Monday, October 5, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 020

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  020

(Tien Kumalasari)

 

Baroto mengerutkan keningnya. Tak biasanya Lili bersikap seperti ini. Ia sudah merasa aneh sejak beberapa hari terakhir. Sikapnya yang lebih manis, berangkat ke kantor pakai pamit, walaupun tidak mencium tangannya seperti kebanyakan istri melakukannya.

Lili menatap wajah suaminya, lalu diam-diam mengakui, betapa gantengnya suaminya. Salah besar kalau selama ini dia tak peduli.

“Mas, agak ke sana dong, sempit nih, kalau aku jatuh bagaimana?” kata Lili yang langsung berbaring di samping Baroto.

Baroto bergeser agak ke pinggir, sehingga Lili bisa berbaring leluasa. Perasaan aneh dikibaskannya. Ia melanjutkan tidurnya dengan memunggungi sang istri, mencoba kembali tidur dengan memejamkan matanya. Tapi kemudian ada yang menarik lengannya.

“Mas, kok tidurnya menghadap ke sana sih?”

“Aku terbiasa kalau tidur miring ke kanan,” jawab Baroto sekenanya.

“Kalau begitu Mas di sebelah sini, aku sebelah situ.”

“Apa maksudmu Lili?”

“Kalau Mas di sebelah sini, kemudian tidur miring ke kanan, kan tidak membelakangi aku.”

“Kamu ada-ada saja, besok aku harus ke bandara pagi-pagi, tahu,” kata Baroto agak kesal, tapi ia tidak merubah posisi tidurnya.

“Mas gimana sih, aku sebelah situ, Mas  sebelah sini.”

“Ini tempat tidurku, kamu hanya numpang, jadi tidak boleh mengatur.”

Tapi tanpa diduga Lili kemudian melompati tubuhnya dan berbaring di depan Baroto, membuat Baroto kemudian bergeser ke sisi yang lain. Tapi kembali Baroto tidur miring membelakangi Lili, Lili memukul punggungnya keras.

“Katanya terbiasa tidur miring ke kanan, mengapa sekarang miring ke kiri?”

“Lili, aku tidak mau diganggu ya, aku bisa bangun kesiangan.”

“Mas kan besok mau pergi, jadi harus bersikap manis sama aku.”

“Apaan sih?”

“Mas lupa ya, aku ini kan istri kamu? Lima tahun lebih kita menjadi suami istri, tapi tidak sekalipun kita berduaan seperti ini.”

“Ini kan sudah menjadi kesepakatan kita? Kia menikah atas dasar bisnis antara orang tuamu dan orang tuaku. Tapi hubungan kita tidak didasari rasa cinta. Ya kan?”

“Tapi rasanya sekarang aku jatuh cinta,” kata Lili tanpa malu, sambil kembali menarik lengan suaminya.

“Apa?”

“Ini benar. Apa salah kalau seorang istri mencintai suaminya? Mas tidak sedang mencintai perempuan lain bukan? Barangkali di luar negri banyak nona-nona atau nonya-nonya yang dekat dengan Mas, iya kah ada yang menarik hati Mas?"

Baroto terdiam. Iya benar, ia mencintai perempuan lain, tapi bukan nona atau nonya di luar negri. Tapi di sini, di kota ini. Nonya yang tak pernah dilupakannya, bahkan sudah melahirkan buah cinta mereka, seorang anak yang gagah dan tampan seperti dirinya.

Melihat Baroto terdiam, Lili semakin berani. Dan  Baroto adalah seorang laki-laki. Bagaimanapun godaan itu membuatnya sedikit terbakar.

Tapi tiba-tiba ponsel Baroto berdering. Baroto bangkit untuk mengambil ponselnya, tapi Lili menahannya.

"Biarkan saja Mas," Lili merengek.

“Lepaskan aku, barangkali sesuatu yang penting.”

“Malam-malam menelpon, mengganggu saja,” gerutu Lili.

“Di sana ini sudah siang,” kata Baroto sambil turun dari tempat tidur, meraih ponselnya kemudian duduk di sofa untuk menerimanya.

Lili kesal sekali. Ia melihat Baroto berbicara sangat lama, dan tampaknya hal yang sangat penting. Lili menunggu sampai ketiduran.

***

Pagi hari itu Baroto sudah mandi dan rapi, sementara LIli masih tergolek di ranjangnya. Ketika Lili membuka matanya, dan melihat Baroto sudah wangi, ia segera melompat turun.

“Kamu sudah mau pergi?”

“Ini sudah jam delapan pagi, aku berangkat dulu,” kata Baroto sambil menarik kopornya keluar dari kamar. Dari kamar lain, Ana juga keluar, sudah cantik dan juga rapi, sedangkan Menur berjalan di belakangnya.

“Papa sudah mau pergi?”

“Iya Ana, baik-baik di rumah, jangan nakal ya?”

“Ana mau ikut ke bandara ya.”

“Boleh, sama bibi Menur kan?”

“Tentu saja Pa. Ayo Bibi, kita ikut ke bandara." ajaknya sambil berjingkrak, membuat Menur terkejut.

“Tidak usah sama bibi Ana, bibi mau bersih-bersih kamar Ana.”

“Nanti biar bik Rumi yang bersih-bersih. Ayo cepat, mobilnya sudah menunggu,” Ana berlari ke depan sambil menarik tangan Menur.

Ketika  Lili kemudian keluar dari kamar, Baroto sudah ada di dalam mobil, di samping sopir, sedangkan di belakang duduk Menur dan Ana, yang kemudian membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya.”

Biasanya juga begitu, kalau pergi, pamit sambil lalu, dan saling tak peduli, tapi kali ini ada rasa sedih menghimpit. Apalagi semalam dia ketiduran dan gagal meluluhkan hati Baroto.

“Gara-gara telpon itu, aku jadi ketiduran,” sesalnya sambil masuk ke dalam rumah. Di pintu, si Rumi siap mendekat dengan mulut monyongnya.

“Nyonya … nyonya …”

Lili berhenti melangkah siap mendengarkan ocehan si mulut monyong.

“Ada apa lagi Rumi?

“Itu lhoh Nyonya, mengapa tuan mau pergi ke bandara, tapi si … eh … Menur … yang mengantarkan? Bukannya Nyonya?”

“Aku baru bangun, belum mandi.”

“Walau begitu, mengapa dia yang mengantarkan tuan ke bandara?”

“Aku tadi mendengar, Ana yang ingin mengantarkan ayahnya. Dan sudah bisa ditebak, pasti dia mengajak Menur. Apa yang kamu pikirkan?”

“Apa Nyonya tidak merasa khawatir?”

“Mengapa aku harus khawatir?”

“Ya ampun Nyonya, harusnya sebagai seorang istri harusnya bisa menjaga suaminya baik-baik.”

“Lama-lama kamu lancang Rumi.”

“Eh, ya ampun, maaf Nyonya, sungguh saya minta maaf. Saya mengatakan itu karena saya sayang pada Nyonya. Saya tidak ingin Nyonya kehilangan suami hanya karena bekas seorang penarik sampah.”

“Aku tidak melihat tanda-tanda mencurigakan. Menur sangat santun dan tidak akan berbuat macam-macam,” kata Lili sambil melangkah masuk. Ia harus segera mandi karena harus pergi ke kantor juga.

“Nyonya … nyonya … saya belum selesai. Saya melihat dia ... berduaan di kamar non Ana. Eh … sekali di kamar non Ana, tuan seperti membisikkan sesuatu di kuping Menur, yang kedua, juga berduaan lagi, di ruang belajar non Ana.”

Kali ini Lili berhenti. Ucapan berduaan di sebuah ruang, entah kamar tidur atau ruang belajar, membuat perasaannya tidak nyaman. Laki-laki dan perempuan berduaan, apa yang mereka lakukan? Tapi tidak, semalam dia berduaan dengan suaminya, tapi tidak melakukan apa-apa bukan? Wajah Lili menjadi muram. Sekarang ia merasa bahwa mulai mencintai suaminya. Dan mendengar suaminya berduaan dengan wanita lain, ada rasa sakit menusuk dadanya. Tapi ia masih menepiskan anggapan bahwa suaminya dan Menur berbuat sesuatu yang tak pantas. Tidak, masa ia harus percaya pada omongan pembantunya yang mulutnya ember itu?

Lili sudah meraih gagang pintu kamarnya, ketika Rumi mengoceh lagi.

“Nyonya harus percaya pada saya. Itu perbuatan tak wajar.”

“Mungkin sedang ada perlu, bukan karena akan berbuat macam-macam.”

“Tapi berbisik-bisik di telinga, apa itu wajar?”

Lili membuka kamarnya, tapi kemudian menutupnya dengan keras, membuat Rumi terlonjak kaget.

“Dikasih tahu kok malah marah?” gumam Rumi sambil melangkah pergi. Padahal Lili marah karena suaminya berbisik-bisik dengan Menur. Apa yang dibisikkannya?

***

Di sepanjang jalan ke bandara, Ana mengoceh ke sana kemari. Baroto hanya tersenyum. Ia tak pernah begitu dekat dengan Ana sebelum ini. Tapi dengan adanya Menur, ia ‘terpaksa’ harus sering-sering berdekatan dengan Ana.

“Ana sedih tidak, ditinggal papa pergi?”

“Ana tidak sedih,” jawab Ana yang memang sudah terbiasa ditinggal papanya pergi.

“Kalau bibi Menur, sedih tidak ditinggal papa pergi?” Ana justru bertanya pada Menur, yang mendadak terkejut. Mengapa juga Ana bertanya begitu.

Menur tidak menjawab, tapi menggeleng.

Baroto yang duduk di samping sopir melongok ke arah kaca spion yang ada di dalam mobil, untuk melihat sikap Menur. Ia kecewa ketika melihat Menur menggeleng.

“Tuh, bibi Menur juga tidak sedih kan?” kata Ana.

“Itu karena Ana menjawab tidak sedih. Jadi bibi Menur menirukan ucapan Ana tadi.”

“Benar begitu ya Bi?”

Menur hanya tersenyum.

“Papa ngarang ah.”

Baroto tertawa. Ia baru sadar bahwa Ana ternyata lucu juga. Ia juga baru sadar bahwa anak kecil itu menyenangkan, juga menggemaskan. Apakah karena ia sekarang merasa bahwa dirinya sudah punya anak?

Lalu ia berpesan kepada Menur, agar menjaga Rahman dengan baik. Menur diam saja, sampai-sampai Ana menegurnya.

“Mengapa Bibi diam saja? Kata nenek, kalau diajak bicara harus menjawab.”

“Oh, maaf.”

“Jaga Rahman baik-baik,” Baroto mengulang ucapannya.

“Ya,” jawab Menur ala kadarnya. Dalam hati dia berkata, tanpa dipesanpun pasti dia akan menjaga anaknya dengan baik.

“Mengapa bibi Menur diam saja dari tadi? Bibi tidak suka ikut ke bandara? Ana paling suka melihat pesawat. Lain kali maukah Papa mengajak Ana naik pesawat?”

“Tentu, pada suatu hari nanti papa akan mengajak Ana jalan-jalan naik pesawat.”

“Horeee …. dengan bibi Menur juga kan?”

Menur terkejut.

“Ya, tentu saja dengan bibi Menur.”

Menur menghela napas panjang, entah apa yang dipikirkannya.

***

Ketika mereka pulang dari bandara, Menur melihat Lili belum berangkat ke kantor. Ini agak aneh, karena biasanya dia berangkat pagi-pagi.

“Mama, besok-besok papa akan mengajak Ana dan bibi Menur jalan-jalan naik pesawat," kata Ana begitu melihat mamanya.

“Apa?” Menur terkejut karena Lili menatapnya aneh, seperti ada kemarahan yang ditujukan kepadanya.

***

Besok lagi ya.

 

No comments:

Post a Comment

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 020

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  020 (Tien Kumalasari)   Baroto mengerutkan keningnya. Tak biasanya Lili bersikap seperti ini....