Wednesday, March 26, 2025

ADA MAKNA 20

 ADA MAKNA  20

(Tien Kumalasari)

 

Dokter Dian kehilangan kendali.  Dia menarik lengan Wahyu, sehingga ia melepaskan pegangannya.

“Hei, apa yang kamu lakukan?” pekik Wahyu marah.

“Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kamu lakukan.”

“Aku membantunya agar tidak terjatuh, dan kamu yang ada di sampingnya hanya diam tak melakukan apa-apa?”

“Apa katamu? Dia tiba-tiba terjatuh, aku tidak mengetahuinya, lalu menganggapnya sebuah kesempatan.”

“Sudah, sudah … maaf saya merepotkan, Dokter,” kata Emmi.

“Dokter?”

“Dia dokter yang menangani ayahku. Mengapa kamu membentaknya?”

“Maaf, tapi aku hanya menolongmu.”

“Baiklah, terima kasih. Sekarang aku akan kembali ke rumah sakit. Pasti ayahku sudah menunggu.”

Tapi baru beberapa langkah, Emmi kembali akan terjatuh. Kali ini dokter Dian menangkapnya.

“Kenapa?”

“Rupanya kaki saya terkilir, sakit untuk berjalan.”

“Kalau begitu jangan berjalan kaki, aku antarkan dengan mobil. Mobilku di situ, sudah dekat.”

Emmi memang hanya berjalan kaki dari rumah sakit, sedianya ia ingin kembali dengan berjalan kaki pula, karena jaraknya tidak begitu jauh. Tapi ia merasa kakinya sakit sekali untuk berjalan. Karenanya ia menurut saja ketika dokter Dian memapahnya ke mobil.

“Mengapa Dokter tadi marah-marah?”

“Kesal saja dia memegangi kamu berlama-lama. Tidak sopan.”

Emmi tersenyum. Ia merasa kemarahan dokter Dian tak beralasan.

Wahyu menatapnya tak berkedip. Apakah dia akan bersaing dengan dokter muda yang sedang menangani penyakit ayahnya?

“Dia kelihatan begitu perhatian pada Emmi. Ia sangat marah ketika melihatku menangkap tubuh Emmi ketika mau terjatuh. Apakah Emmi juga menyukainya? Kalau benar dia dokter yang menangani penyakit bapak Guntur, pasti belum lama mereka berkenalan. Atau sudah kenal sejak awal?” kata batin Wahyu sambil kembali ke mobilnya. Dia mau membeli makanan juga waktu melihat Emmi berjalan dengan seorang laki-laki yang asing baginya. Tentu saja tadinya Wahyu tidak tahu bahwa dia adalah dokter. Ia mengejarnya dan begitu dekat dia melihat Emmi nyaris terjatuh.

“Aku belum sempat menelpon Emmi, tapi nanti aku akan berbicara serius tentang perasaanku. Dia harus tahu bahwa aku tidak berpihak pada ibu yang telah menjelek-jelekkan nama keluarganya.”

Wahyu menstarter mobilnya, urung membeli makanan karena hatinya sedang kacau.

***

Dokter Dian memapah Emmi, dibawanya masuk ke ruang rawat inap Guntur, membuat Guntur sangat terkejut.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Emmi didudukkannya di sofa. Dokter Dian keluar sebentar, sambil berpesan.

“Tunggu sebentar.”

“Ada apa?” Guntur mengulang pertanyaannya sambil berusaha duduk.

“Tidak apa-apa Pak, hanya tersandung batu.”

“Kamu sampai tidak bisa jalan?”

“Pergelangan kaki kanan Emmi sepertinya terkilir.”

“Sakit? Bapak punya obat gosok.”

“Nanti Emmi ambil, bapak tidak usah turun,” kata Emmi sambil mencopot sepatunya.

"Kalau jalan-jalan harusnya tidak memakai sepatu dengan hak tinggi.”

“Sebenarnya tidak terlalu tinggi. Dan Emmi tidak membawa sepatu atau sandal yang lain,” kata Emmi sambil memijit-mijit kakinya.

Guntur merasa iba, melihat Emmi meringis kesakitan.

Tak lama kemudian dokter Dian masuk kembali dengan membawa obat gosok. Ia duduk di lantai di depan Emmi duduk sambil membuka obat gosok itu.

“Biar saya sendiri saja Dok,” kata Emmi sambil menyingkirkan kakinya.

“Mana bisa kamu melakukannya. Walau bisa, pasti tidak pas dengan urat yang terkilir. Biar aku saja.”

“Tapi Dok,” Emmi tentu saja merasa sungkan sekali. Masa dia membiarkan kakinya dipegang-pegang oleh laki-laki asing?

“Jangan sungkan dan berpikiran yang macam-macam, aku ini dokter, dan niatnya adalah mengobati orang sakit,” katanya sambil menarik kaki Emmi.

“Agak bengkak,” katanya sambil mulai mengurut bagian yang bengkak itu perlahan.

Emmi menahan rasa sakit sambil meringis-ringis.

“Ini hanya pelan, tidak akan lama.”

Tak lama kemudian dokter Dian melepaskan kaki Emmi.

“Berkurang sakitnya?”

“Ya, agak berkurang. Terima kasih Dok.”

Dokter Dian bangkit, lalu menyerahkan botol obat gosok itu kepada Emmi.

“Gosok nanti kalau terasa sakit lagi, biar hangat. Nanti pasti akan sembuh. Lain kali pakai sandal tanpa hak, itu lebih aman.”

Emmi mengangguk.

Guntur tampak lega, ketika dokter Dian mendekatinya, setelah mencuci tangan di wastafel.

“Terima kasih Dok.”

“Sama-sama, Dokter.”

“Bagaimana kejadiannya? Memang Emmi sedang jalan-jalan sama dokter Dian?”

“Sebenarnya tidak. Kami bertemu di sebuah toko kue. Lalu saya mengikuti Emmi jalan. Tiba-tiba Emmi tersandung batu.”

“Jatuh?”

“Hampir jatuh, kebetulan ada orang yang kemudian memeganginya. Tapi pergelangan kaki Emmi terkilir. Tidak parah, hanya sedikit bengkak.”

“Syukurlah.”

“Tapi saya harus segera pulang Dokter, nanti Dokter tidak bisa istirahat kalau ada temannya ngobrol.”

“Tidak apa-apa kok.”

“Sudah nggak sesak napas kan? Saya lihat wajah Dokter sudah lebih cerah.”

“Ya, saya baik-baik saja.”

“Sebaiknya Dokter berbaring saja dulu, jangan terlalu banyak bergerak.”

“Tadi hanya terkejut ketika melihat Emmi dipapah-papah,” kata Guntur sambil kembali berbaring.

Ketika dokter Dian berlalu, Emmi membawa bungkusan kue yang tadi dibelinya, ke dekat sang ayah, dengan kaki masih terpincang-pincang.

“Jangan memaksakan diri, kalau masih sakit,” kata sang ayah.

“Tidak. Sudah banyak berkurang sakitnya. Ini tadi Emmi beli puding, untung tadi dokter Dian yang membawanya, jadi tidak berantakan saat Emmi terjatuh.”

“Kenapa repot-repot beli sesuatu untuk bapak?”

“Bapak harus mencobanya. Puding ini dokter Dian yang memilihnya. Emmi suapin ya?”

“Biar bapak makan sendiri saja. Aneh kalau sedikit-sedikit disuapin, seperti orang sakit beneran saja.”

“Bapak kok gitu, memang Bapak lagi sakit kan?”

“Tidak. Bapak hanya merasa lelah dan lemah.”

“Itu karena Bapak sakit.”

“Emmi, ada yang ingin bapak katakan sama kamu.”

Emmi membuka tutup puding, lalu menyerahkannya pada sang ayah, sambil menunggu apa yang akan diucapkan ayahnya.

“Kemarin dokter Dian bilang pada bapak.”

“Bahwa Bapak sudah lebih baik kesehatannya?”

“Bukan itu. Dia bilang, dia suka sama kamu.”

Emmi terbelalak.

“Apa?”

“Dia minta ijin pada bapak untuk pada suatu saat nanti, kalau kamu sudah siap, dia akan melamar kamu.”

Wajah Emmi bersemu merah, dan dadanya berdegup kencang.

“Itu benar, dia serius.”

“Kami belum pernah bertemu sebelumnya,” katanya tersipu.

“Dia jatuh cinta pada pandangan pertama,” kata Guntur sambil menyendok pudingnya.

“Mengapa kamu diam? Kamu sudah punya pacar?” lanjut sang ayah.

“Apa?” Emmi terkejut mendengar pertanyaan sang ayah tentang pacar.

“Sudah punya?” ulang sang ayah.

“Belum. Emmi belum memikirkannya.”

“Kamu sudah dewasa. Biarpun masih kuliah tidak apa-apa menyukai seseorang.”

“Belum, kata ibu, harus menyelesaikan kuliah dulu.”

 “Benar, tapi seandainya sudah ada rasa tertarik kepada lawan jenis, itu manusiawi.”

Emmi menerima cup puding yang diserahkan ayahnya. Senang melihat sang ayah menghabiskan pudingnya.

“Bapak hanya menyampaikan apa yang dikatakan dokter Dian pada bapak,” kata Guntur lagi.

“Dia itu baik. Sudah berhasil menjadi dokter spesialis, tapi belum menemukan gadis yang cocok, katanya.”

“Bapak menyukainya?”

“Kamu menyukainya?” sang ayah balas bertanya.

“Entahlah.”

“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Besok ketika pada suatu ketika dia benar-benar melamar kamu, kamu tidak usah bertanya lagi pada bapak. Pokoknya bapak merestuinya.”

Emmi tersenyum. Apa dia suka? Entahlah, dokter Dian tidak mengecewakan. Dia tampan, dia baik, dia penuh perhatian, dan yang penting dia juga sudah mapan.

“Bapak tidak pernah melakukan apapun untuk kamu, bapak hanya memilihkan suami yang baik untuk kamu, menurut pendapat bapak. Semoga kamu tidak menolaknya.”

Emmi tidak mengangguk, tapi dia juga tidak menggeleng. Ia tahu ada sebuah penekanan dari apa yang dikatakan ayahnya, bahwa sang ayah meminta, pilihlah dokter Dian.

Barangkali tak begitu sulit menerima laki-laki seperti dokter Dian. Tapi Emmi belum bisa memastikan, apakah dia juga menyukainya ataukah tidak.

Yang jelas hatinya selalu berdebar apabila mengingatnya, terlebih senyumnya yang selalu manis dan terkesan sangat ramah.

***

Malam itu Wahyu berusaha untuk menghubungi Emmi. Nomor kontak yang diminta dari petugas rumah sakit, berbeda dengan nomor kontak yang sudah lama dicatatnya, tapi yang kemudian Emmi memblokir nomornya. Wahyu tidak pernah berhasil menghubunginya lagi walau dengan nomor yang lain.

Ketika dia menelpon di nomor yang di dapatnya dari petugas rumah sakit, lama sekali Emmi tidak menjawabnya, tapi kemudian dia menerimanya juga. Sebenarnya dia mengira panggilan itu dari dokter Dian. Tapi dokter Dian belum pernah meminta nomor kontaknya.

“Assalamu’alaikum,” ketika salam itu diucapkan untuk menyambutnya, suara yang menjawab dari seberang sangat dikenalnya. Ia ingin langsung menutupnya, tapi diurungkannya.

“Ada apa?” tanya Emmi akhirnya.

“Emmi, aku tidak bisa menghubungi kamu, aku senang akhirnya bisa.”

“Ada apa?” Emmi mengulangi pertanyaannya.

“Tidak apa-apa. Apakah tertutup bagiku untuk menghubungi kamu?”

“Apakah ada sesuatu yang penting?”

“Mendengar suara kamu menjawab telpon aku, itu adalah sesuatu yang sangat berharga.”

“Maksudku, kamu menelpon, apakah ada hal penting yang akan kamu sampaikan?”

“Hanya minta agar kamu jangan membenciku, jangan menutup panggilan aku seandainya aku menelpon kamu.”

“Terkadang aku sangat sibuk, jadi sering tidak merespon beberapa panggilan yang sekiranya tidak penting.”

Wahyu menghela napas panjang, sakit rasanya mendengar suara Emmi yang tak ada manis-manisnya.

“Apakah kamu … pacaran dengan … dokter itu?” tiba-tiba Wahyu memberanikan diri bertanya, karena sejak menolong Emmi saat mau jatuh di sore harinya, ia selalu memikirkannya.

“Aku kan sudah bilang kalau dia dokter yang menangani sakitnya ayahku?”

“Tidak pacaran kan?”

“Tidak ada hubungannya denganmu kan?”

“Kamu tahu, aku masih sangat berharap agar aku masih bisa melanjutkan hubungan denganmu.”

“Lupakan saja, aku belum memikirkannya. Dan  sekarang ini aku sedang melayani bapak nih, maaf ya.”

Emmi langsung menutup ponselnya.

Wahyu terpaku ditempatnya, sambil masih memegangi ponsel yang tak lagi merespon panggilannya.

***

Reihan mau berangkat sekolah pagi itu, dan Wahyu sudah menunggu di depan rumah untuk mengantarnya. Reihan akan pamit kepada ibunya, lalu dengan heran ia melihat sang ibu sudah berdandan.

“Pagi-pagi mau arisan?” canda Reihan.

“Tidak, ibu mau ke luar kota. Jadi nanti kalau kamu pulang sekolah, mau makan, ya langsung makan saja, tidak usah menunggu ibu. Jangan lupa obatnya diminum,” pesan sang ibu.

“Ke luar kota itu ke mana?”

“Ada pokoknya. Ini sesuatu yang penting. Uang saku masih ada?”

“Masih ada, uang pemberian mbak Emmi juga masih utuh,” kata Reihan berterus terang, dan itu membuat Wanda mencibir.

“Sudah semestinya, dia kan tahu kamu itu juga anak ayahnya. Pasti apa yang dilakukannya juga atas perintah ayahmu,” kata Wanda sambil mulutnya mengerucut seperti kukusan nasi.

“Bukan. Ketika memberikan uang ini, bapak masih tertidur.  Oh ya, kemarin Rei janji mau menengok lagi sepulang sekolah, tapi belum jadi, karena kemarin ada tambahan pelajaran, Reihan lelah.”

“Ya sudah, itu sudah ditunggu kakakmu.”

“Reihan berangkat ya.” Reihan mencium tangan ibunya, kemudian berlalu.

Wanda kembali bersiap-siap. Ia sudah memesan taksi sejak tadi.

***

Rumah sudah sepi, ketika anak-anak sudah berangkat. Ada yang bekerja, ada yang kuliah dan ada yang sekolah.

Suryawan duduk di teras depan sambil membaca koran terbaru pagi itu.

Bibik meletakkan segelas jus jambu di meja teras.

“Jus pesanan non Tia untuk Tuan,” kata bibik.

“Terima kasih, Bik,” kata Suryawan sambil meraih gelas jus dan menghirupnya perlahan.

Tapi begitu dia meletakkan kembali gelasnya, sebuah mobil berhenti di depan pagar. Suryawan membetulkan letak kacamatanya, agar bisa melihat dengan jelas.

Lalu ia tertegun ketika melihat seorang wanita datang sambil membawa keresek besar yang entah apa isinya.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

 

 

Tuesday, March 25, 2025

ADA MAKNA 19

  

ADA MAKNA  19

(Tien Kumalasari)

 

Emmi terkejut, ia mundur beberapa langkah, membiarkan dokter Dian masuk dan tersenyum ke arahnya, membuat Emmi lagi-lagi berdebar.

“Mau ke mana?” tanya sang dokter.

“Itu … bapak …”

“Kenapa bapaknya?”

“Itu … kenapa napasnya seperti … memburu, begitu … saya khawatir … “ jawab Emmi terbata.

Dokter Dian diikuti perawat pembantu mendekati tempat dokter Guntur berbaring. Dokter Dian memeriksanya. Ia merasa memang napasnya agak memburu.

Guntur membuka matanya, dan tersenyum tipis ke arah dokternya.

“Ada apa Dok?” tanya dokter Dian.

“Nggak apa-apa.”

“Pasti sedang memikirkan sesuatu.”

“Ah … tidak.”

“Tampaknya ada yang mengganjal, atau ada sesuatu yang menjadi pikiran.”

Perawat mengukur tensi Guntur.

“Tidak ada apa-apa.”

“Barangkali Bapak memikirkan Reihan yang kemarin dioperasi,” sambung Emmi.

“Operasi apa?” tanya dokter Dian karena memang dia tidak tahu.

“Lengan kirinya patah.”

“Oh, itu bukan operasi besar. Benarkah Dokter memikirkannya?”

“Tidak.”

“Kondisi kesehatan ditentukan juga oleh suasana hati. Dokter harus merasa tenang dan selalu senang. Sudah ditungguin putri cantiknya, apa lagi yang membuat Dokter merasa tidak nyaman?”

“Tidak ada. Jangan mengada-ada,” jawab Guntur pelan.

“Keadaan fisik Dokter, menunjukkan bahwa Dokter merasa tidak tenang, juga tidak senang. Masih ada masalah yang berat?”

“Reihan baik-baik saja. Bapak tidak usah memikirkannya,” kata Emmi yang tetap merasa bahwa ayahnya memikirkan kesehatan anak laki-lakinya.

“Sepertinya operasi sudah selesai, barangkali paling lambat besok pagi sudah boleh pulang kok,” sambung dokter Dian, yang kemudian berbicara pelan dengan perawat pembantunya, yang dijawabnya dengan anggukan.

Guntur tersenyum tipis. Tak seorangpun tahu apa yang dia pikirkan. Tak seorangpun tahu ada beban berat yang disandangnya. Ia selalu merasa tak punya arti. Anak-anak yang tumbuh dewasa dan sehat, anak-anak yang berpendidikan tinggi, bahkan anak yang membutuhkan biaya saat dia sakit, semua terselesaikan, tapi bukan karena dia. Apa artinya hidup ini bagi seorang laki-laki yang seharusnya dihormati dan disegani?

“Emmi, ayahmu akan baik-baik saja. Yang penting buat dia senang dan nyaman,” kata dokter Dian yang sebelum keluar dari ruangan, membisikkan sesuatu di telinga Guntur, yang kemudian membuat Guntur tersenyum.

Emmi tak tahu apa yang dokter Dian bisikkan, tapi senyuman ayahnya membuatnya merasa lega.

Dokter Dian berlalu, meninggalkan debar yang tidak dimengerti oleh Emmi.

Tak lama kemudian seorang perawat masuk, menyuntikkan sesuatu ke dalam flacon infus. Ia berlalu setelah merapikan selimut Guntur.

“Tidur ya Pak, Bapak harus banyak istirahat,” pesan perawat itu sambil berlalu.

“Bapak harus senang. Kemarin Emmi sudah melunasi semua biaya rumah sakit Reihan. Bapak Ardi yang menyuruhnya."

Guntur terperangah. Ini lebih menyakitkan bukan? Tapi dia tak menjawab sepatah katapun. Perkataan Emmi yang maksudnya membuat sang ayah merasa lega, justru membuatnya semakin sakit. Mana Emmi tahu?

***

Hari itu Reihan sudah boleh pulang. Ia hanya diantar sang ibu untuk menemui Guntur di ruang inapnya. Petugas yang melihat, melarang Wanda untuk masuk, tentu saja membuat Wanda marah bukan alang kepalang.

“Bagaimana Anda ini Sus, ini anaknya dokter Guntur, bagaimana Anda melarang anaknya ketemu orang tuanya?”

“Maaf Bu, dokter Guntur tidak boleh diganggu karena kesehatannya.”

“Tapi ini anaknya, dan aku adalah ibunya.”

“Ibu harap maklum, dokter Guntur sedang dalam situasi harus benar-benar tenang. Dokter tidak mengijinkan sembarang orang menemuinya.”

“Maksud Suster apa? Aku ini orang sembarangan, begitu?” Wanda mulai naik pitam.

“Maaf Bu, saya hanya menjalankan tugas.”

“Bu, biar Reihan saja yang ketemu bapak. Ibu tunggu di luar, ya,” akhirnya kata Reihan yang melihat ibunya semakin marah.

“Ya sudah, sana,” katanya sengit, sambil menjauh dari tempat itu.

Tiba-tiba terpikir lagi olehnya, untuk menelpon Tia sambil menunggu Reihan keluar dari menemui ayahnya.

Ia duduk di sebuah bangku dan mencoba menelpon. Tak ada jawaban. Ia mencoba menelpon dan menelpon lagi, tak diangkat juga.

“Kenapa anak ini? Tidak tahu ya, kalau ibu mertuanya ingin bicara? Sebell! Sebell!”

Sekali lagi dia memutar nomor Tia, dan tetap tak diangkat, Wanda baru sadar bahwa ini adalah jam kerja. Pasti Tia sedang sibuk.

“Ah, salah aku ini, merasa bahwa semua orang bisa bersantai seperti aku. Baiklah, aku akan langsung ke rumahnya saja, sekalian bicara dengan pak … mmm … siapa itu namanya?  Surya … ah ya, Suryawan. Kalau aku langsung menemui orang tuanya, pasti segalanya akan beres. Wahyu sudah lulus, tinggal menunggu wisuda, sambil mencari pekerjaan. Masa iya, anakku yang ganteng dan pintar akan ditolak calon mertua?” gumamnya tanpa sadar bahwa beberapa orang lewat merasa heran karena melihat Wanda seperti bicara sendiri. Cantik-cantik agak sinting?

***

Ternyata Reihan tak bisa langsung berbincang dengan sang ayah, karena setelah perawat menyuntikkan obat, Guntur kemudian menjadi sangat mengantuk.

“Bapak sedang tidur, apa kamu tergesa-gesa ingin pulang?”

“Ibu menunggu aku. Tapi tidak apa-apa, aku menunggu bapak bangun saja.”

“Baiklah, sini … duduk di sofa dekat mbak saja, supaya tidak mengganggu.”

Reihan melangkah mendekat, duduk di depan Emmi.

“Reihan harus mengucapkan terima kasih, karena Mbak telah membayar semua biaya operasi Reihan, sehingga ibu tidak mengeluarkan biaya sepeserpun.”

Emmi tersenyum. Ia senang laki-laki muda yang disebut sebagai adiknya ini memiliki tata krama yang sangat bagus. Halus tutur katanya, santun perilakunya. Ia bersyukur sifat kasar dari ibunya tidak menurun kepadanya.

“Rei, itu bukan mbak yang membayar, tapi bapak.”

“Kata mas Wahyu, Mbak yang membayar.”

“Iya, mas Wahyu tahunya mbak, karena memang yang mengurus semuanya itu adalah Mbak. Mbak belum bekerja, dari mana mbak punya uang sebanyak itu?”

Reihan tersenyum.

“Benar juga,” katanya.

Emmi tertawa melihat Reihan tersenyum lucu. Memang bukan ayah Guntur yang membayarnya, tapi bapak Ardi,  hanya saja Emmi merasa tidak perlu mengatakannya, agar Reihan tidak usah bertanya lebih jauh tentang keluarganya. Bapak Ardi pasti juga rela seandainya apa yang dilakukannya dikatakan Emmi sebagai pemberian ayah Guntur. Ia yakin, karena bapak Ardi adalah orang yang baik.

“Tanganmu masih terasa sakit?”

“Tidak begitu sakit. Bahkan besok Rei sudah ingin masuk sekolah kembali.”

“Anak baik. Tapi harus hati-hati ya, jangan sampai kembali cedera. Tulang kamu belum tersambung dengan baik.”

“Karena Rei masih muda, kata dokter tulang Rei akan lebih cepat tumbuh.”

“Itu benar, tapi tetap saja kamu harus berhati-hati. Kamu kalau sekolah naik apa?”

“Terkadang naik sepeda, terkadang naik taksi.”

“Tangan kamu sakit, pasti tidak bisa naik sepeda.”

“Naik taksi lebih mahal. Supaya irit, naik ojol saja. Kamu setuju?”

“Ya, hanya saja kalau pesen ojol biasanya lama. Tapi mas Wahyu sering mengantarkan Rei kalau tidak sedang ke kampus pagi. Siangnya juga sering jemput.”

“Kalau begitu kamu harus berangkat sekolah di jam yang lebih lama sebelum jam sekolah, supaya kalau ojolnya lama, kamu tetap belum terlambat.”

Reihan mengangguk.

“Mbak punya uang sedikit, nih, ambil, untuk naik ojol,” kata Emmi sambil memberikan sejumlah uang.

“Tidak usah Mbak, sudah banyak yang Mbak lakukan untuk Rei.”

“Jangan menolak. Ini uang Mbak sendiri kok. Tidak seberapa. Ayo, terimalah.”

Emmi memaksa memasukkan uangnya ke dalam saku baju adiknya, sehingga dengan terpaksa Reihan menerimanya.

“Terima kasih ya Mbak,” kata Reihan tersipu.

“Jadilah anak pintar, supaya bapak senang.”

“Tapi bapak tidak mau mengatakan di mana dia tinggal.”

“Nanti mbak tanyakan. Kamu punya ponsel?”

“Ada, ponsel lama. Hanya untuk berkomunikasi saja.”

“Tidak apa-apa, biar Mbak catatkan nomor mbak, supaya kalau kamu butuh sesuatu bisa mengabari Mbak.”

“Baiklah.”

Reihan pergi tanpa menunggu ayahnya bangun, karena sang ayah tampak pulas dalam tidurnya. Emmi ingin membangunkannya, tapi Reihan melarangnya.

“Jangan Mbak, kasihan bapak. Besok saja sepulang sekolah Reihan mampir kemari lagi.”

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati, dan ingat semua pesan Mbak.”

Reihan mengangguk, kemudian pergi setelah mencium tangan kakaknya.

***

Reihan mencari ibunya, tapi bayangannya tak lagi nampak. Lalu dia mencoba menelpon Wahyu, tapi tiba-tiba Wahyu muncul di belakangnya.

“Ternyata kamu belum pulang?”

“Mas Wahyu dari mana?”

“Dari kampus, ada urusan sebentar. Aku cari di ruang kamu, tapi kata perawat kamu sudah pulang. Kamarmu sudah bersih.”

“Aku pamit pada bapak, tapi bapak tidur. Aku menunggu lama, belum juga bangun. Kasihan kalau harus membangunkan. Jadi aku tinggal saja. Besok pulang sekolah aku mau kemari lagi.”

“Ya sudah, ayo pulang.”

“Tadi ibu menunggu di sini.”

“Ibu sudah pulang, aku melihatnya naik taksi tadi.”

“Pasti karena kelamaan menunggu Rei mengobrol sama mbak Emmi.”

“Ayo aku antar pulang.”

“Hampir saja aku memanggil ojol.”

“Banyak uang kamu ya.”

“Mbak Emmi memberi aku uang,” katanya sambil menepuk-nepuk saku bajunya.

“Bagus, bisa traktir mas Wahyu dong,” canda Wahyu.

“Boleh, mau makan apa?”

“Beneran nih?”

“Iya, bener.”

“Nggak usah ah, ayo kita mampir makan, tapi mas Wahyu saja yang traktir.”

“Senang punya kakak nggak tegaan. Cocok sebenarnya sama mbak Emmi.”

“Apa?”

Reihan terkekeh, kemudian mendahului sang kakak menuju parkiran. Tapi Wahyu senang mendengarnya. Mudah-mudahan benar, kata batinnya.

***

Guntur terbangun ketika hari mulai sore, dan perawat yang bertugas mulai membersihkan badannya. Emmi pamit keluar untuk membeli cemilan. Tapi sebelum keluar dia mengatakan bahwa tadi Reihan menunggu untuk berpamit.

“Dia sudah pulang?”

“Sudah, Emmi mau membangunkan Bapak, tapi dia tidak mau. Kasihan Bapak, katanya. Hanya saja besok sepulang sekolah dia mau mampir lagi kemari.”

“Dia sudah sekolah?”

“Ya, dia sangat bersemangat.”

“Syukurlah.”   

“Emmi keluar dulu ya Pak.”

“Hati-hati,” katanya singkat lalu membiarkan mas perawat membersihkan tubuhnya.

***

Emmi sedang berjalan-jalan, untuk mencari cemilan. Ia sedang berpikir, apa yang sebenarnya ayahnya sukai. Emmi heran, setiap kali ditawarkan, sang ayah selalu mengatakan tak ingin apa-apa. Emmi sampai memaksa, tapi Guntur bergeming. Sekarang Emmi sedang berdiri di sebuah toko roti. Barangkali puding lebih cocok untuk sang ayah.

Tapi sebelum memasukinya, seseorang menyapanya.

“Emmi, mau beli apa?”

“Eh, Dokter.”

“Mau beli apa?”

“Belum tahu, baru melihat-lihat. Sama mau beli puding buat bapak, barangkali mau,” agak sungkan Emmi sebenarnya.

“Bagus sekali, tapi hati-hati, jangan terlalu banyak susu.”

“Tidak bolehkah?”

“Boleh, jangan banyak-banyak. Lebih baik jus buah atau apa. Mari aku pilihkan.”

Emmi dengan sungkan mengikuti dokter Dian yang tiba-tiba ditemuinya.

Akhirnya mereka membeli cemilan, dan dokter Dian memilihkan yang bagus untuk pasiennya.

“Bosan ya, di kamar terus? Memang sebaiknya sesekali jalan-jalan, menghirup udara segar,” kata dokter Dian sambil menemani Emmi berjalan.

“Benar juga. Tapi saya tidak tega meninggalkan Bapak.”

“Bapak tidak apa-apa, buat dia senang.”

“Menurut dokter, bagaimana perkembangan penyakit bapak?”

“Baik, tidak apa-apa.”

“Kapan boleh pulang?”

“Tunggu sebentar lagi. Kalau semuanya normal, pasti boleh pulang. Apa kamu sudah capek merawat ayah kamu? Terlalu lama meninggalkan kuliah kamu?”

“Bukan masalah itu, hanya saja sebenarnya ada yang saya inginkan dari bapak saya.”

“Apa itu? Bolehkah aku tahu? Barangkali aku bisa ikut mengupas permasalahan yang mungkin memberatkan perasaan dokter Guntur, dan itu berpengaruh pada kesehatannya.

Emmi agak ragu untuk mengatakannya. Dia baru saja mengenal dokter Dian, dan merasa sungkan berterus terang.

“Ini ada hubungannya dengan sakitnya dokter Guntur. Kalau kamu tidak keberatan. Tapi aku tidak memaksa.”

Emmi hampir membuka mulutnya, ketika di depannya ada sebuah batu yang membuatnya hampir tergelincir.

Emmi nyaris terjatuh, tapi sebuah tangan kokoh menahannya. Dokter Dian menatap dengan marah, karena laki-laki di depannya menahan tubuh Emmi berlama-lama.

***

Besok lagi ya.

 

 

Monday, March 24, 2025

ADA MAKNA 18

 ADA MAKNA  18

(Tien Kumalasari)

 

Emmi menatap ayahnya sambil tersenyum. Ia memegang tangan ayahnya dan menepuknya lembut.

“Bapak, tidak usah mengambil dari simpanan Bapak ya, Emmi ada kok, nanti akan Emmi berikan kepada Reihan, dan Emmi juga akan menambahinya sedikit.”

“Apa kamu punya uang?”

“Ada Pak, bapak Ardi memberi Emmi uang beberapa, katanya kalau perlu sesuatu bisa mempergunakan uang itu."

Guntur diam. Ada rasa tersayat di dalam hatinya. Bahkan sedikit uangnya yang ingin diberikan kepada anaknya, tidak bisa memberi arti. Wajahnya muram seketika. Sekuat tenaga dia menahan air matanya yang sudah menggenangi pelupuk. Emmi memegang erat tangan ayahnya. Ia mengira sang ayah merasa terharu atas ‘kebaikan’ hatinya, padahal sesungguhnya Guntur merasa sedih dan tak berharga.

“Bapak tidak usah memikirkan apapun. Serahkan semuanya kepada Emmi,” kata Emmi sambil menatap ayahnya dengan senyum tulus. Beda yang diberikan, beda yang di rasa. Apakah Guntur akan marah karena tersinggung? Guntur merasa tak mampu berkata-kata. Mengungkapkan kekecewaan juga tak mampu. Kata yang ingin diucapkannya hanya tersekat di tenggorokan.

Emmi mengembalikan kartu ATM ayahnya.

“Akan Emmi ambilkan dulu uangnya ya Pak.”

“Mbak tidak usah repot-repot, ibu pasti memikirkannya,” kata Reihan sungkan.

“Ssst, tenanglah, nanti bapak kecewa kalau kamu menolaknya,” kata Emmi sambil menepuk punggung adiknya.

“Rei, kamu di sini dulu, mas mau mengantarkan mbak Emmi ya. Ngobrollah dengan bapak,” kata Wahyu sambil mengikuti langkah Emmi.

“Apakah saya menyusahkan Bapak?” tanya Reihan.

“Tidak, kamu lihat sendiri, bapak tidak melakukan apa-apa. Itu kakakmu yang akan memberikan uangnya,” kata Guntur dengan ekspresi datar.

“Bapak sakit apa?”

“Bukan apa-apa, bapak akan segera sembuh dan pulang.”

“Di mana Bapak tinggal?”

“Untuk apa kamu menanyakannya?”

“Terkadang kalau Reihan kangen, boleh menemui Bapak kan?”

Guntur tersenyum. Ada anak yang terkadang merasa kangen terhadapnya?

“Bapak masih akan lama di sini kan? Bapak masih sakit, kan?” lanjut Reihan.

“Tidak, bapak akan segera pulang.”

“Benarkah sudah sembuh?”

Guntur mengangguk.

“Katakan, di mana Bapak tinggal.”

“Nanti saja bapak beri tahu kamu.”

“Mengapa nanti?”

“Belum saatnya kamu tahu.”

“Sepertinya Bapak selalu ingin bersembunyi,” gumam Reihan.

Guntur menepuk tangan Reihan yang diletakkan di kasur tempat tidur.

***

Emmi sudah mengambil sebagian uang yang diberikan bapak Ardi. Ia tak tega, sang ayah yang sedang menderita sakit masih harus mengeluarkan uang untuk Reihan. Ia akan mengabarinya nanti, karena hari inipun pasti sang bapak sedang bekerja.

“Mengapa kamu mengikuti aku?” tanya Emmi ketika melihat Wahyu mengikutinya.

“Apa tidak boleh? Apa kamu belum mau memaafkan aku?”

“Aku bahkan sudah melupakannya.”

“Terima kasih Emmi, aku sangat bodoh ketika mempercayai kabar itu. Ada rasa tidak percaya sebenarnya, tapi_”

“Tapi nyatanya kamu percaya.”

“Maaf.”

“Menjauhlah dariku, nanti kalau ibumu tahu, kamu akan kena marah lagi.”

“Tidak apa-apa. Ibu harus bisa mengerti perasaan aku.”

“Perasaan apa?”

“Aku menyukaimu.”

“Jangan ….”

Emmi mempercepat langkahnya, tapi Wahyu tentu saja mampu mengimbanginya, sehingga mereka bisa berjalan sejajar.

“Jangan sampai membuat keributan lagi. Aku malu.”

Wahyu tak menjawab. Dalam hati dia kesal kepada ibunya, yang tanpa sungkan tadi berteriak-teriak di tempat umum.

Mereka sudah sampai di depan kamar inap Guntur. Emmi membiarkannya masuk.

“Jam berapa Reihan dioperasi?”

“Masih nanti jam tiga, tapi tampaknya aku akan mengajak Reihan kembali ke kamarnya. Sebelum operasi pasti akan diadakan pemeriksaan, entah apanya.”

Emmi mengangguk.

“Bapak, ini uangnya,” kata Emmi sambil menyerahkan uang yang baru saja diambilnya.

“Mengapa menyerahkannya pada bapak?”

“Emmi serahkan langsung uangnya pada Reihan?”

Guntur hanya mengangguk.

“Rei, ini dari bapak, kamu terima ya. Barangkali sedikit membantu.”

“Dari kakakmu,” sambung Guntur.

Emmi hanya tersenyum. Toh tadi Reihan juga mendengar pembicaraan tentang uang itu.

“Terima kasih, nanti akan Rei berikan kepada ibu,” kata Reihan setelah menerima uang itu.

“Kami harus segera pamit. Takutnya Reihan sudah ditunggu,” kata Wahyu.

“Baiklah, semoga semuanya lancar,” kata Guntur.

Emmi mengantarkannya sampai ke pintu, lalu sebelum ia menutup kembali pintunya, didengarnya suara berteriak.

“Apa yang kamu lakukan di situ?”

Emmi geleng-geleng kepala.

“Untunglah aku sudah tidak bersama mereka,” gumamnya sambil mengunci pintunya kembali.

***

“Kamu pasti berdalih mengantarkan Reihan menemui ayahnya, sementara kamu ingin bertemu gadis itu bukan?”

Wahyu tak menjawab. Ia tak ingin berdebat dengan sang ibu. Lagipula dia juga masih enggan berbincang dengan sang ibu.

“Bagaimana kalian bisa masuk ke situ? Perawat tidak menghalangi?”

“Tidak. Mas Wahyu bilang bahwa Reihan putra dokter Guntur.”

“Syukurlah.”

Begitu memasuki kamarnya, Reihan menyerahkan uang yang diberikan Emmi kepada ibunya.

Wajah Wanda berseri. Ia sedang butuh uang, dan ia begitu gembira menerima uang itu, yang diyakininya pasti pemberian dari Guntur.

“Aku sudah tahu, ayahmu akan sangat perhatian pada anak kandungnya,” katanya sambil menghitung uangnya.

“Sepuluh juta, sudah lumayan. Ini memperingan beban ibumu. Nanti ibu bilang terima kasih pada ayahmu,” kata Wanda lagi.

“Bukan bapak yang memberikan uangnya,” kata Reihan.

“Siapa?”

“Mbak Emmi.”

“Apa?” Wanda membelalakkan matanya. Ia hampir melemparkan uang itu, tapi kemudian diingatnya bahwa dia sedang sangat membutuhkan uang.”

Dengan ragu ia menatap bungkusan uang dalam genggamannya. Separuh hatinya butuh, tapi separuh hatinya merasa turun harga kalau menerima. Dari Emmi, gadis yang tidak disukainya. Tapi apa boleh buat.

Wahyu merasa kesal melihat sikap ibunya. Ia tahu apa yang dipikirkannya.

“Memangnya mengapa kalau uang itu dari Emmi?” kata Wahyu.

Wanda melotot ke arah Wahyu. Ia merasa anak laki-laki sulungnya sedang mengejeknya.

“Apa ibu marah?” sambung  Reihan.

“Terus terang ibu tidak suka. Ibu tahu, Emmi memberikannya untuk menarik hati kakakmu ini. Bukankah dia tergila-gila padanya?”

“Masa sih Bu, sikap mbak Emmi dingin pada mas Wahyu. Tidak banyak bicara juga. Tergila-gila itu apa?” protes Reihan.

“Ya sudah, terima saja. Bukankah kita sedang membutuhkannya? Bukankah Ibu sudah tahu berapa kebutuhan kita nanti dengan ditanganinya Reihan?”

“Hei, jangan mencoba mengajari ibu. Walau butuh, ibu akan mengembalikannya nanti,” kata Wanda sengit.

“Susah amat,” kata Wahyu sambil beranjak keluar.

“Hei, bagaimana hasil ujian kamu? Apa kamu lulus? Jangan mentang-mentang kamu membiayai sendiri kuliah kamu, lalu merasa tidak perlu memberi tahu ibumu tentang hasil ujian kamu?”

“Wahyu lulus, atas doa Ibu,” katanya sambil berhenti sebentar, kemudian berlalu.

“Gara-gara dekat dengan perempuan tak punya sopa santun itu, Wahyu jadi tertular penyakit minim sopan santun itu,” gerutu Wanda.

“Tapi baguslah, sudah lulus. Aku akan segera mengabari Tia dan keluarganya,” lanjutnya dalam hati.

Ia pasti akan melanjutkan omelannya, tapi tiba-tiba seorang perawat masuk dengan membawa sebuah kursi roda.

“Ibu, mas Reihan akan segera ditangani.”

“Oh, baiklah.”

“Bu, sebenarnya Reihan takut.”

“Eh, kamu itu anak laki-laki, mengapa takut? Ada ibu menunggui kamu di luar.”

“Mas Wahyu mana?”

“Sudah, dia sedang kesal, jangan kamu pikirkan.”

Ketika selesai diperiksa, Reihan segera dibawa ke ruang operasi. Reihan merasa lega ketika melihat sang kakak sudah duduk di sebuah bangku, di luar ruang operasi itu.

***

Emmi masih menunggui sang ayah.

Ia  kemudian menjauh dari tempat ayahnya berbaring, lalu keluar dari ruangan. Ia  mengabari bapak Ardi tentang uang yang digunakannya untuk Reihan.

“Apakah Bapak marah?” tanya Emmi.

“Tidak. Bagus sekali kamu bisa meringankan beban ayah Guntur. Ia pasti merasa lega, dalam keadaan sakit ada yang membantunya.”

“Benar Pak, bagaimanapun Reihan adalah putranya, dan membantunya membayar biaya operasi walau tidak seberapa, pasti membuatnya lega. Tadi juga seperti sangat terharu, Emmi melihat matanya berkaca-kaca.”

“Kamu anak yang baik. Kalau begitu tolong nanti kamu tanyakan ke bagian administrasi, berapa biaya keseluruhannya, nanti bapak akan mentransfernya.”

“Benarkah?” tanya Emmi gembira.

“Tentu saja. Sekarang bagaimana keadaan ayah Guntur.”

“Sedang tidur, Emmi tidak berani mengganggunya.”

“Bagus sekali kalau bisa tertidur nyenyak. Semoga pertanda dia sehat.”

“Aamiin.”

“Kamu masih akan menunggui di sini?”

“Mungkin dua hari atau tiga hari ke depan. Masih belum tega meninggalkannya. Semoga keadaan Bapak semakin membaik. Kata dokter tidak perlu transplantasi, tapi harus benar-benar dijaga agar tidak semakin parah.”

“Ibumu juga mengatakan itu.”

“Bapak masih di kantor?”

“Iya, mungkin agak sorean baru pulang. Segera tanyakan ke bagian administrasi, bapak tunggu ya.”

“Baiklah. Terima kasih, Pak.”

“Jaga baik-baik ayah Guntur, kalau kamu mau pulang, kabari bapak. Bapak akan menjemputmu.”

“Baiklah. Emmi mau langsung ke bagian administrasi dulu.”

Emmi menutup ponselnya dengan perasaan senang. Ia memiliki ayah sambung yang benar-benar baik. Penuh cinta dan perhatian. Ia bersyukur keluarganya bahagia dan penuh kasih sayang.

“MBak, biaya belum terhitung seluruhnya, karena barangkali masih ada tambahan obat-obat setelah operasi nanti.”

“Tapi gambaran tentang keseluruhan biaya kan ada?”

“Mbak ini siapanya?”

“Saya Emmi, kakaknya Reihan.”

“Oh, baiklah.”

Petugas itu meminta Emmi menunggu sebentar, lalu Emmi duduk di sebuah bangku.

Ketika kemudian petugas memanggilnya, Emmi bergegas mendekat. Tapi tiba-tiba ia melihat Wahyu berjalan ke arah yang sama.

“Emmi, apa yang kamu lakukan?”

“itu ….”

Emmi belum menerangkannya karena petugas itu menunggunya mendekat, kemudian dia menyodorkan sebuah catatan.

“Baiklah, terima kasih banyak, sebentar lagi saya kemari dan membayar semuanya.”

“Ini belum semuanya. Masih ada obat-obat yang belum tercatat.”

“Tidak apa-apa, nanti akan saya bayar kekurangannya kalau sudah jelas. Yang ini mau saya bayar dulu. Saya tinggalkan nomor kontak saya, kabari saya kalau ada kekurangannya nanti. Tunggu sebentar, saya akan mentransfernya. Ini nomor rekening rumah sakit kan?” kata Emmi karena di catatan itu sudah ada nomor rekening yang tertera.

“Baiklah. Benar, itu nomor rekeningnya.”

Wahyu yang berdiri di dekat Emmi hanya menatapnya. Ia mengira Emmi sedang menanyakan biaya keperluan ayahnya.

“Reihan sudah selesai dioperasi,” kata Wahyu tanpa ditanya.

“Oh, syukurlah. Berhasil baik kan?”

“Kata dokter baik-baik saja. Mungkin nanti malam sudah boleh pulang, atau besok pagi. Menunggu reaksi biusnya sudah lewat.”

“Syukurlah, aku ikut senang. Aku kembali dulu ya, takutnya bapak mencari aku, karena tadi tidak pamit.”

Wahyu mengangguk, tapi ia senang Emmi sudah mau bicara dengan sedikit manis. Ia membiarkan Emmi pergi lalu menuju ke arah loket administrasi. Sama dengan Emmi, dia juga menanyakan berapa banyak biaya yang harus dibayar pada pasien bernama Reihan. Tapi betapa terkejutnya Wahyu, ketika petugas mengatakan bahwa semuanya akan dibayar kakaknya.

“Kakaknya?”

“Yang tadi itu, benar kakaknya kan? Anda tidak mengenalnya? Tadi mengatakan namanya Emmi.”

“Oh, iya, dia memang kakaknya. Baiklah, terima kasih. Saya tidak tahu kalau dia juga akan membayarnya,” kata Wahyu sambil berlalu.

Ia akan mengejar Emmi, untuk mengucapkan terima kasih, tapi kemudian berpapasan dengan sang ibu.

“Sudah menanyakannya?”

“Sudah ada yang akan melunasinya.”

“Apa?”

“Emmi baru saja dari sini.”

“Apa?”

“Sebaiknya ibu menghilangkan citra buruk yang ibu tempelkan padanya. Mereka orang-orang baik.”

“Siapa suruh dia membayar? Aku tidak minta kok. Mentang-mentang anak orang kaya, sombong sekali. Pasti itu semua atas permintaan ayahnya. Ya sudah sewajarnyalah dia membayarnya, Reihan adalah anaknya,” kata sang ibu kemudian berlalu. Ada rasa senang yang dipendamnya, karena dia tidak harus mengeluarkan uang. Sepuluh juta yang tadi diterimanya juga masih digenggamnya.

“Lagi pula dia kan tergila-gila sama kamu, makanya dia kemudian berbaik hati untuk membuat kamu semakin mencintainya.”

Wahyu tak menjawab. Sedikit saja ia menjawab maka perbincangan akan semakin panjang. Ia juga urung menemui Emmi, karena ada sang ibu, nanti dia akan membuat malu. Tapi Wahyu kembali ke loket, barangkali Emmi meninggalkan nomor kontak yang nanti akan dihubunginya. Dan beruntung sekali dia mendapatkannya.

***

Guntur memejamkan matanya, tak banyak bicara semenjak Reihan keluar dari kamarnya. Emmi mengira, Guntur sedang khawatir tentang Reihan yang akan dioperasi.

Ia mendekat dan duduk di kursi di samping tempat tidurnya.

“Bapak,” sapanya pelan. Khawatir ayahnya tidur lalu ia mengganggunya.

Tapi Guntur diam. Emmi mengira sang ayah tidur. Tapi ia melihat dadanya turun naik dengan cepat. Emmi merasa khawatir. Biasanya tidak begitu. Apakah itu ada hubungannya dengan penyakitnya?

Emmi sedang akan menghubungi perawat, tidak memencet bel panggilan, takut mengganggu sang ayah. Tapi ketika membuka pintu, tiba-tiba dokter Dian masuk ke ruangannya, dan mereka nyaris bertubrukan.

***

Besok lagi ya.

Saturday, March 22, 2025

TERIMA KASIHKU

TERIMA KASIHKU

(Tien Kumalasari)


Tak ada kue untuk dipotong

Tak ada lilin untuk ditiup

Tapi ada sejagad cinta

Berbinar di setiap kerdipan bintang

Apa kamu tahu?

Saat luka kau membalutnya

Saat duka kau menghiburnya

Saat  menangis

Kau mengusapnya

Cintaku ada di mana-mana

Memelukku saat dingin membekukan darahku

Agar kehangatan selalu ada

Agar selalu tercium wangi sorga.


-----













DARAH, CINTA DAN AIR MATA 42

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  42 (Tien Kumalasari)   Pak Pranoto duduk di samping istrinya, sama seperti sang istri, ia duduk dengan linglung....