Saturday, June 6, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 17

 NAMAKU TETAP SENJA   17

(Tien Kumalasari)

 

Dan hal yang sudah diduga serta membuat hatinya kesal ialah ketika sang ayah menyuruh Arka mengantarkan Rosa pulang.

Tak ada alasan untuk menolak. Hari sudah malam dan Rosa tidak membawa kendaraan. Barangkali memang sengaja, barangkali memang Rosa ingin, agar dengan tidak membawa kendaraan maka pasti Arka akan mengantarkannya pulang.

“Hari sudah malam, jadi kamu harus mengantarkan Rosa pulang.”

“Datang-datang sendiri, pulang minta diantar,” gumam Arka, tapi hanya dalam hati. Apa ingin dirujak ayahnya kalau sampai dia mengeluarkan kata-kata itu.

Rosa dengan riang pamitan kepada kedua ‘calon mertuanya’, kemudian masuk ke dalam mobil, di samping kemudi.

Arka mengemudikan mobilnya seperti dikejar setan, kencang bukan alang kepalang, sampai Rosa berteriak-teriak ketakutan.

“Arka, kamu sudah gila ya? Jalanan sedang ramai.”

“Kamu takut? Jalan kaki saja sana,” ucap Arka enteng.

“Ya ampun, tega amat sama calon istrinya.”

“Siapa calon istriku?”

“Bukannya aku?”

”Mimpi saja, sana.”

“Arka, kamu jangan begitu. Kita harus menuruti kata orang tua, bukan? Dosa lho menentang kehendak orang tua.”

“Tahu apa kamu tentang dosa? Memaksakan kehendak itu juga dosa.”

“Aku sudah banyak mengalah, aku tidak marah walau kamu menyakiti aku.”

“Bukankah lebih baik kamu marah saja sehingga kamu tak usah selalu berusaha mendekati aku?”

“Arka. Kebangetan deh kamu.”

Lalu keduanya diam beberapa saat lamanya, karena Arka tak menanggapi apa yang dikatakan Rosa.

“Ka, teman kamu itu rumahnya di mana?”

“Untuk apa nanya-nanya?”

“Aku ingin membantu. Kata ibu kamu, kamu kasihan pada teman kamu itu.”

“Teman yang mana, sok tahu.”

“Teman kamu yang jualan beras itu. Aku juga merasa kasihan lhoh. Nanti aku mau bilang pada mama kalau beli beras biar sama teman kamu itu.”

“Nggak usah.”

“Kok nggak usah? Aku juga merasa kasihan, dan ingin membantu.”

“Tempatnya jauh, bikin repot.”

“Tidak apa-apa. Jauh bagiku bukan masalah, aku kan hanya ingin membantu. Membantu orang kesusahan itu perbuatan mulia bukan?”

Arka tak menjawab, dan tak pernah menjawab sampai kemudian mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Daryono.

Di teras, pak Daryono sedang duduk di teras. Arka yang semula enggan turun terpaksa turun karena pak Daryono melihatnya.

“Arka? Kamu mengantarkan Rosa?”

“Iya Pa, Arka merasa kasihan pada Rosa yang pergi tidak membawa kendaraan sendiri, jadi dia memaksa mengantarkannya,” kata Rosa enteng, padahal bukan Arka ingin mengantarkan, tapi ayahnya yang memaksa. Tentu Arka sangat kesal, tapi sungkan membantahnya.

“Rosa, kamu sudah menyusahkan orang lain. Kamu sendiri yang main ke sana tanpa mau membawa kendaraan, sekarang Arka harus repot karena kamu,” tegur pak Daryono.

“Rosa juga ingin pulang sendiri sebenarnya.”

“Om, karena sudah malam, Arka permisi pulang,” kata Arka untuk memotong kebohongan Rosa.

“Baiklah, om tidak akan menahan kamu, karena hari memang sudah malam.”

Arka mencium tangan pak Daryono kemudian beranjak menuju ke mobilnya. Pak Daryono bukan anak kecil, ia tahu bahwa Arka mengantarkan Rosa dengan terpaksa. Wajahnya sudah kelihatan. Ia bukannya kasihan melihat Rosa pulang sendiri, tapi kesal karena harus mengantarkannya.

Rosa masuk ke dalam rumah. Sikap Arka yang kaku masih membuatnya sabar. Ia yakin pada suatu ketika ia pasti akan bisa menaklukkan hatinya. Nasihat yang pernah didengarnya, bahwa laki-laki tidak suka dikejar tapi lebih suka mengejar, diabaikannya.

“Kamu tidak tahu kalau Arka sebenarnya kesal karena harus mengantarkan kamu?”

“Tidak kok, masa dia kesal?”

“Perempuan harus memiliki rasa yang lebih peka. Papa saja bisa melihat sikap kakunya, masa kamu tidak?”

Rosa tak menjawab. Ia langsung beranjak ke belakang dan masuk ke dalam kamarnya.

“Kalau aku gigih mengejarnya, masa tidak akan kesampaian?” gumamnya penuh percaya diri.

***

Arka menuju pulang dengan perasaan yang masih saja kesal. Setiap kali rasa kesal itu muncul, maka wajah Senja terbayang di benaknya. Gadis lucu, lugu dan seenaknya, mengapa bisa tiba-tiba mengikat perasaannya? Apa hebatnya Senja? Cantik? Tidak terlalu cantik. Manis? Iya. Senja sangat manis, apalagi kalau tersenyum. Mata polosnya tampak indah, seperti sepasang bintang yang mempesona.

Arka memukul pipinya sendiri. Bodoh aku ini. Senja masih anak kecil, dia mana memperhatikan diriku yang selalu memikirkan dia? Dia selalu bersikap lugas, seenaknya, tidak peduli sedang berhadapan dengan seorang berkedudukan tinggi di sebuah perusahaan. Kalau dia ingin marah, maka marahlah dia. Kalau kesal, maka selalu ditumpahkan kekesalannya. Tapi senyumnya itu …. Arka membatin di sepanjang perjalanannya, dan masuk ke rumah melewati sang ayah yang sedang duduk di teras, sehingga ia harus mendapat teguran.

“Hei, kamu tidak mengucapkan salam saat memasuki rumah, tidak tahu kalau ayahmu ada di sini?”

Arka berhenti melangkah dan berbalik.

”Maaf Pak, buru-buru, pengin ke kamar mandi,” katanya sambil menyalami sang ayah dan mencium tangannya.

“Kamu ketemu pak Daryono?”

”Ketemu.”

“Syukurlah, mengantarkan anak gadis orang harus memasrahkannya kembali kepada orang tuanya.”

"Repot amat," kata batin Arka.

“Pak Daryono menanyakan bapak?”

“Tidak. Arka langsung pulang sehingga tidak sempat berkata-kata.”

“Lain kali kalau mengantarkan Rosa pulang, harus berhenti dulu, berbincang sejenak, barangkali pak Daryono ingin mengatakan sesuatu.”

Arka hanya mengangguk kemudian berlalu, sambil mengatakan lagi kalau dia ingin ke kamar mandi.

Pak Wiguna menghela napas kesal. Arka tak pernah kelihatan suka kalau dirinya membicarakan keluarga Daryono.

***

Hari itu Senja pulang agak siang, dan yang ada di rumah hanyalah Rimba. Ia menunggu sambil membaca buku. Senang sekali ketika melihat kakaknya pulang.

“Simbok belum pulang?” tanya Senja.

 Kedua anak itu setiap pulang dari sekolah selalu menanyakan apakah simboknya sudah pulang, ataukah belum, walau sebenarnya tahu kalau simboknya pergi adalah untuk menjajakan berasnya.

“Belum, paling sebentar lagi. Kita makan sekarang atau menunggu simbok?” tanya Rimba.

“Makan sekarang saja seperti biasanya, kamu sudah lapar kan?”

“Iya, benar.”

“Ayo kita makan, nanti simbok ... aku yang menemani makan. Tapi aku mau ganti baju dulu ya,” kata Senja sambil tersenyum melihat adiknya segera berlari ke ruang makan.

Keduanya makan dengan nikmat, sambil bercerita tentang teman-temannya di sekolah.

“Besok kalau mbak Senja lulus, mau melanjutkan kuliah?”

“Tidak Rimba, kamu kan tahu, simbok pasti merasa berat membiayai kuliah aku. Jadi, mbak akan bekerja saja agar meringankan beban simbok.  Maksudku, kamu yang harus meneruskan sekolah, sampai ke sekolah yang tinggi.”

“Aku saja? Mbak Tidak?”

“Kamu kan laki-laki Mba, laki-laki harus berpendidikan tinggi agar bisa menjunjung derajat orang tua. Agar simbok bangga, anak laki-lakinya menjadi orang.”

“Bagaimana kalau nanti setelah lulus SMA aku juga bekerja saja?”

“Jangan Mba, kamu harus melanjutkan kuliah kamu, sampai selesai. Mbak akan membantu simbok membiayainya. Karenanya rajin belajar ya cah bagus, supaya simbok senang.”

“Ya, tentu. Aku harus bisa membahagiakan simbok.”

“Bagus, mbak akan mendoakan agar kamu berhasil.”

“Aamiin.”

“Makan yang banyak, biar sehat.”

“Mbak kenapa makan sedikit?”

“Nanti mbak menemani simbok juga, biar simbok senang.”

“Menyenangkan orang tua itu harus kan Mbak.”

“Tentu Rimba, walau hanya soal makan, atau sedikit memuji, itu akan membuat orang tua senang.”

“Permisi,”

“Ada tamu Mbak, biar aku keluar untuk melihatnya.” kata Rimba sambil berlari keluar. Tak lama kemudian Rimba kembali mengatakan bahwa tamunya perempuan.

“Ada perempuan cantik banget mbak.”

“Siapa?”

“Nggak tahu, aku hanya melihatnya terus masuk lagi. Orangnya cantik, baunya wangiiii, masih jauh sudah kecium baunya, kelihatannya orang kaya Mbak.”

“Gimana sih kamu, harusnya ditanya mau mencari siapa, kok malah ditinggal masuk. Paling-paling akan menanyakan alamat seseorang, mana mungkin kita mendapat tamu orang kaya.”

Senja bergegas keluar dan melihat seorang wanita cantik berdiri di depan rumah.

***

Besok lagi ya.

Friday, June 5, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 16

 NAMAKU TETAP SENJA  16

(Tien Kumalasari)

 

“Mau apa kamu kemari? Mau mencari siapa?”

“Saya mengirim beras Tuan,” jawab Senja

“Kamu anak kecil membawa karung beras itu?” kata pak Wiguna sambil menunjuk ke arah karung beras yang masih teronggok di depan satpam penjaga.

“Ya, Tuan. Memangnya saya anak kecil?” kata Senja seenaknya, tanpa sadar bahwa yang bertanya adalah tuan besar pemilik perusahaan yang dihormati oleh semua orang.

“Kamu itu masih kecil. Siapa yang menyuruh kamu?”

“Tidak ada yang menyuruh, saya membantu simbok saya. Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya permisi Tuan,” kata Senja sambil membalikkan tubuhnya. Tapi kemudian satpam itu meneriakinya.

“Hei, beras ini pesanan siapa?”

“Katanya beras untuk kantin. Tanyakan saja pada mas Arka,” lalu Senja melenggang pergi.

Senja sudah memegangi setang sepedanya ketika sebuah teriakan kembali menyebut namanya.

“Senja! Mengapa kamu mengirimnya sendiri?”

Senja menoleh, melihat Arka mendekatinya.

“Mengapa kamu mengirim sendiri?”

“Habis siapa lagi? Saya masih akan mengirim tiga karung berikutnya. Tapi besok ya, saya baru pulang sekolah.”

“Ya ampun Senja, aku kan sudah bilang sama  simbok kalau akan menyuruh orang mengambil beras ke rumahnya. Hanya saja hari ini belum bisa, karena yang aku suruh mengambil sedang mengirim barang.”

“Tidak apa-apa, beras itu kan kewajiban penjual untuk mengirimnya?”

“Kamu ini ngeyel ya? Sudah aku bilang kalau aku yang akan mengambil. Mau dijewer? Kamu pulang sekolah apa tidak capek? Dan kantor ini dari rumah kamu lumayan jauh. Kalau nanti ambyar lagi di jalan bagaimana?”

“Iih, mas Arka ngomongnya panjang banget. Sudah, aku pulang dulu.”

“Sisanya jangan dikirim, besok pagi sudah ada yang akan mengambil.”

Senja menaiki sepedanya keluar dari halaman kantor. Arka menghela napas panjang. Rasa iba merayapi hatinya. Begitu besar perjuangan seorang miskin demi mencukupi kebutuhan.

“Arka, mengapa kamu masih berdiri di situ?” Arka baru sadar kalau ada ayahnya berdiri menatapnya.

“Memberi tahu gadis itu kalau sisa berasnya akan diambil oleh bagian ekspedisi.”

“Itu yang kamu bilang penjual beras teman kamu?”

“Ya.”

“Anak kecil itu?”

“Dia sudah hampir lulus SMA.”

“Demi dia kamu juga merepotkan perusahaan.”

“Hanya menyuruh mengambil beras, tidak jauh dan tidak akan lama.”

“Memikirkan orang lain, dirinya sendiri tidak dipikirkan. Beras untuk rumah, beras untuk kantin, mengapa kamu melakukan semua itu?”

“Tidak apa-apa Pak, menolong itu tidak ada buruknya,” katanya sambil masuk ke dalam.

“Hei, kamu mau pulang jam berapa?” teriak ayahnya lagi.

“Sebentar lagi,” kata Arka yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.

“Jangan pulang terlalu malam.”

Lalu pak Wiguna menyuruh satpam untuk mengambilkan mobilnya.

***

Senja sedang mengelap keringatnya dengan ujung baju, ketika simbok keluar dari dalam rumah.

“Bagaimana Nja, ketemu tempatnya?”

“Ya ketemu dong Mbok, kan ada alamatnya.”

“Kamu pasti lelah. Simbok punya rujak degan. Cuci dulu kaki tanganmu, simbok siapkan rujak degannya di sini.”

“Wah, seger pastinya,” setengah berlari Senja ke belakang, sementara simbok menyiapkan segelas rujak degan, diletakkan di bangku depan rumah.

“Simbok dapat degan dari mana?” tanya Senja sambil duduk lalu menghirup minuman berwarna kecoklatan dengan sayatan-sayatan kelapa muda di dalamnya.

“Coba tebak, dari mana?”

“Simbok pakai tebak-tebakan segala. Simbok beli di warung, ya kan? Di dekat situ ada penjual rujak degan gula kelapa. Ya kan?”

“Bukan, kamu di jalan tidak ketemu seseorang?”

“Ya ketemu Mbok, namanya jalan. Banyak orang lewat kan?”

“Maksud simbok tuh yang kamu kenal.”

“Tidak. Ketemu pak Sukir tadi, pas pulang dari sawah.”

“Dia naik mobil.”

“Naik mobil? Mas Arka?”

“Tuh kamu tahu.”

“Siapa lagi yang mengenal keluarga kita dan punya mobil kalau bukan mas Arka?”

“Iya, kamu pintar.”

“Mas Arka dari sini?”

“Baru saja pulang. Dia menegur simbok, mengapa menyuruh kamu mengirim beras.”

“O, iya, tadi ketemu dikantornya, Senja juga diomelin. Katanya mau diambil, mengapa dikirim.”

“Tadi berpesan wanti-wanti, besok berasnya akan diambil orang kantor, tidak boleh dikirim.”

“Ya sudah, alhamdulillah. Lumayan jauh sih.”

“Tuh kan, kamu nekat mengirim.”

“Tidak apa-apa Mbok, melayani pelanggan terkadang juga berat,” kata Senja yang kemudian sibuk menyendok kelapa mudanya yang tersisa.

“Mas Arka sangat baik,” gumamnya pelan.

 Ada sesuatu yang aneh dirasakannya. Senja sudah besar, perasaan cinta bisa saja muncul setiap saat. Cinta? Apakah Senja sadar bahwa dia jatuh cinta kepada laki-laki yang baik hati dan tampan itu? Kalaupun Senja sadar, maka dia pasti hanya berpikir bahwa dirinya telah bermimpi. Mimpi meraih bintang, mana mungkin tangannya sampai?

Bukankah menikmati segarnya es kelapa muda gula jawa lebih nikmat dan itu bukanlah mimpi?

***

Karena sepulang kantor harus berpesan kepada mbok Mangun, maka Arka sampai di rumah lebih sore. Lagi-lagi sang ayah menyemprotnya dengan kasar.

“Tadi bilang mau segera pulang, jam segini baru sampai rumah.”

“Mampir-mampir Pak,” hanya itu jawabnya.

Dan Arka terkejut ketika ia melihat Rosa di ruang tengah. Padahal ia tak melihat ada mobil Rosa di sana.

“Arka, kamu baru pulang?”

“Ya,” katanya tak acuh, lalu langsung masuk ke kamarnya.

“Lihat Om, Arka begitu dingin terhadap saya,” katanya sambil melihat ke arah pak Wiguna yang baru masuk dari arah depan.

“Dia baru pulang, pasti lelah,” jawab bu Wiguna.

“Arka, setelah ganti baju segera keluar. Sudah lama Rosa menunggu,” kata pak Wiguna dari luar pintu kamarnya.

“Arka mau mandi dulu,” teriaknya dari dalam kamar.

Pak Wiguna mendekati Rosa sambil tersenyum.

“Biar dia mandi dulu. Mungkin dia merasa, mau ketemu gadis cantik harus wangi, ya kan?”

Bu Wiguna agak kesal kepada suaminya karena terus-terusan memberi harapan bagi Rosa, padahal jelas-jelas harapan palsu. Mungkinkah suatu saat Arka akan jatuh hati kepada gadis yang dijodohkan ayahnya itu?

Rosa tidak segera pulang, bahkan sampai keluarga Wiguna mengajaknya makan malam. Arka ikut berbaur dalam menjamu tamu yang dibencinya, tapi dia tak banyak berkata-kata. Berkali-kali sang ayah memancing candaan tentang hubungan dirinya dengan Rosa, tapi Arka tak menanggapinya.

Saat makan malam, Rosa memuji-muji masakan bu Wiguna.

“Masakan tante selalu enak, nasinya wangi, sayurnya sedap.”

“Itu bukan tante yang masak, tapi bibik,” jawab bu Wiguna.

“Rosa ingin belajar masak sama bibik ah, agar kelak disayang suami.”

“Ya, Rosa, itu benar. Arka gemar makanan enak. Kamu harus pintar memasak.”

Lagi-lagi Arka diam.

“Bagaimana membuat nasi menjadi wangi? Dikasih daun pandan ya tante?”

“Bisa saja, dikasih daun pandan, tapi nasi ini memang sudah wangi dari sananya.”

“Oh ya?”

“Namanya beras menthik.”

“Di mana belinya tante?” kata Rosa asal-asalan, pokoknya bicara tentang nasi dan masakan. Biasa, biar kelihatan perhatian pada masakan, biar Arka tahu kalau Rosa akan menjadi istri yang pintar masak.

“Biasanya bibik yang beli, tapi akhir-akhir ini Arka yang beli.”

“Apa? Arka beli beras? Masa laki-laki belanja beras?”

“Dia itu kan kurang kerjaan,” celetuk pak Wiguna.

“Arka merasa kasihan kepada temannya yang penjual beras, jadi untuk rumah, dia pesan sama temannya itu.”

“Untuk kantin juga. Baru tadi dikirim. Padahal banyak itu yang untuk kantin,” sambung pak Wiguna dengan wajah gelap.

“Tidak apa-apa kan Pak, membantu orang susah itu baik sekali.”

“Kalau begitu nanti Rosa juga mau bilang sama mama, agar beli di temannya Arka. Nanti kamu pesankan setelah mamaku setuju ya Ka?” kata Rosa sambil menatap Arka. Lagi-lagi hanya untuk mencari perhatian.

“Ya Ka?” ulangnya setelah Arka tak segera menjawab.

“Gampang,” jawabnya singkat.

Tapi Rosa sebenarnya ingat pada seseorang bernama mbok Mangun yang katanya penjual beras. Dan tiba-tiba Rosa ingin tahu, siapa sebenarnya mbok Mangun, dan apa yang menarik hati Arka tentang penjual beras itu. Siapa tahu dia bisa membantu Arka saat memesan beras, atau entahlah. Pokoknya yang bisa membuat Arka senang karena dia membantunya.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, June 4, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 15

 NAMAKU TETAP SENJA  15

(Tien Kumalasari)

 

Arka mengerutkan keningnya. Kehadiran Rosa membuyarkan kebahagiaannya setelah bertemu Senja.

“Arka, aku mengikuti kamu sejak dari kantor.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin bertemu kamu Arka, aku ingin bicara sama kamu, tapi sangat susah menemui kamu. Hari Minggu ingin bersepeda bersama, kamu selalu berangkat lebih pagi, aku mengontak kantor kamu, kamu bilang nggak mau diganggu saat kerja, menunggui kamu di rumah, kamu tak pernah segera pulang. Aku bingung harus bagaimana supaya bisa ketemu kamu.”

“Sebenarnya untuk apa ketemu aku? Aku selalu sibuk, tak ada waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting.”

“Kita adalah calon jodoh, apa kamu lupa?”

“Itu bukan kemauan aku.”

“Apa kamu berani  melawan kehendak orang tua?”

“Kamu maunya apa sih Ros? Harusnya kamu tahu diri, aku tidak pernah mencintai kamu. Selamanya.”

“Tapi kita dijodohkan!” Rosa berteriak.

Arka mentarter mobilnya.

“Arka, kamu tidak punya waktu untuk aku, tapi kamu menyisihkan waktu untuk berbincang dengan gadis kampung yang masih kanak-kanak. Apa yang kamu lakukan tadi di dalam mobil? Berbuat mesum?”

Arka tertawa.

“Apapun yang aku perbuat, apa urusannya denganmu? Kamu tahu, aku semakin membencimu karena sikapmu semakin menyebalkan.”

“Arka, katakan apa salahku? Mengapa kamu_”

Belum selesai Rosa bicara, Arka sudah menjalankan mobilnya dan memacunya kencang.

Rosa membanting-banting kakinya. Ia berusaha mengikuti, tapi di depannya ada mobil melintas. Hampir saja Rosa menubruknya kalau ia tak segera menginjak remnya.

“Dasar! Keterlaluan! Siapa gadis kecil bersepeda kumuh tadi? Aku tidak segera mendekat, bodoh. Harusnya sejak tadi aku mendekat agar tahu dia itu siapa.”

Rosa mengamati kendaraan di depan, tapi bayangan mobil Arka tak lagi kelihatan.

Sambil mengomel panjang pendek, Rosa memutar mobilnya untuk kembali. Tapi tidak, dia tidak kembali pulang tapi ke rumah keluarga Wiguna. Langsung masuk ke rumah dan menangis terguguk di sana.

***

Bu Wiguna dan pak Wiguna sedang beristirahat di kamar. Memang mereka berniat keluar dari kamar karena hari sudah sore. Mereka terkejut melihat Rosa duduk di sofa sambil menangis.

“Rosa? Ada apa?” tanyanya hampir bersamaan.

Rosa masih saja menangis. Tubuhnya bergoyang-goyang karena isaknya. Bu Wiguna mendekat lalu duduk di sampingnya.

“Rosa, ada apa?”

“Arka … Arka …”

“Arka kenapa?”

“Tidak mau bertemu saya, tidak mau bicara sama saya …” katanya terbata.

“Memangnya di mana dia?”

“Pergi, saya tidak tahu.”

“Katakan dengan jelas, bagaimana kamu ketemu Arka? Di kantornya?”

“Saya menuju kantornya, berusaha menunggu sampai dia pulang. Saya ingin mengajaknya bicara. Tapi dia tidak pulang. Saya mengikutinya terus, dan melihat dia berbincang dengan gadis kampung bersepeda butut.”

“Siapa dia?”

“Entahlah, saya tidak tahu, sepertinya dia anak sekolah melihat seragam yang dipakainya.”

“Lalu apa?”

“Arka mengajaknya masuk ke mobil. Tidak berapa lama lalu gadis itu keluar, kembali mengendarai sepedanya dan pergi.”

“Mengapa kamu tidak mengejar gadis itu agar tahu dia siapa?” kata pak Wiguna kesal. Matanya sudah merah menahan marah.

“Salah saya, saya malah mendekati mobil Arka yang masih berhenti di sana, tapi sikap Arka sangat menyakitkan. Terang-terangan dia mengatakan bahwa tak suka kepada saya,” Rosa menangis lagi.

Bu Wiguna terdiam. Dia sudah pernah mengatakan kalau laki-laki tak suka dikejar. Harusnya Rosa tahu itu. Tapi pak Wiguna marah bukan alang kepalang.

“Anak itu mengapa susah sekali diatur?” geramnya.

Rosa masih terisak-isak. Bu Wiguna hanya menepuk-nepuk tangan Rosa, tapi tak bicara apapun. Ia menyalahkan Rosa yang tampak sangat mengejar-nggejarnya, tapi ia tak ingin mencela di depan suaminya. Ia tak pernah mau menerima usulan apapun. Baginya, keputusannya adalah mutlak, tak boleh ada yang menentangnya, tak boleh ada perdebatan karena yang benar adalah apa yang dikatakannya.

“Kamu tunggu saja di sini, sampai dia pulang.”

Tapi sampai malam Arka tak juga pulang, lalu Rosa berpamit karena lelah menunggu.

“Kamu tenang saja Rosa, dia tak akan pergi jauh dari kamu,” kata pak Wiguna yang mengantarkan Rosa sampai ke mobilnya.

Bu Wiguna tak mengatakan apa-apa sampai mobil Rosa keluar dari halaman.

***

Arka pulang ketika hari sudah malam. Hampir jam sepuluh, dan itu membuat pak Wiguna sangat murka. Belum juga Arka masuk ke kamar, sang ayah sudah menyemprotnya keras.

“Ke mana saja kamu seharian ini?”

“Ke kantor, lalu jalan-jalan.”

“Kamu bertemu Rosa kan?”

“Ya, tapi Arka masih ada perlu.”

“Kamu bilang kalau kamu tidak suka Rosa, apa maksudmu?”

“Tapi cinta itu tidak bisa dipaksa Pak. Sungguh, apa yang saya katakan itu benar. Arka tak bisa mencintai Rosa.”

“Dasar bodoh! Kamu membuat keluarga Daryono kecewa, dan itu buruk bagi kita.”

“Sekarang kita tidak perlu bergantung kepada pak Daryono. Kita bisa berjalan sendiri dengan kokoh.”

“Omong kosong! Kamu tidak bisa lupa kepada semua kebaikan yang pernah diberikannya, Arka!!”

“Arka tidak lupa.”

“Tapi kamu mengabaikan apa yang diinginkannya.”

“Ini masalah hidup Arka. Arka tidak bisa bergantung kepada siapapun.”

“Kamu tidak bisa berbuat semau kamu. Harus nurut dan tidak boleh tidak!”

Arka tak menjawab, ia langsung masuk ke kamarnya dan merenungi hidupnya yang bergantung kepada rasa balas budi. Tidak. Arka tidak akan memaksakan hati untuk menjadi suami seseorang sementara hatinya tidak mau.

***

Mbok Mangun merenung di kamarnya. Ia sudah membayar bunga dan sedikit cicilan kepada pak RT. Hutang itu masih sangat banyak. Ia membanting tulang dan memeras keringat selama bertahun-tahun, dan hutang itu seakan hanya melangkah perlahan untuk mendekati lunas. Ada rasa sesal menghantuinya, mengapa dulu ia harus berhutang kepadanya. Tapi saat itu sangat mendesak. Esok hari uang sekolah harus sudah dibayarkan atau anaknya harus berhenti sekolah. Jangan. Mbok Mangun harus menjadikan anak-anaknya orang. Jangan buta hurup seperti dirinya.

“Baiklah, tidak apa-apa. Besok ada pesenan lagi satu kwintal beras, atas budi baik tuan muda itu. Syukurlah, nanti aku bisa mencicilnya lagi.”

Mbok Mangun menarik selimut yang sudah bertambal di sana sini, untuk menutupi tubuhnya dari dingin yang menggigit. Cuaca sedang tidak bersahabat. Kalau siang panas bukan alang kepalang, giliran malam, dingin serasa membekukan seluruh aliran darah.

“Simbok belum tidur?”

Mbok Mangun terkejut, Senja masih terjaga.

“Kamu juga, mengapa belum tidur?”

“Senja belajar, sekarang sudah mau tidur. Aku menjenguk ke kamar Simbok, ternyata Simbok masih terjaga. Simbok sedang mikir sesuatu?”

“Memikirkan besok harus pergi sebentar saja, karena akan ada kiriman beras lagi. Bukankah mas Arka akan menjemput pesanannya kemari?”

“Bagaimana kalau dikirim sedikit sedikit, lalu biar Senja yang mengirimkannya.”

“Kamu tidak keberatan?”

“Tidak, sebelum sekolah, pagi-pagi sekali, Senja akan mengirimkan sekarung kecil, pulang sekolah, sekarung lagi. Dua hari bisa kelar kan?”

“Tapi itu pesanan kantin kantornya mas Arka. Kalau pagi kan belum buka?”

“Di sana pasti ada penjaga. Nanti biar penjaga yang menerimanya.”

Mbok Mangun menghela napas panjang. Senja anak gadisnya yang baik dan penuh pengertian. Mengirim sekarung beras, itu berat. Bolak balik pula.

“Apa tidak berat sih Nduk?”

“Ya tidak Mbok, kan sekalian pergi ke sekolah.”

“Kita atur saja besok, sekarang tidurlah, malam sudah larut.”

“Simbok juga harus segera tidur,” kata Senja yang kemudian keluar lalu menutupkan pintunya.

Suara derit pintu bambu yang terdengar, seperti sebilah pisau yang menggores batinnya. Senja masih sangat muda, tapi ia selalu bersama simboknya dalam suka dan papa.

“Kasihan kamu Nduk.”

***

Siang harinya ketika berasnya datang, simbok segera menakarnya di dalam karung kecil. Ia setuju pendapat Senja, yang harus mengirimkan pesanan, bukan si pemesan yang mengambilnya.

Hari itu Arka belum datang menjemput pesanannya, atau menyuruh orang untuk mengambilnya seperti pernah dilakukannya pada pesanan pertama.

Senja yang pulang sekolah, segera disuruhnya makan, lalu bersiap mengirimkan berasnya. Mbok Mangun menyuruhnya istirahat dulu, tapi Senja berkeras mengirimkannya di saat itu juga.

”Kamu sudah tahu alamat kantor itu, Nja?”

“Kan ada tulisannya di amplop yang berisi uang kemarin?”

“Ya sudah, hati-hati ya Nduk."

***

Begitu sampai di kantor itu, Senja segera menemui penjaga agar membantu menurunkan berasnya.

“Ini beras siapa?”

“Ini pesanan mas Arka, ada empat karung, tapi saya kirimkan satu persatu,” kata Senja sambil mengelap keringatnya dengan ujung bajunya.

“O, pesanan pak Arka.”

Tiba-tiba seorang laki-laki perlente keluar dari kantor itu, rupanya dia adalah pak Wiguna yang bersiap pulang.

Melihat Senja yang sedang berbincang dengan petugas keamanan, pak Wiguna mendekat.

“Kamu siapa?” ucapnya tanpa menunjukkan keramahan sedikitpun.

“Nama saya Senja.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Wednesday, June 3, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 14

 NAMAKU TETAP SENJA  14

(Tien Kumalasari)

 

Senja tertegun, pak RT kelihatan marah.

“Mbokmu mana?”

“Belum pulang pak RT. Ada apa ya, simbok belum bayar iuran sampah?”

“Iuran sampah apa? Ini masalah utang piutang.”

“Masalah utang piutang?”

“Kamu tidak tahu ya, simbokmu itu punya utang sama aku, sudah bertahun-tahun.”

“Sudah bertahun-tahun?”

”Ya, sudah bertahun-tahun, janjinya mau mencicil setiap seminggu sekali. Tapi kemarin dia tidak datang untuk mencicil.”

Senja merasa seperti diguyur seember air sedingin es. Hampir menggigil. Simboknya bilang tentang cicilan yang katanya cicilan bayar sampah, ternyata punya hutang?

“Jam berapa dia pulang?”

“Tidak pasti Pak, kadang sore, kadang siang sudah pulang, kadang sore hampir maghrib baru sampai di rumah,” katanya hampir gemetar.

“Nanti kalau simbokmu pulang, bilang ditunggu pak RT. Gitu ya.”

“Memangnya hutang simbok berapa?” katanya lirih.

“Masih tujuh juta lebih. Kemarin mencicil agak banyak, tapi ya karena untuk bayar bunganya juga, ya utangnya berkurang sedikit.”

Senja tak bisa berkata-kata. Mendengar uang jutaan saja dia sudah gemetar, dan itu adalah utang simboknya?

“Ya sudah, aku pulang dulu, jangan lupa bilang kalau aku menunggu.”

Senja tak menjawab. Hatinya diliputi kegelisahan yang amat sangat. Tujuh juta bukan uang sedikit bagi Senja, melihatnya saja dia belum pernah. Untuk apa simbok hutang sebanyak itu? Ia tahu pak RT adalah rentenir yang sangat kejam. Ia bukan menjadi pelindung warganya tapi justru menindasnya. Itu sebabnya dia kaya raya. Bagaimana simboknya bisa terjerat hutang sebanyak itu?

Lalu ia harus bilang apa kalau simboknya datang? Ia tahu, simboknya selalu menyembunyikan adanya hutang itu. Barangkali simbok tak ingin anak-anaknya susah dan ikut terbebani. Kalau dia bilang, berarti simbok tahu kalau dirinya sudah mengetahui tentang hutang itu. Pasti simbok akan sedih. Lalu apa yang harus dia katakan? Diam saja? Senja gelisah. Bukan hanya karena hutangnya simbok, tapi juga memikirkan bagaimana caranya membayar hutang itu. Ingin sekali ia membantu simbok, tapi bagaimana caranya?

“Mbak, kok ngelamun? Lapar ya? Kelamaan nungguin aku?” tiba-tiba Rimba datang dan mengolok-oloknya.

“Kamu ngagetin saja.”

Rimba hanya meringis, sambil berlalu. Dari belakang, Senja mendengar Rimba berteriak.

“Mbooook.”

“Hee, jangan berteriak, simbok belum datang,” kata Senja sambil beranjak ke belakang.

“O, belum datang, kalau begitu ayo kita makan. Ada bakwan jagung sama sayur bening Mbak.”

"Ganti bajumu dulu."

Rimba berlari ke kamar mandi lalu cepat-cepat mengganti baju.

"Bakwan jagung kesukaanku," kata Rimba sambil duduk.

“Iya, aku sudah tahu,” kata Senja yang kemudian menemani adiknya makan. Tapi susah sekali menelan makanan yang disuapnya.

"Kok gitu Mbak?  Nggak enak ya?”

“Enak. Ini … mbak lagi sariawan.”

“Wah, sayang sekali kalau sariawan. Sayurnya segar, bakwannya enak, rugi kalau nggak makan.”

“Kamu saja, makanlah yang banyak, mbak pelan-pelan nggak apa-apa.”

Rimba yang tak tahu apa sebenarnya yang membuat kakaknya nggak enak makan, menyuap makanannya dengan nikmat.

Selesai bersih-bersih dapur, Senja duduk di depan, memikirkan apa yang akan dikatakannya nanti pada simboknya. Dan belum juga ia menemukan jawab, dari jauh simboknya sudah berjalan memasuki halaman, sambil seperti biasa menggendong bakul, dan mengenakan caping lebarnya.

Senja berdebar. Kalau dia tak ngomong, salah, kalau ngomong, simboknya pasti bertambah sedih. Sedih karena hutangnya, sedih karena anaknya mengetahui adanya hutang itu.

“Nja, sudah lama pulangnya?”

“Tadi pulang agak siang.”

Simbok meletakkan bakul yang sudah kosong, membuka capingnya, lalu mengelap keringatnya dengan selendang.

“Senja ambilkan minum Mbok,” kata Senja sambil beranjak kebelakang. Tapi simbok malah mengikutinya, lalu duduk di bangku dapur.

Senja meletakkan gelas berisi air putih untuk simboknya.

“Laris Mbok?”

“Habis, hanya membawa limabelas kilo.”

“Syukurlah.”

“Kalian sudah makan?”

“Sudah, sayurnya enak, bakwannya nikmat,” kata Senja untuk menyenangkan simboknya, padahal dia tidak benar-benar menikmati makan siangnya.

“Simbok cuci kaki tangan dulu, masih ada sisa makanan kan?”

“Ya masih, selalu ada bagian simbok yang kami sisihkan.”

Senja membuka tudung saji penutup makanan, menyiapkan piring untuk simboknya.

“Tadi ada yang mencari Simbok,” katanya hati-hati setelah simboknya mulai makan.

“Siapa?”

“Pak RT.”

Mbok Mangun menghentikan suapannya yang hampir masuk ke mulut.

“Bilang apa dia?” tanyanya dengan wajah panik.

“Tidak bilang apa-apa, dia lalu kembali ketika Senja bilang Simbok belum pulang.”

Mbok Mangun tampak menghela napas, pastinya lega, karena katanya pak RT tidak mengatakan apa-apa. Lalu ia melanjutkan menyuapkan makanannya.

“Simbok janji mau membayar sampah hari ini. Nanti saja setelah makan simbok ke sana.”

Senja tak menjawab. Ia meraih sepotong bakwan jagung dan dimakannya, untuk menenangkan hatinya. Ditatapnya simbok dengan pandangan iba. Simbok belum begitu tua, tapi rambutnya sudah mulai memutih. Kulit wajahnya kusam, sedikit berkeriput. Matanya cekung dan tampak lelah. Pasti sangat berat berjuang membanting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya. Simbok hanya perempuan yang kekuatannya pastilah terbatas. Ingin rasanya Senja memintanya beristirahat saja. Ia yang akan menggantikan tugasnya menjual beras berkeliling. Tapi dia masih sekolah,  terkadang ia harus pulang agak sore kalau ada tambahan pelajaran. Dilihatnya simbok mengunyah makanannya pelan. Apakah simbok berpikir tentang hidupnya dan segala pahit getir yang harus dilaluinya?

“Kapan kamu ujian?” tanya Simbok tiba-tiba.

“Bulan depan Mbok. Nanti kalau Senja sudah lulus, biar Senja yang menggantikan Simbok menjajakan beras.”

“Sembarangan kamu bicara. Pekerjaan menggendong beras setiap hari itu berat.”

“Kalau simbok bisa melakukannya, mengapa Senja tidak?”

“Jangan Nduk, kamu itu masih muda. Kalau kebanyakan terbungkuk-bungkuk karena menggendong barang berat, nanti kamu beneran bisa bongkok lhoh.”

Senja tertawa.

“Mengapa Simbok khawatir tentang badan Senja. Senja hanya ingin membantu Simbok.”

“Simbok masih kuat. Kalau kamu mau, lebih baik kamu mencari pekerjaan saja.”

“Lulusan SMA bekerja apa Mbok?”

“Masa tidak boleh?”

“Boleh, tapi barangkali susah. Tapi coba nanti Senja pikirkan lagi. Pokoknya sekolah Rimba nanti Senja yang akan mencarikan biayanya.”

Simbok tersenyum haru. Ia menepuk-nepuk tangan Senja pelan.

Senja membersihkan meja, sementara mbok Mangun pergi keluar. Pasti pergi ke rumah pak RT yang jahat itu. Rasa sedih kembali mengguyur perasaannya.

***

Siang hari itu Senja baru pulang dari sekolah. Cuaca sangat panas, membuatnya gerah. Berkali-kali ia mengusap keringat di dahinya dengan saputangan yang selalu digenggamnya.

Sebuah mobil melintas dan berhenti di depannya.

“Senjaaaa!” kepala seseorang nongol keluar dari jendela mobil, berteriak memanggil Senja.

Senja sudah tahu, itu kebiasaan tuan muda ganteng yang setiap kebetulan melihat kepulangannya dari sekolah selalu mengganggunya dengan canda.

“Udara panas Mas, aku harus segera pulang.”

“Nanti dulu, ayo ikut aku.”

“Ke mana?”

“Ayo, ikut saja,” kata Arka yang kemudian mengambil sepeda Senja, disandarkan di sebuah pohon di tepi jalan.

“Mau apa Mas?”

“Ayo ikut, masuklah ke mobil.”

“Nggak mau. Apa-apaan masuk ke mobil segala."

“Senja, aku mau bicara, tentang bisnis.”

“Bisnis itu apa? Aku tidak tahu tentang bisnis.”

“Tentang pesanan beras lagi, jangan di sini, panas. Masuk sebentar supaya bicaranya enak.”

Senja masuk ke dalam mobil, di samping kemudi.  Rasa sejuk dingin segera menyergapnya. Di dalam mobil tak akan ada rasa gerah. Lalu Arka masuk dari arah samping kemudi.

“Mau ngomong apa?” tanya Senja tak sabar.

“Ada berita baik. Kantin di kantorku juga akan mengambil beras pada Simbok.”

“Benarkah?” wajah Senja menjadi cerah.

Pasti senang simboknya mendapat pesanan lagi.

“Sesampai di rumah, kamu bilang pada Simbok ya, pesanannya seperti kemarin. Uangnya aku bayar di muka. Ini,” kata Arka sambil memberikan amplop yang pastinya berisi uang.

“Aku taruh di amplop supaya tidak berceceran. Masukkan ke dalam tasmu, lalu kamu boleh pulang.”

Senja tersenyum senang. Menatap Arka dengan ucapan terima kasih.

Arka senang melihat senyum itu. Ingin rasanya berlama-lama bersama gadis itu.

“Sudah? Bukakan pintunya dong,” kata Senja yang tak bisa membuka pintu mobilnya.

Arka tertawa, tadi tak sengaja mengunci pintunya.

“Maaf.”

Mereka berpisah. Udara hangat kembali menyergapnya. Senja mengayuh sepedanya dengan bersemangat. Simbok pasti senang.

Arka masih menatapnya, sampai Senja berbelok di sebuah tikungan.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. Arka terkejut.

“Mau apa kamu kemari?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 2, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 13

 NAMAKU TETAP SENJA  13

(Tien Kumalasari)

 

Rosa terus mengayuh sepedanya. Santai, karena yang dibuntutinya juga mengayuh santai. Cuaca masih remang, udara dingin memeluk tubuh. Tapi pengayuh sepeda justru merasa gerah. Keringat mulai membasah. Disekitar jalanan, rumah-rumah banyak yang masih tertutup. Lampu teras masih berkelip. Barangkali mereka lebih suka memeluk guling daripada menghirup udara dingin yang membekukan tulang. Mereka terus mengayuh, jauh dari rumah Arka, membuat Rosa bertanya-tanya. Sebenarnya mau kemana, sang tampan pujaan hatinya ini pergi sepagi ini?

“Heran aku, ia bukannya berputar mengitari kota, justru ke arah luar kota. Ada yang dicarinya, atau sekedar bersepeda saja?” gumam Rosa kesal.

Ia mulai lelah, tapi yang di depannya tak mau berhenti. Hal itu membuatnya sangat penasaran. Ketika remang mulai menyibak, semburat merah menghiasi ufuk timur, seakan menghamparkan permadani berwarna cerah untuk menyambut datangnya sang surya.

Berkali-kali Rosa mengelap keringatnya dengan handuk yang tersampir di pundaknya. Beberapa kendaraan lewat, hanya satu dua, tapi suara deru motor atau mesin mobil mulai menguak heningnya pagi.

Lalu sepeda Arka berhenti di ujung jalan. Ada kerumunan orang di sana. Rosa membenamkan topi yang dipakainya agar wajahnya tak kelihatan. Ia ingin tahu itu kerumunan apa. Lalu ia bertanya kepada seseorang yang lewat.

“Dik, itu pada ngapain?”

“Itu penjual nasi liwet. Pagi buta sudah mangkal di situ, pembelinya banyak,” katanya kemudian berlalu. Tampaknya ia juga baru saja membeli nasi liwet di kerumunan itu.

Rosa tersenyum sendiri. Ia berpikir Arka kelaparan kemudian ingin makan di situ.

“Baiklah, aku sabar menunggu,” gumam Rosa yang kemudian duduk di sebuah batu setelah menyandarkan sepedanya di sebuah pohon.

“Lama banget makannya,” keluhnya. Ia juga ingin tapi mana mungkin tiba-tiba nimbrung ke situ? Dia kan ingin tahu ke mana Arka bersepeda sepagi itu. Apakah akan langsung pulang, atau masih akan meneruskan perjalanan entah ke mana?

Karenanya Rosa tetap menunggu. Lalu setelah sekian lama, Arka melintas. Rosa menundukkan wajahnya, pura-pura mencari sesuatu di tanah berumput, Lalu Rosa merasa lega karena Arka tidak menatap ke arahnya.

“Heran, tidak pulang, dan membawa bungkusan begitu banyak? Jadi ia beli nasi liwet untuk siapa? Bukan dibawa pulang? Berarti akan diberikan kepada seseorang. Siapa? Rosa sudah mengayuh kembali sepedanya.  

Kendaraan mulai sedikit ramai. Suara klakson bertalu-talu membuat semarak pagi mulai merekah.

Tiba-tiba Rosa kehilangan buruannya. Ada mobil box melintas, lalu setelah menghilang, bayangan Arka tak lagi terlihat.

“Ke mana dia? Masa menghilang begitu saja?”

Rosa menghentikan sepedanya. Apakah Arka masuk ke sebuah halaman rumah? Rosa melihat ke kiri dan ke kanan, tak ada tanda-tanda masuk diantara rumah-rumah sederhana berhalaman luas.

“Ah ya, ada tikungan di sana.”

Rosa kembali mengayuh sepedanya, memasuki tikungan ke arah kiri.

“Tuh kan, itu dia.”

Arka memasuki halaman kecil dengan rumah kecil yang sederhana. Pintu rumah itu sudah terbuka. Sekilas Rosa melihat seorang wanita yang tidak lagi muda, melintas di pintu. Tapi bayangan Arka tak lagi kelihatan, walau sepedanya berdiri di dekat pintu rumah.

Rosa hanya berhenti sejenak, lalu mengayuh pergi. Ada orang yang akan ditanyainya, seorang laki-laki membawa pikulan.

“Pak … numpang tanya Pak? Rumah itu rumah siapa sih?”

“Yang mana Non?”

“Itu, yang pagarnya bambu.”

“O, itu rumah mbok Mangun.”

“Mbok Mangun?”

“Dia pedagang beras keliling,” orang yang membawa pikulan itu berlalu.

“Arka ke tempat pedagang beras keliling? Namanya mbok Mangun?”

Seribu kali berpikir, seribu kali pula ia tak menemukan jawabannya. Masa Rosa harus menunggu sampai Arka keluar dari rumah itu? Agak lama Rosa berdiri sambil memegangi sepedanya, siapa tahu Arka segera keluar. Tapi tidak. Rosa ingat Arka membeli nasi liwet, bukan dibawa pulang, pasti diberikan kepada mbok Mangun, si penjual beras, lalu makan bersama. Begitukah? Masa Arka mau makan ditempat kumuh seperti itu? Ada hubungan apa Arka sama mbok Mangun sehingga susah-susah bangun pagi lalu mengunjunginya sambil membawa bungkusan nasi?

Pasti Arka sedang menikmati nasi yang dibawanya bersama keluarga mbok Mangun. Rosa merasa cukup. Ia akan menyelidiki siapa mbok Mangun setelahnya. Lalu ia mengayuh sepedanya pulang. Oh tidak, dia akan mampir dulu di rumah keluarga Arka. Barangkali ia akan menemukan jawab di sana. Mungkin saja mbok Mangun adalah bekas pembantu keluarga itu, siapa tahu.

***

Arka yang tidak tahu bahwa ada seseorang yang memata-matainya, duduk santai di atas tikar yang digelar mbok Mangun karena tidak punya kursi untuk tamu, kecuali bangku yang berjajar di depan rumah.

Mereka sedang berbincang akrab, disela-sela keluhan mbok Mangun karena Arka selalu repot untuk keluarganya.

“Jangan sungkan Mbok, anggap saja aku ini keluarga Simbok, mengapa harus sungkan.”

“Setiap Minggu mas Arka membawakan kami makanan, kami jadi sungkan,” sela Senja yang kemudian menyajikan segelas kopi di dekat tempat duduk Arka.

“Kamu tidak mendengar aku berkata? Aku ini keluarga simbok, jadi jangan sungkan kalau aku sering datang kemari hanya untuk makan bersama kalian.”

“Tidak apa-apa Mbak, kan tidak bagus menolak rejeki,” kata Rimba sambil memasukkan sepotong telur terakhir ke mulutnya.

“Huss!” Senja memelototinya.

“Senja, mengapa kamu marahi adik kamu? Apa yang dikatakannya itu benar. Ya kan Rimba?”

Rimba hanya mengangguk, kemudian pergi ke belakang untuk mencuci tangannya yang belepotan kuah. Lagipula Rimba takut dimarahi sang kakak setelah tadi sang kakak memelototinya.

“Bukankah itu benar?” gumamnya sambil mencuci tangannya.

Dasar anak-anak.

***

Rosa sampai di rumah keluarga Wiguna, ketika pak Wiguna dan istri sedang menikmati kopi pagi dan cemilan.

“Hei, itu Rosa?” pak Wiguna lebih dulu berteriak.

“Selamat pagi, Om, Tante,” sapanya sambil mengelap keringat di lehernya.

“Kamu bersama Arka?”

“Tidak, saya sendirian. Tadi lewat trus mampir.”

“Tadi tidak jadi nyamperin Arka?”

“Tidak, Arka sudah berangkat duluan.”

“Dasar anak itu.”

Bu Wiguna ke belakang untuk meminta bibik agar membuatkan minum untuk Rosa.

“Dulu di sini punya pembantu bernama mbok Mangun?” tanya Rosa setelah bu Wiguna kembali duduk.

“Pembantu?”

“Namanya mbok Mangun?”

“Tidak pernah. Pembantu saya sudah puluhan tahun ya bibik itu, sama-teman-temannya. Tapi nggak ada yang namanya mbok Mangun.”

“O, bukan ya?”

“Dari mana kamu mendapatkan nama itu?” tanya pak Wiguna.

“Dari orang. Sekarang menjadi penjual beras. Kok kenal keluarga ini, saya kira bekas pembantu di sini dulunya,” kata Rosa ngawur.

“Nanti dulu, penjual beras? Kalau penjual beras itu teman Arka,” kata bu Wiguna.

“Teman Arka?” Rosa menyahut, agak keras.

“Arka punya teman yang sekarang jualan beras. Karena kasihan, dia minta agar keluarga di sini mau beli beras dari dia.”

“O, mbok Mangun teman Arka?”

“Masa teman Arka simbok-simbok?” sambung pak Wiguna.

“Mungkin ibu dari temannya itu Pak.”

“O, ya sudah, di mana kamu ketemu dia?”

“Mm, di jalan, sedang omong-omong, kok kenal sama keluarga ini.”

“Ya sudah, bukan apa-apa, hanya penjual beras. Ayo itu sudah disiapkan minumnya. Nanti sarapan di sini ya, sambil menunggu Arka barangkali segera pulang.”

Tentu saja Rosa mau.

***

Tapi hari itu Arka tidak segera pulang. Ia berada di rumah mbok Mangun sampai siang, membantu menakar beras ke dalam keresek-keresek, yang besok pagi mau dijajakan oleh mbok Mangun. Dari terheran-heran atas kebaikan dan perhatian Arka, lalu mereka sudah terbiasa. Rimba bahkan sambil bersenda gurau membantu Arka menakar beras.

Arka baru pulang setelah makan siang di rumah mbok Mangun dengan lauk ala kadarnya, tapi dirasanya sangat nikmat olehnya.

“Maas mas Arka, simbok hanya bisa menyuguhkan makanan sederhana seperti ini,” kata simbok.

“Ini sangat enak. Saya belum pernah makan makanan seenak ini.”

“Masa? Pasti hanya untuk menyenangkan simbok kan?”

“Bukan, sungguh saya merasa bahwa makanan simbok sangat enak. Saat makan itu, apapun lauknya, asalkan suasananya menyenangkan, pasti enak.”

***

Beberapa hari kemudian, ketika Senja pulang dari sekolah, ia melihat adiknya belum pulang. Simbok juga belum ada di rumah. Senja memasukkan sepedanya ke belakang rumah,  lalu melongok ke ruang makan. Biasanya kalau simbok mau pulang agak sore, makanan untuk anak-anaknya sudah disiapkan.

Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk yang agak keras, di luar rumah. Itu suara laki-laki. Senja bergegas ke depan, terkejut melihat siapa yang berdiri di teras dengan wajah gelap.

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 17

  NAMAKU TETAP SENJA   17 (Tien Kumalasari)   Dan hal yang sudah diduga serta membuat hatinya kesal ialah ketika sang ayah menyuruh Arka men...