Monday, November 20, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 02

 BUNGA UNTUK IBUKU  02

(Tien Kumalasari)

 

Wijan bergegas menemui ayahnya, yang sedang duduk bersama ibunya di ruang tengah. Wijan selalu melihat wajah cerah ayahnya setiap kali melihatnya. Ia menyadari, bahwa kasih dan cinta ayahnya adalah sesuatu yang tulus. Pandangan matanya tulus, senyumnya tulus. Setulus hatinya saat mencintai satu-satunya anak laki-laki, yaitu dirinya. Ia masih berdiri di samping sofa, ketika sang ibu tiri menyuruhnya duduk dengan suara ramah. Wijan tahu, keramahan itu adalah karena ada ayahnya diantara mereka. Tapi Wijan sudah terbiasa menghadapi keramahan palsu itu. Sudah sejak tiga tahun yang lalu ia merasakannya.

“Duduklah Wijan, kenapa hanya berdiri saja? Sini, duduk dekat ibu,” katanya sambil menepuk sofa dimana dia duduk di atasnya. Suara itu begitu segar terdengar, dan selalu menunjukkan kepada sang ayah, bahwa dia benar-benar menyayangi Wijan, seperti anak kandungnya sendiri. Itu adalah janjinya, yang melegakan hati Raharjo, sehingga diapun kemudian menyayangi kedua anak tirinya yang diberinya kasih sayang dan memberikan apa saja yang dimintanya. Mobil? Raharjo membelikannya, dengan janji harus dipakai berdua dengan ibunya. Hanya Nilam yang tak pernah meminta yang aneh-aneh, kecuali makanan yang pasti dibaginya bersama Wijan.

“Ayolah Wijan, duduklah di samping ibu,” katanya lagi ketika melihat Wijan masih berdiri. Sebenarnya ia enggan berada terlalu dekat dengan ibu tirinya karena menyadari ketidak tulusannya, tapi karena ada ayahnya yang menatapnya, maka dia menurutinya.

“Beberapa hari ini bapak selalu berangkat lebih pagi, karena bapak berkantor di luar kota, di kantor cabang yang baru. Bapak selalu memikirkan kamu, yang sejak lama selalu mau berangkat ke sekolah dengan sepeda.”

“Iya tuh, sedih ibu memikirkan kamu setiap hari berpanas-panas, dan kalau musim hujan juga pasti kehujanan, sementara di rumah ada mobil. Mulai besok berangkatlah bareng kakakmu Hasti,” kata perempuan cantik yang harus dipanggilnya ibu, yang didengarnya seperti sebuah nyanyian sumbang.

“Nah, begitu lebih baik, kan Wijan?”

“Tidak Pak, Wijan lebih suka naik sepeda saja,” kata Wijan yang tak mungkin dia menuruti kata ibu tirinya, kata-kata palsu yang dibuat-buat. Ia tahu kalau sampai dia menyanggupinya, maka setelah ayahnya pergi maka ia akan diinjak-injaknya seperti serpihan sampah.

“Kamu tetap lebih suka naik sepeda? Besok kalau senggang akan bapak belikan yang baru dan lebih baik.”

“Tidak usah, itu juga sudah baik,” kata Wijan yang tahu bahwa ibunya sedang bertepuk tangan dalam hati.

“Menurut bapak standartnya rusak, kamu pasti susah menyandarkannya.”

“Banyak tempat untuk meletakkan sepeda Wijan.”

“Tidak, begini Wijan, sepeda kamu itu bukan hanya standartnya saja yang rusak, tapi ban depan dan belakang juga sudah halus.”

Pak Raharjo membuka dompet yang sejak tadi disiapkannya, mengeluarkan lembaran ratusan ribu sebanyak lima lembar, diulungkannya kepada Wijan.

“Ini. Besok sepulang sekolah, kamu bisa membawanya ke bengkel yang bagus. Beli dua ban depan dan belakang, dan beli juga standart yang baru. Bengkel itu pasti mau memasangkan semuanya.”

Wijan menerimanya karena uang itu diulurkan dekat ke depannya.

“Nggak kurang, Pak, segitu. Kasihan Wijan kalau nanti kurang lho,” suara sumbang itu bernyanyi lagi.

“Bapak kira nggak kurang. Nanti kalau kurang, minta dulu sama ibu, biar bapak ganti. Ya kan Bu?”

“Ya, tentu saja. Kalau kurang nanti ibu beri, tidak usah diganti. Masa sih memberi anak kok minta ganti? Nggak apa-apa Jan, bilang pada ibu kalau ada kurangnya.”

Kuping Wijan sudah terasa berdenging mendengar lagu nyaring yang tak jelas nadanya itu. Tapi dia tetap diam, sambil memasukkan uangnya ke dalam saku. Ia tak tahu harga ban dan standart yang dibutuhkan untuk sepedanya, karenanya uang itu diterimanya begitu saja, lalu Wijan berdiri.

“Nanti kalau sisa, akan Wijan kembalikan uangnya pada Bapak.”

“Tidak, kalau sisa, bawa saja dan simpan, barangkali kamu memerlukan sesuatu. Seperti kalau sepeda gembos di jalan, atau kebutuhan yang lain. Nanti kalau nggak ada sisa, bapak akan tambahin.”

Wijan mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, lalu beranjak ke kamarnya.

“Wijan, besok bapak akan membelikan kamu ponsel.”

Wijan berhenti melangkah.

“Saya kira tidak perlu Pak, Wijan belum membutuhkannya.”

“Itu sangat perlu, untuk memudahkan komunikasi diantara kita. Ya bapak, ya ibumu, kakakmu. Begitu kan? Kalau adikmu, bapak kira belum perlu.”

Wijan tak bisa membantahnya.

“Mas Wijaaan,” belum sampai Wijan membuka pintu, teriakan Nilam sudah terdengar menggema. Wijan berhenti.

“Nanti ajarin Nilam mengerjakan PR ya?”

Wijan mengangguk. 

"Ya, tentu, setelah mas menyirami tanaman ya.”

“Nanti Nilam bantu menyiram tanaman," teriak Nilam, riang.

***

Malam itu,  bu Rusmi sedang memijit kaki suaminya sebelum tidur. Ia tahu, kalau ia menginginkan sesuatu, maka ia harus berbaik-baik sama suaminya.

“Tidurlah, ini sudah malam,” kata pak Raharjo.

“Ibu cuma mau bilang, membelikan Wijan ponsel itu apakah memang perlu?”

“Apa maksud ibu?”

“Mijan masih kelas dua SMA, ibu kira itu belum perlu.”

“Menurut bapak itu perlu. Kita semua saling butuh berkomunikasi, barangkali ada sesuatu yang harus kita kabarkan dari masing-masing diantara kita.”

“Ibu hanya khawatir, ponsel itu disalah gunakan oleh Wijan.”

“Wijan anak baik, dia tak akan bertindak macam-macam,” kata pak Raharjo sambil meraih guling di sisinya, lalu memejamkan mata. Ia merasa sangat lelah, karena perjalanan ke kantor cabang setiap hari membutuhkan tenaga lebih. Ia harus berangkat lebih pagi, dan menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sekitar 100 km dari kantor pusat yang setiap hari ditungguinya.

“Pak, akhir-akhir ini ibu sering merasa kesepian.”

Pak Raharjo membuka matanya.

“Bagaimana kalau beli satu mobil lagi untuk ibu?” lanjut bu Rusmi.

“Ada satu mobil yang hanya dipakai Hasti untuk kuliah, kalau dia pulang ibu bisa mempergunakannya kan?”

“Hasti sering pulang sore, agak repot kalau ibu ingin pergi.”

“Memangnya ibu mau pergi ke mana?”

“Kadang-kadang kan ibu juga butuh bersosialisasi dengan kawan lama, arisan, dan_”

“Arisan. Kenapa sih kalau ibu-ibu tidak mengadakan arisan? Bapak kurang setuju. Ibu-ibu yang sedang berkumpul, lebih banyak bergunjing atau memamerkan kekayaan, atau apalah, dan itu adalah hal yang tidak perlu.”

“Kalau bapak menyuruh ibu hanya duduk diam di rumah, ibu menjadi semakin cepat tua dong.”

“Tidak apa-apa menjadi tua, toh bapak masih mau sama ibu, dan tak akan pernah bosan selamanya.”

“Bapak kok gitu,” kata bu Rusmi cemberut, lalu tidur memunggungi suaminya.

“Kalau ingin pergi kan bisa naik taksi.”

“Nggak enak. Tidak sebebas kalau membawa mobil sendiri.”

“Nanti bapak pikirkan, tapi sekarang bapak sangat lelah,” katanya sambil kembali memejamkan matanya. Bu Rusmi membalikkan tubuhnya, dan merangkul suaminya hangat. Ada harapan bahwa keinginannya akan dikabulkan. Membawa mobil sendiri, mengapa tidak? Hasti sudah semakin besar dan punya keinginan yang lebih. Dia juga sering bepergian, bahkan saat malam hari. Karena itu Rusmi ingin memiliki mobil sendiri, agar kalau ingin ke mana-mana harus tergantung pada kepulangan anaknya, yang kadang harus disertai pertengkaran karena sama-sama membutuhkan.

***

Pagi hari itu pak Raharjo pergi dengan dijemput mobil dari kantor. Ia bahkan tak sempat makan pagi, karena saat beranagkat bibik baru menata sarapan di meja makan. Hanya Wijan yang mengantarkan sampai ayahnya naik ke dalam mobil, karena ibu dan saudaranya sedang bersiap untuk makan pagi.

“Hati-hati ya Pak,” pesan Wijan dengan mata berbinar.

Pak Raharjo menatap anak laki-lakinya dengan perasaan tak menentu. Satu-satunya anak peninggalan istrinya itu selalu membuatnya teringat pada istri pertamanya, yang meninggal karena sakit, saat Wijan masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

“Wijan, mengapa tubuh kamu kurus?” kata sang ayah sambil melongok dari kaca jendela mobil.

“Masa sih Pak? Nggak kok.”

“Makan yang banyak, biar sehat, dan gemukan sedikit. Kamu sangat tampan. Kalau badan kamu lebih besar, maka kamu akan jauh lebih tampan.”

Wijan tertawa.

“Bapak bisa saja.”

“Ya sudah, bapak pergi dulu, dan jangan lupa perbaiki sepeda kamu.”

Wijan mengangguk, dan sekali lagi mengucapkan pesan agar ayahnya berhati-hati.

***

Wijan bergegas masuk ke dalam kamarnya, mengambil tas sekolah dan mengenakan sepatunya.

“Mas Wijaaan, makan dulu.” teriak nyaring si kecil terdengar. Wijan mendekat dan masuk ke ruang makan sambil sudah menggendong tas sekolahnya.

“Makan dulu, nanti di sekolah kelaparan.”

“Apaan sih kamu, dia sudah besar, sudah tahu apa yang harus dilakukannya,” tegur Hasti sambil mengakhiri makan paginya, sementara bu Rusmi menyiapkan dua potong roti untuk Nilam, agar dibawanya sebagai bekal.

Wijan duduk di kursi, hanya Nilam yang masih duduk di sana, sambil menghabiskan sarapannya.

“Cepat makan, nanti terlambat,” seru Nilam.

Di meja ada nasi goreng dan sepotong telur ceplok. Ketika Wijan mau meraihnya, tiba-tiba Hasti mencomot telur itu dan digigitnya.

“Kamu nggak usah pakai telur, aku suka telur ceplok,” katanya tanpa belas.

Wijan tak bereaksi. Tak masalah makan nasi  saja. Ia makan dengan nikmat. Tapi tiba-tiba Nilam mengulurkan separo telur ceplok, langsung ditaruh di piringnya.

“Nggak usah Nilam.”

“Makan saja, aku sudah cukup. Mbak Hasti memang jahat,” omelnya.

“Apa kamu bilang? Aku jahat?”

“Jahat lah, telur bagian mas Wijan mbak Hasti ambil.”

“Dia itu nggak butuh telur, bukankah nasi goreng  sama kerupuk sudah cukup? Kamu cepetan habisin makan kamu, aku tunggu di depan, kalau kelamaan aku tinggal kamu,” katanya sambil masih mengunyah sepotong telurnya, lalu beranjak ke depan.

“Mas, makanlah telurnya. Bukankah telur itu sumber protein dan menyehatkan?”

Wijan ingin mengembalikan sepotong telur itu, tapi Nilam sudah selesai makan dan berdiri meninggalkan ruang makan.

“Aku harus buru-buru, mbak Hasti menunggu di depan.”

Wijan mengangguk sambil menggigit sepotong telur kasih sayang itu. Air matanya merebak.

Ketika ia sudah selesai makan, tiba-tiba bibik menariknya ke dapur.

“Ada apa?”

“Bibik siapkan bekal untuk mas Wijan, diam-diam saja ya,” katanya sambil memasukkan kotak makanan yang sudah berisi makanan ke dalam tasnya.

“Tapi Bik ….”

“Sudah, berangkat saja sana, nanti terlambat. Lainnya naik mobil, mas Wijan naik sepeda kan?”

Wijan mengangguk, mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu. Bibik menatapnya penuh rasa iba. Wijan adalah anak pemilik rumah, anak pemilik perusahaan, anak orang kaya dan terpandang, tapi dibuatnya sengsara di dalam rumahnya sendiri.

***

Wijan sudah siap ke arah depan, dimana sepedanya sudah disiapkannya di bawah pohon. Tapi ketika dia berpamit kepada ibu tirinya, sang ibu menahannya.

“Mana uang yang bapak berikan kemarin sore?”

“Ada bu, tapi untuk beli ban dan standart yang baru.”

“Untuk beli ban dan standart, uang sebanyak itu? Mana. Kamu masih muda, belum punya banyak kebutuhan. Berikan padaku uangnya.”

Wijan agak kesal, tapi ia keluarkan juga uang itu dari sakunya.

“Ini terlalu banyak. Nih, duaratus ribu saja cukup kan? Jangan boros, mentang-mentang ayahmu begitu royal memberikan uangnya.”

Wijan tertegun.

“Ba … bagaimana kalau tidak cukup, Bu.”

“Bodoh! Masa duaratus ribu tidak cukup? Awas kamu, jangan sampai mengadu pada ayahmu,” katanya sambil beranjak ke belakang, dengan masih menggenggam uang itu.

Wijan menghela napas panjang, melangkah gontai sambil berjalan mendekati sepedanya, siap mengayuhnya ke sekolah.

***

Bibik sedang membersihkan dapur ketika mendengar sang nyonya majikan sedang bertelpon di ruang makan. Ia merasa aneh, karena nada suara dan bahasa yang dipergunakan sang nyonya terasa janggal. Seperti anak muda sedang pacaran. Eeh, bukan, tapi kok suaranya seperti merengek manja begitu? Bibik tidak ingin tahu tentang apa yang mereka bicarakan, tapi dia merasa risih mendengar ungkapan sayang yang dikatakannya saat bertelpon. Rasanya nggak pantas banget, bukan anak muda bertelpon begitu manja dan memanggilnya sayang berkali-kali.

Barangkali karena merasa bahwa bibik mendengarkan saat dia bertelpon, kemudian bu Rusmi melanjutkan berbicara ke arah depan. Bibik tak peduli. Ia harus bersiap memasak untuk makan siang.

***

Sepulang sekolah , Wijan langsung membawa sepedanya ke toko perangkat sepeda. Di sana juga ada bengkel yang siap melayani pemasangan onderdil atau apa, yang barangkali diperlukan oleh pembeli.

Wijan turun dari sepedanya, dan mengatakan apa yang dibutuhkannya kepada penjaga toko.

Penjaga toko menunjukkan merk ban yang dirasanya baik, karena memang sepeda Wijan bukan sepeda murahan, hanya karena sudah tua maka ada beberapa onderdil yang harus diganti.

“Ini saja mas, nanti sekalian dipasangkan.”

“Berapa mas?”

“Semuanya, sekalian memasang, duaratus enam puluh ribu.”

Wijan meraba sakunya. Ia merasa kesal karena ibu tirinya telah mengambil yang tiga ratus ribu dari yang diberikan ayahnya.

“Bagaimana Mas?” tanya pelayan toko, karena Wijan tidak segera menjawab.

Wijan ingin membatalkan pembelian itu, tapi bagaimana nanti menjawab kepada ayahnya? Tak mungkin ia mengatakan tentang uang itu, karena ia pasti akan disiksa oleh ibu tirinya kalau mengadu kepada ayahnya.

Apa boleh buat, ia meraba dompetnya, lalu berkata kepada petugas toko bahwa dia menyetujuinya. Wijan punya simpanan, yaitu uang saku yang diberikan ayahnya setiap hari, dan tak pernah dibelanjakannya. Jadi ia mengambil uang simpanan itu untuk menomboki kekurangannya. Tak apa, daripada timbul keributan di rumah gara-gara uang itu.

Wijan duduk menunggu di sebuah bangku, sementara para petugas mengerjakan pesanannya. Tapi tiba-tiba dia terbelalak. Di seberang jalan, ia melihat seorang wanita bergayut manja pada seorang laki-laki berewokan tapi gagah. Yang membuat Wijan terbelalak adalah, bahwa wanita itu adalah ibu tirinya.

***

Besok lagi ya.

Saturday, November 18, 2023

BUNGA UNTUK IBUKU 01

 BUNGA UNTUK IBUKU  01

(Tien Kumalasari)

 

 

Tokoh :

Pak Raharjo                             : Ayah kandung Wijanarko

Rusmini                                    : Istri baru pak Raharjo, jahat, sadis.

Wijanarko, dipanggil Wijan: pemuda, anak kandung Raharjo, baik hati.

Prahasti, dipanggil Hasti      : anak kandung Rusmini, kasar, jahat.

Nilam                                        : Anak kandung Rusmini, gadis kecil, manja, baik hati

(tokoh sementara)

 

Angin lembut di siang hari itu menurunkan sedikit hawa panas yang menerjang di saat kemarau tahun itu. Burung-burung kecil beterbangan diantara padi yang mulai menguning, lalu di seberang sana, seorang gadis dengan topi lebar menggoyang-goyangkan boneka dari ranting dan dedaunan, setinggi manusia, yang terletak di sudut-sudut sawah, yang dihubungkan dengan tali-tali, sehingga kalau ditarik, maka boneka atau orang-orangan itu akan bergerak, seperti orang yang sedang menghalau burung-burung pemangsa tanamannya. Lalu mereka berterbangan menjauh.

Wijanarko, anak muda belasan tahun itu duduk di tepi parit yang ada ditepi sawah itu. Disebelahnya adalah pohon asam yang sangat rindang, menaunginya dari panas yang menyentak. Angin lembut yang bertiup menambah kesejukan yang nyaman. Tapi hati Wijan tidak sesejuk angin yang berembus mengelus tubuhnya. Ia baru kelas dua SMA, dan baru pulang sekolah. Ia merasa enggan pulang, yang dianggapnya selalu membuatnya sedih dan nelangsa.

Sepeninggal ibunya beberapa tahun lalu, ayahnya, pak Raharjo menikah lagi, dengan bu Rusmini, janda beranak dua. Yang satu adalah Prahasti, sudah beranjak dewasa, satunya adalah Nilam, gadis mungil yang masih duduk di bangku SMP kelas tiga.

Kalau Prahasti mewarisi sifat ibunya yang keras dan mau menang sendiri, Nilam adalah gadis yang lembut dan baik hati. Ia sangat menyayangi Wijan, kakak tirinya, yang dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri.

Kebalikannya, Hasti begitu jahat terhadap Wijan. Kalau ayahnya ada, dia bersikap manis, tapi kalau sang ayah tak ada, dia memperlakukan Wijan dengan semena-mena, bahkan didukung oleh ibunya.

Wijan bahkan diperlakukan seperti pembantu di rumah itu. Kalau pagi, sebelum berangkat sekolah, dia harus menyapu, membersihkan perabotan, dan mengepel. Sore hari sepulang dari sekolah, ia harus menyiram tanaman dan membersihkan halaman. Belum lagi kalau ada belanjaan yang kurang, Wijan lah yang mereka suruh untuk belanja keluar.

Wijan sebenarnya tidak keberatan melakukan itu semua. Ia hanya merasa sakit kalau cara menyuruh itu dengan membentak-bentak sementara kalau dihadapan sang ayah, mereka berpura-pura bersikap manis terhadapnya.

“Kalau saja ibu masih ada,” rintihnya lirih.

Wijan menatap tanaman padi yang terbentang, kekuningan bagaikan emas. Ada gelombang meliuk-liuk tatkala angin berembus. Alangkah nyaman rasanya duduk diam menikmati indahnya alam. Rasa sakit yang selalu menggigit seakan terlepas dari jiwanya. Ia pulang agak siang di hari itu, karena gurunya sedang rapat. Daripada langsung pulang untuk menghirup udara panas yang berembus menyakitkan di rumah, lebih baik duduk dulu di tepi sawah yang hembusan anginnya menyegarkan. Wijan sedang menggigit-gigit sebatang rumput di sampingnya, yang baru saja diraihnya, ketika tiba-tiba sebuah lengkingan terdengar di telinganya.

“Mas Wijaaan! Kenapa nggak mau nungguin aku sih!”

 Wijan menoleh, dan melihat Nilam berlari kecil mendekatinya.

“Nilam? Kenapa jalan kaki?”

“Aku belum dijemput, lalu aku melewati sekolah Mas, ternyata sudah pada pulang,” keluhnya sambil duduk di samping kakaknya.

“Mengapa duduk di sini?”

Wijan menatap gadis kecil di sampingnya, yang sedang merogoh ke dalam tas, lalu memberikan sepotong roti kepadanya.

“Ini apa?” tanya Wijan heran.

“Bukankah itu roti? Enak, isinya coklat.”

“Kenapa kamu berikan sama aku?”

“Itu roti bekal aku. Tadi ada dua, yang satu sudah aku makan. Makanlah.”

Wijan tersenyum. Ibu tirinya selalu membawakan bekal makanan kepada Nilam, tapi tidak kepada dirinya. Wijan tak pernah membawa bekal. Ia punya sedikit uang saku, yang diberikan ayahnya, tapi tidak pernah dibelikannya makanan. Ia hanya makan pagi sebelum berangkat, dan makan lagi setelah sampai di rumah.

“Makanlah.”

“Kamu saja yang makan, ini kan bekal untuk kamu.”

“Aku sudah makan. Untuk Mas saja. Ayolah.”

“Jangan, nanti kamu lapar.”

“Nggak kok. Aku nggak lapar. Mas makan saja.”

“Ini bekal untuk kamu, kalau diberikan ke mas, nanti ibu marah.”

“Nggak akan marah, kan ibu nggak tahu,” katanya sambil mendorong bungkusan roti itu ke arah sang kakak.

“Begini saja. Roti ini kita bagi dua, separo kamu, separo lagi aku.”

“Nggak mau. Aku sudah kenyang.”

“Kalau nggak mau, aku juga nggak mau makan.”

Nilam merengut, tapi roti itu kemudian dimintanya. Ia mengambil sebagian kecil, lalu sisanya diberikan kepada sang kakak.

“Ini untuk Mas.”

“Kamu hanya mengambil sedikit.”

“Ini sudah cukup, kalau nggak mau aku nangis nih.”

Wijan sangat menyayangi adik tirinya ini, seperti Nilam juga menyayanginya. Ia tak suka melihat air mata adiknya. Kalau dia sedang kena marah atau bertengkar dengan Hasti, kakaknya, ujung-ujungnya pasti Nilam akan menangis. Saat itu hati Wijan ikut merasa sedih, dan dengan kasih sayang, ia selalu menghiburnya.

Wijan tersenyum, dengan terpaksa dia memakan roti itu, dan sesungguhnya memang Wijan merasa lapar. Tapi saat roti itu belum habis dimakannya, ia merogoh tas sekolahnya, mencari botol minumnya. Tapi ternyata botol berisi air putih yang selalu dibawanya itu sudah kosong.

“Mas haus? Nih … masih ada minum Nilam,” kata Nilam sambil mengulurkan botolnya.

“Kamu … ?”

“Aku sudah minum. Minum saja.”

Wijan menerimanya dengan rasa terima kasih, karena sesungguhnya dia keseretan.

Nilam mencopot sepatunya, lalu mencelupkan kakinya di dalam air, menggoyang-goyangkannya sehingga menimbulkan suara air yang berkecipak nyaring.

Nilam tertawa-tawa karena cipratan air itu mengenain wajahnya dan wajah Wijan, yang ikut berteriak-teriak kegirangan.

“Nilaaam! Kamu nakal ya.”

Nilam terkekeh, dan melanjutkan aksinya memukul-mukulkan kakinya di air itu.

“Kenapa kamu tidak dijemput?” karena senang bertemu adik tirinya, Wijan lupa menanyakannya ketika Nilam baru datang.

“Tidak, aku kelamaan menunggu, ogah,” sungutnya.

"Nanti mbak Hasti pasti mencari-cari karena kamu tidak ada di sekolah.”

“Biarin aja. Salah sendiri terlambat menjemputnya. Pasti dia pacaran. Ini kan hari Sabtu, pacarnya pulang, lalu mbak Hasti lupa menjemput aku.”

“Isssh, nggak boleh begitu, Siapa bilang mbak Hasti punya pacar?”

“Emang punya, kok.”

“Anak kecil tahu apa tentang orang pacaran?”

“Yeeei, aku bukan anak kecil, aku sudah hampir lulus, setelah ini aku sudah SMA seperti mas Wijan."

Wijan tersenyum, sementara itu matahari sudah condong ke barat.

“Ini sudah sore, ayo pulang.”

“Iya, memang sudah sore.”

Nilam mengentas kakinya dari dalam parit, lalu mengambil tissue untuk mengeringkannya, kemudian dikenakannya sepatunya.

“Taliin …” pintanya kepada sang kakak agar menalikan tali sepatunya.

“Nggak apa-apa ya, kamu Mas boncengin pakai sepeda?”

“Nggak apa-apa, aku suka,” kata Nilam riang, sambil berdiri.

Wijan mengambil sepedanya yang bersandar di pohon asam, tapi Nilam tampak sedang membungkuk-bungkuk mengambil sesuatu.

“Hei, ngapain kamu?”

“Ini, buah-buah asam, nanti Nilam berikan sama bibik.”

“Aduh, sudah. Nanti pulang kesorean, kita dimarahin sama ibu.”

***

Wijan mengayuh sepedanya pelan, tapi begitu memasuki halaman, dilihatnya sang ibu sedang duduk di teras, lalu ketika melihat keduanya, langsung dia berdiri dengan tangan berkacak pinggang.

“Dari mana kalian?” suara itu menggelegar seperti guntur di musim hujan. Wijan menyandarkan sepedanya di pohon dengan tangan gemetar.

Nilam langsung naik ke teras, dan sang ibu menjewer kupingnya.

“Aaauuuwww, Ibuuuu … sakit dong Bu,” teriak Nilam sambil memegangi kupingnya yang memerah.

“Kemana saja kamu? Pulang sekolah, kenapa bisa bersama Wijan?” hardik sang ibu.

“Mbak Hasti tidak menjemput, jadi Nilam jalan kaki, lalu ketemu mas Wijan,” katanya hampir menangis, lalu berlari ke dalam.

Bu Rusmi belum beranjak, ia masih menatap Wijan yang sedang menyandarkan sepedanya, karena sepeda itu sudah tak ada standartnya lagi.

“Dan kamu!! Enak saja kamu pulang sudah sore. Kamu ajak kemana Nilam tadi?” suaranya masih sangat keras.

“Maaf, Bu. Tidak ke mana-mana, hanya berhenti di pingir sawah.”

“Apa katamu? Berhenti di pinggir sawah? Jadi kamu melewati jalan kampung yang berbelok-belok dan melewati persawahan?”

“Iya, Bu,” kata Wijan sambil menundukkan wajahnya. Sungguh bukan seperti perlakuan seorang ibu. Iyalah, Wijan tahu, karena perempuan berwajah garang itu memang bukan ibunya.

“Bagaimana Nilam bisa melewati jalan itu juga?”

“Ibu jangan marah sama mas Wijan. Nilam melewati jalan kecil bersama teman Nilam, karena jalan besar sangat panas.”

“Dan kamu bertemu dia di pinggir sawah? Apa kamu sering melewati jalan itu, dan tahu bahwa Wijan pasti melewati persawahan?”

“Iya. Ketika mbak Hasti menjemput pakai mobil, pernah melewati jalan itu, dan ketemu mas Wijan. Jadi Nilam tahu, kalau lewat jalan itu pasti ketemu mas Wijan,” kata Nilam menggebu-gebu demi membela kakaknya.

Ketika itulah sebuah mobil yang dikendarai Hasti memasuki halaman.

“Tuh, mbak Hasti, pasti dia pacaran, lalu lupa menjemput Nilam,” seru Nilam.

“Diam kamu!!”

Wijan dan Nilam masuk ke dalam.

“Bibiiik, aku sama mas Wijan mau makaaan, teriak Nilam dari dalam, sementara bu Rusmi menunggu Hasti memasuki rumah.

“Kemana saja kamu?” tanya sang ibu dengan wajah muram.

“Nilam sudah pulang?”

“Apa kamu tidak menjemputnya?”

“Hasti jemput dia, tapi dia sudah tidak ada di sekolah.”

“Tentu saja tidak ada, saat dia pulang, kamu belum menjemput,” sungut ibunya sambil masuk ke dalam rumah.

“Jadi dia belum pulang?” Hasti mengikuti ibunya masuk. Tapi dia tak membutuhkan jawaban, karena di ruang makan dia melihat Nilam dan Wijan sedang makan berdua.

“Kamu pulang sama siapa?” bukannya merasa bersalah, Hasti malah membentak adiknya.

“Mbak Hasti tidak menjemput Nilam, kenapa marah-marah?” jawab Nilam sambil mencomot ayam goreng yang tinggal sepotong, lalu dibaginya berdua dengan Wijan.

“Eeeh, kenapa Wijan diberi ayam goreng? Kan sayurnya sudah ada ayamnya?” tiba-tiba sang ibu sudah masuk ke ruang makan juga.

“Kasihan, kenapa bibik hanya memberi sepotong, kan ada aku sama mas Wijan.”

“Memang ibu yang menyuruh. Wijan itu anak laki-laki, tubuhnya sudah kuat, tidak memerlukan banyak makan daging, baik ayam maupun sapi.”

Wijan mengembalikan seiris ayam goreng yang tadi diberikan adiknya, sambil tersenyum dalam hati. Senyum yang miris. Ada ya, teori anak laki-laki itu karena sudah kuat, maka tidak memerlukan makan daging. Tapi rasa sakit yang menderanya sudah terlalu sering di rasakan. Masih mending dia dibiarkan makan di meja makan. Pernah suatu kali, saat ayahnya tidak ada, maka dia disuruh makan di dapur bersama bibik.

“Mas Wijan, ini buat mas Wijan,” kata Nilam mengulurkan lagi separuh ayamnya, tapi lagi-lagi Wijan mengembalikannya.

“Untuk kamu saja,” kata Wijan pelan.

“Ada apa ini?” tiba-tiba sebuah suara terdengar. Tiba-tiba pak Raharjo memasuki ruang makan.

“Bapak sudah pulang? Kok ibu tidak mendengar suara mobilnya?”

“Bapak naik taksi, turun di jalan. Mobilnya masuk bengkel dan baru besok bisa diambil. Lagi pada makan? Kenapa tadi Nilam berteriak?”

“Itu Pak, Nilam ingin memberikan ayam kepadanya, tapi Wijan menolak,” kata ibunya yang sikapnya berubah manis.

“Wijan, terima saja. Adik kamu memang sangat menyayangi kamu,” kata sang ibu, tapi Wijan menolaknya.

“Ini sudah cukup, dan Wijan sudah selesai,” kata Wijan sambil berdiri.

“Wijan, kamu tadi ke sekolah naik sepeda lagi?”

Wijan berhenti melangkah.

“Iya.”

“Kan bapak sudah bilang, berangkat bareng Hasti saja, kan tiap pagi dia mengantar Nilam. Sepeda itu harus diperbaiki dulu, standartnya rusak. Bannya juga harus diganti, bukan?”

“Ibu sudah melarangnya, dan memintanya bareng Hasti, tapi dia menolak,” kata bu Rusmi sambil mengikuti suaminya masuk ke kamar.

“Kenapa ibu suka berbohong?” gumam Nilam sambil membawa piringnya ke belakang. Dilihatnya Wijan sedang duduk di kursi dapur, minum segelas air putih.

“Mas, ini mas,” lagi-lagi Nilam masih membawa sepotong ayamnya.

“Apa sih? Mas sudah selesai makan.” Wijan tentu saja menolaknya.

“Makan aja, tanpa nasi nggak apa-apa kok,” Nilam masih ngeyel, dan karena ayam goreng itu diberikan didepan wajahnya, maka Wijan terpaksa menerimanya. Nilam tersenyum senang, kemudian berjingkat ke arah wastafel untuk mencuci tangan.

Wijan memakan sepotong ayam itu sambil menahan air matanya. Nilam selalu menyayanginya, membuatnya terharu. Tak ada yang mengusik dan membentaknya, karena sang ayah sudah pulang.

“Mas Wijan, bibik sudah menyiapkan sepotong untuk mas Wijan, sebetulnya, cuma saja tadi dilarang oleh ibu,” tiba-tiba bibik berbisik di telinganya.

Wijan mengangguk.

“Nggak apa-apa kok bik, dimakan bibik saja.”

“Buat nanti malam saja.” kata bibik lagi.

Wijan hanya terdiam.

“Bibik, aku tadi mencari buah asam yang jatuh di bawah pohon, sebentar, ada di dalam tas sekolah aku. Besok bisa buat masak sayur asam kan?”

Bibik tersenyum. Majikan kecilnya ini sungguh hatinya baik dan menyenangkan.

“Wijaaan.” tiba-tiba terdengar sang ayah memanggilnya dari ruang tengah.

***

Besok lagi ya.

 

Thursday, November 16, 2023

Puisi malam ini

 

LANGKAHKU


Langkahku bukan sepenggal perjalanan, 

karena ia akan sampai nanti keujungnya

cintaku bukan sepenggal kisah

karena ia akan menyelimuti hati dan jiwaku sepanjang masa

hariku bukan sepenggal musim 

karena ia akan menemani mimpi dan semangatku 

senyumku bukan sepenggal gairah 

karena ia akan melumuri nafasku sepanjang desahnya

hai senja

kaupun bukan sepenggal rona

karena malam akan menghantarkan aku menunggu datangnya pagi

semoga lelap mengistirahatkan penat dan letihku

selamat malaaam

Wednesday, November 15, 2023

BERSAMA HUJAN 43

 BERSAMA HUJAN  43

(Tien Kumalasari)

 

Tiba-tiba Romi meraih tangan Kinanti, lalu menyematkan sebuah cincin berlian ke jari manisnya. Kinanti gemetar dibuatnya. Semuanya terasa seperti mimpi. Mata cincin yang berkilat tidak membuatnya bahagia. Semua terasa sangat tiba-tiba. Ia yang bersikeras menolak Romi, tiba-tiba luluh ketika sang ayah ikut campur dalam menanganinya. Barangkali bagi seorang tua, yang terbaik adalah apabila ada yang bertanggung jawab atas apa yang disandangnya. Dulu Kinanti memang sangat mengharapkannya, tapi penolakan dan penghinaan itu masih tersisa dalam memorinya. Tak mudah menghilangkan luka, walau Romi sudah menunjukkan penyesalan dan perhatian yang sangat besar.

Pernikahan ini nanti akan terjadi karena campur tangan sang ayah. Ia menerimanya, tapi belum sepenuhnya mempercayai niat baik Romi.

Suasana yang tampak hingar bingar itu ditinggalkannya karena Kinanti mendengar rengek Ksatria.

“O, sayang … kamu sendirian ya? Kamu haus? Lapar? Atau kamu ngompol? Oh, ya ampun, ternyata kamu ngompol. Popok kamu basah ya, sebentar, ibu gantikan ya, jangan menangis dong,” Kinanti mengangkat Ksatria yang kemudian diletakkannya di atas meja. Meja yang khusus diletakkan di dekat box bayi, dengan perlengkapan bayi yang lengkap. Alas yang empuk dan wangi, dan tumpukan baju ganti si bayi.

Kinanti menghela napas panjang. Haruskah dia mensyukuri semuanya, atau menyesalinya? Terbayang olehnya kamar di rumah kontrakan, yang sudah ditatanya sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Ia akan menidurkannya di samping dia tidur, diberinya alas yang lembut, bantal dan guling kecil. Bagaimana nasib kamar dan tataannya itu, ketika tiba-tiba dia sudah harus berada di rumah yang sangat bagus dan bisa menidurkan si bayi di kamar khusus dengan segala perlengkapannya.

Bayi itu masih merengek, membuat Romi kemudian menjenguk ke dalam.

“Kenapa dia?”

“Tadi ngompol. Sekarang haus, saatnya minum ASI,” jawab Kinanti tanpa menatapnya.

“Oh ….”

Romi mengerti, ia keluar dan kembali menemui tamu-tamunya.

“Kenapa anakmu Rom?” tanya bu Rosi.

“Ngompol. Sekarang sedang minum ASI.”

Bu Rosi merasa lega.

Hari sudah sore ketika semuanya berpamit pulang. Kinanti menidurkan kembali anaknya di box karena dia sudah terlelap. Sang ayah masuk ke kamar itu untuk berpamitan.

“Kinan, bapak pulang dulu. Kelak kamu harus bisa menjadi istri yang baik, melayani suami dengan baik, dan merawat anakmu dengan baik pula.”

“Baik Pak. Terima kasih Bapak telah memaafkan saya. Kalau Ksatria sudah agak besar, saya akan mengunjungi Bapak.”

“Iya, tidak usah terburu-buru. Bapak baik-baik saja, karena ada keponakan bapak yang membantu dan menemani bapak, setelah kamu pergi.”

“Syukurlah, biar Kinan panggilkan taksi dulu.”

“Aku akan mengantarkan bapak,” tiba-tiba Romi muncul di belakang sang ayah.

Kinanti mengangguk, tanpa ekspresi, tapi ia mengantarkan sang ayah sampai ke depan.

“Kalau kamu butuh sesuatu, ada bibik di belakang. Kamu harus segera beristirahat,” kata Romi sebelum pergi.

Kinanti, lagi-lagi hanya mengangguk.

Ketika dia masuk, dilihatnya bibik sedang mengambil gelas dan piring kotor, bekas para tamu. Kinanti membantunya, tapi bibik melarangnya.

“Jangan N on, biar saya saja,” katanya sambil tersenyum.

“Tapi kotoran itu sangat banyak.”

“Bibik sudah biasa mengerjakannya. Tadi tuan Romi berpesan, agar Nonaa beristirahat saja. Nanti kalau membutuhkan apa-apa, panggil bibik, ya,” kata bibik sambil menjauh.

Kinanti mengangkat bahu, kemudian masuk ke kamar Ksatria. Tadi bu Rosi mengatakan bahwa kamarnya adalah yang sebelah kamar bayi itu, yang lebih besar. Tapi Kinanti memilih tidur di kamar Ksatria. Kalau dia terbangun, dia harus segera melihatnya bukan? Barangkali dia ngompol, atau lapar.

Kinanti masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu mengganti bajunya dengan baju rumahan. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya. Setelah melahirkan, pastilah ia merasa lelah. Tak lama kemudian dia terlelap.

***

Ketika Romi kembali, ia melongok ke kamar anaknya. Ia menghela napas panjang, melihat Kinanti tidak tidur di kamar yang disediakan untuknya.

Romi ingin membangunkannya, tapi tak tega. Ia beranjak ke belakang, dan memerintahkan kepada bibik agar membuat segelas susu. Kemudian dia membawanya ke kamar Ksatria. Ketika ia meletakkan gelas, Kinanti membuka matanya.

“Ini susu untuk kamu.”

Kinanti terdiam, sebuah perhatian yang menyentuh. Ia juga melihat Romi melongok ke arah box bayi, dengan senyuman mengembang. Dengan lembut Romi menyentuh pipi sang bayi, kemudian keluar, sebelum sebelumnya mengingatkannya untuk segera minum susunya.

Kinanti bangkit. Ia membawa gelas susu itu keluar, meletakkannya di atas meja di ruang tengah itu, lalu dia duduk di sana. Termangu, ia berpikir tentang apakah ini mimpi, ataukah nyata. Rumah kost yang diharapkan akan menunggu kepulangannya, ternyata tak ada. Yang ada hanyalah rumah kecil dengan perabotan mewah, dan apapun ada di sana. Masih terngiang di telinganya, ketika sang ayah 'memerintahkan agar dirinya mau menerima Romi yang sudah bertobat.

Jadi sekarang ia akan menjadi istrinya? Istri laki-laki yang pernah dicintai kemudian mencampakkannya, lalu sekarang menunjukkan cinta kasihnya? Bohong kalau hatinya tak luluh. Bohong juga kalau cinta itu sudah menguap tergilas kebencian yang dipendamnya selama berbulan-bulan. Cinta itu masih ada.

“Minumlah, masih hangat,” suara itu terdengar seperti sebuah kidung yang mengalun dari langit sana. Membuat hatinya bergetar, dan jiwanya menari diantara mekarnya bunga-bunga.

Ketika gelas itu terulur di depannya, Kinanti menerimanya, dan meneguknya perlahan. Mengapa susu ini begitu nikmat? Apakah karena ada cinta teraduk di dalamnya?

“Kamu harus minum susu setiap pagi dan sore, serta banyak makan sayuran dan juga buah. Bibik sudah belanja lengkap untuk masakan yang bagus untuk ibu menyusui. Ada bermacam buah di kulkas. Kamu bisa mengambil mana yang kamu suka. Aku yakin kamu akan menikmatinya, karena kamu pasti juga ingin anak kita sehat, bukan?”

Kinanti menghabiskan susunya.

“Kamu punya kamar sendiri,  tidurlah disana,” lanjut Romi dengan senyuman yang tak pernah hilang dari bibirnya

Kinanti menatapnya. Ya Tuhan, aku harus menjalaninya, bisik batin Kinanti.

“Sudah terdengar adzan. Aku shlat dulu.” 

Jiwa Kinanti semakin bergetar. Laki-laki tampan ini sudah menemukan jalannya.

Kinanti mengangguk.

Bibik yang berada di dapur sedang menyiapkan makan malam. Tiba-tiba terdengar tangisan bayi. Bibik berlari ke arah kamar bayi, mengira sang nyonya masih tertidur. Tapi tak ada. Bibi mengangkat bayi yang ternyata ngompol. Ia menggantikan popoknya, kemudian membawanya keluar. Ia melewati mushala, melihat tuan muda sedang bersujud. Bibik mengayunkan perlahan bayinya, lalu bayi itu terlelap. 

Kinanti yang sedang menata tempat tidur bayi tersenyum melihat Ksatria sudah kembali tidur.

Bunga layu yang memenuhi dadanya, tiba-tiba mekar kembali. Seperti cinta yang terpendam oleh segumpal kebencian, kemudian membeku, lalu mencair dalam alunan doa.

"Aku pulang dulu, kata Romi setelah selesai shalat. Kinanti mengangguk.

"Kalau butuh sesuatu, bilang saja pada bibik. Besok pagi aku ke sini lagi."

***

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, saudara Romi Adhyaputra bin Adhyaputra, dengan saudari Kinanti binti Warsanto, dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan perhiasan, dibayar tunai.”

Kinanti merasa seperti sedang melayang diudara, bergulung-gulung diantara mega, entah sampai berapa lamanya, ia bahkan tak mendengar suara Romi, lalu ia sadar dan tiba-tiba seperti kembali terjatuh saat mendengar suara serentak ‘sah’.

***

Pagi itu sangat cerah. Tak ada mendung menggantung. Matahari menampakkan sinar emasnya. Bibik sedang memangku Ksatria, membiarkan tubuh mungilnya terpapar sinarnya.

Kinanti dan Romi sedang sarapan di ruang makan. Ada urap sayur dan telur pindang yang disiapkan bibik untuk sarapan.

Agak lama mereka terdiam, lalu tiba-tiba Kinanti membuka suara.

“Mengapa aku harus tinggal di sini?”

“Pertanyaan macam apa itu? Ini adalah rumahmu, rumah si kecil, rumah kita. Kita akan tinggal bersama di sini. Apa kamu tidak suka?”

“Apakah kamu sungguh-sungguh ingin membangun sebuah keluarga bersama aku?”

“Kinanti, sudah berkali-kali aku mengatakannya, bahwa aku akan menjadikan kamu istriku, berarti bahwa kita akan membangun keluarga ini bersama-sama. Kita lupakan masa-masa kelam aku yang penuh dosa. Cintaku tumbuh untuk kamu, Kinanti, juga untuk Ksatria. Percayalah bahwa aku akan menjadikanmu ratu dalam kehidupanku. Apa aku harus bersumpah?”

“Tidak. Aku akan menjalaninya, dan berharap langkah yang aku ambil adalah langkah yang benar.”

Romi tersenyum, dan memandang istrinya mesra. Pandangan yang dulu menggetarkan hati Kinanti, sekarang senyum itu tampil lagi dihadapannya. Senyum yang lebih tulus dan jauh dari nafsu.

Sebulan lebih Romi harus menunggu, dan akhirnya bisa benar-benar menikahi Kinanti. Ini adalah bahagianya.

***

 Aisah diajak suaminya pulang ke seberang, sepekan setelah pernikahan. Hal itu membuat Andin kesepian, karena tak bisa lagi bertemu sahabatnya kecuali hanya bertelpon, itupun jarang. Mungkin karena kesibukannya di sana, atau karena Aisah tak mau mengganggu pelajarannya, entahlah. Ketika senggang, ingin sekali dia bertemu Kinanti, tapi ia enggan bertemu Romi. Bagaimanapun apa yang pernah dilakukan Romi, masih membekas dihatinya. Ia hanya mau bertemu pada saat Kinanti pulang dari rumah sakit, itupun karena bersama dokter Faris dan Aisah serta suaminya.

Tapi pagi hari itu tiba-tiba Kinanti menelpon, membuat Andin senang bukan main.

“Assalamu’alaikum Mbak, apa kabar?”

“Wa’alaikumussalam Andin, atas doamu aku baik-baik saja.”

“Bagaimana Ksatria?”

“Dia juga sehat, sudah bisa mengoceh setiap pagi, tertawa-tawa saat diajak bercanda. Pokoknya lucu deh. Datanglah kemari, kalau sedang senggang. Kamu kuliah?”

“Tidak, mbak hari ini libur. Sebentar lagi aku sudah akan menggarap tugas akhir aku. Doakan lancar ya Mbak.”

“Tentu aku akan mendoakan kamu. Tapi aku kangen sekali sama kamu, aku ingin main ke rumah dokter Faris saat praktek, supaya bisa ketemu kamu.”

“Jangan Mbak, kasihan Ksatria, kalau diajak pergi malam-malam. Kapan-kapan aku main ke rumah Mbak saja.”

“Bener ya?”

“Kalau siang, Mbak sama siapa?” tanya Andin yang sebenarnya ingin tahu, disaat siang, adakah Romi di sana.

“Hanya aku sama bibik, dan juga Ksatria. Romi pulang saat sore. Kan dia bekerja..”

Andin senang, Kinanti tak lagi ragu menyebut nama Romi, berarti ia benar-benar sudah menerimanya. Ia bersyukur Romi menjadi baik, dan berharap agar Kinanti berbahagia bersamanya. Hanya saja hatinya yang belum bisa berakrab-akrab dengannya, seperti ada batasan yang menghalanginya.

“Andin, kamu masih di situ?”

“Eh .. iya Mbak.”

“Kamu menerima telpon sambil melamun ya?”

“Nggaaaak, ini … sambil bersih-bersih,” jawabnya berbohong.

“Kamu mau ke rumah?”

“Ingin sekali, barangkali besok.”

“Baiklah, kita makan siang di rumah aku ya.”

“Iya, sepulang kuliah aku mampir.”

Andin senang, akhirnya akan bisa bertemu sahabatnya.

***

Ksatria benar-benar sudah menjadi bayi yang lucu dan menggemaskan. Tubuhnya gemuk, dan murah senyum. Ia juga sudah bisa berteriak-teriak saat hatinya senang. Andin yang siang itu mengunjunginya, dengan gemas mendekap dan menciuminya.

“Gimana ya, kalau aku nanti kangen sama kamu? Ikut aku pulang saja yuuk!” katanya sambil mencium pipinya.

“Bikin saja sendiri,” canda Kinanti.

“Whaattt?” Kinanti terkekeh geli melihat Andin berteriak.

“Kapan kamu menikah? Bukankah dokter Faris sudah sangat ‘kebelet’ haa?”

“Kan aku sudah bilang, kuliah dulu.”

“Kelamaan dong. Kapan kamu selesai?”

“Sebentar lagi aku mulai mengerjakan skripsi, kalau aku sudah dinyatakan lulus, terserah dia mau segera menikah atau apa. Yang penting kuliah aku harus kelar. Kasihan bapak yang sudah bersusah payah membiayai kuliah aku. Jangan sampai bapak kecewa karena aku gagal menyelesaikannya.

“Kamu benar. Bapak sudah bersusah payah untuk kuliah kamu. Pokoknya aku doakan supaya segera selesai dan menikah.”

“Aamiin. Terima kasih ya MBak.”

***

Tapi ternyata dokter Faris tak sabar menunggu sampai Andin di wisuda. Begitu dinyatakan lulus, ia segera menemui pak Harsono agar diijinkan untuk segera menikahi Andin.

Pak Harsono yang sudah berjanji untuk menerima dokter Faris sebagai menantu, menyetujui usul itu. Rapat keluarga dan segala persiapan pernikahan segera digelar. Tak lupa pak Istijab sang sahabat juga hadir untuk memberikan saran agar terlaksananya pernikahan itu. Aisah dan suaminya memerlukan datang menjelang hari H.

Walau begitu, sekali lagi Andin bertanya kepada dokter Faris, tentang kesungguhannya menjadikan dirinya sebagai istri.

“Kenapa kamu tidak percaya? Berapa kali aku bilang, aku menerima kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Apa kamu masih tidak percaya?”

Andin tersenyum dan mengangguk.

“Jangan-jangan kamu ragu-ragu karena tidak mencintai aku,” tuduh dokter Faris.

Tidak mencintai, katanya? Dia begitu baik, begitu ganteng, begitu perhatian, begitu pengertian, apakah ada alasan untuk tidak mencintainya? Andin menatap dokter Faris dengan mata berbinar. Binar itu adalah cinta. Binar itu adalah janji untuk tetap mengabdi kepada kecintaannya, kepada rumah tangganya dan kepada kehidupannya bersama dia.

“Apakah aku harus menjawabnya? Bukankah semua sikap yang aku perlihatkan selama ini sudah merupakan jawaban?”

“Tapi aku ingin kamu menjawabnya, secara lisan. Selama ini aku menunggu, kamu belum pernah mengatakannya.”

“Baiklah, aku juga mencintaimu, dokter,” katanya lembut. Dokter Faris ingin segera merengkuh kedalam dadanya, tapi ditahannya. Rupanya ia masih harus bersabar, sampai palu yang berkata ‘sah’ itu menggema.

***

Sebuah pernikahan yang penuh gempita bahagia sudah digelar, pak Harsono meneteskan air mata yang tak mampu dibendungnya. Harapan untuk menemukan pasangan bagi anak gadisnya dengan seorang laki-laki yang baik dan mencintainya, telah terlaksana. Seperti selalu dikatakannya, saat dia menutup mata, maka yang diinginkan adalah kebahagiaan anak semata wayangnya.

Bahagia itu tak cukup sampai di situ. Saat Andin di wisuda, pak Harsono kembali menangis. Ia tersedu ketika Andin berlutut dan merangkul kakinya, lalu menyerahkan sebuah map berisi keberhasilannya, sambil menangis pula.

“Bapak, Andin persembahkan ini untuk Bapak. Ini adalah milik Bapak. Keberhasilan Andin juga milik Bapak. Semua karena Bapak. Teruslah sehat dan kuat ya Pak, dan temani Andin dalam melangkah di kehidupan Andin selanjutnya. Andin cinta Bapak.

Lalu air mata semua yang hadir ikut terburai.

***

T A M A T

 

 

WANITA CANTIK BERPAKAIAN MEWAH ITU MENATAP SAUDARA LAKI-LAKINYA DENGAN PANDANGAN JIJIK.

“TEMPATMU BUKAN DI SINI, JADI LEBIH BAIK KAMU PERGI.”

DAN DENGAN LANGKAH GONTAI LAKI-LAKI KURUS ITU PERGI. WANITA YANG SEMULA DISEBUTNYA KAKAK ITU MEMANDANGI PUNGGUNGNYA TANPA BELAS.

 

Tungguin kisahnya, dalam ‘BUNGA UNTUK IBUKU’.

Tuesday, November 14, 2023

BERSAMA HUJAN 42

 BERSAMA HUJAN  42

(Tien Kumalasari)

 

Romi melangkah ke arah parkiran, dan baru beberapa langkah, tiba-tiba hujan turun bagai tercurah dari langit. Romi membalikkan tubuhnya, kembali ke lobi. Ia ingat jacketnya tertinggal di ruangan rawat inap Kinanti. Walau baru beberapa saat hujan mengguyurnya, tapi bajunya lumayan basah. Ia bergegas untuk segera mengambil jacketnya.

Ketika masuk, dilihatnya bayi kecilnya sudah tak ada lagi di ruangan itu. Pastinya perawat sudah mengembalikannya ke kamar bayi. Tapi ia melihat Kinanti sedang berdiri dan memegangi jacket itu.

“Jacketku ketinggalan,” ujarnya sambil mendekat.

Kinanti mengulurkan jacket yang dibawanya, lalu menatap Romi yang bajunya basah kuyup.

“Bajumu basah,” ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Kinanti, tapi membuat Romi berdebar. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa Kinanti memperhatikannya?

Rupanya setelah perawat membawa bayinya keluar dari ruangan, Kinanti yang sedang membenahi barang-barangnya karena esok hari sudah boleh pulang, melihat jacket Romi. Dengan tersipu ia mencium jacket itu, lalu sebuah wangi yang dikenalnya, menyerbu penciumannya. Ada sebuah kenangan pada aroma jacket itu. Ia terus memeganginya sampai Romi masuk ke dalam ruangannya.

Kinanti bersyukur, Romi datang bukan pada saat ia sedang mencium jacket itu.

“Aku pergi dulu,” kata Romi yang tidak tahu harus mengatakan apa.

“Diluar masih hujan.”

Romi tertegun. Apakah Kinanti ingin menahan aku agar jangan pulang dulu? Tapi ketika ia menatap Kinanti, wanita itu sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Sudah kepalang basah. Besok aku akan menjemputmu,” katanya sambil berlalu.

Ketika pintu itu kembali tertutup, Kinanti merasa lagi seperti sedang kehilangan. Semuanya kosong, dan senyap, kecuali suara hujan yang semakin deras terdengar dari luar jendela. Diam-diam Kinanti memikirkannya. Mengapa hujan begini dia nekat pergi? Lalu Kinanti memarahi dirinya sendiri.

“Mengapa aku begitu lemah? Harusnya aku tidak memikirkannya. Biarkan kehujanan, biarkan basah, memangnya dia siapa?” gumamnya perlahan, sambil memasukkan baju-baju dan perkakas yang dibawanya. Ia hanya sendiri, tak ada keluarga yang menemani. Dia sudah terbuang, dan semua gara-gara Romi. Sakit hati kembali menggigitnya. Tapi geledeg yang menyambar, membuatnya teringat Romi yang nekat pulang disaat hujan. Huh, memangnya peduli apa aku? Kata batinnya, tapi kata batin itu bertentangan dengan perasaan yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

Hari sudah sore ketika Andin muncul di hadapannya. Wajah Kinanti berseri.

“Andin? Hujan-hujan begini kamu nekat datang?”

“Hujannya sudah berhenti. Maaf baru menengok Mbak, masih sibuk membantu di pernikahan Aisah.“

“Tidak apa-apa, aku mengerti."

“Kok sudah menata tas-tas di situ?”

“Besok aku sudah boleh pulang.”

"Syukurlah.”

Andin menatap ke sekeliling kamar. Ia sudah mendengar dari dokter Faris, bahwa Romi yang mengatur semuanya. Kamar dan segala keperluannya, bahkan beaya saat melahirkan. Andin ikut bersyukur, karena tampaknya Romi sudah benar-benar ingin menebus kesalahannya.

“Romi memesankan kamar ini untuk aku,” katanya datar, tak menampakkan wajah senang sedikitpun.

“Aku sudah mendengar dari dokter Faris tentang dia. Aku harap, Mbak memaafkannya, dan mau menerimanya.”

Kinanti menghela napas berat.

“Entahlah, bagaimanapun aku tak pernah mengharapkannya.”

“Eh, mana keponakanku?” tiba-tiba Andin sadar bahwa ia belum melihat bayi Kinanti.

“Tadi, sudah dibawa ke ruang bayi. Belum lama dia minum ASI di sini.”

“Ah, aku terlambat. Tapi nanti aku harus melihatnya.”

Kinanti mengangguk.

“Mbak sehat kan?”

“Aku dan bayiku, sehat. Dia banyak minum.”

“Baguslah, pasti dia akan tumbuh sehat.”

Ketika Andin melihat-lihat bayi Kinanti dengan perasaan senang, tiba-tiba dokter Faris mendekatinya.

“Pengin ya? Kalau begitu ayolah,” goda dokter Faris.

Andin tersipu.

“Bayinya cakep sekali.”

“Dia mirip ayahnya.”

Andin tak menanggapi, tapi ia merasa tak bosan menatap bayi mungil yang terlelap dibalik kaca jendela.

***

Kinanti terkejut ketika bagian administrasi menolak menerima uangnya.

“Semuanya sudah dibayar lunas, Bu.”

“Oh.”

“Pak Romi juga sudah minta agar kami mengurus akte kelahirannya. Begitu sudah jadi kami akan mengirimkannya.”

“Terima kasih.”

Kinanti membalikkan tubuhnya, tak ingin menunjukkan rasa gusarnya ketika mengetahui apa yang dilakukan Romi. Ia kembali ke kamar, dan dengan terkejut ia melihat Romi dan ibunya sudah ada di sana. Romi sedang menggendong bayinya, yang sudah berganti dengan pakaian yang sangat bagus.

Kinanti menatapnya bingung, tak tahu harus bagaimana.

“Tadi Romi memilihkan baju itu untuk anaknya. Lucu kan?” kata bu Rosi dengan mata berbinar.

“Terima kasih, atas semuanya. Aku akan menggantinya, berapa banyak kamu mengeluarkan uang untuk persalinan ini,” katanya terbata.

“Kami tidak meminjamkannya. Ini kewajiban Romi,” kata bu Rosi lagi, sementara Romi asyik mendekap bayinya.

“Saya mau pulang, sekarang.”

“Kami datang untuk menjemput kamu. Kamu sudah siap?” kata Romi kemudian.

“Aku akan memanggil taksi.”

“Jangan. Ksatria akan merasa nyaman pulang dengan mobil sendiri,” kata Romi enteng.

“Apa? Mobil sendiri? Terlalu pede,” gumam Kinanti pelan, tapi Romi menanggapinya dengan tersenyum.

“Ayo kita pulang,” kata bu Rosi sambil mengambil salah satu tas yang sudah siap di atas meja.

“Jangan Bu, biar saya saja.”

“Biar ibu membantu, ayolah.”

Romi sudah berjalan mendahului, dan tak bisa tidak, Kinanti mengikutinya.

Tatapan para perawat yang mengantarkannya membuat Kinanti tak bisa menolak ketika bu Rosi mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sungguh memalukan kalau sampai pertentangan antara dirinya dan Romi dilihat oleh para petugas rumah sakit itu. Lalu Romi menyerahkan bayinya kepada Kinanti, dan dia sendiri duduk di sampingnya. Di depan, ada sopir dan bu Rosi duduk, lalu mobil itu berjalan, keluar dari halaman rumah sakit itu.

***

Hujan deras mengguyur di sepanjang perjalanan. Kinanti mendekap bayinya erat. Bayi yang bernama Ksatria Adhyaputra, yang diberikan Romi, sudah melekat padanya, karena semua surat-surat yang diberikan rumah sakit, nama anak itu adalah Ksatria seperti pemberian Romi. Dan yang membuat Kinanti kesal, disitu tertera nama suaminya adalah Romi Adyaputra. Kinanti bingung, tak tahu bagaimana harus menolaknya.

Tapi Kinanti lebih terkejut lagi ketika mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah teras. Bukan rumah kost nya, juga bukan rumah Romi yang pernah didatanginya.

Romi lebih dulu turun, kemudian meminta Kinanti agar ikut turun bersamanya.

“Aku mau pulang,” kata Kinanti sengit.

“Iya, ini rumah kamu,” kata Romi.

“Jangan memaksakan kehendak. Mentang-mentang kamu kaya, lalu kamu mengguyurku dengan semua kemewahan ini? Ruang rumah sakit yang mewah, lalu kata cinta yang kamu semburkan, dan sekarang sebuah rumah? Kamu kira dengan ini semua aku akan menuruti kemauan kamu? Tidak. Antarkan aku ke rumah kost yang semula aku tempati.”

Romi tersentak. Tak mengira hati Kinanti masih sekeras batu.

“Tolong turunlah dulu, ada tamu-tamu untuk kamu,” kata Romi dengan lembut, sambil mengulurkan tangannya.

“Kinantiiii!” sebuah pekikan yang terdengar nyaring, dan sangat dikenalnya. Suara ayah tirinya? Apakah dia bermimpi? Bagaimana ayahnya bisa ada di sini? Ayah yang pernah mengusirnya gara-gara tak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Bagaimana dia bisa ada di sini?

“Mbak Kinanti…”

Kinanti lebih terkejut lagi. Ada Andin, dan ada Aisah dan seorang laki-laki berkumis, juga ada dokter Faris. Ia masih terpaku di tempat duduknya, ketika sebuah tangan tua terulur, menarik tangannya, memintanya untuk turun.

Kinanti turun, dan melihat ayah tirinya menyambut dengan linangan air mata. Sang ayah tiri, memang hanyalah ayah tiri, tapi sejak ibunya meninggal, dia merawat dirinya dengan kasih sayang seorang ayah. Sangat terharu ketika kemudian tangan itu menuntunnya turun.

“Ini adalah cucuku?” katanya dengan mata basah.

"Iya Pak.”

“Maafkan bapak Nak, ketika kamu pergi, bapak mencari kamu ke mana-mana. Bapak sedih dan menyesal ketika menyuruh kamu pergi,” katanya sambil mengusap air matanya.

“Pada suatu hari, Nak Romi datang meminta maaf, dan berjanji akan menikahi kamu. Bapak bahagia, dia laki-laki yang bertanggung jawab."

Kinanti terdiam. Andin sudah lebih dulu meminta Ksatria kecil dari gendongannya, lalu mereka duduk di sofa yang tertata rapi di rumah itu.

“Maafkan Kinanti, Pak. Kinanti takut pulang karena Bapak marah-marah.”

Kinanti heran, semuanya seperti sudah diatur. Dari dalam, seorang wanita gemuk keluar dengan membawa nampan berisi gelas-gelas berisi minuman. setelah itu ia keluar lagi membawa baki berisi cemilan.

“Ksatria kecil masih nyenyak dalam gendongan Andin.

“Nak, tidurkan saja bayinya, ini kamarnya,” kata bu Rosi, lalu Andin membawanya ke sebuah kamar yang lengkap dengan perlengkapan bayi. Ada box kecil yang cantik, ada ranjang yang agak besar, dan beberapa mainan terletak di meja.

Ketika Andin keluar dari kamar itu, Kinanti menatapnya, dan seperti sudah menduga bahwa Kinanti bertanya tentang anaknya, ia menunjuk ke arah sebuah kamar. Kinanti terkejut, melihat kamar bayi yang mewah dan banyak mainan-mainan berharga mahal. Beberapa mobil-mobilan, lengkap di atas meja, padahal Ksatria pastilah belum bisa bermain. Dilihatnya Ksatria terbaring nyaman dan pulas.

“Kinanti, duduklah di sini dulu. Panggil pak Suroto, ayah Kinanti yang tadinya berbincang dengan tamu lainnya dengan hangat.

Kinanti duduk di dekat ayahnya.

“Kinanti, dua hari yang lalu keluarga nak Romi sudah membicarakannya, dan aku sudah setuju. Ini adalah jalan terbaik untuk hidup kamu.”

Kinanti membelalakkan matanya. Apa yang mereka bicarakan?

“Bulan depan penghulu akan datang, untuk menikahkan kalian,” sambungnya.

“Apa?” Kinanti berteriak. Ia menatap sang ayah, dan seperti biasa, tatapan mata ayahnya adalah tatapan yang memaksa, tak boleh dibantah.

“Nak Romi sudah berjanji akan melindungi dan mencintai kamu dan anakmu. Aku merasa lega, karena kalau kamu hidup nyaman dan bahagia, maka amanah yang dipesankan oleh ibumu sudah aku jalankan,” katanya sambil mengusap air mata.

Mendengar kata ‘ibu’, hati Kinanti tersentuh. Air matanya mengalir di sepanjang pipinya. Ini hidup yang tiba-tiba harus dijalaninya, diluar bayangannya, bahwa ia akan pulang ke rumah kostnya yang sempit, merawat bayinya di situ, lalu banyak orang bertanya-tanya, di mana ayah bayi itu, siapa suami Kinanti, dan pasti akan banyak gunjingan yang membuat hatinya resah. Dia belum pernah memikirkan itu. Dan sekarang, ia sedang berada di sebuah rumah, walaupun kecil, tapi indah, lengkap dengan perabotan yang dibutuhkan setiap orang berumah tangga.

“Kinanti, aku berjanji akan selalu mencintai kamu. Aku sudah berubah, ketenangan yang aku dapatkan adalah ketika aku mengenal Tuhan, Allah sesembahanku, dan selalu bersujud kepadaNya, dan menjalankan semua amalan yang mendapat ridhoNya. Marilah bersama-sama membesarkan Ksatria, membangun sebuah keluarga seperti yang diimpikan oleh orang tua kita,” kata Romi lembut.

Kinanti menatap kearahnya dengan mata masih basah dengan air mata, dan menemukan kesungguhan di sana. Lalu air mata itu kembali tumpah, membasahi pipinya.

“Kamu tidak akan menolak permintaan ayahmu, bukan?”

Apa yang harus dikatakannya? Dia adalah ayahnya, walau ayah tiri tapi dia adalah pengganti orang tuanya. Kinanti mengangguk pelan. Aisah yang duduk di dekatnya segera mengusap air mata sahabatnya.

“Berhentilah menangis, sambut hari bahagia kamu,” bisik Aisah.

. Kinanti hanya terdiam. Kalau memang ‘cinta yang sebenarnya cinta’ akan menghiasi hidupnya, itu sudah cukup baginya.

“**

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...