Friday, October 2, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 21

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  21

(Tien Kumalasari)

 

Sarah tertegun. Ia menatap Bowo yang masih berdiri di depan pintu. Dan itulah yang membuat neneknya menolak dibawa ke rumah sakit.

“Nenek, sakit Nenek lumayah parah, sebaiknya dirawat di rumah sakit, agar pemeriksaan lebih baik, dan Nenek mendapat penanganan yang lebih baik juga,” kata dokter Harun.

“Aku tidak mau dia ….," katanya sambil menuding lemah dan dengan ucapan yang lemah juga.

Sarah mendekat, lalu berjongkok, menangis di samping tempat tidur neneknya.

“Nenek, tolong menurutlah. Sarah tidak ingin Nenek sakit. Sarah ingin Nenek sehat dan selalu bersama Sarah. Tanpa Nenek, hidup Sarah tak berarti. Apa Nenek ingin Sarah bersedih?”

“Aku tidak mau dia, mengapa dia ada.”

”Nek, yang mengantarkan Nenek adalah pak dokter ini, jangan memikirkan siapa-siapa,” bujuk Sarah. 

Ia terpaksa melakukannya, entah nanti bagaimana, yang penting neneknya mau diajak ke rumah sakit dan segera kembali sehat.

“Kalau dia, biarkan Nenek mati saja.”

“Nek, jangan berkata begitu. Kalau Nenek meninggal, Sarah akan ikut meninggal juga.”

”Sarah ….,” Nenek Suli menatap Sarah yang berlinangan air mata.

“Apakah ke rumah sakit tidak harus bayar? Tolong hitung tabungan Nenek.”

“Nanti Sarah menghitungnya. Yang penting Nenek segera mendapat pengobatan dan segera sembuh.”

Nenek Suli mengangguk. Ia melirik ke arah pintu, tak ada lagi bayangan Bowo. Sarah membantunya bangun, lalu memapahnya keluar. Dokter Harun membantunya naik ke dalam mobil. Di belakang kemudi, ada seseorang memakai topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

“Siapa dia?”

“Itu sopir saya Nek,” kata dokter Harun yang segera menangkap situasi, bahwa nenek Suli tak mau berurusan dengan Bowo. 

Dokter Harun tahu polah tingkah keponakannya, dan sedikit banyak ia menduga-duga, pasti kelakuan Bowolah yang membuat nenek Suli tidak menyukainya. Karenanya tadi dia mengakui bahwa dialah yang akan mengantarkan nenek Suli ke rumah sakit.

***

Di dalam mobil, nenek Suli bersandar di jok dengan tubuh lemas. Sarah duduk di sampingnya dan menggenggam tangan sang nenek sangat erat. Rasa khawatir menghilangkan rasa bencinya kepada Bowo. Toh kenyataannya Bowolah yang memanggilkan dokter untuk sang nenek, dan sekarang sedang mengantarkannya ke rumah sakit. Apa boleh buat. Kesehatan sang nenek lebih utama dari mengikuti kata hati yang penuh benci. Setidaknya ia melihat sisi baik yang Bowo lakukan.

“Sarah ….,” lirih kata nenek Suli.

“Ya, Nek.”

“Nenek ini kan memang sudah tua. Kalaupun Nenek harus meninggal, bukankah itu sudah pasti akan terjadi?”

“Tidak, Nenek tidak boleh berkata begitu. Sarah tak bisa hidup tanpa Nenek.”

“Sarah.”

“Jangan berkata apa-apa lagi. Pokoknya Nenek harus sembuh,” kata Sarah sambil meremas tangan sang nenek, yang terasa dingin.

“Apa Nenek kedinginan?” tanya dokter Harun.

“Biar saya kecilkan ACnya. Pak sopir, kecilkan ACnya, nenek Suli kedinginan,” kata dokter Harun. 

Bowo mengangguk dan tersenyum. Ia mengecilkan AC mobilnya tanpa berkata apa-apa, takut suaranya terdengar nenek Suli, lalu minta diturunkan di jalan.

***

Begitu sampai di rumah sakit, dokter Harun sudah memesan agar brankar disiapkan untuk pasien yang dibawanya. Jadi begitu mobil berhenti, dua orang perawat sudah menunggu dengan brankar yang segera dipergunakan untuk membawa nenek Suli ke ruang IGD.

Sarah mengikutinya dan terus memegang tangan sang nenek.

“Sarah … bagaimana membayarnya?” bisik sang nenek lemah.

“Nenek tidak usah memikirkannya. Yang penting Nenek segera mendapatkan perawatan, lalu sembuh,” kata Sarah, dengan berbisik pula.

Begitu sang nenek dibawa masuk, Sarah duduk di bangku tunggu. Ia harus menghibur neneknya agar tidak khawatir tentang biaya pengobatan sang nenek, padahal dia sedang berpikir bagaimana mendapatkan biaya itu.

Bowo duduk di sampingnya, dan melihat kegelisahan Sarah.

“Sarah, kamu tidak usah memikirkan tentang biaya perawatan Nenek.”

“Bagaimana aku tidak memikirkan, Bowo? Barangkali Nenek punya tabungan, tapi aku belum tahu seberapa banyak. Biaya di rumah sakit pasti mahal bukan?”

“Biar aku yang menanggungnya, kamu tidak usah khawatir.”

“Apa? Tidak.... jangan begitu. Kamu kan tahu Nenek tidak suka sama kamu? Bahkan ketika melihat kamu saja Nenek hampir tidak mau dibawa ke rumah sakit.”

“Apa kamu harus bilang kepada nenek bahwa aku yang membayarnya? Jangan Sarah, pokoknya jangan sebut namaku dalam masalah sakitnya Nenek. Bahkan kalau Nenek harus dirawat, biarlah aku yang memikirkannya.”

Sarah menghela napas panjang. Ini sangat berat baginya.  Bagaimana mungkin orang yang dibenci neneknya malah menolongnya dan bahkan membayar biaya selama di rumah sakit?”.

“Ini sangat berat bagi aku, Bowo.”

“Kalau begitu, anggap saja ini sebagai hutang. Kelak kalau kamu sudah punya uang yang cukup, kamu boleh mengembalikannya. Bagaimana?”

Sarah kembali terdiam. Barangkali memang harus begitu. Tawaran Bowo sedikit meringankan beban pikirannya. Setidaknya nenek Suli bisa tertolong, dan itu adalah harapan Sarah, karena hanya nenek Sulilah keluarga yang dimilikinya.

“Bagaimana? Setuju?  Nanti kalau Nenek harus dirawat, aku pilihkan ruang yang terbaik.”

“Jangan. Yang biasa saja, asal tidak buruk-buruk amat. Yang penting Nenek segera mendapat pengobatan.”

Ketika dokter Harun keluar dari ruang IGD, Sarah bergegas mendekatinya.

“Bagaimana Nenek saya? Apa boleh dibawa pulang?”

“Belum boleh Sarah, sakit nenekmu agak serius. Tekanan darah tinggi, dan ada pembengkakan jantung.”

“Apakah itu berbahaya?” tanya Sarah, cemas.

“Kalau mendapat penanganan yang baik, Nenek akan sembuh. Kamu harus sabar.”

Sarah merasa sedikit lega.

“Dokter, mm … maaf, berapa harus …. eh … berapa saya harus membayar Dokter?”

Dokter Harun tersenyum. 

"Bowo adalah keponakanku, sedangkan kamu teman Bowo, jadi aku tidak memungut bayaran.”

“Tapi….”

“Tungguin nenek kamu sampai dia dibawa ke ruang rawat. Jangan khawatir, Nenek akan baik-baik saja, asalkan menurut apa kata dokter.”

Sarah mengangguk.

“Terima kasih, dokter,” kata Sarah lirih, karena menahan tangis.

“Sudah, tenang saja. Sekarang aku mau pulang. Biar Bowo mengantar aku dulu, nanti dia akan kembali kemari.”

“Tidak usah kembali kemari Bowo, biar aku sendiri saja.”

“Aku hanya akan mengantarkan om Harun,” kata Bowo yang tidak mau mendengarkan permintaan Sarah.

Sarah terpaku di tempat duduknya. Lagi-lagi karena Bowo. Apakah layak dia harus terus membencinya sementara boleh dikatakan Bowo telah menyelamatkan nyawa neneknya?

***

Malam itu Sarah tidur di rumah sakit. Walau sudah minta agar sang nenek dirawat di ruang biasa saja, tetap saja Bowo memesankan kamar kelas satu untuk sang nenek. Tidak terlalu mahal bagi Bowo, tapi bagi Sarah itu sangat mewah dan luar biasa. Tapi mau bagaimana lagi. Ia harus menerimanya.

Pagi-pagi sekali Sarah sudah bangun. Ia melihat sang nenek masih tertidur. Setelah berwudhu dan bersujud, Sarah mendekati sang nenek. Perawat sudah menggantikan bajunya dengan baju dari rumah sakit. Sarah ingin pulang untuk mengambil bajunya juga. Ketika ia mendekat, nenek Suli membuka matanya.

“Mengapa Nenek tidur di sini? Mau pulang saja.”

“Jangan Nek, Nenek harus dirawat. Nanti kalau keadaan membaik, Nenek boleh pulang.”

“Ini ruangan apa, sangat bagus, bagaimana Nenek bisa membayarnya?”

“Nenek tenang saja, semua Sarah yang memikirkan. Yang penting Nenek sembuh. Sarah sedih kalau Nenek sakit.”

“Apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkan uang?”

“Sarah bisa, pokoknya Nenek tidak usah memikirkannya. Kata dokter, supaya Nenek cepat sembuh, Nenek tidak boleh banyak pikiran.”

“Nenek menyusahkan kamu.”

“Tidak, ini kewajiban Sarah untuk merawat Nenek. Sekarang Sarah mau pulang sebentar ya, mengambil baju Sarah, dan juga baju Nenek.”

“Tolong hitung uang Nenek, dibawah tumpukan baju, dompet kain biru.”

“Baiklah, Nenek nanti harus nurut sama perawat dan dokter ya.”

Nenek Suli mengangguk, walau banyak pikiran masih membebaninya. Ruangan bersih, kasur empuk, udara dingin dan ada televisi di depannya, tak pernah nenek rasakan, apa lagi memilikinya.

Sarah keluar dari ruang sang nenek, bermaksud pulang. Tapi tiba-tiba tanpa diduga ia bertemu bu Lurah di lobi.

***

Besok lagi ya.

 

14 comments:

  1. πŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung DeCeDeAaeM_21
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽπŸŽ‹πŸŽ

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah tayang gasik cerbung kesayangan kita,... maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta, tetap produktif berkarya cerbung, banyak pecintanya..❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah
    Dy8kron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah...
    Natur nuwun Dhe, DeCeDeAaeM_21 sudah hadir, semoga nebek Suli sehat kembali.
    Demikuan jufa sang penulis "kudu" sehat terus dan terus sehat nggih.
    Tetap semangat dan ADUHAI

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~21 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Udah tayang efisode ke 21. Semoga sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 21 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah cerbung kesayangan sampun tayang.... maturnuwun bu Tien, foaku semoga bu Tien sekeluarga selaly sehat wal afiat dan sll dlm lindungan Allah SWT.. aamiin yra .. salam hangat dan aduhai aduhai bun❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah DC&AM sudah tayang
    Terima kasih bunda
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🀲

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 21

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  21 (Tien Kumalasari)   Sarah tertegun. Ia menatap Bowo yang masih berdiri di depan pintu. Dan itulah yang membua...