Tuesday, October 6, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 24

 DARAH, CINTA DAN AIR MATA  24

(Tien Kumalasari)

 

Dengan geram Bowo meninggalkan loket itu. Ia bergegas mencari Sarah. Sakit sekali hatinya, ketika kebaikan yang ditanamnya dengan sangat rapi dan hati-hati, di campakkannya bagai sampah tak berguna.

Ia pergi ke ruang rawat nenek Suli, bermaksud menegur perlakuan Sarah yang dianggapnya merendahkan dirinya.

Hari masih pagi, tapi sudah banyak antrean pasien di setiap klinik dengan bagian masing-masing. Bowo melangkah dengan hati terbakar ganas. Ia harus tahu siapa yang membayar biaya nenek Suli sehingga Sarah mengembalikan uangnya dengan semena-mena. Namanya Fajar. Siapa dia?

Tak peduli nanti nenek Suli akan memaki-makinya, Bowo akan nekat masuk ke dalam. Tapi ia terkejut. Di pintu ia melihat dokter Harun baru saja keluar dari ruangan nenek Suli.

“Bowo?” sapanya heran. Ia juga melihat amarah yang membakar wajah keponakannya.

“Om,” sapanya kemudian dengan ragu.

“Ada apa? Kamu kelihatan marah? Kamu mencari Sarah? Dia tidak ada. Kata neneknya dia masuk sekolah hari ini.”

“Saya ingin mengamuk Om.”

“Hei, ini rumah sakit. Jangan membuat kegaduhan. Ayo ke ruanganku dan bicara,” kata dokter Harun sambil melangkah ke ruangannya, diiringi perawat pembantunya. 

Bowo terpaksa mengikutinya, dengan meredam kemarahan yang tak akan tersalurkan karena Sarah ternyata tidak ada.

***

“Duduklah,” kata dokter Harun setelah perawat itu pergi.

Bowo duduk, ia tak tahu harus mengatakan apa. Dadanya masih terasa sedikit sesak karena pelampiasan amarah yang tertunda.

“Sedikit banyak aku sudah tahu bagaimana kelakuan kamu terhadap para gadis di sekitar tempat kita. Dan kalau tampaknya nenek Suli membenci kamu, aku kira itu wajar. Ia juga pasti sudah mendengar sepak terjang kamu, lalu ia tidak suka ketika kamu berusaha mendekati Sarah. Ya kan?”

“Tidak persis seperti itu Om.”

“Tidak persis? Lebih kurangnya benar kan?”

“Ibu yang membuat nenek Suli marah pada saya.”

“Ibumu?”

“Om kan tahu sendiri bagaimana ibu. Ia menghina nenek Suli, dan membuat nenek Suli marah sehingga Bowo ikut-ikutan dibenci.”

“Jadi bukan karena kelakuan kamu terhadap Sarah?”

“Bowo memang pernah membuat Sarah kesal, Bowo sangat menyesal, dan ingin menebusnya dengan berbuat baik pada dia. Itu sebabnya saya minta Om datang ke rumah nenek Suli dan memeriksa sakitnya.”

“Kamu menyukai Sarah?”

“Sangat, Ia berbeda dengan gadis-gadis yang Bowo dekati, yang menyukai Bowo karena Bowo punya uang. Tapi Sarah tidak. Ia bergeming dengan segala iming-iming yang Bowo punya. Itu membuat Bowo semakin mencintainya. Jarang gadis sebaik Sarah.”

“Bukankah Sarah masih sekolah?”

“Iya sih, tapi Bowo akan menunggu sampai dia selesai dan siap menjadi istri.”

"Tapi kamu kelihatan sedang marah ketika mau memasuki ruang rawat nenek Suli. Dan kamu tidak sadar bahwa nenek Suli sedang dirawat dan butuh ketenangan.”

“Saya sangat marah. Memang Om.”

