SORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 025
(Tien Kumalasari)
Nyonya Sasa menatap laki-laki tinggi besar itu tak berkedip. Seperti mengenalnya, tapi lupa di mana.
“Tante lupa sama saya?”
“Ini kan … “
“Hayoo, Tante lupa kan? Padahal dulu sering ke rumah. Dulu saya dekat dengan Lili.”
“Oo ….”
Nyonya Sasa baru ingat, semalam Lili baru cerita kalau yang dilihatnya di rumah makan itu adalah Willy. Dan sosok itu dilihat nyonya Sasa hanya dari punggungnya yang tegap.
“Willy ya?”
Laki-laki itu terbahak. Senang sekali orang yang disapanya ternyata mengingatnya. Lalu tanpa dipersilakan ia ikut duduk diantara nyonya Sasa dan Menur. Untunglah Menur sempat membersihkan air mata yang membasahi pipinya. Dan karena sungkan, kemudian ia berpamit, ingin mendekati Ana yang sudah berlarian ke sana kemari.
“Ini siapa?” tanya Willy, sambil melihat ke arah Menur.
“Ini namanya Menur, keponakan tante.”
“Menur, kenalkan, aku Willy.”
Menur merangkapkan kedua tangannya sambil menyebutkan namanya.
“Mau ke mana?”
“Dia mau memanggil Ana.”
“Siapa Ana?”
”Ana itu anak Lili, maksudnya anak angkat.”
“Oh, Lili memang mengatakan kalau belum punya anak.”
“Itu anak kakaknya. Saat melahirkan dia meninggal. Bayinya aku titipkan Lili agar dirawat seperti anaknya sendiri.”
“Sudah lama tidak saling berkabar. Saya pergi setelah mendengar Lili menikah.”
“Namanya jodoh itu tidak bisa diingkari. Kamu sudah menikah?”
“Belum Tante. Saya tidak akan menikah kalau tidak ketemu yang seperti Lili.”
”Mengapa begitu? Kalian sudah menemukan jalan masing-masing. Jangan selalu dibayangi oleh cerita lama. Tidak bagus itu.”
“Ya, benar, saya mengerti.”
Willy menundukkan kepalanya, tampak sedih.
“Tante doakan agar kamu segera menemukan jodoh yang baik, yang bisa mencintai kamu, memberikan anak-anak yang baik untuk kamu, dan membuat hidup kamu bahagia, pastinya.”
“Aamiin.”
“Kata Lili kamu bekerja di Semarang.”
“Saya kontraktor bangunan, kalau proyek ada di Semarang, saya di Semarang. Hari ini saya sedang ada pembicaraan tentang renovasi taman bermain ini. Baru akan ketemu managernya satu jam lagi. Makanya saya jalan-jalan dulu.”
“Syukurlah, semoga sukses.”
“Terima kasih Tante, saya lanjut dulu.”
“Sampai ketemu lagi, Willy.”
“Sampaikan salam saya untuk Lili.”
Nyonya Sasa hanya mengangguk. Sesungguhnya dulu dia suka ketika melihat Lili pacaran sama Willy. Tapi suaminya memaksa menikahkan Lili dengan Baroto, Ada rasa kasihan kepada Willy, ketika melihat bahwa dia tampak masih mencintai Lili. Tapi apa mau dikata, Lili sudah punya suami, walau dilihatnya mereka tidak bahagia.
***
Willy menyusuri arena bermain itu, lalu melihat Menur sedang mengambilkan minum untuk Ana.
“Sudah, berhenti mainnya, nanti kecapekan.”
“Sebentar lagi, ibu,” lalu Ana berlari ke arah mainan lain yang ada prosotannya.
“Itu Ana ya?”
Menur terkejut, Willy sudah ada di belakangnya.
“Mengapa memanggil kamu dengan ‘ibu’?"
“Inginnya begitu. Kepada saya, ibu. Kepada Lili, mama.”
“Lucu, anak-anak kalau punya mau. Aku ingin segera punya anak.”
“Mengapa tidak?”
“Istri saya belum punya.”
“Oh, maaf.”
“Lihat, Ana naik-naik ke sana.”
“Eh, iya … saya suruh berhenti tidak mau. Padahal sudah main-main satu jam lebih.”
“Anak kecil memang begitu, kalau sudah bermain tidak ingat waktu.”
Willy tersenyum. Ia menatap Ana yang lincah, naik tangga perosotan kemudian meluncur turun.
Menur yang merasa khawatir kemudian berlari mendekatinya, meninggalkan Willy yang kemudian melanjutkan langkahnya.
***
Malam hari itu nyonya Sasa menginap di rumah Lili. Ana agak rewel, dan minta dikelonin sang nenek.
Sejak sore badannya hangat. Pasti karena lelah bermain. Menur sudah mengingatkannya, apakah sebaiknya dibawa ke dokter, tapi nyonya Sasa melarangnya.
“Hanya masuk angin, setelah digosok dengan minyak angin pasti sembuh.”
Sebelum pulang Menur berpesan kepada bibinya, agar tidak mengatakan apapun tentang Baroto dan Rahman. Nyonya Sasa menyanggupinya, karena memang sebaiknya Lili tidak usah tahu.
Setelah Ana tidur, nyonya Sasa keluar, menemui Lili.
“Ana rewel?” tanya Lili.
“Tadi badannya agak anget, tapi ini tadi sudah normal. Aku pijit-pijit kakinya, lalu tidur. Capek bermain seharian.”
“Dia kalau sudah bermain lupa berhenti,” gerutu Lili.
“Oh ya, aku tadi ketemu Willy.”
“Di mana? Kemarin katanya kembali ke Semarang.”
“Katanya akan bicara tentang proyek baru di sini."
“Dia bekerja tak kenal lelah.”
“Dia masih mencintai kamu. Tapi kan nggak mungkin kalian bersatu lagi.”
Lili tak menjawab. Tampaknya masih ada cinta yang tersisa.
“Bagaimana kalau kita jodohkan Willy dengan Menur?”
“Apa? Tidaaaak.”
“Mengapa kamu berteriak?”
Nyonya Sasa mengerutkan keningnya melihat sikap Lili yang tiba-tiba berubah garang. Lili sendiri juga tidak sadar, mengapa mendengar Willy mau dijodohkan dengan Menur maka ia merasa tidak rela? Mengapa semua perasaan muncul ketika tanpa sengaja ia merasa bersaing dengan Menur? Mendengar Baroto sering mendekati Menur, tiba-tiba timbul rasa sayang dan merasa bahwa dia tak ingin kehilangan Baroto. Sekarang, mendenar sang ibu akan menjodohkan Willy dengan Menur, ia juga merasa tak ingin kehilangan Willy. Karena sayang juga? Apakah cintanya terbagi-bagi? Apakah cinta memiliki sifat serakah? Atau ia tak mau bersaing dengan Menur?
“Katakan mengapa kamu berteriak.”
“Mengapa ibu ingin menjodohkan Willy dengan Menur?”
“Mengapa kamu seperti tidak suka?” sang ibu balas bertanya, dan Lili tak bisa menjawabnya. Tak ada alasan yang tepat untuk diberikan kepada ibunya, mengapa ia berteriak menolak.
“Kamu masih suka pada Willy?” tanya sang ibu sambil menatap tajam anaknya.
“Entahlah.”
“Jangan pernah kamu mengkhianati pernikahan kamu.”
Lili masih terdiam. Pernikahan itu bukan keinginannya kan? Tapi ia tak berani mengutarakannya pada sang ibu.
“Kamu sudah bersedia menjalani, dan kamu harus mempertahankannya. Tak ada alasan bagi kamu untuk berkhianat pada pernikahan kamu hanya karena kamu masih mencintai laki-laki lain.”
Lili kesal pada sang ibu. Bukankah dulu dia dipaksa? Lalu ditelannya kembali ungkapan kekesalan itu, ketika tiba-tiba ia menyadari bahwa rasa sayang pada Baroto baru saja muncul. Bahkan ia seperti mengemis-ngemis perhatian Baroto ketika merasa bahwa Baroto sedikitpun tak punya perhatian pada dirinya.
Kehadiran Willy membuatnya bimbang. Ia harus memilih salah satu diantaranya. Ia tahu Willy masih mencintainya. Bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai?
“Lili, apa kamu paham apa yang ibu katakan? Apa kamu tahu bagaimana seorang wanita harus mempertahankan kehormatannya?”
“Baroto tidak mencintai Lili,” desisnya sangat pelan.
“Apa katamu?”
“Itu benar. Bertahun-tahun menikah kami tidak pernah saling menyentuh.”
Sikap dingin antara pasangan yang adalah anak dan menantunya itu bukannya tak dirasakan oleh nyonya Sasa. Tapi ia adalah seorang wanita yang sangat memegang tinggi kesetiaan, dan menghormati sebuah pernikahan.
Karena itu ia ingin bicara pada Menur, untuk menjajagi perasaannya, seandainya dia dijodohkan dengan Willy.
***
Menur sangat terkejut ketika bibinya berbicara tentang Willy, memuji-mujinya setinggi langit, seperti sedang mempromosikan sebuah dagangan.
“Dia itu baik, mapan, dan aku percaya kalau dia akan menjadi suami yang baik bagi istrinya kelak,” lanjutnya yang membuat Menur heran, mengapa semua itu dikatakannya pada dirinya.
Karena itu dia hanya diam, tak berreaksi.
“Menur, kamu itu masih muda, cantik, pintar. Apa kamu tak ingin berkeluarga agar Rahman bisa merasakan kasih sayang seorang ayah?”
Menur menatap bibinya, dan mencoba menghubungkan apa yang baru saja bibinya katakan, dan tentang pertanyaan tentang keinginannya berkeluarga itu.
“Maksud Bibi apa?”
“Kalau kamu mau, aku akan membantu kamu mencarikan jodoh yang baik.”
Menur tersenyum. Mulai menduga-duga. Tapi rupanya Menur tidak tertarik.
“Bibi, saya merasa nyaman dengan kehidupan saya yang seperti ini. Biarkan saja saya membesarkan Rahman, karena saya bisa menjadi ibu sekaligus ayah baginya, entah bagaimana ujudnya.”
“Tapi ada baiknya kamu memikirkan, bahwa hidup sendirian tidak senyaman kalau dia punya sebuah keluarga. Ada anak, ada suami yang baik, dan bisa melindungi.”
“Tidak Bibi, biarkan begini saja. Menur tidak ingin memikirkan yang lebih.”
“Kamu sudah mengenal Willy kan? Yang ketemu ketika kita bersama Ana ada di taman bermain? Dia itu ganteng, mapan, dan aku yakin dia bisa menjadi suami yang baik. Kalau kamu mau, aku akan berbicara dengannya.”
Tuh kan, kesitu rupanya arah tujuan sang bibi. Tapi Menur tetap menggelengkan kepalanya, membuat sang bibi putus asa.
***
Berhari-hari berlalu, Menur merasa tenang ketika sang bibi tidak lagi membicarakan masalah keinginannyaa menjodohkan dirinya dengan Willy. Baru sekali ia bertemu, dan itu sama sekali tak membuatnya tertarik.
Tiba-tiba ia mendengar mobil memasuki halaman, lalu melihat Lili bergegas masuk ke rumah sambil bertelpon.
“Berangkat sekarang juga. Suamiku kecelakaan.”
Menur terkesiap, Baroto kecelakaan? Ia ingin bertanya lebih lanjut kepada Lili, tapi diurungkannya. Kalau kelihatan dia sangat perhatian, ia yakin kalau Lili akan curiga. Jadi Menur lebih memendam rasa cemas di dalam hatinya.
Tanpa pamit atau mengatakan apapun, Lili berkemas lalu menelpon sopir agar datang secepatnya.
Tak urung Menur ingin menanyakannya, pura-pura tidak tahu.
“Kamu ke mana Li?”
“Ke bandara, aku harus menyusul mas Baroto, dia kecelakaan,” katanya sambil bergegas ke arah depan.
“Ke .. celakaan?”
“Katanya agak parah, aku harus menemuinya.”
Begitu sopir datang, Lili sudah bergegas naik mobil dan tak lama kemudian mobilnya melaju keluar dari halaman.
Di pejalanan, seorang staf Baroto menelponnya.
“Nyonya, siapa yang bernama Menur? Sejak tadi Tuan Baroto mengigau dan menyebut nama Menur. Sebaiknya Nyonya datang bersama dia.”
“Apa?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Seorang Pengais Sampah dan Sang Putri Kecil udah tayang . Cerbung Mingguan menjumpai penggemar
Sehat slalu Bunda dan keluarga .
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien
semoga Ibu sekeluarga sehat selalu
Alhamdulillah Cerbung Mingguan SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL~025 sudah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga panjenengan dan keluarga selalu sehat.. aamiin..🤲
ReplyDeleteAlhamdulillah.
ReplyDeleteTerima kasih cerbung Seorang pengais sampah dan sang putri kecil sudah tayang.
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
A
Alhamdulillah,hiburan mingguan dah tayang dng cerita yg seru, maturnuwun sanget Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah………
ReplyDeleteMaturnuwun mb Tien, smg sht sll 🙏
Alhamdulillah
ReplyDeleteterima kasih bunda Tien
Doaku bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai