Monday, July 8, 2019
Sunday, July 7, 2019
SA'AT HATI BICARA 46
SA'AT HATI BICARA 46
(Tien Kumalasari)
Heran, kemana dia pergi? Hari masih gelap, ditepi jalan itu ada sungai yang lumayan lebar, diseberang sungai adalah sebuah kebun pohon jati... tak mungkin bersembunyi disana karena pohon2nya masih kecil2.
Agus mengitari mobil yang tadi dikendarai Santi. Memang keempat bannya kempes. Rupanya yang namanya pak Badrun sudah mendengar dari Dita bahwa Santi itu orang jahat dan sedang menculik anaknya sendiri serta menyekap dirinya selama ber hari2, sehingga ia juga berusaha menghambat larinya Santi. Tapi ternyata Santi masih bisa menghilang.
Panji, Dita dan Agus berjalan kesana kemari , mengamati kiri kanan jalan barangkali ada tempat yang bagus untuk bersembunyi. Tapi tak ada tanda2 Santi bersembunyi disekitar tempat itu. Tak ada rumah satupun kecuali kebun dan persawahan. Santi dan Sasa seperti lenyap tertelan bumi.
"Sasa tadi menangis terus, memanggil manggil papanya," kata Dita, dan membuat hati Agus semakin sedih.
"Sasaaaa...Sasaaaa... ini papa nak... Sasaaaa" tiba2 Agus berteriak teriak.. namun teriakannya hanya membuat jangkerik yang tadinya bernyanyi riang kemudian menghentikan nyanyiannya. Lalu hanya kesepian yang terasa mencekam.
"Disini tak ada, mungkin dia sudah ada jauh kedepan, entah dengan apa dia berjalan, mungkin ada mobil tumpangan yang kebetulan lewat.
Para polisi naik kemobilnya dan mengajak semuanya agar mengejar kedepan.
Tak jauh setelah persawahan dan kebun ada satu dua rumah yang letaknya agak berjauhan. Satu rumah pekarangannya luas, ada kandang ternak yang tampak pada rumah pertama yang kelihaatan. Mereka berhenti. Semuanya mengamati rumah itu. Dua orang polisi masuk kepekarangan, mengamati kandang kerbau yang kotor dan bau tentu saja. Mereka menyalakan senter... yang dijawab salah seekor kerbau yang ada dengan menguak keras, Pak Polisi sampai mundur beberapa langkah karena terkejut. Tapi tak ada tanda2 Santi bersembunyi disitu. Ketika polisi akan mengetuk pintu rumah, Panji melarangnya.
"Biar saya saja pak, supaya pemilik rumah tidak terkejut karena ada polisi datang."
Panji maju kedepan bersama Agus, para polisi siaga disekitar rumah, berjaga kalau2 buruannya memang ada disitu kemudian lari dari samping atau pintu belakang.
Panji mengetuk pintu..pelan. Terdengar suara berderit. Ada yang bangun dan tempat tidurnya mengeluarkan derit itu.. lalu langkah tersaruk mendekati pintu.
"Sapa ya..?" suara medhok Jawa terdengar, seorang laki2.
"Kula pak, ajeng nyuwun pirsa," kaya Panji yang dengan fasih menjawab.
Pintu terbuka, mengeluarkan derak yang lebih keras.
"Sapa kowe, bengi2...ngganggu wong turu," laki2 itu tampak sedikit marah. Matanya disipitkan, agar bisa melihat tamunya dengan jelas. Matanya menyipit, tapi tampaknya ia belum bisa melihat dengan jelas.
"Ajeng nyuwun pirsa pak, napa enten tiyang estri ngajak lare alit.. mlebet mriki?"
"Lho, kuwi mantuku, karo putuku.. agi teka saka kutha, piye ta sampeyan niku kok ngurusi mantuku? Pun tilem larene.. ajeng napa? Terus sampeyan niku sinten?"
"Sanes mantune njenengan sing kula padosi pak, mbokmenawi enten sing nyuwun tulung terus nyipeng mriki. Tiyange ayu, larene tesih undakara tigang tahunan."
"Waah, kula wis ra nggagas wong ayu utawa ora, pokoke mboten enten wong liya sing mlebu mriki. Pun, kula ajeng nutugke tilem malih."
Tanpa basa basi laki2 itu menutupkan pintu rumahnya kembali. Dan pintu yang terbuat dari bambu itu mengeluarkan suara berderak lebih keras, karena pak tua itu menutupnya dengan kasar. Mungkin terbawa rasa kesal karena terganggu tidurnya.
Panji dan Agus keluar dari halaman rumah itu diikuti oleh keempat polisi yang tadi menyebar dihalaman yang udaranya pengap oleh bau kotoran ternak.
***
Malam telah tiba diujungnya. Dari arah timur tampak bayangan matahari samar diantara warna jingga yang melingkupinya.
"Dita, kamu lelah ya?" tanya Panji ketika mereka melanjutkan perburuan kearah depan.
"Aku sedikit pusing."
"Ada obat pusing, dan ada air mineral didepan kamu, minumlah dan tidur. Kamu tidak usah ikut naik turun dalam pencarian ini."
"Bolehkah aku menelpon mbak Ruti?"
"Oh ya, tentu, aku juga lagi berfikiran begitu. Ini, cari nomornya sendiri ya, tolong, aku lagi nyetir, gak bisa buka2 ponsel."
"Terimakasih mas," kata Dita sambil menerima ponsel Panji.
Dita mencari cari nomor Maruti, kok nggak ada nama Maruti.
"Mas, namanya Maruti kan?"
"Ya.. oh, cari di S..." kata Panji.
"S ?" Dita heran, tapi dicarinya huruf S... haaa.. ternyata ada Sayangku Maruti ... Wadhuh, kalau saja ini terjadi seminggunan lalu pasti Dita akan sangat marah dan cemburu. Tapi sekarang tidak, setelah kejadian menakutkan yang dialaminya beberapa hari ini perasaan itu hilang tiba2. Ia juga merasa berdosa telah melukai hati kakaknya.
"Ketemu Dit?" tanya Panji.
"Oh.. ya.. sudah, sayangmu Maruti kan? " Dita menggoda.
"Ma'af," kata Panji hati2. Ia takut Dita terluka.
"Kok ma'af sih mas, ini memang sayangmu kan? Oke, aku menelpon dulu ya?"
"Panji lega karena tak ada tanda2 Dita terluka ketika menemukan nama Maruti dengan kata "sayangku" didepannya.
"Hallo mbak...sudah tidur? Oh.. ya... maksudku sudah bangun? Iya.. aku tau.. haa.. ini bukan mimpi.. ya, aku sudah ketemu mas Panji mu.. (Dita tertawa lirih) baik.. tapi ya itu.. Sasa keburu dibawa kabur.. Iya mbak.. ceritanya panjang. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku baik2 saja, cuma sayangnya ini lagi memburu dokter Santi yang berhasil membawa kabur Sasa. Iya. Bagaimana ibu? Iya.. nanti agak siangan aku akan menelpon ibu.. oh.. begitu.. baiklah... ya.. pastinya. Sudah ya mbak, ini mobilnya lagi berhenti lagi. Mungkin mereka menemukan sesuatu. Besok kita akan cerita banyak. Baiklah.."
Dita mengembalikan ponsel Panji. Kepalanya masih merasa berdenyut. Dirabanya kantong didepan tempat duduk, ada air dan kantong kecil berisi obat2an.
"Obat pusing yang mana mas?"
"Itu.. yang blisternya warna hijau. Kayaknya masih ada,"
"Oh ya, aku sudah menemukannya."
Dita menelan obatnya, dan meneguk minuman sebanyak banyaknya. Berhari hari dia hanya minum seteguk dua teguk air, dan makan sesuap dua suap nasi.
Mobil itu berhenti lagi ketika pagi mulai terang. Didepan ada perkampungan.
***
Derit pintu bambu terdengar lagi. Pintu itu terbuka. Pak tua pemilik rumah melongok keluar, tak ada siapa2. Orang2 yang semalam menyatroni rumahnya telah pergi. Syukurlah.
"Mi... Sumi... kowe wis tangi?" teriak laki2 tua itu.
Seorang wanita keluar, menggendong anak kecil yang terkulai tidur.
