SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 010
(Tien Kumalasari)
Sementara itu Ana sedang duduk di teras, bersama Rumi. Saatnya makan, tapi Ana minta agar Rumi membawa makanannya ke teras.
“Mengapa makan di teras Non? Kan sudah disiapkan di meja. Nanti kalau Nyonya tahu, Non pasti dimarahi.” bujuk Rumi.
“Nggak mau, aku mau makan di sini. Si bibi itu mau kemari.”
“Dulu juga Non bilang begitu, nyatanya tidak kan?”
“Kemarin papa yang bilang. Papa nggak akan bohong.”
“Non …” Rumi masih berusaha membujuknya, tapi Ana bersikeras ingin agar makanannya dibawa ke teras.
Dengan menahan rasa kesalnya, Rumi memenuhi permintaan Ana. Ia membawa makan dan lauk yang disukai Ana, diletakkannya di meja teras.
“Sudah, sekarang Non makan.”
“Nanti dulu, menunggu bibi Menur datang.”
“Ya ampuun, apa Non mau mengajak tukang sampah itu makan?”
“Ya, kenapa tidak. Ambilkan satu piring kosong dan segelas minuman.”
“Non ini sungguh keterlaluan.”
“Cepatlah bik, keburu dia datang.”
Dengan bersungut-sungut Rumi mengambilkan lagi satu piring kosong dan segelas minuman. Kalau tidak, Ana bisa berteriak-teriak marah. Rumi tahu kalau Ana bukan anak kandung keluarga Baroto, tapi papa dan mamanya sangat memanjakannya, jadi Rumi tidak berani membantahnya.
Ana sebentar-sebentar melongok ke jalan. Tapi yang ditunggu belum juga datang.
Yang datang justru nyonya Baroto, yang ketika mau masuk ke rumah, heran melihat makanan ditata di meja teras.
“Apa-apaan ini?”
“Ana mau makan di sini,” jawab Ana.
“Apa? Sejak kapan kamu diijinkan makan di teras? Ayo makan di dalam, mama juga mau makan.”
“Nggak mau. Ana mau makan di sini.”
“Ana, apa maksudmu?”
“Non Ana menunggu tukang sampah itu lagi, Nyonya,” kata Rumi yang lama-lama juga kesal melihat ulah Ana.
“Ana! Itu benar?” tanya sang ibu sambil mengerutkan keningnya.
“Ana mau mengajak bibi Menur kemari dan makan bersama Ana.”
“Kamu keterlaluan Ana! Tidak boleh! Apa-apaan itu?”
“Ana mau minta agar bibi Menur tinggal di sini menemani dan melayani Ana.”
“Ana!”
“Ana cemberut, tak lagi melihat ke arah ibunya, tapi ke arah jalanan, takut kalau Menur lewat dia tak melihatnya.”
“Tukang sampah itu membujuk kamu?”
“Ana yang minta? Dia belum tentu mau!”
“Ya Tuhan, mengapa mama menitipkan anak yang susah diatur ini padaku?” kata nyonya Baroto yang kemudian masuk ke dalam sambil menghentakkan kakinya.
Memang benar, Ana diserahkan di keluarga Baroto ketika mereka tak kunjung punya anak. Ia anak kerabat sendiri, dan Baroto serta istrinya harus merawatnya dengan baik. Karena itu nyonya Baroto kemudian membiarkannya.
Tak lama setelah sang ibu masuk, Ana kembali ke luar. Ia membuka gerbang dan berdiri di depan.
Menur tidak mengingkari janji. Ia hatang menemui Ana seperti janjinya kepada Baroto. Tapi ia pulang terlebih dulu untuk menyiapkan makan siang Rahman, sehingga kalau dia terlambat datang Rahman tidak akan marah karena tidak disiapkan makan siangnya.
Ana berjingkrak kegirangan ketika melihat bayangan Menur di kejauhan. Tangannya melambai-lambai dengan wajak berseri.
Menur tersenyum, dan bergegas mendekat. Tanpa sungkan Ana segera memeluknya.
“Bibi, ayo masuk.”
“Tidak usah Ana, bibi harus segera pulang.”
“Bibi harus masuk dan menemani Ana makan.”
“Jangan Ana, biarkan bibi pergi. Bibi hanya memenuhi permintaan tuan Baroto agar bibi menemui kamu. Dan sekarang kita sudah bertemu bukan?”
“Tolong masuklah dulu,” kata Ana sambil menarik tangan Menur.
Mau tak mau Menur mengikutinya.
***
Rahman tak menolak ketika Baroto menaikkannya ke atas kuda. Ia tak ingin, tapi Baroto sudah melihat lalu memanggilnya. Hanya saja ada rasa was-was karena ketahuan dia berbohong.
“Kenapa diam?” tanya Baroto dalam perjalanan menunggang kuda.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu takut sesuatu?”
“Tidak.”
“Baiklah, kita cari makanan enak ya.”
Rahman hanya mengangguk. Bahkan karena rasa takutnya, Rahman tak begitu gembira mendengar Baroto menawarkan makanan enak.
Baroto membawa Rahman ke sebuah rumah makan.
Baroto menyuruh Rahman memilih makanan, tapi Rahman hanya memilih bakso.
Baroto menurutinya. Ia tahu Rahman sedang gelisah, tapi Baroto menghadapinya dengan sabar. Ia ingin menyadarkan Rahman bahwa sikap terhadap ibunya itu tidak benar.
“Rahman, mengapa kamu kemarin berbohong?” tanya Rahman ketika mereka sudah selesai makan. Rahman memang mempercapat makannya, agar bisa segera pulang. Tapi ia terkejut ketika Baroto langsung menanyainya tentang kebohongan itu.
“Saya .. tidak tahu kalau … om kenal sama ….”
“Pembantu kamu?”
Rahman menundukkan kepalanya.
“Jadi kalau om tidak kenal ibumu, kamu akan tetap berbohong?”
Rahman masih menundukkan kepalanya.
“Jawab dengan jujur, mengapa kamu melakukannya? Bukankah ibumu adalah orang yang melahirkan kamu? Apa kamu tahu kalau wanita melahirkan itu bertaruh nyawa demi anaknya terlahir dengan selamat?”
Rahman tak menjawab.
“Jawab mengapa kamu malu memiliki ibu seperti dia. Jawab, jangan diam saja.”
Baroto menatap wajah anak kecil dihadapannya. Ia merasa seperti bukan sedang beradapan dengan orang asing. Rahman adalah gambaran seorang anak yang pintar dan cerdas. Siapakah dia, apakah aku sering bertemu, demikian yang dipikirkan Baroto. Dan akhirnya timbul pemikiran yang membuatnya ragu. Apakah dia anakku?
“Rahman, kamu belum menjawab pertanyaan om.”
Rahman mengangkat mukanya. Wajahnya yang ganteng dan bersih tampak memendam rasa takut.
“Kamu jangan takut menjawab. Om tidak marah kok. Om hanya ingin tahu, mengapa itu kamu lakukan? Hanya karena kesombongan kamu, atau ada sesuatu yang lain? Kamu malu, punya ibu yang kemana-mana membawa karung berisi hasil memulung? Apa kamu tahu bahwa keringat yang menetes tanpa keluh kesah itu adalah pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Apa kamu tahu, bahwa ketika kamu mengatakan bahwa malu mengakuinya sebagai ibumu, maka pastilah air mata ibumu menetes. Penahkah kamu melihat ibumu menangis? Kalau pernah, apakah kamu penah menanyakan, mengapa ibu menangis? Apa ibu sedih? Apa ada yang menyakiti ibu? Pernahkah? Dan apakah kamu tahu bahwa setiap pertanyaan yang aku katakan itu adalah sebuah bentuk perhatian dan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya. Adalah bentuk rasa terima kasih karena telah membesarkannya dan menjadikannya anak pintar. Apa kamu tahu?”
Wajah Rahman kembali menunduk. Tiba-tiba kerongkongannya terasa kering, jiwanya juga kerontang oleh kekosongan jiwa tanpa rasa kasih sayang kepada ibunya. Terbayang olehnya ketika ia merengek harus dengan lauk telur, apapun lauknya harus ada telurnya. Lalu teringat olehnya ketika bajunya sobek sedikit, dengan mentang-mentang sang ibu harus membelikannya yang baru. Malu memakau baju yang pernah sobek, malu memiliki seorang ibu yang bajunya kumuh dan menggendong rosok dipunggungnya.
Lalu air mata Rahman menitik.
Baroto meraih tissue, diulurkannya kepada Rahman, yang kemudian mengisap pipinya yang basah oleh air mata.
“Setelah om bicara panjang lebar, kamu belum menjawab pertanyaan om. Semua yang kamu lakukan adalah karena malu, murni malu, atau ada alasan lain? Jijik kepada ibumu yang kotor dan pastinya berbau tak sedap sepulang dari bekerja?”
Eahman menelan ludahnya.
“Ada seorang teman saya yang dikucilkan, karena ia anak seorang tukang becak.”
“Jadi kamu takut dikucilkan juga? Takut tak punya teman? Atau kamu menyesal telah dilahirkan dari seorang ibu yang pekerjaannya kamu anggap hina?”
“Kalau mereka tahu saya anak siapa, pasti mereka juga membenci saya,” katanya lirih.
“Ada banyak kebencian yang dikarenakan suatu sebab. Benci karena iri, benci karena tidak sederajat, benci karena kalah bersaing. Tapi asal kamu tahu, tidak satupun dari alasan kebencian itu yang pantas dipuji. Kamu tidak boleh melakukannya.”
Rahman terdiam tapi kembali mengusap air matanya.
“Jangan pernah takut dibenci karena kamu anak siapa. Ibumu adalah perempuan mulia karena telah melahirkanmu dan membesarkanmu dengan tetesan keringat. Kamu harus bangga padanya. Kamu harus bahagia karena memiliki kasih sayang yang tak ada duanya. Apa kamu mengerti apa yang om katakan, bahkan sangat panjang dan pasti membuatmu lelah mendengarnya. Kamu mengerti?”
Rahman mengangguk, lagi-lagi mengusap air matanya.
“Berjanjilah kamu akan memeluk ibu kamu sepulang dari sini. Mau berjanji?”
“Janji,” katanya pelan.
“Bagus, aku tahu kamu sebenarnya anak yang baik.”
Baroto kembali menatap Rahman tak berkedip sebelum beranjak dari meja di mana mereka makan bersama. Apakah wajah itu adalah wajahnya?
***
Baroto tidak membawa Rahman pulang ke rumahnya, tapi diajaknya ke rumah Baroto sendiri.
“Kita ke mana?”
“Ke rumahku sebentar ya,” kata Baroto sambil memacu kudanya.
Tapi ketika ia sampai di rumah, ia melihat sang istri sedang menuding Menur dengan tatapan marah.
Baroto menurunkan Rahman, lalu melompat turun dari kuda.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah sudah tayang kembali.
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga