Wednesday, September 30, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 19

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  19

(Tien Kumalasari)

 

Fajar menunggu di mobil sementara pak Manan tampak melongok ke sana kemari.

“Benar-benar tidak ada Pak,” kata pak Manan setelah kembali ke mobil.

“Tidak ada yang bisa ditanya ya.”

“Rumah ini terpencil, agak di sebelah sana perkampungan. Apakah pak Fajar ingin menunggu?”

“Sampai kapan? Kita tidak tahu dia ke mana.”

“Kemarin kan istrinya sakit. Barangkali sedang membawa istrinya berobat.”

“Mungkin juga ya.”

“Lalu kita akan mencarinya?”

“Tidak usah, kita langsung pulang saja, soalnya kalau mencari tidak tahu tempatnya, kalau menunggu tidak tahu akan berapa lama.”

“Baiklah kalau begitu.”

Pak Manan membawa mobilnya keluar dari gang sempit itu, lalu menuju pulang seperti perintah majikan mudanya.

Tapi dalam perjalanan itu, Fajar tampak masih memikirkannya.

“Ke mana ya mereka?”

Pak Manan menoleh ke arah majikannya, yang tampak masih memikirkan pak Karimun dan istrinya. Ia heran sang majikan muda tiba-tiba sangat peduli kepada orang yang baru dikenalnya. Bukankah dia sudah menolongnya, sudah memberinya uang yang lumayan banyak, sudah memberi sembako untuk keperluan hidupnya. Apa itu belum cukup?

“Entah mengapa, saya kok terus memikirkan mereka,” gumam Fajar.

“Saya juga berpikir demikian tentang Bapak. Mengapa pak Fajar begitu peduli, sementara tadi sudah menolongnya, dan memberi uang dan bahan makanan.”

“Heran ya?”

“Sangat heran.”

“Mungkin karena aku sangat kasihan.”

“Banyak orang hidup berkekurangan Pak. Bapak juga sudah sering membantu, tapi perlakuan Bapak terhadap pak Karimun sangat berbeda.”

Fajar menghela napas panjang. Seperti mimpi ketika tiba-tiba berhenti dan membawa seorang korban kecelakaan di tepi jalan ke rumah sakit, dan memberikan banyak hal. Mengapa dia melakukannya?

***

Pagi hari itu Bimo dipanggil ke bagian kepegawaian. Sangat tidak diduga ketika tiba-tiba dia dipindahkan tugasnya, bukan lagi menjadi OB tapi diperbantukan di bagian gudang. Apakah itu ada hubungannya ketika kemarin pak Pranoto memanggilnya dan menanyakan tentang keluarga dan kehidupannya? Mengapa tiba-tiba sang pimpinan mengangkat derajatnya dari seorang OB menjadi pegawai gudang?

Hal itu terjawab ketika tiba-tiba Fajar yang baru datang siang itu mencarinya setelah menghadap ayahnya.

“Bagaimana Bimo, kamu lebih senang di sini?” tanya Fajar.

"Jadi Mas Fajar yang meminta agar saya dipindahkan ke bagian ini?”

Fajar hanya tertawa.

“Aku bukan petinggi di sini. Bukankah pak Pranoto yang punya kuasa?”

Bimo tersenyum.

“Apapun itu, kedudukan saya dipindahkan setelah mas Fajar datang kemari. Terima kasih banyak ya.”

“Kok terima kasih padaku?"

“Pokoknya terima kasih.”

“Ya sudah, lanjutkan tugas kamu.”

”Saya masih harus belajar Mas. Banyak belajar.”

“Belajar itu bagus. Kalau kamu banyak belajar maka kamu akan menjadi pintar. Yuk, aku pergi dulu, kantorku bukan di sini,” kata Fajar sambil menepuk bahu Bimo.

***

Sepeninggal Fajar banyak orang berbincang tentang kemiripan Bimo dan putra mahkota perusahaan pak Pranoto.

“Bukan mirip. Itu persis,” kata salah satu dari mereka.

“Mereka seperti kembar.”

“Yang tidak sama adalah nasibnya.”

“Benar, yang satu direktur muda, satunya pegawai gudang.”

“Itupun baru hari ini, tadinya bimo hanya OB. Mungkin karena wajahnya mirip itu maka dari OB lalu dipindahkan ke gudang.”

“Ya, kamu betul.”

“Ini sebuah keberuntungan bagi Bimo.”

“Tapi Bimo itu baik. Ia tidak bersikap sombong walau kedudukannya berubah.”

“Sejak pertama kali datang dia memang sudah baik.”

“Benar. Ia baik kepada siapa saja.”

Bimo bukan tak tahu ia sering diperbincangkan. Tapi ia tak mempedulikannya. Ia selalu bersikap baik dan teman-menanya menganggap dia teramat santun. Kedudukannya yang berubah sama sekali tidak membuatnya bersikap sombong.

***

Pak Pranoto kembali menegur Fajar atas keterlambatannya datang, dan sekali lagi Fajar mengatakan bahwa ia harus menolong seseorang yang terluka di pinggir jalan.

“Kamu itu terlalu baik, sehingga mengabaikan kepentingan kamu sendiri,” tegur sang ayah.

“Bukankah menolong orang adalah perbuatan mulia?”

“Kamu kan bisa, memanggil ambulans atau polisi, biar mereka yang mengurusnya.”

“Orangnya aneh, tidak mau ada yang lapor polisi. Walau dia korban tabrak lari.”

“Mengapa tidak mau? Jangan-jangan dia penjahat, takut bertemu polisi.”

“Bukan Pak, dia bilang takut bukan karena dia penjahat, tapi karena yang bersalah itu dia, sehingga tertabrak sepeda motor.”

“Itu kan menjadi urusan polisi?”

“Justru itu, dengan lugunya dia bilang, dia tidak mau lapor polisi, takut dipenjara, karena dia yang bersalah, karena menyeberang tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan.”

Pak Pranoto tersenyum.

“Lalu kamu mengurusnya sampai selesai? Pantesan terlambatnya lama.”

Tidak, setelah sampai di rumah sakit, pak Manan Fajar minta mengantarkan saya ke kantor, lalu selanjutnya pak Mananlah yang mengurus si korban.”

“Ya sudah, lain kali kalau melakukan sesuatu harus dengan perhitungan. Bukan apa-apanya, tapi waktunya. Dalam bekerja, waktu itu sangat penting. Sebuah keterlambatan bisa membuat sebuah transaksi bisnis bisa gagal.”

“Iya Pak, maaf. Tapi entah mengapa, Fajar kasihan sekali pada orang itu.”

“Kamu kan sudah menolongnya? Kamu bayar rumah sakitnya?”

“Iya.”

“Kamu beri dia uang?”

“Iya.”

“Ya sudah, mau apa lagi?”

“Entahlah, kasihan saja pada kehidupannya. Rumahnya berdinding bambu, atap rumbai, alasnya dari tanah.”

Pak Pranoto tertawa melihat sang putra.

“Fajar, ada apa kamu ini ? Banyak orang yang tidak punya di dunia ini, dan kita, sudah melakukan banyak hal untuk mereka.. Kamu bawa rasa kasihan kamu sampai ke rumah sementara kamu sudah berusaha membantunya.”

“Fajar juga tidak tahu.”

“Lupakan saja, dan sekarang kembalilah ke kantor, walau hanya sebentar saja. Kalau capek kamu bisa pulang lebih awal kan?”

***

Fajar langsung ke kantornya sendiri dan melakukan tugasnya seperti biasa. Memeriksa laporan, mencermati setiap langkah kemajuan dari perusahaan yang dipimpinnya. Pak Pranoto sangat bangga kepada anak laki-lakinya, dan itu sebabnya ia mempercayakan salah satu usahanya kepada Fajar.

***

Sore hari itu Sarah seperti biasa menjajakan korannya. Tapi matanya terus mencari-cari. Ada mobil yang sangat dikenalnya, dengan pengendara yang gagah dan tampan, yang diharapkan lewat disore itu dan membeli korannya. Bukan uangnya, tapi entah mengapa, senang saja melihatnya datang.

Korannya tinggal beberapa lagi. Ia akan segera pulang karena tadi sang nenek mengatakan bahwa kurang enak badan.

“Sarah!”

Sarah tersenyum, ia melihat Bimo melenggang dari kejauhan.

“Belum pulang Sar?”

“Hampir Mas.”

“Iya, ini sudah sore. Korannya masih ada?”

“Tinggal beberapa.”

“Sini aku bantu, nah … itu pas lampu merah.”

Keduanya bergegas ke jalan. Masing-masing laku satu, tapi mereka tampak senang.

“Hanya satu Sar?”

“Tidak apa, rejeki itu ada takarannya. Kalau dikasih satu ya tidak apa-apa, kalau dikasih banyak ya alhamdulilah.”

“Apa kamu mau mengembalikan sisanya ke agen sekarang?”

"Iya sih, sudah sore,” katanya sambil menatap ke arah jalan. Yang ditunggunya belum kelihatan, tapi ia ingin segera pulang.

“Ya sudah, daripada kesorean lebih baik pulang saja Sar. Sebenarnya aku ingin cerita, sejak kemarin belum jadi. Besok saja ceritanya ya.”

Sarah mengangguk, tapi ia menoleh ke arah jalan. Dan yang ditunggunya muncul. Wajah Sarah tampak bersinar. Setengah berlari ia mendekati mobil yang mendekat.

Bimo menangkap wajah berseri itu dan tiba-tiba merasa dadanya sakit. Ternyata yang dtunggu Sarah bukan dirinya.

***

Besok lagi ya.

16 comments:

  1. Terima jasih mBak Yien....
    Melihat gelagatnya aku punya praduga bahwa Bimo dan Fajar, putra pa tua Karimun yang ditolong Fajar.
    Ngarep@kepo.com

    ReplyDelete
  2. Suwun mb Tien, smg sht sll πŸ™

    ReplyDelete
  3. 🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung DeCeDeAaeM_19
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah "Darah, Cinta dan Air Mata 19" sdh tayang. Matur nuwun & sugeng dalu Bu TienπŸ™

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 19 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah .
    Udah terbit cerbung Darah Cinta dan Air Mata yang ke 19.
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~19 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah maturnuwun bu Tien , ceebung kesayangan sampun tayang .. doaky semoga bu Tien sekeluarga sehat wal afiat, penuh berkah ..salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah cerbung kesayangan telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah cerbung DCDAM sudah tayang.
    Terima kasih bunda ,semoga bunda dan keluarga sehat 🀲

    ReplyDelete
  14. Kasihan Bimo...
    Mbak Tien sih tega amat..

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 19

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  19 (Tien Kumalasari)   Fajar menunggu di mobil sementara pak Manan tampak mel ongok ke sana kemari. “Benar-benar...