Tuesday, August 9, 2022

KEMBANG CANTIKKU 43

 

KEMBANG CANTIKKU 43

(Tien Kumalasari)

 

Qila tampak menangis, sepertinya dia kesakitan, dan terlihat wanita itu menenangkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya.

“Nggak apa-apa sayang, mana yang sakit?” tanya wanita itu.

“Iniiii… iniiii ….” Qila menunjuk ke arah lututnya yang berdarah.

Wanita itu menurunkannya untuk melihat lukanya, sementara Wahyudi sudah sampai di dekat mereka. Wahyudi terkejut melihat wanita itu.

“Kamu? Bukankah kamu yang …  yang … mengacaukan acara saya bukan? Kamu yang bernama Kori?”

“Maaf, aku ingin mengobati luka anak ini dulu,” katanya sambil membuka tasnya, lalu mengambil pleter dari dalamnya.

Ia mengambil kapas dan cairan berwarna kuning dari dalam tas itu juga.

“Lukanya dibersihkan dulu ya …” kata Kori sambil membasahi kapas itu dengan cairan kuning, lalu pelan-pelan dibersihkannya luka Qila. Qila menjerit-jerit.

“Sakit sedikit sayang.”

“Hei, cairan apa yang kamu pakai itu? Jangan-jangan racun,” kata Wahyudi sambil merebut botol cairan.

“Aku pernah melakukan hal buruk, aku mengerti kalau kamu tidak mempercayai aku. Tapi ini cairan yang namanya Rivanol, aku mempergunakannya untuk membersihkan lukanya.”

“Apa kamu dokter?”

“Bukan, aku pernah terluka, lalu membeli obat di apotek. Ini kebetulan masih ada di dalam tasku,” katanya sambil menutup luka kecil Qila dengan plester.

“Sudah tidak sakit kan?” tanyanya kepada Qila yang kemudian merangkul Wahyudi yang segera menggendongnya.

“Makanya jangan lari-lari,” tegur Wahyudi sambil menciumi pipi Qila.

“Qila mau main petak umpet,” katanya sambil mengusap air matanya.

“Terima kasih telah menolong Qila,” kata Wahyudi kepada wanita yang diketahuinya sebagai bekas istri Sapto.

“Di mana orang tuanya?”

“Di rumahnya.”

“Oh, baiklah, saya permisi,” katanya sambil menowel pipi Qila, lalu membalikkan tubuhnya, menjauh.

Tapi sebelum jauh melangkah, didengarnya sebuah panggilan.

“Kori !!”

Kori menoleh. Dilihatnya Sapto berjalan bersama Retno, bergegas mendatanginya. Ia menghentikan langkahnya.

“Apa yang kamu lakukan pada anakku?”

 Rupanya Sapto melihat saat Kori menurunkan Qila dari gendongannya,

“Tidak ada. Dia terjatuh dan aku hanya mengobati lukanya,” katanya lalu membalikkan tubuhnya.

Sapto menatap Wahyudi yang kemudian mengangguk.

“Tunggu,” kali ini yang berteriak adalah Retno. Kori kembali berhenti, menatap wanita cantik yang perutnya membuncit dengan perasaan tak menentu.

“Terima kasih ya.”

“Sama-sama,” jawabnya sambil tersenyum.

“Mau kemana, kok ada di sini?”

“Sedang jalan-jalan saja, kebetulan melihat anak kecil terjatuh, ternyata Qila.”

“Oh …”

“Apa kamu mencurigai aku akan berbuat jahat?”

“Tidak … “

“Baiklah, aku pergi dulu. Anakmu cantik, maaf aku pernah membuatnya sakit saat bayi,” katanya. Retno merasa trenyuh melihat air mata mengambang di sepasang mata beningnya.

“Sudah, lupakanlah.”

“Salam untuk suami kamu, dan juga anakmu,” katanya, kemudian berlalu.

“Tunggu.”

Kembali Kori berhenti.

“Di mana kamu tinggal? Aku tahu rumah kamu masih dikontrak orang.”

“Aku tinggal di rumah Qila, selama dia ditahan, dan mungkin akan dipenjara,” lalu Kori benar-benar melangkah pergi. Retno menatapnya sampai dia menghilang di pengkolan jalan.

Ketika Retno membalikkan tubuhnya,dilihatnya Qila sudah ada dipangkuan ayahnya, yang duduk berdampingan dengan Wahyudi di bangku taman.

“Ngapain kamu mengejar dia?”

“Hanya omong-omong saja. Kasihan ya dia.”

“Ah, kamu itu. Ayo kita ajak mas Wahyudi jalan-jalan. Sudah lama kita tidak jalan bersama kan?” ajak Sapto.

Tentu saja Wahyudi tak bisa menolaknya.

***

Malam itu Retno berbincang dengan suaminya, tentang Kori. Walaupun Sapto agak kesal, tapi ia mendengarkan apa yang Retno katakan.

“Aku kasihan sama Kori.”

“Apa maksudmu?”

“Kasihan. Dia itu kan sudah tidak punya siapa-siapa, tidak punya rumah tinggal juga.”

“Mengapa kamu peduli sama dia? Kamu lupa pada semua yang pernah dilakukannya?”

“Manusia itu kan punya hati. Dan kalau punya hati pasti dia juga punya kata maaf yang bisa ditumpahkannya dengan segala keikhlasan.”

“Bagaimana kalau dia menjahati kamu?”

“Biarkanlah orang lain berbuat jahat, asalkan kita bisa membersihkan diri kita dengan perilaku bersih. Bukankah menanam kebaikan juga akan berbuah kebaikan?”

“Aku tidak mengerti arah pembicaraan kamu. Baiklah, kita sudah memaafkan apa yang pernah dia lakukan, toh dia sudah mendapatkan hukumannya. Lalu apa?”

“Aku ingat waktu acara lamaran mas Wahyudi, dia masih berharap kembali pada Mas bukan?”

“Iya, kan aku yang mengatakannya sama kamu.”

“Mengapa Mas menolaknya?”

“Apa maksudmu Retno? Tentu saja aku menolaknya.”

“Karena sudah ada aku?”

“Bukan hanya itu.”

“Karena Mas tidak bisa memaafkannya?”

“Retno, sebenarnya apa yang kamu pikirkan?”

“Aku kasihan sama dia.”

“Lalu …?”

“Tidak apa-apa seandainya Mas mau menerimanya kembali.”

“Apa?” Sapto membulatkan matanya.

“Bukankah dulunya dia juga istri Mas, dan aku hanyalah istri muda? Bukankah dia sudah meminta maaf?”

“Kamu tidak bisa membicarakan masalah itu dengan begitu mudahnya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam setiap langkah yang akan kita lakukan.”

“Misalnya?”

“Sebuah permintaan maaf bukan berarti dia akan bisa melakukan hal baik di masa mendatang.”

“Mas tidak mempercayainya?”

“Tentu saja tidak. Ini tidak hanya menyangkut pemberian sebuah kebaikan atau pemberian maaf. Akan ada nyawa dipertaruhkan.”

“Ya ampun Mas, sebegitunya sih ….”

“Itu benar, karena dia pernah melakukannya. Tega menyiksa bayi yang belum lama lahir. Tidak menyiksanya secara langsung, tapi perbuatannya nyaris menghilangkan nyawa anak kita. Aku … maaf … tidak bisa begitu saja menerimanya. Kalau kamu ingin berbaik hati, terimalah dia dengan sikap baikmu, atau menolongnya apabila dia membutuhkan pertolongan, tapi jangan membawanya ke dalam kehidupan kita.”

“Tapi Mas.”

“Sudah, hentikan omong kosong ini. Dan ingat, jangan terlalu dekat sama dia, jangan membawanya ke rumah ini, lebih-lebih membawanya kedalam kehidupan kita.”

Retno menghela napas. Niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh suaminya. Tapi mungkin suaminya benar, tidak mudah begitu saja mempercayai seseorang yang nyaris menghilangkan nyawa anak bayinya.

***

Siang hari itu Kori berjalan menyusuri pusat pertokoan. Ia kemudian masuk ke sebuah warung yang sepi pengunjung. Bukan hanya merasa lapar, tapi ia sedang ingin merenung. Pertemuannya dengan Sapto saat di acara pertunangan Wahyudi, lalu di taman saat dia menolong Qila kecil yang terjatuh, membuahkan pemikiran yang sesungguhnya terasa menyakitkan. Keterlukaan hatinya saat dia keluar dari penjara, dan melarikannya dengan mabuk-mabukan, tak membuahkan kepuasan seperti yang diharapkannya. Ia bahkan berlaku seperti orang gila, lalu rasa sakit kembali meremas-remas hatinya. Sakit itu lebih terasa ketika melihat sikap Sapto yang menatapnya tanpa belas, dan bahkan menolaknya ketika dia mencoba mengemis cintanya. Ia tahu, belum ada yang mau mempercayainya setelah dia melakukan kejahatan menjadi dalang penculikan bayi Qila, walau dia telah menerima hukumannya. Berusaha menolongpun, dicurigainya juga,

Ketika pesanan makanan sederhana dan minum teh manis telah terhidang, ia masih belum ingin menjamahnya. Ia masih berusaha menyaring, menimbang, dan kemudian mengerti, bahwa sebuah kejahatan yang dilakukan ternyata tidak akan membuatnya tenang, selama dia masih ingin mengejar sesuatu yang bergejolak dihatinya ketika sakit dan dendam masih mengusiknya. Tidak, dia ingin lebih merasa tenang. Dia tak menginginkan apa-apa lagi kecuali hidup tenang dan menyembuhkan rasa sakit yang masih selalu mengikutinya.

Lalu ia menyantap makanan yang dipesannya, meneguk habis minuman setelahnya, kemudian berdiri setelah meninggalkan sejumlah uang di meja, di mana dia makan.

“Oh ya, aku kan harus mengirimi Qila makan juga,” gumamnya. Lalu ia memesan makanan untuk Qila, baru kemudian menuju ke tempat di mana Qila ditahan.

***

“Qila ingin menjual mobilnya, ia menelpon dari kantor polisi,” kata Wisnu kepada ayahnya.

“Bagaimana menurut kamu?”

“Biar saja, kan Wisnu sudah memberikannya, tapi kan saat ini mobil itu masih menjadi barang bukti di pengadilan.”

“Menurut bapak, bagaimana kalau kamu saja yang membelinya, jadi mobil itu bisa kembali lagi menjadi milik kamu,” saran pak Kartiko.

“Begitu ya Pak?”

“Ini hanya saran bapak, terserah kamu, apakah kamu setuju atau tidak.”

“Sepertinya saran Bapak sangat bagus, baiklah, setelah selesai perkaranya, saya akan membeli lagi mobil itu, jadi tidak usah balik nama lagi.”

“Nah, begitu lebih baik kan?”

“Ya Pak.”

“Bagaimana tentang saran Bapak tentang Lasmi?”

“Aduh, jangan dulu dong Pak, Wisnu belum akan memikirkan mencari istri, biarlah begini dulu.”

“Baiklah, tapi kan kamu harus ingat, bahwa anak kamu juga butuh seorang ibu.”

“Mengapa Bapak memilih Lasmi?”

“Menurut bapak dia baik, pintar. Kalau dia bisa menerima Karmila, mengapa tidak?”

“Apa dia bisa menerima Wisnu? Kita lihat dulu, seandainya dia menerima Wisnu nanti,  apakah karena Wisnu kaya, atau karena dia memang cinta. Wisnu tidak mau lagi terkecoh dengan kecantikan seseorang, yang hanya cantik luarnya tapi busuk di dalamnya.”

“Itu bagus, bapak akan mendukungmu. Mulai sekarang amatilah dia dan segala sifat-sifatnya. Lalu cobalah sesekali ajak Mila ke kantor kamu, dan lihat bagaimana Lasmi menerimanya.”

“Baiklah Pak, tapi jangan tergesa-gesa ya.”

“Bapak hanya ingin kamu tenang dan bahagia.”

***

“Mengapa lama sekali? Aku lapar, tahu?” kesal Qila ketika Kori datang membawakan makanan saat hari sudah siang.

“Aku habis jalan-jalan.”

“Enak saja, kamu jalan-jalan dan aku mendekam dalam tahanan?”

“Kenapa marah-marah? Bukan aku yang salah,” jawab Kori enteng.

“Kamu tinggal di rumah aku, mengapa keberatan membantu aku?”

“Aku tidak mau kamu memarahi aku seenak perut kamu sendiri. Kalau memang aku tinggal di rumah kamu itu menjadikan kamu merasa bisa memerintah aku seenak kamu, lebih baik aku keluar dari rumah itu.”

“Apa katamu?”

“Besok aku akan memberikan semua uang cash kamu yang ada, juga kunci rumah,” kata Kori sambil beranjak pergi.

“Kori, jangan begitu. Baiklah, aku salah, tapi aku butuh seseorang, dan itu kamu. Jangan meninggalkan aku. Aku minta maaf, tetaplah tinggal di rumah aku,” kata Qila memohon.

“Terimalah yang kamu alami ini sebagai pelajaran untuk kamu. Dalam merenung, aku mulai menyadari bahwa kelakuan yang pernah aku lakukan, akhirnya juga menyakiti hati aku sendiri. Sakit karena merasa berbeda dengan orang lain. Sakit karena banyak orang merendahkan bekas pesakitan seperti aku. Sakit karena kepercayaan setiap orang terhadap aku sudah luntur dan susah untuk diperbaiki kembali.”

Qila tak menjawab, ia mencoba mengurai apa yang diucapkan sahabat barunya. Melihat dengan mata hatinya, adakah luka dan rasa sakit yang dirasakannya sebagai akibat dari perbuatannya?

***

Hari bagai berlari begitu cepat, ketika saat yang ditunggu itu tiba.

Perhelatan itu sudah dilakukan. Hari itu Wahyudi resmi menjadi suami Murni setelah mengucapkan akad nikah yang sudah lama ingin dilakukannya.

“Aku terima nikahnya Murni binti Sarwono, dengan mas kawin seperangkat alat sholat.”

Lalu seperti biasa ungkapan kata ‘SAH’ menggema di seluruh ruangan, dibarengi dengan rasa syukur diantara seluruh keluarga.

***

Bahagia itu sederhana. Bahagia itu adalah ketika sebuah perahu di dayung menyusuri alur, lalu berlabuh di sebuah muara yang diimpikan.

Kemudian menatap langit penuh bintang, dengan sepotong bulan menyala dengan manisnya,

“Malam ini aku yakin, bahwa aku bukanlah perjaka tua, karena aku sudah memiliki kembang cantik yang aku boleh menyebutnya, ‘isteriku.’

“Iya. Aku melakukannya karena aku kasihan sama Mas, yang selalu aku sebut sebagai perjaka tua,” kata Murni sambil tersenyum.

“Jadi kamu mau menjadi istriku karena kasihan? Bukan cinta?”

“Kasih tahu nggak ya,” ya ampuun, Murni masih ingin menggoda suaminya.

“Jawab dong Murni.”

“Adakah seorang yang terpaksa melakukan, tapi menjalaninya sambil tersenyum dan tertawa-tawa?”

“Hm, pintar berteka-teki ya. Tapi aku kan harus mendengar dengan jelas walau aku sudah tahu jawabnya. Hayo katakan, cinta tidak sama aku?”

Murni tunduk tersipu, malam itu, di dalam kamar pengantin, Wahyudi masih menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah tahu apa jawabnya.

“Jawab Murni, cinta atau tidak?” tanya Wahyudi mendesak, sambil semakin mendekati istrinya.

“Baiklah … baiklah … iya, aku cinta, tapi malam ini aku mau tidur di kamar ibu,” kata Murni sambil beranjak menjauh, kemudian lari keluar dari kamar.

Wahyudi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Tentu saja bu Lasminah terkejut, ketika Murni tiba-tiba masuk ke kamarnya dan merangkulnya.

“Murni, apa yang kamu lakukan?”

“Ibu, ijinkan aku tidur bersama Ibu.”

“Apa maksudmu? Pengantin harus tidur bersama suaminya.”

“Tolonglah Bu, aku masih takut,” rengeknya sambil bersembunyi di balik ketiak ibunya.

Bu Lasminah tersenyum mengerti, anaknya masih belia.

***

T A M A T.

 

************************

 

Pada suatu hari, seorang pangeran menunggang kuda putih menghampiri seorang putri yang duduk merenung di sebuah danau.

“MAUKAH KAMU MENJADI ISTRIKU?"

Seperti sebuah dongeng ya.

Tapi ternyata jawaban sang putri adalah TIDAK.

 Ikutilah kisahnya dalam SEBUAH JANJI.

Yuuk, besok-besok lagi ya.

 

**************************

Monday, August 8, 2022

KEMBANG CANTIKKU 42

 

KEMBANG CANTIKKU 42

(Tien Kumalasari)

 

Qila melarikan mobilnya seperti dikejar setan. Wajahnya muram, merah padam seperti menahan marah.

“Jangan ngebut dong, jalanan lagi ramai nih.”

“Kamu itu juga menambah sebelnya hati aku,” kesalnya tanpa mengurangi laju mobilnya.

“Aku kenapa? Kok jadi aku bikin sebel.”

“Kamu seperti ketakutan begitu.”

“Yah, kita memang bersalah kan, bikin kacau acara lamaran. Kamu juga sih yang membuat gara-gara. Sudah jelas yang namanya Wahyudi itu menengok ke arah kamu saja enggak, kenapa kamu masih ngeyel.”

“Kamu belum tahu ya, aku tuh cinta berat sama dia.”

“Kamu cinta, nyatanya dia tidak, lalu apa yang kamu dapat?”

“Kalau aku nggak dapat, dia juga nggak akan dapat,” geramnya.

Kori merengut. Dirinya juga sedang dilanda rasa kecewa. Ia masih mencintai Sapto, tapi Sapto sudah berpaling. Retno adalah segalanya bagi Sapto. Dia tadi sempat melirik, perut Retno sedikit membesar. Hamil. Dan itu menyakitkan sekali. Dirinya dulu tak kunjung hamil, Retno sudah dua kali hamil. Dan kehamilan itulah yang kemudian meluluhkan hati Sapto, kemudian semakin menyayanginya. Kori menyesali terjadinya kecelakaan yang membuat dia kehilangan rahimnya. Sesungguhnya Sapto, bahkan ayah mertuanya sangat mengasihani dirinya. Tapi sekarang dia sadar, bahwa memang dirinya yang bersalah. Kalau saja dulu dia mau berbagi cinta dengan Retno, bisa mengasihi Qila seperti harapan semua orang, pasti dirinya tak usah masuk penjara, lalu sekarang kehilangan semuanya.

“Kok kamu diam? Merasakan hal yang sama? Kamu juga bodoh, dia tak suka, kenapa kamu masih mengemis cintanya? Memalukan.”

“Barangkali dia masih ingat bahwa dia pernah begitu mencintai aku.”

“Laki-laki itu tidak bisa diperlakukan begitu mudah. Seperti ‘mas, kembalilah sama aku, aku masih mencintai kamu’ … huhh, mana mungkin.”

“Lalu apa?”

“Lakukan dengan tindakan.”

“Maksudnya?”

“Dekati, jatuhkan dengan rayuan. Laki-laki itu sebenarnya sangat lemah. Harus tersentuh dulu perasaannya. Harus kamu buat supaya dia tertarik. Masa sih tidak mengerti maksudku? Menarik hati laki-laki itu tidak susah.”

“Omong kosong apa kamu? Buktinya kamu tidak pernah berhasil mendekati Wahyudi, sampai kamu berbuat konyol seperti tadi.”

“Itu karena aku tidak punya banyak waktu, atau malah tidak pernah punya waktu untuk berdua saja sama dia. Kalau waktu itu ada, mana mungkin dia bisa melewatkan wanita secantik aku.”

Kori mencibir. Ia tahu sahabat barunya itu terlalu besar kepala. Merasa dirinya paling cantik dan begitu mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Padahal baru saja mereka mendapat malu gara-gara kelakuannya.

Tiba-tiba sebuah sepeda melintas dan Qila tak sempat mengerem kendaraannya. Terdengar teriakan dan suara sepeda terjatuh. Tapi bukannya berhenti, Qila melajukan kendaraannya semakin kencang.

Teriakan-teriakan orang tak dihiraukan. Qila membelokkan mobilnya masuk kejalan kecil untuk menghindari pengejaran.

“Qila, kamu sudah gila? Berhenti! Kamu menabrak orang, tahu.”

“Diam. Aku tak mau masuk penjara seperti kamu.”

Tapi Qila tak sadar, bahwa seseorang telah mencatat nomor mobilnya.

***

Wahyudi mengisi hari-harinya dengan mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan yang akan diadakan dua bulan setelah lamaran. Saat itu setahun setelah menikahnya Murti sudah lewat, berarti bu Lasminah siap mengentaskan anak bungsunya dengan segala kemampuan yang ada.

Wuri yang sangat gembira karena akhirnya Wahyudi menemukan gadis yang dicintainya, sangat sigap membantu segala keperluannya.

Hari itu dengan meminjam mobil perusahaannya, Wahyudi membawa calon mertua dan calon istrinya ke rumah, dengan harapan sang ibu mertua kelak bersedia tinggal bersamanya.

“Ya begini ini Bu, rumah saya. Saya harap setelah kami menikah, ibu bersedia tinggal di sini.”

“Rumah ini jauh lebih bagus dari rumah ibu yang di desa Nak, tapi bukan ini yang membuat ibu bersedia. Ibu sendirian di sana, dan Murni tampaknya juga tak tega meninggalkan ibu tanpa dirinya.”

“Itu sebabnya saya mempersiapkan semuanya di sini Bu.”

“Mas, bolehkan aku minta sesuatu?” tanya Murni tiba-tiba.

“Nanti setelah menikah, saya mau kuliah.”

“Kuliah, nduk? Mengapa sudah menikah malah ingin kuliah?”

“Dulu saya menawarkan itu, kamu tidak mau.”

“Dulu, kalau saya kuliah, pasti memberatkan ibu. Tapi setelah menikah kan tidak memberatkan ibu lagi, tapi memberatkan suami aku,” kata Murni sambil tersenyum.

“O, begitu? Anak baik …” puji Wahyudi sambil tersenyum.

“Bolehkah? Sampai D3 saja aku mau kok, syukur-syukur nanti aku bisa bekerja setelah selesai.”

“Aduh, mengapa kamu setelah mau menikah lalu banyak maunya?” keluh bu Lasminah.

“Boleh tidak?”

“Tentu saja boleh Murni. Lakukan apa yang kamu inginkan. Aku akan selalu mendukung kamu.”

“Benar?”

Wahyudi mengangguk sambil tersenyum. Bu Lasminah geleng-geleng kepala.

“Tidak apa-apa kan Bu?”

“Kalau kamu sudah menjadi istri nak Wahyudi, ya ibu tidak mau ikutan. Kalau nak Wahyudi mengijinkan, tentu ibu akan mendukungnya juga.”

Murni memeluk ibunya dengan senang.

“Yang penting, kalau kamu punya kegiatan, baik mau sekolah lagi atau bekerja, kamu harus ingat bahwa tugas utama kamu adalah sebagai istri. Dan istri itu, tugas utamanya adalah melayani suami. Itu yang nomor satu. Kamu mengerti?”

“Iya Bu, tentu aku mengerti.”

“Murni masih muda Bu, biarkanlah dia mencapai cita-citanya. Saya sebagai suaminya nanti pasti akan mendukung sepenuhnya.”

“Terima kasih Mas. Sebetulnya aku belum ingin menikah.”

Wahyudi menatap Murni dengan tatapan kecewa.

“Jadi kamu bersedia menikah karena terpaksa?”

“Karena kasihan sama mas Yudi.”

“Kasihan sama aku? Memangnya aku kenapa?”

“Kalau aku menunda pernikahan kita, kamu akan tetap menjadi perjaka tua ,” kata Murni enteng, membuat Wahyudi terbahak.

“Kamu sudah mau menjadi istri aku, masih belum mau meninggalkan perkataan yang mengatai aku ‘tua’ ya?”

“Iya Murni, kebiasaan kamu tuh,” tegur ibunya.

“Memang kenyataannya begitu kan Bu? Kalau tidak segera menikah pasti masih akan banyak yang bilang dia perjaka tua.”

“Kamu benar, terima kasih, kembang cantikku …”

Murni tersenyum tersipu.

***

Siang itu Nano baru saja membawa mobilnya memasuki halaman, pak Kartiko menunggu di teras bersama istrinya. Mereka heran karena tadi Nano pergi dengan terburu-buru setelah Wisnu menelpon. Sudah sejak pagi dia pergi.

“Nano, dari mana kamu?” tanya pak Kartiko begitu Nano turun dari mobil.

“Dari mengantar pak Wisnu, Pak.”

“Mengantar kemana? Mobil Wisnu kenapa?”

“Mengantarkan ke kantor polisi Pak.”

“Kenapa?”

“Bu Qila menabrak orang hingga meninggal.”

“Apa?”

“Setelah menabrak, bu Qila kabur. Tapi ada yang mencatat nomor polisi mobilnya, padahal mobil itu kan masih atas nama pak Wisnu.”

“Ya ampun, kapan itu terjadinya?” sambung bu Kartiko.

“Sepertinya setelah pulang dari Matesih Bu.”

“Apakah Wisnu mendapat masalah setelah peristiwa itu?”

“Tidak, pak Wisnu hanya mengatakan bahwa mobilnya dibawa bu Qila. Lalu bu Qila sudah diamankan.”

“Di Matesih membuat kekacauan, lalu menabrak orang dijalan, begitu?”

“Iya Bu.”

“Benar-benar tukang membuat masalah.”

“Sekarang Wisnu di mana?” tanya pak Kartiko.

“Sudah kembali ke kantor Pak.”

“Syukurlah. Kalau memang mobil itu diberikan, lebih baik suruh balik nama saja menjadi nama Qila. Kalau ada apa-apa bisa ikut terlibat nanti.”

“Tadi pak Wisnu sudah mengatakan, orang kantor yang di suruh mengurusnya.”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat sana. Istrimu sudah dari tadi menunggu tuh,” kata bu Kartiko.

Nano tersenyum, kemudian beranjak ke belakang.

“Semoga setelah ini dia tidak akan membuat ulah yang akan melibatkan keluarga kita lagi.”

“Dia menabrak orang sampai meninggal, berarti dia akan masuk penjara.”

“Biar dia terima itu sebagai pelajaran. Kelakuannya sungguh sudah diluar akal waras.”

***

Kori termangu di teras rumah Qila. Dia sungguh bingung setelah Qila ditangkap polisi. Dia tak bisa pulang ke rumah orang tuanya karena masih di kontrak orang. Dia sudah menerima uang kontrak itu beberapa hari yang lalu dari sebelum dia masuk penjara sampai dua tahun ke depan. Ia akan mempergunakan uang itu untuk semua kebutuhannya. Tapi dia tidak punya rumah tinggal. Jadi dia terpaksa masih berada di rumah itu, entah sampai kapan.

Pagi itu dia bermaksud menemui Qila di kantor polisi, bermaksud membicarakan soal rumah tinggalnya. Ia yakin Qila akan mengijinkannya tinggal, tapi dia harus berbicara dulu dengannya.

"Terserah kalau kamu mau tinggal disana, hitung-hitung ada orang yang akan membersihkan rumahku setiap hari."

“Bagaimana kelanjutan kasus ini?”

“Nggak tahu aku, ternyata orang mencatat nomor mobil itu lalu mas Wisnu melaporkan bahwa akulah yang mengendarainya.”

“Aku sudah memperingatkan kamu, jangan ngebut.”

“Sudah, jangan diingat-ingat lagi, semuanya sudah terjadi.”

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Apa? Aku ditahan, mana bisa melakukan apa-apa. Tolong hubungi mas Wisnu, minta agar mobil itu dijual saja. Aku butuh pengacara.”

“Apakah pengacara akan bisa membebaskan kamu?”

“Paling tidak meringankan hukuman aku, entahlah. Pikiranku buntu. Aku hanya bisa pasrah. Sekarang tolong belikan aku makanan. Makanan di sini sangat tidak enak.”

“Ya pasti lah tidak enak. Memangnya rumah nenek kamu? Ini tempat orang-orang yang akan mendapat hukuman, tahu.”

“Hi, cerewet sih kamu. Cepat bawakan makanan untuk aku, kirimi setiap hari.”

“Baiklah. Ada uang di dalam tas kamu kan?”

“Jangan habiskan.”

***

“Ya ampun Bu, wanita yang dulu membuat kacau ketika mas Wahyudi melamar itu, kabarnya ditangkap polisi,” kata Murni setelah menerima tilpon dari Wahyudi.

“Aduh, kasihan sekali, masa cuma begitu saja dilaporkan polisi sih, kan di sini sudah diperingatkan,” kata bu Lasminah.

“Bukan karena peristiwa itu Bu.”

“Karena apa? Jangan suka membenci orang untuk sebuah kesalahan, lebih baik didoakan agar dia menyadari kesalahannya dan bertobat.”

“Iya Bu, tapi dia ditangkap polisi bukan karena mengacaukan acara lamaran itu.”

“Lalu karena apa?”

“Karena sepulang dari sini itu dia menabrak orang hingga meninggal.”

“Astaghfirullah.”

“Tadinya dia mau lari, tapi ada yang mencatat nomor mobilnya, jadi polisi bisa menangkapnya.”

“Sudah melakukan kesalahan, kok mau lari. Hm, kasihan sekali yang ditabrak itu. Naik mobil sembarangan pastinya.”

“Mungkin dia ngebut.”

“Perempuan mengendarai mobil, harusnya hati-hati.”

“Iya Bu. Tapi sepertinya dia itu bukan perempuan baik-baik.”

“Murni, nggak boleh menilai orang sembarangan,” tegur bu Lasminah.

“Bukan sembarangan Bu, mana ada perempuan mengejar laki-laki sampai melupakan rasa malu.”

“Biarlah orang lain melakukannya, dan kamu, lakukanlah hal-hal baik untuk diri kamu sendiri. Jangan mencela orang lain, karena setiap manusia itu punya kelebihan dan kekurangannya. Siapa tahu kamu juga dicela orang lain karena kekurangan kamu.”

“Lha Murni melakukan apa, mengapa orang harus mencela?”

“Yang bisa menilai seseorang itu ya orang lain. Seperti kamu itu. Kamu merasa diri kamu baik, tapi belum tentu orang lain menganggap kamu baik. Jadi lakukanlah hal-hal baik tanpa menjelekkan orang lain. Kamu tahu, setiap ucapan itu seperti melempar bola ke suatu benda. Dia akan memantul dan kembali kepada kita. Karenanya ucapkan yang baik, agar kamu juga mendapatkan kebaikan.”

“Ya Bu.”

“Kamu sudah akan menjadi seorang istri, menjadilah wanita yang bisa menjadi suri tauladan bagi wanita lain. Ibu mendengar calon suami kamu menyebut kamu sebagai kembang cantik. Jadilah kembang cantik yang bukan hanya luarnya, tapi juga hatinya.”

“Baiklah, Ibu.”

***

 Hari Minggu itu Wahyudi tidak mengunjungi calon istrinya, karena entah mengapa, dia merasa kangen sekali pada Qila. Ia berharap Sapto ada di rumah, jadi tidak sungkan kalau datang ke sana kemudian membawa Qila jalan-jalan seperti biasanya.

Wahyudi merasa lega ketika melihat mobil Sapto ada di halaman, berarti Sapto ada di rumah. Ia bahkan menyambut kedatangan Wahyudi saat baru saja Wahyudi memasuki halaman.

“Tumben ini, calon pengantin main-main ke sini,” sambut Sapto ramah.

“Kangen sama Qila nih.”

“Oh, kok ya bisa nyambung, dari pagi Qila bicara tentang om Udi terus lhoh.”

“Masa?”

“Dia bertanya kapan om Udi jadi pengantin? Lalu juga bertanya apakah setelah jadi pengantin tidak akan datang kemari …”

Wahyudi tertawa.

“Ya enggak lah, pasti masih akan sering mengunjungi Qila.”

“Om Udiii ,” teriak Qila dari dalam rumah.

Wahyudi bergegas mengahampiri, lalu Qila segera digendongnya.

“Ayo jalan-jalan,” rengek Qila.

“Ayuk, bilang dulu sama bapak, boleh tidak jalan sama om Udi.”

“Bapak, Qila jalan sama om Udi ya?”

“Iya sayang, pergilah, nanti bapak sama ibu menyusul.”

Qila melonjak-lonjak dalam gendongan Wahyudi.

“Jalan dong Qila, om Udi capek nanti. Kamu kan sudah besar.”

Qila tertawa, tapi kemudian merosot turun. Wahyudi mengikuti Qila yang lari-lari kecil ke arah taman.

“Nggak usah lari Qila, nanti jatuh lhoh,” kata Wahyudi sambil bergegas mengikuti.

Tapi Qila tertawa-tawa sambil terus berlari.

Keduanya sudah sampai di taman, Qila berlarian ke sana kemari, minta agar Wahyudi mengejarnya.

Tiba-tiba Qila terjatuh di pinggir taman. Wahyudi yang berada di kejauhan terkejut, ketika tiba-tiba Qila sudah berada di dalam gendongan seorang wanita.

***

Besok lagi ya.

Saturday, August 6, 2022

KEMBANG CANTIKKU 41

 

KEMBANG CANTIKKU 41

(Tien Kumalasari)

 

Hati Qila tercekat, ketika melihat Wisnu turun dari mobil. Juga kedua mertuanya, dan Mila serta Tinah yang menggendongnya.  Ia meremas tangan Kori dan membuat Kori memekik keras.

“Aduh, sakit, tahu!”

Qila ingin lari, tapi tak mungkin bisa, karena mobilnya ada disebelah belakang deretan mobil yang baru datang. Memang tadi dia memarkir mobilnya agak jauh, karena sejak dari ujung jalan dia bertanya-tanya sambil berjalan kaki.

Rombongan yang di kenalnya itu berhenti seperti sedang menunggu. Qila bingung harus melakukan apa. Ia hanya tegak mematung, sambil tangannya masih menggenggam tangan Kori.

“Ada apa mereka datang kemari?” gumam Qila pelan.

Kemudian dia melihat Wahyudi, dengan pakaian rapi, dengan jas berwarna biru tua, kopiah hitam dan juga kacamata hitam.

Bibir Qila bergetar, ingin memekik memanggil namanya.

“Ya ampuun, bagaimana ada orang setampan itu?” lalu Kori memekik lagi karena Qila lagi-lagi meremas tangannya.

“Hiiih, apaan sih. Sakit !”

“Lihatlah, kekasihku, tampan sekali bukan? Ada apa ini? Celaka, apa hari ini dia mau melamar gadis itu? Bodoh! Gadis yang biarpun cantik tapi tampak kampungan sekali. Wajah cantiknya orang desa,” gumamnya sambil terus menatap Wahyudi dengan dada gemuruh.

“Kekasih kamu. Haaa, apa itu Wahyudi? Hm, bakal kacau kalau sampai ada lamaran, ayo kita pergi,” kata Kori.

Kori hampir terpekik ketika melihat Sapto dan Retno, serta seorang gadis menggendong anak kecil yang diyakininya pastilah Qila.

“Ayo pergi,” bisiknya panik.

“Kemana? Mobil kita di sana.”

“Pokoknya pergi dulu saja. Cepatlah,” kata Kori sambil lebih dulu menarik tangan Qila dan mengajaknya menjauh ke arah yang berlawanan dengan rombongan yang baru datang.

Tapi Wisnu melihat mereka, dan mengenali Qila bekas istrinya.

“Itu kan Qila, ngapain dia kemari?”

“Itu Qila? Dari mana dia muncul?” tanya bu Kartiko.

“Ya sudah, jangan di hiraukan.”

Tapi rupanya Sapto juga melihat bayangan bekas istrinya bersama perempuan yang disebut Qila oleh Wisnu.

“Itu bersama Kori, bekas istriku. Apa yang dilakukannya di sini? Dia jahat, jangan-jangan melakukan hal buruk. Tapi kemudian mereka mengacuhkannya.

Rombongan itu segera bergerak memasuki halaman rumah bu Lasminah, tapi dengan heran mereka melihat pintu rumah itu tertutup rapat.

“Kok tertutup sih?” kata Wahyudi yang kemudian mengetuk-ngetuk pintunya.

Nano masih mengatur parkir mobilnya, karena jalanan itu tidak begitu lebar.

Murti mengetuk pintu dengan keras sambil berteriak memanggil-manggil.

“Bu … Ibu …. Murnii … Murni….”

Tapi tak ada jawaban. Ia heran setengah mati. Tak mungkin Murni dan ibunya lupa bahwa hari ini Wahyudi akan datang melamar. Tapi mengapa pintu malah terkunci?”

Murti melangkah ke samping rumah. Dari situ dia bisa masuk ke dalam rumah, karena  pintu dapur  tidak terkunci.

Murti langsung memasuki rumah, dan melihat Murni sedang menangis, ditunggui ibunya yang juga tampak baru saja habis menangis.

“Bu, Murni, ada apa ini? Itu, mereka sudah pada datang, mengapa pintu masih dikunci? Dan mengapa Murni dan Ibu menangis?”

“Suruh mereka pulang, suruh mereka pulang,” pekik Murni.

“Apa maksudmu Murni? Di depan kursi sudah ditata, berarti kamu siap menerima, mengapa menyuruh mereka pulang?”

“Baru saja wanita itu datang, aku tidak mau sama dia. Perjaka tua. Jelek. Aku benci! Pembohong, pendusta. Mentang-mentang aku gadis desa!” katanya sambil terisak.

“Wanita siapa?”

“Dua orang wanita yang datang kemari, salah satunya tunangan mas Wahyudi. Aku tidak mau lagi, suruh mereka pergi!”

“Iya nduk, daripada bermasalah, lebih baik batalkan saja lamaran ini. Ibu tidak mau hidup dalam ketidak tenangan.”

Tiba-tiba Murti tahu apa yang terjadi. Tadi ada dua wanita yang salah satunya pernah dikenalnya, dan wanita itu suka dan mengejar-ngejar Wahyudi. Pasti dia. Serta merta Murti lari ke depan rumah, membuka pintu yang terkunci, lalu mempersilakan semuanya masuk.

“Silakan masuk dan duduk dulu, ada masalah. Bu Qila datang kemari, mengaku menjadi tunangan mas Wahyudi. Murni sangat terluka,” katanya sambil lari keluar.

Ia belum melihat Nano suaminya, yang pastinya masih berkutat dengan makanan-makanan yang harus diturunkannya. Murti berlari mendekati.

“Apa itu mobil dia?” kata Murti yang pernah melihat mobil itu di rumah keluarga Kartiko.

“Ada apa?” kata Nano yang baru menyadari bahwa ada mobil lain diparkir tak jauh dari mobilnya.

“Bu Qila datang kemari dan mengacaukan semuanya. Dia mengaku sebagai tunangan mas Wahyudi. Murni menangis terus, minta acara lamaran dibatalkan.

“Dasar perempuan tak tahu malu,” geram Nano.

Tiba-tiba merasa keadaan telah sepi, Qila dan Kori bergegas mengampiri mobilnya, tapi tanpa dinyana, ada Nano dan Murti berada di depan bagasi mobil.

Qila ingin membalikkan tubuhnya, tapi dari arah berlawanan, Wisnu dan Sapto bergegas mendekat.

Wajah Qila dan Kori pucat pasi.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” hardik Wisnu sambil menatap tajam bekas istrinya.

“Dan kamu, perempuan jahat, berhenti!” teriak Sapto yang melihat Kori ingin berlari. Tentu saja tak berhasil karena Nano  menghadangnya.

“Ini tempat umum, apa salahnya aku berada disini?” jawab Qila berkilah.

“Aku tahu kamu membuat kekacauan. Ayo ikut aku,” perintah Wisnu.

“Tidak, aku tidak mau.”

“Ikut!!” hardik Wisnu. Sambil menarik ujung lengan baju Qila dan ditariknya paksa.

Ketika Kori mau kabur, Sapto juga menarik bajunya, diajaknya masuk ke arah rumah bu Lasminah.

“Aku tidak mauuu!” teriak Kori meronta.

“Apa kamu mau masuk penjara lagi?” ancam Sapto.

Qila dan Kori yang meronta, tak bisa melawan cengkeraman tangan bekas-bekas suami mereka pada bajunya.

Mereka tak berkutik ketika didudukkan berjajar di kursi yang sudah ditata rapi. Bu Lasminah dan Murni belum tampak keluar. Mereka belum bisa menerima lamaran itu karena masih yakin bahwa ada tunangan Wahyudi yang datang dan akan menjadi ancaman bagi kehidupan mereka kalau mereka meneruskan perjodohan itu.

Murti dan Nano masuk, untuk membujuknya.

“Ibu, ada pengacau yang ingin merusak acara ini, ibu jangan percaya,” kata Murti kepada ibunya.

“Bagaimana tidak percaya? Wanita itu sendiri yang mengatakannya. Dia cantik sekali, lalu apalah aku ini,” isak Murni.

“Murni, lihatlah, wanita itu sudah dibawa kemari dengan paksa, dia akan mengatakan apa yang sesungguhnya. Dia itu pembohong. Ayo keluar, rapikan dandanan kamu, calon suami kamu dandan cakep sekali. Lihat, matamu sembab, sini, aku dandanin lagi,” kata Murti panjang lebar.

“Benarkah nak Marno, wanita itu bohong?” tanya bu Lasminah yang kurang percaya pada apa yang dikatakan Murti.

“Betul bu, mereka itu wanita jahat. Kebetulan dia itu bekas istrinya pak Wisnu, dan bekas istrinya pak Sapto, sahabatnya mas Wahyudi,” Nano menjelaskan.

“Ya sudah, mari kita keluar, Murni.”

“Sebentar Bu, saya benahi dandanan Murni dulu, rambutnya juga berantakan begini, gerutu Murti.

***

Di luar, semua orang mengomeli Qila dan Kori yang tak mau mengakui perbuatannya, dan selalu mencari kesempatan untuk kabur. Tapi mana bisa kabur? Wisnu dan Sapto menghadang di tengah pintu.

Retno meminta Tinah agar mengajak Mila dan Qila bermain di halaman.

“Apa maksudmu melakukan itu? Jawab!” hardik Wisnu yang sangat marah melihat kelakuan bekas istrinya.

“Tidak apa-apa, aku cuma iseng,” jawab Qila seenaknya.

“Dasar perempuan tidak waras. Siapa yang sudi menjadi tunangan kamu? Lihat Wahyudi, melihat ke arah kamu saja tidak. Dia jijik mengetahui kelakuan kamu!”

“Aku tahu, dia kan hanya takut sama kamu,” kata Qila tak tahu malu. Mendengar itu Wahyudi menatapnya dangan tatapan marah. Benar-benar perempuan menjijikkan.

“Dan kamu, mengapa ikut-ikutan melakukan hal memalukan ini? Kamu mau masuk penjara lagi?” hardik Sapto kepada Kori.

“Dia yang menyuruhku,” katanya lirih. Bagaimanapun ia takut akan ancaman masuk penjara itu. Sungguh sengsara yang dirasakannya saat berada dibalik jeruji penjara itu. Itulah sebabnya kata-kata Sapto membuatnya kecut.

“Dia yang menyuruh kamu? Siapanya kamu dia?”

“Bukan siapa-siapa, kami hanya berteman.”

“Mengapa berteman dengan orang jahat ini? Dia juga mau aku masukkan ke penjara,” ancam Wisnu.

Sementara itu bu Lasminah sudah keluar, Murni mengikuti di belakangnya, digandeng oleh kakaknya. Gadis itu menundukkan wajahnya.

“Saya minta maaf karena adanya kekacauan ini Bu,” kata Wisnu setelah menyalami bu Lasminah, diikuti yang lainnya.

“Saya hanya wanita desa yang bodoh. Orang-orang bodoh mengapa masih dibodohi dengan kebohongan? Sampeyan tadi mengatakan bahwa wanita itu tunangan nak Wahyudi. Benar bukan?” katanya sambil menatap Kori.

“Saya … saya hanya disuruh dia ini,” kata Kori yang merasa sebal telah menuruti kata temannya.

Qila yang marah kemudian menginjak kaki Kori dengan keras.

“Auuww, bukankah itu benar?” teriak Kori.

“Yang sebenarnya bagaimana? Katakan dengan jelas.” Hardik Wisnu.

Qila tak menjawab.

“Katakan, apakah benar kamu tunangan Wahyudi? Wanita murahan!” hardik Wisnu yang merasa sebal dengan kelakuan Qila.

Qila menatap Wahyudi, tapi Wahyudi memalingkan wajahnya.

“Jawab!” bentaknya keras, membuat Qila menarik kepalanya menjauhi tatapan Wisnu yang kemarahannya semakin memuncak.

“Ya.”

“Ya apa?” Wisnu berteriak.

“Ya, aku bohong, sudah, biarkan aku pergi,” katanya sambil mencoba berdiri, tapi Wisnu menarik kembali baju lengannya.

“Bu, wanita ini sesungguhnya tergila-gila pada Wahyudi. Dia bekas istri saya Bu, saya ceraikan dia karena kelakuannya,” kata Wisnu berterus terang tanpa sungkan walau di depan orang banyak. Dia malu karena Qila membuat kekacauan di acara lamaran Wahyudi.

“Biarkan aku pergi!” katanya setengah berteriak sambil menggamit lengan Kori.

“Tidak. Kamu harus minta maaf pada Murni, dan pada ibunya,” perintah Wisnu.

Qila mengatupkan mulutnya, tak menjawab.

“Cepat!! Dan kamu juga, karena kamu juga ikut membohongi keluarga ini,” katanya juga sambil menatap Kori.

Qila tetap diam.

“Aku laporkan ke polisi?” ancam Sapto sambil mengambil ponselnya.

“Saya minta maaf, saya telah berbohong, tapi dia yang menyuruhnya,” akhirnya kata Kori yang begitu takut mendengar kata ‘polisi’.

“Katakan Qila!” teriak Wisnu yang begitu marah melihat sikap Qila.

“Ya, aku minta maaf,” katanya sambil berdiri.

Tapi Wisnu segera menariknya keras dan mendorong Qila sampai duduk bersimpuh di depan bu Lasminah. Ia menekan punggung Qila ketika Qila meronta.

“Katakan minta maaf, dan katakan kamu bohong!”

“Aku minta maaf, aku bohong,” kata Qila dengan ketus, seakan ia tak mau mengakui kesalahannya.

“Ya sudah, ya sudah, biarkan dia pergi Nak. Bukan kepada saya seharusnya dia meminta maaf, tapi kepada Yang Maha Kuasa,” kata bu Lasminah dengan sabar.

Qila berdiri dan bergegas keluar, sambil menggamit lengan Kori.

Kori berdiri, tapi sebelum keluar dia menatap Sapto.

“Mas, aku mau bicara,” katanya pelan.

Retno yang tak ingin bekas madunya membuat malu, menyuruh suaminya agar keluar mengikuti Kori.

“Ada apa?” kata Sapto dingin.

“Mas, aku minta maaf,” katanya pelan.

“Ya, sudah aku maafkan.”

“Terimalah aku kembali,” katanya sambil meraih lengan Sapto, tapi Sapto mengundurkan tubuhnya.

“Tidak. Tak mungkin.”

“Aku bersedia menjadi istri keduamu. Aku masih mencintai kamu Mas.”

“Tidak dan tidak. Bagiku, cukup satu istri dan tidak ada wanita lain, sekarang pergilah.”

“Koriii!” teriak Qila yang sudah sampai di pagar rumah.

Kori mengusap air matanya, lalu melangkah dengan gontai keluar halaman.

***

Sepeninggal kedua wanita itu, acara yang terhenti beberapa saat lamanya segera dilanjutkan. Pak Kartiko sebagai yang tertua, membuka acara dengan mengutarakan maksud kedatangan mereka ke rumah itu.

“Saya harus mengucapkan apa? Karena kekacauan itu ternyata ulah wanita cantik yang memang sengaja ingin merusak suasana, saya hanya bisa bersyukur karena kejadian itu hanyalah gangguan sesaat. Saya sebagai orang tua, merasa bahagia anak gadis saya mendapat perhatian begitu besar dari bapak dan ibu yang jauh-jauh dari kota bersedia datang ke gubug ini. Saya hanya berharap, agar nak Wahyudi bisa menjaga anak saya dengan baik. Ah, tapi tunggu dulu, saya lupa tidak bertanya kepada Murni, apakah dia mau menerima lamaran nak Wahyudi atau tidak,” kata bu Lasminah sambil tersenyum, menatap Murni yang tertunduk sejak tadi.

“Jawab Murni, jangan diam saja,” kata Nano.

“Ya, sebaiknya segera dijawab, kalau memang tidak mau, mas Wahyudi akan segera saya bawa pulang kembali,” goda Sapto yang disambut tawa oleh semua yang hadir.

“Tuh, pilih ‘mau’ atau laki-laki ganteng ini kami bawa pulang lagi?” kata yang hadir bersahutan.

Murni mengangkat wajahnya. Manik mata hitamnya tenggelam oleh genangan air mata.

“Jawab, nduk,” kata ibunya.

Murni menatap Wahyudi, yang sejak tadi memandanginya tak berkedip.

“Jawab Murni, laki-laki tua ini mencintai kamu,” kata Wahyudi sambil tersenyum.

Murni mengangguk, lalu mengusap air matanya.

“Kok cuma mengangguk sih?” suara yang hadir bersahutan.

“Ya,” katanya sambil mengangguk lagi.

“Alhamdulillah,” seru yang hadir dengan perasaan lega.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, August 5, 2022

KEMBANG CANTIKKU 40

 

KEMBANG CANTIKKU 40

(Tien Kumalasari)

 

Ketika mobil Qila keluar, saat itu juga mobil pak Kartiko memasuki halaman. Tapi Qila tak berhenti, walau tampaknya dia melihatnya. Ada yang lebih penting yang sudah didapatnya, dan itu membuatnya terus melaju.

“Itu tadi seperti mobilnya Qila ?” tanya bu Kartiko.

“Sepertinya iya. Apa dia ingin ketemu anaknya ya?” kata pak Kartiko.

“Menurutku tidak.”

“Bagaimanapun dia kan seorang ibu, ada dong rasa kangen sama anaknya,” bela pak Kartiko.

“Kalau dia kangen sama anaknya, saat melihat kita datang, pasti dia berhenti dan menyusul kita kemari. Nyatanya tidak.”

“Mungkin tidak tahu.”

“Tahu lah, hampir berpapasan, masa tidak tahu?” kata bu Kartiko sambil keluar dari mobil, mengikuti suaminya, karena Nano sudah memberhentikan mobilnya di depan teras. Tampak Murti membukakan pintu depan, menyambut majikan suaminya yang baru datang. Ia ingin menggendong Mila, tapi ternyata anak itu tidur dalam gendongan Tinah, yang langsung membawanya ke dalam.

“Tadi ada tamu?” tanya bu Kartiko.

“Iya, bu Qila,” jawab Murti.

“Mau apa dia kemari?”

“Entahlah. Hanya bertanya bapak sama ibu apakah ada, lalu di mana Mila. Saya minta untuk menunggu, tapi tidak mau. Baru saja dia keluar dari sini.”

“Iya, kami melihatnya. Mau apa dia kemari kalau tidak ingin bertemu anaknya?” gumam bu Kartiko.

“Barangkali kangen sama bekas mertuanya,” canda pak Kartiko sambil terus masuk ke dalam.

“Mana mungkin. Nyatanya dia tidak berhenti ketika melihat kita datang.”

Murti menutup kembali pintunya, lalu ia bergegas ke belakang, memberitahu simbok bahwa sudah saatnya mereka menata meja untuk makan siang.

“Baiklah, semuanya sudah selesai, piring-piring juga sudah aku siapkan,” kata simbok.

“Saya bantu menata makanannya Mbok.”

“Baiklah, tinggal ditata saja di meja.”

“Mbok, jadi masak pesenanku ?” tanya bu Kartiko yang melongok ke ruang makan.

“Iya Bu, ini sudah disiapkan mbak Murti,” jawab simbok.

“Nanti Murti tidak usah kembali ke kamarmu. Panggil suami kamu, kita makan bersama-sama di sini,” perintah bu Kartiko.

“Saya mau makan di belakang saja sama mas Nano, Bu.”

“Tidak Murti, kita akan makan bersama-sama di sini. Aku sama bapak mau ganti baju dulu,” kata bu Kartiko sambil kembali masuk ke dalam kamarnya.

Murti mengangkat bahu.

“Sudah, kalau ibu memerintahkan, Mbak Murti tidak boleh membantah.”

“Jadi nggak enak, Mbok.”

“Nggak apa-apa, sudah sana, panggil pak Nano,” kata simbok sambil menyiapkan jus buah ke dalam gelas-gelas, lalu menambahkan piring di atas meja, karena majikannya meminta agar Nano dan istrinya makan bersama mereka.

***

“Minggu depan Mas ikut ya,” kata Wuri kepada Budi, suaminya saat pulang kerja.

“Ke mana?”

“Mas Yudi mau melamar. Dia kan jauh dari keluarganya, jadi kita yang akan diajaknya.”

“O, iya tentu. Mas Sapto juga mau ikut. Saat ketemu kemarin dia bilang begitu.”

“Mas Sapto?”

“Iya. Dia bertanya, kapan, tapi aku belum bisa menjawabnya. Sekarang aku sudah tahu, Minggu depan ya?”

“Iya. Tadi dia sudah belanja macam-macam untuk buah tangan bagi calon mertuanya.”

“Aku nanti akan mengabari mas Sapto kalau begitu, supaya dia bisa pulang minggu depan.”

“Kabari saja. Mas Wahyudi pasti senang diperhatikan banyak orang. Kabarnya, keluarga pak Kartiko juga mau ikut dalam acara lamaran itu.”

“Bagus kalau begitu. Tapi dengar-dengar, kalau orang jawa, menikahkan anak dua kali dalam setahun tuh nggak boleh. Dengar-dengar lho.”

“Kan besok baru mau melamar. Perkara menikahnya selang setahun setelah menikahkan kakaknya mbak Murni, bisa saja kan?”

“O iya, besok itu baru mau melamar kok ya.”

“Tadi aku menemani mas Wahyudi belanja macam-macam.”

“Untunglah kamu menemani, kalau enggak ya kasihan juga, habisnya dia sendirian.”

“Iya Mas. Tapi aku senang, akhirnya mas Wahyudi menemukan gadis yang dicintainya. Aku pengin lihat seperti apa ya gadis yang mau dilamar mas Yudi.”

“Kan pernah dikasih tahu fotonya?”

“Beda dong, foto sama orangnya.”

“Pasti beda.”

“Pasti ya?”

“Ya pasti lah, kan orangnya bisa tersenyum, bisa tertawa, bisa bicara, bisa bercanda. Kalau fotonya mana bisa? Hanya diam saja kan?”

Wuri tertawa.

“Mas Budi bisa ngelawak juga rupanya.”

“Terkadang orang butuh tertawa kan. Tuh, kamu sudah tertawa, aku senang melihat kamu tertawa.”

“Iih, memangnya aku nggak pernah tertawa?”

“Iya, sering, dan aku selalu senang melihatnya.”

“Masa sih, aku cantik ya kalau tertawa?”

“Kamu selalu cantik kok.”

“Hm, kalau ini namanya rayuan gombal. Aku tuh nggak cantik lho.”

“Kata siapa?”

“Mas Wahyudi nggak pernah mau bilang bahwa aku cantik. Dia terus-terusan meledek aku bahwa aku jelek.”

Budi tertawa.

“Karena kamu juga selalu meledek dia ‘tua’ kan?

“Iya sih.”

“Mas Yudi itu, biarpun umurnya sudah jauh diatas aku, tapi dia ganteng.”

“Gantengan mas Budi dong.”

“Iya, harus, awas saja kalau kamu bilang bahwa mas Yudi lebih ganteng dari aku.”

“Apa sih ini? Suami pulang bukannya di suruh beristirahat malah diajak ngobrol,” tegur bu Mantri dari arah depan.

“Ini lho Bu, tadi ngomongin mas Yudi, yang minggu depan mau melamar.”

“O, minggu depan ini ya. Pengin ikut sebenarnya, tapi ada pesanan lumayan banyak, bagaimana ya.”

“Ibu tidak usah ikut, soalnya yang mengantar sudah lumayan banyak. Apalagi sedang ada pesanan, nanti siapa yang mengerjakan? Pembantu saja pasti tidak bisa,” kata Budi.

“Iya, benar, Ibu harus mengatur semuanya. Ya sudah, sekarang istirahat sana, baru pulang kerja pasti capek.

***

“Mau kemana kita?” tanya Kori ketika meminta agar dirinya berdandan.

“Ikut saja, kita akan bersenang-senang,” kata Qila yang asyik menyempurnakan dandanannya.

“Mencari pria ganteng kesukaan kamu itu?”

“Iya, tenang saja. Kamu tidak ingin menemukan pasangan?”

“Aku hanya mau dia.”

“Dia siapa?”

“Bekas suamiku.”

“Mimpi kamu? Kamu sudah dibuang dan dosamu sangat besar, mana bisa kamu mengharapkannya lagi?”

“Entahlah, aku sangat mencintai dia.”

“Bodoh. Makan tuh cinta. Kamu hanya akan menderita selamanya.”

Kori diam, memang benar, dia tak mungkin bisa mendapatkan suaminya kembali. Tapi alangkah sulitnya menghilangkan rasa itu dari hatinya. Ujung-ujungnya, hanya ada rasa benci dihatinya kepada Retno, yang dianggapnya telah merebut suaminya.

“Sudah, jangan melamun. Mau ikut tidak?”

“Kalau mau ke klub itu lagi aku nggak ikut, nggak ada yang menarik.”

“Mana mungkin siang-siang begini aku mengajak kesana.”

“Lalu kita mau kemana?”

“Ikut aku saja. Aku sedang merasa sangat benci pada seseorang.”

“Mau menghajar orang?”

“Dengan caraku.”

“Beri tahu aku, siapa dia?”

“Aku juga belum pernah melihatnya.”

“Gimana sih kamu ini? Belum pernah melihatnya, tapi kamu membencinya?”

“Karena dia bisa menarik hati laki-laki yang aku suka, sedangkan aku tidak.”

“Maksudmu … kamu bicara tentang Wahyudi, si miskin itu?”

“Tidak apa-apa miskin, dia tuh ganteng bangetttt, aku tergila-gila sama dia.”

“Memang kamu gila.”

“Sudah, jangan bawel, ayo ikut. Kamu nanti harus membantu aku.”

“Memukuli orang yang kamu benci itu?”

“Ikut saja apa kataku, kita bicara sambil jalan.”

***

“Murti, kamu jadi pesan makanan yang akan kita bawa hari ini kan?”

“Sudah Bu, mas Nano sedang mengambilnya. Saya tidak ingin ibu saya repot karena banyak tamu, jadi saya yang akan membawakan hidangan untuk tamu- tamu semuanya,”  jawab Murti.

“Itu bagus. Simbok juga masak rendang hari ini, sebaiknya kamu bawa sekalian. Kamu juga harus membawa piring dan sendok yang bisa dipergunakan untuk sekali pakai, jadi tidak usah mencuci piring segala macam, kasihan ibu kamu.”

“Iya Bu."

“Baiklah, kita menunggu Nano yang sedang mengambil pesanan kan? Aku akan membantu bapak berganti pakaian, sekarang sedang mandi.”

“Iya Bu.”

“Dan Wisnu juga belum datang.”

“Iya Bu, saya juga mau bersiap-siap dulu.”

“Barangkali Nano menjemput Wahyudi sekalian.”

“Saya kira tidak Bu, soalnya mas Wahyudi sudah bulang, bahwa dia akan nyamperin ke sini bersama dengan kerabatnya.”

“Katanya kerabat Wahyudi itu jauh-jauh semua.”

“Maksudnya yang menganggapnya sebagai kerabat.”

“Oh, syukurlah. Wahyudi orang baik, pasti banyak orang baik yang ingin membantunya juga.”

“Iya Bu, saya juga bersyukur, mendapatkan adik ipar sebaik mas Wahyudi.”

“Iya Murti, semoga semuanya berjalan lancar. Aku ke kamar dulu,” kata bu Kartiko sambil beranjak masuk ke dalam kamarnya.

***

Di rumah kediaman Sapto, tampak Retno juga sudah bersiap-siap. Ia sudah mendandani Qila, yang sangat merasa senang karena akan bertemu om Udi, sahabatnya. Mereka akan langsung ke rumah Wahyudi, dan akan berangkat bareng Budi dan Wuri.

“Nanti ada om Udi?” tanya Qila saat ibunya mengucir rambutnya.

“Iya, nanti kita ketemu om Udi.”

Qila berjingkrak kegirangan.

“Nanti dulu Qila, nanti melenceng kucir kamu kalau belum-belum kamu melonjak-lonjak begitu,” tegur Retno.

“Kalau sudah siap, kita berangkat sekarang,” kata Sapto dari arah depan, setelah menyiapkan mobilnya.

“Iya Mas, tunggu sebentar, ini Qila baru disisir rambutnya.”

“Qila jangan nakal nanti ya,” pesan Sapto sambil menowel pipi anaknya.

“Qila nggak nakal kok. Qila senang mau ketemu om Udi.”

“Iya, kita mau ketemu om Udi nanti.”

“Nah, sudah, sekarang Qila tunggu di depan sama bapak ya,” kata Retno sambil beranjak ke dalam untuk mengambil sesuatu.

“Jangan lupa hadiah untuk calon istri mas Yudi.”

“Iya, ini mau aku ambil.”

***

Di rumah bu Lasminah, Murni sedang menyiapkan minum untuk tamu-tamunya yang akan datang. Murti sudah mengatakan berapa banyak yang akan datang, tapi melarang adiknya untuk memasak atau menyiapkan makanan untuk menjamunya.

“Tidak enak juga ya, masa kita mendapatkan tamu, tapi dilarang menyiapkan hidangan.”

“Mbak Murti yang akan membawa dari sana Bu, supaya Ibu tidak repot menjamu tamu. Nanti tamunya banyak lho.”

“Banyak itu berapa, coba kamu lihat kursi-kursi yang ibu tata tadi, jangan-jangan kurang.”

“Nanti Murni mau pinjam beberapa kursi dari pak RT. Pasti kurang kalau hanya kursi milik kita sendiri.”

“Ya sudah, minta tolong sama pak Man yang suka jaga malam di pos ronda itu, supaya mengusungnya nanti.”

“Iya Bu, sudah Murni pikirkan. Murni selesaikan dulu bikin tehnya ini, nanti Murni yang akan mengatur tempat duduk untuk tamu-tamu kita.”

“Baiklah kalau begitu, ibu mau mandi dulu saja,” kata bu Lasminah yang kemudian beranjak  ke kamar mandi.

Murni sudah meminjam beberapa kursi dari pak RT dan meminta tolong pak Man untuk mengusungnya ke rumah. Lega rasanya melihat semuanya sudah siap. Murni berganti pakaian yang lebih pantas, kemudian duduk kelelahan di sebuah kursi sambil menunggu ibunya. Bagaimanapun hatinya berdebar-debar, saat menyadari bahwa kedatangan tamu-tamu itu nanti adalah untuk melamar dirinya.

“Ya ampun, baru mau dilamar saja aku sudah gemetaran seperti ini,” gumamnya sambil meremas-remas tangannya.

Tiba-tiba didengarnya langkah-langkah kaki mendekat. Murni berdiri lalu beranjak ke depan. Ibunya yang sudah berdandan rapi mengikutinya dari belakang. Di depan teras, mereka melihat dua orang wanita cantik sedang berdiri. Murni melongok ke arah luar, barangkali Wahyudi dan rombongannya ada di belakang, dan dua orang kerabatnya mendahului. Tapi dia tidak melihat siapa-siapa.

Dua orang itu adalah Qila dan Kori, yang dengan bertanya-tanya akhirnya menemukan di mana Murni tinggal.

“Selamat siang,” sapa Qila ketika melihat Murni dan ibunya menyambutnya.

“Selamat siang. Mana yang lainnya?” tanya bu Lasminah yang tentunya juga mengira bahwa dua orang itu adalah kerabat Wahyudi.

“Kami hanya datang berdua.”

Bu Lasminah dan Murni tertegun.

“Berdua?” tanyanya hampir bersamaan.

“Ini rumahnya Murni kan?” tanya Qila tanpa basa basi.

“Saya Murni, dan ini ibu saya,” jawab Murni mulai tak senang, karena sikap kedua tamunya seperti tak menghormati ibunya, sebagai orang yang lebih tua.

“O, ini ya? Cantik, lumayan,” kata Qila, tapi dengan senyuman mengejek.

Bu Lasminah dan Murni heran.

“Siapa sebenarnya sampeyan ini?” tanya bu Lasminah kesal.

“O, ibu belum tahu siapa dia ini? Dia ini kan tunangannya mas Wahyudi,” sambung Kori.

Bu Lasminah dan Murni terkejut. Wahyudi mau datang melamar, tapi tiba-tiba ada wanita cantik mengaku sebagai tunangan Wahyudi. Wajah Murni pucat pasi. Kakinya gemetar.  Dan itu tak luput dari pandangan Qila yang semakin melebarkan senyumnya.

“Benar, aku ini tunangannya mas Wahyudi. Apa dia bohong sama kamu, dan mengatakan bahwa akan mengambil kamu sebagai istri? Ingat Murni, Wahyudi itu milikku,” kata Qila yang kemudian menarik tangan Kori, pergi membalikkan tubuhnya, keluar dari halaman.

Tentu Qila tidak tahu, bahwa di hari itulah Wahyudi akan datang melamar. Ia baru sadar ketika melihat beberapa mobil berhenti tak jauh dari pintu halaman rumah yang baru saja disatroninya.

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...