Wednesday, July 8, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 43

 NAMAKU TETAP SENJA  43

(Tien Kumalasari)

 

Arka tersenyum melihat Rimba menyambutnya dengan senyuman cerah. Ia menyerahkan sebungkus keresek berisi minuman.

“Ini, buah-buah segar, untuk kalian, dan Simbok ya.”

“Wah, ini jus buah kan?”

“Iya. Tadi sedang ngomongin aku? Tentang apa?”

“MBak Senja ketemu ayah mas Arka, sedang bersama kakak mas Arka,” kata Rimba sambil berjalan masuk, diikuti Arka.

 Mereka menuju ruang makan, di mana mbok Mangun masih duduk di sana, sedangkan Senja sedang membersihkan meja.

“Silakan duduk mas,” kata Rimba sambil meletakkan bungkusan jus, dan mengeluarkan gelasnya satu persatu.

“Wah, mas Arka selalu repot.”

“Tidak Mbok, ini jus buah segar, saya juga mau minum, Simbok pilih yang mana? Ini jambu, mangga, nanas, alpukat.”

“Terserah saja, Simbok apa-apa mau.”

“Ya sudah, Simbok yang alpukat ya, saya mau nanas saja,” kata Arka sambil memberikan segelas jus alpukat ke depan mbok Mangun.

"Ayo, semuanya.”

Mereka mencecap jus segar yang dibawa Arka dengan wajah berseri.

“Nja, tadi Rimba mengatakan kalau kamu tadi bertemu ayahku? Kalian saling bertegur sapa?”

“Tidak Mas, waktu itu saya sedang mau melamar pekerjaan di proyek perumahan yang belum lama dibuka, tiba-tiba saya melihat ayah mas Arka, sepertinya sedang bersama saudara mas Arka. Mungkin ayah mas Arka mau membelikan rumah di perumahan baru itu untuk putrinya.”

“Putri ayahku? Saudara aku?” tanya Arka heran.

“Iya, siapa lagi? Wanita itu cantik, berjalan bersama ayah mas Arka yang merangkul pundaknya sambil menuding-nuding ke arah rumah yang baru di bangun.”

Arka sangat terkejut? Seorang wanita cantik? Bersama ayahnya, dan ayahnya merangkul pundaknya?

“Kok mas Arka kelihatan aneh. Wanita itu sedang mengandung. Adik mas Arka atau kakak mas Arka?”

Arka teringat apa yang pernah dikatakan sang ibu, ketika sang ibu menemukan sebuah brosur rumah elite di tas kerja ayahnya. 

"Untuk kakakku atau adikku? Apa aku punya adik atau kakak? Sedang hamil pula?" pikir Arka.

“Yang sedang hamil, kakak mas Arka ya? Atau adik?” Senja mengulangi pertanyaannya.

“Aku tidak punya saudara, aku anak tunggal,” kata Arka pelan, sambi meneguk jusnya, tapi dengan perasaan yang kacau dan gelisah. Ini berita aneh. Ayahnya sedang bersama siapa? Wanita cantik, sedang hamil?

“Ya Tuhan, sepertinya ini berita buruk,” kata batinnya sambil menghabiskan satu gelas jusnya, kemudian ia berdiri.

“Sepertinya aku mau pamit dulu.”

“Kok buru-buru?”

“Lupa aku, ada yang harus aku kerjakan. Pamit dulu ya Mbok, Senja, Rimba,” kata Arka sambil bergegas pulang ke rumah.

***

Mbok Mangun dan anak-anaknya saling pandang dengan bingung. Sikap Arka tampak aneh. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Mereka juga merasa aneh ketika mendengar perkataan Arka bahwa dia tidak punya saudara.

“Ini aneh. Mas Arka itu anak tunggal. Lalu siapa yang tadi kamu lihat Nja?”

“Ya itu, seperti yang aku katakan. Ayah mas Arka, dengan seorang wanita hamil. Ayah mas Arka merangkul pundaknya erat, seperti seorang ayah merangkul anaknya."

“Atau seorang suami merangkul istrinya?” celetuk mbok Mangun yang mengejutkan Senja.

“Apa? Simbok mengira, itu istri pak Wiguna? Aku pernah melihatnya ketika mengirim beras, ibunya cantik, tapi sudah setengah tua. Bukan yang tadi.”

“Maksud Simbok, istri yang lain.”

“Istri muda?”

"Mungkin, tapi jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Itu hanya perkiraan Simbok. Orang kaya punya istri lebih dari satu kan boleh-boleh saja.”

“Ya Tuhan, apakah mas Arka tahu kalau ayahnya punya istri muda? Aku jadi menyesal mengatakannya. Bagaimana ini, sudah terlanjur,” kata Senja.

“Mau bagaimana lagi, kamu kan juga tidak tahu kalau mas Arka itu anak tunggal.”

“Iya Mbok, Senja pikir karena wanita itu masih muda, pastinya anak perempuan tuan Wiguna. Siapa tahu ternyata mas Arka anak tunggal. Bagaimana kalau keluarga mas Arka jadi kacau karena aku ngomong begitu tadi?”

“Semoga semuanya baik-baik saja. Simbok kira mas Arka akan bisa mengatasi semuanya tanpa harus menimbulkan keributan di keluarganya."

***

Arka sampai di rumahnya , tapi tidak mendapati sang ayah seperti biasanya kalau sang ayah tidak pergi ke kantor. Duduk berdua di teras bersama ibunya, atau duduk di ruang tengah sambil menikmati acara televisi.

“Bapak belum pulang Bu?”

“Lhoh, apa kamu tidak ketemu ayahmu di kantor? Bukankah tadi dia pergi ke kantor?

”Tidak. Sudah beberapa hari Bapak tidak pergi ke kantor.”

“Padahal tak lama setelah kamu berangkat, bapakmu juga berangkat.”

“Ke mana ya Bapak?”

“Apa masih mengurusi temannya yang habis operasi itu? Begitu perhatian sekali ayahmu kepada temannya itu.”

“Mungkin Bu, ya sudah, Arka ganti baju dulu.”

“Baiklah, biar bibik menyiapkan kopi seperti biasanya.”

Arka masuk ke dalam kamarnya dengan sejuta pikiran yang sangat mengganggu. Ayahnya membantu teman yang habis operasi? Sejak kapan ayahnya perhatian kepada orang lain? Apa ini ada hubungannya dengan apa yang dilihat Senja tadi? Wanita cantik, hamil, dan Senja mengira wanita itu kakak atau adiknya. Senja punya pikiran begitu karena wanita itu terlihat masih muda.

“Mau beli rumah di perumahan baru itu? Dan brosur yang ditemukan ibu itu pasti  bukan sekedar penawaran dari seorang marketing yang ingin agar laku dagangannya. Bapak melihat perumahan itu, yang pastinya akan dibelinya untuk wanita yang menurut Senja dirangkul pundaknya.”

“Kalau aku menanyakannya kepada Bapak nanti, dan ada Ibu di dekat kami, pasti Ibu akan sangat terpukul. Aku khawatir hal itu akan mengganggu kesehatan Ibu.”

Arka bingung akan bersikap bagaimana. Karena itu ia menelpon sang ayah. Tapi walau ponselnya aktif, pak Wiguna tidak mengangkatnya.

Lalu Arka menuliskan pesan singkat.

“Bapak ada di mana? Bapak tidak ke kantor ber hari-hari. Ibu mengira Bapak masih ada di kantor sore ini.”

Lalu Arka pergi mandi.

Ketika ia selesai mandi dan berganti baju rumahan, di ponselnya sudah ada jawaban sang ayah.

“Sedang menemani sahabat bapak yang habis dioperasi. Dia sendirian dan bapak merasa kasihan padanya”

Lalu dibawahnya ada lagi.

“Tapi bapak akan segera pulang.”

“Tadi Arka melihat Bapak di perumahan yang baru dibuka. Bapak mau beli rumah?”

Pertanyaan itu tidak dijawab, sampai Arka kemudian keluar untuk menemui ibunya. Ponsel dibawanya.

“Minumlah. Kopimu hampir dingin,” kata sang ibu.

Arka tersenyum, lalu duduk di dekat sang ibu, kemudian mencecap kopi itu, pelan. Ada rasa kasihan ketika melihat wajah ibunya yang polos, tanpa dosa, tapi tampaknya dikhianati.

Ketika notifikasi terdengar di ponselnya, sang ayah sudah menjawab pesannya.

“O, iya … tadi mengantar anak teman bapak, yang katanya mau beli rumah di sini. Dia lama tidak tinggal di sini, jadi tadi datang minta diantar melihat-lihat rumah.”

Arka mencibir dalam hati. Sang ayah selalu punya alasan. Tapi alasan terakhir membuat Arka hampir murka. 

"Menemani anak temannya, wanita muda, dan dia merangkul pundaknya saat berjalan?” kata batinnya.

Ia semakin yakin kalau sang ayah sedang menyembunyikan sesuatu, yang sebagian besar dari yang tersembunyi itu hampir diketahuinya. Arka sedih ketika mengingat ibunya.

“Ada apa? Tiba-tiba wajahmu muram setelah membaca pesan di ponsel kamu.

Arka memberikan ponselnya, agar sang ibu membaca seluruh pesan dan jawabannya.

***

Besok lagi ya.

 

 

Tuesday, July 7, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 42

 NAMAKU TETAP SENJA  42

(Tien Kumalasari)

 

Senja berhenti melangkah, dan terus mengawasi keduanya tak berkedip.

“Aku tidak lupa, dia ayah mas Arka, pengusaha kaya yang ketika bertemu aku sikapnya sungguh tidak ramah, mentang-mentang dia kaya dan aku hanya anak seorang penjual beras," gumam Senja.

Senja ingin menyapanya, tapi diurungkannya.

“Buang-buang waktu saja, paling sikapnya masih seperti dulu, meremehkan aku. Tapi siapa perempuan hamil itu? Jadi mas Arka punya kakak perempuan yang sedang hamil? Aku tidak pernah menanyakan keluarganya. Barangkali ayahnya mau membelikan rumah untuk calon cucunya. Namanya orang kaya, bayi belum lahir sudah akan dibelikan rumah. Ya sudahlah, aku teruskan saja langkahku. Aku kan sedang mencari pekerjaan, malah memikirkan sesuatu yang bukan urusan aku,” kata batin Senja.

“Mbak mau membeli rumah?” tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua menyapanya. Tampaknya ia seorang mandor bangunan. Dari tadi ia hanya mondar mandir ke sana kemari sambil mengawasi tukang bangunan yang sedang bekerja.

“Eh, tidak Pak. Mau tanya, kantor pemasaran di mana ya?”

“Di sana, ujung paling depan. Kalau tidak mau membeli rumah mengapa menanyakan kantor pemasaran.”

Senja tersenyum.

“Masa sih, penampilan seperti aku dikira mau beli rumah? Memangnya kelihatannya aku orang yang punya uang apa?” kata batin Senja.

“Saya mau mencari pekerjaan Pak. Tunjukkan saja di mana kantornya.”

“O, mau mencari pekerjaan? Masa gadis cantik mau menjadi tukang batu?”

Senja agak kesal, mandor itu sangat cerewet dan pertanyaannya yang aneh-aneh saja.

“Baiklah Pak, saya ke sana saja dulu. Yang diujung itu ya?” katanya sambil terus melangkah, tanpa menunggu jawaban pak mandor yang  ceriwis itu.

Pak mandor mengawasinya terus.

“Tukang batu, cantik, malah pada nggak mau bekerja, karena saling mencari perhatian. Tapi nggak tahu juga, barangkali melamar menjadi pekerja kantoran,” gumam pak mandor sambil terus mengawasi Senja yang sekarang sudah memasuki kantor pemasaran.

***

“Selamat siang,” sapa Senja, sopan.

“Selamat siang,” jawab seorang laki-laki muda yang sedang duduk di kursi kerja, sambil menghadapi laptop yang sejak tadi diotak-atiknya.

“Mau ketemu siapa ya?”

“Mau ketemu …. mm saya mau mencari pekerjaan.”

“Oh, silakan duduk.”

Senja duduk, kemudian menyodorkan map berisi berkas lamaran pekerjaan. Laki-laki itu kemudian membuka map nya.

“Kamu baru lulus SMA?”

“Benar Pak.”

“Nilai kamu bagus.”

Orang itu meletakkan lagi lembar-lembar lamaran yang tadi dibacanya. Tampaknya tidak sepenuhnya dia membaca. Kertas-kertas itu diletakkan lagi di dalam map, kemudian map itu ditutupnya.

“Perusahaan kami sedang membuka beberapa cabang dan butuh karyawan.”

Wajah Senja berbinar, ada secercah harapan ketika orang didepannya mengatakan kalau sedang butuh karyawan.

“Tapi yang kami butuhkan adalah seorang sarjana tehnik dan sarjana ekonomi, bukan lulusan SMA seperti Anda.”

Senyuman yang semula tersungging, surut seketika.

Mereka butuh sarjana. Bukan lulusan SMA.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi,” kata Senja sambil meraih map lamarannya, kemudian membalikkan tubuhnya, dan keluar dari ruangan kecil itu.

Senja hanya berjalan kaki ketika itu, karena rumah simboknya tidak jauh dari lahan perumahan baru itu.

Dalam perjalanan keluar dari area perumahan itu, Senja agak risih karena beberapa tukang bangunan menggodanya. Tadinya terbersit juga keinginan bekerja walau menjadi tukang batu sekalipun. Tapi melihat lingkungan yang dianggapnya tidak ‘sehat’, Senja membatalkannya.

Ia berjalan ke rumah dengan lesu. Ada sesal, karena lulusan SMA ternyata tidak dibutuhkan. Tapi Senja bersikap wajar dan berusaha menekan kekecewaan hatinya. Barangkali bukan di sana tempat yang pantas untuk dirinya, besok atau lusa ia harus berusaha lagi.

***

Sesampai di rumah ternyata Rimba sudah pulang dari sekolah.

“Kok sudah pulang?”

“Pulang pagi, besok kan libur panjang.”

“O iya, kamu sudah naik kelas enam kok ya. Ati-ati, belajar harus lebih rajin, sebentar lagi ujian lho.”

“Iya Mbak. Siap.”

Senja menuju ke dapur, mengambil segelas air minum, dihabiskannya. Udara sangat panas. Senja tiba-tiba merasa sedih mengingat simboknya. Udara panas seperti ini, simboknya masih berjalan menjajakan dagangan berasnya. Terkadang cepat habis, tapi terkadang juga pulang masih membawa beberapa kilo beras yang belum laku. Senja semakin bertekat untuk bekerja agar simboknya tidak bekerja terlalu keras.

“Mbak dari mana?”

“Dari mencari pekerjaan .”

“Mencari ke mana? Kok jalan kaki?”

“Di sebelah utara pasar itu kan ada perumahan yang baru di bangun. Mbak tadi mencoba melamar ke sana, karena kabarnya mereka membutuhkan karyawan.”

“Kalau di tempat bangunan ya karyawan bangunan. Mbak perempuan, mengapa melamar ke sana?”

“Maksud Mbak itu bukan menjadi tukang bangunan, tapi di kantornya.”

“Diterima?”

Senja menggoyangkan tangannya.

“Tidak Mba. Yang dibutuhkan sarjana-sarjana.”

“Lulusan SMA tidak mau?”

“Tidak. Tapi besok Mbak mau berusaha lagi mencari di tempat lain.”

“Semoga Mbak segera bisa bekerja.”

“Iya Mba ... Mbak ingin sekali meringankan beban Simbok,” kata Senja sambil duduk di kursi makan.

“Ayo kita makan Mbak.”

Mereka makan dalam diam. Senja masih terbawa rasa kecewa karena tidak diterima bekerja gara-gara dia bukan sarjana.

“Kalau memang tidak bisa mendapat pekerjaan, Mbak mau jualan beras saja seperti Simbok.”

“Dengan begitu berasnya bisa laku lebih banyak ya Mbak.”

“Betul. Sama saja, berjualan juga bekerja. Aku kasihan sama Simbok.”

“Rimba juga kasihan sama Simbok. Nanti kalau lulus ini, Rimba juga mau bekerja saja.”

“Apa? Kamu jangan main-main Mba, simbok bekerja keras untuk menjadikan kamu supaya menjadi orang berpendidikan. Kalau lulus SD mau berhenti, lalu kamu mau jadi apa?”

”Kasihan sama Simbok.”

“Biar aku saja yang bekerja membantu Simbok, apapun pekerjaan itu, pokoknya beban Simbok bisa lebih ringan. Itu semua agar kamu bisa sekolah terus dan terus, sampai kamu menjadi orang. Kalau kamu berhasil, Simbok pasti senang. Jadi jangan pernah kamu ingin berhenti sekolah. Kamu anak laki-laki. Jangan mengecewakan Simbok.”

"Sedang cerita apa nih?” tiba-tiba mbok Mangun sudah sampai di depan mereka yang sedang makan.

“Horeee, Simbok sudah pulang. Ayo Mbok, makan sekalian.”

“Iya, makan dulu, Simbok bersih-bersih badan dulu, berdebu nih, terus ganti pakaian juga.”

“Kami tungguin Mbok,” kata Senja yang kemudian menyiapkan segelas air di meja, untuk simboknya.

***

“Kamu tadi jadi melamar kerja?” tanya mbok Mangun setelah siap makan bersama anak-anaknya.

“Jadi Mbok, tapi belum rejekinya, besok Senja mau cari lagi.”

“Harus sabar Nduk, cari pekerjaan memang tidak gampang. Tadi kamu jadi  ke perumahan yang baru dibangun itu?”

“Jadi. Baru ke situ Mbok. Tapi tidak diterima. Besok berusaha lagi. Oh ya, tadi aku melihat ayahnya mas Arka.”

“Dia yang punya perumahan baru itu?”

“Bukan. Sepertinya dia beli rumah di situ.”

“Apa ayah mas Arka belum punya rumah?”

“Orang kaya boleh kan Mbok, beli rumah sebanyak-banyaknya,” sambung Rimba.

“Sepertinya dia beli rumah untuk anaknya perempuan. Aku baru tahu, ternyata mas Arka punya saudara perempuan, sedang hamil. Pastinya ayahnya akan membelikan rumah untuk cucunya itu.”

“O, mas Arka punya saudara perempuan?”

“Sepertinya iya Mbok, tadi aku melihatnya, pak … siapa ya namanya … lupa … eh, tuan Wiguna melihat-lihat sambil merangkul wanita cantik itu, yang perutnya agak gendut, sedang melihat-lihat rumah, atau entahlah, barangkali sudah beli atau apa.”

“Kamu bertemu dia? Atau dia menyapa kamu?”

“Tidak Mbok, Senja hanya melihat dari kejauhan, tapi Senja yakin itu ayahnya mas Arka.”

“Kalau kenal, mengapa kamu tidak menyapa?”

“Sungkan Mbok, belum tentu dia suka.”

“Selamat siang,”

Mereka terkejut, itu suara Arka. Rimba segera berlari ke depan.

“Mas Arka, siang-siang sudah sampai di sini? Kami sedang membicarakan kakak mas Arka tadi,” celoteh Rimba.

***

Besok lagi ya.

Monday, July 6, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 41

 NAMAKU TETAP SENJA  41

(Tien Kumalasari)

 

Arka tak bereaksi. Ia menerima apapun yang dikatakan dokter yang berdiri menatap dirinya dan Rosa dengan serius.

Rosa tampak berkaca-kaca, entah apa yang dipikirkannya. Barangkali dia kesal, malu, atau entahlah, tiba-tiba dia berdiri dan menggamit lengan Arka.

“Saya minta maaf, ibu Rosa, saya harus mengatakannya, agar Ibu tidak terkejut di kemudian hari.”

“Baiklah,” Rosa melangkah pergi.

Tapi Arka mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan ruangan dokter yang merawat Rosa.

Dokter itu membalas anggukan Arka sambil berpikir, bahwa istri laki-laki ganteng yang santun ini sangat tidak menghargai dokter yang menanganinya.

***

Rosa langsung masuk ke ruang rawatnya, kemudian berkemas.

“Mengapa kamu harus kesal kepada dokter itu? Dia hanya mengatakan apa yang menjadi hasil dari keseluruhan pemeriksaan.”

“Semua itu terjadi karena aku diperkosa, bukan salahku, itu sebuah kecelakaan.”

“Semuanya sudah terjadi, ya sudahlah, untuk apa disesali?”

“Kamu sekarang bisa mengejek aku, menganggap aku sebagai perempuan rendah, tak berharga, karena pernah hamil dan menggugurkan kandungan aku.”

“Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak mengejek kamu, tidak merendahkan kamu, juga tidak menganggap kamu tak berharga atau lebih dari itu. Itu adalah hidupmu, mengapa aku harus berpikir tentang sesuatu yang bukan urusan aku?”

Perkataan Arka itu halus, dan diucapkan sangat pelan, tapi Rosa menerimanya seperti irisan sembilu yang merajang-rajang hatinya.

“Kamu mau pulang sekarang? Bukankah dokter belum memberikan ijin untuk kamu pulang?”

“Persetan dengan dokter itu.”

“Rosa, seharusnya kamu berbicara dulu dengan dokter, misalnya mengucapkan terima kasih atau apa yang sebaiknya kamu lakukan. Bukankah dia juga yang telah merawat kamu?”

“Yang penting aku membayar semua biaya rumah sakit. Bukan ucapan terima kasih. Kalau kamu mau pulang, pulanglah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Baiklah, aku tunggu kamu, dan aku antar pulang, setelahnya aku harus kembali ke kantor. Pekerjaan belum selesai.”

“Kamu pergi saja. Baiklah, kembali ke kantor dan jangan pedulikan aku,” Rosa berteriak sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“Baiklah, aku pergi,” kata Arka sambil meninggalkan ruangan itu.  Tapi di luar ruangan, Arka menelpon pak Daryono.

“Ada apa Arka?”

Arka mengatakan bahwa Rosa memaksa pulang, dan menyuruhnya pergi meninggalkannya.

“Memangnya dokter sudah mengijinkannya pulang?”

“Sebetulnya belum, tapi Rosa memaksa. Dia juga tidak mau saya mengantarkannya pulang.”

“Kamu sekarang ada di mana?

”Saya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor. Saya mohon Om segera ke rumah sakit.”

“Sebenarnya ada apa?”

“Kalau Om sudah ketemu Rosa, dia pasti mengatakannya. Saya sedang terburu-buru."

“Baiklah, baiklah … terima kasih sudah mengabari.”

***

Pak Daryono tidak mengabari ke rumah setelah Arka menelponnya. Ia langsung ke rumah sakit. Tapi ketika ia sampai di sana, di lobi rumah sakit ia melihat Rosa berdiri, sepertinya sedang menunggu taksi.

“Rosa.”

Rosa terkejut. Ia tak ingin mengatakan apapun kepada sang ayah.

“Mengapa kamu pulang?”

“Rosa tidak kerasan, mau pulang saja.”

“Tapi kamu sepertinya sedang tidak senang. Ada apa?”

“Tidak apa-apa.” Tapi Rosa berdebar, apakah Arka mengatakan semuanya kepada sang ayah?

“Arka bilang kamu tak mau diantar olehnya. Kamu sedang marah pada Arka?”

Rosa merasa lega. Dari perkataan sang ayah, tak ada tanda-tanda bahwa Arka mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Tentang dokter itu, tentang rahimnya, tentang ….

“Ayo pulang bersama papa. Kamu sudah menyelesaikan administrasinya?”

“Sudah, Rosa juga sudah memanggil taksi.”

“Batalkan saja, ayo pulang,” kata pak Daryono sambil menarik lengan Rosa.

***

“Apakah Rosa sudah benar-benar sehat?” tanya bu Daryono kepada suaminya.

“Mungkin dia merasa sehat, sepertinya pulang paksa.”

Lalu pak Daryono mengatakan bahwa dia ke rumah sakit karena Arka menelponnya. Rosa memaksa pulang, tapi menolak diantar Arka.

“Ketika aku datang, dia sedang menunggu taksi di lobi. Mana anak itu?”

“Langsung masuk ke kamar. Dan langsung menguncinya.”

“Aku juga tidak tahu ada apa, mungkin bertengkar dengan Arka. Coba nanti ibu tanya lagi, aku harus kembali ke kantor."

“Kan dia harusnya sudah tahu kalau Arka tidak suka sama dia? Dasar tidak tahu malu. Untuk apa mengejarnya? Dunia begitu luas,” omel bu Daryono sambil mengantarkan suaminya yang akan kembali ke kantor

Ketika pak Daryono pergi, bu Daryono mengetuk pintu kamar Rosa.

“Rosa, buka pintunya. Mengapa dikunci?”

Berkali-kali mengetuk, tapi Rosa tak segera membukanya.

Bu Daryono berteriak, tampaknya kesal.

“Rosa! Buka pintunya tidak? Atau Mama suruhan orang untuk menjebolnya?”

Mendengar perkataan sang mama, Rosa segera membuka pintunya. Matanya sembab, sepertinya habis menangis.

“Ada apa kamu ini?”

Rosa diam. Sesungguhnya dia memang pernah menggugurkan kandungannya saat masih di luar negeri. Tapi dia sama sekali tak mengira, dokter itu mengatakannya, tepat saat Arka sedang ada di dekatnya. Rosa sama sekali tidak tahu bahwa dokter itu tanpa sengaja telah membuka aibnya. Kalau tahu begitu pasti ia tak akan mengajak Arka bersamanya. Ia mengajaknya karena dokter itu mengatakan bahwa dia sebaiknya datang bersama suaminya. Apa boleh buat, dia harus meminta tolong Arka agar mau mengakuinya sebagai istrinya. Siapa mengira semuanya menjadi runyam.

“Rosa, Mama sedang bertanya sama kamu,” kata bu Daryono sambil menarik lengan Rosa, diajaknya duduk di sofa.

“Tidak apa-apa Ma.”

“Kamu bertengkar sama Arka? Dia itu bukan siapa-siapa kamu, apa yang kamu inginkan dari dia?”

Rosa diam, rupanya orang tuanya mengira dia sedang bertengkar dengan Arka. Syukurlah, kata batinnya. Tapi bagaimana nanti kalau mereka bertanya pada Arka?

“Mengapa kamu pulang paksa?”

“Rosa sudah merasa sehat. Nggak mau lagi dirawat.”

“Kemarin kamu masih mengeluh sakit perut.”

“Sudah tidak. Capek berbaring terus menerus.”

“Mama sungguh tidak bisa mengerti kamu. Banyak hal yang Mama tidak mengerti.”

“Rosa baik-baik saja.”

“Baiklah, sekarang istirahatlah. Dan satu pesan Mama, jangan berharap akan Arka. Kamu harusnya punya rasa malu.”

Dan Rosa memang sedang merasa malu. Gadis cantik, pernah menggugurkan kandungan, dan tidak akan bisa punya anak selamanya. Lalu ada yang mengetahuinya, orang yang selalu didambakan agar bisa menjadi pendampingnya. Sekarang apa?

“Istirahat sana, jangan banyak pikiran.”

Rosa memasuki kamarnya dengan pikiran yang sangat memberati hatinya. Kegagalannya mendapatkan Arka, sudah jelas. Upaya apapun tak akan bisa mempersatukannya dengan Arka. Tak mungkin Arka mau memperistrinya setelah tahu apa yang terjadi. Tapi ada satu keinginan Rosa. Kalau dirinya tak bisa memiliki Arka, maka orang lainpun tidak. Jangan sampai. Geram Rosa.

***

Hari terus berjalan. Rosa tak pernah menghubungi Arka. Arka juga tak pernah mengingat ataupun mempedulikan apa yang terjadi pada Rosa. Ia bukan orang yang suka menebarkan aib siapapun, jadi kejadian yang diketahui tanpa sengaja itu tetap terpendam hanya di dalam hatinya.

***

Senja sudah baik-baik saja. Arka hanya menjemput pergi dan pulang sekolah selama dua hari, selebihnya Senja sudah bisa menggenjot sepeda sendiri.

***

Sekarang Senja sudah lulus dengan nilai cemerlang. Para guru memberi saran agar dia mendaftar ke universitas dengan bea siswa. Tapi Senja menolaknya. Ia lebih mementingkan membantu simboknya mencari uang agar beban sang simbok lebih ringan. Bahkan saran Arka agar dia melanjutkan kuliah diabaikannya. Simbok semakin tua, dan keinginan untuk menjadikan Rimba orang yang berhasil harus didukungnya.

