Wednesday, November 4, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 44

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  44

(Tien Kumalasari)

 

Bu Pranoto memegang kening Fajar, lalu mengelus pipinya lembut. Masih ada ventilator di wajahnya, sehingga ucapannya sedikit kurang jelas, tapi bu Pranoto mendengar dengan sejelas-jelasnya.

Sudah beberapa kali ia melihat gadis bernama Sarah, saat datang bersama Mentari untuk membezoek Fajar. Benar, gadis itu cantik dan kelihatan cerdas. Mentari juga mengatakan begitu. Anak gadisnya itu selalu memuji-muji Sarah sebagai bintang kelas karena ia memang sangat pintar. Tapi mendengar perkataan Fajar, ia masih harus menimbang-nimbang. Ia juga mendengar bahwa Sarah seorang penjual koran. Biarpun pintar, tapi penjual koran. Ia bersama neneknya yang seorang buruh cuci di kampungnya. Apakah ia mampu bersanding sebagai besan dengan seorang buruh cuci? Sejak awal bu Pranoto tidak suka Fajar kelihatan tertarik pada gadis itu, dan sekarang ia mendengar lagi, bahkan Fajar ingin menikahinya?

“Ibu … sudah berjanji … kalau aku sembuh …” terdengar lagi suara Fajar.

Bu Karimun yang berdiri di bagian bawah kakinya hanya mendengar saja. Ia tak begitu mengenal siapa Sarah. Ada banyak pengunjung membezoek Fajar, dan tidak harus ia mengenal semuanya. Yang mana Sarah, yang ingin dinikahi Fajar?

“Fajar, tenang dulu, pikirkan bahwa kamu belum sehat benar. Kalau kamu tenang, maka ketenangan itu akan membantu kesembuhan kamu. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya?” kata bu Pranoto yang kemudian mencium kening Fajar.

Bu Karimun terharu. Ia tak perlu merasa sakit hati Fajar menjadi milik keluarga Pranoto. Fajar mendapatkan naungan dan kasih sayang yang luar biasa besarnya, yang pastinya tidak bisa dia dan suaminya berikan. Setitik air matanya menetes, bukan karena sakit, tapi karena rasa syukur dan haru.

“Ibu sudah berjanji … memberikan apa yang aku minta …”

“Baiklah, sekarang tidurlah dulu.”

“Janji … Ibu?”

Bu Pranoto mengangguk.

“Janji …. Istirahatlah sekarang, jangan berpikir yang macam-macam.” katanya sambil menepuk tangannya lembut, kemudian berbalik.

Bu Karimun melangkah mendekat ke arah samping. Isak pelan dari napasnya membuat Fajar membuka matanya lagi.

“Kamu … “

“Saya bu Karimun, pembantu bu Saptari.”

Fajar hanya mengangguk. Ada desir halus merayapi hatinya ketika melihat genangan air mata di pelupuk wanita setengah tua itu.

***

“Bagaimana keadaan nak Fajar? Kamu belum cerita banyak, padahal beberapa hari yang lalu kamu berkata bahwa ada cerita menarik diantara kecelakaan yang menimpa dia, " tanya nenek Sarah.

“Mas Fajar sudah selesai menjalani operasi, tapi ia masih harus dirawat. Jantungnya bermasalah karena benturan, atau entahlah, Sarah tidak tahu masalah penyakit. Hanya keadaannya sepertinya semakin membaik, biarpun belum banyak berkata-kata. Sarah juga hanya bisa melihatnya, tanpa bisa berbincang. Dia masih harus banyak istirahat.”

“Ya, kamu sudah mengatakannya soal itu. Tapi kamu mengatakan katanya ada yang menarik, apa itu?”

Sesungguhnya Sarah kelepasan bicara. Ia tahu bahwa Fajar ternyata anak pak Karimun, tukang kebun baru di keluarga pak Pranoto, ayah Fajar. Tapi ada rasa enggan mengatakannya, jangan-jangan hal itu menjadi rahasia mereka, dan ia tak pantas mengatakannya kepada siapapun.

“Kamu itu ngomong nggak jelas, malah membuat Nenek penasaran.”

“Ya karena penyakit mas Fajar itu, Sarah bingung tidak tahu yang sebenarnya.”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahatlah. Apa tidak lelah, bolak balik ke rumah sakit setelah pulang sekolah?”

“Sarah naik mobilnya Mentari, tidak jalan kaki kok Nek.”

“Ya sudah, istirahatlah. Kamu Minggu depan ujian kan?”

“Iya Nek, doakan Sarah ya?”

“Nenek selalu berdoa untuk kamu. Semoga kamu lulus, lalu Nenek carikan suami,” canda nenek Suli, membuat Sarah kemudian mencubit pelan lengan sang nenek yang sudah keriput.

“Itu saja yang Nenek pikirkan. Ogah ah,” katanya sambil lari ke kamarnya, membuat nenek Suli geleng-geleng kepala.

***

“Pak, Bapak tahu tidak, tadi nak Fajar meminta apa pada ibunya?” kata bu Karimun yang tetap menganggap bahwa bu Pranoto adalah ibu Fajar. 

Ia ikhlas karena  keluarga Pranotolah yang menjadi penopang kehidupan bayi kecil merah yang dulu diserahkannya kepadanya.

“Permintaan apa?”tanya pak Karimun.

“Bu Pranoto mengatakan tadi pada Fajar, besok kalau sembuh minta apapun akan ibu berikan. Kamu pengin apa, katanya.”

“Jawab nak Fajar apa?”

“Ia minta diijinkan menikah dengan gadis bernama Sarah.”

“Minta menikah?”

“Iya, dan tampaknya bu Pranoto kurang suka pada gadis itu. Yang mana sih Pak, Sarah itu? Dia pernah ke rumah sakit ini?”tanya bu Karimun.

“O, kalau tidak salah itu teman nak Mentari. Gadisnya cantik memang. Apa gadis itu pacar nak Fajar?”

“Aku tidak tahu. Tapi bu Pranoto sudah berjanji mau mengijinkannya.”

“Ya sudah, kita lihat saja nanti. Mereka sangat menyayangi Fajar, pasti mereka juga akan memenuhi permintaannya.”

“Pak, nanti kalau nak Bimo kemari, aku mau ikut pulang dulu ke rumah bu Saptari ya? Aku tiba-tiba pergi tanpa pamit, hanya nak Bimo yang aku minta agar mengatakannya pada bu Saptari.”

“Ya, pergilah, kata nak Bimo dia juga berharap bertemu kita sih, setelah semuanya terbuka. Tapi kita tidak usah menuntut apa-apa ya Bu, biarlah mereka menjadi anak-anak orang yang mengasuhnya. Kita kan tidak mampu melakukannya.”

“Iya Pak, tentu, aku tahu kok.”

***

Pertemuan bu Karimun dengan bu Saptari memang baru kali itu, setelah Bimo mendatanginya dan mengatakan semuanya.

Ada tangis diantara keduanya. Tangis sesal karena merasa mengabaikan anak kandungnya, dan di sisi bu Saptari tangis syukur karena akhirnya bisa bertemu dengan orang tua kandung Bimo.

“Jangan ambil Bimo dariku, ya Bu,” isak bu Saptari.

“Tidak Bu, sungguh saya dan suami saya ikhlas , karena memang kami tidak mampu, dan kami bersyukur anak-anak kami mendapatkan kasih sayang yang jauh melebihi kasih sayang orang tuanya.”

“Terima kasih ya Bu, tetaplah kita sebagai saudara. Sama-sama memiliki Bimo dengan cara yang berbeda, tapi sama-sama mengasihi dan menyayanginya.”

***

Hari terus berjalan, ujian sekolah Sarah dan Mentari sudah usai, mereka lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan.

Mentari segera mengajak Sarah ke rumah sakit. Fajar sudah lebih baik, tanpa ventilator yang menjadi penunjang pernapasannya.

Tampak cahaya bahagia di wajah Fajar ketika melihat Sarah.

“Cepat sembuh ya Mas?”

“Atas doa kamu. Aku dengar kamu dan Mentari sudah lulus?”

“Atas doa kamu juga Mas,” balas Sarah sambil tersenyum. Keduanya tersenyum. 

Ada makna dibalik senyuman itu, yang semula tak dimengerti terutama bagi Sarah sendiri. Ada apa ini? Suka sama dia? Sarah merasa malu mengakui kebodohannya. Dirinya itu siapa, dan Fajar itu siapa? Lalu tiba-tiba sesuatu melintas. 

"Bukankah Fajar anak pak Karimun yang tukang kebun?” pikir Sarah.

Sarah sudah tahu dari Mentari, tapi Fajar sendiri belum mengetahuinya. Pak Pranoto dan istrinya belum membuka rahasia itu. Menunggu kalau Fajar sudah benar-benar sehat.

Tapi ketika sang ibu berada di sampingnya, Fajar memegangi tangannya.

“Bu, aku sudah sembuh.”

“Kamu sudah jauh lebih baik, tapi dokter belum mengatakan bahwa kamu benar-benar sembuh. Kamu masih harus dirawat dan diawasi perkembangan kesehatan kamu," jawab bu Pranoto.

“Tapi aku sudah merasa sembuh.”

“Baiklah, anak ibu yang ganteng, memang kesembuhan itu yang selalu kita harapkan bukan? Tapi kamu harus sabar ya, nanti akan ada saatnya kamu boleh pulang dan bersama-sama seperti hari-hari yang lalu.”

“Bu ….”

“Ya, Nak?”

“Ibu tidak lupa pada janji Ibu kan?”

***

Besok lagi ya.

13 comments:

  1. 🌷🌿🌷🌿🌷🌿🌷🌿
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung DeCeDeAaeM_44
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    🌷🌿🌷🌿🌷🌿🌷🌿

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah, maturnuwun cerbung kesayangan sampun tayang, semoga ibu Tien selalu sehat, bahagia, penuh berkah dan selalu cantik aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda cerbungku udah tayang. Semoga abunda sehat selalu semangat... Semangat.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah
    Matur nuwun Bu Tien

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah sudah tayang
    terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~44 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat walafiat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ˜πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 44 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin1

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 44

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  44 (Tien Kumalasari)   Bu Pranoto memegang kening Fajar, lalu mengelus pipinya lembut. Masih ada ventilator di w...