Monday, October 5, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 23

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  23

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut. Ia ingin menghindar, tapi bu Lurah yang galak itu sudah sangat dekat dengannya.

Bowo membalikkan tubuhnya, menemui sang ibu.

“Kamu tinggalkan Ibu mengantri lama, kamu biarkan Ibu periksa sendiri, gara-gara kamu menemui perempuan miskin itu?”

“Ibu jangan berteriak, malu. Tuh, pada ngelihat kemari.”

“Biar saja. Biar mereka tahu bahwa dia memang miskin. Apa yang dilakukannya di sana? Dia dirawat? Masa orang miskin dirawat di ruang mahal seperti itu?”

“Sudah Bu, ayo pulang saja. Jangan buat keributan di sini.”

“Ibu hanya ingin tahu, apa yang dilakukannya di situ?”

“Dia sedang membezoek kerabatnya.”

“Masa dia punya kerabat orang kaya?”

”Ibu jangan begitu, masa tidak boleh orang miskin punya kerabat orang kaya? Ibu sudah selesai kan, ayo pulang.”

“Tunggu obatnya dulu.”

“Baiklah, ayo ke depan apoteknya.”

“Tadi aku mencari om kamu. Mana Harun?”

“Mungkin hari ini tidak praktek. Sudah, tidak usah mencari, kita ambil obatnya dulu, siapa tahu ditinggal Ibu padahal nama Ibu sudah dipanggil.”

“Lama sekali. Makanya aku mencari Harun, supaya mereka tahu bahwa ibumu ini saudaranya dokter terkenal di sini.”

“Urusan apotek mana bisa dihubungkan sama dokter.”

“Ya bisa, kalau kita kerabat dokternya pasti bisa dibuat lebih cepat.”

“Jangan tergesa, kalau Ibu tergesa-gesa, nanti obatnya keliru, bagaimana? Atau … Ibu saya antar pulang dulu, nanti Bowo kembali untuk mengambil obatnya.”

“Lalu kamu akan menemui si miskin itu lagi?”

“Ya tidak Bu, apa dia akan tetap di sini, pasti sudah pulang. Ayo Bowo antar pulang dulu.”

“Aku mau bilang kalau dokter Harun itu saudara aku.”

“Tidak usah. Kan saya bilang, kalau tergesa lalu obatnya keliru, bagaimana?”

Akhirnya dengan mengomel panjang pendek, bu Lurah mau diantarkan pulang terlebih dulu, sehingga Bowo merasa lega. Jangan sampai ibunya tahu kalau nenek Suli dirawat di sini, di kamar bagus pula. Pasti ibunya menuduh dirinya yang membiayainya. Padahal setelah dia membayarnya kemarin, tadi uangnya dikembalikan oleh Sarah, dan dia belum menanyakan kejelasannya.

“Kamu itu memegang apa?” rupanya sang ibu melihat bahwa tangannya menggenggam amplop berisi uang yang tadi diberikan Sarah.

“Oh, ini … bukan apa-apa, hanya uang pembayaran dari pelanggan, belum sempat Bowo simpan.”

“O, Ibu tahu, kamu mau memberikan uang itu untuk Sarah kan? Sini coba Ibu lihat.”

“Ya tidak Bu, untuk apa Bowo memberikan uang? Ini uang dagangan,” kata Bowo sambil memasukkan amplop itu ke dalam sakunya. 

Lalu ia bergegas keluar dari area rumah sakit itu sambil menggandeng lengan ibunya.

***

Sarah merasa lega, karena ia sudah mengembalikan uang yang telah dibayarkan Bowo, sehingga ia bisa terlepas dari budi baik Bowo tentang beaya itu. Hanya saja Sarah bukan orang jahat. Ia tetap mengakui bahwa Bowolah yang berperan sehingga neneknya bisa sampai di rumah sakit itu dan mendapat perawatan.

Sarah menghela napas lega ketika mereka sudah pergi. Ia kemudian kembali masuk ke dalam kamar sang nenek.

Begitu melihat Sarah, sang nenek segera menanyakan tentang siapa yang membuatnya keluar dari kamar.

“O, hanya perawat. Sarah ingin menanyakan tentang penyakit Nenek,” kata Sarah yang sama sekali tak ingin mengatakan tentang Bowo.

“Nenek mau pulang saja.”

“Sabar dulu ya Nek, nanti kalau dokter sudah mengatakan bahwa Nenek boleh pulang, maka Nenek bisa pulang. Yang terpenting Nenek harus tenang dan tidak memikirkan apapun, karena ketenangan Nenek sangat membantu untuk kesehatan Nenek.”

“Kamu seperti dokter saja.”

“Memang dokternya berkata begitu kan?”

“Nenek tidak kerasan tidur di tempat ini. Lebih nyaman tidur di rumah sendiri.”

“Ya tidak ada Nek, orang yang kerasan tidur dirumah sakit. Nenek ada-ada saja.”

“Bagaimana uang tabungan Nenek? Ada berapa? Nenek tidak mengerti apa yang kamu lakukan sehingga Nenek bisa dirawat di tempat ini.”

“Kan Nenek tidak boleh memikirkan apa-apa.”

“Mana bisa orang tidak memikirkan apa-apa? “

“Setidaknya tenang, karena Sarah sudah menyelesaikan semuanya. Ini uang tabungan Nenek, Sarah bawa kemari.”

“Kamu hitung belum, ada berapa?”

“Banyak. Nanti kalau ada kurangnya, Sarah akan minta pada Nenek. Kan Sarah juga punya tabungan sendiri.”

“Ya Tuhan. Penyakit Nenek ini menghabiskan biaya yang banyak. Biasanya kalau sakit hanya minta dikerok, lalu sembuh.”

“Setelah sembuh, Nenek jangan sampai kecapekan. Kalau terlalu capek, Nenek bisa sakit lagi.”

“Mengapa kamu tidak sekolah?”

“Sarah harus menunggui Nenek. Sarah sangat khawatir, bagaimana Sarah bisa sekolah”

“Nenek tidak apa-apa. Suster-susternya di sini baik semua. Kamu tidak usah terus menunggui Nenek. Besok masuklah sekolah.”

“Kita lihat saja nanti, kalau Nenek bisa Sarah tinggalkan, Sarah akan sekolah.”

“Masuk sekolah saja. Katanya kamu mau ujian.”

”Baik, Nenek tenang saja, Sarah mengerti apa yang harus Sarah lakukan. Nenek sudah makan?”

“Sudah. Nggak enak makanan di sini.”

“Namanya lagi sakit, semua makanan pasti terasa tidak enak. Tapi kan Nenek tetap harus makan. Turuti semua nasehat dokter. Kalau Nenek menurut, pasti Nenek segera sembuh.”

Nenek mengangguk. Tapi masalah pembayaran biaya rumah sakit masih menjadi  pemikiran nenek Suli. Apakah Sarah meminjam kepada seseorang? Sarah tak pernah mau mengatakannya.

***

Adalah Bimo, yang bingung karena tidak melihat Sarah berjualan koran. Sudah dua hari ia tak melihatnya. Ia sudah menunggu sejam lebih dan tak melihat bayangan Sarah. Kegelisahan itu dibawanya sampai ke rumah, membuat sang ibu kebingungan.

“Mengapa kamu diam saja dari tadi? Makan juga tak seperti biasanya. Sedang memikirkan sesuatu? Pekerjaan kamu?  Dimarahi pimpinan?” kata Saptari yang sudah tahu kalau anaknya ‘naik pangkat’ di tempat kerjanya, dan khawatir sang anak membuat kesalahan di tempat kerjanya.

“Tidak Bu, Bimo bekerja dengan baik.”

“Syukurlah. Lalu kenapa kamu kelihatan gelisah begitu?”

“Bimo tidak melihat Sarah sudah dua hari ini. Kenapa ya Bu. Beberapa hari yang lalu dia bilang bahwa neneknya kurang sehat.”

“Kalau begitu besok ibu mau ke rumah nenek Suli, barangkali benar bahwa dia sakit.”

“Iya Bu, tak mungkin Sarah tidak berjualan, soalnya Sarah gadis yang rajin.”

“Apa kamu berharap dia akan bisa menerima kamu?”

“Siapa tahu, dengan perlakuan Bimo yang baik, hati Sarah akan tersentuh, lalu ….”

“Bimo, masalah penolakan itu tidak usah kamu pikirkan. Jodoh itu Allah yang mengaturnya. Mohonlah kepada Allah, jodoh yang baik. Jangan mengharapkan sesuatu tanpa berpegang kepadaNya.”

“Iya Bu.”

***

Sore itu Sarah kedatangan tamu. Seperti yang pernah dikatakannya, Fajar datang sepulang dari kantor. Nenek Suli menatapnya heran. Dari mana Sarah kenal dengan anak muda ganteng dengan pakaian perlente ini. Sepertinya nenek Suli pernah melihatnya.

“Sarah, apa ini Bimo? Kok penampilannya beda?” tanya nenek Suli pelan.

Tapi Fajar mendengarnya. Ia tersenyum dan mendekati nenek Suli.

“Nenek, nama saya Fajar. Banyak yang mengira bahwa Bimo saudara kembar saya. Tapi Bimo bukan saya. Bimo bekerja di kantor ayah saya.”

“O, ya ampuun. Ada orang sepersis ini. Dari mana Sarah kenal orang ganteng ini?”

”Nek, dia hanya pelanggan koran Sarah. Tiap hari dia membeli koran Sarah, bahkan terkadang memborongnya sampai habis.”

“Oh, iya? Pasti dia orang kaya, Pakaiannya bagus, baunya wangi,” kata nenek Suli yang disambut senyum lebar oleh Fajar.

“Saya orang biasa saja Nek, saya sahabat Sarah.”

Mereka berbincang akrab, Sarah senang sang nenek tampak gembira dengan candaan Fajar untuk menyenangkan hati neneknya.

***

Pagi hari itu Bowo kembali ke rumah sakit. Ia tidak langsung mencari Sarah, tapi pergi ke bagian administrasi. Ia menanyakan, siapa yang datang dan mengurus pembayaran pasien bernama Suli. Dan kemarahannya memuncak ketika mendengar dari petugas itu tentang siapa yang membayarnya.

“Dia?” geramnya.

***

Besok lagi ya.

 

10 comments:

  1. Trmksh mb Tien, smg sht sll🙏

    ReplyDelete
  2. 🍄‍🟫🍂🍄‍🟫🍂🍄‍🟫🍂🍄‍🟫🍂
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung DeCeDeAaeM_23
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🍄‍🟫🍂🍄‍🟫🍂🍄‍🟫🍂🍄‍🟫🍂

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta.

    Baca cerbung sambil nonton timnas semoga timnas unggul

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah,Sarah telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏❤️🙏

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah cerbung DC&AMsudah tayang
    Terima kasih bunda ,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah sampun tayang ... maturnuwun bu Tien.... semoga by Tien sll sehat, penuh be rkah dan dilimpahi rizki , salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~23 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, cerbung yg di tunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 23

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  23 (Tien Kumalasari)   Sarah terkejut. Ia ingin menghindar, tapi bu Lu rah yang galak itu sudah sangat dekat den...