DARAH, CINTA DAN AIR MATA 03
(Tien Kumalasari)
Bu Lurah hanya menatap punggung nenek Suli yang masuk dengan tergopoh-gopoh, kemudian ia melenggang pergi dengan omelan yang lebih menyakitkan.
“Orang miskin saja belagu. Sudah untung ada yang mau mengambil cucunya jadi menantu. Memangnya ada selain aku? Gara-gara Bowo, seperti nggak ada perempuan lain, mengapa maunya sama Sarah sih. Memang cantik, tapi dia miskin, lagi sombong.”
Yang mendengar omelan itu mengerutkan keningnya, dan bergumam bersahutan.
“Mentang-mentang orang kaya, ngomongnya kasar banget.”
“Sejak dulu dia tuh sombong. Sudah benar kalau cucu nenek Suli menolaknya. Memangnya kalau sudah kaya lalu semua kemauannya harus dituruti? Paling-paling hidup bersama orang seperti itu hanya akan tersiksa.”
Nenek Suli mematikan kompor, mengentas paha ayam satu persatu. Ternyata tidak ada satupun yang gosong.
“Ya ampuun, mengapa mengejutkan aku sih, mana yang gosong?”
“Itu tadi hanya membuat gara-gara, supaya bu Lurah segera pergi. Sebel mendengarkan omelannya Nek, sombong dan menyakitkan,” kata bu Karno yang punya gawe.
“Owalah, iya Bu, untunglah ada yang berteriak gosong. Tapi saya sudah ketakutan tadi, kalau benar-benar gosong kan harus beli lagi ke pasar.”
Bu Karno tertawa.
“Memangnya bu Lurah mau mengambil Sarah menjadi menantu ya?”
“Iya Bu, tapi Sarah menolak. Dia kan masih sekolah. Biarpun anak bu Lurah sanggup menunggu, tapi Sarah belum ingin menikah. Tadinya sih maksud saya biar dia tidak setiap hari berpanas-panas menjajakan koran, tapi setelah Sarah menolak, saya tidak bisa memaksa. Lagi pula sudah benar Sarah menolak, setelah mendengar omongannya tadi, ya biarpun saya benar-benar miskin, tapi menyakitkan juga.”
“Mentang-mentang kaya ya Nek,” kata bu Karno lagi.
“Biarlah Bu, beginilah nasib orang yang tidak punya, dihina di mana-mana.”
“Eeh, saya tidak menghina lhoh Nek, saya selalu menghargai Nenek, karena Nenek suka membantu, dan bisa melakukan apa saja, apalagi masakan Nenek enak sekali, sudah terkenal di kampung ini.”
“Aah, sudah … sudah, kebanyakan dipuji nanti baju Nenek jadi nggak muat karena kebesaran kepala."
Nenek Suli melanjutkan pekerjaannya. Ia sudah membumbui ayamnya, ada orang lain yang menggorengnya, lalu Nenek siap-siap memasak sayur.
Hari yang sibuk, dan kelihatannya Nenek baru akan pulang nanti, di sore harinya.
***
Bu Lurah masuk ke rumah dengan uring-uringan. Bowo menunggunya di depan dan langsung bertanya.
“Bagaimana Bu, ketemu nenek Suli?”
”Ketemu, kamu itu bodoh atau apa? Memangnya tidak ada perempuan lain yang bisa kamu nikahi?”
“Ibu bilang ingin buru-buru punya cucu. Bowo baru mau menikah kalau istri Bowo adalah Sarah.”
“Nenek Suli yang sombong itu, tidak pantas menjadi nenek mertua kamu.”
“Ibu ketemu?”
“Ya ketemu, dia sedang masak di rumah bu Karno.”
“Apa jawabnya?”
“Kalau jawabnya menyenangkan, Ibu tidak akan uring-uringan seperti ini.”
“Memangnya nenek Suli menjawab apa?”
“Dia tidak mau.”
“Yang tidak mau si Nenek itu atau Sarah?”
“Katanya Sarah tidak mau. Dia masih sekolah.”
“Bukankah Bowo siap menunggu?”
“Ada alasan lain, Sarah belum ingin menikah. Menurut Ibu, mereka hanya membuat alasan-alasan untuk menolak.”
“Tidak Ibu katakan bahwa aku sudah punya rumah, punya mobil, punya uang yang banyak?”
“Sudah. Tapi dia tidak peduli. Nenek Suli itu orang miskin yang benar-benar sombong. Sudah miskin, sombong, tidak tahu diri.”
“Ibu ketemu di mana?”
”Dia sedang membantu masak di rumah bu Karno.”
“Barangkali dia hanya pura-pura menolak, karena malu didengar orang lain. Baiknya Ibu menemuinya di rumah.”
“Kamu itu mengapa menyuruh-nyuruh Ibu untuk mendekati Sarah? Kalau kamu mau, dekatilah oleh kamu sendiri. Biasanya kamu tidak pernah meminta bantuan Ibu untuk bicara. Langsung gandeng sana gandeng sini.”
“Sarah itu lain Bu, dia galak kalau didekati, dan gadis seperti itulah yang Bowo suka. Dia tahu kalau Bowo itu kaya, tapi tidak mau didekati. Dia berbeda dengan gadis lain yang sekali digoda langsung nempel.”
“Apapun yang terjadi, cobalah oleh kamu sendiri. Ibu malu ditolak orang miskin.”
Bowo yang kecewa hanya menatap ibunya yang masuk ke rumah dengan uring-uringan. Itu benar, dia pernah mencoba dan Sarah menanggapinya dengan ketus, itu sebabnya Bowo mengatakan bahwa dia galak. Tapi baru sekali, mengapa dia tidak mencobanya lagi?
***
Sarah baru keluar dari sekolah. Ia harus pulang dulu untuk mengganti baju seragam sekolahnya, sekedar makan siang yang sudah disiapkan neneknya, lalu ke agen koran dan siap menjajakannya seperti biasa.
Hari itu langit sedikit mendung. Sarah sudah siap menjajakan korannya, ketika lampu di trafic light itu menyala merah. Mobil-mobil berhenti, dan Sarah melangkah ketengah sambil menjajakan korannya.
“Koraan … koraaan, berita hangat hari ini, seorang kakek tua menikahi gadis berumur limabelas tahun … heboh… koraan … koraan … mari bapak, korannya … korannya.”
Dua buah mobil terbuka kaca jendelanya, dan berteriak.
“koraaannya, satu !”
Sarah berlari ke salah satu mobil, lalu menerima uangnya yang lagi-lagi tak mau ketika Sarah memberikan kembaliannya.
Sarah mengangguk mengucapkan terima kasih, lalu ke pembeli lainnya. Harus cepat sebelum lampu menjadi hijau dan mobil berlarian melaju.
Sarah berlari ketepi. Harus hati-hati supaya tidak terjadi kecelakaan kecil seperti sebelumnya.
Sarah duduk di bawah pohon, menunggu pembeli, dan menunggu lampu perempatan menjadi merah kembali.
Tiba-tiba Sarah terkejut. Seorang laki-laki menghampiri, lalu menarik tangannya.
“Hei, lepaskan. Mau apa kamu?”
“Sarah, jadi orang jangan sombong begini. Kita masih tetanggaan kan? Mengapa tidak menunjukkan keramahan sedikitpun?”
“Bowo, aku tidak suka caramu. Memang benar kita tetanggaan, tapi kamu bertindak lancang.”
“Sarah, mengapa memanggil aku begitu, aku kan lebih tua, mas Bowo, begitu kan lebih manis?”
“Tidak ada, pergilah, aku mau menjajakan koran,” katanya sambil mengibaskan tangan Bowo yang berusaha memegangnya lagi.
“Hei, mengapa kamu lebih suka berpanas-panas begini? Kalau kamu menerima lamaran aku, hidup kamu akan enak, punya rumah bagus, uang datang sendiri, jalan-jalan pakai mobil.”
“Menjauhlah dariku, aku tidak tertarik pada harta kamu.”
“Ya ampun, benar kata ibuku, kamu itu miskin tapi sombong.”
“Untuk laki-laki kurangajar seperti kamu, aku tidak sungkan menjadi sombong. Dengar, aku tidak pernah tertarik pada harta kamu,” katanya sambil menjauh.
