Friday, December 4, 2020

SANG PUTRI 12

SANG PUTRI  12

( Tien Kumalasari)

 

Palupi masih tetap duduk, menatap tajam perempuan yang baru datang. Ia membawa sebuah tas yang agak besar.

“Mau mencari siapa?”

“Saya disuruh bu Dewi datang kemari. Benarkah ini rumah pak Handoko?”

“Ooh.. kamu pembantu yang dikirim bu Dewi ya?”

“Iya bu..”

“Namamu siapa?”

“Saya Suprih..”

“Sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga?”

“Sudah bu, dulu pernah ikut putranya bu Dewi di Jakarta.”

“Oh, baiklah, bisa masuk mulai hari ini?”

“Bisa bu.”

“Kalau begitu langsunglah bekerja. Ayo ikut aku,” kata Palupi sambil beranjak kebelakang dan Suprih membuntuti dibelakangnya.

Palupi menunjukkan meja makan yang masih belum dirapikan, masih banyak makanan sisa  kemarin dan perabot-perabot kotor yang semuanya sudah berbau.

“Lihat semua, dan bersihkan. Mengerti maksudku?”

“Iya bu, saya mengerti.”

“Oh ya, itu.. kamar didekat dapur itu kamarmu. Letakkan saja bawaanmu didalam sana,” kata Palupi yang dengan enteng menunjukkan kamar Mirah agar ditempati Suprih.

“Ya bu,” lalu Suprihpun meletakkan tas yang dibawanya dikamar itu, yang dengan heran dia membatin,

“Kamar ini sangat rapi. Mengapa kamar pembantu justru tampak rapi sementara diluar itu kotor dan bau?” kata batin Suprih.

“Setelah itu menyapu rumah, mengepel. Aduh.. mana ya alat-alat bersih-bersih.. mungkin disebelah gudang itu, kamu cari sendiri. Pokoknya semua harus bersih. Setelah itu, masuk kekamar sebelah sana itu, itu kamarku. Badanku sakit semua, kamu bisa memijit?”

“Bisa bu.”

“Bagus, kerjakan yang itu dulu. Pusing kepalaku mencium bau-bau tak sedap ini.”

“Baiklah bu.”

Palupi meninggalkan Suprih lalu beranjak kembali ke teras. Tiba-tiba ia ingin sesuatu.

“Supriiiih..” teriaknya.

Suprih meninggalkan pekerjaannya membersihkan meja makan.

“Ya bu..”

“Aduh, tanganmu bau. Cuci bersih dulu tangan kamu, lalu buatkan aku kopi susu. Dimeja dapur ada semuanya, kamu mengerti?”

“Baik bu.”

“Tapi cuci dulu tanganmu dengan sabun, sampai bersih, baru membuat minuman untuk aku, lalu bawa kemari. Semuanya bisa kamu cari didapur.”

“Baiklah,” kata Suprih.

Dalam hati Suprih bertanya-tanya.

“Bagaimana mungkin rumah sebagus ini tampak kotor dan bau. Kalau tidak punya pembantu, apakah si ibu itu tadi tidak bisa kalau hanya sekedar mencuci piring?”

Tapi Suprih tak mau berfikir lebih banyak, yang penting dia mendapat pekerjaan. Lalu ia melakukan semua perintah majikan barunya.

***

“Danang..” panggil bu Ismoyo ketika Danang baru keluar dari kamar.

“Ya bu..” jawab Danang sambil mengucek matanya.

“Kamu tidak berangkat ke kantor? Ini jam berapa , kok kamu baru bangun?”

“Iya bu, badan rasanya lemas.. ini mau mandi.”

“So’alnya kamu pulang larut malam. Sudah gitu, siangnya kamu tidak makan dirumah. Ibu menelpon kekantor tapi katanya kamu sudah keluar. Ponselmu tidak akftif. Kemana saja?”

“Ooh, ada urusan bu..”

“Urusan apa, diurus sampai larut malam begitu?”

“Urusan penting bu... ma’af..”

“Dengar Danang, ibu merasa hidup kamu sangat tidak teratur. Main.. pergi semaunya saja. Segera cari isteri agar hidup kamu lebih tertata.”

“Ibu, cari isteri kan tidak mudah. Coba saja lihat rumah tangga mas Handoko. Dulu buru-buru  menikah karena menemukan gadis  cantik.. ternyata sekarang apa, isterinya binal kayak kuda liar.”

“Hush !!”

“Itu benar bu, kalau Danang, perempuan seperti itu bagusnya hanya untuk bersenang-senang saja. Kalau untuk jadi isteri... jauh bu. Sekarang  Danang  merasa kasihan sama mas Handoko.”

Bu Ismoyo mendesah sedih.

“Iya le, ibu kalau memikirkan kangmasmu itu juga sedih. Siapa yang kira-kira bisa mengingatkan Palupi ya, agar rumah tangganya tetap terjalin utuh dan bahagia.”

“Wah, menurut Danang, mbak Palupi itu susah dikasih tahu bu, dia maunya hanya senang, tidak mau susah, tapi tidak mau dicela, maunya dipuji-puji.  Kalau Danang puji dia.. aduuh.. senangnya bukan main.”

“Ngapain kamu memuji-muji dia?”

“Ya cuma kalau terkadang ketemu bu. Ya sudah Danang mau mandi dulu, terus sarapan lalu berangkat.”

“Sudah hampir jam sepuluh baru mau berangkat ke kantor,” omel bu Ismoyo.

***

Handoko mengajak Widi kerumah sakit agar ketika dia  masuk  maka  Bintang ada yang menemani didalam mobil.

Bintang sangat gembira, berceloteh tak henti-hentinya. Handoko tersenyum haru, anak lelakinya hanya ingin Mirah untuk mendapatkan keceriaannya kembali.

“Ya Tuhan,  bahagia rasanya melihat anakku berceloteh riang.”

Ketika taksi berhenti diarea parkir rumah sakit, Handoko melarang Bintang untuk turun.

“Bintang, anak kecil kan tidak boleh masuk ke rumah sakit, jadi Bintang menunggu disini sama tante Widi, ya.”

”Apakah nanti yu Mirah akan kemari?”

“Tentu saja Bintang. Duduk manis dan jangan kemana-mana.”

“Ya bapak.”

“Hati-hati mas,” pesan Widi  ketika Handoko beranjak turun.

Handoko mengangguk, lalu berjalan tertatih kearah ruang inap Mirah.

Ketika memasuki ruangan Mirah, dilihatnya Mirah sedang duduk ditepi pembaringan, melamun.

“Mirah, kamu sudah siap?”

“Bapak, apakah bapak sudah memikirkan baik dan buruknya seandainya saya kembali?”

“Tentu saja sudah Mirah.”

“Bapak yakin semuanya akan baik-baik saja?”

“Sangat yakin Rah.”

Mirah menghela nafas.

“Sebenarnya saya merasa akan melangkah diatas bara yang menyala.”

“Aku akan memadamkan bara itu Mirah. Ayolah, Bintang menunggu didepan.”

“Mas Bintang? Oh, Tuhanku, sesungguhnya saya kembali hanya karena dia.”

“Dia begitu bersemangat sejak berangkat dari rumah. Bahagianya Bintang hanya ada pada kamu Mirah. Jangan ragu.. ayo pulang..”

Mirah turun dari pembaringan. Semua barang yang akan dibawanya sudah siap sejak pagi-pagi sekali. Ada keinginan untuk kabur saja sa’at itu. Bahkan dia sudah melangkah jauh dari kemarnya, menuju arah keluar.  Tapi tangisan Bintang mengiris jantungnya.  Yu Miraaah.. aku mau yu Mirah.... Dan air mata kembali bercucuran.  Mirah melangkah kembali ke kamarnya, lalu ia hanya termenung, sampai kemudian Handoko menjemputnya.

“Mirah... ayolah..”

Mirah melangkah pelan,

***

Bintang bersorak ketika melihat bapaknya berjalan bersama Mirah. Tak sabar ia melompat turun dan langsung memeluk Mirah.

“Yu Mirah... “

Mirah mengangkat tubuh Bintang, menciuminya bertubi-tubi. Sesungguhnya Mirah tak tega meninggalkan Bintang. Airmatanyapun berlinang-linang.

“Ayo cepat naik..” ajak Handoko.

“Yu Mirah, aku lapar..” kata Bintang pelan. Lalu semua orang tertawa.

“Ya ampun, mas Bintang belum makan?”

“Iya, bangun tidur, mandi langsung mengajak berangkat. Ayo mampir makan dulu saja. “

“Horeee.. yang ada es krimnyaa...” sorak Bintang.

“Tuh Rah, betapa gembiranya Bintang, tega kamu meninggalkannya?”

Mirah memeluk Bintang erat-erat.

“Bapak.. makan yang ada es krim ya..”

“Baik..  mas ganteng..” jawab Handoko riang.

***

Mereka mampir makan-makan dalam suasana riang. Handoko kemudian mulai menilai batinnya sendiri. Benarkah dia memburu Mirah karena Bintang, atau karena dirinya sendiri juga merasa kehilangan ? Aduhai..  Kemarin serasa ada yang hilang dari hatinya, lalu sekarang ia merasa lega.

“Tidak Handoko, kamu tidak pantas melakukannya,” bisik batinnya.

Handoko kembali meminta Mirah duduk satu meja bersama mereka.

“Yu Mirah kemarin pilek.. makanya sakit dirumah sakit..”

“Iya mas Bintang. Masih ingat nya, yu Mirah bilang pilek?”

“Sekarang sudah nggak pilek lagi kan?”

Mirah menggeleng sambil menatap Bintang dengan gemas.

“Nanti makan es krim sama tante Widi ..  sama bapak.. sama Bintang kan?”

“Iya mas Bintang..”

“Besok kalau bapak sudah bisa jalan, kita ke kebun binatang lagi ya yu, tante Widi mau nggak?”

“Mau dong..  duuh.. senengnya. Di kebun binatang lihat apa saja Bin?”

“Ada gajah.. ada.. kijang.. ada kera.. aku kemarin belum jadi memberi makan kera..”

“Kenapa?”

“Habis.. bapak kasihan.. kakinya masih sakit.”

Handoko tertawa.

“Besok kita kesana lagi, Bintang boleh kasih makan kera. Oh ya, kera tuh sukanya makan apa ya?”

“Kata yu MIrah.. pisang.. kacang juga suka.. Ya kan yu..?”

“Iya mas Bintang..”

“Bapak, nanti kita jalan-jalan lagi kan?”

“Lain hari Bintang, bukan sekarang. Yu Mirah kan habis sakit, nanti kecapekan.”

“Besok kan?”

“Kalau bapak sudah bisa jalan sendiri, Bintang.”

“Bapak katanya mau beli buku cerita..”

“Haa, buku cerita nanti biar tante Widi yang beli Bintang,” kata Widi yang mendengar Bintang banyak permintaan.

“Benar?”

“Benar, besok tante yang belikan.”

Sudah siang ketika mereka meninggalkan rumah makan. Handoko menyuruh Mirah beli lauk untuk makan dirumah, supaya Mirah tidak usah masak hari ini. Handoko juga menyuruh Mirah beli oleh-oleh untuk bapaknya Widi.

***

“Pijitan kamu enak Prih, aku mau setiap hari kamu memijit aku ya Prih..” kata Palupi sambil merem melek menikmati pijatan Suprih.

“Syukurlah bu.”

“Aku jadi ngantuk, padahal aku mau pergi siang ini.”

“Nggak apa-apa bu, nanti habis pijat ibu mandi dengan air hangat, pasti rasanya lebih segar.”

“Iya juga sih. Ya sudah sebentar lagi saja.. ini Prih, di tengkuk sini... nah.. gitu.. agak  keras sedikit .. wahh.. enaknya.. Coba lihat Prih, ini jam berapa, itu diatas itu kan ada jam.”

“Jam setengah duabelas kurang lima menit bu.”

“Ya sudah Prih, berhenti dulu, kamu boleh istirahat, aku mau mandi lalu pergi arisan. Bisa terlambat kalau keenakan pijit.”

“Ya bu.”

Suprih meninggalkan kamar Palupi, lalu beranjak kebelakang. Ia belum makan, dan tak ada makanan didapur. Lalu ia masuk kekamar Palupi.

“Bu, bolehkah saya menanak nasi? Barangkali nanti ibu lapar.”

“Oh, ya.. dari pagi aku juga belum makan, tapi aku sudah makan roti. Kalau kamu lapar, masak saja apa yang ada dikulkas, atau kalau capek ya goreng telur, cukup kan?”

“Iya bu, gampang.”

Suprih kedapur lagi, dicarinya sendiri dimana tempat beras, karena kalau bertanya pada ndoro putrinya pun pasti dia juga tidak tahu. Dari tadi Suprih disuruhnya mencari sendiri apa yang diperlukannya.

Akhirnya Suprih menemukan tempat beras yang dicarinya. Seberapa banyak ya dia harus mengambil berasnya? Untuk makan siapa saja sebenarnya nasi ini nanti? Aku tidak menemukan penghuni lain dirumah ini kecuali bu Palupi. Lalu mana yang namanya pak Handoko? Suprih ingin bertanya tapi merasa sungkan. Lalu Suprih menanak beras setengah mangkuk dari ukuran yang ada saja. Setelah itu  ia membuka kulkas,  tak ada sayuran.. tak ada ikan.. rupanya si pemilik rumah belum belanja. Jadi Suprih kemudian menggoreng telur saja.

Belum satu jam sa’at nasinya matang, Suprih lalu makan dengan lahap. Ia benar-benar lapar setelah bekerja sangat berat dihari pertamanya dia bekerja.

“Supriih.. aku berangkat ya, taksiku sudah datang. Jangan lupa kunci pintunya,” teriak Palupi dari arah depan.

Suprih bergegas kedepan, lalu mengunci pintu.  Ketika berjalan kearah belakang, Suprih mengamati foto-foto yang terpampang ditembok.

Ada foto anak kecil sedang duduk diatas sepeda roda tiga. Suprih memandanginya dengan kagum.

“Ganteng sekali, apakah ini anaknya bu Palupi? Oh, ada lagi, anak kecil itu dan seorang laki-laki gagah. Itukah yang namanya pak Handoko? Hm.. bapaknya ganteng, ibunya cantik, pantas kalau anaknya juga ganteng. Tapi kok nggak ada foto pak Handoko dan bu Palupi ya.”

Suprih kemudian masuk kekamar yang oleh Palupi disuruhnya menempatinya. Suprih membaringkan tubuhnya. Sungguh terasa letih setelah membersihkan seluruh rumah sehingga bau anyir tak lagi tercium.

***

Ditengah jalan setelah menurunkan Widi, Bintang mengantuk. Mirah merangkulnya dan membiarkannya tertidur.

“Mirah, lihat, dia tampak begitu tenang dalam tidurnya, tidak seperti kemarin yang sebentar-sebentar terbangun lalu memanggil-manggil namamu.”

Mirah tersenyum.

Handoko yang duduk disampingnya menatap senyum itu. Dan lagi-lagi Handoko merasa bahwa senyum itu alangkah indah, manis dan tulus.

Handoko menghela nafas. Menata batinnya yang dianggapnya keterlaluan.

“Bagaimana rasa badanmu sekarang?”

“Tidak apa-apa bapak, mungkin Mirah kelaparan, dari pagi sampai siang tidak makan dan minum, berjalan tak tentu arah.”

“Kamu membuat bingung aku dan Bintang. Kamu bisa membayangkan tidak, dalam keadaan berjalan dengan satu kaki dan hanya dibantu kruk yang aku pakai itu, aku menggendong Bintang sejak turun dari taksi, lalu susah payah membuka pintu rumah, lalu menidurkan Bintang diranjangku.”

“Memangnya bapak dan mas Bintang dari mana?”

“Bagaimana kamu ini Rah, apa aku belum cerita, kemarin aku dan Bintang mencari kamu kekampung, tapi tidak menemukan kamu. Bintang rewel sepanjang jalan, lalu ketiduran karena letih menangis. “

“Lalu bapak menggendongnya dan membawanya masuk kerumah?”

Handoko mengangguk.

“Ya ampun bapak.. tidak terbayang oleh saya, bagaimana ribetnya bapak waktu itu.”

“Ribet karena harus menghibur Bintang , ribet karena kehilangan kamu,” kata Handoko sambil menatap Mirah. Sa’at itu  Mirah juga sedang menatapnya. Mirah terkejut oleh perasaannya, lalu dia mengalihkan pandangan keluar melalui kaca mobil.

“Bagaimana  dengan ibu ?”

Handoko mengkela nafas berat.

“Bintang tidak mau dekat dengan ibunya, karena ibunya juga terlalu kaku dan kasar dalam mendekati anaknya.”

“Sebaiknya bapak bicara baik-baik dengan ibu.”

“Bicara tentang apa?”

“Tentang bagaimana seharusnya ibu bersikap.”

“Aah...” Handoko hanya mendesah.

“Sungguh bapak, saya ingin agar rumah tangga bapak kembali baik seperti sebelumnya. Ma’afkan kalau saya lancang.”

“Aku juga ingin begitu.”

“Kalau begitu lakukanlah sesuatu, bapak. Suasana panas didalam rumah tangga kan tidak nyaman untuk dinikmati. Terkadang saya miris mendengar ketika bapak berdebat dengan ibu.”

Lalu Mirah mendekap mulutnya sendiri. Ia merasa kelepasan bicara.

“Bapak, ma’af.. saya kelepasan bicara. Saya tidak pantas mengatakan semua itu. Ma’af bapak.”

Kali ini Handoko menepuk tangan Mirah.

“Tidak apa-apa. Kita adalah keluarga, saling mengingatkan itu bagus. Terimakasih Mirah.”

Mirah gemetar,  Handoko terlalu lama memegangi tangannya. Mirah menariknya dengan halus.

***

Handoko merasa lega karena berhasil membawa Mirah pulang. Mirah menggendong Bintang kearah kamar, lalu kembali mengambil tas yang masih tertinggal di mobil.

Handoko heran melihat rumahnya bersih. Berarti Palupi bisa melakukan tugas seorang ibu rumah tangga dengan baik. Handoko melangkah kebelakang. Ruang makan rapi, piring dan perkakas kotor yang semula terserak dibak cuci sudah tak ada lagi. Semuanya rapi.

Handoko menghela nafas lega.

“Apakah ini awal kebaikan yang ditunjukkan Palupi kepadaku? Benarkah aku harus mema’afkan Palupi dan hidup penuh damai dan nyaman?” gumam Hadoko.

Tapi tiba-tiba Handoko terkejut, ketika mendengar teriakan Mirah.

“Haahhh? Siapa kamu?”

***

Besok lagi ya

 

Thursday, December 3, 2020

SANG PUTRI 11

SANG PUTRI  11

(Tien Kumalasari)

 

Gemetar tangan Handoko ketika mengangkat ponselnya. Dalam hati dia harus memaksa Mirah supaya kembali.

“Hallo, Mirah...” tapi Handoko terkejut ketika yang terdengar adalah suara laki-laki.

“Ini dengan bapak Handoko ?”

“Iya benar.. ini siapa ya?”

“Saya salah seorang pengurus Mushola Al Hikmah. Saya ingin memberitahu bahwa seorang gadis pingsan didepan mushola. Saya menemukan kontak bapak dari ponsel  gadis itu.

“Pingsan ? Bagaimana sekarang ?”

“Sudah saya bawa kerumah sakit. Rumah Sakit Pusat pak”

“Baiklah..terimakasih informasinya pak, terimakasih juga telah menolong Mirah. Dia adalah.. mm.. keluarga saya. Nanti semua biayanya adalah tanggung jawab saya pak. Saya akan segera kesana.”

Handoko menutup ponselnya dengan hati bingung. Ia ingin segera kerumah sakit, tapi Bintang belum tidur, Bintang memandanginya penuh tanda tanya, karena tadi ia menyebut nama Mirah.

“Yu Mirah.. bapak?”

“Iya sayang, yu Mirah ada dirumah sakit...”

“Yu Mirah sakit? Bintang mau kesana.. mau lihat yu Mirah..”

“Jangan sayang, anak kecil tidak boleh pergi kerumah sakit. Sekarang Bintang tidur dulu, besok telpon sama yu Mirah.”

“Bisa ngomong ?”

“Bisa dong.. tapi karena sudah malam Bintang tidur ya?”

“Bapak kan belum ndongeng..”

“Begini saja. Sekarang Bintang tidur,. Besok bapak ajak ke toko buku, kita beli buku-buku   cerita, nanti bapak bacakan. Oke?”

Bintang mengangguk, ia harus segera tidur karena berharap besok pagi bisa menelpon yu Mirah.

Handoko menepuk-nepuk pantat Bintang, seperti Mirah selalu melakukannya. Tapi ia sangat gelisah, bagaimana bisa melihat keadaan Mirah sementara dia harus menjaga Bintang. Lalu ditelponnya Widi.

“Ya mas, ma’af tadi sore belum jadi kerumah.”

“Nggak apa-apa, aku juga baru pulang agak sore.”

“Ada apa nih mas?”

“Bisa minta tolong Wid?”

“Ya bisa dong, minta tolong apa?”

“Datanglah kerumah, sekarang juga.”

“Memangnya ada apa?”

“Mirah ada dirumah sakit, aku ingin melihatnya, tapi Bintang kan harus ada yang menjaga?”

“Lho, tadi kan mas Handoko kerumahnya?”

“Dia ternyata belum pulang, aku bingung nih, mendengar dia dirumah sakit.”

“mBak Lupi belum pulang?”

“Belum, jangan pikirkan dia, pulangpun belum tentu Bintang mau bersama ibunya.”

“Baik mas, saya kesitu sekarang.”

Handoko sedikit lega. Dilihatnya Bintang sudah memejamkan mata. Handoko masih tetap menepuk-nepuk pantatnya sampai dia benar-benar terlelap.

Widi bergegas masuk kerumah begitu sampai dirumah Handoko.

“Dimana Bintang?”

“Itu, sudah tidur..”

“Itu mas, kok ada kursi ditengah pintu?”

“Itu aku menarik kursi teras dengan susah payah sampai ketengah pintu, lalu aku duduk agar aku bisa membuka pintu sementara Bintang ada dalam gendonganku.”

“Itu ketika mas pulang dari kampungnya yu Mirah?”

“Iya.. kesana nggak ketemu Mirah. Bintang rewel.. aduuh.. aku bingung Wid, untungnya dia tertidur, sebelum sampai rumah. Tapi ya itu, mau masuk rumah susah.”

“Mas juga sambil menggendong Bintang?”

“Iya, sopir taksi membantu menaruh Bintang dalam gendongan, habis mau aku bangunkan takutnya nanti rewel lagi. Susah payah aku membawanya sampai keteras, dengan satu kaki. Ya sudah,  lumayan dia bisa tidur satu jam an atau lebih, setelah itu dia bangun dan masih rewel. Tapi untunglah mau aku ajak makan, dengan janji besok mencari MIrah lagi.

“Bagaimana kejadiannya?”

“Aku tidak tahu, tadi aku kekampungnya tapi ternyata dia tidak pulang. Bintang rewel disepanjang jalan. Dia diam ketika sudah mengantuk dan tertidur.”

“Aduh, bagaimana mas dengan memakai kruk bisa menggendong Bintang?”

“Kan aku sudah bilang, sopir taksi membantu meletakkan Bintang dipundakku, aku sampirkan dibahu kanan, lalu berjalan tertatih. Susah payah sih, dan aku juga membuka pintu rumah setelah menarik kursi yang ada diteras, duduk dulu, mangambil kunci yang sudah aku siapkan, baru bisa membukanya, sampai nggak kebayang kenapa aku bisa melakukan itu semua.” kata Handoko mengulang ceritanya.

“Ya ampun mas, kasihan sekali kamu ini,.hanya dengan kaki satu, menggendong bocah segede Bintang.”

“ Tukang taksi itu masih mengawasi aku sampai aku keteras. Mungkin kalau aku tidak berhasil membuka pintu dia juga akan datang menolong aku.”

“Bagaimana mas tahu kalau yu Mirah ada dirumah sakit?”

“Seseorang menelpon aku..Rupanya Mirah memang tidak langsung pulang kerumahnya. Dia ditemukan pingsan didepan sebuah mushola.”

“Ya ampun, yu MIrah..”

“Sekarang aku harus kerumah sakit?” lanjut Widi.

“Tidak, aku yang akan kesana, aku minta tolong kamu tungguin Bintang.”

“Mas, bukannya aku tidak mau, tapi mas pasti lelah, berjalan dengan satu kaki dan mengangkat beban, lalu sekarang akan berjalan sendiri menyusuri rumah sakit, apa tidak berat?”

“Tidak Widi, aku harus ketemu Mirah.”

“Tunggu, aku akan menelpon mas Ryan.”

“Jangan Widi, aku tidak mau merepotkan orang lain.”

“Tidak mas, aku tidak tega mas berjalan sendiri. Tunggu sebentar.”

Dan Widi nekat menelpon Ryan yang dengan senang hati tak lama kemudian datang.

“Bagaimana mas, saya antar sekarang?” kata Ryan begitu sampai dihadapan Handoko.

“Aduuh.. jadi nggak enak saya, tadinya saya mau berangkat sendiri..”

“Sudahlah mas, saya kan bukan orang lain.”

“Iya mas, sana, sama mas Ryan. Dengan begitu aku jadi merasa lega. Kalau mas Handoko mau berangkat sendiri aku malah kepikiran terus.”

“Baiklah, terimakasih Widi. Tolong titip Bintang, kalau dia minta susu sudah aku siapkan di gelas, tinggal nambahin air termos sedikit, biar anget.”

”Ya mas, siap.”

Widi melepas Handoko dengan perasaan  iba. Sangat berat beban yang disandangnya. Kemana perginya Palupi? Dari tadi siang belum pulang juga?

“Aduh, apa saja yang dilakukan kakak  sepupuku dan iparnya itu?” gumam Widi sambil duduk didekat kamar dimana Bintang tidur,

***

“Mirah itu sangat berarti dalam keluarga saya. Bukan karena saya suka kepada dia, tapi karena dia sangat peduli kepada anak saya, dan juga kepada saya disa’at saya tak mampu melakukan banyak hal,” kata Handoko kepada Ryan dalam perjalanan ke rumah sakit.

“Iya mas, saya melihat Bintang sangat dekat dengan yu Mirah.”

“Sa’at saya sakit, hanya Mirah yang selalu menolong saya. Sa’at saya belum bisa duduk sendiri, tidur sendiri tanpa harus dibantu, hanya Mirah yang melakukannya.”

“Ya mas.”

“Lalu Palupi menuduh saya selingkuh dengan Mirah.”

“Saya juga tak percaya ketika mendengar kabar itu.”

“Kalau begitu sesungguhnya Palupi itu masih mencintai mas Handoko.”

“Ah.. saya kira tidak.”

“Buktinya dia cemburu..”

“Dia bukan cemburu. Dia hanya merasa dikalahkan.”

“Ini tadi dia belum pulang?”

“Belum, kalaupun pulang, apa yang bisa dia lakukan?”

“Tadi siang saya dan Widi melihat Palupi dan seorang laki-laki, kata Widi itu Danang, adiknya mas Handoko.”

“Benarkah ?”

“Tadi siang saya sama Widi mau langsung kerumah mas Handoko untuk memberitahu, tapi mas Handoko pergi.”

“Danang itu orangnya slengekan.. nggak pernah menghadapi apapun dengan serius. Palupi kan suka kalau ada orang begitu.”

“Harusnya mas Handoko menegurnya, supaya tidak keterusan. Itu kan tidak pantas.”

“Banyak hal tidak pantas yang dilakukan Palupi. Aku sedang berfikir harus melakukan apa.”

“Kalau bisa ya diperbaiki ya mas.”

Handoko menghela nafas, sementara mobil Ryan sudah memasuki halaman rumah sakit.

***

Ryan membantu Handoko turun dan memegangi lengannya ketika melangkah. Handoko memang tampak letih. Mungkin bukan hanya raganya, tapi demikian juga dengan jiwanya, Ryan merasa iba, seperti  juga Widi.

Mereka langsung menuju IGD, seorang laki-laki setengah tua mendekat.

“Ini bapak Handoko?” tanyanya.

“Saya Handoko, apa bapak yang menolong Mirah?”

“Oh, ya.. nama gadis itu Mirah. Saya yang tadi menelpon bapak. Saya Ilham, pak.”

“Oh, bapak Ilham, terimakasih banyak telah menolong Mirah. Bagaimana kejadiannya?”

“Ketika kami mau shalat maghrib, tiba-tiba melihat gadis itu terkapar didepan mushola. Lalu kami ramai-ramai membawanya kemari. Saya menemukan ponsel gadis itu yang sa’at itu tidak aktif. Kami membukanya karena ingin tahu tentang kepada siapa kira-kira kami bisa menginformasikan keadaan gadis itu. Ternyata kami menemukan panggilan tak terjawab sampai beberapa kali dari nomor bapak. Makanya saya kemudian menelpon bapak, dan alhamdulillah kalau benar dia keluarga bapak.”

“Iya pak, sekali lagi kami mengucapkan terimakasih. Apa bapak sudah tahu bagaimana keadaan Mirah?”

“Tadi dokter sudah bilang bahwa dia tidak apa-apa, katanya lemas karena belum makan, dan ada yang tampaknya membuat dia sangat tertekan atau mungkin sedang memikirkan apa, entahlah. Yang jelas kesehatannya tidak menghawatirkan. Barangkali juga besok sudah boleh pulang.”

“Oh, syukurlah pak.”

“Kalau begitu saya permisi pulang dulu pak Handoko dan.. ini.. pak..”

“Saya Ryan, saudaranya pak Handoko.”

“Oh.. iya pak Ryan. Saya permisi dulu.”

Handoko meminta ijin untuk menemui Mirah. Mirah sangat terkejut melihat tuan gantengnya tiba-tiba ada didekatnya. Ia juga mengenal Ryan karena Ryan penah bertandang kesana.

“Mirah ?”

“Mengapa bapak datang kemari? Saya tidak apa-apa, saya besok boleh pulang dan akan langsung pergi ke kampung saya,” kata Mirah lirih.

“Tidak Mirah, kamu tidak boleh pulang. Kamu harus kembali kerumah.”

“Mengapa bapak? Tolong kasihanilah saya, saya akan membuat keruh suasana. Tolong bapak, ijinkan saya pergi.”

“Apa kamu tidak kasihan sama Bintang? Kami tadi kerumah kamu di kampung. Kamu tidak ada, dia menangis sepanjang perjalanan, setelah dari pagi terus-terusan memanggil nama kamu. Tolong Mirah, jangan pergi.”

Mirah terisak sedih. Separuh jiwanya tertinggal dirumah itu. Memang berat, tapi separuhnya lagi mengajaknya pergi.

“Jangan menangis Mirah. Aku sedih melihat tangis kamu.”

“Bapak, kasihanilah saya.”

“Apa kamu tidak kasihan sama aku? Sejak pagi menghibur Bintang, mengurusnya sampai aku nyaris kehabisan akal.”

“Bukankah ada bu Palupi?”

“Apa kamu lupa bagaimana perangainya? Bintang sama sekali tak mau dekat dengan ibunya. Tolong Mirah, kalau perlu aku akan bersujud dihadapanmu agar kamu tidak pergi.”

“Ya Tuhan...”

“Itu benar Mirah..”

“Janganlah bapak berkata begitu. Ingatlah saya ini siapa..”

“Kalau begitu kamu besok harus pulang kerumah. Tak bisa aku bayangkan bagaimana senangnya Bintang kalau kamu datang nanti.”

“Bapak.. “ tiba-tiba seorang perawat mendekat.”

“Ibu Mirah harus dirawat, kami akan memindahkannya ke kamar inap,” lanjutnya.

“Baiklah, pilihkan kamar terbaik untuk dia.”

Sementara menunggu, Handoko meminta agar Ryan pulang, tapi Ryan menolaknya.

“Tidak mas, biar nanti kita pulang sama-sama.”

“Tapi ini sudah malam lho mas, nggak enak saya.”

“Nggak apa-apa mas, saya menunggu mas saja.”

Handoko tak bisa berbuat apa-apa. Mereka kemudian mengikuti brankar yang didorong perawat kekamar inap.

“Mirah, kamu disini dulu dan tenangkan hati kamu, besok kami akan menjemput kamu.”

“Bapak.. bagaimana kalau ibu marah?”

“Aku yang akan melindungi kamu Mirah.”

Mirah menghela nafas panjang. Lama dia menimbang-nimbang.

Tiba-tiba ponsel Handoko berdering. Dari Widi, apa Bintang rewel?

“Halo Widi, ada apa?”

“Ini, Bintang terbangun.”

“Rewel?”

“Ia memanggil-manggil yu Mirah.”

“Baiklah, berikan ponsel kamu pada Bintang.”

Lalu Handoko juga memberikan ponselnya pada  Mirah.

“Bintang .. kalian bicaralah.”

“Yu Mirah..?”

Air mata Mirah kembali menetes. Suara yang amat dirindukannya seharian ini.

“Mas Bintang..jangan rewel ya.”

“Yu Mirah sakit?”

“Iya mas..”

“Kapan pulangnya? Aku mau yu Mirah..”

“Mas Bintang.. yu Mirah mau pulang kampung ya?”

“Nggak mau... nggak mau...” dan Bintang menangis keras. Teriris hati Mirah mendengarnya.

“Mas Bintang..” Mirah terisak.

“Yu Mirah jangan pergi.. jangan pergi..”

“Mas Bintang, yu Mirah mau ketemu simboknya yu Mirah dulu ya.”

“Nggak mau.. nggak mau...” tangis Bintang bertambah keras.

Mirah menghela nafas, lalu mengusap air matanya.

“Baiklah mas Bintang, besok yu Mirah pulang.”

Dan Handoko ingin bersorak kegirangan mendengar jawaban Mirah. Ditungguinya Mirah yang masih berbincang dengan Bintang.

Ryan senang melihat Handoko tampak sumringah. Ada harapan yang digenggamnya, besok Mirah mau pulang.

“Besok aku sama Bintang akan menjemput kamu,” kata Handoko sebelum pulang.

***

Malam itu Handoko dan Bintang tidur saling berdekapan. Ada senyum merekah dibibir mereka, menunggu esok yang diharapkannya akan menjadi indah.

Ketika Palupi pulang malam itu, dan masuk kekamar Bintang, agak heran melihat Bintang tidak tidur dikamarnya. Lalu ketika masuk kekamar suaminya, dilihatnya keduanya sedang tidur berdekapan. Ada kesal dihatinya menyadari bahwa Bintang tak mau dekat dengan dirinya. Ia langsung keluar dan menuju kebelakang. Ia bermaksud mengambil air minum, tapi dilihatnya meja makan masih berserakan, dan piring kotor masih menumpuk. Itu termasuk piringnya sendiri ketika makan pagi harinya.  Palupi mendengus kesal.

“Masa ini harus aku yang mengerjakannya? O.. tidaaak...” katanya sambil meneguk segelas air, lalu ia masuk kekamarnya sendiri.

***

Pagi hari itu Palupi mendengar celoteh Bintang. Tak ada rengekan terdengar karena kehilangan Mirah.

“Syukurlah, baru sehari Bintang sudah melupakan pembantu sialan itu. Nanti juga dia pasti akan mau dekat dengan aku,” gumamnya.

Ketika mendengar mobil memasuki halaman, Palupi mengintip dari balik tirai jendela kamarnya. Dilihatnya Handoko dan Bintang pergi naik taksi.

“Mau kemana mereka? Pasti bapaknya ingin menghibur Bintang dengan mengajaknya jalan-jalan.”

Tapi ketika Palupi kebelakang, dilihatnya piring-piring kotor masih menumpuk di bak cucian. Hidungnya mencium bau anyir. Palupi mengernyitkan hidungnya.

“Ada sayur yang busuk.. pasti sup itu.. sejak kemarin tidak dipanasi. Sebel banget melihat semuanya kotor seperti ini,” gumamnya sebal.

Palupi beranjak kedepan, ada bekas minuman yang sejak kemarin masih ada ditempatnya.

“Aduuh... jadi ini yang dimaksud mas Handoko akan menjadi tugasku? Enak saja. Iya benar, pasti mas Handoko sengaja membiarkan rumah kotor dan bau, dan berharap aku akan membereskannya? Hmh.. lihat saja nanti,” omelnya.

Palupi duduk diteras, lalu menelpon seseorang.

“Ya,.. gimana sih bu.. lha iya lah.. oh..sudah? Baiklah.. terimakasih banyak bu Dewi.”

Palupi meletakkan ponselnya. Lalu tiba-tiba datanglah seorang wanita setengah baya. Palupi menatap wanita itu.

“Permisi..”

“Ya..”

“Apa ini rumahnya pak Handoko?”

***

Besok lagi ya

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...