heran melihatnya sudah mulai mengetik.

Ketika pada suatu saat Senja sedang berdiri dan meninggalkan pekerjaannya untuk ke kamar mandi, Asih mendekati laptopnya yang masih menyala, lalu ia mengetik sesuatu. Ia melihat surat itu sudah selesai, dan tinggal mengeprint saja. Ia merubah angka penawaran, lalu ia duduk kembali, pura-pura melanjutkan pekerjaannya.

Senja merasa sudah meneliti surat yang dibuatnya, jadi dia siap mencetaknya.

Surat itu sudah selesai, lalu ia membawanya ke ruang Arka.

“Sudah selesai, Senja?”

“Saya mencoba membuatnya karena mbak Asih sedang sibuk. Mohon Bapak mengoreksinya lagi, karena katanya hari ini sudah harus dikirim.”

“Tidak hari ini, besok juga tidak apa-apa. Asih mengatakan begitu?”

Senja mengangguk, tapi ia masih berusaha menutupi keterangan Asih yang salah.

“Barangkali mbak Asih bermaksud agar saya melakukannya dengan cekatan.”

Arka tersenyum. Ia tahu, bagaimana Senja. Tapi kemudian dia mengerutkan keningnya.

“Senja, mengapa penawaran dari kita bisa lebih tinggi dari harga yang mereka tawarkan?”

Senja terkejut. Arka menyodorkan surat itu, dan ia membacanya.

“Kok bisa ya, saya tadi menulisnya bukan ini, angkanya terbalik. Bagaimana bisa terjadi?”

“Apa kamu sudah membaca kembali tulisan kamu? Biasakan untuk mengulang yang sudah kamu tulis, agar tidak melakukan kesalahan. Ini menjadi fatal. Kalau penawaran disetujui maka kita akan rugi besar.”

Senja mengerutkan keningnya. 

"Saya sudah mengulangnya berkali-kali. Bukan itu angkanya.”

“Aneh. Ada yang meminjam laptop kamu?”

“Tidak, saya sendiri yang memakainya. Sebelum saya mencetaknya, saya tinggal sebentar ke kamar mandi. Saya kembali langsung mencetaknya.”

Arka membuka CCTV yang ada di ruang sekretaris. Ia tersenyum melihat apa yang dilakukan Asih.

“Bagaimana Pak, saya ganti dulu saja.”

“Sebentar.”

Arka memencet interkom di ruangan Asih, dan tak lama kemudian Asih memasuki ruangannya.

“Bapak memanggil saya?”

“Kamu tahu, surat balasan yang dibuat Senja ini keliru?”

”Keliru Pak? Bagaimana Nja, kan sudah ada catatan dari pak Arka. Kok bisa keliru?”

“Kamu mengapa tidak membantunya?”

“Saya sedang sibuk Pak, saya minta Senja menunggu dulu, tapi langsung dibuatnya.”

“Senja sudah melakukannya, tapi ada yang merubah angka di surat yang dibuatnya.”

“Merubahnya? Senja kurang cerdas, biasanya selalu bertanya, kali ini dikerjakan sendiri, merasa sudah pintar.”

“Lihat ini.”

Arka menunjukkan rekaman CCTV di ponselnya, dan Asih pucat pasi tanpa bisa menjawabnya.

“Mulai besok kamu aku pindahkan di bagian pemasaran, pekerjaan kamu membantu mengemas barang,”

“Apa? Jangan Pak, saya salah, saya minta ampun Pak, saya salah.”

Arka mengibaskan tangannya, menyuruh Asih keluar dari ruangannya. Asih keluar sambil menangis.

“Kasihan Pak,” kata Senja.

“Dia tidak menyukai kamu, aku sudah tahu sejak awal. Sudah, jangan pikirkan. Kamu akan tetap menjadi sekretaris aku.”

“Tapi saya akan banyak bertanya.”

“Bertanya pada aku, seperti di awal-awal kamu bekerja. Sekarang kembali keruangan kamu, buat suratnya kembali. Betulkan yang tadi salah.”

***

Senja kembali mengetik suratnya, mengganti angkanya yang salah. Ketika ia mencetak ulang, Asih berdiri di pintu dengan wajah marah.

“Hei, kamu puas, orang kampung?”

“Namaku Senja.”

“Bukankah kamu orang kampung?”

“Namaku tetap Senja.”

Lalu Asih terkejut ketika Arka tiba-tiba ada di belakangnya.

“Dia orang kampung, tapi hatinya bersih. Perusahaan ini tidak menerima karyawan berhati jahat. Kamu masih aku pekerjakan, karena mengingat kamu sudah tiga tahun bekerja di sini. Kalau sekali lagi kamu membuat kesalahan, kamu aku pecat.”

Asih menundukkan wajahnya.

“Selesaikan tugas kamu hari ini, sebelum besok pagi kamu bekerja di divisi lain.”

***

Besok lagi ya.

Sunday, July 26, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 010

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  010

(Tien Kumalasari)

 

Sementara itu Ana sedang duduk di teras, bersama Rumi. Saatnya makan, tapi Ana minta agar Rumi membawa makanannya ke teras.

“Mengapa makan di teras Non? Kan sudah disiapkan di meja. Nanti kalau Nyonya tahu, Non pasti dimarahi.” bujuk Rumi.

“Nggak mau, aku mau makan di sini. Si bibi itu mau kemari.”

“Dulu juga Non bilang begitu, nyatanya tidak kan?”

“Kemarin papa yang bilang. Papa nggak akan bohong.”

“Non …” Rumi masih berusaha membujuknya, tapi Ana bersikeras ingin agar makanannya dibawa ke teras.

Dengan menahan rasa kesalnya, Rumi memenuhi permintaan Ana. Ia membawa makan dan lauk yang disukai Ana, diletakkannya di meja teras.

“Sudah, sekarang Non makan.”

“Nanti dulu, menunggu bibi Menur datang.”

“Ya ampuun, apa Non mau mengajak tukang sampah itu makan?”

“Ya, kenapa tidak. Ambilkan satu piring kosong dan segelas minuman.”

“Non ini sungguh keterlaluan.”

“Cepatlah bik, keburu dia datang.”

Dengan bersungut-sungut Rumi mengambilkan lagi satu piring kosong dan segelas minuman. Kalau tidak, Ana bisa berteriak-teriak marah. Rumi tahu kalau Ana bukan anak kandung keluarga Baroto, tapi papa dan mamanya sangat memanjakannya, jadi Rumi tidak berani membantahnya.

Ana sebentar-sebentar melongok ke jalan. Tapi yang ditunggu belum juga datang.

Yang datang justru nyonya Baroto, yang ketika mau masuk ke rumah, heran melihat makanan ditata di meja teras.

“Apa-apaan ini?”

“Ana mau makan di sini,” jawab Ana.

“Apa? Sejak kapan kamu diijinkan makan di teras? Ayo makan di dalam, mama juga mau makan.”

“Nggak mau. Ana mau makan di sini.”

“Ana, apa maksudmu?”

“Non Ana menunggu tukang sampah itu lagi, Nyonya,” kata Rumi yang lama-lama juga kesal melihat ulah Ana.

“Ana! Itu benar?” tanya sang ibu sambil mengerutkan keningnya.

“Ana mau mengajak bibi Menur kemari dan makan bersama Ana.”

“Kamu keterlaluan Ana! Tidak boleh! Apa-apaan itu?”

“Ana mau minta agar bibi Menur tinggal di sini menemani dan melayani Ana.”

“Ana!”

“Ana cemberut, tak lagi melihat ke arah ibunya, tapi ke arah jalanan, takut kalau Menur lewat dia tak melihatnya.”

“Tukang sampah itu membujuk kamu?”

“Ana yang minta? Dia belum tentu mau!”

“Ya Tuhan, mengapa mama menitipkan anak yang susah diatur ini padaku?” kata nyonya Baroto yang kemudian masuk ke dalam sambil menghentakkan kakinya.

Memang benar, Ana diserahkan di keluarga Baroto ketika mereka tak kunjung punya anak. Ia anak kerabat sendiri, dan Baroto serta istrinya harus merawatnya dengan baik. Karena itu nyonya Baroto kemudian membiarkannya.

Tak lama setelah sang ibu masuk, Ana kembali ke luar. Ia membuka gerbang dan berdiri di depan.

Menur tidak mengingkari janji. Ia hatang menemui Ana seperti janjinya kepada Baroto. Tapi ia pulang terlebih dulu untuk menyiapkan makan siang Rahman, sehingga kalau dia terlambat datang Rahman tidak akan marah karena tidak disiapkan makan siangnya.

Ana berjingkrak kegirangan ketika melihat bayangan Menur di kejauhan. Tangannya melambai-lambai dengan wajak berseri.

Menur tersenyum, dan bergegas mendekat. Tanpa sungkan Ana segera memeluknya.

“Bibi, ayo masuk.”

“Tidak usah Ana, bibi harus segera pulang.”

“Bibi harus masuk dan menemani Ana makan.”

“Jangan Ana, biarkan bibi pergi. Bibi hanya memenuhi permintaan tuan Baroto agar bibi menemui kamu. Dan sekarang kita sudah bertemu bukan?”

“Tolong masuklah dulu,” kata Ana sambil menarik tangan Menur.

Mau tak mau Menur mengikutinya.

***

Rahman tak menolak ketika Baroto menaikkannya ke atas kuda. Ia tak ingin, tapi Baroto sudah melihat lalu memanggilnya. Hanya saja ada rasa was-was karena ketahuan dia berbohong.

“Kenapa diam?” tanya Baroto dalam perjalanan menunggang kuda.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu takut sesuatu?”

“Tidak.”

“Baiklah, kita cari makanan enak ya.”

Rahman hanya mengangguk. Bahkan karena rasa takutnya, Rahman tak begitu gembira mendengar Baroto menawarkan makanan enak.

Baroto membawa Rahman ke sebuah rumah makan.

Baroto menyuruh Rahman memilih makanan, tapi Rahman hanya memilih bakso.

Baroto menurutinya. Ia tahu Rahman sedang gelisah, tapi Baroto menghadapinya dengan sabar. Ia ingin menyadarkan Rahman bahwa sikap terhadap ibunya itu tidak benar.

“Rahman, mengapa kamu kemarin berbohong?” tanya Rahman ketika mereka sudah selesai makan. Rahman memang mempercapat makannya, agar bisa segera pulang. Tapi ia terkejut ketika Baroto langsung menanyainya tentang kebohongan itu.

“Saya .. tidak tahu kalau … om kenal sama ….”

“Pembantu kamu?”

Rahman menundukkan kepalanya.

“Jadi kalau om tidak kenal ibumu, kamu akan tetap berbohong?”

Rahman masih menundukkan kepalanya.

“Jawab dengan jujur, mengapa kamu melakukannya? Bukankah ibumu adalah orang yang melahirkan kamu? Apa kamu tahu kalau wanita melahirkan itu bertaruh nyawa demi anaknya terlahir dengan selamat?”

Rahman tak menjawab.

“Jawab mengapa kamu malu memiliki ibu seperti dia. Jawab, jangan diam saja.”

Baroto menatap wajah anak kecil dihadapannya. Ia merasa seperti bukan sedang beradapan dengan orang asing. Rahman adalah gambaran seorang anak yang pintar dan cerdas. Siapakah dia, apakah aku sering bertemu, demikian yang dipikirkan Baroto. Dan akhirnya timbul pemikiran yang membuatnya ragu. Apakah dia anakku? 

“Rahman, kamu belum menjawab pertanyaan om.”

Rahman mengangkat mukanya. Wajahnya yang ganteng dan bersih tampak memendam rasa takut.

“Kamu jangan takut menjawab. Om tidak marah kok. Om hanya ingin tahu, mengapa itu kamu lakukan? Hanya karena kesombongan kamu, atau ada sesuatu yang lain? Kamu malu, punya ibu yang kemana-mana membawa karung berisi hasil memulung? Apa kamu tahu bahwa keringat yang menetes tanpa keluh kesah itu adalah pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Apa kamu tahu, bahwa ketika kamu mengatakan bahwa malu mengakuinya sebagai ibumu, maka pastilah air mata ibumu menetes. Penahkah kamu melihat ibumu menangis? Kalau pernah, apakah kamu penah menanyakan, mengapa ibu menangis? Apa ibu sedih? Apa ada yang menyakiti ibu? Pernahkah? Dan apakah kamu tahu bahwa setiap pertanyaan yang aku katakan itu adalah sebuah bentuk perhatian dan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya. Adalah bentuk rasa terima kasih karena telah membesarkannya dan menjadikannya anak pintar. Apa kamu tahu?”

Wajah Rahman kembali menunduk. Tiba-tiba kerongkongannya terasa kering, jiwanya juga kerontang oleh kekosongan jiwa tanpa rasa kasih sayang kepada ibunya. Terbayang olehnya ketika ia merengek harus dengan lauk telur, apapun lauknya harus ada telurnya. Lalu teringat olehnya ketika bajunya sobek sedikit, dengan mentang-mentang sang ibu harus membelikannya yang baru. Malu memakau baju yang pernah sobek, malu memiliki seorang ibu yang bajunya kumuh dan menggendong rosok dipunggungnya.

Lalu air mata Rahman menitik.

Baroto meraih tissue, diulurkannya kepada Rahman, yang kemudian mengisap pipinya yang basah oleh air mata.

“Setelah om bicara panjang lebar, kamu belum menjawab pertanyaan om. Semua yang kamu lakukan adalah karena malu, murni malu, atau ada alasan lain? Jijik kepada ibumu yang kotor dan pastinya berbau tak sedap sepulang dari bekerja?”

Eahman menelan ludahnya.

“Ada seorang teman saya yang dikucilkan, karena ia anak seorang tukang becak.”

“Jadi kamu takut dikucilkan juga? Takut tak punya teman? Atau kamu menyesal telah dilahirkan dari seorang ibu yang pekerjaannya kamu anggap hina?”

“Kalau mereka tahu saya anak siapa, pasti mereka juga membenci saya,” katanya lirih.

“Ada banyak kebencian yang dikarenakan suatu sebab. Benci karena iri, benci karena tidak sederajat, benci karena kalah bersaing. Tapi asal kamu tahu, tidak satupun dari alasan kebencian itu yang pantas dipuji. Kamu tidak boleh melakukannya.”

Rahman terdiam tapi kembali mengusap air matanya.

“Jangan pernah takut dibenci karena kamu anak siapa. Ibumu adalah perempuan mulia karena telah melahirkanmu dan membesarkanmu dengan tetesan keringat. Kamu harus bangga padanya. Kamu harus bahagia karena memiliki kasih sayang yang tak ada duanya. Apa kamu mengerti apa yang om katakan, bahkan sangat panjang dan pasti membuatmu lelah mendengarnya. Kamu mengerti?”

Rahman mengangguk, lagi-lagi mengusap air matanya.

“Berjanjilah kamu akan memeluk ibu kamu sepulang dari sini. Mau berjanji?”

“Janji,” katanya pelan.

“Bagus, aku tahu kamu sebenarnya anak yang baik.”

Baroto kembali menatap Rahman tak berkedip sebelum beranjak dari meja di mana mereka makan bersama. Apakah wajah itu adalah wajahnya?

***

Baroto tidak membawa Rahman pulang ke rumahnya, tapi diajaknya ke rumah Baroto sendiri.

“Kita ke mana?”

“Ke rumahku sebentar ya,” kata Baroto sambil memacu kudanya.

Tapi ketika ia sampai di rumah, ia melihat sang istri sedang menuding Menur dengan tatapan marah.

Baroto menurunkan Rahman, lalu melompat turun dari kuda.

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, July 25, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 58

 NAMAKU TETAP SENJA  58

(Tien Kumalasari)

 

“Rosa, jangan masuk dulu, temuin dulu polisi-polisi itu, ibu terkadang salah ngomong,” kata bu Daryono.

Rosa terpaksa berdiri menyambut, mencoba menenangkan hatinya dari rasa gelisah.

“Apakah mereka melaporkan aku dan dalam keterangannya membawa-bawa namaku? Pasti tidak, ini pasti masalah lain,” kata batin Rosa berusaha tenang.

“Selamat sore.”

“Selamat sore.”

“Apakah nona Rosana tinggal di sini?”

“Mm … Rosa …,“ Rosa mendadak gugup, apalagi kemudian bu Daryono berdiri dan mendekat.

“Bapak-bapak mencari siapa?”

“Nona Rosana.”

“Ini Rosana, anak saya. Ada urusan apa ya?” akhirnya bu Daryono ikut menanyakannya.

“Kami mendapat perintah untuk menangkap nona Rosana.”

“Ada apa?” Rosa mulai gemetar.

“Mengapa anak saya ditangkap?”

“Tuduhannya adalah menjadi otak sebuah kejahatan.”

“Tidak, bohong semua itu,” Rosa berteriak dengan bibir gemetar.

“Nanti Mbak bisa memberikan keterangan di kantor. Sekarang Mbak harus ikut saya.”

“Tidaaak, aku tidak mau … jangaaan ….”

Jeritan dan ronta melawan tak berguna, karena ia sudah diseret ke dalam mobil tahanan.

Bu Daryono terpaku. Tentu ia tak mengira Rosa melakukan kejahatan. Otaknya pula? Ia terduduk lemas di kursi.

Ketika mobil pak Daryono hampir mencapai gerbang rumahnya, ia melihat mobil polisi keluar dari halaman, dengan raungan yang mengiris jantung.

Begitu melihat mobil suaminya, bu Daryono segera berdiri menyambut, wajahnya muram.

“Ada apa? Mengapa polisi-polisi itu?”

“Mereka membawa Rosa.”

“Membawa Rosa?”

“Katanya ia menjadi otak sebuah kejahatan.”

“Ya Tuhan, apa yang dilakukannya?” kata pak Daryono sambil duduk di teras.

“Selama ini kita tak tahu apa yang dilakukannya. Ia sibuk dengan temannya, itu yang dikatakannya. Sibuk melakukan kejahatan? Kejahatan apa?” sambungnya.

“Rosa hidup berkecukupan, dan kita mengasihinya seperti anak sendiri, apa yang kurang dari semua itu?” keluh bu Daryono.

“Sungguh aku tidak mengerti. Ini tentang uang? Ada masalah apa yang selama ini disembunyikan?”

"Dia tidak pernah mengeluh tentang apapun.”

“Tentang Arka?”

“Dia mengatakan sudah melupakannya. Bahkan tadi sore menunggu kedatangan Papa agar besok diijinkan berangkat ke luar negri.”

“Besok? Selama ini aku yang mendesaknya agar segera berangkat, dan dia mundur-mundur terus. Lalu sekarang minta segera berangkat? Kelihatan buru-buru kan Ma, apakah ia sebenarnya ingin melarikan diri?”

“Mama tidak  tahu, Mama bingung.”

“Ya sudah, Mama tidak usah bingung. Nanti aku coba mencari tahu ada apa sebenarnya. Aku mau ganti baju dulu. Sudah, tidak usah dipikirkan. Dia sudah dewasa, apa yang dilakukannya akan menjadi tanggung jawabnya sendiri,” kata pak Daryono lembut, sambil menggamit tangan istrinya, diajaknya masuk ke dalam rumah.

***

Pak Daryono sangat terkejut ketika mendapat keterangan dari kantor polisi melalui pengacara yang disewanya, tentang apa yang telah dilakukan Rosa.

“Ibu mengatakan kalau ia sudah melupakan Arka?” katanya setelah mendengar keterangan secara detail.

“Dia selalu bilang begitu.”

“Tapi dia melakukan kejahatan karena Arka.”

“Apa yang dilakukannya?”

“Dia membenci seseorang, anak tukang beras itu, mungkin karena mengira Arka lebih memperhatikan gadis itu, lalu dia berusaha mencelakakannya.”

“Apa yang dilakukannya? Dia menyuruh orang?”

“Dia bekerja sama dengan pemilik salon. Bekas teman sekolahnya.”

Lalu pak Daryono menceritakan sekilas apa yang dilakukan pemilik salon itu, sehingga Senja ditahan polisi.

“Kasihan gadis itu. Bukankah dia hanya ingin membela diri? Apakah dia juga akan dihukum?”

“Aku kira tidak. Saat ini dia ditahan diluar. Kelihatannya Arka juga yang membantunya.”

“Kalaupun Arka suka, apa yang salah? Biar dia miskin tapi baik. Dia sudah pernah kemari untuk mengirim beras. Kata Rosa dia kasihan pada dia, lalu membeli beras untuk membantunya.”

“Ternyata dia hanya ingin mendekatinya, atau mungkin pura-pura baik, untuk menutupi kejahatan yang akan dilakukannya.”

“Aku ingat Pak, Rosa pernah bilang bahwa dia menolong gadis itu, yang siapa tuh namanya … “

“Senja.”

“Nah, Senja. Dia ditemukan dipinggir jalan karena mau diperkosa orang, lalu dia membantu membawanya ke rumah sakit, dan setelah gadis itu mau berangkat sekolah, dia juga bilang ingin mengantar dan menjemputnya. Mama bahkan sempat memuji-mujinya, dan senang punya anak suka menolong.”

