Saturday, May 13, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 44

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  44

(Tien KUmalasari)

 

Aliyah meletakkan ponselnya dengan wajah muram, membuat Alfian heran.

“Ada apa?”

“Afifah sakit.”

“Sakit apa? Kalau sakit suruh pergi ke dokter, bukankah kamu sudah memberinya uang? Kalau kurang suruh dia bilang, berikan uang cukup untuk dia berobat,” kata Alfian, yang sesungguhnya masih punya rasa tidak suka pada Narita, gara-gara apa yang dilakukannya di masa lalu.

“Saat mengantar ke hotel, dari kantor polisi itu, aku melihat dia berjalan agak terhuyung-huyung. Aku bertanya, apakah dia sakit, katanya baik-baik saja. Wajahnya juga kelihatan agak pucat, tapi setiap kali ditanya, dia selalu bilang bahwa dia baik-baik saja. Bahkan ketika Farah ke sana untuk mengantarkan mukena, Farah juga melihat wajahnya yang pucat, tapi karena jawabnya selalu baik-baik saja, maka aku, dan juga Farah menganggapnya dia masih merasa lelah, setelah beberapa hari berada di tempat tahanan. Tapi ini tadi, kata petugas hotel, dia diam-diam pergi ke dokter,” kata Aliyah dengan gelisah.

“Aliyah, dia merasa sakit, lalu sudah pergi ke dokter, berarti sakit apapun dia, dokter akan menanganinya. Mengapa kamu kelihatan bingung seperti itu?” tegur Alfian.

“Perasaanku nggak enak Mas, mengapa tadi dia menyembunyikannya, dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja?”

“Apakah itu sesuatu yang menghawatirkan? Kalau dia tidak mau berterus terang sama kamu, berarti dia memang tidak ingin merepotkan kamu. Dia menjaga kamu supaya kamu tidak bersedih.”

“Apakah itu bukan sesuatu yang berbahaya?”

“Aliyah, mengapa kamu berpikir sangat jauh?”

“Aku hanya sangat khawatir. Aku mohon, Mas memahami perasaan aku. Baru saja kami bertemu, lalu kalau dia sakit, tentu saja aku jadi kepikiran.”

“Aku tahu, aku juga mengerti, tapi yang namanya orang sakit, kalau sudah ditangani dokter, ya sudah, kamu tidak usah menghawatirkannya. Tahu apa kamu tentang penyakit? Tidak tahu kan, tapi dokter pasti tahu. Jadi jangan berlebihan, Aliyah. Dia tidak akan apa-apa.”

“Ya, baiklah.”

“Nanti kalau kira-kira dia sudah pulang, kamu boleh menelponnya. Atau besok menengoknya di hotel. Begitu lebih baik kan?” Alfian terus menerus berusaha menenangkan hati sang istri.

“Yang aku tidak tahu, mengapa dia tidak mau berterus terang kalau memang sakit.”

“Kan aku sudah bilang, barankali dia hanya ingin agar kamu tidak kepikiran. Dia merasa sudah berhutang budi sama kamu, jadi tidak ingin lebih menyusahkan lagi. Ya kan?”

Aliyah hanya mengangguk, tapi sebenarnya dia tak bisa setenang itu. Terbayang ketika turun dari mobil, lalu dia hampir terjatuh, lalu wajahnya sangat pucat, dan selalu dikatakannya bahwa dia baik-baik saja. Ternyata dia benar-benar sakit.

“Aliyah, sekarang ayo tidur, ini sudah malam. Jangan berpikir yang bukan-bukan.”

Alfian menarik tangan istrinya, lalu diajaknya masuk ke dalam kamar.

***

Narita memasuki kamarnya di hotel itu, setelah menemui dokter kandungan. Memang iya, dia hamil sudah berusia enam minggu.

“Ya Tuhan, mengapa baru sekarang aku merasakannya? Selama ini aku tak merasakan apa-apa,” keluhnya sambil masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian berganti pakaian, dan membaringkan tubuhnya. Dokter kandungan juga memberikan obat, yang sudah dibelikannya sekalian di apotik, dalam perjalanan kembali ke hotel.

Badannya terasa lemas. Ia kemudian bangkit lagi, meminum obat yang diberikan dokternya. Itu obat mual, yang harus diminum sebelum makan. Ia mengelus perutnya yang tampak mash rata, tapi sekarang ia meyakini, bahwa ada janin yang hidup di dalamnya.

Sekilas ada penyesalan, kemudian ia merasa bahwa hidupnya belum akan berakhir. Ada segumpal daging bernama janin yang harus dirawatnya, dilahirkannya dan dibesarkannya dengan kasih sayang.

“Maafkan aku,” sekali lagi dia mengelus perutnya, kemudian meminum obat yang baru tadi ditebusnya.

Tak lama kemudian ia merasa, perutnya agak lebih tenang. Ia baru ingat, bahwa sejak siang dia belum makan sesuap nasi pun.

Ada nasi dan ikan goreng yang tadi dibawakan Farah dan belum disentuhnya. Ia berjalan ke arah sofa, lalu mencoba makan beberapa suap. Narita merasa lega karena perutnya tak lagi terasa mual. Kemudian dia minum dua macam vitamin yang entah apa namanya, lalu pergi tidur.

Sambil berbaring, ia meraih ponselnya yang sejak tadi dimatikan. Ada beberapa panggilan, dari Aliyah. Narita mengabaikannya. Paling-paling dia hanya menanyakan keadaannya, begitu pikir Narita.

Ia kemudian mencoba memejamkan matanya. Ketika berpikir tentang bayi yang dikandungnya, ia baru ingat bahwa bayi itu harus ada ayahnya. Ada, tentu saja. Tapi Narita tak sudi mengakuinya.

“Anakku tak boleh menjadi anaknya. Laki-laki kurangajar yang pemabuk, penjudi, juga penipu,” geram Narita sambil memegangi perutnya.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, tiba-tiba Narita tak lagi ingin menangis. Tapi ia butuh ayah untuk bayi itu.

“Apa aku sudah gila? Mana mungkin ada seorang laki-laki mau menikahi wanita yang sedang mengandung?”

Sekarang Narita kembali menjadi gelisah. Apapun yang terjadi, bayi ini harus punya ayah.

Narita tidur sampai larut malam, setelah kelelahan memikirkan bayi yang dikandungnya.

***

“Masih pagi, mengapa Nyonya sudah bangun?”

“Bukankah aku selalu bangun pagi-pagi?”

“Ini masih sangat pagi. Subuh juga belum.”

“Tak apa-apa, semalam aku tak bisa tidur.”

“Memangnya kenapa?”

“Semalam aku menelpon Afifah, kata petugas hotel dia pergi ke dokter.”

“Masa sih, Nyonya?”

“Iya, jadi benar, wajahnya yang pucat dan kelihatan lesu lemas itu, karena dia sebenarnya sakit, tapi menutupinya dari kita.”

“Nanti coba saya menelpon ke hotel, Nyonya. Kalau benar non Narita sakit, nanti kita ke sana saja, setelah sarapan.”

“Maksudku juga begitu, perasaanku jadi tak enak.”

“Kalau memang sudah ke dokter, sebaiknya Nyonya tidak perlu khawatir lagi.”

“Mas Alfi juga bilang begitu.”

“Memang itu benar kan? Kalau sudah ditangani dokter, berarti tak ada yang perlu kita khawatirkan.”

“Baiklah. Sekarang aku mau minum teh hangat dulu.”

“Nyonya duduk saja di situ, biar saya buatkan,” kata Farah yang segera menyiapkan teh hangat untuk Aliyah.

***

Tapi pagi hari itu, setelah sarapan dan minum obat, kembali Narita bersiap-siap untuk pergi. Mengingat anaknya, ia kemudian perlu menemui Nungki. Dia satu-satunya laki-laki yang selalu bersamanya. Ia yakin bayi itu adalah darah dagingnya. Walau dalam hati tidak rela, tapi ia tak bisa membiarkan anaknya terlahir tanpa ayah.

Ia sudah menyuruh petugas hotel untuk memanggilkan taksi. Tapi di depan, dia diberi tahu, bahwa semalam ada yang menelponnya.

“Siapa?”

