SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 011
(Tien Kumalasari)
Rahman melihat ibunya duduk di lantai, dan seorang nyonya cantik sedang memarahinya, menuding-nuding wajahnya.
Baroto mendekat. Ana tak ada di sana.
“Apa yang kamu lakukan?” tegurnya kepada sang istri.
“Ini, pengemis … eh … pemulung ini, enak-enak makan di sini bersama Ana. Rumi sudah mengingatkannya, tapi Ana nekat. Lihatlah, pakaian kumuhnya, dia duduk di kursi situ dengan nyaman. Lalu_”
“Diam kamu!” sentak Baroto, membuat sang istri mengerutkan keningnya.
“Mengapa kamu membelanya Mas?”
“Ini bukan kemauan dia, ini kemauan Ana. Ana suka kepadanya, apa salahnya? Mengapa juga kalau dia duduk di kursi dan makan bersama Ana?”
Tiba-tiba Ana muncul. Ia tadi pamit ke belakang karena perutnya sakit. Ketika keluar, ia terkejut melihat Menur duduk di lantai.
“Mengapa Bibi duduk di bawah, ayolah naik. Duduk di sini seperti tadi,” kata Ana sambil menarik tangan Menur. Tapi Menur menolaknya.
“Bibi mau pulang saja, ini sudah siang,” kata Menur sambil berdiri.
“Ini karena kamu bertindak semau kamu, merusak tatanan yang ada di rumah ini.”
“Tatanan apa?”
“Pembantu saja tidak boleh duduk di kursi, bagaimana mungkin seorang pengais sampah diijinkan duduk di kursi bersama dengan anak kita?”
“Biarkan pembantu duduk bersama kita, dan biarkan wanita ini duduk sejajar dengan anak kita, memangnya kenapa? Mereka juga manusia seperti kita.”
“Mereka tidak sejajar dengan kita Mas.”
“Kamu yang membuat tidak sejajar.”
“Mama, jangan bertengkar. Bibi Menur akan ada di sini bersama Ana.”
“Kamu masih nekat Ana?”
“Aku ingin dia, aku merasa senang bersama dia.”
“Kamu keterlaluan!”
“Apa tidak boleh? Kalau tidak boleh, Ana akan bilang pada nenek.”
“Apa?” nyonya Baroto melotot marah. Ana punya senjata untuk memaksanya. Kalau sampai ibunya tahu Ana disia-siakan, maka sang ibu akan memarahinya. Itu yang kemurian membuat kemarahan sang nyonya menjadi surut.
“Terserah kamu saja!” kata nyonya Baroto sambil masuk ke dalam. Tak lupa ia menghentakkan kakinya karena kesal.
Ana tersenyum.
“Bukankah Papa mengijinkan bibi Menur tinggal di sini?”
“Tentu saja Ana, asal Ana senang, papa mesti mengijinkan.”
Tapi Menur yang sudah berdiri di luar, menggelengkan kepalanya.
“Non Ana jangan memaksakan kehendak. Kalau mama tidak suka, NOn Ana harus menurut.”
“Mengapa bibi memanggil aku non Ana? Panggil namaku seperti sebelumnya.”
“Kita berbeda derajat non.”
“Aku tidak tahu tentang derajat. Aku mau bibi,” kata Ana sambil memeluk Menur yang sudah berdiri di luar teras.
Sementara itu Rahman yang melihat adegan itu merasa ada sesuatu yang menusuk perasaannya. Gadis kecil yang cantik dan berpakaian bagus itu tidak merasa jijik memeluk ibunya yang pakaiannya kumal dan mungkin juga tidak berbau wangi. Sedangkan dirinya tak sedikitpun pernah melakukannya. Ia selalu merendahkan ibunya. Ibu yang melahirkannya dengan taruhan nyawa, yang meneteskan keringat demi dirinya. Itu kata-kata Baroto yang belum lama didengarnya.
Sekarang, ketika ia mendengar ibunya direndahkan, rasa sakit serasa menusuk dadanya. Tak rela. Ada yang berubah pada dirinya. Baroto menyadarkannya, saat dia berbohong dan ketahuan.
Rahman maju, dan memegangi tangan sang ibu.
“Ibu, ayo pulang,” katanya lembut.
Ana baru sadar kalau ada orang lain di situ. Demikian juga Menur. Ia tak menyangka bahwa Rahman menyusulnya. Ia heran Rahman menyapanya lembut.
“Kamu siapa?” tanya Ana sambil menatap Rahman
“Ini adalah ibuku. Walaupun hina, dia adalah ibuku.”
Ana menatap Menur, meminta jawaban, apakah apa yang dikatakan anak laki-laki itu benar, sementara Baroto menatap Rahman sambil tersenyum. Ia merasa lega, semua perkataanya berhasil masuk ke dalam sanubarinya.
Menur yang terkejut melihat sikap Rahman, kemudian merangkul pundaknya.
“Ayo kita pulang, Nak,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.
“Bibi, jangan pergi!’ pekik Ana sambil mengejarnya.
“Ana, jangan begini. Kamu punya keluarga yang sangat perhatian sama kamu.”
“Tapi aku mau Bibi,” rengek Ana, sambil menangis.
“Jangan begini Ana, bibi tidak pantas tinggal di sini.”
“Bibi tidak boleh pergi.”
Baroto mendekat, berusaha menenangkan hati Ana.
“Ana, kali ini biarlah bibi Menur pulang, biar dia pikirkan permintaan kamu, karena bibi juga punya anak sendiri. Besok kita ajak dia bicara lagi.”
“Dia takut pada mama.”
“Nanti papa bicara sama mama, sudah, jangan menangis. Papa yakin mama akan mengijinkan. Kita tinggal membujuk bibi Menur supaya mau. Ya?”
Ana mengangguk sambil mengusap air matanya.
Menur dan Rahman sudah berjalan, menuju keluar halaman. Baroto mengejarnya. Ia berbisik di telinga Menur.
“Apakah dia anakku?”
Menur terus melangkah, tapi Baroto dengan nekat mengikutinya.
“Iya apa bukan? Katakan terus terang.”
“Bukan. Mengapa kamu begitu yakin?”
“Aku merasakan sesuatu ketika bersamanya. Naik kuda berdua, makan berdua.”
”Jangan mengada-ada. Kamu membuatku sakit karena terhina. Memang aku hanya orang rendahan, mana pantas duduk bersama dengan keluarga konglomerat seperti kalian?”
“Mengapa mengalihkan pembicaraan? Pertanyaanku bukan itu.”
Baroto tadi hanya berbisik, karena tak mau Rahman mendengarnya. tapi kemudian ia berkata dengan nada biasa. Rahman juga tak memperhatikan pembicaraan itu. Ia tahu sang ibu sudah kenal baik dengan om ganteng yang kaya raya itu. Jadi ia membiarkannya. Yang jelas perasaan Rahman kepada ibunya sudah berbuah. Bukan hanya karena perkataan Baroto saat makan, tapi sikap putri kecil ana keluarga kaya itu yang begitu akrab dengan ibunya, merangkulnya tanpa merasa jijik padahal bajunya bagus dan ibunya hanya memakai baju kumuh. Tiba-tiba saja Rahman merasa sakit hati ketika mendengar ibunya direndahkan. Rahman sebenarnya anak baik. Ia hanya terpengaruh teman-teman sekolahnya, yang merendahkan temannya yang bukan anak keluarga kaya. Rahman tak mau dirinya juga direndahkan, lalu ia menyesal mengapa terlahir dari keluarga miskin. Bahkan ibunya menjadi pemulung. Itu yang membuat sifatnya berubah, dan tak merasa bahwa telah menyakiti hati ibunya. Tapi entah mengapa, ia bertemu seorang Baroto, om ganteng yang baik, lalu bisa membuka hatinya, menyadari kesalahannya. Karenanya ia menggandeng tangan sang ibu erat-erat di sepanjang perjalanannya. Perubahan itu membuat Menur terkejut, tapi dia juga bahagia. Tangan kecil itu menggenggam jemarinya dengan hangat, dan kehangatan itu menyusuri setiap aliran darahnya. Apapun yang terjadi, Rahman ternyata menyayanginya.
***
Baroto kembali ke rumah, ketika mendengar jawaban Menur yang membuatnya kecewa. mendapati Ana sedang menangis meraung-raung. Rumi kewalahan membujuknya.
“Ana, berhentilah menangis.”
“Ana mau bibi Menur. Ana mau bibi Menur.”
“Bibi Menur sedang mengantarkan anaknya pulang. Nanti papa akan bicara lagi sama bibi Menur. Ya?”
“Bibi Menur tidak mau karena mama memarahinya. Mama jahat. Bibi Menur pasti pengin marah tapi tidak berani.”
“Tenanglah, tidak apa-apa., nanti papa bantu membujuknya.”
“Tapi dia pasti tidak mau. Papa tidak akan berhasil.”
“Mengapa kamu berkata begitu?”
“Mama sudah memarahinya.”
Lalu Ana menangis semakin keras. Sedangkan nyonya Baroto tak mau keluar dari kamarnya.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Baroto dan Ana bergegas keluar karena itu suara mobil mertuanya.
Sang ibu mertua turun lalu bergegas menghampiri Ana.
“Cucu nenek, mengapa menangis? Siapa berani membuat cucuku menangis?”
“Nenek, mama jahat sekali.”
“Oh ya? Mamamu melakukan apa? Kamu dijewer? Dicubit?”
“Tidak. Mama memarahi bibi Menur.”
“Siapa bibi Menur?”
“Ana mau bibi Menur menjadi pengasuh Ana, tapi mama tidak ijinkan.”
“Kamu kan sudah punya Rumi?”
“Aku juga mau bibi Menur?”
“Siapa dia? Mengapa istrimu tidak mengijinkan?” tanya sang mertua sambil menatap menantunya.
“Dia seorang pengais sampah,” Ana yang menjawab kemudian.
“Apa? Pengais sampah? Mengapa kamu ingin pengasuh seorang pengais sampah? Kamu boleh minta apa saja, tapi jangan yang aneh-aneh,” katanya sambil duduk bersama di ruang tengah.
“Dia baik, dia sangat baik. Lagipula Ana kasihan, dia mencari botol kosong setiap hari, untuk sekolah anaknya.”
“Seperti apa sih dia?”
“Pokoknya dia baik, nenek harus memarahi mama,” kata Ana sambil menggoyang-goyang tangan neneknya.
“Mana mama kamu, panggil kemari.”
Ana segera berlari ke kamarnya. Harapan untuk mendapat ijin dari mamanya akan terwujud, karena ia yakin sang nenek akan membelanya.
***
Sesampai di rumah, Menur melihat bahwa makan siang yang disiapkan sejak sebelum berangkat untuk menemui Ana, masih belum tersentuh.
“Rahman, mengapa kamu tidak makan? Ibu hanya membeli telur, dan_”
“Rahman sudah makan bersama om ganteng.”
Menur membelalakkan matanya.
“Ibu belum bertanya, mengapa tadi kamu bisa bersama dia.”
“Tadi om ganteng datang ke sekolah, lalu mengajak Rahman makan di restoran. Lalu diajaknya ke rumahnya yang bagus itu.”
“Ibu kira kamu sudah pulang makan, lalu pergi bersama dia.”
“Tidak. Karena om ganteng, Rahman menyesal telah menyakiti hati ibu.”
“Karena itulah sikapmu pada ibu berubah?”
“Rahman juga ingin marah melihat nyonya kaya itu memarahi Ibu.”
Menur merangkul anaknya dengan air mata berlinang.
“Tapi mulai besok kamu tidak boleh lagi pergi bersama dia,” kata Menur tandas.
***
Besok lagi ya.