Friday, April 4, 2025

ADA MAKNA 27

 ADA MAKNA  27

(Tien Kumalasari)

 

Sesaat Guntur tak bisa berkata apa-apa. Bagaimanapun, Emmi adalah darah dagingnya. Kalau tega memarahinya, pasti tak tega mendengarnya sakit, apalagi operasi, yang berarti adalah sakit yang serius.

“Operasi apa?” tanyanya setelah beberapa saat lamanya.

“Ada perdarahan otak.”

“Dia jatuh? Kapan?”

“Menurut ibu Kinanti, pernah jatuh waktu masih kecil. Tapi operasi sudah selesai dan berhasil baik.”

“Alhamdulillah. Dokter Dian menungguinya?”

“Saya beberapa kali datang ke sana, ketika operasi saya menungguinya bersama kedua orang tua dan adik-adiknya.”

“Syukurlah. Mohon saya dikabari kalau ada apa-apa. Biarpun tak bertemu orangnya, tapi kalau mendengar berita baiknya, saya sudah senang.”

“Baiklah.”

“Dokter sudah bertemu keluarganya?”

“Sudah, mereka sangat baik. Adik-adiknya juga baik.”

“Saya berharap, dokter bisa menjadi keluarga mereka. Apakah Emmi sudah pernah mendengar dari dokter bahwa dokter menyukainya?” kata Guntur berterus terang.

“Saya belum pernah mengatakannya. Tapi sikapnya baik.”

“Saya pernah mengatakannya.”

“Dia menjawab apa? Semoga tidak ada penolakan,” kata dokter Dian sambil tersenyum.

“Tidak terlihat begitu. Tapi dia ingin menyelesaikan kuliahnya. Semoga dalam setahun ini bisa selesai.”

“Aamiin.”

“Saya berharap masih hidup ketika Emmi menikah.”

“Dokter jangan berkata begitu. Dokter akan sehat dan kuat.”

“Saya tahu apa yang saya derita.”

“Semangat adalah obat.”

Guntur tersenyum. Ia merasa tak ada yang bisa diharapkannya. Hidupnya adalah milik dirinya sendiri. Siapa yang peduli? Tapi kemudian dia ingat Reihan. Ia sudah memberikan hampir semua tabungannya untuk Reihan. Nanti pasti ia bisa menambahinya lagi kalau diperlukan. Untuk itulah kemudian Guntur merasa hidup.

“Saya punya anak laki-laki. Dokter pernah bertemu bukan?”

“O iya, pernah bertemu ketika dia menemui dokter. Tapi tunggu, mengapa kita tidak bisa menyebut masing-masing dengan nama saja? Seperti sangat resmi.”

“Jadi ….”

“Panggil saya Dian, saya akan memanggil Dokter dengan Bapak.”

“Begitu ya?”

“Begitu lebih baik, Bapak.”

Keduanya tersenyum. Rasanya memang lebih nyaman. Apalagi mereka berada dalam suasana seperti keluarga.

“Terima kasih, Nak.”

Mereka berbincang agak lama. Dokter Dian pergi ketika hari menjelang sore, setelah memberikan sejumlah vitamin yang berguna untuk kesehatannya.

***

Hari berjalan begitu cepat. Hubungan Emmi dengan dokter Dian sudah semakin dekat. Ketika liburan, dokter Dian selalu memerlukan datang menemui Emmi demi melepas rasa kangen yang entah dari mana datangnya rasa itu, sementara sebelumnya tak pernah mereka rasakan.

Tapi satu yang dokter Dian tidak mau mengatakannya, ialah ketika Emmi menanyakan di mana ayahnya berada.

“Mengapa Mas tidak mau mengatakannya?”

“Aku sudah berjanji pada bapak, dan tidak berani mengingkarinya.”

“Apakah bapak sangat membenci aku?”

“Bukan, mana ada seorang bapak membenci darah dagingnya? Bapak hanya ingin tenang.”

“Apakah kehadiranku membuatnya tidak tenang?”

“Ada sebuah perasaan dari seorang pria yang tidak diketahui wanita. Perasaan itu tersembunyi. Tak ingin ia mengatakannya pada siapapun, jadi aku harap, hormatilah keinginannya. Yang jelas, bapak baik-baik saja.”

“Bulan depan adalah saat aku di wisuda. Aku ingin bapak ada didekatku, melihat aku berhasil menyelesaikan studiku. Melihatku dengan sebuah kebanggaan orang tua, menampakkan senyuman cerah karena aku tidak mengecewakannya.”

“Nanti aku akan datang.”

“Bukan. Mas bukan ayahku.”

“Tapi aku calon suami kamu.”

“Mas akan melihatku dengan perasaan yang berbeda. Kebanggaan seorang tua dan kebanggaan seorang suami itu berbeda.”

“Baiklah, nanti aku akan bicara.”

“Mas punya nomor kontaknya kan? Boleh aku minta. Biarkan aku bicara sendiri dengan bapak.”

“Emmi, tolonglah. Aku tidak ingin mengecewakan bapak. Kalau ketemu, nanti aku akan menyampaikan semua keinginan kamu.”

Emmi menghela napas panjang. Berpikir sampai lelahpun ia tetap tak bisa mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan ayahnya.

Tapi kemudian Emmi teringat sesuatu, ada seseorang yang barangkali memiliki nomor kontak ayahnya. Ia harus mencobanya.

***

Reihan sedang berada di rumah kost kakaknya hari itu, ketika ia sedang libur. Setelah ujian, ia banyak punya waktu senggang. Kamar kost Wahyu kecil dan sederhana, sementara dia memiliki jabatan di perusahaannya.

“Mengapa Mas memilih kamar kost yang kecil seperti ini?”

“Memangnya kenapa? Kamar ini bisa membuat aku istirahat atau tidur dengan nyaman.”

“Tapi Mas kan bisa menyewa tempat yang lebih bagus?”

“Ini cukup Rei. Mas harus berhemat, karena mas ingin menyekolahkan kamu, sampai kamu berhasil menjadi orang. Jadi harus selalu ada uang tersisa yang cukup untuk menabung. Bukankah kamu sudah ujian?”

Reihan memeluk sang kakak dengan penuh haru.

“Aku kan punya uang yang dari bapak. Seandainya kurang, aku kira tidak akan banyak. Mas tidak usah menyiksa diri seperti ini.”

“Apa? Menyiksa? Hanya karena sebuah kamar yang sederhana kamu mengatakan kakakmu ini tersiksa? Tidak Reihan, ini cukup untuk aku. Bapak sudah pensiun, pasti uangnya tidak lagi banyak, belum untuk kebutuhannya yang lain. Sementara ibu tidak pernah bisa memegang uang, karena kebutuhannya sendiri juga banyak. Tapi ada aku yang akan selalu mencukupi kebutuhan kamu.”

Ketika itu ponsel Reihan tiba-tiba berdering. Wajah Reihan berseri.

“Mbak Emmi?”

“Apa kabar Rei?”

”Aku baik.”

“Syukurlah. Pastinya kamu sudah selesai ujian, ya kan?”

“Iya, doakan aku lulus ya Mbak.”

“Pasti. Mbak akan selalu mendoakan kamu.”

“Apa Mbak tahu, saat ini aku ada di Solo.”

“Benarkah? Dalam rangka apa? Jalan-jalan karena banyak waktu luang?”

“Aku mengunjungi mas Wahyu. Apa Mbak tahu, mas Wahyu bekerja di sini sudah beberapa bulan ini.”

“Oh ya, syukurlah.”

“Mbak ingin ketemu?”

“Tidak Rei, mbak sedang sibuk. Kamu jadi melanjutkan kuliah kan?”

“Iya, kalau bisa. Bapak memberikan sejumlah uang di rekeningku. Kata bapak untuk membantu biaya kuliahku.”

Emmi tertegun. Akhirnya sang ayah memberikan uangnya sendiri untuk Reihan. Apakah karena keinginan itu, maka ayahnya marah ketika ada yang ingin membantu? Emmi mulai meraba-raba.

“Mbak Emmi masih di situ?”

“Eh, iya. Baguslah Rei, kamu punya uang untuk masuk ke perguruan tinggi nanti.”

“Semoga saja ya MBak.”

“Rei, kamu punya nomor kontak bapak kan?”

“Oh ya, aku punya, bapak memberikannya. Katanya kalau aku butuh sesuatu harus menghubunginya.”

“Boleh aku minta Rei? Aku malah tidak punya nomor kontak bapak.”

“Baiklah, nanti Rei kirimkan untuk Mbak.”

“Rei, selalu berkabar untuk Mbak ya. Kalau kamu punya waktu, boleh main ke rumah. Kamu belum kenal adik-adik Mbak, kan?”

“Tentu. Oh ya, ini ada salam dari mas Wahyu.”

“Katakan, salam kembali. Sudah dulu ya, kirimkan nomor kontak bapak segera,” kata Emmi yang kemudian menutup ponselnya.

“Hei, apa katamu? Siapa yang mengirim salam?” kata Wahyu dengan wajah kesal atas kelancangan adiknya.

Reihan hanya tertawa.

“Siapa tahu bisa bersambung, nanti,” katanya sambil menuliskan nomor kontak ayahnya yang segera dikirimkannya kepada Emmi.

“Ngawur!!”

Reihan hanya cengar-cengir didamprat kakaknya.

***

Emmi sudah berdandan sore itu, karena dokter Dian akan mengajaknya jalan-jalan. Tapi ia memerlukan waktu untuk menelpon ayah Guntur. Reihan sudah mengirimkannya tadi, tapi Emmi belum sempat menghubunginya. Ia duduk di teras, lalu memutar nomor ponsel sang ayah.

Nada panggil itu terdengar, tapi tak ada tanda-tanda panggilan itu diangkat. Berkali-kali Emmi mencobanya, dan yang terakhir ponsel sang ayah malah dimatikan.

Berlinang air mata Emmi.

“Bapak benar-benar tak mau menerima panggilan dari aku? Apa bapak tahu kalau ini adalah nomor kontakku? Sepertinya selama melayani bapak di rumah sakit aku belum pernah memberikan nomor kontakku.”

Karena terpaku pada panggilan yang tak diangkat, dia tak tahu kalau dokter Dian sudah lama berdiri di teras.

“Emmi.”

Emmi terkejut. Ia segera mengusap matanya yang berair.

“Nggak tahu ada Mas di situ. Kok nggak bilang-bilang sih?”

“Kamu kenapa? Menangis?”

“Aku mencoba menelpon bapak, tidak diangkat, ponselnya malah dimatikan. Begitu bencinya bapak padaku,” ujarnya sedih.

“Memangnya bapak tahu bahwa yang menelpon itu kamu?”

“Entahlah. Tahu nggak ya?”

“Bapak tidak pernah mau menerima telpon. Bukan karena benci sama kamu.”

“Oh ya?”

“Ya, jadi jangan sakit hati. Bapak tidak tahu siapa yang menelpon, dan memang tidak ingin berhubungan dengan siapapun.”

“Tapi bapak memberikan nomornya pada Reihan.”

“Kamu tahu nomor bapak dari Reihan?”

Emmi mengangguk.

“Reihan juga mengatakan diberi uang bapak di rekeningnya.”

“Bapak senang bisa melakukan itu.”

“Mengapa? Bukankah bapak marah ketika ada yang ingin membantunya?”

“Kamu ini calon sarjana tapi tidak bisa mengupas sebuah sikap. Karena itulah kamu selalu merasa sakit hati.”

“Aku bodoh ya?”

“Benar,” kata dokter Dian sambil tertawa, membuat Emmi cemberut.

“Nanti saja sambil jalan aku mau bicara, sekarang aku mau ketemu bapak atau ibu, kita jalan sekarang ya, lapar nih," kata dokter Dian santai.

“Baiklah, aku panggil bapak sama ibu dulu,” kata Emmi sambil beranjak masuk ke dalam.

***

Dalam perjalanan itu, Emmi mendesak dokter Dian agar mengatakan mengapa dirinya dibilang bodoh.

“Bapak itu seorang laki-laki. Bapak merasa gagal selama ini, karena sebuah kesalahan yang dibuatnya. Melihat anak-anaknya tumbuh besar dan pintar, bukan membuat dirinya bangga, karena semua itu bukan karena dia. Ia merasa menjadi kecil dan tak berdaya. Lalu ketika bapak ingin membantu biaya untuk Reihan, kamu mengatakan bahwa ayahmu, pak Ardi, ingin membantunya. Apa menurutmu semua bantuan itu menyenangkan?”

“Tidakkah? Bukankah itu juga meringankan beban bapak sendiri.”

“Itu kan menurut kamu. Tapi sebagai seorang ayah, bapak ingin melakukan sesuatu bagi anaknya. Lalu kamu membuatnya kecewa dengan janji ayahmu akan membantunya. Kamu sudah bisa mengerti?”

Emmi terdiam. Ia sudah mulai meraba-raba sejak menelpon Reihan. Sekarang ia bisa mengerti.

“Bagaimana?”

“Bapak ingin punya arti dengan memberikan biaya untuk Reihan. Bapak merasa sakit hati ketika ada orang yang ingin membantunya.”

“Kamu pintar sekarang. Itulah jawabannya. Jadi kamu tidak perlu sedih.”

Emmi mengangguk-angguk. Orang tua memang rumit, bukan?

***

Reihan sedang makan malam bersama Wahyu. Mereka berbincang tentang apa yang harus dilakukan Reihan untuk mencapai cita-citanya.

“Kamu sudah mencari informasi tentang persyaratan masuk ke perguruan tinggi?”

“Sudah. Tapi aku ingin kuliah di sini saja.”

“Bagaimana dengan ibu?”

“Ibu tak akan keberatan, apalagi kalau aku tidak perlu memberatkan ibu.”

“Terserah kamu saja. Kalau kamu kuliah di sini, kamu bisa kost bersama mas.”

“Di kamar sempit itu? Aku tidur di bawah saja, aku sudah tahu kalau Mas tidur, polahnya banyak. Bisa-bisa aku terlempar jatuh kalau tidur seranjang. Apalagi ranjang sempit seperti yang Mas pakai itu.”

Wahyu tertawa. Tapi tawa itu kemudian terhenti, ketika melihat seseorang masuk.

“Bukankah itu mbak Emmi?”

Reihan sudah ingin berteriak, ketika tiba-tiba Wahyu menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Mmmh.”

Wahyu mengarahkan pandangannya ke arah Emmi, dan Reihan kemudian tahu bahwa Emmi tidak sendiri.

“Itu pacar mbak Emmi?” tanya Reihan pelan.

“Menurutmu apa?”

“Itu aku seperti pernah melihatnya. Dia seorang dokter di rumah sakit, dimana aku dioperasi dulu.”

“Dokter?”

“Sepertinya ya.”

“Owh.”

“Kalau begitu bersiaplah untuk patah hati,” kata Reihan enteng. Membuat Wahyu melotot ke arahnya.

***

Wanda sedang merapikan baju-baju Reihan yang baru dikirim dari laundry, lalu akan memasukkannya ke dalam almari.

“Ini kan baju-baju sekolah, sebentar lagi tidak akan dipakai,” katanya sambil menurunkan baju-baju seragam sekolah yang menumpuk di almari Reihan.

Tiba-tiba Wanda melihat sesuatu.

“Buku tabungan?”

Wanda membukanya.

“Sejak kapan Reihan punya buku tabungan?”

***

Besok lagi ya.

Thursday, April 3, 2025

ADA MAKNA 26

 ADA MAKNA  26

(Tien Kumalasari)

 

Wanda tertegun. Panggilan sudah sempat dijawab, tapi kemudian terputus. Lalu mencoba lagi, tidak tersambung. Berkali-kali Wanda mencoba tapi benar-benar tak bisa nyambung.

“Ada apa ini? Apa benar, Guntur tidak mau lagi berhubungan denganku? Apa dia lupa bahwa Reihan terlahir dari rahimku?"