“Dari mana dia belajar menyembunyikan kejahatannya? Sepertinya semua sudah direncanakan dengan sangat rapi. Kebaikannya hanya pura-pura.”

“Apa yang akan kita lakukan Pak. Bapak menyewa pengacara untuk membela dia? Harusnya dia mendapat pelajaran yang setimpal.”

“Pengacara itu tidak akan membebaskannya. Dia akan tetap mendapat hukuman.”

“Apa kita terlalu memanjakannya?” gumam bu Daryono pelan, seakan tak membutuhkan jawaban, karena dia sudah bisa menjawabnya sendiri.

“Dia akan kita coret dari daftar keluarga. Susah payah kita membesarkannya dan memberinya kasih sayang, tapi dia menyalah gunakannya, mencoreng nama kita dengan melakukan kejahatan itu.”

Bu Daryono diam. Ia merasa heran, meskipun sejak bayi dia merawat Rosa, dan diberikan semua kebutuhannya, tapi rasa cinta seorang ibu jauh dari perasaannya.

“Mengapa ya, aku tidak bisa mencintainya?”

***

“Apakah penjual beras itu sudah pulang?”

“Namanya mbok Mangun.”

“Iya aku sering lupa.”

“Dia memaksa pulang, karena tidak mau merepotkan kita. Apalagi Senja sudah boleh pulang biarpun belum bebas sepenuhnya.”

“Ya, menunggu sidang. Tapi katanya ada dua orang yang menjadi dalang kejahatan itu” kata pak Wiguna, yang sebenarnya tahu, selain Rosa, yang satu lagi adalah bekas mertua sirinya.

“Ternyata perilaku Rosa buruk sekali. Sudah benar Arka tidak menyukainya.”

“Aku juga menyesal pernah memaksa Arka agar menjadi menantu pak Daryono.”

“Padahal Rosa ternyata hanya anak angkat pak Daryono.”

“Mungkin kelakuan buruknya menurun dari orang tua kandungnya.”

“Pak Daryono dan istrinya orang baik. Heran Rosa tidak meniru kebaikannya.”

“Darah yang mengalir di tubuh Rosa adalah darah kotor.”

“Bergelimang harta tapi kelakuannya sangat buruk. Jadi mulai sekarang Bapak jangan menilai orang dari kedudukan dan kekayaannya. Anak seorang penjual beras bisa melangkah dengan segala kebaikan, sementara anak orang kaya bisa melakukan hal yang sangat tidak terpuji.”

“Menurut Ibu, apakah Arka menyukai anak penjual beras itu?”

“Menurut Bapak, apakah memalukan memiliki menantu anak penjual beras?”

Pak Wiguna tidak menjawab, tapi tak ada perkataan ‘tidak’ terucap dari mulutnya.

***

Senja memang boleh pulang ke rumah, tapi ia punya kewajiban untuk absen pada setiap hari yang ditentukan. Ia bisa merasa lega, setidaknya simboknya selalu berada di sampingnya, dan tidak terlalu mengkhawatirkannya.

“Ternyata non Rosa itu sangat jahat,” kata Rimba geram.

“Iya Le, sangat jahat. Ia pintar menutupi kejahatannya dengan kebaikan palsu yang akhirnya membuat  mbakyumu tidak percaya kalau dia yang menjerumuskannya.”

“Kalau sekarang Senja percaya Mbok. Ternyata non Rosa sangat membenci Senja, dan berusaha membuat Senja celaka.”

“Tapi sampai sekarang sebenarnya kamu tidak mau mengatakan tentang siapa yang memberi kamu pekerjaan kan?” kata Simbok.

“Dia berpesan wanti-wanti, dan Senja terbuai dengan kebaikannya. Ternyata Allah membukakan semua yang ditutupi. Bahkan bukan Senja yang mengatakannya, tapi bu Mery sendiri.”

“Itu berarti bu Mery itu sudah diberi uang oleh non Rosa,” celetuk Rimba.

“Kamu pintar Mba. Apa besok kamu ingin jadi polisi?” tanya sang kakak.

Rimba menyeringai lucu.

“Rimba ingin menjadi dokter, agar bisa selalu menjaga kesehatan Simbok dan mbak Senja.”

***

 Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA

 AKU ANAK SIAPA   (Tien Kumalasari) Seorang gadis berjalan tertatih dijalan Raya. Wajah yang aslinya cantik, tampak kumuh berdebu. Bajunya y...