Tuesday, September 1, 2026

AKU ANAK SIAPA 26

 AKU ANAK SIAPA  26

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot masih berdiri di tempatnya semula, belum mendekat ke arah makam istrinya. Ada rasa kecewa ketika mendengar bahwa laki-laki itu tidak datang karena sakit.

“Memangnya dia sakit apa?” tanya pak Gatot.

“Saya tidak tahu Pak. Orang yang disuruh itu tampaknya sangat tergesa-gesa. Jadi dia datang membawa sekeranjang bunga tabur, menyerahkan kepada saya agar ditaburkan di makam bu Sawitri, lalu dia pergi tergesa-gesa."

“Jadi pak Misran juga tidak tahu di mana rumahnya?”

“Sejak awal saya tidak pernah tahu di mana rumahnya. Tadi saya juga tidak sempat menanyakan apapun.”

“Sayang sekali.”

“Kelakuannya yang aneh itukah yang menarik bagi pak Gatot?”

“Ya, tentu saja.”

“Semoga minggu depan dia datang kembali, dan saya akan berusaha bertanya lebih jelas tentang orang itu. Semoga pak Gatot segera mendapat informasi yang Bapak perlukan"

Itu benar. Kalau saja ia hanyalah seorang yang ingin menabur bunga di makam, dan cukup berdoa lalu pergi, barangkali tak semenarik laki-laki yang entah siapa, diceritakan berperilaku aneh setiap kali menyambangi makam Sawitri. Datang, memukul-mukul nisan seperti orang marah, tapi ia selalu mengirim bunga setiap minggu. Ini benar-benar aneh dan membuat pak Gatot semakin penasaran.

Ia kembali pulang setelah sekedar berdoa untuk istrinya, masih dengan beribu pertanyaan yang tak terjawab. Entah mengapa pak Gatot ingin sekali mengerti, siapa sebenarnya laki-laki itu.

“Semoga aku bisa menguak tabir penuh rahasia ini.”

***

 Hari-hari terus berjalan, berminggu-minggu kemudian pak Gatot belum berhasil bertemu laki-laki aneh itu. Pak Misran bahkan tidak melihat ada yang menengok makamnya selama minggu- minggu terakhir ini.

Pak Gatot tetap datang setiap Minggu. Ia berharap laki-laki itu sudah sembuh dan kembali menengok ke makam seperti biasanya. Tapi sebulan lebih berlalu tak ada berita. Hari Minggu ini pak Gatot harus masuk kerja untuk menggantikan temannya yang tidak bisa masuk, jadi dia tidak datang ke makam. Pak Misran melihat kedatangan laki-laki itu, dan berharap pak Gatot juga datang. Tapi ia tak melihat bayangan pak Gatot. Ia mendekat dan menyapa laki-laki aneh itu.

“Selamat siang, Pak.”

“Siang,” laki-laki itu menjawab singkat. 

Seperti biasa dia baru saja memukul-mukul nisan Sawitri, di mana ketika itu pak Misran tak berani mendekat, takut mengganggu. Baru setelah laki-laki itu diam, keliatan berdoa barulah pak Misran mendekat.

“Saya dengar beberapa waktu yang lalu Bapak sakit?” tanya pak Misran hati-hati.

“Parah.”

“Oh ya, sakit apa Pak? Kalau saya tahu rumah Bapak, pasti saya datang menjenguk.”

“Tidak perlu, orang tua itu sakit sudah biasa.”

“Apa rumah Bapak … jauh dari sini?” tanyanya lagi, lebih pelan dan sangat berhati-hati, karena sejauh ini ia tak pernah mau mengatakannya.

“Jauh, tapi saya harus selalu datang kemari.”

“Ini … maaf … istri Bapak?” pak Misran terkejut dengan keberaniannya bertanya tentang hal ini. Bukankah sebenarnya ia tahu bahwa Sawitri sampai akhir hayatnya adalah istri pak Gatot? Pak Misran khawatir laki-laki itu tersinggung. Tapi laki-laki itu diam, tanpa ekspresi

Kemudian dia berdiri, memberi selembar uang limapuluhan ribu kepada pak Misran sambil berkata seperti biasanya.

“Tolong rawat makamnya.”

Lalu ia pergi begitu saja, bahkan tak mempedulikan ketika pak Misran mengucapkan terima kasih sambil terbungkuk-bungkuk.

Pak Misran mengantarkannya sampai di pintu makam, laki-laki itu mengendarai sepeda motor, sendiri.

Pak Misran ingin mengikutinya, tapi ia hanya punya sepeda, itupun tidak dekat dengan tempatnya berdiri, harus ke pintu yang diujung sana, karena ia meninggalkannya di sana.

“Kalau saja aku bisa mengikutinya dan mengatakannya kepada pak Gatot di mana rumahnya, pasti pak Gatot akan senang,” gumamnya sambil kembali melanjutkan pekerjaannya, bersih-bersih makam.

“Mengapa juga hari ini pak Gatot tidak datang. Seandainya datang mungkin bisa bertemu dan berbincang. Masa orang yang selalu menyambangi makam istrinya tapi dia tidak mengenalnya?” gumamnya berkali-kali.

***

“Pak Gatot, makan siang, dan cemilan,” kata Bibik yang tiba-tiba sudah ada di dekat pak Gatot, meletakkannya di meja, di mana dia bertugas.

“Bibik tuh, kaget aku.”

“Lhoh, kok bisa kaget sih Pak, padahal saya mendekat pelan-pelan. Pasti pak Gatot sedang melamun ya?”

“Bibik ada-ada saja. Saya sedang melihat itu, orang yang parkir di depan. Ada dua orang seperti berebut parkir, yang satu kok ya nggak mau mengalah, padahal datang belakangan.”

“Iya ya Pak, tapi untunglah yang datang duluan itu akhirnya mengalah, mundur lalu parkir di tempat lain.”

“Syukurlah.”

“Ya sudah Pak, itu dimakan, saya masak ayam goreng hari ini, sama sayur asem. Ada sambalnya puedess lho Pak.”

“Wah, saya sudah tidak berani makan pedes Bik. Takut perut sakit.”

“Waduh, tahu begitu saya ambilkan sambal yang nggak begitu pedes tadi. Saya biasa bikin sambal dua macam. Nyonya nggak suka pedas, kalau saya suka sekali. Apa saya ambilkan dulu?”

“Tidak, tidak usah. Tidak pakai sambal tidak apa-apa.”

“Ya sudah, sambalnya saya bawa masuk ya Pak.”

“Ya Bik, bawa aja.”

Seorang anak berjalan masuk dari halaman, digandeng erat oleh ibunya. Pak Gatot ingat, anak kecil itu yang pernah jatuh saat sore hari ketika dia hampir selesai bertugas.

“Nak, kalau digandeng ibunya tidak lari-lari sendiri kan?” sapa pak Gatot ramah.

Anak kecil itu Satria, dan ibunya. Ayahnya, Arka, berjalan di belakangnya.

Senja tersenyum ramah.

“Iya Pak, anak ini sukanya berlarian.”

“Senja, benar kan, ini toko bu Surani?” tanya Arka.

“Iya, dulu kita tidak tahu sih. Ini hari Minggu, pasti bu Surani ada kan Pak?” tanya Senja kepada pak Gatot.

“Ada di kantornya. Ternyata Bapak dan Ibu kenal sama majikan saya.”

“Yang kenal ayah saya, saya hanya kenal sekilas,” jawab Arka.

“Tapi walau sekilas kan kenal. Beliau ada di kantornya. Bapak dan Ibu ini mau belanja atau mau ketemu nyonya Surani?”

“Mau ketemu Pak, kantornya di sebelah mana? Mau memesan baju untuk seragam karyawan kantor saya,” kata Arka.

“Agak masuk ke dalam, mari saya antarkan,” kata pak Gatot yang kemudian mendahului masuk.

Pak Gatot kembali keluar setelah mempertemukan tamunya dengan majikannya.

Karena sudah saatnya makan siang, ia menyempatkan makan di dalam ruangan satpam yang ada di belakangnya.

Ia memakannya pelan. Walau enak, tapi mengunyah ayam goreng harus pelan-pelan karena ada sebagian giginya yang sudah goyah.

Sebenarnya ia ingin ke makam istrinya, seperti dilakukannya setiap hari Minggu, tapi sebulan lebih ia belum berhasil bertemu laki-laki aneh yang sejak awal belum sempat bertemu kecuali hanya cerita pak Misran saja.

“Kalau sepulang tugas aku ke sana, ya percuma. Bukankah kata pak Misran dia selalu datang pagi atau agak siang? Ya sudah, sabar, siapa tahu justru besok minggu depan ia bisa ke makam dan bertemu dia serta bisa tahu siapa sebenarnya dia.”

Pak Gatot sudah menyelesaikan makan siangnya. Ia meneguk minumannya dan menghabiskan sebuah pisang ambon yang disiapkan Bibik untuknya.

Tiba-tiba ia melihat bayangan orang di depan pintu. Pak Gatot melongok, dan terkejut melihat siapa yang datang.

“Bapak!””

Pak gatot berdiri dan tersenyum lebar.

“Kamu?”

***

Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA 26

  AKU ANAK SIAPA  26 (Tien Kumalasari)   Pak Gatot masih berdiri di tempatnya semula, belum mendekat ke arah makam istrinya. Ada rasa kecewa...