Saturday, January 2, 2021

SANG PUTRI 38

SANG PUTRI  38

(Tien Kumalasari)

 

“Ibuu... “

Mirah mendekat, lalu seseorang mengangkatnya. Kepala anak itu berdarah.

“Ini mana orang tuanya? Manaa..? Manaa..” teriak beberapa orang.

“Ya ampuun.. mas Nanda?” Mirah berteriak, lalu meminta Nanda dari gendongan seseorang.

“Mana bapaknya? Aduh.. taksi saja dulu.. toloong.. taksi.. “ Mirah panik.. Nanda terkulai lemah. Begitu taksi datang Mirah langsung naik sambil menggendong Nanda, tujuannya adalah rumah sakit.

“Ada apa Rah? “ tanya Palupi ketika Mirah menelpon.

“Tolong bu, hubungi pak Pri. Saya menemukan Nanda terluka, kecelakaan, sekarang saya sedang membawanya kerumah sakit.

“Ya Tuhan... kok bisa.. tapi baiklah, aku telpon pak Pri dulu.”

Pri sedang kebingungan mencari anaknya yang terlepas dari pegangannya ketika sedang belanja. Terkejut ketika Palupi menelponnya.

“Apa? Nanda kecelakaan? Dimana sekarang dia?” tanya Pri panik.

“Mirah sudah membawanya kerumah sakit.”

“Ya Tuhanku.. anakku bagaimana?”

“Saya kirimkan nomor kontak Mirah ya..”

“Baik, terimakasih banyak.”

***

Mirah menunggui Nanda yang sedang dirawat. Ia menangis menjerit-jerit. Trenyuh hati Mirah. Hatinya bagai disayat-sayat. Alangkah sedihnya tanpa ibu. Dia hanya memanggil-manggil ibunya. Entah ibu Palupi atau ibunya sendiri yang dimaksud, yang jelas ibu. Nanda membutuhkan seorang ibu.

Air mata Mirah bercucuran. Ia sedang mengusap air mata nya ketika tiba-tiba Pri muncul dihadapannya.  Ia sudah menelponnya dan Mirah mengatakan dimana rumah sakitnya.

“mBak Mirah..” hati Pri tercekat melihat Mirah menangis. Apakah Nanda dalam bahaya?

“Bagaimana keadaannya?”

“Ibuuu...”  Nanda menjerit-jerit dan Mirah memegangi kakinya. Perawat sedang membersihkan lukanya.

“Nanda, sayang.. ini bapak, jangan menangis, tidak apa-apa..” kata Pri sambil memegangi tangannya.

***

“Mirah, bagaimana kejadiannya?” Palupi menelpon, karena Mirah belum juga memberi kabar.

“Saya sedang mau memasuki supermarket, ketika mendengar seorang anak kecil menjerit. Saya mendekat dan ternyata mas Nanda. Saya heran tidak menemukan bapaknya. Saya langsung membawanya kerumah sakit.”

“Sekarang mas Pri sudah datang?”

“Sudah bu, mas Nanda sudah dipindahkan keruang rawat inap.”

“Bagaimana Nanda  bisa terpisah dari bapaknya?”

“Pak Pri sedang belanja, mas Nanda terlepas. Barangkali lalu saling mencari, mas Nanda berlari mencari kejalan, lalu ada mobil.”

“Parah lukanya?”

“Luka dikepala bu. Ini disuruh opname, mau diperiksa seluruhnya dulu.”

“Kasihan Nanda..”

“Iya bu, dia  memanggil-manggil ibu terus.”

“Rah, jadilah ibunya. Kamu pantas..”

“Aduh, ibu membuat saya bingung lagi.”

“Mengapa bingung Rah, apa kamu tidak kasihan, Nanda membutuhkan seorang ibu.”

“Tapi bu.. pak Pri tidak bilang apa-apa.”

“Dia kan sudah bilang sama mbakyunya?”

“Entahlah bu.. saya tidak tahu harus bagaimana..”

“Ya sudah, Kamu jangan tergesa pulang dulu, menunggu sampai Nanda tenang. Dekati dia, lakukan apapun agar kamu bisa menenangkannya.”

“Saya belum sempat belanja, catatannya hilang entah kemana.. untung dompetnya masih ada dalam saku baju saya.”

“Tidak apa-apa, kita bisa belanja besok pagi. Untuk hari ini aku sudah memasaknya.”

“Baiklah bu.”

Mirah kembali masuk ke dalam ruangan, dilihatnya Nanda sudah tertidur, barangkali dokter memberinya obat untuk menenangkannya. Pri bertumpu pada kedua tangannya, yang diletakkannya ditepi pembaringan.

“Ibuu...” mulut Nanda berbisik lirih, tapi rupanya dia hanya mengigau..

Pri mengelus kepalanya yang sebagian dibalut perban.

Mirah mengusap air matanya yang kembali titik, lalu mendekat.

Pri mengangkat kepalanya, menatap Mirah yang berlinangan air mata.

“Mengapa mbak Mirah belum pulang?”

“Menunggu keadaan mas Nanda dulu.”

“Ibuuu...” lirih suara itu keluar dari bibir mungilnya.

Mirah mendekat, memegang tangan kecil itu dan diletakkannya dipipinya.

Pri berdiri, bergeser kesamping dan memberikan kursinya pada Mirah.

“Duduklah mbak..”

“Terimakasih..”

“Dia sudah lebih tenang.”

“Tapi nanti kalau bangun dan merasakan sakit pasti rewel lagi.”

Pri menghela nafas sedih.

“Dia membutuhkan seorang ibu,” bisik Pri sambil melirik kearah Mirah yang masih meletakkan tangan Nanda dipipinya. Mirah berdebar. Ia  menoleh kesamping , dan mata mereka bertatapan. Lalu Mirah buru-buru mengalihkan pandangannya kearah Nanda.

“Ibuu...” bisik Nanda lagi.

Mirah mengelus kepalanya lembut.

Pri menatapnya terharu. Sesungguhnya pilihan mbakyunya tidak salah. Mirah begitu menyayangi bocah. Pri perlahan jatuh hati. Jatuh hati yang sesungguhnya. Jatuh hati dengan keinginan memiliki. Tapi apa yang dirasakan Mirah? Gadis itu sangat pemalu, maksudnya malu mengutarakan isi hati. Tampaknya Mirah masih hijau dalam menangkap sebuah cinta. Bahkan dia tampak seperti ketakutan.

“Ibu....” ketika merintih untuk kesekian kalinya, tiba-tiba Nanda membuka matanya.

Mirah mengelus kepalanya lembut.

“Ibu.. ?”

“Iya mas Nanda,” kata Mirah lembut.

“Aku tadi melihat ibu, mendekati aku lalu mencium tanganku, lalu memegang kepalaku..”

“Oh ya, berarti ibu selalu menemani mas Nanda.”

“Apa kamu ibuku?” pertanyaan Nanda yang tak disangka ini mengejutkan Mirah maupun Pri.

“Ini...”

“Kamu memegang kepalaku, berarti kamu ibuku.”

Mirah menatap Nanda dengan perasaan tak menentu. Pasti tadi Nanda bermimpi ketemu ibu kandungnya.

“Mengapa kepalaku ini? Aku mau pulang.”

“Nanda, Nanda harus tidur disini dulu, besok baru boleh pulang.”

“Kepalaku sakit..”

“Iya, makanya Nanda harus tidur disini, supaya diberi obat oleh dokter. Besok kalau sudah tidak sakit Nanda boleh pulang. Ya,” kata Pri sambil memegang kaki Nanda.

“Bapak, tadi aku mencari bapak,  lalu ada mobil.”

“Mengapa Nanda meninggalkan bapak? Bapak kan sedang belanja.”

“Nanda tadi  mencari bapak, tidak ada.”

“Ya sudah, besok lagi Nanda tidak boleh pergi-pergi sendiri ya. Bapak sedih kalau Nanda sakit.”

Nanda menatap Mirah.

“Apa bu Mirah akan menjadi ibuku?”

Mirah terkejut.

"Kata bude...."

“Apa kamu suka mempunyai ibu seperti bu Mirah?” tiba-tiba Pri bertanya.

“Suka. Bu Mirah jangan pergi.”

Pri melihat Mirah kembali tersipu. Gadis lugu ini harus dipaksa. Maksudnya Pri harus mengatakan terus terang apa yang menjadi keinginannya. Lalu dilihatnya wajah Mirah yang bersemu merah.

“Ma’af mbak Mirah, saya memang hanya seorang duda.. tapi saya sangat ingin agar mbak Mirah mau mendampingi saya dalam mengasuh Nanda. Dia butuh seorang ibu.”

“Saya... saya...”

“mBak Mirah menolak karena saya seorang duda?”

“Tidak.. bukan itu.. ini.. mm.. saya.. bingung.. saya akan.. memikirkannya..”

“mBak Mirah tidak suka sama saya?”

“Bukan begitu, baiklah.. saya.. akan memikirkannya..”

Lalu Mirah kembali memegang tangan Nanda.

“Mas Nanda, bu Mirah pulang dulu ya.”

“Jangan pergi..”

“Ada bapak disini. Besok bu Mirah akan kemari lagi.”

“Benar?”

“Benar, asalkan mas Nanda tidak nakal dan tidak rewel ya.”

“Kepalaku masih sakit..”

“Nanti kan pak dokter akan memberi obat lagi. Besok pasti sudah sembuh.”

Ketika Mirah akhirnya pamit pulang dengan rasa berat, Pri mengantarkannya sampai ke pintu.

“mBak Mirah, ma’af ya kalau saya lancang?”

“Tidak.. tidak..”

“Tidak bagaimana?”

“Tidak apa-apa..”

“Saya menunggu jawaban. Nanda sangat berharap. Tapi, kecuali itu, saya juga suka sama mbak Mirah. Sepertinya saya jatuh cinta. Apakah mbak Mirah marah?”

Mirah menggeleng sambil tersenyum, kemudian berlalu.

Pri menghela nafas lega, karena sudah berani mengutarakan isi hatinya. Kalau diterima syukurlah, kalau tidak ya... nasib.. Pri mengeluh dalam hati, lalu kembali masuk kedalam kamar, menemani Nanda yang masih terkadang merintih sakit.

***

“Kamu kok nekat belanja sih Rah..katanya catatannya hilang.”

“Belanja seingat saya saja bu, hanya beberapa .”

“Ya sudah, bagaimana keadaan Nanda?”

“Tadi sudah baik, meskipun masih merintih sakit. Kepalanya berbalut karena luka.”

“Kasihan..”

“Iya bu, Mirah sampai menangis, karena ketika tidur dia memanggil-manggil ibunya terus.”

“Nah, itulah Rah, kamu harus tanggap. Dia membutuhkan kamu.”

Mirah termenung, ia ingat apa yang dikatakan Pri. Seperti sebuah pernyataan cinta, atau bukan cinta tapi membutuhkannya untuk Nanda? Tapi kan dia bilang suka, dan jatuh cinta. Dan Mirah belum memberikan jawaban kecuali sebuah senyuman.

“Rah.. kok bengong?”

“Ibu.. sungguh saya bingung harus menjawab apa.”

“Jawab ‘iya’.. apa susahnya sih? Kamu akan bahagia, karena mas Pri itu laki-laki yang baik.”

“Baiklah, saya akan memikirkannya lagi.“

“Hiih, gemes aku sama kamu Rah, bilang ‘iya’ saja kok susahnya bukan main.”

“Ibu sudah masak?” tanya MIrah ketika di meja makan sudah tertata sayur dan lauk pauk.

“Sudah.. hanya sayur bening sama goreng bandeng presto Rah. Kamu tinggal buat sambel ya?”

“Baik bu.”

“Yu Miraaaah.. kok perginya lama...” tiba-tiba Bintang berteriak lalu merangkul Mirah dari belakang.

Tuh kan, kalau Mirah pergi menjadi ibunya Nanda, bagaimana dengan mas Bintangnya?

“Iya mas Bintang. Dik Nanda sakit, yu Mirah nungguin sebentar.”

“Sakit apa?”

“Jatuh, kepalanya diperban.”

“Ooh, sakit ya?”

“Ya sakit, tapi besok pasti sudah sembuh. Mas Bintang sudah makan?”

“Belum, nungguin yu Mirah datang..”

“Ooh, kan ada ibu..”

“Ibu juga bilang nungguin yu Mirah, karena bapak nggak pulang siang ini.”

“Iya Rah, ayo kita makan, bapak ada rapat dan tidak pulang makan siang di rumah.”

“Saya buat sambelnya dulu bu.”

“Aku nggak mau sambel,” teriak Bintang.

“Bukan buat kamu, tapi buat ibu..” kata Palupi yang kemudian mengajak Bintang duduk diruang makan.

***

Dua hari dirumah sakit, Nanda sudah boleh pulang. Mirah menepati janjinya, datang setiap pagi ke rumah sakit.

Ketika pulang ke rumah, Pri mengajak juga Mirah bersama mereka.

“Ini rumahku mbak Mirah. Sepi tanpa seorang wanita yang menjadi penghuninya.”

Mirah menatap kesekeliling rumah, yang biarpun tidak besar tapi ditata sangat rapi dan bersih.

“Siapa yang membersihkan rumah?”

“Saya sendiri. Saya tidak punya pembantu.”

Ada rasa iba dihati Mirah ketika mendengar bahwa Pri melakukan semuanya. Pri juga mengajak Mirah melihat-lihat tokonya.

“Ini, biarpun kecil, cukup untuk kami makan. Selama ini agak boros karena tidak pernah memasak. Besok kalau sudah ada seorang wanita baik hati yang mau menemani saya, barangkali hidup saya akan berubah. Lebih tertata pastinya."

“Bu Miraaah...” Nanda berteriak dari dalam kamar. Ia duduk diatas ranjang dengan mobil-mobilan kecil yang dibuatnya bermain.

“Mas Nanda jangan banyak bermain dulu. Tiduran saja, supaya cepet sembuh, ya.”

“Apa bu Mirah mau pergi?”

“Bu Mirah pergi dulu ya.. “

“Besok kesini lagi kan?”

“Iya, baiklah.. nanti sambil ke pasar bu Mirah mampir kemari.”

“Terimakasih sudah mau melihat rumah saya mbak Mirah. Kata Pri ketika mengantarkan Mirah sampai Mirah naik kedalam taksi yang dipesannya.

“Saya sudah janji sama mas Nanda.”

“Saya ingin mengantarkan, tapi Nanda bagaimana.”

“Tidak apa-apa, saya sekalian belanja.”

Pri masuk kembali kedalam rumah ketika taksi yang ditumpangi Mirah menghilang di belokan jalan. Ada rasa senang ketika Mirah mau diajaknya kerumah. Walau alasannya adalah Nanda, tapi cukup membuatnya lega.

***

Hari itu keluarga bu Ismoyo bersiap pergi ke rumah Tanti. Danang berdandan rapi dengan jas abu-abu yang dipilihkan ibunya.

“Anakku memang ganteng..” senyum bu Ismoyo sambil merapikan jas yang dikenakan anaknya.

“Kita ke mas Handoko dulu kan bu? Bukan menunggu mas Handoko kemari?”

“Iya, kan rumahnya Tanti melewati rumah kangmasmu kalau dari sini?”

“Itu bu, simbok sudah menata oleh-oleh didalam mobil.”

“Ya sudah, kita berangkat sekarang saja.

“Semua sudah siap bu, sudah saya taruh di jok belakang.” Kata simbok.

“Iya mbok, terimakasih, jangan lupa kunci pintunya ya.”

Ketika sampai dirumah Handoko, ternyata Handoko dan Palupi sudah menunggu. Bintang berdiri di teras dan melompat-lompat kegirangan ketika melihat neneknya datang.

 “Eyaaang.. lihat,  Bintang memakai baju baru.”

“Oh, iya.. cucuku ganteng sekali.”

“Kata bapak, om Danang mau jadi pengantin.. Benar?”

“Benar, tapi belum sekarang. Kita baru mau kerumah calon isterinya om Danang.”

“Bapaaak, kita berangkat sekarang?”

“Nang, kita satu mobil saja, cukup kan?”

“Cukup mas, tapi ada oleh-oleh yang akan kita bawa di jok belakang,” jawab Danang.

“Oleh-oleh yang kemarin itu kan? Ditata dibelakang juga nggak apa-apa, hanya buah-buahan dan makanan, atau biar aku pangku saja,” kata Palupi.

Danang berdebar ketika sudah mendekati rumah Tanti.

“Ini gangnya sama dengan gang yang mau masuk ke rumah yu Suprih ya?” celetuk Handoko.

“Iya benar, berarti memang tetangganya yu Suprih.”

“Waah, nanti kalau lewat rumah yu Suprih kita teriaki saja dia ya Bin?”

“Iya, rumah bu Suprih.. nanti Bintang panggil bu Suprih keras ya bu.”

Namun betapa terkejutnya Handoko dan Palupi, ketika Danang menghentikan mobilnya didepan rumah Suprih.

“Kok berhenti disini Nang?” tanya Handoko heran.

“Memang rumahnya disini.”

“Lhoh, ini kan rumah yu Suprih ?”

“Mungkin yu Suprih tinggal dibelakang rumah itu, entahlah. Ayo turun.”

Danang turun, diikuti oleh semuanya.

Dilihatnya Tanti berdiri ditengah pintu, menyambut tamunya dengan senyum merekah. Seperti mimpi  ketika ia  benar-benar akan mendapatkan mertua seorang terpandang seperti bu Ismoyo.

Ia segera mencium tangan mereka satu persatu.

“Silahkan, ini rumah gubug kami. Ibuuuu..” Tanti berteriak.

“Tanti, ada beberapa oleh-oleh untuk ibu, tolong Danang dibantu ya.” kata Palupi.

“Baiklah.”

“Danang mengeluarkan beberapa keranjang oleh-oleh, dibantu Palupi dan Tanti.

Mereka sudah berdiri didepan pintu, ketika seorang wanita setengah baya berdiri menyambut dengan pakaian rapi.

Tak ada yang tak terkejut. Semuanya terpana karena sudah saling mengenal.

***

Besok lagi ya

 

Friday, January 1, 2021

SANG PUTRI 37

SANG PUTRI  37

(Tien Kumalasari)

 

“Nak Mirah kok bengong..  ini aku ngomong beneran lho..” seru Suprih ketika melihat Mirah seperti bingung.

“Bu Suprih bercanda kan?”

“Kok bercanda sih Rah.. ini beneran..”

“”Masa iya, pak Pri mau sama isaya? Ah.. sudahlah bu, ayo tidur.. sudah malam..” kata Mirah sambil berdiri, tapi Suprih memegang lengannya erat.

“Nak Mirah, aku tidak bercanda. Pri butuh seorang istri yang baik seperti nak Mirah. Atau.. nak Mirah menolak karena dia duda?”

“Bukan begitu bu, aduuh.. saya jadi bingung. “

“Kenapa bingung nak?”

“Orang berumah tangga itu kan tidak gampang bu, bukan melihat langsung comot.. “

“Maksudnya apa? Pri sudah kenal sama nak Mirah, saya apa lagi.. jadi keinginan saya ini bukan tiba-tiba.”

“Tapi bagi saya ini sangat tiba-tiba bu, jadi biarkan saya mengendapkan pikiran saya dulu, apalagi saya ini kan hanya pembantu dan tidak berpendidikan tinggi.”

“Apa masalahnya kalau pembantu? mBakyunya Pri juga pembantu..”

“Saya tidak sekolah tinggi bu.. hanya SMP..”

“Bukan pendidikan tinggi yang terpenting, tapi perilaku dan keluhuran budi yang tinggi itu lebih penting.”

“Iya sih bu..”

“Pikirkan masak-masak nak, aku sungguh berharap nak Mirah bisa menjadi ipar saya. Menjadi ibu bagi Nanda yang sangat merindukan seorang ibu.”

“Baiklah bu. Saya akan memikirkannya.”

“Terimakasih nak, sekarang tidurlah, hari memang sudah malam.”

Namun Mirah sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Tak pernah terpikirkan akan ada yang menjodohkannya dengan seseorang, dan seseorang itu adalah Priyambodo. Laki-laki yang selalu membuatnya kesal karena tampaknya ingin mendekati Palupi, sampai-sampai dia melakukan banyak hal konyol hanya untuk mengusir Pri dan menyiratkan bahwa Palupi masih ada yang punya.  Lalu Mirah tersenyum sendiri mengingat kelakuannya yang sekarang membuatnya menyesal. Menyesal karena toh Palupi sudah kembali kepada Handoko dan Pri pastinya juga mengurungkan niatnya mendekati Palupi. Tapi kok kemudian jadi dirinya yang jadi ‘sasaran’?

Lalu Mirah mulai menimbang-nimbang, apakah Pri seorang lelaki yang baik? Menurutnya sih baik. Dia begitu menyayangi anaknya,  Palupi pernah menceritakan keseharian Pri, yang kecuali mengurus anak dia juga mengurus rumah. Dia memiliki toko kelontong yang lumayan laris dengan dua orang pegawai yang dipercaya. Lalu timbul rasa iba dihati Mirah. Mengurus rumah itu kalau bagi seorang perempuan barangkali sudah biasa. Tapi laki-laki, mengurus rumah dan merawat anak berumur empat tahunan, pasti sungguh berat.

Wajar saja kalau Pri ingin mencari isteri. Kasihan juga ya... haah? Apa? Lalu Mirah terkejut sendiri.. karena tiba-tiba memperhatikan Pri.

“Nggak ah, lebih baik aku tidur,” bisiknya sambil menarik lagi sebuah bantal, dipeluknya lalu ia mengatupkan matanya. Tapi sampai pagi menjelang, kantuk itu tak juga datang.

***

Palupi yang sudah bangun mencari Mirah tapi tidak ketemu. Di dapur Suprih sudah menjerang air dan menanak nasi.

“Mana Mirah yu?”

“Sepertinya belum bangun bu, coba saya lihat.”

“Biarkan saja yu, barangkali dia lelah..”kata Palupi sambil mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas.

Suprih menjenguk kekamar Bintang. Dilihatnya Mirah masih pulas, tapi Suprih khawatir kalau Mirah sakit. Ia mendekat dan memegang tangannya. Pegangan itu membuat Mirah membuka matanya.

“Aduh.. bu.. saya kesiangan..?” Mirah buru-buru bangkit dan mengucek matanya.

“Tidak apa-apa. Nak Mirah nggak sakit kan?”

“Nggak bu, aduh..  ma’af ya bu.”

“Pasti karena semalam nggak bisa tidur, ya kan?”

“Iya bu..”

“Apa memikirkan omonganku nak?”

“Ah, tidak bu.”

Keduanya berjalan ke dapur.

“Ma’af bu, saya kesiangan.”

“Nggak apa-apa, kok dibangunin sih yu?”

“Saya khawatir nak Mirah sakit, baru saya pegang tangannya lalu bangun.”

***

“Mau ikut ke ibu sore ini ?” tanya Handoko kepada isterinya.

“Mau, apakah ada perlu, atau hanya bersilaturachmi ?

“Tadi siang Danang bilang, ingin melamar seorang gadis.”

“Oh ya? Bener-bener serius dia?”

“Katanya sih begitu. Aku sudah nanya berulang kali. Dia malah marah dikira aku nggak percaya sama dia. Jadi aku mau bilang sama ibu tentang keinginan Danang itu, dan kapan mau melamar gadis itu.”

“Gadis dari mana tuh, teman kuliah, atau salah satu bekas pacarnya?

“Bukan, pegawai baru di kantor,”

“Waaah, tumben ada yang menarik buat dia.”

“Biarkan saja, sudah aku bilang harus dipikir masak-masak, katanya sudah masak, keburu busuk.”

“Baguslah kalau begitu.  Aku mau masak buat ibu ya.”

“Boleh.. boleh, ibu pasti suka.”

“Buat mie saja ya mas, sebetulnya kan simbok pinter masak lauk pauk. Tapi sekarang aku mau buat mie goreng.”

“Wauw, aku juga sudah lama nggak makan mie, jadi ngiler nih.”

“Hm, nanti makan disana saja biar rame.”

“Baiklah, masak yang enak ya.”

“Kalau kurang enak ya harus dimaklumi, aku kan baru belajar.”

“Tapi sejauh ini, masakan kamu enak kok.”

“Hmm... bohong.”

“Sumpah sangat enak.”

“Terimakasih telah membesarkan hati saya,” kata Palupi sambil berdiri lalu beranjak kebelakang setelah sebelumnya mencium pipi suaminya.

“Lagiii..” teriak Handoko. Tapi Palupi hanya memeletkan lidahnya kemudian menghilang dibalik pintu.

***

Widi mengantarkan Ryan masuk ketika sore itu Ryan datang. Menunggu pak Tarman keluar, Ryan duduk dengan hati berdebar, sementara Widi sudah masuk kedalam.

Dengan berdehem sebelumnya pak Tarman muncul dibalik pintu. Ryan berdiri lalu menyambut tangan pak Tarman kemudian menciumnya.

“Silahkan duduk.”

“Terimakasih bapak.”

“Mau ngomong apa?” tanya pak Tarman. Tak ada ramah-ramahnya.

Ryan menghela nafas, menahan debar jantungnya. Seperti pesakitan yang sedang diinterograsi oleh polisi.

“Saya sudah ketemu mas Handoko. Dan mas Handoko sudah mengatakan semuanya.”

“O, baguslah, jadi kamu sudah sadar apa kesalahan yang kamu lakukan?”

“Tapi itu semua tidak benar, bapak.”

“Jadi menurut kamu, saya bohong?” tanya pak Tarman dengan nada tinggi.

“Bukan, bukan bapak yang bohong, tapi sebagian berita yang bapak dengar. Misalnya tetangga yang bilang bahwa Palupi calon isteri saya. Tidak bapak. Palupi tidak akan mau sama saya karena waktu itu saya masih miskin.”

“Lalu mengapa kamu tidak menemui Widi dan membicarakan perjodohan itu kalau ternyata akhirnya kamu juga suka?”

“Sungguh saya tidak tahu bapak. Almarhum bapak tidak mengatakan tentang perjodohan itu.”

“Ketika dia sakit, kami bicara itu. Katanya kamu akan diberi tahu.”

“Mungkin karena sakitnya bapak sangat parah, dan memang seminggu sebelum meninggal, bapak tidak bisa bicara..” kata Ryan lirih. Sedih teringat orang tuanya.

Pak Tarman menatap Ryan, menangkap kesungguhan pada kata-katanya.

“Tidak ?”

“Tidak, bapak.. sungguh saya tidak berbohong.”

“Saya baru tahu.. ternyata begitu.. “

“Saya mohon ma’af bapak, sungguh saya tidak tahu sebelumnya.”

“Baiklah, kalau begitu aku yang salah karena menuduh kamu menyakiti aku. Aku minta ma’af.”

Pak Tarman mengulurkan tangannya, tapi Ryan kemudian bersimpuh dihadapannya dan mencium tangan itu, sementara pak Tarman menepuk-nepuk punggungnya.

“Baiklah, kembalilah duduk. Kapan kamu mau melamar anakku? Dia sudah lulus, tinggal menunggu wisuda.”

Ryan menatap pak Tarman lekat-lekat, sementara pak Tarman menatap dengan mata teduhnya. Tak ada sikap garang yang selama ini ditunjukkannya setiap kali Ryan datang.

“Secepatnya, bapak.” Kata Ryan bersemangat.

Lalu ketika berpamit pulang, pak Tarman bersedia mengantarkannya kepintu dengan wajah sumringah.

***

“Ini mie yang sangat enak. Mirah yang masak?” tanya bu Ismoyo ketika mereka makan mie bersama dirumahnya.

“Saya sendiri bu.”

“Kamu ?”

“Ibu, Palupi sekarang kan rajin memasak. Dirumah juga bukan pembantu yang masak, tapi dia,” kata Handoko memuji isterinya.

“Wah.. hebat.. aku senang menantuku bisa menjadi ibu yang pintar masak.”

“Saya juga belajar dari Mirah bu.. dari menggoreng sampai memasak sayur.”

“Mirah itu memang pembantu yang pintar segalanya. Lalu pembantu kamu yang baru itu juga rajin dan baik kelihatannya.”

“Baik sekali bu, tapi minggu depan sudah keluar.”

“O, sudah keluar?”

“Anaknya sudah bekerja, lalu melarang ibunya bekerja lagi.”

“Itu benar, orang sudah setua Suprih harusnya istirahat, menikmati hari tua, seperti ibu ini.”

“Iya bu.”

“Sekarang so’al Danang bu, apa Danang sudah bilang sama ibu bahwa dia ingin melamar seorang gadis?”

“Sudah, dia bilang sama kamu karena ibu yang menyuruh.  Karena ibu tak bisa memikirkannya sendiri.”

“Lalu kapan kamu siap Nang?”

“Aku tuh sudah siap dari kemarin-kemarin, tinggal mas sama ibu maunya kapan,” kata Danang.

“Ya carilah waktu yang baik, ibu siap kapanpun juga, karena kan ibu tidak bekerja?”

“Baiklah, karena Danang sudah mantap pada pilihannya, ya bagaimana kalau Minggu depan saja?”

“Ya sudah kamu atur saja semuanya. Palupi yang memikirkan harus membawa apa nanti kesananya.”

“Iya bu, nanti saya pikirkan sama mas Handoko.”

“Memangnya dimana rumah gadis itu Nang?” tanya bu Ismoyo.

“Dekat bu, daerah Nusukan. “

“Jangan-jangan tetangganya yu Suprih,” kata Palupi.

“Aku juga berfikir demikian mbak. Waktu aku kerumah, yu Suprih kebetulan pamit mau pulang, ketika aku nanya rumahnya dimana, katanya di Nusukan. Jangan-jangan dekat rumah calon aku.”

“Huh, calon, melamar juga belum tentu dikasih sama orang tuanya, sudah dibilang calon,” ejek Handoko.

“Dibolehin lah,  apa ada orang tua yang mau menolak menantu ganteng seperti aku.”

“Kalau tahu bahwa kamu slengekan belum tentu dikasih.”

“Nggak lah mas, aku sudah dewasa sekarang, dan menjadi laki-laki yang baik, anak yang penurut, ya kan bu?”

“Iya.. semoga begitu terus.”

“Ngomong-ngomong mie nya enak, boleh nambah kan?” kata Danang yang tanpa menunggu jawaban langsung  menambahkan lagi mie kedalam piringnya.

“Semoga isteriku nanti juga pinter masak,” lanjut Danang sambil menikmati lagi mie yang ditambahkannya.

***

Mirah belum memberikan jawaban apapun atas tawaran Suprih agar menjadi adik iparnya, sampai ketika hari terakhir Suprih ada di keluarga Handoko.

Sore itu Suprih sudah berpamit akan pulang dan tidak akan kembali bekerja. Mirah ingin mengantarkannya dan Bintang merengek minta ikut.

“Yu, karena sekalian aku mau keluar bersama ibu, maka aku antar sekalian ya yu.”

“Bapak, merepotkan, kan ada angkot.”

“Tidak, kan aku sekalian mau keluar, jadi yu Suprih bisa lebih enteng, tidak membawa barang-barang lalu berdesakan didalam angkot.”

“Benar bu, kebetulan bapak sama ibu mau keluar, jadi kita bisa ikut sekalian.”

“Ya sudah kalau begitu.”

“Yu, masukkan bawaanmu ke mobil sekarang, kami juga sudah siap kok.”

“Baiklah bapak.”

Namun Suprih minta berhenti diujung gang dimana rumahnya ada didalam gang itu.

“Sudah bapak, saya turun disini saja.”

“Mengapa? Masuk kan tidak apa-apa.”

“Gangnya sempit, bapak.”

“Tapi mobil bisa masuk kok. Nggak apa-apa, sekalian,” kata Handoko yang nekat memasukkan mobilnya kedalam gang.”

“Bapak.. sesungguhnya saya jalan sebentar juga nggak apa-apa.”

“Nggak apa apa yu, supaya kami bisa tahu rumahnya yu Suprih, jadi kalau sewaktu-waktu kangen bisa datang kemari. Yang mana yu, rumahmu?”

“Itu bapak, didepan, pagar putih.”

Akhirnya Suprih diturunkan didepan rumahnya.

“Terimakasih banyak bapak, ibu, nak Mirah. Ayo mas Bintang, bu Suprih dikasih cium dulu,” kata Suprih yang masih berdiri di pintu. Bintang mendekat dan membiarkan pipinya dicium Suprih.

“Apa bu Suprih tidak akan kerumah Bintang lagi?”

“Kerumah mas Bintang, kalau bu Suprih kangen. Ya.”

“Nak Mirah, saya menunggu jawaban nak Mirah lho,” kata Suprih ketika mobil Handoko berlalu.

"Memangnya jawaban apa yang ditunggu yu Suprih Rah?” tanya Palupi ingin tahu.

“Ah, enggak bu..”

“Kamu mau diambil menantu? Memangnya yu Suprih punya anak laki-laki?”

“Tidak bu,” jawab Mirah tersipu.

“Itu bu, ibu tahu tidak, ternyata pak Pri itu adiknya bu Suprih.”

Bukan hanya Palupi yang terkejut, demikian pula Handoko.

“Apa? Priyambodo bapaknya Nanda itu?”

“Iya bu. Ketika Mirah datang kesana, terus anaknya bu Suprih syukuran itu, pak Pri juga ada disana sama mas Nanda.”

“Ya ampuun.. baru tahu aku.”

“Lalu apa maksudnya yu Suprih tadi? Mengapa dia menunggu jawaban kamu?”

“Itu bu.. masa saya akan dijadikan isterinya pak Pri,” akhirnya Mirah berkata alot.

Tapi kemudian Palupi bersorak.

“Nnnah... apa kataku?”

“Kamu tidak mau Rah?” tanya Handoko.

“Mau.. Mirah mau kok. Ya kan Rah?”

“Tidak bu.. “

“Mengapa tidak?”

“Saya takut bu, saya ini siapa?”

“Kamu itu Mirah, kok lupa sama diri kamu sendiri?”

“Saya kan hanya pembantu.. “

“Memangnya kenapa? Kakaknya pak Pri itu kan bu Suprih, dia juga pembantu kan? Kalau pak Pri mau, mengapa kamu ragu Rah?”

“Iya Rah, tunggu apa lagi. Kamu sudah waktunya memiliki suami,” sambung Handoko.

“Belum memikirkan pak.”

“Rah, kalau jelas pak Pri itu laki-laki yang baik, mengapa kamu menolaknya? Karena dia duda? Memangnya kalau duda kenapa? Tak ada bedanya bagi seorang laki-laki walau dia duda sekalipun. Yang penting dia bisa menyayangi kamu.”

“Iya Rah. Mau ya, nanti aku yang akan mengantarkan kamu ke orang tua kamu di kampung, lalu aku juga yang akan menikahkan kamu,” kata Palupi.

“Ah, jangan bu.. Mirah masih bingung.”

“Kebanyakan mikir kamu Rah..  apa berat bagi kamu menikah sama laki-laki yang sudah punya anak? Kamu kan sudah biasa melayani Bintang. Aku kira tak ada bedanya.”

“Berat meninggalkan mas Bintang.”

“Jangan begitu Rah, pikirkan hidup kamu. Bintang sudah ada ibunya. Kamu boleh datang setiap sa’at.”

“Apa yu Mirah mau pergi?” tanya Bintang yang tidak benar-benar mengerti pecakapan kedua orang tuanya dan Mirah.

“Tidak mas Bintang, tidak,” kata Mirah yang kemudian memeluk Bintang.

***

Hari itu Mirah belanja sendiri, karena Palupi bilang agak malas keluar.

Hari sudah agak siang, Mirah menggenggam kertas catatan dan hampir masuk kedalam ketika tiba-tiba didengarnya sebuah jeritan anak kecil. Mirah menghentikan langkahnya, lalu melihat anak kecil terkapar ditepi jalan karena terserempet mobil. 

"Ibuuuu..." teriak anak kecil itu.

***

Besok lagi ya.  

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...