Wednesday, November 21, 2018
SEEPENGGAL KISAH XXXIV
Pak Marsam melongok kearah bungkusan yang dibawa Asri, ia heran melihat Asri seperti terpana memndangi bungkusan itu.
"Baju? Bu Prasojo memberi kamu baju?"
Asri tidk menjawab, dan dia tak kuasa menahan jatuh air matanya.
"ada apa nduk? Kamu mengapa? Apa artinya semua ini?" Pak Marsam mengelus pundak anak gadisnya dengn perasaan tak menentu. Ada apa ini sebenarnya? Apakah ada hubungannya dengan sikap bu Prasojo yang acuh tak acuh terhadapnya selama ini?Asri masih tenggelam dalam tangisnya.lalu pak Marsam mengmbil segelas air yang kemudian diulurkannya pada anaknya.
"Minumlah, biar agak tenang hatimu. Lalu katakan pada bapak.. apa yang terjadi."
Asri meneguk air yang diulurkan bapaknya. Sesungguhnya Asri tak ingin membuat ayhnya sedih. Apapun kejadian yang membuatnya terluka ia tak ingin mengajak ayahnya ikut larut dalam kesedihannya. Namun kali itu Asri benar2 tak kuasa menahannya. Sesungguhnya ia ingin mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, dan surat pengunduran diri itu sudah dibuatnya. Tapi ia bingung bagaimana mengatakannya pada ayahnya. Apa alasan yang harus dikatakannya.
"Kalau hatimu sudah tenang.. katakan pada bapak mengapa .. hm.. baju yang bagus sekali.. pasti mahal harganya. Mengapa diberikannya padamu dan mengapa kau kemudian menjadi sedemikian sedih?"
Mau tak mau Asri harus mengatakan yang sebenarnya. Bapaknya juga harus tau alasan apa yang membuatnya menjadi ingin berhenti bekerja.
"Baju ini pak.. beberapa hari yang lalu saya yang memilihkannya. Maksud saya.. mas Bowo memberikan hadiah ulang tahun untuk ibunya.. saya disuruh memilihkan yang mana. Ini pilihan saya..tapi entah mengapa.. diberikan lagi sama saya .."
"Mungkin bu Prasojo tidak suka warna pilihanmu."
"Tapi mas Bowo bilang dia suka sekali. Dan dia .. oh.. saya ingat.. mas Bowo juga mengatakan bahwa sayalah yang memilihnya.."
"Berarti bu Prasojo tidak suka karena kamu yang memilihnya. Mengapa dia tidak suka sama kamu..Bapak juga heran..akhir2 ini sikap bu Prasojo kelihatan aneh. Dia tidak pernah menegur atau mengajak bicara bapak..Bapak bingung telah melakukan kesalahan apa. Padahal pak Prasojo begitu baik dan selalu memuji muji pekerjaanmu.
Sejenak keduanya terdiam.
"Pasti ada sesuatu.. apa aku berbuat salah..," gumam pak Marsam.
"Bukan pak.. bukan bapak.. tapi Asri.
Pak Marsam heran.. ASri melakukan kesalahan apa? Dipandanginya anaknya lekat2 Mengapa Asri tidak berhati hati.. lalu kesalahan apa yang telah dilakukannya. Namun pak Marsam menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Ia melihat Asri sudah sedemikian bersedih..
"Saya sudah lama ingin keluar dari pekerjaan pak.."akhirnya Asri berkata."Tapi bapak tidak usah khawatir, Asri tidak melakukan kesalahan apa2."lanjutnya.
"Lalu...?" Pak Marsam akhirnya ingin tau juga. Kalau Asri mengatakan bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa2.. pak Marsam percaya.. karenaa majikannya tak pernah tidak memuji muji anaknya. Lalu....
"Tampaknya bu prasojo ingin memasukkan anak temannya bekerja disana.. menggantikan saya.."
"Oooo..." pak Marsam mengangguk angguk..
"Baiklah.. kau boleh keluar dari pekerjaanmu.
Tapi Bowo tidak mau menerima surat pengunduran diri itu. Di sobek2nya surat itu dihadapan Asri.
"Tidak.. kau tidak boleh keluar dari sini. Ada apa?"
"Alasan ini tidak masuk akal. Kau ingin merawat bapak.. dan karena itu kau ingin meninggalkan pekerjaanmu? Tidak.. kau mencari alasan yang tidak tepat. Dan aku tidak mengijinkanmu keluar."
Asri menunduk... sedihkah dia atau gembira? Dia gembira karena ternyata Bowo masih membutuhkannya, tapi sedih karena ibu Prasojo seperti memusuhinya. Asri tak ingin mengatakan perihal baju bu Prasojo yang diberikannya padanya. Tidak.. kalau dia melakukannya maka pasti Bowo akan menegur ibunya dan bu Prabowo akan semakin membencinya.
"Ini perintah..." Bowo mengulang kata2nya untuk memaksa Asri. Tapi kali ini Asri tidak tersenyum.
Berjuta perasaan mengaduk aduk hatinya. Apa yang harus dia lakukan.. dia sangat bingung.
"Saya hanya .. saya..berpendidikan rendah..saya..." terbata Asri mengatakannya.
"Aku tidak perduli kau berpendidikan apa. Teruslah bekerja. Ini harus selesai sebelum jam istirahat tiba..ok?" Bowo memberikan seberkas surat.. lalu melanjutkan pekerjaannya.
Asri kembali kemejanya dengan lunglai.
#adalanjutannya#
"Baju? Bu Prasojo memberi kamu baju?"
Asri tidk menjawab, dan dia tak kuasa menahan jatuh air matanya.
"ada apa nduk? Kamu mengapa? Apa artinya semua ini?" Pak Marsam mengelus pundak anak gadisnya dengn perasaan tak menentu. Ada apa ini sebenarnya? Apakah ada hubungannya dengan sikap bu Prasojo yang acuh tak acuh terhadapnya selama ini?Asri masih tenggelam dalam tangisnya.lalu pak Marsam mengmbil segelas air yang kemudian diulurkannya pada anaknya.
"Minumlah, biar agak tenang hatimu. Lalu katakan pada bapak.. apa yang terjadi."
