DARAH, CINTA DAN AIR MATA 15
(Tien Kumalasari)
Fajar turun dari mobilnya, lalu menatap Sarah yang wajahnya berseri-seri.
“Korannya masih ada berapa?”
“Memangnya Mas mau beli berapa? Beli koran seperti beli makanan saja,” omel Sarah sambil tersenyum. Tapi ia mengulurkan selembar koran kepada Fajar.
“Aku bilang semua.”
“Semua? Kamu ketularan Mentari ya, borong-borong koran?”
“Ada yang mau, trus nanti aku bagi-bagi.”
“Bener nih?”
“Ya bener, masa aku bohong sih?”
“Tinggal lima … eh, enam lembar.”
“Baik, mana, berikan padaku.”
“Bener nih?”
“Gimana sih kamu ini? Semua ya semua, ini uangnya.”
“Jangan bilang nggak mau menerima kembaliannya ya, tunggu.”
“Tidak usah, ini cukup.”
“Mas, kok gitu sih.”
“Lebih baik gitu, daripada gini,” canda Fajar.
“Kamu kemarin nggak jualan ya?” tambah Fajar.
“Iya, di rumah ada tamu.”
“Oh, tamu penting rupanya. Ngelamar kamu?”
”Iya.”
“Eh, selamat ya. Kapan nikah?”
“Jangan ngaco ah, sudah, sana pergi, aku mau pulang.”
“Pulang?”
“Iya pulang, kan dagangan sudah ada yang borong? Nenek pasti senang aku pulang lebih awal.”
“Sayang aku belum pernah ketemu nenek kamu. Waktu mengantarkan kamu malam-malam itu, aku kan nggak sempat mampir.”
“Memang nggak aku bolehin mampir. Kan sudah malam.”
“Kapan-kapan aku mau ke rumah kamu.”
“Jangaaaan.”
“Kok jangan.”
“Mau apa ke rumah aku? Rumahku jelek. Kamu nggak pantas masuk ke rumah orang miskin.”
“Kata siapa? Aku kan mau ketemu nenek kamu, bukan ketemu rumah kamu.”
“Sudah, pergi sana, aku mau cepat pulang.”
Fajar tersenyum, lalu melambaikan tangannya ke arah Bimo yang berdiri mematung di bawah pohon. Bimo membalasnya, sambil tersenyum juga.
***
Sarah kembali mendekati Bimo, ia ambil sisa air minumnya, lalu sambil ngelesot ia menenggaknya habis. Bimo menatapnya sambil tersenyum. Sarah merogoh sakunya dan menghitung uang pendapatannya.
“Banyak?” tanya Bimo.
“Lumayan. Bisa setoran dan mendapat sisa yang lumayan. Habis, mas Fajar tadi tidak mau menerima kembalian sih. Sebenarnya nggak enak juga, tapi dia memaksa, bagaimana.”
“Tidak apa-apa. Itu kan rejeki buat kamu. Dia baik sekali pada kamu ya.”
“Mas Bimo juga baik sekali padaku.”
“Tapi Aku tidak punya uang lebih untuk memborong koran kamu. Apalagi aku belum lama bekerja dan hanya sebagai pesuruh kantor. Kantor yang baru dibuka juga.”
Sarah terkekeh lucu.
“Mengapa bicara tentang memborong koran? Mas Fajar bilang korannya akan dibagi. Masa beberapa koran akan dibaca sendiri.”
“Dia hanya ingin membantu kamu.”
“Mas Bimo juga banyak membantu aku. Jangan dinilai uangnya. Apa yang mas Bimo lakukan sangat berarti bagi aku. Mas Bimo salah satu sahabat aku yang terbaik.”
“Tapi aku miskin.”
“Apakah kebaikan dinilai dari kaya dan miskin? Kebaikan bisa berupa apa saja bukan? Mas Bimo terlalu merendah. Jangan berkecil hati ketika nasib membawa kita kepada hidup yang kekurangan atau pas-pasan. Dan jangan berbangga hati kalau memiliki harta yag berlimpah ruah. Manusia itu sama saja di mata Allah.”
“Ya ampun Sarah, kamu masih sangat muda tapi bisa bicara demikian bijak. Aku semakin kagum pada kamu.”
“Ada-ada saja, biasa ya, Aku kira mas Bimo juga punya pemikiran yang sama. Jangan dianggap aku menggurui, karena aku tahu bahwa mas Bimo sudah mengerti. Ayo kita pulang, sudah sore,” kata Sarah sambil bangkit.
Mereka berpisah, meninggalkan rasa tak menentu di hati Bimo. Ia melihat bagaimana Sarah menyambut Fajar. Begitu bersemangat, begitu segar senyumannya. Dan itu membuatnya semakin kecil.
“Apakah Sarah lebih tertarik pada Fajar yang lebih ganteng dan kaya?”
Sambil melangkah pulang, Bimo terus berpikir tentang cara Sarah menyambut kedatangan Fajar. Cemburu? Barangkali iya. Bukankah cemburu itu milik sebuah rasa cinta?
***
"Mas.. kok kamu ikut-ikutan aku memborong koran? Pasti koran dagangan Sarah kan?” kata Mentari ketika melihat sang kakak meletakkan setumpuk koran di atas meja.
“Iya, setiap kali dari kantor Aku kan lewat sana. Kasihan saja, korannya tinggal sedikit, lalu aku ambil semua.”
“Aku juga kasihan sama Sarah, pulang sekolah masih harus jualan koran. Apa nggak capek ya?”
“Ia ingin meringankan beban neneknya yang hanya tukang cuci di rumah tetangga.. Bukan main dia itu, aku kagum pada dia.”
“Jangan-jangan Mas jatuh cinta,” ledek Mentari.
Fajar terkejut mendengar olok-olok sang adik.
“Apa? Jatuh cinta?”
“Selama ini Mas tak pernah perhatian kepada gadis-gadis yang mendekati Mas, tapi mengapa perhatian Mas pada Sarah begitu besar? Pasti ada sesuatu nih.”
“Jangan asal menuduh.”
”Ada apa nih, kakaknya baru pulang kok langsung heboh," kata sang ibu yang tiba-tiba muncul.
“Ini lho Bu, mas Fajar ikut-ikutan memborong koran.”
“Memborong koran? Iya, Kamu juga bawa koran banyak nih.”
“Kasihan sama yang jual. Itu kan teman sekolahnya Mentari. Pulang sekolah langsung jualan koran, jadi karena kasihan, Fajar ikut memborongnya, supaya dia cepat pulang, tidak menunggu sampai korannya habis terjual.”
“Iya Bu, kasihan Sarah. Tapi sepertinya mas Fajar jatuh cinta nih, sama Sarah.”
“Apa? Ngaco kamu,” kata Fajar yang kemudian langsung pergi masuk ke kamarnya.
“Mentari, mengapa kamu mengira kakakmu jatuh cinta sama penjual koran itu?”
Mentari tertawa.
“Sarah itu polos, tapi cantik, dia juga pintar. Kalau mas Fajar suka sama dia ya wajar kan Bu. Buktinya setiap hari lewat di mana Sarah jualan koran. Dari membeli satu-satu, kemudian memborongnya, setelah kemarin lusa melihat Mentari memborongnya karena kasihan.”
“Kamu jangan ngomong sembarangan Mentari. Masa kamu jodoh-jodohkan kakak kamu sama seorang gadis penjual koran?” kata sang ibu dengan wajah muram.
“Bukan menjodohkan Bu, hanya barangkali saja.”
“Jangan sampai aku punya menantu tukang jualan koran. Kasihan boleh, membantu juga bagus, tapi suka? Jatuh cinta? Amit-amit deh.”
“Ibu tidak suka?”
“Apa yang kamu pikirkan Tari, Kamu suka punya kakak ipar penjual koran? Tidak malu?"
“Ibu jangan marah dulu, Mentari hanya mengganggu mas Fajar.”
“Hanya mengganggu, kalau keterusan, lalu kakak kamu benar-benar suka, amit-amiiiit.”
“Dia itu cantik, pintar, baik kepada siapa saja lhoh Bu.”
“Tapi dia miskin kan?”
Mentari merengut, dia tak sependapat dengan ibunya, yang kelihatan merendahkan orang miskin. Tapi ia tak menjawab apapun lagi, sampai ibunya kembai ke arah belakang, dan Mentari pergi mandi.
***
Fajar bukan tak mendengar apa yang dikatakan sang ibu. Ada rasa miris yang mengiris. Walau belum mengakui kalau dia jatuh cinta, tapi ia suka pada gadis itu. Ia sangat gesit dan bersemangat. Dia tak malu melakukan hal yang tidak banyak dilakukan oleh gadis-gadis muda. Menembus keramaian jalan demi menjajakan dagangan koran, dan belum tentu ada yang membelinya juga.
Pertama kali melihat Sarah, ia hanya kasihan, lalu membeli selembar koran, tapi beli selembar koran itu kemudian menjadi kebiasaan. Ia bukan hanya berhenti di tengah jalan saat mengemudikan mobilnya sepulang kantor, tapi ia memerlukan minggir, hanya demi bisa melihat senyuman Sarah yang memikat. Mengapa juga hatinya tertarik? Fajar belum menemukan jawabannya. Seandainya kemudian rasa cinta itu perlahan tumbuh, ia tak yakin perjalanan cintanya akan mulus. Belum apa-apa sang ibu sudah menunjukkan rasa tak sukanya, dan itu akan sangat berat baginya untuk melangkah. Tapi benarkah dia jatuh cinta? Sampai malam dan ketiduran, Fajar belum menemukan jawabannya.
***
Hari itu Fajar pergi ke kantor ayahnya, yang agak jauh dari kantornya sendiri, walau setiap hari dilewati. Pak Pranoto yang meminta, karena akan ada tugas penting yang akan diberikannya.
Ketika memasuki halaman, dia menjadi perhatian para karyawan. Fajar belum pernah ke kantor sang ayah sejak sang ayah menduduki pimpinan di sebuah kantor cabang yang didirikannya.
Ketika ia hampir memasuki ruang kantor ayahnya, seorang OB menegurnya.
“Hei, Bimo, ada apa kamu berpakaian rapi seperti itu?”
Fajar berhenti melangkah. Ia tidak salah dengar kan? Tadi OB yang gemuk pendek itu memanggilnya Bimo?
***
Besok lagi ya.