NAMAKU TETAP SENJA 59
(Tien Kumalasari)
Pemeriksaan terus berjalan, hari demi hari. Bu Mery dan Rosa tetap ditahan. Betapa marah Rosa ketika dalam suatu pemeriksaan dipertemukan dengan bu Mery. Ia mengumpat dengan kasar sehingga harus dipisahkan oleh petugas.
“Dasar tak tahu diri. Kamu sudah menerima uang aku, tapi kamu membawaku dalam kasus yang menyebalkan ini.”
“Kamu, perempuan kejam yang tak berperikemanusiaan. Biar kamu menutupinya, Tuhan telah menunjukkan kebenarannya.”
“Manusia munafik. Kamu masih menyebut nama Tuhan sementara hidup kamu bergelimang dosa.”
“Kamu juga manusia berdosa. Gara-gara cemburu kamu tega mencelakainya.”
“Sudah, cepat keduanya bawa masuk.”
Pertikaian itu berhenti, dan polisi sudah mencatat semuanya.
Di dalam tahanan, Rosa pernah minta agar bisa menelpon ayahnya, tapi sang ayah tak peduli pada permintaannya.
“Papa, mengapa Papa tidak menolong aku? Keluarkan aku dari sini, Papa.”
“Tidak. Kamu yang melakukan kesalahan, kamu harus bertanggung jawab.”
“Papa, bukankah aku anak Papa? Papa tega?”
“Sebenarnya kamu bukan anakku.”
“Papa!”
Sambungan telpon diputuskan, Rosa menangis berguling-guling di ruang tahanan.
“Aku sudah membayarnya. Perempuan bodoh! Mata duitan!”
Tak ada yang mendengarnya, tak ada yang mempedulikannya. Suatu hari kemudian dia akan menebus semua kesalahannya. Lalu Rosa berpikir, sebenarnya aku bukan anak Papa? Pikirnya terus menerus. Karena aku ditahan maka Papa tidak mengakui aku sebagai anaknya?”
Rahasia itu terbuka, ketika di dalam sidang, pak Daryono menunjukkan surat keterangan dari sebuah panti asuhan, di mana Rosana yang masih bayi, diangkat anak oleh keluarga Daryono.
“Aku anak siapaaaa?”
Ketika palu sudah diketuk, Mery dan Rosana dijatuhi hukuman, Rosa masih berteriak histeris.
“Aku anak siapaaaa?”
Apapun yang terjadi, siapa yang menanam maka ia akan mengunduh buahnya.
***
Hari itu Senja sudah mulai bekerja di kantor Arka. Ia tentu harus banyak belajar, karena ia belum pernah bekerja, apalagi menjadi pembantu sekretaris. Tapi dengan penuh kesabaran, Arka selalu membantunya.
Pak Wiguna sendiri kagum, benar apa yang dikatakan Arka, Senja sangat cerdas dan mudah mengerti. Dalam sebulan ia sudah bisa menguasai semua tugasnya.
Hal itu tentu membuat beberapa karyawan merasa iri. Apalagi melihat Senja sangat dekat dengan sang direktur muda. Tapi dengan santun Senja menghadapi mereka. Ia rendah hati dan tidak pernah menyombongkan dirinya walau Arka memperhatikannya dan berbuat lebih dibanding terhadap karyawan lainnya.
Adalah Asih, sekretaris Arka yang lebih dulu menjabat, merasa kepanasan karena kepintarannya tersaingi oleh gadis muda yang belum lama masuk.
Ia selalu mencari celah agar Senja membuat kesalahan. Tapi sungguh sulit menemukan kesalahan itu.
Saat di depan Arka dia bersikap manis pada Senja, tapi tidak ketika Senja sedang berdua saja dengannya.
“Mbak Asih, surat ini artinya apa, ini kan yang harus aku kerjakan?”
“Kamu kan sudah sebulan lebih bekerja, masa begitu saja tidak mengerti.”
“Maaf Mbak, daripada saya salah melakukannya, lebih baik saya bertanya kepada mbak Asih yang sudah lebih berpengalaman.”
“Kamu kan tahu bahwa pekerjaanku juga banyak? Kamu diperbantukan, karena pekerjaanku banyak. Kalau sedikit-sedikit bertanya, sama saja aku bekerja dua kali. Itu surat penawaran dari suplier, surat yang harus kamu buat adalah jawabannya.”
”Saya tahu, tapi saya masih bingung.”
“Bukankah pak Arka sudah memberi catatan di situ? Sudah, jangan tanya terus, nanti pekerjaanku tidak selesai-selesai. Lagi pula surat itu sudah harus dikirimkan hari ini. Kalau tidak selesai, tanggung sendiri akibatnya”
Senja diam, ia membaca kembali catatan dari Arka, tapi ia belum begitu paham.
“Salah pak Arka sendiri, karyawan lulusan SMA dijadikan pembantu sekretaris. Bukannya membantu malah membuat repot,” gumam Asih pelan.
Tapi Senja tentu saja mendengarnya. Ia bukan bodoh, ia mengerti kalau sebenarnya Asih tidak menyukainya, dan ingin membuatnya melakukan kesalahan, agar dirinya mendapat teguran. Ia menerimanya dengan sabar.
Ia terus membaca, lalu membandingkannya dengan surat-surat balasan penawaran yang terdahulu. Ia terus mengutak atik, dan akhirnya menemukan jawabannya.
Asih melirik ke arahnya, dan heran melihatnya sudah mulai mengetik.
Ketika pada suatu saat Senja sedang berdiri dan meninggalkan pekerjaannya untuk ke kamar mandi, Asih mendekati laptopnya yang masih menyala, lalu ia mengetik sesuatu. Ia melihat surat itu sudah selesai, dan tinggal mengeprint saja. Ia merubah angka penawaran, lalu ia duduk kembali, pura-pura melanjutkan pekerjaannya.
Senja merasa sudah meneliti surat yang dibuatnya, jadi dia siap mencetaknya.
Surat itu sudah selesai, lalu ia membawanya ke ruang Arka.
“Sudah selesai, Senja?”
“Saya mencoba membuatnya karena mbak Asih sedang sibuk. Mohon Bapak mengoreksinya lagi, karena katanya hari ini sudah harus dikirim.”
“Tidak hari ini, besok juga tidak apa-apa. Asih mengatakan begitu?”
Senja mengangguk, tapi ia masih berusaha menutupi keterangan Asih yang salah.
“Barangkali mbak Asih bermaksud agar saya melakukannya dengan cekatan.”
Arka tersenyum. Ia tahu, bagaimana Senja. Tapi kemudian dia mengerutkan keningnya.
“Senja, mengapa penawaran dari kita bisa lebih tinggi dari harga yang mereka tawarkan?”
Senja terkejut. Arka menyodorkan surat itu, dan ia membacanya.
“Kok bisa ya, saya tadi menulisnya bukan ini, angkanya terbalik. Bagaimana bisa terjadi?”
“Apa kamu sudah membaca kembali tulisan kamu? Biasakan untuk mengulang yang sudah kamu tulis, agar tidak melakukan kesalahan. Ini menjadi fatal. Kalau penawaran disetujui maka kita akan rugi besar.”
Senja mengerutkan keningnya.
"Saya sudah mengulangnya berkali-kali. Bukan itu angkanya.”
“Aneh. Ada yang meminjam laptop kamu?”
“Tidak, saya sendiri yang memakainya. Sebelum saya mencetaknya, saya tinggal sebentar ke kamar mandi. Saya kembali langsung mencetaknya.”
Arka membuka CCTV yang ada di ruang sekretaris. Ia tersenyum melihat apa yang dilakukan Asih.
“Bagaimana Pak, saya ganti dulu saja.”
“Sebentar.”
Arka memencet interkom di ruangan Asih, dan tak lama kemudian Asih memasuki ruangannya.
“Bapak memanggil saya?”
“Kamu tahu, surat balasan yang dibuat Senja ini keliru?”
”Keliru Pak? Bagaimana Nja, kan sudah ada catatan dari pak Arka. Kok bisa keliru?”
“Kamu mengapa tidak membantunya?”
“Saya sedang sibuk Pak, saya minta Senja menunggu dulu, tapi langsung dibuatnya.”
“Senja sudah melakukannya, tapi ada yang merubah angka di surat yang dibuatnya.”
“Merubahnya? Senja kurang cerdas, biasanya selalu bertanya, kali ini dikerjakan sendiri, merasa sudah pintar.”
“Lihat ini.”
Arka menunjukkan rekaman CCTV di ponselnya, dan Asih pucat pasi tanpa bisa menjawabnya.
“Mulai besok kamu aku pindahkan di bagian pemasaran, pekerjaan kamu membantu mengemas barang,”
“Apa? Jangan Pak, saya salah, saya minta ampun Pak, saya salah.”
Arka mengibaskan tangannya, menyuruh Asih keluar dari ruangannya. Asih keluar sambil menangis.
“Kasihan Pak,” kata Senja.
“Dia tidak menyukai kamu, aku sudah tahu sejak awal. Sudah, jangan pikirkan. Kamu akan tetap menjadi sekretaris aku.”
“Tapi saya akan banyak bertanya.”
“Bertanya pada aku, seperti di awal-awal kamu bekerja. Sekarang kembali keruangan kamu, buat suratnya kembali. Betulkan yang tadi salah.”
***
Senja kembali mengetik suratnya, mengganti angkanya yang salah. Ketika ia mencetak ulang, Asih berdiri di pintu dengan wajah marah.
“Hei, kamu puas, orang kampung?”
“Namaku Senja.”
“Bukankah kamu orang kampung?”
“Namaku tetap Senja.”
Lalu Asih terkejut ketika Arka tiba-tiba ada di belakangnya.
“Dia orang kampung, tapi hatinya bersih. Perusahaan ini tidak menerima karyawan berhati jahat. Kamu masih aku pekerjakan, karena mengingat kamu sudah tiga tahun bekerja di sini. Kalau sekali lagi kamu membuat kesalahan, kamu aku pecat.”
Asih menundukkan wajahnya.
“Selesaikan tugas kamu hari ini, sebelum besok pagi kamu bekerja di divisi lain.”
***
Besok lagi ya.