NAMAKU TETAP SENJA 45
(Tien Kumalasari)
Wajah Senja sumringah, setengah berlari mendekati mobil. Ia merasa berhutang nyawa pada Rosa, jadi ia bersikap sangat baik.
"Non Rosa, saya minta maaf, ketika non Rosa sakit, saya tidak bisa membezoek, karena_”
“Sudah, tidak usah dibahas masalah itu.”
“Saya sangat berterima kasih, non Rosa sangat baik kepada saya.”
“Sudah semestinya berbaik hati kepada sesama kan?”
“Non Rosa sungguh berbudi.”
“Kamu ini sebenarnya mau ke mana?”
“Ini Non, mau mencari pekerjaan.”
“Oh iya, pastinya kamu sudah lulus ya Nja?”
“Iya Non, atas doa non Rosa, sudah lulus. Sekarang sedang berusaha untuk mencari pekerjaan.”
“Oh, kamu mau mencari pekerjaan? Ke mana?”
“Ke toko itu dulu, barangkali membutuhkan pelayan toko. Saya permisi dulu ya Non. Mau ke situ dulu.”
“Eit.. tunggu dulu Senja, kamu itu cantik, mengapa melamar menjadi pelayan toko?”
“Yang penting kan bukan wajahnya Non, saya hanya lulusan SMA. Biar cantik seperti bidadari ya nggak bisa bekerja di kantoran. Nggak apa-apa kok Non, saya tidak malu, yang penting bisa bekerja membantu Simbok.”
“Tunggu, ke sini dulu,” Rosa melambaikan tangannya, masih melongok di jendela mobilnya, tanpa mau turun.
Senja terpaksa mendekat, sebenarnya dia ingin segera pergi ke toko itu, sebentar lagi terik matahari akan lebih menyengat. Kalau tidak diterima bekerja di situ kan ia harus mencari yang lain.
“Aku bisa membantu kamu mendapatkan pekerjaan.”
Mata Senja berkilat. Wajahnya berseri. Non cantik yang baik hati ini akan membantunya mencari pekerjaan? Dalam hati Senja terus memuji-muji kebaikan Rosa. Dulu dikira sombong dan merendahkan dirinya karena miskin, ternyata berkali-kali dia berbaik hati padanya.
“Itu benarkah Non?”
“Masa aku membohongi kamu? Mana lamaran kamu, biar aku bawa,” kata Rosa sambil mengacungkan sebelah tangannya, dan dengan riang Senja memberikannya.
“Kapan saya mulai bekerja Non?
“Nanti dulu, ini lamarannya aku bawa dulu, kamu tunggu, nanti aku kabari ketika kamu sudah siap diterima bekerja.”
“Oh, baiklah Non, jadi sekarang saya pulang dulu kan?”
“Iya, pulanglah, nanti aku kabari, secepatnya. Aku harus menemui teman aku dulu.”
“Baiklah, terima kasih banyak Non. Tapi saya benar-benar diterima kerja kan? Atau masih belum tentu?”
“Aku usahakan kamu benar-benar diterima. Jangan khawatir.”
“Baik Non, terima kasih banyak,” jawabnya masih dengan seri gembira di wajahnya.
“Tapi tunggu dulu Senja,” tiba-tiba Rosa berteriak.
Senja urung melangkah, kembali mendekati Rosa.
“Dengar Senja, aku membantu kamu mendapat pekerjaan, tapi kamu tidak usah mengatakan siapapun bahwa akulah yang membantu kamu.”
“Memangnya kenapa Non?”
“Aku tidak mau mendapat nama baik. Bahkan untuk simbokmu dan adikmu, jangan sampai diberi tahu. Yang penting kamu mendapat pekerjaan dan aku sudah senang. Jangan kamu kira itu karena aku, tapi teman aku. Jadi jangan menganggap aku yang menolong kamu. Ingat itu, Senja.”
“Baiklah Non, terima kasih banyak. Saya juga tidak terlalu sangat berharap pekerjaan yang muluk-muluk Non, menjadi pembantu juga saya mau. Yang penting saya punya penghasilan.”
“Iya, tenang saja, nanti aku bilang kepada teman aku, tapi ingat satu pesanku, jangan bilang siapapun bahwa aku yang membantu kamu. Aku tidak mau orang-orang memuji aku. Aku hanya meminta tolong teman aku karena aku kasihan sama kamu. Kamu mengerti kan Nja?”
“Iya, Non, saya mengerti. Non memang orang baik.”
“Jangan begitu, aku hanya suka membantu. Oh ya, begini saja, besok kamu datang ke rumah makan yang di depan itu ya, kita ketemuan di situ, jam sepuluh pagi. Aku nggak mau ke rumah kamu, kan aku sudah bilang bahwa aku tidak mau siapapun tahu bahwa aku yang membantu kamu?"
“Iya Non, siap. Jam sepuluh pagi saya akan sudah di situ.”
“Kalau aku belum datang, kamu tunggu dulu ya.”
“Ya Non. Baiklah.”
Senja pulang dengan riang, tanpa curiga mengapa Rosa meminta bahwa yang membantunya tidak usah dikatakan kepada siapapun juga.
***
“Memangnya Mbak akan bekerja sebagai apa?” tanya Rimba ketika sang kakak pulang dengan wajah berseri dan sambil masuk ke rumah mengatakan bahwa dia sudah mendapat pekerjaan.
“Belum tentu pekerjaannya apa, yang penting ada yang mau menolong aku untuk bisa segera mendapat pekerjaan.”
“Siapa dia? Teman Mbak?”
“Ya, seperti itulah. Teman yang sangat baik.”
“Dia tidak mengatakan pekerjaannya apa?”
“Belum mengatakan apa pekerjaannya.”
“Eh, Mbak harus hati-hati lho, nanti kalau pekerjaan yang nggak bener bagaimana?”
Senja terkekeh.
“Jangan sembarangan menuduh. Dia itu orang baik. Teman yang benar-benar baik. Masa iya akan memberi pekerjaan yang nggak bener.”
Senja meneguk segelas air putih sebelum kemudian mengganti bajunya.
Rimba sangat senang mendengar kakaknya sudah akan mendapat pekerjaan. Mereka adalah keluarga sederhana, mendapat sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa.
***
Pagi hari itu pak Wiguna sudah berdandan rapi. Bu Wiguna mengamatinya. Ada yang berbeda dari suaminya. Berdandan lebih rapi, dan selalu berbau wangi.
“Apakah Bapak masih akan menemani teman Bapak itu?”
“Aku mau ke kantor dulu.”
“Maksudnya setelah ke kantor akan ke mana? Ke rumahnya lagi?”
”Entahlah, aku belum tahu Bu, kalau dia masih mengeluh kesepian dan butuh seorang teman, maka aku akan kesana.”
“Apa dia perempuan?” baru kali itu bu Wiguna bertanya tentang teman akrab suaminya.
“Ya ampun Bu, apakah Ibu mengira temanku itu perempuan? Ya laki-laki lah Bu, masa perempuan harus aku tungguin siang malam, setiap hari pula.”
“Biasanya seorang laki-laki akan sungkan mengeluh sepi dan minta ditemani.”
“Dia itu teman akrabku Bu, sejak masih SMA dulu. Dia merasa sudah renta setelah anak-anaknya menikah, istrinya meninggal, jadi dia kesepian.”
Arka yang ada di ruang sebelah mendengarkan, dengan perasaan kesal kepada sang ayah. Ia tidak menyangka ayahnya sangat pintar berbohong. Ia seperti seorang pemain watak yang ulung. Arka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hanya khawatir sang ibu mengetahui kebohongan itu, lalu berpengaruh pada kesehatannya.
“Apakah Bapak akan bareng saya ke kantor?”
Akhirnya Arka keluar dan memotong tanya jawab yang membuatnya kesal itu.
“Tidak usah, Bapak bawa mobil sendiri saja seperti biasanya.”
“Iya Ka, kalau tidak membawa mobil, bagaimana kalau teman akrab ayahmu nanti menelpon dan membutuhkannya?” kata sang ibu, ringan, seperti tanpa beban.
Seperti sebuah anjuran yang tulus. Seperti sikap seorang istri yang sangat menjaga suaminya. Hati Arka bertambah sakit.
“Kalau begitu Arka berangkat dulu ya Bu,” kata Arka sambil mencium tangan ibunya.
“Hati-hati ya Nak. Omong-omong bibik bilang kalau berasnya sudah menipis, apa kamu bisa pesan lagi kepada temanmu itu?”
“Tentu saja bisa Bu, apakah harus hari ini?”
“Tidak, kata bibik masih cukup sampai minggu depan.”
“Ya sudah, Arka juga belum bisa ke sana dalam satu dua hari ini.”
“Tidak bisa menelpon?”
“Tidak bisa Bu, mereka tidak punya ponsel.”
“Oh, kasihan. Ya sudah, dua tiga hari juga tidak apa-apa. Bibik bilang masih bisa dipakai untuk minggu depan.”
“Kalau terlalu buru-buru ya beli di tempat lain, yang dekat-dekat sini saja,” sambung pak Wiguna sambil mengikuti Arka yang sudah berjalan lebih dulu.
“Nanti dua atau tiga hari lagi Arka pesankan Bu, setelah semua pekerjaan Arka selesai.”
Mereka berangkat ke kantor yang sama, tapi memakai mobil masing-masing. Bu Wiguna menghela napas panjang, lalu masuk ke dalam rumah.
***
Senja dan Rosa bertemu di rumah makan yang kemarin ditunjuk Rosa menjadi tempat pertemuan mereka. Senja sangat senang ketika melihat Rosa.
“Senja, sepeda kamu dititipkan di sini saja dulu, kamu akan aku antarkan ke rumah teman aku.”
“Baiklah, tidak apa-apa.”
Senja menitipkan sepedanya di rumah makan itu, lalu pergi bersama Rosa. Rosa membawanya ke sebuah rumah yang ternyata sebuah salon kecantikan.
Rosa menggandengnya masuk.
“Di sini nantinya saya bekerja?”
“Iya, Senja. Temanku baru saja membuka sebuah salon kecantikan. Dia bersedia menerima kamu sebagai karyawan.”
“Oh, di sini rupanya tempat kerjaku?”
Senja digandeng Rosa masuk ke dalam, tapi tiba-tiba ia melihat seseorang yang pernah dikenalnya. Ia hampir berteriak, tapi kemudian ia menutup mulutnya.
“Bukankah itu perempuan hamil yang dulu aku lihat bersama ayah mas Arka?” kata batinnya.
***
Besok lagi ya.