Thursday, January 26, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 03

 

SETANGKAI BUNGAKU  03

(Tien Kumalasari)

 

Roy mengeluh, ia mengulurkan ponselnya ke arah Ardian, yang diterima Ardian dengan bingung.

“Apa nih?”

“Dari Aira, tolong diterima dong.”

“Kenapa kamu ini? Terima saja, kan kamu yang ditelpon,” sergah Ardian sambil mengembalikan ponsel ke tangan Roy.

“Ya ampun Mas, tolong dong.”

“Yah, kalau ada maunya saja baru panggil ‘mas’.

“Bener nih, aku lagi segan bicara dengan gadis kolokan seperti Aira. Aku turuti sekali, lama-lama nglunjak dia.”

“Hallo,” sapa Ardian pada akhirnya.

“Ini Roy?” suara dari seberang, agak cedal. Ardian mengira, Aira pasti sedang mabuk.

“Bukan, aku Ardian. Kenapa?”

“Mana Roy? Aku mau Roy.”

Ardian menatap Roy, tapi Roy menggoyang-goyangkan tangannya.

Ardian melotot kesal.

“Aira, Roy sudah tidur.”

“Mengapa tidur, masih sore, aku tungguin tadi.”

“Dia … agak nggak enak badan.”

“Aku ke rumah ya?”

“Apa?” jawab Ardian terkejut. Kalau benar Aira datang, apalagi dalam keadaan mabuk, maka ayah mereka akan murka.

“Aku mau Roy …” rengek Aira.

“Maaf Aira, keluarga kami sudah pada tidur. Kami tidak bisa keluar.”

“Aku mau datang.”

“Tidak bisa, maaf. Ayahku melarang seorang gadis mendatangi laki-laki. Jadi tolong besok saja biar Roy menemui kamu, ya.”

“Aku mau Roy,” Aira merintih. Merinding bulu kuduk Ardian. Aira benar-benar mabuk, dan itu mengerikan baginya.

“Jangaaan.” Jawab Ardian langsung menutup ponselnya.

“Kenapa dia?”

“Mau nekat datang kemari.”

“Gadis gila.  Apa gerbang sudah ditutup?”

“Aku nggak tahu,” kata Ardian sambil mengangkat bahu.

Roy segera keluar dari kamar, memeriksa gerbang rumah mereka, dan merasa lega karena rupanya gerbang itu sudah terkunci.

Roy kembali ke kamarnya, membersihkan diri, lalu berusaha tidur. Tiba-tiba dia muak dengan pergaulan bersama teman-temannya. Tadinya hanya ingin bersenang-senang bersama mereka, tapi ternyata semakin tenggelam ke dalamnya, bentuk pergaulan itu semakin tampak membosankan. Roy dan Ardian tidak muda lagi. Benar kata ayahnya, mereka sudah pantas memilih seorang gadis untuk dijadikan istri. Lalu tiba-tiba wajah Pratiwi yang sederhana melintas.

“Apa aku sudah gila? Mengapa membayangkan Pratiwi? Mengapa tiba-tiba dia muncul saat aku sedang kesal terhadap Aira yang kolokan dan menyebalkan?” gumamnya.

Ia menutupi wajahnya dengan bantal, berusaha menghilangkan bayangan gadis sederhana tapi cantik, dan memiliki mata seindah bintang.

Tapi Pratiwi hanyalah anak yu Kasnah, wanita buta yang bekerja sebagai tukang pijit. Pantaskan dia memujanya? Ah, tidak. Itu hanya rasa penasaran karena gadis itu begitu ketus dan tak mau sedikitpun berpaling ke arahnya.

Roy terus bertanya-tanya sampai kantuk menerbangkannya ke alam mimpi.

***

Keluarga Luminto makan pagi sebelum berangkat ke kantor. Pak Luminto memuji-muji kedua anaknya yang semalam tidak begadang sampai larut.

“Itu bagus. Kalian bukan anak-anak muda yang masih suka berhura-hura. Semuanya sudah berakhir, dan saatnya kalian memikirkan masa depan,” kata ayahnya sambil menikmati nasi opor masakan kedua ibunya.

Keduanya diam saja, hanya tersenyum-senyum mendengar ucapan ayahnya.

“Apa Bapak nanti malam mau pijit?” tiba-tiba Ardian nyeletuk.

“Kok kamu tahu?”

“Ardian mendengar dari yu Kasnah.”

“Oh, iya. Semalam kedua ibu kamu sudah dipijit yu Kasnah, nanti giliran bapak.”

“Aku juga mau,” tiba-tiba Ardian dan Roy berteriak hampir bersamaan.

“Apa sih kalian ini? Masih muda suka pijit. Nggak pantas, tau,” kata Ratna.

“Kok nggak pantas sih Bu, kami juga kadang-kadang kan capek,” kata Ardian.

“Betul,” sergah Roy.

“Ya sudah, nanti setelah bapak, kalian boleh pijit. Tapi bayar sendiri ya,” canda pak Luminto.

“Beres,” kata Ardian dan Roy bersama sama.

“Ini kok tumben kompak amat sih?” sela Sasmi

“Harus kompak dong Bu, kalau kami bertengkar, nanti ibu marah.”

“Nggak boleh, sama saudara sendiri bertengkar. Salah satu harus mengalah,” sambung Sasmi.

“Bagaimana kalau … itu … tentang … seorang gadis?”

“Maksudnya, kalian berdua menyukai seorang gadis yang sama?” tanya Ratna.

“Itu kan hanya misalnya Bu, serius amat,” kata Roy.

“Kalau benar begitu, tetap saja salah satu harus mengalah,” kata Sasmi.

“Jangan sampai kalian memperebutkan seorang gadis. Dunia begini luas, kenapa harus berebut?”

“Nggak Pak, kami hanya bercanda.”

“Nanti yu Kasnah biar aku saja yang menjemput,” kata Ardian tiba-tiba.

“Kenapa harus dijemput? Nanti ibu telpon Pratiwi, pasti dia sudah mengantarkan ibunya ke sini.”

Tiba-tiba ponsel Roy berdering, tapi Roy membiarkannya. Ada temannya yang menelpon, pasti hanya akan memarahinya karena tidak datang di pesta itu.

“Angkat dong Roy, siapa tahu penting,” kata pak Luminto.

Roy berdiri dan menerima telponnya di luar ruang makan, takut merusak suasana makan yang hangat itu.

“Ya, ada apa?” katanya menyambut panggilan itu.

“Aira meninggal,” suara dari seberang.

“Apa??” Roy berteriak. Adrian sampai melongok ke arah dimana Roy menerima telpon.

“Semalam menelpon aku, tapi yang menerima Ardian.”

“Dia pulang dalam keadaan mabuk, mobilnya masuk ke kali, dia luka parah, tak tertolong.”

“Ya Tuhan, anak itu.”

“Sekarang masih di rumah sakit, kamu tidak ingin melihatnya?”

“Aku ke kantor dulu, nanti aku ijin sebentar untuk melihatnya,” kata Roy sambil menutup ponselnya.

Ardian menatap Roy ketika adiknya itu sudah kembali duduk.

“Ada apa? Mengapa kamu berteriak?”

“Aira meninggal.”

“Apa?” sekarang Ardian yang berteriak.

“Semalam pulang dalam keadaan mabuk, mobilnya masuk ke sungai. Sekarang masih di rumah sakit,” kata Roy yang kemudian mengakhiri makan paginya. Selera makannya lenyap tiba-tiba.

“Semalam ingin bertemu kamu. Tapi suaranya waktu itu sudah seperti orang mabuk berat.”

“Siapa Aira itu? Gadis bukan? Mabuk? Bagaimana seorang gadis bisa mabuk-mabukan? Teman kalian? Pacar siapa? Roy atau Ardian?”

“Bukan pacar siapa-siapa Pak, hanya teman. Tapi Aira itu suka sama Roy. Semalam menelpon, Roy tidak mau menerimanya.”

“Kalian selama ini bergaul dengan gadis-gadis semacam itu? Dan lihat apa akibatnya. Mabuk, mengendarai mobil, lalu kecelakaan dan kehilangan nyawa,” omel pak Luminto.

“Semalam kami sudah memutuskan untuk tidak bergaul dengan mereka lagi Pak, itu sebabnya kami sudah pulang walau belum jam sembilan malam,” kata Ardian.

