Monday, April 14, 2025

ADA MAKNA 35

ADA MAKNA  35

(Tien Kumalasari)

 

Wahyu terbelalak. Ia mencengkeram ponselnya kuat-kuat, terbawa perasaan geram yang tiba-tiba meliputinya.

“Apa maksud Ibu? Sejak kapan Ibu mengenal judi on line?”

“Wahyu, jangan marah dulu. Tadinya ibu cuma ikutan teman, ibu mendapat uang banyak sekali. Ibu sangat senang, jadi ibu mencoba terus, tapi uang ibu habis. Ibu tidak terima, harus bisa mengembalikan uang ibu yang semula sangat banyak. Ibu memakai uang kas sekolah, berharap bisa segera mengembalikan uang itu bersama uang ibu yang hilang … lalu_”

“Cukup Ibu!!” keras suara Wahyu untuk menghentikan cerita ibunya yang semakin membuatnya kesal.

“Saya heran, Ibu seorang pendidik, bagaimana bisa melakukan hal buruk itu?”

“Wahyu, kalau beruntung kan_”

“Hentikan. Tidak ada judi yang menguntungkan. Sudah rugi, masih ditambah dosa, dan beban yang sekarang ibu tanggung. Lalu ibu akan membawa anak ibu ke dalam lobang kesulitan yang ibu buat?”

“Ibu tadinya berharap_”

“Hentikan dan saya tidak peduli.”

“Wahyu, kamu tega membiarkan ibu dipenjara? Tolong Wahyu.”

“Ibu pikir Wahyu punya uang sebanyak itu? Dari mana Wahyu mendapatkannya? Setiap bulan gaji Wahyu sudah berkurang untuk Wahyu kirimkan kepada Ibu, dimana sesungguhnya Ibu punya gaji yang cukup untuk hidup Ibu sendiri. Kecuali itu Wahyu juga ikut membantu biaya kuliah Reihan, lalu kapan Wahyu bisa menabung? Ibu pikir Wahyu punya uang bertumpuk untuk membantu Ibu membayar uang yang ibu korupsi?”

“Ibu tidak korupsi. Ibu hanya meminjam.”

“Meminjam tanpa bilang, dan entah bisa mengembalikan atau tidak, beda tipis dengan yang namanya korupsi.”

“Wahyu, jangan menambah kesedihan ibu, ibu minta tolong Nak,” memelas suara Wanda.

“Tidak Bu, maaf. Wahyu tidak bisa membantu.”

“Wahyu, kamu tega?”

“Bagaimana Wahyu bisa membantu? Mana Wahyu punya uang sebanyak itu?”

“Wahyu ….”

Wahyu menutup ponselnya dengan gemas. Lalu ia memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut-denyut.

“Ada apa? Kenapa Mas marah-marah pada ibu?”

“Kamu tidak mendengar pembicaraan mas sama ibu tadi?”

“Mendengar Mas marah-marah, dan tentang uang, nggak jelas.”

“Ibu memakai uang kas sekolah, dipergunakan untuk berjudi.”

“Apa?”

“Jumlahnya seratus juta lebih, entah berapa lebihnya, mas nggak mau tahu.”

“Ya Allah. Ibu berjudi?”

“Ibu berjudi online, memakai uang kas sekolah dan habis.”

“Lalu apa yang akan Mas lakukan untuk membantu ibu?”

“Membantu? Kamu seperti ibu, tidak tahu masmu ini seperti apa. Bagaimana mas bisa membantu membayar uang kas sekolah yang ibu pakai?”

“Lalu akan Mas biarkan ibu menanggung itu semua?”

“Menurutmu apa yang bisa mas lakukan? Jangan bilang kamu akan membantu ibu dengan mengurangi uang kamu yang dari bapak itu.”

“Tapi ….”

“Tidak Rei, itu uang bapak yang di amanahkan untuk uang kuliah kamu. Bukannya mas tega pada ibu, tapi kalau sekali ini kamu bantu ibu, aku percaya ibu tidak akan berhenti.”

“Mas benar-benar tega?”

“Bukan masalah tega atau tidak. Ibu harus tahu bahwa anak-anaknya tidak mampu memikul beban seberat itu. Uang sebanyak itu bukan main-main.”

“Lalu?”

 Apakah Wahyu orang yang tidak punya perasaan? Derita sang ibu tidak mampu menggoyahkan hatinya? Tidak. Wahyu sangat sedih, tapi dia tidak berdaya.

Reihanpun terdiam, dia punya banyak uang, tapi tidak untuk memanjakan sang ibu. Kakaknya benar, sekali mereka membantu, ibunya tidak akan berhenti.

Kejadian itu membuat keduanya tak bisa tidur semalaman.

***

Walau begitu, pagi harinya, Wahyu mengantarkan Reihan ke bank. Uang itu harus diselamatkan, jangan dipakai sembarangan, agar tidak mengecewakan ayah Guntur.

Gemetar tangan Reihan ketika menyerahkan uang itu ke bank. Bayangan sang ibu melintas, alangkah menyedihkan. Bagaimanapun Wanda adalah ibu kandungnya, yang betapa menyebalkannya kelakuan sang ibu, tetap saja ada kasih sayang di antara mereka. Tapi Wahyu selalu memberi semangat dan mengingatkan bahwa uang itu ada pertanggungan jawabnya, karena di dalamnya berisi sebuah harapan seorang ayah agar putranya bisa meraih cita-citanya.

Ponsel Wahyu berkali kali berdering tapi Wahyu tak pernah mengangkatnya. Hanya saja tetap terasa perih dihatinya setiap kali dering itu menggelitik telinganya. Ingin menolongnya tapi tak kuasa. Barangkali Wahyu juga berharap agar apapun yang terjadi semoga menjadi pelajaran bagi sang ibu.

Hanya Wahyukah yang merasa tertekan dengan perbuatan sang ibu?

Tidak. Saat kuliah Reihan lebih banyak termenung. Rasa kehilangan seorang ayah masih terasa menyiksa, kemudian ditambah dengan peristiwa yang menimpa sang ibu.

"Heii.. dari kemarin kamu selalu menyendiri di sini. Masih memikirkan ayah Guntur ya? Tahu nggak sih Rei, aku juga merasa sedih.”

Reihan terkejut melihat Emma tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.

“Aku hanya sebentar bertemu bapak. Saat di rumah sakit aku dilarang tinggal karena harus sekolah. Saat bisa bertemu lagi .. hanya bisa  sebentar. Lalu ketika ingin bertemu yang terakhir kali, bapak sudah pergi."  kata Emma  sambil berlinang air mata, membuat Reihan jadi ikut terbawa perasaan.

"Mbak Emma jangan menangis. Nanti aku ikut nangis …" kata Reihan sambil memegangi lengan kakaknya.

Emma tersenyum tipis.

"Kamu tidak sendiri Rei, aku juga merasakan perasaan yang sama."

Reihan mengangguk. Tapi beratnya duka yang  ditanggung tidaklah sama. Ia bukan hanya memikirkan sang ayah tapi juga sang ibu. 

Terkadang dia berfikir bahwa kakaknya terlalu kejam. Tapi ketika kemudian sang kakak menakutinya dengan amanah yang diberikan ayahnya, Reihan tak berdaya menolaknya.

Hari yang berlalu tanpa ada sikap dan kepedulian untuk sang ibu.

Wahyu dan Reihan seakan tak peduli akan nasib sang ibu. Wahyu juga membiarkan setiap pesan dari sang ibu, yang selalu sesambat tentang penderitaannya. Hanya Wahyu yang selalu dikirimi pesan ataupun ditelpon, karena menurutnya Reihan tak mungkin bisa membantunya, walau ternyata sebenarnya Reihan punya uang sebanyak yang dibutuhkannya.

Walau begitu Wahyu tak pernah membalasnya. Kecuali dia sendiri memang tak mampu, ia juga ingin memberi pelajaran kepada ibunya, karena apa yang dilakukan ibunya dianggapnya sangat keterlaluan. Main judi, tak pernah terbayangkan oleh Wahyu bahwa sang ibu mampu melakukannya. Ia kesal, dan juga sangat marah, tapi dia juga sedih.

Pernah suatu hari Reihan mengingatkannya, tapi Wahyu menguatkan hatinya untuk tidak terpengaruh oleh rengekan sang adik yang hatinya lebih lembut dari dirinya sendiri.

“Mas biarkan ibu masuk penjara? Bukan hanya itu, ibu pasti juga akan dipecat dari sekolah karena perbuatannya yang bukan hanya merugikan sekolah dalam hal uang, tapi juga mencoreng nama baik sekolah dengan kelakuannya yang tidak terpuji.”

“Kamu sudah tahu bukan, kalau itulah yang akan terjadi nanti? Mas bukannya tega, tapi Mas ingin membuat efek jera bagi ibu. Biarlah ibu tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang akhirnya membuatnya menderita.”

Merinding Reihan membayangkan sang ibu mendekam dalam sebuah bilik kecil, mungkin juga pengap dan kotor, dan tidak cukup hanya sehari dua hari. Mungkin bisa berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Tapi ia tak bisa melawan kehendak sang kakak. Wahyu yang lebih tegar bermaksud memberi pelajaran bagi sang ibu, walau sebenarnya dalam hati ia juga merasa miris dan sakit.

Pada suatu hari, ketika sebuah dering terdengar, Wahyu terpaksa mengangkatnya. Ia ingin tahu perkembangan kasus sang ibu. Apakah ada yang menolongnya?

“Wahyu, kamu sungguh tega pada ibu,” ternyata sang ibu hanya kembali menangis.

“Besok pihak sekolah akan memeriksa keuangan kas, karena memang akan digunakan untuk pembangunan sekolah. Aku harus bagaimana, Wahyu?” lanjutnya.

“Apa yang bisa Wahyu lakukan? Uang Reihan yang ATM nya dipegang ibu masih ada kan?”

“Sudah habis, Wahyu.”

“Astaga. Ibu juga menghabiskan uang Reihan yang tidak seberapa itu.”

“Memang hanya sedikit, sepuluhan juta, sudah ibu pergunakan juga Wahyu. Ibu berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tolong ibu.”

“Wahyu tidak bisa melakukan apa-apa. Mobil Ibu masih ada kan, dijual saja kalau begitu.”

“Mobil itu juga sudah ibu jual, Wahyu.”

“Apaa?” kali ini Wahyu berteriak. Ia sedang ada di kantor ketika itu, dan teriakannya membuat orang yang kebetulan lewat di depan ruangan menoleh ke arah dalam, yang kebetulan pintu ruangannya adalah pintu kaca.

“Maaf Wahyu ….”

“Mohon maaflah kepada Allah, karena berjudi adalah perbuatan maksiat. Maaf Ibu, Wahyu sungguh-sungguh tidak bisa membantu.”

Wahyu kemudian menutup ponselnya, dan mematikannya, sehingga sang ibu tidak bisa lagi menghubunginya.

“Tidak makan di kantin?” sebuah sapa mengejutkannya, karena Wahyu memang sedang melamun. Tia tiba-tiba sudah berdiri di depannya.

“Oh, eh, iya. Sebentar lagi,” jawab Wahyu yang memang karena kegelisahannya maka ia tak merasa lapar sedikitpun.

“Sekarang saja, kan sudah waktunya istirahat. Ayuk, temani aku. Aku yang traktir.”

Bukan karena janji traktir itu yang kemudian membuat Wahyu kemudian bangkit, tapi karena tak bisa mencari alasan lain untuk tidak ingin makan siang saat itu, dan ia tak ingin menceritakaan perihal apa yang telah dilakukan ibunya.

***

Wahyu makan apa saja yang dipesan Tia, hanya karena untuk membuat Tia merasa senang.

“Kamu sedang memikirkan sesuatu? Masalah pekerjaan atau pribadi?”

“Ah, tidak apa-apa kok.”

“Wahyu, kalau masalah pekerjaan, aku akan membantu, tapi tidak untuk masalah pribadi.”

“Tidak apa-apa, Tia. Mungkin aku hanya merasa lelah.”

“Yang aku lihat, wajah kusam yang terlihat, bukan sekedar lelah secara fisik. Ada yang mengganggu perasaanmu? Bukan masalah pekerjaan bukan?”

“Bukan, sungguh aku tidak apa-apa.”

“Masalah ibumu?”

“Apa?”

“Aku membaca sebuah berita, sebuah sekolah kehilangan uang kas ratusan juta rupiah karena dipergunakan untuk berjudi online oleh seorang guru berinisial ‘W’. Aku pernah mendengar bu Wanda mengatakan di mana dia mengajar, dan kejadiannya di sekolah itu. Aku takut itu adalah ibu kamu. Semoga hanya inisialnya saja yang sama.”

“Ya Tuhan ….”

Wahyu mengusap wajahnya kasar. Berita itu ada di medsos? Dan ada yang mengenal ibunya? Apakah dia harus malu? Tentu saja, dia juga merasa sedih.

“Maaf Wahyu, aku hanya menyampaikan berita yang aku baca. Semoga bukan bu Wanda yang aku kenal.”

“Memang dia ibuku,” kata Wahyu yang tak mungkin bisa menutupinya lagi.

“Astagfirullah. Benarkah? Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Apa? Tidak ada.”

“Maksudmu, kamu biarkan ibumu masuk penjara?”

“Entahlah.”

“Wahyu, kalau kamu bisa mengembalikan uang itu, barangkali pihak sekolah bisa mencabut laporannya. Lakukan pendekatan dan_”

“Tidak, Tia. Biarkan saja. Lagi pula mana mungkin aku punya uang sebanyak itu?”

“Kamu bisa meminjam di bank dengan bantuan kantor_”

“Tidak usah.”

“Tidak?”

“Ibu sudah sering melakukan hal yang membuat aku malu. Kelakuannya tidak terkendali, dan susah diatur. Biarlah ini menjadi pelajaran buat ibuku.”

Tia menatap Wahyu dengan perasaan iba. Ia baru tahu bahwa Wahyu tidak seburuk ibunya. Wahyu punya tanggung jawab besar untuk menjadikan adiknya agar punya pendidikan tinggi, sehingga rela tidur di rumah kost yang sempit dan sederhana. Itu membuatnya kagum dan suka. Suka? Benarkah? Tia mengibaskan perasaan yang dulu pernah dirasakannya lalu kemudian tiba-tiba kembali muncul.

“Aku ikut prihatin, Wahyu, aku tidak bisa membantu, kecuali hanya saran, agar ibumu terbebas dari hukuman berat.”

“Terima kasih banyak. Aku jadi merasa rendah di hadapan kamu.”

“Mengapa kamu berkata begitu? Kamu tetap menjadi teman baikku, aku akan melupakan semuanya yang telah lalu. Sekarang habiskan makanan kamu. Jangan biarkan karena pikiran terganggu lalu kamu mengabaikan kesehatan kamu. Bukankah kamu adalah tulang punggung yang akan memikul tanggung jawab sebagai seorang kakak yang baik?”

