Wednesday, July 3, 2019

SA;AT HATI BICARA 40

SA'AT HATI BICARA  40

(Tien Kumalasari)

Dita luluh dalam keputusasaan. Tak ada lagi jalan untuk terbebas dari belenggu. Air mata yang hampir kering menitik perlahan. Dibiarkannya tangannya terkulai dilantai, sementara tubuhnya masih terkapar tanpa daya diatas sofa. Bayang2 ibunya tampak maya, merintih kesakitan, dan itu adalah kesalahannya. Dita meratap dalam pilu yang mengiris kalbu.

"Ibu... ma'afkan anakmu ini, ma'afkan Dita ibu.... ini adalah hukuman bagi semua dosa2 Dita, pada ibu, pada mbak Ruti, pada mas Panji.. pada semua orang.... ma'afkan Dita... Sedangkan Tuhanpun tak mau mendengar jeritku, aku ini orang berdosa... aku ini penuh dosa... mBak Ruti.. kemuliaan hatimu aku balas dengan dusta yang sangat nista.. ma'afkan mbak... "

Tangis itu tenggelam .. sayup samar membelah sepinya malam, diantara kerosak dedaunan yang kadang berderak oleh angin yang menderu. Sinta bukan tak mendengar tangis itu. Setelah terbangun tadi tak lagi ia bisa memejamkan mata. Tangis pilu yang menyayat tak sedikitpun membuatnya iba. Santi memiliki hati sekeras batu, memiliki muslihat selicin belut, namun ia juga memiliki rasa takut yang kali ini juga menderanya. Untuk sementara ia bisa lebih tenang karena ancamanya pada Panji pasti membuat priya yang semula dipujanya itu surut keinginannya untuk melaporkannya pada polisi. Tapi itu kan tidak lama. Pasti Panji tak akan berdiam diri, dan Santi memikirkan apa lagi yang harus diperbuatnya. Kabur ke luar negeri? Itu mudah, ia punya segudang harta, tapi jangan2 para pemburu sudah mencegatnya disana.

Tangisan memilukan itu semakin lemah terdengar. Mungkin Dita tertidur kelelahan, atau juga kembali pingsan.

***

Pagi temaram, terdengar kokok ayam dikjauhan. Ada perkampungan didekat rumah kecil yang ditinggali Santi bersama Dita. Tapi Santi enggan masuk ke perkampungan itu. Apapun bisa terjadi, sedangkan dia butuh menyembunyikan diri.

Santi bangkit dari dalam kamar yang membuatnya gelisah pada sisa tidurnya, keluar dan meneguk air dibotol plastik yang tinggal beberapa teguk. Rasa haus masih menderanya. Tapi ia tak menemukan apapun dirumah itu. Ia masuk kekamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. Tak ada sabun, ataupun pewangi lainnya.  Santi mengernyitkan hidungnya. Menyiram kamar mandi bersih2, lalu kembali duduk disofa didekat Dita yang masih tergolek.

"Dita... Dita." panggil Santi beberapa kali. Namun Dita diam tak bergerak.

"Dita, apa kamu sudah mati?" suaranya sedikit keras. Namun sosok yang tergolek itu masih bernafas.

 "Dita, bangun...." 

Hanya ada sedikit geliat, lalu tubuh itu terkulai kembali.

Santi mencari cari sisir yang kebetulan ada didalam tasnya. Disitu juga ada bedak, lipstik dan pensil alis yang tersimpan didalam dompet kecil. Santi sedikit memoles wajahnya. Kecantikannya memang tampak, tapi pucat dan tak ada seri disana. Santi tak perduli. Ia mengambil kunci pintu, lalu melangkah keluar dan kembali mengunci pintunya dari luar.

Mobil yang diparkir dibawah pohon rindang, tampak tersembunyi, dan tak gampang dilihat dari luar. Santi memanasi mesinnya, kemudian memasukkan mobilnya lebih kedalam, tepatnya dibelakang rumah kecil itu, sehingga benar2 tak tampak dari luar.Ada sebuah kerudung yang tersampir di jok depan. Santi mengambilnya, untuk menutupi wajahnya. Entah kerudung siapa, mungkin punya Dita ketika dibawanya dari rumahnya.

Hari masih pagi sekali, Santi butuh sesuatu, minuman, makanan, dan sabun. Itu perlu, karena sesungguhnya dokter cantik itu sangat memelihara tubuhnya. Ia harus wangi, dan sedap dipandang. Tapi kemudian ia teringat,  kali itu Santi tak menginginkannya, ia hanya butuh selamat. Ia keluar dari halaman, mencari sebuah toko kecil. Hari masih pagi, ada beberapa toko kecil yang sempat dilihatnya disekitar situ, tapi masih tertutup rapat. Pasar, dimanakah pasar? Santi terus berjalan menyusuri jalan berbatu. Bekas2 aspal yang pernah memolesnya telah rusak disana sini. 

Haa,, ada banyak orang berkerumun disana, pasti itulah pasar. 

Santi melangkah kesana. Ada penjual makanan, nasi dan sayuran, Santi membelinya beberapa bungkus, lalu ada minuman hangat, dibelinya beberapa bungkus juga. Banyak orang berlalu lalang, berbelanja atau menawarkan dagangan. Bau asam, dan keringat dari orang2 sekitar membuat hidungnya kembali berkernyit. Santi keluar dari kerumunan dan menarik nafas lega. Ia harus kembali kerumh itu. Perutnya juga sangat lapar. 

Sekarang lalu lalang kendaraan mulai ramai, Santi menutup hidungnya  dengan kerudung hitam itu karena lewatnya kendaraan mengamburkan debu yang terpapar dijalan kering. Tiba2 dilihatnya seorang anak kecil. Sedang menangis. Santi terkesiap, bukankah itu Sasa? Dipercepatnya langkahnya lalu tiba2 sudah berada dihadapan anak itu. 

"Sasa?"

Tapi anak kecil itu terus menangis. Hati Santi tiba2 tersentuh. Ia adalah seorng ibu. Sekeras apapun hatinya, tetap saja rasa keibuan masih tertanam dihatinya.

"Ibu....." anak kecil itu menangis keras. Santi menoleh kesana kemari, tak dilihatnya seorangpun disana. Sungguh sembrono ibu anak ini.

"Sasa..." bisik Santi. Diangkatnya tubuh anak itu. Memang sebesar Sasa. Tiba2 kerinduan menyergap hatinya.  Tapi anak itu terus menjerit jerit. Santi membawanya kembali kearah pasar, apakah ibunya sedang berbelanja disana.

"Diam Sasa, akan kita temukan ibumu," bisik Santi.

Tiba2 terdengar teriakan :" Niiing.... itu Niiing... mau kau bawa kemana anakku?"

Seorang perempuan berpakaian daster berlari lari kearahnya. Santi berhenti. 

"Ibu," anak kecil itu melambaikan kedua tangannya.

"Ini anakku, mau kamu bawa kemana dia?" ibu itu bukannya berterimakasih malah menghardiknya. Santi ingin menampar mukanya, tapi diurungkannya.

"Anak ibu menangis sendirian dipinggir jalan. Jangan ceroboh menjaga anak!!!" kata Santi ketus sambil mengulurkan anak itu, lalu kembali berjalan melanjutkan langkahnya. 

Tangis anak itu masih sayup terdengar, Santi benar2 terbawa perasaan karena tangis itu. Ia baru teringat bahwa ia memiliki buah hati yang sangat lucu, sangat cantik dan menggemaskan. Rasa rindu tiba2 menyergapnya.

"Mamaaaa..." Santi berhenti dan menoleh kebelakang, tapi tak seorang anakpun tampak. Suara itu seperti menguak dari langit diatasnya. Menitik air mata Santi.

***

"Mamaaaaa......" tangis itu terdengar dari kamar Sasa. Agus yang sudah terbangun sejak subuh bergegas masuk, dan dilihatnya Sasa sedang mengucep matanya sambil menangis.

"Sayang, mana mbak? Kenapa menangis?" Agus menggendong buah hatinya dan menepuk nepuk punggungnya.

"Mamaaaa... aku mau mamaaa...," Sasa  menangis keras.

Agus tertegun, rupanya anaknya bermimpi ketemu mamanya. Agus menghela nafas. Santi pergi entah kemana, dan tiba2 Sasa memimpikannya.

"Diamlah sayang, nanti kita cari mama ya?"

Agus membawanya keluar. Dilihatnya Endang si perawat membawa sebotol susu yang kemudian diberikannya pada Sasa.

"mBak nggak dengar dik Sasa bangun. Ayo diminum susunya."

Endang menerima tubuh Sasa dan diajaknya duduk diteras depan.

"Aku mau ikut papa mencari mama," kata Sasa disela sela tangisnya.

"Baiklah. mBak, nanti mandikan Sasa dan bersiap ikut aku kekantor ya."

"Baik, pak," jawab Endang sambil masih memangku Sasa yang dengan lahap menghisap susu didalam botolnya.

***

Siang hari itu bu Tarjo benar2 sudah boleh keluar dari ruang ICU. Masih tampak luka2 terbakar, yang memenuhi perut bagian depan sampai kekakinya, namun ada sebagian yang mulai mengering. Rasa pedih pasti masih ada, tapi bu Tarjo kelihatan berseri seri. Ketika dilihatnya yang ada didekatnya adalah Maruti dan Laras, maka matanya mencari cari.

"Mana Dita?"

Laras dan Maruti saling pandang. 

"Belum kemari bu, tadi kemari waktu ibu masih tidur. Ia sedang... sedang... memulangkan baju2 kotor... ya kan Rut?" kata Laras yang dijawab Maruti dengan mengangguk.

"Beberapa hari aku tak melihatnya, katamu dia sehat," sesal bu Tarjo.

"Sangat sehat bu, ibu tak usah khawatir. Pemeriksaan itu salah."

"Bagaimana seorang dokter bisa keliru begitu parah?"

"Namanya keliru bu, bisa saja, yang penting Dita tidak apa2." 

"Ibu jangan memikirkan apa2, ibu harus cepet sehat dan bisa kembali pulang. Laras sudah kangen makan masakan ibu lho," kata Laras membesarkan hati ibu.

"Nak Laras juga pinter masak, ibu pernah makan masakan nak Laras kan?"

"Ibu bisa saja."

"Laras, aku mau kekantor sebentar, ibu tidak apa2 aku tinggal kan?"

"Pergilah nak, jangan mengganggu pekerjaanmu terlalu lama. Dita saja suruh cepat datang kemari , ibu kangen.."

"Kalau boleh aku juga mau pulang sebentar, aku akan mengantarmu kekantor lebih dulu Ruti."

Maruti mengangguk. Ada rasa sedih ketika ibunya mengharapkan Dita segera menemuinya.

***

Ketika tiba di kantor Agus ternyata Panji ada disana. Belum ada titik terang tentang keberadaan Santi dan Dita. Mereka berbincang diruang tamu. 

"Tanteee...." teriakan itu mengejutkan Maruti dan Laras. Ternyata Sasa ada disana.

"Dia rewel sejak pagi mbak," kata Endang.

"Kenapa rewel,? tanya Laras.

"Nggak tau, kelihatannya semalam mimpi bertemu dengan mamanya.

"Oo.. sayang.. tadi mimpi ketemu mama?"

Maruti mengangkat Sasa dan mendudukkannya dipangkuannya. Wajah Sasa memang tidak secerah biasanya.

"Namanya juga ibu dan anak, pasti ada ikatan batin diantara mereka." bisik Maruti pelan.

"Dia juga merasa gelisah, ibunya pasti tak tenang dimanapun berada." sambung Laras dengan berbisik pula.

"Haa.. tante ada ide. Bagaimana kalau kita membeli es krim?" kata Laras tiba2. Mata Sasa berbinar, es krim itu kesukaannya. Ia kemudian merosot dari pangkuan Maruti dan menghampiri Laras.

"Aku mau es krim.." katanya sambil menggelendot ke pangkuan Laras.

"Oke, ayuk sama tante.." Laras menggendong Sasa dan diajaknya keluar dari ruangan. 

***

Ada penjual es krim didekat perkantoran itu, Sasa senang ketika Laras menyuruh memilih mana yang disukainya.

"Aku mau yang coklat," katanya sambil memilih.

"Ayo... ambil..."

"Sama stowberi juga..."

"Ambil mana yang kamu suka Sasa...."

Keduanya asyik memilih es krim, sementara tak jauh dari sana, sepasang mata sedang mengawasi dengan seksama. Dilihatnya sekeliling, apakah ada yang sekiranya bisa mencurigainya.

***

besok lagi ya

 

Tuesday, July 2, 2019

SA'AT HATI BICARA 39

SA'AT HATI BICARA  39

(Tien Kumalasari)

Panji merasa panik ketika tiba2 ponsel itu dimatikan. Ia mencoba menghubungi nomor itu lagi tapi tak terjawab. Yang kemudian diterimanya adalah sebuah pesan SMS.: KALAU INGIN DITA SELAMAT, JANGAN PERNAH LAPOR POLISI.

Gemeretak gigi Panji karena amarah yang ditahan. Ia sudah sampai di kantor polisi itu, dan urung turun dari mobilnya.

Dibalasnya SMS itu, DIMANA KALIAN BERADA?

Tapi SMS itu tak terkirim.  Si pengirim sudah mematikannya.

Ia tak tau harus berbuat apa lagi. Kembali kepalanya berdenyut denyut. Ia membutuhkan seseorang untuk berbincang.Ia tak mungkin bisa menyelesaikan sendiri masalahnya.

***

"Ruti, kamu tenanglah, kamu harus percaya bahwa mas Panji akan bisa menemukan Dita. Dia kan banyak teman. Katanya kalau tidak ketemu hari ini ia akan lapor ke polisi."

"Ya, Laras, semoga semua baik2 saja. Terimakasih banyak kamu sudah menemani aku, dan menguatkan aku."

"Kamu itu ngomong apa, aku dan kamu itu bukan hanya teman, bukan hanya sahabat, bukan hanya saudara. Suka dan duka kamu adalah suka dan duka aku juga," jawab Laras sambil memeluk Maruti.

"Aku juga sedikit lega, besok pagi ibu sudah boleh dipindahkan ke zal. Berarti masa kritisnya sudah berlalu."

"Aku ikut gembira Rut, ibu bersemangat sekali setelah mendengar bahwa ternyata Dita tidak menderita penyakit apapun. "

"Tapi bagaimana nanti kalau ibu menanyakannya? Dita belum bisa ditemukan," kata Maruti sedih.

"Nanti kita bisa berbohong dulu Ruti, Dita sedang istirahat atau apa, mudah2an ibu puas dengan jawaban itu."

"Semoga saja."

"Aku akan menelpon mas Panji, barangkali sudah ada berita," kata Laras.

Tapi ternyata tidak tersambung. Tampaknya Panji sedang berbicara dengan seseorang.

"Bagaimana?" tanya Maruti masih dengan perasaan was2.

"Tidak tersambung, sibuk. Mungkin sedang menelpon seseorang, atau teman2nya yang akan membantunya.

"Ya Tuhan, lindungilah Dita.

*** 

"Aku menghubungi kamu dari tadi tapi tidak tersambung Pras," kata Panji ketika sampai dikantor Agus.

"Ada meeting siang tadi. Sedianya aku mau kerumah sakit untuk menjenguk bu Tarjo, tapi belum bisa. Aku juga menunggu berita dari kamu."

"Celaka.." keluh Panji.

"Ada apa?"

"Tadi Dita sempat menelpon aku."

"Oh ya, dia katakan mereka dimana?"

"Ya nggak mungkin, Dita hanya menangis dan bilang minta tolong, kemudian telephone ditutup. Pasti Santi yang menyuruhnya. Tak lama setelah itu ada SMS  Lihat ini," Panji menunjukkan SMS yang dikirim ke ponselnya.

"Dia mengancam akan mencelakai Dita..."

"Aku sudah sampai di kantor pulisi tadi, tapi aku bingung, keselamatan Dita tergantung kita."

"Ya ampun, aku tidak mengira Santi bisa berbuat senekat itu. Ternyata dia tuh sakit jiwa," keluh Agus.

"Aku mengira, salah satu nomor tilpone yang kamu berikan ke aku itu, ada yang bisa berhubungan dengan Santi dan membantunya. Kalau tidak dia tidak akan sepanik itu, sampai mengancam segala."

"Iya ya, tapi yang mana?"

"Tak seorangpun diantara mereka bilang mengetahui keberadaan Santi. Bahkan rata2 bilang sudah lama tidak berhubungan dengan dia."

"Aku akan minta tolong temanku, dia seorang intel, dia akan membantu mencarinya secara diam2. Semoga tidak tercium olehnya."

"Terimakasih banyak Pras, kamu banyak membantu aku dan Maruti," kata Panji. Sedikit teriris hati Agus, ada harapan yang melayang bersamaan dengan peritiwa itu.

***

"Dita masih tergolek lemas di sofa itu. Santi memaksanya makan, tapi hanya sesuap dua suap masuk ke mulutnya. 

"Apakah hidupku akan berakhir disini?" bisik Santi dalam hati. Ia berusaha kabur, tapi kesempatan itu tak ada.

Hari telah malam, semua pintu terkunci, dan Santi memasukkan kunci itu kedalam tas nya.Lalu ia berbaring disebuah sofa yang lain, tak jauh dari tempat Dita berbaring. Ada kamar di pondok itu, tapi Santi tak mau tidur didalamnya.  Tak lama kemudian terdengar dengkur halus, Santi tertidur. Perlahan Dita bangkit dan mencoba duduk. Kepalanya terasa berputar. Sejenak disandarkannya kepalanya kesandaran. Diraihnya botol minuman dan diteguknya. Ia tau Santi tadi memasukkan kunci rumah kedalam tas yang diletakkannya disamping tempatnya berbaring. Seperti mudah meraihnya. Santi menenangkan batinnya, ia harus bangkit, berusaha mengambil kunci dan kabur. Hanya itu satu2nya jalan agar terlepas dari cengkeraman Santi.

Perlahan Dita mencoba berdiri, sedikit terhuyung, lalu tangannya berpegangan pada sandaran sofa. Ia menahan nafasnya yang sedikit terengah, jangan sampai Santi mendengarnya.

Selangkah ia maju. Dan Santi terbatuk batuk. Upps... Dita mundur dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Diliriknya Santi, hanjya terbatuk sebentar, kemudian kembali tertidur, setidaknya itulah yang dilihat oleh Dita. Dadanya berdegup kencang. Semoga ada kesempatan mencuri kunci pintu itu.

Dita berhenti sejenak, ia masih khawatir kalau ada gerakan Santi yang kemudian bisa melihat dirinya yang sedang berusaha kabur. Dilihatnya Santi mengubah posisi  tidurnya. Dan..  bukk.. Santi terjatuh dari sofa itu. Dita memejamkan mata, pura2 tertidur pulas. Celaka, pasti Santi jadi terbangun.

"Kurangajar, kursi ini sempit sekali... huhh... " Santi bangkit, lalu kembali naik keatas sofa.

"Huhh.. sungguh tidak enak tidur disini. Santi bangkit lalu masuk kedalam kamar. Ia lupa tasnya masih tertinggal. Dita melirik ke sofa bekas tempat tidur Santi, dan hampir bersorak karena tas itu masih tertinggal disana.

"Ya Tuhan, tolong aku... tolong aku...," desisnya lirih.

Tapi ia belum berani bergerak. Ia bangkit setelah beberapa sa'at, lalu melangkah tersaruk pelan mendekati kamar itu. Ia harus tau apakah Santi sudah tertidur kembali atau belum. Kepala Dita masih berdenyut, tapi tak dihiraukannya. Kamar itu tidak terkunci, bahkan sedikit terbuka. Dita bisa menintip kedalam, dan melihat Santi meringkuk diatas pembaringan.

Dita berjingkat, menuju kearah tas Santi yang masih tergelethak ditempatnya.

"Ya Tuhan, tolong aku.. tolong aku, berkali2 ia berbisik. Tangannya gemetar. Tas itu sudah dipegangnya, ia menarik ruisletingnya, perlahan. Senyap yang menyentak memungkinkan suara sehalus apapun bisa terdengar oleh telinga.

Perlahan tangannya merogoh kedalam, aduuh.. mana kunci itu... 

Tiba2 terdengar Santi terbatuk kembali dari dalam kamar. Dita melompat kearah tempatnya berbaring semula dan merebahkan diri lagi. Tersengal nafasnya karena tegang yang menghimpitnya.

Lalu terdengar langkah kaki mendekat. Dita menyipitkan matanya, Dari sela2 bulu matanya dilihatnya Santi mengambil botol minuman dan menenggaknya. Lalu Santi kembali melangkah kedalam kamar. Tapi dibawanya tas yang tadi tertinggal disana.

***

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 






Monday, July 1, 2019

SA'AT HATI BICARA 38

SA'AT HATI BICARA  38

(Tien Kumalasari)

Maruti dan Panji sudah setengah hari mencari cari, namun keberadaan Santi dan Dita belum juga diketahui. Wajah Maruti pucat pasi. Mendengar bahwa Santi telah melakukan hal2 yang sangat luar biasa, sangat membuatnya heran. Untuk apa dia melakukan itu, sementara Panji juga belum menemukan jawabannya.

Panji kemudian menemui Agus, yang ternyata juga tak bisa banyak memberikan keterangan yang berarti. 

 "Ketika dia menikah dengan aku, dia sudah ditinggalkan kedua orang tuanya. Dia tak punya saudara, dan jauh dari kerabatnya. Dia adalah pribadi yang mandiri, yang tak pernah menjadi beban orang lain, hidup berkecukupan, dan itu membuatnya sedikit sombong. Itulah sebabnya tak seorangpun kerabatnya yang dekat dengan dirinya." kata Agus.

"Ada beberapa nomor telephone kerabatnya yang aku pernah punya, akan aku berikan sama kamu. Sebentar," lanjut Agus.

Tapi semua nomor yang diberikan tak seorangpun tau dimana keberadaan Santi. Bahkan beberapa nomor sudah tidak lagi aktif. 

"Aku heran mengapa dia melakukan semua itu. Aku kira dia itu sakit. Sakit jiwa."

"Benar, seorang dokter yang sakit," timpal Panji.

Maruti yang hanya terdiam, tampak pucat tak bersemangat. Ia menghawatirkan adiknya, tapi juga menghawatirkan ibunya.

"Mas, bagaimana kalau aku kerumah sakit dulu, karena aku juga harus tau perkembangan sakitnya ibu," kata Maruti.

"Tadi aku sudah menelpon Laras agar pergi kerumah sakit, supaya tau keadaan ibu."

"Oh, terimakasih mas."

"Laras tidak menelpon, berarti tidak ada apa2. Tapi ada baiknya kita kerumah sakit sebentar, lalu kita fikirkan lagi apa yang harus kita lakukan.

"Kalau terpaksa, memang sebaiknya kita lapur polisi, karena ini menyangkut keselamatan Dita juga," kata Agus.

"Apa boleh buat. Sebaiknya memang harus begitu."

***

Dita berbaring di sofa yang ada dirumah tertutup itu. Kepalanya serasa berdenyut denyut. Sejak kemarin pikirannya dicengkam oleh rasa takut yang amat sangat, dan sekarang dia ditinggalkan didalam rumah yang terkunci. Dita sudah berusaha untuk melarikan diri, tapi tak sebuahpun pintu yang bisa dilaluinya. Hanya ada dua pintu, depan dan belakang, yang semuanya terkunci dari luar. Ada jendela yang berterali besi, mana mungkin Dita kuat membukanya. Dita baru menyesali apa yang telah ia lakukan. Ia seperti anak kecil yang menginginkan mainan, dan harus mendapatkannya dengan cara apapun juga. Cara itu sekarang menyiksa dirinya sendiri. Belum lagi memikirkan keadaan ibunya yang sakit parah... Aduhai ibu.. bagaimana keadaanmu? Bagaimana aku bisa menghubungi semuanya dan menanyakannya? Tangis Dita pilu.

Setelah tengah hari itu, tiba2 Santi datang, membawa beberapa botol air mineral, dan dua bungkusan makanan. Tak lupa ia kembali mengunci pintu rumah rapat2.

"Ini minumlah, nasi.. segera dimakan." katanya datar sambil meletakkan barang2 bawaannya.

"Aku mau pulang... aku nggak lagi ingin apapun.. kecuali pulang dan bertemu ibu.." rintih Dita lemah.

"Jangan bodoh ! Kalau kamu keluar dari sini kamu tak akan selamat. Aku sudah mendapat kabar bahwa mas Panji sedng mencari cari aku, dan kamu pastinya, jadi jangan membantah, menurutlah. Ayo dimakan dan diminum," perintahnya sambil meneguk air lalu membuka bungkusan makanan yang ternyata nasi dan lauk sederhana.

"Ayo dimakan. Nggak mau? Apa kamu mau mati? Mati beneran nih, nggak usah nungguin enam bulan lagi," Santi berucap sambil menyuap makanannya.Tampak kasar dan seperti tak ada santun2nya. Dita memandanginya heran. Santi tampak seperti bukan seorang dokter, bukan seorang yang memiliki intelektual tinggi, bukan, sikapnya mirip seorang kriminal sejati. Merinding bulu kuduk Dita karenanya. 

"Bener, nggak mau makan? Ya udah, terserah, nanti kalau kamu mati kelaparan, malah lebih mudah aku .. tinggal ngelempar kesungai yang ada didekat situ, lalu aku bisa pergi semauku."

"Biarkan aku pergi.. aku mau ketemu ibu...aku hanya ingin itu..," rintih Dita lemas.. ia benar2 sudah tak lagi memiliki tenaga, sejak kemarin belum seteguk air atau sesuap makananpun masuk kemulutnya.

"Diam dan jangan mimpi aku mau menuruti kemauanmu." 

"Apa salahku? Mengapa dokter menyiksa aku seperti ini?"

"Salahmu adalah, kamu mencintai mas Panji !! Dia itu cintaku. Aku sebenarnya hanya ingin memisahkan Maruti dari mas Panjiku, itulah sebabnya aku mengarang cerita palsu tentang penyakitmu, supaya Panji meninggalkan Maruti. Aku juga membujuk bekas suamiku untuk mendekati Maruti, supaya mas Panji tidak bisa lagi kembali pada Maruti kalau seandainya kedokku terbuka. Tapi ini parah, mas Panji menyelidiki tentang penyakit itu, dan aku tau aku serta kamu akan celaka karena kebohongan itu. Kita bisa masuk penjara, tau??!!" kali ini suara Santi sangat keras. Dita bergidik, ia seperti melihat bathari Durga dalam pewayangan yang berwajah buruk, bertaring dan siap menebarkan kejahatan.

 "Jadi bener, kamu nggak mau makan atau minum? Kamu memilih mati?"

Dita terdiam, wajahnya pucat, matanya terpejam. Dia pingsan.

***

Maruti dan Panji memasuki rumah sakit dimana bu Tarjo dirawat. Laras yang duduk menunggu diruang ICU itu menyambutnya. 

"Ada kabar baik?" tanyanya.

"Belum ketemu, Maruti ingin melihat ibunya terlebih dahulu." jawab Panji.

"Ibu baik2 saja, keadaannya semakin membaik, aku baru saja masuk dan beliau menanyakan kamu. Lebih baik kamu masuk Ruti."

Maruti mengangguk, lalu masuk kedalam ruang ICU itu. Dilihatnya ibunya masih terbaring, tapi selang oksigen sudah tak lagi dipasang. Matanya terbuka begitu mendengar ada yang mendekat.

"Ibu..." Maruti memeluk ibunya dan menciuminya dengan seluruh perasaannya. Segala yang menghimpit dadanya serasa ingin ditumpahkan sa'at itu juga. Isak lirihnya terdengar .. seakan sesambat yang tak diucapkannya secara lisan. Ia tak ingin membebani ibunya dengan kejadian yang menimpa Dita.

"nDuk, jangan menangis, ibu tak apa2. Dimana Dita?" bisik bu Tarjo.

"Dita... sedang beristirahat.. dirumah bu, " Maruti berbohong.

"Kasihan dia, jangan sampai kecapean, nanti penyakitnya bertambah parah."

Tiba2 Maruti merasa bahwa ibunya harus dibesarkan hatinya dengan berita kesehatan Dita. Walau Dita belum diketemukan, bahwa Dita ternyata sehat, ibunya harus mendengarnya. Diangkatnya kepalanya, sambil tangannya mengelus lembut tangan ibunya.

"Bu, ibu tidak usah khawatir, sesungguhnya Dita tidak sakit."

"Apa maksudmu?"

"Dita itu sehat bu, tidak sakit, dia tidak akan meninggalkan kita secepat yang dikatakan dokter Santi. Dia akan memiliki umur yang panjaaaang... panjaaang sekali bu."

"Darimana... kamu tau?" tanya bu Tarjo dengan mata berbinar.

Kemarin ketika kontrol, tak diketemukannya penyakit itu. Dita bersih dari kanker, sehat, dan akan berumur panjang. Jadi berbahagialah ibu." Maruti tidak berbohong tentang kesehatan Dita, tapi ia tak ingin mengatakan keadaan Dita yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya.

"Oh, ya Tuhan, terimakasih... " mata bu Tarjo berkaca kaca, Maruti mengusapnya lembut. Ada binar yang melegakan pada sorot mata wanita setengah tua itu, walau pasti masih menahan sakit karena luka bakar yang dideritanya.

"Jadi ibu harus cepat sehat ya bu, supaya kita bisa berkumpul bersama dirumah, dan ibu bisa masak yang enak2 buat kita."

Bu Tarjo mengangguk angguk. Bagaimanapun berita bahagia itu pasti bisa membangkitkan semangatnya.

***

Santi kesal sekali, Dita sama sekali tak mau mendengar kata2nya, dia merasa bahwa ini adalah beban yang berat baginya. Sesungguhnya Santi juga takut. Santi tak mengira bahwa perbuatannya yang semula dikiranya sederhana ternyata membuahkan kejadian yang ternyata membuatnya tersiksa. Dita masih tergolek pingsan disofa itu. Santi mengambil sebotol minyak angin dan diusap usapkannya kehidung Dita. Tampaknya Santi sedang memikirkan sesuatu.

"Dasar bodoh !! Kamu mau mati beneran? Mengapa nggak mau nurut apa kataku?"

Dita bergerak perlahan, ketika matanya terbuka, semua dilihatnya suram. Beribu kunang2 seperti  menari nari didepan matanya. Dipejamkannya matanya kembali.

"Ibu..." rintih Dita lemah..

" Apa kamu mau mati disini ? Dengar, makan dan minumlah," kata Santi sambil mengangsurkan botol minuman, lalu menuangkan sedikit ke mulut Santi. Santi menelannya dan tersedak. Agak lama dia terbatuk batuk.Tapi sedikit demi sedikit Santi mencoba memasukkan minuman itu ke perut Dita.

***

Dipanas yang terik itu Panji keluar dari rumah sakit. Ia merasa lega karena bu Tarjo telah mendengar tentang kesehatan Dita. Sekarang tinggal mencari dimana Dita berada. Dimana Santi menyembunyikannya. Tekatnya sudah bulat, ia akan melaporkannya pada polisi. Ia sudah sampai didepan kantor polisi itu ketika tiba2 ponselnya bgerdering.

Sebuah nomor yang tidak dikenalnya, tapi Panji mengangkatnya.

"Hallo..."

"Mas Panjiiii..." itu suara tangis Dita.

"Dita... Dita..dimana kamu Dita?"

"Maas.. tolong mas...." lalu suara itu terputus.

***

besok lagi ya

 

 

 

 

Sunday, June 30, 2019

SA'AT HATI BICARA 37

SA'AT HATI BICARA  37

(Tien Kumalasari)

Bergegas dipanggilnya taksi yang kebetulan mangkal didepan rumah sakit itu. Hatinya gundah gelisah. Bagaimana kalau terjadi apa2 dengan adiknya? Ya Tuhan, selamatkan dia.. selamatkan dia.. bisiknya dalam hati. Jalanan yang masih sepi itu sesungguhnya sangat lancar bagi pengendara apapun untuk melaju. Maruti sudah meminta driver agar mempercepat laju kendaraannya, tapi bagi Maruti semuanya serasa bagai merayap lambat dan menyebalkan. Ingin Maruti melompat dan berlari sendiri sekencang kencangnya agar segera tiba dirumah.

Maruti merasa lega ketika akhirnya tiba didepan rumahnya, namun dilihatnya pak Karsono berdiri sendrian, tegak seperti patung didepan teras rumahnya. Dimana Dita, sudah sadarkah, lalu tidur dikamar?

Maruti mendekati pak Karsono setengah berlari.

"Bagaimana Dita pak, dimana dia sekarang?"

"Maruti, baru saja dokternya kemari dan membawanya kerumah sakit."

Maruti tercengang.

"Dokter siapa pak?

"Seorang dokter cantik. Tadi Dita sudah sadar setelah dirawat beberapa ibu2, dan tiba2 dokter itu datang. Dita mengenali kok, jadi kami biarkan dokter itu membawanya."

"Oh, dokter Santi?"

"Ya, begitulah tadi Dita menyebutnya."

"Oh, baiklah pak, terimakasih banyak."

"Ini kunci rumahmu nak," kata pak Karsono memberikan kunci rumah. 

"Oh ya, terimakasih pak."

Maruti membalikkan tubuhnya untuk menyusul Dita yang dibawa dokter Santi kerumah sakit,  

***

Pagi itu sebelum berangkat kekantor  Panji pergi kerumah sakit dimana bu Tarjo dirawat.Ia ingin bertemu Dita dan bertanya tentang Santi. Namun tak ditemuinya seorangpun diantara Dita ataupun Maruti. Ketika ditanyakannya pada perawat, katanya Maruti pulang pagi2 sekali. Dita tidak tampak sejak semalam. Kemudian Panji memutuskan untuk pergi saja kerumahnya, mungkin dirasanya lebih enak bicara dirumah daripada dirumah sakit. Namun dirumah Maruti ia juga tak menemukan mereka, bahkan keterangan dari pak Karsono tetangganya sangat mengejutkannya.

"Dokternya bernama Santi telah membawanya kerumah sakit. Maruti pun ketika pulang juga tak ketemu adiknya," kata tetangga yang menolongnya.

Panji terpana, Santi membawanya?Ini celaka.. segera diteleponenya Maruti.

"Hallo..mas Panji?" jawab Maruti dari seberang sana.

"Maruti, kamu dimana ?"

"Aku sedang menyusul Dita yang dibawa dokter Santi kerumah sakit mas, tadi pagi dia pingsan dirumah, aku masih dirumah sakit menunggui ibu waktu itu."

"Kamu dimana sekarang?"

"Aku sudah dirumah sakit tempat dokter Santi praktek mas. Ada apa?"

"Tunggu aku disitu, dan jangan kemana mana."

"Tapi aku harus mengetahui keadaan Dita dulu mas."

"Dita tak akan ada disitu, [ercayalah."

"Apa maksud mas Panji?"

"Pokoknya tunggu aku disitu."

Maruti kebingungan, bagaimana Panji tau bahwa Dita tak ada disitu? Maruti nekat masuk kedalam rumah sakit itu. Ia mencari dokter Santi, tapi perawat jaga bilang dokter Santi tak datang kesana, apalagi membawa pasien bernama Dita.

Maruti bingung, tampaknya ada sesuatu yang terjadi dan itu membuatnya takut. Ia kelobi depan menunggu Panji yang katanya akan menyusulnya. Sambil menunggu itu berkali kali Maruti menghubungi Dita, tapi ponselnya tidak aktif dari semalam. Tiba2 rasa takut menyergapnya. Apakah sakit Dita bertambah parah? Ya Tuhan, mana mas Panji yang katanya mau menyusulnya, ia butuh seseorang untuk menguatkan hatinya yang gundah.

Ketika dilihatnya mobil Panji datang, tak sabar Maruti datang menghampiri. Panji membuka pintu disampingnya dan mempersilahkan Maruti masuk.

"Apa yang terjadi? Bagaimana Dita? Dirumah sakit mana?" tanya Maruti cemas.

Panji menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit. Maruti memandanginya dengan wajah pucat. Yang difikirkannya adalah sakit Dita bertambah parah, atau mungkin sesuatu telah terjadi pada adiknya. Atau.. enam bulan yang dijanjikan itu datang lebih cepat?

"Mas...."

"Santi membawa kabur Dita."

"Apa mas? Membawa kabur bagaiana? Aku bingung mas, aku cemas, aku tidak mengerti, pagi tadi aku dikabari tetangga bahwa Dita pingsan dihalaman. Ketika aku buru2 pulang untuk melihatnya, tetangga bilang bahwa Dita telah dijemput oleh dokter Santi, dibawa kerumah sakit. Tapi dirumah sakit itu aku tidak menemukannya."

"Ya, tentu, karena Santi membawa kabur Dita."

"Aku tidak mengerti.."

"Dengar Maruti, Santi itu penjahat. Dia membuat laporan palsu."

"Laporan apa?"

"Laporan kesehatan Dita. Sebenarnya Dita tidak sakit apapun. Dia sehat."

"Apa?"

Gemetar Maruti mendengarnya, apakah itu benar? Jadi dia tidak akan kehilangan Dita secepat itu? Tapi Panji belum menjelaskannya, Maruti mendengarnya seperti sebuah mimpi. Semuanya serba membingungkan.

"Itu benar. Dita tidak sakit apapun. Santi telah berbohong."

"Mengapa mas?"

"Entahlah, jawabannya ada pada Dita, tapi sekarang Santi membawa kabur Dita. Aku akan melaporkannya pada polisi kalau hari ini tidak bisa menemukannya."

Kepala Maruti tiba2 berdenyut kencang. Panji menceriterakan semuanya. Tentang nama dokter Baroto yang ternyata tidak ada, tentang laporan lab yang pastilah palsu. Dan semuanya membuatnya semakin pusing.

"Kalau kamu tidak percaya, periksakan saja lagi Dita ke dokter lain yang lebih ahli. Apa yang dikatakan Santi itu palsu."

"Tapi dimana sekarang Dita?" kecemasan Maruti kini tertuju pada keselamatan Dita. Aoakah Santi akan mencelakainya? Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya, tangannya gemetar, air mata mulai menitik perlahan dan membasahi pipinya.

"Dimana Dita sekarang?"

"Kita akan mencarinya. Lebih dulu kerumah Santi."

Tapi seperti kemarin, pagar rumah Santi tergembok, dan pintu rumah tertutup rapat.

"Rumah ini kosong.."

"Belum tentu, aku akan memanjat pagar dan masuk kedalam, siapa tau dia bersembunyi didalam dan mengelabui orang dengan gembok itu supaya mengira dia pergi.

Panji berusaha masuk dengan memanjat pagar. Berhasil, lalu mendekati rumah yang sepi dan tertutup rapat. Tapi memang benar tak ada siapa2 didalam. Panji mengintip kepintu garasi melalui lobang angin yang ada, tapi mobilnya juga tak ada. Beraarti Santi tak ada dirumah. Panji kembali ke mobilnya.

"Kemana Dita dibawa mas?" rintih Maruti.

"Kita akan mencarinya, kalau perlu lapor polisi."

"Mengapa dia membawa Dita?"

"Dia melakukan kejahatan itu atas sepengetahuan Dita. Pasti Dita akan dijadikan tameng oleh dia."

"Ya Tuhan....bagaimana ini?"

"Tenanglah Maruti, aku akan berusaha mencari ketempat lain. Kalau hari ini tidak ketemu aku benar2 akan lapor polisi."

***

Sementara itu Dita dan Santi ternyata berada disebuah rumah terpencil yang ada jauh diluar kota. Bukan hanya Dita, Santi pun sesungguhnya merasa takut.

"Mengapa dokter membawa saya kemari? Ini rumah siapa?" tanya Dita yang belum hilang rasa takutnya dari kemarin.

"Rumah siapa kamu tidak usah perduli, aku sudah membayarnya dan kita akan aman disini."

"Dokter, sebenarnya ada apa ini? Mengapa kita harus bersembunyi?" 

"Diamlah Dita." sentak Santi kasar. Dia sendiri sedang merasa tak tenang, dan Dita seperti anak kecil yang merengek rengek tak henti2nya.

"Tapi aku takut dokter."

"Tentu, aku juga takut, apa kamu mau dipenjara bersama aku?"

"Ini kemauan dokter, bukan aku, mengapa aku juga harus dipenjara?"

"Bodoh! Ini kemauan kamu. Kamu yang menginginkan Panji dan aku hanya membantu kamu, jadi kamu juga harus bertanggung jawab.

"Tapi dokterlah yang berbohong."

"Kamu membantu berbohong Dita, jangan bodoh. Dan diamlah, aku sedang memikirkan bagaimana caranya kabur dari masalah ini."

"Tapi aku ingin melihat ibuku.. "

"Ibumu sudah ada yang menangani, fikirkanlah dirimu sendiri."

Dita menangis tak henti2nya, membuat Santi kesal kemudian meninggalkannnya didalam rumah yang kemudian dikuncinya dari luar. Entah apa yang akan dilakukannya.

***

besok lagi ya

 


Saturday, June 29, 2019

SA'AT HATI BICARA 36

SA'AT HATI BICARA  36

(Tien KUmalasari)

Dita tampak tercengang, bu dokternya yang biasanya penuh perhatian terhadap keluarganya, tak terlihat perduli mendengar Dita menceriterakan musibah yang menimpa ibunya. 

"Dita..," suara Santi dari seberang.

"Ya dok... ya.." 

"Kamu masih disitu? Kamu mendengar aku bicara?"

"Ya.. ya.."

Didekatmu ada siapa? Kalau ada Maruti, atau siapapun yang ada didekatmu, lebih baik kamu menjauh dari mereka, supaya jelas aku bicara, "perintah Santi yang segera dituruti oleh Dita. Ia berdiri dan berjalan agak menjauh dari kakaknya.

"Ya dok, sudah,"

"Sudah jauh? Jangan sampai siapapun mendengar ini. Ini menyangkut keselamatan kamu juga." Kata2 Santi ini sangat mengejutkan Dita.

"Sekelamatan apa dok?" tanyanya heran, tapi juga ketakutan.

"Dengar, tampaknya mas Panji mencurigai kita."

"Apanya dok?"

"Aku dan kamu kan sedang bersandiwara tentang penyakit itu, supaya kamu mendapatkan mas Panji, ya kan? Nah seharian ini dia mencari cari aku. Ia curiga tentang nama dokter yang aku katakan telah memeriksa kamu.Aku tadi pulang dan bersembunyi dirumah, tapi aku sudah mengelabuinya dengan menggembok pintu pagar. Dia sedang mencari cari aku Dit, ini karena aku ingin membantumu mendapatkan mas Panji."

"Oh, kalau begitu nggak jadi saja dok, Dita sedang sedih memikirkan ibu, Dita tak perduli lagi sama mas Panji."

"Enak saja kamu bicara, kamu bilang nggak jadi, tapi aku terlanjur berbohong kepada semua orang. Dan aku takut mas Panji melaporkannya pada polisi."

Dita terkejut, mendadak wajahnya pucat pasi. Polisi? Sungguh menakutkan...

"Ya, polisi, bisa jadi aku ditangkap dan dipenjarakan."

"Tapi bukan aku kan dok?" Dita benar2 ketakutan.

"Ya nggak bisa begitu dong Dit, kamu ikut berbohong, kamu ada didalamnya, jadi kalau aku dipenjara, kamu juga akan dipenjara.."

"Oh.. tidaaak...," Dita berteriak, membuat Maruti menoleh kearahnya.

"Dita, kamu gila ya berteriak keras2 begitu? Dengar, aku serius nih."

"Lal..lu..lallu.. aku harus bagaimana?"

"Kamu harus berusaha supaya mas Panji tidak melapor ke polisi."

"Tta..pi..bagaimana?" 

"Ada apa Dita?" tiba2 Maruti sudah mendekati Dita. Rupanya Santi mendengarnya dan segera menutup pembicaraan itu.

"Hallo," Dita masih ingin bertanya tapi telephone sudah dimatikan.

"Ada apa? Kamu tampak kebingungan begitu.." tanya Maruti yang khawatir melihat sikap adiknya.

"Nggak.. nggak apa2, ini tentang obatku..."

"Belum habis kan?"

"Dia hanya mengingatkan, sudahlah mbak, ayo kembali duduk. Oh ya, aku mau beli minuman dulu ya, haus mbak."

"Biar aku saja yang beli, kamu duduk disini."

"Ya sudah, terserah mbak saja."

Tanpa menunggu jawaban, Maruti bergegas menuju kantin, dan begitu Maruti menjauh, Dita kembali menghubungi Santi, namun telephone itu sudah tidak aktif lagi. Dita mencoba ke nomor yang ada dicatatannya, tapi juga nggak bisa tersambung. Dita kebingungan, apa yang dikatakan Santi sungguh membuatnya takut. Dipenjara? Aduhai, jangan.. jangan sampai.. tempat yang pengap, mungkin bau.. bercampur penjahat2.. makan yang tidak enak, tidur di bawah dengan alas seadanya...dan penjaga yang sangar dan galak... oo.. Tuhan.. ampunilah aku... Dita berlinangan air mata, kali ini bukan karena menangisi ibunya, tapi karena bayangan penjara yang membuatnya sangat ketakutan..

"Salahku... salahku...mengapa aku melakukannya?" dan bayangan pria tampan yang memiliki senyum menarik itu berubah menjadi bayangan hantu yang menakutkan. Hantu itu menyeringai, giginya yang besar2 tampak meneteskan darah, rambutnya berjuntai.. keras dan bau, matanya seperti menyemburkan api.....

"Tidaaaak... ini salahkuu..." Desis Dita, yang kemudian ternyata didengar Maruti yang sudah datang dengan membawa dua botol minuman dingin.

"Dita, jangan selalu menyalahkan diri sendiri. Ini minumnya, minumlah," kata Maruti sambil mengangsurkan botol minuman.

Untunglah Maruti mengira Dita merasa bersalah dalam musibah yang menimpa ibunya. Kalau bayangan penjara dan hantu itu diketahuinya....entah apa yang akan terjadi pada dirinya.  Dita mengusap air matanya, dibukanya botol minuman dan meneguknya hampir setengah dari botol itu.

"Kamu haus ya?" Maruti merasa iba.

***

Namun Dita semalaman nggak bisa tidur, hatinya gelisah bukan alang kepalang. Ia sungguh ketakutan mendengar kata2 Santi bahwa Panji akan melaporkannya ke polisi. Maruti yang merasa iba mengira Dita kesakitan.

"Dita, kamu bawa obatmu kemari?"

Dita menggeleng.

"mBak, bagaimana kalau aku pulang saja?" 

"Ya, nggak apa2 Dit, pulanglah saja. Kamu kan sakit, dan tidak boleh terlambat minum obatnya."

Dita tak menjawab. Dia tak merasa sakit apapun, sakit itu hanya dibuat buat, atas saran dokter Santi. Dita juga tak tau, mengapa dokter Santi membantunya merebut Panji dari Maruti. Pasti bukan karena dia menyayangi dirinya, tidak. Sekarang Dita baru merasa bahwa Santi mengajaknya melakukan suatu kejahatan.

"Ya sudah, pulang saja dulu, besok pagi kalau kamu sudah enakan, kemari bawa ganti baju mbak ya."

Kembali  Dita hanya mengangguk. Hatinya sungguh kacau, ia tak tau harus melakukan apa. Barangkali dirumah bisa lebih tenang. Dita melangkah keluar, diikuti pandangan Maruti yang merasa trenyuh melihat adiknya. Pada pikirnya Dita pasti kesakitan, atau mungkin sangat merasa bersalah atas terjadinya musibah itu.

***

"Kamu pulang dari rumah sakit jam berapa Laras?"

"Ya belum lama, aku langsung kemari. Lama sekali mas Perginya, kemana saja? Aku menunggu sampai ngantuk."

"Aku mencari nama dokter Baroto yang kata Santi menangani penyakit Dita."

"Oh iya, sudah ketemu?"

"Nggak ada nama dokter itu."

"Maksudnya? Belum pulang dari luar negeri?"

"Nggak ada yang namanya Baroto onkolog. Itu hanya karangan Santi saja."

"Lhoh, mengapa dia melakukan itu?"

"Nggak tau aku, aku baru mencari cari dia, tapi tampaknya dia kabur."

"Kabur?"

"Aku akan melaporkannya pada polisi, ini tindakan kriminal. Ini membuat kacau semua orang. Bahkan bu Tarjo terkena musibah juga ada hubungannya dengan kebohongan itu."

"Eit, tunggu..tunggu.. aku tidak mengerti. Mengapa dokter Santi berbohong?"

"Nggak tau aku, aku sedang mencarinya, tapi tampaknya dia kabur. Dia curiga ketika aku bertanya tanya tentang dokter Baroto siang tadi, dia pasti sudah merasa kalau aku mencurigainya."

"Apa ya maksudnya?"

"Aku akan kerumah sakit lagi. Aku harus bertemu Dita untuk menanyakannya."

"Mas, bagaimana kalau besok saja? Ini sudah malam dan mereka masih sedih karena ibunya belum sadarkan diri, kalau mas bertanya tanya tentang Santi apa tidak menambah beban bagi mereka?"

"Iya juga sih...

"Mas bersabarlah dulu, sekarang antarkan aku pulang.Kalau aku pulang sendiri malam2 begini nanti ibu marah sama aku, dikiranya aku keluyuran."

"Salah kamu sendiri, mengapa kemari bukannya langsung pulang."

"Mau ngomong so'al usaha mas itu, tapi ya sudahlah, besok2 kalau semuanya sudah tenang kita bicara lagi."

"Ya, aku belum bisa berfikir juga tentang itu, ayo aku antar, pamit simbok dulu."

***

Hari masih pagi, disekitar rumah sakit masih tampak gelap, suasana sangat sepi karena para penunggu yang berjajar diluar ruang ICU juga masih meringkuk dalam tidur yang lelap. Maruti ingin mengabarkan keadaan Dita. Maruti juga ingin mengabarkan pada Dita bahwa ibunya sudah melewati masa kritis. Semalam sudah sadar, dan Maruti sempat berbicara sebentar karena dokter melarangnya bicara banyak. Tapi ponsel Dita tidak aktif.

"Mungkin Dita masih terlelap," bisik Maruti. Namun sampai remang malam itu menghilang, Dita masih belum bisa dihubungi. Maruti mulai disergap oleh rasa khawatir. Jangan2 Dita kesakitan dan tak seorangpun mengetahuinya. Maruti berpesan kepada perawat yang berjaga agar kalau ada apa2 harap  menghubungi saja nomor ponselnya, karena ia ingin pulang sebentar. Ia masuk keruang ICU dan melihat ibunya masih tertidur. 

Namun sebelum Maruti meninggalkan rumah sakit, pinselnya berdering. Itu nomor asing, ragu2 Maruti mengangkatnya. Namun dering itu tak henti2nya. 

"Hallo.." sapa Maruti.

"Hallo, ini Maruti? Saya pak Karsono, tetangga sebelah.

"Ya pak, ada apa?"

"Pagi tadi kami menemukan nak Dita pingsan didepan rumah."

Maruti terkejut bukan alang kepalang.

***

besok lagi ya

 

 

 


Friday, June 28, 2019

SA'AT HATI BICARA 35

SA'AT HATI BICARA  35

(Tien Kumalasari)

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Agus

"Sebentar Pras, baru aku pikirkan."

Keduanya kembali ketempat duduk. Ketika itu Maruti dan Dita sudah keluar dari ruang perawatan. Wajahnya kusut, bekas2 air mata masih tampak.

"Apa kata dokter?" Laras lah yang bertanya duluan.

"Parah Laras, ibu juga gegar otak karena waktu jatuh kepalanya menimpa lantai dengan keras."jawab Maruti pilu.

"Lalu bagaimana?"

"Ya tetap masih akan dirawat, hari ini juga masuk ICU."

"Ya Tuhanku..." keluh Laras trenyuh.

"Ibu juga belum sadar," lanjut Maruti. Dan Dita yang hanya diam kembali menangis sesenggukan.

"Dita, diamlah, jangan menangis lagi. Berdo'a saja untuk ibu,"

"Aku yang salah, aku yang salah."

"Bukan, ini sudah kehendak Tuhan, tak bisa kita mengingkarinya. Ayo berdo'a saja, ibu pasti akan baik2 saja," Laras terus menerus menghibur Dita.

"Tadi Dita bilang ada simbok, mana dia?"

"Mas Panji menyuruhnya pulang pakai taksi, kasihan simbok kalau kelamaan disini."jawab Laras.

"Laras, kayaknya aku harus pulang dulu, ada yang harus aku selesaikan. Kamu masih mau disini?" tiba2 Panji menyela pembicaraan mereka.

"Ya mas, aku disini menemani Maruti dan Dita."

"Maruti, aku juga mau kembali kekantor dulu. Berkas yang tadi kita bawa tertinggal dirumah makan," kata Agus ketika tiba2 diingatnya map yang tadi dibawanya.

"Oh, iya pak, saya mohon ma'af untuk tidak kembali ke kantor dulu." jawab Maruti.

"Nanti akan aku suruh orang mengantarkan ponselmu kemari,"

"Termakasih," jawab Maruti lalu kembali duduk disamping Dita.

Panji terlihat sedikit lega, melihat sikap Maruti yang tampak tak begitu perhatian sama perginya Agus. Apakah Agus yang mengejarnya? Kemudian terbayang lagi ayunan dengan bocah diatasnya, lalu Panji mengibaskannya, dan berlalu bersama Agus.

Maruti heran melihat sikap Panji,mengapa sedikitpun tak menoleh kearahnya ataupun Dita, dan langsung pergi,  tapi mengingat keadaan ibunya dikibaskannya perasaan itu. Kini mereka sedang menunggu sa'at bu Tarjo dibawa ke ruang ICU.

***

"Jadi nggak ada ya onkolog bernama Baroto dan yang sedang pergi keluar negri?" tanya Panji hampir disetiap rumah sakit yang dikujungi.

Kemarahannya memuncak. Dia tidak tau mengapa Santi mengarang cerita yang menghancurkan hati banyak orang ini.

Mobil Panji melunjur kearah rumah sakit dimana Santi berpraktek. Masih ada dua orang pasien, kemarahan Panji sudah memuncak, tapi dia kasihan kepada pasien yang masih menungguinya, dan pasti sudah lama. Panji duduk dikursi sudut, menjunggu sampai dua pasien tersebut selesai diperiksa. Pikirannya melayang layang kemana mana. Dari apa maksudnya Santi mengarang ceritera, sampai dia hampir saja melamar Dita. Ini sebuah kebodohan, Santi yang membodohi semua orang. Gila benar, apa maksudnya? Panji kembali memijit kepalanya. Bu Tarjo terkena musibah, ini juga ada sambungannya dengan kebohongan Santi. Ini tak bisa didiamkan, dia harus diseret ke pengadilan, Ini kriminal.

Tiba2 ponselnya berdering. Dari Agus.

"Hallo Pras.." jawab Panji. Bagaimanapun Agus telah membantunya berfikir tentang dokter bernama Baroto. Ia harus mengubah sikapnya.

"Bagaimana? Sudah ketemu dengan onkolog itu?"

"Nggak ada, aku sudah memasuki beberapa rumah sakit, nggak ada onkolog itu."

"Lalu mengapa Santi mengarang semua itu?"

"Ini yang sedang aku urus. Aku lagi dirumah sakit tempat Santi berpaktek, masih menunggu satu pasien lagi nih."

"Sebenarnya bagaimana sih cerita selengkapnya, aku tuh tau hanya sepotong2."

Kemudian Panji bercerita tentang semuanya, ketika Dita katanya divonis umurnya paling lama hanya tinggal 6 bulan, sampai kemudian Dita ternyata mencintai Panji lalu Maruti menangis nangis agar Panji mau mencintai Dita, bahkan minta agar mau menikahinya untuk memberikan kebahagiaan di akhir hidupnya, sehingga dia menyanggupinya, tapi belum kesampaian terjadi musibah dirumah Maruti ketika Panji sedang berniyat melamarnya.

Agus termenung mendengarnya. Apakah Santi sejahat itu? Apa maksudnya?

"Mau aku temani?" akhirnya kata Agus.

"Nggak.. nggak usah, dan ma'af sebelumnya, kayaknya aku mau menyeret bekas isterimu ke pengadilan."

"Ya Tuhan.. sampai begitu?"

"Pras, ini tindakan kriminal. Karena tindakannya aku nyaris menikahi Dita karena tangis Maruti, dan bu Tarjo mengalami musibah yang tidak ringan. Ini karena perbuatannya Pras."

"Yah, mau bagaimana lagi. Dia memang keterlaluan. Aku akan mendukungmu Panji."

Panji menutup telephonnya karena pasien terakhir sudah keluar. Panji langsung memasuki ruangan Santi, tapi begitu membuka pintu, bukan Santi yang ada didalam. Panji tertegun.

"Mau periksa?" Tanya dokter itu. 

"Oh, bukan, saya kita dokter Santi yang praktek." kata Panji 

"Dokter Santi ijin buru2, katanya ada keperluan mendesak,saya dokter Nita, tapi kalau bapak mau periksa, barangkali saya bisa membantu."

"Tidak, bukan mau periksa, baiklah, ma'af." 

Panji berlalu dengan perasaan tak menentu.

Dipacunya mobil kearah rumah Santi. Pasti dia sedang ada dirumah. Mengapa harus pamit buru2? Apakah dia bersembunyi karena merasa bahwa aku mencurigainya?

Mobil Panji berhenti didepan rumah mungil yang didiami Santi. Tapi pintu pagar tertutup dengan gembok. Tak ada mobil didalam pekarangan, dan kelihatannya memang rumah itu kosong. Panji masih duduk dibelakang kemudi, Dia ingin menelpon, tapi tadi dia meminjam ponsel Agus. Sehingga ia harus menanyakannya pada Agus.

"Hallo Pras," sapanya.

"Bagaimana? Jawab Agus dari seberang sana.

"Nggak ada dia, ini aku didepan rumahnya. tadi aku sudah ke rumah sakit, tapi setelah lama  menunggu ternyata yang paktek bukan dia, katanya pamit buru2. Aku kira pulang kerumah, ternyata tidak.""

"Waduh, mungkinkah dia melarikan diri?"

"Pras, tolong aku minta nomer tilponnya Santi ya."

"Oke, tunggu aku SMS kan ya.."

Panji sudah menerima nomor Santi, dan segera ditelponnya, tapi telponnya mati. Tak ada suara Santi kecuali operator yang memberitahukan bahwa telpon yang dia panggil sedang tidak aktif.

Kecurigaan Panji memuncak. Dia sedang berfikir akan apa yang harus dilakukannya. Tadinya ia ingin berbicara dulu karena ingin tau apa maksudnya, tapi karena tampaknya dia menghindar, tak ada cara lain kecuali melaporkannya pada yang berwajib.

***

Sementara itu setelah mendapat keterangan dari Panji tentang kejahatan Santi, lalu Panji mengatakan bahwa ia ingin menikahi Santi karena penyakit Santi, tiba2 dia teringat kata2 Santi waktu tiba2 datang ke kantornya. Santi bilang, kalau memang tertarik pada Maruti, ada peluang kok, karena Panji justru suka pada adiknya. Mengapa Santi mengatakan itu? Pikir Agus. Tiba2 saja harapan untuk memiliki Maruti lepas dari angan2nya. Kalau semuanya terbongkar, tak mungkin Panji mau menikahi Dita, dan pasti balik pada Maruti.

"Papaaaaa..." teriakan melengking itu mengejutkannya, karena Sasa tiba2 sudah ada didepannya, ketika Endang si perawat membukakan pintu ruangannya.

"Sasa? Kok sudah sampai disini ?"

"Iya, kan mau ajak tante Maruti jalan2. Mana tante Maruti?" tanya Sasa sammbil memandang sekeliling. Karena diluar tidak ada, Sasa mengira Maruti ada diruangan papanya.

"Tante Maruti lagi nggak masuk Sasa," jawab Agus sambil menahan kekecewaan dihatinya. 

"Tante Maruti sakit?"

"Ibunya yang sakit, jadi tante Maruti harus menungguinya dirumah sakit."

"Kalau begitu ayo kita kesana pa.."

"Kerumah sakit?" tanya Agus, dan Sasa mengangguk angguk.

"Tidak boleh anak kecil yang sehat masuk kerumah sakit."

"Kenapa papa?"

"Dirumah sakit itu kan banyak orang sakit, jadi banyak penyakit disana. Itu sebabnya anak kecil dilarang kesana, karena penyakit itu bisa menular."

"Kenapa tante Maruti juga kesana, bagaimana kalau tertular juga?"

"Kalau sudah besar itu, badannya sudah kuat, jadi tidak gampang tertular penyakit. Sekarang papa mau siap2 dulu dan kita jalan2 ya."

"Nggak mau, kita pulang aja, jalan2nya nunggu tante Maruti aja."

Waduh, Agus benar2 bingung, bagaimana kalau Sasa terlanjur suka sama Maruti dan selalu minta agar Maruti bersamanya?

***

Maruti dan Dita masih menunggui ibunya dirumah sakit. Sedih melihat ibunya belum juga sadarkan diri, sementara separo tubuhnya terbalut perban, dan selang2 infus bergelantungan disekitar tubuhnya.

"Ibu akan selamat kan mbak?" rengek Dita memelas.

"Tentu Dita, teruslah berdo'a untuk ibu." hibur Maruti sambil mengelus kepala adiknya.

"Dita sangat menyesal mbak, itu salah Dita.."

"Jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri Dita, sudahlah, yang harus kita lakukan sekarang adalah berdo'a."

Tiba2 ponsel Dita berdering.

"Dari siapa nih mbak, nggak ada namanya," kata Dita yang merasa ragu2.

"Mungkin dari temanmu yang menanyakan keadaan ibu, angkat saja Dit."

"Tapi Dita nggak kenal nomornya."

"Barangkali ada yang perlu, kalau bukan siapa2 atau telepon itu mengganggumu, boleh langsung ditutup."

"Hallo.." kata Dita sambil mengangguk.

"Ini kamu Dita? Nggak kenal suaraku lagi?"

"Oh, dokter Santi. Nggak tau, soalnya nomernya ganti. Dokter, ini aku lagi dirumah sakit, ibu kena tumpahan sayur panas, dan itu parah."

"Oh, ya sudahlah, aku ikut prihatin, tapi dengar, ada yang ingin aku katakan dan itu penting."

***

besok lagi ya, Maruti ngantuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


SA'AT HATI BICARA 34

SA'AT HATI BICARA  34

(Tien Kumalasari)

"Tunggu Maruti, aku akan mengantarmu," Agus berlari lari mengejar Maruti, dan begitu dekat Agus segera meraih lengannya untuk menahannya terus melangkah.

"Ibuku mas, tersiram air panas.. " isak Maruti

"Ya.. ya, aku antar kamu."

Maruti tak bisa menolak, pikirannya kacau, air matanya bercucuran sepanjang perjalanan.

"Tenangkan hatimu Ruti, kalau sudah dirumah sakit berarti sudah ada penanganan yang bagus. Sudah, jangan menangis lagi," kata Agus sambil mengangsurkan tisu yang selalu tersedia dimobilnya.

"Pasti mereka mengabari saya dan saya tidak tau karena hape saya tertinggal dikantor," sesal Maruti.

"Nanti aku akan suruhan pesuruh kantor mengantarnya kerumah sakit. Sekarang tenangkan hatimu."

Begitu berhenti di area parkir rumah sakit itu Maruti segera berlari  lari kecil masuk kedalam. Katanya ibunya masih di ruang UGD. Agus kembali mengejarnya, dan menggandeng tangannya sampai kemudian tiba didepan  ruang UGD.

Sa'at itu Panji masih disana, duduk bersebelahan dengan Dita yang juga terus menangis. Ketika dilihatnya Maruti datang bergandengan tangan dengan Agus, meluaplah kembali rasa cemburu Panji.Dia mebuang muka, tak tahan melihatnya, sementara Dita begitu melihat Maruti segera berlari menubruknya.

"mBak, aku yang salah mbak, aku yang salah... ma'afkan aku mbak," tangis Dita.

"Mana ibu? Mana ibu, Dita?" tanya Maruti.

"Masih didalam, kita belum bisa masuk. Ibu pingsan dan belum sadar."

"Bagaimana ini bisa terjadi Dita?" tanya Maruti yang juga bercucuran air mata.

"Aku yang salah mbak.."

"Kamu menumpahkan sayur itu dan mengenai ibu?"

"Bukan, aku tergesa gesa menyuruh ibu keluar karena ada mas Panji dan mbak Laras, juga simbok. Mungkin ibu kemudian menjadi gugup, lalu menumpahkan sayur panas itu. Aku yang salah.. aku yang salaah.."

"Ya, sudahlah Dita, jangan disesali, mari kita berdo'a demi kesembuhan ibu ya," Maruti menuntun Dita untuk duduk dikursi tunggu.

Sementara itu Panji pura2 mempermainkan ponselnya, seperti sedang berbicara dengan seseorang. Agus yang datang mendekatinya diacuhkan begitu saja. Justru Laras yang lebih dulu mendekati Agus dan menyalaminya.

"Terimakasih telah mengantar Maruti, mas," sapa Laras.

"Kebetulan kami sedang ada diluar, dan ponsel Maruti tertinggal dikantor, jadi nggak bisa langsung mendengar ada kejadian seperti ini."

"Oh, pantas ditelponin nggak nyambung2."

"Ketika itu tiba2 dia ingin menghubungi Dita, kemudian aku pinjamkan ponsel aku, lalu baru dia mengetahui ada kejadian seperti ini. Bagaimana keadaan bu Tarjo?"

"Sangat parah mas, dari perut sampai ke kaki, melepuh."

"Ya Tuhan.. " desis Agus prihatin.

"Panji, dari tadi asyik saja," tiba2 Agus mendekati Panji yang masik asyik dengan ponselnya.

"Oh, iya Pras, sebentar, lagi menghubungi orang kantor." jawab Panji tanpa melepaskan ponselnya.

"Duduklah mas," Laras mempersilahkan.

"Terimakasih," jawab Agus sambil melirik kearah Panji. Agak aneh melihat sikapnya kali itu.

Beberapa jam kemudian seorang perawat keluar.

Maruti dan Dita berdiri dan mengahampiri dengan hati berdebar.

"Mana yang keluarganya bu Tarjo?"

"Saya anaknya," jawab Maruti dan Dita bersamaan.

"Dokter Baroto ingin bertemu. Silahkan masuk."

Maruti dan Dita masuk kedalam mengikuti perawat itu.

Tiba2 Panji yang mendengar bahwa dokter yang menangani bu Tarjo bernama Baroto, kemudian menghentikan kegiatannya memainkan ponselnya yang entah benar atau tidak..sedang menghubungi orang kantor atau barangkali sedang menghindari berbicara dengan Agus. Dilihatnya perawat itu masuk diikuti Maruti dan Dita. 

Panji segera berdiri dan berjalan menuju kearah perawat jaga. Ada dua orang perawat yang duduk disana.

"Kemana Panji?"

"Sebentar, mau menemui perawat itu." Jawab Panji tanpa menghentikan langkahnya. Agus yang penasaran mengikutinya dari belakang.

"Selamat siang suster," sapa Panji.

"Siang mas, ada yang bisa kami bantu?" Perawat itu menjawab.

"Mau tanya mbak, dokter Baroto itu ahli ongkologi?"

"Bukan mas, dia dokter bedah."

"Ada lagi Baroto, dokter anak, tapi dia nggak prakter disini," sahut perawat yang satunya.

Panji termangu ditempatnya berdiri.

"Ada apa ya mas?"

"Adakah nama dokter Baroto ongkolog?"

"Kayaknya nggak ada tuh kalau dirumah sakit ini, nggak tau kalau ditempat lain. Tapi selama saya bekerja kok belum pernah dengar nama Baroto ongkologi. Biasanya dokter2 ahli kan dikenal oleh hampir semua rumah sakit."

"Oh, gitu ya," Panji masih termangu.

"Dimana mas mengenal nama itu?"

"Mm.. seorang teman," jawab Panji sekenanya.

"Ooh, coba aja tanya  teman mas itu, beliaunya praktek dimana..gitu," saran perawat.

"Baiklah, terimakasih."

Ketika Panji membalikkan badan, hampir saja dia bertabrakan dengan Agus yang ternyata mengikutinya dan kemudian berdiri dibelakangnya.

"Oh, ma'af Pras."

"Ada apa dengan dokter Baroto? Aku kenal nama itu." kata Agus tiba2.

"Kamu tau? Dia ongkolog?"

"Bukan, dia dokter kulit,, dokternya Sasa anakku.Dia tuh sering gatel2 gitu, alergi "

Panji menghela nafas kecewa.

"Ada apa sebenarnya?"

"Yang menangani penyakit Dita namanya Baroto, katanya dokter onkologi. dan katanya lagi sedang ada diluar negeri."

"Kalau dia dokter ahli pasti semua rumah sakit mengenalinya. Tapi nggak tau juga, siapa yang kasih tau nama itu.?"

"Santi."

"Santi? Coba kamu tanya sekali lagi sama dia, mungkin dia salah ucap, atau kamu yang salah dengar, ma'af, sebaiknya kamu tanya dia sekali lagi."

"Aku akan telepone saja sekarang. Kalau jawaban kurang memuaskan akan aku temui dia."

"Ya, lebih baik begitu."

Tapi Panji nggak pernah lagi menyimpan nomor ponsel Santi. Waktu Dita memintanya untuk menelpon, Dita yang kasih nomornya dan Panji tidak menyimpannya.

"Aku punya nomornya Santi, sebentar," kata Agus yang kemudian mengangsurkan ponselnya setelah menemukan nomor bekas isterinya.

"Aku langsung menelpon dari sini ya?"

"Silahkan, nggak apa2."

"Hallo, ada apa siang2 begini telpon aku, kangen ya?" suara Santi dari seberang sana.

"Aku Panji,"

"Oh, ya ampuun .. mas, ada apa? Nyatanya suatu hari kamu juga kangen sama aku kan?" jawab Santi renyah seperti kerupuk baru digoreng.

"Aku mau nanya, dokter Baroto sudah kembali?"

"Oalah mas, masih mau nemuin dokter Baroto ya, tapi sayangnya belum kembali, dan aku juga belum menemukan kontaknya. Dia itu disana mengikuti seminar apa.. gitu lho, undangannya ditunjukin ke aku kok."

"Dia itu praktek dimana?"

"Lha ya nggak praktek mas, kan keluar negeri."

"Maksudku kalau nggak pergi, prakteknya dimana? "

"Ya di banyak rumah sakit mas, tapi sekarang lagi nggak ada."

"Alamat rumahnya?"

"Lha mas mau apa pake nanyain alamatnya segala. Kesanapun juga nggak akan ketemu, dan aku nggak tau persis, coba nanti aku tanyakan barangkali ada yang tau."

Pembicaraan ditutup oleh Panji tiba2. Jawaban Santi cukup membuatnya curiga. Di banyak rumah sakit, kenapa rumah sakit dimana bu Tarjo dirawat nggak tau. Ditanya alamatnya juga nggak tau. Panji mengangsurkan ponselnya kepada Agus.

"Terimakasih Pras."

"Apa katanya?"

"Lagi keluar negeri katanya, tapi katanya dia praktek dibanyak rumah sakit, kenapa disini yang rumah sakit besar nggak tau?"

"Alamat rumahnya?"

"Dia juga bilang nggak tau, mau ditanyakan dulu katanya."

"Aneh,"

"Memang aneh. "

***

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 016

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  016 (Tien Kumalasari)   Rumi masih menunggu reaksi sang nyonya majikan sambil memonyongkan mu...