NAMAKU TETAP SENJA 03
(Tien Kumalasari)
Arka heran ketika mulutnya bisa berbelok mengucapkan nama gadis lugu itu. Belum selesai dia berpikir, pintu ruangannya terbuka.
“Arka, lama sekali sekretarismu melapor.”
Suara nyaring itu terdengar seperti sebuah lagu, tapi lagu yang sumbang, karena diucapkan secara arogan dan tanpa tata krama. Ia langsung masuk tanpa dipersilakan, membuat wajah Arka menjadi gelap.
Sekretaris yang semula terpaku kemudian mohon diri.
“Arka, tadi aku menelpon kamu, tapi kamu tidak merespon,” gadis itu merengek.
“Kamu kan tahu kalau ini jam kerja.”
“Kamu kerja di perusahaan ayahmu sendiri, serius amat?”
“Apa maksudmu? Di perusahaan siapapun yang namanya bekerja juga harus serius. Kamu bercanda?”
“Ya ampun Arka, hanya begitu saja marah.”
“Rosa, aku peringatkan kamu, jangan sekali-sekali menghubungi aku disaat jam kerja, apalagi sampai datang ke kantor seperti ini.”
“Arka, aku tadi hanya lewat, lalu mampir. Karena aku tadi menelpon dan kamu tidak mengangkat.”
“Begitu penting menemui aku gara-gara telpon tidak aku respon?”
“Sangat penting. Papaku hari ini pulang dari Jakarta. Beliau mengundang kamu nanti untuk makan malam bersama di rumah.”
“Maaf, aku belum tentu bisa.”
“Arka, tapi papa yang mengundang, kamu harus mengesampingkan yang lain dong Ka.”
“Nanti ada rapat setelah jam kantor, yang pastinya sampai malam. Mana bisa aku meninggalkannya.”
“Pasti papa akan kecewa.”
"Sampaikan maafku pada om Daryono,” kata Arka singkat, kemudian mengambil sebuah berkas dan membacanya dengan serius.
“Arka, jadi aku jawab apa pada papa?”
“Kamu bisa menirukan jawabku, bahwa aku tidak bisa karena masih ada kesibukan kantor yang tidak bisa aku tinggalkan,” kata Arka tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas di depannya.
Wajah Rosa cemberut, gelap seperti mendung.
“Maaf Rosa, sungguh aku sedang sibuk,” katanya, lagi-lagi tetap terpaku pada berkas di depannya.
Ucapan itu terdengar seperti mengusir secara halus.
“Jadi ….”
“Jadi tolong tinggalkan aku.”
Rosa berdiri, sangat kesal melihat Arka sama sekali tak memperhatikannya. Ia segera melangkah pergi, tanpa mengucapkan apapun. Arka membiarkannya.
Rosa juga anak pengusaha, sahabat ayahnya. Ia mendengar dari sang ayah, bahwa pak Daryono berharap mengambilnya sebagai menantu, dan tampaknya sang ayah menyetujuinya.
“Itu ide yang bagus. Rosa sangat cantik dan terpelajar. Ayahnya adalah sahabat bapak ini. Kami bersahabat sejak masih SMA. Tidak salah kalau sekarang kami berbesan.”
“Arka belum ingin punya istri.”
“Tidak sekarang, kamu bisa memilih kapan waktu yang baik untuk menikah.”
“Arka tidak suka dia.”
Dan jawaban itu membuat sang ayah murka.
“Apa maksudmu? Gadis seperti apa yang kamu sukai?” keras suara sang ayah.
Arka tak menjawab. Rosa memang cantik, tapi Arka sama sekali tidak tertarik. Dia sombong, mentang-mentang anak orang kaya. Dia juga manja. Kata ayahnya, semua keinginannya harus dipenuhi. Itu sejak Rosa masih kecil, bahkan sampai sekarang. Arka semakin tidak suka.
Ia kembali menekuni lembar demi lembar laporan yang sudah dibuka di depannya.
Tapi kemudian ponselnya berdering, dari ayahnya.
“Arka, kamu sedang sibuk?”
“Memangnya ada apa Pak?”
“Nanti malam pak Daryono mengundang kita untuk makan malam di rumahnya.”
"Tapi Arka tidak bisa Pak, nanti ada rapat setelah jam kantor, pastinya sampai malam.”
“Batalkan rapat itu, diundur sampai besok.”
“Tidak bisa Pak, ada sesuatu yang tidak bisa ditunda, pesanan dari PT. Waras, yang memprotes masalah harga. Semuanya naik dan dia tampaknya ingin datang dan berbicara langsung.”
“Katakan ditunda besok.”
“Jangan begitu Pak, kami sudah janji akan_”
“Tunda besok!” sentak sang ayah, membuat Arka berhenti bicara.
Sang ayah juga langsung menutup ponselnya, meninggalkan suara berdenging di telinganya.
***
Arka sudah memerintahkan kepada sekretarisnya agar menunda pertemuan penting itu untuk besok pagi. Ia pulang ke rumah dengan wajah suram. Ia tahu sang ayah begitu getol menjodohkan dirinya dengan Rosa. Tapi ia sungguh tak pernah mencintai Rosa. Mereka kenal sejak lama, tapi tak pernah ada ikatan apa-apa. Kedua orang tuanyalah yang begitu ingin berbesan, didukung Rosa sendiri yang tampaknya sangat mencintai Arka.
Arka sedih karena perintah sang ayah tak akan pernah bisa dibantah. Hal itu membuat konsentrasi bekerjanya menjadi kacau. Ia beranjak pulang ketika sudah memeriksa semua berkas. Hari masih siang, tapi ia tak bermaksud segera pulang ke rumah. Ketika ponselnya berdering berkali-kali, ia tak pernah mengangkatnya. Ia tahu sang ayah mengingatkannya tentang undangan makan malam itu.
Tanpa dia sadari, ia melewati lagi jalan di mana dia bertemu Senja, dan seperti sebuah keajaiban ketika ia benar-benar melihat sepeda butut yang dikayuh seorang gadis. Arka berdebar. Itu kan gadis yang tadi? Walau dari belakang, ia yakin pengendara sepeda itu adalah Senja. Ia menyalipnya, lalu berhenti tepat di depannya. Bukannya menjerit ketakutan, Senja yang turun tiba-tiba dari sepedanya kemudian menatap Arka yang juga turun dari mobil, dengan marah.
“Tuan keterlaluan. Kalau tiba-tiba saya menubruk mobil tuan, bukankah saya akan celaka dua kali?”
Arka tersenyum melihat keberanian gadis itu. Di kantornya semua orang terbungkuk-bungkuk di hadapannya, tapi gadis ini dengan lantang dan berani memarahinya.
“Mengapa dua kali?”
“Pertama, sepeda saya pasti rusak, kedua, Tuan pasti meminta ganti rugi karena pasti mobil Tuan ada yang lecet atau apa.”
“Maaf, Senja.”
Senja terkejut. Bagaimana tuan muda pengendara mobil itu bisa tahu namanya? Tiba-tiba Senja memukul dahinya. Ia baru ingat, bukankah tuan muda itu malaikat penolongnya?
“Mengapa kamu pukul kepalamu?”
“Tuan, maaf ya Tuan, saya lupa, Tuan adalah malaikat itu.”
“Hei, malaikat apa?”
Arka mendadak kehilangan rasa suntuknya akibat memikirkan orang tuanya. Berbicara dengan gadis yang ceplas-ceplos ini membuat rasa kesalnya hilang tiba-tiba.
“Bukankah Tuan yang memberi saya uang dan menolong mengangkat karung beras saya? Itu sebabnya saya menganggap Tuan adalah malaikat penolong saya.”
“Cuma begitu saja. Kamu dari mana? Panas-panas begini masih bersepeda?”
“Bukankah beras pesanan tadi harus saya bawa pulang, saya bersihkan lalu saya kirim kembali?”
“O, mengirim beras.”
“Ya sudah, mengapa Tuan mengajak saya mengobrol? Simbok pasti menunggu saya.”
“Tunggu dulu, hari sangat panas, kamu mau es buah?”
“Wah, tidak Tuan, saya tidak berani menghambur-hamburkan uang. Uangnya simbok untuk membayar sekolah saya dan adik saya,” kata Senja sambil kembali menaiki sepedanya, melewati tuan muda ganteng yang menatapnya sambil tersenyum.
“Dasar bodoh! Siapa suruh kamu membeli sendiri es buah itu?”
Arka menaiki mobilnya lagi, menuju ke sebuah warung es buah, memesan beberapa bungkus, lalu mengikuti sepeda kayuh yang berjalan begitu cepat.
“Gadis itu sangat bersemangat. Aku harus mengejarnya.”
Dan Senja kembali terkejut ketika mobil sang malaikat penolong kembali berhenti menghadangnya.
“Tuan itu kebangetan ya. Mentang-mentang punya mobil, membuat aku berkali-kali terkejut,” katanya yang terpaksa melompat turun dari sepedanya karena mobil Arka berhenti tiba-tiba di depannya.
Senja tak peduli, ia kembali menaiki sepedanya, tapi kemudian tuan ganteng itu berdiri di depannya sambil membawa bungkusan.
“Tuan kenapa sih, nggak kasihan sama saya, panas-panas begini tidak bisa segera sampai rumah,” sungutnya.
“Jangan takut, aku belikan es buah untuk kamu dan simbok. Nih.”
“Tuan?”
Si tuan muda langsung menggantungkan bungkusan es buah yang dibelinya di stang sepeda Senja.”
“Ini, untuk saya?”
“Ya, bawa pulang. Udara sangat panas,” kali ini Arka mendahului masuk ke mobilnya.
Senja menaiki sepedanya, lalu menoleh ke arah kemudi dan berteriak.
“Terima kasih, Tuan,” lalu ia mempercepat laju sepedanya.
Bukan Arka kalau membiarkannya. Ia mengikuti dibelakangnya, perlahan.
***
Besok lagi ya.