Dia melangkah ketepi jalan dan siap berjalan ketengah lalu lintas ramai yang berhenti karena lampu merah.
Tapi Bowo kemudian menarik tangannya kembali ke tepi. Sarah sangat marah.
“Lepaskan! Apa maksudmu?”
"Ikutlah bersamaku, hidup tidak akan susah.”
“Sudah aku bilang bahwa aku tidak tertarik hartamu. Pergi!”
Karena meronta, koran yang dibawanya tersebar di trotoar. Sarah hampir menangis, ia berjongkok untuk memungut koran yang berserakan. Tapi Bowo tetap menarik tangannya.
“Akan aku bayar berapa harga koran yang kamu bawa, jangan kuatir.”
“Pergiii!”
Bowo membantu mengambil koran yang berserakan, tapi kemudian membuang koran itu ke tempat sampah. Sarah menjerit marah, air matanya bercucuran.
“Jangan menangis, aku bayar. Aku bayar dua kali lipat, kamu akan untung besar.”
Bowo ingin kembali meraih tangan Sarah, tapi sebuah tangan kuat menahannya.
“Lepaskan dan jangan ganggu dia.”
Seorang laki-laki ganteng menatap Bowo dengan marah.
“Hei, siapa kamu, jangan ikut campur, dia tunangan aku,” kata Bowo tak tahu malu.
“Bukaaaan! Aku bukan tunangannya. Dia memaksa aku, dia juga membuang semua koran dagangan aku. Padahal ….” Sarah terisak.
Bowo ingin mendekatinya sambil lagi-lagi berkata ingin membayar harga koran yang dibuangnya.
“Pergi, dan jangan mengganggunya,” sentak laki-laki itu sambil memelintir tangan Bowo, sehingga Bowo berteriak.
“Aku lepaskan dan pergi sana!” katanya sambil melepaskan pelintirannya tapi sambil mendorongnya sehingga Bowo terhuyung-huyung, lalu kabur menjauh, mendekati mobil yang rupanya diparkir tak jauh dari sana.
Sarah mendekati tempat sampah, menatap korannya yang bercampur dengan kotoran. Air matanya meleleh, korannya baru laku sedikit.
“Aku akan membayar koran kamu itu, tanpa niat apapun kecuali membantu,” kata laki-laki itu sambil mengulurkan uang seratus ribu.
“Apa ini tidak cukup?”
Sarah mengusap air matanya, menatap laki-laki di depannya. Bukankah dia laki-laki bermobil yang kemarin harinya membeli korannya dan tidak mau menerima kembaliannya? Tapi yang membuat heran, laki-laki ini benar-benar persis wajahnya seperti Bimo, teman barunya yang juga sangat baik. Tak mungkin anak kembar, karena satunya OB dan satunya memiliki mobil bagus.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah DeCeDeAaeM_03 sudah hadir.
ReplyDeleteSi Sombong Bowo perlu diberi pelajaran.
Ayuk Sarah tetap konsisten, jaga dirimu jangan terkena rayuan Bowo.
Matur nuwun Dhe, tambah penasaran siapa yang mbelain Sarah? Apa kembaran Bimo.
ππ«ππ«ππ«ππ«
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung DeCeDeAaeM_03
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππ«ππ«ππ«ππ«
Alhamdulillah..
ReplyDeleteAlhamdulillah "Darah, Cinta dan Air Mata 03" sdh tayang. Matur nuwun & sugeng dalu Bu Tienπ
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku, DARAH, CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulila
ReplyDeleteTerimakasih Bunda Tien. Semoga sehat slalu. Banyak Rizki serta barokah
Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 03 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu nggih bersama keluarga tercinta . Aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 03 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah...
ReplyDeleteAlhamdulillah, mtr nwn bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah darah cinta dan air mata sudah hadir,
ReplyDeleteTerima kasih ,semoga bunda Tien dan keluarga sehat π€²
Alhamdulillah DCAM sudah tayang, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta selalu dlm lindungan NYA..π€²ππ
ReplyDeleteAlhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~03 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²