NAMAKU TETAP SENJA 50
(Tien Kumalasari)
Simbok keluar dari dalam rumah, heran melihat Senja berbincang dengan pesuruh Arka lalu meminjam ponselnya.
“Ada apa Nja?” tanya Simbok.
Senja tidak langsung menjawab, lalu mengajak simboknya duduk di bangku depan rumah.
“Berasnya sudah beres kan?”
”Iya, sudah, kan sudah dibawa pergi.”
“Kamu tadi ngapain? Telpon-telponan segala. Sama siapa? Mas Arka sudah membayar lunas, dan seperti biasa ada sisanya. Pasti besok juga tidak mau kalau Simbok kembalikan.”
“Sedang ada masalah Mbok.”
“Masalah apa?”
“Di tempat Senja bekerja itu, Senja mendengar sesuatu. Anak pemilik salon itu adalah wanita yang saya lihat sedang berjalan bersama tuan Wiguna.”
“Tuan Wiguna itu kan ….”
“Ayahnya mas Arka Mbok.”
“O, jadi yang bersama tuan Wiguna itu anak pemilik salon? Siapa namanya?”
“Namanya Tantrina. Senja juga baru tahu.”
“Memangnya kenapa Nja, kamu tidak usah ikut campur urusan orang. Sudah biasa kalau orang kaya punya istri lebih dari satu.”
“Bukan begitu Mbok, Tantrina dan ibunya itu punya maksud buruk terhadap tuan Wiguna. Masa aku harus diam saja. Aku harus mengatakannya kepada mas Arka agar tidak menjadi berlarut-larut. Kasihan keluarga Wiguna.”
“Simbok tidak mengerti maksudmu … maksud buruk yang bagaimana?”
“Tantrina mengaku hamil, tapi yang dikandung itu bukan anak tuan Wiguna.”
“Ya ampuuun, mereka bohong terhadap tuan Wiguna?”
“Masalahnya lagi mereka memoroti harta tuan Wiguna. Minta agar rumah yang dibeli harus atas namanya, dengan dalih anak yang dikandungnya adalah darah daging tuan Wiguna. Mereka juga meminta banyak barang. Pak Wiguna kelihatannya juga membesarkan salon itu yang tadinya hanya salon kecil.”
“Waduh, jahat sekali mereka. Lalu kamu mau mengatakan semuanya kepada mas Arka?”
“Iya Mbok, mas Arka sangat baik kepada kita. Kita harus mengatakan semuanya, jangan sampai ayahnya terjerumus lebih jauh dalam kebohongan itu.”
“Kamu benar Nja. Lalu tadi kamu sudah mengatakannya kepada mas Arska?”
“Belum Mbok, kan ada orang lain di situ tadi. Aku minta agar mas Arka datang kemari, jadi aku bisa bercerita lebih jelas.”
“Ya Tuhan, ada orang sejahat itu.”
“Tantrina itu masih muda dan cantik. Pantas saja tuan Wiguna tergila-gila. Semoga setelah semuanya terbuka, tuan Wiguna bisa sadar.”
***
Sore setelah Senja pulang, bu Mery menelpon Rosa. Ia mengatakan tentang kerja samanya yang belum bisa terlaksana.
“Kamu kelamaan Mbak, segera selesaikan, jangan lama-lama. Aku ingin gadis itu hancur. Dia menyakiti aku dengan merebut kekasihku. Dia harus merasakan sakit melebihi sakit yang aku rasakan.”
“Iya, aku tahu. Besok baru akan aku ajari memijit pelanggan, tapi tampaknya dia enggan melayani pelanggan laki-laki.”
“Jangan biarkan dia melawan, kamu harus bisa memaksanya.”
“Akan aku coba, tapi duitnya harus kamu tambahin, aku masih butuh banyak barang.”
“Tentu, begitu berhasil kamu akan mendapatkan sebanyak yang kamu minta. Jangan kelamaan. Keburu dia minta resign kalau kamu tidak segera mengikatnya.”
“Resign .. tidak, dia kelihatan suka..”
“Kamu tadi bilang kalau dia tidak suka melayani pelanggan laki-laki, kalau tiba-tiba dia pergi?”
“Iya juga sih. Baiklah, akan segera aku lakukan, kamu tidak usah khawatir. Tapi jangan lupa kekurangannya.”
“Iya … iya, khawatir amat sih.”
Bu Mery tersenyum, ia pasti bisa melakukannya, dan uang akan segera diterimanya.
“Gadis itu amat polos, gampang sekali mengakalinya, aku kira semuanya akan segera bisa dilakukan. Pak Dian akan segera aku kabari. Dia pasti suka,” kata batin bu Mery, sambil menyambut pelanggan yang baru saja datang.
***
“Mengapa Arka belum juga pulang?” tanya bu Wiguna sambil menemani suaminya minum minuman hangat dan makan cemilan buatan bibik.
“Di kantor memang sedang banyak pekerjaan. Ia harus memeriksa semuanya, menjelang akhir tahun.”
“Apa dia akan pulang malam?”
“Tidak, aku kira dia akan segera pulang.”
“Yang tadi telpon siapa?”
Pak Wiguna agak kaget mendengar pertanyaan istrinya. Biasanya dia tak pernah ingin tahu ketika dia sedang bertelpon dengan siapa saja.
“Yang tadi itu?”
“Iya, Bapak keihatan menjawab dengan kesal.”
“O, dia … orang, memang membuat kesal, tidak usah dipikirkan.”
Kalau sudah begitu bu Wiguna tak ingin bertanya lebih lanjut, walau ada pemikiran aneh ketika dia mendengarkan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir bu Wiguna.
“Aku kok sudah lapar, padahal masih agak sore ya Bu.”
“Apa tidak menunggu Arka sekalian?”
“Kok belum pulang, coba aku telpon dulu,” kata pak Wiguna yang segera mengangkat ponselnya. Tapi Arka menjawab bahwa dia sedang ada urusan.
“Jadi kamu masih di kantor?”
“Sudah keluar dari kantor Pak, tapi masih ada urusan.”
“Ibumu menunggu untuk makan malam, bapak juga sudah lapar.”
“Bapak sama Ibu makan saja dulu, nanti Arka makan sendiri tidak apa-apa.”
“Urusan apa sih? Penting? Apa kamu tidak capek, seharian di kantor."
“Agak penting. Bapak sama Ibu makan saja dulu.”
Arka menutup ponselnya.
“Belum bisa pulang?”
“Katanya ada urusan penting, dia minta agar kita makan saja dulu.”
“Baiklah kalau begitu.”
***
Hari memang sudah gelap ketika Arka sampai di rumah mbok Mangun. Ketika dia datang, yang menunggu di bangku depan rumah hanyalah Senja. Tampaknya ia memang sedang menunggu. Lampu di depan rumah tampak berkelap kelip. Walau lampu listrik, tapi nyalanya bukan yang sangat terang. Tapi cukup untuk menerangi halaman rumah mbok Mangun yang sempit.
“Maaf Mas, aku menyusahkan Mas.”
“Tidak apa-apa.”
“Mas baru dari kantor?”
“Iya, agak banyak pekerjaan di hari-hari terakhir ini.”
“Maaf ya Mas, saya terpaksa meminta Mas untuk datang, karena aku ingin mengatakan sesuatu yang amat penting. Barangkali sangat penting untuk keluarga Mas sendiri.”
Arka manatap Senja yang duduk di sampingnya. Ia melihat keseriusan dalam berkata-kata.
“Ada apa?”
“Ini tentang wanita yang saya lihat bersama tuan Wiguna di perumahan baru beberapa waktu yang lalu.”
“Kamu mengenalnya?”
“Tidak, tapi aku sudah tahu, namanya Tantrina. Ternyata dia anak tunggal pemilik salon di mana aku bekerja.”
“Oh ya?”
“Ada sesuatu yang Mas harus tahu.”
Lalu Senja mengatakan semua yang didengarnya. Tenteng keinginan keluarga Tantrina untuk terus memeras tuan Wiguna, dan tentang bayi yang dikandungnya, yang ternyata bukan darah daging tuan Wiguna.
Arka terkejut. Bukan karena wanita itu memoroti harta ayahnya, karena hal itu sudah dalam dugaannya, tapi tentang bayi yang dikandung wanita itu adalah bukan darah daging ayahnya. Dan kehamilan itulah yang dipergunakan untuk memaksa ayahnya agar mau menuruti semua kemauannya.
“Maaf Mas, bukan maksud saya menceritakan sebuah aib, tapi_”
“Tidak Senja, kamu melakukan hal yang benar. Kamu menyelamatkan keluarga ayahku. Aku harus mengucapkan terima kasih atas semuanya..”
“Sama-sama Mas, tidak usah berterima kasih, karena aku melakukan hal yang semestinya."
Tapi Arka tidak segera pulang, ia menanyakan di mana Senja bekerja, dan apakah Senja menyukai pekerjaan itu. Arka agak terkejut mengetahui bahwa tempat Senja bekerja sangat jauh dari rumahnya, dan ia hanya naik sepeda kayuh.
“Senja, sebaiknya kamu resign dari sana, bekerjalah di kantor aku, lebih dekat.”
“Masa aku bekerja di kantoran mas, mas Arka lupa kalau aku hanya lulusan SMA?”
“Nanti bisa diatur. Kamu akan membantu pekerjaan sekretaris aku, kamu bisa belajar sebelumnya. Kasihan kalau kamu bekerja jauh-jauh begitu.”
“Benarkah?”
“Sebenarnya hal ini sudah aku pikirkan sejak lama, sejak kamu mengatakan tidak ingin melanjutkan kuliah. Hanya saja karena kesibukan aku, jadi aku belum sempat mengatakannya pada kamu.”
Senja tampak senang mendengarnya.
“Tapi aku sungkan kalau tiba-tiba keluar.”
“Besok kamu bisa masuk kerja, sekalian ijin untuk berhenti. Hari berikutnya kamu sudah bisa masuk ke kantor aku.”
“Baiklah kalau begitu. Besok aku minta ijin dulu, tidak enak kalau tiba-tiba tidak masuk atau langsung keluar.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah .....
ReplyDeleteEpisode 50 sudah tayang.
Matur nuwun mBak Tien.
Salam seger waras, seduluran sak lawase 🤝🤝🙏
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah "NAMAKU TETAP SENJA 50" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng dalu 🙏
🌵🦩🌵🦩🌵🦩🌵🦩
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung eNTeeS_50 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🌵🦩🌵🦩🌵🦩🌵🦩
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhandulilah, maturnuwun bu Tien. .. smg bu Tien sll sehat , bahagia, sejahtera dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteTrmksh mb Tien🙏
ReplyDeleteMks bun .....selamat malam....salam sehat
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang, sehat selalu selamanya bunda...aamiin.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat walafiat. Begitu pun keluarga semua pada sehat.
Mudah" an Senja tidak ada masalah d tempat kerja SALON .
Arka terimakasih sudah menerima Senja kerja. Semoga lancar Senja. Risa tidak menghalang halangi untuk keluar
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,50 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah cerbung NTS sudah hadir,
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien.
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲🤲
Alhamdulillah cerbung NTS sudah hadir
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲🤲
Alhamdulillah,senja dah hadir, semoga senja selamat dari akal liciknya Rosa yg akn menghancurkan senja, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, salam sehat, bahagia, dan aduhai dr Yk....
ReplyDeleteYerima ksih bunda cerbungnya..slm seroja sll dan aduhai unk bunda 🙏🥰🌹❤️
ReplyDelete🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 50 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDelete