SANG PUTRI 38
(Tien Kumalasari)
“Ibuu... “
Mirah mendekat, lalu seseorang mengangkatnya. Kepala anak itu berdarah.
“Ini mana orang tuanya? Manaa..? Manaa..” teriak beberapa orang.
“Ya ampuun.. mas Nanda?” Mirah berteriak, lalu meminta Nanda dari gendongan seseorang.
“Mana bapaknya? Aduh.. taksi saja dulu.. toloong.. taksi.. “ Mirah panik.. Nanda terkulai lemah. Begitu taksi datang Mirah langsung naik sambil menggendong Nanda, tujuannya adalah rumah sakit.
“Ada apa Rah? “ tanya Palupi ketika Mirah menelpon.
“Tolong bu, hubungi pak Pri. Saya menemukan Nanda terluka, kecelakaan, sekarang saya sedang membawanya kerumah sakit.
“Ya Tuhan... kok bisa.. tapi baiklah, aku telpon pak Pri dulu.”
Pri sedang kebingungan mencari anaknya yang terlepas dari pegangannya ketika sedang belanja. Terkejut ketika Palupi menelponnya.
“Apa? Nanda kecelakaan? Dimana sekarang dia?” tanya Pri panik.
“Mirah sudah membawanya kerumah sakit.”
“Ya Tuhanku.. anakku bagaimana?”
“Saya kirimkan nomor kontak Mirah ya..”
“Baik, terimakasih banyak.”
***
Mirah menunggui Nanda yang sedang dirawat. Ia menangis menjerit-jerit. Trenyuh hati Mirah. Hatinya bagai disayat-sayat. Alangkah sedihnya tanpa ibu. Dia hanya memanggil-manggil ibunya. Entah ibu Palupi atau ibunya sendiri yang dimaksud, yang jelas ibu. Nanda membutuhkan seorang ibu.
Air mata Mirah bercucuran. Ia sedang mengusap air mata nya ketika tiba-tiba Pri muncul dihadapannya. Ia sudah menelponnya dan Mirah mengatakan dimana rumah sakitnya.
“mBak Mirah..” hati Pri tercekat melihat Mirah menangis. Apakah Nanda dalam bahaya?
“Bagaimana keadaannya?”
“Ibuuu...” Nanda menjerit-jerit dan Mirah memegangi kakinya. Perawat sedang membersihkan lukanya.
“Nanda, sayang.. ini bapak, jangan menangis, tidak apa-apa..” kata Pri sambil memegangi tangannya.
***
“Mirah, bagaimana kejadiannya?” Palupi menelpon, karena Mirah belum juga memberi kabar.
“Saya sedang mau memasuki supermarket, ketika mendengar seorang anak kecil menjerit. Saya mendekat dan ternyata mas Nanda. Saya heran tidak menemukan bapaknya. Saya langsung membawanya kerumah sakit.”
“Sekarang mas Pri sudah datang?”
“Sudah bu, mas Nanda sudah dipindahkan keruang rawat inap.”
“Bagaimana Nanda bisa terpisah dari bapaknya?”
“Pak Pri sedang belanja, mas Nanda terlepas. Barangkali lalu saling mencari, mas Nanda berlari mencari kejalan, lalu ada mobil.”
“Parah lukanya?”
“Luka dikepala bu. Ini disuruh opname, mau diperiksa seluruhnya dulu.”
“Kasihan Nanda..”
“Iya bu, dia memanggil-manggil ibu terus.”
“Rah, jadilah ibunya. Kamu pantas..”
“Aduh, ibu membuat saya bingung lagi.”
“Mengapa bingung Rah, apa kamu tidak kasihan, Nanda membutuhkan seorang ibu.”
“Tapi bu.. pak Pri tidak bilang apa-apa.”
“Dia kan sudah bilang sama mbakyunya?”
“Entahlah bu.. saya tidak tahu harus bagaimana..”
“Ya sudah, Kamu jangan tergesa pulang dulu, menunggu sampai Nanda tenang. Dekati dia, lakukan apapun agar kamu bisa menenangkannya.”
“Saya belum sempat belanja, catatannya hilang entah kemana.. untung dompetnya masih ada dalam saku baju saya.”
“Tidak apa-apa, kita bisa belanja besok pagi. Untuk hari ini aku sudah memasaknya.”
“Baiklah bu.”
Mirah kembali masuk ke dalam ruangan, dilihatnya Nanda sudah tertidur, barangkali dokter memberinya obat untuk menenangkannya. Pri bertumpu pada kedua tangannya, yang diletakkannya ditepi pembaringan.
“Ibuu...” mulut Nanda berbisik lirih, tapi rupanya dia hanya mengigau..
Pri mengelus kepalanya yang sebagian dibalut perban.
Mirah mengusap air matanya yang kembali titik, lalu mendekat.
Pri mengangkat kepalanya, menatap Mirah yang berlinangan air mata.
“Mengapa mbak Mirah belum pulang?”
“Menunggu keadaan mas Nanda dulu.”
“Ibuuu...” lirih suara itu keluar dari bibir mungilnya.
Mirah mendekat, memegang tangan kecil itu dan diletakkannya dipipinya.
Pri berdiri, bergeser kesamping dan memberikan kursinya pada Mirah.
“Duduklah mbak..”
“Terimakasih..”
“Dia sudah lebih tenang.”
“Tapi nanti kalau bangun dan merasakan sakit pasti rewel lagi.”
Pri menghela nafas sedih.
“Dia membutuhkan seorang ibu,” bisik Pri sambil melirik kearah Mirah yang masih meletakkan tangan Nanda dipipinya. Mirah berdebar. Ia menoleh kesamping , dan mata mereka bertatapan. Lalu Mirah buru-buru mengalihkan pandangannya kearah Nanda.
“Ibuu...” bisik Nanda lagi.
Mirah mengelus kepalanya lembut.
Pri menatapnya terharu. Sesungguhnya pilihan mbakyunya tidak salah. Mirah begitu menyayangi bocah. Pri perlahan jatuh hati. Jatuh hati yang sesungguhnya. Jatuh hati dengan keinginan memiliki. Tapi apa yang dirasakan Mirah? Gadis itu sangat pemalu, maksudnya malu mengutarakan isi hati. Tampaknya Mirah masih hijau dalam menangkap sebuah cinta. Bahkan dia tampak seperti ketakutan.
“Ibu....” ketika merintih untuk kesekian kalinya, tiba-tiba Nanda membuka matanya.
Mirah mengelus kepalanya lembut.
“Ibu.. ?”
“Iya mas Nanda,” kata Mirah lembut.
“Aku tadi melihat ibu, mendekati aku lalu mencium tanganku, lalu memegang kepalaku..”
“Oh ya, berarti ibu selalu menemani mas Nanda.”
“Apa kamu ibuku?” pertanyaan Nanda yang tak disangka ini mengejutkan Mirah maupun Pri.
“Ini...”
“Kamu memegang kepalaku, berarti kamu ibuku.”
Mirah menatap Nanda dengan perasaan tak menentu. Pasti tadi Nanda bermimpi ketemu ibu kandungnya.
“Mengapa kepalaku ini? Aku mau pulang.”
“Nanda, Nanda harus tidur disini dulu, besok baru boleh pulang.”
“Kepalaku sakit..”
“Iya, makanya Nanda harus tidur disini, supaya diberi obat oleh dokter. Besok kalau sudah tidak sakit Nanda boleh pulang. Ya,” kata Pri sambil memegang kaki Nanda.
“Bapak, tadi aku mencari bapak, lalu ada mobil.”
“Mengapa Nanda meninggalkan bapak? Bapak kan sedang belanja.”
“Nanda tadi mencari bapak, tidak ada.”
“Ya sudah, besok lagi Nanda tidak boleh pergi-pergi sendiri ya. Bapak sedih kalau Nanda sakit.”
Nanda menatap Mirah.
“Apa bu Mirah akan menjadi ibuku?”
Mirah terkejut.
"Kata bude...."
“Apa kamu suka mempunyai ibu seperti bu Mirah?” tiba-tiba Pri bertanya.
“Suka. Bu Mirah jangan pergi.”
Pri melihat Mirah kembali tersipu. Gadis lugu ini harus dipaksa. Maksudnya Pri harus mengatakan terus terang apa yang menjadi keinginannya. Lalu dilihatnya wajah Mirah yang bersemu merah.
“Ma’af mbak Mirah, saya memang hanya seorang duda.. tapi saya sangat ingin agar mbak Mirah mau mendampingi saya dalam mengasuh Nanda. Dia butuh seorang ibu.”
“Saya... saya...”
“mBak Mirah menolak karena saya seorang duda?”
“Tidak.. bukan itu.. ini.. mm.. saya.. bingung.. saya akan.. memikirkannya..”
“mBak Mirah tidak suka sama saya?”
“Bukan begitu, baiklah.. saya.. akan memikirkannya..”
Lalu Mirah kembali memegang tangan Nanda.
“Mas Nanda, bu Mirah pulang dulu ya.”
“Jangan pergi..”
“Ada bapak disini. Besok bu Mirah akan kemari lagi.”
“Benar?”
“Benar, asalkan mas Nanda tidak nakal dan tidak rewel ya.”
“Kepalaku masih sakit..”
“Nanti kan pak dokter akan memberi obat lagi. Besok pasti sudah sembuh.”
Ketika Mirah akhirnya pamit pulang dengan rasa berat, Pri mengantarkannya sampai ke pintu.
“mBak Mirah, ma’af ya kalau saya lancang?”
“Tidak.. tidak..”
“Tidak bagaimana?”
“Tidak apa-apa..”
“Saya menunggu jawaban. Nanda sangat berharap. Tapi, kecuali itu, saya juga suka sama mbak Mirah. Sepertinya saya jatuh cinta. Apakah mbak Mirah marah?”
Mirah menggeleng sambil tersenyum, kemudian berlalu.
Pri menghela nafas lega, karena sudah berani mengutarakan isi hatinya. Kalau diterima syukurlah, kalau tidak ya... nasib.. Pri mengeluh dalam hati, lalu kembali masuk kedalam kamar, menemani Nanda yang masih terkadang merintih sakit.
***
“Kamu kok nekat belanja sih Rah..katanya catatannya hilang.”
“Belanja seingat saya saja bu, hanya beberapa .”
“Ya sudah, bagaimana keadaan Nanda?”
“Tadi sudah baik, meskipun masih merintih sakit. Kepalanya berbalut karena luka.”
“Kasihan..”
“Iya bu, Mirah sampai menangis, karena ketika tidur dia memanggil-manggil ibunya terus.”
“Nah, itulah Rah, kamu harus tanggap. Dia membutuhkan kamu.”
Mirah termenung, ia ingat apa yang dikatakan Pri. Seperti sebuah pernyataan cinta, atau bukan cinta tapi membutuhkannya untuk Nanda? Tapi kan dia bilang suka, dan jatuh cinta. Dan Mirah belum memberikan jawaban kecuali sebuah senyuman.
“Rah.. kok bengong?”
“Ibu.. sungguh saya bingung harus menjawab apa.”
“Jawab ‘iya’.. apa susahnya sih? Kamu akan bahagia, karena mas Pri itu laki-laki yang baik.”
“Baiklah, saya akan memikirkannya lagi.“
“Hiih, gemes aku sama kamu Rah, bilang ‘iya’ saja kok susahnya bukan main.”
“Ibu sudah masak?” tanya MIrah ketika di meja makan sudah tertata sayur dan lauk pauk.
“Sudah.. hanya sayur bening sama goreng bandeng presto Rah. Kamu tinggal buat sambel ya?”
“Baik bu.”
“Yu Miraaaah.. kok perginya lama...” tiba-tiba Bintang berteriak lalu merangkul Mirah dari belakang.
Tuh kan, kalau Mirah pergi menjadi ibunya Nanda, bagaimana dengan mas Bintangnya?
“Iya mas Bintang. Dik Nanda sakit, yu Mirah nungguin sebentar.”
“Sakit apa?”
“Jatuh, kepalanya diperban.”
“Ooh, sakit ya?”
“Ya sakit, tapi besok pasti sudah sembuh. Mas Bintang sudah makan?”
“Belum, nungguin yu Mirah datang..”
“Ooh, kan ada ibu..”
“Ibu juga bilang nungguin yu Mirah, karena bapak nggak pulang siang ini.”
“Iya Rah, ayo kita makan, bapak ada rapat dan tidak pulang makan siang di rumah.”
“Saya buat sambelnya dulu bu.”
“Aku nggak mau sambel,” teriak Bintang.
“Bukan buat kamu, tapi buat ibu..” kata Palupi yang kemudian mengajak Bintang duduk diruang makan.
***
Dua hari dirumah sakit, Nanda sudah boleh pulang. Mirah menepati janjinya, datang setiap pagi ke rumah sakit.
Ketika pulang ke rumah, Pri mengajak juga Mirah bersama mereka.
“Ini rumahku mbak Mirah. Sepi tanpa seorang wanita yang menjadi penghuninya.”
Mirah menatap kesekeliling rumah, yang biarpun tidak besar tapi ditata sangat rapi dan bersih.
“Siapa yang membersihkan rumah?”
“Saya sendiri. Saya tidak punya pembantu.”
Ada rasa iba dihati Mirah ketika mendengar bahwa Pri melakukan semuanya. Pri juga mengajak Mirah melihat-lihat tokonya.
“Ini, biarpun kecil, cukup untuk kami makan. Selama ini agak boros karena tidak pernah memasak. Besok kalau sudah ada seorang wanita baik hati yang mau menemani saya, barangkali hidup saya akan berubah. Lebih tertata pastinya."
“Bu Miraaah...” Nanda berteriak dari dalam kamar. Ia duduk diatas ranjang dengan mobil-mobilan kecil yang dibuatnya bermain.
“Mas Nanda jangan banyak bermain dulu. Tiduran saja, supaya cepet sembuh, ya.”
“Apa bu Mirah mau pergi?”
“Bu Mirah pergi dulu ya.. “
“Besok kesini lagi kan?”
“Iya, baiklah.. nanti sambil ke pasar bu Mirah mampir kemari.”
“Terimakasih sudah mau melihat rumah saya mbak Mirah. Kata Pri ketika mengantarkan Mirah sampai Mirah naik kedalam taksi yang dipesannya.
“Saya sudah janji sama mas Nanda.”
“Saya ingin mengantarkan, tapi Nanda bagaimana.”
“Tidak apa-apa, saya sekalian belanja.”
Pri masuk kembali kedalam rumah ketika taksi yang ditumpangi Mirah menghilang di belokan jalan. Ada rasa senang ketika Mirah mau diajaknya kerumah. Walau alasannya adalah Nanda, tapi cukup membuatnya lega.
***
Hari itu keluarga bu Ismoyo bersiap pergi ke rumah Tanti. Danang berdandan rapi dengan jas abu-abu yang dipilihkan ibunya.
“Anakku memang ganteng..” senyum bu Ismoyo sambil merapikan jas yang dikenakan anaknya.
“Kita ke mas Handoko dulu kan bu? Bukan menunggu mas Handoko kemari?”
“Iya, kan rumahnya Tanti melewati rumah kangmasmu kalau dari sini?”
“Itu bu, simbok sudah menata oleh-oleh didalam mobil.”
“Ya sudah, kita berangkat sekarang saja.
“Semua sudah siap bu, sudah saya taruh di jok belakang.” Kata simbok.
“Iya mbok, terimakasih, jangan lupa kunci pintunya ya.”
Ketika sampai dirumah Handoko, ternyata Handoko dan Palupi sudah menunggu. Bintang berdiri di teras dan melompat-lompat kegirangan ketika melihat neneknya datang.
“Eyaaang.. lihat, Bintang memakai baju baru.”
“Oh, iya.. cucuku ganteng sekali.”
“Kata bapak, om Danang mau jadi pengantin.. Benar?”
“Benar, tapi belum sekarang. Kita baru mau kerumah calon isterinya om Danang.”
“Bapaaak, kita berangkat sekarang?”
“Nang, kita satu mobil saja, cukup kan?”
“Cukup mas, tapi ada oleh-oleh yang akan kita bawa di jok belakang,” jawab Danang.
“Oleh-oleh yang kemarin itu kan? Ditata dibelakang juga nggak apa-apa, hanya buah-buahan dan makanan, atau biar aku pangku saja,” kata Palupi.
Danang berdebar ketika sudah mendekati rumah Tanti.
“Ini gangnya sama dengan gang yang mau masuk ke rumah yu Suprih ya?” celetuk Handoko.
“Iya benar, berarti memang tetangganya yu Suprih.”
“Waah, nanti kalau lewat rumah yu Suprih kita teriaki saja dia ya Bin?”
“Iya, rumah bu Suprih.. nanti Bintang panggil bu Suprih keras ya bu.”
Namun betapa terkejutnya Handoko dan Palupi, ketika Danang menghentikan mobilnya didepan rumah Suprih.
“Kok berhenti disini Nang?” tanya Handoko heran.
“Memang rumahnya disini.”
“Lhoh, ini kan rumah yu Suprih ?”
“Mungkin yu Suprih tinggal dibelakang rumah itu, entahlah. Ayo turun.”
Danang turun, diikuti oleh semuanya.
Dilihatnya Tanti berdiri ditengah pintu, menyambut tamunya dengan senyum merekah. Seperti mimpi ketika ia benar-benar akan mendapatkan mertua seorang terpandang seperti bu Ismoyo.
Ia segera mencium tangan mereka satu persatu.
“Silahkan, ini rumah gubug kami. Ibuuuu..” Tanti berteriak.
“Tanti, ada beberapa oleh-oleh untuk ibu, tolong Danang dibantu ya.” kata Palupi.
“Baiklah.”
“Danang mengeluarkan beberapa keranjang oleh-oleh, dibantu Palupi dan Tanti.
Mereka sudah berdiri didepan pintu, ketika seorang wanita setengah baya berdiri menyambut dengan pakaian rapi.
Tak ada yang tak terkejut. Semuanya terpana karena sudah saling mengenal.
***
Besok lagi ya