Thursday, June 27, 2019
SA'AT HATI BICARA 32
SA'AT HATI BICARA
(Tien Kumalasari)
Laras memandangi Panji lekat2, seakan tak percaya akan apa yang didengarnya. bagaimana kakak sepupunya ini bisa begitu mantap mengatakannya, sementara kemarin2 masih ragu2.
Mantap? Tidak. Panji hanya sedang terbakar emosinya, menyala oleh rasa cemburu yang memuncak sampai ubun2nya. Ia kehilangan pegangan, dan ingin melakukan sesuatu yang semoga bisa membuat Maruti sakit hati. Aduhai, kini ia telah memutuskannya, dan esuk pagi ia ingin benar2 melamarnya.
"Mas, membahagiakan bisa dengan menyayanginya, memperlihatkan perhatian, dan tidak harus buru2 menikahinya.
"Bukankah aku harus membuat sempurna kebahagiaan itu?"
"Tapi mas bicara dan memutuskan sesuatu bukan atas dasar ingin melakukannya dengan tulus. Ya kan? Apakah ada sesuatu?" tuduh Laras.
"Kamu menuduh yang bukan2. Kamu tidak percaya pada kakakmu ini." sengit kata Panji.
"Memang iya ! Aku tidak percaya,"jawab Laras tak kalah sengit.
Pokoknya aku akan melamarnya besok. Kalau kamu mau boleh mengantarku, kalau tidak biar aku sama simbok.
"Sama simbok?"
"Iya, simbok itu pengganti ibuku, dia juga sangat menyayangi aku."
"Baiklah, aku kira keputusan ini mas lakukan karena sesuatu sebab. Malam ini mas boleh berpikir jernih, besok pagi aku menunggu kabarnya," kata Laras yang kemudian berdiri untuk berpamit.
"mBook, aku pulang ya mboook !" teriaknya kepada simbok.
***
"Ada apa malam2 menelpon aku Laras?" kata Maruti menjawab telephone Laras malam itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Laras dari seberang sana.
"Sesuatu apa? Terjadi apa?" Maruti tak mengerti.
"Kamu dan mas Panji? Apa dia lagi marahan sama kamu?"
"Ya enggaklah, kami nggak pernah marahan, lagi pula mas Panji tadi sore menelpon aku.."
"Ngomong apa dia?"
"Eh, mau tau aja...," kata Maruti sambil terkekeh, " dia hanya bilang mau memikirkan permintaanku, gitu, memangnya ada apa?"
"Nggak tau deh, dia kayak orang bingung begitu," kata Laras tanpa mengatakan bahwa Panji berencana melamar Dita besok.
"Ma'afkan aku ya Laras, aku yang membuat semua ini. Aku sedih karena mau kehilangan adikku, tapi aku juga sedih kalau harus kehilangan mas Panji. Aku mengakuinya sekarang Laras, aku sangat mencintai dia," kata Maruti pilu.
"Ya, aku tau itu."
"Tapi aku harus merelakannya demi kebahagiaan adikku."
"Maruti, kamu sudah melakukan yang terbaik, berusaha baik, karena aku tau hatimu sangat mulia. Aku yakin semua akan indah pada akhirnya."
"Terimakasih Laras."
"Marilah kita berdo'a yang terbaik untuk semuanya ya Rut?"
Maruti menutup ponselnya, masih dengan berlinangan air mata. Bukan hanya karena harus kehilangan orang yang dicintainya, tapi karena ia telah melukai perasaan Panji juga.
"Ya Tuhan, berilah yang terbaik untuk semuanya," bisik Maruti sambil terus berlinangan air mata.
***"
"mBok sudah mandi ?" tanya Panji pagi itu.
"Sudah mas, tadi habis nyuci simbok sekalian mandi. Ini mau kepasar, mas Panji mau dimasakin apa, tapi harus dimakan lho, siang nanti pulang ya."
"Nggak usah mbok, simbok nggak usah kepasar."
"Lho, jadi nanti nggak akan pulang untuk makan siang?"
"Simbok harus ikut aku."
"Lho, kemana? Mau ajak simbok jalan2? Ini kan hari Kamis, mas nggak ke kantor?"
"Nanti aku kekantor, tapi simbok ikut aku dulu sekarang, ganti bajunya yang bagus ya,."
"Nanti dulu to mas, lha simbok ini mau diajak kemana dulu, jadi simbok bisa milih baju yang cocog yang mana. Jalan2.. bertamu.. belanja.. kan harus beda bajunya."
"Simbok ini kayak artis saja. Pokoknya baju yang pantas lah, bertamu mbok.. bertamu.."
"Bertamu? Memangnya bertamu kemana mas? Tumben2an simbok diajak bertamu."
"mBok, jangan banyak bertanya, nanti sambil jalan aku kasih tau. Cepat mbok."
Dan simbokpun setengah berlari menuju kamarnya. Ia tau momongannya tampaknya kesal dengan pertanyaan2nya.
Panji menunggu simbok sambil menyandarkan kepalanya disandaran sofa. Sesungguhnya hatinya serasa tidak tenang. Bayangan Maruti yang sedang mengayun anaknya Agus, dan tampak sangat gembira, kembali mengusik hatinya. Sungguh ia cemburu, karena tau sejak awal Agus memang tertarik Pada Maruti. Hanya karena segan padanya saja Agus tidak meneruskan niyatnya. Tapi sore kemarin mereka tampak begitu akrab. Apa Maruti sudah mengatakan kalau aku akan diminta untuk menyukai adiknya karena penyakitnya? Sehingga itu memberi peluang kepada Agus untuk bisa mendekatinya? Semakin difikirkan, darah ditubuhnya semakin cepat mengaliri urat nadinya, membuat kepalanya menjadi pusing. Ketika simbok datang Panji masih bersandar sambil memijit mijit kepalanya.. matanya terpejam.
"Lho, mas, simbok sudah cantik begini, mas Panji kok malah masih leyeh2 begitu? Mas pusing ya, kok kepalanya dipijit pijit?
Panji membuka matanya, dilihatnya simbok berdiri dihadapannya, mengenakan kebaya warna coklat muda, dan selendang batik tersampir dipundaknya. Kalau tidak sedang kacau pikirannya pasti Panji segera menggoda pamongnya. Tapi kemudian hatinya sedih teringat almarhum ibunya, karena baju dan selendang yang dipakai simbok adalah pemberiannya. Dalam keadaan hati rapuh, teringat ibundanya, tak tahan lagi menitiklah air mata Panji. Seandainya ibunya masih ada, pasti ia akan lebih menguatkannya.
"Ya Tuhan, kalaupun aku tak melakukannya, apa aku salah? Aku berhak menentukan apa yang harus aku lakukan, dan Dita bukan apa2ku, mengapa aku harus berkorban?" bisik Panji pelan.
Tapi segera terbayang wajah Maruti, menangis dipangkuannya, sungguh pilu merasakannya.
"Nggak, nggak jadi saja," katanya pelan, lalu diminumnya seteguk teh yang tak lagi hangat.
Simbok memandangi momongannya dengan heran. Simbok juga melihat air mata dipipi momongannya. Segera simbok mendekat dan bersimpuh dihadapannya.
"Mas Panji, sebenarnya ada apa?" tanya simbok penuh kasih sayang.
"mBok, tolong ambilkan obat pusing dialmari obat ya,"
"Oh, yang emplek2an warna ijo?"
"Ya, "
Simbok segera berlari kebelakang, sambil membawa cangkir teh momongannya untuk diisikannya lagi sekaliyan. Simbok sudah tau obat pusing yang mana karena sudah sering melayani momongannya. Di almari itu ada obat pusing, obat diare, obat mual. Huh.. kayak apotik saja, pikir simbok, tapi simbok segera mengambil yang dibutuhkannya.
Panji benar2 pusing, keputusan yang diambilnya sangat berat. Mngkin Maruti juga berat melepaskan cintanya. Tapi tiba2 terbayang kembali ayunan dengan anak kecil duduk berayun, dan Maruti serta Agus mengayunkannya bersama sama. Kembali panas darahnya menggelegak,. Aku akan melakukannya, biar sakit hati Maruti kalau aku menampakkan kemesraan dengan adiknya.
"Ini mas, obatnya," kata simbok sambil mengangsurkan obat dan minumannya.
Terimakasih mbok, sementara simbok mengunci semua pintu, kita segera berangkat."
Simbokpun mundur dan memeriksa semua pintu, kemudian menunggu momongannya didepan.
***
"Maas, tunggu mas, aku ikut.." tiba2 teriakan Laras mengejutkannya. Ia memasuki halaman dengan tergesa gesa.
"Kamu naik apa?"
"Taksi, jadi mas berangkat? Oh, ada simbok.."
Laras memasuki mobil, duduk disamping kemudi, dan mobil itu melaju pelan keluar dari halaman.
"Cantik bener simbok.." puji Laras ketika melihat simbok dandan.
"Iya tuh, nggak tau mau diajak kemana ini sama mas Panji."
"Jadi mas?"
"Jadi, kenapa tidak?"
"Sudah mas fikirkan masak?"
"Bukan cuma masak,. lebih dari masak, aku harus melakukannya."
"Mengapa harus menikahinya?"
"Kata Maruti biar kebahagiaannya sempurna, ya sudah aku lakukan saja."
"Maruti pasti juga sakit."
"Biar saja sakit, ini kan maunya? Lagi pula kan mudah bagi Maruti untuk melupakan aku, mengapa harus dikasihani? "
"Kok mas bilang begitu, Maruti sangat mencintai mas. Sungguh."
"Bohong, itu bohong."
"Mas Panji kok gitu, dia bilang sama aku kalau sangat mencintai mas Panji."
"Itu bohong, kalau dia mencintai aku, tak akan mudah bagi dia untuk bermanis manis dengan pria lain," kata Panji geram.
"Priya lain yang mana?" Laras heran..
"Sudah, jangan banyak tanya, nanti aja aku ceriterakan, aku sedang galau nih."
Laras tak menjawab. Tapi diam2 dia berfikir, bermanis manis dengan siapa? Baru tadi malam Maruti mengatakan bahwa sangat mencintai Panji.
Mobil terus melaju dijalanan yang mulai ramai oleh hiruk pikuk kendaraan. Mereka bertiga sedang berembug dengan pikirannya masing2. Simbok juga sedang menduga duga apa yang akan dilakukan momongannya.
Panji menghela nafas ketika akhirnya sampai juga didepan pagar rumah Maruti. Mobil itu berhenti, dan Panji menata batinnya.
"Mas, Laras peringatkan sekali lagi, dekatilah dia dulu, nggak usah buru2 melamarnya."
Tapi Panji segera turun dari mobil, berjalan kearah rumah diikuti oleh simbok dan Laras.
Jadikah Panji melamarnya?
***
besok lagi ya
Wednesday, June 26, 2019
SA;AT HATI BICARA 31
SA'AT HATI BICARA 31
(Tien Kumalasari)
Pandu terpaku dimobilnya. Ada bara menyulut dadanya. Panas, tapi mengapa? Hanya melihat Maruti pergi bersama Agus dan anaknya, apakah itu salah?
" Ya salah lah, kan aku mau mengajakmu pulang bersama dan berbicara hal2 yang tadinya kamu bicarakan tentang Dita, mengapa kamu pergi bersama Agus?" bisiknya lirih penuh rasa kesal.
Panji mengundurkan mobilnya kembali dan keluar dari area perkantoran itu. Ia lupa bahwa tadi tidak mengatakan akan menjemputnya.
***
Disebuah area permainan anak2, Sasa sedng berteriak teriak gembira. Ia duduk di kursi ayunan, dan tanpa henti minta agar Maruti mengayunkannya.
"Dita, tante capek dong, gantian mbak ya yang mengayun kamu?" kata Endang, si mbak perawat.
"Nggak mau, aku maunya sama tante Maruti.." teriak Sasa sambil tertawa tawa.
Melihat hal itu Agus mendekat.
"Biar papa saja ya... sudah Maruti, kamu duduklah beriatirahat.
"Jangaaan... diayun papa sama tante Maruti aja.. ayo.. berdua.. berduaaa..." pinta Sasa sambil merengek.
"Biar saya saja pak, nggak capek kok," kata Maruti.
"Tante sama papa aja.. ayo... cepat....," Sasa masih merengek rengek.
Dan terpaksa Agus dan Maruti menurutinya, satu memegangi tali disebelah kiri dan satunya sebelah kanan. Sasa tertawa tawa senang, sementara Maruti sebenarnya sedikit sungkan.
Dilihat dari mata orang yang melihatnya, mereka seperti sebuah keluarga yang berbahagia. Ayah, ibu dan anaknya, sementara pembantunya hanya melihat tak jauh dari sana. Dan salah satu orang yang melihatnya itu adalah Panji. Agak lama dia mengamati mereka bertiga yang tampak sedang bergembira, kemudian ia berlalu.. Mungkin daripada darahnya keburu menggelegak karena suhu rasa cemburu yang semakin memanas.
"Sudah ya Sasa, ayo sekarang kita makan.. tadi kamu bilang lapar.." bujuk Agus karena kasihan melihat Maruti yang seperti kelelahan. Sebenarnya sih bukan lelah, tapi sungkan.
"Oh iya, kita makan, lalu main lagi ya?"
"Lho.. nggak lagi dong Sasa, sebentar lagi hari gelap, tante Maruti harus pulang."
"Tapi besok lagi boleh kan?"
"Tanya sama tante, maukah besok main lagi."
"Tante, besok main lagi kan?"
Maruti tersenyum.
"Besok, kalau tante tidak ada pekerjaan ya sayang?"
"Pekerjaan apa?"
"Ya banyak yang harus dikerjakan tante. Kapan2 saja kalau Sasa ingin, boleh main lagi, tapi bukan besok. Ya?" Marut mencoba membujuk. Dan mata bening itu ber kedip2, tapi akhirnya mengangguk.
Mereka kemudian makan dirumah makan yang tak jauh dari area permainan itu. Maruti tak sanggup menolaknya, karena Agus adalah bosnya.
Sasa makan sangat lahap dengan sebentar2 disuapi Maruti, Agus senang melihatnya. Diam2 dia berkhayal, seandainya Maruti benar2 bisa jadi ibunya Sasa, alangkah bahagianya.
***
"Ibu, mengapa mbak Ruti sudah malam begini belum pulang juga?" tanya Dita. Ada rasa curiga, jangan2 kakaknya sedang bersama Panji.
"Mungkin pekerjaannya masih belum selesai Dita," jawab ibunya.
"Tapi ini sudah malam bu."
"Coba saja kamu menelpun, jangan menyuruhnya segera pulang kalau memang dia masih bekerja."
"Dita sudah menelponnya, hape nya nggak aktif."
"Oh ya? Berarti dia masih sibuk."
"Sibuk pergi bersama mas Panji, barangkali," ucap Dita lirih.
"Apa nduk?" tanya bu Tarjo karena nggak begitu jelas mendengar kata2 anaknya.
"Nggak, nggak apa2 bu," Dita mengelak, sungkan juga memperlihatkan rasa cemburunya.
"Kamu mau makan dulu? Makan aja dulu, lalu kamu segera minum obatnya. Ya nduk?"
"Nggak bu, nanti saja."
Tiba2 didengarnya mobil berhenti didepan pagar. Dita setengah berlari menuju pintu, untuk melihat siapa yang datang. Ia ingin mengenali mobil yang mengantarnya, kalau itu Maruti. Namun mobil itu berhenti terlalu kedepan sehingga tak kelihatan dari pintu rumah. Dan tiba2 saja Maruti sudah muncul dari arah pagar.
"Pasti dengan mas Panji," desis Dita lirih.
"Dita, kok berdiri disitu?"
"mBak sama siapa?"
"Sama pak Agus."
Dita menghela nafas lega, kemudian ia berjalan beriringan dengan kakaknya memasuki rumah.
"Kok baru pulang Ruti?" sapa ibunya yang sedang menata meja makan.
"Iya bu, ada tugas dari pak Agus, jadi baru bisa pulang," jawab Maruti tanpa mengatakan tugas apa yang tadi harus dilakukannya.
"Tuh, benar kan, adikmu bertanya terus, karena kamu pulang terlambat."
"Oh ya, kangen ya sama mbak?" canda Maruti.
"Mengapa nggak jawab telponku mbak?"
"Oh batery habis, lupa ngecas Dit."
"Ya sudah, sekarang kakakmu biar ganti baju dulu, lalu kita makan bersama sama ya."
"Waah, ibu masak apa hari ini?"
"Sekarang ibu sering masak, karena permintaan adikmu. Gak apa2, ibu senang kok. Ayo cepat ganti bajumu.
"Ruti mau mandi sebentar bu, biar Dita dan ibu makan saja dulu," kata Maruti sambil berjalan kebelakang.
***
Simbok tengah bersih2 dikamar Panji, ketika tiba2 Laras datang mengejutkannya.
"Hayooo!! Simbok!!"
"Ya ampuun... mbak Laraaas.... jantung simbok hampir copot nih... gawe kaget wae..," ujar simbok sambil mengelus dadanya.
Laras tertawa terkekeh.
"Mana mas Panji mbok?"
"Lha dari pagi belum pulang tuh, masih di kantor barangkali."
"Nggak ada, dari sore sudah mninggalkan kantor. Aku kira sudah pulang."
"Belum mbak, mungkin kerumahnya.. siapa itu.. yang cantik pernah dibawa kesini?"
"Maruti? Nggak ada mbok, aku sudah menelpon, dia juga nggak tau. Biasanya kalau begitu itu terus kerumah, tapi enggak, aku telepone juga nggak diangkat. Kemana ya dia?"
"Ya coba ditunggu dulu to mbak, biar simbok buatkan minuman dulu, mungkin sebentar lagi pulang," kata simbok sambil bergegas kebelakang untuk membuat minuman.
"Kemana dia, katanya mau omong2 soal pekerjaan, lha ini ada yang perlu aku tanyakan, malah dicari cari nggak ketemu," omel Laras sambil bersandar di sofa.
"Ini mbak, simbok buatkan teh anget, diminum dulu sambil menunggu mas Panji. Mudah2an cepat pulang," kata simbok sambil meletakkan secangkir teh diatas meja.
"Terimakasih mbok."
Laras meneguk teh hangatnya, kemudian kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Simbok masak apa?"
"mBak Laras mau makan? Ayuk, ada ayam goreng sama ca brokoli, baru sore tadi simbok memasaknya."
"Hm, enak kayaknya, mau deh mbok.."
"Sebentar, simbok tata mejanya."
"Nggak usah mbok, bawa kesini saja, aku mau makan disini."
"Walah, disini saja? Baiklah," Kata simbok sambil berlalu. Diambilnya piring, nasi dan lauk pauknya dan diletakkan dimeja didepan Laras duduk.
"Hm... sedap bener baunya mbok."
"Cobain dulu, sedap baunya belum tentu enak rasanya lho."
"Kalau masakan simbok, aku percaya pasti enak. Aku makan ya mbok, ayo simbok temenin dong," kata Laras sambil menyendok nasi dan lauknya.
"Nggak mbak, simbok sudah kenyang, perutnya nggak muat lagi diisi makanan. Sudah, dimakan saja, simbok melanjutkan pekerjaan tadi. Kamar mas Panji berantakan, biar simbok ganti dulu sepreinya."
"Ya mbok, silahkan, jangan kaget kalau ini nanti Laras habiskan ya."
"Habiskan saja mbak, simbok malah senang, lha wong sudah masak enak2, mas Panji jarang makan dirumah. Nanti kalau nggak dimakan paling2 simbok bagi sama tetangga," kata simbok sambil menuju ke kamar Panji.
Sa'at Laras makan dengan lahap, tiba2 Panji datang. Tanpa mengucap apapun dia duduk didepan Laras sambil mengawasi sepupunya yang makan dengan lahap.
"Hai mas, jangan sedih kalau jatahmu aku habiskan malam ini," kata Laras sambil mengunyah makanannya. Ia berharap Panji akan membalas olok2nya, tapi dilihatnya sepupu gantengnya itu malah menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Hei... kesambet lagi?"
"Aku sudah memutuskan." akhirnya Panji berucap.
"Memutuskan apa?"
Laras menghabiskan suapan terakhirnya, minum seteguh air dan duduk agak mendekati Panji. Dilihatnya wajah kusut sepupunya.
"Apa yang terjadi?"
"Aku sudah memutuskan, akan mengambil Dita sebagai isteriku."
Laras terpana.
***
besok lagi ya
Tuesday, June 25, 2019
SA'AT HATI BICARA 30
SA'AT HATI BICARA 30
(Tien Kumalasari)
Agus masih termenung dikantornya. Entah mengapa, kata2 Santi yang diucapkannya selalu dipikirkannya. Panji ternyata tidak suka pada Maruti? Kalau Panji menginginkan Maruti Agus akan mengalah karena Panji adalah sahabatnya. Tapi kalau tidak, bisakah aku mengambil hatinya? Dan Aguspun kemudian keluar ruangan, melihat apakah Maruti sudah kembali ke kantor, ataukah belum. Ternyata tidak ada Maruti disana. Agus kembali memasuki ruangannya dengan kecewa. Ada harapan yang berkembang dihatinya, siapa tau itu adalah mungkin.
***
"mBak, duduklah disini" kata Dita kepada Maruti, ketika sore itu Dita sudah keluar dari kamarnya. Bu Tarjo dan Maruti senang melihatnya tidak kesakitan seperti siang tadi. Dan sikap Dita pada Maruti sudah seperti biasa, apalagi ketika Panji kelihatan memiliki perhatian pada dirinya.
"Ada apa Dit?" Maruti pun duduk disebelah adiknya.
"Benarkah mas Panji menyukai aku?" dikatakannya itu tanpa dosa, sementara Maruti merasa sebuah sembilu tajam mengiris jantungnya. Berdarah darah. Dita tampaknya sengaja menanyakannya, atau sengaja menyakiti hati kakaknya. Entahlah.
"Benarkah?" Dita mengulang pertanyaannya.
"Oh, mas Panji? Tampaknya.. tampaknya ya...," jawab Maruti sambil mengusap luka berdarah yang menggenangi isi hatinya. Ditahannya air mata yang ingin menitik keluar.
"Benarkah?"
"Tampaknya begitu, kamu suka?"
"Kok tampaknya sih mbak.."
"Kan mbak nggak tau kalau belum menanyakannya, tapi kan dari sikapnya.. kamu pasti bisa merasakannya."
"Iya sih..." kemudian Dita diam sejenak.
"Apa mbak suka kalau mas Panji menjadi suami aku?"
"Dita, apapun yang akan membuatmu bahagia, mbak pasti suka," dan meneteslah air mata kemudian membasahi pipinya. Tak tertahankan. Dita memandanginya dan mengusapnya lembut.
"Mengapa mbak menangis?"
"Aku menangis bahagia," kemudian dipeluknya Dita dengan kasih sayang yang setulus tulusnya. Akan diberikannya apapun demi Dita, dan itu adalah janjinya.
"Bolehkah seorang adik menikah lebih dulu dari kakaknya?" lanjut Dita dalam pelukan Maruti. Maruti mengangguk angguk, dan air matanya teruslah mengalir.
"Apa mbak tidak menyesal?"
"Jodoh itu hanya Tuhan yang menentukan. Kalau kamu diberinya jodoh lebih dahulu, itu memang kehendakNya. Tak ada seorangpun yang bisa menghalanginya.
"Apa mbak juga suka sama mas Panji?"
Menjerit batin Maruti, sekeras kerasnya. Ya iyalah bukan cuma suka.. tapi cintaaaa banget. Ya Tuhan, mengapa ini semua harus terjadi..
"mBak.."
"Apa?"
"mBak suka sama mas Panji?"
Maruti melepaskan pelukannya. Dipandanginya Dita dengan linangan air mata. Wajah cantik manja yang sebentar lagi meninggalkannya, mata bening yang sering mengganggunya, bibir tipis yang sering mengolok oloknya, tak lama lagi semuanya hanya akan tinggal kenangan. Maruti menangis lagi.
"Dita, sayangku, kalau aku suka sama mas Panji, itu karena dia baik sama kita, terutama sama kamu."
Dita menghela nafas panjang.
"Mungkin aku hanya berkhayal, mungkinkah mas Panji mau memperisteri aku?mBak, jangan bilang sama mas Panji tentang apa yang aku tanyakan ya."
Maruti tersenyum.
"Yang jelas mas Panji penuh perhatian sama kamu. Kalau Tuhan mengijinkan akan menjadi jodoh kamu, pasti akan terjadi."
***"Mas, simbok masak enak hari ini, kesukaan mas Panji. Makan ya.." kata simbok sambil mendekati momongannya, yang sa'at itu sedang melamun ditaman belakang rumahnya.
"Nanti saja mbok.." jawab Panji ogah2an.
"Mas kok nggak nanya simbok masak apa.. gitu sih.." simbok kecewa merasa tidak diperhatikan.
"Aku lagi nggak pengin apa2 mbok," Panji menepuk punggung simbok untuk mengurangi kekecewaannya.
"Mas Panji sakit?"
"Enggak.."
"Wajahnya pucat begitu, kalau sakit bilang sakit, simbok kerokin ya?"
"Aku nggak lagi sakit mbok, cuma lagi aras2en.."
"Pasti ada sebabnya kan?"
"Sini mbok, duduk didekat aku sini, jangan ndeprok dibawah begitu," kata Panji ketika melihat simbok bersimpuh didepannya.
"Biar simbok disini saja, diatas rumput, dingin," jawab simbok ngeyel.
"Duduklah, aku mau ngomong sama simbok, penting nih," kata Panji sambil menarik simbok agar dudu disebelahnya.
"Ada apa ta?"
"mBok,ada seorang gadis.."
"O, yang mas Panji ajak kerumah itu, mbak Maruti?" simbok menyela.
"Dengar dulu mbok, jangan ngomong apa2 dulu sebelum aku selesai bicara."
Simbok mengangguk angguk
"Ada seorang gadis, yang divonis ..mm.. diperkirakan akan meninggal tidak lama lagi."
"Lhah...."
"Ssst... Gadis itu suka sama aku, bolehkah aku menikahi dia? Aduh.. piye ini aku bicaranya. Begini mbok, gadis itu suka sama aku, tapi dia itu sakit, dan diperkirakan sudah mau meninggal beberapa bulan lagi. Menurut simbok,bisakah aku menikahinya untuk memberikan kebahagiaan disa'at terakhirnya?"
"Lho.. apa dia itu mbak Maruti?"
"Bukan, adiknya Maruti."
"Bukankah mas Panji suka sama mbak Maruti?"
"Aku mencintainya mbok, aku ingin menjadikannya isteriku, tapi dia minta aku mau mencintai adiknya untuk memberinya kebahagiaan disa'at terakhirnya."
"Waduh, ya berat ya mas.. "
"Berat sekali mbok, tapi Maruti menangis nangis begitu. Aku nggak tega mbok, dan itu membuat aku sedih. Apa yang harus aku lakukan ?" Panji menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya, membuat simbok jadi trenyuh. Dielusnya punggung Panji penuh kasih sayang.
"Sabar ya mas, cah bagus.. simbok tau bagaimana perasaan mas, tapi coba mas timbang baik buruknya, dengan hati tenang."
"Bagaimana menurutmu mbok?"
"Bagaimana simbok? Kalau menurut simbok, ya kasihan sama mbak Maruti, harus berkorban demi adiknya, tapi nggak ada salahnya memberi kebahagiaan bagi orang yang sudah mau meninggal. Maksudnya, nanti kalau adiknya sudah meninggal, mas kan bisa kembali lagi sama mbak Maruti?" lugas sekali kata2 simbok, dan hampir sama dengan yang dikatakan Laras, ia juga harus mau berkorban.
***
Sepedih apapun, Maruti haus menjalaninya. Ia lebih tak tega lagi melihat adik semata wayangnya harus pergi dengan membawa luka karena cinta tak tersampai.
"Mudah2an mas Panji mau memenhuhi permintaanku," bisik Maruti dalam hati. Ia kemudian menenggelamkan dirinya dengan pekerjaannya, berharap bisa melupakan semuanya.
Dering telephone itu mengejutkannya. Dari Panji. Maruti menerimanya dengan hati berdebar.
"Hallo mas."
"Maruti, kamu jangan menangis lagi ya, tak tahan aku melihat tangismu," suara serak Panji dari seberang sana.
"Mas, aku sangat sedih.. aku harap mas bisa memahaminya. Bagaimana dengan permohonanku mas, aku bersedia menunggumu, sampai kapanpun."
"Aku akan mencobanya Ruti, aku akan mendekati Dita."
"Menikahlah dengannya."
"Apa aku harus menikahinya?"
"Agar kebahagiannya sempurna mas..." isak Maruti.
"Ya sudahlah, nanti kita bicara lagi, kamu jangan menangis lagi Ruti."
Sampai kemudian telephone ditutup, Maruti masih memegangi ponsel itu dengan linangan air mata. Maruti terkejut dan segera mengusap air matanya ketika mendengar Agus memanggilnya.
"Maruti," dan laki2 itu tiba2 sudah berdiri dihadapannya.
"Ya.."
"Kamu menangis ?"
"Nggak apa2 pak, sedih kalau ingat adik saya sakit."
"Ya, aku bisa mengerti, aku ikut berdo'a ya, demi adik kamu."
"Terimakasih pak."
"Oh ya Maruti, maukah sepulang dari kantor nanti menemani Sasa jalan2?"
"Jalan2? Kenama pak?"
"Kemana saja, yang penting Sasa senang. Beberapa hari yang lalu kan dia pernah minta, agar mengajak kamu jalan2. Dulu belum jadi karena kamu dijemput Panji. Sore ini bisa ya? Dia sudah jalan kemari kok."
Maruti terdiam, Sasa.. gadis lucu nan mungil.. yah, barangkali dengan berjalan bersama Sasa akan sedikit menghibur hatinya, mengapa tidak?
"Bagaimana Ruti?Ini jam kantor sudah selesai, sudah sa'atnya pulang."
"Baiklah pak, saya mau."
Dan begitu Maruti selesai menjawab, Sasa sudah tiba didepan pintu kemudian berlari kearahnya.
"Tante, kita akan jalan2 bukan?"
Maruti tersenyum, dipangkunya gadis kecil yang menggemaskan itu dan diciuminya.
"Anak manis, baiklah."
"Ayo papa.."
"Maruti, ayo pulang," ajak Agus.
Agus tersenyum senang. Apalagi melihat Sasa menarik narik tangan Maruti dan diajaknya keluar.
Mereka sudah menaiki mobil Agus ketika tiba2 Panji datang, dan melihatnya meluncur keluar dari kantor. Panji tertegun. Serasa ada yang hilang dari hatinya.
***
besok lagi ya
Monday, June 24, 2019
SA'AT HATI BICARA 29
SA'AT HATI BICARA 29
(Tien Kumalasari)
"Ada apa?" tanya Laras ketika dilihatnya wajah Panji tampak tegang.
"Maruti barusan ditilphone ibunya, katanya Dita kesakitan."
"Sudah dibawa kerumah sakit?"
"Nggak mau, katanya menunggu aku,"
"Ya ampuun... ya sudah mas, ayo aku ikut," kata Laras yang kemudian cepat2 berganti pakaian dan ikut bersama Pandu.
***
Diantara rasa kasihan dan khawatir, Maruti juga kesal terhadap sikap adiknya. Sudah kesakitan tapi susah dibawa kedokter dan harus menunggu Panji datang. Sementara Maruti tidak yakin Panji akan mau datang walau dia telah menelponnya.
"Dita, ayo kerumah sakit saja, nggak usah menunggu siapapun."
"Aku sudah menelpon dokter Santi." kata Dita sambil menggosok perutnya dengan minyak kayu putih.
"Lalu bagaimana, dokter Santi mau kemari? Atau kita kesana?"
"Dia mau datang kemari." jawab Dita singkat.
Dan ternyata Dokter Santi datang bersama dengan Panji. Wajah Santi berseri menyambut kedatangan Panji.
"Hai mas, kok bisa bareng ya, sebenarnya kita itu jodoh lho," candanya yang ternyata tidak membuat seorangpun tertawa..
"Bagaimana dengan Dita?" tanya Panji tanpa memperdulikan gurauan Santi.
"Ya, hanya karena terlambat makan obat. Harusnya kemarin dia kontrol, tapi entah mengapa tidak Dita lakukan. Ya begini ini jadinya. Tapi ini aku sudah bawakan obatnya kok. Cuma aku sekali lagi memperingatkan, sesungguhnya Dita itu sudah parah. Sangat parah."kata Santi sambil melangkah masuk kerumah.
Bu Tarjo dan Maruti menyambutnya, dengan wajah cemas.
"Nggak apa2 bu, salahnya kemarin nggak kontrol lagi. Memang demikian kalau terlambat minum obatnya., dia akan merasa kesakitan. Ini sudah saya bawakan." kata Santi sambil mengulurkan sejumlah kapsul didalam plastik klip.
"Diminumkan sekarang ya dok?" tanya Maruti.
"Ya, sekarang saja, sudah makan kan?
"Sudah dokter, ya setelah makan itu tadi tiba2 dia sesambat perutnya sakit." sela bu Tarjo.
"Baiklah, kalau begitu bisa diminumkan sekarang."
Santi ikut masuk kedalam kamar Santi, sementara Panji dan Laras masih duduk dikursi didepan kamar.
"Nak Panji, terimakasih sudah mau datang kemari."
"Ya bu, tadi Maruti menelpon.Syukurlah kalau tidak apa2."
" Marilah masuk dan ketemu Dita nak.. dia pasti senang."
"Ya bu, nanti saja, masih ada dokter Santi disana."
***
"Dokter, saya mendengar suara mas Panji diluar," bisik Dita setelah Maruti keluar dari kamarnya. Memang tadi masuk kekamar Dita, hanya untuk meminumkan obat. Setelah ada dokter Santi Maruti keluar lagi, menemui Panji yang masih menunggu bersama Laras.
"Iya, dia ada, maka bersenanglah hatimu," jawab Santi sambil berbisik juga.
Tak seorangpun tau apa yang mereka bicarakan dengan suara lirih, bahkan ketika mereka tertawa gembira. Juga dengan suara yang dipelankan. Tapi tak lama sesudah itu dokter Santipun berpamit.
"Aku pulang dulu, supaya mas Panjimu bisa segera menemui kamu."
Dita mengangguk, ia menata letak tidurnya seakan sedang menahan rasa sakit, ketika Panji dan Laras memasuki kamarnya.
Dipintu sebelum dia keluar, Santi membisikkan sesuatu ketelinga Panji.
"Penyakitnya sudah parah, mungkin dia tak akan bertahan selama itu." kemudian Santi berlalu, dan Panji bersama Laras memasuki kamar Dita.
"Apa kabar Dita," sapa Laras..
"Baik mbak," jawab Dita sambil membetulkan letak selimutnya.
"Masih sakitkah?"
"Sudah berkurang mbak, kan barusan minum obat dari dokter, aku merasa sehat dan tak memperhatikan kalau obatku habis."
"Lain kali kamu harus memperhatikan kesehatan kamu," lanjut Laras.
"Ya.. mm.. ada mas Panji..," sapa Dita sambil tersenyum. Ia mencoba menyembunyikan rasa senangnya yang menggelora begitu memandangi wajah ganteng yang sejak awal pertemuannya telah menjatuhkan hatinya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik, sudah nggak sakit lagi."
"Besok kalau kamu sudah sembuh, mas Panji akan mengajak kamu jalan2 lho." sela Laras, yang kemudian menahan sakit dikakinya karena Panji menginjaknya dengan sengaja.
"Adduh..." bisiknya lirih.
"Ada apa mbak?"
"Ini.. mm.. tadi .. tadi agak terkilir ketika memasuki rumah, tiba2 nyeri." jawab Laras terbata, dan Panji menahan senyumnya.
"Oh, ada obat gosok di kamar ibu," kata Dita
"Nggak apa2, cuma sedikit.. Oh ya, mas Panji membawa buah2an tadi, masih diletakkan dimeja sana. Mau saya ambilkan?" ujar Laras sambil menjauh dari tempat Panji berdiri, takut kakinya kena pijak lagi.
"Biar disana mbak, nanti kalau sudah berkurang sakitnya aku akan keluar. Terimakasih mas Panji telah memperhatikan aku."
"Lha mas Panji kan memang penuh perhatian sama kamu," Laras masih ingin membuat Panji kesal. Kakinya sudah jauh dari kaki Panji, yang pasti tak akan sampai seandainya Panji ingin menginjaknya lagi.
Kata2 Laras ini membuat Dita tersipu, dan diucapkannya rasa terimakasih dengan lirih.
"Terimakasih mas.."
Panji hanya mengangguk dengan tersenyum. Sejak Maruti mengungkapkan keinginannya agar dia mencintai Dita, sikapnya pada Dita jadi berubah sedikit kaku. Ia ingin menuruti kata2 Laras agar bersikap baik seperti biasanya, tapi tetap susah dilakukannya.
Mereka tak lama disana, dan dengan alasan harus segera kembali kekantor, maka Panji dan Laras segera berpamit.
Maruti mengantarkan mereka, dengan linangan air mata.
Panji memandangnya trenyuh.
"Sudah, jangan menangis lagi," ucapnya lirih sebelum memasuki mobilnya. Maruti tak mengerti, apa maksud kata2nya tadi, tapi ia melihat senyuman manis yang selalu dirindukannya. Apakah Panji akan memenuhi keinginnnya?
***
"Kamu tadi menginjak kakiku mas, sakit tau?!"
"Kamu sih, bicara nggak karuan, itu memberi harapan kosong, apa tidak kasihan nantinya?"
"Memberi harapan kosong bagaimana, bukankah mas sudah berjanji akan menyenangkannya? Berusaha menyayanginya?"
"Bohong, aku nggak bicara seperti itu."
"Lho, mas kok ingkar.."
"Kamu yang minta supaya aku bersikap baik, pura2 menyayangi, tapi aku kan tidak bilang mau?"
"Mas itu bagaimana, namanya menolong orang jangan setengah hati donk."
"Menolong dengan memberikan cinta padahal sebenarnya tidak, apakah itu mudah?" Mintalah apa saja, asal jangan cintaku."
"Wah, mas Panji bener2 kejam deh."
"Kejam bagaimana ?"
"Maruti meminta tolong, dia sudah berkorban, kan aku sudah bilang begitu.Kalau Maruti mau berkorban kenapa mas tidak ?"
Panji tak menjawab sepatah katapun.
"Iya kan mas?"
"Aku harus bertemu dokter Baroto dulu."
"Mas nggak percaya sama Santi?"
"Nggak jelas.."
"Nggak jelas bagaimana?"
Tiba2 Panji teringat kata2 Santi sebelum berpisah tadi, bahwa mungkin Dita tak akan tahan selama itu. Maksudnya bisa meninggal sebelum 6 bulan yang dikatakannya? Diam2 ada rasa ngilu dihati Panji.
***
Agus tak menduga kalau siang itu Santi tiba2 masuk keruang kerjanya.Wajahnya langsung muram begitu melihatnya tiba2 duduk dihadapannya.
"Mau apa lagi kamu kemari?" tegurnya kesal.
"Mas, Maruti mana?" tanya Santi pura2 tak tau bahwa Maruti sedang berada dirumah karena mendengar Dita kesakitan.
"Mau apa kamu nanya2? Dia sedang ijin, dan itu bukan urusan kamu."
"Mas, sekarang aku merasa bahwa memang aku bukan isteri yang baik, sehingga mas kecewa kemudian menceraikan aku."
"Kamu ini bicara apa?Itu masalah yang sudah usang dan kamu tidak perlu mengungkitnya lagi."
"Tunggu dulu mas, jangan marah dulu.. aku mengatakan itu karena aku merasa bahwa mas pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari aku, aku senang kalau mas bahagia, sungguh."
"Apa maksudmu?
"Aku tau Maruti gadis yang baik.mBak Endang (perawat Sasa) bilang kalau Sasa suka juga sama Maruti."
Agus ingin mendampratnya lagi, tapi Santi menutup mulutnya dengan jari telunjuknya, memberi isyarat agar Agus tidak ngomong dulu.
"Dengar dulu mas, dulu itu sepertinya mas Panji suka sama Maruti, dan mas kecewa kan?"
"Santi !!" meninggi suara Agus karena menahan kesal yang amat sangat. Ia merasa Santi masih ingin mengurusi kehidupannya.
"Mas, sekarang ini mas boleh berharap banyak pada dia, sungguh, ini pilihan yang bagus."
"Apa maksudmu, selesaikan kata2mu dan segera pergi dari sini !"
"Mas harus tau, mas Panji tidak memilih Maruti tapi adiknya. Jadi mas masih banyak peluang untuk mendekatinya." kata Santi sambil berdiri kemudian keluar dari ruang kerja bekas suaminya sambil tersenyum.
Agus terpaku ditempat duduknya.
***
besok lagi ya
Sunday, June 23, 2019
SA'AT HATI BICARA 28
SA'AT HATI BICARA 28
(Tien Kumalasari)
"Untuk apa mas ketemu Santi?" tanya Laras kecewa karena kesanggupan Panji seperti ada syaratnya.
"Aku harus bertanya tentang penyakit Dita terlebih dulu."
"Mas tidak percaya ?"
"Bukan tidak percaya, tapi tiba2 ada vonis seperti itu, aku kan harus tau karena aku dan kamu juga mungkin sangat awam tentang penyakit dan pengobatannya.
"Baiklah, itu tidak apa2, yang penting mas punya perhatian terhadap Dita, maksudku Maruti."
***
"Mas tidak percaya sama keterangan dokter?" kata Santi ketika Panji menemuinya diklinik tempatnya berpraktek.
"Salahkah aku kalau aku ingin mengetahui penyakit Dita?"
"Sebenarnya dokter tidak boleh membeberkan penyakit pasiennya kepada orang lain, ma'af mas."
"Tapi aku bukan orang lain."
"Bukan orang lain? Apa maksud mas?"
"Mereka keluargaku, dan aku calon suami Dita."
"Wauuwww.... " Santi bertepuk tangan.
"Selamat ya mas.." lanjut Santi sambil tersenyum.
?Kamu belum menjawab pertanyaanku Santi," sahut Panji kesal.
"Mas, kalau mas calon isteri Dita, pasti mas telah mengetahui semuanya, pasti keluarganya telah mengatakan sejelas jelasnya, bukan?"
"Tapi aku ingin mendengar sendiri dari kamu."
"Oh, ada hasil2 lab yang bisa aku tunjukkan sama mas.. lihatlah.." kata Santi sambil mengeluarkan sebuah map, yang berisi hasil2 pemeriksaan.
"Ini keterangan hasil lab Dita?" Tanya Panji sambil menerima map itu.
"Kan ada tulisannya didepan itu.. nah.. ini hasil photo rongen.. ini kanker yang menyerang lambung dan sudah menyebar.. ini..ini ..Ini keterangan ketika pemeriksaan darah, laparoscopy dan keterangan2 lainnya. Sudah sangat parah dan dokter sudah angkat tangan."
Panji tak begitu memahami hasil lab itu, ia hanya membaca map berwarna biru yang ada tulisannya Anindita..
"Siapakah dokter ahli yang menangani?"
"Oh, itu dokter Baroto, dia seorang onkolog, pernah dengar?"
"Itu ahli kanker kan?"
"Ya, terkemuka .."
"Boleh aku menemuinya?"
Dokter Santi berdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu, sambil membuka buka catatan, entah catatan apa.
"Oh, sayang sekali pak Baroto sedang pergi keluar negeri. Agak lama karena beliau sedang memperdalam ilmunya."
"Kapan dia kembali?"
"Saya kurang tau mas, tidak ada kontak dengan dia selama keberangkatannya yang baru kemarin. Nanti aku akan kabari setelah bisa terhubung."
Panji keluar dari ruangan dokter Santi dengan rasa tidak puas, apa yang ditunjukkan sungguh membuatnya ngeri. Separah itukah? Sayang ia belum bisa menemui dokter ahli yang katanya menanganinya.
***
Siang hari itu Dita sedang menulis nulis di buku hariannya. Kali itu dengan seri yang tampak cerah. Bu Tarjo memperhatikannya dengan terharu.
"Dita, ibu sudah memasak ca brokoli pesananmu. Mau makan sekarang?"
"Sebentar bu, Dita selesaikan dulu menulisnya," jawab Dita sambil menulis .
"Cerita apa lagi yang kamu tulis nduk?"
"Ah, ibu mau tau ajah, "Dita tersenyum dan menutup buku kecilnya.
"Ayo makan, sudah ibu siapkan dimeja."
"Ibu, mengapa ibu yang harus meladeni Dita? Kan Dita sudah sembuh..?"
"Ya, benar, tapi ibu ingin meladeni kamu karena biarpun sembuh kan kamu habis sakit, ibu khawatir kalau kecapean bisa lebih parah penyakitmu."
"Ah, ibu... ya enggaklah, Dita sudah sehat kok."
Tiba2 telephone Dita berdering.
"Oh.. dari dokter Santi, Dita terima dikamar ya bu?"
"Kok dikamar, disini saja, biar ibu dengar perkembangan penyakitmu."
"Ini pasti bukan karena sakitnya Dita bu, kan Dita sudah nggak sakit lagi. Sebentar ya." jawab Dita sambil kembali masuk kekamarya. Diam2 bu Tarjo yang merasa curiga menempelkan kupingnya dipintu kamar Dita. Ia ingin tau, mungkin dokter Santi berbicara tentang penyakit anaknya.
"Hallo dokter... ya.. baik.. ada.. ada perkembangan.. suka kok.. hehe.. terimakasih dokter.. oh ya.. kapan.. baru saja..? Lalu... waaah.. pintar sekali dokter.. ya.. aku mau.. pastinya.. (tertawa renyah) ooh.. gitu...? Waduuh... ya.. ya.. bisa.. akan Dita lakukan... bisa... terimakasih dokter."
Dita menutup ponselnya sambil berjalan kearah pintu. Terkejut sekali dia melihat ibunya berdiri disana.
"Ibu... ibu mendengarkan pembicaraan dengan dokter Santi?
"Oh, ya.. ma'af nak.. ini tidak sopan ya, tapi sungguh ibu hanya menghawtirkan kesehatanmu." kata bu Tarjo sedikit tersipu karena ketahuan mencuri dengar ketika Dita sedang bertelephone.
"Nggak apa2 bu, ibu jangan khawatir, dokter Santi hanya mengingatkan bahwa kemarin harusnya obat Dita sudah habis."
"Lha harusnya kan kamu kontrol , kok nggak bilang."
"Dita nggak merasakan sakit kok bu."
"Ya sudah nanti ke dokter kontrol, ibu antar ya?"
"Nggak usah bu, besok saja. Sekarang Dita pengin makan ya, ayo ibu juga.."Jawab Dita sambil duduk di kursi makan.
"Baiklah, ibu temani kamu makan ," kata bu Tarjo sambil duduk pula didepan anaknya,
"Ini ayam goreng dari mas Panji masih ada, ayo kita habiskan. hm.. baik bener mas Panji sama Dita ya bu."
"Iya, dia baik, apa kamu suka sama dia?" pancing bu Tarjo.
Dita tampak tersipu, ia tak menjawb kecuali hanya tersenyum, kemudian menyendok nasi serta lauknya dan makan dengan lahap. Bu Tarjo memandanginya dengan terharu. Bisakah Maruti meminta Panji agar bisa mencintai Dita? Dalam hati bu Tarjo bertanya tanya, penuh harapan.
***
"Jadi mas, belum bisa menemui dokter ahli yang menangani penyakit Dita?" tanya Laras ketika siang itu Panji kembali lagi kerumah Laras.
Panji menggeleng.Ada keraguan yang sesungguhnya memenuhi hatinya tentang vonis itu.Ia ingin bertemu dokter Baroto, tapi terhalang karena katanya sedang keluar negri.
"Baiklah, kita tunggu saja keterangan sejelas jelasnya nanti dari dia, tapi maukah selama ini mas Panji bersikap manis sama Dita?"
"Bersikap manis bagaimana ?"
"Ya bersikap baik lah mas, seakan akan mas memang suka sama dia."
"Waduuh.. kamu ada2 saja.. itu tidak gampang Laras, bagaimana mungkin orang bisa berpura pura suka sementara sebenarnya dia tidak suka? Aku baik sama Dita karena dia adik dari Maruti, gadis yang sesungguhnya aku cintai."
"Mas, aku kira tidak berlebihan kalau mas bersikap baik .. ya.. nggak usah harus mesra2 begitu.. pokoknya baik.. yah.. seperti dulu.. ketika belum ada peristiwa ini.
"Hm. kamu itu Laras.. " keluh Panji.
"Cobalah mas, misalnya datang kerumah, menemui dia, bawa oleh2 buat dia, aku kira dengan begitu Dita pasti bahagia. Nggak usah bicara so'al pernikahan dulu lah.. siapa juga suruh cepat2 menikah.. Mungkin mengetahui bahwa mas sangat perhatian sama dia, dia sudah sangat bahagia kok."
Panji hanya terdiam. Dia kasihan pada Maruti, pasti sangat sedih mendengar penolakannya untuk menerima Dita.
Tiba2 telephone Panji berdering.
"Dari Maruti ," bisiknya.
"Ada apa mas, coba diterima, kok malah dipandangi begitu," tegur Laras.
"Takut dia bicara sambil nangis2 kayak kemarin," tapi diangkatnya panggilan telephone itu.
"Hallo Maruti, ya.. ada apa.. jangan menangis lagi Maruti, tenangkan hatimu," kata Panji.
"Mas, datanglah kerumah.." tapi suara dari seberang benar2 sambil menangis.
"Ada apa? Aku sedang memikirkan kata2mu sore kemarin."
"Mas, datanglah sekarang juga. Tiba2 Dita kesakitan luar biasa, baru saja ibu menelpon mas," tangis Maruti semakin keras.
"Tidak dibawa ke dokter?"
"Nggak mau mas, katanya menunggu mas.."
Wadhuh....
***
besok lagi ya
Saturday, June 22, 2019
SA'AT HATI BICARA 27
SA'AT HATI BICARA 27
(Tien Kumalasari}
Maruti menghentikan langkahnya dan menunggu pengendara mobil itu mendekat. Tapi Maruti heran, yang keluar dari mobil itu adalah Laras.
"Wah, beruntung kamu belum berangkat."
"Tumben pagi2 sudah sampai sini." sapa Maruti menyambut kedatangan tamunya.
"Ya, dan aku pakai mobil mas Panji."
"Oh, lha mas Panji kemana ?"
"Dia sakit dirumahku."
Maruti terkejut.
"Sakit ? Sakit apa ?"
"Sakit hati lah.." jawab Laras, berbisik.Maruti yakin Panji sudah mengatakan semua yang terjadi sore kemarin.
"Ma'af kalau aku penyebabnya.." jawab Maruti lirih. Ia kemudian menggandeng Laras masuk ke teras.
"Duduklah dulu, tapi aku akan segera berangkat kerja."
"Nanti aku antar kamu, sekarang aku mau ketemu Dita," kata Laras yang kemudian berdiri dan langsung masuk kedalam rumah.
"mBak Laras ?" teriak Dita yang sedang duduk dimeja makan.
"Hai Dita, sudah sehat kah ?" tanya Laras yang kemudian juga duduk didepan Dita.
"Sehat banget mbak, ayo sarapan, cuma telur nih.."
"Aku sudaah sarapan. Mana ibu?"
"Lagi dikamar, tuh.."
"Oh ya, ini, ada titipan buat kamu," kata Laras sambil mengangsurkan sebuah bungkusan.
"Eh.. apa nih? Titipan dari siapa?"
"Dari mas Panji."
"Dari mas Panji? Oh ya.. apa nih..?" Laras melihat sinar mata Dita berbinar. Trenyuh mengingat wajah cantik yang tampaknya sehat itu hanya memiliki beberapa bulan lagi untuk hidup.
"Buka aja, kata mas Panji kamu suka."
"Hm..ayam goreng nih baunya... horeee..." teriak Dita gembira.
Bu Tarjo yang muncul tiba2 terkejut mendengar Dita berteriak.
"Ada apa Dita? Oh.. ada nak Laras? Ayo buatkan minum dulu untuk mbak Laras, Dita.
"Ibu, mas Panji mengirimi aku ayam goreng, aku mau nambah lagi makannya ya." kata Dita gembira.
"Boleh saja. Tapi buatkan minum dulu tamunya."
Tapi Laras menolaknya.
"Nggak usah bu, saya hanya mampir, dan sekalian mau ngantar Maruti berangkat kerja, jadi sekarang juga saya mau pamit ya bu."
"Oh, untunglah Maruti belum berangkat."
***
Diperjalanan Maruti menanyakan keadaan Panji.
"Dia sakit, semalam nggak bisa tidur, pagi ini dia belum bangun, badannya panas, tapi aku sudah memberinya obat."
"Ya ampun, kenapa tidak kamu bawa ke dokter?"
"Nggak mau dia, orang sakitnya tuh sakit hati." jawab Laras sekenanya.
"Kamu membuat aku merasa bersalah Laras," Keluh Maruti.
"Sebenarnya bagaimana penyakit Dita, aku lihat tadi baik2 saja, seger, terlihat sedikit gemuk,"
"Ya, kata dokter Santi obat2nya lebih bayak penghilang rasa sakit, jadi dia tidak kesakitan seperti kemarin2. Tapi Laras, sebentar, darimana kamu dapatkan ayam goreng yang kata kamu kiriman dari mas Panji?"
"Oh, itu karangan aku saja," Laras tertawa.
Maruti tertegun, dirinya semalam juga mengucapkan kata2 bohong tentang perhatian Panji pada Dita, dan sekarang Laras melakukannya. Maruti tersenyum. Sikap ingin menyenangkan itu semoga tidak akan berbuah menyakitkan bagi Dita. Itu do'a Maruti, dan mungkin juga Laras.
"Padahal mas Panji sama sekali tak punya perhatian untuk itu," keluh Maruti.
"Siapa tau nanti hati mas Panji bisa terbuka. Dan sekarang aku mau nanya sama kamu Ruti, maukan kamu menunggu seandainya nanti mas Panji mau?" pertanyaan ini sesungguhnya agak menyakitkan, karena seperti berharap akan kematian Dita. Kalau dijelaskan kan begini kalimatnya, maukah kamu menunggu sampai Dita meninggal dan mas Panji bisa kembali untukmu? Aduh..bagai tersayat hati Maruti mendengarnya.
"Ruti, aku minta ma'af, tapi bukankah ini kenyataannya?" tanya Laras hati2. Sesungguhnya Laras juga tak ingin menyinggung perasaan Maruti. Keputusan itu kan bagai buah simalakama, cuma hanya ada satu titik sasaran. Dijalani Dita mati, tidak dijalani juga Dita mati.
"Tidak, aku mengerti. Kamu tau Laras, aku sangat mencintai mas Panji, aku tak akan berpaling darinya, sampai kapanpun." jawaban ini lebih santun, tidak mengatakan kalau dia meninggal aku tetap akan menunggunya. Laras mengerti dan mengangguk. Hanya saja mereka belum tau, kapan Panji juga akan mengerti.
***
Laras mengantarkan Maruti sampai ketempat meja kerjanya. Sesungguhnya Laras ingin ketemu si ganteng yang berkumis, tapi malu mengakuinya. Semoga ketemu, begitu bisiknya dalam hati.
Dan keinginan Laras terpenuhi. Kedatangan mereka justru bersamaan. Ada gadis mungil yang ikut mengantar ayahnya bersama perawatnya. Berdebar Laras menyambutnya.
"Hai Laras, tumben pagi2 sudah sampai sini."
"Mengantar Maruti nih mas, sekarang mau pamit. Hai Sasa.. masih ingat sama tante?" sapanya pada Sasa.
Namun Sasa berlari mendekati Maruti.
"Tante, ayo jalan2 sama Sasa.." teriaknya.
"Sasa, tante kan lagi bekerja," jawab Maruti sambil memegangi pipi gadis kecil itu.
"Tuh ditanya sama tante Laras, lupa nggak sama tante Laras," lanjut Maruti..
Sasa memandangi Laras dan menggeleng.
"Sasa ingat..."
"Ayo beri salam sama tante Laras,"kata Agus
Laras berlari mendekati Laras dan mencium tangannya.
"Sudah, sekarang Sasa pulang ya , dan ingat, nggak boleh nakal," kata Agus.
Sasa berlalu, ada rasa kecewa dihati Laras, karena Sasa lebih perhatian sama Maruti daripada dengan dirinya.
"Laras, duduklah dulu, nggak apa2 menemani Maruti," kata Agus.
"Nggak mas, nanti mengganggu, sekarang saya pamit dulu."
"Baiklah, oh ya.. nggak bersama Panji? Aku melihat mobil Panji didepan, aku kira ada Panji disini."
'Ya, saya pakai mobil mas Panji, kebetulan nggak dipakai. Permisi, saya pamit dulu mas," kata Laras yang kemudian berlalu.
"Hati2 dijalan Laras," teriak Maruti.
Laras melambaikan tangan, dan Agus mengantarkan sampai kedepan.
***
"Aku tadi membawa oleh2 ayam goreng buat Dita," kata Laras kepada Panji setelah sampai dirumah.
Laras memegang dahi Panji, dan merasa lega, tidak terasa panas lagi.
"Dita senang mendapatkan ayam goreng itu. Aku bilang kiriman dari kamu mas," Laras berterus terang.
"Kok kamu bohong begitu, nanti dia banyak berharap dari aku," Panji memprotes apa yang dilakukan Dita.
"Aku hanya ingin menyenangkan dia, dan nyatanya dia senang kok," jawab Laras seenaknya.
"Kamu itu.." keluh Panji."
"Mas, aku tadi bicara sama Maruti."
"Tentang apa?"
"Aku bertanya, apakah Maruti mau menunggu sampai... ya Tuhan.. aku bukan mendo'akan ya mas, tapi ada suatu titik dimana Dita akan... yah.. susah buat kalimatnya yang lebih santun. Begini, kalau perkiraan dokter itu benar, Maruti akan tetap menunggu kamu lho mas."
"Apa ?"
"Maksudku begini, penuhilah permintaan Maruti, menikahi Dita, untuk memberikan kebahagiaan diakhir hidupnya, itu kan tidak lama, ma'af sekali lagi, nanti Maruti akan tetap menunggu kamu. Dia bilang akan tetap mencintai kamu sampai kapanpun."
"Jadi kamu juga memaksa supaya aku menikahi Dita?"
"Bukan memaksa, kalau mas mau berkorban seperti pengorbanan Maruti, bukankah itu perbuatan mulia?"
"Maruti berkorban?"
"Berkorban dong mas, dia juga cinta sama mas, dan dia rela berkorban demi adiknya. "
"Baiklah.."
"Mas mau?Sesungguhnya tidak harus menikahi, cukup kasih dia perhatian, rasa sayang, itu cukup membahagiakan lho."
"Baiklah akan aku pikirkan, tapi aku akan ketemu Santi dulu."
***
besok lagi ya
Subscribe to:
Posts (Atom)
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016 (Tien Kumalasari) Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mu...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 30 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi sedang mengingat-ingat, kapan dia mendengar nama Srining disebut. Mungkin Srining ...
-
NAMAKU TETAP SENJA 59 (Tien Kumalasari) Pemeriksaan terus berjalan, hari demi hari. Bu Mery dan Rosa tetap ditahan. Betapa marah Rosa k...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 28 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi mengangkat wajahnya. Menatap laki-laki setengah tua yang berdiri di depannya samb...