Sunday, July 12, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 008

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  008

(Tien Kumalasari)

 

Sumi tertunduk takut. Mengapa juga pemulung itu memberi obat gosok untuk tuannya? Bagaimana kalau menjadikan masalah? Sekarang sang nyonya tampak marah. Tapi benar kan, obat gosok itu diberi oleh pemulung? Sumi belum pernah melihat pemulung itu, apalagi yang sampai mengenal tuan Baroto.

“Nyonya, itu pemulung yang disukai non Ana,” tiba-tiba Rumi nimbrung.

“Apa maksudmu disukai non Ana?”

“Setiap hari non Ana ingin menemui dia, membawakan makanan untuk dia.”

“Mengapa kamu diam saja?” sang nyonya berbalik memarahi Rumi. Tuh kan, tadinya takut melapor, kali ini keceplosan, dia kan yang mendapat teguran?

Rumi menundukkan wajahnya.

“Saya sudah mengingatkan, non Ana tidak mau dihentikan. Saya dengar, non Ana minta agar pemulung itu dijadikan pengasuhnya.”

Sudah kepalang tanggung, sekalian Rumi melaporkan tingkah Ana akhir-akhir ini.

“Mana Ana? Bocah itu kelewat manja,” katanya sambil berjalan ke arah kamar Ana.

“Ma! Mana obatku?” teriak Baroto yang masih duduk menunggu.

Sang istri berbalik mendekati suaminya.

“Obat ini? Mas tahu tidak, ini obat murahan. Bagaimana seorang pemulung bisa memberikan obat gosok ini kepada Mas?”

“Sudah, bawa sini. Siapa tahu ini manjur.”

“Manjur dari mana? Botolnya saja buluk seperti ini,” katanya sambil mengulurkan botol obat gosok itu ke arah suaminya.

“Biar saja. Mengapa melihat botolnya? Yang penting kan isinya,” katanya sambil membuka botol kecil itu.

“Ya ampuun, biar Rumi menggosok sambil memijit kaki Mas.”

“Apa? Tidak … tidak, aku bisa sendiri kok.”

“Bagaimana seorang pemulung bisa memberi obat gosok kepada Mas?”

“O, tadi aku terjatuh di dekat dia, rupanya dia mengejarku untuk memberikan obar ini karena tahu kalau kakiku terkilir.”

“Ya ampuuun, obat dari pemulung segala Mas perhatikan. Aku juga sedang kesal pada Rumi. Mengapa membiarkan Ana bergaul dengan pemulung itu, bahkan menginginkan pemulung itu agar menjadi pengasuhnya?”

“Mengapa memarahi Rumi? Ana kalau sudah punya keinginan tidak bisa dihentikan. Dia menangis terus dan meminta agar dia menjadi pengasuhnya.”

“Ada apa dengan pemulung itu?”

“Aku tidak tahu, mungkin dia baik, atau Ana merasa kasihan kepada dia.”

“Aku tidak ijin kan!”

“Ma, mengapa tidak Mama ijinkan? Rumi meminta apapun kamu beri asalkan dia tidak rewel, kan?”

“Minta mainan, minta apapun aku beri, tapi inta agar menjadikan pemulung menjadi pengasuhnya? Mustahil bukan?”

“Mengapa mustahil? Pemulung juga manusia bukan? Pasti Ana meminta bukan tanpa alasan.”

“Jadi Mas mendukungnya?”

“Kamu dan aku tidak pernah ada di rumah, Ana butuh seseorang yang bisa membuatnya senang.”

“Bukankah Rumi selalu melayani dengan baik? Apa kurangnya Rumi? Dia bersih, rajin, bisa momong. Lhah pemulung? Bau, kotor, apa yang menarik? Mana pantas dibiarkan berada di rumah ini?”

“Apa pemulung tidak bisa mandi, berganti pakaian bersih. Dia itu sama Ma.”

“Benar, Mas mendukungnya?”

“Mamaaa … aku mau bibi Menur ada di sini, melayani aku,” tiba-tiba Ana keluar dari kamarnya dan merengek.

“Ini dia, anak manja, yang lama-lama keinginannya keterlaluan. Tadi mama sudah mau masuk ke kamar kamu dan menjewer kupingmu.”

“Aku mau bibi Menur.”

Tiba-tiba ponsel nyonya Baroto berdering. Ia segera meninggalkan Ana untuk menerima panggilan telpon itu.

“Ya .. ya, aku segera ke sana. Siapkan semua laporan,” jawabnya singkat, lalu beranjak mengambil tasnya yang tadi tergeletak sembarangan di meja.

“Aku mau ke kantor dulu, ada masalah yang harus aku selesaikan,” katanya sambil langsung bergegas pergi.

Baroto membiarkannya. Mereka bukan seperti suami istri. Hanya seperti kawan yang hidup serumah dan orang-orang menyebutnya suami istri. Bertahun-tahun mereka hidup hampir tak pernah punya kebersamaan. Biasanya Baroto pulang hanya sebentar, tapi kali ini agak lama. Ada urusan yang sangat penting, tentang Menur, bukan hanya karena Ana menginginkannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya harus bertemu dan berbincang lama. Ada yang ingin ditanyakannya, ada yang ingin diketahuinya tentang perasaan hatinya. Tak peduli Menur seorang pengais sampah yang kotor dan bau.

“Pa, kita cari bibi Menur.”

“Gurumu sudah datang. Kamu sekolah dulu. Nanti papa akan membawanya kemari.”

Benarkah Baroto akan berhasil?

***

Sambil berjingkrak Ana berlari masuk ke kamarnya, sementara Rumi sudah menyiapkan ruang untuk belajar di setiap harinya.

Baroto tersenyum sambil menimang botol obat gosok ini. Ternyata Menur tidak mengabaikannya. Ternyata dia peduli ketika kakinya terkilir. Ketika dia pergi, ternyata mengambil obat gosok itu, dan Baroto yang ‘patah hati’ susah payah kembali menaiki kudanya dan membawanya pergi.

“Ternyata dia mengikuti aku, Masa dia begitu saja bisa melupakan aku?”

Baroto menggosok pergelangan kakinya yang terkilir, terasa hangat. Dan rasa hangat itu bukan hanya terasa di pergelangan kakinya, tapi juga merayapi seluruh aliran darahnya, membuatnya gemetar, seperti orang yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Baroto merasa heran kepada dirinya. Banyak perempuan cantik di sekelilingnya, banyak dengan suka rela menyerahkan dirinya. Tapi dia tak pernah perduli. Lalu seorang Menur, pengais sampah, yang kata semua orang pasti kotor dan bau, mengapa membuatnya kalang kabut tidak karuan? Memang dulu pernah ada cinta diantara mereka. Tapi dengan berjalannya waktu, dengan kehidupan yang sangat jauh berlainan, lalu kegagalannya mencari Menur ke kampungnya tak lema setelah ia menikah, mengapa tiba-tiba cinta itu ternyata masih ada. Dulu Baroto tak perlu mengejarnya, karena Menur juga mencintainya? Tapi sekarang Menur bukan lagi Menur yang dulu. Ia seperti mawar berduri yang tak mudah disentuh.

Lalu kakinya tiba-tiba terasa ringan, kemudian dia memerintahkan tukang kuda untuk menyiapkannya. Bukan mobil mengkilap dan mewah yang akan menjatuhkan hati Menur. Dengan kuda, barangkali ingatan ke masa lalu bisa menggugah hatinya.

“Siapa tahu … gumamnya dalam hati sambil melangkah keluar.

***

 Menur melangkah cepat, ia harus segera menjauh sebelum Baroto menemukannya. Ia hanya ingin mengatakan bahwa ia bukan tak peduli, karenanya diberikannya obat gosok yang tadi diambilnya, tapi dia tak ingin menemuinya lagi. Ia tahu hal buruk akan menantinya kalau ia menurutkan kata hatinya. Baroto punya istri, punya keluarga. Walau mengatakan tak pernah saling mencintai, tapi mereka adalah suami istri. Menur tidak begitu gila kalau bermaksud merusak sebuah rumah tangga. Biarlah cinta mengendap dalam hati, tapi janganlah cinta membakar akal sehatnya.

Ia memasuki gang-gang kecil, yang kira-kira tidak terkejar seandainya Baroto begitu nekat ingin menemuinya. Ia punya tugas ke sekolah anaknya untuk membayarkan uang sekolah. Ia harus selesai menjual botol-botolnya yang hari itu kebetulan tidak seberapa banyak didapatkannya. Tapi ia harus mengumpulkannya untuk membayar uang ujian bagi Rahman. Kalau cukup ia akan membayarnya sekalian.

***

Baroto kesal, ia tak menemukan Menur. Apakah ia bisa menghilang? Ia terus saja membawa kudanya untuk menuju ke arah lain. Hari sudah siang ketika itu. Di depan sebuah sekolahan, ia menjadi perhatian banyak anak-anak sekolah yang sedang bubaran.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari mendekat. Kuda bagus … kuda bagus.

Baroto berhenti. Ia tak pernah merasa menyukai seorang anak, tapi entah mengapa ia kemudian membawa kudanya untuk berhenti., dan membiarkan anak kecil itu mengelus kudanya.

“Kamu suka?”

“Suka Om. Bagaimana rasanya naik kuda?”

“Kamu mau mencoba naik kuda?”

“Mau … mau … “

“Ikuuut,” teriak beberapa temannya yang lain.

Baroto membelalakkan matanya. Ada tiga … empat … ahaa … lima anak yang ingin  naik kuda?”

“Aku duluan,” teriak Rahman.

“Baiklah, satu persatu ya, tapi hanya muter ke situ saja,” kata Baroto sambil membantu anak kecil itu naik ke atas kudanya. Anak kecil itu bersorak.

Tiba-tiba ia melihat ibunya datang, hampir memasuki halaman sekolah.

Anak kecil yang adalah Rahman itu berteriak.

“Hei, mengapa baru datang? Kantor sekolah hampir tutup.”

Baroto tertegun. Dia kan Menur? Anak kecil itu mengenalnya?”

“Namamu siapa?”

“Saya Rahman Om.”

“Siapa wanita itu?”

“Oh, dia pembantu saya, hanya akan membayarkan uang sekolah saya.”

“Pembantu?”

***

Besok lagi ya. 


Saturday, July 11, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 46

 NAMAKU TETAP SENJA   46

(Tien Kumalasari)

 

Senja hampir berteriak, lalu dia sadar. Kan dia belum mengenalnya, jadi lebih baik dia pura-pura tidak pernah melihatnya saja. Dia diam ketika Rosa menemui seorang wanita cantik, lalu berbicara pelan, entah apa yang dibicarakan, Senja tidak mendengarnya. Ia hanya diam berdiri di dekat pintu sambil mengawasi wanita cantik yang duduk di depan kaca, seperti sudah terbiasa berada di tempat itu.

“Baiklah, aku mengerti. Tinggalkan saja dia di sini.”

“Senja, kemari, ini Bu Mira, pemilik salon ini. Kamu bisa membantu apa saja di sini.”

Senja tersenyum, lalu maju dan menyalami bu Mira dengan penuh hormat.

“Oh ya Rosa, itu anakku, Tantrina.”

“O, yang katamu sudah mengandung itu?”

“Iya, kebetulan menjadi istri orang kaya, sehingga bisa membangun salon aku yang tadinya hanya salon sederhana, menjadi salon yang lebih mewah seperti ini.”

“Syukurlah, aku ikut senang. Aku pergi dulu Senja. Kalau saatnya pulang aku akan menjemput kamu ke tempat di mana kamu menitipkan sepeda kamu.”

“Non, tidak usah, nanti saya mencari angkutan umum saja, dan setiap hari saya akan masuk bekerja dengan sepeda.”

“Baiklah, lain kali bisa begitu, tapi kali ini aku antar kamu pulang sampai ke rumah makan di mana kamu menitipkan sepeda kamu.”

“Tapi Non ….”

“Sudah, tidak usah protes. Nanti kalau tugasmu selesai, bu Mira akan mengabari aku, jadi kamu jangan pulang dulu sebelum aku sampai.”

“Non Rosa baik sekali, mau repot-repot untuk saya.”

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Di hari pertama kamu kerja, biarlah aku antar jemput kamu dulu. Selanjutnya kamu berangkat dan pulang sendiri juga tidak apa-apa.”

“Terima kasih banyak Non.”

Senja tersenyum. Gembira sekali bisa mendapat pekerjaan walau agak jauh dari rumah. Simboknya pasti senang ia bisa membantu meringankan bebannya. Yang terpenting, Rimba bisa melanjutkan sekolah setinggi mungkin, seperti cita-cita simboknya.

“Senja, kalau kamu haus bisa ambil sendiri minuman, letaknya di situ,” kata bu Mira sambil menunjuk ke dalam ruangan lain, di mana ada kulkas berada di ruangan itu.

“Baik Bu, sekarang saya harus mengerjakan apa?”

“Bantu bersih-bersih alat salon ini dulu. Belum ada pelanggan datang di jam segini, biasanya sebentar lagi akan agak ramai.”

“Baiklah.”

“Tantrina, kamu sudah selesai? Katanya hari ini rumah kamu sudah siap?”

“Iya Bu, aku menunggu dijemput suamiku. Aku telpon dia sebentar."

“Baiklah.”

Senja mulai mengerjakan apa yang disuruh majikannya. Membersihkan dan menata alat-alat salon. Tapi dalam hati dia berpikir, siapa suami perempuan bernama Tantrina yang ternyata anak pemilik salon ini? Benarkah dia istri muda pak Wiguna? Kalau tadinya ia mengira wanita itu adik Arka atau kakaknya, sekarang perkiraan itu dipatahkan oleh keterangan Arka yang katanya dia anak tunggal. Lalu siapa Tantrina yang begitu akrab dengan pak Wiguna? Benarkah seperti perkiraan simboknya bahwa Tantrina adalah istri muda pak Wiguna?

“Tantrina, sepertinya suami kamu sudah menjemput,” kata bu Mira.

Tak sengaja Senja menoleh ke arah jalan, tapi ternyata suami Tantrina tidak turun dari mobil. Ia membunyikan klakson berkali-kali, lalu Tantrina bergegas keluar setelah mencium tangan ibunya. Ia sama sekali tak menoleh kepada Senja, dan itu bukan masalah bagi Senja. Dia kan hanya pegawai, atau boleh dikatakan pembantu, mana mungkin disapa anak majikan?

“Hati-hati jalannya pelan saja, kamu itu sedang hamil, dan jangan lupa ibu butuh satu lagi almari,” teriak bu Mira.

Tantrina menoleh sejenak, sambil tersenyum dan mengangguk.

Senja pura-pura tak memperhatikan. Sedikit kecewa karena tak bisa melihat siapa suami Tantrina. Benarkah pak Wiguna?

“Senja, setelah selesai kursi-kursi ini letakkan masing-masing di depan cermin ya.”

“Baik, Bu.”

“Itu tadi satu-satunya anak aku. Sungguh beruntung diperistri orang kaya, sehingga salon ini yang tadinya kecil, kemudian diperbesar, dan ditambah peralatan yang lebih lengkap.”

“Bagus sekali, Bu.”

“Tantrina juga dibelikan rumah baru. Tadi dia mengabari rumah yang dipesannya sudah jadi, lalu Tantrina dijemput suaminya, karena perabot rumah tangga akan dikirim hari ini juga.”

“Saya ikut senang Bu.”

***

Simbok pulang saat hari masih siang. Rimba menyambutnya, dan belum sampai masuk ke rumah Rimba sudah mengabari kalau kakaknya benar-benar sudah mulai bekerja hari ini.

“Tadi dia sudah bilang mau ketemu temannya yang membantunya itu, tapi belum bilang bahwa pekerjaan itu sudah ada.”

“Tadi mbak Senja bilang, kalau dia sampai siang belum pulang, berarti dia langsung bekerja. Lha ini sudah siang, pastinya dia sudah bekerja.”

“Tapi belum tahu pekerjaannya apa dan di mana?”

“Belum tahu Mbok, nanti kalau dia pulang baru bilang.”

“Syukurlah kalau sudah mendapat pekerjaan. Mbakyumu itu susah dikasih tahu. Maksud Simbok biar dia melanjutkan kuliah dulu, tapi tidak mau.”

“Kata mbak Senja, kuliah bayarnya mahal.”

“Iya juga sih. Dia ingin, kamu nanti yang bisa sekolah sampai tinggi, biar tidak buta hurup seperti Simbok.”

“Nanti Simbok Rimba ajarin membaca ya. Simbok sih, tidak pernah mau kalau diajarin.”

“Nggak usah. Simbok malah bingung. Otaknya nggak nyampe. Biar begini saja, asal anak-anak Simbok bisa sekolah, Simbok sudah senang.”

Rimba tersenyum. Biar masih kecil tapi kehidupan yang sederhana dan terkadang kelihatan sengsara, membuat dirinya bisa berpikir lebih dewasa. Ia paham apa yang dipikirkan simboknya, dan paham pula mengapa sang kakak bersikeras ingin bekerja. Rimba pun ingin melakukan sesuatu, tapi tangan kecilnya belum mampu berbuat banyak.

“Besok kalau Rimba sudah besar, Rimba juga ingin bekerja. Apa saja asal bisa menghasilkan uang, agar bisa membantu Simbok.”

“Apa maksudmu? Simbok suruh kamu belajar, bukan bekerja.”

“Maksud Rimba, sekolah sambil bekerja.”

“Tidak usah. Nanti malah mengganggu sekolah kamu, dan menghambat semuanya. Yang harus kamu lakukan adalah sekolah dan menjadi pintar.”

Rimba tersenyum, kemudian merangkul simboknya sambil berlinang air mata.

“Iya Mbok, siap laksanakan ….”

Sang simbok mengelus kepala anak laki-lakinya dan tak urung air matanyapun berlinang.

“Hidup ini susah le, kata orang … biarlah sekarang kita sengsara, kelak kita akan mengunduh buah yang kita tanam. Semoga Allah mengijabah semua doa Simbok.”

“Aamiin.”

***

Senja bekerja dengan sangat rajin. Bu Mira menatap Senja dengan tatapan kasihan. Gadis itu cantik, rajin dan sikapnya sangat baik. Ada rasa kasihan mengapa Rosa ingin memperlakukannya dengan perbuatan yang sangat kejam. Tapi bu Mira juga perempuan yang sangat doyan duit, dan ia sudah menerima bayarannya. Untuk itu ia harus membantu apa yang menjadi keinginan Rosa.

“Sebentar lagi Rosa akan menjemput kamu Senja, segera rapikan semuanya sebelum kamu pulang.”

“Baik, Bu.”

Senja tak pernah mengeluh. Ia hanya kurang suka kepada tamu laki-laki yang datang minta potong rambut, lalu menatapnya dengan tatapan yang menurut Senja sangat aneh dan membuatnya tak suka. Tapi Senja harus bersabar. Niatnya adalah bekerja dan mendapat uang. Ia harus menahan apapun walau dia sangat tidak suka. Ia juga baru tahu kalau salon bu Mira juga menerima pelayanan pijit. Untunglah itu bukan tugas Senja. Ada orang lain yang melakukannya. Senja hanya menyiapkan keperluan bu Mira tentang merapikan alat salon dan melayani ketika bu Mira sedang memotong rambut atau membersihkan wajah.

Senja sudah menyelesaikan tugasnya, dan bersamaan dengan itu Rosa benar-benar menjemputnya.

Senja sangat berterima kasih, dan semakin dalam rasa hormat dan terima kasihnya atas kebaikan si Non cantik yang dianggapnya banyak membantunya.

“Senja, setelah ini kamu akan berangkat bekerja dan pulang sendiri. Kamu tidak keberatan bukan?”

“Tentu saja tidak Non, saya sudah sangat berterima kasih Non membantu saya mendapatkan pekerjaan ini.”

***

Besok  lagi ya.

Friday, July 10, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 45

 NAMAKU TETAP SENJA  45

(Tien Kumalasari)

 

Wajah Senja sumringah, setengah berlari mendekati mobil. Ia merasa berhutang nyawa pada Rosa, jadi ia bersikap sangat baik.

"Non Rosa, saya minta maaf, ketika non Rosa sakit, saya tidak bisa membezoek, karena_”

“Sudah, tidak usah dibahas masalah itu.”

“Saya sangat berterima kasih, non Rosa sangat baik kepada saya.”

“Sudah semestinya berbaik hati kepada sesama kan?”

“Non Rosa sungguh berbudi.”

“Kamu ini sebenarnya mau ke mana?”

“Ini Non, mau mencari pekerjaan.”

“Oh iya, pastinya kamu sudah lulus ya Nja?”

“Iya Non, atas doa non Rosa, sudah lulus. Sekarang sedang berusaha untuk mencari pekerjaan.”

“Oh, kamu mau mencari pekerjaan? Ke mana?”

“Ke toko itu dulu, barangkali membutuhkan pelayan toko. Saya permisi dulu ya Non. Mau ke situ dulu.”

“Eit.. tunggu dulu Senja, kamu itu cantik, mengapa melamar menjadi pelayan toko?”

“Yang penting kan bukan wajahnya Non, saya hanya lulusan SMA. Biar cantik seperti bidadari ya nggak bisa bekerja di kantoran. Nggak apa-apa kok Non, saya tidak malu, yang penting bisa bekerja membantu Simbok.”

“Tunggu, ke sini dulu,” Rosa melambaikan tangannya, masih melongok di jendela mobilnya, tanpa mau turun.

Senja terpaksa mendekat, sebenarnya dia ingin segera pergi ke toko itu, sebentar lagi terik matahari akan lebih menyengat. Kalau tidak diterima bekerja di situ kan ia harus mencari yang lain.

“Aku bisa membantu kamu mendapatkan pekerjaan.”

Mata Senja berkilat. Wajahnya berseri. Non cantik yang baik hati ini akan membantunya mencari pekerjaan? Dalam hati Senja terus memuji-muji kebaikan Rosa. Dulu dikira sombong dan merendahkan  dirinya karena miskin, ternyata berkali-kali dia berbaik hati padanya.

“Itu benarkah Non?”

“Masa aku membohongi kamu? Mana lamaran kamu, biar aku bawa,” kata Rosa sambil mengacungkan sebelah tangannya, dan dengan riang Senja memberikannya.

“Kapan saya mulai bekerja Non?

“Nanti dulu, ini lamarannya aku bawa dulu, kamu tunggu, nanti aku kabari ketika kamu sudah siap diterima bekerja.”

“Oh, baiklah Non, jadi sekarang saya pulang dulu kan?”

“Iya, pulanglah, nanti aku kabari, secepatnya. Aku harus menemui teman aku dulu.”

“Baiklah, terima kasih banyak Non. Tapi saya benar-benar diterima kerja kan? Atau masih belum tentu?”

“Aku usahakan kamu benar-benar diterima. Jangan khawatir.”

“Baik Non, terima kasih banyak,” jawabnya masih dengan seri gembira di wajahnya.

“Tapi tunggu dulu Senja,” tiba-tiba Rosa berteriak.

Senja urung melangkah, kembali mendekati Rosa.

“Dengar Senja, aku membantu kamu mendapat pekerjaan, tapi kamu tidak usah mengatakan siapapun bahwa akulah yang membantu kamu.”

“Memangnya kenapa Non?”

“Aku tidak mau mendapat nama baik. Bahkan untuk simbokmu dan adikmu, jangan sampai diberi tahu. Yang penting kamu mendapat pekerjaan dan aku sudah senang. Jangan kamu kira itu  karena aku, tapi teman aku. Jadi jangan menganggap aku yang menolong kamu. Ingat itu, Senja.”

“Baiklah Non, terima kasih banyak. Saya juga tidak terlalu sangat berharap pekerjaan yang muluk-muluk Non, menjadi pembantu juga saya mau. Yang penting saya punya penghasilan.”

“Iya, tenang saja, nanti aku bilang kepada teman aku, tapi ingat satu pesanku, jangan bilang siapapun bahwa aku yang membantu kamu. Aku tidak mau orang-orang memuji aku. Aku hanya meminta tolong teman aku karena aku kasihan sama kamu. Kamu mengerti kan Nja?”

“Iya, Non, saya mengerti. Non memang orang baik.”

“Jangan begitu, aku hanya suka membantu. Oh ya, begini saja, besok kamu datang ke rumah makan yang di depan itu ya, kita ketemuan di situ, jam sepuluh pagi. Aku nggak mau ke rumah kamu, kan aku sudah bilang bahwa aku tidak mau siapapun tahu bahwa aku yang membantu kamu?"

“Iya Non, siap. Jam sepuluh pagi saya akan sudah di situ.”

“Kalau aku belum datang, kamu tunggu dulu ya.”

“Ya Non. Baiklah.”

Senja pulang dengan riang, tanpa curiga mengapa Rosa meminta bahwa yang membantunya tidak usah dikatakan kepada siapapun juga.

***

“Memangnya Mbak akan bekerja sebagai apa?” tanya Rimba ketika sang kakak pulang dengan wajah berseri dan sambil masuk ke rumah mengatakan bahwa dia sudah mendapat pekerjaan.

“Belum tentu pekerjaannya apa, yang penting ada yang mau menolong aku untuk bisa segera mendapat pekerjaan.”

“Siapa dia? Teman Mbak?”

“Ya, seperti itulah. Teman yang sangat baik.”

“Dia tidak mengatakan pekerjaannya apa?”

“Belum mengatakan apa pekerjaannya.”

“Eh, Mbak harus hati-hati lho, nanti kalau pekerjaan yang nggak bener bagaimana?”

Senja terkekeh.

“Jangan sembarangan menuduh. Dia itu orang baik. Teman yang benar-benar baik. Masa iya akan memberi pekerjaan yang nggak bener.”

Senja meneguk segelas air putih sebelum kemudian mengganti bajunya.

Rimba sangat senang mendengar kakaknya sudah akan mendapat pekerjaan. Mereka adalah keluarga sederhana, mendapat sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang luar biasa.

***

Pagi hari itu pak Wiguna sudah berdandan rapi. Bu Wiguna mengamatinya. Ada yang berbeda dari suaminya. Berdandan lebih rapi, dan selalu berbau wangi.

“Apakah Bapak masih akan menemani teman Bapak itu?”

“Aku mau ke kantor dulu.”

“Maksudnya setelah ke kantor akan ke mana? Ke rumahnya lagi?”

”Entahlah, aku belum tahu Bu, kalau dia masih mengeluh kesepian dan butuh seorang teman, maka aku akan kesana.”

“Apa dia perempuan?” baru kali itu bu Wiguna bertanya tentang teman akrab suaminya.

“Ya ampun Bu, apakah Ibu mengira temanku itu perempuan? Ya laki-laki lah Bu, masa perempuan harus aku tungguin siang malam, setiap hari pula.”

“Biasanya seorang laki-laki akan sungkan mengeluh sepi dan minta ditemani.”

“Dia itu teman akrabku Bu, sejak masih SMA dulu. Dia merasa sudah renta setelah anak-anaknya menikah, istrinya meninggal, jadi dia kesepian.”

Arka yang ada di ruang sebelah mendengarkan, dengan perasaan kesal kepada sang ayah. Ia tidak menyangka ayahnya sangat pintar berbohong. Ia seperti seorang pemain watak yang ulung. Arka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hanya khawatir sang ibu mengetahui kebohongan itu, lalu berpengaruh pada kesehatannya.

“Apakah Bapak akan bareng saya ke kantor?”

Akhirnya Arka keluar dan memotong tanya jawab yang membuatnya kesal itu.

“Tidak usah, Bapak bawa mobil sendiri saja seperti biasanya.”

“Iya Ka, kalau tidak membawa mobil, bagaimana kalau teman akrab ayahmu nanti menelpon dan membutuhkannya?” kata sang ibu, ringan, seperti tanpa beban.

Seperti sebuah anjuran yang tulus. Seperti sikap seorang istri yang sangat menjaga suaminya. Hati Arka bertambah sakit.

“Kalau begitu Arka berangkat dulu ya Bu,” kata Arka sambil mencium tangan ibunya.

“Hati-hati ya Nak. Omong-omong bibik bilang kalau berasnya sudah menipis, apa kamu bisa pesan lagi kepada temanmu itu?”

“Tentu saja bisa Bu, apakah harus hari ini?”

“Tidak, kata bibik masih cukup sampai minggu depan.”

“Ya sudah, Arka juga belum bisa ke sana dalam satu dua hari ini.”

“Tidak bisa menelpon?”

“Tidak bisa Bu, mereka tidak punya ponsel.”

“Oh, kasihan. Ya sudah, dua tiga hari juga tidak apa-apa. Bibik bilang masih bisa dipakai untuk minggu depan.”

“Kalau terlalu buru-buru ya beli di tempat lain, yang dekat-dekat sini saja,” sambung pak Wiguna sambil mengikuti Arka yang sudah berjalan lebih dulu.

“Nanti dua atau tiga hari lagi Arka pesankan Bu, setelah semua pekerjaan Arka selesai.”

Mereka berangkat ke kantor yang sama, tapi memakai mobil masing-masing. Bu Wiguna menghela napas panjang, lalu masuk ke dalam rumah.

***

Senja dan Rosa bertemu di rumah makan yang kemarin ditunjuk Rosa menjadi tempat pertemuan mereka. Senja sangat senang ketika melihat Rosa.

“Senja, sepeda kamu dititipkan di sini saja dulu, kamu akan aku antarkan ke rumah teman aku.”

“Baiklah, tidak apa-apa.”

Senja menitipkan sepedanya di rumah makan itu, lalu pergi bersama Rosa. Rosa membawanya ke sebuah rumah yang ternyata sebuah salon kecantikan.

Rosa menggandengnya masuk.

“Di sini nantinya saya bekerja?”

“Iya, Senja. Temanku baru saja membuka sebuah salon kecantikan. Dia bersedia menerima kamu sebagai karyawan.”

“Oh, di sini rupanya tempat kerjaku?”

Senja digandeng Rosa masuk ke dalam, tapi tiba-tiba ia melihat seseorang yang pernah dikenalnya. Ia hampir berteriak, tapi kemudian ia menutup mulutnya.

“Bukankah itu perempuan hamil yang dulu aku lihat bersama ayah mas Arka?” kata batinnya.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, July 9, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 44

 NAMAKU TETAP SENJA  44

(Tien Kumalasari)

 

Bu Wiguna menerima ponsel yang diberikan Arka. Ia membaca semua chating dari Arka dan balasan yang diberikan suaminya. Arka menunggunya dengan berdebar. Apakah ada yang membuat ibunya curiga?

Tak lama kemudian ponsel itu dikembalikannya kepada Arka.

“Seperti yang Ibu duga. Ia sangat memperhatikan temannya yang katanya habis operasi, sampai berhari-hari tidak ke kantor.”

“Sebenarnya siapa teman Bapak itu, apa Ibu tahu? Dia laki-laki atau perempuan?”

“Ibu tidak pernah menanyakannya. Tapi yang jelas dia bukan orang yang masih muda. Tadi dia mengatakan bahwa ia mengantarkan anak temannya itu melihat rumah di perumahan baru bukan?”

“Iya.”

Dan Arka juga berpikir bahwa wanita yang tadi dilihat Senja bukan seseorang yang dimaksud oleh ayahnya dan dianggapnya teman. Teman beneran, atau hanya teman akal-akalan ayahnya untuk mengelabui keluarganya?

Arka hampir yakin kalau ayahnya berbohong. Mencari rumah untuk anak temannya? Lalu berjalan sambil merangkul pundaknya? Arka bukan anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja. Kalau sang ibu kelihatan percaya, tapi tidak dengan dirinya. Cerita sang ayah tidak sesuai dengan apa yang dilihat Senja. Yang namanya teman atau anak temannya, pastilah hanya karangan ayahnya.

Ia akan berusaha menyelidikinya, untuk memastikan kebenaran yang sesungguhnya. Biarlah untuk sementara ibunya mempercayai suaminya.

“Akhir-akhir ini ayahmu kelihatan agak aneh.”

Arka menatap ibunya. Apakah sang ibu mulai merasa curiga atas sikap sang ayah yang kelihatan aneh?

“Mengapa Ibu menganggapnya aneh?”

“Ayahmu tidak pernah peduli dengan orang lain. Tapi beberapa hari terakhir ini, tampak sangat perhatian kepada yang disebutnya ‘teman’."

“Apa Ibu tidak kenal pada semua teman-teman Bapak?”

“Tidak semua, hanya beberapa, yang ada hubungannya dengan bisnis ayah kamu.”

“Apa Ibu mencurigai sesuatu?”

“Apa maksudmu? Apa yang harus Ibu curigai?”

“Ya sudah, kalau tidak. Misalnya perubahan dari tidak peduli kepada orang lain, lalu berubah jadi peduli, itu lho Bu.”

“Perubahan yang bagus kan Ka?”

“Semoga akan terus begitu, selalu baik kepada orang lain.”

“Aamiin. Tapi katanya cepat pulang, mengapa lama sekali belum pulang?”

“Rumah temannya jauh, barangkali,” kata Arka seenaknya.

“Tampaknya memang begitu.”

***

Wanita itu cantik, namanya Tantrina, masih muda, sedikit genit. Dulu ia pelayan sebuah rumah makan, di mana pak Wiguna sering makan di rumah makan itu. Karena genit, pak Wiguna suka menggodanya. Bukan karena pak Wiguna ganteng dan muda, kalau Tantrina mau digoda. Pak Wiguna kaya dan sangat royal. Setiap kali membayar makanan, selalu ada uang yang lumayan banyak tersisa dari bil yang disodorkan. Tentu saja Tantrina suka. Lalu pemberian demi pemberian itu berlanjut … bukan hanya melayani makan, tapi juga melayani sesuatu yang lain, yang seharusnya terlarang. Tapi bukankah uang punya kuasa?

Beberapa bulan kemudian Tantrina tak terima hanya dijadikan pelampiasan. Pak Wiguna diminta menikahinya, walau hanya menikah siri. Itu sebabnya ketika di rumah sakit saat membezoek Rosa, ia terkejut mendengar nama Tantrina Wiguna. Ia baru sadar kalau Tantrina ternyata mengandung anaknya.

Waktu itu Tantrina merasa sering mual dan muntah-muntah, lalu pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan suami sirinya. Ia juga baru tahu kalau ternyata dia sedang mengandung. Keadaan itu membuatnya bertambah manja dan banyak permintaan diajukannya kepada suami sirinya. Yang terakhir dia ingin punya rumah sendiri. Itu sebabnya pak Wiguna minta brosur kepada bagian pemasaran di perumahan elite yang baru dibuka, dan sang nyonya yang asli sempat melihatnya. Tidak masalah bukan? Nyonya yang lugu ternyata tak menaruh curiga. Bahkan ketika sang suami meninggalkan rumah dikira ke kantor, padahal tidak.

Hari sudah sore ketika tuan Wiguna berdiri dari ranjang mereka. Ia sudah berjanji kepada Arka bahwa dia akan segera pulang.

“Mengapa Bapak akan pergi meninggalkan aku? Aku masih sering mual-mual, siapa yang akan memijit tengkukku kalau aku mual dan muntah?” wanita itu merengek manja.

“Tantrina, aku punya keluarga. Belum waktunya mereka mengetahui hubungan kita. Kamu harus bersabar. Beberapa hari lagi rumah yang kita pesan akan siap. Perabot yang kamu minta sudah aku pesan. Begitu rumahnya siap, mereka akan mengirimkannya ke rumah, lalu aku akan mencarikan kamu perawat yang akan menjagamu siang malam, agar semua keperluan kamu dilayani.”

Wanita itu mengangguk. Ia bergayut di lengan suami sirinya, sampai sang suami siri memasuki mobilnya dan berlalu.

Tantrina tersenyum cerah. Tak apa melayani laki-laki setengah tua. Bukankah hidup berkecukupan sudah diimpikannya sejak lama?

***

Begitu memasuki rumah, pak Wiguna melihat istrinya duduk sendirian di ruang tengah.

“Maaf Bu, aku sangat terlambat. Dia itu sahabat aku sejak aku SMA, aku tidak tega meninggalkannya sebelum anaknya datang.”

“Minumlah dulu kopinya, keburu dingin. Sudah agak lama bibi menyiapkannya,” kata sang istri tanpa memperhatikan perkataan suaminya, karena dia sudah menduga apa yang akan dikatakannya saat datang.

“Ibu tidak marah kan, kalau aku sering memperhatikan dia?”

“Mana mungkin aku marah mendengar suami aku berbuat baik?”

Pak Wiguna tersenyum. Ia meneguk kopinya, kemudian berdiri lalu mencium kening sang istri.

“Ibu sehat kan?”

“Sangat sehat. Tapi agak pusing sekarang, gara-gara mencium bau parfum ini. Sejak kapan Bapak memakai parfum beginian? Bukan parfum seperti yang kita punya bukan?”

“Wah, ini gara-gara ketika aku sedang berjalan memasuki toko, lalu ada penjual parfum menyemprotkannya ke bajuku. Hmm… aku juga pusing. Biar aku suruh bibik mencucinya,” kata pak Wiguna sambil masuk ke kamar.

“Sekalian aku mandi Bu,” katanya sambil menutup pintunya.

Bu Wiguna tidak beranjak. Ia tampak seperti memperhatikan acara di televisi, tapi benarkah bu Wiguna sangat polos dan tidak tahu tentang apapun? Tak seorangpun tahu, karena wanita yang kelihatannya polos terkadang menyimpan sesuatu yang bisa membuat dunia bergetar.

***

“Simbok kalau mau berangkat ya berangkat saja. Biar aku yang memasak untuk makan siang nanti.”

“Katanya kamu mau pergi melamar pekerjaan yang lain lagi?”

“Kan tidak harus terlalu pagi, nanti sehabis masak tidak apa-apa Mbok.”

“Ya sudah, kalau begitu. Kebetulan ada pelanggan yang minta dikirim agak pagi.”

“Apa Simbok mau aku boncengin dulu?”

“Tidak, bonceng gimana. Apa kamu lupa kalau Simbok itu takut bonceng sepeda? Biar saja Simbok berjalan seperti biasa. Tempatnya tidak begitu jauh kok.”

“Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati ya Mbok, nanti setelah masak, Senja mau berangkat mencari pekerjaan. Doakan agar berhasil ya Mbok.”

“Tentu Simbok doakan. Tapi tidak usah tergesa-gesa. Sabar. Kalau sudah saatnya pasti dapat.”

“Aamiin. Ati-ati ya Mbok.”

***

Senja sudah selesai memasak. Ia berganti pakaian yang lebih pantas, kemudian menyiapkan lamaran untuk dibawanya.

Hari sudah agak siang walau matahari belum terik benar. Senja ingin memasuki sebuah toko, barangkali butuh pelayan toko. Kalau ke kantoran, Senja khawatir tidak diterima gara-gara ia hanya lulus SMA.

Ketika ia turun dari sepedanya dan sedang berjalan mendekati toko itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti.

“Senja!” sebuah suara memanggilnya, dari kaca jendela mobil yang terbuka.

Senja terkejut. Ia melihat Rosa melongok dari jendela mobilnya.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, July 8, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 43

 NAMAKU TETAP SENJA  43

(Tien Kumalasari)

 

Arka tersenyum melihat Rimba menyambutnya dengan senyuman cerah. Ia menyerahkan sebungkus keresek berisi minuman.

“Ini, buah-buah segar, untuk kalian, dan Simbok ya.”

“Wah, ini jus buah kan?”

“Iya. Tadi sedang ngomongin aku? Tentang apa?”

“MBak Senja ketemu ayah mas Arka, sedang bersama kakak mas Arka,” kata Rimba sambil berjalan masuk, diikuti Arka.

 Mereka menuju ruang makan, di mana mbok Mangun masih duduk di sana, sedangkan Senja sedang membersihkan meja.

“Silakan duduk mas,” kata Rimba sambil meletakkan bungkusan jus, dan mengeluarkan gelasnya satu persatu.

“Wah, mas Arka selalu repot.”

“Tidak Mbok, ini jus buah segar, saya juga mau minum, Simbok pilih yang mana? Ini jambu, mangga, nanas, alpukat.”

“Terserah saja, Simbok apa-apa mau.”

“Ya sudah, Simbok yang alpukat ya, saya mau nanas saja,” kata Arka sambil memberikan segelas jus alpukat ke depan mbok Mangun.

"Ayo, semuanya.”

Mereka mencecap jus segar yang dibawa Arka dengan wajah berseri.

“Nja, tadi Rimba mengatakan kalau kamu tadi bertemu ayahku? Kalian saling bertegur sapa?”

“Tidak Mas, waktu itu saya sedang mau melamar pekerjaan di proyek perumahan yang belum lama dibuka, tiba-tiba saya melihat ayah mas Arka, sepertinya sedang bersama saudara mas Arka. Mungkin ayah mas Arka mau membelikan rumah di perumahan baru itu untuk putrinya.”

“Putri ayahku? Saudara aku?” tanya Arka heran.

“Iya, siapa lagi? Wanita itu cantik, berjalan bersama ayah mas Arka yang merangkul pundaknya sambil menuding-nuding ke arah rumah yang baru di bangun.”

Arka sangat terkejut? Seorang wanita cantik? Bersama ayahnya, dan ayahnya merangkul pundaknya?

“Kok mas Arka kelihatan aneh. Wanita itu sedang mengandung. Adik mas Arka atau kakak mas Arka?”

Arka teringat apa yang pernah dikatakan sang ibu, ketika sang ibu menemukan sebuah brosur rumah elite di tas kerja ayahnya. 

"Untuk kakakku atau adikku? Apa aku punya adik atau kakak? Sedang hamil pula?" pikir Arka.

“Yang sedang hamil, kakak mas Arka ya? Atau adik?” Senja mengulangi pertanyaannya.

“Aku tidak punya saudara, aku anak tunggal,” kata Arka pelan, sambi meneguk jusnya, tapi dengan perasaan yang kacau dan gelisah. Ini berita aneh. Ayahnya sedang bersama siapa? Wanita cantik, sedang hamil?

“Ya Tuhan, sepertinya ini berita buruk,” kata batinnya sambil menghabiskan satu gelas jusnya, kemudian ia berdiri.

“Sepertinya aku mau pamit dulu.”

“Kok buru-buru?”

“Lupa aku, ada yang harus aku kerjakan. Pamit dulu ya Mbok, Senja, Rimba,” kata Arka sambil bergegas pulang ke rumah.

***

Mbok Mangun dan anak-anaknya saling pandang dengan bingung. Sikap Arka tampak aneh. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Mereka juga merasa aneh ketika mendengar perkataan Arka bahwa dia tidak punya saudara.

“Ini aneh. Mas Arka itu anak tunggal. Lalu siapa yang tadi kamu lihat Nja?”

“Ya itu, seperti yang aku katakan. Ayah mas Arka, dengan seorang wanita hamil. Ayah mas Arka merangkul pundaknya erat, seperti seorang ayah merangkul anaknya."

“Atau seorang suami merangkul istrinya?” celetuk mbok Mangun yang mengejutkan Senja.

“Apa? Simbok mengira, itu istri pak Wiguna? Aku pernah melihatnya ketika mengirim beras, ibunya cantik, tapi sudah setengah tua. Bukan yang tadi.”

“Maksud Simbok, istri yang lain.”

“Istri muda?”

"Mungkin, tapi jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Itu hanya perkiraan Simbok. Orang kaya punya istri lebih dari satu kan boleh-boleh saja.”

“Ya Tuhan, apakah mas Arka tahu kalau ayahnya punya istri muda? Aku jadi menyesal mengatakannya. Bagaimana ini, sudah terlanjur,” kata Senja.

“Mau bagaimana lagi, kamu kan juga tidak tahu kalau mas Arka itu anak tunggal.”

“Iya Mbok, Senja pikir karena wanita itu masih muda, pastinya anak perempuan tuan Wiguna. Siapa tahu ternyata mas Arka anak tunggal. Bagaimana kalau keluarga mas Arka jadi kacau karena aku ngomong begitu tadi?”

“Semoga semuanya baik-baik saja. Simbok kira mas Arka akan bisa mengatasi semuanya tanpa harus menimbulkan keributan di keluarganya."

***

Arka sampai di rumahnya , tapi tidak mendapati sang ayah seperti biasanya kalau sang ayah tidak pergi ke kantor. Duduk berdua di teras bersama ibunya, atau duduk di ruang tengah sambil menikmati acara televisi.

“Bapak belum pulang Bu?”

“Lhoh, apa kamu tidak ketemu ayahmu di kantor? Bukankah tadi dia pergi ke kantor?

”Tidak. Sudah beberapa hari Bapak tidak pergi ke kantor.”

“Padahal tak lama setelah kamu berangkat, bapakmu juga berangkat.”

“Ke mana ya Bapak?”

“Apa masih mengurusi temannya yang habis operasi itu? Begitu perhatian sekali ayahmu kepada temannya itu.”

“Mungkin Bu, ya sudah, Arka ganti baju dulu.”

“Baiklah, biar bibik menyiapkan kopi seperti biasanya.”

Arka masuk ke dalam kamarnya dengan sejuta pikiran yang sangat mengganggu. Ayahnya membantu teman yang habis operasi? Sejak kapan ayahnya perhatian kepada orang lain? Apa ini ada hubungannya dengan apa yang dilihat Senja tadi? Wanita cantik, hamil, dan Senja mengira wanita itu kakak atau adiknya. Senja punya pikiran begitu karena wanita itu terlihat masih muda.

“Mau beli rumah di perumahan baru itu? Dan brosur yang ditemukan ibu itu pasti  bukan sekedar penawaran dari seorang marketing yang ingin agar laku dagangannya. Bapak melihat perumahan itu, yang pastinya akan dibelinya untuk wanita yang menurut Senja dirangkul pundaknya.”

“Kalau aku menanyakannya kepada Bapak nanti, dan ada Ibu di dekat kami, pasti Ibu akan sangat terpukul. Aku khawatir hal itu akan mengganggu kesehatan Ibu.”

Arka bingung akan bersikap bagaimana. Karena itu ia menelpon sang ayah. Tapi walau ponselnya aktif, pak Wiguna tidak mengangkatnya.

Lalu Arka menuliskan pesan singkat.

“Bapak ada di mana? Bapak tidak ke kantor ber hari-hari. Ibu mengira Bapak masih ada di kantor sore ini.”

Lalu Arka pergi mandi.

Ketika ia selesai mandi dan berganti baju rumahan, di ponselnya sudah ada jawaban sang ayah.

“Sedang menemani sahabat bapak yang habis dioperasi. Dia sendirian dan bapak merasa kasihan padanya”

Lalu dibawahnya ada lagi.

“Tapi bapak akan segera pulang.”

“Tadi Arka melihat Bapak di perumahan yang baru dibuka. Bapak mau beli rumah?”

Pertanyaan itu tidak dijawab, sampai Arka kemudian keluar untuk menemui ibunya. Ponsel dibawanya.

“Minumlah. Kopimu hampir dingin,” kata sang ibu.

Arka tersenyum, lalu duduk di dekat sang ibu, kemudian mencecap kopi itu, pelan. Ada rasa kasihan ketika melihat wajah ibunya yang polos, tanpa dosa, tapi tampaknya dikhianati.

Ketika notifikasi terdengar di ponselnya, sang ayah sudah menjawab pesannya.

“O, iya … tadi mengantar anak teman bapak, yang katanya mau beli rumah di sini. Dia lama tidak tinggal di sini, jadi tadi datang minta diantar melihat-lihat rumah.”

Arka mencibir dalam hati. Sang ayah selalu punya alasan. Tapi alasan terakhir membuat Arka hampir murka. 

"Menemani anak temannya, wanita muda, dan dia merangkul pundaknya saat berjalan?” kata batinnya.

Ia semakin yakin kalau sang ayah sedang menyembunyikan sesuatu, yang sebagian besar dari yang tersembunyi itu hampir diketahuinya. Arka sedih ketika mengingat ibunya.

“Ada apa? Tiba-tiba wajahmu muram setelah membaca pesan di ponsel kamu.

Arka memberikan ponselnya, agar sang ibu membaca seluruh pesan dan jawabannya.

***

Besok lagi ya.

 

 

Tuesday, July 7, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 42

 NAMAKU TETAP SENJA  42

(Tien Kumalasari)

 

Senja berhenti melangkah, dan terus mengawasi keduanya tak berkedip.

“Aku tidak lupa, dia ayah mas Arka, pengusaha kaya yang ketika bertemu aku sikapnya sungguh tidak ramah, mentang-mentang dia kaya dan aku hanya anak seorang penjual beras," gumam Senja.

Senja ingin menyapanya, tapi diurungkannya.

“Buang-buang waktu saja, paling sikapnya masih seperti dulu, meremehkan aku. Tapi siapa perempuan hamil itu? Jadi mas Arka punya kakak perempuan yang sedang hamil? Aku tidak pernah menanyakan keluarganya. Barangkali ayahnya mau membelikan rumah untuk calon cucunya. Namanya orang kaya, bayi belum lahir sudah akan dibelikan rumah. Ya sudahlah, aku teruskan saja langkahku. Aku kan sedang mencari pekerjaan, malah memikirkan sesuatu yang bukan urusan aku,” kata batin Senja.

“Mbak mau membeli rumah?” tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua menyapanya. Tampaknya ia seorang mandor bangunan. Dari tadi ia hanya mondar mandir ke sana kemari sambil mengawasi tukang bangunan yang sedang bekerja.

“Eh, tidak Pak. Mau tanya, kantor pemasaran di mana ya?”

“Di sana, ujung paling depan. Kalau tidak mau membeli rumah mengapa menanyakan kantor pemasaran.”

Senja tersenyum.

“Masa sih, penampilan seperti aku dikira mau beli rumah? Memangnya kelihatannya aku orang yang punya uang apa?” kata batin Senja.

“Saya mau mencari pekerjaan Pak. Tunjukkan saja di mana kantornya.”

“O, mau mencari pekerjaan? Masa gadis cantik mau menjadi tukang batu?”

Senja agak kesal, mandor itu sangat cerewet dan pertanyaannya yang aneh-aneh saja.

“Baiklah Pak, saya ke sana saja dulu. Yang diujung itu ya?” katanya sambil terus melangkah, tanpa menunggu jawaban pak mandor yang  ceriwis itu.

Pak mandor mengawasinya terus.

“Tukang batu, cantik, malah pada nggak mau bekerja, karena saling mencari perhatian. Tapi nggak tahu juga, barangkali melamar menjadi pekerja kantoran,” gumam pak mandor sambil terus mengawasi Senja yang sekarang sudah memasuki kantor pemasaran.

***

“Selamat siang,” sapa Senja, sopan.

“Selamat siang,” jawab seorang laki-laki muda yang sedang duduk di kursi kerja, sambil menghadapi laptop yang sejak tadi diotak-atiknya.

“Mau ketemu siapa ya?”

“Mau ketemu …. mm saya mau mencari pekerjaan.”

“Oh, silakan duduk.”

Senja duduk, kemudian menyodorkan map berisi berkas lamaran pekerjaan. Laki-laki itu kemudian membuka map nya.

“Kamu baru lulus SMA?”

“Benar Pak.”

“Nilai kamu bagus.”

Orang itu meletakkan lagi lembar-lembar lamaran yang tadi dibacanya. Tampaknya tidak sepenuhnya dia membaca. Kertas-kertas itu diletakkan lagi di dalam map, kemudian map itu ditutupnya.

“Perusahaan kami sedang membuka beberapa cabang dan butuh karyawan.”

Wajah Senja berbinar, ada secercah harapan ketika orang didepannya mengatakan kalau sedang butuh karyawan.

“Tapi yang kami butuhkan adalah seorang sarjana tehnik dan sarjana ekonomi, bukan lulusan SMA seperti Anda.”

Senyuman yang semula tersungging, surut seketika.

Mereka butuh sarjana. Bukan lulusan SMA.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi,” kata Senja sambil meraih map lamarannya, kemudian membalikkan tubuhnya, dan keluar dari ruangan kecil itu.

Senja hanya berjalan kaki ketika itu, karena rumah simboknya tidak jauh dari lahan perumahan baru itu.

Dalam perjalanan keluar dari area perumahan itu, Senja agak risih karena beberapa tukang bangunan menggodanya. Tadinya terbersit juga keinginan bekerja walau menjadi tukang batu sekalipun. Tapi melihat lingkungan yang dianggapnya tidak ‘sehat’, Senja membatalkannya.

Ia berjalan ke rumah dengan lesu. Ada sesal, karena lulusan SMA ternyata tidak dibutuhkan. Tapi Senja bersikap wajar dan berusaha menekan kekecewaan hatinya. Barangkali bukan di sana tempat yang pantas untuk dirinya, besok atau lusa ia harus berusaha lagi.

***

Sesampai di rumah ternyata Rimba sudah pulang dari sekolah.

“Kok sudah pulang?”

“Pulang pagi, besok kan libur panjang.”

“O iya, kamu sudah naik kelas enam kok ya. Ati-ati, belajar harus lebih rajin, sebentar lagi ujian lho.”

“Iya Mbak. Siap.”

Senja menuju ke dapur, mengambil segelas air minum, dihabiskannya. Udara sangat panas. Senja tiba-tiba merasa sedih mengingat simboknya. Udara panas seperti ini, simboknya masih berjalan menjajakan dagangan berasnya. Terkadang cepat habis, tapi terkadang juga pulang masih membawa beberapa kilo beras yang belum laku. Senja semakin bertekat untuk bekerja agar simboknya tidak bekerja terlalu keras.

“Mbak dari mana?”

“Dari mencari pekerjaan .”

“Mencari ke mana? Kok jalan kaki?”

“Di sebelah utara pasar itu kan ada perumahan yang baru di bangun. Mbak tadi mencoba melamar ke sana, karena kabarnya mereka membutuhkan karyawan.”

“Kalau di tempat bangunan ya karyawan bangunan. Mbak perempuan, mengapa melamar ke sana?”

“Maksud Mbak itu bukan menjadi tukang bangunan, tapi di kantornya.”

“Diterima?”

Senja menggoyangkan tangannya.

“Tidak Mba. Yang dibutuhkan sarjana-sarjana.”

“Lulusan SMA tidak mau?”

“Tidak. Tapi besok Mbak mau berusaha lagi mencari di tempat lain.”

“Semoga Mbak segera bisa bekerja.”

“Iya Mba ... Mbak ingin sekali meringankan beban Simbok,” kata Senja sambil duduk di kursi makan.

“Ayo kita makan Mbak.”

Mereka makan dalam diam. Senja masih terbawa rasa kecewa karena tidak diterima bekerja gara-gara dia bukan sarjana.

“Kalau memang tidak bisa mendapat pekerjaan, Mbak mau jualan beras saja seperti Simbok.”

“Dengan begitu berasnya bisa laku lebih banyak ya Mbak.”

“Betul. Sama saja, berjualan juga bekerja. Aku kasihan sama Simbok.”

“Rimba juga kasihan sama Simbok. Nanti kalau lulus ini, Rimba juga mau bekerja saja.”

“Apa? Kamu jangan main-main Mba, simbok bekerja keras untuk menjadikan kamu supaya menjadi orang berpendidikan. Kalau lulus SD mau berhenti, lalu kamu mau jadi apa?”

”Kasihan sama Simbok.”

“Biar aku saja yang bekerja membantu Simbok, apapun pekerjaan itu, pokoknya beban Simbok bisa lebih ringan. Itu semua agar kamu bisa sekolah terus dan terus, sampai kamu menjadi orang. Kalau kamu berhasil, Simbok pasti senang. Jadi jangan pernah kamu ingin berhenti sekolah. Kamu anak laki-laki. Jangan mengecewakan Simbok.”

"Sedang cerita apa nih?” tiba-tiba mbok Mangun sudah sampai di depan mereka yang sedang makan.

“Horeee, Simbok sudah pulang. Ayo Mbok, makan sekalian.”

“Iya, makan dulu, Simbok bersih-bersih badan dulu, berdebu nih, terus ganti pakaian juga.”

“Kami tungguin Mbok,” kata Senja yang kemudian menyiapkan segelas air di meja, untuk simboknya.

***

“Kamu tadi jadi melamar kerja?” tanya mbok Mangun setelah siap makan bersama anak-anaknya.

“Jadi Mbok, tapi belum rejekinya, besok Senja mau cari lagi.”

“Harus sabar Nduk, cari pekerjaan memang tidak gampang. Tadi kamu jadi  ke perumahan yang baru dibangun itu?”

“Jadi. Baru ke situ Mbok. Tapi tidak diterima. Besok berusaha lagi. Oh ya, tadi aku melihat ayahnya mas Arka.”

“Dia yang punya perumahan baru itu?”

“Bukan. Sepertinya dia beli rumah di situ.”

“Apa ayah mas Arka belum punya rumah?”

“Orang kaya boleh kan Mbok, beli rumah sebanyak-banyaknya,” sambung Rimba.

“Sepertinya dia beli rumah untuk anaknya perempuan. Aku baru tahu, ternyata mas Arka punya saudara perempuan, sedang hamil. Pastinya ayahnya akan membelikan rumah untuk cucunya itu.”

“O, mas Arka punya saudara perempuan?”

“Sepertinya iya Mbok, tadi aku melihatnya, pak … siapa ya namanya … lupa … eh, tuan Wiguna melihat-lihat sambil merangkul wanita cantik itu, yang perutnya agak gendut, sedang melihat-lihat rumah, atau entahlah, barangkali sudah beli atau apa.”

“Kamu bertemu dia? Atau dia menyapa kamu?”

“Tidak Mbok, Senja hanya melihat dari kejauhan, tapi Senja yakin itu ayahnya mas Arka.”

“Kalau kenal, mengapa kamu tidak menyapa?”

“Sungkan Mbok, belum tentu dia suka.”

“Selamat siang,”

Mereka terkejut, itu suara Arka. Rimba segera berlari ke depan.

“Mas Arka, siang-siang sudah sampai di sini? Kami sedang membicarakan kakak mas Arka tadi,” celoteh Rimba.

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 008

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  008 (Tien Kumalasari)   Sumi tertunduk takut. Mengapa juga pemulung itu memberi obat gosok un...