Asri meneguk air yang diulurkan bapaknya. Sesungguhnya Asri tak ingin membuat ayhnya sedih. Apapun kejadian yang membuatnya terluka ia tak ingin mengajak ayahnya ikut larut dalam kesedihannya. Namun kali itu Asri benar2 tak kuasa menahannya. Sesungguhnya ia ingin mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, dan surat pengunduran diri itu sudah dibuatnya. Tapi ia bingung bagaimana mengatakannya pada ayahnya. Apa alasan yang harus dikatakannya.
"Kalau hatimu sudah tenang.. katakan pada bapak mengapa .. hm.. baju yang bagus sekali.. pasti mahal harganya. Mengapa diberikannya padamu dan mengapa kau kemudian menjadi sedemikian sedih?"
Mau tak mau Asri harus mengatakan yang sebenarnya. Bapaknya juga harus tau alasan apa yang membuatnya menjadi ingin berhenti bekerja.
"Baju ini pak.. beberapa hari yang lalu saya yang memilihkannya. Maksud saya.. mas Bowo memberikan hadiah ulang tahun untuk ibunya.. saya disuruh memilihkan yang mana. Ini pilihan saya..tapi entah mengapa.. diberikan lagi sama saya .."
"Mungkin bu Prasojo tidak suka warna pilihanmu."
"Tapi mas Bowo bilang dia suka sekali. Dan dia .. oh.. saya ingat.. mas Bowo juga mengatakan bahwa sayalah yang memilihnya.."
"Berarti bu Prasojo tidak suka karena kamu yang memilihnya. Mengapa dia tidak suka sama kamu..Bapak juga heran..akhir2 ini sikap bu Prasojo kelihatan aneh. Dia tidak pernah menegur atau mengajak bicara bapak..Bapak bingung telah melakukan kesalahan apa. Padahal pak Prasojo begitu baik dan selalu memuji muji pekerjaanmu.
Sejenak keduanya terdiam.
"Pasti ada sesuatu.. apa aku berbuat salah..," gumam pak Marsam.
"Bukan pak.. bukan bapak.. tapi Asri.
Pak Marsam heran.. ASri melakukan kesalahan apa? Dipandanginya anaknya lekat2 Mengapa Asri tidak berhati hati.. lalu kesalahan apa yang telah dilakukannya. Namun pak Marsam menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Ia melihat Asri sudah sedemikian bersedih..
"Saya sudah lama ingin keluar dari pekerjaan pak.."akhirnya Asri berkata."Tapi bapak tidak usah khawatir, Asri tidak melakukan kesalahan apa2."lanjutnya.
"Lalu...?" Pak Marsam akhirnya ingin tau juga. Kalau Asri mengatakan bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa2.. pak Marsam percaya.. karenaa majikannya tak pernah tidak memuji muji anaknya. Lalu....
"Tampaknya bu prasojo ingin memasukkan anak temannya bekerja disana.. menggantikan saya.."
"Oooo..." pak Marsam mengangguk angguk..
"Baiklah.. kau boleh keluar dari pekerjaanmu.
Tapi Bowo tidak mau menerima surat pengunduran diri itu. Di sobek2nya surat itu dihadapan Asri.
"Tidak.. kau tidak boleh keluar dari sini. Ada apa?"
"Alasan ini tidak masuk akal. Kau ingin merawat bapak.. dan karena itu kau ingin meninggalkan pekerjaanmu? Tidak.. kau mencari alasan yang tidak tepat. Dan aku tidak mengijinkanmu keluar."
Asri menunduk... sedihkah dia atau gembira? Dia gembira karena ternyata Bowo masih membutuhkannya, tapi sedih karena ibu Prasojo seperti memusuhinya. Asri tak ingin mengatakan perihal baju bu Prasojo yang diberikannya padanya. Tidak.. kalau dia melakukannya maka pasti Bowo akan menegur ibunya dan bu Prabowo akan semakin membencinya.
"Ini perintah..." Bowo mengulang kata2nya untuk memaksa Asri. Tapi kali ini Asri tidak tersenyum.
Berjuta perasaan mengaduk aduk hatinya. Apa yang harus dia lakukan.. dia sangat bingung.
"Saya hanya .. saya..berpendidikan rendah..saya..." terbata Asri mengatakannya.
"Aku tidak perduli kau berpendidikan apa. Teruslah bekerja. Ini harus selesai sebelum jam istirahat tiba..ok?" Bowo memberikan seberkas surat.. lalu melanjutkan pekerjaannya.
Asri kembali kemejanya dengan lunglai.
#adalanjutannya#
SEPENGGAL KISAH XXXIII
SEPENGGAL KISAH 32
Dewi menghela nafas. Bersaing dalam pendidikan.. ia menang.. bersaing.dalam wajah.. hm.. memang Asri cantik.. tapi ia terlalu lugu dan menurutnya sangat tidak menarik .. terlalu sederhana.. Tapi bersaing merebut hatinya Bowo .. itulah yang Dewi tidak yakin. Apakah Bowo berselera serendah itu? Bukankah Dewi lebih pantas duduk disamping Bowo? Tapi ini kan masalah hati..
Kembali Dewi menghela nafas. Sesungguhnya ia tak mau bersaing dengan perempuan seperti Asri.
"Apa dia lupa ya" tiba2 bu Harlan sudah duduk dihadapan anak gadisnya.
"Siapa yang lupa bu? Lupa tentang apa?"
"Itu..bu Prasojo.. bukankah ulang tahunnya sudah kemarin?"
"Memangnya kenapa kalau ulang tahunnya kemarin?"
"Dia itu mau mengundang kita. Kok kemarin nggak nelpon kemari."
"Ya sudahlah bu.. kalau kita tidak diundang kan ya nggak apa2."
"Mungkin dia lupa. Biar aku telpon dia."
"Jangan bu.. malu ah."
"Lho.. dia itu kan mau mendekatkan kamu sama nak Bowo.. ya di pesta ulang tahun itu sa'at yang tepat."
"Aku nggak mau bu.. sudah.. lupakan saja dia.
Bu Harlan terkejut mendengar kata2 anaknya.
"Aku tidak mau bersaing dengan Asri. Aku mau cari pekerjaan lain saja."
"Dasar bodoh. Kalau kamu berhasil merebut hati Bowo maka kamu juga akan mendapatkan pekerjaan itu."
"Aku tidak ingin lagi. Sikap mas Bowo terhadapku tidak ramah sama sekali. Ia malah menunjukkan kemesraannya dengan Asri."
Sebuah mobil behenti didepan rumah. Perempuan setengah baya yang masih cantik keluar dari dalam mobil itu.
Bu Harlan tertawa ramah.. "Hallow mbakyu... kok nggak telpon.dulu.."
"Nggak apa2.. cuma mampir."
Dewi mendekat dan menyalami tamunya.
"Apa kabar cantik?"
"Baik tante."
Mereka duduk diruangan tamu dan tertawa tawa renyah. Dewi merasa agak kurang senang melihat suasana itu, setidaknya setelah ia kehilangan separuh harapannya untuk mendapatkan pekerjaan di kantor Bowo. Ketika ia menyajikan minuman.. bu Prasojo memintanya duduk bersama mereka.
"Dengar Dewi.. Bowo sesungguhnya tidak pacaran sama Asri."
Tapi Dewi lebih percaya pada apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu ditoko itu. Ia tak menjawab apapun.
"Bowo bilang sendiri kok. Mana mungkin Bowo mau sama anak sopirnya sendiri.. dia itu hanya kasihan pada kehidupannya yang miskin."
Dewi tersenyum. Mungkin benar apa yang dikatakan bu Prasojo. Tapi mungkin juga salah.
"Dan so'al pekerjaan itu.. bersabarlah.. suamiku dan Bowo sedang mencarikan posisi yang tepat untuk kamu"
Sore itu pak Marsam sedang duduk diberanda rumah bersama Asri. Pak Marsam senang karena Asri sudah bekerja selama hampir 4 bulan dan tampaknya majikannya selalu memuji muji pekerjaannya.
Tiba2 sebuah mobil berhenti dan pak Marsam tergopoh menyambutnya karena bu Prasojo keluar dari dalam mobil itu.
"Ibu.. apa bapak memanggil saya ?"
Bu Prasojo sama sekali tak menunjukkan wajah ramah.
Hati pak Marsam berdebar. Asri yang menyusul kedepan mengulurkan tangan untuk menyalaminya, tapi bu Prasojo menolaknya. Ia mengulurkan sebuah tas plastik dan diberikannya untuk Asri. "Aku hanya ingin memberikan ini untuk kamu." Kamudian bu Prasojo berlalu dan memacu mobilnya pergi dari sana.
Asri membuka bungkusan itu dengan berdebar.
"Akhir2 ini sikap bu Prasojo agak aneh," gumam pak Marsam.
Asri sudah membuka bungkusan itu dan melihat isinya. Asri sangat terkejut.
#adalanjutannya#
Tuesday, November 20, 2018
SEPENGGAL KISAH XXXII
Sepenggal kisah 32
kopi pahit yang dihidangkan
isterinya. Bu Prasojo menemani sambil membuka buka koran yang dibolak
balik seperti mencari sesuatu.
"Ibu itu lagi mencari apa to?"
"Itu lho pak.. catering yang langganan kita itu ... saya pesen kok nggak bisa menerima karena banyak barengannya. Saya lagi mencari yang lain."
"Buat apa ibu pesen catering?"
"Bapak itu bagaimana.. lupa ya kalau besok ibu tuh ulang tahun?"
Pak Prasojo tertawa.
"Kok malah diketawain to pak" bu Prasojo kesal melihat suaminya seperti kurang perhatian pada hari ulang tahunnya.
"Kayak anak kecil saja to bu.. lha wong ulang tahun itu kan berarti umur kita berkurang.... pakai dirayakan segala. Biasanya kan cuma kita bertiga.. makan2 direstoran kesukaan kita.. jalan2..."
"Kali ini ibu pengin yang lain pak. Ibu mengundang tamu istimewa." Mata bu Prasojo berbinar.. ia merasa menemukan jalan yang bagus demi menciptakan kebahagiaan bagi satu2nya puteranya. Ya, bu Prasojo ingin mengundang bu Harlan dan Dewi puterinya.
"Tamu istimewa siapa?" Pak Prasojo mulai menduga duga
"Itu lho pak.. bu Harlan sama Dewi." Tuh kan...
Pak Prasojo memamdangi isterinya dengan perasaan kurang senang. "Ada apa nih.. ibu masih melanjutkan niyat ibu dengan menjodoh jodohkan anak kita?Bowo belum tentu senang."
" Nanti kalau sering ketemu pasti lama2.dia senang. Laki2 mana yang nggak senang sama gadis secantik Dewi?"
"Tidak semua perempuan cantik itu menarik." Tegas pak Prasojo.
"Urungkan saja niyat ibu untuk mengundang orang lain. Kita akan merayakannya bertiga saja."
Bu Prasojo cemberut. Seperti anak kecil kehilangan mainan.
Tiba2 telpon berdering dan bu Prasojo bergegas menerimanya.
"Halllo... hai.. jeng.. ya.. selamat sore.. gimana... oh.. bener..? Ketemu di mal... waah
.. seneng donk Dewi.. lho.. kenapa...? Hahhh? Masa sih.. nggak... nggak jebg.. nggak mungkin Bowo pacaran sama Asri... ya emoh to aku... nggak jeng.. nggak bener itu.. nanti aku tanya dia... yaa.. pasti jeng... jangan khawatir.. memang belum pulang dia.. baiklah.. selamat sore."
Bu Prasojo meletakkan gagang telpon itu dan bergegas mendekati suaminya.
"Dengar pak.. ada berita yang nggak enak.."
Pak Prasojo tidak menjawab. Sebagian berita itu ia sudah mendengarnya karena isterinya menjawab telponnya keras sekali.
"Bapak tau tidak.. tadi Dewi melihat Bowo berpacaran sama Asri."
"Ya biarin saja to bu.. mereka kan anak2 muda.. kalau saling suka .. itu wajar.." jawab pak Prabowo datar. Ia tidak suka mendengar perempuan2 bergunjing. Walau sebenarnya heran kalau itu benar.
Mobil Bowo memasuki halaman. Bu Bowo menunggunya diteras samping rumah dan melihat Bowo menenteng belanjaan.
"Dari mana?" Suara itu seperti tidak biasanya. Sedikit ada nada marah didalamnya.
"Belanja bu.. untuk keperluan2 Bowo sendiri." Dan Bowo pun berlalu membawa belanjaannya kearah kamar.
"Tunggu Bowo.."
Bowo berhenti melangkah. Ia berharap ibunya tak membuka barang2 belanjaannya karena salah satunya adalah hadiah yangmasih dirahasiakannya.
"Ibu dengar... kamu berpacaran sama Asri . Benar?"
Bowo menduga duga.. mengapa ibunya bertanya seperti itu. Tapi kemudian Bowo tertawa.
"Bowo.. ibu bertanya.. apa itu benar...?"
"Benar bu.."
"Apa?" Mata bu Prasojo seperti menyala.. marah sekali.
"Kalau dia mau.." jawab Bowo sekenanya. Lalu masuk kedalam kamar dan menutupnya.
#adalanjutannya#
"Ibu itu lagi mencari apa to?"
"Itu lho pak.. catering yang langganan kita itu ... saya pesen kok nggak bisa menerima karena banyak barengannya. Saya lagi mencari yang lain."
"Buat apa ibu pesen catering?"
"Bapak itu bagaimana.. lupa ya kalau besok ibu tuh ulang tahun?"
Pak Prasojo tertawa.
"Kok malah diketawain to pak" bu Prasojo kesal melihat suaminya seperti kurang perhatian pada hari ulang tahunnya.
"Kayak anak kecil saja to bu.. lha wong ulang tahun itu kan berarti umur kita berkurang.... pakai dirayakan segala. Biasanya kan cuma kita bertiga.. makan2 direstoran kesukaan kita.. jalan2..."
"Kali ini ibu pengin yang lain pak. Ibu mengundang tamu istimewa." Mata bu Prasojo berbinar.. ia merasa menemukan jalan yang bagus demi menciptakan kebahagiaan bagi satu2nya puteranya. Ya, bu Prasojo ingin mengundang bu Harlan dan Dewi puterinya.
"Tamu istimewa siapa?" Pak Prasojo mulai menduga duga
"Itu lho pak.. bu Harlan sama Dewi." Tuh kan...
Pak Prasojo memamdangi isterinya dengan perasaan kurang senang. "Ada apa nih.. ibu masih melanjutkan niyat ibu dengan menjodoh jodohkan anak kita?Bowo belum tentu senang."
" Nanti kalau sering ketemu pasti lama2.dia senang. Laki2 mana yang nggak senang sama gadis secantik Dewi?"
"Tidak semua perempuan cantik itu menarik." Tegas pak Prasojo.
"Urungkan saja niyat ibu untuk mengundang orang lain. Kita akan merayakannya bertiga saja."
Bu Prasojo cemberut. Seperti anak kecil kehilangan mainan.
Tiba2 telpon berdering dan bu Prasojo bergegas menerimanya.
"Halllo... hai.. jeng.. ya.. selamat sore.. gimana... oh.. bener..? Ketemu di mal... waah
.. seneng donk Dewi.. lho.. kenapa...? Hahhh? Masa sih.. nggak... nggak jebg.. nggak mungkin Bowo pacaran sama Asri... ya emoh to aku... nggak jeng.. nggak bener itu.. nanti aku tanya dia... yaa.. pasti jeng... jangan khawatir.. memang belum pulang dia.. baiklah.. selamat sore."
Bu Prasojo meletakkan gagang telpon itu dan bergegas mendekati suaminya.
"Dengar pak.. ada berita yang nggak enak.."
Pak Prasojo tidak menjawab. Sebagian berita itu ia sudah mendengarnya karena isterinya menjawab telponnya keras sekali.
"Bapak tau tidak.. tadi Dewi melihat Bowo berpacaran sama Asri."
"Ya biarin saja to bu.. mereka kan anak2 muda.. kalau saling suka .. itu wajar.." jawab pak Prabowo datar. Ia tidak suka mendengar perempuan2 bergunjing. Walau sebenarnya heran kalau itu benar.
Mobil Bowo memasuki halaman. Bu Bowo menunggunya diteras samping rumah dan melihat Bowo menenteng belanjaan.
"Dari mana?" Suara itu seperti tidak biasanya. Sedikit ada nada marah didalamnya.
"Belanja bu.. untuk keperluan2 Bowo sendiri." Dan Bowo pun berlalu membawa belanjaannya kearah kamar.
"Tunggu Bowo.."
Bowo berhenti melangkah. Ia berharap ibunya tak membuka barang2 belanjaannya karena salah satunya adalah hadiah yangmasih dirahasiakannya.
"Ibu dengar... kamu berpacaran sama Asri . Benar?"
Bowo menduga duga.. mengapa ibunya bertanya seperti itu. Tapi kemudian Bowo tertawa.
"Bowo.. ibu bertanya.. apa itu benar...?"
"Benar bu.."
"Apa?" Mata bu Prasojo seperti menyala.. marah sekali.
"Kalau dia mau.." jawab Bowo sekenanya. Lalu masuk kedalam kamar dan menutupnya.
#adalanjutannya#
SEPENGGAL KISAH XXXI
Sore itu pak Prasojo baru menikmati kopi pahit yang dihidangkan
isterinya. Bu Prasojo menemani sambil membuka buka koran yang dibolak
balik seperti mencari sesuatu.
"Ibu itu lagi mencari apa to?"
"Itu lho pak.. catering yang langganan kita itu ... saya pesen kok nggak bisa menerima karena banyak barengannya. Saya lagi mencari yang lain."
"Buat apa ibu pesen catering?"
"Bapak itu bagaimana.. lupa ya kalau besok ibu tuh ulang tahun?"
Pak Prasojo tertawa.
"Kok malah diketawain to pak" bu Prasojo kesal melihat suaminya seperti kurang perhatian pada hari ulang tahunnya.
"Kayak anak kecil saja to bu.. lha wong ulang tahun itu kan berarti umur kita berkurang.... pakai dirayakan segala. Biasanya kan cuma kita bertiga.. makan2 direstoran kesukaan kita.. jalan2..."
"Kali ini ibu pengin yang lain pak. Ibu mengundang tamu istimewa." Mata bu Prasojo berbinar.. ia merasa menemukan jalan yang bagus demi menciptakan kebahagiaan bagi satu2nya puteranya. Ya, bu Prasojo ingin mengundang bu Harlan dan Dewi puterinya.
"Tamu istimewa siapa?" Pak Prasojo mulai menduga duga
"Itu lho pak.. bu Harlan sama Dewi." Tuh kan...
Pak Prasojo memamdangi isterinya dengan perasaan kurang senang. "Ada apa nih.. ibu masih melanjutkan niyat ibu dengan menjodoh jodohkan anak kita?Bowo belum tentu senang."
" Nanti kalau sering ketemu pasti lama2.dia senang. Laki2 mana yang nggak senang sama gadis secantik Dewi?"
"Tidak semua perempuan cantik itu menarik." Tegas pak Prasojo.
"Urungkan saja niyat ibu untuk mengundang orang lain. Kita akan merayakannya bertiga saja."
Bu Prasojo cemberut. Seperti anak kecil kehilangan mainan.
Tiba2 telpon berdering dan bu Prasojo bergegas menerimanya.
"Halllo... hai.. jeng.. ya.. selamat sore.. gimana... oh.. bener..? Ketemu di mal... waah
.. seneng donk Dewi.. lho.. kenapa...? Hahhh? Masa sih.. nggak... nggak jebg.. nggak mungkin Bowo pacaran sama Asri... ya emoh to aku... nggak jeng.. nggak bener itu.. nanti aku tanya dia... yaa.. pasti jeng... jangan khawatir.. memang belum pulang dia.. baiklah.. selamat sore."
Bu Prasojo meletakkan gagang telpon itu dan bergegas mendekati suaminya.
"Dengar pak.. ada berita yang nggak enak.."
Pak Prasojo tidak menjawab. Sebagian berita itu ia sudah mendengarnya karena isterinya menjawab telponnya keras sekali.
"Bapak tau tidak.. tadi Dewi melihat Bowo berpacaran sama Asri."
"Ya biarin saja to bu.. mereka kan anak2 muda.. kalau saling suka .. itu wajar.." jawab pak Prabowo datar. Ia tidak suka mendengar perempuan2 bergunjing. Walau sebenarnya heran kalau itu benar.
Mobil Bowo memasuki halaman. Bu Bowo menunggunya diteras samping rumah dan melihat Bowo menenteng belanjaan.
"Dari mana?" Suara itu seperti tidak biasanya. Sedikit ada nada marah didalamnya.
"Belanja bu.. untuk keperluan2 Bowo sendiri." Dan Bowo pun berlalu membawa belanjaannya kearah kamar.
"Tunggu Bowo.."
Bowo berhenti melangkah. Ia berharap ibunya tak membuka barang2 belanjaannya karena salah satunya adalah hadiah yangmasih dirahasiakannya.
"Ibu dengar... kamu berpacaran sama Asri . Benar?"
Bowo menduga duga.. mengapa ibunya bertanya seperti itu. Tapi kemudian Bowo tertawa.
"Bowo.. ibu bertanya.. apa itu benar...?"
"Benar bu.."
"Apa?" Mata bu Prasojo seperti menyala.. marah sekali.
"Kalau dia mau.." jawab Bowo sekenanya. Lalu masuk kedalam kamar dan menutupnya.
#adalanjutannya#
"Ibu itu lagi mencari apa to?"
"Itu lho pak.. catering yang langganan kita itu ... saya pesen kok nggak bisa menerima karena banyak barengannya. Saya lagi mencari yang lain."
"Buat apa ibu pesen catering?"
"Bapak itu bagaimana.. lupa ya kalau besok ibu tuh ulang tahun?"
Pak Prasojo tertawa.
"Kok malah diketawain to pak" bu Prasojo kesal melihat suaminya seperti kurang perhatian pada hari ulang tahunnya.
"Kayak anak kecil saja to bu.. lha wong ulang tahun itu kan berarti umur kita berkurang.... pakai dirayakan segala. Biasanya kan cuma kita bertiga.. makan2 direstoran kesukaan kita.. jalan2..."
"Kali ini ibu pengin yang lain pak. Ibu mengundang tamu istimewa." Mata bu Prasojo berbinar.. ia merasa menemukan jalan yang bagus demi menciptakan kebahagiaan bagi satu2nya puteranya. Ya, bu Prasojo ingin mengundang bu Harlan dan Dewi puterinya.
"Tamu istimewa siapa?" Pak Prasojo mulai menduga duga
"Itu lho pak.. bu Harlan sama Dewi." Tuh kan...
Pak Prasojo memamdangi isterinya dengan perasaan kurang senang. "Ada apa nih.. ibu masih melanjutkan niyat ibu dengan menjodoh jodohkan anak kita?Bowo belum tentu senang."
" Nanti kalau sering ketemu pasti lama2.dia senang. Laki2 mana yang nggak senang sama gadis secantik Dewi?"
"Tidak semua perempuan cantik itu menarik." Tegas pak Prasojo.
"Urungkan saja niyat ibu untuk mengundang orang lain. Kita akan merayakannya bertiga saja."
Bu Prasojo cemberut. Seperti anak kecil kehilangan mainan.
Tiba2 telpon berdering dan bu Prasojo bergegas menerimanya.
"Halllo... hai.. jeng.. ya.. selamat sore.. gimana... oh.. bener..? Ketemu di mal... waah
.. seneng donk Dewi.. lho.. kenapa...? Hahhh? Masa sih.. nggak... nggak jebg.. nggak mungkin Bowo pacaran sama Asri... ya emoh to aku... nggak jeng.. nggak bener itu.. nanti aku tanya dia... yaa.. pasti jeng... jangan khawatir.. memang belum pulang dia.. baiklah.. selamat sore."
Bu Prasojo meletakkan gagang telpon itu dan bergegas mendekati suaminya.
"Dengar pak.. ada berita yang nggak enak.."
Pak Prasojo tidak menjawab. Sebagian berita itu ia sudah mendengarnya karena isterinya menjawab telponnya keras sekali.
"Bapak tau tidak.. tadi Dewi melihat Bowo berpacaran sama Asri."
"Ya biarin saja to bu.. mereka kan anak2 muda.. kalau saling suka .. itu wajar.." jawab pak Prabowo datar. Ia tidak suka mendengar perempuan2 bergunjing. Walau sebenarnya heran kalau itu benar.
Mobil Bowo memasuki halaman. Bu Bowo menunggunya diteras samping rumah dan melihat Bowo menenteng belanjaan.
"Dari mana?" Suara itu seperti tidak biasanya. Sedikit ada nada marah didalamnya.
