Thursday, May 4, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 36

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  36

(Tien Kumalasari)

 

Nungki terus mengamati foto itu, dan sangat yakin, bahwa wajah itu adalah wajah Narita. Ia sangat heran, mengapa dia dicari, bahkan dengan hadiah yang sangat besar.

“Tapi mengapa namanya jadi Aliyah?” gumamnya sendiri.

Lalu Nungki berpikir, barangkali karena ia memang ingin bersembunyi, entah dari siapa, maka dia mengaku bernama Aliyah.

Ini menarik, uang satu milyar itu bukan sedikit, dan Nungki sangat membutuhkannya. Dia sedang bersembunyi dari kejaran polisi karena telah berusaha membunuh pak Daud, dan dia butuh uang. Tapi di mana dia bisa menemukan Narita? Dia tak bisa menghubunginya karena Narita  pergi tanpa membawa ponselnya, sejak pergi dari rumah kontrakan itu, dan dia telah menjualnya pula.

Nungki mencatat nomor yang harus dihubungi apabila dia bisa menemukan Aliyah, yang dianggapnya adalah Narita yang memalsukan namanya.

Kemana dia? Nungki  sudah mencarinya ke setiap rumah bordil, di mana dulu dia memperkerjakan tubuhnya, tapi tidak juga ditemukannya. Ia juga harus bergerak hati-hati, karena sedikit saja dia salah melangkah, maka dia pasti akan ditangkap polisi.

“Kalau seandainya aku bisa menemukannya, aku akan mempergunakan uang itu kabur ke luar negri, dan berjudi di sana, siapa tahu aku bisa kaya raya nantinya,” gumamnya dalam setiap langkah yang ditempuhnya.

Iapun bergerak terus dalam pencariannya, demi uang satu milyar yang ingin didapatkannya, walaupun dia tidak tahu, mengapa Narita menjadi orang yang dicari, bahkan dengan hadiah yang begitu besar.

***

Malam itu, bu RT membawa makanan dan minuman, yang diantarkannya ke rumah Aliyah, karena suaminya masih berada di sana, menunggu datangnya Aliyah, yang mereka kira hanya sedang keluar rumah untuk suatu keperluan.

“Apa aku harus terus menunggu di sini sih Bu, dingin, tahu,” keluh pak RT sambil menyantap makanan yang dikirimkan istrinya.

“Bapak harus berjuang. Ini demi uang yang tidak sedikit.”

“Bagaimana kalau malam ini aku pulang saja dan tidur di rumah, besok pagi aku ke sini lagi.”

“Bapak itu bagaimana, kalau malam ini Aliyah pulang, mana mungkin Bapak bisa ketemu, kalau tidur di rumah?"

“Pagi-pagi sekali aku ke sini lagi. Pasti dia belum pergi, kalau masih pagi.”

“Bagaimana kalau dia datang malam ini, dan pergi lagi? Bapak kehilangan buruan yang sudah hampir terpegang di tangan, bukan?”

“Masa aku harus semalaman tidur di sini, mana hawanya dingin sekali.”

“Nanti aku bawakan selimut tebal, dan juga bantal serta guling, sehingga Bapak bisa tidur nyenyak. Tapi telinga juga harus dipasang, kalau sewaktu-waktu dia pulang dan Bapak terlalu nyenyak tidurnya, sama saja sia-sia.”

Tiba-tiba timbul pikiran ngelantur pak RT.

“Aku tidur di dalam saja, aku tahu di mana Aliyah tidur. Jadi kalau dia datang, pasti langsung masuk ke kamarnya.”

Mendengar itu, bu RT marah bukan alang kepalang.

“Bagaimana Bapak bisa tahu di mana Aliyah tidur? Bapak pernah mengintip ya? Apa yang Bapak lakukan saat melihatnya berada di kamar?”

“Ibu itu malam-malam begini mengajak bertengkar. Ingat, marah-marah itu menjauhkan rejeki. Kalau ibu marah-marah, mana bisa kita bisa mendapatkan yang satu milyar itu?”

Padahal pak RT punya pikiran kotor ketika punya keinginan tidur di dalam kamar Aliyah.

“Lalu bagaimana Bapak bisa tahu, dimana Aliyah tidur?” bu RT yang merasa cemburu, terus mendesak suaminya agar mengaku.

“Masa cuma begitu saja ibu mengira aku masuk ke kamarnya. Kan dari luar juga kelihatan, seandainya Aliyah keluar dari kamarnya.”

“Kapan Bapak melihatnya keluar dari kamar?”

“Ketika aku memberi dia makan, pada suatu hari. Sudah lah Bu, aku makan jadi nggak enak gara-gara ibu marah-marah. Ingat kataku itu tadi, kemarahan itu menjauhkan kita dari rejeki.”

Bu RT yang masih bermimpi tentang uang satu milyar itu mengalah. Ia kemudian pulang, dan saat kembali dia membawakan selimut tebal dan bantal serta guling.

Pak RT pun dengan harapan yang bertumpuk, lalu masuk ke dalam rumah, dan berbaring di ranjang, di mana dia pernah melihat ‘Aliyah’ di dalamnya.

“Semoga malam ini ‘Aliyah’ tidak lagi marah sama aku, dan bersedia menemani aku tidur malam ini,” kata batin pak RT.

Namun sampai pagi tiba, tak ada bayangan Aliyah pulang. Bu RT yang pagi-pagi sudah menyusul, melihat suaminya meringkuk di atas tempat tidur nenek Supi, terlelap sehingga tak tahu derak pintu kamarnya terbuka oleh istrinya.

“Pak, bangun Pak. Bagaimana? Apa dia pulang?”

Pak RT terkejut, ia bangkit dan melihat hari masih pagi, terlihat dari celah-celah anyaman bambu yang memagari kamar itu.

“Dia tidak pulang,” katanya sambil mengucek matanya.

“Tidak pulang ya? Jangan-jangan karena Bapak ngorok, lalu tidak mendengar dia pulang.”

“Biarpun aku tidur, suara sekecil apapun aku pasti mendengar.”

Bu RT memsuki kamar yang satunya, dan tak ada tanda-tanda bahwa Aliyah sudah pulang. Keduanya kemudian pulang dengan rasa kecewa.

“Katanya Aliyah pulang. Nak Pinto juga mengatakannya. Kok tidak ada,” gerutu bu RT.

“Kita tidak boleh kehilangan harapan Bu, bagaimanapun, rumah Aliyah ya di situ, jadi entah nanti atau besok, pasti dia pulang ke rumah itu. Jangan khawatir, uang satu milyar akan menjadi milik kita,” kata pak RT bersemangat.

Bu RT mengangguk. Harapan itu masih tetap ada.

“Bapak harus sering menengok ke rumahnya. Kalau perlu nanti malam Bapak juga harus tidur di sana lagi.”

“Dan satu lagi, jangan sekali-sekali Bapak cerita tentang sayembara ini, kepada orang lain. Bahkan nak Pinto sekalipun. Kalau ada orang lain mendengar, bisa-bisa kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hadiah itu,” lanjut bu RT yang mengomeli suaminya, bahkan sampai masuk ke dalam rumahnya.

***

Tapi bu RT tidak mengerti, bahwa berita tentang sayembara itu sudah tersebar. Bahkan Pinto sudah lebih dulu mengetahuinya. Pagi hari itu, karena dinas sore, Pinto berjalan-jalan melewati rumah Aliyah lagi. Sungguh bukan berarti dia mengharapkan uang itu, tapi lebih karena menghawatirkan keadaan Aliyah, dan seandainya ketemu, ia ingin mengetahui cerita sebenarnya tentang kejadian yang menimpa Aliyah, sehingga dia sampai diperistri oleh seorang yang ternama dan kaya raya, tapi kemudian memilih kabur dari istana yang pastinya lebih nyaman untuk ditinggali. Apalagi suaminya sangat tampan dan tampaknya sangat mencintainya.

Ia berhenti di depan rumah Aliyah, mengamatinya agak lama. Ia berharap Aliyah pulang lagi. Tapi tiba-tiba, seseorang bergegas mendekati.

“Nak Pinto, ada apa Nak Pinto berada di sini?” tanya pak RT curiga.

“Tidak apa-apa Pak, hanya ingin tahu, apakah Aliyah pulang ke rumahnya, atau tidak.”

“Mengapa Nak Pinto ingin tahu? Sudah jelas-jelas Aliyah tidak mau lagi kenal sama nak Pinto kan? Nak Pinto sendiri mengatakannya,” kata pak RT dengan nada kurang senang. Ia khawatir tentang uang satu milyar itu, karena merasa mendapat saingan. Ia mengira hanya dirinya sendiri yang tahu tentang uang itu, lupa bahwa koran bisa dibaca oleh siapa saja. Yang dia tidak tahu adalah, Pinto tidak mengharapkan uang itu sama sekali. Yang penting baginya adalah Aliyah selamat, dan kembali kepada suaminya.

“Kemarin saya ketemu suaminya,” kata Pinto dengan wajah kurang senang juga atas teguran pak RT yang tidak bersahabat seperti biasanya.

“Apa? Nak Pinto ketemu suaminya? Di mana?”

“Dia mencari istrinya ke rumah ini.”

“Pasti akan disiksa lagi. Semoga tidak ketemu.”

“Suaminya tidak menyiksanya.”

“Bohong dia. Sebenarnya Aliyah kabur karena disiksa suaminya, sampai pikirannya jadi terganggu, dan tidak ingat apa-apa lagi.”

“Hanya bersikap manis pada pak RT saja ya?” kata Pinto dengan maksud mengejek pak RT. Kemudian dia pergi dari hadapan pak RT, tanpa pamit.

“Huh, dia tidak percaya kalau Aliyah bersikap manis sama aku? Terserah kamu, yang penting kamu tidak tahu bahwa aku akan mendapatkan Aliyah dan menerima hadiah itu,” omel pak RT sambil mendekati rumah Aliyah, dan duduk di atas balai-balai di depan rumah itu.

***

 Pinto melangkah pulang dengan perasaan kesal. Dia sudah tahu kalau pak RT suka sama Aliyah, dan dia bermimpi tentang Aliyah, mengira kembaran Aliyah adalah memang Aliyah adanya. Tapi Pinto enggan mengatakan semua itu. Lebih baik tidak usah berbincang dengan orang yang tidak mengerti tentang keadaan, dan bertindak semaunya.

 Pinto tetap saja merasa sedih, karena ia sungguh-sungguh menghawatirkan keadaan Aliyah.

“Apakah dia baik-baik saja? Mengapa kemarin itu pulang, lalu pergi lagi? Sungguh aku menyesal ketika meninggalkannya pulang, sementara kata teman aku, dia sampai bertanya-tanya di mana aku. Maaf Aliyah. Sungguh aku menyesal.”

Karena pikirannya tidak bisa tenang, maka Pinto memerlukan berjalan-jalan saja, sekalian dia ingin membeli suatu kebutuhan.

Ia hanya berjalan kaki, tanpa tujuan tertentu. Ia berharap bisa menemukan suatu titik terang tentang Aliyah. Apakah Aliyah bekerja di suatu tempat seperti keinginannya?

Hari sudah siang, dan panas terasa terik.

Ia sampai di sebuah taman, lalu duduk termenung di sana. Angin yang bertiup menggoyangkan dedaunan, menimbulkan rasa segar di panas yang begitu menyengat.

Pinto pernah bermimpi tentang Aliyah, menjadi kekasih yang saling mencintai. Mimpi itu pernah kabur karena ternyata Aliyah hanya menganggapnya sebagai kakak. Dan sekarang mimpi itu benar-benar hilang setelah tahu ada yang mencintai Aliyah dengan cinta yang tanpa batas. Bahkan dia mempertaruhkan uang yang tidak sedikit demi kembalinya sang istri.

Aliyah gadis yang lugu dan sederhana, tapi dia tidak bodoh. Barangkali Aliyah merasa sangat rendah dibandingkan dengan laki-laki yang menjadi istrinya, sehingga dia memilih pergi. Sikap yang tidak sama dengan gadis lain, yang pastinya merasa senang dan bahagia, mendapatkan suami tampan, kaya raya, dan sangat penuh cinta. Itu pula sebabnya, kenapa dulu Pinto tertarik sama dia, dan akhirnya jatuh cinta. Tapi cinta Pinto sangatlah tulus. Ia senang karena Aliyah mendapatkan suami yang sangat sempurna. Ganteng, kaya, penuh cinta. Apa yang kurang dari laki-laki itu? Keluguan Aliyah membuatnya berbeda, dan membuat sang suami sekarang bingung mencarinya.

“Apa yang terjadi sama kamu, Aliyah?”

Ketika sedang merenungkan nasib Aliyah itu, tiba-tiba seorang laki-laki datang, kemudian duduk di sampingnya.

Mereka saling mengangguk, lalu laki-laki itu minta ijin untuk duduk di bangku di dekatnya.

“Silakan, kata Pinto ramah.”

Pinto ingin pergi, karena mencium bau alkohol pada tubuh laki-laki itu. Rupanya dia mabuk.

Laki-laki itu memegangi sebuah koran,

“Apakah Anda juga membacanya?” laki-laki itu tiba-tiba bertanya.

“Membaca apa?” tanya Pinto heran.

“Tentang Narita.”

“Narita siapa?”

“Narita yang mengganti namanya dengan Aliyah, kemudian dicari oleh seseorang dengan imbalan satu milyar,” kata laki-laki itu.

Pinto heran. Rupanya laki-laki di dekatnya itu mengenal kembaran Aliyah, tapi tidak mengenal Aliyah yang asli.

“Saya tidak membacanya,” jawab Pinto berbohong. Ia hanya tak ingin berbincang tentang Aliyah bersama seorang laki-laki asing.

“Sayang sekali. Ada yang mencari Narita dengan hadiah satu milyar,” kata laki-laki itu seperti kepada dirinya sendiri.

“Anda mengenal dia?”

“Dia siapa? Narita? Tentu saja aku mengenalnya. Dia pernah menjadi kekasihku. Bahkan dia rela kabur dari calon suaminya yang kaya raya, demi mengikuti aku.”

Pinto terpaksa memperhatikan cerita laki-laki itu. Rupanya dia adalah kekasih Narita, kembaran Aliyah.

“Dimana sekarang dia?”

“Dia kabur dari aku, karena marah setelah uangnya aku habiskan untuk berjudi,” katanya enteng.

“Uangnya Anda habiskan? Tentu saja dia marah.”

“Sebenarnya aku berjanji akan memberinya lebih banyak, kalau aku menang.”

Pinto kesal kepada laki-laki itu. Menghabiskan uang kekasihnya, berjanji mengembalikan kalau dia menang judi?

“Mengapa Anda suka berjudi? Berjudi tidak akan membuat hidup Anda tenang. Kalau kalah, Anda penasaran. Kalau menang, Anda ingin lagi dan lagi, sampai kemudian uang Anda benar-benar habis, lalu Anda bisa melakukan apa saja demi uang.”

“Benar, aku hampir membunuh orang yang menagih uangnya sama aku.”

“Apa?” Pinto terbelalak. Sadar bahwa orang di dekatnya melakukan tindak kriminal.

“Sekarang aku ingin menemukan Narita, demi mendapatkan yang satu milyar ini. Kemana dia pergi? Tak mungkin dia kembali kepada kekasihnya yang telah dibohonginya. Dan kabarnya juga dia sudah menikah. Entah dengan siapa, aku tak peduli. Aku sangat menyayangi Narita. Tapi sekarang aku ingin mempergunakannya untuk mendapatkan uang satu milyar itu.”

Pinto hampir tertawa, karena laki-laki itu mengira yang dicari adalah Narita, padahal Aliyah. Tapi Pinto mendiamkannya. Ia sudah berdiri dan bersiap pergi, ketika tiba-tiba terdengar sirene mobil polisi. Laki-laki di dekatnya terkejut, lalu langsung berdiri dan berlari menjauh.

***

Besok lagi ya.


Wednesday, May 3, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 35

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  35

(Tien Kumalasari)

 

Pinto menyingkir menjauhi mobil itu dan berusaha melangkah pergi, tapi kemudian seseorang memanggilnya.

“Mas … Mas … “

Pinto berhenti, tapi dia tak yakin apakah dirinya yang dipanggil. Seseorang keluar dari mobil itu, gagah dan tampan. Pinto merasa seperti mengenal wajah itu, tapi lupa di mana. Barangkali pernah makan di warung tempatnya bekerja, entahlah.

“Mas memanggil saya?” tanya Pinto.

“Ya. Kan hanya ada Mas, tidak ada orang lain di tempat ini.”

“Oh, iya. Ada yang bisa saya bantu, Mas?”

“Anda mengenal pemilik rumah itu?”

“Itu kan … rumah … seorang wanita … bernama Aliyah.”

“Anda mengenalnya?”

“Dulu, sebelum dia menjadi kaya, kami sempat berkawan. Tapi sekarang dia tidak mau mengenal saya. Maklum, saya kan orang miskin, hanya pelayan rumah makan,” kata Pinto merendah.

“Maksudnya apa … sebelum dia menjadi kaya?”

“Pada suatu hari dia pergi dari rumah, kami mengira dia diculik orang jahat. Tapi tak lama kemudian dia menikah dengan orang terkenal di kota ini. Terkenal dan kaya. Kami bersyukur, karena selama ini dia hidup serba kekurangan, setelah neneknya meninggal.”

“Apa Anda pernah bertemu setelah dia menikah?”

“Ya, beberapa waktu yang lalu, saya melihat dia berjalan di depan rumah makan itu, tapi saya agak sakit hati karena ketika saya menyapa dia, dia menjawabnya acuh, dan bilang bahwa tidak pernah mengenal saya. Saya tidak mengira dia begitu sombong.”

“Menurut Anda, dia berubah?”

“Sangat berubah, setelah menjadi kaya, walau saya agak heran, mengapa sebagai istri orang kaya dia lewat di depan rumah makan itu dengan berjalan kaki.”

Laki-laki, yang adalah Alfian itu mengangguk-angguk. Ia tahu, yang bertemu Pinto, bukan Aliyah, karena Aliyah tidak sombong atau tinggi hati.

“Tapi beberapa hari kemudian, saya melihat lagi Aliyah, yang kali itu menyapa saya dengan ramah. Karena sakit hati, saya menghindarinya, enggan bertemu lagi dengannya, daripada akan sakit hati untuk kedua kalinya.”

“Apa? Jadi dia datang kemari juga?”

Farah yang semula ada di dalam, ikut mendengarkan pembicaraan itu, kemudian turun.

“Berarti yang terakhir itu benar, nyonya Aliyah? Sikapnya berbeda kah, Mas?”

Pinto menatap wanita yang baru turun itu. Dia lupa tidak bertanya, siapa mereka dan apakah mengenal Aliyah.

“Maaf Mas, mengapa Mas banyak bertanya tentang Aliyah? Dulu kami begitu dekat. Aliyah sangat manis budi dan menyenangkan. Entah mengapa, kemudian dia berubah. Rupanya kekayaan bisa merubah sifat seseorang,” kata Pinto seperti kepada dirinya sendiri.

“Tidak, yang Mas temui itu bukan Nyonya Aliyah.”

Pinto menatap wanita yang baru turun itu. Dia heran wanita itu menyebutnya ‘nyonya’. Pinto kemudian menduga-duga, siapa sebenarnya mereka. Lalu tiba-tiba dia teringat kepada wajah pengantin Aliyah di televisi.

“Apakah, Mas suami Aliyah?”

“Ini tuan saya, suami nyonya Aliyah,” kata Farah lagi.

Pinto terbelalak. Laki-laki ganteng itu suami Aliyah? Dia ingat perkataan pak RT, katanya Aliyah pulang karena disiksa suaminya? Apakah sekarang dia mencari untuk disiksa kembali?

“Jadi Mas ini suaminya? Saya heran, kata pak RT, Aliyah pulang karena disiksa suaminya,” kata Pinto yang meluncur begitu saja.

“Apa Mas bilang? Nyonya Aliyah disiksa suaminya? Mas sangat lancang. Tuan Alfian ini sangat mencintai istrinya.”

“Benarkah?”

“Tunggu, berarti Aliyah ada di rumah itu?”

“Saya tidak tahu. Beberapa hari yang lalu dia lewat di depan rumah makan tempat saya bekerja, dan menyapa saya, tapi seperti saya katakan tadi, saya menghindarinya karena sakit hati.”

“Tuan, masnya ini mungkin bertemu dengan orang yang berbeda. Yang sombong itu non Narita, yang menyapa dengan ramah itu barulah nyonya Aliyah,” kata Farah yang masih kesal karena tuannya disangka menyiksa istrinya.

“Apa maksud Mbak? Orang yang berbeda?”

“Ya, nyonya Aliyah itu kembar. Yang Mas lihat pertama kali itu bukan nyonya Aliyah, tapi kembarannya yang bernama Narita.”

“Ya Tuhan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?” kata Pinto sambil menutup mulutnya.

“Farah, coba lihat, siapa tahu Aliyah ada di dalam,” perintah Alfian.

Farah melangkah mendekati rumah, Tanpa sadar Pinto mengikutinya, demikian juga Alfian. Alfian sangat berharap bisa menemui istrinya di rumah itu, sedangkan Pinto masih bingung mendengar bahwa Aliyah punya kembaran. Pasti yang kata pak RT bersikap sangat manis sama dia itu adalah kembarannya Aliyah.

Farah sudah membuka pintu rumah Aliyah, yang memang tidak bisa terkunci dengan sempurna. Ia langsung masuk, dan menyalakan lampu, agar terlihat lebih terang.

“Aliyah !!” Alfian berteriak.

Farah menjenguk ke dalam kamar, dan melihat sebuah bungkusan pakaian, yang teronggok begitu saja, tidak dimasukkan ke dalam almari.

“Ini pasti pakaian non Narita,” kata Farah.

“Aliyah !!” Alfian berteriak lagi.

Tak ada jawaban, karena memang Aliyah sudah tidak ada di rumah itu.

Alfian tampak sangat kecewa, ketika keluar dari rumah, lalu duduk di balai-balai yang ada di depan rumah, wajahnya tampak begitu keruh.

Ia mengusap wajahnya dengan kedua belah tangannya dengan kasar.

“Kemana kamu pergi?”

“Saya kira dia masih ada di sini, setelah menyapa saya itu,” kata Pinto yang duduk pula di dekat Alfian.

“Rupanya nyonya kembali kemari hanya untuk bersih-bersih rumah,” kata Farah sambil  keluar dari dalam rumah.

“Kemana dia?”

“Mungkin dia bekerja di suatu tempat, lalu pulang untuk membersihkan rumah,” kata Farah.

“Bekerja?”

“Bukankah itu keinginannya, Tuan?”

“Peristiwa ini sangat membingungkan saya,” kata Pinto.

“Nyonya meninggalkan Tuan, karena merasa tidak pantas, sementara Tuan sangat mencintainya. Ketika saya menyusul ke rumah ini, rupanya yang ada adalah kembarannya. Ia begitu jahat dan mengaku sebagai nyonya Aliyah. Tapi sekarang sudah ketahuan, dan dia sudah ditangkap polisi,” kata Farah bercerita sekilas tentang adanya Aliyah dan kembarannya.

“Luar biasa sekali peristiwa ini. Kalau tahu begitu, waktu dia menyapa saya, pasti saya tanggapi, sehingga dia bisa menceritakan semuanya,” kata Pinto sambil mengiringi Alfian dan Farah kembali ke arah mobil.

“Terima kasih telah memberikan informasi tentang Aliyah, walau tidak selengkapnya,” kata Alfian ramah.

“Kalau saya melihat dia lagi, saya akan menghubungi Tuan,” kata Pinto yang kemudian mengubah panggilannya, setelah tahu Alfian itu orang ternama.

“Mengapa berubah menjadi ‘tuan’? panggil saya Mas, seperti sebelumnya,” kata Alfian.

Pinto tersenyum mengangguk. Dalam hati dia mengakui, bahwa suami Aliyah ini tampaknya memang orang baik. Tak mungkin dia menyiksa istrinya. Pasti Aliyah palsu itu yang mengarang cerita.

“Oh ya Farah, coba minta nomor kontak masnya itu, ah ya, kita belum saling mengenalkan nama. Saya Alfian,” kata Alfian kemudian kepada Pinto.

“Saya Pinto. Baiklah, saya catatkan nomor kontak saya. Kalau saya melihat Aliyah, saya akan mengabari Tuan.”

“Mas,” kata Alfian membetulkan panggilan itu.

“Baiklah, … Mas.”

Setelah saling bertukar nomor kontak, Farah kemudian masuk ke dalam mobil, duduk di depan, disamping Kirman yang menjadi pengemudi. Tapi tanpa sengaja, sebagian rok bawahan Farah terjepit pintu mobil.

“Mbak, bajunya terjepit pintu,” kata Pinto.

Farah kembali membuka pintu dan menarik baju bawahnya yang terjepit pintu. Ia mengulaskan senyuman kepada Pinto sambil mengucap pelan:“Terima kasih.”

Pinto membalasnya dengan senyuman pula. Ada perasaan aneh melintas, kemudian dikibaskannya. Gadis itu hanya pembantu, tapi sikapnya sangat manis, dan begitu akrab dengan majikannya. Dia juga ramah. Pikir Pinto sambil melangkah pulang ke rumah kostnya.

***

 Alfian kembali murung, karena tak mendapatkan hasil dalam perncarian ke rumah Aliyah. Tapi bahwa Aliyah tampaknya pernah pulang, sedikit menumbuhkan harapannya.  Ia yakin, Narita tidak bohong dalam hal ini, bahwa dia tidak pernah bertemu Aliyah.

“Farah, bagaimana menurut kamu? Apa lagi yang harus aku lakukan?” kata Alfian.

Alfian dan Farah memang sangat dekat karena mereka adalah teman main sejak kecil. Karena itulah dia merasa nyaman berbagi dalam banyak hal bersamanya.

“Bagaimana kalau tuan mengadakan sayembara saja?”

“Sayembara bagaimana maksudmu?”

“Buat iklan, siapa yang bisa menemukan nyonya Aliyah, akan mendapat hadiah. Bagaimana, Tuan?”

Alfian tampak berpikir, tapi kemudian dia mengangguk-angguk.

“Aku setuju. Sekarang juga kamu urus semuanya.”

“Baik Tuan,” kata Farah yang kemudian menjadi sangat bersemangat. Barangkali iming-iming uang itu akan lebih banyak membuat orang memperhatikan iklan itu.

“Buat, bagi siapa yang bisa menemukan, akan aku beri hadiah lima ratus juta rupiah,” perintah Alfian.

“Baik Tuan.”

“Semoga aku yang bisa menemukannya,” canda Farah sambil berlalu.

“Jangan … jangan limaratus Rah, satu milyar rupiah.”

“Baiklah,” kata Farah yang sudah masuk ke rumah untuk mengambil ponselnya.

***

Pinto yang sedang beristirahat saat bekerja, terkejut membaca iklan yang dibuat, demi untuk menemukan Aliyah. Ia merasa, rupanya Alfian benar-benar sangat mencintai Aliyah. Ia yang tidak begitu mengrti kisah sebenarnya, juga berharap bisa bertemu Aliyah. Bukan karena iming-iming hadiah itu, tapi ingin tahu bagaimana cerita sebenarnya, sehingga Aliyah yang kabarnya diambil paksa oleh seorang pengendara mobil, lalu bisa menjadi istri seorang konglomerat, dan kemudian kabur hanya karena merasa tidak pantas.

“Seandainya saja ketika itu aku menanggapi panggilan dia, pasti dia sudah menceritakan semuanya. Sayang, waktu itu aku masih merasa sakit hati karena sikap angkuhnya, padahal sebenarnya dia gadis yang berbeda. Rasanya memang tak mungkin Aliyah bersikap begitu sombong, apalagi kami sudah kenal dekat walau baru beberapa hari,” gumam Pinto sambil terus mengamati foto Aliyah di koran yang dibacanya.

Sementara itu, pak RT juga sudah membaca iklan itu, lalu dia berteriak kegirangan.

“Bu, lihat Bu, sebentar lagi kita akan mendapat uang satu milyar rupiah,” teriaknya sambil mendekati sang istri yang sedang memasak di dapur.

“Lihat Bu, satu milyar. Ini tidak main-main.”

“Apa sih Pak, Bapak bermimpi apa lagi? Mau macam-macam apa lagi?” kata istrinya sambil mengentas sayuran dari atas wajan.

“Ibu itu ya, kalau sama saya selalu saja berprasangka buruk. Lihat ini, ini tentang Aliyah.”

“Apa? Aliyah lagi? Bapak masih bermimpi tentang Aliyah? Masih ingin berharap bisa mendapatkan Aliyah? Lalu dari mana uang milyaran itu?”

“Baca dulu iklan ini, baca. Sekarang aku mau ke rumah Aliyah. Catat nomor kontak yang ada. Aku segera kembali,” kata pak RT yang langsung bergegas pergi menuju ke rumah Aliyah.

Bu RT yang kesal karena lagi-lagi suaminya menyebut nama Aliyah, kemudian tertarik membaca apa yang ditunjukkan sang suami, karena ada kata-kata satu milyar rupiah. Uang dari mana itu?

Lalu bu RT terkejut membacanya. Rupanya suami Aliyah mencari istrinya dan menyediakan uang satu milyar bagi yang bisa menemukannya. Bu RT langsung sumringah. Bukankah menurut suaminya Aliyah pulang ke rumah? Ia segera mencatat nomor telpon yang terpampang di situ, lalu bergegas menyusul suaminya. Bagaimanapun, uang tetaplah menarik bagi bu RT.

Pak RT sudah berteriak-teriak di rumah Aliyah, tapi tak ada jawaban. Ia langsung saja masuk, dan mencari di setiap ruangan yang ada. Tapi ia tak menemukan yang dicarinya.

“Aliyaaah!”

Pak RT keluar dari rumah Aliyah dengan kecewa. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berpapasan dengan istrinya.

“Bagaimana Pak? Biar aku saja yang menemui dia, nomor kontak sudah aku catat di ponsel aku,” kata bu RT bersemangat.

“Aliyah tidak ada.”

“Tidak ada?”

“Rumahnya kosong,” kata pak RT dengan lesu.

“Barangkali dia sedang keluar. Sebaiknya Bapak menunggu di sini dulu, supaya begitu dia pulang, Bapak bisa segera melaporkannya. Ini, bawa saja ponsel yang sudah ada nomor kontak orang yang harus dihubungi.”

“Jadi aku harus menunggu di sini?”

“Iya lah Pak, kalau tidak, Bapak tidak akan tahu kalau sewaktu-waktu dia datang.”

Pak RT kembali lagi ke rumah Aliyah, duduk di balai-balai dengan rasa sabar menunggu. Satu milyar sangat banyak. Pak RT belum pernah memiliki uang sebanyak itu.

***

Di sebuah warung kecil, seorang laki-laki sedang duduk sambil membaca sebuah koran. Ia sudah selesai makan dan bersiap pergi. Ketika terbaca olehnya sebuah iklan.

Matanya terbelalak. Ia langsung berteriak.

“Bukankah ini Narita?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

Tuesday, May 2, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 34

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  34

(Tien Kumalasari)

 

Alfian melepaskan tangan itu, matanya menatap marah.

“Kamu siapa?”

“Alfi … Alfi … kamu kenapa? Kamu bermimpi lagi?”

“Kali ini aku tidak bermimpi. Kamu penjahat itu. Kamu bukan Aliyah!” hardiknya.

“Alfi … tenang Alfi,” kata Narita sambil bangkit dan berusaha memeluk Alfian. Tapi Alfian menghempaskannya, sehingga Narita jatuh tertelentang.

“Alfi, sadarkah Alfi. Apa yang terjadi padamu?”

“Kamu bukan Aliyah. Katakan di mana Aliyah!!”

“Apa yang kamu bicarakan? Alfi, aku sudah mulai mencintai kamu,” Narita bangkit lagi, tapi Alfian menariknya lalu melepaskannya, sehingga Narita jatuh terjerembab ke lantai.

“Aduuuh, sakit Alfi. Apa yang kamu lakukan?”

“Kamu bukan Aliyah. Kamu Narita!”

“Alfi … tolong sadarlah. Aku istri kamu. Kamu pasti bermimpi, tolong Alfi, jangan menyiksa aku seperti ini, aku mencintai kamu Alfi.”

“Kamu bukan Aliyah, aku akan melaporkan kamu ke polisi.”

“Alfi, kenapa kamu ini? Sadar Alfi, aku istri kamu.”

“Istriku Aliyah, bukan kamu.”

“Aku Aliyah, Alfi, Aliyahmu.”

“Kamu Narita, penjahat busuk yang membuat kacau semua nya.”

“Bukan, aku Aliyah.”

Alfian tiba-tiba keluar dari kamar dan mengunci kamar itu dari luar.

“Faraaah! Kirmaaan!!

Hanya dalam hutungan detik, yang dipanggil sudah hadir di hadapan tuannya. Mereka terkejut mendengar tuannya berteriak-teriak.

“Ya Tuan, ada apa?”

“Dia bukan Aliyah. Farah! Di mana kamu temukan perempuan busuk itu? Kau bawa kemari dan dia bukan Aliyah!” Alfian masih saja berteriak.

Farah dan Kirman saling pandang.

“Tapi kami bertemu dia di rumah nyonya Aliyah. Ya kan, Mas Kirman?”

“Benar Tuan, kami menemukannya di rumah nyonya.”

“Tapi dia bukan Aliyah, dia Narita, penjahat itu!!”

“Ya Tuhan. Kalau dia non Narita, bagaimana bisa berada di sana?”

“Pertanyaannya adalah, di mana Aliyah. Perempuan busuk itu pasti sudah menyembunyikannya.”

Sementara itu Narita berteriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu.

“Laporkan saja ke polisi Tuan, dia sudah melakukan kejahatan.”

“Dia harus mengaku dulu, di mana Aliyah.”

“Alfi, tolong buka pintunyaaaa,” teriaknya tak henti-henti.

“Buka pintunya dan lemparkan dia ke hadapanku.”

Kirman segera membuka pintu kamar itu, lalu Narita melompat keluar, dan menubruk Alfian yang sedang duduk di sebuah kursi. Tapi Alfian mendepakkan kakinya, sehingga Narita terlempar, kepalanya terbentur lantai.

“Alfi ….” Rintihnya memelas, tapi Alfian bergeming.

“Kamu katakan sekarang, di mana Aliyah, dan bagaimana kamu bisa berada di rumah istriku itu?!” Hardik Alfian.

“Alfi, aku Aliyah.”

“Bohong!!”

“Benar, dia bukan nyonya Aliyah. Sudah lama saya heran dengan sikapnya yang berbeda. Cara memanggil saya, cara dia berbicara dan berkehendak, sangat berbeda. Nyonya Aliyah tidak pernah menginginkan sesuatu. Pantesan dia tahu kalau Tuan tak suka daging kambing, padahal Tuan tak pernah mengatakannya.”

“Aku tak tahu dia bukan Aliyah, karena memang aku tidak pernah berusaha mendekatinya. Baru malam ini, dan aku menemukan ciri yang dimiliki Aliyah, tidak ada pada bedebah itu.”

“Alfi ….”

“Jangan lagi menyebut namaku. Katakan di mana Aliyah. Kamu mencelakainya?”

“Tuan, pantesan juga cincin nyonya Aliyah tidak muat di jarinya.”

“Mana cincin itu?” bentak Alfian lagi.

“Dipakai di jari sebelah kiri, dan untuk itu, dia meminta uang pada saya untuk menggantikannya dengan ukuran yang lebih besar.”

“Apa? Jadi itu bukan cincin pernikahan aku? Mana cincin itu, mana!! Lepaskan sekarang, lepaskan!!” hardik Alfian sambil menunjuk ke arah jari manis Narita yang sebelah kiri.

“Kenapa kamu menurutinya untuk menggantikan cincin itu, Farah!!” kali ini Alfian menatap Farah dengan marah.

“Maaf Tuan, mana berani saya menolaknya, bukankah saya merasa bahwa nyonya Aliyah yang memintanya?”

Alfian menarik cincin yang melingkar di jari manis Narita, membuat Narita meringis kesakitan.

“Sakit Alfi.”

“Kurangajar sekali kamu. Katakan di mana istriku? Di mana??”

Akhirnya Narita tak bisa mengelak lagi. Sekarang dia menangis memilukan sambil bersimpuh di hadapan Alfian.

“Baiklah, Alfi, aku mengaku, aku memang Narita,” isaknya.

“Perempuan busuk kamu!! Setelah kamu meninggalkan aku dengan membawa kabur uang dan perhiasan, sekarang kamu mencelakai istri aku? Dengar, kalau sampai terjadi apa-apa atas Aliyah, kamu harus menebusnya. Dengan nyawa!!”

“Alfi, sesungguhnya aku tidak bermaksud meninggalkan kamu. Aku masih sangat mencintai kamu.”

“Bohong!!”

"Sungguh Alfi, aku diperdaya oleh seseorang, yang ternyata dia seorang penjudi, ia menghabiskan uang aku, lalu aku pergi. Aku bertemu dengan seseorang yang mengira aku adalah Aliyah, dan mengantarkannya ke rumah buruk itu.”

“Rumah buruk itu adalah istana bagi istri aku!” bentak Alfian.

“Lalu di mana Aliyah? Aliyah pergi dari rumah, dengan segala kemuliaan hatinya.”

“Aku tidak bertemu Aliyah di rumah itu.”

“Bohong!”

“Berani sumpah, aku tidak bertemu dia, sampai Farah yang mengira aku Aliyah, membawanya kemari.”

“Bohong!! Katakan di mana istriku!! Dia pasti pulang ke rumahnya, dan kamu mencelakainya. Iya kan?”

“Tidak Alfi, sungguh aku belum pernah bertemu Aliyah, yang sebenarnya adalah saudara kembar aku.”

“Apa? Kalian saudara kembar?”

“Aku menemukan sebuah surat di kamar itu, yang mengatakan bahwa kami terlahir kembar, yang terpisah dalam sebuah bencana. Aku dipungut oleh keluarga kaya, dan dimanjakannya. Tolong mengertilah Alfi, aku juga sudah dibuang oleh keluarga orang tua angkat aku. Aku tak punya siapa-siapa.”

Walau tertegun oleh cerita Narita bahwa mereka adalah saudara kembar, tapi semua itu tak menyurutkan kemarahan Alfian. Narita sudah menipunya, saat sebelum hari pernikahan mereka, dan sekarang menipunya dengan mengaku sebagai Aliyah.

“Farah, telpon polisi.”

“Jangan Alfi, kasihanilah aku.”

“Cepat Farah!!”

“Baik, Tuan.”

“Alfi, kasihanilah aku.”

“Tidak ada kasihan untuk wanita jahat seperti kamu. Dengar ya, aku masih tidak percaya bahwa kamu tidak mencelakai Aliyah.”

“Sungguh Alfi, aku bersumpah belum pernah bertemu Aliyah. Tolong, aku mau pergi saja, jangan melaporkan aku ke polisi,” ratapnya.

Tapi Alfian sudah menelpon polisi. Ia sekali lagi menendang tubuh Narita, ketika Narita berusaha merangkul kakinya.

“Alfi, kamu tega? Kamu lupa bahwa kita pernah saling mencintai?” Narita mencoba meluluhkan hati Alfian, tapi Alfian tetap bergeming.

“Lupakan cinta itu. Bagi aku, cinta itu milik Aliyah. Hanya Aliyah, dan bukan kamu!!”

“Alfi …”

Kirman dan Farah duduk terpekur di lantai. Ada sesal yang menghimpit, ketika dia ingat akan ketidak hati-hatiannya, sehingga membawa pulang orang lain, dan bukan istri tuannya.

Ketika sirene polisi datang, jeritan Narita menyaingi raungan sirene itu. Alfian tak mempedulikannya. Pikirannya hanya pada Aliyah. Di mana sang istri berada?”

***

Pak Candra dan bu Candra terkejut, ketika Alfian mengatakan bahwa yang berada di rumahnya adalah Aliyah palsu. Mereka menjadi marah karena si Aliyah palsu itu adalah Narita, orang yang mencoreng keluarganya dengan perilaku yang tidak terpuji.

“Pantesan, aku merasa sikapnya lain. Berbeda dengan Aliyah yang santun dan takut-takut  ketika berhadapan dengan kita,” kata pak Candra.

“Dia juga tiba-tiba memelukku, merasa bahwa sudah menjadi menantu.”

“Syukurlah, dia sudah ditangkap polisi.”

“Lalau di mana Aliyah yang asli?”

“Belum ada yang tahu. Mungkin nanti polisi akan bisa memaksanya agar Narita berterus terang. Narita juga bilang bahwa mereka saudara kembar.”

“Tidak aneh kalau saudara kembar. Wajahnya sama.”

“Alfian juga kurang peka, tidak bisa membedakan antara Aliyah dan Narita.”

“Itu karena Alfian belum pernah mendekatinya, karena kata Farah, Aliyah yang belum siap untuk melayani suaminya. Bahkan tidurnya juga terpisah. . Itu juga sebabnya aku sebenarnya kurang cocok dengan perkawinan itu. Tapi Alfian maunya begitu, mau apa lagi.”

“Itu kan karena Aliyah itu sebenarnya takut Bu. Coba saja kita lihat nanti bagaimana. Aliyah juga belum ketahuan di mana rimbanya. Kata Alfian dia pergi karena ibu mengata-ngatainya,” tegur pak Candra.

“Bukan mengata-ngatai sebenarnya, aku hanya bicara sama Farah.”

“Tapi dia mendengarnya, dan merasa tidak disukai, itu sebabnya dia pergi. Jadi kasihan aku. Perginya juga tak membawa apa-apa. Tapi kenapa tidak pulang ke rumahnya ya. Atau kalaupun pulang, ada Narita di sana. Jangan-jangan Narita mencelakainya.”

“Semoga semuanya baik-baik saja.”

“Dan masalah akan segera selesai.”

***

Farah dan Kirman ikut sedih, karena Alfian tampak sangat berduka tentang hilangnya Aliyah. Lalu Farah menyesal atas kekeliruannya waktu membawa Narita yang dikiranya Aliyah.

“Aku kurang cermat ketika mengajaknya kemari. Padahal sebenarnya perbedaan itu ada dan aku merasakannya.”

“Aku juga heran ketika dia memanggil kamu ‘Farah’ begitu saja. Nyonya Aliyah sangat menghargai setiap orang. Bukan karena dia istri juragan lalu memanggil pembantu dengan namanya saja,” kata Kirman.

"Iya sih. Aku sebenarnya juga heran, tapi aku menepisnya, karena mengira dia ingin lebih bersikap akrab sama aku.”

“Bagaimana dengan panggilan ‘Alfi’ pada tuan Alfian?”

“Itu juga pasti dianggap ingin lebih mendekatkan diri dengan keluarga ini.”

Tapi bagaimanapun, sesal itu tak kunjung hilang dari pemikiran keduanya. Banyak perbedaan yang membuat mereka heran, tapi selalu ditepisnya dengan sebuah alasan yang sama.

“Sekarang aku kasihan melihat tuan Alfi. Dia tampak tak bersemangat. Apalagi ketika tahu bahwa non Narita tetap menyangkal kalau melakukan sesuatu sama nyonya Aliyah. Ia bahkan mengatakan kalau belum pernah bertemu,” keluh Farah sedih.

“Mungkin ada benarnya juga, bahwa nyonya Aliyah belum pulang ke rumahnya. Nyonya kan lari dari sini, dan kalau dia pulang, pasti akan ketahuan oleh kita. Makanya dia pergi ke lain tempat,” kata Kirman.

“Betul juga ya Mas. Tapi nyonya terus pergi ke mana? Dia pergi tanpa membawa apa-apa. Dia juga tak punya uang sepeserpun.”

“Aku akan menemani tuan Alfi di depan. Kalau sendirian, dia pasti akan lebih merasa sedih,” kata Kirman sambil beranjak ke arah depan.

“Tolong bilang juga, sebaiknya tuan makan, gitu. Seharian belum makan dia.”

“Ya,” kata Kirman sambil terus berlalu.

Tapi ketika Kirman mendekat, Alfian malah mengusirnya. Tampaknya Alfian tak ingin diganggu.

“Tinggalkan aku Man, aku ingin sendirian,” kata Alfian pelan.

“Tuan tidak bisa menghabiskan waktu dengan hanya meratapi kejadian ini.”

“Apa maksudmu Man? Aku kehilangan istri dan aku harus diam saja?”

“Bukan itu maksud saya Tuan. Ada baiknya Tuan juga memikirkan hal lain yang barangkali bisa menghibur Tuan. Misalnya menekuni pekerjaan di kantor.”

“Aku tidak bisa berpikir apapun. Semuanya buntu. Aku tak bisa melakukan apapun juga, sebelum Aliyah ditemukan.”

“Tuan sudah berusaha, dengan memasang iklan bukan? Tuan bisa menunggu, dan semoga apa yang Tuan lakukan akan mendapatkan hasil yang baik.”

“Aku ingin pergi ke rumah Aliyah.”

“Untuk apa Tuan ke sana? Sudah jelas nyonya tidak akan pulang ke rumahnya”

“Entahlah, aku hanya ingin ke sana. Panggil Farah, suruh dia mengantarkan aku juga.”

“Tuan, tapi tadi Farah ingin mengingatkan, bahwa Tuan harus makan terlebih dulu.”

“Aku tidak ingin makan, aku harus menemukan Aliyah.”

“Kalau Tuan tidak makan, Tuan bisa jatuh sakit. Makanlah, walau sedikit, setelah itu saya antarkan Tuan ke rumah nyonya Aliyah.”

“Ya, Tuan, makanlah dulu. Sedikit juga tidak apa-apa, yang penting perut tidak kosong. Nanti kalau Tuan jatuh sakit, malah tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi untuk mencari nyonya Aliyah,” kata Farah yang tiba-tiba juga sudah mendekati tuannya dan membujuknya makan.

“Baiklah, ambilkan saja, aku makan disini.”

“Tapi saya tidak tahu, tuan ingin makan apa.”

“Ambilkan nasi sedikit dan lauk apa saja. Bukankah yang penting perutku terisi?”

Akhirnya Farah menurut. Ia beranjak ke belakang, mengambilkan tuannya makan dengan lauk yang dipilihkannya.

***

Pinto yang diam-diam masih penasaran atas adanya Aliyah di rumah itu, sore hari selepas bekerja dia berjalan-jalan melewati rumah Aliyah. Rumah itu tetap saja masih tertutup rapat, dengan lampu yang masih menyala. Pinto ingat, lampu itu dia yang membelikannya, dan dia pula yang memasangkannya. Kala itu Aliyah masih bersikap sangat manis, bahkan menganggapnya sebagai kakak, walau dirinya sesungguhnya ingin lebih dari itu. Ya, Pinto jatuh cinta pada Aliyah, karena kesederhanaannya, keluguannya, bahkan kelucuannya ketika dia tak mengerti pada suatu hal, dan dia menerangkannya.

“Jadi makan nasi goreng enaknya hangat ya?”

Aliyah sudah biasa makan apapun yang ada, lalu melahapnya tanpa berpikir bagaimana caranya supaya makanan itu bisa disantap lebih nikmat. Pinto sudah mengajarinya sedikit, dan Aliyah pernah mengatakan ingin belajar masak darinya. Tapi mengapa ketika disapa waktu itu, Aliyah begitu sombong? Bahkan mengatakan bahwa tak pernah mengenal dirinya. Hati Pinto sakit sekali. Karena itulah ketika pada suatu hari Aliyah lewat lagi dan memanggilnya, maka ia lebih baik menghindar. Mana Pinto tahu bahwa keduanya adalah orang yang berbeda?

Pinto masih termangu di depan rumah Aliyah, ketika sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya.

***

Besok lagi ya.

 

 

Monday, May 1, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 33

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  33

(Tien Kumalasari)

 

Narita menatap wajah tampan itu dengan debar jantung yang semakin keras. Sudah lama dia merindukannya, sudah lama dia menginginkannya. Alfian tampak terlelap karena kelelahan, sehingga tak terusik dengan kehadiran Narita yang bersiap menggodanya. Hidung mancung itu, rahang yang tampak kuat, wajah bersih tampan, alangkah bahagia bisa memilikinya, dia yakin akan berhasil memilikinya.

Gemetar tangannya ketika menyentuh pipinya lembut.  Lelap itu tetap belum juga terusik. Jari-jari Narita merayapi wajah itu, dari pipi ke hidung, dan bibirnya.

Lalu Alfian bergerak perlahan, tapi kemudian ia memiringkan tubuhnya, memeluk guling, sambil membisikkan sebuah nama.

“Aliyah, kapan kamu mau menemani aku di sini? Di ranjang ini?” bisiknya lembut, sambil memeluk gulingnya lebih erat.

Narita merasa kesal.  Gejolak yang membara, tiba-tiba surut dibakar cemburu. Alfian sudah melupakan dirinya, dan jatuh cinta pada gadis sederhana yang bodoh itu. Seketika Narita membalikkan tubuhnya, tapi karena tergesa-gesa, dia menutupkan pintunya terlalu keras.

Bantingan pintu itu membuat Alfian terjaga. Ia membuka matanya, menatap ke sekeliling ruangan, tapi tak melihat siapapun.

“Apa aku bermimpi? Tadi aku merasa, Aliyah mendekati aku, maraba-raba wajahku, lalu aku memeluknya erat. Ya Tuhan, aku hanya bermimpi.”

Alfian mencoba memejamkan lagi matanya, tapi bayangan mimpi itu selalu menghantuinya.

“Aliyah, apakah itu berarti bahwa sesungguhnya kamu sudah bisa menerima aku? Apakah kamu memimpikan hal yang sama?”

Karena tak bisa tidur lagi, maka Alfian segera bangun, lalu keluar dari kamar. Ia menuju ke ruang makan, mengambil air dingin dari dalam kulkas, lalu membawanya keruang tengah. Ia meneguknya beberapa teguk, lalu menyandarkan tubuhnya. Beberapa hari ini ia menguras tenaga dengan pembicaraan-pembicaraan tentang bisnis, dan sekarang dia merasa sangat lelah. Ia sampai tidak begitu memperhatikan ‘Aliyah’ dan hanya menyuruhnya segera beristirahat karena dirinya juga merasa sangat letih.

“Apakah Aliyah sesungguhnya merindukan aku?”

Tiba-tiba Alfian berdiri dan melangkah perlahan ke arah kamar Aliyah. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, dan siap membukanya, tapi diurungkannya. Ia merasa ragu Aliyah sudah bisa menerimanya. Alfian tak ingin memaksanya, Alfian sabar menunggu, dan perlahan baru akan mencobanya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya, lalu kembali lagi duduk di sofa. Ia memejamkan matanya, lalu kembali tertidur.

***

Sementara itu Narita juga gelisah di kamarnya. Tadi ia hampir bisa melampiaskan rasa rindunya kepada Alfian yang sangat dicintainya. Tapi desah yang didengarnya dari mulut Alfian adalah nama Aliyah. Walaupun dia berhasil menjadi ‘Aliyah’ dengan begitu mudahnya, tapi ia benci menyadari bahwa Alfian ternyata benar-benar mencintai Aliyah. Ia mengira Alfian menyukai Aliyah karena wajahnya mirip, dan cinta itu masih menjadi miliknya, tapi kenyataan yang didapatnya membuatnya kecewa.

“Walaupun begitu, aku harus benar-benar menjadi milikmu, Alfi. Aku ingin menghabiskan setiap malamku bersamamu,” desahnya sambil mencoba untuk tidur.

Keinginannya untuk tetap bisa memiliki Alfian masih menyala.

“Tak apa dia mencintai Aliyah, yang penting aku bisa menggantikannya. Pasti bisa. Aku tahu bagaimana menundukkan hati seorang pria. Aku tahu dimana kelemahannya.

***

Farah terkejut, di pagi buta itu, saat dia terbangun, ingin mengambil barangkali ada gelas-gelas kotor di meja ruang tengah, mendapati tuannya tertidur di sofa. Wajah tampannya tampak sangat lelah, membuatnya iba.

“Tapi mengapa tuan tidur di sofa? Perasaan, semalam tuan sudah masuk ke kamar tidurnya, dan sampai aku mematikan lampu-lampu, tuan tidak lagi keluar dari kamarnya.”

“Oleh rasa iba terhadap sang tuan, Farah kemudian mengambil selimut di kamar, lalu diselimutkannya pada tuannya. Tapi Farah terkejut, ketika tiba-tiba Alfian menarik tangannya, saat dirinya hendak beranjak pergi.

“Tuan ….”

“Aliyah, jangan pergi.”

Farah terkejut. Rupanya tuannya mengigau tentang istrinya.

“Tuan, bangunlah, saya Farah, Tuan,” katanya sambil mencoba melepaskan pegangan itu.

Alfian terjaga, dan membuka matanya. Terkejut melihat Farah mundur-mundur ketakutan.

“Kamu … Farah?”

“Iya, Tuan. Saya Farah. Tadi mengambilkan selimut untuk Tuan, karena melihat Tuan tertidur di sini.

“Oh, lagi-lagi aku bermimpi tentang Aliyah,” keluh Alfian yang kemudian bangkit.

“Tuan tidurlah lagi, ini masih sangat pagi, dan Tuan kelihatan sangat letih.”

“Rasanya aku tak bisa tidur lagi.”

“Akan saya buatkan Tuan minum. Kopi atau coklat susu, Tuan?”

“Kopi saja, tanpa gula.”

“Baik,” kata Farah sambil beranjak ke arah belakang.

Alfian termangu di tempat duduknya. Ia selalu tergoda akan mimpi tentang Aliyah. Apakah itu karena ia sudah sangat ingin mendekati Aliyah sebagai istri, atau Aliyah yang sebenarnya sudah bersedia didekati? Alfian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kantuknya sudah hilang,

“Tuan, ini kopi yang Tuan pesan,” kata Farah sambil meletakkan segelas kopi tanpa gula di meja depan Alfian.

“Terima kasih, Farah.”

“Tuan tampak lelah.”

“Benar aku sangat lelah,” katanya sambil menyeruput kopinya.

“Sejak tadi, aku selalu bermimpi tentang Aliyah. Itu sepertdi nyata. Ternyata tidak.”

“Tuan sangat merindukan nyonya Aliyah, seperti  layaknya sepasang suami istri.”

“Aliyah bukan gadis biasa. Memerlukan kesabaran untuk bisa mendekatinya, dan aku tidak ingin memaksanya. Aku yakin, suatu hari nanti Aliyah akan bersedia bersikap seperti seorang istri.”

“Saya melihat nyonya sudah berubah. Dia memanggil Tuan dengan nama Tuan saja. Dia juga memanggil saya tanpa sebutan ‘mbak’.”

“Aku akan mencobanya lagi.”

“Tuan harus terus mencobanya. Oh ya, apa Tuan ingin dibuatkan roti bakar?

“Ide bagus, Farah. Ya, tentu saja.”

“Selai kacang kan Tuan?”

“Ya.”

Farah beranjak ke belakang, dan Alfian kembali menghirup kopi pahitnya yang sudah berkurang panasnya.

Tiba-tiba Alfian ingin roti bakarnya kali ini dengan selai strawberry saja. Alfian beranjak ke belakang.

“Farah, aku ingin rotinya lapir strawberry, bukan kacang.”

“Aduh, ini sudah terlanjur, nggak apa-apa Tuan, saya buat dua macam, siapa tahu nyonya juga mau.”

“Tapi di dapur kok aku mencium bau sesuatu ya.”

“Bau apa Tuan?”

“Kamu kemarin masak daging kambing?”

“Oh, ya ampuh, maaf Tuan. Nyonya Aliyah ingin makan gulai kambing, saya hanya pesan di luar, karena saya tidak pernah menyimpan daging kambing. Bukankah Tuan tidak suka?”

“Benar, aku tidak suka. Baunya saja aku tidak suka. Kenapa baunya masih tercium?” kata Alfian sambil mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tidak suka.

“Maaf Tuan, semalam masih sisa, Nyonya Aliyah melarang untuk membuangnya. Padahal kan Tuan sudah memberi tahu nyonya bahwa Tuan tidak suka daging kambing, kan?”

“Tidak, aku tidak pernah memberi tahu. Harusnya kamu beri tahu dia.”

“Tapi nyonya sudah tahu kalau Tuan tidak suka kambing.”

“Kok bisa? Dari mana dia tahu?”

“Sebentar Tuan, rotinya hampir gosong. Baiklah, nanti akan saya buang saja sisa gulainya.”

“Jangan dibuang kalau dia suka, tapi jangan dihidangkan saat aku ada, setelah itu semua harus dicuci bersih, aku tidak mau bau kambing di rumah ini,” kata Alfian sambil menjauh.