“Ibu Aliyah. Katanya menelpon di ponsel tidak diangkat.”

“Oh, ya sudah. Kamu jawab apa?”

“Saya mendengar Ibu bilang pada pengemudi taksi, bahwa Ibu mau ke dokter.”

“Apa? Kamu bilang sama dia juga, bahwa aku pergi ke dokter?”

“Iya, Bu.”

“Lancang kamu. Harus bilang tidak tahu,” kesal Narita.

“Maaf Bu.”

Narita ingin melanjutkan marahnya, tapi taksi yang dipanggil sudah datang. Ia segera naik ke dalam taksi. Tapi kemudian dia mengendapkan perasaannya. Mengapa juga harus marah, dan mengapa juga harus menyembunyikannya dari Aliyah? Bukankah Aliyah sudah menyelamatkan hidupnya, dari seorang pesakitan menjadi wanita bebas yang diberikan segala kenikmatan?

“Tak apa-apa. Biarlah, memang aku harus berterus terang sama dia,” gumamnya.

“Ya Bu?” tanya pengemudi taksi yang sudah menjalankan taksinya, dan mengira penumpangnya mengajaknya bicara.

“Tidak, tak apa-apa.”

Narita bertekat untuk menemui Nungki di kantor polisi. Ia sudah mendengar bahwa Nungki ditahan di sana.

**

Narita sedang menunggu dan banyak berpikir tentang hidupnya. Terkadang ia menyalahkan dirinya, yang kemudian ingin menemui Nungki. Begitu berhargakah Nungki untuknya. Tidak, ia tak ingin Nungki menjadi ayah bayi itu. Tapi bagaimana? Bukankah kenyataannya memang dia yang telah meneteskan benih di dalam rahimnya.

“Narita! Senang akhirnya kamu menemui aku,” kata Nungki riang, yang keluar dengan diiringi petugas.

Narita tersentak mendengar suaranya. Ia hampir meninggalkannya dan mengurungkn niatnya.

Kemudian Nungki duduk, dan memandangi Narita lekat-lekat.

“Kamu kangen sama aku kan?”

 “Tidak ada yang kangen sama penipu dan penjahat seperti kamu,” dan tiba-tiba Nungki merasa jijik menatap laki-laki yang cengar cengir di hadapannya.

Nungki seperti tak berdosa, terbahak lepas, tanpa malu.

“Lalu kenapa kamu datang menemui aku?”

“Tidak. Hanya memastikan bahwa kamu sudah terhukum,” kata Narita sambil berdiri, siap meninggalkan Nungki yang masih menahan tawanya.

“Ya ampun, kamu kebangetan ya Narita, lupa bahwa kita saling mencintai?”

“Aku tidak pernah mencintai kamu. Kamu yang memaksa aku, penjahat!”

Narita menguatkan hatinya, lalu melangkah cepat meninggalkan kantor polisi itu.

Nungki bergumam kesal.

“Aku kira kamu mau membebaskan aku setelah berhasil mengumpulkan uang lagi.”

Lalu Nungki pasrah ketika petugas kembali membawanya masuk.

***

Tapi begitu sampai di hotel, ia melihat Aliyah dan Farah sedang duduk menunggu di lobi.

“Aliyah?"

Aliyah berdiri, diikuti Farah, lalu mereka menuju ke arah kamar Narita, dan duduk bersama di sofa.

“Ternyata kamu sakit?”

“Ah, tidak, aku tidak apa-apa.”

“Kamu selalu bilang begitu. Tidak apa-apa, baik-baik saja, nytanya kamu pergi sendiri ke dokter, dan menyembunyikan sakitmu,” tegur Aliyah.

Narita tertawa. Entah mengapa, ia merasa sedikit lega. Tadi pagi doyan makan sarapan walau cuma sedikit, dan sudah minum obat-obat yang diberikan dokter, sekaran ia meras lebih sehat. Paling tidak wajahnya tidak sepucat kemarin.

“Kata dokter, kamu sakit apa?”

“Hanya masuk angin.”

“Mengapa Non tidak berterus terang kalau sebenarnya juga sakit? Farah ikut menegur.

“Dengar, sakitku tidak berbahaya. Kalian tenang saja.”

“Kamu membuat kami khawatir.”

“Saya bukan anak kecil. Kenapa kalian khawatir?”

Narita masih berusaha menyembunyikn semuanya. Tapi ia tak bisa terus bertahan. Beban yang disandangnya cukup berat. Ia tak ingin anaknya terlahir tanpa ayah, tapi ia tak mau Nungki yang menjadi ayahnya.

“Tapi kamu tampak sedang memikirkan sesuatu.”

“Ya, benar.”

Ketika itu, terdengar dering panggilan telpon di ponsel Farah. Farah agak menjauh, karena sungkan. Soalnya telpon yang masuk adalah dari Pinto. Beberapa hari terakhir ini, Pinto sering menelponnya. Entah untuk sekedar bertanya tentang Alfian, atau terkadang hanya ingin mengganggu Farah. Tapi Farah selalu menerimanya dengan suka cita.

Narita melihat Farah sedang tertawa-tawa saat menelpon itu, lalu ia duduk mendekati Aliyah. Ia harus mengatakannya, dan tak mungkin bisa memikulnya seorang diri.

“Aliyah, sebenarnya aku sedang bingung.”

“Kenapa? Kalau uang kamu habis untuk membayar dokter dan membeli obat, bilang saja tak usah sungkan, aku pasti akan membantu kamu,” kata Aliyah sambil merangkul pundak saudara kembarnya.

“Bukan soal uang.”

“Lalu soal apa?”

“Soal penyakit aku.”

Aliyah terbelalak. Tampaknya Narita menderita penyakit yang sangat serius.

“Afifah, sebenarnya kamu sakit apa? Apa harus dioperasi? Katakan saja berapa biayanya, aku yakin mas Alfian akan bersedia membantu. Dia laki-laki yang sangat baik.”

“Bukan harus operasi.”

“Lalu apa? Katakan saja Afifah.”

“Aku hamil.”

Kali itu Aliyah merasa seperti disambar geledeg. Saudarinya belum menikah, tapi dia hamil? Ia menatap wajah Narita sambil mencengkeram bahunya.

“Kamu bercanda, bukan?”

“Ini benar.”

“Lalu ... siapa laki-laki itu? Ia harus bertanggung jawab.”

“Dia Nungki.”

"Nungki? Laki-laki jahat itu?”

Narita mengangguk, lesu.

“Bagaimanapun dia harus bertanggung jawab, walaupun dia sedang ditahan polisi.

“Masalahnya adalah, aku tidak mau.”

“Apa maksudmu Afifah?”

“Anakku tidak boleh punya ayah seorang penjudi, pemabuk, penipu. Jangan Aliyah, kasihanilah dia. Kemarin aku hampir menggugurkannya, tapi tiba-tiba aku merasa sangat menyayanginya. Aku harus melahirkannya ke dunia.”

“Itu benar, menggugurkan adalah perbuatan dosa. Bayi itu masih suci.”

“Benar Yang berdosa adalah aku.”

“Tapi bagaimana mungkin kamu tidak mau dia menjadi ayahnya? Bukankah dia memang darah dagingnya?”

“Aku tidak mau, Aliyah. Tapi aku ingin agar anakku terlahir dengan orang tua yang lengkap. Ada ibunya, ada ayahnya.”

Aliyah terhenyak. Keinginan Narita sangat membingungkan. Ada ayahnya, tapi menginginkan ayah yang lain? Tiba-tiba ada rasa curiga di hati Aliyah.

“Ingin agar mas Alfi menjadi ayah bayi itu? Bukankah itu hal yang tdak mungkin karena mereka bersaudara?” kata batin Aliyah.

Farah sudah selesai bertelpon, tapi tiba-tiba terbersit sebuah nama yang bisa menolongnya. Pinto.

***

Besok lagi ya.

Friday, May 12, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 43

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  43

(Tien Kumalasari)

 

Narita terperanjat. Senyuman manis dari dokter yang memeriksanya terasa bagai sembilu menusuk jantungnya. Itu bukan berita bahagia. Rupanya Narita lebih baik dikatakan mengidap suatu penyakit saja, daripada dianggap hamil.

“Baiklah Ibu, memang sih, wanita hamil itu bawaannya bermacam-macam. Ada yang muntah-muntah terus, hanya mual, pusing, lemas. Tapi ada yang tidak merasakan apa-apa, bahkan selalu bisa makan apapun dengan lahap. Ada lagi yang efek kehamilan itu baru terasa setelah beberapa minggu. Dan Ibu mengalami seperti hal yang terakhir itu. Ibu baru merasakannya beberapa hari terakhir ini kan? Sepertinya kehamilan Ibu ini sudah berumur beberapa minggu.

Narita tak bereaksi, dia memejamkan matanya.

“Ibu jangan khawatir, saya akan memberikan resep untuk diminum. Memang orang ngidam tidak ada obatnya, tapi saya berharap obat ini bisa membantu,” kata sang dokter sambil terus menuliskan resep.

“Bu, resep ini akan saya berikan kepada resepsionis hotel, karena tadi dia berpesan begitu. Mereka yang akan membelikan obatnya. Rupanya Ibu tamu istimewa di sini,” kata dokter itu sambil berdiri.

Narita membuka matanya.

“Terima kasih banyak,” katanya lirih, sambil menahan keluarnya air mata.

"Untuk lebih meyakinkan, saya harap ibu periksa ke dokter kandungan."

Dokter itu berlalu, tanpa tahu bagaimana kacaunya perasaan Narita saat itu.

“Apa ini? Mengapa aku hamil? Mengapa? Aku tak mau anak ini. Ini darah orang jahat. Pemabuk, penjudi. Tidaaak. Ya Tuhan, ampunilah hamba..”

Narita menutupi wajahnya dengan ke dua tangan, membiarkan air matanya terurai.

“Ini hukuman … ini hukuman … Biasanya tak terjadi, mengapa tiba-tiba aku hamil? Apa sekarang yang harus aku lakukan? Aku tidak mau janin ini. Aku akan menggugurkannya. Ini darah orang jahat. Aku tidak mau darahnya mengalir di tubuh anakku. Aku sudah jahat, lalu ayahnya lebih jahat lagi. Bagaimana dengan anaknya? Tidak, aku harus menggugurkannya.”

Seketika Narita bangkit. Ia ingin mengambil baju ke sebuah almari, di mana Farah sudah menyiapkan semuanya di situ. Tapi ia terhuyung-huyung dan jatuh sebelum mencapai almari itu. Ia merasa sangat lemas, sangat susah saat berusaha bangkit. Tertatih dia saat kemudian bisa berdiri, lalu melanjutkan langkahnya ke arah almari. Ia mengambil baju yang pantas, lalu mengenakannya. Saat itulah tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, lalu Farah masuk.

 “Non mau ke mana?”

Narita menguatkan hatinya untuk mencoba tersenyum.

“Hanya ingin ganti baju saja,” katanya sambil duduk di kursi terdekat, agar tak terlihat seperti orang sakit.

“Saya hanya mengantarkan mukena untuk Non. Bukankah Non memintanya?”

“Iya, terima kasih Farah. Sekarang kamu bisa meninggalkan aku, aku mau beristirahat.”

“Non tidak apa-apa? Non tampak pucat sekali.”

“Ah, aku baik-baik saja, hanya lelah, jadi ingin segera beristirahat.”

Farah mengangguk. Tapi ketika keluar dari kamar itu, ia melihat hal yang tak wajar pada Narita. Wajahnya yang pucat, bukan berarti baik-baik saja. Tapi sejauh ini Farah masih menganggap kalau Narita sedang kelelahan akibat disekap di kamar tahanan selama beberapa hari.

Sepeninggal Farah, Narita melangkah mendekati ranjangnya, lalu meraih mukena yang diberikan Farah, mendekap di dadanya, lalu menangis sesenggukan.

“Disaat seperti ini, aku baru mengingatMU, ya Allah … Ya Allah … “ rintihnya sambil menciumi mukena itu, yang kemudian menjadi basah oleh air matanya.

Tertatih Narita melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu, sambil air matanya bercucuran.

***

Ketika Alfian sampai di rumah, dilihatnya sang istri menunggunya di teras. Bahagia rasanya, saat ia menyadari bahwa dia punya istri, yang sudah mengerti akan semua kewajibannya.

“Baru pulang, Tuan?”

“Iya, ini agak cepat pulang, habis, kangen sama kamu,” katanya sambil mencium kening sang istri.

“Tuan kok begitu, dilihat orang tuh,” kata Aliyah tersipu.

“Memangnya kenapa kalau dilihat orang? Mencium istri sendiri kan tidak salah, kecuali kalau mencium istri orang,” kata Alfian sambil merangkul Aliyah, mengajaknya masuk ke dalam.

“Malu ah.”

“Aliyah, ini terakhir kalinya aku minta sama kamu. Jangan panggil aku ‘tuan’.”

“Memangnya kenapa? Sudah terbiasa di lidah, susah menggantinya.”

“Tidak susah. Cuma panggilan saja kok dibuat susah. Ingat ya, panggil aku Alfi, atau mas Alfi. Selain itu aku tidak mau dengar,” kata Alfian tandas sambil masuk ke dalam kamarnya, diikuti istrinya.

Aliyah tersenyum. Ia ingat Afifah, yang juga menyarankannya begitu. Kok susah ya, memanggil mas Alfi, begitu saja?

“Tuan … mas Alfi…”

“Nah, begitu manis terdengarnya, ya kan?”

Aliyah membantu Alfian melepas jas kerjanya. Ia sudah menyiapkan baju ganti yang akan dipakai suaminya setelah mandi.

“Ada kabar baik.”

“Apa tuh?”

“Mas Pinto akan mulai bekerja di kantor aku, minggu depan.”

“Oh ya? Itu benar-benar kabar baik. Aku ikut senang.”

“Ngomong-ngomong, apa kamu dulu dekat sama mas Pinto?” tanya Alfian dengan nada sedikit cemburu. Sebetulnya sudah lama dia ingin menanyakannya, baru sekarang bisa terucap.

“Dekat? Ya, karena dia pernah menolong aku saat aku pingsan di depan rumah makannya.”

“Oh ya? Kamu sakit, waktu itu?”

“Aku … kelaparan,” kata Aliyah malu-malu.

“Kamu? Kelaparan? Ya Tuhan, istriku begitu sengsara?”

“Aku mencari pekerjaan sejak pagi, tidak dapat. Belum makan, belum minum, lalu sebelum sampai rumah, tepatnya di depan rumah makan tempat mas Pinto bekerja, aku pingsan.”

“Mas Pinto menolong kamu?”

“Dan memberikan aku sebungkus nasi rendang daging. Itulah pertama kalinya aku makan daging sejak aku masih kecil.”

“Aliyah?” tak tahan oleh rasa haru, Alfian meraih tubuh istrinya, didekapnya erat.

“Mm … mas Alfi kan sudah tahu, kalau aku orang miskin.”

“Ya, miskin harta itu bukan sebuah cacat. Miskin jiwa, barulah itu mengenaskan.”

“Setelah itu, mas Pinto sering menolong aku, membelikan bohlam lampu untuk rumahku, mengajari aku memasak, eh bukan, memanasi nasi goreng yang katanya kalau dimakan dingin kurang sedap.”

“Rupanya dia jatuh cinta sama kamu, dan kamu juga?”

“Ah, tidak. Aku hidup sendirian. Setelah bertemu mas Pinto, aku merasa menemukan seorang kakak. Tidak lebih. Aku belum pernah jatuh cinta.”

“Bohong,” kata Alfian sambil mendekapnya lebih erat.

“Kok bohong sih?”

“Kamu pernah mengatakan cinta sama aku, hayoo… ngaku. Kalau tidak pernah jatuh cinta, berarti kata-kata kamu itu bohong, dong.”

Aliyah tertawa, mendorong pelan tubuh suaminya.

“Baru kali itu. Aku tidak bohong.”

“Benar?”

“Apa aku pernah berbohong?”

“Baiklah. Aku hanya khawatir, kamu memiliki perasaan yang lain sama mas Pinto.”

“Tidak, aku justru ingin menjodohkan mas Pinto dengan Farah.”

“Haaa, itu aku setuju. Orang baik, berjodoh dengan gadis yang baik. Itu sangat menyenangkan bagi kita, kan?”

“Aku harap itu akan benar-benar terjadi. Kelihatannya Farah juga suka, mas Pinto demikian juga.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Dari cara dia memandang. Tadi itu, ketika mereka bertelpon, kelihatan kalau Farah amat senang dan tertawa-tawa. Pasti mas Pinto menggodanya.”

“Bagus kalau begitu. Oh ya, ada lagi, aku lupa mengatakannya. Besok pagi akan ada guru datang kemari.”

“Guru? Untuk apa?”

“Dia akan mengajari kamu banyak hal. Pengetahuan umum, mungkin bahasa, atau cara kamu bersikap dan berbicara.”

“Memangnya aku kenapa?”

“Aliyah, aku minta maaf. Bukan karena aku merendahkan kamu, tapi aku hanya ingin kamu lebih pintar, bisa menguasai setiap situasi, bergaul dengan siapa saja tanpa merasa rendah diri, berbicara sangat lancar dengan siapapun juga, karena kamu menguasai banyak hal. Pokoknya banyak. Sekali lagi maaf, bukan karena kamu banyak kekurangan. Menurut aku, kamu itu sangat sempurna. Tapi kamu harus tahu, karena kedudukan aku, aku harus berbaur dengan banyak orang dan banyak kalangan, sedangkan aku ingin kamu selalu berada di samping aku. Apa kamu mengerti?”

“Baiklah, aku mengerti.”

“Kalau begitu, kamu akan mulai besok pagi. Sekarang aku mau mandi, gerah.”

“Mandilah, akan aku siapkan minuman untuk kamu,” kata Aliyah yang mulai bisa bercakap lancar dengan suaminya, bahkan ber ‘aku’ dan ber ‘kamu’, serta belajar membiasakan diri dengan memanggilnya ‘mas Alfi’.

***

Aliyah sedang menuju ke arah belakang, untuk membuatkan minum untuk suaminya, tapi ternyata Farah sudah membuatkannya.

“Sudah saya buatkan Nyonya,” kata Farah sambil meletakkan gelasnya di nampan.

“Terima kasih Mbak Farah. Oh ya, tadi Mbak Farah mampir ke hotel untuk memberikan mukena, bukan?”

“Iya, Nyonya. Hanya menyerahkan mukena, lalu disuruh segera pulang, katanya, non Narita ingin segera istirahat. Tapi saya melihat non Narita masih sangat pucat.”

“Barangkali setelah ia merasa nyaman selama beberapa hari, dia akan senang dan sumringah.”

“Iya Nyonya, saya juga sudah menanyakan lagi, apa non sakit, tapi katanya baik-baik saja.”

“Iya Mbak, terima kasih banyak. Kalau ada apa-apa, tolong dibantu ya.”

“Baik Nyonya.”

“Oh iya, tadi tu .. mm … mas Alfi bilang, kalau bulan depan, mas Pinto sudah akan mulai bekerja di kantornya mas Alfi.”

Farah tersenyum, bukan karena sang nyonya sudah mau memanggil suaminya dengan sebutan ‘mas’, tapi juga karena berita tentang Pinto yang segera akan bekerja di kantor tuannya.

“Syukurlah, Nyonya.”

“Semoga dia kerasan. Dengan begitu, kamu akan lebih sering ketemu,” goda Aliyah.

“Ah, nyonya, kenapa bisa lebih sering ketemu? Bukankah kerjanya di kantornya tuan, bukan di rumah ini?”

“Benar, siapa tahu mas Alfi akan sering mengajaknya ke rumah.”

“Nyonya ada-ada saja. Mari, minumnya saya bawakan,” kata Farah mengalihkan pembicaraan.

“Biar aku saja, kan Mbak Farah sudah membuatkan. Mulai sekarang kita akan selalu berbagi pekerjaan ya Mbak, aku senang melakukannya.”

“Baiklah Nyonya. Kalau Nyonya melakukannya, pasti tuan akan lebih suka lagi.”

“Aku kan belajar dari Mbak Farah,” kata Aliyah sambil membawa nampan, berisi minum untuk Alfian, sekaligus cemilan kesukaannya.

Farah tersenyum senang. Rumah itu sekarang terasa lebih hidup dengan penuh cerah ceria.

***

Narita sudah selesai bersujud, sesambat kepada Sang Pencipta, dan memohon ampun kepadaNya, sambil menangis sesenggukan.

Saat melipat mukena itu, tiba-tiba Narita seperti mendengar suara.

“Mengapa harus kamu lenyapkan janin tak berdosa itu? Kenapa harus kamu kutuk dia hanya karena darah orang jahat yang mengalir di tubuhnya? Kamu harus ingat, dia suci, bersih tak bernoda.”

Narita mengusap air matanya. Bahwa terciptanya bayi di rahimnya adalah karena dosa dan keburukan tingkahnya. Bahwa kemudian bayi itu ada, mengapa harus menyalahkannya? Ia sudah membuka buka info tentang dokter kandungan yang ada, dari ponsel pintar yang dimilikinya. Ia bersiap pergi ke sana, bukan untuk menggugurkannya, tapi untuk meyakinkan kehadirannya, yang harus disambutnya dengan sorak dan gempita kebahagiaan.

Narita meraih sepotong roti yang ada di meja, mengunyahnya pelan dengan berat hati karena perutnya terasa tak enak. Ia memaksanya, karena ia harus punya kekuatan untuk keluar menemui dokter kandungan tersebut.

Ketika sebuah ketukan pintu terdengar, kemudian Narita melihat seorang petugas hotel menyerahkan kantung plastik berisi obat.

“Ini sudah kami belikan, dari resep yang tadi diberikan dokter.”

“Berapa harganya?”

“Nyonya tidak perlu membayarnya, saya akan melaporkan semua pengeluaran kepada mbak Farah, dia sudah berpesan wanti-wanti.”

“Tidak. Untuk obat-obat itu, jangan melaporkannya kepada Farah. Saya akan membayarnya sendiri. Juga tentang pembayaran untuk dokter yang tadi memeriksa aku. Ingat, aku juga tidak ingin mereka tahu bahwa aku sakit dan butuh ke dokter.”

“Baiklah Nyonya, kwitansi pembayaran akan kami serahkan kepada Nyonya secepatnya.”

“Nanti saja, tolong sekarang panggilkan taksi, aku mau keluar sebentar,” perintah Narita.

“Baik, Nyonya.”

Petugas hotel itu berlalu. Mereka benar-benar melayani Narita dengan sangat istimewa, karena mereka mendapat bayaran mahal untuk itu. Sekarang Narita bersiap untuk pergi. Ia sudah memiliki uang yang diberikan Aliyah, ia akan membayar semua biaya dokter dan obat-obatnya, dan tak ingin Aliyah tahu tentang hal itu.

***

Aliyah dan Alfian sedang duduk bersantai di ruang tengah. Televisi yang menyala, bukan untuk dinikmati oleh mereka, karena mereka asyik bercanda sambil meluapkan rasa cinta mereka.

Tapi tiba-tiba Aliyah ingin menelpon Narita, hanya untuk menanyakan keadaannya.

“Kamu kan sudah dari sana, sudah memenuhi semua kebutuhannya, mau apa lagi, malam-malam menelpon dia?”

“Hanya ingin menanyakan keadaannya saja.”

Tapi ternyata Narita tidak menyalakan ponselnya. Karena penasaran, Aliyah menelpon ke hotel. Tapi petugas hotel mengatakan bahwa Narita sedang keluar.

“Kemana?” tanya Aliyah.

“Saya kurang jelas, tapi tadi saya mendengar bu Narita mengatakan mau ke dokter, kepada pengemudi taksi itu. Saya kebetulan mendengarnya, karena saya mengantarkannya sampai ke lobi.”

“Ke dokter?” Aliyah tentu saja terkejut.

***

Besok lagi ya.

Thursday, May 11, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 42

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  42

(Tien Kumalasari)

 

Narita terus melangkah memasuki lobi hotel, sedangkan Aliyah terus menerus menggandengnya, sampai kemudian tiba di sebuah kamar yang dipesan oleh Alfian. Farah yang selalu bersama mereka, memesan semua kebutuhan Narita dari pagi sampai malam, selama Narita ada di hotel itu.

