Monday, June 1, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 12

  NAMAKU TETAP SENJA  12

(Tien Kumalasari)

 

Rosa menatap bu Wiguna tak berkedip. Seperti gampang. Laki-laki lebih suka mengejar daripada dikejar? Harus menjadi orang yang dikejar, bukankah harus menarik? Harus cantik? Harus … dan banyak harus yang belum tentu bisa dilakukan.

“Bagaimana supaya laki-laki mengejar perempuan?”

“Dia harus baik, pastinya. Cantik, tapi cantik itu bukan hanya di luarnya saja. Harus luar dalam.”

“Cantik dari luar, itu mudah.”

“Betul, cantik dari dalam, banyak hal yang bisa dilakukan. Perilaku yang baik, yang menawan, budi pekerti yang halus, penuh kasih sayang.”

“Susah amat,” keluh Rosa.

“Tidak mudah mencapai sesuatu agar bisa berhasil. Kamu harus sabar. Dan satu yang kamu harus yakin, bahwa jodoh itu tidak usah dicari. Kalau memang Allah memberikan jodoh untuk kamu, maka dia akan datang sendiri.”

“Hallo, Rosa, sudah lama kamu datang?” sapa pak Wiguna yang tiba-tiba sudah ada di ruangan dimana mereka berbincang.

Wajah pak Wiguna semringah, begitu senang melihat Rosa yang diyakininya bakal menjadi menantunya.

“Mana Arka?” tanya Rosa tanpa basa basi.

“Maaf Rosa, Arka tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, jadi hanya om yang pulang. Apa kamu kecewa?”

“Sedikit. Tapi senang melihat Om datang.”

“Sedang berbincang tentang apa ini sama tantemu?”

“Banyak hal.”

“Bu, sudah disiapkan makan siang untuk kita makan bersama?”

“Bibik sedang menyiapkan. Sebentar lagi kita bisa makan bersama.”

“Sajikan yang enak untuk calon menantu kita. Ini aku bawa ayam goreng untuk pelengkap,” kata pak Wiguna sambil memberikan sekotak ayam goreng kepada istrinya, yang kemudian membawanya ke belakang.

“Kamu ini dari mana?”

“Saya hanya jalan-jalan, terus mampir. Pengin ketemu Arka, tapi kalau di kantor, Arka suka marah. Jam kerja tidak boleh diganggu, katanya."

“Dia memang begitu. Kalau ingin kemari, datanglah sore.”

“Iya, lain kali Om, ini tadi juga karena sedang suntuk di rumah sendirian.”

“Memangnya papa-mama tidak ada?”

“Papa ke kantor, mama sedang arisan.”

“Kalau begitu ketika sedang suntuk, main kemari saja. Tantemu jarang pergi. Dia tidak bisa terlalu lelah karena darah tingginya sering kumat."

“Baiklah, berbincang dengan tante juga bagus."

Padahal Rosa sebenarnya kesal pada bu Wiguna. Dia kelihatan sekali tidak mendukung keinginannya untuk bersanding dengan Arka. Malah memberi petuah-petuah yang sulit dilakukan.

Rosa anak manja yang semua keinginannya harus dituruti. Ia tidak bisa tenggang rasa. Kalau dia mau, dia tak akan peduli apapun. Semua keinginan harus terpenuhi. Dia juga tak bisa sabar. Semuanya harus instan. Karenanya anjuran untuk sabar sangat memberatkannya.

“Ayo makan, semuanya sudah siap,” kata bu Wiguna yang baru keluar dari ruang makan.

“Ayo Rosa. Kita adalah keluarga, jangan sungkan. Ketika kami kesana juga dijamu secara istimewa. Kami juga dimanjakan dengan makanan-makanan yang enak luar biasa. Ayo.”

Rosa tidak sungkan. Ia ingin berlama-lama ada di rumah itu, agar bisa bertemu Arka saat dia pulang kantor nanti.

***

Begitu sampai di rumah, Senja senang melihat simboknya ada di rumah.

“Iya, tadi simbok pergi hanya sebentar, soalnya menunggu pesanan tuan muda itu.”

“Sekarang sudah dikirim berasnya?”

“Sudah. Tadi dia juga kesini, lalu ketika berasnya tiba, dia menelpon anak buahnya yang kemudian mengambil berasnya.”

“Harusnya kita mengirim ke sana ya Mbok, kan dia yang beli.”

“Iya sih, tapi bagaimana mengirim satu kwintal beras? Harus membayar angkutan. Sayang uangnya kan?”

“Bisa dikirim sedikit-sedikit. Kalau karung duapuluh limaan kilo itu kan Senja bisa membawanya.”

“Ya sudah, kali ini biarkan saja. Lain kali kita pikirkan untuk mengirimkannya.”

“Harganya diperhitungkan dengan ongkos kirimnya kan Mbok.”

“Sungkan, nanti kelihatan mahal. Tapi sebenarnya juga nggak apa-apa. Dia membayar lebih banyak untuk beras itu. Tadi simbok ingin mengembalikan uang sisanya, tapi dia tidak mau.”

“Pastilah, dia itu memang begitu.”

“Mengapa dia sangat baik kepada kita ya Nduk.”

“Senja juga berpikir begitu.”

“Ayo kamu ganti pakaian dulu, adikmu sudah menunggu untuk makan. Untunglah kamu cepat pulang.”

“Tidak ada tambahan pelajaran hari ini,” kata Senja yang langsung beranjak ke belakang.

***

Rosa berada di rumah keluarga Wiguna sampai sore. Harapannya bisa ketemu Arka saat Arka pulang kantor, tapi ternyata Arka tidak segera pulang.

“Heran, mengapa anak itu belum juga pulang, sudah lewat jam kantor,” omel pak Wiguna.

“Arka itu doyan bekerja, pasti dia lembur,” sambung bu Wiguna.

“Biar aku telpon dia,” kata pak Wiguna yang segera menelpon Arka. 

Tapi ponselnya mati. Lalu dia menelpon kantor. Ternyata Arka sudah pulang sejak tadi.

“Anak itu sangat keterlaluan. Sudah keluar dari kantor, tapi tidak segera sampai di rumah. Pergi ke mana saja dia?”

“Mungkin mampir beli apa … gitu,” kata sang istri.

“Ya sudah Om, saya pulang saja dulu, lain kali saya akan kemari lagi.”

“Sayang sekali tidak bertemu Arka. Besok Minggu datanglah kemari. Arka sedang senang-senangnya bersepeda.”

“Paling ditinggal lagi.”

“Datanglah lebih pagi. Dia tak mungkin menolak sepedaan bersama.”

“Baiklah, nanti saya atur waktunya.”

***

Arka sudah tahu kalau Rosa pasti akan menunggu, karenanya dia tidak langsung ke rumah. Hanya satu tujuannya, pergi ke rumah Senja. Tumben saat pulang kantor dia tidak ketemu Senja yang pulang sekolah. Ia tidak tahu kalau Senja pulang awal.

Ketika ia hampir sampai di rumah Senja, tiba-tiba ia melihat mbok Mangun berada di depan teras seseorang. Ia menghentikan mobilnya agak ke samping dari pagar rumah itu. Di depan rumah tertulis bahwa itu rumah RT di kampungnya. Mbok Mangun mencicil uang sampah? Seperti dugaannya, dia tidak sedang mencicil uang sampah. Dari jendela kaca mobilnya dia melihat wajah laki-laki setengah tua yang menatap bengis sambil memegang uang yang entah berapa banyaknya. Tak ada pandangan ramah seandainya mbok Mangun dianggap sebagai tamu. Ketika mbok Mangun membalikkan tubuhnya, ia melihat wanita itu sedang berjalan sambil menundukkan wajahnya lalu mengusap matanya.

Arka menjalankan mobilnya lebih maju, menunggu mbok Mangun lewat. Ketika sampai di samping mobil, ia menyapanya.

“Mbok, dari mana?”

Mbok Mangun tentu saja terkejut.

“Mas .. Tuan?”

“Sudah bener mas, di tambah tuan.”

“Mas Arka kok di sini?”

“Saya mau ke rumah, melihat Simbok, lalu saya tunggu di sini. Naiklah,” kata Arka sambil membukakan pintu.

“Nggak usah Mas, saya jalan saja. Rumah saya kan dekat.”

“Tidak apa-apa, sekalian saya juga mau ke sana.”

Mbok Mangun terpaksa masuk ke dalam.

“Simbok dari mana?” tanya Arka ketika mobil sudah dijalankan.

“Dari … warung … ini, beli bumbu,” kata simbok yang sebelum ke rumah pak RT memang sudah beli sesuatu di warung dekat situ.

“Senja sudah pulang?”

“Tadi pulang siang. Bagaimana berasnya? Sudah diterima?”

“Sudah. Kata ibuku, nasinya enak.”

“Syukurlah.”

“Mas Arka dari mana?”

“Pulang kantor. Cuma mau mengirimkan ini, nasi gudeg untuk di makan malam nanti.”

“Lhoh, mas Arka itu kok selalu begitu. Mengapa selalu repot-repot untuk keluarga saya?”

“Tidak repot kok, kebetulan melihat tukang jualan di pinggir jalan. Ini, nanti Simbok bawa, saya langsung pulang ya.”

“Waduh, banyak banget. Baunya gurih.”

“Kalau suka, kapan-kapan saya belikan lagi.”

“Jangan begitu Mas, kami sungkan lho.”

“Jangan sungkan, anggap saja saya adalah keluarga.”

“Ya ampun, mana mungkin simbok punya keluarga kaya raya seperti mas Arka?”

“Memangnya tidak boleh?”

Mobil Arka sudah sampai di depan rumah simbok. Arka membukakan pintu, mempersilakan simbok turun.

“Saya langsung ya Mbok, sudah sore. Lain kali saja saya main lagi kemari. Oh ya, besok Minggu lagi saya mau sepedaan kemari.”

“Terima kasih banyak ya Mas.”

***

Hari Minggu itu Rosa hampir tidak tidur semalaman. Sebelum terdengar adzan Subuh, ia sudah keluar dari rumah dengan membawa sepedanya. Ia berharap masih bisa bertemu Arka lalu bersepeda bersama. Ia harus memaksa Arka agar menerima kebersamaan itu.

Tapi agak jauh dari rumah Arka, Rosa melihat Arka sudah keluar dari halaman rumah. Ada keinginan untuk mengejarnya, tapi diurungkannya.

“Lebih baik aku ikuti saja dari jauh, ke mana dia akan pergi sepagi ini,” gumam Rosa yang kemudian mengikuti Arka dari belakang.

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 12

   NAMAKU TETAP SENJA  12 (Tien Kumalasari)   Rosa menatap bu Wiguna tak berkedip. Seperti gampang. Laki-laki lebih suka mengejar daripada d...