Karenanya ia mulai mencari pekerjaan.

Tak jauh dari rumahnya ada sebuah lahan luas yang kabarnya akan dijadikan sebuah perumahan elite.

Senja membawa berkas lamaran, dan mencari di mana dia bisa memberikan lamarannya. Sudah ada beberapa rumah yang sudah jadi, tapi masih banyak yang berupa lahan kosong. Senja nekat memasuki lahan itu, lalu mendekati seseorang yang sedang bekerja, menanyakan di mana kantornya. Tiba-tiba mata Senja terbelalak. Ia melihat seseorang. Laki-laki setengah tua yang masih gagah itu pernah dikenalnya. Ia sedang berjalan sambil merangkul seorang perempuan muda yang sedang hamil. Kelihatan perutnya membuncit walau belum begitu besar.

Senja mengucek matanya. Takut penglihatannya salah.

“Bukankah itu ayah mas Arka?”

***

Besok lagi ya.

Sunday, July 5, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 007

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  007

(Tien Kumalasari)

 

Laki-laki itu Baroto, yang kemudian membawa kudanya mendekati Menur.

Menur terpana. Peristiwa belasan tahun yang lalu melintas kembali, ketika seorang penunggang kuda terjatuh di depannya, lalu dia menolongnya dan memapahnya ke rumah yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya. Sekarang penunggang kuda itu ada di depannya, hanya saja dia tidak terjatuh. Ia sedang menatapnya tajam, membuat hati Menur bergetar. Ia memarahi dirinya sendiri yang begitu lemah. Ia merasa tidak harus begitu. Ia sedang berhadapan dengan bintang di langit tinggi, sedangkan dirinya adalah kerikil kecil tak berharga. Menur menatap ke arah lain, tapi ia terkejut ketika tiba-tiba penunggang kuda itu melompat ke arahnya, lalu terjatuh. Ah, kuda itu sedang berhenti dan sia sepertinya sudah begitu mahir menunggang kuda. Lalu bisa terjatuh? Menur bukan orang bodoh. Kejatuhan itu jelas dibuat-buat. Menur tak peduli. Dengan menguatkan hatinya dia melangkah pergi. Tapi Baroto berteriak memanggil, begitu memelas.

“Menur, tolong … kakiku terkilir …”

“Ah … modus …” Menur masih berpikir begitu ketika kemudian tak terdengar apa-apa, lalu ketika ia menoleh, melihat Baroto sedang berusaha duduk dengan susah payah, lalu memijit-mijit kakinya.

Menur membalikkan badan, mendekat ke arah Baroto.

“Kamu pura-pura kan?”

“Ya aku pura-pura, pergilah dan jangan pedulikan aku,” kata Baroto dengan wajah muram.

Tapi Menur melihat memar biru di pergelangan kaki Baroto.

“Kamu terkilir?”

“Tidak apa-apa, pergilah.”

Menur bergegas pergi ke rumahnya, yang tidak jauh dari tempat itu. Ia mengambil minyak gosok yang selalu disimpannya, karena saat malam ia sering merasa pegal-pegal di kaki.

Ia segera kembali untuk memberikannya kepada Baroto, tapi ia tertegun, melihat Baroto sudah berada di atas kudanya lalu memacunya menjauh.

Menur menyesal sudah mengacuhkannya, dan menuduhnya berpura-pura. Ada rasa tak enak dirasakannya.

***

 Baroto memasuki rumahnya dengan kaki terpincang-pincang. Seperti biasa, istrinya tak ada di rumah. Mungkin pergi ke kantornya, atau pergi bersama teman-temannya, Baroto tak peduli. Tapi Ana yang menyambutnya berteriak dari luar.

“Papaaaa, mengapa makanan masih tergantung di pelana kuda? Papa tidak ketemu bibi Menur?”

Baroto baru ingat, Ana menitipkan makanan untuk Menur. Ana ingin ikut, tapi hari ini jadwal sekolah. Tapi suasana ketika bertemu Menur sungguh tak mendukung. Ia sangat kecewa karena Menur kelihatan tak peduli. Apakah tak ada lagi cinta tersisa di hatinya?

“Papaaa,” Ana menggoyang-goyang lengan ayahnya.

“Maaf Ana, papa tidak bertemu.”

Satu-satunya jalan yang pas adalah berbohong. Hal yang sebenarnya tidak disukai Baroto.

“Papa bilang sudah pernah mengikuti bibi Menur dan sudah tahu rumahnya?”

“Iya, mungki sudah berangkat bekerja.”

“Papa juga tidak mengajaknya menemui Ana?”

“Kan tidak ketemu, bagaimana bisa mengajak.”

“Kalau begitu cari lagi.”

Kalau tak ada hubungannya dengan Menur, mana mungkin Baroto menuruti kemauan Ana untuk menemui Menur. Ia selalu menghentikan rengekan Ana dengan pemberian-pemberian, seperti juga istrinya. Terkadang mengajaknya belanja barang-barang yang disukai Ana, atau makan es krim kesukaan Ana. Tapi saat ini yang diinginkan Ana adalah Menur, dan Baroto juga menginginkannya.

“Baiklah, tapi papa mau mengobati kaki papa dulu. Suruh Rumi mengambil obat gosok di almari obat.”

“Papa terluka?”

“Hanya terkilir, sakit sedikit.”

“Bik Rumiiiii, ambilkan minyak gosok di almari obat,” Ana berteriak.

Baroto menyandarkan tubuhnya di sofa. Bayangan Menur yang mengacuhkannya sangat menyakitinya. Setega itukah Menur terhadapnya?

Baroto sama sekali tak tahu, bahwa Menur sedang berjalan ke arah perumahan di mana Baroto tinggal, sambil membawa obat gosok yang tadi diambilnya

Baroto masih bersandar di kursi malas, kerika Rumi memberikan obat gosok yang diminta. Ia berjongkok di hadapan tuannya, sambil membuka tube obat itu. Baroto langsung mengalihkan kakinya ke samping.

“Mau apa kamu?”

“Mau menggosok kaki Tuan, yang sakit sebelah mana Tuan.”

“Nggak … nggak ada, sudah tinggalkan obat itu di meja,” kata Baroto yang agak risih. Akhir-akhir ini Rumi melayaninya agak berlebihan. Baroto merasa ada yang aneh. Dan kalau Rumi suka? Siapa yang salah? Jatuh cinta itu kan tidak memandang derajat dan kedudukan. Haa, jatuh cinta? Apa Rumi sudah kerasukan setan cinta dan lupa pada siapa dirinya? Tapi walau tak mengakui, Baroto tahu apa yang dipikirkan Rumi. Dia sadar, wajahnya ganteng, berewok tipis yang menghiasi wajahnya menunjukkan bahwa dia laki-laki yang matang. Banyak perempuan suka, tapi kemudian wajah Baroto menjadi muram. Mengapa Menur tak peduli padanya? Bukankah dia cinta pertamanya, dan bagi Baroto sendiri, Menur juga cinta pertamanya.

Baroto masih belum meraih obat gosok itu, ketika Rumi kembali datang dengan membawakan segelas jus buah yang dia buat.

“Siapa yang menyuruh kamu membawakan jus ini? Ini bukan pekerjaanmu kan? Pekerjaan kamu itu melayani Ana.”