“Non, kamar ini sudah dipesan selama sebulan. Semua kebutuhan Non akan dilayani oleh petugas hotel. Kalau Non butuh apa-apa, tinggal pesan saja, baju-baju Non sudah saya atur di dalam almari itu, kalau Non masih membutuhkan sesuatu, Non bisa mengabari saya.” kata Farah.

“Ya, aku mengerti. Terima kasih banyak, menempatkan aku di tempat yang sangat nyaman.”

“Afifah, kamu akan berada di hotel ini minimum selama satu bulan. Diharapkan, dalam sebulan ini, rumah nenek Supi sudah selesai direnovasi, lalu kamu bisa tinggal di sana selamanya,” terang Aliyah.

“Baiklah, terima kasih banyak Aliyah. Kamu tahu bahwa aku bukan saudarimu yang baik, tapi kamu memperlakukan aku dengan sangat baik.”

“Aku hanya memiliki kamu, Afifah. Suka dan duka, akan kita hadapi bersama-sama.”

Narita mengangguk terharu, lagi-lagi air mata kembali membasah di matanya.

“Kalau kamu ingin membeli sesuatu, ini uang yang bisa kamu bawa,” kata Aliyah sambil memberikan sebuah amplop tebal berisi uang.

“Aliyah, sudah banyak yang kamu lakukan, uang ini sepertinya tidak perlu, semuanya kamu sudah mencukupinya.”

“Kamu jangan berterima kasih sama aku, berterima kasihlah sama tuan Alfi. Dia yang memberikan semuanya ini, aku punya apa?” kata Aliyah.

Narita tersenyum. Tapi dia tak bisa menolak pemberian itu, karena Aliyah menyusupkan amplopnya ke bawah bantal.

“Barangkali kamu butuh sesuatu,” kata Aliyah memaksa.

“Katakan pada suami kamu, aku mengucapkan terima kasih, karena dia juga yang membebaskan aku, bukan? Tapi aku jadi ingin tertawa, mengapa kamu memanggil suami kamu dengan sebutan ‘tuan’? Itu aneh, Aliyah.”

Aliyah hanya tersenyum.

“Kebiasaan memanggilnya begitu sih.”

“Kamu harus merubahnya. Panggil saja namanya, atau mas Alfi, itu lebih manis bukan?”

“Benar Nyonya, sebaiknya Nyonya tidak memanggil ‘tuan’ pada suami. Kelihatan kalau kurang mesra, begitu,” sambung Farah.

Nanti akan aku coba.

Tiba-tiba ponsel Farah berdering.

Farah mengangkat ponselnya. 

"Dari mas Pinto,” katanya sambil mengangkatnya.

“Ya, Mas Pinto.”

“Ini lagi di mana?”

“Lagi di hotel, mengantarkan non Narita. Mas mau ketemu Nyonya Aliyah?”

“Tidak, mau ketemu Mbak Farah, kan aku menelpon nomor ponsel Mbak Farah.”

“Iya sih, barangkali mau bicara sama Nyonya Aliyah.”

“Tidak, aku mau tanya saja, hari ini tuan Alfi ada di rumah?”

“Di kantornya Mas. Mas mau ketemu?”

“Iya, ini tentang pekerjaan yang ditawarkan kemarin dulu itu.”

“Mas menelpon dulu saja, dan bilang kalau mau ketemu. Senang lhoh, kalau mas Pinto jadi bekerja di kantor tuan Alfi.”

“Kenapa seneng?”

“Iya, kan bisa sering ketemu Nyonya.”

“Nggak ah, nyonya kan sudah ada yang punya. Bagusnya ketemu yang belum punya siapa-siapa saja,” goda Pinto yang tiba-tiba punya keberanian.

Farah tersipu.

“Mas Pinto gitu ah, memangnya siapa yang belum punya siapa-siapa?”

“Siapa ya, kayaknya yang ada di rumah tuan Alfi tuh yang belum punya hanya Mbak Farah deh.”

“Bisa saja, mas Pinto ini.”

“Maaf ya Mbak, jangan marah, saya hanya bercanda.”

“Nggak apa-apa, kenapa marah? Bercanda itu kan membuat orang awet muda.”

“Masa? Oh ya, aku boleh tanya nomor kontaknya Tuan Alfi?”

“Belum punya ya? Baiklah, akan saya kirimkan.”

Farah masih senyum sumringah, ketika memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Mbak Farah kok senyum-senyum, kelihatannya senang nih?” tanya Aliyah.

“Itu tadi mas Pinto.”

“O, pantesan, Mbak Farah senyum-senyum.”

“Nyonya itu kenapa sih, memangnya kalau saya menerima telpon dari orang lain tuh nggak pernah senyum?” elak Farah menyembunyikan rasa malunya.

“Senyumnya kan beda. Tapi aku senang kalau Mbak Farah dekat sama mas Pinto, dia itu baik, rajin, penuh perhatian. Pokoknya tidak mengecewakan.”

“Nyonya bisa aja. Mana mau mas Pinto sama saya.”

“Siapa yang nggak mau sama gadis manis, cantik, rajin pula, dan juga pintar.”

Farah tersipu. Barangkali ada benarnya, kalau Pinto tidak mengecewakan. Bisakah keduanya menyatu dalam satu hati dan cinta?

Farah mengirimkan nomor kontak Alfian kepada Pinto, sambil mengibaskan rasa malu karena ucapan Aliyah.

“Afifah, apa kamu takut tidur sendiri di sini? Haruskah aku menemani?”

“Ya ampun, ya berani lah, kayak anak kecil saja. Sebenarnya senang sih, kalau kamu menemani aku, tapi itu tidak benar. Bukankah kamu punya suami? Suami kamu pasti tidak mau kamu meninggalkannya.”

“Kamu bisa saja.”

“Itu benar. Kalau sekali-sekali kamu ingin menemani aku, boleh saja, tapi tidak setiap hari. Itupun kamu harus meminta ijin dulu sama suami kamu.”

“Iya, aku ingin, supaya banyak cerita yang bisa saling kita ungkapkan. Rasanya belum puas bertemu dan berpisah lagi.”

“Benar. Tapi minta ijin dulu sama suami kamu, dan ingat, jangan lagi memanggil ‘tuan’,” pesan Narita karena tampaknya Aliyah akan segera meninggalkannya.

“Tapi Afifah, benarkah kamu tidak merasakan sakit, atau apa?” tanya Aliyah sebelum menutup pintu kamarnya.

“Tidak, aku hanya lelah.”

“Baiklah, kalau kamu merasa sakit, bilang saja, nanti aku antarkan kamu ke dokter.”

“Iya, tenang saja. Aku tidak apa-apa kok.”

***

Namun sebenarnya Narita memang merasakan sakit. Ia sering merasa pusing, dan badannya sangat lemas. Sejauh ini dia hanya menganggapnya sebagai masuk angin saja. Tapi semakin hari, rasa tak enak itu semakin menyiksanya. Tapi dia tak ingin mengeluh di depan Aliyah. Ia selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Ketika Aliyah menjemputnya, Farah sudah membawakan makanan untuk sehari, dan banyak camilan. Tapi Narita hanya ingin tidur. Ia tak memiliki selera makan, saat tubuhnya merasa lemas, seperti yang dirasakannya sekarang ini.

Tapi karena tak tahan, ia memanggil petugas hotel, dan memintanya agar membelikan obat pusing dan obat gosok.

“Kalau nyonya merasa sakit, saya bisa memanggilkan dokter agar datang kemari,” kata OB yang membelikan obat dan obat gosok untuknya.

“Perlukah memanggil dokter?” Narita seperti bergumam pada dirinya sendiri.

“Tapi kalau Nyonya ingin mencoba minum obatnya dulu, silakan saja.”

“Baiklah, nanti kalau sakitnya tidak berkurang, nggak apa-apa kalau harus memanggil dokter.”

Semua petugas hotel siap melayani Narita di setiap kebutuhannya, karena Farah sudah berpesan banyak dari petugas yang paling bawah, sampai manager hotel yang berjanji akan melayani Narita dengan sebaik-baiknya. Maklumlah, Narita ditempatkan di kamar yang terbaik dengan pelayanan yang super. Tentu dengan bayaran yang sangat tinggi. Alfian bisa melakukan apa saja.

***

“Nyonya, menurut saya, wajah non Narita sangat pucat ya?”

“Menurutku juga begitu. Aku mengira dia sakit. Tapi dia bilang tak apa-apa.”

“Iya Nyonya,  beberapa hari ditahan polisi, pasti membuatnya sangat tersiksa.”

“Kasihan Afifah. Ia pasti sangat menderita. Tapi sejak saat ini, aku tak akan lagi membiarkan dia menderita. Aku akan membuatnya senang, bahagia, setiap saat.”

“Saya bisa mengerti, karena antara Nyonya dan non Narita ada ikatan darah yang tak mungkin berbeda.”

“Apakah dulu kamu membencinya?”

“Tidak Nyonya. Tapi tuan Alfi yang merasa sangat disakiti, tentu saja sangat membencinya. Kalau bukan karena permintaan Nyonya, tak mungkin tuan mau membebaskan  non Narita.”

“Dia begitu, karena sejak kecil terbiasa hidup dimanja dan berkecukupan.”

 “Benar Nyonya, seperti salah asuhan, begitu. Pokoknya diberi kesenangan, dicukupi semua kebutuhan, dan pasti semua keinginannya juga didapatkan.”

“Tapi dia juga salah pergaulan. Bersenang-senang tanpa kendali. Akhirnya setelah ayah dan ibu angkatnya meninggal, dia dibuang sama kerabatnya, lalu terjerumus ke dalam kehidupan yang buruk. Ah, ngeri aku membayangkannya ya Mbak,” keluh Aliyah sedih.

“Sekarang Nyonya tidak usah bersedih lagi, non Narita sudah dientaskan dari semua penderitaannya, dan dia akan berbahagia karena memiliki saudara sebaik Nyonya.”

“Aku baik apa, aku kira semua orang akan mengasihi saudaranya.”

“Benar, tapi Nyonya luar biasa. Itu sebabnya tuan Alfi sangat mencintai Nyonya.”

Aliyah tersenyum. Baru beberapa hari ini ia berdamai dengan kehidupan yang sesungguhnya. Berumah tangga, melayani suami dalam segala hal, dan penuh cinta. Ia baru sadar, begitu indahnya cinta yang dirasakannya. Dia, gadis papa yang sebelumnya tak tahu dirinya jatuh dari mana, kemudian menemukan laki-laki yang manis budi dan setiap hari selalu mendendangkan kidung-kidung cinta yang menghanyutkan.

***

Alfian sangat senang, hari itu Pinto menelponnya, dan berjanji akan siap menjadi asisten pribadinya, seperti yang pernah ditawarkannya.

“Baiklah, datang dan mulailah bekerja, kapan mas Pinto mau.”

Pinto berjanji akan mulai bulan depan, yang hanya tinggal sekitar semingguan, karena ia harus berpamit secara baik-baik kepada majikannya.

Pak Candra yang memasuki ruangannya, menunggu sampai Alfian selesai bertelpon.

“Ini tadi yang namanya Pinto, Pak.”

“Sudah siap bekerja dia?”

“Minggu depan, katanya. Awal bulan pastinya.”

“Kamu tiba-tiba akan menjadikan dia asisten pribadi kamu. Kamu yakin bahwa dia benar-benar baik dan bisa bekerja?”

“Yang paling saya suka atas dia, bahwa dia memiliki hati yang tulus. Dia menemukan Aliyah, dan menolak imbalan seperti yang pernah saya janjikan. Benar-benar menolak, karena bukan uang itu yang dia harapkan.”

“Lalu kamu menggantinya dengan memberikan pekerjaan?”

“Betul Pak, saya yakin mas Pinto akan dengan cepat bisa beradaptasi dengan lingkungan kita. Saya sendiri yang akan membimbingnya.”

“Baiklah, terserah kamu saja. Bukankah semuanya sudah aku serahkan sama kamu?”

“Semoga tidak akan mengecewakan, nantinya.”

“Aamiin. Oh ya Al, bapak kesini ini kan mau bicara, bahwa minggu depan jadi ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnis, bersamaan dengan ulang tahun perusahaan kita ini pastinya.”

“Iya. Saya ingat Pak, dan beberapa staf sudah mulai mempersiapkan adanya acara tersebut.”

“Jangan sampai mengecewakan. Dan satu hal yang penting aku katakan ialah, kekhawatiran ibu kamu, tentang Aliyah.”

“Memangnya ada apa dengan Aliyah?”

“Bukankah nanti kamu juga akan membawanya dalam pertemuan itu?”

“Tentu saja Pak, mengapa tidak? Ibu khawatir tentang apa?”

“Pertemuan itu kan berbeda dengan ketika kalian menikah. Para tamu, mendekat, salaman, lalu pergi. Tidak banyak basa basi yang harus dilakukan. Tapi nanti, istri kamu juga harus berinteraksi dengan rekan-rekan kamu, istri-istrinya juga pastinya. Apa kira-kira Aliyah bisa berbaur dengan mereka?”

Alfian tampak diam. Tampak bahwa dia sedikit tersinggung karena merasa orang tuanya, lebih-lebih ibunya, masih sangat menganggap Aliyah sebagai gadis rendahan.

“Hal itu harus kamu pikirkan,” sambung pak Candra lagi.

“Bapak tidak usah khawatir. Aliyah tidak akan mengecewakan atau membuat malu keluarga kita,” kata Alfian tandas.

“Alfi, kamu jangan tersinggung, bapak hanya mengingatkan kamu, bahwa reputasi kita diantara para pebisnis sudah diakui oleh mereka sebagai pebisnis kalangan atas. Jadi_”

“Iya, saya tahu Pak, saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan. Bapak, lebih-lebih ibu, tak akan kecewa nantinya.

“Baiklah, aku percaya sama kamu.”

Sepeninggal pak Candra, Alfian segera menelpon Farah.

“Farah, kamu cari seorang guru untuk Aliyah.”

“Guru apa maksud Tuan?”

“Guru untuk semuanya. Aliyah harus memahami yang namanya pengetahuan umum, juga cara dia bergaul, bersikap, berbicara. Itu urusan guru modeling yang pernah datang. Kamu sudah tahu maksudku?”

“Oh, iya Tuan, saya mengerti.”

“Segera kerjakan, dan mulai besok pagi. Semingguan lagi ketika ulang tahun perusahaan, istriku harus tampil cantik, mempesona, dan tidak memalukan.”

“Baik, Tuan, saya mengerti.”

Alfian meletakkan ponselnya dan merasa lega. Aliyah sangat cerdas, dia pasti bisa menguasai semuanya. Toh dulu ia pernah mengalaminya, walau hanya dua hari sebelum pernikahan itu.

***

Narita sudah minum obatnya, dan menggosok tubuhnya dengan minyak, tapi ia masih merasa lemas. Sejak pagi dia belum makan, karena memang tak ingin makan. Rasanya mual dan lemas. Untunglah Aliyah segera pulang, sehingga tak melihat ketika dia kesakitan.

Tapi sore hari itu, ketika petugas kebersihan memasuki kamarnya, ia terkejut karena melihat Narita merintih-rintih sambil bergulung di tempat tidur.

“Nyonya, ada apa?”

“Sekarang, tolong panggilkan dokter.”

“Apakah saya juga harus mengabari mbak Farah?”

“Tidak … tidak, tolong jangan mengabari siapapun. Segera panggilkan dokter untuk aku.”

Narita bingung, ia merasa pusing, sangat pusing, dan perutnya terasa mual. Tapi ia tak ingin Aliyah mengetahuinya. Ia merasa lega ketika dokter yang dipanggilnya datang.

“Dokter itu seorang wanita, begitu ramah dan sabar. Ia memeriksa dengan teliti, memegang-megang perutnya, kemudian tersenyum.

“Nyonya tidak sakit. Nyonya sedang hamil.”

***

Besok lagi ya.

Wednesday, May 10, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 41

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  41

(Tien Kumalasari)

 

Aliyah terkejut. Ia menatap mata Alfian yang tampak menyala. Ada kemarahan di sana. Apakah permintaannya keterlaluan? Aliyah tidak sadar, bahwa kebawa oleh rasa cinta serta belas kasihannya kepada sang saudari kembar, maka ia mengucapkan itu. Kecuali itu ia tahu bahwa Narita juga menginginkan Alfian. Bukankah Narita menyamar menjadi dirinya karena dia ingin menjadi istri Alfian? Dan Alfian juga pernah mencintainya bukan?

Tapi sekarang Aliyah ketakutan. Mata itu seperti memancarkan api. Aliyah jadi teringat, ketika pertama kali menginjakkan kakinya di rumah ini, disiksa dengan tuduhan yang sama sekali tidak dilakukannya, ia melihat mata itu, sama seperti dulu. Duduknya beringsut, agak menjauh, kedua telapak tangannya menjadi dingin, berkeringat.

“Tuan, ada apa?”

Teriakan Farah membuat Aliyah menatap ke arahnya, kemudian merosot turun, bermaksud memungut pecahan gelas yang berserakan di lantai.

“Nyonya, ya ampun … jangan Nyonya, biar saya saja,” kata Farah sambil membalikkan tubuhnya kebelakang, mengambil peralatan untuk membersihkan pecahan gelas dan lantai yang basah kehitaman.

Alfian menarik tangan Aliyah, diajaknya masuk ke dalam kamarnya, kamar Aliyah sendiri. Aliyah tak bisa menolak, karena genggaman di pergelangan tangannya sangat keras. Alfian membawanya masuk, lalu menutup pintunya, kencang, membuat Aliyah terlonjak.

Alfian mendudukkan Aliyah di sofa yang ada di kamar itu.

“Tuan … apa Tuan marah sama saya?”

Aliyah masih melihat mata bersembur api itu, membuatnya semakin berkeringat. Selama menjadi istrinya, ia tak pernah melihat Alfian semarah itu.

“Apa kamu sadar akan apa yang kamu katakan?” kata Alfian dengan nada tinggi. Aliyah menundukkan wajahnya.

“Kalau kamu ingin agar aku mencabut laporan aku atas Narita, masih bisa dimengerti. Tapi kamu meminta agar Narita menjadi madumu? Berarti aku juga harus memperistri dia? Apa kamu sadar bahwa itu keinginan yang salah?”

“Kelihatannya, Narita ingin menjadi istri Tuan …”

“Karena itu, lalu kamu mengungkapkan keinginan yang sangat menyimpang dari ajaran agama kamu?”

Aliyah terkejut. Ia lupa bahwa tidak bisa kakak beradik menjadi madu. Rasa sayang, rasa iba, dan rasa memiliki ikatan sebagai saudara sedarah, membuat dirinya tak rela melihat Narita menderita. Ia ingin agar Narita bisa meraih keinginannya menjadi istri Alfian.

“Maafkan saya.”

“Dengar Aliyah. Ada dua alasan yang membuat aku sangat marah mendengar ucapan kamu. Satu, adalah bahwa hal itu tidak pantas dan tidak boleh dilakukan. Ke dua, bahwa aku hanya mencintai kamu.”

“Bagaimana kalau tuan melepaskan saya, dan_”

“Diam, Aliyah!! Sebuah pernikahan bukan permainan yang bisa diletakkan atau dibuang saat tidak terpakai. Sebuah pernikahan itu suci, disaksikan malaikat dan didengar sumpahnya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Kali ini aku tidak main-main dalam berkata-kata. Aku tidak akan melepaskan kamu, karena aku mencintai kamu, hanya kamu dan bukan wanita lain. Tapi kalau kamu mau mengatakan bahwa kamu tidak mencintai aku, kamu membenci aku, aku ikhlaskan kamu pergi,” kata Alfian tandas.

Aliyah terkejut. Belum hilang rasa terkejutnya, ia melihat Alfian berdiri dan keluar dari kamar itu. Sambil membanting pintunya. Walau tidak sekeras tadi, tapi cukup membuat Aliyah terhenyak. Kali ini bukan karena pintu itu, tapi karena ucapan terakhirnya.

Kalau dia tidak cinta, kalau dia benci, Alfian akan melepaskannya.

“Ya Tuhan,” keluh Aliyah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Iapun terisak-isak masih dengan menutupi wajahnya, membiarkan air mata mengalir dari sela-sela jarinya.

“Tuan, saya cinta kamu … Tuan, saya tidak membenci kamu …” katanya di sela-sela tangisnya.

Ungkapan perasaan yang belum pernah diucapkannya, yang masih dipendamnya dalam hati, akhirnya diucapkannya juga. Sayang sekali Alfian tidak mendengarnya. Alfian masih terbakar amarah oleh karena keinginannya yang tidak pantas.

Diluar, Farah menatap tuannya yang keluar dari kamar Aliyah. Ia ingin menanyakan sesuatu, tapi diurungkannya saat melihat wajah gelap itu langsung menuju ke arah kamarnya sendiri.

“Ya Tuhan, ada apa sebenarnya?” gumam Farah yang sudah selesai membersihkan lantai dari pecahan gelas dan tumpahan kopi.

Aliyah masih terisak, sungguh ia merasa bersalah, dan menyesal telah membuat suaminya marah. Ia mengeringkan wajahnya dari air mata, menenangkan perasaannya, kemudian keluar dari kamar. Dilihatnya Farah sedang meletakkan kopi yang baru, dan segelas teh hangat untuk dirinya.

“Mana Tuan?”

“Ada di kamarnya, Nyonya.”

Aliyah melangkah ke kamar suaminya, mengetuknya pelan, lalu membuka pintunya. Dilihatnya Alfian berbaring tertelungkup di atas ranjangnya. Perlahan Aliyah mendekat. Ia belum pernah melakukannya. Mendekati suaminya, apalagi di saat suaminya sedang berada di atas ranjang.

Tapi kali itu Aliyah seperti dibayang-bayangi ketakutan, kalau suaminya mengira bahwa dia membencinya.

Aliyah berdiri di samping ranjang itu dengan debar jantung yang tak beraturan. Tangannya sudah bergerak untuk menyentuh tubuh tegap yang tampak diam dan masih tertelungkup. Barangkali ia tak mendengar kedatangan Aliyah. Barangkali juga tidak mengira Aliyah akan mau memasuki kamarnya.

“Tuan … “ kata Aliyah pelan, dan sedikit gemetar.

Bibirnya sudah bergerak untuk mengucapkan sesuatu, tapi suara itu tak juga keluar. Alfian masih terdiam, mungkin juga sedang tertidur.

“Tuan, saya tidak membenci Tuan. Saya … cinta sama Tuan,” ucapnya agak mendekat ke telinga Alfian, kemudian ia membalikkan tubuhnya. Alangkah malu mengucapkan kata cinta pada seorang lelaki, walaupun dia suaminya. Aliyah membalikkan tubuhnya, setengah berlari menuju pintu. Tangannya sudah memegang gagang pintu, ketika Aliyah merasa seseorang mendekapnya dari belakang.

Aliyah terkejut, ia tak berdaya ketika Alfian membalikkan tubuhnya sehingga mereka berhadapan. Aliyah benar-benar gemetar. Hal ini belum pernah terjadi. Ketika wajah mereka berdekatan, ketika dekapan itu semakin kencang, lalu terdengar keluh Aliyah.

“Tuan, ss.. saya malu. Ss.. saya …”

Aliyah tak mempu melanjutkan ucapannya, ketika sebuah alunan cinta membuatnya luluh tak berdaya.

***

Farah duduk di kursi dapur, sambil menghirup kopi hangatnya, ketika Kirman tiba-tiba muncul.

“Hei, minum-minum sendiri … senyum-senyum sendiri ….”

Kirman segera ikut duduk di depan Farah, sambil langsung menyeruput kopi yang disiapkan untuknya.

“Ada apa ?”

“Saya sedang senang nih Mas.”

“Memangnya kenapa?”

“Melihat tuan dan nyonya berada di satu kamar.”

“Memangnya kenapa? Aku tadi mendengar suara nyonya menangis.”

“Biasa kan, dalam rumah tangga tuh kadang-kadang berantam. Tapi setelah kemudian damai, saling memaafkan, semuanya menjadi indah.”

“Seperti pernah berumah tangga saja,” omel Kirman sambil meraih roti yang disiapkan di meja itu.

“Memang belum sih, tapi kan ya pernah membaca-baca di buku cerita atau apa … gitu.”

“Sebenarnya tuan dan nyonya kenapa?”

“Nggak tahu aku. Tadi tiba-tiba ada gelas kopi pecah, lalu tuan kelihatan marah, dan menarik nyonya ke dalam kamar.”

“Bukan marahan berarti.”

“Tuan kelihatan sangat marah, tapi aku tidak tahu kenapa. Biarkan saja, mereka itu sebenarnya saling mencintai, hanya nyonya yang tidak mau mengakuinya.”

“Tuan tidak bertanya tentang pertemuan antara nyonya dan non Narita?”

“Nah, mungkin itu salah satu biang keladinya.”

“Memangnya kenapa?”

“Kelihatannya, nyonya ingin agar tuan Alfi membebaskan non Narita.”

“Dan tuan Alfi marah?”

“Entahlah. Pokoknya habiskan saja kopi kamu, aku mau mandi, lalu masak untuk makan malam.”

"Eit, tunggu dulu, kamu belum cerita tentang yang namanya Pinto."

"Mas Kirman ada-ada saja. Kenapa aku harus cerita?"

“Tadi kan waktu pulang, saya juga mengantarkan tuan sepuh. Di perjalanan, tuan Alfi bicara tentang mas Pinto, yang katanya akan dijadikannya asisten pribadinya.”

“O, iya … memang aku juga pernah mendengar tentang itu. Tuan sepuh keberatan?”

“Tidak, semuanya diserahkan pada tuan Alfi.”

“Syukurlah. Tapi mas Pinto juga belum memberi kabar selanjutnya.”

“Menolak? Bodoh amat dia.”

“Bukan menolak, dia hanya ingin berpamit sama majikannya dulu. Kan dia masih bekerja di rumah makan.”

“Kelihatannya kamu suka ya?”

“Eh, nuduh sembarangan. Sudah, aku mau mandi, belum masak juga, nanti terlambat makan malamnya, tuan bisa marah,” katanya sambil beranjak pergi.

Kirman terkekeh geli, melihat wajah Farah tampak bersemu merah. Bagi Kirman, Farah sudah seperti adiknya. Dia senang kalau Farah mendapatkan jodoh yang baik.

***

Malam hari itu, tuan dan nyonya Alfi duduk makan malam dengan wajah berseri-seri. Ada sesuatu yang tadinya gelap tak terucap, tapi kemudian terurai dengan manis. Alfian sangat bahagia. Ia tak perlu khawatir Aliyah akan meninggalkannya. Aliyah sudah menjadi miliknya sepenuh hati, dan dia berjanji akan tetap menjaganya.

Malam itu Aliyah melayani suaminya dengan senyuman tersungging di bibir. Kesadaran akan rasa cintanya kepada Alfi, membuat malam itu semuanya tampak sangat indah. Senyuman Alfi indah, semua ucapannya indah, elusan tangan dikepalanya juga indah.

Farah yang melihat perubahan itu, merasa lebih baik menjauh dari ruang makan itu, yang biasanya ditungguinya sampai mereka selesai makan.

“Tuan benar-benar akan mencabut laporan tentang Narita?” tanya Aliyah sambil melayani menyendokkan sayur bagi sang suami.

“Aku sudah berjanji, dan aku akan menepati. Tapi kamu harus yakin, bahwa dia tak akan menjadi pengganggu bagi kita.”

“Sebenarnya kasihan juga dia.”

“Awas ya, jangan lagi mengulangi keinginan kamu selain membebaskan Narita.”

“Tidak, aku sudah tahu bahwa itu haram, kecuali Tuan sudah membuang aku.”

Alfian mengacak rambut Aliyah yang masih basah.

“Tapi aku harus memikirkan kehidupan Narita selanjutnya. Dia tak punya apa-apa.”

“Kali ini kamu jangan menolak pemberian aku uang. Kamu bisa mempergunakannya untuk membantu dia.”

“Baiklah, terima kasih, tuan.”

“Tapi jangan menyuruh dia tinggal di rumah ini. Rumah nenek kamu bisa diperbaiki, sehingga bisa menjadi hunian yang pantas bagi dia.”

“Sebelumnya … bolehkah dia tinggal di sini?”

“Tidak boleh, aku tidak mau. Kalau kamu menolak, aku tak akan membebaskannya.”

Aliyah mengerucutkan bibirnya.

“Aku tidak perlu mengungkapkan alasannya, yang jelas aku kurang suka sama dia.”

“Maafkanlah dia.”

“Aku sudah memaafkannya, tapi tidak bisa melupakannya.”

Aliyah mengangguk. Janji Alfian untuk mencabut laporannya sudah menyenangkan hatinya. Apalagi Alfian juga akan memperbaiki rumahnya agar Narita bisa tinggal dengan nyaman.

***

Narita senang, ketika Aliyah datang bersama Farah, dengan membawa makanan. Ikatan sebagai saudara kembar ternyata sangat kuat, membuat keduanya semakin merasa dekat, walau baru dua kali bertemu.

“Makanlah, aku menunggui kamu di sini. Sisanya bisa kamu buat untuk makan nanti siang.”

“Terima kasih Aliyah. Aku bahagia menemukan kamu yang ternyata sangat baik. Kamu juga tidak malu menjengukku setiap hari. Aku kan pesakitan.”

“Tuan Alfi akan membebaskan kamu,” kata Aliyah mengejutkan Narita.

“Benarkah?”

“Dia sedang mengurusnya. Kamu akan segera pulang.”

“Pulang? Aku pulang ke mana?”

“Ke rumah nenek Supi. Tuan Alfian berjanji akan mendandani rumah itu, sehingga menjadi rumah yang nyaman untuk kamu.”

Tak terasa, menetes air mata Narita karena terharu.

“Aku telah berbuat jahat, dan aku ini sebenarnya kotor. Aku punya masa silam yang hitam kelam, menjajakan tubuhku demi mendapatkan uang yang banyak,” kata Narita sambil menundukkan wajahnya. Aliyah terkejut. Narita belum pernah bercerita tentang masa lalunya itu. Bahkan Alfian pasti juga belum tahu.

“Aku dibenci oleh keluarga orang tua angkatku, setelah mereka meninggal. Aku tidak punya apa-apa, dan aku terjerumus ke dalam dunia kotor itu,” kata Narita sambil mengusap air matanya.

Teriris hati Aliyah mendengarnya. Rupanya saudara kembarnya begitu sengsara, walau selalu bergelimang harta. Harta yang busuk dan kotor.

Aliyah merangkul Narita penuh sayang.

“Lupakan semuanya. Dan mulailah hidup baru dengan langkah yang benar-benar bersih.”

“Aku tidak punya apa-apa.”

“Tapi aku punya. Pasti ada jalan untuk sebuah kehidupan. Sekarang cicipilah masakan aku dan mbak Farah.”

Aliyah menatap Narita yang kemudian menyantap makanannya dengan nikmat. Tapi sekilas Aliyah melihat wajah Narita yang pucat.

“Kamu sakit?” tanya Aliyah.

“Tidak, aku baik-baik saja.”

Aliyah merasa lega. Karena hidup di dalam tahanan, pastilah membuat Narita tersiksa.

“Sebentar lagi kamu akan bebas, Afifah,” kata Aliyah sebelum meninggalkannya.

***

Hari itu Aliyah dengan diantar Kirman dan Farah, menjemput Narita yang sudah bebas. Karena pembangunan rumah nenek Supi segera akan dimulai, maka Alfian memesankan sebuah kamar di hotel, untuk Narita.

Karena itulah, begitu dijemput, mereka langsung membawa Narita ke hotel itu. Ketika turun dari mobil, Aliyah terkejut, ketika melihat Narita berjalan limbung.

“Kamu sakit?”

"Tidak, aku baik-baik saja.”

***

Besok lagi ya.

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01.

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  01 (Tien Kumalasari)   Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalan...