Sunday, December 27, 2020

SANG PUTRI 34

SANG PUTRI  34

(Tien Kumalasari)

 “Oh, persilahkan beliau duduk Rah.”

“Sudah, bapak.”

“Kalau mau ajak sekalian makan pagi Rah, tapi biar aku saja,” kata Palupi yang kemudian bangkit dan menuju ke ruang tamu.

“Om, kami sedang sarapan.  Ayo, sekalian om.. saya masak nasi goreng udang..” sapa Palupi ramah, membuat pak Tarman sedikit melongo.

“Ayolah om.. silahkan.. “

“Masa, datang-datang makan?”

“Tidak apa-apa om, kan dirumah keluarga sendiri.”

Pak Tarman berdiri perlahan, lalu Palupi menggandeng tangannya. Agak heran melihat Palupi bisa bersikap manis, tidak seperti biasanya.

“Naaa... sini om, dekat saya. Masih hangat nih om," sapa Handoko sambil menarik kursi disebelahnya, sementara Palupi mengambilkan piring.

“Yu Suprih, buatkan minum ya..” teriak Palupi.

“Baik ibu.”

Pak Tarman merasa ada kehangatan tampak pada keluarga itu. Berbeda dengan apa yang dikatakan Widi tentang keluarga sepupunya itu. Palupi tampak melayani dengan manis, bahkan mengatakan bahwa nasi goreng itu masakannya.

“Hm, enak, benarkah ini masakan Palupi?”

“Benarlah om, masa Palupi bohong ?”

“Om, Palupi sekarang benar-benar menjadi isteri dan ibu teladan. “

“Syukurlah..tapi ini benar-benar enak..”

“Terimakasih om.”

“Sebenarnya aku datang kemari hanya mampir, karena kebetulan jalan-jalan melewati rumah kamu.”

“Iya om, ma’af kami juga lama sekali tidak kerumah om.”

“Tidak apa-apa. Kamu habis sakit, dan sibuk. Tapi sudah sehat kan kaki kamu?”

“Sudah om, sudah bisa setir sendiri.”

“Syukurlah. Tapi sebenarnya aku juga ingin omong sama kamu.”

“Ya om.. tentang apa?”

“Mungkin kapan-kapan saja kalau kamu senggang. Bukankah kamu mau ke kantor ?”

“Iya om. Sebentar lagi.”

“Ya sudah, lain kali saja. Aku hanya ingin ngomong tentang adikmu Widi.”

“Memangnya Widi kenapa om?”

“Nanti sore saja, sepulang kantor aku kemari lagi. Takut mengganggu waktu kamu untuk bekerja. Salah aku kalau datang pagi-pagi untuk mengganggu.”

“Baiklah om, nanti saja sepulang kantor saya mampir kerumah om.”

“Ooh, begitu juga boleh.”

***

“Tanti.. tunggu.”

Tanti berhenti. Dilihatnya Danang mengejarnya.

“Kamu mau makan di kantin ?” tanya Danang.

“Maukah makan diluar saja, bersama aku?”

“Ah, enggak mas, sungkan saya.”

“Mengapa sungkan, kan aku yang mengajak?”

“Nggak enak sama pegawai lainnya, nanti dikira saya ada apa-apa sama mas Danang.”

“Memangnya kalau benar.. kenapa?”

“Mas Danang nih..”

“Aku serius, baiklah, sekali ini saja, ya.. mau ya..”

"Baiklah, sekali ini saja.”

Danang membawa Tanti keluar dari kantor. Tapi Tanti terkejut ketika mereka tidak memasuki sebuah rumah makan atau warung untuk makan siang.

“Lho, ini bukan warung kan?”

“Memang bukan, tapi setiap hari aku makan disini. Ayo turun,” kata Danang sambil turun, lalu membuka pintu samping, dimana Tanti duduk.

“Ayolah..,” Danang memegang tangan Tanti dan menariknya perlahan.

“Ini rumah siapa?”

“Ini rumahku, ayolah.”

“Aduh mas, saya takut..”

“Mengapa takut, ini bukan rumah hantu.. atau harus saya gendong?”

Tanti turun dengan perasaan ragu. Dua kali Danang memaksa dengan ancaman mau menggendongnya. 

“Ayo...” Danang menggandengnya. Tanti berdebar. Kalau ini rumah Danang, berarti akan bertemu dengan keluarganya. Bagaimana kalau dia ditanya ini dan itu?

“Ibuuu...” tiba-tiba Danang berteriak ketika keduanya sudah menaiki teras. Tanti melepaskan pegangan Danang, bermaksud duduk diluar, tapi seorang wanita setengah baya yang masih cantik muncul dari arah pintu.

“Ibu.. kenalkan, ini Tanti,” kata Danang memperkenalkan Tanti pada ibunya.

Tanti dengan takut-takut menyalami bu Ismoyo kemudian mencium tangannya.

“Ini Tanti yang kamu ceritakan berulangkali itu?”

“Iya bu, saya mengajaknya untuk makan siang dirumah.”

“Oh, baguslah, ajak dia keruang makan, simbok sudah menunggu dari tadi,” kata bu Ismoyo ramah. Degup di jantung Tanti sedikit berkurang melihat senyuman dibibir wanita cantik itu.

“Ayo jangan sungkan. mBook.. tambahkan piringnya satu lagi,” perintahnya kepada simbok, yang segera dilakukan simbok sambil melirik kearah gadis yang masih berdiri disamping Danang.

“Ayo duduklah,” kata Danang sambil menarik kursi untuk Tanti.”

Tapi sungguh Tanti merasa sungkan. Dia belum pernah makan disuasana se resmi ini. Danang membuka piring Tanti, lalu mengambilkan nasi untuknya. Kalau tau mau diajak kerumah pasti dia sudah menolaknya tadi.

“Sudah mas, biar saya mengambilnya sendiri.”

“Jangan sungkan. Simbok masak asem-asem, sama ikan goreng, ayolah, “ kata bu Ismoyo mendahului mengambil lauk untuk dirinya sendiri. Karena Tanti tampak sungkan, Danang yang mengambilkan sepotong ikan, lalu menyendokkan sayurnya.

“Sudah mas, sudah..”

“Ya sudah, makanlah, apa perlu aku suapin?” goda Danang.

“Ah..” lalu Tanti menyendok makanannya pelan. Takut kelihatan tidak sopan.

“Aduh, ini keluarga kaya, mana sesuai dengan keluargaku, yang makan dengan cara sederhana, lauk sederhana, mengunyah makanannya pun juga tidak takut-takut seperti sekarang ini," pikir Tanti.

“Benarkah Danang suka sama kamu?” tiba-tiba pertanyaan itu mengejutkan Tanti. Ia hampir tersedak mendengarnya, lalu diminumnya seteguk air.

“Mas Danang... apakah..”

“Iya bu, Danang suka sama dia, cuma dia tidak percaya bahwa Danang suka. Jadi Danang bawa dia kerumah untuk menunjukkan kepada dia bahwa Danang serius.”

“Kamu masih kuliah?”

“Menunggu ujian minggu depan, ibu.”

“Ooh..”

“Sambil bekerja dikantornya mas Danang,” lanjutnya lirih.

“Apa kamu juga suka sama anakku?”

Pertanyaan-pertanyaan itu seperti sebuah interograsi yang memaksa dia untuk menjawab. Tapi dia bingung harus menjawab apa.”

“Saya...”

“Katakan saja, jangan takut..”

“Saya tidak berani, ibu..” jawabnya setelah menelan makanan yang selesai dikunyahnya.

“Maksudnya tidak berani untuk apa?”

“Saya hanya.. gadis biasa, anak orang rendahan.. mana berani saya menyukai mas Danang?”

“O.. itu. Tapi sesungguhnya perasaan kamu bagaimana?”

“Mati aku,” batin Tanti yang kemudian meneguk minumannya.

“Orang jatuh cinta itu kan tidak memandang siapa yang dicintainya. Mungkin dia pejabat, mungkin dia pemilik perusahaan yang besar, hartanya selangit. Ya kan?”

“Kalau saya melakukannya, bukankah akan ditertawakan?”

“Tidak.. tak ada yang akan mentertawakan, karena perasaan itu adanya didalam hati.”

Tanti terdiam. Siapa sih yang nggak suka dicintai oleh laki-laki tampan yang kaya raya? Tapi kan ia harus tahu diri.

“Sudahlah, teruskan makanannya. Kata-kataku membuat makanan kamu terasa nggak enak ya?” kata bu Ismoyo sambil melanjutkan makannya, demikian juga Danang dan Tanti. Tanti merasa sedikit lega sehingga bisa menelan makanannya sampai nasi dipiring masuk semua kedalam perutnya.

“Ayo nambah,” kata bu Ismoyo.

“Terimakasih ibu, sudah kenyang.” Lalu Tanti meneguk minumannya.

Tapi ketika mereka duduk diruang tengah, bu Ismoyo kembali mengulang pertanyaannya.

“Apa kamu suka pada anakku ini?”

“Ss..saya.. hanya orang biasa..”

“Aku menanyakan perasaan kamu, bukan menanyakan kamu orang seperti apa.”

“Karena saya merasa rendah, jadi saya tak berani mengatakannya.”

“Baiklah, aku sudah bisa menarik kesimpulan dari jawaban kamu itu.”

Lalu Tanti terkejut sendiri.

“Kesimpulan yang bagaimana? Bahwa aku suka sama dia?” kata batinnya.

“Saya dari keluarga miskin bu, ibu saya pembantu disebuah rumah tangga.”

“Memangnya kenapa?”

Tanti diam. Benar sih, memangnya kenapa, kan dia tidak menanyakan siapa dan apa pekerjaan orang tuanya?

“Kamu cantik, sederhana, dan rendah hati. Aku suka itu.”

Tanti mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Benarkah si ibu yang kaya ini suka sama dia? Seperti bermimpi ketika bu Ismoyo menatapnya sambil tersenyum.

“Tanti, kamu tidak perlu takut, ibuku tidak menggigit kan?” canda Danang.

“Tapi Tanti, kamu harus hati-hati. Anakku yang satu ini terkadang susah dikendalikan.”

Danang menatap ibunya dengan kesal.

“Ibu.. kok ibu menjelek-jelekkan aku didepan pacar aku sih?”

Hm.. pacar? Kapan mereka pacaran? Kata hati Tanti. Tapi bagaimanapun ada rasa senang ketika berbincang dengan ibunya Danang dan diterima dengan manis.

***

“Ibu sudah mengijinkan, tinggal cari waktu yang baik untuk melamar kamu,” kata Danang dalam perjalanan kembali ke kantor.

“Apa? Melamar? Memangnya saya suka sama mas?”

“Nggak suka ya?

“Nggak tahu ah, saya bingung sesiang ini. Tiba-tiba ketemu ibunya mas, dan bertanya yang susah sekali saya menjawabnya.”

“Memang susah ya, mau bilang tidak, nyatanya suka, mau bulang suka.. rasanya sungkan,” canda Danang.

“Iih, mas Danang tuh.”

“Sebenarnya kamu suka sama aku kan?”

“Ge er..”

“Nggak... gitu?”

“Mas harus memikirkannya lagi, apalagi ibunya mas, selalu saya ingatkan bahwa saya ini bukan siapa-siapa.”

“Baiklah, aku akan memikirkan kamu terus.”

“Bukan begitu.”

“Habis apa dong?”

“Memikirkan, apakah benar saya ini pilihan mas. Saya takut, pada suatu hari nanti mas menyesal, keluarga mas juga menyesal.”

“Aku yakin tidak.”

“Sekarang mas bisa berkata begitu, nanti.. pada suatu hari.. mas baru akan merasakannya.”

“Tanti, apa aku harus berlutut dihadapan kamu supaya kamu percaya?”

“Jangan, nanti saya kualat.”

“Kalau begitu jangan banyak alasan. Nanti selesai wisuda aku akan melamar kamu. Ketika kamu wisuda, aku juga akan datang menghadirinya.”

***

Sore itu setelah mengantarkan Tanti pulang, Danang mampir kerumah Handoko, karena tas kerja Handoko ketinggalan di kantor.

“Mas Handoko belum sampai rumah yu?” kata Danang sambil nyelonong masuk langsung kedapur.

“Heei.. ada tamu nyelonong nih, nggak pakai permisi,” tegur Palupi yang sedang menggoreng pisang didapur.

“Ya ampun, kaget aku mbak, kirain MIrah yang sedang menggoreng pisang, tapi kok cantik bener yu Mirah sekarang, ee.. ternyata mbak Lupi?”

“Jadi kamu kemari mencari Mirah?”

“Nggak mbak, tapi aku senang mbak Lupi sudah pulang kerumah, hm.. harum pisang gorengnya, aku tungguin didepan nya.”

“Enak saja, bantuin dulu, ambilkan piring untuk tempatnya.”

“Oh.. harus ngebantuin dulu baru boleh ngicipin ya? Okey.. mana Rah, piringnya?” teriaknya.

“Ini mas, nak Mirah sedang menemani mas Bintang mandi," sahut Suprih yang sedang ada didekat Palupi.

“Ooh, iya.. yu Suprih.. terimakasih. Mana mbak, taruh disini. Kok mbak Lupi rajin sekali sih.Hm.. harumnya.. “

“Makan aja tuh, pisangnya, kan sudah matang? Jangan banyak komentar.

“Yaah.. masih panas begini, disuruh makan, ikutan matang dong lidahku.”

“Makanya harus sabar..”

“Aku bawa kedepan ya mbak..”

“Awas ya, jangan dihabisin,”

“Nggak.. yu Suprih.. buatkan minum dong.”

“Ya mas.. “

“Mas Handoko sebentar lagi pulang, dia suka pisang goreng. Tapi sekarang sedang mampir kerumah om Tarman.”

“Oo, pantesan tadi tergesa-gesa, sampai tasnya ketinggalan.”

Suprih yang sedang membuatkan minum untuk Danang terkejut, mendengar ponselnya berdering.

“Bu, saya angkat dulu telponnya ya, siapa tahu dari Tanti, mungkin butuh sesuatu.”

“Iya yu.. angkat saja dulu.”

Suprih masuk kedalam kamarnya.

"Hallo nduk, ada apa?”

“Bu, bisakah ibu pulang kerumah sore ini?”

“Memangnya ada apa? Kamu sakit?”

“Tidak bu, aku ingin ngomong sama ibu nih, bingung aku bu..”

“Oh, baiklah, ibu pamit dulu sama juragan ya.”

Suprih membawa minuman yang sudah disiapkan keruang tengah, diletakkan didepan Danang, lalu kembali menemui Palupi yang masih mengentas pisang gorengnya.

“Ibu, ma’af, bolehkah saya pamit  pulang sore ini?”

“Ada apa yu, anakmu sakit?”

“Tidak bu, katanya ada yang penting, saya  diminta pulang sebentar.”

“Jangan-jangan kamu disuruh keluar dari pekerjaan sekarang yu.”

“Belum bu, mungkin masih bulan depan.”

“Ya sudah yu, pulang saja, barangkali memang ada yang penting. Karena ini sudah sore ya nginap sekalian saja yu, besok pagi-pagi datang lagi kemari."

Ketika melintas diruang tengah dimana Danang sedang menikmati pisang gorengnya, Suprih mengangguk pada Danang.

“Mau kemana yu?”

“Mau pulang sebentar mas, permisi..”

“Rumahnya jauh?”

“Enggak mas, daerah Nusukan, bisa naik angkot.”

“Oh,  kalau mau menunggu bisa sekalian bareng saya.”

“Nggak mas, sudah, saya bisa naik angkot.”

“Ya sudah, hati-hati ya yu..”

“Nusukan.. bukankah rumah Tanti juga didaerah itu. Jangan-jangan tetanggaan,” gumam Danang sambil mencomot lagi pisang gorengnya.  Kalau saja Danang tahu siapa Suprih sebenarnya..

“Nih, aku tambahin lagi, udah mateng semua nih,” kata Palupi yang membawa lagi sepiring pisang goreng.

“Banyak banget nggorengnya mbak.”

“Nanti kalau mas Handoko pulang, bisa habis nih pisang.”

“Hm, senangnya kalau punya isteri cantik dan pengertian..”

Danang senang. Tadi Handoko sudah berbicara tentang isterinya yang sudah kembali dan pasti membuat dia tak mengenalinya. Itu benar.. ia heran melihat Palupi menggoreng pisang kesukaan suaminya.

***

“Sebenarnya om Tarman mau bicara apa?”

“Aku kan sudah bilang, ini tentang adik kamu Widi.”

“Iya, memangnya Widi kenapa?”

“Om mu ini senang, sebentar lagi adik kamu sudah akan menyelesaikan kuliahnya. Tapi om tidak suka dia masih berhubungan dengan Ryan.”

“Memangnya Ryan itu kurangnya apa om? Dia baik, ganteng, sudah mapan.”

“Itu aku tahu dan mengakuinya, tapi aku benci dia.”

“Mengapa om? Dia pernah menyakiti hati om?”

“Iya, sangat menyakiti.” Kata pak Tarman tandas.

***

Besok lagi ya

 

 

Saturday, December 26, 2020

SANG PUTRI 33

 

SANG PUTRI  33

(Tien Kumalasari)

 

Handoko yang berjalan sambil saling menggenggam erat tangan isterinya,  menghentikan langkah, menoleh ke belakang.

“Ryan?” kata mereka berbarengan.

“Kamu kenal Ryan?”  tanya Handoko kepada isterinya.

“Ia teman kuliah aku, pacarnya Widi kan?”

“Oh, kirain belum kenal.”

“Mas, lagi ngapain?” tanya Ryan.

“Ini, lagi mau buat pengumuman atau iklan lah..”

“Jualan apa?”

“Jualan gimana? Lagi nyari anak hilang.”

“Lhoh.. kok sama, tapi berlawanan, aku barusan nemuin anak hilang.”

Handoko  dan Palupi berdebar, jangan-jangan itu anak yang dicarinya.

“Mana anaknya?”

“Aku titipin dirumah Widi, habis rewel, bingung aku menghadapi anak rewel.”

“Namanya siapa?”

“Nanda.”

“Lhaaaa....” teriak Handoko dan Palupi bersamaan.

“Ada apa?”

“Itu anak yang sedang kami cari Ryan. Ada fotonya?’”

Ryan mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto Nanda.

“Astaga... alhamdulilah ..  Benar diaaa..”

“Benar?”

“Iya dia Nanda yang kami cari.”

“Kok bisa mas Handoko dan Palupi yang mencari. Mana bapaknya?”

"Bapaknya malah nggak tahu kalau anaknya hilang."

"Kok  bisa ?"

Lalu Handoko dan Palupi bergantian menceritakan perihal Nanda dan bagaimana bisa hilang.

Palupi senang bukan alang kepalang. Sangat bersemangat ketika mereka menuju ke rumah Widi.

***

“Ibuuu...” teriak Nanda ketika melihat Palupi.

“Nanda..” Palupi memeluknya erat.

“Kamu kemana saja?”

“Aku mencari bapak.. nggak ketemu.”

“Aduuh, mengapa nggak bilang ibu.. “

“Ibu lagi tidur sama Bintang.”

“Anak baik.. lain kali tidak boleh pergi sendiri ya. Untung ketemunya sama om ganteng ini, kalau ketemu orang jahat bagaimana?”

“Orang jahat takut sama polisi.”

“Hm... iya sih, kalau polisi melihatnya, kalau tidak, lalu Nanda dibawa pulang,  dijadikan anak penjahat, bagaimana.”

“Nggak mau... Mana bapak?”

“Ayo sekarang kita pulang kerumah bapak.”

Pak Tarman yang mendengar suara gaduh diluar segera keluar. Handoko dan Palupi serta Ryan mendekat dan mencium tangannya.

“Kok bisa kamu juga, kamu mengenal anak ini Han?”

“Iya om, tadinya anak ini bermain sama Bintang, tiba-tiba menghilang. Untunglah ketemu sahabat saya yang ganteng dan baik hati ini,” kata Handoko.

“Dia?” tapi pak Tarman hanya menatapnya sekilas, tanpa senyuman.

Widi mencubit tangan Handoko dan berbisik pelan.

“Tuh mas..”

Handoko mengedipkan sebelah matanya, seakan berjanji akan membantunya.

“Om, kami tidak bisa lama-lama disini, karena harus mengantar Nanda kepada bapaknya.”

“Ibunya dimana?”

“Ibu ada di sorga,” sahut Nanda cepat, lalu pak Tarman segera mengerti.

Ketika mereka pergi, pak Tarman kembali mengomeli Widi.

“Tuh, yang ganteng dan baik hati.. lalu kamu jatuh cinta sama dia?”

“Bapak, mengapa begitu. Kan Widi sudah selesai kuliah, tinggal ujian,,”

“Bukan masalah sekolah kamu.”

“Lalu..”

“Pokoknya bapak nggak suka.”

Kalau sudah begitu Widi memilih diam, karena kalau ditanya ‘mengapa’ pun bapaknya tak akan pernah menjawab seperti yang sudah-sudah.

Sekarang Widi hanya berharap Handoko akan membantunya bicara sama bapaknya.

***

Namun ketika sampai dirumah, mereka tak menjumpai Pri disana. Pegawai toko yang ada mengatakan bahwa Pri pergi sejak siang.

“Bapak mana?”

“Sebentar, biar ibu telpon bapak kamu ya,” kata Palupi yang kemudian menelpon Pri. Tapi ternyata Pri sudah dalam perjalanan akan menjemput Nanda.

“Oh, jadi sudah ada dirumah? Baiklah, saya sudah dijalan,” kata Pri.

“Tapi kalau nggak ada apa-apa, tinggal saja Nanda sama pegawai toko.”

“Tidak, kami akan bertemu mas Pri dulu, ada cerita panjang yang mas Pri harus tahu,” kata Palupi.

“Bapak mau pulang?” tanya Nanda.

“Iya, bapak sudah mau pulang.”

Lalu mereka duduk menunggu diteras, sementara Nanda langsung masuk kedalam rumah melalui toko yang memang berhubungan dengan rumah bagian samping.

“Kamu sudah sering kesini?” tanya Handoko kepada isterinya.

“Dua kali, yang pertama ketika dia mendekapku tanpa mau melepaskan, yang kedua aku bercerita pada dia bahwa aku bukan ibunya, sedangkan ibunya ada di sorga.”

“Kamu bisa juga bercerita?”

“Aku sudah menjadi ibu.”

“Oh, iya.. aku tahu. Nanti aku minta kamu bercerita untuk aku, sebelum tidur,” canda Handoko, sedangkan Ryan hanya tersenyum-senyum. Ia melihat hubungan Palupi dan suaminya semakin membaik.

“Nggak ah, orang tua minta didongengin..” gerutu Palupi.

“Enak aja, masa sih aku tua? Masih ganteng begini lho..”

“Tuh, kalau ngomong nggak ingat kiri kanan, diketawain sama Ryan.”

“Nggak apa-apa, suatu hari nanti Ryan juga akan mengalaminya. Ya kan Ryan?  Gimana nih, sudah siap melamar?”

“Siap sih siap mas, cuma bapaknya itu, saya heran mengapa sangat membenci aku? Aku ini kurang apa coba? Setiap datang saya menghormati, bersikap santun dan berlaku baik.”

“Tampaknya ada sesuatu, besok aku akan mencoba bicara sama om Tarman. Jangan khawatir Ryan, cinta itu harus diperjuangkan. Seperti aku ini, berjuang mati-matian lho untuk mendapatkan cinta Palupi,” kata Handoko sambil melirik kearah Palupi.  Tapi yang dilirik hanya mencibirkan bibir lalu membuang muka.

Tapi Ryan senang. Palupi sudah tampak lebih tenang. Jauh bedanya dengan Palupi yang dikenalnya beberapa tahun lalu, bahkan beberapa bulan terakhir ini.

“Bapaaak..” teriak Nanda ketika melihat mobil bapaknya datang.

Begitu turun Pri langsung menuju teras, agak heran melihat Palupi bersama suaminya dan seorang laki-laki yang dia belum pernah mengenalnya.

“Bapaak..”

“Lho, Nanda pakai baju siapa?” tanya Pri heran ketika melihat anaknya memakai baju yang ia belum pernah melihatnya.

“Dikasih sama om..”

Pri menatap Handoko, tapi Nanda menunjuk kearah Ryan.

“Lho.. bagaimana ini?”

“Mas Pri, perkenalkan, ini calon adik ipar saya, Ryan.”

“Oh, ya.. saya Priyambodo, mas Ryan,” kata Pri ketika menyalami Ryan lalu duduk diantara mereka, sementara Nanda menggelendot pada ayahnya.

“Begini mas Pri, sebelumnya saya dan isteri saya minta ma’af.”

“Ma’af? Untuk apa?” tanya Pri heran.

Lalu secara singkat Handoko menceriterakan perihal hilangnya Nanda sampai kemudian diketemukan.”

“Jadi Nanda jalan-jalan sendiri?” kata Pri sambil menatap tajam anaknya.

“Nanda mencari bapak..”

“Aduh, beruntung nanda ketemu orang-orang baik. Lain kali Nanda tidak boleh begitu ya? Kalau ingin sesuatu bilang saja, jangan lalu pergi sendiri. “

Nanda mengangguk.

“Karena sudah sejak siang dan kami belum sempat mandi juga mas Pri, maka kami akan langsung pamit, dan sekali lagi mohon ma’af karena telah membuat Nanda hampir hilang tadi,” kata Handoko sambil berdiri, diikuti oleh Palupi dan Ryan.

“Tidak apa-apa mas, toh tidak jadi hilang.”

***

Hari sudah gelap ketika Handodo datang bersama Palupi.  Ketika Palupi mau masuk kekamarnya ketika masih berpisah ranjang, Handoko menariknya.

“Kamu sudah lupa dimana kamar kita?”

“Bapaaak.. ibu....”

“Kamu kok belum tidur?”

“Bintang menunggu ibu datang.”

“Sekarang ibu sudah datang, mau dikasih apa?”

“Bintang mau bilang, apa nanti boleh tidur sama ibu dan bapak?”

“Haaa.. tentu saja boleh..” kata Palupi yang membuat Handoko kemudian mencubit keras lengannya.

“Aduuh.. apaan sih.”

“Bintang, ibu sama bapak belum mandi. Bilang sama yu Mirah , bapak sama ibu mau minum coklat susu. Ya.”

Bintang berlari kebelakang dan Handoko menarik Palupi masuk kedalam kamar.

“Yu Miraaah..”

“Iya mas, bapak sama ibu sudah datang kan?”

“Iya, buatkan coklat susu untuk bapak sama ibu.”

“Baiklah. Mas Bintang minum apa?”

“Aku kan sudah minum susu.”

“Baiklah. Yu Mirah buatkan minum dulu buat bapak sama ibu ya.”

“Nak Mirah, meja makan ditata sekarang ya,” kata Suprih yang ikut senang melihat kedua majikannya datang.

“Iya bu.”

“Yu Mirah...” kata Bintang yang menunggui Mirah membuat minuman.

“Ya mas Bintang, “

“Aku sudah bilang sama ibu.”

“Bilang apa?”

“Nanti Bintang boleh kok tidur sama ibu, sama bapak.”

“Issh.. mas Bintang nggak boleh gitu. Nanti tidur dikamarnya sendiri saja sama yu Mirah.”

“Tapi boleh kok kata ibu.”

“Mas Bintang , tadi yu Mirah bilang kalau dia punya  dongeng bagus untuk mas Bintang,” kata Suprih yang ikut menghalangi keinginan Bintang.

“Dongeng apa ?”

“Dongeng bagus dong.. ya kan yu Mirah.” Lanjut  Suprih.

“Iya.. nanti mas Bintang mau didongengin tidak?” Kata Mirah sambil meletakkan dua gelas coklat susu diatas nampan lalu membawanya ke ruang tengah.

“Benar.. dongeng bagus? Ada penjahat punya taring seperti raksasa?”

“Iya, lalu dibunuh sama pangeran tampan.”

“Iya..iya.. aku mau..” teriak Bintang.

Mirah merasa lega, lalu menggandeng Bintang kebelakang.

“Aku mau ke ibu dulu..”

“Eeh.. ayo kebelakang dulu, bantuin bu Suprih menata meja. Nanti mas Bintang makan sama bapak, sama ibu kan?”

Susah payah Mirah menghentikan keinginan Bintang untuk mengganggu bapak dan ibunya. Membiarkan sepasang suami isteri yang sudah lama tak bertegur sapa itu berdamai dan saling melepas selimut cinta yang mengurungnya..

***

“Kalau ibu sudah kembali, aku akan pamit bulan depan,” kata Suprih ketika Bintang sudah tidur dikamarnya, dan keduanya duduk sambil berbincang didapur.

“Lho, pamit kemana bu?”

“Anakku kan sudah bekerja ta nak, dia melarang aku bekerja lagi. Wanti-wanti dia bilang begitu.”

“Iya sih bu, sebenarnya kasihan juga kalau orang tua tetap terus bekerja, sementara anaknya sudah menghasilkan uang sendiri. “

“Kapan-kapan main kerumahku yuk nak, biar kenal sama anakku juga.”

“Boleh bu, nanti kalau bapak sama ibu pergi sama mas Bintang, kita pamit keluar sebentar. Saya juga ingin berkenalan dengan puteri ibu.”

“Bagaimana kalau besok Minggu nak?”

“Ya bu, nanti  saya bilang sama ibu kalau pengin main kerumah bu Suprih. Tapi saya harus menyelesaikan tugas saya dulu.”

“Iya nak. Tapi bagaimana kalau nanti nak Mirah menikah? Pasti juga akan meninggalkan keluarga ini kan?”

“Iya sih bu, tapi entahlah, saya belum memikirkan untuk menikah dalam waktu dekat ini. Lagian siapa yang mau bu.”

“Lho.. lha siapa tahu besok pagi ketemu jodoh yang tepat, dan cocog dihati. Masak sih harus berlama-lama. “

“Iya bu, do’akan saja ya.”

“Iya, pasti akan aku do’akan. Sekarang tidurlah nak, sudah malam. Dan malam ini rasanya kok nyaman banget suasananya ya nak. Pasti karena ibu sudah mau kembali.”

“Iya bu. Inilah yang selalu kita harapkan bersama.”

***

Pagi hari itu udara dingin menggigit. Didapur Mirah serta bu Suprih sudah sibuk menjerang air dan menanak nasi. Lalu Suprih menyiapkan masakan untuk makan pagi tuan ganteng dan ndara putrinya.

Palupi menggeliat. Ia sudah terbiasa bangun pagi, memasak air dan bersih-bersih rumah. Agak terasa aneh setelah berbulan-bulan tidur sendiri, sekarang ada seseorang menemaninya. Palupi bangkit perlahan, mengacak rambut suaminya pelan, lalu turun dari atas ranjang. Tapi tiba-tiba Handoko menarik tangannya sehingga ia kembali jatuh terbaring.

“Masih pagi..” bisik Handoko.

“Sudah pagi..” balas Palupi.

“Mengapa buru-buru bangun?”

“Sudah adzan..  Setelah shalat aku harus ke dapur.”

“Ahaaa.. iya.. benar.. ayo shalat berjama’ah..”

Palupi melangkah kekamar mandi. Handoko menggeliat ditempat tidur.. beberapa sa’at lamanya Palupi keluar dengan tubuh dan rambut basah. Wangi menyeruak segera tercium.

“Cepatlah, sekalian wudhu,”

Handoko melompat dari ranjang dan bergegas kekamar mandi.

Sangat menenangkan ketika keduanya khusyuk dalan sujud mereka, kemudian bersalaman dengan manisnya.

“Aku minta ma’af ..”

“Atas apa?”

“Aku banyak salah sama kamu mas. Aku merasa telah melakukan banyak hal semau aku selama ini.”

Handoko memeluk isterinya erat.

“Kamu sudah kembali. Ini bahagia aku.”

Dan kicau burung diluar sana terdengar nyaring, meneriakkan gempita pagi yang menyegarkan.

“Aku harus ke dapur..” lalu Palupi bangkit dan berbisik lirih.

“Sudah ada yu Suprih dan Mirah.”

“Jangan, aku harus ada disana.”

Handoko tersenyum nakal. Ia lupa, Palupi sudah berubah.

“Baiklah, buat sarapan yang enak buat suami kamu ya.”

Palupi meleletkan lidahnya, dan melenggang keluar dengan manis, Handoko tersenyum, lalu kembali meringkuk dengan memeluk guling.

***

Suasana makan pagi di rumah itu tampak meriah.  Palupi sendiri melayani suami dan anaknya makan. Mengambilkan nasi goreng udang  dan telur ceplok yang se muanya dimasak sendiri oleh Palupi.

“Mengapa ya, sarapan pagi ini terasa enak sekali..?” celetuk Handoko yang menyuap makanannya dengan lahap.

“Mengejek kan? “

“Yakiiin... sumpaaah enak. Boleh nambah lagi ibu?” kata Handoko lembut.

Palupi tersenyum cerah, menampakkah sederet giginya yang tersusun apik. Pujjian selalu melambungkan hatinya ke awang-awang.

“Mau nambah bapak, biar ibu ambilkan..” kata Palupi.

Bintang tertawa.

“Bapak sama ibu lucu ya..”

“Bapak itu yang lucu, Bintang.”

“Iya, kan dulu bapak mantan pelawak..”

“Pelawak itu apa?”

“Pelawak itu ya orang yang suka melakukan hal yang lucu-lucu, ya seperti bapak ini.”

“O.. bapak dulu pelawak?”

“Bintang makannya mau tambah lagi?”

“Sudah kenyang bu.”

Tiba-tiba Mirah yang sedang bersih-bersih didepan masuk dengan terburu-buru.

“Bapak, ada tamu menunggu diluar.”

“Siapa Rah?”

“Itu.. bapaknya mbak Widi.”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...