Thursday, July 2, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 38

 NAMAKU TETAP SENJA  38

(Tien Kumalasari)

 

Arka meletakkan ponselnya dengan heran. Sudah sejam lebih ayahnya keluar dari rumkah sakit, tapi belum sampai juga.

“Bagaimana, ayahmu masih di rumah sakit?” tanya sang ibu.

“Kata pak Daryono, bapak sudah pulang sejak sejam lebih yang lalu, entah ke mana sampai sekarang belum sampai di rumah.”

“Perasaan Ibu kok tidak enak ya Ka.”

“Ibu jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin bapak mampir ke mana, gitu.”

“Di malam seperti ini mampir ke mana, warung-warung juga pasti sudah tutup. Jangan-jangan mobilnya rewel atau apa.”

“Kalau mobilnya rewel pasti bapak mengabari ke rumah, atau ke Arka.”

“Kalau begitu kenapa? Sungguh perasaan Ibu terasa tidak enak. Entah kenapa ini Ka.”

“Itu karena Ibu memikirkan yang tidak-tidak. Sekarang Ibu tidur saja, Arka akan berusaha mencarinya.”

“Mencari ke mana?”

“Bapak kan pamitnya ke rumah sakit, ya Arka akan menelusuri jalan yang kira-kira dilewati bapak. Barangkali ban kempes atau apa. Pokoknya Ibu tenang saja dan pergi tidur. Nanti tensi Ibu naik lhoh.”

“Iya, baiklah. Ibu mau tidur saja.”

"Arka berangkat ya Bu."

“Baiklah, kabari Ibu kalau ada apa-apa, atau kalau kamu sudah bertemu ayahmu.”

“Iya, baiklah.”

***

Tapi di sepanjang jalan yang kira-kira dilalui sang ayah mulai dari rumah sampai ke rumah sakit, Arka tak menemukan jejak sang ayah. Ia bahkan sudah berputar, barangkali ayahnya melewati jalan yang lain. Tak ada juga.

Arka menelponnya. Tapi seperti tadi ketika menelpon dari rumah, tetap saja ponsel itu mati.

“Ke mana ya bapak?” gumamnya berkali-kali.

Lalu ia memasuki halaman rumah sakit, barangkali pak Daryono mengerti ke mana ayahnya pergi, walau tadi mengatakan kalau sang ayah sudah pulang.

Arka terkejut, ketika memarkir kendaraannya, ia melihat mobil ayahnya masih terparkir di sana.

“Itu kan mobil Bapak?”

Arka turun dan mendekatinya, barangkali ia salah, karena banyak mobil serupa. Tapi ia benar-benar yakin bahwa itu mobil sang ayah.

“Berarti Bapak masih berada di sini. Mengapa pak Daryono mengatakan kalau bapak sudah pulang bahkan sudah berjam-jam yang lalu sejak aku menelponnya?”

Arka masuk ke dalam, tapi di lobi ia melihat pak Daryono dan istrinya sedang menuju keluar.

“Lho, Arka? Kamu kemari lagi? Rosa sudah bisa tidur setelah dokter memberinya obat, karena dia sambat kesakitan terus menerus.”

“Saya mencari bapak.”

“Bapakmu? Bukankah aku sudah mengatakan kalau ayahmu sudah pulang sejak tadi? Masa belum sampai di rumah?”

“Belum Om, saya malah melihat mobil bapak masih terparkir di sana.”

“Kok aneh?” kata pak Daryono yang melihat ke arah jari tangan Arka menunjuk.

“Masa dia lupa membawa mobil lalu pulang naik taksi atau jalan kaki?” sambung bu Daryono.

“Saya juga bingung.”

“Coba kamu lihat, barangkali bannya kempes lalu mobilnya ditinggal, kemudian beliau naik taksi.”

“Kalaupun begitu pasti ya sudah sampai rumah kan Pa,” sambung bu Daryono lagi.

“Iya juga sih.”

Walau begitu Arka tetap mendekati mobil sang ayah, sementara pak Daryono dan istrinya kemudian pamit untuk pulang.

“Om pulang dulu ya Ka, barangkali ayah kamu sudah sampai di rumah.”

Arka bergegas mendekati mobil sang ayah, memeriksa seluruh ban dan bodi mobilnya barangkali karena menabrak sesuatu lalu tak bisa jalan. Tapi tak ada yang mencurigakan. Mobil itu utuh tak kurang suatu apa.

