Tuesday, August 25, 2026

AKU ANAK SIAPA 20

 AKU ANAK SIAPA  20

(Tien Kumalasari)

 

Satria terus memukul-mukulkan tangannya yang terikat, sampai merasa sakit. Bercucuran air matanya tanpa bisa mengeluarkan suara jelas, kecuali mmm … mmmh …

Seorang wanita yang kebetulan melewati kamar itu merasa heran mendengar suara aneh dan pintu dipukul-pukul. Ia segera memanggil teman se kost nya, dan keduanya kemudian mencoba membuka pintunya. Tapi pintu itu terkunci.

“Hei, ada apa? Ada orang di dalam?”

Suara pukulan pelan serta suara aneh itu sangat menarik perhatiannya.

“Ini kan kamar seorang penghuni baru itu?”

“Iya, namanya siapa sih?”

“Nggak tahu aku, begitu masuk nggak pernah keluar-keluar kecuali ke kamar mandi. Wajahnya selalu tertutup, tak ada yang mengenalinya.”

“Siapa di dalam?”

Suara ah uh itu terdengar semakin keras. Barangkali Satria menguras tenaganya agar bisa mengeluarkan suara lebih keras.

“Sepertinya dia butuh pertolongan.”

“Tapi pintunya dikunci, ini mencurigakan.”

“Kamu tungguin di sini, aku mau menghubungi bu Rini pemilik rumah.”

“Seperti orang kesakitan. Suaranya seperti minta pertolongan.”

Wanita satunya sudah selesai menelpon bu Rini, pemilik rumah.

“Kamu butuh pertolongan? Tungguin ya, kami akan menolong kamu.”

Tiba-tiba Rosa yang baru keluar dari kamar mandi mendekati dua orang yang kasak kusuk di depan kamarnya.

“Hei, sedang apa kalian?” sentaknya kesal.

“Di dalam ada siapa? Sepertinya dia butuh pertolongan.”

“Jangan ikut campur. Dia anak nakal, keponakan aku. Minggir sana,” kata Rosa marah sambil berusaha membuka pintu.

Tapi dua orang itu malah curiga. Mereka hanya mundur sedikit, tapi tak beranjak dari dekat pintunya. Suara dag-dug itu semakin pelan, barangkali tangannya semakin kesakitan, atau dia tak lagi punya tenaga.

“Mengapa kalian masih berdiri di situ?”

“Penghuni baru ini galak dan kasar sekali,” bisik wanita satunya.

“Pergilah, ini bukan urusan kamu.”

“Kami ingin tahu itu suara apa? Sepertinya_”

“Bukan urusan kamu!” hardiknya yang membuat keduanya mundur setindak. 

Hanya setindak, karena mereka benar-benar curiga.

“Buka saja pintunya, kami kan tidak bermaksud jahat?”

Tiba-tiba dari jauh seorang wanita mendekat. Dia adalah bu Rini, pemilik rumah kost itu.

“Ada apa?”

“Ini Bu, sepertinya di dalam ada yang butuh pertolongan.”

“Ini kan bu … “ pemilik rumah agak lupa nama Rosa. Tentu saja Rosa mengganti namanya, karena nama Rosa sudah terkenal sebagai buron.

“Saya Budi.”

“Bu Budi? Ada siapa di dalam? Bukankah tadinya Ibu ingin menyewa kamarnya sendirian?”

“Ini hanya anak kecil, keponakan saya Bu. Dia agak rewel, karena ibunya belum menjemput.”

“Kasihan, kenapa pintunya tidak segera dibuka?”

“Iya, tapi tidak ada apa-apa, ibu tidak usah khawatir. Maaf mengganggu.”

Rosa membuka pintunya dengan hati-hati, tapi begitu pintu dibuka, Satria menggulingkan tubuhnya keluar pintu. Rosa yang tidak mengira tak berhasil menahannya. Bu Rini dan kedua wanita yang belum pergi itu terkejut. Ada anak kecil diikat kaki tangannya, dan ditutup mulutnya dengan lakban.

Mereka segera mendekat dengan cepat.

“Ya ampuun, mengapa anak ini diperlakukan seperti ini?”

“Kejam sekali.”

Rosa ketakutan.

“Dia nakal, berteriak-teriak, karena takut mengganggu tetangga saya ikat dan saya tutup mulutnya.”

“Ini tidak manusiawi.”

“Cepat dibuka mulutnya bu.”

Ketiga wanita itu membuka tali kaki tangan Satria, dan juga mulutnya, membuat anak itu sekarang berteriak.

“Dia jahat! Dia jahatt!” walau berteriak, tapi suaranya lemah.

“Ini namanya disiksa. Masa keponakan sendiri disiksa?”

“Coba di kasih minum.”

Tanpa diminta Rosa mengambil air dari dalam kamarnya, dan diberikannya kepada Satria. Ia masih berlagak sebagai seorang ibu kepada keponakannya.

“Makanya jangan nakal. Ayo masuk dan tidur.”

“Nggak mau, aku mau pulang. Aku lapar.”

“Tidak dikasih makan?”

"Itu … saya baru mau beli makanan,” jawab Rosa.

“Kalau begitu saya bawa ke rumah saja, biar makan di rumah,” kata bu Rini yang kemudian menggandeng tangan Satria.

“Jangan Bu, biar saya saja.”

“Kasihan anak ini. Nanti setelah makan saya antarkan kemari lagi,” kata bu Rini yang diikuti kedua wanita itu, menuju rumah.

Rosa tak bisa apa-apa, ia bingung harus melakukan apa.

“Dasar bodoh! Mengapa tidak dibunuh saja sekalian anak itu?” teriaknya marah.

***

Bu Rini dan kedua wanita itu menyuapkan makan, memberi minum, dan mengobati bibirnya yang berdarah.

“Sakit?”

Satria mengangguk.

“Dia apanya kamu? Tantenya? Budenya?”

Satria menggeleng keras, dan menggoyang-goyangkan tangannya di mana pergelangannya merah karena ikatan rafia yang sangat kencang.

“Mengapa kamu bersamanya?”

“Dia orang jahat.”

“Kamu kenal sebelumnya?”

Satria kembali menggeleng.

“Bagaimana kamu bisa bersamanya lalu disiksa begini?”

“Saya dijemput om.”

"Dijemput di mana?”

“Sekolah.”

“O, kamu tadinya sekolah, lalu dijemput om kamu?”

“Bukan. Om yang lain.”

“Yang lain bagaimana?”

“Nggak kenal.”

“Kenapa kamu mau dijemput?”

“Katanya disuruh ibu. Tapi aku dibawa ke wanita jahat itu, lalu omnya pergi.”

“Ya Tuhan, ini penculikan.”

“Cepat lapor polisi, sebelum perempuan itu kabur.”

Tapi dalam hati wanita pemilik rumah kost itu berpikir, perempuan penyewa itu ketika datang pertama kali memang tidak memakai cadar, tapi menurutnya wajah itu seperti wajah buronan yang terpampang di mana-mana.

“Bedanya ia memiliki tahi lalat cukup banyak di wajahnya. Di ujung hidung, pipi kiri dan dahi, serta dibawah mata kanan. Tapi mirip sih. Masa iya dia buronan itu?” kata batin bu Rini.

***

Tapi memang benar Rosa sudah kabur terlebih dulu. Polisi hanya menemukan tas sekolah Satria yang masih ada di kamar itu. Dengan terlepasnya Satria, pasti ketahuan bahwa dia menculiknya. Sangat bodoh kalau dia masih berada di rumah itu. Ia pergi tanpa tujuan dengan perasaan yang kacau.

“Mengapa aku selalu gagal membuat celaka perempuan itu?” geramnya dalam pelarian.

Hari sudah malam ketika itu, ia tak tahu harus ke mana. Tak ada kendaraan umum yang lewat, jadi ia dengan membawa bungkusan baju dan uang yang tersisa hanya duduk di depan sebuah mushala kecil. Ia duduk sambil merangkul bungkusannya, lalu tertidur karena kelelahan.

***

Polisi sudah bergerak melakukan pencarian, dan Satria masih ada di rumah bu Rini, yang belum tahu harus mengantarkan ke mana. Tapi mereka sudah tahu kalau Satria adalah anak yang dicari orang tuanya.

“Kamu tidur dulu di sini ya, besok aku antarkan kamu pulang.”

Satria menatap wanita itu lekat-lekat.

“Ia pasti berbeda dengan wanita jahat itu. Wajahnya lembut, dan dia telah menolong aku. Masa dia akan tetap menahan aku di sini?” kata batin Satria.

“Mengapa kamu menatap aku seperti itu? Kamu menganggap aku orang jahat seperti bu Budi tadi?”

Satria menggeleng.

“Aku bukan orang jahat, aku benar-benar akan menolong kamu.”

Satria membayangkan wanita jahat itu, yang wajahnya coreng moreng menakutkan, dan ia menganggapnya sebagai perempuan jadi-jadian.

“Apa dia manusia?” celetuknya pelan.

“Siapa? Wanita itu? Ketika datang, dia seperti wanita baik-baik. Entah mengapa sekarang kalau keluar dia memakai cadar yang menutupi hampir seluruh wajahnya."

“Wajahnya coreng moreng. Seperti hantu.”

“Baiklah, kamu sudah aman sekarang. Orang tuamu pasti sudah tahu kalau kamu aman di sini. Kalau kamu tidak dijemput maka aku yang akan mengantarkan kamu pulang. Sekarang kamu tidurlah.”

Satria di suruh tidur di sebuah kamar, dan dia merasa aman serta lega.

Tapi di tengah malam itu, Satria merasa seperti mimpi, ketika ia dibangunkan. Seorang wanita cantik duduk di tepi pembaringan, dan seorang laki-laki gagah berdiri di sampingnya. Ia juga melihat polisi di belakang ayahnya.

“Aku seperti melihat Ibu dan Bapak,” bisik Satria sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Satria, anakku, ini Ibu, dan ini Bapak,” kata Senja yang kemudian merangkul Satria sambil menangis.

“Ini Ibu dan Bapak?” kata Satria kepada dua orang yang merangkulnya.

“Tentu. Seharian kami mencari kamu. Siapa orang yang berbuat jahat kepadamu, Nak? Ya ampun, kamu terluka, tanganmu kebiruan begini, diapakan?” kata Senja yang tak bisa menahan tangis.

“Ada perempuan seperti hantu.”

“Senja, lebih baik kita bawa pulang dulu Satria, dia pasti lelah, biar bisa istirahat di rumah," kata Arka.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada bu Rini si pemilik rumah yang telah menolong anaknya, Satria dibawa pulang.

Tapi di luar sana, dendam yang dibawa Rosa masih menyala.

***

Besok lagi ya.

Monday, August 24, 2026

AKU ANAK SIAPA 19

 AKU ANAK SIAPA  19

(Tien Kumalasari)

 

Entah karena sudah capek, atau karena bujukan laki-laki itu, maka Satria menurut saja pergi bersama si ‘om’ yang belum pernah dikenal sebelumnya. Satpam penjaga mengijinkannya, karena Satria mengatakan kalau sudah dijemput ‘om’nya.

Tapi tak lama kemudian Satpam itu terkejut, karena ibu Satria datang dan menanyakan anaknya.

“Lho, Bu … Satria sudah dijemput omnya.”

Senja terkejut bukan alang kepalang.

“Apa? Om siapa?”

“Ibu tidak kenal? Laki-laki itu berbincang dengan Satria, kemudian tiba-tiba Satria bilang bahwa dia sudah dijemput omnya.”

“Bapak ijinkan dia pergi?”

“Satria mengatakan dia omnya.”

“Om siapa? Ya Tuhan, ini tidak benar. Apa Rimba menjemput? Kok aneh, tak biasanya dia begitu.”

“Satria punya om kan Bu?”

“Punya, tapi dia sekolah, tak mungkin menjemput kemari, belum pernah dia melakukannya. Dan kalau benar, pasti dia mengabari saya.”

“Omnya sekolah? Tapi laki-laki itu bukan tampang anak sekolah, dia tidak lagi muda. Tidak jelas juga sih wajahnya, karena dia memakai helm.”

“Bapak tidak cermat dalam menjaga murid-murid! Anak saya diculik!”

Satpam itu terkejut. Ia bingung ketika Senja marah-marah dan pergi ke kantor. Seisi sekolah gempar, Senja menangis sambil kemudian berlari ke mobilnya.

Ia masuk ke mobil dan menelpon Rimba. Jawaban yang sudah diduganya itu tentu saja membuatnya panik.

“Tidak, aku masih di sekolah. Masa aku menjemput Satria?”

“Ya Allah Mba, Satria diculik.”

“Apa? Diculik? Bagaimana bisa? Sekolah kan ketat dalam menjaga anak didiknya? Bagaimana bisa ada murid diculik?”

“Kata satpam, dia mengaku omnya. Dan Satria percaya, entah bagaimana Satria bisa mempercayainya. Aku bingung Mba,” katanya sambil menangis.

“Lapor polisi Mbak. Mas Arka sudah diberi tahu?”

”Belum. Karena katanya dijemput omnya, maka aku menelpon kamu. Aku memang tidak yakin kalau kamu yang menjemput. Gimana ini Mba?”

“Mbak tilpon mas Arka, lapor polisi, aku akan minta ijin pulang untuk membantu mencarinya."

Arka tentu saja bingung mendapat laporan bahwa Satria diculik. Setelah menelpon Senja datang ke kantor, dan Arka sudah siap lapor polisi.

***

Satria bingung, karena laki-laki yang disebut om itu tidak membawanya ke rumah, tapi ke sebuah  rumah, dimana ia diajak masuk ke dalam sebuah kamar kecil. Ada Rosa di sana, tapi Satria belum pernah mengenalnya.

“Mengapa kemari? Mana ibuku?” protes Satria.

“Kamu mencari ibumu, sayang?” kata Rosa dengan wajah yang menurut Satria sangat mengerikan. Wajahnya berbedak tebal, ada coreng moreng hitam dan bibirnya dicat tebal.

“Kamu siapa? Aku nggak mau ke sini, aku mau pulang.”

“Mbak Rosa, aku sudah selesai, bayar dulu kekurangannya,” kata laki-laki itu tanpa basa-basi, dan tak peduli pada Satria yang mulai menangis.

“Baiklah, aku tidak akan ingkar,” kata Rosa sambil mengambil uang dari dalam tasnya, lalu diberikannya kepada si om.

Ketika laki-laki itu berbalik, Satria berteriak.

“Om, bawa aku pulang, aku nggak mau di sini!!”

Tapi Rosa memegangi tangannya, dan laki-laki itu pergi begitu saja.

”Pulaaaang, aku mau pulaaaang,” Satria berteriak-teriak sambil menangis dan meronta.

Rosa mengayunkan tangannya dan memukul mulut Satria sampai berdarah. Satria menjerit kesakitan.

“Kalau kamu berteriak lagi, aku akan memukulmu lebih keras. Diaammm! Tahu?”

Satria terdiam, wajahnya ketakutan. Ia merintih pelan, menahan rasa takut dan sakit.

“Biarkan aku pulang. Biarkan aku pulang … aku mau ibu, mau ibuuuu,” rintihnya pelan, khawatir perempuan yang wajahnya mirip setan di gambar-gambar komik itu memukulnya lagi.

“Diam!”

“Mengapa aku dibawa kemari? Ini bukan rumahku, aku pulang …”

“Tentu saja ini bukan rumahmu. Rumahmu indah seperti istana. Ini rumah orang yang menjadi miskin karena ibumu!"

“Ibuku mana, apa salah ibuku!” katanya sambil meronta, ingin lari dari kamar itu.

“Tunggu di sini, sampai ibumu menjemputmu. Diam, jangan membuat repot.”

Rosa mengambil tali rafia, kemudian mengikat kaki dan tangan Satria.

“Lepaskan aku! Jangan … ini sakiiit.”

Rosa kembali menampar wajah Satria, Satria berteriak.

“Kalau kamu berteriak-teriak, aku akan memukul kamu lagi.”

“Lepaskan, ini sakit.”

“Tidak, kamu harus aku ikat, supaya tidak kabur. Dan ingat, jangan berteriak.”

Rosa mengambil lakban dan menutup mulut Satria yang kemudian tak mampu lagi berteriak. Tangisnya tersekat di tenggorokan, matanya terus mengucurkan air mata.

“Nah, begini lebih baik. Aku bawa kamu kemari agar ibumu menderita. Dia telah membuat aku menderita, jadi sekarang dia harus merasakannya.”

“Mmmmmmmh …. mmmhhhh….” 

Satria berguling-guling di lantai.

“Diaaaammmm!” perintah itu pelan, tapi suaranya mirip geraman yang ditahan. Satria tak berani berkutik. Ia hanya bisa menangis, dan tak tahu apa salah dan dosanya sehingga disiksa seperti ini.

Rosa tampak senang sekali. Ia menyeringai, dan Satria yakin bahwa yang ada didepannya pastilah jadi-jadian, bukan manusia.

Satria duduk, bersandar pada dinding, kaki tangannya diikat, yang bagi seorang anak pastilah sangat sulit membuatnya bisa bergerak.

“Nah, begitu lebih baik. Kamu tahu? Ibumu pasti sedang menangis bergulung-gulung … “

Lalu Rosa tertawa terbahak-bahak, membuat Satria bertambah takut.

“Oh iya, aku lapar sekali, biar aku makan dulu ya,”

Dengan tenangnya Rosa mengambil makanan di atas meja. Kamar itu hanya sepetak, ada sebuah tempat tidur, sebuah meja dan kursi satu, serta almari kecil. Makan tidur ya di dalam situ, tapi kamar mandinya ada di luar. Tidak apa-apa bagi Rosa, yang penting dia bisa bersembunyi. Dan bisa menyiksa bukan hanya anak yang diculiknya, tapi yang penting adalah Senja. Alangkah senang hatinya membayangkan Senja kebingungan dan meraung-raung.

Ia duduk di atas kursi, menghadapi sepiring nasi, dan makan dengan lahap. Satria menatapnya pilu. Ia sebenarnya juga lapar, sepulang sekolah pasti makan, tapi rasa lapar itu tak dirasakannya. Ia lebih memikirkan dirinya yang berada di tempat asing, disiksa, diikat seperti binatang, tanpa tahu apa salah dan dosanya.

***

Senja tak berhenti menangis. Arka sudah lapor ke polisi, dan Rimba sudah berputar-putar mencari. Tapi mencari ke mana? Mereka tak tahu siapa yang menculiknya, dan apa maunya.

“Dia minta uang tebusan, barangkali,” kata Rimba.

“Sejauh ini tak ada yang menghubungi dan meminta uang tebusan,” jawab Arka yang terus memeluk istrinya.

“Siapa yang melakukan ini?”

“Satria pasti lapar, sudah saatnya dia makan. Ya Allah, kembalikan anakku, di mana dia? Sudah makan atau belum?”

“Rimba, sebaiknya kamu pulang, Simbok pasti menunggu kamu,” kata Arka lagi.

“Iya Mas, nanti kabari kalau ada berita tentang Satria.”

“Mba, jangan bilang Simbok tentang hilangnya Satria, kasihan Simbok,” kata Senja sambil menangis.

“Iya Mbak, aku juga berpikir begitu. Sebaiknya aku pulang dulu, supaya simbok tidak bertanya-tanya."

Rimba pulang, dan Senja masih terisak dalam pelukan Arka. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu. Tadi seharian mereka berputar-putar, tentu saja tanpa hasll.

***

Satria mungkin sudah lelah. Badannya lemas, ia sudah menanggung ketakutan dan rasa sakit. Sekarang dia diam, tangisnya tak lagi mengeluarkan suara. Ia hanya bisa membisikkan nama ibu dan ayahnya, dalam hati, karena mulutnya tersumbat lakban. Kaki tangannya juga sakit karena terikat erat oleh tali yang membuatnya tak bisa bergerak. Kalaupun bergerak, ia hanya bisa berguling-guling.

Hari itu entah siang atau sudah malam, Satria tak mengerti. Tapi ia melihat perempuan bengis itu menekan tombol dan lampupun menyala. Tak begitu terang. Tak ada suara, senyap dan mencekam.

TIba-tiba ia melihat perempuan yang menyekapnya itu mengambil cadar, lalu menutupi wajahnya. Kemudian keluar dari kamar. Barangkali akan ke kamar mandi atau entahlah, sepertinya karena kekenyangan maka perutnya melilit. Ia melihat perempuan itu memegangi perutnya sebelum keluar, kemudian mengunci pintunya.

Sepi mencekam, Satria tak tahu harus berbuat apa, tapi terbersit keinginannya untuk melarikan diri. Ia berguling ke arah pintu, dan memukul-mukulkan tangannya yang terikat ke arah pintu.

***

 Besok lagi ya.

Sunday, August 23, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 014

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  014

(Tien Kumalasari)

 

Menur menatap anaknya dengan pandangan trenyuh. Rupanya perkataan nyonya Lili masih membekas dihatinya.Menur sedikit senang, gara-gara Baroto banyak mengajarinya tentang perbuatan baik, bahkan hanya sehari dua hari, Rahman langsung berubah. Sebenarnya Menur juga heran. Bagaimana Rahman yang sombong di sekolahnya dan tidak menghargai ibunya sama sekali hanya karena dirinya seorang pengais sampah, tiba-tiba berubah sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Hanya dalam dua hari, hal yang sangat mengherankannya. Apa karena Baroto adalah ayah kandungnya, maka di dalam hatinya langsung bisa memahami apa yang dikatakan Baroto, lalu bisa menjalani perbuatan baik seperti apa yang dikatakan Baroto.

Menur mengheka napas. Sekarang Rahman merasa sakit hati karena ibunya disakiti. Ada haru yang memuncak, tapi ada yang membuatnya bingung. Ia sudah sanggup menuruti permintaan Ana, walau sebenarnya sangat berat baginya untuk mmenjalaninya. Lalu ternyata Rahman tidak menyukainya gara-gara ucapan nyonya Lili yang sangat pedas.

Kecuali itu, sebenarnya dia enggan karena ada Baroto di sana. Ia tak percaya Baroto akan diam saja, sedangkan saat berjauhan saja dia selalu berusaha untuk mengajaknya bicara.

Tapi satu-satunya yang membuatnya mau menjalani adalah Ana yang terus menerus merengek.

“Ibu tetap akan ke sana?” Rahman kembali mengusiknya.

“Ibu bingung, karena kamu enggan. Tapi bagaimana dengan Ana?”

“Aku tidak rela kalau Ibu nanti direndahkan oleh mamanya Ana.”

“Rahman, ibu akan memberi tahu kamu. Sebenarnya Ana itu bukan orang lain. Nyonya LIli itu saudara misan ibumu ini.”

“Saudara misan? Misan itu apa?”

“Neneknya Ana itu adalah sepupu nenek kamu. Jadi nyonya Lili itu saudara misan ibu. Begitu istilahnya.”

“Pokoknya masih saudara, begitu kan Bu?” kata Rahman yang enggan menghitung-hitung tentang hubungan saudara.

“Ya, begitulah. Kelak kalau kamu sudah besar pasti bisa mengerti.”

“Memangnya kenapa kalau saudara? Apa Ibu harus menuruti kemauannya?”

“Bukan begitu, karena masih saudara, kita harus bisa memaafkannya. Sedangkan kesalahan orang lain saja kita harus bisa memaafkan, apalagi kalau saudara.”

Rahman mengangkat pundaknya. Tampaknya ia belum bisa menerima perlakuan itu walau masih saudara ibunya.

“Kalau Ibu mau tinggal di sana, Rahman di sini saja, bagaimana?”

“Mana mungkin begitu Rahman. Kamu tidak bisa sendirian di sini.”

“Pokoknya Rahman tidak mau ke sana, Rahman mau tinggal di sini, biar sendiri juga tidak apa-apa.”

Menur memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.

***

Nyonya Baroto atau Lili sedang duduk bersama suami dan ibunya. Mereka membicarakan tentang keinginan Ana, yang tentu saja membuat wajah Lili muram.

“Aku kan sudah berpesan sama kamu, bahwa kamu tidak boleh membuat Lili sedih. Aku titipkan dia di sini agar dia memiliki keluarga yang utuh. Kasihan dia, sejak lahir sudah ditinggal ibunya. Kamu setuju kan, Baroto?”

“Saya setuju saja, apalagi Mama sudah berjanji untuk memenuhi keinginan Ana.”

“Bagus sekali, sekarang mama mau bercerita tentang Menur.”

“Ada apa dengan Menur? Mama kasihan karena dia hanya seorang pengais sampah kan?” kata Lili masih dengan wajah masam.

“Ibunya Menur ternyata adalah sepupu mama ini.”
Semuanya terkejut. Baroto membelalakkan matanya.

Ibunya Mama itu adik dari ibunya Menur.

“Masa Mama punya saudara yang anaknya jadi pemulung?” pekik Lili.

“Tidak usah berteriak. Yang namanya manusia itu punya garis hidup yang berbeda. Jangan kamu merendahkan orang lain karena kamu bisa hidup sebagai orang berada. Dulu kebetulan mama menikah dengan ayahmu, yang seorang pengusaha kaya, sehingga mama hidup berkecukupan sampai sekarang. Berbeda dengan keluarga Menur yang hidup di kampung. Menur itu hidupnya penuh penderitaan. Ia pernah dinikahi orang kaya, tapi orang itu kemudian pergi tanpa belas kasihan. Keterlaluan sekali ada laki-laki semacam itu. Menur yang sangat mencintai suaminya, terlunta-lunta mencarinya ke kota. Bayangkan, kasihan kan?”

Wajah Baroto pucat seketika. Yang dimaki-maki ibu mertuanya sebenarnya adalah dirinya. Dirinya yang dianggap pergi meninggalkan Menur tanpa belas kasihan. Yak bisa dibayangkan, betapa sakitnya hati Baroto.

***

Hari itu Ana merengek ingin ketemu Menur lagi. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Hari yang dijanjikan Menur adalah keesokan harinya.

Ketika nenek Sasa dan Ana datang, Ana langsung memasuki rumah untuk mencari Menur, yang memang tidak mengais sampah ketika Rahman libur sekolah.

Nenek Sasa melihat Rahman sendirian di depan rumah, wajahnya tampak murung.

“Rahman, apakah kamu sakit?” tanyanya setelah mendekat.

Rahman tersenyum tipis. Ia menatap nenek cantik yang wajahnya ramah itu lekat-lekat. Alangkah bedanya tatapan mata nenek Ana dan mamanya. Mamanya yang biarpun wajahnya cantik, tapi mulutnya tajam bagai pisau. Berbeda sekali dengan nenek Sasa yang walaupun kaya raya tapi sangat baik dan ramah. Matanya yang lembut, menunjukkan bahwa dia adalah seorang nenek yang penuh kasih sayang.

“Rahman, mengapa wajahmu murung? Apa kamu sakit?”

“Tidak Nek, saya baik-baik saja.”

“Mengapa wajahmu murung?”

“Tidak apa-apa.”

“Dengar Rahman, nanti nenek akan mengajak ibumu dan kamu untuk tinggal di rumah nenek. Nanti kamu bisa bermain bersama Ana. Kalau sekolah, kamu bisa diantarkan sopir dengan mobil. Bagaimana? Kamu suka?”

Wajah Rahman tidak berubah riang, walau iming-iming menyenangkan itu didendangkan dengan manis oleh nenek Sasa. Bermain bersama Ana, kalau sekolah diantar sopir dengan mobil. Rahman sudah bisa dibilang anak keluarga kaya. Teman-temannya akan mengagumi dia, menganggapnya seorang yang sangat pantas disanjung-sanjung. Betapa membanggakan. Tapi itu dulu. Ketika om ganteng bernama Baroto itu belum menjejali telinganya dengan ajaran-ajaran yang baik dan terpuji. Sekarang ini bagi Rahman, kekayaan bukan sesuatu yang membanggakan. Tugasnya sebagai seorang pelajar adalah belajar, berprestasi dan tak peduli kalau teman-temannya menyisihkannya karena dirinya dianggap miskin.

“Kamu senang kan?” nenek Sasa mengulang kata-katanya. Tapi alangkah terkejutnya sang nenek ketika melihat Rahman menggeleng.

“Rahman, kamu tidak suka?”

“Saya akan tetap tinggal di sini, biarpun ibu akan tinggal bersama Ana.”

“Rahman, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kamu tinggal di sini sementara ibumu ada bersama kami?”

“Rahman merasa senang tinggal di rumah ini.”

“Rahman, di rumah Ana akan lebih menyenangkan. Kamu akan mendapat banyak permainan. Bukan mainan boneka seperti punya Ana, nanti nenek akan membelikan kamu mobil-mobilan, atau apa saja yang kamu inginkan.”

Rahman tetap menggeleng.

“Kamu tidak suka?”

“Maaf Nek.”

Nenek Sasa meninggalkan Rahman, masuk ke dalam rumah.

Ana sedang berbincang dan berceloteh manis dengan Menur. Bicara semau-maunya, karena dia sedang bersenang hati atas kesanggupan Menur untuk ikut bersamanya di hari itu.

“Menur, apa kamu sudah siap?”

“Bulik, saya ingin mengatakan sesuatu.”

“Bahwa Rahman tidak mau ikut?”

“Dia sudah terbiasa hidup sederhana, barangkali dia akan merasa kurang nyaman kalau tinggal di tempat lain, apalagi tempat yang berbeda.”

“Jadi akan kamu tinggalkan di di sini sendirian?”

“Begini bulik, saya bersedia ikut, menemani Ana seperti keinginannya, tapi saya tidak bisa menginap di sana. Jadi kalau sore saya minta pulang, pagi-pagi sekali setelah Rahman berangkat sekolah, saya akan kembali bersama Ana.”

“Kalau begitu aku akan ikut bibi Menur pulang kemari setiap sore,” tiba-tiba Ana berteriak.

Menur merangkulnya dan mencium keningnya.

“Ana, tidak bisa begitu. Di rumah ini tidak ada tempat tidur yang pantas.”

“Tidak apa-apa, aku mau.”

“Jangan begitu Ana, bibi hanya pulang sore sampai malam, paginya bibi sudah akan kembali ke sana. Kasihan kalau Rahman sendirian.”

“Mengapa Rahman tidak mau pergi bersama kita?”

“Rahman masih harus sekolah, dan sekolahnya dekat dari sini. Bisrlah untuk sementara dia tinggal di sini, nanti gampang setelah dia lulus. Apalagi dia mau ujian, bibi tidak ingin pelajarannya terganggu. Kamu bisa mengerti?” kata Menur lembut, seperti biasanya.

“Nenek, ini bagaimana?” Ana sepertinya mengerti, tapi ia meminta pertimbangan sang nenek.

“Ana, nenek kira bibimu benar, biarlah untuk sementara dia dalang pagi, sore pulang untuk merawat Rahman, besok pagi baru kembali lagi ke rumah kita. Bagaimana? Kalau tidak begitu, bibimu tidak bisa menjalani, karena bibimu masih punya tanggung jawab terhadap Rahman. Alasannya kamu sudah mendengarnya bukan?”

Akhirnya Ana mengalah. Mau menuruti syarat yang diajukan bibi Menur.

***

Rumi sedang berbisik-bisik dengan nyonya Baroto. Sesungguhnya dia merasa tersingkir karena Ana sangat mengharapkan Menur.

“Nyonya, barangkali pengais sampah itu membujuk non Ana agar diijinkan tinggal di sini.”

“Menurutmu begitukah?”

“Ya tentu saja Nyonya, biasanya dia berada di jalanan, memunguti botol-botol kosong, lalu di rumah ini semuanya serba bagus. Dia mendapat kamar yang bagus, padahal orang baru. Nyonya besar tadi yang menyuruh pembantu membersihkan kamar di sebelah kamar non Ana. Kalau Nyonya biarkan, dia bisa ngelunjak. Bagaimana tidak? Di sini bisa makan enak, tidur nyenyak. Sebenarnya tidak pantas kan nyonya, dia itu kan kotor dan pastu juga bau. Kalau tidak karena dibujuk, mana bisa non Ana punya keinginan yang aneh-aneh.”

Lili sebenarnya sudah tahu kalau Menur adalah masih saudara misannya. Tapi Lili enggan mengakui, karena Menur dianggapnya tidak sepadan dengan keluarganya.

***

Besok lagi ya.

 

 

Saturday, August 22, 2026

AKU ANAK SIAPA 18

 AKU ANAK SIAPA  18

(Tien Kumalasari)

 

Bu Mery menatap anaknya, dan itu benar. Hari itu juga mereka melaporkannya kepada polisi tentang keberadaan Rosa di rumah mereka.

Sementara itu Rosa sudah menemukan rumah kost yang jauh dari perkotaan. Setelah itu ia kembali ke rumah Mery karena masih ada barang-barangnya yang tertinggal. Lagipula ia sudah diusir. Saat itu Rosa punya uang yang lumayan banyak. Ia tidak menjualnya di toko perhiasan tapi kepada orang rumahan yang suka mengumpulkan perhiasan-perhiasan bermutu. Rosa tak ingin ketahuan karena toko perhiasan akan mencurigainya ketika ia menawarkan barang bagus yang lumayan banyak.

Ia tahu kalau ia sudah dilaporkan, dan ia sadar kalau ia menjadi buronan. Jadi ia tidak bisa sembarangan keluar, dan tetap berdandan dengan aneh sehingga tidak kelihatan wajah cantiknya. Ia juga memakai topi yang dipinjamnya dari rumah Mery.

Tapi ketika ojol yang ditumpangi sudah hampir sampai di rumah Mery, ia melihat ada mobil polisi terparkir di halaman. Rosa sangat terkejut, sehingga ia segera berteriak kepada pengemudi ojol agar segera berbalik arah. Ia meminta agar ojol itu memacu motornya dengan sekuat-kuatnya.

Ketika sudah sampai di dekat gang di mana dia tinggal, ia minta ojol itu berhenti. Kalau terjadi sesuatu dan tukang ojol itu diinterograsi polisi, maka ia pasti akan tertangkap, jadi ia tak mau ojol itu berhenti di dekat rumah kost itu.

Terengah-engah Rosa ketika masuk ke kamar kostnya. Ia sadar hidupnya tak akan merasa tenang, tapi rasa bencinya kepada Senja tak terbendung. Ia belum merasa lega kalau belum membuat Senja celaka atau sengsara. Ada ketakutan yang menderanya, dan membuatnya gelisah. Tapi ibarat menyeberang sungai, dia sudah sampai di tengah-tengah, mundur basah, majupun basah.

***

Hari itu Senja melihat Bibik berkali-kali melongok ke depan, dan selalu pergi ke gerbang, untuk memeriksa kuncinya, apa sudah benar atau belum.

“Bik, memangnya kenapa, Bibik kelihatan seperti gelisah begitu?”

“Nggak tahu kenapa Nyonya, berkali-kali saya melihat ada seorang laki-laki yang mondar mandir di depan rumah, takut kalau dia itu orang jahat.”

Senja malah tertawa.

“Bibik itu aneh, di depan itu kan jalan besar, jadi tidak aneh kalau ada yang mondar mandir di sana.”

“Tapi orangnya mencurigakan sekali. Kelihatan kalau dia selalu mengawasi rumah ini.”

“Masa sih Bik?”

“Kejadiannya sudah beberapa hari ini. Ketika Nyonya dan tuan pergi, saya dengan mas Satria berdiri di teras. Tiba-tiba ada pengendara sepeda motor berdiri di depan gerbang. Saya pikir ada tamu atau apa, tapi ia hanya berdiri saja, melihat ke arah rumah ini. Untung gerbangnya saya gembok. Kalau tidak, barangkali dia akan masuk dan melakukan kejahatan. Setelah itu saya sering melihat orang yang sama mondar mandir di depan. Benar Nyonya, sudah beberapa hari ini.”

“Baiklah, memang kita harus hati-hati. Ketika di kondangan beberapa hari yang lalu, kami bertemu dengan pak Daryono yang mengatakan bahwa istrinya baru saja kehilangan satu kotak perhiasan.”

“Tuh, kan? Nyonya harus hati-hati meletakkan perhiasan atau barang-barang berharga. Kecuali itu gerbang harus selalu digembok.”

Baru saja Bibik berhenti bicara, terdengar klakson berbunyi berkali-kali.

“Oh, kalau itu tuan yang datang,” seru Bibik yang kemudian mengambil kunci dan berlari menuju gerbang.

“Bibik selalu menggembok pintu ini ya?”

“Iya Tuan, harus hati-hati, banyak orang jahat sekarang ini,” kata Bibik yang kemudian kembali menggembok gerbang, setelah mobil Arka masuk.

“Baru pulang Mas?”

“Iya. Satria mana?”

“Masih tidur. Nanti aku bangunin. Mas pulang agak siang hari ini?”

“Iya, sedikit merasa lelah, banyak yang harus diurus.”

“Itu benar, kalau merasa lelah Mas harus segera pulang dan istirahat. Pekerjaan tak akan ada habisnya bukan?”

“Tadi di jalan, aku banyak melihat foto Rosa.”

“Foto Rosa? Maksudnya non Rosa?”

“Kamu sudah menjadi nyonya Arka masih juga memanggilnya non Rosa.”

“Iya Mas, kebiasaan. Tunggu, maksudnya apa banyak melihat foto Rosa? Dia sudah menjadi aktris?”

Arka tertawa.

“Aktris buronan polisi.”

“Buronan polisi lagi? Apa yang dilakukannya?”

“Mencuri sekotak perhiasan di rumah pak Daryono.”

“Lhoh, Rosa pulang ke sana?”

“Tidak, setelah aku melihat foto-foto itu, aku menelpon pak Daryono, dia mengatakan bahwa Rosa mencuri kotak perhiasannya.”

“Rosa pulang ke sana?”

“Pulang ketika pak Daryono dan istrinya pergi keluar kota. Menginap semalam di kamar Bibik, tapi menggerayangi almari bekas ibu angkatnya dan mengambil kotak itu.”

“Ya Allah. Mengapa dia melakukannya?”

“Ceritanya panjang soal Rosa. Sebelum itu dia juga mencuri gelang di rumah majikannya. Dia sudah dilaporkan polisi dan sekarang foto Rosa tersebar di mana-mana.”

“Dia bekerja?”

“Ceritanya nanti saja, biar jelas. Aku mau istirahat dulu ya.”

“Eh iya, kasihan deh suami aku, capek-capek disuruh cerita. Baiklah, ayo mandi dulu sana, biar aku siapkan teh hangat kesukaan Mas. Ada kacang rebus gurih juga lho.”

“Wah, itu aku suka banget. Baiklah, aku mandi dulu saja.”

***

Pak Gatot juga melihat foto Rosa dipampang di mana-mana. Ada sedih yang melintas, ketika ia ingat bahwa Rosa adalah bayi yang dibuangnya di panti asuhan.

"Mengapa kehidupannya menjadi gelap seperti itu, padahal ia sudah bisa hidup nyaman menjadi anak angkat pengusaha kaya,” gumamnya berkali-kali.

Ia sedang duduk melamun di bangku depan toko, di mana dia bertugas hari itu.

Sungguh ia merasa sedih. Kalau saja waktu itu dia tidak membuangnya, barangkali hidupnya akan lebih baik. Bukan masalah kaya atau miskin, tapi kesederhanaan hidup terkadang membuat orang tidak punya pikiran yang muluk-muluk.

“Pak Gatot melamun ya?”

Pak Gatot terkejut. Bu Surani tiba-tiba sudah ada didekatnya, memberinya bungkusan berisi makanan.

“Masih siang, Ibu sudah pulang?”

“Iya Pak, sekarang lebih sering pulang lebih awal, karena kasihan Bibik, ia harus mengasuh Sisi juga.”

“Iya, benar. Nyonya belum mendapat pengasuh anak lagi?”

“Belum, dan tidak ingin mencari dulu Pak, pengalaman yang kemarin agak membuat saya kurang nyaman kalau ada orang asing di rumah.”

“Jaman sekarang memang harus lebih berhati-hati terhadap apapun.”

“Benar. Pak Gatot sudah melihat banyak foto Rosa di mana-mana?”

“Sudah Bu, itu sebabnya saya agak sedih.”

“Pak Gatot tidak usah terlalu memikirkannya. Bagaimanapun pak Gatot pernah menolongnya.”

“Yang membuat saya sedih adalah saat bayi, mengapa saya membuangnya. Saya merasa berdosa.”

“Waktu itu pak Gatot kan sedang sedih, bingung, dan hatinya terluka. Tapi sesungguhnya jalan yang dipilih Rosa itu kan memang jalan yang dipilihnya? Hidupnya sudah tenang, berkecukupan, tapi punya keinginan yang aneh-aneh. Ketika kemudian mendapat hukuman, bukannya mencari ketenangan dan bertobat, malah kembali melakukan kesalahan.”

“Iya Bu. Semoga kali ini bisa membuatnya sadar. Kalau Allah mengijinkan saya ketemu dia, akan saya tunjukkan di mana kuburnya, tidak apa-apa kalau saya mengakui sebagai ayah kandungnya.”

“Semoga Allah mengijabah keinginan pak Gatot yang mulia ini.”

“Aamiin.”

***

Pagi hari itu pulang sekolah, Satria menunggu sang ibu menjemputnya. Kebetulan sekolah sedang ada acara dan murid-murid dipulangkan sebelum waktunya. Banyak yang menunggu jemputan, termasuk Satria. Tapi pihak sekolah melarang mereka keluar sebelum dijemput, karena sudah ada pemberitahuan kepada orang tua masing-masing.

Satria sudah mulai gelisah. Ia menunggu di gerbang sekolah yang tertutup. Penjaga melarang anak-anak untuk keluar sebelum jemputannya datang.

Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian rapi mendekat dan memanggil Satria.

“Satria!”

Satria menoleh, ia belum pernah melihat laki-laki itu.

“Kamu tidak pulang?”

“Kamu siapa?” tanya Satria.

“Aku saudara ibumu. Ayo aku antar pulang, ibumu sudah menunggu di rumah.”

“Kok aku belum pernah melihat Om?”

“Om, tinggal jauh di luar Jawa, jadi jarang datang. Kali ini om akan mengantarmu pulang. Ayuk, ibumu sudah menunggu, sedang ada pesta di rumah.

”Pesta apa?”

“Menyambut kedatangan om ini. Cepatlah.”

***

Besok lagi ya.

Friday, August 21, 2026

AKU ANAK SIAPA 17

 AKU ANAK SIAPA  17

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot tiba-tiba merasa gelisah. Ia teringat ketika puluhan tahun yang lalu melakukannya. Membuang bayi tak berdosa di sebuah panti asuhan, hanya karena bayi itu bukan darah dagingnya, hanya karena merasa dikhianati oleh sang istri.

Ketika itu ia masih punya rumah dan harta warisan dari kedua orang tuanya, tapi sang istri menghabiskannya sedikit demi sedikit hanya untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain. Perhiasan, uang, dan yang terakhir rumah warisan itu digadaikan tanpa sepengetahuannya, sehingga pada suatu ketika karena tak mampu menebusnya maka rumah itu disita oleh si penggadai. Saat itulah sang istri melahirkan disebuah rumah sakit, dan meninggal karena perdarahan. Ia yang sudah habis-habisan harus membayar beaya persalinan, dan kemudian meninggalkan bayi itu disebuah panti asuhan tanpa pesan apapun.

Tiba-tiba ia merasa berdosa kepada bayi itu. Bayi merah yang terlahir bersih tanpa dosa, mengapa harus menanggung dosa orang tuanya? Jangan-jangan bayi itu Rosa, kata batinnya berkali-kali. Ia lupa di panti asuhan mana ia meninggalkan bayi itu, tapi ia ingat satu hal, masih dikota ini, di sebuah kampung.

Malam harinya Gatot tak bisa tidur nyenyak. Begitu bangun, ia menelpon sang nyonya majikan bahwa dia tak bisa masuk karena sakit. Tapi ia mencari panti asuhan itu.

***

 Di sebuah gedung dengan halaman luas, pak Gatot berhenti. Ia membaca nama panti itu. Panti Asuhan Kasih Sayang.

“Sepertinya di sini, aku tak begitu ingat, karena waktu itu malam hari, dan hujan lebat pula." 

Ia membawa bayi yang baru dua hari lahir, dibungkusnya dengan selimut tebal, lalu meninggalkannya di teras panti yang waktu itu sepi tanpa penjaga.

Ia pulang ke rumah yang sudah tidak menjadi miliknya, lalu membawa barang-barang yang bisa di bawa, lalu pergi entah kemana.

Ia memarkir sepeda motornya di halaman, lalu melangkah ke dalam. Seorang wanita menyambutnya.

Wanita itu kesal karena sebelumnya pernah ada orang yang mencari siapa orang tuanya, puluhan tahun yang lalu, kemudian ketika akhirnya data tentang bayi itu ketemu, tak bisa ketahuan siapa orang tuanya, karena bayi itu ditinggalkan begitu saja di teras panti. Sekarang datang lagi seorang laki-laki tua yang menanyakan tentang bayi yang ditinggalkan puluhan tahun yang lalu. Datanya sama persis seperti data yang pernah ditanyakan oleh seorang wanita.

“Saya minta maaf, bayi itu sebenarnya bukan bayi saya, jadi saya tak ingin merawatnya. Saya ingin tahu tentang nasib bayi itu,” kata pak Gatot menghiba. Ia berjanji, kalau bayi itu yang pastinya sudah lebih dari dewasa dan masih ada  ia akan mengakuinya sebagai anaknya.

Petugas panti menatapnya tajam. Laki-laki tua dihadapannya pastilah orang yang meninggalkan bayi itu.

Walau begitu ia mencarikan data tentang bayi itu, dan sesuatu membuat pak Gatot terkejut. Bayi itu diambil oleh seorang pengusaha bernama Daryono, dengan alamat yang lengkap.

“Sebulan atau dua bulan yang lalu ada seorang wanita mencari data ini.”

“Apakah Ibu mencatat nama wanita itu?”

“Saya tulis di sini, lihat, namanya Rosana.”

Pak Gatot pulang dengan langkah lunglai. Ia benar-benar merasa heran, bayi yang tampaknya beruntung karena mendapat orang tua kaya raya dan terhormat, akhirnya menjalani kehidupan sebagai bekas narapidana, dan melakukan kejahatan-kejahatan lagi setelahnya.

