NAMAKU TETAP SENJA 58
(Tien Kumalasari)
“Rosa, jangan masuk dulu, temuin dulu polisi-polisi itu, ibu terkadang salah ngomong,” kata bu Daryono.
Rosa terpaksa berdiri menyambut, mencoba menenangkan hatinya dari rasa gelisah.
“Apakah mereka melaporkan aku dan dalam keterangannya membawa-bawa namaku? Pasti tidak, ini pasti masalah lain,” kata batin Rosa berusaha tenang.
“Selamat sore.”
“Selamat sore.”
“Apakah nona Rosana tinggal di sini?”
“Mm … Rosa …,“ Rosa mendadak gugup, apalagi kemudian bu Daryono berdiri dan mendekat.
“Bapak-bapak mencari siapa?”
“Nona Rosana.”
“Ini Rosana, anak saya. Ada urusan apa ya?” akhirnya bu Daryono ikut menanyakannya.
“Kami mendapat perintah untuk menangkap nona Rosana.”
“Ada apa?” Rosa mulai gemetar.
“Mengapa anak saya ditangkap?”
“Tuduhannya adalah menjadi otak sebuah kejahatan.”
“Tidak, bohong semua itu,” Rosa berteriak dengan bibir gemetar.
“Nanti Mbak bisa memberikan keterangan di kantor. Sekarang Mbak harus ikut saya.”
“Tidaaak, aku tidak mau … jangaaan ….”
Jeritan dan ronta melawan tak berguna, karena ia sudah diseret ke dalam mobil tahanan.
Bu Daryono terpaku. Tentu ia tak mengira Rosa melakukan kejahatan. Otaknya pula? Ia terduduk lemas di kursi.
Ketika mobil pak Daryono hampir mencapai gerbang rumahnya, ia melihat mobil polisi keluar dari halaman, dengan raungan yang mengiris jantung.
Begitu melihat mobil suaminya, bu Daryono segera berdiri menyambut, wajahnya muram.
“Ada apa? Mengapa polisi-polisi itu?”
“Mereka membawa Rosa.”
“Membawa Rosa?”
“Katanya ia menjadi otak sebuah kejahatan.”
“Ya Tuhan, apa yang dilakukannya?” kata pak Daryono sambil duduk di teras.
“Selama ini kita tak tahu apa yang dilakukannya. Ia sibuk dengan temannya, itu yang dikatakannya. Sibuk melakukan kejahatan? Kejahatan apa?” sambungnya.
“Rosa hidup berkecukupan, dan kita mengasihinya seperti anak sendiri, apa yang kurang dari semua itu?” keluh bu Daryono.
“Sungguh aku tidak mengerti. Ini tentang uang? Ada masalah apa yang selama ini disembunyikan?”
"Dia tidak pernah mengeluh tentang apapun.”
“Tentang Arka?”
“Dia mengatakan sudah melupakannya. Bahkan tadi sore menunggu kedatangan Papa agar besok diijinkan berangkat ke luar negri.”
“Besok? Selama ini aku yang mendesaknya agar segera berangkat, dan dia mundur-mundur terus. Lalu sekarang minta segera berangkat? Kelihatan buru-buru kan Ma, apakah ia sebenarnya ingin melarikan diri?”
“Mama tidak tahu, Mama bingung.”
“Ya sudah, Mama tidak usah bingung. Nanti aku coba mencari tahu ada apa sebenarnya. Aku mau ganti baju dulu. Sudah, tidak usah dipikirkan. Dia sudah dewasa, apa yang dilakukannya akan menjadi tanggung jawabnya sendiri,” kata pak Daryono lembut, sambil menggamit tangan istrinya, diajaknya masuk ke dalam rumah.
***
Pak Daryono sangat terkejut ketika mendapat keterangan dari kantor polisi melalui pengacara yang disewanya, tentang apa yang telah dilakukan Rosa.
“Ibu mengatakan kalau ia sudah melupakan Arka?” katanya setelah mendengar keterangan secara detail.
“Dia selalu bilang begitu.”
“Tapi dia melakukan kejahatan karena Arka.”
“Apa yang dilakukannya?”
“Dia membenci seseorang, anak tukang beras itu, mungkin karena mengira Arka lebih memperhatikan gadis itu, lalu dia berusaha mencelakakannya.”
“Apa yang dilakukannya? Dia menyuruh orang?”
“Dia bekerja sama dengan pemilik salon. Bekas teman sekolahnya.”
Lalu pak Daryono menceritakan sekilas apa yang dilakukan pemilik salon itu, sehingga Senja ditahan polisi.
“Kasihan gadis itu. Bukankah dia hanya ingin membela diri? Apakah dia juga akan dihukum?”
“Aku kira tidak. Saat ini dia ditahan diluar. Kelihatannya Arka juga yang membantunya.”
“Kalaupun Arka suka, apa yang salah? Biar dia miskin tapi baik. Dia sudah pernah kemari untuk mengirim beras. Kata Rosa dia kasihan pada dia, lalu membeli beras untuk membantunya.”
