Wednesday, September 9, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01.

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  01

(Tien Kumalasari)

 

Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalang baik mobil maupun sepeda motor sangat membuat bising. Tapi seorang gadis dengan rambut tertutup hijab, membelah keramaian itu di sebuah traviclight, sambil menggendong tumpukan koran. Ia mengacungkan selembar koran sambil menawarkannya ke setiap pengendara.

“Koran Mas … korannya Bapak, berita hangat hari ini … ada demo besar-besaran di depan balai kota, korannya … Bapak … koran baru … koran baru …”

Sebuah kaca jendela mobil terbuka, mengulurkan selembar uang duapuluhan ribu. Gadis itu menyerahkan korannya, lalu merogoh saku bajunya untuk mengambil uang kembalian. Tapi mobil itu bergerak maju.

“Sebentar Mas, sebentar … kembaliannya,” teriaknya sambil berlari mengejar.

“Ambil saja, nggak usah kembalikan,” pengemudi muda itu juga berteriak.

Sarah, gadis itu berhenti, menoleh kekiri dan ke kanan, menunggu sela karena kendaraan sudah bergerak setelah lampu hijau menyala.

Ia melambaikan tangan, meminta jalan, tapi seorang pengendara motor menyerempetnya.

Sarah terpelanting. Sebuah mobil hampir melindasnya, tapi seorang laki-laki muda membantunya berdiri, sambil menyetop kendaraan yang masih padat setelah berhenti di persimpangan.

Laki-laki itu memungut koran yang berserakan, memeluknya, lalu menarik tangan Sarah sambil meminta agar kendaraan yang lewat memberi mereka jalan.

Mereka sudah sampai di tepi. Laki-laki itu mengajak Sarah duduk di bawah  pohon, untuk menanyakan apakah ada yang luka. Tapi sambil tersenyum manis, Sarah menggeleng.

“Benar, tidak ada yang luka. Di situ ada apotik, aku akan membelikan kamu obat.”

“Tidak. Aku benar-benar tidak apa-apa. Terima kasih sudah menyelamatkan aku.”

“Jangan pikirkan. Aku terkejut ketika melihat kamu terjatuh dan hampir terlindas mobil.”

“Aku berhutang nyawa pada Mas.”

Laki-laki itu tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya meninggalkan Sarah yang duduk sambil mengelus lututnya. Siapa bilang tidak sakit, lututnya mencium aspal yang keras, tapi ia tak ingin mengeluh dihadapan orang yang baru dikenalnya. Tapi diam-diam Sarah heran, laki-laki yang baru saja menolongnya ini, mengapa wajahnya mirip sekali dengan laki-laki yang membeli korannya dan memberikan uang duapuluh ribu tanpa meminta kembalian?

“Masa iya sih mirip, tapi mirip kok, sungguh mirip,” gumamnya pelan.

“Siapa yang mirip?” tiba-tiba laki-laki tadi datang sambil membawa dua botol minuman dingin. Lalu yang satu diulurkannya kepada Sarah.

“Minumlah, hari ini panas sekali,” katanya lembut.

Sarah tersenyum, dan laki-laki itu terpana melihat lesung pipit di pipinya. Sumpah gadis ini sesungguhnya sangat cantik. Wajahnya putih walau dia berpanas-panas, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan manis sekali kalau tersenyum, apalagi ditambah lesung pipit di kiri kanannya.

“Terima kasih Mas, mengapa Mas menatap aku seperti itu?” tanya Sarah sambil berusaha membuka tutup botol minuman.

Agak susah sih, tapi laki-laki itu meminta botolnya dan dengan sekali putar, botol itu terbuka, lalu mengulurkannya kembali kepada gadis di sampingnya.

“Terima kasih,” jawabnya, lalu menenggak minumannya sampai setengah botol.

“Haus ya?”

“Lumayan.”

“Kita belum berkenalan, namaku Bima.”

“Aku Sarah.”

“Rumahmu di mana?”

“Agak jauh, di dekat pasar.”

Tiba-tiba seorang pejalan kaki berhenti di dekat mereka. Ia melihat koran bertumpuk di samping Sarah.

“Jual koran ya?”

“Iya, Pak.”

“Minta satu.”

Sarah memberikan selembar koran, dan menerima sepuluh ribu yang diulurkannya.

“Kembaliannya Pak,” kata Sarah ketika orang itu berlalu.

“Nggak usah, ambil saja.”

“Terima kasih Pak,” katanya riang.

“Hari ini banyak orang-orang baik. Banyak rejeki untuk Sarah,”  gumamnya senang.

“Alhamdulillah, aku juga ikut senang,” sahut Bima.

“Ya sudah Mas, aku mau menjajakan koran lagi, masih sisa ini, barangkali masih ada yang mau,” kata Sarah sambil berdiri.

“Ini sudah sore, nanti kamu kemalaman.”

“Tidak apa-apa Mas, sudah biasa. Saya menjual koran sepulang sekolah, sampai sore.”

“Oh kamu masih sekolah?”

“Saya sekolah SMA Mas, sebisa mungkin saya cari uang sendiri, supaya tidak memberatkan nenek saya,” katanya sambil menjauh, menuju ke arah perempatan yang ketika itu kendaraan berhenti karena lampu merah.

Bima menatapnya kagum, tapi juga iba. Seorang gadis, mencari uang sendiri untuk beaya sekolah? Bukan main. Dan Bima tak beranjak dari tempatnya duduk, hanya saja dia berdiri terpaku, menatap Saras yang mengacung-acungkan korannya, dan ikut senang karena ada tiga orang yang membelinya, sebelum kemudian Sarah berlari ke tepi dengan hati-hati.

“Lhoh, kok Mas masih di sini?” tanyanya heran ketika melihat Bima masih berdiri di tempatnya semula.

“Rumahku di dekat situ, masuk gang. Aku sudah pulang kerja.”

“Mas kerja kantoran?”

“Ya, di kantor, tapi aku hanya OB.”

“Oh ya sudah … Mas pasti capek. Aku juga mau pulang. Korannya tinggal dua lembar, harus aku kembalikan ke agen, sekalian setoran. Ayuk Mas,” kata Sarah sambil melenggang pergi.

“Agennya di mana?”

“Itu setelah perempatan, ayuk Mas.”

Bima menatap punggung Sarah yang pergi menjauh. Rasa kagum itu masih ada, rasa iba juga ada.

Sambil melangkah pulang, Bima masih terbayang bagaimana ia tadi mengenal gadis yang sangat menarik baginya.

***

“Sarah, kamu sudah pulang?” suara seorang perempuan tua dari dalam, ketika mendengar Sarah membuka pintu rumah.

“Iya, Nek,” katanya sambil terus masuk ke dalam.

Ia langsung ke kamar mandi, setelah meletakkan dompet kecilnya di meja makan.

