DARAH, CINTA DAN AIR MATA 22
(Tien Kumalasari)
Langkah Sarah tersendat, dadanya berdebar kencang, apakah bu Lurah akan marah-marah karena Bowo membantunya? Sarah bingung, apa yang akan dijawabnya nanti kalau bu Lurah mencak-mencak seperti biasanya? Lalu bagaimana kalau bu Lurah langsung menuju kamar neneknya lalu mencak-mencak di sana?
Sarah ingin menghindar dengan berbelok ke arah lain, tapi bu Lurah keburu melihatnya.
“Hei, berhenti!”
Sarah berdebar. Sedikit gemetar. Bukan karena takut dirinya kena marah, tapi bagaimana kalau perempuan galak itu juga menghampiri neneknya?
“Berhenti.”
Sarah menghentikan langkahnya. Kalau dugaannya benar, bagaimana dengan sakit neneknya?
“Mau apa kamu ke sini?”
Pertanyaan itu membuatnya lega, karena berarti bu Lurah tidak tahu kalau ia sedang menunggui neneknya.
“Saya ….”
Belum sempat Sarah menjawab, tiba-tiba Bowo muncul dan langsung menarik tangan ibunya.
“Bu, kenapa Ibu ini?”
“Kenapa juga kamu ini? Ibu kan hanya bertanya?”
“Ini kan rumah sakit, mengapa Ibu menanyakannya? Mungkin dia baru sakit, mau periksa atau apa. Sudah, ayo segera daftar, kalau kesiangan antrenya semakin banyak,” kata Bowo sambil menarik tangan ibunya.
Sarah menghela napas lega. Ternyata bu Lurah akan periksa ke dokter, dan tampaknya tidak tahu tentang sakit neneknya.
Ketika mereka menjauh, Sarah segera melanjutkan langkahnya. Hari ini ia tidak masuk sekolah. Tapi masalah jualan koran harus dilakukannya. Itu adalah uang. Uang yang sangat dibutuhkan untuk biaya neneknya. Walau sedikit tak apa, yang penting berusaha mencari, dan kalaupun menjadi beban orang lain, walau sedikit ia punya uang juga.
***
Sarah tidak langsung pulang. Ia pergi ke agen koran dan mengambil dagangan seperti biasanya.
“Tumben pagi-pagi, Sarah? Kamu nggak sekolah?” tanya pemilik agen koran itu.
“Tidak Pak, sedang mencari uang lebih banyak, jadi jualan mulai pagi.”
Pemilik agen koran itu tertawa.
“Wah, sedang butuh uang banyak ya Sar?”
“Nenek saya sakit Pak, jadi saya jualan dari pagi. Beri korannya dua kali lipat ya Pak.”
“Nenek kamu sakit apa?”
“Sakit berat, harus dirawat di rumah sakit.”
“Oh ya? Sejak kapan?”
“Baru kemarin, ini saya tinggal di rumah sakit, karena saya harus mencari uang.”
Sarah berlalu, dan pemilik kios koran itu menatap punggungnya dengan iba.
“Gadis itu sungguh luar biasa. Harus sekolah, harus mencari uang karena neneknya sakit. Kasihan sekali.”
Lalu ia mencari amplop, diisinya beberapa lembar uang, disiapkannya untuk diberikan sebagai rasa simpati atas musibah yang dideritanya.
***
Hari masih pagi ketika itu, tapi Sarah sudah berteriak-teriak menjajakan korannya ketika lampu menyala merah di perempatan seperti biasanya.
Baru dua kali dia membelah keramaian di pagi itu, kemudian dia berlari lagi ke tepi ketika lampu menyala hijau, lalu tiba-tiba dilihatnya sebuah mobil berhenti. Sarah berdebar, itu kan Fajar? Sarah berlari mendekat.
"Kok pagi-pagi Mas?”
“Jam segini aku berangkat ke kantor. Kamu nggak sekoah? Kok jualan korannya pagi?”
“Lagi cari uang Mas.”
“Biasanya sepulang sekolah?”
“Saya nggak masuk hari ini.”
“Kenapa?” Fajar menatapnya heran.
Wajah Sarah berubah murung, teringat sakit neneknya.
“Nenek saya sakit.”
Fajar keluar dari dalam mobilnya, menatap Sarah yang tampak pucat, berbeda dari biasanya yang penuh semangat.
“Sakit apa?”
“Berat, kata dokternya jantungnya bengkak, tensinya tinggi, lalu apa lagi, saya nggak ngerti Mas.”
“Sejak kapan?”
“Tadi malam. Eh, masih sore.”
“Di mana?”
“Di rumah sakit dekat rumah sana. Nenek saya tinggal dulu. Sebenarnya saya mau pulang mengambil baju ganti, tapi saya menyempatkan cari uang dulu.”
“Kamu tidak usah jualan, aku antar pulang, lalu aku antar ke rumah sakit lagi. Kasihan nenek kamu sendirian.”
“Tapi, ini … .” Sarah menunjuk ke arah tumpukan koran yang didekapnya.
Baru berkurang beberapa lembar.
“Tidak apa-apa, kembalikan saja, saya ganti uang yang seharusnya kamu terima.”
“Mas ….”
“Cepat masuk, di mana agen korannya?”
Sarah menurut, masuk ke dalam mobil Fajar. Sudah dua kali Sarah menaiki mobilnya. Adem dan nyaman. Tapi kali itu ia tak merasakan kenyamanan sama sekali. Pikiran tentang neneknya sangat membuatnya sedih.
“Bayar berapa ketika masuk semalam?”
Sarah ragu mengatakannya.
“Katakan saja.”
“Sebenarnya … ada yang membantu, tapi saya sangat keberatan, kalau saja tidak mengingat sakitnya nenek. Saya dan nenek sangat tidak suka dia. Saya terpaksa menerimanya mengingat nenek yang harus segera mendapat pertolongan.”
Air mata Sarah bercucuran.
“Siapa?”
“Yang dulu membuang koran dagangan saya di tempat sampah.”
Lalu Sarah menceritakan asal muasalnya mengapa kemudian dia menerima tawaran Bowo. Ia mengkhawatirkan sakit neneknya.
Fajar mendadak muram. Ia kesal mengingat kelakuan Bowo.
“Nanti aku ganti semua yang sudah dibayarnya.”
“Mas ….”
“Nanti kamu kembalikan saja uangnya.”
“Tapi ….”
“Tidak ada tetapi. Masa kamu harus berhutang budi kepada orang yang pernah menyakiti kamu?”
***
Hari itu Fajar mengantarkan Sarah pulang, setelah mengembalikan sisa korannya, yang kemudian dia juga diberi amplop oleh pemilik agen koran itu. Ditolakpun ia memaksa, jadi terpaksa diterima dengan berkali-kali ucapan terima kasih.
“Jadi merepotkan banyak orang,” gumam Sarah sambil memasukkan amplop itu ke dalam sakunya.
"Tidak apa-apa, itu tandanya banyak orang bersimpati atas apa yang terjadi pada diri kamu. Karena kamu baik dan rajin, karena kamu ….”
“Aku apa lagi?”
“Kamu cantik ….”
Sarah menatap Fajar sambil tersenyum. Senyum senang pastinya, diantara duka yang masih menghimpitnya.
“Ada-ada saja.”
“Itu benar. Ayo tersenyum lagi, jelek ah kalau cemberut.”
“Aku sedang sedih.”
“Ya, aku tahu. Tapi nenek sudah ada yang menanganinya. Kamu tidak perlu khawatir.”
Sarah merasa lebih tenang, karena ada yang menemaninya, karena dia tidak sendiri.
Ketika pulang Sarah mengambil dompet kain biru milik nenek. Ia akan menghitungnya nanti di rumah sakit, agar nenek juga tahu.
Dan Sarah terkejut ketika setelah sampai di rumah sakit, Fajar mengembalikan sejumlah uang, yang katanya harus dikembalikan kepada Bowo. Bagi Sarah hal itu sama saja. Ia tidak berhutang kepada Bowo, tapi berhutang kepada Fajar. Walau begitu kali ini rasa berhutang itu terasa tidak sangat membebani. Ia juga percaya bahwa nenek tak akan marah lalu menolak semua pengobatan seandainya tahu bahwa Bowo lah yang berperan mengupayakan pengobatan untuk dirinya.
***
Setelah menyelesaikan semuanya, Fajar segera berpamit kepada Sarah karena harus segera kembali ke kantor.
“Jangan jualan dulu, temani Nenek,” kata Fajar sebelum pergi.
“Terima kasih banyak Mas.”
“Karena aku belum sempat ketemu Nenek, nanti sepulang dari kantor aku akan mampir lagi kemari,” kata Fajar lagi karena tadi memang ia hanya mengurus biaya yang harus dibayar Sarah, termasuk yang sudah dibayar Bowo, lalu memberikan semua uang yang sudah dibayarkan Bowo.
Sebenarnya Sarah juga merasa tidak enak dengan mengembalikan uang itu, yang pastinya Bowo akan merasa tersinggung. Dan ia mengakui karena bagaimanapun Bowo berperan banyak dalam berusaha membawa nenek ke rumah sakit.
“Nanti kalau ketemu, aku akan meminta maaf, sekaligus berterima kasih, setidaknya Bowo bermaksud baik.”
Dan tak lama setelah Fajar pergi, Bowo melongok ke kamar nenek, tapi tidak berani masuk. Sarah bergegas keluar, sambil membawa sejumlah uang dari semua yang sudah dibayarkan. Bowo tentu saja terkejut.
“Apa maksudmu Sarah?”
“Bowo, aku sangat berterima kasih, karena sudah berusaha membawa dokter untuk Nenek, lalu mengantarkan ke rumah sakit. Aku khawatir kalau nanti Nenek tahu bahwa kamulah yang melakukan semuanya, lalu Nenek akan marah.”
“Kamu tidak usah bilang atau menyebut namaku.”
“Bagaimanapun kebohongan pasti akan terungkap. Aku sudah mendapatkan uangnya, ini yang sudah kamu bayarkan, mohon maaf aku kembalikan, jangan marah dan jangan tersinggung, bagaimanapun kamu sudah berbaik hati dengan melakukan semuanya, dan untuk itu aku sangat berterima kasih.”
“Dari mana kamu mendapatkan uangnya.”
“Adalah, kamu tidak perlu tahu. Sekali lagi aku_” belum sempat Sarah menyelesaikan ucapannya, bu Lurah berteriak memanggil Bowo, dengan wajah penuh amarah.
***
Besok lagi ya.
Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda. Sehat slalu bunda Salam Seroja
Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 22 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien cerbung yg ditunggu sdh tayang smg sekeluarga sehat selalu dan selalu dlm lindungan Allah SWT aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien cerbung yg ditunggu sdh tayang smg sekeluarga sehat selalu dan selalu dlm lindungan Allah SWT aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~22 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah CeDeDeAaeM_22 sudah hadir.
ReplyDeleteSarah ga masuk sekolah nungguin nenek sakit dan tetep jualan koran.
Matur nuwun mBak Tien.
Tetap berkarya, salam SEROJA dan tetap ADUHAI π₯°π₯°π€π
Trmksh mb Tienπ
ReplyDeleteπ·π»π·π»π·π»π·π»
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung DeCeDeAaeM_22
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
π·π»π·π»π·π»π·π»
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai