DARAH CINTA DAN AIR MATA 36
(Tien Kumalasari)
Bowo menatap sang ibu tak berkedip. Seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
“Apa kamu? Mengapa menatap ibumu seperti itu? Kamu kira ibumu ini bohong? Ayo pulang ke rumah. Perempuan tak tahu malu itu masih menunggu di sana, aku jijik melihatnya. Tampaknya dia juga orang kebanyakan. Kemana hatimu Bowo? Kemana akal warasmu?”
“Tidak, tidak mungkin ….”
“Apa yang tidak mungkin? Dia hamil dan datang mencari kamu. Dia tak mau pergi sebelum ketemu kamu dan mendengar kesanggupan kamu untuk menikahinya. Aku tidak sudi.”
“Dia masih menunggu?”
“Harus berapa kali Ibu bilang Bowo? Dia masih di sana, di rumah ibumu ini. Bikin malu saja.”
“Tapi ….”
“Tidak ada tapi, ayo pulang dan selesaikan semuanya. Kalau perlu beri dia uang untuk menggugurkan kandungannya.”
“Tapi ….”
“Jangan topa tapi terus, segera pulang dan selesaikan semuanya.”
Bu Lurah berdiri, lalu menarik lengan anaknya.
Mau tak mau Bowo mengikutinya. Ibunya membawa mobil, ia ingin membawa mobilnya sendiri. Tapi sang ibu menolaknya.
“Masuk ke mobilku, nanti kamu kabur kalau bawa mobil kamu sendiri,” katanya tanpa melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Bowo.
***
Bowo tertunduk lesu. Endang adalah gadis anak seorang pelayan toko yang bekerja di sebelah pabrik berasnya. Gadis itu cantik, dan Bowo pernah menyukainya. Tapi ia hamil? Tidak, Bowo hanya suka saat mereka bersenang-senang, tapi cinta? Tak ada. Ia harus membuat gadis itu enyah dari hadapannya.
Ketika sampai di kediaman bu Lurah, betul saja, Bowo melihat seorang perempuan duduk di kursi teras. Kepalanya menunduk, mengutak atik ponsel, lalu mendongak begitu melihat bu Lurah dan Bowo berjalan mendekat.
“Mas Bowo ….” perempuan itu lebih dulu menyapa, tapi Bowo menyambutnya dengan tanggapan sengit.
“Mau apa kamu datang kemari?”
“Duduklah dulu, biarkan aku bicara.”
“Selesaikan oleh kamu Bowo, aku tidak sudi berurusan dengan perempuan rendahan itu,” katanya sambil berlalu.
“Dari tadi Ibu menghina saya dengan mengatakan saya perempuan rendahan. Tapi anak Ibu itu melakukan hal yang lebih rendah karena pernah memperkosa saya dan sekarang membuat saya hamil,” sentak Endang tanpa takut sedikitpun.
Bu Lurah berhenti melangkah, menoleh ke arah Endang.
“Kamu berani menentang aku?”
“Saya berani karena saya benar. Biarpun saya perempuan rendahan seperti yang Ibu katakan, tapi saya menjadi korban atas perbuatan rendah putra Ibu.”
“Bowo, beri dia uang dan suruh pergi,” kata bu Lurah sambil melanjutkan langkahnya, lalu menutup pintu dengan keras.
“Endang, apa maksudmu?”
“Aku sudah mengatakannya. Dulu kamu memperkosa aku, sekarang saatnya bertanggung jawab.”
“Benar pada awalnya aku memaksa kamu tapi kemudian kamu suka kan?”
“Karena kamu berjanji akan bertanggung jawab. Sekarang mana, aku tagih tanggung jawab itu.”
“Endang, ini bukan masalah yang pantas dibuat ribut. Aku beri kamu uang, gugurkan kandungan itu, selesai.”
“Apa? Enak saja kamu bicara. Bayi ini tak berdosa, mengapa harus dilenyapkan? Apa kamu tidak merasa bahwa kamu membuat dosa yang bertumpuk-tumpuk? Kamu melakukan hal yang tidak benar, lalu kamu ingin melenyapkan nyawa bayi yang tidak berdosa?”
“Aku beri kamu uang. Berapa kamu mau. Hapus semuanya dan tak pernah terjadi apa-apa diantara kita.”
“Tidak, aku tidak mau.”
“Limaratus juta?”
“Tidak dan tidak. Biar aku miskin tapi aku tidak doyan uang suap. Aku hanya minta kamu bertanggung jawab.”
“Mengapa kamu mempersulit keadaan? Bukankah dengan uang itu kamu bisa berbuat apa saja?”
”Aku perempuan rendahan, dan apa yang akan kamu lakukan adalah lebih rendah lagi. Pokoknya aku tidak mau.”
“Bagaimana kalau aku menolak?”
“Menolak apa? Menolak bertanggung jawab? Tidak apa-apa, akan aku laporkan kamu ke polisi.”
Bowo sangat terkejut. Ia tak mengira, Endang yang tadinya tak banyak bicara bisa bersikap setegas itu. Limaratus juta bukan uang yang sedikit. Ia akan menguras sebagian besar hartanya dengan memberikan uang itu, tapi Endang menolaknya?
“Karena kamu tergila-gila padaku sehingga kamu memilih menjadi istriku? Mimpilah saja, aku tidak cinta pada kamu.”
“Baiklah, tidak cinta, tapi jangan menuduh aku tergila-gila. Aku benci kamu karena kamu laki-laki bejat yang tidak mau bertanggung jawab.”
“Kalau benci, jauhi aku, aku beri kamu uang.”
“Tidak. Aku tidak mau uang kamu, aku hanya ingin kamu bertanggung jawab, bukan karena aku tergila-gila. Aku ingin anakku punya ayah. Hanya itu.”
“Bagaimana kalau aku tidak mau? Ada gadis lain yang aku cintai dan akan aku jadikan istri aku.”
“Terserah kamu cinta sama siapa, aku hanya minta kamu menikahi aku.”
Bowo terdiam. Tampaknya tak bisa meluluhkan hati Endang. Ancamannya teramat berat. Lapor polisi, lalu dirinya akan dikenal di mana-mana sebagai laki-laki tak bertanggung jawab. Lalu nenek Suli yang sudah berhasil ditaklukkan hatinya akan mendengar, lalu Sarah yang dirasa akan bersikap lebih baik padanya juga akan mendengar, lalu semua mimpinya akan hancur.
“Cepat katakan, memilih bertanggung jawab atau ditangkap polisi.”
“Tenang dulu Endang, ini bukan masalah sepele, aku harus memikirkannya.”
“Memikirkan apanya? Hanya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil. Aku tunggu sampai kamu menjatuhkan pilihan kamu. Apa boleh buat."
“Baiklah, aku akan menikahi kamu, tapi tidak sekarang.”
“Lalu kapan? Kalau bayi ini sudah lahir?”
“Aku kan harus berpikir.”
“Hanya dua pilihan, begitu beratkah memilih? Ada yang menunggu aku di sana. Begitu aku telpon dia, maka dia akan datang.”
“Siapa?”
“Seseorang. Ia bisa menjadi saksi kesanggupan kamu atau menjadi orang yang akan menyeret kamu ke kantor polisi.”
“Baiklah … baiklah, aku akan menikahi kamu,” jawab Bowo kesal.
“Bukan hanya dengan kata-kata. Buat surat pernyataan bahwa kamu secepatnya menikahi aku. Buat suratnya dan aku akan memanggil saksinya.”
***
Bu Lurah seperti orang kebakaran jenggot. Mau tak mau Bowo harus menikahi Endang seperti janjinya, kalau tidak ingin berurusan dengan yang berwajib.
Pagi hari itu entah mengapa, Bowo pergi ke rumah nenek Suli.
Nenek Suli sedang sendirian, pastinya, karena sang nenek memaksa Sarah pergi ke sekolah, setelah ia merasa baik-baik saja.
“Nenek?” sapa Bowo yang langsung masuk ke dalam rumah.
“Mau apa kamu datang kemari lagi? Kamu sudah aku maafkan, tapi jadilah orang baik.”
Bowo duduk di depan nenek Suli setelah mencium tangannya lama sekali.
“Ada apa kamu ini? Dengar ya, aku tegaskan bahwa aku tidak suka kamu mendekati Sarah, apalagi berharap menjadikannya istri. Aku tidak suka berbesan dengan ibumu, biarpun kamu tidak suka pada sikap ibu kamu.”
Bowo menghela napas panjang. Wajahnya tampak murung. Tentu saja ia tak akan lagi berharap pada Sarah karena Endang sudah memaksanya agar dia segera menikah dengannya.
Nenek Suli melihat wajah penuh duka itu, dan kemudian menepuk tangannya.
“Masih banyak gadis lain yang bisa kamu nikahi, yang sederajat, yang tidak akan mengecewakan ibu kamu,”
Bowo menitikkan air mata.
“Saya mengunduh apa yang pernah saya perbuat Nek. Saya tak mungkin bisa meraih apa yang menjadi keinginan saya. Saya sedih bukan karena Nenek menolak saya. Saya sedih karena saya harus menjalani sesuatu yang sama sekali tidak saya inginkan. Nenek, apakah saya tidak bisa mengecap kebahagiaan lagi setelah ini?”
“Kamu ini bicara apa aku sama sekali tidak mengerti.”
Tiba-tiba Bowo merasa bahwa di depan nenek Suli ia bisa berkeluh. Bukan kepada ibunya yang selalu menyalahkannya.
“Bolehkah saya mengatakan apa yang terjadi pada diri saya, Nek?”
“Kamu tampak dirundung duka. Katakan saja apa yang membebani pikiran kamu. Aku akan mendengarkan.”
Tiba-tiba Bowo merosot dari kursi yang didudukinya, lalu meletakkan kepalanya dipangkuan nenek Suli..
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun wuk
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih udah tayang.
Semoga Bunda sehat slalu beserta keluarga tercinta
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan bapak Endang
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *DARAH, CINTA
DAN AIRMATA 36* sudah
...
Semoga selalu sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan pak Wedeye
DeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien, cerbung kesayangan sampun tayang. Doaku semoga bu Tien dan semua keluarga sll sehat wal afiat. Salam hangat dan aduhai aduhai bun❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan ibu Sri
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun mas Kakek
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku DARAH CINTA DAN AIR MATA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan pak Latief
DeleteAlhamdulillah DARAH, CINTA DAN AIR MATA~36 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah DC & AM sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda.
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat dan bahagia, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT π€²π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan ibu Sifa
DeleteAlhamdulillah, telah tayang.
ReplyDeleteSehat selalu bunda...aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan Kang
DeleteAlhamdulillah,masih berlanjut, sesuai judul nya,cinta dan air mata..... maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️π❤️π
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan ibu Endah
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien ..in Syaa Alloh sehat sehat sehat Aamiin...❤️❤️❤️❤️❤️πΉπΉπΉπΉ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan jeng Susi
DeleteAlhamdulillah DARAH,CINTA DAN AIR MATA 36 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan ibi Uchu
DeleteAlhamdulillah, nwn bu Tien, sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan pak Bambang
DeleteAlhamdulillah, cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan ibu Ida
DeleteMatur nuwun Bu Tien π
ReplyDeleteSugeng dalu.
Sami2 pak Sis
DeleteSugeng dalu ugi
Terimakasih bunda Tien cerbung kesayangan sdh tayang, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluargaπ€²π€²π€²
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan ibu Komariyah
Deleteππ₯ππ₯ππ₯ππ₯
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung DeCeDeAaeM_36
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
ππ₯ππ₯ππ₯ππ₯
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget, doa terbaik untuk panjenengan jeng Sari
Delete