BIARKAN AKU MEMILIH 21
(Tien Kumalasari)
Nirmala menunggu reaksi sang ayah ketika mendengar kesanggupannya yang seperti tanpa berpikir panjang.
“Kamu tidak bicara dulu dengan suami kamu? Maafkan bapak, soalnya ini masalah mendesak, yang tidak bisa aku bicarakan sekarang, karena akan panjang. Yang penting kamu berangkat ke sana dulu. Hanya saja kamu harusnya bicara dengan suami kamu kan?”
“Iya Pak, tentu Nirma akan bicara. Adri itu orangnya tidak terlalu susah. Dia seorang pimpinan perusahaan yang pastinya bisa memaklumi ketika di salah satu cabang ada masalah. Bapak tidak usah khawatir, Adri akan mengerti.”
“Apa dia sudah tidur? Kalau belum biar bapak bicara sama dia.”
“Tidak usah Pak, benar, dia sudah tidur. Nanti Nirma yang akan bicara, tidak usah Bapak.”
“Baiklah, kamu bicara baik-baik pada suami kamu. Kalau kamu tidak bisa, bapak yang akan berangkat.”
“Jangan Pak, biar Nirma tangani. Bapak tenang saja.”
“Kamu belum tahu permasalahannya, makanya bisa tenang.”
“Nirma itu bukan hanya putri pak Bondan, tapi juga muridnya dalam segala hal, jadi kalau Bapak mempercayai Nirma, berarti Nirma bisa menangani.”
“Baiklah, anak bapak memang pintar. Sekarang tidurlah, sekali lagi maaf, bapak mengganggu malam-malam.”
“Tidak apa-apa Pak. Nirma juga belum tidur.”
Begitu menutup ponselnya, Nirmala lalu berkemas. Ia bukan hanya membawa peralatan kerja tapi juga baju-baju dan semua perlengkapannya. Ia akan mengajak Pratama dan mbak Rana, dan bermaksud tinggal lebih lama. Siapa tahu kepergiannya dari rumah dan menjauh dari suaminya akan bisa menenangkan jiwanya.
Setelah itu ia keluar, melongok ke kamar Pratama, dan melihat mbak Rana sudah tertidur. Nirmala urung mengatakan kepergiannya besok pagi.
“Biarlah mbak Rana bersiap mendadak besok, aku akan membantunya kalau dia repot.”
Baru saja ia merebahkan tubuhnya, didengarnya mobil memasuki halaman, dan sepertinya masuk ke garasi. Jam sepuluh lebih sedikit. Alasan apa yang akan dikatakannya dengan kepulangannya yang lumayan kelewat malam?
Nirmala meringkuk sambil memeluk guling pura-pura tertidur pulas.
Agak lama ketika kemudian terdengar pintu terbuka, lalu suara orang mandi. Nirmala kesal, mengapa tidak segera benar-benar tertidur, sehingga ia masih bisa mendengar semuanya?
Lalu suara kamar mandi terbuka dan tertutup, lalu entah apa yang dilakukan suaminya, ketika kemudian hidungnya mencium wangi sabun mandi, lalu terdengar dan terasa ada gerakan di belakang punggungnya. Nirmala ingin kabur, tapi mana mungkin, dia kan sedang pura-pura tidur?
Lalu sebuah tangan kokoh memegang bahunya, lalu terdengar bisikan halus.
“Nirma, maafkan aku ya.”
Nirmala bergeming. Maaf.....? Maaf karena telah menghamili orang lalu lebih memperhatikan perempuan yang sedang hamil oleh benih yang diteteskannya? Alangkah mudahnya. Tapi kemudian Nirmala heran. Suaminya mengucapkan maaf. Ia sedang menghitung-hitung, berapa kali Adri meminta maaf. Mungkin baru sekali ini. Atau dua kali, entah kapan dan atas kesalahan apa maka dia meminta maaf. Adri adalah laki-laki yang sangat mahal mengucapkan kata maaf. Ia terlalu angkuh. Kali ini kata maaf itu diucapkannya, apakah karena merasa dosanya sudah terlalu besar? Coba katakan apa yang tadi dia lakukan ketika bersama perempuan bernama Dwi itu. Membujuknya karena ia menangis dan enggan ditinggal pergi? Lalu apa … dan apa … dan apa … Tapi kemudian tiba-tiba Nirmala tak tahan mengekang gejolak yang sudah sampai di ubun-ubun. Tiba-tiba ia berteriak.
Menjerit sangat keras, membuat Adri terhenyak.
“Nirma … Nirma, ada apa?”
“Lepaskan aku,” pekik Nirmala sambil mengibaskan tangannya. Adri turun dari pembaringan. Adri heran melihat Nirmala kemudian menangis tersedu-sedu.
Ia belum pernah melihat Nirmala menangis.
“Kamu mimpi apa?” Adri malah menganggap Nirmala bermimpi buruk.
Adri merengkuh tubuh istrinya, mendekapnya erat.
“Nirma, kamu mimpi apa?”
“Lepaskan aku,” kata Nirmala sambil mendorong tubuh suaminya.
Adri meraih gelas berisi air putih yang selalu tersedia di dekat tempat tidur, lalu diberikannya kepada sang istri.
“Minumlah, biar hati kamu tenang.”
Tapi Nirmala mendorong tangan suaminya sehingga air minum itu tumpah, membasahi baju Adri sehingga basah kuyup.
“Uups!’ Kok begini Nirma? Dengar, aku baru saja pulang. Tak tega membangunkan kamu, walau tiba-tiba aku merasa kangen sekali,” katanya lembut.
Kalau saja dalam keadaan normal, pasti Nirmala sudah terhanyut oleh ucapan suaminya yang seperti itu. Tapi sekarang ini Nirmala sedang marah, dan mencoba mengendapkan amarah yang menyesak di dadanya, namun sedikit gagal. Karenanya ia keluarkan semuanya dengan menjerit sekuat-kuatnya. Tapi rupanya Adri mengira ia baru saja bermimpi buruk.
“Nirma, sungguh aku sangat kangen,” katanya sambil mendekat, dengan mengabaikan bajunya yang basah kuyup.
“Baru menemui selingkuhan, lalu tiba-tiba bilang kangen? Apa semua laki-laki bisa berbuat busuk seperti itu?” kata batin Nirmala, yang kemudian kembali menjatuhkan dirinya di tempat tidur, membelakangi sang suami dan tidak mengacuhkannya sampai kemudian terbangun pada pagi harinya.
***
Pagi harinya Nirmala terbangun dengan mata sembab. Bagaimanapun ia seorang istri, yang merasa kehilangan suami di pelukan perempuan lain. Sebisa mungkin menahannya, tapi malam itu adalah batas kesabarannya. Hanya saja Nirmala tak mau berbicara tentang apa yang dirasakannya, sehingga Adri juga tidak mengerti apa yang dirasakan istrinya.
Nirmala sudah mandi ketika Adri baru saja terbangun. Nirmala mengacuhkannya, dan langsung menemui mbak Rana yang sedang membuatkan susu untuk Pratama.
“Mbak Rana, pagi ini kita mau ke luar kota lagi, Pratama dan tentunya mbak Rana harus ikut. Siapkan semua kebutuhan Tama. Kita berangkat setelah Tama mandi dan makan pagi.”
“Baik, Nyonya. Tapi apakah Nyonya sakit?”
“Kenapa memangnya?”
“Wajah Nyonya sangat pucat. Kalau sakit apa harus dipaksa pergi?”
“Ini masalah pekerjaan. Kantor cabang yang aku tangani ada masalah, aku harus ke sana pagi ini.”
”Oh, baiklah.”
“Aku tunggu, lakukan secepatnya.”
“Baik Nyonya, mau saya mandikan dulu mas Tama, tapi dia harus minum susu dulu.”
“Baiklah.”
“Nirma,” sebuah panggilan dari suaminya terdengar dari ruang tengah. Ia belum mandi.
Nirma mendekat.
“Duduklah, coba katakan, semalam kenapa? Kamu membuatku takut.”
“Tidak apa-apa, entahlah. Aku sendiri tidak tahu.”
“Nirma, sesungguhnya aku akan bercerita banyak.”
“Tidak usah, aku akan berangkat ke kantor cabang yang aku tangani pagi ini,” kata Nirmala yang tidak ingin mendengar apapun. Pasti Adri ingin berterus terang tentang kehamilan Dwi, karenanya dia tidak ingin mendengarnya.
“Pagi ini?”
“Ya, kata bapak ini mendesak. Aku bawa Tama dan mbak Rana. Dia masih butuh ibunya.”
“Aku sedang bingung saat ini.”
“Apa yang membuat kamu bingung? Bukankah semua permasalahan harus kamu hadapi dan kamu selesaikan? Selesaikan saja.”
“Bukan sebuah permasalahan, sikapmu ini yang membuat aku bingung.”
“Adri, aku baik-baik saja. Pikiranku sedang banyak beban. Jadi jangan memaksaku untuk berbincang apa saja.”
“Kamu terlalu sibuk, kamu harus bisa mengatur waktu.”
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
“Aku kira kamu marah karena aku pulang malam. Aku ingin mengatakan, ketika aku mau pulang, Dwi merasa sangat pusing, lalu aku memaksanya membawanya ke dokter. Tak tahunya dokternya antri lama. Jam delapan baru selesai, lalu aku langsung pulang setelah membelikan obatnya.”
“Aku hanya ingin mengatakan, kasihan sekali kamu ini. Seorang direktur harus mengantarkan bawahannya pindahan ke tempat baru, mengantar ke dokter dan membelikan obatnya. Apakah tidak ada karyawan yang bisa disuruh-suruh?” katanya sambil meninggalkan suaminya, melihat kesiapan mbak Rana yang akan diajaknya pergi bersama Tama.
“Sudah selesai Mbak?”
“Semuanya sudah, tapi mas Tama belum makan.”
“Makan di mobil saja, supaya aku tidak kesiangan.”
“Kamu mau pergi sekarang?”
“Ya, menunggu Pratama.”
Adri baru merasa, sang istri sedang marah padanya. Ucapannya yang terakhir, yang mengatakan bahwa direktur harus mengantarkan anak buah menunjukkan bahwa sesungguhnya sang istri tidak suka.
“Nirma, biarkan aku bicara dulu,” katanya sambil menarik tangan Nirmala menjauh dari kamar Tama, dimana ada mbak Rana sedang mendandani Tama.
Nirma terpaksa menurut karena Adri menariknya kuat.
“Apa kamu marah? Kamu marah sama aku? Karena aku pulang sampai malam? Aku mohon mengertilah Nirma, Dwi itu teman masa kecilku. Aku melakukannya hanya karena ada ikatan teman masa kecil, tidak lebih. Tapi kalau kamu tidak suka aku melakukannya, aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Adri.
Nirmala hanya mengangguk, tapi kemudian dia bertanya.
“Bagaimana dengan kehamilannya?”
***
Besok lagi ya.