***

Tak lama setelah pak Gatot sampai di rumahnya, bu Surani menelpon. Ia prihatin karena pak Gatot ijin karena sakit.

“Saya mohon maaf Bu, sebenarnya saya tidak sakit. Saya tersentuh tentang Rosa yang diambil dari panti asuhan, lalu saya teringat pada kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, ketika saya meninggalkan bayi istri saya di sebuah panti asuhan.”

Lalu pak Gatot bercerita tentang kejadian puluhan tahun yang lalu, tentang dirinya dan istrinya, dan semua urut-urutan sampai kemudian membuang bayinya di panti asuhan.

“Saya merasa berdosa teringat kelakuan saya waktu itu, yang tersulut emosi karena pengkhianatan istri, lalu membuang bayi tak berdosa itu. Dan ternyata Bu, bayi itu adalah Rosa.”

“Rosa?” bu Surani sampai berteriak.

“Iya Bu, ternyata bayi itu adalah Rosa.”

“Catatannya bayi itu diberi nama Rosa?”

“Beberapa waktu yang lalu Rosa kesana, maksudnya ingin tahu siapa orang tuanya. Mereka mencatat namanya, Rosana. Jadi benar, bayi itu adalah Rosa.”

“Ya Allah … jadi Rosa sebenarnya anak pak Gatot?”

“Sebenarnya, kalau menurut catatan di rumah sakit … memang anak saya, tapi saya sendiri ragu, karena kelakuan istri saya seperti itu,” kata pak Gatot sedih.

“Ya sudah, pak Gatot tidak perlu sedih, semua yang terjadi atas manusia itu kan sudah digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Pak Gatot harus bersyukur, bisa menjalani kehidupan ini dengan baik.”

“Ya Bu, saya sangat bersyukur.”

“Apakah pak Gatot ingin mencari Rosa? Kabarnya hari ini pak Daryono melaporkannya kepada polisi atas kehilangan itu.”

“Entahlah Bu, saya sudah pasrah. Setidaknya saya sudah mengerti, bagaimana keadaan bayi yang pernah saya buang itu. Yang saya heran, mengapa dia melakukan hal-hal buruk sehingga masuk penjara, dan setelah itu dia tidak segan-segan untuk mencuri dan mencuri lagi.”

“Saya juga heran. Kalau dia anak pak Gatot, mengapa kelakuannya bisa seperti itu, sementara pak Gatot begitu santun dan sangat baik. Dan itu juga sebabnya pak Gatot bisa puluhan tahun bekerja di toko saya, bahkan sejak kedua orang tua saya masih ada. Jadi apakah darah jahat ibunya mengalir di tubuh Rosa ya.”

Pak Gatot menghela napas panjang. Sesungguhnya ia tak ingin menceritakan aib istrinya, tapi keadaan memaksa untuk dia mengatakannya.

***

Rosa sedang berada di suatu tempat, dan itu adalah bekas salon milik Mery temannya.

“Aku tidak mau kamu berada di sini, aku sudah tidak ingin berurusan dengan polisi.”

“Mery, tolonglah, aku baru dua hari berada di sini dan kamu sudah mengusirku. Apa kamu lupa kita pernah berteman saat sekolah?”

“Itu benar, aku tidak lupa. Tapi gara-gara kamu aku masuk penjara, salonku ditutup, dan aku harus berdagang kecil-kecilan untuk menyambung hidup.”

“Baiklah, aku tidak akan lama. Aku akan mencari tempat tinggal yang lebih baik, maksudnya tidak usah mengganggu orang lain, tapi berilah aku waktu dua tiga hari lagi.”

“Sehari lagi Rosa, aku tidak mau lebih,” kata Mery, tegas.

“Ya ampun Mery, kejam sekali kamu.”

“Bukan kejam, aku hanya mencari agar aku selamat. Kamu tahu kan, foto kamu sudah terpampang di mana-mana, jadi kamu itu buronan. Kalau aku membiarkan kamu di sini, sama saja aku bunuh diri. Jadi mengertilah Rosa, tolong jangan libatkan aku.”

“Keluarga Daryono benar-benar kejam. Ia tega melaporkan aku ke polisi. Hartanya tak terhitung, hanya kehilangan perhiasan sekotak saja seperti sudah kehilangan seluruh kehidupannya.”

“Namanya kehilangan, sebutir berlian apalagi sekotak perhiasan, pasti harganya tak terhitung. Kamu harus mengerti bahwa kamu harus menebus kesalahanmu dan masuk kembali ke penjara.”

“Mery, kamu kok malah mengutuk aku?”

“Kalau begitu segeralah pergi Ros, maaf. Bukan aku tak peduli pada teman lama, tapi aku sudah pernah merasakan bagaimana terhinanya aku ketika harus mendekam di penjara. Aku tidak mau mengulanginya.”

“Baiklah, baiklah … besok aku akan pergi dari sini. Hari ini aku akan pergi dulu mencari rumah untuk aku bersembunyi.”

“Pergilah, dan ingat, wajah kamu sudah tersebar di seluruh kota. Di tembok-tembok, di batang-batang pohon.. Semua orang akan mengenali kamu.”

“Aku mau pinjam topi kamu itu, dan biarkan aku berdandan yang aneh agar wajahku berubah.”

Mery mengijinkan ketika Rosa meminjam lipstik, maskara dan yang lain-lain, yang akan merubah bentuk wajahnya. Sekarang Rosa sudah berubah wajah, ia keluar dengan pakaian kedodoran, memakai topi dan dandanan yang aneh.

Tapi ketika Rosa pergi, anaknya yang bekas istri siri pak Wiguna mendekati sang ibu.

“Bu, jangan biarkan dia kembali. Agar Ibu tidak terlibat, Ibu laporkan saja keberadaan bu Rosa di sini. Kalau Ibu membiarkannya sehari saja, kita akan celaka.”

***

Besok lagi ya.

Thursday, August 20, 2026

AKU ANAK SIAPA 16

 AKU ANAK SIAPA  16

(Tien Kumalasari)

 

Bu Daryono menarik tangan bu Surani agak ke pinggir, yang agak jauh dari hiruk pikuk para tamu yang beramah tamah.

“Jeng bilang apa? Pengasuh putri Jeng yang mencuri gelang itu bernama Rosa?”

“Iya, Rosana atau Rosa siapa, saya lupa, tapi kami memanggilnya Rosa. Saya kira dia orang baik. Satpam saya yang mengantarkan ke rumah saya, minta pekerjaan, lalu saya terima. Tadinya satpam itu mengatakan bahwa dia anaknya, tapi belakangan dia mengatakan bahwa sesungguhnya Rosa bukan siapa-siapanya. Dia hanya menolong ketika Rosa dihajar banyak orang karena mencuri sepotong roti. Karena kasihan satpam itu mengajaknya pulang, diberi pakaian, dianggapnya anak, lalu dicarikan pekerjaan di rumah saya. Tak tahunya dia mencuri."

Bu Daryono mengambil ponselnya, membuka-buka dan berhasil menemukan sebuah gambar Rosa, bekas anak angkatnya. Memang bekas karena setelah melakukan kejahatan, bu Daryono dan suaminya tak mau lagi menganggapnya anak angkat.

“Inikah Jeng, pengasuh putri Jeng yang bernama Rosa?”

“Lhoh, bu Daryono kok punya fotonya Rosa. Iya Bu, benar ini orangnya.”

“Ya Allah, dia melakukannya, benar-benar pasti dia.”

“Maksud bu Daryono, yang mencuri kotak perhiasan itu dia? Bagaimana Ibu bisa mengenal dia?”

Lalu bu Daryono menceritakan secara singkat tentang kehadiran Rosa yang sejak bayi diambil dari panti asuhan, lalu diangkatnya anak, dikuliahkan sampai di luar negri. Tapi kemudian dia melakukan kejahatan dan dipenjara beberapa tahun. Sampai ketika Rosa ketemu Bibik pembantunya, menginap di rumah semalam, lalu tiba-tiba pamit pergi lagi, dan bu Daryono kehilangan sekotak perhiasan.

Bu Surani melongo. Jadi Rosa itu pernah menjadi anak angkat keluarga Daryono?

“Berarti dia punya bakat menjadi penjahat. Setelah keluar dari penjara harusnya mencari pekerjaan agar bisa makan, dia malah mencuri. Pasti bukan sekali itu dia melakukannya. Yang terakhir menyebabkan dia dipungut oleh pak Gatot. Tapi dasarnya hatinya kotor.”

“Aku yakin, pasti dia pelakunya. Padahal seandainya dia minta tolong, ingin membuka usaha atau apa, pasti kami akan memberi, walau tak mau lagi menjadikannya anak angkat. Kok malah mencuri. Benar Jeng, dia punya darah penjahat. Entah anak siapa dia sebenarnya.”

“Ibu tidak tahu siapa orang tuanya?”

“Tidak Jeng, kami mengambilnya di panti asuhan, katanya dia ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya, tanpa keterangan apapun. Jadi sampai sekarang kami tidak tahu siapa orang tuanya.

“Luar biasa pengalaman kita tentang kecurian barang. Hanya punya  bu Daryono pasti lebih mahal. Jauh lebih mahal.”

“Lumayan Jeng, agak lengkap barang yang saya simpan di kotak itu. Seandainya sore ini tidak harus memenuhi undangan di sini, entah sampai kapan kami tahu bahwa kotak itu hilang, karena saya tidak pernah memakai perhiasan di keseharian saya.

“Semoga dia tertangkap Bu, pastinya Bibik bertanya di mana dia tinggal kan?”

“Tidak Jeng, dia tidak mau mengatakan di mana dia tinggal.”

“Tadinya dia kost di dekat rumah saya Bu, tapi kemudian dia keluar dan tidak lagi kost di sana.”

“Entah apa nanti yang akan dilakukan suami saya Jeng, tapi besok dia akan lapor polisi. Semoga kalau dia tertangkap, benar-benar bisa membuatnya jera.”

***

Pak Daryono heran mendengar penuturan istrinya tentang Rosa, yang sebelumnya pernah mencuri gelang anak bu Surani ketika menjadi pengasuh.

“Papa tadi aku cari tidak ketemu, sebenarnya kalau ketemu akan aku minta untuk mendengarkan cerita jeng Surani.”

“Aku ketemu pak Wiguna dan juga Arka putranya, mereka bersama istri masing-masing. Banyak cerita, jadi agak jauh dari Mama. Aku mau memanggil Mama, kok sudah tidak ada di tempat semula.”

“Ya itu, aku omong-omong sama jeng Surani, mojok agak ke belakang.”

“Hebat ya Rosa, ternyata dia memang punya darah penjahat, padahal kita mendidiknya dengan baik, dia juga bergaul dengan orang-orang baik.”

“Sifat itu sudah mendarah daging. Harusnya kalau kita memungut anak, harus jelas siapa orang tuanya, dan bagaimana dia sampai dititipkan di panti asuhan.”

“Kalau sekarang kita tidak usah ingin punya anak angkat lagi kan Ma, kita sudah semakin tua, nanti malah jadi banyak pikiran.”

“Sebenarnya Papa sudah akan mewariskan perusahaan Papa juga kan?”

“Akhirnya kan banyak aset yang sudah aku jual Ma, agar tidak terlalu terbebani oleh pikiran yang macam-macam.”

“Iya, Papa benar. Lebih baik kita hidup tenang dengan menikmati masa tua kita.”

“Benar Ma.”

“Tentang pencurian itu, apakah besok Papa jadi melaporkannya ke polisi?”

“Jadi Ma, agar dia jera. Enak sekali dia melakukan kejahatan lalu kita biarkan dia melenggang.”

“Sebenarnya kasihan ya Pa, mengingat masa kecilnya yang lucu, dan pintar.”

“Iya sih. Tapi kalau dipikir-pikir, mengapa dia memilih mencuri perhiasan, bukan surat-surat dia atau ijazah dia, agar bisa dipergunakan untuk mencari pekerjaan. Barang-barang itu kan semua ada di rumah kita.”

“Memang inginnya mendapat uang secara instan. Bukankah pada dasarnya dia itu pemalas? Sudah selesai pendidikan di luar negri, bukan ingin membantu Papa, malah melakukan hal yang aneh-aneh.”

“Yah, sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi.”

***

Sore hari itu sebelum pulang, pak Gatot dipanggil bu Surani. Ia langsung masuk kembali ke dalam toko, menuju kantor bu Surani, di mana dia sudah menunggu.

“Duduk, pak Gatot.”

Pak Gatot duduk di depan meja kerja bu Surani, agak berdebar, karena tak biasanya bu Surani memanggilnya. Ternyata bu Surani hanya bercerita tentang Rosa yang melakukan pencurian lagi di rumah seorang pengusaha, di mana dulu Rosa dijadikan anak angkatnya.

“Jadi Rosa itu sebenarnya anak angkat seorang pengusaha?”

“Iya Pak. Pengusaha besar dan kaya raya.”

“Aneh. Mengapa dia kemudian keluyuran seperti gelandangan, bahkan mencuri sepotong roti di warung jalanan.”

“Ceritanya panjang Pak. Itu sebabnya pak Gatot saya suruh masuk kemari, karena kalau di luar, nggak enak kita ngobrol, nanti dilihat dan didengar orang-orang.”

“Benar Bu.”

“Dan sekarang jam kerja untuk pak Gatot kan sudah selesai?”

Lalu bu Surani bercerita seperti apa yang dikatakan bu Daryono. Semuanya dikatakan, sampai kemudian Rosa datang ke rumahnya saat bu Daryono pergi, kemudian mencuri sekotak perhiasan.

Pak Gatot geleng-geleng kepala. Tapi dia sangat terkejut ketika bu Surani mengatakan tentang Rosa yang sebenarnya diambil dari panti asuhan.

***

Ketika pulang, pak Gatot melamun di rumahnya. Ia duduk sendirian di depan rumah, teringat akan nasibnya sendiri yang bisa dikatakan sebatang kara. Rosa yang ditemukan dijalanan dan diharapkan bisa menemani kehidupannya sebagai anak angkat, ternyata adalah bekas anak angkat seorang pengusaha, sekaligus bekas narapidana. Pantas dia sangat tertutup dan tidak mau menceritakan perihal kehidupannya.

Pak Gatot sendiri sebenarnya bukanlah perjaka tua. Ia pernah punya istri yang ternyata penipu, menghabiskan harta peninggalan orang tuanya untuk berselingkuh dengan seseorang. Ketika sang istri mengandung, ia mengacuhkannya karena tahu bahwa bayi itu bukan darah dagingnya. Sang istri berhubungan dengan banyak laki-laki yang entah siapa bapak dari bayi itu. Ketika kemudian bayi itu lahir, sang istri meninggal setelah melahirkan. Pak Gatot yang kebingungan karena tak bisa merawat bayi, serta dalam keadaan terluka hatinya karena kebohongan sang istri dan pengkhianatannya, membawa bayi yang baru lahir itu dan meninggalkannya di sebuah panti asuhan.

Tiba-tiba pak Gatot terkejut ketika teringat tentang bayi di panti asuhan itu. Jangan-jangan bayi itu adalah Rosa.

“Ya Tuhan, apakah Rosa adalah anak mendiang istriku?”

***

Besok lagi ya.

 

AKU ANAK SIAPA 20

  AKU ANAK SIAPA  20 (Tien Kumalasari)   Satria terus memukul-mukulkan tangannya yang terikat, sampai merasa sakit. Bercucuran air matanya t...