Friday, March 20, 2026

WARA-WARA.

 _*WARA-WARA*_


Sehubungan dengan Hari Raya IdulFitri 1 Syawal 1447-H (21 Maret 2026), maka Cerbung Biarkan Aku Memilih dan Cerbung Sepotong Cintaku Tak Bersisa _*LIBUR*_ mulai 20 sd 22 Maret 2026.

InsyaaAllah akan tayang kembali hari Senin, 23 Maret 2026.


Selamat Hari Raya IdulFitri 1 Syawal 1447-H.

Taqobbalallahu minna wa minkum Taqobbal Yaa Kareem.

Mohon maaf lahir batin.


(Tien Kumalasari)

Thursday, March 19, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 37

 BIARKAN AKU MEMILIH  37

(Tien Kumalasari}

 

Bu Sarah menatap menantunya dengan perasaan tak menentu. Sesal yang dirasakannya dan sikap sang menantu yang tidak kelihatan sangat berharap untuk kembali kepada Anton, sangat membuatnya merasa sakit karena dosa-dosanya.

Air matanya kembali berlinang.

“Dwi, aku bersalah padamu, juga kepada Anton. Apakah tidak akan ada maaf untuk aku?” tanyanya memelas.

Dwi menatapnya tak berkedip. Nyonya garang yang kalau bicara sering keras dan menyakiti itu sekarang tak ada lagi. Yang ada hanyalah tatapan mata lelah dan rasa putus asa. Tatapan seorang musuh yang kalah perang. Pasrah akan hukuman apa yang harus diterima. Dwi merasa trenyuh. Lalu ia bertanya kepada dirinya sendiri. Sanggupkah ia hidup bersama madunya? Sanggupkah ia berbagi cinta dengan perempuan lain yang ia sama sekali belum mengenalnya? Meminta agar Anton meninggalkannya? Tak mungkin. Dwi juga perempuan. Tak bisa dia bayangkan bagaimana perasaannya ketika dirinya mengandung lalu tak ada orang yang menikahinya.

“Dwi, sebenarnya semua ini salahku. Wati tidak mencintai Anton, demikian juga Anton, juga tidak mencintai Wati. Aku yang membuat semuanya itu terjadi, Dwi, aku yang salah.”

“Baiklah Bu, semuanya sudah terjadi, lalu apakah mas Anton akan meninggalkan Wati begitu saja sementara Wati sudah mengandung anaknya? Dengan alasan tidak cinta? Bukankah ia harus bertanggung jawab atas semuanya? Tidak mungkin Ibu membiarkan mas Anton lepas dari semua tanggung jawabnya, walaupun itu karena kesalahan Ibu.”

“Iya, Anton sudah mengatakan bahwa dia tetap akan menikahinya. Nanti setelah bayinya lahir, dia akan menceraikannya.”

“Rasanya sangat tidak adil bagi Wati.”

Bu Sarah terdiam lagi. Keadaan sudah menjadi rumit. Ia sekarang tidak ingin melepaskan Dwi, sementara Wati harus mendapatkan perlindungan dari kehamilannya. Persiapan pernikahan sudah disiapkan, tapi bu Sarah goyah setelah melihat kecintaan anak dan menantunya.

“Lalu apakah kamu benar-benar akan meninggalkan Anton, Dwi?” pertanyaan itu terlontar dengan bibir gemetar dan penuh keputus asaan, karena melihat bahwa Dwi tidak memberikan setitik harapanpun.

“Bu, berikan waktu saya untuk memilih ya.”

Bu Sarah hanya bisa mengangguk lemah.

“Lagipula kita juga harus bicara dengan mas Anton. Barangkali nanti setelah mas Anton sadar dan sehat, kita bisa bicara lagi.”

Setitik harapan membuat bu Sarah agak merasa lega.

***

Seorang perawat yang kembali memeriksa tensi Dwiyanti, mengabarkan bahwa Anton sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sudah sejak tadi bu Sarah menunggui di ruang ICU tempat Anton diobservasi.

Dwi merasa lega. Anton sudah bersama ibunya.

“Tensi ibu sudah bagus,” kata perawat itu.

“Terima kasih suster.”

“Apakah masih muntah-muntah? Tidak kan?”

“Tidak, kadang-kadang saja merasa mual.”

“Nanti akan saya laporkan pada dokternya.”

“Saya sudah boleh pulang kan?”

“Nanti menunggu dokternya ya Bu,” kata perawat itu yang kemudian berlalu.

Bibik yang sedari tadi menemani, juga mendengar pembicaraan antara bu Sarah dan Dwi. Ia berpihak kepada bu Sarah, yang berharap agar Dwi tidak meminta cerai dari suaminya.

“Saya sudah mengatakan sejak lama. Sebaiknya Nyonya kembali kepada tuan Anton.”

“Sebenarnya aku masih kesal. Tapi semua ini ternyata kesalahan ibunya.”

“Iya Nyonya, saya juga mendengarnya tadi. Sangat keterlaluan nyonya Sarah itu, masa memaksa anaknya menghamili orang. Sekarang dia menyesal ketika melihat bahwa tuan Anton dan Nyonya masih saling mencintai.”

“Dan katanya, ternyata Wati sebenarnya tidak menyukai mas Anton.”

“Lha kalau tidak mencintai lalu bagaimana? Keadaan sudah mengandung begitu?”

“Aku belum bisa membayangkan bagaimana hidupku nanti. Apakah mas Anton akan membawa istrinya ke rumah dan akan hidup bersama? Apa aku bisa?”

“Nyonya kan sedang bertugas di kota ini?”

“Tapi kalau aku kembali menjadi istri mas Anton, belum tentu aku diijinkan tinggal di sini. Mungkin pulang dan pergi dari rumah sana.”

“Jadi bagaimana nantinya, apakah Nyonya sudah memutuskan?”

“Belum, aku masih bingung. Bagaimana nanti setelah mas Anton sudah sembuh. Sekarang ini dia belum bisa diajak bicara.”

“Benar Nyonya, harus berbicara dengan tuan dulu, bagaimana baiknya.”

***

Tapi sore hari itu, Nirmala menepati janjinya. Ketika ia harus kembali ke kantor pusat, ia mampir ke rumah sakit di mana Dwi dirawat.

Dwi sangat terkejut melihat kedatangan Nirmala. Semenjak bekerja, dia belum pernah bertemu Nirmala. Ia tahu bahwa itu Nirmala, karena ia melihat fotonya bersama Adri di kantor Adri. Apakah Nirmala akan memarahinya dan menganggap dia berbuat seenaknya dengan mengatakan bahwa bayi yang dikandung adalah anak Adri?”

“Apa kabar Dwi?” sapa Nirmala.

Dwi berusaha bangkit.

“Tiduran saja.”

“Saya sudah baikan.”

“Tapi kamu kan masih diinfus? Bagaimana keadaan kamu?”

“Saya sudah merasa sehat. Saya siap untuk pulang, menunggu dokternya.”

