Friday, July 19, 2019

SEKEPING CINTA MENUNGGU PURNAMA 01

SEKEPING CINTA MENUNGGU PURNAMA  01

(Tien Kumalasari)

Udara mendung sejak siang itu, tapi Putri tetap berkemas untuk berangkat latihan menari. Maklumlah, bukan hanya latihan itu yang membuatnya bersemangat, tapi pasangan menarinya yang sudah beberapa bulan ini mengisi hatinya. Teguh bukan sekedar teman beradu dalam tarian. Pemuda tampan yang menurutnya sangat baik hati ini begitu membuatnya tergila gila. Ia hanyalah pemuda kebanyakan yang bukan keturunan seorang hartawan atau seorang yang memiliki derajat dan kedudukan tinggi.Berbeda dengan Putri yang puteri seorang berdarah biru, dan memiliki harta berlimpah. Namun penampilan Teguh yang sederhana dan santun, begitu menarik hati Putri.

"Putri, mendung begitu gelap, mbok ya nggak usah latihan menari," tegur bu Broto,  ibunya yang mengikuti dibelakangnya begitu Putri membuka pintu depan.

"Nggak bu, nanti Putri ketinggalan, trus nggak bisa mengikuti ajaran sore ini, padahal bulan depan sudah harus berani di pentaskan," sanggah Putri sambil melongok kearah jalan, seakan ada yang sedang ditunggunya.

"Kalau begitu jangan berangkat sendiri, suruh pak Sarno mengantar kamu," kata bu Broto lagi.

"Nggak usah bu, sungkan sama teman2 kalau Putri diantar pakai mobil, nanti dikira sombong."

"Ya bukan begitu nduk, memang cuacanya yang lagi nggak bagus, apa salahnya diantar mobil."

"Enggak bu, biar Putri naik ojek saja."

Sementara itu terdengar suara sepeda motor berhenti diluar gerbang. Putri mencium tangan ibunya lalu berjalan kearah gerbang.

"Bocah kok ngeyel," gerutu bu Broto sambil memandangi punggung anak gadisnya.

"Putri jadi berangkat?" tiba2 pak Broto sudah berdiri dibelakang bu Broto.

"Bapak... tadi ibu kira bapak masih tidur, jadi ibu biarkan Putri pergi tanpa pamit sama bapak."

"Memang baru bangun aku, tadi seharusnya aku suruh Putri libur saja latihan menarinya. Orang mau hujan begini."

"Ibu sudah melarangnya, tapi dia nekat. So'alnya bulan depan mau ikut pentas."

"Tapi aku curiga sama anakmu itu bu, akhir2 ini dia sering berboncengan sama temannya yang namanya Teguh itu."

"Cuma berboncengan pak, kan nggak apa2. Tapi sore ini dia naik ojek kok."

"Ada mobil dirumah, mengapa dia selalu menolak diantar sopir? Itu karena dia penginnya berboncengan sama Teguh."

"Katanya malu sama teman2nya kalau diantar mobil, nanti dikira sombong. Tadi ibu juga sudah minta dia supaya diantar Sarno."

Pak Broto masuk kedalam sambil mengomel. Ia menyalahkan isterinya kenapa tak melarang Putri untuk mengurungkan niyatnya sementara hari tampaknya akan hujan.

***

Memang benar, bukan ojek online yang mengantar Putri, tapi Teguh. Teguh selalu menunggunya diujung jalan setiap kali menjemput putri, Putri yang memintanya karena ia tau ayahnya nggak suka dirinya berduaan dengan Teguh.

Tapi sampai ditempat latihan itu tampak sepi. Rupanya baik guru maupun teman2nya enggan datang karena mendung begitu tebal, dan sudah bisa dipastikan hujan akan turun.Hanya ada tiga atau empat siswa tari yang masih duduk disebuah bangku dibawah pohon tanjung yang rindang, 

"Nggak ada latihan hari ini Putri, kami sudah mau pulang,"kata salah seorang dari mereka yang kemudian beranjak dari duduknya, diikuti oleh ketiga temannya.

"Iya, kayaknya hari akan hujan," sahut Putri, sambil duduk dibngku yang tadi mereka duduki. Ia bermaksud istirahat sebentar.

"Ya udah, kita juga pulang saja Putri," kata Teguh yang masih duduk diatas sepeda motornya.

"Apa boleh buat, tapi duduklah sebentar Teguh, aku haus nih," kata Putri sambil membuka tas kecil yang dibawanya, lalu meneguk air mineral dalam botol yang dibawanya.

"Kamu mau?" 

"Kamu bawa berapa?"

"Cuma satu, nggak mau? Aku nggak punya penyakit menular lho," seloroh Putri sambil menyodorkan botol minuman kearah Teguh. Sementara itu keempat teman nya sudah pergi meninggalkan pendapa tempat latihan itu.

Teguh menerima botol itu, dan meneguk airnya sampai habis.

"Hm.. enak, segar.." katanya sambil tersenyum, kemudian duduk disamping Putri dibangku itu.

"Enak donk, kan diberikannya dengan kasih sayang," canda Putri.

"Bukan, karena bekas bibirmu," lalu keduanya tertawa lirih. Ada getar2 merayapi hati mereka yang dimabuk cinta.

"Putri, sesungguhnya aku takut," tiba2 kata Teguh.

"Takut apa ?"

"Aku mencintai gadis yang salah," gumamnya sambil mempermainkan pasir yang terserak dibawah dengan sepatunya.

"Apa maksudmu?"

"Kamu kan sudah tau bahwa ayahmu tidak menyukai aku. Mana mungkin aku bisa memilikimu?" kata Teguh, dengan nada perih.

"Jangan begitu, nanti aku akan meluluhkan hati bapak," kata Putri sok yakin.

"Aku kan harus tau diri, aku bukan siapa2, aku tak punya apa2,kecuali cinta."

"Itu sudah cukup Teguh, aku juga mencintai kamu, dan aku tak ingin berpisah darimu," kata Putri sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Teguh yang bidang.

Teguh menghela nafas, ia tak yakin bisa menggapai bintang gemerlap yang menggantung dilangit sana.

Angin bertiup perlahan, menerbangkan bunga2 tanjung yang kemudian tersebar disekeliling pohon itu, lalu menebarkan wangi yang memikat. Pelataran yang berpasir itu seakan tertutup oleh bunga putih kecil2 yang berhamburan semakin banyak karena angin semakin kencang. Putri sedikit menggigil. Ia lupa membawa jacket walau tau hujan kelihatan mengancam sejak keberangkatannya dari rumah.

Tiba2 terdengar gelegar petir yang keras. Putri terkejut dan merangkul Teguh erat2.

"Ayo kita pulang saja, sebelum hujan benar2 turun," kata Teguh sambil mengendapkan debar jantungnya karena pelukan perempuan cantik disampingnya bisa saja membuatnya terlena. Dia sangat mencintai Putri, dan dia ingin menjaga cinta itu seputih bunga tanjung yang tersebar dipelataran itu.

Putri pun bangkit. Teguh menstarter sepeda motor tuanya, lalu mempersilahkan kekasihnya duduk di boncengan.

Deru motor tua itupun kemudian membelah sore yang dinaungi mendung, kemudian menerabas jalanan yang penuh lalu lalang kendaraan, yang semuanya tergesa gesa karena berpacu dengan datangnya hujan. Keadaan itu membuat jalanan macet. Teguh masuk ke jalan kecil untuk menghindari kemacetan agar bisa cepat sampai dirumah sebelum hujan benar2 turun.

Tiba2 sekali lagi terdengar guntur menggelegar, dibarengi gerimis yang semakin deras. Hujanpun bagai dicurahkan dari langit. Teguh menepikan kendaraan disebuah gubug, tampaknya kalau siang dipergunakan untuk berjualan, entah makanan atau apa.

Putri turun lalu berlari kedalam gubug. Bajunya terlanjur basah. Teguh menyusul setelah menyandandarkan sepeda motornya didepan gubug itu. Hari semakin gelap, dan hujan belum hendak berhenti. Langit hitam kelam, dan itu pertanda bahwa hujan akan lama. Putri menggigil kedinginan. 

***

"Bu, Sarno sudah berangkat menyusul Putri?" tanya pak Broto.

"Sudah pak, tapi kok lama ya," jawab bu Broto sambil melongok kearah depan. Belum ada tanda2 mobil yang dibawa Sarno memasuki halaman.

"Masa bawa mobil ikutan berteduh juga," omel pak Broto tak sabar. Diluar hujan masih deras.

"Coba ibu telephone dia."

Bu Broto memutar nomor telepehone Sarno dengan telephone rumahnya. Terdengar suara kemerosak ketika Sarno mengangkat telephone, pertanda hujan disanapun belum juga berhenti.

"Hallo..." jawab Sarno dari seberang.

"Sarno, kamu dimana? Sudah bersama Putri?"

"Belum bu, saya belum ketemu jeng Putri, tempat latihan itu sudah kosong bu."

"Berarti Putri sudah pulang, coba kamu telusuri sepanjang jalan menuju rumah, barangkali dia berteduh disuatu tempat."

"Saya sudah menelusuri bu, bahkan sudah hampir sampai rumah ini, tapi nggak melihat jeng Putri berteduh dimanapun. Bahkan warung atau rumah makan juga sudah saya lihat bu, barangkali berteduh sambil makan2 bersama teman2nya."

"Lha kemana anak itu? Coba kamu telusuri sekali lagi No, lebih cermat, jangan tergesa gesa."

"Baik bu/"

Bu Broto menutup telephonnya. Wajahnya tampak cemas.

"Sarno belum ketemu Putri. Tempat latihan sudah kosong."

"Keras kepala anak itu. Suruh Sarno mencari dan jangan boleh pulang sebelum ketemu!!"

***

Hujan masih deras, dan hari semakin gelap. Sepi dijalan kampung itu, tak seorangpun lewat karena pasti semuanya lebih suka meringkuk dirumah diudara yang dingin dan hujan lebat seperti ini.

Putri menggigil. Teguh yang merasa kasihan kemudian memeluknya erat. Keduanya basah kuyup. Ia juga tidak membawa jacket. Barangkali dengan berpelukan gigil itu akan mereda. Putri lebih merasa tenang. Ia merangkul Teguh erat2. Tapi gigil yang lain kemudian datang. Gigil itu bukan lagi gigil kedinginan, tapi gigil karena darah yang menggelegak oleh nafsu yang tak tertahankan. Teguh yang santun dan baik hati tak bisa mengalahkan setan yang bertepuk tangan menyulut gelora agar api  semakin berkobar. Dan api pun memang sedang berkobar. Biarkan hujan berderai. Biarkan guruh menggelegar karena ada gemuruh yang luruh dalam kelamnya malam, tanpa bintang, apalagi rembulan.

***

maukah dilanjutkan?

 


Tuesday, July 16, 2019

SA'AT HATI BICARA 53

SA'AT HATI BICARA  53

(Tien Kumalasari)

T A M A T

Laras masih terdiam, matanya memandangi Agus yang juga menatapnya tajam, seakan mengatakan bahwa ia serius dengan kata2nya. Laras tertunduk, terkulai dalam risau yang tak terbendung, tapi ia bingung akan mengatakan apa.

"Laras, apa kamu marah saya mengatakan itu? Tapi aku serius."

Laras tersenyum tipis, tapi memandang kearah lain.

"Baiklah, aku mohon ma'af kalau kamu tidak berkenan, aku harus tau diri donk, aku seorang duda dengan satu anak, pasti berat menerimanya bukan?"

"Bukaaan.. bukan.. bukan itu.. ," Laras memotongnya segera, karena memang bukan status duda itu yang membuatnya resah. Sungguh ia mencintai laki2 ganteng dihadapannya itu, tapi kalau anaknya tidak bisa menerima dia, bagaimana ia bisa menjalaninya? Itu bukan so'al mudah, apalagi Sasa masih kecil. Jangan sampai dia kecewa dengan pilihan ayahnya.

"Lalu apa?"

"Mas mencintai aku karena apa?"

"Karena kamu cantik, karena kamu baik, dan kamu bisa berteman dengan Sasa. Aku ingin kamu menjadi isteriku Laras, menjadi ibunya Sasa."

"Mas salah."

"Apa maksudmu ?"

"Mas tanyakan dulu pada Sasa, apa dia mau menerima aku."

"Sasa suka sama kamu, kamu berteman dengan baik."

"Baiklah, itu kan pendapat mas, sekarang begini saja, aku bersedia menerima mas, apabila Sasa yang melamarku."

"Laras ?"

"Itu permintanku mas."

"Apa kamu tidak mencintai aku?"

"Bukan itu ukurannya mas, aku cinta, mas cinta, bagaimana kalau Sasa tidak bisa menerima? Kasihan dia mas. Biarlah dia menentukan apakah aku pantas jadi ibunya atau tidak."

"Baiklah, nanti aku akan ajak Sasa kemari. Oh ya, besok Sasa boleh pulang, kamu mau ikut menjemputnya kan?"

"Tapi..."

"Laras, mengapa kamu ini, Sasa akan mengundang kamu dan Maruti, besok kerumah, untuk merayakan kepulangan Sasa."

Maruti.. disebutnya nama itu tiba2 menggoreskan lagi sedikit luka dihatinya. Maruti memang baik, dia sahabat Laras, seperti saudara, bahkan lebih karena mereka selalu dekat, tapi bersaing merebut hati Sasa? Alangkah menyedihkan. Laras sudah tau kalau Sasa akan memilih Maruti. Memang sih, Maruti itu kan cintanya sama Panji, tapi kenyataan bahwa dia lebih dipilih Sasa, sungguh melukai batinnya.

*** 

Sore itu Panji menjemput Maruti dikantornya. Setelah Maruti tidak lagi menolaknya, Panji seakan tak mau lama2 berjauhan dari Maruti. Pagi menjemputnya kerumah, sore menjemputnya ke kantor, alangkah indah hidup ini.

"Ruti, besok Agus mengundang kita," kata Panji begitu duduk didepan Maruti sambil menunggu Maruti berkemas.

"Iya, pak Agus sudah mengatakannya tadi."

"Besok siang Sasa boleh pulang, kamu mau ikut menjemputnya?"

"Nggak ah mas, kan sudah ada Laras.. nanti aku kebanyakan meninggalkan kantor, jadi nggak enak."

"Tapi sorenya kita kesana kan?"

"Ya, nggak apa2.. kan sudah selesai jam kantor. Kita jemput Laras juga ya."

"Pasti Agus sudah menjemputnya."

"Iya ya, tapi ada baiknya kita tanyakan dulu sama pak Agus, apa dia akan menjemput atau tidak. Kalau tidak kita bisa menjemputnya. Nanti mas aja yang menanyakannya. Dia sudah pulang sejak siang tadi."

"Iya, itu masalah gampang, sekarang kita pulang dan temani aku makan."

"Huh, kebiaaan deh, sudah sore begini belum makan juga, tapi itu alasan kan? Supaya bisa ngajakin aku?"

"Tuh sudah tau..." 

Dan senyum2 bahagia itu merekah, menyejukkan udara menjelang sore yang sedang panas2nya.

***

Sasa sangat gembira pulang kerumah. Laras tidak ikut menjemputnya dengan berjuta alasan. Oke lah, Tapi Agus berjanji akan menjemputnya sore nanti.

"Mengapa tante Laras nggak ikut menjemput Sasa pa?"

"Tante Laras kan kemarin bilang sakit, jadi dia nggak bisa menjemput Sasa. Tapi nanti malam pasti tante Laras kesini. Sasa suka nggak sama tante Laras?"pancing ayahnya.

"Suka, kan dia suka beliin es krim buat Sasa, dan dia juga berikan boneka Hallo Kitty buat Sasa."

Panji tertawa. Ia berharap Sasa bisa meluluhkan hati Laras.

"Apa tante Maruti akan datang juga nanti?"

"Iya lah, pasti datang, kan papa sudah mengundangnya."

"Papa, Sasa mau mama yang baik, Sasa nggak suka sama mama yang kemarin," tiba2 Sasa menggelendot dipangkuan ayahnya dan berkata manja.

"Oh ya, Sasa mau mama yang seperti apa?"

"Yang seperti tante Maruti. Sasa mau tante Maruti jadi mamanya Sasa."

Dan Agus terpana. Mengapa tiba2 Sasa ingin Maruti menjadi mamanya?

"Mengapa tante Maruti?"

"Tante Maruti itu kan cantik.. baik.. Sasa suka deh."

"Kalau... tante Laras ?" tanya Agus hati2.

Tapi Sasa menggeleng gelengkan kepalanya.

"Mengapa?"

"Sasa pokoknya mau tante Maruti," rengeknya.

Agus terkejut, jangan2 Laras bersikap seperti kemarin karena Sasa mengatakan ini. Agus kebingungan. Ia harus menjawab apa.

"Sasa, tante Laras itu juga baik. Kamu tau, lengan sebelah kanan tante Laras itu terluka, kenapa?Karena dia menyelamatkan Sasa dari maut."

"Maut itu apa?"

"Maut itu adalah... mm.. kematian.. Sasa kan hampir tertabrak mobil, nah orang kalau ditabrak mobil pasti mati. Tapi tante Laras menyelamatkan Sasa sehingga Sasa selamat, sedangkan tante Laras sendiri jadi terluka, dan harus dirawat dirumah sakit. Kasihan kan? Kalau tidak ada tante Laras, papa tidak bisa menimang Sasa seperti ini," kata Agus sambil mengangkat Sasa dan didudukkannya dipangkuannya. Sasa terdiam, dia tampak memikirkan kata2 ayahnya.

"Kalau tidak ada tante Laras, Sasa mati ya pa? Apa mati itu sakit?"

ergidik bulu kudu Agus mendengar kata2 Sasa. Sasa mati? Ya Tuhan, Agus tak kuasa membayangkannya.

"Sudahlah Sasa, jangan ngomongin itu lagi, sekarang kita bersiap siap untuk pesta nanti malam yuk."

Sasa merosot turun dari pangkuan ayahnya, berlari kebelakang dan ikut memilih milih balon yang ditata asri diruangan depan.

***

Malam itu Laras datang karena Panji dan Maruti menjemputnya. Agus urung melakukannya karena Maruti akhirnya meminta untuk menjemputnya. Takut Agus kerepotan karena pasti sibuk menyiapkan acara malam harinya.

Kedatangan mereka disambut Sasa yang lebih dulu memeluk Maruti. Maruti menciuminya dengan gemas.

"Sasa, tante senang kamu sudah sembuh, jangan sakit lagi ya?"

Sasa mengangguk angguk.

Laras memalingkan mukanya. Tapi ia terkejut ketika tiba2 Laras merangkulnya.

"Tante Laras," teriaknya riang.

"Sasa..." hanya itu yang diucapkan Laras, kemudian dia mengangkat Laras dan digendongnya. Ia tak tau bagaimana Agus menatap adegan itu dengan penuh harap.

"Mengapa tante nggak mau jemput Sasa tadi, kan tante sudah janji."

"Oh..eh.. itu... mm.. kemarin kepala tante pusing, jadi...nggak bisa jemput tadi."

"Sekarang sudah sembuh?"

"Sudah sayang..," jawab Laras senang karena ternyata Sasa mengharapkannya datangi.

"Luka dilengan tante belum sembuh kan?" Sasa memegangi lengan Laras, dan Laras meringis menahan sakit.

"Auuw.."

"Sakit ya?"

Laras mengangguk.

"Sedikit.."

"Tante, maukah tante jadi mamanya Sasa?" teriakan Sasa ini didengar semua orang, yang kemudian disambut tepuk tangan oleh Agus, Panji dan Maruti.

"Jawab Laras.. jawab," teriak Panji...

Laras terharu, diciumnya Sasa dengan linangan air mata. Agus mendekat dan merangkul mereka berdua, dalam satu pelukan.

***

Sebulan setelahnya persidangan Santi berlangsung. Bu Tarjo yang sudah tau semuanya berkeras ikut menghadiri setiap persidangan.

Santi bersikeras bahwa Dita lah penyebabnya. Tapi Dita juga berkeras bahwa Santi membujuknya.

Sangat terkuras emosi Dita. Apapun yang diketahuinya telah dikatankannya. Panji pun maju menjadi saksi. Bahwa Santi mengejar kejarnya, lalu ingin memisahkannya dari Maruti..

"Dita itu korban, dia dijadikan alat oleh terdakwa untuk memisahkan saudara Panji dan saudari Maruti dengan akal2an melalui kepintarannya sebagai dokter."kata pengacara Dita.

 Santi tak berkutik. Ia duduk tegak dikursi terdakwa, 

Dan dihari dijatuhkannya vonis itu, Santi terkulai dikursi terdakwa. Matanya menatap kosong, dan seperti tak mendengar vonis hakim. Ketika palu diketukkan tiga kali, Santi tersungkur, pingsan dikursinya.

Ada derai tangis karena duka, atas buah dari pohon yang ditanamnya.  Ada bahagia oleh suara2 hati yang bersih dari noda. Saling berbicara dalam lisan penuh suka cita.

Namun ada suara lirih terucap dari bibir Dita : "Kasihan dokter Santi"

UNTUK APAKAH MEMPEREBUTKAN CINTA KALAU HATI TAK SALING MEMILIKI?

 T A M A T

___________________________________________________________________________________

 

 

 

Monday, July 15, 2019

SAAT HATI BICARA 52

SA'AT HATI BICARA  52

(Tien Kumalasari)

Panji masih memegangi tangan bu Tarjo. Panji juga melihat linangan air mata bu Tarjo, tapi Panji tidak tau, apa sebenarnya yang ada dibalik linangan air mata itu. Maruti yang terkejut, tiba2 menarik tangan Panji, diajaknya keluar dari ruangan itu.

"Maruti, apa aku salah?"

"Tunggu mas, mari kita bicara."

Maruti terus menarik tangan Panji, mencari tempat yang tak banyak lalu lalang orang disekitar rumah sakit itu, kemudian duduk disebuah bangku.

"Maruti, ada apa ini? Apa aku salah?" tanya Panji sambil memandangi wajah Maruti lekat2, penuh kasih sayang. Wajah cantik yang sangat dikaguminya itu tampak tegang. Bulu mata lentik, mata yang bening bagai sepasang bintang, hidung kecil mancung, dan bibir tipis yang kemerahan, aduhai, Panji ingin merengkuhnya dalam satu pelukan, yang tak akan pernah dilepaskannya. Tapi ketika tangannya bergerak ingin menyentuh pipinya, Maruti menghindar dengn mengundurkan kepalanya dan memegang tangan Panji.

"Maruti, apa aku salah?" pertanyaan itu kembali dilontarkannya. Dada Maruti berdebar kencang, ucapan bahwa Panji ingin melamarnya sudah lama sekali ditunggunya, tapi itu dulu, beberapa bulan yang lalu,

"Mas Panji...," katanya lembut, tak urung matanya berkaca kaca, Panji mengusap air mata yang membasahi pipi Maruti. Kali ini Maruti membiarkannya. Debr jantung yang memukul mukul dadanya ini sesungguhnya terasa amatlah nikmat. Ini adalah cinta yang menggelora, yang getarnya menyusuri setiap alir darahnya. Tapi Maruti mengucurkan air matanya semakin deras

"Maruti, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu menolak cintaku? Apa kamu tidak mencintai aku? Kamu pernah bilang bahwa kamu juga mencintai aku.Kamu lupa?"

"Mas, aku nggak tega, aku nggak sampai hati melukai hati Dita," bisik Maruti.

"Apa maksudmu Maruti? Dita sudah melupakan cerita bohong itu, Dita mana mungkin mengharapkan aku lagi?"Suara Panji meninggi, membuat Maruti kemudian menutupkan jari telunjuknya kebibir Panji; Panji memegangi tangan itu, Maruti meronta tapi Panji tak ingin melepaskannya.

"Itu sebuah drama yang memalukan, drama yang dibuat oleh tangan2 kotor dan busuknya hati seseorang. Aku sudah tau dari Dita bahwa Santi melakukannya untuk memisahkan aku dari kamu. Dita yang bilang karena Santi kemudian mengatakannya.

"Tapi Dita mencintai kamu mas,aku tak sampai hati melukai perasaannya."

"Tidak mbak, aku tidak mencintai mas Panji," tiba2 suara itu mengejutkan keduanya. Dita muncul tiba2, dan berdiri dihadapan mereka berdua.

"Dita..." 

"Itu benar mbak, mas Panji milikmu, aku bukan siapa2."

"Dita, kamu..."

"Aku berdosa memiliki perasaan itu, aku sudah terhukum dengan perasaan yang tidak semestinya. Aku sekarang sadar, cinta itu tak ada padaku, aku hanya ingin diperhatikan, aku hanya ingin dimanjakan. Aku tidak ingin mencintai tapi tidak dicintai. Kalian saling mencintai, aku bahagia melihat kalian bahagia."

Tak ada sendu, tak ada air mata mengganang, Dita mengatakannya dengan sangat jelas, dan lugas. Lalu tangannya memagang tangan Panji serta Maruti, disatukannya dengan wajah berseri.

"Kebahagiaan ini milik mbak dan mas Panji. Nikmatilah..."

Dita memeluk Maruti, sekarang baru air matanya menetes, membasahi bahu Maruti. Dan Maruti mengelus lembut punggung adiknya. 

"Terimakasih Dita,"  bisik Maruti, lalu diliriknya wajah ganteng yang tersenyum memandangi ulah mereka, senyum yang biasanya, yang menggetarkan jiwa Maruti sejak pertama melihatnya.

***

Bu Tarjo bahagia, ketika Dita mengatakan bahwa Panji lebih cocog untuk Maruti. 

"Tapi dulu kamu suka bukan?"

"Nggak bu, ternyata itu bukan cinta. Dita berdosa kalau sampai merebut mas Panji dari mbak Ruti."

"Anakku memang cah ayu tenan, ibu jadi nggak bingung lagi," kata bu Tarjo dengan wajah berseri.

"Kenapa ibu bingung?"

"Ya bingung lah, kedua anak ibu mencintai satu laki2, lalu ibu harus berfihak pada siapa? Kan bingung jadinya."

"Sekarang ibu nggak usah bingung lagi, mas Panji akan segera melamar mbak Maruti. Ibu cepat sembuh ya."

"Iya, ibu sudah sembuh. Nanti ibu akan bicara sama dokter, kalau boleh mau rawat jalan saja."

"Boleh saja, tapi nggak boleh memaksa, kalau dokternya bilang belum boleh ya nggak usah pulang dulu."

"Ta, ibu menurut deh. Nanti kamu tidur disini?"

"Iya bu, Dita mau tidur disini. Kan sudah lama Dita nggak menemani ibu."

***

Laras sangat rajin menemani Sasa. Walau lengan masih dibalut perban, tapi ia selalu merasa sehat apabila ada didekat Sasa, maksudnya... ayahnya Sasa. Entah mengapa, tiba2 hati saling bertaut.

Siang itu Agus masih ada dikantornya, sedangkan Laras sudah sejak pagi ada disana, bersama Endang perawatnya. Itu membuat Agus merasa tenang. Sebentar2 dia menelpon Laras menanyakan keadaan anaknya, tapi sesungguhnya ia ingin mendengar suara Laras, yang bening dan selalu bersemangat setiap menerima telepon darinya. Agus merasa bahwa Laras tak akan menutup pintu hatinya walau dia seorang duda beranak satu.\

Sasa juga merasa lebih tenang, dan tadi dokter bilang infusnya boleh dilepas. Mungkin besok pagi sudah boleh pulang.

