SETANGKAI BUNGAKU
03
(Tien Kumalasari)
Roy mengeluh, ia mengulurkan ponselnya ke arah Ardian,
yang diterima Ardian dengan bingung.
“Apa nih?”
“Dari Aira, tolong diterima dong.”
“Kenapa kamu ini? Terima saja, kan kamu yang ditelpon,”
sergah Ardian sambil mengembalikan ponsel ke tangan Roy.
“Ya ampun Mas, tolong dong.”
“Yah, kalau ada maunya saja baru panggil ‘mas’.
“Bener nih, aku lagi segan bicara dengan gadis kolokan
seperti Aira. Aku turuti sekali, lama-lama nglunjak dia.”
“Hallo,” sapa Ardian pada akhirnya.
“Ini Roy?” suara dari seberang, agak cedal. Ardian
mengira, Aira pasti sedang mabuk.
“Bukan, aku Ardian. Kenapa?”
“Mana Roy? Aku mau Roy.”
Ardian menatap Roy, tapi Roy menggoyang-goyangkan
tangannya.
Ardian melotot kesal.
“Aira, Roy sudah tidur.”
“Mengapa tidur, masih sore, aku tungguin tadi.”
“Dia … agak nggak enak badan.”
“Aku ke rumah ya?”
“Apa?” jawab Ardian terkejut. Kalau benar Aira datang,
apalagi dalam keadaan mabuk, maka ayah mereka akan murka.
“Aku mau Roy …” rengek Aira.
“Maaf Aira, keluarga kami sudah pada tidur. Kami tidak
bisa keluar.”
“Aku mau datang.”
“Tidak bisa, maaf. Ayahku melarang seorang gadis
mendatangi laki-laki. Jadi tolong besok saja biar Roy menemui kamu, ya.”
“Aku mau Roy,” Aira merintih. Merinding bulu kuduk
Ardian. Aira benar-benar mabuk, dan itu mengerikan baginya.
“Jangaaan.” Jawab Ardian langsung menutup ponselnya.
“Kenapa dia?”
“Mau nekat datang kemari.”
“Gadis gila.
Apa gerbang sudah ditutup?”
“Aku nggak tahu,” kata Ardian sambil mengangkat bahu.
Roy segera keluar dari kamar, memeriksa gerbang rumah
mereka, dan merasa lega karena rupanya gerbang itu sudah terkunci.
Roy kembali ke kamarnya, membersihkan diri, lalu berusaha tidur.
Tiba-tiba dia muak dengan pergaulan bersama teman-temannya. Tadinya hanya ingin
bersenang-senang bersama mereka, tapi ternyata semakin tenggelam ke dalamnya,
bentuk pergaulan itu semakin tampak membosankan. Roy dan Ardian tidak muda
lagi. Benar kata ayahnya, mereka sudah pantas memilih seorang gadis untuk
dijadikan istri. Lalu tiba-tiba wajah Pratiwi yang sederhana melintas.
“Apa aku sudah gila? Mengapa membayangkan Pratiwi? Mengapa tiba-tiba dia muncul saat aku sedang kesal terhadap Aira yang kolokan dan menyebalkan?” gumamnya.
Ia menutupi wajahnya dengan bantal, berusaha
menghilangkan bayangan gadis sederhana tapi cantik, dan memiliki mata seindah
bintang.
Tapi Pratiwi hanyalah anak yu Kasnah, wanita buta yang
bekerja sebagai tukang pijit. Pantaskan dia memujanya? Ah, tidak. Itu hanya
rasa penasaran karena gadis itu begitu ketus dan tak mau sedikitpun berpaling
ke arahnya.
Roy terus bertanya-tanya sampai kantuk menerbangkannya
ke alam mimpi.
***
Keluarga Luminto makan pagi sebelum berangkat ke
kantor. Pak Luminto memuji-muji kedua anaknya yang semalam tidak begadang
sampai larut.
“Itu bagus. Kalian bukan anak-anak muda yang masih
suka berhura-hura. Semuanya sudah berakhir, dan saatnya kalian memikirkan masa
depan,” kata ayahnya sambil menikmati nasi opor masakan kedua ibunya.
Keduanya diam saja, hanya tersenyum-senyum mendengar
ucapan ayahnya.
“Apa Bapak nanti malam mau pijit?” tiba-tiba Ardian
nyeletuk.
“Kok kamu tahu?”
“Ardian mendengar dari yu Kasnah.”
“Oh, iya. Semalam kedua ibu kamu sudah dipijit yu
Kasnah, nanti giliran bapak.”
“Aku juga mau,” tiba-tiba Ardian dan Roy berteriak
hampir bersamaan.
“Apa sih kalian ini? Masih muda suka pijit. Nggak
pantas, tau,” kata Ratna.
“Kok nggak pantas sih Bu, kami juga kadang-kadang kan
capek,” kata Ardian.
“Betul,” sergah Roy.
“Ya sudah, nanti setelah bapak, kalian boleh pijit.
Tapi bayar sendiri ya,” canda pak Luminto.
“Beres,” kata Ardian dan Roy bersama sama.
“Ini kok tumben kompak amat sih?” sela Sasmi
“Harus kompak dong Bu, kalau kami bertengkar, nanti
ibu marah.”
“Nggak boleh, sama saudara sendiri bertengkar. Salah
satu harus mengalah,” sambung Sasmi.
“Bagaimana kalau … itu … tentang … seorang gadis?”
“Maksudnya, kalian berdua menyukai seorang gadis yang
sama?” tanya Ratna.
“Itu kan hanya misalnya Bu, serius amat,” kata Roy.
“Kalau benar begitu, tetap saja salah satu harus
mengalah,” kata Sasmi.
“Jangan sampai kalian memperebutkan seorang gadis.
Dunia begini luas, kenapa harus berebut?”
“Nggak Pak, kami hanya bercanda.”
“Nanti yu Kasnah biar aku saja yang menjemput,” kata
Ardian tiba-tiba.
“Kenapa harus dijemput? Nanti ibu telpon Pratiwi,
pasti dia sudah mengantarkan ibunya ke sini.”
Tiba-tiba ponsel Roy berdering, tapi Roy
membiarkannya. Ada temannya yang menelpon, pasti hanya akan memarahinya karena
tidak datang di pesta itu.
“Angkat dong Roy, siapa tahu penting,” kata pak Luminto.
Roy berdiri dan menerima telponnya di luar ruang
makan, takut merusak suasana makan yang hangat itu.
“Ya, ada apa?” katanya menyambut panggilan itu.
“Aira meninggal,” suara dari seberang.
“Apa??” Roy berteriak. Adrian sampai melongok ke arah
dimana Roy menerima telpon.
“Semalam menelpon aku, tapi yang menerima Ardian.”
“Dia pulang dalam keadaan mabuk, mobilnya masuk ke
kali, dia luka parah, tak tertolong.”
“Ya Tuhan, anak itu.”
“Sekarang masih di rumah sakit, kamu tidak ingin
melihatnya?”
“Aku ke kantor dulu, nanti aku ijin sebentar untuk
melihatnya,” kata Roy sambil menutup ponselnya.
Ardian menatap Roy ketika adiknya itu sudah kembali
duduk.
“Ada apa? Mengapa kamu berteriak?”
“Aira meninggal.”
“Apa?” sekarang Ardian yang berteriak.
“Semalam pulang dalam keadaan mabuk, mobilnya masuk ke
sungai. Sekarang masih di rumah sakit,” kata Roy yang kemudian mengakhiri makan
paginya. Selera makannya lenyap tiba-tiba.
“Semalam ingin bertemu kamu. Tapi suaranya waktu itu
sudah seperti orang mabuk berat.”
“Siapa Aira itu? Gadis bukan? Mabuk? Bagaimana seorang
gadis bisa mabuk-mabukan? Teman kalian? Pacar siapa? Roy atau Ardian?”
“Bukan pacar siapa-siapa Pak, hanya teman. Tapi Aira itu
suka sama Roy. Semalam menelpon, Roy tidak mau menerimanya.”
“Kalian selama ini bergaul dengan gadis-gadis semacam
itu? Dan lihat apa akibatnya. Mabuk, mengendarai mobil, lalu kecelakaan dan
kehilangan nyawa,” omel pak Luminto.
“Semalam kami sudah memutuskan untuk tidak bergaul
dengan mereka lagi Pak, itu sebabnya kami sudah pulang walau belum jam sembilan
malam,” kata Ardian.
“Bagus. Kalian harus ingat bahwa kalian bukan anak
muda lagi. Kalian sudah dewasa, dan harus bisa berpikir mana jalan terbaik yang
harus kalian lalui.”
Ardian dan Roy tampak mengangguk-angguk. Tapi keduanya
masih diliputi rasa duka akibat meninggalnya Aira. Bagaimanapun Aira adalah
teman, seburuk apapun, mereka tak ingin Aira celaka, dan itu sudah terjadi.
“Nanti kami minta ijin sebentar, mau melihat ke rumah
sakit,” kata Roy.
“Nggak apa-apa. Kehilangan teman adalah duka. Tapi
ingat, bahwa yang terjadi adalah pelajaran bagi kalian.”
“Sangat mengerikan kejadiannya, meninggal karena
mabuk, gadis pula. Betapa sedih orang tuanya,” gumam Ratna.
“Orang tuanya juga patut di salahkan. Melepas anak
gadisnya dalam pergaulan yang tidak sehat. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya
sudah terlanjur. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk langkah selanjutnya.
***
Ardian dan Roy sampai di rumah sakit, setelah minta
ijin pada ayahnya. Disana dilihatnya sudah banyak teman-teman yang datang.
“Roy, semalam hanya kamu yang dicarinya,” kata Albert
dengan wajah sedih.
“Aku minta maaf. Tapi aku menyesal dia melakukannya.
Sejak kapan dia suka mabuk-mabukan?”
“Sudah lama sih, tadi malam itu dia juga yang membawa
minuman untuk dibagikan kepada teman-temannya. Entah bagaimana dia
mendapatkannya. Begitu datang dia mencari kamu, dan kecewa karena kamu tidak
datang.”
“Aku dan Ardian memang tidak akan datang ke pesta itu.
Lama-lama capek, kan kami harus bekerja.”
“Iya sih, kalian kan bos muda.”
“Bukan, kami merasa sudah cukup tua saja.”
Ardian mendekati Roy, mengajak melihat jenazah Aira
sebelum petinya ditutup.
“Ke sana lah, kami sudah melihatnya, tadi.”
Roy merasa trenyuh melihat luka-luka pada wajah Aira.
Walau sudah disamarkan, tapi tetap saja menampakkan pemandangan yang membuat
ngeri bagi yang melihatnya. Di sudut sana, ayah dan ibu Aira tampak duduk
dengan wajah sembab. Roy menatap sekali lagi ke arah wajah Aira, yang sama
sekali tak menampakkan kecantikannya, kemudian ia mengajak Ardian untuk
menyalami orang tuanya.
“Saya ikut berduka cita, Om, Tante,” kata Ardian dan
Roy bergantian.
“Terima kasih. Apa kamu yang bernama Roy?” tanya ibu
Aira.
“Saya Ardian, ini adik saya Roy,” jawab Ardian karena
mengira dia lah yang bernama Roy.
“Oh, kamu? Aira sering bercerita tentang kamu. Dia
sangat mengagumi kamu,” kata sang ibu, yang kemudian meneteskan lagi air
matanya.
“Kami berteman sejak lama.”
“Apa kalian pacaran?” tiba-tiba ayah Aira menyela.
“Tidak. Hanya berteman.”
Lalu karena tak ingin orang tua Aira banyak bertanya,
keduanya pergi menjauh, berbaur bersama teman-temannya.
Wajah-wajah duka, menyelimuti aura mereka. Kehilangan selalu
menyedihkan. Aira yang cantik dan lincah, Aira yang terkadang manja, tak ada
lagi diantara mereka. Barangkali kematian itu akan mengubah segalanya.
Menghilangkan kesukaan untuk bersenang-senang dan berpesta. Semoga ada hikmah
dibalik itu semua.
Tak lama kemudian, peti itu ditutup, dan saatnya
mengangkat jenazah ke peraduannya yang terakhir. Ketika beberapa orang
mengangkat peti, seorang gadis tampak menangis, mengiringinya. Wajahnya mirip
Aira. Kata teman-temannya, ia adalah Ratih, adik Aira.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Roy tampak terdiam. Ia
menyesal semalam tak mau menerima telponnya. Menyesal selalu mengumpatnya,
bahkan menyesal telah berteman dengannya. Tapi bukankah sebenarnya Aira itu
baik? Gadis itu terlalu dimanja oleh orang tuanya, lalu lepas kendali, dan
itulah yang terjadi.
“Kasihan. Semalam dia berteriak-teriak hanya ingin
bertemu sama kamu. Ia bahkan mau datang ke rumah kita. Nekat sekali dia.”
“Sudah lama dia mengejar-ngejar aku, aku tak
mempedulikannya.”
“Apa sekarang kamu menyesal?”
“Menyesal bagaimana maksudmu?”
“Menyesal telah menolaknya.”
“Tidak, aku tidak pernah suka gadis manja. Kami hanya
berteman. Aku menyesal dia melakukan hal buruk yang kemudian mencelakai dirinya
sendiri. Kalau saja aku sempat mengingatkannya,” keluh Roy.
“Ya sudah, bukankah perjalanan hidup seseorang itu
sudah tersirat dalam suratan setiap manusia? Hendaklah yang terjadi bisa
menjadi pelajaran bagi kita semua. Kita sudah bukan anak muda lagi. Betul kata
bapak, bahwa kita sudah harus bisa memilah, mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Lama-lama kamu seperti bapak.”
“Kan aku anaknya?”
“Apa aku bukan?”
Ardian tertawa, Roy pun tertawa. Kedua remaja tampan
yang selalu hidup rukun, walau berbeda wanita yang melahirkannya. Karena kerukunan
dan saling mengasihi selalu ditanamkan dalam keluarga itu.
***
Hari itu Ratna memesan beberapa sayuran kepada
Pratiwi, dan minta agar diantarkannya ke rumah. Karena itulah, setelah sepi,
dia segera membawakan pesanan itu ke rumah keluarga Luminto.
“Ini Bu, pesanan Ibu, mohon dilihat, apa ada yang
kurang,” kata Pratiwi sambil meletakkan beberapa macam sayuran di meja dapur.
Ratna dan Sasmi sudah siap di dapur, takutnya
tiba-tiba sang suami pulang untuk makan siang di rumah.
“Tidak ada yang kurang Wi, terima kasih. Apa uang yang
aku berikan kurang?”
“Tidak Bu, ini masih ada kembaliannya,” kata Pratiwi
sambil mengulurkan sejumlah uang kembalian.
“Tidak usah Wi, ambil saja semuanya,” kata Ratna.
“Ibu kalau belanja pasti tidak mau diberikan sisanya.”
“Tidak apa-apa Wi, kan tidak seberapa,” sambung Sasmi.
“Kamu dulu sekolah sampai SMA ya Wi?” tanya Ratna.
“Iya Bu. Alhamdulillah bisa selesai, jadi ibu saya
juga senang, anaknya bisa sekolah.”
“Apa kamu tidak ingin melanjutkan kuliah?” tanya
Sasmi.
“Wah, mana mungkin melanjutkan kuliah Bu, lulus SMA
saja sudah saya syukuri, karena dengan bersekolah, sedikit banyak saya punya
ilmu, tidak bodoh-bodoh amat.”
“Apa kamu mau, kami membiayai kamu ke sekolah yang
lebih tinggi?” tanya Ratna.
Pratiwi terkejut.
“Tidak Bu, saya tidak berani.”
“Mengapa tidak berani?”
“Janganlah mencapai sesuatu dengan membebani orang
lain. Itu selalu yang ibu saya tanamkan untuk saya.”
“Kami menawarkan, berarti tidak terbebani. Mau ya?”
desak Ratna.
“Tidak Bu, sungguh. Dan terima kasih sudah memborong
sayuran saya, sekarang saya permisi,” kata Pratiwi sambil berdiri.
Tiba-tiba ponsel Pratiwi berbunyi. Pratiwi
mengangkatnya. Tapi kemudian wajahnya berubah ketika seseorang mengatakan
sesuatu.
“Apa? Meninggal? Kecelakaan di mana? Baiklah, aku akan
ke sana,” kata Pratiwi sambil menutup ponselnya.
“Bu saya permisi dulu, ada teman saya yang meninggal,
karena kecelakaan semalam,” kata Pratiwi sambil bergegas pergi.
***
Besok lagi ya.