SAKITKU ADALAH CINTAKU 11
(Tien Kumalasari)
Bukan hanya Arun yang heran, demikian juga bu Narya. Mereka tak percaya seorang bernama Narya Kusuma tiba-tiba perhatian kepada keluarga seorang anak muda yang dibencinya.
“Hei, mengapa kalian menatapku seperti itu?” tanya pak Narya kesal.
“Bapak menyuruh Arun ke rumah Zein dan memberikan sejumlah uang?” tanya Arun, sedikit ragu.
“Apa maksudmu bertanya seperti itu? Kamu mengira bapakmu ini mengigau?”
“Bukan begitu, hanya saja … Bapak kan sangat membenci Zein, sedangkan ….”
“Apakah manusia tidak boleh memiliki rasa kasih sayang kepada sesama? Kalau kamu tidak sanggup melakukannya, tanyakan saja di mana alamat lengkapnya, biar aku datang sendiri ke sana.”
“Bapak serius?” kali ini yang nimbrung adalah bu Narya. Ia benar-benar tak yakin.
“Apa Ibu tidak ikhlas kalau bapak memberi sumbangan kepada orang yang sedang kesusahan?” kata pak Narya sambil memandang tajam istrinya.
“Bukan tak ikhlas.. Ikhlas kok. Biar Arun melakukannya.”
“Kamu mau berangkat sekarang?” tanya pak Narya kepada Arun.
“Ya, tentu saja, setelah Arun menanyakan di mana alamat lengkapnya sehingga Arun tidak kesulitan menemukannya.”
“Aku menuliskan cek dulu sebentar.”
“Mengapa tidak memberi uang cash saja? Kalau cek kan mereka akan susah menguangkannya,” sambung bu Narya.
Pak Narya tampak berpikir. Iya juga. Kalau bentuknya cek, akan susah menguangkannya, apalagi kalau mereka sangat membutuhkannya.
“Baiklah, ibu benar. Ibu punya uang berapa? Ayo kita ke kamar dulu, dan Arun, siapkan amplop saja, aku dan ibumu akan menghitung uang yang kira-kira pantas untuk diberikan.”
Arun mengangguk. Ia masuk ke dalam kamar lalu buru-buru menelpon kakaknya. Ia menceritakan tentang keinginan ayah mereka untuk memberikan sejumlah uang kepada keluarga Zein. Tentu saja seperti juga Arun, Indras sangat terkejut dan heran.
“Apa kamu yakin bapak melakukannya? Jangan-jangan untuk orang lain dan kamu mengira itu untuk keluarga Zein.”
“Ya ampun Mbak, aku tuh sudah bertanya berkali-kali, dan memang bapak ingin memberikan sejumlah uang kepada mereka.”
“Bukan main, kalau itu benar.”
“Mana alamatnya, atau tuliskan saja, biar aku bisa mengerti lebih jelas.”
“Kalau saja aku bisa keluar barang sehari, aku pasti akan ikut bersama kamu.”
“Tidak usah, nanti bapak malah mengurungkan niatnya.”
“Ya, aku tahu, baiklah akan aku tuliskan. Dan jangan lupa katakan pada Zein bahwa sebenarnya aku ingin ikut.”
“Iya, pasti Zein juga tahu kalau Mbak tidak bisa ikut bersamaku. Cepat tuliskan alamatnya, bapak dan ibu sedang menghitung uangnya.”
“Baik, akan aku tuliskan, jangan lupa nanti sampaikan salamku ya.”
“Iya … iya. Sudah ngebet banget ya … kangen sama dia?”
Indras ingin memukul adiknya tapi keburu terdengar suara sang ayah memanggilnya.
“Arun, ini … cepat bawa sekarang, Bapak juga sudah menyuruh sopir mengantarkan kamu.”
“Baik.”
Arun menutup pembicaraan itu dan membaca alamat Zein yang sudah dituliskan Indras, masih dengan perasaan terheran-heran ketika menyaksikan betapa tiba-tiba sang ayah bisa berubah dalam sekejap mata. Apakah perasaan benci itu benar-benar hilang dalam sekejap mata?
***
Ketika Arun sudah berangkat, pak Narya masih duduk berdua dengan istrinya, dan berbincang lama. Intinya adalah bu Narya masih heran dengan perubahan sikap suaminya.
“Mengapa Ibu terus-terusan mengatakan heran? Apakah manusia tidak bisa berubah?”
“Mengapa dan apa yang membuat Bapak bisa berubah?”
“Mengapa Ibu menanyakannya? Apa Ibu tidak mendengar ketika Arun bercerita tentang ibu Zein yang sedang sakit keras? Apa Ibu tidak tersentuh, mendengar kisah seorang ibu yang rela membanting tulang demi pendidikan anaknya, demi mencukupi kebutuhan keluarganya?”
“Jadi karena itu?”
“Tiba-tiba bapak merasa, betapa sombongnya bapak ketika merendahkan kasta seseorang yang berada jauh di bawah kita. Bapak lupa ketika masih muda, orang tua bapak juga bekerja keras demi kehidupan anak-istrinya, demi sekolah anak-anak mereka, termasuk bapak ini? Dan bapak menyadari bahwa sebuah perjuangan demi keluarga itu adalah sesuatu yang sangat mulia. Trenyuh rasanya mendengar seorang ibu yang tanpa mengingat kesehatannya terus saja melakukan perjuangan mulia itu.”
Bu Narya mengangguk. Ia yang semula mendukung suaminya tentang sikap suaminya yang menentang hubungan Indras dan Zein, tiba-tiba sekarang bersikeras ingin membantunya, membuatnya tersentuh juga.
“Bapak benar. Kita telah melakukan suatu kesalahan dengan melupakan penderitaan kita sebelum Bapak berhasil mengangkat derajat kita menjadi orang yang punya nama dan disegani. Kita tidak tiba-tiba menjadi kaya raya. Ada masa-masa sulit yang kita lewati selama puluhan tahun.”
“Ya sudah, kita harus bersyukur karena entah bagaimana caranya maka kita diingatkan untuk menjalani perbuatan yang lebih baik.”
Tak cukup hanya itu, pak Narya segera memerintahkan anak buahnya agar menghubungi rumah sakit di mana ibu Zein dirawat. Ia minta agar rumah sakit memberikan perhatian kepada sakitnya, dan semaksimal mungkin berupaya menyembuhkannya. Untuk itu pak Narya juga mengirimkan sejumlah uang untuk biaya perawatan yang lebih maksimal.
***
Indras termenung di saat istirahat dan duduk sendirian. Tak percaya ketika tiba-tiba orang tuanya ingin membantu Zein yang ibunya sedang sakit keras.
Ada rasa lega yang kemudian menutupi rasa prihatinnya atas kesedihan kekasihnya, karena orang tuanya ikut memperhatikan sakit ibu Iman yang tergolong serius.
“Hei, mengapa sendirian? Mana Zein? Beberapa hari ini aku tak melihat kalian berduaan. Sedang bertengkar?” tiba-tiba Pri mengejutkannya.
“Tidak apa-apa. Zein sedang izin menunggui ibunya yang sedang sakit."
“Oh, ibunya sakit? Kirain kalian sedang marahan. Ikut prihatin ya, sakit apa?”
“Katanya jantung, sekarang keadaannya kurang baik.”
“Semoga membaik, aku ikut mendoakan.”
“Terima kasih Pri.”
“Kamu jangan ikutan sedih, lebih baik mendoakan saja.”
“Iya, aku tahu.”
Ponsel Indras berdering, rupanya Arun yang menelponnya, dan mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan ke rumah Zein.
“Jadi beneran nih, bapak ingin membantu Zein?”
“Ya beneran Mbak, masa bohong. Tapi ketika aku kelihatan heran saja, bapak langsung marah, merasa tidak dipercaya.”
“Apa ya, yang menyebabkan tiba-tiba bapak berubah?”
“Nggak tahu aku Mbak, tadinya aku hanya mengatakan kalau ibu Zein sakit, terus bapak bertanya pekerjaannya apa, terus bapak mungkin merasa bahwa perjuangan berat itu yang menyebabkan sakit, lalu runtuh deh belas kasihannya.”
“Semoga bapak tulus melakukannya.”
“Ya tulus Mbak, saya malah menduga, pada suatu hari nanti, bapak pasti merestui hubungan Mbak dengan Zein.”
“Aamiin.”
“Ya sudah Mbak, sudah hampir sampai nih. Nanti aku kabari lagi, termasuk keadaan ibu Zein juga.”
“Jangan lupa salamku ya.”
“Iya … iya, sudah aku ingat-ingat kok.”
“Dari adik kamu?” tanya Pri.
“Iya.”
“Apa adik kamu secantik kamu?”
Indras tertawa. Pri terkadang suka ngomong seenaknya, tapi memang begitulah dia.
“Memangnya kenapa?”
“Kalau secantik kamu, aku mau dong pacaran sama dia.”
Indras terkekeh geli.
“Besok kalau ketemu, bilang sendiri saja. Tapi sepertinya dia sudah punya pacar tuh.”
“Waduh, mengapa ya, gadis cantik selalu cepat punya pacar? Patah hati dong aku.”
Indras hanya tertawa. Kedekatannya dengan Pri bisa sangat menghibur.
***
Sementara itu Zein heran karena setelah lepas dari ruang ICU, ibunya dipindahkan ke ruang yang lebih baik.
“Mengapa ibu saya dipindahkan keruang ini?”
“Dokter yang meminta, agar bisa memantau lebih cermat. Ini kemauan dokter Ilham, yang menangani sakitnya bu Iman.”
“Tapi bukankah dengan begitu biayanya akan lebih mahal?”
“Ya, tentu saja.”
“Suster, kami orang tidak punya, kami tidak bisa membayar mahal,” kata Zein.
“Saya tidak tahu mas, mas tanya saja kepada dokter Ilham, kami hanya menjalankan perintahnya.”
“Zein.”
Zein terkejut. Ia tentu saja mengenal adiknya Indras. Tapi ia terkejut melihatnya datang. Zein melongok ke arah belakang gadis itu, mengira Indras datang bersamanya, tapi Arun hanya sendiri.
“Aku datang sendiri, Zein. Bagaimana keadaan ibu?”
“Kemarin sempat dibawa ke ruang ICU karena keadaannya memburuk, tapi sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat, yang tampaknya itu ruang khusus, entahlah, aku bingung kan di ruang itu biayanya lebih mahal?”
“Bukankah yang penting ibu bisa segera sembuh ?”
“Itu benar. Tapi ….”
“Zein, aku mendapat perintah dari bapak, untuk memberikan ini untuk kamu.”
“Apa? Bapak siapa?”
“Bapakku. Pak Narya.”
“Apa?” mata Zein terbelalak. Bukannya gembira, wajahnya malah tampak muram.
***
Besok lagi ya.