Tuesday, May 9, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 40

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  40

(Tien Kumalasari)

 

Alfian tertegun. Ia menatap istrinya lekat-lekat. Membebaskan Narita? Berarti membatalkan laporannya?

“Aliyah, apa tidak lebih baik kamu ketemu saudaramu itu dulu? Temui dia, lalu pikirkan lagi permintaan kamu itu.”

“Memang saya ingin ketemu, Tuan. Tapi apapun yang terjadi, saya tak ingin saudara saya dipenjara.”

“Dia sangat jahat. Dia melakukan hal yang memalukan. Banyak kejahatan dilakukannya, dan yang terakhir adalah menyamar menjadi kamu, tanpa malu.”

Aliyah diam. Memang dari semua yang didengarnya, dia menilai bahwa Narita memang jahat. Tapi darah yang mengalir ditubuhnya, sama dengan darahnya. Mereka terlahir dari rahim yang sama. Nasib lah yang memisahkan mereka, dan lingkungan lah yang membuat sifat mereka berbeda.

“Baiklah, saya ingin bertemu dia. Di mana saya bisa menemuinya?”

“Kamu tidak boleh berangkat sendiri. Farah akan mengantarkan kamu.”

“Rupanya Tuan sangat takut kalau saya sampai melarikan diri lagi.”

“Aliyah, kamu itu istri aku. Kalau kamu pergi, sudah semestinya kalau aku merasa kehilangan. Kamu harus tahu, bahwa aku sangat mencintai kamu,” kata Alfian penuh perasaan. Tak lupa sebelah tangannya merengkuh bahu istrinya dengan rasa sayang.

Aliyah selalu merasa berdebar saat sang suami memperlakukannya seperti itu. Apakah berarti Aliyah juga mencintai Alfian? Tentu saja, Alfian gagah, ganteng, baik hati dan kaya raya. Wanita mana yang tidak tergila-gila manakala didekatinya? Tapi Aliyah bukan gila hartanya. Aliyah mencintai ketulusan hatinya. Aliyah yang sederhana tak pernah bermimpi tentang harta. Ia hanya ingin bisa melanjutkan hidupnya. Ah, ya … tiba-tiba Aliyah ingat bu Siti, majikan warung yang telah mengangkatnya dari kelaparan dan terlunta-lunta.

“Pagi ini saya mau menemui bu Siti terlebih dulu.”

“Siapa bu Siti?”

“Setelah pergi dari sini, aku bekerja di warung bu Siti.”

“Apa? Kamu bekerja di warung?”

“Bukankah saya pernah bilang bahwa saya ingin bekerja untuk melanjutkan hidup aku? Mas Pinto juga tahu kan, saat saya butuh pekerjaan?” katanya kemudian kepada Pinto.

“Itu benar. Sudah lama Aliyah ingin bekerja. Saya hampir mengajaknya bekerja, ketika tiba-tiba Aliyah menghilang,” sahut Pinto.

“Ya Tuhan, kamu istriku, dan ikut bekerja di warung? Pekerjaan apa yang kamu lakukan di sana?”

“Mencuci piring, membantu memasak,” kata Aliyah enteng, tapi Alfian terbelalak dibuatnya. Istri seorang konglomerat, menjadi pembantu di sebuah warung? Mencuci piring-piring?

“Aliyah?”

“Memangnya kenapa? Salahkah saya mendapatkan nafkah dari keringat saya yang menetes? Apakah itu buruk?” kata Aliyah tanpa beban.

“Mas Pinto, adakah yang lebih membahagiakan dari mendapatkan istri yang luar biasa ini?” tanya Alfian sambil menatap Pinto.

Pinto tersenyum dan mengangguk. Aliyah memang luar biasa. Pinto pernah jatuh cinta pada Aliyah karena perilakunya yang luar biasa itu. Tapi sekarang cinta itu sudah terbang entah ke mana. Bukankah cinta yang murni adalah ketika melihat orang yang dicintainya hidup bahagia? Seperti memberikan sebuah jawaban atas cinta itu, tiba-tiba Farah muncul sambil membawa nampan.

Pinto berdebar. Apakah rasa cinta itu lari kepada gadis hitam manis yang menjadi pembantu kepercayaan tuan Alfian ini?

“Ini minum buat Nyonya. Nyonya tidak suka kopi, hanya teh manis,” kata Farah sambil meletakkan cangkir di depan Aliyah.

“Terima kasih, Mbak Farah.”

Tuh, betapa santun nyonya muda ini, yang selalu memanggil Farah dengan sebutan ‘mbak’, setelah beberapa saat lamanya, Aliyah palsu hanya memanggil namanya begitu saja.

Farah tersenyum, dan mengangguk kepada sang nyonya muda.

“Oh ya Farah, pagi ini kamu harus mengawal Aliyah,” kata Alfian sebelum Farah berlalu.

“Nyonya mau ke mana?”

“Pertama, dia mau ketemu bu Siti, majikan warung yang telah memperkerjakannya selama berhari-hari. Lalu dia akan menemui Narita.”

“Nyonya sudah mengatakan kalau setelah pergi dari rumah, bekerja di warung bu Siti,” kata Farah.

“Tapi dia hanya ingin berpamit, bukan untuk kembali bekerja,” kata Alfian.

“Tentu saja Tuan. Nyonya Aliyah sudah kembali ke tempat yang semestinya. Ya kan Nyonya?”

Aliyah hanya tersenyum.

“Aku mau bertemu saudariku dulu.”

Alfian terhenyak, ia merasa, persyaratan membebaskan Narita harus dipenuhinya, kalau ingin Aliyah bersedia menjadi istri selamanya.

***

Bu Siti sedang sibuk menyiapkan memasak, tapi ia menyuruh pembantunya agar segera berangkat ke kampung Aliyah. Semalam Aliyah tidak pulang, dan itu membuatnya khawatir. Tapi belum lagi sang pembantu berangkat, tiba-tiba Aliyah muncul. Bu Siti terpana. Itu memang Aliyah, tapi mengapa penampilannya berbeda? Pakaiannya bagus, wajahnya berseri karena Farah mendandaninya. Walau tipis, tapi mampu memancarkan kecantikan yang sesungguhnya.

“Kamu, Aliyah?”

“Iya Bu, saya Aliyah.”

“Kamu membuat aku khawatir.”

“Saya mohon maaf Bu. Saya akan menceritakan siapa saya sesungguhnya, dan apa yang terjadi pada diri saya,” kata Aliyah sambil menggenggam tangan bu Siti lalu menciumnya lama sekali, sambil berlinang air mata.

“Penampilan kamu sangat berbeda.”

Lalu Aliyah mengatakan, siapa dirinya sebenarnya, membuat bu Siti kemudian membungkuk-bungkuk meminta maaf.

“Ya ampun, ternyata Anda adalah seorang Nyonya yang kaya raya, maafkan saya telah memperlakukan Nyonya dengan semau saya.”

“Mengapa bu Siti meminta maaf? Saya yang harus berterima kasih, karena bu Siti memberikan banyak pelajaran dalam saya mengarungi hidup saya.”

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh datangnya seorang laki-laki. Bu Siti ingat, dia laki-laki yang kemarin mengatakan tentang hadiah bagi yang bisa menemukan Aliyah.

“Bu, bagaimana? Aliyah sudah kembali? Mana dia?” tanyanya bersemangat.

“Ini dia, Aliyah, nak.”

“Bagus. Saya akan segera menelpon, nanti hadiahnya kita bagi dua ya bu.”

“Tidak akan ada hadiah. Aliyah sudah kembali ke rumahnya. Dia adalah istri seorang pengusaha yang kaya raya,” kata bu Siti sambil tersenyum.

“Apa?”

Laki-laki itu terkejut,  menatap Aliyah tak berkedip.

“Jadi … kita gagal mendapatkan hadiahnya? Atau bu Siti sendiri yang mendapatkan hadiahnya lalu melupakan saya? Bukankah saya yang memberikan informasi?”

Aliyah tersenyum. Rupanya gara-gara Alfian mengadakan sayembara dengan iming-iming hadiah itu, membuatnya menjadi sangat terkenal. Bahkan dia disekap hampir semalaman di sebuah rumah yang asing baginya.

Aliyah meninggalkan warung dengan beribu ucapan terima kasih. Suaminya membawakan uang sebagai ungkapan terima kasih karena telah menolong Aliyah saat kelaparan, yang diterima bu Siti dengan linangan air mata.

***

Sekarang Aliyah sedang duduk menunggu di sebuah kantor polisi, ditemani Farah. Kalau tadi saat bertemu bu Siti, Aliyah melarang mengikutinya agar bu Siti tidak terkejut, sekarang Aliyah minta ditemani, karena ia belum pernah bertemu saudara kembarnya itu, walau imbas akibat kembarnya telah membuatnya berkali-kali menerima kejadian yang membuatnya sakit.

“Benarkah wajahnya persis seperti wajahku?” tanya Aliyah kepada Farah, yang masih menunggu petugas mempertemukannya.

“Sangat persis, dan itulah sebabnya tuan Alfi telah salah menyiksa orang. Kalau mengingat hal itu, saya merasa kasihan pada Nyonya.”

“Seperti mimpi rasanya saat aku menjalani kehidupan ini.”

“Nyonya sangat menderita, tapi sekarang Nyonya harus bahagia. Nyonya mengerti, tuan Alfi sakit ketika Nyonya pergi.”

“Aku terkadang merasa sangat takut.”

“Ini adalah hidup Nyonya. Nyonya harus bahagia.”

“Aku tidak akan bahagia, kalau sudara kembarku sengsara di dalam penjara.”

Farah terhenyak.

“Tapi non Narita telah melakukan banyak kejahatan.”

“Apakah seseorang yang tersesat tidak boleh menemukan jalannya kembali?”

“Bukankah yang salah harus mendapat hukuman?”

 “Ketika seseorang menyadari kesalahannya, maka dia sudah terhukum.”

Farah terkejut. Nyonya muda yang sederhana dan lugu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat bijak. Orang tersesat bisa menemukan jalannya kembali, dan penyesalan adalah hukuman? Farah justru tidak bisa memahami ungkapan itu.

Ketika itu seorang petugas keluar, bersama seorang wanita cantik, tapi berpenampilan lusuh. Aliyah terkesiap. Wajah itu adalah wajahnya, tapi tampak pucat dan kusut.

Aliyah segera merangkulnya, begitu kembarannya duduk di hadapannya. Merangkulnya sangat erat, seakan tak ingin melepaskannya.

“Ternyata aku tidak sendiri, ternyata ada kamu, Afifah,” isaknya.

“Kamu, Aliyah?”

“Aku Aliyah, dan kamu Afifah.”

“Aku sudah membaca tulisan nenek Supi.”

“Aku bahkan baru saja membacanya. Sebelumnya aku tak tahu bahwa aku punya saudara kembar. Aku bahagia menemukan kamu, ternyata aku tidak sendiri,” kata Aliyah sambil kembali merangkul Narita.

Menerima rangkulan dan ucapan penuh isak itu, hati Narita terasa luluh. Sungguh memalukan karena dia telah melakukan perbuatan jahat dan tidak terpuji.

“Aku buruk, Aliyah. Aku berdosa. Langkahku hitam dan kotor, aku merasa kecil di hadapanmu, aku tak pantas menjadi saudara kembarmu,” sekarang Narita benar-benar menangis.

“Jangan begitu. Ikatan saudara tak akan terpisah oleh apapun. Di tubuh kita mengalir darah yang sama. Aku menyayangimu, Afifah.”

Tangis Narita semakin menjadi.

“Maafkan aku, maafkan aku … aku jahat sama kamu, aku juga jahat sama suami kamu.”

“Lupakan semuanya, kita akan menjalani hidup ini bersama-sama. Susah dan senang, selalu bersama. Jangan berkecil hati, jangan merasa rendah dan kotor. Ada air bening yang bisa membasuh noda kotor itu, Afifah. Ingat dan bersujudlah ke hadapan Nya. Mohon ampunlah, dan kita akan menjalani hidup yang bersih bening, bagai beningnya air hujan yang tercurah dari langit.

Farah mengusap titik air matanya, menyaksikan pertemuan penuh haru, yang berpuluh tahun baru ketemu. Farah juga takjub, Aliyah yang lugu memiliki banyak kata-kata bijak yang dengan manis diucapkannya. Benar-benar wanita luar biasa, pikir Farah.

“Farah, aku minta maaf,” tiba-tiba Narita menatap Farah degan wajah masih basah.

“Sudah Non, lupakan semuanya. Saya sudah memaafkan sebelum Non memintanya.”

“Terima kasih, Farah. Nanti ketika kamu pulang, bawakan aku mukena.”

“Baik Non, segera, setelah sampai di rumah.”

Aliyah kembali mengusap air matanya, mendengar Narita meminta mukena. Ia bahagia dan mengerti, bahwa orang yang tersesat, pada suatu waktu akan menemukan jalannya kembali.

“Allah hu Akbar,” bisik Aliyah sambil kembali merangkul Narita.

***

Alfian yang sudah kembali masuk ke kantornya, sedang berbincang bersama ayahnya, ketika sebuah telpon masuk ke ponselnya.

“Ya, saya … itu benar. Oh ya? Kasihan  sekali. Tidak bisa, dia pemabuk? Meninggalkannya di sebuah rumah yang kemudian ternyata bahwa dia tidak ada? Benar, dia kabur dengan melompat jendela. Bukan dia. Dia menipu istri saya. Baiklah, sudah … sudah … suruh dia melupakan hadiah itu. Dia pembohong. Baiklah Pak, terima kasih banyak.”

Alfian menutup ponselnya sambil tersenyum.”

“Dari siapa?” tanya pak Candra.

“Iming-iming hadiah itu menghebohkan banyak orang. Aliyah juga yang kena imbasnya.”

“Dia yang menyekap Aliyah?”

“Dia membohongi Aliyah, katanya akan mempertemukannya dengan Narita, saudara kembarnya. Tapi sebenarnya dia menginginkan hadiah itu. Sialnya dia lupa tidak mencatat nomor saya atau nomor Farah yang saya cantumkan di iklan itu, jadi Aliyah masih disekapnya, sementara dia sedang mencari koran yang ada iming-iming uang itu,” kata Alfian sambil tertawa.

“Bagaimana dia tahu bahwa Aliyah dan Narita kembar?”

“Laki-laki itu mengaku menjadi kekasih Narita. Mungkin memang benar, entahlah. Tapi kan dia tidak tahu kalau Narita ditahan polisi?”

“Laki-laki itu ditahan karena menyekap Aliyah?”

“Dia melakukan kejahatan lain. Pinto yang melaporkannya, karena dia pernah mengaku hampir membunuh orang, dan memang dia adalah orang yang diburu polisi. Ah, banyak cerita tentang Aliyah. Tapi saya bahagia, Aliyah sudah kembali.”

“Aku melihatnya, dari wajah kamu yang berseri-seri sejak menginjakkan kaki kamu di ruangan bapak ini.”

“Sekarang saya siap melakukan semua tugas yang Bapak berikan.”

“Bagus. Sudah saatnya bapak istirahat Al, bapak sudah tua dan lelah.”

“Tapi Alfi masih selalu membutuhkan tuntunan Bapak. Jangan kemudian Alfian ditinggalkan.”
“Itu gampang. Sementara ini kita akan menangani semuanya bersama-sama.”

***

Alfian senang ketika sampai di rumah, melihat sang istri sudah ada di rumah, sedang membantu Farah membuat minum dan cemilan untuk menyambut kepulangannya dari kantor. Biasanya Farah melakukannya sendiri, tapi Aliyah tak mau hanya berdiam diri.

“Istriku sangat rajin,” kata Alfian sambil mengelus kepala Aliyah.

“Biasa saja,” elak Aliyah sambil meletakkan segelas kopi di atas nampan.

“Sudah ketemu Narita?”

Aliyah membawa nampan itu ke ruang tengah, meletakkan gelasnya di atas meja, lalu dia duduk di samping Alfian yang sudah lebih dulu duduk. Alfian menyeruput kopinya dengan nikmat.

“Beda ya, kopi buatan istri?”

“Bagaimana permintaanku tadi?” Aliyah justru langsung mengingatkan permintaannya sebelum menemui Narita.

“Itu tidak mudah. Bagaimanapun dia telah melakukan kesalahan.”

“Dia hanya tersesat. Tolong penuhilah permintaanku. Kalau perlu, aku rela dimadu.”

“Apa?”

Dan gelas kopi yang ada ditangannya kemudian jatuh ke lantai. Pecah berkeping dan membuat lantai basah kehitaman.

***

Besok lagi ya.

Monday, May 8, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 39

CINTAKU BUKAN EMPEDU  39

(Tien Kumalasari)

 

Aliyah terus menangis. Ia ingin keluar, tapi semua pintu dikunci dari luar. Malam sudah semakin larut, dan dia ketakutan berada di tempat asing yang tidak ada seorangpun bersamanya. Rumah itu bukan rumah berdinding anyaman bambu seperti rumah nenek Supi. Itu rumah yang kokoh dan terbuat dari tembok yang kuat. Tapi tak banyak perabotan di rumah itu. Hanya ada kursi kayu tiga buah, dan salah satunya adalah kursi panjang. Dia tak berani masuk ke kamar, karena merasa dia orang asing yang tak berhak memasuki kamar orang. Jadi dia hanya mondar mandir di dalam rumah itu, sambil menggoyang-goyangkan setiap pintu yang ada. Ada tiga buah pintu di sana. Pintu depan, pintu belakang, lalu ada pintu samping, tapi tak satupun pintu bisa dibukanya. Aliyah mulai panik karena Nungki pergi sangat lama. Ia merasa memang disekap di rumah itu.

“Apa sebenarnya salahku? Mengapa aku selalu dibawa orang asing, kemudian seperti disiksa begini? Apakah ini karena Narita? Dimana Narita yang tadi dijanjikan oleh laki-laki itu? Laki-laki yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, bahkan namanya tidak pernah aku tanyakan. Apakah dia orang jahat? Mengapa membawa aku kemari sedangkan aku sebenarnya hanya ingin bertemu Narita?”

Aliyah sudah lelah menangis. Tiba-tiba ia melihat sebuah jendela di ruangan itu, di mana dia duduk menunggu laki-laki itu.

“Apakah jendela itu bisa dibuka?”

Aliyah mendekati jendela itu, dan bersyukur dia bisa membukanya.

“Aku bisa lari dari sini,” gumamnya sedikit lega. Tapi jendela itu kelewat tinggi. Aliyah menarik sebuah kursi dan mempergunakannya untuk memanjat. Ia berhasil memanjat, lalu melompat keluar. Ia terjatuh ketika melompat, dan merasakan bahwa kakinya terluka. Tapi Aliyah nekat berdiri, setelah mengelus lututnya yang terasa nyeri.

“Sebenarnya ini di mana?”

Aliyah keluar dari halaman sempit rumah itu, melihat ke kiri dan ke kanan. Semua rumah sudah tertutup rapat.

“Di mana ini? Haruskah aku berteriak minta tolong? Kalau aku harus pergi, harus ke arah mana?”

Rupanya rumah di mana Aliyah disekap, ada di sebuah gang yang tidak begitu besar. Tak ada orang lewat, sepi sekelilingnya. Ada rasa ngeri karena lampu di gang itu hanyalah lampu yang nyalanya remang-remang.

“Harus ke mana aku?"

Aliyah kebingungan, karena tak tentu arah.

“Ya Allah, tolonglah aku. Hanya Engkau yang bisa menolong hambaMu ini, ya Allah.”

Aliyah melangkah, menurutkan kakinya. Tak tahan oleh sepi yang mencekam, Aliyah pun berteriak.

“Toloooong … toloooong ….”

Suara Aliyah menggema di sepanjang lorong itu. Aliyah terus saja melangkah, sampai kemudian didengarnya langkah-langkah kaki, ada juga orang yang membawa senter, diarahkan kepadanya.

“Ada apa dik?” tanya seseorang.

“Seorang perempuan, sendirian ….”

“Ada apa dik?”

“Tolong saya, saya ingin pulang,” isaknya.

“Apa yang terjadi?”

“Seseorang menyekap saya di rumah itu.”

Aliyah menunjuk ke arah rumah, dimana dia tadi terkunci di dalamnya.

“Itu rumah sewa. Penyewanya seorang pemabuk.”

Lalu beberapa orang membicarakan laki-laki itu.

“Namanya Nungki ….”

Aliyah baru kali itu mendengar namanya. Tapi ia lega, ada banyak orang yang pasti bisa menolongnya,

“Di mana Nungki? Mana dia dik?”

“Saya ditinggal di situ, dikunci semua pintu, saya melompat dari jendela.”

“Apa Anda diperkosa?”

“Tidak … tidak ,,” Aliyah menggeleng-geleng.

“Nama Adik, siapa?”

“Aliyah. Kearah mana saya bisa keluar dari sini?” tanya Aliyah yang sedikit merasa lega.

“Di mana rumah adik?”

Aliyah mengatakan nama kampungnya.

“Ya ampuun, itu dekat, hanya beberapa gang dari sini, mari saya antar,” kata beberapa orang bersahutan.

“Terima kasih banyak,” kata Aliyah.

Beberapa orang kemudian mengantarkannya keluar dari gang itu. Tapi tiba-tiba seseorang memanggil namanya.

“Aliyah?”

Aliyah terkejut. Ia sangat mengenal suara itu. Ia mencari-cari, dari mana datangnya suara, lalu melihat seorang laki-laki menyibakkan kerumunan orang yang berada di sekelilingnya.

“Mas Pinto?”

Aliyah lupa segala-galanya. Rasa gembiranya membuat dia lupa bahwa Pinto bukan siapa-siapanya. Ia menghambur ke dalam pelukan Pinto, dan menangis di dadanya.

“Mas Pinto,” Aliyah masih terisak.

“Mas Pinto mengenalnya?”

“Iya, ini Aliyah, sahabat saya,” kata Pinto.

“Apa yang terjadi?” tanya Pinto yang kemudian melepaskan pelukan Aliyah pelan.

“Aku ingin pulang.”

“Apa yang terjadi.”

“Dia disekap oleh Nungki, seorang pemabuk,” kata seseorang.

“Nungki?”

Pinto terkejut, karena mengenal nama itu, saat Nungki ditangkap polisi.

“Baiklah, Bapak-Bapak, terima kasih banyak karena telah menolong Aliyah. Saya akan mengantarkannya pulang,” kata Pinto.

Karena mereka mengenal Pinto sebagai anak kost yang baik, dan tampaknya Aliyah juga mengenalnya, maka mereka membiarkan Pinto pergi mengantarkan Aliyah.

***

Pinto mengantarkan Aliyah sampai ke rumah nenek Supi. Mereka duduk di balai-balai di depan rumah Aliyah. Lalu Aliyah menceritakan semua yang dialaminya.

“Aku mengikuti dia, karena dia mengatakan bahwa akan mempertemukan aku dengan Narita. Dia kekasih Narita.”

“Tapi rupanya laki-laki yang menyekap kamu itu sudah tahu bahwa kalau menemukan kamu, maka dia akan mendapat hadiah satu milyar.”

“Apa? Satu milyar itu banyak, bukan?”

“Tentu saja.”

“Siapa yang menjanjikan hadiah itu?”

“Suami kamu.”

Aliyah terkejut.

“Mas Pinto kenal sama dia? Tuan Alfi?”

Pinto pun menceritakan pertemuannya dengan Alfian dan Farah.

Aliyah terharu, mendengar bahwa suaminya sendiri ikut mencari-carinya.

“Mengapa kamu lari? Suami kamu sangat mencintai kamu.”

“Aku ingin dia mendapatkan wanita yang sepadan, bukan aku. Kasihan kalau aku yang mendampinginya. Mas kan tahu, aku ini siapa?”

“Cinta itu tidak mengenal derajat seseorang. Kamu telah menyiksa dia. Kamu harus kembali sama dia. Aku akan menelpon mbak Farah. Dia memberi aku nomornya, dan aku sudah berjanji akan mengabari dia kalau bertemu sama kamu.”

“Sungguh aku takut. Mengapa tuan Alfi sangat nekat?”

“Dia seorang suami yang bertanggung jawab.”

Pinto mengambil ponsel di sakunya, lalu menelpon Farah. Malam sudah larut, tapi Pinto harus segera melaporkan penemuannya yang sangat tidak terduga ini.

“Ya Tuhan, mengapa aku harus kembali?” keluh Aliyah sambil menutupi wajahnya.

Tapi Pinto tetap saja mengabari Farah. Agak lama, karena pastinya Farah sudah terlelap. Pinto akhirnya lega ketika sudah berhasil mengatakan semuanya.

“Dia akan segera menjemput kamu.”

“Sebenarnya aku mengikuti laki-laki bernama Nungki itu, karena ingin bertemu Narita,” kata Aliyah mengulang keterangannya di awal pertemuan itu.

“Laki-laki itu tak akan bisa bertemu Narita, kecuali kalau dia ditahan di kantor polisi yang sama. Dia membawa kamu karena iming-iming hadiah itu.”

“Dia mencari koran di sepanjang jalan.”

“Dia mungkin lupa tidak mencatat nomor yang harus dihubungi ketika sudah bertemu kamu.”

“Kok bisa begini, Tapi tadi Mas Pinto bilang bahwa dia hanya bisa bertemu Narita di kantor polisi?”

“Narita sudah ditangkap polisi.”

“Apa?”

“Saudara kembar kamu mengaku bernama Aliyah dan mengikuti mbak Farah ketika mencarimu kemari.”

“Kemari? Jadi Narita pernah kemari?”

“Secara kebetulan dia bertemu pak RT, dan karena mengira dia Aliyah, maka dia mengantarkannya ke rumah ini.”

“Oh, pantesan saat aku kemari, pak RT ngomong yang tidak jelas, aku tidak suka cara dia berbicara. Menyebalkan,” keluh Aliyah.

Tiba-tiba sebuah lampu senter terarah ke arah mereka, lalu seseorang melangkah mendekat.

“Kamu? Aliyah?” pekik pak RT yang memang sebentar-sebentar menyatroni rumah Aliyah, demi mendapatkan uang satu milyar itu.

“Ya, pak RT.”

Tapi pak RT begitu marah ketika melihat Pinto sedang bersamanya.

“Ini Pinto?” kata pak RT dengan nada marah, dan melupakan panggilan ‘nak’ yang biasanya diucapkannya.

“Ya pak RT.”

“Kamu ini sungguh tidak sopan ya. Ini bukan saatnya bertamu,” katanya dengan nada semakin tinggi.

“Maaf pak RT, saya tidak sedang bertamu, saya_”

“Jangan mencari alasan. Perbuatan ini merusak nama baik kampung aku, mencoreng tanggung jawabku sebagai ketua RT di sini.”

“Pak RT jangan marah,” sambung Aliyah.

“Kamu jangan ikut campur Aliyah, biar aku bawa laki-laki ini ke kelurahan,” ancam pak RT.

“Pak RT harus mendengar penjelasan dia dulu, dia ini_”

“Diam Aliyah, kamu ada dalam pengawasan aku. Aku akan menghubungi _”

“Untuk mendapatkan hadiah satu milyar?” ejek Pinto.

“Apa? Kamu jangan bicara sembarangan. Aliyah ada dalam kekuasaan aku sekarang.”

Tiba-tiba dari arah depan muncul seorang wanita, yang kemudian bergegas mendekati.

“Ya ampun Pak, dia sudah pulang? Beruntungnya kita,” sorak wanita yang baru datang.

“Bu RT?” sapa Aliyah.

“Aliyah, ayo Nak, ikut ke rumah bersama aku,” kata bu RT sambil mendekati Aliyah.

Tapi tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman. Semua orang menatapnya.

Berdebar hati Aliyah ketika melihat siapa yang pertama kali turun dari mobil itu, yang kemudian bergegas mendekatinya.

“Aliyah?”

“Tuan Alfi,” Aliyah tak berkutik ketika Alfian sudah memeluknya dan mendekapnya erat.

“Kenapa kamu pergi, Aliyah? Kamu tega membuat aku sakit,” bisik Alfian di telinga Aliyah, membuatnya merinding.

“Ini tuan yang membuat sayembara itu?” tiba-tiba pak RT nimbrung.

“Anda siapa? Tanya Alfian yang sebelah tangannya masih merangkul Aliyah.

“Saya RT di kampung ini. Saya menemukan Aliyah, tuan.”

Alfian melihat wajah pak RT yang tampak nyengir dan itu membuatnya sebal.

“Apa Anda yang menelpon tadi?”

“Bukan, saya baru akan menelpon. Istri saya yang membawa nomor kontak itu.”

“Iya Tuan, saya hampir menelpon,” sambung bu RT.

“Yang mendapat hadiah adalah yang menelpon tadi. Mas Pinto ya?” kata Alfian sambil menatap Pinto ramah.

“Ya Tuan.”

“Mas,” lagi-lagi Alfian membetulkan panggilan Pinto.

“Ya, tapi saya tidak berharap hadiah itu. Saya senang Aliyah sudah ditemukan,” kata Pinto.

“Apa? Dia tamu yang tidak sopan, saya akan membawanya ke kelurahan,” pak RT masih sok berkuasa dan mamaksakan kehendak.

“Mas Pinto, mari ikut bersama kami, kita akan bicara di sana,  karena di sini rupanya ada pengganggu,” kata Alfian sambil melirik ke arah pak RT.

“Bawalah Aliyah, biarkan saya pulang, Tuan … eh … Mas.”

“Tidak, kali ini aku ingin memaksa Mas Pinto.”

“Sungguh saya tidak ingin hadiah, Tu .. eh … Mas, biarkan saya pergi.”

“Memang saya yang seharusnya mendapatkan hadiah itu, karena Aliyah ada dalam pengawasan saya,” timbrung pak RT tanpa malu, sedangkan bu RT mengangguk-angguk.

“Ayo Mas Pinto, Tuan sudah meminta,” kali ini Farah ikut menimbrung.

Melihat Farah menatapnya, hati Pinto luluh. Walau ia bukan menginginkan hadiah itu, tapi Farah sudah ikut mengundangnya, dan itu membuatnya kemudian ikut melangkah dan memasuki mobil Alfian, yang tetap menggandeng lengan Aliyah, seakan takut ditinggalkannya kembali.

Begitu mobil berlalu, bu RT membanting-banting kakinya.

“Bapak kurang cepat datang. Kelamaan tidur sih, jadi keduluan Pinto tadi.”

“Kamu juga, kenapa tidak membangunkan aku?”

Keduanya melangkah pulang sambil omel mengomeli dan saling menyalahkan. Hadiah satu milyar sudah terbang dari angan-angan.

***

Aliyah berada di kamarnya kembali, di rumah Alfian. Pikirannya melayang ke mana-mana. Kewajiban di warung bu Siti yang ditinggalkannya, dan gagalnya bertemu Narita, saudara kembarnya.

Seperti biasa Farah melayaninya mandi dan berganti pakaian, sementara Alfian sedang berbincang dengan Pinto, yang dengan bersungguh-sungguh menolak hadiah yang mestinya didapatkannya.

“Saya cukup berbahagia melihat Aliyah kembali kepada kehidupannya di samping Mas Alfian. Itu cukup.”

“Mas Pinto seorang yang luar biasa. Baiklah, sebuah kebaikan jangan sampai dikotori oleh ambisi mendapatkan imbalan. Saya bisa mengerti. Bagaimana kalau hadiahnya adalah pekerjaan di kantor saya, dan menjadi asisten pribadi saya?” tawar Alfian pada akhirnya.

Pekerjaan? Pinto bukan laki-laki tak berpendidikan. Dia lulusan D3 jurusan informatika yang membuatnya cukup karena orang tuanya tak mampu menyekolahkannya lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Kesulitan mencari pekerjaan membuat dia menerima pekerjaan apa saja yang bisa dia kerjakan. Itu sebabnya dia menerima dengan senang hati pekerjaan menjadi pelayan di sebuah rumah makan. Sekarang, Alfian menawarkan pekerjaan di kantornya. Haruskah ditolaknya pula? Tadi, di awal pembicaraan, Alfian memang sudah bertanya tentang pendidikan yang pernah dijalaninya.

“Bagaimana Mas Pinto?” desak Alfian.

Hari menjelang pagi, dan Farah telah menyajikan dua gelas kopi panas untuk tuan dan tamunya. Ada juga beberapa potong roti bakar yang disajikannya.

“Bagaimana Mas?” Alfian mengulangi tawarannya lagi, ketika Pinto belum juga menjawab.

“Saya takut, Mas Alfian akan kecewa.”

“Tidak. Aku sudah bisa menilai, bahwa Mas Pinto pasti akan bisa menjadi karyawan yang baik. Kita akan mulai, begitu mas Pinto siap.”

“Baiklah, saya akan menyelesaikan tugas saya sampai akhir bulan ini.”

“Setelah itu, temui saya. Saya akan menunggu.”

Ketika Aliyah keluar dari kamarnya dan sudah berdandan rapi, Alfian segera melambaikan tangannya, memintanya duduk di sampingnya.

Pinto ikut tersenyum bahagia melihat sikap manis Alfian kepada istrinya.

“Kamu jangan pernah lagi meninggalkan aku, Aliyah,” kata Alfian lembut.

“Ada satu permintaan saya,” kata Aliyah pelan.

“Katakan saja. Apa sih yang enggak untuk istriku ini?”

“Bebaskan Narita.”

***

Besok lagi ya. 


Saturday, May 6, 2023

CINTAKU BUKAN EMBEDU 38

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  38

(Tien Kumalasari)

 

Aliyah tertegun. Orang yang semula bersembunyi itu kemudian berdiri dan mendekatinya. Aliyah mundur ketakutan. Laki-laki itu mengenalnya sebagai Narita.

“Narita ….”

“Maaf, saya bukan Narita,” kata Aliyah sambil terus mundur, karena laki-laki itu terus mendekatinya.

“Mengapa mengganti nama kamu dengan Aliyah? Dengar Narita, aku sangat merindukan kamu. Senang sekali bertemu kamu di sini.”

“Aap …apa?”

“Ayo ikut aku Narita, kita akan hidup berbahagia. Kita akan hidup berkecukupan. Kita pergi lagi ke luar negri. Ya? Kamu senang kan?”

“Saya tidak mengerti,, saya bukan Narita.”

“Narita, kamu boleh berganti nama apapun yang kamu suka, tapi kamu tetap Narita ku.”

“Salah … salah … saya bukan Narita. Saya Aliyah.”

Aliyah teringat, ketika dia ditangkap oleh Alfian dan disiksa, hanya karena mengira dirinya adalah Narita. Sekarang dia lagi-lagi dikira Narita. Tiba-tiba dia ingin tahu, di mana Narita, saudara kembarnya.

“Mas, saya dan Narita adalah saudara kembar.”

“Apa?”

“Saya dan Narita adalah saudara kembar. Saya Aliyah, bukan Narita.”

Laki-laki itu, memang Nungki, yang lari terbirit-birit ketika mendengar suara mobil polisi. Ia terus lari dan tersesat masuk ke sebuah kebun pisang, dan bersembunyi di sana. Kebun pisang itu milik bu Siti, si pemilik warung, dimana Aliyah bekerja.  Ia terkejut melihat seorang wanita berada di dekat kamar mandi. Sedang mengambil air wudhu. Lebih terkejut lagi ketika menyadari, bahwa wanita itu adalah orang yang sedang dicari dengan imbalan satu milyar, yang dikiranya Narita sedang menyamar dengan berganti nama.

“Saudara kembar? Dan kamu adalah Aliyah?”

“Benar, saya Aliyah. Apa yang Anda lakukan di situ?”

Tiba-tiba wajah Nungki berbinar. Pucuk dicinta, ulam tiba. Begitu pikirnya. Jadi yang dicari adalah Aliyah. Memang benar Aliyah, dan bukan Narita. Mereka kembar.

“Bagus kalau begitu.”

“Ada apa ya Mas, maaf, yang punya rumah ini adalah bu Siti, pemilik warung, jadi tolong Mas jangan sembarangan masuk, apalagi langsung ke belakang, nanti dikira pencuri.”

“Iya, maaf. Aku tadi sebenarnya kaget dan mengira kamu adalah Narita, padahal Narita baru saja menemui aku di rumah.”

“Anda ketemu Narita?”

“Dia teman baik aku, kami saling mencintai.”

“Benarkah? Kalau begitu di mana saya bisa menemui Narita?”

“Ada, di suatu tempat. Kalau kamu ingin ketemu Narita, akan aku antarkan.”

“Benarkah?”

“Tentu saja benar.”

“Sekarang juga?”

“Ya, sekarang juga. Dia pasti senang bertemu saudara kembarnya.”

“Baiklah, saya akan shalat dulu, silakan Anda menunggu di warung, saya juga harus pamit kepada majikan aku.”

“Baiklah, aku tunggu kamu di depan,” kata Nungki dengan mata berbinar.

Aliyah sangat gembira. Ia mengucapkan syukur berkali-kali, karena akan bertemu saudara kembarnya. Begitu selesai shalat, dia bergegas ke depan. Ia harus pamit kepada bu Siti, karena dia ingin bertemu saudara kembarnya.

Aliyah gadis yang lugu. Ia tak perlu mengingat apa saja yang dikatakan Nungki. Ia bahkan tidak bertanya, siapa nama laki-laki itu. Ia langsung mempercayainya dan bersedia ikut bersamanya.

Sementara itu Nungki sudah gembira bukan alang kepalang. Tanpa diduga, tanpa dinyana, dia bisa bertemu dengan gadis yang ada di dalam sayembara itu. Ia mengira Narita lah yang dicari-cari, tapi ternyata memang Aliyah adanya. Dalam menunggu itu, ia segera mencari di mana koran yang tadi dibawanya.

“Celaka, mana koran itu? Tadi aku membawanya ke mana-mana.”

Nungki kebingungan. Ia ingin menghubungi nomor kontak yang ada di koran itu, tapi mana korannya? Ia merasa telah mencatatnya, tapi tak ketemu juga ketika dicarinya.

Ketika ia mendengar suara sirene tadi, lalu tidak memperhatikan, korannya jatuh di mana. Nungki kemudian masuk kembali ke kebun pisang itu, dan mencari-cari, tapi ia tak menemukan koran itu.

Nungki kembali ke depan, melihat Aliyah belum keluar dari warung itu. Barangkali masih membantu majikannya karena banyak pembeli. Memang benar, Aliyah masih membantu bu Siti melayani pembeli, dan setelah selesai, bu Siti gantian pamit ke belakang untuk shalat.

Nungki bingung, ia berjalan ke sana-kemari, mencari barangkali ada penjual koran. Tapi ia juga tak menemukan penjual koran itu. Bahkan ketika Aliyah keluar dan tampaknya sedang mencari-carinya, Nungki belum menemukan koran itu.

Khawatir Aliyah curiga, maka Nungki segera mendekatinya.

“Bagaimana Mas? Kita berangkat sekarang?”

“Ya, tentu saja. Kamu sudah pamit sama majikan kamu?”

“Sudah, aku berjanji tak akan lama. Dimana kita akan menemui Narita?”

“Ayo ikutlah aku.”

Aliyah mengikuti laki-laki itu, dan setelah berjalan agak jauh, Nungki mengajaknya naik angkutan umum. Aliyah yang lugu terus saja mengikutinya.

“Jauh kah?”

“Tidak, nanti begitu turun, kita akan sampai.”

Aliyah mengangguk, dan merasa lega. Meskipun kecewa atas semua yang dilakukan Narita, bagaimanapun Narita adalah saudara kembarnya. Ikatan darah itu membuatnya mengalahkan rasa kesalnya.

***

Tapi sampai sore harinya, Aliyah belum tampak kembali. Bu Siti sebentar-sebentar melongok keluar warung, berharap bisa melihat Aliyah kembali. Tapi Aliyah belum juga kembali.

Iapun bertanya kepada pembantunya yang lain, yang sedang bersih-bersih.

“Sebenarnya Aliyah pergi ke mana? Katanya akan menemui saudara kembarnya?” tanyanya.

“Iya Bu, dia tadi tampak sangat senang, karena belum pernah bertemu saudara kembarnya .”

“Jadi siapa yang tadi pergi bersama dia? Aku kurang memperhatikan, karena ada seorang pembeli yang minta dibungkuskan nasi sebanyak limabelas bungkus, dan terburu-buru.”

“Seorang laki-laki Bu. Tapi nggak tahu siapa. Mungkin kerabatnya Aliyah.”

“Kok sampai sekarang belum pulang ya, tadi dia bilang cuma sebentar.”

“Mungkin rumahnya jauh.”

“Mengapa ya, perasaanku jadi nggak enak.”

“Ibu jangan terlalu khawatir, Aliyah bukan anak kecil, pasti bisa menjaga dirinya.”

“Aliyah itu terkadang sangat lugu.”

“Ibu bilang apa? Aliyah?” tiba-tiba salah seorang pembeli nyeletuk.

“Iya Mas, pembantu saya, namanya Aliyah.”

“Benarkah? Jangan-jangan dia yang dicari-cari, dengan imbalan satu milyar,” kata pembeli itu lagi. Bu Siti terkejut.

“Siapa yang dicari-cari Mas?”

“Ini lho Bu, ada pengumuman di koran, sebentar, saya bawa korannya kok,” kata pembeli itu yang menyimpan koran di dalam tas kulit yang dibawanya. Rupanya dia salah seorang pegawai sebuah kantor, entah kantor apa.

“Nah, ini Bu. Siapa yang bisa menemukan Aliyah, akan mendapat hadiah sebanyak satu milyar.”

“Haah? Satu milyar? Mana … mana … aku mau lihat,” kata bu Siti sambil meminta koran itu.

“Apakah Aliyah pembantu ibu itu wajahnya sama dengan yang ada di koran itu, lihatlah.”

“Ya ampuun, ini benar, Aliyah pembantu saya,” bu Siti berteriak, tangannya gemetar.

“Benarkah?”

“Iya Mas, dia pembantu saya, tiap hari tidur di rumah saya.”

“Ibu beruntung kalau bisa menyerahkan Aliyah pada alamat ini. Nah, nomor kontaknya ada. Di mana sekarang dia?”

“Dia sedang pergi. Aku sedang menunggunya, sejak siang tadi dia pamit pergi, dan belum juga kembali,” keluh bu Siti.

“Waduh, celaka Bu, bisa jadi Aliyah pembantu itu itu diculik orang,” kata pembeli itu khawatir.

“Apa? Diculik? Mengapa? Aduh, aku bingung sekali, siapa sebenarnya dia? Mengapa yang bisa menemukan, hadiahnya besar sekali?”

“Entahlah Bu, tapi sebaiknya ibu menahannya kalau dia pulang nanti. Jangan bilang apa-apa sama dia, besok saya akan kemari dan menghubungi nomor kontak yang ada. Hadiahnya nanti kita bagi dua Bu,” kata orang itu bersemangat.

“Hadiah? Aduh … aku sekarang justru merasa khawatir," kata-kata pembeli itulah yang membuatnya khawatir.

“Diculik? Karena penculiknya menginginkan hadiah itu? Ya Tuhan, lindungilah Aliyah, dia anak baik yang lugu. Tapi siapa sebenarnya dia?”

“Benar ya Bu, jangan perbolehkan dia pergi, kalau dia kembali nanti. Besok pagi saya akan kemari,” kata pembeli itu sambil membayar makanannya, dan berlalu.

Tapi Bu Siti merasa was-was, mengapa lama sekali Aliyah belum kembali

 “Kamu tahu rumahnya Aliyah?” tanyanya kepada pembantu satunya.

“Tidak tahu bu, hanya diberi tahu kampungnya saja. Persisnya tidak tahu.”

“Kalau sampai besok Aliyah belum kembali, coba kamu mencari dia di kampung itu ya. Kalau tidak jelas tempatnya, kamu kan bisa bertanya-tanya? Aku kok tiba-tiba menghawatirkan dia. Tapi ya semoga kekhawatiran aku tidak beralasan, dan walaupun malam, dia akan kembali ke sini.”

“Iya Bu, kalau sampai besok tidak pulang, saya akan mencoba mencarinya.”

***

Pinto sedang bersiap untuk pulang, dan warung sudah mulai sepi. Tapi tiba-tiba seorang laki-laki muncul, dan meminta untuk membeli nasi bungkus. Temannya yang melayani. Pinto terkejut ketika mengenali laki-laki itu.

“Bukankah dia laki-laki mabuk yang tiba-tiba kabur itu? Dia kekasih Narita? Sebenarnya tinggal di mana dia, mengapa beli makanan sampai kemari?” gumam Pinto.

Pinto yang tahu bahwa laki-laki itu buronan polisi, berniat melaporkannya pada polisi. Lagi pula dia seperti orang yang kasar dan tidak sopan. Dia membentak-bentak teman Pinto yang dianggap lamban melayaninya. Rupanya, lagi-lagi laki-laki itu mabuk.

“Bisa cepat tidak? Aku sedang tergesa-gesa.”

“Baik Pak, saya siapkan dulu, silakan Bapak duduk dulu sebentar.”

“Apa kamu punya koran?” tanyanya kemudian.

“Koran? Banyak Pak, nanti akan saya bungkus pesanan Bapak dengan koran.”

“Siapa minta koran untuk bungkus pesanan aku? Koran untuk aku baca.”

“Koran baru tidak ada Pak, adanya koran bekas.”

“Bekas kemarin?”

“Bukan, sudah lama, Pak. Buat apa sih Pak?’

“Nggak usah banyak tanya. Koran ya untuk dibaca,” omelnya sambil duduk di sebuah kursi. Sudah sepi pembeli di warung itu. Tapi Pinto tertarik ketika laki-laki itu menanyakan sebuah koran. Tadi siang dia melihatnya membawa koran, dan mengatakan tentang hadiah satu milyar yang ada di koran itu.

“Perasaan aku sudah mencatat nomornya, kok tidak ada. Mencari koran kemarin, belum ketemu juga. Di mana ya aku mencatat nomor itu? Kehapus atau lupa menge save nomor itu, atau apa. Celaka benar,” gumamnya seperti orang linglung.

Pembeli kemalaman itu Nungki, yang sebenarnya sedang bingung tentang nomor kontak yang harus dihubungi apabila dia menemukan Aliyah. Ia lupa sudah mencatat nomor itu atau belum, sehingga yang dicari adalah koran. Ia juga sudah mencari di ponselnya, tapi entah di mana dia mencatatnya. Maklumlah, waktu itu dia dalam keadaan mabuk. Ketika ia menemukan Aliyah, yang dicari adalah koran.

“Cepat, kenapa lama sekali?” Nungki berteriak.

“Sebentar Pak, baru dibungkus.”

“Aku sedang meninggalkan teman aku di rumah nih. Kami sudah kelaparan.”

Ketika kemudian akhirnya pesanan itu selesai, Nungki melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Tapi tiba-tiba sebuah mobil polisi berhenti di depan warung itu. Nungki terkejut, dan kembali masuk ke warung. Tapi polisi itu memburunya, dan menyuruhnya berhenti sambil mengacungkan pistolnya.

Rupanya Pinto melaporkan keberadaan Nungki di warung itu.

***

Aliyah menangis terisak-isak, karena orang yang membawanya, menyuruhnya menunggu di rumah itu. Dia pergi dengan mengatakan bahwa dirinya akan menjemput Narita.

“Di mana sebenarnya Narita?”

“Harusnya dia ada di sini, tapi karena tidak ada, maka aku akan menjemputnya.”

“Jauhkah?”

“Tidak, tunggu saja, dan jangan pergi ke mana-mana.”

“Tapi aku lapar, bisakah membawakan makanan untuk aku?” kata Aliyah yang belum merasa curiga kepada laki-laki yang dia tak pernah menanyakan namanya itu.

“Baiklah, akan aku belikan makanan sekalian. Tunggu ya, sungguh, jangan kemana-mana.”

Nungki pergi lalu mengunci semua pintu dari luar. Mana mungkin dia menjemput Nungki, sedangkan di mana Nungki berada saja, dia tidak tahu. Dia memang akan membelikan makanan, tapi dia mencari koran yang ada iklannya tentang hadiah itu. Beberapa koran sudah dibelinya, tapi koran itu tak memuat tentang iming-iming hadiah yang membuatnya mengilar. Sambil kembali menenggak minuman keras yang dibelinya di jalan, dia terus menanyakan koran di setiap warung yang dia singgahi. Ia merasa kesal, karena nomor yang dirasanya sudah dicatat, tidak ditemukannya. Sejak awal dia lupa tentang catatan nomor itu, yang diingatnya hanyalah koran.

“Aliyah sudah aku temukan, tapi kepada siapa aku harus menghubungi? Apa aku ke kantor polisi saja dan menanyakannya? Mana mungkin, kalau aku ditangkap sekalian, bagaimana?

Dan sekarang, begitu sedang membeli makanan yang akan diberikannya pada Aliyah, polisi benar-benar menangkapnya.

***

Besok lagi ya.

 

Friday, May 5, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 37

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  37

(Tien Kumalasari)

 

Pinto tertegun. Ternyata laki-laki itu buron. Begitu mendengar mobil polisi langsung kabur. Padahal hanya mobil polisi yang melintas, yang tampaknya sedang ada iring-iringan pejabat lewat. Laki-laki yang tak lain  adalah Nungki itu sudah tak tampak batang hidungnya.

Pinto menghela napas, lalu berdiri dan melangkah pergi. Ia tahu, laki-laki itu mabuk, terbukti mengoceh tentang hal yang harusnya dirahasiakan olehnya, tapi kemudian ada yang menarik dari cerita si orang mabuk itu.

Narita, dia sudah tahu bahwa Narita adalah kembaran Aliyah. Dari cerita tersebut, ia tahu bahwa Narita mau menikah dengan pengusaha kaya, tapi kabur demi dia. Lalu, apakah kemudian si kaya itu bertemu Aliyah, mengira dia Narita, lalu menikahinya?

Semuanya ada di dalam angan-angannya, dan belum jelas benar. Tapi kemungkinannya, itulah yang terjadi. Masa kemudian Aliyah menghilang, lalu beberapa hari kemudian menikah? Pasti ada sesuatu yang membuatnya terpaksa menjalaninya. Lalu akhirnya si suami itu benar-benar mencintainya, tapi Aliyah memilih kabur karena merasa tidak pantas. Kemungkinan besar itulah yang terjadi, mengingat Aliyah adalah gadis sederhana yang rendah hati, sekaligus rendah diri, barangkali.

Pinto memijit kepalanya yang terasa pusing. Dia harus bergegas kembali karena tak lama lagi dia harus masuk kerja. Eitt, tapi Pinto lupa, ia pergi juga karena membutuhkan sesuatu. Jadi lupa mau beli apa.

“Aku mau beli apa tadi, aduh, sampai lupa. Sabun, odol, sabun cuci, pembersih lantai. Apa ya,” gumamnya sambil melangkah. Ia harus menepuk dahinya beberapa kali sebelum kemudian teringat bahwa dia ingin beli sarung. Ya, sarung. Karena sarung yang biasanya dia pakai ke masjid telah tampak usang karena memang sudah tua.

Karenanya Pinto kemudian membalikkan tubuhnya ke arah pertokoan. Bukan toko yang besar, yang biasanya harganya mahal.

Ia memilih sarung batik dengan motif burung merak, ada warna merah, hijau dan kuning yang semarak.

“Ini bagus, biar kelihatan segar,” gumamnya sambil menyerahkan sarung yang dipilihnya kepada penjual.

Saat dia menuju kasir, tiba-tiba seseorang memanggilnya.

“Mas … Pinto? Betul ya Mas Pinto namanya?” tanya seorang gadis hitam manis, yang menatapnya dengan ramah.

Pinto terkejut. Ingatannya melayang ke arah rok yang terjepit pintu mobil. Lalu senyumnya mengembang. Tentu saja dia ingat.

“Mbak Farah kan?”

“Iya Mas, lagi beli apa?”

“Itu, beli sarung buat harian. Mbak Farah ngapain di sini?”

“Habis belanja, kelupaan beli serbet untuk dapur dan rumah,” katanya sambil mendahului pergi ke kasir. Pinto mengikutinya.

“Kok belanja sarung sampai jauh sih Mas? Bukankah rumah Mas di dekat rumah nyonya Aliyah?”

Tadi sambil jalan-jalan. Siapa tahu bertemu Aliyah.”

“Ah, iya Mas, siapa tahu, Mas Pinto yang akan mendapat hadiah dari tuan Alfi.”

“Bukan … bukan … bukan hadiah itu, sungguh, saya hanya ingin tahu ceritanya saja, bagaimana sampai dia menikah dengan tuan Alfi, lalu kabur dan sekarang hilang entah kemana.”

Farah sudah membayar belanjaannya, lalu sekaligus menyerahkan bungkusan sarung kepada Pinto.

“Lhoh, ini … belum saya bayar,” kata Pinto bingung.

“Sudah saya bayar, sekalian tadi.”

“Lhoh, Mbak… kok gitu ?”

“Nggak apa-apa, sekalian saya bayarnya. Sudah, bawa aja.”

Pinto mengikuti Farah keluar dari toko. Sambil berjalan itu, Farah menceritakan secara singkat, bagaimana Aliyah bisa menjadi istri Alfian. Itu karena Pinto menanyakannya, dan mengatakan tentang pertemuannya dengan laki-laki yang mengaku sebagai kekasih Narita.

“Jadi sebenarnya ketika orang-orang melihat sepertinya Aliyah diculik itu, karena mereka mengira bahwa Aliyah adalah Narita?”

“Benar Mas. Tuan Alfi mengira non Narita menyamar karena takut ketahuan. Tapi kemudian tuan Alfi melihat ada tanda lahir yang membedakan antara nyonya Aliyah dan non Narita. Singkat kata, keluarga tuan sepuh meminta tolong agar nyonya Aliyah membantu agar pernikahan tuan Alfi tetap berlangsung, karena undangan sudah disebar. Tapi nyonya Aliyah menolak semua imbalan yang ditawarkan. Ketulusan hati nyonya Aliyah membuat tuan Alfi benar-benar jatuh cinta, dan menolak untuk menceraikan nyonya Aliyah yang benar-benar sudah dinikahinya.”

“Saya mengerti, karena Aliyah gadis sederhana yang tidak berharap limpahan harta. Saya pernah salah sangka, mengira Aliyah menjadi sombong setelah kaya, karena mengatakan bahwa tak pernah mengenal saya. Rupanya yang saya sapa itu bukan Aliyah.”

“Saya juga menyesal, karena saat mencari Nyonya Aliyah, ternyata yang saya bawa ke hadapan tuan Alfi adalah non Narita. Rupanya non Narita memang punya sifat jahat, padahal sudah tahu kalau nyonya Aliyah adalah saudara kembarnya.”

“Mereka memiki sifat yang berbeda, bahkan berlawanan.”

Berjalan ke arah mobil sambil bercerita, terasa begitu singkat bagi Farah. Ia merasa telah bertemu seseorang yang punya pribadi menarik dan tentu saja menyenangkan.

“Mbak Farah, saya mengucapkan banyak terima kasih, karena Mbak Farah telah membelikan saya sarung.”

“Lupakan Mas, kan saya sudah bilang, karena sekalian membayar,” kata Farah sambil bersiap masuk ke mobil, karena Kirman sudah menunggu.”

“Setiap sujud saya, saya pasti selalu teringat Mbak Farah, karena sarung ini,” kata Pinto tulus, dan itu membuat hati Farah berbunga-bunga. Selalu diingat oleh seorang pria baik, alangkah menyenangkan.

“Tapi tunggu dulu, mas Pinto naik apa?”

“Saya cuma jalan-jalan.”

“Mas Kirman, kalau begitu kita antarkan mas pinto sekalian ya,” kata Farah kemudian kepada Kirman.

“Ya, tentu saja.”

Pinto sudah berjalan menjauh ketika kemudian Farah memanggilnya.

“Mas, tunggu Mas.”

Pinto membalikkan badannya.

“Ya Mbak?”

“Ayo kami antar sekalian.”

“Nggak usah, saya memang sedang berjalan-jalan.”

“Jangan menolak, ayolah.”

Pinto tak bisa menolak, karena Kirman sendiri yang kemudian turun dan membukakan pintu untuknya.

***

Bu Candra heran, karena sudah dua hari ini sang suami pulang lebih sore. Ia sudah menghidangkan minuman hangat untuk suaminya, dan sudah keburu dingin ketika diminum.

“Aku buatkan lagi yang hangat ya Pak, soalnya simbok sudah pulang.”

“Nggak usah Bu, sebelum pulang, OB sudah menghidangkan kopi panas tadi.”

“Tumben, dua hari ini Bapak pulang lebih sore, biasanya lebih awal setelah Alfian sudah kembali aktif di kantor.”

“Alfian sudah dua hari ini tidak masuk kantor. Farah bilang, dia sakit.”

“Sakit?”

“Istrinya belum ketemu. Itu membuatnya sakit. Farah bingung karena Alfian juga susah sekali makan.”

“Dia sudah membuat semacam sayembara berhadiah besar, bagi yang bisa menemukan Aliyah. Harusnya ditunggu saja dulu. Pasti ketemu lah, siapa orangnya yang tidak ingin hadiah besar.”

“Alfian sangat mencintai istrinya. Pastinya dia khawatir kalau terjadi apa-apa. Aku heran, kalau memang saudara kembar, kenapa sifatnya jauh berbeda. Aliyah sangat lugu, sementara Narita penuh ambisi, serta punya sifat culas dan jahat.”

“Aku tidak tahu kalau Alfian sakit. Farah tidak mengabari aku.”

“Farah memberi tahu, ketika aku menelpon. Mungkin Alfian tidak ingin Farah mengabari kita, takut kalau kamu khawatir.

“Ini gara-gara cinta yang tersesat,” gerutu bu Candra.

“Mengapa ibu mengatakannya tersesat?”

Bagaimanapun, masih terasa sulit bagi bu Candra untuk bisa menerima Aliyah sepenuhnya. Bayangan bahwa Aliyah anak siapa, dari kalangan apa, punya pendidikan apa, masih menjadi ganjalan baginya. Tapi ia berusaha menerima, hanya karena tak ingin mengecewakan suami dan lebih-lebih anaknya.

“Sebenarnya yang terpenting bagi kita, adalah melihat anak kita bahagia, bukan? Ibu harus belajar memahami perasaan Alfian. Semoga dia tidak tersesat seperti yang ibu tuduhkan.”

Bu Candra hanya mengangguk, entah apa yang ada di dalam hatinya.

***

Sebenarnya Alfian bukannya sakit. Farah mengatakan sakit, tapi yang dimaksudkan adalah sakit batinnya. Belum kembalinya sang istri sangat membuatnya terluka. Kekhawatiran kalau terjadi apa-apa atas diri Aliyah, juga sangat menghantuinya. Dia, tentu saja tidak sepenuhnya percaya pada Narita, yang mengaku tidak pernah ketemu Aliyah. Bisa saja, wanita jahat itu mencelakainya, demi keinginannya merebut kedudukan ‘nyonya’ di rumah itu.

Itulah yang selalu mengganggu pikiran Alfian, sehingga memutuskan untuk tidak ke kantor dulu, selama kepergian Aliyah belum menunjukkan titik terang.

“Tadi saya ketemu mas Pinto,” kata Farah yang sedang mendekati tuannya untuk memintanya segera makan, karena sejak kemarin Alfian susah sekali diminta untuk makan.

“Memangnya apa urusanku sama yang namanya Pinto?” kata Alfian yang memang sedang nggak minat berbicara apapun kecuali tentang Aliyah.

“Dia baru saja bertemu seorang laki-laki, yang tampaknya mabuk.”

“Apa lagi itu?” tukas Alfian kesal.

“Laki-laki itu mengatakan bahwa dia adalah kekasih non Narita.”

“Untuk apa kamu menanggapi cerita seperti itu?”

“Dia bilang, bahwa non Narita meninggalkan Tuan, karena memilih hidup bersama laki-laki itu. Dia penjudi dan pemabuk.”

“Hubungannya apa, cerita itu dengan Aliyah?”

“Laki-laki itu mengira non Narita mengganti nama dengan Aliyah, sehingga dia akan mencari non Narita untuk ditukar dengan hadiah satu milyar seperti yang tuan janjikan.”

“Suruh dia ke kantor polisi kalau mau ketemu Narita. Dasar perempuan nggak bener, punya kekasih penjudi, pemabuk, sudah klop itu namanya. Dan hentikan cerita tentang orang-orang nggak penting itu.”

Farah agak kesal, karena apa yang dikatakannya sama sekali tidak menarik bagi tuannya.

“Eh, kamu tadi bilang apa? Pinto? Itu kan anak muda yang kita temui di depan rumah Aliyah, ya kan?”

“Ya, dia,” jawab Farah yang masih merasa kesal.

“Dia belum mengatakan apapun tentang Aliyah? Bukankah rumah dia di dekat rumah Aliyah?”

“Tepatnya adalah, rumah kost nya dekat rumah nyonya Aliyah. Persisnya di belakang sebuah rumah makan, di mana dia bekerja.”

“Kamu tahu persis tentang dia. Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama dia,” tuduh Alfian.

“Tadi saya minta mas Kirman mengantarkan dia pulang.”

“Kalian ke rumahnya?”

“Hanya kami turunkan di depan rumah makan itu.”

“Kamu bertemu dia di mana sih?” akhirnya Alfian menanggapi cerita Farah.

“Dia sedang berjalan-jalan, kami bertemu ketika dia membeli sarung dan saya membeli serbet makan. Karena dia berjalan kaki dan itu lumayan jauh dari rumahnya, maka saya minta mas Kirman mengantarkannya sekalian.”

“Dia berjalan-jalan, jauh amat sampai ke tempat kamu belanja?”

“Dia penasaran dengan hilangnya nyonya Aliyah.”

“O, pasti karena iming-iming hadiah itu?”

“Tidak. Dia bilang tidak tertarik pada hadiah itu. Seperti juga Tuan, dia menghawatirkan nyonya Aliyah, dan dia bisa ketemu dia di suatu tempat.”

“Kalau benar dia bisa menemukan Aliyah, pasti aku akan memberikan hadiah itu seperti yang sudah aku janjikan. Ya Tuhan, kemana perginya Aliyah?” keluh Alfian sambil menutupi wajahnya, dan menyandarkan kepalanya di sofa.

Farah meninggalkannya dengan perasaan iba, setelah dia gagal membujuknya untuk makan.

***

Aliyah yang menghebohkan banyak orang atas iming-iming hadiah bagi yang bisa menemukannya, tak terusik oleh keadaan itu. Ia, bahkan bu Siti dan teman pembantunya, tak pernah membaca koran, jadi tak ada yang tahu bahwa Aliyah sedang dicari dengan iming-iming hadiah satu milyar.

Bu Siti sangat senang, karena Aliyah sangat rajin dan membuat semuanya menjadi rapi. BU Siti juga senang, ketika Aliyah ingin diajari memasak. Karena Aliyah cerdas dan cekatan, maka hanya dalam beberapa hari, bu Siti sudah mempercayainya untuk membuat suatu masakan. Bu Siti juga senang, karena dengan adanya Aliyah, pekerjaannya jadi lebih enteng.

Itu sebabnya bu Siti memberi tips diluar gaji yang sebenarnya untuk Aliyah, yang selalu ditolak oleh Aliyah, tapi bu Siti memaksanya.

“Kamu harus bisa menabung, Aliyah. Kamu sudah makan cukup di sini, jadi uang kamu bisa kamu pergunakan untuk keperluan pribadi kamu, dan juga bisa menabung, jadi jangan menolak uang yang aku berikan. Percayalah, bahwa suatu hari nanti kamu pasti membutuhkan uang lebih,” kata bu Siti ketika membujuk Aliyah agar menerima pemberian uang lebih darinya.

Aliyah mengangguk. Ia butuh anyaman bambu yang lebih bagus untuk menutupi kamar nenek Supi dan juga kamarnya sendiri. Bolong-bolong di sana-sini membuat udara malam berembus ke dalam kamar dan membuatnya kedinginan. Siapa tahu nanti dia bisa memperbaikinya.

Siang itu setelah mencuci bersih semua perabotan, Aliyah pamit ke belakang untuk shalat. Bu Siti mengijinkannya, karena biasanya memang dia pulang bergantian dengan Aliyah setiap saatnya bersujud.

Aliyah sedang mau berwudhu, ketika tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki berjongkok di bawah sebuah pohon pisang yang tumbuh di belakang kamar mandi bu Siti. Aliyah sangat terkejut, melihat laki-laki asing yang tampaknya sedang bersembunyi, entah karena apa.

“Siapa ya?” sapa Aliyah takut-takut.

Tapi tiba-tiba laki-laki itu menoleh ke arahnya, dan berteriak.

“Narita?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01.

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  01 (Tien Kumalasari)   Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalan...