Friday, November 6, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 46

DARAH, CINTA DAN AIR MATA  46

(Tien Kumalasari)

 

Sarah terkejut, sampai kemudian bu Lurah mengulangi kata-katanya.

“Kamu?”

“Saya … saya … tidak bermaksud apa-apa, saya hanya menolong. Maaf,” katanya tergesa-gesa, kemudian lari keluar ruangan, yang hanya berisi seorang pasien, yaitu bu Lurah. Tak ada yang menunggui. Agak kasihan sebenarnya, menurut Sarah, tapi ia tak mau tinggal lebih lama, kalau tidak ingin diomelin seperti yang sudah-sudah. Gadis rendahan, bau, miskin… haduuuh, lebih baik tak mendengarnya saja.

Diluar, ia ketemu Mentari yang ternyata masih menunggunya.

“Kamu masih di sini?”

“Lha iyalah, kan tadi aku bilang mau mengantarkan kamu pulang?”

“Oh, aku kira kamu tak perlu menunggu aku sampai selesai. Sebentar, aku sudah janji mau memanggil dokter Harun untuk dia.”

“Pasien memanggil dokter seenaknya? Kan ada jadwalnya.”

“Dokter Harun itu adiknya. Sebentar,” kata Sarah sambil lari menjauh. Mentari geleng-geleng kepala.

***

“Siapa dia? Tadi aku mengikuti kamu sampai ke kamar rawat wanita itu, tapi ternyata kamu hanya sebentar. Ya sudah, aku tungguin saja kamu di sini.”

“Dia itu bu Lurah.”

“Bu Lurah? Aku seperti pernah mendengar kamu menyebut nama itu.”

“Iya, aku kan selalu cerita sama kamu setiap ada peristiwa penting yang menimpa aku.”

“Dia itu yang …. yang … anaknya tergila-gila sama kamu, tapi dia membenci kamu. Ya kan?”

“Dia orang kaya, aku ….?”

“Dasar saja dia sombong. Memangnya kenapa kalau kaya, dan kenapa kalau dia miskin? Nasib manusia itu kan berbeda-beda.”

“Itu kan menurut kamu. Menurut dia, derajat dia dan derajat orang kebanyakan itu jelas berbeda.”

“Tapi kamu itu orang baik lhoh, benar-benar baik. Kamu dibenci tapi kamu masih mau menolongnya. Coba orang lain, belum tentu mau melakukannya.”

“Kebencian dan pertolongan itu kan berbeda. Ketika melihat orang celaka, sebenci apapun pasti juga mau menolongnya.”

“Belum tentu juga.”

“Tentu ah.”

“Itu karena kamu baik hati. Tidak salah mas Fajar suka sama kamu,” selalu saja Mentari ngomong sembarangan.

“Apa? Kamu ngomongnya selalu aneh deh.”

Mentari hanya terkekeh.

“Aku berkata benar.”

“Dia ngomong begitu?”

“Tak usah ngomong juga kan kelihatan sikap dia bagaimana.”

“Ngaco!”

Mentari tetap saja tertawa, tak peduli Sarah mencubit lengannya keras-keras. Ia hanya berteriak lalu membuka pintu mobilnya.

“Silakan masuk kakak ipar,” Mentari masih bercanda.

“Dasar!!”

Walau begitu Sarah heran pada dirinya sendiri. Mengapa tiba-tiba dadanya berdebar?

***

Sementara itu bu Lurah terus berpikir tentang gadis yang menolongnya. 

"Dia Sarah, benar kan, Sarah? Kok mau-maunya menolong aku ya, padahal dia kan aku benci setengah mati." Pikir bu Lurah.

Ketika sedang memikirkan Sarah itulah tiba-tiba dokter Harun muncul.

“Ada apa Mbak, aku masih harus visite setelah ini.”

“Kakiku sakit sekali, apalagi tadi aku buat jalan, lalu terjatuh.”

“Siapa suruh Mbak jalan-jalan? Operasinya baru dua hari yang lalu, Mbak belum boleh banyak bergerak.”

“Sakit sekali nih.”

“Ya sakit, namanya luka. Salah siapa setir mobil sambil bercanda. Anaknya menikah tidak ditungguin, malah jalan-jalan.”

“Kamu kan tahu  bahwa aku tidak suka?”

“Ini akibatnya kalau orang tua berbuat semaunya sendiri. Sekarang masih harus diinfus, mengapa Mbak  Menolak? Tadi perawat melapor pada saya bahwa Mbak menolak untuk diinfus.”

“Aku capek.”

“Kalau tidak mau menurut ya sudah, sakit terus saja, dokter manapun ya tidak akan bisa mengobati,” kata dokter Harun sambil memberi isyarat kepada perawat agar memasang kembali infus yang sudah dilepas.

“Mengapa infus terus?”

“Kami memasukkan obat-obat melalui infus ini, Mbak harus menurut, kalau tidak mau ya pulang saja, biar dirawat simbok. Tapi kalau luka bekas operasi itu membusuk jangan salahkan aku kalau nanti kaki Mbak harus dipotong.”

“Apa? Kamu mau mbakyumu ini jalan tanpa kaki?”

“Kalau begitu menurutlah. Mbak masih harus disuntik antibiotik, kalau tidak lukanya akan bertambah parah.”

“Menakut-nakuti saja.”

“Itu benar. Aku tidak bohong. Siapa tadi yang Mbak suruh memanggil aku?”

“Gadis itu, Sarah.”

“Sarah? Gadis yang Mbak benci itu?”

“Ternyata dia baik. Dia mau membantu aku ketika aku jatuh.”

“Memang dia gadis baik, Mbak saja yang menutup mata hanya karena dia cucunya nenek Suli.”

Dokter Harun meninggalkan kakaknya setelah infus kembali di pasang dan diberikan obat seperti mestinya.

“Mbak harus menurut kalau ingin cepat sembuh. Tidak usah mengatakan kepada siapa-siapa kalau aku ini adiknya Mbak. Malu punya kakak bawel,” katanya sambi keluar dari ruangan.

“Eh, aku bawel?” bu Lurah masih sempat berteriak, tapi dokter Harun sudah keluar dari ruangan.

Bu Lurah termenung. Perilaku Sarah yang baik menyadarkannya, bahwa kebencian ternyata hanya menyakiti dirinya sendiri. Ketika dia masih merasa panas dan dipenuhi rasa benci, orang yang dibencinya justru berbuat baik untuk dirinya.

Bu Lurah memejamkan mata karena dokter Harun menyuntikkan obat penenang juga. Tapi dalam  kantuknya, bu Lurah menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman. Rasa benci itu tiba-tiba perlahan sirna.

***

Ketika kembali ke rumah sakit, Mentari tidak sendiri. Ia datang bersama Bimo, yang disambut dengan suka cita oleh pak Karimun dan bu Karimun, yang sedang menunggu di kamar rawat Fajar.

“Pak, Bu …" sapa Bimo yang kemudian mencium tangan pak Karimun dan istrinya.”

“Kok bisa bareng non Mentari?”

“Saya yang nyamperin mas Bimo ke kantor setelah mengantarkan Sarah Pak.”

“Syukurlah, biasanya setelah pulang kantor dia juga datang kemari.”

“Ibumu sudah kamu kabari kalau kamu ke rumah sakit, Nak?” tanya pak Karimun.

“Sudah Pak, kalau tidak pasti ibu kebingungan setiap Bimo pulang terlambat.”

“Bimo, kamu baru pulang?” tanya Fajar.

“Iya Mas, pulang karena terpaksa. Pak Pranoto menyuruh saya bareng Mentari.”

“Syukurlah.”

“Keadaan Mas bagaimana?”

“Aku sudah merasa lebih baik, hanya dada terkadang masih terasa sesak.”

“Sabar ya Mas, semoga Mas segera sembuh.”

“Aamiin.”

“Tadi pak Pranoto bicara tentang sesuatu yang mengejutkan saya.”

“Tentang apa?”

“Pak Pranoto menyuruh saya kuliah lagi.”

“Bagus sekali, aku setuju.”

“Tapi aku kuliah dengan apa? Aku sungkan kalau harus dibiayai pak Pranoto, tadi aku belum memberi jawaban.”

“Aku juga setuju Mas, nanti kuliahnya bisa bareng-bareng aku,” sambung Mentari yang tiba-tiba nyelonong mendekat.

Bimo tersenyum. Yang terakhir ini membuatnya senang. Kuliah bareng-bareng Mentari? Mau dong, tapi uangnya bagaimana?

“Ide yang bagus.”

“Mas Fajar juga setuju kan, memang saudara kembar seharusnya kompak.”

Bimo melotot menatap Mentari. Fajar kan belum tahu tentang siapa dia sebenarmya.

Mentari meleletkan lidahnya. Pak Karimun dan istrinya sudah ketar ketir, karena pak Pranowo belum ingin mengungkapkan kejadian itu  sampai Fajar benar-benar sembuh.

“Saudara kembar, iya … kami selalu dikira saudara kembar, karena wajah kita yang mirip ya Bim?”

“Kalian memang saudara kembar,” tiba-tiba pak Pranoto dan bu Pranoto sudah ada diantara mereka.

Fajar menatap kedua orang tuanya.

“Bagaimana kalau kalian memang saudara kembar?”

“Memangnya dulu ibu melahirkan anak kembar?” tanya Fajar yang mengira kedua orang tuanya sedang bercanda.

“Bukan ibu yang melahirkan anak kembar, tapi bu Karimun itu,” kata bu Pranoto sambil menunjuk ke arah bu Karimun, yang menundukkan wajahnya, dan air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Tak mengira sore hari itu pak Pranoto berdua sudah ingin membongkar rahasia itu.

“Maksud Ibu?” kata Fajar yang kemudian menatap bu  Karimun yang duduk di atas karpet yang digelar, sambil menitikkan air mata. Fajar juga melihat air mata itu, dan getar yang aneh kembali merayapi hatinya.

***

Besok lagi ua.

12 comments:

  1. 🪴🎋🪴🎋🪴🎋🪴🎋
    Alhamdulillah 💐🦋
    Cerbung DeCeDeAaeM_46
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
    🪴🎋🪴🎋🪴🎋🪴🎋

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah DeCeDeAaeM_46 sudah ditayangkan.
    Matur nuwun Dhe, mugi tansah pinaringan kasarasan lahir batin.
    sehat terus dan terus sehat.
    Aamiin Yaa Robbalalamiin 🤲🙏

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu. Begitu juga keluarga pada sehat

    ReplyDelete
  5. Jadi, membayangkan Mentari menikah dengan Bimo dan Fajar menikah dengan Sarah

    Semakin seru ceritanya, ibu.

    ReplyDelete
  6. Maturnuwun mb Tien, smg sht sll, bahagia bersm amancu, aamiin 🤲

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah, maturnuwun cerbung krsayangan sampun tayang... doaku semoga bu Tien tambah sehat, bahagia dan.penuh berkah..seeta selalu aduhai aduhsi ya bun❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    doaku bunda dan keluarga sehat walafiat
    salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, sudah tayang, maturnuwun Bu Tien yg rutin menayangkan cerbungnya, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 46 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin1

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~46 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 46

DARAH, CINTA DAN AIR MATA  46 (Tien Kumalasari)   Sarah terkejut, sampai kemudian bu Lurah mengulangi kata-katanya. “Kamu?” “Saya … saya … t...