“Beberapa hari yang lalu kamu ke rumah sampai malam?”

“Iya Bu.”

“Kamu mau mengatakan apa waktu itu sampai menunggu aku hampir seharian?”

“Saya …"

”Katakan saja.”

“Apakah Ibu tidak marah kepada saya?”

“Tidak, katakan saja.”

“Saya hanya akan minta maaf kepada Ibu, dan juga pak Adri.”

“Masalah kamu mengakui tentang kehamilan kamu itu? Yang kamu bilang kepada suami kamu bahwa anak Adrilah yang ada di dalam kandungan kamu?”

“Maafkan saya. Saya … sebenarnya sedang kalut. Saya tidak ingin kembali kepada suami saya. Saya berbohong agar suami saya menceraikan saya.”

“Dan yang terjadi adalah sebaliknya?”

“Saya takut sekali waktu itu, karena suami saya mengancam akan menghajar pak Adri. Saya tidak tidur semalaman, lalu paginya langsung pergi ke rumah ibu.”

“Dan ternyata semuanya baik-baik saja kan?”

Dwi mengangguk.

“Dan ketika dia menunggu kepulangan saya dari rumah ibu itu, barangkali dia lelah, lalu terjadilah kecelakaan.”

“Karena kebohongan kamu, semuanya jadi kacau kan?”

Dwi mengangguk lagi. Dia menatap Nirmala, dan mengakui bahwa Nirmala adalah wanita yang baik. Tidak salah Adri sangat mencintainya.

“Apakah kamu masih bersikeras ingin bercerai?”

“Saya masih bingung. Entah memilih kembali, atau bercerai. Wanita yang akan dinikahi suami saya sudah mengandung.”

“Tapi suami kamu berharap kamu tidak pergi kan?”

“Bahkan mertua saya yang semula membenci saya, berharap saya kembali kerumah, melarang bercerai. Padahal dulu dia sangat membenci saya.”

“Mertua yang membenci, sudah kehilangan rasa bencinya, mungkin dia sadar bahwa kamu adalah istri yang baik.”

“Sebenarnya saya tidak sebaik yang Ibu bayangkan.”

“Apapun itu, perceraian bukanlah jalan terbaik, sementara kalian masih saling mencintai. Adanya wanita lain, tergantung suami kamu, apakah bisa berbuat adil atau tidak.”

“Ibu mertua saya mengatakan bahwa mereka tidak saling mencintai.”

“Jadi suami kamu hanya bermain-main?”

“Dipaksa oleh ibunya yang waktu itu sangat membenci saya. Dan akhirnya sekarang dia menyesal, karena keduanya tidak saling suka.”

“Kalau kamu dilarang menceraikan suami kamu, pasti ada solusi untuk mengatasi wanita yang sudah hamil itu.”

“Mas Anton akan menceraikannya kalau dia sudah melahirkan.”

“Hal terbaik adalah kamu bicara dengan wanita itu. Bicaralah dari hati ke hati, dan tanyakan apa yang sebenarnya dia inginkan. Aku yakin kamu akan bisa memilih setelah berbicara dengannya.”

“Menurut aku, waktu itu kamu sedang kalang kabut karena kemarahan kamu kepada suami karena suami minta ijin untuk menikah lagi. Lalu kamu berpikir yang aneh-aneh, lalu kamu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan nurani kamu, setelah menyadari bahwa kamu ternyata masih mencintai suami kamu.”

Dwi lagi-lagi menatap Nirmala tak berkedip.

Apakah Nirmala tahu bahwa dia pernah tergoda pada Adri, yang kemudian diyakininya bahwa dia melakukannya karena rasa kalut atas penyelewengan suaminya. Tapi Nirmala tidak kelihatan marah. Matanya teduh, dibibirnya selalu tersungging senyuman.

Sampai kemudian Nirmala pergi, Dwi masih memikirkan apa yang dikatakan Nirmala.

Hal itu semula tidak dipikirkannya. Bicara dengan Wati, mengapa tidak?

***

Besok lagi ya.

Wednesday, March 18, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 36

 BIARKAN AKU MEMILIH  36

{Tien Kumalasari)

 

Bu Sarah diam terpaku. Dilihatnya Anton terbaring diam dengan kepala diperban. Wajahnya pucat. Pastinya begitu, karena Anton baru keluar dari kamar operasi. Tapi yang menarik dan membuat bu Sarah tertegun, ia melihat Dwi duduk di kursi roda, masih dengan infus terhubung di lengannya, lalu tangannya memegangi erat tangan suaminya.

Ada rasa trenyuh menyentuh.

Kepada perawat yang mengiringinya masuk, bu Sarah bertanya pelan.

“Apakah mereka mengalami kecelakaan berdua?” tanyanya menahan sedih yang mendalam.

“Tidak, pak Anton mengemudi mobilnya sendiri dan mengalami kecelakaan. Sedangkan ibu Dwi sejak awal menungguinya. Tapi semalam ibu Dwi harus dirawat karena muntah-muntah terus dan badannya lemah. Sesungguhnya dia belum boleh bangun, tapi bersikeras ingin melihat suaminya yang habis dioperasi. Sejak tadi dia menangis di situ. Ia khawatir tentang keadaan suaminya. Tapi sekarang sudah lebih tenang setelah diberi penjelasan oleh dokter yang menanganinya,” terang perawat itu panjang lebar.

Bu Sarah belum melangkah mendekat. Ia masih menatap bagaimana Dwi memegangi tangan suaminya dengan mata kuyu dan wajah yang juga masih kelihatan pucat.

“Mereka saling mencintai,” kata batinnya.

Lalu ia teringat bagaimana sikap Wati yang tanpa ekspresi ketika mendengar calon suaminya kecelakaan. Tak ada tatapan terkejut, tak ada khawatir, apalagi sedih. Bahkan ia menolak ketika diajak melihat keadaannya.

“Apakah salah aku memilihnya? Bahkan dengan cara yang tidak semestinya?”

“Silakan Bu, kalau mau melihat dari dekat, tapi jangan lama-lama. Yang diijinkan hanya istrinya. Tapi bu Dwiyanti juga harus segera kembali ke kamar rawat karena tekanan darahnya belum stabil.”

Bu Sarah mengangguk. Ia melangkah mendekat, perlahan, lalu berdiri di dekat kursi roda menantunya, di mana ada penyangga infus di dekat kursi roda itu.

Dwi terkejut, tak menyadari mertuanya mendekat.  Melihatnya datang, Dwi memundurkan kursi rodanya sambil memegangi tiang penyangga infusnya. Ia tahu, mertuanya tidak menyukainya. Tapi tiba-tiba sang mertua menarik kursi roda itu kembali mendekat.

“Di sini saja, nanti Anton mencari kamu,” katanya sambil tersenyum, tapi tampak dia menahan tangis.

Dwi agak heran, tapi ia mengangguk.

“Apakah dia belum sadar sama sekali?”

“Belum, sebenarnya saya tidak boleh menengok ke dalam, sampai dia sadar. Tapi karena saya istrinya, lalu diperbolehkan.”

“Tadi aku juga mengatakan bahwa aku ibunya, diijinkan masuk, hanya sebentar.”

Bu Sarah memegangi tangan anaknya, menepuknya lembut. Matanya tampak berkaca-kaca. Tentu ia sedih karena anak semata wayangnya terbaring tak berdaya.

“Apakah keadaannya parah?”

“Ada perdarahan otak dan harus dioperasi.”

“Ya Tuhan ….”

Tiba-tiba perawat mengingatkan.

“Ibu, silakan menunggu diluar dulu. Kalau pak Anton keadaannya stabil, baru bisa dipindahkan ke ruang rawat. Di sana Ibu bisa menunggui lebih lama.”

Bu Sarah mengangguk. Ia mencium pipi sang anak, kemudian melangkah keluar. Perawat itu kemudian juga mendorong kursi roda Dwi keluar.

“Ibu Dwiyanti akan kami bawa ke ruangannya,” kata perawat sambil menatap bu Sarah. Lalu bu Sarah mengikutinya.

***

“Apakah kamu muntah-muntah terus?” tanya bu Sarah ketika Dwi sudah kembali terbaring di ranjangnya, dan perawat meninggalkannya.

“Tadinya sudah baik, tapi kemarin itu, mungkin karena kelelahan, saya tidak doyan makan, dan apapun yang saya makan langsung kembali keluar. Tadinya ketika saya mendengar mas Anton kecelakaan, saya langsung kemari dan menungguinya. Tapi mas Anton menyuruh saya pulang saja, karena saya juga tidak bisa menunggui di dalam ruang IGD. Setelah di rumah beberapa saat itu saya merasa badan saya lemas dan muntah-muntah. Bibik memanggil ambulans dan saya harus dirawat.”

“Aku prihatin melihat keadaan kamu. Aku trenyuh melihat keadaan kamu yang lemah masih nekat menunggui suami kamu yang belum sadar.”

“Terima kasih, Bu,” kata Dwi yang masih terheran-heran dengan sikap ibu mertuanya yang berbalik seratus delapanpuluh derajat.

“Apakah keadaan Anton parah?”

“Kata dokter operasinya berhasil baik, tadinya saya juga sangat khawatir.”

Lalu keduanya diam. Yang satu heran dengan sikap satunya. Yang satu lagi merasa sungkan dan menyesal atas perlakuan sebelumnya. Entah mengapa, dia baru menyadari betapa baik Dwi sebagai istri. Lalu dibandingkan dengan Wati, penyesalannya menjadi bertumpuk-tumpuk.

Sebenarnya bu Sarah hanya iri karena perhatian dan kecintaan Anton terhadap Dwi sangat besar. Bu Sarah khawatir Anton tidak akan lagi memperhatikan ibunya, atau gampangnya saja bu Sarah merasa cemburu kepada menantunya, dan takut kehilangan cinta sang anak karena begitu besar cintanya kepada sang istri. Tapi melihat kedekatan mereka, hati bu Sarah luluh. Bukankah kalau sang anak bahagia maka orang tua juga akan ikut bahagia?

Tiba-tiba bu Sarah memegang tangan Dwi, dielusnya lembut. Dwi menatapnya, masih dengan perasaan heran.

“Dwi, ibu minta maaf,” katanya lirih.

Dwi menatap mertuanya. Minta maaf? Apa itu benar. Dwi masih tidak percaya.

“Aku telah salah melangkah karena berusaha memisahkan kamu, bahkan mencarikan perempuan lain untuk istri baru Anton,” katanya lirih dan gemetar. Mata yang penuh penyesalan itu sudah penuh dengan telaga bening.

“Tidak apa-apa Bu.” 

Hanya itu yang diucapkan Dwi.

“Apa kamu tahu, sekarang saya berpikir bahwa kamu istri terbaik bagi Anton.”

“Mengapa tiba-tiba ibu mengatakan demikian?”

“Entahlah.”

Lalu mereka kembali diam. Senyap di ruangan itu.

“Anton tidak seharusnya menikahi Wati,” ucapan itu membuat Dwi  bertambah heran.

“Bukankah dia sudah hamil?” pertanyaan itu sebenarnya menyayat hatinya sendiri.

“Maafkan ibu, itu sebenarnya kesalahan ibu. Anton tidak menyukai dia. Aku memaksanya, membuat Wati hamil karena rekayasa ibu."

Air mata itu kemudian benar-benar jatuh. Duka yang menghimpit karena anaknya terluka, ditambah penyesalan karena apa yang telah dilakukannya, membuatnya tak bisa lagi menahan tangis.

“Apa maksudnya rekayasa itu?”

“Aku memberi Anton obat ketika aku suruh dia menemui Wati. Aku hanya ingin Anton benar-benar tidak bisa meninggalkan Wati.”

“Ya Tuhan ….” Dwi mengeluh sedih.

“Maafkan aku.”

“Saya akan mengalah, biarkan mas Anton menikahi Wati,” kata Dwi menahan tangis.

 Ia baru menyadari bahwa dia sangat mencintai Anton, tapi ada kenyataan yang harus dihadapi, yaitu bahwa Anton memang harus menikahi wanita lain.

“Tidak. Tetaplah kamu menjadi istrinya. Kamu lebih pantas untuk Anton. Aku menyesal telah melakukan hal buruk terhadap kamu. Semuanya sudah terjadi, tak usah disesali.”

“Dwi, berjanjilah agar kamu tidak bercerai dengan Anton," lanjut bu Sarah.

Dwi menghela napas.

Seorang perawat masuk untuk mengukur tensi Dwiyanti.

“Maaf ya Bu,” kata perawat itu yang kemudian memasang tensimeter di lengan Dwi. 

Bu Sarah mundur, sambil mengusap air matanya.

***

“Apa kamu sudah tahu kalau suami Dwi dirawat karena kecelakaan?” kata Nirmala ketika menelpon suaminya.

“Dari kantor hanya ada berita bahwa Dwi dirawat karena terus-terusan muntah.”

“Dari kemarin dia menunggui suaminya yang akan dioperasi. Mungkin kelelahan, kan dia sedang hamil.”

“Bagaimana keadaan suaminya? Mengapa harus dioperasi?”

“Kabarnya perdarahan otak dan harus dioperasi. Tampaknya Dwi terus menerus menungguinya sehingga kelelahan.”

“Kasihan.”

“Apa kamu tidak ingin menjenguknya?”

“Di kantor sedang banyak pekerjaan.”

“Dia kan anak buah kamu, Dri. Dulu kamu sangat perhatian, mengapa sekarang tidak?”

“Kamu sedang mengejek aku?”

Nirmala tertawa.

“Tidak Adri, aku bersungguh-sungguh.”

“Akan aku suruh saja stafnya mengawasinya, dan melihat keadaannya, nanti pasti dia akan melapor juga. Di kantor sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu kan?”

“Iya, aku tahu. Tugasku hampir selesai, mungkin besok aku bisa pulang. Aku akan lewat sana dan melihat keadaannya.”

“Baiklah, itu lebih bagus.”

“Lama-lama kasihan juga. Kata pembantunya, sebenarnya Dwi sangat mencintai suaminya. Ia hanya tergoda sejenak ketika dekat dengan kamu.”

“Ada-ada saja. Ya sudah, aku lanjutkan pekerjaanku ya, nanti aku menelpon kamu.”

***

Dwi sebenarnya mengantuk, tapi ibu mertuanya terus mengajaknya bicara tentang penyesalannya, tentang sikap Wati yang sebenarnya juga tidak mencintai Anton, dan keinginan bu Sarah untuk mencegah Dwi bercerai dengan suaminya. Dwi belum memberikan jawaban. Ada perempuan lain disamping dirinya bukan?

“Dwi, aku tetap berharap kamu tetap menjadi menantuku. Kamu mau kan?”

Dwi diam sebentar.

“Biarkan saya memikirkannya dan memilih jalan hidup saya ya Bu," kata Dwi.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, March 17, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 35

 BIARKAN AKU MEMILIH  35

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menatap bibik yang tampak gelisah.

“Sekarang opname?”

“Dari semalam belum boleh pulang. Ini saya pulang untuk mengambil baju ganti. Kelelahan nyonya majikan saya itu. Kemarin pergi seharian, malam baru sampai di rumah. Tidak lama kemudian muntah-muntah tanpa henti. Tentu saya takut. Eh, maaf, saya belum tahu siapa Nyonya?”

“Saya Nirmala.”

“Aduh, ya ampun. Apakah Nyonya istri tuan Adri?”

“Benar.”

“Apakah Nyonya mau memarahi majikan saya? Dia khilaf, bingung masalah minta cerai, sehingga bohong semaunya. Tapi nyonya saya sangat menyesal. Sungguh, harap jangan memarahi dia,” kata bibik memelas.

“Kemarin dia di rumah saya seharian.”

“Iya Nyonya, dia ketakutan karena ulahnya yang tanpa pikiran panjang. Dia hanya bermaksud agar suaminya menceraikan. Tapi setelah suaminya kecelakaan, rupanya majikan saya itu juga kebingungan.”

“Suami ibu Dwi kecelakaan?”

“Kemarin menunggu istrinya sampai malam, lalu pulang karena paginya harus bekerja, tapi ketika majikan saya pulang, lalu mendapat telpon bahwa suaminya kecelakaan.”

Lalu bibik menceritakan semuanya tentang keadaan Anton dan sikap Dwi yang kebingungan.

Nirmala mengerti, ternyata Dwi ingin menemui dirinya karena penyesalannya.

 "Baiklah, dia tidak sakit, sakit karena kehamilan itu bukan penyakit. Karena waktu saya tidak banyak, saya juga mau ke kantor. Sampaikan rasa keprihatinan saya untuk bu Dwi dan tentu saja suaminya.”

“Baiklah Nyonya, nanti saya sampaikan. Tapi Nyonya tidak marah pada majikan saya itu kan, kasihan, dia menyesal sampai kebingungan, nggak mau makan, nggak bisa tidur. Malam tadi itu dia kelelahan.”

“Tidak, saya tidak akan marah. Permisi Bik.”

Bibik menatap punggung tamunya dengan rasa kagum. Ia terpaku memandangi mobilnya sampai hilang dari balik gerbang.

“Memang sudah selayaknya kalau tuan Adri tidak mau berpaling darinya. Sudah cantik, baik hati pula. Tak ada kemarahan walau suaminya difitnah,” gumamnya sambil mengunci pintu dan bergegas pergi ke rumah sakit lagi.

“Dan salah sekali kalau nyonya Dwi ingin merebut suaminya. Semoga hatinya sudah luluh. Apalagi aku melihat bahwa perhatiannya pada suaminya sangat besar. Ia juga mengkhawatirkannya. Aku yakin nyonya masih cinta. Semoga bisa berbaikan kembali.”

***

Dwi terbaring lemas. Tapi ia ingin melihat keadaan Anton suaminya. Entah mengapa pikirannya tidak tenang. Ia ingin bangkit, tapi selang infus terhubung di tubuhnya. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya menjadi sangat sakit, bagai diremas-remas. Ia merasa berdosa, atau entah apa, yang jelas ia sangat ingin segera melihat keadaan suaminya. Tidak cinta? Mengapa perasaannya seperti ini?

“Mas Anton, bagaimana keadaan kamu?”

Ketika suster datang untuk memeriksa tekanan darahnya, Dwi minta agar infusnya dilepas. Ia ingin turun untuk melihat suaminya.

“Ibu masih sangat lemas, tekanan rendah. Tidak bisa melepas infusnya. Harus minta ijin dokter.”

“Tapi saya ingin melihat keadaan suami saya.”

“Suami ibu, bapak Anton sedang diperiksa secara menyeluruh. Tapi saya tidak tahu persisnya, nanti saya carikan informasinya. Kalau tidak salah akan dioperasi kalau penyumbatan darah tidak bisa diatasi.”

“Saya bisa melihat keadaannya?”

“Ibu sabar ya, ibu masih lemas.”

Perawat itu keluar setelah memeriksa tensi Dwi yang dikatakannya sangat rendah.

***

Pagi hari itu tanpa sepengetahuan Anton, bu Sarah ibu Anton membawa Wati ke rumahnya, menunjukkan semua isi dan sudut rumah, dan mengatakan bahwa semua itu nanti akan menjadi miliknya.

“Tapi Bu, bukankah mas Anton masih punya istri?”

“Istrinya minta cerai. Anton masih menemuinya, dan semoga segera mengurus perceraiannya itu.”

“Apa benar mas Anton mencintai saya?”

“Kamu itu bagaimana Wati, di dalam perutmu itu ada benih yang diteteskan Anton, bagaimana bisa dia tidak cinta?”

“Mas Anton melakukannya karena dipaksa ibu bukan?”

“Tidak, dia menginginkan anak, dan kamu bisa memberikannya.”

“Kalau Ibu tidak memberikan obat itu, pasti mas Anton tidak melakukannya.”

“Itu satu-satunya cara untuk menjerat dia. Karena kamu hamil, dia mau tidak mau harus menikahi kamu. Percayalah Wati, kamu akan bahagia. Anton anakku itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Bukankah pernikahan kalian sudah dipersiapkan?”

“Tapi saya tidak yakin mas Anton mencintai saya.”

“Wati, kamu masih ragu juga. Bukankah hampir setiap malam Anton datang mengunjungi kamu?”

“Tidak selalu ke tempat saya Bu, sebelah rumah itu teman sekolahnya. Dia sering main ke situ.”

“Katanya ke rumah kamu?”

“Hanya tiga kali, yang terakhir yang Ibu kasih obat dan harus saya campurkan ke minuman dia. Lalu semuanya terjadi. Kelihatannya dia menyesal.”