"Belanja bu.. untuk keperluan2 Bowo sendiri." Dan Bowo pun berlalu membawa belanjaannya kearah kamar.
"Tunggu Bowo.."
Bowo berhenti melangkah. Ia berharap ibunya tak membuka barang2 belanjaannya karena salah satunya adalah hadiah yangmasih dirahasiakannya.
"Ibu dengar... kamu berpacaran sama Asri . Benar?"
Bowo menduga duga.. mengapa ibunya bertanya seperti itu. Tapi kemudian Bowo tertawa.
"Bowo.. ibu bertanya.. apa itu benar...?"
"Benar bu.."
"Apa?" Mata bu Prasojo seperti menyala.. marah sekali.
"Kalau dia mau.." jawab Bowo sekenanya. Lalu masuk kedalam kamar dan menutupnya.
#adalanjutannya#
EPENGGAL KISAH XXX
Asri terkejut. Wajah itu belum lama dikenalnya. Baru 2 hari yang
lalu mereka bertemu. Dikantor Bowo. Dia Dewi. Perempuan cantik yang kata
bu Prasojo lebih pantas duduk dikursinya. Asri mencoba tersenyum,
seperti Dewi yang menyalaminya dengan ramah.
"Asri, kau lupa ?"
"Oh.. mbak Dewi ya.. nggak.. aku nggak lupa.. Lagi belanja ya?"
"Ya.. kamu sendirian?"
"Aku.. sama...
Belum selesai Asri menjawab.. Bowo memanggil dikejauhan. "Asri... coba sini.. "
Asri memandangi Dewi dengan heran. Rupanya mereka belum saling kenal.
"Mbak, itu pak Bowo.. ayo kesana.."
Tapi Dewi menolak. Mungkin karena sungkan. "Nggak ah.. aku selesaikan dulu belanjanya."
"Lho..dulu waktu kesana kan belum jadi ketemu .."
Bowo yang memanggil Asri dan tidak segera datang lalu mendekat.
"Bantu aku memilih baju Asri.. "
"Oh..ya.. sebentar.. ini.. mbak Dewi.." Asri memperkenalkannya pada Bowo.
"Dewi...?"
"Yang kekantor mencari bapak.. 2 hari yang lalu."
"Saya Dewi.."
"O.. yang puterinya bu Harlan?"
"Mas mengenal ibu saya?" Dewi merasa senang.
"Nggak..."
Dan Dewi pun kecewa. Mungkin Bowo hanya mengenal ibu dan dirinya melalui ceritera bu Prasojo.
"Sudah selesai belanjanya? Ayo bantu aku." Bowo menarik tangan Asri sambil berpaling pada Dewi. "Ma'af ya.. kami sedang buru2."
Dan Dewi pun mengangguk dengan beribu perasaan mengaduk hatinya.
Tampaknya mereka berpacaran...
"Tolong Asri.. mana baju yang pas untuk ibu."
"Untuk bu Prasojo?"
"Ya..
"Mengapa saya yang harus memilih mas.. takut saya.."
"Takut kenapa? Saya minta bantuanmu untuk memilih yang pas untuk ibu. Dengar.. besok ibu ulang tahun.. harus ada kado istimewa untuk ibu."
"Tapi saya nggak berani mas, nanti kalau nggak cocog bagaimana."
"Ayolah Asri....ini perintah." Asri sudah menduga bahwa kalimat itu pasti akan dikeluarkannya setiap kali Bowo memaksa.
Asri tersenyum.. ia selalu merasa bahwa ia harus patuh pada atasannya.
Asri memilih milih.. sambil bergumam "Kalau nanti nggak cocog bagaimana ya"
"Pilihkan saja.. "
Asri sering ketemu bu Prasojo setiap menjemput ayahnya. Ia melihat seringkali bu Prasojo mengenakan gaun dengan warna yang bernuansa hijau. Haa .. ini bagus sekali.. tapi Asri ragu2.. ia masih sja takut memilihkan gaun untuk bu Prasojo yang kemarin menampakkan perasaan tak senang pada dirinya. Ia masih memegangi gaun itu.
"Ini kah? Bagus Asri.. ini warna kesayangan ibu.."
Bowo segera mengambil gaun itu.
"Kalau kau sendiri..suka warna apa?"
"Apa? Tidak... saya tidak.. baju2 ini terlalu mewah untuk saya. Ayo kita pulang." Asri bergegas menuju kasir dan menyerahkan sejumlah uang untuk belanjaannya sendiri.
Bowo menggeleng gelengkan kepalanya.
Dewi bergegas pulang setelah bertemu Asri. Ia memang tak terlalu banyak belanja. Ibunya yang sedang duduk diteras heran melihat anaknya pulang begitu cepat.
"Tumben sudah pulang.. biasanya kalau belanja kau habiskan waktu ber jam2 ditoko."
"Coba tebak bu.. tadi aku bertemu siapa?"
"Siapa? Teman2mu kuliah? Bekas pacarmu?"
"Iih.. ibu ini... bukan bu.. aku ketemu mas Bowo."
Bu Harlan tertawa senang. "Benarkah? Terus ... teruus..?"
"Sebenarnya kan aku belum pernah ketemu orangnya.. jadi tadinya ya nggak tau."
"Tapi kan kamu sudah ibu kasih fotonya."
"Beda bu... Ibu tau nggak..dia sedang belanja sama sekretarisnya."
"Ya nggak papa ta.. sekretaris kan kerjaannya juga disuruh suruh."
"Tapi menurutku.. mereka itu seperti orang lagi pacaran lho bu."
Bu Harlan terperanjat. "Tapi bu Prasojo ingin mengambilmu sebagai menantu. Biar ibu tilpun dia."
#adalanjutannya#
"Asri, kau lupa ?"
"Oh.. mbak Dewi ya.. nggak.. aku nggak lupa.. Lagi belanja ya?"
"Ya.. kamu sendirian?"
"Aku.. sama...
Belum selesai Asri menjawab.. Bowo memanggil dikejauhan. "Asri... coba sini.. "
Asri memandangi Dewi dengan heran. Rupanya mereka belum saling kenal.
"Mbak, itu pak Bowo.. ayo kesana.."
Tapi Dewi menolak. Mungkin karena sungkan. "Nggak ah.. aku selesaikan dulu belanjanya."
"Lho..dulu waktu kesana kan belum jadi ketemu .."
Bowo yang memanggil Asri dan tidak segera datang lalu mendekat.
"Bantu aku memilih baju Asri.. "
"Oh..ya.. sebentar.. ini.. mbak Dewi.." Asri memperkenalkannya pada Bowo.
"Dewi...?"
"Yang kekantor mencari bapak.. 2 hari yang lalu."
"Saya Dewi.."
"O.. yang puterinya bu Harlan?"
"Mas mengenal ibu saya?" Dewi merasa senang.
"Nggak..."
Dan Dewi pun kecewa. Mungkin Bowo hanya mengenal ibu dan dirinya melalui ceritera bu Prasojo.
"Sudah selesai belanjanya? Ayo bantu aku." Bowo menarik tangan Asri sambil berpaling pada Dewi. "Ma'af ya.. kami sedang buru2."
Dan Dewi pun mengangguk dengan beribu perasaan mengaduk hatinya.
Tampaknya mereka berpacaran...
"Tolong Asri.. mana baju yang pas untuk ibu."
"Untuk bu Prasojo?"
"Ya..
"Mengapa saya yang harus memilih mas.. takut saya.."
"Takut kenapa? Saya minta bantuanmu untuk memilih yang pas untuk ibu. Dengar.. besok ibu ulang tahun.. harus ada kado istimewa untuk ibu."
"Tapi saya nggak berani mas, nanti kalau nggak cocog bagaimana."
"Ayolah Asri....ini perintah." Asri sudah menduga bahwa kalimat itu pasti akan dikeluarkannya setiap kali Bowo memaksa.
Asri tersenyum.. ia selalu merasa bahwa ia harus patuh pada atasannya.
Asri memilih milih.. sambil bergumam "Kalau nanti nggak cocog bagaimana ya"
"Pilihkan saja.. "
Asri sering ketemu bu Prasojo setiap menjemput ayahnya. Ia melihat seringkali bu Prasojo mengenakan gaun dengan warna yang bernuansa hijau. Haa .. ini bagus sekali.. tapi Asri ragu2.. ia masih sja takut memilihkan gaun untuk bu Prasojo yang kemarin menampakkan perasaan tak senang pada dirinya. Ia masih memegangi gaun itu.
"Ini kah? Bagus Asri.. ini warna kesayangan ibu.."
Bowo segera mengambil gaun itu.
"Kalau kau sendiri..suka warna apa?"
"Apa? Tidak... saya tidak.. baju2 ini terlalu mewah untuk saya. Ayo kita pulang." Asri bergegas menuju kasir dan menyerahkan sejumlah uang untuk belanjaannya sendiri.
Bowo menggeleng gelengkan kepalanya.
Dewi bergegas pulang setelah bertemu Asri. Ia memang tak terlalu banyak belanja. Ibunya yang sedang duduk diteras heran melihat anaknya pulang begitu cepat.
"Tumben sudah pulang.. biasanya kalau belanja kau habiskan waktu ber jam2 ditoko."
"Coba tebak bu.. tadi aku bertemu siapa?"
"Siapa? Teman2mu kuliah? Bekas pacarmu?"
"Iih.. ibu ini... bukan bu.. aku ketemu mas Bowo."
Bu Harlan tertawa senang. "Benarkah? Terus ... teruus..?"
"Sebenarnya kan aku belum pernah ketemu orangnya.. jadi tadinya ya nggak tau."
"Tapi kan kamu sudah ibu kasih fotonya."
"Beda bu... Ibu tau nggak..dia sedang belanja sama sekretarisnya."
"Ya nggak papa ta.. sekretaris kan kerjaannya juga disuruh suruh."
"Tapi menurutku.. mereka itu seperti orang lagi pacaran lho bu."
Bu Harlan terperanjat. "Tapi bu Prasojo ingin mengambilmu sebagai menantu. Biar ibu tilpun dia."
#adalanjutannya#
SEPENGGAL KISAH XXIX
Pagi itu Asri berangkat lebih pagi. Ia ingin agar Bowo tidak datang
menjemputnya. Ia menunggu bis kota yang akan lewat di halte dekat
rumahnya. Banyak yang difikirkannya dari kemarin itu. Kata2 bu Prasojo
yang mengatakan bahwa Dewi lebih pantas duduk dikursinya terasa sangat
mengganggunya. Mungkin tak lama lagi ia harus meninggalkan pekerjaannya.
Lalu ia akan mencari pekerjaan lain pastinya. Menjahit? Sesungguhnya ia
tidak pintar menjahit. Lagipula mesin jahit juga tidak murah harganya.
Lalu apa? Apakah ada perusahaan yang mau menerimanya sebagai karyawan
hanya dengan ijazah SLTA yang dimilikinya? Kalau ia sekarang bekerja
dikantor Bowo.. itu karena belas kasihan, sangat yakin dia. Dan sekarang
..
Teet.. teet.. tiba2 suara klakson mengejutkannya. Dan sebuah mobil yang dikenalnya berhenti persis didepannya. Asri menghela nafas. Aduuh.. bis kota yang ditunggunya terlalu lama sih... Dan Bowo sudah turun dari mobil itu lalu menarik tangannya.
"Mau lari dariku non?"
Asri tak bisa menolak tentu saja. Nanti kalau dia menolak bisa2 orang mengira dia mau diculik dan orang2 akan menghajar Bowo habis2an.
"Ayo masuk... ini perintah."
Mobil itu kembali melaju diantara lalu lalang kendaraan yang membuat jalanan jadi ramai. Seramai hati Asri pagi itu.
"Kamu marah?"
"Oh.. tidak.. tidak.. sesungguhnya.. saya tidak ingin menyusahkan bapak."
"Bukan bapak.. ini belum dikantor," tegur Bowo
"Ya.. ma'af.." Asri menjawab singkat. Batinnya berkata, baiklah aku menuruti kata2nya, toh mungkin tinggal beberapa hari saja dia bekerja disana.
Dikantornya Asri tak banyak bicara. Bowo menangkap kesedihan pada sikap Asri hari itu.
"Kamu marah?" pertanyaan itu terulang kembali.
"Tidak... tidak.." dan itu juga jawaban yang sama yang dilontarkannya ketika mereka masih dimobil.
"Wajahmu lain.. sikapmu juga lain..Ada sesuatu?"
Asri mengangkat mukanya dan lagi2 ia melihat senyum itu.. dan lagi2 juga ia teringat pada senyuman Damar. Aduhai hati... alangkah sulitnya melupakan dia. Asri menghela nafas.
"Kalau ada sesuatu.. katakan saja.. siapa tau aku bisa membantu."
"Sebenarnya... " Asri tak bisa melanjutkan kata2nya. Dan kata2 yang terputus itu membuat Bowo penasaran.
"Sebenarnya.....?" Bowo menirukan kata Asri dan berharap mendapatkan lanjutannya.
"Sebenarnya.. saya merasa .. tak.. tak pantas duduk disini.." akhirnya Asri mampu mengucapkan. Ia berfikir.. daripada menjadi beban dihatinya lebih baik ia berkata tetus terang.
Bowo mengerutkan keningnya.
"Setelah 3 bulan lebih kau mengatakan itu? Mengapa?"
"Lama2 saya berfikir begitu. Saya ini siapa.. pendidikan saya apa.. dan..."
"Stoppp..." Bowo memenggal kalimat yang akan diucapkan Asri.
"Kalau aku memperkerjakan kamu disini.. dan ternyata kamu bisa melakukannya dengan baik.. memuaskan.. maka aku tak perduli kau siapa dan ijazahmu apa."
Asri ingin mengatakan tentang ucapan bu Prasojo tapi diurungkannya.
"Jadi sekarang lanjutkan pekerjaanmu."
Bowo menarik lap top dan mulai tenggelam dalam kesibukannya.
Asri menghela nafas. Hm.. kalau saja kau tau tentang keinginan ibumu. Kemudian Asri menjadi pasrah. Apa yang akan terjadi.. terjadilah..
Sore itu Bowo mengajak Asri mampir kesebuah mal. Bowo akan membeli sesuatu dan minta agar. Asri menemaninya.
Baiklah.. srkalian juga Asri akan membelikan beberapa kebutuhan untuk ayahnya.
Ketika mereka terpisah .. tiba2 seseorang menepuk bahunya.
"Asri... !
Asri menoleh dan terkejut.
#adalanjutannyatuh#
Teet.. teet.. tiba2 suara klakson mengejutkannya. Dan sebuah mobil yang dikenalnya berhenti persis didepannya. Asri menghela nafas. Aduuh.. bis kota yang ditunggunya terlalu lama sih... Dan Bowo sudah turun dari mobil itu lalu menarik tangannya.
"Mau lari dariku non?"
Asri tak bisa menolak tentu saja. Nanti kalau dia menolak bisa2 orang mengira dia mau diculik dan orang2 akan menghajar Bowo habis2an.
"Ayo masuk... ini perintah."
Mobil itu kembali melaju diantara lalu lalang kendaraan yang membuat jalanan jadi ramai. Seramai hati Asri pagi itu.
"Kamu marah?"
"Oh.. tidak.. tidak.. sesungguhnya.. saya tidak ingin menyusahkan bapak."
"Bukan bapak.. ini belum dikantor," tegur Bowo
"Ya.. ma'af.." Asri menjawab singkat. Batinnya berkata, baiklah aku menuruti kata2nya, toh mungkin tinggal beberapa hari saja dia bekerja disana.
Dikantornya Asri tak banyak bicara. Bowo menangkap kesedihan pada sikap Asri hari itu.
"Kamu marah?" pertanyaan itu terulang kembali.
"Tidak... tidak.." dan itu juga jawaban yang sama yang dilontarkannya ketika mereka masih dimobil.
"Wajahmu lain.. sikapmu juga lain..Ada sesuatu?"
Asri mengangkat mukanya dan lagi2 ia melihat senyum itu.. dan lagi2 juga ia teringat pada senyuman Damar. Aduhai hati... alangkah sulitnya melupakan dia. Asri menghela nafas.
"Kalau ada sesuatu.. katakan saja.. siapa tau aku bisa membantu."
"Sebenarnya... " Asri tak bisa melanjutkan kata2nya. Dan kata2 yang terputus itu membuat Bowo penasaran.
"Sebenarnya.....?" Bowo menirukan kata Asri dan berharap mendapatkan lanjutannya.
"Sebenarnya.. saya merasa .. tak.. tak pantas duduk disini.." akhirnya Asri mampu mengucapkan. Ia berfikir.. daripada menjadi beban dihatinya lebih baik ia berkata tetus terang.
Bowo mengerutkan keningnya.
"Setelah 3 bulan lebih kau mengatakan itu? Mengapa?"
"Lama2 saya berfikir begitu. Saya ini siapa.. pendidikan saya apa.. dan..."
"Stoppp..." Bowo memenggal kalimat yang akan diucapkan Asri.
"Kalau aku memperkerjakan kamu disini.. dan ternyata kamu bisa melakukannya dengan baik.. memuaskan.. maka aku tak perduli kau siapa dan ijazahmu apa."
Asri ingin mengatakan tentang ucapan bu Prasojo tapi diurungkannya.
"Jadi sekarang lanjutkan pekerjaanmu."
Bowo menarik lap top dan mulai tenggelam dalam kesibukannya.
Asri menghela nafas. Hm.. kalau saja kau tau tentang keinginan ibumu. Kemudian Asri menjadi pasrah. Apa yang akan terjadi.. terjadilah..
Sore itu Bowo mengajak Asri mampir kesebuah mal. Bowo akan membeli sesuatu dan minta agar. Asri menemaninya.
Baiklah.. srkalian juga Asri akan membelikan beberapa kebutuhan untuk ayahnya.
Ketika mereka terpisah .. tiba2 seseorang menepuk bahunya.
"Asri... !
Asri menoleh dan terkejut.
#adalanjutannyatuh#
Subscribe to:
Posts (Atom)
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024
SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024 (Tien Kumalasari) Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...
-
DARAH CINTA DAN AIR MATA 37 (Tien Kumalasari) Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...
-
HANYA BAYANG BAYANG 52 (Tien Kumalasari) Puspa masih terbaring di ranjang rumah sakit ketika sang ibu dimakamkan. Wajahnya pucat, matan...
-
BIARKAN AKU MEMILIH 01 (Tien Kumalasari) Pak Bondan sedang menghirup kopinya, ketika melihat mobil yang dikendarai Nirmala memasuki hal...