"Apa mama mau kesini?" tiba2 Sasa bertanya.

"Sasa kangen sama mama?"

Tapi Sasa menggeleng. Kejadian tiga hari yang lalu membuatnya trauma. Ia merasa tidak nyaman bersama ibunya karena kepergiannya serasa dipaksa, dan Sasa juga merasa tersiksa karena jauh dari ayahnya. Kedekatannya dengan Santi hanya terbatas pertemuan beberapa kali dalam sebulan, itupun kalau Santi merasa kangen. Jadi Sasa merasa tak pernah dekat dengan ibunya.

"Masa nggak kangen sama mama?"

"Sasa takut sama mama," jawab Sasa sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

"Apa Sasa mau ibu baru?" tanya Laras tiba2, tapi kemudian Laras menyadari bahwa ia tak seharusnya mengucapkan kata2 itu. Laras sungguh menyesal, tapi semuanya sudah terlanjur.

"Ya, Sasa mau.." tapi Sasa menjawab sambil memeluk boneka Hallo Kitty milik Laras.

"Mau? Mama yang seperti apa yang Sasa mau?" Laras merasa sudah terlanjur basah, jadi dilanjutkannya pertanyaannya.

"Yang seperti tante Maruti," tiba2 Sasa menjawab, dan itu membuat hati Laras tergores. Perih dan berdarah.

Laras terdiam. Mencoba menenangkan perasaannya yang terguncang.

"Tante Maruti itu baik kan?"

Laras hanya mengangguk, sambil tersenyum. Senyum yang dibuat buat, untuk menyenangkan hati Sasa.

 *** 

Siang itu sehabis pulang dari kantor Agus langsung menuju rumah sakit, namun dia kecewa karena Laras sudah tidak ada lagi disana.

"Kemana mbak Laras?" tanya Agus pada Endang.

"Tadi pamit pulang, katanya kepalanya pusing," jawab Endang.

"Oh, dia sakit?"

"Tadi habis bercanda sama Sasa, tapi tiba2 mengeluh pusing, lalu pamit pulang.

Agus mengeluarkan ponselnya, menelpon Laras, tapi ponselnya mati. Berkali kali dicobanya menghubungi, tapi tak ada nada sambung. 

"Ponselnya mati,"keluh Agus.

"Papa... Sasa mau pulang saja.." rengek Sasa..

"Iya, iya.. papa ketemu dokternya dulu ya."

"Tadi susternya bilang, mungkin besok pagi Sasa boleh pulang.." kata Endang.

"Oh, baiklah, itu bagus. Sasa sabar dulu ya, besok pagi boleh pulang kok."

"Mengapa tante Maruti nggak pernah kesini?" 

"So'alnya ibunya tante Maruti kan lagi sakit juga... besok kita undang tante Maruti kerumah, juga tante Laras ya."

Sasa mengangguk senang.

*** 

Tanpa menunggu lama Agus sudah sampai dirumah Laras. Sesungguhnya ia khawatir karena Endang bilang Laras pusing kepala. Tapi begitu dia datang, Laras sudah menyambutnya dipintu dan mempersihakannya duduk.

"Katanya kamu sakit ?" tanya Agus khawatir.

"Tadi, ya.. tapi sudah baikan. Mengapa mas kemari?"

Agus heran, wajah manis itu tampak kaku ketika menyambutnya. Senyum yang terpampang terasa hambar. 

"Kok gitu nanyanya...tentu aku khawatir karena Endang mengatakan kamu sakt, dan ponsel kamu mati sehingga aku nggak bisa menghubungi."

"Oh, khawatir ya."

"Iya lah khawatir, pertanyaanmu aneh, dan sikapmu juga aneh. Pasti masih puyengmu masih belum hilang, ya kan?"

Laras tersenyum. Tapi dibiarkannya Agus memegang keningnya. Dia suka kok, tapi ketika teringat olehnya ucapan Sasa ketika dia masih dirumah sakit, kembali hatinya terluka. Kalau Sasa hanya menghendaki Maruti, mengapa dia harus berharap?

"Nggak panas sih, tapi mau aku antar ke dokter?" 

"Nggak, aku nggak apa2 kok. Mengapa mas begitu khawatir sih?"

"Ya pasti lah aku khawatir, kamu itu gadis yang telah membuat aku jatuh cinta."

Laras terkejut. Tiba2 saja Agus mengucapkan itu, tanpa basa basi, begitu saja meluncur dan mengenai sasaran."

Tapi Laras tertunduk lesu. Ucapan Sasa kembali terngiang ditelinganya. Mengapa harus Maruti?

***

besok lagi ya

 
















Saturday, July 13, 2019

SA'AT HATI BICARA 51

SA'AT HATI BICARA  51

(Tien Kumalasari)

Agus mendekati Dita perlahan, tak sampai hati ia mengatakannya.Ia kembali menelpon Endang untuk memastikan bawa perawat itu sudah berangkat.

"Dita, aku titip Sasa sebentar ya, aku akan mengurus kekantor tentang keberadaan Sasa disini. "

"Baiklah pak," jawab Dita sambil mengangguk.

Agus menyelesaikan segala sesuatunya, dan kembali kekamar Sasa sambil menunggu Endang. Begitu Endang datang, Agus segera mengajak Dita pergi.

"Papaaa, jangan pergi.." Sasa merengek lagi.

"Sasa.. sayang, papa hanya mengantarkan tante Dita, nanti papa akan kembali kemari, Sasa sama mbak dulu ya."

Tiba2 Laras datang dengan membawa boneka besar. Boneka Hallo Kitty yang dulu diberikan Agus untuk dirinya.

"Hallo Sasa, tante punya...,"

Sasa menerima boneka besar itu dengan wajah berseri, sementara Agus memandanginya tanpa berkedip.

"Ma'af, aku pinjamkan dulu buat Sasa," kata Laras, dan Agus mengangguk mengerti.

"Bagus sekali.. terimakasih tante."

"Kok kamu kembali lagi kemari?"

"Aku sudah ketemu dokter, dan aku sudah diijinkan pulang hari ini."

"Benarkah?"

"Ya, terimakasih mas sudah mengurus semuanya. Nanti aku ganti setelah pulang."

"Eiitt, aku tidak meminjamkan apapun, dengar dan camkan itu."

"Mas..."

Agus menarik tangan Laras agak menjauh dari Dita, membisikkan sesuatu, dan membuat Laras pucat.

"Ya ampuun.. Ya sudah mas, selesaikan dulu urusannya, aku akan bersama Sasa disini."

"Benarkah, apa kamu nggak pengin pulang dulu? Aku jadi menyusahkan."

"Jangan bilang begitu mas, maalah yang terjadi ini, ijinkan aku ikut memikulnya, dan jangan anggap aku orang asing. Sekarang pergilah bersama Dita."

"Aku diusir ?" tanya Dita sambil tersenyum, dia tak tau apa yang sedang menunggunya.

"Dita, ayo kita pergi dari sini, aku akan mengatakan sesuatu."

***

"Apa? Jadi dokter Santi melaporkan saya juga?"teriak Dita didalam mobil ketika Agus menceriterakan bahwa Dita juga harus diperiksa karena Santi membawa namanya.

"Dita, kamu harus tenang, kami tak akan membiarkan kamu dipenjara."

"Tapi dia membawa bawa saya, kalau dia dihukum, saya pasti juga dihukum, itu yang dia katakan pada saya," kata Dita setengah menangis. 

"Dita, tenanglah, kamu tidak sendiri, Panji sedang mencari pengacara yang bagus untuk kamu."

"Jadi ini aku mau dibawa kekantor polisi juga?"

"Ya, tapi kami ada disana, aku, Panji, dan Maruti juga."

"Ya Tuhan... aku tidak tahu kalau akan begini jadinya," Dita terisak.

"Dita... Dita... kamu tidak akan sendiri... jangan sedih.. kamu tak akan apa2."

"Bukankah aku akan ditahan?"

"Nggak akan, sudahlah Dita, kamu harus percaya sama aku, diam dan jangan menangis. Dikantor polisi kamu hanya harus menceriterakan semuanya, dari Santi membuatmu pura2 sakit, sampai kemudian terbongkar semua kebohongannya."

 ***

Dita menangis ketika bertemu Maruti yang ternyata sudah menungguinya disana bersama Panji. Maruti menghiburnya, seperti apa yang dikatakan Agus. 

Dan Dita memang menceriterakan semuanya ketika polisi bertanya, tapi Dita tidak ditahan. Dia hanya dianggap sebagai saksi yang diperlukan sa'at persidangan nanti. Ada sedikit rasa kasihan ketika dia melihat Santi menangis, dan menuding nuding dirinya sebagai penyebab terjadinya kebohongan itu. 

"Kamu penyebabnya Dita, kamu penyebab semua ini," teriaknya.

Dita ingin menjawab, tapi Panji dan Maruti menariknya menjauh.

"Nggak ada gunanya, semua sudah dicatat, ayo kita pulang," 

***

Walau begitu dirumah tetap saja Dita murung. Dia selalu teringat ancaman Santi dulu, bahwa kalau Santi dipenjara maka diapun juga akan dipenjara.

"Dita, jangan sedih, sudahlah.. nanti kalau ibu melihat kamu sedih, ibu juga pasti akan sedih."

"Aku menyesal mbak, aku berdosa sama mbak Ruti, juga mas Panji, dan ibu... dosaku terlalu besar.. aku menyesal mbak.." Dita menangis dibahu Maruti.

"Sudah, jangan di ingat2 lagi, semua sudah berlalu.." 

"Bagaimana kalau aku dipenjara mbak? Ibu pasti sedih.."

"Kamu tidak akan dipenjara, mas Panji sudah mencarikan kamu pengacara yang bagus. Itu juga sebabnya mengapa kamu tidak ditahan."

"Apa benar mbak?"

"Ya benar, masa mbak berbohong sama kamu., sekarang  ganti bajumu, mas Panji akan menjemput kita kerumah sakit, ibu sudah menunggu."

"Mengapa harus sama mas Panji, apa kita nggak bisa berangkat sendiri?"

"Dita, mas Panji sendiri yang mau menjemput kita, nggak enak kalau menolaknya. Cepat ganti bajumu, lihat mbak sudah rapi."

"Baiklah , dandan yang cantik ya, supaya mas Panji tepesona."

Dita yang sudah berjalan kedalam kamar berhenti mendengar kata kakaknya.

"Mengapa aku harus membuat dia terpesona?"

"Bukankah kamu suka?"

"Mbak jangan begitu, Dita nggak suka," kata Dita sambil cemberut, lalu masuk kedalam kamar.

Maruti menggeleng gelengkan kepalanya. Bagaimanapun kalau Dita suka, dia akan merelakannya, tanpa alasan sakit seperti dulu. Walau berat, walau sakit...

Tiba2 mobil sudah berhenti didepan pagar. Panji turun, dan berjalan dengan gagahnya. Begitulah kira2 yang terpikir oleh Maruti. Dengan dandanan sederhana, dengan t shirt yang membuat dada bidangnya tampak menonjol, bergetar hati Maruti melihatnya. Apakah dia milikku? Bukan, dia milik Dita, bisik hati kecilnya.

"Maruti, kok bengong? Aku juga nggak dipersilahkan masuk?" goda Panji.

Maruti tersenyum, mencoba menenangkan debur jantungnya.

"Silahkan masuk, Dita sudah menunggu," jawab Maruti.

Panji tak memperhatikan kata2 Maruti, ia memegang tangan Maruti dan menciumnya lembut.

"Mas..." tegur Maruti pelan.

"Kamu canti sekali..." bisik Panji.

Maruti menoleh kedalam dan berteriak :" Ditaaaa.. cepatlah, mas Panji sudah datang."

"Ssst.. biarkan saja dulu, aku ingin duduk disini, supaya bisa memandangi wajah cantikmu."

"Mas... nanti Dita mendengarnya.." bisik Maruti.

"Memangnya kenapa kalau Dita mendengarnya?"

"Mas, permintaanku masih berlaku."

"Alasannya? Alasan sakit itu sudah nggak ada," kata Panji sambil tak pernah melepaskan pandangannya pada Maruti.

"Tapi kalau dia suka.. aku takut mengecewakannya..,"

"Apa kamu nggak takut mengecewakan aku? Membuat aku sedih dan patah hati?"

 Tiba2 Dita keluar sambil berbicara di ponselnya :" Baiklah, aku tunggu.. jangan lama2.. nggak lah.. siapa bilang mengganggu? Oke.. siapp.."

Pembicaraan itu selesai.

"mBak, ma'af, mbak sama mas Panji jalan dulu saja,"

"Apa? Mengapa begitu?" tanya Maruti heran.

"Ini, ada temanku mau datang kerumah, nggak enak kalau aku pergi sekarang."

"Siapa temanmu itu? Kita tungguin saja."

"Nggak, jangan mbak, nanti ibu kelamaan menunggu, nanti aku menyusul setelah temanku datang."

"Bagaimana ini mas?"

"Dita benar, nanti ibu kelamaan menunggu."

"Tuh, mas Panji aja tau. Sudah berangkat sana, nanti aku menyusul," kata Dita sambil menarik tangan kakaknya agar berdiri.

Akhirnya Maruti menurut, berangkat kerumah sakit bersama Panji. Maruti tak tau bahwa Dita tak ingin mengganggu kedekatan kakaknya dan Panji, yang dia tau bahwa mereka saling mencintai. Dita sadar, kelakuannya yang lalu sungguh buruk, dan menyusahkan banyak orang.Itulah sebabnya mengapa Dita berpura pura sedang ditilpun temannya. Padahal tak ada siapapun yang mau datang kerumah, agar banyak waktu bagi Maruti untuk berduaan dengan Panji.

***

Panji memasuki rumah sakit sambil menggandeng tangan Maruti. Bahkan ketika memasuki kamar ibunya, Panji masih memegangnya erat. Maruti tak berdaya melepaskannya karena Panji mencengkeramnya erat. Keringat dingin membasahi telapak tangan Maruti, tapi Panji tak perduli.

"Selamat sore ibu, apa kabarnya?" sapa Panji sambil mencium tangan bu Tarjo setelah melepskan genggamannya pada Maruti.

Bu Tarjo yang semula terkejut melihat keduanya bergandengan, mencoba tersenyum. Pada dasarnya dia menyukai lelaki tampan yang sangat santun ini. Tapi bu Tarjo masih bingung memikirkan kisah cinta diantara dua anak gadisnya.

"Selamat sore nak, mana Dita?"

"Dita sedang menunggu temannya, nanti akan menyusul." jawab Maruti.

"Oh, teman siapa?"

"Nggak tau bu, dia nggak menjawab ketika Ruti bertanya."

"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Panji memotong pembicaraan itu.

"Baik nak, ibu sudah kepengin pulang, bosan dirumah sakit berlama lama."

"Tapi kan ibu masih harus dirawat?"

"Cuma luka2 ini, gampang kok merawatnya."

"Besok kita bicara dulu sama dokternya ya.," kata Panji sambil menepuk nepuk tangan bu Tarjo.

"Iya bu, jangan tergesa gesa.."

"Bu, malam ini, saya datang kemari, karena ada yang ingin saya katakan pada ibu." kata Panji yang masih terus memegangi tangan bu Tarjo.

"Ada apa nak?"

"Pada suatu hari nanti, saya akan melakukannya dengan lebih resmi, tapi sekarang ini saya minta ijin pada ibu, bahwa saya ingin melamar Maruti."

Bu Tarjo terkejut. Menahan linangan air mata yang hampir meleleh membasahi pipinya. 

***

besok lagi ya


Friday, July 12, 2019

SA'AT HATI BICARA 50

SA'AT HATI BICAEA  50

(Tien Kumalasari)

Dita bersiap siap seandainya yang masuk adalah Santi. Tapi bukan, seorang tua dengan penyangga kaki dan berjalan tertatih masuk, dan dengan heran memandang Dita serta Laras bergantian. Kemudian serta merta ia membalikkan tubuhnya, dan keluar dari pintu. Tapi sebelum keluar Dita memanggilnya.

"Bu.. ibu.. ibu mencari siapa?"

"Ma'af, salah kamar.." kata perempuan itu dengan suara serak, kemudian menghilang dibalik pintu setelah menutupkannya .

Laras dan Dita berpandangan, tapi kemudian diingatnya perempuan tua yang keluar dari ruangan ketika ia berhenti didepan pintu sebuah kamar.

"Perempuan itu aneh bukan?"

"Sangat aneh, aku akan mengejarnya keluar," kata Dita yang kemudian bergegas keluar dari kamar .

Dita menoleh kesana kemari, tpi tak ada perempuan tua itu. Mungkin sudah berbelok keujung lorong. Dita menuju ujung lorong, tapi tak tampak perempuan tua itu.Padahal pasti jalannya tertatih dan tak bisa cepat. Apa dia bisa menghilang?

Dan kalau tadi dia bilang salah kamar, berarti kamar yang ditujunya pasti didekat dekat situ. Masa salah sampai dikamar lain yang letaknya berbelok belok?

Dita nekat. Mungkin perempuan itu sudah masuk kesalah satu kamar disebelah kiri atau kanannya kamar Sasa. Jadi dia nekat masuk kesebelah kirinya dulu. Ia mengetuk pintu pelan, lalu masuk seakan akan dia akan membezoek seseorang. Tapi kamar itu ditunggui oleh seorang perempuan setengah baya dengan pakaian sederhana, duduk sambil bersandar ke sofa.

"Silahkan, mau membezoek cucu saya?" sapa perempuan itu.

"Oh, ma'af bu, saya salah kamar," lalu Dita keluar. Sepanjang kamar yang berjajar dikiri kanan Sasa sudah dimasukinya, dan entah sudah berapa kali Dita berucap ma'af salah kamar.

Lalu Dita kembali menemui Laras, yang masih saja memeluk Sasa.

"Ketemu?"

Dita menggelengkan kepalanya.

"Mencurigakan sekali. Jangan2..."

Ucapan Laras berhenti karena tiba2 seorang perawat datang membawa map berisi surat2.

"mBak, atas permintaan orang tuanya, anak ini mau dipindahkan kerumah sakit lain ," kata perawat itu.

"Apa,?" Dita berteriak.

"Iya, ini atas permintaan orang tuanya, ini surat2nya sudah selesai, tinggal membawa anaknya saja. Dia memesan mobil ambulan, dan akan menunggunya disana."

"Rumah sakit mana ?"

"Ma'af, saya tidak berhak memberi tau, sekarang saya akan mengambil anak itu."

"Tidak bisa," kata Laras sambil memeluk Sasa erat2.

"Mana orang tuanya?" tanya Dita kesal.

"Saya orang tuanya," tiba2 Agus muncul dikamar itu.

Laras sangat gembira, dan Sasa langsung berteriak.:"Papaaaa...."

Agus memeluk Sasa, menciumi  sepuas puasnya, air matanya berlinang, air mata bahagia.

"Aku mau pulang, papa... " rengek Sasa.

"Ya, pastinya kamu akan pulang bersama papa."

"Bagaimana ini?" perawat itu bingung.

"Suster, anak saya ini diculik, sekarang saya sudah disini, sayalah yang berkuasa atas anak ini. Jadi kembalilah, lagipula ibunya sudah ditangkap polisi.

 Perawat itu kebingungan, tapi kemudian keluar dari kamar itu.

"Sayang, ma'afkan papa ya...," Agus mencium Sasa lagi. Laras mundur kebelakang, air matanya juga berlinang. Ia dan Dita berpelukan karena perjuangannya berhasil.

"Mas,  tadi mas bilang ibunya sudah ditangkap polisi, apa benar?" tanya Laras.

"Benar, ketika aku dan Panji mau masuk kerumah sakit ini, tiba2 ada seorang nenek2 memakai tongkat keluar. Tapi ada yang aneh, begitu sampai dihalaman dia melempar tongkat itu dan berjalan dengan santai, memasuki sebuah mobil. Aku dan Panji terus memandanginya dengan heran. Tapi kemudian aku mengenalinjya. Nenek2 itu memakai sepatu berhak tinggi, itu aneh, dan aku mengenali cara dia berjalan. Aku langsung memberi kode kepada polisi yang menunggui didepan. Mereka menghadang mobil itu sehingga urung berjalan. Polisi menarik perempuan itu, menarik wig yang dipakainya, juga kaca matanya. Dia memang Santi."

"Diaaaa..," teriak Laras dan Dita hampir bersamaan.

"Kalian tau?"

"Tadi dia masuk kemari, tapi begitu melihat aku sama Dita, lalu keluar lagi dan bilang salah kamar. Rupanya dokter Santi menyamar jadi nenek2, suaranya juga di buat2." kata Laras.

"Hampir saja Sasa dibawa pergi lagi, tapi mbak Laras sudah mempertaruhkan nyawa dengan mendekap Sasa erat2. Ia tak akan mengijinkannya seandainya perawat itu nekat." 

Agus tersenyum,lalu dipandanginya Laras. Aduh, heran deh, mengapa dalam suasana seperti ini dia masih juga tebar pesona?Laras tersipu dan menundukkan kepalanya.

"Tunggu, bukankah kamu lagi sakit? Bagaimana bisa sampai kemari?"

"Aku lagi berjalan jalan, aku sudah bersiap minta pulang karena sudah merasa sembuh," lalu Laras menceriterakan bagaimana dia bisa menemukan Sasa. Agus menatap Laras, penuh terimakasih.

"Aku mau minta pulang, pasti dokter mengijinkan," kata Laras.

"Masa? Coba lihat, lha lukamu masih diperban..," kata Agus ambil memgangi lengan Laras. 

Laras berdebar. Agus memegangnya lama sekali, seperti dokter yang sedang mengamati penyakit pasiennya. Tapi Laras membiarkanhya, seperti ia membiarkan debur jantungnya memukul mukul dadanya.

"Ini belum boleh pulang, ayo kembali kekamar dan tidur," canda Agus.

"Iih, memangnya dokter ?" Laras cemberut.

Agus duduk sambil tersenyum senyum, barangkali dia menangkap ucapan selamat datang seandainya dia mengetuk pintu hatinya.

"Papaaa..." tiba2 Sasa merengek.

"Oh, ya sayang...?"

"Aku nggak mau ini... lepasin papaaa..." Sasa menunjuk lengannya yang terbalut dan ada selang tersambung ke botol infus.

"Eit.. sebentar sayang, papa mau nanya dulu sama pak dokter, apakah ini sudah boleh dilepas atau belum, kan Sasa sakit?"

"Sasa sudah sembuh!" kata Sasa kesal.

"Oh ya, baiklah, tunggu pak dokter dulu ya, nanti kalau sudah sembuh pasti pak dokter mengijinkan selang itu dilepas."

"Aku mau mbak..." rengek Sasa lagi.

"Oh, nanti papa akan menjemput mbak, supaya menungguin kamu disini."

"Aku nggak mau mama...," kata Sasa sepeti ketakutan.

"Nggak ada mama, sekarang Sasa bersama papa, bersama tante Laras, tante Dita. Oh ya, kamu sudah kenal tante Dita?"

Sasa memandangi Dita dan mengangguk. Dia ingat waktu masih bersama ibunya, Dita yang menenangkannya.

"Kenal dong Sasa...nggak lupa kan?" kata Dita sambil memandangi Sasa

"Aku mau menelpon Endang, biar dia kesini. "

"Papa jangan pergi, aku mau ikut," rengek Sasa lagi.

"Sayang, papa akan memanggil mbak ya, nanti kalau mbak Endang datang..papa mau ketemu dokternya juga, supaya Sasa boleh cepet2 pulang, ya?"

Agus menelpone Endang, sementara itu Laras juga kembali ke kamarnya. Dita masih dikamar itu menghibur Sasa, bersama Agus.

"Bagaimana keadaanmu Dita?"

"Baik pak, aku bersyukur Tuhan melindungi kita semua."

 "Benar, akhirnya semua segera berakhir. Terimakasih banyak karena kamu sudah berkorban untuk Sasa."

"Bapak nggak usah berterimakasih begitu, saya baru ketemu Sasa, tapi rasanya sayang banget sama dia."

"Santi benar2 gila melakukan ini semua. Dia itu sakit."

Tiba2 telephone berdering. Dari Panji.

"Hallo Panji, bagaimana? Masih di kantor polisi?"

"Ya, masih, urusannya masih panjang nih, Santi membawa bawa nama Dita."

"Ya ampuun, eddan dia."

"Dia akan dipanggil kekantor polisi juga."

Agus memandangi Dita yang sedang bercanda dengan Sasa. Ada rasa iba memenuhi hatinya.

***

besok lagi ya

Wednesday, July 10, 2019

SA'AT HATI BICARA 49

SA'AT HATI BICARA  49

(Tien Kumalasari)

 

Laras terpaku sejenak, kemudian ingin berteriak memanggil. Tapi hati warasnya menahannya. Tak mungkin Sasa sendirian, pasti ada Santi disitu. Laras berfikir bagaimana caranya bisa mengambil Sasa dan menyerahkannya pada papanya. Tampaknya Sasa memang sakit, ada selang infus terhubung ke lengannya. Dan Sasa tampak tertidur. Laras ingin melongok kedalam, ingin tau dimanakah Santi duduk. Tapi diurungkannya. Kalau dia melakukannya, lalu Santi melihatnya.. bisa2 Santi akan berbuat sesuatu yang nekat. Bisa jadi selang infus itu dilepaskannya lalu dibawanya kembali Sasa entah kemana. Laras tak berani beringsut dari sana. Ia harus mengawasinya terus. Bodohnya aku, mengapa tidak membawa ponsel. Ia ingin menghubungi Agus, tapi dengan apa?

Laras bingung. Ada orang2 lewat, tapi mana mungkin ia meminjam ponsel mereka untuk menghubungi Agus atau Panji?

Ada bangku disamping jendela itu. Laras duduk sambil berfikir keras.Sebentar2 kepalanya melongok kearah kamar, dan dilihatnya Sasa masih tertidur. Dimanakah sebenarnya Santi? Laras kemudian berdiri, melongok agak mendekat ke jendela, tapi pintu kekamar itu tertutup. Kalau ia tiba2 masuk, dan ternyata Santi ada didalam? Wah, bisa kacau.  

Laras berjalan kesana kemari.. seperti orang linglung. Ketika perawat yang ditanyainya arah ruangannya lewat lagi, Laras tersenyum dan mengangguk.

"Sudah ketemu ruang Melati mbak?" tanya perawat itu yang mengira Laras masih kebingungan.

"O, sudah suster, ini lagi.. lagi.. nungguin teman," jawab Laras sekenanya.

Perawat itu berlalu. Ia tiba2 teringat film2 yang pernah dilihatnya, orang asing memasuki sebuah ruang dirumah sakit, dengan meminjam baju suster yang berjaga, kemudian dengan bebas bisa masuk kedalam.Lalu melakukan kejahatan disitu. Tapi itu kan cerita. (eh, emangnya ini bukan cerita?)...

Tapi Laras ternyata bukan seorang pemberani. Ia justru merasa kecut membayangkan dia akan gagal menyelamatkan gadis kecil itu. Ia butuh seseorang. Siapa yang tau kalau ia berada disini? Ia ingin ke ruangannya sendiri untuk mengambil ponsel, tapi takut kehilangan jejak Sasa. Tapi bukankah Sasa sedang dirawat dan tak mungkin bisa pergi dari situ? Laras beridiri, kemudian bergegas pergi keruangannya sendiri. Cepaat... cepaaaat... bisik batinnya. Aduh, ternyata dia berjalan sangat jauh, sepuluh menit kemudian dia baru menemukan kamarnya, dan astaga, disitu ada Dita. Laras memeluknya erat.

"Darimana saja, aku sudah mau tidur disini karena menunggu mbak terlalu lama," tegur Dita.

"Ssst.. dengar, aku melihat Sasa, ayo... aku kesini cuma ingin mengambil ponsel. Ayo cepaaat, kita harus menghubungi mas Panji atau mas Agus."

Laras menarik tangan Dita tanpa memberinya kesempatan untuk bertanya. Sambil berjalan itu Laras mencari nomor kontar Panji, atau Agus, mana yang lebih dulu ketemu. Ini dia, mas Agus.

"Hallo, " jawaban dari seberang sana.

"Mas, cepatlah kemari, aku melihat Sasa,"

"Apa? Dimana?"

"Dirumah sakit tempat aku dirawat, cepatlah."

"Diruang apa?"

"Kemari dulu, diruang anak2 lah.. tapi aku tidak melihat Santi. Cepat mas.."

Laras menutup pembicaraan itu sambil terus melangkah.

"Dimana dia?"

"Tunggu, diruang anak2, Apa tadi namanya, aduh.. aku ini suka bingung...

***

 "Tanya saja ke petugas, ruang anak2. mBak Laras jangan panik, tenang mbak, kata Dita.

Itu benar, Laras memang panik. Dita menggandengnya dan menepuk nepuk tangannya. Padahal sebenarnya dia juga panik. Benarkah Sasa ada disini? Ya Tuhan, semoga semuanya segera berakhir. 

Mereka tiba diruang anak2.. tapi kamar yang mana? Laras bingung karena tadi dia melihat dari luar.

Mereka mendekati suster jaga.

"Selamat pagi sus," sapa Laras.

"Pagi mbak, ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin membezoek keponakan saya, dikamar mana ya?"

"Namanya siapa mbak?"

"Sasa...."

Perawat itu membuka komputernya, mencari cari nama Sasa, beberapa sa'aat lamanya tapi tidak ketemu.

"Namanya Sasa siapa ya?" tanya perawat itu lagi.

"Waduh, nama lengkapnya nggak tau tuh, nama orang tuanya dicatat nggak?"

"Ya, pastinya, siapa namanya, alamatnya...?"

"Santi? Jl. Kenikir..."

Perawat itu mencari cari lagi, sementara Laras sudah mulai gelisah. Ia menoleh kekanan dan kekiri, berharap Panji dan Agus segera datang.

"Kok nggak ada juga nama itu, atau alamat yang mbak sebutkan ya,"

"Dia baru masuk tadi pagi mestinya," sela Dita.

"Baru tadi pagi? Ini ada.. namanya Dora, umur 3 tahun.."

Laras dan Dita berpandangan, keduanya sepakat melalui pandangan itu, bahwa dialah yang mereka maksud.

"Ya, itulah... dimana kamarnya?"

"Dia di H1 mbak, kelas vip.. diujung sana."

Laras dan Dita mengucapkan terimakasih dan terburu buru mendekati kamar yang dimaksud. Tapi sampai didepan kamar itu mereka berhenti. Apa yang harus dilakukannya? Kalau langsung masuk.. bagaimana kalau terjadi keributan dan Santi membawanya lari?

Tiba2 pintu terbuka, dan seseorang keluar. Laras dan Dita mundur beberapa langkah. Tapi yang keluar adalah seorang nenek2 yang berjalan menggunakan penopang kaki.

Aduuh.. salah lagi.. 

"Bukan ini kamarnya..,"bisik Laras yang kemudian menarik tangan Dita menjauhi kamar itu. Laras mengajaknya berputar lalu menyusuri lorong yang tadi ditemukannya jendela yang sedikir terbuka dan dilihatnya Sasa.

Laras berdebar debar, apakah Santi akan membawanya kabur dalam keadaan anaknya sakit? Tapi Laras benar2 bingung, semua kamar bentuknya sama, semua jendela juga sama.

Haa.. bangku itu..

"Disitu, aku tadi duduk, sungguh, dan dibalik bangku itu aku melihat Sasa." kata Laras beremangat.

Mereka mendekati bangku yang ditunjuk Laras, lalu melongok kedalam. Dilihatnya seorang perawat sedang menggantikan celana si anak kecil.

"Itu Sasa?"

"Ssssh.....," Laras memberi isyarat agar Dita tidak berisik.

Anak kecil itu menangis keras.

"Papaaa... aku mau papa..."

Laras membungkam mulut Dita yang akan berteriak. Itu benar Sasa. Dimana Santi? Pasti sedang duduk di sofa yang membelakangi jendela itu. Bukan, agak kesamping sehingga tidak kelihatan.

Laras menarik tangan Dita, kembali mengitari ruangan itu. Nah, suster yang menggantikan popok itu sudah keluar.

"Suster..," sapa Laras.

"Ya ?" Suster itu berhenti.

"Suster baru saja menggantikan celana anak itu, apa ibunya nggak ada?"

"Oh, ibunya lagi ke instalasi farmasi, ada obat dan infus yang harus dibelinya."

"Terimakasih suster,"

Laras dan Dita berjingkrak kegirangan begitu suster itu berlalu. Keduanya masuk kedalam kamar, dan didengarnya tangisan memilukan itu.

Laras segera menubruk Sasa.

"Sayang, diamlah sayang, jangan menangis.. ingat sama tante?"

Seketika tangis itu berhenti. Ia mengenali Laraas, tentu saja. 

"Aku mau papa... ,"rengeknya lagi.

"Dita, tolong kamu telephone mas Panji atau mas Agus, suruh cepat, kenapa lama sekali?"

" Oh.. ya.. baiklah.."

"Tenang Sasa, oh ya.. kalau mas Agus yang menerima, tolong kasihkan dia biar tenang." kata Laras kepada Dita. 

Sebenarnya :aras ingin menggendong Sasa dan mengajaknya pergi, tapi masih terpasang infus dilengan Sasa.

"Mas Panji? Oh, pak Agus... kok lama pak, ini kami sudah menemukan Sasa," Dita mendekatkan ponselnya ketelinga Sasa.

"Ini papa, ayo panggil papa..."

"Papaaaa... aku mau papaaa... mbana mbak.. aku mau pulaaang..." rengek Sasa.

"Sayangku... cintanya papa... tenang, sebentar lagi papa kesini ya..."

Laras mengambil ponsel itu.

"Mas, lama banget.. ini mumpung mamanya nggak ada. Udah aku WA kamar dan nomernya. Buruan."

"Ya, ya.. ini sudah dekat.. tenanglah..."

Ponsel ditutup, Laras masih memeluk Sasa untuk menenangkan hatinya.

Tiba2 pontu bergerak perlahan. Laras memperketat pelukannya.

***

besok lagi ya

 

 


Tuesday, July 9, 2019

SA'AT HATI BICARA 48

SA'AT HATI BICARA 48

(Tien Kumalasari)

 

Sasa lebih tenang, bisa tertidur, barangkali dokter memberinya obat penenang. Dia juga sudah tidak terus2an buang air, dan panasnya sudah turun. Santi merasa lega. Sejak semalam dia panik karena anaknya panas, lalu buang air terus2an. Ia sungguh beruntung karena pak tua ppemilik sebuah rumah yang ingin dipergunakannya untuk sembunyi, mengira dia adalah menantunya. Dia diam saja ketika bapak tua yang hidup sendirian dirumah sederhana itu menganggapnya Sumi, menantunya, sehingga dia bisa tenang semalaman tidur disitu. Bahkan ketika orang2 mencarinya, dia juga mendengarnya. Untunglah pak tua itu segera mengusirnya  Itulah sebabnya ketika pagi datang ia segera menelpon taksi dan buru2 minta diantar kerumah sakit. Dengan segala cara ia menyamar supaya tidak dikenali oleh siapapun.

Sekarang ia merebahkan tubuhnya di spfa, karena letih lahir batin. Dalam pelarian ia hampir tidak tidur nyenyak selama berhari hari. Sekarang ini mungkin di[ikirnya Dita sudah kembali kerumahnya, dan pasti sudah melaporkannya pada polisi. Tapi sekarang untuk sementara ia merasa tenang. Nanti setelah Sasa sembuh ia pasti akan membawanya jauh, dia belum memikirkannya. Sekarang matanya terpejam, lalu lelap dalam letih yang sudah lama ditahannya.

***

"Ibuu.... " teriak Dita begitu tiba dirumah sakit da menemui ibunya.

Bu Tarjo yang baru saja selesai makan pagi terkejut sekali. Tiba2 Dita muncul dihadapannya, dan memeluknya.

"Dita ?Kamu Dita?"

"Ibu, ini Dita... "

"Ya Tuhan, ibu kangen sekali sama kamu Dita, lama sekali, seperti bertahun tahun ibu tidak melihat wajahmu.." kata bu Tarjo sambil mencium putrinya. Air matanya berlinang linang.

"Benarkah kamu sudah diperiksa lagi dan sebenarnya sehat?"

"Iya bu, Dita sehat, Dita akan hidup seribu tahun lagi," kumat kesukaan bercandanya ketika Dita bertemu ibunya.

"Dokter Santi salah diagnose. Dia itu kan dokter yang masih bodoh," kata Dita dengan kesal. Ia dibuat sengsara dan diselimuti rasa takut selama ber hari2.

"Dita, kamu nggak boleh bilang begitu, dia itu kan baik sama kita," tegur bu Tarjo yang belum tau keadaan sebenarnya.

"Iya.. iya... ma'af..," kata Dita sambil meleletkan lidahnya.Ia belum ingin menceriterakan keadaan yang sesungguhnya kepada ibunya.

Bu Tarjo tertawa.

"Kamu itu, suka bercandanya nggak habis2. Tapi .. ya ampuun.. kamu bau sekali... belum mandi ya?" tiba2 bu Tarjo mengernyitkan hidungnya.

Dita tertawa keras.

"Ssst... " bu Tarjo mencubit pipi Dita. 

"Dita memang belum mandi, apa disini ada baju mbak Ruti yang tertinggal?"

"Sepertinya ada, coba saja di almari itu. Mandilah dulu, nanti cerita2 lagi, lalu keadaan nak Laras bagaimana kok kamu sudah kesini?"

Waduh, Dita kan belum tau apa2 tentang sakitnya Laras, dia harus cepat2 menelpon Laras sebelum kembali menemui ibunya setelah mandi.

"Ada bu, Dita mandi dulu ya?" Lalu Dita pun mengambil sehelai baju Ruti, dan menuju ke kamar mandi.

Bu Tarjo tersenyum senang. Ia merasa sangat sehat, dan ingin segera kembali pulang. Itu dikatakannya ketika suster datang dan mengukur tensinya.

"Bagaimana suster? Tekanan darah saya bagus kan?"

"Bagus sekali bu." jawab perawat itu.

"Saya ingin cepat pulang suster, nanti bilang sama dokter ya."

"Ibu, nanti kalau dokternya datang, ibu bilang saja sama dokternya. Coba sekarang ibu duduk, masih pusing nggak?"

Bu Tarjo bangkit, kemudian duduk, agak terasa berputar kepalanya. Tapi kan itu karena terlalu lama tiduran? Bu Tarjo memejamkan matanya.

"Bagaimana bu? Masih pusing bukan?"

"Oh, nggak.. nggak apa2, kan ibu terlalu lama tiduran, lama2 pasti nggak terasa pusing lagi.

"Baiklah, tapi kalau masih pusing sekali jangan dipaksa ya bu?"

"Baiklah suster," jawab bu Tarjo sambil masih tetap duduk. Dilihatnya luka bakar ditubuhnya yang sebagian mulai mengering. Bu Tarjo yakin akan bisa merawatnya sendiri dirumah.

***

"Ya ampun Dita, syukurlah kamu sudah kembali dengan selamat. tapi aku masih prihatin dengan keberadaan Sasa Dit, dimana dia sekarang?"kata Laras dari seberang ketika Dita menelponnya.

"Aku ikut mengejarnya kemarin, dan pagi ini mereka sedang menyusuri kesetiap rumah sakit karena menurut penyelidikan, dokter Santi membawa Sasa kerumah sakit. Tampaknya anak itu  sakit. Kasihan mbak, Sasa rewel memanggil manggil papanya terus. Aku sedih mendengar tangisnya."

"Aku juga sedih, Sasa kan terbiasa dengan papanya, bukan dengan mamanya,"

"Bagaimana sakitmu mbak? Kecelakaan itu karena mbak melindungi Sasa ya?"

"Ya, kebetulan sedang bersama aku, tapi aku sudah baikan, aku akan minta pulang, kalau boleh hari ini."

"Benarkah? Nanti aku akan kesini mbak, ini baru habis mandi, mbak Ruti kan bilang sama ibu bahwa aku nggak menengok ibu karena nungguin mbak Laras sakit. Nanti kalau ibu nanya2 keadaan sakitnya mbak Laras aku jadi bisa menjawab."

"Iya, aku tau, Maruti sudah bilang sama aku." 

"Ya sudah, temani ibu dulu, aku mau jalan2.."

"Haaa.. jalan2?

"Aku kan sudah bilang bahwa aku sudah pengin pulang. Tinggal luka lecet ini saja .. kan nggak apa2.."

"Ya udah, hati2 mbak, aku nanti kesitu. Telponnya nggak berani lama2, kan ini minjem telephone rumah sakit?"

"Ya, baiklah, salam buat ibu ya. Oh ya, bagaimana keadaan ibu" 

"Baik mbak, tadi sudah latihan duduk, dan tampak sehat."

"Syukurlah, aku ikut senang."

Dita menutup pembicaraan itu. Dia tadi meminjam telephone rumah sakit, karena ponselnya hilang entah kemana. Ia kembali menemui ibunya dikamar. Dilihatnya bu Tarjo masih duduk dipembaringan, menunggu Dita kembali.

"Ibu jangan lama2 duduknya, kan masih latihan?"

"Ibu sudah sehat Dit, nggak apa2.. kamu tadi dari mana?"

"Menelpon mbak Laras bu."

"Bagaimana keadaan nak Laras?"

"Dia sudah bisa jalan2, katanya hari ini mau minta pulang."

"Ibu juga mau minta pulang."

"Lho, ibu kan masih banyak luka2 yang harus dirawat dengan cermat?"

"Ibu bisa merawatnya sendiri , percayalah, ibu selalu perhatikan setiap perawat membersihkan lukanya, memberinya obat dan menggantikan perbannya. Nggak sulit kok."

"Tapi harus minta ijin dokter dulu, nanti Dita bilang kalau dokternya kesini. Tapi Dita pamit sebentar ya bu, mau nengokin mbak Laras."

"Lho, kamu sudah dari sana, kok masih mau nengokin lagi."

"Bukan begitu, tadi kami omong2, dan... mbak Laras harus... harus membeli obat, jadi... biar Dita belikan dulu.. nanti Dita kembali kemari," kata Dita berbohong. Kan sebenarnya dia belum pernah ketemu Laras sejak Laras mengalami kecelakaan?

Tapi bu Tarjo mengangguk angguk, baginya keberadaan Dita didekatnya sudah membuatnya lega, apalagi dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa, meleset dari apa yang dikatakan dokter Santi waktu itu. Tapi bu Tarjo juga heran, bagaimana bisa seorang dokter bisa seceroboh itu? Bu Tarjo tidak mengerti, bukan dokternya yang melakukan itu, tapi manusianya. Manusia yang diselubungi oleh ambisi untuk memiliki sesuatu, menghancurkan sesuatu, demi kepuasan diri.

***

Laras benar2 turun dari pembaringan, dan berjalan jalan disekitar rumah sakit itu. Ia merasa sehat, ia ingin segera pulang. Rumah sakit yang besar, bersih, nyaman, tapi siapa yang suka menginap disitu? Laras berhenti disebuah taman, ada kursi besi dan bercat abu2, terlindung dibawah pohon rindang. Laras duduk disana, menikmati udara segar yang beberapa hari ini tak pernah dihirupnya. Bau alkohol dan obat2an masih tercium dari situ, tapi semilir angin membuatnya merasa lebih nyaman. 

Beberapa sa'at Laras duduk disana, dipandanginya langit biru diatas sana,  udara sedikit panas menjelang siang itu. Dilangit itu tampak sebuah bayangan. Laki2 ganteng dengan kumis tipis diatas bibirnya, tersenyum dan melambaikan tangannya. Laraspun tersenyum. seekor burung menggoyangkan dedaunan, dan kerosak daun2 itu menyadarkannya, menghempaskannya dari kerinduan yang menyesakkan dadanya. 

"Sa'at ini mas Agus sedang bersedih, aku bisa merasakan bagaimana sedihnya. Ya Tuhan, kembalikan Sasa padanya." bisiknya pilu.

Teringat olehnya ketika ia menyelamatkannya dari maut, gadis mungil yang lucu, yang menggemaskan, tapi mengapa sekarang harus pergi? Kata Dita ia memanggil manggil papanya terus, duhai.. pasti tersiksa ketika ia dipaksa mengikuti seseorang yang tidak dekat dengannya walau dia ibu kandungnya sendiri.

Laras menghela nafas panjang, ia kemudian berdiri dan meninggalkan taman itu. Melangkah menyusuri lorong2 rumah sakit dengan hati gundah.

"Tuhan, kembalikan Sasa pada ayahnya,"bisiknya dalam do'a.

Laras terus berjalan, tiba2 ia lupa dimana letak ruangannya sendiri. Laras membalikkan tubuhnya, melongok kesetiap jendela terbuka yang dilaluinya. Barangkali dari situ ia bisa mengenalinya. Tapi tidak, ini kan ruang anak2. Ketika seorang suster lewat, dia terpaksa bertanya.

"Suster, dimana ruang Melati?"

"Oh, disana mbak, jauh.. terus saja lurus, kekiri.. baru kekanan.."

"Terimakasih suster."

Laras terus melangkah mengikuti petunjuk sang suster. Disebuah jendela yang terbuka, tanpa sengaja  ia melihat sesuatu, yang membuatnya sangat terkejut.

"Bukankah itu Sasa?" bisiknya lirih.

***

besok lagi ya

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  016 (Tien Kumalasari)   Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mu...