DARAH CINTA DAN AIR MATA 32
(Tien Kumalasari)
Pak Karimun saling pandang. Ada pemikiran yang sama dalam benak-benak mereka. Pemikiran tentang anak kembarnya yang diberikan kepada orang yang berbeda karena keadaan kehidupannya yang sengsara di masa lalu.
“Pak, bukankah kita berpikir terlalu jauh?”
“Aku juga meragukan tentang apa yang aku pikirkan. Pak Fajar, dan nak Bimo, apakah kembar? Apakah mereka anak-anak kita?”
“Aku takut mengakuinya Pak. Mereka anak orang-orang yang baik. Mana mungkin keduanya adalah anak kita yang terpisah?”
“Bagaimana kalau kita bertanya kepada mereka?”
“Kepada kedua orang tua anak yang seperti kembar itu?”
“Bagaimana menurut kamu?”
“Ingin melakukannya, tapi takut membuat mereka tersinggung. Masa anak mereka kita akui sebagai anak kita? Anak sepasang suami istri gembel yang tidak punya apa-apa?”
“Ya kalau iya, kalau bukan, lalu sikap mereka akan berbeda terhadap kita, bagaimana? Mereka orang-orang baik yang mengentaskan kita dari kehidupan yang susah ini. Coba tidak ada mereka yang kemudian mempekerjakan kita, kita masih akan tetap menggelandang tanpa tujuan dan entah akan bisa makan atau tidak.”
“Sebaiknya bagaimana ya Pak?”
“Untuk sementara ini lebih baik kita diam saja dulu, sambil mencari celah untuk menemukan pembuktian tentang anak-anak itu. Yang jelas kita bersyukur, seandainya itu benar, anak-anak kita hidup di dalam keluarga yang baik, serta dalam kehidupan yang baik. Apalagi Fajar, menjadi anak kesayangan keluarga kaya raya yang hidup dalam kemewahan.”
“Itu benar, dan Bimo … walaupun bu Saptari tidak berlimpah harta, tapi hidup layak dan mengasihi Bimo dengan sepenuh hati.”
“Tapi semuanya baru angan-angan kita. Kejelasannya belum kita temukan.”
“Kita harus sabar dan menunggu sampai Allah menunjukkan kepada kita tentang kebenaran itu. Kalau tidak benar, semoga kita akan dipertemukan dengan anak-anak kita yang sesungguhnya.”
“Aamiin.”
Keduanya tidur dengan rasa nyaman. Barangkali mereka sudah dekat dengan anak-anak mereka. Semoga.
***
“Yang diceritakan Fajar itu, ya yang namanya Karimun itu?” kata pak Pranoto kepada istrinya.
“Iya. Tidak terduga, yang menemukan dompet Fajar juga dia. Kok bisa sangat kebetulan begitu. Dan orangnya baik, itu sebabnya tadi aku menelpon Bapak untuk minta pertimbangan, karena Fajar ingin menolongnya dengan memberinya pekerjaan sebagai tukang kebun di rumah ini.”
“Semoga pak Karimun bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan.”
“Fajar sangat perhatian pada dia, padahal baru saja mereka bertemu ketika menolong saat pak Karimun kecelakaan waktu itu.”
“Kita sangat bersyukur, Fajar memiliki hati yang baik dan penuh kasih sayang. Ia tidak pernah menyombongkan diri biarpun hidup berkecukupan. Ia juga hormat kepada orang tua, dan sangat menyayangi adiknya.”
“Dia juga pintar, nyatanya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan lancar dan bisa mengemban tanggung jawab dengan mengendalikan usaha yang Bapak percayakan padanya,”
“Iya Bu, dulu kita sempat ragu-ragu, apa benar Fajar bisa melakukannya, dan ternyata dia menjadi anak yang membanggakan.”
”Sudah saatnya kita mencarikan jodoh untuk dia kan Pak?”
“Anak sekarang, mana mau jodoh dicarikan orang tuanya? Dia pasti bisa mencarinya sendiri nanti.”
“Kita jangan terlalu mempercayakan pilihan teman hidup mereka kepada mereka sendiri. Terkadang seorang anak hanya memilih karena dia cantik, karena dia ganteng. Beda kalau orang tua yang memilihkan.”
“Mereka kalau sudah dewasa, pasti bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Ya kan?”
“Belum tentu Pak, terkadang perasaan tidak sejajar dengan pertimbangan.”
“Ya sudah, masalah jodoh biar nanti kita lihat bagaimana. Kalau sudah waktunya pasti kita akan tahu seperti apa pilihan mereka.”
“Sebenarnya aku sudah ingin segera punya cucu. Tapi Fajar tampaknya belum punya pilihan. Heran aku, banyak yang suka lho pada dia. Kalau ditanya hanya senyum-senyum saja. Gemes, jadi pengin mencarikan saja. Nggak sabar, kelamaan.”
Pak Pranoto tersenyum. Wajar kalau istrinya ingin segera punya cucu. Fajar sudah cukup dewasa dan mapan. Tapi kalau belum suka, bagaimana.
“Besok kalau senggang mau aku tanya lagi dia. Kalau perlu, putrinya pak Wartono itu juga cantik, dia sudah selesai kuliah.”
“Belum tentu dia mau kalau kita yang memilih. Tapi coba saja Ibu bicara pada dia nanti.”
***
Saptari senang, bu Karimun selalu datang pagi-pagi, membantu bersih-bersih rumah sebelum membantu memasak. Ia juga mencuci pakaian Bimo dan juga pakaian Saptari sendiri. Setelah itu ia menyiapkan sarapan pagi untuk Bimo sebelum berangkat bekerja.
“Biar Bimo ambil sendiri, bu Karimun, biasanya tidak dilayani begini lhoh,” kata Bimo ketika bu Karimun menyiapkan sarapan untuknya.
“Biar saja Nak, mumpung ada saya, biar saya melayani. Bekerja itu kan berat, jadi perut harus diisi sampai kenyang, dan tidak kecapekan karena pekerjaan rumah.”
“Bu, biasanya Bimo mencuci bajunya sendiri, biar saja nanti dia melakukannya,” tegur Saptari.
Tapi bu Karimun tetap melakukannya. Ia juga menyeterika pakaian itu setelah kering di sore harinya.
Saptari tersenyum. Bu Karimun membantu semua kesibukannya, dan membuat semuanya menjadi ringan. Ia juga tampak sangat menyayangi Bimo, dengan melayani makan pagi sampai sore dan malam harinya.
“Saya jadi keenakan setelah ada bu Karimun. Habis semua-semua bu Karimun yang melakukannya.”
“Biarlah Bu, niat saya kan bekerja, masa harus berpangku tangan melihat bu Saptari sangat sibuk seharian.”
“Tapi jangan lupa bu Karimun juga menyisihkan makan untuk pak Karimun.”
“Suami saya kan mulai hari ini sudah bekerja di rumah orang kaya Bu, kalau pagi sudah saya siapkan sarapan, tapi siangnya pasti sudah makan di sana. Sore hari baru dia pulang. Saya bersyukur kami bisa mendapat pekerjaan, bahkan tidak usah mencari-cari. Allah Maha Mengasihi kami, yang selalu mendapat pertolongan disaat kesulitan.”
“Iya Bu, selalu bersyukur atas segala pertolonganNya.”
Bu Saptari menyelesaikan semua yang akan dibawa ke warung depan rumahnya, dan Bu Karimun membantunya.
Di setiap melayani menyiapkan makan untuk Bimo, bu Karimun selalu menatapnya dengan kasih sayang yang entah dari mana datangnya.
Hampir seluruh perasaannya mengatakan bahwa Bimo adalah sempalan jiwanya, hanya ia masih ragu untuk meyakinkannya. Ada rasa takut salah, dan takut menyinggung perasaan orang lain.
***
Pak Karimun selalu datang di rumah keluarga Pranoto pagi-pagi. Setelah subuh dan makan pagi ala kadarnya, pak Karimun selalu sudah berangkat bekerja, dengan berjalan kaki. Bagi yang naik kendaraan, rumah pak Pranoto tidak begitu jauh dari rumah bu Saptari, tapi kalau dengan berjalan kaki, pastinya terasa sangat jauh. Tapi pak Karimun tidak mengeluh. Ia sering berjalan berkilo-kilo untuk mencari pekerjaan, yang belum tentu bisa didapatkannya. Sekarang ia bersyukur, pekerjaan itu datang tanpa ia harus mencarinya, gara-gara ia menemukan dompet milik Fajar. Semuanya seperti sudah diatur, dan Sang Maha Murahlah yang mengaturnya. Lalu apakah nanti pak Karimun akan menemukan kedua anak kembarnya yang entah berada di mana walau tangan hatinya mulai meraba-raba.
“Pak Karimun bisa naik sepeda motor?” tanya Fajar sebelum berangkat ke kantor, dan melihat pak Karimun datang sambil berjalan kaki.
“Wah, tidak bisa Pak, selamanya belum pernah punya sepeda motor.”
“Kalau sepeda kayuh?”
“Kalau itu sih bisa, dulu pernah belajar naik sepeda waktu disuruh membantu tetangga ketika punya gawe.”
“Di gudang ada sepeda yang lama tidak dipakai, nanti setelah saya pulang kantor akan saya tunjukkan kepada pak Karimun, siapa tahu masih bisa dipakai.”
“Saya biasa jalan kaki Pak, tidak apa-apa.”
“Daripada tidak terpakai, coba saja nanti kita lihat.”
Pak Karimun menatap wajah Fajar tak berkedip, Apakah darahnya mengalir di tubuh pemuda ganteng yang baik itu? Ada getar yang menggelora, seperti sebuah pantulan secercah cahaya yang entah dari mana datangnya.
Tak bisa terungkap begitu saja, atau mungkin memang belum saatnya.
***
Besok lagi ya.