Saturday, February 4, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 11

 

SETANGKAI BUNGAKU  11

(Tien Kumalasari)

 

Pratiwi hampir tak bisa melangkahkan kakinya karena takut dan gemetar, Pengalaman beberapa hari yang lalu saat jambret melarikan dompetnya, membuatnya sangat ketakutan. Tapi itu sebuah mobil, mobil siapa? Mengapa ada yang menghentikannya saat dia ingin pergi menjauhinya?

“Berhenti.” Teriakan itu membuatnya semakin kecut. Selangkah lagi dia sampai di depan pagar rumah keluarga Luminto. Pratiwi sudah membuka mulutnya ketika sebuah tangan meraih lengannya.

“Mengapa lari?”

Pratiwi terkejut, ia mengibaskan tangannya sehingga cekalan itu terlepas, tapi tangan yang menariknya, sangat kuat, ia bahkan menghentakkannya lebih kuat sehingga tubuhnya jatuh ke dalam dekapannya.

“Lepaskaaann!”  sekarang Pratiwi berteriak, tapi untuk teriakan yang ke dua kalinya, tangan laki-laki itu membekap mulutnya.

“Mengapa berteriak?”

Pratiwi merasa mengenal suara laki-laki itu. Laki-laki yang sama saat ibunya memijit di hotel. Dia Sony, bagaimana dia bisa sampai di depan rumahnya?

“Jangan lari dariku, Pratiwi, aku tak akan menyakiti kamu,” kata-kata itu sangat lembut, berbisik ditelinganya, tapi membuat bulu kuduknya merinding.

Pratiwi meronta, tapi Sony mendekapnya semakin kuat.

“Tolooong,” lalu Sony membekap mulutnya lagi.

“Lepaskaaan.”

“Aku akan melepaskan kamu, tapi tolong jangan berteriak, aku tidak akan menyakiti kamu.”

Pratiwi meronta, tak bisa berteriak karena sebelah tangan Sony membekap mulutnya.

“Jangan meronta, aku akan melepaskan kamu.”

Tapi tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam bahu Sony. Membuatnya mengaduh lalu dengan terpaksa ia melepaskan dekapannya. Pratiwi jatuh terguling. Ketika dia bangkit, ia melihat Ardian sudah mencengkeram kerah baju Sony.

“Hei, apa-apaan kamu?” teriak Sony marah, lalu berusaha melepaskan cengeraman tangan Ardian. Gagal melepaskan, Sony mengayunkan sebelah tangannya ke arah wajah Ardian. Namung Ardian bukan laki-laki biasa. Ia berlatih taekwondo sejak masih SMP dan itu membuatnya tangguh. Sambil terhuyung dia mengayunkan sebelah kakinya, tepat mengenai kepala Sony, membuat Sony terjatuh sambil mengaduh.

Tiba-tiba seseorang dengan badan tegap sudah berada diantara keduanya, lalu menghantam wajah Ardian dengan sebelah tangannya. Tapi Ardian sudah bersiap. Sebelah kakinya lagi terayun, mengenai leher laki-laki tegap yang ternyata adalah Marsam.

Sekarang Sony sudah bangkit, dan siap mengeroyok Ardian.

“Tuan minggir saja, biar saya selesaikan manusia kecil ini,” kata Marsam sombong.

Tapi sebelum mulutnya berhenti berteriak, sekali lagi Ardian mengayunkan kakinya, membuat Marsam tersungkur.

Pratiwi ketakutan. Ia heran tak melihat Roy. Apakah dia sudah tertidur?”

Ia meraba saku bajunya, bermaksud mengambil ponselnya, Tapi Sony yang menyingkir minggir atas permintaan Marsam bisa melompat mendekati Pratiwi. Sayangnya Ardian melihat gerakan Sony. Dia melompat, sambil menghindari terjangan Marsam, lalu menendang Sony, mengenai dadanya.

Sony kembali terkapar.

“Tiwi, panggil polisi,” perintah Ardian.

Tiba-tiba Sony berteriak.

“Jangan. Kalian hanya salah paham! Aku tak bermaksud buruk,” teriak Sony sambil memberi isyarat pada Marsam agar berhenti bergerak.

“Kamu tak bermaksud buruk? Mengapa mendekap Pratiwi dan membuatnya tak bisa bergerak? Apa mau kamu sebenarnya?”

“Dengar, aku hanya ingin bertemu … bu Kasnah …”

“Apa? Mengapa kamu menyakiti Pratiwi?”

“Aku tidak menyakiti, aku mengejar Pratiwi yang tiba-tiba lari. Aku hanya ingin menenangkannya. Sungguh,” kata Sony yang tak ingin berurusan dengan polisi.

“Kamu bohong. Pratiwi, kamu mengenalnya?” tanyanya kemudian kepada Pratiwi yang berdiri dengan dada masih berdebar kencang.

“Ibu pernah memijit dia kemarin malam,” katanya pelan.

“Di rumahnya?”

“Di hotel.”

“Aku hanya ingin agar Pratiwi … eh … bu Kasnah memijit lagi, tapi tiba-tiba dia lari. Pasti dia mengira aku orang jahat.”

“Ibu saya tidak ingin memijit lagi, jadi jangan lagi datang kemari,” kata Pratiwi dingin. Ia tak yakin alasan untuk meminta ibunya memijit, harus disertai dengan menyuruh bu Minar memberi iming-iming uang banyak. Apa tak ada pemijit lain?

“Saya sangat cocok dengan pijitan bu Kasnah.”

“Ibu saya sudah tua, tidak sanggup memijit lagi,” kata Pratiwi yang kemudian memasuki halaman rumah keluarga Luminto. Sony memandangnya heran.

“Siapa sebenarnya laki-laki yang membela Pratiwi, dan rumah besar mewah itu milik siapa? Kenapa Pratiwi masuk ke situ seperti sudah biasa?” kata batin Sony.

“Kamu sudah mendengar jawabannya bukan? Sekarang kamu boleh pergi,” kata Ardian yang kemudian juga membalikkan tubuhnya dan memasuki halaman rumahnya.

Sony melangkah gontai kembali ke mobilnya, yang masih diparkir di depan pagar rumah yu Kasnah, Marsam mengikutinya, dan merasa kesal pada majikannya, yang mengejar anak tukang pijit yang galaknya seperti harimau habis beranak.

Sony memasuki mobilnya, menyandarkan tubuhnya dengan lemas.

“Mengapa Tuan bersikap begitu? Banyak sekali perempuan cantik yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada tuan. Bahkan mengejar-ngejar tuan. Dia hanya seorang gadis sederhana, tak ada menarik-menariknya,” gerutu Marsam setelah duduk di belakang kemudi dan menjalankan mobilnya.

“Galak pula,” lanjutnya karena tuan nya diam tak bergerak.

“Gadis itu membuat aku penasaran. Apa aku kurang tampan? Apa aku kurang kaya? Aku rela mengobral uang hanya untuk seorang pemijit buta, supaya dia tahu bahwa aku banyak uang, supaya dia tahu bahwa aku laki-laki yang sempurna. Cakap, gagah, banyak uang. Tapi kenapa dia mengacuhkan aku?” geram Sony sambil mengepalkan tangannya.

“Itu masalah, buat tuan?” kata Marsam yang mulai kesal dengan kelakuan tuan nya.

“Masalah dong Sam! Kamu bodoh atau apa? Aku tak pernah ditolak siapapun. Bahkan mereka meminta-minta. Tapi gadis itu menolak dan tak peduli. Itu yang membuat menjadikan masalah.”

“Besok akan saya carikan gadis yang lebih cantik dan menarik, dan seksi, dan bisa memuaskan tuan, dan_”

“Diaam!!” potong Sony dengan marah.

“Aku hanya mau Pratiwi. Titik!”

***

Ardian masih menemani Pratiwi di teras rumahnya. Tak seorangpun di dalam sana yang tahu, apa yang terjadi. Roy juga belum pulang dari kepergiannya ke luar kota untuk menjalankan tugas dari orang tuanya, demi bisnis yang dijalaninya.

“Bagaimana asal mulanya kamu mengenal laki-laki itu?”

“Tetangga sebelah meminta ibu saya untuk memijit tamunya yang menginap di hotel.”

“Lalu kamu mengantarkan ibu kamu?”

“Iya lah Mas, saya mana tega membiarkan ibu pergi sendiri? Sedangkan ke rumah ini saja saya harus mengantarkannya.”

“Tampaknya laki-laki itu suka sama kamu.”

“Suka yang seperti apa?”

“Bukankah kamu cantik?”

“Saya hanya orang miskin, mana menarik bagi seorang kaya seperti dia?”

“Lalu apa pendapat kamu ketika mengetahui dia mengejar sampai ke rumah kamu, yang entah bagaimana caranya dia bisa mengetahuinya.”

“Mungkin pembantunya mengikuti ketika kami pulang naik taksi.”

“Lalu apa yang terpikir oleh kamu dengan sikapnya itu?”

“Entahlah.”

“Apa dia membayar mahal untuk pijitan ibu kamu?”

“Sangat mahal. Tiga jutaan.”

“Wauuw. Itu fantastis.”

“Saya juga heran atas pemberian itu.”

“Harusnya kamu tertarik dong, dia ingin dipijit lagi, pasti dia menjanjikan bayaran yang lebih tinggi.”

“Saya justru takut. Itu tidak wajar. Malam itu juga saya meminta sama ibu agar tidak lagi melakukan pekerjaan memijit.”

“Tapi yu Kasnah masih mau datang kemari.”

“Itu berbeda. Untuk keluarga ini, ibu tak akan menolaknya. Bayaran yang setinggi langit justru membuat saya curiga.”

“Bagus, Dan rasa takut kamu itu sebenarnya telah menyelamatkan kamu dari maksud jahatnya. Tak mungkin dia hanya menginginkan pijitan ibu kamu. Dia pasti menginginkan kamu juga."

Pratiwi menghela napas sedih. Ia menyesal telah memenuhi perminaan bu Minar yang semula sudah ditolaknya. Gara-gara bu Margono menagih uang sewa lebih, maka ibunya bersedia memenuhi permintaan itu.

“Terima kasih sudah menolong aku,” katanya.

“Kebetulan aku ada di kamar, lalu ibu Ratna mengatakan kalau kamu baru saja pulang sendiri. Aku keluar untuk melihat, barangkali kamu masih kelihatan, aku tiba-tiba ingin mengantarkan kamu. Ternyata kamu butuh pertolongan.”

“Saya sangat bersyukur ada Mas Ardian.”

“Kalau Roy ada, pasti habis dia tadi.”

“Memangnya mas Roy ke mana?”

“Tugas, luar kota, mungkin besok baru kembali.”

Tiba-tiba ponsel Pratiwi berdering.

“Dari bu Sasmi, pasti mengira saya sudah di rumah,” katanya sambil tersenyum.

“Ya Bu, saya sudah di depan,” kata Pratiwi menjawab telpon dari Sasmi.

“Nanti aku akan mengantarkan kamu sampai ke rumah.”

“Terima kasih Mas,” kata Pratiwi yang sebenarnya masih takut, jadi tidak menolak tawaran itu.

***

“Mengapa tadi mas Ardian mengantarkan kita sampai rumah sih Wi? Kan rumah kita dekat,” kata yu Kasnah begitu Pratiwi menutup pintu rumah.

“Mas Ardian sedang iseng, pengin jalan-jalan, jadi sekalian mengantarkan kita,” jawab Pratiwi yang tak ingin mengatakan apa yang terjadi. Khawatir ibunya merasa cemas.

“Tadi itu sepertinya dia hanya sendiri, biasanya sama mas Roy.”

“Mas Roy sedang tugas keluar kota.”

“O, pantesan pengin jalan-jalan. Rupanya sedang kesepian nggak ada adiknya.”

“Iya barangkali. Sekarang ibu istirahat, dan tidur ya.”

“Ya, ini uangnya dari bu Sasmi, simpan saja.”

“Iya Bu. Pratiwi belum mau tidur, mau menghitung uang buat belanja besok. Tadi kan Tiwi tidak pulang, menunggu ibu di teras.”

“Bu Sasmi mengira kamu sudah pulang duluan, makanya dia menelpon.”

“Iya Bu, ayo Tiwi antar ke kamar mandi dulu, lalu ibu istirahat ya.”

Pratiwi mengerjakan pekerjaannya sambil selalu memikirkan ulah Sony yang nekat ingin memaksa ibunya.

***

Sony duduk di sofa kamar  hotel, wajahnya muram. Dia tak pernah gagal mencapai keinginannya, dan kegagalannya mendekati Pratiwi membuatnya kesal dan uring-uringan. Ia tak peduli ketika Marsam membelikan makanan karena dia tak ingin makan sejak pagi.

“Dari pagi tuan belum makan. Kalau sakit bagaimana?”

“Sekarang ini aku sudah sakit,” katanya kesal.

“Mengapa hanya kegagalan mendekati seorang gadis lugu yang_”

“Jangan bilang 'yang tak ada menarik-menariknya'! Awas kamu!” kata Sony memotong ucapan Marsam yang tak selesai dikatakannya.

“Banyak gadis cantik. Oh ya, mengapa tuan tidak tertarik sama neng Ratih?”

“Apa katamu? Ayah Ratih itu sahabat ayahku. Mampus aku kalau sampai berani mengganggunya. Ratih dan saudara-saudaranya sudah seperti saudara bagiku.”

“Tapi dia kan cantik …”

“Diam! Kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?”

“Nanti saya akan mencari yang lebih menarik.”

“Hentikan kata-kata kamu! Kamu sudah mengatakannya kemarin dan aku tidak tertarik. Mengapa masih mengulangnya?”

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Serta merta Marsam berteriak

“Masuk!”

Lalu seorang gadis cantik berpakaian minim masuk ke dalam, sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman. Ia mendekati meja sofa, dan meletakkan nampan itu sambil membungkukkan badannya berlama-lama. Ia yakin Sony akan tertarik, dan akan menyuruhnya duduk mendekat, seperti yang telah dilakukannya beberapa malam yang lalu.

Tapi tiba-tiba Sony menendang meja itu dengan keras, dan membuat isinya berhamburan.

“Tuan!” pekik gadis itu. Bukannya menjauh, ia malah mendekat, karena dari Marsam dia tahu Sony sedang kesal dan pasti butuh hiburan. Tapi Sony menampar pipinya keras, membuat gadis itu jatuh terduduk.

“Marsam!! Bawa kuntilanak ini keluaarr!”

Gadis itu memegangi pipinya yang kemerahan, nyaris menangis. Marsam segera menuntunnya keluar.

Sony pun keluar dari kamar, setelah Marsam meminta kepada pelayan hotel untuk membersihkan makanan yang tumpah.

Sony duduk di loby hotel, mencari akal, bagaimana caranya bisa mendekati Pratiwi. Tiba-tiba dia teringat janjinya kepada Ratih. Ia harus mengantar Ratih ke tempat kawannya yang katanya seorang penjual sayur.

Sony masuk kembali ke kamar, mengambil kunci mobil, lalu pergi begitu saja.

***

“Ibu, Ratih mau pergi sebentar ya.”

“Kuliah?” tanya sang ibu.

“Tidak, mau main ke rumah Pratiwi.”

“Bukankah dia jualan di pasar?”

“Tidak di pasar, tapi di depan rumahnya.”

“Baiklah, suruh sopir mengantarnya.”

“Tidak usah, Ratih bawa mobil sendiri saja.”

“Hati-hati,” pesan sang ibu sambil masuk ke dalam rumah.

Tapi belum sampai Ratih menghampiri mobilnya, tiba-tiba Sony datang.

“Mau ke mana? Bukankah aku sudah berjanji mau mengantarkan kamu jalan-jalan?”

“Baiklah kalau begitu, aku bilang sama ibu dulu.”

***

“Sebenarnya aku sedang kesal, tapi setelah bersama kamu, aku merasa sedikit terhibur,” kata Sony dalam perjalanan mengantarkan Ratih.

“Kenapa?”

“Biasa, yang terjadi, tidak sesuai dengan harapan.”

“Soal pekerjaan jangan dibawa-bawa saat kamu sedang berada di luar.”

“Bukan pekerjaan. Tapi sudahlah, kamu tidak akan mengerti. Di mana rumah teman kamu?”

“Perempatan di depan, belok kiri.”

Sony berdebar, karena jalan yang dilalui mengarah ke arah rumah yu Kasnah.

Ia bertambah berdebar ketika Ratih memintanya berhenti di depan sebuah gang kecil. Itu kan gang menuju rumah Pratiwi?

“Rumahnya masuk, tapi sampai di sini saja, nggak usah masuk,” kata Ratih sambil turun.

“Aku ikut saja,” kata Sony.

***

Besok lagi ya.

Friday, February 3, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 10

 

SETANGKAI BUNGAKU  10

(Tien Kumalasari)

 

Pratiwi terus mengawasi mereka, tapi urung menyapanya. Ia tak ingin berurusan lagi dengan laki-laki bernama Sony. Lalu ia mengambil sepedanya, mengajak Nano menjauh.

“Kok Mbak nggak mau menyapa? Itu Mbak Ratih, bukan?”

“Iya, biarkan saja. Ada temannya.”

“Mbak nggak kenal ?”

“Nggak, nggak kenal, ayo kita pergi. Cepet naik ke bocengan, udara panas bukan main.”

“Nano saja yang boncengin?”

“Eh, nggak mau. Masak aku diboncengin anak kecil. Ayo cepat.”

“Kita ke mana lagi?”

“Pulang. Mau ke mana lagi? Kamu cuma mau foto copy bukunya kan? Itu cukup?”

“Sudah mbak, cukup,” kata Nano sambil naik ke boncengan, lalu Pratiwi segera mengayuhnya.

Pratiwi mengayuh sepedanya, menelusuri jalanan yang panas terik, menuju rumah. Begitu memasuki halaman, tampak bu Minar mencegatnya.

“Dari mana Wi?”

Pratiwi terpaksa turun, lalu Nano membawa sepedanya masuk ke dalam rumah.

“Dari foto copy buku untuk Nano, Bu.”

“Tunggu sebentar. Nanti malam pak Sony mau kamu ke hotel lagi.”

Pratiwi terkejut. Bu Minar tidak menyebut ibunya, tapi dirinya?

“Saya?”

“Maksudnya, kamu diminta mengantarkan ibumu lagi. Pak Sony suka pijitan ibu kamu.”

“Maaf Bu, sepertinya ibu tidak sanggup lagi.”

“Apa maksudmu tidak sanggup?”

“Ibu sudah tua, tidak bisa terus-terusan mengeluarkan tenaga. Dan saya minta malam tadi adalah malam terakhir ibu saya bekerja memijit. Kasihan, itu berat sekali, Bu.”

“Wi, bukankah pak Sony membayar mahal untuk itu?”

“Benar. Tapi saya pikir sekali itu saja.”

“Pak Sony sudah begitu baik. Dia bilang sangat cocok dengan pijitan yu Kasnah.”

“Maaf Bu, ibu saya tidak sanggup lagi,” kata Tiwi sambil beranjak menjauh.

“Tiwi, bagaimana kalau dibayar dua kali lipat?”

Tapi tawaran itu justru membuat Pratiwi curiga. Hanya untuk memijit, dia berniat membayar mahal? Rasanya tidak wajar. Walau belum bisa menangkap maksud di balik tawaran itu, tapi rasa curiga membuat Pratiwi ketakutan.

“Tiwi, kalau masih kurang, kamu boleh menawar. Pak Sony murah hati, dia pasti memenuhinya.”

Pratiwi sudah menjauh, dia membalikkan tubuhnya, merangkapkan kedua tangannya.

“Maaf Bu,” katanya, lalu langsung masuk ke dalam rumah.

Begitu memasuki rumah, yu Kasnah sudah menyambut.

“Ada apa, kok maaf … maaf …”

“Itu Bu, bu Minar.”

“Kenapa dia?”

“Dia minta agar Ibu memijit pak Sony lagi.”

“Kamu jawab apa?”

“Saya jawab bahwa Ibu sudah capek, tidak sanggup memijit lagi.”

“Yu Kasnah, iya benar. Itu pesanan pak Sony yang semalam minta dipijit,” ternyata bu Minar mengikuti Pratiwi sampai ke rumah.

“Bu Minar ya?”

“Iya, ini aku. Mereka itu tamu-tamu istimewa, pengusaha besar, duitnya banyak. Bukankah tadi dia juga membayar banyak?”

“Tapi saya ini sudah tua Bu, Pratiwi tidak mengijinkan saya memijit lagi.”

“Kan hanya duduk sih Yu, dan bayarannya mahal.”

“Badan saya duduk, tapi tangan saya bekerja, dan itu mengeluarkan tenaga. Jadi saya mohon maaf Bu, sungguh. Banyak pemijit lain yang bisa melakukannya, tapi saya sudah tidak sanggup.”

“Biarpun bayarannya dua kali lipat?”

“Bukan masalah bayaran, tapi masalah tenaga saya.”

“Ya sudah Bu, ibu saya sudah menjawabnya, jadi lebih baik Ibu mencari tukang pijit yang lain. Masa hanya ibu saya saja?” sambung Pratiwi yang semakin curiga menyaksikan bu Minar begitu bersemangat membujuk. Hanya untuk seorang pemijit buta, dan dia merayu sampai menawarkan bayaran tinggi? Rasanya aneh. Jangan-jangan ada maunya.

“Jadi benar nih, kalian menolak?”

“Maaf Bu,” jawab Pratiwi dan ibunya hampir bersamaan.

Bu Minar meninggalkan rumah yu Kasnah dengan wajah muram.

“Dasar bodoh, dengan iming-iming uang banyak, tetap tidak mau? Padahal pak Sony wanti-wanti agar yu Kasnah kembali nanti malam. Bukan karena yu Kasnah, tapi tampaknya dia tertarik pada Pratiwi. Bagaimana aku menjawabnya ya? Iming-iming uang banyak kok ya masih tidak membuat mereka tertarik?” omel bu Minar sambil berjalan pulang.

***

Yu Kasnah termenung di kursi tua miliknya, sambil berpikir tentang tawaran bu Minar. Seperti juga Pratiwi, yu Kasnah juga heran, hanya dirinya yang tukang pijit buta, mereka memberi iming-iming bayaran mahal? Masa sekali pijit bisa mendapat uang berjuta-juta. Jangan-jangan ada maksud yang lain. Jangan-jangan yang namanya Sony itu tertarik sama anaknya.

“Wah, kok aku jadi khawatir. Benar kata Tiwi, aku tidak usah menerimanya.”

“Apa yang Ibu pikirkan? Apa Ibu menyesal, Tiwi menolak tawaran bu Minar?”

“Tidak. Aku curiga ada maksud tersembunyi. Mengapa begitu memaksa, bahkan menawarkan uang yang tak pernah terbayangkan oleh kita, dan iming-imingnya juga selangit.”

“Benar, Bu. Lebih baik tidak usah diterima. Dan Tiwi juga kasihan sama Ibu. Sudah saatnya Ibu beristirahat. Biar Tiwi saja yang bekerja.”

“Kamu bilang penghasilan penjualan sayur sangat menurun, gara-gara ada pesaing di gang sebelah.”

“Tidak apa-apa Bu, bukankah rejeki sudah ditakar dari sanaNya? Ibu yang mengajarkan ini semua, jadi kita tak perlu menyesalinya.”

“Anak baik, semoga kelak kamu menemukan kehidupan yang layak, tidak sengsara seperti ibumu ini,” kata yu Kasnah pilu.

Pratiwi merangkul ibunya.

“Bu, hidup kita tidak sengsara. Memang benar kita bukan keluarga kaya, tapi kita bisa menjalaninya dan itu harus kita syukuri. Rasa syukur akan menepiskan kesengsaraan, karena bukankah bahagia dan sengsara itu ada di dalam diri kita? Kita sama sekali tidak sengsara, ibu harus memegang kata-kata ini.”

Yu Kasnah mengangguk haru, mendengar penuturan anak gadisnya yang sudah menginjak dewasa. Memang benar, ketika kita mensyukuri sesuatu, maka kita tidak akan pernah merasa sengsara atau kekurangan.

***

Sony menghentikan mobilnya di halaman rumah keluarga Juwono. Ternyata orang tua Sony adalah sahabat keluarga Juwono. Mereka sama-sama keluarga yang sukses di  dalam bisnisnya. Sudah tiga hari Sony berada di kota itu dan belum sempat berkunjung ke keluarga Juwono. Ia sangat terkejut mendengar Aira meninggal.

Hari itu ia mengajak Ratih belanja, karena dua hari lagi dia akan kembali ke Jakarta. Ratih sebenarnya kurang suka, tapi ayahnya memaksa.

“Hanya mengantarkan belanja, apa sih susahnya? Kalau kamu menolak, bapak merasa nggak enak dong. Sony kan anak sahabat bapak.”

Karena itulah siang hari itu Ratih mengantarkan Sony belanja bermacam-macam.

“Banyak benar belanjaannya?” tanya bu Juwono ketika Sony menurunkan beberapa bungkusan besar.

“Ini untuk Ratih Bu, yang akan saya bawa nanti sudah siap di mobil.”

“Memangnya Nak Sony ke sininya naik mobil?”

“Iya, saya lebih suka mengendarai mobil sendiri daripada naik pesawat.”

“Bisa lebih santai ya Nak.”

“Iya Bu.”

“Lalu kapan, nak Sony ini menikah? Dari dulu masih sendiri saja. Sama seperti Bondan, hanya mengurus pekerjaan, lupa memikirkan dirinya sendiri.”

Sony tertawa.

“Belum ada yang menarik Bu. Nanti kalau sudah ketemu yang cocok.”

“Mas Sony ini pacarnya banyak Bu, jadi susah kalau disuruh milih,” sambung Ratih yang sudah kembali keluar setelah memasukkan semua belanjaannya.

“Belanja apa saja kamu tadi?”

“Belanja baju, tapi sebenarnya belum sangat perlu, tapi mas Sony memaksa. Jadi ya sudah, terpaksa diterima deh.”

“O, gitu ya.”

“Untuk Ibu juga ada kok.”

“Lhoh, kok ibu juga dapat bagian?”

“Sudah lama saya tidak datang kemari, jadi ya sebagai obat kangen lah.”

“Kamu sudah beberapa hari berada di sini, kenapa tidak menginap di sini saja? Rumah ini sangat besar.”

“Maaf Bu, soalnya saya datang dan pergi dalam mengurus pekerjaan, jadi kalau menginap di sini rasanya nggak enak. Kadang pulang larut juga.”

“Ya sudah, ngobrol saja dulu, ibu mau ke belakang,” kata bu Juwono sambil beranjak ke belakang.

“Kamu masih kuliah kan?” tanya Sony kepada Ratih ketika duduk berdua saja.

“Masih, tapi lagi males nih.”

“Kok males?”

“Beberapa hari ini, setelah mbak Aira tidak ada, aku seperti tidak punya semangat apapun,” katanya sendu.

“Aku juga kaget mendengar berita itu. Baru mendengar dua hari lalu dari seorang rekan bisnis. Sayang aku tidak mendengar saat itu.”

“Tidak apa-apa Mas. Kejadiannya begitu mendadak, jadi tidak sempat mengabari ke mana-mana.”

“Aku di sini masih dua hari, kamu ingin ke mana, aku antar.”

“Ke mana? Aku nggak ingin ke mana-mana. Kalau aku ingin main, satu-satunya yang ingin aku datangi hanya sahabat mbak Aira, yang juga dekat sama aku.”

“Baiklah, apa kamu mau mengunjungi teman kamu itu? Boleh aku antar. Besok, atau nanti?”

“Sekarang aku capek, besok saja, dan agak siang, soalnya kalau pagi, dia jualan sayur.”

“Teman kamu jualan sayur?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Heran saja, anak konglomerat punya teman tukang sayur.”

“Mengapa harus berbeda, diantara anak konglomerat dan tukang sayur? Dia baik, dan cantik.”

“Cantik? Tampaknya menarik nih.”

“Hiih, begitu mendengar kata ‘cantik’, langsung saja tertarik.”

“Masa nggak boleh?”

“Aku sudah tahu kalau mas Sony itu play boy. Tapi awas ya, jangan sampai mengganggu teman aku itu.”

Sony hanya tertawa. Bahkan ia masih tertawa saat meninggalkan Ratih untuk kembali ke hotel, begitu Ratih menyebut si tukang sayur lagi.

Tak habis pikir dia, Ratih yang anak juragan kaya, berteman dengan seorang tukang sayur. Tapi sebutan cantik untuk teman Ratih tadi sangat menarik hatinya. Memang benar, Sony penyuka wanita cantik. Dengan uang yang dimilikinya ia bisa setiap saat memanggil wanita manapun untuk menemaninya. Dan sesungguhnya dia sangat penasaran dengan anak si tukang pijit yang semalam memijitnya di hotel. Dia cantik, tapi tidak tampak tertarik dengan wajah gantengnya. Ia bahkan tak menatapnya sedikitpun, walau dia sudah bersikap ramah hanya untuk menarik hatinya. Ia tahu, Pratiwi dan ibunya akan mengurungkan kesanggupannya memijit karena ulah Marsam, pembantunya. Tapi melihat wajah cantik Pratiwi, Sony berusaha menarik hati yu Kasnah dan anaknya, dengan bersikap lembut dan baik. agar mau memijitnya, dan memberinya banyak uang agar besok mereka mau datang lagi. Akan banyak waktu untuk bisa menaklukkan kembang cantik berduri yang hanya anak tukang pijit, dan begitu angkuhnya.

Tapi telpon dari bu Minar saat dia dalam perjalanan kembali ke hotel, membuatnya kesal.

“Apa? Dia tidak mau datang lagi?” kata Sony dengan nada tinggi.

“Saya sudah membujuknya Pak, tapi dia tetap tidak mau,” kata bu Minar.

“Bagaimana kamu membujuknya?”

“Saya bilang, kalau mau datang lagi, pak Sony akan membayar lebih mahal.”

“Bodoh!” kesal Sony.

“Bodoh bagaimana sih Pak?”

“Iming-iming uang, justru membuat dia curiga. Mengapa hanya seorang pemijit buta  dijanjikan uang banyak? Bodoh!”

“Lalu saya harus bagaimana? Hanya iming-iming uang yang bisa membuat orang tertarik.”

“Tapi tidak untuk gadis itu. Dia anak sekolahan. Biarpun pendidikannya tidak tinggi, tapi dia pasti berpikir. Ada apa, hanya untuk memijit kamu harus memberi iming-iming uang banyak. Pasti dia curiga.”

“Lalu bagaimana?”

“Sudah, jangan lagi menghubungi aku. Kamu sudah gagal.” Hardik Sony sambil menutup ponselnya dengan kesal.

***

Malam itu Sasmi memanggil yu Kasnah, hanya untuk minta kerok, karena masuk angin. Pratiwi dengan senang hati mengantarkan ibunya, karena keluarga Luminto sudah sangat baik kepada keluarganya.

“Sepertinya aku masuk angin Yu, kalau sudah begini, nggak akan sembuh kalau belum di kerok.”

“Iya Yu, Sasmi ini memang doyan pijit doyan kerok. Beda sama aku. Kalau aku sih, pijit pelan-pelan boleh, tapi kerok aku nggak suka. Sakit,” sambung Ratna.

“Iya Bu, memang setiap orang itu berbeda. Ada yang tahan rasa sakit, ada yang enggak. Tapi yu Kasnah ini kalau ngerokin nggak sakit lhoh,” kata yu Kasnah sambil mengambil minyak untuk mengerok.

“Ah, nggak sakit bagaimana, namanya kulit di kerok pakai koin, Ya sudah, lanjutin, aku menemani Pratiwi di luar saja.

“Oh iya Mbak, atau di suruh pulang dulu saja, nanti kalau waktunya yu Kasnah selesai biar aku telpon dia,” kata Sasmi.

Tapi ketika Ratna sampai di depan, Pratiwi malah pamit untuk pulang.

“Mau pulang Wi?”

