Thursday, December 2, 2021

MELANI KEKASIHKU 41

 

MELANI KEKASIHKU  41

(Tien Kumalasari)

 

“Dita... lihat...kamu suka?” tanya Maruti bersemangat.

Anindita menatap baju-baju itu, matanya berkedip-kedip, dan tampak berbinar. Tiba-tiba ia melongok ke arah depan. Seperti ada yang dicarinya.

“Dita, coba berdiri, sayang... nah.. begini...” Maruti membantu Anindita berdiri, dan menempelkan gaun itu ditubuhnya.

“Waaah... bagus... cantik sekali... “ kata yang hadir hampir bersamaan. Tapi Anindita masih melihat ke arah depan.

“Dita, kamu mencari siapa?” tanya Laras.

Anindita menundukkan wajahnya, melihat baju yang ditempelkan ditubuhnya. Seulas senyuman tersungging di bibir tipisnya.

“Cantik Dita...”

Anindita mengelus baju itu, lalu matanya kembali menatap ke arah depan.

“Kamu mencari siapa?”

“Diluar... siapa?” tanya Anindita.

“Tidak ada siapa-siapa, semua yang menyayangi kamu ada disini,” kata Maruti.

Anindita mendekap baju itu ketubuhnya.

“Ibu, ayo kita coba bajunya sekarang...” kata Melani sambil menarik lengan ibunya lembut.

Anindita menurut, melangkah ke kamar mengikuti anak gadisnya.

“Seperti ada yang dicarinya...” kata Laras pelan, berharap Anindita tak mendengarnya.

“Benar.. “

“Aku tahu Bu,  Kemarin om Anggoro bilang, nggak usah bilang baju itu dari siapa, kalau tante Dita peka, pasti tahu siapa pengirimnya, gitu bu,” kata Andra yang juga mengucap pelan.

“Ooo...” kata Maruti dan Laras hampir bersamaan.

“Dia mencari-cari, apakah Anggoro ada diluar... pasti itu,” kata Maruti sambil tersenyum lebar.

“Bagus sekali tante... ini pertanda bagus,” kata Andra.

“Benar, mereka akan segera berbaikan,” kata Agus.

Mata mereka memancarkan sinar bahagia. Tapi tak ada seorangpun yang menyebut nama Anggoro. Khawatir Anindita tersinggung dan marah.

Ketika Anindita keluar .. semua menatapnya sambil memuji tak henti-henti.

“Cantiknya adikku...”

“Cantik tante...  “

Anindita tersipu, lalu duduk kembali di kursinya, sambil sesekali mengelus baju yang dipakainya.

Maruti ingin mengatakan siapa yang memberinya, tapi diurungkannya. Sikap Anindita belum jelas seperti apa, terkadang dia baik, dia mengenal semua orang, tapi siapa tahu suatu saat berubah lagi.

***

Andra dan Sasa pamit pulang terlebih dulu karena harus kembali ke kantor.

“Ndra, kalau kamu sudah sampai di kantor, bilang sama bapak agar segera menyusul kemari ya. Nanti simbok biar tidur disini, soalnya tampaknya simbok masih kangen sama anaknya,” pesan Maruti.

“Baik bu, nanti Andra sampaikan.”

Dalam perjalanan pulang itu Sasa tampak diam. Ia masih teringat Indi yang berkali-kali menelpon Andra. Dan dia yakin nanti pasti akan menelponnya lagi.

“Sa, kok diam sih...”

“Apa?”

“Kamu... dari tadi diam. Biasanya cerewet.”

“Ngantuk aku.”

“Jam segini ngantuk?”

“Kekenyangan..”

Andra tertawa.

“Kalau begitu nanti saja di kantor kamu tidurnya, kalau kamu tidur disini, aku nggak kuat lho nggendong kamu turun. Pasti lebih berat karena kamu habis makan sampai kekenyangan.”

“Enak aja. Siapa yang mau minta gendong sama kamu?”

“Kalau kamu ketiduran di mobil, masa aku biarkan kamu tidur sementara aku turun. Kalau diculik orang bagaimana?”

“Memangnya kenapa kalau aku diculik? Kamu sedih? Menangis?” ledek Sasa.

“Iya dong sedih dan menangis sampai berguling-guling.”

“Bohong...”

“Beneran. Habis nggak ada lagi sahabat aku yang setia menemani, yang perhatian sama aku...”

“Kamu tuh diperhatikan, tapi apa kamu juga perhatian sama aku?”

“Perhatian dong. Dari tadi aku merhatiin kamu terus, bibirnya manyun begitu dari tadi. Kalau bukan karena aku perhatian, mana bisa aku melihatmu cemberut, sampai aku bertanya ‘kenapa’. Ya kan?”

“Ya sudah, buruan nyetirnya, biar segera sampai di kantor. Nanti ada yang nungguin lho.”

“Memangnya siapa nunguin aku?”

“Yang bolak-balik nelpon tadi. Pastinya kamu ingin buru-buru balas menelponnya. Ya kan?”

“Ngarang.”

“Benar kan?”

Andra menoleh ke arah Sasa, dan menangkap lagi bibir manyun itu dengan matanya. Senyumnya melebar. Ia hampir yakin kalau Sasa cemburu. Dan bukankah cemburu itu tandanya cinta? Selama ini mereka memang sangat dekat, saling memperhatikan, saling menyayangi, tapi salah siapa kalau rasa sayang itu berubah menjadi cinta? Andra tiba-tiba juga merasa aneh. Menyadari bahwa ternyata didalam hatinya juga terselip rasa itu. Tanpa Sasa didekatnya, serasa sepi hari-harinya. Melihat Sasa cemberut, hatinya juga merasa seperti dicubit. Aduhai..

“Sa...”

Sasa menoleh ke arah laki-laki ganteng di sampingnya. Menatap hidung mancungnya, dan mata tajamnya yang kadang tampak sangat kocak setiap kali memandangnya.

“Ada apa?”

“Tadi tuh yang menelpon memang Indi..”

“Nggak nanya,” jawab Sasa ketus.

“Tapi aku ingin memberitahu kamu.”

“Nggak penting lah. Beritahu aku, kalau ada hubungannya dengan tugas aku. Yang ini  sepertinya bukan.”

“Ya, bukan karena perumahan itu. Dia sudah membayar lunas kan?”

“Sudah diurus sama bagian keuangan.”

“Sa, apa kamu mengira aku sama Indi ada hubungan selain masalah rumah?”

“Itu bukan urusan aku dong. Ada atau tidak, apa peduli aku?”

“Jadi kamu nggak peduli lagi sama aku?  Duuuh..... sedihnyaaaa...” kata Andra sambil bersuara seperti orang menangis, untuk menggoda Sasa.

“Iih, nggak lucu...”

“Ya memang nggak lucu, mana ada orang menangis kok dianggap lucu.”

“Yang jelas aku nggak suka sama dia,” lanjut Andra.

“Wauww...”

“Kok ‘wauuw’...?

“Seorang gadis cantik.. pintar.. anggun, mempesona... pria mana yang nggak suka?”

“Ada kalanya kecantikan itu tidak ada artinya. Dan laki-laki itu, tidak selalu tertarik kepada sebuah kecantikan lhoh, apalagi kemudian jatuh cinta.”

“Ini aneh..”

“Aneh tapi nyata. Aku lebih suka kepada gadis yang cerewet, centil, lucu, menggemaskan, dan penuh perhatian.”

“Oo..o..”

Andra menoleh lagi ke arah gadis disampingnya, dan sebelah tangannya bermaksud meraih tangan Sasa, tapi dikibaskannya.

“Dilarang pegang-pegang, kita bukan muhrim..”

“Baiklah, kalau begitu kapan ya kita bisa menjadi muhrim.”

“Apa maksudmu?”

“Aku akan melamar kamu.”

Sasa terkejut bukan alang kepalang. Ia ingin menjawab, tapi mobilnya sudah memasuki halaman kantor. Andra segera memarkir mobilnya, dan berjalan cepat menghampiri ayahnya yang tampaknya bersiap untuk pergi. Sasa mengikutinya.

“Bapak mau kemana?”

“Aku menunggu kalian. Bapak mau menyusul ibumu.”

“Oh, baiklah, memang tadi ibu berpesan agar bapak segera menyusul ibu.”

“Bagaimana keadaan tante kamu?”

“Baik. Tampaknya tadi melihat dokter Santi di televisi, lalu tante berteriak-teriak memanggil Sasa.”

“Dia ingat sama Sasa?”

“Tidak, bukan Sasa yang ini. Sasa kecil yang digendongnya dulu. Pastinya ketika terjadi peristiwa dokter Santi kejar-kejaran sama polisi.”

“Lalu...?”

“Ya sudah, lalu semua orang mengatakan kalau Sasa sudah besar, dan tante menerimanya.”

“Baju itu.. bagaimana? Diterima?”

“Diterima, tampaknya senang, dan seperti mencari-cari siapa yang memberi. Sudah, bapak kesana saja sekarang, biar ibu sama tante Laras bercerita.”

“Baiklah kalau begitu.”

Begitu ayahnya menaiki mobil, Andra dan Sasa melangkah masuk kedalam ruangannya. Sasa tak mengucapkan apa-apa. Dia masih terkejut mendengar ucapan Andra. Melamar? Pasti Andra bercanda.

Begitu memasuki ruangan, belum sampai Andra duduk, ponselnya berdering lagi. Sasa hanya melirik sekilas, kemudian duduk di kursinya sendiri, dan sibuk membuka lagi laptop yang ditinggalkannya lumayan lama. Tak ada suara orang berbicara dengan ponsel, dan ponsel itu juga berhenti berdering. Sasa melirik ke arah Andra, dan melihat Andra mulai membuka berkas-berkas yang ada dimejanya.

Ponselnya kembali berdering, tapi Andra tak bermaksud menerimanya. Ia kembali mematikannya dan melanjutkan membuka-buka berkas yang menumpuk dan belum sempat di sentuhnya.

“Jangan karena sungkan, lalu telponnya tidak diterima. Kasihan kan?” kata Sasa sambil terus membuka-buka file yang harus dikerjakannya.

“Banyak pekerjaan dan tidak sempat untuk mengobrol,” jawab Andra yang terus membuka buka berkas lalu menelitinya.

“Tapi aku tadi serius. Apa kamu marah?” kemudian Andra ingin mengatakan sesuatu.

Sekarang Sasa mengangkat wajahnya, menatap ke arah Andra yang juga menatapnya. Mata mereka berpadu, dan memercikkan bunga-bunga aneh yang belum pernah mereka sadari sebelumnya.

“Marahkah?”

“Kenapa?”

“Karena aku bilang mau melamar kamu.”

“Aku tahu kamu bercanda, masa aku harus marah,” Sasa kembali menundukkan mukanya.

“Aku bilang serius. Kamu tidak mendengarnya?”

Sasa tak menjawab, matanya terus menatap Andra tak berkedip, tapi dia berusaha menenangkan debur dadanya.

“Aku cuma cinta sama kamu, Sasa,” ucapnya dengan mata berbinar.

Wajah Sasa memerah. Sungguh tidak romantis, mengucapkan cinta dari atas kursi yang saling berjauhan.

“Beli bunga kek, lalu berikan sambil berlutut dihadapanku,” kata batin Sasa. Tapi sungguh Sasa tak menolaknya. Ia ingin bilang bahwa dirinya lebih tua, tapi ia sudah tahu apa nanti jawaban Andra, jadi tidak diucapkannya. Lagi pula bibirnya tak mampu mengucapkan apapun juga.

“Kamu tidak marah kan?”

Sasa menggeleng.

“Kita selesaikan pekerjaan kita, nanti kita bicara lagi,” kata Andra sambil tersenyum. Sasa terpana, baru kali ini ia melihat senyuman yang begitu manis dan menggetarkan.

***

“Malam itu simbok tidur diruang dapur bersama bibik. Walaupun tidur agak berdesakan, tapi mereka tetap merasa nyaman. Mereka asyik bercerita tentang pengalaman mereka. Satunya bercerita tentang saat Melani dilarikan, satunya lagi bercerita saat menerma Melani kecil yang menangis menjerit-jerit dan diserahkan oleh seorang wanita cantik kepada dirinya.

“Sungguh menyedihkan, orang-orang baik yang hidup sengsara gara-gara kejahatan seseorang,” kata simbok.

“Yang jahat pasti akan mendapat hukumannya,” sahut bibik.

“Kata pak Panji, kita nanti juga akan dipanggil sebagai saksi,” ujar simbok.

“Apa kita akan ditahan?” kata bibik khawatir.

“Tidak, mengapa ditahan. Kata pak Panji kita tidak usah takut, hanya harus mengatakan apa yang kita lihat dan kita alami dengan sejujur-jujurnya.”

“Semoga semuanya cepat selesai, dan kedua majikanku segera bisa bersatu kembali dalam suasana yang bahagia, karena nak Melani sudah pasti akan selalu bersama mereka.”

“Semoga kita juga masih akan tinggal bersama mereka..” gumam simbok yang merasa berat berpisah dengan Melani yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

“Kita pasti akan terus bersama mbok, karena bu Dita tak akan bisa berpisah dari saya.”

“Dan Melani juga sudah berjanji tak akan meninggalkan saya.”

“Senangnya kalau nanti bu Dita sudah pulih kembali dan sudah mau menerima lagi suaminya.”

Sementara simbok dan bibik asyik bercerita sampai larut malam, demikian juga didalam kamar. Dengan manisnya Melani bercerita tentang kejadian demi kejadian, yang membuat meraka harus terpisah-pisah, sehingga ketemu ketika dirinya sudah besar.

Anindita tampak memperhatikan setiap kata dan kalimat yang diucapkan Melani. Hanya sesekali dia menimpali, ketika ada satu dua peristiwa yang diingatnya.

“Dokter Santi itu jahat...”

“Iya ibu, itu sebabnya dia harus mendapat hukuman.”

Anindita mengangguk-angguk.

“Sasa, gadis kecil dengan rambut dikepang dua... aku sayang anak itu..”

“Tadi ibu sudah ketemu kan?”

“Dia sudah besar. Semua bayi menjadi besar, anak kecil menjadi besar.”

“Iya bu, lama-lama juga bayi menjadi besar, Tidak mungkin terus menjadi bayi. Kan setiap hari diberi makan, minum susu, supaya cepat besar, ya kan bu.”

“Kamu juga diberi makan, diberi susu.”

“Nah, makanya sekarang Melani menjadi besar. Sasa menjadi besar.”

Anindita tersenyum senang, ia masih tersenyum ketika kantuk menyerangnya dan dia terlelap dalam mimpi.

***

Pagi hari itu Anindita sudah mandi, dan minta agar Melani menyiapkan gaun barunya untuk dipakai.

“Iya ibu, sini... Melani bantu mengenakan bajunya. Mau yang ini dulu, ada pita coklat tua dibawahnya, atau yang satunya?”

“Yang ini, yang ada pitanya.”

“Baiklah, “

Dengan riang Melani membantu ibunya berpakaian, dan merasa kagum akan kecantikan ibunya.

Ketika mereka keluar dari kamar, simbok dan bibik bertepuk tangan dengan riang.

“Ya ampuun, seperti kakak adik saja..” puji simbok.

“Benar.. seperti kakak adik.”

Anindita tersenyum sambil memegang-megang bajunya.

“Bu Dita, tadi saya sama simbok beli nasi liwet sama ketan .. ibu mau?” kata bibik.

“Aku mau..”

“Sudah saya tata di meja, bu Dita sama nak Melan makan dulu, simbok nanti makan bareng bibik saja,” kata bibik lagi.

“Jangan bik, kita berempat akan makan bersama-sama dalam satu meja.”

“Tapi kursinya hanya tiga..”

“Ambil kursi didepan itu satu. Bisa kan, tingginya juga sama,” kata Melani.

“Baiklah, biar simbok yang mengambilnya,” kata simbok sambil bergegas ke depan.

Pagi itu mereka makan dengan nikmat.

Setelah sarapan, Anindita duduk di ruang tengah, ditemani Melani, sementara simbok dan bibik pamit untuk belanja ke pasar. Hari itu Anindita minta agar bibik memasak sayur bening dan bandeng presto goreng.

“Ibu tahu, ketika ibu berpakaian seperti ini, ibu kelihatan lebih muda, sehingga simbok sama bibik mengira kita adalah kakak dan adik.

“Aku tidak menjadi besar .. “

“Tidak, orang yang sudah besar tidak bisa menjadi lebih besar lagi.”

Tiba-tiba mata Anindita menatap ke arah pintu, dengan mata terbelalak. Seorang laki-laki gagah berdiri disana dengan tersenyum manis.

***

Besok lagi ya.





Wednesday, December 1, 2021

MELANI KEKASIHKU 40

 

MELANI KEKASIHKU  40

(Tien Kumalasari)

 

Spontan bibik dan Melani menghambur ke ruang tengah, meninggalkan masakan yang beranjak mendidih.

“Ibu... ada apa bu?” tanya Melani cemas. Dilihatnya ibunya berdiri, seperti sedang mencari-cari.

“Mana Sasa... mana Sasa... perempuan itu.. perempuan itu.. membawanya lari.”