Karena kesal ia mengirimkan pesan panjang lebar, yang isinya mengumpat Guntur yang tidak tahu berterima kasih karena darah dagingnya dia sendiri yang membesarkannya. Uang pemberiannya sebelum pergi, sudah habis untuk menyekolahkan dan membiayai semua kebutuhan Reihan. Ia juga menyatakan kemarahannya karena kedatangannya diterima dingin, bahkan dengan menahan sakit hati mendengar Guntur mengatakan bahwa dia tidak mencintainya. Wanda menambahkan lagi, bahwa semua itu karena ada kehadiran gadis sombong yang bernama Emmi. Banyak yang ditulisnya, tapi ternyata nomornya telah diblokir.

Wanda membanting ponselnya, kemudian bersiap pergi bekerja. Sudah berhari-hari dia meninggalkan kewajibannya sebagai pengajar.

Walau dengan pikiran kacau, Wanda tetap berangkat, agar tidak terkena sanksi karena kenyataannya, alasan kalau Reihan sakit sudah tidak berlaku lagi. Bukankah Reihan sudah masuk sekolah setelah dia selesai dioperasi?

***

Wahyu pulang setelah selesai mengantarkan Reihan, dan mendapati ibunya tak ada, berarti sang ibu sudah mulai masuk bekerja. Begitu memasuki kamar, ponselnya berdering.

Wahyu sangat bersyukur, telpon itu adalah sebuah panggilan kerja di sebuah perusahaan. Tapi letaknya di kota Solo. Berdebar hatinya, karena kota itu mengingatkannya pada dua orang gadis yang pernah merajai hatinya. Tia dan Emmi. Apakah pada suatu saat ia akan bertemu mereka?

Wahyu mengibaskan pemikiran tentang mereka. Ia bersiap, karena besok pagi-pagi sekali ia sudah harus berangkat. Tapi Wahyu merasa bahwa berangkat nanti sore lebih nyaman. Ia akan menginap di hotel dan ia tidak perlu tergesa-gesa untuk memulai langkahnya ke arah pekerjaan yang akan digelutinya.

Reihan terkejut karena merasa keberangkatan sang kakak begitu terkesan mendadak.

“Mengapa tiba-tiba sudah mau pergi Mas?”

“Bukan tiba-tiba, Sudah beberapa waktu yang lalu mas melamar, dan menjalani wawancara beberapa hari yang lalu. Besok pagi sudah mulai bekerja. Jadi lebih baik nanti sore mas berangkat.”

“Sepi kalau Mas nggak ada di rumah.”

Wahyu tersenyum sambil menepuk bahu adiknya.

“Mas kan tidak bekerja di tempat yang jauh. Seperti ke luar negri saja. Kalau kamu kangen, atau mas yang kangen, hanya beberapa jam perjalanan sudah bisa saling bertemu.”

“Iya sih.”

“Kamu jangan seperti anak kecil dong Rei. Sudah hampir lulus dan jadi mahasiswa, masa harus selalu dekat dengan mas? Bukankah ada ibu?”

“Ibu sering bepergian.”

“Tidak apa-apa. Dan kamu tidak usah khawatir. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa menelpon mas. Kita bisa selalu berkomunikasi kan?”

Tiba-tiba ponsel Reihan berdering. Reihan gembira karena nomor itu adalah nomor ayahnya.

“Bapak ….”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, Pak.”

“Biasakan mengucapkan salam kalau bapak menelpon.”

“Maaf Pak.”

“Kamu masih di sekolah?”

“Sudah di rumah. Kalau di sekolah mana bisa menerima telpon?”

“Syukurlah.”

“Rei baru akan menelpon Bapak sepulang sekolah ini tadi. Mengapa Bapak pulang?”

“Tidak apa-apa, bapak bisa merawat diri sendiri. Bapak menelpon juga hanya ingin mengatakan kalau bapak sudah pulang, jadi kamu tidak usah mencari bapak di rumah sakit.”

“Bapak harus cepat sehat ya.”

“Teruslah mendoakan bapak. Kamu belajar yang rajin, dan gapai cita-cita kamu. Semoga bapak masih hidup ketika kamu menjadi dokter.”

“Bapak jangan begitu. Bapak akan berumur sangat panjang.”

“Aamiin. Ya sudah, kabari bapak kalau butuh sesuatu.”

“Katakan, Bapak ada di mana sekarang?”

“Kamu tidak perlu tahu, yang penting bapak selalu ada untuk kamu.”

Reihan ingin memprotes tapi Guntur sudah menutup ponselnya. Reihan menelponnya, tapi ponsel sang ayah sudah tidak aktif lagi.

Berlinang air mata Reihan karena sedih dan kecewa.

“Kenapa?” tanya Wahyu.

“Bapak tidak mau mengatakan dia ada di mana,” katanya pilu.

“Barangkali bapak memang tak ingin diganggu. Yang penting bapak masih mau berkomunikasi sama kamu.”

Reihan mengangguk.

"Bapak memberi uang banyak di tabungan Reihan. Bapak mendukung keinginan Reihan untuk menjadi dokter."

“Baguslah, kita tidak usah membebani ibu untuk biaya sekolah, seperti mas yang kuliah sambil bekerja. Kamu tidak usah khawatir, nanti mas juga akan membantu biaya kamu kuliah.”

“Terima kasih Mas. Ibu juga sering tidak punya uang. Kalau bisa Rei juga akan kuliah sambil bekerja."

“Tidak apa-apa. Ibu juga punya kebutuhan, dan kita sudah bukan anak kecil lagi.”

***

Ketika keduanya sedang makan siang, sang ibu pulang, lalu ikut makan bersama kedua anaknya.

“Mas Wahyu nanti sore mau ke Solo,” kata Reihan tiba-tiba.

“Ke Solo? Kamu sudah bisa berkomunikasi dengan Tia, Wahyu?” kata Wanda dengan wajah berbinar.

“Kok Tia sih Bu?”

“Ke Solo, kalau bukan Tia siapa lagi? Jangan bilang kamu mendekati gadis sombong itu,” sungut Wanda.

“Wahyu ke sana karena mendapat panggilan kerja, bukan karena siapa-siapa.”

“Oh, kerja di sana? Mengapa di sana?”

“Kantornya ada di sana, mau bagaimana lagi?”

“Tapi pesan ibu wanti-wanti, jangan sekali-sekali kamu mendekati gadis galak itu lagi. Tia gadis yang pantas menjadi menantu ibu. Barangkali kalau kamu sudah bekerja, dia dan orang tuanya mau menerima kamu.”

“Bukankah ayahnya mengatakan bahwa Tia sudah punya calon?”

“Ah, ibu kira itu hanya alasan saja. Yang jelas adalah karena kamu belum bekerja.”

“Ibu suka sekali bermimpi.”

“Wahyu, ibu serius. Dia gadis yang baik.”

Wahyu merasa kesal. Ia tak menjawab agar tidak bertambah panjang perkataan ibunya tentang Tia.

“Mas Wahyu sudah tidak memikirkan mbak Tia lagi,” kata Reihan menimpali.

“Kamu tahu apa?”

“Gadis cantik bukan hanya satu. Ya kan Mas?”

Wahyu mengangguk sambil tersenyum.

“Awas saja kalau kamu mendekati gadis sombong itu.”

“Maksud Ibu, mbak Emmi?” Reihan masih membuat sang ibu bicara banyak. Padahal Wahyu sudah memelototinya.

“Iya. Siapa lagi?”

“Mbak Emmi itu sangat baik.”

“Karena kamu diberinya uang?” sergah sang ibu.

“Bukan itu. Dia memang baik dan cantik.”

“Sudah, diam. Kamu juga, besok kalau cari istri jangan yang seperti dia.”

“Wahyu duluan, mau berkemas,” kata Wahyu sambil berdiri, lalu beranjak ke kamarnya.

“Bagus sekali Wahyu sudah bekerja. Dia bisa membantu mencukupi kebutuhan ibu.”

“Mas Wahyu akan membiayai kuliah Reihan nanti.”

“Ibu juga butuh uang, tidak tergantung gaji ibu saja.”

“Untuk arisan? Dan kumpul-kumpul dengan teman-teman Ibu?”

“Eh, kamu tidak boleh mencela apa yang ibu lakukan. Kalau ibu tidak pergi-pergi mencari hiburan, ibu bisa pikun, bagaimana?”

Reihan diam. Ia tak berani menjawab karena kalau sang ibu marah, ia bisa melihat api di matanya.

***

Hari itu Emmi jadi dioperasi. Ardi dan Kinanti menungguinya. Ada dokter Dian juga di sana, yang kemudian mengenal ibu dan ayah sambung Emmi dengan baik. Dari sikap dan perhatian dokter Dian kepada Emmi, Kinanti dan Ardi tahu bahwa sang dokter muda jatuh cinta kepada anak gadisnya. Mereka senang, karena dokter Dian sangat baik dan sudah mapan.

Emma dan Nuri duduk di dekat dokter Dian, setelah dokter muda itu menemui dokter yang menangani operasi untuk Emmi. Nuri yang suka ceplas-ceplos, tak sungkan mengganggu dokter muda itu dengan celotehnya yang lucu.

“Saya baru tahu, mas Dokter adalah pacar mbak Emmi,” kata Nuri.

Dokter Dian tertawa pelan.

“Dari mana Nuri tahu?” tanya dokter Dian.

“Jauh-jauh datang kemari dan beberapa kali nyamperin mbak Emmi, sudah kelihatan kalau mas Dokter bukan teman biasa,” kata Nuri lagi, yang walaupun Emma mencubit lengannya tetap saja nyerocos.

“Ih, mbak Emma, kenapa sih mencubit Nuri, sakit tahu,” sungut Nuri.

“Kamu bicara yang enggak-enggak. Semua orang sedang prihatin menunggui mbak Emmi operasi,” kata Emma.

“Nuri tuh ngomong untuk mengurangi ketegangan. Kalau semuanya diam, jadi tegang terus menerus. Deg-degan itu nggak enak lhoh, ya kan mas Dokter?”

“Kamu benar,” kata dokter Dian sambil tersenyum.

“Tuh, benar kan? Nuri juga pengin jadi dokter lhoh.”

“Benarkah?” kata dokter Dian.

“Iya. Susahkah sekolah dokter?”

“Yang susah akan menjadi mudah kalau kita mau belajar.”

“Bagus sekali. Nuri akan rajin belajar mulai sekarang.”

Dokter Dian tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

Ia tahu, keluarga Emmi adalah keluarga yang kompak dan bahagia. Ia juga tahu bahwa ayah sambung Emmi sangat mencintai istri dan anak-anaknya, tidak pilih kasih antara mereka yang anak kandung dan yang bukan.

Diam-diam ia merasa iba mengingat dokter Guntur, yang karena sebuah langkah keliru, membuat hidupnya nelangsa dan nyaris putus asa. Ia juga merasa rendah diri dan merasa tak berarti. Kebahagiaan anak-anak dan bekas istrinya justru mencabik-cabik batinnya, karena rasa ketidak berdayaannya. Tanpa terasa dokter Dian menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah lama dia tidak menjenguk dokter Guntur seperti janjinya, karena mendengar Emmi mau operasi.

“Mengapa mas Dokter menggeleng-gelengkan kepala? Mas dokter tidak percaya saya akan sungguh-sungguh belajar?” kata Nuri tiba-tiba.

“Eh, apa katamu? Bukan … bukan apa-apa, mas hanya sedang memikirkan sesuatu yang lain.”

“Bukan memikirkan ucapan Nuri?”

“Bukan. Mas senang mendengar Nuri bertekad bisa mencapai cita-cita. Mas akan mendukung kamu.”

“Sungguh?”

Lagi-lagi dokter Dian mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum.

Ketegangan itu berakhir, ketika ruang operasi terbuka, dan seorang dokter keluar dari dalamnya. Dian bergegas mendekat.

Ardi dan Kinanti mengikutinya, dan merasa lega ketika dokter mengatakan bahwa operasi itu berhasil dengan baik.

***

Guntur tidak lagi berpraktek di rumahnya yang lama. Ia tak ingin lagi ada keluarga Kinanti yang mendatanginya, yang walau sebenarnya ia tahu bahwa maksudnya baik, tapi hatinya sendiri selalu merasa sakit.

Hanya dokter Dian yang tahu keberadaannya, itupun dengan janji agar tetap merahasiakan keberadaan itu.

Rumah kecil yang dihuni itu berada di dekat rumah bu Simah. Entah bagaimana, Guntur memilih tempat itu, yang dirasa lebih jauh dari keramaian. Ia mengurus tempat praktek yang baru, bukan untuk mencari uang semata, tapi untuk membunuh sepi yang seringkali melanda. Untunglah bu Simah yang merasa senang karena berdekatan dengan dokter Guntur, sering mengunjunginya, dan mengoceh yang terkadang bisa membuatnya tertawa. Mereka sangat akrab seperti keluarga.

Guntur juga dimanjakan dengan berbagai buah-buahan hasil kebun bu Simah, yang hampir setiap hari ada.

Hari itu bu Simah tergopoh-gopoh mendekati sebuah mobil yang berhenti di depan rumah dokter Guntur.

“Pak, mau ketemu pak dokter?” katanya setelah pengemudinya, yang ternyata dokter Dian, turun dari dalam mobil.

“Mau periksa ke dokter Guntur?” tanyanya lagi.

“Tidak, saya temannya.”

“Oh, teman?”

“Iya. Benar ini kan rumahnya?”

“Iya, benar. Sebentar. Biasanya jam segini pak dokter masih tidur, akan saya bangunkan dulu,” kata bu Simah sambil bergegas mendekati rumah Guntur, langsung ke arah belakang melewati samping, karena pintu depannya tertutup.

“Dokter … dokter … ada tamu,” katanya langsung masuk melewati pintu belakang.

Guntur tidak sedang tidur. Ia sedang membaca-baca buku di ruang tengah.

“Tamu?”

“Iya, naik mobil, katanya bukan mau periksa. Apa benar dia teman dokter? Masih muda, ganteng pula.”

Guntur bergegas keluar, dan melihat dokter Dian sudah berdiri di depan pintu.

“Dokter Dian, silakan masuk.”

Bu Simah merasa senang ada tamu untuk dokter Guntur yang dikaguminya.

“Dokter, saya buatkan minum, dan ada pepaya masak, boleh saya hidangkan?” kata bu Simah.

“Baik Bu, terima kasih,” jawab Guntur.

“Dokter punya pembantu?” tanya dokter Dian.

“Eh, bukan. Dia tetangga sebelah.”

“Oh, maaf.”

Keduanya berbincang tentang keadaan masing-masing, lalu bu Simah datang membawa nampan berisi minuman hangat dan irisan pepaya jingga di atas piring.

“Silakan, ini hasil kebun saya.”

“Terima kasih, Bu.”

“Bu Simah, ini juga dokter, dokter Dian namanya. Beliau yang merawat saya ketika sakit di Semarang.”

“O, ya ampuun, sama-sama dokter. Saya Simah, tetangga sebelah,” kata bu Simah memperkenalkan diri.

“Terima kasih sudah disuguhin pepaya segar.”

“Silakan dinikmati,” kata bu Simah sambil berlalu ke belakang.

“Sebenarnya sudah lama saya ingin menengok keadaan Dokter, tapi terhambat karena mendampingi Emmi operasi,” kata dokter Dian.

“Emmi? Operasi apa?” tak urung Guntur terkejut mendengarnya.

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, April 2, 2025

ADA MAKNA 25

 ADA MAKNA  25

(Tien Kumalasari)

 

Wanda masih berdiri di depan petugas rumah sakit, sambil menatap tak percaya.

“Benarkah? Masa dia sudah pulang?”

“Masa kami berbohong Bu? Kalau tidak percaya, silakan lihat sendiri, apakah dokter Guntur masih ada di dalam, atau tidak,” kesal perawat jaga yang diajaknya bicara.

Wanda membuka pintunya perlahan, dan tersenyum senang. Ia melihat seseorang terbaring sendirian. Lalu bergegas mendekat dengan wajah berseri.

“Dasar pembohong,” serunya kesal. Ia merasa dibohongi oleh perawat itu.

Seseorang itu tidur membelakangi arah dia masuk. Tiba-tiba saja Wanda memeluk dari belakang.

“Bagaimanapun kamu bilang membenci aku, tapi aku tetap menyayangi kamu,” katanya tanpa melepaskan pelukannya.

Tapi tiba-tiba terdengar suara wanita mendekat. Ia baru keluar dari kamar mandi.

“Heiii! Kamu siapa?”

Wanda terkejut, pelukan itu dilepaskan, dan laki-laki yang semula terbaring miring kemudian telentang. Itu bukan Guntur, dan wanita itu adalah wanita asing yang menatapnya penuh kemarahan.

“Jadi kamu perempuan selingkuhan suami aku, yang membuat dia jatuh sakit?” hardik perempuan itu lagi, sambil mendekati Wanda penuh ancaman.

“Ap … apa? Buk … bukan, aku tidak …  iiini .. aku salah …”

“Mau tidak mengaku? Telingaku bukan tuli, aku mendengar dengan jelas bahwa kamu mengatakan sayang … sayang …”

“Aku salah … aku … salah …”

Wanda berusaha melangkah menyimpang untuk menghindari perempuan yang menatapnya garang, tapi sebuah tamparan mengenai pipi kirinya.

Plaaakkk!!

“Aauughh!”

“Bu … Bu … kamu salah orang … aku .. tidak kenal dia,” teriak si laki-laki.

”Pembohong!! Kamu sudah sakit seperti itu, tapi masih mau mengingkari perbuatan busuk kamu Pak?”

Wanda berusaha mendorong wanita yang menghalangi jalannya, tapi sekali lagi sebuah tamparan yang menimbulkan suara nyaring terdengar, lalu iapun menjerit lagi.

Plaakk!!

“Dasar gila!!” Wanda mengumpat.

“Kamu yang gila! Jelas-jelas sudah ketahuan, masih berani mengumpat!!”

Wanda mendorong perempuan itu sekali lagi, lalu berlari keluar sambil memegangi pipinya yang kemerahan.

“Orang gila!!” katanya sambil membanting pintu.

Perawat jaga terkejut.

“Kenapa Bu? Kan saya sudah bilang bahwa dokter Guntur tidak ada lagi di sini. Ibu kenapa?”

“Kenapa … kenapa … ? Di dalam ada perempuan gila!” katanya sambil masih memegangi pipinya, dan meninggalkan tempat itu untuk menuju keluar.

Perawat yang penasaran segera masuk ke dalam ruangan, dan mendengar pasiennya bertengkar hebat dengan istrinya.

Pertengkaran itu mereda ketika perawat mengatakan bahwa wanita yang baru saja keluar itu salah masuk, mengira kerabatnya masih dirawat di ruangan itu.

“Tapi dia bilang sayang … sayang pada suami aku.”

“Dia salah orang, aku kan menghadap kesana, tahu-tahu memeluk dari belakang,” jawab laki-laki yang cedera sebelah kakinya karena terjatuh.

Perawat itu keluar sambil tersenyum geli.

“Mengapa ya, wanita itu selalu membuat onar?” gumamnya yang disambut senyuman lucu dari teman-temannya, begitu dia menceritakan apa yang terjadi.

***

Wanda mengomel tak berhenti, ketika menunggu taksi yang dipanggilnya. Tiba-tiba dia terkejut, ketika seseorang menyapa.

“Bu Wanda?”

Wanda menoleh, seorang wanita menyapanya. Dia adalah ibu dari salah seorang murid di sekolahnya.

“Sudah seminggu lebih bu Wanda tidak masuk ya? Waktu rapat orang tua murid kemarin, banyak yang membicarakannya.”

“Oh, iya. Anak saya sakit, dioperasi, lalu saya sendiri juga habis sakit.”

“Iya, mereka juga berkata begitu, tapi mereka tidak bisa membezoek putra bu Wanda karena bu Wanda tidak mengatakan di mana putra bu Wanda dirawat.”

“Iya, saya tidak ingin mereka repot. Hanya teman-teman sekolahnya yang datang membezoek.”

“Putra bu Wanda masih di rumah sakit?”

“Tidak, sudah di rumah dan sudah masuk sekolah.”

“Bu Wanda sakit apa? Pipinya bengkak begitu?”

“Oh, saya sakit gigi. Permisi, taksi saya sudah datang.”

Wanda bergegas masuk ke dalam taksi yang kemudian membawanya pulang. Ia sampai lupa menanyakan, ke mana Guntur pulang, gara-gara bertemu perempuan yang dianggapnya gila, padahal dirinya sendiri yang salah orang.

***

Ketika Wanda sampai di rumah, dilihatnya Wahyu sudah lebih dulu pulang. Wahyu melihat pipi sang ibu bengkak kemerahan, dan merasa heran.

“Ibu dari mana?”

“Dari rumah sakit.”

“Ibu benar-benar sakit? Apa kata dokter?”

“Bukan untuk periksa sakit ibu.”

“Lalu kenapa ke rumah sakit?”

“Sedianya ingin menemui Guntur.”

“Ketemu?”

“Nggak.”

“Masih dilarang menemui?”

“Tidak. Dia sudah pulang.”

“Sudah sembuh? Bukankah kemarin Reihan juga ke sana?”

“Ya, karena itulah ibu ingin ke sana, soalnya gadis jahat itu kata Reihan sudah pulang. Aku pikir kalau sudah tidak ada dia, maka aku bisa menemuinya. Ternyata dia sudah pulang.”

“Kemana bapak Guntur pulang?”

”Entahlah, aku lupa menanyakannya. Apa Reihan tahu ya? Dia tidak mengatakan kalau ayahnya sudah mau pulang.”

“Untuk apa lagi Ibu ingin bertemu bapak?”

“Namanya bekas suami, bagaimanapun ibu ingin menanyakan keadaannya. Kalau tidak dihalangi gadis setan itu pasti ibu sudah bisa berbincang.”

“Lebih baik tidak usah memikirkannya lagi, yang penting Reihan sudah bisa bertemu ayahnya. Lalu kenapa pipi ibu itu? Agak bengkak dan kemerahan?”

“Sakit gigi.”

“Ibu belum bisa bekerja lagi dong?”

“Besok ibu mau bekerja. Bagaimana wawancara kamu?”

“Masih harus menunggu hasilnya.”

“Ibu masih berharap kamu bisa berjodoh dengan Tia. Tapi ayahnya sombong sekali.”

“Ibu terkadang aneh. Wahyu tidak suka Ibu bersikap begitu. Masalah jodoh biar Wahyu sendiri memikirkannya. Wahyu sedang fokus mencari pekerjaan,” katanya sambil pergi meninggalkan sang ibu.

Wanda merasa kesal. Kesal gagal bertemu Guntur, kesal karena maksud baiknya juga tidak diterima baik oleh anaknya. Sejak kepulangannya menemui Suryawan, sikap Wahyu terhadap ibunya juga berubah.

***

Sepulang dari bekerja, Kinanti sudah melihat Emmi pulang dari rumah sakit. Ardi juga ada di rumah. Ia meninggalkan pekerjaannya karena harus mengantarkan Emmi periksa banyak macam di rumah sakit, termasuk ct scan juga.

“Sudah pulang? Bagaimana hasilnya?”

“Kata dokter ada perdarahan otak,” jawab Ardi.

“Perdarahan otak? Separah apa?”

“Kata dokter tidak parah, tapi harus operasi.”

“Ya Tuhan,” keluh Kinanti dengan tatapan sedih.

Ardi menyerahkan hasil pemeriksaan laborat.

“Apakah ini akibat jatuh waktu Emmi masih kecil? Bodohnya aku, tidak merasa bahwa akan menjadi separah ini.”

“Tidak parah, kata dokter tidak perlu khawatir. Nanti aku mau konsultasi lagi dengan dokter yang memeriksa kemarin. Kalau perlu ditangani, biar segera ditangani.”

“Pantesan dia sering sekali merasa pusing. Nanti sore aku mau ikut ke dokternya. Aku harus tahu bagaimana penanganan selanjutnya.”

“Baiklah, tapi kamu tidak usah merasa khawatir dulu. Sekarang ilmu kedokteran sudah sangat canggih. Semoga semuanya bisa diatasi dengan baik,” hibur Ardi sambil menepuk-nepuk bahu istrinya.

***

Emmi tidak begitu takut kalau memang harus menjalani operasi. Nanti ayah dan ibunya akan membawanya lagi ke dokter yang kemarin memeriksanya. Ia gadis yang kuat dan tabah, tidak seperti sang ibu yang mungkin karena masa lalunya, kemudian menjadi seperti ringkih, sehingga apa yang dikatakan suaminya membuatnya sedikit khawatir. Sebenarnya Emmi masih memikirkan ayah Guntur,  sejak ia meninggalkan sang ayah di rumah sakit. Ia belum bisa memahami kemarahan sang ayah, walaupun bapak Ardi dan ibunya sudah menerangkannya. Rasa rendah, rasa tidak dihargai, atau tidak berharga, belum bisa diterimanya. Menurut Emmi, sebuah maksud baik seharusnya diterima dengan baik. Mengapa justru marah?

Tiba-tiba ponselnya berdering, dari dokter Dian.

“Selamat sore, Dok.”

“Kok masih dok lagi sih?” tegur dokter Dian.

“Mas Dian.”

“Nah, begitu lebih manis kedengarannya.”

“Ada berita apa? Bagaimana keadaan bapak?”

“Dokter Guntur memaksa pulang hari ini.”

“Pulang? Benar-benar pulang?”

“Aku tidak bisa mencegahnya. Dia juga seorang dokter, dia tahu apa yang harus dilakukannya.”

“Apakah karena bapak masih marah pada Emmi?”

“Tidak sepenuhnya begitu, hanya saja kita harus bisa memahami keinginan orang tua. Dan itu pasti bukan tanpa alasan.”

“Apakah sebenarnya bapak sudah sembuh?”

“Kalau sembuh sih, juga belum bisa dikatakan sembuh, tapi kita harus percaya bahwa bapak akan bisa menyembuhkan dirinya sendiri.”

“Maksudnya apa karena dia dokter?”

“Bukan hanya dokter. Setiap orang bisa melakukannya. Yang penting bagi penderita seperti bapak itu adalah rasa tenteram dan nyaman. Sebaiknya kita biarkan saja dulu apa yang diinginkannya. Saya janji akan mengawasinya dari jauh, dan menjenguknya setiap senggang.”

“Apa saya harus menemui bapak, dan meminta maaf?”

“Sementara ini biarkan dulu. Jangan diganggu. Biarkan saya mengawasi kesehatannya.”

“Sebenarnya di mana bapak sekarang? Pulang ke Wonosobo?”

“Maaf, saya tidak berani mengatakannya, karena bapak bilang tidak ingin diganggu.”

“Baiklah  Mas, saya mohon dikabari tentang perkembangannya. Saat ini saya sendiri juga sakit.”

“Kamu sakit?”

“Kemarin periksa ke dokter, saya diperiksa macam-macam, katanya ada perdarahan otak.”

“Kamu?” dokter Dian berteriak.

“Katanya sih tidak parah. Mungkin harus dioperasi.”

“Saya akan menghubungi lagi nanti, kalau mungkin saya akan datang ke rumah. Sebentar, ada pasien nih. Nanti saya hubungi lagi.”

Ketika pembicaraan selesai, Emmi masih saja termenung. Bukan karena sakitnya sendiri, tapi karena keinginan ayah Guntur yang memilih pulang.

Bahkan ketika pulang dari dokter, dan sang dokter menyarankan untuk dioperasi, Emmi masih tidak memikirkan dirinya sendiri, tapi memikirkan sang ayah yang entah sekarang berada di mana.

***

Malam hari itu ketika sudah setengah tidur, Emmi terkejut karena merasa ada yang memeluknya. Ketika ia membuka mata, ternyata sang ibu berbaring di sampingnya.

“Ibu?” Emmi membuka matanya.

“Maafkan ibu,” kata Kinanti lirih.

“Mengapa Ibu harus minta maaf? Emmi tidak mengerti.”

“Ketika kamu terjatuh saat masih kecil, ibu tidak memperhatikannya. Sekarang kamu baru merasakannya.”

“Ibu, mengapa berpikir sejauh itu? Emmi tidak merasa bahwa itu kesalahan Ibu. Penyakit bisa datang kapan saja bukan?”

“Ibu tidak ingin kalian sakit, menderita, atau apapun yang membuat kalian sedih.”

“Tapi Emmi tidak sedih. Dokter mengatakan bahwa sakit Emmi tidak parah.”

“Tapi kamu sering merasa pusing.”

“Tidak apa-apa. Emmi masih bisa melakukan banyak hal. Emmi tidak takut seandainya harus dioperasi.”

“Tapi ibu takut.”

“Ibu, jangan begitu. Emmi akan sembuh.”

“Ibu ini sangat ringkih, rapuh. Sudah banyak penderitaan yang ibu rasakan. Ibu hanya ingin hidup tenang di hari tua ibu.”

“Tentu saja. Bukankah ibu memiliki keluarga bahagia? Suami yang mencintai, anak-anak yang menyayangi, apa lagi yang kurang dari kehidupan kita?”

“Tapi kenapa kamu tiba-tiba sakit?”

Emmi mengusap air mata yang meleleh dipipi sang ibu, lalu memeluknya erat.

“Emmi tidak akan apa-apa. Emmi kuat dan tidak takut menghadapi apapun, jadi ibu juga tidak boleh khawatir.”

Ketika tiba-tiba pintu kamar Emmi terbuka, Emmi melepaskan rangkulannya.

“Ternyata Ibu di sini?” tanya Ardi.

Kinanti bangkit, lalu beranjak turun.

“Bapak mencari aku?”

“Iyalah, tiba-tiba kamu menghilang. Aku kira ke dapur mengambil minum atau apa, ternyata ada di sini. Kamu habis menangis?”

“Ibu memikirkan sakitnya Emmi,” kata Emmi sambil tersenyum.

“Ibu ini kenapa, kan dokter bilang bahwa operasi itu tidak berbahaya. Emmi saja tidak takut,” kata Ardi sambil merangkul istrinya dan diajaknya keluar dari kamar.

Emmi terharu atas perhatian ibunya.

“Sebenarnya ibuku sangat rapuh,” bisiknya penuh haru, lalu kembali membaringkan tubuhnya.

***

Reihan sedang bersiap mau berangkat ke sekolah, ketika tiba-tiba Wanda menghentikannya.

“Rei, kamu tahu bahwa ayahmu sudah pulang kemarin pagi?”

“Bapak sudah pulang?”

“Iya, siangnya ibu ke sana, bapakmu sudah tidak ada.”

“Kok bapak tidak bilang apa-apa ketika Reihan ke sana?”

“Kamu punya nomor kontak ayahmu?”

“Ada.”

“Ibu minta dong.”

Klakson mobil bertalu-talu terdengar, rupanya Wahyu sudah menunggu Reihan untuk diantar ke sekolah.

Reihan bergegas ke arah depan.

“Rei, nomor kontaknya dulu.

“Nanti Reihan kirimkan sambil jalan.”

Wanda senang ketika sudah mendapatkan nomor bekas suaminya. Ia segera memutar dan menelponnya dengan sebuah harapan yang menggebu-gebu.

Ia juga senang ketika panggilannya diterima, tapi begitu dia menyapa’hallo’, ponsel itu segera dimatikan. Wanda mencobanya lagi, tapi benar-benar ponselnya sudah tak bisa tersambung lagi.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, April 1, 2025

ADA MAKNA 24

 ADA MAKNA  24

(Tien Kumalasari)

 

Reihan menundukkan kepalanya. Sesungguhnya alangkah sungkan dia mengucapkan kata-kata meminta kepada sang ayah, mengingat keadaannya yang pastinya masih membutuhkan banyak kebutuhan saat menderita sakit. Tapi dia tak punya jalan lain. Ibunya sakit, katanya tak bisa mengambil uang sementara kakaknya di luar kota dan tidak bisa dihubungi. Padahal uang itu harus dibayarkannya besok pagi.

Dokter Dian yang merasa tak enak segera mohon pamit dengan alasan ada pasien yang harus ditangani.

“Reihan, mengapa kamu tampak sedih?” tanya Guntur.

“Pak, saya mohon maaf. Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu Bapak, tapi_”

“Kamu tidak mengganggu. Bapak senang kamu mau berbagi tentang kesulitan kamu. Bukankah bapak sudah berjanji akan membantu kamu, dan karenanya bapak menyuruh kamu membuka rekening untuk kamu sendiri? Nanti akan bapak transfer ke rekening kamu, dan besok pagi kamu sudah akan bisa mengambilnya untuk keperluan sekolahmu.”

“Terima kasih banyak Pak, nanti kalau Reihan punya uang, pasti uang Bapak akan Rei ganti.”

Guntur tersenyum senang, tapi ia juga merasa geli mendengar perkataan anak laki-lakinya.

“Rei, apa ada orang tua menghutangkan uang kepada anaknya? Pakai saja uang itu, kalau ada sisa, mudah-mudahan cukup untuk membantu membayar biaya kuliah kamu. Tolong catatkan nomor rekening kamu. Kamu punya kertas?”

Reihan tersenyum haru. Ia mengambil secarik kertas dari dalam tas sekolahnya, lalu menuliskan nomor rekeningnya, kemudian meraih tangan sang ayah untuk diciumnya berkali-kali.

“Mas Wahyu sudah berjanji, kalau dia sudah bekerja, dia akan membiayai kuliah Rei.”

“Anak baik semuanya. Senang bapak mendengarnya. Sekarang kamu pulanglah, sudah malam.”

Reihan mengangguk, lalu sekali lagi mencium tangan sang ayah. Tapi kemudian sang ayah merengkuh tubuhnya dalam pelukan yang hangat dan erat.

“Jadilah dokter seperti keinginan kamu. Bapak akan berdoa untuk kamu.”

“Terima kasih, Pak,” katanya sambil matanya mencari cari. Ia tak melihat Emmi sejak tadi.

“Mbak Emmi mana?”

“Sudah pulang,” jawab Guntur singkat.

“Sudah pulang? Bapak sama siapa?”

“Bapak kan bukan anak kecil, sendiri tidak apa-apa. Lagipula bapak sudah sembuh, dan kakakmu juga harus kuliah.”

Ketika Reihan kemudian meninggalkannya, Guntur mengusap matanya yang basah. Entah mengapa, di awal malam itu dia merasa bahagia. Ada sesuatu yang bisa dilakukannya. Dengan tangannya.

Guntur segera meraih ponselnya, lalu mentransfer hampir seluruh tabungannya ke rekening Reihan.

“Masih ada uang pensiun aku bulan ini yang bisa aku pergunakan. Aku bahagia Reihan memintanya, dan aku bisa memberikannya. Akhirnya aku merasa punya makna,” bisiknya perlahan setelah ia berhasil mentransfer uangnya.

***

Ardi pulang ke rumah agak terlambat, karena banyak antrian ketika ia ingin memeriksakan Emmi.

“Kok lama Pak? Mampir-mampir? Atau beli obat sekalian?” tanya Kinanti.

“Obat akan dikirim dari apotek. Hari ini, baik di tempat praktek dokternya, maupun di apotek, pasien berjubel.”

“Udara sedang tidak enak, banyak orang sakit,” kata Kinanti.

“Benar.”

“Apa kata dokter?”

“Dokter baru memeriksa sekilas, tapi ia tampaknya mencurigai sesuatu. Apa Emmi pernah terjatuh? Maksudnya jatuh sampai kepalanya terbentur sesuatu?”

”Terjatuh?”

Kinanti tampak mengingat-ingat.

“Terjatuh, pernah. Waktu ketemu anak Zaki di pemakaman itu, Emmi bilang jatuh. Tapi kepalanya tidak apa-apa. Lututnya yang terluka. Ya kan Em?” tanyanya kemudian kepada Emmi.

“Iya, kepala Emmi tidak terbentur apapun. Lutut Emmi, yang terluka.”

“Mudah-mudahan bukan sesuatu yang serius,” kata Ardi.

Ketika Emmi sudah beranjak ke kamarnya, Kinanti tiba-tiba teringat sesuatu.

“Iya, Emmi pernah terjatuh, tapi waktu itu Emmi masih kecil. Umur berapa ya ketika itu, empat atau lima tahunan kurang lebih. Ia terjatuh dari kursi ketika mau mengambil album di atas almari.”

“Kepalanya terbentur lantai, atau apa?”

“Iya, waktu itu kepalanya sampai benjol. Tapi kemudian dia baik-baik saja.”

“Apa itu penyebab dia sering pusing ya?”

“Kata dokternya apa?”

“Dia cuma bilang kalau mencurigai sesuatu. Tapi dia memberi surat agar besok Emmi diperiksa lagi.”

“Besok ke sana lagi?”

“Ke rumah sakit. Emmi harus menjalani citiscan.

“Ya ampun, apakah penyakit Emmi berbahaya?”

“Tidak, jangan takut, kan baru akan diperiksa.”

”Jangan-jangan ada … ah tidak, semoga semuanya baik-baik saja,” gumam Kinanti.

“Kalau ada sesuatu, dokter pasti akan menangani dengan baik.”

Pembicaraan itu terhenti ketika terdengar bel tamu berdering.

“Sepertinya obatnya sudah dikirim,” kata Ardi yang segera beranjak ke arah depan.

“Kok cepet, katanya apotek juga rame.”

“Karena obat paten, bukan racikan," kata Ardi sambil menjauh.

***

Wanda masih tiduran di kamarnya, ketika Reihan datang.

“Kenapa baru pulang? Katanya hanya ke rumah teman?” tanyanya.

“Tadi mampir ke rumah sakit.”

“Ngomong apa saja?”

“Hanya cerita-cerita ringan.”

“Gadis reseh itu ada juga?”

“Gadis reseh itu siapa?”

“Itu … saudara tiri kamu.”

“O, mbak Emmi? Mengapa ibu mengatakannya reseh? Dia sangat baik pada Reihan.”

“Jadi kamu sempat ngobrol juga sama dia?”

“Mbak Emmi sudah pulang.”

“Jadi ayahmu sendirian?”

“Iya.”

“Kalau begitu besok ibu mau ke sana. Kalau ada dia, ogah. Tapi kalau ibu sudah tidak pusing lagi.”

“Ibu sakit apa? Kenapa tidak ke dokter?”

“Ibu hanya banyak pikiran. Kesal juga, kakakmu ngomelin ibu terus menerus gara-gara aku pergi ke rumah Tia.”

“Salah ibu sendiri, pergi ke sana tanpa bilang sama mas Wahyu.”

“Kalau bilang ya pasti ibu dihalangi.”

“Ya sudah, Rei ke kamar dulu, belum mandi juga,” katanya sambil keluar dari kamar ibunya. Ia tak menceritakan tentang uang yang diberi ayahnya. Ia khawatir sang ibu akan marah-marah seperti ketika pertama kali menerima uang yang diberikan Emmi ketika ia mau dioperasi.

***

Malam itu, Suryawan memanggil Tia untuk diajaknya bicara. Ketika Wanda datang ke rumah, kemudian Wahyu juga menemuinya, ia belum pernah mengatakannya pada Tia. Tapi sekarang ia ingin mengatakannya. Ada perasaan bersalah karena pembicaraan itu kan ada hubungannya dengan Tia. Bagaimana kalau ternyata Tia juga menyukai Wahyu? Ia harus menghalanginya.

“Ada apa nih, tumben Bapak ngajakin bicara di kamar?”

“Bapak lupa memberi tahu kamu.”

“Tentang apa?”

“Tentang kedatangan bu Wanda ke rumah ini.”

“Bu Wanda, datang kemari? Mau apa dia? Berkali-kali menelpon Tia, tapi TIa hanya mengangkatnya sekali, itupun hanya sebentar. Setelahnya Tia tidak pernah mengangkatnya. Apa saja yang dia bicarakan?”

“Bicara sok akrab, dan merasa bahwa dia dan bapak ini sudah siap berbesan.”

“Maksudnya?”

“Dia merasa yakin bahwa kamu dan Wahyu memang berjodoh.”

“Lalu Bapak menjawab apa?”

“Apa kamu suka pada dia? Maksud bapak … Wahyu.”

“Tidak … entahlah, Tia juga kurang suka pada ibunya. Sudah kelihatan perangainya kurang bagus.”

“Benar. Ketika itu bapak bilang bahwa kamu sudah punya calon.”

“Ah, Bapak nih …” kata Tia sambil tersenyum.

“Asal saja. Soalnya bapak bingung  mengatakan alasannya untuk menolak.”

“Ya sudah, tidak apa-apa Pak.”

“Tapi dua hari setelahnya, Wahyu juga datang kemari.”

“Wahyu? Mengapa? Berkali-kali menelpon Tia juga tidak pernah menerimanya.”

“Tadinya bapak mengira dia akan nekat ingin mendekati kamu, tapi ternyata tidak. Dia hanya minta maaf atas kedatangan ibunya kemari. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu kalau ibunya datang kemari.”

“Oh, jadi Wahyu tidak tahu kalau ibunya datang kemari?”

“Kelihatannya dia kesal pada ibunya. Dia juga mengatakan tidak ingin membicarakan masalah jodoh.”

“Syukurlah.”

“Anak itu sesungguhnya baik. Sikapnya berbeda dengan ibunya.”

“Iya, Tia tahu.”

“Apa kamu suka pada dia?”

“Bapak gimana sih, kan Tia sudah menjawab, tadi.”

“Dia bilang sudah lulus, dan sedang mencari pekerjaan.”

“Syukurlah,” lalu Tia ingat bahwa dirinya pernah berjanji pada Wahyu untuk mencarikan pekerjaan untuknya.

“Baiklah, bapak senang kalau kamu tidak menanggapi perasaannya. Kelakuan orang tuanya pasti akan berpengaruh pada hubungan kalian.”

Tia mengagguk. Ia tahu kalau Wahyu sebenarnya baik. Tapi untuk melanjutkan hubungan, rupanya ia harus berpikir beribu-ribu kali.

Cintakah Tia kepadanya? Entahlah, waktu yang akan berbicara. Dan banyak yang harus menjadi pertimbangan seandainya itu benar.

***

Emmi sudah selesai minum obat yang diberikan dokter, kemudian ingin segera beristirahat, ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dari dokter Dian. Nomor dokter Dian diberikan ayahnya sebelum dia pulang. Tampaknya sang ayah sangat berharap agar ia bisa berkenalan lebih dekat dengan dokter muda itu.

“Selamat malam, Emmi.”

“Selamat malam, Dokter.”

“Mengapa memanggilku dokter? Mulai sekarang panggil saja namaku, jangan ditambah embel-embel dokter.”

“Bukankah itu benar?”

“Tolong jangan begitu. Aku tidak sedang menjadi dokter, jadi panggil aku Dian. Kamu tidak lupa bahwa itu namaku bukan?”

“Baiklah, pak Dian.”

“Yah, apa aku sudah terlalu tua sehingga kamu memanggilku pak Dian?” tanya dokter Dian, terkekeh.

“Gimana dong.”

“Dian saja, atau mas, itu lebih enak di dengar.”

“Baiklah, Mas. Ada apa?”

“Hanya ingin menanyakan keadaan kamu.”

“Baik-baik saja.”

“Syukurlah. Aku terkejut ketika tadi datang ke ruang dokter Guntur dan tidak melihat kamu ada di sana.”

“Saya sudah pulang. Bapak yang menyuruh. Entah mengapa bapak mengusir saya,” kata Emmi sedih.

“Bapak tidak mengusir kamu. Menurut aku, hanya karena mengingat bahwa kamu harus kuliah, jadi memintanya untuk pulang.”

“Iya,” hanya itu jawaban Emmi.

”Bagaimana keadaan bapak?” lanjutnya.

“Baik, tadi sore waktu aku sedang di sana, adik kamu datang.”

“Reihan?”

“Iya. Tapi entah mereka bicara apa, aku langsung pamit. Nggak enak saja, kalau barangkali mereka akan bicara serius.”

“Reihan sangat perhatian pada bapak. Saya senang. Dia anak yang baik.”

“Dokter Guntur sudah menceritakan semuanya.”

“Oh ya?”

“Saya bisa mengerti semuanya, dan saya menghormati apa yang dilakukannya,” kata dokter Dian, hati-hati.

“Ada baiknya dokter mengerti, siapa tahu penyakit bapak ada hubungannya dengan perjalanan hidupnya.”

“Kamu benar, aku akan sekuat tenaga membantu. Hanya saja kelihatannya dokter Guntur ingin bisa segera pulang.”

“Apakah sekiranya keadaan kesehatannya memungkinkan untuk bisa bilang seperti keinginannya?”

“Sebenarnya aku ingin mencegahnya. Semoga bisa.”

Mereka berbincang agak lama, dan Emmi merasa senang, dokter Dian tampaknya serius dengan keinginannya. Jatuh cinta, belum sih, tapi apa susah mencintai dokter pintar muda dan tampan seperti dokter Dian? Entahlah, terkadang cinta bukan tergantung pada wajah rupawan. Cinta akan datang semaunya, dan pergi juga semaunya. Ketika meletakkan kembali ponselnya di meja, Emmi masih tersenyum-senyum.

***

Reihan senang ketika ia bisa membayar keperluan sekolahnya di hari itu. Tapi ia terkejut melihat sisa saldonya yang begitu banyak.

“Rupanya bapak memberi uang sangat banyak untuk aku. Pantas saja bapak bilang kalau ada sisa gunakanlah untuk membantu biaya kuliahku. Aku harus bertemu bapak lagi, kalau tidak nanti ya besok,” gumam Reihan. Tapi lagi-lagi Reihan tak ingin mengatakan tentang uang itu pada ibunya. Ia hanya mengatakan pada Wahyu, ketika pulang pada sore harinya.

“Ya sudah, bersyukurlah karena sudah punya modal untuk biaya kuliah nanti. Aku pasti akan membantu,” kata Wahyu senang.

“Bagaimana dengan hasil wawancaranya?”

“Tampaknya baik, tapi nanti mas akan ditelpon. Doakan ya.”

“Ya, pasti aku doakan.”

***

Pagi hari itu Wanda sudah berdandan. Ia harus pergi ke rumah sakit untuk menemui Guntur. Ia yakin sikap Guntur yang seperti acuh tak acuh ketika dia datang, disebabkan karena adanya Emmi. Sekarang Emmi sudah tidak ada, akan lebih mudah baginya untuk bicara.  Bagaimanapun Guntur tidak pernah dilupakannya.

Melangkah ke rumah sakit dengan dandanan yang apik, Wanda langsung menuju ke ruang rawat inap Guntur. Ia bersyukur perawat jaga tidak menghalanginya masuk.

“Sudah jelas dulu yang membuat aku tidak diijinkan masuk itu adalah gadis jahat itu. Buktinya sekarang aku bisa melenggang sampai ke depan pintu dan tidak ada yang menghalanginya.

Tapi ketika ia akan membuka pintu, seorang petugas menyapanya.

“Ibu mencari siapa?”

“Dokter Guntur, bukankah ini ruangannya? Apa ada yang menghalangi aku masuk?”

“Tapi maaf Bu, dokter Guntur sudah pulang.”

“Apa? Pulang bagaimana?”

“Tidak dirawat di sini lagi.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 42

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  42 (Tien Kumalasari)   Pak Pranoto duduk di samping istrinya, sama seperti sang istri, ia duduk dengan linglung....