Nenek membuatkan minum untuk cucunya, segelas teh manis hangat, lalu meletakkannya di meja. Ia juga menyediakan makan untuk cucunya. Sepiring nasi dengan lauk tahu bacem dan pecel, dengan sayuran bayam, kacang panjang dan kecambah.

Ketika selesai mandi dan berganti pakaian rumah, Sarah mendekati neneknya yang duduk menunggu di meja makan.

“Kamu pasti capek. Maksud Nenek, kamu tidak perlu setiap hari jualan koran. Dua hari sekali, atau tiga hari sekali, gitu. Nanti kalau kamu kecapekan, kamu tidak bisa belajar. Kamu kan mau ujian?”

“Nggak apa-apa kok Nek, Nenek tenang saja, kalau capek, pasti Sarah akan beristirahat.”

“Bagaimana hari ini?”

“Lumayan, koran hampir habis, dan ada orang yang tidak mau diberi kembalian.”

“Kamu tidak memberikannya?”

“Sarah beri Nek, mereka yang tidak mau. Barangkali kasihan melihat perempuan kecil jualan koran di hari panas pula,” kata Sarah sambil mencecap teh buatan sang nenek.

“Nenek sudah punya penghasilan, dari mencuci dan menyeterika di tetangga-tetangga, itu cukup untuk makan kita berdua, dan bayar sekolah kamu.”

“Tidak apa-apa Nek, uang Nenek yang tersisa, ditabung saja, siapa tahu pada suatu hari Nenek butuh sesuatu.”

“Kamu memang bandel.”

Sarah tertawa.

“Nenek yang sudah tua saja bekerja, masa Sarah yang masih muda tidak boleh bekerja.”

“Kamu kan harus sekolah juga.”

“Iya sih, tapi tidak apa-apa kok. Nenek tidak usah memikirkan Sarah. Pokoknya Sarah bisa mengatur waktu. Untuk sekolah, untuk jualan koran, juga untuk belajar.”

“Ya sudah sekarang makanlah, ayo Nenek temani.”

Sarah mengambilkan nasi ke piring sang nenek dulu, baru untuk dirinya sendiri.

“Nenek tahu tidak, tadi tuh Sarah kan jatuh di perempatan.”

“Haah? Kamu ini gimana, sampai jatuh segala. Mana yang sakit? Luka tidak?”

“Tidak Nek, hanya biru sedikit, memar. Tidak apa-apa, sudah dioles minyak punya Nenek di kamar.”

“Lain kali hati-hati, bagaimana bisa jatuh?”

“Ada pengendara sepeda motor nyerempet pundak Sarah, lalu Sarah jatuh. Untunglah ada orang baik menolong Sarah. Namanya Bima.”

“Sarah, lain kali kamu harus hati-hati. Jualan di jalanan yang rame itu berbahaya,” kata Nenek yang tentu saja sangat khawatir.

“Iya, Sarah akan hati-hati.”

Setelah makan dan mencuci piring kotor, Sarah ke kamar untuk mengambil buku-buku pelajarannya, dan menggelarnya di meja makan itu juga. Di situlah dia belajar, karena ia tidak punya meja belajar yang khusus.

“Sarah, tadi bu Lurah datang kemari.”

“Bu Lurah? Mau minta tolong Nenek? Bersih-bersih rumah? Tumben. Dia kan sudah punya pembantu.”

“Bukan, dia bilang, ingin mengambil kamu sebagai menantu.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, September 8, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA

 DARAH, AIR MATA DAN CINTA  

(Tien Kumalasari)

 

Ada takdir berkata lain

Ada darah di setiap raga

Ada air mata sesal yang menyusuri jiwa

 

Aku tak punya apa-apa kecuali cinta

Kupinta kepada Sang Penguasa Langit

Agar hujan mengguyur di alam kerak kering yang  menggigit

 

Air mata ini adalah derita

Bukan, bukan derita tapi sebuah pinta

Pada suatu hari nanti, akan kalian temukan cinta

 

Cinta yang sama, seputih kapas seputih mega

Tapi ketika dia datang menyapa

Ada cinta yang lain mengikis jiwa

Bukankah kita sama?

 

Hanya saja ada yang berbeda

Sang cinta memilih satu diantara dua

Yang sama adalah darah yang mengaliri jiwa raga

 **************

 

 

Ikuti kisahnya setelah ini, semoga seru tapi jangan penasaran.

Salam cinta seluas mega.

 

***

Besok lagi ya.

Sunday, September 6, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  016

(Tien Kumalasari)

 

Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mulutnya, tapi nyonya Lili tampak tak bereaksi. Ia hanya diam, senyumnya yang tipis tak menunjukkan apa yang dirasakannya. Sesungguhnya dia tak peduli tentang Ana. Perintah ibunya hanyalah merawat Ana, mencukupi semua kebutuhannya dan memberinya kasih sayang. Tapi masalah kasih sayang itu Lili tak memilikinya. Ia adalah anak tunggal setelah kakaknya meninggal. Dimanjakan dan diberi kehidupan dengan harta yang berlimpah ruah. Ia menikah tanpa rasa cinta, ia juga tak memiliki cinta kepada Ana yang keponakannya sendiri. Kasih sayang yang diberikan adalah dengan memberi kesenangan yang tampak, bukan rasa cinta yang tulus dari dalam lubuk hati.

Tapi Rumi terus memanasinya, terus melontarkan ungkapan-ungkapan yang semakin lama semakin membakar hatinya.

“Ya sudah, biarkan saja. Itu kemauan nyonya besar, kita tidak bisa membantahnya.”

“Nyonya bagaimana sih, saya itu hanya mengingatkan Nyonya agar terus mengawasi dia dan berhati-hati. Coba Nyonya lihat, belum lama dia tiba, dia sudah menguasai non Ana, sehingga makan siang harus bersama dia, bahkan tidur siang juga harus bersama dia.”

“Iya, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu terlalu banyak bicara,” kata sang nyonya majikan sambil pergi meninggalkannya. Rumi beranjak ke belakang masih dengan mulut monyong.

Lili ingin masuk ke kamarnya, tapi ia menjenguk dulu ke kamar Menur. Ia melihat Ana tidur sambil merangkul Menur, sedangkan Menur menepuk-nepuk pantatnya dengan lembut. Ada yang salah dan membuat Lili tidak begitu suka. Ana tiba-tiba dekat dengan orang asing yang belum lama dikenalnya, walau menurut ibunya, Menur masih terhitung saudaranya juga.

Lili membuka pintu kamar lebar-lebar, suara pintu terbuka, walau pelan, membuat Menur kemudian menoleh ke arah pintu. Ia buru-buru bangkit sambil melepaskan pelukan Ana.

“Nyonya …..” sapanya lembut sambil merapikan kerudungnya.

“Kamu tidak usah berpura-pura baik. Kamu sangat sadar bahwa kita masih saudara bukan? Jangan memanggilku nyonya. Kalau mama mendengarnya akulah yang akan kena marah.”

“Maaf, aku harus memanggil apa?”

“Kamu kan tahu namaku, panggil aku Lili.”

Ucapan itu walau tak mengandung kebencian, tapi nadanya sungguh kurang menyenangkan. Begitu ketus, angkuh dan seakan tak rela ‘berkawan’ dengan dirinya.

“Maaf, dan baiklah,” jawab Menur pelan, sambil turun dari tempat tidur.

“Lain kali jangan ijinkan Ana tidur di kamar ini. Ana punya kamar sendiri.”

“Aku sudah mengingatkannya, dia bersikeras ingin tidur di sini. Tapi aku bisa menggendongnya dan memindahkannya ke kamarnya sendiri,” kata Menur sambil bersiap mengangkat tubuh Ana. Tapi kemudian Ana menggeliat.

“Bibi jangan pergi, di sini saja.”

“Ana, ayo pindah ke kamar kamu sendiri, bibi akan menggendong kamu.”

“Nggak mau, aku mau di sini,” rengeknya sambil merangkul pinggang Menur.

Menur menoleh ke arah Lili, ingin mengatakan bahwa Ana menginginkannya.

Tapi sebelum Menur mengucapkan sesuatu, Lili sudah keluar dengan tergesa-gesa.

Menur menghela napas, menahan perasaan yang entah bagaimana tak bisa diungkapkan. Lili memang tidak mengatakan bahwa dia tak suka, tapi nada bicara lebih mengungkapkan isi hati daripada perkataan yang terucap.

Menur kembali menepuk-nepuk pantat Ana dengan lembut, lalu meninggalkannya ketika Ana sudah tampak pulas.

Ia keluar dari kamar, ingin menanyakan kepada Lili apa yang harus dikerjakannya. Biarpun masih keluarga, tapi Menur bukan orang yang suka diam berpangku tangan. Tentu ada yang ingin dilakukannya. Ketika keluar, ia berpapasan dengan Rumi yang langsung menyerangnya.

“Jangan kamu kira kamu bisa tidur keenakan sementara yang lain banyak pekerjaan.”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Tuh, bekas makan non Ana, kamu harus mencuci dan membersihkannya, bukan dibiarkan berserakan di meja makan.”

“Eeh, apa maksudmu dengan perkataan itu?” tiba-tiba nenek Sasa datang dan menatap Rumi dengan pandangan marah.

Rumi langsung menundukkan wajahnya.

“Maaf Nyonya Besar, hanya menunjukkan dia agar mengerti apa yang harus dilakukannya,” katanya tanpa berani mengangkat wajahnya.

“Kalau mencuci piring bekas makan Ana, itu bukan pekerjaan Menur. Itu pekerjaan pembantu, atau malah pekerjaan kamu,” katanya tandas.

“Biar saya mencucinya bulik, tidak apa-apa,” kata Menur.

“Tidak boleh. Itu bukan pekerjaan kamu. Biar Rumi melakukannya. Ayo ikutlah aku, kita omong-omong di depan,” kata nyonya Sasa sambil menggandeng tangan Menur. Rumi yang menatapnya heran. Tadi dia memanggil apa? Bulik? Siapa sebenarnya pengais sampah itu? Rumi beranjak ke belakang dengan wajah muram.

***

Baroto sedang makan di sebuah restoran bersama Rahman. Sikap Rahman tak seperti ketika baru bertemu dengannya. Begitu bersemangat dan riang. Ia tampak sungkan ketika Baroto memintanya memilih makanan. Ia juga tak banyak bicara kalau Baroto tidak mengajaknya bicara.

“Apa kamu tidak suka ibumu tinggal bersama Ana?”

Rahman diam. Sesungguhnya iya. Bukan Ana yang membuatnya kesal, tapi mamanya. Ia tak bisa melupakan ketika mama Ana mengucapkan kata-kata menghina terhadap sang ibu.

“Apa kamu tahu bahwa ibumu masih keponakan nenek Ana?”

Rahman mengangguk. Tapi memiliki saudara yang kaya raya tak membuatnya bangga. Rahman berubah seperti itu juga karena Baroto. Barotolah yang mengubahnya menjadi rendah hati dan penuh kasih sayang kepada orang tua.

“Kamu harus bisa berbaur dengan keluarga Ana. Dia sangat menyayangi ibu kamu, seperti kamu juga menyayanginya.”

“Kami miskin, sangat berbeda, saya tidak ingin berbaur dengan orang kaya” katanya lirih, tapi bagi Baroto terasa sangat menyayat.

Baroto menatap wajah Rahman yang tampak sendu. Kelihatan sekali dia tak suka ibunya tinggal bersama Ana. Tampaknya ada yang membuat dia merasa bahwa dirinya dan keluarga Baroto sangat berbeda. Ketika kesombongannya hilang, maka rasa rendah diri yang datang. Menurut Baroto, hal itu tidak baik. Tapi pasti ada sebabnya. Ia teringat ketika datang bersama Rahman, lalu istrinya sendang memarahi Menur. Itukah yang membuatnya terluka dan sakit?

“Rahman, kamu tidak boleh merasa begitu. Bahwa manusia itu ditakdirkan kaya atau miskin, dimata Allah semuanya adalah sama. Yang membedakan derajat manusia adalah apa yang dilakukannya. Kamu mengerti?”

Tentu saja Rahman mengerti, tapi belum begitu bisa menerima perlakuan manusia yang membedakan derajat dari harta yang dimilikinya.

“Bagaimana dengan orang yang suka menghina? Saya tahu, teman-teman saya suka menghina orang yang lebih miskin darinya. Lalu mengucilkannya di sekolah. Tadinya saya terbawa kelakuan mereka, dan malu kalau dibilang miskin, lalu takut dikucilkan. Sekarang tidak lagi. Saya tahu, dihina dan direndahkan itu sakit,” kata Rahman panjang lebar, membuat Baroto kagum bahwa anak sekecil Rahman bisa menguraikan sebuah perilaku yang baik dan yang tidak. Apakah itu setelah bertemu dengannya?

“Kalau kamu terhina dan sakit, maka kamu akan menyimpan rasa sakit itu di dalam hati kamu?”

“Apa saya harus melupakannya?”

“Melupakannya mungkin susah, tapi memaafkannya, harus bisa.”

Rahman menyendok makanannya dengan suapan terakhir.

“Apa kamu tahu, bahwa memaafkan itu adalah perbuatan yang mulia?”

Rahman mengusap mulutnya dengan tissue, lalu meneguk minumannya sampai habis. Tapi kemudian dia mengangguk.

