Sunday, August 2, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 011

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  011

(Tien Kumalasari)

 

Rahman melihat ibunya duduk di lantai, dan seorang nyonya cantik sedang memarahinya, menuding-nuding wajahnya.

Baroto mendekat. Ana tak ada di sana.

“Apa yang kamu lakukan?” tegurnya kepada sang istri.

“Ini, pengemis … eh … pemulung ini, enak-enak makan di sini bersama Ana. Rumi sudah mengingatkannya, tapi Ana nekat. Lihatlah, pakaian kumuhnya, dia duduk di kursi situ dengan nyaman. Lalu_”

“Diam kamu!” sentak Baroto, membuat sang istri mengerutkan keningnya.

“Mengapa kamu membelanya Mas?”

“Ini bukan kemauan dia, ini kemauan Ana. Ana suka kepadanya, apa salahnya? Mengapa juga kalau dia duduk di kursi dan makan bersama Ana?”

Tiba-tiba Ana muncul. Ia tadi pamit ke belakang karena perutnya sakit. Ketika keluar, ia terkejut melihat Menur duduk di lantai.

“Mengapa Bibi duduk di bawah, ayolah naik. Duduk di sini seperti tadi,” kata Ana sambil menarik tangan Menur. Tapi Menur menolaknya.

“Bibi mau pulang saja, ini sudah siang,” kata Menur sambil berdiri.

“Ini karena kamu bertindak semau kamu, merusak tatanan yang ada di rumah ini.”

“Tatanan apa?”

“Pembantu saja tidak boleh duduk di kursi, bagaimana mungkin seorang pengais sampah diijinkan duduk di kursi bersama dengan anak kita?”

“Biarkan pembantu duduk bersama kita, dan biarkan wanita ini duduk sejajar dengan anak kita, memangnya kenapa? Mereka juga manusia seperti kita.”

“Mereka tidak sejajar dengan kita Mas.”

“Kamu yang membuat tidak sejajar.”

“Mama, jangan bertengkar. Bibi Menur akan ada di sini bersama Ana.”

“Kamu masih nekat Ana?”

“Aku ingin dia, aku merasa senang bersama dia.”

“Kamu keterlaluan!”

“Apa tidak boleh? Kalau tidak boleh, Ana akan bilang pada nenek.”

“Apa?” nyonya Baroto melotot marah. Ana punya senjata untuk memaksanya. Kalau sampai ibunya tahu Ana disia-siakan, maka sang ibu akan memarahinya. Itu yang kemurian membuat kemarahan sang nyonya menjadi surut.

“Terserah kamu saja!” kata nyonya Baroto sambil masuk ke dalam. Tak lupa ia menghentakkan kakinya karena kesal.

Ana tersenyum.

“Bukankah Papa mengijinkan bibi Menur tinggal di sini?”

“Tentu saja Ana, asal Ana senang, papa mesti mengijinkan.”

Tapi Menur yang sudah berdiri di luar, menggelengkan kepalanya.

“Non Ana jangan memaksakan kehendak. Kalau mama tidak suka, NOn Ana harus menurut.”

“Mengapa bibi memanggil aku non Ana? Panggil namaku seperti sebelumnya.”

“Kita berbeda derajat non.”

“Aku tidak tahu tentang derajat. Aku mau bibi,” kata Ana sambil memeluk Menur yang sudah berdiri di luar teras.

Sementara itu Rahman yang melihat adegan itu merasa ada sesuatu yang menusuk perasaannya. Gadis kecil yang cantik dan berpakaian bagus itu tidak merasa jijik memeluk ibunya yang pakaiannya kumal dan mungkin juga tidak berbau wangi. Sedangkan dirinya tak sedikitpun pernah melakukannya. Ia selalu merendahkan ibunya. Ibu yang melahirkannya dengan taruhan nyawa, yang meneteskan keringat demi dirinya. Itu kata-kata Baroto yang belum lama didengarnya.

Sekarang, ketika ia mendengar ibunya direndahkan, rasa sakit serasa menusuk dadanya. Tak rela. Ada yang berubah pada dirinya. Baroto menyadarkannya, saat dia berbohong dan ketahuan.

Rahman maju, dan memegangi tangan sang ibu.

“Ibu, ayo pulang,” katanya lembut.

Ana baru sadar kalau ada orang lain di situ. Demikian juga Menur. Ia tak menyangka bahwa Rahman menyusulnya. Ia heran Rahman menyapanya lembut.

