BIARKAN AKU MEMILIH 31
(Tien Kumalasari)
Adri dan Anton saling pandang. Mereka baru sekali bertemu, ketika Adri menjemput Dwi saat baru mau bekerja, sedangkan kakinya belum bisa untuk berjalan. Sekarang mereka sudah bertemu, saling menatap kesal. Yang satu kesal merasa dikhianati, yang satu marah merasa dituduh.
“Kemana dia?” Anton lebih dulu bicara, entah ditujukan kepada siapa, karena ia menatap ke arah rumah yang tertutup rapat.
“Barangkali dia kabur karena telah menyebarkan fitnah,” itu yang dikatakan Adri.
Anton mencoba menelpon Dwi, tapi ponselnya mati.
Ketika itu tiba-tiba bibik masuk ke halaman, sangat heran melihat tuan-tuan muda yang berdiri di depan rumah.
“Tuan ….”
“Mana majikan kamu?” tanya Anton sambil melotot ke arah bibik.
“Pergi tuan, tadi naik taksi.”
“Naik taksi ke mana?”
“Tidak tahu Tuan, saya bertanya, nyonya tidak menjawab.”
“Dalam kota atau luar kota?”
“Saya sungguh tidak tahu. Semalam dia gelisah sekali. Sepertinya tidak bisa tidur. Pagi-pagi tadi bangun, lalu mandi, kemudian pergi. Saya minta agar sarapan saja tidak mau.”
“Ada apa sebenarnya?” kali ini Adri yang bertanya.
“Semalam kan tuan Anton datang. Maaf Tuan, saya terpaksa bilang.”
“Bilang saja, jangan takut,” kata Anton yang berharap Dwi berterus terang pada bibik bahwa bayi yang dikandung adalah anak Adri.
“Nyonya kelepasan bicara pada Tuan.”
“Kelepasan bagaimana? Ucapan yang bagaimana yang kelepasan?” kata Anton sambil melirik ke arah Adri.
“Nyonya mengatakan bahwa, kandungannya itu, bukan anak Tuan.”
“Ya, dia memang bilang begitu. Benar kan? Anaknya dia?” kata Anton sambil menuding ke arah Adri. Adri menatap marah.
“Tapi … sebenarnya nyonya berbohong.”
“Berbohong bagaimana?”
“Yang dikandung itu memang benih tuan Anton sendiri.”
Anton terperangah, sedangkan Adri menghela napas lega.
“Mau bilang apa sekarang kamu?”
“Mengapa dia mengatakan itu?” Anton masih mencecar bibik.
“Sebenarnya, nyonya hanya ingin dicerai Tuan,” kata bibik hati-hati.
“Apa?”
“Saya berkali-kali bilang kepada nyonya, bahwa dengan kehamilan itu nyonya bisa membuktikan bahwa dia bisa mengandung. Tapi nyonya tetap ingin berpisah.”
“Majikan kamu itu sangat keterlaluan. Dia membawa namaku, dan menghancurkannya,” kesal Adri.
“Nyonya menyesal setelahnya, lalu menelpon tuan Anton berkali-kali, tapi tidak menjawab.”
“Aku sedang sangat marah, bagaimana aku mau menjawab telponnya?”
“Nyonya ingin mengatakan bahwa dia bohong. Karena memikirkan akan terjadi pertengkaran diantara tuan-tuan ini, Nyonya jadi gelisah sepanjang malam, lalu pagi ini pergi entah ke mana.”
“Bukan main nyonya majikan kamu itu. Sekarang pergi ke mana dia?”
“Saya tidak tahu Tuan, sebaiknya Tuan menunggu saja di sini, siapa tahu nyonya cepat pulang.”
“Aku tidak bisa menunggu. Semuanya sudah jelas kan? Jadi aku mau pergi, karena anak dan istriku sedang menunggu," kata Adri
“Tunggu Pak, saya minta maaf,” tiba-tiba Anton mengulurkan tangannya. Adri menyambutnya, dan mereka bersalaman erat.
“Lain kali bicara hati-hati dan jangan terburu nafsu. Saya sudah ketakutan mendengar pak Anton mau menghajar saya,” ledek Adri yang sebenarnya masih kesal.
“Sungguh saya khilaf, dan saya minta maaf.”
“Saya mau pergi.”
“Silakan Pak, saya mau menunggu di sini, siapa tahu Dwi mau diajak bicara baik-baik.”
“Semoga semuanya akan baik-baik saja.”
“Aamiin. Terima kasih Pak.”
Adri meninggalkan tempat itu, menghampiri mobilnya di mana anak dan istrinya sedang menunggu.
***
“Bagaimana tadi? Aku sudah berharap akan melihat tontonan menarik,” canda Nirmala.
“Kamu mengejek aku?”
“Tidak, kan tadinya ada yang mau saling hajar?” kata Nirmala sambil tertawa.
“Harusnya. Hampir saja.”
“Kok nggak jadi? Lalu kamu dibiarkan pergi?”
“Dwi tidak ada. Suasana masih panas ketika itu, lalu untunglah bibik pembantu itu datang, dan mengatakan yang sebenarnya terjadi.”
“Apa yang terjadi?”
Dwi bohong pada suaminya, dan mengatakan bahwa yang dikandung adalah anak aku. Gila kan?”
“O, itu sebabnya yang namanya Anton itu ingin menghajar kamu? Badannya kecil begitu mau menghajar kamu? Malah jadi bulan-bulanan dia.”
Adri tertawa.
“Semuanya sudah jelas, Dwi berkata begitu karena tidak mau kembali pada Anton. Dia tetap ingin bercerai.”
“Dan caranya ialah berbohong.”
“Tidak sekedar bohong, dia memfitnah aku, dan hampir saja aku dihajar olehnya,” kata Adri sampil tertawa ngakak.
Nirmala ikut tertawa, bahkan Tama yang dipangku mbak Rana juga ikut tertawa-tawa.
“Bapak lucu ya Tam?” kata Nirmala sambil menoleh ke belakang.
“Paa … pp..paaa …”
“Jangan papa dong, ba … pak …” sambung Adri.
“Paaapp ….”
Lalu semuanya tertawa, Tama belum bisa memanggil bapak. Bahkan memanggil ibunyapun …mmm..aaa…”
Mereka sedang berbahagia, dan mempergunakan hari libur untuk bersenang-senang. Entah ke mana mereka akan pergi, yang jelas pasti ke tempat yang nyaman dan menyenangkan, sambil melepas segala beban yang tadinya menghimpit hati dan rasa.
***
Anton mengajak sang ibu turun dari mobil. Sang ibu malah marah-marah walaupun akhirnya mengikuti anaknya menuju rumah tinggal Dwi.
“Sebenarnya mau apa kamu kemari ini Ton? Pasti nanti akan ada pembicaraan yang tidak menyenangkan, dan yang pasti aku tidak suka. Dan mengapa kamu tidak jadi menghajar laki-laki itu? Bukankah dia yang berbuat tak senonoh dengan Dwi?”
“Duduklah dulu Bu, jangan marah-marah begitu. Kalau tahu begini kan tadi tidak usah ikut saja.”
“Aku kira kamu akan mengatakan pada Dwi bahwa kamu akan menceraikan dia, jadi ibu ingin melihat bagaimana kamu bicara, soalnya ibu curiga, kamu itu sangat cinta pada perempuan itu.”
“Perempuan itu namanya Dwi, menantu ibu.”
“Ibu tidak punya menantu perempuan tukang selingkuh.”
“Dia tidak selingkuh.”
“Apa? Bukankah dia hamil karena laki-laki lain?”
“Silakan diminum, tuan, Nyonya. Coklat susu hangat kesukaan Tuan,” tiba-tiba bibik keluar sambil membawa dua gelas minuman.
“Kamu setia sekali pada perempuan selingkuh itu ya, sehingga tuanmu menyuruh kamu tetap di sana tapi kamu tidak mau,” belum-belum sang nyonya menyemprot bibik.
“Maaf Nyonya,” lalu bibik langsung beranjak ke belakang. Ia sudah tahu tabiat nyonya besar yang sebenarnya tidak suka kepada nyonya majikannya.
“Bu, Dwi tidak selingkuh.”
“Kamu mengatakan itu lagi? Bagaimana tidak selingkuh tapi dia bisa hamil dengan laki-laki lain?”
“Yang dikandung itu anak Anton.”
“Apa? Mengapa kamu tiba-tiba mengakui kalau itu anak kamu? Apa karena kamu ingin sekali mengajak dia tinggal bersamamu?”
“Dwi mengatakan itu karena sebenarnya agar Anton menceraikannya.”
“Apa?”
“Yang dikandung itu anak Anton, bukan anak orang lain. Bibik tadi mengatakan semuanya.”
“Dan kamu percaya begitu saja? Mana sekarang dia?”
“Dia sedang pergi, Anton akan menunggu di sini.”
“Ya ampuun, tahu begini ogah aku ikut ," kata sang ibu yang tak urung meraih gelas minumannya. Haus.
***
Bibik pembantu Nirmala sedang bersih-bersih rumah. Majikannya mengatakan kalau barangkali baru akan pulang esok harinya, jadi dia tidak memasak.
Ketika bersih-bersih di ruangan depan, bibik melihat taksi berhenti di depan rumah. Bibik menatapnya, barangkali ia mengenalnya.
Tapi tidak. Bibik belum pernah melihatnya. Seorang wanita turun dari dalam taksi itu, dan berjalan menuju ke arahnya.
Bibik berdiri di tangga teras, menunggu sambil bertanya-tanya, siapa wanita cantik ini.
“Selamat pagi,” sapa sang tamu.
“Selamat pagi, Nyonya. Nyonya mau bertemu siapa?”
“Apakah ibu Nirmala ada?”
“Oh, Nyonya bertugas di luar kota sejak tiga hari yang lalu.”
“Belum pulang ya?”
“Belum, kemarin tuan malah menyusulnya.”
“Apakah hari ini belum akan kembali?”
“Saya kira belum, barangkali besok. Nyonya ini siapa, supaya nanti saya bisa melaporkan pada nyonya, siapa tamunya.”
“Saya anak buahnya, Dwiyanti.”
“Oh, baiklah. Apakah Nyonya mau duduk sebentar untuk saya buatkan minuman hangat? Nyonya tampak pucat sekali. Apa nyonya sakit?”
“Ti … tidak,” kata Dwi.
Tapi kemudian Dwi tampak sempoyongan, lalu roboh menimpa bibik, sehingga keduanya jatuh bersamaan, karena bibik tidak siap menerima beban tubuh Dwi.
“Toloong, aduuuh, Nyonya menindih saya!” teriak bibik karena dia tertindih tubuh Dwi yang lumayan besar.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteHatur nuhun bunda. Sehat slalu
Suwun mb Tien, smg sht sll 🙏
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDelete🧀🧇🧀🧇🧀🧇🧀🧇
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung BeAaeM_31
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🧀🧇🧀🧇🧀🧇🧀🧇
Alhamdulilah Cerbung "BAM 31 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah BeAaeM_31 sudah tayang, semoga tidak ada yang salah ketik, editornya baru olga sore.
ReplyDeleteSelamat berbuka puasa untuk sahabat ku di Indonesia Tengah dan Timur.
Indonrsia barat (Jakarta, Bandung Banten) masih 14 menit lagi
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteHamdallah sampun tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah, mtr nuwun bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~31 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Alhamdulillah sudah tayang, terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu sekeluarga.... Aamiin YRA 🤲🤲🤲
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Mau bikin gara² apa lagi Dwi datang ke rumah Nirmala?
ReplyDeleteDasar perempuan tidak tahu diuntung....
Sudah dirolongin memfitnah pulak ...