SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024
(Tien Kumalasari)
Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Menur, seperti yang dijanjikannya. Berkali-kali Menur menolak, tapi sang bibi memaksanya.
Gara-gara ponsel Rahman kebawa, lalu nyonya Sasa memaksa membelikannya.
“Besok, kalau ibu Menur nggak datang-datang, Ana telpon ya?” celoteh Ana.
Menur hanya tersenyum mengangguk.
“Nenek, beli es krim ya.”
“Baiklah, di sebelah sana ada rumah makan yang menjual es krim enak.”
“Nanti ada yang diminum di sana, ada yang dibawa ke rumah ya?”
“Iya … iya.”
Mereka segera ke rumah makan itu, lalu duduk di sudut ruangan.
Ana tampak gembira sekali. Banyak celoteh lucu dilontarkannya, membuat sang nenek dan Menur tertawa-tawa.
Tiba-tiba Ana berteriak.
“Itu kan mama?”
Menur menutup mulutnya, agar Ana tidak meneriakinya lagi.
Nyonya Sasa menatap wanita cantik yang masuk dan duduk agak jauh dari bangku mereka.
“Mama sama siapa?”
“Pelan-pelan, jangan teriak,” kata sang nenek.
Lili sedang bersama seorang laki-laki gagah, tampak sangat akrab. Nyonya Sasa tahu, itu bukan staf kantornya, dan juga bukan rekan bisnisnya, karena nyonya Sasa tahu seluk beluk perusahaan Lili. Ia tak akan melepaskan Lili memimpin perusahaan seorang diri. Ia selalu mengawasi dan menuntunnya kalau ada masalah yang sulit dipecahkan. Nyonya Sasa adalah pengusaha handal yang memimpin perusahaan bersama suaminya. Baru setelah sang suami meninggal, ia mengajak Lili untuk ikut mengelola bisnisnya.
“Mama sama siapa?” Anapun menurut, bertanya lagi sambil berbisik.
“Temannya. Kamu jangan bertanya terus, segera habiskan es krimnya, lalu pulang,” titah sang nenek.
"Aku juga mau yang dibawa pulang."
“Iya, tadi sudah nenek pesankan, nanti kan diantar kemari."
Ana mengangguk senang.
***
Sejak ditegur dengan keras oleh nyonya Sasa, Rumi tak lagi berani mengata-ngatai Menur, atau bersikap kasar. Tapi ia tak bisa menghilangkan rasa bencinya, karena pada dasarnya ia iri dengan apapun tentang Menur. Apalagi setelah Menur diajak belanja oleh sang nyonya besar, dibelikan baju-baju, bahkan ponsel.
Temannya melampiaskan kekesalan hanya nyonya Lili. Tapi dia heran, sang nyonya tidak pernah mengatakan bahwa Menur masih kerabatnya. Jadi Rumi bisa menilai bahwa sebenarnya Menur juga tidak disukai oleh sang nyonya, hanya saja sang nyonya tidak mengutarakannya. Karena itulah dia merasa senang mengadu apapun padanya.
Sore hari itu nenek Sasa belum pulang. Ia menunggu Lili pulang. Tapi ternyata Lili pulang agak malam. Begitu Lili masuk ke kamar, nyonya Sasa mengikutinya.
Setelah menunggu Lili berganti pakaian, sang mama memintanya duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
“Ada apa? Mama mau tidur di sini?”
“Iya, pengin ngelonin Ana. Tapi mama ingin bertanya sama kamu.”
Lili menatap mamanya heran. Tak biasanya saat di rumah sang mama bicara di dalam kamar.
“Tadi kamu sama siapa?”
“Maksud mama?”
“Mama melihat kamu di rumah makan itu, saat mengantar Ana makan es krim.”
“Oh, tadi Mama melihatnya? Mengapa Mama diam saja? Dia kan Willy, teman kuliah Lili. Mama lupa ya?”
“Oh, Willy? Kok sekarang badannya tinggi besar begitu, dulu kan kurus ceking?”
“Dia sudah jadi pengusaha, kaya raya. Tinggalnya di Semarang.”
“Dekat dong.”
“Dulu di luar Jawa, tapi sekarang sudah pindah. Kebetulan tadi nemuin Lili di kantor, lalu mengajak makan. Tapi dia tidak bisa mampir ke rumah karena keburu kembali ke Semarang.”
“Pasti anaknya sudah banyak.”
“Belum menikah lhoh.”
“Kenapa?”
“Katanya tadinya menunggu Lili. Lucu dia itu. Dia juga agak kecewa mendengar Lili sudah menikah.”
“Namanya bukan jodoh.”
“Dia itu sangat baik. Kalau saja Lili tidak dipaksa papa untuk menikah dengan mas Broto, Lili pasti sudah menikah dengannya.”
“Sudah, jangan membayangkan yang tidak-tidak. Lagian tidak baik kamu bepergian dengan laki-laki sementara suami kamu tidak ada.”
Lili hanya tersenyum. Sang mama tidak tahu bahwa Willy adalah pacarnya sejak masih kuliah. Barangkali masih ada cinta yang tersisa, entahlah. Bukankah Lili sudah mulai mencintai Baroto? Apakah cinta bisa dibagi dua?
***
Pagi hari itu nyonya Sasa pulang setelah sarapan pagi. Tapi dia tidak terus ke rumah. Dia pergi ke sekolah Rahman, karena ingin membantu meringankan beban keponakannya.
Ia langsung menemui kepala sekolah karena banyak yang ingin ditanyakannya. Tapi betapa terkejutnya nyonya yang baik hati itu, ketika mendengar keterangan kepala sekolah bahwa Baroto sudah menyelesaikan semuanya.
“Apa yang terjadi pada Baroto?” gumamnya ketika menuju ke arah mobil.
Nyonya Sasa urung pulang. Ia kembali ke rumah Lili untuk bertemu dengan sang keponakan.
***
Ketika memasuki rumah Baroto, nyonya Sasa segera mencari keberadaan Menur. Ia sedang berada di ruang belajar, mengajari Ana tentang pelajaran yang kemarin diajarkan oleh ibu gurunya.
Nyonya Sasa ragu untuk bicara tentang hal yang ditemuinya di sekolah Rahman. Disitu ada Ana, dan para pembantu yang pasti akan mendengar apa yang mereka bicarakan. Mengunci pintu di kamar Menur, pasti Ana mengikutinya.
Setelah berpikir sejenak, maka nyonya Sasa memilih mengajak Ana dan Menur jalan-jalan, lalu membiarkan Ana bermain di taman bermain, sehingga leluasa baginya untuk bicara. Ada perasaan mengganjal. Ada rasa kecewa terhadap Menur yang dianggapnya berselingkuh dengan Baroto. Kalau tidak, mengapa Baroto bersusah payah membiayai sekolah Rahman, bahkan sudah menitipkan sejumlah uang pada kepala sekolah itu, untuk meminta tolong mencarikan sekolah lanjutan terbaik untuk Rahman.
“Menur,” panggilnya.
Menur agak heran karena bibi Sasa kembali ke rumah. Ia segera bergegas mendekat.
“Bibi, apa ada yang ketinggalan?”
“Tidak. Tiba-tiba ingin mengajak Ana jalan-jalan ke taman.”
“Jalan-jalan ke taman?” Ana yang sedang berjalan mendekati neneknya langsung berteriak.
“Iya, cepatlah, nenek tunggu di mobil,” kata nyonya Sasa sambil berdiri.
Ana berjingkrak-jingkrak kegirangan, sementara Menur merasakan sesuatu yang tak enak. Tiba-tiba sikap bibinya tampak aneh. Kaku dan tidak bersahabat. Apa dirinya melakukan kesalahan? Mengapa tiba-tiba mengajak jalan-jalan ke taman?
Tapi ia tak bisa berpikir lama, segera ia ganti pakaian Ana, lalu bergegas menuju keluar, di mana sang bibi sudah menunggu di mobil.
***
Ana senang sekali. Ia bermain apa saja yang ada, sementara Menur dan sang bibi duduk berhadapan di bawah sebuah tenda sambil memesan minuman.
Menur melihat wajah sang bibi sangat kaku. Ia tak berani bertanya, tapi ia yakin bibinya akan mengatakan sesuatu.
“Minumlah dulu,” kata sang bibi sambil mendahului meminum minuman segar yang dipesannya.
“Menur, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu.”
“Ya, Bi.”
“Apa kamu mempunyai hubungan khusus dengan Baroto?” nyonya Sasa langsung menuju sasaran, tak ingin berbasa basi. Ini membuat Menur sangat terkejut.
“Apa maksud Bibi?”
“Ada tidak?”
Menur menggeleng-gelengkan kepalanya. Jantungnya berdebar kencang. Apakah Baroto berterus terang kepada mertuanya tentang hubungannya dengan dirinya di waktu lampau?
“Kamu jangan bohong pada bibi. Selama ini bibi mempercayai kamu, dan menganggap kamu seorang wanita yang baik, santun, rajin, penuh kasih sayang. Tapi kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari bibi, dan itu adalah sesuatu yang terlarang, bibi akan kecewa,” kata sang bibi tandas, membuat Menur gemetar ketakutan. Apakah dia harus berterus terang saja? Kalau tidak, entah dari mana datangnya berita itu, tampaknya bibinya mengetahui sesuatu, dan Menur takut sekali kalau dituduh melakukan hal yang terlarang. Bukankah maksud dari terlarang adalah merusak rumah tangga orang? Tidak, Menur harus berterus terang.
Dengan menundukkan kepalanya, Menur mengatakan bahwa ia ingin berterus terang.
“Bagus sekali, memang itu yang aku harapkan, sehingga aku bisa segera menentukan, bagaimana harus mengambil sikap.”
“Bibi, mengapa tiba-tiba Bibi beranggapan kalau saya memiliki hubungan dengan Baroto?”
“Baroto membiayai sekolah Rahman. Baroto juga sudah menyiapkan sekolah lanjutan terbaik untuk Rahman. Dia membelikan ponsel untuk Rahman yang kebetulan terbawa oleh kamu dan mendengar ada panggilan melalui ponsel itu. Kamu bohong mengatakan kalau itu milik teman Rahman. Aku tahu itu ponsel mahal,” kata nyonya Sasa sengit.
“Darimana Bibi_”
“Tidak usah menanyakan dari mana bibi tahu semua itu. Yang ingin bibi dengar adalah apa itu benar, dan kalau benar, ada apa diantara kalian?”
Runtuh air mata Menur, berderai tetes demi tetes membasahi pipinya.
“Saya juga tidak tahu bagaimana bisa seperti inl. Tapi saya mohon Bibi tidak menuduh saya melakukan hal yang terlarang, yang melompati norma susila dan kehormatan seorang wanita. Sesungguhnya Baroto adalah suami saya yang saya cari selama ini," jawabnya terbata.
Nyonya Sasa terkejut. Matanya terbelalak menatap Menur.
“Jadi … Rahman adalah anaknya?”
Menur mengangguk.
“Ini pertemuan yang tidak sengaja. Pertemuan yang terjadi karena Ana tiba-tiba menyukai saya. Tapi Bibi jangan khawatir, sedikitpun saya tidak bermaksud kembali kepada Baroto. Saya sadar Baroto sudah berkeluarga, dan saya tak akan mengusiknya. Kami tidak pernah bertemu diam-diam. Baroto beberapa kali menemui Rahman, tapi tidak dengan saya. Saya selalu berusaha menjauhi dia dan tidak pernah berkomunikasi kalau tidak sangat perlu. Percayalah Bibi, saya bukan wanita serendah itu.”
Sekarang nyonya Sasa menatap iba kepada keponakannya. Ia mengulurkan selembar tissue agar Menur mengusap air matanya.
Memang selama ini ia tak pernah melihat sikap mencurigakan diantara Menur dan menantunya.
“Kalau Bibi tidak mempercayai saya, lebih baik saya pergi saja. Sungguh saya tak ingin merusak rumah tangga Lili. Rahman juga tidak tahu kalau Baroto adalah ayah kandungnya. Saya tak ingin mengatakannya.”
Nyonya Sasa mengangguk mengerti.
"Baroto melakukannya untuk Rahman juga diluar sepengetahuan saya. Dia melakukannya diam-diam. Karena kalau mengatakan sebelumnya, saya pasti akan menolaknya."
“Baiklah, bibi mempercayai kamu. Bibi percaya kamu wanita yang baik.”
Tiba-tiba seseorang mendekat, lalu menyapa nyonya Sasa.
“Bukankah ini tante Sasa?”
***
Besok lagi ya.