Monday, October 19, 2026

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 35

 DARAH CINTA DAN AIR MATA  35

(Tien Kumalasari)  

 

Pria di depannya adalah Bowo. Ia membungkukkan wajahnya, seperti sedang menghormati orang yang berdiri di depannya.

“Nenek, selamat sore.” katanya dengan masih menunduk.

“Mau apa kamu datang kemari? Ini rumah orang miskin. Apa kamu tidak takut ketularan miskin?”

“Nenek, mohon jangan marah. Saya datang dengan maksud baik. Kalau Nenek marah, nanti ….”

“Nanti apa? Aku sakit lagi, lalu mati?”

“Nenek, saya hanya berharap Nenek benar-benar sehat. Saya akan bersimpuh di depan Nenek agar Nenek memaafkan saya,” kata Bowo yang kemudian menjatuhkan tubuhnya dan berlutut didepan nenek Suli, membuat nenek Suli kemudian kebingungan.

“Eeh … eh … apa maksudmu?”

“Ini saya lakukan agar Nenek mamaafkan saya, terimalah permintaan maaf saya, Nenek yang baik.”

Bowo masih tetap berlutut.

“Berdiri kamu. Berdiri. Orang kaya berlutut di depan orang miskin. Kamu ingin membuat aku kualat?”

“Nenek jangan begitu. Saya tidak pernah membedakan antara yang kaya dan yang miskin. Kalau saya peduli pada kaya dan miskin, saya tak mungkin jatuh cinta pada Sarah.”

“Masih berani bilang jatuh cinta pada cucuku?”

“Saya sungguh-sungguh mencintai Sarah. Saya tidak peduli Sarah anak siapa atau cucu siapa. Nenek, maafkan saya, kalau di waktu-waktu yang lalu saya menyakiti hati Sarah.”

“Kamu lupa? Ibu kamu menghina aku?”

“Tapi saya tidak Nek. Maafkan ibu saya. Dia khilaf. Saya tidak menyukai sikap ibu saya juga. Mohon jangan samakan saya dengan ibu saya.”

“Kamu itu anaknya, dan kamu tidak bisa melompati tatanan yang sudah digariskan oleh dia, nyonya kaya yang sombong itu.”

“Nenek, mohon jangan sebut-sebut itu lagi.”

“Berdiri!”

Bowo berdiri, lalu meraih tangan nenek Suli dan diciumnya bertubi-tubi.

“Maafkan saya ya Nek, maaf ya Nek ….”

“Sudah, diam.”

“Nenek mau memaafkan saya bukan?”

Nenek Suli memang berhati keras. Tapi ia bukan keras kepala. Ia memiliki hati yang lembut, dan tak sulit baginya untuk memberi maaf. Ia juga penuh rasa welas asih. Kebencian yang memenuhi hatinya luluh oleh sikap Bowo yang seperti merintih-rintih mohon belas kasihannya agar dia memberinya maaf. Tapi tiba-tiba kepala nenek Suli terasa berat dan pusing. Ia membalikkan tubuhnya dengan terhuyung, bermaksud menuju ke arah kursi kayu di mana ia biasa duduk. Bowo yang mengikuti dibelakangnya tanpa dipersilakan, melihat gelagat itu. Ia segera menangkap tubuh nenek Suli lalu dibantunya duduk di kursi.

Nenek Suli menyandarkan kepalanya.

“Nek, Nenek kenapa?”

“Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing.”

Bowo mengambil ponselnya dan menelpon dokter Harun. Ia memintanya datang ke rumah nenek Suli.

Lalu ia kembali mendekati nenek Suli. Duduk di dekatnya.

“Pusing Nek? Boleh saya pijit kepalanya? Saya baru memanggil dokter.”

“Apa maksudmu? Mengapa memanggil dokter?”

“Jangan khawatir Nek, ini dokter Harun, yang menangani Nenek waktu di rumah sakit itu.”

“Apa? Bagaimana kamu tahu?”

Tiba-tiba Sarah muncul.

“Lhoh, Nenek kenapa? Kamu apakan nenekku Bowo?” sontak Sarah menatap Bowo curiga.

“Nenek tiba-tiba pusing.”

“Nek, kenapa Nek? Bowo, ini pasti gara-gara kamu datang. Nenek tidak suka sama kamu, ini membuat nenek sakit,” kata Sarah sedikit marah.

“Tidak, sudah … jangan marah-marah. Dia tidak apa-apa,” kata Nenek menyela.

Sarah heran. Nenek tidak marah pada Bowo? Apa Bowo datang dengan guna-guna?

“Aku sudah meminta om Harun untuk datang kemari.”

Sarah mendekati sang nenek dan memegangi tangannya, dahinya, lalu memijit kepalanya. Ia menatap Bowo yang mondar mandir ke depan.

“Nenek tidak memarahi dia?” bisiknya di telinga sang nenek.

“Sudah marah, tapi marahku sudah habis," kata nenek Suli pelan.

“Sekarang rasanya bagaimana?”

“Tiba-tiba pusing, tapi mengapa dia memanggil dokter segala? Apa kita masih punya uang untuk membayar?”

“Nek, dokter Harun sudah datang.” kata Bowo tiba-tiba.

Sarah berdiri menyambut.

“Dokter. Mohon maaf.”

“Tidak apa-apa, Bowo memintaku datang, katanya nenek Suli tiba-tiba pusing. Jangan-jangan karena kedatangan Bowo, lalu nenek Suli marah,” kata dokter Harun sambil mendekati nenek Suli. 

Lalu Sarah menarik kursi agar dokter Harun bisa duduk di samping neneknya, sehingga memudahkan sang dokter untuk memeriksanya.

“Tadi Nenek marah-marah ya?” kata dokter Harun setelah memeriksa tensi nenek Suli.

Bowo berdiri tak jauh, dan menundukkan kepalanya. Sedikit banyak dia juga merasa, bahwa nenek Suli tiba-tiba pusing karena memarahinya.

“Tuh, tensinya agak tinggi. Tadi sudah minum obat?”

“Yang untuk malam belum dokter, baru mau saya siapkan."

“Tidak apa-apa, diminum saja seperti biasa, lalu Nenek harus segera tidur.”

Dokter Harun mengambil ampul dari dalam tasnya, kemudian menyuntik nenek Suli.

“Jangan khawatir, Nenek baik-baik saja. Segera minum obatnya, dan biarkan Nenek beristirahat."

Sarah mengangguk. Ketika ia beranjak ke belakang, dokter Harun bersiap mau pulang.

“Saya buatkan minum dulu, Dokter.”

“Tidak usah, ada pasien di rumah. Jaga Nenek baik-baik, banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran, apalagi marah-marah.”

Sarah mengantarkan dokter Harun ke depan, nenek Suli beranjak ke kamarnya.

“Tunggu dulu, saya ambil uangnya.”

“Tidak Nek, tidak usah. Ini pelayanan gratis untuk pasien saya yang baru pulang dari rawat inap.”

Nenek Suli tertegun. Kepalanya masih berdenyut.

“Sarah, bantu Nenek ke kamar, biar dia istirahat.”

Sarah menghampiri sang nenek dan menuntunnya ke dalam kamar.

Bowo mengantarkan dokter Harun, dan dokter Harun masih sempat menegurnya.

“Karena kamu kan? Bukankah kamu tahu kalau nenek Suli tidak suka kamu?”

“Saya memang datang untuk meminta maaf. Saya sampai berlutut di depannya, dan nenek Suli kelihatan sudah reda marahnya. Hanya saja dia tiba-tiba merasa pusing, saya ketakutan dan sadar bahwa itu karena saya. Itu sebabnya saya menelpon om Harun."

“Menurut aku, kamu tidak usah melanjutkan kemauan kamu untuk terus berharap mendapatkan Sarah.”

“Bukankah cinta harus diperjuangkan?”

“Omong kosong itu. Hambatannya sangat berat. Ibumu tak akan mau mengalah,” katanya sambil masuk ke dalam mobilnya.

Bowo menghela napas panjang. Ada sedih yang menyayat. Tapi kemudian dia kembali memasuki rumah nenek Suli. Harapan tak boleh putus.

Sarah baru keluar dari kamar Nenek.

“Bagaimana Nenek?”

“Baru saja minum obatnya. Kamu tidak usah menemui lagi, tampaknya Nenek sangat mengantuk.”

“Baiklah, aku mengerti. Aku tadi memang nekat datang untuk menemui nenek Suli, untuk meminta maaf. Dan tampaknya Nenek memaafkan aku,” kata Bowo.

“Syukurlah kalau begitu.”

“Aku minta kamu juga jangan membenci aku. Aku menyadari semua kesalahanku, aku janji tak akan membuat kesalahan lagi.”

Sarah hanya mengangguk.

“Aku pulang dulu, aku janji akan menjaga Nenek untuk sering menjenguknya. Aku yakin nenek tak akan memarahiku lagi.”

“Terima kasih, Bowo.”

Ketika Bowo pergi, Sarah baru menyadari bahwa di pintu ada sebuah bungkusan yang berisi makanan. Ada roti kaleng dan roti basah, ada buah-buah segar.

Sarah mengejar Bowo.

“Ini punya siapa?”

“Oh iya, lupa ngomong. Itu untuk Nenek.”

Sarah menghela napas panjang. Ada sedikit rasa lega karena Nenek tidak lagi tampak marah pada Bowo. Dan itu bagus, karena Nenek kan dilarang marah-marah?

***

Ketika Bowo sampai di rumahnya, ia melihat sang ibu duduk di teras.  Melihat kedatangannya, bu Lurah langsung menyemprotnya.

“Kamu dari mana?”

“Dari rumah nenek Suli," jawabnya berterus terang.

“Apa maksudmu pergi ke sana?”

“Bowo tidak ingin nenek Suli membenci Bowo gara-gara Ibu terus menghinanya, jadi aku datang untuk meminta maaf.”

“Memalukan sekali. Kamu … meminta maaf kepada keluarga miskin itu?”

“Ibu jangan selalu menghinanya. Biar miskin tapi hati mereka baik.”

“Kamu tetap akan berharap bisa diterima dengan permintaan maafmu itu? Jangan mimpi. Kamu tahu mengapa ibumu datang kemari? Di rumah Ibu ada seorang wanita sedang mencari kamu, sebel Ibu melihatnya.”

“Wanita siapa?”

“Namanya Endang. Katanya dia mau minta tanggung jawabmu.”

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

19 comments:

  1. 🍄🍂🍄🍂🍄🍂🍄🍂
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung DeCeDeAaeM_35
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🍄🍂🍄🍂🍄🍂🍄🍂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa samu untuk panjenengan jeng Sari

      Delete
  2. Alhamdulillah yg ditunggu sudah tayang
    Terima kasih bunfa Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget. Doa samu untuk panjenengan ibu Endah

      Delete
  3. Matur nuwun Bu Tien 🙏
    Sugeng dalu.

    ReplyDelete
  4. Lho Bowo sudah punya tabungan, mengapa mau buka rekening lagi?

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah tayang, tak kira ora bakal tayang, mula aku tinggal bobo.
    Nguantuk pol Dhe.
    Sugeng ndalu, sugeng aso salira, mugi keng wayah Hayyin, enggal diparingi seger waras kaya wingi uni. Aamiin Yaa Robbalalamiin 🤲 🙏
    Syafakillah Hayyin, La ba'-sa thohuruun InsyaaAllah.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~35 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete

  7. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *DARAH, CINTA
    DAN AIRMATA 35* sudah
    ...
    Semoga selalu sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  8. Terimakasih bunda Tien, cerbung DCDAM eps 35 sdh tayang, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga

    ReplyDelete
  9. Maturnuwun bu Tien... alhamdulilah cerbubg kesayangan tayang ... ibu semoga selalu sehat demikian juga dg anak cucu salam hangat dan aduhau aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah , Maturnuwun Bunda Cerbung " DARAH , CINTA dan AIRMATA 35 " sudah tayang , semoga sehat sehat selalu
    bersama keluarga tercinta . Aamiin1

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah,yg ditunggu2 telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta 🙏❤️😍

    ReplyDelete

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 37

  DARAH CINTA DAN AIR MATA  37 (Tien Kumalasari)   Nenek Suli sedikit bingung. Ia masih menduga bahwa Bowo tetap bersikeras untuk meminta ag...