NAMAKU TETAP SENJA 43
(Tien Kumalasari)
Arka tersenyum melihat Rimba menyambutnya dengan senyuman cerah. Ia menyerahkan sebungkus keresek berisi minuman.
“Ini, buah-buah segar, untuk kalian, dan Simbok ya.”
“Wah, ini jus buah kan?”
“Iya. Tadi sedang ngomongin aku? Tentang apa?”
“MBak Senja ketemu ayah mas Arka, sedang bersama kakak mas Arka,” kata Rimba sambil berjalan masuk, diikuti Arka.
Mereka menuju ruang makan, di mana mbok Mangun masih duduk di sana, sedangkan Senja sedang membersihkan meja.
“Silakan duduk mas,” kata Rimba sambil meletakkan bungkusan jus, dan mengeluarkan gelasnya satu persatu.
“Wah, mas Arka selalu repot.”
“Tidak Mbok, ini jus buah segar, saya juga mau minum, Simbok pilih yang mana? Ini jambu, mangga, nanas, alpukat.”
“Terserah saja, Simbok apa-apa mau.”
“Ya sudah, Simbok yang alpukat ya, saya mau nanas saja,” kata Arka sambil memberikan segelas jus alpukat ke depan mbok Mangun.
"Ayo, semuanya.”
Mereka mencecap jus segar yang dibawa Arka dengan wajah berseri.
“Nja, tadi Rimba mengatakan kalau kamu tadi bertemu ayahku? Kalian saling bertegur sapa?”
“Tidak Mas, waktu itu saya sedang mau melamar pekerjaan di proyek perumahan yang belum lama dibuka, tiba-tiba saya melihat ayah mas Arka, sepertinya sedang bersama saudara mas Arka. Mungkin ayah mas Arka mau membelikan rumah di perumahan baru itu untuk putrinya.”
“Putri ayahku? Saudara aku?” tanya Arka heran.
“Iya, siapa lagi? Wanita itu cantik, berjalan bersama ayah mas Arka yang merangkul pundaknya sambil menuding-nuding ke arah rumah yang baru di bangun.”
Arka sangat terkejut? Seorang wanita cantik? Bersama ayahnya, dan ayahnya merangkul pundaknya?
“Kok mas Arka kelihatan aneh. Wanita itu sedang mengandung. Adik mas Arka atau kakak mas Arka?”
Arka teringat apa yang pernah dikatakan sang ibu, ketika sang ibu menemukan sebuah brosur rumah elite di tas kerja ayahnya.
"Untuk kakakku atau adikku? Apa aku punya adik atau kakak? Sedang hamil pula?" pikir Arka.
“Yang sedang hamil, kakak mas Arka ya? Atau adik?” Senja mengulangi pertanyaannya.
“Aku tidak punya saudara, aku anak tunggal,” kata Arka pelan, sambi meneguk jusnya, tapi dengan perasaan yang kacau dan gelisah. Ini berita aneh. Ayahnya sedang bersama siapa? Wanita cantik, sedang hamil?
“Ya Tuhan, sepertinya ini berita buruk,” kata batinnya sambil menghabiskan satu gelas jusnya, kemudian ia berdiri.
“Sepertinya aku mau pamit dulu.”
“Kok buru-buru?”
“Lupa aku, ada yang harus aku kerjakan. Pamit dulu ya Mbok, Senja, Rimba,” kata Arka sambil bergegas pulang ke rumah.
***
Mbok Mangun dan anak-anaknya saling pandang dengan bingung. Sikap Arka tampak aneh. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Mereka juga merasa aneh ketika mendengar perkataan Arka bahwa dia tidak punya saudara.
“Ini aneh. Mas Arka itu anak tunggal. Lalu siapa yang tadi kamu lihat Nja?”
“Ya itu, seperti yang aku katakan. Ayah mas Arka, dengan seorang wanita hamil. Ayah mas Arka merangkul pundaknya erat, seperti seorang ayah merangkul anaknya."
“Atau seorang suami merangkul istrinya?” celetuk mbok Mangun yang mengejutkan Senja.
“Apa? Simbok mengira, itu istri pak Wiguna? Aku pernah melihatnya ketika mengirim beras, ibunya cantik, tapi sudah setengah tua. Bukan yang tadi.”
“Maksud Simbok, istri yang lain.”
“Istri muda?”
"Mungkin, tapi jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Itu hanya perkiraan Simbok. Orang kaya punya istri lebih dari satu kan boleh-boleh saja.”
“Ya Tuhan, apakah mas Arka tahu kalau ayahnya punya istri muda? Aku jadi menyesal mengatakannya. Bagaimana ini, sudah terlanjur,” kata Senja.
“Mau bagaimana lagi, kamu kan juga tidak tahu kalau mas Arka itu anak tunggal.”
“Iya Mbok, Senja pikir karena wanita itu masih muda, pastinya anak perempuan tuan Wiguna. Siapa tahu ternyata mas Arka anak tunggal. Bagaimana kalau keluarga mas Arka jadi kacau karena aku ngomong begitu tadi?”
“Semoga semuanya baik-baik saja. Simbok kira mas Arka akan bisa mengatasi semuanya tanpa harus menimbulkan keributan di keluarganya."
***
Arka sampai di rumahnya , tapi tidak mendapati sang ayah seperti biasanya kalau sang ayah tidak pergi ke kantor. Duduk berdua di teras bersama ibunya, atau duduk di ruang tengah sambil menikmati acara televisi.
“Bapak belum pulang Bu?”
“Lhoh, apa kamu tidak ketemu ayahmu di kantor? Bukankah tadi dia pergi ke kantor?”
”Tidak. Sudah beberapa hari Bapak tidak pergi ke kantor.”
“Padahal tak lama setelah kamu berangkat, bapakmu juga berangkat.”
“Ke mana ya Bapak?”
“Apa masih mengurusi temannya yang habis operasi itu? Begitu perhatian sekali ayahmu kepada temannya itu.”
“Mungkin Bu, ya sudah, Arka ganti baju dulu.”
“Baiklah, biar bibik menyiapkan kopi seperti biasanya.”
Arka masuk ke dalam kamarnya dengan sejuta pikiran yang sangat mengganggu. Ayahnya membantu teman yang habis operasi? Sejak kapan ayahnya perhatian kepada orang lain? Apa ini ada hubungannya dengan apa yang dilihat Senja tadi? Wanita cantik, hamil, dan Senja mengira wanita itu kakak atau adiknya. Senja punya pikiran begitu karena wanita itu terlihat masih muda.
“Mau beli rumah di perumahan baru itu? Dan brosur yang ditemukan ibu itu pasti bukan sekedar penawaran dari seorang marketing yang ingin agar laku dagangannya. Bapak melihat perumahan itu, yang pastinya akan dibelinya untuk wanita yang menurut Senja dirangkul pundaknya.”
“Kalau aku menanyakannya kepada Bapak nanti, dan ada Ibu di dekat kami, pasti Ibu akan sangat terpukul. Aku khawatir hal itu akan mengganggu kesehatan Ibu.”
Arka bingung akan bersikap bagaimana. Karena itu ia menelpon sang ayah. Tapi walau ponselnya aktif, pak Wiguna tidak mengangkatnya.
Lalu Arka menuliskan pesan singkat.
“Bapak ada di mana? Bapak tidak ke kantor ber hari-hari. Ibu mengira Bapak masih ada di kantor sore ini.”
Lalu Arka pergi mandi.
Ketika ia selesai mandi dan berganti baju rumahan, di ponselnya sudah ada jawaban sang ayah.
“Sedang menemani sahabat bapak yang habis dioperasi. Dia sendirian dan bapak merasa kasihan padanya”
Lalu dibawahnya ada lagi.
“Tapi bapak akan segera pulang.”
“Tadi Arka melihat Bapak di perumahan yang baru dibuka. Bapak mau beli rumah?”
Pertanyaan itu tidak dijawab, sampai Arka kemudian keluar untuk menemui ibunya. Ponsel dibawanya.
“Minumlah. Kopimu hampir dingin,” kata sang ibu.
Arka tersenyum, lalu duduk di dekat sang ibu, kemudian mencecap kopi itu, pelan. Ada rasa kasihan ketika melihat wajah ibunya yang polos, tanpa dosa, tapi tampaknya dikhianati.
Ketika notifikasi terdengar di ponselnya, sang ayah sudah menjawab pesannya.
“O, iya … tadi mengantar anak teman bapak, yang katanya mau beli rumah di sini. Dia lama tidak tinggal di sini, jadi tadi datang minta diantar melihat-lihat rumah.”
Arka mencibir dalam hati. Sang ayah selalu punya alasan. Tapi alasan terakhir membuat Arka hampir murka.
"Menemani anak temannya, wanita muda, dan dia merangkul pundaknya saat berjalan?” kata batinnya.
Ia semakin yakin kalau sang ayah sedang menyembunyikan sesuatu, yang sebagian besar dari yang tersembunyi itu hampir diketahuinya. Arka sedih ketika mengingat ibunya.
“Ada apa? Tiba-tiba wajahmu muram setelah membaca pesan di ponsel kamu.
Arka memberikan ponselnya, agar sang ibu membaca seluruh pesan dan jawabannya.
***
Besok lagi ya.