“Maaf Tuan, hanya kasihan melihat Tuan kepanasan.”

Baroto tak menjawab, dia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar Rumi pergi.

Rumi mengundurkan diri dengan wajah muram.

“Siapa suruh juragan begitu ganteng. Sudah begitu, istrinya nggak perhatian. Ada suami jarang pulang, ketika pulang bukannya ditemani malah pergi bersenang-senang. Kasihan kan tuan? Siapa tahu, kalau aku melayaninya dengan baik, maka dia juga perhatian sama aku,” pikir Rumi yang kemudian memukul pipinya sendiri ketika sadar akan perasaannya.

“Kenapa pipimu?” tiba-tiba pelayan lain menegurnya, membuatnya terkejut.

“Eh … ini … seperti ada nyamuk …” jawabnya sekenanya.

“Nyamuk … nyamuk, mana ada rumah sebersih ini ada nyamuk,” omelnya.

Rumi tak menggubris. Ia masih asyik melamunkan majikannya yang bersikap tak acuh kepadanya.

“Mengapa tiba-tiba aku begini? Apakah karena kali ini tuan pulang agak lama, sehingga aku sering menatap wajahnya? Sungguh, biasanya tidak begini.”

Tiba-tiba Rumi melihat Ana keluar dari kamar, mendekati sang ayah. Wajahnya masih tampak marah.

“Papa, bagaimana kalau kita pergi mencari bibi Menur?”

“Bukankah kamu harus sekolah hari ini?”

“Bu guru bilang datang terlambat.”

“Tapi tidak baik kalau kamu pergi.”

“Papa tidak menepati janji. Itu makanan buat bibi Menur, mengapa dibawa pulang?”

Baroto terdiam, rupanya Ana masih memikirkan makanan yang sedianya akan diberikan Menur. Baroto lupa, lalu mengatakan kalau tidak ketemu. Lalu nyeri di pergelangan kaki itu terasa lagi. Baru saja dia meraih tube obat gosok itu, seorang pembantu masuk dari arah depan.

“Tuan, ada yang memberikan ini,” kata pembantu itu.

Baroto mengawasi benda yang dipegang pembantunya, dan diberikannya kepadanya. Sebuah obat gosok? Tapi wadahnya botol kecil.

“Ini apa? Siapa yang memberikannya?”

“Seorang perempuan, kelihatannya pemulung.”

Baroto terkejut. Apa itu Menur?

“Apa katanya?”

“Dia hanya bilang, obat untuk tuan Baroto, lalu pergi.”

Baroto menggenggam botol pinyak gosok itu, kemudian berjalan keluar dengan terpincang-pincang. Ia langsung pergi keluar, dan berdiri di pinggir jalan sambil mengawasi ke mana arah perginya Menur.

Tapi ia tak melihat siapapun. Ia berniat mengambil mobil untuk mencarinya, tapi tiba-tiba mobil sang istri memasuki halaman.

Baroto kembali memasuki rumah, botol itu masih digenggamnya. Ia kembali duduk, dan berpikir mencari alasan untuk pergi, ketika sang istri mendekatinya.

“Itu apa Mas?” sang istri menanyakan tentang botol yang dibawa suaminya.

“Ini, obat gosok, kakiku terkilir.”

“Kok bisa?”

“Ketika aku jalan-jalan naik kuda, lalu turun, jadi terkilir deh.”

“Seperti lagi belajar saja,” katanya sambil mengambil botol kecil yang dibawa suaminya.

“Obat apa ini? Ini kan obat murahan? Mas beli?”

“Tidak, dikasih orang,” nah Baroto keceplosan.

“Siapa yang memberi.”

“Itu. Pembantu yang tukang bersih-bersih.”

“Sumi?”

“Iya.”

Nyonya Baroto segera berjalan sambil membawa botol kecil itu, untuk mencari Sumi. Baroto menyesali jawaban yang tadi diberikan.

“Kamu yang memberikan obat gosok untuk tuan? Kenapa obat murahan kamu berikan untuk tuan?”

“Buk .. bukan saya, itu .. diberikan seorang pemulung.”

Sang nyonya majikan tertegun.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, July 4, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 40

 NAMAKU TETAP SENJA  40

(Tien Kumalasari)

 

“Ka, kamu kok diam sih, ini lho, apa benar Papa kamu mau beli rumah lagi?” tanya bu Wiguna karena Arka terdiam. Rupanya ia sambil mengoreksi sesuatu di file yang ada di laptopnya.

“Ini lho, di dalam tas kerja ayahmu itu kok ada sesuatu menyembul keluar, Ibu takut kalau itu terjatuh, padahal sesuatu yang penting. Maksud ibu mau ibu betulkan, tapi kok ibu melihat gambar-gambar rumah. Ibu jadi ingin tahu, lalu ibu tarik keluar, ternyata brosur promosi perumahan baru, dan rupanya memang diberikan kepada ayahmu, karena di pojokan ada tulisan nama ayahmu.”

“Apa iya Bu?”

“Iya, tungguin, ibu fotoin ya.”

Arka menghentikan pekerjaannya, dan tak lama kemudian memang sang ibu mengirimkan foto-foto brosur promosi perumahan.

Arka merasa heran. Ia mengamati dan membaca semuanya. Sebuah perumahan elite yang harganya bukan main mahalnya.

“Bagaimana Ka, kamu sudah melihatnya kan?”

“Iya Bu, memang promosi perumahan elite.”

“Apa ayahmu pernah bicara tentang keinginannya beli rumah lagi? Untuk apa? Rumah kita cukup besar dan bagus, itu juga nantinya untuk kamu kan, wong anak ibu cuma kamu seorang? Lalu untuk apa ayahmu mau beli rumah lagi?”

“Nanti kalau bapak datang akan Arka tanyakan Bu, Arka tidak pernah diajak bicara tentang pembelian rumah.”

“Nanti kalau itu benar, bahwa ayahmu ingin beli rumah lagi, cegah dia Ka, untuk apa beli rumah lagi. Kalau punya uang, bukankah lebih baik untuk kegiatan sosial, diberikan untuk panti asuhan dan anak yatim piatu.”

“Iya Bu, nanti pasti Arka akan bicara tentang hal itu dengan bapak. Sampai saat ini bapak juga belum sampai di kantor.”

“Baiklah Ka, ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Nanti kalau ayahmu datang, katakan saja tentang tas kerja yang ketinggalan. Kalau penting ya biar suruhan orang kantor untuk mengambilnya.”

“Baik, Ibu.”

Walau kelihatannya acuh, tapi Arka juga berpikir tentang promosi perumahan itu. Untuk apa ayahnya meminta brosur promosi itu. Untuk karyawan yang berprestasi? Hal itu belum pernah dibicarakan.

Dan ternyata sampai jam kantor usai, sang ayah tidak pernah nongol di kantor. Barangkali sudah langsung pulang dari entah apa keperluannya pergi pagi tadi.

***

Tapi sampai di rumah, ternyata sang ayah belum tampak pulang. Ini membuatnya heran apalagi sang ibu yang sejak pagi selalu memikirkannya.

“Bapak mana?” tanya sang Ibu.

“Bapak tidak ke kantor. Tadi Arka juga menunggunya.”

“Lalu ke mana ayahmu pergi? Tadi mengatakan kalau harus berangkat pagi karena ada rapat di kantor.”

“Tidak ada rapat apapun hari ini.”

“Aneh, mengapa ayahmu berbohong?”

“Nanti kalau bapak pulang kita bisa membicarakannya. Arka ke dalam dulu ya Bu, mau mandi, gerah sekali.”

“Ya, sana, biar bibik membuatkan minuman hangat untuk kamu.”

Sepeninggal Arka, bu Wiguna tetap saja memikirkan suaminya. Kalau benar di kantor tidak ada rapat hari ini, berarti suaminya berbohong. Ia belum pernah mendengar suaminya berbohong. Barangkali pernah juga, tapi tidak pernah ketahuan? Bermacam-macam pikiran bu Wiguna tentang suaminya, dan terus mengganggunya sampai kemudian ia mendengar mobil suaminya masuk ke halaman. Bu Wiguna enggan menyambutnya seperti biasa. Ia tetap duduk di ruang tengah sambil pura-pura membuka-buka majalah yang entah majalah apa, ia tak sempat membaca nama majalahnya.

“Lhoh, Ibu mengapa tidak menyambutku di teras seperti biasanya,” kata sang suami saat masuk ke dalam. Ia langsung duduk di depan istrinya, dan tanpa basa basi menyeruput kopi yang tersedia di meja, padahal bibik membuatnya untuk Arka atas perintah sang nyonya majikan. Tapi bu Wiguna mendiamkannya.

“Ibu sakit? Tumben tidak seperti biasanya.”

“Pusing.”

“Arka sudah pulang ya, mobilnya sudah ada di garasi.”

“Bapak dari mana?”

Pak Wiguna tampak menghela napas berat, seperti sedang menanggung sebuah beban. Bu Wiguna menunggu.

“Teman yang semalam aku bilang habis dioperasi itu, tadi di jalan saat aku berangkat ke kantor, menelpon. Kaki yang dioperasi terasa sakit lagi. Dia sangat menganggap aku sebagai saudara, jadi dia mengeluh hanya kepadaku. Akhirnya aku urung ke kantor, langsung menuju ke rumahnya. Ternyata anak-anaknya yang semalam menjemputnya dari rumah sakit sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing, yang semuanya di luar kota. Aku segera membawanya ke rumah sakit, tapi bukan rumah sakit yang sama dengan rumah sakit di mana Rosa juga dirawat. Ternyata luka operasi belum sempurna benar, jadi harus dirawat lagi di sana.”

“Lalu Bapak menungguinya seharian?”

“Mau bagaimana lagi Bu, kasihan bapak melihat keadaannya. Sore ini tadi, ketika salah seorang anaknya datang, aku baru pulang.”

“Bukankah harusnya ada rapat di kantor?” pancing bu Wiguna.

“Ya, aku yang akan mengadakan rapat bersama para staf, tapi nggak jadi. Haduh Bu, capek sekali. Jauh lebih capek dari pada bekerja di kantor, untung ada Arka yang sudah bisa menanganinya.

“Kalau Bapak pergi ke kantor, tas kerja Bapak ketinggalan.”

“Sampai lupa membawa tas kerja aku Bu.”

“Aku hampir meminta Arka agar menyuruh orang kantor mengambilnya, kalau saja Bapak benar-benar pergi ke kantor.”

“Ya seperti tadi aku ceritakan itu Bu, nggak jadi ke kantor gara-gara menolong teman.”

“Tadi ada brosur promosi rumah hampir terjatuh dari tas kerja Bapak.”

Pak Wiguna terkejut, tapi ia segera bisa menguasai keadaan.

“O, iya … ada perusahaan properti menawarkan rumah. Sudah beberapa hari yang lalu itu.”

“Bapak mau beli?”

“Ya tidak, untuk apa beli rumah.”

“Di brosur itu ada nama Bapak.”

“Iya, memang penawaran itu ditujukannya pada aku. Nggak usah dipikirkan, namanya orang jualan, lumrah saja dia menawarkan kepada siapapun juga,” katanya sambil berdiri.

“Aku mandi dulu Bu, gerah.”

Bu Wiguna tak menjawab, ada yang mengherankan. Suaminya tak pernah peduli kepada kesusahan orang lain. Kalau ada orang meminta tolong, dia memberikannya dengan acuh tak acuh, sambil mengomel panjang pendek. Tapi kali ini ia berkorban sampai meninggalkan kantor?

***

Hari itu di kantor Arka menerima telpon dari Rosa. Ia mengeluh karena seharian kemarin dia tidak menengoknya.

“Maaf, kemarin banyak sekali pekerjaan di kantor. Begitu pulang aku langsung tidur.”

“Siang ini maukah ke rumah sakit? Dokter ingin bertemu Papa, yang lucunya dikira suami aku. Tidak apa-apa kan kalau nanti kamu dianggap suami aku? Hanya anggapan sesaat, entah mengapa dokter itu menginginkan itu.”

Hanya untuk pura-pura dianggap suami, baiklah, toh tidak akan berpengaruh apa-apa, pikir Arka. Karena itu saat sebelum istirahat dia meninggalkan kantor untuk pergi ke rumah sakit.

Rosa sangat senang Arka memenuhi permintaannya. Ia kemudian mengajak Arka untuk menghadap dokter yang menanganinya.

“Bapak dan Ibu, kami sudah melakukan pemeriksaan atas keluhan yang diderita ibu Rosa. Hasilnya barangkali akan mengecewakan Bapak maupun Ibu.”

“Bagaimana hasilnya?” tanya Rosa.

“Apakah Ibu Rosa pernah dikuret sebelumnya?”

Rosa terkejut. Arka menatapnya sambil mengerutkan keningnya.

“Maaf Bapak dan Ibu, karena rahim Ibu Rosa lemah, setelah dikuret, kemungkinan besar Ibu tidak akan bisa hamil lagi.”

Dunia Rosa seakan runtuh, dan Arka terpaku dalam kediaman yang penuh keterkejutan. Jadi ….

***

Besok lagi ya.

Friday, July 3, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 39

 NAMAKU TETAP SENJA  39

(Tien Kumalasari)

 

Arka masuk ke dalam rumah yang memang masih terbuka. Tampaknya sang ayah belum lama tiba. Ketika ia masuk ke ruang tengah, sang ayah sedang berbincang dengan ibunya.

“Bapak dari mana saja?” Arka terpaksa menyela.

“Aku baru saja bercerita pada ibumu, aku mengantarkan teman yang habis sakit, pulang ke rumah. Teman yang sudah sejak lama tidak ketemu. Aku terkejut ketemu di rumah sakit itu. Jadi karena ingin bicara lebih banyak, aku mengantarkannya pulang dan ngobrol lama di sana.”

“Bapak mengantarkan teman Bapak dengan mobil siapa?”

“Ya mobil bapak sendiri, masa mobil orang.”

“Tapi Arka tadi ke rumah sakit, dan melihat mobil Bapak terparkir di sana.”

“Oh, itu … itu begini ceritanya. Bapak masih menunggu di kamar tempat dia dirawat, karena menunggu keluarganya belum menjemput. Jadi tentu saja mobil bapak masih di sana, kan bapak masih ada di rumah sakit menemani teman bapak itu.”

“Kalau sudah sempat ngobrol di ruang rawat dia, mengapa Bapak masih mengikutinya sampai ke rumah? Apalagi dia habis sakit, apa tidak capek.”

“Dia yang minta, katanya istrinya masak-masak besar untuk merayakan kepulangan dia, sehingga bapak dipaksa ikut.”

“Kasihan Ibu, menunggu sejak sore tidak mau tidur. Bapak juga tidak mengabari kalau pergi ke mana-mana.”

“Maaf ya Bu, ponsel bapak mati, lupa ngecas.”

“Bukankah sebelum berangkat ponsel Bapak sedang dicas?”

“Isinya baru sedikit, sudah bapak bawa. Ya itulah. Sekarang Ibu istirahat saja, ini sudah larut.”

“Memangnya teman Bapak sakit apa?”

“Habis operasi, kakinya patah karena jatuh. Sudah … sudah, ayo tidur semua, bapak juga capek. Ibupun kasihan mengapa tidak tidur sampai malam.”

“Bapak pergi tidak memberi kabar. Tahunya ke rumah sakit, tapi pak Daryono bilang sudah pulang sejak lama. Mana bisa aku tidur?”

“Pak Daryono masih di ruangan Rosa ketika aku pulang lalu ketemu teman.”

Malam sudah larut, dan merekapun tidur di kamar masing-masing. Bu Wiguna menemani suaminya tidur, yang baru saja berbaring sudah terdengar dengkurnya keras sekali. Bu Wiguna hanya berpikir, suamiku pasti sangat lelah.

***

Pagi hari itu sebelum Arka ke kantor, memerlukan menjenguk Rosa. Hari masih sangat pagi. Tentu Rosa sangat gembira, merasa Arka sangat memperhatikannya. Padahal Arka hanya bersimpati karena saat kecelakaan itu Rosa sedang bersamanya.

“Bagaimana keadaan kamu?”

“Sudah lumayan, tapi perut sebelah kiri masih terasa nyeri. Belum ada pemeriksaan sampai pagi ini. Barangkali sebentar lagi.”

“Semoga bukan sesuatu yang berbahaya.”

“Apa kamu mau menunggui aku sampai pemeriksaan dilakukan?”

“Tidak bisa Rosa, aku akan ke kantor dan sebelumnya mau ke rumah Senja.”

“Ke rumah Senja lagi?” tanyanya agak keras.

“Barangkali dia sudah siap masuk sekolah. Seperti yang dulu ingin kamu lakukan, aku akan mengantarkannya kalau dia belum bisa naik sepeda sendiri. Karena itu aku harus buru-buru.”

“Sebelumnya aku mau cerita sesuatu yang agak lucu.”

“Nanti saja aku kemari lagi, nanti Senja kesiangan.”

Walaupun dengan wajah cemberut, Rosa tetap mengangguk. Sesungguhnya Senja lebih diperhatikan daripada dirinya.

Wajahnya semakin muram ketika Arka benar-benar pergi, padahal dia mau cerita tentang petugas jaga yang tadinya mengira dia hamil.

***

Tapi Senja belum bersedia masuk sekolah di hari itu.

“Biar sehari ini dia istirahat dulu mas Arka, tadi Simbok memeriksa lukanya, sudah mengering sih, tapi nanti kalau dipaksa menggenjot sepeda lukanya bisa menganga lagi, bagaimana?”

“Maksudnya, kalau mau sekolah, setiap pagi sebelum siap naik sepeda akan saya antarkan dan saya jemput,” kata Arka.

“Ya ampun mas Arka, repot amat. Sudahlah, biar Senja melakukannya sendiri, tidak enak merepotkan mas Arka terus.”

“Tidak apa-apa Mbok, ini kan tanggung jawab  saya.”

“Ya bukan tanggung jawab mas Arka, namanya musibah.”

“Soalnya ketika terjadi, Senja sedang bersama saya.”

“Iya, tapi semuanya sudah berlalu, tidak apa-apa. Kalau mas Arka selalu repot, kami yang tidak enak.”

“Simbok tidak usah sungkan. Besok Senja bersiap ya, aku jemput. Pulangnya aku jemput juga. Sekarang saya permisi ya Mbok. Sampai besok, Senja.”

Arka pergi tanpa menunggu jawaban mbok Mangun ataupun Senja, membuat keduanya saling pandang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mau bagaimana lagi. Kita sudah menolak, dia nekat sekali,” gumam mbok Mangun.

“Barangkali dia merasa bersalah. Kejadian itu kan kita sedang bersama dia.”

“Ya, tadi dia juga berkata begitu. Ya sudah, bersyukur saja karena kita bertemu orang-orang baik.”

“Sampai lupa menanyakan keadaan non Rosa tadi.”

“Iya, bagaimana ya keadaannya? Semoga baik-baik saja.”

***

Arka sedang berkutat dengan pekerjaannya. Tapi sejak pagi dia tak melihat ayahnya. Padahal sepertinya sang ayah juga bersiap akan ke kantor, hanya dia berangkat lebih dulu karena akan mampir ke rumah sakit menengok Rosa, dan juga ke rumah Senja.

“Barangkali bapak tidak ke kantor,” gumamnya sambil meneruskan pekerjaannya.

Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dari sang ibu.

“Ya, Bu.”

“Arka, tolong bilang pada bapak. Ponselnya mati jadi aku menghubungi kamu.”

“Ada apa Bu.”

“Tas kerja bapak ketinggalan di atas meja. Padahal tadi kan mau ke kantor? Apakah kamu bisa menyuruh sopir kantor untuk mengambilnya?”

“Tapi bapak tidak ke kantor. Arka ke ruangannya. Bapak belum datang sampai sekarang.”

“Masa sih? Bapak berangkat tak lama setelah kamu pergi. Ibu bilang kepagian, kata bapak ada rapat pagi di kantor.”

Arka mengerutkan dahinya. Mengapa ayahnya berbohong?

“Bagaimana Ka? Suruh saja sopir mengambilnya, takutnya kalau ada yang penting di dalam tas kerja ayahmu.”

“Tapi bapak tidak ada di kantor.”

“Katanya tadi mau rapat, barangkali sedang rapat.”

“Kalau ada rapat pasti Arka tahu Bu.”

“Kok aneh, ke mana ya ayahmu pergi?”

“Coba ditunggu sebentar, barangkali bapak mampir ke mana, atau malah sedang menuju pulang untuk mengambil tas kerjanya.”

“Ya sudah kalau begitu.”

Arka melanjutkan pekerjaannya, tapi pikirannya bercabang memikirkan sang ayah. Apakah ayahnya sedang membohongi keluarganya? Untuk apa? Sejak kepergiannya semalam dan kepergiannya pagi ini, seperti ada sesuatu yang aneh. Tak biasanya ada hal seperti ini.

Ketika sedang berpikir itu, ponselnya berdering lagi. Dari sang ibu.

“Ka, ini kok ada brosur  sebuah perumahan elit… ada tulisannya untuk bapak Wiguna. Memangnya ayahmu mau beli rumah?”

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 43

  NAMAKU TETAP SENJA  43 (Tien Kumalasari)   Arka tersenyum melihat Rimba menyambutnya dengan senyuman cerah. Ia menyerahkan sebungkus keres...