“Terima kasih, Tia.”

 ***

Di hari dimana pihak sekolah mengurus masalah uang kas, Wanda tak bisa apa-apa. Ia sudah tak punya apapun untuk membayarnya, dan sang anak tak bisa membantunya. Pada akhirnya pihak sekolah melaporkannya kepada yang berwajib, sehingga Wanda akhirnya juga ditahan untuk menunggu proses hukum yang akan menanganinya.

Wahyu menutup telinga dan perasaannya mendengar hal itu. Tangis yang mengharu biru hanya ditahannya dalam hati sekuat ia bisa melakukannya.

Tapi pada suatu hari Reihan mendekatinya.

“Mas, sebenarnya aku menyisihkan uang seratusan juta di tabunganku.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

 

Saturday, April 12, 2025

ADA MAKNA 34

 ADA MAKNA  34

(Tien Kumalasari)

 

Bu Simah membersihkan kamar yang semula ditempati Guntur. Bukan apa-apa, hanya takut ada barang tertinggal yang mungkin milik dokter itu, dan berguna untuknya. Tapi tak ada apa-aoa yang tertinggal, kecuali tas hitam mirip koper yang terletak di luar pintu kamar. Tas yang harus diberikan kepada Reihan, putra sang dokter, ketika dia datang nanti.

Sambil terus menerus menyesali kepergian sang dokter, bu Simah menarik tas itu untuk dibawanya pulang. Beberapa hari lagi mungkin pemilik baru rumah itu akan datang, jadi tidak enak rasanya kalau tas itu masih teronggok di sana,

“Benar-benar meninggalkan tempat ini. Rasanya seperti mimpi,” gumamnya pilu.

Sebelum keluar dari rumah itu, ia menatap ke dalam, dimana ia sering melihat dokter Guntur duduk di ruang tengah sambil melamun, lalu ia datang mengejutkannya dengan membawa segelas wedang jahe hangat, yang disambut dengan senyuman olehnya. Tapi sungguh, tatapan yang menyimpan seribu duka itu tak pernah berhasil disembunyikannya, dari mata tua bu Simah.

Sekarang ruangan itu terasa lengang. Tak ada kehidupan di sana. Bu Simah segera menutup pintunya, lalu menarik tas yang berisi uang entah berapa banyaknya, menuju rumah.

Sudah dua hari Guntur meninggalkan rumah itu, dan bu Simah benar-benar merasa kehilangan.

Hari sudah siang ketika itu. Sedianya ia akan mengunduh nangka muda yang akan dibawanya ke pasar, tapi rasa malas menggayutinya. Ada beberapa butir masih tergantung, belum sempat diambilnya.

Bu Simah hanya duduk termangu di serambi rumah. Serambi yang sedianya akan dipakainya untuk ruang tunggu pasien seandainya Guntur mau praktek di rumahnya. Tapi ternyata Guntur menolaknya.

“Ke mana pak dokter pergi? Ia tak punya rumah, katanya juga tak punya saudara atau kerabat yang dekat dengannya,” gumam bu Simah sambil menyandarkan tubuh tuanya di tembok.

Tiba-tiba bu Simah melihat dua buah mobil berhenti di depan rumah Guntur, atau rumah yang tadinya milik Guntur.

Beberapa orang turun, ada yang pernah dikenal wajahnya walau tak begitu kenal orangnya karena melihat hanya sekilas. Tapi laki-laki muda tampan itu adalah anak Guntur, bu Simah mengingatnya. Hanya dia laki-laki muda yang pernah dilihatnya, bersama wanita cantik yang kata Guntur juga anaknya. Ada juga beberapa yang tidak dikenalnya. Mereka semua turun dari mobil, menuju ke arah rumah yang tertutup rapat. Bu Simah bergegas mendekati, dan dokter Dian menyapanya lebih dulu.

“Bu Simah, masih ingat saya?”

“Iya, tentu saja ingat. Ini kan dokter yang beberapa kali datang kemari ….”

“Dan selalu mendapat suguhan buah-buahan dari bu Simah kan?”

“Iya, hanya buah kebun dari kampung. Tapi maaf, ini kerabatnya pak dokter Guntur ya?”

“Ya, dan ini putra putrinya …”

Mereka saling mengenalkan diri, sebelum bertanya Guntur ada di mana. Lalu mereka terkejut mendengar kalau Guntur sudah tidak ada di rumah itu.

“Tidak ada?” kata mereka hampir bersamaan.

“Rumah ini sudah dijual. Sudah menjadi milik orang lain,” kata bu Simah dengan wajah sedih.

“Lalu … bapak pergi ke mana?” tanya Emmi.

“Silakan duduk dulu, Bapak Ibu, tidak enak bicara sambil berdiri. Masuklah ke rumah saya saja, karena ini sudah menjadi milik orang lain.

Maka setelah mereka duduk di rumah bu Simah dengan sedikit berdesakan karena bangkunya terbatas, bu Simah menceritakan perihal kepergian Guntur yang juga sangat membuatnya sedih.

“Apakah pak dokter tidak mengatakan kemana akan pergi?”

“Sama sekali tidak. Saya hanya dititipi …. sebentar, akan saya ambil,” kata bu Simah sambil masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar dengan membawa tas hitam yang kemudian diletakkannya di meja.

“Ini, pak dokter berpesan agar diberikan kepada mas Reihan, putra pak dokter,” kata bu Simah sambil menatap Reihan yang sejak tadi diam dengan wajah kuyu. Ia ingat pada mimpinya, dan mimpi itu sekarang menjadi nyata. Ayahnya pergi entah kemana.

“Ini isinya apa Bu?” tanya Reihan.

“Saya sih tidak tahu persis karena tidak pernah berani membukanya. Tapi pak dokter bilang, ini uang hasil penjualan rumah, yang diberikan kepada mas Reihan untuk biaya kuliah. Begitu katanya.”

Semuanya terpana. Reihan juga terkejut.

“Tadinya saya heran, mengapa pak dokter menjual rumah itu, tapi pak dokter bilang, ia harus membiayai anak laki-lakinya yang ingin menjadi dokter. Saya menangis mendengarnya. Setelah itu saya juga menawarkan rumah saya, agar pak dokter berpraktek di sini. Lihat, kamar itu sudah saya bersihkan, biar pak dokter tidur di situ, lalu disebelahnya bisa untuk berpraktek. Dan di sini, bisa untuk ruang tunggu pasien. Tapi pak dokter memilih pergi,” kata bu Simah yang akhirnya juga terisak isak.

“Pak dokter sudah seperti anak saya,” sambungnya sambil mengusap air matanya.

“Bu, saya berterima kasih sekali karena Ibu sudah menjaga dan menemani saudara saya, dan menganggapnya seperti keluarga,” kata Ardi, satu-satunya orang yang masih mampu berkata-kata.

“Saya melakukannya karena pak dokter juga baik kepada saya. Jangan pikirkan nak, kalau senggang, mampirlah kemari, dan memetik buah-buah dikebun ini,” kata bu Simah sambil mengusap air matanya.

“Rei, coba buka isinya,” kata Emmi yang sudah kenal dekat dengan adik tirinya, setelah bisa menenangkan hatinya.

Reihan meraih tas itu, yang ternyata tidak terkunci kecuali ruisleting yang membuatnya tertutup. Ada sebuah kardus yang kemudian diambil Reihan, diletakkan di meja.

Kardus itu ditutup lak ban, yang kemudian dibukanya. Reihan terpana. Benar-benar uang. Dan sangat banyak. Ada sebuah amplop terletak di atas tumpukan uang itu, yang segera dibuka isinya.

Reihan membacanya, agak keras, agar bisa didengar oleh yang lain.

“Assalamu’alaikum, Reihan, anakku.

Kalau surat ini sudah ada di tanganmu, barangkali bapak sudah berada jauh dari sini. Bapak bukan melarikan diri, bukan pula bersembunyi. Bapak hanya ingin pergi jauh untuk menenangkan diri. Kamu atau siapapun, tak usah mencari. Anggap saja bapak sudah tak ada lagi di dunia ini. Bapak yang tak punya arti ini ingin melakukan sesuatu untuk kamu, Rei. Bapak yang gagal menjadikan anak-anak bapak karena ketidak mampuan, melalui kamu, bapak ingin punya makna. Bapak berikan yang bapak punya untuk kamu, jadilah orang seperti yang kamu inginkan. Buat bapakmu ini ada artinya dalam hidup kamu.

Selamat tinggal Rei, selamat berjuang dan meraih apa yang kamu cita-citakan. Tapi sebelum bapak akhiri surat ini, ada lagi satu yang ingin bapak sampaikan, bahwa bapak mencintai kalian. Emmi, Emma dan kamu, Reihan. Ada darah bapak mengalir di tubuh kalian, ada semangat dalam darah itu, jangan sampai terkubur walau bapakmu sudah tak ada lagi. Janganlah kepergian ini kalian tangisi, karena ada cinta bapak yang selalu ada pada kalian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Dari bapak yang tak berharga.”

 

Air mata meleleh dari semua yang mendengar Reihan membaca surat itu, walau  dengan suara bergetar, yang kemudian dengan lemas mendekap surat itu didadanya, lalu mengalir jugalah air matanya.

Sang ayah pergi, bukan meninggal, tapi anak-anak mereka merasa kehilangan. Di mana ayah Guntur berada?

Emmi, Emma dan Reihan berangkulan sambil menangis. Ardi dan Kinanti serta dokter Dian tak bisa menyembunyikan rasa haru dan sedihnya melihat keadaan mereka.

***

Dalam perjalanan pulang, Reihan yang semobil dengan Emmi dan Emma menyerahkan bungkusan uang itu kepada Emmi.

“Mbak, ini uang dari bapak, selayaknya mbak Emmi dan mbak Emma juga ikut memiliki. Aku tidak berani menerimanya.”

“Apa kamu bilang Rei, jelas-jelas uang itu untuk kamu, mana mungkin kamu berikan kepada kami?” kata Emmi.

“Tapi anak bapak ada tiga, bukan hanya aku.”

“Rei, ini uang untuk biaya kuliah kamu, bukan warisan. Jadi pakai saja untuk kamu. Kami tidak membutuhkannya, karena masalah kuliah aku, sudah ada bapak Ardi yang membiayainya, dan mbak Emmi sudah punya suami, jadi pakai saja uang itu untuk biaya kuliah kamu,” sambung Emma.

Reihan terdiam. Uang itu sangat banyak, ratusan juta rupiah.

“Reihan, depositokan saja uang itu, kamu bisa mempergunakan bunganya untuk keperluan kamu. Jangan memikirkan Emmi dan Emma, karena benar kata Emma tadi, uang itu bukan warisan tapi biaya kuliah kamu,” sambung dokter Dian.

“Bagus sekali usul mas Dian, depositokan saja. Tapi terserah kamu, mana yang terbaik. Barangkali mas Wahyu bisa mengajukan pendapatnya nanti, jadi bicarakan juga dengan mas Wahyu,” kata Emmi lagi.

Reihan terdiam. Sungguh uang itu bukan membuatnya bahagia, karena sang ayah pergi, sementara belum lama ia menemukannya. Tapi ia tahu, ada semangat dan harapan sang ayah terselip di setiap lembarnya.

“Dengan uang itu, kamu tahu seberapa besar harapan ayahmu agar kamu berhasil mencapai cita-cita kamu, jadi belajar sebaik mungkin. Siapa tahu pada suatu hari nanti kamu bisa ketemu ayahmu dan menunjukkan keberhasilan kamu. Bayangkanlah, betapa akan bangganya beliau,” kata dokter Dian memberi semangat.

“Tuh, Rei … semangat ya. Kita semua kehilangan, tapi kan sebenarnya bapak masih ada? Aku berharap pada suatu hari nanti bisa bertemu lagi, yang semoga bapak dalam keadaan baik-baik saja, sehat tak kurang suatu apa,” kata Emmi yang tentu saja sebenarnya juga merasa sedih. Suara lantang sang ayah ketika menikahkannya kembali terngiang. Suara yang tegas, dan menggema ke setiap sudut ruangan. Suara seorang ayah yang mengentaskan anak gadisnya ke dalam kehidupan berumah tangga. Begitu keras, begitu tandas, seakan seluruh kekuatannya ditumpahkan dalam momen itu, membuat hati semua yang mendengar ikut bergetar.

“Aamiin,” kata mereka bersama-sama menyambut doa dan harapan yang diucapkan Emmi.

***

Wahyu merasa terharu atas pengorbanan ayah Guntur yang rela pergi setelah menjual rumahnya.

“Ini pengorbanan bapak Rei, kamu harus menghargainya dengan mewujudkan apa yang menjadi harapannya,” kata Wahyu.

Reihan mengangguk.

“Besok aku antarkan kamu ke bank. Benar seperti usulan suami Emmi, sebaiknya didepositokan saja.”

“Baiklah Mas, jadi aku hanya akan mengambil bunganya saja untuk kebutuhan aku sendiri, terutama yang berhubungan dengan kuliah aku.”

“Ya sudah, sekarang istirahatlah, kamu pasti capek.”

“Benar kan Mas, seperti mimpiku kemarin itu, seperti sebuah firasat bukan?”

“Kamu masih mengingat mimpi itu lagi sih Rei, kebetulan saja mimpi itu berhubungan dengan kenyataannya, tapi anggap saja itu kebetulan. Mimpi itu bunga tidur, jangan pernah terusik oleh mimpi.”

“Iya.”

“Tidurlah, besok sebelum ke kantor aku antar kamu ke bank lagi saja. Kamu juga bisa membuka rekening baru untuk kamu pergunakan, yang dulu itu biarkan saja dibawa ibu, atau barangkali malah sudah habis dipergunakan entah apa,” kata Wahyu.

Tapi belum sempat keduanya membaringkan tubuhnya, ponsel Wahyu berdering.

“Dari ibu, mengapa malam-malam menelpon, padahal kemarin aku baru mengiriminya uang bulanan,” gumam Wahyu sambil membuka ponselnya.

“Wahyu… kamu sudah tidur?”

“Hampir tidur Bu.”

“Tolong ibu, Wahyu, ibu ada masalah besar.”

“Masalah apa Bu?”

“Aku memakai uang kas sekolah, minggu depan mau dipergunakan untuk perbaikan. Tolong Wahyu.”

“Mengapa ibu melakukannya? Apa ibu kekurangan uang? Gaji ibu dan kiriman dari Wahyu, apa tidak cukup?”

“Aku terlibat judi online, terpaksa memakai uang kas sekolah. Banyak Wahyu, seratus juta lebih.”

“Apa?”

"Tolonglah, kalau tidak bisa mengembalikan, ibu bisa masuk penjara."

***

Besok lagi ya.

Friday, April 11, 2025

ADA MAKNA 33

 ADA MAKNA  33

(Tien Kumalasari)

 

Bu Simah mana tahu kertas seperti kwitansi yang bisa di jadikan uang? Seperti apa nanti cara menjadikannya? Dijual, begitu. Mana laku kertas selembar kecil dijual? Ia masih melongo sambil menatap Guntur yang kemudian menyimpan kertas yang seperti kwitansi itu.

“Dokter, orang itu tidak menipu bukan?”

“Tidak Bu, ini bisa diuangkan. Tapi kita harus pergi ke bank. Kalaupun dia menipu, bagaimana cara menipunya? Dia belum menempati rumah ini. Harusnya juga dia meminta tanda terima. Tapi itu nggak masalah. Besok mau kemari kan?”

“Iya, katanya begitu.”

“Saya sudah memintanya, kalau dia mau memberikan tanda jadi, bisa diberikan kepada bu Simah. Itu saya yang meminta, karena saya percaya kepada bu Simah.”

“Tadinya saya juga heran, kok mau memberi uang atas pesan pak dokter, tapi kok yang diberikan malah kertas kwitansi. Sampai dia pergi kan saya masih bertanya-tanya. Makanya saya menunggu pak dokter di sini, takut dia itu orang yang mau menipu.”

“Tidak Bu, sekarang bu Simah boleh pulang, saya juga mau beristirahat.”

“Baik Dokter. Istirahatlah, Dokter kelihatan sangat lelah,” kata bu Simah sambil bangkit, lalu keluar dari pintu samping.

“Pak Dokter, pintunya dikunci dulu,” pesan bu Simah sambil keluar.

Guntur menuju ke pintu samping, menguncinya kemudian langsung membaringkan tubuhnya setelah melepas jas dan pecinya. Ia sudah merasa sangat lelah, sehingga berjalan ke kamar mandipun rasanya enggan.

***

Emmi keluar dari kamarnya, untuk menemui sang ayah, yang waktu itu sedang duduk di ruang tengah bersama ibunya.

“Kok pengantin baru keluar sendiri, mana suaminya?” ledek sang ayah, membuat Emmi tersipu.

“Masih di kamar, Emmi ingin bertanya pada Bapak, kok dari semalam nggak melihat ayah Guntur ya? Kalau masih ada di hotel, Emmi mau ke sana sama mas Dian.”

Ardi saling pandang dengan Kinanti. Mereka menyembunyikan kepergian Guntur karena tak ingin mengganggu kebahagiaan Emmi dan Dian.

“Masih di hotel?” ulang Emmi.

“Bapak sudah pulang,” sela Emma yang juga ikut duduk di sana.

“Pulang? Kok aku nggak tahu?” kata Emmi dengan nada kecewa.

“Begini, ayah Guntur kemarin mungkin karena kelelahan, setelah ijab qobul, langsung pulang.”

“Setelah ijab qobul?”

“Pulang dengan siapa?”

“Sendiri.”

“Ya Allah. Jangan-jangan bapak sakit. Waktu Emmi ke sana sama Reihan, badan bapak terasa panas. Tapi kata bapak itu sudah biasa.”

“Mungkin ayah Guntur menyembunyikan sakitnya. Nanti kalau sudah istirahat, kita ramai-ramai ke sana,” kata Ardi.

“Aku sama Reihan mau ke sana duluan ya Pak,” rengek Emma.

“Jangan sekarang. Nanti kalau capek kita sudah hilang, kita ke sana beramai-ramai.”

“Tapi Reihan mau ikut.”

“Nggak apa-apa Reihan ikut. Barangkali ayah Guntur lebih senang kalau kita datang beramai-ramai.”

“Kalau begitu Emma ngabarin Reihan dulu.”

“Semalam Reihan tidur di hotel, kalau nggak salah dia mengajak kakaknya. Barangkali Reihan takut kepikiran tentang ayah Guntur, karena sedianya kan ayah Guntur tidur di hotel sama dia.” kata Ardi.

“Kenapa ya bapak?” gumam Emmi sambil berlalu. Tampak sekali dia mengkhawatirkan ayah Guntur.

Kinanti tak berkomentar. Ia tampak juga merasa iba, tapi tak mampu mengeluarkan suara. Bagaimanapun ia adalah ayah dari kedua anaknya. Walau baru tahun ketiga kemudian mereka sudah berpisah, tapi kenangan saat mereka bersama masih tersisa. Hidup yang dilalui Guntur yang ternyata penuh derita, menimbulkan perasaan miris dan tentu saja iba. Tak elok rasanya kalau dia mensyukuri penderitaan bekas suaminya itu. Ia sudah memaafkannya dan berharap Guntur bisa menerima apa yang sekarang dirasakannya.

Apakah derita yang dirasakannya adalah penebusan dosa atas semua yang dilakukannya? Tidak harus begitu. Kinanti adalah manusia biasa. Ia tak berhak memvonis dosa manusia. Barangkali juga dia ikut berperan dalam perpisahan itu, entahlah. Semuanya serba tak terduga. Suasana memanas sudah pasti ada. Kalau saja … kalau saja … Tak ada kalau saja, hari-hari sudah berlalu, tak mungkin semuanya diulang kembali. Semuanya sudah terjadi, dan Kinanti merasa, ini adalah garis hidup mereka.

“Bapak, Reihan setuju menunggu Bapak, dia mau ikut bersama kita,” kata Emma yang rupanya sudah bicara dengan Reihan.

“Baiklah. Bapak akan mencari waktu luang Minggu depan. Kita ikut semua? Ibu juga ikut?” tanya Ardi kemudian kepada istrinya.

“Entahlah, aku harus melihat jadwal di hari kapan kalian mau pergi,” kata Kinanti yang sebenarnya masih harus menata batinnya kalau harus ketemu Guntur, walau sebenarnya dia juga ingin ikut.

“Mengapa juga aku harus seperti ketakutan kalau harus bertemu dia? Sudah puluhan tahun berlalu, aku harus bisa melupakan kejadian itu,” kata batin Kinanti walau ia belum memutuskannya.

***

Pembeli itu kelihatannya memang orang berada. Ia tertarik lokasi rumahnya, tapi tampaknya ingin merenovasi seutuhnya untuk menjadi peristirahatannya yang dianggapnya akan lebih menenangkan. Dia bilang akan menempati rumah itu nanti, hanya bersama istrinya.

Guntur merasa senang ketika transaksi jual beli itu selesai. Tapi ia minta beberapa hari untuk bebenah.

Bu Simah sibuk merayu Guntur agar mau tinggal di rumahnya, tapi Guntur hanya menanggapinya sambil tertawa.

“Bu Simah, saya sangat berterima kasih atas kebaikan Ibu, tapi saya tidak mungkin bisa merepotkan ibu terus menerus. Jadi biarkanlah saya pergi.”

“Jangan Dokter. Saya sudah menyiapkan kamar untuk Dokter. Ada serambi yang walau tidak begitu luas, untuk menjadi ruang praktek Dokter, sekaligus ruang tunggu.”

“Bu Simah, bukankah ada pertemuan juga ada perpisahan?”

“Dokter selalu mengucapkan itu, saya tidak suka,” rengek bu Simah, mirip rengekan anak kecil. Guntur menepuk-nepuk bahunya, yang justru membuat bu Simah berlinangan air mata.

“Jangan menangis Bu, kalau masih ada waktu, saya akan datang kemari menengok Ibu.”

“Mengapa harus pergi pak Dokter?”

“Kepergian bukanlah sebuah perpisahan. Walau tidak pergi, perpisahan itu tetap akan ada,” kata Guntur pelan.

“Apa maksud Dokter?”

“Bu, dengarkan saya. Saya minta tolong pada Ibu. Ada tas berwarna hitam yang mirip koper, tolong nanti kalau anak laki-laki saya datang, Ibu berikan tas itu pada dia. Terus terang, itu adalah uang hasil  penjualan rumah ini, yang akan saya berikan untuk anak saya. Saya ingin dalam hidup saya ini, bisa melakukan sesuatu yang berarti,” kata Guntur dengan suara tersekat di tenggorokan.

“Tolong Ibu bantu saya,” lanjutnya pelan.

“Mengapa, pak Dokter mempercayakan uang sebanyak itu pada saya? Mengapa pak Dokter tidak memanggilnya saja untuk memberikannya sendiri pada dia?”

“Saya harus segera pergi, dan saya tidak tahu kapan anak saya Reihan bisa datang kemari. Tolong ya Bu.”

“Uang sebanyak itu, tidak takut saya melarikannya, atau mengurangi jumlahnya? Saya kan orang miskin.”

“Bukan. Bu Simah orang kaya. Sangat kaya. Bukan masalah harta, tapi jiwa dan nuraninya. Bu Simah seperti pengganti ibu saya. Bu Simah sangat tulus dan mulia, saya tidak percaya bu Simah akan melakukan hal buruk dan tercela.”

“Jadi, pak dokter sungguh-sungguh akan pergi?”

“Maafkan saya, bu Simah,” kata Guntur sambil memeluk bu Simah, bagai pelukan seorang anak kepada ibunya. Tangis bu Simah tak terbendung. Ia tahu, hidup sang dokter tidak bahagia. Ia tahu, yang dipendam dalam hati dokter itu, adalah sebuah penderitaan. Ia tak berani menanyakannya. Ia hanya tahu, tapi apa yang bisa diperbuatnya? Canda yang terkadang terjadi diantara mereka, tak mampu menciptakan binar-binar cerah pada wajahnya yang kuyup oleh papa.

Bu Simah tak berdaya. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah tetangga baik yang karena kebaikan sang dokter juga, lalu menjadi seperti keluarga.

***

Pagi-pagi sekali, ketika bu Simah terbangun, ia segera membuatkan wedang jahe kesukaan sang dokter. Tertatih karena udara masih remang, ia berjalan ke arah rumah sang dokter. Pintu belakang masih terkunci. Bu Simah berjalan memutar lewat pintu depan. Ia heran, kunci rumah tergantung di lobang kunci. Bu Simah memutar kunci, dan berhasil membukanya.

Agak gelap di ruangan itu, bu Simah meletakkan nampan berisi wedang jahe, lalu memutar kenop lampu. Penerangan di ruangan itu menampakkan pemandangan yang aneh. Tas hitam yang kemarin dikatakan Guntur agar diberikan kepada Reihan anak laki-lakinya, terletak di depan kamar. Perasaan bu Simah menjadi tak enak. Ia mendorong pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Ia berharap dokter yang dikaguminya itu masih tertidur. Lampu kamar masih menyala terang, sehingga ia melihat tempat tidur itu kosong dan tampak rapi.

“Dokter … Dokter …” bu Simah memanggil-manggil, tapi tak ada sahutan.

Ia membuka almari dan melihat almari itu kosong.

“Dokteeeer,” bu Simah ambruk di lantai. Ia yakin sang dokter telah pergi. Rasa nyeri membuat dadanya sesak oleh tangis yang tak bisa ditahannya.

“Setidaknya minumlah dulu wedang jahe yang saya buat, pak Dokter. Lihatlah, masih panas, pasti menyegarkan. Ia akan menghangatkan tubuh. Dokter juga bilang kalau jahe bisa melancarkan peredaran darah. Dokter bilang bahwa banyak khasiat di dalam empu jahe itu. Harusnya Dokter minum dulu, mengapa pergi begitu saja?” rintih bu Simah dalam tangisnya. Dan itulah yang sebenarnya ditakutkan Guntur. Ketika dia berpamit, ia akan melihat bu Simah menangis, lalu tangis itu pasti akan menghambat langkahnya untuk pergi. Ia tak ingin bertemu siapa-siapa lagi, yang hanya akan menggores luka menjadi semakin berdarah-darah. Ia tahu bahwa keluarga Ardi pasti akan mencarinya, terutama Emmi dan Emma, jadi lebih baik ia segera pergi. Ia yakin akan ada Ardi dan pastinya Kinanti.

***

Malam hari itu Reihan tidur dengan gelisah. Tempat tidur susun yang memang dibuat Wahyu agar ia bisa sekamar dengan Reihan, bergoyang tak henti-hentinya.

Wahyu yang tidur di bawah tak bisa tidur karenanya.

“Rei … kamu itu tidur apa olah raga?” teriak Wahyu gemas.

“Aku mimpi buruk Mas, aku turun saja … “

“Mimpi buruk apa?”

Reihan turun lalu menggelar tikar yang memang disediakan di kamar itu, kemudian merebahkan tubuhnya di sana.

“Mimpi apa?”

“Buruk, aku nggak bisa tidur.”

“Mimpi itu kan bunga tidur?”

“Ini bukan sekedar mimpi. Seperti sebuah firasat buruk.”

“Kamu percaya bahwa mimpi adalah firasat?”

“Tak pernah senyata ini.”

“Ada-ada saja. Mimpi apa sih? Ketemu gadis cantik, kamu jatuh cinta tapi dia ogah?” canda Wahyu.

“Bukan gadis, tapi bapak.”

“Bapak kenapa?”

“Bapak tiba-tiba pergi, aku panggil tapi tak mau kembali.”

“Ya ampun. Itu karena kamu masih kebawa perasaan ketika bapak tidak mau tidur di hotel setelah menikahkan Emmi. Mengapa kamu memikirkannya terus? Bukankah kamu mau menemui bapak nanti bersama keluarga Emmi?”

“Iya sih, tapi aku ingin secepatnya ketemu bapak. Karena mimpi itu.”

“Jangan mengada-ada.”

“Kalau keluarga mbak Emmi belum pasti kapan akan pergi ke sana, aku mau berangkat sendiri.”

“Rei, jangan karena mimpi lalu kamu terburu-buru. Kamu bilang menuju ke rumah bapak itu jalannya susah, bukankah lebih baik kamu menunggu mereka?”

“Masalah jalan itu kan gampang. Sekarang cari kendaraan juga gampang. Besok aku mau menelpon mbak Emma.”

“Ya sudah, sekarang tidurlah. Balik ke atas, tidur di lantai dingin, nanti kamu masuk angin.”

“Nanti Mas marah, mengatai aku olah raga.”

“Tenangkan pikiran dan tidur, pasti tidak membuat kamu gelisah dalam tidur kamu.”

***

Tapi ketika pagi hari Reihan menelpon, Emma mengatakan bahwa esok paginya mereka akan berangkat, dengan dua mobil.

Reihan merasa lega.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, April 10, 2025

ADA MAKNA 32

 ADA MAKNA  32

(Tien Kumalasari)

 

Ketika melewati Emma, dia berpesan agar hal ini tidak usah disampaikan kepada Emmi, kakaknya. Ia juga berpesan demikian kepada Kinanti. Kemudian Ardi langsung ke arah mobil dan mengemudikannya sendiri, keluar dari halaman.

Emma menatapnya bingung.

