Friday, October 9, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 27

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  27

(Tien Kumalasari)

 

Sejenak saling pandang antara satu dan lainnya, kemudian terdengar Sarah menyambut dengan riang.

“Kok bisa kencan sih? Ayo masuklah, mas Fajar, Mentari.”

Keramaian yang tiba-tiba pecah itu membuat nenek Suli bertanya-tanya. Ia menatap tamu-tamu yang baru datang. Aroma wangi memenuhi ruang rawat inap itu. Nenek Suli berkata dalam hati, orang kaya selalu berbau wangi.

Fajar dan Mentari segera mendekati nenek Suli yang masih berbaring, tapi tampak sekali wajahnya sudah lebih segar.

“Apa kabar Nenek hari ini?”

“Kabar baik. Ini siapa, cantik sekali?”

“Saya Mentari, teman sekolahnya Sarah. Saya juga adiknya mas Fajar ini,” kata Mentari sambil memegangi tangan nenek Suli.

“Ya ampuun, terima kasih banyak. Dari mana Sarah bisa punya teman orang-orang kaya ini?”

“Mengapa Nenek berkata begitu? Kita sama-sama orang biasa, mahluk Allah yang tidak ada bedanya,” kata Fajar.

“Kata siapa tidak ada bedanya? Kalian banyak uang, sedangkan orang-orang miskin harus membanting tulang dan memeras keringat demi mendapatkan selembar uang rupiah.”

“Tidak Nek, yang tampak itu hanya sandangan. Manusia itu adalah sama di mata Allah. Kalau Allah membedakannya, bukan karena harta kekayaannya, tapi karena pekerti dan tingkah lakunya di dunia ini. Benar begitu kan?”

Nenek Suli tersenyum.

“Baru kali ini ada anak kecil mengajari nenek tua seperti aku,” katanya pelan, mirip sebuah gumam.

“Apakah Nenek marah karena saya berbicara begitu?” tanya Fajar sambil menepuk-nepuk tangan nenek Suli.

“Tidak. Sesungguhnya itu memang benar. Hanya saja tidak banyak orang yang berpendapat demikian. Ada orang yang menganggap bahwa  kemiskinan adalah sesuatu yang hina, tidak ada harganya. Itu benar kan?”

"Benar Nek. Tapi hal itu tidak harus nembuat Nenek merasa rendah, Nenek adalah wanita terbaik, yang membanting tulang dan memeras keringat demi cucu Nenek tercinta. Dan itu adalah sesuatu yang mulia.”

Nenek Suli tersenyun.

“Ya sudah, anak-anak muda berbincang saja di sana, Nenek mengantuk. Entah mengapa ini, bawaannya mengantuk saja. Nanti Nenek akan bilang dokternya agar Nenek bisa segera pulang.”

“Ya sudah, Nenek tidurlah, tapi jangan dulu tergesa pulang, kalau dokter belum mengijinkan.”

Nenek menghela napas panjang. Ia benar-benar sudah merasa baik, dan bosan tidur di tempat yang tidak membuatnya nyaman.

***

Sementara itu ketika Fajar membalikkan tubuh, ia melihat Bimo berbincang akrab dengan Mentari.

“Kalian sudah kenal?”

“Mas Fajar gimana, kan Mentari pernah bertemu Bimo ketika dia menemani aku jualan koran. Malah Mentari mengatakan bahwa mas Fajar dan Bimo seperti kembar. Lupa ya?” kata Sarah.

“Lagi pula aku sudah pernah bertemu mas Bimo di kantor bapak kok. Sungguh aku tidak tahu bahwa mas Bimo bekerja di sana.”

“Aku juga kaget, ternyata mbak Mentari putri pak Pranoto," kata Bimo.

Bimo tampak berbahagia, karena Mentari walaupun anak orang kaya tapi tidak sombong. Ia baik seperti Fajar, kakaknya. Mereka berbincang akrab, dan nenek Suli merasa terhibur karenanya.

***

Pak Karimun meminta istrinya menunggu, sementara ia akan mencari pekerjaan, untuk menambah bekal agar bisa pulang kembali ke kampungnya.

Bu Karimun yang menunggu di sebuah pojokan toko, tiba-tiba melihat sebuah warung makan. Ia datang mendekat, bukan untuk meminta makanan.

“Bu, bolehkah saya membantu di sini? Cuci piring atau apa saja saya bisa,”

“O, benarkah? Baiklah, karena hari ini warung agak ramai. Banyak piring kotor yang belum sempat aku cuci. Ituu, di situ.”

“Terima kasih Bu.”

“Yang bersih ya, jangan sampai ada bau amis tersisa.”

“Baik Bu.”

Tiba-tiba Bu Karimun ingat, pemilik warung itu, bukankah wanita baik hati yang meninggalkan keranjang berisi makanan untuknya?

Pemilik warung itu memang Saptari.  Ia sedang sibuk melayani pembeli sehingga tidak memperhatikan siapa yang meminta pekerjaan cuci-cuci piring.

Bu Karimun yang terus menatap Saptari, membuat kemudian Saptari heran. Ia menghentikan pekerjaannya melayani pembeli, mengira wanita yang dianggapnya wanita asing itu tidak mengerti tempat piring-piring kotor yang menumpuk.

“Bu, di situ, wadah sabunnya ada di dekatnya, kok Ibu bengong? Mau makan dulu?”

“Eh, tidak … tidak, bukan begitu, saya melihat Ibu, sepertinya … yang memberikan kepada saya keranjang berisi makanan itu kan?”

Sekarang Saptari menatap bu Karimun. Tentu saja ia ingat. Hanya saja waktu kemarin itu bu Karimun tampak lusuh karena letih dan lapar, sedangkan sekarang pakaiannya walau butut tapi tampak bersih dan rapi. Mereka menumpang mandi si sebuah kamar mandi umum dan mengganti pakaian mereka dengan bekal pakaian yang dibawanya.

“Eh, ya ampuuun. Sampeyan ya Bu, maaf saya tidak memperhatikan. Benar, yang kemarin ketemu. Jadi Ibu masih di sini?”

“Mau pulang, tapi kehabisan bekal uang, karenanya saya mencari pekerjaan.”

“Ya, baiklah, tolong bantu saya, nanti saya beri uang, lagi pula saya senang ada teman berbincang. Dibantu tiap hari saya juga suka.”

“Benarkah?”

“Sekarang tolong bantu cuci-cuci piring dan yang lainnya itu Bu, belum sempat karena hari ini agak rame. Mungkin karena hari libur. Nanti setelah selesai, makan dulu ya Bu.”

“Saya selesaikan dulu pekerjaan saya.”

Dan Saptari senang karena bu Karimun ternyata bisa bekerja sangat baik. Ia cekatan mengerjakan semuanya, sehingga Saptari bisa fokus melayani pembeli.

***

Ketika Saptari menawarinya makan, bu Karimun menolaknya.

“Saya tidak usah saja, nanti buat suami saya.”

“Lhoh, iya. Saya baru mau bertanya. Katanya kemarin sedang menunggu suami, sekarang di mana? Masih belum ketemu mencari kerabatnya?”

“Tidak ketemu Bu, dia sudah meninggal lama. Sedianya kami mau numpang di rumahnya, karena dulu kerabat saya itu tinggal sendirian. Tapi ternyata dia sudah meninggal, dan rumahnya sudah menjadi milik orang.”

“O, kasihan benar. Lalu mau kembali pulang?”

“Nanti dulu, saya itu kok ketemu orang sampai belum tahu namanya," lanjutnya.

“Saya bu Karimun.”

“Bu Karimun ya. Sekarang Ibu makan dulu saja, mumpung warungnya sepi. Nanti kalau suami Ibu kembali, saya kasih makan juga, tidak apa-apa. Ayo dimakan dulu Bu. Sebentar lagi warung saya juga sudah tutup.”

“Sudah mau tutup Bu?”

“Saya jualan hanya sebentar, melayani makan siang para pelanggan. Saya sudah semakin tua, sendirian pula, soalnya anak saya sudah bekerja.”

Bu Karimun akhirnya menerima tawaran makan itu, karena sesungguhnya dia juga lapar.

“Kalau saja Ibu tinggal di dekat sini, saya senang dibantu lhoh.”

“Benarkah? Saya mau.”

“Tapi saya tidak punya rumah yang bisa menerima Ibu. Rumah saya kecil, kamar saya hanya dua, untuk saya dan anak saya. Masa iya Ibu mau tidur di lantai dapur?”

Bu Karimun diam. Kalau memang iya, mengapa tidak? Tidur di lantai bukan masalah, tapi dia kan bersama suaminya?

“Sebenarnya tidur di lantai juga tidak apa-apa, tapi takut merepotkan, karena saya kan bersama suami. Tapi nanti saya akan bicara dulu pada suami, kalau di sini ada pekerjaan, mengapa harus pulang di mana pekerjaannya sama saja tidak menentu."

“Sekarang pak Karimun ke mana?”

“Dia juga mencari pekerjaan Bu. Sebenarnya tadi saya hanya disuruh menunggu, tapi melihat warung ini, saya coba-coba menawarkan bantuan.”

“O, baiklah. Ibu makan dulu saja. Ini nanti untuk suami Ibu. Saya akan beres-beres."

Tiba-tiba pak Karimun muncul lalu bergegas mendekat.

“Bu, kamu di sini ? Aku mencari-cari, ternyata makan di warung. Memangnya kamu punya uang Bu?”

“Kemarilah dulu Pak, duduk dan makanlah.”

“Tidak usah Bu, kamu saja. Kita kan harus menghemat. Tadi dapat uang, hanya sedikit, tapi cukup untuk pulang.”

“Pak, duduklah, makan di sini gratis, tidak usah bayar,” kata Saptari ramah.

“Gratis?” pak Karimun heran.

“Gratis, karena bu Karimun ini sudah membantu saya bersih-bersih piring kotor. Makanlah dulu, sambil bicara, saya beres-beres sebentar."

Pak Karimun terpaksa menerima tawaran makan karena sudah disiapkan di dekat istrinya.

“Terima kasih banyak ya Bu.”

“Ibu ini ternyata yang kemarin memberi kita sekeranjang makanan, dan masih ada sisanya tuh, di situ,”

“Oh ya?”

Tapi tiba-tiba seseorang datang, dan pak Karimun terkejut.

“Lhoh, ini kan mas yang menolong saya waktu kecelakaan itu dulu?”

Yang datang adalah Bimo. Ia baru pulang setelah membezoek nenek Suli, dan pak Karimun salah sangka

***

Besok lagi ya.

Thursday, October 8, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 26

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  26

(Tien Kumalasari)

 

Pak tua itu adalah pak Karimun, dan istrinya. Beberapa hari yang lalu mereka berbincang tentang salah seorang kerabatnya yang hidup sendirian. Terpikir oleh mereka untuk mengunjunginya, dan kalau mungkin minta agar diijinkan tinggal bersamanya, sekaligus menemani di hari tua. Hal itu terpikirkan setelah berpuluh tahun menderita, dan kali itu mereka datang untuk mencarinya. Dalam keadaan lelah dan letih, pak Karimun mendapat kabar bahwa orang yang dicarinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan rumah peninggalanya sudah dijual oleh kerabat yang lain. Pak Karimun melihat bentuk rumahnya saja sudah jauh berbeda, menjadi rumah cantik yang dihuni oleh orang kaya.

Pak Karimun kembali menemui istrinya yang ditinggalkan di pinggir jalan karena kelelahan.

Dan mereka menganggapnya sebuah keajaiban ketika tiba-tiba ada orang yang meninggalkan keranjang berisi makanan yang bisa mereka santap karena mereka memang kelaparan.

“Aku heran. Siapa ya orang itu?” gumam bu Karimun pelan, sambil mengunyah roti yang dicomotnya sekali lagi.

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Aku seperti pernah melihat orang tadi.”

“Orang yang meninggalkan keranjang berisi makanan ini?”

“Iya.”

“Kita pernah pergi kemana-mana dan bertemu dengan banyak orang. Mungkin saja kamu memang pernah bertemu. Mengapa kamu memikirkannya?”

“Entahlah, mengapa juga aku memikirkannya? Ini terasa aneh.”

“Karena kamu kelaparan jadi pikiranmu melayang ke mana-mana dan berkhayal yang tidak-tidak.”

“Mungkin juga Pak.”

“Aku pikir, sekarang kita mau ke mana?”

“Kalau pulang, terlalu jauh.”

“Lalu kita akan menginap di mana. Hari hampir sore. Sebentar lagi gelap.”

“Apa boleh buat, kita cari tempat yang bisa untuk meletakkan tubuh lelah ini.”

“Kamu tidak lelah kalau kita berjalan lagi?”

“Sudah terobati, ayo kita jalan.”

***

“Kamu sudah pulang Bim?”

“Baru saja Bu, ini kan sudah sore? Ibu jadi pergi ke rumah nenek Suli?”

“Sudah. Rumahnya kosong. Kata tetangganya, nenek Suli dirawat di rumah sakit.”

“Dirawat? Dan itu sebabnya mengapa berhari-hari Sarah tidak jualan koran. Pasti menunggui neneknya di rumah sakit.”

“Pastinya begitu. Kamu datanglah menjenguknya. Besok kan hari Minggu?”

“Ibu juga?”

“Ibu kan jualan dulu, nanti setelah kamu pulang, Ibu  mau ke sana. Tadi sebenarnya Ibu sudah beli makanan dan buah-buahan untuk nenek Suli.”

“Kalau begitu biar besok Bimo bawa saja, jadi tidak usah beli oleh-oleh lagi.”

“Makanan dan buah itu sudah Ibu berikan kepada orang.”

“Ibu berikan? Kepada siapa?”

“Ketika Ibu sedang menunggu angkutan kota lewat, ibu melihat seorang perempuan duduk di bawah pohon besar. Ketika melewatinya, tiba-tiba perempuan itu pingsan. Eh bukan pingsan, tiba-tiba dia terguling roboh. Tampaknya dia lemas, mungkin karena haus dan lapar. Ibu membantunya duduk kembali dan memberinya minum.”

“Lalu Ibu berikan makanan itu?”

“Sekeranjang penuh ibu tinggalkan. Kasihan sekali dia.”

“Tidak apa-apa Bu, menolong itu kan perbuatan mulia.”

“Yang ibu heran, sepertinya ibu pernah bertemu perempuan itu.”

”Namanya di dunia, kan kita sering bertemu orang kan Bu, jadi tidak aneh kalau merasa pernah bertemu.”

“Iya juga sih.”

“Oh iya, sebenarnya tadi Bimo bertemu dengan teman sekelas Sarah. Kok dia tidak cerita tentang Sarah ya?”

“Bagaimana kamu bisa bertemu dengan teman Sarah?”

“Teman Sarah yang bernama Mentari itu putrinya pak Pranoto.”

“Pak Pranoto pimpinan kamu itu”

“Pemilik perusahaan itu. Nah, dia tuh teman sekelasnya Sarah. Kok tidak cerita ya.”

“Harusnya kamu bertanya pada dia.”

“Kenapa tidak kepikiran untuk menanyakam Sarah ya.”

Tapi di dalam hati Bimo merasa, bahwa dia tidak berpikir sejauh itu, karena sedang terpesona melihat kecantikannya.

“Iya juga sih. Ya sudah,  ibu mau menata belanjaan dulu lalu mandi. Udara panas sekali. Kamu mandinya belakangan saja ya?”

***

Hari sudah sore. Suara  adzan maghrib membuat pak Karimun mengajak istrinya berhenti di sebuah mushala terdekat. Mereka meletakkan barang bawaannya, sebuah keresek berisi baju-baju ganti mereka, dan keranjang yang masih berisi makanan dan buah pemberian seseorang pada siang harinya.

Mereka ikut berbaur dengan orang-orang yang melakukan ibadah di saat maghrib. Berdoa memuja Sang Junjungan dan memohon pertolongan dari segala kesulitannya.  Dan nyatanya kemudian perasaan mereka lebih ringan, dan segala sengsara tidak lagi membebani pikiran.

Keduanya duduk di pelataran masjid, memakan apa yang masih bisa dimakan, sekedar mengganjal perut mereka.

Mereka harus berhemat, esuk hari masih akan ada perjalanan yang entah kemana dan sampai kapan kakinya terus melangkah.

“Apa yang sebenarnya kita cari Pak?”

“Apa lebih baik kita pulang saja ke gubug lama kita, karena harapan untuk mendapatkan naungan yang lebih pantas ternyata tidak kesampaian.”

“Baiklah, apa boleh malam ini kita tidur di emperan mushala ini?”

“Asalkan tidak membuat kotor, barangkali tidak apa-apa. Besok pagi setelah subuh kita pulang.”

“Tapi kita pulang akan naik apa? Kita sudah tidak punya lagi uang yang cukup.”

“Nanti aku akan mencari kerja semampuku. Pokoknya kita istirahat dulu, percayalah bahwa Allah akan memberikan jalan terang bagi kita, asalkan kita jangan mengemis. Bekerja dan mendapat uang, itu lebih mulia.”

***

“Ayo mas, cepetan,” teriak Mentari karena merasa Fajar terlalu lama.

“Sebentar, baru mencari kunci mobil nih. Di mana ya?”

Mentari kembali masuk dan menemukan kunci mobil Fajar terjatuh di lantai.

“Nih, dasar teledor.”

“Dimana ini tadi?"

 "Di lantai, jatuh.”

“Oh, ya ampuun.”

“Mau ke mana sih ini?” tanya sang ayah.

“Mau bezoek Pak,” jawab Mentari.

“ Bezoek orang sakit?”

“Iya.”

“Siapa yang sakit?”

“Neneknya teman Mentari. Dia teman baik Mentari, namanya Sarah.”

“Fajar juga kenal teman kamu itu?”

“Kenal dong Pa, mas Fajar suka sama dia,” kata Mentari seenaknya.

“Tari!!” hardik sang kakak dengan wajah kesal.

Mentari terkekeh.

“Jadi Fajar suka sama teman kamu itu?”

“Jangan dengarkan omongan Mentari Pak, dia itu kan suka ngomong sembarangan. Ya sudah Pak, kami berangkat dulu,” kata Fajar sambil mencium tangan sang ayah, Mentari mengikutinya.

“Sudah pamit sama ibumu?”

“Sudah Pak,” kata Fajar yang langsung menarik tangan adiknya, khawatir Mentari masih mengoceh tentang sesuatu yang belum tentu disukai orang tuanya.

“Iiih, mas Fajar, sakit lengan aku.”

Tapi Fajar tak mengacuhkannya. Ia segera membuka pintu mobil dan mendorong Mentari masuk.

“Mas Fajar tuh, sakit, tahu!” keluh Mentari ketika Fajar sudah menjalankan mobilnya.

“Kamu sih, bicara sembarangan. Kalau bapak nggak suka, bagaimana?”

“Sarah kan cantik, bapak pasti suka. Mas Fajar serius?” tanya Mentari penuh selidik.

“Dia gadis yang baik bukan?”

“Sangat baik. Dia teman sekelasku yang sangat pintar.”

Fajar hanya mengangguk. Tapi ia teringat pada perkataan sang ibu yang tampaknya berpegang pada status dan derajat, dan itu membuatnya kecut.

”Ibu tidak suka.”

“Mas pernah bilang pada ibu kalau Mas suka pada Sarah?”

“Tidak sepenuhnya bilang, tapi ibu mengedepankan status yang sama seandainya kita menyukai seseorang.”

“Oo gitu yah?”

***

Mereka tiba di rumah sakit yang dituju, tanpa mencari karena Fajar sudah tahu di mana nenek Suli dirawat.

Ketika Fajar  menunjukkan di mana kamar nenek Suli, Mentari langsung nyelonong menuju pintu, dan siap membukanya. Tapi tiba-tiba di depan pintu sudah berdiri seseorang, yang membuat Mentari berteriak.

“Bimo?”

Dan di belakang Bimo berdiri Sarah yang melihat Fajar dengan wajah berseri.

Ada rasa bercampur aduk diantara mereka. Rasa yang membingungkan, tapi membuat mereka merasa aneh.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, October 7, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 25

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  25

(Tien Kumalasari)

 

Sesampai di rumah, Saptari menyambut Bimo dengan wajah penuh sesal.

“Belum melihat Sarah jualan lagi? Kok kamu pulang cepat?”

“Belum. Ibu belum jadi ke rumah nenek Suli?”

“Ya itulah, dua hari ini Ibu tidak bisa kemana-mana. Ada pesanan dua hari berturut-turut sehingga belum ada waktu untuk menengok nenek Suli. Tapi besok akan Ibu usahakan setelah jualan langsung ke sana.”

“Sampai hari ini Bimo belum melihat Sarah berjualan. Hampir pasti karena neneknya sakit, soalnya beberapa hari yang lalu Sarah mengatakan kalau nenek Suli sedang tidak enak badan.”

“Besok akan Ibu usahakan untuk ke sana, sambil belanja. Perasaan ibu juga tidak enak. Dulu kita pernah dekat dengan keluarganya.”

“Kalau Ibu belum sempat, hari Minggu nanti Bimo yang akan ke sana.”

“Tidak apa-apa kalau kamu juga mau ke sana, tapi besok Ibu akan ke sana lebih dulu. Perasaan Ibu kok tidak enak.”

“Iya Bu.”

“Ya sudah kamu istirahat, mandi lalu makan. Semuanya sudah Ibu siapkan. Ibu sudah memanggil taksi untuk mengantar pesanan.”

“Ke mana Bu?”

“Seorang kenalan, hanya ada pertemuan keluarga, mereka menyuruh Ibu memasak untuk hidangan. Tidak banyak.”

“Ibu hanya mengantarkan?”

“Iya. Tidak akan lama, nanti kamu makan saja dulu, tidak usah menunggu Ibu.”

“Jangan sampai malam pulangnya. Atau Ibu mau Bimo mengantar?”

“Tidak, sudah ditunggu. Nanti mereka kecewa mengira Ibu tidak menepati janji. Sudah, itu taksinya sudah datang. Bawakan saja semua yang Ibu siapkan ke dalam taksi. Ibu akan cepat pulang kok.”

Tapi Bimo tiba-tiba merasa pikirannya terbelah, diantara mimpi dan nyata. Nyata bahwa kalau dia bisa berdampingan dengan Sarah barangkali tak akan ada kendala karena keluarga keduanya sangat mendukung. Mimpi karena ia merasa tertarik kepada gadis cantik putri pimpinan perusahaan yang menyapanya tadi dengan sangat manis. Tentu saja ia hanya mimpi, memimpikan sesuatu yang tak mungkin, tapi terasa sangat mengganggu pikirannya.

Saat setelah mandi kemudian menghadapi meja makan, bayangan Mentari masih menari-nari dalam benaknya. Tetap saja begitu walau ia memarahi dirinya.

***

Fajar tak melihat sepeda  motor Mentari, dan ia menduga sang adik belum pulang. Belum pulang atau pergi lagi? Ia terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

“Tari!” Fajar menangkap tangannya dan mengomelinya. Tapi Mentari hanya terkekeh geli.

“Terkejut ya?”

“Mana sepeda motor kamu?”

“Aku tinggalkan di kantor bapak.”

“Kamu ke kantor bapak?”

“Ban sepeda motor aku bocor di dekat kantor bapak, aku bawa ke bengkel lalu aku ke kantor bapak, lalu pulang diantar sopir. Barangkali bapak sudah menyuruh orang untuk mengambil sepeda motor itu, dan pastinya sudah ada di kantor bapak. Dan karena itu pula, besok antar aku ke sekolah. Oke?”

“Hmh, panjang lebar ngomongnya, ujung-ujungnya minta diantar,” cemberut Fajar.

“Habis gimana dong, masa aku harus jalan kaki?”

“Sekali-sekali jalan kaki kan nggak apa-apa? Biar sehat.”

“Iih, jahat banget. Kan sekolah aku jauh.”

“Oh ya, apa hari ini Sarah sudah masuk sekolah?”

“Sudah, tapi katanya neneknya masih ada di rumah sakit. Kasihan, dia tampak lelah, karena setiap malam menunggui neneknya di rumah sakit. Pasti juga dia kurang tidur.”

“Iya, kasihan. Kamu tidak bermaksud membezoek ke rumah sakit?”

“Rencananya besok Minggu, tadi aku sudah diberi tahu di mana kamarnya.”

“Besok Minggu aku antar kamu.”

“Tuh, giliran mau ketemu Sarah, semangat sekali mengantar,” kata Mentari sambil mengerucutkan bibirnya.

Fajar tidak menanggapi dengan kata-kata. Ia hanya nyengir lalu meninggalkan sang adik yang masih cemberut.

***

Siang hari itu Saptari benar-benar pergi ke rumah nenek Suli. Tapi ia heran karena rumah itu tertutup rapat. Ia mengetuk pintunya berkali-kali, tak ada jawaban. Saptari meletakkan keranjang berisi makanan dan buah-buahan, lalu mengelap keringat di dahinya.

“Kemana ya mereka?”

“Ibu mencari nenek Suli?” tiba-tiba sebuah suara membuatnya menoleh.

“Eh, iya Bu, kok sepi, pada ke mana ya?”

“Ibu tidak tahu ya? Nenek Suli sudah tiga hari ini dirawat di rumah sakit.”

“Oh ya? Sakit apa?” tanya Saptari terkejut.

“Kata tetangga yang sudah pada menjenguknya, nenek Suli sakit jantung.”

“Sakit jantung?”

“Iya Bu, saya sendiri belum  menjenguk karena belum bisa meninggalkan pekerjaan. Tapi tetangga-tetangga sudah.”

“Bagaimana keadaannya? Dan dirawat di mana?”

“Rumah sakit yang tidak jauh dari kampung ini. Kata mereka, masih kelihatan lemas, tapi sudah tidak pucat seperti ketika awal dia dirawat. Ya sudah Bu, saya sedang terburu-buru,” kata ibu tadi sambil berlalu.

Saptari merasa sangat prihatin. Ternyata nenek Suli sampai dirawat di rumah sakit.

“Pasti sakitnya berat. Aku harus memberi tahu Bimo agar menjenguknya di rumah sakit.”

Saptari berjalan keluar, untuk mencari ojol atau menunggu angkutan kota. Makanan dan buah-buah yang tadi dibawanya untuk nenek Suli terpaksa dibawanya kembali.

Ketika ia berjalan sambil menunggu angkutan yang lewat, ia melihat seorang perempuan berbaju lusuh sedang duduk di atas akar pohon yang menonjol.

Wajahnya pucat, dan tepat ketika ia berjalan di dekatnya, wanita itu mendadak terguling jatuh.

Saptari terkejut. Ia mendekat, dan menggoyang-goyang tubuhnya.

“Bu … Ibu sakit?”

Wanita itu berusaha bangkit, Saptari membantunya.

“Saya sedang menunggu suami. Ia sedang mencari kerabatnya. Lama sekali tidak kembali.”

“Mengapa Ibu tidak ikut?”

“Saya sangat lelah, karenanya disuruh menunggu di sini,” kata perempuan itu sambil merogoh tas keresek di sampingnya. 

Ia menarik sebuah botol minuman. Tampaknya ia ingin minum, tapi botol itu sudah kosong.

“Ouh, habis,” keluhnya.

Saptari membuka tas yang dibawanya. Ia selalu menaruh sebotol air minum setiap bepergian. Ia mengambil botol itu dan diberikannya kepadanya.

“Ini apa?”

“Minuman. Hanya air. Ibu minum saja, masih utuh, saya belum meminumnya.”

Wajah wanita itu tampak lega. Ia minum dengan bersemangat. Tampaknya memang sangat haus.

Saptari tersenyum. Tiba-tiba ia merasa seperti pernah mengenal wanita itu.

“Kok seperti pernah mengenalnya ya, di mana, dan kapan, aku kok lupa. Tapi aku yakin pernah mengenalnya," pikir Saptari.

Saptari mengingat ingat, apakah wanita itu dulu pernah menjadi tetangganya sebelum kampungnya disapu banjir, atau mungkin orang sekampungnya yang lain? Tapi ia tak menemukan jawaban itu.

“Rumah Ibu di mana?”

“Jauh, di luar kota,” lalu ia menenggak lagi airnya.

Tiba-tiba sebuah angkutan kota mendekat.

“Bu, saya harus pulang. Ini ada makanan dan buah, untuk ibu saja ya,” kata Saptari sambil meletakkan keranjang yang sedianya akan diberikan kepada nenek Suli. 

Ia segera naik ke atas angkutan kota yang membawanya pulang. Ada sesal karena ia belum bertanya lebih lanjut tentang wanita yang seperti pernah dikenalnya tadi.

Sementara wanita yang diberinya sekeranjang makanan itu merasa sangat senang, ketika membuka isinya. Ada roti, ada makanan macam-macam, dan ada setandan pisang. Ia merasa lapar dan segera melahap salah satu makanan yang ada.

“Orang baik … orang baik,” desisnya .

Ia mengambil lagi sebuah pisang masak, dan memakannya.

Tiba-tiba suaminya datang, dan heran ketika melihat sang istri duduk sedangkan sekeranjang besar berisi makanan ada di depannya.

“Kok baru datang Pak? Ketemu?”

“Tidak, kata tetangganya dia sudah meninggal beberapa tahun lalu.”

“Oh, sayang sekali. Kita jadi tidak bisa menumpang di rumahnya,” keluh sang istri.

“Ini tadi dari mana?”

“Ada orang baik memberikan ini semua. Makanlah dulu, tadi aku kelaparan dan hampir pingsan. Kalau tidak ada wanita baik itu pasti kamu harus menggotong aku entah aku masih hidup atau sudah mati."

“Ngomongnya ada-ada saja,” kata sang suami yang kemudian duduk dan ikut melahap buah pisang dari keranjang itu.

“Wanita baik itu, aku seperti pernah mengenalnya,” kata sang istri pelan, sambil seperti sedang mengingat-ingat.

***

Besok lagi ya.

 

Tuesday, October 6, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 24

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  24

(Tien Kumalasari)

 

Dengan geram Bowo meninggalkan loket itu. Ia bergegas mencari Sarah. Sakit sekali hatinya, ketika kebaikan yang ditanamnya dengan sangat rapi dan hati-hati, di campakkannya bagai sampah tak berguna.

Ia pergi ke ruang rawat nenek Suli, bermaksud menegur perlakuan Sarah yang dianggapnya merendahkan dirinya.

Hari masih pagi, tapi sudah banyak antrean pasien di setiap klinik dengan bagian masing-masing. Bowo melangkah dengan hati terbakar ganas. Ia harus tahu siapa yang membayar biaya nenek Suli sehingga Sarah mengembalikan uangnya dengan semena-mena. Namanya Fajar. Siapa dia?

Tak peduli nanti nenek Suli akan memaki-makinya, Bowo akan nekat masuk ke dalam. Tapi ia terkejut. Di pintu ia melihat dokter Harun baru saja keluar dari ruangan nenek Suli.

“Bowo?” sapanya heran. Ia juga melihat amarah yang membakar wajah keponakannya.

“Om,” sapanya kemudian dengan ragu.

“Ada apa? Kamu kelihatan marah? Kamu mencari Sarah? Dia tidak ada. Kata neneknya dia masuk sekolah hari ini.”

“Saya ingin mengamuk Om.”

“Hei, ini rumah sakit. Jangan membuat kegaduhan. Ayo ke ruanganku dan bicara,” kata dokter Harun sambil melangkah ke ruangannya, diiringi perawat pembantunya. 

Bowo terpaksa mengikutinya, dengan meredam kemarahan yang tak akan tersalurkan karena Sarah ternyata tidak ada.

***

“Duduklah,” kata dokter Harun setelah perawat itu pergi.

Bowo duduk, ia tak tahu harus mengatakan apa. Dadanya masih terasa sedikit sesak karena pelampiasan amarah yang tertunda.

“Sedikit banyak aku sudah tahu bagaimana kelakuan kamu terhadap para gadis di sekitar tempat kita. Dan kalau tampaknya nenek Suli membenci kamu, aku kira itu wajar. Ia juga pasti sudah mendengar sepak terjang kamu, lalu ia tidak suka ketika kamu berusaha mendekati Sarah. Ya kan?”

“Tidak persis seperti itu Om.”

“Tidak persis? Lebih kurangnya benar kan?”

“Ibu yang membuat nenek Suli marah pada saya.”

“Ibumu?”

“Om kan tahu sendiri bagaimana ibu. Ia menghina nenek Suli, dan membuat nenek Suli marah sehingga Bowo ikut-ikutan dibenci.”

“Jadi bukan karena kelakuan kamu terhadap Sarah?”

“Bowo memang pernah membuat Sarah kesal, Bowo sangat menyesal, dan ingin menebusnya dengan berbuat baik pada dia. Itu sebabnya saya minta Om datang ke rumah nenek Suli dan memeriksa sakitnya.”

“Kamu menyukai Sarah?”

“Sangat, Ia berbeda dengan gadis-gadis yang Bowo dekati, yang menyukai Bowo karena Bowo punya uang. Tapi Sarah tidak. Ia bergeming dengan segala iming-iming yang Bowo punya. Itu membuat Bowo semakin mencintainya. Jarang gadis sebaik Sarah.”

“Bukankah Sarah masih sekolah?”

“Iya sih, tapi Bowo akan menunggu sampai dia selesai dan siap menjadi istri.”

"Tapi kamu kelihatan sedang marah ketika mau memasuki ruang rawat nenek Suli. Dan kamu tidak sadar bahwa nenek Suli sedang dirawat dan butuh ketenangan.”

“Saya sangat marah. Memang Om.”

“Marah pada Sarah? Karena dia tetap menolak kamu walau kamu sudah habis-habisan membayar semua biaya untuk nenek Suli?”

“Kemarin Sarah mengembalikan semua uang yang sudah saya bayarkan ke bagian administrasi.”

“Mungkin dia tidak ingin merepotkan kamu, lalu mencari uang untuk mengembalikan uangmu. Mengapa kamu marah?”

“Ada orang bernama Fajar yang sudah membayarnya. Karena itulah Sarah mengembalikan uang saya. Apa itu tidak menyakitkan?”

Dokter Harun tersenyum.

“Fajar itu saingan kamu?”

“Saya tidak tahu dia siapa, tapi yang membuat saya sakit adalah Sarah menerima kebaikannya tapi menolak kebaikan saya.”

“Mengapa kamu harus sakit? Orang jatuh cinta itu harus bersiap untuk patah hati. Kamu tak perlu sakit hati. Mungkin Sarah tak mau lebih merepotkan kamu.”

“ Dan dia memilih merepotkan orang lain?”

“Barangkali iya. Dengan pertimbangan yang kamu pastinya tidak tahu.”

“Om tidak merasakan, itu sebabnya Om bisa bicara dengan sangat enteng.”

Dokter Harun tertawa. Sebenarnya Bowo adalah keponakan yang disayanginya, karena bu Lurah adalah kakak kandungnya. Tapi dia tidak suka pada kesombongan keluarga kakaknya itu. Ia juga tidak suka pada kelakuan Bowo yang suka mempermainkan perempuan.

Sekarang ini, melihat Bowo benar-benar patah hati, runtuhlah rasa iba dihatinya.

“Bowo, tidak semua orang yang jatuh cinta itu harus memilikinya. Banyak hal yang membuat orang gagal bersanding dengan orang yang dicintainya. Perbedaan status, karena selingkuh, atau entah apa lagi penyebabnya. Dan kenapa, karena memang mereka tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Tak ada yang bisa menolak takdir. Dan kamu tak bisa juga memaksakan kehendak.”

“Sebenarnya Bowo tidak ingin memaksakan kehendak. Bowo sedang berusaha memperbaiki hubungan yang tadinya sikap Bowo membuatnya sakit hati.”

“Dan sebuah perjuangan itu tidak harus membuahkan hasil. Kalau berhasil, syukurilah, kalau tidak ya terimalah. Kalau kamu marah, hanya akan membuat hubungan kamu dan dia semakin merenggang. Cobalah bisa menerima itu dengan lapang dada, dan tunjukkan sikap baik kamu walau perlakuannya menyakitkan kamu. Nanti dia akan merubah sikapnya terhadap kamu, dan menganggap kamu benar-benar orang baik.”

Bowo terdiam. Om dokter ini lebih bisa berpikir arif daripada ibunya yang terlalu menyombongkan kekayaannya, dan nyatanya perkataan sang paman lebih bisa menyerap di hatinya.

“Sekarang pulanglah. Om sudah ditunggu banyak pasien. Tadi om menyempatkan ke ruang nenek Suli karena semalam katanya nenek Suli tidak bisa tidur. Tapi tampaknya sekarang keadaannya sudah membaik.”

***

Ketika Bowo keluar dari rumah sakit dengan perasaan yang lebih lapang, tanpa diduga ia melihat ibunya.

“Mengapa Ibu kembali ke rumah sakit?”

“Obat yang kemarin diberikan dokter itu tidak cocok. Kepalaku malah pusing dan aku diare sejak semalam. Aku cari kamu di rumah kamu, agar bisa mengantarkan lagi kemari, katanya kamu pergi sejak pagi. Rupanya kamu datang kemari. Apa yang kamu lakukan? O, ya … aku tahu, jangan-jangan cucu nenek Suli itu masih ada di sini ya, menunggui seseorang yang entah siapa. Iya kan?”

“Aku menemui om Harun tadi, kepalaku pusing sejak semalam.”

“Mengapa tidak pulang ke rumah ibu saja?”

“Tidak apa-apa. Sekarang sudah baikan. Ibu mau ketemu om Harun?”

“Iya, aku tidak mau diperiksa dokter yang kemarin.”

“Pasien om Harun banyak. Ibu harus ngantre.”

“Apa? Aku kan kakaknya dia, masa harus mengantre? Tidak mau, bagaimanapun aku harus masuk lebih dulu. Masa iya adikku dokter lalu aku tidak mendapat perlakuan istimewa.”

“Ya sudah, Bowo pergi dulu saja, tadi meninggalkan pekerjaan,” kata Bowo yang kesal pada sikap ibunya.

***

Pak Pranoto baru saja selesai mengadakan rapat dengan para stafnya ketika tiba-tiba Mentari muncul di depannya.

“Mentari, kamu kenapa kemari? Tidak sekolah?”

“Ban bocor, baru Mentari suruh nambal. Daripada nunggu aku jalan saja ke kantor Bapak.”

“Mau diantar pulang duluan? Motormu ada di mana, biar nanti diambil sopir.”

“Bapak pulangnya masih lama?”

“Ya masih. Masih banyak yang harus bapak kerjakan. Bapak panggil sopir biar mengantarkan kamu ya.”

“Ya sudah, terserah Bapak saja.”

Mentari keluar dari ruangan ketika sang ayah memanggil sopir untuk mengantarkannya pulang. Tapi tiba-tiba ia melihat seseorang.

“Heiii! Kamu?” teriaknya.