“Setidaknya kamu hamil, dan dia harus bertanggung jawab.”

Wati tampak diam. Wati adalah gadis sederhana yang cantik. Ayah ibunya sudah tak ada. Ia menjadi pegawai sebuah toko, di mana ibunya Anton sering belanja di situ. Tertarik pada kecantikan Wati, ibu Anton menginginkannya menjadi menantunya, dengan harapan Wati bisa melahirkan cucu-cucunya, bukan seperti Dwiyanti yang bertahun-tahun tidak juga hamil.

Tapi jalan yang ditempuhnya salah, sehingga keadaan menjadi runyam. Apalagi setelah diketahui bahwa Dwi pun sedang hamil.

Dwi yang sakit hati karena setiap malam ditinggal pergi, lalu tiba-tiba mau menikahi perempuan lain, menjadi sakit hati dan merasa kehilangan rasa cintanya. Ia tidak tahu bahwa setiap malam ketika Anton pergi hanyalah memenuhi permintaan sang ibu agar mengunjungi Wati, padahal Anton lebih sering bertandang ke rumah temannya yang adalah tetangga Wati.

“Sudahlah Wati, kamu tidak usah menyesali semuanya. Kamu harus yakin kalau Anton laki-laki yang baik. Kamu akan berbahagia. Setelah ini kamu tidak usah bekerja di toko lagi. Anton akan memenuhi semua kebutuhan kamu," bu Sarah masih tetap membujuk.

Wati terdiam. Calon mertuanya terlalu nekat, dan sangat memaksa agar dia menjadi menantunya.

Wati melihat ke dinding, tampak foto berbingkai yang besar. Foto Anton dan istrinya. Tampak mesra dan sangat serasi. Wati sangat mengagumi istri Anton yang cantik. Ia heran mengapa ibunya lebih menyukai dirinya. Masa hanya karena tidak bisa hamil?

“Apa kamu ingin agar aku menurunkan foto itu?”

Wati terkejut.

“Jangan, jangan Bu, mengapa harus diturunkan. Pasangan yang sangat serasi, biar saja di situ.”

“Besok akan berganti menjadi foto kamu bersama Anton.”

Wati mengangkat bahu. Tiba-tiba ia sangat menyesalkan apa yang sudah terjadi.

“Biar saja begitu,” kata Wati sambil berjalan ke arah depan, lalu duduk di teras.

“Anton kok ya tidak pulang semalam, apa dia langsung ke kantornya ya.”

“Kan bertemu istrinya Bu. Tidak aneh kalau berlama-lama.”

“Apa? Mereka sedang membicarakan perceraian. Kemarin aku ikut menunggu, tapi lalu aku pulang lebih dulu. Barangkali Dwi pulang malam, dan Anton harus menginap karena terlanjur menunggu. Dan mungkin sekarang sudah langsung pergi ke kantor. Dia karyawan yang rajin.”

Tiba-tiba ponsel bu Sarah berdering.

“Dari siapa nih, nggak ada namanya.”

“Diangkat saja Bu, barangkali penting.”

“Ya, haloo, benar, saya ibunya. Ini siapa? Apa? Rumah sakit? Ada apa? Anton itu anak saya, benar … apa? Semalam kecelakaan? Mengapa baru mengabari sekarang. Atas permintaan pak Anton. Rumah sakit mana? Bagaimana keadaannya?”

Wati melihat tangan calon ibu mertuanya gemetar. Tampaknya ia panik. Begitu ponsel diletakkan, tangan Wati langsung ditariknya.

“Wati, kita harus ke sana. Anton kecelakaan.”

“Tidak Bu, saya tidak mau.”

“Apa maksudmu? Calon suami kamu sedang cedera berat, dan kamu tidak mau melihatnya? Masih dekat dari rumah istrinya, kita harus segera berangkat. Tempatnya jauh.”

“Saya tidak berani Bu.”

“Tidak berani kenapa? Istrinya tidak akan bisa apa-apa. Dia sudah tahu kalau kamu mengandung anak Anton.”

“Saya tidak mau pergi. Ibu saja yang pergi.”

Wati berpikir tentang pertemuannya nanti dengan istri sah Anton, yang pasti menungguinya di sana. Ia merasa bersalah.

“Jadi kamu tidak peduli walau calon suamimu mengalami cedera parah dan akan segera dioperasi?”

“Maaf Bu, saya akan mendoakan saja dari sini. Sekarang saya mau pulang saja.”

Lama-lama Wati membuat kesal. Dan sang calon mertua menatapnya dengan wajah muram.

***

Sudah agak sore ketika bu Sarah sampai di rumah sakit. Ia segera mencari di mana anaknya dirawat. Ternyata Anton masih ada di ruang ICU setelah dioperasi, dan Dwiyanti menungguinya sambil duduk di kursi roda dan selang infus masih terpasang di lengannya.

Ibu Sarah tertegun.

***

Besok lagi ya.

Monday, March 16, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 34

 BIARKAN AKU MEMILIH  34

(Tien Kumalasari)

 

Dwi tiba-tiba merasa badannya gemetar. Katanya tak lagi cinta, tapi berita kecelakaan yang menimpa suaminya membuatnya ketakutan.

“Tabrakan?”

“Tidak. Tampaknya dia mengantuk, atau sedang melamun. Dia menabrak pohon asam besar yang ada di tepi jalan.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Luka di kepalanya, tapi sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit. Saya kirimkan alamatnya,” kata si penelpon yang tampaknya sangat tergesa-gesa.

Dwi merasa lemas.

“Ada apa Nyonya?” tanya bibik.

“Mas Anton kecelakaan.”

“Astaghfirullah. Tabrakan dengan apa Nyonya?”

“Tidak tabrakan, mungkin dia mengantuk, atau mungkin sedang melamun, lalu menabrak pohon asam di pinggir jalan.”

“Hadduh, bagaimana keadaannya?”

“Ayo kita ke sana.”

“Tapi Nyonya kelihatan pucat begitu?”

“Tidak apa-apa Bik, aku ingin melihat keadaannya, mudah-mudahan lukanya tidak parah. Ayo, sama  Bibik ya.”

“Baik, tapi Nyonya kan baru pulang, trus kelihatannya mual-mual. Sepertinya Nyonya juga kelihatan lemas.”

“Tidak apa-apa Bik, aku sudah minum obat dan sudah lebih baik.”

“Nyonya tidak ganti baju dulu? Bukankah itu baju yang tadi pagi Nyonya pakai?”

“Tidak usah, kelamaan. Kamu saja cepat ganti, aku mau memanggil taksi.”

“Baik.”

Bibik bergegas ke belakang, sambil tersenyum dalam hati. Katanya tidak cinta, baru mendengar kecelakaan saja sudah ribut, bahkan melupakan keadaannya sendiri yang sedang tidak sehat. Kata batin bibik.

Dwi tampak gelisah karena taksi yang dipanggil tidak segera datang. Diluar tiba-tiba hujan sangat deras, hawa dingin menggigit tulang.

Bibik yang sudah selesai berganti baju kembali masuk dan mengambilkan baju hangat untuk sang nyonya majikan.

“Nyonya pakai ini, hawanya dingin sekali.”

“Kok ya tiba-tiba hujan. Padahal seharian panas.”

“Hujan tidak menentu Nyonya, kita harus benar-benar menjaga kesehatan.”

“Benar.”

“Nyonya kelihatan sangat khawatir,” bibik nyeletuk perlahan.

“Tentu saja aku khawatir Bik, namanya kecelakaan pasti mengkhawatirkan.”

“Berarti Nyonya masih menyayangi tuan Anton.”

“Apa?” 

Dwi terkejut sendiri atas sikap yang tampak oleh bibik. Memang benar dia sangat khawatir, tapi apakah itu karena dia masih sayang? Dwi membantahnya.

“Tidak, hanya khawatir, siapa bilang sayang? Bukankah dia telah menduakan aku? Tidak, aku tidak sayang.”

Ketika taksi datang, mereka bergegas pergi.

***

Bibik terpontang panting mengejar langkah Dwi yang begitu tergesa-gesa memasuki rumah sakit. Bibik geleng-geleng kepala.

“Bukankah itu kekhawatiran yang tampak dan itu menunjukkan perhatian nyonyaku kepada suaminya? Mengapa membantahnya?” gumamnya sambil terengah-engah. 

Badan bibik yang gemuk tidak begitu kuat untuk berjalan cepat, apalagi berlari. Begitu terkejar dan sang nyonya majikan sedang berbincang dengan petugas, bibik segera duduk di kursi sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan.

Dwi mendekati bibik setelah berbicara dengan petugas. Ia duduk di samping bibik, wajahnya tampak tidak tenang.

“Bagaimana Nyonya? Apa kata petugas tadi?”

“Mas Anton belum sadar. Masih ditangani,” katanya pelan.

“Jadi Nyonya tidak bisa menemui?”

“Belum bisa, harus menunggu.”

Bibik yang kebetulan membawa dua botol minuman segera memberikan yang sebotol untuk nyonya majikannya, yang sebotol diminumnya sendiri. Walau hujan sudah berhenti, dan udara dingin disekitarnya, tapi bibik kehausan karena setengah berlari dari halaman rumah sakit.

“Untunglah masih di kota ini, sehingga aku bisa segera menjenguknya,” gumam Dwi.

“Apa Nyonya tidak mengabari ibunya?”

“Aku tidak punya nomor kontaknya. Tidak pernah mencatatnya,” kata Dwi dengan wajah muram. 

Dwi memang tak pernah menyimpan nomor kontak mertuanya, karena ia tidak ingin berhubungan dengannya, bahkan sejak awal Dwi dan Anton menikah. Sang ibu mertua tidak menyukai dirinya dengan alasan yang dibuat-buat, bahkan yang terakhir menganggap dirinya tidak akan bisa mengandung.

“Nanti kalau disalahkan bagaimana?”

“Siapa yang akan menyalahkan, memang aku tidak punya.”

Bibik terdiam. Wajah Dwi masih tampak pucat, tapi tidak mengeluh mual, dan bibik bersyukur karena itu.

Ketika perawat membuka pintu, ia memberi tahu Dwi bahwa Anton sudah siuman.

Setengah berlari Dwi masuk ke ruang IGD.

“Tapi hanya sebentar ya Bu,” pesan perawat itu. Dwi hanya mengangguk.

Hati Dwi seperti diremas-remas melihat kepala Anton yang terbalut perban, dan bercak merah darah masih tampak.

“Mas,” panggilnya lirih.

Anton membuka matanya. Bibirnya yang terkatup kemudian terbuka dan menyebut nama sang istri setengah berbisik.

“Dwi ….”

“Mengapa menjadi seperti ini?” kata Dwi sambil memegang tangan Anton yang terasa panas.

“Aku lelah. Lahir batin,” bisiknya lagi.

Dwi tidak menjawab. Tak tega melihat keadaan suaminya yang tampak lemah, bahkan berbicarapun sangat pelan, nyaris berbisik.

“Terima kasih telah datang.”

“Polisi menelpon ketika aku baru saja datang.”

“Apa kamu khawatir?”

“Tentu saja aku khawatir. Keadaanmu sangat mengkhawatirkan.”

“Kamu mengabari ibu?”

“Tidak. Aku tidak tahu nomor kontaknya,” kata Dwi datar.

“Ya sudah, tidak usah.”

“Bagaimana rasanya? Sakit semua?”

“Tidak, sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir.”

Perawat jaga mengingatkan kalau sebaiknya Dwi menunggu diluar, karena pasien tidak bisa diganggu terlalu lama.

“Kamu pulang saja.”

“Aku akan menunggu di luar.”

“Pulanglah, nanti kamu kecapekan, kamu kan sedang hamil?”

Dwi menepuk-nepuk tangan Anton, lalu menciumnya sebelum dia kemudian beranjak keluar.

Ternyata bibik menunggunya di depan pintu sambil berdiri saja.

“Bibik tidak duduk saja di sana?”

“Barangkali saya juga diperbolehkan menjenguk tuan.”

“Aku saja hanya bisa bertemu sebentar, lalu diusir,” gerutu Dwi sambil berjalan ke arah bangku tempat dia menunggu sebelumnya.

“Apakah lukanya parah?”

"Kepalanya dibalut perban. Tadi ketika aku baru datang diberi tahu, bahwa ada perdarahan otak."

“Ya ampun Nyonya, apakah itu parah?”

“Kalau bisa diobati ya diobati, kalau parah harus dioperasi juga.”

“Nyonya kelihatan sangat pucat. Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu? Bukankah besok pagi-pagi kita bisa kembali kemari?”

“Rasanya tidak tega meninggalkannya.”

“Tapi kan kita juga tidak diperbolehkan masuk? Daripada kita duduk di sini, lebih baik pulang saja, besok kemari lagi. Ingat keadaan Nyonya sendiri, kalau Nyonya kemudian jatuh sakit, maka nanti malah tidak bisa kembali kemari.”

Dwi berdiri, menghampiri petugas IGD dan minta agar mencatat nomor kontaknya serta mengabari kalau ada yang diperlukan.

Setelah itu dia memesan taksi dan mengajak bibik pulang.

***

Sesampai di rumah, bibik memintanya agar Dwi makan, lalu meminum obat yang lain, karena tadi yang diminum hanya anti mualnya saja.

“Setelah itu Nyonya harus tidur, karena kemarin Nyonya juga hampir tidak tidur semalaman,” kata bibik.

“Baiklah, sedikit saja, tapi aku ganti baju dulu.”

“Nyonya tidak usah mandi walau dengan air hangat. Segera makan dan istirahat, agar besok bisa bangun dengan keadaan lebih segar.”

Dwi menurut. Ia melupakan masalahnya dengan keluarga Adri, karena keadaan Anton ternyata menyita seluruh rasa di dalam hatinya. Tapi Dwi membantah kalau dikatakan masih menyayanginya. Tidak … tidak, kata batinnya menentang rasa yang sebetulnya ada.

***

Pagi hari itu ketika Adri berangkat ke kantor, Nirmala harus kembali ke kantor cabang karena tugasnya belum selesai. Masih ada yang harus diurusnya. Tapi kali itu Adri meminta agar Tama tidak usah diajak. Nirmala meminta sopir kantor agar mengantarkannya atas saran Adri, karena takut sang istri kecapekan.

Di perjalanan, Nirmala menelpon ke kantor di mana Dwi bertugas. Ia menanyakan apakah Dwi sudah ada di kantornya.

“Belum Bu, sepertinya ada masalah.”

“Ada masalah apa?”

“Sejak dua hari yang lalu beliau tidak masuk ke kantor. Terakhir datang hanya sebentar lalu minta ijin pulang.”

“Sekarang belum datang?”

“Belum Bu.”

Nirmala meminta sopir agar melewati kantor Nirmala, karena sesungguhnya kelewatan, hanya agak berputar sedikit.

Nirmala langsung menuju ke rumah tinggal Dwi karena setelah menelpon katanya Dwi belum datang ke kantor

Ketika Nirmala berhenti di halaman, dilihatnya bibik pembantu keluar dari rumah dan mengunci pintu.

“Mana ibu Dwiyanti?” tanya Nirmala kepada bibik yang terkejut melihat kedatangan tamu pagi-pagi. Ia juga belum pernah melihat Nirmala.

“Nyonya semalam muntah-muntah, lalu saya membawanya ke rumah sakit.”

***

Besok lagi ya.

 

Sunday, March 15, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 33

 BIARKAN AKU MEMILIH  33

(Tien Kumalasari)

 

Anton terkantuk-kantuk di teras. Ia tetap menunggu walau sang ibu sudah pulang terlebih dulu. Bibik membuatkan lagi minum, karena Anton tidak mau makan, walau bibik sudah menyediakannya.

“Kalau begitu Tuan masuk ke dalam saja. Di sini lama-lama dingin. Memang udaranya begini Tuan.”

“Tidak, biar aku di sini saja.”

“Kalau begitu silakan diminum Tuan, mumpung masih hangat.”

“Iya, nanti aku minum.”

“Nyonya itu sebenarnya ke mana ya, seharian belum pulang juga. Saya khawatir karena nyonya tidak membawa obat-obatnya.”

“Obatnya itu obat apa saja Bik?”

“Saya tidak tahu namanya. Kemarin yang mengantarkan ke dokter saya. Kata dokter obat penguat kandungan dan anti mual.”

“Dia sering mual?”

“Sebelum mendapat obatnya, nyonya muntah-muntah terus. Lalu sekarang tinggal mual-mualnya saja.”

“Aku sangat menyesali keputusannya.”

“Saya juga heran, mengapa nyonya berbohong. Pasti tuan marah sekali pada tuan Adri, padahal dia hanya baik, tidak pernah melakukan hal buruk terhadap nyonya.”

“Iya, kami hampir berantem. Walaupun seandainya benar beradu kekuatan, aku pasti kalah, badanku kecil, sementara Adri tinggi besar.”

Bibik tersenyum. Itu benar, seandainya benar-benar berantem pasti tuan Anton hanya akan jadi bulan-bulanan.

“Untung tidak terjadi.”

“Itu karena ketemu kamu, lalu mengatakan semuanya.”

“Iya, Tuan. Untung saya segera datang. Memang kalau berkeluh, nyonya hanya kepada saya, jadi saya sangat tahu apa yang dirasakan nyonya. Setelah mengatakan hal bohong itu, nyonya kelihatan sangat sedih dan menyesal. Semalam tidak mau makan dan tidak tidur. Ee, pagi-pagi malah pergi sebelum sarapan dulu. Saya malah jadi khawatir kalau terjadi apa-apa pada nyonya.”

“Aku juga ingin tahu keadaannya, tapi telponnya mati.”

“Mungkin semalam tidak dicas, jadi mati sehingga tidak bisa dihubungi.”

“Aku juga bingung memikirkannya. Ke mana, kira-kira dia.”

“Pulang kampung, barangkali.”

“Kedua orang tuanya sudah tidak ada. Mana mungkin dia ke sana.”

“Tapi kan ada kerabatnya juga.”

“Memang sih. Tapi aku tidak punya nomor kontak mereka. Hanya saja menurut aku, tidak mungkin dia pulang ke sana.”

“Bagaimana nyonya ini. Membuat orang khwatir saja,” kata bibik sambil berdiri.

“Tuan, kalau capek tiduran saja di kamar. Nanti kalau nyonya pulang kan ya pasti ketemu tuan,” kata bibik sebelum beranjak ke belakang.

“Iya, nanti gampang. Aku minum saja ini, biar badanku anget.”

***

Tapi di perjalanan, mobil Adri mendadak harus berhenti karena jalan yang akan dilewati keterjang banjir.

“Waduh, bagaimana ini Dri?”

“Terpaksa harus muter. Masa harus menunggu banjir surut.”

“Akan lama. Bisa dua atau tiga jam baru sampai rumah.”

“Bagaimana lagi?”

“Padahal di rumah ada tamu menunggu.”

“Mau apa sebenarnya dia?” kata Adri sambil memutar mobilnya.

“Entahlah, mana aku tahu? Mungkin akan meminta maaf pada Adri, sahabat tercintanya ini,” ledek Nirmala.

Mulut Adri cemberut.

“Mana mungkin, kalau harus maaf itu yang dia butuhkan, harusnya dia mencari aku. Tapi dia mencari kamu kan?”

“O, aku tahu. Mungkin ingin minta ijin agar aku merelakan kamu pada dia.”

Sekarang Adri terkekeh.

“Memangnya aku ini barang? Bisa diserah terimakan kepada orang lain begitu saja.”

“Melihat tanda-tandanya, sepertinya dia memang suka pada sahabat masa kecilnya ini.”

“Nggak usah ngomong yang enggak-enggak.”

“Kemungkinan itu ada kan?”

“Kamu kan tahu bahwa aku mencintai kamu?”

“Biasanya laki-laki memang begitu.”

“Apa maksudnya nih?”

“Didepan salah satu perempuan bilang cinta, lalu di depan perempuan lainnya juga mengobral cinta.”

“Kamu kebanyakan nonton sinetron," kesal Adri.

“Tidak, aku tidak pernah nonton sinetron. Tapi kenyataannya memang begitu kan?”

“Aku bukan begitu, tahu”

“Benarkah?”

“Mau belah dadaku ini?”

Dan mbak Rana yang duduk di belakang menahan tawa sambil menutup mulutnya, sementara Tama tertidur pulas di pangkuannya.

Tapi dari kaca spion, Adri melihatnya.

“Tuh, mbak Rana sampai tertawa.”

“Eh, tidak, Tuan.”

“Tidak apa-apa kalau mbak Rana ingin tertawa. Kami ini memang pasangan lucu kok.”

“Yang lucu itu kamu Dri, masa aku kamu suruh membelah dadamu? Kepercayaan itu bukan di dada, tapi di hati.”

“Itu kan ungkapan yang sudah menyebar ke mana-mana. Kalau tidak percaya, belahlah dadaku.”

Nirmala tersenyum lucu. Tapi ia yakin bahwa Adri memang mencintainya. Hanya saja terkadang ulahnya sering membuatnya kesal.

“Nirma, coba kamu telpon Dwi, yang penting kamu tahu dulu apa maksudnya.”

“Iya, lagian sabar nggak dia kalau menunggunya lebih lama? Kita bisa sampai rumah malam kan?”

“Makanya telpon dia.”

“Hm, perhatian amat sih,” ledek Nirmala.

Adri tidak menjawab, tapi mencubit lengan istrinya karena gemas.

“Auuwww, sakit, tahu. Laki-laki kok mencubit. Genit!!”

“Kamu selalu mengejek aku sih.”

“Ya udah, diam dulu, biar aku telpon dia.”

Nirmala menelpon nomor Dwi, tapi lama dan berkali-kali tidak diangkat.

“Kelihatannya ponselnya mati.”

“Ya sudah, mau bagaimana lagi.”

***

Hari sudah sore ketika Dwi bangkit dari ranjang di kamar rumah Nirmala. Ia melongok keluar, sepi tak ada suara, berarti Nirmala belum pulang. Padahal katanya sedang perjalanan pulang. Memangnya pergi ke mana, lama tidak segera sampai ke rumah?

Dwi melangkah keluar, di ruang tengah ia melihat bibik sedang melihat televisi. Perlahan ia mendekat dan duduk di sana.

“Eh, Nyonya sudah bangun. Sudah saya buatkan minum. Ini Nyonya,” kata bibik sambil menunjuk ke arah gelas yang terletak di meja.

“Belum pada pulang ya?”

“Belum Nyonya, apa terjebak banjir ya? Lihat Nyonya, di mana-mana banjir, padahal hujan baru beberapa hari.”

“Iya, benar. Memangnya mereka pergi ke mana?”

“Saya tidak tahu Nyonya. Silakan diminum dulu susunya.”

“Aku tunggu sebentar lagi, kalau tidak pulang juga, aku mau pulang saja.”

“Lhoh, kan sudah kepalang tanggung. Nyonya sudah menunggu lama, mengapa mau ditinggal pulang?”

“Soalnya besok aku sudah harus bekerja Bik.”

“O, begitu? Nyonya mau naik apa?”

“Aku pesan taksi saja.”

“Minumlah dulu, atau mau makan Nyonya, tadi saya sempat memasak, soalnya tuan dan nyonya saya mau pulang.”

“Tidak usah Bik, saya masih suka mual. Lagian tidak membawa obatnya. Ini juga, bibik kasih susu coklat, mudah-mudahan tidak membuat mual.”

Selesai minum, Dwi mengambil ponselnya, yang dimatikan sejak siang. Ia tak ingin menerima telpon dari siapapun, termasuk suaminya yang pasti masih sangat marah.

Lalu ia menelpon taksi. Sekilas ia melihat beberapa panggilan tak terjawab. Tapi ia mengacuhkannya.

Dwi nekat pulang, walau bibik sudah menyarankan untuk menunggunya. Dwi juga sedang gelisah, jangan-jangan Nirmala memang sengaja tidak segera pulang, atau tidak akan pulang sekalian karena ia pasti tidak suka pada dirinya. Karena itu pergi dari rumah Nirmala adalah lebih baik.

“Besok akan aku cari waktu untuk menemuinya. Aku tetap harus menemui dia karena aku sungguh merasa menyesal dan sangat bersalah,” kata batin Dwi dalam perjalanan pulang.

***

Tapi tak selang berapa lama, ternyata Adri dan Nirmala sudah pulang. Nirmala kecewa karena Dwi nekat pulang. Barangkali karena kelamaan pulangnya gara-gara menghindari banjir.

“Tadi juga tidur di kamar tamu Nyonya, saya siapkan makan, tapi makan hanya sedikit, katanya perutnya mual. Bawaan orang hamil kan sering begitu.”

“Bibik tidak menahannya?”

“Sudah Nyonya, dengan segala cara. Tadi dia bersikukuh pulang. Katanya besok harus bekerja, jadi tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Padahal saya tahu dia tidak begitu sehat.”

“Naik apa dia?”

“Tadi pesan taksi.”

“Gimana sih,” gerutu Nirmala yang pastinya kesal karena tidak segera bisa mengetahui maksud kedatangan Dwi.

“Ya sudah, besok saja kamu hubungi dia, tidak usah terlalu dipikirkan,” kata Adri.

***

Sudah jam sembilan malam ketika Dwi sampai di rumah. Ia segera berteriak kepada bibik untuk meminta obat mual, karena sudah ditahannya sejak tadi, dan perutnya terasa tidak enak, ditambah kepalanya terasa sangat pusing.

Bibik bergegas menyiapkan obatnya dan segelas air putih.

“Nyonya ke mana saja? Membuat saya khawatir.”

“Aku sangat gelisah Bik, aku ke rumah bu Nirmala untuk meminta maaf, tapi tadi tidak ketemu.”

“Tuan belum lama pulang.”

“Tuan? Tuan siapa Bik?”

“Tuan Anton. Tadi pagi agak siang bersama ibunya, nyonya yang galak itu, tapi menjelang sore dia pulang lebih dulu. Tuan Anton menunggu, lama. Saya tawarkan makan tidak mau. Hanya minum. Lalu tiba-tiba ingin pulang. Katanya besok sore mau kemari lagi.”

“Mau apa dia sama ibunya?”

“Paginya ada tuan Adri juga, Nyonya.”

“Adri? Katanya Adri pergi sama anak istrinya.?

“Saya melihat ada yang menunggu di mobil. Mungkin anak dan istri tuan Adri. Entahlah.”

“Bicara apa tuanmu sama Adri?”

“Tadinya ya bicara tidak enak, sedikit keras begitu Nyonya, saya mendengar sedikit ketika saya memasuki halaman  sepulang saya dari warung, lalu saya jelaskan semuanya.”

“Semua yang mana?”

“Ya tentang Nyonya yang berbohong. Habis kalau mereka berantem beneran kan saya jadi takut.”

Tiba-tiba ponsel Dwi berdering. Nomor tak dikenal, tapi Dwi mengangkatnya.

“Hallo, apa saya bicara dengan Ibu Dwiyanti?”

“Benar. Ini dari mana?”

“Dari kantor polisi. Suami Ibu kecelakaan.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

WARA-WARA.

 _*WARA-WARA*_ Sehubungan dengan Hari Raya IdulFitri 1 Syawal 1447-H (21 Maret 2026), maka Cerbung Biarkan Aku Memilih dan Cerbung Sepotong ...