Thursday, May 4, 2023

CINTAKU BUKAN EMPEDU 36

 

CINTAKU BUKAN EMPEDU  36

(Tien Kumalasari)

 

Nungki terus mengamati foto itu, dan sangat yakin, bahwa wajah itu adalah wajah Narita. Ia sangat heran, mengapa dia dicari, bahkan dengan hadiah yang sangat besar.

“Tapi mengapa namanya jadi Aliyah?” gumamnya sendiri.

Lalu Nungki berpikir, barangkali karena ia memang ingin bersembunyi, entah dari siapa, maka dia mengaku bernama Aliyah.

Ini menarik, uang satu milyar itu bukan sedikit, dan Nungki sangat membutuhkannya. Dia sedang bersembunyi dari kejaran polisi karena telah berusaha membunuh pak Daud, dan dia butuh uang. Tapi di mana dia bisa menemukan Narita? Dia tak bisa menghubunginya karena Narita  pergi tanpa membawa ponselnya, sejak pergi dari rumah kontrakan itu, dan dia telah menjualnya pula.

Nungki mencatat nomor yang harus dihubungi apabila dia bisa menemukan Aliyah, yang dianggapnya adalah Narita yang memalsukan namanya.

Kemana dia? Nungki  sudah mencarinya ke setiap rumah bordil, di mana dulu dia memperkerjakan tubuhnya, tapi tidak juga ditemukannya. Ia juga harus bergerak hati-hati, karena sedikit saja dia salah melangkah, maka dia pasti akan ditangkap polisi.

“Kalau seandainya aku bisa menemukannya, aku akan mempergunakan uang itu kabur ke luar negri, dan berjudi di sana, siapa tahu aku bisa kaya raya nantinya,” gumamnya dalam setiap langkah yang ditempuhnya.

Iapun bergerak terus dalam pencariannya, demi uang satu milyar yang ingin didapatkannya, walaupun dia tidak tahu, mengapa Narita menjadi orang yang dicari, bahkan dengan hadiah yang begitu besar.

***

Malam itu, bu RT membawa makanan dan minuman, yang diantarkannya ke rumah Aliyah, karena suaminya masih berada di sana, menunggu datangnya Aliyah, yang mereka kira hanya sedang keluar rumah untuk suatu keperluan.

“Apa aku harus terus menunggu di sini sih Bu, dingin, tahu,” keluh pak RT sambil menyantap makanan yang dikirimkan istrinya.

“Bapak harus berjuang. Ini demi uang yang tidak sedikit.”

“Bagaimana kalau malam ini aku pulang saja dan tidur di rumah, besok pagi aku ke sini lagi.”

“Bapak itu bagaimana, kalau malam ini Aliyah pulang, mana mungkin Bapak bisa ketemu, kalau tidur di rumah?"

“Pagi-pagi sekali aku ke sini lagi. Pasti dia belum pergi, kalau masih pagi.”

“Bagaimana kalau dia datang malam ini, dan pergi lagi? Bapak kehilangan buruan yang sudah hampir terpegang di tangan, bukan?”

“Masa aku harus semalaman tidur di sini, mana hawanya dingin sekali.”

“Nanti aku bawakan selimut tebal, dan juga bantal serta guling, sehingga Bapak bisa tidur nyenyak. Tapi telinga juga harus dipasang, kalau sewaktu-waktu dia pulang dan Bapak terlalu nyenyak tidurnya, sama saja sia-sia.”

Tiba-tiba timbul pikiran ngelantur pak RT.

“Aku tidur di dalam saja, aku tahu di mana Aliyah tidur. Jadi kalau dia datang, pasti langsung masuk ke kamarnya.”

Mendengar itu, bu RT marah bukan alang kepalang.

“Bagaimana Bapak bisa tahu di mana Aliyah tidur? Bapak pernah mengintip ya? Apa yang Bapak lakukan saat melihatnya berada di kamar?”

“Ibu itu malam-malam begini mengajak bertengkar. Ingat, marah-marah itu menjauhkan rejeki. Kalau ibu marah-marah, mana bisa kita bisa mendapatkan yang satu milyar itu?”

Padahal pak RT punya pikiran kotor ketika punya keinginan tidur di dalam kamar Aliyah.

“Lalu bagaimana Bapak bisa tahu, dimana Aliyah tidur?” bu RT yang merasa cemburu, terus mendesak suaminya agar mengaku.

“Masa cuma begitu saja ibu mengira aku masuk ke kamarnya. Kan dari luar juga kelihatan, seandainya Aliyah keluar dari kamarnya.”

“Kapan Bapak melihatnya keluar dari kamar?”

“Ketika aku memberi dia makan, pada suatu hari. Sudah lah Bu, aku makan jadi nggak enak gara-gara ibu marah-marah. Ingat kataku itu tadi, kemarahan itu menjauhkan kita dari rejeki.”

Bu RT yang masih bermimpi tentang uang satu milyar itu mengalah. Ia kemudian pulang, dan saat kembali dia membawakan selimut tebal dan bantal serta guling.

Pak RT pun dengan harapan yang bertumpuk, lalu masuk ke dalam rumah, dan berbaring di ranjang, di mana dia pernah melihat ‘Aliyah’ di dalamnya.

“Semoga malam ini ‘Aliyah’ tidak lagi marah sama aku, dan bersedia menemani aku tidur malam ini,” kata batin pak RT.

Namun sampai pagi tiba, tak ada bayangan Aliyah pulang. Bu RT yang pagi-pagi sudah menyusul, melihat suaminya meringkuk di atas tempat tidur nenek Supi, terlelap sehingga tak tahu derak pintu kamarnya terbuka oleh istrinya.

“Pak, bangun Pak. Bagaimana? Apa dia pulang?”

Pak RT terkejut, ia bangkit dan melihat hari masih pagi, terlihat dari celah-celah anyaman bambu yang memagari kamar itu.

“Dia tidak pulang,” katanya sambil mengucek matanya.

“Tidak pulang ya? Jangan-jangan karena Bapak ngorok, lalu tidak mendengar dia pulang.”

“Biarpun aku tidur, suara sekecil apapun aku pasti mendengar.”

Bu RT memsuki kamar yang satunya, dan tak ada tanda-tanda bahwa Aliyah sudah pulang. Keduanya kemudian pulang dengan rasa kecewa.

“Katanya Aliyah pulang. Nak Pinto juga mengatakannya. Kok tidak ada,” gerutu bu RT.

“Kita tidak boleh kehilangan harapan Bu, bagaimanapun, rumah Aliyah ya di situ, jadi entah nanti atau besok, pasti dia pulang ke rumah itu. Jangan khawatir, uang satu milyar akan menjadi milik kita,” kata pak RT bersemangat.

Bu RT mengangguk. Harapan itu masih tetap ada.

“Bapak harus sering menengok ke rumahnya. Kalau perlu nanti malam Bapak juga harus tidur di sana lagi.”

“Dan satu lagi, jangan sekali-sekali Bapak cerita tentang sayembara ini, kepada orang lain. Bahkan nak Pinto sekalipun. Kalau ada orang lain mendengar, bisa-bisa kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hadiah itu,” lanjut bu RT yang mengomeli suaminya, bahkan sampai masuk ke dalam rumahnya.

***

Tapi bu RT tidak mengerti, bahwa berita tentang sayembara itu sudah tersebar. Bahkan Pinto sudah lebih dulu mengetahuinya. Pagi hari itu, karena dinas sore, Pinto berjalan-jalan melewati rumah Aliyah lagi. Sungguh bukan berarti dia mengharapkan uang itu, tapi lebih karena menghawatirkan keadaan Aliyah, dan seandainya ketemu, ia ingin mengetahui cerita sebenarnya tentang kejadian yang menimpa Aliyah, sehingga dia sampai diperistri oleh seorang yang ternama dan kaya raya, tapi kemudian memilih kabur dari istana yang pastinya lebih nyaman untuk ditinggali. Apalagi suaminya sangat tampan dan tampaknya sangat mencintainya.

Ia berhenti di depan rumah Aliyah, mengamatinya agak lama. Ia berharap Aliyah pulang lagi. Tapi tiba-tiba, seseorang bergegas mendekati.

“Nak Pinto, ada apa Nak Pinto berada di sini?” tanya pak RT curiga.

“Tidak apa-apa Pak, hanya ingin tahu, apakah Aliyah pulang ke rumahnya, atau tidak.”

“Mengapa Nak Pinto ingin tahu? Sudah jelas-jelas Aliyah tidak mau lagi kenal sama nak Pinto kan? Nak Pinto sendiri mengatakannya,” kata pak RT dengan nada kurang senang. Ia khawatir tentang uang satu milyar itu, karena merasa mendapat saingan. Ia mengira hanya dirinya sendiri yang tahu tentang uang itu, lupa bahwa koran bisa dibaca oleh siapa saja. Yang dia tidak tahu adalah, Pinto tidak mengharapkan uang itu sama sekali. Yang penting baginya adalah Aliyah selamat, dan kembali kepada suaminya.

“Kemarin saya ketemu suaminya,” kata Pinto dengan wajah kurang senang juga atas teguran pak RT yang tidak bersahabat seperti biasanya.

“Apa? Nak Pinto ketemu suaminya? Di mana?”

“Dia mencari istrinya ke rumah ini.”

“Pasti akan disiksa lagi. Semoga tidak ketemu.”

“Suaminya tidak menyiksanya.”

“Bohong dia. Sebenarnya Aliyah kabur karena disiksa suaminya, sampai pikirannya jadi terganggu, dan tidak ingat apa-apa lagi.”

“Hanya bersikap manis pada pak RT saja ya?” kata Pinto dengan maksud mengejek pak RT. Kemudian dia pergi dari hadapan pak RT, tanpa pamit.

“Huh, dia tidak percaya kalau Aliyah bersikap manis sama aku? Terserah kamu, yang penting kamu tidak tahu bahwa aku akan mendapatkan Aliyah dan menerima hadiah itu,” omel pak RT sambil mendekati rumah Aliyah, dan duduk di atas balai-balai di depan rumah itu.

***

 Pinto melangkah pulang dengan perasaan kesal. Dia sudah tahu kalau pak RT suka sama Aliyah, dan dia bermimpi tentang Aliyah, mengira kembaran Aliyah adalah memang Aliyah adanya. Tapi Pinto enggan mengatakan semua itu. Lebih baik tidak usah berbincang dengan orang yang tidak mengerti tentang keadaan, dan bertindak semaunya.

 Pinto tetap saja merasa sedih, karena ia sungguh-sungguh menghawatirkan keadaan Aliyah.

“Apakah dia baik-baik saja? Mengapa kemarin itu pulang, lalu pergi lagi? Sungguh aku menyesal ketika meninggalkannya pulang, sementara kata teman aku, dia sampai bertanya-tanya di mana aku. Maaf Aliyah. Sungguh aku menyesal.”

Karena pikirannya tidak bisa tenang, maka Pinto memerlukan berjalan-jalan saja, sekalian dia ingin membeli suatu kebutuhan.

Ia hanya berjalan kaki, tanpa tujuan tertentu. Ia berharap bisa menemukan suatu titik terang tentang Aliyah. Apakah Aliyah bekerja di suatu tempat seperti keinginannya?

Hari sudah siang, dan panas terasa terik.

Ia sampai di sebuah taman, lalu duduk termenung di sana. Angin yang bertiup menggoyangkan dedaunan, menimbulkan rasa segar di panas yang begitu menyengat.

Pinto pernah bermimpi tentang Aliyah, menjadi kekasih yang saling mencintai. Mimpi itu pernah kabur karena ternyata Aliyah hanya menganggapnya sebagai kakak. Dan sekarang mimpi itu benar-benar hilang setelah tahu ada yang mencintai Aliyah dengan cinta yang tanpa batas. Bahkan dia mempertaruhkan uang yang tidak sedikit demi kembalinya sang istri.

Aliyah gadis yang lugu dan sederhana, tapi dia tidak bodoh. Barangkali Aliyah merasa sangat rendah dibandingkan dengan laki-laki yang menjadi istrinya, sehingga dia memilih pergi. Sikap yang tidak sama dengan gadis lain, yang pastinya merasa senang dan bahagia, mendapatkan suami tampan, kaya raya, dan sangat penuh cinta. Itu pula sebabnya, kenapa dulu Pinto tertarik sama dia, dan akhirnya jatuh cinta. Tapi cinta Pinto sangatlah tulus. Ia senang karena Aliyah mendapatkan suami yang sangat sempurna. Ganteng, kaya, penuh cinta. Apa yang kurang dari laki-laki itu? Keluguan Aliyah membuatnya berbeda, dan membuat sang suami sekarang bingung mencarinya.

“Apa yang terjadi sama kamu, Aliyah?”

Ketika sedang merenungkan nasib Aliyah itu, tiba-tiba seorang laki-laki datang, kemudian duduk di sampingnya.

Mereka saling mengangguk, lalu laki-laki itu minta ijin untuk duduk di bangku di dekatnya.

“Silakan, kata Pinto ramah.”

Pinto ingin pergi, karena mencium bau alkohol pada tubuh laki-laki itu. Rupanya dia mabuk.

Laki-laki itu memegangi sebuah koran,

“Apakah Anda juga membacanya?” laki-laki itu tiba-tiba bertanya.

“Membaca apa?” tanya Pinto heran.

“Tentang Narita.”

“Narita siapa?”

“Narita yang mengganti namanya dengan Aliyah, kemudian dicari oleh seseorang dengan imbalan satu milyar,” kata laki-laki itu.

Pinto heran. Rupanya laki-laki di dekatnya itu mengenal kembaran Aliyah, tapi tidak mengenal Aliyah yang asli.

“Saya tidak membacanya,” jawab Pinto berbohong. Ia hanya tak ingin berbincang tentang Aliyah bersama seorang laki-laki asing.

“Sayang sekali. Ada yang mencari Narita dengan hadiah satu milyar,” kata laki-laki itu seperti kepada dirinya sendiri.

“Anda mengenal dia?”

“Dia siapa? Narita? Tentu saja aku mengenalnya. Dia pernah menjadi kekasihku. Bahkan dia rela kabur dari calon suaminya yang kaya raya, demi mengikuti aku.”

Pinto terpaksa memperhatikan cerita laki-laki itu. Rupanya dia adalah kekasih Narita, kembaran Aliyah.

“Dimana sekarang dia?”

“Dia kabur dari aku, karena marah setelah uangnya aku habiskan untuk berjudi,” katanya enteng.

“Uangnya Anda habiskan? Tentu saja dia marah.”

“Sebenarnya aku berjanji akan memberinya lebih banyak, kalau aku menang.”

Pinto kesal kepada laki-laki itu. Menghabiskan uang kekasihnya, berjanji mengembalikan kalau dia menang judi?

“Mengapa Anda suka berjudi? Berjudi tidak akan membuat hidup Anda tenang. Kalau kalah, Anda penasaran. Kalau menang, Anda ingin lagi dan lagi, sampai kemudian uang Anda benar-benar habis, lalu Anda bisa melakukan apa saja demi uang.”

“Benar, aku hampir membunuh orang yang menagih uangnya sama aku.”

“Apa?” Pinto terbelalak. Sadar bahwa orang di dekatnya melakukan tindak kriminal.

“Sekarang aku ingin menemukan Narita, demi mendapatkan yang satu milyar ini. Kemana dia pergi? Tak mungkin dia kembali kepada kekasihnya yang telah dibohonginya. Dan kabarnya juga dia sudah menikah. Entah dengan siapa, aku tak peduli. Aku sangat menyayangi Narita. Tapi sekarang aku ingin mempergunakannya untuk mendapatkan uang satu milyar itu.”

Pinto hampir tertawa, karena laki-laki itu mengira yang dicari adalah Narita, padahal Aliyah. Tapi Pinto mendiamkannya. Ia sudah berdiri dan bersiap pergi, ketika tiba-tiba terdengar sirene mobil polisi. Laki-laki di dekatnya terkejut, lalu langsung berdiri dan berlari menjauh.

***

Besok lagi ya.


46 comments:

  1. Replies
    1. Alhamdulillah....
      Matur nuwun Bunda Tien, CeBeE_36; ampun dipun tayangaken....
      Jeng Iin malam ini terakhir ya menthelengi HP, puasa ya sd 2 minggu ke depan tidak berada di depan layar HP.
      Semoga besuk pagi pelaksanaan operasi katarak nya berjalan lancar dan recoverynya cepat sesuai harapan. Aamiin ya Robbal'alamiin

      Delete
    2. siiipppp.... Matur nuwun Mbak Tien sayang

      Delete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku CBE sudah tayang

    ReplyDelete
  3. Aku juara loo nanti kan ada yg nrombol

    ReplyDelete
  4. Loo sungguhan ditrombol sama jeng Iin sama jeng Nani padahal tadi aku komen nomer satu he he selamat ya untuk yg suka nrombol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan nrombol uti Yani memang jeng Iin juaranya.
      Pada menit yang sana 18.32 ada:
      1. Jeng Iin M. Maimun Yogya;
      2. Uti Yanik Soebejeh;
      3. Jeng Mimiet Cimahi;
      4. Pak Latief Sragen; 18.33;
      5. Uti Yanik naduk lagi 18.33;
      Yang betul2 nrombol bisa dilihat jamnya "ngreplay" Jebg Iin, jeng Bani dan saya.
      Begitu Uti Yanik penjelasan saya.

      Delete
  5. Alhamdullilah CBE 36 sdh tayang..terima ksih bunda🙏dalam seroja dan aduhai dri skbmi🥰🥰🌹🌹

    ReplyDelete
  6. Tampaknya Nungki akan ketemu Narita di kantor polisi. Lalu apa yang akan dilakukannya...
    Bagaimana dengan Pinto, mudah-mudahan dia yang menemukan.
    Salam sukses mbak Tien yang ADUHAI, semoga selalu sehat, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pinto.. mgkn yg menemukan Aliyah yaa pak Latif??

      Delete
    2. Harapan saya begitu teh Hermin

      Delete
  7. Maturnuwun sanget Bu Tien...
    🙏🙏

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah ..
    Matur sembah nuwun mbak Tien

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah.
    Syukron nggih Mbak Tien 🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  10. Nah
    Sedikit menambah liku liku perjalanan hidup Aliyah, tidak sengaja dia tahu dari Nungki yang kini jadi buronan polisi karena tindak pidana percobaan pembunuhan pada pak Daud, yang menagih uang sewa rumah.
    Mengemuka lagi karena ada Narita yang di sel.
    Pinto yang prihatin akan tidak diketahuinya keberadaan Aliyah, menjadi pikirannya, tentu berusaha mencari juga.
    Terjadwal sudah acara membersihkan rumah nenek Supi, waktu dapat libur kerja, dari Mak Siti.
    Semoga nggak ada pelanggan warteg Mak Siti yang memperhatikan tentang iklan koran itu.
    Pakaian sederhana tidak seperti di iklan koran.
    Ada hadiah besar mana mungkin melewatkan, kan langganan Mak Siti pekerja harian lepas kebanyakan, terus nggak pernah bau koran maksud lho.
    ADUHAI

    Terimakasih Bu Tien
    Cintaku bukan empedu yang ke tiga puluh enam sudah tayang
    Sehat sehat selalu ya Bu
    Sedjahtera dan bahagia bersama keluarga tercinta
    🙏

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah..Aliyah sdh dtg
    Tks banyak bunda Tien..
    Salam Aduhai..
    Semoga bunda sehat" dan bahagia selalu
    Aamiin...🙏🙏🙏🌹🌹🥰

    ReplyDelete
  12. Matur nuwun bunda, sdh tayang gasik, smg bunda sehat2 selalu n terus brkarya

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah bisa ngikut hadir lebih awal..

    Matyr nuwun bunda Tien...🙏🙏

    ReplyDelete
  14. Pak dan bu RT bisa gila gara² hadiah 1 M bagi siapa yg menemukan Aliyah.
    Harapan aku semoga Pinto yg bisa menemukan Aliyah.
    Nungki - Nungki mana ada orang judi bisa kaya?
    Semoga Nungki ketangkap polosi dan bisa ketemu Narita di kontor polisi

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah CBE- 36 sdh hadir
    Terima kasih Bunda Tien, jg sapaannya.
    semoga Bunda sehat dan bahagia selalu.
    Aamiin Yaa Allah

    ReplyDelete
  16. Alhamdulilah , cbe 36 sdh tayang ....salam sehat bu tien

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah
    Matur nuwun bu
    Semoga sehat selalu nggih

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah...
    Maturnuwun, salam sehat selalu...

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah tayang
    Makasih bunda, mudah"an pinto yg menemukan aliyah

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah. Suwun bu Tien. Salam Seroja dr Pamulang, Tangsel

    ReplyDelete
  21. Alhamdulillah CBE sudah tayang, terimakasih bu Tien, salam sehat dan aduhai dari mBantul

    ReplyDelete
  22. Matur suwun bu Tien
    Salam sehat dan aduhai selalu

    ReplyDelete
  23. Alhamdulillah,, maturnuwun bu Tien
    Salam sehat wal'afiat se lalu 🤗🥰

    Pinto cerdas juga ,,,,sepertinya Fara suka deh ,,,cerita episode kmrn 🤣🤭
    Aduhaaaai deh bu Tien

    ReplyDelete
  24. 🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃
    Alhamdulillah CBE 36
    sudah hadir...
    Matur nuwun Bu Tien.
    Sehat selalu & tetap
    smangats berkarya.
    Salam Aduhai 🦋⚘
    🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃

    ReplyDelete
  25. Alhamdulillah terimakasih Bu Tien. Salam sehat dari Sidoarjo.

    ReplyDelete
  26. Matur nuwun Bu Tien, ceritanya makin hari makin seru. Semoga Ibu sekeluarga tetap sehat penuh barakah, aamiin....

    ReplyDelete
  27. Terima kasih, ibu Tien...kisah Narita-Aliyah masih panjang tentunya...penasaran dengan cara ibu merangkai kata.👍👍😀

    ReplyDelete
  28. Alhamdulillah
    Terima kasih bu tien
    Semoga bu tien sehat2 selalu

    ReplyDelete
  29. Terimakasih bu Tien, semoga sehat selalu aamiin yra

    ReplyDelete
  30. Makasih mba Tien.
    Semoga Aliyah tidak ketemu Sama Nungki.
    Salam hangat selalu, aduhai

    ReplyDelete

SENANDUNG KECILKU

SENANDUNG KECILKU (Tien Kumalasari) Hai senja, kau datang ketika merah jingga mewarnai langit dibarat sana ada senandung kecil berkumandang ...