“Perempuan yang mana ibu?” tanya Melani sambil memeluk ibunya, sementara bibik terduduk di lantai, cemas.

“Dia... polisi sudah membawanya.. dokter Santi... dokter Santi .. mana Sasa.. tadi sudah aku gendong.. dibawa lagi pasti.. Sasaaa....” Anindita berteriak tak terkendali.

Melani dan bibik kebingungan, karena tidak tahu apa yang terjadi. Mereka melihat ke arah televisi, yang ada hanya iklan-iklan.

“Pasti tadi ada berita tertentu..” gumam Melani.

“Tidak ada dokter Santi bu, tidak ada Sasa... ayo duduklah kembali, ibu tenang ya,” bujuk Melani.

Bibik berdiri mengambilkan minum untuk majikannya.

“Ini bu.. diminum dulu..” kata bibik, tapi Anindita menepiskannya sehingga minuman itu tumpah.

“Sasa mana... Sasa... kasihan anak itu.. ibunya sangat kejam.. “

“Dimana Sasa bu?”

“Tadi aku gendong... mana dia...ibunya sudah ditangkap polisi..”

“Ibunya siapa?”

“Disitu... aku melihatnya.. dia ditangkap polisi... mana Sasaaa?”

Saat itulah tiba-tiba Laras muncul bersama Agus.

“Mana Sasa...? Kamu membawa Sasa kan? Ibunya sudah ditangkap polisi..” kata Anindita sambil menuding kearah Laras, lalu menuding lagi ke arah televisi.

“Sasa sedang bekerja, Dita.... Dita.. kamu ingat aku?” kata Laras sambil mendekat.

“Kamu membawa Sasa atau tidak?” tanya Anindita dengan wajah penuh kecemasan.

“Dita, Sasa sedang bekerja...”

“Sasa kecil... Sasa yang tadi aku gendong...aku melihat ibunya dibawa polisi.. dokter Santi.. penjahat itu..” teriaknya emosi.

Agus segera mengerti. Dia tahu hari ini Santi dipindahkan dari tahanan di Jakarta ke Solo. Pastinya polisi menayangkan berita itu dan Anindita melihatnya.

“Dita, itu masa lalu... sekarang Sasa sudah besar...”

Anindita mengatupkan mulutnya. Berkali-kali dia mendengar kata-kata itu. ‘Sekarang sudah besar, sekarang sudah besar..’

“Oh, maksud ibu... Sasa puterinya tante Laras?” tanya Melani.

“Benar, Melan... dulu Sasa bersama tantemu ini... ya Dita? Dilarikan dokter Santi lalu berkejar-kejaran dengan polisi.”

“Mengapa tiba-tiba ibu ingat mbak Sasa?”

“Tadi aku menggendongnya...” gumam Anindita pelan. Ia belum sadar sepenuhnya.

“Mungkin ada siaran di televisi yang mengabarkan tentang seorang narapidana yang dibawa dari Jakarta. Pastinya itu dokter Santi, lalu Dita melihatnya,” kata Agus.

“Ibu, apa tadi ibu melihat berita di televisi?”

“Penjahat itu .. sudah dibawa polisi.. tadi Sasa bersamaku... dimana dia?”

“Ibu, . ibu itu teringat kejadian yang sudah lama sekali... Sekarang yang namanya Sasa itu sudah besar.”

“Kamu selalu begitu,” gerutu Anindita.

“Seperti juga Melani yang dulu masih bayi kecil, sekarang sudah besar Bu. Sekarang,  Sasa sudah besar.”

“Lebih besar dari Melani, Dita...” sambung Laras.

“Sekarang Sasa sudah besar... mengapa dia ditangkap polisi...” Anindita bingung.

“Dia melakukan kejahatan lagi Dita. Dia juga yang menculik Melani saat masih bayi.”

Anindita terperanjat. Ia jatuh terduduk. Melani mendekat dan duduk di sebelahnya.

“Melani bayi.. diculik ? Dia lagi?”

“Itu sebabnya dia ditangkap polisi Dita, baru sekarang ketahuan. Yang membuat kamu berpisah dengan Melani dan juga suami kamu.. juga dia...” kata Laras lembut. Merasa iba melihat Anindita tampak kebingungan.

“Ibu, nanti sebelum tidur, Melan mau bercerita sama Ibu. Cerita bagus. Nanti Ibu akan tahu banyak tentang kejadian yang telah lalu. Ibu juga akan mengenal simbok, orang yang membesarkan Melan. Ibu juga tidak boleh membenci bapak, karena yang jahat adalah dokter Santi,” kata Melani panjang lebar.

Anindita diam, mencoba mencerna apa yang dikatakan anaknya.

Tiba-tiba, Andra dan Sasa datang. Sebuah kebetulan yang membuat mereka terkejut dan senang.

“Bapak sama ibu ada disini?” sapa Sasa.

“Sasa... sini.. dekat sama ibu..” kata Laras sambil melambaikan tangan kearah Sasa.

Mendengar kata Sasa, Anindita tampak mencari-cari. Tapi yang dicarinya tidak ketemu. Gadis kecil ceriwis dengan ramput dikepang dua, yang lucu dan menggemaskan, mana dia.

“Dita, inilah Sasa yang kamu cari,” kata Laras sambil menyuruh Sasa agar berlutut didepan Anindita.

Anindita tampak bingung, ditatapnya Sasa yang berlutut di hadapannya.

“Dita, Sasa kecil, sekarang sudah besar. Dia tidak akan lupa sama kamu, karena kamulah yang telah menyelamatkannya,” kata Laras masih dengan kata-kata lembut.

Sasa seperti mengerti maksud ibunya. Ia mengangkat tangannya, lalu meremas kedua tangan Anindita. Ia lupa-lupa ingat tentang kejadian itu, tapi ada juga terlintas dibenaknya, seorang gadis cantik yang mati-matian membelanya, menyelamatkannya dari cengkeraman ibunya yang jahat, Sasa mencium tangan Anindita lembut, tak terasa air matanya berlinang.

“Gadis kecil lucu dan menggemaskan...”

“Saya sudah besar Tante,” bisik Sasa dengan suara bergetar. Iba melihat keadaan penolongnya seperti ini.

“Kamu Sasa yang sudah besar...” gumam Anindita, membiarkan tangannya menempel di pipi Sasa.

“Semua anak kecil sudah menjadi besar...” gumamnya lagi.

“Iya tante.. tapi tante masih tetap cantik...”

“Aku tidak bisa menjadi besar...”

Sasa tersenyum. Kedua tangan kurus itu masih digenggamnya.

“Ibumu dibawa polisi...” katanya lagi sambil menunjuk ke arah televisi.

Hati Sasa teriris, tapi dikuatkannya. Ia sudah mendengar berita itu dari ayahnya semalam.

“Ibu Sasa yang ini Tante,” kata Sasa sambil menunjuk ke arah Laras. Laras merangkulnya dengan rasa sayang.

Anindita menatap Laras. Sekilas demi sekilas, ada peristiwa berkelebat di benaknya. Lalu ia mengenal Laras. Ia mengelus kepala Sasa, sambil menatap kearah Laras.

“mBak Laras...”

“Iya Dita, senang kamu mengingat aku...”

“mBak Maruti...”

“Maruti itu sahabat kami, seperti juga kamu...”

Tiba-tiba Anindita berteriak.

”Bau apa bibiiik....”

Bibik yang sejak tadi mengelesot di lantai, langsung berdiri dan seperti terbang berlari kearah dapur.

“Oporku gosoooong...” teriak bibik.

“Waduh...” Melani ikut berlari ke arah dapur. Opor itu benar-benar telah gosong, berikut ayamnya yang juga lengket menghitam.

“Waduh... padahal tak ada lagi sisa ayamnya...” keluh bibik penuh sesal.

“Bibik... apa hari ini harus makan opor? Bolehkah menu hari ini diganti rendang daging? Kata Laras sambil menyerahkan rantang tiga susun yang tadi diletakkannya begitu saja.”

“Tante, itu kesukaan ibu...” pekik Melani lega. Tadi ia sudah berpikiran untuk pergi keluar untuk membeli opor diwarung.

“Bagus, kalau begitu sediakan untuk makan siang, aku juga membawa nasinya sedikit,” kata Laras. Simbok menerima rantang yang diberikan Laras, sedangkan Melani melangkah ke depan mendekati ibunya.

“Ibu, menu makan siang hari ini diganti rendang ya?”

Anindita menatap Melani.

“Rendang, mbak Maruti suka memasak rendang...”

“Kali ini yang memasak tante Laras. Mau ya bu, kita akan makan siang bersama-sama,” bujuk Melani.

Anindita mengangguk. Sasa berdiri untuk membantu bibik dan Melani menyiapkan makan siang. Meja makan dirumah itu tidak begitu besar. Biasanya hanya cukup untuk makan bertiga. Kali ini Melani menggelar tikar. Bibik menata nasi dan lauknya di meja.

“Bagus, enak sekali makan lesehan,” kata Andra yang kemudian duduk di tikar, diikuti Agus dan Laras.

“Om Agus sama tante Laras di atas saja menemani ibu, yang dibawah yang muda-muda. Melan, mbak Sasa sama mas Andra...”

Semuanya setuju. Anindita menatap Andra. Maruti pernah mengingatkan tentang Andra, bayi kecil yang pernah digendongnya.

“Semuanya sudah menjadi besar,” gumamnya lirih.

“Dita, waktu sudah berjalan lama, yang bayi.. yang kecil.. sudah menjadi besar. Yang dulu muda, sudah menjadi tua..” kata Laras sambil menyendokkan nasi untuk Anindita.

“Aku tidak menjadi besar ?”

“Kalau yang dulu muda, menjadi semakin banyak umurnya. Tapi kamu masih seperti dulu, cantik dan menyenangkan.”

Anindita tersenyum, mengelus pipinya pelan.

“Tuh, masih halus dan lembut kan?” kata Laras terus-terusan memuji Dita.

Mereka makan dengan nyaman, termasuk bibik yang dipaksa makan bersama mereka, duduk diatas tikar. Suasana terasa tenang, setelah sedikit demi sedikit Anindita menyadari semuanya. Belum semuanya, tapi setidak nya dia mau mendengar penjelasan dari semua orang.

“Aduuuh... aku ketinggalan nih...”

Semuanya terkejut. Ditengah pintu tiba-tiba Abi berdiri sambil tersenyum.

“Nak ganteng..” senyum Anindita merekah. Tampaknya nak ganteng selalu memberinya kesan baik dan diterima setiap kedatangannya dengan baik pula.

“Apa kabar Ibu?” tanya Abi sambil mendekati Anindita dan mencium tangannya.

“Makanlah... makanlah..” kata Anindita sambil menunjuk kearah meja.

Bibik berdiri untuk mengambilkan piring bagi nak ganteng.

“Ini nak ganteng.. silahkan makan.”

“Terimakasih bibik..” kata Abi yang kemudian duduk di dekat Andra.

“Apa kabar...” bisik Abi yang bermaksud mengganggu Andra. Tapi Andra meletakkan jarinya di mulut, sebagai tanda agar Abi tidak bicara.

Andra juga belum sempat menyerahkan bungkusan baju yang masih di letakkan di meja depan, karena tadi melihat suasana yang belum mengijinkan.

Tiba-tiba ponsel Andra berdering. Sasa meliriknya, hatinya mulai terusik. Tapi dia heran karena Andra mematikannya. Ketika dering itu terdengar lagi, maka Andra kembali mematikannya.

“Dari siapa? Kenapa nggak mau menerima?” tanya Abi yang duduk disampingnya.

“Nanti nikmatnya rendang ini berkurang...” katanya sambil terus menikmati makan siangnya.

Tapi sekarang yang berdering adalah ponsel Abi. Abi mengangkatnya, tapi kemudian ia berdiri dan menjauh.

“Hallo... Indi..? Kamu yang tadi menelpon Andra?”

“Iya, kok kamu tahu?”

“Aku duduk di sampingnya.”

“Kok dimatiin sih?”

“Lagi pada makan, sama aku juga. Ada apa?”

“Nggak, cuma heran saja Andra nggak mau menerima telpon aku.”

“Mungkin saat makan dia nggak bisa diganggu. Ada yang ingin disampaikan ?”

“Sebenarnya mau ngajakin makan siang.”

“Ini kami sedang makan bersama keluarganya Andra, ada bapak ibunya, tantenya, sepupunya.. banyak pokoknya.”

“Ya sudah, nanti saja aku menelpon lagi.”

Ketika Abi kembali duduk, Andra menatapnya.

“Dari Indi, dia heran kamu nggak mau menerima telponnya.”

Andra hanya mengangkat bahunya.

Tanpa sadar Andra melirik ke arah Sasa. Tapi gadis itu sepertinya tak memperhatikannya, asyik mengiris daging rendang dengan sendoknya. Atau mungkin hanya pura-pura tak memperhatikan, padahal telinganya mendengarkan.

***

“Mas, baru saja Laras menelpon, semua ada di rumah bibik,” kata Maruti ketika menelpon suaminya.

“Kamu juga mau kesana?” tanya Panji.

“Pengin, tapi mobilnya dibawa Sasa. Mas bisa pulang nggak?”

“Kantor lagi banyak urusan, sedangkan Andra sama Sasa pergi keluar.”

“Oh iya, Andra sama Sasa ada disana. Katanya Anggoro memberi hadiah gamis untuk isterinya, Andra dan Sasa yang memberikannya. Entah sudah diberikan atau belum. Laras dan Agus juga ada disana.”

“Kalau kamu kesana, naik taksi saja, sama simbok. Bukankah Melani kemarin bilang kalau kangen sama simbok ?”

“Oh iya mas, pasti simbok juga kangen sama anaknya. Aku ajak saja dia sekarang.”

“Nanti kalau aku sudah selesai, aku menyusul kesana.”

“Baiklah mas. Ya sudah, aku mau bilang dulu sama simbok.”

***

Ketika Maruti dan simbok datang, mereka sudah selesai makan, dan sedang asyik berbicang. Dilihatnya Melani dan Sasa duduk di samping Anindita, disebelah kiri dan kanannya. Anindita tampak tenang, mendengarkan celoteh tamu-tamunya. Sedangkan Andra dan Abi masih duduk di tikar.

“Selamat siaaang, Dita.. tamunya banyak sekali...” kata Maruti sambil mendekati Dita.

“Ini kakakku...” kata Anindita pelan.

“Tentu saja Dita. Lihat, semua orang menyayangi kamu. Mereka disini karena sayang sama kamu,” kata Maruti.

Begitu melihat simbok, Melani berdiri dan berlari menghambur ke pelukan simbok.

“mBok, Melani kangen sama simbok..”

“Simbok juga kangen sama kamu. Tapi simbok mengerti, kamu sedang mendekati ibumu.”

“Iya mbok, sini aku kenalkan sama ibu,” kata Melani sambil menarik simbok mendekat ke arah Anindita. Anindita menatap ke duanya, penuh curiga.”

“Ibu, ini simbok. Dia yang merawat Melani dari bayi sampai Melani menjadi besar.”

“Iya bu, senang melihat Melani sudah bertemu ibu kandungnya.”

Anindita hanya mengangguk. Ia belum bisa menangkap semuanya. Bagaimana Melani bisa dirawat oleh perempuan setengah tua ini.

Ketika bibik keluar, Melani juga memperkenalkan simbok kepadanya.

“Aduh, saya bersyukur, sampeyan merawat nak Melani dengan penuh kasih sayang. Nak Melani sudah menceritakan semuanya.”

“Semuanya sudah berakhir. Saya tadi melihat penjahat itu , dan benar bahwa dia yang dulu menyerahkan Melani kepada saya,” kata simbok pelan. Bibik mengangguk. Kalau dia bisa melihat fotonya pasti dia juga akan mengenali orang yang menculiknya.

Kemudian mereka berbincang sambil terkadang bercanda. Maruti senang melihat Anindita tampak menikmati riuh rendahnya tamu-tamu yang ada disekelilingnya.

Tiba-tiba Andra teringat bungkusan titipan dari Anggoro. Ia mendekati ibunya dan berbisik.

“Bu, apa titipan dari om Anggoro diserahkan sekarang?”

“Oh iya, belum ya? Mana, biar ibu saja yang menyerahkan.”

“Baiklah, tapi ibu serahkan saja dan jangan bilang dari siapa, om Anggoro masih takut tante Dita akan menolaknya kalau kita mengatakan pengirimnya.

Maruti mengangguk ketika Andra menyerahkan bungkusan itu, lalu ia mendekati adiknya.

“Dita, ada kiriman untuk kamu,” kata Maruti sambil menyerahkan  bungkusan yang tampil cantik karena Sasa memang membungkusnya secantik mungkin.

“Kiriman ?”

“Iya, coba bukalah, siapa tahu kamu suka...”

Anindita membuka pita yang melingkari bungkusan itu.

“Bungkusannya bagus, sayang,” gumamnya.

“Siapa tahu isinya lebih bagus.. ayo bukalah, biar aku bantu ya,” kata Maruti sambil membantu membuka bungkusan itu.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...