“Marah pada Sarah? Karena dia tetap menolak kamu walau kamu sudah habis-habisan membayar semua biaya untuk nenek Suli?”

“Kemarin Sarah mengembalikan semua uang yang sudah saya bayarkan ke bagian administrasi.”

“Mungkin dia tidak ingin merepotkan kamu, lalu mencari uang untuk mengembalikan uangmu. Mengapa kamu marah?”

“Ada orang bernama Fajar yang sudah membayarnya. Karena itulah Sarah mengembalikan uang saya. Apa itu tidak menyakitkan?”

Dokter Harun tersenyum.

“Fajar itu saingan kamu?”

“Saya tidak tahu dia siapa, tapi yang membuat saya sakit adalah Sarah menerima kebaikannya tapi menolak kebaikan saya.”

“Mengapa kamu harus sakit? Orang jatuh cinta itu harus bersiap untuk patah hati. Kamu tak perlu sakit hati. Mungkin Sarah tak mau lebih merepotkan kamu.”

“ Dan dia memilih merepotkan orang lain?”

“Barangkali iya. Dengan pertimbangan yang kamu pastinya tidak tahu.”

“Om tidak merasakan, itu sebabnya Om bisa bicara dengan sangat enteng.”

Dokter Harun tertawa. Sebenarnya Bowo adalah keponakan yang disayanginya, karena bu Lurah adalah kakak kandungnya. Tapi dia tidak suka pada kesombongan keluarga kakaknya itu. Ia juga tidak suka pada kelakuan Bowo yang suka mempermainkan perempuan.

Sekarang ini, melihat Bowo benar-benar patah hati, runtuhlah rasa iba dihatinya.

“Bowo, tidak semua orang yang jatuh cinta itu harus memilikinya. Banyak hal yang membuat orang gagal bersanding dengan orang yang dicintainya. Perbedaan status, karena selingkuh, atau entah apa lagi penyebabnya. Dan kenapa, karena memang mereka tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Tak ada yang bisa menolak takdir. Dan kamu tak bisa juga memaksakan kehendak.”

“Sebenarnya Bowo tidak ingin memaksakan kehendak. Bowo sedang berusaha memperbaiki hubungan yang tadinya sikap Bowo membuatnya sakit hati.”

“Dan sebuah perjuangan itu tidak harus membuahkan hasil. Kalau berhasil, syukurilah, kalau tidak ya terimalah. Kalau kamu marah, hanya akan membuat hubungan kamu dan dia semakin merenggang. Cobalah bisa menerima itu dengan lapang dada, dan tunjukkan sikap baik kamu walau perlakuannya menyakitkan kamu. Nanti dia akan merubah sikapnya terhadap kamu, dan menganggap kamu benar-benar orang baik.”

Bowo terdiam. Om dokter ini lebih bisa berpikir arif daripada ibunya yang terlalu menyombongkan kekayaannya, dan nyatanya perkataan sang paman lebih bisa menyerap di hatinya.

“Sekarang pulanglah. Om sudah ditunggu banyak pasien. Tadi om menyempatkan ke ruang nenek Suli karena semalam katanya nenek Suli tidak bisa tidur. Tapi tampaknya sekarang keadaannya sudah membaik.”

***

Ketika Bowo keluar dari rumah sakit dengan perasaan yang lebih lapang, tanpa diduga ia melihat ibunya.

“Mengapa Ibu kembali ke rumah sakit?”

“Obat yang kemarin diberikan dokter itu tidak cocok. Kepalaku malah pusing dan aku diare sejak semalam. Aku cari kamu di rumah kamu, agar bisa mengantarkan lagi kemari, katanya kamu pergi sejak pagi. Rupanya kamu datang kemari. Apa yang kamu lakukan? O, ya … aku tahu, jangan-jangan cucu nenek Suli itu masih ada di sini ya, menunggui seseorang yang entah siapa. Iya kan?”

“Aku menemui om Harun tadi, kepalaku pusing sejak semalam.”

“Mengapa tidak pulang ke rumah ibu saja?”

“Tidak apa-apa. Sekarang sudah baikan. Ibu mau ketemu om Harun?”

“Iya, aku tidak mau diperiksa dokter yang kemarin.”

“Pasien om Harun banyak. Ibu harus ngantre.”

“Apa? Aku kan kakaknya dia, masa harus mengantre? Tidak mau, bagaimanapun aku harus masuk lebih dulu. Masa iya adikku dokter lalu aku tidak mendapat perlakuan istimewa.”

“Ya sudah, Bowo pergi dulu saja, tadi meninggalkan pekerjaan,” kata Bowo yang kesal pada sikap ibunya.

***

Pak Pranoto baru saja selesai mengadakan rapat dengan para stafnya ketika tiba-tiba Mentari muncul di depannya.

“Mentari, kamu kenapa kemari? Tidak sekolah?”

“Ban bocor, baru Mentari suruh nambal. Daripada nunggu aku jalan saja ke kantor Bapak.”

“Mau diantar pulang duluan? Motormu ada di mana, biar nanti diambil sopir.”

“Bapak pulangnya masih lama?”

“Ya masih. Masih banyak yang harus bapak kerjakan. Bapak panggil sopir biar mengantarkan kamu ya.”

“Ya sudah, terserah Bapak saja.”

Mentari keluar dari ruangan ketika sang ayah memanggil sopir untuk mengantarkannya pulang. Tapi tiba-tiba ia melihat seseorang.

“Heiii! Kamu?” teriaknya.

Yang diteriaki menoleh, dan dengan heran ia melihatnya.

“Bukankah dia gadis yang bersama mas Fajar dan memborong koran dagangan Sarah?” gumamnya pelan.

“Rupanya kamu bekerja di sni?”

“Ini teman Sarah kan?”

“Iya. Kok kamu bekerja di sini?”

“Memang iya. Ah, iya, saya lupa, maaf. Kan mbak ini adiknya mas Fajar?”

“Syukurlah kalau kamu masih ingat.””

“Maaf, kalau saya kurang hormat, kan Mbak inii putri pimpinan di kantor ini.”

“Tidak apa-apa, anggap saja kita berteman.”

“Mentari, kamu gimana sih? Ditunggu sopir di depan tuh.” teriak sang ayah di luar pintu kantornya.

“Iya Pak, saya heran ada Bimo di sini.”

“Kamu kenal Bimo?”

“Dia pacarnya Sarah, teman sekolah Mentari.”

“Eh, bukan,” Bimo buru-buru  menyela, membuat Mentari tertawa.

“Aku hanya bercanda. Sudah dulu ya,” katanya sambil melambaikan tangan ke arah Bimo.

“Kok aku berdebar ya?” kata batin Bimo memarahi dirinya sendiri, yang gampang tertarik perempuan cantik. Sarah, apa Mentari? Jangan gila, Mentari itu anak pak bos ya. Mimpi saja sana,” kata batinnya sambil memasuki ruang kerjanya.

***

 Besok lagi ya.

14 comments:

  1. Alhamdulillah, telah tayang...
    Sehat selalu bunda,,,aamiin.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah yang ditunggu sdh tayang, CeDeDeAaeM_24.
    Matur nuwun Dhe, sehat terus dan terus sehat.
    Salam SEROJA dan tetap ADUHAI.
    πŸ€πŸ€πŸ™❤️

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga
    Salam aduhai hai

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 24 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  5. πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_24
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien ❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah cerbung kesayangan telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ˜πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah.... Terimakasih bunda Tien, sehat selalu dan bahagia bunda Tien sekeluarga🀲🀲

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah cerbung DC&AM sudah tayang,
    Terima kasih bunda, Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🀲

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~24 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 24

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  24 (Tien Kumalasari)   Dengan geram Bowo meninggalkan loket itu. Ia bergegas mencari Sarah. Sakit sekali hatiny...