Thursday, October 1, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 20

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  20

(Tien Kumalasari)

 

Bimo menatap punggung Sarah yang melenggang pergi setelah bertemu laki-laki ganteng bermobil. Bimo pura-pura tak melihatnya, tapi Fajar justru memanggilnya.

“Bimo! Ternyata ada kamu. Baru pulang kerja ya?” katanya sambil melongok dari jendela mobilnya. 

Bimo yang tahu diri segera datang mendekat dan mengangguk hormat, karena bagaimanapun Fajar adalah putera pimpinan tertinggi di kantor di mana dia bekerja.

“Saya baru pulang, dan menemani Sarah sebentar.”

“Rumah kamu di mana?”

“Itu Mas, gang kecil masuk ke utara.”

“O, ya sudah. Kamu pasti capek setelah bekerja. Aku juga mau pulang dulu ya,” katanya sambil menghidupkan mesin mobilnya. 

Ia melambaikan tangannya kemudian berlalu. Bimo menghela napas panjang. Fajar sangat baik. Kalau Sarah suka, itu sudah sepantasnya.

“Hei, ada apa aku ini? Cemburu? Tapi mungkinkah mereka saling suka? Masa iya mereka saling suka? Dengan perbedaan status yang sangat jauh?” gumam Bimo sambil terus melangkah pulang. 

Tapi ia kesal dengan perasaannya sendiri. Tak mungkin Sarah  suka pada Fajar. Masa iya, Sarah sangat tidak tahu diri? Tapi bukankah rasa cinta itu tak mengenal siapa dan bagaimana orangnya?

“Ya Tuhan, apapun yang terjadi, semua hanyalah kehendakMu.”

Setelah berserah diri, Bimo melanjutkan langkahnya dengan lebih ringan.

***

Di rumah, Saptari sudah menunggu di ruang makan. Ada nasi kuning dan ayam goreng terhidang di atas meja. Ada juga sambal goreng dari labu siam terhidang di sana.

“Ibu masak aneh hari ini,” tanya Bimo heran.

“Masak aneh bagaimana sih? Ini semua bahan makanan dan ibu masak dengan wajar, apanya yang aneh? Ini benar-benar nasi, bukan plastik lhoh,” canda sang ibu.

“Maksud Bimo, mengapa masak nasi kuning, seperti sedang mengadakan syukuran."

Saptari tertawa. Ia mendorong anaknya masuk ke dalam kamar.

“Bersihkan tubuhmu dan ganti baju. Atau kamu mau mandi dulu sebelum makan?”

“Iya Bu, Bimo mau mandi dulu. Bau nih. Keringatan seharian.”

“Ya sudah, mandi dulu, ibu angetin sayurnya.”

Dan ketika keduanya sudah siap di meja makan.

“Bimo, apa kamu lupa, ini hari ulang tahun kamu yang ke duapuluh lima.”

“Oh, iya Bu, Bimo malah lupa pada ulang tahun sendiri. Jadi Bimo lahir di tanggal duapuluh bulan Maret ya? Benar-benar lupa.”

“Karena itulah ibu bersyukur, sudah membesarkan kamu sampai dewasa.”

“Jadi nasi kuning ini adalah nasi syukuran ya?”

“Benar Nak. Selamat ulang tahun ya, dan nikmati hidangan sederhana ini untuk merayakannya. Ayam goreng ini kesukaan kamu. Tapi maaf, sambal gorengnya cuma dari labu siam, bukan sambal goreng ati.”

”Tidak apa-apa Bu, terima kasih banyak sudah membuat masakan istimewa ini untuk Bimo.”

“Semoga kamu selalu sehat, bahagia dan panjang umur, segera dapat istri yang cantik, lalu memberikan ibu cucu-cucu yang lucu.”

“Aamiin. Terima kasih atas semuanya ya Bu. Ibu adalah ibu terbaik di dunia ini.”

Bimo berdiri lalu memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, ayo kita makan,” kata Saptari sambil mengusap air matanya.

***

Ketika sampai di rumah, Sarah terkejut melihat sang nenek berbaring di tempat tidurnya. Tak biasanya nenek Suli tidur sore-sore.

“Nenek,” sapanya sambil mendekat.

Nenek Suli membuka matanya.

“Kamu sudah pulang?” tanyanya dengan suara lemah, membuat Sarah sangat khawatir. Ia juga melihat napas sang nenek agak tersengal.

“Sudah Nek, mengapa Nenek tiduran?” Sarah memegang dahi neneknya. Berkeringat. Tapi wajah nenek sangat pucat.

“Nenek sakit ya? Apa yang Nenek rasakan? Tidak panas sih, tapi Nenek sangat pucat.”

”Tidak apa-apa, Nenek hanya lelah.”

Sarah bergegas ke belakang. Ia membuat minuman untuk neneknya. Minuman kesukaan neneknya, wedang jahe. Ia membawakannya ke kamar sang nenek, sambil membawa cawan untuk sedikit mengurangi panasnya.

Ia menuangkan wedang jahe ke cawan, kemudian meminumkannya kepada sang nenek dengan sendok.

“Nenek tiduran saja, biar Sarah suapkan.”

“Seperti sedang sakit keras saja, biar nenek bangun."   

“Jangan Nek, sudah, tiduran saja, Sarah suapin wedang jahenya.

Nenek Suli menurut, karena tubuhnya memang terasa lemah.

Setengah gelas wedang jahe dihabiskannya, lalu Sarah meletakkan cawan di meja dekat pembaringan sang nenek.

“Badan nenek merasa lebih segar.”

“Ke dokter ya Nek. Dokter Harun tidak jauh dari sini.”

“Nenek tidak apa-apa, biar Nenek istirahat saja, nanti pasti sudah baikan.”

“Nenek sudah makan?”

“Nanti saja, Nenek tidur dulu saja sebentar.”

Sarah mengambil selimut dan menyelimuti neneknya, kemudian ia mandi dan berganti baju. Ia menyiapkan makan yang rupanya nenek Suli juga sempat memasak juga.

Ketika ia memasuki kamar sang nenek lagi, dilihatnya sang nenek masih tidur. Dipegangnya tangan sang nenek, dan ia merasa sangat khawatir.

“Aku harus membawa nenek ke dokter, tapi bagaimana caranya? Nenek sepertinya sangat lemah, apa bisa berjalan?” gumamnya.

Sarah keluar. Ia harus minta tolong orang lain. Di pangkalan ojek dia melihat ada satu yang masih nangkring di situ. Ia menyeberang jalan untuk mendekat. Ia belum tahu apakah sang nenek bisa membonceng sepeda motor seandainya dia meminta tolong ojek itu. Tapi tiba-tiba sebelum dia menghampiri driver ojek itu, sebuah mobil berhenti..

“Sarah, kamu mau pergi?”

Sarah terkejut. Ia tak ingin berurusan dengan Bowo.

“Bukan aku, nenek.”

“Nenek mau ke mana?”

“Ke doter Harun, nenek sakit.”

“Orang sakit bisa membonceng ojek? Biar sama aku saja.”

“Jangan.” 

Sarah yakin sang nenek tak akan mau berurusan dengan Bowo, setelah bu Lurah menghinanya.

“Nenek butuh bantuan. Sakit itu bisa gawat kalau tidak segera mendapat pertolongan. Atau begini saja, biar aku panggil dokter Harun ke rumah kamu.”

“Apa? Memanggil dokter ke rumah?”

“Iya, jadi tidak usah membawa nenek ke sana.”

“Tapi …. “

“Sudah, kamu tenang saja dan tunggu di sini, aku akan membawa dokternya kemari.”

“Apa bisa?”

“Dia saudara aku, sudah tunggu di depan rumah kamu saja.”

Bowo melajukan kendaraannya. Sarah menyeberang dan kembali ke rumah, dengan pikiran bingung. Memanggil dokter? Bukankah beayanya lebih mahal?

 "Tabunganku cukup tidak ya, aduh, bagaimana ini. Mengapa Bowo nekat mau memanggil dokter?”

Sarah benar-benar bingung. Entah bagaimana nanti sikap neneknya kalau tahu bahwa Bowo yang menolongnya. Sungguh Sarah merasa bahwa hal terbaik adalah segera membawa neneknya ke dokter. Ia sangat khawatir, badan sang nenek dingin sekali. Napasnya juga sedikit tersengal.

Dalam bingung itu kemudian ia mendengar sebuah mobil berhenti.

“Ya ampuun, apakah itu dokternya?”

Tak lama kemudian ia melihat Bowo turun dari mobil, lalu diikuti oleh seorang laki-laki setengah tua. Apakah itu dokternya? Sarah hanya mendengar namanya dan melihat papan nama di depan rumah dokter itu, tapi ia belum pernah melihat dokternya.

“Sarah,” Bowo sudah ada di depannya.

“Ini dokter Harun. Di mana nenek?”

“Ada .. di .. di kamarnya. Apa … mau diperiksa sekarang?”

“Tentu, biar om Harun memeriksanya. Antarkan dia ke kamar nenek," kata Bowo.

Sarah masuk ke dalam, dokter itu mengikutinya. Sarah berdebar, banyak yang dipikirkannya. Sakit apa neneknya, dan berapa ongkosnya memanggil dokter.

“Nenek,” Sarah menyapa pelan.

Nenek Suli membuka matanya.

"Itu … siapa?”

“Nenek, ini dokter yang mau memeriksa Nenek.”

Sarah mengambilkan kursi agar dokter bisa duduk di samping tempat tidur neneknya.

“Nenek, saya periksa dulu ya. Apa yang Nenek rasakan?” suara dokter itu sangat lembut. 

Nenek menatapnya tak berkedip. Seperti mimpi ia membayangkan memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa sakitnya. Tapi ia diam, dan menyimpan seribu satu pertanyaan di hatinya. Lagipula ia merasa sangat lemas.

Sarah berdiri di dekatnya, sedangkan ia melarang Bowo untuk masuk.

Beberapa saat lamanya dokter itu memeriksa, lalu menatap Sarah dengan tatapan serius.

“Kamu cucunya?”

Sarah mengangguk.

“Nenek harus dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.”

“Apa?”

Tiba-tiba Bowo masuk.

“Biar dibawa ke rumah sakit saja, penanganannya lebih maksimal. Sekarang saja ya Om, saya antarkan.”

Suara itu dikenal nenek Suli. Ia menatap kearah laki-laki yang berdiri di tengah pintu. Tatapan yang tak enak.

“Aku tidak mau,” katanya lemah.

***

Besok lagi ya.

 

22 comments:

  1. Alhamdulillah....
    Episode 20 sdh tayang.
    Matur nuwun Dhe, salam SEROJA tetap SEMANGATI dan ADUHAI. 🤝🤝🙏🌹❤️

    ReplyDelete
  2. 🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷
    Alhamdulillah 💐🦋
    Cerbung DeCeDeAaeM_20
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
    🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah yg ke 20 udah tayang
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah sudah tayang
    terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Bahagia bersama keluarga tercinta
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 20 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah "Darah, Cinta dan Air Mata 20" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien ... Sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
  8. Terima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm dan slm seroja unk bunda sekel🙏🥰🌹❤️

    ReplyDelete
  9. Alhamdulilah, cerbung kesayangan sampun tayang ... maturnuwun bu Tien..
    Semoga bu Tien sekeluarga sll sehat .. bahagia dan sejahtera... salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, Sarah sudah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah
    Matur nuwun Bu Tien
    Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~20 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah,DC&AM sudah tayang
    Terima kasih bunda, semoga bunda Tien dan keluarga sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🤲🤲

    ReplyDelete
  16. Terima kasih Bu Tien. Semoga selalu sehat.

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 20

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  20 (Tien Kumalasari)   Bimo menatap punggung Sarah yang melenggang pergi setelah bertemu laki-laki ganteng bermo...