SANG PUTRI 34
(Tien Kumalasari)
“Oh, persilahkan beliau duduk Rah.”
“Sudah, bapak.”
“Kalau mau ajak sekalian makan pagi Rah, tapi biar aku saja,” kata Palupi yang kemudian bangkit dan menuju ke ruang tamu.
“Om, kami sedang sarapan. Ayo, sekalian om.. saya masak nasi goreng udang..” sapa Palupi ramah, membuat pak Tarman sedikit melongo.
“Ayolah om.. silahkan.. “
“Masa, datang-datang makan?”
“Tidak apa-apa om, kan dirumah keluarga sendiri.”
Pak Tarman berdiri perlahan, lalu Palupi menggandeng tangannya. Agak heran melihat Palupi bisa bersikap manis, tidak seperti biasanya.
“Naaa... sini om, dekat saya. Masih hangat nih om," sapa Handoko sambil menarik kursi disebelahnya, sementara Palupi mengambilkan piring.
“Yu Suprih, buatkan minum ya..” teriak Palupi.
“Baik ibu.”
Pak Tarman merasa ada kehangatan tampak pada keluarga itu. Berbeda dengan apa yang dikatakan Widi tentang keluarga sepupunya itu. Palupi tampak melayani dengan manis, bahkan mengatakan bahwa nasi goreng itu masakannya.
“Hm, enak, benarkah ini masakan Palupi?”
“Benarlah om, masa Palupi bohong ?”
“Om, Palupi sekarang benar-benar menjadi isteri dan ibu teladan. “
“Syukurlah..tapi ini benar-benar enak..”
“Terimakasih om.”
“Sebenarnya aku datang kemari hanya mampir, karena kebetulan jalan-jalan melewati rumah kamu.”
“Iya om, ma’af kami juga lama sekali tidak kerumah om.”
“Tidak apa-apa. Kamu habis sakit, dan sibuk. Tapi sudah sehat kan kaki kamu?”
“Sudah om, sudah bisa setir sendiri.”
“Syukurlah. Tapi sebenarnya aku juga ingin omong sama kamu.”
“Ya om.. tentang apa?”
“Mungkin kapan-kapan saja kalau kamu senggang. Bukankah kamu mau ke kantor ?”
“Iya om. Sebentar lagi.”
“Ya sudah, lain kali saja. Aku hanya ingin ngomong tentang adikmu Widi.”
“Memangnya Widi kenapa om?”
“Nanti sore saja, sepulang kantor aku kemari lagi. Takut mengganggu waktu kamu untuk bekerja. Salah aku kalau datang pagi-pagi untuk mengganggu.”
“Baiklah om, nanti saja sepulang kantor saya mampir kerumah om.”
“Ooh, begitu juga boleh.”
***
“Tanti.. tunggu.”
Tanti berhenti. Dilihatnya Danang mengejarnya.
“Kamu mau makan di kantin ?” tanya Danang.
“Maukah makan diluar saja, bersama aku?”
“Ah, enggak mas, sungkan saya.”
“Mengapa sungkan, kan aku yang mengajak?”
“Nggak enak sama pegawai lainnya, nanti dikira saya ada apa-apa sama mas Danang.”
“Memangnya kalau benar.. kenapa?”
“Mas Danang nih..”
“Aku serius, baiklah, sekali ini saja, ya.. mau ya..”
"Baiklah, sekali ini saja.”
Danang membawa Tanti keluar dari kantor. Tapi Tanti terkejut ketika mereka tidak memasuki sebuah rumah makan atau warung untuk makan siang.
“Lho, ini bukan warung kan?”
“Memang bukan, tapi setiap hari aku makan disini. Ayo turun,” kata Danang sambil turun, lalu membuka pintu samping, dimana Tanti duduk.
“Ayolah..,” Danang memegang tangan Tanti dan menariknya perlahan.
“Ini rumah siapa?”
“Ini rumahku, ayolah.”
“Aduh mas, saya takut..”
“Mengapa takut, ini bukan rumah hantu.. atau harus saya gendong?”
Tanti turun dengan perasaan ragu. Dua kali Danang memaksa dengan ancaman mau menggendongnya.
“Ayo...” Danang menggandengnya. Tanti berdebar. Kalau ini rumah Danang, berarti akan bertemu dengan keluarganya. Bagaimana kalau dia ditanya ini dan itu?
“Ibuuu...” tiba-tiba Danang berteriak ketika keduanya sudah menaiki teras. Tanti melepaskan pegangan Danang, bermaksud duduk diluar, tapi seorang wanita setengah baya yang masih cantik muncul dari arah pintu.
“Ibu.. kenalkan, ini Tanti,” kata Danang memperkenalkan Tanti pada ibunya.
Tanti dengan takut-takut menyalami bu Ismoyo kemudian mencium tangannya.
“Ini Tanti yang kamu ceritakan berulangkali itu?”
“Iya bu, saya mengajaknya untuk makan siang dirumah.”
“Oh, baguslah, ajak dia keruang makan, simbok sudah menunggu dari tadi,” kata bu Ismoyo ramah. Degup di jantung Tanti sedikit berkurang melihat senyuman dibibir wanita cantik itu.
“Ayo jangan sungkan. mBook.. tambahkan piringnya satu lagi,” perintahnya kepada simbok, yang segera dilakukan simbok sambil melirik kearah gadis yang masih berdiri disamping Danang.
“Ayo duduklah,” kata Danang sambil menarik kursi untuk Tanti.”
Tapi sungguh Tanti merasa sungkan. Dia belum pernah makan disuasana se resmi ini. Danang membuka piring Tanti, lalu mengambilkan nasi untuknya. Kalau tau mau diajak kerumah pasti dia sudah menolaknya tadi.
“Sudah mas, biar saya mengambilnya sendiri.”
“Jangan sungkan. Simbok masak asem-asem, sama ikan goreng, ayolah, “ kata bu Ismoyo mendahului mengambil lauk untuk dirinya sendiri. Karena Tanti tampak sungkan, Danang yang mengambilkan sepotong ikan, lalu menyendokkan sayurnya.
“Sudah mas, sudah..”
“Ya sudah, makanlah, apa perlu aku suapin?” goda Danang.
“Ah..” lalu Tanti menyendok makanannya pelan. Takut kelihatan tidak sopan.
“Aduh, ini keluarga kaya, mana sesuai dengan keluargaku, yang makan dengan cara sederhana, lauk sederhana, mengunyah makanannya pun juga tidak takut-takut seperti sekarang ini," pikir Tanti.
“Benarkah Danang suka sama kamu?” tiba-tiba pertanyaan itu mengejutkan Tanti. Ia hampir tersedak mendengarnya, lalu diminumnya seteguk air.
“Mas Danang... apakah..”
“Iya bu, Danang suka sama dia, cuma dia tidak percaya bahwa Danang suka. Jadi Danang bawa dia kerumah untuk menunjukkan kepada dia bahwa Danang serius.”
“Kamu masih kuliah?”
“Menunggu ujian minggu depan, ibu.”
“Ooh..”
“Sambil bekerja dikantornya mas Danang,” lanjutnya lirih.
“Apa kamu juga suka sama anakku?”
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti sebuah interograsi yang memaksa dia untuk menjawab. Tapi dia bingung harus menjawab apa.”
“Saya...”
“Katakan saja, jangan takut..”
“Saya tidak berani, ibu..” jawabnya setelah menelan makanan yang selesai dikunyahnya.
“Maksudnya tidak berani untuk apa?”
“Saya hanya.. gadis biasa, anak orang rendahan.. mana berani saya menyukai mas Danang?”
“O.. itu. Tapi sesungguhnya perasaan kamu bagaimana?”
“Mati aku,” batin Tanti yang kemudian meneguk minumannya.
“Orang jatuh cinta itu kan tidak memandang siapa yang dicintainya. Mungkin dia pejabat, mungkin dia pemilik perusahaan yang besar, hartanya selangit. Ya kan?”
“Kalau saya melakukannya, bukankah akan ditertawakan?”
“Tidak.. tak ada yang akan mentertawakan, karena perasaan itu adanya didalam hati.”
Tanti terdiam. Siapa sih yang nggak suka dicintai oleh laki-laki tampan yang kaya raya? Tapi kan ia harus tahu diri.
“Sudahlah, teruskan makanannya. Kata-kataku membuat makanan kamu terasa nggak enak ya?” kata bu Ismoyo sambil melanjutkan makannya, demikian juga Danang dan Tanti. Tanti merasa sedikit lega sehingga bisa menelan makanannya sampai nasi dipiring masuk semua kedalam perutnya.
“Ayo nambah,” kata bu Ismoyo.
“Terimakasih ibu, sudah kenyang.” Lalu Tanti meneguk minumannya.
Tapi ketika mereka duduk diruang tengah, bu Ismoyo kembali mengulang pertanyaannya.
“Apa kamu suka pada anakku ini?”
“Ss..saya.. hanya orang biasa..”
“Aku menanyakan perasaan kamu, bukan menanyakan kamu orang seperti apa.”
“Karena saya merasa rendah, jadi saya tak berani mengatakannya.”
“Baiklah, aku sudah bisa menarik kesimpulan dari jawaban kamu itu.”
Lalu Tanti terkejut sendiri.
“Kesimpulan yang bagaimana? Bahwa aku suka sama dia?” kata batinnya.
“Saya dari keluarga miskin bu, ibu saya pembantu disebuah rumah tangga.”
“Memangnya kenapa?”
Tanti diam. Benar sih, memangnya kenapa, kan dia tidak menanyakan siapa dan apa pekerjaan orang tuanya?
“Kamu cantik, sederhana, dan rendah hati. Aku suka itu.”
Tanti mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Benarkah si ibu yang kaya ini suka sama dia? Seperti bermimpi ketika bu Ismoyo menatapnya sambil tersenyum.
“Tanti, kamu tidak perlu takut, ibuku tidak menggigit kan?” canda Danang.
“Tapi Tanti, kamu harus hati-hati. Anakku yang satu ini terkadang susah dikendalikan.”
Danang menatap ibunya dengan kesal.
“Ibu.. kok ibu menjelek-jelekkan aku didepan pacar aku sih?”
Hm.. pacar? Kapan mereka pacaran? Kata hati Tanti. Tapi bagaimanapun ada rasa senang ketika berbincang dengan ibunya Danang dan diterima dengan manis.
***
“Ibu sudah mengijinkan, tinggal cari waktu yang baik untuk melamar kamu,” kata Danang dalam perjalanan kembali ke kantor.
“Apa? Melamar? Memangnya saya suka sama mas?”
“Nggak suka ya?
“Nggak tahu ah, saya bingung sesiang ini. Tiba-tiba ketemu ibunya mas, dan bertanya yang susah sekali saya menjawabnya.”
“Memang susah ya, mau bilang tidak, nyatanya suka, mau bulang suka.. rasanya sungkan,” canda Danang.
“Iih, mas Danang tuh.”
“Sebenarnya kamu suka sama aku kan?”
“Ge er..”
“Nggak... gitu?”
“Mas harus memikirkannya lagi, apalagi ibunya mas, selalu saya ingatkan bahwa saya ini bukan siapa-siapa.”
“Baiklah, aku akan memikirkan kamu terus.”
“Bukan begitu.”
“Habis apa dong?”
“Memikirkan, apakah benar saya ini pilihan mas. Saya takut, pada suatu hari nanti mas menyesal, keluarga mas juga menyesal.”
“Aku yakin tidak.”
“Sekarang mas bisa berkata begitu, nanti.. pada suatu hari.. mas baru akan merasakannya.”
“Tanti, apa aku harus berlutut dihadapan kamu supaya kamu percaya?”
“Jangan, nanti saya kualat.”
“Kalau begitu jangan banyak alasan. Nanti selesai wisuda aku akan melamar kamu. Ketika kamu wisuda, aku juga akan datang menghadirinya.”
***
Sore itu setelah mengantarkan Tanti pulang, Danang mampir kerumah Handoko, karena tas kerja Handoko ketinggalan di kantor.
“Mas Handoko belum sampai rumah yu?” kata Danang sambil nyelonong masuk langsung kedapur.
“Heei.. ada tamu nyelonong nih, nggak pakai permisi,” tegur Palupi yang sedang menggoreng pisang didapur.
“Ya ampun, kaget aku mbak, kirain MIrah yang sedang menggoreng pisang, tapi kok cantik bener yu Mirah sekarang, ee.. ternyata mbak Lupi?”
“Jadi kamu kemari mencari Mirah?”
“Nggak mbak, tapi aku senang mbak Lupi sudah pulang kerumah, hm.. harum pisang gorengnya, aku tungguin didepan nya.”
“Enak saja, bantuin dulu, ambilkan piring untuk tempatnya.”
“Oh.. harus ngebantuin dulu baru boleh ngicipin ya? Okey.. mana Rah, piringnya?” teriaknya.
“Ini mas, nak Mirah sedang menemani mas Bintang mandi," sahut Suprih yang sedang ada didekat Palupi.
“Ooh, iya.. yu Suprih.. terimakasih. Mana mbak, taruh disini. Kok mbak Lupi rajin sekali sih.Hm.. harumnya.. “
“Makan aja tuh, pisangnya, kan sudah matang? Jangan banyak komentar.
“Yaah.. masih panas begini, disuruh makan, ikutan matang dong lidahku.”
“Makanya harus sabar..”
“Aku bawa kedepan ya mbak..”
“Awas ya, jangan dihabisin,”
“Nggak.. yu Suprih.. buatkan minum dong.”
“Ya mas.. “
“Mas Handoko sebentar lagi pulang, dia suka pisang goreng. Tapi sekarang sedang mampir kerumah om Tarman.”
“Oo, pantesan tadi tergesa-gesa, sampai tasnya ketinggalan.”
Suprih yang sedang membuatkan minum untuk Danang terkejut, mendengar ponselnya berdering.
“Bu, saya angkat dulu telponnya ya, siapa tahu dari Tanti, mungkin butuh sesuatu.”
“Iya yu.. angkat saja dulu.”
Suprih masuk kedalam kamarnya.
"Hallo nduk, ada apa?”
“Bu, bisakah ibu pulang kerumah sore ini?”
“Memangnya ada apa? Kamu sakit?”
“Tidak bu, aku ingin ngomong sama ibu nih, bingung aku bu..”
“Oh, baiklah, ibu pamit dulu sama juragan ya.”
Suprih membawa minuman yang sudah disiapkan keruang tengah, diletakkan didepan Danang, lalu kembali menemui Palupi yang masih mengentas pisang gorengnya.
“Ibu, ma’af, bolehkah saya pamit pulang sore ini?”
“Ada apa yu, anakmu sakit?”
“Tidak bu, katanya ada yang penting, saya diminta pulang sebentar.”
“Jangan-jangan kamu disuruh keluar dari pekerjaan sekarang yu.”
“Belum bu, mungkin masih bulan depan.”
“Ya sudah yu, pulang saja, barangkali memang ada yang penting. Karena ini sudah sore ya nginap sekalian saja yu, besok pagi-pagi datang lagi kemari."
Ketika melintas diruang tengah dimana Danang sedang menikmati pisang gorengnya, Suprih mengangguk pada Danang.
“Mau kemana yu?”
“Mau pulang sebentar mas, permisi..”
“Rumahnya jauh?”
“Enggak mas, daerah Nusukan, bisa naik angkot.”
“Oh, kalau mau menunggu bisa sekalian bareng saya.”
“Nggak mas, sudah, saya bisa naik angkot.”
“Ya sudah, hati-hati ya yu..”
“Nusukan.. bukankah rumah Tanti juga didaerah itu. Jangan-jangan tetanggaan,” gumam Danang sambil mencomot lagi pisang gorengnya. Kalau saja Danang tahu siapa Suprih sebenarnya..
“Nih, aku tambahin lagi, udah mateng semua nih,” kata Palupi yang membawa lagi sepiring pisang goreng.
“Banyak banget nggorengnya mbak.”
“Nanti kalau mas Handoko pulang, bisa habis nih pisang.”
“Hm, senangnya kalau punya isteri cantik dan pengertian..”
Danang senang. Tadi Handoko sudah berbicara tentang isterinya yang sudah kembali dan pasti membuat dia tak mengenalinya. Itu benar.. ia heran melihat Palupi menggoreng pisang kesukaan suaminya.
***
“Sebenarnya om Tarman mau bicara apa?”
“Aku kan sudah bilang, ini tentang adik kamu Widi.”
“Iya, memangnya Widi kenapa?”
“Om mu ini senang, sebentar lagi adik kamu sudah akan menyelesaikan kuliahnya. Tapi om tidak suka dia masih berhubungan dengan Ryan.”
“Memangnya Ryan itu kurangnya apa om? Dia baik, ganteng, sudah mapan.”
“Itu aku tahu dan mengakuinya, tapi aku benci dia.”
“Mengapa om? Dia pernah menyakiti hati om?”
“Iya, sangat menyakiti.” Kata pak Tarman tandas.
***
Besok lagi ya