Sunday, September 6, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  016

(Tien Kumalasari)

 

Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mulutnya, tapi nyonya Lili tampak tak bereaksi. Ia hanya diam, senyumnya yang tipis tak menunjukkan apa yang dirasakannya. Sesungguhnya dia tak peduli tentang Ana. Perintah ibunya hanyalah merawat Ana, mencukupi semua kebutuhannya dan memberinya kasih sayang. Tapi masalah kasih sayang itu Lili tak memilikinya. Ia adalah anak tunggal setelah kakaknya meninggal. Dimanjakan dan diberi kehidupan dengan harta yang berlimpah ruah. Ia menikah tanpa rasa cinta, ia juga tak memiliki cinta kepada Ana yang keponakannya sendiri. Kasih sayang yang diberikan adalah dengan memberi kesenangan yang tampak, bukan rasa cinta yang tulus dari dalam lubuk hati.

Tapi Rumi terus memanasinya, terus melontarkan ungkapan-ungkapan yang semakin lama semakin membakar hatinya.

“Ya sudah, biarkan saja. Itu kemauan nyonya besar, kita tidak bisa membantahnya.”

“Nyonya bagaimana sih, saya itu hanya mengingatkan Nyonya agar terus mengawasi dia dan berhati-hati. Coba Nyonya lihat, belum lama dia tiba, dia sudah menguasai non Ana, sehingga makan siang harus bersama dia, bahkan tidur siang juga harus bersama dia.”

“Iya, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu terlalu banyak bicara,” kata sang nyonya majikan sambil pergi meninggalkannya. Rumi beranjak ke belakang masih dengan mulut monyong.

Lili ingin masuk ke kamarnya, tapi ia menjenguk dulu ke kamar Menur. Ia melihat Ana tidur sambil merangkul Menur, sedangkan Menur menepuk-nepuk pantatnya dengan lembut. Ada yang salah dan membuat Lili tidak begitu suka. Ana tiba-tiba dekat dengan orang asing yang belum lama dikenalnya, walau menurut ibunya, Menur masih terhitung saudaranya juga.

Lili membuka pintu kamar lebar-lebar, suara pintu terbuka, walau pelan, membuat Menur kemudian menoleh ke arah pintu. Ia buru-buru bangkit sambil melepaskan pelukan Ana.

“Nyonya …..” sapanya lembut sambil merapikan kerudungnya.

“Kamu tidak usah berpura-pura baik. Kamu sangat sadar bahwa kita masih saudara bukan? Jangan memanggilku nyonya. Kalau mama mendengarnya akulah yang akan kena marah.”

“Maaf, aku harus memanggil apa?”

“Kamu kan tahu namaku, panggil aku Lili.”

Ucapan itu walau tak mengandung kebencian, tapi nadanya sungguh kurang menyenangkan. Begitu ketus, angkuh dan seakan tak rela ‘berkawan’ dengan dirinya.

“Maaf, dan baiklah,” jawab Menur pelan, sambil turun dari tempat tidur.

“Lain kali jangan ijinkan Ana tidur di kamar ini. Ana punya kamar sendiri.”

“Aku sudah mengingatkannya, dia bersikeras ingin tidur di sini. Tapi aku bisa menggendongnya dan memindahkannya ke kamarnya sendiri,” kata Menur sambil bersiap mengangkat tubuh Ana. Tapi kemudian Ana menggeliat.

“Bibi jangan pergi, di sini saja.”

“Ana, ayo pindah ke kamar kamu sendiri, bibi akan menggendong kamu.”

“Nggak mau, aku mau di sini,” rengeknya sambil merangkul pinggang Menur.

Menur menoleh ke arah Lili, ingin mengatakan bahwa Ana menginginkannya.

Tapi sebelum Menur mengucapkan sesuatu, Lili sudah keluar dengan tergesa-gesa.

Menur menghela napas, menahan perasaan yang entah bagaimana tak bisa diungkapkan. Lili memang tidak mengatakan bahwa dia tak suka, tapi nada bicara lebih mengungkapkan isi hati daripada perkataan yang terucap.

Menur kembali menepuk-nepuk pantat Ana dengan lembut, lalu meninggalkannya ketika Ana sudah tampak pulas.

Ia keluar dari kamar, ingin menanyakan kepada Lili apa yang harus dikerjakannya. Biarpun masih keluarga, tapi Menur bukan orang yang suka diam berpangku tangan. Tentu ada yang ingin dilakukannya. Ketika keluar, ia berpapasan dengan Rumi yang langsung menyerangnya.

“Jangan kamu kira kamu bisa tidur keenakan sementara yang lain banyak pekerjaan.”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Tuh, bekas makan non Ana, kamu harus mencuci dan membersihkannya, bukan dibiarkan berserakan di meja makan.”

“Eeh, apa maksudmu dengan perkataan itu?” tiba-tiba nenek Sasa datang dan menatap Rumi dengan pandangan marah.

Rumi langsung menundukkan wajahnya.

“Maaf Nyonya Besar, hanya menunjukkan dia agar mengerti apa yang harus dilakukannya,” katanya tanpa berani mengangkat wajahnya.

“Kalau mencuci piring bekas makan Ana, itu bukan pekerjaan Menur. Itu pekerjaan pembantu, atau malah pekerjaan kamu,” katanya tandas.

“Biar saya mencucinya bulik, tidak apa-apa,” kata Menur.

“Tidak boleh. Itu bukan pekerjaan kamu. Biar Rumi melakukannya. Ayo ikutlah aku, kita omong-omong di depan,” kata nyonya Sasa sambil menggandeng tangan Menur. Rumi yang menatapnya heran. Tadi dia memanggil apa? Bulik? Siapa sebenarnya pengais sampah itu? Rumi beranjak ke belakang dengan wajah muram.

***

Baroto sedang makan di sebuah restoran bersama Rahman. Sikap Rahman tak seperti ketika baru bertemu dengannya. Begitu bersemangat dan riang. Ia tampak sungkan ketika Baroto memintanya memilih makanan. Ia juga tak banyak bicara kalau Baroto tidak mengajaknya bicara.

“Apa kamu tidak suka ibumu tinggal bersama Ana?”

Rahman diam. Sesungguhnya iya. Bukan Ana yang membuatnya kesal, tapi mamanya. Ia tak bisa melupakan ketika mama Ana mengucapkan kata-kata menghina terhadap sang ibu.

“Apa kamu tahu bahwa ibumu masih keponakan nenek Ana?”

Rahman mengangguk. Tapi memiliki saudara yang kaya raya tak membuatnya bangga. Rahman berubah seperti itu juga karena Baroto. Barotolah yang mengubahnya menjadi rendah hati dan penuh kasih sayang kepada orang tua.

“Kamu harus bisa berbaur dengan keluarga Ana. Dia sangat menyayangi ibu kamu, seperti kamu juga menyayanginya.”

“Kami miskin, sangat berbeda, saya tidak ingin berbaur dengan orang kaya” katanya lirih, tapi bagi Baroto terasa sangat menyayat.

Baroto menatap wajah Rahman yang tampak sendu. Kelihatan sekali dia tak suka ibunya tinggal bersama Ana. Tampaknya ada yang membuat dia merasa bahwa dirinya dan keluarga Baroto sangat berbeda. Ketika kesombongannya hilang, maka rasa rendah diri yang datang. Menurut Baroto, hal itu tidak baik. Tapi pasti ada sebabnya. Ia teringat ketika datang bersama Rahman, lalu istrinya sendang memarahi Menur. Itukah yang membuatnya terluka dan sakit?

“Rahman, kamu tidak boleh merasa begitu. Bahwa manusia itu ditakdirkan kaya atau miskin, dimata Allah semuanya adalah sama. Yang membedakan derajat manusia adalah apa yang dilakukannya. Kamu mengerti?”

Tentu saja Rahman mengerti, tapi belum begitu bisa menerima perlakuan manusia yang membedakan derajat dari harta yang dimilikinya.

“Bagaimana dengan orang yang suka menghina? Saya tahu, teman-teman saya suka menghina orang yang lebih miskin darinya. Lalu mengucilkannya di sekolah. Tadinya saya terbawa kelakuan mereka, dan malu kalau dibilang miskin, lalu takut dikucilkan. Sekarang tidak lagi. Saya tahu, dihina dan direndahkan itu sakit,” kata Rahman panjang lebar, membuat Baroto kagum bahwa anak sekecil Rahman bisa menguraikan sebuah perilaku yang baik dan yang tidak. Apakah itu setelah bertemu dengannya?

“Kalau kamu terhina dan sakit, maka kamu akan menyimpan rasa sakit itu di dalam hati kamu?”

“Apa saya harus melupakannya?”

“Melupakannya mungkin susah, tapi memaafkannya, harus bisa.”

Rahman menyendok makanannya dengan suapan terakhir.

“Apa kamu tahu, bahwa memaafkan itu adalah perbuatan yang mulia?”

Rahman mengusap mulutnya dengan tissue, lalu meneguk minumannya sampai habis. Tapi kemudian dia mengangguk.

Baroto tersenyum. Ada yang membuatnya berdebar. Dua hari lagi hasil tes DNA itu akan keluar, lalu ia akan kembali ke luar negri. Tapi sebelum itu ia harus memastikan bahwa Menur dan Rahman baik-baik saja.

***

Sore hari itu Menur sudah mengajak Ana agar segera mandi, karena dia akan pulang. Tapi begitu selesai berdandan, Ana masih ingin ditemani makan. Mau tak mau Menur menurutinya.

Rumi yang menyiapkan makan untuk Ana merasa kesal, karena hari masih sore dan Ana sudah ingin makan gara-gara Menur akan pamit pulang.

“Mengapa sih Non, biasanya juga makan bareng nyonya dan tuan, tapi Non ingin makan sekarang?”

“Aku mau makan ditemani bibi Menur.”

Rumi menyiapkan makan untuk Ana ketika hari masih sore dengan wajah muram. Menur yang sebenarnya sudah siap pulang, menasehati Ana agar jangan merubah kebiasaan gara-gara ada dirinya.

“Aku sedang senang, aku ingin apapun harus bersama bibi Menur.”

“Jangan begitu. Bibi Menur ada di sini hanya menemani dan melayani Ana, tapi Ana tidak boleh merubah kebiasaan. Kalau biasanya makan bersama papa dan mama, setiap hari harus begitu.”

“Tapi apakah bibi Menur mau pulang setelah makan malam bersama papa dan mama juga? Atau nenek, kalau kebetulan nenek ada di sini?”

“Jangan begitu. Kasihan Rahman kalau bibi pulang terlalu malam.”

“Ya sudah, kali ini saja.”

“Baiklah, kali ini saja ya, besok-besok semuanya harus sama seperti hari biasa. Bibi tidak ingin karena ada bibi lalu kamu merubah kebiasaan.”

Ana mengangguk walau sebenarnya kecewa.

Begitu selesai makan, Menur bersiap pulang, tiba-tiba Baroto mendekati.

“Kamu mau pulang, Menur?”

“Ya,” jawabnya singkat, tanpa berani lama-lama menatap wajah Baroto yang menatapnya aneh.

Tapi cara menatap Baroto terhadap Menur itu tertangkap oleh mata Rumi yang memang selalu mengawasinya.

“Aku antar, sekalian aku mau ada keperluan untuk keluar.”

“Tidak. Biar aku pulang sendiri saja, nanti menjadi kebiasaan.”

“Bukan apa-apa, kebetulan aku juga mau keluar kok.”

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”

“Kalau begitu biar diantar sopir.”

“Tidak usah,” katanya sambil berlalu. Ia tak harus berpamit pada Lili, karena ia tahu Lili belum pulang dari kantor, yang kata Ana terkadang sampai malam.

Baroto menghela napas kesal. Tidak mudah mendekati Menur kembali. Akhirnya dia mengalah, dan membiarkannya pergi sendiri.

***

Rahman sedang bersih-bersih rumah ketika Menur memasuki rumahnya. Agak terkejut ketika melihat Rahman melakukannya.

“Anak ibu, mengapa kamu menyapu sendiri, tidak menunggu ibu?”

“Ibu kan sudah capek, tidak apa-apa biar Rahman melakukannya.”

“Anak baik,” kata Menur sambil merangkul anaknya.

“Ibu, apakah mereka memperlakukan ibu dengan baik?” tanya Rahman sambil memegangi tangan ibunya.

“Tentu saja mereka semua baik pada ibu.”

“Nyonya yang galak itu juga?”

Menur tertawa, ia tak mau membuat anaknya sedih.

“Dia sangat baik.”

“Benarkah? Bukankah dulu dia galak pada ibu?”

“Itu kan dulu, sekarang dia baik, bukankah kami masih saudara?”

Rahman merasa lega mendengar jawaban sang ibu.

***

Besok lagi ya.

 

2 comments:

  1. Alhamdulillah
    Terima kasih Bu Tien
    Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu. Begitupun keluarga pada sehat.

    ReplyDelete

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  016 (Tien Kumalasari)   Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mu...