Yang diteriaki menoleh, dan dengan heran ia melihatnya.

“Bukankah dia gadis yang bersama mas Fajar dan memborong koran dagangan Sarah?” gumamnya pelan.

“Rupanya kamu bekerja di sni?”

“Ini teman Sarah kan?”

“Iya. Kok kamu bekerja di sini?”

“Memang iya. Ah, iya, saya lupa, maaf. Kan mbak ini adiknya mas Fajar?”

“Syukurlah kalau kamu masih ingat.””

“Maaf, kalau saya kurang hormat, kan Mbak inii putri pimpinan di kantor ini.”

“Tidak apa-apa, anggap saja kita berteman.”

“Mentari, kamu gimana sih? Ditunggu sopir di depan tuh.” teriak sang ayah di luar pintu kantornya.

“Iya Pak, saya heran ada Bimo di sini.”

“Kamu kenal Bimo?”

“Dia pacarnya Sarah, teman sekolah Mentari.”

“Eh, bukan,” Bimo buru-buru  menyela, membuat Mentari tertawa.

“Aku hanya bercanda. Sudah dulu ya,” katanya sambil melambaikan tangan ke arah Bimo.

“Kok aku berdebar ya?” kata batin Bimo memarahi dirinya sendiri, yang gampang tertarik perempuan cantik. Sarah, apa Mentari? Jangan gila, Mentari itu anak pak bos ya. Mimpi saja sana,” kata batinnya sambil memasuki ruang kerjanya.

***

 Besok lagi ya.

Monday, October 5, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 23

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  23

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut. Ia ingin menghindar, tapi bu Lurah yang galak itu sudah sangat dekat dengannya.

Bowo membalikkan tubuhnya, menemui sang ibu.

“Kamu tinggalkan Ibu mengantri lama, kamu biarkan Ibu periksa sendiri, gara-gara kamu menemui perempuan miskin itu?”

“Ibu jangan berteriak, malu. Tuh, pada ngelihat kemari.”

“Biar saja. Biar mereka tahu bahwa dia memang miskin. Apa yang dilakukannya di sana? Dia dirawat? Masa orang miskin dirawat di ruang mahal seperti itu?”

“Sudah Bu, ayo pulang saja. Jangan buat keributan di sini.”

“Ibu hanya ingin tahu, apa yang dilakukannya di situ?”

“Dia sedang membezoek kerabatnya.”

“Masa dia punya kerabat orang kaya?”

”Ibu jangan begitu, masa tidak boleh orang miskin punya kerabat orang kaya? Ibu sudah selesai kan, ayo pulang.”

“Tunggu obatnya dulu.”

“Baiklah, ayo ke depan apoteknya.”

“Tadi aku mencari om kamu. Mana Harun?”

“Mungkin hari ini tidak praktek. Sudah, tidak usah mencari, kita ambil obatnya dulu, siapa tahu ditinggal Ibu padahal nama Ibu sudah dipanggil.”

“Lama sekali. Makanya aku mencari Harun, supaya mereka tahu bahwa ibumu ini saudaranya dokter terkenal di sini.”

“Urusan apotek mana bisa dihubungkan sama dokter.”

“Ya bisa, kalau kita kerabat dokternya pasti bisa dibuat lebih cepat.”

“Jangan tergesa, kalau Ibu tergesa-gesa, nanti obatnya keliru, bagaimana? Atau … Ibu saya antar pulang dulu, nanti Bowo kembali untuk mengambil obatnya.”

“Lalu kamu akan menemui si miskin itu lagi?”

“Ya tidak Bu, apa dia akan tetap di sini, pasti sudah pulang. Ayo Bowo antar pulang dulu.”

“Aku mau bilang kalau dokter Harun itu saudara aku.”

“Tidak usah. Kan saya bilang, kalau tergesa lalu obatnya keliru, bagaimana?”

Akhirnya dengan mengomel panjang pendek, bu Lurah mau diantarkan pulang terlebih dulu, sehingga Bowo merasa lega. Jangan sampai ibunya tahu kalau nenek Suli dirawat di sini, di kamar bagus pula. Pasti ibunya menuduh dirinya yang membiayainya. Padahal setelah dia membayarnya kemarin, tadi uangnya dikembalikan oleh Sarah, dan dia belum menanyakan kejelasannya.

“Kamu itu memegang apa?” rupanya sang ibu melihat bahwa tangannya menggenggam amplop berisi uang yang tadi diberikan Sarah.

“Oh, ini … bukan apa-apa, hanya uang pembayaran dari pelanggan, belum sempat Bowo simpan.”

“O, Ibu tahu, kamu mau memberikan uang itu untuk Sarah kan? Sini coba Ibu lihat.”

“Ya tidak Bu, untuk apa Bowo memberikan uang? Ini uang dagangan,” kata Bowo sambil memasukkan amplop itu ke dalam sakunya. 

Lalu ia bergegas keluar dari area rumah sakit itu sambil menggandeng lengan ibunya.

***

Sarah merasa lega, karena ia sudah mengembalikan uang yang telah dibayarkan Bowo, sehingga ia bisa terlepas dari budi baik Bowo tentang biaya itu. Hanya saja Sarah bukan orang jahat. Ia tetap mengakui bahwa Bowolah yang berperan sehingga neneknya bisa sampai di rumah sakit itu dan mendapat perawatan.

Sarah menghela napas lega ketika mereka sudah pergi. Ia kemudian kembali masuk ke dalam kamar sang nenek.

Begitu melihat Sarah, sang nenek segera menanyakan tentang siapa yang membuatnya keluar dari kamar.

“O, hanya perawat. Sarah ingin menanyakan tentang penyakit Nenek,” kata Sarah yang sama sekali tak ingin mengatakan tentang Bowo.

“Nenek mau pulang saja.”

“Sabar dulu ya Nek, nanti kalau dokter sudah mengatakan bahwa Nenek boleh pulang, maka Nenek bisa pulang. Yang terpenting Nenek harus tenang dan tidak memikirkan apapun, karena ketenangan Nenek sangat membantu untuk kesehatan Nenek.”

“Kamu seperti dokter saja.”

“Memang dokternya berkata begitu kan?”

“Nenek tidak kerasan tidur di tempat ini. Lebih nyaman tidur di rumah sendiri.”

“Ya tidak ada Nek, orang yang kerasan tidur dirumah sakit. Nenek ada-ada saja.”

“Bagaimana uang tabungan Nenek? Ada berapa? Nenek tidak mengerti apa yang kamu lakukan sehingga Nenek bisa dirawat di tempat ini.”

“Kan Nenek tidak boleh memikirkan apa-apa.”

“Mana bisa orang tidak memikirkan apa-apa? “

“Setidaknya tenang, karena Sarah sudah menyelesaikan semuanya. Ini uang tabungan Nenek, Sarah bawa kemari.”

“Kamu hitung belum, ada berapa?”

“Banyak. Nanti kalau ada kurangnya, Sarah akan minta pada Nenek. Kan Sarah juga punya tabungan sendiri.”

“Ya Tuhan. Penyakit Nenek ini menghabiskan biaya yang banyak. Biasanya kalau sakit hanya minta dikerok, lalu sembuh.”

“Setelah sembuh, Nenek jangan sampai kecapekan. Kalau terlalu capek, Nenek bisa sakit lagi.”

“Mengapa kamu tidak sekolah?”

“Sarah harus menunggui Nenek. Sarah sangat khawatir, bagaimana Sarah bisa sekolah”

“Nenek tidak apa-apa. Suster-susternya di sini baik semua. Kamu tidak usah terus menunggui Nenek. Besok masuklah sekolah.”

“Kita lihat saja nanti, kalau Nenek bisa Sarah tinggalkan, Sarah akan sekolah.”

“Masuk sekolah saja. Katanya kamu mau ujian.”

”Baik, Nenek tenang saja, Sarah mengerti apa yang harus Sarah lakukan. Nenek sudah makan?”

“Sudah. Nggak enak makanan di sini.”

“Namanya lagi sakit, semua makanan pasti terasa tidak enak. Tapi kan Nenek tetap harus makan. Turuti semua nasehat dokter. Kalau Nenek menurut, pasti Nenek segera sembuh.”

Nenek mengangguk. Tapi masalah pembayaran biaya rumah sakit masih menjadi  pemikiran nenek Suli. Apakah Sarah meminjam kepada seseorang? Sarah tak pernah mau mengatakannya.

***

Adalah Bimo, yang bingung karena tidak melihat Sarah berjualan koran. Sudah dua hari ia tak melihatnya. Ia sudah menunggu sejam lebih dan tak melihat bayangan Sarah. Kegelisahan itu dibawanya sampai ke rumah, membuat sang ibu kebingungan.

“Mengapa kamu diam saja dari tadi? Makan juga tak seperti biasanya. Sedang memikirkan sesuatu? Pekerjaan kamu?  Dimarahi pimpinan?” kata Saptari yang sudah tahu kalau anaknya ‘naik pangkat’ di tempat kerjanya, dan khawatir sang anak membuat kesalahan di tempat kerjanya.

“Tidak Bu, Bimo bekerja dengan baik.”

“Syukurlah. Lalu kenapa kamu kelihatan gelisah begitu?”

“Bimo tidak melihat Sarah sudah dua hari ini. Kenapa ya Bu. Beberapa hari yang lalu dia bilang bahwa neneknya kurang sehat.”

“Kalau begitu besok ibu mau ke rumah nenek Suli, barangkali benar bahwa dia sakit.”

“Iya Bu, tak mungkin Sarah tidak berjualan, soalnya Sarah gadis yang rajin.”

“Apa kamu berharap dia akan bisa menerima kamu?”

“Siapa tahu, dengan perlakuan Bimo yang baik, hati Sarah akan tersentuh, lalu ….”

“Bimo, masalah penolakan itu tidak usah kamu pikirkan. Jodoh itu Allah yang mengaturnya. Mohonlah kepada Allah, jodoh yang baik. Jangan mengharapkan sesuatu tanpa berpegang kepadaNya.”

“Iya Bu.”

***

Sore itu Sarah kedatangan tamu. Seperti yang pernah dikatakannya, Fajar datang sepulang dari kantor. Nenek Suli menatapnya heran. Dari mana Sarah kenal dengan anak muda ganteng dengan pakaian perlente ini. Sepertinya nenek Suli pernah melihatnya.

“Sarah, apa ini Bimo? Kok penampilannya beda?” tanya nenek Suli pelan.

Tapi Fajar mendengarnya. Ia tersenyum dan mendekati nenek Suli.

“Nenek, nama saya Fajar. Banyak yang mengira bahwa Bimo saudara kembar saya. Tapi Bimo bukan saya. Bimo bekerja di kantor ayah saya.”

“O, ya ampuun. Ada orang sepersis ini. Dari mana Sarah kenal orang ganteng ini?”

”Nek, dia hanya pelanggan koran Sarah. Tiap hari dia membeli koran Sarah, bahkan terkadang memborongnya sampai habis.”

“Oh, iya? Pasti dia orang kaya, Pakaiannya bagus, baunya wangi,” kata nenek Suli yang disambut senyum lebar oleh Fajar.

“Saya orang biasa saja Nek, saya sahabat Sarah.”

Mereka berbincang akrab, Sarah senang sang nenek tampak gembira dengan candaan Fajar untuk menyenangkan hati neneknya.

***

Pagi hari itu Bowo kembali ke rumah sakit. Ia tidak langsung mencari Sarah, tapi pergi ke bagian administrasi. Ia menanyakan, siapa yang datang dan mengurus pembayaran pasien bernama Suli. Dan kemarahannya memuncak ketika mendengar dari petugas itu tentang siapa yang membayarnya.

“Dia?” geramnya.

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 020

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  020

(Tien Kumalasari)

 

Baroto mengerutkan keningnya. Tak biasanya Lili bersikap seperti ini. Ia sudah merasa aneh sejak beberapa hari terakhir. Sikapnya yang lebih manis, berangkat ke kantor pakai pamit, walaupun tidak mencium tangannya seperti kebanyakan istri melakukannya.

Lili menatap wajah suaminya, lalu diam-diam mengakui, betapa gantengnya suaminya. Salah besar kalau selama ini dia tak peduli.

“Mas, agak ke sana dong, sempit nih, kalau aku jatuh bagaimana?” kata Lili yang langsung berbaring di samping Baroto.

Baroto bergeser agak ke pinggir, sehingga Lili bisa berbaring leluasa. Perasaan aneh dikibaskannya. Ia melanjutkan tidurnya dengan memunggungi sang istri, mencoba kembali tidur dengan memejamkan matanya. Tapi kemudian ada yang menarik lengannya.

“Mas, kok tidurnya menghadap ke sana sih?”

“Aku terbiasa kalau tidur miring ke kanan,” jawab Baroto sekenanya.

“Kalau begitu Mas di sebelah sini, aku sebelah situ.”

“Apa maksudmu Lili?”

“Kalau Mas di sebelah sini, kemudian tidur miring ke kanan, kan tidak membelakangi aku.”

“Kamu ada-ada saja, besok aku harus ke bandara pagi-pagi, tahu,” kata Baroto agak kesal, tapi ia tidak merubah posisi tidurnya.

“Mas gimana sih, aku sebelah situ, Mas  sebelah sini.”

“Ini tempat tidurku, kamu hanya numpang, jadi tidak boleh mengatur.”

Tapi tanpa diduga Lili kemudian melompati tubuhnya dan berbaring di depan Baroto, membuat Baroto kemudian bergeser ke sisi yang lain. Tapi kembali Baroto tidur miring membelakangi Lili, Lili memukul punggungnya keras.

“Katanya terbiasa tidur miring ke kanan, mengapa sekarang miring ke kiri?”

“Lili, aku tidak mau diganggu ya, aku bisa bangun kesiangan.”

“Mas kan besok mau pergi, jadi harus bersikap manis sama aku.”

“Apaan sih?”

“Mas lupa ya, aku ini kan istri kamu? Lima tahun lebih kita menjadi suami istri, tapi tidak sekalipun kita berduaan seperti ini.”

“Ini kan sudah menjadi kesepakatan kita? Kia menikah atas dasar bisnis antara orang tuamu dan orang tuaku. Tapi hubungan kita tidak didasari rasa cinta. Ya kan?”

“Tapi rasanya sekarang aku jatuh cinta,” kata Lili tanpa malu, sambil kembali menarik lengan suaminya.

“Apa?”

“Ini benar. Apa salah kalau seorang istri mencintai suaminya? Mas tidak sedang mencintai perempuan lain bukan? Barangkali di luar negri banyak nona-nona atau nonya-nonya yang dekat dengan Mas, iya kah ada yang menarik hati Mas?"

Baroto terdiam. Iya benar, ia mencintai perempuan lain, tapi bukan nona atau nonya di luar negri. Tapi di sini, di kota ini. Nonya yang tak pernah dilupakannya, bahkan sudah melahirkan buah cinta mereka, seorang anak yang gagah dan tampan seperti dirinya.

Melihat Baroto terdiam, Lili semakin berani. Dan  Baroto adalah seorang laki-laki. Bagaimanapun godaan itu membuatnya sedikit terbakar.

Tapi tiba-tiba ponsel Baroto berdering. Baroto bangkit untuk mengambil ponselnya, tapi Lili menahannya.

"Biarkan saja Mas," Lili merengek.

“Lepaskan aku, barangkali sesuatu yang penting.”

“Malam-malam menelpon, mengganggu saja,” gerutu Lili.

“Di sana ini sudah siang,” kata Baroto sambil turun dari tempat tidur, meraih ponselnya kemudian duduk di sofa untuk menerimanya.

Lili kesal sekali. Ia melihat Baroto berbicara sangat lama, dan tampaknya hal yang sangat penting. Lili menunggu sampai ketiduran.

***

Pagi hari itu Baroto sudah mandi dan rapi, sementara LIli masih tergolek di ranjangnya. Ketika Lili membuka matanya, dan melihat Baroto sudah wangi, ia segera melompat turun.

“Kamu sudah mau pergi?”

“Ini sudah jam delapan pagi, aku berangkat dulu,” kata Baroto sambil menarik kopornya keluar dari kamar. Dari kamar lain, Ana juga keluar, sudah cantik dan juga rapi, sedangkan Menur berjalan di belakangnya.

“Papa sudah mau pergi?”

“Iya Ana, baik-baik di rumah, jangan nakal ya?”

“Ana mau ikut ke bandara ya.”

“Boleh, sama bibi Menur kan?”

“Tentu saja Pa. Ayo Bibi, kita ikut ke bandara." ajaknya sambil berjingkrak, membuat Menur terkejut.

“Tidak usah sama bibi Ana, bibi mau bersih-bersih kamar Ana.”

“Nanti biar bik Rumi yang bersih-bersih. Ayo cepat, mobilnya sudah menunggu,” Ana berlari ke depan sambil menarik tangan Menur.

Ketika  Lili kemudian keluar dari kamar, Baroto sudah ada di dalam mobil, di samping sopir, sedangkan di belakang duduk Menur dan Ana, yang kemudian membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya.”

Biasanya juga begitu, kalau pergi, pamit sambil lalu, dan saling tak peduli, tapi kali ini ada rasa sedih menghimpit. Apalagi semalam dia ketiduran dan gagal meluluhkan hati Baroto.

“Gara-gara telpon itu, aku jadi ketiduran,” sesalnya sambil masuk ke dalam rumah. Di pintu, si Rumi siap mendekat dengan mulut monyongnya.

“Nyonya … nyonya …”

Lili berhenti melangkah siap mendengarkan ocehan si mulut monyong.

“Ada apa lagi Rumi?

“Itu lhoh Nyonya, mengapa tuan mau pergi ke bandara, tapi si … eh … Menur … yang mengantarkan? Bukannya Nyonya?”

“Aku baru bangun, belum mandi.”

“Walau begitu, mengapa dia yang mengantarkan tuan ke bandara?”

“Aku tadi mendengar, Ana yang ingin mengantarkan ayahnya. Dan sudah bisa ditebak, pasti dia mengajak Menur. Apa yang kamu pikirkan?”

“Apa Nyonya tidak merasa khawatir?”

“Mengapa aku harus khawatir?”

“Ya ampun Nyonya, harusnya sebagai seorang istri harusnya bisa menjaga suaminya baik-baik.”

“Lama-lama kamu lancang Rumi.”

“Eh, ya ampun, maaf Nyonya, sungguh saya minta maaf. Saya mengatakan itu karena saya sayang pada Nyonya. Saya tidak ingin Nyonya kehilangan suami hanya karena bekas seorang penarik sampah.”

“Aku tidak melihat tanda-tanda mencurigakan. Menur sangat santun dan tidak akan berbuat macam-macam,” kata Lili sambil melangkah masuk. Ia harus segera mandi karena harus pergi ke kantor juga.

“Nyonya … nyonya … saya belum selesai. Saya melihat dia ... berduaan di kamar non Ana. Eh … sekali di kamar non Ana, tuan seperti membisikkan sesuatu di kuping Menur, yang kedua, juga berduaan lagi, di ruang belajar non Ana.”

Kali ini Lili berhenti. Ucapan berduaan di sebuah ruang, entah kamar tidur atau ruang belajar, membuat perasaannya tidak nyaman. Laki-laki dan perempuan berduaan, apa yang mereka lakukan? Tapi tidak, semalam dia berduaan dengan suaminya, tapi tidak melakukan apa-apa bukan? Wajah Lili menjadi muram. Sekarang ia merasa bahwa mulai mencintai suaminya. Dan mendengar suaminya berduaan dengan wanita lain, ada rasa sakit menusuk dadanya. Tapi ia masih menepiskan anggapan bahwa suaminya dan Menur berbuat sesuatu yang tak pantas. Tidak, masa ia harus percaya pada omongan pembantunya yang mulutnya ember itu?

Lili sudah meraih gagang pintu kamarnya, ketika Rumi mengoceh lagi.

“Nyonya harus percaya pada saya. Itu perbuatan tak wajar.”

“Mungkin sedang ada perlu, bukan karena akan berbuat macam-macam.”

“Tapi berbisik-bisik di telinga, apa itu wajar?”

Lili membuka kamarnya, tapi kemudian menutupnya dengan keras, membuat Rumi terlonjak kaget.

“Dikasih tahu kok malah marah?” gumam Rumi sambil melangkah pergi. Padahal Lili marah karena suaminya berbisik-bisik dengan Menur. Apa yang dibisikkannya?

***

Di sepanjang jalan ke bandara, Ana mengoceh ke sana kemari. Baroto hanya tersenyum. Ia tak pernah begitu dekat dengan Ana sebelum ini. Tapi dengan adanya Menur, ia ‘terpaksa’ harus sering-sering berdekatan dengan Ana.

“Ana sedih tidak, ditinggal papa pergi?”

“Ana tidak sedih,” jawab Ana yang memang sudah terbiasa ditinggal papanya pergi.

“Kalau bibi Menur, sedih tidak ditinggal papa pergi?” Ana justru bertanya pada Menur, yang mendadak terkejut. Mengapa juga Ana bertanya begitu.

Menur tidak menjawab, tapi menggeleng.

Baroto yang duduk di samping sopir melongok ke arah kaca spion yang ada di dalam mobil, untuk melihat sikap Menur. Ia kecewa ketika melihat Menur menggeleng.

“Tuh, bibi Menur juga tidak sedih kan?” kata Ana.

“Itu karena Ana menjawab tidak sedih. Jadi bibi Menur menirukan ucapan Ana tadi.”

“Benar begitu ya Bi?”

Menur hanya tersenyum.

“Papa ngarang ah.”

Baroto tertawa. Ia baru sadar bahwa Ana ternyata lucu juga. Ia juga baru sadar bahwa anak kecil itu menyenangkan, juga menggemaskan. Apakah karena ia sekarang merasa bahwa dirinya sudah punya anak?

Lalu ia berpesan kepada Menur, agar menjaga Rahman dengan baik. Menur diam saja, sampai-sampai Ana menegurnya.

“Mengapa Bibi diam saja? Kata nenek, kalau diajak bicara harus menjawab.”

“Oh, maaf.”

“Jaga Rahman baik-baik,” Baroto mengulang ucapannya.

“Ya,” jawab Menur ala kadarnya. Dalam hati dia berkata, tanpa dipesanpun pasti dia akan menjaga anaknya dengan baik.

“Mengapa bibi Menur diam saja dari tadi? Bibi tidak suka ikut ke bandara? Ana paling suka melihat pesawat. Lain kali maukah Papa mengajak Ana naik pesawat?”

“Tentu, pada suatu hari nanti papa akan mengajak Ana jalan-jalan naik pesawat.”

“Horeee …. dengan bibi Menur juga kan?”

Menur terkejut.

“Ya, tentu saja dengan bibi Menur.”

Menur menghela napas panjang, entah apa yang dipikirkannya.

***

Ketika mereka pulang dari bandara, Menur melihat Lili belum berangkat ke kantor. Ini agak aneh, karena biasanya dia berangkat pagi-pagi.

“Mama, besok-besok papa akan mengajak Ana dan bibi Menur jalan-jalan naik pesawat," kata Ana begitu melihat mamanya.

“Apa?” Menur terkejut karena Lili menatapnya aneh, seperti ada kemarahan yang ditujukan kepadanya.

***

Besok lagi ya.

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 27

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  27 (Tien Kumalasari)   Sejenak saling pandang antara satu dan lainnya, kemudian terdengar Sarah menyambut dengan...