“Ternyata dia hanya ingin mendekatinya, atau mungkin pura-pura baik, untuk menutupi kejahatan yang akan dilakukannya.”
“Aku ingat Pak, Rosa pernah bilang bahwa dia menolong gadis itu, yang siapa tuh namanya … “
“Senja.”
“Nah, Senja. Dia ditemukan dipinggir jalan karena mau diperkosa orang, lalu dia membantu membawanya ke rumah sakit, dan setelah gadis itu mau berangkat sekolah, dia juga bilang ingin mengantar dan menjemputnya. Mama bahkan sempat memuji-mujinya, dan senang punya anak suka menolong.”
“Dari mana dia belajar menyembunyikan kejahatannya? Sepertinya semua sudah direncanakan dengan sangat rapi. Kebaikannya hanya pura-pura.”
“Apa yang akan kita lakukan Pak. Bapak menyewa pengacara untuk membela dia? Harusnya dia mendapat pelajaran yang setimpal.”
“Pengacara itu tidak akan membebaskannya. Dia akan tetap mendapat hukuman.”
“Apa kita terlalu memanjakannya?” gumam bu Daryono pelan, seakan tak membutuhkan jawaban, karena dia sudah bisa menjawabnya sendiri.
“Dia akan kita coret dari daftar keluarga. Susah payah kita membesarkannya dan memberinya kasih sayang, tapi dia menyalah gunakannya, mencoreng nama kita dengan melakukan kejahatan itu.”
Bu Daryono diam. Ia merasa heran, meskipun sejak bayi dia merawat Rosa, dan diberikan semua kebutuhannya, tapi rasa cinta seorang ibu jauh dari perasaannya.
“Mengapa ya, aku tidak bisa mencintainya?”
***
“Apakah penjual beras itu sudah pulang?”
“Namanya mbok Mangun.”
“Iya aku sering lupa.”
“Dia memaksa pulang, karena tidak mau merepotkan kita. Apalagi Senja sudah boleh pulang biarpun belum bebas sepenuhnya.”
“Ya, menunggu sidang. Tapi katanya ada dua orang yang menjadi dalang kejahatan itu” kata pak Wiguna, yang sebenarnya tahu, selain Rosa, yang satu lagi adalah bekas mertua sirinya.
“Ternyata perilaku Rosa buruk sekali. Sudah benar Arka tidak menyukainya.”
“Aku juga menyesal pernah memaksa Arka agar menjadi menantu pak Daryono.”
“Padahal Rosa ternyata hanya anak angkat pak Daryono.”
“Mungkin kelakuan buruknya menurun dari orang tua kandungnya.”
“Pak Daryono dan istrinya orang baik. Heran Rosa tidak meniru kebaikannya.”
“Darah yang mengalir di tubuh Rosa adalah darah kotor.”
“Bergelimang harta tapi kelakuannya sangat buruk. Jadi mulai sekarang Bapak jangan menilai orang dari kedudukan dan kekayaannya. Anak seorang penjual beras bisa melangkah dengan segala kebaikan, sementara anak orang kaya bisa melakukan hal yang sangat tidak terpuji.”
“Menurut Ibu, apakah Arka menyukai anak penjual beras itu?”
“Menurut Bapak, apakah memalukan memiliki menantu anak penjual beras?”
Pak Wiguna tidak menjawab, tapi tak ada perkataan ‘tidak’ terucap dari mulutnya.
***
Senja memang boleh pulang ke rumah, tapi ia punya kewajiban untuk absen pada setiap hari yang ditentukan. Ia bisa merasa lega, setidaknya simboknya selalu berada di sampingnya, dan tidak terlalu mengkhawatirkannya.
“Ternyata non Rosa itu sangat jahat,” kata Rimba geram.
“Iya Le, sangat jahat. Ia pintar menutupi kejahatannya dengan kebaikan palsu yang akhirnya membuat mbakyumu tidak percaya kalau dia yang menjerumuskannya.”
“Kalau sekarang Senja percaya Mbok. Ternyata non Rosa sangat membenci Senja, dan berusaha membuat Senja celaka.”
“Tapi sampai sekarang sebenarnya kamu tidak mau mengatakan tentang siapa yang memberi kamu pekerjaan kan?” kata Simbok.
“Dia berpesan wanti-wanti, dan Senja terbuai dengan kebaikannya. Ternyata Allah membukakan semua yang ditutupi. Bahkan bukan Senja yang mengatakannya, tapi bu Mery sendiri.”
“Itu berarti bu Mery itu sudah diberi uang oleh non Rosa,” celetuk Rimba.
“Kamu pintar Nja. Apa besok kamu ingin jadi polisi?” tanya sang kakak.
Rimba menyeringai lucu.
“Rimba ingin menjadi dokter, agar bisa selalu menjaga kesehatan Simbok dan mbak Senja.”
***
Besok lagi ya.