Baroto tersenyum. Ada yang membuatnya berdebar. Dua hari lagi hasil tes DNA itu akan keluar, lalu ia akan kembali ke luar negri. Tapi sebelum itu ia harus memastikan bahwa Menur dan Rahman baik-baik saja.

***

Sore hari itu Menur sudah mengajak Ana agar segera mandi, karena dia akan pulang. Tapi begitu selesai berdandan, Ana masih ingin ditemani makan. Mau tak mau Menur menurutinya.

Rumi yang menyiapkan makan untuk Ana merasa kesal, karena hari masih sore dan Ana sudah ingin makan gara-gara Menur akan pamit pulang.

“Mengapa sih Non, biasanya juga makan bareng nyonya dan tuan, tapi Non ingin makan sekarang?”

“Aku mau makan ditemani bibi Menur.”

Rumi menyiapkan makan untuk Ana ketika hari masih sore dengan wajah muram. Menur yang sebenarnya sudah siap pulang, menasehati Ana agar jangan merubah kebiasaan gara-gara ada dirinya.

“Aku sedang senang, aku ingin apapun harus bersama bibi Menur.”

“Jangan begitu. Bibi Menur ada di sini hanya menemani dan melayani Ana, tapi Ana tidak boleh merubah kebiasaan. Kalau biasanya makan bersama papa dan mama, setiap hari harus begitu.”

“Tapi apakah bibi Menur mau pulang setelah makan malam bersama papa dan mama juga? Atau nenek, kalau kebetulan nenek ada di sini?”

“Jangan begitu. Kasihan Rahman kalau bibi pulang terlalu malam.”

“Ya sudah, kali ini saja.”

“Baiklah, kali ini saja ya, besok-besok semuanya harus sama seperti hari biasa. Bibi tidak ingin karena ada bibi lalu kamu merubah kebiasaan.”

Ana mengangguk walau sebenarnya kecewa.

Begitu selesai makan, Menur bersiap pulang, tiba-tiba Baroto mendekati.

“Kamu mau pulang, Menur?”

“Ya,” jawabnya singkat, tanpa berani lama-lama menatap wajah Baroto yang menatapnya aneh.

Tapi cara menatap Baroto terhadap Menur itu tertangkap oleh mata Rumi yang memang selalu mengawasinya.

“Aku antar, sekalian aku mau ada keperluan untuk keluar.”

“Tidak. Biar aku pulang sendiri saja, nanti menjadi kebiasaan.”

“Bukan apa-apa, kebetulan aku juga mau keluar kok.”

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”

“Kalau begitu biar diantar sopir.”

“Tidak usah,” katanya sambil berlalu. Ia tak harus berpamit pada Lili, karena ia tahu Lili belum pulang dari kantor, yang kata Ana terkadang sampai malam.

Baroto menghela napas kesal. Tidak mudah mendekati Menur kembali. Akhirnya dia mengalah, dan membiarkannya pergi sendiri.

***

Rahman sedang bersih-bersih rumah ketika Menur memasuki rumahnya. Agak terkejut ketika melihat Rahman melakukannya.

“Anak ibu, mengapa kamu menyapu sendiri, tidak menunggu ibu?”

“Ibu kan sudah capek, tidak apa-apa biar Rahman melakukannya.”

“Anak baik,” kata Menur sambil merangkul anaknya.

“Ibu, apakah mereka memperlakukan ibu dengan baik?” tanya Rahman sambil memegangi tangan ibunya.

“Tentu saja mereka semua baik pada ibu.”

“Nyonya yang galak itu juga?”

Menur tertawa, ia tak mau membuat anaknya sedih.

“Dia sangat baik.”

“Benarkah? Bukankah dulu dia galak pada ibu?”

“Itu kan dulu, sekarang dia baik, bukankah kami masih saudara?”

Rahman merasa lega mendengar jawaban sang ibu.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, September 4, 2026

AKU ANAK SIAPA 29

AKU ANAK SIAPA  29

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot tidak serta merta mendekati. Ia tidak tahu apakah wanita itu ada hubungannya dengan laki-laki aneh yang pernah dilihatnya?

Pak Misran juga tampak heran. Mereka hanya menatap. Wanita itu menaburkan bunga, kemudian mulutnya berkomat kamit melantunkan doa.

Tapi ketika wanita itu berdiri, pak Misran memberi isyarat agar pak Gatot dan Rosa mendekat. Pak Gatot mengangguk. Ia berjalan ke arah wanita itu, dan menghentikannya sebelum dia membalikkan tubuhnya.

“Mohon maaf Ibu, kalau saya boleh tahu, Ibu ini apanya almarhumah yang dimakamkan di sini?” tanya pak Gatot sopan. 

Rosa yang tidak mengerti apa-apa, berdiri di belakangnya.

Wanita itu menatap pak Gatot penuh selidik.

“Sebaliknya saya ingin bertanya, mengapa Bapak datang kemari dan seakan tahu tentang almarhumah?”

Sebenarnya pak Gatot agak kesal, bukannya menjawab dia malah bertanya . Tapi kemudian pak Gatot segera memaklumi, karena ia memang belum pernah tahu siapa dirinya.

“Saya ini, sampai almarhumah ini meninggal, masih berstatus menjadi suaminya.”

Wanita itu terbelalak menatap pak Gatot..

“Apakah … apakah … Bapak yang bernama pak Gatot Prawoto?”

“Iya benar. Ibu mengenal saya ternyata.”

“TIdak, saya hanya mengenal nama Bapak, tapi belum kenal orangnya. Baiklah, nama saya Suminten. Saya adiknya pak Rusman.”

Rusman dan Suminten, keduanya belum pernah dikenalnya. Apa hubungannya dengan Sawitri?

“Bertahun tahun kami mencari Bapak.”

“Mencari saya? Sebelumnya saya ingin tahu. Apa hubungan Ibu dengan almarhumah istri saya?”

Wanita itu menatap Rosa yang sejak tadi diam dan berdiri di belakang pak Gatot.

“Dia itu siapanya Bapak?”

“Dia anak saya.”

“Oh, anak Bapak, tapi saya ingin bicara dengan Bapak empat mata. BIsakah kita duduk agak ke sana, dan biarkan dia menunggu dulu di sini?”

Pak Gatot mengangguk. Ia memberi isyarat agar Rosa menunggunya sebentar karena wanita bernama Suminten itu akan mengajaknya bicara.

Rosa mengangguk, lalu duduk ngelesot di atas tanah, menghadap ke arah nisan lalu berdoa sebisa-bisanya.

***

Wanita bernama Suminten itu duduk di atas batu, dan pak Gatot mengikutinya, duduk di atas batu yang ada di depannya.

“Bapak tidak tahu mengapa saya dan kakak saya terus menerus mencari keberadaan Bapak?”

“TIdak, mengapa mencari saya sementara kita belum pernah bertemu.”

“Begini. Bertahun-tahun lalu, kakak saya menjalin hubungan dengan Sawitri. Kami memiliki sebuah restoran kecil, dan Sawitri sering makan di tempat kami." kata Suminten.

"Lama kelamaan antara Sawitri dan kakak saya saling jatuh cinta. Waktu itu Sawitri disukai beberapa laki-laki, karena dia memang cantik. Dan Sawitri tampaknya meladeni banyak laki-laki itu.Tapi setelah berkenalan dengan mas Rusman, Sawitri  tidak lagi berhubungan dengan mereka, karena antara dia dan mas Rusman kemudian saling jatuh cinta," kata Suminten lanjutnya.

“Tapi, Sawitri ….”

“Biarkan saya bicara dulu,” Suminten menghentikan pak Gatot yang ingin membuka mulut. 

Pak Gatot mengangguk, lalu dia hanya menunggu.

“Mereka menikah siri.”

“Apa?”

“Tak lama kemudian Sawitri hamil. Mas Rusman sangat bahagia. Tapi ketika ia ingin mengambil Sawitri sebagai istri dengan pernikahan yang sesungguhnya, Sawitri menolak. Bukan karena tak cinta pada mas Rusman, tapi dia mengaku sudah punya suami.”

Pak Gatot mengerutkan keningnya. Mengapa mengaku sudah punya suami setelah hamil, bukan sebelumnya?

"Mas Rusman sangat marah. Hubungan mereka renggang. Pada suatu ketika ia mendengar Sawitri meninggal setelah melahirkan. Mas Rusman mencari bayi yang dilahirkan Sawitri, tapi ia tidak menemukan suami Sawitri, yang pastinya merawat bayi itu. Ia ingin berterus terang bahwa bayi itu darah dagingnya. Tapi suami Sawitri hilang seperti ditelan bumi." kata Suminten.

"Kakak saya seperti orang linglung, ia sering mendatangi makam Sawitri, memarahinya seperti benar-benar berhadapan dengannya. Tapi mas Rusman sangat mencintainya. Bertahun-tahun dia berharap bisa menemukan bayi yang dilahirkan Sawitri, sampai-sampai dia tidak mau menikah." lanjut Suminten.

Pak Gatot terpana. Jadi pengkhianatan Sawitri berhenti pada pak Rusman sebelum kemudian dia meninggal. Ia menghela napas. Ia akan memarahi siapa? Banyak hal dilewatinya, ketika terluka dikhianati, ketika hartanya habis untuk bersenang senang, lalu hamil sampai melahirkan bayi yang bukan darah dagingnya. Pak Gatot hanya manusia biasa. Ia punya hati dan rasa. Ia punya emosi dan rasa marah. Salahkah kalau ia kemudian membuang bayi itu di panti asuhan?

Tapi sejak ia menemukan bukti bahwa bayi itu adalah Rosa, penyesalan segera menghantui perasaannya.

“Mengapa Bapak diam? Di mana bayi itu sekarang? Pasti ia sudah dewasa, bahkan tidak lagi muda. Mas Rusman sakit keras, ia terus menerus menanyakan bayi itu, setiap hari, saat dia mengigau dan bahkan saat dia berjaga. Minggu yang lalu dia bisa pergi sendiri ke makam, tapi sehari setelahnya dia ambruk lagi dan sampai sekarang berada di rumah sakit,” kata Suminten sambil mengusap air matanya.

Pak Gatot diam, ia menoleh sejenak ke arah Rosa, yang masih tampak berdiam di makam sana. Pak Gatot hampir menitikkan air mata. Dalam hati ia berbisik, Rosa, dia ibu kandung kamu. Sungguh-sungguh ibu yang melahirkan kamu.

“Apakah wanita itu darah daging kakakku?”

“Bu ini masalah yang sedikit rumit. Di rumah sakit mana pak Rusman dirawat?”

Bu Suminten segera mengatakan di mana pak Rusman dirawat.

“Apakah Bapak ingin menemuinya?”

“Iya, saya ingin bertemu dia. Barangkali saya bisa menguak semua teka teki diantara kita yang belum terjawabkan.”

Pak Gatot berpisah dengan Suminten, lalu mengajak Rosa pulang. Tapi ia berjanji secepatnya akan menemui pak Rusman di rumah sakit.

“Temui dia dan katakan di mana anaknya, supaya seandainya Allah mengambilnya, dia tidak meninggal dengan penasaran," kata Suminten.

Pak Gatot terkejut, rupanya pak Rusman sakit lumayan parah.

***

Malam hari itu dengan sangat hati-hati, pak Gatot mengatakan kepada Rosa tentang kehidupannya berumah tangga, lalu kemudian membuang bayi istrinya ke sebuah panti asuhan. Berlinang air mata pak Gatot ketika mengatakan bahwa bayi itu adalah dirinya. Rosa terpana. Sebuah keajaiban dalam hidupnya diterimanya. Semua akhirnya terkuak.

“Rosa, apakah kamu membenciku?” bergetar suara pak Gatot ketika mengatakannya.  

Rosa terus menatap pak Gatot, menatap wajah pucatnya, menatap air matanya yang menetes penuh penyesalan.

Apakah Rosa harus marah? Ketika kehidupannya terombang ambing oleh sesuatu yang tidak menentu, ketika kemudian Allah mempertemukan orang yang telah membuangnya dipanti asuhan. Haruskah dia marah? Pak Gatot begitu santun, baik hati dan penuh kasih sayang. Bahkan sejak dia belum tahu bahwa Rosalah bayi yang dibuang itu, dia sudah menunjukkan kebaikan yang membuatnya iba. Bukankah pak Gatot hanya korban dari perselingkuhan? Bukankah pak Gatot hanya terbawa kemarahan karena sebuah pengkhianatan? Ia sudah menebusnya, dengan menunjukkan makam  ibunya, dan tadi pak Gatot juga mengatakan akan mengantarkannya kepada ayah kandungnya.

Pak Gatot mengusap air matanya dengan ujung bajunya.

“Kalau kamu mau marah, marahlah. Kalau kamu mau membenci aku, bencilah. Tapi sebelum kamu pergi meninggalkan aku lagi, aku akan mengantarkan kamu kepada ayahmu, yang mengukir jiwa ragamu." kata pak Gatot.

Rosa luluh dalam ketulusan hati pak Gatot. Ia menubruk kakinya dan menangis dalam pangkuannya, seperti dulu pernah dilakukannya.

***

Hari itu pak Gatot memerlukan meminta ijin untuk tidak bertugas. Ada yang harus diselesaikannya. Menemui pak Rusman di rumah sakit.

Dan pertemuan itu akhirnya berbuah tangisan yang mengharu biru. Pak Rusman yang tubuhnya menjadi kurus kering terisak-isak, tapi ia bahagia menemukan bayinya yang hilang.

“Rosa, barangkali memang beginilah jalan yang harus kita lalui, agar kita dipertemukan. Tapi aku bersyukur, di akhir hidupku aku bisa bertemu kamu," kata pak Rusman.

Mereka berpelukan, bertangisan, dan berbahagia. Aku anak siapa sudah terjawab. Rosa tetap hidup bersama pak Gatot, tapi dia ikut mengelola rumah makan milik pak Rustam bersama bu Suminten. Pak Rusman  berangsur sembuh oleh kebahagiaan yang didambakannya. Pak Gatot yang tidak akan kehilangan Rosa, serta Rosa yang memiliki orang-orang yang mengasihinya, menjadi kisah yang semoga membuat kebahagiaan itu lestari. 

***

T A M A T.

Thursday, September 3, 2026

AKU ANAK SIAPA 28

 AKU ANAK SIAPA  28

(Tien Kumalasari)

 

Rosa melihat senyuman pak Gatot yang terasa aneh, tapi itu adalah senyum yang menyenangkan.

“Masih besok Minggu ya Pak, ke makam ibu?”

“Ya, tentu saja, kan bapak liburnya hari Minggu?”

“Baiklah saya mengerti. Saya senang, akhirnya ada yang bisa saya sebut Bapak dan Ibu, walaupun ibu itu sudah tidak ada.”

Pak Gatot hanya mengangguk-angguk.

Hari sudah siang, pak Gatot sudah mendapat jatah makan dari Bibik, dan sudah dihabiskannya.

“Apa kamu sudah makan?”

“Saya akan makan di rumah keluarga Daryono. Tadi bu Daryono sudah berpesan, bahwa saya akan ditunggu saat makan siang nanti.”

“Baiklah kalau begitu. Kamu akan kembali sekarang?”

“Iya Pak, besok pagi-pagi sekali sebelum Bapak berangkat, saya sudah akan ada di rumah Bapak.”

“Nanti akan bapak bersihkan kamar kamu.”

“Saya pamit ya Pak, sampai ketemu besok.”

“Kamu naik apa? Kalau kamu bisa naik motor, bawalah motor bapak itu.”

“Tidak Pak, nanti Bapak pulangnya bagaimana?”

“Aku gampang, rumah kan tidak begitu jauh.”

“Tidak Pak, saya akan naik angkot saja atau ojol.”

“Kamu punya uang?”

“Ada. Bu Daryono memberi saya uang.”

“Baiklah, hati-hati.”

Pak Gatot menatap punggung Rosa yang melenggang menuju jalan raya dengan perasaan yang sangat senang. Akhirnya ia menemukan Rosa, bayi yang pernah dibuangnya. Ia akan menebusnya dengan merawat dia dengan sebaik-baiknya. Pak Gatot juga berjanji dalam hati bahwa dia akan menceritakan semuanya, sejak ia masih bayi dan dibuang di panti asuhan.

“Semoga Rosa tidak membenci aku dengan kelakuanku itu,” gumamnya setelah Rosa menghilang ketika ojol menjemputnya.

Sekarang pak Gatot ingin segera pulang untuk membersihkan kamar demi menyambut kembalinya ‘sang anak’.

***

Rosa sedang diajak makan siang bersama pak Daryono dan istrinya, tapi Rosa menolaknya.

“Biar saya makan di dapur bersama Bibik saja Bu.”

“Jangan Non, tuan dan nyonya sudah menyuruh Non makan bersama mereka, masa Non akan makan bersama bibik?”

“Rosa, makan di sini. Jangan membuat ibumu kecewa,” perintah pak Daryono, tandas, membuat Rosa kemudian bersedia duduk semeja.

“Mengapa kamu ini, menganggap semuanya berubah?”

“Saya sendiri yang merubahnya Pak, itu sebabnya saya sungkan bersikap seperti dulu. Saya ini kotor, tidak pantas hidup sejajar dengan orang-orang terhormat.”

“Semuanya sudah berlalu, kamu sudah menyadari kesalahan kamu, dan bersedia bertobat, kami tidak keberatan kalau kamu kembali ke rumah ini, seperti dulu, Rosa.”

“Tidak Bu, terima kasih banyak atas semuanya. Atas kebaikan keluarga ini yang walaupun saya sudah melukainya, tapi masih mau bersikap baik kepada saya, bahkan membebaskan saya dari hukuman. Dengan apa saya harus membalasnya?”

“Balaslah dengan perilaku yang baik. Itu cukup, Rosa.”

“Baiklah, saya akan menjalani hidup yang bersih dan baik, dan berharap tidak mengecewakan semuanya.”

“Ya sudah, makanlah dulu. Ini Bibik yang masak, makanan kesukaanmu bukan? Semur kentang dengan daging cacah. Ini dulu makanan kesukaan kamu. Kami tidak melupakannya.”

Rosa tersenyum. Bertahun-tahun lewat, rasa makanan daging dan yang lezat-lezat bahkan sudah dilupakan. Yang terbiasa adalah tahu, tempe, ikan asin. Itupun kalau dia bisa makan. Kalau tidak, nasi tanpa laukpun ia pernah mengalaminya.

“Mengapa melamun? Cepat makan, yang banyak,” kata pak Daryono.

Rosa mengangguk. Menyendok nasi dengan hati-hati, dan membiarkan bu Daryono menyendokkan gumpalan daging cacah dan kentang, serta mengguyurkan sedikit kuahnya. Dulu ini memang makanan kesukaannya, tapi dia hampir melupakannya. Sekarang dia merasakannya lagi, tapi lidahnya terlanjur merasa asing.

“Enak kan? Bibik selalu bisa memasak enak.”

Rosa mengangguk. Mau tak mau ia harus mengangguk agar tidak mengecewakan orang yang pernah menjadi orang tuanya.

“Makan yang banyak,” berkali-kali pak Daryono mengingatkannya, Rosa hanya mengangguk. 

Semenjak terlepas dari himpitan hukuman atas dosa-dosa yang dilaluinya, ia merasa selalu harus berhati-hati dalam berucap, apalagi bertindak. Ia seperti orang yang baru keluar dari dunia gelap, jadi harus meraba-raba dan melangkah dengan hati-hati kalau tak ingin kembali tersesat atau terjatuh.

***

Malam hari itu bu Daryono kembali mendekati Rosa. Ia membawa sebuah kotak, yang diberikannya kepada Rosa.

“Ini ijazah-ijazah kamu semua. Kalau kamu tetap tidak ingin tinggal di sini, bawalah.”

Rosa mengangguk pilu. Untuk apa sebenarnya semua itu? Kata batinnya, walau begitu dia menerima kotak itu.

“Jangan menganggap bahwa ini barang yang tidak berguna. Bagaimanapun ini jerih payahmu selama kamu menuntut ilmu. Kalau bisa dipergunakan gunakanlah, kalau tidak, ia akan menjadi kenangan terbaik dalam hidupmu, bahwa kamu pernah mengenyam pendidikan dan ini adalah buktinya.

Rosa mengangguk.

“Terima kasih Bu.”

“Rumah ini selalu terbuka untuk kamu. Datanglah setiap waktu.”

“Iya Bu.”

“Apa kamu mau bekerja di kantor Bapak?”

“Tidak Bu, jangan, saya seorang bekas narapidana, kasihan Bapak. BIarlah saya pikirkan dulu apa yang akan saya lakukan.”

“Apa kamu ingin berjualan?” bu Daryono tak mau melepaskan Rosa begitu saja. Ia ingin Rosa melakukan sesuatu yang bermanfaat.

“Berjualan apa Bu?”

“Buka warung makan, atau rumah makan, misalnya?”

Rosa diam sejenak. Barangkali ini peluang yang aman. Tapi ia belum mengatakan setuju.

“Baiklah Bu, saya akan memikirkannya.”

“Kamu akan pergi kapan?”

“Besok pagi-pagi sekali Bu.”

“Mengapa harus pagi sekali?”

“Sebelum pak Gatot berangkat bekerja. Saya sudah mengatakan akan datang pagi-pagi.”

“Ya sudah. Kamu sudah bisa memikirkan mana yang terbaik untuk hidup kamu, tapi kamu jangan lupa bahwa kamu bisa sewaktu-waktu pulang kemari, anggaplah ini rumah kamu.”

“Terima kasih Bu.”

***

Pagi itu Rosa benar-benar datang ke rumah pak Gatot sebelum pak Gatot pergi. Pak Gatot menyiapkan kamar yang bersih untuk Rosa, dan membelikan sarapan yang diletakkan di meja makan.

“Mengapa Bapak melakukan ini semua, saya kan bisa melakukannya.”

“Tidak apa-apa, makan dan istirahatlah. Bapak mau berangkat kerja. Ada almari yang Bapak letakkan di kamar, untuk menyimpan barang-barang kamu.

“Terima kasih, Bapak sudah berbuat banyak untuk saya. Untuk selanjutnya jangan lagi Bapak repot untuk Rosa. Biarlah Rosa memikirkan semua kebutuhan Rosa sendiri.”

“Baiklah, terserah kamu saja, yang penting bapak senang kamu sudah kembali.”

Rosa mengantarkan pak Gatot sampai ke depan rumah, lalu masuk kembali ke dalam kamarnya untuk membenahi barang-barangnya.

Rasa haru menyentak, ketika ia menyadari betapa besar perhatian pak Gatot kepadanya. Dan Rosa juga kemudian menyadari, betapa ringan hidupnya sekarang ini, tanpa keinginan yang muluk-muluk, tak ada kebencian, yang ada adalah kasih sayang di mana-mana untuk dirinya.

***

Seperti janjinya, di hari Minggu itu pak Gatot mengajak Rosa ke makam istrinya. Ia akan mengatakan semuanya nanti di sana, setelah menunjukkan letak makam itu.

Sepeda motor pak Gatot berhenti di depan makam, lalu ia mengajak Rosa masuk, menuju ke arah letak makam Sawitri.

Baru saja melangkah, pak Misran tergopoh gopoh menyambut.

“Waduh, pak Gatot, minggu yang lalu dia datang, tapi pak Gatot malah tidak datang.”

”Saya masuk kerja Pak, karena teman saya berhalangan karena sakit. Pak Misran sempat bicara banyak?”

“Susah Pak. Orang itu benar-benar tertutup. Selepas berdoa lalu memberi saya uang, terus pergi begitu saja. Mudah-mudahan nanti dia datang lagi.”

“Semoga saja, Pak.”

“Ini siapa?”

“Ini anak saya, namanya Rosa, di belum pernah pergi ke makam ibunya.”

“Lhoh, apa dia tinggal di tempat lain?” tanya pak  Misran heran.

“Iya Pak, benar.”

“Belum selesai mereka bicara, tiba-tiba seseorang datang mendekati makam Sawitri. Bukan laki-laki yang biasanya, tapi seorang wanita.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, September 2, 2026

AKU ANAK SIAPA 27

 AKU ANAK SIAPA  27

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot terpana. Yang berdiri di depan pintu, meraih tangannya lalu menciumnya adalah Rosa.

“Ini benar kamu?”

“Iya Pak, tadi saya ke rumah, Bapak tidak ada. Saya iseng-iseng lewat sini, ternyata Bapak memang sedang berjaga.”

“Aku merasa, ini seperti mimpi. Duduklah di sini.”

“Bapak sedang bertugas, nanti saya mengganggu.”

“Tidak apa-apa, kan hanya duduk. Aku bisa bicara sambil berjaga.”

“Baiklah, nanti saya juga ingin bertemu nyonya Surani.”

“Nyonya sedang ada tamu. Tunggu saja. Tapi ngomong-ngomong, kamu sudah bebas?”

“Kemarin saya dibebaskan, atas budi baik pak Daryono. Saya sudah dimaafkan, dan saya sungguh bertobat.”

”Senang mendengarnya. Kamu baru saja keluar?”

“Sudah kemarin, saya di rumah pak Daryono, tapi saya ingin ikut Bapak saja. Bolehkah?”

“Tentu saja boleh, kamu memang anakku,” kata pak Gatot penuh perasaan yang mengharu biru.

“Saya merasa menjadi orang kotor, tidak pantas tinggal di rumah pak Daryono, walau dia membesarkan saya dan memberikan kehidupan yang penuh kesenangan. Tapi saya jahat. Saya tidak pantas berada di sana lagi, saya mengotori rumah dan ketenteramannya.”

“Rosa, kamu hanya tersesat, dan sekarang sudah menemukan jalanmu kembali.”

Rosa mengusap tetes air matanya.

Ketika itu tiba-tiba ada yang dilihat Rosa. Senja dan anak serta suaminya. Rosa berdiri, menghadang di depan Senja, meraih tangannya dan menciuminya dengan linangan air mata.

Senja tentu saja terkejut. Ia merasa asing, karena Rosa memang tidak seperti dulu. Ia berhijab dan berpakaian sangat santun.

“Senja, maafkan aku … dosaku terlalu banyak untuk kamu, maafkan aku … maafkan aku.”

Senja terpana, agak lama ketika kemudian dia menarik Rosa agak ke pinggir karena banyak orang keluar masuk toko.

“Non Rosa?” agak terpekik ketika Senja mengucapkannya.

“Panggil aku Rosa, aku bukan lagi seorang Nona, aku orang rendahan, kotor, hina, nista. Maafkan aku ya, dosaku terlalu besar untuk kamu,” kata Rosa sambil terisak, tak peduli beberapa orang lewat menoleh ke arah mereka dengan heran.

“Jangan begini Non, sudahlah, semuanya sudah berlalu, aku sudah mendengar semuanya, aku sudah memaafkan non Rosa.”

“Jangan panggil aku non Rosa, aku Rosa.”

“Baiklah, Rosa, bagaimana kabarmu.”

“Aku sudah sadar, aku menyesal. Maafkan aku juga, Arka. Aku berdosa kepadamu dan juga istri kamu, dan anakmu ini.”

Satria menatap perempuan di depannya, yang menangis sambil menggenggam tangan ibunya. Ia tentu saja tak mengenal Rosa karena berpenampilan beda. Ia hanya menatap, sambil memegangi tangan ayahnya.

“Aku senang kamu sudah bebas. Hiduplah dengan kehidupan yang baik, yang lurus. Semoga Allah mengampunimu,” kata Arka.

“Senja, aku sekarang anak bapakku ini, pak Gatot, ia orang tuaku,” kata Rosa memperkenalkan pak Gatot sebagai ayahnya.

Pak Gatot tersenyum.

“Kami sudah kenal, ketika anak kecil ganteng ini jatuh di depanku,” kata pak Gatot sambil menowel pipi Satria yang terus menempel pada ayahnya.

“Kamu sekarang tinggal di mana? Bukankah pak Daryono mau menerima kamu kembali setelah kamu bebas?” tanya Arka.

“Tidak, aku akan tinggal bersama ayahku ini,” kata Rosa sambil menunjuk ke arah pak Gatot, yang tersenyum ke arahnya.

Pertemuan itu tampak akrab, lalu tiba-tiba bu Surani muncul, dan Rosa segera menghampiri dan merangkul kakinya.

“Saya bersalah pada Nyonya, saya jahat, maafkan saya,” Rosa kembali terisak.

“Ya ampun, Rosa, berdirilah, tidak usah begini. Aku sudah memaafkan kamu. Lupakan yang telah lalu.”

Pertemuan yang mengharukan, penuh permintaan maaf dari Rosa kepada semua yang ditemuinya.

Pak Gatot tak henti-hentinya bersyukur. Ia menganggap, si anak hilang sudah kembali pulang.

***

“Mengapa ya Pa, Rosa tidak suka kembali kemari, malah lebih suka tinggal di rumah pak satpam itu?” tanya bu Daryono dengan nada kecewa.

“Rosa sudah berbeda. Ia merasa bahwa dirinya salah. Banyak salah dan dia menganggap membuat kita malu. Mungkin juga dia merasa sungkan.”

“Mama sudah bilang nggak apa-apa, tapi dia bersikeras untuk tidak tinggal di sini. Mama ingin menolongnya agar dia bisa melanjutkan hidupnya.”

“Kita berikan surat-surat atau ijazah dia selama sekolah dan kuliah, barangkali bisa dipergunakan untuk mencari pekerjaan.”

“Usianya sudah lanjut untuk ukuran mencari pekerjaan. Apa bisa sih Pa?”

“Tapi ijazah itu kan hasil dia bersusah payah sekolah, biar saja dia bawa. Masalah ingin membantunya, kita tanyakan saja dia maunya apa. Barangkali ingin tetap bekerja, nanti aku titipkan di kantor entah nanti mengerjakan apa, atau ingin membuka usaha.”

“Tadi dia hanya pamit mau ketemu pak Gatot, dia masih akan kembali dulu kemari. Nanti baju-baju dia dan semua berkas ijazah dia biar dibawa sekalian. Tapi aku kok agak kecewa dia memilih tinggal bersama orang lain.”

“Mama tidak usah memikirkan masalah perasaan Mama, percayalah ketika dia menjadi baik, maka dia tak akan pernah melupakan kita.”

“Iya, benar. Nanti kalau dia kembali, kita ajak kembali bicara.”

“Baiklah, terserah Mama saja yang bicara nanti, yang penting niat kita hanya membantu, mengingat kita pernah membesarkannya dan mengasihinya seperti anak kandung sendiri.”

“Semoga dia benar-benar menjadi baik.”

“Kita doakan saja.”

***

Rosa merasa sedikit lega, bisa bertemu Senja dan suaminya dan Satria yang pernah diculiknya. Bagaimanapun dia sudah meminta maaf, dan berharap permintaan maaf itu bisa memperingan beban rasa bersalah yang menghimpitnya. Tampaknya Rosa benar-benar ingin menjalani hidup yang lebih bersih dan teratur. Tapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia berjanji akan memikirkannya setelah pamit dengan bu Daryono, karena ia tak ingin menjadi beban pak Daryono yang sudah mulai menua.

“Rosa, nanti langsung ke rumah Bapak kan?”

“Rosa belum pamit sama bu Daryono. Tadi hanya pamit untuk menemui pak Gatot, jadi setelah ini Rosa ingin kembali ke rumah keluarga Daryono dulu.”

“Semoga setelah ini kamu bisa merasa lebih tenang.”

“Mungkin saya ingin bekerja yang benar-benar bekerja, entah apa.”

“Bukankah kamu pernah sekolah, bahkan kuliah di luar negri?”

“Itu benar, tapi adakah orang yang mau menerima pekerja bekas narapidana? Saya harus tahu diri Pak, pekerjaan seperti itu memerlukan kebersihan dalam berperilaku, sedangkan saya ini apa? Lagipula umur saya sudah tidak pada waktunya bisa bekerja.”

“Ya sudah, hal itu nanti kita pikirkan sambil jalan, tidak usah tergesa-gesa mencari pekerjaan. Gaji Bapak cukup kalau untuk makan berdua, pastinya dengan kehidupan yang sederhana.”

“Saya akan berusaha, entah apa, jadi kuli pasar juga tidak apa-apa, asalkan tidak terlalu memberatkan Bapak.”

Pak Gatot tersenyum. Ia menangkap kesungguhan dalam ucapan Rosa dan dia senang. Tapi menjadi kuli pasar, pak Gatot harus memikirkannya lagi. Itu pekerjaan yang tidak mudah.

“Nanti saya pikirkan lagi, setelah saya benar-benar tinggal bersama Bapak. Saya bayangkan, hanya di tempat Bapak saya bisa menemukan ketenangan, setelah saya tidak berhasil menemukan siapa sebenarnya orang tua saya.”

"Rosa, nanti kalau kamu sudah di sini, akan aku ajak ke suatu tempat.”

“Ke mana Pak?”

“Ke sebuah makam.”

“Makam? Makam siapa?”

“Makam istri bapak, namanya Sawitri.”

“Oh, baiklah, kalau saya menjadi anak Bapak, saya juga harus tahu di mana makam ibu saya kan?”

Pak Gatot tersenyum, ada yang masih disimpannya.

***

Besok lagi ya.

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01.

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  01 (Tien Kumalasari)   Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalan...