NAMAKU TETAP SENJA 44
(Tien Kumalasari)
Bu Wiguna menerima ponsel yang diberikan Arka. Ia membaca semua chating dari Arka dan balasan yang diberikan suaminya. Arka menunggunya dengan berdebar. Apakah ada yang membuat ibunya curiga?
Tak lama kemudian ponsel itu dikembalikannya kepada Arka.
“Seperti yang Ibu duga. Ia sangat memperhatikan temannya yang katanya habis operasi, sampai berhari-hari tidak ke kantor.”
“Sebenarnya siapa teman Bapak itu, apa Ibu tahu? Dia laki-laki atau perempuan?”
“Ibu tidak pernah menanyakannya. Tapi yang jelas dia bukan orang yang masih muda. Tadi dia mengatakan bahwa ia mengantarkan anak temannya itu melihat rumah di perumahan baru bukan?”
“Iya.”
Dan Arka juga berpikir bahwa wanita yang tadi dilihat Senja bukan seseorang yang dimaksud oleh ayahnya dan dianggapnya teman. Teman beneran, atau hanya teman akal-akalan ayahnya untuk mengelabui keluarganya?
Arka hampir yakin kalau ayahnya berbohong. Mencari rumah untuk anak temannya? Lalu berjalan sambil merangkul pundaknya? Arka bukan anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja. Kalau sang ibu kelihatan percaya, tapi tidak dengan dirinya. Cerita sang ayah tidak sesuai dengan apa yang dilihat Senja. Yang namanya teman atau anak temannya, pastilah hanya karangan ayahnya.
Ia akan berusaha menyelidikinya, untuk memastikan kebenaran yang sesungguhnya. Biarlah untuk sementara ibunya mempercayai suaminya.
“Akhir-akhir ini ayahmu kelihatan agak aneh.”
Arka menatap ibunya. Apakah sang ibu mulai merasa curiga atas sikap sang ayah yang kelihatan aneh?
“Mengapa Ibu menganggapnya aneh?”
“Ayahmu tidak pernah peduli dengan orang lain. Tapi beberapa hari terakhir ini, tampak sangat perhatian kepada yang disebutnya ‘teman’."
“Apa Ibu tidak kenal pada semua teman-teman Bapak?”
“Tidak semua, hanya beberapa, yang ada hubungannya dengan bisnis ayah kamu.”
“Apa Ibu mencurigai sesuatu?”
“Apa maksudmu? Apa yang harus Ibu curigai?”
“Ya sudah, kalau tidak. Misalnya perubahan dari tidak peduli kepada orang lain, lalu berubah jadi peduli, itu lho Bu.”
“Perubahan yang bagus kan Ka?”
“Semoga akan terus begitu, selalu baik kepada orang lain.”
“Aamiin. Tapi katanya cepat pulang, mengapa lama sekali belum pulang?”
“Rumah temannya jauh, barangkali,” kata Arka seenaknya.
“Tampaknya memang begitu.”
***
Wanita itu cantik, namanya Tantrina, masih muda, sedikit genit. Dulu ia pelayan sebuah rumah makan, di mana pak Wiguna sering makan di rumah makan itu. Karena genit, pak Wiguna suka menggodanya. Bukan karena pak Wiguna ganteng dan muda, kalau Tantrina mau digoda. Pak Wiguna kaya dan sangat royal. Setiap kali membayar makanan, selalu ada uang yang lumayan banyak tersisa dari bil yang disodorkan. Tentu saja Tantrina suka. Lalu pemberian demi pemberian itu berlanjut … bukan hanya melayani makan, tapi juga melayani sesuatu yang lain, yang seharusnya terlarang. Tapi bukankah uang punya kuasa?
Beberapa bulan kemudian Tantrina tak terima hanya dijadikan pelampiasan. Pak Wiguna diminta menikahinya, walau hanya menikah siri. Itu sebabnya ketika di rumah sakit saat membezoek Rosa, ia terkejut mendengar nama Tantrina Wiguna. Ia baru sadar kalau Tantrina ternyata mengandung anaknya.
Waktu itu Tantrina merasa sering mual dan muntah-muntah, lalu pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan suami sirinya. Ia juga baru tahu kalau ternyata dia sedang mengandung. Keadaan itu membuatnya bertambah manja dan banyak permintaan diajukannya kepada suami sirinya. Yang terakhir dia ingin punya rumah sendiri. Itu sebabnya pak Wiguna minta brosur kepada bagian pemasaran di perumahan elite yang baru dibuka, dan sang nyonya yang asli sempat melihatnya. Tidak masalah bukan? Nyonya yang lugu ternyata tak menaruh curiga. Bahkan ketika sang suami meninggalkan rumah dikira ke kantor, padahal tidak.
Hari sudah sore ketika tuan Wiguna berdiri dari ranjang mereka. Ia sudah berjanji kepada Arka bahwa dia akan segera pulang.
“Mengapa Bapak akan pergi meninggalkan aku? Aku masih sering mual-mual, siapa yang akan memijit tengkukku kalau aku mual dan muntah?” wanita itu merengek manja.
“Tantrina, aku punya keluarga. Belum waktunya mereka mengetahui hubungan kita. Kamu harus bersabar. Beberapa hari lagi rumah yang kita pesan akan siap. Perabot yang kamu minta sudah aku pesan. Begitu rumahnya siap, mereka akan mengirimkannya ke rumah, lalu aku akan mencarikan kamu perawat yang akan menjagamu siang malam, agar semua keperluan kamu dilayani.”
Wanita itu mengangguk. Ia bergayut di lengan suami sirinya, sampai sang suami siri memasuki mobilnya dan berlalu.
Tantrina tersenyum cerah. Tak apa melayani laki-laki setengah tua. Bukankah hidup berkecukupan sudah diimpikannya sejak lama?
***
Begitu memasuki rumah, pak Wiguna melihat istrinya duduk sendirian di ruang tengah.
“Maaf Bu, aku sangat terlambat. Dia itu sahabat aku sejak aku SMA, aku tidak tega meninggalkannya sebelum anaknya datang.”
“Minumlah dulu kopinya, keburu dingin. Sudah agak lama bibi menyiapkannya,” kata sang istri tanpa memperhatikan perkataan suaminya, karena dia sudah menduga apa yang akan dikatakannya saat datang.
“Ibu tidak marah kan, kalau aku sering memperhatikan dia?”
“Mana mungkin aku marah mendengar suami aku berbuat baik?”
Pak Wiguna tersenyum. Ia meneguk kopinya, kemudian berdiri lalu mencium kening sang istri.
“Ibu sehat kan?”
“Sangat sehat. Tapi agak pusing sekarang, gara-gara mencium bau parfum ini. Sejak kapan Bapak memakai parfum beginian? Bukan parfum seperti yang kita punya bukan?”
“Wah, ini gara-gara ketika aku sedang berjalan memasuki toko, lalu ada penjual parfum menyemprotkannya ke bajuku. Hmm… aku juga pusing. Biar aku suruh bibik mencucinya,” kata pak Wiguna sambil masuk ke kamar.
“Sekalian aku mandi Bu,” katanya sambil menutup pintunya.
Bu Wiguna tidak beranjak. Ia tampak seperti memperhatikan acara di televisi, tapi benarkah bu Wiguna sangat polos dan tidak tahu tentang apapun? Tak seorangpun tahu, karena wanita yang kelihatannya polos terkadang menyimpan sesuatu yang bisa membuat dunia bergetar.
***
“Simbok kalau mau berangkat ya berangkat saja. Biar aku yang memasak untuk makan siang nanti.”
“Katanya kamu mau pergi melamar pekerjaan yang lain lagi?”
“Kan tidak harus terlalu pagi, nanti sehabis masak tidak apa-apa Mbok.”
“Ya sudah, kalau begitu. Kebetulan ada pelanggan yang minta dikirim agak pagi.”
“Apa Simbok mau aku boncengin dulu?”
“Tidak, bonceng gimana. Apa kamu lupa kalau Simbok itu takut bonceng sepeda? Biar saja Simbok berjalan seperti biasa. Tempatnya tidak begitu jauh kok.”
“Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati ya Mbok, nanti setelah masak, Senja mau berangkat mencari pekerjaan. Doakan agar berhasil ya Mbok.”
“Tentu Simbok doakan. Tapi tidak usah tergesa-gesa. Sabar. Kalau sudah saatnya pasti dapat.”
“Aamiin. Ati-ati ya Mbok.”
***
Senja sudah selesai memasak. Ia berganti pakaian yang lebih pantas, kemudian menyiapkan lamaran untuk dibawanya.
Hari sudah agak siang walau matahari belum terik benar. Senja ingin memasuki sebuah toko, barangkali butuh pelayan toko. Kalau ke kantoran, Senja khawatir tidak diterima gara-gara ia hanya lulus SMA.
Ketika ia turun dari sepedanya dan sedang berjalan mendekati toko itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti.
“Senja!” sebuah suara memanggilnya, dari kaca jendela mobil yang terbuka.
Senja terkejut. Ia melihat Rosa melongok dari jendela mobilnya.
***
Besok lagi ya.