Saturday, February 28, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 21

 BIARKAN AKU MEMILIH  21

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menunggu reaksi sang ayah ketika mendengar kesanggupannya yang seperti tanpa berpikir panjang.

“Kamu tidak bicara dulu dengan suami kamu? Maafkan bapak, soalnya ini masalah mendesak, yang tidak bisa aku bicarakan sekarang, karena akan panjang. Yang penting kamu berangkat ke sana dulu. Hanya saja kamu harusnya bicara dengan suami kamu kan?”

“Iya Pak, tentu Nirma akan bicara. Adri itu orangnya tidak terlalu susah. Dia seorang pimpinan perusahaan yang pastinya bisa memaklumi ketika di salah satu cabang ada masalah. Bapak tidak usah khawatir, Adri akan mengerti.”

“Apa dia sudah tidur? Kalau belum biar bapak bicara sama dia.”

“Tidak usah Pak, benar, dia sudah tidur. Nanti Nirma yang akan bicara, tidak usah Bapak.”

“Baiklah, kamu bicara baik-baik pada suami kamu. Kalau kamu tidak bisa, bapak yang akan berangkat.”

“Jangan Pak, biar Nirma tangani. Bapak tenang saja.”

“Kamu belum tahu permasalahannya, makanya bisa tenang.”

“Nirma itu bukan hanya putri pak Bondan, tapi juga muridnya dalam segala hal, jadi kalau Bapak mempercayai Nirma, berarti Nirma bisa menangani.”

“Baiklah, anak bapak memang pintar. Sekarang tidurlah, sekali lagi maaf, bapak mengganggu malam-malam.”

“Tidak apa-apa Pak. Nirma juga belum tidur.”

Begitu menutup ponselnya, Nirmala lalu berkemas. Ia bukan hanya membawa peralatan kerja tapi juga baju-baju dan semua perlengkapannya. Ia akan mengajak Pratama dan mbak Rana, dan bermaksud tinggal lebih lama. Siapa tahu kepergiannya dari rumah dan menjauh dari suaminya akan bisa menenangkan jiwanya.

Setelah itu ia keluar, melongok ke kamar Pratama, dan melihat mbak Rana sudah tertidur. Nirmala urung mengatakan kepergiannya besok pagi.

“Biarlah mbak Rana bersiap mendadak besok, aku akan membantunya kalau dia repot.”

Baru saja ia merebahkan tubuhnya, didengarnya mobil memasuki halaman, dan sepertinya masuk ke garasi. Jam sepuluh lebih sedikit. Alasan apa yang akan dikatakannya dengan kepulangannya yang lumayan kelewat malam?

Nirmala meringkuk sambil memeluk guling pura-pura tertidur pulas.

Agak lama ketika kemudian terdengar pintu terbuka, lalu suara orang mandi. Nirmala kesal, mengapa tidak segera benar-benar tertidur, sehingga ia masih bisa mendengar semuanya?

Lalu suara kamar mandi terbuka dan tertutup, lalu entah apa yang dilakukan suaminya, ketika kemudian hidungnya mencium wangi sabun mandi, lalu terdengar dan terasa ada gerakan di belakang punggungnya. Nirmala ingin kabur, tapi mana mungkin, dia kan sedang pura-pura tidur?

Lalu sebuah tangan kokoh memegang bahunya, lalu terdengar bisikan halus.

“Nirma, maafkan aku ya.”

Nirmala bergeming. Maaf.....? Maaf karena telah menghamili orang lalu lebih memperhatikan perempuan yang sedang hamil oleh benih yang diteteskannya? Alangkah mudahnya. Tapi kemudian Nirmala heran. Suaminya mengucapkan maaf. Ia sedang menghitung-hitung, berapa kali Adri meminta maaf. Mungkin baru sekali ini. Atau dua kali, entah kapan dan atas kesalahan apa maka dia meminta maaf. Adri adalah laki-laki yang sangat mahal mengucapkan kata maaf. Ia terlalu angkuh. Kali ini kata maaf itu diucapkannya, apakah karena merasa dosanya sudah terlalu besar? Coba katakan apa yang tadi dia lakukan ketika bersama perempuan bernama Dwi itu. Membujuknya karena ia menangis dan enggan ditinggal pergi? Lalu apa … dan apa … dan apa … Tapi kemudian tiba-tiba Nirmala tak tahan mengekang gejolak yang sudah sampai di ubun-ubun. Tiba-tiba ia berteriak.

Menjerit sangat keras, membuat Adri terhenyak.

“Nirma … Nirma, ada apa?”

“Lepaskan aku,” pekik Nirmala sambil mengibaskan tangannya. Adri turun dari pembaringan. Adri heran melihat Nirmala kemudian menangis tersedu-sedu.

Ia belum pernah melihat Nirmala menangis.

“Kamu mimpi apa?” Adri malah menganggap Nirmala bermimpi buruk.

Adri merengkuh tubuh istrinya, mendekapnya erat.

“Nirma, kamu mimpi apa?”

“Lepaskan aku,” kata Nirmala sambil mendorong tubuh suaminya.

Adri meraih gelas berisi air putih yang selalu tersedia di dekat tempat tidur, lalu diberikannya kepada sang istri.

“Minumlah, biar hati kamu tenang.”

Tapi Nirmala mendorong tangan suaminya sehingga air minum itu tumpah, membasahi baju Adri sehingga basah kuyup.

“Uups!’ Kok begini Nirma? Dengar, aku baru saja pulang. Tak tega membangunkan kamu, walau tiba-tiba aku merasa kangen sekali,” katanya lembut.

Kalau saja dalam keadaan normal, pasti Nirmala sudah terhanyut oleh ucapan suaminya yang seperti itu. Tapi sekarang ini Nirmala sedang marah, dan mencoba mengendapkan amarah yang menyesak di dadanya, namun sedikit gagal. Karenanya ia keluarkan semuanya dengan menjerit sekuat-kuatnya. Tapi rupanya Adri mengira ia baru saja bermimpi buruk.

“Nirma, sungguh aku sangat kangen,” katanya sambil mendekat, dengan mengabaikan bajunya yang basah kuyup.

“Baru menemui selingkuhan, lalu tiba-tiba bilang kangen? Apa semua laki-laki bisa berbuat busuk seperti itu?” kata batin Nirmala, yang kemudian kembali menjatuhkan dirinya di tempat tidur, membelakangi sang suami dan tidak mengacuhkannya sampai kemudian terbangun pada pagi harinya.

***

Pagi harinya Nirmala terbangun dengan mata sembab. Bagaimanapun ia seorang istri, yang merasa kehilangan suami di pelukan perempuan lain. Sebisa mungkin menahannya, tapi malam itu adalah batas kesabarannya. Hanya saja Nirmala tak mau berbicara tentang apa yang dirasakannya, sehingga Adri juga tidak mengerti apa yang dirasakan istrinya.

Nirmala sudah mandi ketika Adri baru saja terbangun. Nirmala mengacuhkannya, dan langsung menemui mbak Rana yang sedang membuatkan susu untuk Pratama.

“Mbak Rana, pagi ini kita mau ke luar kota lagi, Pratama dan tentunya mbak Rana harus ikut. Siapkan semua kebutuhan Tama. Kita berangkat setelah Tama mandi dan makan pagi.”

“Baik, Nyonya. Tapi apakah Nyonya sakit?”

“Kenapa memangnya?”

“Wajah Nyonya sangat pucat. Kalau sakit apa harus dipaksa pergi?”

“Ini masalah pekerjaan. Kantor cabang yang aku tangani ada masalah, aku harus ke sana pagi ini.”

”Oh, baiklah.”

“Aku tunggu, lakukan secepatnya.”

“Baik Nyonya, mau saya mandikan dulu mas Tama, tapi dia harus minum susu dulu.”

“Baiklah.”

“Nirma,” sebuah panggilan dari suaminya terdengar dari ruang tengah. Ia belum mandi.

Nirma mendekat.

“Duduklah, coba katakan, semalam kenapa? Kamu membuatku takut.”

“Tidak apa-apa, entahlah. Aku sendiri tidak tahu.”

“Nirma, sesungguhnya aku akan bercerita banyak.”

“Tidak usah, aku akan berangkat ke kantor cabang yang aku tangani pagi ini,” kata Nirmala yang tidak ingin mendengar apapun. Pasti Adri ingin berterus terang tentang kehamilan Dwi, karenanya dia tidak ingin mendengarnya.

“Pagi ini?”

“Ya, kata bapak ini mendesak. Aku bawa Tama dan mbak Rana. Dia masih butuh ibunya.”

“Aku sedang bingung saat ini.”

“Apa yang membuat kamu bingung? Bukankah semua permasalahan harus kamu hadapi dan kamu selesaikan? Selesaikan saja.”

“Bukan sebuah permasalahan, sikapmu ini yang membuat aku bingung.”

“Adri, aku baik-baik saja. Pikiranku sedang banyak beban. Jadi jangan memaksaku untuk berbincang apa saja.”

“Kamu terlalu sibuk, kamu harus bisa mengatur waktu.”

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

“Aku kira kamu marah karena aku pulang malam. Aku ingin mengatakan, ketika aku mau pulang, Dwi merasa sangat pusing, lalu aku memaksanya membawanya ke dokter. Tak tahunya dokternya antri lama. Jam delapan baru selesai, lalu aku langsung pulang setelah membelikan obatnya.”

“Aku hanya ingin mengatakan, kasihan sekali kamu ini. Seorang direktur harus mengantarkan bawahannya pindahan ke tempat baru, mengantar ke dokter dan membelikan obatnya. Apakah tidak ada karyawan yang bisa disuruh-suruh?” katanya sambil meninggalkan suaminya, melihat kesiapan mbak Rana yang akan diajaknya pergi bersama Tama.

“Sudah selesai Mbak?”

“Semuanya sudah, tapi mas Tama belum makan.”

“Makan di mobil saja, supaya aku tidak kesiangan.”

“Kamu mau pergi sekarang?”

“Ya, menunggu Pratama.”

Adri baru merasa, sang istri sedang marah padanya. Ucapannya yang terakhir, yang mengatakan bahwa direktur harus mengantarkan anak buah menunjukkan bahwa sesungguhnya sang istri tidak suka.

“Nirma, biarkan aku bicara dulu,” katanya sambil menarik tangan Nirmala menjauh dari kamar Tama, dimana ada mbak Rana sedang mendandani Tama.

Nirma terpaksa menurut karena Adri menariknya kuat.

“Apa kamu marah? Kamu marah sama aku? Karena aku pulang sampai malam? Aku mohon mengertilah Nirma, Dwi itu teman masa kecilku. Aku melakukannya hanya karena ada ikatan teman masa kecil, tidak lebih. Tapi kalau kamu tidak suka aku melakukannya, aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Adri.

Nirmala hanya mengangguk, tapi kemudian dia bertanya.

“Bagaimana dengan kehamilannya?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Friday, February 27, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 20

 BIARKAN AKU MEMILIH  20

(Tien Kumalasari)

 

Adri mengangguk, kemudian Nirmala berlalu karena mendengar ponsel Adri berdering. Ia tak ingin mendengar mereka bertelpon. Walau begitu tertangkap sepotong kalimat yang membuatnya merinding.

“Apa maksudmu menggugurkan? Jangan. Bayi itu tak berdosa, mengapa kamu ingin membunuhnya?”

Nirmala masuk ke kamar Pratama. Di atas tempat tidur, ia bermain bersama mbak Rana. Nirmala ikut nimbrung dan duduk di dekat Pratama, yang kemudian melonjak senang, serta merangkul sang ibu sambil tertawa-tawa.

“Maaa … mmaaaa,” pekiknya.

Barangkali ia senang karena sang ibu mau ikut bermain bersamanya.

“Anak pintar, sedang main apa?”

“Bbilll .. ubbbil …”

“Bagus sekali … lanjutkan main mobilnya, nggak boleh ngebut ya, harus hati-hati,” kata Nirmala.

Beban yang menghimpit mencair tiba-tiba karena ada Pratama yang mengajaknya bermain sambil mengeluarkan celoteh-celoteh lucu.

“Apa yang aku cari selama ini? Bahagia? Bukankah bahagia itu ada di setiap apa yang kita sukai? Ada Tama yang menghiburku, tak perlu ada luka. Biarkan dia mengering bersama dengan berjalannya waktu,” kata batin Nirmala.

Nirmala menekan rasa sakit hatinya di dasar lubuk hatinya yang paling dalam. Ia harus bahagia. Harus tampak bahagia dengan menyelimuti jiwa raganya dengan membesarkan hatinya, bahwa semua yang dilakukannya untuk kebahagiaan orang tuanya.

“Mmaa …. mmaaaa,” Tama berteriak. Ia menunjuk-nunjuk ke arah mobilnya yang terjungkal ke bawah bantal.

“O, jatuh ya? Kenapa mobilnya dibawa naik ke situ? Nih, sudah ibu ambil. Jalan lagi?”

Mbak Rana yang tadinya keluar kamar, ternyata masuk sambil membawa botol susu.

“Saatnya mas Tama tidur, Nyonya.”

“Oh ya, baiklah,” Nirmala mengambil botol susu yang dibawa mbak Rana, lalu ditunjukkannya kepada Tama.

“Ayo, mobilnya istirahat dulu ya sayang, saatnya Tama Bobok.”

“Muum … muum?”

“Iya, minum, ibu tungguin di sini, supaya mas Tama bisa tidur nyenyak,” kata Nirmala sambil mengambil mobil-mobilan kecil yang semula dibuat main oleh Pratama, lalu menidurkannya, dan memberikan botol susunya.

Tama menerimanya sambil tertawa-tawa.

Nirmala berbaring di sisinya sambil menepuk-nepuk pantatnya pelan.

Tak lama kemudian Pratama memejamkan matanya dan terlelap dengan botol susu kosong yang tergeletak di sampingnya. Nirmala mengambilnya dan memberikannya kepada mbak Rana.

Ketika mbak Rana keluar, Adri melongok ke dalam.

“Nirma, aku tungguin di kamar, kamu malah ada di sini.”

“Aku tidur di sini.”

“Tidur di sini?”

“Tama agak rewel, biar aku menemani.”

“Kan ada mbak Rana.”

“Biar mbak Rana istirahat. Kasihan, dia pasti lelah.”

Adri menutup kembali pintu kamar anaknya, melangkah ke kamarnya sendiri dengan rasa kecewa. Sudah berkali-kali Nirmala menolaknya, dengan seribu satu macam alasan. Kebetulan, atau disengaja?

Adri berbaring sendirian di kamarnya, dan hampir terlelap ketika ada notifikasi pesan di ponselnya.

Adri meraihnya.

“Adri, besok aku sudah tidak ke kantor lhoh, kamu jadi mau mengantarkan aku kan?”

Dijawab oleh Adri.

“Habis kantor.”

“Jam berapa? Jangan kesorean ya.”

“Aku usahakan.” 

Lalu Adri menutup ponselnya dan memejamkan matanya, memenuhi rasa kantuk yang menyerangnya.

***

Sore hari setelah pulang kantor Adri langsung melaju ke rumah Dwi. Sebenarnya dia sungkan, tapi Dwi mengatakan kalau suaminya tidak pulang sudah dua hari ini.

Begitu sampai, Dwi sudah menunggunya dengan sebuah kopor besar yang siap dibawanya.

“Hanya ini?" kata Adri sambil membantu menarik kopornya.

“Iya, kan yang lain sudah ada di sana beberapa hari yang lalu.”

Dwi berjalan sendiri dengan tongkat. Ia tak memerlukan kruk ketiak karena kakinya sudah bisa untuk menapak, asalkan pelan.

Sudah sore ketika itu, tapi perjalanan ke kantor cabang hanya membutuhkan waktu kira-kira satu setengah jam.

Dwi duduk di samping kemudi, kepalanya bersandar di jok mobil.

“Pusing?”

"Aku pikir lebih baik aku gugurkan kandungan ini.”

“Kemarin sudah kita bahas. Saranku, jangan lakukan. Bayi itu tak berdosa. Apa kamu keberatan merawat bayi? Apakah kehadiran seorang anak tidak membuat kamu bahagia?”

“Karena kondisi aku saat ini.”

“Sudah aku katakan, dengan kondisi apapun, jangan mengorbankan bayi tak berdosa itu.”

“Dri, kalau kamu menjadi aku ….”

“Jangan lagi bahas tentang keinginan melenyapkan bayi itu. Aku tak mau mendengarnya. Semalam sudah lama kita bahas, mengapa kamu membicarakannya lagi?”

Dwi terdiam. Tentu saja kehamilan akan menghambat semua aktifitasnya, termasuk keinginannya untuk selalu mendekati Adri. Biarpun jauh, ia harus berusaha agar Adri benar-benar menyukainya. Pemikiran gila yang sudah lama berada di dalam batinnya.

“Dri, kalaupun jauh, kamu harus sering-sering mengunjungi aku ya.”

“Ya, kalau lagi senggang.”

“Harus ada waktu senggang untuk aku dong,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Adri.

“Dwi, mengapa begini?”

“Kepalaku tiba-tiba pusing sekali, dengan begini lebih nyaman,” katanya enteng.

Adri agak merasa canggung, tapi ia membiarkannya. Habis alasannya pusing, masa mau menolak?

Ia melirik ke arah bahunya, dan melihat mata Dwi terpejam. Aroma harum menusuk hidungnya, merayapi ke sekujur  tubuhnya. Ini tidak biasa. Sudah lama Nirmala menolaknya, dan kedekatan kali ini sangat mengganggunya. Pikirannya lari ke mana-mana. Iman harus kuat. Ia seorang suami. Istrinya sudah merelakan dia menolong dan membantu Dwi, ia tak boleh tergoda walau setan mulai menggelitik-gelitik jiwanya.

Terbayang wajah Nirmala, terbayang wajah Pratama dengan suara lucunya, lalu perlahan Adri memindahkan kepala Dwi ke arah samping, agar bersandar di jok mobilnya. Tapi tangan Dwi tiba-tiba diletakkan di pangkuannya. Adri menoleh, Dwi tertidur, pasti ia tak sadar melakukannya. Perlahan ia mengalihkan tangan Dwi, diletakkannya di atas pangkuannya sendiri.

Adri mempercepat laju mobilnya, berharap segera sampai di tujuan dan godaan itu segera berlalu.

***

Hari sudah menjelang malam ketika mobil Adri memasuki halaman kecil di depan rumah mungil. Di teras ia melihat bibik sudah menunggu. Begitu mobil berhenti, bibik bergegas menghampiri. Dwi yang baru saja terbangun, tersenyum melihat  bibik pembantunya yang sangat setia membuka pintu mobil dan membantunya turun.

“Bik, bantu aku ke kamar, apa kamarnya sudah beres?”

“Sudah semuanya Nyonya, apakah Nyonya sakit?”

“Pusing sejak di perjalanan Bik,” katanya sambil melangkah dengan tongkat.

Bibik menuntunnya, sedangkan Adri membawa kopornya, masuk ke rumah mengikuti Dwi dan pembantunya. Sangat perhatian Adri, padahal ada banyak karyawan kantor yang bisa melakukannya. Bagi Dwi, Adri memiliki perhatian khusus untuk dirinya, dan itu membuatnya senang. Atau, semangat bercerai dengan sang suami juga dipicu oleh godaan ini? Entahlah, yang jelas ia kemudian merasa sakit, ingin segera berbaring, lalu menyuruh bibik membuatkan minuman hangat.

“Aku letakkan kopornya di sini ya.”

“Ya, biar bibik menatanya di almari.”

“Aku bisa segera pulang kan?”

“Jangan dulu Adri, bibik sedang membuatkan minuman. Dia juga sudah menyiapkan makan malam untuk kita.”

“Mengapa repot-repot? Aku bisa pulang kemalaman dong.”

“Kamu laki-laki, apakah takut pulang sendirian saat malam?”

“Bukan karena takut, tapi_”

“Dri, tolonglah jangan tergesa pulang. Kepalaku pusing sekali, maukah memijit sebentar?”

“Apa? Bukankah bibik bisa melakukannya?”

“Bibik sedang membuatkan minum, tolong sebentar saja. Entah kenapa tiba-tiba kepalaku berdenyut.”

Adri mendekat.

“Duduklah di sampingku, biar gampang. Aku kalau lagi pusing biasanya sembuh kalau sudah dipijit.”

Adri kebingungan. Ini kan tidak boleh, tapi perempuan di depannya terdengar merintih-rintih. Tangan Dwi meraih tangan Adri kemudian diletakkan di kepalanya.

“Tolong Adri, pijit sebentar saja…” barangkali sudah beratus-ratus kali kata tolong itu terlontar dari bibir tipis itu, sejak pertemuan mereka setelah bertahun menghilang tak ada kabar.

“Pijit, Adri.”

Jari tangan Adri bergerak pelan, memijit kepala Dwi. Entah di bagian mana yang harus dipijit ketika orang merasa pusing, Adri tidak tahu. Ia memijit sekenanya.

“Agak keras sedikit Adri, tanganmu lembut sekali,” kata Dwi, tetap seperti orang merintih.

Adri mulai kebingungan. Ini tidak wajar. Dwi mulai nyerempet-nyerempet bahaya. Dia perempuan muda cantik dan selalu berusaha menarik hatinya. Hanya berdua di kamar itu, karena ketika bibik melongok ke dalam dan melihat mereka berduaan, lalu bibik mundur dan menutup pintunya pelan, sambil memeletkan lidahnya. Bibik tidak mengerti, bahwa tidak pantas nyonya majikannya berbuat seperti itu terhadap laki-laki beristri. Yang dia tahu bahwa laki-laki ganteng itu sangat serasi dengan majikannya, dan ia senang kalau mereka benar-benar saling jatuh cinta. Ia merasa kasihan sang nyonya majikan diejek dan dihina oleh mertuanya, dikata-katai sebagai perempuan mandul.

Ia berharap kandungan sang nyonya akan memiliki ayah yang pantas.

Bibik pergi ke belakang setelah meletakkan dua gelas susu coklat panas di atas meja di ruang tengah.

***

Hampir jam sepuluh malam, Adri belum sampai di rumah. Nirmala berbaring di kamar dengan gelisah. Bohong kalau Nirmala benar-benar sangat tegar dan tidak goyah mendengar seorang wanita hamil karena suaminya. Ada sakit mengiris yang diendapkannya untuk menciptakan senyum bahagia kepada seluruh rumah, kepada kedua orang tuanya. Tapi ada saat endapan sakit hati itu muncul ke permukaan, membuat tangisnya meledak-ledak.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Nirmala tak ingin mengangkatnya kalau telpon itu dari suaminya. Paling-paling ada alasan yang entah apa, yang membuat dirinya terlambat datang. Mobil mogok, ban pecah di jalan ….

Tapi panggilan itu dari sang ayah.

Nirmala manata batinnya, agar tak kelihatan kalau dia sedang menangis.

“Assalamu’alaikum Nirma.”

“Wa’alaikumussalam Pak, ada apa malam-malam bapak menelpon? Ibu baik-baik saja kan?” yang dikhawatirkan adalah kalau ada berita buruk.

“Tidak, bapak dan ibumu baik-baik saja, apakah bapak mengganggu?”

“Tidak.”

“Mengapa suara kamu seperti sengau begitu? Kamu sedang menangis?”

Nirmala tertawa, atau pura-pura tertawa.

“Bapak ada-ada saja. Ini Nirma lagi pilek Pak.”

“Oh, ya sudah. Bapak menelpon karena ada hal penting. Baru saja staf dari cabang yang kamu tangani, ada sedikit masalah. Bagaimana kalau besok kamu berangkat ke sana? Biar sopir mengantarkan kamu.”

“Baik, saya berangkat besok. Tidak usah dengan sopir. Saya akan mengajak bibik dan Pratama,” tanpa disuruh dua kali Nirmala menyanggupinya. Barangkali lebih baik jauh dari rumah.

***

Besok lagi ya.

Thursday, February 26, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 19

 BIARKAN AKU MEMILIH  19

(Tien KUmalasari)

 

Nirmala masuk ke kamarnya dan tak lagi mendengarkan Adri yang sepertinya masih menelpon. Tapi sepotong kalimat yang didengarnya cukup menggetarkan hatinya. Sejauh apa hubungan suaminya dan Dwi, yang katanya hanya teman masa kecil, tapi ternyata dia hamil? Nirmala luluh dalam keterkejutan dan rasa gundah. Ini namanya perselingkuhan. Ia ingat kata sang ayah ketika dirinya mengutarakan rasa cintanya pada Adri. Sang ayah sangat tidak setuju. Ia melihat sesuatu yang buruk dan akan terjadi pada rumah tangganya. Dan inilah sesuatu itu.

Nirmala masuk ke kamar mandi, tapi tidak segera mandi. Air matanya bercucuran, bersaing dengan kucuran air kran yang dipakainya mengisi bathup yang akan dipakainya. Selama berumah tangga, baru kali ini Nirmala mengucurkan air mata. Baru kali ini NIrmala merasa sedih dan menyesal.

“Keadaan sudah sangat buruk, haruskah aku minta cerai?” gumamnya lirih, dan air mata itu masih tetap saja mengalir.

Tapi kalau sampai dia bercerai, apa yang akan dikatakan oleh orang tuanya?

“Tidak, aku tak ingin menunjukkan pada bapak dan ibu tentang buruknya rumah tanggaku. Aku ingin mereka melihat bahwa hidupku bahagia,” katanya sambil masuk ke dalam bathup dan berendam dalam air hangat, lalu membasuh wajahnya yang basah oleh air mata.

Nirmala menghitung-hitung, jalan mana yang akan ditempuh setelah mendengar sepotong suara suaminya di telpon. Apakah bercerai adalah hal terbaik yang harus dilakukan? Tapi bagaimana dengan orang tuanya. Tapi akan kuatkah dirinya menghadapi hidup berumah tangga dengan segala kepalsuan yang dilakukan suaminya? Sambil berendam itu ia mereka-reka tentang apa yang akan dikatakan suaminya. Selama ini hubungannya dengan Dwi selalu diceritakannya. Lalu setelah Dwi hamil, apakah Adri juga akan berterus terang kepadanya?

Sambil menguatkan hatinya, Nirmala menunggu apa yang nanti akan dikatakan sang suami.

Tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk keras dari luar.

“Nirma, kamu masih mandi?”

Nirmala membasuh wajahnya berkali-kali. Tampaknya suaminya sudah menunggu dirinya dan ingin mengatakan sesuatu.

“Nirma!”

“Ya, aku sudah selesai.”

Nirmala meraih handuk yang tersampir untuk membalut tubuhnya, lalu beranjak keluar. Sang suami masih di luar pintu, menegurnya.

“Lama sekali mandinya.”

“Pengin segar, jadi berlama-lama.”

Nirmala ingin berlalu, tapi Adri menghentikannya. Aroma wangi dari tubuh sang istri yang menguar, dan balutan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya, membuatnya menarik tangan sang istri.

Nirmala tahu apa yang diinginkan Adri, tapi tiba-tiba ia merasa jijik. Ia mendorong tubuh suaminya.

“Jangan dekat, aku sedang menstruasi,” kemudian Adri membiarkannya menjauh, dan masuk ke dalam ruang ganti.

Adri keluar kamar dengan kecewa.

Dan nyatanya sampai malam hari, Nirmala menunggu, Adri tak bercerita apapun kepada dirinya tentang Dwi, seperti yang sering dia lakukan. Oh ya, tentu saja ia malu mengatakannya. Ini kan tentang Dwi yang hamil. Bukan main suaminya ini. Dibalik sikapnya yang manis, tersembunyi perbuatan yang menjijikkan.

Hari itu Nirmala tidak makan malam dengan alasan badannya sedang tidak enak. Ia tak mengatakan apapun pada suaminya. Ia juga tak menunjukkan sikap marah atau kesal. Rupanya Nirmala sedang menunggu tentang apa yang ingin dilakukannya. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkannya. Mana yang lebih berat. Menjaga hatinya sendiri, atau menjaga perasaan orang tuanya? Orang tuanya pasti akan sedih kalau melihat rumah tangganya yang retak. Atau juga dia sambil dimarah-marahi karena dulu tidak menurut pada kata-katanya.

Malam itu Nirmala tidur di kamar lain. Ketika Adri bertanya, ia hanya tak ingin berdekatan dengan sang suami karena sedang ‘berhalangan’.

***

Hari itu Dwi yang sudah masuk kerja mengeluh tentang kehamilannya.

“Kalau kamu hamil, kamu tidak bisa bercerai kan?”

“Kehamilan ini akan aku sembunyikan. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bercerai.”

“Kalau kamu bicara tentang kehamilan ini, bisa jadi suami kamu membatalkan keinginannya menikah lagi.”

“Biarkan saja, aku lebih baik bercerai.”

“Hidup sendirian dalam keadaan hamil tentu tidak enak. Lebih baik ada suami yang akan mendukung dan menjaga kamu.”

“Aku tidak butuh dukungan dia. Ada kamu di dekat aku, itu sudah cukup.”

“Ini sangat berbeda.”

“Pokoknya aku sudah meminta dia mengurus perceraian, dan dia sudah menyanggupinya. Semoga urusannya segera rampung.”

“Bagaimana keadaan kamu sekarang, apa sudah lebih baik?”

“Sangat baik. Kakiku sudah tidak terasa nyeri, setelah sebelumnya tampak agak bengkak. Aku sebenarnya ingin segera pindah ke kantor cabang saja. Kelamaan di sini berarti akan lebih sering bertemu suami aku.”

“Kurang seminggu lagi, bertahanlah.”

“Aku tidak tahan. Tapi sebenarnya yang membuat aku sedih adalah berjauhan dengan kamu.”

“Akan banyak yang akan menjaga kamu di sana. Teman-teman kita baik semua.”

“Entahlah. Apakah nanti kamu akan mengantarkan aku saat aku pindah?”

“Mulai sekarang kamu bisa mulai bebenah. Mana yang akan kamu bawa.”

“Kalau begitu bisakah besok aku melihat rumah yang akan aku pakai di sana?”

“Sekalian bawa barang-barang kamu. Kalau sudah siap boleh ke sana sebelum mulai bekerja, sehingga saat bekerja tidak akan ada yang mengganggu.”

“Baiklah, besok akan aku suruh bibik menata barang-barang yang akan aku bawa. Setelah siap aku akan membawanya ke sana dulu.”

“Itu bagus.”

“Kamu mengantarku kan?”

“Aku harus mengantar kamu?”

“Tolong Adri, kita bisa berangkat sore setelah pulang kerja. Masa aku yang masih belum bisa berjalan cepat ini akan berangkat sendirian?”

“Kamu bilang akan membawa bibik pembantu. Bawa aja bibik, dan suruh dia menunggu di sana sampai kamu benar-benar pindah.”

“Tapi kita akan lama tidak bertemu, aku ingin kamu mengantarkan aku melihat rumahnya.”

“Kita atur dulu waktunya.”

“Benar ya Dri, antar aku melihat rumahnya dulu, sambil membawa sebagian barangku. Sambil menunggu aku pindah, biar bibik membersihkan dan mengatur rumahnya. Aku belum bisa membayangkan, rumahnya seperti apa.”

“Nanti aku bilang dulu pada istriku.”

“Yaah, mana mungkin dia mengijinkan.”

“Istriku tidak pernah punya pikiran jelek, pasti dia mengijinkan aku mengantar kamu, hanya saja melihat waktunya.”

“Kalau hari Minggu?”

“Biasanya kalau Minggu aku mengajak Tama jalan-jalan, bersama Nirmala juga. Jadi sebaiknya sepulang kerja. Tapi bagaimanapun aku harus bicara dengan istri juga. Atau begini saja, kamu benahi barang-barang kamu, aku akan minta salah satu karyawan untuk menemani kalian melihat-lihat. Aku akan mengantarkan kamu ketika kepindahan kamu bulan depan nanti.”

“Nggak jadi besok sambil membawa barang-barang?”

"Minggu ini tidak bisa, aku lupa, pak Bondan akan rapat di sini dengan seluruh staf, tapi harinya aku tidak tahu.”

“Makanya sepulang kantor. Aku kan belum bisa menyetir sendiri.”

“Makanya akan ada yang mengantar kamu.”

“Kapan sih rapatnya?”

“Belum tentu. Pak Bondan sering tiba-tiba mengatur jadwalnya. Biasanya mulainya sore, sampai malam, dan aku tidak tahu kapan. Sudahlah, daripada aku pusing memikirkannya, aku suruh orang untuk mengantarkan kamu saja.”

Dwi terpaksa diam dengan perasaan kecewa.

***

Berhari-hari sesudahnya, diantara Adri dan Nirmala tak ada yang bicara tentang Dwi. Mungkin bagi Adri tak ada yang penting dibicarakan dengan istrinya, karena Dwi sudah bersiap untuk pindah ke kota lain, dan ia menganggap sang istri bisa memaklumi kalau dia sering membantu Dwi. Bukankah Nirmala sudah tahu kalau Dwi adalah teman masa kecil, jadi tak ada yang perlu dicurigai. Kalau saja Adri tahu bahwa kehamilan Dwi yang terlontar dari mulutnya beberapa hari yang lalu, telah membuat sang istri mengira bahwa hubungannya dengan Dwi sudah sampai ke titik yang paling tajam. Nirmala salah paham tapi tidak segera membicarakan dengan sang suami.

Nirmala diam, hanya untuk menjaga agar rumah tangganya kelihatannya baik-baik saja. Sekali dia melontarkan kemarahannya karena sang suami menghamili wanita lain, maka rumah tangganya dipastikan akan selesai saat itu juga. Lalu orang tuanya akan sedih, akan kecewa. Kecuali itu ia juga akan disalahkannya.

Perubahan sikap Nirmala membuat Adri bertanya-tanya.

“Nirma, mengapa sikapmu kelihatan aneh?”

“Aneh? Apakah aku bersikap aneh? Perasaan biasa-biasa saja kok. Sejak dulu aku kan memang tidak banyak bicara?”

“Benar, tapi wajah kamu selalu tampak kusut.”

“Aku kelelahan. Di kantor banyak pekerjaan.”

“Kalau lelah, kamu kan bisa pulang lebih awal, dan banyak istirahat.”

“Ya, nanti aku pikirkan.”

“Oh ya, dua hari lagi Dwi sudah akan pindah kantor.”

“Aku sudah tahu,” jawab Nirmala singkat.

“Dia minta agar aku mengantarkan kepindahannya.”

"O, ya … silakan saja. Berbuat baik itu kan pekerjaan mulia.”

Dan bodohnya Adri ia merasa bahwa sang istri menganggap bahwa dirinya laki-laki  yang baik hati.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, February 25, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 18

 BIARKAN AKU MEMILIH  18

(Tien Kumalasari)

 

Adri menatap Dwi yang tampak kebingungan.

“Mengapa kamu kelihatan panik? Bukankah itu anugrah, seandainya perkiraan dokter itu benar?”

“Adri, mengapa kamu mengatakannya sebagai anugrah, aku ingin cerai, kalau kehamilan ini diketahui, akan sulit bagiku menggugat cerai.”

“Kamu lupa ya, suami kamu ingin menikah lagi karena mengira kamu tidak bisa hamil? Nah, sekarang ternyata kamu hamil, berarti kamu bisa menolak keinginan suami kamu untuk menikah lagi.”

“Apa? Tidak. Aku tidak mau.”

“Bagaimana kamu ini. Ternyata kamu bisa hamil, itu keinginan suamimu dan mertua kamu kan?”

“Aku tetap minta cerai.”

“Dwi, sebenarnya akar permasalahan itu kan ada di kamu, tentang kamu yang dianggap tidak bisa hamil. Lhah kalau ternyata kamu bisa hamil, berarti mertua kamu tidak perlu menginginkan adanya menantu baru.”

