SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 013
(Tien Kumalasari)
Menur tertegun. Tiba-tiba saja gadis kecil itu merangkulnya dengan manja. Mau tak mau Menur menyambut rangkulan itu dan mendekapnya erat.
“Ana, mengapa kamu datang kemari?”
“Aku harus ketemu Bibi. Lihat, nenek mengantarku,” katanya sambil menunjuk ke arah neneknya, yang berdiri tak jauh, dan menatap mereka sambil tersenyum.
Tiba-tiba Menur terkejut, ia seperti mengenali nenek cantik yang berwajah ramah itu. Ia sedang mengingat-ingat, ketika tiba-tiba juga si nenek memanggilnya dengan bibir gemetar.
“Kamu … aku seperti pernah melihat wajah seperti wajahmu. Dia mbak Warti. Kamu mengenal nama itu?”
“Dia ibu saya.”
Menur masih merangkul Ana dengan sebelah tangannya. Nenek itu mengenalnya?
“Nenek kenal sama bibi Menur?”
Kamu anak kakak sepupuku. Kamu Menur?”
Menur kebingungan.
“Menur, kamu lupa sama tante kamu?”
Tante. Menur agak merasa kikuk. Ia tak merasa pernah punya tante. Mendiang neneknya punya seorang adik, di mana putrinya kemudian menikah dengan orang kaya. Karena perbedaan status itu kemudian mereka terpisah dan jarang bertemu lagi. Lalu … si tante ini …
“Ya Allah, ini bulik Sasa?” Menur berteriak setelah ingat.
“Iya, benar. Aku bulikmu,” kata nenek Ana yang bernama Sasa, dan kemudian merangkul Menur dengan erat. Ana menatapnya heran. Tapi kemudian ia mengikuti neneknya masuk ke dalam rumah.
“Ini rumahmu?”
“Ya, bulik. Ini gubug saya. Silakan masuk.”
Nyonya Sasa masuk ke rumah, dan duduk di kursi sederhana yang ada di ruang depan rumah Menur.
Ia mengamati ruangan itu dan kemudian menatap Menur dengan penuh haru.
Beberapa tahun yang lalu aku pulang kampung, bertemu kedua orang tuamu. Waktu itu mereka bilang kamu pergi mencari suami kamu.
Menur hanya menunduk.
“Kamu menemukannya?”
Menur menggeleng pelan.
“Nasibmu sangat buruk. Kalau tahu begini, dulu aku pasti mengajak kamu. Waktu itu kamu masih gadis kecil.”
Menur tersenyum pahit. Bukankah setiap manusia punya garis nasibnya sendiri-sendiri? Kalau sepupu ibunya punya suami kaya, makan, bahagia, itu memang kehidupan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Dan kalau dirinya terlahir miskin, terlunta-lunta, itu juga kehidupan yang diberikan olehNya. Menur tidak pernah menyesalinya.
“Kata ibumu, kamu pergi dalam keadaan mengandung. Di mana anakmu?”
Menur memanggil Rahman yang diam-diam mendengarkan cerita tamu ibunya.
Rahman keluar malu-malu. Ia ingat Ana, gadis cantik yang merangkul ibunya di teras sebuah rumah mewah, rumah om Baroto yang baik hati tapi yang dibenci ibunya, entah mengapa.
“Ini anakmu? Sini … aku ini nenek kamu juga. Siapa namamu?”
“Rahman.”
Kamu ganteng sekali. Pasti ayahmu juga ganteng,” kata nenek Sasa sambil menatap kagum.
“Rahman, cium tangan nenek,” perintah Menur.
Rahman mendekat dan mencium tangan nenek Sasa. Nenek Sasa merangkulnya.
“Akan saya buatkan minum, bulik.”
“Tidak Menur, tidak usah. Di mobil banyak minuman, biar Ana mengambilnya. Ada makanan juga di sana.”
Lalu nenek Sasa menyuruh Rahman membantu Ana untuk mengambil minuman di mobil. Ana mengangguk, dengan tanpa sungkan ia menggandeng tangan Rahman, diajaknya ke mobil.
Setelah kedua anak itu pergi, nenek Sasa bercerita secara singkat.
“Ana itu cucuku, dari anakku yang paling besar. Ibunya meninggal saat dia lahir, lalu aku berikan Ana kepada Baroto dan Lili, istrinya, karena mereka sebenarnya tidak saling menyukai. Suamiku menikahkannya karena hubungan bisnis. Biarlah Ana bersama mereka, dicintai seperti anak kandungnya. Aku tidak begitu menyukai pernikahan yang tanpa ikatan cinta. Tapi bagaimana lagi. Mereka bersedia menjalani. Aku pasrah. Entah bagaimana nanti. Tapi Baroto sering pergi ke luar negri. Dia punya bisnis di sana.
Menur mendengarkan tanpa berkomentar. Tentang hubungan Baroto dan istrinya, ia sudah tahu karena Baroto pernah menceritakannya. Tapi bahwa istri Baroto ternyata adalah saudara misannya, ia sama sekali tidak tahu.
Rahman dan Menur membawa beberapa minuman dalam botol, diletakkan di meja, lalu Ana mengajaknya kembali ke mobil, mengambil makanan yang selalu tersedia di sana.
Nenek Sasa tersenyum melihatnya.
“Mereka adalah saudara. Itu sebabnya Ana begitu menyayangi kamu.”
Menur menghela napas panjang.
“Dia merengek agar aku membujuk kamu supaya menjadi pengasuhnya. Tapi tidak, kamu akan tinggal di sana sebagai sepupu Lili. Kamu bersedia bukan?”
Menur tak mampu menjawabnya. Dia pernah dihina dan direndahkan oleh ‘sepupunya’ itu. Bagaimana nanti dia bersikap kalau kemudian dia tinggal di sana?
Berhasilkah nenek Sasa membujuknya?”
Nenek Sasa memegangi tangan Menur, mengelusnya lembut. Kamu adalah kaponakanku, di tubuh kita mengalir darah yang sama. Aku minta kamu bisa mengerti, Ana sangat menyayangi kamu, barangkali karena kamu adalah bibinya, jauh di dasar hatinya ia tahu kalau kamu bukan orang lain. Ikatan itu yang membuat dia bersikeras untuk mengajak kamu ke rumah.”
Menur masih diam, ketika tiba-tiba Ana daang dengan membawa dua bungkus roti semir coklat.
“Bibi, ini untuk Bibi, ayo dimakan, Rahman sudah Ana kasih,” kata Ana yang langsung bisa bergaul akrab dengan Rahman.
Menur tersenyum.
“Minumlah, ini beberapa minuman yang ada di dalam mobil.”
Rahman dan Ana sudah duduk di sebuah bangku yang terpisah dari nenek Sasa dan Menur. Asyik minum susu kotak dan cemilan yang membuat keduanya tampak bergembira.
Menur masih belum memberikan jawaban. Ucapan-ucapan Lili yang menyakitkan masih selalu diingatnya. Bagaimana kalau nanti dia tahu bahwa dirinya masih terhitung saudara sepupu dengannya?
“Nenek, bibi Menur takut pada mama. Tadi mama memarahi bibi Menur,” tiba-tiba Ana berteriak.
“Bibi Menur akan memaafkannya, dia ini orang baik,” kata nenek Sasa sambil masih memegangi tangan Menur.
“Bulik, saya ini orang miskin.”
“Memangnyaa kenapa kalau miskin? Dulu bulikmu ini juga miskin. Hanya karena keberuntungan saja, ketika ada anak orang kaya jatuh cinta pada bulikmu ini.”
Menur tersenyum tipis. Bukankah hal itu juga terjadi pada dirinya? Ada orang kaya berkudaa, jatuh cinta, tapi bagaimana hidupnya setelahnya?
“Ayolah Menur, pikirkanlah. Tadinya aku ikut datang kemari karena tangis Ana, tapi sekarang aku berharap bukan karena tangisan Ana, melainkan karena kamu adalah keponakan aku. Tak sampai hati aku melihatmu menderita.”
“Tapi saya tidak menderita, bulik. Saya menerima kehidupan apapun yang diberikan Allah kepada saya.”
“Itu benar, tapi kalau ada yang ingin mengentaskanmu dari kehidupan yang sekarang, kamu jangan menolaknya. Ya?”
“Bibi Menur harus mau ya, kalau tidak, aku tidak mau pulang,” tiba-tiba Ana berteriak dan berlari mendekati Menur, lalu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Menur.”
Menur mengelusnya perlahan. Sesungguhnya Ana membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu, dan itu tidak didapatkannya di rumah keluarganya.
“Bibi, ikutlah bersama kami, kalau tidak, aku tidak mau pulang.”
“Ana, jangan begitu. Bibi punya banyak pekerjaan. Harus mencari uang untuk sekolah Rahman.”
“Bibi akan Ana beri uang yang banyak.”
“Bukan begitu Ana.”
“Pokoknya aku tidak mau pulang. Aku mau tidur di sini sama Rahman.”
“Menur, pikirkanlah.”
“Begini saja, biarkan bibi memikirkannya, beri bibi waktu beberapa hari.”
“Bibi harus ikut.”
“Menur, dengarlah dia.”
Agak lama Menur terdiam, sambil mengelus kepala Ana. Tampaknya ia masih ragu-ragu. Tapi kelihatannya Ana tak mau dibujuk.
“Bulik, baiklah. Saya akan ke sana, tapi tidak sekarang. Saya akan menata semuanya, beri saya waktu sehari besok.”
“Bibi akan ke rumah kapan?”
“Bagaimana kalau dua hari lagi?”
“Bibi tidak bohong kan? Bukankah bohong itu dosa?”
Bibi tidak akan bohong.”
Ana memeluk erat Menur, lalu tertawa-tawa gembira.
“Nenek, dua hari lagi kita jemput bibi Menur ya?”
“Baiklah. Menur, kami akan menjemputmu.”
***
Sepeninggal Ana dan nenek Sasa, Menur masih termenung di tempat duduknya. Kehidupan yang mewah bukanlah impiannya. Dia hanya ingin hidup tenang. Susahnya mencari uang bukanlah sebuah penderitaan. Dia sudah bertahun-tahun hidup kekurangan, dan hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Keinginannya hanya satu, Rahman harus menjadi orang.
“Mengapa Ibu kelihatan sedih?”
Menur tersenyum menatap anaknya. Ia tahu Rahman mendengarkan semuanya. Bukan tentang apa hubungannya dengan keluarga nenek Sasa, tapi keinginan Ana untuk mengajak ibunya. Rahman kelihatan tidak suka.
“Ibu tidak sedih.”
“Apakah benar, ibu akan menuruti keinginan Ana untuk tinggal di rumahnya?”
“Ibu tidak bisa menolaknya. Ana terus merengek-rengek, bahkan mengancam tidak mau pulang kalau ibu tidak menuruti kemauannya.”
Rahman tampak terdiam. Ia duduk di depan ibunya, menatap ibunya yang kelihatan sekali kalau sedang memikirkan banyak hal.
“Apa kamu suka, seandainya kita tinggal di sana?”
“Rahman tidak suka Bu, mamanya Ana itu sangat jahat pada Ibu.”
Menur terpana.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien🙏
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda Tien. Sudah tayang
Semoga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget bapak Endang
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun ibu
Semoga Ibu Tien sekeluarga sehat selalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sukardi
DeleteAlhamdulillah...telah tayang.
ReplyDeleteSehat selamanya bunda...aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget kang
DeleteAlhamdulillah bibi menur sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Maturnuwun Bu Tien,,cerbung mingguan telah tayang, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih, bunda Tien cerbungnya,
Semoga bunda dan keluarga sehat 🤲
Alhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun, semoga Ibu Tien sekeluarga sehat selalu.
Aamiin YRA 🤲
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete