Tuesday, April 25, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 28

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  28

(Tien Kumalasari)

 

“Bu, kamu sudah pulang Bu …” pekik pak RT sambil bergegas mendekati mobil.

Pak RT juga melihat salah seorang anaknya turun dari mobil, mengikuti ibunya.

“Bapak senang kan, aku tidak ada di rumah? Ngapain Bapak masuk-masuk ke halaman rumah Aliyah? Berharap Aliyah pulang? Apa Bapak bermimpi? Kalau punya angan-angan itu jangan terlalu muluk. Ngaca Pak, ngaca. Bapak itu sudah tua, nggak ada menarik-menariknya. Satu lagi, Bapak nggak punya uang, kan?”

“Ya ampun Bu, setiap hari aku berharap kamu segera pulang, kenapa begitu pulang masih saja suka mengomeli aku, sih Bu?”

“Soalnya aku melihat Bapak keluar dari halaman rumah Aliyah. Berharap Aliyah pulang? Apa Bapak bermimpi? Aliyah itu cantik, suaminya ganteng, kaya raya. Lhah Bapak itu apa? Sadar dong Pak.”

“Aku itu ke situ sebagai ketua RT. Rumah itu sudah lama ditinggalkan, aku harus mengawasinya, jangan-jangan ada yang hilang, atau ada orang asing memasuki rumah itu. Kok Ibu curigaan terus, sih.”

“Ya suda, Bu … Pak, lebih baik kita masuk dulu. Kalau ramai di luar, apa tidak malu didengar tetangga? Apalagi Bapak kan ketua RT, yang harusnye membari teladan baik kepada warganya. Ya kan?”

Pak RT dan bu RT tak menjawab. Mereka segera memasuki rumah, dan duduk di ruang tengah.

“Tumben kamu pulang Pri, apa kamu libur?” tanya pak RT kepada Supriyono, anak sulungnya.

“Tidak, saya ijin sehari untuk mengantarkan ibu pulang. Kata ibu hanya sebentar, lalu akan kembali lagi ke rumah Pri di Semarang.”

“Mengapa begitu? Kamu tahu tidak Pri, ibumu ini diam-diam mau membunuh aku.”

“Membunuh bagaimana Pak?”

“Membunuh pelan-pelan. Dia pergi tanpa pamit. Membawa seluruh uang bapak, kartu ATM bapak, buku tabungan, bahkan ponsel bapak. Kalau bapak ingin makan, bagaimana? Tidak ada uang sepeserpun. Kalau orang tidak makan, bukankah lama-lama akan mati? Pikirkan kelakuan ibumu itu, Pri.”

“Benarkah BU?” tanya Supri kepada ibunya.

“Iya, memangnya kenapa? Bapakmu itu, kalau pegang uang, kemauannya jadi macam-macam. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya diluar sana. Tiba-tiba uang hilang, tiba-tiba dengan enaknya dia berbohong. Kalau bukan karena niat buruk, mengapa harus berbohong?” kata bu RT sengit.

“Bapak berbohong soal apa?” tanyanya kemudian kepada ayahnya.

“Berbohong soal uang hilang. Berbohong soal ada rapat di kelurahan, ternyata tidak,” sela bu RT menjawab pertanyaan anaknya.

“Mengapa Bapak berbohong?”

“Aku tidak mau menjawabnya.” Kata pak RT kesal.

“Tuh kan, aku sudah bilang, kalau bapakmu tidak mau menjawabnya, maka aku akan pergi dari rumah. Dan benar kan, sampai sekarang dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya,” masih kata bu RT dengan sengit.

“Kenapa Pak? Kenapa Bapak tidak mau menjawabnya?”

“Namanya orang itu kan ya pasti punya banyak kepentingan. Dan tidak semua kepentingan itu harus diceritakan sama istri. Itu urusan laki-laki. Aku tidak mau mengatakannya.”

“Oh ya, urusan laki-laki. Atau Bapak punya simpanan? Yang lebih muda, lebih cantik?”

Supriyono menatap bapaknya, menunggu ada penjelasan dari tuduhan ibunya.”

“Urusan laki-laki itu apa Pak? Jangan-jangan benar apa yang dikatakan ibu, bahwa Bapak punya simpanan?”

“Sebenarnya … aku hanya menolong seseorang …”

“Menolong apa? Siapa yang Bapak tolong?” sela bu RT.

“Orang. Orang yang kelaparan karena tak bisa makan dan tak punya uang. Puas?”

“Mengapa kalau memang Bapak melakukan perbuatan mulia, harus berbohong sama ibu?”

“Ibumu itu kan tukang cerewet, tukang ngomel. Kalau aku ngomong terus terang, belum tentu dia setuju. Itu sebabnya aku merasa lebih baik berbohong saja.”

“Ya tidak bisa begitu Pak, ibu setuju atau tidak, kan harus diberi tahu. Lagipula kalau memang itu untuk menolong orang, masa ibu akan tidak setuju?”

“Alasan saja. Aku tetap tidak percaya,” bu RT masih sewot.

“Ya terserah kamu kalau tidak percaya. Dan kalau kamu ingin pergi lagi ikut anakmu itu, silakan saja. Aku sebagai laki-laki tidak mau diatur oleh perempuan,” kata pak RT tak kalah sengit. Ia tak mau mengakui kesalahannya, apalagi ada anak laki-lakinya.

“Oh begitu ya? Jadi Bapak lebih suka kalau aku pergi? Baiklah, aku pasti pergi, tapi menunggu kalau pensiun Bapak sudah turun,” kata bu RT enteng.

“Apa?” pak RT terkejut, ternyata istrinya juga berharap membawa uang pensiunnya pula.

***

Narita lebih banyak diam saat dalam perjalanan mengikuti Farah dan Kirman. Ia harus lebih banyak tahu tentang apa yang dilakukan Aliyah, supaya Alfian tidak curiga.

“Farah,” panggilnya. Panggilan itu membuat Farah heran, karena biasanya Aliyah memanggilnya mbak Farah. Tapi Farah menganggap bahwa itu adalah bentuk keakraban yang ditunjukkan ‘Aliyah’, dan kemudian membuat Farah senang.

“Ya Nyonya. Aduh, tapi Farah senang, Nyonya memanggil saya Farah, begitu saja. Itu lebih akrab. Dan kalau saya boleh memberi saran, Nyonya juga jangan memanggil tuan Alfian dengan panggilan ‘tuan’ lagi. Masa istri memanggil suaminya pakai sebutan ‘tuan’. Itu kan saya, bukan Nyonya,” kata Farah sambil tertawa.

Narita senang. Sebuah informasi lagi, yaitu Aliyah memanggil Alfian dengan sebutan tuan. Baiklah, Narita tentu saja akan mengikutinya.

“Nyonya tadi akan bilang apa?”

“Apakah … tuan Alfi marah sama aku?” tanya Narita yang sangat beruntung mendapat informasi tentang panggilan itu.

“Tuan Alfi marah? Tidak Nyonya, tuan Alfi sangat sedih dengan kepergian Nyonya. Saya mohon Nyonya jangan melakukannya lagi.”

“Hatiku sakit.”

“Benar kan, Nyonya sakit hati gara-gara ucapan nyonya sepuh? Nyonya tidak usah memasukkannya ke hati. Nyonya sepuh kan belum tahu, bagaimana sebenarnya menantunya yang cantik ini. Kalau beliau tahu bahwa Nyonya itu baik hati, lembut dan sangat menawan, nanti juga hati nyonya sepuh akan luluh.”

“Benarkah?”

“Yang harus Nyonya pikirkan ialah bahwa tuan Alfi sangat mencintai Nyonya. Bukankah selama ini tuan Alfi selalu menuruti semua keinginan Nyonya? Nyonya belum mau didekati, dan memilih tidur di kamar tamu. Tuan mengijinkannya kan? Dan bukankah tuan tidak menunjukkan rasa marah atas penolakan Nyonya? Saya tahu, tuan Alfi akan sabar menunggu, sampai hati Nyonya terbuka untuknya.”

Ucapan demi ucapan yang didengarnya dari Farah di dalam perjalanan itu, membuat Narita tahu, bagaimana nanti dia harus bersikap, supaya Alfian tidak curiga.

“Nanti Nyonya harus mau tidur di kamar tuan,” goda Farah.

“Tidak, tidak mau …” Narita ternyata juga bisa merengek.

“Baiklah, saya yakin tuan akan mengerti. Tapi jangan lama-lama Nyonya, Nyonya harus segera bisa membuka hati untuk tuan. Kasihan tuan Alfi, sudah lama dia menginginkan Nyonya,” goda Farah lagi.

Narita tersenyum malu-malu. Aduhai. Dia tidak bisa langsung menubruk kekasihnya untuk melepaskan rasa rindunya. Dia harus tampak malu-malu walau sebenarnya mau.

Sebenarnya sudah dekat dengan rumah Alfian, tapi terdengar Alfian menelpon.

“Ya Tuan.”

“Bagaimana, ketemu Aliyah?”

“Ketemu dong tuan, ini Nyonya sudah bersama saya.”

“Ah, syukurlah, biarkan aku bicara sama dia.”

Farah menyerahkan ponselnya kepada Narita.

“Tuan mau bicara,” katanya.

“Hallo Al … eh.. tuan Alfi.”

“Aduh, sudah bagus memanggil Alfi, mengapa kembali lagi ke ‘tuan’?”

“Belum terbiasa … tuan.”

“Baiklah, aku senang kamu pulang. Kamu harus tahu, aku sangat kehilangan kamu, Aliyah. Jangan pernah pergi. Apapun yang kamu minta, akan aku berikan. Aku menangis ketika mendapati cincin yang aku berikan, ternyata kamu tinggalkan di atas meja.”

Narita terkejut. Aliyah sangat bodoh, diberi cincin tapi ditinggalkan? Baiklah, itu akan menjadi bagian aku. Pikir Narita.

“Aliyah, kenapa diam?”

“Tidak, cincin itu ….”

“Nanti sesampainya di rumah, kamu harus memakai lagi cincin itu. Itu cincin pernikahan kita, Aliyah, jangan sampai terlepas dari jari cantikmu.”

“Baiklah.”

“Ya sudah, aku menunggu di rumah.”

“Aku mau langsung ke kamar aku, dan mandi.”

“Itu bagus, biar Farah melayani kamu.”

Narita bersorak dalam hati. Tak lama lagi mimpinya akan menjadi nyata.

***

Pemilik warung sangat suka, Aliyah begitu rajin dan rapi dalam bekerja. Ia bukan hanya mencuci piring, tapi juga menatanya dengan sangat rapi, sehingga semuanya tampak bersih menyenangkan.  Begitu selesai mengerjakan semuanya, Aliyah mendekati pemilik warung.

“Bu, apakah ini cukup? Saya sudah mendapatkan sepiring nasi dan segelas minum, dan saya sudah mengerjakan semua tugas. Apakah saya boleh pergi?”

“Aah, ya … kamu mau pergi kemana?”

“Saya tidak tahu,” jawab Aliyah yang juga bingung, tidak tahu harus pergi ke mana.

“Apa kamu tidak suka bekerja di tempat aku?”

“Tentu saja saya suka. Ibu sangat baik dan perhatian sama saya.”

“Aku belum membayar kamu,” kata ibu pemilik warung sambil membuka laci uang.

“Tidak, saya tidak minta bayaran uang.”

“Kamu aneh, siapa namamu?”

“Nama saya Aliyah Bu.”

“Aliyah. Aku ini bagaimana, sudah dibantu, tapi tidak menanyakan nama dari tadi. Habis pembelinya tidak berhenti datang dan datang lagi.”

“Alhamdulillah, namanya laris kan Bu.”

“Itu benar. Tapi kalau kamu bersedia, tetaplah bekerja di sini.”

“Ibu ijinkan saya bekerja di sini?”

“Iya, tentu saja. Kan tadi aku sudah bilang, kalau pekerjaan kamu bagus, kamu boleh terus bekerja di sini.”

“Jadi saya benar-benar diterima bekerja terus di sini?” tanya Aliyah dengan wajah berseri.

“Iya, Aliyah. Kalau kamu mau, teruslah bekerja di sini. Nanti kamu juga boleh menginap di rumah aku, kalau memang rumah kamu jauh.”

“Terima kasih banyak Bu, saya senang sekali.”

“Tapi kamu tidak boleh menolak uang yang aku berikan. Ini namanya upah. Buah jerih payah kamu,” kata pemilik warung yang memaksa memberikan uang tiga puluh ribu rupiah.

“Tapi Ibu sudah memberi saya makan dan minum.”

“Itu belum cukup untuk membayar tenaga kamu. Itupun karena kamu datang sudah siang. Mulai besok, kamu bisa bekerja lebih pagi, dan bayaranmu akan dua kali lipat.”

“Ya ampun Bu, ini banyak sekali.”

“Simpan uang itu, dan istirahatlah sebentar. Aku akan memasak lagi untuk sore nanti, karena sebagian sayur sudah habis. Nanti sebelum Isya kita akan tutup warung, dan pulang ke rumah.”

“Baiklah Bu. Apa rumah Ibu jauh?”

“Tidak, hanya di belakang warung ini.”

“Bolehkah saya meminjam mukena?”

“Ya, Tuhan, kamu ternyata anak baik dan solehah. Tentu, ayo aku antarkan dulu ke rumah dan aku berikan kamu mukena. Nanti gantian sama aku.”

Aliyah merasa sangat bahagia. Ia bukan hanya membantu untuk sepiring nasi, tapi disuruh membantu setiap hari. Ia bersyukur mendapat pekerjaan, sehingga ia bisa melanjutkan hidupnya. Sekilas terbayang olehnya wajah Alfian, lalu berlinanglah air matanya. Pertemuan beberapa minggu ini sudah menimbulkan rasa suka dihatinya, tapi Aliyah sangat sadar, bahwa dirinya bukan wanita yang tepat untuk Alfian yang dicintainya. Ia hanya berharap Alfian akan berbahagia, dan mendapatkan wanita yang pantas mendampinginya.

“Semoga kamu berbahagia, tuan,” bisiknya setelah bersujud.

***

Kirman menghentikan mobilnya tepat di depan rumah, agar sang ‘nyonya’ tidak terlalu jauh dalam berjalan. Lagipula ia melihat Alfian sudah menunggu di teras.

Wajah Alfian berseri, melihat wajah ‘Aliyah’ kembali.

Ia segera meggandeng tangannya, dan sangat berbahagia ketika ‘Aliyah’ menyandarkan kepala di pundaknya. Alfian sadar, bahwa Aliyah memang sudah mulai menyukainya.

“Nani tidur di kamar aku ya?”

Tapi Narita teringat, bahwa Aliyah belum mau berdekatan dengan suaminya. Karena itu dia menggeleng.

“Aku ingin mandi.”

“Baiklah. Farah, layani dia dengan baik, aku akan menunggu di ruang tengah, jangan lupa cincin yang masih terletak di meja, suruh dia memakainya lagi,” kata Alfian.

“Baik, Tuan.”

Farah mendekati ‘Aliyah’ dan mengajaknya ke kamar. Ia melayaninya mandi, dan menyiapkan baju ganti untuk sang nyonya. Senang hatinya, melihat wajah tuannya berseri-seri bahagia,

Wajah Narita berbinar, ketika melihat cincin berlian terletak di atas meja.

“Ya ampun, ternyata saudara kembarku bodoh dan dungu. Ini cincin mahal, mengapa tidak mau membawanya? Hm, tapi kan ini keberuntungan aku, katanya sambil memungut cincin itu, setelah ia berganti pakaian yang disiapkan Farah.

“Apa Nyonya akan berdandan sendiri? Bukankah saya sudah mengajarinya memoles wajah supaya tampak lebih cantik?”

“Aku akan berdandan sendiri.”

“Bagus Nyonya, duduk lah di depan cermin, dan pakai dulu cincin Nyonya itu.”

Narita mengangguk, ia memasukkan cincin itu ke jarinya, tapi ternyata susah sekali masuknya. Rupanya jari tangan Narita lebih gemuk dari jari tangan Aliyah.

***

Besok lagi ya.

 


Monday, April 24, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 27

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  27

(Tien Kumalasari)

 

Farah keluar dari kamar, menuju ke arah depan, barangkali Aliyah ada di teras. Tapi tak ada. Farah bergegas ke ruang tengah, melapor kepada tuan nya.

“Tuan, nyonya tidak ada di kamarnya.”

“Masa? Ada di kamar mandi, barangkali?”

“Saya sudah menengok ke kamar mandi juga, lalu ke teras, tetap saja nyonya tidak ada.”

Alfian berdiri dengan panik.

“Mungkinkah dia pergi?”

“Kalau dia pergi, satpam yang berjaga di depan pasti tahu.”

“Kalau begitu tanyakan, apa dia melihat Aliyah keluar dari rumah.”

Setengah berlari Farah menuju ke arah gerbang. Ia melihat satpam jaga sedang duduk sambil mengutak atik ponselnya.

“Mas, apa melihat nyonya keluar dari rumah?”

“Iya Mbak, sudah sejam yang lalu.”

“Gimana sih kamu Mas, kenapa dibiarkan pergi?”

“Nyonya bilang hanya ingin jalan-jalan, bagaimana saya bisa melarang?”

“Harusnya kamu bilang sama tuan Alfi kalau nyonya keluar sendirian.”

“Nyonya bilang hanya sebentar. Saya tidak bisa mencegahnya.”

Farah berlari ke dalam rumah, melapor kepada tuan nya.

“Tuan … Tuan … Nyonya telah pergi.”

“Apa?”

“Sudah sejam yang lalu, Tuan.”

“Mengapa satpam membiarkannya?” pekik Alfian dengan nada tinggi.

“Nyonya bilang hanya akan keluar sebentar.”

“Mengapa dibiarkannya? Pecat dia!!” teriak Alfian marah.

“Jangan Tuan, dia tidak tahu permasalahan Tuan. Dia mengira, Nyonya adalah istri Tuan yang harus dituruti kemauannya. Dia tidak bisa mencegahnya,” kata Farah menenangkan hati Tuan nya.

“Lalu bagaimana ini?”

"Mungkin nyonya Aliyah mendengar saat nyonya sepuh berkata-kata.”

“Apa? Ibu bilang apa?”

“Nyonya sepuh tampak tidak suka sama nyonya Aliyah. Beliau mengata-ngatainya, mungkin nyonya Aliyah mendengarnya.

“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

“Minta mas Kirman untuk menyusul. Paling-paling nyonya Aliyah pulang ke rumahnya.”

“Cepat kamu pergi bersama Kirman. Cepat dan harus kembali dengan membawa Aliyah. Perintah tandas sang majikan.

Farah pun bergegas mencari Kirman, dan segera mengajaknya meluncur ke rumah Aliyah.

Alfian memasuki kamar bekas Aliyah, yang rapi dan bersih. Matanya terbelalak melihat sesuatu berkilat di atas meja.

“Ya Tuhan, Aliyah meninggalkan cincin pemberian aku saat menikah,” bisiknya pilu.

Ia mencium cincin itu berlama-lama, dan membiarkan air matanya meleleh membasahi pipinya.

“Aliyah, mengapa kamu melakukan ini? Aku tahu kamu gadis yang baik. Aku tahu kamu tidak suka pada hartaku, tapi aku juga tahu bahwa kamu mulai bisa menyukai aku. Mengapa kamu peduli pada suara-suara yang bukan dari mulutku? Kamu adalah milikku, dan akan tetap menjadi milikku, apapun yang terjadi. Biar dunia membenci kamu, aku tetap mencitaimu, Aliyah. Kembalilah, aku hanya akan hidup bersama kamu,” bisiknya pilu, sambil terus menciumi cincin itu.

***

Tapi Aliyah tidak sebodoh yang mereka kira. Ia tahu bahwa kepergiannya akan membuat sang suami menyusulnya ke rumah. Itu sebabnya dia tidak pulang ke rumah. Ia berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah rumahnya, tak tahu harus kemana. Yang penting ia tidak harus kembali ke rumah Alfian. Ia sangat mencintai suami nya, tapi ia tak ingin nyonya sepuh kesal terhadap anaknya itu.

“Tuan, saya berharap tuan akan hidup tenang dan bahagia, dan itu bukan di samping saya. Tuan harus tahu, saya ini siapa. Kewajiban tuan adalah menceraikan saya, seperti keinginan ibu tuan. Kalau saya sudah pergi, mau tak mau, tuan pasti akan menceraikan saya. Tuan jangan mencari saya ya, saya hanya berharap, tuan akan bahagia.”

Aliyah terus melangkah, dan mengusap air matanya.

Ia sudah berjalan jauh, tak tahu harus kemana. Kakinya sangat lelah, dan perutnya terasa lapar.

Ia melihat sebuah warung makan di pinggir jalan. Ia menelan ludahnya. Ia ingin makan, tapi tak punya sepeser uangpun, karena dia tak mau menerima pemberian uang dari suaminya.

Aliyah mendekat ke arah warung, dan melihat pemilik warung sedang sibuk melayani pembeli. Ia terus berdiri di  dekat pemilik warung.

“Kamu mau beli sesuatu?” tanya sang pemilik warung, ketika melihat Aliyah tetap saja berdiri di samping pintu warungnya.

“Lewat depan sana, pasti aku layani.”

Tapi Aliyah menggeleng.

“Bolehkan saya membantu? Cuci piring saya juga bisa.”

Pemilik warung merasa heran. Pakaian Aliyah tidaklah buruk, karena dia masih memakai pakaian yang diberikan suaminya. Walau pakaian rumahan, tapi terlihat bagus dan mahal.

“Kamu? Membantu mencuci piring?” tanyanya heran.

Aliyah mengangguk.

“Saya tidak minta bayaran uang. Saya hanya butuh makan,” bisiknya lirih, sedikit malu.

Pemilik warung itu melihat Aliyah, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

“Kamu cantik, pakaian kamu bagus, kamu pasti anak orang kaya.”

“Tidak, baju saya ini diberi oleh seseorang yang baik hati. Saya orang miskin. Tolong ijinkan saya membantu. Sungguh, saya hanya ingin makan,” kata Aliyah menerangkan.

Pemilik warung itu merasa iba.

“Kalau begitu makanlah dulu, mumpung warung masih sepi. Kebetulan pembantu tidak masuk, jadi kalau ada yang mau mencuci piring-piring kotor, aku berterima kasih sekali,” kata pemilik warung itu sambil menyendokkan nasi ke sebuah piring dan dibubuhi lauk secukupnya.

“Duduklah,” katanya sambil mengulurkan piring berisi nasi itu.

“Tidak Bu, biar saya bekerja dulu.”

“Jangan menolak. Kalau kamu lapar, kerjamu akan lamban, jadi makanlah dulu.”

Aliyah terpaksa menerima karena pemilik warung yang baik itu memaksanya. Aliyah terpaksa menerimanya, dan menyantapnya dengan lahap.

“Rumahmu di mana?”

“Jauh dari sini.”

“Mengapa kamu pergi? Kamu melarikan diri dari rumah? Bagaimana kalau orang tuamu bingung mencari kamu?” tanya pemilik warung, sambil duduk. Kebetulan warung sedang sepi.

“Tidak Bu, saya tidak punya orang tua. Saya dirawat nenek, tapi nenek juga sudah meninggal, jadi saya hidup sendiri.”

“Kasihan sekali kamu. Baiklah, nanti kalau pekerjaan kamu bagus, kamu boleh membantu di sini setiap hari. Aku sudah punya pembantu sih, tapi hari ini tidak masuk. Kalau besok dia masuk, kalian boleh bekerja sama, jadi pekerjaan lebih enteng. Kalau siang, warung ini ramai pembeli.”

Wajah Aliyah berseri. Mencari pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya, memang menjadi impiannya. Gadis lugu yang sederhana ini tak pernah bermimpi yang muluk-muluk. Hanya ingin agar hidupnya berlanjut. Dan makan adalah yang utama, supaya dirinya tidak mati kelaparan.

“Benarkah saya boleh bekerja di sini?”

“Kalau kamu bisa bekerja dengan baik, dan memuaskan, kamu boleh terus bekerja di sini.”

“Terima kasih Bu, saya akan bekerja dengan baik.”

“Apa kamu setiap malam akan tetap pulang ke rumah kamu? Warung ini buka sampai malam. Paling cepat sebelum Isya.”

“Kalau memang harus begitu, tidak apa-apa.”

“Tapi kalau kamu mau, kamu boleh tidur di rumah aku, jadi pagi-pagi juga bisa membantu aku. Warung ini buka dari jam delapan sampai malam. Saya memasak sebelum subuh.”

“Benarkah? Pasti saya bersedia, jadi saya tidak harus capek kembali ke rumah saya.”

“Baiklah, selesaikan makan kamu, lalu boleh mulai mencuci piring-piring kotor itu. Ada pembeli yang harus dilayani,” kata pemilik warung.

Aliyah mempercepat makannya, lalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh majikan barunya.

***

Farah dan Kirman sudah sampai di depan rumah Aliyah. Narita yang ada di dalam, terkejut bukan alang kepalang.

“Apakah Aliyah yang datang? Apa yang harus aku katakan?”

Narita yang kebingungan, akhirnya memutuskan untuk lebih baik bersembunyi. Ia masuk ke dalam kamar nenek Supi, dan menutupkan pintunya. Sambil bersembunyi itu ia sedang mereka-reka, apa yang akan dikatakannya kalau bertemu Aliyah. Ia akan berterus terang saja, kalau sebenarnya mereka adalah saudara kembar.

Ia diam bergeming di dalam kamar, tapi kemudian dia heran, mendengar suara memanggil-manggil.

“Nyonya … Nyonya Aliyah … Nyonya Aliyah …”

Narita terkejut. Ia mengenali suara Farah, tentu saja. Mengapa dia memanggil-manggil nama Aliyah? Apa Aliyah pergi dari rumah Alfian?

“Nyonya Aliyah, ayo pulang. Tuan Alfian meminta saya menjemput Nyonya. Jangan marah, Nyonya, tuan Alfian sangat mencintai Nyonya. Pulanglah Nyonya.”

Tiba-tiba terbersit pikiran Narita, untuk bersikap seakan dirinya adalah Aliyah. Mengapa tidak? Bukankah wajahnya sama?

Dengan pemikiran itu, Narita kemudian muncul dari dalam kamar.

Farah segera menubruknya dengan senang.

“Ya ampun Nyonya, Nyonya membuat tuan Alfian sangat bingung dan sedih. Mengapa Nyonya pergi? Sebaiknya Nyonya tidak usah mempedulikan kata-kata nyonya sepuh, yang penting adalah, tuan Alfian sangat mencintai Nyonya,” kata Farah sambil terus mendekap tubuh Narita yang dikiranya Aliyah.

Narita berdebar. Ia seperti menemukan jalan untuk kembali kepada Alfian, lelaki yang dicintainya.

“Akhirnya nasib mempertemukan kita kembali, Alfi,” katanya dalam hati.

Tapi Narita bisa sedikit menangkap sesuatu dari apa yang diucapkan Farah. Tampaknya bu Candra tidak suka pada Aliyah, dan mengata-ngatainya, sehingga Aliyah pergi dari rumah.

“Selalu banyak jalan, kalau memang kita berjodoh, Alfi,” bisiknya berkali-kali. Dalam hati.

Narita menitikkan air mata. Air mata yang dibuat-buat. Isaknya menyentuh hati Farah.

“Nyonya jangan menangis ya, ayo kita pulang.”

Narita menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pintar bersandiwara.

“Nyonya, kalau sampai saya kembali tanpa membawa Nyonya, maka tuan Alfi akan memarahi saya. Saya bisa dipecat, Nyonya. Pulang ya.”

Narita masih menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Farah kemudian bertekuk lutut dihadapannya, dan merangkapkan kedua tangannya.

“Tolong Nyonya, pulanglah bersama saya. Jangan pedulikan siapapun, apalagi nyonya sepuh. Yang penting, tuan Alfian sangat mencintai Nyonya.”

Narita masih menggeleng-gelengkan kepalanya. Kurang sempurna penyamarannya, kalau dia langsung bersedia pergi bersama Farah.

“Nyonya, kalau Nyonya masih kesal, Nyonya nanti langsung masuk ke kamar Nyonya saja, tidak usah bertemu tuan Alfian terlebih dulu. Yang penting Nyonya sudah kembali, tuan Alfi pasti sudah merasa lega.”

“Haa, jadi Aliyah punya kamar sendiri? Baiklah, rasanya aku bisa memerankannya dengan baik,” kata batin Narita, yang kemudian menarik tangan Farah, agar Farah berdiri kembali.

“Nyonya bersedia pulang bersama saya kan?”

Tak mau terlalu lama bersandiwara, akhirnya Narita mengangguk.

Farah girang bukan alang kepalang.

“Nyonya sangat baik, saya senang. Dan ingat, jangan sampai Nyonya pergi-pergi lagi, ya,” kata Farah sambil menarik tangan Narita.

Narita mengangguk. Ia ingin melompat dan menari-nari, tapi ditahannya. Ia sekarang menjadi Aliyah, istri sang pujaan hati, yang sudah lama diimpikannya. Sungguh Narita tak mengira, akan semudah itu bisa kembali ke pelukan kekasihnya.

***’

Pak RT kebingungan, ia hanya memegang uang yang dipinjamnya dari Pinto, dan sang istri belum juga ada kabar beritanya. Padahal ia juga harus memikirkan kebutuhan ‘Aliyah’, yang baru saja ditemukannya dengan sikap yang berbeda, dan sangat menyenangkan hatinya. Kalau ia memberi uang lagi kepada ‘Aliyah’, maka uangnya akan habis. Masa dia harus berhutang lagi pada Pinto, sementara uang pensiun baru akan turun dua minggu lagi. Nanti kalau uang pensiun sudah diterima, ia ingin membelikan kasur busa untuk ‘Aliyah’, agar bisa tidur lebih nyaman.

Pak RT berjalan perlahan ke rumah Aliyah. Ia akan minta agar ‘Aliyah’ agak berhemat dengan uangnya, karena dirinya sedang ada dalam masalah keuangan, setelah istrinya pergi.

Ia melihat pintu rumah Aliyah yang tertutup, dan berharap ‘Aliyah’ ada di dalamnya.

“Biasanya Aliyah itu baik dan penuh pengertian, aku berharap dia juga bisa mengerti setelah dia mengatakannya, nanti,” gumam pak RT sambil membuka pintu rumah dengan mudah.

“Aliyah … Aliyah …”

Pak RT terus memasuki rumah, dan melongok ke dalam kamar, di mana biasanya ‘Aliyah’ berada. Tapi kosong. Ia ke kamar satunya, sama juga kosong. Ke dapur? Tak ada. Pokoknya ‘Aliyah’ tak ada di dalam rumah itu.

“Pergi ke mana dia? Sudah dikasih tahu, jangan pergi ke mana-mana, masih nekat juga. Tapi entahlah kalau dia memakai kerudung yang rapat, atau jacket, sehingga tak dikenali orang,” gumam pak RT sambil keluar daei dalam rumah, menuju keluar halaman.

Tapi dengan terkejut, tiba-tiba sebuah mobil hampir menyerempetnya.

“Kurangajar! Ini di dalam kampung, hati-hati berkendara!” umpatnya sambil melompat minggir, untung tidak terjatuh.

Mobil itu terus melaju, dan pak RT terkejut, ketika melihat mobil itu berhenti di depan rumahnya. Lebih terkejut lagi ketika melihat siapa yang turun dari mobil itu.

***

Besok lagi ya.

Thursday, April 20, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 26

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  26

(Tien Kumalasari)

 

Farah agak kurang suka mendengar nyonya sepuh nya bicara seakan meremehkan Aliyah. Menurut Farah, Aliyah punya kelebihan yang tidak selalu dimiliki gadis lain. Memang benar, dia sederhana, lugu, tapi dia bukan bodoh. Dia bisa menangkap semua yang didengarnya, bahkan semua anjuran Farah yang seakan menjadi sebuah pelajaran dan pengalaman dalam hidupnya. Bahkan pelajaran ketika sebelum menikah, bagaimana cara dia berjalan dan berucap, masih sangat diingatnya. Aliyah juga sudah bisa memasak satu dua macam sayur saat membantu Farah memasak. Apa yang kurang dalam nyonya kecilnya ini, menurut nyonya sepuh yang terlalu banyak menuntut? Kalau memang harus berhadapan dengan khalayak, atau pebisnis lain, pasti tuan Alfi bisa mengajarinya. Kata batin Farah yang tak ingin mengungkapkannya, takut kena semprot karena membantu menantu yang tidak disukainya.

“Bagaimana menurutmu, Rah?” tiba-tiba bu Candra bertanya, setelah menghirup habis jus tomatnya.

“Apanya, Nyonya?”

“Apa benar, yang begitu itu harus diteruskan?”

“Saya tidak bisa menjawabnya, Nyonya Sepuh, nanti pasti tuan Alfi akan bisa menjawabnya. Kalau menurut saya, kan saya ini ukurannya pembantu, pastilah berbeda dengan nyonya.”

“Benar, kalau untuk ukuran pembantu, dia cukup lah,” kata bu Candra yang justru lebih membuat Farah kesal.

“Nyonya, saya akan menata meja untuk makan siang dulu. Sebaiknya Nyonya duduk di ruang tengah saja,” kata Farah kemudian tanpa mengomentari ucapan nyonya sepuh yang terakhir.

“Baiklah. Mana juga Alfi, kok nggak kelihatan?”

“Tuan Alfi ada di ruang kerja nya. Apa perlu saya panggilkan?”

“Panggilkan saja, aku menunggu di ruang tengah,” kata bu Candra sambil beranjak ke ruang tengah. Tapi sebelum sampai, ia berpapasan dengan Alfian.

“Lhoh, ada Ibu? Sudah lama Bu?”

“Belum lama juga, tapi sudah sempat menghabiskan jus tomat yang disuguhkan Farah.”

“Saya mau melihat ke dapur, tadi Aliyah membantu memasak di sana.”

“Aliyah tidak ada. Tadi berpamit ke kamar mandi, tapi sampai sekarang belum kelihatan lagi. Biarkan saja,” kata sang ibu.

Alfian duduk di depan ibunya.

“Tumben ibu datang kemari, tidak mengabari dulu.”

“Mengapa harus mengabari, rumahmu ini dari rumah ibu kan tidak jauh? Lagian ibu hanya mampir, dan tidak akan lama.”

“Saya kira ada hal penting yang akan ibu sampaikan.”

“Hal penting apa. Kalau ibu bicara soal keinginan ibu, pasti juga tidak cocok dengan isi hati kamu, jadi apa gunanya dibicarakan?”

“Keinginan ibu yang mana? Kalau soal Aliyah, saya mohon maaf, tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Kalaupun sekarang dia tampak kampungan, nanti Alfi akan mengajarinya dengan banyak hal.”

“Ibu mengerti. Tapi ibu ingatkan, bulan depan ada pertemuan para pebisnis teman-teman ayahmu, yang pastinya kamu juga mengenal mereka.”

“Bapak sudah mengatakannya.”

“Dan mereka pasti akan membawa serta para istri mereka.”

“Benar, Alfi juga akan membawa istri Alfi, mengapa tidak?”

“Mereka orang-orang terpandang. Wanita pilihan mereka juga wanita terpelajar dan berpendidikan tinggi.”

“Memangnya kenapa Bu. Ibu bermaksud membandingkannya dengan Aliyah?” kata Alfian yang mulai kesal karena mengerti kemana arah tujuan kata-kata ibunya.

“Tidak usah dibandingkan juga kan sudah kelihatan, sih Fi?”

“Saya mohon, ibu tidak terlalu merendahkan Aliyah. Menurut Alfi, Aliyah wanita yang istimewa, tak ada bandingnya, dan Alfi sangat mencintainya,” kata Alfian tandas.

Bu Candra hanya mengangguk-angguk, sepertinya tak membantah, tapi kelihatan bahwa wajahnya kurang menunjukkan rasa mantap.

“Tuan Alfi, Nyonya Sepuh, makan siang sudah siap,” kata Farah tiba-tiba.

“Ayo Ibu, kita makan, Aliyah ikut memasak lho Bu, pasti nikmat dong, makan masakan menantu,” olok Alfian yang merasa bahwa ibunya pasti tak akan suka.

“Ibu tidak ikut makan saja, nanti masakan di rumah siapa yang makan? Lebih baik ibu pulang, takutnya ayahmu juga pulang untuk makan siang di rumah,” kata bu Candra sambil berdiri.

“Nyonya Sepuh harus mencicipi masakan nyonya Aliyah, enak lhoh,” sambung Farah ketika melihat nyonya sepuhnya sudah berdiri dan bersiap mau pulang.

“Tidak Rah, takut kalau bapaknya Alfi pulang, nanti nggak ada yang menemani makan,” kata bu Candra sambil berlalu ke arah depan. Alfian mengantarkannya sampai ke halaman, tapi tak ada yang diucapkannya. Ada rasa kesal diantara mereka, ibu dan anak.

Alfian masuk ke dalam rumah, lalu memanggil Aliyah ketika sampai di depan kamarnya.

“Aliyah … ayo makan, Farah sudah selesai menyiapkan makan siang untuk kita.”

Aliyah sedang ada di kamar, sibuk mengusap air matanya. Ada sakit yang menggigit mendengar ucapan ibu mertuanya. Memang sih, sudah sejak awal, dia tahu bahwa bu Candra tak menghendaki Alfian terus memperistri dirinya. Ia tahu harus pergi, dan meminta cerai, tapi Alfian tak pernah mengijinkannya. Ia juga mengerti, bahwa dirinya sangat menyayangi Alfian. Rasa cinta yang perlahan tumbuh, tidak membuatnya ingin selalu berada di dekatnya. Aliyah justru ingin agar Alfian menemukan gadis yang setara dengan derajatnya. Aliyah bukan siapa-siapa, hanya gadis miskin yang kampungan, tak punya derajat. Baginya, Alfian adalah bintang yang gemerlap di awang-awang, sedangkan dirinya hanyalah gadis nista yang papa dan tak mungkin bersinar.

“Sungguh aku ingin Tuan mendapatkan gadis yang pantas, bukan aku, Tuan, aku mencintai Tuan juga, itu sebabnya aku ingin Tuan mendapatkan istri yang pantas dan bisa membuatmu bahagia,” kata batin Aliyah sambil sekali lagi mengusap sisa air matanya.

“Aliyah, apa kamu tidur?” kali ini Alfian mengetuk pintu kamar, langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Aliyah duduk di tepi pembaringan, wajahnya pucat oleh hatinya yang terluka.

“Ternyata kamu tidak tidur? Kenapa matamu merah? Apa kamu tadi menangis?”

“Tidak, Tuan. Saya sangat mengantuk,” elak Aliyah.

“Nanti setelah makan tidurlah, biar aku temani,” kata Alfian menggoda, membuat Aliyah berdebar-debar.

Aliyah mendundukkan wajahnya. Lalu Alfian mengangkat wajah itu.

“Aku mencintaimu,” bisik Alfian.

Kata itu sudah berpuluh atau bahkan beratus kali diucapkan, tapi selalu membuat jantung hati Aliyah bergetar.

“Aku juga mencintai kamu Tuan, tapi aku tak ingin memiliki. Sungguh, banyak gadis yang lebih pantas untuk Tuan,” kata batin Aliyah sambil menatap lekat suaminya.

Tak tahan melihat pandangan Aliyah, Alfi mencium keningnya. Hanya itu, belum berani semakin jauh, khawatir Aliyah ketakutan. Dan kali ini pun Aliyah tidak menolak.

“Ayo makan dulu, Farah sudah menunggu untuk melayani kita,” kata Alfian sambil menarik tangan Aliyah.

Aliyah menurut, tapi ia tak bisa menyembuhkan batinnya yang terluka. Ucapan ibu mertuanya tidak hanya sekali itu. Ketika dia dan Alfian bertandang kerumahnya, ia juga mendengar sang ibu berbisik seperti itu, walau suaranya tidak keras, dan agak jauh dari tempatnya duduk. Aliyah sedang berpikir, apa yang harus dilakukannya.

“Silakan Tuan, Nyonya, nanti keburu dingin,” kata Farah yang sudah menunggu.

Alfian menarik kursi untuk istrinya, kemudian dia sendiri duduk di sampingnya.

“Hm, baunya sedap,” celetuk Alfian ketika aroma masakan tercium.

“Itu masakan Nyonya Aliyah, Tuan.”

“Wauww, benarkah? Baru baunya sudah sedap.”

“Saya baru belajar. Terima kasih, mbak Farah,” kata Aliyah merendah, sambil menatap Farah dengan senyuman manis.”

***

Sore hari itu, ketika bu Candra bercerita kepada suaminya tentang Aliyah, kembali pak Candra mencelanya.

“Ibu itu bagaimana? Kita kan sudah bicara panjang lebar tentang Aliyah. Kalau memang Alfian suka, kita bisa apa? Bukankah yang terpenting bagi orang tua adalah kebahagiaan anak? Kalau kita melihat anak kita bahagia, ya sudah, biarkan saja. Kita justru ikut berbahagia, kan?”

“Sebenarnya ibu ingin begitu, tapi rasa kurang mantap ini kok masih terus menghantui, tapi mau melarang, pastinya susah.”

“Karena Ibu tidak bisa ikhlas. Kalau kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, pasti semuanya akan berjalan dengan baik.”

“Iya sih.”

“Cobalah untuk ikhlas, Bu. Nanti kan perasaanmu bisa lebih enak. Lagian bagaimana kita bisa melarang? Alfian bukan anak kecil lagi. Dia sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Semoga saja dia tidak salah pilih, dan pastinya tidak salah jalan.”

“Iya.”

“Ibu jangan membandingkan Aliyah dengan Narita. Narita itu cantik, pintar, mempesona, tapi apa yang dilakukannya? Dia penipu, bukan? Ibu ingat Aliyah? Ketika kita menawari uang, perhiasan, mobil, apa dia mau? Tidak, dia tidak menginginkan imbalan apapun. Bahkan Alfian cerita, perhiasan yang pernah dibelikan oleh anak kita, dikembalikan olehnya.”

“Bukan karena dia ingin lebih?”

“Apa maksud ibu? Ibu masih mencurigai Aliyah punya keinginan lebih? Maksudnya ia memilih tetap menjadi istri Alfian karena dengan begitu, dia bisa mendapatkan lebih banyak? Begitu kah? Ibu juga tidak boleh lupa, Alfian sering cerita, bahwa Aliyah mendesak Alfian agar mau menceraikannya, seperti perjanjian semula. Ibu kurang yakin apa? Aliyah tidak tergila-gila harta. Dia gadis miskin yang lugu, tidak punya ambisi apapun.”

“Iya.”

“Ibu jangan hanya iya … iya … saja. Sekali lagi aku bilang, ibu harus ikhlas.”

“Baiklah, ibu akan mencobanya.”

“Nah, begitu dong Bu, sudah, jangan sampai masalah keluarga anak kita menjadi beban yang membuat Ibu susah. Lepaskan saja. Kalau ibu banyak pikiran, nanti bisa jatuh sakit.”

Bu Candra mengangguk, ia berjanji akan mencobanya.

***

Sore hari itu pula, sepulang dari bekerja, Pinto bertandang ke rumah pak RT. Bukan untuk menagih utang, tapi untuk bertanya tentang Aliyah, barangkali pak RT mengetahuinya, karena ia melihat perubahan sikap Aliyah, yang pastinya sekarang sedang ada di rumahnya.

“Aku sudah deg-degan lho Nak, aku kira Nak Pinto mau menagih hutang, kan baru tadi pagi. Maksud aku, menunggu kalau aku dapat pensiun, bulan depan.”

“Tidak Pak, saya tidak menagih hutang. Saya hanya heran, sampai Bapak berhutang sama saya. Sampai-sampai saya mau cerita, nggak jadi.”

“Ya itulah Nak, istri sedang ngambeg. Dia pergi tanpa pamit, membawa seluruh isi dompet aku, termasuk kartu ATM punyaku. Bahkan ponsel aku juga dibawanya.”

“Memangnya kenapa, sampai bu RT marah seperti itu?”

“Ah, sudahlah Nak, jangan ditanya. Perempuan itu kan maunya selalu ditungguin terus, kalau suaminya pergi, agak lama sedikit, sudah dicurigai. Nggak tahu tuh, tiba-tiba marah besar. Pagi tadi aku bangun, dia sudah nggak ada.”

“Pak RT pasti berbuat sesuatu yang membuat ibu marah.”

“Orang namanya curiga, aku tidak berbuat apapun ya dia tetap saja curiga,” kata pak RT yang menutupi perbuatannya membohongi istrinya.

“Susah kalau sudah marah ya Pak.”

“Memang susah, sekarang jangan memikirkan masalah itu dulu. Tadi Nak Pinto mau cerita, memangnya mau cerita apa?”

“Iya Pak, sebenarnya saya kesini itu mau cerita tentang hal ini.”

“Apa tuh, kelihatannya penting?”

“Bukan penting, hanya saja menimbulkan rasa aneh. Tadi pagi, agak siang sih Pak, saya melihat Aliyah.”

“Melihat Aliyah? Di mana?”

“Lewat di depan rumah makan itu. Saya heran. Dia kan sudah kaya, kenapa berjalan kaki sendirian pula. Tapi yang membuat saya kesal, dia tidak mau mengenal saya lagi.”

“Masa sih?”

“Saya menyapa, dia menjawab acuh, ketika saya tanya, apa kamu lupa sama aku? Dia jawab tidak pernah kenal. Gitu Pak, saya agak sakit hati nih. Mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya, lalu tidak mau lagi kenal sama saya.”

“Nak, memang Aliyah sudah pulang ke rumahnya.”

“Pulang? Jadi ia ada di rumahnya?”

“Ada, tapi memang dia agak sakit ingatan.”

“Sakit ingatan bagaimana Pak?”

“Itu karena dia disiksa oleh suaminya. Jadi dia tidak ingat apapun. Hanya saja, dia ingat sama aku. Sikapnya kalau sama aku, manis sekali. Itu karena aku selalu membantu dia.”

“Disiksa bagaimana Pak?”

“Dia tidak mau cerita secara jelas, yang penting dia sudah kabur dari rumah suaminya, tidak punya apa-apa. Tadi malam saya beri dia uang untuk membeli makanan. Tapi jangan berharap untuk bertemu. Dia tak akan mau. Dia hanya mau sama aku,” kata pak RT sedikit bangga.

Pinto terkejut. Bukan karena dia tidak dikenal sementara pak RT dikenal dengan baik, tapi ia mendengar bahwa Aliyah disiksa suaminya. Bagaimanapun ada rasa sayang dihati Pinto terhadap Aliyah, yang tak mudah bisa hilang. Rasa trenyuh menyelimuti hatinya, ketika mendengar Aliyah disiksa. Tapi ia tak bisa mendekatinya, karena pak RT melarangnya.

***

Ketika minum secangkir kopi pesanannya, Alfian meminta agar Farah membangunkan Aliyah.

Farah segera mendekati kamarnya, dan mengetuk pintunya pelan.

“Nyonya, tuan Alfi menunggu di ruang tengah.”

Tapi tak ada jawaban. Farah mengira Aliyah sedang tidur, karenanya dia memberanikan diri membuka pintunya. Tapi Farah terkejut, Aliyah tak ada di dalam kamarnya. Farah melongok ke arah kamar mandi, barangkali Aliyah ada di sana, tapi di sana pun tak ada.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, April 19, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 25

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  25

(Tien Kumalasari)

 

Narita terkejut. Ia menyesal, kurang hati-hati, sehingga ada yang mengenalinya. Padahal belum masuk ke gang di kampung rumah Aliyah. Narita pura-pura tak mendengar, lalu mempercepat langkahnya. Tapi tanpa disangka, rupanya orang itu mengejarnya. Dan tiba-tiba saja sudah ada di depannya.

“Aliyah … Aliyah, kamu sudah melupakan aku ya?”

Narita tertegun. Rupanya salah seorang pengagum Aliyah, atau jangan-jangan malah pacarnya. Ia bingung harus bersikap bagaimana, tapi kemudian ia memilih bersikap acuh.

“Tolong minggirlah,” katanya dengan wajah dingin.

“Aliyah, ada yang aneh pada diri kamu. Kamu kan sudah menjadi orang kaya, mengapa berjalan kaki di tempat ini?”

“Aku bilang minggirlah,” kata Narita karena merasa dihalangi jalannya.

“Kamu lupa sama mas Pinto mu ini, Yah?”

“Oh, namanya Pinto?” piikir Narita.

“Kampungan …. Orangnya cakep, namanya Pinto …” lanjutnya dalam hati.

“Minggirlah, aku sedang tergesa-gesa.”

“Benar, kamu lupa sama aku?”

“Bahkan aku tidak ingat bahwa pernah kenal sama kamu,” kata Narita sambil mendorong tubuh Pinto, sehingga dia bisa berlalu dengan nyaman.

“Aliyah … kenapa kamu berubah?”

Pinto melongo. Hatinya bagai ditusuk ribuan duri. Pedih, perih. Aliyah yang begitu disayanginya, bahkan menganggapnya kakaknya, tiba-tiba lupa diri, dan juga melupakan dirinya. Tak hanya itu, ucapanya sangat menyakitkan.

“Tak pernah kenal denganku? Ya Tuhan. Aliyah, setelah jadi orang kaya kamu benar-benar berubah. Mana kerendahan hati kamu, senyuman hangatmu, ocehan manjamu, dan semuanya yang pernah kamu miliki? Begitu cepat keadaan memutar balikkan sifat muliamu. Hanya karena harta, hanya karena kaya, lalu kamu lupa,” gumamnya sedih.

“Semoga Allah menuntun kamu ke jalan yang benar,” gumamnya lagi sambil memasuki rumah makan di mana dirinya bekerja. Sebelum benar-benar masuk, ia mengusap matanya yang berembun.

Narita memasuki rumah nenek Supi dengan perasaan yang susah digambarkannya. Senangkah menemukan bukti bahwa dia punya saudara? Dan itu adalah bukti bahwa dia tidak sendirian di dunia ini? Sedihkah karena mengalami nasib yang berbeda dengan saudara kembarnya?

Narita meletakkan bungkusan nasi yang tadi sempat dibelinya untuk sarapan, tapi ia tak ingin menyentuhnya. Ia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang tua, yang selalu menimbulkan suara gemeretak setiap kali dia membaringkan tubuhnya. Narita tak peduli, hatinya benar-benar gundah, tak tahu harus berbuat apa. Tapi sesungguhnya keinginan untuk merebut kebahagiaan saudara kembarnya itu, tak pernah lenyap dari benaknya. Seperti mudah melakukannya, tapi bagaimana caranya?

Narita  mencoba memejamkan matanya. Ia butuh seseorang untuk berbagi. Sejenak dia teringat Nungki, entah apa yang dilakukan Nungki sekarang. Mengapa dia tidak mencarinya? Apa dia benar-benar ingin melepaskannya? Sesungguhnya Nungki cukup punya arti dalam hidupnya. Ia mengentaskannya dari dunia hitam, dan itu pastilah dengan uang yang tidak sedikit untuk menebusnya. Ia juga menjadi teman setianya, yang selalu menyenangkannya. Hanya senang … tapi tidak ada cinta untuk dia. Cintanya hanya untuk Alfian.

“Alfi, aku menyesal telah meninggalkan kamu. Bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan aku, dan menerima aku kembali?” rintihnya penuh sesal.

***

Pak RT bangun kesiangan, karena semalam tidak bisa tidur, gara-gara istrinya memilih tidur di sofa.

Ia menggeliat, dan menoleh ke arah samping tempat dia tidur. Istrinya tak ada. Memang semalam tidak tidur di sampingnya. Pak RT bangkit, mengucek matanya, lalu melangkah ke arah ruang tengah. Biasanya ada kopi hangat menunggunya saat dia bangun.

“Ini seperti sudah siang, pasti kopiku sudah dingin,” gumamnya sambil melangkah perlahan, karena ia merasa pinggulnya terasa sakit. Ia baru ingat, kemarin jatuh tersungkur ketika di rumah Aliyah. Ia mengelusnya sejenak, kemudian duduk di sofa. Matanya mencari-cari, tak tampak ada gelas kopinya.

“Barangkali dia belum menuangkannya karena aku belum bangun,” gumamnya pelan, lalu berdiri dan melangkah ke arah dapur. Tapi istrinya tak ada. Tak tampak ada kesibukan di dapur itu. Barangkali gelas yang sudah ditata, tinggal mengucurkan kopinya dari termos kalau sang suami sudah bangun. Tapi tak ada gelas tak ada cangkir, dan tak ada termos berisi kopi panas.

“Kemana dia?”

Pak RT mencari ke arah depan, tak tak menemukan orang yang dicarinya. Apa ke pasar ya? Kok ya tidak mau ngomong. Atau sudah ngomong, tapi aku tidak mendengar karena masih terlelap?

Pak RT merasa tenggorokannya kering. Ia butuh segelas kopi seperti setiap pagi disediakan istrinya, tapi pagi itu tak ada kopi. Air putihpun tidak. Pak RT melangkah lagi ke dapur. Diambilnya gelas, lalu mencoba membuat kopi sendiri. Setelah itu ia membawanya ke ruang tengah.

“Bwuuahhh!” pak RT menyemburkan kopi yang sudah diminumnya. Pahit. Ia tak biasa minum kopi pahit, walau banyak orang mengatakannya lebih sehat.

“Aku lupa membubuhi gula,” katanya sambil melangkah ke dapur lagi, mencari di mana tempat gula diletakkan. Ia kembali duduk setelah menemukannya, lalu menyendokkan gula ke dalam gelas.

“Bukankah aku suka yang manis-manis? Mengapa sampai lupa membubuhkan gula?” gumamnya sambil tersenyum, dan dengan bersemangaat mengaduk gula ke dalam kopinya.

“Aduh, kok sekarang terlalu manis? Sebenarnya seberapa banyak  kopi dan gula harus disiapkan supaya menjadi minuman yang nikmat? Ternyata tanpa perempuan, laki-laki juga merasa repot. Kemana dia sepagi ini?”

Pak RT mengambil termos dan menambahkan air ke dalam gelasnya. Ia mencicipinya lagi, dan masih terasa manis, tapi tak apa. Mau bagaimana lagi, air kopi di dalam gelas sudah meluber, bahkan mengotori taplak meja sehingga kehitaman.

Pak RT meneguk kopi manisnya, sampai habis segelas penuh. Tiba-tiba pak RT teringat pada ‘simpanannya’. Ia ingin ke sana sekarang, tapi nanti kalau istrinya pulang dan dia tak ada di rumah, pasti mencak-mencak lagi.

“Aku harus bersabar dulu. Sebaiknya aku mandi, berdandan rapi, nanti kalau istriku pulang aku bisa pamit untuk pergi."

Tapi setelah pak RT mandi, ia belum juga melihat sang istri. Ia memasuki kamar, untuk berganti pakaian. Tapi alangkah terkejutnya ketika melihat almari istrinya nyaris kosong. Hanya beberapa baju tertinggal, dan itu artinya, sang istri pergi meninggalkan rumah untuk waktu yang lama.

“Ya ampuun, kamu pergi Bu? Benar-benar membuktikan ancaman kamu bahwa kamu mau pergi? Bagaimana ini?” gumam pak RT yang agak bingung juga, tanpa istri di rumah hanya sendiri.

“Ia benar-benar tega. Jangankan meninggalkan sarapan, segelas minumpun tidak,” omelnya kesal.

Pak RT membuka kulkas, hanya ada roti tawar yang dingin. Ia mengambilnya dan melahapnya sepotong.

“Pasti dia ke rumah anaknya. Biarkan saja, kalau nanti dia kangen sama aku, pasti juga akan pulang kembali,” gumamnya melanjutkan berganti pakaian.

“Daripada bingung memikirkan istrinya yang lagi ngambeg, lebih baik mengajak Aliyah jalan-jalan. Apa Aliyah sudah sarapan ya, kan semalam aku sudah memberinya uang. Dan lagi ini sudah cukup siang,” gumamnya sambil melihat ke arah jam dinding.

“Yaah, ternyata sudah jam sebelas siang?”

 Pak RT merasa perutnya masih lapar. Seiris  roti tawar dingin tidak bisa memenuhi rasa lapar di perutnya. Ia mengambil dompet, lalu berjalan ke arah warung makan tak jauh dari rumahnya. Ia memesan nasi gudeg sambel goreng dan sepotong pupu ayam masak opor yang dimintanya agar dibungkus. Dia memesan dua bungkus. Maksudnya yang sebungkus lagi akan diberikannya untuk ‘Aliyah’.

“Berapa Yu?”

“Enam puluh ribu dengan kerupuknya, pak RT, jawab pemilik warung.

Pak RT segera membuka dompetnya, dan tiba-tiba matanya terbelalak, melihat isi dompetnya kosong. Tak selembar uangpun tersisa di sana, padahal semalam dia baru mengambilnya, dan masih ada tigaratus ribu, termasuk uang beras istrinya yang dipakainya.

“Pesan apa lagi, pak RT?”

“Sebentar Yu, ternyata aku tidak membawa uang,” kata pak RT panik, karena dia juga tidak menemukan kartu ATM yang biasana tersimpan di dompet itu.

“Dibawa saja dulu pak RT, tiap hari kan bu RT lewat sini, biar nanti saya minta sama bu RT saja, uangnya.”

“Tapi, nggak enak jadinya. Masa saya harus ngutang?”

“Tidak apa-apa, sudah terlanjur dibungkusin, mau diapain? Sudah bawa saja dulu,” kata pemilik warung memaksa.

Mau tak mau pak RT membawanya dengan seribu satu permintaan maaf diucapkannya.

Pak RT membawa bungkusan nasi itu pulang. Hatinya merasa gelisah, karena ia tak punya uang dan tak bisa mengambil uangnya di bank, karena ATM dibawa istrinya juga, berikut seluruh uangnya sampai tak bersisa.

Setelah meletakkan bungkusan nasi di meja, pak RT memasuki kamar dan membuka almari, untuk mencari buku tabungannya. Maksudnya, kalau tidak memiliki ATM, maka dia bisa mengambilnya secara langsung dengan buku tabungan. Tapi celakanya, sang istri yang ‘pintar’ juga membawa buku tabungan itu.

Pak RT merasa lemas. Kemudian ia teringat cara tarik tunai tanpa kartu, bisa dengan ponsel, tapi dia belum pernah melakukannya.

“Aku bisa bertanya kepada petugas bank, nanti,” gumamnya sambil mencari ponselnya. Tapi ia juga tak bisa menemukan ponsel yang dicarinya.

“Celaka. Rupanya istriku benar-benar ingin membunuh aku.”

Kehilangan selera makan, pak RT membiarkan saja bungkusan nasi itu tergeletak di meja.

***

Waktu istrirahat siang, Pinto keluar dari ruangannya bekerja, bermaksud mencari makanan. Tapi di depan pintu keluar, ia hampir menabrak seseorang, yang ternyata adalah pak RT.

“Pak RT?”

“Nak Pinto, tolong saya,” kata pak RT sambil menarik tangan Pinto menjauh dari tempatnya bertemu Pinto. Pinto mengikutinya dengan heran.

“Ada apa Pak? Kelihatannya gawat banget. Padahal sebenarnya saya mau menceritakan sesuatu pada pak RT.

“Jangan bercerita apapun dulu, aku minta tolong, Nak.”

“Minta tolong apa Pak?”

“Bisa kah aku pinjam uang tiga ratus ribu saja?”

Pinto menatap pak RT dengan heran.

“Pinjam uang? Apa saya tidak salah dengar?” tanya Pinto yang benar-benar heran.

“Benar Nak, seriuuus, bahkan berpuluh-puluh rius.”

“Kenapa Pak, dan untuk apa?”

“Istri aku minggat, semua uang, dibawa pergi. Semuanya.”

“Bu RT ming … eh … pergi? Kenapa?”

“Nak Pinto ini kok banyak banget pertanyaannya, pokoknya saya mau pinjam, ada atau tidak, boleh atau tidak?”

“Ada sih Pak, silakan saja, saya hanya heran.”

“Tidak usah heran, nanti saya cerita banyak sama nak Pinto.”

“Baiklah,” kata Pinto sambil mengambil dompetnya, dan memberikan uang seperti diminta pak RT.

“Terima kasih banyak ya Nak, saya pergi dulu,” kata pak RT yang kemudian langsung pergi, menuju ke arah warung nasi di mana tadi dia membeli makanan.

Pinto menatap kepergian pak RT dengan heran. Padahal sebenarnya dia ingin bercerita tentang ‘Aliyah’ yang tadi dilihatnya, tapi tak sudi berbincang dengan dirinya.

“Ya sudah, lain kali saja. Hari ini kok banyak sekali hal membingungkan yang menimpa aku,” gumam Pinto sambil berjalan ke arah warung terdekat untuk membeli makanan.

***

Siang hari itu Farah sedang menyelesaikan acara masak, ketika tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan majikan sepuhnya.

“Masak apa Rah?”

“Nyonya sepuh sama siapa?”

“Sama sopir.”

“Tidak dengan tuan sepuh?”

“Tidak, jam segini kan bapaknya Alfi ada di kantor.”

“Oh, silakan duduk Nyonya, saya buatkan minuman dulu. Nanti Nyonya makan siang di sini kan?”

“Iya gampang. Mana Aliyah?”

“Tadi juga ikut membantu masak, tapi pamit mau ke kamar mandi sebentar.”

“Dia suka membantu memasak juga?”

“Iya Nyonya, maaf, saya tidak bisa melarangnya, karena nyonya Aliyah bilang ingin belajar memasak juga.”

“Tidak apa-apa. Terserah apa maunya dia.”

“Ya, Nyonya, saya buatkan minuman dulu, ada jus tomat kesukaan tuan Alfi, Nyonya mau?”

“Iya, tapi aku mau duduk di sini saja.”

“Baiklah, Nyonya,” kata Farah sambil mengambilkan gelas, dan menuang jus yang sudah tersedia.

“Bagaimana kabar dia?”

“Dia, siapa Nyonya?”

“Dia … Aliyah.”

“Baik-baik saja Nyonya.”

“Sebenarnya aku kecewa dengan pilihan Alfian.”

“Memangnya kenapa Nyonya? Tuan Alfi kelihatan kalau sangat mencintai Nyonya Aliyah.”

“Bukankah sebenarnya dia sudah harus menceraikannya?”

“Tapi tuan Alfi sudah terlanjur jatuh cinta.”

“Dengar Farah, bulan depan ada pertemuan dengan para pebisnis, dan itu adalah sebuah pesta. Semua membawa istri masing-masing, tapi saya tidak yakin Alfi tidak mendapat malu kalau membawa istrinya nanti.”

Farah tertegun. Mereka juga tidak mengira, bahwa Aliyah yang baru keluar dari kamar mandi dan sedang menuju ke dapur, mendengarkan percakapan mereka.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01.

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  01 (Tien Kumalasari)   Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalan...