Wednesday, December 2, 2020

SANG PUTRI 10

SANG PUTRI  10

(Tien Kumalasari)              

 

“Yu Miraaah....” Bintang berteriak, dan kali ini sambil menangis.

Handoko kebingungan, ia melangkah kearah Bintang.

“Bintang, jangan menangis, sini.. ayo kita cari yu Mirah. Mungkin lagi belanja, ayo sayang, kita cari kedepan,” kata Handoko sambil menarik lengan Bintang.

“Nah, bangun ya, bapak kan belum bisa menggendong.”

“Mau pipis...”

“Oh ya, baiklah..” Handoko duduk disebuah kursi, meletakkan kruknya lalu melepas celana Bintang.

“Bisa pipis sendiri kan?”

“Yu Miraah..”

“Sebentar, yu Mirah sedang pergi, ayo kekamar mandi sendiri.. ma’af ya, bapak belum bisa menggendong Bintang.”

Bintang berjalan kearah kamar mandi.  Handoko gelisah bukan alang kepalang. Ia kemudian memasuki kamar Mirah. Almarinya setengah terbuka, Handoko membukanya lebih lebar, dan ia benar-benar terkejut.  Mirah membawa semua pakaiannya. Berarti Mirah pergi? Ia mencoba menelpon Mirah. Tapi ponselnya tidak aktif.

“Ya Tuhan...”

Handoko kembali duduk dikursi, dengan tubuh lunglai.

“Bapaaak, bajuku basah...” teriak Bintang..

Aduh, Handoko masuk kekamar Bintang, membuka almari dan mengambil baju serta celana lalu kembali duduk dikursi. Ia harus duduk karena satu kakinya belum bisa menopang tubuhnya.

“Sini Bintang, ini baju kamu.”

Bintang mendekati bapaknya, Handoko melepas bajunya yang basah dan menggantikannya.

“Mengapa bisa basah ?”

“Keguyur air.”

“Oh, baiklah.. nggak apa-apa..nih, bajunya sudah, sekarang celananya ya..”

“Bintang mau susu..”

“Oh, baiklah..”

Handoko menuju dapur, menghampiri meja tempat membuat minuman. Ia tak tahu berapa ukuran susu untuk Bintang, ia harus membaca dulu petunjuk dikalengnya, baru membuatnya, aduhai.. tidak mudah mengurus bocah bukan?

“Bapaaak, mana susu...” Bintang berteriak, sementara Handoko sedang mengaduk susunya. Ia melakukannya sambil duduk.

“Sebentar ya, ini sudah siap..” Handoko tertatih lagi mendekati Bintang.

“Ini sayang, sambil duduk dong, kalau minum. Nah begitu.”

Bintang menghabiskan susunya. Handoko bernafas sedikit lega. Tapi pikirannya benar-benar kacau. Rumah ini hanya Mirah yang bisa mengaturnya. Rapi tatanan perabotnya, rapi sa’at makan dan minum, rapi sa’at tidur dan terjaga. Sekarang apa? Baru mengurus Bintang saja Handoko sudah kebingungan.

Handoko mengajak Bintang keruang tengah.

“Bintang belum mandi..” celetuk Bintang lagi.

“Ya ampuun.. iya, sebentar ya Bintang..”

Handoko termenung bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ketika itulah Palupi muncul dari dalam kamarnya, masih dengan wajah kusut dan rambut awut-awutan.

“Dengar, Mirah sudah pergi, sekarang urus anakmu ini.”

“Oh, sudah pergi? Baguslah.. “

“Sekarang urus Bintang, dia belum mandi..”

“Ayo mandi bareng ibu...” ajak Palupi.

“Nggak mau,... nggak mau...” Bintang merengek.

“Apa maksudmu nggak mau? Aku ini ibu kamu. Mengerti ?” kata Palupi dengan nada tinggi.

Bintang merapat ke tubuh bapaknya.

“Bintang, mandi dulu sana, biar wangi..”

“Sama yu Mirah...” rengeknya lagi.

“Mirah jelek itu sudah pergi. Apa kamu tak akan mandi selamanya?”

Handoko mengeluh dalam hati. Merayu anaknyapun Palupi tidak sanggup.

“Bintang, yu Mirah sedang pergi, kamu mandi sekarang sama ibu ya?” Handoko berusaha membujuk. Tapi Bintang menggeleng dengan keras.

“Nggak mauuu.. nggak mau....”

“Nanti habis mandi lalu makan ayam goreng. Itu yu Mirah yang menggoreng lho Bin.. enak pastinya.”

“Sama yu Miraaah...”

“Yu Mirah sudah minggat ! Kamu nggak tahu ya?”

Tak tahan melihat sikap Palupi, Handoko membentaknya.

“Diam kamu!!  Mengambil hati anak saja tidak becus !!” kata Handoko tandas.

“Ayo.. mandi sama bapak saja ya? Bareng bapak ya?” katanya kepada Bintang.

Bintang mengangguk. Handoko membawanya masuk kekamar. Ada bangku disana, Mirah yang menyiapkannya, agar mudah bagi Handoko setiap kali mandi karena ia selalu melakukannya sambil duduk.

Handoko menarik bangku itu kedalam kamar mandi.

“Ini untuk apa?” tanya Bintang.

“Kaki bapak kan masih sakit, jadi kalau mandi harus sambil duduk, belum kuat kalau berdiri.”

Bintang melepas semua pakaiannya. Handoko membantunya sambil duduk, lalu ia mengisi air kedalam bathup.. lalu membiarkan Bintang masuk kedalamnya. Bathup nya cukup besar, sehingga mereka bisa berendam berdua. Bintang senang bukan alang kepalang. Ia bercanda saling menyiramkan air sambil terkekeh-kekeh. Sejenak rasa kehilangan Mirah terlupakan.

Palupi mendengar celoteh dan tawa mereka di kamar mandi, wajahnya gelap bagai tertutup mendung. Tak ada yang benar yang dilakukannya. Selalu saja dia dianggap salah. Lalu  ia masuk kekamar makan, membuka tudung saji, mencomot sepotong paha ayam goreng lalu berjalan kearah teras, mengunyah paha ayamnya sambil menyilangkan kaki.

Benarkah kepergian Mirah akan membuatnya menjadi sang putri dirumah itu?

***

Handoko melayani makan Bintang sendirian . Palupi duduk diteras, belum mandi dan belum rapi, sementara anak dan suaminya sudah wangi. Handoko masih berfikir tentang Mirah, sementara tangannya meladeni anak gantengnya makan.

“Ayamnya harus dipotong-potong?” tanya Handoko.

“Iya bapak. Dipotong-potong.”

Biasanya Mirah melakukannya, memotong-motong ayam untuk Bintang dan untuk dirinya, tapi kali ini Handoko yang melakukannya. Sambil mengiris ayam, maka batinnyapun seakan ikut teriris.

“Mengapa yu Mirah lama sekali?” Bintang mulai merengek setelah selesai makan,

“Nanti ya.. coba ditunggu sebentar lagi..” kata Handoko yang tak yakin bahwa Mirah akan kembali.

“Mau main sama yu Mirah...”

Bintang mulai rewel.. sementara Palupi tak peduli. Gemas Handoko menyaksikan Palupi duduk tanpa beban.

“Lupi, sekali lagi aku mau bilang dan ini yang terakhir. Apa kamu mau mengurus rumah tangga kamu atau tidak?”

“Apa sih mas, kaget aku.”

“Kamu senang Mirah pergi, lalu siapa yang mengurus rumah ini? Rumah berantakan, anak tidak diurus.. apa mau kamu?”

“Aku kan sudah melakukannya, tapi dia tidak mau. Harus bagaimana lagi?”

“Kalau begitu bersihkan rumah dan cuci piring-piring kotor.”

“Aku sudah minta tolong teman aku untuk mencarikan pembantu, sabar lah mas.”

“Aku tidak mau pembantu. Aku mau kamu yang melakukannya.”

“Enak saja.. aku nggak mau. Aku ini isteri kamu.”

“Kamu rupanya tidak mengerti juga bagaimana tugas seorang ibu rumah tangga. Baiklah, aku akan mengajak Bintang mencari Mirah.”

“Apa?”

“Bintaaang...” Handoko melangkah kebelakang, menemui Bintang yang sedang bermain mobil-mobilan.

“Bapak.. aku mau yu Mirah... “

“Baiklah, ayo kita cari yu Mirah.”

Handoko memanggil taksi, lalu pergi bersama Bintang kekampungnya Mirah.

***

Palupi yang tetap tak mengerti apa sebenarnya yang salah dalam hidupnya, menelpon Danang. Danang dianggapnya selalu bisa menenangkan hatinya.

“Danaaang..” panggilnya ketika menelpon.

“Ada apa mbakyuku yang cantik..”

“Nanti pulang kantor samperin aku ya..”

“Lho, mau kemana?”

“Aku lagi suntuk.. mas Handoko sama Bintang pergi..”

“Kenapa nggak ikut sekalian.. malah ngajakin aku..?”

“Ogah, mereka pergi menjemput Mirah.”

“Memangnya Mirah kemana ?”

“Minggat !”

“Yaah, seneng dong pesaing sudah minggat.”

“Hiih, ngapain... aku bukan pesaing dia. Enak aja, jauh lah aku sama Mirah.”

“Iyaa, tentu saja..”

“Kenapa kamu selalu bilang bahwa aku  pesaing dia?”

“Hehe... ma’af deh.. maksudku dalam merebut hati mas Handoko.”

“Itupun aku tidak bersaing,, Dia itu perusak.”

“Baiklah, aku jemput sa’at istirahat kantor saja ya..”

“Buruan, itu lebih baik..”

“Iya.. aku tahu, kan mbakyuku ini ngangenin.. kalau boleh semalam aku nggak akan mulangin kamu lho mbak.”

“Ooo.. ketagihan ya..”

Danang tertawa lalu menutup pembicaraan itu. Palupi beranjak kebelakang. Dimeja makan semua makanan masih tertata, tapi sup sudah dingin. Palupi memanaskannya, lalu duduk makan dengan lahap.

“Nggak enak.. kata siapa masakan begundal itu enak?” Palupi berdiri, lupa bahwa ia menghabiskan semangkuk sup dan sepotong ayam goreng besar.

“Aduuh, siapa yang akan mencuci piring dan mangkuk kotor ini?”

Palupi  mengangkat piring-piring kotor dari atas meja, tapi hanya diletakkannya didalam bak cucian.

“Biar saja,  sisa makanan juga biar disitu saja. Kelamaan mengurusnya. Kapan aku mandi?” gumamnya sambil melangkah kedalam kamar mandi.

Ada orang yang peduli ketika orang lain mengkritiknya, lalu berusaha untuk memperbaiki langkahnya. Tapi ada juga orang yang tak peduli akan suara apapun, dan terus melakukan hal yang disukainya. Palupi merasa semua orang menyalahkannya. Tak ada kebaikan pada dirinya, dan itu hanya membuatnya sakit hati, bukan kemudian berusaha memperbaiki diri. Ia ingin disanjung, dipuji, dan itu didapatkannya dari Danang yang sesungguhnya juga hanya ingin mencari kesenangan.

***

Siang itu Ryan mengajak Widi makan siang disebuah restoran. Sesungguhnya Ryan kecewa karena pak Tarman belum memberikan ijin untuk mereka pacaran. Mereka ketemuan hanya dengan berkencan disuatu tempat. Widi merasa bapaknya menganggapnya masih anak kecil yang belum pantas pacaran.

“Tahun depan kuliahmu selesai bukan?” tanya Ryan.

“Iya.. in shaa Allah..”

“Apakah mungkin bapak akan mengijinkan setelah kamu selesai kuliah?”

“Semoga ya mas.. Mas harus sabar..aku sudah minta tolong kepada mas Handoko untuk bicara sama bapak, cuma ..ya.. sa’at ini kan mas Handoko lagi sakit, dan kayaknya rumah tangganya lagi kacau begitu..”

“Iya aku tahu..”

“Kemarin kan mbak Lupi marah-marah karena menuduh mas Handoko selingkuh.”

“Aku kok nggak percaya.”

“Iya, dan kalaupun iya, itu kan salah mbak Palupi sendiri. Aku tidak bisa menyalahkan mas Handoko.”

“Iya sih.. tapi.. lihat siapa yang barusan masuk ..” kata Ryan tiba-tiba.

Widi menoleh kearah pintu masuk, dan melihat Palupi bergandengan tangan dengan Danang.

“mBak Lupi sudah gila..” desis Widi geram.

“Itu selingkuhannya Palupi?”

“Itu adiknya mas Handoko, mas Danang.”

“Wah.. benar-benar gila dia. Ayo kita segera pergi saja, sudah kan makannya?”

“Iya, untunglah mereka tidak melihat kita dan duduk agak jauh dari kita.”

Ryan dan Widi keluar dari rumah makan.

“Aku akan bilang pada bude, mas Danang itu keterlaluan, dan mbak Lupi juga kebangetan.”

“Apa sekarang kamu aku antar kerumah bude?” tanya Ryan yang sudah tahu siapa yang dimaksud dengan bude.

“Iya mas, nggak apa-apa, kalau itu keterusan kasihan mas Handoko.”

“Apa tidak sebaiknya ke mas Handoko saja dulu? Kasihan nanti bude kaget.”

“Gimana ya enaknya?”

“Ke mas Handoko saja.. mungkin kita bisa bicara lebih enak.”

Tapi ketika sampai dirumah Handoko ternyata rumah itu kosong.

“Kemana ya mas Handoko? Jalan-jalan sama Bintang barangkali. Coba aku tilpon.”

“Ya Widi?” sapa Handoko ketika menerima telpon Widi.

“Mas dimana? Aku kerumah sama mas Ryan nih. Jalan-jalan sama Bintang ya? Aku susul ya.”

“Bukan, aku lagi mau kerumah Mirah.”

“Kerumah yu Mirah? Mengantar yu Mirah pulang kampung?”

“Tidak, Mirah pergi dari rumah, Bintang rewel nih.”

“Haaa, yu Mirah pergi? Ada apa sebenarnya?”

“Palupi lah penyebabnya..”

“Diusir sama mbak Palupi ?”

“Tidak secara langsung. Mirah mendengarnya, pagi-pagi ketika aku bangun dia sudah nggak ada. Aku nggak tahan nih, Bintang rewel..  lalu aku ajak dia mencari Mirah.“

”Ya ampuun, sampai segitunya ya. Ya sudah mas, agak sore saja aku kerumah.”

Widi menutup ponselnya dengan menampakkan raut muka sedih.

“Kenapa ?”

“Yu Mirah pergi,”

“Kemana?”

“Nggak pamit, pergi begitu saja. Tampaknya mendengar mbak Lupi ngomong apa, gitu.”

“Kasihan Bintang.”

***

Tapi sesampai dirumah orang tua Mirah, ternyata Mirah tak ada disana. Bintang menangis sepanjang perjalanan pulang.

“Yu Mirah mana.. yu MIrah mana.. aku mau yu Mirah...”

“Bintang, nanti kita cari yu MIrah ditempat lain ya.. diamlah, nggak malu tuh.. nangis terus.. kan Bintang sudah besar.. katanya sudah mau sekolah..?”

“Nggak mau sekolah.. maunya yu Mirah...”

“Ya.. ya, baiklah.. tapi Bintang harus diam dulu dong..”

“Mana yu Mirah.. aku mau yu MIrah..”

“Sayang.. ayo kita cari yu Mirah. Tapi jangan nangis ya. O.. bapak tahu, bagaimana kalau kita beli es krim dulu.”

“Nggak mau.. Bintang mau yu Mirah..”

Handoko memeluk Bintang, ia juga ingin menangis. Kepergian Mirah membuat hatinya kosong, seakan ada yang hilang, seakan ada yang kurang.

Hari sudah sore ketika itu, Handoko masih dalam perjalanan bersama Bintang yang merengek tak henti-hentinya.

Handoko juga tak mengajak Bintang berhenti untuk makan pada siangnya karena Bintang menolak sambil menangis keras.

“Nggak mau makan.. mau makan sama yu Mirah.. sama yu Mirah..”

Handoko kehabisan kata-kata untuk menghentikan tangis Bintang, ia hanya memeluknya erat sambil menitikkan air mata.

Untunglah tak lama kemudian Bintang tertidur. Handoko sedikit lega. Sesampai dirumah Handoko menidurkannya dikamar dengan hati-hati. Untunglah tukang taksi tadi membantunya menaikkan Bintang dalam gendongan.

***

Mirah memang belum pulang ke kampungnya. Dengan membawa tas yang berisi pakaiannya, ia berhenti disebuah mushola. Bersujud disana dan mengadukan perjalanan hidupnya yang terasa pedih kepada Sang Pemilik Kehidupan ini.

Hanya satu yang membuatnya berat melangkah pergi, yaitu Bintang. Bintang sangat dekat dengannya. Ia pasti menangis dan mencari-cari dirinya. Makan, mandi, tidur, selalu bersamanya. Bagaimana kalau kemudian Bintang sakit?

“Mas Bintang, kasihanilah yu Mirah ya mas, kalau dirumah terus yu Mirah merasa amat tersiksa. Ibu menghendaki yu Mirah pergi, dan yu Mirah tak ingin menjadi duri dalam daging bagi ibu. Biarkan yu MIrah pergi ya mas Bintang. Jangan rewel, jangan mencari yu Mirah lagi. Jadilah anak baik dan penurut, sebentar lagi mas Bintang kan mau sekolah. Sekolah yang pintar ya mas. Lupakan yu Mirah. Cintailah ibu dan bapak. Yu Mirah berharap mereka bahagia.”

Mirah membiarkan air matanya terurai deras. Melepaskan segala duka yang menyesak dadanya. Itu sebabnya ia belum ingin pulang, agar nanti orang tuanya tak melihat tangisnya yang berderai tak henti-hentinya. Sampai sore Mirah belum berhasil menuntaskan tangisnya. Ia lupa makan dan minum, hanya duduk ditangga mushola dan hanya beringsut dari sana ketika  Adzan tiba.

***

Handoko terus menerus membujuk Bintang, dari ketika dia bangun dan rewel, mandi rewel, tapi sa’at makan Handoko sangat memaksanya agar mau makan karena siangnya Bintang sama sekali belum makan.

“Sekarang Bintang harus makan dulu, besok kita cari yu Mirah lagi. Oke?”

“Benar?”

“Benar.. tapi makan dulu ya. Setelah itu tidur. Apa Bintang mau tidur bersama bapak?”

“Dikamar bapak?”

“Iya dikamar bapak.”

“Apa bapak bisa mendongeng?”

“O, bisa dong.. nanti bapak mendongeng, tapi Bintang nggak boleh rewel, ya.”

“Besok mencari yu Mirah lagi kan?”

“Iya.. bapak janji. Tapi sekarang makan dulu ya?”

Handoko senang ketika Bintang menurut ketika diajak makan.

Tapi malam itu ketika sedang menemani Bintang tidur, dan sedang memikirkan sebuah dongeng, ponselnya berdering. Berdebar Handoko membaca dilayar ponselnya. Dari Mirah.

***

Besok lagi ya


 

 

 

Tuesday, December 1, 2020

SANG PUTRI 09

 

SANG PUTRI  09

(Tien Kumalasari)

 

Palupi masih berdiri ditempatnya semula, berpegang pada sandaran sofa. Handoko menatapnya dengan marah.

“Kamu menantang aku? Sekarang aku ingin bertanya, apa yang kamu inginkan? Tetap menjadi isteri aku atau menyuruh Mirah pergi dari sini?”

“Tentu saja aku ingin agar Mirah pergi dari sini.”

“Jadi kamu ingin tetap menjadi isteri aku?”

“Tentu saja, bukankah kamu juga suamiku?”

“Apa kamu bisa merubah sifat kamu?”

“Memangnya aku kenapa ?”

“Kamu mengecewakan. Kamu tidak pantas menjadi isteri dan seorang ibu. Lihat, apa kamu bisa dekat dengan anakmu? Bisa melayani suamimu seutuhnya?”

“Lalu sebagai isteri aku harus melakukan apa?”

“Tetap dirumah, menjaga rumah tangga kamu, mengasihi anak kamu, memasak, mengatur rumah.. melayani suami..”

“Itu gila. Aku bukan pembantu.”

“Jadi kamu tetap tidak mengerti.”

“Dulu kamu tidak begitu.”

“Benar, tapi aku biarkan dan kamu keterusan. Tetap liar dan sering berada diluar daripada dirumah.”

“Kamu mencari-cari alasan agar bisa mendekati pembantu itu.”

“Kamu yang memberikan alasan-alasan itu. Bukan aku. Anakmu jauh dari jangkauan kamu, apa kamu tidak merasakannya?”

Palupi terdiam, tapi bukan berarti dia mengerti apa yang dikatakan suaminya. Dia selalu merasa disalahkan dan tak ada yang baik atas dirinya.

“Jadi kamu memilih yang mana?”

“Aku tidak akan memilih. Mirah tetap disini dan kamu akan ada dimana, itu terserah kamu.”

“Ini gila! Aku tidak sudi bersaing dengan pembantu.”

“Kamu tidak usah merasa bersaing. Kamu tak akan mampu menyaingi dia.”

Palupi meninggalkan suaminya sambil membanting-banting kakinya, lalu masuk kedalam kamarnya sendiri.   

Handoko menghela nafas kesal, berharap isterinya bisa mengerti tapi tampaknya tidak.

***

Mirah ada didalam kamar Bintang. Menangis terisak disana sambil memeluk si kecil ganteng yang pulas tertidur.

“Aku sangat menyayangi kamu mas Bintang, kamu seperti darah dagingku. Kalau aku harus pergi, bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu akan menangis? Berteriak memanggil namaku? Mencari aku disetiap sudut rumah ini? Mencari aku dikebun dimana aku sering merawat bunga-bunga? Mencari aku didapur karena mengira aku sedang menggoreng ayam kesukaan kamu? Mas Bintang, kesayanganku, mana bisa yu Mirah hidup tanpa kamu? Betapa akan sepinya tanpa mendengar rengekan kamu, betapa sepinya tanpa mendengar tawa manjamu. Aku akan kehilanganmu.. Kalau yu MIrah harus pergi.. jangan suka menangis, jangan rewel, jangan susah makan ya, selalu mintalah kepada ibu, yang melahirkan kamu, percayalah dia akan berubah, dia akan menyayangi kamu, lebih dari yang yu Mirah pernah berikan.”

Mirah tersedu sambil terus mendekap Bintang. Sejenak Bintang menggeliat, membuka matanya, tapi ketika tahu bahwa Mirah yang mendekapnya, matanya kembali terpejam. Lalu Mirah menepuk-nepuk pantatnya seperti biasanya, sambil air matanya bercucuran.

Handoko tertatih mendekati kamar Bintang, membuka pintunya pelan, lalu melihat Mirah terisak sambil memeluk Bintang. Hati Handoko bagai teriris oleh ribuan sembilu, nyeri dan berdarah. Apakah Mirah mendengar semuanya? Apakah Mirah merasa bahwa Handoko akan mengusirnya?.

“Mirah, kamu akan tetap disini,” bisiknya pelan, lalu menutup pintunya dan melangkah kembali keruang tengah.

Televisi masih menyala, mata Handoko menatap kesana, tapi bukan menikmati acaranya. Ada desir sedih dihatinya, ketika kemudian merasa bahwa rumah tangganya akan berantakan. Bahagia yang pernah diimpikannya, seperti bayang-bayang maya yang susah dirabanya.

Mirah mendengar langkah-langkah menjauh dari kamar Bintang. Ia juga mendengar Handoko berkata lirih, Tapi mungkinkah dia bisa menjalani hidup dalam bara yang menyala ?

***

“Saya senang mbakyu bisa betah disini sampai sore,” kata pak Tarman ketika bu Ismoyo datang bersama Widi.

Sudah sejak siang bu Ismoyo bertandang dirumah adiknya.

“Aku itu kangen sama kamu Man. Kamu kalau tidak disuruh ya tidak mau datang menemui mbakyumu ini.”

“mBakyu itu kan orang sibuk, urusannya banyak, kalau saya datang lalu hanya untuk ngobrol kan namanya mengganggu.”

“Ah, sibuk apa. Sejak mas Ismoyo tidak ada, urusan perusahaan itu kan yang ngurus Handoko sama Danang. Aku ya hanya dirumah saja, tidak ngapa-ngapain.”

“Oh iya, kabarnya Handoko bagaimana, sudah pulih belum kakinya, Aku juga belum sempat kesana mbakyu, cuma suruhan Widi saja untuk menengok kakaknya.”

“Sekarang tidak dengan kursi roda, dia bisa jalan dengan kruk. Lha dia beli kruknya kan juga sama Widi.”

“Iya, Widi juga cerita. Semoga cepat pulih ya mbakyu, Handoko kan tulang punggung keluarga Ismoyo.”

“Iya Man. Itulah. Tapi sa’at ini kan rumah tangganya sedang kacau.”

“Kacau bagaimana mbakyu?”

“Lha Palupi itu kan tidak bisa menghilangkan kebiasaannya jalan-jalan, arisan, kumpulan-kumpulan ibu-ibu yang entahlah, pokoknya banyak, sehingga rumah tangganya kan tidak terurusi.”

“Iya, sekilas Widi pernah cerita.. Lha mbakyu kan bisa mengingatkan.”

“Wah, apa kamu kira mudah ngomong sama Palupi? Nggak kurang-kurang aku mengingatkan. Malah pagi tadi ribut gara-gara Palupi mencurigai suaminya selingkuh sama Mirah, coba.”

“Haaa?”

Lalu Tarman terbahak-bahak.

“Kamu kok tertawa sih Man? O.. sesama lelaki .. barangkali selingkuh itu biasa ya?”

“Bukan mbakyu.. bukan..” pak Tarman masih saja tertawa.

“Lha kenapa kamu tertawa begitu?”

"Ya tertawa mbakyu, masa Handoko bisa selingkuh? Dia keponakanku yang baik. Sudah ganteng, pinter, masa sih selingkuh? Tapi mbakyu, sebaik-baik orang, kalau ada pemicunya memang bisa jadi sih. Tapi dengan Mirah?”

“Iya Man, bagaimana menurut kamu?”

“Ya.. kalau memang itu terjadi, ya pastilah karena Palupi tidak bisa menjaga rumah tangganya dengan baik. Terlalu membiarkan Handoko hanya dengan Mirah, sementara Mirah itu kan sangat baik dan setia. Melayani majikannya dengan baik pula, itu kata Widi lho.  Jadi ya.. kemungkinan itu ada..”

“Bagaimana kalau benar-benar kejadian..?”

“Seseorang itu kan punya pilihan hidup. Artinya kalau yang ini kurang baik.. cari yang lebih baik.. itu pasti. Dan aku yakin Handoko akan bisa memilih yang terbaik untuk hidupnya.”

“Kalau benar Mirah akan diambil isteri..  aku harus bagaimana ?”

“mBakyu tidak usah terlalu memikirkannya. Kalau Mirah akan diambil isteri, berarti Handoko tahu bahwa Mirah itulah yang terbaik. Jangan memikirkan Mirah itu siapa, orang apa.. Handoko lebih bisa menentukan jalan hidupnya.”

Bu Ismoyo tampak termenung.

“Kita ini sudah tua, jangan terlalu terbebani dengan anak-anak, biarlah mereka menentukan jalan hidup mereka sendiri.”

“Iya ya Man, sepertinya benar kata-katamu itu. Sekarang kapan kamu mantu?”

“Ah, Widi kan masih kuliah mbakyu, biarkan saja.”

“Dengar-dengar dia sudah punya pacar?”

“Masa sih mbakyu... Tapi jodoh itu kan ditangan Yang Maha Kuasa, biarlah nanti Allah yang memberikannya.”

“Iya, aku juga harus berfikir demikian. Danang itu kan ya sudah sa’atnya punya isteri, tapi kok ya susah sekali.. Kamu tahu nggak Man, aku pernah kepikiran akan menjodohkan Widi sama Danang.”

“Ah, jangan mbakyu, masih saudara dekat. Tidak dilarang, tapi kurang baik. Nantilah, pasti jodoh itu akan datang sendiri.”

Bu Ismoyo mengangguk-angguk. Baru kali ini ia bisa berbincang dengan adiknya dengan nyaman.

“Tapi mana Widi? Tolong telpon Danang Wid, suruh njemput bude disini.”

“Baiklah bude.”

***

Danang memasuki rumah Handoko sore itu, tapi yang menyambutnya didepan pintu justru Palupi.

“Ibu masih disini mbak?”

“Nggak ada tuh, memangnya tadi kesini?”

“Tadi siang aku yang mengantar ibu kemari.”

“Oh, barangkali ketika itu rumah lagi kosong. Mas Handoko lagi jalan-jalan sama Bintang dan selingkuhannya.”

Danang tertawa keras.

“Oh, ya sudah, kalau begitu aku pulang saja. Mana mas Handoko?” kata Danang terus masuk kedalam. Kekesalannya sa’at dimarahi kakaknya sudah hilang.

“Mas..”

“Kamu Nang? Sama ibu?”

“Aku justru mau menjemput ibu. Tadi siang aku antar ibu kemari.”

“Oh, siang tadi kami pergi keluar, Bintang ingin melihat binatang, mungkin karena rumah kosong ibu langsung pulang.”

“Ya sudah kalau begitu,” kata Danang sambil melongok kebelakang, kalau-kalau ada Mirah disana. Tapi Mirah tak kelihatan.

“Ya sudah, ngapain pakai melongok-longok segala.”

Danang tertawa kecut.

“Iya, aku sudah tahu itu punya mas,” katanya sambil nyelonong pergi, meninggalkan Handoko yang menatapnya kesal.

Ketika Danang sudah sampai didepan, dilihatnya Palupi menunggunya.

“Mau kemana mbak?”

“Mau ikut kamu.”

“Pulang kerumah aku?”

“Nggak lah, ayo jalan-jalan..”

“Lha, aku kan masih bau.. belum mandi nih..”

“Nggak apa-apa, aku bawa penutup hidung nih, saputangan,” kata Palupi yang tanpa rikuh sudah siap dipintu depan mobil.

“Wah, nekat nih.. oke deh.”

Lalu Danang pergi dengan membawa serta Palupi.

***

“Kemana nih?” tanya Danang ketika dijalan.

“Terserah kamu .. kemana mau membawaku..”

“Wouwww... enak nih, bisa membawa kabur kakak ipar.”

“Aku lagi suntuk..”

“Kenapa? Sedih, saingan sama MIrah?” goda Danang yang tak peduli pada kemelut rumah tangga kakaknya.

“Gila juga, masa aku harus bersaing sama Mirah? Ogah !!”

Danang tertawa gelak-gelak.

“Iyalah mbak, kamu jauh lebih cantik, lebih wangi. Yang bodoh aja yang lebih memilih Mirah.”

“Tuh kan.. baru kamu yang mau membela aku.”

“Aku bela mbak Lupi dong.. masa aku membela Mirah?”

Lupi merasa senang. Bercanda dengan adik iparnya membuatnya serasa tak ada beban. Ia mau selamanya begitu.

“Ayuk beli sate Nang..”

“Sate kambing? Jangan, itu membuat suasana jiwa jadi panas, nanti aku bisa salah sasaran,” candanya.

“Heeh, apa maksudmu ? Sate ayam lah, di Nonongan.”

“Oh, kirain..”

“Sudah lama aku tidak makan sate..”

“Baiklah, siapa takut?”

Tapi ketika mobil berhenti di warung sate, ponsel Danang berdering.

“Widi ? Ngapain pakai menelpon segala.”

Danang membuka ponselnya.

“Mas, kamu dimana sih, aku menelpon berkali-kali nggak diangkat,” omel Widi.

“Iya, tadi nggak dengar. Ada apa? Kangen sama aku ya?”

“Iih, norak. Ini, bude ada dirumahku, jemput ya?”

“Lha..? Ibu ada dirumah kamu? Tumben.”

“Sudah dari siang tadi, jemput sekarang ya mas.”

“Eit, tunggu.. tolong bilang sama ibu, Danang lagi ada pekerjaan nih. Coba kamu pesenin taksi deh.”

“Ya ampuun, pekerjaan apa lagi sore-sore begini?”

“Aah, kamu anak kecil tahu apa.. sudah, budemu dipesenin taksi, dan bilang kalau aku sedang ada tugas dan tidak bisa menjemput.”

Widi menutup ponselnya dengan kesal.

***

“Gimana Wid?”

“Mas Danang lagi repot bude, sedang ada pekerjaan, jadi saya disuruh mesenin taksi saja.”

“ Hm, kebiasaan anak itu, memang sudah sa’atnya pulang, tapi dia jalan-jalan dulu.”

“Apa nggak capek, pulang kerja langsung jalan-jalan.”

“Itulah keponakanmu yang satu itu Man, biasanya pulangnya malam, nggak tahu kemana dulu, berkali-kali ditegur juga nggak berubah.”

“Ya sudah disini dulu mbakyu, pulangnya menunggu kalau Danang sudah bisa menjemput.”

“Waduh, ya capek aku Man. Belum tentu pulangnya jam berapa. Sudah Wid, kamu panggilin taksi saja, aku biasanya kalau siang juga harus tidur.”

“Bude tidur dulu disini, bagaimana ?”

“Nggak Wid, carikan taksi saja, nggak enak meninggalkan rumah lama-lama, nanti simbok juga bingung. Kan sore dia harus pulang.”

“Oh, iya.. simbok harus pulang ya bude, baiklah, Widi pesenin taksi dulu.”

***

“Kemana lagi kita?” tanya Danang setelah makan sate di Nonongan.

“Kemana saja, pokoknya jangan pulang dulu..”

“Waduh, nanti aku dikira nyulik isteri orang, bagaimana?”

“Culik saja, yang diculik juga mau kok.”

Danang terbahak.

“Nantang nih ?”

“Sungguh Nang, aku lagi stress nih..”

“Lha kenapa? Orang cantik bisa stress juga ?”

“Tampaknya mas Handoko sudah tidak lagi menginginkan aku.”

“Masa? Karena Mirah?”

“Mungkin. Ketika aku bilang, Mirah suruh pergi atau ceraikan aku, mas Handoko bilang tak akan menyuruh Mirah pergi, untuk aku terserah aku mau apa, gimana maksudnya? Membuang aku bukan?”

“Katika ia harus memilih.. tampaknya dia memilih keduanya, bagaimana mbak?”

“Ogah aku bersaing dengan MIrah.”

“Jadi...?”

“Mirah harus aku singkirkan.”

***

Malam itu Mirah melayani makan malam tuan gantengnya dan juga Bintang. Wajahnya kusut, ada rona sembab disana. Handoko ingin mengatakan banyak hal, tapi ada Bintang, nanti Bintang bertanya-tanya.

“Ini lauk yang tadi kita beli ya Rah?”

“Iya bapak. Sudah Mirah panasi. Mas Bintang juga makan pakai soto yang tadi kita beli.”

“Ini enak, tapi menurut aku, lebih enak masakan kamu lho Rah.”

Mirah tersenyum, tapi senyuman itu terasa sangat hambar.

“Aku besok mau digorengin ayam ya yu.”

“Oh .. goreng ayam? Baiklah.. nanti yu Mirah gorengin yang enak buat mas Bintang.”

“Tadi tidak belanja ayam Rah.”

“Di kulkas masih ada ayam.”

“Oh, baguslah.. kalau perlu besok kita belanja ya Rah, sambil jalan-jalan lagi.”

Tapi Mirah tidak menyahut. Kepergiannya bersama tuan gantengnya siang tadi telah membawa petaka bagi jiwanya. Menyesak dan sakit terasa.

“Mirah, kamu jangan memikirkan apapun, kamu tetap disini, bersama aku dan Bintang," bisik Handoko.

Lagi-lagi Mirah hanya tersenyum.

Malam itu Handoko ingin berbincang dengan Mirah, tapi Mirah sudah tertidur bersama Bintang. Barangkali Mirah lelah karena hampir seharian baru pulang.

***

Pagi hari itu ketika Handoko terbangun, dilihatnya segelas kopi susu sudah tersaji dimeja. Hidung Handoko mencium masakan yang sangat gurih. Tampaknya Mirah sudah menggoreng ayam pesanan Bintang. Handoko bergegas kebelakang, diruang makan makanan sudah tersaji. Handoko membuka tudung saji, ada sup dan goreng ayam. Handoko menutupnya lagi.

“Rah...”

Tak terdengar jawaban. Kamar mandi terbuka, berarti Mirah tidak sedang mandi. Barangkali dikamarnya.

“Mirah..”

Kamarnya juga sepi.. pergi kemana Mirah. Lalu terdengar teriakan Bintang.

“Yu Miraaaah...”

Handoko mencarinya keseluruh ruangan. Ia membuka kamar Mirah. Kosong. Ranjangnya tertata rapi.

“Yu Miraaah... aku minum susu...!”

Hati Handoko tercekat.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                          

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 024

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  024 (Tien Kumalasari)   Nyonya Sasa puas mengajak belanja, ia juga membelikan ponsel untuk Me...