NAMAKU TETAP SENJA 57
(Tien Kumalasari)
Mbok Mangun akhirnya bersedia menginap di rumah keluarga Wiguna, ditempatkan di kamar belakang karena mbok Mangun sungkan disuruh tidur di kamar tamu yang mewah dan megah serta membuatnya silau karena perangkat kamar yang penuh pernik-pernik berkilat dan gebyarnya lampu kristal yang terletak di langit-langit. Pokoknya semuanya serba membuat mbok Mangun silau.
Dan kamar yang agak dibelakang itupun tampak bersih rapi dan indah, menurut ukuran mbok Mangun. Ia dan keluarganya tak memiliki tempat tidur beralas kasur yang empuk. Ada perabotan yang semuanya diluar jangkauan mbok Mangun.
“Kamar ini masih terlalu indah, bagaimanakalau saya tidur di bawah saja? Apakah sampeyan punya tikar?” kata mbok Mangun kepada bibik yang melayaninya.
“Tidak ada Bu, dan mengapa harus tidur di bawah sementara ada ranjang besar yang cukup untuk Ibu dan putra Ibu ini,” kata bibik ramah, karena Arka sudah berpesan agar melayani mbok Mangun seperti tamu.
“Iya sih, tapi tidak biasa tidur di tempat seindah ini.”
“Tidak apa-apa Bu, tidur saja di situ, nanti juga Ibu dan putra ini akan terbiasa.”
“Nak, jangan memanggil saya Ibu. Saya mbok Mangun. Panggil saja mbok Mangun.”
Bibik tersenyum.
“Ibu dengan Simbok itu kan sama Bu, tidak usah sungkan. Tidak apa-apa. Sekarang saya mau menata makan malam untuk mas Arka dan untuk Ibu juga,” kata bibik sambil berlalu.
Rimba duduk di tepi pembaringan.
“Empuk sekali Mbok, cobalah.”
“Simbok malah takut kalau nggak bisa tidur. Sebenarnya Simbok sudah minta tikar, tapi katanya dia tidak punya.”
“Orang kaya nggak punya tikar Mbok, adanya permadani.”
“Ya sudahlah, nanti malah dikira kita merepotkan. Apa kamu sudah ngantuk? Simbok tidak akan bisa tidur kalau teringat mbakyumu.”
“Simbok harus tenang. Mas Arka dan bapaknya yang disebut pengacara itu sudah berjanji mau membantu, dan meyakinkan kita bahwa mbak Senja pasti lolos dari hukuman.”
“Mereka itu benarkah? Bukan hanya untuk menenangkan hati kita?”
“Pastinya benar Mbok. Kan mbak Senja tidak bersalah? Masa orang tidak bersalah akan dihukum?”
“Kenyataannya mbakyumu dihukum, keluar menemui kita disuruh buru-buru, baru sebentar sudah dibawa masuk lagi.”
“Karena mbak Senja belum diperiksa. Nanti yang salahlah yang akan dihukum.”
“Mbok, Rimba, ayo kita makan dulu.” kata Arka yang tiba-tiba masuk.
“Apa? Tidak mas, saya tidak lapar.”
“Jangan begitu Mbok, Simbok dan Rimba harus makan. Nanti kalau tidak mau makan, lalu jatuh sakit, malah tidak bisa bertemu Senja.”
“Makan di mana?”
“Di ruang makan dong Mbok, ayolah. Kita makan sama-sama.”
“Apa ada tuan … dan …. nyonya … ayah ibunya mas Arka?”
“Mereka sudah makan, tinggal saya dan Simbok yang belum.”
Arka menggandeng tangan Simbok, memaksanya keluar dari kamar, menuju ruang makan. Itupun membuat Simbok ragu untuk duduk.
“Saya duduk di bawah saja, nanti kursinya kotor oleh Simbok.”
Arka tertawa.
“Mana bisa makan sambil duduk di bawah, ayolah Mbok, ayo Rimba, duduk dan jangan sungkan.”
Walaupun ragu dan sungkan, Simbok dan Rimba akhirnya makan.
“Mengapa hanya sedikit, makan yang banyak, biar kuat.”
“Makanlah Bu, jangan sungkan,” tiba-tiba bu Wiguna muncul di ruang makan, membuat Simbok langsung berdiri.
“Eh, duduk saja Bu, lanjutkan makannya. Anggap saja rumah sendiri.”
“Waduh, rumah saya gubug, Nyonya. Hampir ambruk. Sekarang di sini diperlakukan dengan sangat baik.”
“Bu Mangun dan Rimba adalah tamu-tamu kami. Tidak apa-apa tinggal di sini sesuka Ibu.”
“Mbok Mangun, seperti itulah saya dipanggil, Nyonya.”
“Tidak apa-apa, sama saja. Ayo lanjutin makannya, yang banyak ya, jangan sungkan.”
“Terima kasih, Nyonya.”
***
Karena Arka akan berusaha meminta penangguhan penahanan, maka mbok Mangun merasa lebih tenang. Semalam karena lelah, tetap saja mbok Mangun dan Rimba akhirnya bisa tidur nyenyak.
Seperti kebiasaannya saat di rumahnya, mbok Mangun dan Rimba bangun pagi, dan shalat dengan khusuk.
Semalam Arka membelikan beberapa potong pakaian untuk ganti dan semua perlengkapan mandi untuk Senja, yang diantarkan langsung ke kantor polisi, sedangkan mbok Mangun dan Rimba juga dibelikan beberapa baju untuk ganti.
Hari itu mbok Mangun dan Rimba membantu bibik di dapur, sungkan kalau diam saja, sedangkan Arka sibuk berbincang dengan pengacaranya, tentang banyak hal yang akan membuat Senja bebas.
***
Hari itu bu Mery ditahan polisi, karena Senja melaporkan bahwa kejadian itu bermula karena bu Mery memaksa.
Bu Mery tidak diam saja. Ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa dia memaksa Senja untuk melayani pijit seorang pelanggan.
Proses penangguhan penahanan atas Senja akhirnya dikabulkan, dengan jaminan yang ditanggung Arka. Tentu dengan sejumlah uang, dan dengan dirinya sendiri sebagai jaminan.
***
Rosa menelpon bu Mery, tapi yang menjawab Tantrina. Karena tahu bahwa Rosa yang menjadi penyebab ibunya ditahan, maka Tantrina menjawab dengan marah-marah.
“Ibu saya ditahan polisi sejak kemarin, dan ibu Rosa menjadi penyebabnya, bukan?”
“Apa? Kamu mengatakan apa?”
“Ibu Rosa yang membuat Ibu saja menjadi jembatan untuk menjebak Senja. Apa Ibu puas sekarang, mendengar Ibu saya sudah ditahan?”
“Bukan begitu, ibumu ditahan hanya sebagai saksi.”
“Sebagai saksi itu tidak ditahan. Ibuku menjadi tersangka. Apa ibu Rosa tidak paham? Atau pura-pura bodoh?”
“Hei, Tantrina, kamu itu sudah berlaku tidak sopan. Aku ini sejajar dengan ibumu, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa aku bodoh?”
“Saya tidak mengatakan Ibu bodoh, tapi Ibu pura-pura bodoh. Adanya kejadian itu karena Ibu yang meminta, menyuruh, memerintahkan.”
“Kamu jangan asal percaya dan menuduh dengan ngawur. Apa buktinya kalau aku yang menyuruh?”
“Ada, pasti ada. Dan sangat jelas Ibu mentransfer sejumlah uang, dua kali. Barangkali sebelum kejadian, dan sesudahnya. Ya kan? Dengan begitu bersiaplah untuk segera dipanggil polisi.”
“Tidak bisa, itu tidak menjadi cukup bukti. Jangan mengira kalau aku mau percaya pada omongan ngawur kamu itu.”
“Bu Rosa boleh saja tidak mempercayai apa yang akan aku katakan sebagai bukti nanti, tapi polisi tidak akan percaya dengan mudah. Jadi bersiap-siaplah, bu Rosa,” kata Tantrina yang kemudian menutup ponselnya.
“Memang enak ya, ibuku jadi tahanan lalu kamu mau cuci tangan? Jangan harap. Kamu juga harus mendekam dalam penjara.
***
“Ma, mengapa Papa belum pulang juga, ini sudah sore,” keluh Rosa kepada bu Daryono.”
“Tumben kamu nungguin Papa, pasti kamu mau minta sesuatu, ya kan?”
“Aku mau mengingatkan Papa, katanya aku mau dikirim ke luar negri, segera.”
“Apa kamu sudah siap?”
“Tentu Ma, aku sudah menyiapkan semuanya. Besokpun aku siap berangkat, lebih cepat lebih baik.”
“Oh ya, biasanya kamu menunda-nunda kalau Papa kamu bicara tentang tugas kamu diluar negri.”
“Kalau sekarang Rosa sudah siap Ma.”
“Baiklah, sebentar lagi Papamu pasti sudah pulang.”
“Aku mau beres-beres di kamar ya Ma.”
Tapi sebelum Rosa beranjak dari depan Mamanya, terdengar mobil polisi meraung di halaman rumah.
Wajah Rosa pucat pasi.
***
Besok lagi ya.