“Bagus. Kalian harus ingat bahwa kalian bukan anak muda lagi. Kalian sudah dewasa, dan harus bisa berpikir mana jalan terbaik yang harus kalian lalui.”

Ardian dan Roy tampak mengangguk-angguk. Tapi keduanya masih diliputi rasa duka akibat meninggalnya Aira. Bagaimanapun Aira adalah teman, seburuk apapun, mereka tak ingin Aira celaka, dan itu sudah terjadi.

“Nanti kami minta ijin sebentar, mau melihat ke rumah sakit,” kata Roy.

“Nggak apa-apa. Kehilangan teman adalah duka. Tapi ingat, bahwa yang terjadi adalah pelajaran bagi kalian.”

“Sangat mengerikan kejadiannya, meninggal karena mabuk, gadis pula. Betapa sedih orang tuanya,” gumam Ratna.

“Orang tuanya juga patut di salahkan. Melepas anak gadisnya dalam pergaulan yang tidak sehat. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk langkah selanjutnya.

***

Ardian dan Roy sampai di rumah sakit, setelah minta ijin pada ayahnya. Disana dilihatnya sudah banyak teman-teman yang datang.

“Roy, semalam hanya kamu yang dicarinya,” kata Albert dengan wajah sedih.

“Aku minta maaf. Tapi aku menyesal dia melakukannya. Sejak kapan dia suka mabuk-mabukan?”

“Sudah lama sih, tadi malam itu dia juga yang membawa minuman untuk dibagikan kepada teman-temannya. Entah bagaimana dia mendapatkannya. Begitu datang dia mencari kamu, dan kecewa karena kamu tidak datang.”

“Aku dan Ardian memang tidak akan datang ke pesta itu. Lama-lama capek, kan kami harus bekerja.”

“Iya sih, kalian kan bos muda.”

“Bukan, kami merasa sudah cukup tua saja.”

Ardian mendekati Roy, mengajak melihat jenazah Aira sebelum petinya ditutup.

“Ke sana lah, kami sudah melihatnya, tadi.”

Roy merasa trenyuh melihat luka-luka pada wajah Aira. Walau sudah disamarkan, tapi tetap saja menampakkan pemandangan yang membuat ngeri bagi yang melihatnya. Di sudut sana, ayah dan ibu Aira tampak duduk dengan wajah sembab. Roy menatap sekali lagi ke arah wajah Aira, yang sama sekali tak menampakkan kecantikannya, kemudian ia mengajak Ardian untuk menyalami orang tuanya.

“Saya ikut berduka cita, Om, Tante,” kata Ardian dan Roy bergantian.

“Terima kasih. Apa kamu yang bernama Roy?” tanya ibu Aira.

“Saya Ardian, ini adik saya Roy,” jawab Ardian karena mengira dia lah yang bernama Roy.

“Oh, kamu? Aira sering bercerita tentang kamu. Dia sangat mengagumi kamu,” kata sang ibu, yang kemudian meneteskan lagi air matanya.

“Kami berteman sejak lama.”

“Apa kalian pacaran?” tiba-tiba ayah Aira menyela.

“Tidak. Hanya berteman.”

Lalu karena tak ingin orang tua Aira banyak bertanya, keduanya pergi menjauh, berbaur bersama teman-temannya.

Wajah-wajah duka, menyelimuti aura mereka. Kehilangan selalu menyedihkan. Aira yang cantik dan lincah, Aira yang terkadang manja, tak ada lagi diantara mereka. Barangkali kematian itu akan mengubah segalanya. Menghilangkan kesukaan untuk bersenang-senang dan berpesta. Semoga ada hikmah dibalik itu semua.

Tak lama kemudian, peti itu ditutup, dan saatnya mengangkat jenazah ke peraduannya yang terakhir. Ketika beberapa orang mengangkat peti, seorang gadis tampak menangis, mengiringinya. Wajahnya mirip Aira. Kata teman-temannya, ia adalah Ratih, adik Aira.

***

Sepanjang perjalanan pulang, Roy tampak terdiam. Ia menyesal semalam tak mau menerima telponnya. Menyesal selalu mengumpatnya, bahkan menyesal telah berteman dengannya. Tapi bukankah sebenarnya Aira itu baik? Gadis itu terlalu dimanja oleh orang tuanya, lalu lepas kendali, dan itulah yang terjadi.

“Kasihan. Semalam dia berteriak-teriak hanya ingin bertemu sama kamu. Ia bahkan mau datang ke rumah kita. Nekat sekali dia.”

“Sudah lama dia mengejar-ngejar aku, aku tak mempedulikannya.”

“Apa sekarang kamu menyesal?”

“Menyesal bagaimana maksudmu?”

“Menyesal telah menolaknya.”

“Tidak, aku tidak pernah suka gadis manja. Kami hanya berteman. Aku menyesal dia melakukan hal buruk yang kemudian mencelakai dirinya sendiri. Kalau saja aku sempat mengingatkannya,” keluh Roy.

“Ya sudah, bukankah perjalanan hidup seseorang itu sudah tersirat dalam suratan setiap manusia? Hendaklah yang terjadi bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Kita sudah bukan anak muda lagi. Betul kata bapak, bahwa kita sudah harus bisa memilah, mana yang baik dan mana yang buruk.”

“Lama-lama kamu seperti bapak.”

“Kan aku anaknya?”

“Apa aku bukan?”

Ardian tertawa, Roy pun tertawa. Kedua remaja tampan yang selalu hidup rukun, walau berbeda wanita yang melahirkannya. Karena kerukunan dan saling mengasihi selalu ditanamkan dalam keluarga itu.

***

Hari itu Ratna memesan beberapa sayuran kepada Pratiwi, dan minta agar diantarkannya ke rumah. Karena itulah, setelah sepi, dia segera membawakan pesanan itu ke rumah keluarga Luminto.

“Ini Bu, pesanan Ibu, mohon dilihat, apa ada yang kurang,” kata Pratiwi sambil meletakkan beberapa macam sayuran di meja dapur.

Ratna dan Sasmi sudah siap di dapur, takutnya tiba-tiba sang suami pulang untuk makan siang di rumah.

“Tidak ada yang kurang Wi, terima kasih. Apa uang yang aku berikan kurang?”

“Tidak Bu, ini masih ada kembaliannya,” kata Pratiwi sambil mengulurkan sejumlah uang kembalian.

“Tidak usah Wi, ambil saja semuanya,” kata Ratna.

“Ibu kalau belanja pasti tidak mau diberikan sisanya.”

“Tidak apa-apa Wi, kan tidak seberapa,” sambung Sasmi.

“Kamu dulu sekolah sampai SMA ya Wi?” tanya Ratna.

“Iya Bu. Alhamdulillah bisa selesai, jadi ibu saya juga senang, anaknya bisa sekolah.”

“Apa kamu tidak ingin melanjutkan kuliah?” tanya Sasmi.

“Wah, mana mungkin melanjutkan kuliah Bu, lulus SMA saja sudah saya syukuri, karena dengan bersekolah, sedikit banyak saya punya ilmu, tidak bodoh-bodoh amat.”

“Apa kamu mau, kami membiayai kamu ke sekolah yang lebih tinggi?” tanya Ratna.

Pratiwi terkejut.

“Tidak Bu, saya tidak berani.”

“Mengapa tidak berani?”

“Janganlah mencapai sesuatu dengan membebani orang lain. Itu selalu yang ibu saya tanamkan untuk saya.”

“Kami menawarkan, berarti tidak terbebani. Mau ya?” desak Ratna.

“Tidak Bu, sungguh. Dan terima kasih sudah memborong sayuran saya, sekarang saya permisi,” kata Pratiwi sambil berdiri.

Tiba-tiba ponsel Pratiwi berbunyi. Pratiwi mengangkatnya. Tapi kemudian wajahnya berubah ketika seseorang mengatakan sesuatu.

“Apa? Meninggal? Kecelakaan di mana? Baiklah, aku akan ke sana,” kata Pratiwi sambil menutup ponselnya.

“Bu saya permisi dulu, ada teman saya yang meninggal, karena kecelakaan semalam,” kata Pratiwi sambil bergegas pergi.

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, January 25, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 02

 

SETANGKAI BUNGAKU  02

(Tien Kumalasari)                    

 

Ratna dan Sasmi pun memburu turun.

“Roy, kamu berdua kok ngebantuin Pratiwi, ini yu Kasnah bagaimana?” tegur Ratna ketika kedua anaknya membantu Pratiwi dan membiarkan yu Kasnah yang sudah duduk, tapi susah untuk bangkit.

Sasmi membantunya, lalu Ardian melepaskan Pratiwi kemudian membantu yu Kasnah berdiri.

“Yu, ada yang luka?” tanya Ratna.

“Tidak Bu, ini … tersandung apa, kok bisa jatuh.”

“Sendal ibu lepas talinya, sehingga jatuh,” kata Pratiwi yang tersipu karena Roy masih saja memegangi tangannya.

“O, iya Yu, sandalnya lepas talinya. Sudah Wi, dibuang saja, nanti aku ganti. Aku punya sandal yang belum pernah dipakai, barangkali cukup untuk yu Kasnah,” kata Sasmi yang kemudian menuntun yu Kasnah ke arah rumah.

“Ada yang luka yu? Kamu juga Tiwi?” tanya Ratna.

“Tidak ada, nggak apa-apa kok Bu. Maaf, jadi merepotkan,” kata Pratiwi sambil memegangi sebelah lengan ibunya.

“Naik Yu, awas, tangganya agak tinggi,” kata Ratna mengingatkan.

“Duduk dulu di sini, supaya lebih tenang, nanti nggak bisa memijit kalau belum tenang,” kata Sasmi.

Yu Kasnah dan Pratiwi duduk di kursi teras. Yu Kasnah tampak menepuk-nepuk lututnya.

“Sakit yu?” tanya Ratna.

“Tidak kok Bu, biasa, orang sudah tua, tinggal  tulang, diadu sama tanah keras,” kata yu Kasnah tersipu.

“Aku ambilkan minum dulu,” kata Ratna sambil beranjak ke belakang.

“Sudah Bu, ini ibu mau saya tinggal di sini, nanti saya jemput kalau sudah selesai,” kata Pratiwi sambil berdiri.

“Baiklah, nggak apa-apa kan Yu, ditinggal Pratiwi? Aku kan punya nomor kontak Pratiwi  jadi gampang.

“Iya, dia punya pekerjaan di rumah, menyiapkan yang akan dibeli besok,” kata yu Kasnah.

“Pratiwi mau pulang?” tiba-tiba suara Roy mengejutkan. Sasmi menoleh, ternyata kedua anaknya masih berdiri dibawah.

“Kamu belum pergi?” tegur Sasmi heran.

“Kami khawatir, barangkali ada yang harus dibawa ke rumah sakit,” jawab Roy seenaknya.

“Ngawur kamu, nggak apa-apa semuanya, sudah kalau mau pergi, sana. Jangan malam-malam pulangnya,” pesan Sasmi.

“Tiwi mau pulang? Sekalian kami antar,” kata Ardian sambil mengikuti langkah Pratiwi.

“Hei, kok aku ditinggal,” protes Roy.

“Ambil mobilnya, gimana sih, kan kamu yang bawa kuncinya,” kesal Ardian.

“Tidak usah diantar Mas, rumah saya kan dekat,” Pratiwi menolak halus.

“Tapi kan kelewatan, kami juga mau lewat gang di depan rumah kamu kok,” Ardian memaksa.

“Biar saya jalan saja. Terima kasih, kata Pratiwi sambil melangkah lebih cepat, meninggalkan Ardian yang tentu saja kecewa.

Roy yang membawa mobil sudah menjalankannya di samping Pratiwi.

“Hei, ayo naik, aku antar.”

“Tidak Mas, sungguh, rumah saya dekat,” kata Pratiwi yang terus mempercepat langkahnya.

Ardian melompat ke dalam mobil, di samping adiknya.

Roy menjalankannya pelan, mengikuti langkah Pratiwi.

“Ih, nekat banget sih, anaknya pak Luminto ini. Sudah dibilang nggak mau,” keluh Pratiwi yang merasa risih, karena Roy terus menjalankan mobilnya mengiringi langkah Pratiwi.

Ketika gang yang akan masuk ke rumah Pratiwi sudah kelihatan, Pratiwi mempercepat langkahnya, lalu masuk ke dalam gang, dan berlari menuju rumahnya.

***

“Itu gadis yang baik, tidak tertarik pada cowok-cowok ganteng, pakai mobil pula,” omel Roy ketika menjalankan mobilnya.

“Berbeda dengan gadis-gadis teman kamu itu. Begitu melihat kita, lalu berebut brgayut di lengan kita.”

“Lama-lama aku bosan kumpul-kumpul di club teman-teman kita. Ayo kita cari bakso saja, makan berdua saja.”

“Bukannya ini ulang tahun Nana? Nanti kamu kecewa.”

“Nggak usah, biarin saja, Paling ya cuma nyanyi-nyanyi, dansa-dansa nggak jelas. Ayo cari bakso dan ngobrol di sana,” kata Roy sambil berbelok arah dari niatnya semula.

***

“Ini Yu, lututmu itu digosok dulu,” kata Ratna, ketika yu Kasnah sudah siap memijit Sasmi.

“Jadi merepotkan, hanya nyeri sedikit saja.”

“Tidak apa-apa, ini obat gosok manjur lho Yu, untuk nyeri-nyeri cepat sekali hilangnya. Cobain dulu, nanti pas Yu Kasnah pulang pasti nyerinya sudah hilang,” sambung Sasmi.

“Baiklah kalau begitu.”

Lalu yu Kasnah menggosok lututnya dengan minyak yang diberikan Ratna.

“Nanti Yu Kasnah mau cerita apa ya?” tanya Sasmi. Ratna yang semula menunggui, kemudian berbaring di sisi Sasmi, melihat ketika yu Kasnah mulai memijit madu nya.

“Cerita apa ya? Bu Sasmi ini seperti anak kecil saja, setiap kali dipijit, yu Kasnah disuruh mendongeng.”

“Tuh, aku bilang apa, Sasmi memang begitu Yu, nanti Yu Kasnah selesai, dia sudah ngorok,” kata Ratna yang disambut tawa Sasmi.

“Iya lah, habis yu Kasnah mijitnya enak. Mbak Ratna jarang pijit sih.”

“Aku tuh nggak begitu suka di pijit. Tapi mau deh, nanti setelah bu Sasmi, aku ya Yu.”

“Ya Bu. Siap.”

“Cerita dong.”

“Cerita apa lagi nih.”

“Sembarang. Oh ya, cerita waktu yu Kasnah masih muda, terus ketemu suami, siapa namanya tuh, terus saling jatuh cinta.”

Yu Kasnah terkekeh geli.

“Bu Sasmi ada-ada saja, masa yu Kasnah disuruh mengingat-ingat saat jatuh cinta. Sudah lupa lah Bu, puluhan tahuh berlalu.”

“Mosok cinta bisa dilupakan ?”

“Ya lupa Bu, lagi pula malu, nyeritain yang begituan,” kata yu Kasnah tersipu.

Sasmi dan Ratna tertawa geli melihat tingkah yu Kasnah.

“Kok bisa malu sih Yu, cinta itu kan tidak memalukan?”

“Dulu yu Kasnah tidak menikah karena cinta sama calon suami. Yu Kasnah itu dijodohkan. Melihat wajahnya ya baru ketika mau ijab.”

“Oh ya? Kaget ya Yu. Apa yang terpikir oleh Yu Kasnah ketika ketemu calon suami?” tanya Ratna.

“Deg-degan ya Yu?” sambung Sasmi.

“Bukan deg-degan sih Bu, takut.”

“Ternyata Yu Kasnah bisa langsung suka sama dia?”

Yu Kasnah tersipu, kaki Sasmi dicubit-cubit.

“Lhoh Yu, kok aku dicubitin sih?”

“Iya, malu saya Bu, ternyata suami yu Kasnah itu ganteng lhoh.”

“Alhamdulillah,” celetuk Sasmi.

“Tapi ya ..  yu Kasnah diam saja. Menunduk, malu-malu, begitu.”

“Karena seneng kan Yu?” Ratna ikutan meledek yu Kasnah.

“Tapi yu Kasnah baru mau didekati setelah setahun.”

“Lama banget.”

“Iya Bu, rasanya malu-malu bagaimana, gitu lhoh. Dan setelah setahun akhirnya yu Kasnah menyerah. Kemudian yu Kasnah mengandung Pratiwi itu.”

“Wah, tok cer ya Yu.”

“Kata orang tua, anak itu kan anugerah. Lalu selang tujuh tahun, baru punya anak lagi, Nano.”

“Oh, lama ya jaraknya, jadi Pratiwi sudah bisa membantu momong adiknya.

“Tapi saat Nano masih berumur dua tahun, suami yu Kasnah meninggal, nggak tahu sakit apa, kata dokter karena dia kebanyakan merokok,” kata yu Kasnah sedih.

“Suaminya dulu bekerja apa Yu?”

“Hanya membantu jadi kuli bangunan Bu. Tapi waktu itu kami hidup senang, bahagia, walau tidak memiliki harta berlimpah. Saya membantu berjualan sayur ketika itu.”

“O, dulu yang jualan sayur Yu Kasnah ya?”

“Iya Bu, untuk menambah penghasilan. Itu setelah anak saya yang nomor dua lahir. Tidak lama kemudian suami meninggal, ya sudah, yu Kasnah sendirian merawat dua orang anak dengan berjualan itu. Dan syukur juga, yu Kasnah bisa menyekolahkan Pratiwi. Waktu itu Tiwi masih SMP, hampir ujian, saya mengalami kecelakaan. Entah bagaimana, kata dokter kedua mata saya rusak karena terkena pecahan kaca.”

Yu Kasnah mengusap air matanya.

“Yu Kasnah jangan sedih ya, semua yang kita alami ini adalah perjalanan hidup yang digariskan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Kita harus menerimanya dengan ikhlas, ya Yu,” kata Ratna sambil ikut mengusap air matanya karena trenyuh. Sasmi tidak berkomentar, sambil tertelungkup saat dipijit, ia juga meneteskan air matanya di bantal.

“Iya benar, Bu. Saya juga bersyukur, akhirnya Pratiwi bisa lulus sampai SMA. Ia mengambil sekolah sore, karena paginya berjualan sayur menggantikan pekerjaan saya.”

“Sekarang Nano kelas berapa?” tanya Ratna.

“Sudah klas lima Bu. Saya tetap berusaha agar Nano bisa melanjutkan sekolah, paling tidak lulus SMA seperti kakaknya.”

“Hebat Yu Kasnah ini. Biarpun punya kekurangan, tapi punya semangat tinggi dan cita-cita luhur.”

“Hanya itu yang bisa saya lakukan Bu.”

Ketika kemudian gantian Ratna yang dipijit, Sasmi ternyata tak bisa tertidur seperti ledekan madunya, karena cerita yu Kasnah sangat mengharukan.

“Sasmi, kalau aku sudah selesai, kabari Pratiwi supaya menjemput ibunya.”

“Ya, aku ganti pakaian dulu Mbak.”

“Ada apa ini, kok di dalam kamar ada kasak kusuk, aku dibiarkan sendirian,” tiba-tiba pak Luminto melongok ke dalam kamar.

“Ini, lagi menikmati pijitan yu Kasnah.”

“Kok bapak nggak disuruh ikutan sih?”

“Kalau Bapak ingin pijit, besok saja. Yu Kasnah capek, sudah memijit dua orang nih.”

“Baiklah. Jangan lupa besok gantian aku ya Yu,” kata pak Luminto sambil berlalu.

***

Ketika Pratiwi menuntun ibunya untuk pulang, tiba-tiba sebuah mobil berhenti.

“Baru pulang, Pratiwi?”

Pratiwi terkejut, ia berhenti karena langkah ibunya juga terhenti.

“Siapa itu?”

“Saya Yu, Roy sama Ardian.”

“Itu kan nama putra-putranya pak Luminto?”

“Iya Bu, ayo kita jalan lagi,” kata Pratiwi yang menarik ibunya untuk jalan.

“Yu, aku antar sampai ke rumah Yu,” kata Ardian yang kemudian turun dan menggandeng tangan yu Kasnah. Ia lebih mendekati yu Kasnah karena jelas-jelas Pratiwi menolak diantar, sore tadi.

“Lho, rumah yu Kasnah itu di mana, kan dekat sih Mas.”

“Biarpun dekat, ini sudah malam. Lebih baik diantar, nanti kalau diculik orang bagaimana?” rayu Ardian sedikit melucu.

“Ayo Bu,” Pratiwi menarik tangan ibunya.

“Ya sudah Wi, bukannya karena ibu kesenengan naik mobil, tapi kasihan anak-anak baik ini, bermaksud baik kok ditolak,” kata yu Kasnah.

“Tuh, ibumu mengerti,” kata Ardian kepada Pratiwi yang melirik sedikitpun kepadanya, tidak.

Tapi ia mengikuti ketika ibunya dibantu naik ke atas mobil, lalu dia duduk di sampingnya, diam membisu karena kesal dipaksa-paksa.

“Rumah hanya dekat saja kok diantar mobil,” gumam yu Kasnah.

“Yu, lain kali kalau ibu atau bapak pengin pijit, aku yang jemput,” kata Roy.

“Aku juga pengin dipijit,” sambung Ardian.

Ada hal aneh yang terjadi pada kedua anak muda itu. Begitu melihat Pratiwi lalu mengurungkan niatnya bersenang-senang, lalu bersemangat untuk mengantar. Siapa sebenarnya Pratiwi? Hanya gadis sederhana yang tak peduli pada penampilan mereka, dan itu membuat mereka penasaran.

***

“Bagus, jam segini sudah pulang, Hal baik harus menjadi kebiasaan,” kata pak Luminto begitu keduanya memasuki rumah.

“Kami kan anak-anak yang patuh, jadi apa yang dikatakan orang tua, pasti kami jalani,” kata Roy yang kemudian mengaduh karena bahunya ditepuk keras oleh kakaknya.

“Aduh, Adrian tuh, kebiasaan deh,” keluh Roy yang tak mau menyebut kakak setelah tahu dirinya sepantaran. Tapi seberapapun selisihnya, Roy tetap lebih muda dari Adrian.

Begitu masuk ke kamarnya, ponsel Roy berdering. Sambil menghentakkan pantatnya di sofa kamar, dia mengangkatnya.

“Hei, kamu pingsan di mana? Kenapa nggak muncul?” teriak salah seorang temannya dari seberang.

“Aku lagi males, nih sudah mau tidur.”

“Gila bener, udah mau tidur? Apa kamu kerasukan?”

“Kamu tuh, kalau ada orang baik malah dikira kerasukan. Nggak usah ngomong lagi, aku benar-benar ngantuk nih.”

“Benar nih, nggak mau datang? Tuh Aira menangis gara-gara nggak ada kamu.”

“Urus saja dia, dan bilang, kalau menangis hilang cantiknya, gitu.”

Suara tawa temannya, dan riuh suara musik menghentak-hentak terdengar, tapi Roy sama sekali tak tertarik. Bahkan Aira yang biasanya selalu nempel dan diladeninya, tak lagi digubrisnya.

“Ya sudah, aku mau tidur, Yuuk,” katanya lalu menguap keras, kemudian ia menutup ponselnya begitu saja. Ketika dia bangkit dan bermaksud masuk ke kamar mandi, Adrian masuk.

“Kamu ditelpon Albert?”

“Sudah, aku bilang, aku ngantuk.”

“Katanya Aira menunggu kamu.”

“Ah, gadis itu terlalu manja, cengeng, pokoknya nggak ada bagus-bagusnya, kecuali bahwa dia cantik. Tapi itu membosankan.”

“Ya sudah, dia menelpon aku, mengira kamu pingsan,” lalu keduanya terbahak.

“Aku mau pinjam charger mu, punyaku entah di mana, ketinggalan di kantor kayaknya.”

“Kebiasaan deh kamu. Kalau tuh kuping nggak menempel di situ, pasti juga sudah ilang dari kemarin-kemarin,” kata Roy sambil mengulurkan charger nya.

“Kalau dipinjemin tuh yang ikhlas, jangan sambil ngomel,” gerutu Adrian.

Tapi sebelum dia beranjak keluar, ponsel Roy berdering lagi.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, January 24, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 01

 

 

SETANGKAI BUNGAKU  01

(Tien Kumalasari)

 

Luminto adalah orang yang sangat beruntung. Dia seorang pengusaha kaya, memiliki dua orang istri yang cantik, tapi hidup serumah dengan sangat rukun.

Istri tua bernama Ratna Arumi memiliki seorang anak laki-laki bernama Adrian Pratama, sedangkan istri muda bernama Sasmi Mutiah, memiliki seorang anak laki-laki pula bernama Roy Adibrata.

Mereka hidup dalam sebuah keluarga, rukun dan saling mengasihi. Kedua anak lelaki Luminto membantu di perusahaan ayahnya. Tapi keduanya memiliki sifat yang agak berbeda. Adrian sangat lembut dan penurut, sedangkan Roy walaupun berhati baik tapi agak tempramental.

Mereka seumuran, karena dulu ke dua istri Luminto hamil bersama-sama, dan lahir dalam jarak hanya satu bulan. Adrian lebih dulu.

Sasmi dan Ratna juga bisa hidup sebagai madu, yang sangat rukun dan membuat banyak orang mengagumi mereka. Mereka juga penuh kasih sayang, dan berbagi tugas dengan seiring sejalan.

“Sasmi, masak apa kita hari ini?”

“Terserah Mbak Ratna saja. Tapi bukanlah kemarin kita menginginkan urap dan ikan goreng? Ikannya sudah siap di freezer tuh.”

“Oh iya, aku lupa. Nanti kamu menggoreng ikannya, aku yang membuat sayur urapnya ya.”

“Siap Mbak, tapi aku mau ke warung sebentar.”

“Beli apa lagi? Katanya sudah lengkap semuanya.”

“Lupa daun jeruk sama kencurnya, aku beli di warung saja dulu ya Mbak. Mbak mau nitip apa?”

“Nggak ah, oh itu … nitip keripik kacang yang di warungnya Pratiwi. Enak sekali dan renyah lho itu.”

“Cocok Mbak, bisa untuk pelengkap lauk nanti.”

“Kalau begitu beli yang banyak Sas, sambil untuk cemilan dong.”

Sasmi tertawa.

“Bagus, aku juga suka. Jangan-jangan malah yang untuk makan nanti habis karena dicemilin oleh kita.”

Kedua nyonya Luminto itu terkekeh bersama.

“Kalau begitu beli yang banyak,” pesan Ratna.

“Siap, aku sudah menyiapkan wadah nih.”

“Tinggalin saja, biar aku bersihkan wadahnya, nanti kalau kamu datang tinggal dimasukkan ke dalam toples ini.”

Sasmi mengacungkan jari jempolnya, kemudian melangkah ke warung Pratiwi.

“Begitu Sasmi datang, ibu-ibu yang kebetulan sedang belanja saling bersahutan menyapanya, karena keluarga Luminto memang terkenal baik hati dan dermawan.

“Tumben belanja di sini Bu,” sapa mereka bersahutan.

“Lho, saya sering belanja di sini kok ya, Tiwi,” kata Sasmi kepada Pratiwi.

“Iya, kadang-kadang bu Sasmi atau bu Ratna juga belanja di sini kok.”

“Ini Wi, aku cuma mau beli bumbu dapur.”

“Oh iya Bu, ini sudah bungkusan. Cuma ini Bu?”

“Iya, yang ada kencur sama daun jeruknya ya?”

“Ada Bu, lengkap isinya. Ada salam, laos, kunyit, kencur, daun jeruk, sereh.”

“Ya sudah, ini saja. Berapa Wi?”

“Cuma dua ribu saja.”

“Baiklah, aku ambil dua,” kata Sasmi sambil memberikan uang lima ribuan.”

“Kembaliannya Bu.”

“Sudah, biarin saja. Ibu-ibu, maaf saya mendahului ya.”

“Ya Bu, nggak apa-apa, sahut mereka hampir bersamaan. Tapi kemudian Sasmi kembali lagi.

“Ada yang lupa Wi. Keripik kacangnya ada?”

“Ada Bu, baru saja di kirim.”

“Aku beli sepuluh bungkus ya,” kata Sasmi sambil meletakkan uang lima puluhan ribu.

Sasmi memasukkan keripik yang di belinya kedalam tas yang disediakan oleh Pratiwi,  kemudian berlalu.

“Wi, kembaliannya biar saja dulu. Nanti sore aku ingin pijit sama ibumu. Bisa kan kamu mengantarkan ?”

“Bisa Bu, setelah Isya ya Bu.”

“Ya, sudah lama pengin dipijit,” kata Sasmi sambil berlalu, setelah melambaikan tangannya kepada ibu-ibu yang sedang belanja.

“Banyak bener keripiknya,” celetuk Ratna sambil membuka salah satu bungkus keripiknya, kemudian mencomot isinya.

“Katanya suruh yang banyak, sambil di cemil-cemil.”

“Iya benar. Biar aku taruh di toplesnya saja semua. Itu bumbu urap sudah aku siapkan. Ikannya sudah aku keluarkan dari freezer.

“Baik Mbak, kita masak sebentar lagi, kayaknya keripik ini minta disantap terlebih dulu.”

Lalu keduanya terkekeh sambil menikmati keripik kacang yang baru dibeli.

***

Di kantor, sudah saatnya makan siang. Pak Luminto selalu mengajak kedua anaknya makan di luar. Tapi kali ini ia ingin makan di rumah bersama-sama.

Saat memberi tahu ke rumah, Sasmi dan Ratna menjadi sibuk menyiapkan makan siang, karena tak mengira suami dan anak-anak mereka akan pulang makan. Tapi untunglah, begitu mereka datang, semuanya sudah siap.

“Hm, masak apa ibu hari ini?” tanya pak Luminto.

“Mbak Ratna masak urap sayur yang segar.”

“Woow, pasti enak.”

“Sasmi menggoreng ikan. Pokoknya semua ditanggung enak. Ayo silakan semuanya, seneng bisa makan rame—rame,” kata Ratna dengan gembira.

“Ini urap buatan Ibu, selalu enak. Dan goreng ikannya, juga sedap,” kata Roy sambil menambah nasi di piringnya.

“Besok, kalau kamu punya istri, cari yang pinter masak seperti ibu-ibu kita ini,” kata Adrian.

“Kok aku? Kamu duluan dong, kan kamu lebih tua,” sergah Roy..

“Aku belum punya pacar, kamu tuh, yang teman perempuannya banyak.”

“Eeh, kata siapa? Mereka yang ngedekatin aku, bukan aku yang mau ya … “

“Anak Bapak ganteng, tentu saja banyak gadis yang suka,” celetuk pak Luminto.

“Tapi Adrian kan lebih tua Pak. Segera kawinin dia Pak,” kata Roy.

“Iya, tapi bapak serius nih, kalian itu sudah saatnya menikah. Segera pilih, mana gadis yang kalian suka. Jangan hanya bersenang-senang saja.”

“Kan Adrian yang lebih tua, Pak,” jawab Roy.

“Kalian itu hanya terpaut sebulan, jadi bersama-sama juga boleh, mau Roy dulu atau Adrian dulu ya tidak ada salahnya.

Kedua istri yang duduk berdampingan hanya saling pandang dan tersenyum-senyum mendengar perbincangan mereka.

“Aku sih belum ingin …” kata Roy.

“Aku apalagi.”

“Kamu itu nungguin apa sih Nak, kelamaan, tahu. Bapak sama ibu-ibu kamu itu sudah pengin jadi kakek dan nenek.”

“Eh, jangan dulu jadi nenek-nenek Bu. Ibu kan cantik-cantik semua, kalau cepet-cepet jadi nenek bisa hilang dong cantiknya.

“Kata siapa bisa hilang? Naruhnya juga di sini-sini juga kok bisa hilang,” kata Ratna.

“Tuh, ibu bercanda kan. Aku bilang tuh serius. Ibu-ibu itu akan hilang cantiknya kalau sudah jadi nenek,” sambung Roy.

“Nggak bener kalian itu. Ibu-ibu kalian itu, biarpun jadi nenek seribu kali, juga tetep saja cantik,” sergah sang bapak.

“Tuh, kalau bukan suaminya siapa lagi yang mau ngebelain,” sambung Adrian.

“Bapak tuh ngajakin kita makan siang di rumah, ternyata hanya untuk berbicara tentang jodoh,” seru Roy sambil memasukkan suapan terakhirnya.

“Benar,” sambung Adrian.

“Kalian itu memang sudah dewasa, benar apa yang bapak katakan, bahwa sudah saatnya kalian memilih jodoh yang baik untuk kalian, jangan hanya bersenang-senang saja dengan banyak gadis,” kata Ratna.

“Iya benar, nggak bosan apa, gonta ganti pacar setiap saat,” sambung Sasmi.

“Yeee, Ibu, kata siapa kita gonta ganti pacar. Kita belum pernah pacaran lhoh,” kata Roy.

“Nah, justru karena hanya berteman, senang-senang ke sana-kemari, itu yang kurang bagus. Akhirnya kalian tidak memikirkan diri sendiri untuk masa depan kalian, ya kan?” kata Ratna lagi.

“Dengar tuh, kata ibu kalian.”

“Iya deh, mulai nanti kita akan cari pacar ya Roy?”

“Setuju.”

“Heei, siapa suruh cari pacar, cari istri. Pacaran itu nggak bagus,” kata ayahnya.

Adryan meleletkan lidahnya, dan Roy hanya mengangguk-angguk.

“Ya sudah, kita harus segera kembali ke kantor, aku ada janji sama klient jam dua ini,” kata Adrian yang menjabat sebagai manager pemasaran di kantornya.

“Baik, kita sudah selesai. Ikan di meja juga sudah berenang di dalam perut kita masing-masing, jadi saatnya kita kembali ke kantor,” kata Roy.

***

“Ikan itu kan harusnya untuk persediaan makan malam, Sekarang tinggal satu potong. Apa aku beli dulu ke pasar Mbak.”

“Nggak usah, masak yang lain saja. Yang sudah ada di persediaan. Besok pagi saja kita belanja semua kebutuhan dapur.”

“Baiklah, kalau begitu, Tapi sekarang aku ngantuk. Oh ya, aku tadi pesen sama Pratiwi, agar mengantarkan yu Kasnah kemari setelah Isya.”

“Oh, mau pijat?”

“Iya, sudah lama nggak pijat Mbak, lagi pula kangen sama yu Kasnah, ceritanya banyak.”

“Kamu seperti anak kecil saja, suka mendengar dongeng.”

Iya, habis dongengnya bagus-bagus. Sampai ketiduran kalau dipijit sambil mendengarkan dongeng.”

“Kalau begitu aku juga mau deh.”

“Tuh kan, tertular kangennya sama yu Kasnah.”

“Sambil pengin ngasih apa, gitu lho Sas. Yu Kasnah itu kan buta, penghasilannya memijit ke sana-kemari juga tidak banyak. Biarpun Pratiwi membantu jualan sayur, pasti hidupnya juga pas-pasan.”

“Kasihan Pratiwi juga, masih muda harus membanting tulang untuk menghidupi ibunya yang buta dan adiknya yang masih sekolah.”

“Pratiwi itu lulusan apa sih? SMP ya?”

“Sepertinya sampai SMA kok. Nanti Mbak tanyakan deh, kalau orangnya ada.”

“Ya sudah, kamu tidur saja sana, katanya ngantuk?”

“Iya, aku tidur sebentar ya Mbak. Bangunin kalau aku sudah satu jam.”

“Iya, kalau aku tidak ikut ketiduran.”

“Wah, Mbak Ratna itu ada-ada saja. Aku bunyikan alarm deh.”

***

“Ibu makan dulu, Pratiwi sudah masak nih.”

“Masak apa, jam berapa ini, kok sudah nawarin makan?”

“Ini sudah jam satu Bu.”

“Sayuran sudah habis semua?”

“Sudah, tadi memang Pratiwi tidak belanja terlalu banyak, soalnya akhir-akhir ini agak sepi.”

“Sepi ya?”

“Sejak di kampung sebelah ada juga yang buka jualan sayur, pelanggan Tiwi agak berkurang, hanya yang dekat-dekat sini saja.”

“Ya sudah, namanya rejeki itu, sedikit atau banyak harus disyukuri. Tidak apa-apa, yang penting kita masih bisa makan, dan adikmu Nano, bisa sekolah.”

“Iya Bu.”

“Semoga masih ada yang mau mempergunakan tenaga ibu. Walaupun tukang pijit, tapi sedikit banyak kan bisa membantu kebutuhan rumah dan sekolah adikmu.”

“Iya Bu. Malah jadi ingat. Malam nanti ibu dipanggil bu Sasmi. Pengin dipijit, katanya.”

“Oh ya? Syukurlah, uang ibu juga sudah menipis, sementara Nano sudah saatnya bayar sekolah lagi.”

“Tiwi juga sudah menyisihkan uang untuk Nano kok Bu, simpan saja dulu uang Ibu.”

“Ibu itu kasihan sama kamu. Masih muda, jadi kehilangan masa muda kamu karena harus melanjutkan pekerjaan ibu dulu, jadi tukang sayur. Habis mau bagaimana lagi, setelah kecelakaan itu dan ibu menjadi buta, tak bisa lagi berjualan. Untunglah ibu bisa memijit dan terkadang kerikan juga. Jadi bisa untuk mencukupi kebutuhan.”

“Iya Bu. Ya sudah, sekarang ibu makan dulu.”

“Kamu masak apa, baunya seperti gudeg?”

“Bukan bu, sayur lodeh keluwih, sama goreng ikan asin.”

“Enak tuh. Ayo kamu makan sekalian.”

“Tiwi menunggu Nano pulang sekolah. Sekarang menemani ibu makan dulu. Kalau tidak ditemani, Nano itu makan sesukanya. Buru-buru pengin main sama teman-temannya.”

“Ya sudah, tapi nanti dikasih tahu dia, jangan terlalu banyak main, nanti pelajaran sekolahnya terganggu. Ibu ini biarpun tidak sekolah apalagi buta, tetap pengin anak-anak ibu mengecap bangku sekolah. SMA saja untuk orang seperti kita sudah cukup. Ya kan?”

“Iya Bu, semua harus disyukuri,” kata Tiwi yang sebenarnya ingin melanjutkan kuliah, tapi berhubung tidak ada biaya, lalu terpaksa melanjutkan pekerjaan ibunya berjualan sayur. Ayahnya sudah lama meninggal, jadi Pratiwi harus membantu mencukupi kebutuhan, apalagi adiknya, Nano, masih kelas lima SD dan sedikit banyak juga membutuhkan biaya.

***

Sore hari itu, setelah makan malam, Sasmi duduk di teras bersama Ratna, menunggu kedatangan yu Kasnah si tukang pijit yang dipanggilnya.

Adrian dan Roy sudah bersiap mau keluar, karena besok hari libur.

“Mau kemana?” tanya pak Luminto.

“Keluar sebentar pak,” jawab keduanya, kompak.

“Ingat kata bapak ya, kurangi kegemaran kalian keluar malam, hanya untuk bersenang-senang.”

“Iya Pak, bukankah Bapak ingin kami segera punya pacar?” kata Roy.

“Tidak. Bukan pacar, tapi istri,” tandas pak Luminto.

“Tuh, Roy selalu salah mengartikan apa kata Bapak,” sambung Adrian.

“Iya, ini kan juga sambil lihat-lihat Pak, barangkali ada yang cocok dijadikan istri.”

Keduanya mendekati sang ayah, lalu mencium tangannya, sebelum bersama-sama melangkah pergi.

“Ya sudah, sana … jangan malam-malam, pulangnya.”

“Okee,” teriaknya hampir bersamaan.

Mereka sudah sampai di teras, tapi tiba-tiba, ia melihat dua sosok berjalan memasuki halaman. Dan tiba-tiba pula, karena tersandung atau apa, keduanya jatuh tertelungkup di tanah.

“Eh, itu yu Kasnah,” teriak Ratna dan Sasmi, sedangkan Adrian dan Roy segera membantu membangunkan mereka.

“Pratiwi?” seru keduanya begitu melihat siapa salah satu yang ditolongnya.

***

Besok lagi ya.

Saturday, January 21, 2023

KANTUNG BERWARNA EMAS 41

 

KANTUNG BERWARNA EMAS  41

(Tien Kumalasari}

 

Bu Candra menundukkan wajahnya. Masih belum masuk dalam angannya, saat menyadari bahwa suaminya mengetahui tentang pak Biso. Dukun yang dimaki-makinya seharian ini karena dianggap menipu,  tapi kemudian dia tak berani protes karena takut disanthet. Karina lah yang menakut-nakutinya.

“Kamu ini sedari tadi diam, tidak mendengar pertanyaan aku, atau tidak mau mendengar. Sekali lagi aku bertanya, siapa laki-laki bernama Biso dan mengapa kamu menemuinya? Angkat wajahmu, jangan menunduk terus begitu. Kamu kan tidak perlu takut kalau memang tidak bersalah, ya kan?”

Bu Candra mengangkat wajahnya, menatap suaminya dengan pandangan ketakutan. Ia kembali menundukkan wajahnya, lalu terkejut ketika sang suami menghardik lebih keras.

“Siapa Biso, dan kenapa kamu menemui dia?”

“Dia … bukan siapa-siapa …” jawabnya terbata.

“Kenapa kamu menemuinya?”

“Hanya karena kebetulan, pernah kenal, kebetulan bertemu.”

“Oh ya? Mengapa kamu memberinya uang? Lalu pergi berdua, kemana? Aku tidak peduli kalau kamu slingkuh, tapi ini lebih dari itu.”

Bu Candra semakin kaget mendengar tentang uang yang diberikan. Kenapa dia bisa tahu?

“Jawab. Lalu kamu bohong dengan mengatakan bahwa kamu kecopetan, ya kan?”

“Maaf.”

“Maaf untuk yang mana? Yang pura-pura kecopetan atau yang punya maksud buruk dengan menemui dukun itu?”

Bu Candra benar-benar gemetar. Suaminya tahu semuanya. Tentang Biso, tentang uang yang diberikan, bahkan bahwa Biso adalah dukun? Apa dia juga tahu apa yang dilakukannya di rumah dan apa maksudnya?

“Aku tidak punya banyak waktu untuk kamu, karena pekerjaan aku banyak. Tapi aku butuh kepastian. Untuk itu, aku minta kamu bicara terus terang, apa yang kamu lakukan dengan menemui dukun itu. Kamu ingin menyanthet seseorang? Ah, ya … bau tidak enak yang tercium pagi tadi, bahkan di kamar anak-anak, apa ada hubungannya dengan Biso si dukun itu?”

Bu Candra gemetar yang benar-benar gemetar, sampai-sampai pak Candra melihat tangan dan kakinya yang menampakkan hal itu.

“Aku hitung sampai tiga, ada dua pilihan untuk kamu. Mengatakan terus terang tentang semuanya, atau aku lapor polisi supaya polisi yang memaksa kamu bicara,” ancam pak Candra.

Bu Candra mengangkat wajahnya, matanya mulai digenangi cairan bening yang nyaris tertuang membasahi pipi.

“Satu … dua …”

“Akan aku ceritakan semuanya.”

“Cepat, dan awas jangan ada yang terlewatkan, termasuk aroma tak sedap pagi tadi, ada hubungannya atau tidak.”

“Sesungguhnya aku tidak bermaksud jahat.”

“Oh ya? Cepat katakan.”

“Aku hanya ingin, agar Rian dan Nurani bersatu.”

Pak Candra mengerutkan keningnya.

“Bukankah kamu pernah memintanya dan aku tidak mau menerimanya? Pikiran macam apa itu? Oh ... ya, ini hubungannya dengan harta bukan? Supaya harta keluarga Candra tidak jatuh ke tangan orang lain. Apa kamu pikir, seandainya aku mau, maka anak-anak itu bersedia menjalaninya? Lalu apa upaya kamu untuk bisa tercapai mimpi bodohmu itu.”

“Aku menemui dukun itu, untuk membuat Rian dan Nurani melakukan hal yang bisa membawanya ke pelaminan.”

“Apa maksudmu melakukan hal yang bisa membawanya ke pelaminan?”

“Misalnya karena lupa segalanya, lalu _”

“Lalu kamu akan menjebaknya, dan memaksa aku untuk menikahkannya?”

“Iya.”

“Kamu berhasil? Maksudku, apa dukun itu berhasil?”

“Tidak.”

“Apa hubungannya dengan bau pesing itu?”

“Aku tidak tahu. Aku juga heran.”

Lalu bu Candra menceritakan tentang air yang diberikan, yang harus dimasukkan ke kamar kedua anaknya. Tapi ternyata tak terjadi apa-apa.

“Mungkin karena tiba-tiba air itu berbau pesing, entahlah. Atau memang dukun itu berbohong. Ketika pagi aku mau membuangnya, aku terjatuh di depan kamar mandi belakang, dan air pesing itu mengguyur seluruh tubuhku.”

Pak Candra terdiam untuk beberapa saat, tapi matanya menyinarkan kemarahan yang sudah sampai dipuncaknya.

“Tadinya aku mengira kamu sudah sadar, lalu mulai memperbaiki peri laku kamu. Aku hampir percaya. Tapi kemudian aku menyesal telah menuruti permintaan Nurani, agar aku tidak menceraikanmu. Aku salah, Nurani juga tidak peka atas sikap baik yang kemudian kamu tunjukkan. Kamu tetap wanita jahat yang merusak ketenangan di rumah ini.”

“Maafkanlah aku,” Bu  Candra benar-benar menangis, sangat memelas.

Tapi pak Candra bergeming.

“Bersiaplah, karena aku akan segera mengurus perceraian kita.”

“Jangaan. Mohon ampunilah aku. Aku bertobat. Sungguh.”

Pak Candra berdiri, lalu meninggalkan bu Candra untuk kembali ke kantor.

***

Bu Candra menangis mengguguk, sambil bersimpuh di lantai. Sebentar kemudian kakinya menendang-nendang, tanpa ada sesuatu yang ditendang.

Sang suami tampak serius, benar-benar akan menceraikannya. Siapa yang akan membelanya?

Lalu diambilnya ponselnya, kemudian ditelponnya Rian. Tapi lama sekali Rian baru menjawab, itupun dengan jawaban kesal karena pekerjaannya terganggu.

“Ada apa Bu, Rian sedang sibuk nih.”

“Rian, bapakmu mau menceraikan ibu,” tangisnya.

Rian terkejut, tapi kemudian dia mengerti. Pasti ibunya melakukan kesalahan lagi. Sedih sekali, ketika menyadari bahwa ibunya tak benar-benar menyesali perbuatannya, kemudian memperbaikinya.

“Rian, kamu tak mendengar kata-kata ibu?”

“Ibu melakukan apa?”

“Sebenarnya tidak terlalu berat. Tapi bapakmu tak mau memaafkan ibu.”

“Ya sudah, ini Rian sedang sibuk sekali, jadi tak bisa bicara banyak. Tapi satu yang harus ibu tahu, bahwa kalau bapak memutuskan itu, pasti ibu melakukan kesalahan. Apalagi untuk kesekian kalinya. Pasti sulit memaafkan. Dan kalau itu benar-benar terjadi, mohon maaf, Rian tak akan bisa membantu.”

“Riaaan,” pekiknya. Tapi Rian sudah menutup ponselnya.

Bu Candra kembali menangis menggerung-gerung.

 Lalu ia ingat apa yang dikatakan suaminya tadi, bahwa dulu pernah ingin menceraikannya, tapi Nurani mencegahnya. Apakah sekarang Nurani bisa menolongnya?

Dihubunginya nomor Nurani, tapi lama sekali tidak diangkat. Bu Candra sudah mulai putus asa. Rasanya tak ada yang bisa dilakukannya. Kalau dia menemui Karina, lalu Karina bisa apa? Apalagi tidak sembarang waktu bisa menemuinya.

Bu Candra sudah lelah menangis. Ia menuju ke dapur, belanjaan yang diletakkannya di meja dapur tidak disentuhnya. Ia hanya duduk di kursi sambil terus membayangkan kegagalannya. Tapi tak lama kemudian ponselnya berdering. Dari Nurani. Rupanya Nurani baru bisa menghubunginya. Harapan bu Candra timbul kembali.

“Ya nak,” jawabnya lemah.

“Ada apa Ibu menelpon? Tadi Nurani sedang mengikuti kuliah. Sebentar lagi ujian kenaikan tingkat. Ada apa Bu?”

“Nur, tolong ibu Nur,” rintihnya.

“Memangnya Ibu kenapa?”

“Ayahmu mau menceraikan ibu,” sekarang ucapannya diiringi isak.

Nurani terdiam. Tadi pagi seperti tak ada celetukan apapun dari ayahnya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

“Tolong ibu Nur. Aku mohon.”

“Apa yang bisa saya lakukan Bu?”

“Bujuk ayahmu Nak, jangan sampai ibu diceraikan. Ibu benar-benar bertobat. Ibu akan melakukan hal terbaik untuk keluarga. Sungguh, aku bersumpah.”

“Saya tidak mengerti apa yang terjadi, Bu.”

“Ibu hanya ingin menyatukan kamu dan Rian, cara ibu salah," lanjutnya.

“Bu, saya tidak bisa bicara banyak, nanti Nur akan bicara sama bapak, setelah pulang kuliah. Ini sedang ada kelas. Maaf Bu.”

“Nur, tapi kamu mau menolong ibu kan?”

Tapi Nurani sudah mematikan ponselnya.

Bu Candra menjatuhkan kepalanya di meja dapur. Nurani berjanji akan bicara sama ayahnya, tapi apakah kali ini akan berhasil? Mulut bu Candra berkomat-kamit melantunkan doa. Tapi apa semuanya belum terlambat? Sudah lama dia melupakan Tuhan.

***                                                             

Pak Candra terkejut ketika tiba-tiba Nurani muncul di kantor.

“Ada apa kamu ke sini?”

Nurani duduk di kursi depan ayahnya. Pak Candra menghentikan kesibukannya.

“Apa yang terjadi?” tanya Nur.

“Apa yang kamu tanyakan?”

“Bapak mau menceraikan ibu?”

Pak Candra menyandarkan tubuhnya, menatap tajam Nurani.

“Jangan bilang bahwa kamu mau mencgah keinginan bapak. Kali ini tidak, dan tidak.”

“Ada apa?”

Di sudut sana, Andre menatap punggung Nurani, gadis luar biasa yang sangat dikaguminya. Apakah dia akan merayu ayahnya kembali agar mengurungkan niatnya menceraikan sang istri? Hatinya penuh rasa maaf. Terkadang membuat kesal juga kan.

“Dia hampir saja mencelakai kamu dan Rian.”

“Nurani dan Rian? Bukankah mas Rian itu anak kandungnya? Dicelakai?”

Lalu dengan gamblang pak Candra menceritakan semuanya, bahkan apa yang sudah diakui oleh ibunya. Dan hubungannya dengan bau pesing yang semalam memenuhi kamarnya.

“Sekarang kamu mengerti? Dia tak pernah bisa memperbaiki tingkah lakunya. Tidak, dan kamu tidak usah mencegah bapak. Surat cerai sudah diurus hari ini juga,” kata pak Candra tandas.

Nurani terdiam lemas. Bukan karena tak berhasil mencegah kemauan ayahnya, tapi membayangkan kalau dia dan Rian sampai melakukan hal terkutuk karena jebakan seorang dukun. Lalu terpikir olehnya, betapa susahnya meluruskan hati yang bengkok.

***

“Hei, mau ikut tidak?” Nurani terkejut ketika ayahnya mengacak kepalanya.

Rupanya dia masih termenung di sofa kantor ayahnya, sedangkan Andre dan ayahnya sudah berdiri menunggunya. Dia sungguh tak mendengar ketika sang ayah dan Andre mengajak makan siang diluar.

“Ke … mana?” jawabnya gugup.

“Kamu tadi ketiduran?” tanya ayahnya sambil tertawa.

“Iya, eh … tidak Pak,” jawab Nurani tersipu.

“Mau makan tidak?”

“Oh iya, lapar,” katanya sambil berdiri.

Andre dan pak Candra tertawa.

“Kamu jangan terlalu memikirkan orang jahat itu. Mulai sekarang dia bukan ibumu. Ada kalanya orang harus bersabar, harus mengerti, tapi semua kan ada batasnya. Apa tidak kasihan pada ayahmu ini. Capek, tahu. Dihari tua seperti ini, harus banyak pikiran, harus khawatir setiap saat, bahkan marah-marah tanpa bisa dicegah,” kata pak Candra sambil melangkah keluar kantor bersama-sama.

Nurani mengangguk.

“Kamu bisa mengerti kan?”

“Iya, Nurani mengerti.”

“Nah, sekarang saatnya bapak memikirkan pernikahan Rian, kemudian kamu.”

“Aaap …pa?”

“Kamu sudah cukup dewasa, dan aku yakin Andre akan tetap mengijinkan kamu meneruskan kuliah, walaupun kamu sudah menjadi istrinya.”

Nurani berdebar. Berarti akan ada pemaksaan kehendak nih. Harus segera menikah, walau sambil kuliah. Bisakah Nurani menjalaninya?

***

“Rian, aku minta maaf,” kata pak Candra sore itu ketika Rian pulang dari bekerja.

“Iya Pak, Bapak sudah menceritakan semuanya, dan saya mengerti.”

“Aku akan memberikan rumah kecil untuk ibumu, dan uang belanja ala kadarnya, setelah kami berpisah. Ini sudah aku pikirkan. Apa kamu bisa mengerti atas keputusan bapak ini? Aku tahu, kamu pasti sedih, tapi ini hal terbaik yang harus bapak lakukan. Bapak sudah tua dan lelah, tidak seharusnya banyak memikir hal yang berat. Misalnya selalu khawatir dan selalu marah-marah.”

“Saya mengerti Pak.”

“Kamu tetap anakku. Katakan kapan harus melamar gadis itu, dan tentukan hari pernikahan kalian. Bapak tidak akan mengingkari kewajiban bapak sebagai orang tua kamu.”

“Terima kasih Pak,” kata Rian yang bagaimanapun tak bisa menyalahkan ayah sambungnya.

***

Hari berjalan sangat cepat. Amirah sudah pergi dari rumah ketika Rian melamar Siswati. Amirah bahkan tak hadir ketika Rian menikah. Walau begitu, pak Candra meminta agar Rian dan calon istrinya tetap mendatangi ibunya dan meminta restunya. Perilaku buruk tidak akan menghilangkan status seseorang, antara ibu dan anak. Rian anak baik, ia tetap menghormati ibunya. Siswati juga anak baik, yang tetap menganggap Amirah sebagai mertuanya.

***

“Ibu, ini Nurani.” Kata Andre sambil mengajak Nurani mendekati ibunya yang hadir pada hari pernikahan Rian. Nurani mengulurkan tangannya, disambut calon mertuanya dengan wajah berbinar. Lalu Nurani menciumnya lembut. Ia dengan pakaian Jawa yang anggun, tampak seperti putri dari atas angin, yang melenggang bak bidadari. Senyumnya adalah sinar yang menerangi jiwa setiap yang menatapnya.

“Nurani, kamu cantik sekali,” puji calon mertuanya.

“Terima kasih Bu,” lalu Nurani duduk di sampingnya, menemani menikmati acara pesta yang diadakan pak Candra dengan sangat meriah.

Andre menatap dua wanita yang dicintainya itu dengan tatapan bahagia. Akhirnya Nurani sadar, Andre adalah laki-laki baik yang pantas menjadi pendampingnya. Akhirnya Nurani sadar, bahwa debar dadanya setiap berdekatan dengannya adalah isyarat sebuah cinta.

“Kapan aku boleh melamar kamu?” bisik Andre di dekat telinga Nurani.

Nurani menatapnya lembut.

“Dengan satu syarat,” kata Nurani.

“Aku ijinkan kamu menyelesaikan study kamu. Mengapa tidak?”

Nurani mengangguk bahagia. Alangkah sederhana munculnya sebuah cinta yang tersembunyi di relung hati.

Namun ketika ia memeluk Rian sebagai ucapan selamat, ada juga sendu yang melintas.

“Nur, kamu tidak akan kehilangan aku,” kata Rian.

“Aku yang akan selalu menjaganya,” sambung Andre bahagia.

Dan kedua laki-laki yang disayangi Nurani walau dengan makna yang berbeda itu berpelukan erat.

 Tiba-tiba, " Meaauuuuw...."

Nurani terkejut, si Pusy mengangkat kedua kakinya, lalu ia mengerti. Pusy juga ingin mengucapkan selamat. Nurani mengangkatnya, dan Rian memegang kedua kakinya sambil tertawa. 

"Terima kasih Pusy, teruslah menjaga Nurani."

***

                                  T A M A T

 

 

Dua laki-laki tampan berhadapan dengan tatapan tajam. Masing-masing merasa benar, dan berhak memiliki.

“Aku mencintainya.”

“Aku lebih dulu mencintainya. Jangan sampai ada darah menetes diantara kita,” yang satu menjawab, disertai ancaman.

Ada kisah mengharukan di sini.  SETANGKAI BUNGAKU. Tungguin.

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...