Arka bingung menemukan jawabnya. Ketika bertanya kepada penjaga, mereka juga tidak tahu menahu tentang pemilik mobil itu.

Arka pulang dengan benak penuh tanda tanya.

***

Ketika ia sampai di rumah, ia melihat sang ibu masih duduk di ruang tengah.

“Ibu bagaimana, Arka minta Ibu tidur saja, malah duduk di sini. Ini kan sudah malam, Bu.”

“Mana ayahmu? Pergi ke mana dia?”

“Arka juga heran.”

“Tidak ketemu?”

“Mobilnya masih ada di halaman rumah sakit.”

“Berarti ayahmu masih ada di sana, ngobrol sama pak Daryono. Ayahmu memang suka begitu.”

“Ya tidak Bu, pak Daryono kan sudah bilang kalau bapak sudah pulang.”

“Lalu ke mana ayahmu?”

“Arka juga bingung. Mobilnya ditinggal di rumah sakit, tapi bapak sudah tidak ada di sana.”

“Ya Allah, apa yang terjadi pada suami hamba?” bu Wiguna mulai panik.

“Ibu jangan bingung. Bapak bukan anak kecil. Mungkin dia ketemu temannya dan sedang ngopi dipinggir jalan seperti kesukaannya saat masih muda.”

“Begitu sederhana? Mengapa ponselnya dimatikan?”

“Mungkin tidak dimatikan tapi mati sendiri karena bapak lupa ngecas ponselnya.”

Bu Wiguna diam, tapi ia merasa ragu untuk mempercayai apa yang dikatakan anaknya. Lupa ngecas? Sesore tadi ia melihat ponsel suaminya di cas di meja dekat telpon rumah.

“Ibu tidur saja dulu, saya akan keluar lagi untuk mencari.”

“Biar Ibu tunggu di sini saja.”

“Jangan Bu, tidur di kamar saja. Biar lebih enak.”

“Tidur di sofa ini juga enak, pergilah lagi cari ayahmu,” kata bu Wiguna yang belum hilang rasa cemasnya.

Arka tak bisa memaksa. Ia mengambil selimut dan bantal, diberikannya kepada ibunya. Setelah sang ibu berbaring ia menyelimutinya, barulah ia kembali keluar rumah dengan masih diliputi perasaan heran.

***

Arka memarkir mobilnya di sembarang tempat, kemudian dia menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Mungkin juga sang ayah sedang ngopi bersama teman lamanya, siapa tahu, dan tidak sempat mengabari karena ponselnya mati. Lalu ia berhenti di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Ada musik bergaung di perutnya, lalu dia ingat bahwa sejak siang dia belum makan. Ia memesan kopi dan makanan seadanya untuk mengganjal perutnya sambil terus berpikir. Kental dan manis serta harumnya kopi sama sekali tak membuatnya merasa nikmat. Makanan yang disantapnya juga tak membuat perutnya nyaman. Yang penting perut itu diisi, lalu musik yang semula menjerit itupun berhenti.

Arka juga berpikir tentang sang ibu. Ia tahu sang ibu tak bisa menerima kabar yang tak enak. Kecemasan tentang belum pulangnya sang ayah juga pasti membuatnya gelisah, dan itu akan mempengaruhi kesehatannya. Arka ingin pulang saja, tapi tak tahu harus menjawab apa karena sang ibu pasti menunggunya dan bertanya ke mana perginya sang ayah.

Arka perlahan memasuki mobilnya dan membawanya meluncur pulang, karena tak menemukan bayangan sang ayah. Ia terus berpikir tentang jawaban yang akan dikatakannya ketika sang ibu bertanya nanti.

Ketika memasuki halaman rumah, ia terkejut melihat mobil sang ayah sudah terparkir di halaman.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, July 1, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 37

 NAMAKU TETAP SENJA  37

(Tien Kumalasari)

 

Mata Rosa membelalak marah. Semuanya membeku dalam diam, antara kaget dan tak percaya. Perawat itu tampak kebingungan. Sepertinya ia belum pernah masuk ke ruangan rawat Rosa. Tak apa, karena perawat tugas kan berganti-ganti. Ia tampak bingung. Berita yang menurutnya bagus menjadi suasana yang sangat mencekam.

“Apa saya salah?” suara perawat itu lirih, tampak kebingungan.

Tak ada yang menanggapi perkataannya. Lalu perawat itu keluar, dengan membawa alat suntik yang pastinya semula untuk menginjeksi pasien.

Suasana beku itu masih mencekam. Mata pak Daryono menyala, bu Daryono tampak berlinang air mata, sedangkan pak Wiguna juga tampak kebingungan.

“Pembohong! Rumah sakit ini pembohong! Aku tidak hamil! Hamil sama siapa?” Rosa lah yang berteriak.

“Diam! Teriakan kamu tak akan berarti apa-apa. Ini rumah sakit. Segala pernyataan yang dikeluarkan adalah berdasarkan pemeriksaan, dan itu mutlak. Kamu yang pembohong," sentak pak Daryono pada akhirnya.

Sekarang Rosa terisak.

“Tapi Rosa tidak hamil Pa.”

“Bukan kamu yang harus mengatakannya. Buktinya kamu dinyatakan hamil. Mau jawab apapun kamu tidak bisa ingkar.”

“Rosa mau diperiksa sekali lagi, siapa tahu mereka salah.”

“Tidak akan ada pemeriksaan ulang. Ini rumah sakit besar, kecil sekali membuat kesalahan dalam pemeriksaan.”

“Katakan siapa dia,” kata bu Daryono yang semula diam.

“Mama, aku harus menjawab apa?”

“Jawab siapa melakukannya! Kamu tidak mengerti?”

“Tapi aku tak mungkin hamil.”

“Teman-teman kamu di luar negri. Mereka menganut pergaulan bebas. Kamu hanyut dalam pergaulan itu, dan membawa noktah itu kemari, lalu mengejar laki-laki yang sama sekali tidak mencintai kamu untuk menutupi aib kamu.”

“Tidak Pa, tidak begitu.”

“Kalau tidak begitu lalu bagaimana?” suara pak Daryono semakin meninggi.

“Rosa tidak mungkin hamil.”

“Karena kamu merasa sudah meminum pil anti hamil?”

“Papa ….,” Rosa terisak semakin keras. 

Bu Daryono mendekat, dan berkata lebih lembut.

“Katakan saja sejujurnya Rosa.”

“Kalau dia tidak mau mengaku, suruh dia pergi saja dari rumah. Aku tidak mau punya anak pembohong dan melakukan perbuatan memalukan.”

Serentak semuanya kembali diam. Rosa menghentikan tangisnya, tak mengira sang ayah setega itu. Menyuruhnya pergi dari rumah? Mengusirnya? Memintanya minggat?

“Tapi aku tidak_."

“Diaamm...! Kamu memang tidak pantas dikasihani. Menyesal aku mengangkat kamu dari comberan!"

Bu Daryono terkejut. Diam-diam mencubit pinggang suaminya karena dianggapnya telah kelepasan bicara. Tapi Rosa terbelalak menatapnya, dan pak Daryono menggaruk kepalanya, mencari jawab untuk menetralisir suasana aneh yang diciptakannya.

“Papa … mengangkat aku … dari comberan?”

“Rosa, dulu waktu kecil kamu pernah jatuh di tempat kotor, ayahmu menolong kamu dan melarikannya ke rumah sakit karena kamu pingsan,” kata bu Daryono tiba-tiba. Pak Daryono menatap istrinya dengan tatapan terima kasih.

“Aku menyesal telah menolong kamu. Kalau saja aku tahu bahwa kelakuan kamu telah mencoreng nama baik keluarga, aku biarkan saja kamu waktu itu.”

Rosa kembali terisak.

“Tapi aku tidak hamil ….”

“Diam kamu. Katakan siapa pelakunya, biar Papa seret dia kemari, atau kalau kamu tidak mau mengaku, pergi saja dari rumah Papa. Kamu mmem …. kamu bukan lagi aku anggap anak,” kata pak Daryono yang sekali lagi hampir terpeleset mengatakannya.

“Tapi Papa …”

Pak Wiguna yang semula diam dan merasa tak enak dengan suasana itu, perlahan mundur dan memutuskan untuk pulang saja, karena tak ingin menyaksikan suasana yang sangat tidak mengenakkan itu.

Tapi sebelum sampai di pintu, tiba-tiba seorang perawat masuk, dan tergopoh mendekati Rosa dan kedua orang tuanya.

“Mohon maaf, Bapak, Ibu, yang masuk barusan adalah perawat baru, yang seharusnya tidak bertugas di ruangan ini, tapi di ruangan lain.”

“Ia membawa berita bohong!” teriak Rosa.

“Maaf Ibu, maaf sekali, seharusnya dia bertugas di ruang G tujuh, tapi dia masuk ke ruang B tujuh.. Itu ruang ibu Tantri Wiguna. Jadi yang hamil itu ibu Tantri.”

Ruangan kembali membeku. Rosa menghela napas lega, walau kemarahan masih membayang di matanya.

“Aku hampir diusir orang tuaku,” katanya geram sambil mengusap air matanya.

Sementara pak Daryono dan bu Daryono mendekati putrinya dan menggenggam tangannya lembut.

“Syukurlah ….” kata bu Daryono.

Sementara itu mendengar siapa yang disebut perawat itu, pak Wiguna bergegas keluar dari ruangan Rosa, tanpa pamit kepada keluarga Daryono.

Ia memburu perawat yang keluar.

“Suster … Suster tadi berkata apa?”

“Oh, iya Pak, teman saya salah kamar, maklum dia masih baru dan belum paham ruangan di rumah sakit ini.”

“Harusnya siapa yang hamil?”

“Ini pak, catatannya ,,, ibu Tantrina Wiguna. Dia yang hamil. Baru datang tadi pagi. Bapak kenal? Belum ada keluarga yang menengoknya. Katanya suaminya ada diluar kota.”

Pak Wiguna merasa disiram seember air es. Ia tentu saja mengenal nama itu.

“Tolong tunjukkan di mana kamarnya.”

“Baiklah mari Pak, di sebelah sana. Belok ke kanan.”

***

Arka sampai di rumah, mendapati sang ibu sedang duduk sendirian.

“Apa bapak pergi?”

“Ke rumah sakit. Katanya Rosa dirawat. Ibu kira kamu juga ada di sana.”

“Tadi ada di sana, tapi setelah papa mamanya datang, Arka lalu pulang.”

“Jadi ini kamu dari rumah sakit? Apa tidak bertemu ayahmu? Berangkatnya sudah kira-kira dua jam yang lalu. Lebih malahan."

“Arka tidak langsung pulang, tapi melihat keadaan Senja.”

“Senja sudah pulang ke rumah kan?”

“Iya, dia tidak mau dirawat, jadi sudah ada di rumah.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Sudah baik. Yang agak parah telapak kakinya, nggak tahu menginjak apa, luka agak dalam, jadi susah berjalan. Karena itulah dia belum bisa masuk sekolah.”

“Kasihan. Katanya Rosa yang menolongnya ketika dia dalam pelarian.”

“Iya, kan Arka sudah cerita.”

“Syukurlah, ternyata Rosa punya sisi baik.”

“Hanya saja terkadang risih Bu, tingkahnya suka nyebelin.”

“Ya sudah, tidak suka juga tidak apa-apa, jangan menjelek-jelekkan terus. Namanya orang tidak suka ya begitu, suka sebel. Tapi kamu juga tidak boleh membencinya.”

“Tidak, apalagi setelah dia mau membantu Senja, ketidak senangan Arka sudah banyak berkurang.”

“Apa kamu tidak ke rumah sakit menyusul ayahmu?”

“Tidak Bu, Arka lelah sekali.”

“Ayahmu lumayan lama. Coba kamu telpon.”

“Ibu kangen ya?” goda Arka.

“Kamu itu ada-ada saja. Hanya bertanya, kok lama perginya, entah mengapa perasaan ibu kok tidak enak.”

“Baiklah, Arka telpon dulu ya. Harusnya tadi Ibu ikut.”

“Ibu agak pusing, jadi diajak ayahmu Ibu nggak mau.”

Arka memencet nomor ayahnya, tapi berkali-kali tidak diangkat.

“Kok tidak diangkat ya Bu, sudah berkali-kali.”

“Coba kamu telpon Rosa, bisa tidak ya menerima telpon.”

Arka menelpon pak Daryono, bukan Rosa, takutnya mengganggu yang sakit. Tapi jawaban pak Daryono mengejutkannya.

“Lho, ayahmu sudah pulang sejak sejam  yang lalu. Masa belum sampai ke rumah? Sejam lebih malahan.”

***

Besok lagi ya.

NAMAKU TETAP SENJA 38

  NAMAKU TETAP SENJA  38 (Tien Kumalasari)   Arka meletakkan ponselnya dengan heran. Sudah sejam lebih ayahnya keluar dari rumkah sakit, tap...