“Masalahnya aku terlanjur kehilangan rasa cinta aku pada suami. Jadi aku tetap akan minta cerai, atau menggugat cerai. Masalah kehamilan, kalau benar, akan aku rahasiakan.”

“Dwi, sebaiknya_”

“Aku akan ke dokter kandungan dulu.”

“Maaf Dwi, tadi aku ditelpon dari kantor, ada tamu menunggu aku, kalau aku harus menemani kamu ke dokter kandungan, tamuku kelamaan menunggu.”

“Baiklah, aku tidak usah kamu temani. Hasilnya nanti aku kabari.”

“Nggak apa-apa ya, sendirian?”

“Nggak apa-apa. Besok kalau aku sudah jauh dari kamu, apapun juga aku harus menjalaninya sendiri.”

“Ya sudah, kamu hati-hati ya. Atau kamu menelpon pembantu kamu saja, biar dia menyusul kamu kemari.”

“Iya, gampang. Sekarang pergilah. Urusan kantor barangkali lebih penting,” kata Dwi yang langsung duduk lalu mulai menelpon pembantunya, sementara Adri langsung keluar untuk kembali ke kantor.

***

Dwi menunggu di klinik dokter kandungan, dengan perasaan tak menentu. Seperti dikatakannya tadi kepada Adri, bahwa ia tidak lagi mencintai suaminya. Rasa cinta itu hilang perlahan sejak suaminya menelpon dan kemudian mendorongnya terjatuh sehingga kakinya sakit.

“Aku tidak sudi kembali pada dia. Aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Aku harus bercerai darimu,” kata batinnya berkali-kali.

Tiba-tiba saja Dwi merasa nyaman berada di dekat Adri. Adri yang selalu melindungi, Adri yang selalu ada setiap kali mendengar keluhannya. Terkadang Dwi berpikir, apakah sebenarnya Adri mencintainya, tapi terhalang oleh pernikahannya? Tapi mengapa Adri sering memuji-muji istrinya? Untuk menutupi rasa hati yang sebenarnya? Bisa jadi begitu. Bukankah aku juga cantik dan menarik? Banyak laki-laki suka padaku, kemungkinan demikian juga Adri. Seandainya itu benar, mengapa tidak boleh? Adri juga sebenarnya suka padanya. Dan menikah lagi kan tidak dilarang? Kalau benar istri Adri baik, pasti ia akan mengijinkan suaminya menikah lagi.

Pikiran Dwi lari ke mana-mana. Setan sedang mengipasi jiwanya dan bercerita tentang nikmatnya dosa. Dan Dwi adalah perempuan rapuh yang mudah tergoda. Kebaikan Adri membuatnya tergila-gila. Bukankah sejak kecil mereka dekat? Bukankah mereka sering main petak umpet, berlarian kesana kemari lalu jatuh berguling-guling bersama-sama? Manisnya masa lalu sangat menggodanya. Ingin sekali ia kembali berguling-guling di pasir pantai, bersama-sama. Apa??? Dwi memukul kepalanya berkali-kali.

“Tidak … tidak … mengapa aku begini?”

Seorang ibu yang duduk tak jauh darinya bertanya, melihat ulahnya yang mengherankan.

“Ada apa Bu?”

“Apa?” Dwi terkejut sendiri, tak mengira ada yang melihat kelakuannya.

“Ibu memukul-mukul kepala Ibu, apakah terasa sakit?” tanya ibu itu lagi.

“Tidak, tidak … ini … kepala saya tiba-tiba terasa sangat sakit.”

“Ibu sedang hamil?”

“Entahlah, baru mau periksa.”

“Bawaan orang hamil memang begitu. Ini kehamilan pertama?”

“Saya belum tahu apakah saya hamil atau tidak. Seandainya benar hamil, ini kehamilan saya yang pertama.”

“O, baru mau periksa ya. Semoga Ibu benar-benar hamil. Rasa pusing itu biasa pada awal kehamilan, Ibu tampak sangat gelisah,” katanya lagi sambil menjauh.

Dwi merasa kesal. Wanita itu malah mendoakan agar aku bear-benar hamil? Huhh, tidak lah. Semoga tidak.

“Nyonya Dwiyanti,” panggilan itu mengejutkannya. Ia segera berdiri dan masuk ke dalam ruangan periksa.

***

Bibik pembantu sudah datang. Tadi nyonya majikan menyuruhnya menemui di klinik kandungan, jadi ia langsung pergi ke sana. Tapi ia tak melihat sang nyonya ada di sana.

“Apakah nyonya sudah pulang ya?”

Bibik melongok ke sana kemari, lalu bertanya pada orang di dekatnya.

“Bu, apakah nyonya saya sudah pulang ya?”

“Nyonya siapa ya?”

“Nyonya Dwi … Dwiyanti … “

“O, sepertinya sedang ada di dalam.”

“O, sedang diperiksa. Ya sudah, terima kasih Bu, saya tunggu  di sini dulu,” kata bibik sambil duduk.

“Mengapa juga, nyonya periksa ke dokter kandungan? Apa nyonya hamil ya? Kalau begitu tuan Anton itu salah. Dikiranya nyonya tidak bisa hamil. Lha tapi hamil sama siapa ya? Jangan-jangan hamilnya sama tuan ganteng yang kemarin menjemput itu? Waduh, seneng dong, pasti segera dinikahi,” kata batin bibik seenaknya.

Dan pemikiran itu langsung saja dilontarkan ketika sang nyonya majikan keluar dari ruang periksa.

“Apa benar Nyonya hamil?”

“Iya Bik, baru dua minggu,” jawab Dwi dengan wajah muram.

“Bagus sekali Nyonya, segeralah nyonya bilang sama tuan ganteng itu, supaya segera menikahi,” kata bibik seenaknya.

“Apa maksudmu?”

“Kalau dia membuat nyonya hamil, harusnya dia segera menikahi kan?”

“Maksudmu apa? Ngomongnya jangan keras-keras, pada ngelihatin kesini tuh,” kata Dwi sambil menarik si bibik pergi.

“Yang nyonya kandung itu, anak tuan ganteng yang menjemput nyonya kemarin kan?” kata bibik lebih pelan, sambil menuntun nyonya majikannya berjalan keluar rumah sakit.

“Ngawur kamu itu. Orang tidak ngapa-ngapain bagaimana bisa menghamili?” jawab Dwi suram.

“Waduh, bukan dia ? Jadi ini benih tuan Anton ?”

“Jangan bilang pada dia kalau aku hamil, nanti susah kalau aku minta cerai.”

“Tapi nyonya harus bersenang hati. Nyonya tidak mandul seperti apa yang dikatakan tuan Anton dan ibunya.”

“Entahlah, aku tidak tahu, haruskah aku senang, atau sedih."

”Lho, Nyonya kok bilang begitu. Harus senang dong.”

“Ya sudah, tolong panggilkan taksi, kamu langsung pulang, mampir ke kantor aku, aku harus kembali ke kantor. Tapi kepalaku pusing sekali nih.”

“Nyonya tidak diberi obat?”

“Diberi resep, beli di luar saja, aku nggak bisa lama-lama di sini.”

“Ya sudah, saya langsung panggil taksi untuk pulang, Nyonya tidak usah kembali ke kantor saja ya.”

“Ya, cepat panggil, aku duduk di situ dulu.”

“Bibik mengantarkan nyonya majikannya duduk di bangku lobi, lalu dia meminta ponsel sang nyonya untuk memanggil taksi.

***

Dwi sedang berbaring di kamarnya, ia menunggu Adri menelpon untuk menanyakannya, tapi ponsel Adri tidak aktif. Ketika ia menelpon sekretarisnya, sang sekretaris mengatakan kalau pak Adri sedang ada tamu penting.

“Siapa tamunya?”

“Tamu bisnis. Ibu masih di rumah sakit?”

“Aku sudah pulang. Nanti kalau sudah selesai menemui tamunya, tolong bilang aku tidak kembali ke kantor, kepalaku pusing sekali,” pesan Dwi kepada sekretaris Adri.

“Baiklah Bu, nanti akan saya sampaikan.”

Dwi kembali berbaring, agak kecewa karena tidak bisa segera mengabarkan kehamilan itu kepada Adri.

Ketika ia hampir tertidur, bibik yang disuruh membeli obatnya di apotik sudah datang.

“Nyonya, ini obatnya.”

“Ambilkan yang obat pusing, biar aku minum dulu.”

“Nyonya tidak makan terlebih dulu?”

“Tadi aku sudah makan di kantor. Ambilkan obatnya, dan siapkan segelas air putih.”

Bibik segera menyiapkan air putih yang diminta, lalu membantu meminumkan obatnya. Ada dua resep yang tadi diambil bibik, yaitu obat dari dokter bedah tulang serta dari dokter kandungan. Tapi Dwi minta yang obat pusing dulu, karena kepalanya terasa semakin berdenyut. Barangkali karena Dwi banyak pikiran, jadi pusingnya bertambah parah.

***

Sore hari itu Adri langsung pulang ke rumah. Karena kesibukannya seharian itu, maka ia lupa menanyakan Dwi tentang hasil pemeriksaan di dokter kandungan itu.

Ia langsung mandi dan bercanda dengan Pratama.

Nirmala heran, dua hari ini Adri pulang lebih cepat dari dirinya. Ia senang melihat Adri bercanda dengan anaknya.

Ketika ia berlalu setelah menyapa Tama ala kadarnya, ponsel Adri berdering. Nirmala hanya melihatnya sekilas, tapi ada ucapan awal suaminya yang didengarnya dan membuatnya gemetar.

“Kamu benar-benar hamil?” itu suara Adri, cukup keras.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, February 24, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 17

 BIARKAN AKU MEMILIH  17

(Tien Kumalasari)

 

Anton menunggu di teras, sementara pendatang itu adalah Adri, yang mendekat tanpa ragu. Ia datang untuk menolong, atas permintaan Dwi.

“Selamat pagi,” sapa Adri.

“Pagi,” jawab Anton dingin.

“Saya …._”

“Anda siapa?” potong Anton sebelum Adri melanjutkan bicara.

“Saya teman Dwi, sekantor.”

“Adri, kamu sudah datang?” tiba-tiba Dwi keluar, berjalan tertatih dengan kruk sebagai penyangga kakinya.

“Jadi kamu pergi dengan laki-laki ini? Kamu bersikeras minta cerai, karena sudah punya seseorang yang lebih kamu sukai?”

“Itu bukan urusan kamu lagi, setelah aku bilang minta cerai,” kata Dwi yang langsung keluar, melewati Anton yang berdiri mematung.

“Adri, bantu aku turun,” katanya sambil berusaha turun dari tangga teras.

Adri segera mendekat, membantu Dwi turun, lalu Dwi melangkah sendiri ke arah mobil.

Anton menatapnya dengan mata berapi-api.

“Kamu masih istri aku, tapi kamu sembarangan berhubungan dengan laki-laki.”

“Dia ini direktur perusahaan yang ingin membantu aku,” teriak Dwi sambil memasuki mobil. 

Adri mengambil kruknya dan meletakkannya di bagian belakang mobil, lalu dia mengangguk ke arah Anton.

“Terima kasih, saya hanya membantu dia karena dia yang meminta.”

Adri menuju ke arah mobil, duduk di belakang kemudi, lalu menjalankan mobilnya keluar dari halaman.

Anton membanting kakinya dengan marah.

“Bik, apakah sudah lama nyonyamu berhubungan dengan laki-laki itu?”

“Saya melihatnya pertama kali ketika dia datang saat nyonya kesakitan, lalu dia membawanya ke rumah sakit. Setelah itu saya tidak pernah melihatnya datang kemari.”

“Ya sudah. Kamu sudah tahu apa yang terjadi kan?”

“Sedikit Tuan, saya hanya mendengar dari jauh dan tidak berani bertanya.”

“Nyonyamu itu tetap akan aku jadikan ratu di rumah ini. Tapi aku harus membawa istri baru yang dipilihkan ibu. Hanya saja dia tidak mau.”

“Maaf Tuan, biasanya perempuan itu tidak ada yang mau dimadu. Kalaupun ada, seribu satu.”

“Baiklah, nanti kalau dia mau pergi dari sini ya terserah saja. Tapi kamu tetap di sini melayani istri baruku. Lakukan seperti kamu melayani nyonyamu sekarang ini.”

“Tuan. Mohon maaf, nyonya sudah meminta saya untuk mengikutinya ke manapun nyonya pergi.”

“Kamu mau?”

“Bagaimana lagi tuan, saya sudah lama melayani nyonya.”

“Bodoh. Nanti aku tambah gaji kamu.”

“Maaf Tuan.”

“Dasar orang kampung. Mosok gaji besar tetap ditolak?”

“Maaf Tuan.”

Akhirnya Anton pergi dengan uring-uringan.

***

Adri mengendarai mobilnya pelan. Ada perasaan tidak enak ketika bertemu laki-laki yang pastinya adalah suami Dwi.

“Itu tadi suami kamu?”

“Calon mantan,” jawab Dwi singkat.

“Pasti dia mengira aku ada hubungan denganmu. Agak tidak enak juga rasanya. Tanggapannya terasa kaku. Pandangannya seperti menuduh,” omel Adri.

“Mengapa? Memangnya kita harus peduli tentang apa yang dia pikirkan?”

“Ya tidak enak, nanti dikira aku menjadi orang ketiga.”

“Bukan kamu, tapi dia yang menghadirkan orang ketiga.”

“Kamu tidak menyesal ingin bercerai darinya?”

“Mengapa harus disesali? Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa pada dia. Aku juga tidak akan peduli apa yang akan dia lakukan. Itu sebabnya aku ingin segera pindah dari rumah itu.”

“Bukankah kamu juga berhak atas rumah itu? Harusnya kamu tidak usah pergi.”

“Aku? Aku tidak peduli dengan harta. Aku tidak sudi hidup bersama dalam suasana yang tidak nyaman. Menurut kamu apakah aku harus menerima perempuan yang....dan memperebutkan cinta Anton? Seperti tidak ada laki-laki lain saja,” kata Dwi sengit.

“Apa benar kamu tidak mencintai suami kamu lagi?”

“Tidak ada cinta lagi. Tidak ada. Dan tolong segera carikan aku kontrakan ya Dri, kalau bisa yang dekat kantor.”

“Ya, nanti kita bicara lagi. Ada hal yang perlu kita bicarakan nanti.”

“Semoga bukan karena istrimu yang marah karena aku menelpon kemarin,” kata Dwi khawatir.

“Bukan, istriku tidak marah. Dia bukan tipe wanita yang suka menuduh sembarangan. Dia tahu suaminya orang baik,” kata Adri sambil tersenyum.

“Istri yang baik,” kata Dwi, agak sedikit sinis. Tiba-tiba ada rasa tidak suka ketika mendengar Adri selalu memuji-muji istrinya.

“Benar. Dia memang baik.”

Dwi ingin mengatakan sesuatu, tapi mobil Adri sudah memasuki halaman kantor.

***

Adri membantu Dwi turun, lalu Dwi berjalan sendiri menuju ruangannya. Tapi kemudian Adri menghentikannya.

“Kita ke ruanganku dulu,” kata Adri ketika melihat Dwi ingin berbelok ke ruangannya sendiri.

“Oh, kita mau bicara sekarang?”

Adri mendahului Dwi menuju ke ruangannya, setelah itu barulah dia duduk, diikuti Dwi setelah dengan susah payah meletakkan kruknya.

“Serius amat?”

“Maaf Dwi, ini harus aku katakan. Tapi lebih dulu bacalah surat ini,” kata Adri sambil mengambil sebuah amplop, diletakkannya di depan Dwi.

“Apa ini?” tanya Dwi sambil membuka amplopnya. Wajahnya berubah pias setelah membacanya.

“Aku dipindahkan?”

“Ini ditanda tangani oleh direktur utama, kemarin aku dipanggil untuk ini.”

“Apakah pekerjaanku sangat buruk?”

“Bukan, kantor cabang membutuhkan orang seperti kamu.”

Tiba-tiba air mata Dwi berlinang. Ada sedih membayang pada wajahnya.

“Apakah kamu yang mengusulkan ini semua? Karena kamu keberatan dengan semua permintaan aku?” suaranya bergetar.

“Dwi, jangan salah sangka. Aku tidak tahu semua ini. Kemarin aku dipanggil karena pak Bondan sudah memutuskan. Aku tidak bisa menolaknya karena alasannya adalah di kantor cabang dibutuhkan orang seperti kamu. Tolong jangan salah sangka."

“Dri, apa kamu tahu bahwa aku sangat sedih karena berjauhan dari kamu?” air mata Dwi sudah menetes. Adri mengambilkan tissue, diberikannya kepada Dwi.

“Mengapa kamu menangis? Kamu mendapat kedudukan yang sama. Di sana sudah ada tempat untuk kamu tinggal. Jadi kamu tidak usah mencari rumah atau kontrakan.”

“Itu sebabnya kamu tidak segera mencarikan rumah kontrakan untuk aku di sekitar kantor ini?”

“Sesungguhnya iya.”

“Mengapa kamu tidak mengatakannya sejak awal sehingga aku tidak berharap bisa selalu berdekatan dengan kamu?”

“Ini masalah dinas, aku tidak bisa mengatakannya di luar kantor. Lagipula waktunya tidak mengijinkan. Melalui telpon juga tidak pantas, jadi aku mengatakannya setelah kamu berada di kantor. Maaf Dwi, sekali lagi aku katakan bahwa ini keputusan direktur utama.”

"Bulan depan tinggal dua minggu lagi, sementara kakiku masih seperti ini,” keluh Dwi sambil mengusap air matanya.

“Dengan berjalannya waktu, semoga kakimu sudah lebih membaik.”

“Kamu tega, Dri,” lalu Dwi kembali menangis.

Adri merasa luluh. Ia tak pernah melihat Dwi sesedih itu. Bahkan ketika menceritakan perbuatan suaminya.

“Jangan begitu Dwi, walaupun jauh, kita masih akan bisa sering bertemu.”

“Sering bertemu?”

“Aku akan sering mengunjungi kamu.”

Mata Dwi melebar, menatap Adri tak percaya.

“Benarkah Adri?”

“Itu janjiku, karena kamu adalah sahabat baik aku. Jangan sedih begitu, aku tidak tega melihat perempuan menangis. Istriku tidak pernah menangis sih.”

“Kamu selalu membandingkan aku dengan istri kamu.”

“Tidak membandingkan. Kalian berbeda. Kamu rapuh, membuat aku trenyuh.”

“Apa boleh buat Dri, aku harus menerima keputusan ini, karena aku memang butuh pekerjaan, apalagi setelah cerai dari suami aku. Semoga kakiku segera pulih. Besok maukah mengantarkan aku untuk kontrol?”

“Ya, tentu saja. Nanti dari kantor saja, langsung. Apa ada yang kamu rasakan? Misalnya rasa nyeri atau tidak enak di luka dan bekas operasi itu?”

“Tidak, biasa kalau luka merasa nyeri. Aku hanya merasa sering pusing.”

“Nanti bilang kepada dokter tentang apa yang kamu keluhkan.”

“Aku merasa kuat karena ada kamu. Dan kamu berjanji akan sering mengunjungi aku.”

Adri tersenyum.

“Sekarang kembalilah ke ruangan kamu. Pasti staf kamu sangat prihatin dengan keadaan kamu.”

Dwi berdiri lalu meraih kruknya.

“Hati-hati,” pesan Adri.

***

“Tadi Dwi sudah masuk kantor.”

“Aku tahu, kamu tadi bilang akan menjemputnya kan?”

“Iya. Agak kasihan juga, dia sedih karena segera harus pindah ke kantor cabang.”

“Mengapa sedih? Bukankah dia masih mendapatkan fasilitas yang sama, termasuk rumah di mana dia bisa tinggal?”

“Benar. Tapi dia kan masih belum bisa berjalan normal.”

“Apa kamu membantu dia berjalan juga?” kali ini pertanyaan Nirmala agak bernada menyindir.

“Tidak, dia bisa berjalan sendiri dengan bantuan kruk.”

“Kapan dia mau pindah?”

“Perintahnya bulan depan, dia harus hati-hati tentang kakinya. Semoga saat pindah keadaannya sudah lebih baik.”

Nirmala terdiam. Sesungguhnya dia tak begitu suka Adri membicarakan Dwiyanti. Jadi ia lebih baik diam ketika Adri menceritakan juga perlakuan suami Dwi, yang tentu saja Adri mendengar dari cerita Dwi.

“Besok aku mengantarkannya kontrol.”

Lagi-lagi Nirmala tidak menanggapi.

***

Sesuai janjinya, hari itu Adri mengantarkan Dwi ke rumah sakit. Untunglah tidak banyak pasien sehingga mereka tidak terlalu lama menunggu.

Adri tiba-tiba bangkit dan keluar dari ruang periksa, karena ada telpon dari kantor. Ia berbicara agak lama, sampai kemudian terlihat Dwi keluar dari ruangan dengan wajah panik.

“Ada apa?”

“Dri, ketika aku bilang sering pusing, dokter menyarankan aku ke dokter kandungan. Apa ya maksudnya?”

“Dokter kandungan? Apa kamu mengandung?”

“Entahlah, tadi itu kan dokter bedah, entah mengapa dia berkata begitu. Katanya dia tidak bisa memastikan.”

***

Besok lagi ya.

BIARKAN AKU MEMILIH 21

  BIARKAN AKU MEMILIH  21 (Tien Kumalasari)   Nirmala menunggu reaksi sang ayah ketika mendengar kesanggupannya yang seperti tanpa berpikir ...