DARAH, CINTA DAN AIR MATA 02.
(Tien Kumalasari)
Sarah melongo. Diambil menantu? Maksudnya ia akan memiliki suami? Jadi istri orang? O, tidak. Sarah mengerutkan keningnya.
“Apa maksud Nenek?”
"Bu Lurah kan punya anak laki-laki. Dia pemilik penggilingan beras terbesar di kampung ini. Punya mobil, punya rumah sendiri dan_”
“Nenek setuju aku dijadikan istri orang kaya itu?”
“Sarah, hidup kita ini serba kekurangan. Kamu juga harus bersusah payah mencari uang demi beaya sekolah kamu, apa salah kalau Nenek setuju kamu dijadikan istri si Bowo?”
Wajah Sarah muram seketika.
“Sarah belum ingin punya suami,” katanya sambil membuka-buka buku pelajarannya.
“Sarah, Nenek tidak ingin memaksa, hanya menyarankan saja. Kalau kamu suka, Nenek senang. Bukan karena Nenek suka hartanya. Nenek hanya ingin kamu hidup berkecukupan.”
“Bukankah kebahagiaan itu bukan dari banyaknya harta yang kita miliki? Buktinya saya bahagia bersama Nenek dengan apa yang kita miliki. Sungguh Nek.”
“Baiklah, baiklah. Nenek mengerti,” kata nenek Suli, sang nenek yang kemudian pergi ke belakang, meninggalkan Sarah yang kemudian menekuni buku-bukunya.
Namun perkataan sang nenek sangat mengganggunya. Ia tahu neneknya menginginkan dirinya menerima lamaran bu Lurah, karena mereka orang kaya, yang diharapkan bisa memenuhi kehidupannya dengan harta yang berlimpah, tapi Sarah belum ingin menjadi istri. Lagipula ia tahu Bowo laki-laki seperti apa. Ia sudah sering berganti-ganti pacar, yang bukan hanya di dapat dari gadis-gadis di kampungnya, tapi juga dari kampung sebelah.
Laki-laki seperti itu, sangat diragukan kesetiaannya. Dia terlalu sombong karena memiliki harta berlimpah. Kebanyakan dari mereka yang mau didekati, karena Bowo terlalu royal dalam memberi. Tapi Sarah bukan gadis semacam itu.
“Aduh, mengapa Nenek kelihatan sangat kecewa begitu. Jadi aku harus bagaimana? Aku belum mau menikah, apalagi dengan Bowo yang sombong itu.”
Sarah membuka-buka bukunya, tapi tak sedikitpun ada yang memasuki pikirannya. Bayangan sang nenek yang pergi dengan wajah muram sangat mengganggunya.
Kemudian ia menutup semua buku-bukunya, dan hanya menyiapkan buku-buku pelajaran besok pagi.
***
Nenek Suli sudah berada di kamarnya. Ia juga merasa kecewa atas penolakan sang cucu, karenanya ia tidak bisa segera memejamkan matanya.
“Ini bukan untuk aku, tapi untuk cucuku. Kenapa dia menolak? Kalau masalah sekolah bu Lurah sudah bilang kalau Bowo akan sanggup menunggu,” kata batinnya berkali-kali.
Tiba-tiba nenek Suli terkejut. Seseorang memeluknya dari belakang.
“Ini Sarah kan? Katanya belajar?”
“Nenek kok belum tidur?”
“Belum begitu mengantuk. Tadi siang tidak banyak pekerjaan, jadi nenek bisa tidur siang. Kamu sudah belajar?”
“Sudah.”
“Sebentar sekali, biasanya nenek sudah pulas kamu baru selesai."
“Ini lain dari biasanya Nek, Sarah ingin tidur di sini, bersama Nenek.”
“Gerah, biasanya kamu tidak suka tidur berdesakan.”
“Ini juga lain dari biasanya Nek,” kata Sarah setengah bercanda.
Nenek Suli membalikkan tubuhnya, mengelus kepala sang cucu lembut.
“Kalau begitu segeralah tidur.”
“Nenek marah ya, karena Sarah menolak lamaran bu Lurah?”
“Tidak marah.”
“Tapi kecewa?”
“Sarah, kamu harus tahu bahwa apa yang Nenek inginkan dalam hidup ini adalah kebahagiaan kamu. Memang benar, kebahagiaan seseorang bukan terletak pada harta yang dimilikinya, tapi kalau kamu bisa hidup lebih nyaman, tidak berpanas-panasan setiap hari di jalanan, itu kan lebih baik?”
“Nek, bukankah Sarah masih sekolah?”
“Jadi kamu mau, nanti kalau sudah lulus sekolah?”
“Mau apa?”
“Mau diperistri anak bu Lurah itu.”
Sarah memeluk neneknya erat.
“Nek, Sarah masih sangat muda. Walau sudah lulus, tetap saja Sarah masih muda.”
“Di kampung gadis belum tujuhbelas tahun sudah dinikahkan.”
Sarah tertawa.
“Ini bukan di kampung Nenek. Sarah mengerti, bahwa Nenek ingin Sarah hidup enak. Tinggal duduk, ongkang-ongkang, uang datang sendiri, makanan selalu enak, bisa jalan-jalan naik mobil.”
“Nah, itu kamu tahu.”
“Itu bukan kehidupan enak. Kehidupan manusia malas.”
“Sarah. Kamu tidak boleh berkata begitu.”
“Nek, hidup yang nyaman itu adalah, sesuatu yang didapat dari tetes keringat sendiri. Bukan karena punya suami kaya, atau bukan karena anak orang kaya.”
Sang nenek terdiam. Sarahpun diam. Ia juga tidak yakin pada apa yang dikatakannya. Ia hanya sedang mencari alasan agar sang nenek bisa mengerti mengapa dia menolaknya. Tapi ia tahu, bahwa banyak orang menginginkan hidup seperti itu. Banyak orang, tapi bukan dirinya.
“Jadi bagaimana besok kalau bu Lurah datang lagi? Nenek harus jawab apa?”
“Jawab saja bahwa Sarah belum ingin menikah.”
“Kalau dia bilang bahwa Bowo sanggup menunggu?”
“Masih lama. Pokoknya tidak untuk saat ini, sampai batas yang belum bisa Sarah tentukan. Apa Nenek marah? Atau kecewa?”
“Tidak, baiklah, Nenek mengerti. Sekarang kamu tidurlah, supaya besok tidak kesiangan saat sekolah,” kata sang nenek sambil terus mengelus rambut cucunya.
***
Ketika Sarah bangun, sang nenek sudah menyiapkan teh panas dan sepiring nasi goreng dengan irisan dadar telur yang diiris tipis memanjang. Makanan kesukaan Sarah, dan sudah agak lama Nenek tidak membuatkannya.
“Nenek, ini enak sekali. Sudah lama Nenek tidak membuat nasi goreng begini untuk Sarah.”
Sang nenek tersenyum. Ia senang melihat cucunya seperti bersorak kegirangan.
“Kalau begitu makan dan habiskan.”
“Untuk Nenek?”
"Di wajan masih ada, nanti Nenek makan setelah kamu berangkat. Ini tadi buru-buru, karena kamu bangun lebih siang dari biasanya kan?”
“Iya, semalam ngobrol sama Nenek sampai malam.”
“Ini sebotol air untuk bekal kamu.”
“Terima kasih Nenek.”
“Nanti kalau pulang, kalau kamu mau menjajakan koran lagi, makan dulu, Nenek akan siapkan seperti biasanya. Tidak usah menunggu Nenek, karena Nenek mungkin akan pulang agak sore.”
“Laris ya Nek”
“Lumayan. Tetangga sebelah mau arisan, Nenek mendapat tugas memasak banyak.”
“Tapi Nenek tidak boleh kecapekan ya.”
“Iya, Nenek sudah biasa. Nenek bisa menjaga kesehatan sendiri kok.”
“Kalau capek ada baiknya menolak tawaran kerja yang mereka berikan. Nenek kan tidak muda lagi.”
“Iya … iya, Nenek tahu. Habiskan sarapannya dan segera berangkat.”
***
Siang hari itu nenek Suli memasak di rumah tetangga, yang rumahnya agak dekat. Nenek Suli memang pintar memasak, sehingga kalau ada acara masak-masak di kampung, pasti nenek Suli selalu diminta membantu.
Hari masih siang, ketika Nenek baru istirahat dan makan, sambil menunggu daging ayam yang direbusnya sudah empuk. Tiba-tiba bu Lurah mendekat.
“Nenek Suli, baru makan ya?”
“Bu Lurah, eh .. iya, tapi sudah selesai. Mau ketemu bu Karno? Ada di dalam, saya panggilkan.”
“Tidak, saya mau ketemu nenek Suli.”
“Oh, iya,” kata nenek Suli berdebar. Ia sudah tahu bu Lurah mau bicara apa.
“Tadi Bowo bertanya kepada saya, tentang Sarah. Apa nenek Suli sudah bicara sama Sarah?”
“Sudah Bu, tapi kan Sarah masih sekolah.”
“Bowo tidak terburu-buru. Biar dia lulus dulu, tidak apa-apa.”
Nenek Suli menundukkan wajahnya, banyak yang dipikirkannya. Bagaimana menolak, bagaimana mengatakan tidak ….
“Bagaimana Nek?”
“Bu Lurah, mohon dimaafkan cucu saya. Dia itu kan masih muda. Sangat muda. Sepertinya dia belum siap untuk menjadi istri. Mohon Ibu mengerti.”
“Kan saya bilang kalau Bowo sanggup menunggu?”
“Tapi ….”
“Saya beri tahu ya Nek, Bowo sudah menyiapkan rumah bagus, mobil baru, dan semua perabot rumah tangga modern. Itu untuk Sarah. Kalau ada yang lain, atau masih kurang, bilang saja, nanti Bowo pasti menyiapkan.”
Nenek Suli menghela napas panjang.
“Itu sepertinya sangat menarik. Tapi Sarah benar-benar belum ingin menikah Bu.”
Tiba-tiba wajah bu Lurah menjadi merah padam. Sepertinya dia marah, atau tersinggung.
“Nek, sebenarnya saya juga tidak suka punya besan miskin seperti Nenek. Tapi Bowo terus menerus bilang bahwa kalau punya istri dia maunya sama Sarah. Jadi saya mendesak nenek Suli agar mempertimbangkannya.”
Nenek Suli merasa sakit. Kemudian ia mengerti mengapa Sarah menolaknya. Bu Lurah dan anaknya adalah orang kaya yang sangat sombong dan suka menghina orang.
“Nenek Suliiii,” tiba-tiba terdengar teriakan.
“Ayamnya gosong tuh!!”
Nenek Suli terkejut, setengah berlari dia kembali masuk ke dapur.
***
Besok lagi ya.
π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung DeCeDeAaeM_02
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»
Alhamdulilah maturnuwun bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Mks bunda DCDAM 2 sdh tayang....selamat bun ....semoga sehat sll
ReplyDeleteTrmksh mb Tien π
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda Tien. Semoga sehat slalu beserta keluarga
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah cita dan air mata sudah hadir .
ReplyDeleteTerima kasih bunda, semoga bunda Tien dan keluarga sehat π€²
Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~02 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah DCAM telah hadir, semakin seru , maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ππ
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *DARAH CINTA DAN AIRMATA 02* sudah hadir...
Semoga selalu sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...