Saturday, November 26, 2022

JANGAN PERGI 35

 

JANGAN PERGI  35

(Tien Kumalasari)

 

Mobil itu terus mengikutinya, dan Listi melihatnya dari kaca spion di depannya.

“Ada yang mengikuti kita,” katanya sambil mempercepat laju mobilnya.

Ratri menoleh ke belakang.

“Itu mobil mas Radit,” kata Ratri.

“Benar, aku juga tahu.”

“Hei, Mbak … kita mau kemana, rumah ibu kan harus belok ke kanan?”

“Biar saja, kita putar-putar sebentar,” kata Listi enteng.

“Ya ampun Mbak, jangan ngebut dong, jalanan lagi ramai.”

“Kita permainkan dia dulu. Salahnya sendiri, mengapa menyakiti kamu.”

“Tapi yang salah bukan dia Mbak. Biar saja aku bicara sama dia, supaya dia mengerti dan tidak lagi mengganggu.”

“Kamu kan sudah mengirimi dia pesan?”

“Iya sih.”

“Kalau dia bisa membaca, pasti tahu dong bagaimana keinginan kamu,” kata Listi sambil terus mempercepat laju kendaraannya.

“Aduuh, Mbak Listi nih, aku takut, tahu.”

“Tenang saja, mbak mu ini akan bisa mengatasi semuanya. Yakinlah bahwa kamu aman,” kata Listi santai.

Ratih akhirnya diam, sambil bibirnya berkemak-kemik melantunkan doa.

Listi sudah membawa mobilnya sampai di luar kota. Ratri menoleh ke belakang, dan mobil Radit sudah tak tampak lagi.

“Sudah nggak kelihatan.”

Listi juga melongok ke arah belakang, lalu tersenyum lega.

“Syukurlah, dia kehilangan jejak kita. Ayo kita kembali.”

Ratri senang, sekarang Listi mengendarai mobilnya lebih lambat. Tapi Listi membawa mobilnya melalui jalur lain, khawatir berpapasan dengan mobil Radit.

“Ibu pasti sudah menunggu,” gumam Ratri.

“Kamu sudah bilang akan pulang siang ini?”

“Iya, sudah dari pagi tadi.”

“Bagus, pasti ibu Cipto sudah memasak enak buat kamu.”

“Kamu nanti ikut turun kan Mbak?”

“Tidak usah ya, tadi aku membantu ibu memasak, tapi kami belum memakannya, aku bilang sama ibu, kami akan makan setelah aku mengantarkan kamu.”

“Baiklah, jangan sampai kita mengecewakan mereka. Kapan-kapan kamu tidur di rumah ibu Cipto ya.”

“Gampang, semua bisa di atur. Kamu juga boleh mengajak ibu Cipto menginap di rumah aku, pasti rame.”

“Wah, menyenangkan sekali,” kata Ratri.

Tapi sebenarnya Ratri sedang memikirkan Radit. Kasihan sekali kalau Radit tidak bisa menerima keputusannya, sementara Ratri tidak ingin Radit menjadi anak durhaka yang melawan kemauan orang tuanya.

“Heiii, kita sudah sampai, kamu tidak mau turun?”

Ratri terkejut, Listi sudah menghentikannya di depan gang yang masuk ke arah rumahnya.

“Sampaikan salam aku untuk ibu Cipto, maaf tidak bisa mampir. Kamu jalan sendiri ya, aku takut kelamaan, nanti ibu gelisah menunggu aku.”

“Iya, baiklah, terima kasih Non,” canda Ratri sambil turun.

Listi menjalankan mobilnya meninggalkan Ratri yang sudah masuk ke dalam gang yang masuk ke arah rumahnya.

“Ternyata bersikap manis itu adalah damai, dan bahagia. Aku belum pernah merasakannya setelah bapak dan ibu angkatku meninggal,” gumamnya sambil tersenyum.

Ia sedikit mempercepat laju mobilnya, karena takut ibunya khawatir, ia pergi terlalu lama.

***

Ratri langsung memeluk ibu Cipto begitu memasuki rumahnya. Bu Cipto senang, akhirnya Ratri pulang.

“Ibu khawatir kamu tidak benar-benar datang,” katanya sambil melepaskan pelukan Ratri pelan, kemudian mengajaknya memasuki kamarnya.

“Ya nggak mungkin dong Bu, Ratri kan sudah bilang sama Ibu, lagi pula ini kan rumah ibu Ratri juga?”

“Dan rumahmu, kan Tri?”

“Iya. Hm, baunya sedap, ibu masak apa hari ini?”

“Hanya masak sayur bening. Sisa rendang dua hari yang lalu masih ada, karena ibu masukkan ke dalam kulkas, sudah ibu panasin.”

“Wah, iya Bu, Ratri senang sekali. Ratri ganti baju dulu ya Bu.”

“Baiklah, ibu tunggu di ruang makan ya,” kata bu Cipto riang. Kekhawatiran akan kehilangan Ratri sudah tak ada lagi, karena ia tahu Ratri sangat pengertian, dan juga sangat menyayanginya.

Tak lama menunggu, Ratri sudah berganti pakaian rumah, lalu duduk di hadapan ibunya.

“Ibu kesepian ya?”

Tidak Tri, karena ibu yakin bahwa kamu akan pulang. Ibu anggap saja kamu sedang main, dan pada saatnya kembali, pastilah kamu kembali.”

“Terima kasih Bu, Ratri juga tidak tega terlalu lama meninggalkan Ibu.”

“ Ibu yang berterima kasih dong Tri, sebenarnya kan setelah ada bu Tijah, ibu takut kamu tidak akan peduli lagi sama ibu.”

“Ibu mengada-ada deh, dari bayi Ratri adalah anak Ibu, mana mungkin Ratri tidak peduli?”

“Senang ibu mendengarnya. Ayo, makan yang banyak Tri.”

“Ini nanti Ratri habiskan lho Bu, Ratri memang lapar nih.”

“Habiskan saja, nanti ibu masak lagi.”

“Besok kan hari Minggu. Kita belanja ya Bu, lalu masak bersama-sama.”

“Baiklah. Tapi apa nak Radit tidak datang kemari? Biasanya kalau Minggu kan nyamperin kamu.”

Ratri diam. Ia tak boleh selamanya menyembunyikan hal yang berhubungan dengan Radit. Ia harus berterus terang, supaya ibunya tidak terus bertanya.

“Bu, sesungguhnya Ratri tidak ingin lagi melanjutkan hubungan dengan mas Radit.”

Bu Cipto tampak terkejut, sampai urung memasukkan nasi yang sudah sampai di depan mulutnya.

“Kamu bercanda?”

“Tidak Bu, Ratri serius.”

“Kenapa tiba-tiba begitu?”

“Ratri merasa bahwa mas Radit terlalu tinggi untuk Ratri.”

“Bukankah nak Radit sudah pernah mengatakannya bahwa dia tak peduli bagaimana dan siapa kamu? Bahkan ibunya juga suka sama kamu kan? Belanja banyak baju, sampai-sampai ibu ini ikut kebagian mendapat baju baru?”

“Terkadang manusia tidak selalu bisa yakin dengan keputusannya. Ratri khawatir, pada suatu hari, penyesalan itu akan ada. Dan kalau sudah begitu, akan tidak baik bagi kelangsungan dan ketenteraman sebuah keluarga. Ya kan Bu?”

Bu Cipto terpana. Ia tak mengira Ratri bisa bicara sebijak itu. Dan itu ada benarnya.

“Ratri harap Ibu bisa mengerti.”

“Apa nak Radit bisa menerima keputusan kamu ini? Atau malah nak Radit sendiri yang memutuskannya? Ibu kok tidak percaya. Ibu yakin nak Radit sangat menyayangi kamu.”

“Iya Bu, tapi orang tuanya belum tentu akan tetap bersikap baik. Ada hal yang membuat Ratri khawatir, sehingga Ratri memilih berpisah saja sebelum semuanya terlanjur.”

Bu Cipto mengangguk pelan, tak yakin bahwa Ratri bisa melakukannya begitu mudah.

“Apa kamu tidak lagi memiliki rasa sayang sama dia?”

Ratri tersenyum tipis.

“Sayang atau cinta itu tidak harus memiliki. Ratri berharap mas Radit bisa menemukan gadis yang sejajar dengan kedudukannya.”

Bu Cipto menyelesaikan makannya dengan wajah murung. Sebelumnya dia senang, Ratri sudah mendapatkan jodoh yang menyayanginya, dan ibunya juga tampaknya sangat menyukai Ratri. Bu Cipto sama sekali tidak tahu tentang rendang yang ditolak dengan wajah bengis dari bu Listyo, karena Ratri tak ingin membuat ibunya kecewa.

***

Tapi sesungguhnya Ratri mengira, bahwa setelah ia melihat mobil Radit gagal mengejar mobil Listi, kemudian Radit akan datang ke rumah. Ternyata sampai sore tak dilihatnya Radit datang. Putus asa? Atau marah? Ratri geram pada dirinya, karena ternyata masih selalu memikirkannya. Mudah sekali berkata-kata, tapi sangat sulit menjalaninya. Aduhai cinta.

***

Listi dan ibunya sudah selesai makan, dan Listi sudah membersihkan meja dan mencuci semua peralatan yang kotor. Sangat canggung sebelumnya, tapi dengan telaten bu Tijah mengajarinya.

Hari sudah sore ketika keduanya duduk di ruang tengah sambil melihat televisi.

“Bagaimana menurut Ibu, Listi sudah pintar memasak kan?”

Bu Tijah tersenyum.

“Kamu mengerti dengan sangat cepat. Dan kamu bisa melakukan pekerjaan dapur hampir sempurna,” puji bu Tijah.

“Enakkah masakan Listi?”

“Sangat enak. Ibu sampai nambah dua kali tadi.”

Listi tertawa senang.

“Ibu harus makan banyak, supaya gemuk.”

“Ah, selamanya ibu ya begini ini, tidak bisa gemuk. Nggak enak kalau kegemukan, nanti ibu keberatan membawa tubuh gemuk ibu.”

Listi tertawa. Tapi sebenarnya dia sedang memikirkan Radit. Tadinya dia mengira, karena tidak berhasil mengejar, pasti Radit akan datang ke rumahnya. Ia tahu bahwa Radit tak pernah berhenti mengejar apapun yang diinginkannya.

“Barangkali dia ke rumah Ratri, aku akan menelponnya,” kata batin Listi, yang kemudian masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya.

Tapi ternyata tadi ada chat dari Ratri, yang menanyakan apakah Radit datang ke rumahnya.

“Hallo Tri,” sapa Listi yang kemudian menelpon Ratri.

“Benarkah, tadi mas Radit datang kemari?”

“Aku baru saja membaca pesan kamu, tadi duduk di luar sama ibu, sedangkan ponselku ada di kamar.

“Oh, gitu? Jadi dia ke sini?”

“Tidak, aku justru mau bertanya, apa dia kemari, setelah mengejar kita tidak berhasil.”

“Tidak tuh,”

“Putus asa dia. Tapi aneh, dia tuh orangnya suka nekat.”

“Mungkin dia marah, karena tak pernah berhasil menemui aku,” sesal Ratri.

“Mungkin. Kamu menyesal?”

“Ah, tidak Mbak.”

“Suara kamu seperti orang menyesal. Kamu harus ingat Ratri, aku tidak mau kamu direndahkan. Biar saja ibunya mencarikan gadis yang sepadan untuk anaknya,”

“Tapi bukankah lebih baik kalau kita bicara sama dia, tidak kabur-kaburan seperti tadi?”

“Hm, begitu ya. Baiklah. Besok kita minta dia datang menemui kamu. Tapi kamu harus siap dan tegas menolaknya. Kecuali ibunya mau datang dan meminta maaf sama kamu,” tandas Listi.

“Baiklah.”

“Ya sudah, jangan sedih begitu. Kamu berada diantara orang-orang yang menyayangi kamu, suka dan duka kamu akan kita pikul bersama. Siapapun kita, kita harus punya harga.”

“Ya Mbak, aku mengerti.”

Listi menutup ponselnya, dan diam-diam dia merasa kasihan pada adiknya. Ia tahu, Ratri pasti sedih. Tapi ia yakin, Ratri bisa melakukan hal baik bagi dirinya.

“Menelpon siapa?” tanya ibunya ketika Listi sudah kembali duduk di sampingnya.

“Ratri.”

“Dia tidak apa-apa kan?”

“Tidak apa-apa Bu. Saya sudah bilang, lain kali, Ratri harus mengajak bu Cipto untuk tidur di rumah ini. Pasti ramai.”

“Itu sangat menyenangkan.”

“Harusnya hari ini ya Bu, lalu besok kita bisa jalan-jalan berempat, kan Ratri libur.”

“Oh iya, besok hari Minggu.”

“Tapi ya sudah, tadi lupa tidak ngomong, takutnya Ratri sudah punya rencana sendiri sama bu Cipto.”

“Berarti Minggu depan saja.”

“Ya Bu, minggu depan saja. Ayuk bu, kita jalan-jalan sekarang.”

“Kemana?”

“Jalan-jalan saja, Listi ingin beli baju untuk Ibu.”

“Aduh, baju ibu sudah ada beberapa, kan Ratri membawakan banyak baju untuk ibu.”

“Tapi Listi belum kan? Ayo ibu siap-siap, Listi mau ganti baju dulu.”

***

Arina melonjak kegirangan ketika melihat Dian memasuki rumahnya.

“Hoyeee… hoyeeee ..” pekiknya riang. Dan tanpa menunggu lama, Dian segera menggendongnya, menciumi sepuas hatinya.

“Apa kabar sayang?” tanya Dian sambil terus menciumi pipi Arina.

Tapi lama-lama Arina mendorong kepala Dian, minta diturunkan.

“Kenapa?”

“Geyii… ambutnya kena pipi Ain..”

Dian dan Dewi tertawa melihat Arina mengusap-usap pipinya, yang kegelian karena terkena cambang Dian.”

“Ayo… main…” katanya sambil menarik tangan Dian, diajaknya main boneka.

“Arin mau nggak, jalan-jalan?”

“Mauuuu … ayo Ibu… halan-halan…” teriak Arina yang segera berdiri, menarik-narik tangan ibunya.

“Beneran Mas, mau ngajak jalan-jalan?”

“Iya lah, bener. Aku ingin beli baju untuk Arina dan untuk kamu. Sambil jalan, kita bicara soal pernikahan kita, aku harus segera menikah, supaya bisa membawa kamu dan Arina ke Jakarta.

Dewi tersipu.

“Serius?”

“Seribu rius,” kata Dian sambil tertawa.

“Ayo Arina, kita ganti baju dulu,” kata Dewi yang segera menggendong anaknya ke dalam kamar.

Dian tersenyum. Hatinya sudah mantap untuk segera memperistri Dewi. Tapi tiba-tiba dia teringat Radit yang sesambat tentang hubungannya dengan Ratri. Dia segera menelpon Radit.

Tapi beberapa kali tak ada sahutan. Rupanya ponselnya sedang tidak aktif. Kemudian dia menelpon Ratri.

“Hallo, Dian? Aduh, syukurlah kamu masih ingat aku,” teriak Ratri yang senang mendengar Dian menelponnya.

“Ratri, apa kabar kamu?”

“Baik. Kamu sudah di sini?,

“Aku di rumah Dewi, mau jalan-jalan sama anakku.”

“Aduuh, senengnya, yang tiba-tiba punya anak,” seloroh Ratri.

"Besok aku mau ke rumah kamu, banyak yang ingin aku bicarakan. Baru saja aku menelpon pak Radit, tapi ponselnya mati.”

“Oh ya?” sahut Ratri singkat.

“Ya sudah, kami mau berangkat, kesok aku mau ke rumah kamu, pagi-pagi.”

“Baiklah, aku tunggu.”

***

Dian mengajak Dewi memasuki sebuah toko pakaian. Terlebih dulu Dian mengajak ke counter pakaian anak-anak, memilihkan beberapa baju lucu untuk Arina, kemudian Dian mengajak Dewi untuk memilih baju untuk Dewi dan untuk dirinya sendiri.

Dian sedang melihat-lihat kemeja batik yang membuatnya tertarik, ketika tiba-tiba Dewi berteriak.

“Itu bu Listi !!”

Dian terkejut.

***

Besok lagi ya.

Friday, November 25, 2022

JANGAN PERGI 34

 

JANGAN PERGI  34

(Tien Kumalasari)

Radit masih berdiri di depan pintu, yang tertutup dan membisu. Beberapa kali ia berusaha mengetuknya, tapi tak ada jawaban dari dalam. Radit heran, mengapa Listi begitu marah kepadanya, dan dia mengatakan bahwa tak ada yang boleh menyakiti adiknya? Apakah Listi mengetahui tentang rendang yang ditolak ibunya? Ratri mengatakannya, atau apa?

Radit mendesah kesal, lalu membalikkan tubuhnya, turun dari teras menuju ke arah mobilnya. Ia masuk ke dalamnya, sekali lagi menatap ke arah pintu yang tetap saja tertutup rapat, lalu membawa mobilnya berlalu dari sana.

Berkali-kali dia mencoba menelpon Ratri, tapi ponsel itu masih saja tidak aktif.

Ia berangkat ke rumah sakit, berharap tak banyak pasien yang harus diperiksanya, sambil menenangkan hatinya.

***

Listi mendekati Ratri yang duduk termenung.

“Apa kamu marah karena aku tidak mengijinkan dia menemui kamu?” tanya Listi sambil duduk dihadapannya, sementara Tijah menata makanan di ruang makan. Hari itu setelah belanja dia memasak untuk kedua anaknya.

“Ratri, aku bicara sama kamu,” tegur Listi karena Ratri diam membisu

Ratri mengangkat wajahnya, lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak Mbak, aku juga sedang berpikir untuk memutuskan hubungan kami.”

“Benarkah? Apa kamu tidak mencintainya?”

“Bukan masalah cinta. Sebuah hubungan yang tidak direstui orang tua, tidak baik dilanjutkan. Aku tahu siapa diriku,” katanya sendu.

“Kamu selalu mendapat perlakuan kasar dari ibunya? Dulu dia sangat baik.”

“Baru sekali itu. Sebelumnya dia sangat baik sama aku. Mengajaknya belanja beberapa kali, membelikan aku baju-baju yang bagus, yang kemudian aku berikan pada ibu. Aku belum pernah memakainya. Entah mengapa, kemarin itu dia sangat marah dan kasar sekali sikapnya.”

“Aku melihatnya, dan mendengarnya. Geram sekali aku.”

“Ya sudah, lupakan saja, aku juga akan berusaha melupakannya.

“Sekarang aku tahu, dikata-katai dengan kasar, ternyata rasanya sakit. Aku menyesal telah melakukan semua itu.”

Ratri tersenyum. Ia senang mendengar kakaknya menyesali semua sikapnya.

“Mungkin aku belum sepenuhnya bisa bersikap baik dan manis seperti kamu, tapi aku akan belajar dan belajar.”

“Aku senang mendengar Mbak Listi berkata begitu. Semoga kita akan terus bisa melakukan hal baik, agar tidak membuat kesal orang lain.”

“Ayo makanlah, semua sudah siap,” tiba-tiba terdengar bu Tijah berteriak dari arah ruang makan.

Listi menarik tangan adiknya, dan bergegas menuju ruang makan sambil bergandengan tangan. Kebahagiaan hati Tijah membuncah. Ia menatap kedua anaknya dengan mata berbinar. Ia merasa, ini adalah kebahagiaannya, di saat masa tuanya.

“Ibu masak apa?” tanya Ratri sambil duduk dan mengernyitkan hidungnya, mencium sedapnya masakan yang terhidang di depannya.

“Sedap dan gurih, pasti gorengan nila itu,” lanjut Ratri.

“Enaknyaaa,” pekik Listi sambil tangannya mencuil gorengan ikan dengan santainya.

“Ibu hanya masak sayur bening, sambal terasi dan goreng ikan.”

“Mulai besok, aku akan membantu ibu memasak ya Bu. Ajari Listi memasak. Karena Listi jarang sekali memasak. Selama di Jakarta, kami juga lebih suka makan di luar.”

“Mulai sekarang kamu harus terbiasa makan masakan rumah, jangan boros,” kata ibunya.

“Iya. Sekarang kamu masih punya banyak uang, nanti kalau uangmu habis, bagaimana?” tegur Ratri.

Listi tertawa.

“Orang tua angkatku meninggalkan banyak harta. Tapi setelah ini aku akan mencari pekerjaan.”

“Bagus Mbak, kita harus punya kesibukan.”

“Tapi aku tidak punya pendidikan guru, aku pantasnya jadi sekretaris. Pendidikanku mendukung untuk itu. Siapa tahu nanti bos ku tertarik sama aku,” kata Listi sambil tertawa terbahak.

“Semoga Mbak Listi mendapat jodoh yang baik,” tukas Ratri.

“Tidak Ratri, aku tidak ingin menikah, aku hanya ingin menemani ibuku ini,” kata Listi sambil menepuk lengan ibunya.

“Mengapa begitu? Kamu masih muda dan cantik,” kata ibunya.

“Tidak Bu, aku sudah tidak ingin menikah,” katanya bersungguh-sungguh.

“Mengapa Mbak? Mbak Listi masih muda,” kata Ratri mengamini ucapan ibunya.

“Aku tidak akan bisa menyenangkan suamiku,” katanya sendu.

Bu Tijah dan Ratri menatap Listi yang tiba-tiba tampak sedih.

“Jangan bilang begitu Mbak, kalau Mbak bisa mencintai dengan tulus, berusaha menjadi istri yang baik, maka suami akan bahagia.”

“Aku sudah tidak bisa hamil lagi,” kata Listi yang mengejutkan ibu dan adiknya.

“Apa? Kata siapa?”

“Aku berkali-kali menggugurkan kandungan aku. Dokter terakhir yang memeriksa aku mengatakan itu.”

Ratri menatapnya dengan rasa prihatin, tapi Listi kemudian tertawa.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Memang aku berniat hidup menyendiri. Itu aku putuskan setelah aku keluar dari rumah sakit jiwa.”

“Ya sudah, apapun keputusan kamu, asalkan kamu bahagia, ibu juga pasti akan bahagia,” akhirnya kata bu Tijah.

“Ayo lanjutkan makannya, aduh, aku sudah nambah dua kali nih, nanti kalau aku jadi gendut bagaimana?” kata Listi riang.

“Tidak apa-apa gendut, yang penting sehat.”

Lalu mereka melanjutkan makan dengan nikmat.

***                            

Radit yang merasa gelisah karena belum juga bisa menghubungi Ratri, kemudian hanya menuliskan pesan, yang seharian belum tampak dibaca. Ia berada di kamarnya, dan belum sekalipun menyapa ibunya sejak pulang dari rumah sakit. Ia yakin ibunya sudah menyakiti Ratri dengan kata-kata kasar, ketika Ratri membawa rendang ke rumah. Ia tak perlu menanyakannya, karena dari sikap Listi dia sudah bisa membacanya.

Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarnya.

Radit membiarkannya. Pasti ibunya, dan Radit masih kesal dan belum ingin bicara.

“Pak Radit, ibu menunggu di ruang makan,” suara bibik dari luar kamar.

“Tidak Bik, aku tidak makan,” jawab Radit tanpa bangkit dari tempat tidur.

“Kata ibu, mas Radit harus makan,” bibik memaksa.

“Aku sudah kenyang. Jangan mengganggu aku.”

Tak lagi terdengar apapun, bibik sudah menjauh.

Radit benar-benar merasa kacau. Tiba-tiba dia teringat Dian, lalu ia merasa harus ada tempat untuk berbagi kesedihannya. Lama sekali dia tidak bertemu Dian dan bicara.

“Hallo, pak Radit?” sapa dari seberang, begitu Radit menelponnya.

“Ya Pak Dian, apa saya mengganggu? Ini sudah malam.”

“Tidak … tidak sama sekali, masih tiduran sambil melihat televisi nih. Ada apa, tumben?”

“Nggak penting sih, tapi saya sedang kacau nih.”

“Lho, kacau bagaimana nih? Semoga bukan tentang hubungan pak Radit dengan Ratri.”

“Ya, tentang dia.”

“Ada apa? Saya juga lama nggak kontak-kotakan sama Ratri.”

“Tiba-tiba dia menghindar dari saya. Saya ingin bicara, tapi dia tampaknya menghindari saya. Ceritanya panjang. Bahkan ada cerita tentang Ratri yang sesungguhnya adiknya Listi, pak Dian sudah mendengarnya?”

“Apa? Benarkah?”

Lalu secara singkat Radit menceritakan kejadian yang mempertemukan mereka, dan Listi yang sesungguhnya anak angkat keluarga Suroto.

“Waduh, Ini berita mengejutkan. Apakah karena status Ratri itu, kemudian ibu mas Radit tak mau menerima Ratri?”

“Iya, pastinya begitu. Aku sebenarnya ingin ketemu Ratri, tapi sampai sekarang belum berhasil.”

“Besok saya akan pulang. Saya akan menemui Ratri, dan juga kita janjian ketemu ya Pak.”

Radit sudah merasa lega sudah berbagi kegelisahannya. Ia senang Dian akan membantu.

“Semoga Ratri bisa memahami keadaan ini,” gumamnya sambil berusaha tidur.

***

“Setelah pulang kerja, aku langsung ke rumah ibu Cipto ya?” kata Ratri saat sarapan pagi.

“Lhoo, pulang ke sana?”

“Iya, kasihan ibu, di sana nggak ada temannya.”

“Iya Listi, kasihan bu Cipto, nanti bisa gantian kamu tidur di sana. Kan rumah bu Cipto tidak jauh dari sini?”

“Iya, baiklah, aku mengerti. Bu Cipto juga pasti kesepian tanpa Ratri.”

“Terima kasih sudah bisa mengerti, Mbak ku yang cantik,” puji Ratri sambil tersenyum.

“Nanti aku jemput kamu ke sekolah, lalu aku antarkan ke rumah bu Cipto.”

“Tapi sekolah dan rumah ibu Cipto kan tidak jauh, aku biasanya jalan kaki lhoh.”

“Kali ini jangan jalan kaki. Aku juga ingin ketemu bu Dewi untuk meminta maaf.”

“Oh ya? Bagus kalau begitu. Agar tidak ada ganjalan diantara kita semua.”

“Jam berapa kamu pulang?”

“Jam setengah dua.”

“Baiklah, aku datang sebelumnya. Tapi ada satu pesanku. Jangan sekali-sekali menerima Radit lagi. Kalau dia menelpon, jangan diangkat. Kalau mau ketemu, hindari saja,” pesan Listi wanti-wanti.

Ratri tersenyum dan mengangguk.

“Ada apa ini?” tanya bu Tijah heran, karena sesungguhnya dia tidak mengerti permasalahannya. Dia juga tidak tahu saat Radit datang ke rumah itu.

“Tidak apa-apa Bu, Listi hanya tidak suka sama ibunya.”

“Memangnya ibunya kenapa?”

“Dia sombong. Mentang-mentang kaya.”

“Ya sudah, Ratri mau berangkat dulu ya,” kata Ratri mengalihkan pembicaraan.

“Eh, tunggu, aku antar kamu sambil belanja ke pasar. Soalnya aku mau belajar masak sama Ibu. Ya kan Bu?”

“Jangan lama-lama.”

“Tidak, aku kan sudah mandi, dan ibu juga sudah berdandan cantik.”

***

“Bu Ratri tadi diantar siapa?” tanya Dewi, karena baru tadi Dewi tahu bahwa Ratri diantarkan seseorang, dan Ratri belum mengatakan apa-apa tentang Listi.

“Itu, Mbak Listi.”

“Oh ya?”

Lalu secara singkat Ratri menceritakan perihal hubungan sebenarnya dengan Listi, membuat Dewi terheran-heran.

“Oh, pantesan wajah bu Ratri sangat mirip.

“Nanti Mbak Listi akan menemui bu Dewi.”

“Oh ya? Mau apa ?” tanya Dewi agak kaget, takut Listi masih mau mengamuk seperti dulu.”

“Mbak Listi mau meminta maaf. Dia sekarang sudah sadar, dan menjadi baik.Tadi dia bilang mau menjemput saya, sekalian mau minta maaf sama bu Dewi.”

“Senang mendengarnya. Saya tahu waktu itu dia terbawa emosi, dan pikirannya sedang kacau, terbukti kemudian polisi membebaskannya dan memasukkan ke rumah sakit jiwa.

“Sekarang sudah baik Bu, Sekarang ibu kandung kami tinggal bersamanya.”

“Ya ampun. Kisah yang sangat luar biasa. Semoga kedepannya akan lebih baik dan selalu bahagia.”

“Aamiin, terima kasih Bu.”

“Jadi bu Ratri sekarang tinggal di mana?”

“Dua malam sama di rumah mbak Listi bersama ibu, tapi nanti pulang ke rumah ibu Cipto lagi. Kasihan sendirian, dan kalau tidak ada saya, pasti ibu akan kesepian.”

“Itu benar. Soalnya bu Cipto sudah menganggap bu Ratri putrinya sendiri.”

“Oh ya, bu Ratri sudah ketemu pak Radit? Saya lupa bilang, kemarin menelpon saya, mau ketemu bu Ratri, tapi bu Ratri masih mengajar.”

“Iya Bu, tidak apa-apa. Sekarang saya ke kelas dulu.”

“Baiklah. Oh ya, nanti mas Dian mau pulang lho.”

“Oh ya? Sudah lama dia melupakan saya,” canda Ratri.

Dewi tertawa.

“Bukan melupakan, kalau ke sini waktunya habis untuk Arina sih.”

***

Di waktu sela, Ratri membuka ponselnya. Baru hari ini setelah dua hari dimatikan atas permintaan Listi. Banyak panggilan telpon, dari Radit, lalu ada pesan yang membuatnya sedih. Dia sangat mencintai Radit, seperti Radit mencintainya, tapi sikap ibunya membuat Ratri harus mundur. Dia tahu diri, dan tak ingin membuat hubungan antara Radit dan ibunya menjadi retak. Sejak awal dia merasa, bahwa Radit terlalu tinggi untuk di jangkaunya. Tapi Radit memaksa, dan sebelumnya sikap bu Listyo juga sangat baik kepada dirinya. Mengapa tiba-tiba sikapnya berubah? Apa karena Radit sudah menceritakan siapa sebenarnya ibu kandungnya? Berarti dia memang benar-benar harus tahu diri.  Orang tua bukan seseorang yang harus direndahkan, betapapun buruknya, dan dia tetap memuliakannya, menghormatinya. Mana mungkin mengingkarinya hanya karena seorang laki-laki walau bagaimanapun besar rasa cintanya?

“Ratri, apapun yang terjadi, aku tetap men cintaimu, dan ingin segera melamarmu,”

Itu salah satu bunyi chat dari Radit yang membuatnya semakin sedih.

“Mas Radit, kamu harus mengerti, aku juga sangat mencintai kamu, tapi kita tak mungkin bisa bersatu. Aku dan kamu bagaikan bumi dan langit, bukankah sejak awal aku sudah mengatakannya? Penuhi permintaan ibumu, karena pilihan orang tua adalah yang terbaik. Janganlah melangkah tanpa restunya.”

Ratri membalasnya, lalu mematikan lagi ponselnya.

Jam mengajar bagi Ratri sudah usai, Listi sudah menjemput, langsung menemui Dewi di kantornya. Dengan ramah Dewi menerima permintaan maafnya.

Tidak apa-apa bu Listi, saya bisa mengerti, bagaimana perasaan bu Listi waktu itu. Lupakan semuanya, dan marilah kita tetap berkawan, karena bu Ratri juga sahabat saya.

Mereka kemudian berangkulan dan berusaha melupakan semuanya.

Listi segera mengajaknya pulang, setelah semua berjalan dengan baik.

Tapi ketika mobil Listi keluar dari halaman sekolah, tiba-tiba sebuah mobil lain muncul. Ia melihat mobil Listi, dan segera mengejarnya.

***

Besok lagi ya.

Thursday, November 24, 2022

JANGAN PERGI 33

 

JANGAN PERGI  33

(Tien Kumalasari)

 

Bu Cipto heran, Radit tak mengerti tentang kiriman rendang yang tadi dibawa Ratri.

“Nak Radit, tadi kan Ratri ke rumah nak Radit, mengirimkan rendang yang tadi saya masak bersama bu Tijah. Katanya itu kesukaan nak Radit. Kok nak Radit malah belum tahu?”

Radit kemudian mengerti, pasti Ratri ke rumah, tapi ibunya tidak mengatakannya sama dia, trus barangkali juga rendang itu belum sempat dia makan karena dia kan begitu datang, setelah mandi lalu mengantarkan ibunya, lalu langsung ke rumah bu Cipto.

“Oh, iya Bu, saya belum tahu, soalnya ketika saya pulang lalu mengantarkan ibu ke dokter, lalu sesampai di rumah, saya langsung datang kemari.”

“Oh, berarti nak Radit belum sempat makan di rumah ya, pantesan seperti tidak mengerti, dan ibu juga belum sempat memberi tahu karena sakit. Oh ya, ibu sakit apa Nak? Mengapa ke dokter?”

“Tidak sakit Bu, hanya kontrol. Tapi sampai malam baru pulang, soalnya belum daftar sejak awal, jadi dapatnya nomor belakangan. Itu sebabnya saya kemari malam-malam. Maaf ya bu, karena keburu ingin tahu keadaan bu Tijah, sementara menelpon Ratri kok ponselnya mati, saya jadi khawatir.

“O, mungkin sedang kangen-kangenan sama saudaranya dan ibu kandungnya, jadi ponselnya dimatikan, takut terganggu.”

“Iya Bu, syukurlah semua baik-baik saja. Dan bu Tijah sudah mau memasak bareng Ibu.”

“Tadi belanja ke pasar, terus pulangnya masak rame-rame berdua. Ya itu tadi masak rendang yang kemudian Ratri mengirimkannya ke rumah. Sayang Nak Radit belum mencicipinya.”

“Nanti sesampai di rumah akan saya habiskan Bu, soalnya saya juga  belum makan sejak siang.”

“Kasihan Nak, lha sekarang makan di sini ya, rendangnya masih ada kok. Ibu siapkan ya?”

“Tidak Bu, nanti rendang yang di rumah, siapa yang makan? Saya pamit saja sekarang, jadi kepengin segera makan rendangnya,” kata Radit sambil berdiri.

“Bener nih, nggak mau makan di sini?”

“Terima kasih Bu, seperti tadi saya katakan, kalau saya makan di sini, kasihan rendang yang di rumah,” katanya sambil meraih tangan bu Cipto.

“Ya sudah, hati-hati ya Nak.”

“Ibu segera tidur ya, sudah malam nih.”

***

Sesampai di rumah, Radit melihat kamar ibunya sudah tertutup, dan lampu ruang tengah sudah dimatikan. Ia yakin ibunya sudah tidur, dan ia tak tega membangunkannya.

Radit melangkah ke belakang, melihat pembantunya masih duduk sambil menikmati kopi, di meja dapur.

“Bibik belum tidur?”

“Pak Radit belum datang, juga belum makan, jadi bibik belum bisa tidur.”

“Baiklah Bik, aku mau makan sekarang, siapkan ya, aku ganti baju dulu,” kata Radit sambil naik ke atas, langsung membersihkan diri dan ganti baju rumahan.

Ketika turun, dilihatnya bibik sudah menunggu, duduk di kursi kecil di sudut ruang makan. Kursi yang selalu digunakannya untuk duduk setiap menunggui ibunya dan juga dirinya saat makan.

Radit duduk, menatap semua lauk yang ditata si bibik.

“Mana rendangnya bik?”

Bibik berdiri.

“Apa pak? Rendang? Memangnya ibu tadi menyuruh bibik memasak rendang? Tidak tuh, hanya sambel goreng ati dan ca udang.”

“Lhoh, kan tadi Ratri ke sini membawa rendang?”

Si bibik heran.

“Kok bibik nggak lihat non Ratri ke sini ya? Mungkin hanya ketemu ibu di depan.”

“Tadi Ratri ke sini membawakan rendang untuk aku, Bik.”

Bibik berjalan ke arah kulkas, barangkali bu Listyo meletakkannya di dalam kulkas agar tidak basi. Tapi dia mengubres seisi kulkas, tidak ada sayur apapun yang tampak di sana.

“Ada Bik?”

“Kok tidak ada ya, di mana ibu meletakkannya?”

Bibik berjalan ke arah depan, barangkali majikannya meletakkan di meja depan, lupa membawanya masuk karena terburu-buru pergi ke dokter, tadi. Tapi tak ada makanan di seluruh meja, baik di teras, di ruang tamu maupun di ruang tengah.

Kok tidak ada ya Pak?”

“Tidak ada?”

“Bibik sudah mencari di seluruh tempat, tidak ada rendang  yang bibik temukan. Kalau pak Radit ingin, besok  bibik akan memasaknya.”

“Tidak. Tidak usah Bik, ya sudah, aku mau makan seadanya ini saja.”

Radit membalikkan piring, mengisinya nasi dan mengambil lauknya. Radit merasa sangat lapar. Dia melahap makan malamnya, tapi dengan pikiran ke arah rendang yang dibawa Ratri ke rumah.

“Ibu meletakkannya di mana ya, apa mungkin di kamar Ibu? Kalau tidak dipanasi, basi nggak ya. Tapi masa sih, rendang di simpan di kamar?”

“Radit menghabiskan makan malamnya, kemudian beranjak ke ruang tengah. Ia melewati kamar ibunya yang tertutup. Radit mendekati kamar, mencoba membukanya, tapi kamar itu terkunci.

Radit menghela napas berat, lalu melangkah naik ke atas, untuk beristirahat di kamarnya.

“Besok saja aku tanyakan rendang itu. Masa sih, dihabiskan sendiri oleh ibu. Dan kalau ibu memakannya, mengapa bibik sampai tidak tahu?” gumam Radit sambil mengunci pintu kamarnya.

***

Bu Tijah turun dari pembaringan, membiarkan dua anak perempuannya masih terlelap. Semalam mereka berbincang dan bercanda, sampai larut. Tak heran biarpun terdengar ayam berkokok,  keduanya masih terlelap.

Tapi Tijah sudah biasa bangun pagi. Ia menuju dapur dan menyalakan kompor untuk menjerang air.

Ketika di rumah bu Cipto, bu Cipto selalu mengingatkannya tentang saat beribadah, jadi kemudian dia mengambil air wudhu dan menjalankan shalat subuh.

Ketika kemudian Ratri bangun, ia terkejut ketika membuka jendela, melihat alam telah tampak benderang. Ia melihat ke arah jam dinding, sudah jam setengah enam. Ia bergegas ke kamar mandi dan melaksanakan shalat.

Listi mencium bau kopi memenuhi kamarnya, dari pintu yang sedikit terbuka. Ia menggeliat dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Tampaknya pagi ini ada yang berbeda. Bu Sumini tidak tidur di rumahnya, tapi seperti ada kesibukan di dapur. Listi melemparkan selimut, lalu bergegas ke belakang.

“Selamat pagi Non Listi,” canda Ratri sambil membawa baki berisi tiga cangkir kopi ke ruang tengah.

“Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Jelek!” kata Listi pura-pura marah.

“Aku juga baru bangun, tahu.”

“Kopi ini siapa yang bikin?”

“Ibu. Ibu yang bangun lebih dulu.”

Listi tersenyum lebar, dilihatnya ibunya datang dari arah belakang, tampak sudah rapi dan cantik.

Listi menatap kagum. Ia baru sadar, sesungguhnya ibunya memang cantik. Ia teringat ketika memaki-makinya, saat ibunya datang mengunjunginya di rumah sakit, dengan pakaian kumuh dan sedikit bau.

“Ibu duduk di samping Listi, ya,”

Katanya sambil menarik ibunya agar duduk di sampingnya.

Ratri sudah mendahului menghirup kopinya.

“Hm, kopi buatan ibu enak sekali.”

“Aku tadi mau masak untuk sarapan, tapi tak ada apapun yang bisa dimasak. Hanya ada sedikit beras di dalam panci,” kata Tijah.

Listi tertawa.

“Ada juga telur tiga biji,” lanjutnya.

“Maaf Bu, Listi tidak pernah memasak. Hanya kadang-kadang kalau bibi Sumini ada, maka Listi biasa dibuatkan nasi goreng. Itupun bibi seperti sudah tahu, kalau di kulkas harus selalu ada bumbu nasi goreng dan udang, serta telur.”

“Pantesan,”

“Kita jalan-jalan saja yuk, beli nasi liwet,” ajak Listi.

“Aku tidak usah ikut, aku harus segera mandi dan berangkat kerja,” kata Ratri.

“Begini saja, kamu segera mandi, aku antar masuk kerja, sekalian makan di jalan. Nggak lama kok.”

“Baiklah, aku mengajar jam ke dua. Sekarang aku mau mandi dulu. Kamu nggak mandi? Apa kamu biasa bangun tidur langsung menghirup kopi?” tegur Ratri.

“Iya, lalu aku harus ngapain. Sebelum aku bangun bibi Sumini sudah datang membersihkan rumah dan membuat kopi untuk aku.”

“Besok bangunlah lebih pagi, dan lakukan shalat. Bukankah semalam aku sudah bilang begitu?”

“Oh iya, aku lupa.”

“Lain kali tidak boleh lupa ya Mbak, juga di saat-saat harus shalat lainnya.”

“Nanti bareng ibu. Ibu juga baru saja melakukannya,” sambung Tijah.

“Baiklah Bu, sekarang Ratri biar mandi dulu, aku mandinya nanti kalau sudah pulang dari mengantarkan kamu ke sekolah.”

“Apa? Mandi nanti?” pekik Ratri.

“Aku tuh kalau mandi lama, berendam satu jam belum tentu selesai, nanti kamu terlambat.”

Ratri merengut.

Mulai sekarang mbak Listi harus membiasakan diri untuk bangun lebih pagi, mandi secukupnya, dan ibadah jangan lupa.”

Listi merengut. Pasti susah bangun pagi, karena tidak biasa. Tapi dia berjanji akan belajar mengikuti kata-kata adiknya.

***

Radit sudah bangun dan mandi, siap berangkat ke kantor, sebelum ke rumah sakit. Dilihatnya ibunya sudah duduk di ruang tengah, menghirup kopi dan menikmati acara televisi.

“Bu, kemarin Ratri kesini bukan?” tanya Radit membuat bu Listyo terkejut.

“Kenapa?”

“Ratri membawa rendang kesukaan saya.”

“Oh, dia sudah mengadu sama kamu?”

Radit mengerutkan alisnya. Ucapan ibunya tanpa menatapnya, terdengar seperti nyinyir dan tidak suka.

“Apa maksud ibu dengan ungkapan ‘mengadu’ ?”

“Semalam kamu sudah ketemu dia, dan mengadu tentang rendang itu?”

“Radit bahkan belum ketemu dia. Ibunya memasak rendang dan teringat bahwa itu kesukaan Radit. Ibu letakkan di mana rendang itu? Semalam Radit ingin memakannya, tapi  bibik tidak menemukannya,” kesal Radit.

“Ibu suruh bawa pulang rendang itu.”

“Apa?” pekik Radit.

“Ibu tidak suka rendang, biasanya pedas, sedangkan ibu tidak boleh makan yang pedas-pedas, apalagi tidak suka juga.”

“Tapi itu maksudnya untuk Radit Bu, lagian sangat menyakitkan mengembalikan pemberian yang susah-susah dibawakan. Apa tidak bisa diterima saja, walaupun tidak suka memakannya? Ibu hanya ingin menyakitinya kan?”

“Radit, karena gadis itu kamu jadi berani mengomeli ibu,” kata bu Listyo marah.

“Mengapa tiba-tiba ibu membenci Ratri? Apa salah dia Bu?”

“Salah dia adalah, bahwa dia terlahir dari seorang wanita yang kurang waras.”

“Dia tidak gila Bu, dia wanita baik yang menjadi korban ketidak adilan.”

Bu Listyo diam, dia berdiri untuk meninggalkan anaknya yang sedang marah, tapi Radit mendahuluinya melangkah keluar, setelah mengambil tas kerjanya di atas meja.

“Radit. Sarapan dulu!” teriak bu Listyo.

Radit tak menjawab. Ia sangat kesal, ibunya telah menyakiti Ratri. Ia masuk ke dalam mobilnya kemudian memacunya keluar dari halaman.

Bu Listyo mengusap air matanya.

“Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu Dit, kamu satu-satunya anakku.”

Bu Listyo seperti tidak tahu, bahwa Ratri adalah gadis terbaik yang dipilih Radit, yang akan dicintainya sampai kapanpun.

***

Radit uring-uringan di kantornya. Semua pekerjaan stafnya dianggapnya tak beres semua. Kesalahannya dicari-cari, hanya karena ingin melampiaskan kekesalan yang tak bisa sepenuhnya ditumpahkan kepada ibunya.

Lalu karena letih, dia bersandar di sofa. Kemudian meraih ponselnya, dan mencoba menelpon Ratri. Untuk kesekian kalinya dia tak berhasil. Ratri belum menyalakan ponselnya sejak semalam. Radit kemudian menyesal telah menghapus nomor kontak Listi. Kalau tidak, dia pasti bisa bertanya padanya.

“Pasti Ratri sedang mengajar. Tapi nanti aku akan menemuinya di rumah Listi. Barangkali dia masih ingin bersama Ibu dan kakaknya yang belum lama ditemukannya,” gumam Radit.

Radit berusaha menenangkan pikirannya, agar bisa fokus dengan pekerjaannya.Tiba-tiba dia teringat Dewi, kepala sekolah dimana Ratri mengajar. Senyumnya mengembang.

“Bu Dewi pasti bisa menghubungkannya.”

“Hallo, ini pak Radit?”

“Iya bu Dewi, ini saya.”

“Tumben menelpon kemari, ada apa nih?”

“Bisa bicara sama Ratri nggak Bu, hanya sebentar.”

“Oh, maaf pak Radit, bu Ratri sedang mengajar. Bagaimana kalau pak Radit menelpon satu jam lagi?”

“Satu jam lagi ya?”

“Iya Pak, maaf,”

Radit menutup pembicaraan itu dengan kecewa. Memang salah dia sih, mengapa menelpon disaat jam mengajar?

Radit tak ingin kembali kecewa. Satu jam lagi belum tentu Ratri sudah selesai, lalu dia memutuskan untuk pergi saja ke rumah Listi.

***

Radit memasuki halaman rumah Listi. Ada mobil diparkir di halaman. Tampaknya milik Listi, karena tidak ada tanda-tanda bahwa ada tamu di rumah itu.

Radit terus melangkah mendekati rumah, lalu memencet bel tamu. Ini sudah jam dua lebih, ia yakin Ratri sudah pulang dari mengajar.

Pintu rumah itu terbuka, Listi menyembul dari dalam.

“Kamu?” pekik Listi tak senang.

“Listi, apakah aku bisa menemui Ratri? Bukankah dia ada di sini?”

“Benar, dia ada. Tapi aku melarang kamu menemuinya.”

“Mengapa Listi, aku ingin ketemu sebentar saja.”

“Tidak bisa! Sekali tidak bisa ya tidak bisa.”

“Listi, ingatlah bahwa hubungan kita sudah berakhir, aku mencintai Ratri.”

“Apa maksudmu? Kamu kira aku melarang kamu, karena aku cemburu? Tidak. Aku menyayangi Ratri, dan aku tak akan membiarkan dia disakiti.”

Lalu Listi menutup pintunya keras, membiarkan Radit terkejut.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, November 23, 2022

JANGAN PERGI 32

 

JANGAN PERGI  32

(Tien Kumalasari)

 

Ratri hampir sampai di gerbang, berhenti mendengar sebuah panggilan. Ia mengusap air matanya, dan mencari ke arah datangnya suara. Seseorang setengah berlari menghampirinya, dan Ratri terbelalak melihat siapa yang mendekatinya. Dia lebih terbelalak laki ketika sosok itu merangkulnya erat.

“Ratri, bisiknya di telinga Ratri, lembut dan bergetar.

Ratri merasa seperti mimpi. Listi memeluknya, memanggil namanya dengan begitu manis? Rasa sakit karena diterjang kata kasar dari bu Listyo lenyap seketika. Ia menurut ketika Listi menariknya keluar. Ia memandangi wajah Listi dengan penuh rasa keheranan. Menatap senyuman manis dari bibir cantik yang dulu selalu menyunggingkan sikap sinis, yang sekarang tak ada lagi.  Ia tak bisa berkata-kata, hanya menatap dengan mulut sedikit terbuka.

“Heii! Mingkem! Nanti ada lalat memasuki mulut kamu!” kata Listi bercanda.

Bukannya mingkem, Ratrii malah lebih membuka lebar mulutnya, membuat Listi tertawa terpingkal-pingkal.

“Ratri, panggil namaku dengan manis, ayolah.”

“Non.. Non …’ Ratri mengucap lirih, masih teringat olehnya ketika Listi memintanya memanggil nona padanya.

“Stooppp. Bukan nona. Panggil aku mbak Listi,” ucapnya bersungguh-sungguh.

Dan Ratri justru merasa bahwa Listi mungkin saja bertambah parah sakit jiwanya. Ia mundur selangkah.

“Ada apa kamu ini? Kamu  takut sama kakakmu sendiri?” kata Listi dengan mulut cemberut.

Ratri menoleh ke arah bu Sumini yang berdiri tak jauh dari mereka. Bu Sumini tersenyum mengangguk.

“Kamu…”

“Panggil aku Mbak Listi, kamu nggak dengar, apa?”

“Mbak Listi … “ ucapnya lirih.

Lalu Listi kembali merangkulnya, begitu tiba-tiba, membuat rantang berisi rendang itu tumpah tak bersisa. Listi tak mempedulikannya, ia memeluk semakin erat. Bu Sumini mengambil rantang yang tengkurap mencium tanah, memasukkan rantang kosong itu  kembali ke dalam keresek. Agak kotor sih, tapi bu Sumini tetap membawanya.

“Mbak Listi …” Ratri berbisik lembut.

“Aku sudah tahu, aku sudah tahu semuanya. Kamu adikku. Mana ibu? Dimana bu Tijah, ibuku?”

Ratri semakin tak percaya. Tapi matanya berbinar ketika melihat Listi berucap dengan sungguh-sungguh.

“Aad.. da .. di rumah .. akku…”

“Ayo kita kesana, cepat naik,” kata Listi sambil membuka mobilnya,

Ratri masuk ke dalam mobil, di depan, sedangkan bu Sumini sambil membawa rantang kotor, masuk ke jok belakang.

Ratri masih kebingungan melihat perubahan sikap Listi, sehingga diam tak banyak berkata-kata.

“Apa yang kamu lakukan di sana tadi?” tanya Listi tiba-tiba.

“Aku … membawa rendang … masakan ibu, untuk Bu Listyo. Itu kesukaan mas Radit,” katanya sedikit terbata.

“Dan wanita sombong itu menolaknya?” kesal Listi.

“Yya, aku tak tahu kenapa ….”

“Jangan hiraukan. Tiba-tiba aku benci dia, mendengar bagaimana dia bersikap kasar sama kamu. Apakah Radit tahu kamu mau ke rumahnya?”

“Tidak.”

“Ya sudah, jangan hiraukan dia. Kita harus berbahagia, karena kita akan berkumpul. Aku sudah tahu semuanya, semuaaanya,” kata Listi bersemangat.

“Aku merasa bersalah. Maafkan aku ya Tri, aku selalu kasar sama kamu, aku bahkan pernah merendahkan ibu kandungku,” ucapnya lagi, sendu.

“Ibu sangat merindukan kamu.”

“Aku akan membawanya ke rumahku nanti,” kata Listi.

“Apa? Biarkan dia bersamaku,” kata Ratri yang merasa belum puas bersama dengan ibu kandungnya.

“Kamu jangan begitu Ratri, masa sih tidak mau mengalah sama kakaknya sendiri?”

“Heii, jangan bertengkar, itu bukan masalah sulit. Kalian bisa bergantian bersama ibu kalian,” sela bu Sumini yang mendengar keduanya seperti berebut ibunya.

Lalu keduanya tertawa.

“Kami tidak bertengkar.”

“Kami tidak berebut kok Bik,”

“Bagus, aku senang kalian bisa bersatu dalam sebuah keluarga, setelah puluhan tahun terpisahkan,” kata bu Sumini sambil mengusap setitik air mata haru nya.

***

Radit sampai di rumah, tak lama setelah Ratri dan Listi berlalu.

Ia langsung masuk, dan melihat ibunya duduk di ruang tengah sambil melihat acara di televisi.

Radit memberi salam, yang dibalas ibunya ketika dia sudah menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.

“Dit,” panggilnya.

Radit menoleh dan berhenti ketika belum sampai di ujung tangga.

“Kok buru-buru amat, setelah ganti baju, temani ibu minum kopi ya,” kata ibunya.

“Radit mau segera mandi, soalnya mau pergi lagi,” jawab Radit yang kembali melangkah.

“Kemana? Ke rumah Ratri?”

“Ya,” jawab Radit tanpa ragu-ragu.

“Tapi ibu minta kamu untuk mengantarkan ibu sebentar lagi.”

“Ke mana?” Radit berhenti lalu menatap ke arah ibunya.

“Antarkan ibu ke dokter, kontrol.”

“Ini kan belum waktunya kontrol? Masih tiga hari lagi kan? Radit sudah mencatatnya kok.”

“Tapi ibu ingin kontrol sekarang, badan ibu rasanya nggak enak.”

Radit menghela napas. Karena menyangkut kesehatan ibunya, mau tak mau Radit harus menurutinya.

“Baiklah, Radit mandi dulu,” katanya, kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.

Bu Listyo tersenyum tipis. Ia sebenarnya tidak sedang sakit, dan tahu bahwa belum saatnya kontrol. Tapi ia tak suka mendengar Radit mau ke rumah Ratri. Pasti Ratri akan mengatakan tentang rendang yang ditolaknya, dan Radit akan lebih marah sama dia, setelah beberapa hari enggan bebicara karena penolakan atas hubungannya dengan Ratri.

Bu Listyo berdiri, masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Radit tak suka menunggu, jadi lebih baik ibunya yang menunggu.

Radit terpaksa mengurungkan niatnya menemui Ratri sore itu, dan berjanji pada dirinya akan datang nanti, malam harinya setelah mengantarkan ibunya kontrol.

***

Listi menghentikan mobilnya di halaman rumah bu Cipto yang kecil. Mereka segera bergegas turun, bahkan Listi mendahuluinya, berteriak begitu menaiki tangga teras. Ratri hanya tersenyum.

“Ibuu… mana Ibuuu?” pekiknya.

Bu Cipto dan bu Tijah yang terkejut mendengar teriakan itu segera menghambur keluar. Heran melihat Listi sudah memasuki rumah.

Listi menatap keduanya satu-per satu. Ia bingung yang mana yang ibu kandungnya, karena kali itu Tijah berpakaian rapi dan tampak bersih, tidak seperti saat menemuinya, kotor kumuh dan sedikit berbau.

“Mana ibuku?”

Tapi ia segera tahu, karena ia tidak melupakan wajahnya.

Tijah gelagapan ketika tiba-tiba Listi memeluknya erat, lalu menangis di pundaknya.

“Ibu … ibuku, maafkan Listi Bu, maaf ya Bu… “ isaknya.

Untuk sesaat Tijah terpana, sama sekali tak menduga, bahwa Listi tiba-tiba memeluknya dan menangis tersedu.

“Listi? Listi ?” hanya itu yang diucapkannya.

Ratri mengajak bu Sumini ke belakang.

“Bi, biar saya cuci dulu rantangnya, jangan sampai ibu tahu kalau bu Listyo menolak rendangnya,” bisik Ratri. Bu Sumini mengerti. Ratri tak ingin ibunya kecewa karena pemberiannya tak diterima.

“Bibik duduk di depan dulu,” kata Ratri.

“Ibu, maafkan Listi ya. Listi berdosa telah melukai hati ibu,” kata Listi masih dengan memeluk ibu kandungnya.

“Mengapa, kamu tiba-tiba bersikap begini?” bisik ibunya.

“Karena Allah mengingatkan aku Bu,” katanya sambil melepaskan pelukannya.

“Silakan duduk dulu Nak, mari Bu, berbincang sambil duduk di sini, saya buatkan minum ya,” kata bu Cipto ramah.

“Ini saya sedang buatkan Bu,” teriak Ratri dari belakang.

Listi menarik ibunya, lalu keduanya duduk berdampingan. Bu Cipto dan bu Sumini duduk di kursi yang lain. Membiarkan Listi melampiaskan rindunya kepada wanita yang ternyata adalah ibu kandungnya.

“Ini sangat tiba-tiba, bagaimana Mbak Listi tiba-tiba menyadari ini semua lalu bersikap begitu manis kepada aku dan ibu?” tanya Ratri sambil menyajikan jus jeruk untuk semuanya.

Listi menatap bu Sumini.

“Ini karena bibi Sumini,” kata Listi sambil tersenyum. Semuanya menatap bu Sumini yang hanya tersenyum-senyum.

“Bibi aku suruh membuang sebuah kotak yang memenuhi almari aku, tapi dia tidak mau. Kotak itu berisi satu setel pakaian bayi, dan ada suratnya. Bibi memaksa aku untuk membacanya. Ini suratnya,” kata Listi sambil mengambil sebuah amplop kusam yang ternyata disimpan di dalam tasnya. Ia mengulurkannya kepada Ratri.

“Tolong bacakan untuk Ibu,” perintahnya kepada Ratri.

Ratri menerima amplop itu dan membuka isinya.

Listi meneguk jus di depannya, melihat semuanya mendengarkan Ratri membaca semuanya. Lalu sebelah tangannya merangkul ibunya, menyandarkan kepalanya di pundaknya, yang disambut dengan elusan tangan di kepalanya oleh ibunya.

Ratri membaca surat itu dengan terbata. Bagaimanapun dia terharu sekaligus bahagia. Setitik air mata meleleh, lalu diusapnya. bu Sumini mengambilkan tissue yang ada di meja untuk Ratri.

Listi ikut menangis tersedu. Suasana begitu mencekam, sampai Ratri menyelesaikan membaca suratnya, lalu mengusap air matanya yang membasah.

Bunyi surat itu begitu menguasai perasaan seluruh yang hadir. Lalu Ratri dan Sutijah mengerti, bagaimana Listi kemudian menyadari kesalahannya, menyadari perbuatannya yang kasar, terlebih kepada ibu kandungnya.

“Maafkan Listi ya Bu, Listi sangat berdosa,” bisiknya sambil masih terus menyandarkan kepalanya di pundak ibunya.

“Lupakanlah Nak, kehadiran kamu diantara kami adalah bahagia yang sempurna bagi ibu. Anak-anak ibu yang hilang sudah kembali menjadi milik ibu,” katanya sambil mengelus kepala Listi.

“Ibu nanti ikut ke rumah Listi ya?” kata Listi.

“Tapi …” Ratri ingin memprotes, tapi anggukan kepala ibunya membuatnya mengerti. Pasti Listi juga ingin dikelonin ibu kandungnya.

“Ratri, aku mohon kamu mengerti, aku di rumah sendirian. Bibi Sumini tidak selalu bisa menemani Listi.”

Ratri tersenyum, mengangguk, walau sebenarnya dia belum puas dikelonin ibunya semalam.

“Baiklah, nanti bergantian, ya,” kata Tijah menengahi keduanya.

“Atau kalau Ratri ingin, biarlah Ratri ikut bersama nak Listi, tidur bertiga di sana,” usul bu Cipto yang melihat Ratri masih agak keberatan berpisah dengan ibunya.

“Ide bagus. Ratri ikut tidur di rumahku ya.”

“Tapi kasihan ibu di sini, nanti sendirian,” kata Ratri sambil menatap bu Cipto.

“Tidak apa-apa Ratri, kalian belum puas bermanja dengan ibu kalian kan? Ibu mengerti kok.”

“Terima kasih Ibu, tapi Ratri tidak seterusnya di sana. Ratri juga ingat ibu kok,” kata Ratri sambil merangkul bu Cipto. Ratri juga takut, bu Cipto merasa kehilangan, sementara dia sudah merawatnya sampai bertahun-tahun.

“Aku juga menyayangi ibu,” bisiknya, yang disambut dengan elusan tangan juga oleh bu Cipto.

***

Radit menunggu di luar ruang praktek dokter langganan, ketika ibunya masuk. Dilihatnya jam di tangan menunjukkan pukul tujuh lebih seperempat. Pasien cukup banyak, dan bu Listyo mendapatkan nomor lima.

Radit sedikit gelisah. Ia ingin melihat keadaan bu Tijah juga, dan bagaimana suasananya dalam keluarga itu, apakah benar-benar bu Tijah sudah bisa bersikap normal, atau menyusahkan keluarga bu Cipto. Tapi ia juga tak bisa membiarkan ibunya sakit. Keluhan agak kurang enak badan juga membuatnya harus memperhatikannya, walaupun dia sedikit kesal ketika ibunya mengatakan tidak setuju bermenantukan Ratri setelah mendengar keadaan ibu kandungnya.

Jam setengah delapan, ibunya baru keluar dari ruang praktek. Radit segera menuntun ibunya ke arah mobil.

“Nanti sekalian ke apotek ya Dit,” kata bu Listyo setelah mereka  duduk.

“Bagaimana kalau Radit saja yang mengambilkan obatnya nanti Bu, sekarang kita langsung pulang saja.”

“Jangan Dit, dokternya bilang bahwa obatnya harus segera diminum. Jadi kita harus segera membelinya sekalian.”

“Kalau begitu kita tinggalkan saja resepnya di apotek, biar obatnya dikirim ke rumah.”

“Nggak bisa begitu. Apotek tidak selalu bisa mengirim cepat, pasti menunggu kalau ada pengiriman yang lain, sementara ibu harus segera minum obatnya,” sergah bu Listyo yang sebenarnya ingin agar Radit kemalaman pulangnya sehingga urung pergi ke rumah Ratri.

Radit tak bisa membantah. Ia berhenti di apotek, lalu turun, setelah meminta ibunya agar menunggu di mobil saja.

Radit memohon kepada petugas apotek agar pengerjaannya di dahulukan, tapi petugas apotik menolaknya dengan halus, karena pembeli harus sabar menunggu, karena semua yang sakit butuh segera minum obatnya.

Radit terpaksa menunggu. Duduk di pojok ruangan, dengan gelisah. Lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Ratri. Setidaknya dia bisa mendengar keadaan mereka, walau hanya melalui telpon. Tapi ternyata ponsel Ratri tidak aktif. Listi yang meminta agar ponsel dimatikan saja, supaya tidak ada yang mengganggu kebersamaan mereka bertiga.

“Ya ampun, kenapa juga ponselnya tidak aktif?” gumamnya pelan. Radit semakin gelisah, jangan-jangan terjadi kekacaukan di sana.

Begitu obatnya selesai, Radit segera menyerahkan obatnya ke arah ibunya, lalu memacu mobilnya menuju pulang.

Bu Listyo agak kesal, ketika begitu mengantarkan ibunya pulang, Radit langsung saja pergi lagi. Pasti bu Listyo tak bisa mencegahnya karena semua permintaannya sudah dipenuhi.

***

Agak sungkan Radit memasuki halaman rumah bu Cipto karena jam sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam. Pintu rumah bu Cipto sudah tertutup, tapi karena keingin tahuannya tentang keadaan keluarga itu, membuatnya nekat mengetuk pintu.

“Siapa?” sapa bu Cipto yang rupanya masih duduk sendirian di ruang tengah.

“Saya Bu, Radit.”

Bu Cipto membuka pintunya dengan heran, karena tak biasanya Radit datang saat malam seperti ini.

“Masuklah Nak, ibu buatkan minum?”

“Tidak usah Bu, Radit hanya sebentar, hanya ingin tahu keadaan setelah bu Tijah datang kemari.”

Bu Cipto tersenyum. Radit senang mendengar Listi juga sudah berubah, bahkan mengajak Ratri dan bu Tijah tidur di rumahnya.

“Syukurlah Bu, saya senang mendengarnya.”

“Oh iya Nak, bagaimana rendang yang tadi ibu kirimkan? Nak Radit suka?”

“Rendang?”

Radit heran sehingga beberapa saat lamanya tak bisa berkata-kata.

***

Besok lagi ya.

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...