DARAH CINTA DAN AIR MATA 37
(Tien Kumalasari)
Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta agar Sarah diijinkan diambilnya sebagai istri.
“Bowo, dengar, jodoh itu Gusti Allah yang menentukan. Jangan memaksakan kehendak. Sarah masih sekolah dan jauh dari pemikiran untuk menjadi istri.”
“Bukan itu Nek, Saya sudah mengatakannya, bukan tentang Sarah.”
“Baiklah, ceritakan. Kamu tampak sangat kusut.”
“Saya menemukan ketenangan ketika bersama Nenek. Sungguh. Saya tidak suka keluarga saya, apalagi ibu saya yang terlalu menekan saya dan memaksakan kehendak. Ijinkan saya berkeluh pada Nenek.”
“Baiklah. Bukankah sejak tadi aku sudah mengatakan bahwa kamu boleh mengatakan apa yang ingin kamu katakan?”
Bowo mengangkat wajahnya, lalu mengusap air matanya. Tapi ia masih ngelesot didepan nenek Suli.
“Bangkitlah, duduk yang baik.”
“Biarlah saya dekat dengan Nenek. Akan saya ceritakan semuanya tentang saya, keburukan-keburukan saya dan nasib sial yang kemudian menimpa saya.”
Tak urung runtuh belas kasihan nenek Suli melihat wajah Bowo yang begitu memelas.
”Ceritakanlah, anak muda," katanya sambil menyentuh bahu Bowo.
Lalu Bowo menceritakan semuanya, tentang sepak terjangnya, karena merasa wajahnya tampan dan uangnya yang banyak, lalu dia mempermainkan banyak wanita. Tapi sesungguhnya dia sudah berhenti, ketika melihat Sarah, ketika melihat kebaikannya dan perjuangannya. Dari yang tadinya ingin memaksa Sarah dengan tindakan yang arogan, kemudian runtuh penyesalah di hatinya, lalu bersikap sangat baik, berharap Sarah mau berpaling pada dirinya.
Ia bahkan menceritakan ketika Nenek jatuh sakit lalu memanggil dokter Harun dan mengantarkannya ke rumah sakit. Dan itu membuat nenek Suli terkejut.
“Jadi itu kamu?”
“Saya masih bersembunyi karena takut Nenek tidak mau ke rumah sakit kalau saya yang mengantar.”
“Apa kamu yang membayar semua biaya ketika saya dirawat?”
“Tidak. Eh, iya … tadinya, tapi Sarah mengembalikan semua uang saya, entah siapa yang kemudian memberinya uang.”
“Sarah tidak mau mengatakannya.”
"Cerita saya masih berlanjut Nek.”
“Baiklah.”
Lalu Bowo mengatakan tentang kedatangan Endang yang tiba-tiba, lalu memaksanya menikahinya. Dan Bowo kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan nenek Suli.
“Jadi itu yang membuat kamu sedih?”
“Nenek, ini adalah hukuman untuk saya. Saya tak berdaya dan harus memenuhi keinginannya.”
“Bukan memenuhi keinginannya Bowo, tapi memenuhi rasa tanggung jawab kamu karena kamu telah melakukan sesuatu yang seharusnya kamu pertanggung jawabkan. Mengapa kamu sedih?”
“Saya tidak mencintai Endang.”
“Kamu ini laki-laki macam apa? Kamu telah menodainya lalu kamu ingkar karena kamu tidak mencintainya? Alangkah buruknya sikapmu ini. Buruk dan tidak menunjukkan bahwa kamu adalah ksatria sejati,” tegur nenek Suli dengan wajah muram.
“Nenek ….”
“Kamu sudah berusaha memperbaiki kelakuan kamu yang tidak terpuji. Itu bagus, tapi ada sebuah tanggung jawab yang menunggu penanganan kamu, yaitu menikahinya. Mengapa kamu sedih? Menangis? Apa tidak kamu bayangkan bagaimana gadis bernama Endang itu membawa perut gendutnya ke mana-mana sedangkan laki-laki yang berbuat tidak mau bertanggung jawab? Alangkah terlukanya setelah kamu renggut kesuciannya kemudian kamu tinggalkan dengan dalih kamu tidak cinta. Kamu ini laki-laki kejam, Bowo.”
“Saya sudah bersedia menyanggupinya Nek.”
“Tapi tidak sepenuh hati kan? Nyatanya kamu nangis-nangis di sini, berkeluh tentang tidak adanya cinta di hati kamu terhadap gadis itu. Kok enak sebagai laki-laki. Kamu nikmati tubuhnya lalu berat bertanggung jawab karena tidak cinta.”
Bowo terdiam, ia mengangkat wajahnya dan mengusap sisa air matanya.
“Nenek jangan memarahi saya. Di rumah saya sudah habis diomelin ibu saya, saya hancur kalau Nenek juga memarahi saya. Hanya kepada Nenek saya berkeluh.”
“Apakah gadis itu dari kalangan orang biasa? Bukan anak orang kaya seperti idam-idaman ibu kamu?”
“Dia hanya pegawai toko.”
“Jadi kemarahan ibumu itu aku yakin pasti berbeda dengan kemarahan Nenek. Ibumu marah karena gadis itu bukan kalangan sederajat dengan keluarga kamu. Ya kan? Tapi Nenek marah karena kamu menyesali kesanggupan kamu untuk menikahi gadis itu. Apa kamu mengerti bedanya? Mana yang benar menurut kamu? Kemarahan ibu kamu atau kemarahan nenek Suli?”
Bowo terdiam.
“Duduklah yang baik, jangan ngelesot begini. Lalu renungkanlah apa yang Nenek katakan. Tapi semua itu terserah kamu. Apa kamu akan hidup dalam penyesalan, atau kamu akan hidup dalam rasa tanggung jawab kamu sebagai laki-laki... Nenek buatkan minum untuk kamu?”
“Tidak Nek, jangan. Tidak usah,” katanya sambil mengangkat tubuhnya dan duduk di kursi di depan nenek Suli.
“Baiklah. Sekarang renungkan dengan hati tenang, jangan menyesal karena sanggup menikahi, tapi menyesallah karena kamu telah melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Dan yang kamu hadapi sekarang ini, adalah penebusan dosa kamu, ingat itu. Ini juga sebuah peringatan agar kamu tidak mengulanginya.”
***
Bowo pulang dari rumah nenek Suli dengan hati yang lebih ringan. Ia menyadari semua kesalahannya. Ia tahu bahwa Endang membutuhkannya, bukan karena Endang sangat mencintainya dan berharap bisa menjadi istrinya, tapi ada segumpal nyawa di dalam rahimnya yang membutuhkan pengakuan seorang ayah.
Ia berjanji bahwa minggu depan ia akan menikahi Endang, yang semula dilakukannya dengan sangat terpaksa, tapi sekarang ia akan melakukannya dengan penuh keikhlasan. Didalam perut Endang ada darah dagingnya, yang tiba-tiba menggelitik hatinya untuk menyayanginya.
Tapi sesampai di rumah, sang ibu sudah menunggu. Bowo menghempaskan napas kesal. Pasti akan terjadi keributan, pasti ada yang tidak benar dengan keputusannya.
Bowo turun dari mobil, belum sampai dia naik ke teras, sang ibu sudah menyemprotnya.
"Apa yang akan kamu lakukan? Orang tua perempuan itu tadi kemari minta surat-surat yang entah aku tidak mau mendengarnya.”
“Mana dia?”
“Sudah aku usir.”
“Mengapa Ibu mengusirnya? Dia akan mengurus surat-surat untuk pernikahan.”
“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Mengapa kamu jadi menikahinya? Aku melihat ayahnya tadi, badannya bau, bajunya kusut. Hiih, dia akan menjadi besanku?”
“Bu, aku tidak bisa ingkar. Bayi yang dikandung Endang adalah darah dagingku.”
“Kamu kan bisa membayarnya?”
“Dia tidak mau. Kalau aku menolak, aku akan dilaporkannya ke polisi. Ibu kan sudah tahu karena aku sudah mengatakannya?”
“Ya sudah, terserah kamu, Ibu nggak ikutan. Dan jangan harap Ibu merestui pernikahan itu,” kata bu Lurah yang langsung berdiri dan pergi.
Bowo menghela napas lega, setidaknya tidak mendengar sang ibu mengomelinya lagi. Ia segera masuk ke dalam rumah, menyiapkan surat-surat yang pastinya dibutuhkan orang tua Endang.
***
Sarah pulang dari sekolah, dan bersyukur nenek Suli kelihatan baik-baik saja. Tapi Sarah heran ketika neneknya bercerita tentang Bowo.
“Jadi Bowo akan menikah?”
“Katanya minggu depan.”
“Aku tahu Endang. Dulu bersekolah di sekolah Sarah, setahun di atas Sarah. Orang tuanya menjadi sopir di sebuah perusahaan, entah perusahaan apa. Apa bu Lurah mau menerimanya?”
“Menurut Bowo, ibunya menentangnya. Tapi Bowo harus tetap menikahinya.”
“Syukurlah, semoga dia menjadi laki-laki baik yang bertanggung jawab.”
”Banyak sekali tadi Nenek bicara sama dia, semoga dia mau mendengarnya, dan kemudian menikahi Endang dengan ikhlas serta penuh rasa tanggung jawab."
“Oh iya, besok Nenek kontrol kan, Sarah akan minta ijin pulang lebih awal agar bisa mengantarkan Nenek.”
“Tidak, tadi Bowo mengatakan akan mengantarkan Nenek, jadi kamu sekolah saja seperti biasa.”
“Benarkah?”
“Tadi sebelum pulang dia mengatakannya.”
“Kok dia tahu kalau Nenek harus kontrol besok?”
“Dokter Harun kan pamannya.”
“Oh, iya, Sarah lupa.”
***
Tapi ketika esok harinya Bowo datang ke rumah nenek Suli, ia melihat ada mobil yang sudah terparkir di jalan depan rumah nenek Suli. Mobil yang dikenalnya. Apakah kali ini ia akan bersaing untuk berebut mengantar nenek Suli? Rasa kesal mulai menyulut hatinya.
***
Besok lagi ya.