"Sumi.. anakmu lara?"
"Ya pak, lara... aku arep neng rumah sakit saiki.."
"Kowe bareng neng kutha kok lali basa karo wong tuwa, apa bojomu ora ngandani carane basa krama?" tegur pak tua.
"Nggih pak, ngapunten."
"Kowe ki ra kena ngono, neson karo bojo njur kok tinggal minggat. Yen kowe minggat bojomu pa ra susah?"
"Ngapunten pak. Niki kula pun ngundang taksi, ajeng teng rumah sakit riyin. Lha nika taksine pun dateng pak."
Sebuah taksi berhenti didepan, wanita yang dipanggil Sumi segera keluar dari rumah itu, menggendong anaknya dan menjinjing tas yang berisi perlengkapan anak kecil pastinya.
"Mi.. Sumii.. oo..bocah ra ngerti tata, mau bengi minggat ka ngomah, saiki minggat ka nggone maratuwane. Lha lunga tanpa pamit ki pa ra minggat jenenge?" pak tua mengomel sambil kembali masuk kerumah. Taksi yang ditumpangi "Sumi" sudah menjauh.
"Wong mara neng nggone maratuwa kok ya ra nggawekke wedang disik lagi minggat.. oo.. mulakna yen dha urip neng kutha ki jane tak elikke. Kurang tata kramane."
Pak tuwa mengambil ceret kecil, dan menuangkannya kedalam gelas. Ia tampak meraba raba, dan ternyata mata tuanya sudah tidak awas lagi.
Ketika ia meneguk air putihnya, tiba2 pintu depan rumahnya berderit lagi.
"Bali neh Mi?" teriaknya.
"Pak...sampeyan omongan kalih sinten?" Pak tuwa terkejut, itu bukan suara Sumi tapi suara Bejo, anaknya.
"Kowe ta le? Nusul bojomu?"
"Nusul pripun ta pak?"
"Mau bengi bojomu teka, jare agek neson karo kowe."
"Lho.."
"Saiki neng ndokteran, anakmu lara."
"Lho..."
"Kok lha lho.. lha lho.. kowe ki dijak caturan mudeng ora? Lha jane kok kapakke bojomu kok isa nesu?"
"Bapak niku pripun, sing neson sinten?"
"Sumi mau bengi kanda ngono thik."
"Bapak ki nglindur, lha niku Sumi, agek ngedhunke oleh2 kangge bapak."
Seorang wanita muncul, menggendong anak kecil. Ia mencium tangan pak tua dengan hormat.
"Sugeng pak, niki kula.. kalih putune bapak."
"Iki aku bingung tenan. Kowe mau bengi rak wis mrene, kanda jare agek neson karo bojomu ta Mi?"
"Bapak niku ngimpi ta? Kula mriki nggih agek niki, bareng kalih mas Bejo. Kula nunut mas Bejo pas ajeng kerja, amarga selak kangen kalih bapak."
Bejo dan Sumi saling pandang, pak Tua juga bingung.
"Lha sing mrene mau bengi karo nggendong anake mau sapa?"
***
besok lagi ya
SA'AT HATI BICARA 45
SA'AT HATI BICARA 45
(Tien Kumalasari)
Panji tertegun. Ia merasa tak kenal nama itu. Siapa dia?
"Siapa ya?"
"Ada hal penting yang harus anda ketahui, ada seorang gadis dan seorang anak kecil yang butuh pertolongan anda segera."
"Oh ya... ya.. saya tau, dimana mereka? Dimana?"
"Saya akan SMS kan alamatnya, " lalu telephone itu ditutup.
"Dia tau keberadaan Sasa dan Dita."
"Dimana??" Tanya Agus bersemangat.
"Sebentar, dia mau sms kan alamat."
" Segera hubungi polisi sekarang.Kita tidak bisa sendirian."
***
"Terimakasih pak, " kata Dita yang kemudian setengah berlari kembali kerumah terpencil itu, lalu menguncinya cepat2. Kemudiaan setelah menyimpang kembali kunci serep dibawah jok sofa, ia masuk kekamar, tidur disamping Sasa yang sudah ditidurknnya.
"Amaaan... amaaan..." bisik Dita dalm hati. Ternyata Santi belum kembali. Syukurlah, entah kemana dia mencari bohlam lampu, padahal hari sudah malam. Tapi Dita merasa lega karena pak Badrun yang dimintai tolong telah menghubungi Panji. Ia berharap tak lama lagi pasti polisi akan datang bersama Panji atau Agus untuk menjemputnya dan Sasa.
Tiba2 didengarnya suara mobil berhenti didepan rumah. Dita berdebar, begitu cepatkah mereka datang? Dita bangkit lalu keluar dari kamar. Terkejut ketika tiba2 Santi sudah ada didalam rumah. Santi membawa mobil siapa? Kan mobilnya ada dibelakang rumah?
"Sasa masih tidur ?" tanya Santi yang kemudian begitu saja masuk kedalam kamar.
"Masih tidur, jangan diganggu dulu, nanti rewel," kata Dita yang measa was2. Jangan2 Santi akan membawanya pergi malam hari ini juga. Aduuh.. mengapa mas Panji lama bener?
"Aku akan pergi malam ini, " kata Santi yang membuat Dita tiba2 merasa kalut. Aduuh.. bagaimana ini ... bagaimana cara mencegahnya?
"Dokter, jangan dulu, kasihan, dia tidur nyenyak, nanti kalau rewel gimana?"
"Nggak apa2, aku kan ibunya.. pasti aku bisa menenangkannya," kata Santi yakin.
"Kenapa nggak besok pagi saja?" tanya Dita cemas.
"Mengapa kamu seperti menghalangi aku Dita, ini anakku, urusanku."
"Bukan apa2, saya hanya kasihan, dia rewel sejak tadi, baru bisa tidur, nanti kalau dijalan rewel bagaimana?"
"Biar aku urus dia, dan kamu.. kamu boleh pulang.. dan jangan lagi mengingat aku, karena aku akan pergi jauh," kata Santi tandas.
Dita terperangah, memang dia akan lepas dari belenggu itu, tapi Sasa juga harus bersamanya. Anak kecil itu pasti dipaksa oleh ibunya. Tapi bagaimana caranya?
Santi memasuki kamar lagi, ada rasa ragu2 melihat Sasa tertidur nyenyak. Barangkali benar kta Dita, besok pagi saja. Tapi entah mengapa perasaan Santi sungguh nggak enak, ia ingin cepat2 pergi dari sini. Apakah hati kecilnya mengatakan bahwa dia dalam bahaya?
Perlahan didekatinya Sasa. Tidurnya sangat nyenyak, tapi tiba2 tubuh kecil itu bergerak, lalu merengek perlahan. Bau yang menyengat tiba2 tercium oleh Santi.
"Wadhuhh... dia BAB...."
Dita berjalan kearah kamar. Itu benar, Sasa buang air besar... baunya sungguh menyengat. Santi mengernyitkan hidungnya.
"Bagaimana ini? Sudah buru2 mau berangkat..."
Dita hampir bersorak, lebih banyak waktu untuk mereka tinggal.
"Harus dibersihkan dulu .."
"Dita, bisakah aku minta tolong untuk menceboki Sasa?"
"Ya, tentu saja," kata Dita sambil mendekati Sasa. Sebenarnya Dita tak biasa melakukannya, tapi ia kan harus mengulur waktu. Semoga Panji segera datang, pikirnya. Segera Dita mengangkat tubuh Sasa. Gadis kecil itu merengek , lalu terbangun.
"Sayang, kekamar mandi dulu ya..." kata Dita sambil mengangkat tubuh Sasa. Tak perlu tergesa, pelan2 saja..pikir Dita.
Dikamar mandi itu Sasa menangis keras, ia tampaknya kedinginan ketika air mengguyurnya. Dita mengesampingkan rasa jijik, membersihkannya pelan2. Sebentar2 ia meludah, dan mengernyitkan hidungnya.
"Dokter punya sabun?" teriak Dita.
"Ada, sebentar...." jawab Santi yang segera mengambilnya dari dalam tas lalu mengantarkannya kekamar mandi.
"Cepatlah sedikit Dita.."
"Ya, doker," tapi Dita melakukannya pelan. Tangis Sasa tak juga berhenti. Dita merasa kasihan, tapi ia harus mengulur waktu supaya Santi tidak segera membawanya pergi.
"Minta handuk dokter," teriak Dita. Aduuh.. kok Panji lama sekali... ini kesempatan terakhir, setelah itu entah apa lagi yang bisa dilakukannya.
Santi memberikan handuk.
"Ayo sama mama, ganti pampers dan celanamu sayang," Santi mengulurkan tangannya mengambil Sasa. Tapi Sasa menjerit keras.
"Nggak mauuu... nggak mauuuu..."
Rupanya Sasa trauma ketika perginya dari rumah seperti dipaksa oleh mamanya..
Sasa merangkul Dita kencang sekali.
"Anak nakal, kamu itu sama mama... sini sayang..<" Santi maqsih mencoba merayunya.
Sasa tetap menolaknya. Santi tak sabar lagi, ia mengangkat tubuh Sasa dengan kasar lalu membawanya. Ada tas besar yang berisi baju2 kecil, tampaknya Santi telah mempersiapkan semuanya, dan sekarang tas itu dibawanya sambil menggendong Sasa yang masih saja meronta ronta.
"Tolong tasku Dita," pintanya pada Dita.
"Dokter, sebaiknya jangan dipaksa, kasihan dokter," Dita masih mencoba menghentikan langkahnya.
Tapi Santi tetap membawa Sasa. Ia memasuki sebuah mobil yang entah milik siapa, lalu mendudukkan Sasa dipangkuannya.
"Dokter, tolong jangan dipaksa, kasihan dokter," kata Sasa sambil matanya melihat kearah jalan. Belum ada tanda2 yang ditunggu akan datang. Dita gelisah sekali. Ia bingung harus melakukan apa.
"Mana tas itu Dita?"
"Oh, iya.." Dita pura2 lupa, tas itu belum dibawanya. Lalu ia membalikkan tubuhnya masuk kedalam rumah.
"Cepaaat Ditaaa ," hardik Santi.
Dita mau tak mau harus memberikan tas itu, dengan rasa putus asa.
Santi tetap menjalankan mobilnya dengan Sasa dipangkuannya. Anak itu meronta ronta.
Mobil itu menjauh, Dita hampir menangis. Ia berlari kearah jalan, melihat mobil itu semkin jauh, tapi jalannya tampak aneh. Tiba2 pak Badrun muncul.
"Pak, tolong ditelephone lagi pak, tolong, yang tadi itu, mas Panji pak.." kata Dita panik.
"Jangan khawatir, dia tak akan jauh..." kata pak Badrun sambil tertawa.
"Mengapa bapak begitu yakin?
"Aku sudah kempesin semua ban nya..." katanya enteng.
Tiba2 terdengar suara mobil mendekat. Beberapa mobil. Dita berdebar debar, aduuh.. mengapa terlambat?
Mobil itu berhenti disamping Dita, seseorang melompat turun, diikuti beberapa orang lagi.
"Dita," itu suara Panji. Dalam keremangan malam Dita mencari cari.. tapi tiba2 seseorang memeluknya.
"Dita," lalu dipeluknya Dita.
"Dis sudah pergi mas.. sudah pergi," Dita melepaskan pelukan Panji dan menuding kearah menghilangnya mobil Santi.
"Kemana dia?" itu suara Agus. Santi menggoyang goyangkan tangan Panji.
"Cepat mas, cepat..."
Mereka kembali naik ke mobil dan melaju kearah yang ditunjuk Santi.
Suara sirene mobil polisi menggema memecah kesunyian malam itu. Dita berdebar, benarkah apa yang dikatakan pak Badrun bahwa dia telam membuat kempes mobil Santi?
"Kata pak Badrun, dia sudah membuat kempes mobil itu, mengapa masih bisa berjalan jauh?
Mobil Panji dan Agus belum berjalan satu kilometer, ketika dilihatnya sebuah mobil berhenti.
"Itukah mobilnya?"
"Ya, benar, itu mas..."
Bebera[a mobil, termasuk mobil polisi berhenti didekat mobil Santi, seperti mengepungnya.
Panji dan Agus lebih dulu melompat turun, diikuti Dita, dan juga beberapa polisi.
Agus mendekati mobil Santi, dan membukanya, tapi mobil itu kosong. Tak ada Santi bersama anaknya didalamnya.
***
besok lagi ya
Saturday, July 6, 2019
SA'AT HATI BICARA 44
SA'AT HATI BICARA 44
(Tien Kumalasari)
Dita gemetaran ditempatnya, sementara laki2 itu tak cukup hanya mengintip. Dia kemudian mengetuk ketuk pintu. Rupanya ia melihat sosok Dita yang diam tak bergerak.
"mBak... mbak..." laki2 itu memanggil manggil, Suaranya berat,
Dita tak berani menjawab.
"mBak, aku yang punya rumah ini... tolong bukakan pintunya mbak..." lanjut laki2 itu. Dita menegakkan tubuhnya. Laki2 itu pemilik rumah ini? Ia belum pernah melihatnya karena begitu datang lalu Santi mengeramnya didalam dan tak pernah keluar dari rumah ini.
"mBak, tolong bukakan pintunya."
Dita bangkit dan melangkah perlahan kearah pintu.Tapi ia hanya tegak didepan pintu. Dita tak tau harus bagaimana.
"mBak, saya pak Badrun pemilik rumah ini, tolong dibuka pintunya mbak. Lampu dibelakang mati, harus dinyalakan dari dalam."
"Tapi saya nggak membawa kuncinya pak, dibawa oleh teman saya, dan belum pulang."
"Oh, gitu ya?"
"Apakah bapak nggak punya serepnya?" pikiran ini tiba2 saja terbersit dibenak Dita. Harap2 cemas ia menunggu jawaban laki2 yang mengaku bernama Badrun.
"Sebentar, saya cari dulu dirumah barangkali isteri saya menyimpannya," kata laki2 itu yang kemudian berlalu.
Dita kembali duduk dan diam2 berdo'a. Kalau kunci serep itu ada, selesailah pengasingan ini, dan Dita bisa kabur dengan suka cita.
"Ya Tuhan, ampunilah dosaku, tolonglah hambamu kali ini.. Tuhan, dengarlah jeritku.." bisiknya disertai linangan air mata.
Tak sampai sepuluh menit, pak Badrun sudah datang. Suara gemericik kunci yang terdengar, membuatnya hampir bersorak kegirangan. Lalu suara klik.. klik.. terdengar.. dan terbukalah pintu itu. Dita tersenyum lebar.
"Ma'af merepotkan pak." kata Dita gemetaran karena menahan harapan yang membubung kelangit tingkat limabelas.
"Nggak apa2 mbak, saya akan melihat tombol lampu dibelakang, soalnya kalau tidak dinyalakan, dibelakang gelap sekali. Sudah dari kemarin mati, saya lupa menanyakan." kata pak Badrun sambil terus berjalan kearah belakang.
Detak jantung Dita berdentam dentam, ia sudah bersiap keluar dari rumah itu, ketika tiba2 pak Badrun sudah kembali kedepan. Dita menghela nafas... sabaaar..sabaaar... bisik hatinya.
"Ternyata bohlamnya yang mati mbak, tombolnya tidak berubah, saya akan beli saja dulu."
Pak Badrun keluar, dan Dita menahannya ketika pak Badrun sudah memegang daun pintu, yang pastinya akan ditutup lalu dikuncinya lagi.
"Eh pak.. tolong pak, bagaimana kalau kunci serep ini saya pinjam dulu?"
"Ini? Jadi..." pak Badrun tampak ragu2.
"So'alnya teman saya suka pergi dan mengunci pintunya dari luar, terkadang saya bingung kalau saya ingin keluar atau mau beli sesuatu." pinta Dita, dengan sejuta do/a..
"Oh, begitu ya... sebaiknya teman mbak nggak usah membawa kuncinya kalau pergi. Kasihan mbak. Baiklah mbak, kunci serepnya saya tinggal juga. Tapi nanti kalau teman mbak kembali, suruh meninggalkan kuncinya, dan kembalikan kunci serepnya ya."
"Baiklah pak, siap," jawab Dita mirip sebuah nyanyian yang mendayu karena gembira yang tak terhingga.'Pak Badrun pergi setelah mencopot kuncinya dan menyerahkannya pada Dita.
Dita benar2 ingin bersorak.
"Selamat tinggal sangkar burukku !!"
Dita melenggang keluar rumah, setelah mengunci kembali pintu itu. Tapi tiba2 dilihatnya sebuah sorot lampu mendekati pagar rumah.
"Celaka," bisik Dita ketakutan. Ia membalikkan tubuhnya dan berlari kerumah, cepat2 membuka pintunya dan menguncinya lagi. Lalu ia terbaring di sofa seperti semula. Tapi kunci serep itu masih dibawanya, yang kemudian disimpannya disakunya. Oh tidak, kalau didalam saku, setiap kali dia bergerak pasti akan terdengar gemerincingnya. Dita memasukkannya kedalam jok sofa. Lalu diam menunggu. Belum sekarang, tapi nanti pasti bisa, karena bukankah kunci serep sudah ditangannya?
Terdengar suara klik..klik.. dan pintu itu terbuka,lalu Dita terkejut karena mendengar suara tangisan anak kecil juga.
"Haaaa? Ini anak dokter?" tak tahan Dita untuk tidak bertanya.
"Ini Sasa, anakku. Cuup.. nggak boleh nangis karena ada mama ya,"
Tapi Sasa masih tetap menangis.
"Papaaaa... aku mau papaaa...." teriaknya sambil meronta dari gendongan Santi.
"Sasa, apa kamu nggak sayang sama mama?"
"Aku mau papa... papaaaa...." Sasa terus meronta.
"Besok kalau hari sudah nggak lagi gelap, kita akan mencari papa. Sekarang Sasa harus diam. Oh ya, mana es krimnya tadi? Ya ampuun sudah meleleh sayang.. masih mau diminum?"
Tapi Sasa melemparkan cup es krim itu sehingga berhamburan dilantai.
"Hmm... anak nakal.."
"Maukah digendong tante Dita? Yuk.. sama tante.." Dita mengulurkan tangannya, dan herannya Sasa tidak menolak. Barangkali Sasa berharap bahwa perempuan yang satunya akan membawanya pergi dari rumah ini.
"Diam ya sayang.. besok kita mencari papa...ya.."
Sasa terdiam, tangannya menunjuk nunjuk kearah pintu.
"Diluar masih gelap sayang.. besok kalau sudah nggak gelap lagi kita akan pergi," hibur Dita.
Dita belum pernah punya adik kecil, tapi ia sering bermain dengan cucunya pak Karsono, jadi sedikit banyak ia tau bagaimana membuat anak kecil menghentikan tangisnya.
"Tuh.. lihat.. gelap kan?" Dita menyingkapkan korden, agar Sasa bisa melihat keluar.
"Ini susunya, tolong kamu minumkan Dit," pinta Santi sambil mengulurkan botol berisi susu.
Tapi Sasa menolaknya. Ia merebahkan kepalanya dibahu Dita.
"Mengantuk dia," bisik Santi.
"Mengapa dokter nekat membawanya? Pasti dia akan rewel dan itu menyusahkan," kata Dita pelan. Ia merasa kasihan pada Sasa, mengapa anak sekecil ini harus ikut didera takut dan ketidak nyamanan?
"Dia itu anakku, apa salah kalau aku membawanya?"
Tapi ini bukan suasana yang nyaman, apa tidak kasihan Sasa?"
"Diamlah , itu urusanku, pada awalnya boleh jadi dia rewel, tapi lama kelamaan pasti tidak."
Sasa sudah memejamkan mata, barangkali letih menangis sejak dibawa ibunya.
"Mungkin lampu rumah ini terlalu gelap. Aku akan keluar sebentar membeli bohlam yang nyalanya lebih terang," kata Santi sambil beranjak keluar.
"Tolong titip dia dulu Dita, aku keluar sebentar."
Santi keluar dan mengunci pintu seperti biasanya. Tapi kali itu Dita tak takut. Ia sedang mengira ira, kalau lari.. mau kemana.. karena dalam suasana malam begini pasti susah cari angkutan umum, apalagi daerah ini tampak sepi begitu setelah isya.
Sasa tampak pulas bersandar dibahunya. Dita membawanya duduk sambil terus menepuk nepuk punggungnya. Santi hanya akan membeli bohlam lampu, apakah jam segini masih ada toko yang buka? Dita ingin nekat lari dari rumah itu, tapi dia ragu2. Kalau Santi tiba2 kembali, dan dia belum sempat berlari jauh, pasti dia akan dipaksanya mengikutinya lagi. Harus ada banyak waktu untuk bisa pergi jauh dari sini. Dita bingung, tapi setidaknya dia sudah punya kunci serep, dia bisa dengan mudah pergi kalau Santi tidak ada dirumah. Tapi bagaimana kalau tiba2 Santi pergi membawa Sasa serta sedangkan dia ditinggalkannya? Kasihan Sasa, tampaknya dia dipaksa. Tidak, Dita tak bisa memikirkan dirinya sendiri. Kalau dia pergi, maka dia harus membawa serta Sasa. Dita terus berfikir, sambil berdo'a.
"Ya Tuhan, tunjukkanlah jalan, lepaskanlah kami dari penderitaan ini," bisiknya lirih.
***
Endang terus menerus menangis, sementara Agus juga tak henti2nya menyesali diri sendiri. Ia begitu bodoh, ia hanya minta orang2 mengawasi anaknya sa'at siang dan memang itu hanya untuk memancing Santi, tapi dia lupa bahwa Santi bisa memasuki rumahnya karena ia juga punya kuncinya. Dan celakanya, Endangpun tak pernah berfikir tentang hal ini.
"Tenangkan hatimu Pras, yang jelas anakmu pasti selamat, tak mungkin Santi mencelakai anaknya sendiri," hibur Panji yang terus menemani Agus dirumahnya.
"Aku akan lapor pada polisi, sekarang juga."
"Jangan dulu Pras, Dita ada ditangannya, Dita bisa celaka."
"Kamu hanya memikirkan Dita, bagaimana dengan anakku?"sergah Agus dengan nada tinggi.
"Ma'af Pras, bukan aku menyepelekan anakmu, bukan, tapi kita harus bertindak hati2 karena Santi sudah mengancam."
"Menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan? Menyuruh orang2 bodoh itu lagi kemudian menangkap orang yang salah lagi?"
"Sabar Pras, mari kita pikirkan ini dengan kepala dingin."
Tiba2 ponsel Panji berdering. Panji mengangkat bahunya.
"Nggak kenal, tapi akan aku jawab."
Panji mengangkatnya.:"Hallo.."
"Hallo, ini dengan mas Panji?" suara dari seberang
"Ya, saya sendiri, anda siapa?"
"Nama saya Badrun..."
***
besok lagi ya
Friday, July 5, 2019
SA'AT HATI BICARA 43
SA'AT HATI BICARA 43
(Tien Kumalasari(
Perempuan itu masih muda, cantik, berkerudung, sedang tersisak ditempatnya duduk. Tadi tiba2 beberapa laki2 menangkapnya, hanya karena terus menerus memandangi Sasa, yang tampaknya tertarik pada balon dagangannya. Beberapa laki2 membawanya, menyeretnya dan memaksanya masuk kedalam mobil. Ia tak tau apa kesalahannya. Mereka menuduhnya akan menculik anak kecil, memaksanya mengaku. Dia menjawab tidak dan hanya menangis tak henti2nya.
"Bukan Santi.." desis Agus.
"Nama saya Sartini, mereka memaksa saya mengaku bernama Santi," kata perempuan itu sambil masih terisak.
"Ma'af ya mbak, kami salah orang. Sekarang mbak boleh pergi. Ini, harga seluruh balon mbak saya bayar ya," kata Panji sambil mengulurkann beberapa lembar ratusan ribu.
"Terimakasih mas, tapi ini terlalu banyak...,"
"Nggak apa2, biar itu untuk mbak semua, dan sekali lagi kami minta ma'af."
***
Maruti pun kecewa, tadinya ia mendapat berita tentang tertangkapnya seorang perempuan yang pura2 menjual balon karena sedang mengincar anak kecil. Mereka mengira itu Santi, karena sudah lama memperhatikan Sasa. Maruti pulang ketika Agus dtang menjemput Sasa. Kasihan juga, anak sekecil itu harus dijadikan umpan.
"Apa nak Laras sudah membaik?" tanya bu Tarjo sore itu ketika Maruti sudah ada didekatnya sepulang kerja.
"Sudah mendingan bu, tapi belum sembuh benar."
"Dita masih mnemani disana?"
"Mm.. iya bu, begini.. Dita nggak tega meninggalkan Laras sendirian disana. Ibu bisa mengerti kan? Kasihan Laras."
"Ya, tentu, ibu bisa mengerti."
Maruti selalu kebingungan setiap kali ibunya menanyakan Dita. Sekarang ini ada alasan yang sesungguhnya baru saja ditemukannya untuk membuat ibunya tak terlalu berharap bertemu Dita. Sakitnya Laras.
"Ya Tuhan, sampai kapan aku harus berbohong terus? Tolonglah Tuhan, temukan Dita dan selamatkan dia.." jerit Maruti dalam hati.
"Apa yang kamu fikirkan Ruti? "
"Oh, enggak bu... nggak mikirin apa2, ya mikir sakitnya ibu itu.. cepat sembuh ya bu," jawab Maruti menghibur ibunya.
"Tapi kok ibu merasa ... kamu itu sepertinya kok lagi memikirkan sesuatu.."
Maruti mendekati ibunya, mengelus tangannya lembut.
"Ibu, kalau Ruti sedih, ya pastilah sedih, ibunya sedang sakit, siapa orangnya yang tidak sedih ?"
"Ibu kan sudah nggak apa2.. nanti kalau dokternya kesini, ibu mau minta pulang saja."
"Lho, ibu nggak boleh begitu, kalau memang ibu sudah siap untuk pulang, nanti dokternya yang mengatur, bukan ibu yang minta pulang."
"Ibu sudah nggak apa2... bosan tiduran terus.."
"Luka2 ibu itu masih harus terus dibersihkan pagi sore, dikasih obat.. lha kalau dirumah, sementara Ruti bekerja, siapa yang akan merawat ibu?"
"Kan ada Dita.."
Maruti terperangah. Aduh.. bagaimana ini.. kembali lagi ke Dita.. apa yang harus dijawabnya lagi?
"Ya kan ? Masa Dita nggak mau ngerawat ibunya?"
"Ibu, Dita itu belum tentu bisa. Ini pekerjaan perawat, nanti malah salah ngerawatnya,. gimana?"
"Cuma gitu aja, ibu kira ibu juga bisa sendiri kok," kata bu Tarjo ngeyel.
"Sudahlah bu, bersabarlah dulu dalam dua tiga hari ini, nanti kalau sekiranya sudaha bisa dirawat sendiri dirumah, bolehlah."
Bu Tarjo tak menjawab.
"Sabar ya bu," kata Maruti sambil terus mengelus tangan ibunya.
***
Sore itu Agus pulang dengan membawa Sasa setelah Maruti berpamit untuk kerumah sakit. Agus ingin mampir menjenguk Laras, tapi ada Sasa bersamanya.
Sasa senang sekali karena pulang membawa banyak balon yang tadi siang diinginkannya. Begitu turun dari mobil dia berlari lari kecil sambil membawa beberapa balon yang diikatnya menjadi satu.
"Nggak usah lari2 sayang, hati2, nanti terjatuh," kata Agus sambil turun dari mobil.
"mBak, nanti balonnya ditaruh dikamar Sasa ya," teriak Sasa kepada perawatnya.
"Ya, nanti mbak taruh dikamar Sasa."
"mBak, nanti malam aku mau pergi sebentar, jangan lupa kunci pintu, dan jangan pernah membukanya walau siapapun yang datang, kecuali aku," pesan Agus kepada Endang.
"Baik pak."
Agus berencana akan kerumah sakit menjenguk Laras. Entah mengapa, ingatannya tak bisa lepas dari gadis itu. Gadis manis yang lincah, yang sedikit cerewet, yang tawanya renyah dan senyumnya bukan main manisnya. Ya Tuhan, mengapa baru sekarang Agus memikirkannya? Gadis manis yang tergolek ditempat tidur, kesakitan dan pucat, tapi tak pernah hilang paras manisnya. Sangat manisnya. Dan gadis itu adalah penyambung nyawa anaknya. Dan gadis itu tak pernah menolak kedatangannya, dan gadis itu begitu senang menerima boneka Hallo Kitty yang diberikannya. Ketika ia pulang kemarin, ia mendekap boneka itu didadanya, dan Agus merasa bahwa dialah yang sedang didekapnya. Ya ampuun, mengapa tiba2 aku tergila gila begini? Sekarang.. Mengapa tidak kemarin2? Apa karena ada Maruti yang semula diharapkannya? Maruti yang tampak ketakutan setiap kali dia memandangnya, dan Agus merasa seperti ada penolakan halus dari padanya. Tapi kan sekarang ada Laras, dan getar2 didadanya memang jauh berbeda. Agus merasa bahwa ini adalah jatuh cinta. Tapi maukah Laras menerima seandainya dia melamarnya? Dia kan cuma seorang duda, beranak satu, pasti berat menjadi isteri seorang duda. Benarkah?
"Papaaaa," tiba2 Sasa mengejutkannya, datang dengan membawa balon, tapi balon itu kempes.
"Lho, ada apa ini?"
"Kata mbak, balonnya gembos... papa.. ditiup dong," rengek Sasa.
"Sasa, balon Sasa kan masih banyak, ya nggak apa2 kalau gembos satu. Sudah, dibuang saja."
"Kok dibuang."
"Ya dibuang, namanya itu sudah rusak. Main sama balon yang lainnya saja ya, tapi mandi dulu biar cantik, trus makan, trus main lagi deh."
Sasa berlari, dan meninggalkan balonnya yang kempes didepan papanya. Agus membuangnya. Ia jadi teringat Hallo Kitty yang diberikannya pada Laras. Ah, kok kesana lagi? Agus berjalan kekamar dan bermaksud mandi. Tak lama lagi ia akan bertemu Laras. Agus sedang berfikir, apa lagi yang akan dibawanya untuk si manis yang menarik hatinya?
***
Hari sudah malam, Sasa masih asyik bermain dengan balon2nya. Endang menemaninya sambil membaca buku cerita. Menarik sekali barangkali buku cerita itu, sehingga Endang tak memperhatikan kemana Sasa bermain. Endang merasa sudah mengunci semua pintu, dan itu berarti aman bagi Sasa. Endang masih asyik membaca, dan Sasa berjalan kearah depan rumah. Ada sosok mengendap endap yang sudah beberapa sa'at lamanya menunggu dihalaman. Seorang perempuan berkerudung, bertubuh langsing semampai. Ia tau Sasa bermain diserambi depan. Ia juga tau bahwa rumah itu terkunci. Tapi dia kan pernah tinggal dirumah itu, dan juga pernah memiliki kunci ganda ketika masing2 tak jelas kepulangannya. Agus sedikit teledor karena dimabuk cinta, dan Endang sedikit ceroboh karena keasyikannya membaca. Terdengar kunci terbuka, klik, pelan saja, tapi pintu itu terbuka. Sasa yang sedang bermain terkejut, tapi sebelum ia berteriak, tubuh rampng itu telah menggendong dan menutup mulutnya. Pintu kembali tertutup, dan hening kembali mencekam. Buku bacaan masih erat digenggam sang perawat. Tampaknya buku yang bercerita tentang cinta itu membuatnya tenggelam dalam alur yang menghanyutkan.
Tiba2 dentang jam dinding terdengar nyaring menggelitik kuping. Tujuh kali. Endang terkejut. Sudah lewat waktunya membuat susu bagi Sasa. Diletakkannya buku bacaan dan dicarinya Sasa.
"Sasa... Sasa... mbak buatkan susu dulu ya," kata Endang sambil berjalan kebelakang. Belum disadarinya bahwa tak ada siapapun dirumah itu kecuali dirinya.
***
Dirumah sakit itu Agus asyik bercanda dengan Laras. Ada saja lelucon yang diceriterakannya dan membuat Laras terpingkal pingkal. Entah membaca dari buku mana sehingga Agus banyak mendapatkan cerita lucu untuk perempuan yang dikaguminya. Oh ya, seikat bunga indah masih didekap didada Laras, ketika Panji tiba2 juga datang kesana.
"Waduuh, sial benar aku ini. Mengapa kedatanganku selalu terlambat. Jangan bilang aku mengganggu ya, aku bawa oleh2 kali ini, kesenanganmu." kata Agus sambil meletakkan bungkusan diatas meja.
Laras tertawa melihat ulah kakak sepupunya.
"Ini sudah habis jam bezuek, aku sudah mau pulang," kata Agus.
"Yaa, kalau begitu kita pulang sama2 saja, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Lhoh, kok baru datang mau pulang." Laras kecewa.
"Aku sudah datang kemalaman, jangan2 nanti diusir sama penjaga karena melewati jam bezoek."
Tiba2 ponsel Agus berdering. Dari Endang.
"Hallo... ada apa? Hei, mengapa menangis? Apaaa?"
Teriak Agus mengagetkan semua orang.
"Ada apa?"
"Sasa hilang."
***
Malam itu Dita duduk diteras depan rumah itu. Sudah sejak siang Santi pergi, entah kemana. Ia juga segan menyentuh makanan yang ditinggalkan dimeja. Sa'at ini keinginannya hanya pulang, tapi jalan untuk itu belum juga ditemukan. Dita termenung, dan tiba2 dilihatnya sesosok bayangan mendekati rumah itu. Tapi itu seorang lelaki. Dita terkejut. Rasa takut segera merayapi hatinya. Laki2 itu berjalan kearah pintu, dan melongok melalui kaca berterali besi, dari sela2 korden yang sedikit tersingkap. Laki2 itu seperti melihat dirinya, duduk lemas dikursi yang memang menghadap kearah pintu.
"Permisi..." suara berat laki2 itu.
Dita terkesiap, ia tak ingin berdiri menyambutnya. Kakinya gemetar, lemas oleh rasa takut yang menyergapnya.
***
besok lagi ya
Thursday, July 4, 2019
SA'AT HATI BICARA 42
SA'AT HATI BICARA 42
(Tien Kumalasari)
Maruti terpaku ditempat duduknya, bagaimana mungkin menjadikan Sasa sebagai umpan? Bagaimana kalau Sasa celaka?
"Jangan mas, itu berbahaya,"kata Maruti khawatir.
"Sa'at ini Santi sedang ingin mendekati Sasa. Kita bisa menjebaknya. Aku dan Agus sudah berbicara dengan orang2 yang ahli. Kamu jangan khawatir."
Tapi tetap saja Maruti khawatir. Bagaimana nanti cara menjebaknya? Entahlah..
"Kalau begitu aku akan menyusul Pras kerumah sakit. Mungkin lebih baik daripada hanya menelpone."
"Ya mas, silahkan saja, semoga berhasil ya mas, aku sangat menghawatirkan keselamatan Dita juga. Apalagi ibu menanyakannya terus menerus."
"Berdo'alah agar semuanya baik2 saja."
Panji menatap Maruti. Marutipun menatapnya. Ada kerinduan tersimpan pada tatapan itu. Ada harapan akan hidup bersama pada suati hari nanti. Bisakah?
***
"Mas, aku kan sudah besar, mengapa mas memberi aku hadiah boneka sebesar ini?" kata Laras dengan wajah berseri, sambil memeluk boneka Hello Kitty yang diserahkan Agus. Ada tulisan disana, SEMOGA LEKAS SEMBUH, KENANGLAH SELALU AKU.
Wouw... Laras memeluknya erat2, seakan bukan boneka itu yang dipeluknya tapi orang yang memberinya. Laras benar2 seperti orang yang sedang jatuh cinta.Atau memang kan dia sedang jatuh cinta?
"Boneka ini akan mewakili aku, jadi kamu bisa merasa seakan akulah yang menemani kamu disini," jawab Agus sambil tersenyum. Herannya Laras, mengapa senyum itu tampak selalu memikat, seperti menghipnotisnya menjadi seorang yang sangat pemalu. Laras mengalihkan pandangannya kearah lain. Ada debar yang seperti memukul mukul dadanya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Senang, eh... baik.." jawab Laras gugup.
"Luka lecet itu masih kemerahan, belum pulih benar.." kata Agus sambil mengamati luka dilengan kanan Laras.
"Iya, kan belum lama, masih sedikit nyeri.."
Tiba2 terdengar seseorang mendehem, dan Panji tiba2 sudah ada didalam kamar itu.
"Panji..?"
"Aku mengganggu ya?" goda Panji.
"Iya mas, kamu mengganggu, soalnya datang tanpa bawa oleh2," sela Laras sambil cemberut.
"Lho, kalau aku bawa oleh2, nanti boneka mu itu ada saingannya. Pasti marah dia."
Panji dan Agus tertawa.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya kepada Laras.
"Baik mas..pusing dan mualnya sudah berkurang."
"Syukurlah.. Oh ya Pras, aku tadi kekantormu.. hanya ketemu Maruti."
"Kamu memang ingin menemui Maruti kan, bukan aku?"
"Kamu ini gimana, ayo keluar dan kita bicara so'al rencana itu."
"Rencana apa tuh?" tanya Laras.
"Kamu lagi sakit, nggak usah ikut2an. Sekarang tidur saja, aku akan membawa mas Agusmu pergi sebentar.
***
"Dokter, biarkan aku menelpon mas Panji.."
"Kamu itu tergila gila sama dia, maunya menelpone saja," hardik Santi.
"Bukan, saya nggak lagi punya perasaan apapun sama mas Panji, saya hanya ingin agar kita bisa pulang dokter, saya tak tahan lagi," isak Dita.
"Aku tidak percaya sama dia, bisa saja dia bilang iya..iya.. pada akhirnya nanti mencelakakan kita. Kita, aku sama kamu, bukan cuma aku, mengerti? Kamu juga berperan dalam hal ini, jangan dikira cuma aku yang bersalah.
"Nanti itu kita bicarakan dokter, yang penting kita pulang dulu."
"Nggak, aku sedang berfikir akan mengajak Sasa," kata Santi tandas.
"Anak dokter, yang masih kecil? Apa dokter tidak kasihan membawanya ditempat terasing seperti ini?"
"Bukan, bukan seperti ini, aku akan membawanya pergi jauh."
"Dokter," Dita masih ingin bicara, tapi kemudian Santi meninggalkannya. Santi kelua dari rumah itu, dan tak lupa mengunci pintunya.
Dita terduduk lemas. Sudah berhari hari dia mngikuti Santi tinggal ditempat itu. Tak bisa keluar, atau sekedar melihat hawa diluar rumahpun tidak. Kalau Dita pergi, tak pernah dibawanya mobilnya. Dia menaiki taksi atau kendaaan umum lainnya. Setiap kali kembali dan membawa makanan dan minuman, Dita hanya memakannya sedikit. Tak ada sesuappun nasi bisa tertelan sementara hatinya gelisah tak menentu.
Siang itu Santi pergi entah kemana. Kalau ia membuktikan ucapannya ingin mengambil Sasa, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Kalau dirinya dilepaskan dan Santi pergi jauh, itu melegakan, bagaimana kalau ia harus mengikutinya kemanapun Santi pergi? Santi benar2 seperti orang gila. Cara berfikirnya juga tidak wajar. Sekarang ini tiba2 ia ingin sekali membawa Sasa anaknya.
***
Siang itu Sasa sedang bermain disebuah arena bermain. Hanya bersama Endang, perawatnya. Agus dan Panji yang menyuruhnya. Ditempat agak jauh, ada beberapa orang mengawasi gerak gerik Sasa. Mata mereka nanar, apabila melihat seseorang mendekati Sasa. Tapi tak ada tanda2 Santi pergi kesana.
"mBak, aku mau pulang saja.." kata Sasa yang sudah kelelahan bermain.
"Sasa mau makan?"
Tapi Sasa menggeleng. Ia memeluk perawatnya, minta gendong. Endang membawanya kepinggir, tempat para orang tua sedang menunggui anaknya bermain.
"Sasa lapar?"
Sekali lagi Sasa menggeleng.
"Minum ya, ini mbak bawakan susunya."
Sasa menerima botol susu itu dan meminumnya. Tiba2 dilihatnya orang sedang menjajakan balon agak jauh didepannya. Balon yang berwarna warni, juga bentuk yang sangat menarik.
"Aku mau itu.." Sasa melepaskan botolnya dan menuding kearah penjual balon.
"Jangan, dirumah kan masih ada. Kemarin habis beli, ada tiga lho.. masa masih mau lagi." Endang memegangi tangan Sasa yang ingin berlari.
Tukang balon itu tak kalah pintar. Ia tau anak2 kecil tertarik pada dagangannya, tapi banyak diantara orang tua melarangnya. Tukang balon itu mengeluarkan sebuah balon yang lain, dan ketika dipencet mengeluarkan bunyi yang keras dan menarik. Teet..teet...teet..teeet...
"Mbaaaak... aku mau.. aku mauuu..." Sasa merengek sambil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Endang.
"Baiklah, baiklah.. beli satu saja ya....
Endang mengambil tasnya, lalu membuka dompet yang ada didalamnya. Tapi lepas dari pegangan Endang, Sasapun melesat pergi.
"Sasaaaa.." teriak Endang.
Tapi mana penjual balon itu? Sasa mencari cari.. tapi tak ditemukannya. Ia seperti lenyap ditelan bumi.
"Mana dia?" Endangpun bingung mencarinya.
"Aku mau balon.. aku mau balooon..." Sasa menangis keras.
"Sasa, diamlah, penjual balon itu sudah nggak ada.. nanti kalau ada kita beli ya.."bujuk Endang.
"Aku mau baloon.. aku mau baloon..."
Endang menggendong Sasa. Sebelah tangannya merogoh sakunya, untuk mengambil ponselnya..
"Diam sayang, aku panggilkan papa ya.. biar papa yang beli balon itu..."
"Hallo mbak, ada apa?" suara Agus dari seberang.
"Sasa menangis minta balon pak, saya mau belikan tapi penjualnya sudah pergi."
"Ya sudah, kamu tunggu disitu, aku segera datang."
Tak lama setelahnya, Agus memang datang. Ia membujuk Sasa agar mau dibelikan disebuah toko mainan.
"Sudah jangan nangis, kita beli disana ya?"
Agus membawa Sasa kesebuah toko mainan.
"mBak, suruh Sasa memilih mana yang disukainya."
Agus menurunkan Sasa kemudian mengangkat ponselnya, karena ada dering telephone memanggilnya.
"Hallo, Panji? Iya, lagi mengajak Sasa beli mainan, nangis dia minta balon, sedangkan penjualnya sudah pergi. Apa? Telpon dari siapa? Oh, ya ampun.. aku nggak tau, bagaimana? Ada yang sudah menangkap Santi? Benar? Oke.. haaa? Penjual balon itu? Baiklah, ya.. ya.. aku akan segera kesana.
Agus menutup ponselnya. Dilihatnya Sasa sudah membeli sesuatu, tergesa Agus menggendong Sasa.
"mBak, kita kekantor. Nanti kamu menemui mbak Maruti, ajak Sasa bermain disana dan jangan pergi kemana mana ataupun pulang tanpa aku. Mengerti?"
"Ya pak."
***
Agus menuju kesebuah rumah yang ditunjukkan Panji. Ia melihat mobil Panji sudah lebih dulu diparkir disana. Beberapa laki2 berwajah garang sedang berbincang dengan Panji. Agus mendekati mereka.
"Bagaimana? Mana dia?" tanya Agus.
"Dia ada didalam, silahkan bapak melihatnya,." kata salah seorang diantaranya.
Panji dan Agus masuk kedalam rumah itu. Dilihatnya seorang perempuan duduk, membelakangi pintu. Perempuan itu memakai kerudung yang ditutupkannya pada mukanya. Ada beberapa balon yang teronggok disudut ruangan. Terdengar perempuan itu menangis pelan.
Agus tak sabar, membuka kerudung itu.
"Astaga, dia bukaaaan.." teriak Panji.
***
besok lagi ya
Wednesday, July 3, 2019
SA'AT HATI BICARA 41
SA'AT HATI BICARA 41
(Tien Kumalasari)
Sasa sangat gembitra, kaki kecilnya meloncat loncat .. sambil tertawab tawa riang. Laras tersenyum. Puas bisa membuat Sasa tertawa. Es krim pembelian telah dibungkus, Laras membayarnya. Namun tiba2 Sasa berteriak. :" Mamaaaaaa..."
Laras terkejut. Tiba2 saja Sasa berlari kearah tepi jalan. Laras mengejrnya. Tak seorang perempuanpun terlihat disana, bagaimana Sasa bisa memanggil mamanya?
"Mamaaa..." Sasa melihat kekanan dan kekiri... lalu tiba2 sebuah mobil keluar dari perkantoran itu. Laras terkejut bukan alang kepalang, tanpa berfikir panjang dia melompat kearah Sasa dan melemparkannya kesamping. Namun Laras terjatuh, dan mobil itu menabraknya.
Laras tersungkur, dan terdengar teriakan orang2. Dalam keadaan setengah sadar Laras masih sempat melambai kearah Sasa yang kebingungan.
"Tolong..... bawa dia.. kedalam... anak pak Agus..." teriaknya kemudian dia tak ingat apa2 lagi. Seseorang yang mendengar teriakan Laras segera menggendong Sasa kedalam kantor, dan kerumunan orang2 terdengar gaduh melihat Laras terkapar.
***
Laras sudah ada dirumah sakit. Ia sadar, namun masih sesambat kepalanya pusing. Agus terus menerus menungguinya, dan lega melihatnya tersadar. Dipegangnya tangan Laras dengan lembut.
"Terimakasih Laras, karena kamu anakku selamat, aku berhutang nyawa...," dan Aguspun mencium tangan itu.
Laras berdebar. Dalam pening yang dirasakannya, ada getar yang tak dimengertinya. Dibiarkannya Agus mencium tangannya. Bahkan kalau boleh, ia akan minta selamanya begitu. Aduhai. Tapi kepalanya masih berdenyut. Dokter tak memberinya alas kepala. Ada gegar otak ringan yang tadi membuatnya muntah2. Lengan sebelah kanan lecet2, terbalut perban.
"Sakit sekali ya?" tanya Agus pilu.
"Enggak mas, aku baik2 saja.." jawab Laras. "Jangan lepaskan tanganku.." yang ini hanya dikatakan dalam hati saja. Malu dong.
Tapi Laras kembali memejamkan matanya. Kepalanya pusing sekali. Sebelah tangannya memegang kepalanya.
"Pusing ya? Pusing sekali?" Agus tampak khawatir. Ia bergegas menemui perawat jaga dan mengatakan bahwa tampaknya kepala Laras pusing.
"Iya pak, bapak tenang saja, dokter sudah memberinya obat, sebentar lagi pasti ia tertidur," jawab perawat itu.
Agus kembali mendekati Laras, mata Laras memang terpejam. Agus memegang tangannya pelan, tak bergerak, barangkali Laras memang mengantuk, dan benar kata perawat itu, Laras akan segera tertidur.
***
"Pras, sudalah, jangan sedih, Laras tak apa2, hanya luka lecet2," hibur Panji melihat Agus tampak gelisah.
"Kata dokter gegar otak ringan."
"Ya, nanti akan pulih, tenanglah."
"Aku berhutang nyawa, kalau tak ada Laras aku sudah kehilangan anakku," kata Agus sendu, matanya berkaca kaca.
"Tuhan masih melindungi kita semua. Tapi yang membuat aku heran, mengapa Sasa memanggil manggil mamanya.."
"Nah, aku juga memikirkan itu, mungkinkah Sasa melihat mamanya disana?"
"Kemudian lari begitu Sasa mengejarnya."
"Berarti Santi ada disekitar tempat ini. Mungkin dia juga kangen sama anaknya."
"Berarti kita bisa memancing Santi dengan memakai Sasa sebagai umpannya." kapa Panji tiba2.
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin Santi sangat ingin ketemu anaknya."
"Bagaimana kalau dia malah membawa lari Sasa? Jangan Panji, itu berbahaya."
"Itu satu2nya jalan Pras."
"Aku akan berbicara dulu dengan teman2ku."
***
Santi memasuki rumah persembunyiannya dengan wajah kesal. Dilihatnya Dita duduk bersandar di sofa, diam, seperti beberapa hari yang lalu.Makanan dan minuman yang disodorkan Santi hanya masuk kemulutnya beberapa suap dan beberapa teguk minuman. Itu juga karena Santi memaksanya.
"Sampai kapan kita akan begini?" tanya Dita lemah.
"Entahlah, sampai mas Panji berjanji untuk tidak melaporkan aku ke polisi."
"Biarkan aku bicara sama mas Panji, dan minta agar dia tak melakukannya."
"Apa kita harus percaya? Begitu kamu pulang, lalu dia melakukannya, bagaimana?"
"Kita kan belum bicara, aku akan minta agar dia menepati janji, cobalah, biarkan aku bicara."
Santi terdiam. Ia tak begitu saja bisa mempercayai seandainya nanti Panji bisa diajak bicara.
"Aku tadi melihat Sasa, anakku," tiba2 Santi bergumam.
"Anak dokter? Apakah dokter tidak kangen sama anak dokter?"
Santi menghela nafas panjang.
Tadi dia hampir mendekapnya ketika Sasa berlari kearahnya, tapi Laras mengejarnya dan Santi menghilang. Kalau tadi bisa mendekat, apakah ia akan membawanya pergi? Rasa rindunya kepada anaknya tak tertahankan lagi. Itu sejak ia melihat anak kecil menangis dipinggir jalan, sebesar Sasa, mencari ibunya. Ia tadi juga mendengar Sasa memanggilnya... mamaaaa... mamaaa... pasti Sasa juga rindu pada ibunya.
"Aku akan membawa kabur Sasa.." tiba2 Santi berkata, tandas. Dita terkejut bukan alang kepalang.
***
"Mana Dita, mengapa tidak segera datang kemari Ruti? Kamu jangan membohongi ibu ya," kata bu Tarjo yang sudah dua hari ini menunggu Dita tak kunjung tiba.
"Oh iya bu, tadi kan Dita kemari......"
"Tapi ibu sedang tidur? Itu saja selalu yang kamu katakan, ibu kok merasa ada yang kalian sembunyikan to nduk," tampaknya bu Tarjo merasa curiga.
"Ibu, nggak ada yang menyembunyikan apapun. Itu benar bu..." sedih Maruti mengatakannya, tapi ia tak ingin membuat ibunya khawatir.
Bu Tarjo diam, tampak ia tak percaya pada apa yang dikatakan Maruti.
"Oh iya bu, ini Dita lagi menemani Laras dirumah sakit. Bukan rumah sakit sini bu," kata Maruti yang tiba2 menemukan alasan yang lebih bisa diterima.
"Lho, nak Laras kenapa?"
"Maruti nggak mau cerita ke ibu sebenarnya, takut ibu kepikiran. Kemarin Laras tartabrak mobil."
"Ya Tuhanku... lalu bagaimana?" bu Tarjo tampak khawatir.
"Untungnya lukanya nggak begitu parah. Lengannya lecet2, lalu gegar otak, tapi nggak berat."
"O alah... kok ibu sampai nggak tau."
"Ibu kan juga lagi sakit, jadi Maruti nggak mau cerita. Na sekarang ini, karena ibu sudah Ruti tungguin, Ruti minta Dita menemani Laras dulu. Kasihan, ibunya Laras kan juga sudah tua, nggak mungkin nungguin Laras kan."
Bu Tarjo mengangguk angguk.
"Nak Laras baik sama kita, ia juga sayang sama ibu, kasihan, semoga cepat sembuh. Biarlah Dita menemaninya dulu."
Maruti menghela nafas lega. Paling tidak untuk sementara.
***
"Sasa, sini dekat papa sini.." panggil Agus pada sore itu dirumahnya.
"Papa...." Sasa berlari mendekat dan bergayut pada lengan papanya.
"Papa mau nanya nih, apa benar tadi Sasa melihat mama?"
"Mama berdiri jauh... Sasa melihat.. tapi mama pergi lagi.."
"Sasa mau mendekati mama ya?"
"Iya.. tapi mama pergi... trus nggak ada... trus tante Laras jatuh.. "
Agus menghela nafas penuh sesal. Ia teringat keadaan Laras yang terluka, dan ia merasa bersalah membiarkan Sasa bersamanya. Tapi itu kan bukan salahnya? Apa salah mamanya Sasa yang tiba2 memperlihatkan dirinya, kemudian kembali menghilang?
"Kita berhutang nyawa pada tante Laras," bisik Agus sambil mencium anaknya.
"Apa pa ?"
"Tante Laras amat baik, ia melindungi Sasa.. kalau tidak ada tante Laras, Sasa pasti terjatuh."
"Dimana tante Laras?"
"Sekarang lagi sakit,dirumah sakit.. Sasa mau melihatnya?"
"Kan anak kecil nggak boleh kerumah sakit?"
"Nggak usah kerumah sakit, sebentar ya, nanti Sasa bilang terimakasih sama tante Laras ya?"
Agus membuka ponselnya, menghubungi Laras dengan videocall.. mudah2an Laras bisa mengangkatnya.
Dan tersambung.
"Hallo Laras, ma'af ya, tapi kalau masih pusing kamu boleh mematikannya."
"Hallo mas, nggak, sudah mendingan, tumben mas, ini dirumah?"
"Ya, ada yang mau kasih salam nih..." kata Agus sambil memangku Sasa, sehingga tampak dilayar ponselnya.
Laras tampak gembira.
"Hallo Sasa...."
"Ayo.. kasih salam sama tante Laras." kata Agus.
"Tante sakit ?"
"Iya Sasa, tapi sudah baikan. Sasa lagi ngapain?"
"Sama papa..."
"Bilang terimakasih.." pinta Agus.
"Terimakasih tante...."
"Sama2 Sasa, aduh.. Sasa cantik sekali, sudah maem belum?"
"Sudah, Sasa mau es krim."
"Ssssh.... kok disini mau es krim ," tegur Agus sambil tertawa.
Laras pun tertawa.
"Nanti kalau tante sudah sembuh, kita makan es krim lagi ya?"
"Iya...."
Agus menurunkan Sasa yang kemudian berlari menemui perawatnya.
"Kamu lebih sehat Laras?"
"Sehat mas, apalagi menerima telephone ini. Maksudnya, setelah mlihat wajah .. Sasa.." Laras buru2 meralat ucapannya yang kelihatan senang ditelpone Agus.
Agus tersenyum.
"Sebentar saja telponnya ya, takutnya kamu nggak bisa istirahat. Besok aku kesini, kamu mau dibawain apa?"
"Nggak usah dibawain apa2 mas," bergetar hati Laras. Senang benar hatinya mendapat perhatian lebih dari Agus. Aduuh, tapi kenapa jalannya harus melalui ini? Aku jatuh dan terluka... sakit.. tau !!
***
Pagi itu Panji menemui Agus dikantornya, tapi tak ada. Maruti yang sudah datang lebih dulu mengatakan bahwa Agus langsung kerumah sakit.
"Oh ya, kasihan dia. Tampaknya marasa bersalah pada Laras."
"Merasa berhutang nyawa katanya."
"Mungkin sudah jodohnya," gumam Panji.
"Oh ya? Tampaknya pak Agus jatuh cinta beneran sama Laras."
"Waduh, ada yang cemburu donk."
"Siapa?"
"Bukan kamu?" goda Panji yang dibalas wajah cemberut oleh Maruti.
"Apa kabarnya Dita? Ibu bertanya terus, aku bingung menjawabnya. Aku juga menghawatirkan keselamatannya.
"Selama Santi masih ingin selamat, Dita pasti juga selamat. Aku ingin bertemu Agus karena ada rencana memancing Sinta dengan Sasa sebagai umpannya."
***
besok lagi ya
Subscribe to:
Posts (Atom)
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016 (Tien Kumalasari) Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mu...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 30 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi sedang mengingat-ingat, kapan dia mendengar nama Srining disebut. Mungkin Srining ...
-
NAMAKU TETAP SENJA 59 (Tien Kumalasari) Pemeriksaan terus berjalan, hari demi hari. Bu Mery dan Rosa tetap ditahan. Betapa marah Rosa k...
-
LANGIT TAK LAGI KELAM 28 (Tien Kumalasari) Pak Hasbi mengangkat wajahnya. Menatap laki-laki setengah tua yang berdiri di depannya samb...