“Dia bilang apa?” tanya Kinanti sambil duduk di samping Emma.

“Tidak mengatakan apa-apa. Dia merangkul Emma erat sekali, agak lama, kemudian meraih tangan Reihan, mengajaknya keluar.”

“Kamu tidak menghentikannya?”

“Emma bingung harus bertanya apa. Menurut Emma, dia kelelahan dan ingin istirahat di hotel. Sungguh ayah Guntur kelihatan sangat lelah.”

“Ia dalam keadaan sakit,” kata Kinanti yang diam-diam merasa iba.

“Emma akan menelpon Reihan ya Bu, menanyakan mereka berada di mana.”

“Oh iya, kenapa tidak terpikirkan dari tadi. Segera kabari bapak setelah kamu tahu keberadaannya."

Emma mengangguk, lalu memutar nomor kontak Reihan. Kinanti masih duduk di dekatnya, menunggu.

“Nggak nyambung. Ponselnya mati.”

“Waduuh.”

“Semoga bapak menemukannya di hotel.”

Kinanti mengangguk. Lalu ia masuk ke dalam rumah, Emma mengikutinya.

“Pengantin harus segera pergi ke gedung pertemuan untuk dirias, kamu juga Emma. Sekalian saja berangkat bersama kakakmu.”

“Bagaimana dengan ibu?”

“Ibu menunggu bapakmu saja, nanti segera menyusul.”

“Padahal Reihan juga harus segera berdandan.”

“Kalau nanti ketemu, bapakmu pasti sudah memberi tahu.”

Emma mengangguk.

“Jangan lupa pesan bapak, tak usah bicara apapun pada kakakmu tentang ayah Guntur.”

“Iya, Emma mengerti.”

Ardi berharap, kepergian Guntur tidak mengganggu konsentrasi Emmi yang akan menjadi ratu dan raja sehari malam itu. Ini adalah malam kebahagiaannya. Jangan sampai kepergian ayah Guntur menodai kebahagiaan itu.

***

Ardi sampai di hotel, di mana dia sudah memesan kamar untuk Guntur, yang atas permintaannya ingin ditemani Reihan.

Ia bergegas menuju kamar itu. Ketika mengetuk pintu, Ardi merasa lega karena mendengar langkah dari dalam. Reihanlah yang membukakan pintunya. Ardi menerobos masuk.

“Mana ayah Guntur?”

“Bapak sudah pergi,” kata Reihan pelan.

“Pergi? Ke mana?”

“Bapak tiba-tiba sudah memesan taksi, lalu begitu taksi datang, bapak pergi.”

“Kamu tidak menanyakan ke mana perginya?”

“Bapak bilang mau pulang. Saya tidak bisa mencegahnya,” kata Reihan sedih.

“Pulang? Jadi dia tidak akan datang di resepsi nanti?”

“Pastinya tidak. Sebenarnya bapak seperti orang sakit. Tapi ketika saya menanyakannya, katanya tidak apa-apa. Bapak bilang ada urusan, begitu. Saya ingin mengantarnya tadi, tapi bapak melarang, karena nanti saya harus menjadi pendamping pengantin.”

“Bagaimana Guntur ini. Diajak menikmati kebahagiaan anaknya, kok seperti enggan begitu.”

“Saya juga sedih melihat bapak. Sepertinya kurang bersemangat. Hanya ketika ijab qobul tadi, bapak bersuara lantang. Tapi setelahnya, seperti tidak punya semangat. Saya yakin bapak sakit.”

“Ya sudah, barangkali bapakmu ingin bisa beristirahat dengan tenang di rumahnya sendiri, bukan di hotel ini.”

Reihan mengangguk.

“Kamu mau ke gedung pertemuan sekarang? Kalau ya, ayo bareng aku sekalian.”

“Tapi saya belum mandi.”

“Mandi di rumah saja, nanti berangkat bareng-bareng, karena semua yang bertugas akan dandan di gedung.”

“Saya menyusul saja. Saya mandi dulu di sini.”

“Baiklah, terserah kamu saja kalau begitu.”

Tapi sebelum pulang ia meminta Reihan agar menelpon ayahnya.

“Tadi saya sudah mencoba menelpon, tapi tidak bisa. Nanti saya akan menelpon lagi. Setidaknya saya bisa mengetahui keadaan bapak bagaimana. Sekarang ponsel saya mati. Akan saya cas dulu."

“Anak baik. Ya sudah, kabari aku atau Emma kalau kamu bisa terhubung dengannya.”

“Baik.”

Reihan mengantarkan Ardi sampai ke depan, lalu kembali ke kamar. Ia ingin menelpon sang ayah lagi, menunggu ponselnya selesai di cas. 

“Sebenarnya bapak tuh pulang karena enggan bertemu keluarga mbak Emmi, atau karena sakit. Tiba-tiba aku kok merasa sedih begini. Aku berharap bisa bersama bapak menyaksikan hari bahagia mbak Emmi, tapi tidak kesampaian. Nanti malam aku juga harus tidur di hotel ini kan? Sedianya menginap bersama bapak, tapi  karena bapak pulang, jadinya aku sendirian,” gumamnya sambil menuju ke kamar mandi.

***

Sesampai di gedung pertemuan, sambil menunggu yang mendandani, Emma mendekati Reihan untuk menanyakan keberadaan ayahnya.

“Mengapa tiba-tiba bapak pulang, tidak menunggu selesai acara resepsi?”

“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Tapi menurutku, bapak sebenarnya sakit.”

“Tadi kelihatan gagah.”

“Bapak menahannya. Mungkin tak ingin tampak seperti orang sakit.”

“Kasihan Bapak. Nanti setelah selesai, aku akan minta bapak agar mengantarkan ke rumah ayah Guntur. Aku belum begitu dekat dengan ayahku.”

“Nanti bareng sama aku, aku juga mau kesana setelah selesai semuanya,” kata Reihan bersemangat.

“Bener ya. Kalau bapak mau mengantar, baguslah. Kalau tidak, aku mau minta agar sopir mengantarkan kita. Tapi bapak berpesan agar mbak Emmi tidak usah diberi tahu tentang kepulangan ayah Guntur. Nanti merusak suasana bahagianya.”

“Iya, aku mengerti. Kalau toh akhirnya tahu, acaranya kan sudah selesai.”

***

Bukan hanya Emma dan Reihan yang bertanya tentang Guntur, Kinanti dan Ardi juga bertanya-tanya. Hanya saja karena Reihan berkata bahwa ayahnya seperti kelihatan sakit, keduanya mengira bahwa Guntur pulang karena merasa sakit.

“Mengapa dia tidak bilang saja sama bapak kalau memang perlu diantar pulang, sehingga tidak membuat bingung semua orang,” keluh Kinanti.

“Tentu saja dia tidak mengatakannya. Orang seperti Guntur memiliki rasa tinggi hati, jadi tidak mau menyusahkan orang lain.”

“Semoga dia baik-baik saja.”

“Tadi Bapak menelponnya? Reihan yang menelponnya, aku tidak tahu nomor kontaknya yang baru. Dia kan ganti-ganti nomor.”

“Tersambung?”

“Tidak, dan kelihatannya sampai sekarangpun tidak, buktinya Reihan tidak mengabari aku. Guntur itu kan punya sifat keras kepala dan agak tinggi hati.”

“Iya, aku tahu.”

“Ya sudah, nanti kalau semuanya sudah selesai kita cari kabar tentang dia.”

“Maksud Bapak itu baik, supaya dia bisa ikut merasakan kebahagiaan ketika anak gadisnya menikah, ternyata semuanya sia-sia. Dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut menikmati kebahagiaan itu.”

”Kelihatannya dia malah dekat dengan Reihan.”

“Apa Bapak tahu apa sebabnya?”

“Mungkin begini. Dia merasa, Emmi ataupun Emma itu tidak membutuhkan dia karena semua kebutuhannya sudah tercukupi. Mereka menjadi besar, dewasa, memiliki pendidikan tinggi, bukan dia yang melakukannya. Sedangkan untuk Reihan, dia bisa memberinya banyak. Menurut Emmi, Reihan mendapatkan biaya masuk kuliah dari ayahnya, dan itu membuat Guntur merasa dibutuhkan oleh Reihan. Hanya Reihan yang membutuhkan dia. Sedangkan Emmi dan Emma tidak. Ibu bisa mengerti?”

“Itu pula sebabnya, ketika Bapak ingin membantu pendidikan Reihan, maka dia marah sekali. Marah kepada Emmi yang menyampaikan keinginan Bapak itu, karena merasa tak dihargai.”

“Baguslah. Sekarang kita mengerti apa yang sebenarnya dipikirkannya, apa yang sebenarnya membuat dia menjadi seperti itu.”

Pembicaraan itu berhenti ketika perias selesai dengan tugas merias gadis-gadis pagar ayu yang ikut memeriahkan acara, lalu meminta kepada Kinanti dan besannya, agar segera masuk ke kamar rias.

***

Seperti pengantin-pengantin pada umumnya, aroma bahagia memenuhi seluruh suasana resepsi yang hingar bingar itu. Kedua mempelai yang cantik dan tampan bak puteri dan pangeran dari negeri Antah Berantah selalu menebarkan senyuman kepada siapapun yang menyalaminya. Emmi juga tersenyum senang ketika melihat Wahyu mendekat kemudian menyalami dirinya dan suami. Dokter Dian tentu saja ingat ketika hampir berantem dengan Wahyu gara-gara Wahyu menangkap tubuh Emmi yang nyaris jatuh karena tersandung batu. Tapi di hari bahagia itu, karena Wahyu menyalami dengan tulus, rasa kesal itu telah hilang begitu saja. Senyumnya merekah ketika Wahyu menjabat tangannya, yang dibalasnya dengan jabatan yang lebih erat.

Ketika kembali duduk, Wahyu mendekati Reihan yang masih berpakaian Jawa dan duduk di barisan depan.

“Kamu ganteng sekali lhoh,” pujinya sambil menatap adiknya lekat-lekat.

Reihan tersenyum.

“Benarkah?”

“Sejak tadi gadis-gadis pagar ayu itu menatapmu sambil berbisik-bisik.”

Reihan tertawa pelan.

“Ternyata Mas bisa datang, katanya ada acara di kantor.”

“Sudah selesai tadi sore. Sedianya ingin menghadiri acara nikah, tapi acara di kantor belum selesai. Ini tadi juga aku kan datang terlambat.”

“Nanti tidur di hotel sama aku ya Mas,” kata Reihan kemudian.

Sesungguhnya Reihan masih kepikiran tentang kepergian sang ayah. Kalau dia harus tidur sendirian, rasanya pasti tak enak. Kalau dia pulang ke rumah kost kakaknya, pasti Ardi akan menegurnya, karena kamar hotel sudah dibayar. Sayang kalau tidak dipergunakan. Karena itulah ia mengajak kakaknya.

“Kenapa? Bukankah kamu bilang akan tidur di hotel bersama bapak?”

“Bapak sudah pulang.”

“Pulang? Maksudnya … pulang ke rumahnya?”

“Iya. Selesai menikahkan mbak Emmi, bapak kembali ke hotel sebentar untuk mengambil baju, lalu sudah memesan taksi dan pulang.”

“Mengapa?”

“Kelihatannya bapak sakit, tapi entahlah, besok aku mau ke rumahnya.”

“Sakit?”

“Bapak itu kan sakit-sakitan. Dulu ketika dirawat lalu Rei bisa ketemu bapak, bapak mengatakan bahwa sakit lever dan agak parah.”

“Kasihan, barangkali kecapekan.”

“Semoga bapak baik-baik saja. Itu sebabnya aku mengajak Mas tidur di hotel, kalau aku sendirian, aku pasti merasa sedih, kepikiran bapak terus.”

“Ya sudah, nggak apa-apa, nanti aku temani. Sekali-sekali tidak tidur berdesakan di kamar sempit,” candanya.

“Kok ngobrol di sini sih?”

“Mbak Emma, kenalkan, ini mas Wahyu, kakak aku.”

Wahyu menatap gadis berkebaya dan bergelung ala puteri itu tak berkedip. Sungguh dia mirip Emmi. Ia tersadar ketika Emma mengulurkan tangannya.

“Aku Emma, kita sama-sama kakaknya Reihan kan?”

“Iya, aku Wahyu, kakaknya Reihan.”

“Dunia terkadang lucu. Saudara sendiri, terkadang tidak disadari, seperti ketika aku ketemu Reihan,” kata Emma ramah.

Wahyu terpana menatapnya. Bibir tipis yang bergerak-gerak saat bicara itu tampak sangat menggemaskan.

“Hei, Mas. Kok diam saja sih. Jangan bilang, mas jatuh cinta pada dia. Rei dulu juga pernah jatuh cinta pada dia,” canda Reihan, membuat Wahyu tersipu.

“Aku baru sadar, benar seperti katamu, dia mirip sekali Emmi.”

“Iyalah … aku kan adiknya,” kata Emma.

Wahyu mengalihkan pandangan ke tempat lain. Takutnya Reihan menegurnya lagi ketika dia terus menerus menatap Emma.

“Rei, kamu ditungguin tuh, mau foto-foto bareng,” kata Emma sambil menarik tangan Reihan.

“Mas Wahyu boleh ikut?”

“Boleh, ayuk,” kata Emma.

Tapi Wahyu menolak.

“Tidak. Kamu saja, aku bukan siapa-siapa.”

“Mas kan kakaknya Reihan, jadi tetap saja saudara.”

“Jangan. Aku menunggu di sini saja. Sana Rei, jangan buat mereka kelamaan menunggu kamu.”

***

Guntur sampai di rumah ketika hari sudah malam. Ketika membuka pintu, Guntur terkejut melihat bu Simah tidur di kursi panjang.

Guntur menyalakan lampu, melangkah perlahan agar tidak mengganggu tidur bu Simah. Tapi mendengar langkah kaki Guntur, bu Simah terbangun.

“Sudah saya duga, dokter akan pulang malam ini.”

“Mengapa bu Simah tidur di sini?”

“Saya menunggu Dokter, ketiduran,” katanya sambil duduk.

“Tadi ada tamu?”

“Ada Dok, katanya yang mau membeli rumah. Dia tidak memberi uang, tapi menyerahkan ini, seperti kwitansi, katanya ini uang jadi. Saya tidak mengerti, takut dia itu pembohong, makanya saya menunggu dokter untuk menunjukkan ini. Masa uang jadi berupa kwitansi begini? Saya jadi ragu-ragu, katanya besok mau kesini lagi untuk menyelesaikan pembayaran. Orang aneh,” katanya sambil mengulurkan surat yang dikatakannya sebagai kwitansi.

“Ini bisa diuangkan Bu, ini namanya cek.”

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 42

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  42 (Tien Kumalasari)   Pak Pranoto duduk di samping istrinya, sama seperti sang istri, ia duduk dengan linglung....