“Iya Bu, di rumah ada pekerjaan. Menghitung=hitung belanja besok Bu, biasa,” kata Pratiwi sambil tersenyum.

“Ya sudah. Kamu nggak bawa tas isi uang lagi kan?”

“Nggak Bu, sudah kapok,” kata Pratiwi.

“Hati-hati ya Wi,” pesan Ratna.

Pratiwi keluar dari rumah keluarga Luminto, dan bergegas untuk pulang. Tapi ketika sudah dekat dengan rumah, ia melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar. Pratiwi berdebar. Perasaan tak enak segera muncul, karenanya dia memilih untuk berbalik, kembali ke rumah keluarga Luminto. Tapi tiba-tiba ia terkejut.

“Berhenti!!”

Teriakan itu membuatnya gemetar.

***

Besok lagi ya.

Thursday, February 2, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 09

 

SETANGKAI BUNGAKU  09

(Tien Kumalasari)

 

“Pak, apa maksud Bapak? Saya buk … kan tukang pijat.”

“Bagaiman ini, saya yang akan memijat. Jangan mengganggu anak saya," kata yu Kasnah.

“Mana mungkin bu Minar memberikan seorang tukang pijat tua, buta pula? Ayo ikut aku dulu, ayo. Jangan membuat majikan aku  marah.”

“Tidak. Kalau begitu kami pulang saja. Tolong lepaskan tangan saya,” kata Pratiwi dengan nada tinggi, sambil menepis tangan laki-laki itu.

“Hei, kami sudah membayar bu Minar atas jasanya, mana mungkin kalian mau pergi begitu saja? Tidak, majikanku butuh tukang pijat, kamu harus melakukannya.”

“Tapi aku yang akan memijit majikan kamu, bukan dia. Jadi biarkan dia pulang, biarkan aku yang melakukannya,” kata yu Kasnah marah.

“Jangan Bu, lebih baik kita pulang saja. Tidak usah memijit siapapun. Ayo Bu,” kata Pratiwi sambil berdiri.

“Eiit! Enak saja. Mana mungkin begitu? Majikanku bisa marah. Dia butuh tukang pijit, tapi mana mungkin dia dipijit oleh wanita buta seperti ibu kamu ini.”

“Kalau tidak mau ya sudah, biarkan kami pergi,” kata Pratiwi, tandas.

“Eh, perempuan galak. Kamu tidak bisa sembarangan terhadap majikan aku. Dia orang berpengaruh dan bisa berbuat apa saja.”

“Terserah majikan kamu itu dewa dari langit sekalipun, aku tidak takut.”

“Apa katamu?”

“Aku tidak merasa mengingkari perjanjian apapun. Bu Minar minta agar ibu saya memijit, saya hanya mengantar. Tapi melihat sikap Anda, tampaknya lebih baik kami pulang saja,” kali ini Pratiwi sudah berdiri dan menarik tangan ibunya.

“Tidak bisa begitu,  kalau kamu nekad pergi, kamu harus mengganti uang yang sudah aku berikan pada bu Minar. Lima juta.”

“Apa?”

Pratiwi terbelalak. Yu Kasnah juga terkejut. Kalau bayaran untuk bu Minar saja lima juta, berapa bayaran untuk tukang pijitnya? Pratiwi bertambah curiga. Ini bukan pekerjaan memijit yang biasa. Lebih baik ia membawa ibunya kabur. Lalu dia menarik tangan ibunya, dan diajaknya melangkah keluar. Tapi laki-laki yang tampak garang itu sudah menghadang di depannya.

“Kalian tidak boleh pergi,” hardiknya.

“Mengapa Anda memaksa kami? Kami tidak mau, jadi biarkan kami pergi,” kali ini suara bu Kasnah bergetar karena takut.

“Kalau aku tidak membawa perempuan muda ini ke dalam kamar majikan, aku akan mendapat hukuman.”

“Itu bukan urusan saya.” Pratiwi melangkah sambil menghindari laki-laki yang menghadang di depannya. Tapi laki-laki itu melompaat kesamping dan tiba-tiba saja sudah berada di depan Pratiwi lagi.

“Kalau saya berteriak, Anda akan dikeroyok orang beramai-ramai,” ancam Pratiwi. Tapi laki-laki itu tertawa mengejek, keras sekali.

“Kamu kira aku ini anak kecil yang bisa kamu takut-takuti? Tak akan ada yang berani menghalangi aku. Kamu lihat di sekeliling kamu, apakah ada orang?” kata si garang sambil masih tersenyum mengejek. Dan Pratiwi heran, karena tiba-tiba saja tak ada orang disekeliling tempat itu. Bahkan di loket resepsionis juga tak ada siapa-siapa.

“Tolooong,” Pratiwi nekat berteriak.

Tapi tiba-tiba seseorang muncul dari dalam. Laki-laki muda yang gagah dan tampan. Wajahnya bersih, matanya bersinar tajam.

“Apa yang kamu lakukan Sam?” tegur laki-laki tampan itu.

“Mereka mau pergi, Tuan, saya menghalanginya.”

“Mengapa pergi? Bukankah ini tukang pijit yang aku dapat dari bu Minar?”

“Benar Tuan, tapi yang memijit bukan gadis itu.”

“Mana tukang pijitnya?” tanya laki-laki itu sambil menatap Pratiwi dan ibunya, bergantian.

“Tukang pijitnya saya, tuan. Tapi pembantu tuan memaksa anak saya. Dia hanya mengantarkan saya saja.”

Tanpa dinyana, laki-laki muda itu tersenyum ramah.

“Dasar pembantu bodoh. Aku hanya ingin dipijit karena lelah. Mengapa kamu berpikir yang bukan-bukan?”

“Tapi tuan_”

“Mari Bu, ke kamar saya. Dan kamu boleh menunggui saja. Aku sangat lelah,” kata laki-laki itu dengan ramah.

Yu Kasnah menggenggam lengan Pratiwi dan mengangguk. Dengan perasaan masih terasa tidak enak, Pratiwi menuntun ibunya mengikuti langkah laki-laki muda itu, masuk ke dalam lift yang membawanya ke atas, entah lantai berapa, tapi kemudian Pratiwi tahu, yang dituju adalah lantai dua puluh.

Mereka keluar setelah pintu lift terbuka, lalu mereka memasuki sebuah kamar besar yang sangat mewah dan berbau harum.

Pratiwi mengamati kamar besar itu, pertama-tama yang dilihatnya adalah sebuah ruang dengan sofa besar, ditata seperti kamar tamu. Hiasan-hiasan apik memenuhi ruangan itu, sehingga terkesan mewah. Agak ke dalam, barulah sebuah kamar tidur yang besar dengan tempat tidur yang mewah pula.

Laki-laki itu kemudian mendekati tempat tidurnya, dan meminta agar ibunya duduk di sana.

“Bu, namamu siapa?”

“Saya Kasnah, Pak.”

‘Oh, bu Kasnah. Sudah biasa memijit ya?”

“Itu pekerjaan saya Pak.”

“Bagus. Oh ya, nama saya Sony. Saya berada di sini karena sebuah tugas bisnis, mewakili ayah saya yang tinggal di luar negri.”

Pratiwi masih berdiri mematung di dekat ibunya.

“Eh, siapa nama anak ibu itu? Dia anak bu Kasnah bukan?”

“Pratiwi, Pak.”

“Nama yang bagus.”

“Kapan saya mulai memijit?” tanya bu Kasnah karena merasa bahwa laki-laki bernama Sony ini terlalu banyak bicara.

“Oh, baiklah. Tentu saja sekarang. Apa yang ibu butuhkan? Minyak gosok, atau apa? Mengapa ya tadi aku tidak memesan si Marsam?”

“Saya sudah membawanya, Pak.”

“Oh, ya sudah, ayo kita mulai. Saya harus membuka baju bukan?” tanya Sony sambil memegangi kancing bajunya. Pratiwi membuang muka, membuat Sony tersenyum.

“Pratiwi, kamu boleh menunggu di sofa, melihat acara di televisi, atau membaca banyak bacaan di meja.”

Pratiwi mengangguk, lalu meninggalkan ruangan itu, lalu duduk di sofa empuk, yang ketika dia duduk, ia merasa seakan sofa itu akan melemparkannya ke atas.

Pratiwi menenangkan batinnya. Dalam hati dia menjerit. Ia merasa bahwa ibunya tak pantas melakukan pekerjaan itu. Meskipun sudah tua dan tidak bisa melihat, sebenarnya tidak pantas dia menyentuh tubuh laki-laki asing yang bukan siapa-siapanya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Setelah ini aku akan melarang ibu melakukan pekerjaan ini. Aku harus bisa mendapatkan uang lebih untuk menambah penghasilan, bukan dengan bergantung pada ibu yang pasti juga sangat berat melakukannya.

Tak terasa, air mata Pratiwi menitik. Sesungguhnya dia sudah melarang ibunya memenuhi ajakan bu Minar untuk memijit, tapi kedatangan bu Margono membuatnya berubah pikiran. Lalu Pratiwi menyesali keputusan ibunya. Pekerjaan ini terkadang menakutkan. Seperti tadi ketika laki-laki bernama Marsam yang mengira dia tukang pijitnya, dan memaksanya melakukan pekerjaan memijit itu, karena mengira dialah tukang pijitnya.

“Aku berjanji, ini yang terakhir. Entah bagaimana caranya, ini yang terakhir,” janji Pratiwi dalam hati, sambil mengusap lagi air matanya.

Sementara itu yu Kasnah mulai merasa nyaman, karena Sony mengajaknya bicara dengan santai. Bercerita tentang banyak hal, dan juga bertanya pada dirinya tentang banyak hal pula.

“Ayah saya seorang kaya, yang memiliki banyak perusahaan besar. Dan saya anak tunggal. Saya sering berkeliling dari kota ke kota untuk mengembangkan bisnis ayah saya. Kali ini saya akan berada di sini selama beberapa hari,” antara lain cerita Sony yang sebenarnya tidak begitu dimengerti oleh yu Kasnah.

“Berapa anak bu Kasnah?”

“Dua,” jawab bu Kasnah singkat.

“Oh, Pratiwi yang tua, apa yang muda?”

“Yang tua, adiknya laki-laki, masih sekolah SD.”

“Pratiwi sudah tidak sekolah?”

“Tidak. Mana saya mampu menyekolahkannya.”

“Sayang sekali. Dia sekolah sampai SMA?”

“Ya.”

“Kalau bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, pasti bisa mendapat pekerjaan yang lebih bagus.”

Bu Kasnah diam. Ia merasa tidak perlu menjawabnya, karena apa yang dikatakan Sony sudah sangat dimengertinya.

“Masih ada teman saya yang ingin dipijit,” tiba-tiba kata Sony.

“Tidak Pak, cukup untuk kali ini.”

“Kenapa? Bayarannya tinggi lhoh.”

“Saya sudah tua, tidak kuat lagi,” kata yu Kasnah yang ingin segera menyudahi pekerjaannya.

“Baiklah, kalau begitu besok lagi ya.”

“Entahlah, tenaga seorang tua kan terbatas. Sekarang cukup ya Pak, saya hanya bisa dua jam saja.”

“Baiklah, badan saya sudah terasa lebih enak,” kata Sony yang kemudian bangkit, dan mengenakan lagi bajunya.

Bu Kasnah turun, Sony menggenggamkan uang ke telapak tangan yu Kasnah.

“Ini berapa, kok banyak sekali.”

“Saya selalu membayar mahal kepada setiap pemijit yang memuaskan saya. Saya masih muda, tapi sangat suka pijit. Ini menurun dari ibu saya,” kata Sony sambil menuntun yu Kasnah keluar dari kamarnya. Bu Kasnah memasukkan uang yang entah berapa banyaknya itu, ke dalam saku bajunya.

Melihat ibunya keluar, Pratiwi berdiri.

“Sudah selesai, biar Marsam mengantarkan kalian,” kata Sony.

“Tidak Pak, biar saya naik taksi saja,” kata Pratiwi, tegas.

Sony mengangguk.

“Baiklah, aku tidak akan memaksa kamu. Sekarang kalian boleh pulang. Aku antarkan sampai lift, setelah sampai di bawah, carilah taksi sendiri.”

Pratiwi mengangguk. Ia merasa nyaman karena sikap Sony memang tidak menakutkan. Ia begitu santun dan menghormati ibunya.

Ketika melewati lobi, ia melihat Marsam sedang tidur mengorok di sofa.

***

Pratiwi bersyukur akhirnya sampai di rumah. Ia mengantarkan ibunya langsung ke kamar mandi dan berganti pakaian, kemudian mengajaknya beristirahat. Ketika itulah yu Kasnah baru memberikan uang yang sedari tadi berada di dalam saku bajunya.

“Ini uangnya tadi, sepertinya kok banyak sekali ya Wi.”

“Ini ? Memang banyak sih Bu. Satu … dua … tiga … empat … “

Pratiwi menghitung dan terkejut ketika menghitung uangnya.

“Tiga juta? Ini uang beneran atau bukan?” kata Pratiwi yang kembali menghitung.

“Tiga juta? Tadi pak Sony bilang selalu membayar mahal kepada tukang pijit yang membuatnya puas. Tapi aku tak mengira sebanyak itu.”

“Ini banyak sekali, tapi apakah harus dikembalikan?”

“Tidak usah. Dia sudah mengatakannya kalau memang memberikan bayarannya sebanyak dia suka.”

“Apakah Ibu janji akan kembali?”

“Dia minta, tapi ibu tidak berjanji. Ternyata memang melelahkan, dan pengalaman sebelumnya tadi, membuat ibu takut.”

“Ibu, mulai sekarang Ibu tidak usah memijit. Benar, apa yang tadi terjadi, membuat Tiwi juga takut, Sudahlah, sedikit penghasilan dari berjualan sayur, harus kita terima dengan penuh rasa syukur.”

“Tapi kita butuh untuk Nano juga kan?”

“Kita akan berusaha, tanpa harus mengorbankan Ibu yang sudah cukup tua. Kalau ibu memijit bu Ratna atau bu Sasmi, tidak apa-apa. Kan tidak terlalu lama.”

“Iya, bu Sasmi juga kalau dipijit tidak mau terlalu kenceng, tidak memerlukan banyak tenaga.”

“Besok Pratiwi akan membayar sewa rumah untuk satu setengah tahun, dengan uang ini masih cukup.”

“Syukurlah.”

Tapi diam-diam yu Kasnah merasa kasihan pada anaknya, yang masih sangat muda tapi harus menanggung beban hidup yang pastinya terasa sangat berat. Tak terasa air matanya menitik, yang kemudian diusapnya. Untunglah saat itu Pratiwi sedang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum beristirahat malam itu.

***

Siang hari itu setelah pulang sekolah, Nano mendekati kakaknya.

“Mbak, apa Mbak masih punya uang?”

“Uang? Uang untuk apa? Kalau uang untuk bayar sekolah kamu, dan untuk daftar ulang minggu depan, sudah mbak siapkan.”

“Ada buku yang harus dibeli. Ini bukunya, Nano pinjam dari teman.”

“Oh, ini? Bagaimana kalau difoto copy saja? Jadi tidak begitu mahal.

“Ya nggak apa-apa Mbak, yang penting isinya sama.”

“Ya sama dong No, kan difoto copy.”

“Baiklah, tidak apa-apa Mbak.”

“Mana bukunya, nanti mbak foto copy kan didekat pasar, sekalian mbak mau nyicil belanja, kalau begitu.”

“Nano boleh ikut ?”

“Boleh dong, nanti mbak boncengin. Ganti bajumu sana, mbak tunggu di depan.”

***

Nano senang, walaupun hanya difoto copy, tapi dia mendapatkan bukunya. Dia membawa buku hasil foto copy itu, dan menunggu didekat sepedanya, ketika Pratiwi sedang belanja.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti, dan seorang gadis turun.

“Itu kan mbak Ratih?” seru Nano.

Pada saat itu Pratiwi sudah keluar dari toko sambil membawa belanjaannya. Ia terkejut mendengar Nano berteriak. Ia memandang ke arah Nano menudingkan tangannya.

“Itu kan mbak Ratih?” seru Nano lagi.

Pratiwi hampir berteriak memanggilnya, tapi diurungkannya, ketika melihat seseorang turun dari mobil, mengikuti langkah Ratih yang sedang menuju ke arah toko.

Laki-laki itu Sony.

***

Besok lagi ya.

Wednesday, February 1, 2023

SETANGKAI BUNGAKU 08

 

SETANGKAI BUNGAKU  08

(Tien Kumalasari)

 

Pratiwi masih memegang sapu lidi yang dipergunakan untuk membersihkan bekas tempatnya berjualan, belum mampu menjawab apapun, sementara bu Margono sang pemilik rumah masih berdiri di depannya, menunggu.

“Bagaimana Wi? Dagangan kamu kan laris, pasti bisa lah.”

“Maaf Bu, tapi saya baru menyediakannya untuk setahun. Kalau dua tahun, berarti saya harus membayar sepuluh juta, mana saya bisa Bu.”

“Rumah yang aku sewakan untuk kamu itu sudah terbilang sangat-sangat murah lgo Wi, mana ada, mengontrak rumah setahun lima juta?”

“Iya Bu, saya tahu. Tapi saya tidak siap untuk membayar dua tahun, mana adik saya juga butuh biaya sekolah juga.”

“Tapi aku sedang sangat butuh Wi, rumahku perlu perbaikan, karena banyak yang bocor, jadi tolong mengertilah.”

“Saya mengerti Bu, tapi saya mana mungkin bisa memenuhi? Tolonglah bu, saya kan hanya berjualan sayur yang sekarang sedang sepi.”

“Kamu yang harus menolong aku Wi.”

“Tapi sungguh Bu, saya belum bisa, coba kira-kira pertengahan tahun, sementara saya sudah bisa menabung.”

“Bagaimana kamu ini, pertengahan tahun kan masih lama, sedangkan saya butuh sekarang.”

“Tolonglah Bu ….” Pratiwi hampir menangis.

“Ya sudah, tambahin untuk setengah tahun lagi saja, sebenarnya itu kurang, tapi bagaimana lagi, kalau tidak sedang butuh, mana mungkin aku minta Wi.”

“Tapi Bu ….”

“Aku tunggu sampai besok ya Wi,” kata bu Margono sambil melangkah pergi, tanpa belas.

Pratiwi benar-benar meneteskan air matanya. Ia melanjutkan bersih-bersih, kemudian baru masuk ke rumah. Tapi tanpa disangka, ibunya sudah duduk di meja dapur.

“Kok ibu duduk di sini? Ibu mau makan?”
“Tidak, tadi kan sudah makan?”

“Barangkali Ibu lapar lagi.”

“Wi, aku tadi seperti mendengar suara bu Margono di depan sana?”

“Iya Bu, kan saatnya kita harus membayar sewa rumah.”

“Sudah kamu bayar? Kan uangnya sudah kamu siapkan?”

“Iya sih Bu, tapi belum Tiwi berikan.”

“Kenapa? Kan sudah siap?”

“Soalnya, bu Margono minta dibayar dua tahun sekalian, dan akhirnya minta tambah setengah tahun lagi saja.”

“Tumben dia begitu. Biasanya kan juga dibayar per tahun.”

“Nggak tahu Bu, katanya mau dipergunakan untuk memperbaiki rumah.”

“Lalu kamu jawab apa?”

“Saya bilang kalau belum punya, dia nggak mau dengar. Katanya ditunggu besok pagi,” kata Pratiwi sedih.

“Uang untuk Nano masih ada?”

“Ada Bu, kan masih minggu depan bayarnya? Tapi belum cukup juga sih Bu, Tiwi masih mau ngumpul-ngumpulin.”

Kalau begitu bilang saja sama bu Minar, nggak apa ibu memijit sekali itu saja. Bisa buat nambah-nambah kan?”

“Tapi ibu harus istirahat.”

“Tidak apa-apa. Kalau sudah biasa bekerja, capeknya tidak terasa.” 

"Tapi Tiwi sudah bilang bahwa ibu tidak bisa.”

“Tamunya ada beberapa, dan masih lama menginap, katanya kalau tidak bisa kemarin itu,  bisa lain hari.”

“Benar, ibu tidak akan capek? Kemarin dia bilang tamunya tidak hanya satu lho Bu, bisa berjam-jam ibu melakukannya.”

“Tidak apa-apa, ibu sudah biasa.”

“Nanti Tiwi akan bicara lagi sama bu Minar. Tapi sebenarnya Tiwi khawatir kalau sampai Ibu kecapekan."

“Sudahlah, turuti saja apa kata ibu, dari pada kita tidak bisa membayar uang sewa rumah yang untuk warung itu. Bukankah itu juga tempat untuk kita mengais hidup?”

“Benar sih Bu.”

Pratiwi tampak terdiam.

“Bagaimana kalau kita lepaskan saja rumah itu?”

“Maksudmu rumah yang kita pakai untuk jualan? Lalu kita akan jualan di mana?”

“Kalau di rumah kita sendiri ini saja, bagaimana?”

“Mana mungkin ada yang mau belanja di rumah yang terlalu masuk seperti rumah kita. Selamanya kita memakai rumah bu Margono yang terletak di tepi jalan itu untuk berjualan.”

“Iya juga sih Bu, di tepi saja sudah agak sepi, apa lagi kalau terlalu masuk seperti rumah kita ini.”

“Ya sudah, memang harus begitu, kita tetap harus berusaha. Dan sekarang Allah telah memberi jalan, walau sedikit, kan bisa untuk menambah kebutuhan?”

“Iya Bu, baiklah, nanti aku akan bicara dengan bu Minar.”

Tiba-tiba terdengar dering pesan singkat memasuki ponselnya, Pratiwi lalu membukanya.

“Pesan dari bu Sasmi, besok nitip sayuran supaya dikirim ke rumah.”

“Oh, syukurlah.”

***

Sore itu Pratiwi memasuki rumah bu Minar, tetangga sebelah yang memesan tukang pijit untuk tamunya.

“Permisi Bu.”

“O, Tiwi, ada apa lagi?”

“Ini Bu, kata ibu saya, kalau masih mau membutuhkan tukang pijit, ibu ternyata bisa.”

“Lho, kamu bilang nggak bisa. Tapi dia akan ada di sini selama beberapa hari, bahkan ada temannya. Sebenarnya kalau yu Kasnah bisa, ada beberapa yang mau dipijit. Tapi malam ini katanya mau ke luar kota dulu.”

“Belum jadi ya Bu?”

“Belum sih, aku sedang mencari yang lain, tapi bukan malam ini. Besok. Ibumu bisa?”

“Bisa Bu, nanti saya antarkan saja.”

“Aku juga bisa mengantar. Tapi kalau kamu tidak tega, ya kamu bisa ikut dan menunggu di sana.”

“Iya Bu, saya ikut saja. Nggak apa-apa menunggu lama.”

“Baiklah, aku akan mengabari mereka dulu.”

Lalu bu Minar menelpon tamunya.

“Iya Pak, ternyata kalau besok dia bisa. Sudah terkenal, dan pasti semua letih lelah akan hilang kalau sudah dipijit. Baiklah, saya sendiri besok yang akan mengantar. O, ada yang lain? Boleh saja, selama tiga hari? Pasti bisa. Baik. Terima kasih.”

Bu Minar tersenyum.

“Benar kan Wi, besok bisa, ada temannya yang mau dipijit juga. Besok kamu siap setelah maghrib ya.”

“Baik Bu, akan saya sampaikan.”

***

Pagi hari itu Pratiwi belanja agak banyak, karena Sasmi memesan macam-macam. Katanya akan ada arisan di rumah pada sore harinya.

Maka sebelum menggelar dagangannya, dia bergegas ke rumah keluarga Luminto untuk mengantarkan pesanan itu.

“Wah, bagus Wi, kamu pagi-pagi sudah datang. Sebenarnya nanti setelah kamu tutup, tidak apa-apa, karena kami akan memasak siang hari nanti.”

“Tidak apa-apa Bu, sekalian.”

Bu Ratna tampak mengambilkan uang dari catatan yang diberikan Pratiwi.

“Kabarnya kamu habis kecopetan Wi?” tanya Sasmi.

“Oh, iya bu, tiga hari yang lalu. Tapi tidak jadi, karena pertolongan mas Ardian dan mas Roy. Syukurlah. Padahal semua uang dan termasuk ponsel saya ada di situ. Untunglah penjambret itu belum membukanya, baru membawanya lari.”

“Dan ternyata penjambret itu orang yang sangat butuh uang.”

“Iya Bu, mendengarnya jadi kasihan. Semoga anaknya sudah sembuh.”

“Kamu itu juga sembrono, pergi malam, kenapa membawa tas yang isinya macam-macam.”

“Bahkan seluruh uang saya ada di situ bu, untuk membayar sekolah Nano dan membayar sewa rumah.”

“Lain kali kalau pergi, uangnya di simpan di rumah saja.”

“Saya biasa menyimpan di dalam tas itu, dan ketika mau mengantar ibu, langsung saja Tiwi bawa tas nya.”

“Lain kali jangan begitu, iya waktu itu ada yang menolong, kalau tidak, kamu bisa kehilangan semuanya.” Kata Ratna.

“Iya Bu, itu sebagai pelajaran untuk saya.”

“Kamu tadi bilang membayar uang sewa? Aku kira itu rumah kamu sendiri Wi,” kata Sasmi.

“Yang saya tempati itu rumah peninggalan ayah saya, kecil sederhana, tapi letaknya kan masuk ke belakang, sedangkan yang saya pakai berjualan itu rumah bu Margono yang saya jadikan kios berjualan sayur, sudah bertahun-tahun sejak ibu saya yang berjualan.”

“O, itu rumah beda? Aku kira itu juga milik yu Kasnah sendiri.”

“Yang di belakang Bu. Itu kan di depan. Kami menyewa untuk keperluan berjualan.”

“O, baru tahu aku. Ya sudah, ini uang kamu, nanti kamu kelamaan ngobrol di sini, yang mau beli sayur kelamaan menunggu.”

“Oh, iya Bu, terima kasih banyak, saya pamit dulu.”

“Semoga laris ya Wi.”

“Terima kasih Bu,” sahut Pratiwi sambil menjauh.

“Kok seperti mendengar suara Tiwi ya?” tiba-tiba Roy mendekat.

“Kamu sudah mandi? Tumben,” kata Sasmi.

“Iya, nanti mau berangkat agak pagi, tugas keluar kota.”

“Sama Ardian juga?”

“Tidak, Ardian mengurusi yang ada di dalam. Benar ya, tadi ada Pratiwi?”

“Hanya mengantarkan sayur pesanan ibu. Tuh, barang-barangnya,” kata Sasmi sambil menunjuk ke arah meja.

“Kok nggak tahu aku.”

“Kamu tuh kenapa, kalau menyangkut Pratiwi kok perhatian kamu luar biasa?”

“Ibu tuh berlebihan, cuma bertanya saja kok dikira perhatian luar biasa. Ya enggak lah Bu, biasa saja.”

“Hm, awas ya, jangan bermain dengan rasa,” sambung Ratna.

“Apa maksud Ibu dengan kata-kata itu? Bermain dengan rasa itu bagaimana?”

“Pratiwi itu cantik. Perhatian yang berlebihan, menunjukkan bahwa kamu ada rasa.”

“Ya, ini lagi. Kenapa sih, kedua ibu aku ini selalu kompak?” kata Roy yang kemudian  ngeloyor pergi. Diam-diam dipikirkannya kata-kata kedua ibunya tadi.

“Bermain dengan rasa? Aku punya rasa apa ya? Suka? Ya Tuhan, masa sih aku suka sama Pratiwi? Bukankah kami hanya berteman??” gumam Roy terus menerus, sambil mengganti baju dengan baju kerjanya.

Tapi kemudian Roy tak bisa memungkiri kata hatinya, bahwa Pratiwi itu memang cantik. Dandanan sederhana yang selalu dikenakannya justru menonjolkan kecantikan aslinya. Dan itu membuatnya selalu membayangkannya.

“Tapi Pratiwi tidak mudah didekati. Dia seperti mawar cantik yang penuh duri di tangkainya. Kalau tidak hati-hati, aku bisa terluka,” gumamnya lagi.

“Mau berangkat sekarang?” kata Ardian yang tiba-tiba melongok di pintu kamar Roy.

“Kamu tuh seperti hantu ya, tiba-tiba muncul dan mengejutkan aku,” gerutu Roy.

“Aku? Hanya bertanya tentang keberangkatan kamu, kok dikira seperti hantu? Dan itu membuat kamu terkejut?”

“Terkejut lah, kamu tiba-tiba nongol.”

“Berarti kamu sedang melamunkan sesuatu. Ya kan?”

“Tuh, pinter ngarang juga kan?”

“Kamu mau berangkat sekarang, kok sudah rapi?”

“Iya. Takut kesiangan.”

“Ya sudah, tapi sarapan dulu kan? Hati-hati di jalan, jangan ngebut.”

***

Begitu selesai berjualan, Pratiwi terkejut melihat Ratih tiba-tiba muncul.

“Ya ampun, belum selesai ya Mbak?”

“Ratih? Nggak nyangka kamu mau datang, sendiri pula.”

“Sama mas Bondan kok, tuh lagi memarkir  mobilnya. Ayo aku bantu, ini diangkat masuk ya Mbak?”

“Eh, ya ampuun, jangan. Itu bangku kotor. Biar aku saja.”

“Nggak apa-apa kok. Kan nanti bisa cuci tangan,” kata Ratih yang membantu memasukkan bangku-bangku bekas berjualan ke dalam rumah.

“Kamu nih, nekat sekali.”

“Sayurnya masih sedikit, juga di masukkan?”

“Nggak, sisa sayur mau aku bawa ke rumah, bisa dimasak untuk lauk sendiri. Sudah, ayo masuk, aku tutup dulu warungnya.”

“Hai Tiwi,” tiba-tiba Bondan berteriak sambil mendekat.

“Mas Bondan, saya kira sudah kembali ke Jakarta?”

“Belum masih nanti sore. Ini cuma mengantarkan si bawel ini, katanya cuma sebentar, karena belum sempat ketemu kamu lagi.”

“Maaf, aku belum bisa ke sana, bahkan saat pengajian itu.”

“Tidak apa-apa, aku mengerti.”

“Ayo masuk ke rumah, di sini lebih kotor.”

“Ayo aku bantu bersih-bersih,” kata Bondan.

“Ayo ke rumah saja, ibu pasti senang.”

“Tapi kami tidak lama, karena nanti sore harus kembali ke Jakarta.”

“Iya, nggak apa-apa, besok aku main ke sana deh.”

“Ini, oleh-oleh buat ibu,” kata Bondan sambil menyerahkan bungkusan.

“Waduh, pakai oleh-oleh segala.”
“Untuk orang tua, yang empuk-empuk,” kata Ratih sambil mengikuti langkah Pratiwi masuk ke rumah.

***

Malam hari itu Pratiwi mengantarkan ibunya ke sebuah hotel, dengan diantarkan bu Minar. Ia disuruh menunggu di lobi, sementara bu Minar masuk ke dalam.

“Lama sekali,” keluh yu Kasnah.

“Baru menemui temannya, dan bicara, barangkali.”

“Kamu akan menunggu ibu kan?”

“Iya, Tiwi pasti menunggu ibu.”

Tak lama kemudian bu Minar keluar, dengan seorang laki-laki.

“Tiwi, aku pulang dulu, nanti aku akan datang menjemput, kalau kamu sudah mengabari,” kata bu Minar sambil berlalu.

Pratiwi hanya mengangguk. Lalu laki-laki itu mendekati Pratiwi.

“Ayo masuk, kamu sudah ditunggu,” kata laki-laki itu sambil menarik tangan Pratiwi.

Dengan kesal Pratiwi mengibaskannya.

“Ayo segera masuk.”

“Saya akan menunggu.”

“Lhoh, yang mau memijit siapa?”

“Ibu saya.”

“Saya Pak, tukang pijitnya.”

“Kamu? Aku kira dia. Aku mau tukang pijit yang muda ini saja.”

Pratiwi terkejut.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...