Farah heran. Tuannya tidak pernah memberi tahu tentang ketidak sukaannya akan daging kambing. Kok sang nyonya bilang sudah diberi tahu?

Entahlah, Farah tak sempat memikirkannya, karena roti bakarnya hampir gosong.

***

Pagi hari itu, saat makan pagi, Farah mengetuk pintu kamar ‘Aliyah’ karena Alfian sudah siap akan pergi ke kantor. Farah juga heran, akhir-akhir ini ‘Aliyah’ selalu bangun kesiangan.

“Nyonya, apa nyonya sudah bangun?”

Narita menggeliat malas, sesungguhnya dia masih ingin tidur. Tapi sungkan karena sudah dibangunkan.

“Ya, sudah tapi baru mau mandi.”

“Tuan menunggu di ruang makan, Nyonya bisa mandi setelah sarapan.”

“Baiklah.”

“Nyonya, saya juga mau bilang. Gulai kambing yang masih tersisa, jangan dimakan saat ada tuan Alfi. Tuan tidak suka, bahkan baunya sekalipun.”

“Baiklah, buang saja kalau begitu.”

“Dibuang?”

“Ya, aku tidak ingin mengecewakan Alfi,” katanya sambil membuka pintu.

Farah bergegas mendahului ke ruang makan.

“Kamu baru bangun?” tanya Alfian.

“Ya, semalam nggak bisa tidur” katanya sambil duduk di samping Alfian.

“Oh ya? Kok sama?”

“Bukankah kamu tidur nyenyak?”

“Dari mana kamu tahu kalau aku tidur nyenyak?”

Lagi-lagi Narita terpeleset dalam bicara. Dia tak mungkin mengatakan bahwa sudah masuk ke kamarnya dan meraba-raba wajahnya.

“Kan kamu sudah masuk kamar sejak hari belum terlalu malam?”

“Iya, benar. Apa semalam kamu bermimpi tentang aku?”

“Aku?”

“Barangkali saja.”

“Tidak,” jawabnya sambil menyendok makanannya.”

Alfian menelan nasi yang sudah dikunyahnya, sekaligus menelan rasa kecewa di dalam hatinya.

“Baiklah, aku berangkat ke kantor pagi-pagi, karena bapak menunggu laporan aku. Barangkali aku nanti pulang agak malam.”

Narita mengangguk.

“Kamu boleh makan lebih dulu malam nanti.”

Narita mengangguk. Ia bersyukur Alfian tak mengetahui ketika dia masuk ke dalam kamarnya. Tapi dalam hati Narita berharap, akan ada lain waktu untuk bisa mendapatkannya.

“Maaf, barangkali nanti belum jadi mengajak kamu jalan-jalan. Kata Farah kamu ingin ponsel? Kamu ingin menelpon seseorang?”

“Tidak, tidak … hanya … ingin punya saja.”

“Kemana ponsel yang aku belikan? Kamu bawa pulang, ketika kamu pergi?”

“Tidak. Aku tidak membawanya.”

“Biar nanti Farah membantu mencarinya lagi. Kalau tidak ketemu juga, nanti aku belikan lagi.”

Narita mengangguk.

“Hari ini saya mau belanja ke pasar,” kata Farah ketika mengambil piring-piring kotor.

“Kamu mau ikut Farah?” tanya Alfian sambil menatap ‘Aliyah’.

“Tidak, aku ingin di rumah saja.”

“Baiklah, terserah kamu saja. Ingat, jangan pergi ke mana-mana,” pesan Alfian wanti-wanti.

***

Di kantor, pak Candra memeriksa semua laporan yang diberikan Alfian. Pak Candra senang, anak lelakinya bisa diandalkan.

“Aku senang kamu berhasil, dan selalu berhasil menangani banyak hal.”

“Bukankah Bapak yang mengajarinya?”

“Dengan begitu, perlahan-lahan aku bisa meletakkan jabatan, dan beristirahat di rumah.”

“Tapi Alfi jangan dilepaskan begitu saja Pak, Alfi masih bergantung pada Bapak.”

“Tidak sekarang, tapi bayangan untuk itu sudah ada. Aku yakin karena kamu sudah bisa diandalkan.”

“Semoga Alfi tidak mengecewakan Bapak.”

“Sekarang Bapak mau bicara tentang hal lain. Yaitu tentang istri kamu.”

“Memangnya Aliyah kenapa Pak?”

“Sehari setelah kamu pergi ke Jakarta, aku dan ibumu mampir ke rumah, dan tentu saja bertemu dengan istri kamu.”

“Apa ibu mengatakan lagi hal-hal yang menyakitkan Aliyah?”

“Apa maksudmu?”

“Semigguan yang lalu ibu ke rumah, dan mengatakan hal yang membuat Aliyah kemudian pergi dari rumah.”

“Benarkah? Lalu dia kembali?”

“Tidak. Farah menyusulnya, dan mengajaknya kembali.”

“Dia pergi begitu saja?”

“Pergi tanpa membawa apa-apa. Bahkan cincin yang Alfi berikan saat menikah, ditinggalkannya di kamar. Dia bukan gadis yang gila harta. Dia gadis sederhana yang walaupun agak lugu, tapi hatinya baik. Alfi akan membuatnya menjadi pintar. Mungkin memanggil seorang guru untuk mengajarinya di rumah.”

“Begitu ya? Kamu tetap mengira byahwa dia gadis lugu yang sama sekali tidak doyan harta?”

“Bapak tidak percaya?”

“Entahlah. Menurut bapak, dia sudah berubah. Ketika kami datang, dia sedang duduk menyilangkan kaki di sofa, dan tidak lagi menyambut dengan mencium tangan seperti yang pernah dilakukannya. Dia berdiri dan langsung merangkul ibumu dan menciuminya. Ibumu sempat kaget. Menurut bapak, dia sudah berubah, Dia bahkan tidak mengantarkan kami ketika kami mau pulang.”

“Saya tidak melihatnya berubah. Ada memang, perubahannya, yaitu cara memanggil Alfi dan Farah. Tapi itu kan karena dia mulai ingin lebih dekat dengan kami, karena kan selama ini dia masih belum mau Alfi dekati.”

“Bapak tidak berani mengatakan apa-apa, bapak hanya berharap kamu berhati-hati. Ingat Narita kan? Bagaimana kamu mencintai dia, lalu apa yang dilakukannya? Membuat keluarga kita malu, setelah dia membawa kabur harta kamu. Bapak juga ingin mengingatkan kamu, bukan karena dia telah menolong kita sehingga kita tidak mendapat malu, lalu kamu merasa bahwa dia gadis terbaik yang pantas kamu cintai.”

“Rupanya Bapak terpengaruh pada apa yang dikatakan ibu. Memang sih, sejak awal ibu tuh kurang suka pada Aliyah.”

“Bukan terpengaruh. Saat melihat kemarin itu, ada rasa kurang sreg di hati bapak. Tapi semuanya terserah kamu. Bapak hanya mengingatkan.

“Saya akan melihatnya lebih dekat, saya yakin Bapak sama ibu salah dalam menilai.”

***

Hari itu Alfian benar-benar pulang agak malam, karena banyak hal yang harus diselesaikan. Begitu memasuki rumah, ia tak melihat siapapun, kecuali Farah yang masih duduk di depan kamarnya. Tampaknya dia masih menunggu sang tuan pulang.

Setelah menanyakan dan melayani apa yang dibutuhkan tuannya, Alfian segera menyuruhnya tidur. Alfian sudah mandi, tapi dia tidak langsung tidur. Ia ingin menyambangi Aliyah di kamarnya, dan mencoba ingin mendekatinya.

Pintu kamar tidak terkunci, dan dengan mudah Alfian masuk. Ia melihat Aliyah tidur tertelentang, dan tampak pulas. Alfian mendekat, dan memegangi tangannya. Narita bukan tak tahu, tapi dia pura-pura tidur. Ia bahkan meletakkan posisi tidur yang disengaja membuat Alfian harus membuka matanya lebar-lebar.

Alfian mengangkat tangan itu dan menciumnya. Tapi tiba-tiba Alfi berteriak.

***

Besok lagi ya.

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 01.

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  01 (Tien Kumalasari)   Lalu lintas di jalan raya itu sangat ramai. Maklum, saatnya tutup kantor, dan lalu lalan...