NAMAKU TETAP SENJA 35
(Tien Kumalasari)
Arka menatap kepergian Rosa dengan takjub. Perempuan egois yang tidak disukainya ternyata punya sisi baik yang mengagumkan. Ia membantu orang secara total, dan itu membuatnya kagum.
Ia segera berkemas dan berbalik masuk ke dalam untuk menemui ibunya.
“Ayahmu sudah berangkat?” tanya sang ibu yang tadi masih ada di kamar mandi.
“Sudah, apa bapak tidak pamit pada Ibu?”
“Tadi bilang, tapi ketika berangkat aku tidak tahu. Kata bibik, tadi ada tamu, dia mau buat minuman. Siapa tamunya?”
“O itu tadi Rosa.”
“Rosa? Pagi-pagi datang kemari?”
“Dia dari rumah Senja.”
“Pesan beras lagi?”
“Tidak. Ibu kan sudah tahu kalau Senja diculik?”
“Iya, ayahmu sudah cerita sambil marah-marah. Ternyata yang menolong adalah Rosa. Ternyata dia bisa berbuat baik.”
“Tadi dia dari rumah Senja, maksudnya mau mengantar sekolah. Tapi Senja belum bisa masuk sekolah karena telapak kakinya masih sakit.”
“Kasihan. Kamu juga sudah cerita tentang luka-lukanya Senja. Beruntung dia selamat.”
“Penolong selanjutnya setelah dia bisa kabur setelah disekap kan Rosa, dia melihatnya terluka ditepi jalan sepi, lalu membawanya ke rumah sakit.”
“Syukurlah, ternyata Rosa bisa berbuat baik.”
“Arka berangkat dulu ya Bu.”
“Iya, hati-hati. Agak kesiangan ya?”
“Tidak apa-apa, bapak sudah lebih dulu ke kantor.”
Arka mencium tangan sang ibu lalu berangkat ke kantor.
***
“Tadi Non Rosa datang kemari?”
“Iya, cuma sebentar Mbok.”
“Anak baik, bilang apa dia, mengapa kemari hanya sebentar?”
“Katanya mau mengantarkan Senja ke sekolah karena dia tahu kaki Senja sakit.”
“Non cantik itu ternyata baik hati. Lalu kamu tidak menyuruhnya masuk?”
“Senja sungkan. Kalau masuk mau didudukkan di mana? Dulu dia pernah menolak duduk di bangku depan rumah itu kan?”
“Iya sih, orang kaya jarang yang mau duduk di bangku kotor.”
“Jadi ketika tahu bahwa Senja tidak masuk sekolah, lalu dia langsung pulang. Katanya besok mau kemari lagi, barangkali Senja sudah siap masuk sekolah.”
“Kakimu masih sakit kan?”
“Ya sih, tapi kan sudah dibebat.”
“Jangan buru-buru masuk dulu. Biarkan dulu, sekalian kamu istirahat beberapa hari.”
“Baiklah.”
“Kamu masih belajar? Simbok belikan jajan pasar, buat kamu ngemil,” katanya samil meletakkan bungkusan daun pisang, kemudian diambilnya piring dan ditaruh isi bungkusan di piring itu.
“Wah, ini utri sama klepon. Enak sekali.”
“Makanlah, Simbok mau masak sambel goreng ikan pindang.”
“Simbok kok masak enak. Ikan bukannya mahal?”
“Ikan pindang sangat murah. Dia kan ikan asin biasa. Sudah, lanjutkan belajarnya sambil ngemil.”
“Senja separuh saja, yang separo untuk Simbok.”
“Tidak usah, Simbok sudah beli sendiri. Ini, makannya sama sendok kecil, supaya tanganmu tidak kotor.”
Senja tersenyum, Ia mengambil sebutir klepon dengan sendok, ketika masuk ke dalam mulutnya, klepon itu pecah, mengeluarkan gula jawa yang manis.
***
“Dari mana kamu sepagi ini?” tanya bu Daryono ketika melihat Rosa memasuki rumah.
“Dari rumah om Wiguna.”
“Mau apa kamu pagi-pagi ke sana? Kan ibu sudah mengingatkan agar kamu tidak terlalu mengejarnya?”
“Rosa bukan mengejar Arka, Rosa kan sudah bilang ingin melupakannya.”
“Lalu untuk apa kamu pagi-pagi ke sana?”
“Ibu kan tahu, kemarin Rosa menolong Senja yang baru kabur dari penculik.”
“Itu benar?”
“Ternyata Ibu tidak percaya? Ini benar Bu, itu sebabnya kemarinnya Rosa pulang larut. Rosa meninggalkan Senja di rumah sakit setelah Arka datang.”
“Kalau benar kamu melakukannya, ibu senang. Terus terag kemarin ketika kamu cerita, ibu tidak percaya.”
“Iih, Mama jahat deh. Masa aku tidak bisa berbuat baik?”
“Iya … iya, lalu apa hubungannya dengan kamu mampir ke rumah keluarga Wiguna?”
“Tadi tuh hanya mampir. Rosa dari rumah Senja, bermaksud mengantarkannya ke sekolah kalau Senja mau sekolah. Tapi kaki Senja masih sakit, jadi belum bisa masuk sekolah. Lalu Rosa pulang. Rosa mampir ke rumah om Wiguna, untuk mengatakan pada Arka bahwa Senja belum bisa masuk sekolah.”
“Harus melapor kepada Arka?”
“Iya Ma, Arka selalu merasa bertanggung jawab atas keselamatan Senja, karena ketika diculik, Senja sedang bersamanya. Jadi Arka berhak tahu keadaan Senja kan Ma?”
Bu Daryono tersenyum. Heran tapi bersyukur Rosa bisa melakukannya.
“Rosa mau tidur lagi ya Ma, ngantuk, tadi bangunnya kepagian.”
Bu Daryono tersenyum.
“Kirain mau bantuin bibik masak.”
Rosa tertawa kecil.
“Lain kali Ma, ini Rosa ngantuk banget,” katanya sambil menjauh.
Bu Daryono geleng-geleng kepala. Mana dia tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati Rosa.
“Semoga dia menjadi baik," gumamnya.
***
Siang itu Rimba pulang dan merasa senang melihat kakaknya sudah tampak sehat, tidak lagi pucat seperti ketika ditinggalkannya saat pagi sebelum dia berangkat sekolah.
Mereka bertiga makan siang dengan gembira.
“Kaki Mbak masih terasa sakit?”
“Sudah banyak berkurang. Bukankah dokter mengatakan bahwa hanya luka luar yang tidak berbahaya?”
“Kata mas Arka, besok harus kontrol bukan?”
“Oh, benarkah? Simbok malah tidak tahu kalau besok harus kontrol.”
“Kamu salah Rimba, setelah seminggu kontrolnya, bukan besok.”
“Kirain besok, kalau besok aku ikut.”
“Kamu tidak sekolah?”
“Besok aku pulang pagi, ada rapat guru-guru di sekolah.”
“O, mungkin karena hampir kenaikan kelas itu.”
“Kalau begitu aku bisa menemani mbak Senja di rumah.”
“Kalau kamu bisa pulang awal, Simbok mau jalan keliiing, tadi sudah libur,” kata mbok Mangun.
“Sebenarnya tidak apa-apa kalau Simbok di rumah saja beberapa hari.”
“Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja besok itu ada yang pesan beras dan minta dikirim. Sebenarnya mundur besoknya juga tidak apa-apa, tapi Simbok sudah janji besok. Sebaiknya besok Simbok kirim. Tidak apa-apa kalau setelah itu di rumah.”
“Jauhkah? Kalau dekat, dan kalau tidak berat, Rimba bisa membantu Simbok.”
“Tidak begitu jauh, hanya lima kilo.”
“Biar Rimba kirim ya Mbok, sepeda mbak Senja ringan, Rimba bisa membawanya. Hanya lima kilo bisa Rimba bawa.”
“Jangan, jalanan ke sana rame. Dekat alun-alun.”
“Iya Rimba, kamu masih kecil. Biarpun bisa naik sepeda, tapi kalau jalanan rame lebih baik tidak usah.”
Rimba merengut. Begitu besar keinginannya membantu simboknya, seperti Senja yang selalu bisa melakukannya.
“Kalau kamu sudah besar, kamu bisa. Lagi pula Simbok mau berangkat pagi-pagi, supaya bisa cepat pulang.”
Mereka berbincang hangat sambil menghabiskan makanan, sampai hari menjelang sore.
***
Arka hampir pulang ketika ponselnya berdering. Dari Rosa. Biasanya dia tak mengacuhkannya, tapi kali itu tidak. Arka segera mengangkatnya.
“Ya, Rosa.”
“Ka, apa kamu ada rencana untuk ke rumah Senja sepulang kantor?”
“Ini aku mau ke sana, ingin melihat keadaannya.”
“Aku ikut boleh?”
“Kamu sudah ke sana pagi tadi kan?”
“Iya, tadi aku melihat banyak buah-buahan di rumah, aku ingin mengirimkannya untuk Senja.”
“Tapi aku mau berangkat sekarang.”
“Aku samperin ke kantor kamu ya. Sekalian ingin melihat keadaannya, soalnya pagi tadi masih kelihatan pucat.”
“Baiklah, buruan ya, aku tunggu, aku mau ke sana sekarang.”
“Aku cari taksi dulu, sebentar.”
Arka membenahi berkas-berkas di meja dan memasukkannya ke dalam laci.
“Telpon dari siapa?” tiba-tiba ayahnya masuk.
“Dari Rosa.”
“Kencan mau ke mana? Tapi baiklah, bapak mau pulang dulu, senang kamu mau bersikap ramah seperti tadi yang bapak dengar,” kata pak Wiguna sambil tersenyum.
Arka tak menjawab, dan pak Wiguna beranjak pergi dengan banyak harapan ketika tadi mendengar Arka bertelpon dengan Rosa dan sikapnya sangat baik.
***
Seperti yang dikatakannya di telpon, Rosa membawa sekeranjang kecil buah-buahan. Ia datang naik taksi, sehingga ia dan Arka bisa semobil dan Rosa tidak usah meninggalkan mobilnya di kantor Arka.
“Kamu membawa buah-buahan dari rumah? Apa tidak ditegur mama kamu mengambil persediaan buah di rumah?”
“Mama belanja banyak, aku hanya mengambil sebagian.”
“Aku mau mampir beli makanan di toko roti.”
“Tidak apa-apa, biar Senja senang banyak makanan untuk dia.”
Arka menghentikan mobilnya di sebuah toko roti.
“Aku ikut ya,” kata Rosa yang duduk di seberang kemudi. Arka hanya mengangguk.
Tapi ketika ia turun, tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas. Rosa terjatuh, dan menjerit keras.
***
Besok lagi ya.