“Kamu siapa?” tanya Ana sambil menatap Rahman

“Ini adalah ibuku. Walaupun hina, dia adalah ibuku.”

Ana menatap Menur, meminta jawaban, apakah apa yang dikatakan anak laki-laki itu benar, sementara Baroto menatap Rahman sambil tersenyum. Ia merasa lega, semua perkataanya berhasil masuk ke dalam sanubarinya.

Menur yang terkejut melihat sikap Rahman, kemudian merangkul pundaknya.

“Ayo kita pulang, Nak,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.

“Bibi, jangan pergi!’ pekik Ana sambil mengejarnya.

“Ana, jangan begini. Kamu punya keluarga yang sangat perhatian sama kamu.”

“Tapi aku mau Bibi,” rengek Ana, sambil menangis.

“Jangan begini Ana, bibi tidak pantas tinggal di sini.”

“Bibi tidak boleh pergi.”

Baroto mendekat, berusaha menenangkan hati Ana.

“Ana, kali ini biarlah bibi Menur pulang, biar dia pikirkan permintaan kamu, karena bibi juga punya anak sendiri. Besok kita ajak dia bicara lagi.”

“Dia takut pada mama.”

“Nanti papa bicara sama mama, sudah, jangan menangis. Papa yakin mama akan mengijinkan. Kita tinggal membujuk bibi Menur supaya mau. Ya?”

Ana mengangguk sambil mengusap air matanya.

Menur dan Rahman sudah berjalan, menuju keluar halaman. Baroto mengejarnya. Ia berbisik di telinga Menur.

“Apakah dia anakku?”

Menur terus melangkah, tapi Baroto dengan nekat mengikutinya.

“Iya apa bukan? Katakan terus terang.”

“Bukan. Mengapa kamu begitu yakin?”

“Aku merasakan sesuatu ketika bersamanya. Naik kuda berdua, makan berdua.”
”Jangan mengada-ada. Kamu membuatku sakit karena terhina. Memang aku hanya orang rendahan, mana pantas duduk bersama dengan keluarga konglomerat seperti kalian?”

“Mengapa mengalihkan pembicaraan? Pertanyaanku bukan itu.”

Baroto tadi hanya berbisik, karena tak mau Rahman mendengarnya. tapi kemudian ia berkata dengan nada biasa. Rahman juga tak memperhatikan pembicaraan itu. Ia tahu sang ibu sudah kenal baik dengan om ganteng yang kaya raya itu. Jadi ia membiarkannya. Yang jelas perasaan Rahman kepada ibunya sudah berbuah. Bukan hanya karena perkataan Baroto saat makan, tapi sikap putri kecil ana keluarga kaya itu yang begitu akrab dengan ibunya, merangkulnya tanpa merasa jijik padahal bajunya bagus dan ibunya hanya memakai baju kumuh. Tiba-tiba saja Rahman merasa sakit hati ketika mendengar ibunya direndahkan. Rahman sebenarnya anak baik. Ia hanya terpengaruh teman-teman sekolahnya, yang merendahkan temannya yang bukan anak keluarga kaya. Rahman tak mau dirinya  juga direndahkan, lalu ia menyesal mengapa terlahir dari keluarga miskin. Bahkan ibunya menjadi pemulung. Itu yang membuat sifatnya berubah, dan tak merasa bahwa telah menyakiti hati ibunya. Tapi entah mengapa, ia bertemu seorang Baroto, om ganteng yang baik, lalu bisa membuka hatinya, menyadari kesalahannya. Karenanya ia menggandeng tangan sang ibu erat-erat di sepanjang perjalanannya. Perubahan itu membuat Menur terkejut, tapi dia juga bahagia. Tangan kecil itu menggenggam jemarinya dengan hangat, dan kehangatan itu menyusuri setiap aliran darahnya. Apapun yang terjadi, Rahman ternyata menyayanginya.

***

Baroto kembali ke rumah, ketika mendengar jawaban Menur yang membuatnya kecewa. mendapati Ana sedang menangis meraung-raung. Rumi kewalahan membujuknya.

“Ana, berhentilah menangis.”

“Ana mau bibi Menur. Ana mau bibi Menur.”

“Bibi Menur sedang mengantarkan anaknya pulang. Nanti papa akan bicara lagi sama bibi Menur. Ya?”

“Bibi Menur tidak mau karena mama memarahinya. Mama jahat. Bibi Menur pasti pengin marah tapi tidak berani.”

“Tenanglah, tidak apa-apa., nanti papa bantu membujuknya.”

“Tapi dia pasti tidak mau. Papa tidak akan berhasil.”

“Mengapa kamu berkata begitu?”

“Mama sudah memarahinya.”

Lalu Ana menangis semakin keras. Sedangkan nyonya Baroto tak mau keluar dari kamarnya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Baroto dan Ana bergegas keluar karena itu suara mobil mertuanya.

Sang ibu mertua turun lalu bergegas menghampiri Ana.

“Cucu nenek, mengapa menangis? Siapa berani membuat cucuku menangis?”

“Nenek, mama jahat sekali.”

“Oh ya? Mamamu melakukan apa? Kamu dijewer? Dicubit?”

“Tidak. Mama memarahi bibi Menur.”

“Siapa bibi Menur?”

“Ana mau bibi Menur menjadi pengasuh Ana, tapi mama tidak ijinkan.”

“Kamu kan sudah punya Rumi?”

“Aku juga mau bibi Menur?”

“Siapa dia? Mengapa istrimu tidak mengijinkan?” tanya sang mertua sambil menatap menantunya.

“Dia seorang pengais sampah,” Ana yang menjawab kemudian.

“Apa? Pengais sampah? Mengapa kamu ingin pengasuh seorang pengais sampah? Kamu boleh minta apa saja, tapi jangan yang aneh-aneh,” katanya sambil duduk bersama di ruang tengah.

“Dia baik, dia sangat baik. Lagipula Ana kasihan, dia mencari botol kosong setiap hari, untuk sekolah anaknya.”

“Seperti apa sih dia?”

“Pokoknya dia baik, nenek harus memarahi mama,” kata Ana sambil menggoyang-goyang tangan neneknya.

“Mana mama kamu, panggil kemari.”

Ana segera berlari ke kamarnya. Harapan untuk mendapat ijin dari mamanya akan terwujud, karena ia yakin sang nenek akan membelanya.

***

Sesampai di rumah, Menur melihat bahwa makan siang yang disiapkan sejak sebelum berangkat untuk menemui Ana, masih belum tersentuh.

“Rahman, mengapa kamu tidak makan? Ibu hanya membeli telur, dan_”

“Rahman sudah makan bersama om ganteng.”

Menur membelalakkan matanya.

“Ibu belum bertanya, mengapa tadi kamu bisa bersama dia.”

“Tadi om ganteng datang ke sekolah, lalu mengajak Rahman makan di restoran. Lalu diajaknya ke rumahnya yang bagus itu.”

“Ibu kira kamu sudah pulang makan, lalu pergi bersama dia.”

“Tidak. Karena om ganteng, Rahman menyesal telah menyakiti hati ibu.”

“Karena itulah sikapmu pada ibu berubah?”

“Rahman juga ingin marah melihat nyonya kaya itu memarahi Ibu.”

Menur merangkul anaknya dengan air mata berlinang.

“Tapi mulai besok kamu tidak boleh lagi pergi bersama dia,” kata Menur tandas.

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, August 1, 2026

AKU ANAK SIAPA 01

 AKU ANAK SIAPA  01

(Tien Kumalasari)

 

Seorang perempuan berjalan tertatih di jalan raya. Wajah yang aslinya cantik tampak kumuh berdebu. Bajunya yang kucel dan usang menyembunyikan sesuatu yang indah dipandang sebelumnya.

Di depan sebuah warung dia berhenti.

“Bolehkah saya minta makan? Sedikit tidak apa-apa, saya lapar,” katanya memelas.

“Hei, agak jauh sana, tubuhmu bau. Nanti pelangganku kabur semua,” hardik seorang perempuan gemuk dari dalam warung. Tampaknya dia pemilik warung itu.

Perempuan kumuh itu mundur, lalu berjalan menjauh dengan lunglai.

Di sebuah warung yang lain, dia masuk, lalu seseorang berteriak.

“Maliiiing.”

Perempuan itu lari, orang-orang mengejarnya. Ia tersandung batu dan jatuh tertelungkup. Beberapa orang memukulinya. Perempuan itu ambruk tak sadarkan diri. Sepotong roti masih ada di dalam genggamannya.

Lalu ada suara laki-laki berteriak.

“Heii, hentikan!”

Laki-laki itu mendekat, sudah setengah tua. Ia mengenakan seragam satpam. Rupanya ia bertugas di sebuah toko pakaian yang ada di dekat tempat itu. Rasa iba menyeruak. Ia menatap orang-orang yang masih memandangi perempuan itu dengan marah.

“Apa kalian masih manusia? Dia itu pingsan, hampir mati, dan kalian masih memukulinya?”

“Dia mencuri di warung saya Pak. Kalau dibiarkan dia akan terbiasa mencuri,” kata si pemilik warung.

“Berapa harga makanan yang diambilnya?” tanyanya sambil melirik ke arah tangan perempuan yang masih menggenggam sepotong roti. 

Ia bergerak perlahan, berusaha duduk. Wajahnya matang biru.

“Sepuluh ribu rupiah Pak.”

“Ini, aku bayar roti sampeyan, dan bubar semuanya.”

Pemilik warung menerima selembar puluhan ribu kemudian berbalik. Sudah dibayar tapi dia masih mengomel panjang pendek.

Perempuan itu terisak.

“Saya … lapar,” lirihnya.

“Baiklah, makan roti itu dulu, duduklah disana,” kata laki-laki itu sambil menuntunnya ke tempat sepi. 

Ada bangku kosong di bawah sebuah pohon. Bangku milik tukang warung es yang tidak dipakai. Mungkin libur berjualan.

Laki-laki itu meninggalkan perempuan yang kemudian melahap rotinya. Ia tampak sangat lapar.

Tak lama kemudian ia datang, lalu memberikan sebungkus nasi dan sebotol minuman.

“Kamu pasti masih lapar. Ini makanan, dan minuman. Habiskan ya.”

“Terima … kasih.”

“Namamu siapa?”

“Rosa …,” jawabnya lirih.

“Rumahmu di mana?”

Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak punya rumah?”

Rosa kembali menggeleng.

“Nanti kalau jam tugasku selesai, kamu ikut aku ke rumah ya.”

Rosa tak menjawab. Dia sedang membuka botol minuman, lalu meneguknya hampir separo. Ia meletakkan botolnya, kemudian membuka bungkusan nasi.

Terharu pak satpam ketika melihat cara Rosa makan. Kelihatan sekali dia sangat lapar.

“Duduk dulu di sini, tunggu aku selesai bertugas. Di sana ada kamar mandi untuk umum. Cuci mukamu, dan bersihkan badanmu. Setelah itu duduk saja di sini dan tunggu aku."

Rosa lagi-lagi mengangguk, dan pak satpam yang baik hati itu berlalu untuk menghabiskan waktu tugasnya.

***

Rosa ngelesot di tanah. Ia tertidur dengan sebelah tangan ditekuk, dipergunakannya sebagai bantal. Udara panas tak dihiraukannya. Ia sudah kenyang kemudian merasa mengantuk. Semilir angin dari pepohonan membuat ia segera terlelap. Tak seorangpun menoleh ka arahnya. Mereka menganggapnya seorang gelandangan yang tertidur karena kelelahan.

***

Perempuan itu memang Rosa. Rosana, anak angkat pengusaha kaya yang baru saja keluar dari penjara setelah melakukan kejahatan.

Ia tak mau kembali ke rumah orang tua angkatnya, setelah mereka tak mau lagi mengakuinya sebagai anak angkat.

Karena itulah ia tak mau lagi menginjakkan kakinya ke rumah itu. Tapi hal yang sangat ingin diketahuinya adalah, anak siapa sebenarnya dirinya ini.

Di catatan ayah angkatnya ia hanya melihat sekilas, bahwa dia dipungut dari sebuah panti asuhan. Ia tidak lupa nama panti itu. Panti Asuhan Rasa Sayang, alamatnya sudah dia catat dalam hati. Ia mau ke sana, tapi ia tak memiliki sepeserpun uang untuk pergi menemukan tempat itu. Makanpun ia harus menahannya selama entah berapa lama, sampai ada belas kasihan orang untuk memberinya makan. Yang terakhir karena tak ada lagi yang dia makan sementara dia sudah kelaparan, maka ia masuk ke sebuah warung lalu mengambil sepotong roti yang dijual. Itu sebabnya dia diteriaki maling lalu dipukulin orang beramai-ramai.

Beruntung ada bapak satpam yang baik hati, yang membelanya lalu memberi dia makan, bahkan akan mengajaknya pulang. Apa satpam itu tak punya keluarga? Mengapa begitu baik dia kepada dirinya yang belum pernah dikenal sebelum itu?

***

Hari sudah sore ketika pak satpam yang belum diketahui namanya itu membangunkannya dari tidur yang lelap.

“Masih mau tidur,” Rosa menggeliat, lalu duduk tiba-tiba.

“Mau ikut aku pulang?” katanya sambil memberikan sebuah bungkusan.

“Ini … apa?”

“Baju ganti. Bajumu lusuh. Hanya tiga, tapi baju murahan.”

“Ini sangat luar biasa, terima kasih banyak.”

“Mau ikut ke rumah aku?” ulang pak satpam.

“Apa boleh?”

“Aku tinggal sendirian. Tidak punya anak, tidak punya istri. Entah mengapa ketika melihat kamu, aku jadi merasa iba dan ingin menolong. Tapi aku tidak memaksa, aku hanya berniat baik.”

“Saya mau.”

Laki-laki setengah tua itu tersenyum. Ia menghampiri sepeda motornya, lalu meminta Rosa agar duduk di boncengan.

Tak ada pilihan lain bagi Rosa. Kalau benar pak satpam tulus menolong, dia akan tinggal di rumahnya, tidak kehujanan, tidak kepanasan, dan yang penting tidak kelaparan.

***

Rumah itu kecil. Hanya ada dua kamar, ada ruang untuk bersantai, ada televisi kecil, ada dapur dan kamar mandi didekatnya. Hanya rumah sederhana, tapi Rosa merasa nyaman, daripada hidup diluaran yang tak tentu di mana dia bisa tidur, daripada hidup di penjara juga pastinya.

"Ini boleh kamu jadikan kamar kamu, tapi kamu harus membersihkannya terlebih dulu. Ada kasurnya walau tipis. Almari kecil untuk tempat baju atau apa," kata pak satpam.

"Di situ dapur, di sana kamar mandi. Sepertinya kamu harus mandi, ada sikat gigi dan sabun untuk  kamu pakai. Masih baru, dan taruh di tempat lain, tidak jadi satu dengan punyaku," lanjutnya.

"Aku hidup sendirian setelah istriku meninggal karena suatu penyakit. Aku selamanya hidup sederhana. Yang penting bisa makan cukup dan berpakaian pantas. Apa kamu suka?”

“Saya sangat berterima kasih karena Bapak telah menolong saya," kata Rosa.

“Sebenarnya di mana orang tua kamu?”

Rosa tak mau menceritakan yang sebenarnya. Bahwa dia pernah menjadi anak angkat orang kaya, bahwa dia pernah melakukan kejahatan dan dipenjara, tidak. Semuanya hanya akan disimpan untuk dirinya sendiri.

Surat-surat yang diberikan oleh kepala penjara tentang kebebasannya, sudah dibuangnya jauh-jauh setelah dirobek-robeknya menjadi serpihan kecil, seperti hidupnya yang berujud serpihan nyawa yang entah ke mana angin akan membawanya.

“Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?” ulang pak satpam ketika mereka sudah mandi bersih, dan pak satpam menyediakan minuman hangat untuk mereka.

“Maafkan saya Pak.”

“Panggil saya pak Gatot.”

“Oh, iya pak Gatot. Saya tidak ingin mengingat masa lalu saya. Saya diusir oleh orang tua saya. Mereka sangat miskin. Saya harus mencari makan sendiri.”

“Mengapa kamu tidak dinikahkan saja dengan seseorang yang bisa menghidupi kamu?”

“Tidak ada yang mau menikahi anak orang miskin.”

“Benarkah?”

Rosa terdiam, dan pak Gatot merasa bahwa Rosa tidak mau atau belum mau bercerita tentang siapa dirinya.

“Baiklah, aku tidak memaksa. Tapi orang hidup itu kan harus punya tujuan. Apa sebenarnya yang kamu inginkan dalam hidup ini?” kata pak Gatot.

Apa yang dia inginkan? Tadinya dia sudah akan mendapat tugas mengurus usaha orang tua angkatnya di luar negri, tapi gagal karena kelakuan busuknya. Ia selalu bergelimang harta, kemana-mana naik mobil, makan enak, tidur nyenyak di kamar indah dan tempat tidur yang nyaman. Sekarang ini ia hanya ingin mencari, siapa orang tuanya, dan di mana mereka berada.

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 011

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  011 (Tien Kumalasari)   Rahman melihat ibunya duduk di lantai, dan seorang nyonya cantik seda...